Jurus Tanpa Nama Jilid 09 : Tiga Lingkaran di Rajatapura

Mode Malam
Tiga Lingkaran di Rajatapura

BULAN tanggal tujuh suklapaksa (paruh terang) muncul dari balik pucuk rasamala. Bulan Purnama. Nini Anteh dan kucingnya mengintip dari dedaunan. Tapi, sinar bulan berwajah nenek tua itu tetap tumpah menyebar di sebuah tanah lapang, jauh dari kampung terdekat, hampir di pinggir hutan bebukitan.

Di tengah tanah lapang itu, sudah dibuat tiga lingkaran dengan bubuk kapur putih, masing-masing dengan lebar sepuluh langkah.

Angin meniup pelan wajah-wajah, sekitar tiga puluh orang, yang berkumpul nyaris tanpa kata. Merekalah para pendekar terkenal di seluruh wilayah bekas Kerajaan Pajajaran, yang kini sudah tercacah-cacah menjadi Banten, Cerbon, Sumedang Larang, dan sebagainya.

Mereka berkumpul di sebuah tempat yang sampai kini tetap dihormati. Rajatapura.
Di sinilah, lebih dari seribu tahun yang lalu berdiri sebuah kota bernama Rajatapura, Ibu Kota Kerajaan Salakanagara, kerajaan tertua di Tatar Sunda. Dan sepantasnyalah, mereka berbangga karena boleh jadi inilah juga kerajaan tertua di Nusantara.

Kerajaan ini hanya berdiri sekitar dua ratus tahun. Tapi, namanya terkenal hingga negara-negara lain, terutama pada masa Raja Dewawarman VIII. Saat itulah, keadaan ekonomi penduduk negeri ini sangat baik, makmur dan sentosa, sedangkan kehidupan beragama sangat harmonis.

Jayasinghawarman, menantu dan penerus Raja Dewawarman VIII, kemudian memindahkan ibu kota kerajaan dari Rajatapura ke Tarumanagara. Salakanagara pun berubah menjadi kerajaan daerah dari Tarumanagara.

Meskipun sudah tidak ada lagi bekasnya, Rajatapura tetap dianggap sebagai tempat yang sangat diagungkan. Bekas Keraton Raja Dewawarman pun kemudian menjadi kabuyutan, tempat keramat bagi masyarakat sekitar. Tanah lapang ini berada hanya beberapa puluh langkah dari kabuyutan.

*****

DI sisi barat tanah lapang itu, berdiri tiga lelaki yang berusia hampir sama, sekitar tiga puluh atau tiga puluh lima tahun, bertubuh tinggi dan tegap, dengan sorot mata yang sama-sama tajam di bawah alis mereka yang tebal. Tubuh mereka sama-sama terbungkus jubah abu-abu. Ketiganya sama- sama berwibawa, terutama yang berdiri di tengah. Dialah yang dikenal dengan nama Braja Musti, tokoh yang sangat disegani di kawasan Banten.

Di sebelah kanan dan kiri Braja Musti adalah adik-adik perguruannya: Braja Denta di kanan dan Braja Wikalpa di kiri.

Sebagai juru bicara, Braja Wikalpa mendeham sebelum berkata, “Terima kasih kami haturkan atas kedatangan dulur semua, para pendekar terpilih dari belahan barat Jawa Dwipa. Kami tentu saja sangat senang dan merasa terhormat, Ki Dulur semua sudi datang ke tempat terpencil ini.”

Braja Wikalpa berhenti sebentar menarik napas. Perasaannya memang sangat bahagia. Tapi, juga hatinya berdebar-debar. Dia bahagia karena tidak menyangka bahwa hampir semua tokoh sakti yang dia ajak bergabung ternyata datang. Hampir separuh dari mereka datang atas ajakan Braja Wikalpa sendiri. Sebagian datang diajak oleh temannya. Tapi, sebagian lain malah datang atas kehendak mereka sendiri setelah mengetahui atau mendengar akan ada pertemuan besar yang melibatkan para pendekar sakti.

Akan tetapi, Braja Wikalpa juga berdebar-debar sekaligus agak ngeri karena sebagian dari mereka yang datang adalah tokoh-tokoh golongan hitam. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Rencana mempertemukan semua pendekar dari berbagai golongan sungguh merupakan rencana yang sangat berbahaya. Terutama, karena setidaknya ada tiga pendekar golongan hitam dan mereka adalah orang-orang yang namanya sangat ditakuti.

