Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari Jilid 04

Mode Malam
JILID 04

Lawe bukan anak muda yang banyak mengalah.

Maka ia pun menerima tantangan itu.

“Hati-hatilah”, berkata Mahesa Amping melepas Lawe yang telah mempersiapkan dirinya menerima tantangan anak muda itu.

“Kukira kamu akan lari bersembunyi”, berkata anak muda itu.

“Aku tidak pernah lari untuk sebuah tantangan”, berkata Lawe dengan sikap penuh percaya diri.

“Terima seranganku”, berkata anak muda itu sambil melompat menerkam seperti harimau hutan menerkam buruannya.

Lawe memang telah siap, mendapatkan serangan yang dahsyat itu ia pun segera melompat ke samping sambil membalas serangan dengan luncuran tendangan seperti elang menerkam sasarannya kearah pinggang lawan.

Demikianlah, awal pertempuran menjadi semakin seru. Masing-masing telah meningkatkan tataran ilmunya. Mahesa Amping yang mengetahui sampai dimana tataran ilmu Lawe menjadi gelisah melihat bahwa anak muda itu sepertinya dapat mengimbangi ilmu Lawe.

Tenaga anak muda itu memang luar biasa. Angin pukulannya dapat dirasakan oleh Lawe seperti pukulan yang dilambari tenaga yang besar. Tapi Lawe adalah seorang murid dari Padepokan Bajra Seta pilihan, dengan lincah menghindar dari setiap serangan dan menghentak balas menyerang dengan tidak kalah dahsyatnya.

Luar biasa pertempuran itu, semak-semak belukar seperti habis terkikis menjadi rata dengan tanah dan debu beterbangan mengepul menutupi tubuh-tubuh mereka.

Anak muda itu telah meningkatkan tataran ilmu puncaknya, angin pukulannya membawa hawa panas mengepung bertubi-tubi kearah Lawe. Terperanjat Lawe mendapatkan hawa pukulan yang membara itu. Iapun telah melambari dirinya dengan kekebalan wadagnya, tapi hawa panas itu terus meningkat.

Butir-butir keringat telah membasahi wajah dan tubuh Lawe. Tapi semangatnya tidak pernah susut melompat terbang dan terjun menerkam lawan seperti seekor raja elang tidak kalah dahsyatnya.

Tapi anak muda itu masih terus meningkatkan tataran ilmunya, hawa panas telah mengepung diri Lawe. Argalanang terpesona melihat pertempuran yang begitu dahsyat itu. Dalam penglihatannya tidak lagi dapat menentukan siapakah yang lebih kuat di antara keduanya.

Tidak seperti Argalanang yang terpesona melihat pertempuran itu, Raden Wijaya menjadi gelisah melihat Lawe yang semakin lama lebih banyak mengelak dan menghindar karena anak muda itu gerakannya menjadi semakin cepat dengan pukulannya yang membawa hawa panas menyerang bertubi-tubi seperti ombak tidak pernah berhenti.

Sementara itu Mahesa Amping bukan cuma gelisah melihat pertempuran itu. Dengan panggraita dan pendengaran yang peka dirinya telah merasakan kehadiran seseorang disekitar mereka.

“Cukup!!!”, tiba-tiba saja terdengar suara keras yang dilambari tenaga dalam yang tinggi. Anak muda itu terlihat melompat keluar dari pertempuran.

Lawe terlihat menarik napas lega terlepas dari serangan yang tiba-tiba saja berhenti.

“Anak muda itu bukan orang yang kita cari”, berkata seseorang yang tiba-tiba saja muncul diantara mereka. Melihat dari rambut yang sudah penuh berwarna putih menandakan orang itu sudah berumur setengah abad lebih. Tapi perawakan tubuhnya masih tetap kekar.

“Terima kasih telah bersedia melayani anakku”, berkata orang tua itu sambil menjura hormat kepada Lawe. “Ternyata kami berhadapan dengan anak-anak muda yang mumpuni”, berkata orang tua itu sambil memandang Mahesa Amping dengan penuh kagum. Diantara empat orang anak muda ini, hanya Mahesa Amping yang tidak tergetar oleh lemparan suaranya yang telah dilambari tenaga cukup kuat.

“Siapakah gerangan orang tua mungkin dapat sudi memperkenalkan diri”, berkata Mahesa Amping penuh hormat.

“Ternyata kalian adalah anak-anak muda yang berperilaku santun, kami jadi malu telah memulai sebuah keributan”, berkata orang tua itu. “Perkenalkan namaku Datuk Belang, ini anakku bernama Pranjaya”, berkata kembali orang tua itu memperkenalkan dirinya.

Mahesa Amping mewakili kawan-kawannya ikut memperkenalkan diri mereka.

“Mari kita cari tempat teduh, agar suasana hati kita menjadi lebih teduh lagi”, berkata orang tua yang memperkenalkan dirinya bernama Datuk Belang itu mengajak mereka mencari tempat teduh.

“Sebelumnya kami mohon maaf sekali lagi, telah membuat sebuah keributan yang tidak berarti ini”,  berkata Datuk Belang ketika mereka sudah berada di sebuah kerimbunan pohon yang banyak di sekitar bulakan itu. “Kami mempunyai seorang musuh besar yang tidak kami ketahui tentang sosoknya maupun keberadaannya, orang itu dikenal memakai julukan sebagai Raja Belang”, berkata Datuk Belang memulai sebuah cerita.

Datuk Belang pun bercerita dari awal, bermula ketika ia pergi merantau dalam waktu yang cukup lama ketika masih muda dan berguru dengan seorang sakti di daerah sungai Kampar. Karena tugas dan kesibukannya, lama ia berpisah dengan gurunya. Ada sebuah kabar dari tempatnya bertugas bahwa gurunya telah mengangkat seorang murid selain dirinya. Hingga pada suatu hari, ada sebuah kerinduan dirinya untuk mengunjungi gurunya itu di Sungai Kampar. Terkejutlah dirinya ketika sampai di pondok tempat gurunya berada. Ditemuinya keberadaan gurunya yang sudah tidak bernyawa lagi.

“Guruku telah diracun dengan sebuah racun yang amat kuat. Racun ikan Buntal”, berkata Datuk Belang.

“Racun ikan Buntal??”, berkata Raden Wijaya dan Mahesa Amping berbarengan.

“Kalian mengetahui tentang racun itu?”, berbalik Tanya Datuk Belang.

“Maaf kami telah memutus cerita Datuk, lanjutkanlah ceritanya, nanti berganti kami akan bercerita tentang racun ikan Buntal itu”, berkata Raden Wijaya.

Datuk Belang pun melanjutkan ceritanya, bahwa ternyata gurunya masih sempat membuat sebuah pesan, menulis sebuah surat untuk dirinya yang isinya memohon untuk membalas sakit hatinya kepada murid durhaka itu yang bukan saja telah mencelakakannya, tapi juga telah membawa lari sebuah kitab rahasia tentang racun ikan Buntal serta sebuah keris pusaka. “Keris itu bernama Siginjei, sebuah keris yang sangat kuat sarat dengan racun yang ampuh”, berkata Datuk Belang sepertinya telah menyelesaikan ceritanya.

“Secara pribadi, aku mohon maaf telah sembarangan menyebut diri sebagai putra raja belang”, berkata Lawe yang telah mengerti duduk persoalannya.

“Akulah yang harusnya minta maaf, telah menantangmu”, berkata Pranjaya yang ternyata seorang anak muda yang sangat santun.

“Apakah Datuk telah menguasai ilmu dari kitab racun ikan buntal itu?”, bertanya Mahesa Amping.

“Guruku sendiri mewanti-wanti agar tidak menggunakannya bila terpaksa sekali, yang kukhawatirkan orang itu akan menggunakannya untuk sebuah kejahatan”, berkata Datuk Belang.

Raden Wijaya sesuai janjinya ikut bercerita sedikit mengenai Ibundanya serta kedua orang yang naas di kamar penginapan di Bandar Sebukit.

“Sepertinya musuh kita orang yang sama”, berkata Datuk Belang setelah mendengar cerita dari Raden wijaya.

“Dan kita berjodoh bertemu di tempat ini”, berkata Mahesa Amping.

“Akupun senang berkenalan dengan kalian”, berkata Datuk Belang.

Akhirnya, mereka yang punya satu tujuan ke Kotaraja telah sepakat untuk berjalan bersama.

“Bila kalian tidak keberatan, singgahlah di rumah kami di Kotaraja”, berkata Pranjaya.

“Bukankah kalian dari Sungai Kampar ?”, bertanya Argalanang

“Yang dimaksud anakku adalah rumah Ninik Mamak kami di Kotaraja”, berkata Datuk Belang menjelaskan.

Ahirnya setelah tidak begitu lama berjalan kaki, mereka telah sampai di Kotaraja. Ada tiga pintu gerbang Kotaraja. Pintu gerbang yang menghadap ke timur, barat dan gerbang satu lagi menghadap ke arah pantai.

Mereka masuk kekotaraja lewat pintu gerbang yang menghadap arah timur.

Ramai nian suasana kotaraja Melayu di siang hari. Banyak pedati memuat berbagai barang dagangan. Satu dua juga terlihat kereta Kencana yang ditarik dua ekor kuda. Didalamnya duduk seorang putri bangsawan terlihat di balik tirai jendela yang kadang terjurai mengintip wajah putri Melayu yang jelita. Sementara itu yang berjalan kaki juga lebih banyak lagi, berjalan menuju pasar yang ada ditengah kotaraja.

Beberapa orang juga terlihat baru pulang membawa beberapa barang belanjaannya pulang menuju rumahnya.

“Itulah istana elok”, berkata datuk Belang ketika mereka berjalan melewati istana Raja. “Istana itu memang sudah elok, makanya disebut sebagai istana elok”, bekata kembali Datuk Belang menjelaskan.

“Jadi Istana itu bernama Istana Elok?”, berkata Lawe.

Istana Kerajaan Melayu memang sangat megah berdiri dibatasi dinding. Dipojok kanan dinding berdiri menara panggung yang tinggi menghadap pantai. Dari tempat itu akan terlihat jung yang datang dan pergi melewati Selat Malaka. Didalam istana sendiri ada lima buah  rumah  panggung  yang  besar.  Panggung Rumah Banjar Istana terletak di tengah tempat Raja menerima tamu dan para pejabatnya.

Di alun-alun yang terletak di depan istana telah dibangun dua buah panggung. Satu panggung diperuntukkan untuk peserta sayembara yang akan bertanding. Sementara satu panggung lagi untuk para undangan tamu kehormatan dan Raja yang dapat menyaksikan pertandingan dengan jelas.

“Pihak kerajaan telah benar-benar mempersiapkan sayembara, masih tiga hari lagi panggung sudah berdiri”, berkata Argalanang memandang panggung tempat pertandingan yang tinggi hingga siapapun berdiri di tempat jauh akan dapat ikut menyaksikan dengan jelas. 

“Mengapa Raden tidak ikut mendaftar mewakili Bangsawan Singasari?”, bertanya Datuk Belang kepada Raden Wijaya.

“Aku masih merasa belum pantas berdiri di panggung itu, apalagi bila berhadapan dengan jurus pukulan harimau yang sudah kusaksikan kedahsyatannya”, berkata Raden Wijaya sambil tersenyum.

“Raden hanya pandai merendahkan diri”, berkata Datuk Belang.

Tidak terasa mereka sudah jauh meninggalkan istana. Hingga akhirnya sampai juga di rumah panggung tempat ninik mamak Datuk Belang pernah tinggal.

“Selamat datang, lama kiranya Datuk tidak berkunjung di panggung ini”, berkata seorang  yang sudah seumuran dengan Datuk Belang menyambut kedatangan mereka.

Tidak lama berselang hidangan pun datang. Mahesa Amping, Raden Wijaya, Lawe dan Argalanang sepertinya begitu cepat akrab, baik kepada Datuk Belang yang ramah, juga kepada Pranjaya yang mudah bergaul.

Mereka pun menikmati hidangan sebagaimana kerabat dekat yang sudah lama tidak berjumpa. Ada saja yang dapat mereka bicarakan.

“Asam di gunung, ikan di laut, bersatu di belanga”, berkala Lawe

“Orang Jawadwipa dan Swarnadwipa dapat bersatu dalam sebuah perjamuan makan”, berkata Argalanang yang disambut tawa oleh semua yang hadir di perjamuan makan siang itu.

Dan haripun telah beranjak menggeser  sang matahari turun dari puncaknya.

Setelah beristirahat cukup lama, datuk Belang mengajak putranya juga para tamunya turun ke pantai yang dikatakannya sebagai sanggar terbuka.

“Siapa yang dapat menemani putraku berlatih?”, berkata Datuk Belang ketika mereka sudah sampai di tepi pantai.

Langit pada saat itu banyak berawan, sehingga suasana pantai yang berpasir putih lembut itu menjadi teduh.

“Kenapa kalian menatapku?”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping dan Lawe yang tengah menatapnya sepertinya berharap Raden Wijaya lah yang akan menemani Pranjaya berlatih.

“Aku hanya ingin melihat apakah bangsawan dari Singasari sudah pantas bertanding di atas panggung sayembara”, berbisik Mahesa Amping yang memang tidak ingin didengar oleh Datuk Belang dan Pranjaya. “Baiklah kalau itu yang kalian inginkan”, berkata Raden Wijaya dengan nada perlahan.

Matahari telah berdiri diujung teluk cadas panjang. Dua orang pemuda kukuh tegak berdiri diatas pasir pantai yang putih dan lembut dibawah langit biru penuh awan putih seperti dua buah tonggak hitam siap saling menatap sepertinya tengah mengukur tingkat tataran ilmunya masing-masing.

Di luar arena, tidak jauh dari kedua pemuda yang siap berlatih tanding itu, Datuk Belang, Mahesa Amping, Lawe dan Argalanang duduk diatas pasir putih yang lembut, sepertinya tidak sabaran menyaksikan suguhan “ayam jago” mereka saling beradu taji.

“Silahkan menyerang lebih dulu”, berkata Raden Wijaya kepada Pranjaya memintanya untuk melakukan serangan awal.

“Bersiaplah!”, berkata Pranjaya sambil melakukan sebuah gerakan awal meluncur dengan sebuah tendangan.

Raden Wijaya telah membaca bahwa serangan ini cuma sebuah gebrakan awal dan belum bersungguhsungguh, maka perlahan telah bergeser ke samping.

Ternyata perhitungan Raden Wijaya memang tepat, serangan Pranjaya ternyata memang bukan sampai disitu, ketika serangannya telah dihindarkan dengan mudah oleh Raden Wijaya, dengan cepat meluncur serangan kedua lebih cepat datangnya berupa sebagai tendangan kesamping kearah pinggang Raden Wijaya.

Raden Wijaya yang sudah memperhitungkan serangan kedua cukup hanya bergeser ke samping, serangan pun telah luput kembali. Mendapatkan serangan keduanya telah luput kembali, Pranjaya langsung menyerang dengan sebuah terkaman mirip seekor harimau mengejar lawannya melompat sambil mengayunkan cemkeramannya ke arah wajah Raden Wijaya. Serangan itu dilakukan dengan begitu cepat.

Raden Wijaya dengan tenang dan mata tidak berkedip sedikit pun telah mengelak kembali dengan sedikit merundukkan badannya kebawah. Kali ini Raden Wijaya tidak sekedar mengelak, tapi balas menyerang dengan sebuah tendangan menusuk keperut Pranjaya.

Luar biasa serangan Raden Wijaya ini yang datangnya sepertinya begitu cepat dan tiba-tiba, terlihat Pranjaya melintirkan tubuhnya masih dalam keadaan melayang bergeser menghindar dan langsung menyerang kembali begitu tubuhnya telah menyentuh pasir pantai. 

Demikianlah latihan pertempuran itu menjadi semakin seru. Saling menyerang seperti harimau dan raja elang bertempur.

Mahesa Amping telah melihat kelebihan Raden Wijaya dalam kecepataan gerak. Dan itu pun baru seperlima dari kecepatan yang sesungguhnya.

Terlihat Raden Wijaya seperti kapas yang ringan melayang kesana kemari menghindari setiap serangan namun tiba-tiba saja menukik begitu cepat layaknya seekor burung cikatan menyambar Pranjaya yang langsung tergagap menghindar kadang terguling diatas pasir putih yang lembut.

Butir-butir keringat telah membasahi wajah dan tubuh Pranjaya. Sementara itu Raden Wijaya masih nampak segar belum menampakkan kelelahannya. Datuk Belang juga telah melihat kelebihan Raden Wijaya dalam kecepatan geraknya.

Ratusan jurus telah berlalu, beberapa pukulan kadang telak menghinggapi tubuh Pranjaya yang sudah nampak kotor ketika berguling menghindari serangan Raden Wijaya yang datang begitu cepat diluar perhitungannya.

“Cukup, napasku sudah hampir habis”, berkata Pranjaya sambil melompat kebelakang.

“Benar-benar pertandingan yang hebat”, berkata Argalanang sambil berdiri mengibaskan pakaiannya yang tidak terasa sudah banyak berpasir basah.

“Sebuah kecepatan gerak yang luar biasa”, berkata Datuk Belang memuji kecepatan gerak Raden Wijaya. Diam-diam mengagumi sosok bangsawan dari Singasari ini yang dilihatnya mempunyai rasa percaya diri yang tinggi.

“Terima kasih telah membukakan mataku, ternyata kecepatan gerakku masih terlalu lambat”, berkata Pranjaya kepada Raden Wijaya.

“Dua hari memang bukan waktu yang baik meningkatkan kemampuan, setidaknya hari ini telah berlatih dengan lawan yang berbeda aliran dapat memperkaya wawasan dan pengalaman”, berkata Datuk Belang

“Benar ayah, masih ada dua hari yang panjang”, berkata Pranjaya yang gembira dalam latihan tadi banyak sekali yang ia dapatkan.

“Aku siap untuk menjadi lawan berlatihmu”, berkata Raden Wijaya sambil tersenyum gembira melihat semangat Pranjaya yang begitu keras penuh semangat. Mereka pun akhirnya bersama telah kembali ke rumah panggung.

Dan sang malam telah datang bersama bulan yang belum bulat penuh menyinari taman halaman rumah panggung yang dipenuhi rumput halus dan tanaman bunga yang terawat rapi. Beberapa anak muda tengah menikmati suasana malam dihalaman itu.

“Ada beberapa lubang kelemahan yang dapat disempurnakan dari jurus pukulan harimau, bahkan akan menjadi lebih dahsyat lagi”, berkata Mahesa Amping memberikan pandangannya sambil memberikan sebuah contoh gerakan. Pranjaya memperhatikan dengan penuh semangat dan langsung ikut memperagakannya.

“Luar biasa, seperti mengikuti alur air yang mengalir”, berkata Pranjaya sambil terus mengulang-ngulang jurus barunya hasil usulan dari Mahesa Amping.

Demikianlah Pranjaya berlatih sampai jauh malam ditemani Mahesa Amping dan Raden Wijaya. Sementara Lawe dan Argalanang sudah lebih dulu beristirahat tidur di bilik yang telah disediakan untuk mereka.

“Hari sudah jauh malam, besok kita teruskan latihan kita”, berkata Raden Wijaya.

Malam memang telah larut dalam keremangannya. Bulan yang masih belum bulat sempurna masih terus menghiasi langit gelap bertabur ribuan bintang menjaga bumi yang terkantuk lelah tertidur dalam irama nada  tatag bunyi binatang malam.

Ketika sang fajar telah datang, sang malam telah lari bersembunyi di balik bumi lainnya. Sayup-sayup terdengar suara ayam jantan berkokok jauh saling bersambut dan kian mendekat terdengar dari belakang rumah panggung.

Setelah membersihkan dirinya di parit sungai kecil yang jernih, Mahesa Amping dan kawan-kawannya kembali naik ke panggung pendapa. Beberapa potong ubi rebus dan minuman hangat telah menanti mereka.

Dari atas panggung pendapa terlihat beberapa monyet bersayap melompat dan meluncur dari satu pohon pinang ke pohon pinang lainnya yang banyak tumbuh di Tanah Melayu. Sebuah peragaan alam yang sangat menakjubkan.

Pagi itu, langit diatas pantai Tanah Melayu begitu cerah. Terlihat dua sosok tubuh tengah mengadu diri saling menyerang dan menghindar.

Dua sosok tubuh adalah Raden Wijaya dan Pranjaya yang tengah berlatih. Sementara tidak jauh dari dua pemuda itu terlihat Mahesa Amping, Lawe dan Argalanang tengah duduk menyaksikan latihan itu diatas pasir pantai yang kering.

“Serangan Pranjaya sudah lebih cepat dan sukar diduga, pertahanannya juga sudah semakin rapat”, berkata Mahesa Amping menilai perubahan gerak Pranjaya yang semakin sempurna.

