coba

Pendekar Bunga Matahari Jilid 14 : Dua Maung Lodaya

Mode Malam
Dua Maung Lodaya

MAESA Sura sudah mengacungkan senjatanya yang berbentuk aneh, yaitu segitiga logam dengan sisi sepanjang satu jengkal dan tiap sudutnya berupa baja yang sangat tajam.

Dalam sekejapan, Maesa Sura langsung menerjang dengan senjatanya yang ternyata bisa berputar, menimbulkan bunyi desing yang mengerikan, mengincar leher Jaka Wulung.

“Yeaaaaaa!”

Dalam waktu hampir bersamaan, Lembu Sura, Ki Somali, dan Pendekar Teratai Biru juga menyerang dengan sasaran sendiri.

Dalam beberapa kejap mata, berlangsung pertempuran yang lebih seru. Dua saudara seperguruan, Maesa Sura dan Lembu Sura, bergabung dengan Ki Somali dan Pendekar Teratai Biru, para jago yang sudah banyak mengecap asam garam dunia persilatan, mengeroyok dua pendekar yang masih belia, Jaka Wulung dan Ciang Hui Ling.

Jaka Wulung tidak segan mengeluarkan seluruh kemampuan dirinya, termasuk ilmu andalannya, gulung maung, dan bahkan sesekali menerapkan ilmu tanpa nama yang dia pelajari dari eyang gurunya, Resi Bujangga Manik. Ciang Hui Ling mati-matian mengimbangi dengan jurus- jurus tingkat tinggi yang diserapnya dari Tan Bo Huang alias Naga Kuning dari Ci Liwung, termasuk jurus Tarian Payung Bunga Matahari.

Ditambah dengan kekuatan tak kasatmata yang sangat dahsyat yang muncul dari rasa cinta, kedua pendekar belia itu memberikan perlawanan yang luar biasa.

Akan tetapi, masuknya Maesa Sura yang masih segar, dengan ilmunya yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan Lembu Sura, benar-benar merusak keseimbangan pertempuran sebelumnya. Apalagi rasa ngilu di

lengan kiri Jaka Wulung dan perih di punggung Ciang Hui Ling makin lama makin menyiksa.

Putaran senjata aneh Maesa Sura terus mendesing mengincar titik-titik lemah di tubuh Jaka Wulung dan Ciang Hui Ling, susul-menyusul dengan keris Lembu Sura, trisula Ki Somali, dan tombak pendek Pendekar Teratai Biru.

Dalam belasan jurus, perlahan-lahan keempat begundal Munding Wesi itu pun mendesak Jaka Wulung dan Ciang Hui Ling.

Dan pada suatu saat, sebuah serangan beruntun keempat jagoan itu hanya bisa dihindari dengan lentingan tubuh Jaka Wulung dan Ciang Hui Ling sedemikian rupa sehingga arahnya berlawanan. Jaka Wulung melenting jauh ke kiri, sedangkan Ciang Hui Ling melenting ke kanan.

Kedua pendekar belia itu kini terpisah. Kekuatan mereka pun menjadi pecah.

Tanpa memberikan jeda sekejap pun, Maesa Sura, Lembu Sura, dan Ki Somali segera mengepung Jaka Wulung dari berbagai sudut melalui ujung senjata masing-masing.

Pada saat yang sama, Pendekar Teratai Biru merangsek Ciang Hui Ling melalui putaran tombak pendeknya yang sangat lihai.

“Mau lari ke mana, Wedhus Cilik!” seru Pendekar Teratai Biru seraya menyabetkan tombak pendeknya ke dada Ciang Hui Ling.

Ciang Hui Ling masih mampu berkelit dengan cepat dan kemudian melenting jauh. Tapi, Pendekar Teratai Biru tidak memberikan kesempatan bagi Ciang Hui Ling untuk bernapas lega. Ujung tombak pendeknya seperti ular sanca yang terus-menerus mengejar mangsanya ke mana juga.

Ciang Hui Ling masih mencoba menangkis tombak pendek itu, tapi Pendekar Teratai Biru membelokkan ujung tombak pendeknya, mengincar pertahanan terbuka di bagian dada dan ... bret! Ciang Hui Ling masih sempat berkelit, tapi tak urung lengan bajunya sobek, tembus hingga permukaan kulitnya. Sekejap berikutnya sebuah tendangan cepat mengenai pundak kiri Ciang Hui Ling.

