coba

Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari Jilid 02

Mode Malam
JILID 02

“Bawalah kayu aji besi keling ini, tunjukkan padanya”, berkata Empu Dangka tanpa menjelaskan kenapa dirinya harus menunjukkan kayu aji besi keling itu kepada Kebo Arema.

Malam sudah semakin larut. Suara binatang malam mendenging mengisi kesunyian. Kadang masih terdengar suara burung celepuk dari tempat yang begitu dan semakin menjauh. Sementara itu cahaya oncor dari minyak biji jarak sudah semakin redup. Empu Dangka dan Kertanegara telah tertidur didalam lelapnya.

Dan pagi pun telah menjelang. Diawali dengan munculnya bintang kejora di langit timur. Hari masih begitu gelap dan dingin, Empu Dangka dan Kertanegara sudah terbangun.

“Semoga Gusti Yang Maha Agung selalu menyertaimu”, berkata Empu Dangka ketika melepas kepergian Kertanegara.

Sampai jauh mata Empu Dangka mengiringi sosok Kertanegara yang akhirnya menghilang di sebuah tikungan sungai.

Sebagaimana yang disarankan oleh Empu Dangka, dengan sebuah jukung perahu kecil Kertanegara menyusuri sungai Porong. Tidak ada hambatan yang berarti sepanjang perjalanannya. Hanya dalam kesendiriannya, Kertanegara merasa dirinya baru terlahir. Dirabanya sebuah canbuk yang melingkar di pinggangnya. “Dengan cambuk ini aku akan berdharma, melecut Singasari sampai di tempat tertinggi”, berkata Kertanegara kepada dirinya sendiri dengan mata menatap kedepan penuh harapan dan semangat.

Tidak terasa, jukung yang dikayuh Kertanegara telah mengantarnya hingga sampai di tepi muara.

Ditambatkannya jukung itu di sebuah dermaga. Kertanegara melihat sebuah perkampungan nelayan, kesanalah langkah kakinya menuju.

Senja telah turun dalam warna buram di atas perkampungan kecil itu. Wajah bulat matahari kuning sudah terpotong di ujung barat cakrawala, seperti lukisan alam yang sempurna, begitu sejuk jiwa yang memandangnya.

Ketika itu masih dalam musim angin barat, gelombang laut masih tinggi. Pada saat seperti itu banyak nelayan tidak berani melaut. Seorang lelaki tengah memperbaiki jalanya yang robek. Sementara dua anak kecil laki-laki bugil bertelanjang masih bermain di depan pondoknya yang sederhana.

“Maaf mengganggu, dapatkah menunjukkan kepadaku dimana tempat tinggal seorang bernama Kebo Arema?”, Kertanegara bertanya kepada lelaki itu. “Mari kuantar kisanak ke tempat Paman Kebo Arema”, berkata lelaki itu sambil berdiri.

Kertanegara dan lelaki itu berjalan bersama ke tempat tinggal kebo Arema.

Seorang lelaki yang telah berumur setengah baya nampak tengah duduk di bale-bale sebuah pondok beratap jurai alang-alang. Pakaian yang dikenakannya sebagaimana kebanyakan para nelayan, begitu sederhana. Lelaki itu bertubuh sedang, nampak gagah dan berwajah tampan dengan sepasang alis tebal dan mata yang bersinar tajam, menandakan lelaki ini mempunyai kepribadian diri yang kuat.

“Paman Kebo Arema, ada yang ingin bertemu”, berkata lelaki yang mengantar Kertanegara kepada seorang lelaki yang dipanggil dengan nama Kebo Arema.

Kebo Arema memandang Kertanegara dengan wajah ramah, sementara lelaki yang mengantar Kertanegara pamit meninggalkan mereka.

“Mari kita duduk di bale-bale”, berkata Kebo Arema menyilahkan Kertanegara duduk bersama di Bale-bale.

“Ada keperluan apa gerangan kisanak perlu menemui aku”, bertanya Kebo Arema kepada Kertanegara ketika mereka sudah duduk bersama di bale-bale.

“Apakah paman pernah mengenal seorang bernama Empu Dangka?”, bertanya Kertanegara mencoba meyakinkan bahwa di depannya adalah Kebo Arema sahabat dari Empu Dangka.

“Empu Dangka yang tinggal di tepian sungai Porong, mungkin yang kisanak maksudkan?”, Kebo Arema balik bertanya kepada Kertanegara.

Dari pertanyaaan itu, Kertanegara merasa yakin bahwa lelaki di depannya itu memang Kebo Arema yang dimaksud.

Maka sesuai amanat dari Empu Dangka, Kertanegara mengeluarkan kayu aji besi keling dari balik pakaiannya serta menunjukkannya di hadapan Kebo Arema.

Bukan main kagetnya Kebo Arema melihat kayu aji besi keling berada di tangan Kertanegara. Wajahnya bertambah gelap menatap Kertanegara.

“Ampunilah hamba Pangeran, hamba tidak berlaku hormat”, berkata Kebo Arema sambil bersujud dihadapan Kertanegara.

“Bangunlah Paman, bagaimana Paman mengetahui bahwa aku seorang Pangeran?”, berkata Kertanegara meminta Kebo Arema bangkit.

Dengan wajah menunduk menjura penuh hormat. Kebo Arema pun menceritakan awal pertemuannya dengan Empu Dangka.

“Empu Dangka yang sebelumnya kukenal dengan sebutan tabib seribu obat itu telah berhasil menyembuhkanku. Atas rasa terima kasihku, aku telah mempersembahkan diriku sendiri untuk mengabdi sepanjang hidupku kepadanya. Tapi beliau menolaknya dan mengatakan bahwa berbaktilah kepada seorang lelaki yang menunjukkan kepadamu kayu aji besi keling. Dialah putra sang fajar Putra Mahkota Singasari. Dampingilah dia seperti bintang kejora mengawal datangnya sang fajar”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara menceritakan tentang dirinya dan hubungannya dengan kayu aji besi keling yang ditunjukkan Kertanegara kepadanya.

“Aku jadi malu, selama bersamanya aku menutup diri tentang jati diriku yang sebenarnya. Ternyata Empu Dangka tidak mempermasalahkannya dengan pura-pura tidak tahu”, berkata Kertanegara kepada Kebo Arema dengan bercerita singkat tentang pertemuannya dengan Empu dangka.

“Kita sama-sama berutang nyawa dengan orang tua itu”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara. Menatap Kertanegara seperti kepada saudara kandungnya sendiri.

“Selamat datang di gubukku yang sederhana”, berkata Kebo Arema dengan penuh hormat kepada Kertanegara.

Kebo Arema dan Kertanegara begitu cepat menjadi begitu akrab, seperti dua saudara bercerita tentang beberapa hal, terutama tentang keberadaan mereka  yang sama-sama pernah disembuhkan oleh Empu Dangka dan pernah lama tinggal di tepian  sungai Porong, di sebuah gubuk yang begitu sederhana.

“Di kampung nelayan ini, aku cukup bahagia membantu para nelayan sebagai pawang ikan”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara bercerita tentang dirinya di perkampungan kecil nelayan itu.

“Aku belum pernah mendengar tugas dari seorang pawang ikan”, bertanya Kertanegara kepada Kebo Arema.

Kebo Arema tersenyum mendengar pertanyaan Kertanegara, Kebo Arema menjadi maklum, karena sebagai orang daratan Kertanegara tidak mengetahui banyak bagaimana kehidupan seorang nelayan.

“Tugas seorang pawang ikan adalah membaca bintang, membawa nelayan ke tempat dimana ikan kakap merah berkumpul, dimana tempat ikan rengge bermain. Itulah sebagian dari keahlianku. Sementara itu para nelayan disini tidak mengetahui lebih jauh lagi tentang diriku yang sebenarnya. Mereka tidak akan mengetahui, bahwa aku dapat membawa mereka lebih jauh ke Tidore tempat begitu banyak mutiara, atau berkelana di sepanjang laut Selat Malaka. Hanya dengan membaca bintang di langit”, Berkata Kebo Arema menjawab pertanyaan Kertanegara.

“Paman telah berkelana di banyak tempat”, berkata Kertanegara kepada Kebo Arema yang banyak bercerita tentang beberapa daerah yang pernah disinggahi, mulai dari pesisir tanah jawa sampai di beberapa nagari disepanjang selat Malaka.

“Tapi akhirnya berhenti di tepian sungai Porong”, berkata Kebo Arema yang disambut gelak tawa oleh Kertanegara.

“Aku akan mengajak Paman kembali berkelana, membacakan bintang dilangit untukku”, berkata Kertanegara kepada Keo Arema.

“Kupersembahkan diriku ini untuk Pangeran”, berkata Kebo Arema sambil menjura penuh hormat kepada Kertanegara. Seorang Putra Fajar yang sudah lama ditunggunya.

Sang fajar kembali muncul di ujung laut biru. Berduyun duyun deburan ombak membelai pantai pasir putih. Beberapa wanita berkemben mencari lindung laut di pantai ditingkahi beberapa bocah kecil telanjang bermain berlari di atas pasir putih.

Sebagai orang daratan, Kertanegara menikmati pemandangan di depan matanya sebagai anugerah pagi dari Tuhan Yang Maha Pencipta. “Saat ini masih musim angin barat, para nelayan tidak berani turun ke laut”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara.

“Gusti Yang Maha Agung telah menganugerahkan alam yang indah untuk dinikmati”, berkata Kertanegara kepada Kebo Arema. Sementara pandang matanya masih terpana memandang matahari yang sudah bulat penuh di ujung cakrawala laut biru.

Berjalan seorang wanita tua menghampiri mereka dengan setumpuk lindung laut.

“Terima kasih Nyi Parmi, sekalian aku titip gubukku ini, mungkin dalam waktu yang sangat lama aku dapat kembali”, berkata Kebo Arema kepada wanita tua itu yang memberikannya setumpuk lindung laut.

Kebo Arema pun telah membuat perapian, membakar lindung laut dalam bentuk tusukan sate panjang. Kertanegara pun ikut membantu membakar lindung laut itu.

“Sarapan pagi yang nikmat”, berkata Kebo Arema sambil mengangkat seekor lindung laut yang sudah masak. Aroma harumnya membuat Kertanegara langsung mengikutinya, mengambil dua ekor lindung bakar yang sangat menggoda.

Sementara itu wajah bulat matahari sudah mulai naik.

Suara ombak sudah sedikit mereda.

“Saatnya kita berangkat”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara.

Dan sebuah perahu telah meluncur meninggalkan tepian pantai pasir putih dalam tatapan cahaya lembut matahari pagi.

“Dimusim angin barat ini kita tidak bisa langsung menembus Madhura dari sisi timur. Kita mendarat dari sisi barat Madhura”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara.

Perahu masih terus melaju membelah ombak laut. Dikayuh oleh dua orang sakti yang bertenaga seperti dua puluh ekor banteng yang disatukan, perahu itu seperti terbang di atas air laut.

“Itulah pulau Madhura”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara.

Sebuah tanah daratan hitam di sebelah kanan mereka memang sudah terlihat. Pulau Madhura seperti raksasa hitam yang membujur tengah tertidur.

“Kita sudah setengah perjalanan”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara, memintanya untuk mengayuh perahu ke pantai.

Perahu telah ditarik jauh di atas daratan pantai putih. Matahari sudah hampir di atas puncak cakrawala. Panas cahaya matahari terpantul pasir putih seperti menyengat.

“Ada air tawar yang selalu menetes di bawah goa karang itu”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara sambil menunjuk sebuah goa karang.

Di depan mereka memang berdiri bukit karang yang tinggi menjulang. Dibawah gunung karang itu  ada sebuah lekukan yang dalam, mungkin terkikis oleh pukulan ombak yang terus menerus dan membentuknya seperti goa bermulut panjang. Dari sebuah lubang langitlangit goa itu menetes air.

“Air tawar”, berkata Kertanegara kepada Kebo Arema yang hanya tersenyum melihat Kertanegara yang mengumpulkan tetesan air di goa itu dengan dua telapak tangannya. “Pangeran beristirahatlah, aku ada urusan dengan seekor kura-kura”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara.

“Urusan apa dengan kura-kura ?”, bertanya Kertanegara tidak mengerti apa maksud Kebo Arema.

“Aku akan meminjam beberapa telurnya untuk urusan perut kita”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara sambil tersenyum dan kembali ketepi pantai.

Tidak lama kemudian, Kebo Arema sudah muncul kembali dengan membawa beberapa butir telur kurakura.

Dengan sigap Kebo Arema menimbun telur-telur itu ke dalam pasir. Di atas pasir itu Kebo Arema membuat sebuah perapian.

“Urusan telur kura-kura telah dibayar tunai”, berkata kebo Arema sambil duduk memandang perapiannya yang sudah menyala besar. Asapnya membumbung keatas terbang hilang ditiup angin yang berdesir kencang.

Kita tinggalkan dulu Kebo Arema dan Kertanegara yang tengah beristirahat, mari kita kembali ke Benteng Cangu.

Seperti yang telah diceritakan di muka, lima ksatria Padepokan Bajra Seta tengah diantar oleh Dadulengit menemui Mahesa Pukat di pendapa utama.

Bukan main senangnya Mahesa Pukat mendapat kunjungan dari orang-orang Bajra Seta. Tampak hadir bersama mereka Gedemantra dan Putumantra. Mereka semua adalah bagian dari para budak yang ikut ke Benteng Cangu mengabdikan dirinya sebagai prajurit Singasari. Setelah bercerita tentang keselamatan masingmasing, Wantilan mewakili saudara-saudaranya dari Bajra Seta bercerita tentang tugasnya untuk mencari keberadaan Putra Mahkota.

“Beberapa petugas sandi telah berhasil menemui seorang penumpang kapal kayu yang berangkat bersama Pangeran Kertanegara dari Bandar Cangu. Dari penumpang itu disadap sebuah berita, bahwa Pangeran Kertanegara dalam keadaan pingsan dibawa oleh seorang yang disebut oleh para perompak bernama Nelayan bercaping ke arah sungai Porong”, berkata Wantilan menjelaskan berita terakhir keberadaan Pangeran Kertanegara kepada Mahesa Pukat. “Yang sangat dikhawatirkan, saat ini ada sekelompok orang yang berencana membunuh Pangeran Kertanegara”, berkata kembali Wantilan melanjutkan.

“Kita tidak mengetahui siapa dan dimana tempat tinggal seorang yang bernama Nelayan bercaping itu”, berkata Mahesa Pukat memberikan pandangannya.

“Bagaimana bila kita menganggap Pangeran Kertanegara sudah di selamatkan olen Nelayan bercaping itu, dan saat ini tengah dalam perjalanannya ke Madhura”, berkata tiba-tiba Mahesa Amping memberikan pendapatnya yang sebenarnya adalah tangkapan sekilas panggraitanya.

Mahesa Pukat menatap tajam mahesa Amping, teringat kembali ke masa-masa silam. Mahesa Pukat merasa bahwa Mahesa Amping telah berhasil dan mengenal lebih tajam getar panggraitanya.

“Itukah yang kau tangkap dari panggraitamu ?”, bertanya Mahesa Pukat langsung kepada Mahesa Amping. Kaget Mahesa Amping mendengar pertanyaan Mahesa Pukat, sebenarnyalah apa yang dikatakannya adalah gambaran yang sekilas yang muncul secara tibatiba di dalam pandangan bathinnya.

“Tiba-tiba saja aku melihat gambaran seperti itu”, berkata Mahesa Amping kepada Mahesa Pukat.

“Secepatnya kita menemui Pangeran Kertanegara sebelum didahului sekelompok orang yang akan membunuhnya”, berkata Mahesa Semu ikut memberikan pandangannya.

“Kita harus bergerak cepat”, berkata Putumantra. “Panggraita Mahesa Amping dapat diterima oleh

akal”, berkata Mahesa Pukat memberikan pendapatnya.

“Aku ada usul”, berkata Dadulengit tiba-tiba. Semua mata tertuju kepadanya.

“Usulku adalah bagaimana bila kita lanjutkan pembicaraan ini setelah menikmati hidangan yang sudah tersedia di depan kita”, berkata Dadulengit sambil tersenyum.

“Aku sependapat”, berkata Sembaga yang perutnya sudah lama berbunyi melihat hidangan yang telah tersedia.

Dan malampun terus berlalu, menyelimuti benteng Cangu dalam gelap tanpa bintang dilangit biru.

Akhirnya semua sepakat, diputuskan untuk segera melanjutkan perjalanan ke Madhura.

“Panggraita Mahesa Amping diterima juga oleh akal sehat, bila Pangeran tidak selamat di tangan Nelayan bercaping, tunailah tugas kalian. Tapi bila ada kemungkinan bahwa Pangeran selamat dan sedang dalam perjalanan ke Madhura, langkah kalian harus cepat, mendahului siapapun yang akan berbuat tidak  baik bagi keselamatan Putra Mahkota”, berkata Mahesa Pukat memberikan pendapatnya dan langsung disepakati oleh semua yang hadir.

Matahari pagi di atas Bandar Cangu sudah nampak begitu tinggi diujung timur cakrawala. Seorang pemilik kapal kayu kenalan Mahesa Pukat bersedia membawa lima orang ksatria dari Padepokan Bajra Seta. Dengan kapal kayu itulah mereka berangkat ke Curabhaya.

Kapal kayu pun telah meluncur membelah sungai Brantas. Dari atas geladak disepanjang jalan terlihat pesawahan yang luas, berbungalah mata yang memandangnya. Kedamaian menghampir petak demi petak sawah bagai permadani hijau terhampar luas. Aliran sungai brantas menjadi karunia membasahi sawah lading petani di sepanjang jalan. Tapi ketika kapal kayu melaju ditepi hutan yang sepi, hati menjadi kecut. Sepertinya puluhan mata dibalik kerindangan hutan tengah mengawasi, menyergap mereka dengan tiba-tiba. Kehadiran perompak memang masih menjadi hantu yang menakutkan pagi para pedagang. Harapan mereka tentang peranan Benteng Cangu memang sangat besar. Tapi itupun untuk waktu yang agak lama.

Tapi ternyata perompak tidak muncul dari balik hutan. Tiga orang berwajah beringas berdiri diatas geladak kapal dengan golok besar telanjang.

“Yang ingin selamat, berkumpul di sebelah kiri geladak”, berkata seorang yang tinggi besar sepertinya pimpinan dari mereka.

Maka beberapa penumpang dengan wajah penuh ketakutan telah berkumpul di geladak sebelah kiri. “Lewati mayat kami terlebih dahulu”, berkata salah seorang awak kapal dibelakangnya diikuti tiga orang lainnya.

“Kami hanya perlu beberapa barang, jadi jangan menyusahkan diri”, berkata seorang pemimpin perompak menggertak.

“Kami bertanggung jawab di atas kapal ini”, berkata pimpinan awak kapal.

“Dasar kepala batu”, berkata pemimpin perompak sambil maju menerjang pemimpin awak kapal langsung golok besarnya membabat kepala pemimpin awak kapal itu.

Ternyata pemimpin awak kapal bukan sembarang menantang, dengan gesit merendahkan dirinya dan langsung menyerang dengan menyodokkan pedang panjangnya keperut pemimpin perompak itu. Bukan main geramnya pemimpin perompak itu, melihat serangannya dapat ditandingi.

Akhirnya terjadilah perang tanding yang mendebarkan diatas geladak kapal itu antara pemimpin perompak dan pemimpin awak kapal.

Sementara itu, tiga orang awak kapal tidak tinggal diam. Mereka langsung menghadang dua perompak yang tidak menyangka bahwa di kapal kayu itu akan mendapat perlawanan.

Akhirnya terjadilah perang tanding yang mendebarkan diatas geladak kapal itu antara perompak dan para awak kapal. Seorang perompak tanpak tidak gentar mendapat dua orang lawan.

Lima orang ksatria dari Padepokan Bajra Seta masih belum dapat menilai, apakah pertempuran akan berjalan seimbang. Meski begitu mereka telah mempersiapkan dirinya, akan membantu para awak kapal.

Entah dari mana munculnya, seorang pemuda perlente barwajah tampan, namun senyumnya nampak seperti iblis, dingin dan kejam. Bertolak pinggang diujung geladag.

“Ternyata tugasku hari ini menjadi begitu ringan”, berkata pemuda perlente itu sepertinya kata-katanya ditujukan kepada pemimpin perompak.

“Sepasang iblis dari gelang-gelang !!”, berkata pemimpin perompak sambil melompat mundur beberapa langkah dari hadapan lawannya. Ternyata pemimpin perompak itu telah mengenal pemuda perlente itu.

“Hantu Wungu, Apakah bayaranmu untuk membunuh Putra Mahkota masih belum banyak?”, berkata seorang pemuda yang sangat mirip dengan pemuda perlente sambil duduk dipagar geladak. Yang  membedakan kedua pemuda itu adalah pemuda yang terlihat belakangan mempunyai cacat luka bakar dipundaknya.

“Dari mana kalian mengetahui tugas rahasia kami “Siapapun  kalian, enyahlah  dari kapal kami”, berkata

pemimpin    awak    kapal    yang    terbakar    amarahnya

mendengar pembicaraan mereka. Dengan geram langsung menyerang pemimpin perompak yang dipanggil Hantu Wungu itu.

Sementara itu, tiga orang awak kapal dan dua orang perompak masih terus bertempur.

Lima orang ksatria dari Padepokan Bajra Seta sudah dapat menilai, siapa yang lebih unggul dari pertempuran itu. Hantu Wungu dan dua orang anak buahnya ternyata sudah tidak bermain-main lagi, telah menunjukkan siapa mereka sebenarnya.Terlihat pemimpin awak kapal seperti tidak berdaya mengelak serangan dari Hantu Wungu yang semakin cepat. Hampir saja sebuah sabetan golok panjang Hantu Wungu mengenai pinggangnya kalau saja pemimpin awak kapal itu tidak menjatuhkan dirinya berguling di geladak.

Sementara itu, tiga orang awak kapal nasibnya hampir sama, mereka sudah menjadi bulan-bulan dua orang perompak anak buah Hantu Wungu.

Wantilan telah memberi tanda kepada saudarasaudaranya, mereka telah siap turun bertempur sebelum para awak kapal menjadi korban.

“Biarlah aku menghadapi orang ini”, berkata Sembaga kepada pemimpin awak kapal yang baru bangkit berdiri setelah berguling jatuh di lantai geladak.

“Ini adalah tanggung jawabku”, berkata pemimpim awak kapal kayu itu kepada Sembaga.

“Hantu Dungu ini bukan tandinganmu, aku tidak ingin ada korban di kapal ini”, berkata Sembaga berusaha memberi keyakinan kepada pemimpin awak kapal kayu itu.

“Berhati-hatilah”, berkata pemimpin awak kapal itu yang memang merasa bukan tandingan Hantu Wungu, hanya karena rasa tanggung jawabnya saja maka ia masih terus bertahan. Meski di dalam hatinya masih menyangsikan apakah Sembaga dapat menandingi Hantu Wungu. Dalam keraguan pemimpin awak kapal itu pun mundur beberapa langkah.

