coba

Kisah Dua Naga Di Pasundan Jilid 17

Mode Malam
Diam-diam Gajahmada tersenyum dalam hati mendengar celoteh sahabatnya itu, namun di hadapan Ki Lurah jangkung tidak memperlihatkannya, bahkan seperti membenarkan ucapan Pangeran Jayanagara.

“Bila kalian berminat, akan kuperkenalkan kalian kepada adikku. Kebetulan sekali adikku itu dipercaya oleh istana untuk menyaring para calon prajurit”, berkata Ki Lurah Jangkung kepada kedua anak muda itu.

“Aku berminat, tapi aku belum tahu bagaimana dengan sahabatku ini”, berkata Pangeran Jayanagara kepada Ki Lurah Jangkung, juga kepada Gajahmada.

“Keputusanmu adalah keputusanku pula, aku berminat menjadi seorang prajurit”, berkata Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara, juga kepada Ki Lurah Jangkung.

“Bila kalian memang berminat menjadi seorang prajurit Rakata, mari ikut ke rumahku”, berkata Ki Lurah Jangkung kepada kedua anak muda itu.

Demikianlah, mereka bertiga terlihat tengah berjalan meninggalkan pasar Kotaraja Rakata menuju rumah kediaman Ki Lurah Jangkung yang tidak begitu jauh, di sebuah padukuhan masih di dalam lingkungan Kotaraja Rakata.

Ternyata rumah milik Ki Lurah adalah sebuah rumah kediaman yang sederhana, sebuah rumah panggung yang dikelilingi pekarangan dan tanah ladang yang dipenuhi oleh tanaman kelapa membuat suasana di sekitar rumah itu menjadi sangat sejuk dan teduh.

“Inilah sang permaisuriku”, berkata Ki Lurah Jangkung memperkenalkan istrinya yang datang menyongsong mereka diatas panggungan.

“Suamiku memang senang bercanda, tapi kadang sangat berlebihan, mana bisa wajahku yang gelap ini disamakan dengan seorang permaisuri”, berkata Nyi Jangkung dengan senyum penuh keramahan kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara.

“Bukankah kalian berdua adalah Raja dan Ratu di rumah ini?”, berkata Gajahmada ikut menanggapi canda Ki Lurah Jangkung.

“Maaf dinda Ratu, adakah sedikit makanan guna menjamu kedua tamu kita?”, berkata Ki Lurah Jangkung kepada istrinya, masih dengan cara penuh candanya.

Mendengar perkataan suaminya itu, terlihat Nyi Jangkung tersenyum.

“Aku tinggal dulu”, berkata Nyi Jangkung masih dengan senyum dikulum.

Setelah Nyi Jangkung masuk kedalam, mereka pun terlihat asyik berbincang-bincang. Ternyata Ki Lurah Jangkung orang yang sangat mengasyikkan, punya banyak bahan cerita membuat suasana diatas rumah panggungnya terlihat menjadi hidup dan penuh tawa.

Dalam perbincangan itu, Ki Lurah Jangkung juga banyak bercerita tentang prajurit Rakata bersama Pangeran Rawidhu yang sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya, masih hidup atau sudah mati. Sampai saat ini banyak keluarga prajurit yang menanti dengan penuh kekhawatiran nasib suami, anak dan saudara mereka.

Gajahmada dan Pangeran Jayanagara yang telah menyaksikan pembantaian prajurit Rakata di hutan dekat Kotaraja Kawali, terlihat hanya menarik nafas panjang tidak berkata apapun agar Ki Lurah Jangkung tidak mengetahui jati mereka sebenarnya.

“Jadi Pangeran Rawidu sampai hari ini belum kembali ke Istana?”, bertanya Gajahmada kepada Ki Lurah Jangkung ingin mengetahui keadaan Pangeran Rawidhu.

“Sampai saat ini pihak istana belum dapat mengetahui dimana gerangan keberadaan Pangeran Rawidhu sebagaimana nasib ratusan prajurit yang pergi bersamanya”, berkata Ki Lurah Jangkung menjelaskan.

Suasana di atas panggung rumah Ki Jangkung seketika menjadi sepi manakala mendengar riwayat sedih tentang prajurit Rakata dan Pangeran Rawidhu, nampaknya tiga buah kepala di atas panggungan itu tengah berada didalam pikirannya masing-masing.

Namun suasana sepi itu tidak lama, tertindas hangat kembali manakala Nyi jangkung datang sambil membawa makanan dan minuman untuk mereka bertiga.

“Selamat dinikmati, hanya masakan sederhana orang pulau api”, berkata Nyi Jangkung sambil berpamit diri untuk masuk ke dalam rumah kembali.

Demikianlah, tanpa rasa sungkan terlihat Gajahmada dan Pangeran Jayanagara menikmati masakan tuan rumah dengan penuh kegembiraan hati.

“Adikku tinggal bersama di rumah ini, sebentar lagi pasti akan kembali pulang”, berkata Ki Lurah Jangkung kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara.

Ketika matahari terlihat mulai tergelincir di ufuk barat bumi, terlihat seorang lelaki tengah memasuki pekarangan Ki Lurah Jangkung.

“Perkenalkan inilah adikku”, berkata Ki Lurah Jangkung memperkenalkan seorang lelaki yang baru datang itu yang ternyata adalah adiknya sendiri.

Ternyata sebagaimana Ki Lurah Jangkung, adiknya juga adalah seorang prajurit Rakata yang dipercaya sebagai seorang Rangga di sebuah pasukan khusus prajurit Rakata.

“Kami kakak beradik ini punya nasib berbeda dalam hal kepangkatan di keprajuritan, adikku ini sudah melewatiku beberapa jenjang sebagai seorang Rangga”, berkata kembali Ki Lurah Jangkung.

“Di keprajuritan aku memang diatasnya, sementara di rumah ini dia tetap kakakku”, berkata adik Ki Lurah Jangkung menunjukkan sikap keramahannya kepada kedua tamu kakaknya itu dan memperkenalkan dirinya bernama Rangga Sujiwa. Seorang lelaki yang usianya tidak bertaut jauh dengan Ki Lurah Jangkung sendiri.

“Jadi kalian berdua bermaksud ingin mengabdi sebagai seorang prajurit Rakata?”, berkata Ki Rangga Sujiwa setelah Ki Lurah Jangkung bercerita tentang rencana kedua anak muda itu yang ingin mengakhiri pengembaraan mereka mengabdi sebagai seorang prajurit.

