Kabut Di Bumi Singasari Jilid 12 (Tamat)

Mode Malam
Puluhan batang kayu yang malang melintang sepanjang jalan itu memang telah memaksa pasukan berkuda Raden Wijaya harus turun dari kudanya. Sambil menuntun kuda-kuda mereka dan dengan susah payah terus berjalan melewati rintangan batang kayu.

“Mereka telah masuk perangkap kita”, berkata Patih Kebo Mundarang kepada Pangeran Ardharaja yang saat itu ternyata bersama pasukannya sudah melihat kedatangan pasukan Raden Wijaya dari sebuah bukit diatas jalan yang akan dilewati oleh pasukan berkudanya Raden Wijaya.

Langit diatas jalan itu terlihat sudah begitu teduh, sinar matahari sudah rebah terhalang bukit yang membujur tinggi.

Terlihat barisan pasukan berkuda Raden Wijaya sudah hampir seluruhnya melewati batang kayu hutan yang merintangi jalan mereka.

Namun baru saja mereka duduk diatas pelana kudanya masing-masing, terdengar sebuah dengung panah sanderan yang berdengung melesat disekitar mereka.

“Selamatkan diri kalian!!”, berteriak Raden Wijaya  dengan suara lontaran yang dirangkapi tenaga murninya didengar oleh semua prajuritnya.

Tapi teriakan peringatan Raden Wijaya untuk para prajuritnya ternyata sudah terlambat.

Para prajurit berkuda memang langsung menghentakkan kudanya berlari, namun sebuah hujan panah seperti turun dari langit langsung bertebaran mencari sasaran dan korbannya.

Raden Wijaya, Rangga Lawe dan Arya Kuda Cemani dengan ilmu dan kesaktian mereka mampu sambil berlari dapat menghalau dan melindungi diri mereka dengan mengibaskan pedang mereka yang seperti angin mematahkan setiap anak panah yang meluncur mengancam tubuhnya. Namun tidak juga untuk sebagian para prajurit berkudanya, beberapa anak panah terlihat berhasil menembus tubuh mereka yang langsung terlempar dari kudanya.

Ternyata bidikan anak panah itu tidak melulu ditujukan kepada pasukan berkuda Raden Wijaya, diantaranya ada anak panah berapi yang sengaja dibidik ke tumpukan batang-batang kayu yang melintang dibelakang mereka, juga dibeberapa titik hutan dikiri kanan jalan dimana pasukan berkuda Raden Wijaya akan melewatinya.

Sungguh mengerikan suasana saat itu, hutan dikanan kiri para pasukan berkuda terlihat mulai terbakar, sementara itu batang-batang kayu yang melintang dibelakang mereka sudah lebih dulu terbakar.

Asap mengepul ditiup angin yang cukup keras menutupi segenap jalan, menutupi segala jarak pandang.Tidak ada jalan lain dari pasukan berkuda Raden Wijaya selain terus berlari kedepan.

Setiap kali terdengar suara jerit prajurit Singasari yang termakan oleh anak panah yang sudah menembus tubuhnya. Atau jerit prajurit yang terlempar dari seekor kuda yang terkejut berhenti karna tubuh kuda itulah yang jadi korban anak panah yang datang seperti hujan terjatuh dari atas langit.

Hati dan dada Raden Wijaya seperti merasakan kepedihan yang begitu menyayat manakala mendengar jeritan suara prajuritnya. Pada saat itu hatinya begitu pedih tidak dapat menolong prajuritnya, karena saat itu ia sendiri harus berjuang dari hujan panah yang terus meluncur seperti tiada pernah berhenti sepanjang jalan dan lari kudanya.

Akhirnya pasukan berkuda itu telah berhasil melewati lorong neraka itu, meraka sudah berada di jalan yang terbuka ditengah padang ilalang.

“Musuh kita kali ini sepertinya sudah membaca setiap langkah kita”, berkata Arya Kuda Cemani kepada Raden Wijaya yang terlihat begitu berduka memandang barisan pasukan berkudanya yang semakin berkurang, hampir setengahnya tertinggal di jalan penuh perangkap hujan anak panah itu.

“Mereka berhasil menjebak kita, memecah pasukan kita. Itulah yang dapat kubaca dari pikiran seorang musuh”, berkata Raden Wijaya kepada Arya Kuda Cemani dan Ranggalawe.

“Kita tidak dapat kembali mundur, pasti mereka masih menempatkan para pasukan pembidik panah disisi kiri kanan jalan neraka itu”, berkata Arya Kuda Cemani memberikan pandangannya kepada Raden Wijaya.

“Saat ini pasti pasukan musuh sudah turun dari bukitbukit itu untuk menyerang pasukan kita dibelakang”, berkata Raden Wijaya kepada Arya Kuda Cemani dalam suara orang yang putus asa tidak dapat berbuat apapun.

“Aku membaca kemungkinan lain”, berkata Arya Kuda Cemani kepada Raden Wijaya.

“Aku ingin mendengarnya wahai Paman Kuda Cemani”, berkata Raden Wijaya kepada Arya Kuda Cemani.

“Mereka sudah ada menunggu kita dijalan neraka itu, sebagai tanda bahwa mereka telah  menyelesaikan tujuan utama mereka menaklukkan Kotaraja”, berkata Arya Kuda Cemani.

“Kotaraja Singasari sudah mereka taktukkan?”, bertanya Raden Wijaya kepada Arya Kuda Cemani.

“Hanya perkiraanku, perkiraanku lainnya adalah bahwa mereka tidak akan turun dari bukit untuk menyerang pasukan kita yang saat ini mungkin sudah bergerak menuju Kotaraja”, berkata kembali Arya Kuda Cemani.

“Mengapa mereka tidak menyerang pasukan kita?”, bertanya Raden Wijaya kepad Arya Kuda Cemani.

“Pasukan kita dibelakang masih cukup besar, menurut perkiraanku meraka ibarat sekumpulan srigala yang hanya mencari mangsa yang lebih mudah untuk mereka rebut”, berkata Arya Kuda Cemani

“Pasukan kita yang saat ini masih berada di  Kademangan Tasikmadu ?”, bertanya Raden Wijaya kepada Arya Kuda Cemani. Kali ini Arya Kuda Cemani menjawab pertanyaan Raden Wijaya hanya dengan menganggukkan kepalanya.

“Apa yang harus kita lakukan saat ini wahai pamanku”, bertanya Raden Wijaya kepada Arya Kuda Cemani yang menurut pandangannya mempunyai kekuatan pikiran sangat matang dan dapat diajak untuk bertukar pikiran.

“Menyelamatkan pasukan kita dari para pembidik yang masih menunggu di antara dua bukit itu”, berkata Arya Kuda Cemani sambil menunjuk dua buah bukit yang mengapit sebuah jalan yang dapat dikatakan sebuah jalan neraka, sebuah jalan yang sangat berbahaya bagi pasukannya.

