coba

Jurus Tanpa Nama Jilid 08 : Darah Prabu Siliwangi

Mode Malam


Darah Prabu Siliwangi

AKAN tetapi, sekali lagi Jaka Wulung mengalami keanehan.

Dia sudah berpatokan pada kedudukan matahari, bulan, dan rasi Gubuk Penceng di selatan, ditambah dengan keterangan penduduk yang dia tanya di jalan. Dia pun sudah menetapkan arah yang dia tuju. Arah utara menyerong ke barat. Tepatnya barat laut. Tapi, tanpa disadari Jaka Wulung melangkah ke arah yang berbeda. Dia mengarah ke utara menyerong ke timur.

Apa yang terjadi?

Jaka Wulung, entah mengapa, seakan-akan ditarik oleh sebuah kekuatan gaib yang membuatnya melangkah menuju arah yang salah.

Apalagi ketika hari-hari selanjutnya, langit mendung pekat menghalangi matahari pada siang hari dan bintang-bintang pada malam hari. Kadang turun hujan. Ketika di tempat lain sedang musim kemarau, di sini setiap hari turun hujan, pikirnya. Jaka Wulung mengalami kesulitan untuk mencari arah yang dia tuju.

Dia tinggal mengandalkan naluri, berdasarkan petunjuk seadanya dari orang yang bisa dia tanya.

Demikianlah, tanpa disadarinya, bukannya melewati sisi barat Gunung Salak, dia malahan melewati sisi timurnya.

*****

LANGIT masih tersaput awan-awan kelabu ketika Jaka Wulung tiba di sebuah sungai kecil yang mengalir tenang. Airnya bening, memperlihatkan dasarnya yang berkerikil. Jaka Wulung tergoda untuk menceburkan diri. Ada keanehan dari air sungai itu. Entah mengapa, meskipun sangat samar, Jaka Wulung merasa bahwa air sungai itu berbau harum. Tentu saja, ini sebuah keajaiban lagi.

Karena kehausan, Jaka Wulung meraup dengan tangannya dan meminumnya beberapa teguk. Dalam tegukan-tegukan awal, air itu terasa biasa saja. Tapi, aneh, pada tegukan-tegukan berikutnya terasa bahwa air itu pahit. Makin lama makin pahit!

Jaka Wulung terkejut bukan main.

Dia mencoba untuk memuntahkan air sungai itu. Tapi, tidak bisa. Air itu sudah sepenuhnya dia minum. Apakah air itu mengandung racun?

Jaka Wulung segera memanjat ke tepi seberang. Apa yang terjadi kemudian, Jaka Wulung seperti kehilangan seluruh tenaganya. Kepalanya berat dan pening. Dunia di sekitarnya seperti berputar, makin lama makin cepat. Suhu tubuhnya meninggi. Tanpa sadar, dia menggigil. Keringat membanjir, tapi juga kedinginan.

Apakah aku akan mati saat ini? Betapa singkat perjalanan hidupku, dan aku mati bukan di arena pertempuran, melainkan hanya karena minum air beracun, begitulah kali terakhir apa yang ada dalam pikiran Jaka Wulung sebelum dia kehilangan kesadarannya.

*****

JAKA Wulung menggeliat. Entah sudah berapa lama, dia tenggelam dalam keadaan pingsan. Ketika dia membuka mata, jarum-jarum gerimis terasa menggelitik permukaan wajahnya. Rasa pusing kepalanya sudah sirna. Begitu pula gigil tubuhnya. Tapi, dia masih merasa lemas, nyaris tanpa tenaga untuk sekadar bisa duduk bersandar di sebatang pohon.

Jaka Wulung mencoba mengatur pernapasannya. Menarik dan melepaskannya dengan irama tertentu. Mulutnya masih terasa pahit, tapi jalan napasnya menjadi sangat lega. Apa yang terjadi? Jaka Wulung mencoba mengingat-ingat lagi kenapa dia bisa terkapar di pinggir sungai.

Setelah dia bisa mengingat, dipandanginya situasi sekitar.

Jaka Wulung mengerutkan keningnya. Pepohonan tampak terjajar rapi, mengikuti garis lurus, diselingi berbagai tumbuhan semak belukar. Jajaran pepohonan itu sangat lurus dan jaraknya sangat teratur. Kalau saja tidak banyak dahan patah dan dedaunan membusuk yang berserakan dan menumpuk, Jaka Wulung akan segera menyimpulkan bahwa hutan itu

dibuat oleh manusia dan di sekitar tempat ini ada perkampungan penduduk.

