coba

Kabut Di Bumi Singasari Jilid 04

Mode Malam
CAKRA ditangan Ki Karmapala sudah siap segera diayunkan.

“Jangan kira aku akan menjadi lemah”, berkata Ki Karmapala sambil mengayunkan cakranya.

Sementara mata wanita itu masih tetap terbuka menatap wajah ayahnya Ki Karmapala. Bukan main tabahnya wanita itu.

Namun garis hidup memang kadang berjalan lain, kadang keluar dari hal-hal yang bersifat wajar. Karena tiba-tiba saja dua buah batu kecil telah membentur cakra ditangan Ki Karmapala.

Tring ! Tring !!

Terdengar suara cakra yang beradu dengan dua buah kerikil yang datang bersamaan waktunya, sepertinya dilemparkan dengan kekuatan penuh dan oleh dua orang yang sangat mumpuni.

Akibatnya lemparan dua buah kerikil itu memang luar biasa !!

Cakra itu terlempar jauh, sementara itu tangan Ki Karmapala merasakan nyeri yang luar biasa, seketika tangannya menjadi seperti kaku tak bertenaga. Ternyata salah seorang pelempar kerikil itu adalah Mahesa Amping yang sudah berhasil mengikuti Ki Karmapala dan bayangan hitam yang terakhir diketahui sebagai putri Ki Karmapala.

Namun siapakah pelempar kerikil kedua ??

Mahesa Amping juga ikut bertanya dalam hati, siapa gerangan pelempar kerikil selain dirinya. Tapi pikiran itu hanya diendapnya dalam hati, hal yang utama adalah menyelamatkan wanita itu dari tangan Ki Karmapala.

“Hanya orang yang sudah tidak punya hati saja yang berani membunuh seorang wanita yang sudah tidak berdaya”, berkata Mahesa Amping yang sudah mendekati Ki Karmapala.

“Jangan urusi persoalan kami, ini adalah urusan keluarga kami”, berkata Ki Karmapala kepada Mahesa Amping penuh kemarahan.

“Saat ini sudah menjadi urusanku juga, karena yang kusaksikan adalah sebuah ketidak adilan”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Karmapala.

“Jangan harap aku akan gentar meski kamu adalah seorang Senapati Singasari”, berkata Ki Karmapala bersikap menantan kepada Mahesa Amping.

“Begitulah seharusnya sikap seorang lelaki”, berkata Mahesa Amping memancing kemarahan Ki Karmapala berharap Ki Karmapala beralih dari wanita didekatnya itu.

Ternyata pancingan Mahesa Amping berhasil, Ki Karmapala terlihat wajahnya yang pucat putih semakin memutih. Sebuah wajah yang sangat menyeramkan di kegelapan malam di hutan Mada. Sementara matanya seperti ingin menelan Mahesa Amping bulat-bulat.

“Mulutmu memang harus dibungkam”, berkata Ki Karmapala yang langsung menyerang Mahesa Amping dengan tangan kosong.

Tapi Mahesa Amping memang sudah siap, dengan cepat bergerak menghindar dan balas menyerang. Hati Mahesa Amping agak lega, perhatian Ki Karmapala sudah tidak ke wanita itu.

Sementar itu hati Ki Karmapala menjadi semakin panas melihat Mahesa Amping dengan begitu mudah menghindari serangannya dan langsung balas menyerang.

Serangan Mahesa Amping memang sangat cepat dan kuat, tapi Ki Karmapala bukan orang sembarangan, guru yang sangat dihormati dan dijunjung tinggi di Padepokan Teratai Putih itu bukan hanya dapat lepas dari serangan Mahesa Amping, tapi langsung membalas dengan serangan yang lebih kuat dari sebelumnya, ternyata Ki Karmapala telah meningkatkan tataran ilmunya selapis lagi lebih tinggi.

Demikianlah pertempuran antara Ki karmapala dan Mahesa Amping semakin lama semakin menjadi begitu seru, begitu cepat dan menegangkan, keduanya selapis demi selapis telah meningkatkan tataran ilmunya masingmasing.

Sementara itu wanita yang masih mendekap bayi itu perlahan sudah dapat bergerak, perlahan bergerak mencari tempat yang aman untuk dirinya dan bayinya.

Ternyata perhitungan wanita itu beralasan. Karena tidak lama kemudian terdengar banyak pohon tumbang terkena sasaran pukulan dan tendangan dari kedua orang yang bertempur dengan dahsyatnya.

Pertempuran antara Ki Karmapala dan Mahesa Amping memang sudah begitu mengerikan, mereka sudah tidak lagi menggunakan tenaga wadagnya, pukulan dan tendangan mereka telah dilambari tenaga cadangan tingkat tinggi. Terlihat debu mengepul, tanah sekitar mereka seperti menjadi rata terkena benturan kaki-kaki mereka. Dan beberapa pohon besar langsung retak bahkan ada yang langsung roboh menimbulkan suara bergemuruh.

“Orang ini telah mengeluarkan kekuatan puncaknya”, berkata Mahesa Amping dalam hati merasakan angin pukulan hawa dingin yang luar biasa yang dapat membekukan dirinya bila saja tidak melambari dirinya dengan kekuatan yang berlawanan.

“Nama besar Senapati ini memang bukan omong kosong”, berkata Ki Karmapala yang terus meningkatkan tataran ilmunya namun belum juga dapat menundukkan lawannya. Mahesa Amping masih dapat mengimbanginya, bahkan kadang melampauinya dengan merasakan hawa panas angin pukulan Mahesa Amping.

Demikianlah, pertempuran mereka semakin lama semakin cepat dan keras. Suasana disekitar pertempuran mereka menjadi porak poranda, beberapa pohon menjadi tumbang.

Sementara itu wanita yang ternyata putri Ki Karmapala sendiri sudah berada di tempat yang aman menyaksikan pertempuran dengan penuh kekhawatiran dan kebimbangan, siapakah yang diharapkan memenangkan pertempuran yang dahsyat itu.