“Tentunya bila kami berdua lulus dalam persyaratan ujian keprajuritan”, berkata Pangeran  Jayanagara kepada Ki Rangga Sujiwa.

“Kebetulan akulah yang di percaya menguji para calon prajurit. Hari ini kalian bisa kuuji secara langsung di pekarangan ini”, berkata Ki Rangga Sujiwa  kepada kedua anak muda itu.

Mendengar perkataan Ki Rangga Sujiwa membuat kedua anak muda itu saling berpandangan, tidak menyangka begitu mudah jalan mereka berdua untuk menjadi seorang prajurit Rakata.

“Sebagaimana pernah kukatakan, adikku inilah yang dipercaya oleh pihak istana memutuskan diterima atau tidaknya seorang calon prajurit”, berkata Ki Lurah Jangkung sambil tersenyum bahwa perkataannya sebelumnya bukan hanya sebuah sesumbar belaka.

“Aku ingin melihat tataran ilmu kanuragan kalian, silahkan turun salah seorang diantara kalian ke pekarangan”, berkata Ki Rangga Sujiwa kepada kedua anak muda itu.

“Biarlah, aku yang pertama turun ke pekarangan”, berkata Pangeran Jayanagara mendahului Gajahmada.

Sementara itu Ki Rangga Sujiwa telah meminta Ki Lurah Jangkung membantunya . “Aku perlu Kakang Jangkung melayani anak muda itu”, berkata Ki Rangga Sujiwa kepada kakaknya ketika telah melihat Pangeran Jayanagara sudah turun di pekarangan.

Bulan purnama malam itu terlihat  temaram menerangi pekarangan rumah Ki Lurah Jangkung. Terlihat dua orang lelaki telah saling berhadapan di pekarangan rumah itu.

“Silahkan anak muda menyerang orang tua ini”, berkata Ki Lurah Jangkung kepada Pangeran Jayanagara yang sudah bersiap di atas tanah pekarangan rumah itu. “Baiklah Ki Lurah, aku orang muda yang memulai serangan”, berkata Pangeran Jayanagara sambil meloncat dan mengembang-kan dua buah tangannya.

“Serangan yang bagus”, berkata Ki Lurah Jangkung sambil bergeser kesamping menghindari pukulan dari Pangeran Jayanagara dan langsung balas menyerang.

“Serangan balasan yang hebat”, berkata Pangeran Jayanagara sambil meloncat kebelakang sambil membuat sebuah serangan baru.

Susul menyusul saling balas pun dalam waktu dekat terus berlangsung dengan serunya antara Ki Lurah Jangkung dan Pangeran Jayanagara.

“Anak muda ini telah punya bekal kanuragan yang cukup untuk seorang prajurit Rakata”, berkata Ki Rangga Sujiwa dalam hati sambil matanya tidak pernah berpaling dari pertempuran di atas pekarangan rumah Ki Lurah Jangkung itu.

“Pangeran Jayanagara belum berbuat apa-apa”, berkata pula Gajahmada dalam hati melihat bahwa Pangeran Jayanagara memang belum menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya.

Sementara itu melihat bahwa anak muda yang menjadi lawannya itu telah mampu mengimbangi serangan-serangannya telah membuat Ki Lurah Jangkung tanda disadari telah meningkatkan tataran ilmunya, kali ini dengan mengungkapkan tenaga sakti sejatinya. Maka kecepatan gerak dan tenaga Ki Lurah Jangkung terlihat semakin bertambah cepat dan bertambah kuat.

Dengan sangat terpaksa Pangeran Jayanagara telah ikut meningkatkan tataran ilmunya pula, mengimbangi kecepatan dan kekuatan lawan.

“Hebat !!”, berkata Ki Lurah Jangkung yang tidak menyangka bahwa Pangeran Jayanagara dapat dengan cepat keluar dari terkamannya bahkan telah balas menyerangnya pula.

“Cukup !!”, berteriak Ki Rangga Sujiwa dari atas panggungan rumah.

Mendengar teriakan Ki Rangga Sujiwa itu, terlihat keduanya telah langsung meloncat kebelakang menghentikan pertempuran itu.

“Untungnya pertempuran ini di hentikan, bila diteruskan pasti aku yang sudah tua ini sangat malu dikalahkan oleh orang muda”, berkata Ki Lurah Jangkung sambil tersenyum.

“Ki Lurah Jangkung terlalu merendahkan diri, pertempuran akhir belum terjadi”, berkata Pangeran Jayanagara kepada Ki Lurah Jangkung.

“Ayo anak muda, sekarang giliran kita mencari keringat di malam dingin ini”, berkata Ki Rangga Sujiwa kepada Gajahmada.

Selang seling dua orang yang naik keatas panggungan dan dua orang lagi turun dari panggungan pun terlihat di malam yang masih wayah sepi bocah itu.

“Pastikan pertempuran kita lebih seru dari pertempuran tadi”, berkata Ki Rangga Sujiwa sambil bersikap bersiap diri dengan sebuah kuda-kuda yang terlihat kokoh.

“Baiklah, aku orang muda menyerang lebih dulu”, berkata Gajahmada dengan wajah cerah penuh kegembiraan hati menghadapi lawan tandingnya. “Serangan pertama yang hebat”, berkata Ki Rangga Sujiwa sambil meloncat cepat menghindari tendangan Gajahmada yang meluncur ke arahnya.

“Serangan balasan yang berbahaya”, berkata Gajahmada sambil menghindari serangan balasan dari Ki Rangga Sujiwa itu.

Seperti pertempuran sebelumnya, pertempuran kali ini juga tidak kalah serunya, saling balas menyerang pun terjadi dengan sangat hebatnya.

“Sangat cepat sekali”, berkata Gajahmada sambil tersenyum sedikit menundukkan kepalanya dari pukulan Ki Rangga Sujiwa yang sangat cepat dan kuat.

Ternyata Ki Rangga Sujiwa sudah langsung bergerak dengan tenaga bukan wadag lagi, tapi sudah mengungkapkan tenaga sakti sejatinya sendiri sehingga telah membuat serangannya sangat kuat dan cepat.

Demikianlah, tidak terasa pertempuran mereka terus berlanjut dengan semakin seru, semakin cepat dan kuat sehingga mereka berdua selintas hanya seperti dua buah bayangan yang saling berkejaran diatas tanah pekarangan di bawah malam bulan purnama itu.

“Cukup!!”, berkata Ki Rangga Sujiwa sambil meloncat kebelakang meminta Gajahmada menghentikan serangannya.

