coba

Kisah Dua Naga Di Pasundan Jilid 10

Mode Malam
KETIKA Nyi Dewi Kaswari terbangun di pagi harinya, tidak dilihat suaminya bersama di peraduannya.

“Apakah bibi melihat suamiku telah pergi keluar rumah di pagi ini?” bertanya Nyi Dewi Kaswari kepada seorang pelayan tua di rumahnya.

“Tuan Patih memang tidak tidur di rumah ini, tadi malam bibi lihat sendiri telah keluar bersama ketiga tamunya”, berkata pelayan tua itu kepada Nyi Dewi Kaswari.

“Di saat masih turun hujan?” bertanya kembali Nyi Dewi Kaswari. Terlihat pelayan tua itu tidak berkata apapun, hanya sedikit perlahan menganggukkan kepalanya. Diam-diam hatinya ikut teriris pilu melihat suasana kehidupan rumah tangga anak asuhnya itu yang sudah disayangi seperti putrinya sendiri.

Sayu wajah Nyi Dewi Kaswari terduduk lesu memandang tempat kosong lantai pendapa dari arah duduknya di ruang pringgitan. Yang ada dalam bayangan pikiran Nyi Dewi Kaswari saat itu adalah bahwa  suaminya pasti masih tertidur pulas disamping seorang wanita lain.

Tiba-tiba saja terlihat sebuah perubahan di wajah Nyi Dewi Kaswari yang dipenuhi rasa kebencian yang sangat.

“Bibi, kemarilah”, berkata Dewi Kaswari memanggil pelayan tua yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri.

Pagi itu suasana di jalan Kotaraja Kawali sudah cukup ramai, beberapa wanita terlihat tengah berjalan dengan bakul di atas kepala mereka, mungkin akan berangkat menuju pasar di tengah Kotaraja.

Suasana di jalan Kotaraja Kawali di pagi itu menjadi terlihat seperti tercekam manakala dua penunggang kuda melarikan kudanya sambil membawa dua buah bendera kebesaran, salah satunya adalah sebuah bendera hijau bergambar kepala harimau putih.

Melihat sebuah bendera bergambar kepala harimau putih yang di bawa oleh seorang prajurit berkuda itu telah membuat semua orang di jalan Kotaraja Kawali itu segera menepi.

Serentak tanpa perintah apapun semua orang di tepi jalan Kotaraja Kawali itu langsung menyisihkan barang apapun yang mereka bawa dan langsung bersujud di jalan tanah itu manakala sebuah pasukan berkuda terlihat seperti berpacu menyusuri jalan  kotaraja Kawali di pagi itu.

Semua orang diatas jalan Kotaraja Kawali itu sudah terbiasa dan tahu betul bahwa diantara sekitar dua puluh lima pasukan berkuda itu adalah Raja Ragasuci yang akan lewat menuju gerbang batas kota sebelah selatan Kotaraja Kawali.

Terlihat seorang wanita tua ikut bersujud dengan penuh hikmat di tepi jalan Kotaraja Kawali. Dan ketika deru suara langkah kaki kuda telah menghilang menjauh, barulah wanita tua berdiri kembali.

Perlahan wanita tua itu melangkahkan kakinya, nampaknya kearah istana Kawali.

Nampaknya wanita tua itu seperti tidak asing lagi masuk melewati gerbang pintu istana mendekati seorang prajurit penjaga yang sedang bertugas di hari itu.

“Bibi Ijah, biasanya kamu datang bersama junjunganmu”, berkata seorang prajurit penjaga memanggil namanya seperti sudah saling mengenal.

“Hari ini aku ditugaskan oleh junjunganku untuk mengantar sebuah bingkisan kepada Tuan Putri Dyah Rara Wulan”, berkata wanita tua itu yang ternyata adalah pelayan tua di rumah kediaman Patih Anggajaya.

“Aku akan masuk menemui tuan Putri, semoga tuan putri berkenan menemui kamu”, berkata prajurit penjaga itu kepada Bibi Ijah.

“Terima kasih tuan prajurit, aku akan menanti disini”, berkata Bibi Ijah langsung masuk kedalam ruang tunggu di gardu penjagaan itu.

Terlihat prajurit penjaga itu telah melangkah dan menghilang di jalan lorong istana. Tidak lama berselang prajurit penjaga itu telah datang kembali.

“Tuan putri telah berkenan menerimamu di Pasanggrahan Keputrian”, berkata prajurit penjaga itu kepada Bibi Ijah.

“Terima kasih, tidak perlu diantar, aku sudah tahu arah Pasanggrahan Keputrian”, berkata bibi Ijah dengan wajah gembira mendapat perkenan dari tuan putri.

“Celaka !!”, berkata Dyah Rara Wulan penuh rasa mencekam manakala mendengar sebuah berita yang disampaikan oleh bibi Ijah sebagaimana yang didengar oleh Nyi Dewi Kaswari.

“Ayahanda tadi pagi sudah berangkat ke Hutan Sindur”, berkata kembali Dyah Rara Wulan  masih dengan wajah penuh rasa khawatir yang sangat.

“Tugas hamba hanya menyampaikan berita ini dari Nyi Mas Dewi Kaswari”, berkata Bibi Ijah sambil pamit diri.

“Katakan rasa terima kasih kami kepada junjunganmu”, berkata Dyah Rara Wulan mengantar Bibi Ijah menuruni pendapa tempat tinggalnya.

Ketika bibi Ijah sudah tidak terlihat lagi, tanpa menunggu waktu lagi segera Dyah Rara Wulan menemui Pangeran Citraganda.

Dengan nafas masih tersengal terlihat Dyah Rara Wulan mendatangi Pangeran Citraganda yang tengah berlatih di sanggar tertutup istana.

“Tenangkan dirimu wahai adikku yang jelita, kulihat kamu seperti tengah di kejar hantu”, berkata Pangeran Citraganda ketika Dyah Rara Wulan datang  menemuinya.

“Celaka!!!”, berkata Pangeran Citraganda manakala mendengar langsung sebuah berita rencana Patih Anggajaya dari Dyah Rara Wulan.

“Ibunda harus mengetahui berita ini, mungkin punya sebuah pemikiran yang baik”, berkata Pangeran Citraganda kepada Dyah Rara Wulan.

“Celaka!!, begitu busuk hati Patih Anggajaya”, berkata sang permaisuri Ratu Dara Puspa manakala telah mendengar penuturan tentang sebuah niat jahat Patih Anggajaya.

