coba

Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 02

Mode Malam
Jilid 02  

"Auuuppp!!!" tubuh Ginggi jumpalitan ke belakang. Cakar itu hanya seujung kuku saja jaraknya dari pipi pemuda itu.

Ketika Ginggi masih jumpalitan, harimau kembali menerjang dengan cakarnya. Kali ini Ginggi tak tinggal diam. Ketika kaki depan hendak menampar kepalanya, secepat kilat tangan Ginggi mendahului menampar.

Plak! Tubuh sang harimau terlontar beberapa depa ke belakang dan jatuh bergulingan.

Untuk sejenak harimau itu duduk terpana melihat Ginggi dengan corong matanya yang tajam. Kemudian terdengar suara gerengan tajam memekakkan telinga.

Ginggi telah mempersiapkan kuda-kudanya untuk menunggu serangan susulan dari binatang itu. Namun setelah ditunggu agak lama, ternyata harimau berbalik arah dan melarikan diri dengan kaki agak pincang.

Tinggallah Ginggi berdiri mematung. Menjangan telah pergi, demikian pun sang harimau. Apakah ini sebuah kesuksesan atau keteledoran, Ginggi tak bisa memastikannya. Hanya saja ketika kembali pulang dan melaporkan kejadian ini kepada gurunya, Ki Darma hanya tersenyum-simpul saja.

"Saya ternyata tak berhasil menangkap menjangan. Ki Guru," tutur Ginggi.

"Yang engkau tak pernah berhasil adalah melawan kelemahan batinmu, anak muda …" jawab gurunya.

Dan Ginggi diam tak menjawab.

Terkadang ada kebiasaan orang yang susah untuk dihilangkan. Tapi Ginggi tak pernah tahu, apakah yang ada pada dirinya ini kebiasaan buruk atau bukan? Menerima Tugas

Masa terus berjalan, tak terasa satu tahun telah lewat dari peristiwa itu. Namun selama itu, Ginggi tetap dilatih ilmu kewiraan oleh gurunya. Semakin hari semakin keras dan semakin hari semakin berlatih taktik-taktik ganas.

Hingga tiba pada suatu saat Ki Darma memanggil dirinya.

"Sudah tiba saatnya engkau melaksanakan tugas," kata Ki Darma sambil bersila di hamparan lumut tebal di bawah pohon carik angin.

Berdegup jantung anak muda itu. Tugas apakah? Gurunya pernah bilang kalau latihan kewiraan bagian dari tugas. Apakah tugas sebenar-benarnya adalah kali ini?

"Tugas apakah, Aki?" tanyanya. "Kau harus turun gunung!" "Turun gunung?"
"Sudah saatnya kau bergaul dengan orang banyak. Kau lihat, kau alami dan kau rasakan. Maka sesudah semuanya kau pelajari, kau pasti akan tergerak untuk menjalankan tugas yang aku maksud," kata Ki Darma, suaranya datar tanpa menatap wajah muridnya.

Namun Ginggi masih duduk di hadapan gurunya dengan tatapan tajam.

"Satu atau dua tahun silam sudah aku utarakan perihal ini. Bahwa hari-hari kelabu tengah menggayuti langit Pajajaran rakyat tengah digoncang penderitaan karena kebijakan rajanya yang keliru. Rakyat mengeluh karena kewajibanseba yang tinggi…"

"Apakah seba itu?"

"Seba adalah semacam pajak tahunan. Setiap tahun pemerintah mengutip pajak dari rakyatnya. Namun setiap tahun pula, pajak selalu naik tinggi, sementara kehidupan rakyat tak beranjak naik," jawab Ki Darma menghela napas panjang.

Ginggi masih tetap menatap tajam.

"Kendati Negri Pajajaran masih tetap subur, namun kesejahteraan ternyata bukan untuk rakyat, melainkan untuk pemuas nafsu pejabat semata," tutur Ki Darma lagi.

Ginggi mengerutkan dahinya.

"Berkelanalah carilah saudara-saudaramu," kata Ki Darma lagi sehingga mencengangkan Ginggi.

"Apakah saya punya saudara?"

"Bukan pertalian darah. Mereka adalah saudara seperguruan," kata Ki Darma pula sambil melanjutkan penjelasannya, bahwa dulu lebih sepuluh tahun silam, sebelum dirinya menemukan seorang anak telantar di kubangan lumpur Kampung Caringin, Ki Darma pernah punya empat orang murid.

"Pertama aku punya murid dua orang, Ki Banaspati dan Ki Bagus Seta. Mulanya aku latih mereka ilmu kewiraan dengan harapan mereka kelak bisa mengabdi kepada negara. Namun belakangan manakala kulihat negara dalam keadaan bobrok, maka kucegah mereka. Mereka hanya kusuruh mempertahankan negri tanpa mereka harus ikut-campur urusan kenegaraan. Dengan dua orang muridku, aku berpisah ketika perang melawan Kerajaan Cirebon berkecamuk," tutur Ki Darma panjang-lebar.