“”Kalian berdua memang layak menjadi seorang prajurit Rakata”, berkata kembali Ki Rangga Sujiwa dengan nafas yang masih memburu.

“Masih lebih lama dari pertempuran sebelumnya”, berkata Gajahmada dengan wajah masih cerah dan nafas teratur seperti belum melakukan apa-apa.

“Nafasmu sangat kuat anak muda”, berkata Ki rangga memuji kekuatan diri Gajahmada yang melihat nafasnya tidak memburu sebagaimana dirinya itu.

“Kalian cepat naik, sang permaisuriku telah membawakan hidangan malam”, berkata Ki Lurah jangkung kepada Gajahmada dan Ki Rangga Sujiwa.

Ternyata diatas panggungan rumah, Nyi Lurah Jangkung memang telah menyediakan makan malam mereka.

Demikianlah, mereka berempat terlihat tengah menikmati makanan malam dengan penuh senda gurau seperti empat sahabat lama yang sudah begitu lama tidak bertemu, mereka memang terlihat sudah begitu akrab sekali.

Dan malam masih terus bergeser perlahan di atas panggungan rumah Ki Lurah Jangkung yang masih asyik berbincang dengan dua orang tamunya dan seorang adiknya itu.

Namun tiba-tiba saja kening Ki Lurah Jangkung berkerut. Nampaknya ada sesuatu yang dilihatnya di pekarangan rumahnya, karena kebetulan sekali duduk Ki Lurah Jangkung memang berhadapan dengan pekarangan rumahnya.

Ternyata memang Ki Lurah Jangkung telah melihat dua orang tengah memasuki pekarangan rumahnya.

Sontak seketika itu semua mata menatap ke arah pandangan Ki Lurah Jangkung, melihat apa yang dilihat oleh Ki Lurah Jangkung di halaman pekarangan rumahnya itu.

“Pengawal pribadi Baginda Raja”, berkata Ki Lurah Jangkung mengenali beberapa pertanda yang dipakai oleh kedua orang yang mulai mendekati tangga rumahnya.

Cahaya purnama di malam itu memang telah menerangi wajah kedua orang pengawal pribadi Baginda Raja Pulau Api sebagaimana yang dilihat oleh Ki Lurah Jangkung.

“Apakah kami berdua telah memasuki rumah Ki  Lurah Jangkung?”, bertanya salah seorang dari prajurit itu.

“Kalian berdua tidak salah masuk”, berkata Ki Lurah Jangkung memperkenalkan dirinya kepada kedua prajurit itu.

Ketika mereka berdua ikut duduk di panggungan, maka Ki Lurah pun bertanya maksud dan kepentingan dari kedua prajurit pengawal pribadi Baginda Raja Pulau Api itu.

“Siapakah diantara kalian yang bernama Mahesa Muksa?”, bertanya salah seorang prajurit pengawal itu tanpa memberitahukan lebih dulu maksud utama kedatangannya sebagaimana yang ditanyakan oleh Ki Lurah Jangkung.

Mendengar pertanyaan salah seorang prajurit itu telah membuat kaget semua orang, mereka langsung berpikir pasti ada kaitannya dengan peristiwa tadi siang tentang kematian seekor kerbau gila itu.

“Juragan Maruhut pasti telah menghasut para petinggi istana dengan cerita palsunya”, berkata Ki Lurah jangkung menduga-duga.

“Ada kepentingan apakah kalian bertanya tentang Mahesa Muksa?”, berkata Ki Rangga Sujiwa mengambil alih pembicaraan.

“Kami hanya menjalankan perintah Baginda Raja, membawa orang yang bernama Mahesa Muksa ke Istana”, berkata kembali salah seorang prajurit itu.

Sementara itu Gajahmada yang juga berpikir bahwa kedatangan kedua prajurit itu berkaitan dengan peristiwa kerbau gila yang mati, merasa tidak ingin kedua tuan rumahnya tersangkut dengan apa yang telah dilakukannya pada peristiwa itu. Dan Gajahmada memang telah terbina sejak kecil untuk berlaku sebagai seorang ksatria, berani dengan dada terbuka atas segala perbuatannya sendiri.

“Aku Mahesa Muksa yang kalian cari”, berkata Gajahmada dengan wajah terangkat kepada kedua prajurit pengawal pribadi Baginda Raja Pulau Api itu.

Ki Lurah Jangkung dan Ki Rangga Sujiwa terlihat menarik nafas panjang mendengar Gajahmada dengan penuh keberanian menyebut namanya sendiri.

“Anak muda ini sungguh tidak punya rasa takut sedikit pun”, berkata dalam hati Ki Lurah Jangkung dan Ki Rangga Sujiwa.

Sementara itu Pangeran Jayanagara yang selama ini tidak angkat bicara masih terus menyimak apa yang akan terjadi selanjutnya, namun dalam hati siap membela sahabatnya apapun yang akan terjadi.

“Baginda Raja Pulau Api berkenan untuk bertemu dengan Mahesa Muksa, malam ini juga”, berkata salah seorang prajurit itu.

“Aku siap menemui Baginda Rajamu”, berkata Gajahmada dengan sikap penuh ketenangan diri.

“Kami akan mengantarmu”, berkata kawan prajurit itu yang sedari tadi tidak ikut bicara merasa gembira bahwa tugas mereka tidak begitu sulit yang mereka duga sebelumnya.

Demikianlah, tanpa kesukaran dan pemaksaan Mahesa Muksa telah ikut keluar bersama kedua prajurit itu.

Terlihat Gajahmada berjalan di kawal oleh kedua prajurit itu telah menuruni anak tangga panggungan rumah itu.

Masih terlihat punggung mereka yang tengah melangkah di atas halaman pekarangan Ki Lurah Jangkung.

Dibawah pandangan mata Ki Lurah Jangkung, Ki Rangga Sujiwa dan Pangeran Jayanagara, mereka telah melihat Gajahmada dan kedua prajurit itu telah keluar dari pagar pekarangan rumah dan menjauh hilang di dalam kegelapan malam.

“Bila anak muda itu menjadi susah, aku akan membuat perhitungan sendiri dengan Juragan Maruhut”, berkata Ki Lurah Jangkung dengan penuh amarah.

“Besok aku akan mencari tahu tentang keadaan anak muda itu”, berkata Ki Rangga Sujiwa berusaha menenangkan perasaan kakaknya itu.

“Benar, besok kita harus mencari tahu apa yang terjadi pada Mahesa Muksa”, berkata Pangeran Jayanagara merasa siap membela apapun yang terjadi dan menimpa pada diri sahabatnya itu.