Masih dengan tenaga yang belum pulih, Jaka Wulung melangkah tanpa tujuan. Dia hanya menuruti ke mana kakinya bergerak. Dia masih belum menyadari apa sebenarnya yang terjadi.

Hutan itu begitu aneh. Terlalu rapi untuk disebut sebagai hutan alam biasa. Jenis pepohonannya banyak yang sama. Begitu pula semak belukarnya. Tapi, hutan ini juga terlalu kotor untuk disebut sebagai kebun yang dibuat oleh manusia. Tapi, kalaupun ditanami secara sengaja oleh manusia, hutan ini sangat berbeda dengan kebun atau ladang biasa. Di sini, pepohonan yang ditanam tergolong keramat, seperti pohon samida. Di antara pepohonan itu ditanam pula berbagai tanaman bunga.

Apakah ini hutan buatan yang sudah lama ditinggalkan?

Jaka Wulung masih merasakan dirinya seakan-akan ditarik oleh sebuah kekuatan tidak kasatmata ketika kakinya akhirnya terantuk pada sebongkah batu besar. Mungkin sebesar kerbau. Atau, lebih. Batu itu berwarna kusam kehitaman. Tapi, ada yang aneh pada batu itu. Salah satu permukaannya datar.

Jemari Jaka Wulung meraba permukaan itu. Kasar. Terasa ada lekukan- lekukan teratur pada permukaan batu itu.

Dibersihkannya lumut yang nyaris memenuhi bagian permukaan datar itu. Berdebar-debar dadanya entah oleh kekuatan apa.
Ketika permukaan datar itu sudah bersih, Jaka Wulung terpana.

Jaka Wulung mundur dua langkah dan mulai mengeja barisan kalimat yang terukir pada permukaan batu:

Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Prabu Ratu Suwargi. Dia dinobatkan dengan gelar Prabuguru Dewataprana; dinobatkan dia dengan gelar Sri Baduga Maharaja, ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit di Pakuan. Dia anak Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang di Nusa Larang. Dialah yang

membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu, membuat samida, membuat Telaga Rena Mahawijaya. Ya, dialah. Pada Saka 1455.

Selesai membaca kata-kata pada permukaan batu itu, Jaka Wulung merasa tubuhnya gemetar hebat. Begitu hebatnya, sampai-sampai dia seperti menggigil. Lebih hebat dibandingkan dengan gigilan akibat minum air sungai yang pahit. Keringat membanjir dari segenap pori-porinya.

Sri Baduga Maharaja.

Cucu Niskala Wastu Kancana.

Tentu tidak salah lagi. Dialah yang dikenal sebagai Prabu Siliwangi, Maharaja terbesar dari Pajajaran.

Siapa yang mengukir batu ini dan menyusun tulisan pepujian bagi Prabu Siliwangi? Mungkinkah anaknya, Prabu Surawisesa?

Ketika gigilan tubuh Jaka Wulung mereda, dia merasakan sebuah kekuatan yang aneh meresap ke setiap sel di sekujur tubuhnya. Tubuhnya pulih seperti sediakala. Bahkan, lebih dari itu, dia merasakan kekuatannya seakan-akan bertambah berlipat ganda. Penglihatannya menjadi lebih tajam dan pendengarannya lebih peka.

Apa lagi yang terjadi?

Jaka Wulung tidak mau menebak-nebak. Sebaliknya, dia bersyukur karena belum tiba pada akhir hidupnya. Air sungai yang terasa pahit itu pastilah mengandung getah pohon, entah apa, yang justru memberinya kekuatan hebat meskipun awalnya dia harus mengalami kehilangan kesadaran. Dan kalimat-kalimat yang terukir di batu itu, entah dengan cara bagaimana, melengkapi apa yang sudah dia serap: sebuah tenaga sakti yang luar biasa!

*****

JAKA Wulung melanjutkan langkahnya berkeliling di hutan yang penuh dengan pohon samida. Gerimis tetap turun dalam bentuk garis-garis yang sangat kecil. Kabut mengambang di udara, menyamarkan segala yang ada.

Tatapannya terhalang oleh tirai kabut. Tapi, anehnya, langkah Jaka

Wulung dengan pasti menuju arah tertentu. Dan akhirnya, tibalah dia di sebuah tempat yang juga aneh. Ada barisan bebatuan yang disusun dengan teratur dan rapi meskipun permukaannya sebagian besar sudah nyaris tertutup oleh lumut dan semak belukar. Barisan yang satu terdiri dari bebatuan yang lebih besar dibandingkan dengan barisan yang di sebelahnya.

Panjangnya mencapai ratusan langkah. Ketika Jaka Wulung menyelusurinya, diketahui kemudian bahwa baris bebatuan itu membuat bentuk segi empat yang sangat luas.