Ginggi mengangguk-angguk.

"Dari Pakuan aku mengembara ke mana-mana. Sampai akhirnya tiba di Wilayah Karatuan Talaga. Di sini aku punya murid dua saudara kembar, Ki Rangga Guna dan Ki Rangga Wisesa. Seperti yang kini aku perintahkan kepadamu, maka kepada keempat muridku pun aku perintahkan hal yang sama, yaitu berdirilah di pihak rakyat yang lagi menderita. Kini belasan tahun berlalu, aku tak tahu khabar berita dari mereka. Kalau hidup mesti terdengar beritanya dan kalau mati mesti terlihat kuburnya. Kau carilah mereka dan kau gabunglah dengan mereka kalau selama itu mereka tetap mentaati perintahku. Tapi kalau yang terjadi adalah sebaliknya, kau harus tentang mereka."

Ginggi mengangguk-angguk kembali, bahkan kini anggukannya nampak bersemangat sekali.

Mengapa tak begitu, sebab sebenarnya Ginggi sudah merasa bosan belasan tahun berada di Puncak Cakrabuana dan jarang bertemu manusia lainnya. Saat-saat tertentu Ki Darma suka menyuruhnya untuk turun ke kampung di kaki gunung namun Ki Darma melarang Ginggi banyak berhubungan dengan penduduk.

Sekarang Ki Darma malah menyuruhnya untuk turun gunung dan bergabung dengan khalayak ramai. Sudah barang tentu ini amat menggembirakan hatinya.

"Kau tentu akan banyak menerima tantangan hidup bahkan derita. Tapi tak apa. Untuk membantu sesama maka penderitaan adalah mulia," kata Ki Darma.

"Kapan saya harus mulai turun gunung, Aki?" tanya Ginggi tak sabar. "Esok subuh sebelum pagi benar-benar lewat!"
"Esok subuh?" Ginggi terkejut. "Mengapa begitu mendadak?" "Tidak mendadak sebab telah aku perhitungkan jauh hari…" "Tapi saya harus diberitahu jauh sebelumnya juga, Aki!"
Ki Darma hanya terkekeh saja.

"Ayo masuk kamarmu. Kau siapkan apa yang mesti kau bawa."

Ki Darma berdiri duluan dan berjalan menuju rumah gubuknya. Namun karena Ginggi masih terdiam, Ki Darma pun berbalik lagi. "Apakah engkau tak mau melihat kediamanmu untuk penghabisan kalinya?" tanya Ki Darma. "Seperttinya saya tak boleh kembali ke sini, Aki?"
"Hidup penuh misteri. Apa yang akan terjadi besok tak akan ada yang tahu persis."

"Jangan samakan dengan saudara seperguruan saya lainnya yang hingga kini tak pernah pulang, Aki," kata Ginggi.

Hanya dijawab dengan senyuman tipis gurunya.

Karena Ki Darma tetap memaksa, akhirnya Ginggi berjingkat menuju kamar rumah panggungnya. Namun kegairahan melihat dunia luar serasa tersendat oleh hal-hal mendadak seperti ini. Ya, perintah gurunya terasa mendadak dan seperti terkesan ada sesuatu yang dipaksakan.

Keganjilan ini semakin jelas ketika di kamarnya sudah tergolek pula sebuah buntalan kain. Ternyata benar, gurunya sudah mempersiapkan segalanya sejak dini.

"Aki, benar-benarkah saya harus pergi secepat ini?" "Ya …"
"Subuh hari?"

"Ya, supaya engkau tidak kemalaman di Hutan Bukit Banyukerta …" "Aki …"
"Apa?"

"Tak sebaiknyakah kita berkelana berdua?" "Hahaha!" Ki Darma tertawa keras.
"Kau beritahu, kapan saya harus kembali?"

"Nanti bila benar harapanku sudah terkabul. Tapi aku pun sebenarnya tak peduli kapan kau akan kembali. Kau harus tahu, perjuanganmu amatlah berat. Membela rakyat bukanlah pekerjaan enteng."

"Ki Guru, saya akan berusaha melaksanakan tugasmu dengan baik sebab saya ingin segera kembali ke sini …" kata Ginggi yang hanya disambut oleh gelak tawa gurunya. "Apakah engkau tak mau melihat kediamanmu untuk penghabisan kalinya?" tanya Ki Darma.

"Seperttinya saya tak boleh kembali ke sini, Aki?"

"Hidup penuh misteri. Apa yang akan terjadi besok tak akan ada yang tahu persis." "Jangan samakan dengan saudara seperguruan saya lainnya yang hingga kini tak pernah pulang, Aki," kata Ginggi.

Hanya dijawab dengan senyuman tipis gurunya.

