Kisah Dua Naga Di Pasundan Jilid 06

Mode Malam
Bukan main gembiranya Putu Risang melihat Pangeran Jayanagara dapat berlari melesat kesana kemari seperti bayangan yang berkelebat. Dalam kesempatan lain, Jayanagara juga telah mampu mengungkapkan hawa panas dan hawa dingin  keluar dari dalam tubuhnya sesuai yang diinginkannya. Dalam latihan terakhir, Jayanagara telah memperlihatkan kekuatan tenaga cadangannya menghancurkan batu besar dengan pukulan jarak jauhnya.

Sementara itu di sebuah tempat yang sunyi pada saat yang sama di sebuah hutan terlihat  seorang pemuda tengah berlatih. Anak muda itu adalah Gajahmada yang telah meminta ijin kepada Prajoga untuk melihat-lihat keadaan hutan. Demikianlah cara Gajahmada berlatih ditengah kesehariannya sebagai seorang prajurit yang masih dalam masa pendadaran.

Sebagaimana Pangeran Jayanagara, maka Gajahmada juga memulai latihannya dengan berlaku pernafasan rahasia yang berbeda dengan yang diajarkan kepada Pangeran Jayanagara.

“Gerakan diriku sudah menjadi lebih cepat dari sebelumnya”, berkata Gajahmada dalam hati sambil berlari dan meloncat kesana kemari.

“Ternyata angin pukulanku dapat menebas apapun dalam jarak jauh”, berkata Gajahmada sambil memainkan sebuah pedang ditangan melihat sejauh mana jarak jangkauan angin tebasannya dapat merobek apapun sesuai yang ditujunya.

Demikianlah, Gajahmada mencoba mengenal kekuatan-nya sendiri, mengenal bagaimana mengendalikan kekuatan yang bersumber dari tenaga cadangannya.

“Seekor kijang”, berkata Gajahmada dalam hati yang sudah melesat bergerak kearah seekor kijang yang tengah berjalan.

Naluri seekor kijang dewasa sangatlah peka. Begitu kaget kijang itu melihat Gajahmada yang sudah berdiri didepannya. Maka dengan gerakan naluri kehewanannya yang sangat peka sudah bergerak kesamping untuk kabur meninggalkan Gajahmada.

Ternyata gerakan Gajahmada lebih cepat dari lari seekor Kijang sekalipun. Seperti seorang pemburu pedang di tangan Gajahmada telah mampu mendekati leher sang kijang.

Nasib naas untuk kijang itu yang langsung terkapar dengan leher setengah menganga terkena angin sambaran pedang Gajahmada.

“Malam ini kita dapat ganjalan perut seekor kijang”, berkata seorang prajurit menerima seekor kijang dari punggung Gajahmada yang telah kembali ke pasukannya.

Dan malam itu para prajurit memang terlihat berpesta menikmati daging panggang hasil tangkapan Gajahmada.

“Daging panggang paling nikmat di dunia”, berkata Branjang sambil mengunyah daging kijang.

Malam itu para prajurit Kawali pimpinan Ki Lurah Prajoga terlihat telah beristirahat setelah seharian mereka tidak melakukan apapun hanya sekedar memperlambat waktu kepulangan mereka. Dan malam itu adalah malam ketiga dimana besok mereka pagi-pagi akan melanjutkan kembali perjalanan mereka ke kotaraja Kawali.

Demikianlah, ketika pagi tiba pasukan itu memang telah bergerak menuju Kotaraja Kawali.

Dan selama perjalanan mereka menuju Kotaraja Kawali tidak ada kejadian apapun yang menghalangi perjalanan mereka. Akhirnya, ketika hari telah berada di ujung senja terlihat mereka sudah memasuki gerbang Kotaraja.

“Beritirahatlah kalian malam ini, besok kalian dibebas tugaskan selama satu hari”, berkata Prajoga kepada prajuritnya ketika mereka sudah berada di barak prajurit di Kotaraja Kawali.

“Besok aku akan singgah ke rumah pamanku di Kotaraja ini”, berkata Galih kepada Gajahmada dan Branjang di barak mereka.

“Perlu sehari perjalanan untuk sampai ke rumah orang tuaku, jadi besok aku mungkin akan menemui kakakku yang tinggal tidak begitu jauh dari Kotaraja”, berkata Branjang merencanakan hari bebas tugas mereka selama satu hari itu.

“Aku mungkin hanya jalan-jalan ke pasar Kotaraja”, berkata Gajahmada sambil tersenyum.

“Aku tidak berkeberatan memperkenalkan dirimu dengan kakakku”, berkata Branjang menawarkan Gajahmada ikut bersamanya.

“Terima kasih, aku hanya ingin menikmati suasana di Kotaraja ini”, berkata Gajahmada menolak dengan halur tawaran Branjang itu.

Dan malam itu mereka bertiga masih bermalam di barak prajurit. Hingga ketika pagi telah tiba, terlihat Branjang dan Galih sudah bersiap diri untuk berangkat ke rumah saudaranya masing-masing.

“Nanti malam kalian sudah harus berada di barak ini, ingat bahwa kalian belum mendapat kekancingan sebagai seorang prajurit seutuhnya”, berkata Gajahmada mengingatkan kedua kawannya itu.

Terlihat mereka bertiga keluar bersama dari pintu regol barak prajurit. Namun di sebuah persimpangan jalan mereka harus berpisah.

“Sampai bertemu kembali nanti malam”, berkata Gajahmada kepada Galih dan Branjang ketika mereka berjalan berpisah.

Terlihat Gajahmada telah sendiri berjalan kearah barat menuju kearah pasar Kotaraja Kawali. Bukan main terkejutnya Gajahmada ketika melihat sebuah kereta kencana berhenti didekatnya.

Terlihat seorang gadis manis turun dari kereta kencana itu dan memerintahkan sang kusir untuk membawa kereta kencana itu kembali tanpa dirinya.

“Selamat datang di Kotaraja Kawali”, berkata gadis manis itu kepada Gajahmada.

“Ternyata kamu tuan Putri”, berkata Gajahmada kepada gadis manis yang turun dari kereta kencana itu yang tidak lain adalah Dyah Rara Wulan.

“Aku akan mengantarmu ke dua orang sahabatmu”, berkata Dyah Rara Wulan kepada Gajahmada bercerita singkat bahwa Putu Risang dan Pangeran Jayanagara tengah menunggu kabar tentangnya. ”Biasanya menjelang siang ini mereka berdua ada di kedai tengah pasar”, berkata Dyah Rara Wulan sambil mengajak Gajahmada ke pasar Kotaraja.

Benar apa yang dikatakan oleh Dyah Rara Wulan, bahwa mereka bertemu dengan Putu Risang dan Pangeran Jayanagara di kedai tengah pasar.