Jaka Wulung menyimpulkan bahwa bebatuan itu menjadi semacam batas dari sebuah tempat atau bangunan tertentu.

Jaka Wulung mengira-ngira tempat seperti apakah yang sedang dia injak saat ini.

Inilah tampaknya tempat yang menariknya sedemikian kuat, sampai- sampai dia jauh menyimpang dari tujuan yang sebenarnya.

Di dalam barisan bebatuan segi empat itu, Jaka Wulung menjumpai pepohonan yang lebih muda dibandingkan hutan yang penuh pohon samida. Tapi, di sini, pepohonan itu tumbuh tidak secara teratur, seakan- akan pepohonan itu tumbuh begitu saja.

Jaka Wulung mengerutkan keningnya. Di antara pepohonan yang tumbuh secara tidak teratur itu, dia menjumpai banyak sekali potongan kayu lapuk, berbaris atau membuat bentuk-bentuk segi empat yang berbeda-beda ukurannya. Kayu-kayu lapuk itu diperkirakan sudah berumur bertahun- tahun, sudah hampir mengeras seperti batu, berwarna hitam.

Seperti arang. Bukan.
Itu memang arang!

Jaka Wulung berdebar-debar.

Tentu saja, hutan samida, batu bertulis, dan puing-puing kayu ....

Di sinilah, beberapa puluh tahun lalu, pernah bertakhta penguasa besar

yang sangat disegani di Tatar Sunda dan sekitarnya: Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi.

Inilah reruntuhan Keraton Pakuan, keraton yang terkenal dengan nama Sri Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati, yang kemudian dibumihanguskan oleh pasukan dari Banten di bawah komando Sultan Maulana Yusuf.

Ya, keraton yang pernah memancarkan cahaya gemilang ke seantero wilayah itu kini hanyalah reruntuhan tidak berharga, tertutup oleh semak belukar yang rapat. Bukan tidak mungkin, sisa Istana Pakuan ini akan segera lenyap ditelan zaman. Mungkin nanti kayu-kayunya semakin rapuh dan lapuk dimakan rayap dan belatung. Batu-batunya boleh jadi kelak akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang menemukannya, entah untuk apa.

Jaka Wulung memejamkan mata karena merasakan sesuatu berdesir di dadanya. Perasaan duka yang sangat dalam.

Mendadak dia membuka matanya ketika telinganya menangkap sebuah suara gemeresik pelan. Sangat pelan. Seperti langkah seseorang. Atau, sesuatu. Kemudian, berhenti, sunyi. Berjalan lagi beberapa langkah. Berhenti lagi. Berjalan lagi. Berhenti lagi.

Lalu, tersibaklah segerumbul semak belukar. Sebuah sosok keluar.
Seluruh permukaan tubuhnya berbulu putih dengan belang-belang hitam.

Sepasang mata berwarna kebiruan memandang tajam Jaka Wulung, seperti memancarkan ungkapan kemarahan.

Harimau putih. Maung Lodaya!
*****

HARIMAU putih itu memiliki tubuh yang beberapa kali lipat besarnya daripada manusia dewasa. Panjangnya sekitar satu depa. Ekornya panjang dan menyentuh tanah.

Ketika sang Maung Lodaya menganga, tampak dua baris gigi-geligi tajam. Gigi-gigi taringnya seperti ujung-ujung beliung dari baja putih. Bisa dibayangkan, sekali kunyah, akan remuklah kepala manusia sekeras apa pun.

Jaka Wulung hanya bisa memandang harimau itu tanpa bisa melakukan apa-apa. Badannya diam seperti patung batu. Dia tidak tahu seberapa besar tenaga dan kecepatan harimau itu. Jaka Wulung belum sepenuhnya pulih akibat beberapa peristiwa aneh yang dialaminya. Tenaganya baru mencapai kekuatan seadanya. Dia juga tidak tahu seberapa pulih kecepatan yang dimilikinya. Karena itu, dia juga tidak tahu apakah tenaga dan kecepatannya bisa mengimbangi tenaga dan kecepatan harimau itu.

Dirabanya kudi hyang di balik bajunya. Hanya itulah yang bisa diandalkannya saat ini. Dia berharap senjata pusaka itu bisa memberinya perlindungan dari ujung-ujung taring yang seperti ujung beliung.

Satu hal justru membuat Jaka Wulung ragu-ragu. Dia tidak sepenuh hati menempatkan harimau putih itu sebagai musuh. Dia menyadari bahwa bagi masyarakat Tatar Sunda, harimau adalah binatang yang menempati kedudukan tertentu. Harimau adalah hewan terhormat. Dia juga pernah mendengar tuturan bahwa harimau dianggap sebagai leluhur manusia Tatar Sunda.