Karena Ki Darma tetap memaksa, akhirnya Ginggi berjingkat menuju kamar rumah panggungnya. Namun kegairahan melihat dunia luar serasa tersendat oleh hal-hal mendadak seperti ini. Ya, perintah gurunya terasa mendadak dan seperti terkesan ada sesuatu yang dipaksakan.

Keganjilan ini semakin jelas ketika di kamarnya sudah tergolek pula sebuah buntalan kain. Ternyata benar, gurunya sudah mempersiapkan segalanya sejak dini.

"Aki, benar-benarkah saya harus pergi secepat ini?" "Ya …"
"Subuh hari?"

"Ya, supaya engkau tidak kemalaman di Hutan Bukit Banyukerta …" "Aki …"
"Apa?"

"Tak sebaiknyakah kita berkelana berdua?" "Hahaha!" Ki Darma tertawa keras.
"Kau beritahu, kapan saya harus kembali?"

"Nanti bila benar harapanku sudah terkabul. Tapi aku pun sebenarnya tak peduli kapan kau akan kembali. Kau harus tahu, perjuanganmu amatlah berat. Membela rakyat bukanlah pekerjaan enteng."

"Ki Guru, saya akan berusaha melaksanakan tugasmu dengan baik sebab saya ingin segera kembali ke sini …" kata Ginggi yang hanya disambut oleh gelak tawa gurunya. Namun Ginggi tak tersinggung gurunya hanya tertawa saja. Yang dia sedihkan adalah mengapa perpisahan dengan gurunya harus secepat ini.

Ginggi memang rasakan, selama bersama gurunya tak ada perhatian berlebih. Tak ada kesejahteraan baik makanan atau pun pakaian. Kalau Ki Darma berburu mencari makanan di hutan, hasilnya terkadang dimakan sendiri. Kalau ada sisa, Ginggi makan sisanya, kalau tak ada, Ginggi cari sendiri, sekalian bawa hasil lebih untuk persediaan gurunya. Namun demikian, Ginggi tidak pernah tersiksa dengan ini. Perbuatan gurunya yang seenaknya bahkan dipakai alasan agar dirinya pun bisa merdeka pula seperti gurunya. Di antaranya bisa menolak perintah gurunya. Inilah pertautan batin yang erat antara dirinya dengan gurunya, yaitu samasama memberikan kebebasan. Tapi kini ada perasaan tak enak mendera dirinya. Kini pemuda ini merasa khawatir, khawatir tak bisa bertemu lagi dengan gurunya. Ginggi juga merasa khawatir, khawatir akan kesendirian Ki Darma. Puncak Gunung Cakrabuana ini begitu sunyi dan begitu sepi.
Tidakkah Ki Darma kelak akan merasa kesunyian sebab telah kehilangan dirinya?

Kalau Ginggi sudah pergi turun gunung, tentu Ki Darma sudah tak bisa marah-marah lagi seperti biasa. Bila dirinya sudah pergi, Ki Darma pasti sudah tak punya lagi teman untuk bersilang pendapat. Dan kalau dirinya sudah mengembara, pasti Ki Darma sudah tak bisa memaksakan pendapatnya lagi. Ya, kepada siapa Ki Darma akan berhubungan untuk melepaskan segala macam unek-unek di hatinya?

"Aki, izinkan saya untuk berkumpul denganmu, dalam satu dua hari ini saja…" pinta Ginggi mengiba.

"Kau harus berangkat sekarang juga, Ginggi!"

"Tidakkah Aki menginginkan saya berburu kelinci dulu, berburu menjangan dulu atau sekadar berburu burung walik saja dulu? Kita kan perlu makan bersama untuk sekadar mengucapkan selamat berpisah?"

"Tidak" "Aki …"
"Tidak. Besok subuh kau harus pergi. Sekarang cepatlah tidur!" bentak Ki Darma.

Wajah Ginggi meredup. Maka dengan serta-merta dia pun segera beranjak ke biliknya. Begitu hingga subuh tiba.

Ketika kokok ayam pertama berbunyi dari hutan kejauhan, Ki Darma sudah mengetuk-ngetuk daun pintu.

"Bangun! Bangun!" teriak Ki Darma.

Ginggi yang semalaman tak bisa tidur sebenarnya hanya tinggal buka pintu saja. Dia pun sudah siap dengan buntalan di punggungnya.

"Ya, bagus. Sekarang cepatlah pergi!" Ginggi masih terpaku.
"Ini sebuah perintah, anak muda. Sesuatu yang jarang aku lakukan. Namun kali ini, perintah harus kau taati," kata Ki Darma tegas.

"Baik, Ki Guru …"

"Dan jangan sekali-kali kau berani tengok lagi ke belakang …" "Baik, Ki Guru …" "Kendati ada sesuatu yang aneh sekali pun …" "Ba …baik, Ki Guru!"
***

Ginggi turun gunung dengan perasaan terganggu. Kepergiannya yang tergesa ini dianggapnya sebagai sesuatu misteri. Ada rahasia apakah sehingga Ki Darma harus melakukan hal seperti ini?