“Mari kita bagi dua pasukan kita, menyergap mereka sebagaimana mereka telah menyergap pasukan kita”, berkata Raden Wijaya sambil turun dari kudanya memanggil beberapa perwiranya untuk diajak berbicara.

Mari kita tinggalkan dulu pasukan Raden Wijaya yang tengah mengatur siasat untuk menyelamatkan pasukannya dari para pembidik tersembunyi. Mari kita dekati pasukan Tanah Gelang-gelang yang masih berada di dua bukit yang tengah bergembira telah dapat menjebak musuhnya, membantai musuh hampir setengahnya dengan hujan panahnya.

“Kita telah memecah pasukan mereka, apakah kita akan turun membantai pasukan kedua yang bergerak dibelakang mereka?”, bertanya Pangeran Ardharaja kepada Patih Kebo Mundarang.

“Biarlah pasukan pemanah kita yang akan membantai mereka dari atas bukit ini, yang paling mudah saat ini adalah membantai pasukan mereka yang menurut perkiraanku masih tertinggal di Kademangan Tasikmadu”, berkata Patih Kebo Mundarang kepada Pangeran Ardharaja.

Demikianlah, pasukan Patih Kebo Mundarang sudah bergerak menuju ke Kademangan Tasikmadu. Mereka berjalan agak melambung untuk menghindari pasukan Raden Wijaya lapis kedua yang tengah berjalan menuju Kotaraja Singasari.

Di tempat yang berbeda, pasukan berkuda Raden Wijaya terlihat tengah menyembunyikan kuda-kuda mereka, meninggalkan beberapa orang untuk tetap menjaga kuda-kuda itu. Sementara selebihnya sudah berpencar menuju kedua bukit yang menghimpit jalan mencoba menyergap para pembidik yang diperkirakan masih bersembunyi di situ menunggu pasukan Raden Wijaya lainnya.

Akhirnya pasukan Raden Wijaya sudah dapat mendekati dua bukit itu, dengan cara mengendap-endap akhirnya mereka menemui para prajurit pembidik dari Tanah Gelang-gelang yang memang tengah bersembunyi di tempat yang begitu leluasanya memenuhi jarak bidik panah mereka yang ditujukan siapapun yang lewat dijalan terhimpit dua buah bukit itu.

Para prajurit pasukan berkuda Raden Wijaya merupakan orang-orang pilihan yang telah mampu dan ahli menggunakan berbagai senjata, juga sangat terampil dalam olah kanuragan.

Kali ini terlihat mereka tengah memperlihatkan bagaimana membidik musuh dengan pisau pendek mereka.

Jep! Jep! Jep!

Terlihat beberapa pisau pendek telah  langsung mengenai sasaran musuh ditempat persembunyian mereka yang langsung rebah dengan pundak tembus kedada terkena pisau pendek yang dilempar dengan keras dan begitu titisnya.

Auuuuuwwww !!!

Terdengar seorang prajurit musuh yang jatuh terlempar dari sebuah dahan pohon yang cukup tinggi.

Ternyata suara itu telah membuat prajurit musuh lainnya untuk sigap dan siaga atas serangan gelap itu. Langsung mereka berbalik badan mencoba menyapu pandangan mereka mencari dimanakah musuh mereka.

Satu dua orang prajurit Singasari telah menampakkan dirinya dengan pedang menjuntai telah lepas dari sarungnya.

“Aku ingin melihat keperwiraan kalian bertempur ditempat terbuka”, berkata seorang prajurit Singasari sambil mendekati salah seorang prajurit dari Tanah Gelanggelang yang telah melihat dirinya.

“Kamu kira hanya kamu yang bisa bertempur secara terbuka?”, berkata prajurit dari Tanah Gelang-gelang sambil mendengus menantang.

Maka kedua prajurit itu sudah terlihat saling serang.

Dan dalam waktu yang begitu singkat sudah terjadi perkelahian ditempat lain. Para prajurit dari dua kubu berbeda sudah menemukan lawannya masing-masing.

Pertempuran pun terus berlangsung, para prajurit Singasari telah memperlihatkan kemampuan mereka yang ternyata berada diatas tataran rata-rata prajurit dari Tanah Gelang-gelang.

Terlihat Raden Wijaya, Arya Kuda Cemani dan Ranggalawe berpindah dari satu tempat ketempat lain setelah dengan cepatnya telah menyelesaikan pertempurannya.

Dan pertempuran pun akhirnya sudah terlihat hampir berakhir, hanya ada beberapa pihak lawan para prajurit Tanah Gelang-gelang yang belum juga mau menyerah.

“Lepaskan mereka”, berkata Raden Wijaya yang melihat seorang prajurit dari tanah Gelang-gelang yang penuh darah terluka masih terus bertempur. ”Janganlah kamu lepaskan segala amarahmu”, berkata kembali Raden Wijaya kepada seorang prajuritnya. “Tangannya telah melumuri banyak nyawa sahabatku”, berkata prajurit itu dengan amarah belum juga hilang.

“Lepaskan dirinya, tujuan kita sudah tercapai untuk menyelamatkan pasukan kita dari hujan panah tersembunyi. Bila mengingat setengah dari pasukanku yang terbantai, akupun berkeinginan mencincang tubuh mereka. Tapi lepaskan mereka demi kehidupan, karena dia pun punya hak yang sama sebagaimana kita punya hak untuk tetap hidup. Berikan kehidupannya, dan bebaskan dirimu dari amarah”, berkata Raden Wijaya kepada prajuritnya yang langsung mundur dari arena.

“Terima kasih telah memberikan aku untuk tetap hidup, baru kali ini aku menemukan musuh seperti diri tuan”, berkata prajurit dari tanah Gelang-gelang itu  yang merasa heran telah dilepaskannya begitu saja.

“Kembalilah ke pasukanmu wahai prajurit, kami bukan kaum biadab yang haus darah, tapi kami akan terus memerangi siapapun yang telah mengambil hak kami, hak atas tanah Singasari ini. Itulah yang harus kamu sampaikan kepada pimpinanmu”, berkata Raden Wijaya kepada prajurit musuhnya itu.

Terlihat prajurit itu penuh rasa terima kasih membungkukkan badannya, dan langsung berbalik badan setengah berlari pergi menjauh menghilang dikerepatan hutan.

Demikianlah, pasukan Raden Wijaya telah berhasil membersihkan dua bukit yang mengapit jalan itu dari para pembidik yang tersembunyi.

“Sisakan beberapa orang untuk tetap menjaga bukit ini, saatnya kita melanjutkan perjalanan kita yang tertunda menuju Kotaraja Singasari”, berkata Raden Wijaya kepada para prajuritnya. Ternyata apa yang telah di tanamkan oleh Raden Wijaya untuk tetap menjunjung tinggi kemanusiaan dalam setiap peperangan kepada semua prajuritnya, tidak berlaku  bagi para prajurit Patih Kebo Mundarang seperti yang telah mereka lakukan disaat yang sama ketika telah tiba di Kademangan Tasikmadu.