Gadis pendekar belia itu tidak mampu menahan keseimbangan tubuhnya dan terhuyung ke belakang, lalu terjengkang di rerumputan.

Kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh Pendekar Teratai Biru dengan serangan pamungkasnya. Tusukan tombak pendeknya lurus mengarah leher Ciang Hui Ling.

Pada detik-detik itu, Ciang Hui Ling melirik ke lingkaran pertempuran antara Jaka Wulung dan ketiga begundal Munding Wesi. Meskipun hanya satu detik, Ciang Hui Ling bisa merasakan bahwa Jaka Wulung juga memandangnya. Kembali terasa hangatnya dada. Di luar sadarnya, Ciang Hui Ling tersenyum, pasrah menerima nasib yang bakal menimpanya. Hatinya bahagia oleh cinta yang tetap membara di saat-saat terakhirnya.

Ciang Hui Ling tidak berdaya lagi menahan ujung tombak pendek yang meluncur tepat mengarah titik tengah lehernya.

Dipejamkan matanya.

Akan tetapi, tidak ada yang menancap di lehernya.

Yang terdengar adalah suara denting keras dan pekik nyaring Pendekar Teratai Biru.

Ketika Ciang Hui Ling membuka lagi matanya, di hadapannya menjega satu sosok lelaki bertubuh tegap dengan pedang di tangan kanan. Tidak jelas karena langit kian remang dan sisa cahaya matahari berada di latar belakang. Yang tampak lebih jelas adalah wajah Pendekar Teratai Biru yang ternganga di hadapan sosok lelaki itu. Tombak pendek sudah tidak ada lagi di genggamannya.

“Chen Lian,” ucap lelaki itu.

“Kau ....” Wajah Chen Lian alias Pendekar Teratai Biru menjadi pucat, tapi tidak lama kemudian berubah menjadi merah. “Tan Bo Huang ... lelaki kadal busuk!”

“Kupikir kau sudah insaf. Ternyata, malah menjadi-jadi.” “Gara-gara kau ..., Kodok Buduk!”
“Mulut tuamu mestinya tidak pantas mengumpat-umpat. Apalagi

membakar rumah orang ketika si empunya rumah pergi

“Apa pedulimu, ulat bulu ! Ciaaaaaat!”

Tan Bo Huang mundur lebih dulu beberapa langkah sambil melemparkan sesuatu kepada Ciang Hui Ling. “Telan dua butir, Hui Ling,” kata sang guru.

Dengan tangan kosong, Pendekar Teratai Biru melancarkan serangan melalui jari-jarinya yang mengembang. Di wajahnya tergambar rasa putus asa, marah, sekaligus ... rasa cinta! Sebenarnyalah dalam hati kecilnya, Pendekar Teratai Biru masih menyimpan nyala cinta, tapi dia sadar bahwa tidak mungkin dia akan mendapatkan balasan setelah apa yang dilakukannya selama ini, selain bahwa usia mereka sudah lebih dari separuh abad.

Tan Bo Huang, yang terkenal dengan julukan Naga Kuning dari Ci Liwung, hanya menggeser sedikit tubuhnya dan serangan Pendekar Teratai Biru itu lewat di sisi kanan lengannya. Tan Bo Huang sesungguhnya punya kesempatan untuk membalas pukulan Pendekar Teratai Biru. Namun, dia menahan diri. Entah mengapa, dalam hatinya juga tersisa rasa iba. Seburuk apa pun Chen Lian sekarang, dulu mereka pernah saling jatuh cinta dan Tan Bo Huang juga tidak bisa melupakannya.

Oleh karena itu, kedua insan yang pernah memiliki hubungan erat itu, kini terlibat dalam sebuah pertarungan yang aneh. Pendekar Teratai Biru terus- menerus menyerang dengan dada dibakar kemarahan—sekaligus kerinduan—sedangkan Tan Bo Huang hanya menghindar.

Ciang Hui Ling bergeser menjauh dari pertempuran itu, menelan dua butir obat penawar racun, dan hanya bisa memandang mereka dengan perasaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Di lingkaran lain, Jaka Wulung masih terlibat pertarungan sengit dengan tiga begundal Munding Wesi, Maesa Sura, Lembu Sura, dan Ki Somali. Kedudukan Jaka Wulung makin lama makin terdesak, tapi juga tidak bisa segera takluk. Ketiga lawannya terus meningkatkan serangan mereka, dan meskipun Jaka Wulung hanya mampu menghindar dan bertahan, pertarungan belum bisa dipastikan kapan segera berakhir.

