coba

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari Jilid 12

Mode Malam
JILID 12

“KAPAN kalian akan ke Kotaraja?”, bertanya Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping

Terlihat Mahesa Amping memandang Raden Wijaya berharap ikut memberikan jawaban.

“Kami akan berangkat segera, tentunya setelah Mahesa Amping dan Empu Dangka cukup beristirahat”, berkata Raden Wijaya cukup terdengar bijaksana.

“Kalian semua akan berangkat ke kotaraja?”, bertanya kembali Mahesa Pukat.

“Mungkin Rangga Lawe yang harus tertinggal mewakili segalanya di Balai Tamu”, berkata Raden Wijaya.

Maka semua mata tertuju kepada Rangga Lawe. “Sebagai prajurit, aku siap menerima tugas dari Sang

Senapati”,  berkata  Rangga Lawe dengan wajah senyum

terpaksa karena sedikit kecewa tidak diikutkan ke Kotaraja.

Namun perkataan Rangga lawe itu sudah membuat semua diatas pendapa benteng Cangu tertawa.

Sementara itu waktu berlalu seperti berlari, senja telah mulai merangkak pergi meninggalkan bumi menyelinap dibawah kegelapan malam yang telah mulai merayap menyelimuti bumi.

“Kami mohon pamit diri”, berkata Kebo  Arema kepada Mahesa Pukat mewakili.

Maka terlihat Kebo Arema, Mahesa Amping, Empu Dangka, Raden Wijaya dan Rangga Lawe tengah menuruni anak tangga pendapa Benteng Cangu diringi pandangan mata Mahesa Pukat sampai akhirnya menghilang tidak terlihat lagi ketika mereka terhalang pintu gerbang benteng cangu yang tinggi.

Berlima mereka beriring berjalan melangkah menuju Balai Tamu Bandar Cangu yang tidak begitu jauh dari Benteng Cangu. Sementara langit malam telah menutupi air sungai Brantas menjadi begitu kelam, hanya terdengar riak gelombangnya sesekali menampar kayu bahtera Singasari yang tengah bersandar di dermaga kayu itu.

Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka di pendapa Balai Tamu. “Hamba kira tuan-tuan akan kembali dari Benteng Cangu sampai jauh malam”, berkata pelayan tua itu penuh senyum ramah.

“Kami rindu dengan masakanmu Pak tua, itulah sebabnya kami segera kembali”, berkata Rangga Lawe kepada pelayan tua itu membuat semua yang  mendengar ikut tersenyum.

Diam-diam Empu Dangka memperhatikan keakraban sikap pelayan tua itu kepada penghuni Balai Tamu itu. ”Kesetiaan pelayan tua itu buah dari sikap penghuni rumah ini yang menghormatinya bukan sebagai pesuruh, tapi sebagai sahabat”, berkata Empu Dangka dalam hati mengagumi sikap kasih orangorang disekilingnya itu.

Sinar bulan sepotong redup memandang wajah alang-alang yang melenggut ditepian sungai Brantas. Dan malam pun telah jauh merambah kegelapan.

Pagi itu udara masih basah berembun, tiga ekor kuda terlihat keluar meninggalkan Bandar Cangu. Merekah adala Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Empu Dangka yang tengah melakukan perjalanannya menuju Kotaraja.

Di perjalanan banyak mereka temui para saudagar dengan gerobak sarat penuh muatan menuju Bandar Cangu atau tengah menuju Kotaraja Singasari.

“Jalan menuju Kotaraja ke Bandar Cangu sudah menjadi ramai”, berkata Mahesa Amping.

“Perdagangan Singasari telah berkembang  meluas ke segenap penjuru dunia”, berkata Raden Wijaya penuh kebanggaan.

“Petani makmur, para saudagar aman berdagang dan para ksatria tidur bersama keluarganya tanpa peperangan, itulah sebuah gambaran nagari yang sejahtera penuh kedamaian”, berkata Empu Dangka dengan wajah penuh berseri.

Terlihat Mahesa Amping merenungi apa yang dikatakan Empu Dangka, berharap keadaan ini terus berlangsung. Telah banyak dilihatnya peperangan yang membawa banyak kedukaan.

“Mungkinkah kita terbebas dari sebuah peperangan?”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka yang berkuda beriring disebelahnya.

“Selama kita hidup di alam dunia ini, kita tidak akan terbebas dari peperangan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Jadi kita tidak pernah terbebas dari peperangan?”, bertanya Raden Wijaya ikut bicara. “Tengoklah diri kita sendiri anakmas”, berkata Empu Dangka dengan wajah penuh senyum. “Diri kita adalah gambaran dunia alit, setiap saat setiap detik selalu ada peperangan yang terus berkecamuk”, berkata kembali Empu Dangka melanjutkan katakatanya.

“Perang melawan hawa nafsu”, berkata Mahesa Amping menangkap perkataan Empu Dangka.

“Dunia alit dan dunia besar ternyata sangat saling terkait”, berkata Raden Wijaya yang juga dapat memaknai perkataan Empu Dangka.

“Aku bangga kepada kalian yang dapat menerjemahkan alam alit, semoga kalian dapat menjadi bijak untuk berpijak di dunia kasat mata ini”, berkata Empu Dangka sambil memandang kedua anak muda yang berkuda bersamanya itu dengan wajah penuh senyum berseri-seri.

“Sebuah nagari yang tentram, adem mayem loh jinawi, tidak ada panas yang terlalu, tidak ada dingin yang terlalu, apakah kamu menginginkan nagarimu seperti itu?”, bertanya Empu Dangka kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

“Semua jiwa menginginkannya”, berkata Raden Wijaya langsung menjawab pertanyaan Empu Dangka.

“Selamanya nagari itu tidak akan maju berkembang, selamanya nagarimu selalu terbelakang”, berkata Empu Dangka. Hanya nagari yang pernah mengalami kehancuran, runtuh poran poranda yang akan menjadi sebuah nagari yang besar”, berkata kembali Empu Dangka.

“Musibah, malapetaka dan bencana ternyata adalah karunia jua yang diturunkan oleh Gusti Yang Maha Agung kepada umat manusia”, berkata Mahesa Amping menangkap perkataan Empu Dangka.

“Itulah wajah kasih yang terpancar lewat sejati Dewa Syiwa”, berkata Empu Dangka menatap Mahesa Amping yang dapat memaknai perkataannya.

“Digembleng sampai hancur lebur, bangkit kembali. Itukah yang seharusnya hidup didalam diri kita?”, bertanya Raden Wijaya.

“Anakmas benar, itulah yang dimaksud dengan semangat”, berkata Empu Dangka kepada Raden Wijaya.

“Semangat-semangat-semangat!!”, berkata Raden Wijaya sambil mengangkat sebelah tangannya tinggitinggi sepertinya merasakan pencerahan didalam  hatinya.

Sementara itu bayang-bayang matahari sudah semakin merucut, matahari sudah berada dipuncak lengkung langit yang berawan penuh. Cahaya  terik begitu menyengat kulit.

“Kita beristirahat”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka dan Raden Wijaya sambil mengajaknya singgah disebuah kedai dipinggir jalan.

Mereka juga melihat satu dua gerobag kuda dai berada di muka halaman kedai itu, ternyata kedai itu sebagai tempat persinggahan para saudagar dalam setiap perjalanan dagangnya.

Setelah mengikat kuda-kudanya ditempat yang disediakan, Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka terlihat memasuki kedai yang cukup ramai itu.

Seorang lelaki tua pemilik kedai menyambut mereka penuh keramahan. “Minuman hangat dan nasi begana”, berkata Mahesa Amping kepada pemilik kedai itu.

“kami punya tuak bagus?”, berkata pemilik kedai itu menawarkan tuaknya.

Mahesa Amping menjawabnya dengan sedikit tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Lelaki pemilik kedai itu sepertinya tidak merasa heran, baginya memang tidak semua orang menyukai minuman tuak.

“Aku akan menyiapkan pesanan tuan-tuan”, berkata lelaki pemilik kedai itu sambil berbalik badan melangkah masuk kedalam.

“Ternyata ada juga orang yang tidak menyukai tuak”, berkata seorang lelaki tidak jauh dari tempat duduk Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka. Lelaki itu bicara cukup keras kepada temannya namun sepertinya perkataannya itu ditujukan langsung Mahesa Amping.

“Hanya lelaki banci yang tidak berani minum tuak”, berkata kawan lelaki itu yang berwajah bopeng dengan suara yang juga keras sepertinya menyindir Mahesa Amping dan kawan-kawan.

Suara itu bukan hanya didengar oleh Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka, tapi juga terdengar oleh hampir semua yang ada dikedai itu.

Semua orang yang ada di kedai itu menarik nafas tertahan penuh kekhawatiran bahwa akan terjadi sesuatu di kedai itu. Mereka sepertinya tidak sabar menunggu tanggapan dari ketiga orang yang baru datang yang menjadi sasaran sindiran.

Tapi penantian mereka sepertinya sia-sia, Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka tidak menanggapi apapun, mereka seperti tidak mendengar apapun selain sibuk menikmati hidangan pesanan mereka yang baru datang tiba.

Mendapati sindirannya tidak termakan sedikit pun, kedua orang itulah yang sepertinya kebakaran jenggot.

“Kedai ini kedatangan tiga orang banci tuli”, berkata kembali orang pertama dengan suara yang cukup keras.

Namun kembali sindiran mereka seperti air masuk pasir, hilang tanpa jejak. Tidak terlihat perubahan apapun pada wajah Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka. Mereka sepertinya tidak mendengar suara apapun.

Kali ini kembali kedua orang itu yang menjadi tidak sabaran mendapatkan sindirannya tidak bergeming sedikit pun.

Sementara itu semua orang yang ada di kedai mulai gelisah, perkiraan mereka akan terjadi sesuatu disambut atau tidak disambut sindiran kedua orang itu.

Perkiraan mereka ternyata akan terjadi, terlihat kedua orang itu sudah berdiri, melangkah mendekati Mahesa Amping, Empu Dangka dan Raden Wijaya.

“Baru kali ini kumendapatkan ada tiga orang lelaki yang begitu pengecut”, berkata orang yang berwajah bopeng setelah dekat kepada Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka.

Terlihat Mahesa Amping mengangkat wajahnya. “Maaf, aku tidak mengerti apa yang kisanak maksudkan”, berkata Mahesa Amping kepada orang itu tanpa ada perasaan apapun.

“Kukatakan bahwa kalian adalah tiga orang pengecut, apakah kamu tuli!!”, berkata orang berwajah bopeng dengan suara cukup keras seperti menahan kemarahan yang memuncak.

“Ternyata kisanak mengatakan bahwa kami ini tiga orang pengecut, tidak ada masalah buat kami, setiap orang bebas menyampaikan pandangan apapun perkataannya”, berkata Mahesa Amping kepada orang yang berwajah bopeng yang memandangnya dengan mata yang merah dan melotot.

“Kalian tidak menjadi marah?”, berkata orang berwajah bopeng itu kepada Mahesa Amping, karena hanya Mahesa Amping yang menghentikan makannya, sementara itu Empu Dangka dan Raden Wijaya seperti tidak memperhatikan apapun selain sibuk dengan makanannya.

“Untuk apa kami marah, melihat wajah kalian saja kami sudah penuh ketakutan”, berkata Mahesa Amping dengan suara seperti orang yang sedang penuh ketakutan.

“Ternyata ketiga orang ini benar-benar anak kelinci berhati cecurut”, berkata teman orang berwajah bopeng sambil tertawa tergelak-gelak.

“Meski satu diantara mereka membawa sebuah keris”, berkata orang berwajah bopeng sambil melirik Raden Wijaya yang terlihat sudah hampir menyelesaikan makannya.

Terlihat Raden Wijaya mengangkat wajahnya. “Jangan kalian salah sangka, keris ini cuma kenangkenangan mendiang ibuku, sementara aku tidak pernah mencabutnya untuk berkelahi, hanya terkadang dipakai untuk mengiris bawang di dapur”, berkata Raden Wijaya dengan wajah yang biasa-biasa saja. “cuma untuk mengiris bawang?”, berkata orang berwajah bopeng kepada kawannya diringi gelak tawa keduanya.

“Mari kita tinggalkan tempat ini, aku khawatir mereka akan mati lemas melihat kita”, berkata kawan orang berwajah bopeng sambil berbalik badan diikuti kawannya melangkah dengan wajah dan sikap seorang gagah meninggalkan medan laga dalam kemenangan.

“Kalian telah memenangkan sebuah pertempuran tanpa bertempur”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya ketika melihat kedua orang itu sudah keluar dari kedai.

Sementara itu matahari di luar kedai sudah terlihat bergeser, cahayanya tidak lagi seterik sebelumnya. Terlihat Mahesa Amping, Empu Dangka dan Raden Wijaya telah keluar dari kedai berjalan melangkah kearah tempat kuda-kuda mereka terikat.

“Ternyata jadi orang pengecut itu damai”, berkata Empu Dangka yang telah duduk diatas punggung kudanya.

Mahesa Amping dan Raden Wijaya bersamaan ikut melompat dan duduk diatas kudanya. Awan putih seputih kapas bergerumbul memenuhi lengkung langit biru, semilir angin berhembus sejuk diantara tangkai ranting dan daun hutan sepanjang jalan tanah itu yang semakin memanjak naik.

“Sebentar lagi kita akan sampai”, berkata raden Wijaya sambil menunjuk kearah sebuah perbukitan yang hijau. Tidak terasa kakinya menepak perut kudanya untuk berlari.

Mahesa Amping pun ikut mempercepat lari kudanya. “Ternyata kalian sudah menjadi orang tidak sabar”, berkata Empu Dangka yang terpaksa ikut mempercepat lari kudanya agar tidak tertinggal oleh Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

Cahaya matahari sore bersinar lembut menyambut kedatangan mereka ketika memasuki pintu gerbang kotaraja. Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Empu Dangka terlihat beriring diatas punggung kudanya yang dibiarkan berjalan melangkah perlahan diatas jalan Kotaraja yang masih ramai dipenuhi orang-orang yang berjalan hilir mudik, kadang satu dua gerobak kuda para saudagar melewati mereka berjalan kearah pasar kotaraja.

Mahesa Amping, Empu Dangka dan Raden Wijaya terlihat telah turun dari atas punggung kudanya ketika mereka sudah sampai didepan pintu gerbang istana.

“Selamat datang di istana Singasari”, berkata  seorang prajutit pengawal istana sambil mengambil tali temali kuda untuk dibawanya kepada pekatik istana

“Terima kasih”, berkata Raden Wijaya kepada prajurit pengawal itu.

Terlihat Mahesa Amping dan Empu Dangka berjalan dibelakang Raden Wijaya yang melangkah menuju pesanggrahan keluarganya, pesanggrahan Ratu Anggabhaya.

“Selamat datang wahai para putraku”, berkata Ki Lembu Tal menyambut kedatangan Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

“Perkenalkan ini saudara kembar Empu Nada”, berkata Raden Wijaya kepada ayahnya memperkenalkan Empu Dangka. “Bila saja tidak diberitahu, mungkin aku menganggap Empu Nada dihadapanku”, berkata Ki Lembu Tal yang terkesima melihat kemiripan wajah kembaran Empu nada yang sudah dikenalnya.

“Ternyata ada seorang senapati Singasari”, berkata tiba-tiba seorang yang sudah cukup berumur keluar menyambut mereka yang ternyata adalah Ratu Anggabhaya.

Maka tidak lama berselang, keadaan di pasanggrahan Ratu Anggabhaya menjadi begitu ramai, terutama di dapur belakang dimana para pelayan nampak begitu sibuk menyiapkan hidangan istimewa untuk tamu istimewa mereka.

“Pangeranku terlihat semakin gagah”, berkata seorang wanita tua pelayan istana kepada kawannya di dapur belakang.

“Gagahan mana dengan suamiku”, berkata kawannya yang terlihat masih muda dengan senyum menggoda.

“Jauhh…,seperti langit dan bumi”, berkata wanita tua itu sambil mencabut bulu-bulu ayam yang tinggal tersisa pada sayapnya.

“Tapi aku menganggap suamiku manusia tergagah didunia, terutama ketika…..”, berkata wanita pelayan itu tidak meneruskan kata-katanya.

Sementara itu, seorang prajurit pengawal yang biasa bertugas di pasangrahan Ratu Anggabhaya telah ditugaskan untuk menjemput guru pendeta Empu Nada yang saat ini telah menetap di lingkungan istana, tinggal di belakang istana di sebuah rumah yang dulu pernah didiami Mahendra, seorang pahlawan Singasari.

“Berangkatlah lebih dulu, aku akan menyusul”, berkata Empu Dangka kepada prajurit pengawal itu yang telah menyampaikan pesannya.

“Apa kata mereka bila aku datang tidak bersama tuan guru pendeta”, berkata prajurit pengawal itu kepada Empu Nada.

“Bila demikian, tunggulah sebentar”, berkata Empu Nada sambil tersenyum kepada prajurit pengawal itu.

Prajurit pengawal itu memang tidak menunggu terlalu lama. Empu Nada telah siap untuk berangkat ke Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

Ternyata Empu Nada mempunyai panggraita yang kuat, dalam perjalanannya telah merasakan sesuatu yang akan ditemuinya di Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

“Kakang Dewadangkabrata!!”, berkata Empu Nada tidak percaya dengan apa yang dilihatnya ketika akan naik anak tangga pendapa di Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

“Dewanadabrata”, berkata Empu Dangka penuh senyum gembira, sebuah pertemuan yang sangat ditunggu-tunggu sejak keberangkatannya dari Balidwipa.

Terlihat dua saudara kembar itu saling berpelukan, menangis penuh keharuan setelah sekian lama mereka berpisah.

Dan malam itu adalah malam yang sangat istimewa, terutama bagi Empu Nada dan Empu Dangka yang seperti tidak ingin dipisahkan lagi, mereka duduk bersama dan bercerita begitu banyak tentang beberapa hal sepanjang perpisahan mereka yang begitu lama.

Keistimewaan perjamuan malam itu di pendapa yang luas menjadi begitu istimewa lagi manakala seorang prajurit pengawal khusus Maharaja Singasari datang membawa kabar bahwa Sri Baginda Maharaja Singasari akan datang ke Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

Tidak lama berselang, Sri Baginda Maharaja Singasari memang telah datang hanya dengan dikawal oleh dua orang prajurit pengawal.

“Haturkan diri ini bersembah sujud dihadapanmu wahai guruku tercinta”, berkata Maharaja Kertanegara dihadapan Empu Dangka sambil bersujud penuh kehormatan.