Begitu biadabnya mereka membantai prajurit Singasari yang tidak berbanding dengan pasukannya yang jauh lebih banyak dari sisi jumlah dan segala kesiapannya.

Kala itu temaram langit masih diawal senja, tiba-tiba saja seperti gemuruh air bah yang datang dari arah gerbang Kademangan Tasikmadu ribuan prajurit Patih Kebo Mundaran telah datang membanjiri setiap sisi jalan Kademangan Tasikmadu.

Bukan main terkejutnya para prajurit Singasari yang tengah merawat beberapa orang yang terluka. Namun jiwa prajurit mereka memang sudah mapan mendarah daging untuk sigap dan tangguh menghadapi apapun. Maka mereka pun dengan gagah berani langsung menghadapi para prajurit musuh dengan jumlah yang begitu besar.

Apalah artinya jiwa keprajuritan mereka yang tangguh apapun menghadapi jumlah prajurit dari Tanah Gelanggelang yang ribuan orang itu. Maka dalam waktu cepat prajurit Singasari itu akhirnya menjadi korban pembantaian dari ribuan prajurit Patih Kebo Mundaran yang sepertinya telah disusupi api dendam kesumat yang begitu menggelora untuk menghabisi tanpa kenal ampun setiap prajurit Singasari.

Tanpa kenal ampun dan tanpa tersisa seorang pun, seluruh prajurit Singasari di Kademangan Tasikmadu itu menjadi korban pembantaian tanpa prikemanusiaan. Ternyata para prajurit dari tanah Gelang-gelang itu tidak hanya puas membantai semua prajurit Singasari, mereka juga melampiaskan dendam mereka kepada para warga Kademangan Tasikmadu yang tidak berdosa, rakyat biasa yang tidak mengerti apapun tentang perang yang tengah terjadi. Dan puncak dari kebiadaban para prajurit dari Tanah Gelang-gelang adalah membakar seluruh rumah yang ada di Kademangan Tasikmadu.

“Para arwah pasukan Senapati Jaran Guyang pasti tengah tertawa melihat apa yang telah kita lakukan di Kademangan Tasikmadu, membalas kekalahan mereka”, berkata Patih Kebo Mundarang sambil bergelak tawa bersama Pangeran Ardharaja menyaksikan puluhan rumah yang tengah berkobar diamuk api yang menjilatjilat diterpa angin.

Kala itu langit diatas Kademangan Tasikmadu sudah diujung senja, namun kobaran api di setiap jengkal sudut Kademangan Tasikmadu telah membuat langit disekitarnya seperti terang benderang.

Terdengar jeritan dan tangisan di beberapa tempat, orang-orang tua, wanita dan anak-anak kecil yang tersisa yang tidak dapat sempat untuk bersembuyi.

“Kotaraja Singasari telah kita porak-porandakan, saatnya membawa seluruh pasukan menuju Kotaraja Kediri”, berkata Patih Kebo Mundarang sambil menepuk pundak Pangeran Ardharaja.

“Kita tidak kembali ke Tanah Gelang-gelang?”, bertanya Pangeran Ardharaja kepada Patih Kebo Mundarang.

“Kita Ke Kotaraja Kediri menyiapkan istana dan singgasana untuk Ayahandamu, Maharaja Jayakatwang pewaris Kerajaan Kediri yang sejati”, berkata Kebo Mundarang sambil tertawa bergelak memandang Pangeran Ardharaja yang ikut tersenyum penuh kegembiraan.

Patih Kebo Mundarang telah memerintahkan kepada semua prajuritnya bahwa hari itu mereka bermalam di Kademangan Tasikmadu.

“Bersenang-senanglah kalian”, berkata Kebo Mundarang kepada beberapa perwiranya.

Demikianlah, seluruh pasukan Patih Kebo Mundarang berpesta pora di sepanjang malam itu di Kademangan Tasikmadu menumpahkan segala rasa kemenangan. Tawa dan riuh kegembiraan mereka sepertinya merampas jerit dan isak tangis yang begitu memilukan di beberapa sudut kamar pengap dari beberapa wanita yang terperangkap dalam ketidakberdayaan nasib, korban sebuah peperangan.

Dan manakala Matahari sudah terang tanah, pasukan besar Patih Kebo Mundarang terlihat sudah bergerak kearah Kotaraja Kediri.

Disepanjang perjalanannya, pasukan ini seperti wabah yang menakutkan. Mereka telah melakukan sebagaimana telah mereka lakukan pada penduduk di Kademangan Tasikmadu. Mereka telah menaburkan penderitaan dan jeritan penuh pilu di sepanjang hampir seluruh perjalanannya menuju Kotaraja Kediri.

Berita seperti angin yang berlari begitu cepat, berita sebuah pasukan besar yang begitu menakutkan telah terdengar hampir diseluruh Padukuhan-padukuhan yang akan mereka lewati. Terlihatlah ratusan para pengungsi yang bergerak pergi menghindari pasukan besar Patih Kebo Mundarang yang begitu menakutkan. Beberapa penduduk terlihat mengungsi untuk sementara di hutanhutan yang terdekat, atau ke beberapa Padukuhan yang menurut mereka tidak dilewati oleh pasukan Patih Kebo Mundarang.

Berita seperti angin yang berlari begitu cepat, dan akhirnya sampai juga ke Kotaraja Kediri. Tersebarlah berita bahwa sebuah pasukan besar akan datang untuk menguasai Kotaraja Kediri. Raja Kediri yang masih keluarga Maharaja Kertanegara tidak berani untuk menyambut pasukan besar Patih Kebo Mundaran dengan pedang terbuka. Mereka memilih untuk menyingkir menyelamatkan diri, menyelamatkan harta dan keluarganya.

“Tikus-tikus keluarga Tumapel telah pergi bersembunyi”, berkata Patih Mundarang kepada Pangeran Ardharaja ketika bersama pasukan besarnya telah memasuki Kotaraja Kediri dan melihat Istana Kediri yang telah kosong tanpa penghuni.

Sementara itu jauh dari Kotaraja Kediri, terlihat lima orang berkuda tengah melarikan kudanya membelah padang ilalang Kalimayit. Matahari diatas padang Kalimayit saat itu baru bergeser sedikit dari kaki langit. Wajah kelima orang berkuda itu nampak tersamar caping bambu yang mereka kenakan. Namun dari kesigapan mereka mengendalikan kekang kuda dapat dipastilan bahwa mereka bukanlah orang sembarangan.

“Kita datang terlambat”, berkata salah seorang dari kelima orang berkuda itu ketika mereka telah memasuki Kademangan Tasikmadu, melihat porak poranda dan sisa-sisa abu dari rumah-rumah yang ternbakar.

“Apa yang telah terjadi di Kademangan ini”, berkata kawannya sambil memperlambat lari kudanya menyusuri jalan Kademangan Tasikmadu yang telah sepi senyap tanpa penghuni seorangpun. Namun di sebuah rumah yang ada disebuah persimpangan jalan, mereka telah melihat seorang lelaki tua duduk di depan puing-puing sisa rumahnya yang terbakar.