Bukan main gembiranya Putu Risang dan Pangeran Jayanagara ketika bertemu dengan Gajahmada.

Terlihat mereka berempat sudah langsung menikmati hidangan di kedai tengah pasar itu. “Ternyata penilaian Prabu Guru Darmasiksa tentang suasana Istana Kawali tidak jauh meleset. Ada sebuah rencana jahat dari Patih Anggajaya”, berkata Gajahmada bercerita tentang kejadian yang menimpa Ki Lurah Prajoga di muka hutan Mayambong.

“Langkah kita harus cepat, jangan sampai rencana mereka terjadi”, berkata Putu Risang setelah mendengar cerita dari Gajahmada.

“Aku bersama Kakang Citraganda telah menemui Ki Lurah Pramuji agar segera menempatkan Mahesa Muksa bertugas sebagai prajurit pengawal Patih Anggajaya”, berkata Dyah Rara Wulan bercerita tentang usahanya menyusupkan Gajahmada di sekitar Patih Anggajaya.

Terlihat Pangeran Jayanagara memandang bergantian antara Dyah Rara Wulan dan Gajahmada.

“Mengapa kamu memandangku seperti itu?”, berkata Dyah Rara Wulan dengan gaya merajuk kepada sepupunya itu.

“Maaf, pikiranku tengah membayangkan bila saja Mahesa Muksa bertugas sebagai prajurit pengawal putri istana Kawali”, berkata Pangeran Jayanagara dengan senyum dikulum.

Terlihat wajah Dyah Rara Wulan menjadi merah berseri dengan senyum menawan tidak merasa malu atas godaan sepupunya itu.

“Aku harus segera kembali ke istana, tidak perlu ada yang mengantar”, berkata Dyah Rara Wulan sambil berdiri tersenyum.

Maka tidak lama berselang gadis manis itu tidak terlihat lagi menghilang diantara orang-orang yang masih berlalu lalang di pasar siang itu. “Bukankah hari ini kamu bebas tugas?”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada.

Terlihat Gajahmada membenarkan dengan sedikit menganggukan kepalanya.

“Ada waktu untuk melihat perkembangan ilmumu”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada sambil berdiri.

Seperti kemarin, Putu Risang telah mengajak kedua muridnya itu ke tepian sebuah sungai yang sepi.

“Aku ingin melihat sejauh mana perkembangan ilmumu”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada.

Maka Gajahmada tahu apa yang diinginkan oleh Putu Risang, terlihat Gajahmada sudah langsung melangkah mencari tempat yang agak lapang.

Gajahmada telah bergerak merangkaikan jurusjurusnya, namun semakin lama terlihat semakin cepat bergerak hingga gerakan Gajahmada mirip sebuah bayangan yang berkelebat kesana kemari.

Setelah sekian lama menunjukkan kecepatannya bergerak, tiba-tiba saja Gajahmada diam berdiri didepan sebuah batu besar sekitar tujuh langkah darinya.

Bukan main terkejutnya Pangeran Jayanagara melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri bahwa batu sebesar tubuh seekor kerbau itu dengan sebuah pukulan jarak jauh oleh Gajahmada telah hancur berkeping-keping berhamburan.

“Aku hanya dapat memecahkannya”, berkata Pangeran Jayanagara dalam hati mengakui kekuatan tenaga sakti saudara seperguruannya itu.

Diam-diam Putu Risang dapat menangkap apa yang ada dalam pikiran Pangeran Jayanagara. “Kemarilah”, berkata Putu Risang memanggil Gajahmada untuk mendekat.

Maka terlihat tiga orang telah mengambil tempat untuk duduk dengan saling menghadap.

“Sebagai seorang guru tidak ada sedikit pun didalam diriku ini untuk membeda-bedakan diantara kalian. Namun sebelumnya aku mohon maaf bila telah memberikan sebuah warisan ilmu yang berbeda. Perlu kalian ketahui bahwa aku memiliki dua jalur ilmu yang berbeda, satu jalur ilmu yang kudapat dari Senapati Mahesa Amping, dan satu lagi dari seorang pertapa dari Gunung Wilis. Kepada Pangeran Jayanagara, aku telah mewariskanmu sebuah olah laku yang berasal dari jalur Senapati Mahesa Amping yang juga dimiliki oleh Ayahmu sendiri Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Sementara itu kepada Gajahmada, aku telah mewariskan sebuah olah laku dari seorang pertapa Gunung Wilis”, berkata Putu Risang kepada kedua muridnya sambil memandang kearah kedua muridnya itu.

Terlihat Putu Risang menarik nafas panjang, sudah lama sekali perkataan itu ingin disampaikan dan didengar langsung oleh kedua muridnya itu. Dan Putu Risang sebagai seorang guru tidak ingin ada kecemburuan dan salah prasangka diantara keduanya.

“Ketika di goa kembar, tanpa sepengetahuan kamu, ayahmu sendiri telah membantu memberikan tenaga saktinya kepadamu”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada. “itulah sebabnya kekuatanmu telah berlipat selayaknya orang yang berlatih puluhan tahun lamanya”, berkata kembali Putu Risang mencoba menjelaskan apa yang ada di balik kekuatan Gajahmada agar Pangeran Jayanagara tidak salah sangka. “Siapa ayahku?”, berkata Gajahmada belum dapat mengerti mendengar Putu Risang menyebut ayahnya.

“Seorang pertapa sakti dari Gunung Wilis itulah ayahmu”, berkata Putu Risang perlahan.

Terlihat wajah Gajahmada begitu berseri-seri. Bukan main gembiranya hati Gajahmada ketika mengetahui ayahnya telah datang menemuinya meski tanpa sepengetahuan dirinya. Sudah lama pertanyaan  itu selalu tersimpan di hatinya. Pernah pada suatu hari Gajahmada bertanya langsung kepada ibunya tentang ayahnya, namun Nyi Nari Ratih diam seribu bahasa, bahkan terlihat air mata menetes di pipi ibunya itu. Maka sejak saat itu Gajahmada tidak pernah bertanya lagi kepada ibunya tentang ayahnya itu. Namun hari ini telah mendengar berita tentang ayahnya dari gurunya sendiri, Putu Risang.

“Aku pernah bertanya tentang ayahku kepada ibuku, tapi telah membuat ibuku bersedih dan tidak ada satu katapun keluar dari ibuku”, berkata Gajahmada. “Apakah kakang dapat mengetahui, dimana aku dapat menemui ayahku itu?”, berkata dan bertanya Gajahmada kepada Putu Risang.

