Kisah Dua Naga Di Pasundan Jilid 03

Mode Malam
Dan malam itu di atas Padepokan Prabu Guru Darmasiksa berlalu begitu tenang, tidak ada kejadian apapun di malam itu.

Semburat warna merah sang pagi telah menghiasi cakrawala langit di atas Padepokan Prabu Guru Darmasiksa di lereng Gunung Galunggung itu. Suara ayam jantan sudah terdengar jelas diselingi kicau burung-burung kecil sebagai tanda awal kehidupan pagi sudah datang membangunkan bumi.

Terlihat beberapa anak ayam berlari mengikuti induknya di halaman muka Padepokan Prabu Guru Darmasiksa di pagi itu. Ternyata induk ayam itu pergi menghindari empat ekor kuda yang dibawa oleh dua orang cantrik Padepokan.

“Kuda-kuda telah disiapkan, aku berharap semoga keselamatan selalu mengiringi langkah kalian”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Putu Risang dan rombongannya yang telah bersiap diri untuk melakukan perjalanan menuju Rawa Rontek tempat kediaman  Bango Samparan, kunci utama yang mungkin dapat menjawab masalah hilangnya Kujang Pangeran Muncang.

Demikianlah, pagi itu terlihat empat ekor kuda telah keluar dari regol pintu gerbang Padepokan Prabu Guru Darmasiksa.

Matahari kuning emas seperti setia mengawal empat orang berkuda yang tengah menuruni lereng Gunung Galunggung di pagi itu.

“Rawa Rontek berada di arah barat matahari”, berkata Andini memberi arah perjalanan ketika mereka berempat sudah berada di bawah kaki Gunung Galunggung.

Ternyata Andini sepertinya seorang gadis  yang sudah terbiasa diatas punggung kuda. Terlihat telah menghentakkan kakinya di perut kuda memberi perintah kepada kudanya untuk berlari lebih kencang lagi ketika mereka telah berada di sebuah padang ilalang yang luas.

Melihat kuda Andini di depan mereka telah berlari, maka Putu Risang, Pangeran Jayanagara dan Gajahmada telah mengikutinya melarikan kudanya.

Terlihat empat orang penunggang kuda memacu kudanya membelah padang ilalang yang luas membelakangi matahari yang setia mengiringi perjalanan mereka.

Ketika mereka telah berada di muka sebuah hutan, Andini memberi isyarat agar mereka berhenti sebentar untuk beristirahat. Dan matahari yang setia dibelakang mereka memang telah berada hampir diatas puncaknya. Merekapun terlihat mencari sebuah tempat yang teduh untuk beristirahat sambil membiarkan kuda-kuda mereka merumput.

“Kita akan memasuki hutan pepat ini sambil menuntun kuda-kuda kita. Dibalik hutan ini kita melingkari perbukitan Hayangan kearah utara”, berkata Andini memberikan arah perjalanan mereka.

“Masih jauhkah perjalanan kita menuju Rawa Rontek

?”, bertanya Putu Risang kepada Andini.

“Masih harus menembus malam”, berkata Andini. Dan  Putu Risang tidak bertanya  lagi, percaya bahwa

Andini seperti telah mengenal betul jalan menuju Rawa

Rontek. “Nampaknya ayahnya ketika masih hidup sangat sering membawa gadis ini mengembara”, berkata Putu Risang dalam hati sambil melihat kearah Andini yang sudah membuka bekal yang dibawanya.

“Kasihan, gadis ini telah ditinggal mati oleh Ayahnya”, berkata kembali Putu Risang dalam hati sambil melihat gadis itu tengah mengunyah bekalnya.

Setelah merasa cukup beristirahat, mereka pun segera melanjutkan perjalanan kembali.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Andini, mereka memang harus menuntun kuda-kuda mereka ketika memasuki hutan yang sangat lebat dan pepat itu. Hingga akhirnya mereka dapat menembus hutan itu dan langsung melingkari sebuah perbukitan.

“Kita melingkari perbukitan Hayangan ke arah utara”, berkata Andini memberi arah perjalanan.

Cukup jauh memang berjalan melingkari perbukitan Hayangan. Akhirnya ketika senja sudah mulai berakhir mereka telah menemukan sebuah Padukuhan kecil dibawah kaki perbukitan Hayangan.

“Kita bermalam di Banjar desa”, berkata Andini yang berjalan dimuka memasuki sebuah regol gerbang desa.

“Silahkan kalian bermalam, banjar desa kami selalu terbuka untuk siapapun yang kemalaman di perjalanan”, berkata seorang warga yang kebetulan bertetangga dengan banjar desa.

Demikianlah, malam itu mereka bermalam di banjar desa. Karena Andini seorang wanita, tidak ada kewajiban untuknya bergilir jaga.

“Beristirahatlah Andini, biarlah kami para lelaki akan bergilir berjaga”, berkata Putu Risang kepada Andini.

Dan suasana malam diatas padukuhan yang tenang itu begitu damai, terdengar suara air di sungai kecil disamping banjar desa terdengar bersama derik suara malam seperti irama pengiring tidur.

Hingga datangnya sang pagi, tidak ada kejadian apapun menimpa atas diri mereka berempat.

Terlihat mereka berempat saling bergantian bersihbersih diri di sungai kecil dekat banjar desa itu.

“Terima kasih telah mengijinkan kami bermalam di banjar desa”, berkata Putu Risang sambil pamit diri kepada seorang pemilik rumah yang bertetangga dengan banjar desa yang ditemuinya kemarin malam.

“Kami mohon maaf tidak menyediakan apapun”, berkata orang itu.

Demikianlah, mereka berempat kembali melanjutkan perjalanannya menuju Rawa Rontek yang dikatakan oleh Andini tinggal sepertiga hari perjalanan lagi.

Semilir angin pagi terlihat menerbangkan rambut Andini yang berkuda didepan di sebuah jalan bulakan panjang. Sementara Putu Risang, Pangeran Jayanagara dan Gajahmada mengikutinya dari belakang.

Andini memang layak seperti seorang dewi dalam pahatan indah di candi-candi, terlihat begitu tenang  diatas punggung kudanya membuat siapapun yang melihatnya akan terpesona kagum.

“Berhenti!!”, berkata tiba-tiba tiga orang berwajah kasar yang muncul dari sebuah tikungan jalan.

