Pertarungan Di Bukit Sagara Jilid 02 : Bocah Kumal Misterius

Mode Malam
Bocah Kumal Misterius

BOCAH itu berusia kira-kira sebaya dengan Lingga Prawata, Watu Ageng, dan Dyah Wulankencana. Kulitnya cokelat cenderung ungu, sekilas seperti warna bambu wulung. Rambutnya tergerai hingga sepundak dan hanya diikat dengan bandana hitam yang sudah pudar warnanya. Celananya pangsi dan bajunya tanpa lengan, dengan warna kelabu yang sudah pudar dan koyak di beberapa tempat.

“Siapa kamu?” tanya Lingga Prawata dengan wajah geram.

Bocah itu tidak menjawab. Ia masih terduduk menyeringai sambil mengusap-usap pantatnya.

Ia merasa bersyukur hanya pantatnya yang sakit, itu pun karena jatuh ke tanah. Tadi ia tidak menyadari adanya sebutir batu yang menyambitnya dan nyaris mengenai keningnya. Kalau saja ia tidak membungkuk secara tiba-tiba, pasti dahinya sudah berlubang dan hidupnya berakhir begitu saja.

Batu itu mengenai batang pohon, melesak hingga menembus kulitnya entah seberapa dalam. Bisa dibayangkan betapa kuat tenaga yang melontarkan sebutir batu itu.

Si bocah sendiri heran bagaimana ia bisa membungkuk pada saat yang tepat. Tapi, karena terkejut, posisi duduknya di dahan pohon menjadi goyah dan ia tidak bisa menjaga keseimbangan dan melayang jatuh.

Ia berusaha tersenyum menyadari kebodohannya.

Anehnya, meskipun kumal, bocah itu memiliki mata yang cemerlang dan gigi yang rapi berbaris seperti mutiara. Bahkan, kalau diperhatikan secara lebih saksama, ia juga memiliki alis yang tebal, bentuk bibir yang menarik, dan rahang yang tegas. Pendeknya, ia bocah tampan, setidaknya untuk ukuran golongan pengemis.

Lingga Prawata melangkah dengan wajah marah.

Akan tetapi, Ki Jayeng Segara menahan langkah Lingga Prawata.

“Bocah, siapa kamu? Ada tujuan apa mengintip kami?” tanya Ki Jayeng Segara.

Si bocah memandang Ki Jayeng Segara, kemudian Lingga Prawata, dan berturut-turut Watu Ageng dan Wulankencana, dengan wajah yang masih menyeringai meskipun ia sudah berupaya mati-matian tersenyum.

“Duh, maafkan saya, Tuan. Sungguh saya tidak tahu mengapa bisa sampai di sini. Saya hanya berjalan mengikuti langkah kaki ke mana saja. Kemudian, saya mendengar sesuatu di sini dan ternyata saya lihat ada Tuan-Tuan Muda sedang berlatih ilmu silat yang hebat. Saya senang melihat orang berlatih silat. Jadi, saya menonton di atas pohon. Sekali lagi maafkan saya kalau kedatangan saya mengganggu teman-teman semua.”

Kata-kata si bocah kumal mengejutkan Ki Jayeng Segara dan ketiga bocah keturunan laskar Jipang itu. Pertama, susunan katanya runtut dan ia mengucapkannya dengan wajah yang tampak ceria. Kedua, ia menyebut keempat orang itu “teman”. Dan ketiga, ia terkesan dengan enaknya “menonton di atas pohon”.

Ki Jayeng Segara mengerutkan dahinya.

Wajah Lingga Prawata berubah merah. Ia merasa dalam kata-kata itu tersimpan semacam ejekan. Bagaimana mungkin seorang bocah kumal tak dikenal menyebut dirinya sebagai teman?

Akan tetapi, sebelum ia bergerak, lagi-lagi Ki Jayeng Segara menahannya.

Ki Jayeng Segara lalu menarik napas dalam-dalam. “Nama kamu siapa, Bocah?”

“Oh, ya, orang-orang memanggil saya Wulung. Kadang-kadang Jaka Wulung. Mungkin karena kulit saya begini, ya. Seperti sudah saya bilang, saya tidak tahu mengapa saya bisa sampai di sini. Dan kalau Tuan percaya, saya juga tidak tahu dari mana saya berasal ”

“Dan, tujuan kamu mengintip kami?” Ki Jayeng Segara memotong.