“Pertapa dari Gunung Wilis itu adalah seorang pendeta bernama Darmayasa. Hanya itu yang kuketahui tentang dirinya. Terakhir aku menemuinya di Goa kembar itu”, berkata Putu Risang menyampaikan sebatas yang diketahuinya tentang ayah kandung Gajahmada itu.

Terlihat Gajahmada tercenung diam membayangkan seorang ayah kandung yang entah dimana dan apakah dirinya suatu saat dapat bertemu?.

Akhirnya Putu Risang mencoba menggeser pembicaraan tentang kekuatan tenaga cadangan yang dapat diungkapkan lewat seluruh anggota panca indera, juga dapat disalurkan lewat senjata masing-masing.

“Selama ada kesempatan, teruslah kalian berlatih agar mengenal sejati kekuatan sendiri. Pada akhirnya kalian sendiri yang akan mengenal kekuatan itu yang akan tumbuh berkembang dengan sendirinya”, berkata Putu Risang setelah merinci apa dan bagaimana kekuatan sejati itu tumbuh berkembang.

Sementara itu langit diatas tepian sungai itu terlihat mulai berkabut tebal pertanda akan segera turun hujan.

“Hari akan turun hujan, kita kembali ke tempat masing-masing sambil menunggu perkembangan selanjutnya tentang tugas kita ini membayangi gerakan Patih Anggajaya”, berkata Putu Risang sambil bangkit berdiri.

Terlihat Gajahmada dan Pangeran Jayanagara ikut berdiri.

Kabut diatas langit terlihat semakin menebal hitam, namun belum juga datang turun hujan ketika mereka bertiga telah menyusuri jalan Kotaraja Kawali.

“Carilah kami di pasar”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada ketika dirinya berbelok berpisah menuju tempat pondokannya.

Dan hujan mulai turun rintik-rintik manakala Gajahmada tengah memasuki barak prajurit.

“Ki Lurah Prajoga menunggumu”, berkata seorang prajurit yang mengenal diri Gajahmada.

Mengetahui dirinya tengah ditunggu oleh Ki Lurah Prajoga, maka langsung Gajahmada menuju ke sebuah tempat di barak itu yang biasa digunakan sebagai tempat pertemuan para perwira. Di ruang itu Gajahmada melihat ada dua orang tengah bercakap-cakap, dua orang yang sudah dikenal oleh Gajahmada, yaitu Ki Lurah Prajoga dan Ki Lurah Pramuji.

“Kukira kamu datang menjelang malam nanti”, berkata Ki Lurah Prajoga menyambut kedatangan Gajahmada.

“Di Kotaraja ini aku tidak punya kerabat, jadi seharian ini cuma jalan-jalan ke pasar”, berkata Gajahmada kepada Prajoga.

“Kami memang sedang menunggumu”, berkata Prajoga mengawali sebuah pembicaraan yang akhirnya ternyata pembicaraan mengarah kepada penugasan Gajahmada. ”Ki Lurah Pramuji telah meminta dirimu bertugas di lingkungan prajurit pengawal, kamu ditempatkan sebagai pengawal pribadi Patih Anggajaya”, berkata Prajoga kepada Gajahmada. “Sebenarnya secara pribadi, aku telah menyukai dirimu, menginginkan dirimu bertugas di kesatuanku”, berkata kembali Prajoga.

“Persiapkan dirimu, aku akan mengantarmu ke tempat kediaman Patih Anggajaya”, berkata Ki Lurah Pramuji sambil tersenyum, entah apa yang dipikirkan olehnya tentang diri Gajahmada yang dinilainya punya nilai khusus di hati Pangeran Citraganda dan Putri Dyah Rara Wulan sampai-sampai kedua putra dan putri istana itu telah menitipkan sebuah pesan amanat tentang sebuah tugas pada diri seorang prajurit baru itu, seorang anak dusun, orang biasa seperti Gajahmada itu.

Mendengar sebuah tugas baru itu terlihat Gajahmada pura-pura baru mendengar, padahal semua sudah direncanakan sebelumnya. ”Pengaruh Pangeran Citraganda cukup kuat di istana ini”, berkata Gajahmada dalam hati.

“Kamu dapat belajar dengan para prajurit lainnya, disana”, berkata Ki Lurah Pramuji kepada Gajahmada.

“Aku akan mempersiapkan diri”, berkata Gajahmada sambil berdiri bangkit dari duduk berjalan keluar ruangan itu menuju ke baraknya untuk mengambil beberapa barang miliknya.

Demikianlah, sore itu Gajahmada diantar Ki Lurah Pramuji ke tempat kediaman Patih Anggajaya.

Tempat kediaman Patih Anggajaya berada di pinggir jalan Kotaraja Kawali. Sebuah bangunan rumah yang cukup megah dan luas berjajar dengan rumah para bangsawan Kawali umumnya.

“Aku membawa seorang prajurit baru, namanya Mahesa Muksa”, berkata Ki Lurah Pramuji memperkenalkan Gajahmada kepada kepala prajurit pengawal di rumah Patih Anggajaya.

“Selamat bergabung di lingkungan para prajurit pengawal”, berkata Kepala prajurit itu kepada Gajahmada.

Demikianlah, sejak saat itu Gajahmada telah bergabung sebagai prajurit pengawal yang ditempatkan di rumah kediaman Patih Anggajaya.

Baru satu dua hari saja, Gajahmada sudah banyak mengenal orang-orang yang berada di kediaman rumah Patih Anggajaya, seorang pekatik, para pengalasan dan beberapa pelayan dalam. Dan semua pekerja dilingkungan rumah Patih Anggajaya dalam waktu begitu singkat telah mengenal Gajahmada sebagai seorang prajurit muda yang ramah, rendah hati serta begitu mudah bergaul. Putu Risang dan Pangeran Jayanagara akhirnya seperti hapal kapan dapat menjumpai Gajahmada, yaitu bila suatu hari Gajahmada bertugas malam, maka siangnya mereka biasa bertemu di tepian sungai yang sepi. Demikianlah Gajahmada dan Pangeran jayanagara berlatih meningkatkan pemahaman tentang kekuatan yang ada di dalam diri mereka, tenaga sakti sejati. Dan semakin hari mereka berdua semakin cepat meningkat, lebih-lebih Gajahmada yang telah mempunyai tambahan tenaga sakti dari ayahnya sendiri, sang pertapa dari Gunung Wilis.

Demikianlah, sore itu Kotaraja Kawali baru saja di guyur hujan lebat sehingga ketika menjelang malam hari udara di sekitar Kotaraja Kawali menjadi begitu dingin dan sepi.

“Udara begitu dingin”, berkata seorang pengawal prajurit yang tengah bertugas di gardu ronda rumah kediaman Patih Anggajaya kepada Gajahmada yang tengah bertugas jaga di malam itu.

