coba

Kisah Dua Naga Di Pasundan Jilid 13

Mode Malam
MATAHARI pagi bersinar menerangi pekarangan rumah Ki Bekel yang cukup luas itu dimana saat itu terlihat beberapa warga tengah membangun sebuah terob sederhana untuk sekedar menjaga para tawanan tidak terjemur matahari di siang hari.

“Semoga Pangeran Citraganda cepat sampai di Istana Kawali”, berkata Gajahmada kepada Putu Risang di pendapa rumah Ki Bekel.

“Dengan berkuda pasti akan lebih cepat sampai”, berkata Pangeran Jayanagara.

“Pangeran Citraganda akan melaporkan ke Ayahandanya tentang keadaan pasukan kecil kita ini”, berkata Putu Risang.

“Kita menunggu sikap Raja Ragasuci, apakah langsung menyergap pasukan Rakata yang nampaknya sudah menyusut perbekalan pangannya”, berkata Gajahmada.

Sementara itu, di pekarangan terlihat beberapa orang biksu tengah merawat orang-orang Rakata yang terluka parah. Beberapa orang biksu lagi tetap bersiaga menjaga para tawanan lain.

“Mereka bukan hanya dilatih menggunakan berbagai senjata, tapi nampaknya juga telah diberikan banyak pemahaman tentang pengobatan”, berkata Putu Risang sambil memperhatikan suasana keadaan di pekarangan rumah Ki Bekel.

Ketika panas matahari sudah mulai menyengat, untunglah terob sederhana yang dibangun warga padukuhan itu telah selesai.

“Kasihan orang-orang Rakata itu, seandainya kemenangan berada di pihak mereka, aku menyangsikan apakah mereka akan memetik hasil kemenangan itu”, berkata Gajahmada sambil melihat beberapa orang yang terluka parah tengah dibawa ke terob yang sudah berdiri. 

“Dimanapun nasib wong cilik selalu sama, hanya sebagai sapi perahan para pembesar yang tengah berjudi di dunia impian mereka sendiri. Kemenangan tidak akan merubah diri mereka sebagai prajurit, dalam keadaan perang mereka harus berpeluh, berdarah-darah bahkan harus kehilangan jiwa, sementara bila datang saat keadaan damai, mereka hanya para penunggu ransum di barak masing-masing”, berkata Putu Risang berbicara tentang seorang prajurit.

Terlihat Gajahmada melirik kearah Pangeran Jayanagara, sementara itu Pangeran Jayanagara menangkap pandangan matanya itu.

“Jangan kamu katakan bahwa aku pun kelak akan menjadi seorang pembesar dan penguasa seperti itu, menyuruh laskar prajurit ke penjuru dunia untuk meluaskan daerah kekuasaan, sedang aku duduk di singgasana indah berpesta pora hanya untuk kesenangan diri sendiri. Kupastikan diriku akan mengingat semua jasa-jasa yang telah mereka korbankan. Senang susah aku akan berada bersama prajuritku”, berkata Pangeran Jayanagara seperti merasa malu dan mencoba membaca apa yang ada dalam pikiran Gajahmada dengan lirikannya itu.

“Aku akan merasa bangga menjadi prajuritmu, wahai sang putra Mahkota Majapahit”, berkata Gajahmada sambil mengusungkan dadanya merasa terharu mendengar ucapan dan janji Pangeran Jayanagara itu.

Sementara itu Putu Risang tidak berkata apapun, di dalam pikirannya telah bergayut berbagai suasana perang yang pernah di saksikan langsung dengan mata dan kepalanya sendiri. Terbayang wajah seorang prajurit yang mengerang menahan rasa sakit yang sangat manakala sebuah pedang telah merobek perutnya dengan darah yang mengalir deras membasahi tanah.

“Perang dan kekuasaan ibarat sahabat sejati. Bila saatnya datang aku akan keluar dari semua ini, hidup damai jauh dari kekuasaan dan perang. Hidup sebagai seorang petani biasa”, berkata Putu Risang dalam hati sambil matanya penuh senyum melihat keakraban kedua muridnya itu.

Pandangan mata Putu Risang terlihat beralih kearah Ki Bekel dan Ki Jagaraga di pekarangan rumah yang tengah berjalan menuju pendapa. Wajah mereka terlihat cerah dan penuh kegembiraan hati telah melihat tayub sederhana telah selesai dan dapat dipergunakan. 

“Hamba tidak dapat membayangkan seandainya tuan-tuan tidak mencegah orang-orang Rakata itu datang merampok Padukuhan kami”, berkata Ki Jagaraga ketika sudah berada di atas pendapa bersama Ki Bekel.

“Yang pasti kami akan kelaparan karena lumbung panen kami di rampas mereka”, berkata Ki Bekel ikut bicara.

“Gusti Yang Maha Agung masih melindungi kita, berdoalah semoga perang sesama saudara ini cepat usai, dan kita dapat hidup kembali dalam suasana aman dan damai”, berkata Putu Risang menanggapi pembicaraan mereka.

Sementara itu di saat yang sama, di sebuah barak darurat sederhana di hutan timur Kotaraja Kawali, terlihat seorang lelaki berpakaian layaknya seorang bangsawan tengah menerima sebuah laporan dari seorang prajuritnya.

“Lima puluh orang prajurit yang kami tugaskan mencari tambahan perbekalan hingga saat ini belum datang kembali”, berkata seorang prajurit kepada lelaki berwajah bersih sebagai pertanda seseorang yang dalam hidupnya jarang terkena langsung sengatan matahari langsung.

“Persediaan kita sudah semakin menipis, para prajurit tidak dapat berperang dengan perut lapar”, berkata lelaki itu dengan suara bergetar menahan rasa amarah yang sangat.

“Pangeran tidak perlu gundah gulana, masih ada banyak jalan?”, berkata seorang lelaki di dekatnya yang ternyata adalah Patih Anggajaya. ”Kita tidak perlu lagi mencari persediaan makanan, tapi kita pindah ke lumbung-lumbung mereka”, berkata kembali Patih Anggajaya kepada lelaki yang dipanggil sebagai Pangeran itu.

Mendengar perkataan Patih Anggajaya, wajah lelaki yang dipanggil Pangeran itu seperti seketika menjadi cerah gembira.

“Kamu benar, kita bertahan di sebuah padukuhan kaya”, berkata lelaki yang dipanggil Pangeran itu dengan wajah penuh ceria kepada Patih Anggajaya. “Di kepalaku masih ada seribu macam cara menghadapi Raja Ragasuci”, berkata Patih Anggajaya.

