Kisah Dua Naga Di Pasundan Jilid 16

Mode Malam
SAMBIL bertempur, Ki Jabarantas sempat melirik pertempuran antara istrinya dengan lawannya  itu. Terlihat Ki Jabarantas bernafas lega melihat lawan istrinya itu tidak menggunakan ilmu sebagaimana orang yang tengah dihadapinya itu.

Ki Jabarantas masih terus memutar otaknya guna mencari jalan keluar menghindari ajian ilmu lawan yang baru pertama kali dijumpainya itu meski hanya pernah mendengar dari para generasi tuanya tentang kekejian ilmu hitam itu.

Namun Ki Jabarantas belum juga dapat menemukan sebuah cara menghindari ajian ilmu lawannya itu.

Dan dalam sebuah serangan yang dilakukan oleh Ki Jabarantas telah membuat dirinya tergagap tidak menyangka bahwa lawannya dengan sebuah keberanian yang sangat diluar perhitungannya sambil merebahkan sedikit tubuhnya membiarkan serangannya lewat diatas kepala telah langsung merangsek kedepan dan dengan kuatnya telah mencengkeram pergelangan tangan di ujung pangkal tangannya itu.

Melihat perbuatan lawannya itu, dengan cepat tangan lain Ki Jabarantas sudah langsung bergerak menyampok dengan tenaga penuh ke arah samping wajah lawannya.

Bukan main terkejutnya Ki Jabarantas bahwa lawannya tidak menangkisnya, tapi menangkap tangannya dengan tangan lainnya.

Blesss…..

Wajah Ki Jabarantas terlihat sudah begitu pucat pasi.

Ternyata Guntur Geni tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dan telah menghentakkan ajian mautnya menguras habis hawa murni lawannya lewat kedua tangan yang berhasil mencengkeram kuat menempel begitu rekatnya.

Dengan seketika. hawa murni Ki Jabarantas seperti tersedot oleh tenaga tak terlihat meluncur dan berpindah tempat ke tubuh Guntur Geni.

Mata Ki Jabarantas masih terbuka, namun nafas dan tenaganya sudah hilang bersama hawa murni yang telah dihimpunnya puluhan tahun itu.

Terdengar suara tawa Guntur Geni membahana mengisi relung-relung ladang kebun jagung dan bergema jauh hingga memenuhi belantara kaki gunung guntur.

Dihadapannya, terlihat tubuh Ki Jabarantas terbaring di tanah tak bergerak lagi. Nyawa orang tua itu nampaknya sudah jauh pergi bersama hilangnya segenap hawa murninya yang terserap habis berpindah ke tubuh Guntur Geni.

“Kubunuh kalian !!”, berteriak keras Nyi Jabarantas manakala melihat tubuh suaminya tergeletak terbaring tak bergerak diatas tanah.

Guntur Bumi bukan orang kemarin sore yang cetek pengalaman bertempurnya telah mengetahui bahwa lawannya telah terbakar kemarahannya. Sesuatu yang sangat dihindari oleh seorang petarung dimanapun bahwa kemarahan akan mengurangi kesiagaan.

Dan Guntur Bumi masih terus mencari kesempatan diantara serangan lawannya yang semakin ganas menderu-deru lewat serangan pedangnya.

Dan kesempatan yang ditunggu oleh Guntur Bumi akhirnya telah terbuka.

Trang…!!!!

Guntur Bumi dengan sengaja telah menangkis pedang Nyi Jabarantas yang meluncur begitu cepat membesut dari atas ke bawah mengancam kepalanya.

Terkejut bukan kepalang Nyi Jabarantas melihat dengan penuh keberanian tangan lain Guntur Bumi telah mencengkeram tangannya yang masih memegang pedang.

Blessss…..

Nyi Jabarantas merasakan tenaganya seperti terkuras habis, sebuah tangannya yang masih terbuka hendak menghajar kepala Guntur Bumi masih terlihat terangkat keatas, namun hanya berhenti sampai disitu, tenaganya sudah tidak mampu lagi menggerakkan tangan itu.

Apa yang terjadi ?

Ternyata Guntur Bumi sebagaimana Guntur Geni telah menghentakkan ajian rahasianya, ajian Kujang Muncang Kuning secara terbalik yang baru pertama kali dipergunakannya.

Terdengar suara tawa Guntur Bumi membahana mengisi relung-relung ladang kebun jagung dan bergema jauh hingga memenuhi belantara kaki gunung guntur.

Terlihat tubuh Nyi Jabarantas terbujur kaku tak bergerak di tanah pekarangannya.

“Dua tiga orang seperti pasangan suami istri ini akan membuat tenaga sakti sejati kita tak terkalahkan oleh siapapun”, berkata Guntur Geni dengan penuh kegembiraan.

“Kita akan mencari lagi orang-orang berilmu tinggi lainnya”, berkata Guntur Bumi.

“Kita akan menguasai dunia”, berkata Guntur Geni. “Sebagaimana   nama   kita   berdua,   kehadiran  kita

seperti guntur yang memekakkan telinga penghuni  bumi,

tiada lawan tanding yang berani menghalangi apapun yang kita inginkan”, berkata Guntur Bumi.

Demikianlah, dua orang yang tengah mabok kemenangan itu telah pergi meninggalkan tanah pekarangan sepasang suami istri di kaki Gunung Guntur itu.

Dan berbekal tenaga sakti sejati mereka yang telah berlipat ganda, mereka telah mencari beberapa orang lain lagi yang akan menjadi korban tumbal mereka, menyerap habis hawa murni mereka.

Apa yang terjadi manakala kekuatan di miliki oleh seorang yang berhati kelam sebagaimana mereka berdua?

Langkah arah kaki mereka adalah arah bencana, dimanapun mereka melangkah selalu diikuti oleh suara ratap tangis dari orang-orang yang teraniaya.

Guntur Geni dan Guntur Bumi, ibarat seekor singa bertumbuh sayap, sangat sukar sekali dicari tandingannya di saat itu setelah beberapa kali berhasil mencuri dan menyerap hawa murni orang-orang sakti.