Apakah dia harus melawan harimau itu?

Akan tetapi, kalau dia tidak melawan, apakah dia akan rela menjadi santapan sang Maung Lodaya?

Harimau putih itu melangkah pelan. Mulutnya bergetar dan terdengar suara geram yang mendirikan bulu roma.

Grrrhhh ...!

Kedua kaki belakangnya tampak bersiap membuat tumpuan untuk meloncat. Dalam kedudukan seperti sekarang, Jaka Wulung menduga sekali loncat saja harimau itu akan mampu menerkamnya.

Jaka Wulung mundur dua langkah, mempersiapkan diri menghadapi serangan harimau itu, dan terutama memberikan jarak yang lebih jauh. Tanpa disadarinya, dari tenggorokan Jaka Wulung mengalir gelombang

suara, melewati mulut, menggetarkan lidah dan langit-langit, dan keluar dalam bentuk geraman yang tak kalah dahsyatnya.

Grrrhhh!

Langkah harimau itu terhenti. Mata birunya masih memandang tajam Jaka Wulung. Tapi, entah mengapa, harimau itu tampak seperti ragu-ragu.

Keduanya kini saling menunggu.

Jaka Wulung tidak mau menyerang lebih dulu. Sejak tadi, dia hanya menempatkan diri dalam kedudukan bertahan. Mungkin saja dia bisa melarikan diri dan mengerahkan ilmu cepatnya. Tapi, Jaka Wulung belum bisa memperkirakan kecepatan sang harimau.

Sebaliknya, harimau itu juga diam, seakan-akan menunggu datangnya serangan.

Mulut harimau itu kembali bergetar untuk menimbulkan suara geraman. Grrrhhh!
Jaka Wulung membalas dengan geraman serupa, tapi yang anehnya keluar bukan karena ungkapan marah, melainkan sebaliknya ungkapan yang dilandasi rasa kasih sayang.

Grrrhhh ....

Harimau itu masih menatap Jaka Wulung. Tapi, kali ini tatapan itu tidak lagi tajam dan memancarkan kemarahan. Sebaliknya, tatapan itu pelan- pelan menjadi lembut.

Kedua kaki belakangnya sedikit terangkat, tidak lagi bersiap melakukan loncatan. Perlahan-lahan, harimau itu melangkah mendekati Jaka Wulung dalam gerak yang sama sekali tidak menunjukkan permusuhan.

Pada jarak yang tinggal dua langkah lagi, harimau itu tertunduk, menekuk keempat kakinya, lalu duduk bersimpuh di depan Jaka Wulung, dan dengan sebuah geraman pelan, sang harimau memandang pendekar belia itu seakan-akan meminta untuk disentuh.

Jaka Wulung memahami apa yang diinginkan harimau itu. Dia melangkah

maju, kemudian membungkuk dan mengelus kepala sang harimau. Sang harimau membalas perlakuan itu dengan cara menyentuh-nyentuhkan pipinya di tubuh Jaka Wulung. Jaka Wulung kemudian menepuk-nepuk pelan pucuk kepala harimau itu.

Sang harimau menggeram pelan sekali lagi sebelum berdiri, membalikkan tubuh, kemudian masuk ke semak belukar dan lenyap di kedalaman hutan.

Jaka Wulung lama memandang titik tempat menghilangnya sang harimau. Dilepaskannya napas lega. Bagi Jaka Wulung, ini benar-benar pengalaman yang luar biasa. Harimau inikah yang menariknya terus-menerus sehingga dia datang di tempat ini, menyimpang dari tujuan Jaka Wulung sebelumnya? Apakah harimau itu sekadar binatang hutan? Ataukah, merupakan penjelmaan dari leluhurnya?

Sebelum bisa menerka-nerka apa jawabannya, Jaka Wulung mendengar suara deham di belakangnya.

Jaka Wulung membalikkan tubuhnya.

Seorang lelaki yang mengenakan jubah putih berdiri hanya dua atau tiga langkah di depannya. Usianya separuh baya. Wajahnya tampan dan bersih, dan bahkan seakan-akan memendarkan cahaya, memandang Jaka Wulung tanpa berkedip. Siapa lelaki itu? Bagaimana bisa dia tiba-tiba muncul di sana tanpa ketahuan kedatangannya? Orang itu tentulah bukan manusia sembarangan. Secara keseluruhan, lelaki itu benar-benar memancarkan wibawa yang membuat Jaka Wulung bergetar dadanya.