Wanita itu memang menjadi bimbang, di satu sisi berharap pemuda penolongnya itu dapat mengalahkan ayahnya agar dirinya tidak lagi dikejar-kejar sebagai buronan, sebagai pendosa yang harus dihukum mati oleh orang-orang Padepokan Teratai Putih. Namun disisi lain, ada rasa sayang kepada Ki Karmapala sebagai seorang anak kepada ayahnya yang masih dicintainya, seorang ayah yang dulu begitu memanjakannya.

Wanita itu masih menatap pertempuran dengan hati penuh kebimbangan, sebagai seorang putri dari seorang guru Padepokan Teratai Putih, sedikit banyak wanita itu sudah dapat mengenal kanuragan bahkan dapat dikatakan hanya satu tingkat dibawah ayahnya. Namun ketika menyaksikan pertempuran antara ayahnya dan Mahesa Amping, dirinya tidak mampu menentukan siapakah yang lebih unggul diantara keduanya.

Sebagaimana yang disaksikan oleh wanita itu, Mahesa Amping dan Ki Karmapala masih terus bertempur dengan dahsyatnya. Mereka bergerak begitu cepatnya seperti dua bayangan di keremangan malam hutan Mada, saling menyerang melesat kesana kemari.

Sementara itu waktu terus berlalu, hari sudah masuk tengah malam, pertempuran antara Mahesa Amping dan Ki Karmapala masih terus berlangsung seperti tidak akan selesai, masih juga tidak terlihat siapa yang lebih unggul diantara keduanya.

“Baru kali ini aku mendapat lawan seperti Senapati ini”, berkata Ki Karmapala yang telah meningkatkan tataran ilmunya namun selalu saja dapat diimbangi oleh Mahesa Amping.

Ternyata Mahesa Amping masih terus mengimbangi ilmu Ki Karmapala, masih belum berada diatas puncak ilmunya yang sebenarnya. Mahesa Amping masih ingin menjajaki sampai dimana kekuatan daya tahan Ki Karmapala sambil berusaha menguras tenaganya.

“Orang ini bermaksud menguras tenagaku”, berkata Ki Karmapala dalam hati yang mengetahui siasat dari Mahesa Amping.

Tiba-tiba saja Ki Karmapala melompat menjauh, Mahesa Amping mengetahui bahwa pasti Ki Karmapala akan melontarkan ilmu andalannya.

“Aku harus berhati-hati”, berkata Mahesa Amping dalam hati ketika melihat Ki Karmapala melakukan sebuah gerakan merangkapkan kedua tangannya didepan dadanya dengan kedua kaki agak merenggang.

Wuuttt !!!

Benar saja yang dipikirkan oleh Mahesa Amping, sebuah pukulan jarak jauh yang mengandung hawa dingin yang sangat kuat melesat disampingnya, hawa dinginnya begitu keras. Untungnya Mahesa Amping sudah bergerak cepat tidak lagi berdiri ditempatnya.

Terlihat sebuah pokok batang pohon yang besar tumbang terkena pukulan Ki karmapala yang dahsyat itu.

Namun belum lagi Mahesa Amping menjejakkan kakinya dibumi, kembali pukulan jarak jauh menyambar kearahnya. Hanya dengan melipat gandakan kecepatan gerakannya saja maka Mahesa Amping dapat lolos dari sambaran pukulan jarak jauh yang kedua dari Ki Karmapala.

Kembali Ki Karmapala menyerang dengan pukulan jarak jauhnya yang ketiga, keempat dan seterusnya seperti mengejar kemanapun Mahesa Amping menghindar.

Mahesa Amping seperti tidak diberi kesempatan bernafas, selalu sambaran pukulan jarak jauh Ki Karmapala mengejarnya. Namun selalu saja Mahesa Amping dapat lolos dari sambaran maut itu.

Hingga akhirnya pada sebuah serangan yang dilancarkan oleh Ki Karmapala, terlihat Mahesa Amping tidak dapat lagi menghindar, Ki Karmapala begitu cerdik dapat membaca langkah berikutnya dari Mahesa Amping yang mengunci langkahnya, Mahesa Amping telah mati langkah.

Mahesa Amping tidak dapat lagi menghindar, satusatunya jalan adalah membenturkan kekuatan lawan dengan kekuatan ilmunya sendiri.

Gelegarrrrrrr !!!!

Terjadi benturan kekuatan dari dua kekuatan raksasa menimbulkan suara menggelegar seperti suara guntur. Begitu kerasnya suara itu telah membuat daun dan ranting disekitarnya jatuh hangus berguguran. Bahkan di beberapa tempat daun dan ranting kering disekitar hutan nyaris terbakar.

Ternyata Mahesa Amping dengan sorot matanya telah menghentakkan kekuatan ilmu kesaktiannya,  sebuah ilmu sakti gabungan aji Gundala Bama dan Aji Kala Bama yang sudah luluh melebur didalam dirinya telah terlontar membentur ilmu kekuatan lawan.

Terlihat Mahesa Amping terpental beberapa langkah dari tempatnya berdiri.

Apa yang terjadi dan dialami oleh Ki Karmapala sendiri dalam benturan dua kekuatan raksasa itu ?.

Ternyata kekuatan ilmu sakti Mahesa Amping telah berada diatas puncaknya, dihentakkan dalam keadaan terpaksa dan untuk melindungi diri sendiri telah membawa akibat yang benar-benar mengerikan.

Terlihat Ki Karmapala terlempar begitu deras menghantam sebuah pokok kayu besar dibelakangnya. Dadanya terasa sesak, beberapa pembuluh darah halus di sepanjang tubuhnya telah pecah terhantam dorongan pukulan saktinya sendiri dan ditambah kekuatan ilmu sakti Mahesa Amping yang sangat dahsyat.

Ki Karmapala terlihat tidak bergerak lagi, wajahnya yang putih pucat menjadi berwarna merah darah. Seluruh tubuhnya mengeluarkan titik-titik darah lewat pori-pori kulitnya. Ternyata nyawa Ki Karmapala telah tidak ada lagi, tewas seketika itu juga.

“Ayahhhhh !!!!”.

Terlihat wanita itu yang menyaksikan seluruh jalannya pertempuran berlari kearah Ki Karmapala.