Sayang sekali, kata Braja Wikalpa dalam hati, beberapa orang tidak bisa

datang memenuhi ajakannya, antara lain tentu saja Si Jari-Jari Pencabik, yang tewas di tangan pendekar belia yang luar biasa.

Ah, di mana pendekar bocah berjuluk Titisan Bujangga Manik itu? Demikian kata hati Braja Wikalpa.

Braja Wikalpa juga agak kesulitan menyusun kata-kata selanjutnya. Dia tidak mengenal secara dekat satu per satu para tokoh itu. Dia hanya mengenal nama mereka. Selalu saja begitu, nama mereka menyebar ke mana-mana, padahal orangnya sendiri entah sedang berada di mana.

Braja Wikalpa memandang berkeliling satu per satu tokoh-tokoh yang hadir. Kemudian, katanya, “Kami mohon maaf kalau tidak semua yang kami undang ke sini mengetahui apa tujuan kami mengundang dulur sekalian. Pertama-tama, kami ingin kita semua, sebagai sesama tokoh yang berasal dari belahan barat Jawa Dwipa, saling mempererat persaudaraan. Kami tidak memandang dari golongan apa Ki Dulur berasal. Bagi kami, yang penting adalah kita semua berasal dari tatar yang sama. Untuk maksud kami mempererat persaudaraan itu, kemudian akan kami adakan semacam lomba ketangkasan secara persahabatan.”

Terdengar suara-suara memenuhi udara. Sebagian besar menyambut dengan senang lomba seperti ini. Mereka memang baru kali pertama menghadiri ajang seperti ini. Sebagian lagi tetap diam menunggu apa yang akan dikatakan oleh Braja Wikalpa.

Setelah keadaan kembali tenang, Braja Wikalpa meneruskan, “Tentu saja lomba seperti ini bukanlah merupakan ajang untuk saling memamerkan kehebatan, melainkan kami lebih menekankan pada saling mengisi kekurangan dan menambah pengalaman. Dan yang terutama, itu tadi, adalah mempererat persatuan di antara sesama orang satu daerah. Karena itu, kami syaratkan dalam lomba nanti tidak diperkenankan menggunakan senjata apa pun. Kita semua berlaga menggunakan tangan kosong.”

Braja Wikalpa berhenti sebentar. “Sebetulnya, kami ingin agar di sini hanya ada satu lingkaran arena sehingga kita semua masing-masing bisa menyaksikan mereka yang sedang berlaga. Tapi, karena waktu yang sangat mendesak, kami ingin malam ini juga kita semua bisa menyelesaikan perlombaan ini. Karena itu, kami menyediakan tiga lingkaran arena. Silakan dulur yang ingin menunjukkan kebolehan segera menempati arena dan mencari lawan masing-masing. Pemenangnya nanti akan berhadapan

dengan pemenang dari lingkaran yang lain.”

Braja Wikalpa mendeham lagi, lalu katanya, “Oh, ya, kami tentukan lomba ini paling banyak berlangsung dalam tiga puluh jurus saja. Mudah- mudahan dalam tiga puluh jurus itu sudah bisa diketahui siapa pemenangnya. Kalau dalam tiga puluh jurus itu belum ada pemenangnya, lomba boleh dilanjutkan dalam dua puluh jurus. Kalau dalam dua puluh jurus itu belum ada juga pemenangnya, dilanjutkan dengan sepuluh jurus. Kalau masih belum juga ada pemenangnya, maka keduanya dianggap sebagai pemenang dan berhak untuk maju melawan peserta lain. Sebelum pertandingan selesai, siapa pun yang keluar dari lingkaran, dia dinyatakan kalah. Kami berharap acara lomba ini akan selesai menjelang tengah malam. Pemenangnya akan mendapat hadiah dari kami. Tapi, siapa pun yang sudah berlaga, baik yang kalah maupun yang menang, kami harap tetap berada di sini. Nanti akan disampaikan sesuatu yang sangat penting oleh Kakang Braja Musti.” Braja Wikalpa menoleh kepada Braja Musti, kakak seperguruannya. “Apakah dulur semua mengerti?”

Semua yang hadir mengangguk-angguk mengerti.

“Nah,” kata Braja Wikalpa lagi. “Siapa saja yang mau lebih dulu tampil, silakan menempati lingkaran yang sudah disediakan.”

