coba

Pendekar Bunga Matahari Jilid 11 : Impian Membangun Kerajaan

Mode Malam
Impian Membangun Kerajaan

KALI ini giliran wajah lelaki itu, yang memang Munding Wesi adanya, berubah karena terkejut. Munding Wesi terkejut karena tidak menyangka bahwa anak muda itu dengan cepat bisa menyimpulkan siapa gerangan dia. Tapi, dengan cepat pula, dia menghapus rasa terkejut itu. Dia bahkan kemudian tertawa meskipun terdengar jelas bahwa tawanya sangat sumbang di telinga. Jenis tawa yang hanya biasanya dilepaskan oleh orang yang tepergok melakukan tindakan yang memalukan.

“Nah, Bocah, kini kau sudah tahu siapa aku,” Munding Wesi mencoba menutupi rasa malunya. “Sebaliknya, dengan kata-katamu itu, aku menjadi yakin bahwa kau tahu di mana keberadaan kitab-kitab itu. Atau, justru kau membawanya ke mana-mana.”

“Sudah kubilang kantongku hanya berisi benda-benda yang hanya penting bagiku,” kata Jaka Wulung. “Tapi, taruh kata aku tahu di mana kitab-kitab itu, mengapa Ki Munding Wesi menginginkannya? Aku pikir kitab-kitab itu sudah tersimpan dengan aman di tangan yang seharusnya menyimpannya.”

Wajah Munding Wesi mulai mengencang. Pembuluh darah bahkan mulai bertonjolan di lehernya. “Ketahuilah, Bocah. Kamilah yang berhak memiliki kitab-kitab itu. Kami mencarinya untuk mencegah kitab-kitab itu jatuh ke tangan orang yang keliru, apalagi ke tangan orang dari kalangan somah, kalangan jelata, sepertimu.”

Jaka Wulung terkejut mendengar kata-kata Munding Wesi. Hatinya terluka mendapat hinaan seperti itu. Tapi, sekuat mungkin dia menahan kemarahannya. Bahkan, sekonyong-konyong muncul semacam harapan mengenai kejelasan tentang asal-usul dirinya. Lalu, Jaka Wulung bertanya, “Bagaimana Ki Munding Wesi yang terhormat tahu bahwa aku berasal dari kalangan jelata?”

“Tentu saja aku tahu.”

“Bagaimana Ki Dulur tahu?”

“Aku tahu siapa saja keturunan leluhur kami Prabu Siliwangi. Jadi, siapa pun yang aku tahu bukan keturunan Prabu Siliwangi, tentu saja dia berasal dari kalangan jelata.”

Jaka Wulung menarik napas kecewa mendengar penalaran yang aneh itu. Meskipun demikian, Jaka Wulung tetap menahan diri. “Menurut pemahamanku,” kata Jaka Wulung. “Prabu Siliwangi adalah orang terhormat yang sangat dekat dengan rakyat. Dia bisa lebur menyatu dengan seluruh rakyatnya, termasuk kalangan jelata. Dan kupikir, pemimpin yang baik mestinya seperti itu, bukan orang yang merasa dirinya lebih tinggi, lebih istimewa, dibandingkan dengan kebanyakan orang lain.”

Kata-kata Jaka Wulung tambah menonjolkan pembuluh darah di leher Munding Wesi. Giginya gemeretak seakan-akan nyaris retak. “Jangan kau gurui kami soal sifat-sifat pemimpin, Bocah!”

Dua lelaki di kanan dan kiri Munding Wesi, yang tidak lain adik-adiknya, sudah menarik pedang mereka dan hendak bergerak maju. Tapi, Munding Wesi menahannya.

“Kalau tidak salah ingat, aku mendengar tuturan dari guruku, Resi Darmakusumah, bahwa Ki Munding Wesi ini keturunan Prabu Dewata Buana Wisesa.”

“Nah, kau sudah tahu siapa kami, Bocah! Dan kami tetap bertekad membangun kembali kebesaran Pajajaran yang telah dirintis leluhur kami.”

“Dan kalau aku tidak salah ingat pula, Prabu Dewata Buana Wisesa adalah salah satu penerus Prabu Siliwangi yang sifat-sifatnya bertolak belakang dengan leluhurnya. Bukannya meniru Prabu Siliwangi yang penyayang kepada rakyatnya dan membangun kebesaran Kerajaan Sunda, Prabu Dewata adalah penguasa zalim yang menghancurkan kerajaannya sendiri.”

