Kisah Dua Naga Di Pasundan Jilid 02

Mode Malam
Pangeran Citraganda dengan mata terbelalak melihat Singalodra berdiri dengan kedua lutut melipat tanpa dapat berbuat apa-apa lagi menahan rasa sakit yang sangat di kedua pahanya yang tergores cukup dalam mengalir darah cukup deras.

“Sudah kubilang, malam ini adalah hari naasmu, menyerahlah”, berkata Putu Risang sambil menempelkan golok tajam di leher Singalodra.

“Kekebalan Singalodra gugur dihadapan orang Majapahit itu”, berkata Pangeran Citraganda kepada dirinya sendiri melihat Putu Risang telah melumpuhkan lawannya.

Bersama dengan lumpuhnya Singalodra ditangan Putu Risang, orang-orang Majapahit yang lain terlihat satu persatu telah menundukkan lawan-lawan mereka.

“Menyerahlah!!”, berkata Gajahmada sambil memelintir sebuah tangan lawannya kebelakang pundaknya, sementara lawan yang lain sudah lama berbaring pingsan tidak bergerak telah terkena sasaran cakranya.

“Aku menyerah”, berkata lawan Gajahmada sambil melepas senjatanya.

“Duduk didekat kawanmu dan jangan berbuat apapun”, berkata Gajahmada mengancam orang itu. Sementara itu Putu Risang masih menempelkan golok tajam di kulit leher Singalodra yang hanya mampu berdiri diatas kedua lututnya.

“Aku akan membuka mataku, bunuhlah aku”, berkata Singalodra begitu pasrah.

“Aku tidak akan membunuhmu, tapi akan menyerahkan dirimu hidup-hidup kepada Baginda Raja Ragasuci”, berkata Putu Risang sambil melempar golok tajam ke sampingnya.

Terlihat Singalodra yang telah terputus urat pahanya menggeram penuh dendam amarah.

Demikianlah, pada malam itu gerombolan Singalodra yang sangat ditakuti di tanah Pasundan telah dapat diringkus dengan mudahnya oleh orang-orang Majapahit tanpa sebuah perlawanan yang berarti. Semua itu disaksikan sendiri dengan mata dan kepala Pangeran Citraganda.

“Ternyata aku salah menilai kalian di Hutan Cigugur tadi siang”, berkata Pangeran Citraganda kepada Putu Risang dengan wajah memerah penuh rasa malu.

“Jangan kecilkan dirimu Pangeran, apa yang Pangeran lakukan adalah sebuah naluri seorang ksatria sejati yang selalu terpanggil melihat kejahatan di depan mata”, berkata Putu Risang sambil memegang kedua bahu Pangeran muda itu.

Sementara itu Gajahmada dan Pangeran Jayanagara telah berhasil mengikat tubuh semua anak buah Singalodra yang dikhawatirkan dapat melarikan diri di beberapa dahan pohon, termasuk Singalodra sendiri.

“Panggilkan Ki Jagabaya agar mengurus para tawanan ini”, berkata Pangeran Citraganda kepada salah seorang pekerja peternakan kuda yang dikenalnya.

Maka malam itu juga berdatangan para warga Padukuhan bersama Ki Jagabaya setelah dikabarkan oleh seorang pekerja telah terjadi sebuah usaha perampokan di peternakan mereka.

“Utuslah salah seorang dari kalian ke Kotaraja agar beberapa prajurit datang ke Padukuhan ini membawa para tawanan”, berkata Pangeran Citraganda kepada Ki Jagabaya.

“Malam ini juga kami akan mengutus salah seorang dari kami ke Kotaraja”, berkata Ki Jagabaya kepada Pangeran Citraganda.

Demikianlah, Ki Jagabaya bersama para warga telah menggiring Singalodra dan gerombolannya yang sudah tidak berdaya itu ke Padukuhan mereka sambil menunggu para prajurit yang akan membawa mereka ke Kotaraja Kawali untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan mereka.

Sementara itu sisa malam memang masih tersisa sedikit, Putu Risang dan rombongannya sudah berada di pondokan duduk-duduk diatas pendapa sambil beristirahat menunggu sisa malam.

“Sekarang berbalik, akulah yang mengucapkan terima kasih yang tulus bahwa kalian telah dapat meringkus gerombolan Singalodra yang paling ditakuti di Pasundan ini”, berkata Pangeran Citraganda.

“Anggap saja hutang budi kami di hutan Cigugur telah impas”, berkata pangeran Jayanagara kepada pangeran Citraganda.

“Kejadian di hutan Cigugur tadi siang adalah kebutaanku tidak melihat bahwa orang-orang Majapahit sebenarnya dapat melindungi dirinya sendiri”, berkata Pangeran Citraganda dengan wajah dan senyum malu.

“Berbahagialah Baginda Ragasuci telah mempunyai putra dan putri seperti kalian, punya rasa bakti mengamankan tanah Pasundan dari para orang jahat”, berkata pendeta Gunakara membesarkan hati Pangeran Citraganda.

“Dua orang putra dan putri yang masih harus banyak berlatih”, berkata Pangeran Citraganda.

Demikianlah, malam itu memang masih sedikit tersisa, tapi mereka masih dapat tidur sejenak melepas kelelahan setelah menempuh perjalanan berkuda sepanjang hari, ditambah sebuah pertempuran yang tidak mereka duga sebelumnya harus bertemu dengan para gerombolan Singalodra.

Dan tidak ada kejadian apapun sampai datang pagi diatas peternakan kuda di Padukuhan Parung Kuda itu.

“Sebuah tempat yang baik untuk beternak kuda”, berkata Jayakatwang kepada pendeta Gunakara yang telah bangun lebih dulu di pagi itu.

Mereka pagi itu telah berjalan-jalan disekitar peternakan kuda, melihat beberapa ekor kuda dilepas bebas ditempat terbuka tengah mencari makan sendiri.

“Mari kita kembali ke pondokan, mungkin mereka sudah menunggu kita”, berkata Pendeta Gunakara kepada Jayakatwang.

Demikianlah, ketika Jayakatwang dan pendeta Gunakara kembali ke pondokan peternakan kuda, Putu Risang dan kawan-kawan memang telah bersiap diri untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali.

Dan hari sudah terlihat terang tanah, matahari sudah menghangatkan rumput halaman muka ketika Putu Risang dan rombongannya terlihat keluar halaman pondokan peternakan kuda itu.

“Setengah hari perjalanan, kita sudah sampai di Kotaraja Kawali”, berkata Pangeran Citraganda kepada Pangeran Jayanagara yang terlihat berjalan di muka.

Sementara di dalam perjalanan itu sepasang mata yang jeli tengah memperhatikan punggung seorang pemuda didepannya. Itulah mata indah Dyah Rara Wulan yang diam-diam memperhatikan Gajahmada yang berkuda di depannya berjalan beriring dengan Putu Risang.