Perasan wanita itu seperti pecah luluh dalam kesedihan yang sangat menatap ayahnya Ki Karmapala. Meski di akhir hidupnya telah mencoba untuk membunuhnya, hati seorang anak kepada ayahnya lebih menguasai perasaannya. Yang terbayang adalah kasih sayang ayahnya yang sangat memanjakannya, mencintainya melebihi apapun. Tapi kini orang yang dicintainya itu sudah tidak bernyawa lagi, sudah dingin membeku. Terlihat wanita itu sambil mendekap bayinya, terus menangis memilukan meratapi kepergian ayahnya yang tidak akan mungkin dapat kembali lagi didunia ini.

Sementara itu Mahesa Amping terlihat duduk bersila sempurna, mengatur pernapasannya dan menutup segala rasa dan citra. Dalam beberapa saat nafasnya sudah tidak memburu lagi, perlahan merasakan kesegaran tubuhnya tumbuh seperti sedia kala. Ketika Mahesa Amping membuka matanya, masih dilihatnya wanita yang telah ditolongnya itu tengah menangis meratap tersedu-sedu didekat mayat Ki Karmapala.

“Aku terpaksa membentur ilmunya yang dahsyat, aku tidak dapat berbuat lain”, berkata Mahesa Amping kepada wanita itu dengan perasaan bersalah sambil ikut duduk di dekat mayat Ki Karmapala.

Mendengar ucapan Mahesa Amping yang tertuju kepadanya, seketika wanita itu memandang Mahesa Amping. Sebagai seorang yang mengerti ilmu kanuragan, wanita itu tidak menyalahkan lelaki muda dihadapannya itu. Dirinya juga menyaksikan apa yang terjadi diakhir pertempuran itu.

“Jangan persalahkan dirimu, aku menyaksikan apa yang telah terjadi. Tuan Senapati hanya membela diri”, berkata wanita itu kepada Mahesa Amping dengan mata dan wajah masih basah penuh air mata.

Sementara itu malam di pedalaman hutan Mada sudah berlalu menyisakan waktunya yang sedikit. Pagi nampaknya akan segera datang menjelang.

“Terima kasih telah menolongku”, berkata wanita itu sambil merangkapkan kedua tangannya di dadanya perlahan kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping membalas dengan sikap dan laku yang sama.

“Aku tidak sendiri, ada orang lain yang juga telah membantu menolongmu”, berkata Mahesa Amping kepada wanita itu. “Dan orang itu masih ada disekitar kita”, berkata kembali Mahesa Amping yang dengan pendengarannya yang tajam dapat mengetahui ada orang lain yang masih bersembunyi tidak ingin menampakkan dirinya. Mahesa Amping merasa yakin bahwa orang yang bersembunyi itulah yang melemparkan kerikil kedua selain dirinya.

Ternyata ucapan Mahesa Amping bukan cuma kepada wanita itu, tapi sebenarnya ditujukan kepada orang yang masih bersembunyi tidak ingin menampakkan dirinya.

Tiba-tiba saja sekitar hutan Mada seperti berputar, ternyata ada angin berputar seperti angin puyuh  mendera seluruh daun dan tangkai disekitarnya ikut berputar bergerak.

“Maafkan aku Nariratih, aku belum dapat menampakkan diriku dihadapanmu”, terdengar suara yang menggema datang diatas suara angin yang menderu.

“Baktikanlah dirimu kepada Tuan Senapati dari Singasari ini, para Dewata telah memilih dirinya untuk membesarkan bayi kita. Pada saatnya aku akan menjemputmu”, Terdengar kembali suara yang menggema datang diatas suara angin yang menderu.

“Kakang Dharmayasa”, bergumam wanita itu yang bernama Nariratih menyebut sebuah nama.

Perlahan suara angin tidak terdengar lagi, suasana malam menjelang pagi itu di hutan Mada menjadi begitu sepi dan sunyi. Para penghuni hutan Mada mungkin masih meringkuk di sarangnya masing-masing.

“Orang-orang Padepokan Teratai Putih pasti tidak akan menerima kembali diriku. Dapatkah aku berbakti kepadamu wahai tuan Senapati?”, bertanya Nariratih penuh keraguan kepada Mahesa Amping.

Mahesa Amping tersenyum menatap wajah Nariratih yang masih basah air mata. Hati Mahesa Amping merasa kasihan dan iba melihat apa yang telah dialami oleh wanita itu.

“Aku akan melindungi dirimu, juga akan membesarkan bayimu sebagaimana keinginan suamimu”, berkata Mahesa Amping dengan wajah penuh senyum berharap wanita itu akan terhibur. Benar saja yang diharapkan oleh Mahesa Amping, begitu gembiranya mendengar kesanggupan Mahesa Amping, terutama kesanggupan Mahesa Amping untuk membesarkan bayinya.

“Terimakasih tuan Senapati, aku akan berbakti kepadamu”, berkata wanita itu penuh kegembiraan.

Sementara itu temaram warna malam sudah semakin menyusut, wajah pagi di hutan Mada perlahan mengisi tiap sudut. Sayup-sayup terdengar suara ayam alas saling bersahutan. Beberapa burung kecil sudah mulai mencicit. Akhirnya suara hutan pagipun nyaris sempurna, begitu ramainya menyambut datangnya sinar matahari, sinar kehidupan pagi.

“Jasad Ki Karmapala harus disempurnakan”, berkata Mahesa Amping kepada Nariratih yang hanya menganggukkan kepalanya, dirinya masih dicekam rasa sedih mengenang kepergian Ayahnya untuk selamalamanya.

Terlihat Mahesa Amping dengan peralatan apa adanya tengah mencoba membuat sebuah lubang.

“Jasad Ki Karmapala telah kita sempurnakan, semoga arwahnya dapat tenang di alam keabadian”, berkata Mahesa Amping ketika telah selesai menyempurnakan jasad Ki Karmapala dalam sebuah pemakaman sederhana dibawah sebuah pohon besar di hutan Mada.

“Terima kasih telah menyempurnakan jasad Ayahku”, berkata Nariratih penuh rasa terima kasih kepada Mahesa Amping.

“Apakah bayimu sudah memiliki sebuah nama?”, bertanya Mahesa Amping sambil menatap bayi didalam dekapan Nariratih yang masih nampak tidur nyenyak “Belum”, berkata Nariratih ikut memandang bayinya. ”Kuserahkan tuan Senapati memberi hadiah nama untuk bayi ini”, berkata kembali Nariratih kepada Mahesa Amping.