Dan mereka layaknya dua dewa penyebar bencana, Guntur Geni dan Guntur Bumi adalah bencana bagi para wanita cantik, para orang kaya dan para pemilik kekuasaan dimanapun berada. Karena harta, tahta dan wanita telah merasuki jalan hidup mereka setiap saat dan waktu.

Saat itu, mereka telah mulai merintis jalan menuju arah tahta singgasana mereka dengan cara menghimpun kekuatan baru dari orang-orang yang dengan suka rela sujud mengabdi kepada mereka.

Dan kekuatan mereka saat itu telah mulai merembes memasuki wilayah Kotaraja Rakata. Sebuah kerajaan tua yang saat itu masih dibawah kekuasaan kerajaan Kawali yang berdaulat penuh di tanah Pasundan.

*****

Sementara itu di sebuah pagi, terlihat Gajahmada dan Pangeran Jayanagara telah berada di sekitar kaki gunung Guntur.

“Ladang kebun jagung itu nampak begitu subur”, berkata Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara ketika mereka telah berada di sebuah ladang kebun jagung.

“Pasti pemiliknya adalah pemilik rumah mungil itu”, berkata Pangeran Jayanagara sambil menunjuk ke arah sebuah rumah panggung yang mungil ditengah ladang kebun jagung itu.

“Mari kita temui pemilik ladang kebun jagung ini, siapa tahu mereka bermurah hati memberi kita beberapa buah jagung rebus”, berkata Gajahmada.

Terlihat mereka berdua tengah mendekati rumah panggung mungil itu.

Namun ketika mereka telah melangkah memasuki tanah pekarangan rumah itu, mereka berdua menjadi sangat terkejut melihat dua mayat tergeletak di tanah pekarangan.

“Nampaknya mereka mati dalam sebuah pertempuran”, berkata Pangeran Jayanagara ketika melihat pedang ditangan masing-masing mayat itu.

“Tidak ada tanda bekas luka sedikit pun di tubuh mereka”, berkata Gajahmada sambil menilik keadaan kedua mayat itu.

Namun ketika mereka menilik lebih dalam lagi, bukan main terkejutnya hati mereka.

“Mereka telah diserang dengan sebuah ajian ilmu Muncang Kuning secara terbalik”, berkata Gajahmada merasa yakin dengan apa yang dilihat dari tanda-tanda yang ada di kedua mayat itu.

“Sama seperti yang pernah di katakan oleh Eyang Prabu Guru Darmasiksa”, berkata Pangeran Jayanagara.

“Yang pasti pelakunya adalah orang yang kita cari selama ini”, berkata Gajahmada penuh keyakinan.

“Mari kita sempurnakan kedua mayat ini”, berkata Pangeran Jayanagara.

Terlihat Gajahmada dan Pangeran Jayanagara tengah membuat dua buah lubang galian untuk mengubur kedua mayat itu yang mereka yakini adalah pemilik rumah panggung mungil itu. “Orang yang kita cari telah menuntaskan laku ajian Muncang kuning”, berkata Gajahmada ketika mereka berdua telah menguburkan kedua mayat itu di pekarangan rumah mereka sendiri. ”Kita harus mempelajari ajian Muncang Kuning dengan cara terbalik, hanya itu yang dapat kita lakukan untuk menghadapinya bila kita bertemu muka”, berkata kembali Gajahmada.

“Eyang Prabu Guru Darmasiksa mengatakan bahwa ajian ilmu itu akan menjadi sebuah ajian ilmu hitam yang sangat keji”, berkata Pangeran Jayanagara.

“Hitam dan putih tergantung bagaimana kita mempergunakannya. Hitam dan putih tergantung siapa dan untuk apa digunakan ilmu itu. Apakah untuk jalan kebaikan atau untuk jalan keburukan”, berkata Gajahmada.

“Aku sependapat denganmu, Mahesa Muksa”, berkata Pangeran Jayanagara.

Demikianlah, mereka akhirnya sepakat untuk tinggal beberapa hari di rumah kosong itu untuk mempelajari dan mengenal ajian ilmu Muncang Kuning dengan cara berbeda, dengan cara terbalik.

Tidak ada kesukaran bagi mereka berdua mempelajari ajian Muncang Kuning itu dengan cara berbeda dan terbalik dari apa yang pernah mereka pelajari dari Prabu Guru Darmasiksa.

“Arah jalan kita tidak berselisih jauh dengan orang yang kita cari”, berkata Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara di suatu hari setelah mereka telah merasa yakin dapat mempelajari ajian Muncang Kuning dengan cara berbeda di rumah kosong tanpa penghuni itu.

Demikianlah, matahari pagi terlihat bersinar terang di kaki Gunung Guntur manakala Gajahmada  dan Pangeran Jayanagara telah melangkahkan kakinya keluar dari pekarangan rumah itu. Meninggalkan dua buah makam di pekarangan rumah itu yang terbujur sepi, sesepi dan sesunyi rumah dan ladang kebun jagung itu yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya untuk selamalamanya.

Dan hari demi hari pun telah berlalu dalam langkah kaki dua pengembara muda, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara. Bukit gunung tinggi, tanah lembah dan hutan belantara telah mereka lewati. Hingga di sebuah senja terlihat mereka telah mendekati sebuah padukuhan kecil yang sunyi di ujung sebuah lembah hijau. Tanah ladang dan persawahan terlihat tumbuh subur mengelilingi padukuhan itu. Gili-gili air terlihat sangat terawat mengaliri persawahan mereka sebagai tanda kebersamaan dan kegotong-royongan para penduduk padukuhan itu sudah tumbuh dalam kehidupan mereka.

“Mungkin pemilik rumah itu tengah mengalami sebuah musibah”, berkata Gajahmada ketika melihat beberapa warga padukuhan itu berkerumun di muka sebuah rumah.

Terlihat kedua orang muda itu telah mendekati rumah penduduk yang sudah dipenuhi beberapa warganya.

“Musibah apa gerangan yang tengah menimpa pemilik rumah ini ?”, berkata Pangeran Jayanagara dengan kepada salah seorang diantara para warga yang ada di muka rumah itu.

Terlihat orang yang ditanya itu menilik penuh perhatian kepada mereka berdua.

“Nampaknya kalian berdua bukan orang padukuhan ini”, berkata orang itu sambil memperhatikan Gajahmada dan Pangeran Jayanagara.