Keadaan itulah yang membuat Ki Sura Menggala geregetan. Dia tidak mau

pertempuran itu berlangsung sampai malam tiba. Diam-diam diloloskannya ikat pinggangnya.
Bukan sembarang ikat pinggang, melainkan terbuat dari serat yang sangat lentur dan kuat, dan di ujungnya terikat sebentuk logam yang tajam seperti mata panah. Sebuah cambuk yang menggiriskan.

Sebelum melangkah ke gelanggang untuk lekas membereskan urusan mereka, Ki Sura Menggala menoleh ke kanan kepada Munding Wesi, lalu berniat mengambil loncatan panjang.

Akan tetapi, sebelum melakukannya, Ki Sura Menggala terkejut. “Tidak tahu malu.”
Ki Sura Menggala menoleh.

Hanya tiga-empat langkah di sebelah kirinya, berdiri lelaki separuh baya, mungkin kira-kira enam tahun lebih muda dari Ki Sura Menggala. Garis- garis wajahnya tampan, tapi sorot matanya yang sipit sangat tajam seperti serat sembilu. Kapan dia muncul di sana? Kalau dia sendiri, Ki Sura Menggala, salah satu keturunan Menak Jingga yang sangat termasyhur, tidak mendengar kedatangannya, pastilah ilmu orang itu tidak bisa dianggap enteng.

“Siapa kau?” Ki Sura Menggala balas memandang tajam lelaki yang baru datang.

“Ah, tak perlu kau tahu siapa aku. Aku pun tak ingin tahu siapa kau.” Pelan-pelan lelaki itu pun meloloskan pedang panjang dari punggungnya. “Yang kuinginkan hanyalah mencegah terjadinya pertarungan yang tidak seimbang.”

“Siapa pun dirimu, bahkan hantu Laksamana Ceng Ho sekalipun, majulah lekas, biar persoalan cepat tuntas.”

Lelaki bermata sipit itu tersenyum masam mendengar kata-kata Ki Sura Menggala. “Aku sudah siap.”

Ki Sura Menggala mengangkat cambuknya, lalu menyentakkannya. Terdengar suara menggelegar memecah langit.

Hampir semua orang menoleh kepada dua orang yang sudah berhadapan. Termasuk Ciang Hui Ling, yang masih terduduk di rumput. Demi dilihatnya siapa yang hendak berhadapan dengan Ki Sura Menggala, meskipun samar-samar, bibirnya menggeletar dan terdengar desisan pelan, “Papa ...?”

Akan tetapi, Ciang Hui Ling hanya tetap terduduk di tempatnya karena pertempuran itu sudah berlangsung.

Tampaknya Ki Sura Menggala tidak hendak bermain-main lebih dulu, tetapi langsung mengeluarkan jurus-jurus maut melalui cambuknya yang lentur, tetapi liat dan mengerikan karena di ujungnya terikat mata panah yang tajam.

Lawannya, yang memang ayah Ciang Hui Ling, Ciang Bun, sadar bahwa dia juga tidak bisa bermain-main. Melalui pedangnya, yang di masa lalu melambungkan namanya sebagai Sepasang Pedang Sakti bersama istrinya, Ciang Bun melayani lecutan-lecutan cambuk maut di tangan Ki Sura Menggala.

Dengan segera, terjadi pertempuran antara dua tokoh berilmu tinggi. Dengan cepat pula, mereka melalui belasan jurus dan tidak bisa lekas diketahui siapa yang lebih unggul. Ki Sura Menggala, dengan mengandalkan tenaga dalamnya yang hampir membuatnya kebal senjata, menghadapi Ciang Bun, yang masih tetap gesit dan ringan gerakannya. Keduanya saling melibat seperti ikan hiu yang buas dan ular naga yang lincah.

Di lingkaran lain, Tan Bo Huang masih melayani perlawanan Pendekar Teratai Biru yang makin lama makin putus asa. Sejak masa muda, tidak pernah dia bisa mengatasi tingkat ilmu Tan Bo Huang. Bertahun-tahun setelah mereka berpisah, Pendekar Teratai Biru mengasah diri demi dendam yang hendak dia balaskan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa perbedaan ilmu di antara mereka makin jauh.

