coba

Kabut Di Bumi Singasari Jilid 06

Mode Malam
KITA tinggalkan dulu Wirondaya yang telah gelap hati, mata dan pikiranya yang tengah melakukan perjalanan malam. Mari kita kembali ke padepokan Pemecutan di malam yang sama.

Malam itu seluruh penghuni Padepokan Pemecutan telah tertidur terlelap dalam mimpinya masing-masing. Sementara itu tiga orang yang ditugaskan berjaga-jaga dimalam itu terlihat secara bergiliran berkeliling disekitar Padepokan untuk memastikan tidak ada apapun yang perlu dicurigai.

Dan ketiga peronda itu memang tetap waspada sepanjang malam, meski selama ini tidak ada gangguan apapun atas hal yang mengganggu kehidupan mereka di Padepokan Pemecutan.

Akhirnya ketiga cantrik yang meronda sepanjang malam itu cukup bernafas lega manakala sang malam mulai bergeser berganti pagi yang ditandai warna merah menyala memenuhi langit diatas Padepokan Pemecutan. Dan ketika sang fajar memenuhi warna pagi di Padepokan Pemecutan, suara kehidupan pun akhirnya sudah terdengar. Dimulai dengan suara air yang memenuhi senthong-senthong di Pakiwan. Suara-suara para cantrik di dapur belakang yang tengah membuat perapian.

“Kutitipkan Padepokan ini kepadamu”, berkata Mahesa Amping kepada Nariratih yang masih menggendong Mahesa Muksa diatas Pendapa. ”Kalian harus menurut kepada bibi Nariratih”, berkata kembali Mahesa Amping kepada Adityawarman dan Jayanagara sambil mengusap kepala kedua anak itu.

“Mudah-mudahan Ayah tidak lama dan cepat kembali”, berkata Adityawarman kepada Ayahnya Mahesa Amping.

“Ayahmu memang akan cepat kembali”, berkata Mahesa Amping sambil memandang penuh senyum kepada putranya itu.

“Aku akan menjaga mereka”, berkata Nariratih kepada Mahesa Amping yang tengah menuruni tangga pendapa Padepokan Pemecutan.

Sementara itu di halaman Padepokan Pemecutan sudah terlihat Arga Lanang, Pendeta Gunakara dan Empu Dangka telah bersiap diatas kudanya masing-masing.

“Tetaplah kalian berlatih selama kami tidak ada. Kami selalu berdoa untuk keselamatan kalian”, berkata Mahesa Amping diatas kudanya kepada para cantrik yang mengantarnya sampai di regol pintu gerbang Padepokan Pemecutan.

“Semoga keselamatan selalu mengiringi kita”, berkata Empu Dangka sambil melambaikan tangannya ketika langkah kaki kuda sudah mulai berjalan menjauhi regol pintu gerbang Padepokan Pemecutan.

Para cantrik Padepokan Pemecutan masih berdiri di depan regol pintu gerbang mengiringi kepergian empat orang diatas kudanya hingga akhirnya menghilang ditelan jalan yang menikung dan menurun.

“Sebelum matahari diatas puncaknya, kita sudah akan sampai di Bukit Karang Gajah”, berkata Mahesa Amping kepada Pendeta Gunakara dan Arga Lanang.

“Ternyata perhitungan Tuan Senapati sangat teliti, pihak lawan pasti memperhitungkan jarak tempuh sebagai tempat yang baik mempersiapkan sebuah penyerangan”, berkata Pendeta Gunakara kepada Mahesa Amping.

“Kita memang harus berpikir sebagai seorang musuh berpikir”, berkata Empu Dangka yang mengagumi arah perhitungan Mahesa Amping memilih tempat Bukit Karang Gajah.

Maka menjelang matahari berada di atas kepala, mereka sudah sampai di puncak Bukit Karang Gajah. Sebuah dataran padang rumput yang cukup luas yang banyak ditumbuhi disekitarnya batu karang yang besar. Sebuah tempat yang baik untuk berteduh di saat panas matahari menyengat, juga sebagai tempat yang baik pula untuk bermalam menghindari angin malam yang dingin.

“Selamat datang Tuan Senapati”, berkata seorang lelaki yang sudah cukup berumur yang tidak lain ternyata adalah Ki Bancak yang baru saja keluar dari persembunyiannya di balik batu karang besar.

“Dimana pasukan kita?”, bertanya Mahesa Amping yang melihat Ki Bancak hanya seorang diri.

Ki Bancak tidak langsung menjawab, tapi memsukkan dua buah jarinya diantara bibirnya. “suiiiiiiiiiiiit”, terdengar suara suitan panjang dari Ki Bancak.

Maka dari gundukan-gundukan karang yang besar bermunculan beberapa orang yang ternyata adalah para prajurit Singasari yang tidak memakai pertanda apapun, mereka berpakaian orang biasa pada umumnya.

“Kami membawa dua puluh orang prajurit pilihan”, berkata Ki Bancak kepada Mahesa Amping ketika semua prajurit yang bersembunyi sudah menampakkan dirinya datang mendekat.

“Apa yang kamu dapat saat ini tentang gerakan musuh”, berkata Mahesa Amping kepada orang kepercayaannya itu, Ki Bancak.

“Berita terakhir dari para delik sandi, mereka telah bergerak dari Padepokan Teratai Putih. Perkiraan kami, mereka baru akan sampai di Bukit Karang Gakah ini disaat hari menjelang senja”, berkata Ki Bancak kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping memberikan beberapa petunjuk kepada dua puluh orang pasukannya apa yang harus mereka lakukan termasuk didalamnya kesepakatan kata sandi yang harus mereka ingat.

“Kita akan mengejutkan musuh”, berkata Mahesa Amping menyampaikan beberapa siasatnya. “Masih ada banyak waktu untuk beristirahat”, berkata Mahesa Amping kepada para pasukannya untuk beristirahat sejenak.

Maka terlihat para prajurit membuka bekal yang mereka bawa sambil berteduh di sekitar batu karang yang  banyak tumbuh disekitar Bukit Karang Gajah.

