Pendekar Pedang Siluman Darah eps 13 : Misteri Penguasa Gunung Lanang

SATU
Kabupaten Kencana Wungu....

Kabupaten Kencana Wungu dipimpin oleh seorang Bupati yang terkenal dengan sifatnya, yang dingin dalam menindak segala kejahatan. Ia begitu arif dan bijaksana, mementingkan apa yang menjadi kepentingan rakyatnya daripada kepentingan sendiri.

Di bawah kepemimpinannya, Kabupaten Kencana Wungu nampak tentram dan tenang. Apalagi sejak diangkatnya adik seperguruannya dari Gelagah Putih memegang tanggung jawab kepala prajurit, makin tentram dan amanlah Kabupaten Kencana Wungu.

Kakak beradik seperguruan itu begitu sakti, sehingga ditakuti oleh seluruh rakyatnya juga musuhmusuh dan para gerombolan. Tak segan-segan, kedua kakak beradik seperguruan pemegang tampuk kekuasaan itu turun tangan sendiri menumpasnya. Ketenangan Kabupaten Kencana Wungu yang berjalan di atas roda kepemimpinan dua saudara seperguruan itu, tiba-tiba digegerkan oleh desas-desus mengenai seorang Datuk sesat yang membuka praktek perdukunan beraliran hitam.

Entah dari mana datangnya sang Datuk, tiba-tiba saja telah membuka praktek perdukunan. Mulanya rakyat mengakui bahwa sang Datuk memang berilmu tinggi, mampu menyembuhkan segala penyakit dan bala. Mulanya juga tingkah sang Datuk tidak macam-macam, sehingga rakyat tak menyorotnya.

Ya, itulah manusia. Kalau belum tahu akan kebenarannya, ia tak akan ambil perduli. Begitu juga rakyat Kabupaten Kencana Wungu, mereka baru gelisah, manakala sang Datuk makin lama makin menggila permintaannya.

Kalau saja permintaan itu berupa harta benda, hal itu tidak menjadikan masalah. Namun permintaan sang Datuk, sungguh-sungguh merupakan permintaan gila...

Permintaan sang Datuk, tak lain adalah... Darah Perawan setiap malam bulan purnama tiba. Hal itu menjadikan ketakutan para gadis, juga kaum lelaki yang merasa mempunyai pacar. Mereka takut kalaukalau pacarnya akan menjadi korban. Ya. Korban kegilaan sang Datuk sesat.

Mungkin karena terlalu takut dan terteror, salah seorang pemuda melaporkan hal ketakutan warga desanya pada Kabupaten. Dengan harapan, pihak Kabupaten akan segera memberantas dan menutup praktek sang Datuk yang bernama Datuk Luluhung Begeg. Bupati mulanya agak kaget mendengar laporan warganya, yang menyatakan bahwa di daerahnya telah datang seorang Datuk beraliran sesat dan membikin keresahan dengan meminta korban darah perawan...

Pihak Bupati yang tak ingin keresahan rakyatnya menjadi berlarut-larut, saat itu juga mengirim sepuluh orang prajurit yang dipimpin oleh prajurit utama Prakoso Surya untuk memanggil sang Datuk sekaligus menyuruh pada sang Datuk untuk tidak meneruskan semua kegiatannya. Hari itu juga ke-sepuluh prajurit utama Bupati langsung menuju ke rumah Datuk Luluhung Begeg.

"Sampurasun, apakah sang Datuk Luluhung Begeg ada...?"

"Siapa yang ada di luar?" terdengar suara seorang lelaki tua balik bertanya, manakala Prakoso Suryo mengucapkan salam.

"Saya Prakoso Suryo dari Kabupaten," menjawab Prakoso yang dengan segera turun dari kudanya. "Apakah sang Datuk berkenan menerima diri saya?" tanyanya setelah melangkah mendekat ke pintu rumah.

"Ehm, ehm, ehm..." terdengar deheman tiga kali berturut-turut, lalu setelah lama terdiam terdengar suara sang Datuk berkata. "Masuk "

Prakoso Suryo segera membuka pintu perlahan. Namun pintu yang nampaknya telah tua itu berkerit juga, mengeluarkan bunyi menyayat.

Datuk Luluhung Begeg tersenyum manakala melihat Prakoso Suryo. Senyum itu, adalah senyum yang diliputi oleh segala macam misteri hingga Prakoso yang memandangnya seketika mengernyitkan kening. Setelah sejurus terdiam dengan senyum penuh misteri, Datuk Luluhung Begeg bertanya:

"Ada gerangan apa hingga pihak Kabupaten menyuruhmu datang menemuiku?"

"Maaf sebelumnya, Datuk. Pihak Kabupaten mengutusku untuk menyampaikan sesuatu padamu," menjawab Prakoso Suryo, menjadikan sang Datuk menyipitkan matanya.

"Tentang apakah?"

Prakoso Suryo tak segera langsung menjawab. Matanya yang tajam seketika menyudut, memandang sekeliling ruangan itu. Di situ ada tiga kamar, yang masing-masing tertutup oleh kain dan pintu bilik. Kamar pertama yang dilihat Prakoso Suryo tak ada keanehan, sepertinya kamar itu kamar sang Datuk. Kamar kedua, juga tidak ada keanehan. Namun ketika memandang pada kamar ketiga, seketika mata Prakoso Suryo membeliak. Di pintu kamar itu mengalir darah merah.

"Darah siapakah, itu?" berkata Prakoso Suryo dalam hati.

Mata Prakoso Suryo lekat memandang rembesan darah yang sedikit demi sedikit mengering terkena udara. Melihat hal itu, cepat-cepat sang Datuk yang mengetahui apa gerangan yang menjadi perhatian ketua prajurit Kabupaten itu segera berkata.

"Maaf, tadi itu adalah darah seekor kambing yang baru saja saya potong. Tadinya saya mengira yang datang bukan tuan-tuan sekalian hingga dengan gugup saya yang menyangka kalau yang datang orang jahat, tak sadar telah menumpahkan darah itu ketika saya hendak membawanya ke dapur."

"Ah...." melenguh Prakoso Suryo demi mendengar penuturan Datuk Luluhung Begeg. Namun sebagai orang yang pernah menimba ilmu, sekaligus sebagai prajurit Prakoso Suryo kembangkan senyum sepertinya mengiyakan ucapan Datuk Luluhung Begeg. "Ooh... kalau begitu kedatanganku ke mari telah mengganggumu, Datuk?"

"Ah, tak mengapa," menjawab Datuk Luluhung Begeg dengan senyum mengulas bibir, sepertinya tenang demi mendengar jawab Prakoso Suryo. "Bahkan aku merasa senang dengan kedatangan tuan ke gubug saya ini."

Mata Prakoso Suryo masih lekat menyudut memandang pada darah yang makin lama makin mengalir deras dan mengering.

"Hem, aku kira itu bukan darah binatang. Baunya sangat menusuk hidung, amis, jelas itu darah manusia," bergumam Prakoso Suryo dalam hati. Tanpa diduga sebelumnya oleh Datuk Luluhung Begeg, tibatiba Prakoso Suryo berseru pada para prajuritnya. "Geledah rumah ini. Cepat...!"

Dengan segera kesepuluh prajurit Kabupaten itu berkelebat masuk dan menggeledah setiap kamar. Mereka seketika berseru, mana kala mereka membuka kamar yang ketiga. "Korban...!"

Datuk Luluhung Begeg seketika itu bermaksud melarikan diri, manakala dengan segera Prakoso Suryo berkelebat menghadangnya. Sang Datuk tersentak mundur, memandang dengan mata tajam seperti menaruh kebencian.

"Mau lari ke mana, Datuk Iblis!" membentak Prakoso Suryo.

Mata Prakoso Suryo nampak melotot marah, memandang pandangan sang Datuk. Napas sang Datuk nampak memburu, sehingga terdengar lenguhannya yang besar.

"Jangan harap kalian akan mudah menangkapku, Prajurit!" membentak Datuk Luluhung Begeg. "Kalian boleh berbuat sesuka kalian, namun kalian tak akan mampu untuk memaksaku."

"Hem, begitu? Baiklah, aku sendiri yang akan melakukannya. Bersiaplan, Datuk Iblis!" menggeram Prakoso Suryo. Bersamaan dengan itu, tubuh Prakoso Suryo berkelebat merangsek Datuk Luluhung Begeg. Mendapat serangan begitu cepatnya, segera Datuk Luluhung Begeg tanpa sungkan-sungkan memapaki. Pertarungan pun tak dapat dihindarkan. Antara Prakoso Suryo yang hendak menangkap sang Datuk, melawan Datuk Luluhung Begeg yang tak mau ditangkap begitu saja.

Pertarungan itu begitu seru, masing-masing dengan segala kepandaiannya berusaha menjatuhkan lawan. Prakoso Suryo yang telah menjabat selaku ketua prajurit Kabupaten, bukanlah orang sembarangan. Walau ia masih muda usia, namun tingkat ilmunya dapat disejajarkan dengan para tokoh persilatan.

Apalagi dia merupakan murid dari Kyai Glagah Putih, seorang Kyai yang sangat kondang namanya. Pantaslah kalau sejak ketua prajurit dipegang oleh Prakoso Suryo. Kadipaten tampak agak tenang dan tentram. Kini Prakoso Suryo menghadapi seorang yang telah membuat rakyat Kabupaten resah, yaitu seorang Datuk berilmu hitam yang sakti.