“Patih Anggajaya akan membawa seluruh pasukan prajurit Kawali ke Hutan Sindur agar memudahkan Prajurit Kotaraja Rakata masuk menguasai istana ini. Adakah ibunda dapat mencegahnya?”, bertanya Pangeran Citraganda penuh harap kepada ibundanya sang permaisuri Ratu Dara Puspa.

“Sayangnya para prajurit Kawali pasti akan banyak mendengar perintah Patih Anggajaya ketimbang mendengar perkataanku”, berkata Ratu Dara Puspa duduk lesu penuh kekhawatiran.

Melihat sikap ibunda Ratu, membuat Pangeran Citraganda dan Dyah Rara Wulan seperti patah semangat, semula diharapkan bahwa ibunda Ratu dapat memberikan sebuah jalan keluar dari permasalahan yang akan mereka hadapi.

“Aku punya sebuah usul, mudah-mudahan ibunda menyetujui usulku ini”, berkata Pangeran Citraganda sepertinya mendapat sebuah akal dan cara baru. “Katakan, mungkin ibundamu dapat menerima usulmu itu”, berkata Ibunda Ratu Dara Puspa kepada Pangeran Citraganda.

“Kita buat sebuah keonaran di istana ini, agar prajurit Kawali tertunda untuk dibawa keluar oleh Patih Anggajaya”, berkata Pangeran Citraganda menyampaikan sebuah usulnya.

“Siapa menurutmu yang bisa melakukan perbuatan keonaran semu di istana ini?”, bertanya Ratu Dara Puspa kepada putranya itu.

“Mahesa Muksa, dialah yang mungkin mampu melakukannya”, berkata Pangeran Citraganda dengan penuh keyakinan.

“Mahesa Muksa?, penjahat wanita itu?”, berkata Ratu Dara Puspa dengan wajah kurang senang.

“Kakang Mahesa Muksa bukan seperti yang orang persangkakan atasnya”, berkata Dyah Rara Wulan mencoba meluruskan pandangan ibundanya.

“Kamu masih saja membelanya, apakah tidak ada pilihan lain di hatimu selain anak muda itu?, ingatlah bahwa kamu adalah putri seorang raja, Eyang buyutmu juga para Raja. Aku dan semua saudaraku para putri Melayu adalah para istri Raja”, berkata Ratu Dara Puspa.

“Waktu dan jaman telah berbeda, wahai ibundaku. Aku bukan seorang putri Raja yang duduk di bawah panggung palagan menunggu seorang kesatria unggulan. Waktu dan jaman telah berbeda, wahai ibundaku. Untukku seorang gadis bukan lagi sebuah barang pilihan, tapi sebuah hati yang punya martabat untuk menentukan siapa pilihan hatinya”, berkata Dyah Rara Wulan dengan wajah penuh berlinang air mata tidak mampu lagi membendung perasaan hatinya yang terluka

“Benar, Mahesa Muksa bukan sebagaimana persangkaan orang”, berkata Pangeran Citraganda sambil bercerita sebuah kejadian yang sebenarnya di kediaman Patih Anggajaya beberapa hari yang telah lewat.

“Saat ini aku memang tidak punya pilihan apapun, kuserahkan segala urusan ini kepadamu”, berkata Ratu Dara Puspa yang sudah mulai melemah, sudah dapat menerima penjelasan Pangeran Citraganda tentang Mahesa Muksa.

“Hamba berdua mohon pamit diri, mohon doa restu dari ibunda”, berkata Pangeran Citraganda sambil menggamit tangan adiknya Dyah Rara Wulan keluar dari kamar pribadi ibundanya.

Ratu Dara Puspa terlihat masih berdiam diri melihat punggung kedua putra dan putrinya yang menghilang di balik pintu kamarnya.

“Apakah aku telah memaksakan kehendak kepada putriku sendiri?”, berkata Ratu Dara Puspa dalam hati menimbang-nimbang perasaan hatinya sendiri. “Apa kata orang bila putriku berjodoh dengan anak muda itu, seorang biasa dan telah tercoreng sebagai seorang penjahat wanita”, berkata kembali Ratu Dara Puspa seperti berusaha mendustai kelemahan sisi hatinya yang menerima perkataan dan kehendak putrinya sendiri. ”Salahkah bila aku berusaha mempertahankan kebesaran nama keturunanku sendiri?” berkata kembali Ratu Dara Puspa dalam hati.

Sementara itu Pangeran Citraganda dan Dyah Rara Wulan telah sampai di jalan simpang antara arah menuju Pasanggrahan Keputrian dan jalan menuju arah Bangsal tahanan di istana Kawali.

“Beristirahatlah, biar aku sendiri yang akan menemui Mahesa Muksa”, berkata Pangeran Citraganda penuh kasih sayang melihat wajah adiknya yang masih terlihat bersedih.

“Sampaikan salamku untuk Kakang Mahesa Muksa”, berkata Dyah Rara Wulan perlahan.

Terlihat Pangeran Citraganda tengah berjalan setengah berlari menuju bangsal tahanan tempat dimana Gajahmada berada saat itu. Pangeran Citraganda telah melihat dua orang prajurit penjaga di muka pintu bangsal tahanan itu.

“Bukakan pintunya, aku ingin menemui tahanan itu”, berkata Pangeran Citraganda kepada kedua prajurit itu.

“Ampunkan hamba tuan Pangeran, ada perintah dari Patih Anggajaya telah melarang siapapun datang menemuinya”, berkata salah seorang dari prajurit itu dengan wajah penuh dengan kebimbangan.

“Perintah itu tidak berlaku untuk aku, putra mahkota di istana Kawali ini”, berkata Pangeran Citraganda dengan warna wajah penuh kewibawaan.

Terlihat kedua prajurit itu seperti meragu, penuh dengan kebimbangan. Namun tidak kuasa untuk tidak menuruti keinginan anak muda dihadapannya itu.

“Hati-hati Tuanku, tahanan ini mungkin sangat berbahaya”, berkata salah seorang prajurit lainnya sambil melepas palang pintu pengunci.

Tanpa berkata apapun kepada kedua prajurit penjaga itu, terlihat Pangeran Citraganda langsung masuk kedalam bangsal tahanan. “Celakalah bila ada yang mengetahui kita telah melanggar perintah tuan Patih”, berkata salah seorang prajurit penjaga itu sambil matanya memandang ke kanan dan kiri memastikan tidak ada seorang pun selain mereka yang melihat telah membuka palang pintu bangsal tahanan.