Angin berhembus disekitar Bukit Karang Gajah hari itu cukup deras. Segerumbul tanaman ilalang terlihat merunduk ditiup angin yang tiada berhenti berhembus. Sementara itu matahari di cakrawala langit diatas bukit Karang Gajah sudah mulai tergelincir.

“Tarik semua pasukan untuk bersembuyi”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Bancak.

Maka Ki Bancak terlihat memberi perintah kepada semua prajurit untuk bersembuyi dibeberapa tempat diantara beberapa batu karang yang besar.

“Mari kita menunggu mereka datang”, berkata Mahesa Amping kepada Pendeta Gunakara, Arga Lanang dan Empu Dangka. Terlihat Mahesa Amping dan ketiga sahabatnya itu melangkah mendekati sebuah batu karang yang cukup besar. Dari tempat itu mereka dapat melihat disegala penjuru siapapun yang muncul datang  di Bukit Karang Gajah.

Dalam sekejab, suasana diatas puncak Bukit Karang Gajah menjadi begitu sunyi, tiada terlihat apapun selain suara angin yang terus menderu. Dibalik kesunyian itu menanti dengan tegangnya dua puluh pasang mata prajurit Singasari dari balik bongkah-bongkah besar batu karang. Mereka hanya menunggu sebuah isyarat panjang.

Namun menanti waktu senja datang diatas Bukit Karang Gajah seperti menelusuri lorong panjang yang tidak bertepi, begitu membosankan dan sangat menegangkan. Terlihat sang mentari sepertinya begitu lambat bergeser turun.

Akhirnya sang senja telah turun juga menyelimuti puncak bukit Karang Gajah dengan warna bening teduh, angin perlahan surut.

Perlahan kabut mulai turun menambah keremangan warna senja, membatasi jarak pandang. Dua puluh pasang mata dibalik bongkah-bongkah batu karang di Bukit Karang Gajah sepertinya menahan setiap kedipan matanya, takut kehilangan kesiagaannya. Bahkan mereka menahan nafasnya yang semakin memburu penuh ketegangan.

Hingga akhirnya diujung senja !!!

Yang mereka nantikan belum juga muncul. Namun para prajurit Singasari tidak kehilangan kendali. Mereka masih tetap mempertahankan kesiagaannya.

“Pihak musuh belum juga datang”, berkata seorang prajurit kepada kawannya disebuah persembunyiannya.

“Para petugas sandi tidak akan salah, hanya masalah waktu. Kita harus tetap waspada”, berkata kawannya itu mengingatkan seorang prajurit kawannya yang sepertinya sudah tidak sabaran lagi.

Sementara itu senjapun telah berganti, langit malam mulai merata memayungi puncak bukit Karang Gajah.

“Mereka telah datang”, berbisik seorang prajurit Singasari kepada kawannya.

Ternyata apa yang dilihat oleh prajurit itu adalah sekumpulan orang yang mulai berdatangan muncul satu persatu dari sebuah arah barat bukit Karang Gajah.

“Mereka hanya sedikit, tidak sebanyak yang dikatakan oleh para delik sandi”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka yang berada didekatnya.

“Mereka sengaja memecah kekuatan”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping. ”Kita jangan sampai terjebak dengan permainan mereka”, berkata kembali Empu Dangka.

“Kita menunggu sampai rombongan kedua datang?”, bertanya Mahesa Amping kepada Empu Dangka yang menjawabnya dengan sebuah anggukan kepalanya.

Ternyata perkiraan Empu Dangka tidak meleset jauh, karena berselang waktu yang cukup lama datanglah rombongan kedua dengan jumlah yang hampir sama.

“Untungnya kita tidak langsung menyerang rombongan pertama”, berkata Mahesa Amping kepada  Empu Dangka sambil memperhatikan orang-orang yang baru datang sebagai rombongan kedua.

Terlihat sekitar tiga puluh orang sudah berkumpul diatas puncak bukit Karang Gajah. Sepertinya mereka akan bermalam ditempat itu.

“Mereka sangat cerdik, rombongan kedua sebagai pengejut siapapun yang akan menyerang mereka”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping ditempat persembunyiannya.

“Saatnya kita yang akan mengejutkan mereka”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka sambil membuat sebuah pertanda kepada Ki Bancak yang tidak begitu jauh dari tempat persembunyiannya.

Maka terdengarlah dua kali suitan dari Ki Bancak yang didengar langsung oleh semua prajurit Singasari sebagai tanda isyarat untuk melakukan sebuah penyerangan.

Bukan main terkejutnya orang-orang yang baru saja ingin duduk duduk melepas kelelahannya, dari balik bongkahbongkah batu karang yang besar bermunculan seperti bayangan hitam di kegelapan malam datang memburu berlari kearah mereka.

“Ada serangan!!”, berkata beberapa orang yang langsung berdiri mencabut senjatanya berupa senjata cakra.

Tapi beberapa orang lagi sudah terlambat, mereka sudah diterjang oleh para prajurit yang datang begitu cepatnya. Maka terlihat beberapa orang sudah terlempar tanpa perlawanan sama sekali langsung terluka parah.

Sementara itu, beberapa orang yang sudah bersiaga nasibnya tidak berbeda jauh. Mahesa Amping, Empu Dangka, Arga lanang dan Pendeta Gunakara telah menghempaskan mereka bergelimpangan saling tindih.

Luar biasa !!!

Terjangan yang mengejutkan itu telah merubuhkan sekitar dua puluh orang musuh mereka para sekutu dari Padepokan Teratai Putih. Jumlah mereka langsung berkurang banyak, menyisakan sepuluh orang yang terdiri dari delapan orang berjubah hitam, mungkin para pemimpin dari persekutuan para penyembah Dewa Matahari yang tersebar di Balidwipa dan Jawadwipa. Sementara itu kedua orang lainnya salah satunya sudah kita kenali sebagai murid tertua di Padepokan Teratai Putih.

“Serangan licik!”, berteriak salah seorang yang berjubah hitam, wajahnya yang hitam menjadi semakin hitam karena menahan rasa marah yang sangat.

“Bukan serangan licik, tapi serangan pengejut”, berkata Empu Dangka yang datang menghapiri orang berjubah hitam dan berwajah hitam itu.

“Apapun alasannya, tetap kukatakan serangan yang licik”, berkata orang itu kepada Empu Dangka penuh kemarahan.

