Pertarungan Di Bukit Sagara Jilid 12 : Kemelut di Bukit Sagara

Mode Malam
Kemelut di Bukit Sagara

ANGIN meniup pelan di lereng Bukit Sagara. Matahari menyapa dedaunan perdu yang bergoyang-goyang disentuh cipratan air pancuran. Suara gemercik air ditingkahi cericit burung-burung menyambut hari baru. Udara harum tercium.

Sejenak Resi Darmakusumah memejamkan matanya, merasakan segarnya berendam di dekat pancuran. Hampir tiap hari ia berendam di sana, tetapi setiap kali itu pula ia selalu merasakan keindahan alam di sana. Sungguh keindahan yang tak terkira. Resi Darmakusumah makin larut dalam pengakuan akan kebesaran Sang Pencipta.

Mendadak telinganya menangkap bunyi samar yang aneh. Seperti jauh, tetapi rasanya dekat. Seperti ketukan tak berirama entah di mana, tetapi juga seperti langkah kaki yang sangat berhati-hati.

Resi Darmakusumah berdebar-debar.

Perlahan ia bangkit dari air kali, naik ke rerumputan, mengambil bajunya, lalu melangkah cepat menuju pondok.

Tak ada siapa-siapa di pondoknya.

Suasana tetap sunyi seperti hari-hari kemarin. Bayangan pohon rasamala rebah memanjang di halaman pondok. Dedaunannya bergoyang pelan.

Akan tetapi, kesunyian itu terasa mencekam sang Resi.

Ia beranjak ke dalam pondok kecilnya, menuju ruang di sudut belakang, tempat ia menyimpan kitab-kitab pusaka. Sarang laba-laba saling melintang dan Resi Darmakusumah menarik napas panjang.

Tiba-tiba ia teringat muridnya, Jaka Wulung. Dipanjatkannya doa, semoga bocah itu selamat dalam perjalanannya dan menyerap pengetahuan apa

pun di mana pun.

Bocah itu punya bakat yang langka, batin Resi Darmakusumah. Mungkin aku terlampau cepat melepasnya. Dia masih perlu bimbingan, baik dalam kanuragan maupun dalam sastra. Kuharap dia tidak mengalami musibah.

AKAN TETAPI, ihwal musibah, tidak seorang pun bisa menduganya.

Telinga Resi Darmakusumah menegang ketika didengarnya suara samar langkah-langkah manusia di luar pondoknya. Mungkin masih agak jauh, tetapi makin lama makin jelas bahwa langkah-langkah itu makin dekat menuju kediamannya. Ia memastikan itu bukan Jaka Wulung. Ia sangat mengenal cara melangkah muridnya. Siapa dia?

Tunggu.

Tidak hanya satu, tetapi dua .... Tiga malah. Lebih ....

Siapa mereka? Ada tujuan apakah mereka menuju kemari? Selama bertahun-tahun tempat ini benar-benar tempat yang damai. Apakah mereka sudah menemukan tempat persembunyiannya? Apakah mereka masih terus mengejar kitab-kitab yang sekarang ada di tangannya?

Ada rasa penyesalan di dalam dada Resi Darmakusumah. Mungkin ia terlalu yakin bahwa persembunyiannya sudah aman, tidak bakal tercium oleh mereka yang berambisi memiliki kitab-kitab pusaka di tangannya. Boleh jadi ia terlalu khusyuk dalam semadi memuja Yang Mahatinggi. Tapi, apa pun alasannya, penyesalan sudah tidak berguna lagi.

Bukit Sagara yang indah dan damai kini terancam ternoda.

Ada keinginan untuk lari dari tempat itu sebelum mereka datang. Tapi, Resi Darmakusumah akhirnya memutuskan menghadapi mereka apa pun yang terjadi. Lagi pula, kalaupun pergi diam-diam, ia tidak yakin apakah akan bisa lolos dari mereka. Ia tidak tahu siapa saja dan seberapa besar kemampuan mereka.

Resi Darmakusumah sudah menunggu di pintu pondoknya ketika orang pertama muncul.

Orang pertama adalah laki-laki yang sulit ditebak usianya. Tubuhnya lebih

kekar daripada Resi Darmakusumah sehingga kelihatan lebih muda. Tapi, wajahnya tirus dan penuh dengan keriput sehingga kelihatan lebih tua dari Resi Darmakusumah. Lagi pula, kepalanya gundul, bukan karena digunduli, melainkan rambutnya rontok semua dan tidak mau tumbuh lagi. Di tangannya tergenggam erat cambuk berujung baja yang setajam belati.