Kali ini, Munding Wesi sendirilah yang tidak dapat menahan diri. Kata- kata Jaka Wulung, yang di mata Munding Wesi hanyalah bocah yang tidak jelas asal-usulnya, membuat darahnya langsung serasa menyembur ke kepala.

“Tutup mulutmu, Bocah edan!”

Dalam sekejapan, Munding Wesi meloncat dan menyabetkan pedangnya ke leher Jaka Wulung. Gerakannya sangat cepat dan penuh tenaga, seperti layaknya seekor munding, seekor kerbau.

Tentu saja, Jaka Wulung tidak mau lehernya menjadi sasaran empuk. “Minggir, Lingling,” bisik Jaka Wulung seraya menghindar. Ciang Hui Ling bergeser beberapa langkah untuk memberikan ruang bagi Jaka Wulung. Sejak tadi, dia tidak sepenuhnya bisa mengikuti silat kata yang terjadi antara Jaka Wulung dan Munding Wesi. Karena itu, dia memilih diam saja.

Munding Wesi sudah menduga Jaka Wulung akan menghindar. Oleh karena itu, secepat kilat tangan kirinya yang tidak bersenjata melayang cepat dengan jemari terbuka, dengan maksud menyabet dada Jaka Wulung. Gerakan Munding Wesi memang di luar dugaan. Meskipun tubuhnya tinggi besar, gerakannya cepat dan ringan.

Munding Wesi tidak mau setengah-setengah menghadapi pendekar belia yang dalam hati kecilnya diakuinya mengagumkan ini. Dulu, dia dan saudara-saudaranya, bahkan meskipun dibantu oleh beberapa orang pendekar sewaan yang sakti, gagal merebut kitab-kitab pusaka dari tangan seorang kakek yang mengaku bernama Ki Karta, yang kemudian baru dia ketahui bernama Resi Darmakusumah, murid Resi Jaya Pakuan alias Resi Bujangga Manik.

Kini, dia bersama adik-adiknya, sudah menjalani tempaan yang berat di bawah bimbingan para pendekar yang disewanya, dan meskipun Jaka Wulung memiliki ilmu yang tinggi, dia yakin kali ini keinginannya akan segera terwujud: memiliki kitab-kitab sakti peninggalan para leluhurnya, terutama satu yang paling diincarnya, Kitab Siliwangi.

Munding Wesi tidak perlu melakukan jurus-jurus penjajakan, tetapi langsung menerapkan jurus maut miliknya, jurus yang memiliki dasar ilmu Siliwangi—seperti umumnya pelajaran yang diterima keturunan Siliwangi
—tapi, yang sudah bercampur dengan berbagai ilmu yang dia terima dari para tokoh sakti.

Dia yakin kemampuannya kini sudah jauh meningkat dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, ketika mencoba merebut kitab-kitab sakti dari

tangan Ki Karta alias Resi Darmakusumah. Dan dalam pikiran Munding Wesi, sehebat-hebatnya Jaka Wulung, tentu dia tidak akan lebih hebat dibandingkan dengan gurunya. Karena itu, dia yakin kali ini tidak akan gagal.

Kalau dia dan saudara-saudaranya sudah memiliki kitab itu, dan mempelajari ilmu dahsyat warisan leluhurnya langsung dari sumbernya, mereka pasti akan tumbuh menjadi kelompok yang disegani. Kepalanya tetap dipenuhi dengan khayalan indah: mereka akan menarik banyak pengikut, lalu membangun sebuah kerajaan baru, sebagai penerus kejayaan Pajajaran di bawah Prabu Siliwangi.

Akan tetapi, seakan-akan merupakan adegan yang terulang, khayalan Munding Wesi masih terlampau tinggi.

Jaka Wulung segera bisa mengenali jurus yang diperagakan Munding Wesi—jurus dasar ilmu gulung maung. Dengan cara menekuk kaki kanannya dan mencondongkan punggungnya sedikit ke belakang, pukulan jari terbuka Munding Wesi itu pun melesat hanya beberapa jari dari dada Jaka Wulung.

“Bocah iblis!”

Dua saudara Munding Wesi secara bersamaan meloncat dari kanan dan kiri Jaka Wulung. Dua ujung pedang keduanya secara bersama-sama mengarah tubuhnya. Ujung pedang di sebelah kanan berkilat memantulkan cahaya matahari yang kian condong, melesat mengarah pundak Jaka Wulung. Ujung pedang di sebelah kiri pun tak kalah berkilau karena tajamnya, seperti kilat melesat mengarah pinggang.