Terlihat Andini segera memperlambat kudanya dan berhenti tepat dimuka ketiga orang-orang berwajah kasar itu. Sementara Putu Risang dan dua orang muridnya sudah pula menghentikan kuda-kuda mereka.

“Ada kepentingan apakah sehingga kalian menghentikan perjalanan kami?”, berkata Andini ketika sudah turun dari kudanya.

“Kami hanya meminjam sebentar keempat kuda kalian ke pasar kuda”, berkata salah seorang diantara mereka orang-orang berwajah kasar itu.

“Kalian akan merampok kuda-kuda kami?” berkata Andini dengan mata dan wajah marah.

“Tidak, tidak, kami bukan perampok. Kami hanya perlu sebentar meminjamnya. Bila anak manis tidak percaya, boleh sekalian mengantar kami ke pasar kuda”, berkata salah seorang diantara mereka dengan wajah nakal memandang Andini.

Nampaknya Andini sudah sangat hapal dengan sikap dan pandangan lelaki nakal merayapi seluruh wajah dan tubuhnya.

Entah dari mana ditangan Andini sudah memegang sebuah bubu kecil dari bambu. Ternyata bubu kecil itu berisi tepung putih sangat lembut dan halus diletakkan di sebelah tangan Andini.

Dan dengan sekali tiup tepung putih halus itu telah bertebaran menyelimuti tubuh ketiga orang-orang kasar itu.

“Tepung putih ini adalah racun yang akan membuat diri kalian gatal-gatal”, berkata Andini sambil memandang kearah tiga orang yang mencegatnya itu.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Andini, terlihat ketiga orang itu sudah merasa kegatalan sepanjang tubuhnya.

Rasa gatal itu memang terasa hebat, terlihat ketiga orang itu masih saja menggaruk-garuk beberapa bagian tubuhnya.

“Mintalah ampun kepadaku, karena hanya aku yang mempunyai obat penangkalnya”, berkata Andini sambil bertolak pinggang.

Putu Risang, Pangeran Jayanagara dan Gajahmada yang melihat apa yang telah dilakukan oleh Andini mencoba menahan diri, meski didalam hatinya timbul rasa kasihan melihat ketiga orang itu masih saja menggaruk-garuk beberapa bagian tubuhnya  yang terasa gatal.

“Tolong berikan obat penangkal gatal itu”, berkata salah seorang yang sudah tidak tahan lagi merasakan gatal yang sangat di seluruh tubuhnya.

“Kamu belum minta ampun kepadaku”,  berkata Andini dengan wajah seperti anak nakal yang tengah menggoda.

“Cepat berikan obat penangkal itu, kami akan membiarkan kalian lewat”, berkata salah satunya lagi. “Bersujudlah kalian bertiga”, berkata Andini dengan suara membentak.

Mendengar suara keras Andini, tanpa menunggu perintah lagi ketiga orang itu sudah langsung bersujud dihadapan Andini.

“Bangkitlah, aku jengah melihat kalian bersujud dihadapanku”, berkata Andini.

Maka ketiga orang itu sudah bangkit berdiri.

“Hari ini aku sedang bermurah hati, cepat telan obat ini dan jangan berharap bertemu wajah denganku, karena aku akan membuat lebih kejam lagi tidak sekedar membuat kalian gatal”, berkata Andini dengan kata-kata mengancam sambil melempar tiga buah obat berupa bulatan kecil.

Ketiga orang itu terlihat sudah menelan obat yang dilemparkan oleh Andini.

Ternyata Andini tidak berbohong, obat itu langsung dirasakan telah menghilangkan rasa gatal mereka.

Dan tanpa berkata apapun terlihat Andini telah melompat diatas punggung kudanya serta langsung menghentakkan kakinya ke perut kuda agar berjalan kembali.

Putu Risang, Pangeran Jayanagara dan Gajahmada terlihat langsung ikut meloncat diatas punggung kuda mereka mengikuti langkah kuda Andini.

Debu terlihat mengepul di belakang kaki kuda mereka di bayangi mata ketiga perampok yang tidak berdaya tidak dapat berbuat lain melepas keempat mangsanya begitu saja.

“Pasti gadis cantik itu membawa banyak senjata racun yang lebih ganas lagi”, berkata salah seorang diantaranya.

“Jangan-jangan ketiga lelaki yang bersamanya itu adalah para korbannya yang terpaksa menjadi pengawal setianya”, berkata kawan disebelahnya.

“Aku tidak keberatan menjadi pengawal setia gadis cantik itu”, berkata orang ketiga dari mereka.

“Sepanjang hari harus melayani gadis manis itu, sementara anak dan istrimu kelaparan di rumah”, berkata orang pertama dari mereka.

“Anak dan istriku sudah ada yang mengurus, mertuaku masih lengkap punya sawah dan ladang cukup luas”, berkata orang ketiga dari mereka.

“Kamu memang mantu pemalas”, berkata orang pertama dari mereka.

“Kamu sendiri bekerja apa? bukankah kita bertiga hanya begundal yang malas tidak pernah mau berkeringat di sawah?”, berkata orang ketiga dari mereka merasa tersinggung di katakan sebagai mantu pemalas.

“Maaf, aku lupa bahwa diri kita bertiga hanya begundal malas”, berkata orang pertama tidak ingin memancing kemarahan kawannya lebih jauh lagi.

Sementara itu Andini dan rombongannya sudah jauh meninggalkan mereka. Di hadapan mereka adalah sebuah hutan perbukitan.

“Dibalik perbukitan itulah letak Rawa Rontek berada”, berkata Andini kepada Putu Risang.

Demikianlah, mereka berempat terlihat telah mendaki perbukitan itu. Hutan di perbukitan itu cukup lebat, meski matahari sudah tinggi diatas kepala mereka tapi terhalang kelebatan pohon-pohon kayu yang tumbuh rimbun menyejukkan perjalanan mereka.

Dan tidak terasa mereka berempat sudah sampai diatas puncak perbukitan itu.

“Kita turun sebentar mencari tempat teduh untuk beristirahat”, berkata Putu Risang.

Terlihat mereka sudah menuruni perbukitan itu dan telah menemui sebuah tempat yang cukup teduh dan datar.

“Nampaknya ada banyak burung puyuh di sekitar semak itu”, berkata Gajahmada sambil menunjuk ke sebuah gundukan semak belukar.