Tapi tidak seorang pun yang mengetahui gerak gerik curi pandang itu, juga perasaan yang ada di dalam hati gadis jelita putri Raja Ragasuci itu.

Tidak terasa Matahari sudah mulai tergelincir sedikit dari puncaknya manakala mereka telah melewati gerbang batas Kotaraja Kawali.

Terlihat Dyah Rara Wulan menarik nafas panjang, sepertinya menyesali perjalanan yang singkat itu, dalam hati ingin lebih lama lagi berjalan dibelakang pemuda itu, Gajahmada.

Kembali terlihat Dyah Rara Wulan menarik nafas panjang manakala mereka sudah berada di depan gerbang istana Kawali.

Demikianlah, rombongan orang-orang Majapahit itu telah diterima sebagai tamu terhormat, mereka telah ditempatkan di sebuah rumah panggung Bale Tamu, sebuah tempat yang khusus untuk para tamu  kehormatan kerajaan di istana Kawali.

Dan sebuah kehormatan pula manakala Raja Ragasuci sendiri mendatangi Bale Tamu untuk menemui tamunya itu.

“Putraku telah bercerita semua tentang kejadian di peternakan kuda, terima kasih telah meringkus gembong gerombolan paling licin di Tanah Pasundan ini, Singalodra”, berkata Raja Ragasuci di tengah perjamuan makan siang bersama para tamunya dari Majapahit itu.

“Sudah menjadi sebuah kewajiban sesama saudara untuk saling membantu”, berkata Jayakatwang mewakili orang-orang Majapahit.

“Semoga kita dapat melaksanakan amanat Ayahanda Prabu guru Darmasiksa, antara orang Pasundan dan Majapahit untuk selalu rukun, saling membantu sebagai saudara”, berkata Raja Ragasuci.

“Kunjungan kami ini adalah sebuah upaya terus mengikat tali persaudaraan diantara kita, itulah amanat Baginda Raja Kertarajasa yang merestui perjalanan kami ke Tanah Pasundan ini”, berkata Jayakatwang.

“Besok kalian akan berangkat ke Gunung Galunggung, kedua putra dan putriku akan mengantar kalian menemui Ayahanda Prabu Guru Darmasiksa”, berkata Raja Ragasuci.

Terlihat di sudut ruangan, Dyah Rara Wulan menarik nafas panjang, perkataan Raja Ragasuci adalah sebuah ijin yang ditunggunya.

Terlihat wajah gadis itu penuh ceria membayangkan masih ada waktu untuk bersama orang-orang Majapahit, terutama dapat lebih lama lagi bersama seorang pemuda yang telah mencuri hatinya, Gajahmada. Namun gerak gerik Dyah Rara Wulan tidak lepas dari perhatian kakaknya Pangeran Citraganda, diam-diam dapat membaca arah pikiran adiknya itu. ”Adikku sedang jatuh cinta, tapi siapa pemuda yang mencuri hatinya itu?”, berkata Pangeran Citraganda sambil memandang ke arah Gajahmada dan Pangeran Jayanagara.

Sementara itu Raja Ragasuci nampaknya akan meninggalkan perjamuan itu.

“Maaf bila aku tidak dapat menunggu perjamuan ini lebih lama”, berkata Raja Ragasuci sambil berdiri pamit diri diikuti oleh semua yang ada di perjamuan itu ikut berdiri sebagai sebuah penghormatan kepada seorang Raja Pasundan.

Tidak lama berselang, Pangeran Citraganda dan Dyah Rara Wulan ikut berpamit diri. Hingga di perjamuan itu tertinggal hanya orang-orang Majapahit.

Dan waktu pun terus berlalu, tidak terasa senja sudah mulai hadir dalam wajah beningnya perlahan menarik tirai sang malam yang telah menunggu untuk membuka altar panggung kegelapan dalam cerita mimpi manusia di peraduan hidupnya.

Dan pagi pun akhirnya datang juga membasuh semua mimpi malam, menyadarkan bahwa kehidupan nyata telah datang memanggil semua hati lewat suara kokok ayam jantan di awal pagi yang dingin di atas Tanah Pasundan.

Dan pagi memang masih gelap ketika terlihat beberapa orang berkuda telah keluar dari istana Kawali. Mereka adalah rombongan orang-orang Majapahit yang akan melanjutkan perjalanan mereka ke Gunung Galunggung.

Beberapa orang penunggang kuda terlihat tengah menyusuri sebuah jalan tanah cukup keras membelah sebuah hutan. Hawa dingin pagi kadang menyelinap diantara desir angin yang bertiup sepoi membawa harum wangi tanah basah.

“Gunung Galunggung sudah terlihat”, berkata Pangeran Citraganda sambil menunjuk ke sebuah gunung biru dihadapan mereka.

Pada saat itu mereka memang baru saja keluar dari sebuah hutan lebat. Dihadapan mereka menghadang sebuah gunung biru menghiasi pemandangan hijau disekitar mereka.

“Indahnya pemandangan alam Pasundan”, berkata Jayakatwang kepada Turuk Bali disampingnya.

Terlihat Turuk Bali hanya tersenyum sambil matanya ikut menikmati suasana pemandangan alam yang indah.

“Awas,,!!”, berkata tiba-tiba Putu Risang sambil melenting begitu cepat dari atas kudanya.

Ternyata pendengaran Putu Risang yang sangat tajam sudah dapat mendengar suara desiran anak panah melesat di sisi kiri Dyah Rara Wulan begitu cepatnya

Tap..!!!

Tangan Putu Risang sudah dapat menangkap anak panah itu yang tengah meluncur deras beberapa jengkal dari bahu kiri Dyah Rara Wulan.

“Terima kasih”, berkata Dyah Rara Wulan dengan wajah gemetar membayangkan anak panah itu meluncur menancap bahu kirinya.

“Sebuah pesan”, berkata Putu Risang sambil membuka gulungan rontal di ujung anak panah itu.

Terlihat semua orang menunggu dengan hati penuh tidak sabar gerangan pesan apa yang dikirim lewat anak panah itu.

“Guru Singalodra akan menantangmu”, berkata Putu Risang membaca pesan lewat anak panah itu.

“Berhati-hatilah, guru Singalodra telah membayangi perjalanan kita”, berkata Putu Risang sambil memandang berkeliling mencoba mencari sebuah hal yang mencurigakan.

Semua yang ada disitu terlihat mengikuti apa yang dilakukan oleh Putu Risang, memandang dengan cermat ke sekeliling mereka, tapi tidak juga mereka temukan apa-apa. Hanya beberapa daun semak belukar yang bergoyang ditiup desir angin saat itu.