“Nampaknya semua orang sudah tertidur pulas”, berkata Gajahmada menyambut perkataan kawannya itu.

“Di saat udara dingin dan sepi seperti ini kita harus semakin waspada”, berkata kawan Gajahmada.

“Benar, orang yang bermaksud jahat biasanya menunggu saat seperti ini”, berkata Gajahmada.

Dan malam diatas rumah kediaman Patih Anggajaya saat itu memang terlihat begitu dingin dan sepi, temaram cahaya pelita tidak mampu menerangi kekelaman malam di halaman muka yang cukup luas itu. Suasana malam pun menjadi semakin sepi manakala terdengar sayup suara kentongan nada dara muluk terdengar dari sebuah tempat yang jauh. “Tunggulah disini, aku ingin berkeliling melihat suasana”, berkata Gajahmada kepada kawannya itu.

Maka di keremangan suasana malam terlihat Gajahmada telah keluar dari gardu ronda berjalan lewat halaman samping menuju ke arah belakang rumah utama.

Ternyata Gajahmada memang tengah merasakan panggraitanya yang sudah semakin tajam. Terlihat Gajahmada telah merapat di dinding rumah  ketika melihat ada dua buah bayangan berkelebat masuk melewati dinding pagar rumah yang cukup tinggi.

“Dua orang yang berilmu cukup tinggi”, berkata Gajahmada dalam hati ketika dua bayangan itu begitu hinggap di pekarangan rumah sudah langsung melesat dan melenting dengan begitu mudahnya sudah berada diatas atap rumah.

Namun tanpa rasa gentar sedikit pun, Gajahmada sudah menghentakkan kakinya melesat tinggi hinggap diatas atap wuwungan rumah.

Bukan main terkejutnya dua orang yang sudah lebih dahulu berada diata s atap wuwungan rumah itu melihat ada orang lain dibelakang mereka.

“Jangan lari!!”, berkata Gajahmada kepada kedua orang itu yang telah melesat berlari diatas atap rumah mungkin karena melihat kehadiran Gajahmada.

Terlihat Gajahmada terus memburu kedua orang itu yang sudah turun meloncat ke bawah.

Kedua orang itu pastilah punya ilmu yang cukup tinggi, karena begitu ringan dan mudahnya melompat ke pekarangan belakang dan langsung pergi melompati dinding pagar yang juga cukup tinggi. Tapi Gajahmada yang sudah sering berlatih, mengenal kekuatan ilmu sejatinya sudah langsung melesat mengikuti kemana arah lari kedua orang itu.

Maka kejar-kejaran pun terlihat dimalam gelap itu. “Berhenti!!”, berkata Gajahmada yang sudah berada

dekat dengan mereka.

Bukan main kagetnya kedua orang itu tidak menyangka sama sekali bahwa seorang pengawal prajurit dapat mengimbangi kecepatan mereka berlari.

Mungkin karena merasa yang mengejar hanya seorang diri, maka kedua orang itu memang telah menghentikan langkahnya dan langsung berbalik badan.

“Menyerahlah, aku akan menangkap kalian”, berkata Gajahmada kepada kedua orang itu.

Kedua orang itu terlihat memakai cadar hitam tertutup, sukar sekali mengenali wajah mereka, apalagi saat itu suasana terlihat begitu gelap.

Kedua orang itu tidak langsung menjawab, terlihat mereka berdua saling berbisik satu dengan yang lainnya.

“Apakah kamu hendak menangkap kami, Mahesa Muksa?”, bertanya salah seorang diantara mereka.

“Siapa kalian?”, berkata Gajahmada menjadi meragu mendengar salah seorang diantara mereka menyebut namanya.

“Baru beberapa pekan sudah lupa denganku?”, berkata seorang yang tadi berkata sambil melepas cadar hitamnya.

Terkejut bukan kepalang Gajahmada manakala telah mengenali siapa salah seorang dihadapannya. Malam memang terlihat begitu suram menghalangi wajah orang yang telah membuka cadar hitamnya, tapi penglihatan Gajahmada tidak akan salah mengenali sebuah wajah dan suara itu.

Ternyata wajah dan suara itu masih dikenal oleh Gajahmada sebagai wajah seorang gadis jelita yang siapapun bila pernah berjumpa dengannya pasti tidak akan melupakannya.

Siapakah gadis jelita yang sudah dikenal oleh Gajahmada??

Ternyata gadis itu adalah Andini, seorang putri penguasa Rawa Rontek.

“Andini?”, berkata Gajahmada perlahan menyebut nama gadis itu.

“Ternyata kamu seorang prajurit pengawal”, berkata seorang lagi yang juga telah membuka cadarnya.

“Paman Kebo Samparan!”, berkata Gajahmada memandang orang kedua yang juga masih dikenali sebagai ayah kandung dari Andini, penguasa dan majikan Rawa Rontek.

“Apakah kamu masih ingin menangkap kami?”, berkata Paman Kebo Samparan kepada Gajahmada.

Terlihat Gajahmada seperti ragu, merasa bimbang apa yang akan dilakukan olehnya terhadap kedua orang yang dikenalnya itu. Gajahmada pun berpikir dalam hati bahwa ayah dan anak itu bukanlah seorang penjahat.

“Kalau boleh tahu, apa yang kalian inginkan dengan memasuki kediaman Patih Anggajaya di malam hari, juga dengan cara sembunyi”, berkata Gajahmada

“Ayahku dapat menjelaskannya”, berkata Andini sambil menoleh kepada ayahnya, Kebo Samparan yang diharapkan dapat menjelaskan semuanya hingga tidak ada salah paham sedikitpun dari Gajahmada.

“Kami bersama Andini telah mencari tahu tentang keberadaan ibunya. Di Kotaraja Rakata kami mendapat sebuah keterangan bahwa ibunya Andini telah menjadi seorang istri seorang pejabat istana Pasundan.

Akhirnya pejabat itu kami ketahui adalah Patih Anggajaya. Itulah sebabnya dimalam hari kami bermaksud ingin meyakini bahwa ibunya Andini benar adanya berada di rumah itu”, berkata Kebo Samparan menjelaskan semuanya kepada Gajahmada.

“Mengapa tidak datang secara terang-terangan di siang hari?”, bertanya Gajahmada

“Kami takut ibunda Andini belum siap menerima kami”, berkata Kebo Samparan memberikan sebuah alasan.

Terlihat Gajahmada yang pernah mendengar sebuah cerita tentang kisah asmara Paman Kebo Samparan dengan seorang putri dari Kerajaan Rakata itu diam -diam dapat memahami alasan dari Kebo Samparan mendatangi kediaman Patih Anggajaya di malam hari.