“Bangunlah anakku, engkau adalah Maharaja Singasari yang perkasa”, berkata Empu Dangka penuh haru bahwa dihadapannya adalah seorang Maharaja besar yang dengan kerendahan hati masih menghormati dirinya sebagai seorang guru.

Maka lengkaplah keharuan dan suka cita atas pertemuan antara saudara kembar, antara guru dan murid dan pertemuan persaudaraan para ksatria Singasari yang telah bersatu dalam sebuah perjamuan malam yang sangat meriah.

“Berkat kalian semua, Singasari telah semakin berjaya”, berkata Maharaja Kertanegara kepada semua yang hadir ditengah suasana perjamuan.

“Kami para orang tua hanya duduk dipinggiran sebagai juru sorak mendukung jiwa-jiwa muda yang terus berkarya bagi kejayaan Singasari”, berkata Ratu Anggabhaya

“Tanpa diri kalian para orang tua, kami tidak akan terlahir seperti saat ini”, berkata Maharaja Kertanegara sambil menjura penuh kehormatan.

Sementara itu sang malam di pendopo besar itu terus berlalu, beberapa pelayan telah membersihkan sisa perjamuan dan menggantikannya dengan beberapa hidangan penutup.

“Kita disini semuanya adalah keluarga, maka tidak perlu sungkan bila Rangga Mahesa Amping dapat bercerita tentang perjalanan tugasnya selama di Balidwipa”, berkata Maharaja Kertanegara meminta Mahesa Amping bercerita tentang apa yang didapatnya selama di Balidwipa.

Maka dengan perlahan Mahesa Amping menyampaikan apa yang telah dilihat dan diketahui tentang Balidwipa.

“Kamu telah membuka sepertiga jalan atas apa yang telah engkau lakukan”, berkata Maharaja Kertanegara ketika mendengar cerita Mahesa Amping bahwa dirinya telah diangkat sebagai seorang guru di Pura Indrakila.

“Tanpa kebersamaan Empu Dangka, mungkin kehadiran hamba di Balidwipa tidak banyak berarti”, berkata Mahesa Amping kepada Sri Baginda Maharaja Singasari itu.

Maka setelah mendengar gambaran yang cukup lengkap dari Mahesa Amping tentang Balidwipa, Maharaja Kertanegara meminta Ratu Anggabhaya dan Empu Dangka untuk memberikan saran dan nasehat yang berharga.

“Sebagaimana yang dikatakan Baginda Maharaja, Mahesa Amping telah membuka sepertiga jalan menuju penguasaan Balidwipa, sisanya adalah menguasai Pura Besakih. Ibarat sebuah tubuh yang utuh, Pura Besakih adalah bagian kepala, menguasai Pura Besakih berarti telah menguasai seluruh Balidwipa”, berkata Empu Dangka memberikan pandangannya. “Aku sependapat dengan Empu Dangka, harapanku yang paling besar adalah tidak banyak pertumpahan darah sebagai tumbal membawa Balidwipa dipangkuan Singasari Raya”, berkata Ratu Anggabhaya menyampaikan nasehatnya.

Demikianlah, Sri Maharaja Singasari ternyata seorang yang sangat terbuka, memberikan kesempatan pada semua yang hadir untuk menyampaikan pendapatnya.

“Kehadiran para saudagar dari tanah hindu harus juga diperhitungkan”, berkata Raden Wijaya menyampaikan pandangannya.”Berarti ada dua kekuatan yang harus kita kunci, kekuatan Pura Besakih dan gerak kekuatan para saudagar tanah Hindu”, berkata kembali Raden Wijaya yang langsung disetujui oleh semua yang hadir termasuk Maharaja Kertanegara.

“Aku memutuskan bahwa Rangga Mahesa Amping untuk kembali bertugas di Balidwipa membawahi pasukan tidur”, berkata Maharaja Kertanegara memberikan keputusannya meminta Mahesa Amping untuk kembali bertugas di Balidwipa memimpin dan menggerakkan pasukan tidur, sebuah pasukan khusus yang terjun mendahului pasukan inti, bergerak mengamankan medan yang akan dilalui pasukan inti, kehadiran pasukan ini seperti bayangan yang tidak boleh terlihat oleh musuh. Pasukan seperti inilah yang dimaksudkan sebagai pasukan tidur oleh Sri Baginda Maharaja Singasari.

“Hamba siap menerima titah tuanku paduka”, berkata Mahesa Amping sambil menjura penuh hormat dihadapan Sri baginda Maharaja.

“Paman Kebo Arema dapat kau bawa serta”, berkata Maharaja Kertanegara kepada Mahesa Amping.

“Tuanku Baginda belum menunjuk siapakah senapati yang akan menjadi pemimpin para prajurit yang akan diturunkan di medan Balidwipa”, berkata Raden Wijaya tidak sabar menunggu sebuah keputusan.

“Aku perlu seorang Senapati yang sudah teruji kesetiaannya, namun aku tidak akan menunjuk dirimu wahai saudaraku”, Berkata maharaja Kertanegara kepada Raden Wijaya. “Singasari tidak boleh lengah dan harus tetap terjaga, itulah sebabnya aku masih perlu dirimu tetap menjaga Singasari ini”, berkata kembali Maharaja Kertanegara memberikan alasan mengapa bukan Raden Wijaya yang akan ditugaskan sebagai senapati perangnya di Balidwipa.

Diam-diam semua yang hadir memuji pandangan Maharaja Kertanegara yang sangat hati-hati dan penuh perhitungan. Namun semua masih menunggu siapakah yang dititahkan menjadi sang senapati di Balidwipa.

“Dijaman ayahku memerintah, ada seorang senapati yang sangat setia dan berilmu sangat tinggi. Banyak pemberontakan yang dapat ditumpasnya. Saat ini orang itu telah menjadi seorang akuwu di Sangling”, berkata Maharaja Kertanegara.

“Kakang Mahesa Bungalan!!”, berkata Mahesa Amping dalam hati langsung mengenal siapa orang yang dimaksud oleh Maharaja Kertanegara.

“Akuwu Mahesa Bungalan adalah orang yang kuanggap paling tepat saat ini untuk menjadi senapati laskarku di Medan Balidwipa”, berkata Maharaja Kertanegara kepada semua yang hadir malam itu di pendopo pasanggrahan Ratu Anggabhaya. Hampir semua yang hadir saat itu sudah mengenal Mahesa Bungalan, salah satu putra Mahendra pahlawan Singasari yang tidak disangsikan lagi kesetiaannya, juga pengalamannya memimpin pasukan besar yang pernah ditunjukkan selama ini antara lain dalam penumpasan beberapa gerombolan pemberontak yang telah mencoba mengganggu dan menguji kewibawaan Kerajaan Singasari.

“Meski dirimu tidak terjun di medan Balidwipa, kutitahkan segenap kekuasaanku kepadamu wahai sepupuku untuk menjadi pimpinan tertinggi mengatur segalanya, menyiapkan prajurit segelar sepapan, berwenang menggunakan perbendaharaan kerajaan”, berkata Maharaja Kertanegara kepada Raden Wijaya.

“Titah Baginda Maharaja akan kujunjung tinggi”, berkata Raden Wijaya menjura penuh kehormatan.

Demikianlah, sebuah perundingan awal pergelaran sebuah sejarah Balidwipa telah dimulai. Sementara itu langit malam diatas Pasanggrahan Ratu Anggabhaya telah semakin larut, suara jengkerik mendengung mengisi kesunyian malam.

Sribaginda Maharaja Singasari terlihat akan beranjak untuk kembali ke Pasanggrahannya. Namun sebelum beranjak Maharaja Kertanegara telah meminta Empu Dangka untuk tinggal diistana mendampinginya.

“Guru sudah sangat tua, tinggallah di Istana ini mendampingiku”, berkata Maharaja Singasari kepada Empu Dangka.

“Aku sangat setuju, biarlah kita yang sudah beruban ini duduk dipinggiran menjadi pemandu”, berkata Ratu Anggabhaya kepada Empu Dangka menyetujui permintaan Sri baginda Maharaja Singasari. “Terima kasih telah menerima aku yang sudah rapuh ini, semoga buah pikiranku masih dapat diabdikan diistana ini”, berkata Empu Dangka yang disambut gembira oleh Maharaja Singasari, Empu Nada dan Ratu Anggabhaya.

Terlihat maharaja Singasari yang masih muda itu telah meninggalkan Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

“Maaf, aku akan membawa saudaraku ke pondokanku”, berkata Empu Nada kepada semuanya bermaksud pamit diri sambil mengajak Empu Dangka.

“Terima kasih telah meramaikan perjamuan malam ini”, berkata Ratu Anggabhaya mengantar kedua saudara kembar itu menuruni anak tangga pendopo Pesanggrahannya.

Tidak lama berselang Mahesa Amping dan Raden Wijaya dipersilahkan untuk beristirahat.

“Beristirahatlah, mulai besok kalian sudah memasuki sebuah tugas yang panjang”, berkata Ki Lembu Tal kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

Akhirnya pendapa itu telah menjadi begitu sepi, menyisakan dua pelita yang tergantung menerangi sekelingnya. Sementara itu rembulan diatas langit malam sudah semakin pudar bergeser ke barat terhalang awan tipis. Sekumpulan kalelawar malam masih terlihat satu dua melintas diatas udara dingin malam.

Hawa Angin Malam diatas bumi Singasari yang berbukit memang sangat begitu dingin. Namun beberapa prajurit pengawal yang sedang bertugas malam itu sepertinya tidak mempedulikan hawa dingin yang menusuk kulit, mereka tetap berjaga meronda berkeliling istana. Pagi itu hawa dingin yang sejuk menyelimuti bumi Singasari, dua ekor kuda terlihat berjalan perlahan melewati pintu gerbang Kotaraja. Mereka yang berkuda itu ternyata adalahRaden Wijaya dan Mahesa Amping.

“Ingin rasanya aku terbang langsung tiba di Padepokan Bajra Seta”, berkata Mahesa Amping mengungkapkan perasaan hatinya kepada Raden Wijaya.

Raden Wijaya hanya tersenyum mendengar perkataan Mahesa Amping. Sebuah kakinya menghentak perut kuda yang langsung terkaget berlari kencang.

Mahesa Amping segera memburu lari kuda Raden Wijaya yang telah jauh meninggalkannya. Maka terlihat dua ekor kuda tengah berlari saling berkejaran membelah padang ilalang yang luas. Masih terus berlari manaiki dan menuruni bukit-bukit kecil yang landai.

“Kukira kamu tidak kasihan kepada kudamu”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya yang telah berhenti di sebuah sungai kecil yang berair jernih.

“Bukankah kamu ingin terbang sampai di Padepokan Bajra Seta?”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping sambil tersenyum.

“Tapi tidak dengan menyiksa kuda kita mati lemas”, berkata Mahesa Amping sambil turun dari kudanya, membiarkan kudanya turun ke sungai kecil meneguk airnya yang jernih.

Matahari sudah semakin beranjak naik keatas puncak cakrawala langit yang berawan putih cerah. Mahesa Amping dan Raden Wijaya terlihat sudah berada di punggung kudanya tengah mendaki sebuah bukit, mereka sepakat untuk menembus jalan pintas menuju Padepokan Bajra Seta meski jalan yang mereka tempuh harus melewati beberapa perbukitan terjal, sesekali mereka harus turun menuntun kudanya.

Senja bening telah turun menyelimuti hamparan bumi ketika Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah keluar dari sebuah hutan yang lebat. Dihadapannya menghadang hamparan padang ilalang dan sebuah  bukit.

“Padepokan Bajra Seta tinggal setengah hari perjalanan”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya ketika mereka telah berada ditengah hamparan padang ilalang yang cukup luas.

“Kuda-kuda kita perlu beristirahat”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping.

“Kita juga perlu beristirahat”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya sambil melompat dari punggungnya.

Terlihat Mahesa Amping dan Raden Wijaya tengah bersandar dibawah sebuah pohon besar di padang ilalang itu yang dipenuhi akar-akar besar menyembul dari permukaan tanah.

Dan kegelapan malam pun akhirnya telah turun menyelimuti padang ilalang.

“Beristirahatlah lebih dulu, biarlah aku yang berjaga”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

Semburat warna merah terang terlihat telah memancar diujung timur bumi, hari masih gelap dan dingin. Di keremangan pagi yang masih gelap itu terlihat dua ekor kuda sudah menapaki padang ilalang yang masih basah berembun. Mereka adalah Mahesa Amping dan Raden Wijaya yang telah kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Padepokan Bajra Seta.

Ketika pagi sudah mulai berwarna bening, semburat warna merah telah menyebar mengisi lengkung langit, Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah sampai di kaki bukit yang hijau. Perlahan mereka memacu kudanya menyusuri jalan setapak menuju puncak bukit yang dipenuhi pohon-pohon yang rimbun tinggi menghijau.

Semakin naik keatas, tetumbuhan semakin jarang mereka temui, akhirnya mereka telah sampai diatas puncak bukit datar yang hanya dipenuhi hamparan rerumputan yang hijau sepanjang mata memandang.

Titik-titik embun di pucuk-pucuk rerumputan terlihat memercik ketika terhentak langkah kaki kuda Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

Perlahan mereka menghentikan langkah kaki kuda terpesona menatap hamparan sawah ladang yang terhampar menghijau dibawah bukit jauh dalam warna pagi yang cerah dibawah tatapan matahari yang bercahaya lembut menyinari alam bukit yang hijau.

Terlihat mereka menuruni bukit itu dibawah siraman matahari pagi. Akhirnya mereka telah sampai dibawah kaki bukit tengah menyusuri sebuah bulakan panjang. Dikanan kiri mereka terhampar persawahan yang hijau dipenuhi untaian buah padi yang sudah mulai matang menguning.

“Kita datang menjelang padi akan dituai”, berkata Mahesa Amping diatas kudanya kepada Raden Wijaya sambil menyapu pandangannya diatas hamparan sawah yang sudah tinggi menghijau.

Beberapa petani yang tengah berjalan bersisipan dengan mereka terlihat memandang kepada mereka. “Jangan biarkan burung pipit mencuri padi kalian”, berkata Mahesa Amping kepada dua orang petani muda yang bersisipan dengan mereka.

Terlihat dua orang petani muda itu melambaikan tangannya setelah mengetahui dan mengenal Mahesa Amping yang menyapa mereka dari atas punggung kuda.

Akhirnya kuda-kuda Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah sampai dimuka regol pintu gerbang Padepokan Bajra Seta. Terlihat Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah turun dari kudanya. Beberapa cantrik yang tengah menyapu halaman muka Padepokan Bajra Seta datang berlari menghampiri mereka.

“Selamat datang kembali di Padepokan Bajra Seta”, berkata salah seorang cantrik menyambut kedatangan mereka.

“Ternyata kita kedatangan tamu perwira tinggi Singasari”, berkata seorang lelaki yang sudah cukup berumur bertelanjang dada menghampiri mereka yang ternyata adalah Sembaga.

“Paman Sembaga kulihat tidak bertambah tua”, berkata Mahesa Amping menyambut uluran tangan Sembaga.

“Kami sangat merindukan kalian”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya ketika mereka telah berada diatas pendapa Padepokan Bajra Seta.

Terlihat seorang wanita muda bersama seorang anak lelaki kecil keluar dari pintu butulan.

“Katakan selamat datang untuk kedua pamanmu”, berkata wanita muda itu yang ternyata adalah Padmita istri Mahesa Murti. “Selamat datang Paman berdua”, berkata anak kecil itu dengan suaranya yang masih terdengar cadel.

“Mahesa Darma sudah pandai bicara”, berkata Mahesa Amping sambil mengangkat Mahesa Darma tinggi-tinggi.

Ternyata anak itu tidak menjadi takut, malahan menjadi begitu gembiranya.

“Mari ikut Bunda kedapur menyiapkan minuman  untuk kedua pamanmu”, berkata Padmita kepada Mahesa Darma yang langsung menghampiri ibunya.

Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Mahesa Murti terlihat diatas pendapa Padepokan Bajra Seta saling bercerita sepanjang perpisahan mereka.

“Kehadiran pasukan tidur sangat besar peranannya, harus dapat membaca pergerakan lawan serta menentukan jalur perjalanan yang aman menuju titik kemenangan”, berkata Mahesa Murti memberikan pandangannya ketika Mahesa Amping bercerita tentang tugas yang akan mereka emban dalam waktu dekat itu, menguasai Balidwipa.

“Aku perlu bantuan beberapa cantrik untuk memperkuat pasukanku”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti.

“Para cantrik di Padepokan Bajra Seta ini selalu siap sedia menjaga pilar kejayaan Singasari”, berkata Mahesa Murti kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

“Terima kasih Kakang, aku hanya memerlukan tiga orang terbaik di padepokan Bajra Seta ini”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti.

Pembicaraan mereka terhenti ketika Padmita keluar dari pintu utama sambil membawa minuman hangat dan beberapa potong ubi manis.

“Aku tengah memasak pecak gabus, mudahmudahan kalian menyukainya”, berkata Padmita sambil meletakkan minuman hangatnya kepada Raden Wijaya dan Mahesa Amping.

“Mendengar pecak gabus, perutku sudah langsung berbunyi”, berkata Mahesa Amping yang disambut tawa oleh semuanya.

Sementara itu bayang-bayang tangkai pohon randu di pojok halaman muka Padepokan Bajra Seta sudah semakin mengerucut, matahari sudah berada di puncak lengkung langit putih berawan penuh.

“Ada tugas yang akan kalian emban”, berkata Mahesa Murti kepada Wantilan, Sembaga dan Mahesa Semu yang telah dipanggil berkumpul bersama di Pendapa Bajra Seta.

“Tugas apa gerangan yang dapat kiranya akan kami emban?”, bertanya Wantilan mewakili Sembaga dan Mahesa Semu.

“Raden Wijaya akan menjelaskan kepada kalian”, berkata Mahesa Murti meminta Raden Wijaya untuk menjelaskannya.

“Saat ini wilayah perdagangan Singasari telah mencakup dari ujung Tanah Gurun sampai keujung Malaka. Namun sampai saat ini kami belum dapat menjangkau Balidwipa karena kekuasaan para saudagar dari Tanah Hindu sudah mendahului kami”, berkata Raden Wijaya menjelaskan duduk persoalan awal agar dapat dimengerti oleh Wantilan, Sembaga dan Mahesa Semu.

“Lanjutkanlah, aku belum dapat menangkap apa hubungannya dengan kehadiran kami bertiga disini?”, berkata Sembaga sepertinya sudah tidak sabaran apa tugas yang akan diembannya.