“Mari kita lanjutkan perjalanan kita”, berkata Putu Risang mengajak untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali.

Entah timbul dari perasaan sebagai seorang pria yang punya kewajiban melindungi seorang wanita, terlihat Gajahmada telah memberanikan diri berjalan mendampingi Dyah Rara Wulan. Dan entah ada perasaan apa di dalam hati Dyah Rara Wulan merasakan sebuah kedamaian berada di sisi Gajahmada. Rasa takut terhadap ancaman guru Singalodra seperti telah mencair, yang ada hanyalah ingin selamanya didampingi pemuda yang telah mencuri hatinya itu.

Pemandangan di depan perjalanan mereka begitu indah, meski matahari sudah mulai tinggi, namun tidak terasa panasnya karena hawa yang dingin dan semilir angin telah menyejukkan udara disekitarnya.

Dan rombongan itu telah mulai mendekati kaki gunung Galunggung yang sudah terlihat seperti raksasa hijau berbaring. Namun hati dan perasaan mereka begitu mencekam manakala didepan mereka berdiri tiga orang lelaki berdiri ditengah jalan seperti sengaja menanti kehadiran mereka.

Ketika rombongan itu telah semakin dekat dengan ketiga lelaki itu, semakin nyata nampak wajah-wajah mereka.

Satu dari ketiga orang lelaki itu terlihat sudah begitu tua, terlihat dari warna rambutnya yang sudah putih seluruhnya. Wajah orang tua itu seperti tengah menahan sebuah kebencian yang sangat terlihat dengan cara pandang matanya yang memicingkan matanya ketika rombongan orang Majapahit itu semakin dekat dengannya. Sementara kedua orang lelaki yang lainnya nampak masih muda.

“Maaf, orang tua. Adakah hal penting sehingga berdiri ditengah jalan?”, bertanya Putu Risang yang sudah turun dari kudanya di hadapan orang tua itu.

“Tidak perlu berbasa-basi lagi. Aku Guru Singalodra ingin berkenalan dengan salah satu dari kalian yang  telah mengalahkan muridku itu”, berkata orang tua itu masih dengan mata penuh kebencian.

“Senang sekali berjumpa dengan guru Singalodra, perkenalkan namaku Putu Risang. Akulah yang telah bertempur dengan muridmu, Singalodra”, berkata Putu Risang tanpa sedikit pun merasa gentar berhadapan dengan orang tua itu.

“Bagus, kulihat kepercayaan dirimu sudah begitu tinggi. Tapi aku melihatmu menjadi begitu sombong”, berkata orang tua itu. “Sebut siapa nama guru kamu”, berkata kembali orang tua itu. “Maaf, aku tidak sampai hati untuk menyebut nama guruku sendiri, karena aku takut bila suatu waktu aku salah jalan misalnya menjadi seorang begal pasti akan memalukan dan mencemarkan nama guruku”, berkata Putu Risang datar seperti tidak bermaksud apapun.

Namun perkataan Putu Risang seperti sebuah mata pisau terasa telah melukai hati orang tua itu. Terlihat wajah kebenciannya semakin menjadi-jadi.

“Ternyata perkataanmu begitu tajam wahai anak muda. Semakin menambah rasa penasaranku  untuk lebih mengenal lagi, apakah tanganmu setajam lidahmu”, berkata orang tua itu memandang tajam wajah Putu Risang.

“Apalagi yang ingin orang tua inginkan? bukankah aku sudah memperkenalkan diri?”, berkata Putu Risang dengan sedikit senyum kepada orang tua itu.

“Aku hanya ingin mengetahui, apakah muridku Singalodra telah menggunakan semua kemampuannya, atau hanya kebetulan dan kelengahannya saja sehingga dapat dikalahkan olehmu”, berkata orang tua itu masih dengan wajah yang semakin keras.

“Kami baru beberapa hari ini menginjak bumi Pasundan, dan aku baru tahu bagaimana cara orang Pasundan untuk saling mengenal”, berkata Putu Risang masih dengan suara yang datar penuh percaya diri yang tinggi.

“Ada lagi yang harus kamu ketahui tentang orang Pasundan, mereka tidak banyak cakap sepertimu”, berkata orang tua itu yang terdengar suaranya seperti bergetar penuh kemarahan.

“Maaf bila aku terlalu banyak cakap menurut penilaian orang tua”, berkata Putu Risang merasa tersinggung dengan ucapan orang tua itu.”Aku siap berkenalan dengan cara apapun yang orang tua inginkan”, berkata kembali Putu Risang kepada orang tua itu.

“Mari kita ke arah tiga pohon randu itu”, berkata orang tua itu sambil menunjuk kearah tiga pohon randu berjajar tidak begitu jauh dari jalan, hanya terhalang semak belukar dan beberapa pohon kayu di pinggir jalan.

Terlihat Putu Risang dan rombongannya telah mengikuti langkah orang tua itu yang berjalan bersama dua orang lelaki bersamanya kearah tiga pohon randu yang berjajar.

Ternyata didekat tiga pohon randu berjajar itu adalah sebuah bulakan yang cukup datar dan lapang dipenuhi rumput dan sedikit semak belukar.

“Tongkat ini adalah senjataku, keluarkan senjatamu agar tidak ada penyesalan di kemudian hari”, berkata orang tua itu yang sudah berdiri tegap memegang erat tongkat kayu ditangan kanannya.

Terlihat Putu Risang sudah berdiri tidak begitu jauh dari orang tua itu, perlahan telah mengurai cambuk pendek yang melingkar di pinggangnya dan dibiarkannya ujung cambuk itu jatuh menyentuh bumi. ”Aku harus berhati-hati, guru Singalodra ini pasti punya tataran ilmu lebih tinggi dari muridnya sendiri”, berkata Putu Risang sambil bersiap diri melapangkan hati dan segenap jiwanya ke sumber pemilik semua kekuatan, Gusti Yang Maha Agung.

Mata kedua orang yang sudah saling berhadapan itu terlihat saling pandang, sepertinya sedang mengukur kedalaman ilmu lawannya masing-masing. Bukan main kagetnya orang tua itu manakala matanya beradu pandang dengan Putu Risang. Orang tua itu merasakan seperti tertarik masuk kedalam sebuah telaga yang begitu dalam tak berdasar.

Terlihat orang tua itu seperti tengah menghentakkan kembali kepercayaan dirinya, mencoba memungkiri perasaan debar jantungnya dengan cara langsung melompat menerjang kearah Putu Risang.

Orang tua itu telah membuka serangannya.

Melihat orang tua itu telah memulai serangannya seperti badai bergulung-gulung lewat putaran tongkat ditangannya, maka Putu Risang sudah siap melayani orang tua itu dengan cara berkelit begitu cepat seperti kilat melesat kesana kemari menghindari putaran tongkat orang tua itu yang terus mengejarnya.