Sementara itu Gajahmada dan kedua prajurit itu sudah jauh meninggalkan rumah Ki Jangkung, menyusuri jalan-jalan Kotaraja Rakata.

Selama dalam perjalanan ketiganya terlihat tidak banyak cakap, kedua prajurit itu pun tidak banyak bertanya kepada Mahesa Muksa yang terus berjalan mengikuti langkah kaki kedua prajurit itu.

Namun diam-diam kedua prajurit itu memuji sikap ketenangan hati Mahesa Muksa.

Dan purnama begitu indah melekat diatas langit malam menerangi istana Pulau Api manakala Gajahmada dan kedua prajurit itu telah memasuki pintu gerbang istana.

Beberapa prajurit di gardu penjagaan depan gerbang istana hanya memandang kedua prajurit itu berjalan bersama Gajahmada, nampaknya mereka sudah mengenal kedua prajurit pengawal pribadi Baginda Raja Pulau api.

Terlihat Gajahmada bersama kedua prajurit itu  tengah berjalan menyusuri lorong-lorong istana menuju tempat peristirahatan pribadi Baginda Raja Pulau Api.

“Terimalah sembah sujud dari kami”, berkata salah seorang prajurit itu diikuti dengan sikap bersujud kedua prajurit itu.

Melihat kedua prajurit itu telah bersujud dihadapan Baginda Raja Pulau Api, terlihat Gajahmada telah mengikuti kedua prajurit itu, ikut bersujud di hadapan Raja Pulau Api yang tengah duduk di sebuah hamparan kulit harimau besar.

“Kuterima sembah sujud kalian, tinggalkan Mahesa Muksa bersama kami”, berkata Baginda Raja Pulau Api kepada kedua prajurit itu.

Mendengar perintah dari Baginda Raja, terlihat dengan penuh rasa hormat kedua prajurit itu mundur teratur keluar dari tempat peristirahatan Baginda Raja.

“Selamat datang anak muda”, berkata Baginda Raja Pulau Api penuh senyum keramahan dihadapan Gajahmada.

Sejenak Gajahmada memandang kearah Raja Pulau Api itu, seorang yang sudah cukup berumur seusia Prabu Guru Darmasiksa.

“Aku berhadapan dengan kakekku sendiri”, berkata Gajahmada dalam hati sambil memandang orang tua di hadapannya itu.

Sementara itu Gajahmada juga melihat seorang yang berada di samping Raja Pulau api itu tengah menatapnya dengan sinar mata penuh kegembiraan dan kebahagiaan hati. Tertegun sejenak Gajahmada memandang kearah orang itu yang belum setua Raja Pulau Api, namun wajah orang itu terlihat seperti pinang dibelah dua dengan Raja Pulau Api, hanya usia saja yang nampaknya telah membedakan keduanya.

“Apakah kamu sudah tahu mengapa dirimu malam ini datang menghadapku?”, bertanya Raja Pulau Api  dengan suara begitu berat penuh wibawa kepada Gajahmada.

“Hamba hanya menduga-duga, bahwa kedatangan hamba berkaitan dengan peristiwa kerbau gila tadi siang”, berkata Gajahmada dengan suara tidak meresa gentar sedikit pun berhadapan dengan seorang yang paling di hormati di kerajaan Rakata itu yang telah diketahui adalah kakeknya sendiri.

Mendengar perkataan dan sikap Gajahmada, terlihat Raja Pulau Api dan orang disebelahnya saling berpandangan.

“Aku memang telah mendengar tentang kejadian siang itu di pasar, tentang seorang anak muda yang telah membunuh seekor kerbau gila”, berkata Raja Pulau Api sambil menatap wajah Gajahmada.

“Hambalah orangnya yang telah membunuh kerbau itu”, berkata Gajahmada dengan wajah tengadah tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“Aku mendapat sebuah laporan bahwa kamulah yang telah membuat kerbau itu mengamuk, merugikan banyak orang di pasar”, berkata Raja Pulau api.

“Itu fitnah tuanku, justru hambalah yang telah meredakan kerbau gila itu”, berkata Gajahmada membela dirinya tidak suka hati mencoba meluruskan kejadian yang sebenarnya.

“Perbuatanmu membunuh kerbau itu adalah sebuah kesombongan, dan aku akan menghukummu”, berkata Raja Pulau Api kepada Gajahmada.

Sedari kecil, Gajahmada sudah biasa hidup dilingkungan istana, berhubungan dengan  Raja Majapahit yang sangat dihormati. Jadi tidak ada perasaan takut sedikit pun manakala dirinya berhadapan dengan seorang Raja Pulau Api itu. Apalagi jiwa ksatrianya yang sudah ditempa sedemikian rupa dalam hal membela kebenaran. Peristiwa siang itu membunuh seekor kerbau gila dianggapnya sebuah perbuatan baik melindungi banyak orang.

Namun dirinya merasa kecewa, ada perasaan kurang senang dengan diri Raja Pulau api itu. Namun dirinya agak menjadi heran dengan sikap orang di sebelah Raja Pulau Api itu, tidak pernah berpaling menatap dirinya dengan wajah selalu tersenyum, sepertinya perkataan Raja Pulau Api yang akan menghukum dirinya itu adalah sebuah perkataan biasa.

“Ternyata kakekku seorang raja yang kurang bijaksana”, berkata dalam hati Gajahmada mulai tidak senang dengan kakeknya sendiri itu.

“Aku akan memberikan hukuman kepadamu dengan hukuman terberat yang pernah ada di pulau api ini”, berkata Raja Pulau api dengan sikap penuh wibawa.

“Menurutku tuanku Baginda telah melakukan sebuah ketidak adilan”, berkata Gajahmada dengan wajah tengadah tanpa rasa takut sedikitpun dan mulai kecewa mengetahui sikap kakeknya sebagai seorang Raja yang kurang bijaksana, tidak adil.

Mendengar perkataan Gajahmada, terlihat Raja Pulau Api dan orang di sebelahnya saling berpandangan, terlihat mereka berdua tertawa penuh kesenangan.

Melihat hal demikian, mulai tidak senang hatilah Gajahmada kepada sikap kedua orang itu meski salah seorang diantara mereka itu diketahui adalah kakeknya sendiri.