“Keluarkan seluruh kemampuanmu”, berkata Raden Wijaya meminta Pranjaya untuk meningkatkan serangannya.

Pranjaya pun telah mengungkapkan kekuatan diluar wadaknya, pukulannya menjadi begitu berisi dilambari kekuatan yang sangat berbahaya.

Dessssssssss !!

Pukulan Pranjaya menghantam telak di perut Raden Wijaya. Pranjaya tidak percaya dengan apa yang terjadi. Dirinya seperti memukul sebuah kapas, tenaganya seperti hilang tertelan sebuah ruang kosong. Dilihatnya Raden Wijaya tersenyum memandangnya.

“Sebuah pululan yang luar biasa”, berkata Raden Wijaya sambil tersenyum dan kembali melanjutkan serangannya yang dapat dihindari oleh Pranjaya dan langsung menyerang balik.

Ternyata diam-diam Raden Wijaya telah mengeluarkan ajian kekebalan tubuhnya.

“Aji Rampas Putung”, berkata Mahesa Amping dalam hati mengagumi Raden Wijaya yang diam-diam telah menyempurnakan dirinya menguasai sebuah ilmu yang dapat meredam kekerasan dengan kelembutan.

“Seranganmu sudah jauh berbeda dengan yang kemarin”, berkata Raden Wijaya kepada Pranjaya sambil menghindari serangan yang keras dan cepat bergulunggulung seperti ombak yang tidak pernah putus.

“Tapi aku seperti bertempur dengan bayang-bayang”, berkata Pranjaya yang telah basah seluruh tubuhnya dengan peluh.

“Simpan tenaga wadagmu, biarkan tenaga cadangan bekerja dengan sendirinya”, berkata Raden Wijaya sambil menghindari setiap serangan Pranjaya.

“Akan aku lakukan”, berkata Pranjaya mengerti apa yang dikatakan Raden Wijaya.

Maka latihan pertandingan itu pun telah berlangsung lama, lebih lama dari hari kemarin.

Tidak terasa matahari sudah semakin naik, membakar pasir pantai yang semakin surut permukaan lautnya. Deru ombak semakin jauh menjilati pantai dan tidak lagi setinggi pagi dan malam hari.

“Biarkan tenaga yang ada didalam dirimu bekerja dengan sendirinya, seperti saat kita berlenggang, seperti saat mata ini berkedip. Dari situlah bermulanya pengenalan yang Maha tak terbatas”, berkata Mahesa Amping kepada Pranjaya dalam perjalanan mereka kembali ke rumah panggung.

“Terima kasih, aku sudah mulai merasakannya”, berkata Pranjaya yang sudah dapat merasakan sesuatu yang baru dalam latihannya, menyimpan tenaga wadagnya menjadi tidak cepat terkuras habis. “Seandainya aku mengenal kalian tiga bulan yang lalu, aku akan merasa lebih siap lagi menghadapi sayembara besok”, berkata lagi Pranjaya.

“Tentunya aku sudah dapat jodoh seorang gadis jelita di Tanah Melayu ini”, berkata Lawe yang disambut tawa oleh kawan-kawannya.

Ketika mereka telah sampai di rumah panggung, Datuk Belang sudah menunggu mereka diatas pendapa.

“Lama nian kalian baru kembali, kupikir kalian telah tertidur diatas pasir pantai”, berkata Datu Belang menyambut kedatangan mereka.

Ternyata diatas panggung pendapa, hidangan telah menanti pula. Maka terlihat mereka sangat  menikmatinya, terutama memang sudah waktunya untuk makan siang. Terlebih lagi untuk Pranjaya dan Raden Wijaya yang dari pagi terus berlatih.

“Baginda Raja terkejut sekali manakala kuceritakan tentang sebuah prahara di Selat Sunda”, berkata Datuk Belang bercerita tentang pertemuannya dengan Baginda Raja Melayu. Sebagai seorang Bangsawan Melayu yang bertugas di Sungai Kampar, Datuk Belang merasa prihatin dengan kejadian di Selat Sunda. Itulah sebabnya ia melaporkan kejadian itu.

“Baginda Raja merasa prihatin, prahara di Selat Sunda itu akan mengganggu kebijakannya selama ini yang menginginkan kedamaiaan dan persahabatan bersama kepada Kerajaan manapun, terutama Kerajaaan Nusa Jawa”, berkata Datuk Belang menyampaikan arah kebijakan Baginda Raja Melayu sebenarnya.

“Ternyata prahara di Selat Sunda diluar kendali Baginda Raja Melayu”, berkata Raden Wijaya.

“Tugas kalian menyampaikan hal yang sebenarnya”, berkata Datuk Belang.

“Kami akan menyampaikannya langsung kepada Pangeran Kertanegara, agar Singasari tidak terpancing melakukan tindakan yang salah”, berkata Raden Wijaya.

“Pelaku yang bertanggung jawab atas prahara di Selat Sunda juga harus secepatnya diungkap”, berkata Mahesa Amping.

“Untuk hal itu, Baginda Raja meminta diriku langsung menanganinya sebagai tugas rahasia”, berkata Datuk Belang.

“Bagus Kemuning tidak berdiri sendiri”, berkata Lawe Hari yang dinantikan pun akhirnya tiba.

Panggung di depan alun-alun istana Melayu itu sudah

melimpah ruah. Orang-orang yang datang dari berbagai penjuru kerajaan telah memenuhi setiap sisi, hingga tidak ada lagi tempat tersisa yang terdekat. Mereka berdiri berhimpit.

Sementara itu dipanggung khusus untuk Raja dan para undangan istimewa juga telah terisi. Nampak Baginda Raja Melayu duduk di kursi paling depan bersama para bangsawan dan undangan dari negari tetangga.

Datuk Belang dan Pranjaya telah bergabung di panggung khusus itu sebagaimana juga Bagus kemuning dan Ragasuci.

Seorang kepercayaan Raja telah berdiri diatas panggung tempat pertandingan sayembara. Dengan suara keras menyampaikan beberapa hal, diantaranya adalah pemberitahuan bahwa peserta kali ini hanya berjumlah delapan orang dari berbagai daerah dan kerajaan terdekat antara lain dari Kerajaan Tumasik, Kerajaan Pasai, Kerajaan Sunda dan lima orang dari para bangsawan Melayu sendiri.

Sesuai dengan titah Baginda Raja Melayu, sebagai penghormatan telah diputuskan bahwa perwakilan dari kerajaan terdekat itu akan dihadapkan oleh wakil dari Tanah Melayu. Artinya ada orang Melayu sendiri yang akan bertanding dengan orang dari Melayu sendiri.

“Pranjaya berhadapan dengan bangsanya sendiri”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping ketika mendengar hasil pengumuman dari orang kepercayaan Raja.

“Semoga Pranjaya dapat mengatasinya”, berkata Mahesa Amping.

Matahari pagi telah bergeser sedikit dari ufuk timur. Dua orang telah berdiri diatas panggung. Seorang

Pangeran dari Pasai berhadapan dengan seorang bangsawan Melayu.

Seorang penengah menyampaikan beberapa hal yang menyangkut tatacara pertandingan antara lain dilarang menggunakan senjata apapun. Ada lima orang saksi juri yang akan menentukan siapa yang berhak dikatakan sebagai pemenang.

Akhirnya di panggung telah berlangsung adu tanding yang sangat menegangkan.

Pangeran dari Tanah Pasai terlihat mempunyai tenaga yang luar biasa. Beberapa pukulan dari lawannya sepertinya tidak mengguncangkan tubuhnya yang tegap penuh berotot. Sebaliknya pukulan Pangeran dari Pasai itu seperti tenaga kerbau, sebuah pukulan telah bersarang diperut bangsawan Melayu itu yang mengakibatkan tubuhnya terhuyung beberapa langkah.

Bangsawan dari Melayu itu nampak terguncang, dengan mengeraskan hati nampak kembali menyerang dengan berbagai pukulan dan tendangan. Pangeran dari Pasai itu ternyata juga begitu liat mengelak dan balik menyerang.

Pertandingan pun kembali menjadi begitu seru dan menegangkan.

Hingga akhirnya kembali sebuah tendangan langsung menyambar bangsawan dari Melayu itu yang langsung terpelanting jatuh berguling diatas panggung kayu.

Orang itu nampaknya tidak mampu bangkit kembali.

Pangeran dari Tanah Pasai telah memenangkan pertandingan awal itu.

Ada beberapa penonton yang bersorak. Tapi sebagian besar nampak menjadi kecewa, mungkin merasa orang sendiri yang diharapkan menjadi pemenang ternyata jatuh tidak mampu berdiri lagi.

Kekecewaan mereka kian bertambah manakala seorang bangsawan dari Tanah Tumasik kembali merobohkan orang Melayu sendiri.

Akhirnya kekecewaan mereka kembali terluka, ketika Ragasuci dari Tanah Pasundan berhasil mengalahkan lawannya seorang bangsawan dari Tanah Melayu.

“Siapapun pemenangnya, adalah jagoan kita”, berkata seorang penonton asli Melayu ketika melihat pertandingan keempat antara Pranjaya dan orang  melayu sendiri.

“Pranjaya sudah diatas angin”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping menilai pertempuran Pranjaya dengan lawannya.

Apa yang dikatakan Raden Wijaya memang tidak jauh meleset. Pranjaya memang sudah ada diatas angin. Banyak sekali kesempatan yang dilepasnya. Ternyata Pranjaya tidak ingin menjatuhkan lawannya dengan cepat. Pranjaya memang tidak ingin membuat lawannya terhina. Nampak Pranjaya lebih banyak mengelak dengan sedikit menyerang agar terlepas dari setiap himpitan yang kira-kira dapat membahayakannya.

Akhirnya Pranjaya tidak lagi memperpanjang pertempurannya. Sambil melompat kesamping menghindari sebuah tendangan lawan yang mengarah keperutnya, Pranjaya dengan cepat langsung memberikan sebuah tendangan kearah kepinggang lawan.

Tendangan Pranjaya tidak dapat dihindarkan lagi langsung menghantam pinggang lawan.

Dessss!!!!

Lawan Pranjaya langsung terhuyung beberapa langkah terlempar jatuh terlentang. Pranjaya tidak memburunya, menunggu lawannya bangkit kembali.

Terlihat lawannya telah bangkit kembali bersiap untuk melakukan serangannya. Diam-diam menyadari bahwa tataran ilmu Pranjaya memang ada diatasnya. Karena kebaikan hati Pranjaya tidak segera mengalahkannya.

“Pranjaya hanya banyak mengelak”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya

“Mereka sama-sama tuan rumah, Pranjaya tidak ingin mengecewakannya”, berkata Raden Wijaya.

Pertempuran pun kembali berlanjut. Hanya Mahesa Amping dan Raden Wijaya sudah dapat menduga siapa yang akan memenangkan pertempuran itu.

“Hanya menunggu waktu”, berkata raden Wijaya berbisik kepada Mahesa Amping yang berdiri disampingnya.

Sementara itu matahari sudah tidak bersahabat lagi. Tapi keadaan itu tidak membuat para penonton surut, mereka dengan mata tak berkedip menanti siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

Yang dinantikan pun akhirnya tiba. Sebuah pukulan nyaris menghantam kepala Pranjaya. Dengan tenang Pranjaya menunggu sampai pukulan itu mendekat. Dengan hanya sedikit bergeser pukulan itu telah dihindarinya, sementara lawannya seperti terhuyung terbawa tenaga pukulannya sendiri.

Dan Pranjaya memang tidak melepaskan kesempatan itu, sebuah tamparan yang dilambari seperlima kekuatannya telah menghantam rahang lawannya.

Sebuah tamparan bersarang telak di rahang wajah lawan Pranjaya. Plakkkkk!!!!

Lawan Pranjaya langsung terhuyung terpelanting tersungkur di lantai panggung dengan kepala pening gelap berkunang-kunang lama tidak mampu bangkit berdiri.

Bersoraklah para penonton bagai guruh di siang bolong yang terik itu. Pranjaya diputuskan telah memenangkan pertandingannya.

“Hidup Pranjaya !!”, berteriak Argalanang di tengah gemuruh suara penonton.

Seorang kepercayaan Baginda Raja terlihat masuk ketengah panggung, memberikan beberapa keputusan diantaranya akan menunda pertandingan sampai besok untuk memberikan kesempatan para peserta untuk beristirahat.

“Besok dalam waktu dan tempat yang sama. Pertandingan akan di gelar kembali”, berkata orang kepercayaan Baginda Raja itu dari atas panggung.

Satu persatu para penonton meninggalkan panggung pertandingan. Matahari telah bergeser sedikit dari puncaknya. Alun-alun istana Melayu kembali nampak sepi bersama beberapa pohon pinang yang tumbuh mengitarinya.

“Besok baru diputuskan siapa lawan siapa”, berkata Lawe ketika mereka bersama berjalan pulang kerumah panggung.

“Besok, siapapun lawanmu nampaknya adalah lawan yang tangguh”, berkata Mahesa Amping kepada Pranjaya. “Selama didampingi pelatih tangguh, akan tidak akan pernah gentar”, berkata Pranjaya sambil menepuk dua sahabatnya Raden Wijaya dan Mahesa Amping.

Sementara itu orang-orang yang searah jalan sepertinya memperlambat jalannya mengiringi Pranjaya yang hari ini dengan tanpa sengaja telah menjadi pahlawan mereka, satu-satunya orang Melayu yang dapat dibanggakan dan diharapkan dapat memenangkan sayembara pertandingan.

Tidak terasa rombongan iring-iringan itu menjadi  terus bertambah memenuhi jalan.

“Hidup Pranjaya !!!”

Demikian sambil berjalan mereka mengelu-elukan jagoan mereka hingga sampai di rumah panggung tempat kediaman Pranjaya.

“Sampai ketemu besok”, berkata orang-orang kepada Pranjaya yang membalas dengan senyum dan lambaian tangan.

Matahari sore masih menyinari bumi dari atas langit yang bersih tanpa berawan. Diatas pendapa rumah panggung pembicaraan masih berkisar tentang pertandingan.

“Masing-masing peserta mempunyai kelebihan dan keistimewahan sendiri”, berkata Mahesa Amping.

“Ragasuci mempunyai kekuatan dan kecepatan gerak yang tinggi”, berkata Raden Wijaya.

“Sebagaimana Pranjaya, aku melihat para peserta masih menyembunyikan tataran ilmunya”, berkata Datuk Belang ikut memberikan pandangannya.

“Besok mereka akan berjuang sekuat tenaga, menunjukkan dirinya yang sebenarnya”, berkata Argalanang.

“Tataran ilmu seseorang bukan jaminan, tapi kecerdikan sering dilupakan sebagai kunci kemenangan”, berkata Lawe.

“Kamu benar, kita sering melupakannya”, berkata Mahesa Amping membenarkan perkataan Lawe.

“Aku dan Mahesa Amping telah mempelajari beberapa jurus dari masing-masing peserta, menilai beberapa kelemahannya”, berkata Raden Wijaya.

“Hari masih panjang, mari kita lihat sejauh mana Pranjaya dapat mengatasinya”, berkata Argalanang tidak sabaran ingin melihat sejauh mana Pranjaya dapat menghadapi calon lawan-lawannya meski baru besok dapat diketahui setelah diundi tentunya.

Demikianlah mereka turun kehalaman rumah panggung yang luas.

Diatas rumput halus dalam sinar matahari sore yang sejuk Mahesa Amping dan Raden Wijaya membuka beberapa jurus yang baru dipelajarinya menghadapi Pranjaya.

“Hadapi serangan Pangeran Pasai!!”, berkata  Mahesa Amping sambil menyerang Pranjaya dengan jurus dan gerakan Pangeran Pasai yang nyaris mendekati sempurna.

Pranjaya langsung menghadapi serangan itu dengan balas menyerang. Maka terjadilah pertempuran layaknya Pangeran Pasai dengan Pranjaya.

Datuk Belang diam-diam mengagumi kepekaan dan daya ingat dari Mahesa Amping. Setelah beberapa jurus mereka berlatih, Mahesa Amping melompat keluar dari arena.

“Cukup dulu, apakah kamu sudah dapat melihat dimana kelemahannya?”, bertanya Mahesa Amping kepada Pranjaya.

“Pertahanannya begitu rapat, aku belum mendapatkannya”, berkata Pranjaya.

“Kelemahannya adalah pada permainan panjang, kulihat napasnya tidak sekuat tubuhnya”, berkata Mahesa Amping. ”Pancinglah untuk bertanding dengan langkah panjang, serang dan langsung keluar arena”, berkata Mahesa Amping.

“Pangeran Pasai tahan pukulan”, berkata Lawe

“Ada bagian tubuh yang tidak dapat dilatih, dibawah ketiaknya”, berkata Datuk Belang

“Benar, itulah salah satu bagian tubuh yang terlemah”, berkata Raden Wijaya.

“Hebat….!!!”, terdengar tidak jauh dari mereka ada orang yang berkata sambil bertepuk tangan.

Tidak jauh dari mereka, sudah berdiri dua orang yang mereka kenal yang tidak lain adalah Ragsuci dan Pamannya Bagus Kemuning.

“Ternyata disini ada banyak ahli”, berkata Ragasuci “Sebuah   kehormatan   telah   sampai   di   kediaman

kami”,    berkata    Datuk   Belang    menghampiri mereka

berdua penuh hormat.

“Sebuah kehormatan bila aku dapat diajak berlatih”, berkata Ragasuci.

“Kami merasa tersanjung bilamana Baginda berlatih bersama disini”, berkata Datuk Belang yang sudah mengenal Ragasuci dan Bagus Kemuning.

“Aku ingin berlatih dengan orang yang ahli mencuri jurus orang lain”, berkata Ragasuci sambil menghampiri Mahesa Amping.

“Aku tidak bermaksud mencuri, hanya sekedar sedikit mengingat”, berkata Mahesa Amping penuh percaya diri yang tinggi terlihat dari kilatan matanya yang menyambar tajam kearah Ragasuci.

Tergetar jantung Ragasuci ketika tatapan matanya beradu pandang. Diam-diam mengagumi Mahesa Amping sebagai orang yang tidak boleh diremehkan.

“Bersiaplah”, berkata Ragasuci sambil tersenyum. “Kita hanya berlatih”, berkata Mahesa Amping

mengingatkan sambil mempersiapkan dirinya.

“Ingatkan aku bila lupa diri”, berkata Ragasuci sambil melangkah menyerang dengan pukulannya yang langsung tertuju ke arah dada. Sebuah pukulan yang cepat.

Dengan cepat Mahesa Amping bergeser ke samping langsung menekuk sikunya menyerang ulu hati Ragasuci yang tidak menyangka mendapat balasan serangan dari Mahesa Amping langsung melenting ke belakang.

“Luar biasa !!”, berkata Ragasuci yang langsung menyerang kembali. Kali ini dengan sebuah tendangan yang meluncur tajam.

Mahesa Amping dapat membaca kalau tendangan itu hanya sebuah pancingan. Maka begitu dia bergeser ke samping menghindar, sebuah pukulan telah meluncur ke arah dadanya yang terbuka. Mahesa Amping telah membaca apa yang akan dilakukan Ragasuci, dengan cepat kembali dirinya bergeser memiringkan tubuhnya bersama dengan mengangkat sebuah kakinya menghantam pinggang Ragasuci.

Kembali Ragasuci kaget mendapatkan serangan balik yang begitu cepat. Maka dengan sangat tergesa Ragasuci melompat kebelakang.

“Hebat!!”, kembali sebuah pujian terlontar dari mulut Ragasuci yang langsung kembali menyerang.

Demikianlah duel “latihan” antara Ragasuci dan Mahesa Amping berlangsung dengan serunya. Selapis demi selapis nampaknya mereka telah meningkatkan tataran ilmunya. Terlihat pertempuran semakin lama menjadi begitu cepat.

Mereka seperti bayang-bayang hitam bergerak saling menyerang dibawah temaram warna bumi yang sudah semakin senja.

“Perhatikan dengan seksama, mungkin berguna untukmu besok bila saja dapat bertemu dengannya”, berkata Raden Wijaya berbisik kepada Pranjaya.

Mahesa Amping dan Ragasuci masih terus bertanding semakin sengit. Belum ada tanda-tanda akan berakhir. Keduanya masih saling menghindar dan menyerang dengan begitu cepat.

Hingga pada sebuah serangan berupa pukulan dari Ragasuci tertuju kedada Mahesa Amping yang sepertinya dibiarkan saja meluncur deras menghantam dada Mahesa Amping.

Dessss…!

Bukan main kagetnya Ragasuci merasakan pukulannya seperti menembus kapas, tenaganya seperti hilang seketika.

Mahesa Amping dapat menangkap rasa kaget dari wajah Ragasuci. Tapi Mahesa Amping tidak menggunakan sedetik kesempatan itu dengan pukulan yang berbahaya, melainkan cuma menggantikannya dengan sebuah sambaran ke arah kepala.