Memang benar, kadang-kadang gurunya ini suka memaksakan kehendak tapi yang ini terasa ganjil.

Dan ini misterius bagi pikiran Ginggi. Apalagi Ki Darma mengucapkan satu kalimat yang aneh, yaitu Ginggi musti berjanji untuk tidak mau menengok ke belakang walau ada sesuatu yang aneh. Akan ada kejadian apakah sebenarnya?

"Kau ikuti Sungai Citajur atau Sungai Cilanjung agar kau tak kehilangan arah. Tapi hati-hati, jangan masuk ke kiri arah Lemahsugih atau Bantarujeg. Kau harus menyusur arah kanan menuju Kampung Cae atau Sukanyiru saja. Bila kau sudah lepas kaki Gunung Cakrabuana untuk memulai perjalanan panjang, jangan sekali-kali lewat Sumedanglarang tapi kau lewatlah ke Kandangwesi," kata Ki Darma tadi malam.

"Tapi hati-hati, di Kampung Cae kau jangan berani mengobral riwayat. Siapa dirimu, dengan siapa dan di mana kau tinggal, itu sesuatu yang harus kau tutupi," kata Ki Darma lagi.

Ki Darma bahkan tadi malam memberinya petuah agar Ginggi mau merahasiakan kepandaiannya.

"Jauhi perkelahian. Kalau ada yang menantangmu, kau hindari. Bila dia mengejarmu, kau lari. Hanya saja bila sudah menghindar kau kepepet, maka lawanlah asal jangan mencederai lawan
…" kata Ki Darma.

***

Memasuki hutan Bukit Banyukerti, sinar matahari hanya nampak dari sela-sela dedaunan saja, padahal sinar matahari itu tepat di atas ubun-ubun.

Maka ucapan Ki Darma benar belaka sebab bila Ginggi tidak meninggalkan puncak pada subuh hari, maka dia akan memasuki hutan ini pada senja hari. Padahal sesudah melewati perbukitan ini, dia pun masih harus melewati satu wilayah perbukitan lagi, Pasir Jami Datar namanya.

Kata Ki Darma waktu kemarin, kedua perbukitan ini jarang dijamah manusia. Penduduk di kaki bukit jarang yang berani naik ke sini apalagi di saat senja hari. Ginggi mempercayainya sebab dia pun tahu kalau di daerah ini masih didapat berbagai binatang buas seperti ular dan macan tutul. Namun banyaknya binatang buas pun sebenarnya merupakan tanda bahwa di daerah ini banyak binatang buruan, termasuk yang biasa dimakan manusia. Di Bukit Banyukerti banyak didapat pohon kuray, puspa, rasamala dan juga kareumbi. Bila tiba saatnya kareumbi berbuah, maka akan banyak burung walik di sana. Bulu burung ini indah kehijau-hijauan namun dagingnya pun cukup gurih untuk dibakar.

Hari-hari ini kareumbi tengah berbuah ranum. Dan Ginggi amat menyesal, mengapa Ki Darma memaksa dirinya untuk pergi. Padahal bila tak begitu, hari-hari ini dia bersama gurunya bisa pesta besar memakan burung walik bakar.

"Burung walik kesenangan Ki Guru. Dia pasti tahu hari-hari ini kareumbi tengah berbuah. Tapi kenapa Ki Guru malah mengusirku?" keluh Ginggi dalam hatinya.

Dan di saat hatinya tengah berkeluh-kesah inilah dia mendadak menghentikan langkahnya.

Telinga Ginggi melalui ilmuHiliwir Sumping , yaitu semacam ilmu untuk mendengarkan suara halus telah mendeteksi desiran-desiran mencurigakan.

"Ada belasan orang berlari cepat dan menggunakan ilmuNapak Sancang …" desis mulutnya perlahan.

Napas Sancang adalah semacam ilmu meringankan tubuh. Orang yang pandai menggunakan ilmu ini bisa berlari di atas hamparan rumput tanpa telapak kaki menginjak tanah, bahkan bisa berlari dengan cepat di atas permukaan air.

Kata Ki Darma, orang-orang pandai di Pajajaran suka menggunakan ilmu ini di saat penting. Namun orang-orang dari manakah di tengah hari seperti ini berduyun-duyun menuju puncak?

Untuk tidak berpapasan dengan mereka, Ginggi segera meloncat ke atas dahan sebuah pohon.

Maka tak berapa lama kemudian, belasan orang terlihat berlari kencang menuju ke atas bukit. Tampang mereka gagah-gagah. Pakaian yang mereka kenakan pun bagus-bagus dan seperti berseragam pula. Mereka mengenakan baju warna biru tua tangan panjang yang dilapis pula dengan baju rompi terbuat dari beludru hitam. Tiap sisi baju rompi ini dikelim benang perak. Celana yang mereka kenakan pun sama yaitu celana sontog dari jenis beludru dan sama diberi benang warna perak pada sisi-sisinya. Mereka pun sama menggunakan ikat kepala dari kain batik jenishihinggulan , corak batik khas Pajajaran.