“Bolehkah aku memegangnya?” berkata Mahesa Amping kepada Nariratih.

“Silahkan”, berkata Nariratih menyerahkan bayinya kepada Mahesa Amping.

“Mulai hari ini aku akan menjadi ayah angkatmu”, berkata Mahesa Amping menimang-nimang bayi didalam dekapannya penuh rasa suka kepada bayi itu.

“Bayi itu sudah tidak sabar menunggu sebuah nama dari ayah angkatnya”, berkata Nariratih merasa gembira melihat Mahesa Amping begitu menyukai bayinya.

“Kelak bayi ini akan menjadi orang besar” Berkata Mahesa Amping sambil menatap keatas langit, dilihatnya sebuah awan yang sepertinya tidak mau pergi tetap berada diatas kepala mereka. ”Gajah Mada, mudahmudahan dengan nama ini akan menjadi manusia berguna, mengantar kejayaan, kesejahteraan dan kemakmuran di bumi ini”, berkata Mahesa Amping kepada Nariratih.

“Nama yang bagus”, berkata Nariratih gembira mendapatkan sebuah hadiah nama untuk bayinya.

Namun ketika Mahesa Amping hendak menyerahkan bayi itu, dilihatnya ada sebuah tanda titik berderet tiga dua buah sangat rata dipundak belakang kanannya, sehingga bila dijumlahkan titik itu berjumlah enam titik.

“Apakah kalian telah memberi jarah kepada bayi ini?”, bertanya Mahesa Amping kepada Nariratih tentang tanda yang ada di tubuh Gajah Mada. “Kami tidak menjarahnya, tanda itu ada sejak lahir”, berkata Nariratih kepada Mahesa Amping tentang tanda di tubuh Gajah Mada.

“Apakah bayi ini terlahir disaat gerhana matahari?”, bertanya Mahesa Amping kepada Nariratih.

“Benar, aku melahirkannya disaat gerhana matahari setahun yang lalu”, berkata Nariratih.

“Menurut cerita para orang tua, bayi yang lahir disaat gerhana matahari akan menjadi manusia pilihan, sangat cerdas dan kuat, dan mempunyai sebuah tanda”, berkata Mahesa Amping kepada Nariratih.

“Apakah tanda itu akan menyusahkannya?”, bertanya Nariratih kepada Mahesa Amping penuh kekhawatiran.

“Tanda itu akan menyusahkannya, orang-orang sakti pasti akan menginginkannya, memperebutkannya dengan berbagai alasan”, berkata Mahesa Amping kepada Nariratih.

“Kita harus menyembunyikan tanda itu”, berkata Nariratih kepada Mahesa Amping.

“Bukan hanya menyembunyikannya, tapi menghilangkannya”, berkata Mahesa Amping kepada Nariratih

“Menghilangkannya?”, bertanya Nariratih  penuh keraguan kepada Mahesa Amping.

“Bila Nyi Nariratih menyetujuinya, aku dapat melakukannya”, berkata Mahesa Amping tersenyum atas keraguan Nariratih.

“Menurut cerita para orang tua, bayi yang lahir di saat gerhana matahari harus menyembunyikan namanya dengan nama lain”, berkata Mahesa Amping kepada Nariratih.

“Aku serahkan kepada tuan Senapati memberi nama lain yang kedua”, berkata Nariratih kepada Mahesa Amping.

“Kelak bila telah dewasa, ketika menemui jodohnya, baru nama aslinya dibuka diketahui oleh semua orang”, berkata kembali Mahesa Amping.

“Siapa nama kedua dari putraku ini wahai tuan senapati?”, bertanya Nariratih tidak sabar.

“Karena Gajah Mada putra angkatku, kuberi nama lain sebagai Mahesa Muksa”, berkata Mahesa Amping penuh kegembiraan mendapatkan sebuah nama lain untuk Gajah Mada.

“Dua nama yang sama bagusnya”, berkata Nariratih juga penuh kegembiraan.

“Ini adalah rahasia besar yang harus kita tutup rapatrapat”, berkata Mahesa Amping kepada Nariratih.

“Aku akan menjaganya”, berkata Nariratih dengan penuh kesungguhan.

“Saatnya menghilangkan tanda di tubuh Mahesa Muksa”, berkata Mahesa Amping sambil meminta Nariratih menyerahkan Mahesa Muksa kepadanya.

Terlihat Mahesa Amping berjalan mendekati sebuah batu besar yang datar di sekitar hutan Mada diikuti oleh Nariratih yang berjalan dibelakangnya.

Diletakkannya Mahesa Muksa diatas batu itu tertelungkap, anehnya Mahesa Muksa tidak menangis sebgaimana seorang bayi pada umumnya.

Maka dengan kekuatan hawa panasnya, Mahesa Amping meletakkan satu telapak tangannya diatas pundak Mahesa Muksa, menutupi tanda yang ada ditubuh Mahesa Muksa.

Perlakuan itu berlangsung begitu cepatnya, ketika Mahesa Amping mengangkat telapak tangannya, tanda yang ada di tubuh Mahesa Muksa telah tidak ada lagi, hanya ada sebuah tanda kulit yang terbakar.

“Dalam beberapa hari, kulit yang terbakar itu akan kembali seperti sedia kala”, berkata Mahesa Amping sambil menyerahkan kembali Mahesa Muksa kepada ibunya, Nariratih.

“Rahasia tanda ini hanya kita berdua yang mengetahuinya”, berkata Mahesa Amping kepada Nariratih.

“Aku akan menjaganya”, berkata Nariratih dengan wajah penuh kesanggupan sebagaimana pada saat untuk merahasiakan nama Gajah Mada.

“Tanda lahir pada Mahesa Muksa sudah tidak ada lagi, namun tanda awan dilangit yang selalu menaunginya tidak juga menghilang”, berkata Mahesa Amping sambil menunjuk awan yang masih saja tidak pergi, selalu berada diatas mereka.

“Semoga tidak ada yang melihat tanda awan itu”, berkata Nariratih kepada Mahesa Amping.