“Kita tidak melanggar perintah tuan Patih, karena kita melakukannya untuk Pangeran Citraganda. Menurutku benar perkataan tuan Pangeran bahwa perintah tuan Patih tidak berlaku untuk Pangeran Citraganda”, berkata prajurit satu lagi dengan suara berbisik perlahan berusaha menenangkan perasaan takut kawannya itu.

Sementara itu Pangeran Citraganda sudah berada di dalam bangsal tahanan, telah melihat Gajahmada yang tengah duduk tersenyum di atas bale bambu sempit.

“Selamat datang wahai sang putra mahkota kerajaan Kawali”, berkata Gajahmada sepertinya telah mendengar percakapan Pangeran Citraganda dengan kedua prajurit penjaga diluar pintu bangsal tahanan.

“Apakah keadaanmu baik-baik saja?”, bertanya Pangeran Citraganda ikut tersenyum mengetahui bahwa Gajahmada memang telah mendengar percakapan dirinya dengan kedua prajurit itu.

“Pasti ada sesuatu hal yang sangat penting sehingga kamu datang menemuiku”, berkata Gajahmada.

“Memang ada hal yang sangat penting”, berkata Pangeran Citraganda sambil ikut duduk di bale sempit di sebelah Gajahmada.

“Aku perlu bantuanmu”, berkata Pangeran Citraganda setelah bercerita tentang sebuah berita kedatangan pasukan dari Kotaraja Rakata yang akan menguasai istana.

“Katakan apa yang dapat aku lakukan”, berkata Gajahmada.

“Membuat sebuah kekacauan di istana ini sehingga dapat menunda Patih Anggajaya keluar dari Kotaraja Kawali membawa seluruh pasukan prajurit Kawali”, berkata Pangeran Citraganda sambil menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh Gajahmada. “Sementara aku dapat menyusup menemui Ayahandaku untuk kembali selekasnya ke Kotaraja Kawali untuk menghadapi pasukan Rakata yang sudah bersiap masuk ke Kotaraja Kawali”, berkata kembali Pangeran Citraganda.

“Bagaimana Pangeran begitu yakin bahwa pasukan dari Rakata tidak akan masuk menyerang Kotaraja Kawali, ada atau tidak ada prajurit Kawali?”, bertanya Gajahmada.

“Kesetiaan para prajurit Kawali akan terpecah, sebagian dari prajurit akan memilih berperang melawan musuh, sementara itu para prajurit yang berasal dari Rakata sendiri akan menjadi bimbang siapa yang akan mereka hadapi. Dan aku yakin bahwa Patih Anggajaya tidak menginginkan hal ini terjadi”, berkata Pangeran Citraganda.

“Kapan aku dapat melakukan keonaran semu ini, dan sampai kapan?”, bertanya Gajahmada.

“Besok disaat fajar menyingsing, sampai kami datang kembali dari hutan Sindur”, berkata Pangeran Citraganda.

“Sebuah permainan yang sangat menyenangkan”, berkata Gajahmada sambil membayangkan apa saja yang dapat dilakukan untuk dapat membuat sebuah kekacauan di istana.

“Bila aku seorang Raja, maka hukuman atasmu sungguh sangat berat, ditanam hidup-hidup di perempatan jalan karena bukan hanya sebagai penjahat wanita, tapi seorang perusuh yang telah membuat keonaran di istana”, berkata Pangeran Citraganda sambil tersenyum.

Mendengar canda Pangeran Citraganda tidak menahan Gajahmada untuk ikut tertawa.

Namun tawa mereka tiba-tiba saja terhenti, penuh rasa terkejut mereka berdua telah melihat seseorang masuk lewat pintu bangsal tahanan itu.

“Aku akan menambah dosa Mahesa Muksa, bukan hanya sebagai perusuh istana, tapi akan menjadi pemberontak yang akan menguasai istana ini”, berkata orang itu dengan wajah penuh senyum.

“Tuan Pendeta Gunakara?” berkata bersamaan Gajahmada dan Pangeran Citraganda ketika mengenal siapa yang datang masuk ke bangsal tahanan.

Dengan penuh penasaran terlihat Pangeran Citraganda melangkah menjenguk keluar pintu, dengan penuh senyum dilihatnya kedua prajurit penjaga sudah tergeletak tidak sadarkan diri.

“Aku hanya menidurkan mereka”, berkata pendeta Gunakara sambil tersenyum.

“Nampaknya tuan Pendeta datang membawa sebuah permainan lain”, berkata Mahesa Muksa.

“Aku datang bersama seribu para biksu dari Tibet. Mereka tunduk patuh hanya kepada seorang Mahesa Muksa”, berkata Pendeta Gunakara masih dengan penuh senyum. “Seribu biksu dari Tibet?” berkata bersamaan Pangeran Citraganda dan Gajahmada.

“Ceritanya sangat panjang. Mungkin inilah saatnya aku membuka sebuah rahasia besar tentang keberadaanku selama ini”, berkata Pendeta Gunakara sambil memicingkan kelopak matanya seperti tengah mengumpulkan semua ingatannya.

Mendengar pendeta Gunakara akan membuka sebuah rahasia besar membuat Gajahmada dan Pangeran Citraganda terdiam menunggu apa yang akan di ungkapkan oleh orang tua berwajah asing itu kepada mereka.

“Aku berasal dari sebuah tempat yang amat jauh, sebuah vihara ternama dan terbesar di sebuah daerah bernama Tibet. Hingga pada suatu hari, guru besar kami yang bernama Damyang Dalai Lama telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Namun sebelum meninggal dunia, guru besar kami yang sangat sakti dan kami hormati itu telah berpesan bahwa dirinya kelak akan menitis kembali. Beliau telah memberi beberapa petunjuk bagaimana cara mengenali titisan dirinya itu”, sampai disitu terlihat Pendeta Gunakara terdiam menarik nafas dalam-dalam sambil memandang kedua anak muda di hadapannya yang nampaknya sangat tertarik dengan ceritanya itu.

“Aku adalah murid Damyang Dalai Lama yang paling dekat dan terkasih diantara semua muridnya. Itulah sebabnya para paman guruku telah bersepakat mengutus diriku mencari titisan guru besar kami itu”, kembali sampai disitu pendeta Gunakara terdiam sejenak sambil menarik nafas panjang sepertinya tengah mengumpulkan kembali semua ingatannya. Sementara itu Gajahmada dan Pangeran Citraganda masih tetap setia menunggu cerita selanjutnya dan tidak menyela satu patah kata apapun.