“Di tempat asalku tidak ada yang berani  menghinaku”, berkata Hantu Wungu menunjuk dengan golok besarnya kepada Sembaga, rupanya Hantu Wungu mendengar dengan jelas ketika Sembaga menyebutnya dengan Hantu Dungu.

“Ternyata hantu mudah tersinggung”, berkata Sembaga kepada Hantu Wungu sambil tersenyum. Tidak sedikit pun menampakkan kegentarannya.

Sikap Sembaga membuat Hantu Wungu naik pitam. Tanpa aba-aba lagi sudah langsung menyerang Sembaga.

Ketika menyaksikan pertempuran antara Hantu Wungu dan Pemimpin awak kapal, Sembaga sudah dapat menilai sejauh mana tataran ilmu Hantu Wungu, Maka tanpa melepaskan senjatanya Sembaga melayani serangan hantu Wungu. Sembaga sepertinya tidak ingin membunuh Hantu Wungu, juga tidak ingin secepatnya menyelesaikan pertempurannya. Terlihat Sembaga lebih banyak mengelak, sengaja menguras tenaga Hantu Wungu yang semakin panas melihat serangannya selalu menjadi luput dari sasaran.

Sementara itu Wantilan dan Mahesa Semu juga telah ikut ambil bagian. Wantilan menghampiri dua orang awak kapal yang sudah hampir kehabisan tenaga menghadapi seorang perompak yang terlihat mempunyai kematangan bertempur jauh lebih baik.

“Beristirahatlah, cecunguk ini urusanku”, berkata Wantilan meminta dua orang awak kapal menyingkir.

Melihat ada yang datang membantu, kedua awak kapal yang sudah hampir terkalahkan itu seperti menarik nafas lega. Meski masih merasa sangsi apakah Wantilan dapat melayani lawannya itu.

“Hebat, ternyata ada orang pemberani di kapal ini”, berkata perompak itu memandang tajam Wantilan. “Aku punya penyakit turunan, badanku gatal-gatal bila lama tidak berkelahi”, berkata Wantilan sambil menggaruk beberapa bagian tubuhnya.

“Apakah sekarang kamu sudah sedemikian gatal?”, bertanya perompak itu masih dengan sorot mata yang tajam menakutkan.

“Gatal sekali untuk menusuk kedua matamu”, berkata Wantilan perlahan kepada perompak itu.

“Kurang ajar, kurobek mulut lancangmu !!”, berkata perompak itu merasa diremehkan oleh Wantilan langsung menyerang dengan golok besarnya.

Maka terjadilah pertempuran yang seru antara Wantilan dan perompak itu. Wantilan tidak ingin bermain lama dengan perompak itu, dengan pedang panjangnya Wantilan memburu perompak itu yang terkaget bahwa lawannya bukan orang lemah.

Sementara itu, disisi lainnya. Mahesa Semu sudah menggantikan awak kapal yang juga hampir terbunuh. Ketika sebuah serangan ke arah leher awak kapal itu yang tidak mungkin dapat dihindari. Dengan kecepatan yang luar biasa pedang Mahesa Semu telah menagkis laju golok besar perompak. Dan benturan dua senjatapun terjadi. Bukan main kagetnya perompak itu. Hampir saja senjatanya terlepas. Tangannya terasa panas menahan benturan itu. Namun nyalinya kembali berkembang ketika mengetahui orang yang menahan dan membenturkan senjatanya hanyalah seorang pemuda.

“Anak muda, apakah kamu tidak takut mati?”, berkata perompak itu kepada Mahesa Semu.

“Justru aku yang harus berkata, apakah kamu tidak takut kehilangan senjatamu?”, berkata Mahesa Semu sambil tersenyum.

Perompak itu menjadi panas melihat Mahesa Semu begitu tenang, meski dalam benturan pertama telah merasakan benturan tenaga yang malampaui tenaganya. Tapi perompak itu masih belum merasa suatu kekalahan. Perompak itu masih berpikir dan berharap dapat mengalahkan pemuda di hadapannya dengan kecerdikan dan pengalaman tempurnya.

Tetapi, harapan perompak itu ternyata cuma sampai sebuah harapan. Setelah sekian jurus ia belum mampu juga mengalahkan Mahesa Semu, bahkan sepertinya justru dirinya yang hampir tidak berdaya menerima serangan-serangan Mahesa Semu. Semakin lama sudah dapat dibaca bahwa perompak itu tinggal menunggu waktu. Dan waktu itu pun terjadi, sebuah benturan senjata kembali terjadi. Perompak itu sudah tidak lagi dapat mempertahankan golok besarnya. Telapak tangannya dirasakan begitu panas, dan golok besarnya pun telah terlepas terpental jauh.

Sepasang iblis dari gelang-gelang yang biasanya selalu meremehkan lawan-lawannya menjadi sangat kaget menyaksikan orang-orang yang baru datang menggantikan para awak kapal dan ternyata mempunyai tataran ilmu diatas kelompok Hantu Wungu.

“Menyerahlah”, berkata Mahesa Semu yang dengan gerakan begitu cepat telah mengancam pedangnya di ujung leher seorang perompak lawannya.

Sementara itu, Wantilan juga telah menyelesaikan perkelahiannya. Sebuah tendangan yang cukup keras telah menghantam dada perompak hingga terlempar menghantam pagar geladak langsung pingsan.

Sepasang iblis dari Gelang-gelang semakin tegang. Dua anak buah Hantu Wungu dengan mudah dijatuhkan oleh orang-orang yang belum dikenalnya.

Sementara itu Sembaga masih melayani Hantu Wungu, memancing Hantu Wungu lebih buas lagi menyerangnya. Dengan sekuat tenaga Hantu Wungu terus menyerang Sembaga tanpa mengetahui bahwa dirinya sengaja dipancing untuk menguras tenaganya. Hingga akhirnya Sembaga mulai terlihat tidak telaten lagi. Tiga buah pukulan beruntun begitu cepat menghantam Hantu Wungu. Pukulan pertama sebuah tinju menghantam perutnya. Ketika tubuh Hantu Wungu agak merendah menahan sakit di perutnya yang dirasakan seperti terhantang benda berat yang begitu keras, pukulan kedua kembali dirasakan pada samping tulang lehernya. Dan terakhir, sebuah tamparan menghantam persis pada tulang rahangnya. Seperti handuk basah, Hantu Wungu ambruk lemas tak bertenaga. Pandangan matanya seperti menjadi begitu gelap. Dan Hantu Wungu telah tergeletak pingsan tak bergerak lagi.

Sepasang iblis dari Gelang-Gelang terperanjat melihat tiga pukulan Sembaga yang begitu cepat beruntun menghantam tubuh Hantu Wungu yang sangat disegani di daerah Wungu sehingga bergelar Hantu Wungu. Sepasang Iblis dari Gelang-Gelang adalah orang-orang yang bukan saja kejam, tapi licik dan cerdik. Mereka dapat berhitung dengan cepat, pasti ada beberapa orang lagi seperti Sembaga, bahkan lebih lihai lagi. Maka mereka pun telah sepakat. Terjun ke sungai melarikan diri.

“Jangan kau kejar !!”, berkata Sembaga mencegah Mahesa Amping yang akan ikut terjun kesungai mengejar Sepasang Iblis dari Gelang-Gelang.

“Kita tidak mengetahui keadaan di seberang hutan sana. Atau jangan-jangan itu sebuah pancingan”, berkata Sembaga kepada Mahesa Amping menyampaikan pendapatnya.

“Terima kasih Paman”, berkata Mahesa Amping mengerti dan menerima kekhawatiran Sembaga yang mengingatkannya.

Dalam waktu singkat, Hantu Wungu dan dua orang anak buahnya telah terikat.Mereka diamankan di tengah tiang layar kapal kayu dalam pengawasan yang ketat dari para awak kapal.

Sementara itu, jauh dari Sungai Brantas. Di pantai Karang Anyer, Kebo Arema dan Kertanegara telah merasa cukup beristirahat. Mereka telah bersiap-siap melanjutkan perjalanannya.

Sebuah perahu terlihat begitu kecil di tengah laut yang luas. Diapit dua daratan yang semakin menyempit terus membelah ombak.

“Kita berpacu dengan senja”, berkata Kebo Arema memberi tanda mempercepat dayung mereka.

Di kejauhan sudah terlihat ujung-ujung tiang layar kapal kayu bersandar. Semakin lama menjadi semakin jelas. Puluhan kapal kayu besar tengah bersandar. Sebuah kapal kayu besar bertiang layar rangkap tengah merenggang dari dermaga.

“Kita telah sampai di Ujung Galuh”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara.

Matahari mengintip separuh wajahnya di ujung sebelah barat. Pulau Madhura terlihat panjang hitam memanjang dalam kesunyiannya. Hati Kertanegara seperti tergetar meletup-letup seakan telah terbang jauh mendarat di pulau hitam itu. Melihat sang kekasih Menik Kaswari dalam tatap sendu rindu.

“Kita bermalam di sini”, berkata Kebo Arema membuyarkan lamunan Kertanegara. “Aku punya keluarga dekat di sini”, berkata lagi Kebo Arema kepada Kertanegara.

Perahu mereka bersandar di dermaga sebuah perkampungan nelayan. Sebuah perkampungan yang unik. Rumah mereka ada di atas air, berupa tongkang kayu beratap diikat pada tonggak-tonggak kayu yang menancap di dasar laut dangkal. Perkampungan terapung, begitulah orang-orang menyebutnya.

“Perkenalkan, inilah saudara sepupuku bernama Bhaya”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara memperkenalkannya kepada Bhaya saudara sepupunya.

Seorang pemuda yang seusia dengan Kertanegara. Wajahnya cukup gagah mirip dengan Kebo Arema,  hanya lebih muda, itulah yang membedakannya.

Setelah menanyakan keselamatan masing-masing. Kebo Arema bercerita bahwa rencananya mereka akan menyeberang ke Pulau Madhura mengantar Kertanegara untuk menemui seseorang di sana.

“Di Kademangan Mlajah aku pernah mendengar telah berdiri sebuah barak besar prajurit. Disitulah tempat satusatunya para prajurit tinggal di Pulau Madhura”, berkata Bhaya kepada Kebo Arema dan Kertanegara.

“Apakah kamu tidak keberatan mengantar kami kesana?”, berkata Kebo Arema kepada Bhaya.

“Dengan senang hati, Paman”, berkata Bhaya kepada Kebo Arema.

Dan malam pun telah menyelimuti perkampungan terapung itu. Wajah bulat bulan purnama tergantung di langit kelam. Suara ombak dan angin sepertinya nyanyian malam yang abadi. Kadang tongkang kayu bergetar ditampar gulungan ombak yang tinggi. Orang bilang saat itu Dewi Bulan dan Dewa Laut tengah kasmaran. Tapi tangan Dewa Laut tidak pernah mampu menggapai wajah Sang Dewi Rembulan.

Dan pagi pun telah datang pula. Dewi Bulan telah kembali keperaduannya. Meninggalkan Dewa Laut yang lelah tetidur.

Sebuah Jukung bercadik, berlayar tunggal merenggang dari perkampungan terapung.

“Ke Kademangan Mlajah lewat jalur laut lebih cepat”, berkata Bhaya kepada Kertanegara sambil mengayuh jukungnya yang lebih besar dibandingkan jukung milik Kebo Arema.

Diam-diam Kertanegara memuji Bhaya yang sepertinya begitu mengenal kehidupan laut.

“Jukung ini seperti rumah keduaku, kadang berharihari aku terapung di tengah lautan”, berkata Bhaya kepada Kertanegara.

Arah jukung sedikit melengkung melampau paruh burung ujung Madhura.

“Kita telah sampai di pesisir pulau Madhura”, berkata Bhaya kepada Kertanegara ketika jukung mereka telah mendekati pesisir pulau Madhura.

Jukung pun terus melaju menyusuri pesisir pantai Madhura. Layar pun telah dikembangkan. Siang itu angin bertiup keras keutara.

“Sebentar lagi kita akan melewati pantai tanduk pulau sapi”, berkata Bhaya kepada Kertanegara mengatakan pulau Madhura sebagai pulau sapi. “Kita beristirahat di tanduk sapi”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara sambil menunjuk ke sebuah arah yang merupakan celah sempit antara nusajawa dan Pulau madhura.

Seperti yang dikatakan Kebo Arema, mereka merapat beristirahat di pantai Tanduk. Diperjalanan Bhaya masih sempat menumbak beberapa sotong. Sejenis cumi-cumi namun tubuhnya lebih tambur lagi, sangat banyak di jumpai di sekitar pesisir pantai Pulau Madhura. 

“Sotong bakar yang nikmat”, berkata Kertanegara sambil menikmati tiga buah sotong dalam satu tusukan kayu panjang.

Ketika matahari bergeser surut dari puncaknya, Kertanegara, Kebo Arema dan Bhaya terlihat tengah mendorong jukungnya menjauhi pantai. Jukung pun kini telah bergerak kembali menyusuri pesisir Pulau Madhura. Ketika menemui beberapa perahu nelayan yang tengah menurunkan sauhnya di tengah laut, mereka pun saling menyapa atau sekedar melambaikan tangan. Begitulah pekerti kehidupan di tengah laut, mereka saling menyapa dan siap membantu bila diperlukan.

Jarak perjalanan mereka memang sudah begitu dekat. Matahari telah semakin surut ke barat manakala mereka telah menambatkan jukung pada sebatang pohon kelapa. Angin laut sepoi berdesir mengeringkan peluh dan rasa lelah.

“Tidak jauh dari sini ada sebuah pasar”, berkata Bhaya kepada Kertanegara dan Kebo Arema.

Tidak jauh dari pantai tempat mereka menambatkan jukungnya, ada sebuah pasar. Untungnya hari itu adalah hari pasaran. Masih ada sebuah kedai yang masih buka. Mereka mampir sebentar membeli beberapa jajanan dan minuman hangat yang menyegarkan. Setelah itu mereka pun melanjutkan perjalanannya.

Matahari sudah semakin surut ketika mereka telah sampai di Kedemangan Mlajah. Hamparan sawah sepertinya menyambut kedatangan mereka. Kedemangan Mlajah adalah daerah yang ramai, yang merupakan jalur perdagangan antara Madhura dan Nusajawa. Disitulah barak prajurit didirikan di samping untuk menjaga keamanan, juga sebagai perwakilan kerajaan Singasari menempatkan seorang Rakyan mengurus thanibala khusus dari pulau Madhura.

Kepada seorang petani yang tengah membuat tali temali pengusir burung mereka bertanya, dimana letak barak prajurit.

Petani itu pun menunjuk ke sebuah arah.

“Kisanak menyusuri jalan desa ini, ambillah jalan ke kanan ketika menemui pertigaan jalan”, berkata petani itu menunjukkan dimana letak barak prajurit.

Akhirnya, mereka pun telah sampai di tempat yang mereka tuju. Sebuah barak yang besar yang dikelilingi pagar kayu bulat setinggi kepala.

Kepada seorang prajurit penjaga, Kebo Arema menyampaikan maksudnya untuk bertemu dengan seorang perwira tinggi bernama Bangkalan.

“Ki Rangga Bangkalan tidak tinggal di barak, beliau tinggal bersama keluarganya”, berkata prajurit penjaga itu.

“Dapatkah kami ditunjukkan dimana rumah keluarga Ki Rangga?”, berkata Kebo Arema kepada Prajurit itu.

“Ikutilah bulakan panjang di samping barak ini, rumahnya tidak jauh   dari  sini”,  berkata prajurit itu memberi arah kemana harus mencari rumah Ki Rangga Bangkalan.

Kertanegara, Kebo Arema dan Bhaya tengah menelusuri sebuah bulakan panjang. Ketika sampai di ujung bulakang panjang, melewati sebuah rumpun bambu tali, mereka melihat sebuah rumah yang tidak begitu besar dikelilingi pagar kayu yang dibelah sederhana.

Hari sudah hampir senja manakala mereka mencoba membuka regol pintu pagar. Terlihat seorang lelaki duduk sendiri di pendapa.

“Pangeran!!”, berdiri orang itu sambil memeluk Kertanegara yang belum sempat naik ke pendapa. Orang itu yang tidak lain adalah Bangkalan menangis tersegugsegug di pundak Kertanegara.

Kertanegara berfirasat ada sesuatu yang besar yang telah terjadi.

“Katakan paman, apa yang telah terjadi?”, berkata Kertanegara kepada Bangkalan sambil mengguncang kedua pundaknya.

Bangkalan sepertinya tersadar. Dengan wajah masih dalam kesedihan mengajak Kertanegara naik ke Pendapa rumah. Sementara Kebo Arema dan Bhaya ikut juga naik dan duduk di Pendapa.

“Semula aku merasa putus harapan, menyangka Pangeran tidak akan mungkin datang kemari”, berkata Bangkalan setelah dapat menenangkan dirinya.

Akhirnya, dengan panjang lebar Bangkalan bercerita bahwa ketika dalam perjalanannya menuju Kademangan ini, mereka sekeluarga dicegat oleh segerombolan orang.

“Tiga  orang  prajurit  terbunuh,  dan  aku  tidak dapat berdaya ketika mereka membawa pergi Menik Kaswari dengan sebuah ancaman pedang di lehernya”, berkata Bangkalan terdiam sebentar sepertinya tengah mengenang peristiwa itu baru saja terjadi.

“Seorang yang sepertinya pemimpin gerombolan itu berkata kepadaku”, Bercerita kembali Bangkalan tapi cuma sampai disitu membuat Kertanegara tidak lagi dapat bersabar.

“Apa yang dikatakan oleh orang itu?”, bertanya Kertanegara sepertinya tidak sabar lagi.

“Anakku hanya dapat di jemput oleh Pangeran, orang itu mengatakan bahwa Pangeran harus datang sendiri ke tempat mereka”, berkata Bangkalan kepada Kertanegara.

“Dimana tempat mereka?”, bertanya Kertanegara kepada Bangkalan.

“Orang itu menyebut sebuah Padepokan di daerah Mading bernama Padepokan Alasjati”, berkata Bangkalan kepada Kertanegara.

Suasana pun sepertinya menjadi begitu hening. Masing-masing telah berada dalam pikirannya sendirisendiri. Seperti halnya Kertanegara yang duduk mematung. Khayalan yang selalu menyertainya dalam perjalanan dimana dalam lamunannya ketika sampai akan disambut sendiri oleh Menik Kaswari dalam suasana sendu rindu. Sepertinya telah hilang terbang entah kemana.

“Apa yang Ki Rangga perbuat selama ini?”, bertanya Kebo Arema kepada Bangkalan mencoba memecahkan keheningan suasana.

“Aku sudah mengutus dua orang prajurit, mengamati Padepokan Alasjati itu”, berkata bangkalan. “Sambil menunggu kedatangan Pangeran”, berkata Bangkalan melanjutkan.

Kembali suasana menjadi hening, masing-masing sepertinya tengah berada dalam pikirannya sendirisendiri. Masing-masing mencoba berpikir apa yang harus dilakukan.

“Sebagaimana yang mereka inginkan, akulah alat penukar Menik Kaswari”, berkata Kertanegara mengungkapkan pikirannya.

“Menik Kaswari adalah sebuah umpan, mereka ingin menjebak Pangeran datang ketempat mereka untuk kepentingan mereka yang belum kita ketahui”, berkata Kebo Arema memberikan tanggapannya.

“Tapi penyelesaiannya, aku harus datang ke tempat mereka”, berkata Kertanegara.

“Kita datang bersama ketempat mereka”, berkata Bhaya yang selama ini lebih banyak berdiam diri.

“Benar, kita datang bersama”, berkata Kebo Arema menyetujui usulan Bhaya.

“Aku akan menyertai kalian bersama lima orang prajurit”, berkata bangkalan dengan wajah penuh semangat.

Angin berdesir menyorongkan batang-batang bambu yang terlihat dari pendapa rumah kediaman Bangkalan. Senja telah turun bersama bayang-bayang suram. Sebentar lagi akan datang wajah malam dalam kegelapan.

Sebuah lentera minyak jarak tergantung di kiri kanan pendapa rumah kediaman Bangkalan. Kertanegara, Kebo Arema, Bhaya dan Bangkalan masih duduk di pendapa, meski dalam suasana penuh keprihatinan, mereka masih dapat sempat mencicipi hidangan yang disediakan dari tuan rumah.

Dari kegelapan pintu pagar halaman depan, terlihat lima sosok lelaki berjalan mendekati pendapa. Bangkalan yang pertama kali berdiri menyambut kedatangan mereka.

“Adakah yang dapat kami bantu?” berkata Bangkalan kepada lima orang yang baru datang, mengira mereka adalah penduduk sekitar yang memerlukan bantuan atau beberapa keperluan. Dan hal itu memang sering terjadi.

“Apakah ini adalah rumah Ki Rangga Bangkalan?”, terdengar salah seorang dari lima orang yang datang itu bertanya.

“Aku sendiri yang ki sanak maksudkan”, berkata Bangkalan memperkenalkan dirinya.

Belum sempat lima orang yang datang itu mengatakan sesuatu, Kertanegara telah ikut turun dari Pendapa. Terkejut melihat salah seorang dari kelima orang yang baru datang itu sebagai orang yang telah sangat dikenalnya.

“Dimas Wijaya!!”, Kertanegara berkata sambil menghampiri salah seorang yang dikenalnya.

Dan orang yang dipanggil namanya oleh Kertanegara juga memandangnya dengan mata tidak percaya.

“Kangmas !!”, berkata seorang lelaki muda remaja yang tidak lain adalah Raden Wijaya melihat Kertanegara dengan wajah gembira.

Merekapun saling berpelukan, tidak menyangka di tempat yang begitu jauh dari tanah kelahirannya dapat bertemu. Bertemu dengan saudaranya sendiri. Keempat orang yang datang bersama Raden Wijaya tentunya tidak lain adalah para Ksatria dari Padepokan Bajra Seta. Setelah menyeberang di Pulau Madhura, perjalanan mereka dilanjutkan lewat jalan darat sampai di Kedemangan Mlajah tanpa banyak kesulitan. Dan akhirnya telah berada di depan pendapa rumah kediaman Bangkalan.

Mereka akhirnya duduk bersama di pendapa. Setelah saling berkenalan dan menceritakan keselamatan masing-masing, merekapun bercerita tentang peristiwa yang mereka alami di atas kapal kayu dalam perjalanan mereka.

“Kita harus mengetahui, siapa di balik ini yang menginginkan kematian Pangeran”, berkata Kebo Arema sambil juga menjelaskan rencana secepatnya menyelamatkan Menik Kaswari, putri Bangkalan yang saat ini telah disandera di Padepokan Alasjati.

Akhirnya mereka sepakat, berangkat bersama ke Mading. Sampai jauh malam mereka berunding mempersiapkan beberapa hal yang harus dilakukan agar usaha mereka dapat berhasil, yaitu menyelamatkan Menik Kaswari.

“Lewat jalur laut lebih cepat”, berkata Kebo Arema yang sepertinya talah disepakati menjadi pimpinan pasukan kecil itu.