Sekuat apa pun Prakoso Suryo, namun menghadapi Datuk Luluhung Begeg yang telah sekian lama malang melintang di dunia persilatan sangatlah tak berarti apa-apa. Setiap serangan yang dilancarkan oleh Prakoso Suryo, tak menjadikan hasil. Bahkan sering kali dia sendiri yang terkena sambaran tangan dan kaki si Datuk yang keras dan cepat.

Tubuh Prakoso Suryo terpental, manakala untuk yang kedua kalinya kaki sang Datuk menghantam telak di lambungnya. Wajah Prakoso Suryo memucat, mulutnya meringis menahan sakit. Nafasnya mendengus dengan mata melotot, tak percaya pada apa yang telah terjadi.

Dirinya yang merupakan murid paling tertua dari perguruan Glagah Putih, ternyata dengan mudah dapat dibuat kalang kabut oleh Datuk Luluhung Begeg. Namun selaku pendekar yang perguruannya telah ternama, Prakoso Suryo tak mau begitu saja menerima kekalahan, bahkan dengan meningkatkan serangan ia kembali mencoba merangsek Datuk Luluhung Begeg

"Rupanya kau tak mau segera membuka mata, Anak muda!"

"Persetan dengan ucapanmu, Datuk Iblis. Hari ini juga, aku hendak mengadu nyawa denganmu," menjawab Prakoso Suryo kesal, merasa sang Datuk meremehkannya. "Prajurit, serang...!"

Para prajurit yang tadinya terdiam menonton, seketika itu pula berkelebat menyerang Datuk Luluhung Begeg. Sang Datuk segera kibaskan tangannya. Dari kibasan tangan sang Datuk keluar angin besar, menangkis serangan tombak dan pedang para prajurit. Tersentak seketika para prajurit kaget, mendapatkan senjata mereka tiba-tiba mental lepas dari tangan.

"Hua, ha, ha... Percuma saja kalian mengeroyokku. Panggil saja Bupatimu agar aku dengan segera mengelupas kulit batok kepalanya yang gundul." bergelak-gelak sang Datuk mengejek, menjadikan kesepuluh prajurit dan Prakoso Suryo menggeram marah. Dengan didahului geraman panjang, prajuritprajurit Kabupaten bersama pimpinannya kembali merangsek.

"Rupanya kalian memang bandel. Baiklah, aku akan memberikan pada kalian hadiah. Tunjukkan hadiah dariku pada Kanjeng Bupati."

Habis berkata begitu, Datuk Luluhung Begeg segera bergerak memapaki serangan kesepuluh prajurit Kabupaten. Tangannya bergerak cepat. Dan...! Tanpa dapat dielakkan oleh para prajurit, tangan Datuk Luluhung Begeg yang bergerak cepat itu menjambak kepala salah seorang prajurit. Seketika puntunglah telinga prajurit yang tersambar, berbareng dengan pekikkannya yang menyayat menahan sakit yang bukan alang kepalang. Darah dari telinga yang puntung, seketika menyembur.

Tak dapat dibayangkan betapa gusar dan marahnya Prakoso Suryo demi melihat prajuritnya yang telinganya puntung. Maka dengan didahului bentakan, Prakoso Suryo kembali menyerang.

Tertawalah bergelak-gelak Datuk Luluhung Begeg, melihat keberanian Prakoso Suryo. Baru sekali ini ada anak muda yang berani menghadapinya, padahal sudah sepuluh tahun kemunculannya di dunia persilatan tak seorang pun yang berani menentangnya apalagi melawan. Tapi kini, murid Gelagah Putih telah berani menghadapinya.

"Merad kau! Jangankan dirimu, gurumu juga tak akan mampu menghadapi aku, Anak muda!" membentak Datuk Luluhung Begeg sembari kibaskan tangannya. Dari tiupan lengan baju yang berupa jubah, membersit keluar angin menderu. Angin itu, disertai dengan bau yang sangat menyesakkan pernapasan.

"Ah " melenguh Prakoso Suryo, manakala merasakan adanya kelainan dalam pernafasannya. Nafasnya begitu berat, tersengal sesak. "Bahaya! Sungguh bahaya kalau begini," mengeluh hati Prakoso Suryo sembari melompat mundur.

"Sudah aku katakan, kau belum apa-apa menghadapiku. Gurumu saja, mungkin tak akan berani kurang ajar padaku."

"Jangan sombong, Datuk Iblis! Aku Prakoso Suryo, tak akan gentar padamu. Ayo kita lanjutkan," menggeretak marah Prakoso Suryo, menjadikan sang Datuk tertawa bergelak-gelak.

"Anak bandel! Rupanya kau harus diajar adat!" bentak sang Datuk. "Baiklah, aku layani apa yang menjadi maumu. Ayo kita lanjutkan."

"Hem.... Aji Seriti Wangi. Hiat...!" dengan ajian Seriti Wangi, yaitu ajian penangkal yang ditujukan untuk menangkal ajian yang dikeluarkan oleh Datuk Luluhung Begeg, Prakoso Suryo kembali menyerang.

Datuk Luluhung Begeg yang telah tahu apa yang digunakan oleh anak muda murid Glagah Putih, tersentak melompat mundur. Bibirnya yang tersenyum, seketika mengkerut.

"Hem, ternyata anak muda itu telah mengetahui kalau aku menggunakan ajian Serbuk Mayat," membatin Datuk Luluhung Begeg.

"Tak aku sangka, kalau Kyai Basofi telah mampu menciptakan ajian tandingan. Aku harus hati-hati."

"Kenapa kau terdiam, Datuk Iblis! Rupanya kau kaget kalau aku telah tahu ilmu macam apa yang kau gunakan," berkata Prakoso Suryo dengan sinis, menjadikan sang Datuk memberengut sengit.

"Jangan bangga dulu, Anak muda. Kalau gurumu si Basofi telah mampu memecahkan ajianku Serbuk Mayat, namun ia belum tahu kalau aku mempunyai, ini "

Terbelalak mata Prakoso Suryo, manakala melihat apa yang terjadi di depan matanya. Tangan Datuk Luluhung Begeg, seketika berwarna biru memancar.

"Ilmu iblis!" memekik Prakoso Suryo kaget. "Aku peringatkan padamu, kembalilah dan panggil gurumu si Basofi ke mari."

"Sombong kau, Datuk Iblis. Jangan kira aku takut menghadapi dirimu. Hiat !"

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Prakoso Suryo segera berkelebat menyerang. Melihat Prakoso Suryo menyerang, maka dengan segera sang Datuk pun tak ambil diam. Dengan ajian Lumas Nyawa tingkat ketiga sang Datuk memapakinya.

"Hati-hati, Anak muda. Lengah sedikit saja, melayanglah nyawamu. Hiat. "

Larikan sinar biru seketika berkelebat menyerang Prakoso Suryo, yang dengan segera lemparkan tubuh ke samping. Larikan sinar itu melesat beberapa mili di sampingnya. Hal itu menjadikan baju yang dikenakannya seketika terbakar, dan kulit tubuhnya terasa perih.

Mata Prakoso Suryo melotot, kaget bercampur tak percaya. Kini Prakoso Suryo menyadari siapa adanya sang Datuk, yang ternyata berilmu jauh di atasnya. Namun begitu, nyalinya sebagai seorang prajurit tak menjadikan dirinya takut. Maka dengan lantang Prakoso Suryo membentak, langsung menyerang.

"Jangan bangga dulu, Datuk Iblis! Terimalah ini. Hiat...!"

"Rewel kau, Anak muda. Keluarkan segala ilmu yang engkau miliki, aku Datuk Luluhung Begeg tak akan mundur."

Prakoso Suryo yang telah dikuasi oleh amarah, dengan segera hantamkan ajian Glagah Wulung ke tubuh Datuk Luluhung Begeg. Datuk Luluhung Begeg bagaikan tak mengerti, diam di tempatnya hingga ketika ajian yang dilontarkan Prakoso Suryo menghantam tubuhnya sang Datuk tak dapat mengelakkannya. Prakoso Suryo terbelalak, melompat mundur dengan disertai pekikan tertahan. "Aah "

Tubuh Datuk Luluhung Begeg yang terhantam ajian Glagah Wulung tampak masih tegak berdiri, tak ada luka apalagi remuk tulang-tulangnya. Senyumnya mengembang sinis, melangkah berjalan menghampiri Prakoso Suryo.

"Sudah aku katakan padamu, bahwa kau tak akan mampu menghadapiku. Minggatlah kau dari sini, aku telah muak melihat tampang-tampang kalian!"

Bersamaan dengan membentak, tangan Datuk Luluhung Begeg bergerak cepat. Tangan itu bagaikan karet, memegang dan mengangkat tubuh Prakoso Suryo lalu dilemparkannya keluar rumah. Tubuh Prakoso Suryo, mencelat melalui jendela keluar.

Terjengah Prakoso Suryo dengan tulang tubuh terasa sakit semua. Ketika ia masih terjengah diam, terdengar kembali suara sang Datuk berkata nadanya mengusir.

"Cepat kalian pergi sebelum kesabaranku habis! Kalau tidak, jangan salahkan kalau aku berbuat pada kalian begini...!"