Kain ikat kepala Ragasuci telah berpindah di tangan Mahesa Amping.

“Bukankah kita cuma berlatih?”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum menyerahkan kembali ikat kepala kepada Ragasuci.

“Terima kasih, hari ini aku dapat teman berlatih yang hebat”, berkata Ragasuci sambil menerima kembali ikat kepalanya.

“Maaf, aku belum menanyakan namamu”, berkata Ragasuci sambil mengulurkan tangannya.

“Namaku Mahesa Amping”, berkata Mahesa Amping sambil menyambut tangan Ragasuci. Diam-diam mengagumi sikap Ragasuci yang tidak mudah mendendam, menerima kekalahannya.

“Nama yang bagus, mungkin masih banyak lagi orang-orang hebat berkumpul disini”, berkata Ragasuci sambil memandang Raden Wijaya, Argalanang dan Lawe.

Datuk Belang pun memperkenalkan diri Raden Wijaya, Argalanang dan Lawe kepada Ragasuci dan Bagus Kemuning, tapi merahasiakan asal-usul mereka yang dari Tanah Singasari.

“Sebuah kehormatan bila saja kalian naik kependapa menikmati hidangan malam kami”, berkata Datuk Belang ketika Bagus Kemuning dan Ragasuci bermaksud akan meninggalkan mereka.

“Terima kasih, kami takut akan mengganggu perbincangan kalian mengenai pertandingan esok”, berkata Bagus Kemuning sambil tersenyum.

Bagus Kemuning dan Ragasuci telah berpamit berlalu bersama tatapan mata segenap yang ditinggalkannya.

“Sampai bertemu besok”, berkata Ragasuci yang berbalik badan ketika sudah beberapa langkah.

“Sampai bertemu kembali esok dipertandingan”, berkata Pranjaya mewakili kawan-kawannya sambil melambaikan tangannya.

Dan malam pun akhirnya datang bersama kegelapan. Suara angin terdengar lewat gesekan daun-daun pinang yang banyak berjejer dihalaman rumah panggung.

Cahaya oncor yang dipasang diujung kiri dan kanan taman remang menyinari rumput halus yang hijau terhampar rapih diantara bunga kenanga yang tengah merekah berwarna putih dan kuning.

“Gerakan Ragasuci penuh kecerdikan dan muslihat”, berkata Mahesa Amping ketika mereka tengah beristirahat diatas panggung pendapa.

“Aku sudah semakin mengenal beberapa jurusnya”, berkata Pranjaya menanggapi.

Dan pagi itu alun-alun istana kembali melimpah dari para penonton yang akan menyaksikan kembali pertandingan diatas panggung.

Gemuruh suara sorak penonton ketika mendengar pengumunan undian yang menyatakan bahwa Pangeran Pasai akan berhadapan dengan Pranjaya dari Tanah Melayu. Sementara itu Ragasuci dari Tanah Pasundan akan berhadapan dengan bangsawan dari Tumasik.

Suara bende besar telah dipukul, sebagai tanda pertandingan awal akan segera dimulai.

Pranjaya dan Pangeran Pasai telah terlihat naik ke panggung dan saling berhadapan.

Seorang penengah tengah menyampaikan beberapa tata-cara pertandingan yang didengarkan oleh kedua pasangan yang akan bertaruh diatas panggung itu.

Terlihat seorang penengah telah bergeser kesudut panggung meninggalkan dua orang yang akan bertanding.

Gong !!

Suara bende kembali terdengar sebagai tanda pertandingan telah dimulai.

Pangeran Pasai telah memulai serangannya langsung menerjang Pranjaya yang telah siap menerima serangan dengan sigap telah bergeser sedikit menghindar dan langsung menyerang.

Sebagaimana yang disarankan oleh Mahesa Amping,

Pranjaya melakukan gaya serangan panjang alias menyerang dan menghindar jauh. Pangeran Pasai sepertinya sudah terperangkap dalam permainan panjang itu. Dengan nafsunya mengejar kemana pun Pranjaya bergeser menghindar.

Benar apa yang dikatakan Mahesa Amping, Pangeran Pasai itu sepertinya sudah cepat terkuras tenaganya. Sementara itu Pranjaya masih bermain menyimpan tenaganya untuk saat yang tepat sehingga terlihat masih segar bugar.

Hingga pada suatu saat yang tepat, dalam sebuah serangan dari Pangeran Pasai berupa sebuah pukulan yang mengarah kewajah Pranjaya yang tanpa berkedip membiarkan pukulan itu meluncur. Namun begitu  pukulan itu nyaris mengenai kepalanya, dengan cepat Pranjaya memiringkan wajahnya.

Dan pukulan itu berlalu hanya beberapa inci dari wajahnya, hanya angin yang dirasakan Pranjaya bersuit di depan hidungnya.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Pranjaya, sebuah bacokan tangan yang terbuka telah bergerak dengan cepat langsung menghajar ketiak Pangeran Pasai yang terbuka.

Akibatnya memang sangat fatal ….!!!!

Pangeran Pasai merasakan engsel tangannya terasa mati rasa. Belum sempat memikirkan apa yang telah terjadi, sebuah tendangan keras telah menghajar bagian antara kedua pahanya.

Pangeran Pasai merasakan sesak napas yang tak terhingga.

Pranjaya langsung menyalurkan segenap kekuatan pada kedua kakinya. Sebuah terjangan menghantam kembali ke tubuh Pangeran Pasai.

Tendangan yang diawali dengan sebuah lompatan dan dilambari tenaga yang besar tidak dapat lagi dihindarkan langsung menerjang dan menghantam tubuh Pangeran Pasai.

Bumm…!!

Terdengar suara keras menghantam lantai panggung yang terbuat dari lembaran kayu hitam yang kuat. Tubuh Pangeran Pasai yang tinggi besar itu langsung terlempar beberapa langkah terhempas diatas panggung rebah terlentang.

Pranjaya tidak segera memburunya. Membiarkan raksasa itu bangkit kembali.

Ternyata Pangeran Pasai tidak mampu bangkit kembali. Tendangan terakhir Pranjaya ternyata begitu berat dan keras menghantam tubuh Pangeran Pasai yang penuh berotot itu.

Lima orang saksi telah datang memeriksa Pangeran Pasai yang masih terbaring di atas lantai panggung. Perlahan Pangeran Pasai nampak duduk lemah.

“Apakah kamu masih akan melanjutkan pertandingan?”, bertanya salah seorang saksi.

“Aku mengaku kalah”, berkata Pangeran Pasai yang masih lemah belum dapat berdiri kembali.

Beberapa prajurit telah dipanggil untuk membantu Pangeran Pasai berdiri, memapahnya keluar dari panggung.

Seorang penengah dengan suara keras di tengah sorak penonton yang bergemuruh telah mengumumkan bahwa Pranjaya telah memenangkan pertandingan itu.

Gong….!!!

Suara bende terdengar sebagai tanda pertandingan pertama telah selesai.

Sorak-sorai kembali bergemuruh menyambut jagoan mereka Pranjaya. Satu-satunya harapan dan kebanggaan mereka dari Tanah Melayu.

Gong…..!!! Kembali suara bende terdengar menyapu suara gegap gempita menjadi seperti hening.

Matahari diatas langit alun-alun istana sudah naik tinggi. Cahaya teriknya seperti membakar setiap tubuh yang berhimpit. Hanya beberapa orang yang beruntung dapat berdiri bernaung dibawah pohon pinang yang banyak mengitari pinggir alun-alun istana.

Ragasuci dan seorang bangsawan dari Tumasik terlihat sudah naik keatas panggung.

Dan seperti ayam jago aduan mereka saling menatap mengadu nyali keberanian yang terpancar dari mata saling menusuk kedalam jiwa masing-masing.

Lewat matanya yang agak sipit, bangsawan dari tanah Tumasik itu agak bergidik memandang tatapan mata Ragasuci yang tajam seperti mata harimau yang akan melumatnya.

Bangsawan dari tanah Tumasik itu terlihat menghentakkan kembali semangat dan keberaniannya, menutupi kegentaran hatinya yang terjatuh dalam adu tatap mata itu.

Suara orang penengah membantu melupakan rasa gentar dan mengembalikan kepercayaan dirinya. Setelah menyampaikan beberapa tatacara pertandingan, orang penengah itu mundur ke sudut panggung.

Gong….!!!!

Suara bende terdengar sebagai tanda pertandingan telah dimulai.

Ragasuci menyerang lebih awal. Lawannya yang sudah kembali kepercayaan dirinya itu pun telah dengan cepat mengelak dan langsung melakukan  serangan balik. Rupanya bangsawan dari Tumasik mempunyai gerakan yang begitu cepat, baik dalam mengelak maupun dalam setiap serangannya. Dalam sekejap saja pertandingan itupun menjadi begitu seru dan sengit. Ternyata mereka berdua sama-sama mempunyai kegesitan yang setara.

Sejurus demi sejurus telah berlalu, tidak terasa ratusan jurus telah mereka keluarkan. Selapis demi selapis tataran ilmu mereka telah ditingkatkan.

Gerakan mereka semakin cepat hingga tidak mudah diikuti mata wadag biasa. Seperti bayang-bayang yang saling menyambar menyerang.

Untuk kecepatan dan kegesitan mereka nampaknya setara, tapi dalam hal kekuatan diri ternyata Ragasuci selapis diatas Bangsawan Tumasik itu. Terlihat dalam setiap adu pukulan bangsawan Tumasik itu seperti meringis menahan rasa sakitnya.

Kesempatan itulah yang digunakan Ragasuci untuk menekan lawannya. Tidak segan-segan ia menangkis setiap serangan yang dilakukan bangsawan Tumasik itu. Tangan Bangsawan Tumasik itu sudah begitu ngilu dan nyeri, tidak berani lagi beradu tangan dan banyak mengelak menghindari serangan juga menghindari beradu anggota badan.

Hingga dalam sebuah serangan bangsawan Tumasik itu dengan terpaksa menangkis dengan tangannya.

Akibatnya, tangan yang sudah ngilu dan nyeri itu seperti retak tak bertenaga. Serangan lewat pukulan tangan terbuka dari Ragasuci bahkan langsung merangsek sisi dada dari Bangsawan Tumasik itu.

Bukkk….! Bangsawan Tumasik itu merasakan tulang-tulang dadanya bergetar remuk langsung limbung tergelincir jatuh kebawah panggung. Terlihat bangsawan Tumasik itu masih terbaring sambil merasakan nyeri dibagian dadanya.

Bersorak penonton menyaksikan akhir dari pertempuran yang seru itu.

Sudah dipastikan bahwa Ragasuci telah memenangkan pertandingan itu. Karena didalam salah satu peraturan bahwa siapapun yang keluar dari panggung, sengaja atau tidak sengaja dinyatakan telah gugur dalam pertandingan.

Gong…!!!!

Sebuah bende berbunyi sebagai tanda pertandingan telah usai.

Seorang kepercayaan raja naik keatas panggung menyatakan bahwa pertandingan akan dilaksanakan kembali esok hari untuk memberikan kesempatan para peserta untuk beristirahat sebaik-baiknya.

Sementara matahari telah bergeser sedikit turun tertutup awan putih tebal. Terlihat rombangan terakhir orang-orang yang akan meninggalkan alun-alun istana kembali ke tempat tinggalnya masing-masing.

Alun-alun istana telah kembali menjadi sepi menunggu julungpujut rebah diufuk barat bersama deretan pohon pinang yang terkantuk tertiup semilir angin laut.

Senja yang dinantikan pun tiba membelah kebenderangan dalam larut warna bumi yang kabur. Dan perlahan tapi pasti bayang-bayang malam mulai datang menemui panggilan senja untuk membuai bumi yang lelah agar dapat pulas terlelap mimpi.

“Silahkan naik tuanku, rumah kami memang tidak berpagar”, berkata Pranjaya menyilahkan seseorang dibawah tangga yang tidak lain adalah Ragasuci.

“Terima kasih, mudah-mudahan kehadiranku tidak menggangu”, berkata Ragasuci ketika sudah naik keatas panggung pendapa.

“Silahkan bergabung, kehadiran tuanku adalah sanjungan untuk kami”, berkata Pranjaya dengan ramah kepada Ragasuci yang langsung duduk bersila bersama.

Setelah menanyakan keselamatan dan beberapa hal, Ragasuci langsung menyampaikan maksud kunjungannya.

“Kehadiranku disini adalah sebatas mencairkan perasaanku yang aneh, terutama ketika bertemu salah satu diantara kalian”, berkata Ragasuci memulai membuka maksud kedatangannya.

“Siapakah diantara kami yang tuan maksudkan”, bertanya Datuk Belang mulai ikut penasaran.

“Anak muda itu”, berkata Ragasuci langsung menunjuk kepada Raden Wijaya.

“Perasaan apa yang tuan rasakan terhadapku”, bertanya Raden Wijaya sambil tersenyum.

“Aku seperti menemukan kehadiran kakakku didalam dirimu”, berkata Ragasuci kepada Raden Wijaya.

Tergetar perasaan Raden Wijaya, “ternyata ikatan bathin ada dan tidak dapat dibohongi”, berkata Raden Wijaya dalam hati.

“Apakah yang tuan maksudkan diriku dengan kakak tuan sendiri?”, bertanya Raden Wijaya untuk mengetahui lebih jauh apa yang dirasakan Ragasuci sebenarnya.

Terlihat wajah Ragasuci nampak seperti buram. Dari garis wajahnya terlihat tengah mengingat masa-masa yang telah lewat bersamanya.

“Aku mempunyai seorang kakak putri lain ibu”, berkata Ragasuci mencoba memulai ceritanya. “Meski lain ibu, kami bersaudara saling mengasihi layaknya saudara kandung”. Berkata Ragasuci melanjutkan. ”Ternyata kakak putriku itu tidak berumur panjang, seseorang telah membunuhnya dengan kejam. Sampai saat ini ada perasaan bersalah didalam hatiku, sebagai seorang adik belum dapat berbakti menuntut balas dan mengungkap siapa dibalik pembunuhan itu”, berkata Ragasuci. “Hari-hari akhirnya telah mengubur perasaan bersalah itu, aku telah dapat melupakannya. Hingga  pada hari kemarin ketika aku diperkenalkan dengan  salah seorang diantara kalian”, berkata Ragasuci sambil menunjuk dengan tatapan dan anggukan kepala tertuju kepada Raden Wijaya. “Perasaanku kembali teringat kepada kakak putriku yang telah tiada itu”, berkata Ragasuci melanjutkan.

Suasanapun seperti terhenyak kedalam kesunyian. Napas sepertinya tertahan ikut merasakan apa yang dirasakan Ragasuci.

Semua mata memandang kepada Raden Wijaya yang perlahan datang mendekati Ragasuci.

“Maafkan keponakanmu ini Paman, akulah putra ibunda Jayadarma”, berkata raden Wijaya sambil rebah bersimpuh diatas kedua kaki Ragasuci.

“Sanggrama!”, berkata Ragasuci menyebut sebuah nama yang merupakan nama asli dari Raden Wijaya. “Benar Paman, akulah Sanggramawijaya”, berkata Raden Wijaya dengan wajah yang tidak dapat menahan haru.

“Puji syukur Sang Hyiang Karsa yang telah mempertemukan kita”, berkata Ragasuci sambil mengusap kepala keponakannya Raden Wijaya.

Semua yang hadir ikut terhanyut dalam suasana haru pertemuan dua orang yang terikat dalam ikatan bathin, ikatan satu garis darah keluarga.

Suasana pun akhirnya terpecahkan ketika dari dalam keluar dua orang kerabat Datuk Belang membawa beberapa hidangan makan malam.

Banyak sekali yang mereka dapat percakapkan diatas panggung pendapa. Hingga akhirnya percakapan bergeser kepada hal yang begitu serius, pembicaraan mengenai sebuah racun yang kuat, racun ikan buntal

……!!!!

“Sebentar…”, berkata Ragasuci.”sepertinya semua kejadian ini dapat dirangkai, berawal dari terbunuhnya kakakku dengan racun ikan buntal, kematian dua orang kepercayaan pamanku Bagus kemuning……dan terakhir sebuah nama yang sepertinya tidak asing bagiku yaitu Raja Belang”, berkata Ragasuci ketika menyimak cerita Raden Wijaya tentang dua orang kepercayaan Bagus Kemuning yang terbunuh dikamar penginapan, juga cerita Datuk Belang tentang seorang murid durhaka yang bernama Raja Belang.

“Tuanku mengenal seorang yang bernama Raja Belang?”, bertanya Datuk Belang terperanjat ketika Ragasuci menyebut sebuah nama yang sudah begitu lama dicarinya. “Ketika Kakakku terbunuh, Raja Belang ada disana. Ia adalah orang kepercayaan Pamanku Bagus kemuning. Tapi mengenai racun ikan buntal itu aku belum pernah tahu apakah orang itu menguasai senjata duri ikan buntal itu”, berkata Ragasuci.

“Kita harus dapat mengungkapkannya, bila mungkin dengan jalan paksa”, berkata raden Wijaya penuh semangat.

“Siapapun yang menguasai duri ikan buntal, dialah orang yang kita cari. Meski akan berhadapan dengan Pamanku sendiri Bagus Kemuning”, berkata Ragasuci tidak kalah semangatnya.

Akhirnya mereka sepakat untuk bersama mengungkap apakah Raja Belang yang dikenal Ragasuci adalah orang dibalik semua itu.

“Tuan dapat berpura-pura nyaris akan kalah”, berkata Datuk Belang

Ragasuci memandang Pranjaya.

“Aku tidak akan memanfaatkannya untuk kepentinganku”, berkata Pranjaya yang takut Ragasuci tidak mempercayainya.

“Demi untuk mengungkap masalah besar ini, aku ikut bersama kalian”, berkata Ragasuci sepakat dan mengerti maksud dibalik semua itu..

Tidak terasa malam sudah menjadi semakin dalam, Ragasuci bermaksud untuk pamit kembali ke Istana.

“Apakah diperlukan pengawal untuk sampai ke istana?”, berkata Pranjaya bercanda melepas Ragasuci menuruni anak tangga panggung pendapa.

“Besok kita akan bertemu sebagai musuh di panggung sayembara, doakan saja aku selamat sampai di istana”, berkata Ragasuci sambil melemparkan senyumnya dan melambaikan tangannya sepertinya besok mereka bukan lagi sebagai musuh tapi sebagai kawan bertanding.

“Selamat beristirahat paman”, berkata Raden Wijaya dari atas panggung pendapa.

Kembali Ragasuci melambaikan tangannya. Malam didepan matanya tidak segelap kebenderangan didalam hatinya. Raden Wijaya seperti cahaya yang menerangi lubuk kerinduannya. Dan sebentar lagi akan didapat sebuah ujung misteri yang lama tak terungkap.

Dan perjalanannya kembali keistana seperti perjalanan tamasya menyusuri taman bunga.

“Kami mengkhawatirkan tuanku yang begitu lama keluar istana”, berkata seorang penjaga ketika menemui Ragasuci yang telah datang kembali.

“Aku hanya berkeliling menikmati udara di Tanah Melayu”, berkata Ragasuci sambil tersenyum ramah.

“Syukurlah, kukira tuanku tersasar tidak tahu arah kembali”, berkata Penjaga gerbang itu yang menjadi tidak begitu sungkan melihat keramahan Ragasuci.

“Istana ini mempunyai menara yang tinggi, tidak akan mungkin seseorang asing tersasar”, berkata Ragasuci sambil menunjuk kearah menara panggung yang berdiri tinggi menjulang.

Penjaga itu menatap panggung menara pengintai yang tinggi. Bulan bulat diatasnya telah bergeser turun. Hari memang telah jauh malam.

Dan pagi itu matahari telah kembali mengintai bumi bersama kicau burung. Pagi itu bumi Tanah Melayu sepertinya terbangun jauh lebih pagi setelah semalaman menunggu sisa malam yang sepertinya enggan berlalu.

Berbondong-bondong keluar dari lorong-lorong perkampungan orang keluar menuju alun-alun istana. Sebentar halaman alun-alun itu kembali menjadi sesak penuh.

Seperti biasa, seorang kepercayaan raja dengan kata-kata yang berdayu-dayu menyampaikan beberapa pengumuman diantaranya adalah bahwa pertandingan kali ini adalah yang terakhir untuk menentukan siapakah gerangan yang akan berjodoh menjadi menantu Baginda Raja, memperistri putri Baginda Raja yang cantik jelita bernama Dara Puspa.

“Siapapun pemenang diatas panggung ini, akan menjadi menantu dan suami putri nan jelita bernama Dara Puspa”, berkata orang kepercayaan raja itu yang disambut sorak semua orang yang hampir seluruhnya telah mengakui kejelitaan putri Baginda Raja yang bernama Dara Puspa.