“Waktu kita sangat singkat, ada yang perlu kalian ketahui tentang Patih Anggajaya. Besok ku tunggu kalian di tepian sungai selatan Kotaraja Kawali”, berkata Gajahmada kepada Andini dan Kebo Samparan.

“Baik, kami akan kesana besok pagi”, berkata Kebo Samparan sambil memegang tangan Andini dan melambaikan tangannya kepada Gajahmada.

Kegelapan malam seperti telah menelan tubuh mereka yang sudah tidak terlihat lagi. Sementara itu Gajahmada masih berdiri menarik nafas panjang, entah apa yang dipikirkannya. Apakah kepergian gadis jelita itu atau kisah ayah dan anak itu yang berkaitan dengan Patih Anggajaya seorang yang tengah dibayangi gerakannya sehingga sampai dirinya menyamar sebagai seorang prajurit pengawal.

Terlihat Gajahmada telah berbalik badan kembali ke rumah Patih Anggajaya sebagaimana dirinya keluar, yaitu dari dinding pekarangan belakang.

Pekarangan belakang rumah kediaman Patih Anggajaya masih terlihat sepi.

“Lama sekali kamu ke belakang”, berkata kawan Gajahmada ketika melihatnya muncul kembali di muka gardu penjaga.

“Ki Ijam masih belum tidur, minta ditemani berbincang-bincang”, berkata Gajahmada memberikan sebuah alasan.

Pagi itu cahaya matahari telah menerangi bumi Kotaraja Kawali. Terlihat beberapa orang sudah berlalulalang di jalan Kotaraja, mungkin ada diantara mereka yang tengah berangkat ke pasar Kotaraja.

Diantara orang-orang yang berlalu-lalang di jalan Kotaraja, terlihat seorang pemuda tengah berjalan ke arah selatan Kotaraja. Pemuda itu adalah Gajahmada yang tengah menuju ke sebuah tepian sungai, sebuah tempat yang sangat sepi dan jarang sekali dikunjungi oleh siapapun saat itu.

Ketika Gajahmada tiba di tepian sungai itu, dilihatnya Andini bersama ayahnya sudah mendahuluinya.

Andini menyambutnya dengan sebuah senyum, juga ayah kandungnya tersenyum ramah kepada Gajahmada. “Kita bertemu lagi, sahabat muda”, berkata Bango Samparan kepada Gajahmada ketika telah mendekati mereka berdua.

“Apakah kalian berdua sudah lama menunggu?”, bertanya Gajahmada

“Kami belum lama berselang kedatanganmu”, Andini yang menjawab pertanyaan Gajahmada.

“Kita masih harus menunggu dua orang kawan lagi”, berkata Gajahmada

“Siapa dua orang kawan kita itu?”, kali ini Bango Samparan yang bertanya kepada Gajahmada.

“Kakang Putu Risang dan Pangeran Jayanagara”, berkata Gajahmada singkat.

“Ternyata mereka ada di Kotaraja Kawali pula”, berkata Bango Samparan yang masih ingat dengan Putu Risang dan Pangeran Jayanagara.

“Apakah kalian biasa bertemu di tepian sungai ini”, bertanya Andini kepada Gajahmada.

“Dalam hari-hari tertentu, biasanya disaat aku bebas tugas sebagai pengawal prajurit”, berkata Gajahmada menjelaskan.

Ternyata mereka tidak perlu lama menunggu, tidak begitu lama berselang telah terlihat Putu Risang dan Pangeran Jayanagara tengah mendatangi mereka.

“Dunia sepertinya begitu sempit”, berkata Bango Samparan penuh kegembiraan telah bertemu kembali dengan Putu Risang dan Pangeran Jayanagara.

Sebelum Putu Risang bertanya, maka Gajahmada dengan singkat telah bercerita tentang pertemuan mereka tadi malam di kediaman Patih Anggajaya. Putu Risang dan Pangeran Jayanagara yang pernah mendengar kisah asmara antara Bango Samparan dan seorang putri bangsawan kerajaan Rakata sudah langsung dapat mengerti kepentingan mereka ayah dan anak itu, yaitu ingin mengetahui keadaan ibunda Andini, yang saat itu telah menjadi istri Patih Anggajaya.

Maka dengan singkat pula Putu Risang memberikan penjelasan mengapa mereka berkeliaran di sekitar Kotaraja Kawali, disamping masih berkaitan dengan hilangnya Kujang Pangeran Muncang, juga tengah membayangi sebuah gerakan hitam yang akan dilakukan Patih Anggajaya.

Dan hari-hari pun berlalu bersama musim penghujan di bumi Kotaraja Kawali saat itu dimana para petani menjadikannya sebagai masa-masa penuh gairah sebagai awal musim untuk memulai bercocok tanam. Sebuah perputaran musim yang masih terus teratur sepanjang tahun, sebuah anugerah alam dalam perputaran iklim dan musim diatas tanah Pasundan yang subur.

Namun musim penghujan kali ini telah membuat suasana diatas Kotaraja Kawali menjadikan hari-harinya lebih dingin lagi, terutama manakala datang saat malam tiba.

Dingin dan kebekuan memang telah menyelimuti suasana malam di bumi Kotaraja Kawali. Seperti itu pula suasana jiwa yang mengiringi hari-hari Dewi Kaswari, seorang wanita yang telah disunting oleh Patih Anggajaya menjadi istrinya itu.

Semula Dewi Kaswari telah berharap bahwa perkawinannya dapat menghapus segala keresahan dan kegetiran hidupnya. Dewi Kaswari telah berharap bahwa suaminya Anggajaya adalah seorang pria yang dapat membawanya ke dalam kehidupan penuh ketentraman hati.

Namun semua harapan itu seperti hanya tergantung dalam langit-langit hayal, Anggajaya ternyata bukan seorang suami yang baik. Kehadirannya di sisi wanita putri kesayangan Raja Rakata itu ternyata hanya sebuah batu pijakan dalam sebuah hasrat ambisi yang membumbung menggulung-gulung dalam jiwa lelaki itu.

Anggajaya, adalah sebuah sosok lelaki yang terlahir dan dibesarkan tumbuh membawa benih dendam kesumat dari sebuah pergolakan dan kekalahan sebuah peperangan. Dia adalah putra seorang Senapati Kerajaan Rakata yang terbunuh dalam sebuah peperangan besar pergumulan sebuah kekuasaan di bumi Pasundan.

Dan sepertinya akhir perjalanan hasrat Patih Anggajaya akan tergelincir di ujung harapan hingga pada sebuah pagi seorang pemuda, seorang pengawal prajurit yang bertugas di rumahnya datang menghadap menemui Dewi Kaswari di pendapa Patih Anggajaya.