Siapakah lelaki yang di panggil Pangeran itu oleh Patih Anggajaya itu?

Lelaki berpakaian bangsawan itu ternyata adalah putra Raja Rakata, adik Dewi Kaswari yang berarti adalah adik ipar Patih Anggajaya sendiri yang bernama Pangeran Rha Widhu.

Pangeran Rha Widhu yang dibesarkan di lingkungan istana Rakata itu dapat dikatakan sangat dimanja karena anak lelaki satu-satunya bagi Raja Rakata. Kemanjaan yang berlebih itu pula yang telah membentuk sifat Pangeran Rha Widhu menjadi sangat keras kepala, segala kehendaknya selalu harus dipenuhi.

Dan sebuah kegembiraan hati bagi Patih Anggajaya ketika dapat membujuk Pangeran Rha Widhu bergabung dengannya untuk membuat sebuah pemberontakan besar melawan kekuasaan Raja Ragasuci penguasa di Pasundan dengan harapan dan janji sangat muluk  bahwa Pangeran Rha Widhu akan menjadi seorang Raja besar.

Keberangkatan Pangeran Rha Widhu membawa pasukan dari Rakata sebenarnya tidak mendapat restu dari Ayahandanya. Namun Raja Rakata yang sudah tua itu akhirnya tidak dapat membendung keinginan putranya itu yang telah mengancam akan pergi meninggalkan istana bila tidak mendapat restu dari Ayahandanya.

Akhirnya, dengan sebuah kekhawatiran bahwa putranya tidak akan menang melawan kekuatan pasukan Pasundan, Raja Rakata yang sangat sayang kepada putranya itu telah mengijinkan Pangeran Rha Widhu membawa seribu prajurit Rakata untuk melakukan sebuah pemberontakan ke Kotaraja Kawali.

“Saat ini juga aku akan menugaskan beberapa orang berangkat ke padukuhan sebelah timur hutan ini”, berkata Patih Anggajaya kepada Pangeran Rha Widhu.

“Bagus, Pasukan Raja Ragasuci akan gigit jari menemui hutan ini sudah kosong dan kita telah membangun kekuatan baru di Padukuhan itu”, berkata Pangeran Rha Widhu sambil tertawa panjang masih merasa mudah untuk mengalahkan kekuatan Raja Ragasuci.

Demikianlah, sebagaimana yang di katakan oleh Patih Anggajaya, pada saat itu juga telah memanggil beberapa orang prajuritnya untuk berangkat ke Padukuhan di sebelah timur hutan itu, sebuah padukuhan yang paling dekat.

Maka, tidak lama berselang telah terlihat lima orang prajurit Rakata telah berjalan menjauhi barak-barak darurat mereka berjalan kearah timur hutan itu. Nampaknya memang menuju ke sebuah Padukuhan yang terdekat dari hutan itu.

“Kita juga ditugaskan untuk mencari tahu mengapa kelima puluh orang prajurit kita hingga saat ini belum kembali”, berkata salah satu dari kelima prajurit itu yang nampaknya telah dipilih sebagai pimpinan mereka.

“Jangan-jangan mereka tengah bersenang-senang dan enggan kembali sebelum perut mereka penuh”, berkata salah seorang dari kelima prajurit itu.

“Jangan berprasangka tidak baik kepada kawan sendiri”, berkata kawan prajurit lainnya menasehati.

“Aku tidak berprasangka buruk, hanya sekedar menduga-duga”, berkata kembali salah seorang prajurit itu membela diri.

Ternyata kawan yang menasehati itu mempunyai saudara kembar yang ikut dalam rombongan ke lima puluh prajurit itu. Itulah sebabnya pertengkaran mulut menjadi semakin sengit bila saja tidak segera dilerai oleh pemimpin mereka sendiri.

“Lupakan pertengkaran mulut kalian, kita tengah bertugas dan berada di hutan asing yang mungkin saja ada banyak jebakan babi hutan yang dipasang para pemburu”, berkata pemimpin mereka mengingatkan kawan-kawannya itu untuk lebih berhati-hati.

Mendengar perkataan pemimpin mereka tentang sebuah jebakan babi hutan telah membungkam mulut keduanya dan tidak lagi berbicara dan bertengkar. Terlihat mata mereka dengan penuh kehati-hatian memperhatikan setiap jalan yang akan mereka langkahi, takut perkataan pemimpinnya benar-benar  terbukti bahwa ada sebuah jebakan pemburu telah di pasang disekitar hutan itu.

“Ingat, lima puluh orang prajurit belum kembali. Bila mereka telah dikalahkan oleh musuh, apa artinya kita yang hanya berlima ini”, berkata kembali pemimpin mereka memberi peringatan untuk meningkatkan kewaspadaan mereka.

Demikianlah, ketika matahari terlihat bergeser condong ke barat, mereka telah keluar dari hutan itu.

“Aku melihat banyak jejak langkah kaki menuju kearah timur sana”, berkata seorang prajurit yang ahli membaca jejak di hutan.

“Kita ikuti saja jejak langkah kaki itu”, berkata pemimpin mereka memberi keputusan untuk mengikuti jejak langkah kaki itu.

“Nampaknya jejak ini mengarah ke Padukuhan di seberang sana”, berkata seorang prajurit setelah mereka menyusuri sebuah padang ilalang cukup luas dan telah melihat hamparan sawah yang baru saja di tanam padipadi muda tidak begitu jauh dari mereka berdiri.

“Kita tunggu saat matahari tenggelam dan hari menjadi gelap, baru kita masuk ke Padukuhan itu”, berkata pemimpin mereka memberi perintah untuk berhenti mencari tempat terlindung untuk bersembunyi.

Akhirnya mereka berlima telah menemukan sebuah tempat yang baik untuk bersembunyi, sebuah batu besar di dekat sebuah belukar membuat mereka benar-benar tidak terlihat dari arah manapun.

Sebagaimana yang diperintahkan oleh pemimpin kelima prajurit Rakata itu, terlihat mereka memang tengah menunggu hari menjadi gelap untuk memasuki Padukuhan yang terlihat seperti sebuah pulau kecil di tengah hamparan sawah yang masih basah ditumbuhi padi-padi muda itu.

Menunggu memang sebuah kata yang sangat membosankan, terlihat mereka sekali-kali memandang wajah matahari kuning yang sudah bersinar redup itu terlihat menjadi begitu lama tenggelam, seperti tengah menggoda kesabaran mereka.