“Kita akan menyusuri Pulau Madura dari pesisir selatan”, berkata Kebo Arema menyampaikan rencana perjalanannya.

Sebagai seorang yang banyak berkelana dari pulau satu ke pulau lainnya dan sangat menguasai kehidupan laut, Kebo Arema sepertinya sangat hafal dengan beberapa tempat khususnya Pulau Madura. “Untuk mencapai hutan Mading, jalan terdekat adalah melewati tanah perdikan baru. Penguasa tanah perdikan itu bernama Ki Gede Banyak Wedi”, kembali Kebo Arema menjelaskan arah perjalanan mereka.

“Sangat kebetulan sekali, aku mengenal dekat dengan penguasa tanah perdikan itu. Seorang yang sangat disayangi oleh Ayahku. Kita dapat menjadikan tempatnya sebagai tempat persiapan memata-matai Padepokan Alasjati dari dekat”, berkata Kertanegara memotong penjelasan Kebo Arema.

“Tidak semudah itu Pangeran, kita harus hati-hati. Kita harus mengetahui kemana arah angin Penguasa Tanah Perdikan itu berpijak”, berkata Kebo Arema memberikan pandangannya. Sementara semua yang hadir di pendapa rumah kediaman Bangkalan mengakui dan membenarkan kehati-hatian dari sikap Kebo Arema.

“Benar, dalam keadaan ini kita harus hati-hati menilai siapa kawan dan siapa lawan”, berkata Wantilan ikut memberikan pandangannya.

“Begitulah maksudku, untuk menjaga keselamatan Pangeran. Bukankah sampai saat ini kita belum mengungkap siapa di belakang layar yang menginginkan kematian Pangeran?”, berkata Kebo Arema membenarkan pendapat Wantilan.

Siapakah yang dimaksud dengan Ki Gede Banyak Wedi?, kita semua telah mengenalnya sebagai orang yang sangat berjasa terutama ketika menyelamatkan Sri Maharaja dan Ratu Anggabhaya sewaktu masih kecil dalam sebuah rencana pembunuhan orang-orang terdekat Baginda Raja Tohjaya, penguasa pada waktu itu. Atas jasa yang besar itulah Banyak Wedi diberikan hadiah dan anugerah sebuah tanah perdikan. Walaupun pada mulanya Banyak Wedi berharap diberikan Tanah Perdikan di tanah kelahirannya sendiri yaitu di Benangka, sebuah daerah di bagian Barat Pulau Madura. Sebagai daerah yang sudah matang. Tapi Sri Maharaja memberikan tanah perdikan jauh dari harapannya, sebuah tanah di hutan larangan. Tapi sebagai seorang yang setia, Banyak Wedi dapat memaklumi maksud sebenarnya dari Tanah Perdikan yang dianugerahkan kepadanya. Sebagai perwakilan kerajaan Singasari di belahan timur Pulau Madura.

“Arah perjalanan kita bisa berubah, tergantung kemana mata angin bertiup”, berkata kembali Kebo Arema menyampaikan beberapa kemungkinan yang dapat dilakukan.

Matahari pagi telah mulai merayap naik, tiga buah jukung bercadik dan berlayar tunggal telah jauh meninggalkan Pantai Punuk. Menyusuri pesisir selatan pantai Pulau Madura.

Di tengah perjalanan mereka masih sempat singgah sebentar di sebuah pantai yang sunyi untuk beristirahat. Tapi tidak lama, mereka pun melanjutkan perjalanannya. Kebo Arema nampak memimpin rombongan berada di jukung terdepan.

Malam telah datang menyambut tiga buah jukung yang tengah merapat di tepian Kali Anget yang sepi. Kebo Arema nampak berjalan dimuka bersama Kertanegara dan Bhaya. Dibelakang mereka adalah lima ksatria dari Bajra Seta. Sementara di ujung iringan itu berjalan lima orang prajurit bersama Ki Rangga Bangkalan.

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang panjang. Mereka telah berada di hutan perbatasan Tanah Perdikan baru, tanah perdikan Ki Gede Banyak Wedi. Di hutan itulah mereka beristirahat.

“Besok pagi kita menyelidiki keadaan tanah perdikan ini. Mudah-mudahan dapat menjadi tempat menginap yang baik”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara yang tengah duduk bersandar di sebuah pohon besar tidak jauh darinya.

“Sungenep”, berkata Kertanegara menyebut sebuah nama tempat dalam dongeng para pendeta ketika Dewa Malam berubah menjadi seorang manusia biasa yang tidak pernah bisa tidur. Di “Sungenep” inilah pertama kali Sang Dewa bisa tidur nyenyak.

Dan akhirnya semuanya memang telah tertidur di hutan itu meski pagi sudah hampir datang menjelang. Untuk berjaga-jaga dua orang prajurit sengaja tidak ikut tidur. Hingga ketika datang pagi menjelang baru prajurit itu bergantian tertidur.

Matahari pagi sudah merambat naik mengusir embun hilang di ujung daun hijau.

Terlihat Kebo Arema, Kertanegara dan Wantilan telah memasuki regol gerbang desa. Di Banjar desa mereka berhenti dan menemui seorang pengawal tanah Perdikan. Kebo Arema menyampaikan niatnya untuk menemui Ki Gede Banyak Wedi.

“Katakan bahwa kami datang dari Kotaraja”, berkata Kebo Arema kepada pengawal itu.

Rumah kediaman Ki Gede Banyak Wedi memang terlihat lebih mencolok dibandingkan rumah penduduk di sekitarnya. Tapi tidak seperti umumnya rumah penguasa yang selalu dikelilingi dinding batu yang tinggi. Rumah kediaman Ki Gede Banyak Wedi tidak berpagar dinding. Rumah dan banjar desa seperti menjadi kesatuan yang utuh. Letak pendapa rumah kediaman Ki Banyak Wedi ada di sisi kanan banjar desa. Dari Banjar desa dapat melihat langsung pendapa utama rumah itu.

“Ki Gede berkenan menerima kisanak semua”, berkata pengawal Tanah Perdikan yang sudah datang kembali mempersilahkan Kebo Arema, Kertanegara dan Wantilan naik kependapa utama.

Kebo Arema, Kertanegara dan Wantilan telah duduk di Pendapa. Bukan main kagetnya Ki Gede Banyak Wedi ketika melihat ada Pangeran Kertanegara bersama tamunya.

“Pangeran..!!”, berkata Ki Gede Banyak Wedi seperti tidak mempercayai pada penglihatannya.

“Rejeki melimpah apapun yang kuterima tidak akan sebanding kegembiraanku menerima Pangeran di gubukku ini”, berkata Ki Gede Banyak Wedi mengutarakan kegembiraannya.

Bukan main sibuknya suasana di dapur belakang setelah diberitahu bahwa tamu mereka adalah seorang Pangeran, seorang putra mahkota kerajaan Singasari yang besar. Antara gembira dan gugup untuk menyajikan hidangan apakah yang layak untuk seorang pangeran.

“Aku hanya ingin memperluas wawasanku menjelajah sekitar nagari”, berkata Kertanegara ketika Ki Gede banyak  Wedi   menanyakannya  apakah  ada  keperluan

penting hingga sampai ke tempat kediamannya.

Kertanegara masih mencoba merahasiakan

kepentingannya.   

“Bukankah bila kita berjalan lebih ke utara dari sini, kita akan berhadapan dengan hutan Mading?”, bertanya Kebo Arema tanpa penekanan khusus dalam katakatanya. Sepertinya pertanyaannya kepada Ki Gede Banyak Wedi cuma sebuah pertanyaan biasa, hanya sebuah kata-kata pengisi keheningan yang dipaksakan.

“Benar, arah utara dari sini adalah hutan Mading”, berkata Ki Gede Banyak Wedi kepada Kebo Arema  tanpa prasangka apapun.

“Aku pernah mendengar bahwa di hutan Mading itu ada berdiri sebuah Padepokan bernama…..Padepokan Alasjati”, berkata Wantilan kepada Ki Gede masih sebagai sebuah pancingan.

“Ya benar, sebuah Padepokan baru bernama Padepokan Alasjati”, berkata kembali Ki Gede sepertinya membenarkan apa yang dikatakan Wantilan.

“Hutan Mading adalah bagian dari hutan larangan, masuk dalam wilayah amanah sabda prasasti Sri Maharaja di samping tanah perdikan yang dihadiahkan kepada Ki Gede. Sudahkah Padepokan Alasjati itu meminta ijin kepada Ki Gede ?”, bertanya Kebo Arema kepada Ki Gede.

“Selentingan, aku mendapat kabar bahwa mereka adalah para bajak laut yang tengah bersembunyi. Sementara untuk sebuah ijin, tidak ada seorang pun  yang telah datang kemari meminta ijin kepadaku”, berkata Ki Gede masih tanpa prasangka apapun.

Kebo Arema, Kertanegara dan Wantilan saling beradu pandang. Jawaban inilah yang ditunggu oleh mereka. Ki Gede Banyak Wedi jelas tidak punya kaitan apapan dengan Padepokan Alasjati.

“KiGede”, berkata Kebo Arema kepada Ki Gede dengan melepas napasnya lega dan menceritakan hal yang sebenarnya, juga meminta maaf atas sikap kehatihatian terhadapnya.

“Kita memang selalu harus waspada, sikap kalian kuanggap sesuatu yang wajar, tidak ada yang perlu dimaafkan”, berkata Ki Gede dengan senyumnya yang tidak pernah berubah penuh keramahan.

Akhirnya, bersama Ki Gede Banyak Wedi mereka membuat kembali rencana dan siasat yang harus mereka lakukan. Ternyata kali ini dalam hal siasat, Kebo Arema bertemu dengan pakarnya.

“Kita harus mengetahui dengan jelas, bagaimana keadaan Menik Kaswari dan dimana dirinya disembunyikan”, berkata Ki Gede memberikan beberapa saran serta siasat yang harus mereka lakukan.

“Agar tugas kita tidak terbongkar sebelum waktunya, untuk sementara biarlah pasukan kecil kita tetap bermalam di hutan perbatasan”, berkata Kebo Arema yang disetujui oleh semua yang hadir.

Akhirnya, sebuah permainan apik telah siap untuk dilaksanakan. Ternyata buah pikiran Ki Gede Banyak wedi benar-benar cemerlang.

“Ternyata aku berhadapan dengan mantan penasehat Sri Maharaja”, berkata Kebo Arema kepada Ki Gede Banyak Wedi mengakui kecemerlangan pikirannya mengatur persiapan sebelum dan menjelang penyerangan Padepokan Alasjati.

Dan ketika matahari tengah merayap berdiri di puncaknya, beberapa wanita keluar menyediakan begitu banyak hidangan dan minuman.

“Mudah-mudahan tidak jauh rasanya dengan juru masak istana”, berkata Ki Gede Banyak Wedi membuka ucapan mempersilahkan tamu-tamunya menikmati hidangan yang telah disediakan.

“Juru masak yang baik adalah yang tahu kapan menyajikan sebuah hidangan”, berkata Kebo Arema sambil menyelesaikan sisa rujak degan muda yang masih ada dihadapannya.

“Dan tamu yang baik adalah yang tidak menyisakan setetes pun minuman yang diberikan oleh tuan rumah”, berkata Wantilan yang melihat Kebo Arema sudah menyelesaikan rujak degannya.

Setelah menyelesaikan hidangan berupa makanan dan minuman yang menyegarkan. Mereka pun kembali berbincang-bincang. Banyak dan ada saja yang dapat diperbincangkan, mulai seputar rencana utama mereka merebut kembali Menik Kaswari yang masih berada di Padepokan Alasjati, perbincangan pun meluas  ke seputar keamanan perairan Sungai Brantas sebagai jalur perdagangan yang penting bagi perkembangan Singasari.

Dan waktu sepertinya berlalu tanpa terasa, ditambah dengan teduhnya suasana pendapa yang terlindung dari terik matahari karena berdiri antara banjar Desa dan pendapa utama sebuah pohon beringin besar dengan banyak anak cabangnya menjulur di segala tempat merindangi apapun yang ada dibawahnya.

“Pangeran harus menginap di rumahku, mau ditaruh dimana mukaku kepada Sri Maharaja bila membiarkan Pangeran tidur di hutan”, berkata Ki Gede Banyak Wedi kepada Kertanegara.

“Songenep”, berkata Kertanegara sambil melirik kepada Kebo Arema yang tersenyum. “Songenep tempat Dewa Malam tertidur itukah yang Pangeran maksudkan?”, bertanya Ki Gede Banyak Wedi yang juga pernah mendengar tentang dongeng Dewa malam.

“Benar, Songenep tempat dewa malam tertidur”, berkata Kertanegara kepada Ki Banyak Wedi membenarkan.

“Sebuah nama yang baik, sebuah tempat singgah yang baik. Tanah perdikan baru ini masih belum memiliki sebuah nama”, berkata Ki Banyak Wedi sambil berulangulang menyebut sebuah kata: “Songenep”.

“Tanah Perdikan Songenep !!”, berkata Kertanegara menyambung ucapan Ki Gede.

“Terima kasih, Pangeran orang pertama yang menyebut nama bagi tanah perdikan ini. Aku akan membuat sebuah perayaan besar untuk lahirnya sebuah nama bagi tanah perdikan ini. Tetapi setelah urusan utama kita selesai”, berkata Ki Banyak Wedi seperti mendengar suara bayi anak pertamanya yang terlahir, penuh dengan wajah suka dan cita.

Dan waktu memang tidak pernah terlahir untuk kembali. Waktu terus berjalan melahirkan hari baru.

Pagi itu matahari belum menampakkan dirinya  penuh. Ujung-ujung rumput liar masih basah. Wajah pagi masih buram dan dingin. Terlihat dua orang tengah berjalan menyusuri tanah di udara pagi yang sejuk. Arah perjalanan mereka terlihat menjauh meninggalkan Tanah Perdikan Ki Gede Banyak Wedi ke arah utara.

Setelah terlihat lebih jelas wajah kedua orang itu. Tahulah kita bahwa ternyata kedua orang yang berjalan itu adalah Wantilan dan Sembaga. Mereka tengah menuju Padepokan Alasjati.

Wantilan dan Sembaga telah keluar dari Tanah Perdikan, sesuai dengan arahan dari Ki Gede Banyak Wedi, maka tidak ada kesulitan arah perjalanan mereka.

“Kita sudah ada dibawah kaki gunung kembar”, berkata Wantilan kepada Sembaga sambil menunjuk ke sebuah arah dimana di depan mereka terlihat dua buah bukit berjajar tinggi menjulang hijau.

Mereka pun terus berjalan mendekati gunung kembar sesuai petunjuk dari Ki gede Banyak Wedi. Hingga akhirnya mereka menemui sebuah tanah lapang luas penuh tumbuhan ilalang. Disana mereka menemui tiga buah lingga dan sebuah altar batu pemujaan di depannya.

Dari altar pemujaan mereka mencari pohon sungkai sebagai patok arah menuju Padepokan Alasjati. Akhirnya Wantilan dan Sembaga melihat bersama sebuah pohon sungkai berdiri menjulang tinggi sekitar 200 meter dari altar batu dimana mereka berdiri.

“Padepokan Alasjati tidak jauh lagi”, berkata Wantilan kepada Sembaga sambil berjalan mendekati pohon Sungkai sebagai patok arah kemana mereka harus menuju.

Matahari sudah hampir berada dipuncaknya, manakala Wantilan dan Sembaga telah berada di depan gerbang sebuah Padepokan. Seorang penjaga dari atas panggungan telah melihat mereka. Terlihat orang itu turun dari panggungan dan menemui Wantilan dan Sembaga.

“Maaf, apakah aku tidak salah langkah. Inikah Padepokan Alsjati?”, bertanya Wantilan kepada penjaga itu.

“Tidak salah lagi, Kisanak sudah ada di depan pintu

gerbangnya”, berkata Penjaga itu dengan mata penuh selidik.

“Sykurlah kami tidak salah langkah. Bolehkah kami masuk bertemu dengan pimpinan Padepokan ini?”, berkata Wantilan dengan ramah .

“Ada kepentingan apa kisanak datang menemui pimpinan kami?”, bertanya penjaga itu masih dengan mata penuh selidik.

“Aku pedagang kuda, mungkin pimpinanmu membutuhkan banyak kuda”, berkata Wantilan kepada penjaga itu yang langsung manggut-manggut mempercayai ucapan Wantilan yang berpenampilan saat itu layaknya seorang pedagang besar.

“Tunggulah sebentar disini, aku akan bicara pada pimpinanku, apakah beliau berkenan menerima kisanak”, berkata penjaga itu langsung meninggalkan mereka.

Wantilan dan Sembaga tidak begitu lama menunggu.

Penjaga itu telah datang kembali.

“Nasib kisanak lagi bagus, pimpinan kami berkenan”, berkata penjaga itu dengan senyum penuh arti. “Wani piro ?”, berkata penjaga itu sambil membuat sebuah isyarat dengan jari-jarinya.

“Aku tidak akan melupakanmu”, bisik Wantilan pelan kepada penjaga itu.

Wantilan dan Sembaga diantar penjaga itu menemui pimpinan mereka di Pendapa utama.

Wantilan dan Sembaga telah tiba di Pendapa. Seorang yang sudah berumur namun masih tegap menyambut kedatangan mereka. Setelah memperkenalkan dirinya dan Sembaga yang dikatakannya sebagai “bujangnya”, Wantilan menyampaikan tujuannya menawarkan beberapa ekor kuda.

“Kuda kami ini asli dari Pajajaran”, berkata Wantilan layaknya seorang pedagang kepada pimpinan Pedepokan itu yang memperkenalkan dirinya bernama Datuk Alasjati.

“Dari mana kalian mengetahui bahwa kami memerlukan beberapa ekor kuda?”, bertanya Datuk Alasjati bertanya kepada Wantilan.

“Telinga pedagang lebih panjang dari orang biasa”, berkata Wantilan bergaya pedagang sungguhan. “Kepada Datuk Alasjati, aku berikan harga perkenalan. Sebut saja berapa ekor kuda yang Datuk butuhkan”, kembali Wantilan menawarkan dagangannya.

Lama Datuk Alasjati berpikir panjang. Terutama tentang “harga perkenalan” yang ditawarkan Wantilan kepadanya.

“Aku butuh lima ekor kuda”, berkata Datuk Alasjati setelah berpikir agak lama.

“Kami akan datang dengan lima ekor kuda, tiga hari setelah hari ini”, berkata Wantilan memberikan keputusan setelah “sepakat” mengenai harga.

“Bayaran akan aku berikan setelah lima ekor kuda datang”, berkata Datuk Alasjati kepada Wantilan.

“Urusan jual beli kuda sudah selesai, bolehkah aku menawarkan hal lain?” bertanya Wantilan kepada Datuk Alasjati.

“Apalagi yang akan kamu tawarkan”, berkata Datuk Alasjati yang maklum bahwa semua pedagang tidak hanya cuma punya satu barang yang diperdagangkan.

“Aku tidak menawarkan barang. Yang kutawarkan apakah Datuk membutuhkan seorang pekatik?”, bertanya Wantilan kepada Datuk Alasjati yang salah tebak, Wantilan tidak menawarkan barang dagangan, tapi seorang pekatik.

“Seorang pekatik?”, balik bertanya Datuk Alasjati “Dirumahku   ada  seorang  anak   yang  masih  muda

belia, anak keponakanku. Seorang anak yang rajin, terutama  untuk  urusan  merawat  kuda.  Hampir  semua

kuda daganganku tidak ada yang sakit dirawat oleh anak itu. Sayangnya istriku tidak menyukainya”, berkata Wantilan mengarang sebuah cerita mengenai pekatik yang masih muda belia.

“Ceritamu mengenai seorang pekatik memang mengesankan, sampai saat ini memang aku belum punya seorang pekatik khusus. Bawalah anak itu bersama dengan kuda yang kamu jual”, berkata Datuk Alasjati kepada Wantilan menerima tawaran seorang pekatik.

“Berkenalan dengan Datuk memang sangat menyenangkan”, berkata Wantilan kepada Datuk Alasjati.

“Semoga hubungan dagang kita dapat berlanjut, dimana aku dapat menghubungimu?”, bertanya Datuk Alasjati ketika Wantilan dan Sembaga mohon pamit.

“Aku tinggal tidak jauh dari Pasar Kali Anget, semua orang disitu pasti mengenalku”, berkata Wantilan yang asal sembarang menyebut sebuah nama suatu tempat.

“Kami menunggu janjimu, tiga hari setelah hari ini”, berkata Datuk Alasjati kepada Wantilan yang ikut mengantar sampai kebawah pendapa utama. Seorang penjaga membukakan pintu gerbang sambil berbisik pelan, “Wani piro??”.

“Tiga hari lagi aku akan datang kembali, aku tidak akan melupakanmu”, berkata Wantilan menepuk perlahan pundak penjaga itu.

Hari sudah hampir senja ketika Wantilan dan Sembaga masuk kedalam kelamnya hutan Mading. Sebagai seorang pengembara, mereka tidak salah arah meskipun kegelapan malam didalam hutan begitu pekat. Mereka terus berjalan sambil melihat arah bintang menuju Tanah Perdikan Ki Gede Banyak Wedi.

Bintang subuh bersinar di ufuk timur sebagai tanda pagi akan segera menjelang. Wantilan dan Sembaga telah sampai di ujung batas Tanah Perdikan. Sebuah gardu ronda yang mereka lewati telah sepi ditingalkan perondanya. Wantilan dan Sembaga langsung menuju ke Banjar desa.

Ketika tiba di banjar Desa, dua orang pengawal Tanah Perdikan terbangun melihat kedatangan mereka.

“Biarlah kami menunggu pagi di sini, takut mengganggu tidurnya Ki Gede”, berkata Wantilan kepada para pengawal tanah Perdikan yang sudah  mengenalnya.

“Hitung-hitung menggantikan kami, istirahatlah kalian disini”, berkata salah seorang pengawal tanah perdikan yang telah bersiap untuk pulang kerumahnya.

Wantilan dan Sembaga berbaring di panggung Banjar Desa melepaskan rasa penat setelah setengah hari tidak berhenti berjalan di kegelapan malam.

Pagipun telah datang bersama sang fajar matahari memberi kehangatan dan membangunkan seluruh kehidupan di bumi Tanah Perdikan. Suara kicau burung dan tawa para bocah bermain bertelanjang dada di sekitar banjar desa telah membangunkan Sembaga dan Wantilan.

Sambil melambaikan tangannya kepada  Kebo Arema, Kertanegara dan Ki Gede yang tengah duduk di pendapa, Wantilan dan Sembaga langsung ke Pakiwan membersihkan diri. Tidak lama kemudian mereka sudah kembali bergabung bersama di pendapa utama.

Setelah meneguk sedikit minuman hangat yang telah disediakan untuknya, Wantilan melaporkan hasil perjalanan mereka. Mulai dari jarak Padepokan Alasjati, pembicaraan mereka tentang jual beli kuda sampai bagian terakhir tentang seorang pekatik.

“Lain waktu aku minta ganti peran, aku jadi pedagang besar dan Wantilan sebagai pembantuku”, berkata Sembaga mengerutu sambil meneguk minuman hangat di depannya.