Raden Wijaya tersenyum mendengar pertanyaan Sembaga. “Baiklah, aku lanjutkan”, berkata Raden Wijaya sambil menarik nafas panjang untuk melanjutkan penjelasannya. “Sri Baginda Maharaja Singasari merasa khawatir bahwa kekuasaan para saudagar Tanah Hindu di Balidwipa dapat mengganggu wilayah perdagangan Singasari yang sudah terjalin sepanjang Tanah Gurun sampai keujung Malaka”, berkata Raden Wijaya berhenti sejenak sambil memandang Wantilan, Sembaga dan Mahesa Semu satu persatu.

“Lanjutkanlah”, berkata kembali Sembaga tidak sabaran.

Kembali Raden Wijaya dan semua yang ada dipendapa Padepokan Bajra Seta itu tersenyum melihat tingkah Sembaga yang tidak sabaran.

“Sri Baginda Maharaja Singasari telah meminta diri kami untuk menyiapkan sebuah pasukan besar untuk menguasai Balidwipa”, berkata Raden Wijaya sambil memperhatikan sikap dari Sembaga, Wantilan dan Mahesa Semu, sejauh mana penangkapan mereka atas penjelasan yang disampaikannya itu.

“Aku sudah dapat menangkap penjelasannmu, kami bertiga diminta untuk bergabung dalam pasukan besar itu”, berkata Sembaga kepada Raden Wijaya.

“Paman Sembaga benar, tepatnya Paman Sembaga, Paman Wantilan dan Kakang Mahesa Semu diminta untuk bergabung dengan pasukanku” berkata Mahesa Amping ikut menjelaskan dan dengan rinci menyampaikan tugas dan tanggung jawab pasukannya yang disebutkan sebagai “pasukan tidur” oleh Sri  baginda Maharaja Singasari.

“Pasukan tidur, aku menyukai sebutan itu”, berkata Wantilan dengan wajah penuh kebanggaan membayangkan dirinya bergabung dalam gerakan pasukan tidur dibawah pimpinan Mahesa Amping.

“Jadi kami bertiga bergabung dalam pasukanmu?’, berkata Mahesa Semu kepada Mahesa Amping yang tidak menjawabnya, hanya menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Mahesa Semu.

“Tadinya aku berpikir bahwa pasukan tidur itu tugasnya hanya makan dan tidur”, berkata Sembaga yang ditangkap oleh semua yang ada di pendapa Padepokan Bajra Seta itu dengan tawa yang panjang.

Tawa mereka berhenti manakala datang Padmita membawa hidangan hangat yang harumnya sangat menggoda.

“Pecak gabus, makanan khusus pasukan tidur”, berkata Sembaga yang kembali membuat tawa semua yang ada di panggung pendapa.

Sementara itu, disaat yang sama jauh dari Padepokan Bajra Seta. Disebuah wilayah yang damai dan tenteram, tepatnya di Pakuwonan Sangling, terlihat sepasukan prajurit yang membawa umbul-umbul pertanda kekuasaan kerajaan Singasari baru saja keluar dari pintu batas wilayah Pakuwonan Sangling.

“Sri Baginda Maharaja Singasari telah menjatuhkan mandat kepercayaannnya kepada Kakanda”, berkata seorang wanita muda yang berparas begitu cantik jelita yang tidak lain adalah Ken Padmi, istri Akuwu Mahesa Bungalan. “Itu artinya aku akan lama meninggalkan Pakuwonan ini”, berkata Akuwu Mahesa Bungalan menatap istrinya dalam-dalam.

“Sejak dinda memutuskan untuk menjadi istri kakanda, dinda sudah siap menjalani kehidupan di sisi kakanda sebagai istri seorang prajurit”, berkata Ken Padmi dengan suaranya yang penuh ketegaran.

“Ketegaran dinda telah menghilangkan keraguan didalam hati Kakanda, sebelumnya yang Kakanda khawatirkan adalah kesunyian hari-hari tanpa kehadiran Kakanda di Pakuwonan ini”, berkata Akuwu Mahesa Bungalan yang merasa bangga atas ketegaran istrinya itu.

“Hari-hari penuh kesunyian akan dinda sibukkan dengan berdoa, berharap Kakanda selalu di bawah lindungan Gusti Yang Maha Kasih”, berkata Ken Padmi dengan suaranya yang lembut kepada Akuwu Mahesa Bungalan.

Akuwu Mahesa Bungalan terlihat memalingkan wajahnya kearah taman pasanggrahan Istana Pakuwonan yang tertata begitu indah, tatapannya menyapu hamparan rumput hijau dan jatuh diujung  bunga kuntha yang tengah berkembang.

“Dinda sedang mengandung anakku”, berkata Akuwu Mahesa Bungalan memalingkan wajahnya menatap mata Ken Padmi istrinya.

“Tetapkanlah hati Kakanda, bukankah Kakanda  selalu mengajarkan kepada dinda untuk memasrahkan segalanya kepada Gusti Yang Maha Kasih?”, berkata Ken Padmi kembali dengan suara penuh kelembutan berusaha membangun kemantapan dan ketegaran hati suaminya tercinta. Semilir angin genit membelai tangkai bunga kuntha, serbuk sari diujung bunga itu pun jatuh, berguguran.

“Senja sudah hampir berakhir”, berkata Akuwu Mahesa Bungalan sambil memandang Ken Padmi istri tercintanya.

“Masih ada beberapa senja yang akan hadir dalam kebersamaan kita”, berkata Ken Padmi sambil mengedipkan matanya menggoda.

Sementara itu diwaktu yang sama di Padepokan Bajra Seta, di pendapa hanya tinggal Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Mahesa Murti. Perlahan malam mulai merayap menutupi warna senja, langit diatas Padepokan Bajra Seta itupun akhirnya dipenuhi kegelapan yang senyap.

“Aku merasakan bahwa ilmu yang kalian bawa dari Padepokan Bajra Seta ini telah menjadi semakin matang bersama panjangnya masa pengembaraan kalian”, berkata Mahesa Murti penuh senyum kebanggaan menatap dua orang cantrik terbaik yang pernah diasuhnya itu.

“Pengembaraan telah mematangkan ilmu yang Paman Mahesa Murti wariskan kepada kami, namun tetap saja aku masih berada jauh dibawah tataran ilmu saudaraku ini”, berkata Raden Wijaya sambil melirik penuh senyum ke arah Mahesa Amping.

Mahesa Murti menatap wajah Mahesa Amping, diamdiam mengagumi pemuda dihadapannya itu, seorang pemuda yang memang mempunyai bakat yang luar biasa yang diharapkan akan dapat melanjutkan dan mengembangkan Padepokan Bajra Seta setelah dirinya tiada. Namun garis hidup ternyata berkata lain, pemuda itu telah menjadi seorang prajurit Singasari, bahkan telah diangkat menjadi seorang guru agung di Pura Indrakila.

“Hati kecil selalu berbisik untuk kembali ke Padepokan yang gayem ini, tempat dimana aku merasakan kedamaian hidup sejati, bersama bau lumpur di sawah dalam canda dan tawa persaudaraan yang penuh ketulusan dari para cantrik Padepokan ini. Namun diri ini sendiri sepertinya tidak mampu menahan arus deras garis hidupku sendiri, aku merasakan diri ini seperti kerikil kecil yang tengah hanyut dibawa arus jauh dari mata air tempatnya tumbuh”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Murti yang sepertinya dapat menangkap dan membaca perasaan Mahesa Murti terhadapnya.

“Garis hidup dari Gusti Yang Maha Agung adalah ketetapan yang mutlak yang tidak ada seorang hambapun yang dapat menghindarinya. Apapun dan siapapun dirimu, terimalah sebagai karunia ketetapan dari Yang Maha Agung. Bersyukurlah, itulah sebaik-baik sikap pengabdian seorang hamba kepada Sang Maha Karsa.

“Aku mohon doa dan restu dari Kakang, semoga rasa syukur terus hidup dimanapun aku berada”, berkata Mahesa Amping penuh rasa hormat dihadapan guru dan sekaligus kakak angkatnya itu yang sangat dicintainya seperti saudara kandungnya sendiri.

“Aku selalu berdoa untuk kalian”, berkata Mahesa Murti dengan senyumnya yang sejuk kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

Dua hari Mahesa Amping dan Raden Wijaya tertahan di Padepokan Bajra Seta melepas segenap kenangan dan kerinduan mereka bersama kehidupan para cantrik Padepokan Bajra Seta yang gayem.

Pada hari ketiga, di pagi yang masih basah dan bening terlihat Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah keluar dari regol pintu gerbang Padepokan Bajra Seta bersama dibelakang mereka tiga orang cantrik terbaik di Padepokan Bajra Seta yang tidak lain adalah Sembaga, Wantilan dan Mahesa Semu. Lima orang kesatria berkuda terlihat tengah berjalan menapaki jalan bulakan yang panjang, membelah padang ilalang, mendaki dan menuruni bukit dan lembah yang hijau dipayungi gerumbul awan dilangit biru.

“Aku pernah mendengar bahwa Balidwipa tercipta dari sebuah bunga surga yang jatuh ke bumi”, berkata Mahesa Semu ketika mereka bersama menghangatkan diri didekat perapian di sebuah hutan tempat mereka bermalam.

“Seperti melihat wajah gadis manis yang tersenyum kepadamu, tidak mudah melupakannya sehari dua hari”, berkata Mahesa Amping membenarkan perkataan Mahesa Semu.

“Sayangnya tidak ada seorang gadis pun yang pernah tersenyum kepadaku”, berkata Sembaga sambil menambahkan ranting kayu kering diatas perapian yang ditanggapi deri tawa semua yang mendengarkan.

“Jangankan seorang gadis dapat tersenyum, anak kecil saja akan berlari memeluk bundanya setiap kali bertemu dengan Paman Sembaga yang seram”, berkata Raden Wijaya.

“Wajah pamanmu memang seram, tapi hatinya selembut salju”, berkata Wantilan ikut berseloroh menghangatkan suasana yang dingin di hutan itu.

“Bila Wantilan menyanjung seseorang, pasti  ada yang diinginkan”, berkata Sembaga sambil menambahkan kembali ranting kering di perapian yang sudah hampir surut. “kali ini mungkin berharap aku memanjangkan waktu gilir berjaga malam”, berkata kembali Sembaga melanjutkan kata-katanya yang terhenti.

“Terima kasih, ternyata kamu memang pandai membaca perasan hatiku”, berkata Wantilan dengan wajah penuh senyum.

Demikianlah, lima orang kesatria dari Padepokan Bajra Seta sepertinya telah menemukan kembali suasana pengembaraan yang telah lama mereka tinggalkan.

Seperti biasa dalam setiap pengembaraan, malam itu mereka mengatur waktu secara bergiliran untuk berjaga, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan yang mungkin saja dapat terjadi. Jiwa para pengembara memang selalu dipenuhi naluri kewaspadaan yang tinggi, meski dalam keadaan tertidur mereka selalu dalam keadaan siaga terjaga. Dan malam di hutan itu perlahan merayapi waktu dalam kesenyapan yang dingin ditingkahi berbagai suara binatang hutan yang kadang mengusik kesunyian malam.

***

Ternyata sepanjang malam itu tidak ada hal yang dapat banyak mengganggu, ketika pagi menjelang mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka ke Bandar Cangu.

Ditemani cahaya matahari yang terus bersinar sepanjang hari, lima orang Ksatria dari Padepokan Bajra Seta memacu kudanya menghadang angin di sepanjang jalan tanah yang berdebu.

Jalan menuju Bandar Cangu sudah semakin mendekat, akhirnya ketika matahari telah bergeser sedikit kebarat mereka telah mendekati Bandar Cangu.

“Selamat datang wahai saudaraku”, berkata Rangga Lawe menyambut semua yang baru saja tiba bersama Kebo Arema di Balai Tamu.

Setelah menyampaikan beberapa kata keselamatan masingmasing, mereka yang baru tiba itu bersama dijamu dan beristirahat.

“Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan bersama Senapati Mahesa Pukat”, berkata Raden Wijaya di tengah-tengah percakapannya.

“Aku juga sudah begitu rindu dengan Kakang Mahesa Pukat”, berkata Mahesa Semu ikut menambahi.

“Diakhir senja kita bersama ke Benteng Cangu”, berkata Kebo Arema.

Demikianlah menjelang saat senja telah berakhir, mereka semua turun dari Balai Tamu menuju Benteng Cangu.

“Kakang Mahesa Murti dan semua warga padepokan Bajra Seta menyampaikan salam untuk Kakang Mahesa Pukat”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Pukat sambil bercerita tentang Padepokan Bajra Seta yang baru saja dikunjungi.

“Dalam kesendirian, kadang aku sangat rindu dengan kehidupan di Padepokan Bajra Seta”, berkata Mahesa Pukat seteleh mendengar cerita Mahesa Amping tentang Padepokan Bajra Seta.

Akhirnya mereka masuk dalam pembicaraan yang lebih dalam, membahas beberapa hal sehubungan dengan rencana Singasari mengamankan Balidwipa. “Seribu orang prajurit di Benteng Cangu ini dapat membantu pasukannmu”, berkata Mahesa Pukat kepada Raden Wijaya.

“Terima kasih, dua ribu pasukan muda Bahtera laut dan seribu prajurit dari Benteng Cangu adalah sebuah kekuatan yang dapat diandalkan”, berkata Raden Wijaya yang merasa gembira mendapatkan bantuan seribu prajurit dari Mahesa Pukat.

“Berapa yang kamu butuhkan untuk memperkuat pasukanmu?”, bertanya Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping adik angkatnya itu yang ternyata telah mengikuti jejak langkahnya menjadi prajurit Singasari. Sepertinya baru kemarin pemuda dihadapannya itu sebagai bocah kecil yang selalu sangat dikhawatirkannya terutama ketika pecah pertempuran, dengan keras dialah yang dengan mengancam agar Mahesa Amping kecil tidak keluar dan bersembunyi di bawah tumpukan lumbung padi dan jagung.

“Ada beberapa kekuatan dari Balidwipa yang dapat kuandalkan dapat membantu”, berkata Mahesa Amping menyampaikan siapa saja kekuatan di Balidwipa yang akan diajak bergabung dengan pasukannya.

“Aku pernah mendengar bahwa seorang pengikut Raja Leak setara dengan sepuluh orang prajurit?”, berkata Kebo Arema ikut bangga bahwa Mahesa Amping dapat memanfaatkan para pengikut Raja Leak.

“Raja Indrakila juga telah berjanji untuk mendukung perjuangan kita”, berkata Mahesa Amping menambahkan daftar orang pribumi yang akan mendukung perjuangan mereka.

“Pasukan khususmu akan menjadi kunci pembuka kemenangan gelar yang akan kita turunkan di Balidwipa”, berkata Mahesa Pukat kepada Mahesa Amping.

“Yang harus diperhitungkan adalah mengalirnya pasukan musuh dari luar Balidwipa yang dibawa oleh para saudagar dari Tanah hindu sebagai prajurit bayaran akan mencari tempat selain Bandar Buleleng yang telah dipenuhi para prajurit Singasari”, berkata Kebo Arema memberikan masukannya.

“Sebelum datangnya bantuan, para prajurit bayaran itu akan berhadapan dengan pasukanmu, hal itu perlu disiapkan dengan baik”, berkata Mahesa Pukat mengingatkan Mahesa Amping untuk membuat perencanaan dan persiapan yang lebih masak lagi.

“Artinya aku perlu pasukan yang kuat untuk dapat menutup bocoran-bocoran mengalirnya prajurit bayaran masuk ke Balidwipa”, berkata Mahesa Amping diam-diam mengagumi ketelitian sudut pandang dari Kebo Arema dan Mahesa Pukat.

“Bukan cuma pasukan yang kuat, yang kamu butuhkan juga banyak mata yang terus berjaga, tidak mustahil para prajurit bayaran itu masuk lewat penyamaran berbagai topeng”, berkata Kebo Arema kembali memberikan pandangan dan masukannya.

“Ternyata mata Sri baginda Maharaja sangat begitu jeli, jauhjauh telah berpesan kepadaku untuk membawa seorang ahli siasat seperti Pamanda Kebo Arema”, berkata Mahesa Amping bercerita tentang pesan dan amanat Sri Baginda Raja Singasari untuk membawa Kebo Arema mendampinginya.

“Sebenarnya Sri Maharaja Singasari menjadi iri melihat kehidupanku sebagai pengangguran di Bandar Cangu ini, sementara kalian tengah berjuang berkeringat darah di Balidwipa”, berkata Kebo Arema sambil mengelus-elus janggutnya yang panjang.

“Pamanda kebo Arema pandai merendahkan dirinya, para prajurit bayaran yang sehari-harinya sebagai perompak akan berpikir ulang manakala mengetahui nama besar Karaeng Taka menjadi lawan mereka”, berkata Raden Wijaya yang mengetahui nama besar Kebo Arema di sepanjang selat Malaka yang dikenal sebagai Pendekar muda Karaeng Taka yang sangat ditakuti oleh para perompak.

Terlihat Kebo Arema tidak berkata apapun selain hanya tersenyum sambil memainkan tangannya mengelus janggut panjangnya yang sudah berubah dua warna.

Sementara itu langit malam diatas Benteng cangu sudah begitu kelam menyisakan kesenyapannya.

Pada hari berikutnya, Raden Wijaya langsung melakukan berbagai persiapan. Diantaranya menyiapkan tiga ribu prajurit menjadi sebuah kesatuan yang sangat diandalkan. Dan yang sangat menggembirakan lagi bahwa seorang Senapati tangguh yang dinantikan telah datang sesuai waktu yang direncanakan, dia adalah Akuwu Mahesa Bungalan, salah seorang putra Mahendra pahlawan Singasari yang sudah sangat dipercaya kesetiaannya maupun pengalamannya memimpin pasukan besar. Dialah yang dipercayakan Sri Baginda Maharaja Singasari untuk menjadi Senapati prajurit Singasari yang akan berjuang membawa kewibawaan serta keagungan Singasari di Balidwipa.

Hal pertama yang dilakukan oleh Akuwu Mahesa Bungalan adalah mempersatukan semangat prajuritnya dalam satu pandangan.

“Dalam waktu dekat ini kita akan bersama menuju kesebuah medan perang besar, semboyan kita adalah tidak akan pulang sebelum membawa kemenangan besar, dan lebih memilih mati bebantenan ketimbang pulang menjadi pecundang”, berkata Mahesa Bungalan dengan suara yang keras penuh wibawa. Seketika itu suasana menjadi begitu senyap, tiga ribu prajurit sepertinya bersama menahan nafas menanti apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh Panglima besar mereka itu. Hari ini aku masih membuka peluang untuk kalian pikirkan, keluar dari pasukanku hari ini adalah sebuah kehormatan daripada lari dari pasukanmu di medan perang”, berkata kembali Akuwu Mahesa Bungalan dengan suara yang terdengar menggema terasa menghentak hati dan dada para prajuritnya.