“Di daerah ini nampaknya matahari lebih lama bersinar”, berkata salah seorang prajurit yang sudah bosan dan jemu menunggu matahari tenggelam.

“Dimanapun matahari bersinar sesuai waktunya tidak lebih dan tidak kurang”, berkata kawannya merasa risih mendengar ocehan prajurit itu. Akhirnya yang di nantikan oleh kelima prajurit dari Rakata itu tiba, terlihat cahaya matahari telah mulai menipis redup di ujung barat bumi. Perlahan langit diatas mereka semakin menjadi gelap pertanda sang malam mulai datang menyelimuti bumi.

“Mari kita berangkat sekarang”, berkata pemimpin mereka sambil berdiri dari tempat persembunyian mereka.

Ketika mereka memasuki Padukuhan di timur hutan itu, suasana memang telah begitu lengang dan sepi. Berendap-endap mereka berjalan dari satu rumah ke rumah lainnya lewat kebun-kebun belakang rumah.

“Ternyata kawan-kawan kita telah menjadi tawanan”, berkata pemimpin mereka manakala telah berada tidak jauh dari pekarangan Ki Bekel.

“Nampaknya mereka diperlakukan dengan baik”, berkata salah seorang prajurit dari persembunyiannya yang telah melihat kawan-kawan mereka di sebuah tarub darurat di pekarangan rumah Ki Bekel.

“Aku tidak melihat seorang pun prajurit Kawali, hanya ada sepuluh orang biksu asing”, berkata kembali pemimpin mereka itu.

“Mungkin para prajurit Kawali berada di tempat lain di Padukuhan ini”, berkata salah seorang prajurit lainnya.

“Kita memang harus memeriksa seluruh keadaan di padukuhan ini”, berkata pemimpin mereka.

Maka kembali mereka berlima menyelinap dari satu tempat ke tempat lain sampai merasa cukup mengamati keadaan Padukuhan itu.

“Kita tidak menemui satupun prajurit Kawali disini”, berkata pemimpin mereka. “Hanya sepuluh biksu asing menjaga kawan-kawan kita sebagai tawanan mereka”, berkata seorang prajurit menambahkan.

“Juga beberapa rumah dengan lumbung yang cukup besar tentunya”, berkata salah seorang prajurit lainnya sambil tersenyum.

“Mari kita kembali ke pasukan kita di hutan, mereka pasti sangat menunggu hasil pengamatan kita ini”, berkata pemimpin mereka.

Demikianlah, kelima prajurit Rakata itu terlihat dengan menyelinap dan mengendap-endap di kegelapan malam telah berusaha untuk keluar dari Padukuhan itu kembali ke pasukan mereka di hutan sebelah timur Kotaraja Kawali.

Namun hanya berselisih sepenginangan saja manakala mereka berlima telah keluar dari Padukuhan itu, terlihat dari arah utara sebuah pasukan segelar sepapan terdengar begitu riuh memasuki Padukuhan di saat malam telah menjadi wayah sepi uwong.

“Atas permintaan Eyang Prabu Guru Darmasiksa,  aku telah membawa pasukan prajurit Kawali segelar sepapan ke Padukuhan ini, jauh melampaui dari sekitar seratus orang prajurit yang aku pinta untuk membawa para tawanan ke Kotaraja Kawali”, berkata Pangeran Citraganda ketika sudah berada di atas pendapa rumah Ki Bekel.

“Pasti Prabu Guru Darmasiksa menitipkan beberapa amanat kepadamu, Pangeran”, berkata Putu Risang kepada Pangeran Citraganda.

“Benar, salah satunya adalah pasukan yang kubawa ini harus masuk di Padukuhan ini dari arah utara setelah wayah sepi uwong, sebuah amanat yang belum aku pahami”, berkata Pangeran Citraganda bercerita tentang amanat Prabu Guru Darmasiksa kepada dirinya.

Mendengar cerita dari Pangeran Citraganda itu, terlihat Putu Risang dan Gajahmada saling beradu pandang. Nampaknya mereka tengah membaca kemana arah pikiran dan pesan dari Prabu Guru Darmasiksa yang dikenal juga seorang yang sangat mumpuni adalah hal siasat peperangan.

“Mahesa Muksa, lekas katakan yang kamu pikirkan”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada sambil tersenyum seperti telah membaca bahwa Gajahmada sepertinya telah menangkap pesan tersirat dari Prabu Guru Darmasiksa itu.

“Ada satu pelajaran hari ini dari sang Prabu, bahwa kita harus membaca pikiran seorang musuh dalam sebuah keadaan tertentu. Dan Sang Prabu telah dapat menangkap jalan pikiran musuh yang telah mulai kehabisan perbekalannya pasti akan mencari sebuah tempat yang dapat mendukung perbekalan mereka. Nampaknya pikiran pihak musuh telah tertuju di Padukuhan ini dimana dipastikan secepatnya telah menyebarkan petugas telik sandinya jauh sebelum malam. Itulah sebabnya sang Prabu telah meminta pasukan prajurit Kawali ini masuk dari arah utara setelah wayah sepi uwong”, berkata Gajahmada  membaca pesan tersurat dari Prabu Guru Darmasiksa itu.

“Dapat diterima, dan aku baru memahaminya”, berkata Pangeran Citraganda setelah mendengar penjelasan dari Gajahmada.

“Pangeran Jayanagara, katakan yang kamu dapat dari pesan tersirat Prabu Guru Darmasiksa itu”, berkata Putu Risang kepada Pangeran Jayanagara.

“Nampaknya beberapa bagian telah diwakilkan oleh Gajahmada, Aku hanya sedikit menambahkan bahwa pihak musuh akan berangkat keluar dari hutan persembunyiannya besok pagi”, berkata Pangeran Jayanagara.

“Eyang Prabu Guru juga telah menitipkan pesan bahwa pasukan segelar sepapan ini diserahkan sepenuhnya kepada kakang Putu Risang. Besok disaat matahari terbit sebuah pasukan dari Kotaraja Kawali akan keluar dari gerbang kotaraja sebelah Timur”, berkata Pangeran Citraganda kepada Putu Risang.

Mendengar perkataan Pangeran Citraganda, terlihat Gajahmada dan Pangeran Jayanagara langsung mengarahkan pandangannya ke arah guru mereka itu.

Menangkap pandangan kedua muridnya itu, terlihat Putu Risang menarik nafas panjang dan sedikit tersenyum memandang kearah Pangeran Citraganda.