“Semalam aku bermimpi jadi menantu Raja, diarak keliling Tanah Melayu”, berkata seorang penonton yang berdiri dibawah sebuah pohon pinang.

“Sungguh malang nasibmu”, berkata temannya. “Mengapa kau katakan nasibku malang?”, bertanya

orang yang bermimpi itu.

“Orang bilang mimpi jadi pengantin sebagai isarat umurmu tidak panjang lagi”, berkata temannya.

“Begitukah?”,   bertanya   orang  yang  bermimpi itu wajahnya nampak buram ketakutan.

“Banyak berbuat baiklah engkau mulai hari ini”, berkata temannya “Dari kemarin aku telah banyak berbuat baik, bukankah kemarin aku yang membayar semua jajanan yang kau makan?”, berkata orang yang bermimpi itu sambil bersungut

“Betul-betul-betul, sekarang kamu harus berbuat baik lagi”, berkata temannya.

“Bilang saja hari ini kamu lagi tongpes, tidak ada hubungan dengan mimpiku”, berkata orang yang bermimpi itu dengan mencebirkan bibirnya.

Gong……!!!

Terdengar sebuah bende berbunyi sebagai tanda pertandingan segera akan dimulai.

Terlihat Ragasuci dan Pranjaya telah menaiki tangga panggung. Diatas panggung telah menanti seorang penengah.

“Siapapun yang melanggar aturan yang ditetapkan dianggap kalah, apakah kalian mengerti?”, berkata penengah itu yang dijawab anggukan kepala oleh Ragasuci dan Pranjaya.

Sementara itu seorang pengawal setia Ragasuci tengah bersama Mahesa Amping, Raden Wijaya, Lawe dan Argalanang mengawasi dari dekat seorang yang bernama Raja Belang, yang ternyata orang dekat dari Bagus Kemuning.

Seorang pemukul bende telah melihat isyarat yang diberikan, dengan semangat memukul bende itu dengan sekuat tenaganya.

Gong… !!!!!

Suara bende kali ini terdengar begitu keras, seluruh penonton bersorak bergemuruh seperti suara ombak di tengah malam yang tidak pernah putus saling bersambut.

Pranjaya dan Ragasuci terlihat sudah saling menyerang. Seperti dua ekor harimau yang saling meyerang melompat dan menerkam, siapapun yang melihatnya akan berdecak menahan napas menjadi begitu tegang. Setiap serangan yang dilancarkan begitu sangat cepat dan berbahaya.

Tapi semua itu masih sebuah sandiwara. Pranjaya dan Ragasuci telah memainkan sandiwara itu dengan sangat baik sekali.

Sudah sepenginangan mereka bertempur, beberapa kali napas penonton seperti dipermainkan oleh setiap serangan yang saling berganti diantara  keduanya dengan begitu menegangkan dapat keluar dari himpitan dan tekanan dan balas menekan dan menyerang.

Hingga pada sebuah serangan Pranjaya menghentakkan kakinya begitu kerasnya. Ragasuci mengerti bahwa itu sebuah tanda ia harus terlihat seperti mendapatkan tekanan dan nyaris diambang kekalahan.

Terlihat Ragasuci sudah tiga kali terkena pukulan keras terlempar dan terguling.

Pranjaya tidak memburunya, membiarkan Ragasuci bangun perlahan dan siap untuk melaksanakan pertandingan kembali.

Sekejap, Mahesa Amping melihat Raja  Belang tengah menjentikkan sesuatu yang diyakini pasti sebuah senjata rahasia duri ikan buntal.

Sekejap dan dengan kecepatan yang luar biasa duri ikan buntal itu telah terlepas meluncur deras kearah Pranjaya.

Mahesa Amping langsung menghentakkan kekuatan sorot matanya.

Senjata rahasia berupa duri ikan buntal yang tengah melesat itu langsung hancur menguap sebagai asap terbakar kekuatan sorot mata Mahesa Amping, hanya beberapa inci dari batang leher Pranjaya.

Raja Belang begitu kaget, baru kali ini senjata rahasianya telah luput dari sasarannya. Lebih heran dan terkejut lagi ketika didepan matanya telah berdiri seorang pemuda yang tengah menatapnya dengan penuh kebencian.

“Engkau pasti Raja Belang yang sudah lama kucari”, berkata Raden Wijaya menatapnya dengan tajam.

“Anak muda, engkau telah menyebut julukanku yang telah lama kukubur”, berkata Raja Belang yang kaget bahwa anak muda didepannya telah mengenal julukannya.

“Kebusukan pasti tercium, serapat apapun kita menguburnya”, berkata Raden Wijaya.

“Anak muda, kamu hendak menantangku ?”, berkata Raja Belang

“Aku bukan hanya menantangmu, tapi akan membunuhmu”, berkata Raden Wijaya penuh kebencian.

“Ternyata kamu belum mengenalku”, berkata Raja Belang yang sudah hilang keterkejutannya dan timbul kembali kepercayaan dirinya ketika yang menantangnya cuma seorang anak muda yang masih belia. ”Kamu harus belajar menghormati orang tua”, berkata raja Belang sambil mengayunkan sebuah tamparan kearah Raden Wijaya.

Raden Wijaya telah siap sudah lama. Tamparan itu meleset jauh dengan hanya sedikit menggeser tubuhnya ke samping yang dilanjutkan sebuah tendangan kearah pinggang.

Terkejut Raja Belang mendapati orang muda yang semula diremehkan ternyata mempunyai kecepatan gerak yang luar biasa, tamparannya telah dengan cepat dihindarkan dan sekaligus dirinya telah dibalas dengan sebuah tendangan.Raja Muda mundur hampir dua langkah.

Sementara itu, orang-orang yang ada didekatnya langsung buyar menghindar. Semua mata sepertinya telah berubah arah, bukan menonton pertandingan diatas panggung, tapi menonton pertempuran antara Raden Wijaya dan Raja Belang dibawah panggung.

“Tangkap mata-mata Singasari itu!!” berkata Bagus Kemuning yang tiba-tiba saja telah menyeruak kerumunan bersama para perwira dan prajurit kepercayaannya.

Beberapa prajurit langsung maju mengepung Raden Wijaya, tapi langkah mereka terhenti karena didepan mereka ada tiga orang anak muda menghadang mereka.

“Siapapun yang ingin mencampuri urusan ini berhadapan dengan kami”, berkata Mahesa Amping menghadang prajurit yang akan datang mengeroyok Raden Wijaya.

Sementara itu Pranjaya dan Ragasuci yang sudah mengetahui apa yang tengah terjadi di bawah panggung langsung turun kebawah panggung dan telah berdiri dibelakang Mahesa Amping.

“Aku berdiri membela orang ini”, berkata Ragasuci.

Bukan main kagetnya Bagus Kemuning mendengar pernyataan Ragasuci keponakannya itu. “Ragasuci, tidakkah engkau menyadari bahwa aku ini Pamanmu yang selalu membelamu?”, berkata Bagus Kemuning sepertinya tidak sadar apa yang telah diucapkannya.

“Aku kecewa dengan apa yang Paman lakukan untukku, Paman telah menodai kejujuran pertandingan hari ini, inikah yang paman lakukan beberapa tahun silam kepada diriku untuk sebuah tahta Raja Galuh?”, bertanya Ragasuci kepada Bagus Kemuning.

“Dasar orang tidak bisa membalas budi”, berkata Bagus Kemuning marah sekali atas sikap Ragsuci.

“Bagus Kemuning, aku telah mengetahui siapa dalang di selat Sunda yang telah menodai citra Kerajaan Melayu”, berkata baginda Raja Melayu didampingi Datuk Belang yang juga telah turun ketempat itu. ”Kepada para prajurut yang ada dibelakang Bagus Kemuning hari ini kuberikan kesempatan kepada kalian, berdiri dibelakangku atau tetap membela dibelakang Bagus Kemuning.”

Para prajurit yang ada di belakang Bagus Kemuning seperti orang yang kebingungan, dan tanpa pikir panjang telah bergeser dari belakang Bagus Kemuning.

“Bagus Kemuning dan Raja Belang, hari ini kalian harus mempertanggung jawabkan apa yang telah kalian lakukan. Pilihlah lawanmu”, berkata Datuk Belang.

“Datuk Belang, kamu telah menawarkan kebenaran diatas sebuah pertandingan. Aku memilih anak muda itu”, berkata Bagus Kemuning menunjuk Mahesa Amping. Sebuah keputusan yang menurutnya sangat menguntungkan dibandingkan bila beradu badan dengan Datuk Belang yang sudah diketahui ketinggian ilmunya. Sesuai adat pada saat itu, sering sebuah kebenaran diuji diatas sebuah pertandingan hidup mati. Siapapun yang memenangkan pertandingan itu dibiarkan bebas dan tidak ada lagi tuntutan.

“Aku memilih anak muda ini”, berkata Raja Belang sambil menyeringai memilih Raden Wijaya yang dipikirnya masih terlalu muda dan masih hijau.

“Aku menjadi saksi atas kejujuran pertandingan kalian diatas panggung sayembara”, berkata Baginda Raja.

Beberapa orang telah bergeser jauh untuk memberi keluasan bagi orang yang akan bertanding membentuk sebuah lingkaran yang luas.

“Mari kita selesaikan urusan kita”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya sambil bergeser mendekati Bagus kemuning yang telah memilihnya sebagai lawan tanding.

“Kamu belum mengenalku anak muda”, berkata bagus Kemuning menatap tajam Mahesa Amping.

“Hari ini aku ingin mengenalmu”, berkata Mahesa Amping dengan nada datar sepertinya tidak takut menatap mata Bagus Kemuning.

“Inilah hari sialmu telah mengenal aku”, berkata Bagus Kemuning yang langsung menyerang Mahesa Amping seperti harimau menerkam lawannya.

Mahesa Amping dengan cepat bergeser. Melihat serangannya dengan mudah dielakkan, Bagus kemuning kembali melakukan serangan dengan sebuah tendangan.

Lagi-lagi serangan itu dengan mudah dielakkan Mahesa Amping bergeser mundur. Dengan marah Bagus Kemuning mengejar Mahesa Amping. Sementara itu ditempat yang sama Raden Wijaya juga telah menerima serangan Raja Belang yang langsung dan sepertinya menginginkan pertandingan dapat diselesaikan dengan cepat menyerang Raden Wijaya dengan dahsyatnya.

Tapi Raja Belang ternyata kecele dengan pilihannya, anak muda yang dihadapinya bukan anak kemarin sore yang baru mengenal kanuragan. Tapi anak muda yang telah digembleng oleh Mahesa Murti langsung dan telah menguasai dan mengungkapkan rahasia pusaka rontal Empu Purwa yang telah dikembangkannya secara diamdiam disetiap kesempatan.

“Gila..!!”, berkata raja Belang setiap kali serangannya dengan mudah dielakkan oleh Raden Wijaya yang dapat bergerak begitu ringan dan cepat seperti kapas yang terbang kian kemari diterbangkan angin.

Ratusan jurus telah berlalu, tidak satu pun serangan raja Belang dapat mengenai tubuh Raden Wijaya.

“Sanggramawijaya telah mempunyai ilmu yang tinggi”, berkata Ragasuci kepada Datuk Belang dengan bangganya melihat keponakannya Raden Wijaya yang dapat mengimbangi ilmu Raja Belang yang diketahui sudah sangat tinggi dan mumpuni yang diketahuinya sebagai abdi yang setia dimanapun Bagus Kemuning berada.

“Anak muda yang satu lagi juga tidak berbeda dengan keponakanmu itu”, berkata Datuk Belang sambil menunjuk Mahesa Amping yang tengah bertempur menghadapi Bagus Kemuning.

Sebagaimana Raden Wijaya, Mahesa Amping juga masih banyak menghindar dibandingkan melakukan serangan. Hanya sekali-kali dilakukan manakala sudah terhimpit dengan balas menyerang.

“Anak edan”, berkata Bagus Kemuning yang penasaran tidak juga dapat melumpuhkan lawannya yang masih muda belia meski sudah meningkatkan tataran ilmunya semakin tinggi.

“Jangan salahkan diriku bila hari ini kamu akan mati terbakar”, berkata Bagus kemuning yang langsung mengetrapkan ilmu simpanannya. Tangannya terlihat seperti bara membara langsung menerkam Mahesa Amping.

Mahesa Amping merasakan hawa panas mengejarnya.

Tanpa disadari, kepekaan didalam dirinya telah bekerja dengan sendirinya, sebuah hawa dingin telah melambari sekeliling dirinya meredam hawa panas yang mengejarnya.

Mahesa Amping masih dapat melayani Bagus Kemuning tanpa merasakan adanya hawa panas yang menyerang dirinya.

Sementara itu diwaktu yang sama, Raja Belang benar-benar sudah habis kesabarannya. Serangannya selalu dengan mudah dielakkan Raden Wijaya. Baru disadari bahwa anak muda yang dihadapinya bukan  anak muda sembarangan. Ratusan jurus telah berlalu, berlapis-lapis tataran ilmunya telah ditingkatkannya namun tidak jua menyelesaikan pertandingan itu.

Set-set-set….!!!

Raja Belang telah melancarkan senjata rahasia andalannya ketika Raden Wijaya melompat kebelakang menghindari serangannya.

Dengan kecepatan yang tidak dapat dilihat dan kasat mata duri ikan buntal yang kecil itu melesat mengejar tubuh Raden Wijaya.

Wus-wus-wus……!!!

Tidak ada jalan lain bagi raden Wijaya yang langsung mengetrapkan kemampuannya yang dapat mengeluarkan cahaya panas lewat tangannya. Tapi kali ini hanya sepersepuluh kekuatan yang dilontarkan oleh Raden Wijaya, jadi hanya berupa angin yang keras meluncur dari tangannya.

Tiga buah duri ikan buntal berbalik arah langsung meluncur menyambar tubuh Raja Belang.

Raja Belang tidak pernah menyangka hal itu dapat terjadi. Diluar perhitungannya senjata rahasia andalannya meluncur kembali dengan kecepata dua kali lipat dari sebelumnya ketika meluncur dari tangannya.

Tiga buah duri ikan buntal telah menembus kulit badannya dititik tubuh yang sangan berbahaya, tepat dijantungnya.

Raja Belang jatuh terduduk dengan wajah dan tubuh berwarna biru. Raja Belang langsung tewas seketika merasakan racunnya sendiri. Sebuah kematian yang sangat mengerikan dengan mata besar melotot sepertinya tidak menerima apa yang dengan begitu cepat terjadi dan benar-benar diluar perkiraannya.

Bagus Kemuning yang melihat orang kepercayaannya yang setia terkapar mati menjadi begitu gusar penuh kemarahan. Sepertinya kemarahannya itu dicurahkan dalam serangan yang berlapis ganda lebih menggrigiskan bergulung menyerang Mahesa Amping.

Mendapatkan serangan yang bertubi-tubi, Mahesa Amping terlihat semakin terdesak. Akhirnya Mahesa Amping tidak lagi hanya mengelak, tapi langsung balas menyerang.

Sebuah pertempuran yang dahsyat, tubuh mereka seperti bayangan melesat kesana kemari seperti bayangan yang terbang saling menyambar.

Desss…!!!

Dua buah kekuatan beradu dengan begitu keras ketika Mahesa Amping menangkis sebuah pukulan yang kuat dari Bagus Kemuning. Mahesa Amping terlihat tetap tegap berdiri dengan kedua kaki dalam posisi kuda-kuda yang tegar. Sementara itu Bagus Kemuning terlihat mundur tiga langkah. Yang dirasakannya adalah pukulannya seperti membentur kapas yang ringan. Dan tiba-tiba saja sebuah kekuatan yang seperti ombak besar mendorong dirinya begitu kuat.

Dengan wajah yang seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi, diam-diam mengakui kekuatan ilmu yang tinggi dari pemuda yang menjadi lawannya yang sebelumnya dianggap sebagai pemuda biasa yang baru mengenal sejurus dua jurus ilmu kanuragan.

Terlihat Bagus Kemuning bersedakep tangan. Tibatiba saja tubuhnya telah menghilang dari pandangan.

Terdengar sebuah tawa yang bergema dari segala penjuru. Suara itu dilambari tenaga dalam yang tinggi terasa menghimpit dan menyesakkan isi rongga dada. Beberapa orang terlihat berlari menjauh sambil memegangi dadanya yang sesak.

“Bagus Kemuning, mereka tidak bersalah, hadapilah aku”, berkata Mahesa Amping yang diam-diam melambari kekuatan pada kata-katanya berusaha meredam kekuatan Bagus Kemuning serta terus memandang kemanapun bagus kemuning bergerak, sebagai seorang yang punya bakat panggraita dan kekuatan bathin yang tinggi, ilmu aji panglimunan Bagus Kemuning tidak banyak berguna dihadapan Mahesa Amping.

“Ilmu Aji Panglimunan”, berkata Datuk Belang yang melihat Bagus Kemuning menghilang dari pandangan matanya ada rasa khawatir terhadap Mahesa Amping.

Sebagaimana Datuk Belang, semua mata menahan napas tercekam menanti apa yang akan terjadi.

Tiba-tiba saja ratusan mata terbelalak tidak percaya apa yang dilihatnya.

Sebagaimana Raden Wijaya, Mahesa Amping diamdiam telah mengembangkan ilmunya dalam setiap kesempatan. Mengungkap segala kekuatan yang dapat diungkapkan dalam bentuk kekuatan baru. Dengan bakat lahir dan berpadunya pengenalan atas alam kecil dan alam besar, Mehesa Amping dapat memecahkan penguasaannya atas pikiran orang-orang di sekitarnya. Mahesa Amping telah menguasai sebuah ilmu sejenis ilmu aji kawah ari-ari.

“Manusia dewa!!”, berkata berbarengan beberapa orang yang melihat Mahesa Amping berdiri tegap berjejer menjadi lima sosok yang mirip dengan mata yang tajam menatap Bagus Kemuning yang tidak terlihat oleh orangorang tapi dapat dilihat jelas oleh Mahesa Amping.

“Ilmu iblis!!”, berkata Bagus Kemuning yang merasa kecewa ilmu aji panglimunannya tidak berguna dihadapan Mahesa Amping. Terlihat tangannya menarik sebuah keris kecil yang diletakkan sebagai pengikat rambutnya. Bagus Kemuning terlihat demikian angkernya, ditangannya menggenggam sebuah keris dengan rambut yang dibiarkannya jatuh terurai.

“Keris Siginjai yang belum disempurnakan”, berkata Datuk Belang menatap keris ditangan Bagus Kemuning sebagai pusaka gurunya yang telah lama menghilang.

Pada saat itu Bagus Kemuning telah begitu putus asa. Lima wujud Mahesa Amping telah mengelilinginya.

Bagus Kemuning tidak dapat berpikir jernih lagi. Tanpa banyak perhitungan telah menyerang salah satu dari wujud Mahesa Amping.

Serangan itu begitu cepat, salah satu wujud Mahesa Amping tidak dapat mengelak.

Sebuah tikaman langsung menembus salah satu wujud Mahesa Amping, darah segar langsung bersembur dari perut yang terkoyak.

“Siapapun yang terkena keris ini tidak akan bernapas panjang”, berkata Bagus Kemuning sambil tertawa panjang.

Tapi tawanya hanya sebentar, Mahesa Amping yang terkoyak perutnya sudah kembali seperti semula, tidak ada satupun goresan bekas luka di perutnya.

Ternyata yang dilukai oleh Bagus Kemuning adalah sosok semu dari Mahesa Amping.

Kembali lima sosok Mahesa Amping telah mengepungnya, satu persatu dan kadang bersamaan telah menyerang Bagus Kemuning yang masih terus berusaha mengimbangi.

Bagus Kemuning memang tidak dapat membedakan mana Mahesa Amping yang asli maupun yang hanya bayangan semunya.

Hingga pada sebuah serangan Bagus kemuning tidak mampu mengelak sebuah tendangan dari samping tubuhnya.

Bukkk…!!

Sebuah tendangan tepat dipinggang telah melempar tubuh bagus Kemuning jatuh beberapa langkah.

Bagus kemuning seperti patah arang dan gelap mata bangkit kembali. Kekuatan wadak dan pikirannya sudah tidak lagi selaras langsung menyerang kembali dengan garang.

Kembali Bagus Kemuning dengan kerisnya melayang kesana kemari mengimbangi serangan lima wujud Mahesa Amping.

Lima wujud Mahesa Amping seperti telah diatur menyerang seperti berantai,

Plakkk…!!!

Sebuah tamparan kembali melempar tubuh Bagus Kemuning beberapa langkah, kali ini Bagus Kemuning lama belum juga bangkit kembali.

Mahesa Amping merasa kasihan dengan keadaan Bagus Kemuning yang sudah tidak berdaya putus asa. Diam-diam telah mengembalikan wujudnya dalam satu sosok wujud sebenarnya.