Sengaja Akuwu Mahesa Bungalan berhenti bicara untuk memberikan kesempatan prajuritnya untuk berpikir atas apa yang telah ditawarkannya.

Ternyata tidak satu pun dari tiga ribu prajurit itu yang memilih untuk keluar dari pasukannya.

“Terima kasih telah memutuskan menjadi bagian dari pasukan besar ini”, berkata Mahesa Bungalan yang merasa bangga bahwa tidak ada satu pun prajuritnya yang berpikir untuk keluar dari pasukannya meskipun telah diberikan peluang dan kesempatan untuk itu tanpa mengurangi kehormatan apapun yang melekat pada diri mereka. “Aku bangga ada diantara kalian, para prajurit Singasari yang akan membawa kebesaran dan keagungan Singasari, para prajurit sejati kebanggaan Singasari Raya”, berkata Mahesa Bungalan yang diiringi gemuruh suara tiga ribu prajuritnya yang merasa terbangun semangat jiwa prajuritnya.

Maka pada hari yang telah ditentukan itu akhirnya datang juga, dua buah bahtera besar Singasari telah disiapkan untuk membawa tiga ribu prajuritnya menuju Balidwipa.

Namun sepekan sebelumnya, tidak seorang pun selain beberapa orang yang mempunyai tujuan yang sama yang dapat melihat lima puluh orang prajurit telah mendahului menuju Balidwipa.

Mereka adalah sepasukan khusus yang dipimpin langsung oleh seorang prajurit perwira muda yang tidak lain adalah Mahesa Amping yang akan bertugas sebagai pasukan tidur, sebuah pasukan kecil yang tidak mudah terlihat, namun mempunyai berbagai fungsi ganda.

Lima puluh orang prajurit itu telah berangkat sepekan sebelum keberangkatan tiga ribu prajurit pasukan inti dibawah pimpinan Mahesa Bungalan.

---------

Kelima puluh prajurit pasukan khusus ini berangkat secara bertahap dalam berbagai bentuk penyamaran. Tidak sebagaimana tiga ribu prajurit inti yang akan menuju Balidwipa lewat Bandar Curabhaya, kelima puluh prasjurit pasukan khusus itu menuju Balidwipa lewat Sungai Porong. Dan menyebrang Balidwipa lewat Muara Sungai Porong.

Mahesa Amping, Kebo Arema dan tiga orang cantrik terbaik dari Padepokan Bajra Seta berangkat dalam satu rombongan pertama. Rombongan ini telah tiba di muara Porong bersamaan dengan waktu senja. Kebo Arema mengajak mereka bermalam di perkampungan nelayan, di gubuk tempat tinggal Kebo Arema yang sudah begitu lama ditinggalkannya itu.

Seorang perempuan tua terbungkuk-bungkuk berjalan mendekati gubuk tempat tinggal Kebo Arema, mungkin perempuan tua itu merasa heran ada beberapa orang berada di gubuk yang sudah lama kosong tanpa penghuninya itu.

“Ternyata pemilik rumah ini sendiri”, berkata perempuan itu ketika melihat Kebo Arema yang berada di gubuknya sendiri. Yang masih dikenalnya dengan baik.

“Terima kasih telah menjaga gubuk ini selalu bersih”, berkata Kebo Arema kepada perempuan tua itu.

Setelah menanyakan keselamatan masing-masing, terlihat perempuan itu pamit untuk kembali ke rumahnya yang tidak begitu jauh selisih beberapa meter dari gubuk tempat tinggal Kebo Arema. Namun tidak lama kemudian perempuan itu telah datang kembali.

“Aku punya banyak dendeng ikan”, berkata perempuan itu menyerahkan beberapa potong dendeng ikan.

“Terima kasih Nyi”, berkata Kebo Arema kepada perempuan itu yang terlihat tengah melangkah untuk kembali ke rumahnya. Malam di perkampungan muara Porong itu terasa begitu dingin, semilir angin tiada henti berhembus dari lembah bukit hijau yang tinggi menjulang.

Ketika pagi menjelang mereka berlima melanjutkan perjalanannya menyusuri pesisir ujung Jawadwipa. Mereka singgah di beberapa tempat sambil tidak lupa memberi berbagai tanda jalur sandi untuk dapat dibaca oleh rombongan dibelakang mereka. Dan akhirnya menyeberang ke Balidwipa lewat tepian pantai Tanah Melaya.

Pagi yang bening menyambut kedatangan mereka di pesisir pantai Tanah Melaya. Mahesa Amping membawa rombongannya menuju rumah Ki Subali.

“Semoga kesejahteraan dan keselamatan memenuhi dirimu wahai putra Tanah Melaya penuntun arah bintang”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Subali yang menyambutnya penuh kegembiraan.

“Selamat datang kembali di Tanah Melaya”, berkata Ki Subali menyambut rombongan Mahesa Amping.

“Empu Dangka diminta untuk tinggal di Istana oleh Sri Baginda Maharaja Singasari”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Subali yang menanyakan tentang Empu Dangka yang tidak ikut menyertainya.

“Mudah-mudahan orang tua itu betah tinggal di satu tempat”, berkata Ki Subali yang telah banyak mengenal Empu Dangka sebagai seorang pengembara.

Setelah beristirahat yang cukup di kediaman  rumah Ki Subali, Mahesa Amping bercerita tentang beberapa tugasnya.

“Apa yang dapat kubantu untuk perjuangan kalian?”berkata Ki Subali menawarkan dirinya.

“Ki Subali dapat mengerahkan beberapa orang untuk mengamati sepanjang pesisir pantai barat Balidwipa, melaporkan kepada kami bila menemui ada pihak asing masuk ke perairan ini”, berkata Mahesa Amping tentang tugas yang dapat dilakukan oleh Ki Subali yang punya pengaruh besar diantara para nelayan sepanjang pesisir barat Balidwipa.

“Pekerjaan yang tidak perlu banyak keringat, orangorangku para nelayan dapat melakukannya sambil mencari ikan di sepanjang pesisir ini”, berkata Ki Subali menyanggupi tugas yang diberikan oleh Mahesa Amping.

“Aku juga mohon ijin untuk menempatkan  pasukanku di hutan ujung Tanah Melaya ini”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Subali.

Setelah menyampaikan beberapa hal yang penting terutama tentang tanda dan jalur rahasia yang akan mereka pergunakan, Mahesa Amping mohon pamit diri untuk melanjutkan perjalanannya.

Ketika matahari telah sedikit bergeser kebarat, mereka telah memasuki sebuah hutan di sebelah timur pesisir pantai Tanah Melaya.

“Kita akan menempatkan pasukan bergerak di hutan ini”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema, Mahesa Semu, Wantilan dan Sembaga.

“Tempat yang baik untuk menyimpan sisa tenaga”, berkata Sembaga sambil pandangannya menyapu sekeliling merasakan keteduhan yang redup.

“Sebentar lagi rombongan pasukan kita akan mengalir ke hutan ini”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Semu, Wantilan dan Sembaga yang diminta untuk mengatur semua pasukan khususnya mewakili dirinya yang akan melanjutkan perjalanan bersama Kebo Arema.

“Jangan khawatir, kami akan menyiapkan segalanya”, berkata Wantilan mewakili Mahesa Semu dan Sembaga.

“Aku percaya pada kalian”, berkata Mahesa Amping sambil melambaikan tangannya melanjutkan perjalanannya bersama Kebo Arema.

Akhirnya bersamaan dengan jatuhnya matahari diujung timur cakrawala langit senja, Mahesa  Amping dan Kebo Arema telah memasuki sebuah Padukuhan.

Jalan padukuhan itu sudah begitu sepi, akhirnya Mahesa Amping dan Kebo Arema mendapatkan dua orang yang tengah berada di gardu ronda tidak jauh dari sebuah rumah.

“Tidak usah di Banjar Desa, bermalamlah di rumahku”, berkata salah seorang diantara kedua lelaki itu sambil menunjuk kearah rumahnya.

“Terima kasih, mudah-mudahan tidak merepotkan”, berkata Mahesa Amping kepada lelaki itu.

“Tidak merepotkan, aku tinggal sendirian di rumah”, berkata lelaki itu dengan senyum terbuka terlihat begitu ramah.

Ketika seorang yang bersamanya pamit diri di gardu ronda itu, lelaki itu mengajak Mahesa Amping dan Kebo Arema ke rumahnya.

“Dulu aku sering melanglang, kalian mengingatkan diriku waktu masih muda”, berkata lelaki itu memberi alasan mengapa begitu baik menerima orang asing kerumahnya. “Hari ini aku menerima kalian bermalam, mungkin dalam kehidupan lainnya, buyutku bermalam di rumah buyut kalian, begitulah kehidupan saling bertukar”, berkata kembali lelaki itu yang sudah cukup berumur terlihat dari banyak kerut di wajahnya.

“Namaku Mahesa Amping dan ini pamanku Kebo Arema, kami bermaksud untuk mengunjungi anak keponakan kami yang tinggal di kaki Bukit Pura Indrakila”, berkata Mahesa Amping kepada orang itu menyampaikan tujuan perjalanannya.

“Namaku Made Jantak, namun orang disini lebih senang menyebutku dengan panggilan Ki Gayem”, berkata orang itu ikut memperkenalkan dirinya.

Terlihat orang itu yang biasa di panggil Ki Gayem itu mempersilahkan Mahesa Amping dan Kebo Arema duduk di Bale-bale bambu, sementara dia sendiri terlihat masuk kedalam.

Ternyata Ki Gayem keluar kembali sambil membawa setumpuk pisang rebus.

“Tadi pagi aku baru saja menebang setandan pisang kepok”, berkata Ki Gayem sambil mempersilahkan Mahesa Amping dan Kebo Arema menikmati rebusan pisang kepok yang disediakan.

Sementara itu langit malam sudah terlihat begitu kelam, pucuk pohon tangkil di depan rumah Ki Gayem terlihat merunduk tertiup angin yang  berhembus kencang.

Ternyata Ki Gayem adalah orang yang pandai bercerita, bertemu dengan Kebo Arema maka seperti berjodohlah mereka, sama-sama punya banyak pengalaman di berbagai tempat. Dan banyak tempat yang sama-sama pernah mereka singgahi.

“Bila tidak ingat aturan, aku mungkin sudah kecantol gadis pulau Bader”, berkata Ki Gayem bercerita tentang sebuah pulau kecil yang sama-sama pernah disinggahi pula oleh Kebo Arema.

“Lelaki di Pulau Bader dapat dibeli dengan harga lima ekor babi”, berkata Kebo Arema menimpali cerita Ki Gayem membuat cerita mereka seperti tidak pernah putus dan terus berkembang.

Sementara itu sang malam terus merayap menggayuti dingin dan kesenyapan.

“Maaf bila aku banyak bercerita, sementara kalian harus beristirahat”, berkata Ki Gayem mengerti bahwa malam sudah semakin larut.

“Kami senang dengan semua kisah Ki gayem”, berkata Mahesa Amping kepad Ki Gayem.

Akhirnya Mahesa Amping dan Kebo Arema masuk ke bilik yang telah disediakan.

Dan malam pun berlalu bersama hawa dingin yang masih terasa menembus bilik yang terbuat dari anyaman bambu.

“Biarlah aku yang berjaga lebih dulu”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema sambil bersandar pada pilar kayu di ujung peraduan.

“Bangunkan aku bila saatnya tiba”, berkata Kebo Arema sambil meluruskan kakinya diatas peraduan.

Tidak lama kemudian Kebo Arema sepertinya sudah jauh terlelap, sementara itu terlihat Mahesa Amping masih bersandar pada tiang kayu pilar di  ujung peraduan.

Meski matanya terpejam, panca indera Mahesa Amping selalu terjaga. Tidak ada bunyi yang terluput dari pendengarannya, mulai dari suara gesekan bambu disamping rumah Ki Gayem yang beradu tertiup angin, suara tikus yang tengah mengerat kayu, bahkan suara halus seekor cecak yang tengah mengunyah nyamuk yang tertangkap masih dapat didengar oleh Mahesa Amping.

Panca indera Mahesa Amping memang terus terjaga, sementara itu segala akal budi dan pikirannya telah hilang bersatu dalam alam kesunyatan, alam ketiadaan bunyi dan waktu. Sejenak Mahesa Amping merasakan suara dan getaran kebahagiaan yang membahana, itulah suara nirwana yang memanggil-manggil jiwanya untuk singgah, tapi Mahesa Amping lebih memilih meneruskan pengembaraan jiwanya di alam ketiadaan yang abadi. “Terima kasih, telah berjaga sepanjang malam”, berkata Kebo Arema yang telah terbangun kepada Mahesa Amping yang masih bersandar pada pilar kayu di ujung peraduan.

Mendengar suara Kebo Arema, Mahesa Amping membuka kelopak matanya yang terpejam. “Hari masih di ujung malam, masih ada waktu untuk meluruskan badan ini”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema sambil menggeser punggungnya turun dan rebah di peraduan.

Terlihat Kebo Arema bangkit dan bersandar pada pilar kayu diujung peraduan. “Matahari pagi masih bersembunyi”, berkata Kebo Arema sambil matanya menyapu sekeliling bilik bambu yang masih temaram diterangi sebuah pijar kecil di atas tanah disamping peraduan yang sudah mulai redup, mungkin sudah lama tidak ditambahkan minyak jaraknya.

Akhirnya sang matahari pagi yang ditunggu telah menggeliat naik, cahayanya terlihat menembus kisi-kisi anyaman bilik bambu.

“Aku belum menyiapkan sarapan pagi”, berkata Ki Gayem kepada Kebo Arema dan Mahesa Amping yang akan melanjutkan perjalanannya.

“Terima kasih telah memberi kami tumpangan”, berkata Kebo Arema kepada Ki Gayem.

Diiringi tatap pandang Ki Gayem, terlihat Mahesa Amping dan Kebo Arema telah melangkahkan kakinya di jalan Padukuhan yang sudah mulai terlihat ramai. Semilir angin mengiringi langkah Mahesa Amping dan Kebo Arema yang telah keluar dari regol pintu gerbang Padukuhan memasuki jalan bulakan panjang. “Dibalik gumuk besar itu kita akan memasuki sebuah hutan yang cukup lebat”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema menyampaikan arah yang akan mereka tempuh.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Amping, terlihat mereka tengah mendaki sebuah gumuk besar yang ternyata sebuah batu karang yang banyak ditumbuhi rerumputan.

“Hutan itukah yang akan kita lewati?” berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping sambil menunjuk sebuah hutan lebat didepan mereka.

“Benar, itulah hutan yang harus kita lewati”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema sambil terus melangkah menuruni gumuk besar menuju sebuah hutan yang sudah terlihat.

Hutan didepan mereka memang sangat begitu lebat, terlihat pohon-pohon kayu tinggi menjulang dan sangat rapat sekali dipenuhi tanaman belukar. Panas terik membakar tubuh Mahesa Amping dan Kebo Arema yang tengah berjalan di padang ilalang, terlihat mereka mempercepat langkah kakinya agar cepat sampai ke hutan lebat dan terhindar dari teriknya matahari yang membakar kulit. Akhirnya mereka telah sampai di tepi hutan lebat itu dan langsung memasukinya. Hutan itu memang sangat rapat sekali, Mahesa Amping dan Kebo Arema terlihat masuk semakin dalam menerobos semak belukar.

“Kita telah sampai”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema sambil menunjuk sebuah goa yang tersembunyi oleh batubatu besar dan semak belukar.

“Hanya orang aneh yang tinggal di tempat ini”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping. “Tidak begitu aneh setelah kita mengenalnya”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum dan mengajak Kebo Arema untuk memasuki goa itu. Terlihat Mahesa Amping memasuki goa itu diikuti dari belakang oleh Kebo Arema.

“Selamat datang saudaraku”, berkata seseorang ketika mereka telah memasuki sebuah bagian goa yang cukup luas.

“Selamat berjumpa kembali wahai penguasa kegelapan”, berkata Mahesa Amping kepada orang yang menyapanya yang tidak lain adalah Ki Jaran Waha yang tengah duduk diatas sebuah pilar batu.

“Dimana anak muda yang biasa melayanimu?”, bertanya Mahesa Amping yang melihat Ki Jaran Waha hanya seorang diri.

“Belum pulang berburu, mungkin sebentar lagi”, berkata Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping sambil menatap kearah Kebo Arema.

“Perkenalkan ini sahabatku, paman Kebo Arema”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan diri Kebo Arema kepada Ki jaran Waha.

Setelah menyampaikan beberapa kata keselamatan masingmasing, akhirnya Mahesa Amping langsung menyampaikan tujuannya datang menemui Ki Jaran Waha.

“Besok aku akan meminta beberapa pengikutku untuk menyiapkan dua buah lumbung diantara  perjalanan bandar Buleleng menuju Pura Besakih”, berkata Ki Jaran Waha yang langsung bersedia membantu Mahesa Amping.

“Terima kasih atas segala kesediaannya”, berkata Mahesa Amping.

“Itulah artinya sebuah persaudaraan”, berkata Ki Jaran Waha.”Aku juga akan menyertakan dua puluh lima pengikutku membantu pasukanmu”, berkata kembali Ki Jaran Waha.

“Aku sangat berterima sekali”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha.

“Itulah arti sebuah persaudaraan”, berkata Ki Jaran dengan tawa berderai. “ada lagi?”, bertanya Ki Jaran Waha setelah tawanya yang berderai berhenti.

“Masih ada lagi”, berkata Kebo Arema yang sudah mulai terbiasa menghadapi sikap Ki Jaran Waha yang sangat terbuka itu. “Dapatkah Ki Jaran Waha menyiapkan lima puluh ekor kuda dalam waktu yang singkat ini?”, berkata kembali Kebo Arema meneruskan kata-katanya.

Kembali terdengar derai tawa Ki Jaran Waha. “Tunjukkan dimana aku membawa ke lima puluh ekor

kuda itu”, berkata Ki Jaran Waha yang kembali menyanggupinya.

Mahesa Amping menjelaskan kemana harus membawa kudakuda itu serta beberapa kesepakatan lainnya untuk menyiapkan dua buah lumbung bagi pasukan besar yang akan memasuki Balidwipa.