“Lelaki tua itu mungkin dapat bercerita”, berkata salah seorang dari kelima orang berkuda itu.

Terlihat kelima orang berkuda itu telah menghentikan kudanya tepat didepan rumah lelaki tua itu. Mereka telah turun dari kudanya masing-masing dan menuntun kudanya mendekati pagar rumah.

Kelima orang berkuda itu telah mengikat tali kuda masing-masing di tonggak pagar rumah lelaki tua itu, dan bersamaan pula telah membuka caping bambu yang menutupi kepala dan sedikit wajah mereka.

Sinar matahari pagi yang terlihat hangat menyapu wajahwajah mereka. Wajah yang sudah tidak dilindungi caping bambu itu nampak terlihat jelas. Ternyata kelima orang berkuda itu tidak lain adalah orang yang tidak asing lagi, lima orang ksatria yang baru saja datang kembali ke Tanah Singasari, mereka tidak lain adalah Mahesa Amping, Ki Bancak, Ki Sandikala, Gajah Pagon dan Ki Sukasrana.

Semula terlihat ada wajah penuh rasa takut dari lelaki tua itu ketika melihat lima orang berkuda datang mendekatinya. Namun setelah semakin mendekat terlihat lelaki tua itu menarik napas lega. Kelima orang yang mendekatinya sama sekali bukan orang yang menakutkan dalam benak dan pikiran lelaki tua itu. Kelima orang itu dilihatnya punya paras dan cahaya wajah orang baik-baik, wajah yang menggambarkan persahabatan. Terutama Mahesa Amping yang lebih dulu mendekati lelaki tua itu, ada perbawa dalam sorot matanya yang teduh ketika mata Mahesa Amping beradu pandang dengan lelaki tua itu.

“Maaf Pak Tua, kami adalah para pengembara yang kebetulan lewat. Dapatkah Pak Tua bercerita apa yang telah terjadi di Kademangan ini”, bertanya mahesa Amping sambil membungkukkan badan dan merangkapkan kedua tangannya di dada sebagai ungkapan rasa santun dan ikut berduka atas apa yang telah terjadi.

“Mereka bukan orang jahat”, berkata dalam hati lelaki itu melihat sikap dan ucapan Mahesa Amping yang teratur dan penuh kesantuman.

Maka dengan perlahan, lelaki tua itu bercerita apa yang telah terjadi di Kademangan Tasikmadu. Mulai dari peperangan antara Pasukan Raden Wijaya dengan pasukan Senapati Jaran Guyang dari Tanah Gelanggelang di Padang kalimayit. Dan diakhiri dengan sebuah cerita tentang sebuah hari penuh duka air mata, sebuah serbuan pasukan besar Patih Kebo Mundarang yang memporakporandakan bumi Kademangan Tasikmadu. Menghangus bumikan Kademangan Tasikmadu. Sebuah duka panjang yang akan menjadi cerita memilukan yang akan diingat sepanjang masa oleh anak cucu mereka.

“Dimanakah saat ini orang-orang Kademangan Tasikmadu ini yang masih selamat?”, bertanya Mahesa Amping kepada lelaki tua itu setelah mendengar semua ceritanya.

“Mereka masih belum berani kembali, sebagian masih mengungsi di hutan-hutan terdekat”, berkata lelaki tua itu.

“Mungkin ini berguna untuk Pak tua, kami berharap semoga tidak akan pernah kembali kejadian ini dihari-hari mendatang”,      berkata      Mahesa      Amping      sambil memberikan beberapa keping emas kepada lelaki tua itu serta beberapa potong makanan bekalnya.

“Terima kasih”, berkata lelaki tua itu dengan tangan gemetar penuh rasa suka cita yang sangat.

“Mungkin di Kotaraja Singasari, kita akan mendapat gambaran yang lebih jelas lagi”, berkata Mahesa Amping kepada keempat kawan seperjalanannya itu sambil menghentakkan perut kudanya untuk memulai sebuah perjalanan kembali menuju Kotaraja Singasari.

Terlihat lima orang berkuda ini telah meninggalkan Kademangan Tasikmadu dengan hati yang menggiris pilu.

“Balidwipa dan Jawadwipa yang terpisah batas laut telah disatukan menjadi satu keluarga, sementara saudara di Tanah sendiri ingin memisahkan diri”, berkata Mahesa Amping dalam hati diatas kudanya yang berjalan setengah berlari.

“Tuan Senapati kita tengah berduka”, berkata perlahan Ki Sandikala kepada Ki Bancak yang terus mengikuti di belakang langkah kaki kuda Mahesa Amping.

“Baru kali kulihat wajahnya begitu murung”, berkata Ki Bancak kepada Ki Sandikala juga dengan suara perlahan untuk hanya didengar oleh Ki Sandikala.

Sementara itu dibelakang mereka, Gajah Pagon dan Ki Sukasrana tidak berkata apapun, terus mengikuti langkah kaki kuda di depan mereka.

Demikianlah, lima orang berkuda yang bercaping bambu menutupi kepala dan sedikit wajah mereka terlihat telah melarikan kudanya meninggalkan debu yang bertebaran dibelakang kaki kuda mereka masing-masing.

Di sebuah jalan yang bersungai kecil, mereka beristirahat sejenak sekedar memberi kesempatan kuda-kuda mereka untuk merumput. Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju Kotaraja Singasari yang hanya berjarak sepertiga hari perjalanan lagi.

Ketika hari mendekati ujung senja, matahari telah rebah lelah berbaring di tepi bibir kaki langit, terlihat lima orang berkuda telah memasuki gerbang Kotaraja Singasari.

“Ternyata Kotaraja Singasari tidak lebih baik dari Kademangan Tasikmadu”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Sandikala yang berjalan beriring disampingnya melihat sepanjang jalan rumah-rumah yang telah rata dengan tanah menyisakan beberapa onggokan sisa kayu yang hitam gosong terbakar.

Mahesa Amping dan keempat sahabatnya itu seperti berjalan di tengah kota yang mati, tidak ditemuinya seorang pun di sepanjang jalan Kotaraja Singasari itu seperti waktu sebelumnya dimana selalu begitu ramai dari hilir mudik beberapa orang yang punya berbagai kepentingan, baik yang berjalan kaki atau berkuda dan selalu diramaikan oleh gerobak-gerobak dagang para saudagar yang datang dan pergi di Kotaraja Singasari.

Ketika mereka semakin mendekati jalan menuju istana, di sebuah perempatan jalan mereka temui banyak bunga sesaji berserakan memenuhi jalan.

“Ada orang besar yang hari ini telah disempurnakan jenasahnya”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Sandikala disampingnya.

Terlihat Ki Sandikala tidak berkata apapun, hanya menganggukkan kepalanya tanda ikut mengerti bahwa baru saja di Kotaraja ini telah melakukan sebuah penyempurnaan jenasah. Ketika Mahesa Amping bersama keempat sahabatnya tiba di regol gerbang Istana, seorang prajurit datang menghampirinya.