“Mohon ampun Nyi Ayu, perkenankan hamba menghadap”, berkata prajurit pengawal muda itu yang ternyata adalah Gajahmada.

“Kuperkenankan dirimu menghadap, apa kiranya yang hendak kamu sampaikan wahai anak muda?”, berkata Dewi Kaswari yang sudah mengenal Gajahmada sebagai seorang prajurit muda yang baru bertugas di lingkungan tempat tinggalnya.

Terlihat Dewi Kaswari bersama seorang pelayan wanita tua memperhatikan dengan seksama ke arah Gajahmada yang tengah mengambil sesuatu dari balik pakaiannya.

Dengan penuh hormat Gajahmada memperlihatkan sebuah benda di hadapan Dewi Kaswari berbentuk seperti sebuah tusuk konde dari bahan perak berukir pohon pisang, sebuah benda hasil karya yang unik dan halus, siapapun di jaman itu akan tahu pasti buah karya para pengrajin dari Kotaraja Rakata yang sudah termasyur di penjuru dunia di jamannya.

“Hamba ingin menyerahkan benda ini kepada Nyi Ayu”, berkata Gajahmada kepada Dewi Kaswari.

Terlihat Dewi Kaswari begitu terperanjat menatap benda di tangan Gajahmada.

Dewi Kaswari tidak langsung mengambil benda itu dari tangan Gajahmada, matanya masih terpaku kepada benda berbentuk tusuk konde itu.

Dan seperti sebuah untaian manik-manik yang ditarik paksa, pecah seketika berurai.

“Bibi…!!”, hanya itu yang terdengar dari suara Dewi Kaswari yang telah rebah memeluk pelayan tua di sebelahnya.

Bibi Ijah, demikian nama panggilan pelayan tua itu terlihat tengah mengusap-usap rambut majikannya itu. Seperti seorang ibu, bibi Ijah yang telah merawat Dewi Kaswari semenjak kecil itu sepertinya tahu betul apa yang ada dalam perasaan majikannya itu.

“Biarkan kami berdua di sini”, berkata Bibi Ijah kepada Gajahmada dengan suara berbisik.

Dan Gajahmada mengerti maksud perkataan Bibi Ijah, maka diserahkannya benda itu kepada Bibi Ijah sambil pamit untuk kembali bertugas di gardu penjagaan. Terlihat Gajahmada sudah berada di pekarangan rumah menuju ke gardu penjagaan. Hati dan perasaan Gajahmada masih terbawa suasana di atas pendapa kediaman Patih Anggajaya itu. Gajahmada memahami perasaan Dewi Kaswari saat itu sebagai perasaan seorang wanita yang sangat halus mengingat kembali kepada sebuah masa yang tidak akan mungkin dapat dilupakannya.

“Tolong panggilkan untukku pengawal prajurit itu, bibi”, berkata Dewi Kaswari yang sudah mulai dapat menguasai perasaan hatinya.

Maka Bibi Ijah segera bangkit berdiri turun dari pendapa menuju ke gardu penjagaan.

“Nyi Ayu memintamu datang menghadapnya”, berkata Bibi Ijah kepada Gajahmada yang telah berada  di gardu penjagaan bersama kawannya.

Maka segera terlihat Gajahmada sudah berjalan bersama Bibi Ijah di pekarangan rumah menuju pendapa rumah dimana Dewi Kaswari sedang duduk menunggu mereka.

Ketika mereka naik ke atas pendapa, terlihat bibi Ijah langsung duduk di sebelah majikannya. Sementara Gajahmada telah bersimpuh penuh hormat di hadapan Dewi Kaswari.

Terlihat Gajahmada menarik nafas panjang melihat sebentar kelopak mata Dewi Kaswari yang tebal seperti habis menangis.

“Dapatkah kamu bercerita siapa yang memberikan benda tusuk konde itu kepadamu?” bertanya Dewi Kaswari kepada Gajahmada.

Terlihat Gajahmada tidak langsung menjawab, hanya menarik nafas dalam-dalam kembali.

“Lelaki yang meminta hamba menyerahkan benda itu bernama Bango Samparan”, berkata  Gajahmada berhenti sebentar sambil mengawasi apakah ada perubahan sikap di wajah Dewi Kaswari manakala dirinya menyebut sebuah nama.

Ternyata Dewi Kaswari sudah dapat menduga bahwa benda itu memang milik seorang lelaki yang sangat dikenalnya. Sekilas Gajahmada melihat sebuah kilatan kegembiraan di mata Dewi Kaswari.

“Dimana kamu bertemu dengannya?, apakah ada pesan darinya?, dimana aku dapat menemuinya?”, bertanya Dewi Kaswari kepada Gajahmada.

Mendengar pertanyaan yang beruntun itu Gajahmada terlihat sedikit tersenyum.

“Hamba telah mengenalnya sebagai seorang majikan penguasa Rawa Rontek. Paman Bango Samparan datang bersama putrinya di Kotaraja ini memang bermaksud bertemu dengan Nyi Ayu”, berkata Gajahmada perlahan.

“Dia datang bersama putrinya?” berkata Dewi Kaswari dengan wajah penuh kegembiraan hati terlihat dari rona cerah di matanya. “Seusia berapa putrinya itu?” berkata dan bertanya kembali Dewi Kaswari.

“Lebih muda sedikit dari usia hamba saat ini”, berkata Gajahmada.

“Dimana aku dapat menemui mereka?” berkata Dewi Kaswari seperti tidak sabaran lagi.

“Paman Bango Samparan berkata kepadaku tidak ingin kehadirannya akan mengganggu kehidupan Nyi Ayu. Apa yang dilakukannya datang ke Kotaraja Kawali ini hanya untuk mempertemukan putri kandungnya kepada Nyi Ayu. Untuk hal itu hamba dapat mengaturnya”, berkata Gajahmada perlahan berusaha menyusun kata-demi kata sambil menilik sikap Dewi Kaswari yang ternyata sesuai dari dugaannya semula, sangat gembira terutama ketika disebut seorang putri yang datang bersama Bango Samparan.

Terlihat Dewi Kaswari seperti tengah berpikir, merenung sejenak.

“Apakah bibi Ijah punya sebuah pemikiran agar aku dapat menemui putriku itu….” berkata Dewi Kaswari kepada Bibi Ijah yang selama itu hanya diam mendengarkan.

Sementara itu Gajahmada yang telah mendengar kisah asmara Bango Samparan dan Dewi Kaswari dapat memaklumi ketika Dewi Kaswari seperti ragu manakala menyebut kata “putriku”, sebuah kata yang sangat rahasia dan sudah seperti lama dipendam dan dikubur rapat-rapat.