“Pangeran Citraganda, katakanlah sejujurnya. Apakah kamu ada sedikit rasa cemburu manakala Prabu Guru Darmasiksa menyerahkan seluruh Pasukan di Padukuhan ini kepadaku?”, bertanya Putu Risang kepada Pangeran Citraganda.

Terlihat Pangeran Citraganda menangkap sebuah pandangan mata Putu Risang yang begitu sangat tajam masuk menembus jiwanya, seketika dirinya seperti merasa bertelanjang.

“Aku tidak dapat membantah atas sedikit rasa cemburu manakala Eyang Prabu Guru Darmasiksa menyerahkan pasukan di Padukuhan ini kepada kakang Putu Risang, dan bukan kepadaku dimana semula aku berharap dapat belajar menjadi seorang senapati sebuah pasukan besar”, berkata Pangeran Citraganda tidak malu lagi mengungkapkan isi hatinya dan berkata  dengan jujur.

“Siapapun seorang Raja pasti akan berlaku sama, tidak akan membiarkan Sang Putra Mahkota berada di garis depan sebuah peperangan. Itulah sebuah wujud cinta kasih seorang Raja kepada putranya. Amanat Prabu Guru Darmasiksa itu aku terima sepenuhnya. Sementara itu aku akan meminta kalian bertiga sebagai senapati pengapitku, semoga peperangan ini menjadi pelajaran berharga untuk kalian”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada, Pangeran Jayanagara dan Pangeran Citraganda.

Demikianlah, terlihat Putu Risang telah memberikan beberapa penjelasan tentang apa yang harus mereka lakukan besok pagi.

Diam-diam Pangeran Citraganda memuji  pemahaman Putu Risang tentang berbagai gelar dan siasat peperangan.

“Besok kita akan menghadapi musuh dengan sebuah gelar perang Garuda Nglayang. Aku akan berada di depan sebagai paruh, sementara Gajahmada dan Pangeran Jayanagara sebagai panglima utama di sayap masing-masing. Terakhir Pangeran Citraganda akan menjadi panglima di ekor gelar pasukan siap siaga berubah sebagai cakar garuda menyapu kekuatan musuh. Kita juga harus menyimpan sepertiga pasukan sebagai prajurit cadangan yang siap terjun di medan pertempuran di waktu yang tepat”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada, Pangeran Jayanagara dan Pangeran Citraganda yang mendengarkannya dengan penuh perhatian. “Mengapa harus menyisakan sepertiga pasukan kita?”, bertanya Pangeran Citraganda kepada Putu Risang.

“Hanya sebuah muslihat agar pihak musuh menduga kekuatan kita lemah hingga akan berusaha secepatnya menyelesaikan peperangan dengan kekuatan penuh. Disaat nafas mereka berada di ujung kelelahan, kita kejutkan mereka dengan tenaga cadangan itu”, berkata Putu Risang menjelaskan siasatnya.

Kembali Pangeran Citraganda memuji kemampuan siasat perang lelaki muda dihadapannya itu.

Sementara itu malam terlihat sudah mendekati pagi ketika Ki Bekel dan Ki Jagaraga berpamit diri untuk datang ke rumah Ki Buyut di padukuhan sebelah.

“Hamba pamit diri untuk membangunkan Ki Buyut di Padukuhan sebelah. Mungkin Ki Buyut dapat menggerakkan seluruh warga Kabuyutan ini membantu apa yang dapat kami bantu”, berkata Ki Bekel mewakili Ki Jagaraga pamit diri untuk mengunjungi Ki Buyut di Padukuhan sebelah.

Terlihat Ki Bekel dan Ki Jagaraga telah berjalan keluar dari pekarangan rumah Ki Bekel. Mereka telah melihat beberapa prajurit tengah menyiapkan sebuah dapur umum yang cukup besar. Mereka juga telah melihat sebagian prajurit tengah beristirahat di berbagai tempat di sepanjang jalan Padukuhan itu.

Tidak lama berselang terlihat pula beberapa perwira tinggi naik keatas pendapa rumah Ki bekel. Nampaknya mereka meminta beberapa penjelasan apa yang harus mereka lakukan menghadapi musuh yang dipastikan akan keluar dari hutan persembunyian mereka. Kepada para perwira itu Putu Risang kembali memberikan penjelasan sekaligus menyatukan bahasa isyarat yang akan mereka pakai di medan perang nanti.

“Masih ada waktu setelah matahari naik sepenggalah kita berangkat menyongsong musuh”, berkata Putu Risang memberikan kesempatan para perwira dan prajurit Kawali untuk beristirahat sejenak.

Sementara itu pagi di Padukuhan itu memang masih nampak remang-remang meski di ujung timur bumi telah terlihat sedikit tebaran cahaya kuning di langit.

Setelah para perwira itu pergi menemui para bawahan masing-masing, terlihat Putu Risang, Gajahmada, Pangeran Jayanagara dan Pangeran Citraganda hanya bersandar di dinding kayu sekedar melepaskan kepenatan mereka setelah semalaman tidak tidur.

“Sudah ada prajurit yang menangani para tawanan, biarlah kesepuluh biksu itu ikut bersamaku”, berkata Gajahmada kepada Putu Risang.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Gajahmada, di pekarangan rumah Ki Bekel terlihat beberapa prajurit menggantikan para biksu menjaga para tawanan.

Sementara suasana di dapur umum yang baru saja di dirikan oleh para prajurit sudah terlihat penuh dengan kesibukannya. Dan asap tebal terlihat telah membumbung tinggi jauh mengisi langit pagi.

Akhirnya saat yang dinantikan itu datang juga, matahari telah terlihat sudah naik sepenggalah. Terdengar suara bende mendengung mengisi suasana pagi di Padukuhan itu.

Itulah suara bende pertama sebagai pertanda para prajurit untuk mempersiapkan diri masing-masing.

Dan tidak lama berselang suara bende kembali berdengung, terlihat para prajurit berlari berkumpul di kesatuan mereka masing-masing.

Terlihat jalan padukuhan itu sudah dipenuhi para prajurit lengkap dengan senjata dan perlengkapan  perang mereka.

“Siapa pimpinan prajurit disini?”, berkata Putu Risang ketika memeriksa kesiapan seluruh prajuritnya dan berhenti di sekumpulan kesatuan prajurit cadangan yang terpisah di barisan paling belakang.

