coba

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari Jilid 05

Mode Malam
JILID 05

Bhaya menghentak kudanya agar berlari lebih cepat lagi. Terlihat kuda Bhaya seperti terbang di kegelapan malam menapaki jalan panjang. Ketika harus memasuki sebuah Padukuhan, maka dicarinya jalan melingkar menghindari para peronda.

Demikianlah perjalanan malam dilakukan Bhaya tanpa ada halangan yang berarti hingga datangnya pagi. Dibeberapa tempat terpaksa berhenti sejenak untuk memberi kesempatan kudanya untuk beristirahat. Diujung senja akhirnya Bhaya sampai juga di  Benteng Cangu.

“Penyelesaian seperti itukah yang diinginkan oleh Raja Muda Kertanegara?”, berkata Mahesa Pukat  setelah Bhaya menceritakan apa yang di pesan oleh Kertanegara.

“Berperan sebagai Panglima Angsa Putih yang melindungi Rajanya”, berkata Kebo Arema sambil tersenyum.

“Hitung-hitung untuk mengendorkan kembali tulangtulang tua kita yang sudah semakin kaku”, berkata Mahesa Pukat sambil menyesalkan bahwa sampai saat ini belum ada kabar tentang keadaan dari Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe yang tengah melaksanakan tugas sandinya di Tanah Melayu.

Daerah Kediri cukup luas, perlu tiga orang agar peran Panglima Angsa putih dapat dilaksanakan sesuai keinginan Raja Muda Kertanegara”, berkata Kebo Arema memberikan pendapatnya.

“Kakang Mahesa Murti mungkin dapat kita ajak bermain”, berkata Mahesa Pukat

“Aku setuju, beberapa cantrik di Padepokan Bajra Seta mungkin dapat dimanfaatkan”, berkata Kebo Arema.

Demikianlah, dikegelapan malam Bhaya telah kembali ke Kediri dengan menukar kuda yang masih segar di Benteng Cangu untuk melaporkan bahwa pesan Kertanegara telah disampaikan.

“Mari kita bersiap berangkat ke Padepokan Bajra Seta”, berkata Mahesa Pukat ketika melihat Bhaya telah menghilang keluar dari Benteng Cangu.

Malam itu juga Mahesa Pukat dan Kebo Arema telah berangkat ke Padepokan Bajra Seta untuk menemui Mahesa Murti.

Dua ekor kuda telah memacu kudanya dikegelapan malam menyusuri jalan panjang. Tidak seperti Bhaya yang menghindari jalan Padukuhan, Mahesa Pukat dan Kebo Arema terus memacu kudanya di jalan Padukuhan yang masih lengang.

“Kami prajurit Singasari”, berkata Mahesa Pukat kepada seorang peronda yang mencoba menghentikan perjalanan mereka.

“Maafkan kami, silahkan tuanku melanjutkan perjalanan”, berkata peronda itu penuh hormat ketika Mahesa Pukat menunjukkan pertanda jati dirinya.

“Untungnya aku berjalan bersama seorang Senapati”, berkata Kebo Arema ketika mereka sudah agak jauh dari peronda yang menghentikan mereka.

Semburat warna merah telah menutupi hampir seluruh cakrawala langit dipenghujung malam yang segera akan berganti pagi. Mahesa Pukat dan Kebo Arema masih tetap tidak menghentikan perjalanannya. Untungnya kuda-kuda mereka adalah kuda terbaik yang kuat yang telah biasa menempuh perjalanan jauh.

Ketika pagi menjelang, matahari sudah terlihat penuh tersembul dari ujung bumi menerangi seluruh dataran tanah. Barulah Mahesa Pukat dan Kebo Arema mengurangi kecepatan lari kuda mereka. Padepokan Bajra Seta sudah semakin mendekat.

Akhirnya mereka telah sampai di pintu gerbang Padepokan Bajra Seta. Seorang cantrik mendekati mereka.

“Selamat datang tuan Senapati”, berkata cantrik itu yang ternyata masih mengenal Mahesa Pukat sebagai salah seorang yang pernah membangun Padepokan Bajra Seta.

Mahesa Pukat dan Kebo Arema langsung menuju ke Pendapa. Mahesa Murti dengan wajah gembira menyambut kedatangan mereka.

Setelah menanyakan beberapa hal tentang keselamatan masing-masing, akhirnya Mahesa Pukat langsung bercerita tentang maksud kedatangan mereka di Padepokan Bajra Seta.

“Sebuah permainan yang menyenangkan”, berkata Mahesa Murti setelah mendengar penjelasan dari Mahesa Pukat.

Dengan penuh semangat mereka bersama telah membuat beberapa siasat yang diperlukan. Sebagai tiga orang yang sudah mempunyai banyak pengalaman dalam berbagai pertempuran, akhirnya dengan cepat mereka telah membuat beberapa kesepakatan.

“Kita perlu tiga puluh orang cantrik yang bertugas sebagai pasukan caraka di tiga wilayah yang sudah kita tentukan”, berkata Kebo Arema.

Pada saat itu juga Mahesa Murti telah  mengumpulkan tiga puluh orang cantriknya.

“Tugas kalian adalah menjaring berita dengan kepastian, dimana kerusuhan akan terjadi”, berkata Mahesa Murti memberikan beberapa penjelasan kepada ketiga puluh cantriknya yang akan diikutkan membantu tugas rahasia di Kediri sesuai amanat dari Raja Muda Kertanegara.

Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk perbekalan yang diperlukan, beberapa cantrik terlihat telah keluar dari regol pintu gerbang Padepokan Bajra Seta. Agar tidak menarik banyak perhatian, mereka keluar secara bertahap. Sepuluh orang pertama terlihat telah keluar dari Padepokan Bajra Seta bersama Mahesa Pukat.

Berselang tidak begitu lama, sepuluh orang kedua telah keluar bersama Kebo Arema. Diperjalanan mereka berjalan secara terpencar, berdua atau bertiga dan sepertinya tidak saling mengenal. Berbagai cara mereka lakukan untuk menyamarkan jati diri mereka. Ada yang menyamar sebagai pedagang, ada juga yang menyamar sebagai seorang pengembara, bahkan ada yang menyamar sebagai pengemis dengan pakaiannya yang compang-camping lusuh dan kotor.

“Pasrahkan diri kita selalu kepada Gusti Sang Maha Karsa”, berkata Mahesa Murti kepada Padmita yang mengantarnya sampai di pintu regol halaman Padepokan bersama sepuluh orang cantrik sebagai kelompok terakhir yang akan melaksanakan perjalanan tugas rahasianya di Tanah Kediri.

Tiga puluh orang cantrik Padepokan Bajra Seta adalah orang-orang pilihan yang sudah terlatih. Dibawah bimbingan Mahesa Murti mereka telah terbina baik dalam ilmu kanuragan maupun dalam ilmu kajiwan. Namun dalam kesehariaan mereka adalah orang-orang yang sangat bersahaja.

Akhirnya, tiga puluh orang cantrik Padepokan Bajra Seta telah memasuki wilayah Kediri. Mereka tersebar di tiga wilayah yang telah ditentukan tanpa diketahui dan disadari berbaur diantara kehidupan dan keseharian penduduk Kediri.

Hingga malam yang mereka tunggu akhirnya datang juga.

Saudagar Mokar dan keluarganya masih tertidur nyenyak dibiliknya masing-masing. Saudagar Mokar adalah seorang saudagar kuda yang sangat kaya. Di Padukuhan Mekar tempatnya tinggal, rumahnya terlihat paling mencolok diantara rumah-rumah penduduk tetangganya, lebih besar dan terlihat lebih  megah dengan dua buah pilar ukiran jati berdiri menopang anjungan pendapanya.

Sepuluh orang perampok dikegelapan malam telah berhasil masuk lewat dinding pagar halaman yang tidak begitu tinggi.

“Sayangi jiwamu”, berkata seorang perampok yang telah berhasil mendekati seorang penjaga yang tengah bersandar di pendapa.

Hilang rasa kantuk penjaga itu berganti dengan keterkejutan yang sangat menyadari dirinya dalam ancaman senjata yang berkilat tajam mengancam batang lehernya.

Dengan mudah penjaga itu membiarkan dirinya diikat di kayu pilar pendapa. Sementara itu beberapa perampok telah berhasil masuk.

“Jangan menangis !!”, berkata seorang perampok yang telah berhasil masuk kedalam bilik anak gadis Saudagar Mokar.

Sementara dibilik lain, seorang perempuan pelayan juga telah berhasil diamankan.

“Jangan sakiti kami”, berkata saudagar Mokar kepada tiga orang perampok yang telah masuk ke biliknya tengah mengancamnya dengan golok besar yang berkilat tajam. “Suruh istrimu diam!!”, berkata seorang perampok sambil menjulurkan golok besarnya kearah istrinya yang menangis penuh ketakutan.

Akhirnya seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Saudagar Mokar menuruti apapun yang diperintahkan para perampok, termasuk memberitahukan dimana harta perhiasan berharganya disimpan.

“Anak gadismu cukup jelita, tapi karena kamu sangat berbaik hati memberikan semua hartamu, biarlah anak gadismu tidak akan kubawa serta”, berkata seorang perampok dengan deretan gigi emasnya berjejer di atas bibirnya yang tebal setelah mengumpulkan seluruh penghuni rumah didalam satu bilik.

Terlihat sepuluh orang perampok telah menuruni pendapa satu persatu sambil tertawa bangga, merasakan tugas mereka dapat dilakukan dengan begitu mudah.

Tiba-tiba saja mata kesepuluh perampok itu seperti keluar dari batok kepalanya. Mereka sepertinya tengah melihat hantu yang menakutkan.

Kesepuluh perampok itu ternyata melihat seorang berkuda putih dihadapan mereka. Pakaian orang itu serba putih, wajahnya juga terlihat dibalut sebuah kain putih. Hanya wajahnya yang terlihat tajam mengawasi.

“Mengapa wajah kalian begitu penuh ketakutan”, berkata orang itu masih diatas kuda putihnya.

“Kukira dedemit, ternyata kamu manusia”, berkata seorang perampok yang sudah dapat menguasai dirinya tidak merasa takut lagi.

“Aku memang dedemit yang akan mengambil nyawa kalian”, bekata orang itu sambil melompat dari kudanya.

Kesepuluh perampok itu telah tahu apa yang harus dilakukan, mereka segera mengepung orang itu.

Entah dengan cara apa, kesepuluh perampok itu belum sempat mengangkat senjatanya masing-masing, merasakan tangan mereka seperti tergetar, dan dengan pandangan mata yang seperti tidak tahu apa yang  terjadi, senjata mereka telah berpindah tangan.

“Ilmu iblis!!”, berkata salah seorang perampok yang sepertinya pimpinan para perampok itu.

Namun belum lagi berakhir ucapannya, tiba-tiba saja dirasakan batok kepalanya seperti ditampar dua kali dengan tamparan yang kuat. Seketika itu juga pemimpin perampok itu jatuh terhuyung pingsan.

Melihat pemimpin mereka begitu mudah dijatuhkan, kesembilan orang perampok itu nyalinya sudah langsung menciut. Terbesit di dalam pikiran mereka bahwa orang dihadapan mereka memang bukan manusia.

Belum lagi mereka untuk menguasai keadaan, sebuah sentuhan halus telah menyentuh anggota badan mereka. Seketika itu juga mereka merasakan tubuhnya menjadi lemas tak bertenaga. Satu persatu telah jatuh lunglai di halaman rumah itu.

“Menyerahlah, atau nyawa kalian kucabut malam ini”, berkata orang berpakaian putih-putih itu.

“Ampuni jiwa kami”, berkata seorang perampok yang tidak dapat menguasai rasa takutnya.

Orang berpakaian serba putih itu tidak berkata apapun, terlihat berjalan menghampiri seorang penjaga yang masih terikat di kayu pilar penjaga.

“Masuklah kedalam, mungkin junjunganmu telah terkurung di dalam biliknya”, berkata orang itu setelah membuka ikatan tali seorang penjaga. Setelah tali yang mengikat tubuhnya  telah dilepaskan, penjaga itu langsung masuk kedalam rumah. Tidak lama kemudian telah muncul kembali bersama Saudagar Mokar yang terkejut melihat apa yang terjadi di muka halamannya. Kesepuluh perampok yang garang yang sebelumnya telah membuat dirinya dan keluarganya tidak berdaya dibawah ancaman, telah bergelimpangan berbaring di halaman rumahnya sepertinya tidak berdaya lagi.

Mata saudagar mokar terpaku kepada seorang yang sudah duduk diatas kuda putihnya.

“Aku adalah Panglima Angsa Putih, pelindung Raja Muda Kertanegara kekasih para dewa”, berkata orang berpakaian putih diatas kuda putihnya dengan suara yang bergema.

Orang yang memperkenalkan dirinya sebagai Panglima Angsa Putih itupun telah membalikkan arah kudanya berlalu sambil melambaikan tangannya keluar lewat pintu pagar halaman dan menghilang dikegelapan malam.

Gegerlah Padukuhan Mekar itu di pagi harinya. Warga Padukuhan Mekar seperti mendengar kembali dongeng yang selama ini mereka anggap sebuah cerita khayalan belaka para Brahmana tentang Panglima Angsa Putih yang selalu melindungi seorang Raja yang dikasihi para dewa dilangit.

“Ternyata Raja Muda kita adalah kekasih para dewa, Panglima Angsa Putih akan selalu melindungi rakyat Kediri”, berkata seorang petani kepada istrinya yang  telah mendengar cerita perampokan semalam dirumah Saudagar Mokar tetangganya yang kaya raya itu.

Ternyata cerita tentang Panglima Angsa Putih itu seperti angin bertiup menjelajah dari satu padukuhan ke Padukuhan lainnya, dan menjadi pembicaraan yang hangat, di Banjar desa, dipasar dan dikedai.

“Semoga para perusuh dan perampok berpikir ulang melakukan perbuatannya di bumi Kediri ini”, berkata seorang lelaki di sebuah kedai setelah mendengar cerita dari pemilik kedai tentang Panglima Angsa Putih.

Ternyata lelaki itu adalah Senapati Mahesa Pukat, sambil tersenyum menghirup minuman wedang jahenya yang masih hangat.

“Sebuah tugas yang menyenangkan”, berkata Mahesa Pukat kepada dirinya sendiri sambil mengangkat kembali minuman hangatnya.

Dan cerita tentang Panglima Angsa Putih ternyata masih terus berlanjut, tentunya di tempat yang berbeda masih di wilayah Kediri.

Diawali dengan sebuah perampokan disiang bolong atas sekelompok pedagang di perjalanan mereka. Di kedemangan terdekat mereka melaporkan apa yang telah terjadi kepada Ki Jayaraga. Akhirnya didengar juga oleh para cantrik Padepokan Bajra Seta yang tengah melakukan tugas carakanya.

“Aku akan segera mengejar para perampok itu”, berkata Kebo Arema yang telah menerima laporan dari salah seorang cantrik.

Kebo Arema segera mendatangi tempat kejadian dan telah mendapatkan beberapa jejak kemana para perampok itu besembunyi.

Ternyata para perampok itu bersembunyi di sebuah hutan kecil yang jarang sekali didatangi oleh penduduk disekitarnya karena hutan kecil itu dikenal sebagai hutan yang angker, bila tidak ada kepentingan yang sangat mendesak, misalnya untuk mencari bahan obat yang hanya ada di hutan ini, barulah penduduk setempat dengan sangat terpaksa masuk ke hutan ini. Selain itu mereka bepikir dua kali untuk mendatanginya. Konon di hutan ini ada sebuah kejadian sepasang suami istri mati dengan jalan menggantungkan dirinya. Atas kejadian inilah penduduk setempat enggan datang kehutan ini.Mereka percaya bahwa orang yang mati bunuh diri arwahnya terus bergentayangan.

“Baru kali ini aku dapat upah ganda, diupah sebagai perampok dan mendapatkan hasil rampokan”, berkata salah seorang perampok kepada kawannya didepan sebuah perapian yang mereka buat.

“Merampok, berpoya-poya dan merampok lagi”, bekata kawannya menimpali

“Dan berpoya-poya lagi”, berkata kawan yang lainnya yang disambut tawa tergelak-gelak dari yang lainnya yang mendengarkan pembicaraan mereka.

Tiba-tiba saja tawa mereka berhenti, mereka mendengar suara tawa yang lebih keras lagi menggema berasal dari berbagai penjuru.

Para perampok itu seperti membeku ditempatnya masing-masing. Pikiran mereka sudah terbawa kedalam suasana yang menakutkan didalam hutan yang pekat itu. Dari cahaya perapian terlihat wajah mereka yang telah berubah pucat penuh kecemasan.

“Penunggu hutan ini tidak menyukai kehadiran kita”, berbisik seorang perampok kepada kawannya diantara suara tawa yang masih saja terus terdengar bergema.

Kembali mereka dikejutkan oleh sebuah penampakan yang datang dari kegelapan malam di hutan itu seorang yang berpakaian serba putih, wajahnya juga  telah ditutupi sebuah kain putih hingga yang tersisa hanya pada bagian sisi kedua matanya yang terlihat tajam mengawasi mereka.

“Aku adalah Panglima Angsa Putih yang melindungi raja muda Kertanegara yang dikasihi para dewa”, berkata orang itu dari balik kain putih penutup wajahnya.

“Aku tidak percaya dengan dongeng itu, rasakan tajamnya pedangku”, berkata seorang perampok yang ternyata mempunyai ilmu yang paling tinggi diantara kawan-kawannya dengan garang menyerang orang yang memperkenalkan dirinya sebagai Panglima Angsa Putih.

Tapi apa yang terjadi ??

Perampok itu seperti terpental jatuh di tempat dimana pertama ia berdiri sambil sebuah tangannya memegang sebelah dadanya yang terasa sesak.

Ternyata orang yang memperkenalkan dirinya bernama Panglima Angsa Putih itu telah menghajar perampok itu dengan sebuah lecutan cambuk yang keras kearah dada. Terlihat orang itu masih berdiri tersenyum sambil menjurai sebuah cambuk pendek ditangannya.