“Kami ada keperluan di Istana ini, semoga diperkenankan bagi kami semua”, berkata Mahesa Amping kepada prajurit itu sambil membuka caping bambu yang menutupi setengah wajahnya.

“Bukankah hamba saat ini berhadapan dengan Tuan Senapati Mahesa Amping?”, berkata prajurit itu sambil tersenyum memandang wajah Mahesa Amping yang juga tersenyum ramah. Ternyata prajurit itu salah seorang pasukan Raden Wijaya yang sebelumnya bertugas di Bandar Cangu. Tentu saja masih mengenali Mahesa Amping yang dulu pernah bertugas sebagai pelatih kanuragan para prajurit baru.

“Maaf, aku lupa dimana kita pernah bertemu?”, bertanya Mahesa Amping kepada prajurit itu.

“Wajar kalau tuan Senapati lupa kepada hamba, tapi hamba tidak pernah lupa semua jurus yang pernah tuan Senapati berikan kepada kami di Bandar Cangu”, berkata prajurit itu.

“Ternyata kamu salah seorang prajurit dari Bandar  Cangu itu, aku melihat ada banyak sisa upacara melepas atma di Kotaraja ini”, bertanya Mahesa Amping kepada prajurit itu.

“Ternyata tuan Senapati belum mendengar kabar duka itu, hari ini kami baru saja menyelesaikan upacara ngabeni Maharaja Kertanegara”, berkata prajurit itu kepada Mahesa Amping.

“Maharaja Kertanegara?”, berkata Mahesa Amping seperti tidak percaya. Prajurit itu menganggukkan kepalanya sambil menarik nafas panjang penuh duka.

“Mari kuantar tuan semua ke Pasanggrahan Ratu Anggabhaya”, berkata prajurit itu memecahkan keheningan suasana hati masing-masing.

Terlihat prajurit itu memanggil beberapa kawannya untuk membawa kuda-kuda Mahesa Amping dan empat orang sahabatnya itu. Prajurit itu sendiri mengantar Mahesa Amping dan rombongannya berjalan didepan sebagaimana tatacara yang seharusnya dilakukan untuk menerima tamu Istana.

“Maaf tuan Senapati, tugasku cuma sampai di pintu regol ini”, berkata Prajurit itu kepada Mahesa Amping ketika mereka sudah berada di depan regol pintu masuk Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

“Terima kasih telah mengantar kami”, berkata Mahesa Amping penuh senyum ramah kepada prajurit yang mengantarkannya itu.

Sambil membungkukkan badan dan merangkapkan tangannya prajurit itu mempersilahkan Mahesa Amping dan rombongannya terus masuk ke halaman Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

Terlihat semua orang yang ada di pendapa utama berdiri manakala melihat rombongan Mahesa Amping datang mendekati anak tangga pendapa utama.

“Mahesa Amping!!”, berucap sebuah nama dari bibir seseorang yang ada di atas pendapa utama itu yang tidak lain adalah Raden Wijaya yang merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, kedatangan Mahesa Amping, sahabat sejatinya yang juga telah dianggap sebagai saudaranya sendiri. Penuh haru biru menandai suasana pertemuan dua sahabat itu yang sudah sekian lama tidak berjumpa.

“Kami datang disaat Tanah Singasari dipenuhi kabut ”, berkata Mahesa Amping setelah duduk diatas pendapa utama selesai mendengar apa yang terjadi di Tanah Singasari saat itu.

Mahesa Amping akhirnya ikut bercerita tentang kehadirannya kembali di Jawadwipa sebagai utusan dari Rakyan Sasana Bungalan, sehubungan dengan permintaan langsung dari Maharaja Kertanegara mengirimkan bala bantuan dari Balidwipa.

“Adipati Rakyan Sasana Bungalan memerintahkan diriku untuk menjawab langsung kesetiaan kami atas kekuasaan tertinggi Maharaja Singasari, sebagai balasan rontal resmi yang dikirimnya lewat utusan resminya prajurit Gajah Pagon”, berkata Mahesa Amping menyampaikan tugasnya di Balidwipa ini. ”Namun kedatangan kami ternyata sudah terlambat”, berkata kembali Mahesa Amping kepada semua yang hadiri di pendapa utama.

“Kehadiran ananda belum terlambat, semoga kehadiran Ananda Mahesa Amping sebagai pertanda bahwa sang fajar telah hadir untuk sebagai kekuatan baru yang akan mampu mengusir kegelapan kabut di bumi Singasari ini”, berkata Ratu Anggabhaya penuh senyum ikut merasa gembira melihat kehadiran sahabat cucundanya itu.

“Semoga masih ada tempat untuk hamba untuk ikut mengusir kegelapan ini”, berkata Mahesa Amping sambil merangkapkan kedua tangannya ditujukan kepada Ratu Anggabhaya sebagai rasa terima kasih atas penerimaannya.

“Sedikit kelengahan kita adalah tidak menyangka bahwa musuh berasal dari saudara sendiri. Sementara kekalahan kita yang terbesar adalah merasa punya kemampuan diatas segala-galanya. Semua itu menjadi cermin untuk kita kedepan, bahwa bukan kekuatan yang kita utamakan, tapi kekuatan kecerdikan pikiran kitalah yang dapat mengalahkan sebesar apa pun kekuatan lawan”, berkata Ratu Anggabhaya yang dapat diterima oleh semua yang hadir diatas pendapa utama itu.

“Dari orang-orang yang masih setia kepada Singasari, hamba mendapat berita bahwa Raja Jayakatwang telah mengukuhkan dirinya menjadi Maharaja di Kediri. Mereka telah mengutus kesemua Raja-raja di Jawadwipa untuk patuh dan setia dibawah kekuasaannya. Segala upeti dan bala mulai saat ini hanya ditujukan kepada penguasa di Kediri”, berkata Arya Kuda Cemani yang ikut hadir di pendapa utama Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

“Mereka telah membuat gentar para raja di Jawadwipa dengan segala bencana yang telah mereka tunjukkan lewat kebiadaban pasukan Patih Kebo Mundarang. Kesetiaan dari para raja di Jawadwipa adalah kesetiaan yang semu. Diam-diam para Raja di Jawadwipa itu memendam benih harapan agar hadir sebuah tandingan yang dapat meruntuhkan Sang Raja Angkara”, berkata Pangeran Lembu Tal ikut memberikan pandangannya.

“Saatnya diri kita tampil kedepan menghidupkan benih harapan dari semua para Raja di Jawadwipa. Tunjukkan bahwa Kerajaan Singasari masih hidup”, berkata Ratu Anggabhaya dengan penuh semangat. “Itulah perang yang harus kamu lakukan saat ini wahai cucundaku Sanggrama Wijaya, menunjukkan bahwa kerajaan Singasari sampai saat ini masih hidup”, berkata Ratu Anggabhaya yang ditujukan kepada Raden Wijaya.