“Oh, maafkan saya. Saya tidak mengintip, tapi saya terang-terangan menonton. Makanya saya kaget bukan main ketika Tuan melempar saya dengan kerikil.”

“Kurang ajar!” seru Lingga Prawata.

Ki Jayeng Segara lagi-lagi mengangkat tangannya.

“Sejak kapan kamu menonton?” tanya Ki Jayeng Segara. Meskipun hatinya mengkal, ia penasaran, bagaimana mungkin ia tidak mengetahui ada penyusup di luar pagar pondoknya yang terpencil. Lagi pula, dengan enteng Jaka Wulung, si bocah itu, lagi-lagi mengaku sengaja menonton.

Yang juga mengherankan Ki Jayeng Segara, tidak ada tanda-tanda bahwa batu yang dilontarkannya mengenai si bocah. Tak ada luka di tubuhnya, tak ada darah yang menetes. Si bocah hanya menyeringai kesakitan sambil melirik pantatnya.

Dilihat dari sosoknya, Jaka Wulung hanyalah bocah gelandangan seperti yang kerap dijumpainya di mana-mana. Di balik bajunya yang koyak moyak juga tampak otot-otot lengan dan dada yang kurus. Lagi pula, tempat mereka berlatih bukanlah tempat yang mudah didatangi karena terlindung oleh hutan belukar yang lebat, bukit menjulang di belakang, dan ngarai terjal di bibir Ci Gunung.

“Mmm ... saya menonton kira-kira sepuluh jurus,” sahut Jaka Wulung.

Lagi-lagi, Ki Jayeng Segara dan ketiga bocah asuhannya terkejut bukan main. Sepuluh jurus bukanlah waktu yang pendek untuk menonton di atas pohon.

Meskipun demikian, Ki Jayeng Segara mencoba menahan diri. “Dan, apa tujuan kamu menonton?”
Jaka Wulung memandang Ki Jayeng Segara dengan ragu. “Hmm ... kalau boleh ... saya ingin ikut belajar silat

Ki Jayeng Segara dan ketiga muridnya sama-sama membelalakkan mata.

“Maaf, Bocah,” kata Ki Jayeng Segara. “Ini bukan perguruan silat yang menerima murid secara terbuka. Saya hanya mengajari ketiga keponakan

saya ini.”

“Oh. Padahal, saya ingin sekali ikut belajar

“Kamu dengar apa kata guru kami!” Wajah Lingga Prawata mulai memerah. “Guru kami tidak sembarangan menurunkan ilmunya kepada orang seperti kamu!”

Ki Jayeng Segara masih berupaya menahan geram Lingga Prawata. “Bocah,” katanya. “Ilmu ini hanya diberikan untuk orang-orang tertentu,” Ki Jayeng Segara berhenti sebentar sambil mengatur napasnya, “yaitu mereka yang masih memiliki terah laskar Jipang.”

“Oh.” Jaka Wulung memandang Ki Jayeng Segara dengan wajah kecewa.

“Oleh karena itu, segeralah pergi dari sini!” Mata Lingga Prawata membelalak.

“Tapi, saya ingin sekali belajar ”

“Pergi kubilang!”

“Oh.” Jaka Wulung masih memandang keempat orang di depannya dengan pandangan tak mengerti.

“Pergi! Kalau tidak ....” Lingga Prawata mengepalkan jemarinya dan mengangkatnya di depan wajahnya. Itu berarti ia mengancam akan mengusir si bocah kumal dengan kekerasan.

Dengan wajah tertunduk, Jaka Wulung berbalik hendak meninggalkan tempat itu. Langkahnya gontai.

“Tunggu!”

Langkah Jaka Wulung terhenti.

“Berapa kali kamu mengintip latihan kami?”

Jaka Wulung menoleh memandang Ki Jayeng Segara. Ia tampak ragu-ragu beberapa jenak sebelum menjawab, “Tiga kali.”