“Selamat pagi, Resi,” ucapnya seraya tersenyum misterius.

Resi Darmakusumah mengerutkan keningnya, “Oh, rupanya Ki Wira alias Si Cambuk Maut. Aku nyaris tidak mengenalmu. Sekarang kepalamu gundul.”

Ki Wira terkekeh-kekeh, memperlihatkan mulutnya yang tidak lagi bergigi. “Setelah dua puluh tahun, Resi, akhirnya kita bertemu lagi.”

Resi Darmakusumah mengangguk-angguk. “Ya, ya. Tampaknya ada keperluan penting sehingga Ki Wira jauh-jauh dari pantai utara mengunjungi tempat sepi ini.”

“Tentu saja, Resi. Pertama-tama, aku kangen untuk berjumpa kawan lama. Kedua, aku dengar kau punya benda yang menarik. Jangan rakus, Resi, berbagilah dengan sahabat.”

Resi Darmakusumah mengernyit lagi. “Benda apakah yang menarikmu sejauh ini?”

Ki Wira terkekeh lagi. “Sudahlah, Resi. Dulu aku memang kalah ketika kali terakhir kita bertempur. Tapi, selama dua puluh tahun ini aku sudah meningkatkan ilmuku. Begitu kerasnya aku berupaya sampai-sampai rambut dan gigiku tak mau tumbuh lagi. Sekarang perlihatkanlah barang milikmu kepadaku sebelum datang orang lain ”

Belum selesai kata-kata Ki Wira, sudah muncul orang lain seakan-akan tidak diketahui dari mana datangnya.

Ia seorang perempuan yang kira-kira sebaya dengan Resi Darmakusumah dan Ki Wira. Rambutnya yang sebagian besar sudah berwarna putih dibiarkan berkibar ditiup angin. Tapi, wajahnya masih memperlihatkan sisa-sisa kecantikan masa mudanya. Ia tidak kelihatan membawa senjata apa pun, tetapi tatapan matanya tajam seperti mata elang. Di tubuhnya hanya melintang sehelai selendang merah yang ujungnya tergenggam di

tangan kanan.

“Ah, kalau punya sesuatu, jangan dihabisi berdua,” kata perempuan itu. “Aku juga tak mau ketinggalan oleh kalian.”

Resi Darmakusumah dan Ki Wira sama-sama memandang perempuan itu dengan kening berkerut.

Ki Wiralah yang mula-mula mengenali perempuan itu. Ia terkekeh-kekeh, “Ah, Siluman Cantik dari Karang Bolong pun datang.”

Resi Darmakusumah mengangguk-angguk. “Hmm ... Nyai Purwati rupanya. Sungguh kehormatan bagiku.”

Nyai Purwati tertawa. Sekilas tawanya terdengar renyah di telinga, seperti tawa riang seorang remaja. Tapi, akan terasa kemudian bahwa suara tawa itu mengandung tenaga dalam tersembunyi yang membuat siapa pun yang mendengarnya lama-lama akan bergidik ngeri.

“Ah, benar kata Ki Wira. Cepatlah kau perlihatkan benda yang kini di tanganmu itu. Aku yakin itu bukanlah benda milikmu. Oleh karena itu, lebih baik kita pelajari saja bersama-sama. Bukankah bersama-sama kita bisa menjadi kekuatan yang sangat dahsyat?”

Resi Darmakusumah memandang Nyai Purwati seraya menarik napas dalam. Ia juga memandang Ki Wira. Ki Wira memandang Resi Darmakusumah dan Nyai Purwati bergantian dengan mulut terkekeh. Nyai Purwati memandang Resi Darmakusumah dan Ki Wira sambil menyunggingkan senyumnya yang masih menyisakan aura kecantikan.

Mereka saling pandang dan belum ada yang bersuara lagi. Jadi, suasana hening beberapa jenak.

Akan tetapi, keheningan itu pecah ketika dalam waktu yang nyaris bersamaan, meloncat dua orang dari arah yang berbeda. Dari arah timur, muncul perempuan berpakaian putih-putih. Rambutnya hitam tebal, sebagian digelung dan sisanya tergerai ke punggung. Lehernya seperti kulit langsat. Usianya menjelang 40 tahun, tetapi masih kelihatan cantik. Ya, ia adalah Sekar Ayuwardhani atau yang lebih dikenal sebagai Mawar Beracun dari Bhumi Sambhara Budhara.