Terlihat perlahan Bagus Kemuning bangkit kembali memandang Mahesa Amping dengan mata sayu.

Tiba-tiba saja Wajah Mahesa Amping seperti berubah tegang. Sebagai seorang yang terlahir membawa bakat dapat melihat apa yang terjadi didepannya, Mahesa Amping sepertinya telah mengetahui apa yang akan dilakukan Bagus kemuning terhadapnya.

Wussssss !!!

Sebuah keris kecil dilempar dengan tenaga yang terlatih dan kuat meluncur ke arah Mahesa Amping.

Itulah yang sebelumnya sudah terlintas didalam benak pikiran Mahesa Amping sebelum hal-itu benarbenar terjadi.

Seperti sebuah sihir, keris kecil itu berhenti diudara diantara pertengahan antara Mahesa Amping dan Bagus Kemuning.

Ternyata Mahesa Amping telah menahan keris itu dengan kekuatan sorot matanya !!!!!

“Manusia Dewa”, berkata beberapa orang yang seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya langsung dengan mata kepalanya sendiri.

“Apakah aku tengah bermimpi”, berkata salah seorang kepada temannya.

“Aku baru saja mencubit pahaku sendiri, untuk meyakinkan bahwa aku tidak bermimpi”, berkata kawannya yang berdiri dekat dengan orang yang berkata tengah bermimpi.

Mahesa Amping telah kembali membuat  semua orang merasa tengah bermimpi ketika keris itu berbalik arah mengejar Bagus kemuning.

Kemanapun bagus kemuning menghindar, keris itu terus memburunya.

“Hentikan, aku menyerah!!”, berkata Bagus Kemuning yang sudah putus asa dan tahu betul keampuhan dari kerisnya yang penuh mengandung racun yang amat keras. Dengan kekuatan sorat matanya, keris itu langsung melayang dan jatuh didalam genggaman tangan Mahesa Amping.

“Aku telah memenangkan pikiranku sendiri untuk tidak menjadi pembunuh”, berkata Mahesa Amping kepada dirinya sendiri sambil menarik napas panjang dan melepaskannya.

Langit diatas alun-aluan pada saat itu sepertinya telah begitu teduh. Matahari telah tergelincir jauh keujung barat bersembunyi dibalik awan tebal.

Terlihat beberapa prajurit telah menggiring Bagus kemuning, mayat Raja Gelang pun sudah sudah disingkirkan untuk dikebumikan sebagaimana mestinya.

“Guruku berpesan untuk segera menyempurnakan keris ini dengan memandikannya di tujuh muara”, berkata Datuk Belang ketika menerima kembali keris pusaka gurunya dari tangan Mahesa Amping.

Seorang kepercayaan raja terlihat naik keatas panggung memberikan sebuah pengumuman bahwa pertandingan sayembara akan dilanjutkan esok harinya.

“Ampun tuanku Baginda, hamba berkenan untuk kembali kerumah”, berkata Datuk Belang mewakili rombongannya kembali ke tempat tinggalnya.

“Terima kasih tak terhingga atas segala yang telah kalian lakukan bagi kedamaian nagari ini”, berkata Baginda Raja melepas kepergian Datuk Belang dan rombongannya.

“Besok kutunggu dirimu diatas panggung sandiwara”, berkata Ragasuci kepada Pranjaya.

“Ternyata Tuanku Ragasuci adalah seorang pemain sandiwara yang baik”, berkata Pranjaya. Alun-alun istana telah kembali dalam kesepiannya ketika beberapa orang terakhir telah meninggalkannya. Tanah lapang itu seperti wajah perawan yang ditinggalkan kekasih tercinta menunggu penuh kesetiaan dalam penantian pergantian hari, saat ini dan dihari esok diujung waktu senja.

Senjapun akhirnya telah datang jua sebagai batas waktu diantara kebenderangan dan kegelapan. Langit malampun perlahan merayapi bumi yang lelah, menyembunyikannya dalam telekung genggaman yang kerap. Sang putri malampun akhirnya datang menjenguk bumi yang telah terlelap tertidur dalam genggaman langit malam bersama kerlap-kerlip jutaan bintang.

Bumi Tanah Melayu memang sudah tertidur.  Tapi dua orang gadis jelita masih asyik berbincang diatas peraduannya.

“Ayumas harus dapat memilih diantara keduanya”, berkata Dara Jingga kepada Kakaknya Dara Petak.

“Itulah yang kakak tidak dapat putuskan, keduanya sama-sama begitu rupawan”, berkata Dara Petak mengungkap isi hatinya kepada adiknya Dara Jingga.

“Bagaimana bila aku yang memilih untuk ayumas?”, berkata Dara Jingga menggoda

“Siapa yang akan Dimas Ayu pilihkan untukku?”, berkata Dara Petak

“Aku memilih pemuda yang mengalahkan Raja Belang untuk Ayumas”, berkata Dara Jingga

“Mengapa kamu pilihkan dia untukku?”, bertanya Dara Petak

“Karena aku menginginkan pemuda yang satunya lagi”, berkata Dara Jingga dengan mata terbuka tersenyum memandang Dara Petak.

“Itu namanya ada udang di balik batu”, berkata Dara Petak sambil mencubit adiknya.

Demikianlah, pembicaraan Dara Petak dan Dara Jingga mewakili pembicaraan di hampir penjuru Tanah Melayu sebagai kata-kata pengantar tidur mereka atas kejadian di siang hari yang menghebohkan. Sebuah peristiwa yang tidak mungkin dapat mereka lupakan. Terutama cerita tentang manusia dewa, sebuah nama yang mereka berikan sendiri untuk seorang yang  menurut mereka telah mempunyai ilmu yang maha sakti, untuk seorang pemuda pengembara, ksatria dari Singasari yang tidak lain adalah Mahesa Amping, seorang pemuda sederhana yang terlahir dari rahim orang biasa. Bukan dari keluarga istana, apalagi anak seorang Dewa !!.

Mahesa Amping masih juga tidak dapat memejamkan matanya. Pikirannya masih menerawang ketika tangannya menggenggam keris itu. Ada perasaan yang aneh telah membius jiwanya, perasaan atas kehausan segala pujian, kehausan atas sebuah kekuasaan, harta dan wanita. Tiba-tiba terbayang tiga wajah gadis jelita yang saat itu berada didekat Baginda Raja.

“Apakah karena perbawa keris itu, atau gejolak dihatiku sendiri?”, bertanya Mahesa Amping kepada dirinya sendiri.

Sampai jauh malam Mahesa Amping masih belum juga menerka gejolak yang ada didalam dirinya.

“Apakah ini yang dinamakan cinta?”, bertanya Mahesa Amping kepada dirinya sendiri.

Tiba-tiba lamunannya jauh ke Padepokan Bajra Seta, betapa senangnya bila diajak bersama mengantar beberapa barang senjata dan alat pertanian yang akan dijual dipasar. Disana ia akan bertemu dengan seorang putri pedagang kelontong yang berparas cantik bernama Rasmi yang akan memintanya singgah.

Diatas pembaringannya Mahesa Amping duduk bersila dalam sikap sempurna, melihat dirinya sendiri, melihat gejolak perasaannya sendiri dan terus masuk dalam keheningan dan kehampaan dalam tatapan fana. Sebuah asap hitam tipis keluar dari ujung kepalanya. Terlihat Mahesa Amping menarik nafas panjang sepertinya baru saja keluar dari sebuah himpitan berat yang menyesakkan rongga dadanya.

“Hawa sesat keris itu ternyata diam-diam telah mengendap didalam lubuk hatiku”, berkata Mahesa Amping kepada dirinya sendiri yang dapat memaklumi sikap dan perbuatan Bagus Kemuning sangat berhubungan erat berasal dari pengaruh keris Siginjai yang belum disempurnakan, pengaruh hawa sesatnya telah mengakar membentuk jiwanya yang keruh.

Malam memang telah sedikit menyisakan waktunya berlalu menjauh pergi kebelahan bumi lain ditandai dengan suara kokok ayam jantan sayup-sayup jauh memanggil sang pagi. Semburat cahaya merah tersembul dibalik cakrawala di ujung timur bumi. Namun cahayanya masih belum menghangatkan burung-burung kecil yang telah lama bersembunyi dibalik sayap dan bulunya dari dinginnya malam.

Di pagi yang masih bening itu Mahesa Amping sudah terbangun keluar dari biliknya menuju Panggung Pendapa. Ternyata Datuk Belang sudah ada di pendapa duduk seorang diri. “Apakah Datuk Belang semalaman duduk disini?”, berkata Mahesa Amping.

Datuk Belang tersenyum mendengar seloroh Mahesa Amping. ”Aku hanya lebih dulu sedikit dari kehadiranmu”, berkata Datuk Belang.

“Kebetulan sekali, aku ingin menanyakan tentang pengaruh keris Siginjai itu?” berkata Mahesa Amping.

“Keris itu masih memilik hawa kotor yang harus segera disempurnakan, akan berpengaruh buruk siapapun yang memilikinya”, berkata Datuk Belang

“Sebagaimana telah mempengaruhi jiwa Bagus Kemuning” Berkata Mahesa Amping.

“Aku akan bercerita sedikit tentang rahasia Keris itu”, berkata Datuk Belang sambil menarik napas perlahan, sepertinya tengah mengumpulkan beberapa kenangan yang sudah lama berlalu.

“Keris ini pada mulanya sebuah pesanan seorang Raja kepada seorang Empu di Tanah Jawa yang sangat ahli membuat sebuah keris bertuah. Entah kenapa Raja itu tidak pernah datang kembali menanyakan pesanannya itu. Hingga pada suatu waktu Empu itu telah bertemu dengan guruku yang masih muda belia. Empu itu menitipkan keris itu kepada guruku, memintanya untuk menyempurnakannya dengan memandikannya di tujuh muara. Guruku pada saat itu memang telah memenuhi syarat sebagai orang yang dapat menyempurnakan keris itu, dimana syarat itu hanya dapat dilakukan  oleh seorang pemuda yang masih perjaka. Guruku bersedia melakukan tugas itu”, Datuk Belang berhenti sebentar menarik napasnya dalam-dalam.

“Namun dalam perjalanannya”, berkata datuk Belang melanjutkan ceritanya. “Guruku telah jatuh cinta kepada seorang putri kepala suku di sebuah pedalaman tanah Melayu. Sampai akhirnya guruku memperistrinya. Tapi kemalangan telah menimpa keluarga guruku juga mertuanya. Peperangan antara para ketua suku telah menewaskan istri dan mertuanya. Dalam kesedihan itu barulah guruku menyadari kesalahannya, telah membawa sebuah keris yang belum disempurnakan, melalaikan tugas dan janjinya”, Datuk Belang berhenti sebentar.

“Ketika bertemu denganku, keris itu masih belum juga disempurnakan”, berkata datuk Belang.

“Bukankah Datuk pada saat itu masih perjaka?”, bertanya Mahesa Amping yang dibalas dengan sebuah senyuman.

“Ditempat asalku, ketika seorang pemuda akan pergi merantau akan didahului dengan upacara pernikahan muda”, berkata Datuk Belang masih dengan menampakkan senyumnya.

“Untuk menawarkan hawa jahatnya, keris itu oleh guruku di tanam dibawah sebuah blumbang mata air yang jernih”, berkata Datuk Belang melanjutkan ceritanya. ”Guruku telah berpesan kepadaku untuk mencari seorang yang memenuhi syarat untuk dapat menyempurnakannya”, berkata datuk Belang. “dan hari ini aku telah mendapatkan orang itu”.

“Siapakah orang itu?”, bertanya Mahesa Amping seperti merasa lega ada orang yang telah didapatkan oleh Datuk belang untuk menyempurnakan keris itu yang sudah dirasakannya sendiri dapat berpengaruh jahat kepada siapapun yang memegangnya, apalagi memilikinya. “Kamu Mahesa Amping”, berkata Datuk belang kepada Mahesa Amping yang terperanjat tidak menyangka orang yang dimaksud Datuk Belang adalah dirinya sendiri.

“Aku melihat hanya kamulah yang mampu menyempurnakan keris itu”, berkata Datuk Belang. “Keris itu terbuat dari campuran bahan kayu pilihan, nikel, emas dan besi yang keras. Ketika berada dalam genggamanmu, cahaya dalam keris itu sepertinya telah menjadi redup”, berkata datu belang dengan wajah penuh pengharapan kepada Mahesa Amping.

Sementara itu sang Surya sudah muncul dari ujung timur bumi. Cahayanya memancar memberikan kehangatan. Burung-burung kecil mulai berani menyembulkan kepalanya yang semalaman bersembunyi dibalik bulunya yang lembut dari dinginnya malam. Terlihat beberapa burung kecil berwarna-warni berloncat dari ranting keranting memperdengarkan ragam kicau suara pagi.

Pranjaya, Lawe, Argalanang dan Raden Wijaya telah bergabung di panggung pendapa menikmati hidangan pagi yang hangat.

“Pagi yang cerah”, berkata Mahesa Amping sebagai orang terakhir yang turun dari rumah panggung akan berangkat ke alun-alun istana.

Alun-alun istana pagi itu sudah dipenuhi orang-orang yang dengan tidak sabar lagi menunggu pertandingan terakhir yang menentukan.

Mahesa Amping, Lawe, Argalanang dan Raden Wijaya mendapatkan kehormatan duduk di panggung sebagai tamu Baginda Raja. “Dikampungku belum pernah aku duduk di tajuk kehormatan seperti ini”, berkata Argalanang sambil memandang panggung terbuka dengan perasaan senangnya.

Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya sepertinya tidak mendengarkan celoteh Argalanang, karena tatapan mata mereka sedang terperangkap ke ujung deretan, tepatnya kepada tiga orang gadis yang begitu jelita duduk berjajar dengan Baginda Raja.

“Kulihat mata kalian telah berselingkuh”, berkata Argalanang masih menatap lurus kearah panggung terbuka.

“Hanya sedikit bersedekah mata, agar tidak kantuk”, berkata Lawe sambil mentowel pinggang Argalanang.

Gong !!!

Sebuah bende terdengar sebagai tanda pertandingan akan segera dimulai.

Terlihat Pranjaya dan Ragasuci telah naik kepanggung.

Seorang penengah, seperti biasa menyampaikan beberapa hal yang menyangkut segala aturan yang mengikat diatas panggung pertandingan itu.

Gong….!!!!!

“Hati-hati, sekarang aku tidak bersandiwara lagi”, berkata Ragasuci siap melakukan serangannya.

“Aku telah siap”, berkata Pranjaya menyunggingkan sebuah senyuman.

Maka terjadilah sebuah pertempuran yang seru antara Pranjaya dan Ragasuci. Mereka bertempur laksana dua ekor harimau saling menerkam dan menerjang.

“Luar biasa, tiga hari yang lalu seranganmu tidak secepat ini”, berkata Ragasuci sambil menghindar dari tendangan beruntun yang dilancarkan Pranjaya.

“Jangan memuji, nanti aku bisa lupa daratan”, berkata Pranjaya kembali melakukan serangan menerjang dengan pukulan bertubi-tubi.

Demikianlah mereka bertarung dengan begitu serunya, seratus jurus telah berlalu, tidak juga terlihat ada yang surut tenaganya. Bahkan sepertinya semakin lama tenaga yang keluar semakin begitu dahsyat, mereka telah mengeluarkan kemampuan tenaga diluat wadagnya.

Wuuuut…!!

Sebuah sambaran tangan dari Pranjaya penuh tenaga lewat sedikit dari kepala Ragasuci yang dengan cepat mengelak langsung menyerang dengan sebuah tendangan melingkar.

“Kecepatan dan tenaga mereka seimbang”, berkata Raden Wijaya yang menyaksikan pertempuran itu tanpa berkedip sedikit pun.

“Tapi Ragasuci punya banyak muslihat”, berkata Mahesa Amping ikut menilai pertempuran antara Ragasuci dan Pranjaya.

“Muslihat apa yang dilakukan Ragasuci”, bertanya Lawe tersentuh dengan penilaian Mahesa Amping.

“Pranjaya sudah terpancing jebakan Ragasuci”, berkata Mahesa Amping. “Ragasuci menunggu tenaga Pranjaya terkuras”, berkata Mahesa Amping menjelaskan. Apa yang dikatakan Mahesa Amping memang tidak meleset jauh, didalam pertempuran itu memang Ragasuci sengaja lebih banyak diserang agar tenaga Pranjaya cepat terkuras.

Akhirnya yang ditunggu Ragasuci datang juga, dilihatnya Pranjaya sudah bermandikan keringat. Begitu deras keringat mengalir membasahi wajah dan tubuhnya.

“Tahan seranganku”, berkata Ragasuci yang telah memperhitungkan segala gerakannya menyerang secara beruntun. Dengan perhitungan yang tepat kemana langkah Pranjaya, sebuah tamparan yang cepat lewat punggung tangannya yang terbuka berhasil menghantam dada Pranjaya.

Paaaakkk….!!!!

Pranjaya terhuyung terhantam tamparan punggung tangan terbuka Ragasuci yang telah dilambari tenaga yang kuat tepat didadanya.

Ragasuci tidak mengejar dan menyusul Pranjaya, dibiarkan Pranjaya berdiri tegak mengambil napas dan kuda-kudanya kembali.

Aum…!!!!

Terdengan suara geram harimau besar dari tenggorokan Pranjaya. Itulah tanda awal bahwa Pranjaya telah mengeluarkan pusaka ilmunya “Harimau marah menggulung prahara”.

Ragasuci menjadi lebih berhati-hati lagi, diam-diam telah mengendapkan nalar budinya mengetrapkan kekuatan dirinya yang tersembunyi bersiap dengan pusaka ilmu simpanannya, “harimau sakti melindungi patung Budha”.

Siapapun yang menyaksikan dua pusaka ilmu itu seperti tidak dapat berkedip. Pranjaya menyerang begitu ganasnya seperti badai prahara bergulung-gulung tiada henti menyerang Ragasuci.

Sementara Ragasuci begitu indahnya tidak pernah keluar dari garis lingkaran langkahnya dan selalu lepas keluar dari terjangan dan hantaman pukulan dan tendangan Pranjaya yang datang bertubi-tubi.

“Ketika berlatih denganku, aku berlindung dibalik kecepatanku”, berkata Raden Wijaya yang sudah pernah merasakan jurus pusaka Pranjaya yang dahsyat itu.

“Sementara Ragasuci berlindung dibalik ilmu langkahnya yang indah”, berkata Mahesa Amping yang mengagumi gerak langkah Ragasuci yang indah,  terpusat dalam satu lingkaran bertahan. Sebuah jurus bertahan yang indah yang baru dilihat oleh Mahesa Amping selama dalam pengembaraannya.

Ketika semua mata tidak pernah putus dan berkedip sedikitpun menyaksikan sebuah pertempuran yang begitu mendebarkan, sebuah mata yang indah sekali-dua kali mencoba mencuri pandang. Mata yang indah itu berasal dari seorang gadis jelita Dara Jingga yang diamdiam telah jatuh hati kepada seorang pemuda yang tidak lain adalah Mahesa Amping

“Akhirnya aku dapat melihat pemuda gagah itu lebih jelas”berbisik Dara Jingga kepada kakaknya Dara Petak.

“Hus..!”, hanya itu tanggapan Dara Petak atas bisikan Dara jingga sambil meletakkan tangannya diujung bibirnya yang mungil.

Nafas Pranjaya sepertinya telah memburu, keringat telah membasahi wajah dan tubuhnya. Itulah yang ditunggu Ragasuci. Sebagai seorang putra sekaligus murid yang dituntun langsung oleh Prabu Darmasiksa yang sekarang telah mengasingkan dirinya sebagai seorang Resiguru, kelebihan Ragasuci mulai terlihat selapis lebih berpengalaman dari Pranjaya. Setelah dengan sabar bertahan dengan langkah ajaibnya yang indah, Ragasuci dengan sebuah perhitungan yang  masak mulai melancarkan serangan-serangan mendesak Pranjaya.

Desssss !!!

Sebuah tendangan tepat menerobos pertahanan Pranjaya yang langsung terlempar di pinggir panggung. Ragasuci memang ingin segera menyelesaikan pertempurannya. Dengan melakukan beberapa kali lompatan kayang telah mendekati Pranjaya.

Bukkkkk !!!

Sekali lagi sebuah pukulan tangan tergenggam keras masuk telak menghantam perut Pranjaya yang masih goyah berdiri di pinggir panggung.

Pranjaya langsung terlempar keluar dari panggung

!!!!!

Gemuruh suara penonton menyaksikan akhir dari

pertempuran yang begitu mendebarkan. Ragasuci telah menyelesaikannya dengan begitu indah.

Perlahan Pranjaya bangkit berdiri naik kembali ke panggung terbuka.