“Artinya cucunda akan melakukan perang senyap, datang menyerang secara tiba-tiba dan pergi menghilang di kegelapan malam”, berkata Raden Wijaya yang telah menangkap maksud perkataan dari Ratu Anggabhaya.

“Hanya untuk menunjukkan kepada semua Raja di Jawadwipa bahwa kita masih ada”, berkata Ratu Anggabhaya seakan membenarkan pengertian yang ditangkap oleh Raden Wijaya. “Sebuah langkah awal sebagaimana buyut kita Raja Erlangga mengambil kembali haknya atas tanah ini dengan menjalankan pusaka Empu Kanwa, Sama, bedha dan Danua”, berkata Ratu Anggabhaya kepada Raden Wijaya.

“Petuah Rama akan cucunda pusakai”, berkata Raden Wijaya penuh rasa terima kasih atas semua nasihat yang diterimanya dari Ratu Anggabhaya, kakeknya.

“Mereka memang telah merebut tanah dan seluruh harta pusaka kita, namun belum dapat menguasaai armada kerajaan laut kita yang selama ini masih tetap berjaya di samudera”, berkata Arya Kuda Cemani. “Artinya kita masih punya harta untuk membiayai seluruh pasukan kita yang akan memulai perang senyap ini”, berkata kembali Arya Kuda Cemani.

Ucapan Arya Kuda Cemani itu ternyata dapat menggugah rasa percaya diri, juga semakin menambah keyakinan baru bahwa rintisan yang mereka akan lakukan akan berbuah kegemilangan.

“Perlu juga dipertimbangkan amarah musuh kita atas apa yang telah kita lakukan, mereka akan datang kembali ke Kotaraja Singasari, dan ada kemungkinan juga menghancurkan armada jung Singasari”, berkata Ranggalawe ikut memberikan pandangannya.

“Pandangan Ranggalawe perlu dipertimbangkan, dulu mereka masih menghormati diriku ini sebagai orang tua, meski seluruh harta pusaka yang ada di Pasanggrahan ini mereka rampas, tapi nyawa kami masih diberi kesempatan untuk tetap hidup. Mungkin pada waktu kedepan, kukira mereka punya pandangan yang berbeda atas hidup keluarga istana ini”, berkata Ratu Anggabhaya membenarkan pandangan Ranggalawe.

“Artinya kita perlu mengamankan keluarga istana, juga sebuah bandar sementara yang jauh diluar Jawadwipa untuk tetap mengendalikan seluruh armada jung Singasari, jauh dari pengaruh para pengasa Kediri”, berkata Raden Wijaya sambil pandangannya menyapu satu persatu wajah dari semua yang hadir di pendapa utama saat itu.

“Ada sebuah tempat untuk keluarga ini, juga dapat dijadikan sebagai bandar sementara untuk armada Jung Singasari”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.” Seandainya hari ini Paman Kebo Arema hadir bersama kita, pasti beliau yang pertama menunjukkan tempat ini”, berkata kembali Mahesa Amping.

“Dimanakah Tanah yang aman itu wahai saudaraku?, bertanya Raden Wijaya yang merasa gembira dan percaya bahwa Mahesa Amping pasti punya pertimbangan yang sangat tepat.

“Dalam sebuah pelayaran untuk mencari tanah asal buah Pala bersama Paman Kebo Arema, kami pernah singgah disebuah pulau tanah kelahiran Paman Kebo Arema”, berkata Mahesa Amping diam sebentar menarik nafas panjang sepertinya ada keraguan untuk melanjutkan kata-katanya.

“Ternyata Paman Kebo Arema ditanahnya adalah seorang Putra Mahkota yang sangat dicintai oleh semua penghuni pulau itu. Semoga Paman Kebo Arema memaafkan diriku telah membuka jati dirinya yang sebenarnya”, berkata kembali Mahesa Amping sambil menyapu pandangannya kesemua yang hadir saat itu. “Pulau itu bernama Tanah Wangi-wangi”, berkata  kembali Mahesa Amping menyelesaikan perkataannya.

“Apakah mereka dapat menerima orang asing?”, bertanya Ranggalawe yang baru kali ini mendengar rahasia jati diri Kebo Arema yang sangat tertutup kepada siapapun tentang asal usul dirinya.

“Kecintaan, nama besar dan kehormatan Paman Kebo Arema adalah jaminan bahwa mereka akan menerima keluarga Istana ini. Aku yang akan mengantar keluarga istana ini kesana, karena mereka telah menjadikan diriku ini sebagai saudara dan keluarga mereka”, berkata Mahesa Amping memberikan keyakinannya.

“Aku percaya kepadamu wahai saudaraku, sebuah tempat yang aman untuk dua kepentingan yang berbeda”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping.

Sementara itu langit malam di atas pendapa utama Pasanggrahan Ratu Anggabhaya sudah terlihat sudah semakin larut. Udara malam lewat angin dinginnya seperti menyergap kulit, namun perbincangan diatas pendapa utama itu justru menjadi semakin hangat. Mereka tengah membicarakan sebuah awal perjuangan yang mungkin sangat panjang. Sebuah perjuangan untuk mengembalikan kejayaan Singasari raya.

Hingga akhirnya manakala malam sudah mendekati saat pagi dimana udara yang tersapu angin semakin terasa menusuk kulit, mereka baru saja menyepakati beberapa hal yang dianggap sangat penting sebagai sebuah persiapan awal. “Kuserahkan harapan ini kepada kalian, harapan untuk melihat kembali Kerajaan Singasari yang pernah kami bangun, kami tumbuh kembangkan bersama darah dan kecintaan, juga kesetiaan. Semoga aku dapat melihat saat-saat kemenangan kalian, saat-saat dimana kedamaian bumi ini kembali di bawah naungan pilar-pilar Singasari Raya, meski tidak harus di Tanah Tumapel ini. Aku yakin bahwa kalian yang hadir di bawah atap pendapaku ini akan dapat berbagi selamanya dalam kesetiaan, disaat perjuangan, disaat kemenangan dan disaat masa kegemilangan. Bersatulah kalian dalam kesetiaan, cinta dan persaudaraan”, berkata Ratu Anggabhaya setelah semua merasa sepakat untuk sebuah rencana yang panjang dari sebuah perjuangan.

“Hari sudah pagi, tapi masih ada waktu yang cukup untuk sedikit sekedar memejamkan mata dan meluruskan badan”, berkata Ranggalawe ketika bersama semua yang hadir diatas pendapa utama itu menuruni anak tangga pendapa untuk beristirahat di tempat yang telah disediakan di pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

Dan pendapa utama itu akhirnya telah menjadi begitu sepi hanya ditemani cahaya buram dari empat pelita yang sudah mulai redup bergoyang ditiup angin dingin diawal bayang-bayang pagi yang bening itu. Namun pendapa utama itu seperti berjiwa telah menyimpan setiap janji kata hati semua yang hadir di malam itu, sebuah janji untuk bersatu dalam kesetiaan, cinta dan persaudaraan.