Beberapa perampok sudah meraba senjatanya masing-masing siap menyerang orang yang mengaku bernama Panglima Angsa Putih.

“Majulah kalian bersama”, berkata Panglima Angsa Putih dengan sikap menantang.

Tujuh orang perampok maju bersama-sama langsung menyerang Panglima Angsa Putih. Dan terjadilah sebagaimana yang terjadi pada perampok pertama.

Tujuh orang perampok terpental kembali ketempat awal mereka berdiri sambil sebuah tangannya menahan sebelah dadanya yang sesak.

Belum lagi rasa gentar mereka menghilang, sebuah kabut putih tiba-tiba saja datang menutupi seluruh penglihatan mereka.

Dalam kebingungan itu, sebuah tamparan keras dirasakan telah menghantam batok kepalanya. Delapan orang perampok itu terjungkal jatuh ditanah. Segaris Warna biru telah menandai masing-masing wajah mereka. Ternyata garis sabetan sebuah cambuk telah menandai wajah mereka.

“Siapa yang masih mengatakan Panglima Angsa Putih sebuah dongeng, kucabut nyawanya hari ini”, bekata Panglima Angsa putih dengan suaranya penuh wibawa terasa menghentak dada.

“Ampuni jiwa kami”, berkata beberapa perampok yang telah ciut keberaniannya merasa takut nyawanya akan segera dicabut.

“Cepat kalian menyerahkan diri ke Kademangan terdekat dan serahkan semua hasil rampokan kalian kepada pemiliknya”, berkata Panglima Angsa Putih dengan suara penuh tekanan yang kembali terasa menghentak dada mereka.

Kabut putih semakin menipis. Panglima Angsa Putih sudah tidak terlihat lagi.

Terlihat dengan wajah penuh ketakutan delapan perampok itu telah keluar hutan kecil berjalan menuju Kademangan terdekat.

Gegerlah beberapa orang dibanjar desa yang melihat kedatangan mereka.

“Mereka adalah orang-orang yang telah merampok kami”, berkata salah seorang pedagang yang ada di Banjar desa Kepada Ki Jayaraga.

“Kami menyerahkan diri”, berkata para perampok itu.

Ki Jayaraga dan orang-orang yang ada di Banjar desa masih belum yakin apa yang mereka dengar.

“Mereka tawanan kalian, perlakukanlah dengan baik”, berkata sesorang yang muncul dari kegelapan malam berkuda putih dan berpakaian putih.

“Panglima Angsa putih”, berbarengan Ki Jayaraga dan orang-orang di banjar desa itu menyebut sebuah nama.

Terlihat Panglima Angsa Putih tengah melambaikan tangannya kepada mereka dan membalikkan arah kudanya dan terus menghilang dikegelapan malam.

Dan keesokan harinya cerita tentang Panglima Angsa Putih kembali menggema menjadi pembicaraan yang hangat hampir di sepenjuru wilayah Kediri.

“Panglima Angsa Putih adalah prajurit para Dewa”, berkata seorang Brahmana menjelaskan tentang Panglima Angsa Putih.

“Apakah ini sebagai pertanda Raja  Muda Kertanegara yang Agung di Kediri sebagai kekasih Dewa?”, bertanya seseorang kepada Sang Brahmana.

“Benar demikian, kasih Dewa hanya untuk para Raja yang telah mengenal Budha-Siwa didalam hatinya”, berkata Sang Brahmana.

Sementara itu di tempat yang berbeda, jauh dari wilayah Kediri, jiwa seorang raja penuh diliput panas amuk angkara. Dadanya seperti bergemuruh penuh kemarahan yang sangat. Dialah Raja Jayakatwang yang tengah menerima laporan dari seorang kepercayaannya tentang hadirnya Panglima Angsa Putih di Tanah Kediri.

“Kalian bodoh, Panglima Angsa putih  adalah dongeng belaka!!!”, berkata Raja Jayakatwang yang tidak percaya tentang Panglima Angsa Putih.

Orang kepercayaannya tidak lagi berani banyak cakap, dia sangat mengenal sifat tuannya.

“Semua adalah muslihat dari Kertanegara yang cerdik, aku mengenal anak itu sejak dulu”, berkata Raja Jayakatwang sambil berpikir mencoba mencari sebuah cara untuk mengimbangi permainan Kertanegara.

“Aku punya cara membuka kedok Kertanegara yang bermain dengan utusan para Dewa itu”, berkata Raja Jayakatwang kepada orang kepercayaannya.

“Tuanku telah menemukan sebuah cara ?”, bertanya orang kepercayaannya itu.

“Kita lakukan gerakan serempak di tiga tempat berbeda”, berkata Raja Jayakatwang menyampaikan siasatnya seperti seorang anak kecil mendapatkan sebuah mainan baru.

“Tetapi Panglima Angsa Putih adalah orang sakti”, berkata orang kepercayaannya penuh keraguan.

“Tetapi tidak mempunyai kesaktian berada di tiga tempat bersamaan”, berkata Raja Jayakatwang penuh keyakinan.

Demikianlah, ketika perintah itu dijatuhkan, para perusuh telah mencari tiga tempat di Tanah Kediri sebagai sasaran kerusuhan mereka.

“Kita harus dapat menyergap mereka”, berkata Kebo Arema yang telah mendapatkan berita tentang rencana kegiatan para perusuh di suatu tempat.

“Kita sergap mereka sebelum melakukan apapun”, berkata Mahesa Pukat kepada seorang cantrik yang telah mencium rencana kegiatan mereka.

Demikian juga Mahesa Murti dan kelompoknya di tempat yang berbeda telah berhasil juga mencium rencana kegiatan para perusuh.

“Gila !!!”, berkata seorang perusuh di suatu malam melihat sebuah lumbung padi terbakar.

Di dua tempat yang sama beberapa perusuh terkejut melihat hal yang sama, sebuah lumbung padi terbakar.

“Ada yang mendahului pekerjaan kita”, berkata salah seorang perusuh ketika memasuki sebuah padakuhan.

Ternyata beberapa cantrik telah mendahului mereka, telah membakar sebuah lumbung padi yang isinya telah mereka kosongkan. Dengan kerja yang rapi tanpa membangunkan pemiliknya.

Namun kebakaran itu akhirnya telah membangunkan banyak orang.

Sementara itu para pesuruh masih bingung harus berbuat apa. Tiba-tiba saja telah muncul Panglima Angsa Putih diatas kuda putih dihadapan mereka.

“Panglima Angsa Putih !!”, berkata salah seorang perusuh yang pernah mendengar tentang Panglima Angsa Putih telah berdiri dihadapan mereka.

“Menyerahlah”, berkata Panglima Angsa  putih kepada sepuluh orang perusuh yang masih terkejut.

“Habisi orang itu, dia hanya sendiri”, berkata seorang perusuh yang sudah dapat menguasai dirinya. Mendengar ucapan kawannya, beberapa perusuh menjadi tersadar. Kepercayaan mereka menjadi tumbuh kembali.

Sepuluh orang perusuh telah mengepung Panglima Angsa Putih.

Masih diatas kudanya, Panglima Angsa putih bertempur dikeroyok sepuluh orang perusuh. Dan hanya dalam satu gebrakan beberapa orang perusuh sudah jatuh bergelimpangan tidak berdaya pingsan.

“Ikat mereka!!”, berkata Panglima Angsa Putih kepada sepuluh orang cantrik yang diam-diam bersembunyi.

Gemparlah para penduduk, setelah mereka besama memadamkan lumbung yang terbakar, mereka menemukan sepuluh orang asing telah terikat dan tergeletak di Banjar Desa.

Semua orang berpendapat bahwa pasti semua itu tidak lain adalah sebuah perlindungan para dewa yang telah mengutus Panglima Angsa Putih untuk melindungi mereka.

“Kami tidak berbuat apapun” berkata seorang perusuh.

Tapi apapun perkataan mereka, para penduduk tetap menganggap merekalah yang bertanggung jawab atas kebakaran lumbung padi di Padukuhan mereka.

Sejak saat itu, Tanah Kediri menjadi daerah yang aman. Disiang hari maupun malam hari. Para perampok sungguhan berpikir dua kali untuk melakukan kejahatan mereka di Tanah Kediri. Mereka mempercayai bahwa Panglima Angsa Putih selalu mengawasi dan menjaga Tanah Kediri. Sementara itu Raja Jayakatwang sudah demikian putus asa. Bermula berencana menghancurkan nama Raja Muda Kertanegara, berbalik melambungkan namanya sebagai Raja Muda yang dikasihi para Dewa.

Demikianlah Raja Muda Kertanegara telah memulai tugasnya di Tanah Kediri tanpa hambatan apapun. Diawali dengan kepercayaan warga Kediri bahwa Raja Muda mereka adalah orang yang dikasihi para Dewa. Raja Muda Kertanegara telah membangkitkan kembali Kediri yang sudah lama tertidur. Dan seluruh warga Kediri dengan penuh kepercayaan yang tulus merasakan bahwa Raja Muda Mereka adalah anugerah para Dewa yang diturunkan di Tanah Kediri.

Di pagi yang cerah dibangsal pribadi Raja Muda Kertanegara.

“Terima kasih untuk semua dan segalannya”, berkata Raja Muda Kertanegara kepada ketiga Panglima Angsa Putih yang berniat mengundurkan diri kembali ketempatnya masing-masing.

“Sebuah permainan yang menyenangkan”, berkata Kebo Arema sambil tersenyum

“Hamba siap kapanpun Baginda membutuhkan diri ini”, berkata Mahesa Murti

“Seluas tanah Singasari, seluas itulah pengabdian hamba sebagai prajurit”, berkata Mahesa Pukat.

“Berbahagialah Bumi Singasari yang telah mempunyai tiga orang Kstria sebagai penjaga dan pelindung yang setia”, berkata Raja Muda Kertanegara penuh haru atas jasa yang telah mereka perbuat.

“Kalau bukan titah Sri Maharaja Singasari, hamba akan senang berdekatan dengan tuanku”, berkata Kebo Arema kepada Raja Muda Kertanegara sahabatnya itu.

Akhirnya, Kebo Arema, Mahesa Murti dan Mahesa Amping mohon pamit diri. Dibawah pandangan Raja Muda Kertanegara, tiga orang sakti itu telah menghilang di tikungan lorong istana.

Dan Tiga ekor kuda telah melewati gerbang istana dibawah tatapan para pengawal yang tidak menyadari bahwa ketiga orang berkuda itulah yang selama ini berperan sebagai Panglima Angsa Putih.

***

Sementara itu jauh dari Tanah Kediri, sebuah jung terlihat tengah berlayar di kegelapan malam dibawah cahaya rembulan dan kerlip jutaan bintang.

Angin berhembus genit mengurai rambut seorang gadis yang berdiri di anjungan. Lentera bahtera yang menggelantung menyinari wajahnya yang putih halus  dan sebaris lukisan bibirnya yang selalu menggambarkan keceriaan.

“Memandang langit yang berhias bulan dan bintang adalah dahaga mata yang tak terpuaskan”, berkata seorang pemuda yang datang menghampiri berdiri disampingnya ikut memandang ke arah mata gadis itu memandang.

“Pemandangan malam diatas anjungan begitu indah”, berkata gadis itu yang ternyata adalah Dara Jingga menoleh sebentar sambil tersenyum kepada pemuda yang menghampirinya.

“Suasana hati adalah bingkai dari lukisan alam yang hidup”, berkata pemuda itu yang ternyata adalah Mahesa Amping sambil memandang jauh kedepan menikmati suasanan malam. “Benar, manakala suasana hati bergembira, alam didepan mata kita Nampak begitu indah”, berkata Dara Jingga membenarkan perkataan Mahesa Amping.

“Hati sendiri adalah alam terdekat yang dapat kita lihat sepanjang hari”, berkata Mahesa Amping sambil memperhatikan wajah Dara Jingga, menilik apakah gadis ini mengerti apa yang diucapkannya.

“Menjaga hati, sebagaimana bejana yang kita bawa dengan penuh kehati-hatian”, berkata Dara Jingga sambil tersenyum kepada Mahesa Amping.

“Itulah rahasia menjaga hati, darimana kamu mendapatkan kata-kata itu ?”, bertanya Mahesa Amping merasa heran bahwa gadis seumur Dara Jingga mampu mengurai sebuah rahasia hati.

“Pendeta Istana selalu mengajarkan tentang hal itu”, berkata Dara Jingga sambil melagamkan sebuah puisi hati.

Aku jauh engkau jauh Aku dekat engkau dekat Hati adalah cermin

Tempat pahala dan dosa berpadu

Tidak terasa Mahesa Amping ikut bersenandung bersama Dara Jingga. Suara mereka semakin merapat terbungkus gemuruh angin dan debur ombak. Biaslah segala pemisah hati bersatu dalam irama sontak kebahagiaan semerdu dewa dewi bersenandung di taman bunga berbaring di hamparan permadani alam rumput hijau yang lembut dalam tatanan kesempurnaan yang indah penuh keelokan.

Dan hari-hari indah pun tersulam diatas kain sutra putih kehidupan dalam bingkai hati yang terpaku sebagai hiasan lukisan abadi.

Sang Senja telah bergayut diatas Bandar Muara Jati ketika sebuah jung merapat.

“Selamat datang tuanku, sembah sujud hamba”, berkata seorang syahbandar Muara Jati menyambut kedatangan Raja Ragasuci yang telah turun dari jung nya.

Seperti diketahui, Bandar Muara Jati pada saat itu masih dibawah kekuaraan Kerajaan Saunggaluh. Tidak heran bila kedatangan Raja Ragasuci mendapat kehormatan yang melimpah.

Malam itu Ragasuci dan rombongannya berkenan beristirahat di rumah Syahbandar Muara Jati yang besar tidak begitu jauh dari pantai. Sebuah pemanjaan yang menyenangkan setelah beberapa hari tersapu angin laut dalam pelayaran yang melelahkan.

Dan malam pun berlalu diatas Bandar Muara Jati dalam kerlap kerlip lampu kehidupan malam ditingkahi suara para wanita malam yang selalu mewarnai setiap sudut remang-remang tempat berlabuhnya para pengembara cinta.

“Empat pria dan tiga wanita”, berkata seseorang kepada kawannya sambil matanya tidak lepas tertuju ke rumah Syah Bandar.

“Terlalu percaya diri untuk seorang Raja”, berkata kawannya

“Besok ia akan menyesal mengapa tidak membawa pengawalan prajurit segelar sepapan”, berkata orang itu.

“Mari kita laporkan kepada sang ketua”, berkata kawannya. Hujan gerimis mengguyur bumi Bandar Muara Jati diujung malam.

Keesokan harinya terlihat tujuh ekor kuda keluar dari rumah besar Syahbandar Muara Jati.

Sudah terbiasa Syahbandar Muara Jati melihat rajanya tanpa pengawalan dan iring-iringan tanda kebesaran Raja.

“Dengan cara ini aku dapat melihat rakyat Saunggaluh dari dekat”, berkata Ragasuci kepada Raden Wijaya ketika mereka sudah jauh dari Bandar Muara Jati.

Jalan yang mereka tempuh adalah jalan jalur yang biasa dilalui para pedagang. Dalam perjalanan mereka kadang bersisipan dengan pedati milik para pedagang.

“Jalan ini melingkari hutan Cigugur”, berkata Ragasuci kepada Raden Wijaya sambil menunjuk didepan mereka sebuah hutan lebat.

“Mengapa kita melingkari hutan itu?”, bertanya Raden Wijaya.

Ragasuci hanya tersenyum mendengar pertanyaan Raden Wijaya.

“Ada sebuah kepercayaan milik orang Pasundan, ditabukan untuk seorang Raja melintasi hutan Cigugur. Bila dilanggar Raja itu akan menanggung kesialan sepanjang hidupnya”, berkata Ragasuci.

“Bagaimana bila yang melintasi hanya orang biasa”, bertanya Lawe yang mendengar percakapan tentang hutan Cigugur.

“Larangan itu hanya berlaku untuk seorang raja, tidak berlaku untuk seorang anak Raja Belang”, berkata Ragasuci sambil tersenyum kepada Lawe. Lawe ikut tersenyum mengingat kembali tentang awal perjumpaan mereka bertemu dengan Datuk Belang dimana Lawe pada saat itu pernah mengaku sebagai putra Raja Belang.

Hari sudah menjelang siang, mereka masih berada di tepi hutan Cigugur. Penglihatan Mahesa Amping telah menangkap beberapa kelebat diantara pohon-pohon besar disisi mereka.

Dan kecurigaan Mahesa Amping ternyata menjadi kenyataan, muncul dari kerimbunan hutan Cigugur puluhan orang menghadang mereka.

“Menyingkirlah!!”, berkata Ragasuci penuh wibawa seorang Raja.

“Ternyata putra Darmasiksa tidak mengenal takut”, berkata seorang yang sepertinya pimpinannya sambil tertawa keras.

“Siapakah kalian?”, bertanya Ragasuci

“Kami orang-orang terbuang dari Pasir Muncang”, berkata orang itu.

“Ternyata kalian orang-orang yang tersesat itu”, berkata Ragasuci kepada orang itu yang ternyata orangorang dari Pasir Muncang. Sebuah kelompok aliran sesat yang pernah dihancurkan oleh ayahnya Gurusuci Darmasiksa puluhan tahun yang lalu yang sering mencuri bayi-bayi tidak berdosa untuk persembahan mereka.

‘Habisi semuanya !!”, berkata orang itu sambil bersuit panjang sebagai tanda kepada pengikutnya untuk bergerak maju.

“Lindungi wanita sebagaimana pusaka”, berkata Ragasuci. Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe menangkap apa yang dikatakan Ragasuci. Dengan cepat mereka telah membentuk lingkaran melindungi Dara Puspa, Dara Petak dan Dara Jingga.

Maka terjadilah sebuah pertempuran di tepi Hutan Cigugur itu. Empat orang lelaki di keroyok oleh puluhan orang dengan berbagai senjata.