“Aku akan menambah hukuman dengan lebih berat lagi, karena kamu telah mengatakan bahwa aku kurang adil dalam hal ini”, berkata Raja Pulau Api dengan suara seperti dipaksakan menjadi lebih berat penuh wibawa. Namun seketika itu pula Raja Pulau api telah saling berpandangan kembali dengan orang di sebelahnya itu.

Kembali terlihat mereka tertawa bersama telah membuat Gajahmada lebih tidak suka hati lagi, merasa telah berada di lingkungan kurang sehat, tidak manusiawi lagi.

“Apakah kamu tidak bertanya hukuman apa yang akan kuberikan kepadamu?”, berkata Raja Pulau api, kali ini dengan sebuah senyum dibibir.

Terlihat Gajahmada memandang kearah Raja Pulau Api, juga ke orang di sebelahnya itu. Hati Gajahmada sudah mulai tidak suka kepada kedua orang dihadapannya itu. Menyayangkan bahwa telah menemui seorang kakek darah dagingnya sendiri yang mempunyai sikap kurang bijaksana, kurang adil menengahi sebuah masalah.

“Hukuman apapun akan hamba terima dengan hati terbuka”, berkata Gajahmada dengan suara menahan rasa kecewa yang sangat.

“Aku akan menghukummu dengan sebuah keharusan, harus kamu laksanakan dengan penuh kesadaran hati, mulai saat ini kunobatkan dirimu untuk menjadi seorang Panglima Perang tertinggi di keprajuritan Kerajaan Rakata ini”, berkata Raja Pulau Api dengan masih tersenyum.

Mendengar perkataan Raja Pulau Api, Gajahmada seperti merasa tersentak kaget bukan kepalang, tidak menyangka sama sekali bahwa hukuman yang diterima adalah sebuah jabatan tertinggi di sebuah kerajaan.

“Terimalah wahai putraku”, berkata orang di sebelah Raja Pulau Api yang selama itu belum mengangkat suara sedikit pun.

Kembali Gajahmada tersentak kaget mendengar suara orang itu, sebuah suara yang nampaknya sangat akrab di telinganya.

“Akulah Ayahmu, yang kadang datang meski hanya lewat sebuah ajian pameling”, berkata orang itu penuh senyum ke arah Gajahmada.

Gajahmada memang tidak sangsi lagi, suara orang itu terasa begitu dekat dengan hatinya, suara orang yang sangat dirindukan selama ini untuk dapat ditemuinya secara langsung.

“Ayah………”, berkata Gajahmada sambil datang mendekat memeluk penuh kerinduan di tubuh orang itu yang ternyata adalah pendeta Darmaraya, ayah dari Gajahmada sendiri.

“Sembah dan sujudlah kepada kakekmu sendiri, wahai putraku”, berkata Pendeta Darmaraya kepada Gajahmada.

Tanpa perintah kedua kalinya, terlihat Gajahmada telah bersujud di hadapan Raja Pulau Api

“Bangkitlah wahai cucundaku, sembah sujudmu telah kuterima, Ayahmu telah membuka semua rahasia ini disaat usiaku sudah menjadi begitu rapuh. Sekian lama kesangsian ini hanya ada didalam hati dalam penuh keraguan. Karena aku mendengar sendiri suara jerit tangis bayi laki-laki di dalam ruang persalinan sang permaisuri, namun seorang dukun bayi menyerahkan kepadaku seorang bayi perempuan kepadaku. Sebuah keanehan yang selama ini selalu menghantui setiap mimpi-mimpiku”, berkata Raja Pulau Api penuh kehalusan hati seorang kakek kepada cucundanya.

“Sekarang, sang prahara itu telah datang kembali mendekati kita. Pendeta Rakanata yang telah berganti nama menjadi Ki Guntur Geni telah menghimpun sebuah kekuatan untuk merampas kerajaan Kakekmu ini”, berkata Pendeta Darmaraya kepada Gajahmada.

“Aku juga telah menyaksikan sendiri prahara yang telah terjadi hampir di setiap langkah perjalanan orang itu. Demi sebuah kemanusiaan, aku siap menghadapinya”, berkata Gajahmada di hadapan Ayah dan kakeknya. “Jadi kamu bersedia menjadi seorang panglima perang di kerajaanku ini?”, bertanya Raja Pulau Api kepada Gajahmada.

“Cucunda dengan senang hati menerimanya, wahai Baginda Raja Pulau Api”, berkata Gajahmada penuh senyum merasa selama ini telah diperolok sendiri oleh kakek dan Ayahnya itu yang telah mengetahui jati dirinya.

“Aku senang mendengarnya, wahai cucundaku”, berkata Raja Pulau Api dengan wajah gembira. “dalam waktu singkat, semua orang di pulau api ini harus dapat merayakan pertemuan ini, merayakan kegembiraan kita bersama”, berkata kembali Raja Pulau Api.

Demikianlah, tiga lelaki anak beranak itu saling bercerita tentang diri masing-masing selama masa yang terpisah satu dengan yang lainnya itu.

Sementara itu langit malam sudah mulai larut diatas istana Rakata.

“Ada sebuah rahasia yang juga kamu harus ketahui hari ini, wahai putraku”, berkata pendeta Darmaraya kepada Gajahmada.

“Aku siap mendengarnya, wahai ayahandaku”, berkata Gajahmada dengan kening berkerut menunggu rahasia apa lagi yang akan disampaikan dan dibuka oleh ayahnya itu.

“Ibumu dan Ayah angkatmu sendiri telah menyembunyikan nama aslimu yang sebenarnya. Itu semua mereka lakukan karena seperti itulah adat istiadat memperlakukan seorang anak yang terlahir disaat gerhana matahari. Saat ini kulihat dirimu sudah menjadi dewasa, saatnya kamu memikul namamu sendiri, wahai putraku”, berkata Pendeta Darmaraya. “Siapakah nama putramu ini, wahai Ayahandaku?”, berkata Gajahmada penuh perhatian.

“Namamu adalah Gajahmada, karena kamu ditemui oleh ayah angkatmu bersama ibumu di hutan Mada di sebuah tanah yang indah di Balidwipa”, berkata Pendeta Darmaraya bercerita tentang suasana keadaan Gajahmada di saat beberapa hari setelah kelahirannya itu.

“Gajahmada”, berkata Gajahmada menyebut sebuah nama.

“Gajahmada, aku senang sekali dengan nama itu”, berkata Raja Pulau Api memuji nama Gajahmada.

Sementara itu langit malam sudah semakin larut ditemani dewi purnama di atas istana Rakata. Terlihat tiga orang prajurit penjaga dengan terkantuk-kantuk berjalan menyusuri lorong-lorong istana memastikan bahwa malam itu tidak terjadi apapun.