“Benar, kami adalah pengembara yang kebetulan lewat di Padukuhan ini”, berkata Pangeran Jayanagara.

“Apa yang terjadi dengan pemilik rumah ini?”, bertanya kembali Gajahmada kepada orang itu.

“Dua anak gadis mereka telah dirampas paksa oleh orang tidak dikenal, baru hari ini dilepaskan kembali”, berkata orang itu

“Apakah tidak ada yang dapat menghalangi perbuatan mereka?”, bertanya Pangeran Jayanagara.

“Beberapa orang padukuhan ini telah mereka lumpuhkan”, berkata orang itu. ”Aku orang yang ikut mengeroyok mereka berdua, namun kami tidak dapat berbuat banyak, mereka berdua bukan tandingan kami”, berkata orang itu sambil memperlihatkan pinggangnya yang biru terkena pukulan dua orang yang dikatakan berilmu sangat tinggi itu.

Orang padukuhan itu juga bercerita tentang beberapa ciri dari dua orang tidak dikenal.

“Pendeta Rakanata dan Patih Anggajaya?”, berkata Gajahmada dalam hati memastikan ciri-ciri yang sama tentang kedua orang tidak dikenal itu, Namun Gajahmada tidak mengatakan apapun.

“Salah seorang dari kedua orang itu memperkenalkan diri sebagai utusan dari langit untuk menjaga tanah Pasundan”, berkata kembali orang itu setelah bercerita banyak mengenai ciri-ciri dua orang tidak dikenal itu.

“Hari ini kami kemalaman, dapatkah ditunjukkan kepada kami dimana letak banjar desa?”, berkata Pangeran Jayanagara setelah merasa cukup mendengar keterangan orang itu. Orang itu pun menunjukkan kepada mereka berdua letak banjar desa di padukuhan itu.

Terlihat Gajahmada dan Pangeran Jayanagara telah keluar dari pekarangan pemilik rumah yang terkena musibah itu. Mereka berdua nampaknya tengah menuju banjar desa untuk bermalam di padukuhan itu.

Ditengah perjalanan mereka, Gajahmada bercerita kepada Pangeran Jayanagara tentang ciri-ciri orang tidak dikenal itu dengan Patih Anggajaya dan pendeta Rakanata.

“Aku memastikan diri bahwa kedua orang itu pastilah Patih Anggajaya dan Pendeta Rakanata, mereka berdua juga yang telah membunuh sepasang suami istri di kaki Gunung Guntur”, berkata Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara.

“Kita harus bertanya kemana arah perjalanan mereka kepada penduduk Padukuhan ini”

Akhirnya mereka berdua telah menemukan banjar desa di padukuhan itu.

Seorang penjaga banjar desa cukup lama menemani mereka berdua, bercerita juga tentang kehadiran dua orang tidak dikenal yang berilmu tinggi telah membawa pergi dua orang anak gadis.

“Mereka berdua berjalan kearah barat Padukuhan ini”, berkata penjaga Banjar desa itu.

Dan malam pun terus berlalu, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara telah bermalam di banjar desa Padukuhan itu. Angin malam berhembus dingin, dan malam berlalu dalam sepi.

Gajahmada dan Pangeran Jayanagara secara bergantian beristirahat di banjar desa itu. Akhirnya sang pagi datang juga.

“Kebetulan kami punya ketela pohon yang baru di cabut”, berkata penjaga banjar desa itu yang datang menemui mereka berdua.

“Terima kasih”, berkata Pangeran Jayanagara kepada orang itu.

Dan manakala warna bumi sudah terang tanah, terlihat Gajahmada dan Pangeran Jayanagara telah meninggalkan padukuhan itu. Arah perjalanan mereka terlihat menuju ke arah barat membelakangi matahari pagi.

Demikianlah, hari ke hari terus berlalu. Kedua anak muda itu masih terus mengembara menapaki bumi Pasundan dan semakin mengenal sifat dan sikap orangorang pasundan yang mereka temui.

“Seperti orang-orang pedalaman Majapahit, orangorang Pasundan di pedalaman juga sangat kuat kepercayaannya kepada ajaran nenek moyang mereka”, berkata Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara dalam sebuah perjalanan mereka.

“Benar, pemahaman mereka tentang para dewa bercampur baur dengan ajaran leluhur mereka. Agama kerajaan nampaknya belum dapat murni memasuki kehidupan mereka”, berkata Pangeran Jayanagara.

Demikianlah, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara telah mengembara cukup jauh masuk ke pedalaman bumi Pasundan, mengenal dan memahami adat istiadat orang-orang Pasundan pada umumnya. Hingga pada suatu hari mereka telah memasuki sebuah wilayah kademangan yang sangat ramai di jaman itu. Sebuah Kademangan yang berada di sekitar perbukitan Gunung Gede dan Gunung Pangrango, sebuah daerah yang sangat hijau dan subur. Kademangan Cibadak, begitulah nama Kademangan besar dan ramai itu.

Namun mereka nampaknya berada di Kademangan itu di hari yang salah. Mereka berdua telah melihat beberapa rumah besar telah terbakar, terlihat sebuah keluarga tengah duduk termenung di depan rumah mereka yang telah hangus terbakar.

“Sebuah gerombolan besar telah merampok habis beberapa rumah di Kademangan ini”, berkata seorang lelaki kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara yang datang menghampirinya.

“Kami hanya pengembara, ikut berduka atas musibah yang tengah dialami penduduk Kademangan ini”, berkata Pangeran Jayanagara kepada lelaki itu.

“Lumbung kami semua mereka rampas, juga harta benda yang kami miliki”, berkata kembali lelaki itu.

“Ambil dan pergunakanlah untuk kalian”, berkata Pangeran Jayanagara sambil memberikan beberapa keping uang logam miliknya.

“Kalian dua orang pengembara yang budiman, bagaimana kami dapat membalasnya ?”, berkata lelaki itu penuh rasa terima kasih.

“Apakah gerombolan perampok itu sudah sering melakukan hal yang sama di Kademangan ini ?”, bertanya Gajahmada.

“Selama hidupku di Kademangan ini baru kali ini mendapat peristiwa perampokan ini”, berkata lelaki itu.