Orang tua itu ternyata sudah langsung menyerang dengan tataran teratas ilmunya mengejar kemanapun Putu Risang meloncat menghindar.

Begitu keras dan cepatnya serangan orang tua itu selalu dapat dihindari oleh Putu Risang telah membuat orang tua itu terus meningkatkan tataran ilmunya menyerang lebih keras dan lebih cepat lagi.

Gembira hati Putu Risang dapat memancing orang tua itu mengeluarkan seluruh puncak ilmunya. “Aku sudah dapat menilai puncak kecepatannya bergerak”, berkata Putu Risang dalam hati sambil menghindar. “Akan kucoba seberapa besar kekebalan dirinya”, berkata kembali Putu Risang sambil mencoba membalas serangan lawan.

Ternyata orang tua itu punya kekebalan tubuh yang luar biasa, seperti tidak menghiraukan sama sekali sambaran cambuk Putu Risang terus melakukan serangan tongkatnya yang berputar-putar seperti balingbaling mengejar tubuh Putu Risang. Dan cambuk Putu Risang seperti menembus kapas tidak berarti apapun pada tubuh orang tua itu, sebaliknya serangan tongkatnya sudah nyaris menyambar Putu Risang.

Maka dengan cepat Putu Risang sudah dapat melenting menghindar dan balas menyerang dengan menambah kekuatan tenaga cadangannya lebih kuat lagi.

Kembali cambuk Putu Risang seperti masuk ke sebuah tempat kosong tidak dirasakan sama sekali  meski terlihat telah menyentuh tubuh orang tua itu, sebaliknya serangan orang tua itu sudah kembali mendekati dirinya.

“Ajian Ilmu Tameng Waja tingkat tinggi”, berkata Jayakatwang dalam hati dengan mata terus menatap pertempuran itu dengan hati penuh kecemasan.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Jayakatwang, orang tua itu ternyata telah menerapkan ajian Ilmu Tameng Waja tingkat tinggi. Sebagaimana muridnya Singalodra yang telah mewariskan ajian ilmu kekebalan tubuh itu. Tapi Guru Singalodra ternyata sudah lebih sempurna lagi.

Dan Putu Risang yang sudah pernah berhadapan dengan Singalodra dapat merasakan tingkat tataran ajian ilmu itu yang sudah berada diatas puncak kesempurnaannya, lebih dahsyat dari apa yang dimiliki oleh Singalodra.

Kembali Putu Risang mencoba meningkatkan lagi tataran tenaga saktinya, terlihat orang tua itu sudah  dapat merasakan sentuhan cambuk Putu Risang sebagai sebuah sentuhan biasa.

“Aku harus mempertahankan keseimbangan pertempuran ini agar orang tua itu berpikir hanya sampai disini puncak ilmuku”, berkata Putu Risang mencoba mengelabui lawannya tidak meningkatkan lagi tataran ilmunya.

Demikianlah, Putu Risang telah dapat melayani serangan demi serangan Guru Singalodra yang berilmu tinggi itu yang tidak tahu bahwa sebenarnya Putu Risang dapat meningkatkan tataran ilmunya jauh melampaui kekebalan ajian ilmu Tameng Wajanya.

Dan pertempuran kedua orang berilmu tinggi di tanah lapang pinggir jalan itu terlihat begitu dahsyat dan sangat mendebarkan hati.

Terlihat Pangeran Citraganda tanpa berkedip memandang pertempuran itu tidak menyangka bahwa Putu Risang ternyata lebih dari yang pernah dilihatnya ketika bertempur dengan Singalodra. Tapi ada sebuah kekhawatiran melihat serangan guru Singalodra yang bergulung-gulung terus mengejarnya seperti tidak menghiraukan sama sekali serangan cambuk Putu Risang.

Tanah lapang itu sudah seperti rata, semak belukar di sekitar pertempuran mereka telah terburai terinjak langkah kaki kedua orang berilmu tinggi itu.

Terlihat kedua orang lelaki murid orang tua  itu merasa yakin bahwa guru mereka tidak dapat terkalahkan.

Sementara orang-orang di pihak Putu Risang begitu cemas melihat serangan orang tua itu seperti ombak yang bergulung-gulung tidak pernah berhenti sedikit pun mengejar kemanapun Putu Risang berkelit melenting kesana kemari menghindar. Terlihat semua orang di pihak Putu Risang berkali-kali harus menahan nafasnya menyaksikan pertempuran tingkat tinggi itu.

Sebenarnya Putu Risang sudah dapat mengukur puncak tataran ilmu orang tua itu, baik puncak tenaga sakti meringankan tubuh maupun ilmu sakti kekebalan tubuh orang tua itu. Putu Risang hanya perlu melontarkan kekuatan tenaga saktinya sedikit lebih kuat lagi sudah dapat menembus ajian sakti Ilmu Tameng Waja milik orang tua itu. Tapi Putu Risang merasa ragu bahwa lontaran puncak ilmunya akan berakibat sangat fatal. Dan Putu Risang memang tidak ingin membinasakan orang tua itu.

Akhirnya pewaris ilmu pusaka rahasia pertapa dari gunung Wilis itu telah mendapatkan sebuah cara untuk menundukkan orang tua berilmu tinggi itu.

Putu Risang yang sudah dapat melampaui kecepatan bergerak orang tua itu masih harus berhati-hati menghadapi setiap serangan tongkat orang tua itu. Dan diam-diam telah menerapkan tenaga sakti berupa hawa panas yang menyelimuti dirinya dan terus melebar.

Semula pancaran hawa panas itu memang tidak menembus ajian Ilmu Tameng Waja orang tua itu. Perlahan tapi pasti Putu Risang terus meningkatkan tataran hawa saktinya.

Terkejut orang tua itu manakala telah merasakan hawa panas menyentuh dan mengurung tubuhnya. Ternyata Putu Risang telah meningkatkan tataran ilmu tenaga saktinya.

Guru Singalodra sudah mulai merasakan hawa panas telah mengurung dirinya membuat serangannya tidak lagi sedahsyat sebelumnya, sebaliknya Putu Risang balas terus menyerang bersama pancaran hawa panas tenaga saktinya.

Dan Putu Risang telah meningkatkan tataran ilmunya lewat lontaran cambuknya yang sudah dapat menembus Ajian Ilmu Tameng Waja orang tua itu yang terlihat sudah tidak lagi berani membiarkan tubuhnya terkena sambaran cambuk Putu Risang. Sementara pancaran hawa panas yang menyelimuti tubuh Putu Risang membuat orang tua itu mencari jarak agar tidak merasakan sengatan hawa panas itu yang seperti bara api menyengat kulitnya.