"Nampaknya mereka orang-orang kota. Mungkin datang dari kalangan istana. Tapi siapakah mereka?"

Ginggi hanya sanggup bertanya dalam hatinya saja. Memang ada keinginan untuk membuntuti mereka. Namun pemuda itu teringat akan ucapan gurunya agar tak menggubris apa pun yang sekiranya dianggap aneh menurut pandangannya.

"Mereka nampaknya akan menuju Puncak Gunung Cakrabuana. Apakah mereka bermaksud mengunjungi Ki Guru?" pikirnya lagi.

Kembali rasa penasaran menggoda dirinya. Namun kembali dia pun menahan godaan ini karena teringat akan pesan gurunya.

Dusun Cae Menjelang senja hari, pemuda itu sudah sampai di ujung batas desa. Kata Ki Darma, bila akan masuk ke sebuah desa, tidak boleh kemalaman sebablawang kori akan segera ditutup. Lawang kori adalah semacam pintu gerbang. Zaman dulu, biasanya sebuah kampung akan dikungkungi pagar tinggi dan memiliki sebuah gerbang terbuat dari kayu jati gelondongan.
Gerbang akan ditutup menjelang senja, menghindarkan masuknya binatang buas atau para perampok. Bila ada yang memaksa masuk, akan ditanya petugastugur yaitu peronda malam.

Kalau tak salah perkiraan, inilah Desa Cae seperti apa yang dikatakan Ki Darma. Ginggi menduga demikian sebab dusun ini terletak di kaki Gunung Cakrabuana. Lebih meyakinkan lagi, desa ini terletak di persimpangan jalan roda pedati.

Desa Cae yang terletak di sebelah barat gunung, jadi persimpangan jalan. Ke arah barat akan mengarah Kerajaan Sumedanglarang, bila sedikit mengarah ke timur laut akan mengarah keKandagalante Limbangan (Kandagalante adalah pejabat setingkat wedana untuk ukuran masa kini).

Sebelum memasuki wilayah desa, jalan ke arah itu hanya kecil saja. Bahkan kian jauh dari desa, jalan kecil hanya berupa lorong saja, apalagi bila berada di daerah lereng bukit. Namun sepemakan sirih lamanya, bila berjalan cepat, Ginggi akan sudah menemukan jalan selebar satudepa (kurang lebih 1,698 meter) yang kian menuju lawang kori akan semakin lebar.

Ginggi meneliti dari kejauhan, lawang kori sudah tutup sebab senja telah jatuh.

Ketika dia menghampiri halaman depan gerbang, terlihat dua orang penjaga berpakaian serba hitam segera mencegatnya. Dua penjaga itu masing-masing membelitkan kainsarung poleng di pinggang dan di kepala masing-masing menggunakancotom (sebangsa topi anyaman bambu bercaping lengkung).

"KalauKi Silah (Saudara) seorang pedagang, musti berbajukampret celanagombor dan memaki ikat kepala batik jenispupunjungan . Kalau engkau seorang petani, musti mengenakandudukuy toroktok (topi anyaman bambu bercaping lebar) dan memakaisontog (celana sebatas dengkul). Namun Ki Silah pun bukan seorang peladang dan bukan pula pengambil kayu. Kau pun nampaknya bukan orang sini," kata seorang dari mereka bertubuh tinggi berkumis tipis, bertanya bertele-tele.

"Aku bukan petani, bukan pula peladang," jawab Ginggi tanpa basa-basi, sehingga membuat penjaga satunya bertubuh gempal, mengerutkan dahinya.

Nada suara Ginggi berlogat asing dan terdengar ketus bagi pendengaran mereka. "Engkau dari mana?" tanya lagi Si Gempal dengan nada ketus pula.
Ginggi tak berkata sebab pertanyaan yang satu ini kata gurunya tak boleh dijawab. "Kau tak mau jawab?"
"Tidak mau!" "Kau orang jahat?" "Kenapa lantaran tak mau jawab disebut penjahat?" tanya Ginggi menyipitkan matanya.

"Orang yang tak mau mengatakan siapa dia sebenarnya, pasti menyembunyikan sesuatu. Apalagi yang tengah disembunyikan kalau bukan kejahatan?"

Si Tubuh Gempal berkacak pinggang dengan tangan kanannya seolah menunjuk pada sebatang golok yang terselip di pinggang.

"Aku bukan orang jahat. Tapi kalau tak percaya terserah. Tak ada orang yang senang memaksakan kehendak, termasuk aku," jawab Ginggi tetap ketus namun bergerak seperti akan memasuki gerbang lawang kori.

"Hai, jangan masuk sembarangan! Ki Ogel, cepat kunci gerbang!" kata si jangkung kurus.