“Berapa kira-kira jumlah gerombolan perampok itu?”, bertanya Pangeran Jayanagara. “Kami sempat diikat dan dikumpulkan di halaman muka rumah Ki Demang, jumlah mereka cukup banyak terdiri dari orang-orang kasar yang sangat kejam. Mungkin ada sekitar seratus orang”, berkata lelaki itu mencoba mengingat kembali kejadian perampokan di kademangan mereka.

“Sebuah jumlah yang cukup besar untuk berbuat keonaran dimanapun mereka pergi”, berkata Gajahmada mengukur kekuatan jumlah mereka.

“Mereka mempunyai dua orang pemimpin yang nampaknya sangat ditakuti”, berkata lelaki itu sambil memberikan beberapa ciri dari kedua orang yang dikatakan sebagai dua orang pemimpin gerombolan itu.

Gajahmada dan Pangeran Jayanagara terlihat penuh perhatian mendengar penuturan lelaki itu, dan telah memastikan bahwa dua orang pemimpin gerombolan itu adalah dua orang yang mereka cari selama ini.

“Kemana arah yang ditempuh para gerombolan itu”, berkata Pangeran Jayanagara kepada lelaki itu.

“Mereka pergi ke arah barat matahari”, berkata lelaki itu. Akhirnya Gajahmada dan Pangeran Jayanagara telah memutuskan di siang itu untuk melanjutkan perjalanan mereka keluar dari Kademangan itu.

Demikianlah, mereka berjalan menuju ke arah barat matahari. Berjalan menyusuri lembah dan pegunungan hijau. Hingga di sebuah perjalanan melihat kebawah jurang dua buah sungai besar bersatu. Begitu besar dan panjang sungai itu mirip seekor naga besar yang tengah berjalan berliku terlihat dari atas puncak bukit perjalanan mereka berdua.

“Sungai yang Kisanak berdua lihat itu adalah sungai Cisadane, ujungnya bermuara di kotaraja Rakata”, berkata seorang pedagang bersama rombongannya  yang kebetulan berjalan beriringan dengan mereka menuju arah yang sama.

“Nampaknya tuan sering sekali ke Kotaraja Rakata”, bertanya Gajahmada kepada pedagang itu.

“Dulu aku sering ke Kotaraja Rakata membawa beberapa barang dagangan, pulangnya aku membeli beberapa kerajinan perak untuk kujual kembali di beberapa tempat. Namun akhir-akhir ini jalan menuju Kotaraja Rakata sudah tidak seaman dulu”, berkata pedagang itu.

Akhirnya, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara bersama rombongan para pedagang itu telah berada di muka hutan Rumpin, sebuah tempat yang akhir-akhir ini sangat ditakuti oleh para pedagang yang melewati hutan itu.

“Kita akan memasuki sebuah kawasan Hutan Rumpin, mudah-mudahan tidak ada gangguan apapun”, berkata pedagang itu kepada kedua anak muda itu yang menganggap hanya sebagai pengembara biasa.

Ketika mereka mulai memasuki kawasan hutan Rumpin, para pedagang merasa lega karena tidak ada tanda-tanda munculnya para perampok.

Tidak ada hal yang menarik ketika memasuki hutan lebat itu, sebagaimana hutan lainnya yang dipenuhi batang pohon besar berlumut dan penuh tanaman merambat disekitarnya. Ada jalan setapak, sebuah jalan yang terlihat sering dilalui baik oleh para pedagang maupun para pemburu serta orang-orang disekitarnya yang kadang memerlukan bahan kayu dan bahan tanaman obat yang hanya ada di hutan Rumpin ini. Namun ketika mereka telah mulai memasuki kawasan hutan Rumpin lebih dalam lagi, panggraita Gajahmada yang sangat tajam itu mulai dapat merasakan sebuah kejanggalan.

“Berhati-hatilah”, berbisik Gajahmada kepada pangeran Jayanagara.

Ternyata panggraita Gajahmada sangat dapat diandalkan, pendengarannya yang cukup tajam sudah dapat menangkap sesuatu yang mencurigakan di depan mereka.

Benar saja, didepan mereka ternyata sebuah gerombolan tengah menanti iring-iringan pedagang itu.

“Berhenti !!!

Berkata seorang diantara mereka dengan suara membentak, nampaknya salah seorang pemimpin mereka.

Mendengar suara bentakan kasar itu para pedagang terlihat menjadi kecut hatinya meskipun diantara mereka telah membawa pengawal pribadi yang biasa menghadapi para begundal di pasar-pasar yang mereka singgahi. Sementara para pedagang sendiri juga telah membekali dirinya mengenal kanuragan untuk menjaga dirinya sendiri dari setiap ancaman yang muncul dalam perjalanan mereka.

Namun jumlah gerombolan yang  tengah menghadang mereka nampaknya cukup banyak telah membuat hati para pedagang itu sedikit menciut.

“Apa yang kalian inginkan dari kami?”, berkata Gajahmada menghampiri orang yang membentak itu.

Beberapa pedagang merasa terwakili dengan Gajahmada yang mereka anggap tidak ada rasa takut sedikit pun menghadapi gerombolan itu, namun kekhawatiran mereka belum juga menghilang menanti penuh dengan kecemasan.

Sementara itu orang yang ditanya oleh Gajahmada terlihat merasa heran bahwa yang datang mewakili para pedagang itu hanya seorang anak muda.

“Kami hanya perlu setengah dari apa yang kalian bawa, kami tidak merampok kalian. Tapi semuanya untuk sebuah perjuangan utusan langit calon penguasa baru bumi Pasundan”, berkata orang itu dengan suara keras seperti ingin menunjukkan kekuasaannya.

Mendengar ucapan orang itu telah membuat hati Gajahmada sangat tertarik, terutama mengenai sebuah perjuangan sang utusan langit calon penguasa baru bumi Pasundan itu.

“Kami belum mengenal siapa utusan langit yang kalian maksudkan”, berkata Gajahmada.

“Kamu terlalu banyak bertanya, serahkan setengah dari apa yang kalian bawa, dan kami akan membiarkan kepala kalian masih melekat dengan selamat”, berkata orang itu sudah mulai merasa kesal.