“Berkat petunjuk dari Maha guru kami sebelum meninggal dunia, dikatakan bahwa titisan dirinya akan terlahir dalam diri seorang bayi yang lahir bersamaan dengan saat kematiannya di sebuah nusa yang sangat indah, di sebuah daratan yang sangat elok bernama Nusa Dewata. Itulah salah satu petunjuk dari Maha Guru kami yang membawa diriku pergi berlayar jauh hingga sampai ke Bali dwipa”, kembali Pendeta Gunakara diam sejenak sambil memandang kedua anak muda dihadapannya yang dilihatnya penuh perhatian menyimak ceritanya itu.

“Bagaimana tuan pendeta dapat menemui bayi titisan sang Maha Guru di Bali Dwipa?, bukankah pada saat yang sama banyak terlahir bayi yang sama?”, bertanya Pangeran Citraganda.

“Ada sebuah keajaiban di diri Maha Guru kami Damyang Dalai Lama, kemanapun dirinya berada selalu diikuti oleh sebuah awan di langit yang akan melindunginya dari sengatan sinar terik matahari. Di Bali Dwipa itu pun dalam berkah lindungan dan petunjuk arwah Maha Guru kami yang agung telah kutemui seorang bayi dengan ciri dan tanda sesuai dengan petunjuk beliau. Dan kutemui bayi itu punya keajaiban yang sama sebagaimana Maha Guru kami, selalu diikuti oleh sebuah awan kemanapun dirinya berada. Awan itulah yang telah mengantar aku menemui bayi itu”, berkata Pendeta Gunakara sambil tersenyum dan diam sejenak sambil memperhatikan kedua anak muda di hadapannya itu yang nampaknya ingin selekasnya mendengar akhir dari cerita pendeta tua itu. “Aku berjalan bersama tuntunan arwah Maha Guru kami, dan aku begitu yakin bahwa telah menemui bayi titisan beliau meski seseorang telah berusaha menghapus salah satu tanda di tubuh bayi itu”, berkata kembali Pendeta Gunakara.

“Tanda apa yang telah dihapus dari bayi itu?” bertanya Pangeran Citraganda.

“Ada enam titik hitam diatas pundak bayi itu, hanya dengan kekuatan ilmu kesaktian yang tinggi saja yang dapat menghapus tanda enam titik di bahu bayi itu”, berkata Pendeta Gunakara menjawab pertanyaan Pangeran Gunakara.

“Mengapa tanda di atas bahu itu sengaja dihilangkan oleh orang sakti itu”, kali ini Gajahmada yang bertanya.

“Mungkin orang itu bermaksud baik atas bayi itu, berharap tidak ada orang jahat yang bermaksud memanfaatkan bayi itu untuk maksud jahat pula, tentunya. Ada sebuah keyakinan bahwa darah seorang bayi yang terlahir dengan tanda seperti itu akan membuat kekuatan yang hebat siapa saja yang meminumnya”, berkata pendeta Gunakara.

“Setelah tuan Pendeta menemui bayi itu, apakah tuan pendeta dapat membawa bayi itu?” bertanya Pangeran Citraganda.

“Aku tidak tega hati menjauhkan bayi itu dari pangkuan ibundanya, akhirnya aku telah memutuskan hingga sampai dewasa sambil ikut membimbingnya”, berkata pendeta Gunakara.

“Selama ini, sejak kecil aku ada bersamamu wahai tuan pendeta, siapa gerangan bayi itu?” berkata Gajahmada dengan dada berdebar meraba-raba siapa gerangan bayi yang diceritakan oleh pendeta Gunakara itu.

“Kamu benar, selama ini aku hanya ada bersamamu. Kamulah Mahesa Muksa titisan Maha Guru kami yang terlahir di hari yang sama dengan beliau, dengan tandatanda yang sama sesuai petunjuk beliau”, berkata Pendeta Gunakara sambil memandang penuh senyum kebahagiaan kepada Gajahmada.

“Aku?”, bertanya Gajahmada seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya itu.

“Paman guruku dan para murid Maha Guru kami nampaknya sudah tidak sabar ingin menjemput dirimu, mereka telah berlayar dari tempat yang jauh dan hari ini telah berada di hutan sebelah timur Kotaraja Kawali ini”, berkata Pendeta Gunakara masih dengan senyum terbuka.

“Apa yang mereka inginkan dariku?”, bertanya Gajahmada dengan wajah penuh ketidak mengertian.

“Mereka sebagaimana diriku, berharap kamu dapat menggantikan kedudukan Maha Guru kami, Damyang Dalai Lama. Kami akan membawamu menjadi pemimpin besar kami“ berkata Pendeta Gunakara dengan wajah penuh dengan kesungguhan hati.

“Aku menjadi pemimpin para biksu?” bertanya kembali Gajahmada seperti masih tidak mempercayai perkataan pendeta Gunakara.

“Kami tidak akan memaksamu, wahai titisan maha guruku. Semua keputusan ada didalam dirimu sendiri”, berkata pendeta Gunakara dengan sikap penuh hormat seperti berhadapan dengan maha gurunya sendiri.

Melihat sikap Pendeta Gunakara kepada dirinya yang sangat berbeda dari sebelumnya itu telah membuat hati Gajahmada merasa kasihan, namun tidak dapat memutuskan apapun.

“Aku belum dapat berpikir dan memutuskan apapun, saat ini yang kupikirkan adalah bagaimana menghadapi kekuatan pasukan Rakata yang akan menguasai istana Kawali”, berkata Gajahmada

“Kami akan selalu berada di belakangmu, Mahesa Muksa”, berkata pendeta Gunakara masih dengan sikap hormatnya.

“Terima kasih telah mengutamakan masalah yang tengah kami hadapi di istana Kawali ini”, berkata Pangeran Citraganda merasa kedua orang bersamanya itu telah memilih mengutamakan masalah kerajaan Kawali dibandingkan dengan urusan pribadi mereka.

“Keberadaan para biksu di Pasundan ini adalah sebuah anugerah dari Gusti Yang Maha Agung”, berkata Gajahmada mengingatkan kepada Pangeran Citraganda tentang kekuatan baru yang dapat mereka manfaatkan.

“Kehadiran para biksu akan lebih menyemarakkan suasana di istana Kawali ini”, berkata Pangeran Citraganda.

“Kami akan memainkan peran sebagai penguasa semu di istana Kawali ini, tentunya atas ijin dan sepengetahuan Baginda Raja Ragasuci”, berkata Pendeta Gunakara sambil merinci sebuah rencana apa yang akan mereka lakukan.

“Malam ini aku akan menyusup keluar istana menemui Ayahanda di hutan Sindur”, berkata Pangeran Citraganda.