Si Gempal yang disebut Ki Ogel cepat mendorong rapat pintu gerbang namun Ginggi menahan ujung gerbang.

"Kau orang jahat!" hardik Ki Ogel.

"Membiarkan orang tinggal di luar gerbang untuk diganggu binatang buas, itulah yang jahat!" jawab Ginggi tetap ketus.

Ki Ogel marah. Dia dengan cepat mencabut golok dari sarungnya. Dan kendati hari sudah senja, namun kilatan mata golok nampak jelas berkilat-kilat, sebagai tanda golok itu amat tajam.

Ginggi tak takut oleh kilatan golok. Namun kata gurunya, jangan mencoba berkelahi sembarangan. Dari pada berkelahi tanpa sebab-sebab jelas, lebih baik lari. Maka ingat pesan gurunya, Ginggi bersiap-siap memasuki gerbang.

Namun kedua penjaga gerbang rupanya sudah dapat menduganya. Maka Ginggi dikepung kiri dan kanan. Dua orang itu membelakangi jalan dan tubuh mereka seolah menutupi gerbang kampung.

Ki Ogel siap dengan goloknya, kecuali temannya hanya memasang kuda-kuda saja. Namun sebelum keributan terjadi, dari arah belakang gerbang terdengar suara, menyuruh agar keributan dihentikan.

"Di saat matahari sudah tenggelam, di saat parawiku tengah memujaHyang , mengapa kalian malah membuat onar?" kata seorang lelaki tua berumur kira-kira 70 tahunan. Pakaiannya kain katun kasar warna putih, begitu pun tutup kepalanya, tutup kepala, warna putih.

"Rama, ada orang asing mau memasuki kampung!" kata Si Jangkung dengan suara halus dan hormat.

"Orang asing singgah di kampung kita sudah biasa, mengapa musti diributkan, Ki Banen?" "Dia mungkin orang jahat!" maka Ki Ogellah yang menjawabnya. "Yang namanya mungkin artinya belum tentu. Maka sebelum kejahatannya terbukti, kita jangan coba menindaknya. Jangan menilai orang dengan rasa curiga sebab hanya akan menjatuhkan martabat kita saja," tutur lelaki tua penyabar itu.

"Namun Rama, anak muda ini tak dapat menjaga lidah dengan baik, tutur bahasanya ketus, jauh dari kesopanan," tutur Ki Ogel penasaran.

Kini giliran orang tua itu menatap wajah Ginggi. Dan Ginggi memalingkan muka tak sanggup balik menatap lama.

"Nah coba Rama, betapa tak sopannya anak muda ini…" kata Ki Ogel.

"Orang muda, engkau nampak aneh, tak seperti orang Pajajaran pada umumnya. Tapi sepanjang tak menggangu ketentraman kampung, tak apalah. Begitu pun bila kau tak mau mengatakan siapa dirimu. Namun satu hal saja tentu aku boleh tahu, untuk apa kau kunjungi dusun kami?" tanya lelaki tua penyabar ini. Suaranya menyejukkan sehingga secara spontan hati pemuda itu pun segan juga.

"Cuaca semakin kelam. Mari, singgah ke gubukku saja…" ajak lelaki tua berbaju putih-putih itu.

"Rama …" Ki Ogel masih bercuriga.

"Tak apalah …" kata lelaki yang dipanggil Rama.

"Kalau ingin diterima dengan baik, kau jangan macam-macam, anak muda!" kata Ki Ogel masih tetap mengumbar ancaman.

Maka sesudah lawang kori ditutup rapat-rapat, mereka beriringan masuk kampung. Rama di depan dan Ginggi di belakangnya. Sementara Ki Ogel dan Ki Banen seolah mengawal Ginggi paling belakang.

Ginggi meneliti, kampung ini tak begitu besar. Barangkali penghuninya tak lebih dari 50 rumah saja. Bangunan rumah rata-rata dibuat dari dinding bambu, beratap daun nipah. Ada rumah besar menggunakan jenis panggung, sementara yang lainnya berlantai tanah saja.

Lelaki penyabar itu membawanya ke sebuah rumah paling besar di kampung itu. Sebelum masuk rumah, Ginggi sempat menoleh ke belakang.
"Siapakah orang tua yang baik ini?" tanyanya.

"Beliau adalah Rama Dongdo," ujar Ki Banen yang pendiam. "Rama itu sebutan apa?"
"Orang yang dituakan di sini, kami juluki Rama." "Oh …" "Ki Kuwu Suntara juga harus mentaati apa ucapan Rama Dongdo."

"Makanya kau musti hormat kepada Rama Dongdo sebab semua orang pun begitu," kata Ki Ogel.

Rumah besar terpisah ini menghadap ke sebuah pekarangan luas. Tapi yang membuat Ginggi heran, di pekarangan banyak barang diletakkan di beberapa wadah seperti carangka dan dongdang, entah apa isinya.