Ternyata orang-orang yang mengaku dari Pasir Muncang ini sepertinya sebuah kelompok yang sangat terlatih. Serangannya sangat berbahaya dan sangat teratur seperti ombak bergulung menekan pertahanan Ragasuci dan kawan-kawan.

“Gila!!”, berkata pemimpin itu yang melihat kelompoknya seperti menghadapi batu karang, tidak satupun serangan yang dapat menembusnya.

Rupanya pemimpin orang-orang pasir muncang itu bukan orang yang cepat putus asa. Ketika melihat kenyataan lawannya tidak mudah dilumatkan, sebagai orang yang berilmu tinggi langsung dapat mengukur satu persatu lawannya. Pemimpin itu sudah dapat menilai bahwa orang terlemah diantara empat orang lawannya adalah yang menggunakan dua buah belati yaitu Lawe.

Dengan beberapa petunjuk, serangan ditekankan tertuju ke Lawe.

Lawe memang terlihat agak kewalahan mendapatkan serangan yang keras dan sepertinya hanya tertuju kepadanya.

Untunglah Ragasuci cepat tanggap dan telah dapat membaca gerakan dan tujuan lawan yang ingin menghabisi Lawe terlebih dahulu.

“Cakra berputar!!”, berkata Ragasuci yang langsung dimengerti oleh Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya. Merekapun mengikuti apa yang diinginkan Ragasuci yaitu bergerak searah putaran.

Akibatnya memang luar biasa, siapapun yang mendekati mereka pasti terlempar terluka.

Lawe dengan dua buah belati andalannya banyak melukai orang-orang pasir muncang yang mendekat.

Sementara Mahesa Amping terlihat banyak menggunakan pisau belati pendeknya untuk menangkis senjata lawan, selebihnya menggunakan tangan dan kakinya merubuhkan lawan-lawannya. Namun meski dengan tangan kosong, pukulannya sudah dapat membuat lawannya langsung terlempar pingsan tidak bergerak lagi.

Apa yang dilakukan Mahesa Amping, juga dilakukan Raden Wijaya dan Ragasuci. Senjatanya hanya digunakan untuk menangkis lawan.

Terlihat Dara Petak, Dara Jingga dan Dara Puspa saling berpelukan penuh kecemasan melihat berbagai senjata saling beradu. Seluruh harapan mereka hanya tertumpu pada keempat orang lelaki yang tengah melindunginya.

Pertempuran sudah berlangsung begitu  lama. Banyak sudah jatuh korban diantara para orang-orang Pasir Muncang. Pemimpin mereka cepat menyadari bahwa mereka sepertinya hanya menunggu waktu saja berada di pihak yang akan kalah.

Maka terlihat orang yang menjadi pimpinan itu bersuit tiga kali. Ternyata itu sebagai sebuah tanda bahwa secepatnya mereka mundur.

“Jangan kejar!!”, berkata Rgasuci kepada Lawe yang akan mengejar orang-orang Pasir Muncang yang berlari menghilang dibalik kerimbunan Hutan Cigugur.

“Secepatnya kita meninggalkan tempat ini”, berkata Ragasuci merasa khawatir mereka akan datang kembali. Yang dikhawatirkan Ragasuci sebenarnya adalah tiga orang wanita yang bersama mereka.

Untunglah kuda-kuda mereka masih ada ditempatnya. Maka mereka segera bergegas meninggalkan tempat itu. Meninggalkan beberapa orang yang terluka dan pingsan tergeletak di jalan tanah.

Ketika mereka merasa sudah agak jauh dari hutan Cigugur, barulah mereka memperlambat kuda-kuda mereka.

Sambil berjalan Ragasuci sekilas bercerita tentang orang-orang Pasir Muncang. Beberapa puluh tahun yang lalu, ketika ayahnya Darmasiksa masih menjadi raja telah memberi perintah untuk menumpas sekelompok aliran sesat. Sayangnya sepasukan prajurit telah bertindak melampaui batas. Hampir seluruh wanita dan anak-anak di Pasir Muncang tempat pusat kegiatan mereka ikut menjadi korban.

“Sejak kejadian itu ayahku lebih banyak mengasingkan dirinya, merasa bersalah hingga akhirnya telah memutuskan meninggalkan kerajaan menjadi Gurusuci di Puncak Galunggung”, berkata Ragasuci mengakhiri ceritanya.

Mahesa Amping tidak memberikan komentar apapun.

Dirinya Nampak tengah merenung.

“Mana yang lebih tersesat, membunuh bayi-bayi yang tidak berdosa untuk sebuah persembahan, atau pembantaian para wanita dan anak-anak yang tidak mengerti dan tidak bersangkut paut dengan apa yang dilakukan orang tuanya”, berkata Mahesa Amping  kepada dirinya sendiri.

“Ternyata selama ini mereka bersembunyi dan menyusun kekuatan di hutan Cigugur”, berkata Ragasuci

“Apa yang Paman akan lakukan atas orang-orang itu”, bertanya Raden Wijaya.

“Mungkin aku akan menempatkan beberapa petugas untuk memantau sejauh mana kegiatan mereka”, berkata Ragasuci.

“Semoga mereka tidak lagi melakukan persembahan bayi ”, berkata Mahesa Amping

“Setidaknya hari ini pihak kerajaan harus  mewaspadai bahwa ada kekuatan bersembunyi di hutan Cigugur”, berkata Lawe ikut bicara.

Sementara itu hari sudah terlihat menjelang senja. “Didepan kita ada sebuah hutan perburuan. Ada

pondokan tempat kami biasa bermalam ketika berburu”, berkata Ragasuci menunjuk kesebuah arah.

Akhirnya mereka telah sampai ditepi sebuah hutan. Ternyata apa yang dikatakan Ragasuci tentang sebuah pondokan memang benar adanya. Pondokan itu berupa rumah panggung yang cukup besar.

“Selamat datang tuanku”, berkata seorang pelayan tua yang ternyata seorang yang ditugaskan merawat dan melayani para bangsawan yang akan berburu di hutan itu.

“Selamat bertemu kembali Ki Mantul”, berkata Ragasuci penuh senyum sepertinya mereka sudah begitu akrab. “Apakah tuanku akan berburu?”, bertanya pelayan itu yang dipanggil Ki Mantul oleh Ragasuci.

“Kami hanya singgah”, berkata Ragasuci pendek sambil naik keatas panggung pendapa.

“Sudah dua hari ini hamba melihat banyak burung endonan berkeliaran di sekitar hutan”, berkata Ki Mantul sambil menyiapkan beberapa hidangan makanan dan minuman.

Ternyata perkataan Ki Mantul adalah sebuah isyarat. “Terima kasih Ki Mantul”, berkata Ragasuci yang

telah mengerti isyarat Ki Mantul.

“Setidaknya ada waktu untuk kita beristirahat sepanjang malam”, berkata Mahesa Amping yang juga menangkap makna perkataan Ki Mantul.

Ki Mantul dan Ragasuci sama-sama memandang kepada Mahesa Amping dengan sebuah senyuman. Diam-diam mengagumi ketajaman bathin dari pemuda itu.

Malam itu mereka beristirahat di pondokan tepi hutan itu. Namun Mahesa Amping telah meminta Lawe dan Raden Wijaya untuk selalu waspada. Seperti biasa mereka secara bergantian berjaga sepanjang malam.

Dan malam pun berlalu di hutan itu tanpa ada gangguan apapun, hanya terkadang ada suara anjing hutan membuat suasana malam menjadi begitu mencekam. Namun Dara Puspa, Dara Petak dan Dara Jingga sepertinya tidak mendengar semua itu karena sudah tertidur nyenyak. Mereka merasa ada didalam perlindungan empat orang lelaki yang berilmu tinggi. Mereka mempercayai itu dan merasakan diri seperti berada dalam perlindungan prajurit segelar sepapan, meskipun ditepian hutan yang sepi sekalipun.

Dan pagipun akhirnya datang jua. Ki Mantul sudah menyiapkan sarapan untuk mereka.

“Ki Mantul pandai mengolah masakan”, berkata Lawe sambil mengunyah dendeng kijang muda.

“Hutan ini telah memberikan hidup dan kehidupan untuk dinikmati”, berkata Ki Mantul menanggapi perkataan Lawe.

Matahari sudah mulai memanjat naik. Cahayanya terlihat masuk lewat celah-celah ranting dan dahan pepohonan. Daun-daun kering yang berserak ditanah sudah mulai menghangat. Suasana hutan sudah terlihat jelas. Pohon-pohon kayu besar dan tinggi menjulang rapat mengelilingi pondokan itu memberikan keteduhan bersama suara burung hutan dalam berbagai kicau yang tak terputus. Sebuah wisata alam yang sangat berkesan terutama untuk Dapa Puspa, Dara Petak dan Dara Jingga yang untuk pertama kalinya datang di Tanah Pasundan.

Namun suasana itu sepertinya hilang berubah menjadi sebuah kecemasan yang menghentak mengejutkan manakala dari sisi-sisi pohon kayu besar itu muncul beberapa orang yang terlihat sangat garang dan berpakaian kasar dengan berbagai senjata telanjang di tangan-tangan mereka.

“Semalam kami telah memberikan kalian istirahat yang cukup, sayang bila hari ini adalah hari terakhir kalian menikmati cahaya matahari”, berkata seseorang dari bawah panggung pendapa sambil tertawa yang diikuti dengan tawa semua kawan-kawannya yang sudah terkumpul dengan senjata siap ditangan. “Ki Mantul aku tugaskan menjaga para wanita”, berkata Ragasuci kepada Ki Mantul dan langsung turun menuruni anak tangga diikuti di belakangnya Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe.

“Siapa kalian dan apa urusan dengan kami”, berkata Ragasuci setelah berhadapan dengan para gerombolan.

“Ditempat asalku di Gunung Pangrango, orang-orang biasa memanggilku Bango samparan”, berkata seseorang yang mengaku bernama Bango Samparan yang ternyata pimpinan para gerombolan yang baru datang mengepung rumah pondokan itu.

“Ternyata Bango Samparan yang terkenal itu cuma sebagai orang upahan untuk membuat kekacauan disini”, berkata Ragasuci penuh percaya diri

“Aku kagum berhadapan dengan seorang Raja yang tidak mengenal rasa takut, sayang tugasku kali ini hanya untuk membawa sebuah kepala raja tanpa tubuh yang utuh”, berkata Bango Samparan sambil bertolak pinggang.

“Ternyata harga kepalaku cukup bernilai sampai jauhjauh dari Gunung Pangrango datang kemari”, berkata Ragasuci kali ini dengan senyum dikulum.

“Kutawarkan jalan yang mudah, julurkan lehermu di dekatku agar aku dapat memilih urat yang baik tanpa rasa sakit”, berkata Bango Samparan dengan wajah penuh jumawa.

“Sayangnya leherku sangat alot untuk senjata murahan yang kamu miliki”, berkata Ragasuci sambil menunjuk golok besar yang ada di tangan Bango Samparan.

Mendengar senjatanya dihina, darah Bango Samparan langsung naik sampai ke ubun-ubun.

“Kawan-kawan, habisi semua orang yang ada disini

!!”, berkata Bango Samparan dengan suara bergetar tanda kemarahannya telah terbakar dibarengi dengan lompatan panjang menerjang Ragasuci dengan golok panjangnya yang terlihat bening berkilat tanda bukan senjata sembarangan.

Bersamaan dengan itu, kawan-kawannya langsung merubung Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya yang berjajar di bawah tangga panggung menjaga agar tidak seorangpun dapat naik ke atas pendapa.

Maka terjadilah dua kelompok pertempuran yang terpisah. Yaitu pertempuran antara Bango Samparan seorang diri tanpa ikut campur kawan-kawannya dengan Ragasuci. Sementara kelompok kedua adalah para gerombolan yang menyerang Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya yang sepertinya menjaga agar tidak ada yang dapat menerobos naik keatas panggung.

“Ternyata Baginda Raja bersama orang-orang yang dapat diandalkan, pantas aku cuma diperintahkan sebagai penonton”, berkata Ki Mantul dalam hati sambil melihat pertempuran dari atas panggung pendapa. Dilihatnya Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya dengan mudah melempar siapapun yang datang mendekat dengan begitu mudahnya.

“Tuanku Baginda masih bermain-main”, berkata Ki Mantul kepada dirinya sendiri ketika menilai pertempuran Ragasuci dengan Bango Samparan.

Ternyata mata Ki Mantul cukup jeli. Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe memang tidak mendapatkan kesulitan. Sebentar saja kekuatan para gerombolan penyerang itu semakin menyusut. Siapapun yang mendekati tiga pemuda perkasa ini pasti terlempar jatuh terluka bahkan ada yang langsung pingsan.

Sementara itu pertempuran antara Ragasuci dan Bango Samparan dari Gunung Pangrango terlihat masih belum menunjukkan ketinggian ilmunya masing-masing.

Nampaknya mereka masih saling menjajaki sejauh mana tingkat ilmu lawan. Sebagaimana yang dilihat oleh Ki Mantul, Ragasuci masih belum mengeluarkan ilmunya pada tataran tingkat tinggi, hanya mengandalkan pada kecepatan geraknya.

Bukan main penasarannya Bango Samparan, kemanapun golok panjangnya menyambar, selalu dapat dielakkan oleh Ragasuci tanpa kesukaran.

Setingkat demi setingkat Bango Samparan meningkatkan tataran ilmunya, namun bersamaan dengan itu Ragasuci terus mengimbanginya.

“Gila, masih saja ia dapat menghindar dengan mudah”, berkata Bango Samparan dengan penuh penasaran.

Sementara itu kekuatan para gerombolan yang menghadapi Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya sudah semakin menyusut. Jumlah mereka saat itu cuma tinggal tujuh orang. Meski hati mereka sudah digyuti perasaan gentar menghadapi ketiga pemuda itu, dengan terpaksa mereka terus menyerang.

“Hayo jangan surut, aku masih siap melayani kalian”, berkata Lawe sambil menendang seorang lawannya yang terlihat sudah agak jerih. Keraguan itu pun berimbas langsung pada pingganggnya yang dengan mudahnya terkena sambaran kaki Lawe. Orang itu langsung jatuh tersungkur dengan tulang iga terasa retak dihantam kaki Lawe dengan kekuatan seperti batu cadas keras sebesar kerkau.

Tapi orang itu masih bersukur dalam hati karena tidak menjadi korban dua bilah belati Lawe sebagaimana kawannya yang terlihat hampir mati lemas kehabisan darah ditikam belati Lawe yang seperti bermata merobek pangkal pahanya.

Mahesa Amping dan Raden Wijaya menarik napas panjang melihat para korban yang berjatuhan oleh Lawe. Dapat dikatakan rata-rata mendapatkan luka parah.

Sementara Mahesa Amping dan Raden Wijaya hanya sekedar melumpuhkan lawannya tanpa menciderakan dengan pukulan ringan dan dengan kekuatan yang masih dapat terukur tidak sepenuhnya.

Lucunya, para gerombolan itu lebih memilih melawan Raden Wijaya dan Mahesa Amping ketimbang menghadapi Lawe yang dalam pandangan mereka lebih bengis.

“Ternyata lapakku sudah tidak laku lagi”, berkata Lawe sambil bertolak pinggang tertawa melihat lawanlawannya menyingkir memilih menyerang Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

Buk !!!!

Sebuah pukulan Raden Wijaya telak menghantam dada seorang lawannya yang langsung terjengkang ke belakang pingsan.

Plak !!!

Sebuah tamparan keras Raden Wijaya menghantam tepat dirahang kanan lawannya yang langsung merasakan bumi menjadi gelap dan langsung roboh di tempatnya, lemas tak bertenaga lagi. Desssss !!!!

Kembali sebuah tendangan Raden Wijaya tidak dapat dielakkan lawannya langsung terlempar jatuh duduk dengan nafas sesak terasa hampir putus berhenti.

Melihat Raden Wijaya dan Lawe sudah tidak mempunyai lawan lagi, Mahesa Amping ikutan tidak sabaran.

Plak, plak, plokkkkkkk !!!!!

Tiga gerakan Mahesa Amping yang begitu cepat  tidak dapat diikuti dengan pandangan mata orang biasa telah merobohkan tiga orang lawannya sekaligus. Masing-masing merasakan giginya rontok akibat sebuah pukulan yang telak entah dengan cara apa telah hinggap di rahang kiri masing-masing. Terasa bumi menjadi gelap dan berputar. Mereka roboh ditempatnya seperti kain basah jatuh di tanah.

“Luar biasa !!!”, berkata Ki Mantul yang melihat langsung gerakan Mahesa Amping yang begitu  cepat dan hampir tidak dapat diikuti dengan kasat mata.

Sementara itu Dara Puspa, Dara Petak dan Dara Jingga sudah dapat menarik nafas lega setelah melihat dari atas panggung Pendapa hampir seluruh gerombolan bergelimpangan tidak berdaya lagi. Meski begitu hati mereka belum tuntas hilang kecemasannya ketika melihat Ragasuci masih bertempur menghadapi seorang lawannya.

“Sebentar lagi Tuanku Baginda akan menyelesaikan pertempurannya”, berkata Ki Mantul kepada Dara Petak, Dara Puspa dan Dara Jingga yang dilihatnya masih menghawatirkan hasil pertempuran Ragasuci.

Ternyata dugaan Ki Mantul tidak meleset jauh. Ragasuci sudah dapat melihat kekuatan Bango Samparan sudah semakin surut tidak seganas sebelumnya. Ternyata kecerdikan Ragasuci adalah dalam hal memancing lawan mengerahkan tenaganya sampai habis kelelahan.

Hingga pada sebuah serangan, Ragasuci tidak menghindar tapi langsung mengadu dan menangkis golok panjang Bango Samparan dengan kerisnya.

Trangggggg !!!!

Sebuah suara dua buah senjata beradu dengan kuat dan cukup keras.

Bango Samparan merasakan tangannya seperti panas tergetar, hampir saja senjatanya terlepas bila saja tidak berusaha menggenggam dengan kuat. Sekejap Bango Samparan pun terperanjat kaget.