“Sayangnya orang tuaku hanya memberiku bekal cambuk ini, mungkin kalian ingin memilikinya dan mempergunakannya sebagaimana aku”, berkata Gajahmada sambil melepas cambuk yang melilit di pinggangnya dan tanpa berkata apapun telah menghentakkan cambuk pendek di tangannya itu dengan sebuah gerakan sendal pancing.

Terlihat seleret warna kuning seperti lidah api keluar dari ujung cambuk Gajahmada

Geledarrr…!!! Terdengar suara ledakan keras memekakkan telinga di hutan itu.

Ternyata Gajahmada telah mengerahkan ajian Muncang Kuning lewat ujung cambuknya diarahkan ke sebuah batang pohon yang berdiri di pinggir sebuah jurang di hutan itu.

Seketika batang pohon besar itu terbakar hangus dan roboh jatuh kebawah jurang sungai Cisadane yang curam itu. Orang itu dan semua pengikutnya seperti orang bodoh tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.

Sementara rombongan para pedagang ikut merasa terkesima dengan pertunjukan maut Gajahmada, seorang anak muda biasa yang mereka kira hanya seorang pengembara biasa. Ada sedikit berkurang rasa gentar dan takut mereka karena telah merasa di belakang Gajahmada yang berilmu tinggi itu dapat melindungi mereka.

“Dengarlah, seorang kawanku dapat melakukan hal yang sama dengan diriku”, berkata Gajahmada sambil menunjuk kearah Pangeran Jayanagara yang juga melilitkan cambuk di pinggangnya.

Semua orang terlihat memandang kearah seorang anak muda yang berdiri sedikit di belakang Gajahmada, mereka memang melihat lingkaran cambuk sebagaimana mana Gajahmada melilit di pinggang anak muda itu.

Melihat semua orang tengah memandangnya, maka Pangeran Jayanagara yang mengetahui apa yang diinginkan dari Gajahmada terlihat bertolak pinggang layaknya seorang jago kelas satu.

“Terpaksa kulakukan untuk melengkapi bualanmu, Mahesa Muksa”, berkata Pangeran Jayanagara dalam hati sambil menahan senyumnya masih menunjukkan sikap jagoan kelas satu.

“Jumlah kalian sekitar dua puluh orang, lebih sedikit dari jumlah kami, Sementara itu bersama kami ada empat orang dapat melakukan lebih hebat dari apa yang telah kuperlihatkan kepada kalian”, berkata Gajahmada tanpa menunjukkan siapa empat orang pedagang yang dimaksudkannya itu.

Terlihat beberapa pedagang saling mencari siapa gerangan empat orang yang dimaksudkan oleh anak muda itu.

Ternyata Gajahmada hanya sekedar membual, asal mengucap untuk membuat keder dan jerih para gerombolan itu.

Namun ulah Gajahmada memang berdampak, para gerombolan itu sudah merasa kecut hatinya melihat sendiri kedahsyatan ilmu yang dimiliki oleh Gajahmada. Nampaknya mereka juga telah berhitung bahwa bersama Gajahmada ada seorang anak muda lain yang memiliki kemampuan yang sama, ditambah empat orang lagi yang lebih hebat dari anak muda itu.

“Bayangkan bahwa cambukku ini ditujukan ke arah tubuh kalian”, berkata kembali Gajahmada sambil menggerakkan ujung cambuknya sendiri.

“Silahkan kalian lewat, kami tidak  akan mengganggu”, berkata langsung pemimpin gerombolan itu telah membayangkan ujung cambuk anak muda itu ditujukan langsung ke dirinya.

Mendengar ucapan dari pemimpin gerombolan itu, terlihat Gajahmada tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan telah memberi tanda kepada para pedagang untuk melanjutkan perjalanan mereka.

Terlihat para pedagang segera berkemas kembali membawa dagangan mereka untuk segera meninggalkan daerah itu.

“Beruntung bahwa kalian berjalan bersama kami”, berkata seorang pedagang kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara ketika mereka telah mulai  jauh dari tempat dimana gerombolan perampok itu mencegat mereka.

“Aku hanya bisa membual, bersyukurlah bahwa mereka termakan bualanku ini”, berkata Gajahmada sambil tersenyum.

“Aku melihat anak muda tidak sedang membual, aku melihat sendiri bagaimana sebuah pohon besar menjadi hangus terbakar dan tumbang”, berkata pedagang itu sambil terus berjalan.

“Lupakanlah apa yang kamu lihat, kami hanya pengembara biasa”, berkata Gajahmada berharap pedagang itu tidak melanjutkan pujian lagi kepada dirinya.

Nampaknya pedagang itu tahu diri, merasa berhadapan dengan orang sakti yang sangat rendah hati tidak ingin dipuji. Maka akhirnya pedagang itu sambil berjalan telah mengalihkan arah pembicaraan mereka.

“Nampaknya mereka memang tengah menggalang sebuah biaya besar bagi sebuah perjuangan”, berkata pedagang itu mengalihkan arah pembicaraan.

“Untuk kedua kalinya aku mendengar tentang utusan langit calon penguasa bumi Pasundan itu”, berkata Gajahmada menanggapi pembicaraan pedagang itu. “Dimana kalian mendengar tentang utusan langit itu?”, bertanya Pedagang itu kepada Gajahmada.

“Dari warga sebuah Kademangan besar di perbukitan Gunung Gede dan Gunung Pangrango, mereka telah merampas habis harta benda di Kademangan itu”, berkata Gajahmada kepada pedagang itu.

“Kami akan mengurungkan untuk melakukan perjalanan jauh, pasti di semua tempat saat ini sudah mulai tidak aman lagi”, berkata pedagang itu sambil menarik nafas panjang.

Sementara itu tidak terasa mereka telah keluar dari kawasan hutan Rumpin, dan tengah menyusuri jalan setapak menurun tajam.

Ternyata mereka berjalan menuju kearah sebuah sungai besar, sungai Cisadane.

“Kita telah sampai di Pangkalan Jati”, berkata pedagang itu ketika mereka telah sampai di pinggir sungai Cisadane dimana terlihat banyak perahu kayu sandar di dermaga kayu.

Nampaknya beberapa pemilik perahu itu sudah sangat mengenal para pedagang yang baru tiba itu, mereka saling bertanya tentang keadaan dan keselamatan masing-masing.