“Salahkan sendiri pada orangmu yang kurang waspada”, berkata Empu Dangka sambil memegang ujung cambuknya berdiri berhadapan dengan orang itu.

“Kamu pasti bukan Senapati Mahesa Amping, usiamu sudah sangat tua”, berkata orang berwajah hitam itu sambil melihat cambuk ditangan Empu Dangka.

“Kami memang sama-sama bercambuk, namaku Empu Dangka, begitulah orang menyebut namaku”, berkata Empu Dangka sambil melepas senyumnya kepada orang berjubah dihadapannya.

“Empu Dangka, orang bercambuk. Hanya itu yang kukenang setelah membunuhmu”, berkata orang berjubah hitam itu kepada Empu Dangka dengan begitu jumawanya.

Tapi Empu Dangka tidak tersinggung marah mendengar ucapan orang itu, dengan masih tersenyum Empu Dangka balas bertanya.”Apakah aku boleh mengenal namamu?”, berkata Empu Dangka kepada orang itu.

“Orang menyebutku sebagai Ki Bogakala dari lereng Tengger, semoga hatimu tidak menciut mendengar namaku”, berkata orang berwajah hitam itu sambil bertolak pinggang berharap Empu Dangka pernah mendengar namanya.

Empu Dangka yang sudah melanglang buana tersenyum mendengar nama itu, pernah juga didengarnya nama itu ketika mengembara disekitar pegunungan Tengger. Sebuah nama yang sangat ditakuti oleh musuh dan kawannya sekalipun, karena disamping mempunyai ilmu yang cukup tinggi, juga dikenal berdarah dingin, membunuh orang tanpa berkedip.

“Sayangnya hatiku tidak menciut ketika mendengar namamu Ki Bogakala”, berkata Empu Dangka pura-pura tidak pernah mendengar nama Ki Bogakala.

Ternyata perkataan Empu Dangka seperti minyak mendekati api panas yang sudah menyala besar. “Cakra ini akan mengingatkanmu, bahwa hari ini kamu akan menyesal tidak mengenal siapa aku”, berkata Ki Bogakala sambil langsung menerjang Empu Dangka penuh kemarahan.

Sementara itu di tempat dan waktu yang sama, seorang berjubah hitam dengan rambut setengah botak telah datang menghadang Mahesa Amping.

“Kamu pasti Senapati Mahesa Amping”, berkata orang itu sambil memperhatikan Mahesa Amping dan senjata cambuknya.

“Kisanak tidak salah menyebut nama”, berkata Mahesa Amping dengan gagahnya balas memandang orang yang menghadangnya itu. Ada rasa jerih manakala orang itu beradu pandang dengan Mahesa Amping. Orang itu merasakan kilat cahaya mata Mahesa Amping begitu tajam langsung mencengkeram jiwanya.

“Aku yang bodoh ini bernama Sandikala, hari ini  aku akan menuntut balas atas kematian sahabatku Ki Karmapala”, berkata orang itu yang menyebut dirinya bernama Sandikala.

“Ki Sandikala dari Gunung Wilis?”, bertanya Mahesa Amping yang pernah mendengar nama itu kepada Ki Sandikala. “Ternyata pengetahuan Tuan Senapati sangat luas”, berkata Ki Sandikala yang merasa bangga namanya dikenal oleh Mahesa Amping.

“Aku merasa tersanjung berkenalan dengan Ki Sandikala”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Sandikala.

“Tuan Senapati tidak usah merendahkan diri, cahaya mata tuan memberi isyarat bahwa tuan bukan orang sembarangan”, berkata Ki Sandikala kepada Mahesa Amping dengan suara yang datar.

Diam-diam Mahesa Amping mengagumi sikap dan pembawaan Ki Sandikala yang penuh pertimbangan dan kehati-hatiannya, “aku berhadapan dengan orang yang punya banyak pertimbangan, pasti tidak mudah tertipu”, berkata dalam hati Mahesa Amping.

“Aku tidak sabar untuk mengenalmu anak muda, untuk membuktikan apakah dirimu layak telah mengalahkan sahabatku Ki Karmapala”, berkata Ki Sandikala sambil mengusap senjata cakra ditangannya. “Atau sahabatku itu waktu itu dalam keadaan lengah?”, berkata kembali Ki Sandikala kepada Mahesa Amping.

“Hanya sebuah keberuntungan yang masih berpihak padaku saat itu”, berkata Mahesa Amping sambil bersiap-siap diri.

“Mari kita bermain-main, aku ingin tahu apakah keberuntunganmu masih berlaku saat ini”, berkata Ki Sandikala kepada Mahesa Amping sambil langsung menerjang membuat putaran cakra mirip sebuah bor berputar menembus kearah dada Mahesa Amping.

Sementara itu di tempat yang sama Pendeta Gunakara tengah bertempur dengan seorang yang berjubah hitam lainnya. Sebuah pertempuran yang sangat seru, begitu cepat dan sangat menegangkan.

Pendeta Gunakara dan lawannya ternyata begitu bertemu muka langsung sudah saling menerjang dan menyerang. Dan mereka nampaknya sudah langsung mengeluarkan segala kemampuan dan kekuatan puncaknya. Sebuah pertempuran yang menggiriskan.

“Ternyata kemampuanmu cukup tinggi orang asing”, berkata orang berjubah hitam itu kepada Pendeta Gunakara.

“Kemampuanmu juga luar biasa, mudah-mudahan aku dapat mengimbangimu”, berkata pendeta Gunakara kepada orang itu sambil melompat menghindari sebuah sambaran cakra dan balas menyerang dengan tongkatnya.

Sementara itu di puncak Bukit Karang Gajah disisi yang lain, adalagi pertempuran yang juga tidak kalah serunya. Sebuah pertempuran yang berkelompok antara lima orang berjubah hitam dan dua orang dari Padepokan Teratai Putih melawan para prajurit Singasari.