“Disaat ayam berkokok di waktu fajar, aku akan keluar dari bangsal tahanan ini memulai permainan ini”, berkata Gajahmada

“Aku akan kembali menemui para biksu di hutan sebelah barat kotaraja Kawali”, berkata Pendeta Gunakara berpamit diri.

Terlihat pendeta Gunakara telah melangkah keluar menghilang di balik pintu bangsal tahanan.

Tidak lama berselang Pangeran Citraganda berpamit juga meninggalkan Gajahmada. Namun ketika berada di luar pintu bangsal tahanan dilihatnya kedua prajurit penjaga masih tergeletak.

Dengan memijat beberapa urat darah keduanya, terlihat kedua prajurit penjaga itu seperti terkejut mendapatkan diri mereka tergeletak di lantai depan bangsal tahanan.

“Kenapa kalian tertidur saat berjaga?”, bertanya Pangeran Citraganda dengan wajah kurang senang di hadapan kedua prajurit itu.

“Ampun tuan Pangeran, hamba tidak dapat mengerti dan tidak ingat apapun mengapa kami tertidur di lantai ini”, berkata salah seorang prajurit penjaga itu penuh ketakutan.

“Lain kali aku tidak ingin melihat kejadian ini terulang lagi”, berkata pangeran Citraganda sambil berbalik badan dan melangkah pergi.

Terlolong wajah kedua prajurit itu sambil saling melihat satu dengan yang lainnya.

“Semoga tuan Pangeran memaafkan kelalaian kita ini”, berkata salah seorang prajurit penjaga itu.

Dan tidak terasa waktu telah terus berlalu, sang kala telah menarik tiang layar langit biru dan menggamit sang rembulan pucat di ujung senja itu untuk menyapa hari yang mulai redup diatas bumi istana Kawali. Perlahan wajah bumi mulai terselimuti keremangan kegelapan malam.

Di keremangan dan kegelapan malam itulah terlihat sesosok bayangan telah melesat melompati dinding pagar istana yang cukup tinggi. Ketika sosok bayangan itu telah berada di luar dinding pagar istana, terlihat sudah berlari menghilang jauh tertelan kegelapan malam.

Di ujung batas kotaraja Kawali sebelah selatan terlihat kembali sosok bayangan itu di bawah sinar cahaya rembulan yang telah bulat sempurna menerangi malam.

Terlihat dari kerimbunan semak pohon seorang lelaki berjalan menuntun seekor kuda mendekati sosok bayangan itu yang ternyata adalah seorang lelaki muda.

“Terima kasih telah menungguku”, berkata lelaki muda itu sambil mengambil tali kekang kuda.

“Hamba dengan senang hati menjalankan apapun perintah tuan Pangeran Citraganda”, berkata lelaki penuntun kuda itu kepada seorang muda yang dipanggilnya sebagai Pangeran Citraganda.

“Nampaknya kamu telah merawat kudaku dengan baik”, berkata Pangeran Citraganda sambil menepuknepuk perlahan punggung kuda

Lelaki muda itu memang Pangeran Citraganda yang sudah langsung melompat diatas punggung kudanya.

“Hati-hati tuan Pangeran, jalan di hutan malam sangat berliku dan gelap”, berkata lelaki itu ketika kuda yang ditunggangi Pangeran Citraganda terlihat mulai melangkah.

Terlihat Pangeran Citraganda hanya menoleh sebentar melemparkan senyumnya kepada lelaki tua yang sudah lama bekerja di istana sebagai seorang pekatik.

“Kuda itu telah menemukan majikan mudanya”, berkata lelaki tua itu dalam hati manakala telah melihat kuda Pangeran Citraganda telah berlari menjauh masuk tertelan kegelapan malam.

Berjalan diatas hutan malam sebagaimana yang dikatakan oleh pekatik itu memang cukup sulit, apalagi jalan yang harus ditelusuri penuh berliku. Namun bagi Pangeran Citraganda tidak ada kesulitan apapun, cahaya sinar rembulan di malam itu yang menembusi celahcelah batang dan daun di hutan itu telah cukup bagi Pangeran Citraganda untuk tidak tergelincir di jalan setapak yang terkadang cukup terjal. Tidak ada kesulitan apapun ketika akhirnya setelah menempuh perjalanan sepertiga malam telah sampai di sebuah rumah singgah di hutan Sindur.

“Siapa?”, berkata seorang prajurit pengawal sambil meraba gagang pedangnya ketika melihat seorang berkuda telah mendekati rumah singgah.

“Aku, Pangeran Citraganda”, berkata penunggang kuda itu langsung melompat turun dari punggung kudanya.

“Ternyata Gusti tuan Pangeran muda”, berkata prajurit itu sambil membungkuk penuh hormat.

“Nampaknya masih banyak tamu”, berkata Pangeran Citraganda kepada prajurit itu ketika melihat dari luar rumah singgah itu ada beberapa ekor kuda. “Ada beberapa tamu, Adipati Suradilaga dari Singaparna serta tuan Prabu Guru Darmasiksa”, berkata prajurit itu menyampaikan siapa saja tamu yang masih ada di dalam rumah singgah itu.

Terlihat Pangeran Citraganda telah langsung melangkah masuk kedalam rumah singgah di hutan Sindur itu.

“Cucundaku ternyata tidak bisa tidur nyenyak sendiri di istana, malam-malam telah datang ke hutan  Sindur ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa menyambut kedatangan Pangeran Citraganda.

Setelah duduk di bale tengah ruangan rumah singgah itu, langsung saja pangeran Citraganda bercerita tentang pasukan Rakata yang selama ini tidak ada dalam perhitungan mereka.

“Otak Patih Anggajaya cukup cemerlang, membawa seluruh prajurit keluar dari Kotaraja Kawali, memberikan kesempatan Pasukan Rakata menguasai Istana”, berkata Baginda Raja Ragasuci setelah mendengar berita yang  di bawa oleh Pangeran Citraganda tentang rencana licik Patih Anggajaya.

“Rencana Patih Anggajaya tidak akan terwujud, seribu biksu dari Tibet akan memaksa pasukan Kawali menghadapi mereka”, berkata Pangeran Citraganda.

“Seribu biksu dari Tibet?, berkata bersamaan semua yang hadir diatas bale tengah itu.

Terlihat Pangeran Citraganda tersenyum melihat wajah-wajah penuh ketidak mengertian tentang para biksu dari Tibet itu.

Maka perlahan Pangeran Citraganda memberikan sebuah penjelasan siapa gerangan para biksu dari Tibet itu.