“Mengapa harus demikian?”, bertanya Kebo Arema kepada Sembaga.

“Aku tidak kerasan berperan sebagai burung pelatuk yang hanya manggut-manggut tidak berkata sepatahpun”, berkata Sembaga yang disambut tawa semua yang mendengarnya sambil memandang Sembaga masih dengan wajah semburat masam.

“Mahesa Amping harus mempersiapkan dirinya sebagai seorang pekatik”, berkata Wantilan.

“Juga pesanan lima ekor kuda “, berkata Kebo Arema sambil memandang Ki Gede Banyak Wedi.

“Lima Ekor kuda akan kupersiapkan”, berkata Ki Banyak Wedi mengerti apa yang menjadi kewajibannya. “Semoga semua sesuai dengan rencana”, berkata Kertanegara yang merasa puas dengan hasil kerja Wantilan dan Sembaga.

“Dari mana Ki Gede mengetahui bahwa disana memang memerlukan beberapa ekor kuda?”, berkata Wantilan kepada Ki Gede.

“Naluri seorang yang memiliki harta mendadak. Pikirkan dirimu sendiri yang tiba-tiba mendadak diberikan sekampil emas, pasti yang terpikir pertama kali adalah kuda yang terbaik yang belum dimiliki oleh orang-orang di sekitarmu”, berkata Ki Gede menjelaskan kepada Wantilan.

“Pemahaman Ki Gede mengenai naluri seorang manusia memang perlu diacungkan sebuah jempol”, berkata Wantilan yang paham setelah mendengar penjelasan dari Ki Gede.

Hari itu juga Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah dipanggil datang ke Tanah Perdikan untuk mendapatkan penjelasan lebih rinci mengenai tugas-tugasnya sebagai seorang pekatik. Sementara Raden Wijaya dapat sebuah tugas sebagai penghubung selama Mahesa Amping bertugas di dalam Pedepokan Alasjati.

“Perkenalkan ini putraku bernama lawe”, berkata Ki Banyak Wedi kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya memperkenalkan putranya yang seusia dengan mereka.

“Ajaklah teman-temanmu ini mengenal Tanah Perdikan”, berkata Ki Gede kepada Lawe putranya.

Lawe seorang putra yang sopan dan mudah bergaul. Dalam waktu dekat sudah menjadi akrab. Sebagaimana perintah ayahnya. Lawe membawa Mahesa Amping dan Raden Wijaya berkeliling tanah perdikan. Bukan main kagumnya Raden Wijaya melihat tata cara pembangunan Tanah Perdikan. Rumah-rumah dibangun tanpa merubah kultur tanah yang ada. Justru bentuk sawah dan rumah mengikuti kultur tanah yang ada. Diatas tanah tinggi, tiang dipendekkan, sementara diatas tanah datar tiang rumahlah yang ditinggikan. Seperti itu pula letak sawah ladang yang di Tanah Perdikan, menyesuaikan asli kultur tanah yang ada. Ternyata Ki Gede Banyak Wedi memegang kuat budaya hutan larangan.

“Yang panjang jangan dipendekkan, yang pendek jangan dipanjangkan, itulah adat budaya hutan larangan yang harus kami pegang kuat-kuat”, berkata Lawe menjelaskan mengenai bentuk rumah dan sawah lading yang ada di Tanah Perdikan sebagaimana yang diajarkan oleh ayahnya penguasa adat Tanah Perdikan.

Hari yang dijanjikan Wantilan akhirnya datang juga.

Lima ekor kuda berjalan menyusuri bulak panjang keluar dari Tanah Perdikan. Tanah dan rumput yang terinjak kaki-kaki kuda masih basah embun. Warna pagi memang masih suram, cahaya fajar belum muncul di timur cakrawala. Pagi memang masih begitu buram, sepi dan dingin. Tapi udara pagi saat itu begitu menegarkan.

Ketika wajah cahaya matahari mulai muncul, lima orang yang berkuda itu wajahnya menjadi nampak jelas. Ternyata mereka adalah Wantilan, Sembaga, Mahesa Semu, seorang prajurit anak buah Ki Rangga Bangkalan dan seorang yang masih muda belia berkuda paling depan yang tidak lain adalah Mahesa Amping.

Hari itu mereka menuju Padepokan Alas Jati sesuai janji Wantilan untuk membawa lima ekor kuda. Tidak ada hambatan dalam perjalanan mereka. Bahkan dengan berkuda jarak perjalanan mereka menjadi lebih pendek lagi.

Matahari sudah mulai mendaki merayapi cakrawala langit biru yang dipenuhi gumpalan awan kapas putih berubah-rubah bentuk seiring desiran angin yang bertiup. Kadang awan putih melukiskan diri sebagai gambar kuda yang berlari, kadang bergambar sebuah bejana air yang pecah terbelah. Semua itu tidak pernah terlepas dari pandangan Mahesa Amping yang berkuda paling depan. Mahesa Amping sepertinya menikmati perjalanannya. Tidak sedikit pun kecemasan terlihat dalam warna wajahnya.

Akhirnya, mereka sudah sampai di depan gerbang regol Padepokan Alasjati.

Seorang penjaga dari panggungan melihat kehadiran mereka. Wantilan melambaikan tangannya kepada penjaga itu yang sudah dikenalnya. Penjaga itu pun membuka pintu gerbang.

“Tunggulah sebentar, aku akan mengabarkan kedatangan kalian kepada Datuk Alasjati”, berkata penjaga itu kepada Wantilan yang memintanya menunggu sebentar. Tidak lama kemudian penjaga itu telah datang bersama Datuk Alasjati dan dua orang cantrik Padepokan Alasjati.

“Kuda yang bagus!!”, berkata Datuk Alasjati memandang lima ekor kuda yang dibawa Wantilan dengan wajah puas.

“Aku tidak pernah mengecewakan langgananku”, berkata Wantilan kepada Datuk Alasjati.

“Apakah kamu juga membawa seorang pekatik”, bertanya Datuk Alasjati memanda empat orang yang datang bersama Wantilan.

“Inilah keponakanku. Mudah-mudahan tidak mengecewakan Datuk”, berkata Wantilan sambil menggandeng Mahesa Amping memperkenalkan kehadapan Datuk Alasjati.

“Namanya Suro”, berkata Wantilan memperkenalkan Mahesa Amping bernama Suro.

Sekilas Datuk Alasjati memandang Mahesa Amping. Kagum melihat tubuh Mahesa Amping yang kekar berotot sebagai tanda bahwa anak itu memang suka bekerja keras.

“Bawa kuda-kuda itu, antar juga anak ini ke biliknya”, berkata Datuk Alasjati kepada dua orang cantriknya.

“Mari kita ke pendapa”, berkata Datuk Alasjati mengajak Wantilan ke pendapa untuk menyelesaikan masalah pembayaran mereka.

“Terima kasih, semoga hubungan kita dapat berlanjut”, berkata Wantilan ketika menerima pembayaran atas lima ekor kuda dari Datuk Alasjati.

Datuk Alasjati mengantar Wantilan dan kawankawannya sampai dibawah tangga pendapa.

“Aku titip keponakanku Suro”, berkata Wantilan kepada Datuk Alasjati ketika pamitan akan meninggalkan Padepokan Alasjati.

Kepada penjaga sebagaimana janjinya, Wantilan menyelipkan sekeping emas ditangannya. Bukan main gembiranya penjaga itu.

“Terima kasih banyak”, berkata penjaga itu sepertinya tidak percaya akan menerima imbalan sekeping emas.

Dan Wantilan bersama kawan-kawannya telah berjalan jauh meninggalkan Padepokan Alasjati. Sementara Mahesa Amping tinggal seorang diri.

“Mulai hari ini tugasmu mengurus semua kuda yang ada di sini”, berkata seorang penghuni Padepokan sepertinya orang kepercayaan Datuk Alasjati, terlihat dari sikap beberapa penghuni lainnya yang sangat menghormatinya.

Hari pertama itu tidak banyak yang dikerjakan oleh Mahesa Amping selain membersihkan kandang kuda yang sepertinya tidak terurus dengan baik. Dengan cekatan Mahesa Amping membakar sisa sisa rumput kering yang banyak tergeletak dan dibiarkan begitu saja.

Kandang kuda itu sendiri terletak di belakang Padepokan Alasjati. Ada bilik kecil di sebelah kandang itu yang sepertinya tidak pernah dipakai. Di bilik itulah Mahesa Amping dipersilahkan untuk menghuninya sebagai seorang pekatik. Agak ke tengah di belakang gandok itu ada sebuah pintu kecil. Mahesa Amping melihat seorang keluar dan kembali dari pintu itu membawa bumbung bambu panjang untuk mengisinya dengan air. Mahesa Amping menyempatkan dirinya membuka pintu kecil itu. Ternyata di belakang Padepokan itu mengalir sebuah sungai kecil yang jernih.

Hari itu adalah pagi pertama Mahesa Amping sebagai seorang pekatik di Padepokan Alasjati. Pagi masih basah dan dingin. Mahesa Amping terlihat keluar dari Padepokan Alasjati menuntun seekor kuda mencari rumput segar. Ketika matahari pagi sudah mulai merayap naik, Mahesa Amping telah kembali bersama tumpukan besar rumput segar di pundak kuda yang dituntunya.

Tidak ada lagi yang dikerjakan Mahesa Amping  ketika kuda-kuda yang dipeliharanya tengah makan rumput segar. Tapi Mahesa Amping sudah terbiasa ringan tangan. Tanpa diminta telah membantu seorang penghuni Padepokan yang tengah membelah kayu untuk bahan bakar.

“Terima kasih , kerjaku jadi cepat selesai”, berkata orang itu gembira karena pekerjaannya telah dibantu.

“Sama-sama paman, sambil menunggu kuda-kudaku selesai makan. Masih banyak waktu sebelum memandikan mereka”, berkata Mahesa Amping kepada orang itu.

“Jadi kamu pekatik baru itu”, berkata orang itu yang memperkenalkan dirinya bernama Bahar.

“Namaku Suro”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan dirinya.

“Bantu aku membawa kayu bakar ini ke dapur”, berkata Bahar meminta Mahesa Amping membawa kayu bakar ke dapur.

Ternyata orang yang memperkenalkan dirinya bernama Bahar adalah seorang tukang masak di Padepokan Alasjati. Mahesa Amping ikut membantu menyalakan api di tungku.

“Datanglah kemari bila perutmu terasa lapar, tidak perlu sungkan”, berkata Bahar sambil memasukkan beberapa batang jagung kedalam bejana besar diatas tungku yang sudah terbakar.

“Aku pamit dulu, kuda-kudaku sudah menunggu  untuk dimandikan”, berkata Mahesa Amping kepada Bahar setelah mengisi perutnya dengan dua buah jagung rebus dan minuman hangat yang diberikan Bahar kepadanya.

“Aku akan menyisakan jagung rebus ini untukmu”, berkata bahar kepada Mahesa Amping sambil meniup api ditungku dengan sebuah puput bambu kecil. Api di tungku itupun menjadi menyala lebih besar.

“Terima kasih Paman”, berkata Mahesa Amping sambil berjalan keluar dapur kembali ke kandang kuda.

Mahesa Amping tengah memandikan kuda-kudanya. Tinggal satu ekor kuda lagi, maka selesailah tugasnya hari ini. Sementara itu dengan pendengarannya yang tajam, Mahesa Amping dapat menangkap ada suara langkah kaki menuju ke arahnya.

Setelah dekat Mahesa Amping dapat mengenali orang itu, yang ternyata salah seorang yang kemarin bersamanya membawa lima ekor kuda ke kandangnya.

“Antarkan dua ekor kuda ke depan Pendapa, Datuk Alasjati ingin berjalan-jalan dengan kudanya”, berkata orang terus berlalu meninggalkan Mahesa Amping sendiri.

Terlihat Mahesa Amping menuntun dua ekor kuda menuju pendapa. Di pendapa telah menanti Datuk Alasjati dan seorang kepercayaannya. Mahesa Amping menyerahkan kuda-kudanya.

Mahesa Amping masih sempat melihat Datuk Alasjati dan orang kepercayaannya dengan kudanya telah melewati regol pintu gerbang Padepokan.

Sambil menunggu kembali kuda-kudanya, Mahesa Amping meihat-lihat sekitar Padepokan. Selain bangunan utama, di kiri-kanan Padepokan itu berdiri berjejer barak panjang. Memang ada beberapa orang yang pergi berladang jagung di belakang Padepokan. Namun sebagian lagi sepertinya tidak mempunyai kegiatan lain selain duduk-duduk berkumpul. Sangat jauh berbeda dengan keadaan di Padepokan Bajra Seta dimana semua penghuninya bersama saling membantu dan bekerja. Mahesa Amping melihat bahwa sebagian penghuninya adalah orang-orang kasar.

Mahesa Amping mengelilingi Padepokan Alasjati. Tidak kembali ke biliknya, tapi mampir kedapur. Dilihatnya Bahar tengah memipil jagung, melepaskan biji jagung dari tongkolnya. Mahesa Amping ikut membantunya.

“Aku perhatikan, tidak semua penghuni Padepokan ini bekerja di ladang”, berkata Mahesa Amping berharap ada penjelasan dari Bahar.

Bahar memandang Mahesa Amping dengan tersenyum, tapi matanya seperti memandang kekosongan. “Aku dan mereka yang bekerja di sini adalah para budak belian, sementara mereka yang  hanya duduk, makan dan bermabuk-mabukan tiap hari adalah penghuni Padepokan ini yang sebenarnya”, berkata Bahar kepada Mahesa Amping.

Matahari sudah jauh tinggi hampir dipuncaknya, Mahesa Amping melihat Datuk Alasjati dan orang kepercayaannya telah kembali bersama kudanya.

Terlihat Mahesa Amping berlari menjemput tali-tali kuda. Datuk Alasjati yang baru kali ini dilayani oleh seorang pekatik tersenyum memandang Mahesa Amping yang tanggap menjura penuh hormat layaknya seorang pekatik sungguhan.

Mahesa Amping membawa dua ekor kuda kembali ke kandangnya, setelah itu kembali membantu Bahar menjemur biji jagung.

“Tolong kamu antar hidangan ini ke gandok tengah”, berkata Bahar meminta Mahesa Amping mengantar hidangan yang telah disiapkan ke Gandok tengah.

Terlihat Mahesa Amping membawa hidangan ke Gandok tengah. Di pintu Gandok itu ada seorang penjaga. Berdebar jantung Mahesa Amping, berpikir pasti ada orang penting di kamar itu.

“Langsung antar sana ke dalam”, berkata penjaga yang berwajah brewok bertubuh tambur membukakan kunci Gandok.

Pintupun terbuka, Mahesa Amping masuk kedalam Gandok tengah itu dengan perasaan berdebar. Dugaan Mahesa Amping ternyata benar, seorang wanita tengah duduk mendekap kedua kakinya, dagunya tengah disandarkan pada kedua puncak dengkulnya.  Pandangan gadis itu seperti kosong, sampai kehadiran Mahesa Amping tidak diperhatikan.

Mahesa Amping meletakkan hidangan di meja yang ada dipojok kamar. Sebelum keluar memandang sebentar gadis didepannya dengan perasaan iba.

“Pangeran Kertanegara titip salam untukmu”, berkata Mahesa Amping perlahan kepada gadis itu yang tidak lain adalah Menik Kaswari.

Mendengar ucapan Mahesa Amping, wajah Menik Kaswari tiba-tiba berubah. Sebelum gadis itu mengucapkan kata-kata apapun, Mahesa Amping memberi tanda agar Menik Kaswari tetap diam.

Mahesa Amping keluar dari kamar itu, seorang penjaga langsung mengunci kembali pintu kamar.

Mahesa Amping kembali ke dapur menemui Bahar menyampaikan bahwa ia telah mengantarkan hidangan ke Gandok tengah tanpa bercerita tetang gadis yang ditemui di gandok itu.

“Aku akan kekandang kuda, menutupi rumput agar tidak terlalu kering”, berkata Mahesa Amping kepada Bahar.

Sampai datangnya senja tidak ada yang dikerjakan Mahesa Amping selain memilih rumput yang masih segar, memasukkannya di tempat makanan kuda. Beberapa rumput kering dikumpulkan dan dibakar di depan biliknya

Malampun akhirnya datang. Mahesa Amping sudah naik ke pembaringannya. Pikirannya masih tertuju pada Menik Kaswari yang terkurung di Gandok tengah.

“Kasihan gadis itu”, berkata Mahesa Amping seorang diri diri.

Akhirnya rasa kantuk memaksanya tertidur nyenyak setelah seharian bekerja sebagai seorang pekatik.

Pagipun akhirnya datang kembali, ditandai dengan bersahut-sahutannya suara ayam jantan bersama suara kicau burung yang hinggap diatas dahan pohon.

Terlihat Mahesa Amping tengah menuntun seekor kuda lengkap dengan sebuah arit dan garpu di tangannya.

Sengaja Mahesa Amping mencari rumput agak jauh dari Padepokan Alasjati. Ketika terkumpul setumpuk besar ruput segar, Mahesa Amping bermaksud meninggalkan tempat itu untuk kembali. Tapi pendengarannya yang tajam menangkap sesuatu. Mahesa Amping sengaja tidak menoleh dan terus bekerja.

“Baru punya jabatan seorang pekatik saja sudah begitu sombong”, berkata seseorang dari arah belakang Mahesa Amping. Suara yang sangat dikenalnya.

Mahesa Amping berbalik badan.

Dihadapannya bertolak pinggang dua orang pemuda seusianya yang tidak lain adalah Raden Wijaya dan Lawe. Dibelakang mereka menggendong sebuah keranjang berisi jamur dan akar obat-obatan. Rupanya mereka tengah menyamar sebagai pembantu tabib mencari bahan obat di hutan.

“Kalian jangan terlalu lama disini, katakan bahwa aku telah menemui Menik Kaswari masih dalam keadaan selamat” berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya dan Lawe.

“Dan ini denah Padepokan itu”, berkata Mahesa Amping sambil menggambar denah padepokan diatas tanah sambil menjelaskan apa saja yang digambarkannya. “Disinilah letak pintu belakang”, berkata Mahesa Amping menjelaskan.

Akhirnya mereka sepakat untuk berpisah dan bertemu di tempat yang sama.

“Besok disaat yang sama aku menunggu kalian di sini”, berkata Mahesa Amping sambil menumpuk rumput di atas pundak kudanya.

Mahesa Amping kembali ke Padepokan Alasjati, sementara Raden Wijaya dan Lawe kembali ke Tanah Perdikan.

“Saat ini pasti Mahesa Amping tengah membersihkan kandang kudanya”, berkata Raden Wijaya kepada Lawe ketika mereka berjalan sudah cukup jauh.

“Ternyata Mahesa Amping dapat memerankannya”, berkata Lawe kepada Raden Wijaya. Raden Wijaya sepertinya tertawa sendiri, ada rasa kagum kepada Mahesa Amping yang dapat melakukan apapun, mulai dari merawat kuda, sebagai petani disawah sampai sebagai tukang besi sekalipun. Raden Wijaya memang pernah ditunjukkan oleh Mahesa Amping, bagaimana membentuk sebuah pedang menjadi begitu sempurna, ringan,kuat dan tajam.

Tapi lamunan Raden Wijaya sepertinya menjadi buyar ketika didepannya berpapasan dengan dua orang yang pernah di temuinya dalam perjalanannya diatas kapal kayu.

“Sepasang iblis dari Gelang-Gelang”, berkata Raden Wijaya dalam hati mengingat dua orang berjalan mendekatinya berharap tidak mengenalnya.

Tapi harapan Raden Wijaya meleset, justru  dua orang itu mengingatnya. Tertawa dan bertolak pinggang didepannya.

“Tidak kuduga, kita bertemu dengan salah satu bocah sombong”, berkata salah seorang pemuda yang tidak punya luka dipundaknya.

“Kita ingin tahu, apakah ia masih sombong, jauh dari kelompoknya”, berkata pemuda yang satu lagi.

Sementara Lawe yang belum mengenal dua orang kembar ini seperti tertantang.

“Siapa kamu”, berkata Lawe sepertinya tidak gentar kepada sepasang iblis dari Gelang-gelang.

Melihat sikap Lawe, dua pemuda itu menjadi geram. “Ditempat asalku tidak ada yang berani melotot seperti kamu”, berkata keras pemuda yang tidak punya luka dipundaknya kepada Lawe.

“Itu memang di tempat asalku, tidak berlaku disini”, berkata Lawe lebih keras lagi.

Mendengar ucapan Lawe, pemuda itu seperti disiram air panas, darahnya langsung naik sampai keubun-ubun. “Kita habisi dua anak sombong ini”, berkata demikian pemuda yang tidak punya luka dipundaknya langsung menyerang Lawe.

Sementara itu, pemuda yang satu lagi, melihat saudaranya telah mulai menyerang dan telah memilih lawannya. Maka pemuda itu langsung menyerang Raden Wijaya.

Terjadilah perkelahian yang seru di Hutan Mading. Ternyata Lawe dapat mengimbangi pemuda itu.

Membalas serangan dengan serangan balik yang tidak kalah kerasnya. Sementara itu Raden Wijaya belum menunjukkan dirinya, tidak langsung balas menyerang. Dengan kecepatannya bergerak Raden Wijaya banyak mengelak dan menghindar. Masih ingin mengukur sejauh mana tataran ilmu salah seorang pemuda yang dikenal sebagai sepasang iblis dari Gelang-Gelang.

Pemuda kembar yang mempunyai luka dipundaknya itu menjadi begitu bernafsu, menyangka akan dapat lebih cepat mengalahkan lawannya itu yang hanya dapat menghindar. Dengan sangat bernafsu telah meningkatkan tataran ilmunya secepatnya menyelesaikan perkelahiannya.

Raden Wijaya sudah dapat mengukur tataran ilmu lawannya. Dan nampaknya telah bosan bermain. Maka dalam sebuah serangan ia tidak berusaha menghindar, bahkan membentur tangan pemuda itu yang tengah meluncur menghantam leher Raden Wijaya. Dengan melambari kekuatan ditangan kirinya dengan sedikit tenaga cadangannya, menangkis tangan pemuda itu yang telah mengerahkan sepenuh kekuatannya. Maka terjadilah benturan yang luar biasa. Pemuda itu merasakan tangannya seperti remuk membentur benda keras. Raden Wijaya tidak melepaskan kesempatan itu. Selagi pemuda itu menyeringai merasakan sakit yang luar biasa, sebuah tamparan yang dilambari tenaga cadangan yang kuat menghantam rahangnya. Sudah dapat ditebak, pemuda itu merasakan bumi menjadi gelap dan langsung rebah pingsan.

Melihat saudara kembarnya telah dikalahkan oleh lawannya, pemuda yang tengah menghadapi Lawe menjadi agak panik. Tidak menyangka bahwa pemuda belia yang ditemuinya di atas kapal itu yang disangkanya begitu lemah ternyata mempunyai tataran ilmu lebih tinggi melampau orang-orang yang mengalahkan kelompok Hantu Wungu. Sementara pemuda yang dihadapinya juga tidak mudah untuk dikalahkannya.