Terlihat orang-orang di pihak Putu Risang yang menyaksikan pertempuran itu seperti menarik nafas lega, mereka melihat pertempuran telah berubah, Putu Risang seperti sudah berada diatas angin terus mengancam tubuh orang tua itu dengan serangan cambuk pendeknya yang terus mengejar kemanapun orang tua itu menghindar. Cambuk pendek itu seperti bermata terus mengejar kemanapun langkah kaki orang tua itu bergeser.

Putu Risang telah meningkatkan tataran ilmunya sedikit lebih tinggi lagi, hawa panas yang memancar di sekeliling tubuhnya sudah seperti bara api.

Terlihat semak belukar dan rumput disekitar arena sudah menjadi kering hitam terkena angin pancaran hawa panas ilmu sakti Putu Risang lewat seranganserangannya.

Dan peluh sudah mengucur basah memenuhi wajah dan tubuh orang tua itu yang meski sudah menjauhi jarak tempurnya tapi tetap merasakan hawa panas itu.

Geledarrr !!!!! Putu Risang telah melecutkan cambuknya ke udara, sengaja membuat sebuah suara yang menggelegar seperti suara petir membelah langit benar-benar telah menyiutkan hati dan perasaan orang tua itu.

Terlihat wajah orang tua itu menjadi berubah pucat mendengar suara lecutan cambuk pendek di tangan Putu Risang.

Belum habis rasa keterkejutan orang tua itu mendengar suara lecutan cambuk yang memekakkan telinganya itu, tiba-tiba saja ujung cambuk pendek itu seperti kepala seekor ular dengan begitu cepatnya terbang menjulur mendekati tubuhnya.

Kecepatan gerak cambuk pendek Putu Risang memang begitu cepat melesat seperti anak panah dilontarkan dengan tenaga penuh, sepuluh kali lebih cepat dari lari seekor macan pemburu, lebih cepat dari kedipan mata. Dan tidak ada kesempatan orang tua guru Singalodra itu untuk menghindar lagi.

“Habislah sudah riwayatku”, berkata orang tua itu dalam hati tanpa berkedip tidak mampu menghindari kecepatan serangan cambuk Putu Risang yang telah melesat ke arahnya.

Bertambah kaget dan terkejutnya orang tua itu ketika melihat sendiri ujung cambuk itu tiba-tiba saja berubah arah sedikit melenceng membentur sebuah batu besar di sebelahnya.

Merinding seluruh tubuh orang tua itu melihat sebuah batu besar di sebelahnya hancur berdebu terbang berhamburan tertiup desir angin di sekitar tanah lapang itu.

Terlihat Putu Risang telah berdiri tegak dihadapan orang tua itu sambil tersenyum ramah dengan tangan kanannya masih memegang pangkal cambuk pendeknya yang dibiarkanya ujung cambuk itu jatuh menyentuh tanah.

“Apakah perkenalan ini masih harus dilanjutkan?”, berkata Putu Risang dengan senyum ramahnya, tidak terlihat sedikit peluh pun di wajahnya seperti belum melakukan apapun meski mereka berdua telah bertempur ratusan jurus lamanya.

“Terima kasih telah memberi kesempatan hidup selembar nyawa tuaku ini”, berkata orang tua itu sambil menoleh kearah sisa abu batu besar disampingnya. “Aku tidak akan mencarimu lagi, mengenai Singalodra biarlah merasakan kegetiran hidupnya sendiri sebagai hukuman atas apa yang telah diperbuat selama ini, sebuah perbuatan yang sudah lama tidak aku sukai pada diri muridku itu”, berkata orang tua itu yang sudah dapat menguasai perasaannya yang begitu mencekam menyaksikan puncak ilmu orang muda dihadapannya itu. “Senang telah berkenalan denganmu, wahai orang muda”, berkata orang tua itu kepada Putu Risang.

“Orang-orang biasa memanggilku dengan sebutan Embah Gerung dari Gunung Muncang, singgahlah bila kebetulan kamu berada disekitar Gunung Muncang”, berkata orang tua itu sambil melangkah kearah jalan yang diikuti oleh kedua muridnya.

“Cara berkenalan yang aneh dari orang Pasundan”, berkata dalam hati Putu Risang sambil tersenyum membalas lambaian tangan Embah Gerung yang sudah berada di tepi jalan tanah diikuti langkah kedua anak muridnya itu.

Terlihat semua orang di tanah lapang itu seperti bernafas lega melihat hasil pertempuran tingkat tinggi yang begitu sangat mendebarkan hati.

“Pilihan Ayahanda untuk seorang guru kepadaku ternyata sangat tepat”, berkata Pangeran Jayanagara berbunga perasaan hatinya telah menyaksikan sendiri ilmu puncak gurunya yang baru pertama kali dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

“Kebijaksanaan akalmu sudah dapat mengendalikan amarahmu”, berkata Pendeta Gunakara yang datang mendekati Putu Risang yang sudah membelitkan kembali cambuk pendeknya melingkar di pinggangnya.

“Hari sudah semakin terang, kaki Gunung Galunggung sudah begitu dekat”, berkata Jayakatwang meminta rombongan untuk melanjutkan kembali perjalanan mereka yang tertunda.

Demikianlah, rombongan itu sudah kembali berjalan dan sudah begitu dekat dibawah kaki Gunung Galunggung.

Terlihat kuda-kuda mereka berjalan perlahan mendaki jalan berliku menyusuri jalan setapak di punggung Gunung Galunggung yang berhawa sejuk itu penuh dirimbuni tanaman pohon kayu hutan perawan.

Matahari sudah menjadi miring ke barat bumi terhalang kerimbunan hutan ketika rombongan berkuda itu telah sampai di sebuah lereng Gunung Galunggung. Hawa dingin terasa semakin menyentuh kulit ketika semilir angin dingin menyapu wajah mereka.

“Itulah Padepokan Eyang Prabu Guru Darmasiksa”, berkata Pangeran Citraganda sambil menunjuk kearah sebuah Padepokan besar dihadapan mereka. Sebuah padepokan di lereng Gunung Galunggung yang dikelilingi beberapa petak sawah berundak dan beberapa ladang hijau.

“Sebuah bangunan Padepokan yang asri dipenuhi keindahan lukisan alam sawah ladang dan hutan hijau”, berkata Jayakatwang sambil matanya memandangi sebuah padepokan di lereng Gunung Galunggung itu.

Terlihat rombongan orang berkuda itu sudah melewati regol pintu gerbang Padepokan itu.

“Selamat datang di tanah Pasundan”, berkata Prabu Guru Darmasiksa menyambut kedatangan Jayakatwang dan rombongannya itu.

“Ayahanda menitipkan salam rindunya belum sempat datang berkunjung”, berkata Pangeran Citraganda kepada Prabu Guru Darmasiksa.

“Aku juga merindukannya”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Pangeran Citraganda.