Disaat yang singkat itulah, Ragasuci mengambil kesempatan dengan menyentakan kaki kirinya langsung menghujam perut Bango Samparan dengan begitu cepat dan tak terduga.

Bukkkkkk !!!!

Tendangan Ragasuci merangsek masuk ke perut Bango Samparan seperti tertimpa dan terhantam benda berat ratusan ton.

Bango Samparan tidak mampu menahan tubuhnya yang terlempar sekitar lima langkah ke belakang dan langsung terjatuh.

Ragasuci tidak segera mengejarnya, membiarkan Bango Samparan yang terlihat bangkit sambil menahan rasa nyeri dan napas sesak akibat tendangan Ragasuci yang keras menghantam perutnya. “Apakah kamu masih kuat untuk melanjutkan pertempuran ini?”, berkata Ragasuci sambil menebarkan senyumnya.

“Jangan merasa bangga dulu”, berkata Bango Samparan sambil memutar golok panjangnya menerjang Ragasuci.

Tubuh Ragasuci melenting kesana-kemari menghindari setiap serangan dan terjangan Bango Samparan yang sepertinya semakin keras dan garang. Seperti itulah Ragasuci menguras tenaga lawannya.

Hingga akhirnya Ragasuci melihat Bango Samparan serangannya sudah semakin melemah dan tidak garang lagi.

Trangggg !!!

Kembali dua buah senjata beradu. Bango Samparan terhuyung ke samping tidak dapat menahan hentakan senjata Ragasuci yang sengaja dibenturkan menangkis ayunan golak panjangnya.

Kembali sebuah tendangan melingkar menghantam pangkal paha Bango Samparan yang tengah terhuyung. Akibatnya Bango Samparan terlempar beberapa langkah dan langsung terjatuh dengan merasakan seluruh kaki kirinya seperti lumpuh tidak dapat digerakkan.

“Menyerahlah, semua anak buahmu telah kami lumpuhkan !!”, berkata Ragasuci sambil perlahan mendekati Bango Samparan yang tidak mampu bangkit berdiri merasakan pangkal paha kaki kirinya seperti remuk bagian tulang dalamnya.

“Aku mengaku kalah”, berkata bango Samparan sambil melempar golok panjangnya. Nyalinya ternyata sudah menciut melihat seluruh anak buahnya telah dilumpuhkan, sementara dirinya sendiri tidak mampu bangkit berdiri.

Bango Samparan pasrah tidak menolak ketika Ki Mantul turun dari panggung pendapa mengikat kaki dan tangannya.

Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya ikut membantu mengikat para tawanan. Beberapa orang yang terluka parah mendapatkan perawatan juga dari mereka.

Sementara itu matahari sudah bergeser sedikit dari puncaknya. Cahayanya menembus lewat ranting dan dahan di tepian hutan yang cukup rindang itu.

“Hati-hatilah di perjalanan”, berkata Ragasuci melepas Ki Mantul berangkat ke Kotaraja untuk mendatangkan beberapa prajurit datang mengawal para tawanan”

Berangkatlah Ki Mantul seorang diri ke Kotaraja dengan menunggang seekor kuda. Sebuah perjalanan yang tidak asing lagi bagi Ki Mantul. Hampir setiap beberapa minggu sekali dirinya harus datang ke Kotaraja dalam berbagai keperluan.

Ki Mantul memang sudah cukup berumur, tapi ketangkasan berkudanya masih terlihat belum berubah.Terlihat Ki Mantul telah keluar dari tepi hutan menyusuri padang ilalang yang luas dan ketika menemui jalan tanah panjang kudanya dihentakkan agar berlari lebih kencang lagi. Debu beterbangan di belakang kaki kuda yang berlari seperti terbang.

Akhirnya Ki Mantul telah sampai di Kotaraja Kawali. Malam telah menyelimuti Kotaraja Kawali. Jalan-jalan sudah menjadi begitu sepi. Nampak Rumah-rumah besar milik para pembesar dan bangsawan yang berjejer sepanjang jalan telah menyalakan oncor di depan pintu regolnya.

“Tidak biasanya Ki Mantul berkunjung ke Istana di malam seperti ini”, berkata seorang prajurit kepada dua orang kawannya yang sudah mengenal Ki Mantul yang terlihat tengah menuntun kudanya menghampiri mereka.

“Apakah di Istana Saunggaluh ini sudah kekurangan petugas, hingga Ki Lurah Gembleh harus ikut berjaga?”, berkata Ki Mantul kepada salah seorang prajurit yang ternyata telah dikenalnya.

Sahabat Ki Mantul yang disebut sebagai Ki Lurah Gembleh itupun terlihat tersenyum mendengar seloroh Ki Mantul.

“Harusnya akulah yang bertanya, ada hal penting apa Ki Mantul datang ke istana di tengah malam seperti ini”, berkata Ki Lurah Gembleh.

“Apakah adat istiadat urang pasundan sudah hilang  di nagari ini menyambut tamu dengan pertanyaan, bukan dengan wedang jahe hangat?”, berkata Ki Mantul yang disambut tawa hangat oleh Ki Lurah Gembleh dan dua prajurit kawannya.

Akhirnya Ki Lurah Gembleh mengajak Ki Mantul ke gardu jaga. Seorang prajurit menyiapkan minuman hangat untuk Ki Mantul serta beberapa jagung rebus.

“Jagung rebusnya sudah dingin”, berkata Ki Lurah Gembleh kepada Ki mantul.

Ki Mantul akhirnya bercerita tentang kejadian di rumah singgah hutan perburuan.

“Aku akan menyiapkan beberapa prajurit pengawal istana besok pagi”, berkata ki Lurah Gembleh. “Terima kasih”, berkata Ki mantul.

“Mudah-mudahan tuan Patih Manohara mau menerima penghadapanku”, berkata Ki Lurah Gembleh dengan keraguan apakah istana kepatihan dapat menerima penghadapannya di tengah malam itu.

“Aku menunggu kabar hasil penghadapanmu”, berkata Ki Mantul mengantar keberangkatan Ki Lurah Gembleh.

Ki Lurah Gembleh terlihat menyusuri lorong-lorong istana seorang diri. Ketika sampai di istana Kepatihan, kepada seorang prajurit pengawal yang bertugas menjaga istana kepatihan Ki Lurah Gembleh menyampaikan maksud kedatangannya.

“Aku akan membangunkan pelayan dalam”, berkata prajurit itu yang langsung masuk kedalam untuk membangunkan seorang pelayan dalam.

Sementara itu Ki Lurah Gembleh di pendapa menunggu dengan perasaan cemas, takut penghadapannya di tengah malam itu tidak diterima.

“Ampun tuanku Patih, hamba telah menggangu istirahat tuanku”, berkata Ki Lurah Gembleh ketika dari balik pintu pendapa keluar seorang tua yang cukup keren berwibawa.

“Aku telah mendengar apa yang akan kamu sampaikan kepadaku, urusan prajurit pengawal adalah menjaga istana, urusanmu malam ini telah selesai. Serahkan semua urusan kepadaku”, berkata Patih Manohara kepada Ki Lurah Gembleh.

“Terima kasih atas penerimaan penghadapan hamba”, berkata Ki Lurah Gembleh berpamit mengundurkan dirinya. Ketika sampai di gardu jaga, Ki Lurah Gembleh menceritakan semua yang dikatakan Patih Manohara kepada Ki Mantul.

“Maafkan aku, Patih manohara telah mengambil alih urusan ini”, berkata Ki Lurah Gembleh dengan wajah penuh kecewa karena tidak dapat membawa prajurit pengawal istana mengambil para tawanan.

“Ki Lurah telah melakukan tugas sesuai kewajiban, dari kesatuan manapun prajurit yang ditugaskan mengambil para tawanan bukan menjadi masalah”, berkata Ki Mantul yang dapat menyelami perasaan Ki Lurah Gembleh.

“Aku tidak menunggu pagi, saat ini juga aku akan kembali. Kasiahan Baginda Raja di sana tidak ada yang melayani”, berkata Ki mantul.

“Ki Mantul tidak lelah?”, bertanya Ki Lurah Gembleh kepada sahabatnya itu.

Hari memang sudah di ujung malam, semburat warna merah sudah muncul mencuat diujung timur. Tidak ada semilir angin dan bumi masih terlihat remang dalam kegelapannya.

Terlihat kuda Ki Mantul telah keluar dari gerbang Kotaraja. Kuda itu sepertinya sudah mengenal setiap tapak yang dilalui. Menyusuri jalan tanah yang panjang, kadang memotong arah jalan singkat di bulakan panjang dan padang ilalang.

Barulah di saat matahari sudah naik tinggi kuda Ki Mantul sudah hampir mendekati tepian hutan Ranggan, nama sebuah hutan tempat Raja dan para bangsawan Saunggaluh biasa berburu.

“Syukurlah Ki Mantul telah kembali tanpa halangan apapun”, berkata Ragasuci setelah mendengar laporan dari Ki Mantul yang baru kembali dari Kotaraja.

“Semula Ki Lurah Gembleh akan mengirim para prajurit pengawal istana, tapi Patih Manohara telah mengambil alih urusan ini”, berkata Ki Mantul bercerita tentang rencana semula dari Ki Lurah Gembleh.

“Mungkin Patih Manohara mempunyai perhitungan sendiri”, berkata Ragasuci tanpa prasangka apapun.

Namun ketika hari sudah mendekati senja di hutan Ranggan, prajurit yang ditunggu tidak juga datang.

“Harusnya mereka sudah sampai di hutan ini”, berkata Ki Mantul merasa tidak enak hati takut disangka tidak melakukan tugas dengan baik.

“Ada sesuatu yang aneh”, berkata Ragasuci sambil memberi tanda kepada semua yang ada di pendapa itu. Dan ketika hari telah melewati senja, para prajurit yang diharapkan datang tidak juga terlihat.

Malampun telah menyelimuti hutan Kranggan. Ki Mantul telah menerangi panggung Pendapa dengan lampu klenting menempel di sudut tiang pendapa. Dua buah oncor dari minyak jarak juga dipasang didua sudut kolong panggung dimana para tawanan terikat di tiangtiang penyangganya bersesakan.

Rumah singgah itu nampak begitu sepi, penghuninya sudah masuk semua dibiliknya masing-masing. Suara daun kering yang tertiup angin dihalaman muka rumah panggung itu kadang mengisi kesepian malam diselingi derik suara binatang malam menjadikan rumah singgah di tepi hutan itu seperti sangat mencekam. Bunyi burung clepuk terdengar jelas dan masih terdengar sayup pergi semakin menjauh, mungkin tengah mencari anak-anak tikus yang tersasar terlepas dari induknya. Disudut hutan lain terdengar pekik kodok buduk yang perlahan masuk sedikit demi sedikit dimulut seekor ular dahan sebagai salah satu bunyi perangkap alam di kehidupan malam di hutan Kranggan.

Sesosok bayangan dari kegelapan hutan terlihat merayap mendekati kolong panggung.

“Dimana Bango Samparan !!”, berkata sesorang yang datang dari kegelapan hutan itu mengguncang membangunkan salah satu tawanan.

“Carilah sendiri”, berkata tawanan itu dengan perasaan kesal.

“Warangan keris ini sangat kuat, katakan atau kamu mati sia-sia”, berkata orang itu sambil menempelkan sebilah kerisnya di leher tawanan itu.

Keringat dingin terlihat keluar dari dahi tawanan itu membayangkan sedikit goresan melukai kulit lehernya.

“Kakang Bango Samparan dibawa keatas”, berkata tawanan itu.

Orang itu pun meninggalkan tawanan itu berjalan menuju tangga panggung pendapa.

Namun baru saja kakinya melangkah pada anak tangga pertama, ada suara menegurnya dari belakang.

“Orang yang kau cari ada diatas dijaga oleh dua orang kawanku”, berkata orang di belakang yang tidak lain adalah Mahesa Amping.

Ternyata setelah menunggu para prajurit yang akan datang untuk membawa para tawanan hingga sampai lewat senja tidak juga muncul, maka semua telah  sepakat ada sesuatu yang harus diwaspadai. Itulah sebabnya Bango Samparan sebagai mata rantai yang sangat penting itu dibawa keatas panggung dimasukkan di salah satu bilik dan dijaga ketat oleh Raden Wijaya dan Lawe. Sementara itu Mahesa Amping ditugaskan mengamati para tawanan bersembunyi di kegelapan malam. Hingga akhirnya yang ditunggu datang juga. Mahesa Amping melihat jelas mulai orang itu menyelinap diantara para tawanan, mengancam seorang tawanan dan ketika akan naik ke atas rumah panggung.

Bukan main kagetnya orang itu, sedikit pun ia tidak mendengar langkah apapun. Langsung dirinya menebak bahwa orang dibelakangnya pasti mempunyai ilmu yang tinggi.

Namun ketika dirinya berbalik badan, keberaniannya kembali berkembang, karena orang dibelakangnya itu ternyata hanya seorang pemuda.

“Terpaksa aku harus membungkam dirimu anak muda”, berkata orang itu sambil menggenggam kerisnya lebih kuat lagi.

“Sebelum kamu bungkamku, dirimu akan kuringkus terlebih dahulu”, berkata Mahesa Amping sambil menyunggingkan senyumnya.

“Besar sekali nyalimu anak muda”, berkata orang itu heran melihat tidak ada rasa takut sedikit pun di wajah Mahesa Amping bahkan dapat dikatakan sangat penuh ketenangan dan percaya diri penuh. “Sayang umurmu cuma sampai dimalam ini”, berkata kembali orang itu sambil menerjang dengan kerisnya ke arah dada Mahesa Amping.

Tapi Mahesa Amping sudah siap sejak semula. Dengan cepat telah melenting ke samping. “hanya Gusti Agung yang menentukan umurku”, berkata Mahesa Amping ketika dirinya terlepas dari serangan orang itu. Cahaya lampu klenting dan oncor dibawah panggung sedikit menerangi halaman rumah singgah itu. Sekilas Mahesa Amping dapat melihat jelas wajah orang itu yang ternyata sudah cukup berumur. Namun sosok tubuhnya masih terlihat gagah sebagai tanda bahwa orang itu cukup banyak terlatih semasa mudanya.

“Keriskulah yang akan mengambil nyawamu”, berkata orang itu sambil langsung mengayunkan kerisnya.

“Gusti Agung telah menyelamatkan diriku”, berkata Mahesa Amping sambil mundur sedikit menghindari ayunan keris dari orang itu yang mengayun begitu cepat.

Bukan main penasarannya bahwa Mahesa Amping dapat kembali lolos dari serangannya yang menurutnya telah dilakukan dengan begitu cepat, dan Mahesa Amping dapat mengimbangi kecepatannya.

Dengan penuh penasaran orang itu kembali menyerang Mahesa Amping, kali ini dengan menghujamkannya langsung masuk agak miring kebawah tertuju pinggang Mahesa Amping.

Kaget sekali Mahesa Amping melihat gerakan yang tidak terduga itu. Tapi bukan Mahesa Amping bila tidak dapat lolos dari serangan itu.

Kali ini Mahesa Amping tidak menghindar lagi sebagaimana sebelumnya, tapi kali ini Mahesa Amping menangkis hunjaman keris orang itu yang meluncur cepat dengan sebuah tangkisan belati kecilnya.

Trangggg !!!

Terdengar dua buah senjata beradu dengan kerasnya.

Bukan main kagetnya orang itu merasakan tangannya seperti panas, keris di tangannya hampir saja terlepas dari genggamannya yang langsung melompat mundur sambil melihat tangannya dengan wajah tidak percaya.

“Baru kali ini aku mendapat lawan setangguh dirimu anak muda”, berkata orang itu sepertinya seorang yang biasa berkata jujur apa adanya dan tidak menyembunyikan perasaannya.

“Kalau boleh tahu siapakah gerangan Paman yang dengan susah payah datang kemari hanya untuk melenyapkan seorang Bango Samparan”, berkata Mahesa Amping berharap orang dihadapannya dapat berkata jujur.

“Namaku Kujang Gundul dari lereng Gunung Salak, mengenai Bango Samparan itu adalah urusanku”, berkata orang itu yang mengaku bernama Kujang Gundul dari lereng Gunung Salak.

“Urusanmu pada Bango Samparan adalah urusanku juga, karena ia adalah tawananku”, berkata Mahesa Amping.

“Kutinggalkan lereng Gunung Salak hanya untuk menjajaki ilmuku, baru kali ini aku mendapat lawan setangguh dirimu”, berkata Kujang Gundul sambil menatap tajam Mahesa Amping. “Lupakan urusan Bango Samparan, seleraku saat ini hanya ingin menjajaki ilmu kita”, berkata Kujang Gundul melanjutkan.

Mahesa Amping berkerut keningnya mendengar ucapan orang itu, baru kali ini ada orang yang punya kesukaan menjajagi ilmu sebagai sebuah kesenangan.

“Kalau itu yang paman inginkan, mari kita bermainmain”, berkata Mahesa Amping dengan sikap seperti seseorang yang tengah mempersiapkan diri memulai perkelahian.

Kujang Gundul pun nampaknya telah mempersiapkan dirinya. Kali ini terlihat penuh hati-hati dan tidak lagi meremehkan anak muda yang menjadi lawannya.

Maka terjadilah pertempuran seru antara Mahesa Amping dan Kujang Gundul.

Seperti biasa Mahesa Amping tidak pernah meremehkan siapapun lawannya. Penuh kehati-hatian dalam setiap langkahnya. Setingkat demi setingkat Mahesa Amping terus mengimbangi lawannya.

Semakin lama bertempur, Kujang Gundul semakin mengagumi ilmu Mahesa Amping. Baru kali ini ia mendapatkan lawan tangguh. Kujang Gundul seperti anak kecil mendapatkan mainan baru. Setahap demi setahap telah meningkatkan ilmunya.

Ratusan jurus telah dikeluarkan oleh Kujang Gundul untuk melumpuhkan lawannya. Tapi Mahesa Amping bukan lawan yang lemah tidak mudah dikalahkan.