Sang Datuk hantamkan sebuah pukulan jarak jauh pada bebatuan di belakang Prakoso Suryo yang tergeletak. Seketika itu, batu-batuan berhamburan menjadi debu hancur....

Tanpa pikir panjang, kesepuluh prajurit segera menggotong tubuh pimpinannya pergi dari situ. Sang Datuk tersenyum sinis mengikuti kepergian kesepuluh prajurit Kabupaten, lalu dengan segera sang Datuk kembali masuk ke dalam rumah.

***
DUA
MARAH dan gusar Bupati Kencana Wungu, mendapatkan kenyataan adik seperguruannya sekaligus pimpinan prajurit di Kabupaten yang ia pimpin luka dalam. Sebenarnya bukan karena faktor itu sang Bupati gusar, tetapi karena ia merasa malu pada rakyatnya yang mengharapkan penyelesaian atas teror Datuk Luluhung Begeg. Namun ternyata adiknya tak mampu, malah hampir saja nyawanya terenggut kalau saja sang Datuk tak ada rasa sesuatu pada perguruan Glagah Putih.

"Siapakah sebenarnya Datuk Luluhung Begeg?" tanya Kencana Wungu pada dirinya. "Kenapa ia begitu masih menaruh hormat pada perguruan Glagah Putih, yaitu perguruanku?"

Kencana Wungu masih tercenung diam, memikirkan semua yang seperti teka-teki. Apa sebenarnya yang dikehendaki oleh Datuk Luluhung Begeg? Dan mengapa ia begitu saja membiarkan adik seperguruannya hidup-hidup?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang sedang memenuhi pikirannya. Pikiran seorang Bupati, yang bertanggung jawab atas ketentraman rakyatnya. Sepihak itu pula, ia begitu tak mengerti dengan kenyataan sang Datuk Luluhung Begeg. Kedatangannya sangat tiba-tiba, tahu-tahu telah menetap dalam wilayah kekuasaannya.

"Akan aku tanyakan semua keanehan ini pada guru," kata hati Kencana Wungu.

Dengan agak lesu karena pikirannya dihanyuti berbagai macam masalah, Bupati Kencana Wungu melangkah menuju ke tempat di mana adik seperguruannya tergeletak sakit. Ya, Prakoso Suryo rupanya mengalami luka dalam yang tidak dapat dianggap enteng.

Terbukti tidak biasanya Prakoso Suryo terbaring dengan lesu. Biasanya Prakoso Suryo yang terkenal dengan keberanian dan kenakalannya manakala di perguruan tak akan mau bertele-tele, atau mengeluh sakit. Namun kini, sepertinya ia benar-benar tak mampu lagi untuk melakukan apa pun.

"Kakang, aku meminta maaf karena aku tak mampu memenuhi segala permintaan rakyat. Aku kalah, Kakang," mengeluh Prakoso Suryo, menjadikan Kencana Wungu trenyuh hatinya. Jarang seorang perwira prajurit mau memikirkan satu persatu rakyatnya, namun adiknya betapa besar perhatiannya pada rakyat.

Di wajah Prakoso Suryo, jelas tergambar rasa sesal. Hal itu menjadikan Kencana Wungu makin iba, lalu dengan perlahan digenggamnya tangan adik seperguruannya. Dan dengan lembut, dibisikkannya kata-kata sebagai penghibur di telinga Prakoso Suryo.

"Sudahlah, Dinda, tak usah kau pikirkan. Aku rasa, Datuk Luluhung Begeg bukan memang bukan tandingan kita."

"Kita tak boleh putus asa, Kakang."

"Aku tak berkata begitu, Dinda." menjawab Kencana Wungu sembari gelengkan kepala. "Tapi nampaknya memang dia bukan tandingan kita."

"Ah...." melenguh Prakoso Suryo demi mendengar ucapan kakak seperguruannya, sehingga Kencana Wungu pun seketika itu menatap tajam padanya. "Apakah kakang mau mengingkari ikrar perguruan?"

"Ooh, jangan kau salah sangka, Dinda."

"Tapi mengapa kakang sepertinya takut menghadapinya? Aku lebih baik mati daripada harus membiarkannya hidup-hidup dan menteror rakyat," berkata Prakoso Suryo dengan menggebu. "Sayang, aku tengah terluka."

"Itulah maksud kakang sebenarnya, Dinda. Bukannya kakang takut, namun percuma usaha kita bila hanya menghadapi kekalahan serta kenyataan pahit. Kita telah tahu ilmunya yang tak sebanding dengan ilmu yang kita miliki, kenapa kita mesti nekad? Orang nekad itu tidak baik, bahkan dibenci oleh Yang Maha Kuasa. Masihkah kau ingat petuah guru, manakala kita habis sholat Subuh?"

Terdiam Prakoso Suryo mendengar pertanyaan kakak seperguruannya, yang mengingatkan kembali dirinya pada sang guru di perguruan Glagah Putih. Mata Prakoso Suryo berkaca-kaca hampir menangis, memandang pada kakak seperguruannya seraya mengangguk mengiyakan.

"Coba kau katakan, Dinda?"

Dengan terlebih dahulu menarik napas panjang Prakoso Suryo bercerita tentang apa yang telah mereka alami pada waktu masih dalam perguruan Glagah Putih.

"Guru mengatakan, bahwa orang hidup memang perlu tolong menolong. Gunakan ilmu yang kita miliki untuk menolong orang yang lemah, tapi janganlah kita memaksakan pertolongan kita bila kita sendiri tak mampu Sebab, semuanya akan sia-sia. Di samping memaksakan kehendak tak baik, juga akan berakibat fatal bagi diri kita. Tuhan juga tidak menyukai pada orang-orang yang nekad, yang sebenarnya telah dipengaruhi oleh Iblis."

Kencana Wungu tersenyum mendengar ucapan adik seperguruannya, makin erat ia menggenggam tangan adik seperguruannya. Sepertinya Kencana Wungu ingin membuktikan, bahwa dia sangat memperhatikan adik seperguruannya yang telah dianggap sebagai adik sendiri.

"Ternyata kau masih mengingatnya, Dinda," berkata Kencana Wungu masih tersenyum di bibirnya. "Jadi jelasnya, kita tak boleh nekad menghadapi semuanya. Kita harus berpikir bagaimana cara yang terbaik, agar kita tidak merugikan salah satu pihak. Ya pihak kita, maupun pihak orang lain."

Kedua kakak beradik itu akhirnya saling senyum, sepertinya mereka ingin mengulang masa-masa kecil mereka. Masa di mana keduanya dalam asuhan seorang guru yang bijaksana, Kyai Basofi guru besar perguruan Glagah Putih.

"Maafkan dinda, Kakang."

"Tak ada yang salah, Dinda," menjawab Kencana Wungu. "Aku menyadari siapa adanya kau, adikku yang nakal dan keras kepala. Seorang Panggulu perguruan Glagah Putih yang tak mau mengalah pada musuh-musuh, walau mungkin nyawa sebagai taruhannya."

Mendengar ucapan Kencana Wungu, seketika tertawalah Prakoso Suryo. Ia bangga mempunyai seorang kakak seperguruan yang mengerti akan perasaannya, pemberi nasehat yang baik yang menjadikan diririya selalu berjalan di jalan yang tepat.

Mungkin kalau tak ada Kencana Wungu, jadilah Prakoso seorang pendekar yang keras pantang mau mengalah walau itu untuk kebaikan. Melihat adik seperguruannya tertawa, seketika itu pula Kencana Wungu pun turut tertawa bergelak-gelak setelah sesaat menyipitkan mata.

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Kakang?" tanya Prakoso Suryo setelah sekian lama terhanyut pada nostalgia kecilnya manakala mereka masih di perguruan. "Apakah kita akan membiarkan iblis merajalela, Kakang?"

"Tidak, Dinda. Kita tak akan membiarkan Datuk Luluhung Begeg merajalela," menjawab Kencana Wungu. "Tapi untuk melakukan penangkapan kita perlu meminta petunjuk pada guru, bagaimana caranya. Kakang juga ingin sekali menanyakan siapa sebenarnya Datuk Luluhung Begeg pada guru, mungkin guru akan mampu memberikan gambarannya sekaligus membantu kita."

"Kapan kakang pergi ke Glagah Putih?"

"Setelah kau sembuh, Dinda."

"Ah...." melenguh Prakoso mendengar jawaban kakak seperguruannya, yang menjadikan Kencana Wungu menyipitkan mata dan bertanya tak mengerti.

"Kenapa, Dinda?"

"Terlalu lama, Kakang," menjawab Prakoso, menjadikan Kencana Wungu makin tak mengerti dengan ucapan adik seperguruannya. "Maksudmu, Dinda...?" Mengerut kening Kencana Wungu.

"Terlalu lama jika kakang menunggu kesehatan ku. Hal itu akan menjadikan korban makin banyak berjatuhan. Berangkatlah kakang segera, biarlah aku mampu mengurus diriku sendiri."

"Ah, tidak, Dinda. Sengaja aku menunggumu sampai sembuh agar kita bisa sama-sama silaturahmi pada guru."

"Kalau memang begitu, marilah kita sekarang juga ke sana."

Terbelalak mata Kencana Wungu mendengar ucapan adiknya, sampai-sampai matanya melotot.