“Sedapat mungkin kita menghindari banyak darah, terutama para penduduk desa”, berkata Mahesa Amping setelah dengan rinci menjabarkan rencana besar menguasai Balidwipa.

“Aku sangat mempercayaimu wahai saudaraku, Balidwipa ini adalah tanah airku, bersamamu aku tidak merasa telah menikam dan menghianati tanah kelahiranku sendiri”, berkata Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping.

Tiba-tiba percakapan mereka terhenti manakala seorang pemuda masuk ke goa sambil membawa seekor anak kijang.

“Makan siang sudah datang”, berkata Ki Jaran Waha dengan senyum dan tawanya.

Terlihat tangan pemuda itu begitu lincah menguliti kijang muda itu. Maka tidak begitu lama sebuah harum daging bakar sudah tercium memenuhi ruangan goa itu.

“Selamat menikmati”, berkata Ki Jaran Waha mempersilahkan kedua tamunya makan bersama diatas pilar batu.

Akhirnya setelah cukup beristirahat, Mahesa Amping mohon pamit diri untuk melanjutkan perjalanannya. Namun belum lagi Mahesa Amping dan Kebo Arema beranjak dari duduknya, mereka mendengar suara yang mencurigakan berasal dari luar goa. Ki Jaran Waha memberi tanda kepada Mahesa Amping dan Kebo Arema untuk keluar mengintai.

“Kamu tetaplah disini”, berkata Ki Jaran Waha kepada pemuda pelayannya itu sambil beranjak turun melompat dari pilar batu. Terlihat Mahesa Amping dan Kebo Arema mengikuti langkah kaki Ki Jaran Waha dari belakang.

“Ssst!”, Ki Jaran Waha memberi tanda sambil mengintip dari balik batu besar yang menghalangi goa itu.

Ternyata yang dilihat Ki Jaran Waha adalah sekelompok orang berkuda yang tengah berhenti beristirahat di tanah yang cukup luas didalam hutan itu berada didepan goa.

“Jarang sekali ada orang yang masuk kedalam hutan ini tanpa ada kepentingan yang mendesak”, berkata ki Jaran Waha dengan suara perlahan.

“Kita harus mengetahui apa kepentingan mereka”, berkata Mahesa Amping juga dengan suara perlahan.

Mahesa Amping, Ki Jaran Waha dan Kebo Arema masih terus mengintai dari balik batu besar, dilihatnya beberapa orang telah turun dari kudanya dan menambatkannya di beberapa batang kayu pepohonan.

“Sesuai perintah kita menunggu disini penghubung yang akan menunjukkan tugas kita”, berkata seorang yang telah telah turun dari kudanya diikuti oleh beberapa orang. Sepertinya orang itu adalah pimpinan rombongan itu.

“Dua puluh orang”, berkata Ki Jaran Waha yang sudah menghitung jumlah orang berkuda itu, tentunya dengan suara tertahan.

“Kita harus tahu siapa mereka”, berkata Mahesa Amping masih dengan suara perlahan.

“Dari bahasanya aku mengenal dari mana mereka berasal”, berkata Kebo Arema sambil terus mengintai.

Terlihat kedua puluh orang itu telah menambatkan kudanya masing-masing dan sebagian duduk terpisah namun beberapa orang bersama pimpinannya terlihat bergerumbul.

“Tugas kita saat ini sangat menyenangkan, hanya membuat sebuah kerusuhan dan perampokan di tempat yang akan dipilih oleh penghubung kita”, berkata pemimpin mereka. “Apakah ketua mengetahui tujuan mereka yang sebenarnya?”, bertanya salah seorang diantara mereka.

“Awalnya aku tidak mempedulikan apa keinginan mereka menyuruh kita berbuat keonaran, yang kupedulikan berapa mereka membayar kita”, berkata pemimpin mereka tedengar suaranya yang berat dan parau.

“Apa yang ketua akhirnya ketahui tentang tujuan mereka?”, bertanya kembali salah seorang dari mereka kepada pemimpinnya.

“Akhirnya kuketahui setelah mereka meminta kita berbuat keonaran dengan memakai layaknya seorang prajurit Singasari”, berkata kembali pemimpin mereka.

“Jadi kita diminta menyamar layaknya seorang prajurit Singasari?”, bertanya orang yang lain diantara mereka.

“Terserah dengan persyaratan apapun, yang kita pikirkan berapa upah yang kita terima”, berkata pemimpin mereka yang diiringi gelak tawa dari semua orang yang bergerumbul itu.

Sementara itu Mahesa Amping, Ki Jaran Waha dan Kebo Arema masih tetap mengintai dan mencuri dengar percakapan mereka.

“Akhirnya kita mengetahui siapa mereka”, berkata Mahesa Amping yang mendengar semua yang mereka percakapkan kepada Kebo Arema dan Ki Jaran Waha.

“Mereka adalah orang-orang bayaran”, berkata Ki Jaran Waha menegaskan

“Membuat keonaran untuk membakar amarah penduduk memusuhi prajurit Singasari”, berkata Kebo Arema menyimpulkan semuanya dari percakapan yang didengarnya.

“Apa yang harus kita lakukan pada mereka”, bertanya Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha dan Kebo Arema meminta pertimbangan.

“Pucuk dicinta ulampun tiba”, berkata Ki Jaran Waha membuat Mahesa Amping dan Kebo Arema mengerutkan kening tidak mengerti.

“Aku tidak mengerti ki Jaran bicara apa”, bertanya Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha.

“Maksudku mencari lima puluh ekor kuda, sudah menanti dua puluh ekor kuda”, berkata Ki Jaran Waha menyeringai menutup mulutnya agar tidak terdengar tawanya.

“Mari kita selesaikan”, berkata Kebo Arema sambil memberi tanda untuk keluar dari pengintaian.

Terlihat Mahesa Amping, Ki Jaran Waha dan Kebo Arema melompat dan berdiri tidak jauh dari gerombolan berkuda.

“Siapa kalian”, berkata Pemimpinnya itu yang bersama rombongannya sangat terkejut melihat tiga orang berdiri.

“Tidak perlu kalian tahu siapa kami, yang perlu kalian ketahui bahwa kami tertarik dengan kuda-kuda kalian”, berkata Kebo Arema dengan wajah penuh senyum.

“Kalian tertarik dengan kuda-kuda kami”, berkata pemimpim itu diiringi tawa semua anak buahnya.

“Maaf, kutambahkan kalimatnya, kami bukan hanya tertarik tapi bermaksud kalian menyerahkan kuda-kuda itu dengan sukarela”, kembali Kebo Arema berkata kepada orang-orang itu. “Menyerahkan kuda-kuda kami dengan sukarela?”, bertanya kembali pemimpin itu yang diiringi derai tawanya yang juga diikuti para anak buahnya.

“Apakah kata-kataku begitu lucu”, bertanya Kebo Arema

“Sangat lucu sekali”, berkata pemimpin itu yang masih belum hilang rasa gelinya.

“Bagian mana yang menurut kalian sangat lucu?”, bertanya kembali Kebo Arema masih dengan wajah polos.

“Lucunya adalah tiga ekor cecurut meminta daging segerombolan serigala”, berkata pemimmpin itu yang langsung diiringi gelak tawa semua anak buahnya.

Terdengar Kebo Arema tertawa sampai perutnya terguncangguncang membuat Mahesa Amping dan Ki Jaran Waha tersenyum melihat kelakuan Kebo Arema yang sepertinya tidak mengenal jerih dan takut berhadapan dengan dua puluh orang yang sangat kasar.

“Kenapa kamu tertawa?”, bertanya pemimpin itu sepertinya sudah tidak sabaran menghadapi tingkah laku Kebo Arema.

“Yang kutertawakan adalah penilaian kalian terhadap kami, yang harusnya kalian katakan adalah segerombolan kijang berhadapan dengan tiga ekor harimau penguasa hutan rimba raya”, berkata Kebo Arema masih menyisakan derai tawanya yang panjang.

“Bunuh mereka semua”, berkata pemimpin itu yang langsung dipatuhi oleh orang-orangnya yang terlihat sudah menyebar mengepung Mahesa Amping, Ki Jaran Waha dan Kebo Arema.

Melihat kepungan yang sangat rapat, Mahesa Amping, Ki jaran Waha dan Kebo Arema saling beradu punggung.

“Habisi mereka!!”, berkata pemimpin itu dengan suara yang keras.

Suasana saat itu memang sangat menegangkan, dua puluh golok panjang tajam berkilat teracung dan  bergerak seperti ombak datang menerjang.

Namun posisi Mahesa Amping, Ki Jaran Waha dan Kebo Arema begitu sempit, hanya tujuh orang yang dapat masuk mendahului serangan.

Tapi apa yang terjadi kemudian??

Terbelalak mata pemimpin itu melihat apa yang terjadi, tujuh orang anak buahnya yang  terdekat langsung terpental roboh merasakan beberapa tulangnya remuk, sementara itu senjata mereka sudah berpisah terpental ke sembarang tempat ketika beradu tangan dengan tiga orang yang semula diremehkannya itu.

Sisa dari pengeroyok itu pun seketika berhenti, semua terkesima atas apa yang telah terjadi menimpa ketujuh kawannya itu.

“Jangan menjadi gentar, mereka tidak bersenjata”, berteriak pemimpin itu mendorong semangat dan keberanian anak buahnya yang dilihatnya menjadi gentar menghadapi ketiga orang yang tidak bersenjata.

Ternyata teriakan pemimpinnya itu telah memberikan keberanian kembali kepada para pengikutnya itu, maka dengan suara dan teriakan yang bergelora telah mengawali sebuah serbuan yang lebih menghentak lagi datang seperti air bah menerjang ketiga orang yang tidak bersenjata.

Akibatnya ternyata lebih parah dari sebelumnya, entah dengan cara apa ketujuh orang terlihat sudah langsung roboh tak bergerak langsung pingsan.

Kembali sisa pengeroyok itu terlihat mundur memberi jarak sengan wajah dan mata terbelalak menyaksikan apa yang dialami oleh ketujuh kawannya itu.

“Bukankah sudah aku katakan, kalian telah berhadapan dengan tiga ekor harimau penguasa hutan ini”, berkata Kebo Arema sambil bertolak pinggang.

“Jangan menjadi sombong, hadapilah aku”, berkata pemimping itu langsung menerjang ke arah Kebo Arema.

Terlihat Kebo Arema tersenyum menghadapi serangan pemimpin rombongan itu. Sepertinya Kebo Arema ingin bermain-main dengan hanya mengelak dan tidak balas menyerang.

Melihat serangannya dapat dihindari dengan mudahnya, pemimpin itu pun menjadi semakin bernafsu terus melakukan serangan. Namun selalu saja serangan itu dapat dihindari oleh Kebo Arema.

Sementara itu tiga orang yang ingin mengeroyok Kebo Arema ditahan oleh Mahesa Amping.

“Biarkan pemimpinmu berkeringat, hadapilah aku”, berkata Mahesa Amping yang telah siap menghadapi ketiga orang itu.

Ketiga orang itu seperti menerima sebuah tantangan, maka dengan senjata yang mengacung keatas siap merobek tubuh Mahesa Amping.

Tapi nasib mereka sungguh sangat sial hari itu karena berhadapan dengan seorang pemuda yang telah mempunyai ilmu yang sudah sangat mumpuni.

“Berhenti!!”, berkata Mahesa Amping dengan suara yang terasa menghentak dada.

Aneh memang aneh !!!

Ketiga penyerangnya itu sepertinya mengikuti begitu saja perintah Mahesa Amping, mereka seperti patung dalam posisi orang yang siap menyerang.

Maka dengan mudahnya Mahesa Amping mengambil ketiga golok panjang itu dari siempunya yang masih mematung.

“Kenapa kalian berhenti??”, berkata Mahesa Amping menyadarkan ketiga orang penyerangnya yang terkesima melihat senjatanya sudah tidak ada lagi ditangan.

“Apakah kalian mencari golok-golok ini?”, berkata Mahesa Amping sambil memperlihatkan tiga buah golok ditangannya.

Terbelalak ketiga orang itu melihat goloknya telah berpindah tangan. Sementara itu Ki jaran Waha yang melihat dua orang sisa gerombolan itu langsung menghampirinya.

“Kalian telah mendapatkan upah yang sama, mengapa tidak ikut menyerang?”, bertanya Ki Jaran Waha kepada kedua orang itu.

Mendengar pertanyaan Ki Jaran Waha, ternyata mereka menanggapinya sebagai sebuah tantangan.

“Orang tua renta, jangan menyesal dagingmu akan terkoyak”, berkata salah seorang dari kedua orang itu sambil langsung menebaskan golok panjangnya ke leher Ki Jaran Waha diikuti sambaran dari kawannya yang langsung ikut menyerang Ki jaran Waha dengan mengibaskan golok panjangnya membabat ke arah pinggang Ki jaran Waha. Menghadapi dua serangan yang bersamaan dan mengarah pada tempat yang berbeda tidak membuat Ki Jaran menjadi gentar dan panik.

Dengan bibir yang terlihat sedikit tersenyum, Ki Jaran Waha membiarkan kedua golok tajam itu menghampirinya. Maka ketika kedua golok tajam itu nyaris sejarak satu lidi dari kulitnya, tiba-tiba saja tubuh Ki Jaran Waha sudah melenting melompat diatas kedua kepala lawannya dan hinggap tepat dibelakang mereka.

Bukkk !!!!!

Dua sikut Ki Jaran Waha telah menghantam dua pinggang penyerangnya.

Akibatnya dua orang penyerangnya tersungkur maju kedepan mencium bumi dengan jidatnya, seketika kedua orang itu tidak mampu bangkit berdiri merasakan tulang rusuknya remuk dan patah.

Kembali kepada tiga orang penyerang Mahesa Amping yang tengah terbelalak melihat senjatanya yang sudah tidak ada lagi ditangannya.

“Ilmu sihir!”, berkata salah seorang diantaranya.

“Aku masih bermurah hati tidak menyihir kalian menjadi kerbau bule”, berkata Mahesa Amping dengan penuh senyum.

Ternyata gurauan Mahesa Amping dianggap sungguhan oleh ketiga orang itu, dalam angan mereka terbayang seekor kebo bule yang dikeramatkan ditanah kelahiran mereka di Tanah mandar.

“Ampun…..jangan sihir kami jadi kerbau bule”, berkata ketiga orang itu bersamaan.

“Bangkitlah, aku tidak jadi menyihir kalian”, berkata Mahesa Amping kepada ketiga orang itu.

“Terima kasih”, berkata ketiganya bersamaan.

“Bantu aku mengikat semua kawan-kawanmu”, berkata Mahesa Amping menyuruh ketiga orang itu membantunya mengikat semua kawan-kawannya yang sudah tidak berdaya. Terakhir Mahesa Amping mengikat mereka bertiga tanpa ada usaha perlawanan sedikitpun.

Sementara itu Kebo Arema terlihat masih ingin bermain-main. Wajah dan tubuh pemimpin itu sudah bermandi basah keringat.

Semangat pemimpin itu sepertinya telah menjadi surut manakala melihat semua anak buahnya sudah dalam keadaan terikat ditambah lagi dengan hampir seluruh tenaganya telah ditumpahkan namun belum satupun serangannya dapat mengenai tubuh lawannya itu yang hanya terus menghindar tidak pernah balas menyerang.

“Kubunuh kau!!”, berkata pemimpin itu menghentakkan semangatnya berharap serangannya ini dapat menembus tubuh lawan.

Tapi Kebo Arema dapat membaca bahwa tenaga yang dikerahkan lawannya itu sudah begitu lemah dan lamban. Maka sambil mengegoskan pinggangnya kekanan menghindari tusukan golok lawan yang panjang dan tajam, sebuah tangan Kebo Arema yang sudah puas bermain-main itu telah melayang menyambar tulang rahang lawannya.

Terlihat dua buah gigi meloncat dari mulut pemimpin itu diikuti bercak darah yang ikut keluar. Pemimpin itu terlihat limbung terhuyung tidak mampu lagi menguasai dirinya jatuh terlentang diatas bumi. “Kita masih memerlukannya hidup-hidup”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping dan Ki Jaran Waha yang berdiri sebagai penonton.

Tidak lama berselang, pimpinan sekelompok orang upahan itu telah sadarkan diri.

“Aku tahu pikiranmu sudah mulai bekerja, maka dengarlah baik-baik. Kami tidak pernah melepas seorang korban pun untuk hidup. Hari ini kami telah bermurah hati kepadamu, hanya dengan syarat kamu dapat diajak bekerja sama”, berkata Kebo Arema kepada orang itu dengan nada mengancam.

Mendengar suara Kebo Arema yang berat dan bersungguhsungguh itu, maka orang itu berpikir bahwa Kebo Arema tidak sekedar mengancam.

“Kerja sama apa yang kalian inginkan”, berkata orang itu pasrah.

“Berlakulah sepertinya kalian tidak pernah bertemu dengan kami ketika penghubungmu datang”, berkata Kebo Arema memberikan sebuah persyaratan kerjasama dari orang itu.

“Aku akan melakukannya”, berkata orang itu pasrah. Maka satu persatu orang-orang upahan itu dalam keadan terikat telah dibawa masuk kedalam goa. Sementara itu hanya tinggal pemimpin itu saja yang tinggal diluar ditemani Mahesa Amping, Ki Jaran Waha dan Kebo Arema menunggu seorang penghubung yang akan memilih tugas yang akan mereka lakukan.

Sementara itu senja yang bening redup memasuki celah daun dan batang dihutan itu, kegelapan semakin merambat memenuhi hutan itu, meski matahari masih mengintip diujung bumi jauh diluar hutan. Terlihat Mahesa Amping telah mengumpulkan ranting-ranting kering untuk membuat perapian ketika melihat suasana didalam hutan semakin menjadi gelap.

“Apakah penghubungmu itu akan datang hari ini?”, bertanya Kebo Arema kepada orang itu.

“Mereka telah berjanji memberikan separuh bayaran di hutan ini”, berkata orang itu memberikan penegasan untuk tidak dianggap berbohong.

Dan malam pun akhirnya perlahan sudah mulai merayapi isi hutan dengan kegelapan dan kesenyapannya. Cahaya perapian saja yang dapat menerangi wajah-wajah mereka yang masih terus menunggu mengikis sedikit demi sedikit kesabaran didalam hati mereka.

Beruntunglah, kesabaran mereka masih tersisa manakala terdengar suara belukar tergesek oleh gerak dua ekor kuda yang semakin mendekat.

Terlihat dari kegelapan malam muncul dua sosok tubuh diatas punggung kuda menghampiri mereka.