Hening sejenak. Angin berembus dari lereng barat, membawa aroma dedaunan hutan.

Keheningan itu pecah ketika sesuatu menggelinding ke tengah arena dan langsung berhenti di salah satu lingkaran.

Yang menggelinding ternyata bukan sesuatu.

Ketika berdiri, jelas bahwa dia manusia. Tubuhnya pendek dibandingkan dengan kebanyakan orang. Gempal dan bulat. Perutnya mengembung seperti perempuan hamil dan pantatnya menonjol. Matanya besar melotot, hidungnya pesek melesak, dan mulutnya sangat lebar. Tidak jelas apakah mulutnya itu sedang tersenyum atau menyeringai. Dia hanya mengenakan celana sebatas lutut dan sarung yang diikatkan di pinggang. Di pinggangnya terselip golok yang sangat lebar dan panjang.

Ki Antaga.

Orang-orang berdebar menyaksikan siapa orang yang akan berlaga lebih dulu itu. Sebagian besar peserta merasa jeri kalau harus berhadapan dengan manusia aneh ini. Ki Antaga adalah jenis manusia golongan sesat yang memiliki ilmu iblis yang serbalicik. Perlu berpikir ribuan kali untuk menghadapinya, meskipun sudah disebutkan bahwa perlombaan ini tidak dibolehkan memakai senjata.

“Tolong senjatanya, Ki Antaga,” ucap Braja Wikalpa.

Ki Antaga memandang Braja Wikalpa, lalu menyeringai dan tertawa, “Hehehe ...! Senjata ini tidak pernah terpisah dari tubuhku. Jadi, aku tidak akan mencopotnya. Tapi, jangan khawatir, aku yakin tidak perlu menggunakannya. Hehehe ...!”

Braja Wikalpa memandang Braja Musti, juga wajah-wajah para pendekar yang hadir. Meskipun dengan berat hati, Braja Wikalpa tampaknya tidak punya pilihan lain sehingga akhirnya mengangguk.

Tak lama kemudian, terdengar siutan panjang sebelum muncul seseorang yang meloncat dengan kecepatan sangat mengagumkan dan kemudian berdiri di lingkaran yang sama dengan Ki Antaga tanpa menimbulkan suara.

Di hadapan Ki Antaga, berdiri seorang tokoh sakti dari Hujung Kulon. Namanya Badak Pamalang. Dia berdiri dengan kaki agak mengangkang, bertelekan pada tongkatnya yang terbuat dari bambu kuning. Wajahnya agak gelap, sebagaimana umumnya orang-orang pantai, tapi wajahnya cukup tampan, dengan tubuh yang ramping. Usianya sekitar empat puluh tahun dan selama belasan tahun, dia sangat disegani, terutama oleh manusia-manusia sesat di kawasan Hujung Kulon. Boleh jadi orangtuanya ingin agar si anak meniru jejak langkah seorang kesatria Pajajaran bernama sama, Badak Pamalang, yang tumbuh menjadi lalaki langit lalanang jagat. Badak Pamalang memang berarti manusia sempurna.
Badak Pamalang menyelipkan tongkat bambu kuningnya di pinggang. “Kekekekek ...!”
Terdengar tawa terkekeh, dan hampir pada saat yang sama, meloncatlah seorang perempuan tua berpenampilan aneh, lalu menempati salah satu lingkaran lainnya. Wajahnya putih mengerikan, matanya hanya seperti dua lubang hitam, hidungnya penyok, tapi bibirnya merah menyala, seperti seorang perempuan pesolek saja. Dia juga mengenakan baju berwarna merah yang umumnya dipakai oleh perempuan muda. Mungkin dia merasa masih muda meskipun usianya sudah mendekati tujuh puluh tahun.

Orang-orang berdebar melihat siapa gerangan nenek berwajah tukang sihir
 
itu. Dan memang itulah julukannya. Nenek Sihir dari Krakatau.
Dia nyaris seperti manusia dalam dongeng belaka. Kemunculannya tidak pernah diduga. Seakan-akan, dia bisa berada di mana saja. Dan di mana saja dia berada, dia selalu menimbulkan bencana.