“Gusti Yang Maha Agung telah menyelamatkan

Istana Kawali dengan mendatangkan para biksu itu”, berkata Prabu Guru Darmasiksa setelah mendengar penjelasan dari Pangeran Citraganda.

“Aku percaya dengan anak muda itu, kuijinkan Mahesa Muksa bersama pasukan biksunya menguasai istana sampai kita datang kembali”, berkata Baginda Raja Ragasuci dengan wajah penuh senyum. “Apakah ibundamu telah mengetahui apa yang akan diperbuat oleh Mahesa Muksa?”, berkata kembali Baginda Raja Ragasuci kepada Pangeran Citraganda.

“Sebelum berangkat, ananda telah bercerita kepadanya, ananda berharap Ibunda tidak salah arti apalagi menjadi semakin membenci kehadiran Mahesa Muksa”, berkata Pangeran Citraganda kepada Ayahandanya.

“Masih ada waktu mempersiapkan pasukan Adipati Suradilaga untuk bergabung ke Kotaraja Kawali menghadapi pasukan Rakata”, berkata Prabu Guru Darmasiksa.

“Kembalilah ke Istana, menjelang fajar kami akan segera menyusulmu”, berkata Baginda Raja Ragasuci kepada Pangeran Citraganda.

Terlihat Pangeran Citraganda telah berpamit diri untuk kembali ke Kotaraja Kawali.

Sementara itu Bangsal tahanan di dalam Istana Kawali terlihat Gajahmada sepertinya baru saja menyelesaikan olah laku rahasianya, merasakan kesegaran tubuhnya seperti bertambah-tambah berlipat ganda. Hati dan pikiran Gajahmada saat itu seperti begitu jernih dan lapang sehingga semakin peka mendalami rahasia-rahasia mengungkapkan kekuatan jati dirinya sendiri.

“Gusti Yang Maha Agung telah mengarunia setiap anak manusia dengan beragam perlindungan. Cerna dan seraplah hawa dingin di sekitarmu, maka dari dalam tubuhmu akan melindungimu dengan kekuatan sumber daya panas. Semakin besar kamu menyerap hawa dingin di sekitarmu, semakin besar pula kekuatan daya panas melindungimu. Dan kamu dapat melakukan dengan cara yang lain yang berbeda. Kenalilah dirimu sebagai sang pengendali”, berkata Gajahmada dalam hati sambil tersenyum sendiri mengingat kembali ungkapan rahasia yang pernah disampaikan oleh guru penuntunnya Putu Risang.

Bukan main terperanjatnya kedua prajurit penjaga yang berada di muka pintu bangsal tahanan itu ketika merasakan malam yang dingin itu tiba-tiba menjadi  begitu panas menyekat membuat peluh di tubuh mereka tidak terasa mengalir deras membasahi wajah dan pakaian mereka.

Selang beberapa lama kemudian, kedua prajurit itu seperti menjadi begitu panik terheran-heran ketika sebuah kabut turun menyelimuti mereka, bermula sangat tipis. Namun lambat laun kabut itu semakin menjadi begitu tebal membuat penglihatan mereka menjadi seperti terhalang hanya sebatas ujung hidung mereka sendiri. Dan terlihat gigi-gigi mereka bergemerutuk beradu menahan rasa dingin yang sangat.

Apa sebenarnya tengah terjadi atas kedua prajurit penjaga di muka bangsal tahanan itu ? Ternyata di dalam bangsal tahanan, terlihat Gajahmada tengah mateg aji kemampuan daya sakti kekuatan jati dirinya.

Terlihat kabut tebal perlahan hilang menipis di luar bangsal tahanan itu manakala Gajahmada telah mengakhiri daya sakti kekuatan jati dirinya.

“Manusia yang sakti bukanlah seorang yang dapat melontarkan kekuatan hawa panas dan hawa dingin dari tubuhnya, bukan pula seorang yang kebal tidak termakan ketajaman senjata apapun. Tapi manusia sakti adalah yang dapat mengendalikan nafsunya sendiri. Kenalilah nafsumu, maka kamu dapat mengendalikannya”, berkata sebuah suara seperti suara bisikan masuk dan keluar lewat pendengaran bathin Gajahmada.

Dan Gajahmada yang sudah mulai peka membaca mana buah pikiran hati sendiri dan suara bisikan dari luar dirinya segera mengetahui bahwa ada seseorang telah berbicara dengannya lewat sebuah ilmu setara dengan ajian ilmu Pameling.

“Sudah lama kamu mengikuti dimanapun aku berada, siapakah dirimu wahai pembisik hati?” berkata Gajahmada seperti mencoba bertanya kepada dirinya sendiri.

“Bagus, aku memang selalu datang membayangimu. Dan sekarang kulihat dirimu telah dapat membedakan sebuah pikiran yang datang dari luar dirimu. Wahai putraku, aku ayah kandungmu sendiri”, berkata sebuah bisikan lewat pikiran Gajahmada sendiri.

“Sebuah kegembiraan hati tak terkirakan manakala Kakang Putu Risang mengabarkan tentang keberadaanmu, wahai Ayahandaku. Telah terpikir dalam harapanku bahwa suatu saat dapat memandang wajahmu, wajah Ayahku sendiri”, berkata Gajahmada seperti kepada dirinya sendiri merasa yakin didengar oleh Ayahnya sendiri yang entah berada dimana.

“Maafkan aku wahai putraku, kita tidak mungkin dapat bertemu muka. Telah kupalingkan hati ini untuk bertemu langsung dengan ibumu, juga dirimu sebagaimana aku telah memalingkan wajah ini untuk melihat dunia. Begitulah caraku didalam awal pengembaraan bathin menjaga kesucian diri mengarungi samudera semesta alam rahasia diri. Dan aku  sudah jauh berjalan untuk tidak mungkin datang kembali ke pintu duniamu, wahai putraku”, berkata sebuah bisikan didalam hati dan pikiran Gajahmada.

“Putramu tidak akan menghalangi jalanmu wahai Ayahanda. Putramu hanya mohon bimbinganmu”, berkata Gajahmada.

“Kamu telah memiliki ilmu kesaktian tinggi, memahami kitab tantra sebagaimana seorang pendeta, memahami ilmu tata negara layaknya seorang raja, itulah anugerah dari yang Maha Pemberi hidup sebagai jalan kamu berbakti menerangi dunia ini sebagaimana matahari memberikan cahaya kehidupan di bumi”, berkata kembali bisikan lewat di dalam hati dan pikiran Gajahmada.