Sementara itu matahari pagi sudah mulai beranjak naik, sinarnya masuk menembus celah-celah ranting dan daun di hutan Mada yang pekat itu.

“Mari ikut bersamaku ke Padepokan Pemecutan, selama ini aku tinggal disana”, berkata Mahesa Amping kepada Nariratih.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Amping tentang tempat tinggalnya selama itu yaitu di sebuah Padepokan Pemecutan, sebuah Padepokan yang dibangunnya bersama Empu Dangka. Sebagai seorang prajurit Senapati khusus, tidak ada kewajiban atas dirinya untuk berdiam di sebuah tempat. Bersama Empu Dangka, Mahesa Amping dan pasukannya telah banyak membina para pecalang muda di seluruh Balidwipa sebagai prajurit Balidwipa yang mandiri. Sebuah kekuatan yang mengakar dari setiap padukuhanpadukuhan diseluruh Balidwipa. Atas perkenan dari Rakrian Demung Sasanabungalan, Mahesa Amping dan Empu Dangka telah mendirikan sebuah Padepokan baru, sebuah Padepokan yang akan menjadi kekuatan baru di selatan Balidwipa. Sebuah Padepokan yang akan melahirkan manusia-manusia yang berbudi dan berilmu. Di padepokan ini para cantrik disamping mendalami ilmu kajiwan, mereka juga diajarkan ilmu kanuragan dengan garis ilmu murni perguruan Empu Dangka yang mempunyai ciri khas sebagai perguruan orang bercambuk. Itulah sebabnya Pedepokan mereka dinamai sebagai Padepokan Pemecutan.

Terlihat Mahesa Amping melangkah perlahan beriring berjalan bersama Nariratih yang berjalan sambil menggendong anaknya Mahesa Muksa. Tidak mudah memang berjalan di tengah hutan yang pekat dipenuhi semak belukar sambil menggendong seorang bayi.

Ketika matahari menjelang diatas puncaknya, mereka baru dapat keluar dari hutan itu.

“Padepokan Pemecutan ada dibelakang bukit itu”, berkata Mahesa Amping sambil menunjuk sebuah bukit yang jauh.

Nariratih tidak menjawab, hanya tersenyum menatap arah sebuah bukit yang ditunjuk oleh Mahesa Amping.

Ketika matahari diatas puncaknya, panas begitu menyengat. Tapi mereka tidak merasakannya, karena sepanjang perjalanan mereka selalu dilindungi oleh gumpalan awan tebal yang selalu mengiringi kemanapun mereka melangkah.

“Kita beristirahat sejenak”, berkata Mahesa Amping kepada Nariratih ketika di dekat mereka terlihat sebuah sungai kecil berbatu. Airnya mengalir begitu jernih.

“Dipinggir sungai biasanya banyak tumbuh tanaman kimpul”, berkata Mahesa Amping kepada Nariratih yang sudah duduk meluruskan kakinya dibawah sebuah pohon besar yang akarnya terlihat menyembul diatas tanah. Sementara itu Mahesa Moksa telah direbahkannya disisi dua akar kayu.

Terlihat Mahesa Amping tengah menyusuri tepian  sungai, akhirnya ditemuinya serumpun tanaman kimpul yang ternyata banyak tumbuh di sekitar sungai kecil itu.

“Seorang Senapati yang bersahaya”, berkata Nariratih dalam hati melihat Mahesa Amping tengah membuat sebuah perapian, menyiapkan makanan untuk sekedar pengganjal perut mereka disiang itu.

Akhirnya setelah merasa cukup beristirahat, mereka segera melanjutkan perjalanan menuju ke Padepokan Pemecutan.

Ternyata mereka tidak mendaki bukit itu, hanya melintas jalan memutarinya. Sementara itu angin sepoi basah kadang datang membelai rambut dan pakaian mereka dalam perjalanan ditengah hijaunya alam perbukitan yang teduh.

“Padepokan Pemecutan sudah dekat”, berkata Mahesa Amping ketika mereka memasuki sebuah Kademangan yang cukup ramai. Setelah melewati beberapa pematang sawah dan bulak yang panjang, akhirnya mereka telah melihat sebuah Padepokan yang cukup besar berdiri di sebuah lereng perbukitan yang cukup luas, terlihat dari tempat kejauhan.

“Itukah Padepokan Pemecutan ?”, berkata Nariratih ketika melihat sebuah bangunan yang cukup besar dikelilingi pagar kayu yang cukup tinggi terlihat dari kejauhan. Terlintas dalam gambaran pikiran Nariratih Padepokan Teratai Putih, sebuah tempat yang tidak akan pernah dilupakannya karena disanalah dirinya dibesarkan. Terbayang pula saat-saat dirinya bersama Ayahnya Ki Karmapala yang begitu memanjakannya serta mencintainya sebagaimana dirinya. Namun terlintas pula saat-saat yang begitu memilukan, penuh duka dan nestapa ketika dirinya harus dipisahkan, harus dijauhkan dari ayah dan bayinya.

“Benar, itulah Padepokan Pemecutan”, berkata Mahesa Amping memecahkan semua lamunan dan pikiran Nariratih.

Terlihat mereka telah sampai di regol pintu Padepokan Pemecutan. Seorang cantrik yang ada dihalaman menyambut kedatangan mereka.

“Selamat datang tuan Senapati”, berkata seorang cantrik itu kepada Mahesa Amping.

“Selamat berjumpa kembali Putu Risang”, berkata Mahesa Amping kepada pemuda itu sambil menepuk pundaknya yang tegap dan bidang, terlihat beberapa otot yang berisi di seluruh tubuhnya sebagai pertanda pemuda itu sering berlatih di sanggar membangun kekuatan wadagnya.

“Dimana Empu Dangka dan para cantrik?”, bertanya Mahesa Amping kepada cantrik itu.

“Empu Dangka dan para cantrik tengah berada di sanggar, terpaksa aku disini sendiri menjaga gabah basah agar tidak habis dicuri burung dan ayam”, berkata cantrik itu kepada Mahesa Amping sambil menunjuk hamparan gabah padi yang tengah dijemur di halaman itu.