“Bersatulah kalian dalam kesetiaan, cinta dan persaudaraan”, kata-kata itu masih terus bergema di telinga Mahesa Amping ketika tengah berbaring di peraduannya mencoba memejamkan matanya.

Dan pagi yang indahpun seperti tidak sabar untuk menata langitnya, meletakkan sang mentari di ujung bibir bumi dengan cahaya kuning terang bertebaran seperti jurai-jurai janur kuning hiasan pengantin bersama suara ramai burung berkicau dan rumput, dahan dan daun  yang masih basah bermandikan embun pagi. 

“Pagi yang indah”, berkata Mahesa Amping dalam hati sambil memandang taman yang tertata rapi mengitari seluruh Pasanggrahan Ratu Anggabhaya ketika berjalan menyusuri jalan setapak menuju ke pendapa utama. ”Namun sebentar lagi akan ditinggalkan penghuninya”, berkata kembali Mahesa Amping dalam hati sambil menarik nafas panjang membayangkan taman yang asri itu suatu waktu akan ditumbuhi ilalang dan semak liar, akan menjadi sebuah tempat yang sepi dan terlantar karna penghuninya entah sampai kapan baru dapat kembali, atau tidak akan kembali menjenguknya lagi, selamanya.

“pagi yang indah, saudaraku”, berkata Raden Wijaya menyapa Mahesa Amping di pendapa utama.

“Udara di Pasanggrahan ini tidak pernah berubah, selalu memberikan kesejukan”, berkata Mahesa Amping penuh senyum cerah sambil menaiki anak tangga pendapa utama Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

“Terima kasih untuk kesedianmu membawa keluargaku ketempat yang jauh dari hingar-bingar suara peperangan yang sebentar lagi akan menggema mengisi hari-hari di bumi ini”, berkata Raden Wijaya diatas pendapa utama kepada mahesa Amping.

“Terpaksa kita kembali berpisah untuk waktu yang cukup lama” berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

“Kita sudah memilih tugas dan tempat yang berbeda, meski aku banyak berharap kita ada di satu tempat yang sama dalam peperangan ini”, berkata raden Wijaya kepada mahesa Amping.

“Secepatnya aku akan segera kembali dari Tanah Wangiwangi, aku tidak ingin datang disaat perangmu telah berakhir”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

“Kehadiranmu sangat aku harapkan, ada sebuah kegembiraan berbagi lawan bersamamu”, berkata Raden Wijaya sambil tertawa yang diikuti oleh Mahesa Amping, ikut tertawa bersama.

“Ternyata aku terlambat bangun, semoga masih ada sisa tawa untukku”, berkata seseorang yang sudah berada diujung anak tangga pendapa utama, yang ternyata adalah Ranggalawe.

“Silahkan dinikmati hidangan sarapan yang masih hangat, pasti akan membuat semakin garing suara ketawa kita”, berkata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping dan Ranggalawe.

“Masih ada waktu menjelang senja duduk menikmati hidangan dan mendengar tawa kalian”, berkata Mahesa Amping sambil menuangkan minuman hangat wedang sarenya.

“Bila diberi kesempatan memilih, aku akan memilih bersamamu, berlayar jauh menikmati angin laut, sepanjang malam menatap bintang dan selalu berjaga menunggu sang fajar mengintip diujung bibir laut datar”, berkata Ranggalawe kepada Raden Wijaya dan Mahesa Amping.

“Ada satu yang belum kamu sebut”, berkata Mahesa Amping sambil menyebarkan senyumnya.

“Semua sudah kusebut”, berkata Ranggalawe penuh penasaran kepada Mahesa Amping

“Yang belum kamu sebutkan adalah ketika badai angin datang dan jung kita terpelanting digoyang ombak setinggi gunung, dan wajahmu pucat menggigil memeluk rapat tiang layar”, berkata Mahesa Amping yang ditanggapi tawa riuh Raden Wijaya.

Sementara itu Ranggalawe pura-pura tidak mendengarnya, mengangkat mangkuk minumannya.

“untuk yang satu itu, sudah terhapus didalam ingatanku”, berkata Ranggalawe setelah selesai menghirup minuman hangatnya.

“jadi masih ada keinginan berlayar bersamaku ?”, bertanya Mahesa Amping kepada Ranggalawe.

“Kutarik kembali pilihanku”, berkata Ranggalawe dengan wajah lucu malu langsung menyambar kembali mangkuk minumannya.

Demikianlah, ketiga sahabat ini kembali bercerita tentang masa-masa yang pernah mereka jalani bersama.

Sementara itu langit diatas Pasanggrahan Ratu Anggabhaya sudah semakin terang, sang mentari sepertinya begitu gelisah menatap puncak singgasana dicakrawala langit biru menatap semua isi bumi.

Terlihat beberapa pelayan tengah mengemasi beberapa barang yang akan dibawa bersama dalam perjalanan keluarga istana mengungsi ke pulau Tanah Wangi-wangi.

“Kutitipkan pada kalian, Gajah Pagon, Ki Sukasrana dan Ki Bancak. Mereka dapat diandalkan”, berkata Mahesa Amping kepada Raden Wijaya.

“Dan kamu hanya ditemani Tuan pendeta itu ?”, bertanya Raden Wijaya penuh rasa khawatir. Mahesa Amping tidak langsung menjawab, hanya sedikit tersenyum. “Berjalan ditemani bersama Ki Sandikala, sama halnya diiringi sepuluh ribu prajurit tangguh”, berkata Mahesa Amping kepada raden Wijaya.

“Aku percaya kepadamu”, berkata Raden Wijaya yang langsung mempercayai ucapan Mahesa Amping. Terlihat kabut kekhawatiran di wajahnya berangsung menghilang.

“Seluruh keluarga istana hari ini sudah bersiap diri, menanti perintah dari sang Senapati”, berkata Ratu Anggabhaya dengan wajah ceria kepada Mahesa Amping. Namun Mahesa Amping yang sudah peka membaca pikiran orang dapat menangkap sebuah kesedihan yang begitu mendalam. Kesedihan dari seorang tua yang harus meninggalkan kampung halamannya, meninggalkan semua kenangan manisnya dan harus menerima semua keterbatasan hidup di sebuah Tanah pengungsian.

“Semoga semua Keluarga istana sudah siap lahir dan bathinnya, siap menghadapi perjalanan laut yang tidak dapat berhindar manakala sang badai datang menghampiri membawa kita jauh dari arah bintang. Semoga siap juga dengan keterbatasan yang banyak akan kita temui di tanah pengungsian”, berkata Mahesa Amping memberikan gambaran apa yang akan mereka dapatkan dalam perjalanan pelayaran mereka, juga suasana di tanah pengungsian.

Sementara itu matahari akhirnya telah merayap diatas puncak cakrawala langit, namun udara yang sejuk di lingkungan Kotaraja Singasari sebagai daerah perbukitan yang hijau tidak membuat cahaya matahari menyengat kulit.

Dan angin yang bertiup masuk ke pendapa utama Pasanggrahan Ratu Anggabhaya begitu menyejukkan, semilirnya ketika menyentuh tubuh telah membuat siapapun ingin berlama-lama duduk di pendapa utama itu.