Dari arah utara muncul lelaki berusia 40-an juga, menyandang pedang panjang yang melengkung di punggung. Dialah Mahesa Geni dari Gunung Mahameru.

Baik Sekar Ayu maupun Mahesa Geni terkejut melihat keberadaan para orang tua itu. Tapi, mereka segera meredam keterkejutan itu dan mulai memperhatikan satu per satu siapa mereka. Sekar Ayu belum pernah bertemu dengan Ki Wira. Tapi, melihat penampilannya yang aneh dengan senjata cambuk di tangan, Sekar Ayu segera mengenali bahwa lelaki botak itu adalah Si Cambuk Maut. Sekar Ayu juga belum pernah bertemu dengan Nyai Purwati. Tapi, dari ciri-cirinya ia langsung bisa menebak bahwa nenek yang masih kelihatan cantik itu adalah Siluman Cantik dari Karang Bolong. Dan, orang berjubah di depan pondoknya tentulah sang tuan rumah, Resi Darmakusumah.

Lalu, siapa lelaki yang datang pada saat yang hampir bersamaan dengannya? Rasanya Sekar Ayu pernah berjumpa dengannya, entah di mana.

Akan halnya Mahesa Geni, seperti Sekar Ayu, ia bisa mengenali para tokoh golongan tua itu dari penampilan mereka. Mahesa Geni membungkuk kepada mereka, juga kepada Sekar Ayu.

“Mohon dimaafkan kalau saya mengganggu pertemuan para orang tua di sini.” Lalu, katanya kepada Sekar Ayu, “Senang juga bisa berkenalan dengan Mawar Beracun di sini.”

Sekar Ayu memandang Mahesa Geni dengan kening berkerut.

Ki Wira tertawa. Karena ompong, suara tawanya terdengar aneh, seperti mengandung suara siulan. “Ah,” katanya setelah tawanya reda, “Mawar Beracun dari Bumi Sambhara Budhara. Sungguh bukan nama yang kosong. Dunia persilatan benar-benar tak pernah kehilangan kelompok muda yang hebat. Juga Ki Sanak yang berpedang panjang. Ki Sanak pasti juga bukan orang sembarangan.”

“Nama saya Mahesa Geni. Sayang saya tidak punya julukan apa pun.”

Nyai Purwati tertawa. “Mungkin Pendekar Pedang Panjang nama yang cocok. Atau Pendekar Sumpit Maut?”

Mahesa Geni menoleh ke arah Nyai Purwati dengan kening berkerut. Mungkinkah nenek ini melihat ketika ia menggunakan sumpitnya di tepi Sungai Ci Pamali? Bagaimana mungkin aku tidak tahu keberadaannya?

Tiba-tiba terdengar tawa membahana, menggetarkan udara di sekitarnya, dan menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya. Tawa yang mengandung ilmu gelap sayuta.

Raksasa Kembar dari Segara Anakan sama-sama meloncat dari balik pohon. Orang-orang di sana terkejut. Tidak mungkin tawa hanya dua raksasa itu mampu menggetarkan dada mereka. Ternyata benar, di belakang mereka muncul seseorang yang juga bertubuh raksasa. Bedanya, ia kelihatan lebih tua karena kepalanya sudah botak nyaris seluruhnya, tinggal menyisakan helai-helai rambut putih di belakang dan di dekat telinganya. Dialah yang melalui tawanya menebarkan ilmu gelap sayuta, yang kekuatannya berlipat-lipat dibanding gelap sayuta-nya si raksasa kembar.

Nyai Purwati memandang si raksasa tua. “Hmm ... rupanya bayi kembar itu belum punya nyali sehingga masih harus nggandul gurunya ”

Cingkarabala dan Balaupata sudah hendak mengacungkan gadanya ke arah Nyai Purwati, tetapi sang guru menahan keduanya.

“Ah, Anak-Anak Manis,” kata Nyai Purwati kepada raksasa kembar itu, “lebih baik kalian di rumah saja.”

“Nyai, sudahlah,” kata si raksasa tua menggelegar. Bagaimanapun, tersinggung juga ia. Murid-murid yang ia banggakan, yang telah menebarkan ketakutan di wilayah Segara Anakan dan sekitarnya, hanya dianggap sebelah mata oleh perempuan itu.