Kalau saja Ci Gunung tiba-tiba dilanda banjir bandang, tentulah Ki Jayeng

Segara tidak akan sekaget mendengar kata-kata Jaka Wulung. Lingga Prawata, Watu Ageng, dan Dyah Wulankencana bahkan sampai sama- sama ternganga. Tubuh mereka bergetar oleh campuran berbagai perasaan, tetapi yang terutama adalah terkejut sekaligus marah.

Ki Jayeng Segara berdebar-debar. Bagaimana mungkin ia tidak tahu bahwa selama tiga kali seorang bocah bisa lolos dari pengamatannya? Jika jawaban Jaka Wulung benar, Ki Jayeng Segara bisa menyimpulkan bahwa Jaka Wulung bukanlah bocah kampung pada umumnya.

“Dan, berapa lama setiap kali kamu mengintip?” tanya Ki Jayeng Segara pula.

“Hmm ... dari awal sampai selesai.”

Lagi-lagi Ki Jayeng Segara membelalakkan mata. Ditatapnya si bocah dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ada sebersit rasa kagum, tetapi sekaligus ia merasakan kekhawatiran.

Dan, kemudian hening berkuasa dalam hitungan lima. Matahari makin tinggi. Burung-burung melintas, meninggalkan titik-titik bayangan buram di tanah dalam sekilas.

Jaka Wulung kembali membalikkan badan dan berniat meninggalkan tempat itu.

“Kamu pasti seorang telik sandi! Telik Sandi dari Pajang!” Lingga Prawata bergegas mendekati Jaka Wulung dengan wajah yang makin memerah.

Lingga Prawata mengulurkan tangannya yang terlatih untuk meraih pundak kanan Jaka Wulung. Ia yakin, dengan sekali sentak akan bisa menghentikan bocah aneh itu untuk mengorek keterangan.

Akan tetapi, satu keanehan terjadi hanya dalam sekejap.

Tangan Lingga Prawata memang berhasil meraih pundak Jaka Wulung. Tapi, anehnya, Lingga Prawata seakan-akan tidak memegang sesuatu pun. Ia seperti menangkap angin. Karena ia hendak merenggut pundak Jaka Wulung dengan sepenuh tenaga, Lingga Prawata justru kehilangan keseimbangan dan kemudian terjerembap dengan pundak kanannya berdebum di tanah lebih dahulu.

Lingga Prawata masih beruntung karena tanah di sana berumput tebal sehingga terhindar dari rasa sakit dan cedera.

Akan tetapi, rasa malu yang bukan alang kepalang lebih menyakitkan daripada cedera seperti apa pun. Apalagi ia terjatuh oleh sebab yang di luar akalnya. Jatuh di kaki seorang bocah kumal, di hadapan dua saudara seperguruan dan gurunya!

Akan halnya Jaka Wulung, bocah kumal itu memandang Lingga Prawata dengan mulut ternganga. Wajahnya benar-benar menunjukkan bahwa ia pun tidak mengerti mengenai apa yang terjadi, mengapa dan bagaimana bisa bocah gagah itu terjatuh di dekat kakinya. Oleh karena itu, Jaka Wulung dengan cepat mengulurkan tangannya hendak menolong Lingga Prawata berdiri lagi.

Akan tetapi, dengan cepat Lingga Prawata meloncat berdiri. Matanya merah nanar memandang Jaka Wulung.

“Bocah setan!” pekik Lingga Prawata.

Lingga Prawata tampaknya sudah dikuasai kemarahan hebat. Tanpa berpikir matang, Lingga Prawata menyerang Jaka Wulung dengan jurus yang selama ini ia pelajari: jurus maut yang membuat nama Arya Penangsang sangat disegani siapa pun di Pajang dan sekitarnya. Gagak rimang.

Meskipun baru dalam tataran gerak kasar, gagak rimang tetaplah ilmu yang kehebatannya tak terperi. Bisa dibayangkan kalau bocah mana pun akan terjungkal dalam sekali pukul, lebih-lebih jemari Lingga Prawata langsung mengarah salah satu titik mematikan pada manusia: leher.

Sekali pukulan Lingga Prawata mengenai leher Jaka Wulung, tentu akibatnya akan mengerikan. Jalan napas akan terputus. Setidaknya, korban serangan akan menderita sesak napas berat dan itu akan berlangsung berhari-hari.

