Jurus Tanpa Nama Jilid 11 : Dendam Melawan Dendam

Mode Malam
Dendam Melawan Dendam

BULAN terus mendaki di lengkung langit.

Mata Si Rajawali Betina membelalak. Dalam sekejap dia teringat ketika beberapa bulan lalu dia dan pasangannya, Si Rajawali Jantan, juga beberapa tokoh silat golongan tua yang sudah malang melintang di jagat silat, dikejutkan oleh kemunculan seorang pemuda belia yang memiliki kemampuan di luar nalar. Bagaimana tidak, pemuda itu berhasil mengalahkan Brahala, tokoh sakti bertubuh raksasa dari Segara Anakan.

Pemuda itulah yang kemudian dikenal sebagai Titisan Bujangga Manik.

Jaka Wulung berdiri memandang Si Rajawali Betina tanpa berkedip. Inilah, kata hati Jaka Wulung, orang yang telah menewaskan gurunya, Resi Darmakusumah. Meskipun saat itu, Resi Darmakusumah menghadapi beberapa lawan sekaligus, Si Rajawali Betina inilah, bersama pasangannya, Si Rajawali Jantan, yang sama-sama melesakkan pedang panjang mereka ke tubuh sang Resi sehingga tubuh gurunya itu tumbang dan kemudian menjadi sasaran pembantaian.

Wajarlah kalau Sepasang Rajawali itu adalah musuh besar yang pantas menjadi sasaran balas dendamnya.

“Hmmm ... Titisan Bujangga Manik rupanya,” kata Si Rajawali Betina dengan suara serak yang pelan. Sepelan embusan angin malam yang menyentuh dedaunan.

Akan tetapi, suara sepelan bisik angin itu seperti gelegar halilintar di telinga sebagian pendekar yang berkumpul di sana.

Orang yang kali pertama terperanjat adalah Si Rajawali Jantan. Matanya memandang lekat orang yang baru datang memapas serangan pamungkas pasangan hidupnya. Dadanya berdentam oleh berbagai perasaan. Kagum, sekaligus cemas. Dia sudah pernah melihat sendiri bagaimana pendekar

bocah itu mampu menumbangkan pendekar hebat seperti Brahala. Tapi, dia juga dilanda kecemasan setelah melihat betapa akibat benturan itu, Si Rajawali Betina tampak lebih menderita dibandingkan dengan pendekar belia itu, sebuah bukti bahwa ilmu si bocah tampaknya sudah berkembang sejak diselamatkan sosok misterius di Bukit Sagara—sosok yang juga entah bagaimana berhasil membawa Kitab Siliwangi yang waktu itu menjadi ajang rebutan.

Karena itu, Si Rajawali Jantan bergeser mendekat untuk bersiap-siap membantu Si Rajawali Betina.

Braja Wikalpa memandang pemuda belia itu dengan kening berkerut, tapi kemudian mukanya terasa hangat oleh rasa senang, meskipun kedatangan si pemuda sama sekali tidak diduga dan berbeda dengan para pendekar lainnya. Dia kemudian berbisik kepada dua kakak seperguruannya, Braja Musti dan Braja Denta, yang kemudian mengangguk-angguk.

Sebagian pendekar di sana terkejut karena pernah mendengar nama Titisan Bujangga Manik mulai disebut-sebut kalangan persilatan sebagai sosok baru yang bakal menggemparkan. Mereka nyaris tidak mengedipkan mata untuk memandang lebih jelas seperti apa rupa manusia yang berjuluk Titisan Bujangga Manik itu. Bisik-bisik mulai mendengung di udara malam. Dari mana bocah ini datang? Dari awal, dia tidak terlihat di antara mereka.

Ciang Hui Ling, yang sebenarnya sudah pasrah terhadap nasib buruk yang tadi akan menimpanya, seakan-akan dipaku kakinya oleh rasa tak percaya. Aku masih hidup, diselamatkan oleh seorang pemuda. Entah dari mana pemuda ini muncul, dan dengan kecepatan serta kekuatannya yang mengagumkan berhasil mematahkan pukulan maut Si Rajawali Betina.