Tanpa disadarinya, air mata mengalir membasahi wajahnya. Putus asa, kecewa, dendam, cinta, benci, dan sebagainya berbaur menjadi satu menyesakkan dadanya.

“Sudahlah, Chen Lian. Hentikan pertempuran tanpa guna ini.”

“Tutup mulutmu, Lutung! Kukirim kau ke neraka!”

Tan Bo Huang sendiri ragu-ragu untuk segera menyelesaikan pertempuran ini. Chen Lian adalah wanita yang sangat keras. Sebelum benar-benar tidak mampu melawan, dia tidak akan menghentikan perlawanan. Tan Bo Huang masih memikirkan bagaimana menghentikan perlawanan Chen Lian tanpa menyebabkan cedera atau luka.

Sementara itu, Jaka Wulung makin terdesak oleh keroyokan ujung-ujung maut senjata Maesa Sura, Lembu Sura, dan Ki Somali. Dia merasa lega setelah melihat kedatangan Tan Bo Huang, guru Ciang Hui Ling, dan seorang lagi, yang dia duga ayah Ciang Hui Ling. Namun, Jaka Wulung tidak bisa begitu saja mengharapkan bantuan dari Tan Bo Huang dan Ciang Bun, yang masing-masing sudah terlibat dalam pertempuran sendiri. Dia juga tidak berharap Ciang Hui Ling akan membantunya. Tampaknya, luka-luka di tubuh Ciang Hui Ling membuat gadis pujaannya kehilangan banyak darah dan tenaga.

Karena itu, apa pun yang terjadi, Jaka Wulung tetap akan mengandalkan kemampuannya sendiri. Apa pun yang terjadi, walaupun sampai dia gugur di arena ini, Jaka Wulung menjalaninya dengan ikhlas karena, sedikit banyaknya, dia berjuang demi kebenaran, melawan golongan pengacau masyarakat, dan demi ... cinta.

Kata terakhir ini, kembali melecut semangat di dada Jaka Wulung.

Ketika sekejap dia mencoba menatap Ciang Hui Ling, dia merasa bahwa gadis yang dicintainya itu pun sedang menatapnya dengan penuh rasa khawatir, tapi juga memberikan sorot yang menyemangati.

Gulung maung sudah mencapai titik puncaknya. Ilmu tanpa nama sudah dia terapkan. Berbagai ilmu yang dia serap selama perjalanan telah pula dia pergunakan. Kudi hyang-nya menyambar-nyambar dengan kecepatan penuh.

Akan tetapi, Jaka Wulung seperti membentur tembok.

Bahkan, sesekali serangannya seakan menghantam pegas, lalu memantul dan nyaris menusuk dirinya sendiri.

Nyeri di lengan kirinya terus berdenyut-denyut.

Sesekali pula, segitiga maut bersisi tajam di tangan Maesa Sura mendesing dengan nyaring, nyaris merobek leher atau perut Jaka Wulung. Trisula Ki Somali, meskipun sudah patah salah satu ujungnya, terus mengancam titik- titik rawan di tubuh Jaka Wulung. Keris luk sembilan Lembu Sura tidak kalah mengancam dengan sabetannya yang tidak pernah berhenti.

Sebuah tusukan trisula Ki Somali membuat Jaka Wulung harus cepat memiringkan tubuhnya. Namun, pada saat yang sama, dia disambut desingan segitiga maut yang berputar cepat di tangan Maesa Sura. Jaka Wulung terpaksa melenting mundur, tapi dia tidak melihat tangan kiri Maesa Sura yang merogoh sesuatu di balik bajunya.

Sebuah titik balik yang menentukan.

Jaka Wulung tidak melihat, dan tidak menyangka, dengan jemari kirinya Maesa Sura melepaskan senjata rahasia andalannya: segitiga kecil bersisi tajam.

Segitiga itu melesat sangat cepat. Dan jaraknya terlampau dekat.
Ciang Hui Ling terkesiap.

Jaka Wulung hanya sempat sedikit menundukkan kepalanya. Segitiga maut itu menyerempet kulit dahi Jaka Wulung.
Perih.

Darah pun menetes. Mula-mula setetes dua tetes. Makin lama makin deras. Mengalir hingga menghalangi pandangan matanya. Padahal, di sekitar dia senjata-senjata maut Ki Somali, Maesa Sura, dan Lembu Sura terus menyambar-nyambar.