“Burung Puyuh bakar, aku akan menyiapkan perapiannya”, berkata Pangeran Jayanagara sambil bangkit berdiri.

Ketika Gajahmada berdiri dan berjalan ke arah semak belukar tidak jauh dari tempat mereka beristirahat, mata Andini terus memperhatikan pemuda itu. Mungkin merasa heran melihat Gajahmada tidak membawa alat apapun untuk menangkap beberapa ekor puyuh.

Tapi keheranan Andini terjawab, ternyata Gajahmada memang tidak memerlukan apapun untuk menangkap beberapa ekor puyuh. Hanya memerlukan sedikit kecepatan berlari mengitari semak belukar.

Terlihat Andini tertawa geli melihat tingkah Gajahmada itu.

“Dapat dua!!”, berkata Gajahmada yang telah melompat ke tengah semak dan dengan kecepatan kedua tangannya berhasil menangkap dua ekor burung puyuh. Kembali Andini terlihat menahan tawanya ketika mendengar kembali teriakan Gajahmada telah mendapat dua ekor kembali burung puyuh di tempat lain.

Akhirnya teriakan Gajahmada sudah tidak terdengar lagi, nampaknya anak muda itu telah semakin jauh masuk kedalam hutan mencari burung puyuh.

“Apakah tujuh ekor burung puyuh sudah cukup?”, berkata Gajahmada yang sudah muncul dari kerapatan hutan.

“Kalian beristirahatlah, aku akan memasak untuk kalian”, berkata Andini sambil tersenyum mengumpulkan tujuh ekor burung puyuh yang sudah terikat kedua kakinya.

Putu Risang, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara terlihat kagum melihat kecekatan Andini menguliti bulubulu burung puyuh. Mereka tidak menyangka seorang gadis yang terlihat sangat garang ketika menghadapi ketiga begundal di perjalanan mereka. Kali ini melihat kepandaian Andini memasak.

Ternyata Andini telah membawa beberapa bumbu di dalam bungkusan bekalnya.

Maka tidak lama berselang sudah tercium harum wangi daging burung puyuh bakar yang sangat menggoda selera.

“Kalian masing-masing dapat dua bagian, sementara aku sendiri cukup satu ekor”, berkata Andini yang telah menempatkan tujuh ekor burung puyuh panggang diatas sebuah pelepah daun pisang.

“Pandai sekali kamu memasak”, berkata Putu Risang sambil mengunyah daging burung puyuh.

“Nama masakan ini adalah burung dewa bumbu merah”, berkata Andini yang juga telah menikmati daging burung puyuh bakar masakannya itu.

“Nama yang indah untuk sebuah masakan”, berkata Pangeran Jayanagara memuji.

“Ada tiga unsur yang membuat sebuah masakan menjadi nikmat, dimulai dari nama, tempat dan rasa. Nama yang indah membuat telinga kita tergoda. Tempat dan bagaimana kita menyajikannya sudah mengundang mata tergoda. Terakhir bumbu sebagai penyedap selera akan menggoda lidah untuk merindukannya”, berkata Andini sambil tersenyum tidak merasa sungkan lagi.

“Ada tertinggal satu unsur lagi, menyajikannya dengan senyum”, berkata pangeran Jayanagara.

“Benar, aku setuju dengan unsur keempat itu”, berkata Gajahmada yang ditingkahi tawa semua yang ada disitu, juga Andini meski tidak tertawa lepas hanya sedikit tersenyum mendengar canda mereka.

Andini diam-diam menilai ketiga lelaki yang bersamanya itu adalah orang-orang yang sopan. Tidak seperti kebanyakan lelaki yang sering dilihatnya sangat menjemukan, terutama mata mereka. Di perkenalan yang singkat dalam perjalanan itu Andini sudah tidak  canggung lagi bersama mereka.

“Mari kita lanjutkan perjalanan kita”, berkata Putu Risang

Maka terlihat mereka berempat sudah berada diatas punggung kuda masing-masing tengah menuruni hutan perbukitan hijau itu.

“Rawa Rontek tidak begitu jauh lagi”, berkata Andini diatas kudanya ketika mereka telah berada di kaki perbukitan itu. Terlihat mereka telah berjalan kearah barat dari perbukitan itu. Sementara matahari terlihat sudah bergeser ke barat di lengkung langit biru semakin turun seperti menghadang perjalanan mereka.

“Inikah rawa rontek?”, bertanya Gajahmada kepada Andini ketika dihadapan mereka terbentang sebuah rawa yang cukup luas.

“Ditengah pulau kecil itulah kediaman Paman Bango Samparan”, berkata Andini sambil menunjuk sebuah gundukan hijau ditengah rawa.

“Kita perlu sebuah rakit untuk sampai ke tanah hijau itu”, berkata pangeran Jayanagara

“Kita hanya perlu membuat asap dengan api  unggun”, berkata Andini sambil meloncat dari punggung kudanya.

Terlihat Andini telah mengumpulkan beberapa rumput dan daun kering di sekitar mereka. Tanpa bertanya apa yang dilakukan oleh Andini dengan rumput dan daundaun kering itu, Gajahmada ikut mengumpulkan rumput dan daun kering sebagaimana dilakukan oleh Andini.

“Kubantu untuk menyalakannya”, berkata Pangeran Jayanagara sambil mengeluarkan batu api miliknya.

Maka dalam waktu yang singkat telah terlihat sebuah api unggun di pinggir rawa yang cukup luas itu.

Ternyata Andini hanya ingin membuat isyarat dengan asap yang telah terbentuk membumbung keatas seperti sebuah gunung api. Demikianlah Andini menjaga api unggun itu terus menyala sambil matanya terkadang menatap jauh ke tanah hijau di tengah rawa Rontek.

“Mereka sudah melihat pesan kita”, berkata Andini yang melihat sebuah rakit bambu telah bergerak dari tanah hijau di seberang sana.

Mendengar perkataan Andini, Putu Risang, Pangeran Jayanagara dan Gajahmada telah melayangkan pandangannya ke arah sebuah rakit bambu yang telah meluncur diatas air rawa yang sangat bening namun nampaknya sangat dalam itu.

Ternyata rakit bambu itu memang telah meluncur mendekati mereka. Terlihat dari jauh seorang berada diatasnya tengah mengayuh.