Melihat Kencana Wungu melotot kaget, Prakoso Suryo kembali berkata seraya mengerutkan keningnya. "Kenapa, Kakang?"

"Apakah kau tidak tengah bercanda?"

"Tidak, Kakang. Aku serius"

"Dinda. Kau sedang sakit, mana mungkin kau melakukan perjalanan yang cukup jauh?"

Mendengar ucapan Kencana Wungu yang nadanya khawatir, Prakoso Suryo lebarkan senyum. Matanya memandang pada Kencana Wungu, yang seketika itu juga turut tersenyum sembari gelengkan kepalanya.

"Kakang meragukan kemampuanku?"

"Ah, bukan begitu, Dinda. Aku hanya khawatir nanti sakitmu malah makin parah," menjawab Kencana Wungu.

"Aku sudah sembuh, Kakang."

Terbelalak mata Kencana Wungu kembali mendengar jawaban adik seperguruannya yang mengejutkan. Bagaimana mungkin orang yang sakit mengatakan telah sehat? Kencana Wungu masih tak mau percaya dengan omongan adik seperguruannya yang dianggap bercanda. Maka Kencana Wungu pun kembali berkata.

"Rupanya kau masih suka ngebanyol seperti dulu, Dinda."

"Aku serius, Kanda. Lihatlah "

Serta merta Prakoso Suryo loncatkan tubuh, berdiri dengan sempurna di hadapan kakak seperguruannya Kencana Wungu hingga Kencana Wungu seketika itu pula membelalakkan mata seraya memandang tak percaya.

"Apakah kakang masih meragukan?"

"Aku jadi tidak mengerti, Dinda."

"Maksudmu, Kakang?" tanya Prakoso tersenyum-senyum.

"Kapan kau sembuh? Sungguhkah ini sebuah keajaiban, Dinda?"

Prakoso gelengkan kepala....

"Ini bukan keajaiban, Kakang."

"Aku jadi tidak mengerti dan makin tidak mengerti saja," bergumam Kencana Wungu, sepertinya ia bergumam pada diri sendiri. Matanya memandang dari ujung rambut ke ujung kaki Prakoso, yang hanya mematung senyum-senyum. "Apakah kau hanya mainmain, Dinda?"

"Semalam ada orang yang menolongku," jawab Prakoso.

"Menolongmu ?"

"Ya.... Pemuda itu tiba-tiba datang dan menolongku menyembuhkan penyakitku. Pemuda itu juga telah berjanji akan datang lagi. Ternyata pemuda itu telah mengetahui apa yang telah menimpa Kabupaten ini," menerangkan Prakoso Suryo, menjadikan Kencana Wungu hanya mampu diam mendengarkan dengan sekali-kali mendesah berat.

Kencana Wungu kembali berpikir dan dihadapkan pada kejadian yang telah terjadi. Belum juga habis pikirannya tentang Datuk Luluhung Begeg, kini pikirannya mengarah pada pemuda yang menolong Prakoso.

"Apakah tidak mungkin pemuda itu ada sangkut pautnya dengan Datuk Luluhung Begeg? Kalau ya, hubungan apakah? Apakah keduanya samasama ingin merongrong Kabupaten dan menghendaki aku tergeser? Kalau pemuda itu bukan bermaksud demikian, lalu siapakah sebenarnya pemuda itu...?" bertanya-tanya hati Kencana Wungu.

"Siapa nama pemuda itu, Dinda?"

"Entahlah, Kanda. Pemuda itu hanya berkata bahwa dia hendak membantu Kadipaten menumpas orang tersebut yang katanya juga telah membuat ketidaktenteraman penduduk desa Mujung."

"Hem, semoga pemuda itu berbuat baik," menggumam Kencana Wungu dengan tatapan mata kosong. Segala macam pertanyaan dan ketidakmengertian beraduk menjadi satu. Tanggung jawab sebagai Bupati tidak enteng, penuh dengan tantangan dan cobaan.

Baik dari dalam, maupun dari luar yang bermaksud merongrong kewibawaannya. Di samping itu pula, ketentraman rakyat harus dipikirkan. Ibarat sebuah kewajiban, yang harus dipikul di atas pundaknya. Tengah Kencana Wungu melamun memikirkan segala keadaan daerah kekuasannya, tiba-tiba Prakoso Suryo memecahkan lamunannya bertanya.

"Apakah kanda jadi ke Glagah Putih?"

"Tidak, Dinda. Kanda ingin melihat saja yang sebenarnya bakal menimpa Kadipaten ini."

"Kanda sepertinya frustasi?"

Kencana Wungu lebarkan senyum seraya gelengkan kepala.

Melihat hal itu, Prakoso Suryo turut tersenyum. Kemudian dengan suara datar Prakoso Suryo kembali bertanya. "Kenapa, Kanda?"

"Aku tidak frustasi, sebab frustasi adalah milik setan yang sengaja digodakan pada manusia-manusia lemah iman. Aku hanya ingin melihat kebenaran pertanyaan di hatiku," menjawab Kencana Wungu.

"Tentang apa itu, Kanda?"

"Tentang Datuk Luluhung Begeg dengan pemuda yang telah menolongmu."

Tertawa Prakoso demi mendengar jawaban kakak seperguruannya yang dirasa lucu, menjadikan Kencana Wungu kerutkan kening dengan mata memandang tak berkedip sementara keningnya kembali dikerutkan.

"Hai, kenapa kau tertawa, Dinda? Apakah aku ngomong lucu?"

Prakoso masih tertawa hingga matanya berlinang-linang. Setelah puas ketawa, Prakoso barulah berkata.

"Sangat lucu, Kanda."

"Heh, apanya yang sangat lucu?" tanya Kencana Wungu makin tak mengerti saja akan apa yang dikatakan adik seperguruannya.

"Kenapa kanda harus terlalu memusingkan orang-orang itu? Sedangkan kanda tengah dalam kesusahan sendiri?"

"Ah.... Rupanya itu yang dinda ketawai. Hem, apakah kita akan diam saja, manakala melihat orang yang belum kita kenal betul datang-datang ke daerah kita dan bermaksud menolong? Apakah tidak mungkin pemuda itu juga temannya Datuk Luluhung Begeg yang pura-pura menolong, sedangkan sebenarnya ia juga hendak bermaksud jahat? Kita harus waspada dalam hal ini, Dinda. Apalagi kita selaku pengayom rakyat, jangan sekali-kali mudah percaya pada hal-hal yang belum benar-benar, kita kenali."

"Benar juga, Kanda." akhir Prakoso mengerti juga. Prakoso seketika itu diam, merenungkan akan apa yang seperti Kencana Wungu renungkan. Tentang orang-orang yang datang secara tiba-tiba, yang telah membuat sebuah tanda tanya. Kalaulah si Datuk Lulubung Begeg, jelas ia telah tahu maksudnya yaitu ingin mengajak rakyat ke jaman kesesatan mengabdi setan.

Sedangkan pemuda yang menolongnya dan telah memberitahu siapa adanya Datuk Luluhung Begeg padanya, apakah benar-benar hendak membantu? Inilah yang susah untuk dijawab, sebab kenyataannya belum diketahui pasti. Bisa saja si pemuda memberikan informasi, tapi sebenarnya agar ia sendiri dapat diyakini olehnya,

Kedua kakak beradik seperguruan yang kini menjabat sebagai Bupati dan pimpinan prajurit, akhirnya terdiam. Diam bagaikan telah patah semangat, pasrah pada apa yang bakal terjadi. Keduanya tak tahu apa yang nantinya terjadi melanda Kabupaten yang dipimpinnya.

***
TIGA
SEJAK kejadian sebulan yang lalu di mana Datuk Luluhung Begeg mampu mengalahkan Prakoso dan kesepuluh prajuritnya, makin menjadi-jadi tindakan Luluhung Begeg. Kini ia bukannya meminta secara halus atau menculik bila tidak diberi, namun dengan terang-terangan ia mengambil paksa gadis yang akan dijadikan korban dari para penduduk.

Malam itu ketika bulan purnama dua hari lagi akan datang, Datuk Luluhung Begeg telah dengan paksa meminta pada salah seorang penduduk untuk menyerahkan anaknya menjadi wadal penguasa kerajaan Siluman sekutunya, yang bersemayam di puncak Gunung Lanang.

"Ki Jarot, apakah kau ingin keluargamu terkena bala?" tanya sang Datuk menakut-nakuti, menjadikan Ki Jarot gemetaran mendengarnya. Ki Jarot telah tahu siapa adanya Datuk Luluhung Begeg, yaitu seorang datuk sakti. Bagaimana pula dengan penguasa Gunung Lanang yang memerintahkannya, jelas lebih sakti. Maka dengan suara terbata-bata karena takut Ki Jarot berkata.

"Ti-tidak, Datuk. Saya tidak mau mendapat bala."

"Nah, itu yang baik. Apakah hanya karena kau menghalangi nyawa anakmu satu, kau korbankan seluruh keluargamu yang menerima murka penguasa Gunung Lanang?"

"Apakah tak ada jalan lain, Datuk?" kembali Ki Jarot berkata. Matanya membelalak redup karena takut, bibirnya gemetaran juga seluruh tubuhnya.