Diam-diam Kujang Gundul mengeluarkan ilmu andalannya yang bernama ajian Panguncen, sejenis ilmu yang akan membuat lawan kaku tidak bergerak.

Tapi Mahesa Amping adalah seorang pemuda yang waskita, dengan cepat menyadari ada getaran tidak lumrah lewat angin sambaran tangan Kujang Gundul. Tanpa disadari kepekaan dirinya telah melambari dengan sendirinya tameng penawar.

“Semuda dirimu sudah dapat menawarkan ilmuku”, berkata Kujang Gundul dengan jujurnya ketika usahanya untuk mengunci gerakan Mahesa Amping tidak juga pernah berhasil. “Gusti yang Maha Agung telah melindungiku paman”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum.

“Aku ingin melihat sampai dimana kekuatannmu”, berkata Kujang Gundul sambil mengayunkan kerisnya.

Sungguh menegangkan, sebuah cahaya merah keluar dari keris itu menyambar ke arah Mahesa Amping. Untungnya Mahesa Amping dengan ilmu meringankan tubuhnya yang nyaris sempurna telah dapat melenting kesana kemari menghindari setiap kilatan yang keluar dari ujung keris itu.

Hingga akhirnya pada saat yang sangat terjepit, Mahesa Amping tidak mungkin lagi melenting menghindar. Dengan sangat terpaksa Mahesa Amping mengeluarkan ilmu kesaktiannya yang jarang sekali dikeluarkan hanya dalam keadaan terpaksa.

Sebuah cahaya keluar dari dua mata Mahesa Amping menghantam kilatan merah yang berasal dari ujung keris Kujang Gundul.

Akibatnya memang luar biasa !!!!! Duarrrrrrrrr

Terdengar sebuah ledakan yang dahsyat dengan bertemunya dua kekuatan ilmu.

Terlihat tubuh Kujang Gundul terlempar beberapa langkah kebelakang. Matanya tidak percaya dengan apa yang terjadi, kerisnya telah hancur berkeping keping dan dirinya seperti terhantam benda berat dan besar tanpa wujud langsung menyesakkan dadanya. Kujang Gundul berbaring di tanah tanpa mampu bangkit berdiri.

Perlahan Mahesa Amping mendekati Kujang Gundul. “Katakan Paman, siapakah yang menentukan umurmu, belati ini atau Gusti yang Maha Agung”, berkata Mahesa Amping meletakkan belatinya dileher Kujang Gundul.

Kujang Gundul masih berbaring tanpa dapat menggerakkan badannya merasakan tubuhnya seperti mati gerak. Sementara di lehernya merasakan dingin menyentuh kulitnya sebuah belati yang sangat tajam. Tiba-tiba teringat puluhan orang yang harus mati ditangannya. Dan kali ini dirinyalah yang akan sebentar lagi mengalami sebuah kematian.

“Katakan Paman, siapa yang menentukan umurmu”, kembali Mahesa Amping berkata kepada Kujang Gundul.

“Engkaulah yang menentukan umurku”, berkata Kujang Gundul pasrah berdebar menunggu saat kematian yang menurutnya sebentar lagi akan ditemuinya.

“Aku tidak punya kuasa, Yang Maha Agung lah kekuasaan itu”, berkata Mahesa Amping.

“Bukankah dengan sedikit gerakan, belatimu dapat memutuskan urat leherku?”, berkata Kujang Gundul perlahan masih dengan perasaan putus asa.

“Tanganku adalah bagian kekuasaan dan kekuatan Gusti yang Maha Agung”, kembali Mahesa Amping berkata.

“Gusti yang Maha Agung??”, bertanya Kujang Gundul sambil tersenyum memandang Mahesa Amping.”hari ini aku melihat Gusti yang Maha Agung sepertinya tengah menungguku untuk menghukumku atas apa yang telah kuperbuat selama ini, membunuh, memperkosa dan merampas harta orang-orang yang tidak berdaya” berkata Kujang Gundul perlahan. “Jadi hari ini kamu telah melihat kekuasaanNYA ?, bertanya Mahesa Amping.

“Aku melihatnya sebagai wajah penghukum”, berkata Kujang Gundul perlahan.

“Gusti yang Maha Agung adalah pengasih dan penerima tobat”, berkata Mahesa Amping masih menepelkan belatinya di ujung kulit leher Kujang Gundul.

“Dosaku sudah menggunung, apakah Gusti yang Maha Agung dapat menerima tobatku ?”, bertanya Kujang Gundul.

“Gusti yang Maha Agung menerima setiap tobat selama hambanya benar-benar menunjukan rasa tobatnya”, berkata Mahesa Amping.

“Aku menyadari atas semua apa yang telah kuperbuat, aku melihat-NYA”, berkata Kujang Gundul

“Apa yang kau lihat ?”, bertanya Mahesa Amping. “Gusti yang Maha Agung ternyata ada, dan aku

melihat-NYA”, kembali Kujang Gundul berkata.

“Apa yang kamu rasakan”, bertanya Mahesa Amping.

“Aku tidak mampu mengungkap apa yang aku rasakan, sepertinya diriku penuh diliputi kebahagiaan”, berkata Kujang Gundul.

“Katakan Paman, siapa yang menentukan umurmu?”, bertanya Mahesa Amping.

“Gusti yang Maha Agung, Gusti yang Maha Pengampun, Gusti yang penuh kasih”, berkata Kujang Gundul seperti kepada dirinya sendiri.

“Gusti yang Maha Agung telah memperpanjang sisa hidupmu Paman”, berkata Mahesa Amping sambil menjauhkan belatinya dari ujung kulit leher Kujang Gundul.

“Terima kasih anak muda, kamu telah membunuh masa laluku, hari ini aku merasa terlahir sebagai orang baru”, berkata Kujang Gundul sambil tersenyum menatap Mahesa Amping penuh rasa terima kasih.

“Gusti yang Maha Agung telah mempertemukan kita, disini”, berkata Mahesa Amping sambil berdiri menarik nafasnya dalam-dalam. Dilihatnya dari atas panggung pendapa Ragasuci dan Ki Mentul tengah turun dan menghampirinya.

“Aku membawa obat pemulih tubuh, mudah-mudahan Paman akan cepat pulih dan sehat kembali”, berkata Mahesa Amping sambil mengeluarkan beberapa butir obat dalam bentuk butiran kecil sebesar telur cecak dan memberikannya langsung kemulut Kujang Gundul.

“Sebentar lagi Paman ini dapat berjalan sendiri”, berkata Mahesa Amping kepada Ragasuci dan Ki Mantul yang sudah mendekatinya yang telah juga melihat dan mendengar apa yang telah terjadi.

Apa yang dikatakan Mahesa Amping ternyata tidak meleset. Tidak begitu lama Kujang Gundul dapat bangkit berdiri dan merasakan tubuhnya segar kembali.

“Mari Paman, kita bicara diatas panggung pendapa”, berkata Mahesa Amping mengajak Kujang Gundul berjalan ke panggung pendapa.

“Panggil Lawe dan Raden Wijaya untuk membawa Bango Samparan kemari”, berkata Ragasuci kepada Ki Mantul ketika mereka sudah berada diatas panggung pendapa.

Ki Mantul–pun segera masuk kedalam untuk memanggil Lawe dan raden Wijaya untuk membawa Bango Samparan.

Bukan main kagetnya Bango Samparan ketika muncul dari ruang dalam melihat ada Kujang Gundul di Pendapa.

“Aku yakin kalian sudah saling mengenal”, berkata Ragasuci yang diam-diam memperhatikan Bango Samparan dan Kujang Gundul. “Bukankah begitu Bango Samparan ?”, berkata Ragasuci tertuju kepada Bango Samparan yang telah duduk bersama mereka di Pendapa.

“Ya, kami memang sudah saling mengenal”, berkata Bango Samparan sambil menganggukkan kepalanya.

“Tahukah engkau bila saat ini ada orang yang menginginkan kematianmu?”, berkata Ragasuci kepada Bango Samparan seperti orang yang tidak percaya apa yang telah didengarnya tentang dirinya.

“Sekarang giliran Kujang Gundul untuk menceritakan yang sebenarnya”, berkata Ragasuci yang kali ini tertuju kepada Kujang Gundul.

Terlihat Kujang Gundul menarik nafas panjang. “Awalnya aku hanya ditugaskan membakar perasaan

para orang Pasir Muncang”, berkata Kujang Gundul. “Sebuah pekerjaan yang kuanggap sangat ringan”, berkata kembali Kujang Gundul.”Hingga akhirnya kembali aku mendapatkan tugas dengan imbalan dua kali lipat dari sebelumnya……”, Kujang Gundul berhenti sebentar sambil menundukkan wajahnya. “Tugasku hanya mengambil nyawa Bango Samparan”, berkata Kujang Gundul sepertinya tidak sanggup mengangkat wajahnya.

“Sekarang kamu sudah mendengar sendiri, ada yang menginginkan nyawamu”, berkata Ragasuci sambil menelitik apa tanggapan Bango Sa Bango Samparan.

“Teganya”, hanya itu yang keluar dari bibir amparan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku menawarkan pengampunan pada kalian, namun ada syaratnya”, berkata Ragasuci kepada Bango Samparan dan Kujang Gundul.

“Kelapangan tuanku adalah budi yang tak terhingga, syarat apakah yang dapat kami jalani”, berkata Bango Samparan tidak menyangka Ragasuci telah menawarkan pengampunan kepada mereka.

“Hari ini mata hati hamba telah terbuka oleh anak muda ini, hamba pasrah atas segala hukuman atas apa yang telah hamba perbuat. Bila syarat itu sebagai ganti pengampunan, hamba siap menjunjung apapun syarat yang baginda raja inginkan”, berkata Kujang Gundul.

“Tidak ada syarat yang akan memberatkan kalian, yang kuminta cuma satu, tunjukkan kepadaku siapa orang dibalik semua ini, terutama orang yang telah memberi upah kepada kalian”, berkata Ragasuci.

“Biarlah aku yang mewakili Bango Samparan”, berkata Kujang Gundul dan diam sebentar sambil menarik napas panjang. “Yang memberi upah kepada kami untuk semua ini adalah Patih Manohara”, berkata Kujang Gundul melanjutkan kata-katanya.

“Sejak semula aku sudah menduga”, berkata Ki Mantul ikut memberikan tanggapan.

“Mungkinkah masih ada pucuk diatas Patih Manohara?”, berkata Raden Wijaya.

“Memegang ular memang harus kepalanya”, berkata Ragasuci sepertinya telah mempunyai sebuah rencana yang besar sambil mengarahkan pandangan matanya kepada Kujang Gundul.

“Aku memerlukan dirimu”, berkata Ragasuci kepada Kujang Gundul

“Bila Baginda Raja mempercayai hamba”, berkata Kujang Gundul penuh hormat.

Sementara itu hari telah jauh di ujung malam, Ragasuci telah menyampaikan beberapa rencana besarnya untuk membersihkan lingkungan istananya dari para penghianat.

Demikianlah, pagi-pagi sekali terlihat dua ekor kuda keluar dan terus menjauh dari hutan Kranggan. Ternyata dua orang penunggangnya adalah Kujang Gundul dan Ki Mantul. Arah yang mereka tuju sepertinya menuju arah Kotaraja Kawali.

Ketika kuda-kuda mereka telah mendekati gerbang kota, mereka pun berpisah untuk mengatur jarak. Ki Mantul terlihat semakin menjauh ke depan meninggalkan Kujang Gundul.

Terlihat Ki Mantul sudah memasuki gerbang Kota di saat matahari telah bergeser sedikit dari puncaknya.Tujuan Ki Mantul ternyata bukan ke Istana Raja, melainkan ke sebuah rumah yang tidak jauh dari pasar yang berada di tengah kota raja. Rumah itu tidak terlalu megah bila dibandingkan dengan beberapa rumah di Kota Raja. Hanya sebuah rumah yang sederhana. Ada beberapa pohon buah di halaman rumah itu yang terlihat bersih. Nampaknya penghuninya sangat rajin membersihkannya setiap pagi. Terlihat Ki Mantul telah masuk ke halaman lewat pintu regol yang terbuka sambil menuntun kudanya. Seorang lelaki yang masih belia yang melihat kedatangan Ki Mantul datang menghampirinya.

“Selamat datang Ki Mantul”, berkata lelaki belia itu menyapa Ki Mantul, nampaknya sudah sangat mengenal Ki Mantul.

“Apakah Ki Lurah Gembleh ada di rumah?”, bertanya Ki Mantul kepada anak itu.

“Ki Lurah baru saja datang dari Istana, semalam Ki Lurah tidak pulang”, berkata anak itu sambil mengambil tali kuda Ki Mantul.

“Terima kasih”, berkata Ki Mantul kepada anak itu yang terlihat membawa kuda Ki Mantul mendekati sebuah pohon kecapi untuk mengikat tali kuda di batang pohon itu. Anak itu pun terlihat berlari kedalam rumah yang diikuti pandangan mata Ki Mantul.

“Naiklah keatas Ki Mantul”, berkata Ki  Lurah Gembleh yang sudah muncul bersama anak itu dari dalam rumah.

Setelah saling menanyakan keselamatan masingmasing. Ki Mantul langsung bercerita apa yang terjadi di rumah singgah di tepi hutan Kranggan.

“Akhirnya kecurigaanku terbukti”, berkata Ki Lurah Gembleh setelah mendengar penjelasan Ki Mantul tentang keikut sertaan Patih Manohara dalam upaya mencelakai Baginda Raja Ragasuci.

“Patih Manohara tidak berdiri sendiri, Baginda Raja Ragasuci ingin membersihkan sampai ke pucuknya”, berkata Ki Mantul.

“Tugas apa yang dapat aku mainkan”, bertanya Ki Lurah Gembleh.

“Menangkap semua ular di hutan Kranggan”, berkata Ki Mantul sambil menjelaskan beberapa hal sesuai rencana yang telah disepakati bersama Ragasuci.

“Hari ini juga aku akan mempersiapkan orang-orang kepercayaanku untuk melakukan penyusupan”, berkata Ki Lurah Gembleh setelah memahami beberapa hal penjelasan dan Ki Mantul.

“Akupun akan segera kembali ke hutan Kranggan”, berkata Ki mantul

Sementara itu di sebuah rumah yang masih  tidak jauh dari Kotaraja, Kujang Gundul tengah berbicara dengan seseorang yang selama ini bertugas sebagai penghubung dan orang kepercayaan dari Patih Manohara.

“Aku telah menyelesaikan tugasku melenyapkan Bango Samparan, sekarang aku meminta tambahan upah dari tuanmu karena aku telah melakukan pekerjaan tambah”, berkata Kujang Gundul.

“Pekerjaan tambahan apa yang kamu maksudkan ?”, bertanya orang kepercayaan Patih Manohara tidak mengerti.

Kujang Gundul mengambil sesuatu dari balik kainnya, ternyata Kujang Gundul memperlihatkan sebuah cincin.

“Lihat dan perhatikan”, berkata Kujang Gundul sambil memperlihatkan sebuah cincin ditangannya.

Orang kepercayaan Patih Manohara bukanlah orang yang bodoh. Bukan main tercengangnya orang itu melihat cincin yang ditunjukkan Kijang Gundul. Cincin itu adalah tanda kebesaran Baginda Raja Ragasuci. Tidak akan diberikan kepada siapapun kecuali bila nyawa sudah terlepas dari badan.

“Aku akan menyerahkan ini setelah kamu datang membawa tambahan upah untukku”, berkata Kujang Gundul tersenyum gembira melihat orang kepercayaan Patih Manohara terbelalak matanya.

“Tunggulah disini, akan akan menyampaikannya kepada Patih Manohara”, berkata orang itu yang terus pergi keluar rumah, entah apa yang terpikirkan olehnya. Yang jelas baginya sebuah berita yang akan menggembirakan junjungannya Patih Manohara.

“Akhirnya usaha kita melenyapkan Ragasuci berhasil”, berkata Patih Manohara kepada orang kepercayaannya.

Bersamaan dengan perginya orang kepercayaannya itu, Patih Manohara keluar istana menuju rumah Raden Darmamula, salah seorang bangsawan yang cukup berpengaruh, masih paman dari Ragasuci.

“Usaha kita berhasil”, berkata Patih Manohara kepada Raden Darmamula.

“Kita harus mendapatkan kepastian”, berkata Raden Darmamula

“Orangku sedang mengambil cicin kebesaran raja”, berkata Patih Manohara.

“Tidak cukup itu, kita harus melihat langsung jenasahnya”, berkata Raden Darmamula.

“Apa yang harus kita lakukan setelah Ragasuci memang benar telah binasa”, bertanya Patih Manohara.

“Kita jadikan orang-orang Pasir Muncang sebagai gerombolan yang harus mempertanggung jawabkan semua ini”, berkata Raden Darmamula.

“Menjadikan orang-orang Pasir Muncang sebagai kambing hitam?”, bertanya Patih Manohara. “Dan sebagai tumbal”, berkata Raden Darmamula.

Patih Manohara tidak bertanya lagi langsung mengerti apa yang dikatakan Raden Darmamula tentang tumbal itu.

“Siapkan pasukan, besok pagi kita berangkat ke hutan Kranggan”, berkata Raden Darmamula.

Demikianlah, Patih Manohara kembali ke istana untuk mempersiapkan pasukannya berangkat ke hutan Kranggan untuk melihat dan memastikan bahwa Ragasuci memang telah mati sekaligus menghancurkan orang-orang Pasir Muncang yang bersembunyi di hutan Cigugur.

Rahasia inilah yang ditangkap oleh orang-orang kepercayaannya Ki Kurah Gembleh.

“Secepatnya kamu harus sampai di Hutan Kranggan”, berkata Ki Lurah Gembleh kepada salah seorang anak buahnya untuk menyampaikan rahasia rencana Patih Manohara besok pagi.

Sementara itu hari sudah masuk dipertengahan malam.

Terlihat Kujang Gundul sudah keluar dari gerbang kota. Jalan diluar kota itu sudah begitu sunyi.

“Berhenti!!”.