“Ternyata hasil panen kita cukup bagus”, berkata Mahesa Amping sambil menjumput gabah yang tengah dijemur itu, memeriksa dan melepaskannya kembali.

Terlihat Mahesa Amping tersenyum ketika Putu Risang memperhatikan Nariratih yang tengah mendekap Mahesa Muksa.

“Ini Nyi Nariratih dan putranya Mahesa Muksa, mereka akan tinggal bersama kita”, berkata Mahesa Amping memperkenalkan Nariratih dan putranya kepada Putu Risang.

“Perkenalkan namaku Putu Risang, mudah-mudahan Nyi Nariratih dan putranya menjadi betah tinggal bersama kami”, berkata Putu Risang memperkenalkan dirinya dengan merangkapkan kedua tangannya didepan dadanya sebagai tanda kehormatannya.

Nyi Nariratih membalasnya dengan sedikit membungkukkan badannya dengan wajah penuh keramahan dan sangat menyenangi sikap Putu Risang yang terlihat masih begitu lugu layaknya seorang pemuda yang baru beranjak dewasa. Namun sikapnya sepertinya seorang yang terdidik. Diam-diam Nariratih mengagumi orang-orang yang telah membina salah satu dari beberapa cantrik yang ada di Padepokan  Pemecutan itu. “Silahkan kamu melanjutkan tugasmu, kami akan bersihbersih diri”, berkata Mahesa Amping kepada Putu Risang sambil mengajak Nariratih untuk mengikutinya.

Sementara itu hari masih terang, matahari sore di atas Padepokan Pemecutan masih terlihat memancarkan cahayanya yang teduh. Sore itu langit diatas Padepokan Pemecutan begitu cerah. Udarapun sangat sejuk dingin menyegarkan karena Padepokan itu berdiri diatas lereng perbukitan yang cukup tinggi.

“Pemandangan dari pendapa ini begitu indah”, berkata Nariratih kepada Mahesa Amping ketika sore itu setelah bersih-bersih diri mereka sudah berada di Pendapa Pemecutan menikmati pemandangan alam di depan Pendapa Pemecutan yang begitu indah, terlihat hamparan sawah yang berjenjang bertingkat-tingkat dan bukit yang hijau sejauh mata memandang.

Mahesa tidak menjawabnya, hanya sedikit tersenyum. Dalam hati merasa gembira melihat Nariratih sepertinya menyenangi kehidupan di Padepokan Pemecutan.

Terdengar suara derit pintu yang terbuka, ternyata dari balik pintu itu muncul Putu Risang, seorang pemuda yang selalu penuh ceria dan bersemangat menyampaikan kabar bahwa dirinya telah menyiapkan bilik untuk Nariratih dan putranya Mahesa Muksa.

“Putu Risang telah menyiapkan bilik untuk kalian, beristirahatlah”, berkata Mahesa Amping  kepada Nariratih memintanya untuk beristirahat meski hari masih sore. “Bila perlu apapun, katakanlah kepada Putu Risang”, berkata kembali Mahesa Amping.

Terlihat Nariratih bersama putranya masuk kedalam diantar oleh Putu Risang. Dan tidak lama berselang muncul Empu Dangka yang sudah selesai memberikan beberapa pengarahan kepada para cantrik di sanggar tertutup.

“Kami disini sangat mengkhawatirkan tuan Senapati”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Dari Pura Indrakila, aku mampir ke beberapa tempat”, berkata Mahesa Amping bercerita tentang perjalanannya, termasuk tentang peristiwa di Hutan Mada.

“Mudah-mudahan kehadirannya disini dapat menenteramkan hatinya”, berkata Empu Dangka setelah mendengar cerita dari Mahesa Amping tentang Nariratih.

“Terima kasih atas kesediaan Empu Dangka menerima mereka di Padepokan ini”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

“Padepokan ini adalah rumah kita, siapapun yang ada di Padepokan ini adalah keluarga kita”, berkata Empu Dangka dengan senyumnya yang sareh.

Sementara itu waktu terus berlalu, Mahesa Amping dan Empu Dangka masih terlihat masih berbincang-bincang di pendapa Padepokan Pemecutan itu. Banyak hal yang mereka perbincangan, mulai dari suasana keamanan dan kesejahteraan di Balidwipa sejak kekuasaan dikendalikan oleh Rakrian Demung Sasanabungalan, mereka juga membicarakan beberapa hal mengenai kemajuan para cantrik di Padepokan Pemecutan.

Tidak terasa waktu terus berlalu, senja telah berganti malam. Dan malam pun berlalu dalam kesepiannya. Langit malam telah memayungi Padepokan Pemecutan, menjaganya bersama bintang-bintang yang bersinar jauh sepanjang malam.

“Pagi yang indah”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka yang sudah terbangun di awal pagi. “Pagi yang cerah”, berkata Empu Dangka sambil memandang batas ujung cakrawala.

Terlihat beberapa cantrik tengah melaksanakan berbagai tugasnya masing-masing, beberapa cantrik yang mendapat tugas mengolah sawah dan ladang terlihat dipagi itu sudah keluar dari regol pintu halaman Padepokan Pemecutan.

Terdengar suara langkah kaki diatas panggung kayu, ternyata Putu Risang yang datang membawa minuman hangat dan beberapa potong jagung rebus.

“Selesai sarapan, kita ke tepian sungai di hutan cemara”, berkata Mahesa Amping kepada Putu Risang.

Bukan main gembiranya hati Putu Risang diajak oleh Mahesa Amping ke tepian sungai di hutan Cemara yang tidak begitu jauh letaknya berada disisi kanan  Padepokan Pemecutan. Disitulah pada saat-saat tiap sepekan Putu Risang berlatih kanuragan dibawah pengawasan langsung dari Mahesa Amping.

“Aku akan menyiapkan diri”, berkata Putu Risang dengan penuh gembira.

“Kulihat anak itu punya bakat yang kuat serta semangat yang besar, aku menyukainya”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka ketika Putu Risang sudah tidak terlihat lagi masuk kedalam.

“Kita perlu orang-orang seperti Putu Risang yang akan menjadi penerus mempertahankan keberadaan Padepokan ini”, berkata Empu Dangka.

“Perlihatkan kemajuanmu selama kutinggalkan”, berkata Mahesa Amping kepada Putu Risang.