Dan angin senja semilir perlahan menyelimuti pendapa Padepokan Prabu Guru Darmasiksa. Setelah semua orang sudah bersih-bersih diri di pakiwan terlihat semua tamu Prabu Guru Darmasiksa tengah menikmati jamuan sederhana dari tuan rumah mereka.

Perjalanan panjang dan suasana mencekam manakala mereka mendapat ancaman dari guru Singalodra sepanjang perjalanan telah mendekatkan hati ketiga pemuda dan seorang gadis muda diantara mereka.

Tidak ada kecanggungan lagi diantara mereka.

Dan ketika Pangeran Citraganda mengajak mereka untuk memisahkan diri dari para orang tua, mengajak untuk naik keatas sebuah gardu panggungan yang berada di muka halaman, maka seperti anak ikan gabus kecil mereka beriring menuju gardu panggungan itu.

“Masa depan Pasundan dan Majapahit berada di atas punggung mereka”, berkata Jayakatwang sambil memandang keempat orang muda itu yang tengah berjalan menuju gardu panggungan.

“Tugas kitalah sebagai orang tua mengarahkan pandangan hidup mereka agar tetap berjalan lurus di garis keluhuran budi dan cita-cita leluhur para pendiri bumi ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa.

“Tuan Prabu Guru Darmasiksa masih tegar dan kuat, mengapa sudah menjauhi kesibukan istana mengucilkan diri di lereng Gunung Galunggung yang sepi ini ?”, bertanya Putu Risang kepada Prabu Guru Darmasiksa.

Terlihat Prabu Guru Darmasiksa tidak langsung menjawab, terlihat tersenyum menatap wajah Putu Risang dengan senyum sarehnya.

“Aku telah berbagi darma dengan putraku Raja Ragasuci. Biarlah jiwa mudanya mengurus kerajaan Pasundan ini yang memerlukan nafas baru dari pemikiran yang masih segar bugar. Sementara darmaku disini, memberi pencerahan hati kepada siapa saja yang datang ke padepokanku, memberikan pengajaran keluhuran budi kepada semua orang yang ingin belajar kedigjayaan kekayaan jiwa, lahir bathin”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Putu Risang. “jadi jangan katakan aku telah mengasingkan diri bertapa dan bersemedi di lereng gunung yang sepi ini. Aku masih berdarma. Hakekat samadi itu sebenarnya adalah sebuah darma. Baik darmanya, baik pula samadinya. Buruk darmanya berarti buruk pula samadinya. Bersamadi di dalam darma adalah sebuah perbuatan  dan kebijakan yang akan saling mengikat satu dengan yang lainnya. Darma tanpa samadi seperti mayat berjalan, sementara samadi tanpa darma ibarat tubuh hidup tidak punya arti apapun dalam kehidupannya”, berkata kembali Prabu Guru Darmasiksa.

Sementara itu keempat orang muda telah berada di atas gardu panggungan. Terlihat mereka berbincang dan bersenda gurau tanpa jarak dan kecanggungan lagi seperti sudah begitu lama saling mengenal. Terlihat sekumpulan burung pekik melewati bubungan atap gardu panggungan diatas mereka. Suasana kesejukan hawa pegunungan yang sejuk dan tenang telah membuat kegembiraan hati melupakan segala kepenatan seharian perjalanan mereka yang melelahkan itu.

“Aku ingin mendengar suara seruling kakang Mahesa Muksa”, berkata Dyah Rara Wulan sambil  melihat sebuah seruling yang terikat di pinggang Gajahmada.

Sambil tersenyum Gajahmada meraba dan menarik seruling dari ikat pinggangnya.

Angin semilir di udara bening senja telah membawa suara seruling Gajahmada mengalun jernih. Terlihat Pangeran Jayanagara, Pangeran Citraganda dan Dyah Rara Wulan seperti terserap tembang seruling yang  ditiup oleh Gajahmada. Mereka seperti terbawa alunan tembang seruling itu yang seperti suara semangat prajurit berbaris menuju medan perang, namun tiba-tiba saja tembang irama seruling itu melengking tinggi seperti tangisan menyayat hati derita pilu sahabat dan kekasih tercinta telah pergi untuk selama-lamanya. Lengking suara seruling itupun semakin lama seperti melambat dan berubah dalam suara kegembiraan hati, suara kegembiraan gadis muda yang sedang terjerat api asmara. Nada dan irama seruling itu seperti melompatlompat seperti suasana hati seorang gadis manja mengintip pujaan hati yang datang menepati janji patinya bertemu dibawah rembulan malam.

“Tembang yang indah”, berkata Dyah Rara Wulan dengan penuh kekaguman.

“Tembang kenangan hina kelana, gubahan Prabu Guru Darmasiksa dan Paman Jayakatwang”, berkata Gajahmada menyampaikan siapa pencipta tembang seruling itu.

“Sekali kamu tembangkan, sepuluh gadis cantik pasti datang jatuh cinta”, berkata Pangeran Citraganda secara jujur menilai kemerduan suara seruling Gajahmada.

“Sementara hari ini hanya ada satu gadis yang mendengarnya”, berkata Pangeran Jayanagara sambil melirik kearah Dyah Rara Wulan.

“Bila hari ini ada sepuluh gadis yang mendengar serulingnya, kucopot telinga mereka agar tidak dapat lagi mendengar suara seruling itu”, berkata Dyah Rara Wulan dengan wajah polos seperti tidak merasa terganggu dengan godaan Pangeran Jayanagara, bahkan seperti menimpalinya.

“Aku tidak akan membawakan tembang ini, karena takut ada sepuluh gadis terluka telinganya”, berkata Gajahmada yang ditanggapi tawa oleh semuanya.

Keempat orang muda itu masih saja berbincang dan tertawa seperti telah melupakan waktu telah terus berjalan, senja sudah mulai terlihat redup menutupi hutan tebing dan lembah jauh di seberang mereka.

Tapi suasana kegembiraan hati para anak muda itu tiba-tiba terhenti berubah menjadi suasana keheranan.

Mereka berempat telah melihat sepuluh wanita berada di luar pagar Padepokan di keremangan senja yang sebentar lagi akan berakhir.

“Sepuluh orang wanita!!”, berkata Pangeran Citraganda penuh keheranan mengingat ujarnya tentang tembang seruling dan sepuluh orang gadis.

“Turunlah siapapun diantara kalian yang baru saja meniup seruling”, berkata dengan lantang dan terdengar melengking dari salah satu kesepuluh wanita itu.

Mendengar suara wanita itu ditujukan kepadanya, segera Gajahmada turun dari panggungan.

“Akulah peniup seruling itu”, berkata Gajahmada dihadapan salah seorang diantara mereka.

“Kamu pasti mengenal pemilik rontal ini”, berkata salah satu diantara mereka.