Sementara itu, mendengar kata-kata Nyai Purwati, Sekar Ayuwardhani menunduk menahan tawa.

Baik Cingkarabala maupun Balaupata melihat gerakan Sekar Ayu dan keduanya sama-sama melotot ke arah si Mawar Beracun.

Akan tetapi, keinginan raksasa kembar itu untuk membalas dendam terhadap Sekar Ayu harus mereka pendam dulu ketika terdengar kata-kata Brahala, guru mereka, yang menggelegar. “Kenapa kalian justru saling

bertegur sapa seperti terhadap sahabat lama?”

Nyai Purwati tertawa genit. “Jadi, apa maumu, Brahala?”

Brahala memandang Nyai Purwati, kemudian berturut-turut menatap Ki Wira, Mahesa Geni, Sekar Ayuwardhani, dan akhirnya Resi Darmakusumah. Lalu, katanya, “Bukankah kita datang ke sini untuk merebut pusaka di tangan Resi Darmakusumah?”

“Dan, kau ingin pusaka itu?” tanya Ki Wira.

“Hahaha, tentu saja! Dan kau, kalian semua, buat apa jauh-jauh datang ke sini?”

“Maksudku, bagaimana kau akan mendapatkannya?” tanya Ki Wira lagi.

Ditanya seperti ini, Brahala terdiam. Ia menyadari bahwa orang-orang yang datang memiliki kemampuan yang sulit ditakar. Mungkin ia bisa menandingi Ki Wira, Nyai Purwati, atau bahkan Resi Darmakusumah secara sendiri-sendiri. Tapi, bagaimana kalau ia menghadapi mereka secara bersama-sama?

Akan tetapi, bukan hanya Brahala yang kebingungan. Ki Wira, Nyai Purwati, Mahesa Geni, dan Sekar Ayuwardhani, apalagi raksasa kembar dungu macam Cingkarabala-Balaupata, juga sama-sama bingung bagaimana mereka bisa merebut benda yang mereka incar, yang kini berada di tangan Resi Darmakusumah.

“Ki Sanak yang bersembunyi di sana,” Ki Wira menunjuk sebatang pohon di arah timur, “mungkin Ki Sanak punya usul bagaimana kita mendapatkan kitab pusaka itu?”

Kata-kata Ki Wira alias Si Cambuk Maut kedengarannya hanya pertanyaan biasa-biasa saja. Tapi, di balik itu, tentu saja Ki Wira sedang menunjukkan pengamatannya yang sangat tajam, yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Bahkan, Nyai Purwati dan Brahala pun terkejut karena mereka tidak menyadari ada orang lain lagi di sekitar mereka.

Seorang lelaki meloncat dari balik sebuah pohon, lalu mendekat kepada kelompok yang sedang mengepung pondok Resi Darmakusumah. Ia lelaki

berusia awal 40-an dengan wajah yang keras dan sorot mata tajam. Dialah Ki Jayeng Segara, tokoh penting di masa kejayaan Jipang Panolan. Di perutnya terselip keris dengan gagang dan warangka hitam.

Ki Wira mengerutkan keningnya memandang Ki Jayeng Segara, seakan- akan sedang menggali ingatannya mengenai siapa lelaki di depannya. Tapi, ia menggeleng pelan. Begitu juga Nyai Purwati dan Brahala. Pengetahuan seseorang tampaknya menjadi terbatas terhadap orang yang berbeda cukup jauh usianya.

“Selamat datang, Ki Sanak. Lebih baik Ki Sanak segera memperkenalkan diri,” kata Ki Wira.

Sekar Ayuwardhani menyela melalui tawanya yang renyah. “Kelompok orang tua memang sering menganggap enteng orang-orang muda,” katanya. “Kalau tidak salah lihat,” mata Sekar Ayu memandang keris yang menyelip di perut Ki Jayeng Segara, “Ki Sanak ini tentulah tokoh penting dari Kadipaten Jipang. Barangkali dia orang kedua atau ketiga Arya Penangsang sendiri.”

Baik Ki Wira, Nyai Purwati, maupun Brahala sama-sama terkejut. Arya Penangsang adalah sosok yang tentu saja menggetarkan hati mereka. Dan, mereka yakin tokoh kedua atau ketiga Kadipaten Jipang bukanlah tokoh sembarangan.

Ki Jayeng Segara membungkuk. “Saya sebenarnya datang bukan untuk kitab pusaka seperti Ki Sanak semua. Tapi, akhirnya saya tertarik untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di sini.”