“Tuanku memang pantas mendapatkannya, aku mengaku kalah”, berkata Pranjaya setelah kembali keatas panggung sambil menyalami Ragasuci.

“Aku juga senang bertanding dengan pemuda yang punya bakat yang luar biasa sepertimu”, berkata Ragasuci sambil memeluk erat Pranjaya. Sekali lagi penonton bergemuruh menyaksikan dua orang ksatria yang mempunyai kelapangan jiwa.Yang menang tidak merasa deksura, yang kalah pun tidak merasa direndahkan dan berkecil hati.

Gong…!!!!

Suara bende terdengar begitu keras bergema  mengisi ruang alun-alun istana yang luas. Sayembara memperebutkan seorang putri raja telah berakhir.

“Aku mengundang kalian besok menghadiri upacara mandi damai”, berkata Baginda Raja kepada Datuk Belang dan rombongannya yang telah memohon pamit meninggalkan alun-alun istana.

Sementara itu sekilas sepasang mata indah kembali mencuri pandang. Kali ini pencuri itu tertangkap basah.

Dua pasang mata telah bertemu. Dengan sedikit menganggukkan kepalanya, Mahesa Amping memberikan senyumannya yang dibalas Dara Jingga dengan senyuman pula penuh sejuta arti. Sebuah pertemuan antara dua hati yang terpaut debar yang sama.

Percik api asmara telah menyala.

Hari itu adalah hari yang penuh gemilang. Sebuah upacara yang besar telah diselenggarakan dengan penuh meriah, dalam suasana penuh suka cita.

Puncak pesta itu adalah pelaksanaan upacara mandi damai. Sebuah upacara yang bermakna bahwa calon pengantin dinyatakan telah syah menurut adat istiadat yang berlaku di tanah Melayu. Sebuah upacara pernikahan yang diawali dengan memandikan sepasang pengantin dengan bunga warna-warni yang diakhiri dengan bersembunyinya pengantin wanita diantara puluhan para wanita tua yang didandani mirip pengantin wanita. Tugas Pengantin pria mencari dengan benar pengantin aslinya.

“Ragasuci akan cepat mendapatkan pengantin aslinya”, berkata Mahesa Amping yang ikut menyaksikan upacara mandi damai itu kepada Argalanang yang ada didekatnya.

“Bagaimana kamu yakin akan hal itu?” bertanya Argalanang yang ikut bingung menentukan dimana pengantin wanita bersembunyi.

“Ragasuci akan menggunakan penciumannya”, berkata Mahesa Amping.

Ternyata apa yang dikatakan Mahesa Amping memang benar, Ragasuci mencari pengantin wanita dengan penciumannya. Dengan mudah Dara  Puspa yang bersembunyi diantara para ninik mamak telah ditemuinya.

Seluruh orang yang menyaksikan upacara itu bersorak gembira, Ragasuci telah menemukan Pengantin wanitanya.

“Kamu memang serba tahu, tapi untuk yang satu ini kamu ternyata begitu bodoh”, berkata Argalanang kepada Mahesa Amping yang selalu tepat memberikan setiap dugaan.

“Untuk hal apa aku terlalu bodoh?”, bertanya Mahesa Amping penasaran.

“Kamu tidak mengetahui, ada seorang dara jelita selalu mencuri pandang ke arahmu”, berkata Argalanang. “saat ini dirinya masih memandangimu”, berkata Argalanang sambil berbisik.

Mahesa Amping segera menyebar pandangnya, ternyata apa yang dikatakan Argalanang memang benar, seorang dara jelita tengah memandangnya.

Serrrrrr….!!!!

Berdesir sebuah rasa yang penuh makna tapi tidak mudah diartikan oleh Mahesa Amping perasaan apa gerangan ketika matanya menangkap mata jelita itu.

Dan dada Mahesa Amping berdegup lebih keras lagi manakala seorang dayang tua yang selalu berada didekat Dara jelita itu menghampiri dirinya.

“Tuan putriku mengundang ki sanak besok menemaninya bermain layang-layang hias di tepi pantai”, berkata dayang tua itu kepada Mahesa Amping dengan penuh hormat.” Anggukkan kepalamu sebagi tanda dirimu menerima undangan ini langsung kepada tuan putriku”.

Sebagaimana yang diminta dayang tua itu, Mahesa Amping memberikan tanda anggukan kepalanya langsung kepada Dara Jelita yang masih menatapnya, sepertinya tengah menunggu.

Dara jelita itu dari tempat yang jauh membalas anggukan kepala Mahesa Amping dengan dengan sebuah senyum yang tersembunyi di balik saputangan sutra jingga diantara jemari tangannya.

“Kebahagiaanku sepertinya menjadi begitu  sempurna, menemukan keponakanku di negeri orang”, berkata Ragasuci ketika menerima ucapan selamat dari Raden Wijaya.

“Semoga kebahagian Pamanda selalu langgeng”, berkata Raden Wijaya sambil memeluk Ragasuci dengan perasaan haru bahagia.

Demikianlah, upacara mandi damai telah dilanjutkan dengan sebuah jamuan besar sebagai ungkapan rasa syukur bahwa upacara pernikahan telah terlaksana dengan baik.

Hari itu seluruh warga Tanah Melayu merayakan hari suka cita itu dengan perasaan penuh gembira dalam pesta pora penuh gemerlap sampai jauh diujung malam.

“Terima kasih telah menemaniku dihari penuh kebahagiaan ini”, berkata Baginda Raja kepada Datuk Belang mewakili rombongannya ketika berpamit mohon diri.

Dan putri malam masih tetap setia menjaga bumi yang sudah terpulas tertidur di peraduannya. Masih terlihat cahaya sang putri malam yang sudah tidak bulat lagi bersandar diujung atap panggung menara istana yang tinggi menjulang. Debur ombak pantai Tanah Melayu seperti nada irama abadi bersambut merdu seruling angin malam berdesir riuh membelai daun-daun pinang seperti penari rancak piring yang gemulai.

Dan malam pun akhirnya lelah jua bernyanyi untuk bumi, terlihat semburat warna merah telah muncul di ujung timur.

Semburat warna merah akhirnya telah menyebar mengisi hampir seluruh cakrawala. Warna alam diatas bumi begitu bening bersemedi dalam keheningan suara yang sunyi.

“Lagi-lagi aku telah didahului oleh Datuk”, berkata Mahesa Amping kepada Datuk Belang yang sudah lebih dulu hadir di atas panggung pendapa.

“Aku hanya lebih sedikit darimu”, berkata datuk Belang mempersilahkan Mahesa Amping menemaninya.

”Ada satu hal penting yang akan kusampaikan padamu”, berkata Datuk Belang kepada Mahesa Amping ketika sudah duduk di sampingnya.

“Semoga aku dapat mendengarnya tanpa keterkejutan”, berkata Mahesa Amping dengan senyumnya.

“Hari ini adalah hari yang baik untuk menyempurnakan keris Siginjai”, berkata Datuk Belang.

“Hari ini?”, bertanya Mahesa Amping yang tiba-tiba saja teringat kepada janjinya untuk menemani Dara Jingga.

“Ya hari ini”, berkata Datuk Belang yang tidak sempat membaca warna sikap Mahesa Amping yang bergejolak.

“Hari ini aku akan mengantarmu, kita berangkat berdua”, berkata Datuk Belang melanjutkan.

“Mendatangi tujuh muara ?”, bertanya Mahesa Amping yang terlihat agak gelisah.

“Kita tidak perlu mendatangi tujuh muara, tapi mendatangi sebuah blumbang mata air yang mengalir ke tujuh muara”, berkata Datuk Belang.

Ketika matahari telah muncul diufuk timur, terlihat Datuk Belang dan Mahesa Amping tengah menuruni undakan rumah panggung.

“Perjalanan kita hanya menempuh setengah hari perjalanan”, berkata Datuk Belang kepada Mahesa Amping ketika mereka telah menjauh berbelok di sebuah jalan simpang menuju pedalaman Tanah Melayu.

Hangat sinar matahari pagi sepertinya mengiringi perjalanan mereka melangkah membelah padang alangalang panjang yang berujung pada sebuah sungai besar.

“Kita menunggu seseorang lewat, mudah-mudahan bersedia menyeberangkan kita”, berkata Datuk Belang kepada Mahesa Amping.

Ternyata mereka tidak menunggu lama, terlihat seorang tengah mengayuh jukungnya. Datuk Belang melambaikan tangannya.

“Tolong antar kami ke seberang, ada upah untukmu”, berkata Datuk Belang kepada orang itu ketika jukungnya telah mendekati mereka.

Tidak lama Datuk Belang dan Mahesa Amping telah berdiri diatas jukung menyeberangi sungai besar.

“Semoga perjalanan kalian dipenuhi kelapangan”, berkata orang itu yang menerima upahnya dengan gembira.

“Kita akan memasuki hutan di depan sana”, berkata datuk Belang sambil menunjuk sebuah hutan hitam yang pekat tidak begitu jauh dari langkah mereka.

Sementara itu diwaktu yang sama di tepi pantai, seorang dara jelita dan dayangnya tengah duduk diatas pasir putih yang hangat menatap ombak dan buih yang datang dan pergi membelai bibir pantai dibawah matahari pagi.

Seorang pemuda terlihat mendatangi dan mendekati mereka.

“Maaf, apakah tuan putri tengah menantikan seseorang ?”, bertanya pemuda itu.

“Benar, kami memang tengah menantikan sesorang”, berkata Dara Jelita itu.

“Mungkin sahabatku yang tuan putri maksudkan, atas nama sahabatku, aku mohon maaf bila hari ini tidak dapat datang sebagaimana janjinya”, berkata pemuda itu yang tidak lain adalah Raden Wijaya.

“Katakan kepada sahabatmu, tidak perlu meminta maaf meski telah berjanji. Karena orang yang sama berjanji juga tidak dapat memenuhi janjinya”, berkata dara jelita itu sambil melemparkan senyumnya yang begitu mempesona.

“Aku belum dapat menangkap maksud perkataan tuan putri”, berkata Raden Wijaya belum mengerti ucapan dara jelita itu.

“Adikku yang mengundang sahabatmu itu saat ini tengah sakit, jadi akulah yang diminta mewakilinya atas namanya”, berkata dara jelita itu yang tidak lain adalah Dara Petak kakak dari Dara Jingga.

“Apakah adikmu sakit keras?”, bertanya Raden Wijaya merasa ikut prihatin.

“Adikku cuma sedikit demam”, berkata Dara Petak. “sedikit demam asmara”, berkata Dara Petak menutupi bibir tipisnya dengan sapu tangannya menahan senyumnya. Akhirnya Dara Petak bercerita sedikit tentang keadaan adiknya yang baru pertama kalinya berjanji bertemu dengan seorang pemuda.

“Semalaman tidak bisa tidur, paginya memutuskan agar aku saja yang mewakilinya”, berkata Dara Petak menjelaskan keadaan adiknya Dara Jingga.

“Kalau begitu, kita adalah orang-orang perwakilan”, berkata raden Wijaya

“Benar, biarlah kita mewakili perasaan mereka”, berkata Dara Petak dengan sebuah tatapan begitu lembut.

“Dengan senang hati, aku mewakili sahabatku”, berkata Raden Wijaya dengan senyum khasnya langsung tertangkap sebagai debar pesona memenuhi seluruh relung hati Dara Petak.

“Dengan senang hati, aku mewakili adikku”, berkata Rada Petak memperlihatkan senyumnya pula.

Layang-layang pun telah naik melambung tinggi mewakili perasaan hati muda-mudi yang memegang bidai sambil bercerita tentang bunga, matahari pagi dibalik bukit, kesetiaan ombak dan pantai yang tak pernah terputus oleh berlalunya waktu.

Sementara itu, diwaktu yang sama. Mahesa Amping dan Datuk Belang telah sampai di tempat yang mereka tuju. Sebuah blumbang besar dengan airnya yang jernih terlindung dibawah sebuah pohon beringin putih yang besar disebuah hutan besar yang sepertinya jarang sekali didatangi oleh orang-orang. Sebuah hutan yang dingin dan begitu pekat.

“Blumbang ini mengalir ketujuh muara”, berkata Datuk Belang kepada Mahesa Amping yang duduk bersandar pohon beringin putih melepaskan penatnya setelah setengah harian berjalan.

“Tunjukkan apa yang dapat aku lakukan”, berkata Mahesa Amping.

Datuk Belang memberikan beberapa petunjuk yang harus dilakukan untuk menyempurnakan keris Siginjai.

“Berendamlah di blumbang ini bersama keris Sigenjai”, berkata Datuk Belang menjelaskan beberapa hal yang harus dilakukan oleh Mahesa Amping.

Matahari sudah bergeser sedikit dari puncaknya, kepekatan hutan membuat suasana sekitar blumbang begitu teduh. Terlihat Mahesa Amping sudah melangkah turun ke blumbang yang jernih dan tidak begitu dalam. Mahesa Amping merasakan kesejukan berada didalam blumbang di siang hari itu.

Sementara itu Datuk Belang berusaha sedikit menjauh, sesuai tatacara pemandian dan penyempurnaan keris Siginjai harus tidak terlihat oleh siapapun.

Mahesa Amping telah duduk bersila sempurna didalam blumbang itu, yang terlihat hanya leher dan kepalanya yang tidak terkena air blumbang.

Matahari pun sedikit demi terlihat bergeser kebarat. Cahayanya yang menembus beberapa dahan  dan batang pohon di hutan itu sudah semakin redup.

Mahesa Amping telah masuk didalam semedinya, masuk kedalam ketiadaan dan bersatu bersama semesta alam jagad raya yang luas tak bertepi.

Kala itu hari sudah menjadi senja, Mahesa Amping melihat dengan mata kepalanya sendiri turun dari pohon beringin putih yang ada di tepi blumbang itu seekor ular belang berwarna kuning, putih, hitam dan merah.

Mahesa Amping segera meningkatkan  kekuatan nalar budinya, bersiaga penuh menghadapi segala apapun yang dapat mencelakai dirinya. Dengan tingkat kemampuan atas pemahaman akan arti mengungkapkan segala rahasia kekuatan dan pemusatan diri dan semesta yang telah sempurna, terlihat sedikit demi sedikit tubuh Mahesa Amping telah terangkat dan akhirnya seperti duduk bersila sempurna diatas permukaan air blumbang yang jernih itu.

Mahesa Amping tidak bergerak ketika ular belang yang besar itu telah membelit hampir seluruh tubuhnya.

Di kegelapan senja, Mahesa Amping melihat dua mata ular itu menyala tepat didepan wajahnya dan merasakan dingin dan lembut gesekan kulit ular yang telah membelit seluruh tubuhnya.

“Kenapa kamu takut kepada diriku?”, tiba-tiba saja ular belang itu berkata kepada Mahesa Amping.

Terkejut Mahesa Amping menyadari bahwa ular belang itu ternyata bukan makhluk biasa. Sebuah perwujudan alam ada dan tiada yang menjelma sebagai sosok ular belang yang ganas menakutkan.

“Siapakah dirimu?”, bertanya Mahesa Amping. “Namaku Manik Maya”, berkata ular itu.

“Manik Maya yang berarti permata khayalan, sungguh indah namamu”, berkata mahesa Amping yang sudah merasa sangat lama pernah mengenalnya sering datang dan pergi menggodanya jauh didalam lubuk hatinya yang paling dalam.

“Keindahan itulah yang sering membelit manusia muda tenggelam dalam kemalasannya”, berkata ular itu.

“Apa yang kamu inginkan dariku dengan

menampakkan wujudmu

Amping. disini?”, bertanya Mahesa

“Didalam dirimu aku sudah kamu tundukkan, akulah hamba sahayamu. Semoga kehadiranku ini dapat membantumu menyempurnakan keris siginjai” berkata ular besar itu yang tiba-tiba saja berubah wujud sebagai asap tipis berwarna warni langsung masuk kedalam keris Siginjai.

Mahesa Amping menarik nafas lega menyaksikan semua yang terjadi.

Baru saja Mahesa Amping bernafas lega, tiba-tiba telah berdiri ditepi blumbang seekor anjing besar berbulu hitam kemerahan.

Kepekaan nuraninya kembali mengatakan bahwa anjing besar itu pun bukan makhluk sembarangan. Dan sudah langsung menerka siapakah gerangan anjing besar yang selalu menjulurkan lidahnya.

“Kamu pasti hasradku yang sering menawarkan kemasyuran kepadaku”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum.

“Tuanku telah mengenalku, akulah hasradmu yang sering kau halau ketika aku datang”, berkata anjing besar itu masih menjulurkan lidahnya, ada buih cairan yang menetes disela-sela mulutnya.

“Apa yang kau inginkan dengan menampakkan wujudmu dihadapanku ?”, bertanya Mahesa Amping.

“Engkau tuanku, aku ingin membantu tugas tuanku, meredam hasrad panas yang ada didalam keris Siginjai”, berkata anjing besar itu yang langsung berubah wujud sebagaimana ular belang menjadi sebuah asap tipis berwarna hitam kemerahan langsung masuk kedalam keris Siginjai.

Malam telah menggelantung pekat mengisi rongga hutan diatas blumbang berair jernih yang tidak begitu dalam itu.Mahesa Amping masih tetap didalam semedinya terapung diatas permukaan blumbang.

Kepekaan Mahesa Amping yang telah sempurna kembali menangkap sebuah suara. Dari dalam  kegelapan muncul sesosok makhluk berupa seekor anjing berwarna putih kekuningan.

“Selamat datang wahai hambaku yang setia kepada segala pujian dan kebanggaan kepahlawanan”, berkata Mahesa Amping yang sudah dapat mengenal makhluk yang mendatanginya sebagai anjing besar berbulu putih kekuningan.

“Engkau telah mengenalku, sebagaimana kawankawanku yang datang terlebih dahulu, aku datang untuk membantumu”, berkata makhluk berujud anjing besar itu yang langsung berubah wujud menjadi asap tipis berwarna putih kekuningan langsung masuk kedalam keris Siginjai.

Semburat warna merah telah sedikit muncul di cakrawala langit yang menelingkungi hutan dimana Mahesa Amping dan Datuk Belang ada di  dalamnya. Tapi suasana di dalam hutan itu masih tetap tidak berubah kepekatannya.

Mahesa Amping masih tetap dalam semedinya, laksana patung budha yang terapung diatas permukaan air blumbang.

Kembali kepekaan Mahesa Amping dapat merasakan ada yang tengah mendatanginnya. Kali ini adalah dua ekor kera besar. Yang satu berwarna hitam kecoklatan dan yang lainnya berwarna putih bersih.

“Sebutlah nama kalian agar aku dapat mengenali siapa kalian”, berkata Mahesa Amping langsung bertanya kepada dua ekor kera yang datang mendekatinya berdiri ditepi blumbang.

“Namaku Jnanawesa”, berkata kera yang berwarna hitam kecoklatan.

“Namaku Jnanaprasada”, berkata kera yang berwarna putih bersih.

“Senang aku dapat melihat wujud kalian yang sebenarnya. Terima kasih telah datang membantuku”, berkata Mahesa Amping kepada dua ekor kera yang mendatanginya. Dari nama yang mereka sebutkan,

Mahesa mengenalinya siapakah mereka itu. Kera yang memperkenalkan dirinya bernama jnanawesa adalah guru sejati yang selalu membisikkan segala sisi baik dan buruk didalam lubuk hatinya. Sementara kera putih bersih itu tidak lain adalah makhluk yang telah bersemayam didalam dirinya yang selalu memberinya segala rasa ketenangan bathin.

Tanpa mengucapkan kata apapun kedua ekor kera itu telah berubah wujud menjadi asap tipis dan langsung merasuki batang keris Siginjai yang terselip dipinggang Mahesa Amping.

Semburat warna merah telah mengisi seluruh cakrawala langit diatas hutan itu sebagai tanda sebentar lagi akan datang fajar pagi.

“Siapa gerangan yang akan mendatangiku?, bertanya Mahesa dalam hati ketika kepekaannya kembali merasakan aka nada yang datang menghampirinya dari balik kegelapan hutan yang gelap itu.

Dugaan Mahesa Amping ternyata benar adanya, ada dua sosok makhluk berwarna putih. Ketika sudah semakin dekat, Mehesa Amping dapat melihat jelas bahwa yang mendatanginya adalah seekor singa putih dan seekor burung garuda juga berbulu berwarna putih.

“Wahai jiwa yang telah menemukan kedamaian, kekasih siwa sejati. Kami datang memenuhi panggilanNYA”, berkata Singa putih itu yang langsung berubah wujud menjadi sebuah asap tipis halus diikuti garuda yang hinggap dibahunya juga langsung berubah wujud menjadi asap tipis halus langsung masuk kedalam wujud keris Siginjai. Mahesa Amping merasakan keanehan atas dirinya, tubuhnya seperti terbebani barang ribuan kati beratnya. Terlihat tubuh Mahesa Amping telah masuk kembali terbenam air belumbang menyisakan kepalanya.