“Majikan kami telah melihat pesan kalian, silahkan naik keatas rakit”, berkata seorang lelaki dari atas rakit setelah merapatkannya di bibir rawa.

“Mari kita naik keatas rakit”, berkata Andini.

Maka terlihat mereka langsung naik ke atas rakit setelah menambatkan tali-tali kuda mereka di sebuah dahan kayu sebuah pohon di pinggir rawa.

“Apakah kita pernah bertemu?”, bertanya lelaki itu kepada Putu Risang.

“Kita pernah bertemu”, berkata Andini seperti mewakili Putu Risang.

“Benar, wajah jelitamu tidak akan pernah kulupakan. Seingatku kalian berdua bersama Ayahmu?”, berkata lelaki yang sudah terlihat tua itu kepada Andini.

“Daya ingat pak tua masih hebat, aku memang pernah berdua ayahku menemui Paman Bango Samparan”, berkata Andini kepada orang tua itu.

Sementara itu rakit bambu sudah bergerak menjauhi bibir tanah rawa. Dengan sebuah galah panjang orang tua itu telah mendorong rakit bambu itu semakin mendekat tanah hijau yang berada di tengah rawa Rontek.

Akhirnya mereka telah mendekati tanah hijau itu. Mereka sudah mulai dapat melihat sebuah bangunan besar terbuat dari bambu. Sebuah rumah panggung.

“Majikan kami telah menunggu kalian”, berkata orang tua itu ketika telah merapatkan rakit bambunya di sebuah dermaga kayu di tanah hijau itu.

Terlihat mereka berempat beriringan menuju rumah panggung yang berada ditengah rawa itu. Sebuah pulau kecil ditengah rawa yang sangat subur dan cukup luas.

“Naiklah keatas”, berkata seorang lelaki dari atas panggungan rumah itu.

Maka mereka pun segera naik keatas tangga menuju panggungan.

“Kamu tidak datang bersama ayahmu?”, berkata lelaki itu sepertinya sudah sangat mengenal Andini.

“Ceritanya panjang Paman”, berkata Andini sambil memperkenalkan Putu Risang, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara kepada lelaki itu yang ternyata adalah bernama Bango Samparan.

“Aku tidak sabar lagi untuk mendengar ceritamu, juga kepentinganmu yang datang dari tempat yang sangat jauh. Pasti ada sebuah hal penting yang membawa kehadiran dirimu disini”, berkata Bango Samparan, seorang lelaki yang sudah berumur sekitar lima puluhan, namun masih terlihat sangat kekar dan sangat tampan meski sudah terlihat beberapa kerut di wajahnya serta sebagian rambutnya sudah mulai berwarna putih.

“Ayahku telah terbunuh beberapa bulan yang lalu”, berkata Andini memulai ceritanya yang didengar oleh Bango Samparan sangat mengejutkan hatinya. “Ayahmu terbunuh?”, berkata Bango Samparan dengan wajah terkejut.

“Benar Paman, ada beberapa orang tidak dikenal telah datang membunuh ayahku”, berkata Andini yang langsung bercerita semua yang dilihatnya dalam peristiwa kematian ayahnya.”Aku bersama bibi Randu Abang telah mencoba menyusuri siapa sebenarnya orang-orang tidak dikenal itu. Saat ini baru terungkap bahwa kematian ayahku tersangkut dengan sebuah perampokan hilangnya Pusaka istana Pasundan, Kujang Pangeran Muncang. Aku yakin sekali bahwa ayahku bukan seorang perampok yang hina. Pasti ada sebuah hal lain yang telah menyeret ayahku kedalam peristiwa perampokan itu. Itulah sebabnya aku datang ke tempat Paman Bango Samparan yang mungkin mengetahui lebih banyak tentang peristiwa perampokan itu, lebih banyak lagi karena Paman adalah sahabat ayahku. Beberapa orang cantrik telah mencirikan seseorang bersama ayahku yang dapat kupastikan adalah paman sendiri. Berceritalah demi diriku wahai paman, agar peristiwa ini menjadi lurus, agar peristiwa ini dapat mengembalikan nama baik ayahku juga nama baik Paman yang kuyakini pasti bukan dua orang perampok hina sebagaimana pandangan mereka saat ini”, berkata dan bercerita Andini dengan air mata yang tidak mampu di tahan lagi. Nampaknya peristiwa terbunuhnya ayahnya dan juga berita tentang sebuah perampokan telah melukai hatinya.

Terlihat Bango Samparan seperti termenung, lama sekali Bango Samparan berdiam seorang diri. Sementara Putu Risang, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara hanya terdiam seperti tengah menunggu dengan sabar apapun yang dikatakan oleh Bango Samparan. “Mereka ternyata telah mengingkari janjinya”, berkata Bango Samparan setelah lama berdiam diri.

“Paman Bango Samparan ikut bersama ayahku dalam peristiwa perampokan itu?”, bertanya Andini seperti ingin meyakini semua perkiraannya tentang dua orang perampok berilmu tinggi sebagaimana yang pernah diceritakan oleh Prabu Guru Darmasiksa.

“Benar, kamilah dua orang perampok barang pusaka itu”, berkata Bango Samparan perlahan.

Mendengar pengakuan Bango Samparan semua yang berada diatas panggungan seperti tersentak, tapi mereka masih menunggu perkataan yang lain dari orang tua yang terlihat penuh wibawa itu.

“Mudah-mudahan kalian dapat mempercayai ceritaku ini”, berkata Bango Samparan perlahan sambil memandang wajah semua tamunya itu.

Dan perlahan Bango Samparan bercerita bahwa sekitar lima bulan yang lewat ayah Andini telah mendatanginya memintanya membantu sebuah perampokan. Ayah Andini yang bernama Rakajaya itu ternyata tengah menghadapi sebuah ancaman sekelompok orang yang telah menekannya akan membunuh putri tunggalnya bilamana tidak mengikuti perintah mereka.

“Kami berada di belakang perampokan itu hanya untuk melindungimu dari ancaman mereka”, berkata Bango Samparan mengakhiri ceritanya.