Jaka Wulung kemudian menekuk lututnya seraya membungkuk dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

“Siapa pun Tuan, salam hormat dari saya,” kata Jaka Wulung.

Lelaki itu tersenyum tipis dan mengangguk. Tapi, tidak terdengar sepatah kata pun dari bibirnya. Meskipun demikian, Jaka Wulung merasa bahwa dia berhadapan dengan orang yang sangat penting, siapa pun dia.

“Apakah Tuan Petinggi Pajajaran yang mengasingkan diri?” tanya Jaka Wulung memberanikan diri.

Lelaki itu tersenyum tanpa menjawab. Sebaliknya, dia malah bertanya,

“Kau siapa, Anak Muda?”

Jaka Wulung sebenarnya agak dongkol juga, pertanyaannya malahan dijawab dengan pertanyaan. Tapi, Jaka Wulung menahan diri dan menjawab dengan sopan, “Saya seorang pengembara, Tuan. Nama saya Jaka Wulung.”

“Apa yang kau cari dalam pengembaraanmu?”

“Saya berusaha mencari jejak leluhur saya, untuk mengetahui siapa sebenarnya saya.”

Lelaki itu mengangguk-angguk. Lalu, katanya, “Aku sudah melihat kejadian yang menimpamu sejak kau datang kali pertama di sungai kecil itu, kemudian pingsan, hingga yang baru saja terjadi, ketika kau berhadapan dengan sang Maung Lodaya. Ketahuilah, air sungai yang kau minum itu tercampur dengan getah pohon Dewadaru, getah yang memiliki khasiat luar biasa, membuatmu memiliki tenaga dan daya tahan berlipat- lipat ”

Lelaki itu diam beberapa jenak.

Jaka Wulung belum menanggapi. Tapi, dadanya berdebar-debar mendengar keterangan dari lelaki berjubah putih itu. Dewadaru. Bukankah pohon ini hanya ada dalam dongeng?

“Kamu memiliki sesuatu dalam aliran darahmu, yang tidak dipunyai oleh sembarang orang,” kata lelaki itu. “Aku bisa melihatnya meskipun hanya dengan mata hatiku. Jadi, ...,” lelaki itu berhenti sambil menarik napas, “kau jagalah sesuatu dalam aliran darahmu itu. Nah, aku ingin memberikan sedikit tambahan bekal supaya kau bisa menjaganya. Duduklah bersila dan pejamkan matamu.”

Jaka Wulung menuruti kata-kata lelaki itu.

Beberapa kejap kemudian, Jaka Wulung merasakan sesuatu menghantam matanya. Panas luar biasa! Jaka Wulung memekik. Tapi, dia mencoba terus bertahan. Dan perlahan-lahan rasa panas itu mereda. Makin lama makin berkurang menjadi hangat.

“Jangan buka matamu sampai hitungan seratus,” kata lelaki itu. “Dengan

bekal ini, kau kini memiliki pandangan setajam Maung Lodaya.”

“Tuan, terima kasih atas bekal yang saya terima,” kata Jaka Wulung masih tetap memejamkan mata. “Kalau boleh tahu, siapa sebenarnya Tuan dan apa yang Tuan maksudkan dengan sesuatu dalam aliran darah saya?”

Lelaki itu mendeham. “Tentang siapa aku, tak perlu kau tahu. Sesuatu dalam aliran darahmu adalah ... kau memiliki darah Prabu Siliwangi.”

Hening.

Angin seperti mati.

Jaka Wulung membuka mata setelah hitungan seratus. Akan tetapi, lelaki itu tidak ada lagi di depannya.
Benarkah apa yang dikatakannya? Bahwa dia memiliki darah Prabu Siliwangi? Tidak mungkin. Aku hanyalah seorang pengelana yang tidak jelas orangtuanya.

Lagi pula, bagi Jaka Wulung, kalau memang benar bahwa dia memiliki darah Prabu Siliwangi, tentu itu bukan berkah, melainkan beban yang sangat berat. Dari mana dia akan memulai menelusurinya? Bahkan, ayah- ibunya, dia sama sekali tidak tahu, dan tidak ada petunjuk sedikit pun untuk mengetahuinya.

Langit masih tersaput kabut dan awan tebal. Tapi, aneh, Jaka Wulung mampu melihat bundaran matahari di balik awan pekat itu. Mula-mula hanya berbentuk samar bulatan, tapi makin lama makin nyata, baik garis lingkarannya maupun bidang cahayanya, dan akhirnya, tampak jelas serupa bulan purnama.[]

0 Response to "Jurus Tanpa Nama Jilid 08 : Darah Prabu Siliwangi"

Post a Comment