Dengan bertumpu pada salah satu kakinya, Jaka Wulung melenting mengatasi serangan beruntun itu. Sebelum tiba lagi di tanah, dia sempat sekali berjumpalitan dan kudi hyang di tangannya mematuk tangan salah seorang saudara Munding Wesi yang menggenggam pedang, dan sepersekian kejap juga menyentuh pelipis satu orang lainnya.

Salah satu orang itu memekik histeris dengan tangan yang terasa seperti disambit dengan ujung beliung. Bersamaan dengan kakinya yang jatuh berlutut, pedangnya lepas dan terlontar ke udara, berputar dua kali, lalu jatuh menimpa serakan dedaunan layu. Orang satunya lagi terhuyung- huyung dengan kepala serasa disayat taring naga, kemudian terjerembap

ke rerumputan dengan pedang yang juga lepas dan nyaris menancap di perutnya sendiri!

Darah segar segera memancar dari luka di tangan dan pelipis kedua bersaudara itu.

Munding Wesi terkejut bukan kepalang melihat kenyataan yang terpampang di depan matanya. Setelah beberapa tahun, dia dan adik- adiknya menempa diri dan yakin tingkat ilmu mereka sudah jauh meningkat, hasil yang didapat nyaris tidak berubah: betapa dia dan saudara-saudaranya seperti membentur tembok dalam satu gebrakan. Padahal, yang mereka hadapi hanyalah murid Resi Darmakusumah meskipun, di mata mereka, hanya mengaku-aku sebagai Titisan Bujangga Manik.

Sementara kedua adiknya sama-sama mencoba berdiri dengan kaki yang gemetar, Munding Wesi kini berhadapan sendirian dengan Jaka Wulung. Munding Wesi memandang Jaka Wulung dengan hati mulai menciut kecut. Pedang di tangannya terkulai nyaris lepas dari genggaman. Sebaliknya, Jaka Wulung memandang tajam Munding Wesi dengan kudi hyang yang tergenggam di tangan kanan, menunggu dengan waspada apa yang akan terjadi selanjutnya.

Hanya satu hal yang disesalinya pada saat seperti ini: lengan kirinya masih terasa ngilu. Senjata bernama pistol itu ternyata luar biasa.

Kedua pasang mata saling pandang.

Yang satu adalah lelaki yang mengaku keturunan Prabu Dewata Buana Wisesa, salah seorang cucu Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi, dan merasa berhak atas kitab-kitab pusaka Keraton Pakuan.

Yang lainnya adalah murid Resi Darmakusumah, keturunan Surasowan, salah seorang anak Sri Baduga Maharaja. Hubungannya dengan Siliwangi, meskipun tidak secara langsung, ditambah oleh ilmu tingkat tinggi yang diturunkan kepadanya oleh Resi Jaya Pakuan sendiri, seorang pangeran dari Keraton Pakuan yang memilih meninggalkan istana untuk mengembara ke berbagai negeri, menyerap bermacam ilmu dan mengamalkannya langsung demi masyarakat.

Jadi, sesungguhnya perseteruan itu terjadi di antara anak-cucu Prabu

Siliwangi sendiri. Perseteruan yang pastilah akan membuat Prabu Siliwangi, yang dalam masa pemerintahannya terus-menerus berupaya menyatukan segenap wilayah di Tatar Sunda, menangis.

Keduanya masih belum bergerak.

Jaka Wulung tetap memandang tajam Munding Wesi, menunggu apa yang akan dilakukan lawannya.

Sebaliknya, Munding Wesi makin ragu-ragu akan kemampuannya untuk menghadapi lawannya sendirian. Matanya beralih memandang kedua adiknya yang masih tertatih untuk berdiri. Munding Wesi juga memandang sekeliling.

Tak lama kemudian, pedang di tangan kanan Munding Wesi terangkat lurus, mengacung ke langit. Hampir bersamaan dengan itu, jari tengah dan ibu jari tangan kirinya ditautkan, kemudian diletakkan di antara bibirnya. Dan terdengar siulan yang keras dan panjang.

Suiiiiiit ...!

Belum hilang gema siulan itu di udara, tiga orang berkelebat dari tiga arah yang berbeda.

Orang pertama muncul dari balik pepohonan sebelah kiri Jaka Wulung, berkelebat melalui loncatan panjang, lalu berdiri di sebelah kanan Munding Wesi. Dia lelaki bertubuh sedang, usia sekitar tiga puluh lima tahun, dengan bibir yang seakan-akan terus-menerus mengejek. Di perutnya, sebilah keris terselip pada ikat pinggangnya.