“Terimakasih, putramu akan selalu mengingatnya”, berkata Gajahmada dalam hati manakala merasakan tidak ada lagi mendengar suara bisikan di dalam hati dan pikirannya sendiri.

Lama Gajahmada terdiam diri mencoba mengingat dan merenungi semua perkataan dari Ayahandanya itu.

“Sebagai sang surya menerangi bumi”, berkata kembali Gajahmada dalam hati. Sementara itu suasana di luar bangsal tahanan malam terasa begitu dingin. Terlihat dua orang prajurit penjaga masih tetap bersiaga, kadang berjalan melangkah untuk memerangi rasa kantuknya.

“Malam ini terasa begitu dingin”, berkata seorang prajurit penjaga di muka pintu bangsal tahanan itu sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sendiri.

“Itu tandanya malam akan segera berakhir, di ujung malam suasana memang menjadi lebih dingin”, berkata kawannya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh kawan prajurit itu, malam memang telah berada di ujung pergantian pagi. Terlihat sebaris cahaya merah telah mulai mewarnai langit malam.

“Sang fajar sebentar lagi akan muncul menerangi bumi”, berkata Gajahmada dalam hati manakala mendengar sayup dari tempat yang begitu jauh suara ayam jantan.

Terlihat Gajahmada telah turun dari bale bangsal tahanan itu, berdiri dan melangkah mendekati pintu kayu bangsal tahanan.

Dan Gajahmada berhenti melangkah dan terlihat berdiri di depan pintu bangsal tahanan itu.

Terlihat Gajahmada telah berdiri tegap dengan sebuah kuda-kuda begitu kokohnya seperti tengah menghimpun tenaga daya sakti kekuatan sejati di dalam tubuhnya.

Brakk …!!!!!

Bukan main kaget dan terkejutnya kedua prajurit di muka bangsal tahanan itu melihat pintu bangsa tahanan yang begitu tebal telah hancur berkeping-keping. Terlihat mereka berdua seperti terpaku di tempatnya manakala dari dalam bangsal tahanan keluar seseorang dengan rambut terurai tidak digulung hanya dengan memakai dua buah helai pakaian putih yang dikenakan secara dililit menutupi pusar kebawah dan dadanya. Sebuah pakaian yang biasa dipakai oleh seorang penghuni tahanan, dan secara kebetulan juga merupakan pakaian yang biasa dikenakan oleh para biksu muda.

Seseorang yang baru keluar dari pintu bangsal tahanan yang telah hancur berkeping-keping itu adalah Gajahmada.

“Mengapa terlolong diam?, cepat bunyikan kentongan dan berlarilah”, berkata Gajahmada sambil tersenyum.

Kedua prajurit itu sudah kadung ketakutan, terutama melihat mata dan penampilan Gajahmada yang baru saja menghempas-kan kekuatan daya sakti tenaga sejatinya memang begitu penuh wibawa dan sangat amat menyeramkan membuat tanpa pikir panjang lagi sudah langsung berlari.

Seorang kawannya yang masih punya sedikit keberanian berhenti sebentar dan masih sempat membunyikan kentongan dengan nada panjang sebagai tanda bahaya. Namun setelah membunyikan suara kentongan, prajurit itu langsung mengikuti arah lari kawannya.

Sengaja Gajahmada tidak mengejar kedua prajurit itu, sengaja pula Gajahmada hanya berjalan perlahan seperti tengah menunggu kedatangan para prajurit lain yang pasti telah mendengar suara kentongan tanda bahaya.

Tidak lama berselang sudah berdatangan beberapa prajurit mendekati arah sumber suara kentongan berasal.

“Menyerahlah!!”, berkata seorang prajurit diantara sekitar lima dan enam orang prajurit pertama yang telah mendatangi sumber suara tanda bahaya.

“Peganglah gagang pedang kalian kuat-kuat”, berkata Gajahmada dengan sikap menantang penuh tantangan dan tanpa perasaan takut sedikit pun terlihat di mata dan wajahnya.

Melihat Gajahmada yang tidak bersenjata apapun, timbul keberanian beberapa prajurit itu yang langsung dengan pedang terhunus telah mendekati Gajahmada.

Enam orang prajurit telah mengepung diri Gajahmada dengan pedang terhunus.

Namun baru saja mereka hendak menggerakkan tangan mereka untuk menyerang Gajahmada. Tiba-tiba saja keenam prajurit itu merasakan tangan mereka seperti begitu panas dan perih. Dan dengan wajah penuh tanda tanya melihat pedang mereka telah berpindah tangan. 

“Aku tidak butuh pedang ini”, berkata Gajahmada sambil dengan begitu mudahnya mematahkan semua pedang di tangannya itu.

Terlolong wajah keenam prajurit itu melihat dengan begitu mudahnya Gajahmada mematahkan pedang mereka.

“Kutunggu kalian di tempat lebih lapang”, berkata Gajahmada sambil berlari ke arah sebuah tanah di istana yang terlihat lebih luas itu.

Ternyata Gajahmada memang telah bermaksud memancing semua prajurit untuk mendatanginya. Dan Gajahmada tidak perlu menunggu terlalu lama, karena dilihatnya puluhan prajurit telah mendatanginya.

“Menyerahlah, atau pedang kami akan mengoyak tubuhmu”, berkata salah seorang prajurit mencoba menggertak Gajahmada.

“Pilihlah oleh kalian bagian yang paling lunak”, berkata Gajahmada dengan penuh senyum dan sikap menantang.

“Koyak orang gila ini”, berkata kembali seorang prajurit yang sebelumnya telah menggertak Gajahmada untuk menyerah. Mendengar himbauan prajurit itu yang cukup lantang telah menggerakkan puluhan prajurit mendekati Gajahmada.

Bukan main terkejutnya puluhan prajurit itu dimana hanya dengan tangan telanjang Gajahmada menangkis setiap serangan pedang mereka. Namun meski dengan sebuah tangan telanjang, pedang merekalah  yang seperti mengenai sebuah batu cadas terlempar dan terlepas dari tangan mereka sendiri.

Ternyata diam-diam Gajahmada telah melambari tubuhnya dengan kekuatan sejati daya saktinya yang setara dengan ajian Lembu Sekilan, sebuah ilmu kekebalan tubuh yang jarang sekali dimiliki oleh sembarang orang. Dan Gajahmada yang berotak cemerlang itu rupanya telah menguasai ajian ilmu kekebalan itu dengan cara menyerap kelembutan di sekitar dirinya akan menimbulkan sebuah perlindungan yang kuat bersumber dari kekuatan sejati daya saktinya yang sudah berlipat-lipat ganda kekuatannya.