“Hari sudah larut malam, sebaiknya kalian beristirahat”, berkata Raja Pulau Api kepada Pendeta Darmaraya dan Gajahmada.

Demikianlah, malam itu Gajahmada diajak  beristirahat di sebuah tempat di istana Rakata itu bersama ayahnya sendiri.

Di peraduannya Gajahmada seperti tengah bermimpi, melihat suasana kamar yang sangat begitu elok sebagaimana kamar milik seorang Pangeran.

“Aku adalah seorang pangeran?”, bertanya Gajahmada dalam hati seperti meragukan keberadaannya saat itu.

Namun akhirnya mimpi Gajahmada seperti menjawab kesangsiannya sendiri, Gajahmada malam itu telah tertidur dan bermimpi sebagaimana seorang pangeran di taman bunga istana bersama dua orang putri yang cantik elok rupa, siapa lagi dua putri itu bila bukan Andini dan Dyah Rara Wulan, dua wanita yang diam-diam telah menyelinap mewarnai hampir dalam setiap mimpimimpinya.

Dan ketika pagi, Gajahmada terbangun di kamarnya sendiri.

“Ternyata aku memang tidak bermimpi”, berkata Gajahmada di pagi itu masih berbaring diatas peraduannya di sebuah kamar yang sangat elok di istana Rakata.

“Ada beberapa hal penting yang harus kita bicarakan bersama kakekmu”, berkata Pendeta Darmaraya yang ditemui Gajahmada di pagi itu ruang pringgitan.

“Ijinkan ananda menemui beberapa kawan. Ananda takut mereka menjadi khawatir bahwa ananda tidak pulang ke rumah mereka semalam”, berkata Gajahmada kepada ayahnya.

“Baiklah, namun siang ini kutunggu kehadiranmu di istana ini”, berkata Pendeta Darmaraya kepada putranya itu.

Demikianlah, Gajahmada terlihat tengah menyusuri lorong-lorong dan jalan setapak di istana. Melihat suasana istana yang sedang dihias seperti akan melaksanakan sebuah upacara besar di pagi itu.

Terlihat Gajahmada hanya tersenyum seorang diri melihat semua itu.

“Sebuah upacara besar untuk kembalinya sang pangeran”, berkata Gajahmada dalam hati sambil terus berjalan sambil tersenyum. “Aku akan mengantar tuan hingga gerbang istana”, berkata seorang prajurit kepada Gajahmada yang ditemuinya.

“Terima kasih”, berkata Gajahmada kepada prajurit itu yang ternyata adalah salah seorang prajurit pribadi Raja Pulau Api yang semalam membawanya dari rumah Ki Lurah Jangkung.

Ada bagusnya Gajahmada berjalan bersama prajurit itu, pasti akan ada beberapa pertanyaan dari beberapa prajurit penjaga yang belum tahu siapa dirinya.

Terlihat beberapa prajurit penjaga tidak bertanya apapun ketika mereka berdua bersisipan jalan di lorong jalan istana.

“Siang ini aku akan kembali”, berkata Gajahmada kepada prajurit itu.

“Aku akan menunggumu, aku takut tuan dipersulit masuk kembali ke istana ini”, berkata prajurit itu kepada Gajahmada penuh hormat.

Ketika Gajahmada telah keluar dari pintu gerbang istana, prajurit itu masih terus memandangnya.

“Aku belum tahu hubungan istimewa apa antara pendeta Darmaraya dengan anak muda itu”, berkata prajurit itu masih memandang punggung Gajahmada yang terlihat masih terus melangkah menjauhi istana.

Singkat cerita, Gajahmada telah berada di halaman pekarangan rumah Ki Lurah Jangkung.

Bukan main gembiranya hati Pangeran Jayanagara dan Ki Lurah Jangkung melihat kehadiran anak muda itu.

Maka Gajahmada dengan singkat bercerita tentang pertemuan dirinya dengan Raja Pulau Api di istana. “Sebuah pertemuan yang mengharukan, aku merasa gembira bahwa aku telah mendengar sendiri dari tuan Pangeran”, berkata Ki Lurah Jangkung dengan sikap berubah, tidak seperti semula menghadapi Gajahmada.

“Kita sudah begitu lama mengenalmu, selama ini kamu telah menutupi jati dirimu sendiri, wahai sahabatku”, berkata Pangeran Jayanagara penuh kegembiraan.”Kakang Putu Risang juga sangat pandai menutup sebuah rahasia”, berkata kembali Pangeran Jayanagara.

“Aku perlu bantuanmu, sahabat”, berkata Gajahmada setelah bercerita tentang Pendeta Rakanata yang tengah menyusun sebuah kekuatan untuk merebut istana Rakata.

“Aku siap berada di belakangmu, sahabatku”, berkata Pangeran Jayanagara dengan wajah penuh kegembiraan.

Ternyata rumahku ini telah disinggahi dua orang hebat dari Tanah Majapahit”, berkata Ki Lurah Jangkung penuh kebanggaan hati setelah mendengar beberapa cerita lain dari kedua anak muda itu, tentang pengembaraan mereka belum lama ini di Tanah Pasundan.

“Ada hal penting yang akan dibicarakan oleh ayahandaku bersama raja Pulau Api di istana”, berkata Gajahmada ketika akan berpamit diri kembali ke istana.

“Sang permaisuriku sudah menyiapkan makan siang untuk kalian”, berkata Ki Lurah Jangkung kepada Gajahmada.

“Masih ada banyak waktu, aku akan sering datang menunggu masakan Nyi Lurah”, berkata Gajahmada sambil tersenyum.

Demikianlah, Gajahmada terlihat telah berjalan keluar dari halaman pekarangan rumah Ki Lurah Jangkung kembali ke istana Rakata.

Ketika Gajahmada berada di muka gerbang istana, seorang prajurit datang menyongsongnya.

“Terima kasih telah menungguku”, berkata Gajahmada kepada prajurit itu yang sudah dikenalnya itu.

“Aku akan mengantarmu hingga pintu peristirahatan Baginda Raja”, berkata Prajurit itu kepada Gajahmada.

Terlihat mereka telah berjalan bersama menyusuri lorong-lorong jalan di istana Rakata.

Sementara itu, di luar istana, terlihat dua orang lelaki tengah mengamati suasana di sekitar istana Rakata.

“Nampaknya akan ada sebuah upacara besar di istana”, berkata salah seorang diantara mereka.