Gadis muda yang jelita ini memang pernah mendengar dari gurunya kisah mengenai pendekar terkenal bernama Bujangga Manik, tetapi dia belum pernah mendengar nama Titisan Bujangga Manik. Tapi, apakah dia pantas menyandang nama pendekar besar meskipun hanya titisannya?

Kemunculan Jaka Wulung juga menghentikan dua pertempuran sengit di dua lingkaran yang lain.

Di lingkaran pertama, baik Ki Antaga maupun Badak Pamalang segera menahan gerak mereka dan sama-sama menoleh untuk mengetahui seperti

apa orang yang disebut sebagai Titisan Bujangga Manik.

Ki Antaga membelalak dengan mulut menganga lebar sehingga kepala sebesar Badak Pamalang pun bisa saja melesak masuk seluruhnya. Matanya menyipit dan keningnya berlipit-lipit. Rasanya, aku pernah melihatnya. Di mana, ya? pikir Ki Antaga. Tak lama kemudian, dia menepuk-nepuk jidatnya. “Ya, betul ...,” katanya sambil menunjuk Jaka Wulung.

Badak Pamalang menoleh kepada Ki Antaga. “Apanya yang betul?” tanyanya.

“Aku pernah bertemu dengannya di ..., ya, di sebuah kedai makan di Kalapa Nunggal

“Kau kenal dia, Ki?” Ki Antaga menggeleng.
Keduanya mungkin tidak menyadari bahwa itulah percakapan pertama mereka sejak kali pertama bertemu di lingkaran pertama tadi. Dan aneh, percakapan itu seakan-akan terjadi antara dua orang kawan. Padahal jelas, Badak Pamalang dan Ki Antaga adalah dua orang yang berada di golongan yang berbeda.

Mendadak Ki Antaga menggeram, “Apakah dia yang ?”

Di lingkaran kedua, si Nenek Sihir dari Krakatau dan Pendekar Jaka Kendil juga sama-sama menghentikan pertempuran mereka. Tapi, mereka berhenti bukan karena munculnya sosok bernama Titisan Bujangga Manik. Kedua pendekar ini, meskipun berada pada kedudukan berseberangan, yakni yang satu masuk golongan hitam dan yang lain golongan putih, sama-sama belum mendengar kemunculan pendekar muda yang menghebohkan ini. Si Nenek Sihir memang sudah belasan tahun bersembunyi di sebuah gua terpencil di lereng Gunung Krakatau. Tentu saja terpencil karena pulau kediamannya dikelilingi lautan luas yang selalu berombak besar. Nyaris tidak ada orang yang nekat mengunjungi Gunung Krakatau, yang belakangan kerap menyemburkan lahar panas. Sementara itu, Pendekar Jaka Kendil juga nyaris tidak pernah lagi turun dari kediamannya di dekat puncak Gunung Gede selama bertahun-tahun.

Memang, keduanya juga mendengar ledakan keras tadi, tapi ledakan keras dalam pertempuran adalah hal biasa. Jadi, kedua pendekar aneh ini berhenti bertempur hanya karena melihat di lingkaran lain juga pertempuran terhenti.

“Ada apa?” tanya si Nenek Sihir.

Pendekar Jaka Kendil mengangkat bahunya yang mungil.

Keduanya sama-sama memandang sekeliling, memandang wajah-wajah orang yang ternyata sedang memandang ke arah yang sama. Keduanya pun mengikuti arah pandangan orang-orang.

Seorang pemuda, sangat muda, berdiri tegak dengan kaki selebar pundak, dua jemari tangannya terkepal di sisi tubuhnya, memandang sosok lain di depannya yang, entah karena apa, tampak menyeringai kesakitan. Barulah kini, baik si Nenek Sihir maupun Pendekar Jaka Kendil sama-sama terkesiap karena mulai memahami apa yang terjadi. Si Rajawali Betina, pendekar kelas kakap yang sangat disegani di kalangan pendekar hebat sekalipun, terluka akibat berbenturan dengan si pemuda!