“Perahu kayu ini akan membawa kita ke Kotaraja Rakata”, berkata pedagang itu menjelaskan kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara. “Sungai Cisadane ini bermuara di sebuah daratan besar di bawah kaki Gunung berapi Rakata, disitulah letak kerajaan Rakata berdiri”, berkata kembali pedagang itu.

Mendengar penjelasan pedagang itu, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara merasa sangat senang hatinya, perjalanan mereka ke Kotaraja Rakata begitu mudah.

Maka tanpa banyak pertimbangan, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara sudah langsung naik salah satu perahu dari tiga perahu yang berangkat bersama-sama membawa para pedagang dan barang dagangan mereka.

Dan senja terlihat begitu bening menyapu pemandangan alam yang terlewati dari atas sebuah perahu kayu yang hanyut menyusuri sungai Cisadane yang berkelok kelok, kadang mereka melewati sebuah hutan lebat, namun mereka juga telah melewati hamparan pesawahan dikiri kanan sungai besar itu.

Di dalam perjalanan menyusuri sungai Cisadane itu, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara tidak banyak bercakap-cakap terutama tentang tujuan perjalanan mereka sendiri, nampaknya kedua anak muda itu tidak ingin tujuan perjalanan mereka diketahui oleh siapapun. 

Namun nampaknya kedua anak muda itu telah berpikir sama, terutama tentang utusan langit calon penguasa baru Bumi pasundan itu. Mereka merasa yakin bahwa dua orang yang mereka cari itu ada kaitannya dengan peristiwa keresahan penduduk desa, perampokan dan para gerombolan yang mereka temui di hutan Rumpin itu.

“Nampaknya Patih Anggajaya dan Pendeta Rakanata tengah menggalang sebuah kekuatan besar melanjutkan ambisi besar mereka yang gagal di Kotaraja Kawali”, berkata Gajahmada dalam hati.

Sementara itu senja terlihat mulai pudar, gelap malam sudah mulai menghalangi pemandangan diatas sungai Cisadane itu. Semalaman perahu kayu itu berlayar mengarungi Sungai Cisadane menembus kegelapan diatas air sungai yang mengalir tenang di awal musim kemarau itu.

Hingga akhirnya langit malam mulai berubah warna kemerahan sebagai tanda ujung malam akan segera berganti. Dari jauh terlihat kerlap kerlip pelita malam rumah-rumah penduduk seperti tebaran bintang diatas gundukan dataran bumi di kegelapan pagi.

Dan cahaya pagi pun terlihat semakin terang, terlihat hutan bakau di sisi sungai Cisadane yang sudah mendekati muara Rakata.

“Pagi yang indah”, berkata Pangeran Jayanagara sambil memandang beberapa bangau bluwok yang terbang rendah di hutan bakau.

Akhirnya perahu kayu terlihat menepi di sebuah dermaga di ujung muara Rakata. Satu dua buah perahu besar terlihat telah bersandar bersama sampan para nelayan.

Bandar pelabuhan Rakata, sebuah bandar pelabuhan tua di pagi itu terlihat ramai dipenuhi para buruh angkut membawa berbagai barang para pedagang yang singgah di bandar pelabuhan itu.

Konon bandar pelabuhan itu pernah disinggahi perahu dagang dari berbagai nagari di dunia di masa kejayaan Kerajaan Rakata. Namun Kerajaan Rakata semakin lama menjadi semakin suram manakala telah ditaklukkan oleh para prajurit Tanah Pasundan. Ditambah semakin maraknya para bajak laut menguasai perairan sekitar selat sunda semakin membuat para pedagang berpikir ulang untuk singgah di bandar pelabuhan tua itu.

“Apakah kalian berdua punya sanak keluarga di Kotaraja ini?”, berkata seorang pedagang kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara.

“Kami hanya pengembara, biarlah langkah kaki kami yang akan membawa diri ini singgah di manapun yang kami inginkan”, berkata Pangeran Jayanagara sambil mengucapkan rasa terima kasih telah mendapatkan tumpangan hingga sampai di bandar pelabuhan Rakata.

“Kamilah yang harusnya berterima kasih, tanpa kehadiran kalian berdua, mungkin kami hanya membawa sedikit barang dagangan di Kotaraja ini”, berkata pedagang itu kepada kedua anak muda itu.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Pangeran Jayanagara, seperti seorang pengembara lainnya, mereka berdua terlihat tengah menyusuri tepian pantai menikmati suasana pagi yang cerah. Terlihat di sebelah kanan mereka, jauh menjulang tinggi sebuah gunung biru. Itulah gunung berapi Rakata yang puncaknya jauh tinggi seperti menyentuh langit. Kotaraja Rakata adalah perpaduan antara pantai dan tanah perbukitan dan hutan hijau yang cukup lebat, dibawah kaki gunung Rakata itulah Kotaraja ini berdiri sebagai Kotaraja tua.

“Mari kita memasuki Kotaraja Rakata”, berkata Pangeran Jayanagara kepada Gajahmada.

Dan mereka telah memasuki keramaian jalan Kotaraja Rakata. Terlihat beberapa wanita tua dan muda tengah menjunjung bakul diatas kepala sambil bercanda.

Orang ujung kulon, begitulah penduduk asli Kotaraja membahasakan diri mereka sendiri. Memang bahwa adat istiadat maupun bahasa mereka sangat berbeda dengan orang-orang Pasundan. Juga kulit serta wajah mereka terlihat lebih kasar dan lebih tinggi dibandingkan orang Pasundan pada umumnya. Konon mereka adalah keturunan seorang pendeta India yang terdampar di daratan ini yang akhirnya memutuskan diri untuk hidup dan tinggal di daratan ujung kulon ini. Itulah cikal bakal sebuah kerajaan tua, kerajaan Rakata hingga saat itu.

“Para wanita giat membawa barang hasil bumi mereka ke pasar, sementara kaum lelaki berkumpul di penyabungan ayam”, berkata Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara ketika mereka sudah berada di muka sebuah pasar yang ramai melihat beberapa kaum lelaki tengah meriung di penyabungan ayam.

“Pemaknaan wanita dalam kitab tatwa adalah siang dan malam bekerja untuk melayani kaum pria, seperti itulah pemahaman mereka”, berkata Pangeran Jayanagara.