Mendapat pemikiran seperti itu, maka hanya satu jurus yang harus dikeluarkannya saat itu, tidak lain jurus langkah seribu.

Pemuda itu tiba-tiba saja bersalto dua kali mundur ke belakang, dan langsung melejit menghilang di kegelapan hutan yang lebat.

Ketika melihat lawannya pergi, Lawe bermaksud mengejarnya. Tapi Raden Wijaya mencegahnya.

“Jangan dikejar, orang itu dapat berbuat licik di kelebatan rimba”, berkata Raden Wijaya mengingatkan Lawe untuk tidak mengejar.

Sementara itu, salah satu saudara kembar itu masih tergeletak pingsan. Raden Wijaya dan Lawe segera mengikat tangan dan kakinya. Karena menunggu lama tidak juga siuman, terpaksa Raden Wijaya dan Lawe mengangkat dan membawanya dengan sebatang kayu panjang, persis seperti membawa binatang hasil buruan. Dengan membawa tawanan yang masih pingsan itu, perjalanan Raden Wijaya dain Lawe jadi sedikit terhambat. Menjelang sore, ketika matahari sudah turun setengah dari puncaknya mereka baru sampai di Tanah Perdikan.

Raden Wijaya dan Lawe langsung bercerita tentang berita dari Mahesa Amping. Juga tentang sepasang iblis dari Gelang-gelang.

“Letakkan orang ini di kamar banjar desa, jaga dan awasi dengan ketat”, berkata Ki Gede kepada salah seorang pengawal tanah perdikan.

Ki Gede dan Kebo Arema beserta rombongannya kembali membuat berbagai siasat dan perhitungan sesuai dengan berita terakhir yang diterima dari Mahesa Amping lewat Raden Wijaya dan Lawe.

“Serangan kita harus serempak, dari luar dan dalam”, berkata Ki Gede Banyak Wedi menyampaikan gagasannya. Dengan rinci Ki Gede menyampaikan gagasan dan siasatnya.

“Raden Wijaya dan Lawe harus dapat menyusup ke dalam Padepokan Alasjati, membantu Mahesa Amping melakukan penyelamatan Menik Kaswari”, berkata Ki Gede dengan rinci menyampaikan gagasan dan siasatnya.

“Aku seperti berhadapan dengan seorang panglima perang”, berkata Kebo Arema kagum atas gagasan dan siasat dari Ki Gede.

“Aku pernah belajar dengan seorang ahli  siasat paling hebat di Bumi Singasari”, berkata Ki Gede. “Siapa?”, bertanya Kertanegara penasaran ingin tahu siapa orangnya yang menjadi guru siasat dari Ki Gede.

“Mahesa Agni”, berkata Ki Gede perlahan.

Kertanegara manggut-manggut membenarkan apa yang dikatakan oleh Ki Gede. Melalui ayahnya Kertanegara pernah diceritakan bagaimana dengan kesabaran Mahesa Agni menyusun tahap demi tahap usahanya memenangkan keponakannya Anusapati dari kubu Tohjaya. Termasuk usaha penyelamatan ayahnya dan Ratu Anggabhaya ketika masih kecil dimana Ki Gede Banyak Wedi ikut didalamnya.

“Penyerangan kita lakukan di saat hari menjelang fajar”, berkata Ki Gede mumutuskan waktu yang tepat untuk melaksanakan siasatnya.

“Serangan fajar”, berkata Kebo arema menyetujui gagasan dan siasat itu.

”Aku akan membawa sepuluh pengawal tanah perdikan yang terbaik”, berkata Ki Gede.

“Kapan kita lakukan serangan ini?”, bertanya Kertanegara yang sepertinya tidak sabar untuk segera mengeluarkan Menik Kaswari dari Padepokan Alasjati.

“Lebih cepat lebih baik”, berkata Ki Gede.

Dan malam pun kembali datang. Sebagian rombongan yang masih didalam hutan telah dipanggil untuk beristirahat di Tanah Perdikan. Mereka adalah Mahesa Semu, Bhaya, Ki Rangga Bangkalan serta lima orang prajuritnya.

Sang Dewa Malam masih berjaga menyelimuti Tanah Perdikan dengan kegelapannya. Sementar itu Sang Fajar sepertinya sudah begitu jemu menunggu saat dan waktu bertahta di atas cahayanya. Akhirnya penantian itu datang juga, seiring dengan berjalannya sang waktu.

Sementara itu, jauh sebelum fajar menyingsing. Dua ekor kuda sudah jauh keluar dari Tanah Perdikan. Mereka adalah Raden Wijaya dan Lawe yang bertugas sebagai penghubung, membawa berita penting untuk disampaikan ke Mahesa Amping.

Kuda mereka seperti terbang mengejar waktu.

Sang Surya sudah merayap mengintip bumi yang masih basah oleh embun pagi. Seperti hari kemarin, Mahesa Amping tengah menyabit rumput segar untuk makanan kudanya. Mengikat rumput segar dalam satu ikatan dan menumpuknya di atas kiri kanan kudanya. Masih ada waktu menunggu Raden Wijaya dan Lawe.

Yang ditunggu akhirnya datang juga. Raden Wijaya dan Lawe telah datang tepat waktu. Mereka datang berjalan kaki setelah menyembunyikan kuda-kudanya di tempat yang aman dan tidak mudah terlihat.

“Kalian datang tepat waktu”, berkata Mahesa Amping tersenyum menyambut kedatangan Raden Wijaya dan Lawe.

Raden Wijaya dan Lawe langsung menyampaikan beberapa rencana yang akan mereka lakukan untuk menyelamatkan dan membawa keluar Menik  Kaswari dari Padepokan Alasjati.

“Peran utama kita adalah menyusup dari dalam”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping

“Dan menyalakan tungku api peperangan”, berkata Lawe menambahkan.

“Serangan fajar”, berkata Mahesa Amping mengerti apa yang harus dilakukan. “Sampai ketemu lagi wahai pekatik muda”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping ketika mereka berpisah sambil melambaikan tangannya.

Seperti kemarin, Mahesa Amping melakukan kegiatan sebagaimana biasa. Membersihkan kandang kuda, memandikan kuda serta pekerjaan yang berhubungan dengan tugas seorang pekatik. Ketika tidak ada yang dikerjakan, Mahesa Amping ikut membantu Bahar di dapur.

Siang itu Mahesa Amping kembali diminta mengantar hidangan ke Gandok tengah. Seperti hari kemarin, penjaga pintu gandok itu menyuruh Mahesa Amping langsung masuk. Tidak seperti hari kemarin dimana Mahesa Amping melihat Menik Kaswari tengah duduk memeluk lututnya tidak bergairah hidup. Tapi kali ini ketika Mahesa Amping masuk, Menik Kaswari langsung memberondong dirinya dengan begitu banyak pertanyaan.

“Pangeran Kertanegara sudah ada di Pulau Madhura?”, bertanya Menik Kaswari kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping memberi tanda agar Menik Kaswari berbicara pelan, jangan sampai diketahui oleh penjaga di luar.

“Doakanlah, Pangeran Kertanegara hari ini dapat menyelamatkan Mbakyu Menik”, berkata perlahan Mahesa Amping kepada Menik Kaswari.

Menik Kaswari sepertinya belum puas dengan sedikit jawaban dari Mahesa Amping.

“Maaf, penyamarku bisa terbongkar”, berkata Mahesa Amping sambil dengan cepat meletakkan hidangan di meja dan langsung keluar dari kamar.

Mahesa Amping nampak melepas nafasnya merasa lega ketika keluar dari gandok tengah. Dari sikapnya, kelihatan penjaga yang berwajah brewok bertubuh tambur itu tidak mencurigainya.

Ketika senja telah turun, Mahesa Amping masih di kandang kuda. Memilih rumput yang masih segar untuk makanan kudanya. Sementara yang terlanjur kering dikeluarkan, ditumpuk dan dibakar.

Malam perlahan datang menggulung lembaran senja yang buram kemerahan menjadi warna kelabu. Di ufuk barat masih tersisa seberkas warna merah yang akhirnya terus pudar menghilang.

Dan malam pun telah memayungi langit di atas Padepokan Alas jati. Beberapa penghuni mengisi malam yang dingin dengan bersenda gurau sambil meminum tuak. Beberapa lagi terlihat sudah naik ke pembaringannya.

Malam itu mahesa Amping sengaja datang  menemani Bahar yang belum tidur.

“Aku ingin membuat minuman wedang sare untuk teman berbincang”, berkata Mahesa Amping kepada Bahar.

“Buatlah yang lebih, kadang ada saja penghuni Padepokan ini yang datang minta dibuatkan minuman hangat”, berkata Bahar.

“Jadi pintu dapur ini tidak dikunci sepanjang malam?”, bertanya Mahesa Amping menyelidik.

“Ya, sepanjang malam. Agar siapapun yang masih lapar dapat masuk tanpa mengganggu tidurku”, berkata Bahar tanpa prasangka apapun. Tidak menduka kalau Mahesa Amping hanya memastikan apakah pintu dapur terkunci di malam hari.

“Ruang dapur ini hangat, tidak seperti bilikku angin sepertinya menusuk tulang”, berkata Mahesa Amping sambil menikmati minuman hangatnya, wedang sare bersama gula batu.

“Itulah sebabnya, aku sudah tidur jauh sebelum malam”, berkata Bahar kepada Mahesa Amping.

“Kalau begitu, kehadiranku mengganggu waktu tidur Paman?”, berkata Mahesa Amping kepada Bahar.

“Itu kan bila sendiri. Kalau ada yang menemani aku bisa tidur sampai jauh malam”, berkata Bahar kepada Mahesa Amping.

Dan ternyata Bahar memang teman berbincang yang menyenangkan. Ada saja yang dapat diceritakan dan dibincangkan.

Malam pun terus berlalu bersama berputarnya waktu. Suara binatang malam terdengar dari dapur yang terbuat dari bilik bambu. Dan angin dingin pun kadang menyergap tubuh mereka.

Malam menjadi begitu sepi dan sunyi.

“Aku pamit dulu, mataku sudah berat”, berkata Mahesa Amping kepada Bahar mohon diri kembali ke biliknya.

Mahesa Amping keluar dari dapur, memandang langit yang kelam bertabur bintang. Batang-batang pohon besar di samping Padepokan Alasjati tergambar seperti sosok raksasa hitam berjajar. Hanya suara gesekan daun dan cabang pohon yang terdengar ketika desir angin bertiup keras. Mahesa Amping memang belum mengantuk, tapi tetap masuk ke biliknya. Semetara waktu sepertinya begitu lambat berjalan merayap.

Sementara itu langit di atas Padepokan Alasjati telah berubah kelam berawan tebal tanpa satu pun bintang hadir di sana.

Sayup-sayup terdengar tiga kali suara anak katak menjerit ditelan seekor ular. Berselang kemudian tiga kali suara kutilang jantan kehilangan betinanya.

“Raden Wijaya dan Lawe sudah ada di belakang Padepokan”, berkata Mahesa Amping kepada dirinya sendiri dari dalam biliknya.

Nampak Mahesa Amping keluar dari biliknya menyelinap membuka pintu belakang Padepokan Alasjati. Dengan pandangannya yang tajam Mahesa Amping melihat Raden Wijaya dan Lawe muncul dari kegelapan malam. Mahesa Amping memberi tanda agar Raden Wijaya dan Lawe menyeberang.

“Masuk dan bersembunyilah di bilikku”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya dan Lawe ketika kedua kawannya itu sudah berada di dekatnya.

Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe menyelinap masuk bilik.

Awan hitam yang menggelantung diatas Padepokan Alasjati ternyata telah bergeser ditiup angin malam berpindah ke tempat yang jauh. Warna langit pun menjadi cerah, bintang-bintang pun berdatangan menaburi warna langit malam.

Kerlip Bintang kejora sudah mulai terlihat di ujung timur.

Di kegelapan malam, di depan Padepokan Alasjati, jauh dari jarak lemparan lembing dan anak panah beberapa orang terlihat berdiri dalam jarak yang teratur. Setiap orang terlihat membawa dua buah batang bambu, dari setiap batang bambu itu berdiri dua buah buah obor yang belum dinyalakan.

“Nyalakan !!”, terdengar suara keras penuh wibawa yang tidak lain adalah suara Ki Gede Banyak Wedi memberi perintah.

Serentak setiap orang menyalakan keempat obor yang dipegang dikedua kiri dan kanan tangannya.

Nyala puluhan obor itu memang sangat menggetarkan siapapun yang melihatnya dari jauh di kegelapan malam. Seorang penjaga dari panggungan Padepokan Alasjati telah melihatnya, matanya yang sudah terkantuk berat sepertinya hilang seketika. Dengan sigap langsung memukul kentongan kayu tanda bahaya.

Gegerlah seluruh penghuni Padepokan Alasjati melihat puluhan obor musuh telah siap di depan Padepokan. Semua telah mempersiapkan dirinya menghadapi apapun yang terjadi.

Bersamaan dengan itu, tiga sosok tubuh telah menyelinap masuk lewat pintu dapur yang tidak terkunci. Terus masuk ke ruangan tengah. Mereka adalah Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe yang telah ditugaskan menyelinap dari dalam Padepokan Alasjati untuk menyelamatkan Menik Kaswari.

Ternyata Datuk Alasjati orang yang selalu waspada. Ditengah kegemparan akan datangnya musuh, masih sempat memerintahkan tiga orang anak buahnya untuk menjaga Menik Kaswari di dalam Gandok tengah.

Seperti seekor harimau yang mengunci langkah buruannya. Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe telah membagi lawannya masing-masing.

Dengan gerakan yang begitu cepat dan mendadak mereka telah melompat berdiri di depan tiga orang penjaga yang kaget tidak menduga musuh sudah ada di depannya. Keterkejutan inilah yang dipergunakan Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe untuk melakukan sebuah serangan mematikan.

Mahesa Amping dengan kecepatan yang luar biasa menyerang seorang penjaga yang telah dipilihnya. Naas nasib penjaga itu, tanpa sempat melihat dari mana datangnya sebuah tamparan tangan yang keras menghantam tepat diurat tengkuknya, penjaga itu langsung roboh lemas dan pingsan.

Raden Wijaya telah berbuat yang sama, seorang penjaga tiba-tiba saja telah merasakan samping tengkorak kepalanya dihantam oleh tangan yang bertenaga. Seketika penjaga itu seperti mendengar suara mendenging di telinganya, pandangannya menjadi kabur. Dan penjaga itu pun roboh ketika sebuah pukulan tepat mengenai urat mematikan di tengkuknya.

Pada saat yang bersamaan pula, Lawe telah menyerang seorang penjaga yang sudah dipilihnya. Sambil melompat Lawe menerkam lawannya dengan gerakan tangan membacok ke arah tengkuk kanannya. Seperti naluri yang sudah mendarah daging, penjaga itu bukan orang yang lemah dalam kanuragan. Maka tangan kanannya langsung begerak menangkis serangan itu. Tetapi gerakan Lawe ternyata sebuah tipuan, sebelum tangan lawannya menyentuh bacokan tangan  kosongnya, sebuah belati ditangan Lawe telah menyelinap langsung menembus jantung lawannya. Penjaga itu pun roboh dengan mata melotot tanpa berkedip.

Mahesa Amping yang sempat melihat bagaimana Lawe merobohkan lawannya sekejab merasa terkejut. Sepertinya tidak menyangka Lawe yang dikenalnya begitu santun dan lemah lembut telah melakukan kekerasan, membunuh lawan tanpa berkedip. Tapi Mahesa Amping hanya menyimpan perasaan itu dalam hati, merasa maklum bahwa inilah sebuah peperangan. Membunuh atau dibunuh.

Mahesa Amping segera mengubur perasaannya, langsung membuka selarak palang pintu yang sengaja dibuat di luar.

“Ikutlah kami Mbakyu Menik, kita harus secepatnya keluar dari sini”, berkata Mahesa Amping kepada Menik Kaswari yang memang sudah tidak tidur lagi ketika mendengar suara kentongan tanda bahaya berbunyi berkali-kali.

“Kamu pengantar hidangan tadi siang itu?”, berkata Menik Kaswari memperhatikan wajah Mahesa Amping yang terlihat jelas dari cahaya klenting minyak jarak dipojok kamar yang mulai redup.

“Benar, mari segera kita keluar dari tempat ini”, berkata Mahesa Amping mengajak Menik Kaswari keluar bersamanya.

Tanpa rintangan yang berarti, Mahesa Amping bersama Menik Kaswari, Raden Wijaya dan Lawe keluar dari bangunan utama Padepokan Alasjati lewat pintu dapur. Mereka langsung menyelinap menuju pintu belakang Padepokan Alasjati.

Terlihat mereka tengah menyeberangi sungai kecil. Ternyata Raden Wijaya dan Lawe telah sengaja mempersiapkan empat ekor kuda tidak begitu jauh dari sungai kecil. Dengan empat ekor kuda itu mereka telah menyelinap menghilang dikegelapan.

Sebelum jauh dari padepokan Alasjati, lawe masih ingat tugas yang harus dilaksanakannya, yaitu melepas panah api sanderan.

Panah api sanderan itu memang sudah ditunggutunggu. Sebagai tanda bahwa sandera telah keluar dari kurungan. Panah api sanderan itu juga sebagai tanda bahwa serangan fajar akan segera dimulai.

Puluhan cahaya obor masih berdiri terlihat dari jauh sebagai pasukan yang tengah bersiap. Puluhan obor itu memang tidak bergerak karena menancap dan berdiri ditanah. Yang bergerak adalah orang-orang yang tidak lagi memegang obor. Mereka bergerak dengan cepat menuju pintu gerbang Padepokan Alasjati.

Sepuluh orang dengan cepat telah menyelinap dikegelapan malam dan semak-semak yang tinggi sudah merapat di dinding pagar Padepokan mendekati pintu gerbang.

Dari tempat yang tak terlihat, Kertanegara telah mengerahkan pukulan jarak jauhnya. Dari tangannya meluncur kilatan api menerjang pintu gerbang yang kokoh dari batang kayu yang tebal.

Tiba-tiba saja terdengar suara yang keras. Pintu gerbang seperti didorong benda yang ratusan kati beratnya langsung terbuka terbelah dua. Pada kesempatan itulah sepuluh orang telah masuk kedalam Padepokan Alasjati.

“Bunuh mereka semua”, berkata Datuk Alasjati ketika melihat hanya sepuluh orang yang masuk. Tapi kesepuluh orang yang telah masuk kedalam Pedepokan Alasjati bukan orang sembarangan. Mereka adalah tiga orang cantrik utama dari Padepokan Bajra Seta,dua orang pelaut ulung Kebo Arema dan Bhaya bersama Ki Gede Banyak Wedi dan Ki Rangga Bangkalan yang dibantu oleh tiga orang prajurit Singasari yang berpengalaman membuat para penghuni Padepokan Alasjati seperti kumpulan semut yang kedatangan bola api. Terlempar jatuh siapapun yang berani mendekat.

Belum lagi kegentaran mereka mereda, tiba-tiba saja datang tiga belas orang langsung masuk dari pintu gerbang yang sudah terbuka terpecah dua. Kertanegara bersama dua belas orang dibelakangnya langsung datang menyerang.

Para penghuni Padepokan yang berada diposisi membelakangi pintu gerbang nasibnya memang jelek, mereka seperti terjepit oleh dua bola api yang tidak bisa lagi dielakkan.

Sebentar saja hampir seperempat penghuni Padepokan Alasjati sudah berkurang.

Datuk Alasjati menggeram marah, darahnya telah naik hampir ke ubun-ubunnya. Matanya memandang tajam kearah seorang pemuda dengan cambuk di tangan. Hampir seluruh gerakannya menimbulkan korban yang langsung terlempar roboh. Kadang terkena ujung cambuknya, atau kadang lewat tendangannya. Bukan main marahnya Datuk Alasjati melihat anak buahnya jatuh roboh terlempar.

“Akulah lawanmu anak muda”, berkata Datuk Alasjati langsung menghadang Kertanegara.

“Siapapun lawanku, aku sudah siap”, berkata Kertanegara telah bersiap menyerang lawannya yang baru datang menghadangnya.

Kertanegara langsung melecut cambuknya ke udara.

Seketika dada Datuk Alasjati sepertinya terhentak.

“Siapakah dirimu anak muda, gerakan cambukmu mengingatkan aku pada seseorang bernama Empu Dangka”, berkata Datuk Alasjati sambil melambari dirinya dengan kekuatan yang dapat mengimbangi daya hentak cambuk Kertanegara.

“Aku muridnya,” berkata Kertanegara masih bersiap menghadapi orang di depannya yang menurutnya berilmu tinggi karena hentakan cambuknya sepertinya tidak berpengaruh.

“Aku pemimpin Padepokan ini, aku mau tahu apakah murid Empu Dangka sudah mewarisi seluruh ilmunya”, berkata Datuk Alasjati.

“Ternyata aku berhadapan dengan Datuk Alasjati”, berkata Kertanegara dengan mata penuh kebencian. “Akulah orang yang kamu tunggu selama ini. Siapapun orang yang telah mengupahmu, aku tidak akan menyerahkan kepalaku”.

“Kebetulan sekali, ternyata kamu Pangeran itu, jagalah kepalamu”, berkata Datuk Alasjati sambil menyerang dengan tombak panjangnya langsung mengarah kepala Kertanegara. Sebuah serangan yang cepat.

Dengan kecepatan yang sama, Kertanegara mengelak mundur ke belakang samba melecutkan cambuknya yang panjang dengan gerak sendal pancing. Datuk Alasjati kaget bukan kepalang melihat serangannya dapat dielakkan dengan begitu mudah serta langsung balik dirinya di serang.

“Gila!!”, berkata Datuk Alasjati sambil mundur jauh kebelakang.

“Ini baru sebuah awal, Datuk”, berkata Kertanegara sambil tersenyum memegang ujung cambuknya.

“Jangan cepat berbangga”, berkata Datuk Alas jati sambil memutar kencang tombak panjangnya menerjang Kertanegara.

Dan pertempuran antara Kertanegara dan Datuk Alsjati menjadi begitu seru. Sambil bertempur terus menelitik sampai sejauh mana tataran ilmu lawan. Datuk Alasjati terus meningkatkan tataran kekuatan ilmunya menghadapi daya hentak cambuk Kertanegara yang terus meningkat menyesakkan dada.

Tidak disengaja pertempuran antara Datuk Alasjati dan Kertanegara telah terpisah dari pertempuran lainnya. Daya hentak cambuk Kertanegara memang luar biasa. Hentakan itu mempengaruhi siapapun yang mendekat. Siapapun berusaha menyingkir menjauhi pertempuran itu, dada mereka terasa pecah. Hanya Datuk Alasjati yang mampu bertahan mengimbangi serangan cambuk Kertanegara yang menggetarkan itu.

Sementara itu jumlah para penghuni Padepokan Alasjati terus menyusut. Kemampuan lawan mereka ternyata jauh melampaui kemampuan yang  mereka miliki. Hingga akhirnya hanya tinggal sepuluh orang yang masih berdiri bertahan.