Dan rupanya, Si Rajawali Betina masih penasaran oleh kekalahannya pada pukulan pertama.

“Kau tampaknya mengalami kemajuan pesat, Bocah,” katanya. Pelan- pelan, dia mulai bisa memulihkan tenaganya. Tangan kanannya pun sudah bisa digerakkan meskipun masih terasa ngilu. “Tapi, jangan besar kepala dulu. Kau tadi menyerangku ketika aku tidak dalam keadaan siap.”

Jaka Wulung memandang Si Rajawali Betina nyaris tanpa berkedip. “Bukankah tadi Nyonya Pendekarlah yang menyerang lawan yang dalam keadaan tidak siap menerima pukulan lagi?”

“Hmmm ... tampaknya kau mulai senang ikut campur urusan orang. Ini pertempuran kami.”

“Nyonya menyerang lawan tidak berdaya yang sudah berada di luar lingkaran. Itu sudah bukan pertempuran kalian lagi.”

“Oh, sudah pintar pula kau bersilat kata.”

“Aku hanya melayani silat kata Nyonya Pendekar.”

Si Rajawali Betina kehabisan kata-kata. Dia terdiam dan menatap tajam Jaka Wulung. Mereka yang dapat memandang dengan jelas di bawah cahaya bulan, tentu akan bisa melihat wajah Si Rajawali Betina berubah menjadi merah. Darah dari jantungnya seakan dipompa dengan cepat untuk memenuhi wajahnya. Dia merasa dipermainkan oleh seorang bocah yang baru saja lepas dari tetek ibunya.

Oleh karena itu, tanpa menunggu tenaga dan urat-urat tubuhnya pulih seperti sediakala, Si Rajawali Betina langsung menyerang Jaka Wulung. Ilmu silat Si Rajawali adalah ilmu silat dahsyat yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan kedua kaki dan kedua tangannya. Kedua kakinya bersiap dengan tendangan dahsyat seperti kaki burung rajawali yang siap mencengkeram dan menendang lawan, sedangkan kedua tangannya mengembang seperti sayap-sayap rajawali yang mengibas dan siap menyapu musuh seperti daun-daun kering saja.

Dan itu kesalahan pertama Si Rajawali Betina. Dia terlampau memandang tinggi dirinya dan memandang rendah Jaka Wulung.

Jaka Wulung kini sudah berbeda dengan Jaka Wulung beberapa waktu lalu tatkala bertempur di Bukit Sagara. Dia sudah menyerap ilmu dari Resi Bujangga Manik sendiri, kemudian dalam perjalanannya mengalami sejumlah kejadian ajaib, antara lain telah meminum secara tidak sengaja air sungai yang pahit, yang tidak lain adalah karena tercampur getah pohon Dewadaru, yang membuat ketahanan dan tenaga dalam Jaka Wulung meningkat secara aneh.

Jaka Wulung juga sudah menduga bahwa Si Rajawali Betina akan menyerangnya segera sehingga dia sudah mempersiapkan bukan hanya pertahanan, melainkan juga serangan. Jaka Wulung langsung membalas serangan tatkala serangan Si Rajawali Betina belum mencapai sasarannya!

Sebuah serangan tenaga penuh yang dibangun di atas satu keyakinan, tanpa ragu sedikit pun, bahwa cara inilah yang harus ditempuh Jaka Wulung untuk memecah kekuatan Sepasang Rajawali dari Pelabuhan Ratu!

Semua orang di tanah lapang itu, yang kini sama-sama menjadi penonton, tidak ada yang menduga bahwa Jaka Wulung—alias Titisan Bujangga

Manik—akan melakukan serangan demikian. Tidak juga Si Rajawali Jantan, yang terlambat hanya sekian kejap ketika sebuah kibasan Si Rajawali Betina sebagai bagian jurus Sayap Rajawali Mengibas Dedaunan disambut dengan juluran tangan Jaka Wulung yang menyimpan inti ilmu peninggalan Prabu Siliwangi, gulung maung, sekali lagi menimbulkan sebuah benturan kekuatan yang lebih dahsyat daripada benturan yang pertama tadi.