“Aku tidak tahu siapa pemilik rontal itu”, berkata Gajahmada kepada Wanita itu.

“Bohong, kamu baru saja menembangkan isi dari rontal ini”, berkata wanita itu dengan suara yang semakin tinggi.

“Aku berkata sebenarnya, tidak tahu siapa pemilik rontal itu”, berkata kembali Gajahmada.

“Jangan berdusta, dari mana kamu belajar tentang tembang ini?” berkata kembali wanita itu masih dengan suara masih tinggi penuh amarah.

Terlihat Gajahmada terdiam, ragu untuk menyebut sebuah nama seseorang yang telah mengajarkan kepadanya sebuah tembang yang baru saja ditembangkannya lewat seruling bambunya di atas panggungan.

“Anak muda ini memang tidak tahu tentang rontal itu, karena rontal itu adalah milikku”, berkata seseorang dibelakang Gajahmada.

Ketika Gajahmada menoleh ke belakang, terlihat bahwa orang itu ternyata adalah Prabu Guru Darmasiksa. Rupanya para orang tua yang tengah berbincang di pendapa telah mendengar adanya sedikit keributan itu. Mereka segera turun dari pendapa dan langsung ke muka halaman dimana akhirnya melihat ada sepuluh orang wanita di depan halaman muka. Salah seorang yang paling tua, mungkin pemimpin mereka terlihat sedang berbicara dengan suara yang tinggi penuh amarah kepada Gajahmada.

“Bila rontal ini benar milik tuan, aku punya sebuah kepentingan dengan tuan”, berkata wanita itu dengan nada suara terdengar sedikit menurun, mungkin perbawa dari Prabu Guru Darmasiksa telah membuat wanita itu agak menghormatinya.

“Orang biasa memanggilku dengan sebutan Embah Galunggung, mari kita bicara didalam, mungkin dengan bahasa dan kepala yang lebih dingin lagi akan menyelesaikan setiap urusan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa dengan suara penuh kebijaksanaan.

“Maaf, ternyata hamba berbicara dengan tuan Prabu Guru Darmasiksa sendiri”, berkata wanita itu yang langsung mengikuti ajakan Prabu Guru Darmasiksa untuk berbicara di atas pendapanya.

Terlihat hanya wanita itu dan seorang wanita muda yang ikut masuk ke pendapa padepokan Prabu Guru Darmasiksa, sisanya menunggu di halaman muka.

Diatas pendapa wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai ketua Padepokan Randu Abang, dan gadis yang ikut bersamanya itu adalah keponakannya sendiri bernama Andini. “Sekitar tiga bulan yang lalu, ayah dari Andini yang juga adalah adik kandungku telah terbunuh oleh orangorang yang tidak dikenal”, berkata Nyi Randu Abang memulai ceritanya. ”Setahuku adikku sering pergi mengembara kadang tiga sampai enam bulan baru datang kembali. Terakhir dari kepulangannya itu telah membawa sebuah rontal ini”, berkata kembali Nyi Randu Abang berhenti sejenak seperti tengah mengumpulkan ingatannya. ”Mungkin sudah suratan takdirnya, beberapa orang tidak dikenal telah datang menyatroni rumahnya, disaksikan sendiri oleh anak gadisnya Andini, adikku telah dikeroyok oleh orang-orang tidak dikenal itu hingga tewas”, bercerita Nyi Randu Abang berhenti sebentar terlihat menarik nafas panjang seperti seorang yang tengah berduka.

“Kami ikut berduka cita atas meninggalnya adik Nyi Randu Abang, siapa nama ayah gadis ini?”, berkata dan bertanya Prabu Guru Darmasiksa menyela cerita Nyi Randu Abang.

“Adikku dan juga ayah keponakanku ini bernama Rakajaya. Hanya rontal ini saja yang dapat kami pegang untuk menelusuri siapa gerangan orang-orang yang tidak dikenal itu yang telah menewaskan Rakajaya”, berkata Nyi Randu Abang sambil memperlihatkan rontal ditangannya.

Semua mata di pendapa terlihat memandang ke arah rontal di tangan Nyi Randu Abang.

“Rontal itu memang adalah milikku”, berkata Prabu Guru Darmasiksa perlahan.

Terlihat semua pandangan mata di pendapa itu tertuju kepada Prabu Guru Darmasiksa seperti menunggu apa yang akan diucapkan orang tua mantan penguasa Tanah Pasundan itu.

Prabu Guru Darmasiksa tidak segera melanjutkan kata-katanya, seperti berat bibirnya dan seperti tengah mempertimbangkan sesuatu. Terlihat tengah menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

“Sebenarnya ini sebuah rahasia kami”, berkata Prabu Guru Darmasiksa perlahan. ”Apa boleh buat, demi meluruskan permasalahan ini harus kubuka, bahwa sekitar lima bulan yang lalu aku bermaksud memindahkan sebuah benda pusaka Kujang Pangeran Muncang ke Kotaraja Kawali agar dapat disimpan di bangsal pusaka istana. Namun dalam perjalanannya sepuluh orang cantrikku dicegat oleh dua orang perampok berilmu tinggi. Tujuh dari sepuluh cantrik yang membawa benda pusaka itu tewas. Dua perampok berilmu tinggi itu telah dapat membawa pergi benda pusaka itu. Perlu diketahui bahwa sengaja aku menitipkan rontal itu pula bersama pusaka Kujang Pangeran Muncang didalam sebuah kotak hitam”, bercerita Prabu Guru Darmasiksa berhenti sebentar menarik nafas panjang seperti merasa berat harus bercerita tentang benda pusaka yang hilang. ”Semula kami bermaksud merahasiakannya, semakin sedikit orang yang tahu tentang rahasia itu akan memudahkan kami melacak siapa yang telah berani merampok benda pusaka milik kerajaan Pasundan itu”, berkata kembali Prabu Guru Darmasiksa menyelesaikan peristiwa dibalik rontal ditangan Nyi Randu Abang yang ternyata hanya sebuah pahatan pakem tembang hina kelana gubahan gabungan antara Prabu Guru Darmasiksa dan Jayakatwang.

“Maafkan hamba telah membawa rontal ini. Sebaiknya rontal ini hamba serahkan kepada tuan Prabu Guru Darmasiksa sebagai pemiliknya. Tapi hamba akan terus menyusuri siapa pelaku dibalik semua ini”, berkata Nyi Randu Abang sambil menyerahkan rontal tembang hina kelana kepada Prabu Guru Darmasiksa, pemilik rontal itu.

“Terima kasih, rahasia ini harus kita jaga agar kita dapat lebih mudah mengungkap dibalik semua ini. Sekaligus mendapatkan kembali pusaka Kujang Pangeran Muncang”, berkata Prabu Guru Darmasiksa. ”Adakah hal lain yang telah Nyi Randu Abang dapatkan selama ini?”, bertanya Prabu Guru Darmasiksa kepada Nyi Randu Abang.