"Itulah hasil bumi dari sini untuk dikirimkan ke Pakuan," tutur Ki Banen seperti menduga pertanyaan Ginggi.

"Seba?"

"Seba adalah pajak tahunan tahunan yang dikumpulkan semua semua rakyat Pajajaran. Barang-barang hasil bumi ini akan dikirim bertepatan dengan upacara Kuwerabakti di dayo (ibukota) nanti," kata Ki Banen lagi.

"Makanya kami curiga sama orang asing karena keamanan barang-barang ini," potong Ki Ogel.

Ginggi tak sempat meneliti lebih jauh sebab dia dipersilakan duduk di bale-bale.

"Nyai, cepat bawakan air putih satu kendi lengkap denganlumur -nya (tempat minum dari buluh bambu). Lebih baik lagi bila masih ada rebus kacang atau jagung," kata Rama Dongdo entah berbicara kepada siapa.

Sementara menunggu penganan datang, Rama Dongdo menarik sebuah baki kecil di mana di atasnya tersimpan tempat sirih. Dia menawari makan sirih namun Ginggi menolaknya.

Kemudian Rama Dongdo sendirian menyusun daun sirih. Dipilihnya yang hijau tua namun masih nampak segar dan bersih. Di atas lembaran daun sirih diletakkannya beberapa jenis rempah-rempah. Ada pinang sekerat, kapolaga dua butir, daun saga sejumput dan gambir seujung kuku yang dicampurnya dengan sedikit kapur. Sirih yang sudah berisi rempah dilipatnya dan kemudian dikunyahnya. Pelan dan tenang sepertinya menikmatinya.

"Aku seorang pengembara dan memasuki kampung ini hanya karena kemalaman saja …" tutur Ginggi tanpa diminta.

Rama Dongdo mengangguk-angguk. Menatap sejenak dan kemudian mengangguk-angguk lagi. Tapi Ginggi bisa menilai, sebenarnya orang tua ini masih menginginkan keterangan lebih rinci lagi. Misalnya, dari mana dia datang dan hendak ke mana dia pergi. Namun Rama Dongdo mengulum penasaran dengan kesabaran tak seperti kedua penjaga tadi misalnya.

Namun sebelum Ginggi berkata lagi, dari ruangan dalam muncul seorang gadis dengan baki di kedua tangannya. Ki Ogel segera berdiri dan membantu gadis itu mengambil-alih bawaannya. Ginggi selama ini hanya tinggal di gunung berdua bersama gurunya. Namun demikian, paling sedikit setahun sekali suka turun gunung untuk menukarkan hasil hutan dengan berbagai keperluan sehari-hari.

Di Sukanyiru, sebuah dusun kecil lereng gunung, Ginggi pernah melihat makhluk bernama perempuan namun bila dibandingkan dengan perempuan di Sukanyiru, gadis yang ada di hadapannya kini nampak lain. Dia lebih muda, lebih elok dan lebih bersih kulitnya.
Perempuan ini begitu indah.

Perempuan muda ini duduk bersimpuh di samping Rama Dongdo untuk menurunkan berbagai penganan. Dengan jari-jarinya yang lentik dan putih, secara lemah-gemulai mengangkat piring terbuat dari tanah liat dan menaruhnya di atas tikar pandan.

Ginggi seperti tak bosannya melihat gerakan tangan perempuan itu. Dan begitu semua penganan selesai ditaruh, selesai pula gerakan gemulai itu, membuat Ginggi kecewa hatinya. Lebih kecewa lagi manakala gadis itu berjingkat meninggalkan beranda. Dan Ginggi tak sempat berlama-lama menatap paras gadis itu sehingga hanya selintas saja melihat wajah putih bulat telur dengan sepasang pipi agak kemerahan karena jengah ditatap pemuda asing.

Namun sebelum tubuh langsing padat itu benar-benar berlalu, ada sekilat kerling yang tajam menyapu mata Ginggi, membuat pemuda itu terkesiap. Ginggi terpana dibuatnya.

Kalau saja tidak terdengar suara batuk Rama Dongdo memperingatkna, barangkali Ginggi hanya terbengong-bengong menatap ke arah di mana gadis itu berlalu.

"Ayo anak muda, nikmatilah semua yang ada di sini," tutur Rama Dongdo membuat Ginggi serasa disindir.

Dan kendati wajahnya masih terasa panas karena malu, Ginggi akhirnya mengambil tempat minum dan mengisinya dengan air kendi. Ketika diminum terasa kesegaran melingkupi tubuhnya. Dia sadar, sejak pagi mulutnya tak kemasukan makanan atau minuman. Maka ketika di hadapannya tergelar berbagai penganan, Ginggi pun tak membiarkannya berlamalama. Makanan yang tergelar itu dia sikat tanpa basa-basi. Melihat ini, Ki Ogel dan Ki Banen terkekeh dibuatnya tapi sambil ikut pula mencicipi penganan.