“Menyerahlah”, berkata Ki Gede Banyak Wedi kepada sepuluh orang penghuni Padepokan Alasjati.

Para penghuni Padepokan Alasjati ternyata dapat berhitung dengan baik. Mereka merasakan tataran ilmu mereka dibawah para penyerangnya. Ditandai dengan cepatnya jumlah mereka terus berkurang meski pada awalnya jumlah mereka sebanding. Meski ada juga  lawan mereka yang cidera, tapi itu dapat dihitung dengan jari.Kekuatan lawan tidak pernah berkurang.

“Cepat menyerah”, berkata kembali Ki Gede Banyak Wedi dengan suara yang mengguntur.

“Kami menyerah”, berkata salah seorang dari mereka sambil melempar senjatanya yang diikuti oleh semua kawan-kawannya.

Seluruh senjata telah diamankan. Seluruh penghuni Padepokan Alasjati yang tersisa sepuluh orang langsung diikat sebagai tawanan yang tidak berdaya.

Sementara itu pertempuran antara Datuk Alasjati dan Kertanegara masih terus berlangsung. Datuk Alasjati masih terus meningkatkan tataran ilmunya mencoba melambari kekuatan dirinya menahan daya hentak cambuk Kertanegara yang terus meningkat. Datuk Alasjati mencoba mengurangi daya hentakan itu dengan melambari dirinya dengan hawa panas lewat sambaran tongkatnya yang berputar kencang. Tapi dihadapan Kertanegara hawa panas itu seperti tidak berpengaruh. Kertanegara langsung menawarkan hawa panas dengan hawa dingin yang kasat mata keluar dari dalam dirinya. Serangan hawa panas itu seperti tidak berarti, bahkan Datuk Alasjati merasakan dirinya seperti menggigil terserang dingin yang kasat mata keluar dengan sendirinya dari tubuh Kertanegara.

Akibatnya memang sangat fatal. Disamping merasakan dadanya yang terasa sesak ketika menghindar dari sentakan cambuk Kertanegara yang terus mengejarnya, Datuk Alasjati juga meresakan serangan hawa dingin yang sepertinya menyerang menusuk-nusuk tulangnya.

Datuk Alasjati telah berusaha meningkatkan tataran ilmunya pada puncaknya, tapi daya hentak yang menyesakkan dadanya serta hawa dingin yang menusuknusuk dirinya tidak juga berkurang. Pucat wajah Datuk Alasjati, tataran ilmu Kertanegara ternyata sukar sekali diukur sampai dimana puncaknya. Timbul rasa penyesalannya mengapa mau menerima tawaran untuk membunuh Pangeran Kertanegara yang dikiranya begitu mudah dapat dilakukannya.

“Menyerahlah”, berkata Kertanegara yang sudah dapat mengendalikan dirinya untuk tidak menuruti kebenciannya melumatkan orang yang telah mengurung Menik Kaswari yang dilihatnya sudah pucat pasi tidak berdaya.

Sebenarnya sudah banyak kesempatan untuk merobohkan lawannya. Tapi Kertanegara tidak juga melakukannya, hanya untuk mengukur sampai sejauh mana tataran ilmu Datuk Alasjati dapat bertahan, dan menekannya agar menyerah. Kertanegara berharap Datuk Alasjati dapat dijadikan alat penghubung, siapa dibalik semua ini yang menginginkan nyawanya sebagai sebuah hadiah.

“Aku menyerah”, berkata Datuk Alasjati yang nampaknya sudah berputus asa. Menyadari bahwa Kertanegara masih bermurah hati tidak membinasakannya. “Terima kasih telah memperpanjang umurku”, berkata kembali Datuk Alasjati sambil  melempar tombak panjangnya di tanah.

Dengan mudah datuk Alasjati menyerahkan kedua tangannya untuk diikat. Dikumpulkan bersama anak buahnya sebagai tawanan.

Ditempat yang lain, Mahesa Amping, Raden Wijaya, Lawe dan Menik Kaswari telah semakin jauh dari Padepokan Alasjati.

Sementara itu Matahari pagi sudah bersinar terang. Cahayanya sudah masuk lewat cabang dan daun pepohonan Hutan Mading.

“Tugas kita tanpa rintangan yang berarti”, berkata Raden Wijaya merasa sebentar lagi sudah sampai di Tanah Perdikan.

“Apakah seharusnya aku kembali ke Padepokan Alasjati, mungkin tenagaku dibutuhkan di sana”, berkata Lawe minta pertimbangan Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

“Jangan!”, berkata Mahesa Amping. “Ki Gede pasti punya pertimbangan lain mengapa tugas ini harus kita bertiga yang melaksanakannya”, Lanjut Mahesa Amping.

“Jarak hutan Mading ke Tanah Perdikan sudah begitu dekat, kupikir cukup kalian berdua mendampingi Mbakyu Menik Kaswari sampai di tujuan”, berkata Lawe menyampaikan pendapatnya.

“Apapun perintah pimpinan harus kita patuhi”, berkata Mahesa Amping kepada Lawe mengingatkan. Meski sebenarnya bukan itu yang dipikirkan Mahesa Amping. Panggraitanya yang tajam telah menangkap sesuatu akan terjadi dalam perjalanan mereka.

Apa yang terlintas dalam “pengabaran” bathin yang diterima oleh Mahesa Amping ternyata memang sepertinya akan terjadi. Di depan mereka terlihat tiga orang sepertinya sengaja menunggu mereka.

“Berhati-hatilah”, berkata Mahesa Amping sambil meminta Menik Kaswari berjalan di belakang mereka.

Ketika mereka sudah menjadi semakin dekat dengan tiga orang yang sepertinya sengaja menunggu mereka. Lawe dan Raden Wijaya mengenal salah satu dari tiga orang itu yang tidak lain salah seorang pemuda kembar yang pernah menjadi lawannya.

“Dua orang itulah yang membawa Prastawa”, berkata pemuda itu yang namanya sendiri adalah Praskata kepada seorang di sebelahnya yang sudah  berumur yang tidak lain adalah gurunya sendiri.

“Kalau begitu, mulai hari ini aku memberi julukan baru untukmu, Setan Mati ketawa” berkata Lawe dari belakang Mahesa Amping sambil masih belum dapat menghentikan kegeliannya.

“Kupecahkan mulutmu”, berkata Empu Gelian sambil mengangkat sebuah gelang ke atas tidak dapat lagi menahan kemarahannya.

“Melihat sikapmu, aku akan menambahkan julukan untukmu, Setan Marah Mati ketawa”, berkata Mahesa Amping menambahkan minyak karena dilihatnya orang tua itu matanya sudah merah terbakar amarah.

Tanpa kata-kata, gelang di tangan Empu Gelian yang sudah terangkat tinggi langsung menghantam kepala Mahesa Amping yang ada di dekatnya. Dengan tenang Mahesa Amping surut ke belakang sedikit. Dan dengan kecepatan yang tidak diduga-duga, gerakannya seperti tidak terlihat oleh pandang mata biasa, telah menyentil gelang Empu Gelian dengan sentilan jari telunjuknya.

Ting !!

Bukan main kagetnya Empu Gelian melihat gerakan Mahesa Amping yang begitu cepat, sementara tangannya dirasakan sedikit tergetar karena Mahesa Amping tidak sekedar menyentil, tapi telah sedikit menyalurkan tenaga cadangannya ke ujung telunjuk jarinya.

“Jangan merasa gagah dengan merasa sedikit kemampuan”, berkata Empu Gelian sambil mengayunkan mendatar gelang ditangan satunya.

Wuss !!

Terdengar angin dari gelang itu yang nyaris merobek perut Mahesa Amping yang dengan cepat surut sedikit ke belakang namun tidak langsung melakukan serangan balik, tapi berdiri siap menghadapi serangan selanjutnya.

Terperanjat Empu Gelian mendapati dua serangannya lolos tanpa arti, sebagai seorang yang berpengalaman, tahulah bahwa anak muda di depannya telah mampu menguasai tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya, baik dalam kecepatan gerak maupun dalam menyalurkan kekuatan dari dalam diri.

Maka, serangan selanjutnya dari Empu Gelian merupakan serangan yang penuh perhitungan dan juga penuh tipuan. Sebuah serangan beruntun menerjang Mahesa Amping. Hanya dengan kemampuan gerakannya yang cepat Mahesa Amping masih dapat mengelak serangan demi serangan.

Mahesa Amping telah mengeluarkan belati pendeknya yang selalu dibawa terselip tersembunyi dibalik kainnya. Mahesa Amping menyadari bahwa sangat berbahaya terus-menerus mengelak. Empu Gelian lawannya itu ternyata begitu berpengalaman, gerakannya begitu kaya dengan banyak tipuan yang membahayakan jiwa Mahesa Amping. Akhirnya mahesa Amping terlihat tidak hanya mengelak, tapi langsung membalas serangan Empu Gelian tidak kalah berbahayanya.

Pertempuran pun menjadi semakin dahsyat dan seru. Mahesa Amping dan Empu Gelian terus meningkatkan tataran ilmunya selapis demi selapis, masing-masing masih mencoba menelitik dan menjajagi sejauh mana tingkat kemampuan ilmu lawannya. Suara benturan dua senjata pun sering tidak dapat lagi dihindari. Empu  Gelian mendapat keuntungan dan kelebihan dengan dua senjata gelangnya. Tapi Mahesa Amping mampu mengimbanginya dengan tidak hanya kecepatan geraknya, tapi juga kemahirannya merubah genggaman belati pendek ditangannya. Kadang belati itu digenggam dalam gerak menikam, kadang belati pendek itu berubah dalam posisi genggaman tangan menusuk dan mengayun.

Pertempuran antara Mahesa Amping dan Empu Gelian menjadi semakin menakjubkan mata, semakin cepat. Menik Kaswari yang menyaksikan langsung pertempuran itu sepertinya hanya melihat dua bayangan hitam saling berkelebat. Kadang terdengar suara dua senjata beradu, kadang hanya suara senjata membelah angin. Wuss !!!. Berdebar-debar perasaan Menik Kaswari tidak karuan. Menik Kaswari hanya berharap, semoga Mahesa Amping yang keluar hidup-hidup dari pertempuran maha dahsyat yang baru pertama kalinya disaksikan dengan mata dan kepalanya sendiri.

Sementara Lawe dan Raden Wijaya terus mengawasi dua orang di depannya, takut bila saja mereka bertindak pengecut membantu pertempuran itu.

Sambil mengawasi dua orang di depannya, Lawe menyaksikan pertempuran itu sebagai pertempuran yang mengagumkan. Tidak dapat langsung menilai, siapakah yang dapat keluar sebagai pemenangnya. Karena keduanya begitu sama-sama sempurna menguasai senjatanya. Sama-sama dapat bergerak dengan cepat. Lawe hanya dapat berharap, Mahesa Amping dapat keluar mengakhiri pertempuran itu sebagai pemenang.

Hanya Raden Wijaya sepertinya yang dapat menyaksikan pertempuran dengan hati yang tenang.

“Mahesa Amping masih bermain-main”, berkata Raden Wijaya kepada dirinya sendiri. Meskipun ia sendiri melihat kekayaan pengalaman Empu Galian dengan gerakannya yang penuh tipu daya membahayakan. Tapi dirinya yakin, Mahesa Amping dapat mengatasinya. Dan Raden Wijaya memang melihat Mahesa Amping masih belum menunjukkan tataran ilmunya yang sebenarnya.

Sementara itu Prastaka dan saudara perguruaannya berdebar-debar tidak menyangka ada yang dapat mengimbangi ilmu gurunya. Dan orang itu masih begitu muda belia.

“Apakah anak muda itu juga berada di atas kapal kayu ?”, bertanya saudara seperguruannya kepada Praskata.

“Aku melihatnya ada bersama di Kapal kayu, bahkan anak itu bermaksud mengejarku”, berkata Praskata kepada saudara seperguruannya.

“Dari Padepokan mana mereka sesungguhnya”, berkata saudara seperguruannya sambil matanya tidak lepas sedikitpun dari pertempuran di depan matanya yang sangat menggetarkan hatinya. Sebagai murid tertua, baru pertama kali ini melihat gurunya bertempur begitu lama dan mendapatkan lawan yang seimbang.

Pertempuran masih berlangsung . Dan memang Mahesa Amping sebagaimana yang dilihat Raden Wijaya masih belum menuntaskan tataran ilmunya pada puncaknya. Mahesa Amping hanya mengimbangi serangan-serangan Empu Gelian selapis lebih sedikit. Begitulah mereka selapis demi selapis meningkatkan tataran ilmunya. Empu Gelian telah mengeluarkan segenap kemampuannya. Angin serangan senjatanya benar-benar menggiriskan, hawa panas mampu merobek tubuh lawan meski senjata gelangnya belum dan masih jauh dari jangkauan.

Untungnya Mahesa Amping lebih dulu menyadarinya sebelum angin panas itu merobek perutnya. Mahesa Amping telah melapisi dirinya dengan kekuatan hawa dingin yang mampu meredam dan menawarkan hawa panas dari angin senjata Empu Gelian. Bukan main terkejutnya Empu Galian, angin panasnya tidak berarti menghadapi Mahesa Amping.

Sementara itu, arena pertempuran terlihat seperti tanah terbongkar. Semak-semak terlihat hangus terbakar terkena angin panas tersambar senjata gelang milik Empu Gelian.

Empu Gelian menjadi penasaran, sudah ratusan jurus masih juga belum dapat menundukkan lawannya yang masih muda belia ini. Akhirnya tanpa malu lagi telah meningkatkan tataran ilmunya pada batas puncaknya. Senjata gelangnya terlihat seperti bara merah menyala, sementara angin serangannya terlihat seperti api yang menyebar mengikuti kemanapun Mahesa Amping bergerak. Tapi, angin hawa panas itu tidak juga mampu menembus tubuh Mahesa Amping. Angin hawa panas itu sepertinya langsung menjadi dingin manakala masuk mendekati tubuh Mahesa Amping. Sementara itu serangan belati pendek Mahesa Amping menjadi sangat menyibukkan yang kadang datang seperti ombak menggulung tidak putus.

Dalam sebuah serangan yang dilakukan oleh Mahesa Amping, terlihat Empu Gelian melompat menjauh. Empu Gelian memang sudah tidak sabar lagi, ingin selekasnya menyelesaikan pertempurannya. Mahesa Amping menyadari, pasti Empu Gelian bermaksud mengeluarkan ilmu andalannya. Dugaan Mahesa Amping ternyata tidak meleset jauh. Terlihat Empu Gelian menambah senjata gelangnya yang tergantung dilehernya. Empat buah gelang ditangan Empu Galian menyala seperti bara. Dan dengan kecepatan yang luar biasa satu gelang meluncur menerjang Mahesa Amping yang langsung mengelak kesamping. Belum lagi kaki Mahesa Amping jatuh di bumi, sebuah gelang yang lain kembali menerjang tubuh Mahesa Amping. Begitulah Mahesa Amping diserang oleh Empu Gelian dengan gelang yang membara meluncur seperti bola api. Anehnya gelang itu dapat kembali sendiri ketangan pemiliknya. Bukan main sibuknya Mahesa Amping mengelak tanpa dapat menyerang kembali. Mahesa Amping seperti barang mainan Empu Gelian, kadang harus berguling di tanah menghindar serangan gelang yang datang seperti bola api.

Akhirnya, Mahesa Amping tidak lagi mampu berpikir jernih. Satu waktu tenaganya akan terkuras. Maka pada sebuah serangan, terlihat Mahesa Amping mengelak. Tapi Mahesa Amping sudah dapat menghitung tempo serangan berikutnya.

Sebelum serangan itu datang, sebuah pandangan mata Mahesa Amping tepat menyentuh dada kiri Empu Galian. Jantung Empu Gelian langsung hangus terbakar ditambah sebuah gelang yang tidak sempat ditangkap menembus perutnya.

Dengan mata terbuka terbelalak, Empu Gelian jatuh kebumi terlentang masih menggenggam tiga  buah gelang miliknya. Jiwanya sudah melayang.

Mahesa Amping masih berdiri menegang, termangu melihat hasil serangannya diluar pikiran jernihnya.

“Harusnya aku tidak membunuhnya”, berkata Mahesa Amping kepada dirinya sendiri, sepertinya telah menyesali dirinya sendiri yang tidak dapat berpikir jernih, memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan panjang.

Sementara itu Prastaka dan saudara seperguruannya seperti tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Gurunya yang dianggapnya telah mempunyai ilmu setinggi gunung telah tergeletak di tanah tak bernyawa.

Mereka berdua menatap Mahesa Amping dengan pandangan penuh kebencian, namun juga ada perasaan gentar. Tapi Prastaka dan Saudara sepergurunnya ternyata adalah orang yang cerdas, dapat berhitung panjang, selain Mahesa Amping yang telah mengalahkan gurunya. Masih Ada Lawe yang pernah dihadapi dan mengimbangi ilmu Praskata. Dan di samping Lawe, ada seorang lagi yang telah melumpuhkan Prastawa dengan mudah. Akhirnya sebelum berlanjut dalam kesuitan yang lain, Praskata dan saudara seperguruannya telah membawa mayat gurunya.

Ketika agak jauh berjalan beberapa langkah, Praskata berbalik badan. “Aku akan kembali mencari kalian, membayar hutang nyawa guruku”, berkata Praskata langsung berbalik badan kembali mengikuti saudara seperguruannya yang tengah membawa mayat gurunya. “Datanglah dengan seluruh orang  Gelang-gelang, aku tidak takut!!”, berteriak Lawe yang merasa tertantang dengan ucapan Praskata yang pernah bertempur dengannya tapi belum tuntas, belum ada yang kalah dan menang.

Sementara itu, matahari diatas hutan Mading sudah bergeser turun dari puncaknya. Cahayanya sudah tidak lagi menyengat kulit, telah menjadi teduh terhalang cabang daun pepohonan hutan yang lebat.

“Mari kita lanjutkan perjalanan kita”, berkata Mahesa Amping yang telah berada diatas kudanya.

Merekapun kembali melanjutkan perjalanannya yang tertunda, meninggalkan arena sisa pertempuran yang seperti tanah lapang yang terkoyak hangus terbakar.

Kini kita kembali ke Padepokan Alasjati. Terlihat beberapa orang yang terluka tengah diberikan pengobatan. Beberapa mayat telah dikumpulkan. Orangorang penghuni Padepokan Alasjati yang telah menjadi tawanan telah diberikan kebebasan sementara untuk membantu mengubur mayat-mayat kawan mereka  sendiri yang terbunuh dalam pertempuran.

“Apa yang harus kita lakukan dengan para tawanan itu”, berkata Kertanegara kepada Ki Gede Banyak Wedi di pendapa utama Padepokan Alasjati.

“Untuk jangka panjangnya belum dapat kupikirkan, kita lihat perkembangan. Yang harus segera kita dapatkan adalah membuka mulut mereka, siapa dalang di balik semua ini”, berkata Ki Gede kepada Kertanegara.

Akhirnya mereka sepakat untuk mencoba mencari keterangan dari para tawanan, siapa yang telah membayar  begitu   mahal  untuk   kepala  seorang  Putra Mahkota.

Kertanegara dan Ki Gede Memanggil satu persatu tawanan. Menanyakan beberapa hal. Hingga akhirnya Datuk Alasjati sendiri telah dipanggil menghadap mereka.

“Datuk Alasjati”, berkata Kertanegara kepada Datuk Alasjati yang sudah datang menghadap sebagai seorang tawanan.

“Beberapa tawanan sudah kami tanyakan, tentunya mereka juga telah bercerita kepadamu apa saja yang telah kami tanyakan. Kejujuran Datuk menentukan, perlakuan apa selanjutnya yang dapat kami berikan kepada semua tawanan, termasuk diri pribadi Datuk sendiri”, berkata Kertanegara perlahan tapi didalam katakatanya mengandung sebuah ancaman.

“Semoga aku dapat menjawab pertanyaan Pangeran”, berkata Datuk Alasjati dengan hati gentar menangkap sebuah ancaman dibalik kelembutan katakata Kertanegara.

“Kami akan melepas Datuk, melepas semua tawanan, membiarkan Padepokan ini sebagaimana semula”, berkata Kertanegara berdiam sebentar memberi kesempatan Datu Alasjati berpikir tenang. Dan Kertanegara berkata kembali , “kami akan memberikan semua itu, tentunya setelah Datuk mau menerima sebuah penawaran”.

“Selama tawaran Pangeran dapat kupikul”, berkata Datuk Alasjati seperti pasrah apapun yang akan diperlakukan terhadapnya.

“Tawaran kami tidak berat, dapatkah Datuk bergabung menjadi sahabat kami?” berkata Kertanegara perlahan kepada Datuk Alasjati. Tampaknya Datuk Alas tengah berpikir keras. Mencoba mengukur kekuatan dua kubu dimana dirinya ada diantaranya. “Pangeran Kertanegara adalah seorang Putra Mahkota, kekuasaannya akan menjadi lebih besar. Tidak ada salahnya bila aku bernaung, berbalik arah menjadi sahabat”, berpikir datuk Alasjati menimbangnimbang untung dan ruginya menerima tawaran Kertanegara.

“Aku terima tawarannya”, berkata Datuk Alasjati memberikan sebuah keputusan.

“Ternyata Datuk dapat berpikir jernih”, berkata Kertanegara kepada Datuk Alasjati.

Maka sesuai kesepakatan itu, Datuk Alasjati dan  anak buahnya tidak lagi diperlakukan sebagai tawanan. Mereka semua telah dibebaskan. Ketika matahari menjelang senja, Kertanegara dan pasukan kecilnya terlihat keluar Padepokan Alasjati.

Datuk Alasjati mengikuti iring-iringan itu keluar dari Padepokannya. “Masih muda, ilmunya sudah begitu tinggi. Aku berjanji setia di belakangnya”, berkata Datuk Alasjati kepada dirinya sendiri ketika rombongan kecil itu tidak terlihat lagi, terhalang kerimbunan hutan dibawah suram cahaya matahari senja tanpa desiran angin. Hutan dalam bayangan senja sepertinya terus membawa Datuk Alasjati untuk merenung, mencoba berpikir jernih, membangun kembali Padepokannya yang telah porak poranda.”Ternyata kesombonganku telah tersungkur tanpa arti di hari ini”, berkata Datuk Alasjati menyesali kesombongannya selama ini yang menganggap ilmunya sudah begitu tinggi.

Menyerang lawan dengan senjatanya sendiri, itulah yang Kertanegara dan Ki Gede inginkan dengan melepas Datuk Alasjati dengan “mengikatnya” sebagai sahabat. Siapa dalang dibalik semua ini memang sudah tergambar. Tetapi Kertanegara dan Ki Gede telah sepakat untuk menyimpannya rapat-rapat.

Hutan dalam bayangan senja menatap rombongan kecil memasuki kerimbunannya. Derap kaki kuda seperti rancak tari pahlawan pulang berperang membawa kemenangan. Tidak ada hambatan lain dalam perjalanan mereka menuju Tanah Perdikan baru yang belum bernama.