Braja Wikalpa pun terkejut ketika melihat kemunculan si Nenek Sihir. Ketika dia menyambangi Gunung Krakatau, si Nenek Sihir tidak dijumpainya. Dan dari tadi pun, Braja Wikalpa tidak tahu bahwa perempuan mengerikan itu ada di sekitar tempat itu. Mungkin saja dia bersembunyi entah di mana. Si Nenek Sihir dikenal dengan kemampuannya untuk menyembunyikan diri dari pandangan orang lain.

Nenek Sihir dari Krakatau berkacak pinggang, menantang siapa saja yang punya nyali untuk berhadapan dengannya. Memang keadaan menjadi hening beberapa saat. Tapi, tak lama kemudian, seseorang bangkit dari tempat duduknya di sebongkah batu besar. Ah, bukan bangkit, melainkan melenting tinggi, hinggap di tanah, kemudian melenting tinggi lagi seperti bola karet, dan akhirnya, hinggap tepat di depan si Nenek Sihir.

Dia adalah seorang lelaki berpenampilan tidak kalah aneh dari si Nenek Sihir. Perawakannya kecil, seperti seorang bocah, tapi wajahnya yang sudah keriput menunjukkan bahwa usianya sudah tua. Nama aslinya tidak diketahui. Dia hanya dikenal dengan nama julukannya, yaitu Pendekar Jaka Kendil. Meskipun perawakannya seperti bocah kecil yang lucu, Pendekar Jaka Kendil adalah sosok yang sangat disegani, terutama bagi para pendekar golongan sesat. Ya, Pendekar Jaka Kendil dari Gunung Gede adalah pendekar golongan putih yang sakti. Kecil-kecil cabai rawit.

Dua lingkaran sudah langsung terisi.

Beberapa saat kemudian, meloncat dua sosok secara bersamaan dari sudut yang sama, hinggap di lingkaran ketiga. Keduanya adalah sepasang lelaki dan perempuan yang sama-sama berpakaian putih. Yang satu adalah lelaki berwajah tampan dengan kumis tebal dan sorot mata tajam. Sekilas, usianya tampak di sekitar empat puluh lima tahun. Di sisinya adalah perempuan cantik yang juga kelihatan berusia sekitar empat puluh lima tahun. Pakaiannya ketat, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang masih langsing. Rambutnya sebagian diikat di belakang kepala, sebagian lagi
 
terurai dan melambai-lambai hingga di bawah punggung. Keduanya sama- sama membawa pedang panjang di punggung mereka.

Sepasang Rajawali dari Pelabuhan Ratu.

Meskipun kelihatan masih berusia empat puluhan, keduanya adalah tokoh silat tataran tua, dengan usia sekitar enam puluh tahun. Mereka memang kelihatan awet muda. Tapi, juga awet seram. Maksudnya, kedatangan mereka selalu menimbulkan suasana seram. Kedatangan mereka kali ini pun menjadikan arena itu lebih menyeramkan.

Pasangan pendekar ini tidak jelas berada di mana, apakah golongan putih atau golongan hitam. Mereka kerap bertempur melawan siapa saja yang menghalangi niat mereka. Dan apabila sudah berhadapan dengan mereka, dari golongan mana pun, dipastikan mereka tak akan pulang dengan selamat. Mereka tidak pernah peduli apa kata orang. Yang penting adalah mencapai tujuan mereka: menjadi pendekar nomor satu!

Suasana sunyi sekaligus menegangkan. Nyaris tidak ada yang bergerak.
Di dua arena yang sudah terisi, keempat pendekar itu sama-sama menunggu untuk mengetahui siapa yang akan menjadi lawan Sepasang Rajawali dari Pelabuhan Ratu. Tapi, setelah ditunggu beberapa jenak, tidak ada satu pun dari para pendekar yang datang itu bersedia melawan.

Si Rajawali Jantan tertawa terbahak-bahak. Katanya kemudian, “Tidak adakah yang bersedia mencari keringat bersama kami?”

Kata-kata Rajawali Jantan itu bergema di kejauhan. Tapi, tidak ada satu
 
pun yang menyahut kata-katanya.

Dalam hitungan sepuluh, keadaan tetap sunyi. Hanya terdengar bisik-bisik sangat pelan di antara para pendekar.

Deham Braja Wikalpa memecah kesunyian. “Maaf, Ki Dulur berdua,” katanya sambil menjura. “Barangkali tidak ada yang berani kalau Ki Dulur tampil berdua. Sepasang Rajawali tentu tidak akan menemukan lawan sepadan di sini. Sekali lagi mohon dimaafkan. Bagaimana kalau salah seorang saja dari Pendekar Rajawali yang tampil lebih dulu?”