“Setiap manusia terlahir dalam batasan pemahaman sendiri-sendiri, begitulah Pendeta Gunakara pernah menyampaikan kepadaku”, berkata Gajahmada yang teringat kepada Pendeta Gunakara, seorang penuntun jiwanya yang membuka pemahaman kitab Tatwa kepada dirinya. “Berbahagialah manusia yang telah menemukan kepatuhan wanita di dalam dirinya sendiri”, berkata kembali Gajahmada.

“Mereka memang orang umum yang tidak ada waktu untuk memahami kitab Tatwa. Sementara seperti Pendeta Rakanata yang sudah hapal diluar kepala kitab Tatwa ternyata telah diperhambakan wanita di dalam dirinya sendiri, wanita dalam arti sang nafsu angkara”, berkata Pangeran Jayanagara kepada Gajahmada.

Tidak terasa langkah kaki mereka telah membawa mereka berdua ke tengah pasar di Kotaraja Rakata itu. Suasana pasar di pagi yang cerah itu terlihat sudah begitu ramai. “Kita cari makanan di kedai”, berkata Pangeran Jayanagara sambil menunjuk sebuah kedai yang ada di tengah pasar itu.

Kedai itu memang cukup ramai, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara langsung masuk dan memesan beberapa makanan dan minuman kepada seorang pelayan kedai itu.

“Kami punya minuman air manis tape beras hitam, kubawakan untuk kalian berdua”, berkata pelayan pria itu dengan penuh keramahan.

Mendengar penawaran dari pelayan pria itu, terlihat kedua anak muda itu saling berpandangan, karena yang mereka tahu air manis beras hitam untuk perjamuan didalam sebuah perayaan hari Galungan.

“Bawakan juga untuk kami”, berkata Gajahmada sambil tersenyum mengedipkan matanya kepada Pangeran Jayanagara agar tidak terlihat mereka berdua adalah orang baru di Kotaraja Rakata itu.

“Ternyata di Kotaraja Rakata, setiap hari orang merayakan hari Galungan”, berbisik Pangeran Jayanagara kepada Gajahmada setelah pelayan pria itu pergi meninggalkan mereka berdua.

Namun ketika mereka menikmati hidangan di kedai itu, terdengar suara teriakan di luar kedai.

“Awas…ada kerbau ngamuk !!!!

Terdengar suara dari luar kedai bersahutan dari beberapa orang.

Mendengar suara itu, sontak Gajahmada dan Pangeran Jayanagara bergerak keluar kedai.

Ketika mereka tiba di luar kedai, ternyata mereka memang melihat seekor kerbau jantan  tengah mengamuk di tengah pasar.

Terdengar suara jeritan lelaki dan perempuan di pasar itu manakala kerbau jantan itu menabrak dan menginjak habis barang dagangan mereka.

Terlihat kerbau jantan itu berlari berputar tanpa arah yang jelas dan tidak terduga-duga meluluh-lantakkan apapun yang ada di hadapannya. Beberapa orang tua muda, lelaki dan wanita di dalam pasar itu ikut berlari menjauhi kerbau gila itu.

Suasana pasar terlihat sudah menjadi begitu kacau berantakan porak poranda di terjang langkah kaki kerbau jantan itu, namun tidak seorang pun yang datang menghentikan ulah kerbau gila itu.

Dan entah apa yang dilihat oleh kerbau gila itu yang tiba-tiba saja telah berbalik badan berlari kencang kearah kedai dimana Gajahmada dan Pangeran Jayanagara memang masih berada di depan kedai itu.

Terlihat langkah kaki kerbau jantan itu berlari begitu cepat menerbangkan debu di atas tanah yang dilewatinya.

Dan kerbau jantan itu masih berlari semakin mendekati kedai itu, terdengar dengus dari moncong kerbau gila itu sambil meluruskan arah dua tanduk tajamnya kearah kedepan.

“Biarlah aku yang mengatasinya”,  berkata Gajahmada kepada Pangeran Jayanagara sambil pandangannya tidak bergeming sedikitpun dari kerbau gila yang masih berlari semakin mendekatinya.

Terlihat puluhan pandangan mata seperti menahan nafas penuh kekhawatiran melihat seekor kerbau jantan yang gila tengah berlari menuju kearah seorang anak muda.

“Bodoh sekali anak muda itu, masih ada waktu untuk berlari”, berkata seorang lelaki kepada kawannya menyesali sikap anak muda di depan kedai itu yang tidak berusaha lari menyelamatkan diri.

Sikap Gajahmada memang benar-benar membuat semua orang membodohinya, mengapa tidak berlari menyelamatkan diri dari kerbau gila yang tengah berlari ke arahnya itu.

Dan kerbau gila itu sudah semakin mendekat, terlihat debu beterbangan tergilas langkah kakinya mengepul tinggi, namun Gajahmada masih tetap tenang berdiri seperti tengah menunggu sebuah permainan biasa.

“Jangan-jangan anak muda itu ikut gila seperti kerbau gila itu”, berkata kembali seorang lelaki kepada kawannya.

Sementara kerbau gila itu telah begitu dekat di hadapan Gajahmada siap menerjang anak muda itu yang dengan penuh ketenangan seperti tengah menunggu terjangan itu datang menghampirinya.

Namun semua mata sontak terperanjat tidak percaya dengan apa yang mereka lihat sendiri.

Apa yang mereka saksikan?

Ternyata mereka melihat bahwa anak muda itu telah menangkap kedua tanduk kerbau gila itu. Seketika itu juga kerbau itu seperti tertahan tidak mampu maju sedikit pun.

Sebuah tontonan adu kekuatan yang luar biasa telah ditunjukkan oleh Gajahmada. Dan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu benar-benar merasa heran bahwa ada seorang pemuda mempunyai tenaga yang begitu hebat dapat menahan kekuatan seekor kerbau jantan yang sedang mengamuk.

Krakkk !!!!

Semua orang telah mendengar suara itu !!!

Ternyata suara itu berasal dari tulang leher kerbau gila itu yang telah dipatahkan dengan mudahnya oleh Gajahmada.