“Aku Rangga Kidang Telangkas, pimpinan pasukan cadangan ini”, berkata seorang lelaki berwajah dipenuhi kumis tebal dan berjambang lebat mirip tokoh pewayangan putra Bima datang menghampiri Putu Risang.

“Kamu tahu apa yang menjadi tugas prajurit cadangan ini?”, bertanya Putu Risang kepada lelaki bertubuh tinggi kekar itu.

“Menunggu panah sanderan melesat tiga kali di udara, itulah pertanda bagi kami segera turun mengisi medan pertempuran”, berkata lelaki itu yang telah menyebut jati dirinya bernama Rangga Kidang Telangkas.

“Bagus, selamat bertemu di medan pertempuran”, berkata Putu Risang kepada Rangga Kidang Telangkas sambil menepuk-nepuk bahunya yang keras dan gempal itu sebagai pertanda sangat terlatih dalam olah kanuragan cukup lama.

Akhirnya kembali suara bende ketiga kalinya terdengar berdengung mengisi udara pagi di atas Padukuhan itu.

Terlihat beberapa orang warga padukuhan lelaki dan wanita telah keluar dari rumahnya dan berdiri di pinggir pagar pekarangan mereka. Beberapa bocah terlihat ikut bersama mereka dengan tangan rapat bergayut bersandar di tubuh para orang tua masing-masing.

Nampaknya baru pertama kalinya para warga Padukuhan itu melihat pasukan segelar sepapan memenuhi jalan Padukuhan mereka.

“Bila aku besar, aku ingin seperti mereka membawa pedang dan bertempur di medan perang”, berkata seorang bocah lelaki ketika melihat pasukan prajurit Kawali itu telah bergerak melangkah.

“Kakek buyutmu dan aku adalah para petani yang hanya tahu bagaimana mengangkat cangkul dan membaca bintang di langit menghitung hari tanam. Aku tidak bisa mengajarmu cara mengangkat sebuah pedang”, berkata ayah bocah lelaki itu sambil mengeluselus rambut kepalanya.

“Aku pernah melihat Ki Jagaraga bermain pedang bersama putranya di pekarangan rumah mereka”, berkata bocah lelaki itu.

“Tapi pedang Ki Jagaraga tidak sebagus pedang para prajurit itu”, berkata kembali ayah bocah lelaki itu ketika melihat barisan prajurit terakhir sudah mendekati regol gerbang Padukuhan mereka.

Demikianlah, pasukan segelar sepapan itu telah berjalan keluar Padukuhan menuju padang ilalang yang cukup luas sebagai pembatas jarak antara Padukuhan dan hutan di seberang sana.

Dan matahari di atas padang ilalang yang cukup luas terbentang itu telan semakin naik menghangatkan wajahwajah para prajurit Rakata yang telah berhenti berjalan. Nampaknya mereka telah menemukan tempat yang baik untuk menyongsong kedatangan musuh mereka para prajurit Rakata yang akan muncul di hutan seberang sana.

Sementara itu, pasukan prajurit Rakata memang sudah bergerak meninggalkan barak-barak darurat mereka setelah beberapa hari bersembunyi di hutan itu. Persediaan pangan yang kurang mencukupi membuat mereka harus bergerak mencari tempat baru, sebuah padukuhan yang penuh dengan lumbung-lumbungnya.

“Aku akan mengejar ternak-ternak mereka”, berkata seorang prajurit Kawali penuh semangat membayangkan suasana di padukuhan.

“Aku akan mengejar anak gadis mereka”, berkata seorang prajurit lainnya.

“Mereka datang kembali”, berkata Pangeran Rha Widhu kepada Patih Anggajaya di dekatnya ketika melihat sepuluh orang prajurit pemantau dengan berkuda datang kembali.

“Mereka membawa kuda seperti dikejar setan gundul, pasti ada sebuah berita penting”, berkata Patih Anggajaya sambil tidak berkedip memandang prajurit berkuda itu mendekati mereka.

“Ampun tuanku, kami telah melihat pasukan segelar sepapan memenuhi padang ilalang”, berkata salah seorang prajurit itu di hadapan Pangeran Rha Widhu dan Patih Anggajaya.

“Gila!!, apakah mereka dapat terbang secepat itu sudah ada di hadapan kita?”, berkata Pangeran Rha Widhu seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Nampaknya langkah pikiran kita sudah terbaca oleh mereka”, berkata Patih Anggajaya sambil berpikir keras apa yang harus dilakukan.

“Aku Pangeran Rha Widhu tidak akan lari”, berkata lantang Pangeran Rha Widhu sambil menarik pedangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

Mendengar ucapan Pangeran Rha Widhu, serentak para prajurit Rakata itu bersama-sama ikut menarik pedang mereka dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Kami prajurit Rakata pantang menyerah”, berkata para prajurit Rakata serempak bersamaan.

Tanpa berkata apapun terlihat Pangeran Rha Widhu telah menghentakkan perut kudanya. Seketika itu juga kuda Pangeran Rha Widhu seperti terkejut langsung mengangkat kaki depannya dan sudah berlari membawa tuan majikannya.

Terlihat Patih Anggajaya telah mengejar lari kuda Pangeran Rha Widhu bersama pasukan berkuda lainnya mengikuti langkah kaki kuda Pangeran Rha Widhu.

Serentak para prajurit Rakata telah berjalan cepat mengikuti para prajurit berkuda di depan mereka.

“Tidak seperti yang kubayangkan, mereka tidak sebesar pasukan kita”, berkata Pangeran Rha Widhu ketika mereka telah tiba di bibir hutan dan telah melihat pasukan Kawali di seberang jauh berjajar seperti tengah menunggu kedatangan para musuh mereka, prajurit Rakata.

“Kita pukul mereka dengan kekuatan penuh”, berkata Patih Anggajaya manakala telah melihat bahwa pasukan Kawali tidak sebesar pasukan Rakata.

“Raja Ragasuci akan menyesal tidak membawa pasukan dalam jumlah yang banyak”, berkata kembali Pangeran Rha Widhu merasa akan dapat dengan mudah mengalahkan musuh mereka yang berjumlah lebih sedikit dari pasukan yang dibawanya dari Kotaraja Rakata yang sudah bergabung dengan lima ratus pasukan Patih Anggajaya.

“Kita hancurkan mereka dengan gelar perang Diradameta!!”, berkata Patih Anggajaya dengan suara penuh semangat untuk secepatnya menghancurkan musuh didepan mata mereka.