Ki Wira tertawa. “Terserah apa tujuanmu, Ki Sanak. Tapi, karena sudah berada di sini, bukankah Ki Sanak akan ikut juga berebut benda pusaka?”

Akan tetapi, sebelum Ki Jayeng Segara menjawab, terdengar suara tawa yang panjang. Suara tawa dari dua orang. Lelaki dan perempuan. Dan, ketika suara tawa mereka belum hilang, kedua orang itu sudah melayang dan hinggap tepat di ruang kosong di sebelah Nyai Purwati.

Tatapan semua orang kini mengarah kepada sepasang lelaki dan perempuan itu. Si lelaki memiliki kumis tebal dan sorot mata tajam, sedangkan si perempuan berwajah cantik dan berpakaian ketat. Sekilas keduanya sama-sama berusia sekitar 45 tahun. Di punggung mereka

menyilang pedang panjang.

“Ah, rupanya kalian,” ucap Nyai Purwati sambil menggeleng-geleng. “Sepasang Rajawali dari Pelabuhan Ratu. Sungguh kalian tidak berubah sejak puluhan tahun lalu. Tetap awet muda. Tetap gagah dan cantik.” Ada nada iri pada kata-kata Nyai Purwati.

Ki Wira dan Brahala mengangguk-angguk.

Akan tetapi, Sekar Ayuwardhani, Mahesa Geni, Ki Jayeng Segara, dan Raksasa Kembar dari Segara Anakan terkejut mendengar siapa mereka itu. Nama mereka sudah tersohor di dunia persilatan. Terutama nama mereka sebagai pasangan. Sebab, orang tak pernah menyebut mereka secara sendiri-sendiri. Nama masing-masing hilang oleh nama mereka sebagai pasangan yang tak terpisahkan. Entah dengan ramuan apa, sepasang rajawali itu tetap tampak berusia muda, padahal usia mereka sudah enam puluhan tahun, sama dengan Ki Wira dan lain-lain.

“Nah,” kata si rajawali jantan. “Kami ternyata belum terlambat tiba di tempat ini. Rupanya kalian lebih senang saling memperkenalkan diri seakan-akan kalian sedang kangen-kangenan. Bukankah tujuan kalian adalah merebut kitab pusaka? Mengapa tidak ada satu pun yang mulai bergerak?”

Brahala mengerutkan keningnya sebelum berkata dengan suaranya yang mengguntur, “Kau punya usul bagaimana kita melakukannya?”

Si rajawali jantan tertawa panjang. “Otak kalian tampaknya makin tua makin mengerut. Tentu saja sekarang kita kepung pondok ini dan keroyok Resi Darmakusumah. Setelah kita dapat pusaka itu, kita tentukan nanti melalui pertarungan yang adil di antara kita. Bagaimana?”

“Setuju!” teriak si rajawali betina. Tentu saja.

Kelompok tua di antara mereka, Ki Wira, Nyai Purwati, dan Brahala, terpaksa mengangguk-angguk meskipun hati mereka mangkel disebut otak mereka mengerut. Adapun kelompok yang lebih muda, Sekar Ayuwardhani, Mahesa Geni, Ki Jayeng Segara, dan Cingkarabala- Balaupata, sama-sama terdiam menunggu.

Sementara itu, Resi Darmakusumah berdebar-debar melihat perkembangan

yang terjadi. Dari semula ia lebih suka berdiam diri seraya mencari cara bagaimana meloloskan diri dari mereka. Terhadap siapa pun Resi Darmakusumah tidaklah jeri kalau berhadapan satu per satu. Atau paling banyak dua atau tiga. Tapi, menghadapi keroyokan mereka, persoalannya akan sangat berbeda.

Resi Darmakusumah hanya bisa mengukur seberapa jauh niat mereka untuk memiliki kitab di tangannya. Ki Wira, Nyai Purwati, dan Brahala serta dua muridnya jelas adalah orang-orang dari golongan hitam yang sangat rakus terhadap apa pun di dunia ini. Ki Wira dan Nyai Purwati mungkin saja kelihatan akrab ketika pertama kali berjumpa tadi. Tapi, bagi mereka, nyawa hanyalah salah satu unsur kecil kehidupan. Mereka mampu membunuh dengan darah dingin sambil memperlihatkan sikap bercanda.