Masih dalam keadaan penuh keheranan, merasakan ada sesuatu menginjak kepalanya.

Mahesa Amping merasakan dirinya seperti tidak berbobot, sedikit demi sedikit tubuhnya terasa terangkat terapung dipermukaan air Blumbang.

Ternyata diatas kepala Mahesa Amping telah bertengger seekor burung angsa putih. Sebentar Angsa putih itu hinggap diatas kepalanya, kemudian terbang mengitari blumbang yang seketika itu juga telah berubah warna menjadi warna kebiruan. Angsa putih itupun turun hinggap dipangkuan Mahesa Amping, begitu jinaknya.

“Salam sejahtera bagimu wahai jiwa yang bersih  yang telah mendatangi fajar, hamba datang memenuhi panggilanNYA”, berkata angsa putih itu yang tidak berubah wujud sebagaimana jelmaan binatang sebelumnya yang berubah wujud menjadi asap, tapi angsa putih itu telah berubah wujud seperti cahaya kebiruan sepertinya masuk terserap kedalam keris Siginjai.

Mahesa Amping merasakan sesuatu didalam dirinya begitu dahsyat, sebuah kegembiraan yang luar biasa meliputi jiwanya laksana kupu-kupu terbang di taman bunga, atau seperti seekor burung keluar dari sangkarnya terbang tinggi diudara bebas terbuka.

“Segera naiklah Mahesa Amping, kamu sudah berhasil menyempurnakannya”, berkata Datuk Belang dari atas tepi Blumbang kepada Mahesa Amping. Mahesa Amping yang mengenal suara itu membuka matanya, dilihatnya Datuk Belang berdiri di tepi blumbang menatap penuh senyum.

“Segeralah naik”, berkata kembali Datuk Belang kepada Mahesa Amping.

“Gantilah pakaianmu”, berkata Datuk Belang sambil mengeluarkan pakaian bersih ketika Mahesa Amping telah keluar dari Blumbang.

Sementara itu sinar matahari pagi sudah  mulai masuk lewat sela-sela dahan dan daun seperti puluhan pedang menusuk bumi menerangi hutan. Suara burung berkicau terdengar begitu riuh didalam hutan yang masih perawan itu.

“Mari kita bersiap kembali pulang, kasihan kijang muda itu beberapa kali mengintip menunggu blumbang ini menjadi sepi”, berkata Datuk Belang sambil menunjuk ke arah semak belukar tempat bersembunyinya seekor kijang muda yang sepertinya sudah begitu bosan menunggu.

Mahesa Amping dan Datuk Belang terlihat telah berjalan menyusuri hutan pekat itu berusaha mencari arah kembali. Akhirnya meraka telah keluar dari hutan yang disambut hangatnya cahaya matahari yang sudah mulai menaik.

“Keris ini mempunyai perbawa seorang raja, apakah kamu juga merasakan perbawanya”, berkata Datuk Belang kepada Mahesa Amping ketika mereka sudah berada disebuah lereng bukit yang luas.

“Benar, akupun juga merasakan perbawa yang sama pada keris ini”, berkata Mahesa Amping membenarkan perkataan Datuk Belang. “Apakah ada keinginanmu untuk menjadi seorang raja”, berkata Datuk Belang

“Dalam mimpi sekalipun tidak pernah terpikir olehku”, berkata Mahesa Amping

Datuk Belang tertawa mendengar jawaban dari Mahesa Amping

“Kamu memang aneh, sementara banyak orang bermimpi ingin menjadi seorang raja”, berkata Datuk Belang.

“Menjadi raja atas diri sendiri adalah mahkota hidup yang harus disyukuri, pesan itulah yang kudapat ketika menyempurnakan keris ini”, berkata Mahesa Amping.

“Ternyata aku tengah berjalan bersama seorang raja bermahkota angsa putih”, berkata Datuk Belang sambil menepuk pundak Mahesa Amping.

“Keris ini akan kupersembahkan untuk Baginda Raja Melayu, semoga perbawanya dapat memberikan kedamaian bagi pemiliknya dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat tanah melayu”, berkata Datuk Belang.

“Sebuah persembahan yang agung”, berkata Mahesa Amping menyetujui keinginan Datuk Belang untuk mempersembahkan keris Siginjai bagi rajanya.

Sementara itu matahari telah bergeser sedikit dari puncaknya. Tidak terasa mereka sudah sampai di tepi sungai besar. Sebagaimana ketika berangkat. Mereka menunggu sebuah jukung yang lewat untuk dapat menyeberangkan mereka.

“Upah yang kuterima sangat berlebih”, berkata seorang pemilik jukung ketika menerima upah dari datuk Belang. “Yang berlebih itu mungkin dapat kau belikan pupur untuk istrimu”, berkata Datuk Belang tersenyum melihat pemilik jukung itu merasa gembira dengan upah yang diberikan.

“Aku belum punya istri”, berkata pemilik jukung itu.

Mahesa Amping dan Datuk belang tertawa mendengar jawaban pemilik jukung itu.

Kembali mereka melanjutkan perjalanan yang tidak terlalu lama lagi, melewati sebuah padang alang-alang.

Namun ketika mereka sudah berada ditengah padang alang-alang, beberapa orang sepertinya tengah menanti kedatangan mereka.

“Berhenti, serahkan keris Siginjai kepada kami”, berkata salah seorang diantara mereka menghadang Mahesa Amping dan Datuk Belang.

“Kulihat kalian cuma orang upahan”, berkata Datuk Belang yang melihat orang-orang yang menghadang mereka sebagian berwajah kasar.

“Ternyata matamu sangat jeli orang tua, serahkan keris itu agar tugas kami jadi mudah”, berkata orang itu kepada Datuk Belang.

“Siapakah orang yang mengupah kalian?”, bertanya Datuk Belang.

“Itu bukan urusanmu, cepat serahkan keris itu sebelum kami berubah pikiran mencelakaimu”, berkata orang itu.

“Aku tidak akan menyerahkannya”, berkata Datuk Belang

“Ternyata kamu orang tua yang keras kepala”, berkata orang itu yang sepertinya sudah tidak sabar lagi langsung memberi tanda kepada kawan-kawannya mengepung Mahesa Amping dan Datuk Belang.

Sepuluh orang dengan berbagai senjata di tangan telah mengepung Mahesa Amping dan Datuk Belang.

“Habisi mereka!!”, berkata orang itu memberi perintah.

Dalam waktu singkat, berbagai senjata telah menghujam meyeluruk tubuh Mahesa Amping dan Datuk Belang.

Mahesa Amping melenting dengan ringan agak menjauh dari Datuk Belang memberikan kesempatan membagi dua kerumunan.

Apa yang diharapkan Mahesa Amping ternyata berhasil, lima orang telah menyusul dirinya langsung menyerang dengan kasarnya.

Mahesa Amping tidak banyak mengalami kesulitan, bahkan seperti seorang yang tengah bermain-main. Dengan kecepatan geraknya Mahesa Amping meliuk ke kanan dan ke kiri atau melompat dengan cepat dan ringannya menghindar dari setiap sergapan lima orang lawannya.

Sementara itu Datuk Belang juga melakukan hal yang sama sebagaimana Mahesa Amping, dengan mudah terbang kesana kemari menghindari serangan.

“Kalian masih belum waktunya menjadi orang upahan”, berkata Datuk Belang sambil menghindari sebuah tusukan tombak yang nyaris menusuknya dari arah belakang.

“Orang tua sombong”, berkata salah seorang dari lima orang penyerangnya langsung menyabetkan golok besarnya kearah Datuk Belang. Sambil tertawa Datuk Belang telah menghindar, namun empat buah senjata telah menyusulnya. Kembali Datuk Belang telah keluar dari kepungan empat orang penyerangnya.

Bukan main geramnya kelima orang ini yang mendapatkan satu orang lawan yang tidak mudah ditundukkan. Dengan brutal kembali mereka menyerang Datuk Belang yang melayani mereka sambil tertawa terkekeh-kekeh membuat kelima orang penyerangnya merasa direndahkan langsung menyerang dengan kemarahan yang memuncak.

Datuk Belang nampaknya sudah jemu bermain-main. Bukkk !!!

Sebuah pukulan bersarang tepat di ulu hati seorang penyerang yang mencoba nekat menyusup dari samping kanan Datuk Belang, langsung rebah tidak sadarkan diri.

Prakkkk !!!!

Sebuah pukulan tangan terbuka langsung menghantam rahang penyerang yang berada disisi kiri Datuk Belang langsung terhuyung pening, sebuah  giginya melompat keluar dari mulutnya yang terluka.

Dessssss !!!!!

Sebuah tendangan kebelakang langsung menghujam perut penyerangnya yang mencoba menusukkan tombaknya dari arah belakang. Tendangan keras kearah perut itu membuat penyerangnya merasakan mual yang sangat.

“Kalian tinggal berdua”, berkata Datuk Belang kepada dua orang penyerangnya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Ternyata dua orang penyerangnya bukan orang yang gampang berputus asa atau mudah menyerah, melihat tiga orang temannya yang begitu mudah dirobohkan oleh Datuk Belang terlihat semakin garang. Seorang penyerang terlihat memutarkan golok panjangnya siap mengadu jiwa.

Sementara seorang lagi yang bersenjata dua buah badik ditangan kiri dan kanannya telah siap pula menyerang.

“Tidak ada yang lepas dari Badikku”, berkata orang yang bersenjata badik sambil melepaskan dua buah senjatanya meluncur dengan cepat ke arah tubuh Datuk Belang.

Wusssss !!!!

Dua buah badik meluncur dengan cepat dari jarak dua setengah langkah.

Settt !!!

Dua buah badik telah dijepit dengan dua buah jari tangan kanan dan kiri Datuk Belang. Dan dengan kecepatan dua kali kecepatan semula, badik itu telah kembali ke empunya langsung menancap di kedua paha kanan dan kiri penyerangnnya yang langsung rebah tidak dapat bertahan menahan rasa sakit dikedua paha kakinya. Darah segar terlihat keluar deras dari kedua paha kakinya.

“Aku telah bermurah hati, tidak mengarahkan badik itu kejantung temannu”, berkata Datuk Belang kepada seorang penyerangnya yang terbelalak melihat kawannya jatuh rebah dengan badiknya sendiri.

“Silahkan pilih, dengan cara apa kamu akan aku robohkan”, berkata Datuk Belang sambil tersenyum menatap penyerangnya. Sementara itu Mahesa Amping masih setia melayani keempat penyerangnya. Masih sempat pula melihat keempat lawan Datuk Belang yang telah jatuh bergelimpangan tidak berdaya.

Mahesa Amping telah memutuskan untuk segera menyelesaikan pertempurannya.

Tiba-tiba saja tubuh Mahesa Amping telah melenting keluar dari kepungan lima orang penyerangnya dengan kecepatan yang begitu luar biasa. Terlongong-longong lima pasang mata melihat Mahesa Amping sudah keluar dari kepungannya berdiri tegap berjarak lima langkah dari mereka.

Bum-bum !!!

Mahesa Amping menghentakkan kakinya dua kali ke tanah.

Ternyata hentakan kaki Mahesa Amping berdampak luar biasa. Bumi disekitar lima orang penyerangnya terasa berguncang. Kelima orang penyerangnya terlihat ikut limbung bergoyang kekiri dan kekanan berusaha menyeimbangkan dirinya.

Ternyata Mahesa Amping telah merebut dan menguasai alam pikiran kelima orang penyerangnya dengan ilmu bayang-bayang semunya.

Plak-plak !!!!

Belum sempat untuk berbuat apapun, dua buah tamparan yang keras telah dijatahi tepat menghinggapi wajah lima orang penyerang itu yang langsung rebah tidak sadarkan dirinya. Mahesa Amping hanya menggunakan sepersepuluh kekuatannya dan tidak bermaksud untuk membunuhnya. Hanya sebatas pingsan rebah tergeletak diatas tanah padang ilalang. “Menyerahlah, semua kawanmu sudah tidak berdaya”, berkata Datuk Belang kepada seorang penyerangnya yang sepertinya sudah kehilangan nyali melihat semua kawannya telah jatuh bergelimpangan tidak berdaya.

“Aku menyerah”, berkata orang itu sambil melemparkan golok panjangnya. Ternyata nyalinya sudah benar-benar menciut melihat semua kawannya sudah tidak adalagi yang mampu berdiri.

“Uruslah semua kawanmu yang terluka, hari ini kamu kuampuni, dan jangan berharap kemurahanku ini berlaku untuk kedua kalinya dalam hidupmu”, berkata Datuk Belang dengan suara penuh ancaman.”Katakan kepada orang yang memberimu upah, buanglah mimpinya untuk memiliki keris Siginjai”, berkata kembali Datuk Belang kepada orang itu yang hanya mengganggukan kepalanya penuh rasa jerih dan nampaknya terlihat telah menjadi jerah.

Mahesa Amping dan Datuk Belang telah

meninggalkan orang

perjalanannya. itu, kembali melanjutkan

“Mengapa Datuk tidak menangkap mereka dan menyerahkan kepada pihak Kerajaan?”, bertanya Mahesa Amping kepada Datuk Belang ketika mereka sudah berjalan cukup jauh.

“Kurasa dengan menangkap mereka, tidak akan mengurangi dan menghentikan para pemimpi yang bermimpi untuk menguasai keris Siginjai ini”, berkata Datuk Belang.

“Datuk telah berkata benar, satu orang pemimpi terbunuh, seribu pemimpi lahir dimuka bumi lain”, berkata Mahesa Amping membenarkan tindakannya atas orangorang yang akan merampas keris Siginjai.

“Bukan para pemimpi-nya yang harus kita binasakan, tapi mimpi itulah yang harus kita hentikan”, berkata Datuk Belang.

“Para pemimpi tidak pernah hidup di alam dunianya sendiri”, berkata Mahesa Amping.

“Dunia seperti bayang-bayang diri yang tidak akan dapat dikejar”, berkata datuk Belang melengkapi. ”Kesadaran inilah yang harus kita sebarkan, bermula kepada diri kita sendiri, berlanjut kepada keluarga kita dan meluas kepada orang-orang disekitar kita”.

“Membangun kesadaran dengan jalan damai”, berkata Mahesa Amping mengerti maksud arah pembicaraan Datuk Belang.

“Membangun kedamaian dengan sadar”, berkata Datuk Belang sambil tersenyum kepada Mahesa Amping. Diam-diam mengagumi orang yang telah menuntun pemuda ini sehingga bukan hanya mempunyai ilmu yang tinggi, tapi penguasaan atas tuntunan kejiwaan yang sangat elok dan begitu tinggi dalam usia yang masih muda belia ini.

Tidak terasa perjalanan mereka sudah menjadi begitu dekat.

“Kukira di saat menjelang malam kalian baru akan tiba”, berkata Pranjaya menyambut kedatangan Datuk Belang dan Mahesa Amping.

“Harusnya lebih siang lagi kami sudah tiba dirumah ini”, berkata Datuk Belang yang langsung duduk di panggung pendapa bercerita beberapa hal, terutama tentang kejadian yang menimpa mereka diperjalanan pulang yang telah dihadang oleh beberapa orang. “Mudah-mudahan mereka akan menjadi jera”,  berkata Argalanang setelah mendengar cerita Datuk Belang.

“Dan jerih”, berkata Lawe melanjutkan perkataan Argalanang.

“Semoga mereka jera dan jerih”, berkata Raden Wijaya sepertinya melengkapi perkataan Lawe dan Argalanang.

“Semoga mereka jera, jerih dan kapuak”, berkata Pranjaya yang ikut gemas mendengar cerita Datuk Belang.

“Kapuk ditempat asalku dapat dijadikan bantal guling”, berkata Lawe yang salah dengar tentang kata “kapok” yang dimaksud Pranjaya yang disambut tertawa dan geleng-geleng kepala melihat Lawe yang tambah tidak mengerti.

“Apakah ada yang salah dalam ucapanku?”, bertanya Lawe yang kembali membuat tawa semua yang hadir.

Sore hari di rumah panggung itu seperti bertabur bunga. Ragasuci dan dara Puspa telah berkunjung bertamu di kediaman Datuk Belang. Datang bersama mereka Dara Petak dan Dara Jingga membuat suasana di panggung pendapa penuh warna-warni memenuhi hati setiap pemuda.

“Kedatanganku ini adalah bermaksud mengajak Sanggrama untuk mengunjungi tanah leluhurnya di Tanah Sunda”, berkata Ragasuci menyampaikan maksud kedatangannya.

“Dua orang adikku, Dara Petak dan Dara Jingga akan ikut pula”, berkata Dara Puspa sambil melirik dua orang adiknya yang masih tertunduk malu. “Ayahku Gurusuci Darmasiksa akan bergembira dapat melihat kembali cucu tercintanya”, berkata Ragasuci penuh permohonan kepada keponakannya Raden Wijaya.

“Aku datang bersama ketiga kawanku, aku tidak dapat meninggalkan mereka”, berkata Raden Wijaya.

“Ajaklah ketiga kawanmu”, berkata Ragasuci.

“Semua keputusan ada di ditangan Mahesa Amping, dialah pimpinan rombongan kami”, berkata Lawe sambil mempersilahkan Mahesa Amping memberikan keputusannya.

Mahesa Amping tidak segera mengambil keputusan, terlihat tengah menarik nafas panjang.

”Baiklah, kita memang sudah terlalu lama di Tanah Melayu, orang-orang di Singasari mungkin tengah khawatir menanti kedatangan kita”, berhenti sebentar Mahesa Amping menahan kata-katanya. Sementara sepasang mata sepertinya tidak sabar menunggu lanjutan kata-kata yang akan keluar dari bibirnya. Sepasang mata yang indah itu siapa lagi bila bukan Dara Jingga yang sudah jatuh hati kepada Mahesa Amping.

“Tidak ada salahnya, bila dalam perjalanan pulang kita singgah sebentar di Tanah Sunda”, berkata Mahesa Amping yang disambut gembira oleh Lawe dan juga pemilik sepasang mata yang indah itu.

“Sudah lama aku bermimpi melihat Tanah Sunda yang katanya tanah penuh bunga”, berkata Lawe dengan gembiranya.

“Aku tidak ikut bersama kalian, biarlah aku pulang sendiri ke pantai pasir seputih”, berkata Argalanang menyampaikan keberatannya untuk ikut ke Tanah Sunda.

“Kita datang bersama, pulang pun harus bersama pula”, berkata Lawe kepada Argalanang.

“Aku memang senang sekali bersama kalian, banyak hal kudapat ketika bersama kalian. Tapi…..”, berkata Argalanang tidak melanjutkan kata-katanya.

“Tapi di tanah kelahiranmu ada seseorang dara jelita yang tengah menunggumu”, berkata Lawe yang dibalas oleh anggukan kepala Argalanan sambil tersenyum malu.

“Begitulah”, berkata Argalanang berterus terang tidak menyanggah tebakan yang jitu dari Lawe.

*****

Kita sudah lama meninggalkan Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema. Sebagaimana diceritakan dimuka, mereka tidak jadi melaksanakan pelayaran sampai ke Tanah Melayu karena berbagai pertimbangan, antara lain masih belum dapat menerimanya para saudagar Tanah Melayu atas kehadiran armada jung Borobudur yang megah masuk area perdagangan mereka.

Setelah singgah sebentar di Pantai pasir Seputih, ujung selatan swarnadwipa, mereka kembali lagi ke Singasari menyusuri pantai utara Nusa Jawa.

Luar biasa sambutan orang-orang Singasari atas kembalinya jung kebanggaan mereka. Sebuah pelayaran perdana, sebuah awal perubahan baru dalam kehidupan kerajaan singasari di masa-masa berikutnya. Sebuah mimpi dari Sri Maharaja Singasari tentang kerajaan laut telah tercipta. Dan saatnya mewariskan mimpi itu kepada yang berhak menerimanya, kepada seseorang yang dapat dipercaya mampu melanjutkan mimpi-mimpi itu, Pewaris impian itu memang sudah  lama dipersiapkan, yang tidak lain adalah sang putra mahkota sendiri, Pangeran Kertanegara.

Ketika datang menghadap ayahandanya  Sri Maharaja untuk melaporkan perjalanan pelayarannya yang gemilang, Sri Maharaja menerimanya dengan penuh suka cita.

“Pengalamanmu di lautan telah tumbuh, itulah yang kuharapkan. Pandanganmu sudah tidak lagi terkucil sebatas tanah daratan, tapi sudah begitu luas meliputi segenap samudera. Duduk dan bertahtalah engkau anakku di atas singgasana Kediri. Tunjukkan bahwa engkaulah pewaris tahta tunggal di Bumi Singasari ini yang dapat mengadem ayemkan suasana hati para petani, mengamankan perjalanan para pedagang di laut dan di daratan dan sebagai ksatria besar menjaga segenap jiwa prajurit dari segala ancaman peperangan”, berkata Sri Maharaja kepada Pangeran Kertanegara yang didampingi sahabat setianya Kebo Arema.