Satu tusukan nyaris mengenai ulu hatinya. Jaka Wulung menggeser pada saat yang kurang tepat, dan pinggangnya tersayat ujung trisula Ki Somali.

Perih bukan main.

Darah pastilah menetes dari sobekan lukanya.

Mendadak Jaka Wulung teringat kepada guru-gurunya, Resi Darmakusumah dan Resi Bujangga Manik, kepada malam yang mencekam di Nusa Larang ketika dia menerima ilmu secara ajaib dari Niskala Wastukancana, kepada sosok misterius di reruntuhan Keraton Pakuan, dan kepada sang Maung Lodaya ....

Di luar sadarnya, sekali lagi dia mengatur napasnya sedemikian rupa sehingga dari tenggorokannya mengalir gelombang suara, melewati mulut, menggetarkan lidah dan langit-langit, kemudian keluar dalam bentuk geraman. Kali ini, geraman yang sangat dahsyat.

Seperti suara harimau Lodaya menyobek udara. Grhhh!
Tidak hanya sekali. Grrrhhh !
Dan sekali lagi. GRRRHHH !
Jaka Wulung meloncat sambil menggeram dahsyat, menyabetkan kudi hyang di tangan kanan dan kuku-kuku jemari di tangan kiri. Kalau ada ungkapan “seperti ilmu lilin”, begitulah mungkin yang terjadi pada Jaka Wulung saat itu. Seperti lilin, yang selalu bersinar sangat terang sebelum padam, manusia pun kerap mengalami hal seperti itu, yakni tiba-tiba menjadi sangat sehat dan kuat, untuk kemudian mati.

Akan tetapi, pada saat itulah, entah dari mana datangnya, meloncat satu sosok berwarna putih buram, juga dengan geram yang sangat dahsyat. Lebih dahsyat dari geraman Jaka Wulung.

Bukan, bukan geraman, melainkan auman! Auman yang sebenar- benarnya!

GRRRHHHMMM !

Auman yang hanya bisa keluar dari mulut menganga seekor Maung Lodaya!

Sesungguhnyalah, sosok yang meloncat bersamaan dengan loncatan Jaka Wulung itu memang Maung Lodaya, harimau putih berbelang hitam. Tubuhnya beberapa kali lipat besarnya daripada manusia dewasa. Panjangnya sekitar satu depa. Dua baris gigi-geliginya tajam. Dan gigi- gigi taringnya seperti ujung-ujung beliung dari baja putih.

Maka demikianlah, dalam kejapan yang sama, dua sosok—yang satu menerapkan ilmu gulung maung yang tidak lain memiliki dasar ilmu harimau dan yang satu lagi harimau yang sebenarnya—meloncat bersamaan, melakukan gerakan-gerakan yang hampir sama. Dengan kecepatan dan tenaga yang nyaris serupa, langsung memecah dan mengobrak-abrik paduan serangan dan pertahanan Ki Somali, Lembu Sura, dan Maesa Sura.

Tidak ada yang mampu menghentikan paduan dahsyat Jaka Wulung dan Maung Lodaya. Dalam beberapa jurus saja, kudi hyang Jaka Wulung menyayat dada Lembu Sura dan kuku jemari sang Maung Lodaya menyobek perut Ki Somali. Lalu, nyaris pada saat yang sama, satu hantaman Jaka Wulung dan satu cakaran sang Maung Lodaya melemparkan tubuh Maesa Sura, seakan-akan sebuah kantong ringan yang kemudian membentur sebatang pohon.

Setelah itu, sunyi.

Lembu Sura tertelentang dengan darah yang menyembur dari dadanya. Ki Somali tertelungkup dengan perut yang menganga. Keduanya hanya bisa bernapas satu-satu. Di bawah pohon, Maesa Sura tertelungkup dengan punggung patah dan dada pecah. Dia tidak bergerak lagi di tanah.

Jaka Wulung berdiri di sebelah sang Maung, mengelus bulu-bulu binatang itu di bagian punggung. Masih terdengar sisa geraman sang Maung.

Mereka yang ada di sana terkesima tidak mampu berbuat apa-apa. []

0 Response to "Pendekar Bunga Matahari Jilid 14 : Dua Maung Lodaya"

Post a Comment