Jaka Wulung sendiri masih berdiri dengan wajah terheran-heran. Sama sekali tidak bersiap menghadapi sebuah serangan mematikan.

Ki Jayeng Segara terlambat mencegah gerakan Lingga Prawata.

Plak!

Apa yang terlihat adalah Jaka Wulung hanya menyilangkan tangan kirinya di depan wajahnya yang tertunduk dan terjadilah benturan antara jemari Lingga Prawata dan siku Jaka Wulung.

Jaka Wulung terjengkang dua langkah dan tubuhnya terjerembap ke belakang.

Di pihak lain, Lingga Prawata terpental selangkah mundur, tetapi masih mampu berdiri dengan kedua kakinya. Wajahnya menyeringai sesaat, seakan memperlihatkan kepuasan telah berhasil mengalahkan lawannya.

Akan tetapi, kepuasan Lingga Prawata hanya berlangsung beberapa kejap. Tak lama kemudian, wajahnya menyeringai kesakitan. Jemari tangan kanannya seperti kaku dan rasa panas menyebar hingga pangkal lengan. Kedua kakinya goyah, kemudian ia jatuh dengan bertumpu pada lututnya.

“Lingga!”

Ki Jayeng Segara dan Watu Ageng sama-sama memburu Lingga Prawata.

Dyah Wulankencana ragu-ragu sejenak, tetapi kemudian melangkah dan pelan-pelan membungkuk di hadapan Jaka Wulung.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Dyah Wulankencana dengan nada penuh khawatir.

Jaka Wulung terlonjak kaget. Ini lebih mengagetkan dibanding dengan serangan mendadak Lingga Prawata tadi.

Dipandangnya gadis itu dengan mata menyipit. Ajaib! Seorang gadis cantik, sangat cantik, menyapanya dengan lembut. Digosok-gosoknya matanya. Benar-benar ajaib! Gadis itu nyata di hadapannya.

“Nay nanya saya?” Keheranan Jaka Wulung makin menjadi-jadi. Di tengah wajah-wajah merah karena marah dan mata-mata nyalang karena berang, ternyata masih ada wajah bersih dengan mata penuh kasih.

“Tanganmu terluka ”

Tangan halus itu tanpa sungkan memegang siku Jaka Wulung. Entah,

apakah Jaka Wulung tidak benar-benar terluka dalam benturan itu, ataukah karena elusan tangan halus Dyah Wulankencana, Jaka Wulung tidak merasakan apa pun pada sikunya. Memang ada memar berwarna biru- ungu, tetapi Jaka Wulung tidak merasa sakit.

Elusan jemarinya pun ajaib! pikir Jaka Wulung.

“Terima kasih, saya baik-baik saja,” Jaka Wulung mencoba tersenyum semanis yang ia bisa meskipun ia sadar bahwa mungkin bentuk bibirnya mirip senyum kuda.

Akan tetapi, senyum Jaka Wulung dengan lekas lenyap dari wajahnya ketika didengarnya sebuah bentakan yang suaranya lebih mirip dahan patah.

“Wulan! Mundur!”

Lingga Prawata berdiri dengan dua tangan bertolak pinggang dan wajah yang gelap mengerikan. Wajah tampan Lingga Prawata tiba-tiba berubah menjadi seperti ririwa. Matanya merah menyala dan kulit wajahnya menjadi merah padam kecokelatan. Bahkan, rambutnya tampak kejang dan ada asap tipis dari ubun-ubunnya. Setidaknya, begitulah gambaran orang yang sedang marah bukan main.

Kemarahan Lingga Prawata berlipat-lipat melihat Dyah Wulankencana alih-alih memburu dirinya, malahan memburu Jaka Wulung. Dadanya bergolak oleh rasa marah, geram, dan ... cemburu!

Dyah Wulankencana segara mundur.

Ia tidak suka dibentak begitu rupa, tetapi ia menahan diri. Jaka Wulung mendongak memandang Lingga Prawata.
Watu Ageng dan Ki Jayeng Segara berada di belakang Lingga Prawata.

Jaka Wulung perlahan-lahan bangkit berdiri. Aneh. Memandang wajah Lingga Prawata, Jaka Wulung merasa sikunya berdenyut-denyut lagi. Sakit dan ngilu. Luar biasa tenaga Lingga Prawata tadi, dan luar biasa pula daya sembuh senyum seorang gadis rupawan.