Hari telah masuk tengah malam ketika rombongan kecil itu telah masuk Padukuhan paling ujung di Tanah Perdikan. Akhirnya mereka terlihat dari Banjar Desa. Beberapa peronda menyambut kedatangan mereka dengan perasaan suka cita.

“Syukurlah kalian juga telah behasil menjalankan tugas”, berkata Ki Gede ketika melihat Lawe, Mahesa Amping dan Raden Wijaya di Pendapa utama.

“Mbakyu Menik tengah beristirahat di dalam kamarnya”, berkata Mahesa Amping kepada Kertanegara tanpa ditanya.

“Terima kasih, seusia kalian aku masih takut melewati pohon besar di malam hari”, bekata Kertanegara ketika Raden Wijaya bercerita tentang pertemuan mereka dengan guru sepasang iblis di Hutan Mading.

Malam pun berlalu bersama bulan tua dan bintang bertabur di langit malam.

Tungku di dapur belakang terlihat dinyalakan. Nyi Gede Banyak Wedi dibantu beberapa oaring lelaki tengah sibuk membawa hidangan makanan dan minuman hangat. Pendapa utama dan Banjar desa menjadi ramai. Beberapa orang dari beberapa Padukuhan telah berdatangan, diantaranya adalah sanak kandang para pengawal tanah perdikan yang ikut bertempur di Padepokan Alasjati. Suka cita wajah mereka mendapati suami, anak dan saudara mereka pulang dengan selamat, meski ada satu dua orang mendapat sedikit luka ringan.

Baru ketika pagi akan datang menjelang, beberapa orang telah kembali ke rumahnya. Banjar Desa dan pendapa utama seperti lengang. Satu dua orang nampak masih bercakap-cakap. Sementara sebagian lagi sudah terlelap tertidur nyenyak.

Mata ini sepertinya baru mengejap, sang surya sudah datang menepati janjinya.

Tungku dapur rumah Ki Gede sudah lama menyala.

Kesibukan kembali terlihat.

Sementara itu Kertanegara dan Menik Kaswari telah bertemu. Sebuah pertemuan di pagi hari yang mengharu birukan untuk sebuah rindu yang lama tertahan. Di bawah matahari pagi mereka bersama menyusuri jalan berliku sekitar padukuhan Tanah perdikan yang masih asri. Sawah ladang dan bangunan rumah berdiri diatas tanah asli apa adanya menyesuaikan tinggi dan rendahnya keadaan tanah. Sebuah pemandangan yang indah, seindah memandang mata wajah sang kekasih di pagi hari.

“Mari kita kembali”, berkata Kertanegara kepada Menik Kaswari.

“Tidak terasa mungkin kita sudah begitu jauh berjalan, ayah pasti sudah terbangun menunggu kita”, berkata Menik Kaswari yang teringat kepada ayahnya yang masih tertidur di Banjar desa ketika mereka melewatinya.

Di banjar desa Ki Rangga Bangkalan memang sudah terbangun, bahagia memeluk anak gadisnya yang menangis tersedu di pangkuannya. Ayah mana yang tidak bahagia mendapatkan kembali anak gadisnya dengan selamat, tanpa berkurang sehelai rambutpun.

Pagi itu ki Gede telah mengumpulkan beberapa warganya menyampaikan berita penting bahwa  mulai hari itu Tanah Perdikan telah mempunyai sebuah nama.

“Songenep artinya tempat singgah yang baik,  semoga nama ini menjadi berkah untuk kita semuanya”, berkata Ki Gede menyebut sebuah nama untuk Tanah Perdikannya.

“Hidup Tanah Perdikan Songenep”, terdengar beberapa orang berkali-kali menyebut kata Tanah Perdikan Songenep. Tampaknya mereka ikut gembira mendapatkan sebuah nama untuk Tanah Perdikan yang mereka huni selama ini.

Pada hari itu juga Ki Gede telah menawarkan kepada Kertanegara menyediakan rumahnya untuk dijadikan tempat sebuah upacara pelamaran.

“Ayah gadis itu sudah ada disini, sementara itu salah satu cantrik utama Padepokan Bajra Seta telah membawa peneng utusan resmi dari Sri Maharaja”, berkata Ki Gede kepada Kertanegara.

Perayaan besar pun telah disepakati, perayaan besar untuk dua upacara besar, pemberian nama Tanah Perdikan dan penerimaan resmi keluarga Menik Kaswari atas lamaran Kertanegara.

Sesuai adat, seorang Pangeran berhak membawa gadis yang dicintainya ke istana setelah melakukan upacara boyongan.

Agar persiapan perayaan dapat terlaksana dengan baik dan meriah, ditetapkan harinya dua hari setelah hari itu. Bukan main kesibukan persiapan hari perayaan itu. Sebuah tajuk besar telah didirikan lengkap dengan panggung tempat peralatan gamelan. Akan didatangkan seorang sinden kondang dari Kalianget bernama Ni Ken Padmi. Kemerduan suara Ken Padmi konon mampu menghentikan sebuah daun kering yang terjatuh dari cabangnya.Dan konon, para penonton seperti tersirep, tidak sadar menari sendiri.

Di dalam persiapan pembuatan tajuk dan panggung yang hampir selesai, terlihat Lawe, Raden Wijaya dan Mahesa Amping ikut membantu. Ternyata Mahesa Amping bukan hanya ahli memainkan belati pendeknya. Ia juga mahir merangkai beberapa hiasan janur. Pada saat itu terlihat tangan Mahesa Amping begitu cepat dan luwesnya membuat janur merak penghias nampan kalung penganten.

“Di istana aku sering melihat hiasan janur, tapi tidak sesempurna buatanmu”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping yang tidak menjawab hanya sedikit tersenyum.

Pekerjaan pembuatan hiasan janur nampaknya sudah hampir selesai. Tidak ada lagi yang dikerjakan oleh Lawe dan Raden Wijaya selain menonton kerja Mahesa Amping menyelesaikan hiasan burung meraknya dibawah cahaya oncor minyak jarak yang banyak dipasang sepanjang tajuk di malam itu.

“Ayahku sudah memberi ijin bahwa aku diperbolehkan ikut kalian menjadi cantrik di Padepokan Bajra Seta”, berkata Lawe kepada Mahesa Amping dan Raden Wijaya.

“Mudah-mudahan sainganku tidak bertambah”, berkata Mahesa Amping sambil merangkai janur.

“Saingan dalam hal apa?”, bertanya Lawe tidak mengerti.

“Ada seorang gadis yang diam-diam dicintai, tapi ketika aku datang gadis itu jatuh cinta padaku”, berkata Raden Wijaya membantu menjelaskan apa yang dikatakan Mahesa Amping. Dan Lawe langsung tersenyum mengerti apa yang maksud dari perkataan Mahesa Amping.

“Jadi sahabat kita ini takut kalau aku akan ikut bersaing?”, berkata Lawe sambil melirik Mahesa Amping yang sepertinya tidak mendengarkan celoteh Lawe.

“Begitulah”, berkata Raden Wijaya menjawab pertanyaan Lawe.

“Apakah gadis itu begitu cantik?”, bertanya Lawe “Begitulah”, berkata Raden Wjaya

“Apakah gadis itu bersuara merdu sebagaimana Ni

Sinden Ken Padmi ?”

“Begitulah”, berkata Raden Wijaya.

Begitulah mereka bertiga bercanda saling menggoda. Terlihat mereka telah bersatu sebagaimana tiga sahabat yang tidak mudah lagi dipisahkan. Hati  mereka sepertinya telah terikat. Seperti janur burung merak di tangan Mahesa Amping yang terangkai begitu indah. Mungkin hanya waktu sisa usia yang dapat memisahkan mereka. Sebagaimana sebuah rangkaian janur yang indah akan layu dan lekang dimakan waktu. Dan waktu yang ditunggu akhirnya tiba, malam perayaan untuk dua ungkapan rasa sukur lahirnya sebuah nama bagi Tanah perdikan dan resminya Pangeran Kertanegara memboyong Menik Kaswari ke Istana.

Puncak perayaan adalah mendengarkan suara indah Ni Sinden Ken Padmi membawakan empat belas tembang macatan. Seluruh hadirin seperti tersirep diam dan hening ketika suara Ni Sinden Ken Padmi mulai mengalunkan tembang cinta asmaradana yang mendayu dayu membawa pendengarnya dalam suasana cinta, rindu dan kemesraan cinta. Jiwa hadirin yang telah terbawa irama suara cinta itu tiba-tiba terhanyut oleh suasana duka sedih penuh kecewa ketika suara indah Ni Sinden Ken Padmi mengalunkan tembang Maskumambang. Jiwa pendengar tiba-tiba saja seperti terlempar dalam medan perang grumuh, melompat, menerkam dan menerjang musuh ketika suara Ni Sinden Ken Padmi begitu menghentak-hentak penuh semangat. Dan Ni Sinden Ken Padmi sang bidadari cinta penuh pesona cahaya dewi panggung menutup suasana hati pencintanya dengan tembang kenangan Kinanti dalam irama kegembiraan penuh kasih sayang.

“Tidak pernah kulupakan seumur hidupku, mendengar langsung suara sinden kondang Singasari ini”, berkata Sembaga.

“Ternyata cerita orang tentang Ni Sinden Ken Padmi bukan isapan jempol, seluruh jiwaku seperti hanyut terbawa suaranya yang bening”, berkata Wantilan.

Namun ketika semua orang tengah membicarakan tentang indahnya suara Ni Sinden Ken Padmi, terjadi sebuah kegaduhan besar. “Tawanan hilang!!”, terdengar suara entah dari mana semakin lama bertambah saling mengulang kata yang sama,

“Tawanan hilang !!!!!”

Tampak beberapa orang berlari menuju bilik kecil di banjar desa tempat Prastawa, salah seorang dari sepasang iblis dari Gelang-gelang ditawan.

“Dia lari lewat wuwungan”, berkata Ki Gede Banyak Wedi yang melihat wuwungan di bilk itu yang rusak.

“Dahan pohon beringin itu mempermudah tawanan”, berkata Kebo Arema menunjuk sebuah dahan beringin yang melunjur diatas atap bilik tempat tawanan dikurung.

Namun akhirnya, kegaduhan itu tidak berlarut-larut merusak suasana perayaan yang meriah. Ki Gede Banyak Wedi meminta semua orang kembali ketempatnya menyaksikan beberapa tontonan yang masih belum habis seperti tarian gemulai para gadis cantik diiringi degung gamelan irama malam.

“Hiburan masih belum selesai, mari kita kembali”, berkata Ki Gede Banyak Wedi mengajak tamunya dan semua orang untuk melupakan tentang tawanan yang kabur, kembali menyaksikan hiburan di panggung yang masih tersisa.

Di ujung malam panggung hiburan telah berakhir. Masih ada beberapa orang yang menyisakan paginya disekitar panggung dan banjar desa hingga datangnya fajar.

Dan Matahari menggeliat malas mendatangi pagi. Di pendapa beberapa orang telah berkumpul, sepertinya akan melakukan perjalanan panjang.

“Menyerahkan kembali tusuk konde ini ke pemiliknya. Aku ingin tahu bagaimana sikapnya pertama kali ketika melihat tusuk konde ini”, berkata Kertanegara menjelaskan.

“Kenapa harus kami yang menyerahkannya?”, bertanya Mahesa Amping

“Karena ini menyangkut rahasia keluarga”, berkata Kertanegara. “mengenai kapan kalian dapat menyampaikannya, tidak usah terburu-buru, kapan pun kalian punya kesempatan waktu”, berkata Kertanegara melanjutkan.

“Ingat, ini rahasia”, berkata Kertanegara sambil menyerahkan tusuk konde kepada Raden Wijaya.

Ternyata di balik permintaan Kertanegara, ada sebuah keinginan lain dari pemikiran Kertanegara yang mampu membaca masa depan dengan panggraitanya yang tajam bahwa tiga pemuda belia ini mempunyai masa depan yang gemilang. Perjalanan Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe akan menambah wawasan dan pendalaman mereka tentang keadaan daerah Gelang-gelang dan sekitarnya. Permintaan Kertanegara bermakna seperti senjata trisula. Banyak hal lain yang diinginkan dari ketiga pemuda belia yang masih di dekatnya itu. Seperti anak elang yang telah tumbuh sayap, Kertanegara mulai melihat dunia perburuannya. Dan sebagai seorang Panglima yang akan berperang, Kertanegara sudah menemukan siapa saja yang akan menjadi sayap-sayap tempurnya, menuju kemenangan gemilang.

Langit malam bertabur bintang. Suara debur ombak semakin malam semakin keras terdengar. Dan api unggun sudah semakin redup tidak ada lagi yang menambahkan kayu kering. Penghuni gubuk kecil beratap ilalang itu sudah jauh bemimpi. Dan pagi pun telah datang.

Dua buah jukung terlihat sudah menyusuri sungai porong, membelakangi dan meninggalkan matahari yang mengintip dibalik timur laut memberi cahaya di atas pantai pasir putih muara porong yang indah.

Matahari pagi, perkampungan nelayan yang damai dan pantai pasir putih muara porong yang indah sudah lama tertinggal jauh. Dua buah jukung semakin jauh masuk kepedalaman kegelapan hutan porong yang lebat.

Tepat manakala matahari telah bergeser dari puncaknya, mereka telah sampai di tempat kediaman Empu Dangka di tepian sungai.

Gubuk sederhana itu memang masih berdiri. Tapi sepertinya sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya. Meski begitu mereka tetap beristirahat di tepian sungai itu, membuka perbekalan yang mereka bawa.

Kebo Arema dan Kertanegara yang pernah lama tinggal ditepian sungai itu masih tetap menyapu dengan matanya setiap sudut tepian sungai masih berharap Empu Dangka muncul. Tapi yang dinantikan tidak juga ada.

Akhirnya, setelah merasa cukup beristirahat di tepian tempat dimana Empu Dangka pernah menghuninya, merekapun melanjutkan perjalanan.

Matahari senja telah merebahkan dirinya, dua buah jukung keluar dari mulut sungai hutan Porong. Air sungai Brantas begitu tenang mengalir menyambut dua buah jukung menggunting arusnya yang berlawanan arah.

Perjalanan memang masih panjang. Sang malam telah datang memayungi Sungai Brantas dengan kegelapannya. Kesunyian perjalanan malam menyusuri sungai Barantas seperti berlalu melintas kuburan tua, kesunyian begitu mencekam. Hanya suara dayung yang dikayuh memecah air terdengar menyusup kesunyian dalam cahaya lentera yang bergoyang.

“Kita berhenti sambil menunggu fajar”, berkata Kebo Arema ketika merasa hari telah jauh diujung malam.

Merekapun mencari daerah terbuka. Di sebuah tempat di tepian yang berbatu mereka menyandarkan jukungnya.

Mahesa Amping dan Bhaya terpilih mendapatkan giliran berjaga. Di belakang mereka hutan lebat dalam kekelaman yang pekat. Sesekali terdengar suara anjing hutan saling berebut daging buruan, setelah itu malam menjadi sepi kembali.

Tidak ada hal yang berarti yang mengganggu  istirahat mereka di malam itu. Dan pagi pun akhirnya datang juga. Hutan gelap di belakang mereka sudah berubah menjadi terang oleh cahaya matahari pagi, terlihat jelas deretan pohon besar berdiri menjulang tinggi dirambati rotan liar dan tangkai tanaman menjalar menutupi pokok-pokok batang kayu yang besar. Sebuah hutan liar yang masih perawan.

Setelah bersih-bersih diri mereka pun terlihat tengah mempersiapkan diri melanjutkan perjalanannya.

“Setengah hari perjalanan kita sudah sampai di Bandar Cangu”, berkata Kebo Arema menjelaskan jarak perjalanan mereka.

Terlihat dua buah jukung meluncur menggunting arus sungai Brantas. Kadang di tengah perjalanan bersisipan dengan perahu kapal dagang. Atau melewati beberapa nelayan di atas jukung kecil melemparkan jalanya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Kebo Arema, di saat matahari telah turun bergeser sedikit dari puncaknya, mereka telah tiba di Bandar Cangu yang ramai. Berjejer perahu kapal dagang tengah bersandar. Di sebuah dermaga yang tidak begitu ramai mereka menyandarkan jukungnya.

Terlihat mereka memasuki sebuah kedai, Seorang pelayan datang menghampiri.

“Pesan makanan apa tuan muda”, berkata pelayan itu kepada Lawe yang memanggilnya dengan sebutan tuan muda.

“Aku pesan nasi srundeng hangat lengkap dengan daging empalnya”, berkata Lawe kepada pelayan itu.

Disiang hari itu pengunjung kedai terus bertambah. Di sudut kedai Nampak dua orang pedagang tengah menikmati makanannya sambil berbincang-bincang sekitar keamanan nagari Singasari yang semakin aman, perampokan sudah jarang sekali terdengar baik di darat maupun di perjalanan sungai sepanjang Brantas.

“Sejak berdirinya Benteng Cangu, perjalanan sepanjang sungai Brantas ini menjadi aman. Sudah ada gardu jaga di sepanjang sungai”, berkata seorang pedagang berwajah bulat sambil meneguk minumannya

“Mudah-mudahan Putra Mahkota dapat melanjutkan keadaan hal ini”, berkata temannya yang berkumis tebal.

“Itulah yang kita harapkan sebagai seorang pedagang”, berkata pedagang yang berwajah bulat.

“Tapi aku melihat sesuatu yang lain di Gelanggelang”, berkata Pedagang yang berkumis tebal. “Sebuah persiapan besar tengah dilakukan di sana”, lanjut pedagang berkumis tebal itu lagi.

“Persiapan dalam hal apa?”, bertanya pedagang berwajah bulat.

“Persiapan sebuah pasukan yang besar”, berkata pedagang berkumis tebal

“Dari mana kamu mengetahuinya”, bertanya pedagang berwajah bulat menjadi penasaran.

“Seorang temanku mendapat pesanan lima ribu jenis senjata. Dari temanku itulah aku kebagian rejeki mendapat seribu pesanan senjata tombak”, berkata pedagang berkumis tebal.

“Bukankah pembelian senjata suatu yang wajar?”, bertanya pedagang bewajah bulat.

“Bila hanya lima ribu senjata memang dapat dimengerti, mungkin untuk mengganti senjata mereka yang sudah usang. Tapi sebulan sebelumnya mereka juga telah memesan jumlah yang sama kepada temanku itu”, berkata pedagang berkulit tebal.

Ternyata pembicaraan mereka diam-diam didengar oleh Kertanegara yang duduk tidak begitu jauh dari kedua pedagang itu. Kertanegara sepertinya berpurapura tidak memperhatikan mereka, sepertinya tengah asyik menikmati hidangan di depannya. Berharap ada pembicaraan lain yang berguna.

Tapi harapan Kertanegara tinggal harapan, di depan kedai telah terjadi keributan, perhatian kedua pedagang telah beralih ke depan kedai itu.

Mahesa Semu yang sudah menyelesaikan hidangannya berjalan mendekati pintu kedai. Ternyata diluar kedai telah terjadi keributan kecil para buruh angkut barang. Syukurlah tidak berlanjut karena entah dari mana telah datang dua orang prajurit melerai mereka.

Ternyata Mahesa Semu mengenal salah seorang prajurit itu, yang tidak lain adalah Dadulengit.

Mahesa Semu mengajak Dadulengit dan temannya kedalam kedai. Bukan main senangnya Dadulengit bertemu kembali dengan orang-orang dari Padepokan Bajra Seta.

Siang itu juga, rombongan di antar Dadulengit singgah di Benteng Cangu.

“Selamat datang Pangeran”, berkata Senapati Mahesa Pukat menyambut Pangeran Kertanegara bersama rombongan kecilnya.

“Kalian telah menunaikan tugas dengan baik”,  berkata Senapati Mahesa Pukat memberi selamat kepada para cantrik utama Padepokan Bajra Seta.

Setelah bercerita tentang keselamatan masingmasing. Senapati Mahesa Pukat ingin mendengar langsung cerita perjalanan mereka di Pulau Madhura. Wantilan mewakili kawan-kawannya bercerita sekitar perjalanan mereka di Pulau Madhura.

Suasana di pendapa utama benteng cangu itu menjadi seperti hening manakala Senapati Mahesa Pukat menyampaikan berita duka cita, Ayahnya Mahendra telah meninggal dunia.

“Aku mendapat kabar sehari setelah kalian meninggalkan Bandar Cangu ini”, berkata Senapati Mahesa Pukat menjelaskan kapan ayahnya Mahendra meninggal dunia.

Mahesa Amping yang biasanya sangat tabah, tidak mampu menutup rasa dukanya. Terlintas bayangan wajah Mahendra yang begitu penuh senyum saat memberinya dasar kanuragan. Terlihat Mahesa Amping menunduk dalam menahan agar air matanya keluar dan mencoba menguasai gelombang perasaannya dukanya.

“Sri Maharaja telah berkenan mencandikan jasadnya di Gunung Arjuna”, berkata Senapati Mahesa Pukat menjelaskan dimana jasad Mahendra di kebumikan.

“Seorang yang setia pada pengabdiannya”, berkata Kebo Arema ketika mengetahui siapa Mahendra lewat penjelasan Kertanegara.

Senjapun datang meredup rasa duka yang berlarut melepas perasaan yang terhanyut, perlahan Mahesa Amping sudah dapat menguasai perasaannya, menyadari bahwa hidup dan mati adalah sebuah takdir yang sudah digariskan. Semua akan kembali kedalam keabadian Sang Hyang Maha Karsa.

Malam pun berlalu dalam sebuah perjamuan besar di Pendapa utama Benteng Cangu. Senapati Mahesa Pukat bersedia menyediakan prajuritnya mengawal Pangeran Kertanegara bersama calon istrinya Menik Kaswari. Akhirnya disepakati, para cantrik padepokan Bajra Seta akan langsung kembali ke padepokannya, sementara Kebo Arema dan Bhaya akan terus bersama Kertanegara tinggal di Kotaraja sesuai dengan permintaan Pangeran Kertanegara.

“Paman Sembaga sudah lama meninggalkan Padepokan Bajra Seta, sudah rindu berat untuk segera turun ke sawah”, berkata Senapati Mahesa Pukat yang seperti dapat membaca hati Sembaga dan kawankawannya.

Bersama datangnya pagi, bersama geliat lalu lalang di sekiatar Bandar Cangu yang ramai, sebuah rombongan telah keluar meninggalkannya. Dan di  sebuah jalan yang bercabang, rombongan itu pun terpecah. Pangeran Kertanegara dan Menik Kaswari bersama Kebo Arema, Bhaya dan sekelompok prajurit mengambil arah jalan ke arah Kotaraja Singasari. Sementara rombongan lainnya terlihat mengambil jalan lain, mereka adalah para cantrik utama Bajra Seta bersama Lawe seorang putra tunggal Ki Gede Banyak Wedi yang telah diijinkan menuntut ilmu di Padepokan Bajra Seta.

Langit cerah memayungi lima ekor kuda berlari menembus hutan ilalang. Tiga ekor kuda Nampak selalu berjalan beriring di muka, penunggangnya masih muda belia sementara itu di belakang mereka tiga ekor kuda yang selalu mengikuti dan mengimbangi laju kuda mereka.