“Angin badai diatas lautan”, berkata salah seorang dari mereka ketika sudah mendekat mengucapkan kata sandi.

“Nelayan pulang bertangan hampa”, berkata pemimpin itu membalas kata sandi.

“Engkaukah pinpinan kelompok ini”, bertanya orang itu masih diatas kudanya kepada pemimpin itu.

“Benar akulah pemimpinnya”, berkata pemimpin itu sambil melirik wajah Kebo Arema penuh rasa takut. Untungnya wajahnya yang pucat itu terhalang cahaya perapian yang terus bergoyong tertiup angin. “Aku tidak melihat orang-orangmu”, berkata orang yang masih diatas kuda itu menyapu pandangannya berkeliling.

“Orang-orangku sedang beristirahat didalam goa, kami sedang menjaga kuda-kuda dari binatang buas”, berkata pemimpin itu sambil melirik kembali kearah Kebo Arema yang dengan tegangnya menatap wajah pemimpin itu.

Kedua orang yang masih duduk diatas kudanya terlihat melihat beberapa kuda yang tengah ditambatkan di beberapa tangkai pohon. Nampaknya mempercayai ucapan pemimmpin itu dan tidak mencurigainya.

“Terimalah separuh bayaran dari kami, sisanya akan kami bayar impas setelah kalian bekerja”, berkata salah seorang yang berkuda itu sambil melemparkan sekampil kain berisi pembayaran kepada pemimpin itu.

Pemimpin itu sebentar membuka kampil itu dan menutupnya lagi setelah meyakini bahwa isi kampil itu benar berupa separuh upah sesuai perjanjian mereka.

“Besok kami akan melaksanakannya”, berkata pemimpin itu kepada dua orang diatas kuda.

“Jangan sekali-kali menipu kami”, berkata salah seorang dengan nada suara yang terkesan berat dan angker sambil langsung membalikkan tubuh kudanya.

Diiringi tatapan mata Mahesa Amping, Ki Jaran Waha, Kebo Arema dan pemimpin itu, terlihat dua orang berkuda itu melangkah menjauh dan menghilang dikegelapan.

“Mulai saat ini kamu dan orang-orangmu ada  dibawah pimpinanku, aku akan menambah bayaran melebihi dari yang akan kamu terima”, berkata Kebo Arema kepada pemimpin itu.

“Nyawaku dan nyawa orang-orangku berada di tangan tuan, sementara tawaran tuan melebihi dari apa yang kuperkirakan”, berkata pemimpin itu seperti menemukan kembali nyawanya yang hampir terlepas. Wajahnya terlihat menampakkan kegembiraan.

“Kita akan melakukan keonaran dan perampokan”, berkata Kebo Arema kepada orang itu.

“Melakukan hal yang sama?” bertanya orang itu tidak mengerti

“Kamu benar, kita melakukan hal yang sama, bedanya untuk siapa pencitraan itu”, berkata Kebo arema kepada orang itu yang langsung tanggap apa yang dimaksudkannya.

“Nampaknya tugasku mengumpulkan lima puluh ekor kuda tidak akan berkurang”, berkata Ki jaran Waha yang ikut menangkap arah rencana dari Kebo Arema.

“Udara diluar sangat dingin”, berkata Mahesa Amping sambil mengajak semuanya untuk masuk kembali kedalam goa.

Setalah masuk kedalam goa, Mahesa Amping telah mendatangi satu persatu orang-orang upahan itu yang masih dalam keadaan terikat dibantu oleh pemimpin mereka membuka ikatan tali mereka. Mahesa Amping memeriksa beberapa orang yang terluka ringan, mengobatinya dengan beberapa ramuan yang dibawanya.

“Besok kalian akan sehat kembali, beristirahatlah malam ini”, berkata Mahesa Amping kepada orang-orang itu yang sudah mengerti lewat penjelasan pemimpin mereka, siapa yang menjadi tuan mereka. Dan malam pun terus berlalu perlahan merayapi waktu demi waktu begitu lambatnya. Beberapa orang sudah terlihat pulas tertidur, sementara lainnya sepertinya belum terbiasa berada didalam sebuah goa yang pengap. Namun akhirnya semuanya sudah tidak terlihat geraknya lagi, semuanya sudah tertidur dengan pulasnya melepaskan segala kepenatan dan kelelahan tubuh setelah seharian melakukan perjalanan dan juga………pertempuran.

Dan akhirnya sang malam pergi perlahan membawa kegelapan kebelahan bumi lainnya, yang  ditandai dengan suara pagi dari ayam hutan jantan yang terdengar sayup dari tempat yang begitu jauh.

Bersamaan dengan berjalannya cahaya pagi yang bersinar merambati tanah rumput yang basah, mulailah hutan itu diramaikan oleh kicau burung yang terbang dari dahan kedahan mencari makanan sambil menghangatkan badan setelah semalaman terkepung hawa dingin yang mencekam.

“Siapa namamu agar aku mudah memanggilmu”, berkata Kebo Arema kepada pimpinan gerombolan itu yang terlihat sudah terbangun diawal pagi itu

“Namuku Badrun”, berkata orang itu kepada Kebo Arema.

“Orang-orangmu masih perlu beristirahat, menjelang senja baru kita mulai melakukan gerakan kita”, berkata Kebo Arema kepada orang itu yang menyebutkan dirinya bernama Badrun.

Ternyata hampir semua orang-orang itu lebih memilih beristirahat diluar goa. Maka pagi itu terlihat kesibukan yang cukup lumayan, beberapa orang telah menyiapkan sarapan pagi untuk kebutuhan mereka sendiri. Sementara itu didalam goa terlihat Mahesa Amping, Kebo Arema dan Ki Jaran Waha masih sedang bercakap-cakap membicarakan beberapa hal.

“Pasukan baruku ini akan bergerak mulai malam ini, siang hari kami mencari tempat persembunyian dan mencari sasaran dimalam harinya”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping dan Ki Jaran Waha.

“Dimana aku dapat menemuimu?”, bertanya Ki Jaran Waha kepada Mahesa Amping

“Pekan depan kupastikan kita bertemu di Pura Indrakila”, berkata Mahesa Amping memastikan.

Ketika matahari sudah mulai bergerak naik, Mahesa Amping dan Kebo Arema mengajak Badrun keluar hutan untuk melakukan pengintaian dan memilih padukuhan mana yang akan menjadi sasaran mereka.

Akhirnya mereka menemui sebuah padukuhan yang paling baik, sebuah padukuhan kecil yang sering dilalui antara perjalanan dari Bandar beleleng menuju Pura Besakih.

“Apapun yang terjadi di Padukuhan ini akan cepat tersebar seperti angin”, berkata Kebo Arema sambil mengamati beberapa rumah sepanjang jalan padukuhan disiang itu yang tidak begitu ramai.

“Rumah yang besar itu mungkin milik Ki Buyut”, berkata Badrun mengamati sebuah rumah yang paling luas diantara beberapa rumah yang ada.

“Halaman rumah itu cukup baik untuk mengumpulkan para penduduknya”, berkata Kebo Arema membuat sebuah perencanaan.

“Ternyata Paman Kebo Arema berbakat sebagai pemimpin perampok sesungguhnya”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema yang ditanggapi dengan senyum penuh makna.

“Beruntunglah bahwa jiwa kita selalu dipenuhi oleh kepuasan bathin, banyak orang berilmu tinggi yang gersang jiwanya dan terjerumus mencari kepuasan bathin di dunia ini, terjadilah keangkaraan, penindasan manusia atas manusia”, berkata Kebo Arema seperti kepada dirinya sendiri.

Badrun yang mendengar percakapan itu terlihat hanya menunduk, tidak tahu dan entah apa yang tengah dipikirkan olehnya.

“Kurasa pengamatan kita sudah lebih dari cukup”, berkata Kebo Arema mengajak Badrun dan Mahesa Amping kembali ke dalam hutan tempat kediaman Ki Jaran Waha.

Ketika sampai di hutan didepan goa, ternyata Ki Jaran Waha telah menyiapkan dua ekor kuda untuk Mahesa Amping dan Kebo Arema.

“Kuda-kuda yang baik”, berkata Mahesa Amping menilai dua ekor yang disiapkan Ki Jaran.

“Aku tahu seleramu”, berkata Ki Jaran Waha merasa senang dengan penilaian Mahesa Amping.

Sementara itu senja di hutan itu telah membuat hutan itu menjadi mulai gelap dan dingin. “Kita menunggu saat tengah malam”, berkata Kebo Arema kepada Badrun. Terlihat Badrun tengah menyampaikan kepada orangorangnya bahwa nanti malam mereka harus sudah mempersiapkan diri.

Dan akhirnya ketika malam sudah mulai merangkak merambah hutan, terlihat dua puluh dua ekor kuda tengah berjalan meninggalkan hutan didepan goa itu. “Kutunggu dirimu di Pura Indrakila”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jaran Waha yang mengiringi kepergian mereka dengan melambaikan tangannya yang dibalas pula dengan lambaian tangan.

“Mereka tidak kembali ke hutan ini lagi?”, bertanya pemuda yang menemani Ki Jaran Waha ketika orangorang berkuda itu menghilang dikegelapan.

“Mereka akan terus bergerak, sebagaimana sekelompok serigala pengembara”, berkata Ki Jaran kepada pemuda itu.

Sementara itu Kebo Arema dan gerombolannya terlihat telah keluar dari hutan dan perlahan telah mendekati regol gerbang sebuah padukuhan kecil yang tadi siang sudah mereka amati.

“Tunggu kami dan bersembunyilah di kegelapan”, berkata Kebo Arema yang telah melompat dari kudanya bersama Mahesa Amping.

“Jagalah kuda-kuda kami”, berkata Mahesa Amping kepada salah seorang diantaranya.

“Hanya ada dua orang peronda”, berkata Mahesa Amping yang telah menyelinap dikegelapan bersama Kebo Arema.

“Saatnya bercadar”, berkata Kebo Arema sambil memberi isyarat. Terlihat Mahesa Amping dan Kebo Arema telah menutup sebagian wajahnya dengan  sebuah kain cadar hitam menyisakan rambut dan kedua matanya.

Terlihat Mahesa Amping berendap mendekati gardu ronda itu.

Bukkk….bukkkkkkk……, Dua buah pukulan dengan tenaga yang tidak penuh tepat bersarang dikedua tengkuk peronda itu yang langsung jatuh tertelungkup. Dengan sebuah tali yang telah dipersiapkan Mahesa Amping mengikat tubuh kedua peronda itu.

Melihat Mahesa Amping telah menyelesaikan tugasnya, Kebo Arema telah keluar dari persembunyiannya dan langsung membunyikan kentongan bambu yang tergantung di gardu ronda itu dengan nada panjang sebagai tanda agar semua warga berkumpul.

“Mari kita menjemput Ki Buyut”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

Ternyata bunyi kentongan bambu itu telah didengar oleh Ki Buyut dan keluarganya.

Ternyata bunyi kentongan nada panjang itu juga telah didengar oleh hampir semua warganya yang baru saja sebentar memejamkan matanya.

Ternyata bunyi kentongan nada panjang itu adalah sebuah tanda untuk Badrun dan anak buahnya masuk kepadukuhan kecil itu.

“Ada apa yang terjadi?”, berkata Ki Buyut kepada seorang pembantunya yang telah turun dari anak tangga pendapa dan telah berdiri di halaman rumahnya.

“Tidak terjadi apapun selama Ki Buyut dapat diajak bekerja sama”, berkata seseorang dengan wajah tertutup cadar hitam sambil menempelkan sebuah golok panjang dileher Ki Buyut.

Bukan main kagetnya Ki Buyut merasakan kulit lehernya tertekan sebuah benda tajam dari seorang bercadar hitam yang telah datang begitu cepat dan langsung menempelkan senjatanya.

Nasib pembantunya ternyata mendapatkan hal sama, telah ditempelkan sebuah senjata tajam dilehernya oleh seorang yang bercadar hitam lainnya.

“Jangan berbuat macam-macam”, berkata orang itu dengan suara yang mengancam.”Ikat tuanmu dengan tali ini”, berkata orang itu yang ternyata adalah Mahesa Amping

“Maaf Ki Buyut”, berkata pembantu itu dengan tangan gemetar mengikat tubuh Ki Buyut.

Setelah melihat tubuh Ki Buyut terikat, maka Mahesa Amping segera mengikat pembantu itu yang masih gemetar penuh ketakutan.

Sementara itu beberapa lelaki telah keluar dari rumahnya, setengah berlari mereka menuju rumah Ki Buyut. Namun belum sempat sampai di rumah Ki Buyut sekelompok orang berkuda telah mengepungnya.

“Jangan coba melawan!!”, berkata Badrun dengan suaranya yang keras dan parau sambil mengangkat tinggi-tinggi golok panjangnya yang berkilau terlihat bersinar dibawah cahaya malam.

Beberapa lelaki yang tanpa senjata itu bukan main kaget tergetar penuh rasa takut yang sangat melihat pasukan berkuda tengah mengepungnya, terutama melihat senjata yang telanjang mengancam mereka.

Salah seorang berkuda itu turun dari kudanya langsung mengikat beberapa lelaki yang pucat ketakutan tanpa susah payah dan perlawanan dengan satu ikatan tali.

“Bawa mereka ke rumah Ki Buyut”, berkata Badrun kepada salah seorang anak buahnya sambil memberi tanda kepada anak buahnya yang lain untuk mengikutinya mencari warga yang telah keluar dari rumahnya.

Maka dalam waktu yang begitu singkat, puluhan lelaki warga Padukuhan itu telah dapat dilumpuhkan dalam keadaan terikat dihalaman rumah Ki Buyut.

“Ki Buyut!!”, berkata Kebo Arema dengan wajah masih tertutup cadar hitam kepada ki Buyut sambil menempelkan golok panjangnya di leher Ki Buyut.

Ki Buyut yang terlihat sudah mulai tua itu menjadi gemetaran merasakan dinginnya benda logam tajam menempel di kulit lehernya, merasakan nyawanya akan lepas meninggalkan tubuhnya.

“Masuklah kesemua rumah wargamu, bawalah semua barang berharga yang kau temui ke halaman ini”, berkata Kebo Arema dengan kata dan nada penuh ancaman.

Terlihat dengan wajah pucat pasi Ki Buyut menganggukkan kepalanya tanda bersedia.

“Ingat, aku dapat membantai semua wargamu dan membakar padukuhan ini. Jadi bekerja samalah dengan baik”, berkata Kebo Arema dengan suara yang keren membuat Ki Buyut menambah rasa takutnya.

Maka bersama pembantunya, terlihat Ki Buyut dan pembantunya telah memasuki rumah demi rumah untuk mengambil semua barang berharga yang dimiliki oleh warganya.

“Ingat Nyi Made, suamimu dibawah ancaman para gerombolan perampok”, berkata Ki Buyut menjelaskan kepada seorang wanita di sebuah rumah yang dimasuki.

“Kalung emas ini warisan nenekku, hanya ini barang berharga yang kami miliki”, berkata wanita itu dengan wajah penuh cemas memikirkan suaminya yang tengah disandera di halaman muka rumah Ki Buyut.

“Demi suamimu dan semua warga”, berkata Ki Buyut kepada wanita itu yang melepaskan kalung emasnya yang masih melingkar di lehernya.

“Jangan keluar, aku khawatir gerombolan itu dapat berbuat lain bila melihatmu”, berkata Ki Buyut mengingatkan wanita itu yang memang masih sangat muda.

Demikianlah, Ki Buyut dan pembantunya telah kembali ke halaman rumahnya menyerahkan barangbarang berharga milik warganya, yang dipikirkan adalah keselamatan dirinya dan semua warga yang tengah disandera.

“Kamu belum masuk ke rumahmu sendiri”, berkata Kebo Arema ketika menerima barang-barang berharga dari Ki Buyut.

“Aku akan mengambilnya”, berkata Ki Buyut dengan wajah penuh ketakutan melangkah kedalam rumahnya sendiri.

Ternyata kali ini langkah Ki Buyut tersandung oleh istrinya sendiri.

“Aku tidak akan memberikan cincin bermata mutiara ini, barang yang sudah lama kuimpikan ketika masih gadis untuk memilikinya”, berkata Nyi Buyut merasa keberatan menyerahkan cincinnya.

“Bila gerombolan itu masuk dan melihat masih ada cincin ditanganmu, urusan akan jadi panjang”, berkata Ki Buyut mengingatkan istrinya.

“Seandainya aku ini lelaki, aku akan melawannya”, berkata Nyi Buyut kepada Ki Buyut sambil dengan wajah masam melepaskan cincin yang sangat disayanginya itu.

“Tidak cukup keberanian, kita harus juga memikirkan kekuatan kita”, berkata Ki Buyut yang merasa tersinggung dengan ucapan istrinya yang menyinggung sikap kelelakiannya.

“Bukankah kita lebih banyak dari mereka?”, berkata kembali Nyi Buyut dengan wajah cemberut.

“Banyak tapi tidak ada keberanian”, berkata Ki Buyut berusaha menyanggah perkataan istrinya.

“Keberanian kalian hanya saat berjudi di Tajen”, berkata Nyi Buyut sambil mencebirkan bibirnya.

“Aku tidak mau bersanggah lagi”, berkata Ki Buyut berbalik badan tidak lagi melayani perkataan istrinya yang mengkerdilkan dirinya.

Maka tidak lama kemudian Ki Buyut sudah keluar lagi sambil membawa barang-barang berharga miliknya.

“Mengapa kamu lama sekali keluar dari rumahmu sendiri?”, berkata Kebo Arema kepada Ki Buyut yang tengah menyerahkan barang berharga miliknya.

“Ada beberapa barang yang kusimpan diatas wuwungan”, berkata Ki Buyut menjelaskan sengaja tidak menyinggung hal yang sebenarnya tentang istrinya yang keras.

“Aku akan memeriksa kedalam, mungkin masih ada yang kamu sembunyikan”, berkata Kebo Arema yang bersikap akan masuk kerumah Ki Buyut.

“Percayalah, semua sudah kukeluarkan”, berkata Ki Buyut yang takut gerombolan itu masuk ke rumahnya berbuat hal-hal lain terhadap keluarganya. “Untuk saat ini aku mempercayaimu”, berkata Kebo Arema kepada Ki Buyut yang diam-diam merasa kasihan melihat wajah Ki Buyut yang demikian pucatnya.

Sementara itu salah seorang anak buah Badrun terlihat sudah membawa dua ekor kuda milik Kebo Arema.

“Dengarlah semua”, berkata Kebo Arema dengan suara yang bergema diatas punggung kudanya.