“Ayo, kita selesaikan secara laki-laki,” Lingga Prawata menggeram.

Jaka Wulung memandang aneh kepada Lingga Prawata. “Apanya yang harus diselesaikan? Saya pikir, persoalan sudah selesai.”

“Jangan banyak bermain kata-kata. Ayo!”

Berbekal pengalaman sebelumnya, Lingga Prawata tidak lagi meremehkan bocah dekil itu. Lingga Prawata kini yakin Jaka Wulung bukan bocah sembarangan. Ia memang kelihatan kurus, tetapi tampaknya si bocah pernah belajar ilmu silat. Meski demikian, Lingga Prawata yakin ia bisa memukul jatuh si bocah. Kalaupun sebelumnya ia sempat terjerembap, ia yakin itu karena ia terlalu meremehkan si bocah.

Kali ini, ia tak mau melakukan kesalahan lagi. Oleh karena itu, Lingga Prawata merangkum ilmu yang bertahun-tahun ia serap dari Senapatiyuda Jayeng Segara, berupa jurus maut yang dilambari pokok ilmu gagak rimang yang dahsyat. Melalui dua gerak awal untuk maksud mengecoh, kedua tangan Lingga Prawata yang mengembang langsung mengarah kepada sasarannya: kepala Jaka Wulung.

Gerakannya secepat kaki burung gagak sehingga siapa pun akan bisa menduga bahwa ia akan dengan mudah menjatuhkan Jaka Wulung. Kalaupun Jaka Wulung akan menghindar, Lingga Prawata tentulah akan mengubah gerakannya untuk memapasnya.

Kali ini Ki Jayeng Segara diam saja menyaksikan gerakan muridnya. Pertama, ia ingin tahu sejauh mana ilmu yang telah dipelajari sang murid. Kedua, ia penasaran apakah benar si bocah memiliki ilmu silat.

Siapa sebenarnya bocah kumal itu?

KARENA kali ini Lingga Prawata sudah memberikan peringatan lebih dulu, Jaka Wulung pun tampak bersiap menghadapi sebuah perkelahian. Oleh karena itu, ketika melihat serangan kedua tangan Lingga Prawata, Jaka Wulung menekuk kedua kakinya untuk merendahkan tubuhnya.

Akan tetapi, gerakan seperti ini sudah diduga Lingga Prawata. Oleh karena itu, dengan cepat pula tangan Lingga Prawata berbelok arah dan langsung mengarah ke bawah. Lingga Prawata tersenyum mengejek melihat gerakan menghindar Jaka Wulung yang terlalu sederhana.

Akan tetapi, sekejap kemudian senyum di bibir Lingga Prawata menguap,

berganti dengan keluhan tertahan. Melalui gerakan yang aneh dan nyaris tak kasat mata, Jaka Wulung sengaja melemparkan tubuhnya ke belakang, tetapi kaki kanannya setengah berputar memapas gerak tangan Lingga Prawata.

Sebuah gerakan nekat!

Lingga Prawata telanjur menyalurkan tenaganya yang penuh ke tangan kanannya dan tidak sempat menghindari serangan balik Jaka Wulung.

Apa yang kemudian terdengar adalah suara benturan keras. Tulang bertemu tulang!
Jaka Wulung terjengkang untuk kali kedua. Kali ini wajahnya menyeringai menahan sakit yang tak terperi di tulang kering kakinya. Panas sekujur tubuhnya seperti disengat bara api. Ia tidak tahu mengapa kakinya tadi harus berbenturan dengan tangan Lingga Prawata. Maksud sebenarnya adalah menghindar dari serangan lawannya.

Apakah kakiku patah? Sakit bukan kepalang!

Sepuluh langkah dari Jaka Wulung, Lingga Prawata terduduk bertumpu pada kedua lututnya. Punggungnya melengkung dan kepalanya tertekuk, menahan rasa nyeri tak terperi di pergelangannya. Mula-mula ia seperti mati rasa. Kemudian, rasa nyeri menyerang seluruh tubuhnya. Kini, tangan kanannya sama sekali tak bisa ia gerakkan. Ia menyeringai. Air mata menetes tak tertahan.