Tiba-tiba saja menghadang dua orang dihadapan Kujang Gundul sambil membentak menyuruh Kujang Gundul berhenti dan turun dari kudanya.

“Apa yang kalian inginkan dariku ?”, bertanya Kujang Gundul sambil turun dari kudanya.

“Kami ingin meminta nyawamu”, berkata salah seorang yang menghadang Kujang Gundul. “Apakah nyawaku cukup berharga”, berkata Kujang Gundul.

“Cukup berharga karena ada sepundi keping emas dibalik pakaianmu”, berkata kembali orang itu sambil tersenyum menyeringai.

“Dari Mana kalian tahu”, bertanya Kujang Gundul

“Itu bukan urusanmu”, berkata orang itu sambil melepas senjata golok dari sarungnya.

Kujang Gundul tidak dapat berbuat lain kecuali mempersiapkan dirinya.

“Serahkan lehermu agar pekerjaan kami menjadi mudah”, berkata orang itu yang langsung mengayunkan goloknya membabat leher Kujang Gundul.

Dengan tenang Kujang Gundul merendahkan tubuhnya dan berbalik menyerang dengan tendangan kakinya.

Mendapatkan serangan balik yang cepat, orang itu cukup terperanjat dan langsung mundur kebelakang. Bersamaan dengan itu kawannya yang selama ini hanya berdiam diri ikut membantu menyerang Kujang Gundul dari samping.

Maka Kujang Gundul pun melompat kesamping menghindari serangan itu. Baru saja Kujang Gundul terhindar dari serangan itu, kembali serangan menyusul dihadapannya.

Demikianlah pertempuran antara Kujang Gundul dengan dua orang yang tidak dikenal. Mendapatkan dua serangan dari dua orang pengeroyoknya yang tidak pernah terputus, sepertinya dua orang penyerangnya itu satu perguruan, terlihat dari serangannya yang beruntun dan sangat teratur seperti sudah terlatih dan tersusun begitu rapi. Serangannya pun sangat begitu dahsyat.

Tapi Kujang Gundul bukan anak kemarin sore yang baru mengenal sejurus dua jurus. Sudah banyak pertempuran yang ia hadapi, dan Kujang Gundul mempunyai kesenangan unik, senang bertempur. Semakin tangguh lawannya, maka semakin gembira hatinya. Kujang Gundul pun melayani dua orang penyerangnya dengan penuh semangat.

“Keluarkan semua jurus kalian”, berkata Kujang Gundul penuh semangat sambil mengeluarkan senjatanya yang bukan keris lagi karena sudah hancur oleh sinar mata Mahesa Amping. Senjata penggantinya adalah sebuah tombak pendek.. Meski bukan senjata andalannya, dengan tombal pendek itu Kujang Gundul masih terlihat sangat mahir menggunakannya.

Croottttt !!!!

Tombak pendek Kujang Gundul berhasil merobek urat pangkal salah seorang lawannya. Darah mengalir deras keluar dari daging yang robek. Orang itu tampak menahan rasa sakitnya tidak lagi melakukan penyerangan.

Menghadapi seorang lawan, Kujang Gundul menjadi agak ringan. Sebaliknya lawannya terlihat menjadi sangat kewalahan. Tombak pendek Kujang Gundul yang bermata dua it uterus berputar-putar mengikuti dirinya.

Srettttt !!!!

Mata tombak pendek Kujang Gundul berhasil mengenai bahu kanan lawannya. Segaris darah segar terlihat keluar dari bahunya.

“Apakah pertempuran ini masih harus dilanjutkan?”, berkata Kujang Gundul sambil tersenyum. “Jangan besar kepala dulu”, berkata lawannya sambil memindahkan senjata goloknya ke tangan sebelah kiri dan terus menyerang Kujang Gundul.

Kujang Gundul tersenyum menghadapi lawannya. Serangan lawannya terlihat agak kaku karena kurang terbiasa menggunakan tangan kirinya.

“Agar seimbang, aku akan berbuat yang sama”, berkata Kujang Gundul sambil memindahkan tombak pendeknya ketangan sebelah kirinya.

Namun meski menggunakan tangan kirinya, terlihat kemahiran Kujang Gundul memainkan tombak pendeknya tidak berubah.

Sret …sretttt !!!

Kembali tombak pendek Kujang Gundul menemui  dua sasaran sekaligus, dua pangkal paha lawannya tergores mata tombak pendek Kujang Gundul yang bergerak begitu cepat meski menggunakan tangan kirinya.

Terlihat kedua kaki lawannya tidak mampu  menopang tubuhnya lagi, hanya mampu berdiri diatas lututnya.

“Dulu aku tidak pernah mengampuni lawanku, hari ini kubiarkan kalian hidup agar suatu saat kita masih dapat bermain lagi”, berkata Kujang Gundul kepada kedua lawannya.

Kujang Gundul pun terlihat menghentakkan kakinya  di perut kudanya berlalu pergi diiringi tatapan mata dua orang lawannya.

Dan malam pun terus merayap dalam gelisah berharap datangnya sang pagi untuk menggantikan tahta hari. “Semula aku berpikir kamu tidak akan datang kembali”, berkata Ki Mantul kepada Kujang Gundul ketika mereka bertemu di suatu tempat yang telah bersama mereka sepakati.

“Ada sedikit hiburan di perjalananku”, berkata Kujang Gundul sambil menceritakan apa saja yang menghambat perjalanannya.

“Syukurlah bila kamu sekarang dapat mengendalikan diri untuk tidak begitu mudah membunuh lawanmu”, berkata Ki Mantul setelah mendengar cerita Kujang Gundul sambil terus berjalan diatas kudanya.

“Hari-hari yang kujalani saat demi saat terasa begitu indah, bagaimana mungkin aku dapat merebut  kehidupan orang lain, kematianku sendiri bukan lagi milikku”, berkata Kujang Gundul.

Akhirnya, di saat malam telah jemu menjaga bumi dan menyerahkan sisa hari kepada sang pagi, Ki Mantul dan Kujang Gundul telah sampai di tepi hutan Kranggan.

Tidak lama berselang, berselisih sepenginangan. Seorang utusan Ki Lurah Gembleh juga sudah sampai. Ternyata Ki Mantul telah mengenal utusan itu dengan baik.

Utusan itu pun langsung menyampaikan berita bahwa pagi ini ada sepasukan prajurit yang akan datang ke tepi hutan Kranggan serta rencana mereka untuk menggulung orang-orang Pasir Muncang yang akan dijadikan sebagai kambing hitam.

“Raden Darmamula dan Patih Manohara ikut dalam pasukan itu”, berkata utusan itu.

“Bagus, secepatnya kita buat blumbang agar ular-ular itu mudah tepancing”, berkata Ragasuci. “Ada satu lagi dosa yang masih mengganjal dihatiku”, berkata Kujang Gundul kepada semua yang hadir. Maka semua mata tertuju kepada Kujang Gundul.

“Meluruskan kebenaran atas apa yang sebenarnya terjadi kepada orang-orang Pasir Muncang”, berkata Kujang Gundul.

“Apakah kamu tidak takut bahwa kemarahan orangorang Pasir Muncang akan berbalik arah kepadamu?”, bertanya Ki Mantul yang menghawatirkan Kujang Gundul.

“Tidak perlu khawatir, aku dengan ketuanya pernah adu tanding dengan taruhan siapapun yang kalah akan tunduk patuh. Dan untungnya akulah pemenangnya”, berkata Kujang Gudul sambil tersenyum dibarengi tarikan nafas lega dari semua yang hadir.

“Tidak ada pilihan, aku akan menugaskanmu meluruskan semuanya, menyampaikan apa yang akan terjadi atas mereka. Sampaikan salamku atas nama Baginda Raja Saunggaluh”, berkata Ragasuci.

“Hamba menjunjung titah Baginda, hamba mohon diri untuk segera berangkat ke Hutan Cigugur”, berkata Kujang Gundul penuh hormat dan langsung pamit diri untuk segera berangkat ke hutan Cigugur,  tempat dimana orang-orang Pasir Muncang berlindung selama ini. 

Setelah Kujang Gundul berlalu, Ragasuci meminta Ki Mantul untuk menyiapkan rumah duka.

“Ingat, ada dua jenasah dirumah ini”, berkata Ragasuci sambil melirik kepada Bango Samparan yang membalasnya juga dengan senyuman.

“Sebelum menjadi mayat palsu, aku akan membukakan ikatan para anak buahku”, berkata Bango Samparan sambil bangkit berdiri dan turun kebawah untuk menemui para anak buahnya yang saat ini memang masih terikat sebagai tawanan.

Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya mengikuti Bango samparan turun kebawah untuk membantu membuka ikatan para tawanan.

Sementara itu di istana Saunggaluh, sebuah pasukan lengkap telah dipersiapkan. Mereka adalah pasukan khusus berkuda. Sebuah pasukan kerajaan saunggaluh yang sangat dibanggakan dan telah mempunyai banyak pengalaman berperang.

“Baginda Raja memerintahkan kita untuk menjaga istana”, berkata Ki Lurah Gembleh merasa cukup cemas ketika melihat kesiapan pasukan berkuda yang telah keluar dari gerbang istana.

“Kenapa Baginda Raja tidak memerintahkan pasukan kita membantunya?”, bertanya salah seorang anak buahnya sambil berbisik.

“Mungkin Baginda Raja punya perhitungan sendiri, setidaknya kitalah benteng terakhir”, berkata Ki Lurah mencoba melegakan hati sendiri yang masih ada rasa cemas, bila saja tidak ada perintah raja, mungkin sudah disiapkan pasukannya untuk membantu.

Abu mengepul terbang di belakang kuda-kuda yang berlari keluar dari gerbang kota.Hanya Ki Lurah Gembleh dan beberapa anak buah kepercayaannya yang mengetahui kemana tujuan pasukan berkuda itu sebenarnya.

Ketika matahari telah bergeser turun dari puncaknya, pasukan berkuda itu telah sampai di tepi hutan Kranggan. Mereka langsung menuju ke rumah singgah.

“Ampun tuanku, hamba tidak dapat melindungi Baginda Raja”, bersimpuh Ki Matul di hadapan Patih Manohara dan Raden Darmamula.

“Ceritakan apa yang telah terjadi”, berkata Raden Darmamula

Ki Mantul pun bercerita sebagaimana yang telah diatur sebelumnya. Dikatakan bahwa malam itu telah datang seseorang yang bukan hanya membunuh Bango Sampara, tapi juga masuk kedalam kamar Ragasuci yang tengah tertidur.

“Tuanku baginda telah terbunuh disaat masih tertidur”, berkata Ki Mantul menutup ceritanya.

“Aku ingin melihat jenasah Baginda Raja”, berkata Patih Manohara tidak sabar lagi.

Patih Manohara dan Raden Darmamula langsung masuk kedalam. Hatinya berdegap gembira melihat dua buah jenasah di ruang tengah. Terlihat tiga orang gadis tengah menangisi sesosok jenasah.

“Siapakah diantara kalian yang bernama Dara Puspa

?”, bertanya Raden Darmamula kepada tiga orang gadis yang masih terus menangis tersedu-sedu.

“Akulah Dara Puspa”, berkata Dara Puspa menatap Raden Darmamula.

“Aku turut berduka cita atas kematian suamimu”, berkata Raden Darmamula, sementara hatinya berdecak kagum melihat kecantikan Dara Puspa.

Belum sempat Raden Darmamula menyingkap kain yang menutupi tubuh jenasah untuk memastikan apakah jenasah itu benar adanya Ragasuci, datang kepadanya seorang prajurit.

“Ampun Tuanku, orang-orang Muncang memaksa ingin masuk”, berkata prajurit itu.

“Anjing mencari penggebuk”, berkata Patih Manohara sambil berjalan keluar diikuti oleh Raden Darmamula.

“Apa yang kalian inginkan kemari”, bertanya Patih Manohara dihadapan orang-orang Pasir Muncang.

“Kami ingin menyampaikan penghormatan yang terakhir”, berkata salah seorang diantaranya yang sepertinya pemimpin mereka.

“Kalian adalah orang-orang terbuang dari tanah Pasundan, tidak layak memberikan penghormatan terakhir”, berkata Raden Darmamula.

“Lebih layak mana, orang yang terbuang dari kampungnya dengan seorang penghianat bangsa”, berkata pemimpin itu.

“Siapa yang kalian maksudkan sebagai penghianat bangsa”, berkata Patih Manohara.

“Tidak perlu berpura-pura lagi, kalian berdualah penghianat bangsa itu”, berkata Kujang Gundul yang tiba-tiba saja keluar dari tengah-tengah kerumunan orang-orang Pasir Muncang.

“Kujang Gundul!!”, berteriak kaget Patih Manohara. “Tuanku kaget melihat hamba masih hidup?”, berkata

Kujang Gundul dengan senyum khasnya.

“Sebaliknya aku gembira, kamu datang sendiri mencari alat penggebuk”, berkata Patih Manohara menutupi rasa kagetnya.

“Untuk membunuh seekor ular memang perlu alat penggebuk”, tiba-tiba ada suara lantang berasal dari atas panggung pendapa yang ternyata adalah Ragasuci yang sudah berdiri disitu, disampingnya berdiri Bango Samparan.

Bukan main kagetnya Patih Manohara dan Raden Darmamula melihat Ragasuci ternyata masih hidup. Kekagetan mereka bertambah ketika dari bawah panggung rumah itu keluar para anak buah Bango Samparan yang mereka kira selama ini masih dalam keadaan terikat.

“Maaf Paman, terima kasih atas perhatian Paman untuk menjengok jenasah keponakannya”, berkata Ragasuci yang melihat Raden Darmamula terkejut. “Paman telah datang dengan dua puluh pasukan berkuda, untuk itu aku telah menghadirkan lima puluh orang lebih yang setia berkorban untukku”, kembali Ragasuci berkata agar Raden Darmamula dapat memperhitungkan kekuatannya.

“Kalian akan kami basmi sekalian disini”, berkata Raden Darmamula menutupi kegentarannya melihat jumlah orang-orang yang terlihat memang sudah rela berkorban dan setia kepada Ragasuci.

“Apakah Paman dapat memerintahkan pasukan berkuda untuk membunuh Rajanya?” berkata Ragasuci yang membuat para prajurit pasukan berkuda menjadi bimbang apa yang harus mereka lakukan, perintah siapa yang harus mereka taati.

Melihat wajah keraguan dari para prajurit pasukan berkuda, wajah Raden Darmamula seperti merah terbakar. Dirinya merasa sudah ada ditengah sebuah jebakan yang tidak mungkin dapat lolos lagi.

“Aku akan menantangmu adu tanding”, berkata Raden Darmamula penuh keputus asaan berharap tantangannya akan diterima. Inilah jalan satu-satunya keluar dari segala tuntutan meski secara pribadi menyadari ketinggian ilmu Ragasuci yang menjadi murid tunggal yang terkasih Gurusuci Darmasiksa.

“Aku terima tantangan Pamanda”, berkata Ragasuci.

Bukan main gembiranya Raden Darmamula mendengar pernyataan Ragasuci, meski mengakui ketinggian ilmu Ragasuci, tapi menurutnya hanya selapis tipis dibandingkan dengan pengalaman dan umurnya.

“Ijinkan hamba mewakili Baginda Raja”, berkata Mahesa Amping yang dapat membaca perasaan Ragasuci yang menjadi ragu harus berhadapan dengan pamannya sendiri.

Mendengar permintaan Mahesa Amping, Ragasuci sepertinya mendapatkan sebuah jawaban.

“Kupertaruhkan adu tanding ini atas kebebasan Pamanda dari segala tuntutan, kuwakilkan diriku ini kepada Mahesa Amping”, berkata Ragasuci dengan lantangnya seakan-akan sebagai pernyataan untuk didengar oleh semua yang hadir di halaman rumah singgah itu.

Raden Darmamula sepertinya tidak percaya dengan apa yang didengarnya dan merasa bahwa Ragasuci telah melakukan kesalahan besar dengan mewakilkan dirinya kepada seorang pemuda yang tidak dikenal. Tapi Raden Darmamula tidak mengatakan apapun, baginya pernyataan Ragasuci adalah keuntungan baginya.

Raden Darmamula melihat Mahesa Amping turun  dari rumah panggung penuh dengan ketenangan dan kepercayaan yang tinggi, seperti tidak akan menghadapi sesuatu yang sangat mencemaskan.

“Pemuda tolol yang merasa punya ilmu andalan”, berkata Raden Darmamula dalam hati menafsirkan ketenangan Mahesa Amping.

Semua mata tertuju kepada dua orang lelaki yang saling berhadapan ditengah halaman rumah singgah yang luas. Banyak yang belum mengenal Mahesa Amping secara pribadi menghawatirkan pemuda ini dan menganggap pernyataan Ragasuci mewakilkan dirinya kepada anak muda ini adalah sebuah kecerobohan.

Sementar itu Kujang Gundul yang telah merasakan sendiri kedahsyatan ilmu Mahesa Amping tersenyum gembira.

“Raden Darmamula tidak menyadari bahwa lawannya memiliki ilmu setingkat dewa”, berkata Kujang Gundul dalam hati sambil matanya tidak pernah lepas ke arena pertandingan itu.

“Berbanggalah dirimu anak muda yang telah mewakili Baginda Raja, meski diriku masih sangsi, apakah dirimu layak menjadi lawan tandingku”, berkata Raden Darmamula kepada Mahesa Amping yang sudah berdiri dihadapannya.

“Ternyata kita punya perasaan yang sama, akupun merasa sangsi apakan paman dapat mengalahkanku”, berkata Mahesa Amping sengaja memancing kemarahan Raden Darmamula.

Ternyata pancingan Mahesa Amping mengenai sasaran, kata-kata Mahesa Amping terasa pedas lewat ditelinganya.

“Keluarkan senjatamu!”, berkata Raden Darmamula yang langsung mengeluarkan sebuah keris besar yang tidak layak sebagaimana keris biasa karena bentuknya lebih besar dan lebih panjang dari keris kebanyakan.