Terlihat Putu Risang maju menghadap Mahesa Amping. Perlahan sudah melakukan gerakan jurus-jurusnya. Namun perlahan juga gerakannya menjadi semakin cepat. Akhirnya lambat-laun gerakannya menjadi perlahan kembali.

“Gerakanmu sudah hampir sempurna, sekarang hadapilah aku”, berkata Mahesa Amping sambil maju menghadapan. ”Seranglah aku”, berkata kembali Mahesa Amping kepada Putu Risang.

Terlihat Putu Risang tidak ragu lagi menyerang kearah Mahesa Amping. Namun dengan mudahnya Mahesa Amping mengelak serangan itu dan tidak balas menyerang tapi menunggu serangan Putu Risang selanjutnya.

Dalam beberapa serangan, terlihat Mahesa Amping membalas Serangan Putu Risang, maka dalam sekali serangan itu telah langsung telak menghajar Putu Risang yang terlihat terjerembab diatas tanah lunak berumput.

“Bangkitlah wahai anak muda”, berkata Mahesa Amping dengan wajah penuh senyum kepada Putu Risang. ”Kesalahanmu adalah tidak memikirkan kemungkinan bahwa seranganmu akan dibalas, sekarang lakukan serangan dengan menambah beberapa kemungkinan balasan dari lawanmu”, berkata Mahesa Amping kepada Putu Risang.

“Seperti permainan macanan?”, berkata Putu Risang dengan gembira menangkap arahan bimbingan Mahesa Amping.

Otak Putu Risang memang termasuk encer, apa yang dimaksudkan oleh Mahesa Amping langsung dapat dicernanya. Namun dalam beberapa gebrakan, terlihat Putu Risang kembali tersungkur di tanah lunak berumput.

“Kesalahan   kamu   kedua   adalah   bahwa   kamu  tidak memikirkan bahwa lawanmu akan membaca tipu muslihatmu”, berkata Mahesa Amping sambil tersenyum menatap Putu Risang yang manggut-manggut mengerti kesalahannya.

Sementara itu matahari diatas hutan cemara terlihat sudah mulai beranjak naik kepuncaknya. Namun kerimbunan pohon di sekitar tepian sungai itu menjadikan suasana disitu tetap teduh dan sejuk, terutama manakala angin semilir datang membawa udara segar yang menyejukkan.

“Bersihkan dirimu, kita kembali ke Padepokan”, berkata Mahesa Amping kepada Putu Risang.

Namun ketika Putu Risang sudah membersihkan dirinya mandi di Sungai yang jernih itu, ternyata Mahesa Amping tidak memperlihatkan keinginannya untuk meninggalkan tepian sungai itu.

“Siapapun yang masih ingin bermain sembunyisembunyian, sebaiknya keluar”, berkata Mahesa Amping dengan suara bergema kesegala penjuru.

Putu Risang yang mendengar suara Mahesa Amping terkejut dibuatnya, matanya menatap berkeliling kesemua tempat, tidak juga ditemukan sesuatu yang mencurigakan.

Namun tidak lama berselang muncul dari sebuah belukar seorang lelaki berjubah putih datang mendekati Mahesa Amping.

“Selamat berjumpa kembali Ki Jabarantas”, berkata Mahesa Amping berdiri dari duduknya menyambut kedatangan orang itu yang ternyata Ki Jabarantas.

“Aku jadi malu, tuan Senapati pasti telah mengetahui kedatanganku sejak lama”, berkata Ki Jabarantas dengan senyumnya. ”Terima kasih telah mengurangi beban lawanku di Hutan Mada”, berkata kembali Ki Jabarantas.

“Pasti ada hal yang sangat penting sekali yang  membawa langkah Ki Jabarantas datang kesini”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jabarantas.

“Mengenai bayi itu”, berkata Ki Jabarantas singkat.

“Jadi Ki Jabarantas masih menginginkan bayi itu”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jabarantas.

“Tidak ada lagi keinginan itu, apalagi setelah melihat sepak terjang tuan Senapati melumpuhkan lima orang Padepokan Teratai Putih dengan satu gebrakan”, berkata Ki Jabarantas sambil tersenyum. “Aku jadi malu bahwa dengan ilmuku yang cetek ini masih ingin merebutnya darimu”, berkata kembali Ki Jabarantas. ”Kedatanganku kesini adalah untuk memberitahukan tuan Senapati, bahwa orang-orang Padepokan Teratai Putih telah mengundang delapan pimpinan kshetra alirannya dari Balidwipa dan Jawadwipa”, berkata kembali Ki Jabarantas menyampaikan maksud kedatangannya yang sebenarnya.

Ki Jabarantas sekilas bercerita yang dimulai dengan pertempurannya dengan orang-orang dari Padepokan Teratai Putih. Ternyata Ki Jabarantas tidak menuntaskan pertempurannya, melainkan langsung meninggalkan sisa orang Padepokan Teratai Putih yang bermaksud menahannya. Ki Jabarantas bermaksud ikut mengejar orang yang membawa lari bayi itu. Tapi ternyata Ki Jabarantas kehilangan jejak. Semalaman dirinya berputar-putar di sekitar hutan Mada, tapi tidak menemukan apapun. Namun Akhirnya keesokan harinya, dirinya menemukan empat orang dari Padepokan Teratai Putih yang tengah membongkar kembali sebuah makam baru. Ki Jabarantas bersembunyi dan berhasil mendengar beberapa hal. Antara lain bahwa makam  baru itu adalah mayat guru mereka.

“Hal lain yang kudengar dari mereka adalah bahwa mereka akan mengundang delapan Kshetra aliran mereka merebut kembali bayi itu darimu”, berkata Ki Jabarantas mengakhiri ceritanya.

“Aku tidak menyangka bahwa masalah ini akan menjadi panjang dan berlarut”, berkata Mahesa Amping kepada  Ki Jabarantas.

“Maaf bila aku tidak dapat berbuat banyak”, berkata Ki Jabarantas kepada Mahesa Amping.

“Ki Jabarantas telah berbuat banyak, setidaknya memungkinkan diriku untuk berjaga-jaga”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jabarantas.