"Asalkan engkau tak membuat onar, engkau boleh melepas lelah di sini, anak muda," tutur Ki Ogel mulai memberi tempat di hati Ginggi.

"Atau kau tinggal di sini saja untuk beberapa lama, mengingat desa ini belakangan tengah butuh tenaga muda," tutur Ki Banen.

Ginggi menatap keduanya.

"Betul kami butuh tenagatugur ," kata Ki Banen. "Apa itu?"
"Aneh, anak muda ini sepertinya tidak memiliki pengetahuan apa-apa. sepertinya apa yang ada di dunia selalu dia tanyakan," kata Ki Ogel masih mengunyah penganan. "Kau pasti orang gunung atau dusun terpencil yang jauh dari keramaian, anak muda …" kata Ki Banen.

"Coba katakan, dari manasih kamu sebenarnya?" Ki Ogel kembali penasaran.

"Aku akan jadi tugur kalau kalian anggap aku mampu melakukannya …" kata Ginggi mengalihkan pertanyaan dengan jawaban lain.

"Biarlah Ogel kalau anak ini bertahan dengan keinginannya ..." tutur pula Rama Dongdo memaklumi sikap Ginggi.

"Ya, sungguh aku mau jadi tugur!" kata Ginggi lagi.

"Katamu kau tidak tahu tugur itu apa?" potong Ki Ogel mulai merasa sebal kembali. "Ya … tugur itu, apa sih?" Ginggi menggaruk-garuk kepalanya kebingungan. "Tugur itu peronda malam, penjaga keamanan kampung."
"Apakah kampung ini tidak aman?"

"Dikatakan aman, sih aman. Tapi dikatakan tidak, juga tidak. Ya, begitulah …" jawab Ki Ogel.

"Apakah ke kampung ini kadang-kadang ada perampok atau pembunuh?" Ginggi menatap ke arah Rama Dongdo.

Yang ditatap menghela napas panjang.

"Orang jahat bertebaran di mana-mana, tidak pula musti menempel di tubuh pembunuh atau perampok. Tapi yang namanya orang jahat pasti meresahkan …" malah Ki Banen yang jawab.

"Ya … bisa juga begitu," sambung Ki Ogel.

"Sudahlah, tak baik menyuguhi tetamu dengan hal-hal seperti itu," potong Rama Dongdo dan menepiskan tangannya ke samping. "Banen, sebaiknya siapkan saja tempat bermalam untuk pemuda ini. Dan kau jangan risau, setiap malam tugur selalu menjaga kampung."

"Mari anak muda, kau kuantar kebale gede ," kata Ki Banen sesudah Ginggi selesai makanmakan.

"Bale gede?"

"Bale gede itu tempat musyawarah seisi kampung. Namun bila ada orang yang singgah karena kemalaman, mereka tidur di sana," kata Ki Ogel berjingkat.

Obrolan di Garduh Ginggi sebenarnya masih ingin bersila ditepas (beranda) ini. Tapi karena Rama Dongdo pun sudah memberi tanda, maka pemuda ini akhirnya turun dari bale-bale untuk mengikuti Ki Ogel dan Ki Banen yang sudah berangkat duluan.

Untuk terakhir kalinya mata Ginggi menyapu pintu ruangan tengah, kalau-kalau gadis mungil itu masih sempat bisa dilihatnya lagi. Namun tak ada sesuatu pun di ruangan tengah itu, sebab pelita di tempat itu sudah lama dipadamkan.

"Apakah aku harus tidur di bale-gede, Ki?" tanya Ginggi sambil meneliti perkampungan.

"Ya, bale gede ataupaseban adalah tempat kami berkumpul merundingkan sesuatu. Tapi kalau malam bisa juga digunakan oleh pengembara untuk menumpang tidur," kata Ki Ogel sambil terus melangkah di depan bersama Ki Banen.

"Aku tak bisa tidur sore-sore. Kalau kalian tak keberatan, aku memilih tinggal di gardu saja. Biar ikuttugur atau meronda dengan yang lain. Bagaimana?"

Ki Ogel dan Ki Banen saling pandang.

"Bagaimana kami percaya padamu? Bisa-bisa kau malah melakukan pencurian!" kata Ki Ogel.

"Mana bisa aku mencuri, kan aku sendiri diawasi tugur," kata Ginggi menatap mereka. Ki Ogel tersenyum geli memikirkan jalan pikirannya tadi.
"Kalau kamu mau menemani tugur, baiklah. Begitukah, Ki Banen?"

"Terserah bagaimana baiknya, Ki Ogel," kata Ki Banen yang nampak kurang gemar berbicara ini.

"Nah, kalau begitu, perkenalkan aku kepada yang menjadi tugur malam ini," kata Ginggi.

"Yang akan menjadi tugur malam ini, ya kami sendiri. Mungkin dibantu oleh dua orang lagi," kata Ki Ogel.

0 Response to "Senja Jatuh di Pajajaran Jilid 02"

Post a Comment