Tiga orang penunggang kuda yang masih muda belia adalah Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe. Sementara di belakang mereka yang selalu mengikuti adalah Sembaga, Wantilan dan Mahesa Semu. Hati mereka semua sudah terpaut untuk segera sampai di Padepokan Bajra Seta. Sepanjang hari mereka memacu kudanya, di bulakan panjang atau di hutan ilalang. Di malam hari baru mereka beristirahat, kadang di banjar desa sebuah Padukuhan atau di tanah terbuka di bawah pohon besar agar sedikit berlindung dari angin malam.

Hari itu matahari senja sudah membayangi bumi ketika mereka keluar dari sebuah hutan. Jarak Padepokan Bajra Seta cuma terhalang bukit kecil.

Matahari sudah bersembunyi di ujung cakrawala ketika mereka sampai diatas puncak bukit kecil. Di depan mata mereka memandang hamparan hijau sawah dalam gugus petak bersusun bertingkat. “Rumput-rumput liar di sawah menanti kita”, berkata Wantilan sambil memacu kudanya menapaki bulakan panjang.

Hari memang sudah hampir gelap manakala mereka telah sampai di muka gerbang Padepokan Bajra Seta. Segenap penghuni Padepokan menyambut suka cita kedatangan mereka.

“Kami membawa putra Ki Gede Banyak Wedi, namanya Lawe”, berkata Wantilan ketika mereka sudah naik pendapa utama memperkenalkan Lawe kepada Mahesa Murti.

“Aku merasa tersanjung dititipi putra Paman Bahyak Wedi di Padepokan ini”, berkata Mahesa Murti menerima Lawe seperti keluarganya sendiri.

Mulai hari itu Lawe telah menjadi cantrik di Padepokan Bajra Seta. Setahap-demi setahap tataran ilmu Lawe terus meningkat. Berlatih bersama Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah membuat perkembangan ilmu Lawe semakin pesat.

Tidak ada perbedaan di Padepokan Bajra Seta, semua bahu membahu bekerja untuk memenuhi kehidupan mereka sendiri, disamping olah kanuragan dan olah kajiwan yang dipimpin langsung oleh Mahesa Murti sebagai ketua tunggal Padepokan Bajra Seta.

Sementara itu kedatangan Kertanegara di Kutaraja disambut dengan suka cita. Sri Maharaja menerima Menik Kaswari sebagai menantunya. Dan pada hari itu juga telah dilangsungkan upacara peresmian mereka dengan upacara kebesaran kerajaan.

Dalam sebuah kesempatan, Kertanegara telah memperkenalkan Kebo Arema kepada Sri Maharaja. Ternyata mereka berdua merasa begitu cocok. Keduanya mempunyai pandangan yang sama tentang dunia bahari.

“Jadi kamu berasal dari suku air”, berkata Sri Maharaja setelah mengenal Kebo Arema lebih jauh lagi. “Ada yang bilang bahwa suku air punya nyawa rangkap tiga ?”

Tersenyum Kebo Arema mendengar pertanyaan Sri Maharaja. “Mungkin yang dimaksud tuanku, bahwa suku air adalah orang yang tidak pernah takut menghadapi badai, topan dan ombak. Setiap orang suku air pernah mengalami terapung berhari-hari di tengah laut, terdampar di pulau kosong atau sekarat terkena racun ikan laut paling ganas sekali pun”.

Demikianlah awal pertemuan Kebo Arema dengan Sri Maharaja. Mereka sama-sama mempunyai pandangan yang sama tentang dunia bahari yang mereka sepakati menyebutnya sebagai kerajaan air. Hari-hari selanjutnya, Kebo Arema begitu sering dipanggil ke istana di tempat pribadi Sri Maharaja. Kadang mereka berbincang sampai jauh malam.

Hari itu kembali Kebo Arema di panggil menghadap Sri Maharaja.

“Kebo Arema”, berkata Sri Maharaja. ”Dalam sebuah perjalanan pulang dari subuah jiarah suci di Biara Beduhur, dalam tujuh malam aku bermimpi dengan mimpi yang sama”

“Gerangan apa yang tuan mimpikan ?”, bertanya Kebo Arema menjadi sangat ingin tahu apa yang Sri Baginda mimpikan itu.

“Dalam mimpi itu, aku masih ada di dalam biara Beduhur memandang sebuah lukisan Jung besar berlayar yang megah bagai sebuah Jung para dewa. Entah dari mana datangnya, di sebelahku telah berdiri seorang pemuda berjubah putih, rambutnya terurai tanpa ikat kepala. Pemuda itu memandangku dengan tersenyum begitu ramah sambil menunjuk ke arah gambar di batu itu dan berkata bahwa akulah yang berjodoh dapat membawa lukisan di batu itu keluar dari biara Beduhur. Sampai tujuh malam berturut-turut aku bermimpi yang sama”, berkata Sri Maharaja bercerita tentang mimpinya.

“Kita bertemu dengan pemuda yang sama dalam mimpi”, berkata Kebo Arema

“Apa yang kamu mimpikan?”, terheran Sri Maharaja mendengar ucapan Kebo Arema.

“Pada waktu itu aku terapung apung di tengah lautan, jukungku pecah dihantam badai gelombang. Tujuh malam di tengah lautan aku bermimpi yang sama. Dalam mimpiku aku telah ada di atas Jung besar yang tidak pernah kulihat sepanjang hidupku. Entah dari mana disampingku berdiri seorang pemuda berjubah putih, rambutnya terurai tanpa ikat kepala. Pemuda itu berkata kepadaku, bahwa aku berjodoh membawa dan memiliki Jung besar itu”, berkata Kebo Arema bercerita tentang mimpinya.

“Apakah kamu pernah bercerita tentang mimpimu itu kepada orang lain?” bertanya Sri Maharaja.

“Hamba cuma bercerita kepada kakek hamba. Setelah mendengar cerita mimpi itu, kakek hamba hanya mengatakan bahwa Gunadharma leluhur para suku air telah menyelamatkan hamba”, berkata Kebo Arema.

“Pemuda yang kamu mimpikan bernama Gunadharma?” bertanya Sri Maharaja “Apa yang Tuanku ketahui mengenai Gunadharma leluhur kami?”, bertanya Kebo Arema

“Gunadharma adalah murid seorang Brahmana sakti, konon dialah yang dipercayakan Raja Samaratungga membangun biara di atas bukit Beduhur”, berkata Sri Maharaja.

“Aku akan menatah gambar di atas kulit rontal”, berkata Kebo Arema sambil mengambil selembar kulit rontal dan menatahnya. Ternyata tatahan Kebo Arema melukiskan sebuah Jung Besar.

“Lukisan inikah yang terpahat di Biara Beduhur?”, bertanya Kebo Arema

“Benar, kamu dapat melukisnya begitu indah”, berkata Sri Maharaja memuji tatag Kebo Arema di atas kulit rontal

“Hamba tidak pernah berkunjung ke biara Beduhur, lukisan ini adalah Jung besar yang ada dalam mimpi hamba”.

“Ternyata kita telah berjodoh, sebagaimana Raja Samaratungga dan Gunadharma membangun mimpi mereka membangun biara besar di atas bukit Beduhur”.

“Maksud tuanku, kita bersama membangun  Jung para dewa itu?”, bertanya Kebo Arema

“Benar, kita bukan hanya membangun Jung besar itu, tapi kita akan membangun kerajaan air bersama”, berkata Sri Maharaja dengan penuh semangat, telah dapat membatang tafsir mimpinya.

“Mulai hari ini, aku serahkan mimpiku kepadamu, membuat jung besar para dewa”, berkata Sri Maharaja.

“Titah tuanku akan hamba junjung segenab hati”, berkata Kebo Arema dengan penuh hormat.

“Kutitipkan juga, Putra Mahkota bersamamu”, berkata Sri Maharaja sambil tersenyum, dalam hati telah bersyukur bahwa Pangeran Kertanegara telah mendapatkan sahabat sejati seperti Kebo Arema.

Keesokan harinya, Sri Maharaja telah memanggil Mahapatih untuk membuat persiapan sebuah prasasti pengukuhan sebuah usaha besar membangun kerajaan air di bumi Singasari.

Gegap gempita suasana di seluruh penjuru bumi Singasari mendengar rencana besar itu. Ada yang gembira dan bangga. Tapi ada juga sebagian yang merasa ketakutan, menjadi semakin merasa terancam. Diam-diam menyebarkan kebencian bahwa Sri Maharaja telah menjadi pikun, telah melakukan perbuatan sia-sia.

Pagi itu tanah Kutaraja masih basah, gerimis di malam hari menggenangi banyak tanah berlubang. Tiga ekor kuda terlihat keluar dari gerbang kota. Mereka adalah Kebo Arema, Bhaya dan Pangeran Kertanegara yang akan melakukan perjalanan menuju Bandar Cangu.

Disanalah mereka akan membuat sebuah sejarah baru di bumi Singasari, membangun jung besar sebagaimana terpahat di dinding Biara Bukit Beduhur.

Jalan yang mereka lewati adalah jalan lintas perdagangan. Beberapa gerobak dengan muatan penuh tampak terlihat tengah berjalan pelan menuju Kutaraja.

“Sudah lama tidak terdengar ada perampokan di sepanjang perjalanan ini”, berkata Pangeran Kertanegara.

“Kelak akan juga dirasakan keamanan perjalanan di perairan”, berkata Kebo Arema. “Tentunya setelah berdirinya sebuah kerajaan air yang akan kita bangun”, berkata Kertanegara penuh semangat.

“Disamping para perampok, masih ada segelintir orang yang merasa terancam berdirinya sebuah kekuatan di perairan”, berkata Kebo Arema

“Yang pasti mereka akan melemparkan duri di sepanjang perjalanan kita”, berkata Pangeran Kertanegara.

“Itulah salah satu yang harus kita waspadai”, berkata Kebo Arema sambil memandang jauh ke ujung batas cakrawala.

Sementara itu matahari telah jauh bergeser ke barat. Langkah kaki kuda mereka sudah hampir mendekati Bandar Cangu.

“Selamat datang di benteng Cangu”, berkata Senapati Mahesa Pukat menyambut kedatangan mereka di pendapa utama Benteng Cangu.

Setelah menyampaikan berita keselamatan masingmasing. Pangeran Kertanegara menyampaikan tujuan dan rencananya, yaitu membuat sebuah jung besar yang belum ada sebelumnya di jaman itu.

“Sebuah kebanggaan yang besar bila aku terlibat dalam karya yang maha besar ini”, berkata Senapati Mahesa Pukat memberikan dukungannya.

Akhirnya pembicaraanpun semakin mendalam, semakin terinci. Mulai dari penempatan galangan, pencarian bahan kayu dan berlanjut kepada penggalangan prajurit yang akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari jung besar itu sendiri.

“Prajurit air”, berkata Senapati Mahesa Pukat setelah merasa mengerti apa yang harus mereka lakukan mewujudkan impian Sri Maharaja membangun sebuah kerajaan air.

“Sesuai petunjuk Sri Maharaja, di Benteng ini ada seorang Senapati yang tangguh, mantan seorang guru istana yang terpilih”, berkata Kebo Arema.

“Sri maharaja terlalu memuji, mudah-mudahan sedikit ilmuku ini masih dapat berguna”, berkata Mahesa Pukat merendahkan dirinya. Diam-diam Kebo Arema menyukai Senapati muda dihadapannya yang rendah hati ini. Banyak hal keterangan yang telah diceritakan oleh Sri Maharaja tentang Mahesa Pukat kepadanya. Diantaranya kesaktian yang dimiliki oleh Senapati muda ini. Dan Kebo Arema meyakini cerita Sri Maharaja bukan cuma isapan jempol belaka.

Demikianlah, keesokan harinya Mahesa Pukat telah memerintahkan beberapa prajuritnya membangun beberapa bedeng darurat di pinggir sungai Brantas tidak jauh dari Benteng Cangu. Disitulah akan berdiri sebuah galangan tempat pembuatan sebuah jung besar, sebuah jung besar yang belum pernah tercipta di jaman itu sebelumnya.

Pada hari itu juga, Kebo Arema telah memerintahkan Bhaya keponakannya itu untuk berangkat ke Curabhaya memanggil beberapa saudara mereka dari Suku Air. Pada jaman itu keahlian orang-orang Suku Air dalam pembuatan perahu memang tidak diragukan lagi. Mereka secara turun temurun telah mewarisi ilmu pertukangan pembuatan perahu terbaik.

“Beberapa dari prajurit di benteng Cangu ini dapat dibentuk menjadi prajurit yang tangguh sesuai dengan medan yang akan mereka hadapi, baik di darat maupun di lautan. Merekalah yang kelak akan menjadi perwira utama yang akan menurunkan keahliannya kepada prajurit baru yang akan kita dapatkan dari beberapa daerah di Singasari ini”, berkata Senapati Mahesa Pukat kepada Kebo Arema dan Pangeran Kertanegara pada suatu malam di pendapa utama di benteng Cangu.

“Sebuah usaha yang baik. Pembentukan pasukan khusus akan menjadi lebih cepat”, berkata Kebo Arema menyetujui usulan Senapati Mahesa Pukat.

Malam itu bulan tua bersembul di atas langit tepian sungai Brantas begitu indahnya. Langit bertaburan bintang menghiasi cakrawala raya. Empat buah obar menerangi tanah lapang ditepian sungai brantas. Kebo Arema, Kertanegara, Bhaya dan 20 orang saudaranya dari Suku Air tengah berkumpul melakukan upacara adat memohon perlindungan dan berkah dari para leluhur.

“Pangeran”, berkata Kebo Arema. “Leluhur kami telah melarang keturunannya menurunkan ilmu pembuatan perahu kepada selain garis darah. Untuk itulah kami akan melakukan upacara penyatuan darah. Menjadikan Pangeran sebagai saudara kami”

“Aku bersedia menjadi Saudaramu”, berkata Pangeran Kertanegara.

Maka sebuah ritual kecil pun berlangsung khikmad. Diawali dari Kebo Arema memakan tiga helai daun cimeng yang diambilnya dari sebuah kotak kayu. Bergilir satu persatu memakan daun cimeng hingga berakhir pada Pangeran Kertanegara yang ikut mengambil tiga helai daun cimeng dan mengunyahnya. Setelah itu mereka meminum air tuak aren dari bumbung bambu yang sama. Demikianlah mereka melakukan sebuah ritual kecil, mengikat Pangeran Kertanegara sebagai saudara sedarah. “Mulai hari ini, Pangeran adalah saudara kami. Tidak tabu lagi mengetahui rahasia pengetahuan  kami”, berkata Kebo Arema Kepada Pangeran Kertanegara.

Demikianlah mereka memulai sebuah kerja, yang diawali dengan pembuatan sebuah galangan besar di tepian Sungai Brantas. Pangeran Kertanegara melihat sendiri bagaimana orang-orang suku air bekerja. Mereka benar-benar ahli dan pekerja keras. Siang malam bereka bekerja seperti tidak mengenal lelah. Memang sangat mengagumkan, hanya dalam waktu sepekan sebuah galangan besar telah berdiri dengan kokohnya di tepian sungai Brantas.

“Aku sudah mendapatkan sepuluh prajurit pilihan, para calon perwira pasukan khusus pengawal jung besar”, berkata Senapati Mahesa Pukat kepada Pangeran Kertanegara pada suatu malam di pendapa utama Benteng Cangu. Hadir juga pada saat itu Kebo Arema. Atas penghormatan dan permintaan Mahesa Pukat, Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema tinggal bersama di Benteng Cangu.

“Terima kasih, kami sudah membebankan paman Senapati”, berkata Pangeran Kertanegara.

“Tugas yang tengah Pangeran pikul adalah kewajiban kami sebagai prajurit membantu sepenuh hati”, berkata Mahesa Pukat.

Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema mengakui dalam hati masing-masing, bahwa Senapati muda di depannya itu benar-benar mendukung sepenuh hati tugas yang tengah mereka emban. Sehingga tidak ada jarak di antara mereka. Dalam setiap hal tidak ada yang tidak mereka bicarakan bersama, saling meminta pendapat dan jalan keluar bersama. “Galangan telah siap, pekerjaan kita selanjutnya adalah mencari bahan kayu pilihan, di antaranya adalah mendapatkan sebuah kayu jati merah sebagai pokok jung”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Pukat dan Pangeran Kertanegara.

“Apakah ada syarat ketinggian tertentu dari pohon jati merah itu?” bertanya Mahesa Pukat.

“Kita harus mendapatkan kayu jati merah untuk  tulang pokok”, berkata Kebo Arema. ”Pohon jati merah yang kita cari harus melebihi ketinggian dua puluh meter”.

“Sebuah Jung yang luar biasa besarnya”, berkata Mahesa Pukat membayangkan sebuah jung yang sangat besar yang belum pernah dilihatnya pada jaman itu.

“Aku pernah menemui pohon jati merah setinggi itu di hutan Porong, besok kami akan mencarinya” berkata Kebo Arema. “Sementara untuk bahan kayu lainnya, seperti Kayu benuang dan ulin tidak begitu sulit, kita masih dapat mencarinya di hutan terdekat, tidak perlu persyaratan ketinggian tertentu sebagaimana pohon jati merah.

Pagi itu dua buah jukung meluncur di atas sungai Brantas. Mereka adalah Kertanegara, Kebo Arema, Bhaya serta lima orang suku air saudara mereka.

Ketika sampai di pertigaan sungai porong, mereka langsung berbelok arah dan tertelan jauh masuk ke pedalaman sungai hutan porong.

Mereka tidak menyadari, beberapa pasang mata tengah mengikuti perjalanan mereka.

“Berhenti !”, berkata Kebo Arema ketika mengingat sebuah tempat dimana pernah melihat banyak pohon jati merah tumbuh.

Mereka pun menepi, setelah menyembunyikan dua buah jukung jauh dari tepian sungai, mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hutan porong sepertinya menelan mereka yang masuk kedalam hutan semakin kedalam sebuah hutan lebat yang jarang sekali didatangi orang. Disamping masih banyak binatang buas yang berkeliaran, konon Hutan Porong adalah hutan kerajaan para dedemit. Jarang sekali orang yang berani masuk ke hutan ini bila saja tidak ada keperluan yang mendesak.

Akhirnya setelah lama mencari, masuk lebih dalam lagi di kelebatan hutan porong, mereka pun menemukan apa yang mereka inginkan. Sebuah pohon jati merah dengan ketinggian lebih dari yang mereka duga sebelumnya. Bukan hanya tinggi dua puluh meter, bahkan lebih dari empat puluh meter dengan lebar batang dua kali pelukan orang dewasa .

“Dengan pohon jati merah setinggi ini, tidak ada sambungan untuk tulang pokok jung kita”, berkata Kebo Arema gembira sekali menemukan sebuah pohon jati merah yang diharapkan.

Tanpa diperintah, Bhaya langsung memanjat pohon jati merah itu. Begitu lincah Bhaya memanjat naik dari satu cabang ke cabang lainnya sampai keujung puncak cabang yang paling tinggi. Sebagaimana naiknya, Bhaya menuruni pohon Jati Merah itu juga lebih cepat lagi dibandingkan ketika memanjat.

“Empat puluh tiga meter”, berkata Bhaya kepada Kebo Arema dengan gembiranya.

“Kita persiapkan jalan”, berkata Kebo Arema kepada lima orang saudaranya yang langsung tahu apa yang harus mereka lakukan, yaitu membuka hutan  agar batang kayu jati merah dapat mudah ditarik mendekati tepian sungai.

Ketika mereka bekerja membuka jalan, penciuman Kertanegara yang tajam mencium bau aneh.

“Asap beracun!”, berkata Kertanegara mengingatkan semuanya untuk berhati-hati.

Tapi peringatan Kertanegara telah terlambat, seorang suku air yang ada ditempat paling ujung telah menghisap asap beracun. Nafasnya seketika menjadi sesak, langsung roboh lemas di tempat. Sementara yang lain masih sempat menutup rapat penciuman mereka sambil menjauhi arah angin.

Kertanegara langsung menerapkan ilmunya, sebuah angin deras meluncur kesegenap penjuru, membersihkan asap beracun.

Dengan cepat pula mata Kebo Arema menemukan arah sumber asap, tubuh kebo arema seperti anak panah langsung meluncur ke arah sumber asap beracun. Ternyata dugaan Kebo Arema tidak meleset. Ada sebuah tabunan api ditemukan masih menyala. Dengan cepat menutup tabunan api itu dengan tanah basah. Bara api itu pun seketika padam. Mata kebo Arema mencoba menyusuri semak dan kepekatan hutan.

“Mereka datang dari arah sungai”, berkata Kebo Arema kepada dirinya sendiri mencoba menerka siapa dan dari mana orang yang menyebarkan racun itu datang. Maka Kebo Arema langsung berlari ke arah tepi sungai. Namun sudah terlambat, sebuah jukung sudah jauh meninggalkan tepian. Hanya punggung mereka yang masih terlihat jauh dan tidak mungkin dapat dikejar. Kebo Arema kembali ke tengah hutan dengan hati berdebar, seorang saudaranya sudah terkena asap beracun.

“Ia masih hidup”, berbisik Bhaya menenangkan perasaan Kebo Arema sambil menunjuk saudaranya yang tengah diberikan tetesan air rendaman kayu aji batu keling pemberian dari Empu Dangka yang selalu di bawa oleh Kertanegara.

Ternyata kayu aji batu keeling sangat mujarab menawarkan segala jenis racun. Setelah beberapa tetes air rendaman Kayu Aji Batu Keling masuk lewat bibirnya, terlihat kulit tubuhnya yang semula putih pucat kembali memerah, napasnya kembali teratur seperti sedang tertidur nyenyak.

Akhirnya mereka memutuskan untuk sementara menghentikan kegiatan kerja, menunggu saudara mereka sehat kembali.

“Kita beristirahat di sini, menunggu perkembangan kesehatan saudara kita”, berkata Kebo Arema meminta semuanya beristirahat.

“Mulai sekarang kita harus selalu waspada, mereka tidak akan berhenti sampai di sini”, berkata Kertanegara.

“Dengan kejadian ini mataku sudah terbuka, ternyata ada juga orang Singasari yang tidak menginginkan kerja besar ini terwujud”, berkata Kebo Arema

“Yang mereka inginkan adalah kegagalanku”, berkata Kertanegara

“Apakah Pangeran sudah dapat menduga, siapa di balik semua ini?”, bertanya Kebo Arema.

“Sejauh ini aku sudah dapat menduga, siapa dan apa yang mereka inginkan”, berkata Kertanegara. Kebo Arema tidak mendesak siapa orang dibalik semua ini kepada Kertanegara. Ada sesuatu hal lain sehingga Kertanegara masih harus menyimpan rahasia siapa dibalik semua ini yang berusaha menggagalkan kerja mereka.

Paherangi, demikian nama saudara mereka yang terkena racun terlihat bangun dan hendak bangkit berdiri.

----------oOo----------

0 Response to "Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari Jilid 02"

Post a Comment