“Adikku tewas sambil memegang sebuah kain penutup kepala berwarna gula kelapa”, berkata Nyi Randu Abang.

“Kain penutup kepala gula kelapa?”, berkata Putu Risang seperti mengulang kembali perkataan Nyi Randu Abang.

Terlihat semua mata di pendapa Padepokan itu memandang kearah Putu Risang.

“Para prajurit Majapahit mengenakan ikat kepala berwarna gula kelapa”, berkata Putu Risang menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya.

“Apakah prajurit Majapahit berada dibelakang semua ini?”, bertanya Nyi Randu Abang langsung mengambil sebuah pernyataan pikirannya.

“Begitu bodohnya prajurit Majapahit meninggalkan jati dirinya. Pasti ada orang lain yang sengaja meninggalkan ikat kepala itu untuk sebagai sebuah tujuan”, berkata Prabu Guru Darmasiksa menyampaikan jalan pikirannya.

“Ada orang lain yang sengaja ingin memecah persaudaraan antara Pasundan dan Majapahit”, berkata Jayakatwang tanpa bercerita tentang kecurigaannya kepada salah seorang bangsawan yang ditemuinya di bandar pelabuhan Pragota.

“Maaf bila kukatakan bahwa adikmu terlibat sebagai salah satu dari dua orang perampok. Kunci utama sekarang adalah siapakah yang bersamanya. Adakah Nyi Randu Abang mengenal sahabat dekat Rakajaya?”, bertanya Prabu Guru Darmasiksa kepada Nyi Randu Abang.

“Aku masih ingat, Ayahku berangkat bersama sahabatnya Paman Bango Samparan”, berkata Andini yang selama itu hanya berdiam diri.

“Bango Samparan dari Rawa rontek maksudmu?”, bertanya Prabu Guru Darmasiksa.

“Benar, Paman Bango Samparan dari Rawa Rontek”, berkata Andini membenarkan perkataan Prabu Guru Darmasiksa mengenai sebuah nama.

“Pantas sepuluh cantrikku dapat dengan mudah dikalahkan oleh mereka. Setahuku Bango Samparan memang seorang yang berilmu tinggi. Dialah kunci kita untuk mengungkap kegelapan ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa.

“Kita harus bergerak cepat, sebelum ada orang lain yang ingin menutup rapat-rapat rahasia itu sebagaimana nasib Rakajaya”, berkata Jayakatwang memberikan pikirannya.

“Kamu benar, bisa jadi nasib Bango Samparan sedang terancam sebagaimana sahabatnya Rakajaya”, berkata Prabu Guru Darmasiksa membenarkan jalan pikiran Jayakatwang. “Sebagai orang Majapahit, hamba merasa berkepentingan dengan urusan ini. Ijinkan hamba untuk segera berangkat mencari Bango Samparan. Mungkin kedua muridku Pangeran Jayanagara dan Mahesa Muksa dapat menemani perjalanan hamba”, berkata Putu Risang menawarkan dirinya bersama kedua muridnya menemukan Bango Samparan yang dianggap kunci utama yang sangat penting untuk segera diselamatkan.

“Terima kasih, kalian adalah tamu kami. Tidak enak hati bila terjadi sesuatu pada kalian. Disamping juga bahwa kalian belum mengetahui arah Rawa Rontek tempat kediaman Bango Samparan”, berkata Prabu Guru Darmasiksa merasa tidak enak hati telah membawa tamunya kepada masalah hilangnya pusaka Kujang Pangeran Muncang.

“Kami hanya perlu seorang petunjuk jalan menuju Rawa Rontek”, berkata Putu Risang.

“Aku dapat menjadi penunjuk jalan menuju rawa rontek, ayahku pernah mengajak aku ke tempat kediamannya”, berkata Andini angkat bicara menawarkan dirinya sebagai seorang penunjuk jalan menuju Rawa Rontek tempat kediaman Bango Samparan.

Semua mata terlihat memandang kearah Andini, semua orang dipendapa itu seperti baru memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama. Ternyata adalah seorang gadis yang sangat cukup jelita memiliki wajah dan paras begitu sempurna seperti wajah seorang dewi yang biasa dipahat dalam candi-candi yang disucikan.

“Mungkin Gusti yang Maha Agung telah menggariskan kalian datang ke Padepokanku untuk membantu menyelesaikan urusan kami ini”, berkata Prabu Guru Darmasiksa seperti tidak dapat menolak lagi maksud baik Putu Risang.

Demikianlah, akhirnya semua telah sepakat menugaskan Putu Risang bersama kedua muridnya menuju Rawa Rontek dengan Andini sebagai penunjuk arahnya.

Sementara itu Nyi Randu Abang terlihat tengah berpamit diri.

“Hamba berharap semoga urusan ini dapat segera terungkap”, berkata Nyi Randu Abang ketika berdiri bermaksud pamit diri kembali ke padepokannya.

Terlihat Nyi Randu Abang telah menuruni anak tangga pendapa. Dan bersama semua para muridnya telah berjalan kearah pintu gerbang halaman muka Padepokan diiringi pandangan mata semua yang berada diatas pendapa.

Dan malam diatas Padepokan Prabu Guru Darmasiksa terlihat sudah begitu gelap. Semilir angin terasa begitu dingin menusuk kulit di lereng Gunung Galunggung itu.

“Bilik untukmu telah disiapkan, beristirahatlah lebih dulu”, berkata Prabu Guru Darmasiksa mempersilahkan Andini beristirahat.

“Kurasa kalian juga perlu beristirahat yang cukup di malam ini, karena besok pagi kalian akan melakukan sebuah perjalanan cukup jauh”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Putu Risang, Pangeran Jayanagara dan Gajahmada.

“Terima kasih, kami pamit diri beristirahat lebih dulu”, berkata Putu Risang mewakili kedua muridnya masuk kedalam ke tempat yang sudah disediakan untuk mereka di Padepokan itu. Akhirnya di atas pendapa itu tertinggal tiga orang tua saja.

“Kalian berdua baru saja datang dari sebuah perjalanan yang cukup melelahkan, beristirahatlah”, berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Jayakatwang dan Pendeta Gunakara.

Demikianlah, malam itu semua penghuni Padepokan Prabu Guru Darmasiksa telah masuk didalam biliknya masing-masing. Hawa dingin diatas lereng Gunung Galunggung memang begitu dingin kadang terasa menusuk kulit tubuh ketika semilir angin dingin itu menembus lewat sela-sela bilik bambu mereka.
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kisah Dua Naga Di Pasundan Jilid 02"

Post a Comment

close