Sementara itu Bibi Ijah yang juga telah mengetahui rahasia kisah cinta majikannya itu terlihat menarik nafas dalam-dalam berusaha berpikir keras.

Terlihat wajah Bibi Ijah menjadi cerah dan jernih dengan sebuah sedikit senyuman di bibirnya. Sebagai tanda telah menemukan sebuah jalan terang dalam pikirannya.

“Siapa nama putri Bango Samparan?” berkata Bibi Ijah kepada Gajahmada.

“Namanya Andini”, berkata Gajahmada.

“Kita dapat membawanya ke sini, untuk menghindari kecurigaan orang, kita dapat menyusupkannya mungkin sebagai seorang pelayan dalem. Apakah Nyi Ayu tidak berkeberatan dengan buah pikiranku ini?” berkata Bibi Ijah sambil menoleh ke arah Dewi Kaswari.

Sejenak Dewi Kaswari menatap wajah pelayan tua yang sangat dikasihi dan dipercayakannya itu. Tanpa berkata apapun terlihat Dewi Kaswari menganggukkan kepalanya sebagai tanda menyetujui usulan Bibi Ijah itu.

Seperti untaian benang emas yang disulam diatas tenunan kain sutera, cahaya matahari diatas bumi Kotaraja Kawali di saat musim penghujan itu seperti sebuah anugerah kehangatan sejenak diwadahi para penghuni bumi.

Dan hari-hari di kediaman Patih Anggajaya menjadi lebih hangat dari sebelumnya semenjak ada kehadiran seorang gadis jelita.

Siapa gerangan gadis jelita itu?

Ternyata gadis itu tidak lain adalah Andini.

Selain Gajahmada, Bibi Ijah dan Dewi Kaswari, tidak ada seorang pun di kediaman Patih Anggajaya yang mengetahui sejati Andini sebenarnya. Mereka hanya mengetahui bahwa Andini adalah anak kemenakan Bibi Ijah yang datang ikut bekerja.

Siapapun di kediaman Patih Anggajaya tidak bercuriga sedikit pun, meski kadang melihat sikap yang sangat istimewa kepada Andini. Tapi mereka menganggap bahwa sikap istimewa itu lebih cenderung kepada sikap seorang wanita yang tidak dikaruniai seorang anak setelah masa perkawinan mereka yang terhitung cukup lama, hanya itu dan sebatas itulah persangkaan mereka atas sikap istimewa Dewi Kaswari kepada Andini. Bagaimana sikap Patih Anggajaya terhadap perlakuan istimewa istrinya itu?

Sebagaimana orang lain, persangkaannya pun hampir sama, memaklumi perasaan istrinya itu.

Namun kehadiran gadis jelita itu telah membuat iri kawan-kawan Gajahmada, terutama melihat perlakuan khusus yang dapat dibaca oleh siapapun terhadap sikap Andini kepada Gajahmada.

“Hari ini kami membuat kudapan getuk manis, mudah-mudahan kamu menyukainya”, berkata Andini yang datang ke gardu penjagaan menemui Gajahmada.

“Terima kasih”, berkata Gajahmada kepada Andini sambil menerima pemberian makanan itu.

“Berkahnya bertugas bersamamu, selalu ada kiriman cemilan dari dalam”, berkata kawan Gajahmada ketika Andini telah kembali ke dalam rumah tidak terlihat lagi.

Terlihat Gajahmada tidak berkata apapun, hanya sedikit tersenyum sambil menikmati sejumput getuk manis pemberian Andini itu.

Demikianlah, hari-hari berlalu di kediaman Patih Anggajaya.

Hingga di sebuah siang ketika seorang kawan-kawan Gajahmada tidak ada di gardu penjagaan, terlihat Andini telah mendekati Gajahmada yang tengah sendiri.

“Ada berita yang kudapat dari ibunda Dewi Kaswari, sebuah rencana rahasia Patih Anggajaya”, berkata Andini kepada Gajahmada dengan berbisik.

“Sebuah rencana?”, bertanya Gajahmada.

“Benar, sebuah rencana”, berkata Andini yang langsung bercerita tentang sebuah rencana Patih Anggajaya yang didapat dari Dewi Kaswari.

Dan malam baru saja berganti manakala terlihat seorang pemuda berjalan keluar dari kediaman Patih Anggajaya.

Ketika cahaya oncor di sebuah regol menerangi wajah pemuda itu, terlihatlah jelas wajah pemuda itu tidak lain adalah Gajahmada. Setelah mendengar penuturan Andini tentang sebuah rencana, tidak harus menunggu besok, malam itu juga Gajahmada sudah keluar dari kediaman Patih Anggajaya untuk menemui Putu Risang di pondokannya.

“Pasti ada sebuah berita sangat penting sehingga kamu tidak lagi menunggu pagi”, berkata Putu Risang di pondokannya kepada Gajahmada.

Ternyata di pondokannya itu juga hadir Pangeran Jayanagara dan Bango Samparan.

“Ada sebuah berita yang sangat penting”, berkata Gajahmada membenarkan dugaan Putu Risang.

Maka Gajahmada langsung menuturkan sebuah rencana Patih Anggajaya sebagaimana yang didengarnya dari Andini. ”Ternyata Patih Anggajaya sudah punya seorang tumbal arang” berkata Gajahmada dalam penuturannya.

Siapakah yang dimaksud sebagai seorang tumbal arang oleh Gajahmada ? Sebagaimana yang dituturkan Gajahmada kepada Putu Risang, Pangeran Jayanagara dan Bango Samparan, ternyata Patih Anggajaya telah berhasil menghasut seorang senapati muda bernama Suradilaga, seorang pahlawan Pasundan yang telah banyak berjasa dalam berbagai peperangan. Dengan sebuah kelicikan Patih Anggajaya berhasil memindah tugaskan Senapati muda itu ke sebuah tempat  yang jauh. Dan dengan kelicikannya pula senapati muda itu dibakar perasaannya bahwa pemindah tugasannya berkaitan dengan seorang putri Temenggung yang dicintainya. Sengaja, Patih Anggajaya membuat berita palsu bahwa Baginda Raja akan melamar gadis putri Temenggung itu untuk putranya Pangeran Citraganda.

Patih Anggajaya telah berhasil membakar perasaan Senapati Suradilaga.

“Baginda Raja Ragasuci tidak ingin pamor kebesaranmu dapat menghalangi kewibawaannya, itulah sebabnya kamu dikucilkan ke tempat jauh”, berkata Patih Anggajaya menghasut Senapati Suradilaga.

Setelah berhasil membakar perasaan Senapati Suradilaga, Patih yang terkenal kelicikannya itu telah menawarkan sebuah kesepakatan yang membuat Senapati Suradilaga benar-benar terbuai.