Pada hari itu juga, Sri Maharaja telah memanggil Maha patihnya untuk menyiapkan sebuah penobatan besar, penobatan putra mahkota sebagai Raja di Kediri.

Hari penobatan pun telah ditetapkan.

Hari itu, dari segenap penjuru Singasari telah datang membanjiri Kotaraja untuk menyaksikan sebuah upacara agung penobatan sang putra mahkota memulai kehidupan barunya sebagai raja Kediri. Sebuah perayaanpun mengiringi puncak upacara agung penuh kemeriahan yang gegap gempita melebihi perayaan apapun sebelumnya di Singasari.

“Selamat jalan tuanku Raja Muda, hamba belum dapat mengiringi tuanku, Sri Maharaja telah menitahkan hamba membangun kerajaan lautnya agar kelak tuanku jua yang bertahta disana. Sebagai maharaja yang berkuasa dan jaya di laut dan di bumi Singasari”, berkata Kebo Arema melepas junjungannya yang telah dinobatkan sebagai Raja Muda Kediri.

“Air laut yang biru telah mengajarkan kepadaku arti sebuah kesetiaan. Kelak aku akan merindukanmu, berbagi semangat membangun kejayaan Singasari, di bumi dan di lautan”, berkata Kertanegara dari atas kereta kencana kepada Kebo Arema.

Kebo Arema menatap sampai jauh iring-iringan rombongan kecil yang mengantar Raja Muda Kertanegara dan permaisurinya ke Kediri. Setelah sekian lama bersama, hari itu mereka harus berpisah karena perbedaan tugas yang harus mereka jalani. Kebo Arema memandang gamang iring-iringan rombongan berkuda yang semakin menjauh menghilang dijalan berbukit di saat menurun. Pangraitanya yang halus sepertinya memberi tanda akan ada sebuah peristiwa yang akan datang menemui rombongan kecil itu.

“Semoga Gusti yang maha kasih selalu bersamamu”, berkata Kebo Arema lirih sepertinya menahan kegusaran yang terlintas didalam hatinya.

Kegusaran yang terlintas di hati seorang yang mumpuni seperti seorang Kebo Arema memang tidak akan berlarut, langsung ditangkap sebagai sebuah pertanda kilasan sebuah panggraita dan diserahkan kembali kepada yang empunya segalanya, yang memegang hidup dan kehidupan itu sendiri, Sang Hyang Tunggal Maha Karsa.

Panggraita seorang Kebo Arema ternyata sebuah pengabaran yang tidak meleset jauh. Nun jauh disana di sebuah hutan kecil di antara pertengahan jarak antara Kotaraja dan Kediri, telah menunggu sekelompok orang yang akan menyergap rombongan Kertanegara.

Rombongan kecil itu dikawal oleh tiga belas orang prajurit. Mereka adalah para prajurit muda yang telah diakui kesetiaannya, mereka para prajurit muda yang telah ditempa mengarungi lautan bersama Kertanegara. Bhaya salah seorang diantara prajurit itu yang telah dipercaya dan diangkat sebagai kepala prajurit ada bersama rombongan kecil itu.

Matahari di siang itu begitu terik, syukurlah angin bertiup kencang kadang menggiring awan tebal memayungi rombongan berkuda dari hawa panas matahari yang menyengat.

“Kita beristirahat sejenak di muka hutan kecil itu”, berkata Raja Muda Kertanegara kepada Bhaya pengawalnya yang berkuda yang selalu mengapit kereta kencana.

Demikianlah rombongan kecil itu telah beristirahat di muka hutan kecil itu sambil membuka bekal yang mereka bawa.

“Apakah kamu tidak melihat dan mendengar suara burung yang terbang di muka hutan itu?”, berkata Raja Muda Kertanegara kepada Bhaya.

“Hamba melihat burung-burung itu seperti telah terusik terbang mencari tempat yang lebih  aman”, berkata Bhaya yang tanggap apa yang dimaksud oleh junjungannya itu.

“Beritahu kepada semua prajurit untuk selalu waspada”, berkata Kertanegara.

Bhaya segera menyampaikan secara berantai kepada semua prajurit untuk tetap siaga dan waspada. Diam-diam mengagumi ketajaman penglihatan Raja Mudanya yang diketahui mempunyai ilmu yang sangat tinggi.

Setelah beristirahat yang cukup, rombongan kecil itu terlihat perlahan memasuki mulut hutan. Setiap prajurit sudah bersiaga penuh menghadapi apa yang akan  terjadi didepan mereka.

Rombongan kecil itu sudah masuk kedalam hutan, keadaan hutan yang sunyi semakin menambah kecurigaan Kertanegara. Biasanya suasana hutan selalu dipenuhi suara burung dan binatang, namun kali ini suara hutan sepertinya begitu senyap sebagai tanda penghuninya telah berganti.

Para prajurit sudah tahu apa yang harus mereka lakukan, diantaranya tiga orang telah ditugaskan menjaga kereta kencana dimana permaisuri Padmita ada didalamnya.

Pendengaran Kertanegara yang tajam telah mendengar suara diantara belukar.

Akhirnya yang mereka khawatirkan telah menjadi kenyataan ketika dari gerumbul belukar muncul puluhan kepala.

“Habisi mereka!!”, terdengar suara aba-aba yang menggema di dalam hutan yang diiringi suara gaduh puluhan orang keluar dari persembunyiannya langsung mengepung rombongan kecil itu.

Pertempuran tidak dapat dielakkan lagi. Para prajurit muda yang telah terlatih itu terlihat menghadapi orangorang yang baru datang dan langsung menyerang.

Kertanegara yang menghawatirkan permaisurinya yang berada di dalam kereta kencana telah bertindak tidak tanggung-tanggung lagi. Lima orang penyerang sudah langsung tumbang terkena tendangan dan pukulannya.

Kembali Kertanegara terbang kesana kemari langsung menyapu bersih siapapun yang ada didekatnya.

Para prajurit muda pun telah memperlihatkan keandalannya. Mereka sudah terlatih baik dalam perang kelompok maupun bertarung perseorangan. Dalam waktu singkat jumlah para penyerang semakin menyusut.

“Jangan beri mereka nafas sedikit pun, tunjukkan bahwa kalian prajurit singasari yang tidak akan mengampuni para perusuh”, berkata Kertanegara menggerakkan beberapa pukulan yang langsung mengacaukan para penyerang seperti bara api yang masuk kekumpulan serangga kecil.

Kembali jumlah para penyerang sudah semakin menyusut.

“Menyerahlah!!”, berkata Kertanegara yang telah mengepung bersama prajuritnya tujuh orang penyerang yang tersisa.

Tujuh orang penyerang itu nampak menjadi bimbang, terutama ketika menyadari jumlah mereka dalam waktu yang singkat telah menjadi surut menyusut.

“Lemparkan senjata kalian !!”, berkata Kertanegara kembali dengan suara penuh wibawa dengan penekanan suara yang kuat.

Suara itu memang begitu mengejutkan. Beberapa penyerang nyalinya sudah semakin menciut. Terlihat seseorang telah melemparkan senjata mereka dan langsung diikuti oleh kawan-kawannya.

Akhirnya ketujuh orang tersisa itu dengan mudah diringkus sebagai tawanan.

Kertanegara terlihat menarik nafas lega, tidak ada seorang pun dari para prajurit pengawalnya yang terluka. Kertanegara memerintahkan prajuritnya memeriksa beberapa korban yang mungkin masih dapat diselamatkan.

Beberapa korban dari para penyerang memang telah binasa, tapi masih ada juga yang masih bisa diselamatkan dan beberapa orang lagi hanya terluka ringan.

Terlihat beberapa prajurit tengah mengobati para penyerang yang terluka dengan obat-obatan yang sengaja mereka bawa.

“Uruslah jenasah mereka sebagaimana layaknya”, berkata Kertanegara ketika seorang prajurit bertanya tentang beberapa para penyerang yang sudah tidak bernyawa lagi.

Keadaan hutan kecil itu pun terlihat menjadi begitu sibuk. Dengan peralatan apa adanya para prajurit terpaksa membuat beberapa lubang untuk menguburkan jenasah para penyerangnya.

“Bersukurlah, hari ini kita tidak membuat lubang untuk kawan kita sendiri”, berkata seorang prajurit yang telah menyelesaikan sebuah lubang.

“Bersyukurlah bahwa kita telah dilindungi oleh orang yang harusnya kita lindungi”, berkata kawannya yang juga telah menyelesaikan sebuah lubang.

“Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, tidak ada yang luput dari terjangannya”, berkata prajurit yang pertama bicara bercerita tentang junjungannya Kertanegara yang telah turun langsung dalam pertempuran yang baru saja mereka alami bersama.

“Junjungan kita bukan ksatria biasa, sangat tepatlah bila Sri Maharaja Singasari mempercayakannya menjadi penguasa di Kediri”, berkata kawannya.

Sementara itu matahari sudah semakin bergulir turun ke barat, cahayanya terlihat sudah miring muncul menembus dahan dan cabang pohon di hutan kecil itu.

Pelaksanaan pemakaman mayat para penyerang yang mati telah selesai dilaksanakan sebagaimana mestinya, meskipun semasa hidupnya mereka adalah seorang lawan, seorang musuh yang bermaksud tidak baik yang akan mencelakai mereka.

Beberapa tawanan yang melihat pelaksanaan pemakaman kawan-kawannya diam-diam memuji keluhuran para prajurit muda ini juga sikap Raja Muda mereka.

Setelah beristirahat sejenak, terlihat rombongan kecil itu telah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya kembali.

“Kita harus secepatnya keluar dari hutan kecil ini”, berkata Kertanegara kepada para prajuritnya ketika mereka akan segera berangkat.

Akhirnya mereka telah keluar dari hutan itu, terhampar didepan mereka jalan lapang yang panjang dan berbukit.

“Di balik bukit itu kita sudah mulai memasuki daerah Kediri”, berkata Kertanegara kepada Permaisurinya di dalam kereta kencana.

Matahari sudah masuk di ujung senja manakala rombongan itu terlihat memasuki regol sebuah Kademangan.

Bukan main terkejut dan gembiranya Ki Demang ketika mengetahui bahwa di Kademangannya ada iringiringan kecil lengkap dengan umbul-umbul kebesaran kerajaan Singasari.

“Sebuah anugerah untuk hamba dan warga di Kademangan ini dapat menerima dan melayani tuanku”, berkata Ki Demang ketika menerima kedatangan Kertanegara dan rombongan di rumah besarnya.

Ki Demang pun dengan tergesa-gesa memerintahkan beberapa bawahannya untuk menyiapkan segalanya, terutama untuk mempersiapkan sebuah jamuan besar.

Maka kesibukan terlihat di dapur belakang rumah Ki Demang. Beberapa perempuan dan lelaki terlihat tergopoh-gopoh menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari menyalakan perapian sampai  kesibukan mengangkat beberapa ikan di kolam belakang.

Untungnya di antara beberapa warga di Kademangan itu ada seorang bibi tua yang pernah tinggal lama dan bertugas di lingkungan Istana Kota Raja Singasari. Semua orang nampaknya percaya dan menuruti apapun yang diatur oleh bibi tua itu.

Perjamuan besar pun akhirnya dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya, terlihat Ki Demang merasa bangga atas hasil kerja orang-orangnya.

“Semoga hidangan kami dapat dinikmati meski tidak senikmat hidangan di Istana”, berkata Ki Demang sambil mempersilahkan Kertanegara dan permaisurinya.

“Hidangan yang paling nikmat adalah rasa lapar itu sendiri”, berkata Kertanegara dengan senyum bersahayanya.

Tidak terasa senja tua telah bersembunyi dibalik jubah sang kegelapan malam yang telah datang menyelimuti bumi yang lelah.

Beberapa oncor terlihat di pasang di beberapa tempat di muka halaman rumah Ki Demang yang besar itu.

“Para prajurit dan pengawal Kademangan ini diluar telah menjaga kita”, berkata Kertanegara kepada permaisurinya di bilik besar yang disediakan khusus untuk mereka.

“Aku juga akan selalu menjagamu”, berkata kembali Kertanegara kepada permaisurinya Menik Kaswari yang terlihat masih belum dapat menghilangkan guncangan hatinya atas kejadian di hutan kecil itu.

Sementara itu di Banjar desa beberapa prajurit dan para pengawal Kademangan sedang bersenda gurau, ada saja yang dibicarakan oleh mereka. Sekali-kali terdengar tawa mereka yang datang bersambut memecah keheningan dan kedinginan malam.

Dan malam pun terus berlalu, hingga akhirnya menjelang fajar tiba yang ditandai semburat warna merah muncul di ujung timur cakrawala.

Setelah semburat warna merah telah hampir menutupi langit, beberapa pengawal Kademangan telah berpamit diri untuk kembali ke rumahnya masing-masing.

“Lumayan bisa tidur sejenak sampai datangnya terang pagi”, berkata seorang pengawal Kademangan yang terlihat beranjak akan pulang ke rumahnya.

“Mudah-mudahan anakmu yang masih bayi tidak terusik kedatanganmu”, berkata seorang prajurit kepada pengawal kademangan itu yang tersenyum mengerti maksud prajurit itu yang menggodanya.

“Kalau cuma bayiku yang terbangun tidak akan menghentikan pertempuran, yang kukhawatirkan mertua yang terbangun memintaku ikut ke sawah di pagi buta”, berkata pengawal Kademangan itu.

“Pertempuran ditunda hingga datangnya malam”, berkata Pengawal Kademangan lainnya yang disambut tawa semua yang ada di Banjar Desa itu.

“Cepat-cepatlah keluar dari rumah mertua indah”, berkata seorang prajurit diantara gelak tawanya menghangatkan suasana pagi yang dingin itu.

Akhirnya di Banjar Desa itu hanya tertinggal  beberapa prajurit yang masih terus berjaga. Beberapa kawannya terlihat malang melintang masih tertidur pulas di panggung banjar Desa.

Ketika terang pagi, jalan utama di Kademangan itu sudah mulai ramai. Terlihat beberapa orang lelaki membawa cangkul, mungkin hendak bekerja di sawah.

Terlihat juga sebuah gerobak ditarik dengan seekor sapi membawa gerabah, mungkin milik seorang pedagang yang akan dibawanya ke pasar yang ada di Padukuhan sebelah dimana hari itu adalah tepat hari pasaran.

Terlihat juga beberapa perempuan tua memanggul beberapa helai tikar anyamannya di atas kepala, sepertinya akan dibawa kepasar untuk ditukarkan dengan berbagai macam barang kebutuhan rumah tangganya.

“Ibuku setiap hari disaat senggangnya selalu rajin menganyam tikar di bale”, berkata seorang prajurit kepada kawannya sambil melihat seorang perempuan tua yang tengah memanggul beberapa helai tikar pandan diatas kepalanya.

“Pulang dari pasar, pasti ibuku membawakan klepon isi gula aren kegemaranku”, berkata kembali prajurit muda itu yang teringat kampung halamannya yang sudah begitu lama ditinggalkannya. Terbersit wajah ibunya dengan senyum cerah pulang dari pasar setelah menjual anyaman tikar pandan yang dibuatnya dari hari kehari.

Lamunan prajurit muda itu langsung buyar manakala seorang prajurit lain datang dari ujung jalan rumah Ki Demang.

“Bersiap-siaplah, kita akan segera berangkat”, berkata seorang prajurit yang baru datang itu.

Demikianlah para prajurit telah mempersiapkan dirinya untuk segera berangkat melanjutkan perjalannya yang sudah tidak begitu panjang lagi.

“Setelah sampai di Kediri. Aku akan mengutus para prajurit untuk membawa para tawanan”, berkata Kertanegara kepada Ki Demang yang telah menitipkan beberapa tawanan agar perjalanan mereka akan menjadi lebih cepat lagi.

“Hamba akan menjaga tawanan ini sampai  datangnya para prajurit yang akan membawanya”, berkata Ki Demang yang bersedia dititipkan para tawanan.

“Terima kasih untuk semua dan segalanya”, berkata Kertanegara kepada Ki Demang ketika kereta Kencana mulai bergerak.

“Sebuah kehormatan telah melayani tuanku”, berkata Ki Demang penuh hormat. Iring-iringan kecil itu terlihat telah melewati regol rumah Ki Demang.

Ketika iring-iringan rombongan Kertanegara melewati beberapa pedukuhan, hampir semua orang telah keluar dari rumahnya, tua muda lelaki dan perempuan melambaikan tangannya menyambut kehadiran kereta kencana yang indah serta iring-iringan para prajurit yang lengkap dengan umbul-umbul kebesaran kerajaan Singasari. Baru pertama kali ini mereka menyaksikan sendiri iring-iringan bangsawan lewat di jalan Padukuhan mereka.

Hingga akhirnya rombongan itu memasuki pintu gerbang kota Kediri. Sambutan disana lebih meriah lagi. Sudah lama mereka menantikan datangnya seorang Raja. Sudah lama singgasana Kediri kosong tanpa seorang pun Raja yang duduk mengisinya, memberikan titah dan anugerah. Dan Sri Maharaja telah memberikan warga Kediri sebuah kehormatan dan kebanggaan yang besar, menunjuk putra Mahkotanya untuk duduk di Singgasana Kediri sebagai Raja Muda mereka.

Iring-iringan kecil itu pun akhirnya berubah menjadi sebuah iring-iringan yang besar, semua orang turun ke jalan mengikuti dari belakang kereta kencana yang berjalan perlahan menuju Istana raja.

“Orang-orang Kediri ternyata menerima kedatangan kita”, berkata Kertanegara kepada permaisurinya merasa suka cita atas sambutan orang-orang Kediri di sepanjang jalan.

“Semoga Kakanda dapat mengisi harapan mereka”, berkata sang Permaisuri lirih penuh harapan.

Demikianlah hari pertama Raja Muda Kertanegara mengisi istananya. Berbesar hatilah para pejabat istana, juga para bangsawan Kediri ketika Raja Muda mereka tidak melakukan perubahan jabatan dan kedudukan apapun di bawah kepemimpinannya.

Dan Raja muda Kertanegara telah menunjukkan dirinya mampu mengisi harapan itu. Ibarat raksasa yang terbangun, Kediri telah bangun kembali dari tidurnya.

“Budha-Siwa hidup di hati, budha Siwa juga  telah lahir dibumi Kediri”, berkata seorang Pendeta suci penasehat kerajaan kepada Raja Muda Kertanegara.

“Menerjemahkan suara hati sebagai cermin diri”, berkata Kertanegara mengerti apa yang dimaksud dari ucapan sang pendeta istana.

“Tuanku adalah Brahmana yang bertahta”, berkata pendeta itu mengagumi Raja Mudanya yang telah memahami dan mengenal bahasa Tatwa.

Mulailah Raja Muda Kertanegara membangun kerajaannya, sebagaimana seekor elang yang telah tumbuh bulu mengarungi daerah perburuannya.

“Anak itu telah tumbuh bulu”, berkata Raja Jayakatwang yang telah menerima laporan beberapa orang kepercayaannya yang bercerita bahwa Kertanegara telah diterima dan dipuja di Tanah Kediri.

“Aku lahir dan besar disana, akulah yang berhak berkuasa disana”, berkata raja Jayakatwang kepada orang kepercayaannya.

“Sri Maharaja Singasari telah menjatuhkan titahnya, mempercayakan Kediri dipegang oleh putranya sendiri”, berkata orang kepercayaannya dengan suara lirih sepertinya meminta pertimbangan apa yang harus dilakukannya. “Kita harus merusak kepercayaan itu”, berkata Raja Jayakatwang yang masih belum dapat menerima dan merelakan Kediri dipegang dan dikuasai oleh orang lain, meski Kertanegara adalah adik iparnya sendiri.

Demikianlah Raja Jayakatwang yang diam-diam telah mulai menggoyahkan kedudukan Kertanegara di Kediri lewat beberapa perampokan, perampasan dan kerusuhan.

Kertanegara tidak mampu menjaga rakyatnya, itulah yang diharapkan Raja Jayakatwang yang penuh rasa iri.

Tapi Kertanegara adalah seekor Elang yang telah berani terbang tinggi, mampu melihat dengan tajam setiap ancaman.

“Katakan kepada Senapati Mahesa Pukat apa yang telah kukatakan”, berkata Kertanegara kepada Bhaya seorang prajurit pengawal pribadinya yang telah diakui kesetiaannya.

Demikianlah, di malam gelap seorang berkuda telah keluar dari gerbang kota Kediri.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari Jilid 04"

Post a Comment

close