Mahesa Amping melihat pamor yang tidak biasa yang keluar dari aura keris Raden Darmamula sebagai isyarat bahwa dirinya harus berhati-hati menghadapinya. Maka dengan tenang penuh percaya diri Mahesa Amping menarik pisau belati senjata andalannya dari balik pakaiannya.

Melihat Mahesa Amping hanya bersenjata belati, Raden Darmamula tersenyum menganggap anak muda didepannya ini terlalu dungu.

“Kamu memang pantas bunuh diri” berkata Raden Darmamula sambil tidak sabar melihat kemenangannya langsung menerjang dengan kekuatan dan kecepatan yang sangat luar biasa.

Bukan main kagetnya Darmamula mendapatkan Mahesa Amping sudah tidak ada ditempatnya lagi. Serangannya menembus tempat kosong.

“Aku disini Paman”, berkata Mahesa Amping yang telah bergeser ke samping masih berdiri seperti tidak menerima serangan apapun.

Diam-diam Raden Darmamula mengakui kecepatan gerak Mahesa Amping. Maka dengan kecepatan yang berlipat ganda kembali melakukan serangan, kali ini dengan sebuah ayunan berkelebat keris raden Darmamula mengarah ke leher Mahesa Amping.

Dengan cantiknya Mahesa Amping merendahkan tubuhnya, ayunan keris hanya berjarak tipis lewat dikepalanya dan langsung melakukan serangan balik yang tidak diduga dengan sebuah tendangan kakinya meluncur mengancam perut Raden Darmamula. Kaget bukan kepalang Darmamula mendapatkan serangan balik yang tidak terduga dan dengan kecepatan yang luar biasa.

“Gila!!”, berkata Raden Darmamula sambil mundur ke belakang. Matanya menatap Mahesa Amping seperti tidak percaya atas semua yang telah terjadi.

Sejak saat itulah dirinya tidak lagi meremehkan Mahesa Amping dan bertindak menjadi sangat hati-hati.

“Anak muda ini ternyata punya andalan”, berkata Raden Darmamula dalam hatinya.

Raden Darmamula telah meningkatkan ilmunya menggulung Mahesa Amping dengan serangan keris besarnya. Dan Mahesa Amping terpaksa harus mengimbanginya. Dan pertempuran pun menjadi kian seru dan menegangkan.

Raden Darmamula sudah mencapai ilmu puncaknya, serangannya terlihat begitu cepat dan mengerikan. Keris di tangannya seperti bara yang menyala. Hawa panas pun terasa telah menyelimuti setiap sisi pertempuran. Untungnya, Mahesa Amping telah dilindungi oleh daya kepekaan kekuatan yang ada didalam kekuatan bawah sadarnya, langsung bekerja dengan sendirinya memberikan daya tolak atas apa yang akan datang membahayakan dirinya. Hawa dingin menyentak keluar dari tubuh Mahesa Amping meredam hawa panas yang dikeluarkan lewat ilmu puncak Raden Darmamula.

Dua kekuatan dan kecepatan saling menggulung dan saling balas menyerang. Mata wadag sudah sangat sukar sekali mengikuti pertempuran mereka. Yang terlihat seperti dua bayangan hitam saling melesat begitu cepat, sukar sekali untuk menentukan siapa Mahesa Amping dan yang mana Raden Darmamula. Sekali-kali terdengar suara dua senjata beradu.

Baru kali ini Raden Darmamula harus menguras seluruh kekuatan ilmunya, diam-diam secara pribadi mengagumi pemuda yang menjadi lawannya ini.

“Ragasuci tidak salah pilih”, berkata Darmamula dalam hatinya sambil terus berusaha melakukan penekanan.

“Aji Braja Geni!!”, berucap Mahesa Amping sambil melenting menghindari sebuah kilatan api berasal dari telapak tangan kiri Raden Darmamula.

“Pengetahuanmu ternyata sangat luas anak muda”, berkata Raden Darmamula sambil tertawa kembali mengeluarkan ilmu simpanannya Aji Braja Geni menyambar tubuh Mahesa Amping yang tengah melenting.

Kembali Mahesa Amping harus berhindar dari serangan kilatan api. Sasaran pun kembali luput nyaris menghantam sebuah pohon besar yang langsung terbakar. Beberapa penonton yang hadir menyaksikan pertempuran itupun berlarian menjauh, takut terkena salah sasaran Ilmu Braja Geni Raden Darmamula yang begitu nggegirisi itu.

Mahesa Amping dalam posisi tertekan dan terancam, sambaran kilat sepertinya terus mengejarnya. Namun tidak terlihat sedikit kecemasan dalam raut wajahnya. Mahesa Amping penuh ketenangan menghadapi setiap serangan. Hingga akhirnya Mahesa Amping terpaksa mengeluarkan ilmu andalannya. Mengungkap kekuatan yang bersembunyi dari sorot matanya.

Sambil melenting menghindari kilatan cahaya yang menyambar kearah dirinya, tiba-tiba saja keluar kilatan cahaya dari sorot mata Mahesa Amping dalam kendali dan pengekangan naluri yang tajam sebagai ungkapan jiwa yang telah diliputi kesifatan Maha Kasih dan Maha halus penuh kelembutan. Cahaya kilat dari sorot mata Mahesa Amping telah menyambar dengan cepat mengarah kesatu tempurung kaki Raden Darmamula.

Sinar yang melesat dari sorot mata Mahesa Amping memang begitu cepat seperti sekedipan mata, langsung menyambar tempurung kaki kiri Raden Darmamula yang tidak dapat segera mengelak. Terlihat Raden Darmamula jatuh tidak kuat menahan rasa sakit pada tempurung kakinya yang terlihat hangus terbakar. Kaki sebelah kirinya terasa lumpuh.

Pertempuran pun sepertinya terhenti, semua mata tertuju kepada Raden Darmamula yang tengah duduk tidak mampu berdiri.

Terlihat Mahesa Amping perlahan mendekati Raden Darmamula.

“Maaf, aku terpaksa melakukannya”, berkata Mahesa Amping yang melihat Raden Darmamula tengah merintih menahan rasa sakit yang terbakar di tempurung kakinya.

“Kenapa kamu tidak langsung menyerang jantungku”, berkata Darmamula yang telah mengakui kedahsyatan kekuatan sorot mata Mahesa Amping.

“Aku bukan seorang pembunuh”, berkata Mahesa Amping memandang Raden Darmamula dengan sorot mata penuh kasih, seakan didepannya bukan lagi seorang lawan. Dan sorot mata itu seperti air dingin menyentuh masuk lewat tatapan mata Raden Darmamula.

“Jiwamu begitu bersih, jiwamu penuh kasih”, berkata Raden Darmamula yang merasakan seperti ditelanjangi oleh tatapan mata Mahesa Amping yang tenang penuh kasih. Raden Darmamula tidak tahan menatap mata itu, terlihat menunduk seperti tengah melihat kekotoran dirinya yang penuh kecongkakan dan keangkuhan merasa dapat melakukan dan berbuat apapun atas ketinggian ilmu yang telah diraih dalam  kebanggaan yang tersesat.

“Masih ada hari lain untuk berbuat yang lain”, berbisik Mahesa Amping sambil berjongkok memberikan sebuah obat penawar. “Telanlah obat ini, mudah-mudahan akan mengurangi rasa sakit Paman”, berkata Mahesa Amping.

Raden Darmamula kembali menatap wajah Mahesa Amping, kembali rasa malu bergejolak didalam hatinya. Entah mengapa sorot mata itu dilihatnya  penuh kejujuran, dan ia tidak menolak pemberian obat dari Mahesa Amping.

Raden Darmamula telah menelan butiran obat yang diberikan oleh Mahesa Amping. Benar apa yang dikatakan Mahesa Amping, rasa sakit dikakinya terasa memudar. Namun Raden Darmamula tidak dapat lagi mengerakkan kaki kirinya yang ternyata sudah lumpuh itu.

“Terima kasih anak muda, kamu telah menyisakan sebuah kaki untukku, dan juga sisa umurku yang mungkin akan dapat kuisi dengan sikap dan suasana baru”, berkata Raden Darmamula dengan senyum penuh tulus.

“Sekarang terserah Baginda Raja, aku pasrah atas apapun hukuman yang diberikan kepadaku”, kembali Raden Darmamula berkata sepertinya telah pasrah atas apa yang akan diterima. “Aku tidak akan memberikan hukuman apapun atas diri Pamanda, Aku memaafkan Pamanda. Bukankah Pamanda satu-satunya adik ibuku yang masih ada?”, berkata Ragasuci sepertinya tidak merasa sebagai seorang raja, tapi sebagai seorang anak kemenakan.

Raden Darmamula menatap haru Ragasuci, terbayang Ragasuci kecil yang dulu sering berada diatas punggungnya bermain kuda-kudaan. Raden Darmamula seperti menemukan dirinya kembali. Tangis haru kebahagiaan terlihat manakala paman dan kemenakan itu saling berpelukan. Sepertinya mereka sudah lama tidak berjumpa dan baru hari itu mereka menemukan diri masing-masing. Rasa permusuhan telah lama memisahkan mereka, menjauhkan mereka. Dan sekarang, rasa kasih kembali mempertemukan mereka, menghilangkan jarak diantara mereka, sebagai saudara sedarah, sebagai paman dan kemenakannya.

“Dimana Patih Manohara”, berkata Ragasuci sambil menyapu pandangannya berkeliling, namun Patih Manohara yang dicari tidak juga ditemukan.

Ternyata Patih Manohara diam-diam telah melarikan diri. Mungkin ia tahu akan mendapatkan hukuman berat karena telah berhianat atas rencananya untuk melenyapkan Ragasuci.

Angin semilir bertiup disekitar halaman rumah singgah itu. Sementara senja masih jauh untuk ditunggui. Terlihat rombongan Ragasuci tengah bersiap untuk meninggalkan tepi hutan Kranggan itu dikawal para pasukan berkuda.

Selang tidak terlalu lama, Bango Samparan dan para anak buahnya ikut meninggalkan tepi hutan Kranggan  itu. Dan Rumah singgah itu terlihat menjadi sunyi sebagaimana hari-hari sebelumnya.

Dan senja pun akhirnya telah berlalu. Hari telah memasuki pertengahan malam manakala Ragasuci dan rombongannya telah sampai di pintu gerbang istana.

“Terima kasih,Kamu sudah melaksanakan tugasmu dengan baik”, berkata Ragasuci memberikan ucapan selamat dan terima kasih kepada Ki Lurah Gembleh yang menyambutnya di muka pintu gerbang istana.

“Tugas yang kami lakukan sangat ringan dibandingkan kecemasan yang kami rasakan”, berkata Ki Lurah Gembleh menyampaikan kekecewaannya tidak disertakan ikut berperan di hutan Kranggan.

“Istana tanpa raja bukan suatu kekhawatiran dibandingkan istana tanpa penjaga”, berkata Ragasuci memberi penjelasan mengapa para pengawal istana dilarang meninggalkan istana. Dan sepertinya Ki Lurah Gembleh dapat menerimanya sambil menganggukanggukkan kepalanya.

Dan malam pun semakin dalam menyelimuti istana Saunggaluh. Suara angin bercanda dengan daun dan dahan kadang mengisi kesunyian malam. Beberapa pengawal istana kadang terlihat berkeliling melakukan ronda malam dri lorong kelorong memastikan tidak ada hal gangguan apapun, dan istana dalam keadaan aman terkendali.

Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya yang ditempatkan di pesanggrahan khusus untuk para tamu agung nampaknya sudah terlelap dalam mimpi.

Pagi itu, suasana pasar di Kotaraja Kawali sudah begitu ramai. Dara Jingga dan Dara Petak sebagaimana umumnya para wanita sangat senang sekali berkeliling sekitar pasar Kotaraja, terutama melihat berbagai corak kain dan perhiasan.

“Kalian belum membeli apapun?”, berkata Dara Jingga kepada Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

“Aku belum mendapatkan apa yang kubutuhkan”, berkata Lawe

“Apa yang kamu butuhkan?”, bertanya Dara Jingga “Itulah   yang   belum   aku   pikirkan”,   berkata  Lawe

sekenanya membuat Mahesa Amping dan Raden Wijaya

tersenyum, diam-diam mereka mengakui sebagaimana Lawe, tidak ada yang dibutuhkan.

Matahari terus merayap naik, suasana pasarpun menjadi semakin ramai.

“Minuman dawet itu sepertinya enak sekali”, berkata Dara Petak ketika mereka melewati pedagang minuman Dawet.

“Kami pesan minumannya, Paman”, berkata Lawe kepada pedagang Dawet itu yang terlihat sudah sangat tua.

Dengan cepat orang tua itu telah menyiapkan lima buah minuman untuk mereka.

Namun ketika mereka menikmati minuman dawet itu, datanglah seorang yang berwajah bringasan menghampiri pedagang dawet itu.

“Hari ini aku tidak mau lagi makan janji”, berkata orang itu kepada pedagang dawet.

“Sepekan ini hujan tidak pernah surut, daganganku tidak banyak laku”, berkata pedagang itu. “Pekan lalu encokmu sering kumat, sekarang kamu salahkan hujan”, berkata orang itu dengan suara keras.

“Seperti itulah kenyataannya, aku tidak berbohong”, berkata pedagang itu dengan wajah begitu memelas.

“Bohong, jangan sembunyi di belakang wajah memelasmu”, berkata orang itu sambil mencengkeram leher pedagang tua itu.

“Maaf kisanak, berapa hutang Paman ini?”, berkata Raden Wijaya tidak tega melihat perlakuan kasar dari orang yang baru datang itu.

Orang itupun melepaskan cengkeramannya, memandang raden Wijaya dari atas sampai kebawah.

“Ternyata ada tuan muda yang berbaik hati untuk menjadi pahlawan penolong”, berkata orang itu kepada Raden Wijaya.

“Aku hanya bertanya, berapa hutang paman ini”, berkata kembali raden Wijaya.

“Sebulan yang lalu hutangnya tiga karung jagung, apakah kamu ingin membantu melunasinya?”, bertanya orang itu kepada Raden Wijaya.

“Sekeping emas ini berharga lebih dari tiga karung jagung, berikan sisa karung jagung untuk paman ini”, berkata Raden Wijaya sambil memberikan sekeping emas kepada orang itu.

Orang itu langsung menerimanya dengan tertawa menyeringai.

“Hutangmu sudah lunas, kelebihannya akan aku  antar beberapa karung jagung kepadamu”, berkata orang itu yang kemudian hendak pergi meninggalkan pedagang tua itu. “Aku tidak perlu kelebihan apapun, aku akan membawa putriku kembali ke rumahku”, berkata pedagang tua itu.

“Akan kusampaikan pada Tuanku”, berkata orang itu sambil berbalik badan berjalan pergi menninggalkan pedagang tua itu.

“Terima kasih anak muda, sekarang aku yang berhutang kepadamu”, berkata pedagang tua itu.

“Paman tidak usah merasa berhutang kepadaku, anggap saja ini hadiah dariku”, berkata Raden Wijaya.

“Bolehkah aku mengetahui siapa nama tuan muda ?”, bertanya pedagang tua itu.

“Namaku Sanggrama”, berkata Raden Wijaya sambil sedikit tersenyum.

“Sanggrama putra Dyah lembu Tal, cucu Paduka Gurusuci Darmasiksa”, kembali pedagang tua itu bertanya.

“Paman benar, ayahku Lembu Tal, kakekku Gurusuci Darmasiksa”, berkata Raden Wijaya penasaran dari mana pedagang tua itu mengetahui dirinya.

“Gusti Yang Maha Agung, ternyata tuan muda putra tuanku Dyah Lembu Tal”, berkata Pedagang tua itu sepertinya penuh kegembiraan.

“Paman sepertinya telah mengenal ayahku”, berkata Raden Wijaya penuh ingin tahu.

“Dulu aku pernah bertugas di istana, sebagai pekatik ayahmu”, berkata pedagang tua itu sepertinya setengah melamun mengenang masa mudanya.

“Siapa nama Paman, biar kelak bertemu ayahku akan kuceritakan pertemuan kita ini”, berkata Raden Wijaya. “Namaku Sungut, ayahmu pasti mengenalnya”, berkata pedagang tua itu yang menyebut namanya sebagai Sungut.

“Kenapa paman tidak bekerja lagi sebagai pekatik?” bertanya Lawe tertarik mendengar pembicaraan Raden Wijaya dan Sungut pedagang tua itu.

Sungut memandang Lawe, dan tersenyum. “Ketika tuanku Dyah Lembu tal meninggalkan istana, beliau banyak memberikan bekal kepadaku, pesannya agar aku bisa merubah nasib menjadi seorang saudagar”, berkata Sungut sedikit bercerita.”Tapi dasar aku pemalas, bekal dari ayahmu kuhabiskan dengan hidup berfoya-foya sampai habis tak tersisa”, berkata Sungut sambil sedikit tersenyum getir.

“Dan siapa orang tadi yang menagih hutang kepada Paman”, bertanya Raden Wijaya merasa bertambah kasihan kepada Sungut.

“Itulah buruknya nasibku, sebulan yang lalu aku jatuh sakit. Dengan terpaksa aku berhutang sekarung jagung untuk membeli obat sekaligus sebagai bahan makanan, berharap dapat melunasi setelah aku sehat”, bercerita kembali sungut. Pekan lalu hutangku dilipatkan menjadi tiga karung dan Juragan Susatpam mengambil paksa putriku sebagai jaminan atas hutang yang belum dapat kulunasi”

“Hutangmu sudah kulunasi lebih dari cukup, apakah Juragan itu akan melepaskan putrimu ?”, bertanya Raden Wijaya.

“Itulah yang aku khawatirkan, Juragan itu yang kutahu sudah lama menginginkan putriku”, berkata Sungut penuh kekhatiran. “Aku dapat mengantar Paman kerumah Juragan itu”, berkata Raden wijaya.

“Sifatmu sama persis dengan ayahmu, begitu peduli”, berkata Sungut kepada Raden Wijaya.

“Kali ini aku mewakili ayahku untuk menolong sahabatnya”, berkata Raden Wijaya sambil memegang bahu Sungut.