"Bodoh! Mana mungkin permintaan penguasa Gunung Lanang dapat diganti? Beliau bukanlah semacammu, Monyet jelek!" membentak marah Datuk Luluhung Begeg, demi mendengar ucapan Ki Jarot. Hal itu menjadikan Ki Jarot makin menggigil ketakutan. Bentakan Datuk Luluhung Begeg, terdengar bagaikan hentakan halilintar di musim penghujan, menggelegar.

"A-a-ampun, Datuk."

"Ampun-ampun. Mana anak gadismu, serahkan padaku. Cepat!"

"I-i-iya," menjawab Ki Jarot dengan ketakutan setengah mati hingga tak terasa lelaki tua itu terkencing-kencing di celana. Dan manakala ia berjalan, tak ayal lagi bau sangit seketika menyumpet pernapasan Datuk Luluhung Begeg yang seketika itu melototkan mata.

Walaupun telah melihat sendiri ketakutan Ki Jarot begitu rupa sampai terkencing-kencing, namun Datuk Luluhung Begeg tak mau perduli. Ia sendiri betapa takut dan bingungnya bila harus tidak mendapatkan darah gadis. Betapa dia akan mendapat murka besar dari gurunya, bila semalam saja bulan purnama ia tidak mendapatkan darah gadis.

Di samping itu, kesaktiannya tak akan bertambah. Sebab dengan sekali bulan purnama, sekali itu pula manakala Datuk Luluhung Begeg menyampaikan persembahan kesaktiannya akan bertambah. Jadi semakin banyak ia berikan darah gadis, makin bertambah pula kesaktiannya. Datuk Luluhung Begeg masih ingat akan apa yang dikatakan gurunya, manakala ia hendak kembali ke dunia ramai setelah sepuluh tahun menjadi pengikut gurunya.

"Ingat, Luluhung. Kau akan bertambah sakti bila setiap bulan purnama mandi dan meminum darah gadis. Nanti kalau telah seratus gadis yang telah kau pakai darahnya untuk mandi dan minum, jadilah kau seorang tokoh tak terkalahkan di jagad ini. Ilmumu akan selangit, seluas samudra, sedalam bumi. Namun perlu kau ketahui, ilmumu itu akan dapat terpecahkan oleh manusia yang setengah siluman."

"Apa ada, Guru?"

"Ada, Luluhung. Manusia setengah siluman, adalah manusia yang menjadi murid siluman. Atau siluman keturunan manusia, atau manusia yang menjadi sahabat siluman. Ingat itu!"

Tengah Datuk Luluhung Begeg melamun, Ki Jarot dari dalam keluar menghampiri dengan anak gadisnya yang tampak menangis.

"Datuk " berkata Ki Jarot.

"Hem,"

"Ini anak hamba, Datuk."

"Masih perawan?" tanya Datuk Luluhung Begeg ingin pasti.

Ki Jarot menganggukkan kepalanya.

"Bagus Ki Jarot. Dengan kau mengorbankan anak gadismu, maka keluargamu akan terhindari dari bala." berkata Datuk Luluhung Begeg dengan senyumnya.

"Ayo, Manis, ikut denganku."

"Tidak! Aku lebih baik mati daripada ikut denganmu, Iblis!" membentak si gadis. Tangannya berontak, digigitnya tangan Datuk Luluhung Begeg yang seketika itu menjerit kibaskan tangan. Tak ayal lagi, mentallah tubuh si gadis terpelanting jatuh ke tanah.

"Bunuh saja aku, iblis! Bunuh...." gadis itu menjerit histeris. Namun bagaikan tak mendengar, Datuk Luluhung Begeg hanya pelototkan mata sembari menyeringai. Dengan keras disentakkan tubuh si gadis berdiri dengan kasarnya, sehingga tubuh si gadis seketika itu pula bangkit dari duduknya.

Gadis itu terus berontak, meronta-ronta manakala telah berada dalam bopongan Datuk Luluhung Begeg. Namun rontaannya tak berarti apa-apa, sebab tenaga Luluhung Begeg lebih besar dan kuat. Tapi gadis itu rupanya tak mau mengalah begitu saja, ia lebih baik mati saja daripada dijadikan tumbal walaupun akhirnya mati nantinya.

"Lepaskan aku! Lepaskan, Datuk Iblis!"

"Rewel! Kalau kau ngebandel, maka aku akan membeset tubuhmu!" menggeretak Datuk Luluhung Begeg mencoba menakut-nakuti. Namun gadis yang telah nekad itu bukannya menjadi takut, bahkan sebaliknya dengan lantang gadis itu menantang.

"Lebih baik aku kau kuliti daripada harus menjadi tumbal ilmumu yang gila itu! Ayo lakukan, Datuk Iblis!"

"Suwe...!"

"Tok, tok, tok."

Terdengar totokan tiga kali berturut-turut di leher si gadis, yang menjadikan gadis itu terdiam tanpa banyak kata lagi. Hanya matanya saja yang memandang benci pada Datuk Luluhung Begeg, yang tak perduli dan terus berlari pergi membawa tubuh gadis itu meninggalkan rumah Ki Jarot. Ki Jarot dan istri serta anak-anaknya yang lain hanya menangis, melepas kepergian anak gadisnya yang akan menjadi tumbal.

"Kenapa mbakyu Srikanti dibiarkan saja, Ayah?" tanya anak laki-laki Ki Jarot yang sudah besar, menjadikan Ki Jarot seketika memandangnya dengan trenyuh. Ki Jarot tak dapat berkata untuk menjawab, hatinya pilu dan gundah serta sedih. Dengan berlinang air mata, istri Ki Jarot akhirnya mengatakan pada sang anak.

"Kita berdo'a saja semoga arwah kakakmu diterima di sisi-Nya dengan bahagia, Amin."

Kelima keluarga itu akhirnya kembali masuk, manakala sudah tak tampak lagi oleh mereka tubuh Datuk Luluhung Begeg yang membawa tubuh Srikanti pergi.

* * *

Apa yang ditunggu-tunggu oleh Kencana Wungu tentang kedatangan pemuda itu, kini telah benarbenar terpenuhi. Pemuda itu yang tak lain dari pada Pendekar kita Pedang Siluman Darah, malam itu datang mengunjungi Prakoso guna menilik kesehatan Prakoso.

"Sampurasun...." sapa Jaka Ndableg, manakala ia telah berdiri di depan pintu rumah Prakoso Suryo. Matanya memandang sekeliling, seperti liar.

"Rampes... Siapakah di luar?" terdengar jawaban dari dalam rumah Prakoso.

"Aku, Ki Sanak," jawab Jaka.

Tak lama kemudian seseorang lelaki yang bernama Prakoso Suryo membukakan pintu. Seketika di bibir Prakoso Suryo tergerai senyum, ketika dilihatnya siapa adanya pemuda yang datang. Dari mulut Prakoso Suryo, seketika meloncat kata-kata seruan gembira. "Ah, ternyata saudara datang juga. Mari, masuk!" ajaknya.

"Terima kasih!"

Jaka segera masuk mengikuti langkah Prakoso Suryo ke dalam rumah. Mata Jaka yang tajam, berkeliaran memandang sekeliling ruangan itu, sepertinya tengah mencari-cari sesuatu hingga mengundang tanya Prakoso Suryo.

"Adakah sesuatu yang Ki Sanak cari di sini?"

"Ah, maaf. Sungguh aku ini telah berlaku kurang sopan," melenguh Jaka kaget dan tersentak dari pandangannya. "Namaku yang bodoh dan tak tahu tata krama ini Jaka Ndableg!"

"Ah, jadi... kau..." kata Prakoso terbata-bata manakala tahu siapa adanya pemuda yang bertamu ke rumahnya, yang tak lain orang yang sering disebutsebut oleh gurunya Kyai Basofi.

"Kenapa, Ki Sanak? Sepertinya kau begitu terkejut mendengar namaku," tanya Jaka tak mengerti, keningnya berkerut demi dilihatnya Prakoso Suryo membelalakkan mata kaget.

"Tak aku sangka, kalau aku dapat bertemu muka dengan seorang pendekar yang namanya telah menjadi sebutan di dunia persilatan. Terimalah salam hormatku yang bodoh ini, yang telah merepotkan dan menyepelekan dirimu."

"Ah, aku tak merasa kerepotan. Aku datang ke mari juga atas permintaan seseorang."

"Permintaan seseorang...?" tanya Prakoso dengan nada kaget.

"Ya " jawab Jaka pendek, menjadikan Prakoso

Suryo kembali menyipitkan mata dan mengerutkan kening tak mengerti. Hatinya seketika bertanya-tanya, siapa adanya orang yang telah menyuruh pendekar yang namanya telah menjadi buah bibir orang-orang persilatan?

"Kalaulah Datuk Iblis itu yang menyuruhnya, sungguh petakalah dunia ini. Tapi tak mungkin, sebab pendekar muda ini selalu berjalan pada garis kebenaran. Jadi siapakah yang telah menyuruhnya datang menemui diriku?" gumam Prakoso Suryo dalam hati, menjadikannya diam mematung dengan mata memandang tak berkedip ke arah Jaka. Jaka yang dipandang begitu rupa, seketika bertanya.

"Kenapa Ki Sanak memandangku begitu?"

"Ah, ti... tidak. Maafkan kelakukanku. Aku kaget mendengar ucapanmu," jawab Prakoso sembari lebarkan senyum, sepertinya hendak menyembunyikan kekagetannya. Hal itu seketika mengundang perhatian Jaka yang jeli, yang saat itu juga segera berkata kembali.