“Nampaknya seluruh kekuatan prajurit di istana ini telah berada disini”, berkata Gajahmada dalam hati sambil tersenyum merasa gembira telah dapat menarik perhatian membawa hampir seluruh kekuatan prajurit di istana Kawali datang mengerubuti dirinya seorang diri.

Terlihat Gajahmada sudah tidak lagi hanya menangkis atau mengibaskan tangannya menghadapi setiap serangan pedang ke arahnya, tapi terlihat Gajahmada kadang sudah menggerakkan tangannya melumpuhkan beberapa prajurit.

Terlihat Gajahmada dengan begitu lincah dan cekatan berkelit menghindari setiap serangan para prajurit yang seperti berlomba berusaha melumpuhkan Gajahmada seorang diri.

Bayangkan, sekitar seratus prajurit istana tengah mengeroyok Gajahmada seorang diri.

Namun Gajahmada seperti tidak pernah surut tenaganya, dan Gajahmada seperti merasa gembira layaknya seorang bocah nakal tengah bermain.

Pemandangan di tanah lapang di dalam Istana  Kawali itu lebih mirip dengan sekumpulan semut hitam tengah menghadapi seekor belalang jantan. Dan kaki Gajahmada seperti kaki seekor belalang telah beberapa kali melemparkan beberapa orang prajurit yang datang mendekatinya. Atau terkadang Gajahmada telah melompat berlari diatas kepala mereka.

Dan wajah para prajurit itu sudah menjadi begitu penasaran bahwa menghadapi seorang  Gajahmada yang bertangan kosong saja mereka seperti tidak berarti.

Dan wajah-wajah penuh rasa penasaran itu akhirnya telah berubah menjadi seperti putus asa dan rasa jerih manakala melihat beberapa kawan mereka terkapar pingsan terkena tendangan dan pukulan Gajahmada.

Terlihat serangan para prajurit semakin mengendur, mereka dengan perasaan jerih tidak berani lagi mendekati Gajahmada, hanya sekedar mengepung agar Gajahmada tetap berada ditempatnya.

“Apakah kalian sudah jemu bermain”, berkata Gajahmada sambil tersenyum bertolak pinggang melihat para prajurit itu tidak ada lagi seorang pun yang berani mendekatinya.

“Jangan besar kepala dulu anak muda, akulah yang akan meringkusmu kembali kedalam bangsal tahanan”, berkata seseorang berjubah pendeta yang tiba-tiba saja telah berada didalam arena lingkaran kepungan para prajurit istana.

“Aku seperti pernah mengenalmu”, berkata

Gajahmada kepada orang dihadapannya itu. tua berjubah pendeta

Gajahmada memang seperti pernah bertemu dengan orang itu, terutama ketika mata mereka bertemu pandang.

Benar, Gajahmada seperti mengenali mata elang milik orang berjubah pendeta itu.

“Kita memang pernah bertemu”, berkata orang itu sambil mengeluarkan sebuah senjata dari balik jubahnya.

“Kujang Pangeran Muncang!”, berkata Gajahmada ketika mengenali senjata di tangan orang itu.

“Jarang sekali orang yang mengenal senjata ini”, berkata orang itu sambil tersenyum merasa Gajahmada menjadi jerih dengan senjatanya itu.

“Ternyata kamulah orang berbaju serba hitam itu yang telah melukai Andini”, berkata Gajahmada menatap tajam kearah orang itu. “Daya ingatmu sangat tajam, sayang aku harus membungkam mulutmu selamanya”, berkata orang berjubah pendeta itu sambil langsung menerjang dengan senjatanya kearah tubuh Gajahmada.

Dan Gajahmada tidak berani bermain-main lagi menghadapi pendeta itu, apalagi dengan senjata Kujang Pangeran Muncang ditangan orang itu.

Terlihat Gajahmada yang bertangan kosong tak bersenjata itu pun telah begitu cepatnya berkelit menghindari serangan orang itu yang nampak begitu ganas dan begitu cepatnya.

Ternyata Gajahmada tidak hanya berkelit dan menghindar, tapi langsung melakukan serangan balasan yang tidak kalah cepat dan kuatnya langsung menggempur orang itu dengan sebuah tendangan mengarah pada pinggang lawan.

Terkejut orang itu mendapatkan serangan balasan dari Gajahmada yang tidak terduga-duga itu sudah langsung melompat ke samping dan kembali melakukan serangan lain yang sangat cepat.

Demikianlah, serang dan balas menyerang telah berlangsung dengan begitu cepatnya antara Gajahmada dan orang berjubah pendeta itu.

Dan pertempuran itu pun menjadi semakin seru dan mendebarkan hati telah membuat lingkaran prajurit menjadi semakin melebar karena takut terkena sasaran terjangan mereka berdua.

“Ternyata Kujang Pangeran Muncang berada di tangan Pendeta Rakanata, dialah kunci rahasia dibalik hilangnya pusaka itu”, berkata Pangeran Citraganda kepada Dyah Rara Wulan dan ibundanya Ratu Dara Puspa yang melihat pertempuran itu dari luar lingkaran prajurit.

“Ilmu Pendeta Rakanata sangat tinggi”, berkata Dyah Rara Wulan penuh kekhawatiran.

Ternyata orang berjubah pendeta itu adalah Pendeta Rakanata sebagai guru suci di istana Kawali.

“Semoga Mahesa Muksa mampu menghadapinya”, berkata Pengeran Citraganda menenangkan hati adiknya.

Perkataan Pangeran Citraganda ternyata bukan sekedar menenangkan perasaan hati adiknya. Sebagai seorang yang sudah mapan dalam olah Kanuragan sudah dapat menilai sebuah pertempuran. Dan Pangeran Citraganda dapat melihat bagaimana Gajahmada bukan hanya dapat menghindari setiap serangan, namun mampu juga menekan lawannya, seorang pendeta yang berilmu cukup tinggi.

Terlihat bukan main geramnya hati Pendeta Rakanata mendapatkan seorang lawan seperti Gajahmada itu. Ternyata Gajahmada masih saja dapat melayaninya, mengimbangi serangan demi serangan.

Bertahap pendeta Rakanata telah berusaha meningkatkan tataran ilmunya, namun selalu saja masih dapat diimbangi oleh Gajahmada yang juga telah meningkatkan tataran ilmunya.

0 Response to "Kisah Dua Naga Di Pasundan Jilid 10"

Post a Comment