Ternyata para prajurit Singasari ini sudah sangat perpengalaman untuk melakukan penyerangan bersama. Mereka sangat disiplin dan saling menjaga. Ki Bancak dan Arga Lanang terlihat bersama para prajurit Singasari. Ternyata Arga Lanang dapat mengikuti gerak para prajurit. Bersama melakukan serangan-serangan yang dapat mengimbangi delapan orang musuh mereka yang terlihat secara perorangan mempunyai kemampuan yang cukup tinggi, terutama kelima orang berjubah hitam itu.

Dalam sebuah serangan, Ki Bancak dapat mencuri sedikit kelengahan salah seorang dari  Padepokan Teratai Putih.

Craaaatt !!

Sabetan pedang Ki Bancak telah membuat goresan dalam di pangkal paha orang itu. Terlihat orang itu tersungkur jatuh di tanah. Darah terlihat mengucur cukup deras dari pangkal pahanya. Pertempuran masih terus berlanjut meski pihak musuh telah berkurang satu orang. Tapi sudah cukup sedikit mengurangi kemampuan tekanan pihak musuh. Aachhh !!

Sebuah tendangan yang tidak terduga dapat dilakukan oleh Arga Lanang dengan begitu cepatnya langsung menyambar tulang betis kaki orang tertua dari Padepokan Teratai Putih menjadikan dirinya sedikit limbung. Dan seorang prajurit Singasari yang dekat dengan Arga Lanang segera memanfaatkan keadaan itu dengan menyabetkan pedangnya kearah pinggang orang itu.

Aachhh !!

Kembali orang itu bersuara keras sambil memegang pinggangnya yang terluka. Darah terlihat menetes dari jemari tangannya yang memegang luka dipinggangnya. Wajahnya terlihat pucat pasi penuh rasa cemas. Sambil mundur terhuyung orang tertua dari Padepokan Teratai Putih itu keluar dari pertempuran menjauh mencari tempat yang aman. Tidak seorangpun yang mengejar dirinya.

Para prajurit Singasari bersama Ki Bancak dan Arga Lanang terus melakukan tekanan kepada musuhnya yang kembali berkurang satu. Saat itu hanya tinggal lima orang berjubah hitam yang harus mereka hadapi.

Kekuatan para prajurit yang dipimpin oleh Ki Bancak dibantu Arga Lanang ternyata mampu  menekan kekuatan kelima orang berjubah hitam itu. Para prajurit itu tidak pernah lepas dari kesatuan mereka melakukan serangan dan saling menjaga kawan. Itulah kekuatan yang cukup merepotkan kelima orang berjubah hitam itu, meski secara perorangan mereka dapat dikatakan lebih tinggi dari kemampuan satu persatu prajurit itu.

“Menyebar!!!”, berkata salah seorang yang berjubah hitam itu kepada keempat kawannya. Maka keempat kawannya itu dapat menangkap arah perkataan salah seorang kawannya. Terlihat mereka berlima sudah berpencar. Sebuah keputusan dan pilihan yang cerdik, kelima orang berjubah hitam itu memang bermaksud memecah kekuatan lawan menjadi lima pertempuran yang terpisah.

Dengan sangat terpaksa kedua puluh orang prajurit terpencar menjadi lima kelompok masing-masing menghadapi seorang musuh.

Ki Bancak tidak segera bergabung, sebagai seorang pemimpin kelompok mencoba menilai kelompok mana yang perlu bantuannya.

Maka Ki Bancak akhirnya dapat melihat salah satu kelompoknya yang paling lemah. Dikelompok itulah dirinya menggabungkan dirinya. Arga lanang ternyata mengikuti apa yang dilakukan oleh Ki Bancak.

Dengan cepat dirinya bergabung kesalah satu kelompok yang menurutnya perlu tambahan orang yang dapat mengurangi kekuatan dan tekanan lawan.

Sementara itu malam diatas puncak Bukit Karang Gajah sudah masuk dipertengahan malam. Suasana yang remang padang itu menjadi suasana yang sangat menegangkan karena dipenuhi hiruk pikuk suara denting senjata beradu dan suara teriakan penuh ancaman. Suasana pertempuran diatas puncak Bukit Karang Gajah itu sepertinya tidak akan segera berakhir, masih terus berlanjut tanpa dapat diketahui siapa yang akan mengakhiri pertempuran itu, karena pertempuran dapat dikatakan sangat berimbang.

“Aku harus menyelesaikan pertempuran ini”, berkata Mahesa Amping yang tengah bertempur dengan Ki Sandikala namun masih dapat mengikuti semua pertempuran yang ada di atas puncak Bukit Gunung Karang. Kegelisahan Mahesa Amping terutama ditujukan kepada para prajuritnya yang saat itu sudah terpecah menjadi lima kelompok pertempuran yang terpisah.

Namun keinginan Mahesa Amping harus tertunda, Ki Sandikala yang menjadi lawannya ternyata mempunyai kemampuan ilmu yang cukup tinggi dan harus dihadapi dengan sangat penuh perhatian yang kuat, sedikit kelengahan akan membawa bencana. Karena serangan Ki Sandikala bukan sebuah serangan biasa, sebuah serangan yang cepat penuh tipu daya dan juga telah dilambari dengan kekuatan hawa dingin yang sangat menusuk tajam menyebar disetiap serangannya.

Ternyata apa yang dikhawatirkan Mahesa Amping juga menjadi perhatian Empu Dangka. Diam-diam sambil menghadapi Ki Bogakala dari Lereng Tengger, Empu Dangka sempat melihat secara keseluruhan semua pertempuran di atas bukit Karang Gajah.

“Kekuatan para prajurit sudah terpecah”, berkata dalam hati Empu Dangka.

Bukan main kagetnya Ki Bogakala melihat serangan balasan dari Empu Dangka, lebih cepat dari sebelumnya. Ternyata kekhawatiran Empu Dangka atas para prajurit Singasari telah mengubah cara bertempurnya dari sebelumnya yang hanya berusaha mengimbangi permainan lawannya Ki Bogakala. Dan saat itu Empu Dangka tidak bermaksud main-main lagi, tapi secepatnya melumpuhkan Ki Bogakala agar dapat membantu para prajurit Singasari yang terlihat semakin tertekan menghadapi seorang berjubah hitam yang memang memiliki kemampuan yang tinggi.

Desss !!! Sebuah lecutan yang dilambari oleh tenaga cadangan yang sangat kuat telah berhasil menyambar dada Ki Bogakala. Seketika itu juga Ki Bogakala ambruk ketanah tidak bernafas lagi.