Dan di pendapa utama saat itu sudah bertambah beberapa orang, diantaranya adalah Gajah Pagon, Ki Sukasrana dan Ki Bancak. Mereka memang sengaja di panggil oleh Mahesa Amping untuk sebuah keperluan.

“kami perlu kalian sebagai pembuka jalur perjalanan kami, meyakinkan bahwa tidak ada hambatan apapun di depan perjalanan kami. Aku yakin kalian tahu apa yang harus dilakukan, dan aku hanya percaya dengan kalian bertiga”, berkata Mahesa Amping kepada Gajah Pagon, Ki Sukasrana dan Ki Bancak.

“Terima kasih bahwa tuan Senapati telah mempercayai kami bertiga, yang kami butuhkan saat ini adalah penjelasan tentang jalur perjalanan itu sendiri”, berkata Gajah Pagon kepada Mahesa Amping mewakili Ki Sukasrana dan Ki Bancak.

Maka dengan rinci Mahesa Amping menjelaskan jalur perjalananya, antara lain dikatakan bahwa rombongan pertama kali akan singgah di Bandar Cangu, melanjutkan perjalanan lewat jalur air menyusuri Sungai Brantas dan masuk ke anak sungai Sorong hingga keujung Muara Sorong.

“Dari Muara Sungai Sorong kami akan menyeberang ke Balidwipa”, berkata Mahesa Amping melanjutkan penjelasannya mengenai jalur perjalanan mereka, keluarga Istana.

“kami akan menyiapkan beberapa jukung di Bandar Cangu, juga menyiapkan beberapa perahu untuk membawa keluarga istana menyeberangi Selat Bali”, berkata Gajah Pagon mencoba merinci hal lain yang diperlukan dan akan menjadi tugas mereka bertiga untuk menyiapkan segala sesuatunya.

“Ternyata aku berhadapan dengan seorang prajurit sandi yang sudah tahu apa yang harus dilakukan”, berkata Mahesa Amping penuh gembira kepada Gajah Pagon.

“Tuan Arya Kuda Cemani sering menugaskan diriku membuka jalur pengamanan disetiap perjalanan Maharaja Kertanegara di manapun, terutama di hutan perburuan yang belum pernah terjangkau. Dan terakhir aku pula yang ditugaskan oleh Arya Kuda Cemani ketika Ratu Anggabhaya dan Pangeran Lembu Tal akan berangkat ke Tanah Gelang-gelang datang meminang putra Jayakatwang”, berkata Gajah Pagon mencoba meyakinkan Mahesa Amping dengan tugas yang sama yang pernah dilakukan.

“Aku jadi semakin yakin bahwa ternyata aku memilih orang yang tepat”, berkata Mahesa Amping kepada Gajah Pagon.

“Tuan Senapati hanya menjelaskan perjalanan sampai di Balidwipa, apakah boleh hamba bertanya kemana arah rombongan keluarga setelah tiba di Balidwipa?”, bertanya Ki Bancak kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping tidak langsung menjawab, hanya memperlihatkan senyumnya kepada Ki Bancak.

“Tugas kalian hanya sampai di Muara Sungai Porong, sementara perjalanan di Balidwipa seperti berjalan di halaman rumahku sendiri”, berkata Mahesa Amping masih menebarkan senyumnya kepada Ki bancak.

Sekejap, hanya sekejap terlihat ada perubahan di wajah Ki Bancak. Tapi yang sekejap itu dapat dibaca oleh Mahesa Amping apa yang dipikirkan oleh Ki Bancak prajurit kepercayaannya itu yang selalu mendampingi dirinya di semua hampir perjalanannya di Balidwipa.

“Setelah mengantar keluarga istana di tempat yang aman, aku akan segera kembali ke Jawadwipa. Aku tidak ingin datang sebagai seorang sahabat terakhir disaat sebuah pesta sudah usai”, berkata Mahesa Amping sambil menatap Ki Bancak yang langsung terlihat garis kecerahan di wajahnya.

Demikianlah, Gajah Pagon, Ki Sukasrana dan Ki Bancak terlihat pamit diri untuk mempersiapkan dirinya berangkat lebih awal menjalankan tugas sebagai prajurit pembuka jalan, mengamankan sepanjang jalur perjalanan keluarga istana yang akan berangkat ke tanah pengungsian.

“Maaf, aku ada sedikit keperluan menemui Ki Brejo, seorang pekatik”, berkata Ratu Anggabhaya yang pamit dari pendapa utama untuk menemui seorang pekatiknya.

Ketika Ratu Anggabhaya menuruni anak tangga, Mahesa Amping terus mengikuti dengan pandang matanya kearah Ratu Anggabhaya sampai menghilang terhalang sudut sisi rumah panggung. Terlihat Mahesa Amping menarik nafas panjang, begitu terharu hatinya mengagumi sosok jiwa Ratu Anggabhaya, seorang pembesar istana yang punya nama Agung masih peduli kepada seorang pekatik.

Demikianlah, menjelang hari jatuh di ujung senja, rombongan keluarga istana Singasari terlihat sudah berjalan beriring menuju regol pintu gerbang istana. Tiga buah kereta kuda kencana terlihat sudah menanti bersama dengan beberapa ekor kuda siap membawa rombongan keluarga istana menuju Bandar Cangu.

Semua mata tertuju kepada sang permaisuri Maharaja Singasari yang tengah menaiki kereta kuda kencana. Terlihat seorang inang tua tidak tahan menahan isak tangisnya memeluk seorang prajurit didekatnya yang membiarkan inang tua itu melepaskan segala rasa kesedihan yang begitu mendalam menyaksikan sang permaisuri junjungannya yang begitu dicintainya harus pergi ke sebuah tempat yang begitu jauh, entah kapan baru dapat berjumpa kembali, atau…tidak akan pernah datang berjumpa lagi.

Seorang pelayan wanita juga ikut menangis berjongkok menutupi wajahnya dengan kain panjangnya manakala empat orang putri belia beriringan menaiki kereta kuda kencana yang lain.

Tiga kereta kencana bersama dengan sepuluh ekor kuda terlihat mengiringi dibelakangnya meninggalkan regol pintu gerbang istana diikuti ratusan pandangan mata penuh duka.

Kabut di atas Kotaraja diujung senja terlihat begitu tebal menyelimuti pandangan mata, menutupi jalan-jalan Kotaraja Singasari yang lengang, menutupi hampir seluruh kerangka kayu rumah yang hangus tersisa terbakar di kiri kanan jalan sepanjang jalan Kotaraja Singasari.

“KABUT DI BUMI SINGASARI”, berkata Mahesa Amping ketika menoleh kebelakang melihat sebuah bukit tempat sebuah istana Singasari yang besar pernah berdiri diatasnya, mengatur dunia.

(TAMAT)
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Kabut Di Bumi Singasari Jilid 12 (Tamat)"

Post a Comment

close