Sepasang Rajawali itu, setahu Resi Darmakusumah, sulit diketahui apakah termasuk golongan hitam atau putih. Mungkin orang seperti merekalah yang masuk golongan abu-abu. Adapun terhadap Sekar Ayu, Mahesa Geni, dan Ki Jayeng Segara, pengetahuan Resi Darmakusumah sangat terbatas. Jadi, ia hanya menunggu apa yang akan terjadi.

“Nah, Resi,” ujar si rajawali jantan, menghadap langsung Resi Darmakusumah. “Tampaknya tak ada pilihan lain. Kauserahkan kitab- kitab pusaka di tanganmu, atau kami akan memaksamu menyerahkannya.”

Resi Darmakusumah berdeham. “Setahuku,” katanya, “kalian, Sepasang Rajawali dari Pelabuhan Ratu, bukanlah jenis orang yang senang memburu kitab seperti ini.”

Sepasang Rajawali itu tertawa bersama-sama. Tampaknya mereka sudah terbiasa untuk tertawa bersama-sama. Maklum, mereka sudah selama sekitar 40 tahun hidup bersama. Sejak sama-sama remaja.

“Resi,” kata si rajawali jantan, “meskipun silsilahnya sudah berjauhan, aku yakin bahwa kita masih sama-sama keturunan raja-raja besar Negeri Sunda. Tapi, aku tidak peduli soal itu. Yang kupedulikan, aku juga masih berhak atas kitab-kitab pusaka peninggalan para leluhur. Nah, sekarang kesempatan bagiku terbuka lebar. Mengapa tidak kuambil?”

“Benar, Kakang,” timpal si rajawali betina. “Sudah saatnya kita membangun nama lebih besar sebelum kita moksa dari dunia.”

Resi Darmakusumah menarik napas dalam-dalam. Ia mundur selangkah ketika Sepasang Rajawali itu melangkah maju setapak. Pada saat yang sama, Ki Wira, Nyai Purwati, dan Brahala juga melangkah maju. Kini lima tokoh dengan ilmu yang sulit diukur kedalamannya mengepung Resi Darmakusumah setengah lingkaran.

Berturut-turut dari sebelah kanannya adalah Nyai Purwati, si rajawali jantan, si rajawali betina, Ki Wira, dan Brahala.

Nyai Purwati, alias Siluman Cantik dari Karang Bolong, sudah menggenggam erat ujung selendang merahnya. Pada masa mudanya, ia pernah bertempur dan merasakan betapa hebatnya ilmu Resi Darmakusumah. Kalau saja sendirian, ia tentu merasa jeri. Tapi, kini ia bersama empat tokoh lain yang setara ilmunya sehingga hatinya menjadi yakin.

Sepasang Rajawali dari Pelabuhan Ratu sudah sama-sama meloloskan pedang panjang di punggung mereka. Sepasang pedang yang sudah memantapkan nama mereka terutama di pesisir selatan Jawa Dwipa bagian barat. Mereka belum pernah bentrok langsung dengan Resi Darmakusumah, tetapi mereka pernah bertempur dengan Nyai Purwati dan ilmu mereka tidak kalah dibanding siluman cantik itu.

Ki Wira alias Si Cambuk Maut sudah pula menguraikan cambuknya. Bahkan, berkali-kali sudah dimainkannya cambuk itu. TAR! TAR! Bunyinya mengandung gelombang yang menyakitkan telinga siapa pun yang mendengarnya. Memekakkan sekaligus menebarkan aroma maut melalui bau racun di ujungnya.

Sementara itu, Brahala memutar-mutarkan gada raksasanya, yang panjangnya hampir separuh tubuhnya. Ia menamai gadanya Rujak Polo. Padahal, Rujak Polo adalah gada milik Bima. Tapi biarlah, seperti umumnya raksasa, Brahala juga memiliki isi otak yang tidak terlalu besar. Karena memang bertubuh besar, masih beruntung ia memiliki tenaga raksasa, dan itulah yang menjadi andalannya.

Benar-benar tak ada ruang bagi Resi Darmakusumah untuk meloloskan diri.

Sementara itu, kelompok yang lebih muda, Sekar Ayu, Mahesa Geni, Ki Jayeng Segara, dan Raksasa Kembar dari Segara Anakan, masih sama-

sama menunggu perkembangan. Meskipun tidak tahu apa yang akan terjadi, kelompok ini berharap para tokoh tua itu saling bertempur di antara mereka.