Melihat lawannya sudah tidak bernyawa lagi, ada sedikit penyesalan dihati Empu Dangka.

“Maafkan aku, akhirnya seperti yang kamu katakan bahwa aku memang akan menyesal”, berkata Empu Dangka dalam hati penuh penyesalan melepaskan puncak kemampuannya.

Tapi penyesalan Empu Dangka akhirnya dibuang jauhjauh, pikirannya kembali kepada kekhawatirannya atas para prajurit yang memang sedang berusaha keras terus keluar dari tekanan para lawannya. Maka secepat kilat Empu Dangka telah melompat mendekati salah satu pertempuran.

“Biar aku yang menghadapinya, bantulah kawankawanmu”, berkata Empu Dangka kepada para prajurit yang tengah bertempur dengan salah satu orang berjubah hitam.

Para prajurit yang sudah mengetahui kemampuan Empu Dangka segera langsung berpindah lawan membantu kawannya yang lain. Mendapat bantuan tambahan satu orang prajurit memang belum berpengaruh banyak, tapi setidaknya sedikit mengurangi tekanan yang dirasakan oleh para prajurit selama dalam pertempuran itu.

“Aku menggantikan mereka”, berkata Empu Dangka kepada salah seorang yang berjubah hitam itu.

“Jangan kamu kira aku akan begitu mudah kamu taklukan sebagaimana sahabatku itu”, berkata orang berjubah hitam yang melihat juga bagaimana Empu Dangka mengakhiri nyawa sahabatnya.

Ternyata orang berjubah hitam itu tidak dapat menelan ludahnya yang terlanjur terucap. Ketika menghadapi Empu Dangka, dirinya mengakui bahwa orang tua yang dihadapinya itu memang mempunyai kemampuan yang sangat tinggi.

Empu Dangka memang telah melepaskan kemampuan tingkat tingginya. Dan orang berjubah hitam itu harus menghindar kesana kemari menghindari cambuk Empu Dangka yang terus mengejarnya.

Sementara itu disisi yang lain, Pendeta Gunakara terlihat sudah menguasai lawannya. Meskipun lawannya telah mengerahkan ilmu puncaknya, menebarkan hawa dingin yang dapat membekukan tulang lawan, tapi terlihat Pendeta Gunakara sepertinya tidak merasakan apapun, tongkatnya masih terus menyambar-nyambar sangat berbahaya.

“Kekuatan hawa dinginku tidak berarti apapun”, berkata orang berjubah lawan Pendeta Gunakara itu merasa penasaran setelah mengerahkan seluruh kemampuan ilmunya.

Ternyata selama pertempuran itu Pendeta Gunakara masih menganggap sebuah permainan. Namun akhirnya melihat para prajurit yang terpecah ada rasa khawatirnya sebagaimana Mahesa Amping dan Empu Dangka.

Maka terlihat Pendeta Gunakara telah memperlihatkan jati dirinya, menyerang orang berjubah hitam lawannya dengan kesungguhan hati untuk secepatnya mengakhiri pertempurannya.

Buk !! Buk !!! Dua buah serangan yang cepat dari Pendeta Gunakara langsung mengenai dada dan lutut belakang lawannya. Terlihat orang berjubah hitam itu jatuh terjengkang langsung pingsan untuk waktu yang lama.

Tanpa melihat keadaan lawannya, Pendeta Gunakara sudah langsung mendekati sebuah pertempuran para prajurit yang dianggapnya paling lemah.

“Lekas kalian bantu kawan kalian, serahkan lawanmu kepadaku”, berkata Pendeta Gunakara kepada salah seorang prajurit yang tengah bertempur.

“Tapi orang ini sangat kuat”, berkata prajurit itu yang masih sangsi atas kemampuan Pendeta Gunakara karena dirinya tidak memperhatikan bagaimana Pendeta Gunakara menyelesaikan pertempurannya.

“Serahkan lawanmu kepadanya, percayalah aku”, berkata Empu Dangka yang bertempur tidak jauh dari mereka dan melihat kesangsian para prajurit atas diri Pendeta Gunakara.

Mendengar teriakan Empu Dangka, para prajurit tidak menjadi sangsi lagi. Mereka tahu betul siapa Empu Dangka, maka langsung saja mereka melakukan apa yang dikatakan oleh Pendeta Gunakara untuk melepas lawannya, membantu kawan yang lain yang sedang dan masih terus bertempur.

Dengan kehadiran Pendeta Gunakara itu, suasana pertempuran diatas puncak Bukit Karang Gajah menjadi semakin berimbang.

Para prajurit saat itu hanya menghadapi tiga orang berjubah hitam. Setiap satu lawan harus menghadapi tujuh orang prajurit Singasari yang sudah terbiasa bertempur secara berkelompok. Apalagi saat itu mereka dibantu oleh Arga Lanang dan Ki Bancak.

Sementara itu malam diatas puncak Bukit Karang Gajah sudah semakin tua, semburat warna merah sudah mulai muncul mengintip diujung timur bumi hadir bersama cahaya gemerlap bintang kejora pagi.

Terdengar suara hentakan sendal pancing cambuk Empu Dangka yang nyaris hanya dua jari dari dada lawannya. Sebuah hentakan cambuk yang mengandung tekanan kekuatan tenaga cadangan yang luar biasa. Meski ujung cambuk itu tidak mengenai apapun, tetap saja menyesakkan dada lawan Empu Dangka yang seketika itu langsung memegang dadanya seperti berhenti bernafas.. Maka kesempatan itu dipergunakan oleh Empu Dangka dengan menyabetkan ujung cambuknya ke arah pangkal paha orang itu.

Betttttt………

Begitu cepatnya sabetan cambuk itu langsung melukai pangkal paha orang berjubah hitam itu yang langsung tersungkur tidak mampu menahan berat badannya hanya dengan satu tungkai kaki.

Empu Dangka tidak mengejar dengan serangan berikutnya, tapi terlihat meninggalkannya langsung mendekati para prajurit yang sedang menghadapi lawannya, yaitu orang berjubah hitam lainnya. Melihat Empu Dangka datang menghampiri, para prajurit sudah langsung tahu apa yang harus mereka lakukan, yaitu melepaskan lawannya untuk diselesaikan oleh Empu Dangka.