DUARRR!

Yang terjadi kemudian adalah Si Rajawali Betina terpental mundur tidak kurang dari sepuluh langkah dan jatuh berdebam di tanah dengan jerit yang singkat memenuhi udara. Si Rajawali Betina jatuh telentang dengan wajah menyeringai kesakitan. Dadanya sesak sehingga mulutnya megap- megap untuk mengambil zat asam dari udara. Tulang tangan kanannya retak. Seluruh pembuluh darah tubuhnya seakan-akan disergap oleh aliran panas yang membuat sekujur tubuhnya seperti dibakar bara. Dia berusaha bangkit untuk berdiri lagi. Tapi, tampaknya kedua kakinya kehilangan tenaga. Dia terjatuh di atas kedua lututnya.

“Nyimaaas!”

Si Rajawali Jantan meloncat dan menubruk tubuh Si Rajawali Betina. Hatinya tersayat menyaksikan perempuan yang telah menjadi pasangan hidupnya—setidaknya dalam empat puluh tahun itu, bersama-sama membangun nama besar, tidak pernah berpisah barang sekejap pun—jatuh tidak berdaya di tangan seorang pemuda yang belum kering ingusnya. Apakah ini akhir riwayat Sepasang Rajawali dari Pelabuhan Ratu?

“Kakang

“Nyimas

Keduanya berpelukan seraya sama-sama menangis sesenggukan, seperti sepasang kekasih remaja yang hendak saling berpisah. Tapi, kemudian tubuh Si Rajawali Betina tegak dan matanya berubah menyala lagi.

“Kakang, ... aku belum akan segera mati. Belum, sebelum menyaksikan Kakang membalaskan kekalahan ini.”

Si Rajawali Jantan memandang perempuan yang dicintainya itu seakan-

akan sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Dia menegakkan tubuhnya seolah-olah baru bangun dari mimpi paling buruk dalam hidupnya. Dia pun meloncat berdiri dan memandang Jaka Wulung.

Sreeettt!

Dihunusnya pedang panjang dari punggungnya.

Pada jarak belasan langkah, Jaka Wulung berdiri tegak memandang Sepasang Rajawali itu dengan kedua kaki selebar pundak.

Akibat benturan dahsyat tadi, Jaka Wulung terpental dua atau tiga langkah dan kuda-kudanya goyah. Jaka Wulung jatuh terduduk, tapi mampu segera bangkit berdiri untuk menghadapi kemungkinan seperti sekarang: pembalasan dari Si Rajawali Jantan.

Jaka Wulung merasakan betapa tangannya yang tadi berbenturan seperti kehilangan hampir semua tenaganya. Dadanya panas dan penglihatannya gelap beberapa kejap.

Keputusan Jaka Wulung untuk mendahului menyerang Si Rajawali Betina dengan sepenuh tenaga adalah keputusan tepat, sekaligus keliru!

Tepat, karena dengan serangan itu dia berhasil mematahkan sebelah sayap rajawali. Kekuatan Sepasang Rajawali dari Pelabuhan Ratu adalah ketika keduanya bertarung bersama-sama. Dalam rumus mereka, satu ditambah satu bukanlah dua, melainkan tiga, empat, bahkan lima! Kini, Si Rajawali Betina sudah tidak berdaya meskipun belum tewas, dan Si Rajawali Jantan harus bertempur sendirian.

Akan tetapi, juga keliru karena dengan serangan tadi tenaga Jaka Wulung langsung terbuang lebih dari separuhnya.

Meskipun tinggal bernilai satu, Si Rajawali Jantan tetap bukanlah pendekar kebanyakan. Dalam tataran ilmu, dia selapis lebih tinggi dibandingkan dengan Si Rajawali Betina sendiri, belum lagi secara alamiah dia memiliki tenaga yang lebih kuat. Sejak masih belia, dia sudah menimba ilmu dari sejumlah guru di berbagai sudut Tatar Sunda. Bersama Si Rajawali Betina, dia juga tidak pernah berhenti mematangkan ilmu sehingga mereka muncul menjadi sepasang pendekar yang sangat disegani meskipun, sayangnya, tidak jelas apakah mereka termasuk golongan putih

atau golongan hitam.