“Siapkan pasukan dengan gelar Diradameta”, berkata Pangeran Rha Widhu kepada seorang penghubungnya yang sudah tahu apa yang harus dilakukannya mendengar perintah itu.

Sementara itu di seberang lain di padang ilalang yang cukup luas itu, terlihat Putu Risang dengan sikap gagah layaknya seorang Senapati besar di punggung kudanya telah melihat barisan pasukan musuh mereka dengan gelar perang Diradameta-nya.

“Nampaknya kita akan menghadapi sebuah kekuatan penuh, ikan telah termakan kail pancing”, berkata Putu Risang kepada seorang perwira didekatnya.

“Jangan bergerak sebelum mendengar perintah dariku”, berkata kembali Putu Risang kepada salah seorang prajurit penghubung yang bertugas menerjemahkan perintah sang Senapati mereka dengan tanda-tanda khusus, bendera dan suara bende.

Sementara itu di barisan lain, Gajahmada dengan dada berdebar diam-diam telah meraba pangkal cambuknya.

“Aku tidak akan melukai lawan dengan cakraku”, berkata Gajahmada dalam hati sambil lebih rapat dan kuat lagi menggenggam pangkal cambuk yang masih melingkar di pinggangnya itu.

“Mereka sudah bergerak”, berkata Pangeran Jayanagara dalam hati di barisan lain.

Sebagaimana yang dilihat oleh Pangeran Jayanagara, pihak musuh memang telah bergerak kearah pasukan Kawali. Terlihat batang-batang daun ilalang langsung rebah terinjak kaki-kaki kuda pasukan Rakata yang berjumlah besar itu dan bumi disekitar mereka seperti bergetar terhentak langkah-langkah kaki secara bersamaan dari sekitar seribu lima ratus prajurit Rakata yang telah bergerak berlari.

“Mereka telah membuang nafas dan kekuatannya”, berkata Putu Risang dalam hati masih belum memberikan perintah apapun kepada para prajuritnya.

Akhirnya, manakala jarak diantara mereka hanya tersisa sekitar dua puluh langkah lagi, barulah Putu Risang telah memberikan perintahnya untuk menghadang pasukan Rakata itu.

Bukan main terkejutnya pasukan berkuda Rakata di barisan terdepan. Itulah pukulan pertama dari pasukan Kawali. Ternyata Putu Risang telah menghalangi pandangan mata pasukan musuh dengan menempatkan sebaris pasukan bertombak di belakang mereka. Maka ketika barisan terdepan menyibak, tombak-tombak kayu panjang seperti ranjau hidup langsung menembus dada kuda prajurit Rakata yang mati langkah tidak mampu menghindar sama sekali. Sepuluh sampai lima orang prajurit Rakata terlempar dari kuda mereka.

Gelegarrr !!!

Terdengar suara seperti petir membelah langit di siang itu.

Itulah suara cambuk Putu Risang yang dihentakkan meski dengan kekuatan sepertiganya telah mampu membuat suara yang begitu memekakkan telinga, menggetarkan hati para musuh.

Barisan pasukan musuh yang terkoyak itu kembali terkejut manakala cambuk Putu Risang telah berputar begitu cepatnya dan berubah seketika melesat lurus seperti kepala ular bermata telah mematuk siapapun yang berada didekatnya.

Sepak terjang Putu Risang di barisan tengah dalam gelar perang Garuda Nglayang itu telah membuat api semangat para prajurit Kawali seperti terbakar dalam gelora semangat tempur yang membara.

Terlihat Putu Risang tersenyum manakala didengarnya dari barisan sayap kanan dan sayap kiri gelar perangnya suara dari dua buah cambuk yang menggetarkan dada siapapun yang mendengarnya.

“Mereka berdua telah menggunakan cambuknya”, berkata Putu Risang dalam hati merasa yakin bahwa suara dua buah cambuk itu berasal dari dua orang muridnya, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara yang ditugaskan sebagai senapati pengapitnya memimpin pasukan sayap kanan dan sayap kiri dalam gelar perang Garuda Nglayang.

Sebagaimana barisan tengah pasukan Kawali yang berada dalam pimpinan Putu Risang telah dapat mengoyak pertahanan lawan. Di barisan sayap kanan dan sayap kiri di bawah pimpinan Gajahmada dan Pangeran Jayanagara juga telah berhasil menggempur lambung pertahanan musuh.

Kecerdikan Putu Risang sebagai seorang Senapati utama memang telah membuat Patih Anggajaya dan Pangeran Rha Widhu menjadi sangat penasaran sekali ingin mengetahui siapa gerangan senapati utama musuh mereka itu yang telah begitu sempurna membawa dan mengatur barisan tempur mereka seperti layaknya sebuah burung Garuda yang melesat kesana kemari namun tiba-tiba saja turun mematuk dan mencengkeram dengan cakarnya.

Berubah arah serang, sebuah keutamaan dan keunggulan dari gelar perang Garuda Nglayang memang telah diperlihatkan oleh Putu Risang dalam gelar pasukannya itu.

Pasukan Rakata seperti seekor gajah limbung, kekuatannya sudah mulai terpecah namun masih tetap bertahan.

“Aku akan membantu di barisan lambung kiri yang terkoyak”, berkata Pangeran Rha Widhu kepada Patih Anggajaya diantara suara denting senjata saling beradu dan teriakan di peperangan yang dahsyat itu.

Ternyata Pangeran Rha Widhu telah melihat barisan pertahanan prajuritnya di lambung kiri seperti terus saja tergusur hampir pecah.

Ketika Pangeran Rha Widhu telah berada di lambung kiri gelar Diradameta-nya, bukan main terkejutnya melihat gerak jurus maut seorang anak muda dengan sebuah cambuk pendek di tangannya. Tidak satupun dari serangan anak muda itu yang luput menyentuh maut, satu dua orang prajurit Rakata selalu terlempar terkena ujung cambuk anak muda itu.

“Dengan sangat terpaksa aku harus melumpuhkanmu, wahai anak muda”, berkata Pangeran Rha Widhu kepada seorang anak muda yang untuk kesekian kalinya telah merobohkan lawannya.

Mendengar perkataan Pangeran Rha Widhu yang berada tepat dihadapannya itu, terlihat anak muda itu hanya tersenyum berdiri sambil mengelus tali cambuknya dari pangkal sampai ke ujung cambuknya.