“Terakhir ketika pulang ke rumah, ayahku hanya membawa sebuah rontal. Apakah Paman mengetahui tentang benda pusaka Kujang Pangeran Muncang?”, bertanya Andini kepada Bango Samparan. “Rakajaya adalah sahabatku, aku hanya membantunya pada saat itu. Apapun yang telah dibawa olehnya aku memang tidak begitu peduli. Namun setahuku ayahmu membawa pulang dua benda yang tersimpan didalam sebuah kotak hitam. Sebuah Rontal dan sebuah senjata Kujang”, berkata Bango Samparan sambil mengerutkan keningnya bertanya dalam hati mengapa senjata Kujang tidak lagi berada di kotak hitam itu. “Kuingat ayahmu berkata bahwa kedua barang itu adalah sebagai pengganti pembebasan ancaman mereka”, berkata kembali Bango Samparan.

“Apakah Ayahku pernah bercerita siapakah sebenarnya orang-orang yang mengancamnya?”, bertanya Andini dengan penuh rasa penasaran.

“Ayahmu memang bercerita tentang orang-orang yang mengancamnya itu, mereka menurut pangakuan ayahmu adalah orang penting dari Kediri dan dari istana Kawali sendiri”, berkata Bango Samparan sambil memandang keempat tamunya seperti ragu untuk menyebut sebuah nama. ”Ayahmu tidak begitu kenal dengan orang penting dari Kediri. Tapi mengenal orang penting dari dalam istana Kawali”, berkata Bango Samparan melanjutkan.

“Orang penting dari istana Kawali?”, berkata Putu Risang tanpa sadar mengulang kembali  perkataan Bango Samparan.

“Orang penting dari istana Kawali itu adalah Patih Anggara”, berkata Bango Samparan tanpa ragu lagi menyebut sebuah nama. “Ayahmu telah mengikuti perintah mereka. Tapi mengapa mereka harus membunuh ayahmu?”, berkata Bango Samparan sambil memicingkan kedua matanya mewakili kegeraman dan amarah yang bergejolak didalam dirinya. “Terima kasih telah menyingkap beberapa  tabir penuh rahasia ini. Setidaknya keyakinanku bahwa ayahku bukanlah seorang perampok hina sudah dapat dibuktikan”, berkata Andini kepada Bango Samparan.

“Ada satu rahasia lagi yang berkaitan dengan dirimu sendiri, Andini”, berkata Bango Samparan dengan pandangan begitu tajam seperti langsung masuk ke  lubuk hati yang terdalam dari Andini dihadapanya.

“Sebuah rahasia tentang diriku?”, berkata Andini penuh ketidak-mengertian.

“Benar, sebuah rahasia tentang dirimu sendiri”, berkata Bango Samparan perlahan.

“Apakah kami bertiga tidak mengganggu?”, bertanya Putu Risang merasa tidak enak hati mendengar sebuah rahasia antara Bango Samparan dan pribadi Andini sendiri.

“Tidak apa kalian ikut mendengar”, berkata Bango Samparan sebagai arti kehadiran mereka bertiga tidak mengganggu pembicaraan tentang rahasia Andini.

Perlahan Bango Samparan bercerita, dimulai dari pengembaraan mereka berdua dengan Rakajaya ke sebuah ujung paling barat Jawadwipa, sebuah daerah kerajaan Rakata. Tidak di rencanakan sebelumnya bahwa mereka akan berkenalan dengan seorang putri Raja bernama Dewi Kaswari. Dari perkenalan itu meningkat kepada rasa saling menyukai dan saling menyintai antara Bango Samparan dan putri itu. Karena pihak keluarga istana Rakata tidak menyukai hubungan itu, mereka berdua telah menikah secara diam-diam. Dari pernikahan itu sang putri telah mengandung. Kehamilan itu tidak diketahui siapapun. Hingga ketika saat melahirkan mereka berdua telah pergi ke sebuah tempat tersembunyi hingga akhirnya sang putri harus kembali ke istana. Tinggallah Bango Samparan dengan bayi mungilnya.

“Semula aku berniat akan membesarkan sendiri putriku itu, namun ketika kami pulang pihak keluargaku sudah memilih seorang istri untukku. Demi untuk tidak membuat susah keluargaku, anakku yang masih bayi itu telah kuserahkan sendiri kepada sahabatku Rakajaya”, berkata Bango Samparan mengakhiri ceritanya sambil memandang tajam kearah Andini.

“Apakah bayi yang dibesarkan oleh  ayahku selama ini adalah aku sendiri?”, bertanya Andini mencoba menebak hubungan cerita itu dengan dirinya.

“Benar, bayi mungil yang kuserahkan kepada Rakajaya sahabatku itu adalah dirimu”, berkata Bango Samparan. ”Aku ini adalah ayahmu”, berkata Bango Samparan sambil memandang Andini penuh cinta kasih seorang ayah kepada anaknya.

Terlihat Andini seperti tidak lagi dapat menguasai dirinya sendiri, maju beberapa langkah dan menangis di atas lutut dan paha orang tua itu.

Dengan penuh kehalusan Bango Samparan mengusap rambut Andini yang masih menangis di atas lutut dan pahanya.

“Sudah begitu lama aku ingin memelukmu disaat kamu bersama Rakajaya datang menemuiku”, berkata Bango Samparan seperti telah menemukan kembali putrinya yang sangat dirindukannya itu.

Setelah dapat menguasai perasaan hatinya, terlihat Andini bergeser dan menengadahkan wajahnya menatap Bango Samparan, ayahnya yang sebenarnya itu. “Pantas selama ini ayahku tidak pernah menjawab pertanyaanku mengenai ibuku, siapa dan dimanakah dirinya saat ini, masih hidup atau sudah tiada”, berkata Andini kepada Bango Samparan.

Putu Risang, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara seperti terharu melihat pertemuan antara seorang ayah dengan putrinya itu. Sebuah rahasia yang tersimpan begitu lama telah terbuka hari itu.

Langit malam diatas rawa Rontek begitu indah dipenuhi gemerlap bintang bertaburan memenuhi langit purba. Tebaran cahaya bulan purnama menerangi permukaan air rawa seperti lautan tenang ditumbuhi teratai yang tengah mekar berbunga.

Indah terdengar petikan suara kecapi terbawa angin semilir berasal dari sebuah panggungan.

“Aku begitu iri kepada Rakajaya sahabatku yang begitu ahli memainkan sebuah kecapi. Ternyata telah menurunkannya kepadamu, Andini”, berkata Bango Samparan kepada Andini yang baru saja menyelesaikan sebuah tembang indah dengan petikan kecapinya diatas panggungan.