"Ketahuilah, bahwa aku datang ke mari atas

permintaan seorang Kyai yang menjadi guru besar di Glagah Putih. Beliau meminta agar aku datang ke sini untuk membantu Bupati Kencana Wungu yang sebenarnya anak murid beliau."

Terbelalak mata Prakoso mendengar penuturan Jaka Ndableg, sehingga tanpa sadar ia membuka mulutnya menganga. Matanya seketika berkaca-kaca, manakala ingatannya kembali pada sang guru yang sangat bijaksana. Belum juga Prakoso berbicara, Jaka telah kembali berkata meneruskan.

"Menurut keterangan beliau, beliau mempunyai dua orang murid yang tengah mengabdi pada Kabupaten ini. Murid pertamanya bernama Kencana Wungu, yang sekarang menjadi Bupati di sini. Sedang murid keduanya bernama Prakoso Suryo, yang menjadi kepala pasukan Kabupaten sini."

"Akulah orangnya, Saudara pendekar," kata Prakoso Suryo yang tak mampu lagi membendung gejolak di hatinya. Kerinduan akan kabar gurunyalah, yang menjadikan Prakoso Suryo tak dapat lagi menyembunyikan diri. Untung yang tengah bertamu adalah Pendekar Pedang Siluman Darah yang bermaksud baik. Kalaulah yang bertamu orang jahat dan bermaksud mencelakainya, niscaya akan celakalah Prakoso Suryo.

Tersentak Jaka Ndableg mendengar pengakuan orang yang diketemuinya. Sampai-sampai mata Jaka membeliak, mulutnya mendecak.

"Ah, sungguh-sungguh aku telah buta, sehingga tak tahu kalau Ki Sanaklah orang yang aku tuju. Kebetulan sekali, jadi aku tak perlu susah-susah mencari-cari dan bertanya-tanya."

Setelah keduanya saling kenal dan tukar cerita, maka kedua orang yang baru bertemu itu seketika akrab. Keduanya ngobrol tentang segala apa yang menjadi tanggung jawab. Prakoso menceritakan apa yang kini menjadi masalah yang tengah dihadapi oleh kakaknya, juga dirinya. Sementara Jaka menceritakan tentang pertemuannya dengan Kyai Basofi, yang lalu meminta tolong padanya untuk membantu kedua muridnya.

"Mari kita menemui Kakang Kencana Wungu. Mungkin kakang Kencana Wungu pun. telah menanti kedatangan saudara pendekar."

"Baiklah. Mari " jawab Jaka.

Segera keduanya malam itu juga pergi menuju ke rumah Bupati Kencana Wungu. Dengan setengah berlari, kedua orang itu berkelebat menyibak malam yang masih agak sore. Keduanya ingin segera dapat menemui Kencana Wungu.

Karena keduanya berjalan dengan langkah-langkah yang panjang setengah berlari, maka tak begitu lama kemudian keduanya pun telah tiba di kediaman Kencana Wungu. Di depan kediaman sang Bupati, nampak penjagaan yang sangat ketat. Sepuluh orang prajurit, nampak siaga penuh dengan senjata di tangan.

"Siapa kalian!" bentak salah seorang prajurit, manakala dilihatnya dua orang berkelebat menuju ke arah situ. Hal itu menjadikan prajurit-prajurit lainnya segera siaga, tangan mereka menggenggam senjata yang berupa golok dan tombak.

"Aku Sobri!" jawab dua orang yang ditanya. "Ketua... Selamat malam!" menjura Subri, diikuti oleh kesembilan prajurit lainnya. "Ada apa gerangan ketua datang malam-malam ke mari?"

"Kanjeng Bupati masih terjaga?" tanya Prakoso. "Hamba kira masih, Ketua," jawab Sobri sembari menepi yang diikuti oleh kesembilan prajurit lainnya, memberi jalan pada ketua mereka yang berjalan dengan seorang pemuda asing.

"Sampurasun Adakah kakang Kencana Wungu masih terjaga?"

"Rampes, kaukah adikku?" tanya suara dari dalam.

"Benar, Kanda. Dinda datang."

Dari dalam rumah tak lama kemudian keluar seorang yang tak lain Kencana Wungu adanya. Bibir Kencana Wungu seketika mengurai senyum, manakala melihat adik seperguruannya. Namun seketika itu pula Kencana Wungu mengerutkan keningnya, tatkala melihat seorang pemuda bersama Prakoso dan seketika itu pula Kencana Wungu menanyakannya pada Prakoso siapa adanya pemuda itu.

"Siapakah gerangan pemuda di sampingmu, Dinda?"

"Pemuda inilah yang dulu Dinda ceritakan pada Kanda," jawab Prakoso. "Ternyata pemuda ini sengaja diutus oleh guru untuk menemui kita dan sekaligus menolong menyelesaikan kemelut yang tengah terjadi di Kabupaten ini. Pemuda ini tak lain adalah Pendekar Pedang Siluman Darah atau Jaka Ndableg!"

"Apa...?" tersentak Kencana Wungu setelah tahu siapa adanya pemuda di samping adik seperguruannya. Bukan saja Kencana Wungu yang kaget mengetahui pemuda bertampang bloon itu seorang pendekar yang namanya tengah menjadi buah bibir orangorang persilatan. Kesepuluh prajurit jaga itu pun, seketika melototkan mata kaget.

Mereka memang telah mendengar seliweran tentang adanya seorang pendekar muda bergelar Pendekar Pedang Siluman Darah. Namun melihat tampang orangnya, mereka baru kali ini. Tadinya mereka menyangka kalaulah pendekar muda itu bertampang menyeramkan. Tapi nyatanya, pendekar muda itu berwajah kekanak-kanakan dan agak sedikit konyol.

"Ah, sungguh aku ini terlalu rabun, sehingga tak mampu mengetahui siapa adanya tuan pendekar. Maafkan ketololan saya," lanjut Kencana Wungu seraya menjura hormat, menjadikan Jaka seketika itu tersentak mendapatkan penghormatan yang tak disangka-sangka hingga seketika itu pula Jaka menjawabnya.

"Ah, kenapa mesti Kanjeng Bupati yang menghormat padaku? Bukankah hal ini terbalik? Seharusnyalah aku yang menyampaikan hormat, karena aku orang yang berada di bawahmu!"

"Tidak, Tuan Pendekar. Kita sebagai manusia samalah artinya di mata Yang Maha Esa. Hanya saja garis hidup kita saja yang berbeda-beda di dunia ini."

"Ooh, sungguh aku yang bodoh ini memang benar-benar bodoh, hingga tak mengerti semuanya. Terima kasih atas segala petunjuk yang Kanjeng Bupati berikan padaku, terima kasih," Jaka segera menjura hormat.

"Ayo masuk Kenapa mesti di luar?" ajak Kencana Wungu.

Segera ketiganya pun masuk ke dalam. Ketiganya duduk di atas permadani yang menghampar di ruang tamu itu. Dari dalam tiga orang dayang-dayang ke luar membawakan mereka makanan dan tiga guci air minum.

"Maaf, Kami tidak memiliki arak," kata Kencana Wungu, yang, menyangka kalaulah Jaka suka arak. Mendengar ucapan Kencana Wungu segera Jaka menimpali, berkata:

"Ah, aku pun tak suka itu, Kanjeng. Walaupun aku tak pernah sholat, namun aku sebisanya untuk selalu mendekatkan diri dengan Gusti Allah."

Tersenyum Kencana Wungu dan Prakoso mendengar penuturan Jaka. Keduanya menganggukanggukkan kepala. Tak berapa lama kemudian, ketiganya pun terlibat pembicaraan. Sesekali diselingi dengan gelak tawa kedua kakak beradik seperguruan, manakala mendengar ucapan Jaka yang nadanya lucu. Malam itu, Jaka pun menginap di kedi aman

Bupati untuk esok pagi bersama-sama prajurit menghentikan sepak terjang Datuk Luluhung Begeg yang telah membuat keonaran dan kepanikan rakyat Kadipaten Kencana Sari.

***
EMPAT
DUPA dengan bara api yang membara, mengepulkan asap yang membumbung tinggi bergulunggulung. Di depannya terpampar sebuah meja panjang yang cukup untuk membaringkan sesosok tubuh. Ya, memang saat itu tampak sesosok tubuh tengah terbaring di atas meja yang terbuat dari batu pipih hitam. Yang terbaring itu adalah seorang gadis yang merontaronta, dengan tangan dan kaki diikat seutas tali.

Mata gadis itu lembab seperti habis menangis, dan memang gadis itu kini pun masih menangis. Walau suaranya tak keluar dari mulutnya, namun matanya yang melelehkan air bening itu jelas menggambarkan bahwa ia menangis. Di dalam ruangan itu ia tergeletak sendirian, tak ada orang lain, tak ada siapa-siapa. Sebenarnya gadis itu ingin berontak, namun karena tangan dan kakinya diikat kencang gadis itu tak mampu melakukannya.

Gadis itu adalah korban yang akan dipersembahkan untuk penguasa Gunung Lanang. Sudah menjadi adat kebiasaan daerah kalau setiap bulan purnama mereka melakukan korban bagi penguasa wilayah itu. Menurut kepercayaan mereka, bila mereka tak mengorbankan sekali dalam seedaran Bulan Purnama maka petaka akan menimpa wilayah mereka.