“Tuanku Dyah Lembu Tal adalah junjunganku”, berkata Sungut meluruskan ucapan “sahabat” dari Raden Wijaya.

“Aku merasakan persahabatan diantara kalian”, berkata Raden Wijaya

“Yang kamu katakan adalah kebenaran, tuanku Dyah Lembu Tal menyikapi diriku sebagai seorang sahabat ketimbang sebagai seorang pekatiknya, itulah yang aku rasakan”, berkata Sungut sambil menatap jauh kedepan, entah apa yang tengah direnungkan. Mungki masa-masa kenangan ketika ia masih sebagai seorang pekatik istana.

Akhirnya Sungut tidak dapat menolak permintaan Raden Wijaya yang akan menemaninya mengantarnya ke rumah Juragan Susatpam untuk mengambil putrinya yang sudah sepekan menjadi barang jaminan.

Diputuskan Lawe ikut bersama Raden Wijaya, sementara Mahesa Amping masih bersama Dara Petak dan Dara Jingga kembali ke istana Saunggaluh.

Sungut pun segera membenahi dagangannya. Bersama Raden Wijaya dan Lawe mereka berangkat ke Padukuhan tempat tinggal Sungut.

Padukuhan kroyak memang tidak begitu jauh, disitulah Sungut bermukim sejak masih menjadi seorang pekatik istana. Keberadaan rumahnya dapat bercerita bahwa dulu rumah itu mungkin sebuah rumah milik orang yang cukup berada. Rumah seorang pekatik istana.

“Inilah rumahku”, berkata Sungut ketika mereka sampai di rumahnya.

Tidak lama mereka berada di rumah itu, setelah meletakkan dan menyimpan barang dagangan, mereka langsung menuju rumah Juragan Susatpam yang hanya berjarak beberapa rumah.

Empat orang pesuruh Juragan Susatpam terlihat turun dari pendapa ketika melihat Sungut, Raden Wijaya dan Lawe memasuki halaman muka Juragan Susatpam.

“Mau apa kalian datang kemari”, berkata seorang yang sudah dikenal Raden Wijaya yang tadi dipasar menemui Sungut menagih hutang.

“Aku datang untuk menjemput anakku”, berkata Sungut.

“Anakmu tidak perlu dijemput, ia sudah merasa betah tinggal di rumah ini”, berkata orang itu.

“Bohong, anakku pasti menderita tersiksa dirimu ini”, berkata Sungut dengan suara keras.

“Sudah berani kamu berkata keras kepadaku ?”, berkata orang itu dengan mata mendelik.

“Kisanak, bukankah hutang paman ini sudah

dilunasi?”, berkata Raden

mengingatkan orang itu. Wijaya mencoba

“Sekarang aku tidak bicara lagi tentang hutang, yang kukatakan bahwa anaknya sekarang sudah tidak mau pulang lagi ke rumahnya”, berkata orang itu sepertinya hanya ingin memutar-mutar persoalan. “Jangan-jangan sekeping uang emasku tidak sampai ke tuanmu?”, berkata Raden Wijaya kepada orang itu.

“kalau itu memang benar, maumu apa?”, berkata orang itu.

“Aku akan memintanya kembali, dan langsung akan menyerahkannya kepada tuanmu”, berkata Raden Wijaya.

“Dengan cara apa kamu meminta kepadaku?”, berkata orang itu menantang

“Cukup dengan kedua tanganku ini”, berkata Raden Wijaya.

“Kamu mau menantangku?”, berkata orang itu. “Dengan sangat terpaksa bila itu yang kamu

inginkan”, berkata raden Wijaya penuh ketenangan.

“Kamu belum mengenalku anak muda”,  berkata orang itu telah mempersiapkan dirinya. Sementara tiga orang kawannya memberi tempat agak bergeser kesamping.

“Aku mau mencoba mengenalmu”, berkata raden Wijaya yang ikut-ikutan pura-pura sepertinya tengah mempersiapkan dirinya.

“Kamu akan menyesal setelah tahu siapa diriku”, berkata orang itu sambil langsung menerjang Raden Wijaya dengan sebuah tendangan meluncur.

Raden Wijaya telah menggeser dirinya kesamping.

Dan tendangan itu pun menjadi luput.

Dengan beringas orang itu mengejar Raden Wijaya dan langsung meninju dagu Raden Wijaya dengan pukulan dari bawah keatas. Kembali Raden Wijaya bergeser sedikit mundur. Tinju itu pun hanya mengenai angin kosong.

Mendpatkan dua serangannya kembali menemui tempat kosong, orang itupun langsung melepas senjatanya. Sebuah golok berukuran sedang melayang membabat arah pinggang Raden Wijaya.

Sungut yang melihat hal itu terperanjat menahan napas, sekejab dirinya merasakan telah berbuat dosa telah membawa putra junjungannya masuk kedalam masalah pribadinya.

Tapi Sungut dapat bernapas lega, Raden Wijaya dengan gesit menggeliat meliukkan badannya. Kembali serangan golok itu melewati ruang kosong.

“Keluarkan senjatamu”, berkata orang itu penuh kemarahan karena serangannya selalu luput menemui tempat kosong.

“Bukankah sudah kukatakan bahwa aku akan menghadapimu dengan kedua tanganku ini?”, berkata raden Wijaya sambil tersenyum memandang orang itu yang terlihat sudah sangat marah.

Melihat ketenangan Raden Wijaya, orang itu nampaknya sudah menjadi semakin marah.

“Jangan salahkan aku bila kamu akan binasa tercincang disini”, berkata orang itu sambil menerjang raden Wijaya dengan goloknya. Golok itupun seperti terbang mengejar leher Raden Wijaya.

Kembali Sungut menahan nafasnya, ia masih meragukan apakah raden Wijaya dapat keluar dari serangan orang itu yang dikenal sebagai salah satu seorang pengawal Juragan Susatpam yang paling beringas, paling kejam. Semua orang di Padukuhan sudah mengenalnya dan tidak pernah berani berurusan apapun dengan orang itu.

Lagi-lagi Sungut dapat bernafas lega, dilihatnya Raden Wijaya kembali dapat menghindari serangan orang itu dengan merendahkan dirinya. Dan kali ini Raden Wijaya bukan hanya menghindar, sambil merendahkan dirinya menghindari ayunan golok, kaki kanan raden Wijaya langsung menyodok perut orang itu yang langsung terlempar kebelakang.

Ternyata Raden Wijaya hanya menggunakan sedikit kekuatannya, hanya sebatas kekuatan wadag. Namun akibatnya orang itu terlihat menahan sakit. Perutnya terasa mual dan sesak.

“Hajar pemuda sombong ini”, berkata orang itu meminta ketiga kawannya membantu.

“Biarkan kawanmu bermain sendiri”, berkata Lawe menghadang ketiga orang pengawal Juragan Susatpam yang terlihat akan bergerak untuk membantu kawannya.

“Kalau begitu kamu dulu yang akan menjadi barang mainan kami”, berkata salah seorang dari ketiga pengawal itu langsung melayangkan tamparannya.

Lawe bukan orang yang suka bermain-main. Maka sambil mengegoskan wajahnya miring sedikit menghindari tamparan itu, langsung tangannya membalas tamparan itu juga dengan sebuah tamparan yang sangat keras dan cepat. Akibatnya sangat fatal sekali, orang itu langsung tersungkur ke samping dengan pipi berwarna biru sembab. Bumi sepertinya terasa berputar, orang itu tidak bisa bangkit dan sepertinya langsung pingsan.

“Ayo kalian berdua maju bersama”, berkata Lawe kepada dua orang pengawal yang memang tengah bersiap menyerangnya.

Kedua orang itu pun langsung menyerang Lawe bersama-sama. Sebuah golok terlihat mengayun kearah leher Lawe, golok lain tengah menyambar pinggangnya.

Terlihat wajah Lawe tidak mengesankan kecemasan, dengan tenang merendahkan badannya sekaligus bergeser kesamping sambil kakinya menghentak ke dada orang yang semula menyerang lehernya.

Bukkk!!!

Orang yang terkena tendangan itu terpental merasakan dadanya sesak dan jatuh dibumi sepertinya susah untuk berdiri kembali.

Melihat kawannya jatuh dalam satu gebrakan, lawan Lawe menjadi sedikit gusar. Tapi golok ditangannya sudah terlanjur terlepas dari sarungnya, dan perasaan malunya yang membuat dirinya terpaksa harus terus kembali menyerang. Kali ini dengan setengah semangat menyerang kembali Lawe yang masih bertangan kosong.

Lawe melihat kegusaran hati lawannya, maka serangan lawannya yang mengarah kepundaknya tidak dengan segera dihindarkan.

Hampir saja orang itu merasa gembira bahwa serangannya akan berhasil melukai pundak Lawe. Namun hal tak terduga telah terjadi. Belum lagi golok itu menyentuh kulit pundak, Lawe dengan cepat bergeser setapak.

Bersamaan dengan itu tangannya tepat menghantam pergelangan tangan lawannya. Maka yang terjadi golok ditangan orang itu terlempar tidak mampu dipertahankan lagi.

Belum lagi lepas rasa terkejutnya, sebuah tamparan keras langsung menghantam rahangnya. Akibatnya sudah dapat diterka, orang itu langsung limbung tersungkur ke tanah merasakan tamparan tangan Lawe yang sudah terlatih.

Sementara itu lawan Raden Wijaya telah kembali melakukan serangannya terlihat menjadi sangat penasaran, semua serangannya selalu dapat dihindarkan oleh Raden Wijaya dengan begitu mudahnya.

Dan begitu belihat bahwa Lawe telah menyelesaikan permainannya, Raden Wijaya pun langsung ikutan ingin menyudahi permainannya.

Maka ketika sebuah serangan yang mengayun nyaris mengincar dadanya, dengan kecepatan yang tidak terduga dan tidak bisa diikuti oleh pandangan wadag biasa. Tiba-tiba saja golok itu telah berpindah tangan.

Bukan main kagetnya orang itu, golok ditangannya telah berpindah tangan.

Belum lagi lepas rasa terkejutnya, sebuah tendangan telah menghajar perutnya.

Bukk!!!!

Orang itu meringsek menahan rasa sesak dan nyeri, isi perutnya terasa terbalik ingin muntah. Dan tiba-tiba saja senjata itu telah mengancam tuannya sendiri.

“Berikan kembali sekeping emas milikku”, berkata Raden Wijaya sambil menempelkan golok tajam diatas kulit leher orang itu.

Gemetar orang itu membayangkan senjatanya yang disadari sangat tajam dan telah diwarangi dengan sedikit racun itu akan melukai dirinya sendiri.

Maka tanpa menunggu apapun, orang itu segera mengeluarkan sekeping emas dan memberikannya kepada Raden Wijaya.

Ternyata apa yang terjadi di halaman  telah disaksikan semuanya oleh Juragan Susatpam dari atas Pendapa rumah. Terkejut bahwa empat orang pengawalnya yang selama ini diupah untuk menjaga dan berlindung dibelakangnya telah dapat dikalahkan dengan begitu mudahnya.

Dengan tubuh gemetar penuh rasa takut, dirinya seperti terpaku ditempat manakala Raden  Wijaya, Sungut dan Lawe datang menghampirinya. Apalagi dilihatnya Raden Wijaya masih menggenggan sebuah golok telanjang.

“Kami datang untuk membayar hutang, kembalikan putri Paman ini”, berkata Raden Wijaya ketika sudah mendekati Juragan Susatpam yang terlihat masih gemetar.

“Tidak ada hutang lagi, ambilah apa yang kalian inginkan. Asal jangan menyakiti diriku”, berkata Juragan Susatpam yang ternyata punya nyali begitu kecil.

“Hutang harus dibayar”, berkata raden Wijaya sambil melempar sekeping emas dihadapan Juragan Susatpam.

Sementara itu Sungut sudah tidak sabar lagi, tahu apa yang harus dilakukannya langsung masuk kerumah itu untuk mengambil putrinya.

Tidak lama berselang Sungut telah keluar dari pintu rumah sambil menggandeng seorang gadis yang ternyata anaknya yang selama ini disekap dirumah Juragan Susatpam.

Tidak bisa dipungkiri, anak gadis Sungut ternyata seorang gadis yang berwajah cukup jelita. “Pantas Juragan Susatpam terpikat”, berkata Raden Wijaya ketika sempat melirik anak gadis Sungut yang cantik jelita.

Tapi lirikan mata Raden Wijaya yang sekejap adalah sebuah malapetaka untuknya.

Apa yang telah terjadi ????

Ternyata sekejap itu telah dimanfaatkan sebesarbesarnya oleh Juragan Susatpam yang dengan cepat dan tidak diduga dan diperhitungkan telah melemparkan tiga buah taji beracun dari jarak yang begitu dekat ke tubuh Raden Wijaya.

Setinggi apapun ilmu Raden Wijaya yang telah menguasai ilmu meringankan tubuh dan dapat bergerak dengan cepat tidak juga dapat mengelak dari sasaran.

Raden Wijaya bukan main terkejutnya, tidak menyangka ada serangan yang begitu cepat ke arahnya. Dua buah taji yang mengarah pada jantung dan dihindari lagi, langsung menancap di bahunya.

Setelah melempar senjata rahasianya, terlihat Juragan Susatpam telah melenting jauh melompati pagar pendapa dan berdiri sambil tertawa keras merasa serangannya dapat mengenai sasarannya.

“Kalian memang orang-orang bodoh yang mudah tertipu, aku bukan orang lemah seperti yang kalian sangka. Dan racun kelabang lorengku segera akan mengambil nyawamu”, berkata Juragan Susatpam sambil tertawa di tengah halaman rumahnya.

“Iblis keji”, berkata Lawe yang melihat semua itu langsung melompat ke halaman menerjang Juragan Susatpam dengan penuh kebencian.

Ternyata Juragan Susatpam bukan orang lemah seperti yang diduga. Dengan sigap dapat mengelak dan berhindar dari serangan Lawe yang telah mengeluarkan dua buah belati senjata andalannya. Juragan Susatpam bahkan dapat melakukan serangan balik yang tidak kalah keras dan berbahayanya. Terlihat Juragan Susatpam telah menyerang Lawe dengan sebuah keris berlekuk Sembilan yang cukup panjang.

Pertempuran terlihat begitu seru dan sangat menegangkan. Juragan Susatpam ternyata dapat mengimbangi ilmu Lawe.

Sementara itu Raden Wijaya yang menyadari bahwa taji yang menancap dibahunya mengandung racun yang kuat langsung mencabut taji itu. Darah segar keluar dari bahunya. Raden Wijaya terlihat langsung duduk bersila sempurna. Mengerahkan tenaga murninya untuk menahan menjalarnya racun yang telah menyusup didalam aliran darahnya.

“Jangan khawatirkan diriku, lekaslah ke istana untuk menemui kawanku yang bernama Mahesa Amping”, berkata Raden Wijaya yang tidak mengkhatirkan dirinya, tapi mengkhawatirkan Lawe yang tengah bertempur dengan Juragan Susatpam.

Raden Wijaya meski dalam keadaan terluka masih dapat melihat kesetaraan ilmu Juragan Susatpam yang ternyata berada beberapa lapis dari ilmu Lawe.

Dengan bimbang terpaksa Sungut menuruti permintaan Raden Wijaya. Terlihat Sungut telah keluar dari gerbang halaman rumah Juragan Susatpam sambil menuntun anak gadisnya.

“Kembalilah kerumah, aku akan segera ke istana”, berkata Sungut melepas anaknya pulang ke rumah, sementara ia sendiri telah melangkah setengah berlari menuju istana.

Ketika tiba di Istana, sebagai seorang yang pernah lama bekerja di Istana, Sungut tidak banyak menemui kesulitan dan tahu kemana harus bertanya.

Kepada seorang pengawal, Sungut bercerita apa yang telah terjadi.

“Tamu Baginda Raja terkena racun, dan sekarang Paman ingin bertemu dengan kawannya yang bernama Mahesa Amping?”, bertanya pengawal itu menyimpulkan perkataan Sungut.

“Benar, itulah maksud kedatanganku”, berkata Sungut membenarkan.

“Mataku seperti tidak percaya melihat kau  Sungut ada di istana ini”, berkata seorang pengalasan yang ternyata mengenal Sungut, seorang yang nampaknya sudah tua seumur Sungut sendiri.

“Kalian ternyata sudah saling mengenal, kebetulan sekali tolong kamu antar paman ini”, berkata pengawal  itu kepada orang yang telah mengenal Sungut memintanya membantu mengantar ke Pasanggrahan tempat yang biasa seorang tamu agung beristirahat dan menginap selama di Istana.

Heran sekali Mahesa Amping ketika melihat Sungut yang ia tahu tadi siang telah pergi bersama Lawe dan Raden Wijaya. Panggraitanya yang tajam sudah melihat sesuatu telah terjadi.

Sungut pun dapat mengenali Mahesa Amping sebagai salah satu kawan Raden Wijaya.

“Apakah kamu yang bernama Mahesa Amping?”, bertanya Sungut mencoba meyakinkan dugaannya. “Benar, aku Mahesa Amping”, berkata Mahesa Amping dengan cepat.

Mengetahui bahwa orang yang akan ditemui adalah Mahesa Amping, maka Sungut pun langsung bercerita apa yang telah terjadi.

“Antar aku kesana”, berkata Mahesa Amping kepada Sungut.

Ketika mereka tengah mendekati pintu gerbang istana, seorang pengawal yang sebelumnya telah bertemu dengan Sungut menghampiri mereka.

“Kami akan mengirim beberapa prajurit”, berkata pengawal itu.

“Terima kasih”, berkata Mahesa Amping tanpa berhenti dan terus berjalan setengah berlari keluar dari pintu gerbang istana.

Cerita tentang Raden Wijaya yang terluka terkena racun ternyata begitu cepat menjalar beritanya di Istana. Hingga akhirnya sampai ketelinga Baginda Raja Ragasuci.

0 Response to "Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari Jilid 05"

Post a Comment