“Apa yang kami lakukan ini adalah untuk perjuangan Raja Adidewalancana Penguasa Pura Besakih menghadapi para prajurit Singasari yang akan menguasai seluruh kehidupan kita”, berkata Kebo Arema kepada semua lelaki di halaman rumah Ki Buyut.

Terlihat Kebo Arema memberi tanda kepada gerombolannya untuk meninggalkan halaman rumah Ki Buyut.

Diringi puluhan mata warga padukuhan yang masih terikat, debu mengepul dibelakang kuda-kuda yang melangkah berlari keluar dari halaman rumah Ki Buyut itu dan menghilang ditelan kegelapan malam.

Maka pada keesokan harinya, kejadian di Padukuhan itu nyaris menjadi perbincangan semua orang, baik diladang, dipasar dan di kedai. Berita perampokan itu sendiri seperti angin terbawa terbang kesegala arah, menyebar hampir kepelosok Balidwipa, jauh dari tempat kejadiannya sendiri.

“Teganya Raja Adidewalancana mengambil milik warga yang sudah banyak dipenuhi berbagai tula”, berkata seorang kepada kawannya disebuah kedai.

“Itulah tanda-tanda akhir jaman, penguasa tidak lagi memikirkan penderitaan para kawula, yang diutamakan adalah kelanggengan, kejayaan dirinya sendiri”, berkata kawannya menimpali.

Sementara itu di sudut kedai, terlihat dua orang yang sedang mencuri dengar dua orang yang berbicara mengenai perampokan yang mengatasnamakan perjuangan Raja Adidewalancana menghadapi para prajurit Singasari.

“Perang pencitraan telah kita mulai”, berkata Kebo Arema perlahan kepada Mahesa Amping.

“Dan nampaknya angin telah membawa berita itu jauh dari tempatnya”, berkata Mahesa Amping

“Di beberapa padukuhan telah menyiagakan dirinya”, berkata Kebo Arema.

“Akan menyulitkan kita, benturan tidak dapat dihindarkan”, berkata Mahesa Amping yang merasa khawatir akan ada korban dari orang-orang padukuhan.

“Kita harus mencari celah agar tidak ada korban”, berkata Kebo Arema dengan wajah tenang, sepertinya di kepalanya sudah mengendap sebuah rencana kecerdikannya yang lain.

“Aku melihat Paman Kebo Arema sudah menemukan celah itu”, berkata Mahesa Amping yang melihat mata dan bibir Kebo Arema penuh senyum.

“Aku telah menemukannya, mari kita bicarakan di tempat persembunyian kita”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping sambil mengajak Mahesa Amping keluar dari kedai kembali kepersembunyiannya.

Terlihat Mahesa Amping dan Kebo Arema telah keluar dari kedai berjalan kearah bulakan yang sangat sepi. Setelah meyakini diri tidak ada yang mengikuti mereka, terlihat Kebo Arema dan Mahesa Amping melangkah kearah hutan kecil yang terhalang sebuah rawa galam. Karena rawa galam itulah maka jarang sekali orang datang ke hutan kecil itu. Disitulah gerombolan Kebo Arema menyembunyikan dirinya.

Siang itu panas matahari begitu terik seperti membakar kulit, tapi keadaan didalam hutan itu sinar matahari tertahan daun dan ranting pohon yang tumbuh begitu rapatnya. Suasana didalam hutan itu begitu teduh, udara diaromai wangi tanah basah hutan yang gembur dan subur yang terbawa oleh semilir angin bertiup memberi kesegaran siapapun yang berada didalamnya.

“Persiapkan orang-orangmu, malam ini kita kembali beraksi”, berkata Kebo Arema kepada Badrun sambil menyampaikan beberapa gambaran yang dapat mereka lakukan.

“Yang harus diingat adalah letak dua orang saudagar kaya di Padukuhan itu dan rumah Ki Buyut itu sendiri yang pasti punya simpanan harta yang cukup”, berkata Kebo Arema dengan wajah penuh senyum kepuasan merasa yakin rencananya dapat berhasil dengan gemilang.

“Sebuah tipu daya yang cemerlang”, berkata Mahesa Amping setelah mendengar penjabaran dari Kebo Arema dengan rinci sekali.

“Saatnya raja srigala untuk beristirahat siang”, berkata Kebo Arema sambil mencari tempat yang cukup baik untuk merebahkan dirinya disebuah batu besar yang datar dibawah sebuah pohon kayu besar.

Dan seiring waktu berlalu, matahari diatas hutan itu perlahan merunduk menyongsong wajah senja.

Berita tentang perampokan yang mengatasnamakan perjuangan Raja Adidewalancana memang  sudah sampai di Padukuhan Padang Bulia, sebuah padukuhan induk di Kademangan Padang Bulia yang cukup ramai.

Sore itu meskipun masih jauh saat malam, dua buah gardu ronda yang ada di Padukuhan itu sudah diramaikan beberapa lelaki dan anak-anak muda. Berita tentang sebuah Padukuhan yang telah dirampok telah mendorong kewaspadaan mereka. Namun bukan cuma itu yang mendorong mereka bersemangat memenuhi gardu ronda, ternyata andil dua orang saudagar kaya di Padukuhan itu turut mendukung dimana hampir sebagian warganya menjadi pekerja di tempat dua saudagar kaya itu.

“Ternyata nyaman menjadi orang yang tidak punya”, berkata seorang lelaki yang duduk di panggung gardu ronda kepada kawan-kawannya

“Kenapa kamu bisa berkata demikian?”, bertanya salah seorang kawannya.

“Buktinya aku tidak merasa takut apapun bila para perampok itu datang ke Padukuhan ini, apa yang kutakutkan, aku tidak punya harta apapun selain selembar pakaian ini”, berkata lelaki itu menjelaskan.

Terlihat beberapa kawannya membenarkan perkataan lelaki itu.

“Nyaman apanya bila saat paceklik kita tidak punya persediaan apapun”, berkata salah seorang kawannya yang memang senang berkata lain.

Ternyata ucapan salah seorang yang terakhir ini juga dibenarkan oleh beberapa orang yang ternyata termasuk golongan miskin pendapat yang mudah terombang ambing oleh berbagai pendapat orang. Akhirnya pembicaraan pun menjadi semakin ramai hanya mengenai dua pendapat yang berbeda antara nyaman dan tidak nyamannya menjadi orang miskin.

Namun pembicaraan mereka pun terhenti manakala datang kiriman makanan dari salah seorang saudagar kaya.

“Nanti malam kami akan mengirim panganan lagi, jadi jangan takut kekurangan”, berkata seorang lelaki yang membawa ubi rebus dua bakul besar bersama dua ceret wedang.

Terlihat belum lagi dua buah bakul besar itu mandeg di atas papan kayu gardu ronda, beberapa tangan sudah berebut mengambil ubi rebus yang masih hangat itu.

“Belum tengah malam panganan sudah habis”, berkata seorang yang mendapatkan isi bakul menyisakan dua buah ubi rebus.

“Habisi saja, nanti malam ceritanya lain lagi”, berkata salah seorang yang tengah memakan ubi rebus yang kedua.

Semua orang sepertinya membenarkan ucapan terakhir itu, nanti malam memang lain cerita karena akan datang kiriman lagi.

Sementara itu, matahari di atas Padukuhan Padang Bulia ternyata sudah begitu lelah, cahayanya sudah semakin memudar dan akhirnya redup diujung batas cakrawala. Dan langit malampun perlahan datang menyelimuti bumi, merabunkan setiap pandangan menjadi tersamar yang berujung kepada kegelapan yang semakin merata. Perlahan malam telah datang membekap bumi dalam gelap dan kesenyapan yang semakin sunyi. Dalam warna malam yang samar, terlihat segerombolan orang berkuda tengah keluar dari sebuah hutan. Terlihat semakin jelas ketika mereka berada  diatas tanah rawa galam yang berair dangkal. Ternyata mereka mengarah kepadukuhan Padang Bulia.

Ketika langkah kaki kuda mereka telah mendekati Padukuhan Bulia, mereka berpencar menjadi tiga kelompok. Masing-masing berjalan mengarah tempat yang berbeda. Tiga kelompok yang berpisah itu tidak satu pun yang datang lewat regol depan Padukuhan Padang Bulia, mereka terlihat masuk lewat arah lambung Padukuhan Padang Bulia disisi yang berbeda.

Terlihat satu kelompok telah masuk disisi ujung Padukuhan Padang Bulia, sementara dua kelompok lainnya bersembunyi di kegelapan malam, di semaksemak yang tinggi, di beberapa rumpun bambu yang kerap.

“Singkirkan semua penghuninya keluar rumah”, berkata Badrun yang ternyata menjadi pimpinan kelompok yang telah masuk terlebih dahulu lewat sisi ujung Padukuhan itu.

Terlihat sepuluh orang telah turun dari kudanya dan berendap mendekati dua buah rumah yang terletak diujung Padukuhan.

“Jangan sakiti kami”, teriak seorang wanita yang penuh ketakutan melihat lima orang berwajah beringas sudah masuk lewat pintu butulan yang berhasil mereka dobrak.

“Bawalah semua yang ada dirumah ini, kami akan membakarnya”, berkata Badrun dengan mengacungkan golok panjangnya dihadapan wanita yang menangis penuh ketakutan. Mendengar bahwa rumahnya akan dibakar, tanpa berpikir panjang lagi wanita itu membangunkan dua orang anaknya yang masih kecil. “Mari kita keluar, rumah kita akan dibakar”, berkata wanta itu mengapit kedua anaknya setengah berlari keluar rumah.

“Tetaplah disini”, berkata Badrun sambil mengancam wanita itu untuk tidak kemana-mana diam dihalaman muka rumahnya.

Di rumah yang lain, lima orang anak buah Badrun telah berbuat yang sama mengeluarkan penghuni rumahnya. Tidak lama kemudia sudah terlihat lidah api mulai menjilati kayu-kayu bagian rumah dan akhirnya menyelinuti seluruh bangunan rumah dengan lidahnya yang merah membumbung tinggi.

Bersamaan dengan itu sepuluh orang berkuda sudah tidak terlihat lagi menghilang di kegelapan malam.

“Kebakaran!!!!”, teriak seorng peronda yang melihat cahaya merah diujung Padukuhan.

Maka semua mata tertuju ke ujung Padukuhan yang berwarna terang menyala merah. Tanpa berpikir apapun segera mereka berlari kearah sinar merah di ujung Padukuhan.

“Cari air, kita harus memadamkannya”, berkata seorng lelaki yang ternyata adalah pemilik rumah itu sendiri yang meninggalkan istri dan anaknya ikut meronda.

Maka terlihatlah kesibukan yang luar biasa dari semua orang lelaki untuk memadamkan dua buah rumah di ujung Padukuhan itu.

Sementara itu disalah satu rumah seorang saudagar kaya di Padukuhan Padang Bulia, dua orang penjaga rumah telah mendengar keributan orang-orang yang berlari sambil berteriak ada kebakaran.

“Ada kebakaran di ujung Padukuhan”, berkata salah seorang penjaga kepada saudagar yang telah ikut keluar.

“Biarkan saja, tetaplah disini”, berkata saudagar itu melarang dua orang penjaganya untuk ikut membantu memadamkan kebakaran.

Kedua orang penjaga itu terlihat serba salah, di hati mereka ada keinginan untuk turun membantu. Namun perasaan itu hanya sebentar mengendap di hati dua penjaga itu, karena tibatiba saja entah dari mana datangnya muncul dari kegelapan malam sesosok tubuh memakai cadar hitam menutupi sebagian wajahnya.

“Kenapa kalian tidak keluar rumah membantu tetanggamu yang kebakaran?”, berkata orang itu dengan suara yang keren penuh kewibawaan dan sangat tenang sekali.

Kedua orang penjaga itu ternyata orang-orang yang sudah mapan menghadapi sebuah kekerasan, mereka adalah para jagoan pasar yang sudah diketahui keberaniannya oleh saudagar kaya itu. Itulah sebabnya saudagar kaya itu mempercayai rumahnya dijaga oleh mereka.

Melihat seorang yang mencurigakan datang diiringi empat orang dibelakangnya, maka dengan sigap kedua orang penjaga itu telah melepaskan senjatanya dari sarungnya. Namun belum lagi senjata itu mapan dalam genggamannya, tiba-tiba saja dirasakan tangannya berbentur oleh sebuah benda keras, seketika senjatanya terpental dan merasakan tulang tangannya seperti remuk lemah tidak berdaya. Bukan main kagetnya kedua penjaga itu, tapi rasa kagetnya hanya sebentar karena belum sempat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, sebuah pukulan keras menghantam rahang pipinya. Terbelalak mata saudagar itu melihat sendiri dua orang penjaganya telah roboh tergeletak di lantai kayu pendapa rumahnya.

“Aku tidak akan mencelakaimu, tunjukkan  dimana kau simpan semua hartamu”, berkata orang bercadar itu kepada saudagar itu sambil menempelkan senjatanya yang terasa dingin dikulit lehernya.

Sementara itu empat orang yang mengiringi orang bercadar itu sudah menyelinap memasuki semua bilik yang ada dirumah saudagar itu. Tidak lama kemudian, semua penghuni rumah saudagar itu sudah dapat dilumpuhkan, mereka diikat di biliknya masing-masing.

“Ternyata istrimu masih begitu muda”, berkata orang bercadar itu ketika bersama saudagar itu masuk ke bilik utama yang cukup luas. Disana mereka mendapatkan istrinya sudah dalam keadaan terikat.

Mendengar ucapan perampok itu tentang istrinya, pikiran saudagar itu menjadi semakin bercabang dipenuhi kecemasan yang lain yang lebih menakutkan dari kematian, sebuah kecemasan yang begitu memuncak atas kekhawatiran perampok itu ada keinginan atas istrinya.

Kecemasan yang sudah merasuk jauh itulah yang membuat saudagar itu dengan sukarela memberikan semua harta yang dimiliki, semua harta yang sudah lama dikumpulkannya yang selama ini telah mengangkat harkat dan martabat dirinya dan keluarganya menjadi orang yang dihormati di Padukuhan Padang Bulia.

“Terima kasih atas kerelaanmu menyerahkan semua hartamu. Raja Adidewalencana pasti akan merasa sangat berterima kasih”, berkata orang bercadar itu sambil meninggalkannya duduk lemas di tepi peraduannya.

Saudagar itu masih duduk di pinggir peraduannya, ada kelegaan bahwa para perampok itu telah meninggalkannya tanpa menganiaya dirinya, juga istrinya. Yang dirasakan saudagar itu adalah rasa syukur bahwa nyawanya masih utuh, masih dapat melewati harihari berikutnya. Diam-diam saudagar kaya itu mulai menyadari begitu tingginya nilai keselamatan diri dan keluarganya dibandingkan dengan sebuah harta yang melimpah.

“Terima kasih gusti, engkau masih memberiku hidup sampai hari ini”, berkata Saudagar kaya itu sambil menarik nafas panjang, merasakan nafasnya sendiri masuk kerongga dadanya, merasakan rasa syukur yang sangat.

Sementara itu dalam waktu yang bersamaaan di rumah saudagar yang lainnya, kejadian yang samapun dialami oleh saudagar itu dan semua penghuninya.

Lain lagi yang terjadi dirumah Ki Buyut, rumah itu hanya ada para wanita dan anak-anak. Ternyata Ki Buyut dan pembantu laki-lakinya sudah keluar rumah membantu memadamkan kebakaran yang terjadi atas dua buah rumah warganya yang berada di ujung Padukuhan Padang Bulia. Maka dengan mudah Badrun dan kawan-kawannya menggasak semua harta yang ada dirumah Ki Buyut tanpa perlawanan apapun.

Akhirnya dengan segala upaya dan semangat yang kuat, dua rumah yang terbakar itu telah dapat dipadamkan. Semua orang terlihat menarik nafas lega, masih ada beberapa bagian yang dapat diselamatkan.

Namun baru saja mereka merasakan kelegaannya, tiba-tiba saja seorang anak lelaki tanggung berlari menemui Ki Buyut. “Ayah …..,” Terlihat anak lelaki itu dengan air wajah penuh kegundahan itu memeluk Ki Buyut yang ternyata ayahnya sendiri.

“Katakan apa yang terjadi”, berkata Ki Buyut sambil mengguncang tubuh anak lelakinya.

“Rumah kita didatangi perampok”, berkata anak lelaki itu kepada Ki Buyut.

Maka sadarlah Ki Buyut dan semua warga yang ada, bahwa mereka telah diperdayai oleh para perampok. Terlihat Ki Buyut dan hampir semua orang berlari menuju rumah Ki Buyut. Sambil berlari, pikiran Ki Buyut hampir kosong, yang ada adalah secepatnya sampai dirumah dan melihat apa yang telah terjadi. Apapun yang terjadi

!!!. Hanya itu yang ada di benak Ki Buyut.

Ketika masuk kehalaman muka rumahnya, dilihat suasana begitu lengang. Dengan tidak sabaran lagi Ki Buyut sudah langsung menerobos masuk kerumahnya sendiri. Ada sedikit kelegaan dalam hatinya ketika dilihatnya istri dan kedua orang pembantunya masih dalam keadaan terikat tidak cidera sedikitpun. Sementara itu dibelakang Ki Buyut berturut-turut datang beberapa orang lelaki warganya.

“Kamu tidak apa-apa Nyi?”, bertanya Ki Buyut kepada istrinya sambil membuka tali yang mengikat tubuh istrinya.

“Mereka telah mengambil semua harta milik kita”, berkata Istrinya yang masih belum hilang rasa gemetarnya. “Kita telah diperdayai”, berkata Ki Buyut dengan wajah penuh kegeraman.

“Mari kita kejar, mereka pasti belum jauh”, berkata salah seorang warganya mengajak semua orang mengejar para perampok.

“Tapi kita tidak tahu kemana arah mereka”, berkata seorang lagi yang sebenarnya pernyataannya itu berawal dari rasa kepengecutan hati menghadapi para perampok.

Namun pernyataan itu telah menyiram semangat semua orang yang telah bersiap-siap untuk melakukan pengejaran. Terlihat beberapa orang sudah menjadi ragu, akhirnya semua mata tertuju kepada Ki Buyut.

“Bila kita berhasil mengejarnya, apakah kita mampu melawannya?”, berkata Ki Buyut melempar lagi keputusannya kepada warganya.

Terlihat semua orang berpikir, beberapa orang malah bertanya pada diri sendiri apa keuntungannya mengejar para perampok, bukankah dirinya tidak ada kerugian apapun?