Apa janji penawaran Patih Anggajaya itu kepada Senapati Suradilaga? Ternyata Patih Anggajaya menawarkan sebuah tahta bilamana dirinya dapat membunuh sang Raja.

Maka diaturlah sebuah kesepakatan antara Patih Anggajaya dan senapati Suradilaga untuk membunuh Raja Ragasuci di saat musim perburuan di hutan Sindur.

“Tumbal arang itu pasti akan dihabisi oleh Patih Anggajaya di saat yang tepat”, berkata Gajahmada mengakhiri penuturannya mengenai sebuah rencana jahat Patih Anggajaya.

Namun, disaat mereka masih membicarakan tentang rencana Patih Anggajaya, muncul Pangeran Citraganda di pondokan mereka. “Kamu datang disaat yang tepat”, berkata Putu Risang kepada Pangeran Citraganda yang baru datang itu.

“Entah mengapa aku rindu bertemu kalian”, berkata Pangeran Citraganda langsung duduk ngeriung bersama di atas bale-bale.

Maka Putu Risang menyampaikan apa yang baru saja di dengar dari Gajahmada kepada Pangeran Citraganda.

“Senapati Suradilaga bulan lalu telah diangkat menjadi seorang Adipati di Singaparna karena jasajasanya, sungguh jahat Patih Anggajaya yang telah memutar balikkan kebaikan Ayahanda”, berkata Pangeran Citraganda setelah mendengar penuturan Putu Risang.

“Baginda Raja Ragasuci harus segera mengetahui rencana jahat itu”, berkata Putu Risang.

“Malam ini juga aku akan menyampaikannya kepada Ayahanda”, berkata Pangeran Citraganda.

“Bagus, besok kita berangkat bersama ke Padepokan Prabu Guru Darmasiksa untuk melaporkan berita ini”, berkata Putu Risang.

“Kalau begitu aku akan kembali ke istana bertemu dengan Ayahanda, besok kita bertemu di gerbang batas kota untuk berangkat bersama ke lereng Gunung Galunggung menemui Eyang Prabu”, berkata Pangeran Citraganda.

Maka terlihat Pangeran Citraganda sudah berdiri untuk kembali ke istana, namun masih sempat memberi sebuah pesan kepada Gajahmada.

“Kapan kamu bebas tugas?”, bertanya Pangeran Citraganda kepada Gajahmada sambil tersenyum

“Besok lusa”, berkata Gajahmada tanpa tahu kemana arah pertanyaan Pangeran Citraganda itu.

“Besok lusa jangan kemana-mana, ada seorang putri istana yang ingin diantar oleh seorang prajurit pengawal”, berkata Pangeran Citraganda masih dengan senyumnya.

Mendengar perkataan itu terlihat Gajahmada ikut tersenyum, terbayang seorang gadis manis yang manja, tapi sangat menyenangkan hati. Siapa gadis itu kalau bukan Diah Rara Wulan.

Demikianlah, Pangeran Citraganda telah keluar dari pondokan untuk kembali ke istana. Berselang tidak lama kemudian Gajahmada mohon pamit untuk kembali ke tempat kediaman Patih Anggajaya.

Di keremangan malam, terlihat Gajahmada tengah menyusuri jalan Kotaraja Kawali menuju tempat kediaman Patih Anggajaya.

“Kukira kamu tidak akan datang kembali”, berkata kawan Gajahmada di gardu penjagaan.

“Apakah tidak ada kejadian apapun selama aku tidak ada?”, berkata Gajahmada kepada kawannya itu.

“Untungnya tidak ada kejadian apapun selama kamu belum datang”, berkata kawan Gajahmada.

Dan pagi itu udara masih terlihat berkabut kuat diatas Kotaraja Kawali. Terlihat empat ekor kuda telah keluar dari gerbang batas kota sebelah barat.

Keempat penunggang kuda itu nampaknya tidak memacu kudanya dengan cepat, meski begitu langkah kaki-kuda telah membuat debu mengepul di belakang mereka. Dan angin pagi yang dingin terlihat telah menyapu wajah dan rambut mereka.

Keempat penunggang itu ternyata adalah Putu Risang, Pangeran Jayanagara, Pangeran  Citraganda dan Bango Samparan yang tengah berjalan menuju Gunung Galunggung menemui Prabu Guru Darmasiksa.

Tidak ada kejadian apapun selama di perjalanan mereka.

Jarak antara Gunung Galunggung dan Kotaraja Kawali memang tidak begitu jauh. Ketika matahari terlihat mulai meredup menjelang senja mereka telah berada di sebuah lereng Gunung Galunggung.

“Kami di sini selalu menunggu kabar dari kalian”, berkata Prabu Guru Darmasiksa menyambut kedatangan mereka.

Maka Putu Risang telah memperkenalkan Bango Samparan kepada semua yang hadir di atas pendapa Padepokan Prabu Guru Darmasiksa dimana saat itu juga hadir Jayakatwang dan Pendeta Gunakara.

Setelah bersih-bersih diri di pakiwan dan beristirahat dengan cukup, akhirnya Putu Risang telah bercerita cukup rinci sebuah perkembangan yang ada di Kotaraja Kawali.

“Jadi Patih Anggajaya akan menggunakan tangan Adipati Suradilaga untuk membunuh Raja Ragasuci”, berkata Prabu Guru Darmasiksa setelah mendengar semua cerita dari Putu Risang.

“Masa perburuan direncanakan pada purnama bulan depan” berkata Pangeran Citraganda menambahkan.

“Kita buat sebuah jebakan dimana Patih Anggajaya akan termakan oleh senjatanya sendiri” berkata Prabu Guru Darmasiksa membuat sebuah siasat. “Cucunda belum dapat memahami apa yang Eyang Prabu maksudkan”, bertanya Pangeran Citraganda yang belum mengerti arah pembicaraan Prabu Guru Darmasiksa.

Terlihat Prabu Guru Darmasiksa tidak langsung menjawab pertanyaan Pangeran Citraganda, hanya sedikit tersenyum mendengar pertanyaan dari cucunya itu.

“Kita harus dapat membuka mata hati Adipati Suradilaga, dengan cara itu kita sudah dapat menjadikannya kawan sekutu yang baik”, berkata Prabu Guru Darmasiksa sambil memandang kearah semua yang hadir di pendapa padepokannya.

“Sekarang cucunda baru paham” berkata pangeran Citraganda sambil manggut-manggut tanda sudah memahami apa yang ada dalam pikiran kakeknya itu.

“Sekarang siapa yang dapat mendatangi Adipati Suradilaga itu?” bertanya Pangeran Jayanagara.

……………..oOo……………….
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Dua Naga Di Pasundan Jilid 06"

Post a Comment

close