Terlihat seketika itu juga kerbau ganas itu roboh tergeletak diatas tanah sudah tidak bergerak sama  sekali, mati.

Semua orang yang menyaksikan kejadian itu telah datang menghampiri kerbau yang sudah mati itu untuk meyakinkan bahwa mata mereka memang tidak salah melihat.

Dalam waktu yang singkat sudah terlihat kerumunan orang banyak disekitar kerbau mati itu, dan semua orang menatap penuh kekaguman kearah Gajahmada.

Namun tiba-tiba saja seorang lelaki bertubuh tambur telah datang menerobos kerumunan orang-orang.

“Kamu harus mengganti kerbauku yang mati ini”, berkata lelaki bertubuh tambur itu sambil menuding wajah Gajahmada.

“Kerbau ini telah mengamuk membuat resah, bahkan telah mengancam selembar jiwaku”, berkata Gajahmada membela diri.

“Jangan membela diri, yang jelas kerbauku mati karena ulahmu”, berkata lelaki bertubuh tambur itu tidak mau kalah.

Semua orang yang tengah berkerumun itu merasa tidak senang hati dengan orang yang mengaku pemilik kerbau gila itu. Namun semua orang yang ada disitu sudah mengetahui siapa lelaki bertubuh tambur itu, nampaknya ada perasaan jerih bermasalah dengan lelaki itu.

“Kasihan anak muda ini”, berkata salah seorang diantara mereka dalam hati masih tidak bergeser dari tempatnya ingin mengetahui kelanjutan masalah kerbau gila yang sudah tidak bergerak lagi itu.

Demikianlah, hampir semua orang yang ada di kerumunan itu membela Gajahmada. Namun mereka tidak berani buka suara sedikitpun, takut dirinya menjadi ikut terbawa-bawa.

“Kerbau gila itu memang sudah sewajarnya harus dibunuh”, berkata tiba-tiba seseorang diantara kerumunan itu.

Semua orang telah langsung menoleh kearah pemilik suara itu. Ternyata pemilik suara itu berasal dari seorang prajurit yang sudah banyak dikenal di pasar itu, seorang prajurit Rakata yang memang bertugas mengamankan pasar.

“Siapa yang akan mengganti kerugianku?”, berkata lelaki bertubuh tambur itu kepada prajurit itu.

“Sudah syukur orang sepasar ini tidak menuntut kerugian atas ulah kerbau gilamu, apakah kamu mau kupanggil semua orang di pasar ini untuk beramai-ramai menuntut ganti rugi kepadamu?”, berkata prajurit itu dengan nada mengancam.

Mendengar ancaman prajurit itu yang nampaknya tidak main-main itu telah membuat lelaki tambur itu seperti salah tingkah. “Ini adalah urusanku dengan anak muda ini”, berkata lelaki tambur itu masih ingin mencoba keluar dari urusan ganti rugi banyak orang akibat ulah kerbaunya.

“Urusan ini menyangkut urusanku pula, karena anak muda ini adalah anak kemenakanku”, berkata prajurit itu kepada lelaki bertubuh tambur itu.

Mendengar bahwa prajurit itu telah mengaku-ngaku dirinya sebagai anak kemenakannya, Gajahmada terlihat hanya tersenyum dalam hati mengetahui maksud prajurit itu pasti baik, untuk membelanya.

Sementara itu lelaki bertubuh tambur itu terlihat sudah tidak dapat lagi memperpanjang urusan itu, nampaknya sungkan berurusan dengan prajurit itu. Maka dengan wajah masam telah dengan begitu saja pergi meninggalkan kerumunan orang banyak.

“Tolong bantu aku untuk menyingkirkan bangkai kerbau ini”, berkata Prajurit itu kepada beberapa orang yang dikenalnya.

Gajahmada yang merasa telah dibela oleh Prajurit itu terlihat ikut membantu beberapa orang membawa kerbau mati itu ke sebuah tempat di luar pasar, jauh dari hiruk pikuk lalu lalang banyak orang.

“Mengapa paman membelaku dengan mengatakan aku ini kemenakan paman?”, bertanya Gajahmada kepada prajurit itu setelah mereka bersama telah menyingkirkan bangkai kerbau gila itu.

“Bila tidak berkata seperti itu, juragan Maruhut pasti akan menyusahkan dirimu”, berkata prajurit itu sambil tersenyum memandang kearah Gajahmada.

“Terima kasih telah membelaku”, berkata Gajahmada telah mengerti mengapa prajurit itu mengakunya sebagai kemenakannya.

“Nampaknya kalian berdua adalah para pengembara”, berkata prajurit itu kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara.

“Namaku Mahesa Muksa, dan ini kawanku Kelana Jaya”, berkata Gajahmada memperkenalkan dirinya dan Pangeran Jayanagara dengan nama yang lain.

Terlihat Pangeran Jayanagara tidak mempermasalahkan nama yang disebut oleh Gajahmada untuknya.

“Orang-orang disini memanggilku dengan sebutan Ki Lurah Jangkung”, berkata prajurit setengah baya itu yang memang bertubuh cukup tinggi dibandingkan orangorang pada umumnya.

“Kami berdua memang para pengembara, kebetulan langkah kaki kami telah membawa kami di tempat ini”, berkata Pangeran Jayanagara kepada Ki Lurah Jangkung.

Mendengar perkataan kedua anak muda yang santun ini, telah membuat hati Ki Lurah Jangkung menaruh rasa suka kepada keduanya.

“Kalian masih sangat muda, tidakkah terpikir oleh kalian untuk menetap di pulau api ini. Kebetulan sekali bahwa Kerajaan Rakata saat ini memerlukan banyak tenaga muda seperti kalian untuk dijadikan sebagai seorang prajurit”, berkata Ki Lurah Jangkung kepada kedua anak muda itu.

“Menjadi seorang prajurit?”, berkata Gajahmada menoleh kearah Pangeran Jayanagara seperti meminta pertimbangan kepada sahabatnya itu.

“Belum lama ini kami memang telah memutuskan untuk berhenti menjadi seorang pengembara, namun kami belum tahu apa yang dapat kami lakukan”, berkata Pangeran Jayanagara mencoba mengarang sebuah cerita.
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Dua Naga Di Pasundan Jilid 16"

Post a Comment

close