“Terima kasih telah menyampaikannya kepadaku”, berkata kembali Mahesa Amping.

“Tadinya aku akan kepadepokan Pemecutan, ternyata menemuimu di hutan ini”, berkata Ki Jabarantas kepada Mahesa Amping.

“Kami akan senang sekali bila Ki Jabarantas singgah sebentar ke Padepokan Pemecutan”, berkata Mahesa Amping menawarkan Ki Jabarantas singgah.

“Terima kasih, mungkin pada waktu yang lain”, berkata Ki Jabarantas menolak secara halus permintaan Mahesa Amping untuk singgah di Padepokan Pemecutan.

“Sampai berjumpa kembali, pintu Padepokan Pemecutan akan selalu terbuka untuk Ki Jabarantas”, berkata Mahesa Amping kepada Ki Jabarantas yang telah bermaksud pamit diri meninggalkan hutan Cemara itu. Demikianlah, setelah Ki Jabarantas meninggalkan Hutan Cemara, Mahesa Amping dan Putu Risang kembali ke Padepokan Pemecutan.

“Padepokan Teratai Putih adalah salah satu dari sembilan kshetra aliran agama penyembah bulan dan matahari yang ada di Balidwipa dan Jawadwipa”, berkata Empu Dangka yang mengenal beberapa hal dari aliran agama ini kepada Mahesa Amping.

“Artinya delapan orang setingkat ilmunya dengan Ki Karmapala akan mendatangiku”, berkata Mahesa  Amping kepada Empu Dangka.

“Kita akan menghadapinya bersama”, berkata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.

“Benar, kita berdua tanpa melibatkan siapapun di Padepokan Pemecutan ini”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.

Terlihat diatas halaman sekawanan burung prenjak melintas, mungkin akan kembali ke sarangnya setelah sepanjang hari bergembira mendapatkan makanan yang cukup. Namun tiba-tiba saja seekor burung gelatik batu menyambar salah satu dari burung prenjak itu. Meski tubuh mereka sama besar, burung gelatik itu dapat membawa burung prenjak naas itu turun ke halaman Padepokan Pemecutan dengan menancapkan paruhnya dileher burung prenjak. Maka dengan beberapa pentelan paruhnya yang tajam, burung prenjak kecil itu langsung tidak berdaya. Terlihat burung gelatik batu itu tengah memakan bangkai burung prenjak yang kurang beruntung itu, disaksikan oleh Mahesa Amping dengan mata tidak berkedip.

“Aku tidak ingin satu pun cantrik Padepokan Pemecutan menjadi korban sia-sia sebagaimana burung prenjak kecil itu”, berkata Mahesa Amping sambil terus menyaksikan burung Gelatik batu yang masih terus mengoyak tubuh burung prenjak kecil di depan halaman Padepokan Pemecutan.

“Kita pasrahkan diri kita semua didalam perlindungan Gusti Yang Maha Agung”, berkata Empu Dangka.

Langit sore diatas Padepokan Pemecutan hari itu sangat begitu cerahnya, awan putih seputih kapas menghiasi cakrawala langit biru. Cahaya matahari bersinar teduh menerangi hutan cemara,tanah sawah ladang dan bukitbukit biru seperti lukisan alam yang indah penuh keasrian menghiasi pandangan sejauh mata memandang didepan pendapa Padepokan Pemecutan.

Terdengar suara langkah kaki yang lembut keluar dari pintu utama. Ternyata Nariratih yang muncul keluar dari balik pintu itu sambil membawa sebuah baki kayu berisi minuman dan beberapa jagung rebus yang masih hangat.

“Mahesa Muksa sedang tidur, jadi aku dapat membantu menyiapkan hidangan ini untuk kalian”, berkata Nariratih sambil meletakkan baki kayu yang dibawanya dengan penuh senyum.

“Terima kasih”, berkata Empu Dangka kepada Nariratih.

“Di Padepokan Teratai Putih aku biasa melayani ayahku, disini aku merasa terhibur dapat melayani kalian berdua”, berkata Nariratih penuh kegembiraan.

“Mudah-mudahan Nyi Nariratih dapat kerasan tinggal di Padepokan ini”, berkata Empu Dangka kepada Nariratih yang telah memindahkan minuman dan makanan dari bakinya.

“Penghuni Padepokan ini sangat baik kepadaku”, berkata Nariratih yang sudah berdiri sambil mendekap bakinya yang sudah kosong.

“Aku akan kembali ke dalam”, berkata kembali Nariratih sambil membalikkan tubuhnya melangkah dan menghilang dibalik pintu utama.

Sementara itu matahari di Padepokan Pemecutan itu sudah terlihat bergeser surut di ujung tepian barat bumi, lengkung langit sudah berwarna senja bening kelabu di hiasi dengan beberapa kalelawar yang sudah keluar melintas terbang penuh kegembiraan menyambut malam yang sebentar lagi akan datang mengganti warna hari dan kehidupan.

Di halaman Padepokan Pemecutan, dua orang cantrik masih terlihat tengah mengumpulkan gabah padi kering yang sudah sejak pagi dijemur dibawah cahaya matahari yang akan dibawa dan disimpan di lumbung sebagai persediaan makanan hingga datangnya panen  yang akan datang.

“Malam akan datang mengganti warna hari dan kehidupan”, berkata Mahesa Amping kepada Empu Dangka sambil menatap regol pintu halaman Padepokan Pemecutan.

“Warna hari dan kehidupan selalu berubah, tidak pernah langgeng. Hari ini dan hari esok corak dan geraknya tidak akan pernah sama”, berkata Empu Dangka menaggapi perkataan Mahesa Amping yang masih menatap regol pintu halaman Pedepokan Pemecutan.

“Ada tamu yang datang”, berkata Mahesa Amping berbisik kepada Empu Dangka yang sama-sama tengah memandang regol pintu halaman Padepokan Pemecutan. Keremangan di ujung senja itu tidak mengurangi ketajaman penglihatan Mahesa Amping dan Empu Dangka. Mereka melihat dua orang cantrik yang ada dihalaman Padepokan Pemecutan itu datang menghampiri orang-orang yang baru datang itu.

0 Response to "Kabut Di Bumi Singasari Jilid 04"

Post a Comment