Dengan kehadiran seorang Empu Dangka yang menggantikan para prajurit Singasari menghadapi lawannya, maka suasana pertempuran diatas puncak bukit Karang Gajah menjadi semakin dapat ditebak siapa yang akan menguasai medan pertempuran itu.

“Ikat mereka menjadi satu pertempuran”, berkata Ki Bancak memberi perintah kepada para prajurit Singasari untuk bergabung menjadi kesatuan yang utuh menghadapi dua orang lawan.

Mekipun kedua orang berjubah hitam itu mempunyai kemampuan yang cukup tinggi, namun menghadapi dua puluh orang prajurit yang terlatih adalah sebuah hal yang sangat cukup berat.

Sementara itu pertempuran antara Mahesa Amping dengan Ki Sandikala masih terus berlangsung. Keduanya terlihat masih terus menjajagi tingkat kemampuan lawan. Dan masih belum berada di atas puncak tataran ilmunya masing-masing.

“Garis ilmunya sama dengan Ki Karmapala, tapi serangannya kaya dengan segala tipu daya yang membahayakan”, berkata Mahesa Amping yang tengah bertempur dengan Ki Sandikala.

Sebagaimana yang dilihat oleh Mahesa Amping, jalur ilmu Ki Karmapala memang ada dalam satu jalur aliran yang sama dengan Ki Sandikala. Hanya bedanya bahwa Ki Sandikala sudah dapat menguasai ilmunya dengan sempurna melebihi semua pimpinan aliran penyembah matahari di Balidwipa dan Jawadwipa. Dan sampai saat itu, setelah mereka saling bertempur ratusan jurus, Mahesa Amping belum juga melihat batas puncak ilmu Ki Sandikala.

“Aku harus berhati-hati”, berkata Mahesa Amping dalam hati sambil mengelak sebuah serangan dari Ki Sandikala dan balas menyerangnya dengan tidak kalah berbahayanya. Sementara itu di sisi yang lain kembali Pendeta Gunakara menyelesaikan pertempurannya. Tongkat kayunya berhasil menghantam pinggang lawannya.

Bukkk …….

“Awww…………”, terdengar suara menahan rasa sakit yang sangat seorang berjubah hitam lawan Pendeta Gunakara yang terkena pukulan tongkatnya tepat dipinggang. Orang itu langsung terpelanting jatuh ke bumi, merasakan tulang rusuknya nyeri tak terkira.

Pendeta Gunakara tidak mengejarnya, membiarkan orang itu yang sudah tidak mampu berdiri  lagi mengerang kesakitan. Pendeta Gunakara menyapu sepanjang pandangannya keseluruh pertempuran. Melihat pertempuran Empu Dangka yang sudah diatas angin sedikit lagi pasti akan menyelesaikan pertempurannya. Pendeta Gunakara juga melihat dua orang berjubah hitam yang tengah dikepung oleh para prajurit Singasari, Pendeta Gunakara merasa yakin hanya menunggu waktu kedua orang berjubah hitam itu pasti akan kehabisan tenaga.

Ketika Pendeta Gunakara memandang kearah pertempuran antara Mahesa Amping dan Ki Sandikala, terlihat dirinya menahan nafas penuh ketegangan. ”Sebuah pertempuran yang luar biasa”, berkata Pendeta Gunakara yang melihat pertempuran itu sebagai dua orang raksasa kanuragan bertempur.

Apa yang dilihat oleh Pendeta Gunakara ternyata memang sangat dahsyat dan luar biasa. Mahesa Amping dan Ki Sandikala bertempur dengan kecepatan dan kekuatan yang amat menggetarkan hati siapapun yang melihatnya. Batu-batu karang yang besar kadang menjadi sasaran yang lepas, hancur porak poranda terkena senjata cakra Ki Sandikala atau cambuk Mahesa Amping. Tanah disekitar mereka terlihat sudah rata, rumput dan ilalang terlihat layu hangus terbakar. Sebuah pemandangan yang sangat mendebarkan hati layaknya dua raksasa kanuragan bertempur dengan kekuatan dan kecepatan yang mumpuni tak terkatakan oleh kata-kata karena begitu dahsyatnya.

Sementara itu pada pertempuran yang lain, Empu Dangka kembali telah menyelesaikan pertempurannya. Diam-diam Empu Dangka sambil bertempur juga sempat memperhatikan jalannya pertempuran antara Mahesa Amping dan Ki Sandikala yang sangat begitu dahsyatnya. Maka melihat hal itulah dirinya segera menyelesaikan pertempurannya.

“Beristirahatlah kamu”, berkata Empu Dangka sambil cambuknya menutuk dua kali didua pangkal paha lawannya.

Tarrr…….tarrrrr

Dua kali sentakan cambuk dengan kekuatan yang tidak begitu penuh langsung merubuhkan lawan Empu Dangka yang tersungkur terlempar di dinding batu karang besar. Orang itu terlihat sudah tidak ada kekuatan lagi untuk bangkit, apalagi melanjutkan pertempurannya. Orang itu nampaknya sudah merasa jerih, merasa jauh dibawah kemampuan Empu Dangka yang tidak segera menghampirinya, tapi langsung mendekati pertempuran Mahesa Amping dan Ki Sandikala yang sangat dikhawatirkan karena menurutnya Mahesa Amping kali  ini telah mendapatkan lawan yang setanding.

Sementara itu sebagaimana yang diperhitungkan oleh Pendeta Gunakara, dua orang berjubah hitam yang tengah di kepung dan diserang oleh para prajurit Singasari nampaknya sudah kehabisan tenaga.

“Menyerahlah, kami akan mengampuni nyawamu”, berkata Ki Bancak kepada kedua orang itu.

“Aku akan mati bersamamu!!”, berkata salah seorang berjubah hitam itu yang kebetulan sangat dekat sekali dengan Ki Bancak langsung menghimpun sisa tenaganya menerjang Ki Bancak.