Ki Buyut dapat membaca keraguan warganya, juga merasa sayang apabila ada korban nyawa dari peristiwa itu. “Kita tidak tahu kekuatan mereka, besok kita bicarakan bersama Ki Demang agar peristiwa ini tidak terulang kembali”, berkata Ki Buyut mengambil keputusan untuk tidak mengejar para perampok.

Sementara itu para perampok sudah semakin jauh, mereka tidak kembali ke persembunyiannya yang lama, seperti gerombolan serigala yang mengembara, mereka terus melangkah di kegelapan malam dan akhirnya menemukan tempat persembunyian yang baru.

Demikianlah, seperti segerombolan serigala di padang perburuannya, mereka begitu sangat ditakuti. Mereka datang dan pergi seperti angin, menghilang tanpa jejak. Beberapa Padukuhan telah mendapatkan giliran keonaran mereka yang cukup meresahkan. Hingga begitu resahnya di Balidwipa saat itu kelompok mereka disebut sebagai Barong Asu Ngelawang, sebuah nama yang sangat mudah diingat dan begitu menakutkan, terutama di saat menjelang malam.

“Saatnya kita mencuci tangan”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping di sebuah persembunyiannya.

“Aku belum dapat menangkap apa yang Paman Kebo Arema maksudkan”, berkata Mahesa Amping.

“Lakon Barong Asu Ngelawang harus diakhiri”, berkata Kebo Arema dengan memandang Mahesa Amping menelisik apakah Mahesa Amping sudah dapat menangkap arah pembicaraannya.

“Siapakah yang dapat mengakhirinya?”, bertanya Mahesa Amping.

“Pasukan prajurit Singasari”, berkata Kebo Arema dengan suara mantap.

“Pasukan yang dipimpin Kakang Mahesa Bungalan datang dua hari lagi”, berkata Mahesa Amping.

“Kita memanfaatkan Pasukan tidurmu yang berada di Tanah Melaya”, berkata Kebo Arema dengan wajah penuh kecerahan.

“Aku melihat di kepala Paman sudah terkumpul sebuah babad yang mengasyikkan”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema yang dipercaya sudah punya rencana cemerlang.

Maka seperti yang diduga oleh Mahesa Amping, ternyata Kebo Arema sudah punya sebuah rencana. Dengan rinci Kebo Arema menjabarkannya apa yang harus dilakukan dalam rangka perang pencitraan itu.

“Kita harus bergerak cepat sebelum Penguasa Pura Besakih dapat berpikir jernih”, berkata Kebo Arema mengakhiri penjelasannya.

“Hari ini aku akan berangkat ke Tanah Melaya membawa pasukanku”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema.

Demikianlah, pada hari itu juga Mahesa Amping telah bersiapsiap untuk berangkat ke Tanah Melaya.

Terlihat seorang penunggang kuda telah keluar dari sebuah hutan menyusuri bulakan panjang dan seperti terbang menghentakkan kudanya berlari kencang membelah padang ilalang, menyusuri lembah gunung dan ngarai.

Penunggang kuda itu ternyata adalah Mahesa Amping yang telah banyak mengenal setiap tempat di Balidwipa ketika bersama Empu Dangka sering melakukan pengembaraan, nganglang ke berbagai tempat.

Mahesa Amping dalam perjalanannya terlihat menghindari beberapa Padukuhan, dengan sangat terpaksa harus jalan melingkar agar tidak memasuki sebuah Padukuhan. Mahesa Amping sepertinya mengejar waktu, namun di beberapa tempat sempat beristirahat untuk menyegarkan kembali kudanya.

Mahesa Amping terus melakukan perjalanan meski langit diatasnya telah berganti malam.

“Sebentar lagi kita akan sampai”, berkata Mahesa Amping sambil mengusap perut kudanya berhenti di sebuah bukit kecil dikeremangan saat pagi menjelang. Terlihat Mahesa Amping mengikat tali kudanya di sebuah batang kayu apok. Diatas sebuah rerumputan yang masih basah berembun Mahesa Amping perlahan merebahkan tubuhnya bersandar di sebuah batu besar.

Perlahan cahaya matahari diatas bukit kecil itu menghangatkan rerumputan dan batu yang basah. Pemandangan pagi hari di Bukit kecil yang hijau itu begitu cerah.

“Kuda yang kuat”, berkata Mahesa Amping kepada dirinya sendiri sambil membiarkan kudanya yang terlihat tengah mengunyah rumput hijau dibawah pohon apok.

“Mari kita melanjutkan perjalanan”, berkata Mahesa Amping sambil menghentakkan perut kudanya dengan kakinya.

Terlihat Mahesa Amping tengah menuruni bukit kecil yang hijau itu yang banyak ditumbuhi rerumputan dan batu yang berlumut kehijauan diteduhi banyak pohon besar yang rindang.

“Kukira kamu masih lama baru datang kembali”, berkata Mahesa Semu yang menyambut kedatangan Mahesa Amping di hutan kecil di Tanah Melaya.

“Kemarin kami menerima lima puluh ekor kuda”, berkata Wantilan bercerita tentang beberapa orang telah membawa lima puluh ekor kuda untuk mereka.

“Ternyata Ki Jaran Waha dapat diandalkan”, berkata Mahesa Amping bercerita tentang salah satu sahabatnya di Balidwipa.

Akhirnya setelah beristirahat yang cukup, Mahesa Amping bercerita dan menjelaskan beberapa hal tentang rencananya bersama Kebo Arema melakukan perang pembukaan yang disebutnya sebagai perang pencitraan. “Akan menjadi lakon yang sangat seru, sepasukan prajurit Singasari menghentikan gerombolan Barong Asu Ngelawang”, berkata Wantilan menyukai rencana itu.

“Paman Kebo Arema berbakat menjadi seorang dalang”, berkata Sembaga ikut mengomentari.

Demikianlah, pada hari itu sekelompok pasukan kecil prajurit Singasari berkuda telah keluar dari sebuah hutan.

Panas matahari yang terik mengiringi perjalanan mereka menyusuri lembah dan ngarai, mendaki perbukitan dan berlari kencang membelah padang ilalang. Di beberapa tempat mereka berhenti sebentar untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat, setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka.

Sengaja mereka melewati jalan-jalan yang sepi yang tidak pernah dilewati oleh orang pada umumnya. Kadang mereka harus jalan melingkar menghindari sebuah padukuhan.

“Apakah perjalanan kita masih panjang?”, bertanya Wantilan kepada Mahesa Amping ketika mereka tengah menyusuri sebuah lembah dikaki sebuah bukit di malam hari.

“Menjelang dini hari kita akan sampai”, berkata mahesa Amping.

Demikianlah, mereka terus berjalan melewati malam diatas punggung kuda menyususri jalan-jalan yang sepi.

Akhirnya sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Amping, menjelang dinihari mereka telah sampai dimuka hutan tempat gerombolan Kebo Arema menyembunyikan dirinya.

“Kamu tiba tepat waktu”, berkata Kebo Arema menyambut Mahesa Amping dan kawan-kawannya yang baru tiba.

“Sepanjang malam kuda-kuda ini berjalan tanpa istirahat”, berkata Mahesa Amping sambil melompat turun dari kudanya.

“Beristirahatlah, masih ada waktu menjelang tengah malam”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping.

Terlihat rombongan yang baru datang itu telah berpencar mencari beberapa tempat di hutan itu untuk sekedar beristirahat. Sementara beberapa anak buah Badrun tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi yang lebih banyak agar dapat juga dinikmati oleh rombongan yang baru tiba itu.

“Malam ini di Kademangan Padang Bulia akan ada panggung seni gambang, mereka sudah membangun tajuk besar di rumah Ki Demang”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Amping yang sudah nampak segar setelah cukup beristirahat.

“Jadi pagelaran kita ikut meramaikan hiburan di rumah Ki Demang?”, berkata Mahesa Amping kepada Kebo Arema.

Sementara itu sebagaimana yang dikatakan oleh Kebo Arema, di halaman muka rumah Ki Demang telah berdiri sebuah tajuk besar, malam itu akan ada hiburan kesenian gambang yang selalu digelar menjelang pertengahan tahun bersamaan usainya pelaksanaan upacara Odalan.

Senja yang bening pun akhirnya pudar perlahan meninggalkan wajah bumi berganti menjadi kekelaman malam.

Terlihat oncor berbaris sepanjang jalan Padukuhan induk menuju kediaman Ki Demang tempat keramaian akan berlangsung. Beberapa orang sudah banyak berkumpul di banjar desa meski pertunjukan masih lama lagi. Kegembiraan terlihat pada wajah-wajah mereka.

Semakin malam, keramaian semakin bergeser kerumah kediaman Ki Demang dimana seperangkat gamelan gambang sudah siap diatas panggung. Terlihat berduyun duyun orang mulai berdatangan baik dari Padukuhan terdekat maupun juga dari Padukuhan terjauh. Sepertinya semua orang di Kademangan  Padang Bulia tidak akan melepaskan hiburan ini, mendengarkan suara pusaka gamelan gambang Ki Seruduk yang hanya dibunyikan hanya pada saat usai upacara odalan.

Pada malam itu juga Ki Demang telah mengundang Ki Jero Pitutur, seorang dalang dari Balidwipa yang sudah kondang namanya.

Demikianlah, menjelang malam hiburan itu diawali sambutan sepatah dua patah kata Ki Demang yang dilanjutkan dengan pembacaan mantra-mantra suci membuka kain tabir pusaka gamelan Ki Seruduk.

Bersoraklah semua warga ketika terdengar iringan suara gamelan gambang saling bersambut satu dengan yang lainnya sebagai irama pembuka.

Sorak sorai pun bertambah meriah manakala sang dalang kondang, Ki Jero Pitutur menyampaiakan sekapur sirihnya bahwa lakon malam ini berjudul alap-alapan Sukesi.

Namun Ki Jero Pitutur diatas panggung seperti termangumangu manakala suara sorak dan sorai yang bergemuruh itu berubah menjadi sua jeritan dari para penonton dibawahnya yang terlihat seperti sekumpulan semut diperciki air, bubar kucarkacir dalam segala arah.

Ki Demang bersama para tamu kehormatannya terlihat berdiri ingin tahu apa yang terjadi diluar sana yang membuat para penonton berhamburan menyelamatkan dirinya bahkan ada yang terdesak terhimpit hingga kedepan panggung.

Ternyata keingin tahuan Ki Dalang atas apa yang telah terjadi akhirnya terjawab juga, ketika para kerumunan penonton sudah terkuak habis, jarak pandangnya jadi lebih jauh dan tidak terhalang lagi.

Terperanjatlah Ki Demang ditajuknya dan Ki Jero Pitutur dari atas panggung melihat diluar pagar halaman rumah Ki Demang telah terjadi pertempuran yang sengit. Ki Demang dan Ki Jero Pitutur melihat lima orang sudah terkepung oleh sekelompok pasukan berkuda.

Tiba-tiba saja dua orang dari lima orang yang sedang terkepung itu melenting jauh keluar dari kepungan masuk ke halaman rumah Ki Demang tepat di bawah panggung. Kedua orang itu terlihat memakai cadar hitam diwajahnya.

“Gerombolan Barong Asu Ngelawang!!”, berkata berbarengan dua orang saudagar dari Tajuk merasa mengenal kedua orang bercadar hitam itu

Sementara itu melihat dua orang lolos dari kepungan, dua orang berkuda berusaha mengejarnya ikut masuk ke halaman rumah Ki Demang, sementara yang lainnya masih terus semakin rapat mengepung tiga orang lainnya yang terlihat semakin terdesak.

“Menyerahlah, kami prajurit Singasari akan menangkapmu”, berkata salah seorang prajurit sambil turun dari kudanya yang ternyata adalah Mahesa Amping.

“Menyerahlah, semua anak buahmu sudah kami lumpuhkan”, berkata seorang prajurit lagi yang terlihat sudah cukup umur yang ternyata adalah Kebo Arema telah turun dari kudanya.

Terlihat dua orang prajurit itu perlahan mendekati dua orang bercadar hitam yang sudah terpojok di tepi panggung.

“Mari kita bertanding secara adil, satu lawan satu tidak main kroyokan”, berkata salah seorang dari orang bercadar hitam itu.

Tanpa perkataan lain lagi, terjadilah pertempuran yang seru satu lawan satu antara prajurit Singasari dan orang bercadar itu.

Sementara itu diluar pagar halaman Ki Demang, sepasukan prajurit Singasari terlihat sudah dapat menguasai tiga orang yang tersisa yang telah terkepung yang terlihat sudah putus asa langsung menyerahkan dirinya. Maka dengan segera para prajurit mengikat tubuh mereka.

Masih diluar pagar halaman, telah berdatangan lagi beberapa prajurit Singasari sambil membawa kawanan Barong Asu Ngelawang yang sudah dalam keadaan tubuh terikat.

Terlihat beberapa orang warga yang telah pergi berhamburan menjauh telah memberanikan dirinya datang mendekat kembali.

Mereka menyaksikan para tawanan prajurit Singasari yang terikat tidak berdaya. Akhirnya keberanian mereka bertambah untuk menyaksikan pertempuran didalam halaman rumah Ki Demang yang masih berlangsung dengan serunya.

Malam itu diterangi banyak oncor yang ada ditiap sudut panggung dan tajuk besar serta cahaya bulan purnama telah cukup menerangi pertempuran satu lawan satu antara prajurit Singasari melawan dua orang bercadar hitam.

Ki Demang yang tidak buta sama sekali dengan olah kanuragan melihat bahwa kedua orang bercadar hitam  itu sudah semakin terdesak.

“Kedua orang bercadar itu sudah semakin terdesak, tataran ilmu kedua prajurit itu masih berada  diatas tataran lawannya”, berkata Ki Demang memperhatikan kedua pertempuran itu.

Ternyata dugaan Ki Demang tidak meleset jauh, terlihat lawan Mahesa Amping sudah semakin terdesak dan dalam sebuah benturan senjata tidak mampu lagi menguasai senjata ditangannya.

Trang !!!!

Terdengar suara dua senjata beradu. Dan terlihat sebuah golok panjang terlempar jauh.

“Menyerahlah”, berkata Mahesa Amping kepada lawannya yang terlihat memegang tangannya yang kesakitan terasa kesemutan.

“Aku menyerah”, berkata orang bercadar itu kepada Mahesa Amping.

Terlihat Mahesa Amping dengan sebuah isyarat memanggil salah seorang prajurit yang terdekat untuk mengikat kedua tangan orang bercadar itu yang sudah menyerah.

Sementara itu Kebo Arema masih terlihat melayani lawannya. Ternyata Kebo Arema dan lawannya itu merasa sayang menyudahi pertempurannya ketika dilihatnya lingkaran orang yang menontonnya sudah semakin bertambah banyak.

“Paman Kebo Arema bukan cuma seorang dalang yang mumpuni, sekaligus pemain sandiwara yang hebat”, berkata Mahesa Amping dalam hati yang melihat Kebo Arema seperti sungguhan melayani lawannya.

Namun ternyata Kebo Arema dan lawannya telah bosan bermain-main, maka dalam sebuah benturan senjata terlihat lawannya telah melepaskan senjata golok panjangnya melayang tinggi.

Ternyata kesempatan itu dipergunakan oleh Kebo Arema sebagai hiburan tambahan, terlihat dengan gesitnya Kebo Arema melompat keudara menangkap golok panjang yang masih melayang tinggi itu dan melakukan dua kali putaran tubuh diudara.

Deb….!!!

Kedua kaki Kebo Arema telah turun dan jatuh kebumi dengan mantapnya.

Seluruh penonton yang menyaksikan adegan itu bertepuk tangan tidak sadar saking kagum dan terkesimanya melihat cara Kebo Arema merebut golok panjang lawannya diudara dan juga cara kebo Arema berputar diudara dan jatuh dengan keadaan yang  mantap di tanah. 

“Kamu memang bukan lawanku, aku menyerah”, berkata lawannya sambil mengangkat kedua tangannya untuk siap diikat.

Terlihat Kebo Arema memberi isyarat kepada salah seorang prajurit Singasari untuk mengikatnya. Buka !!! Buka !!! Buka …..!!!

Terdengar teriakan semua orang yang melihat dua orang bercadar sudah dalam keadaan terikat.

Maka Kebo Arema yang bergaya pahlawan panggung segera mendekati dua orang bercadar kain hitam itu.

Perlahan dan satu persatu Kebo Arema membuka kain cadar penutup wajah kedua orang gerombolan Barong Asu Ngelawang itu. Ketika kain cadar hitam sudah terlepas, terlihat kedua orang itu menundukkan wajahnya.

Ternyata kedua orang itu adalah Badrun dan salah seorang anak buahnya.

“Katakan siapakah yang menyuruh kalian membuat keresahan di Balidwipa”, berkata Kebo Arema lantang sepertinya menginginkan semua orang mendengarnya.

“Raja Adidewalancana yang memerintah kami”, berkata Badrun menjawab pertanyaan Kebo Arema.

“Katakan sekali lagi agar semua orang mendengar dan menjadi saksi”, berkata Kebo Arema dengan suara membentak

“Raja Adidewalancana!!”, berkata Badrun dengan suara lantang.

“Bagus, semua orang sudah dapat mendengarnya”, berkata Kebo Arema sambil bertolak pinggang.

Sementara itu terlihat para prajurit telah membawa semua gerombolan yang tertawan ke halaman rumah Ki Demang.

“Terima kasih telah melumpuhkan gerombolan yang sangat meresahkan kami”, berkata Ki Demang yang datang mendekati Kebo Arema dan memperkenalkan dirinya sebagai Demang di Padang Bulia itu.

“Kami mohon maaf telah merusak acara hiburan Ki Demang”, berkata Kebo Arema dengan gaya seorang Senapati sungguhan.

“Bermalamlah di rumah kami, pasukanmu nampaknya perlu beristirahat”, berkata Ki Demang menawarkan kemurahannya.

“Pasukan kami sangat banyak”, berkata Kebo Arema bergaya ragu-ragu.

“Lumbung kami tidak akan kekurangan, hitung-hitung sebagai rasa terima kasih kami”, berkata Ki Demang setengah memaksa.

“Semoga tidak merepotkan Ki Demang”, berkata Kebo Arema dengan gaya seperti sedikit terpaksa.

Sementara itu malam telah terasa sudah mulai larut, beberapa orang warga terlihat sudah banyak yang telah kembali pulang ke Padukuhannya masing-masing. Hanya tersisa mereka yang tinggal di Padukuhan terdekat yang merasa punya kewajiban ikut mengawasi para tawanan.

----------oOo----------

0 Response to "Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari Jilid 12"

Post a Comment