“Tembang Hina kelana memang sangat indah didengar di malam sepi”, berkata Gajahmada yang sangat mengenal tembang yang baru saja didengarnya lewat petikan kecapi milik Andini.

“Tembang hina kelana ini sudah menempel di benakku”, berkata Andini.

“Aslinya tembang hina kelana dipadukan antara petikan kecapi dan tiupan seruling”, berkata Gajahmada yang tahu betul asal dan muasal cerita tentang gubahan tembang itu yang tidak lain adalah gubahan bersama antara Prabu Guru Darmasiksa dan sang Begawan Jayakatwang.

“Iringilah suara kecapiku dengan serulingmu”, berkata Andini kepada Gajahmada.

Maka di atas panggungan itu terdengar  kembali suara petikan kecapi yang dipetik dengan penuh perasaan hati seorang Andini. Dan suara petikan kecapi itu telah diiringi oleh suara seruling bambu menjadi begitu sempurna mengisi kesunyian malam.

Suara tembang hina kelana seperti suara alam membawa pendengarnya mengembara memasuki hutan bening pagi dipenuhi kicau burung dan gemericik air disela-sela tanah basah.

Petikan kecapi dan seruling itu masih terus berlanjut, kali ini dengan nada-nada menghentak-hentak membawa jiwa pendengarnya berada dalam sebuah bala prajurit penuh semangat menuju medan peperangan mereka.

Petikan dan suara seruling itu masih berlanjut, kali ini melengking penuh kepiluan hati dalam ratap tangis kehilangan saudara, kerabat dan kekasih dalam sebuah peperangan tak berkesudahan.

Akhirnya suara tembang lewat petikan kecapi dan seruling itu berubah naik turun seperti gejolak seorang gadis belia jatuh cinta menunggu sang pujaan hati dibawah malam temaram purnama.

“Sebuah perpaduan suara yang sangat indah yang baru pertama kali ini kudengar”, berkata Bango Samparan merasa terhibur jiwanya mendengar sebuah perpaduan kecapi dan suara seruling.

“Petikan kecapiku pasti tidak semahir pencipta tembang ini, Prabu Guru Darmasiksa”, berkata Andini merendahkan dirinya sendiri.

“Aku juga tidak semahir Begawan Jayakatwang dalam permainan serulingnya”, berkata Gajahmada.

“Tapi kalian telah mengabadikan cipta karya mereka lewat petikan kecapi dan seruling kalian”, berkata Putu Risang ikut bicara dengan kejujuran hatinya sendiri.

Sementara itu Pangeran Jayanagara terlihat hanya berdiam diri. Ada apa dengannya?

Untung saja keremangan cahaya malam telah menyamarkan air muka Pangeran Jayanagara yang terlihat sedikit keruh. Diam-diam anak muda itu telah memendam rasa iri melihat kedekatan antara Gajahmada dan Andini. Diam-diam anak muda itu ternyata telah menaruh hati pada gadis jelita itu.

“Hari telah jauh malam, kalian pasti sudah begitu lelah setelah berjalan cukup jauh”, berkata Bango Samparan mempersilahkan tamunya untuk beristirahat.

Demikianlah, malam itu semua sudah masuk ke biliknya masing-masing untuk beristirahat.

Tapi Pangeran Jayanagara tidak dapat memejamkan matanya. Hati dan pikirannya selalu tertuju kepada Andini. Wajah dan pesona gadis itu ketika memetik kecapi telah menghiasi seluruh sisi pikiran anak muda itu yang telah terperangkap dalam jerat asmara mudanya. Pangeran Jayanagara memang telah jatuh hati kepada gadis itu, seorang gadis yang telah dikaruniai kesempurnaan rupa bagai dewi dalam pahatan indah para seniman pengukir di batu penghias candi suci.

Sementara itu di bilik lainnya, sebagaimana Pangeran Jayanagara, gadis Andini juga tidak dapat segera memejamkan matanya. Gadis jelita itu sebagaimana pangeran Jayanagara, juga telah jatuh cinta. Sayang mereka terpisah jarak dalam peraduan berbeda, dalam cinta yang berbeda. Hati dan perasaan Andini masih terbawa suasana malam diatas panggungan, suasana ketika matanya memandang sebuah wajah begitu menjiwai suara serulingnya. Gadis Andini ternyata telah terjerat sebuah asmara mudanya. Terpesona dalam biru cinta kerinduan seorang pemuda Gajahmada sang peniup seruling itu. Di peraduannya Andini sambil memejamkan mata mencoba mengulang kembali tembang kenangan Hina kelana bersama Gajahmada pemikat hatinya itu, jauh hingga malam yang terus berlalu, jauh kedalam tidur dan mimpinya.

Dan sang malam diatas kediaman Bango Samparan terlihat begitu tenang menyelimuti dengan kegelapan dan kesunyiannya. Membawa semua penghuni diatas peraduannya tertidur sendiri dengan mimpi masingmasing. Seperti garis hidup, kuasa dan keinginan siapa untuk memilih sebuah mimpi. Seperti garis hidup, ada mimpi buruk ada mimpi menyenangkan. Tapi apalah arti sebuah mimpi ketika pikiran dan hati kita tidak punya kekuasaan untuk memilihnya.

Hingga akhirnya sang pagi telah datang diatas rumah panggung Bango Samparan di tengah Rawa Rontek itu.

Warna pagi memang begitu putih membuka wajahwajah. Tapi tidak mampu membuka pikiran hati yang tersembunyi. Dan pagi itu Pangeran Jayanagara juga Andini telah menutup rapat suara hatinya sendiri, jauh di lubuk hati yang paling tersembunyi.

“Sebaiknya kamu tinggal bersamaku, di rumah ayahmu sendiri”, berkata Bango Samparan kepada Andini di pagi itu. “Terima kasih, aku memang sudah sebatang kara. Aku akan belajar mengenal dan mencintai ayah kandungku sendiri”, berkata Andini penuh kebahagiaan disaat dirundung duka dengan kematian Rakajaya yang begitu dicintai sebagaimana seorang anak kepada ayahnya, kini telah mendapatkan seorang pengganti, ayah kandungnya sendiri.

Demikianlah, Andini telah memutuskan diri untuk tinggal bersama ayah kandungnya sendiri, tinggal bersama Bango Samparan majikan tanah hijau Rawa Rontek.

“Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian”, berkata Bango samparan kepada Putu Risang dan kedua muridnya yang sudah berada diatas rakit bambu.

Terlihat Andini ikut melambaikan tangannya bersama Bango Samparan ketika rakit bambu itu telah bergerak meluncur menyeberangi Rawa Rontek yang cukup luas itu.

“Terima kasih Pak Tua, semoga kita dapat berjumpa kembali”, berkata Putu Risang kepada seorang pelayan yang mengantar mereka bertiga sampai di tepian Rawa Rontek.

“Kita kelebihan satu ekor kuda”, berkata Gajahmada sambil membuka tali kekang kuda yang diikat di sebuah dahan pohon.

“Bisa dikecilkan di pasar Padukuhan tempat kita bermalam”, berkata Putu Risang sambil tersenyum.

“Prabu Guru Darmasiksa tidak akan marah, kita katakan bahwa yang menjual adalah cucu buyutnya sendiri”, berkata Gajahmada sambil melirik kearah Pangeran Jayanagara. Terlihat Pangeran Jayanagara sedikit tersenyum, rupanya kelakar Gajahmada hanya sebuah pancingan untuk menghibur hati anak muda itu yang dapat dibaca oleh Gajahmada sebagai sebuah sikap yang sangat berbeda dari yang dikenal sebelumnya. Pada dasarnya Pangeran Jayanagara memang seorang yang periang. Namun pergolakan jiwanya yang tengah mabuk asmara oleh kecantikan Andini telah merubah penampilan dirinya, berubah menjadi seorang pemurung. Dan Gajahmada sebagai kawan dekatnya itu sedikit banyak sudah dapat membaca, apa yang terjadi didalam diri sahabatnya itu.

Demikianlah, mereka berempat sudah semakin jauh dari Rawa Rontek. Dan Gajahmada sudah dapat melihat kembali sifat asli sahabatnya itu. Ternyata hati Pangeran Jayanagara sudah dapat terkendali kembali,  wajah Andini seperti semakin pudar dalam bayangan dan pikirannya.

Hingga akhirnya mereka di siang hari itu sudah sampai di padukuhan tempat kemarin malam mereka menginap di banjar desanya.

“Kita cari kedai di pasar Padukuhan”, berkata Putu Risang ketika mereka sudah berada di jalan padukuhan mencoba mencari arah pasar Padukuhan.

Ternyata nasib mereka cukup baik, hari itu adalah hari pasaran. Dan mereka telah melihat sebuah kedai sederhana di ujung pasar yang masih cukup ramai meski hari sudah cukup siang.

“Nasip kuda ini masih cukup baik, tidak perlu dijual untuk membeli makanan dikedai”, berkata Gajahmada sambil menepuk-nepuk badan kuda yang selama di perjalanan tidak pernah ditunggangi itu. “Ikatlah kencang-kencang, siapa tahu ada seorang begundal yang tergoda untuk memilikinya”, berkata Putu Risang menimpali canda Gajahmada.

Pangeran Jayanagara sudah dapat terlihat wajah aslinya, tersenyum lepas mendengar canda Gajahmada dan Putu Risang tentang kuda itu.

Siang itu mereka beristirahat di kedai itu. Di depan kedai masih banyak terlihat orang berlalu lalang karena hari itu memang hari pasaran dan panen raya yang cukup menggembirakan hasilnya di Padukuhan itu.

Beberapa wanita dengan wajah penuh suka cita terlihat tengah menjunjung bakul mereka diatas kepala diikuti anak-anak kecil yang terseret-seret memegang ujung kain ibunya. Kadang ada beberapa anak kecil yang merengek sambil menunjuk jajanan Putu mayang.

“Terima kasih telah menjaga kuda-kuda kami”, berkata Putu Risang sambil memberi sedikit  upah kepada seorang lelaki yang menjaga kuda-kuda mereka.

Demikianlah, mereka bertiga terlihat sudah meninggalkan pasar yang ramai itu untuk melanjutkan kembali perjalanan mereka.

Perbukitan Hayangan seperti raksasa hijau terlihat menghadang didepan perjalanan mereka.

Ketika telah berada di kaki bukit Hayangan, mereka mengambil arah berbalik dari saat mereka datang, mereka mengambil arah ke selatan melingkari perbukitan Hayangan.

“Apakah kalian masih ingat letak dua buah goa kembar”, bertanya Putu Risang kepada kedua muridnya sambil mengingat-ingat kembali letak goa kembar yang pernah mereka lihat ketika kemarin hari berjalan di bawah kaki perbukitan Hayangan menuju Rawa Rontek.

“Kita belum melewatinya”, berkata Gajahmada yang merasa yakin bahwa mereka memang belum melewatinya.

Jalan yang mereka tempuh adalah sebuah jalan setapak yang sangat sepi dan teduh. Sepertinya jalan itu sangat jarang dilalui oleh orang-orang kecuali para pemburu atau orang yang kebetulan dan terpaksa mencari beberapa tumbuhan obat yang hanya ada disekitar perbukitan Hayangan itu.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Gajahmada bahwa mereka memang belum melewati dua buah goa kembar.

“Kita berhenti disini”, berkata Putu Risang ketika dilihatnya goa kembar yang sedang dicarinya itu.

Tanpa bertanya apapun, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara telah menghentikan kudanya mengikuti perintah gurunya itu.

“Mari kita periksa keadaan goa kembar itu”, berkata Putu Risang kepada kedua orang muridnya itu.

Maka mereka bertiga terlihat sudah mendekati goa kembar itu yang berada di bawah kaki perbukitan Hayangan. Ada beberapa semak dan ilalang yang tumbuh didepan kedua goa itu.

Terlihat mereka sudah memasuki salah satu dari goa kembar itu. Ketika berada didalam salah satu goa, mereka mendapatkan bahwa goa itu tidak terlalu dalam dan buntu. Dinding goa itu hanya setinggi orang biasa berupa sebuah lorong sempit.

“Kita memeriksa goa satu lagi”, berkata Putu Risang yang sudah berjalan keluar goa diikuti kedua muridnya itu.

Mereka bertiga terlihat sudah keluar dari dalam goa

dan masuk ke dalam goa yang satunya lagi.