Rupanya Brahala sudah tidak sabar lagi. Ia meloncat dan langsung menghantamkan Rujak Polo-nya mengarah ke kepala Resi Darmakusumah. Sang Resi menghindar dan gada raksasa itu menghantam sebongkah batu yang kemudian hancur berkeping-keping menjadi kerikil yang beterbangan ke segala arah!

Dalam waktu yang bersamaan, ujung pedang Sepasang Rajawali meluncur mengarah Resi Darmakusumah yang belum memiliki kuda-kuda setelah menghindari serangan Brahala. Resi Darmakusumah melenting setinggi orang dewasa dan sambil berjumpalitan mencoba membalas melalui ujung kujangnya. Kujang itu sudah belasan tahun tidak pernah ia pakai dan sekarang pada jurus pertama Resi Darmakusumah terpaksa menggunakannya.

Akan tetapi, Resi Darmakusumah terpaksa menarik serangannya karena ia melihat kelebatan selendang merah Nyai Purwati. Selendang itu kelihatannya memang hanyalah selembar kain lembut karena terbuat dari sutra. Lagi pula, dalam keadaan biasa, Nyai Purwati memakainya juga sebagai pemanis busananya. Tapi, di tangan perempuan bermata elang ini, ujung selendang itu, yang memang diberi puluhan batang jarum, bisa menyayat-nyayat kulit seperti halnya sisi tajam pedang. Resi Darmakusumah tentu tak mau tangannya tersayat sia-sia.

Dan, hanya sekejap kemudian, cambuk maut di tangan Ki Wira sudah pula meledak-ledak menyobek udara dan berupaya mengejar ke mana pun gerak Resi Darmakusumah.

Sekejap kemudian, berlangsung pertarungan tingkat tinggi yang secara kasat mata sulit diikuti gerakannya. Yang terlihat adalah bayangan- bayangan yang berkelebat menimbulkan semacam angin puting beliung yang menerbangkan kerikil-kerikil dan merontokkan dedaunan di sekitar pertempuran, diselingi bunyi dentang senjata logam beradu dan ledakan suara cambuk dan kibasan selendang.

Meskipun dikeroyok lima tokoh termasyhur yang tingkatannya tidak jauh dari dirinya sendiri, Resi Darmakusumah justru beruntung karena kekuatan lima orang itu tidak menggambarkan penjumlahan kekuatan masing-

masing. Karena masing-masing ingin menonjolkan diri sendiri, serangan yang dihasilkan para tokoh itu acap kali tidak selaras dan, kadang kala, saling mengancam di antara mereka sendiri.

Dengan demikian, melalui ilmu andalan gulung maung yang sudah terasah selama beberapa tahun melalui sumbernya langsung di lembar-lembar Kitab Siliwangi, sampai puluhan jurus Resi Darmakusumah mampu melayani perlawanan kelima lawannya.

Akan tetapi, seburuk-buruknya keselarasan serangan yang diperagakan Sepasang Rajawali dari Pelabuhan Ratu, Siluman Cantik dari Karang Bolong, Si Cambuk Maut, dan Brahala, mereka adalah tokoh-tokoh yang selama ini menggentarkan siapa pun, terutama di tanah Jawa Dwipa. Serangan demi serangan melanda tidak pernah berhenti sejeda pun.

Dua ujung pedang sepasang rajawali melesat-lesat seakan-akan berubah menjadi belasan ujung pedang. Selendang Nyai Purwati berkelebatan tak ubahnya seperti ular bersayap, siap mematuk lawan dengan jarum-jarum di ujungnya. Cambuk Ki Wira tidak henti-hentinya meledak-ledak menimbulkan suara yang bikin pekak dan siap menerkam sasaran. Gada Rujak Polo pun terus berputar-putar dan, jika tidak mengenai sasaran, menghantam bebatuan dan pepohonan, menimbulkan badai yang menggila.

Tampaknya kepastian nasib Resi Darmakusumah tinggal menunggu waktu.

Pucuk-pucuk daun rasamala bergoyang-goyang ditiup angin, seakan-akan menggelengkan kepala tidak rela bahwa bebukitan yang selama ini, dalam kurun ratusan tahun, damai tiba-tiba akan ternoda. Darah sebentar lagi tumpah, memerahi tanah.

0 Response to "Pertarungan Di Bukit Sagara Jilid 12 : Kemelut di Bukit Sagara"

Post a Comment