Si Rajawali Jantan mengacungkan pedang panjangnya, lalu dengan pekik burung rajawali yang merobek udara, dia meloncat menerjang dengan kekuatan yang sangat dahsyat karena dilambari lapisan dendam atas kekalahan Si Rajawali Betina.

Jaka Wulung tentu saja tidak mau menjadi sasaran empuk lawannya. Nyaris tidak terlihat oleh pandangan mata, tangannya dengan cepat mencabut kudi hyang di balik bajunya. Dia bersiap menghadapi lawannya dengan dada yang tentu saja masih berbalut dendam.

Dendam melawan dendam!

Kemudian, yang segera terjadi adalah pertempuran yang sangat dahsyat. Mereka bertempur tidak lagi di dalam lingkaran. Tiga lingkaran di tanah lapang itu sudah kosong. Mata semua pendekar yang hadir kini terpusat pada pertempuran antara dua manusia yang mewakili kelompok yang sangat berbeda usia. Arena untuk menentukan siapa yang paling hebat sudah tidak lagi berlaku karena baik Si Rajawali Jantan maupun Jaka Wulung sudah menggenggam senjata di tangan masing-masing.

Pertempuran ini juga sudah tidak lagi bertujuan untuk mempererat persahabatan di antara para pendekar di Tatar Sunda, tetapi sudah menjadi pertempuran antara hidup dan mati.

Teriakan yang keluar dari mulut keduanya adalah ungkapan bara dendam yang harus menemukan muaranya hingga lepasnya nyawa.

Yang tampak kemudian adalah bayangan putih dan bayangan hitam yang saling melibat dengan kecepatan yang sulit diikuti mata biasa.

Tak ada yang bisa menghentikan pertempuran maut itu. Termasuk para pendekar kelas satu, seperti Ki Antaga, Badak Pamalang, si Nenek Sihir, dan Pendekar Jaka Kendil. Apalagi sejumlah pendekar lain sisanya.

Tidak juga tiga pendekar tuan rumah, Braja Musti, Braja Denta, dan Braja Wikalpa. Ketiganya tentu saja menyesalkan ajang untuk mempererat persaudaraan itu berubah menjadi pertempuran hidup atau mati. Tapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Inilah risiko bertemunya pendekar gagah dan pendekar sesat dalam sebuah arena.

Dalam hati kecil mereka, sebenarnya timbul keinginan untuk turun tangan membantu Jaka Wulung yang makin lama makin kelihatan mengalami kesulitan karena telah lebih dulu kehilangan kekuatannya akibat benturan dengan Si Rajawali Betina. Tapi, mereka merasa bahwa, sebagai tuan rumah acara, mereka harus berlaku adil terhadap peserta mana pun.

Sementara itu, Badak Pamalang, di luar sadarnya, beringsut mendekat. Bagaimanapun, nalurinya memberitahukan bahwa dia mestinya membantu pendekar satu golongan. Tapi, pada saat yang sama, Ki Antaga, juga di luar sadarnya, beringsut mendekat sehingga Badak Pamalang harus menahan diri.

Hal yang sama terjadi ketika Pendekar Jaka Kendil melangkah maju. Si Nenek Sihir menoleh. “Mau apa kamu, Bocah Tua?” desisnya. “Aku cuma ingin lihat lebih jelas,” sahut Jaka Kendil pelan.
Si Nenek Sihir terkekeh, “Jangan coba-coba

Rembulan terus memanjat perlahan-lahan. Nini Anteh dan kucingnya tak henti mengawasi. Seakan mereka menumpahkan cahayanya khusus ke arena pertempuran itu, supaya semuanya bisa menyaksikan apa yang akan terjadi malam ini.[]
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Jurus Tanpa Nama Jilid 11 : Dendam Melawan Dendam"

Post a Comment

close