Seluruh rakyat Kadipaten Kencana Wungu tidak menyadari bahwa semua adalah taktik Datuk Luluhung Begeg saja, yang sebenarnya untuk menakutnakuti mereka. Sedangkan korban itu, sebenarnya korban untuk pemuas Iblisnya guna menambah ilmu yang ia miliki.

"Ayah, ibu... Kenapa aku kau biarkan begini. Hu, hu, hu...." Gadis itu menangis. Wajahnya tergambar ketakutan yang teramat sangat. Bau anyir darah, menjadikannya makin bertambah takut saja. Bayangan yang tergambar dalam benaknya, tak lain dari orang-orang yang telah menjadi korban.

Gadis itu adalah anak Ki Jarot yang bernama Srikanti, yang telah diminta paksa oleh Datuk Luluhung Begeg dari Ki Jarot. Walau Ki Jarot tak merelakannya, hal itu tak menjadi masalah bagi Datuk Iblis itu.

Srikanti mencoba berontak, namun sekali lagi ia tak mampu melakukannya sebab tangan dan kakinya diikat keras-keras. Ingin rasanya ia menjerit, namun urat leher bicaranya telah ditotok menjadikan ia tak mampu berkata-kata apalagi menjerit. Jadilah Srikanti bisu, yang hanya mampu melenguh dan menangis serta mengumpat-umpat dalam hati.

Tengah Srikanti menangis, terdengar pintu dibuka dari luar.

"Kreket,"

Seorang lelaki bermuka menyeramkan dengan kerudung hitam penutup kepala serta jubah hitam menghampiri Srikanti yang seketika melotot marah. Lelaki berpakaian serba hitam itu, tak lain Datuk Luluhung Begeg adanya. Luluhung Begeg tersenyum pada Srikanti, lalu dengan suara berat berkata yang mendirikan bulu kuduk gadis muda itu.

"Hua, ha, ha... Tenang, Anak manis, sebentar lagi kala malam telah agak larut kau akan menjadi korban. Darahmu akan menjadikan diriku sakti mandra guna. Kelak bila telah mencapai seratus darah semacammu, jadilah aku seorang Datuk Sesat yang paling sakti di antara para tokoh persilatan. Akulah yang kelak mengatur segala apa yang ada di jagad ini. Hua, ha, ha..."

Srikanti yang tak dapat berkata-kata hanya mampu melotot, dan dengan berani tanpa diduga oleh Datuk Luluhung Begeg Srikanti meludahi muka sang Datuk. Hal itu membuat marah sang Datuk bukan alang kepalang, yang seketika itu mencengkeram leher si gadis.

"Aku bunuh, Kau anak edan!"

Tangan sang Datuk lekat di leher Srikanti hendak mencekik. Srikanti tersenyum, sepertinya siap untuk dicekik. Seketika sang Datuk tersentak, manakala ia ingat akan apa yang terjadi bila gadis itu mati sebelum bulan purnama. Padahal bulan purnama tinggal beberapa jam saja. Kalau gadis itu mati, maka tak akan dapat lagi Datuk Luluhung Begeg menambah kesaktiannya.

"Bodoh benar aku ini. Sungguh bodoh bila aku melayani anak gila ini. Kalau sampai aku jadi membunuhnya sebelum bulan purnama, tak ada lagi kesempatan. Hem, Anak edan! Hampir saja aku terbawa kegilaannya," menggerutu Datuk Luluhung Begeg, membuat Srikanti lebarkan senyum sinis. Sang Datuk tak mau ambil resiko, segera berkelebat pergi tinggalkan si gadis yang kembali tercenung dalam diam.

"Oh, Tuhan, apakah benar-benar aku ini akan menjadi korban Iblis sang Datuk? Oh sungguh tak dapat aku bayangkan, darahku akan diminumnya. Hii..." bergidig si gadis, manakala mengingat bakalan apa yang akan dilakukan sang Datuk pada dirinya, pada darahnya yang untuk mandi dan minum. Sungguh perbuatan yang biadab dan merupakan tindakan iblis.

* * *

Malam perlahan-lahan datang, menggantikan siang dan sore hari. Lamat-lamat dari kejauhan terdengar lolongan anjing menggema, menyayat hati seorang gadis, yang kini tengah menghadapi detik-detik menyeramkan.

Bila bulan purnama telah berada pada titik kulminasi atas, maka saat itu pula korban akan datang. Korban dari seorang Datuk yang menganut ilmu Iblis...

Lolongan anjing itu makin lama makin keras, bersamaan dengan lajunya sang rembulan yang berputar. Angin malam yang dingin, terasa makin dingin dan menggigit tulang-tulang sumsum.

Di dalam kamar sang Datuk Luluhung Begeg, masih tergeletak gadis Srikanti Mata sang gadis membeliak, manakala terdengar jerit-jerit yang entah dari mana datangnya. Jerit-jerit itu makin kencang, manakala bulan bergeser makin meninggi.

Wajah Srikanti seketika memucat pasi, ketika dilihatnya sosok-sosok tubuh tak berkepala dengan gelak tawa membahana, mengisi ruangan itu. Srikanti mencoba menjerit, namun mulutnya bagai tersumbat rapat. Dan gadis-gadis tanpa kepala itu makin lama makin mendekat ke arahnya, dekat dan dekat.

Dari leher-leher putung itu, terdengar desahdesah yang hampir mirip rintihan kesakitan. Tangan mereka seperti mencari-cari entah apa yang tengah mereka cari. Mereka menangis, lalu tertawa cekikikan.

"Hi, hi, hi... rupanya kita akan mendapatkan kawan. Teman, tahukah kau di mana kepala-kepala kami?"

Sebenarnya Srikanti ingin berteriak untuk menjawab tidak, namun karena ia dalam keadaan tertotok menjadikannya tak mampu berkata-kata. Gadis-gadis tanpa kepala itu seketika terdiam, dan tiba-tiba salah seorang dari mereka menotok urat nadi di leher Srikanti hingga Srikanti pun dengan seketika dapat berkata.

"Aku tak tahu. Siapa kalian adanya? Kenapa kalian menggangguku?" merengek Srikanti ketakutan. Keringat dingin seketika meleleh dari kedua keningnya.

Gadis-gadis tanpa kepala itu terus terdiam memandang ke arahnya, menjadikan Srikanti menjadijadi takutnya. Mata Srikanti terbelalak hendak keluar, manakala dilihatnya mereka membuka pakaian mereka. Ternyata anggota tubuh mereka pun berkurang. Kedua buah dada mereka tak ada lagi, hilang entah ke mana. Tengah Srikanti tak mengerti maksud setansetan itu, terdengar seorang dari setan tanpa kepala itu kembali berkata.

"Kau pun akan mengalami nasib sepertiku. Kau pun akan menjadi seperti kami ini. Dia memang jahat, melebihi setan. Tapi kami tak mampu untuk melawannya, sebab kami dalam kuasaanya."

Gadis-gadis itu kembali menangis. Makin lama makin seru tangis mereka, lalu melengking seperti histeris. Bersamaan dengan rembulan makin meninggi, bayangan-bayangan gadis-gadis tanpa kepala itu menjerit lalu menghilang dari pandangan Srikanti. Bersamaan dengan hilangnya mahluk-mahluk menyeramkan itu, pintu kamar dibuka dari luar. Tampaklah sesosok tubuh berpakaian dan tudung hitam masuk menghampiri Srikanti.

Karena ruangan itu gelap, Srikanti tak dapat mengenali jelas orang tersebut. Srikanti hanya dapat mengenali dari desah nafas lelaki berpakaian serba hitam itu, yang dikenalinya Datuk Luluhung Begeg. Sang Datuk tersenyum menyeringai, menampakkan gigigiginya yang kuning kemerah-merahan.

"Anak manis, malam inilah malam untukmu bertamasya ke alam yang belum engkau ketahui, yaitu alam akherat. Hua, ha, ha..."

"Tidak! Tidak...!"

Tersentak Datuk Luluhung Begeg, manakala mengetahui Srikanti ternyata mampu berkata-kata. Mata Datuk Luluhung Begeg membeliak, sehingga nampak menyeramkan. Mulut sang Datuk terbuka lebar, bengong dan heran melihat kejadian aneh. Betapa tidak, Srikanti yang tadinya tak dapat berkata-kata karena telah ditotok olehnya, ternyata kini bisa bicara.

"Apakah ia memiliki kepandaian hingga mampu membebaskan totokanku?" tanya Datuk Luluhung Begeg dalam hati, karena tak mengira kalau gadis bakal korbannya mampu membuka totokannya.

"Siapa kau sebenarnya!" membentak sang Datuk.

"Hi, hi, hi... aku...? Aku ya aku."

"Slompret! Kau rupanya hendak mempermainkan aku, Anak edan! Jangan kira aku takut melihatmu dapat membebaskan totokan. He, sesaat lagi kau akan aku jadikan penambah kesaktianku. Darah... ya darahmulah yang aku butuhkan. Hua, ha, ha...!"

Bergidig Srikanti mendengarnya, sampaisampai wajahnya kembali memucat. Hatinya seketika menjerit-jerit, ya menjerit ketakutan. Bayanganbayangan kesepuluh gadis-gadis tanpa kepala, memenuhi benaknya.