Tapi untungnya Ki Bancak sudah memperhitungkan semua kemungkinan yang bisa terjadi. Maka dengan sigap dan cepat Ki Bancak melenting kekiri menghindari serangan senjata cakra dari orang itu. Bukan main penasarannya orang itu melihat sasarannya dapat lolos begitu cepatnya. Maka orang itu masih bermaksud menyerang kembali Ki Bancak yang telah melenting beberapa jarak darinya, namun antara keinginan dan kemampuannya saat itu ternyata sudah jauh berbeda, kekuatannya sudah terkuras pada serangan sebelumnya, akibatnya gerakannya menjadi begitu lamban.

Srettttttt…..

Pedang seorang prajurit berhasil merobek daging samping kiri pinggangnya.

Dan bersamaan dengan itu sebuah tendangan keras dari Arga Lanang berhasil melepas dan melempar senjata cakra dari genggaman tangannya.

Jeppppp….

Belati ditangan kanan Arga Lanang juga ikut beraksi, menancap di atas pangkal paha orang itu dan dengan cepat pula seketika mencabutnya.

Seketika itu juga darah segar keluar dari pangkal paha orang itu, bersama darah merah merah yang merembes dari pinggangnya. Terlihat orang itu limbung jatuh ke bumi.

Melihat kawannya sudah tidak berdaya, satu orang berjubah hitam yang tersisa merasa cukup jerih juga melihat para prajurit Singasari yang dengan mata perang membakar dihampir semua mata para prajurit yang tengah mengepungnya.

“Menyerahlah, atau nasibmu akan sama dengan kawanmu”, berkata Ki Bancak kepada orang itu.

“Aku menyerah”, berkata orang itu sambil melempar senjata cakra ditangannya.

“Ikat orang itu”, berkata Ki Bancak kepada salah seorang prajurit didekatnya. Maka seketika itu juga beberapa prajurit datang menghampiri orang itu dan mengikatnya dengan tali yang kuat.

Sementara itu suasana di atas puncak bukit Karang Gajah sudah menjadi terang tanah, matahari pagi sudah muncul diujung timur bumi menerangi semua pandangan.

Terlihat beberapa prajurit mendatangi beberapa orang pihak musuh yang sudah tidak berdaya, sementara itu yang lainnya dengan penuh kecemasan mendekati pertempuran antara Mahesa Amping dan Ki Sandikala yang masih terus berlangsung tanpa dapat dibaca siapa diantara mereka yang akan memenangkan pertempuran itu, karena keduanya terlihat masih penuh tenaga meski pertempuran mereka sudah berlangsung hampir sepanjang malam.

Pertempuran Mahesa Amping dan Ki Sandikala memang sudah menjadi begitu dahsyatnya. Kecepatan dan kekuatan mereka bertempur memang sudah sangat luar biasa. Mereka sudah seperti dua bayangan yang berkelebat dan kadang melenting dengan cepat diiringi hamburan batu, tanah dan bongkahan karang yang terkena sasaran dan terjangan mereka.

“Ilmu ajian Teratai Putih!!”, berkata Empu Dangka yang merasakan sebuah getaran aneh keluar dari dalam tubuh Ki Sandikala. Sebuah ilmu yang langka yang dapat mengaburkan jalan pikiran lawan. Seorang lawan yang terkena pengaruh ilmu ini akan menjadikan pikirannya buntu untuk memutuskan segala sesuatu yang berdampak kepada kebingungan. “Mahesa Amping mempunyai kekuatan bathin yang tinggi”, berkata Empu Dangka dalam hati menenangkan dirinya sendiri.

Ternyata apa yang dikatakan oleh Empu Dangka memang tengah dirasakan oleh Mahesa Amping, sekilas dirasakan ada sebuah dorongan yang menutup jalan pikirannya. Namun ternyata Ki Sandikala salah duga, karena Mahesa Amping telah mempunyai kekuatan bathin yang tinggi sehingga tidak lagi memutuskan segala sesuatunya lewat jalan pikirannya, tapi selalu bertumpu kepada petunjuk rasa yang tinggi, petunjuk dari Gusti yang Maha Agung, Gusti Yang Maha Pengasih yang tak putus memberi kasih, yang tak putus memberi petunjuk.

“Luar biasa anak muda ini”, berkata Ki Sandikala dalam hati yang telah menerapkan ajian Teratai Putihnya namun tidak juga ada tanda-tanda bahwa Mahesa Amping dapat terpengaruh atas ilmunya itu.

“Ilmumu tidak berpengaruh apapun”, berkata Mahesa Amping sambil balas menyerang Ki Sandikala.

“Jangan cepat puas diri, masih banyak yang belum kuungkapkan”, berkata Ki Sandikala kepada Mahesa Amping sambil meniup pada tangannya yang terbuka kearah Mahesa Amping. “Ajian Megananda!!”, berkata Empu Dangka dalam hati yang melihat langsung pertempuran itu.

Ternyata apa yang dilihat oleh Empu Dangka memang benar, Ki Sandikala telah melepas ilmu simpanannya, sebuah ilmu yang bernama Ajian Megananda. Ilmu ini memang sangat keji sekali, karena dapat menidurkan lawan dalam seketika.

Tapi ternyata Ki Sandikala salah langkah, lawannya bukan orang sembarang dan bukan orang biasa. Lawannya adalah Mahesa Amping yang mempunyai berbagai kekebalan yang telah tumbuh sebagai kekuatan yang kasat mata. Kekebalan didalam dirinya dengan dan tanpa perintah apapun akan selalu menolak apapun yang akan sekiranya membahayakan dirinya. Maka ajian Megananda seperti kalis begitu saja dihadapan Mahesa Amping. Ajian ilmu itu seperti tak beraksi apapun.

Tapi Mahesa Amping bukan hanya dapat menawarkan serangan ilmu lawan yang tersembunyi, bahkan dapat mengembalikan serangan tersembunyi itu kepada tuannya.

Senjata makan tuan !!!

“Gila!!!”, berkata Ki Sandikala kepada dirinya sendiri yang tiba-tiba saja merasakan kantuk yang sangat.

Maka seketika itu juga Ki Sandikala tidak lagi melepaskan ajian Meganandanya. Yang terlihat adalah seketika itu juga dirinya berlompat sekitar sepuluh langkah menjauh dari Mahesa Amping.