“Ki Guntur Geni pasti senang mendapat berita ini, sebuah celah menghancurkan mereka di saat lengah”, berkata kawannya.

“Kita harus tahu kapan mereka akan melaksanakan upacara besar itu”, berkata salah seorang diantara mereka.

Terlihat kedua orang itu terus berjalan melewati pintu gerbang istana dan tetap berjalan sebagaimana orang lainnya yang hanya kebetulan lewat.

Kedua orang itu memang terus berjalan berbaur dengan beberapa lalu lalang keramaian jalan di Kotaraja Rakata yang masih cukup ramai di siang itu.

Kedua orang itu telah tidak terlihat lagi, entah kemana. Sementara itu, Gajahmada sudah berada di tempat peristirahatan Raja Pulau Api. Sudah hadir disana ayahandanya sendiri, pendeta Darmaraya.

“Kakekmu telah memerintahkan seorang Mahapatih untuk menyiapkan kekancingan dirimu menjadi seorang Panglima perang di kerajaan Rakata, tentunya dengan sebuah upacara besar agar semua orang mengetahui bahwa dirimu adalah bagian dari keluarga istana”, berkata Pendeta Darmaraya berhenti sebentar sambil menarik nafas panjang.

Terlihat Gajahmada diam mendengarnya,  mengetahui masih ada hal lain lagi yang akan disampaikan oleh ayahandanya itu.

“Namun ada hal lain lagi yang akan kami sampaikan kepadamu, menyangkut tentang suasana yang terus berkembang di kerajaan ini”, berkata Pendeta Darmaraya kepada Gajahmada.

Terlihat Gajahmada menarik nafas panjang, menduga-duga apa gerangan yang akan disampaikan oleh ayahandanya itu.

Sementara itu Raja Pulau Api tetap diam ditempatnya sebagaimana Gajahmada mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh putranya, pendeta Darmaraya.

“Saat ini istana kita tengah di bayang-bayangi oleh sebuah kekuatan gelap, sebuah kekuatan yang di pimpin oleh pendeta Rakanata yang telah berganti nama sebagai Ki Guntur geni itu. Kekuatan itu dapat bergerak kapan pun. Namun sudah dapat kupastikan bahwa mereka sudah berada mengintai disekitar istana ini”, berkata Pendeta Darmaraya kepada Gajahmada.

“Sebuah kekuatan gelap?”, bertanya Gajahmada kepada Ayahandanya itu.

“Kukatakan kekuatan mereka sebagai sebuah kekuatan gelap, karena mereka telah berbaur bersama diantara para penghuni Kotaraja Rakata ini”, berkata Pendeta Darmaraya menjelaskan perkataannya tentang sebuah kekuatan gelap pimpinan Ki Guntur Geni itu.

“Gerakan gelap mendem”, berkata Gajahmada tidak sadar keluar dari bibirnya.

“Kamu sudah mengerti maksudku, wahai putraku”, berkata Pendeta Darmaraya tersenyum kepada putra tunggalnya itu.

“Bersiaplah, aku dan ayahmu telah menyiapkan sebuah cara, memancing mereka keluar dari persembunyiannya”, berkata Raja Pulau Api ikut ambil bicara.

Terlihat Gajahmada mengangguk-anggukkan kepalanya, merasa yakin bahwa ayah dan kakeknya ini telah mempunyai sebuah cara menghadapi kekuatan Ki Guntur Geni itu.

“Kami akan memancing mereka dengan sebuah upacara kekancingan dirimu sebagai seorang panglima perang di kerajaan Rakata”, berkata pendeta Darmaraya kepada putranya Gajahmada.

“Hari ini kami telah memerintahkan Rangga Sujiwa membawa keluar pasukannya dari istana. Mereka adalah pasukan senyap kita yang akan menghantam musuh dari arah belakang. Sebagaimana mereka, saat ini mereka juga telah membaur diantara para penghuni Kotaraja ini”, berkata Raja Pulau Api menyela perkataan Pendeta Darmaraya yang pernah dikenal sebagai pertapa dari Gunung Wilis itu. “Ki Guntur Geni pasti sudah banyak menyusupkan orangnya di istana ini. Itulah sebabnya aku telah memerintahkan Rangga Sujiwa dan pasukannya, mereka adalah para prajurit pilihan yang sangat setia kepadaku”, berkata kembali Raja Pulau Api seperti dapat membaca arah pikiran dari Gajahmada yang memang merasa khawatir gerakan mereka dapat di baca oleh pihak lawan.

“Kita akan membuat sebuah upacara yang meriah, sengaja aku mengundang para brahmana, mereka adalah para sahabatku sendiri yang punya kemampuan cukup tinggi. Cukup untuk menahan pasukan Ki Guntur Geni di istana ini”, berkata Pendeta Darmaraya kepada putranya Gajahmada.

“Nampaknya kalian telah menyiapkan segalanya dengan baik”, berkata Gajahmada memuji siasat dan rencana perang ayah dan kakeknya itu.

Sementara itu terlihat dua orang lelaki tengah memasuki sebuah rumah yang cukup besar di Kotaraja Rakata itu. Sebuah rumah milik seorang juragan besar yang cukup kaya di Kotaraja Rakata. Namun semua orang di Kotaraja Rakata itu tidak mengetahui bahwa rumah itu sudah tidak lagi dihuni oleh pemiliknya yang entah pergi dan menghilang kemana, rumah itu ternyata telah menjadi sebuah tempat persembunyian dua orang buronan besar yang sedang dicari-cari oleh pihak istana Kawali. Mereka adalah Pendeta Rakanata dan mantan Patih Anggajaya yang telah berganti nama dan jati dirinya, sebagai Ki Guntur Geni dan Ki Guntur Bumi. Dua orang yang sangat di hormati dan disegani oleh semua orang di rumah itu.

“Masuklah kamu kedalam”, berkata Ki Guntur Geni di pendapa rumah itu kepada seorang wanita cantik yang duduk disebelahnya ketika dilihatnya dua orang lelaki telah berjalan di halaman pekarangan yang cukup luas itu.

“Kami membawa sebuah berita bagus”, berkata salah seorang dari dua orang lelaki itu setelah mereka dipersilahkan duduk diatas pendapa oleh Ki Guntur Geni.

“Berita tentang wanita cantik?”, berkata Ki Guntur Geni kepada dua orang kepercayaannya itu.

Mendengar perkataan Ki Guntur Geni, terlihat kedua orang kepercayaannya itu tersenyum.