Bocah iblis! Kamu mematahkan tanganku!

Lingga Prawata menggeram sekeras-kerasnya. Giginya beradu sesamanya, menimbulkan suara gemeretak seperti kayu terbakar. Dadanya benar-benar terbakar oleh marah dan gusar. Sejak kecil, dunia yang ia ketahui adalah perkelahian dan pertempuran. Ia dibesarkan oleh lingkungan prajurit dan ia sudah diajari jurus-jurus dasar silat semenjak belum lima tahun. Setelah itu, apa yang ia hirup sehari-hari adalah olah kanuragan yang diturunkan oleh siapa saja, dan terakhir oleh guru yang ia kagumi ilmunya, Ki Jayeng Segara.

Menghadapi lawan yang sepadan dalam usia, bahkan satu-dua tahun lebih

tua, belum pernah ia mengalami kekalahan.

Akan tetapi, kini menghadapi bocah yang kelihatan lebih muda dan lebih ringkih, bahkan dengan tingkat ilmu yang tidak ada apa-apanya, Lingga Prawata menemui kenyataan menyakitkan. Sakit tidak hanya di tangan yang tulangnya patah, tetapi di hati yang jauh lebih dalam.

Hatinya benar-benar terluka.

Oleh karena itu, tangan kirinya lekas mencabut keris yang tersarung di bagian perut ikat pinggangnya. Tanpa menunggu kejapan mata berikutnya, Lingga Prawata menerjang Jaka Wulung yang masih dalam posisi terjengkang.

Pada saat yang persis sama, Watu Ageng melompat dengan kekuatan penuh.

Satu kekuatan yang didorong kemarahan luar biasa dan satu kekuatan yang masih segar bugar mengincar sasaran yang sama dari dua arah yang berbeda.

Ki Jayeng Segara terlambat mencegah kedua muridnya. Dyah Wulankencana hanya bisa memejamkan matanya.
Jaka Wulung melihat dalam sekejap dua bocah itu melompat bersamaan. Hatinya mengeluh tak tertahankan. Ia tidak tahu apa kesalahan yang telah ia perbuat. Ia hanya ingin mereguk sebuah ilmu yang hebat, tetapi justru serangan maut yang didapat.

Jaka Wulung hanya tidak ingin menjadi sasaran empuk yang sia-sia. Hanya berdasarkan naluri, Jaka Wulung kemudian menjejak sebuah pokok kayu dengan kaki kanannya untuk memberikan daya tolak bagi tubuhnya untuk meloncat menghindar.

Gerakan itu memberinya waktu lebih lama untuk bertahan.

Akan tetapi, waktu lebih lama itu hanyalah beberapa kejap belaka.

Baik Lingga Prawata maupun Watu Ageng sama-sama sudah bisa menebak kemungkinan sederhana itu.
Ujung keris di tangan kiri Lingga Prawata melesat membelah udara.

Dari sisi yang hampir berseberangan, Watu Ageng meluncur dengan jemari mengembang.
Hanya satu yang bisa dilakukan Jaka Wulung. Ia berguling ke belakang dengan sekuat tenaga yang tersisa.

Jaka Wulung terhindar dari serangan maut Lingga Prawata dan Watu Ageng.

Akan tetapi, ia tidak bisa menghindari bahaya lain yang mengintainya. Jaka Wulung hanya bisa berguling dua putaran.
Pada putaran berikutnya, tubuhnya tidak lagi merasakan lapisan bumi. Jaka Wulung melayang menuju jurang.
Kecuali jeritan sesaat dan gemeresak benda yang menembus dedaunan pekat, tak ada suara apa pun di bawah sana.

Ketegangan menggurat di wajah keempat manusia asal Jipang Panolan itu. Tak ada yang menduga akhir pertempuran itu demikian adanya.

Setetes air bening menggulir dari mata Dyah Wulankencana.

Akan tetapi, lekas-lekas ia menyekanya sebelum tepergok oleh Lingga Prawata, Watu Gunung, dan Ki Jayeng Segara.

0 Response to "Pertarungan Di Bukit Sagara Jilid 02 : Bocah Kumal Misterius"

Post a Comment