Terlihat Ki Sandikala masih menggenggam cakra ditangan kanannya, sementara itu tangan kirinya telah berada diatas dadanya membentuk tangan terbuka yang tengah menyembah. “Ajian Gelap Ngampar!!”, berkata Empu Dangka dalam hati dengan mata terperangah dengan perasaan mencekam penuh ketegangan.

Belum habis Empu Dangka berucap, sebuah bola api berwarna biru menyala sebesar setengah kepal tangan tiba-tiba saja muncul didepan dada Ki Sandikala, dan seperti dilontarkan dengan tenaga yang kuat bola api itu melesat begitu cepatnya menyambar Mahesa Amping.

Untungnya Mahesa Amping memang sudah berjagajaga, mengetahui bahwa Ki Sandikala akan mengeluarkan ilmu simpanannya.

Terlihat Mahesa Amping sudah melenting tinggi, sebuah batu karang besar dibelakang Mahesa Amping langsung hancur berkeping-keping terkena sambaran ajian gelap ngampar yang dilontarkan oleh Ki Sandikala.

Para prajurit yang melihat kejadian itu langsung lari menjauh, takut terkena sasaran ilmu Ki Sandikala yang sangat dahsyat itu. Beberapa orang terpaksa berlindung di balik batu karang besar sambil terus mengintip jalannya pertempuran yang sangat menggetarkan hati.

Melihat lawannya berhasil luput dan dapat menghindar, seketika Ki Sandikala bermaksud menghentakkan serangannya kembali, namun secara tidak terduga, masih dalam keadaan melenting diudara ternyata Mahesa Amping telah melontarkan kekuatannya lewat sorot matanya.

Sebuah cahaya biru menyala melesat tertuju kearah Ki Sandikala. Tapi ternyata Ki Sandikala juga dapat bergerak lebih cepat dari sambaran cahaya lewat sorot mata Mahesa Amping.

Terlihat sebuah lobang tanah gosong terbakar sebasar kepala gajah menganga terbuka persis dibawah kaki tempat Ki Sandikala berpijak yang telah ditinggalkannya.

Ternyata Ki Sandikala tidak hanya sekedar bergeser, dirinya sebelumnya sudah mempersiapkan sebuah hentakan ilmu dahsyatnya.

Terlihat kembali sebuah bola api berwarna biru melesat kearah Mahesa Amping yang masih belum sempat turun menginjak bumi.

Siapa yang dapat bergerak bila tubuh masih belum sempat menginjak bumi?, tapi Mahesa Amping ternyata dapat melakukannya dengan cara menjatuhkan dirinya kesamping dan langsung berputar dua kali beberapa langkah.

Bola api biru itu kembali menghantam sasaran kosong menghantam gerumbul semak daun yang langsung hangus terbakar.

Mahesa Amping menyadari bahwa dirinya harus langsung membalas serangan lawan agar tidak menjadi bahan bulan-bulanan serangan lawannya.

Maka sambil bergerak Mahesa Amping  telah melontarkan sorot matanya langsung meluncur kearah Ki Sandikala. Namun seperti sebelumnya, Ki Sandikala dapat cepat berhindar.

Demikianlah kedua orang berilmu tinggi itu telah saling menyerang dan balas menyerang. Tanah sekitar pertempuran sudah menjadi arang kerabang hancur porak poranda sebagaimana bumi tertinggal angin putih beliung menghamburkan apapun yang ada diatasnya.

Sementara itu mentari diatas langit puncak bukit Karang Gajah sudah naik seperempat jalan hangat menerangi sejauh pandangan. Dan pertempuran antara Mahesa Amping dengan Ki Sandikala ikut semakin seru menegangkan seiring sinar matahari pagi yang semakin menghangat.

Mahesa Amping mendapat sebuah firasat bahwa semakin matahari meninggi semakin kuat daya lontar ilmu Ki Sandikala.

“Aku akan menutup sumber kekuatannya”, berkata Mahesa Amping dalam hati.

Maka sambil melakukan serangan balasan melayani ilmu Ki Sandikala yang saling melontarkan sinar panas kemasing-masing lawan, bersama itu pula Mahesa Amping telah menerapkan kekuatan yang tersembunyi.

Semula kabut tipis menyelimuti diri Mahesa Amping. Namun dalam waktu yang singkat kabut tipis itu telah menyebar menutupi seluruh tanah puncak Bukit Karang Gajah. Dan kabut tipis itu akhirnya menjadi begitu tebal menutupi pandangan mata.

Batas pandang mata menjadi begitu terbatas, hanya sejauh dan sebatus tubuh. Semua orang yang berada diatas puncak Bukit Karang Gajah itu sudah tidak dapat melihat apapun karena terhalang kabut.

Ki Bancak dan Arga Lanang yang bersembunyi dibalik bongkahan batu karang besar terlihat keluar untuk dapat melihat dengan jelas apa yang telah terjadi. Tapi pandangan mereka masih juga tidak melihat apapun. Kabut yang pekat telah menutup jarak pandang mereka.

“Tuan Senapati ternyata manusia dewa, entah ilmu apa lagi yang ada didalam diri anak muda ini”, berkata Pendeta Gunakara dalam hati yang telah melihat kabut pekat menyelimuti seluruh pandangannya yang berasal dari kekuatan ilmu Mahesa Amping. Sementara itu Empu Dangka mempunyai pemikiran yang lain. “Mahesa Amping dapat saja menghentakkan ilmu cambuknya yang dapat memecahkan rongga dada lawannya, tapi itu tidak dilakukannya. Pasti ada yang diinginkan dari anak muda yang pengasih itu”, berkata Empu Dangka sambil terus memperhatikan jalannya pertempuran meski kabut telah menutup pandangan orang biasa, tapi tidak bagi ketajaman mata seorang Empu Dangka.

Namun ketajaman mata Mahesa Amping yang terlatih dapat melihat jelas, Mahesa Amping juga dapat melihat jelas apa yang terjadi pada diri Ki Sandikala.

Apa yang terjadi atas diri Ki Sandikala yang dilihat jelas oleh Mahesa Amping?

0 Response to "Kabut Di Bumi Singasari Jilid 06"

Post a Comment