“Dengan sangat terpaksa pula aku akan mempertahankan diriku, wahai orang tua”, berkata anak muda itu yang ternyata adalah Gajahmada sambil melepas jurai cambuknya berdiri berhadapan dengan Pangeran Rha Widhu.

“Seandainya kamu telah mengenalku, pasti kamu akan lari mencari lawan lain”, berkata Pangeran Rha Widhu sambil diam-diam memuji sikap keberanian anak muda di depannya itu.

“Aku tidak akan lari meski telah mengenalmu”, berkata kembali Gajahmada.

“Bagus, aku akan memperkenalkan diriku lewat pedang ini”, berkata Pangeran Rha Widhu sambil sudah langsung menerjang Gajahmada dengan pedang lurus meluncur begitu cepatnya.

Ternyata Pangeran Rha Widhu terlalu percaya diri dan salah menilai seseorang dari sisi usianya.

Bukan main terkejutnya Pangeran Rha Widhu melihat serangannya yang sangat cepat itu dengan mudahnya dapat dielakkan oleh Gajahmada bahkan anak muda itu telah balas menyerangnya dengan sebuah serangan cambuknya tidak kalah cepat dan berbahayanya.

“Ternyata kamu memang punya taring”, berkata Pangeran Rha Widhu sambil mengelak menghindari ujung cambuk Gajahmada yang lurus mengancam samping kanan bahunya.

“Aku tidak punya taring, hanya sebuah cambuk pendek”, berkata Gajahmada sambil melompat terbang menghindari sabetan pedang Pangeran Rha Widhu kearah kakinya.

Demikianlah, pertempuran antara Pangeran Rha Widhu dan Gajahmada dalam waktu singkat menjadi semakin sengit karena keduanya telah sama-sama meningkatkan tataran ilmunya masing-masing.

Untungnya seorang prajurit perwira yang sama-sama bertugas di sayap kiri telah memaklumi bahwa Gajahmada telah mendapatkan lawan yang setara. Maka tanpa ragu lagi telah mewakili Gajahmada mengatur gerak prajurit di sayap kiri sesuai dengan arah dan irama gelar perang Garuda Nglayang yang diatur oleh senapati utama mereka yang sekaligus memimpin di barisan tengah.

“Nampaknya Gajahmada telah menemukan lawan tanding yang tangguh”, berkata Putu Risang dalam hati sambil terus memimpin jalannya pertempuran.

Ternyata kekuatan daya gempur pasukan Kawali di sayap kiri itu bukan hanya pada diri Gajahmada seorang. Meskipun saat itu Gajahmada telah tertahan oleh seorang lawan yang cukup tangguh yaitu Pangeran Rha Widhu, tetap saja kekuatan pasukan Kawali di sayap kiri itu masih saja terus merangsek maju menggempur pertahanan lambung pasukan lawan dalam gelar perang Diradameta-nya.

Rupanya kehadiran kesepuluh orang biksu terbaik yang ikut memperkuat barisan di sayap kiri itu ikut mengambil peran menjadikan barisan di sayap kiri itu begitu kokoh tidak dapat dibendung gempurannya. Terlihat kesepuluh orang biksu itu dengan begitu tangguh menyebar dan meruntuhkan musuh yang mencoba mendekati mereka. Tongkat kayu di tangan mereka seperti sebuah senjata yang sangat berbahaya.

Sementara itu matahari diatas padang ilalang tempat pertempuran dua anak manusia itu telah bergeser turun jauh ke barat. Suara gemerincing senjata beradu dan suara teriakan amarah bercampur baur dengan bau amis darah tercecer membasahi tanah merah dari korban dua kubu yang berseberangan itu. Dan peperangan masih belum ada tanda-tanda kesudahannya.

“Anak muda ini begitu tangguh”, berkata Pangeran Rha Widhu dalam hati merasa penasaran belum juga dapat menundukkan Gajahmada.

Ternyata Gajahmada memang selalu dapat mengimbangi permainan pedang Pangeran Rha Widhu. Belum ada keinginan untuk mengungkapkan tataran ilmu puncaknya.

Sementara itu Pangeran Rha Widhu sudah mulai merambat memasuki puncak tataran ilmunya. Namun tetap saja masih dapat diimbangi oleh Gajahmada membuat Pangeran Rha Widhu merasa sangat penasaran hingga telah menghentakkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Terlihat angin serangan pedang Rha Widhu menjadi lebih cepat lagi bergerak, bahkan angin sambarannya itu seperti sebuah mata pisau tajam datang mendahului. Gajahmada sudah dapat merasakan angin sambaran pedang Pangeran Rha Widhu yang sangat  berbahaya itu. Dan diam-diam telah melambari tubuhnya dengan ajian ilmu setara lembu sekilan bahkan lebih kuat lagi  dari ajian ilmu sejenis di jamannya itu.

Terlihat Gajahmada seperti terbang melayang dan melesat seperti seekor burung sikatan menghindari terjangan angin serangan pedang Pangeran Rha Widhu yang datang bergulung-gulung seperti ombak samudera. “Pedangku belum juga dapat menyentuhnya”, berkata Pangeran Rha Widhu merasa semakin penasaran belum juga dapat menuntaskan pertempurannya.

Beberapa prajurit dari dua kubu yang melihat pertempuran dua naga kanuragan itu benar-benar terperangah. Tanah ilalang di sekitar pertempuran mereka sudah menjadi rata tergilas langkah kaki dan terjangan senjata mereka. Semakin lama gerakan mereka menjadi semakin cepat hingga hanya terlihat seperti dua buah bayangan yang saling menyerang dan balas menyerang.

Sementara itu Putu Risang sambil bertempur masih sempat melihat suasana pertempuran secara keseluruhan, telah melihat semangat prajurit Kawali yang berjumlah lebih sedikit ternyata dapat mengimbangi kekuatan prajurit Rakata bahkan dapat dikatakan telah dapat membuat pertahanan musuh terkoyak-koyak.

“Saatnya memberi kejutan lain, lepaskan tiga buah panah sanderan”, berkata Putu Risang kepada seorang prajurit penghubungnya.

Nampaknya prajurit penghubung itu tidak perlu perintah kedua langsung menyiapkan tiga buah anak panah sanderan. Tidak lama berselang terlihat sebuah  panah sanderan mengaung membelah udara dan langit diatas padang ilalang itu. Tiga kali berturut-turut suara panah sanderan mengaung terdengar jelas meski dari tempat yang cukup jauh dari pertempuran yang sedang berkecamuk itu.