“Saat ini kami membawa berita yang pasti akan menyenangkan hati tuanku, tapi bukan tentang wanita cantik”, berkata salah seorang diantara kedua lelaki itu.

“Coba katakan, aku ingin segera mengetahuinya”, berkata Ki Geni kepada lelaki itu.

Maka lelaki itu pun bercerita tentang suasana istana Rakata yang tengah akan melaksanakan sebuah upacara besar.

“Kami berdua mendapat berita bahwa dua hari dari sekarang mereka akan melaksanakan sebuah upacara besar”, berkata lelaki itu menjelaskan.”Sebuah upacara kekancingan mengangkat seorang Panglima perang kerajaan”, berkata kembali lelaki itu.

“Apakah kamu mengetahui, siapa orang yang akan diangkat sebagai Panglima perang kerajaan?”, bertanya Ki Guntur Bumi ikut bicara.

“Tidak banyak diketahui tentang orang itu, salah seorang penyusup kita di istana baru menduga-duga adalah salah seorang keturunan Raja Pulau Api sendiri”, berkata kawan lelaki itu menjawab pertanyaan Ki Guntur Bumi. “Setahuku, dua orang putra Pangeran  Rhawidu belum dewasa”, berkata Ki Guntur Bumi penuh keheranan.

“Siapapun orangnya, yang pasti di saat mereka tengah melaksanakan upacara itulah saat yang baik melakukan penyerangan”, berkata Ki Guntur Geni dengan wajah penuh semangat, seakan sebuah kemenangan sudah ada didepan matanya.

“Benar, pasukan Gelap Mendem kita memang sudah terlalu lama berada di Kotaraja ini”, berkata Ki Guntur Bumi menyetujui rencana Ki Guntur Geni itu.

Demikianlah, terlihat Ki Guntur Geni telah memberikan beberapa petunjuk kepada kedua orang kepercayaannya itu.

“Pasukan kita segera masuk bersama lewat pintu gerbang istana Rakata”, berkata Ki Guntur Geni menyampaikan salah satu rencananya melakukan penyerangan di saat istana tengah melaksanakan sebuah upacara besar.

“Raja Pulau Api yang sudah tua itu pasti mati mendadak akibat terkejut”, berkata Ki Guntur Bumi sambil tertawa disambut oleh yang lain ikut tertawa penuh kegembiraan.

“Dan kita akan menjadi Raja bersama”, berkata Ki Guntur Geni kepada Ki Guntur Bumi.

Sementara di dalam otak besarnya berkata lain, “aku akan membunuhmu, tidak rela aku berbagi kekuasaan dengan siapapun”, berkata Ki Guntur Geni dalam hati.

“Kita akan berbagi selir”, berkata Ki Guntur Bumi sambil membayangkan para selir Raja di istana.

“Aku akan mencari untuk menambahkan selir-selir tercantik di Kerajaan Rakata ini”, berkata Ki Guntur Geni menyambung perkataan Ki Guntur Bumi.

Dan hari pun terus berlalu di Kotaraja Rakata. Secara kasat mata, Kotaraja Rakata terlihat seperti hari-hari sebelumnya.

Namun, sesungguhnya bahwa di Kotaraja Rakata saat itu telah menyelinap dua kekuatan yang tengah saling mengintai, seperti dua ekor harimau jantan tengah mengendap-endap mendekati padang perburuannya. Satu ekor harimau jantan adalah pendatang baru yang ingin merebut padang perburuan baru. Sementara itu seekor harimau jantan lainnya adalah seekor harimau penjaga, siap bertarung mempertahankan padang perburuan miliknya.

Pasukan Ki Guntur Geni dan pasukan pimpinan Ki Rangga Sujiwa memang telah berada di satu arena, namun satu dengan yang lainnya sama-sama tersembunyi membaur dengan suasana keramaian Kotaraja Rakata. Mereka ada yang menyamar sebagai para pedagang, pengembara bahkan ada juga yang menyamar sebagai seorang pengemis. Sisanya bersembunyi di rumah-rumah penduduk Kotaraja dengan dan tanpa sepengetahuan orang-orang disekitarnya.

Gerakan Gelap mendem, seperti semut hitam di kegelapan malam. Seperti itulah mereka menunggu saat hari menjelang upacara besar di istana Rakata itu.

Dan malam itu adalah malam menjelang hari upacara besar di istana Rakata. Telah banyak para undangan yang telah datang dari tempat yang jauh. Beberapa undangan khusus telah ditempatkan di Balai Tamu yang ada di dalam istana Rakata itu.

Di malam menjelang hari upacara besar itu, Pangeran Jayanagara sengaja diundang untuk bermalam di istana.

“Mereka dapat dipastikan memasuki pintu gerbang utama istana. Tugasmu adalah menghadapi mantan Patih Anggajaya”, berkata Gajahmada sambil memberikan beberapa ciri-ciri khusus pada diri mantan Patih Anggajaya itu yang telah berganti nama sebagai Ki Guntur Bumi. “Sementara aku akan menghadapi sendiri Pendeta Rakanata yang saat ini di kenal sebagai Ki Guntur Geni oleh para pengikutnya”, berkata kembali Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara.

Demikianlah, Pangeran Jayanagara, Gajahmada, Pendeta Darmaraya dan Raja Pulau Api terus berbincang-bincang menyusun rencana dan siasat peperangan mereka di tempat tertutup, di peristirahatan Raja Pulau Api sendiri, hingga jauh malam.

“Sepuluh Brahmana para sahabat dekatku akan membantu kita mempertahankan istana, menunggu pasukan Rangga Sujiwa keluar dari persembunyiannya”, berkata pula Pendeta Darmaraya.

“Aku telah memerintahkan beberapa prajurit kepercayaanku untuk siap siaga turun ke medan pertempuran”, berkata Raja Pulau Api ikut menambahkan. “Sementara itu aku tidak menambah penjagaan di gardu jaga untuk dapat mengesankan tidak ada hal yang luar biasa yang akan terjadi. Hal ini kulakukan agar tidak membuat musuh menjadi curiga, karena aku tahu bahwa Ki Guntur Geni telah menyusupkan orangnya di istanaku”, berkata kembali Raja Pulau Api.

Sementara itu di luar istana, terlihat dua orang lelaki tengah berjalan di depan pintu gerbang istana Rakata. “Tidak ada penambahan penjagaan”, bisik salah seorang diantara mereka sambil terus berjalan.

0 Response to "Kisah Dua Naga Di Pasundan Jilid 17"

Post a Comment