Orang kedua muncul dari arah belakang Munding Wesi, dan kemudian berdiri di sebelah kirinya. Dia lelaki berusia hampir enam puluh tahun, agak bungkuk, dan di tangannya tergenggam senjata trisula—tombak bermata tiga. Matanya menatap tajam Jaka Wulung.

Orang ketiga muncul dari arah sebelah kanan Jaka Wulung, melenting dua kali, lalu berdiri di sebelah kiri orang kedua. Dia adalah perempuan berusia sekitar lima puluh tahun, bermata sipit tapi kejam, dan menggenggam tombak pendek. Matanya tidak lepas menatap Ciang Hui Ling.

Persis gambaran tiga orang yang pernah diceritakan Resi Darmakusumah, pikir Jaka Wulung. Bukan orang-orang dari Tatar Sunda.

Ketiga pendekar itu pernah menjadi lawan seimbang gurunya. Dan kini, mau tidak mau, Jaka Wulung harus mengulang kisah, berhadapan dengan orang-orang yang telah menghadapi gurunya.

Orang kedua, yang paling tua di antara mereka, justru kelihatan paling tidak sabaran. Dia bergeser selangkah ke depan.

“Tuan Munding Wesi terlalu lama memberikan aba-aba,” kata si tua bungkuk. “Aku sudah tidak sabar untuk membuat perhitungan dengan bocah edan ini.”

“Baiklah, Ki Somali, kuserahkan dia kepadamu,” ujar Munding Wesi. “Tapi, ingat, bekuk dia hidup-hidup. Jangan kau bunuh sebelum aku memastikan merebut kitab-kitab pusaka itu, atau setidaknya mendapat keterangan di mana gerangan kitab-kitab itu.”

“Tidak masalah, Tuan Munding Wesi,” kata Ki Somali, si tua bungkuk. “Aku akan mematahkan tangan dan kakinya. Itu sudah cukup bagiku sebagai pembalasan dendamku.”

Munding Wesi mengangguk-angguk dengan seringai di wajahnya. Dia percaya Ki Somali akan mampu melakukannya. Munding Wesi lalu mengalihkan perhatiannya kepada Ciang Hui Ling.

“Biarlah aku tangani gadis ini saja,” gumamnya sambil melangkah mendekati Ciang Hui Ling. Dia yakin ilmu si gadis tidaklah terlalu tinggi dibandingkan dengan Jaka Wulung, dan bermain-main dengan gadis cantik tentu akan lebih menyenangkan.

“Tak perlu Tuan Munding Wesi repot-repot,” ucap perempuan yang berusia sekitar lima puluh tahun yang bermata sipit seraya melangkah mendahului Munding Wesi. “Biar dia menjadi urusanku.”

Munding Wesi menghentikan langkahnya dengan perasaan kecewa. Tapi, kalau sudah berurusan dengan pertempuran, dengan urusan berkelahi, dibandingkan dengan mereka, ketiga orang yang dia sewa, Munding Wesi tidak bisa berbuat apa-apa. Ketiga orang itu, beserta pengikutnya, dia datangkan dari berbagai daerah dengan tujuan untuk melancarkan

impiannya membangun kerajaan penerus Pajajaran.

Dengan kekuatan harta yang dia miliki, disertai janji untuk memberikan jabatan jika impian Munding Wesi terwujud, ketiga pendekar itu memang patuh terhadap keinginannya. Tapi, ada juga hal-hal tertentu yang di luar kuasanya. Terutama kalau menyangkut persoalan pribadi.

“Oh, Nona Teratai Biru Kalau Nona punya urusan dengan gadis itu, aku
tidak bisa menghalangi,” kata Munding Wesi seraya melangkah mundur, menjauh dari titik tengah lingkaran. Munding Wesi tahu Ki Somali punya urusan dengan Jaka Wulung. Tapi, dia tidak tahu persoalan apa antara Pendekar Teratai Biru dan Ciang Hui Ling.

Kedua adik Munding Wesi mengiringi kakaknya menjauh dari titik pusat lingkaran. Bahkan, orang pertama dari ketiga pendekar sewaan Munding Wesi juga memilih menjauh.

“Ki Lembu tidak ingin ikut terlibat?” tanya Munding Wesi.

Orang yang dipanggil Ki Lembu, lengkapnya Lembu Sura, lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu, tersenyum-senyum saja—tersenyum dengan bibir yang mengejek. “Tentu saja. Tapi, aku akan lihat perkembangannya nanti,” katanya.[]

0 Response to "Pendekar Bunga Matahari Jilid 11 : Impian Membangun Kerajaan"

Post a Comment