“Betul-betul sebuah goa kembar”, berkata Gajahmada yang sudah melihat keadaan goa itu sama dengan goa disebelahnya, sebuah goa buntu yang tidak begitu lebar hanya sebuah lorong yang pendek.

“Kita perlu waktu sepekan untuk tinggal disini”, berkata Putu Risang setelah mereka sudah berada  di luar goa kembar.

“Sepekan tinggal disini?”, bertanya Pangeran Jayanagara kepada Putu Risang.

“Aku akan meningkatkan tataran ilmu kalian. Selama ini kalian hanya mengenal dan melatih tenaga wadag. Saatnya kuperkenalkan sebuah tenaga cadangan yang dapat dilatih, dipupuk dan dikendalikan lewat sebuah latihan pernapasan rahasia”, berkata Putu Risang  kepada kedua muridnya itu. ”Tenaga cadangan  ini adalah hawa murni yang dimiliki oleh semua orang, tapi tidak semua orang dapat menghimpun dan mengendalikannya”, berkata kembali Putu Risang.

Dengan sangat penuh perhatian, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara mendengar penuturan Putu Risang untuk beberapa hal yang harus mereka siapkan dan perhatikan dalam berlatih olah diri.

“Masuklah kalian kedalam goa itu, satu orang untuk satu goa. Aku akan menemui kalian dan menjaga diluar goa ini”, berkata Putu Risang kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara.

Maka terlihat Gajahmada dan Pangeran telah masuk ke dalam goa sesuai dengan pilihan mereka sendiri. Pangeran Jayanagara terlihat sudah memasuki goa yang berada disebelah kanan mereka, menyusul Gajahmada masuk kedalam goa satunya lagi.

Tidak lama kemudian, Putu Risang sudah menemui mereka satu persatu didalam goa mereka.

Ternyata Putu Risang telah memberikan mereka sebuah ilmu yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dua buah ilmu rahasia dari dua cabang perguruan yang berbeda.

Kepada Pangeran Jayanagara, Putu Risang telah mewariskannya sebuah ilmu olah diri dari jalur perguruan Mahesa Amping.

Sementara kepada Gajahmada, Putu Risang telah mewariskannya sebuah ilmu pusaka Pertapa Gunung Wilis.

Keputusan itu sudah diperhitungkan dengan masakmasak oleh Putu Risang, tidak ada pikiran membedabedakan satu dengan yang lainnya, hanya sebuah upaya melestarikan kedua ilmu rahasia dari dua perguruan yang sama-sama sangat luar biasa. Dan kedua muridnya itu berhak untuk memiliki salah satunya di jalurnya masingmasing.

Beruntunglah, kedua muridnya itu mau mengerti dan menerima keputusan dari Putu Risang. Menurut mereka berdua, keputusan Putu Risang adalah hak mutlak seorang guru.

Demikianlah, di goa yang berbeda, Putu Risang telah memberikan dasar-dasar pengertian ilmu olah diri yang berbeda kepada kedua orang muridnya itu.

Dan Putu Risang memang mendapatkan dua orang murid yang sangat cerdas dan berbakat. Hari pertama, Putu Risang dapat melihat bahwa Pangeran Jayanagara dan Gajahmada telah dapat melakoni semua yang diajarkan oleh mereka dengan baik.

Sementara kedua muridnya berlatih olah diri di dalam goa, Putu Risang dengan penuh ketelatenan seorang Guru telah menyiapkan persediaan makan dan minum kedua muridnya itu.

Pada hari kedua, dilihatnya kedua muridnya di dalam goa masing-masing telah mulai terbiasa dengan laku yang telah diajarkan olehnya.

Tidak segan-segan mereka bertanya tentang beberapa hal berkenan dengan laku mereka disaat beristirahat sejenak. Dan Putu Risang dengan penuh kegamblangan menerangkan semua pertanyaan mereka.

Demikianlah, pada hari ketiga mereka sudah dapat menghayati seluruh laku itu. Selama itu pula mereka  tidak pernah keluar dari goa masing-masing. Untuk kesediaan hidup mereka, Putu Risang telah menyediakan untuk mereka.

Dan pada hari keempat, Putu Risang hanya menengok mereka di waktu matahari terbit bergeser sedikit untuk beristirahat sejenak.

Pada hari keenam, manakala Putu Risang datang menjenguk Pangeran Jayanagara, dilihatnya putra Mahkota Majapahit itu sudah dapat mengendalikan wadagnya, menguasai keseimbangan lahir bathinnya. Bukan main kagetnya Pangeran Jayanagara ketika membuka matanya perlahan, dilihatnya dirinya telah mengapung sejengkal dari lantai.

“Hawa murni yang mengalir ke seluruh tubuhmu telah melepas berat wadagmu sendiri. Dengan berlatih terus menerus akan memupuk hawa murnimu lebih kuat lagi. Tergantung bagaimana kamu mengendalikannya. Kamu dapat begitu ringan seperti sebuah kapas melesat dan melompat sesuai jangkauan dan kecepatan yang kamu inginkan. Dengan pengendalian dan penyaluran hawa murni yang tepat akan menjadi sebuah tenaga cadangan diluar wadagmu yang lebih kuat berlapis lapis sesuai bagaimana ketekunanmu memupuknya dari hari ke hari”, berkata Putu Risang menjelaskan tentang hawa murni yang mulai dapat dikenali dan dirasakan oleh Pangeran Jayanagara.

Sementara ketika Putu Risang tengah menengok Gajahmada di dalam goanya, terperanjatlah Putu Risang dengan apa yang dilihatnya. Dalam penglihatan Putu Risang, Gajahmada telah menikmati lakunya sendiri ketika berdiri, rukuk, sujud dan duduk diantara dua sujud.

Bukan hanya itu yang dilihat oleh Putu Risang. Sebagai seorang yang sudah dapat mencapai taraf tingkat tinggi dalam tataran ilmu saktinya, Putu Risang telah melihat diluar kasat mata wadagnya bahwa ada sebuah cahaya biru menyelimuti tubuh anak muda itu.

“Sebuah hawa sakti tak terlihat kasat mata telah melindungi tubuh Mahesa Muksa”, berkata Putu Risang dalam hati. Dan Putu Risang tidak menyinggung sama sekali dengan apa yang dilihatnya itu kepada Gajahmada.
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Dua Naga Di Pasundan Jilid 03"

Post a Comment

close