Sepasang Rajawali itu saling pandang di antara mereka dengan kening berkerut. Braja Wikalpa memang memiliki kemampuan dalam mengolah kata-kata. Pujiannya yang tersamar berhasil membuat Sepasang Rajawali itu tersanjung. Tak lama kemudian, kerutan di kening mereka mengendur, dan akhirnya, keduanya tertawa bersama-sama.

“Oh, tentu saja kami akan mematuhinya kalau memang peraturannya begitu,” kata Si Rajawali Jantan. “Kau dulu, ya,” katanya kepada Si Rajawali Betina seraya meloncat ke tempat semula, di bawah sebatang pohon kiara sehingga wajahnya kembali diteduhi bayangan dedaunan.

Si Rajawali Betina meloloskan pedangnya, kemudian melemparkannya kepada Si Rajawali Jantan, lalu berdiri dengan gagah di tengah lingkaran, menunggu siapa gerangan lawan yang akan datang. Rambutnya yang panjang berkibar ditiup angin yang mulai beranjak malam.

Masih belum juga ada yang datang menantang. Para pendekar tampaknya ragu-ragu apakah mereka mampu menandingi Si Rajawali Betina. Kalaupun mampu, mereka tampaknya berpikir apakah Si Rajawali Jantan nantinya tidak akan datang membantu.

“Hmmm ... apakah tetap tidak ada yang berani?” tantang Si Rajawali Betina. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang manis, sekaligus mengandung seringai yang seakan-akan meremehkan para pendekar di sana.

Tiba-tiba dari sudut utara berkelebat sesosok manusia dengan kecepatan mengagumkan. Yang terlihat hanyalah pakaiannya yang kuning, sampai kemudian dia hinggap di hadapan Si Rajawali Betina.
 
Seorang pendekar perempuan.

Hampir semua yang datang memandang si penantang tanpa berkedip. Kalau hanya melihat sosoknya, siapa pun di sana tidak akan menyangka bahwa dia memiliki kemampuan kanuragan, apalagi masuk ke lingkaran untuk berhadapan dengan Si Rajawali Betina.

Pendekar perempuan itu memiliki wajah yang sangat cantik. Kulitnya putih, seolah bersinar disiram cahaya bulan. Matanya sipit, nyaris seakan- akan hanyalah dua garis tipis. Bibirnya yang merah tipis menyunggingkan senyum yang sangat menawan. Rambutnya seperti air terjun yang lembut. Usianya pastilah masih sangat muda. Mungkin baru lima belas tahun.

Perempuan belia itu menjura kepada Si Rajawali Betina. “Harap Nyonya Pendekar sudi memberikan pelajaran kepada saya,” katanya. “Nama saya Ciang Hui Ling. Saya datang mewakili guru saya, Tan Bo Huang, yang dikenal dengan julukan Naga Kuning dari Ci Liwung. Beliau berhalangan hadir karena ada sebuah urusan yang mendesak di Kalapa. Harap saya tidak mengecewakan.”

Terdengar suara bisikan di antara para pendekar yang hadir. Nama Tan Bo Huang atau Naga Kuning dari Ci Liwung tentu saja bukan nama sembarangan. Nama pendekar gagah ini sudah belasan tahun disegani di kawasan sepanjang Ci Liwung hingga ke muaranya di Laut Jawa. Leluhurnya adalah Laskar Ceng Ho yang pernah singgah dan kemudian menetap di Kalapa lebih dari seratus lima puluh tahun yang lalu. Tan Bo Huang berhasil mempertahankan ciri ilmu silat Tiongkok yang mengandalkan kecepatan tangan dan kaki, kemudian dipadukan dengan unsur-unsur gerak daerah setempat yang lebih mengandalkan tenaga dalam. Jadilah ilmu paduan antara kecepatan dan tenaga dalam yang sangat hebat.

Akan tetapi, apakah Ciang Hui Ling lihai seperti gurunya, tentu harus dibuktikan di lingkaran arena.

“Nah,” kata Braja Wikalpa. “Sekarang, semua lingkaran sudah terisi. Tuan-Tuan bisa segera memulai. Kami bertiga akan mengawasi masing- masing satu lingkaran.[]
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Jurus Tanpa Nama Jilid 09 : Tiga Lingkaran di Rajatapura"

Post a Comment

close