Ternyata suara panah sanderan itu memang terdengar di sebuah tempat persembunyian para prajurit Kawali yang sudah lama menunggunya.

“Wahai para prajurit Kawali, suara panah sanderan telah memanggil kita”, berkata Rangga Kidang Telangkas dengan suara lantang kepada pasukan prajurit cadangan yang sengaja bersembunyi menunggu panggilan untuk bergabung membuat sebuah serangan  yang mengejutkan pihak musuh.

Dari tempat pertempurannya Putu Risang telah melihat pasukan cadangan yang telah berlari mendekati medan pertempuran.

“Saatnya membuat sebuah kejutan baru, geser barisan tengah kearah sayap kiri”, berkata Putu Risang kepada seorang prajurit penghubungnya.

Maka dalam waktu singkat para pasukan yang tergabung dalam barisan tengah telah melihat sebuah umbul-umbul ciri khusus pasukan barisan tengah telah berkibar dan bergerak kearah samping sayap kiri gelar perang Garuda Nglayang.

Serentak terlihat pasukan barisan tengah itu telah bergerak mengikuti arah umbul-umbul berwarna merah itu bergerak.

Ternyata gerakan pasukan barisan tengah adalah sebuah keistimewaan gerak gelar perang dari Garuda Nglayang sebagaimana seekor raja burung Garuda yang tanpa terduga menyerang musuhnya dengan kedua cakar kakinya yang tajam.

Ternyata gerakan kesamping pasukan barisan tengah telah memberikan kesempatan kepada pasukan Pangeran Citraganda dan pasukan cadangan dibawah kendali Rangga Kidang Telangkas dapat bertindak sebagai dua cakar burung yang tajam mencengkeram musuhnya di muka. Bukan main terkejutnya para prajurit Rakata yang berada di barisan terdepan itu, pasukan Pangeran Citraganda dan pasukan cadangan pimpinan Rangga Kidang Telangkas seperti air bah yang menerjang sebuah tanggul bendungan.

Tidak dapat dibayangkan suasana porak poranda pasukan Rakata di bagian terdepan itu tergilas oleh dua cengkraman kuat dimana salah satunya adalah para prajurit cadangan yang masih punya tenaga utuh. Bayangkan bahwa sepertiga lebih pasukan baru itu telah dapat memporak-porandakan pasukan Rakata yang sudah kelelahan dalam peperangan mereka.

“Sebuah gelar perang yang cantik”, berkata dalam hati Patih Anggajaya mengakui keunggulan pihak lawan.

Sebagai seorang putra Senapati terbaik pasukan Kerajaan Rakata di jamannya, Patih Anggajaya telah mewariskan berbagai siasat peperangan dari  ayahnya itu. Dan Patih Anggajaya tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan pasukannya dari sebuah kekalahan besar.

“Perintahkan pasukan untuk mundur kembali masuk ke hutan”, berteriak Patih Anggajaya kepada seorang prajurit penghubungnya.

Mendengar teriakan Patih Anggajaya, terlihat prajurit penghubung itu telah mendatangi para prajurit penghubung lainnya dalam setiap kesatuan mereka.

Maka tidak lama berselang, Putu Risang  telah melihat barisan pertahanan pihak musuh telah membentuk sebuah barisan gelar perang ular serong, sebuah cara pertahanan membawa para prajurit Rakata mundur teratur masuk kembali ke hutan persembunyian mereka.

“Jangan kejar mereka”, berkata Putu Risang kepada beberapa prajurit yang bermaksud terus mengejar para prajurit Rakata yang telah memasuki hutan persembunyian mereka.

Sementara itu Pangeran Rha Widhu yang belum juga dapat mengalahkan Gajahmada terlihat sangat geram melihat pasukan Rakata telah diperintahkan mundur masuk ke hutan persembunyian kembali.

“Besok kita tuntaskan pertempuran ini”, berkata Pangeran Rha Widhu kepada Gajahmada sambil langsung berkelebat pergi kearah hutan persembunyian mereka.

Terlihat Gajahmada tidak menjawab perkataan Pangeran Rha Widhu, hanya berdiri sambil memegang ujung jurai cambuk pendeknya dengan tangan kirinya dan melihat Pangeran Rha Widhu sudah semakin jauh dan menghilang di kegelapan dan kerapatan hutan di seberang sana.

Sementara itu matahari diatas tanah padang ilalang terlihat lelah berbaring di ujung tepian bumi sebelah barat. Cahayanya telah memudar kelabu mewarnai awan yang bergelantung memenuhi cakrawala langit di ujung senja. Terlihat beberapa orang prajurit Kawali membawa kawan-kawan mereka yang terluka maupun yang sudah tidak bernyawa lagi. Mereka juga telah merawat beberapa orang pihak musuh yang terluka parah, sengaja mereka meninggalkan orang-orang Rakata yang terluka dan mereka yang sudah tidak bernyawa lagi dari pihak musuh karena mengetahui bahwa sebentar lagi ada kawan mereka yang pasti akan datang ke padang ilalang medan pertempuran untuk mencari dan  membawa kawan-kawan mereka sendiri.

Selalu seperti itu sisa setiap ujung sebuah peperangan antara anak manusia di manapun. Tangis sedih mewarnai setiap hati para prajurit yang harus merelakan seorang sahabat sejati pergi dan tidak akan pernah kembali untuk selama-lamanya.

“Perang nampaknya belum berakhir, siapkan diri kita untuk hari esok dalam peperangan yang lain”, berkata Putu Risang mengajak Pangeran Jayanagara, Gajahmada dan Pangeran Citraganda kembali ke Padukuhan.

“Ini adalah peperangan pertama mereka. Sebuah pemandangan yang tidak akan mereka lupakan sepanjang hidup mereka dalam kesendirian ketika malam di peraduan, mendengar kembali suara pilu orang yang terluka, suara pekik perih seorang yang tengah sekarat menjemput sang maut. Sementara perang tidak akan pernah berakhir menunggu kehadiran mereka di ujung hari-hari mereka sebagai para ksatria”, berkata Putu Risang dalam hati sambil memandang kearah dua orang putra mahkota dan seorang ksatria muda yang telah memiliki ilmu kesaktian yang mumpuni, Mahesa Muksa.

Demikianlah, awan hitam terlihat mulai bergelayut pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Terlihat Ki bekel telah menerima kedatangan Putu Risang dan kawan-kawannya di pendapa rumahnya.

0 Response to "Kisah Dua Naga Di Pasundan Jilid 13"

Post a Comment