"Apakah aku pun akan seperti mereka mati gentayangan? Hiiii sungguh mengerikan," bergumam

hati Srikanti.

"Lepaskan aku, Iblis! Lepaskan... aku bukan gadis lagi. Aku telah diperawani oleh kekasihku!" memekik Srikanti mencoba mempengaruhi Datuk Luluhung Begeg, menjadikan sang Datuk seketika melototkan mata dan bertanya dengan suara setengah kecewa.

"Benar apa yang kau katakan, Anak edan!"

"Benar," jawab Srikanti memastikan.

"Bedebah! Kalau benar apa yang engkau katakan, maka keluargamulah yang akan menjadi penggantinya. Seluruh keluargamu akan menerima pembalasanku."

"Jangan...! Jangan kau lakukan itu. Aku masih-masih perawan. Biarlah aku jadi korbanmu, asal kau tidak membinasakan keluargaku."

"Hua, ha, ha... bagus, bagus. Ternyata kau hendak mengelabui aku. Hem, tak apa, sebab sebentar lagi kau berjasa padaku. Darahmu akan membantu diriku memperoleh kesaktian."

Datuk Luluhung Begeg tertawa bergelak-gelak, lalu dengan tanpa memperdulikan Srikanti ia berkelebat keluar dari kamar. Tubuh sang Datuk berkelebat keluar rumah. Dipandangnya rembulan yang masih agak condong ke timur. Matanya melotot, seakan memelototi rembulan yang terlalu lama bergerak,

"Suwe... Waladalah. Kalau begini terus, mana mungkin aku segera dapat menambah ilmuku. Hem, akan aku pengaruhi peredaran bulan itu."

Habis berkata begitu hatinya, segera Datuk Luluhung Begeg duduk bersilah. Tangannya sedakap, kakinya saling lipat. Matanya terpejam, sementara mulutnya komat-kamit. Mengucap mantra. Perlahanlahan, bulan itu bergeser dan bergeser tak menuruti kehendak pergeseran sang waktu.

* * *

Tersentak kaget Jaka Ndableg demi melihat sebuah kejanggalan di atas langit. Matanya membelalak, memandang tak berkedip pada bulan yang bergerak dengan cepat. Tanpa sadar Jaka bergumam, yang menjadikan Prakoso yang berdiri di sampingnya tersentak bengong.

"Gusti Allah, ilmu apa yang digunakannya?"

"Kenapa, Jaka? Sepertinya kau memikirkan peredaran bulan itu."

Jaka terdiam menarik napas perlahan. Ditajamkan matanya mengawasi bulan yang terus berjalan dengan cepat. Kepalanya menggeleng-geleng, seakan ia tengah merasakan sesuatu yang berat. Tak disadari mulutnya seketika bergumam, sekaligus menjawab pertanyaan Prakoso.

"Bulan itu bergerak tidak normal. Ada sesuatu tenaga yang mempengaruhi. Biasanya orang yang mampu mempengaruhi, hanya yang memiliki ajian Lulur Wektu. Hem, siapakah yang telah berbuat begini. Edan... jelas orang-orang sepertinya orang-orang yang sangat berbahaya."

Prakoso yang mendengar gumaman Jaka hanya tercenung diam, tak mengerti akan apa yang sebenarnya terjadi. Tengah semuanya terdiam, tiba-tiba dari arah selatan tampak selarik sinar biru memancar ke atas langit.

Sinar itu makin lama makin besar dan besar, menarik gerakan rembulan ke arah barat. Dengan segera Jaka, heningkan cipta. Ia tahu bahwa gerakan bulan telah di pengaruhi oleh seseorang yang bermaksud jelek pada kehidupan.

"Jaka lihat...! Ada sinar biru memancar!" sera Prakoso, menjadikan kesepuluh prajurit tersentak dan langsung memandang dengan terbengong-bengong larikan sinar biru. Jaka masih terdiam, memusatkan segala panca indra untuk dapat menangkap siapa sebenarnya pembuat keganjilan di langit. Setelah sekian lama terdiam, segera Jaka belalakkan mata memandang ke arah datangnya sinar. Jaka tersentak manakala melihat dengan mata batinnya siapa adanya orang itu, yang tak lain Datuk Luluhung Begeg.

"Ini harus dicegah," bergumam hati Jaka. "Dening Ratu Siluman Darah, datanglah!"

Tersentak kesebelas orang yang berada tak jauh darinya, manakala dilihat oleh mereka Jaka tibatiba telah menggenggam sebilah pedang yang memancarkan sinar kuning kemerah-merahan. Serta merta kesebelas orang itu memekik menyebut pedang di tangan Jaka, yang sudah mereka dengar. "Pedang Siluman Darah...!"

Belum habis kekagetan kesebelas orang itu, serta merta Pedang Siluman Darah telah melesat terbang. Pedang itu meluncur menuju ke arah sinar itu berada. Segera Jaka dan kesebelas prajurit Kadipaten mengikuti lajunya pedang.

"Wuuut... wut... wut!"

Pedang Siluman Darah tampak berkelebat, menyerang orang yang tengah membuat kejanggalan dunia. Orang yang ternyata Datuk Luluhung Begeg tersentak, lompatkan tubuh ke belakang. Matanya membeliak manakala tahu apa yang tiba-tiba menyerangnya dan telah membuat konsentrasinya buyar. Sebilah pedang yang mengeluarkan warna kemerah-merahan, memburunya.

"Pedang sialan! Siapa yang telah mempengaruhimu untuk melakukan tindakan gila melawanku, hah!" Tangan Datuk Luluhung Begeg bermaksud menangkap Pedang Siluman Darah namun secepat itu pula Pedang Siluman Darah berkelebat menghindar dan balik menyerang. Tak ayal lagi, tangan Datuk Luluhung Begeg seketika terputung pergelangannya.

Memekiklah Datuk Luluhung Begeg, bagaikan tersiksa. Tangannya lepas, tergeletak di tanah. Mata Datuk Luluhung Begeg melotot tak berkedip, melihat suatu kejanggalan yang terjadi. Tangannya yang putus tampak mengering, bagikan tak berdarah setetes pun. Berbareng dengan itu, kedua belas orang yang mengikuti larinya Pedang Siluman Darah tiba. Pedang Siluman Darah seketika berkelebat, dan tiba-tiba telah berada dalam genggaman tuannya Jaka Ndableg.

"Kau... kau Pendekar Pedang Siluman Darah!" memekik tertahan Datuk Luluhung Begeg, setelah tahu siapa pemilik pedang itu. Kini ia sadar, kalau pedang yang telah menyerangnya tak lain senjata pusaka yang telah mengguncangkan dunia persilatan yaitu Pedang Siluman Darah.

"Kenapa, Datuk Iblis! Untung kau bertemu denganku di sini. Kalau tidak! Pedang Siluman Darah ini akan menghisap darahmu yang busuk itu. Hem, karena aku menghormati Bupati Kencana Wungu, hingga aku tak sampai menghukum mu."

Tubuh Datuk Luluhung Begeg seketika menggigil, setelah tahu Jaka Ndableg si Pendekar Pedang Siluman Darah. Segera Datuk Luluhung Begeg jatuhkan diri dan menangis meminta ampun.

"Tobat, jangan bunuh aku. Aku menyerah."

"Benarkah kau bertobat, Datuk?" tanya Jaka Ndableg tak mau percaya begitu saja.

"Ingat olehmu, Datuk. Bila kelak kau mengulangi perbuatanmu, niscaya aku tak akan segan-segan membunuhmu. Dan Pedang Siluman Darah inilah yang akan menghisap darahmu."

Hari itu juga, Datuk Luluhung Begeg ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah. Ketenangan Kadipaten Kencana Sari pun tampak kembali seperti sediakala. Tak ada lagi teror yang mereka takuti, tak ada lagi korban-korban gadis yang diambil darahnya. Apakah benar Kadipaten Kencana Sari tenang? Setelah menyelesaikan urusan Datuk Luluhung Begeg, segera Jaka pamit untuk melakukan pengembaraannya.

*** 
LIMA
Tiga Bulan Kemudian...

Seorang wanita muda dan cantik siang itu berjalan menyusuri jalanan Kadipaten Kencana Sari. Ditilik dari pakaian yang dikenakan dan pedang yang tergantung di pundaknya, jelas gadis itu adalah orang persilatan. Gadis itu berjalan dengan santai, lalu masuk ke sebuah kedai yang tak jauh darinya berjalan.

Kedatangannya di kedai seketika menjadi perhatian seluruh pengunjung kedai yang semuanya lakilaki. Namun bagaikan tak menggubris, gadis itu tenang saja dan mengambil duduk. Suaranya yang nyaring seketika terdengar berkumandang ketika gadis cantik jelita itu berseru memanggil pelayan kedai.

"Pelayan, bawakan aku nasi dan lauk pauknya!"

"Baik, Den ayu."

Gadis itu kembali acuh, duduk memandang ke depan. Tengah gadis itu duduk sendirian, dari luar kedai dua orang lelaki bertampang menyeramkan dengan muka ditumbuhi cambang bawuk masuk ke kedai. Kedua lelaki itu menyapukan pandangannya ke segenap ruangan. Seketika keduanya tersenyum, manakala dilihatnya seorang gadis duduk sendirian. Serta merta keduanya segera menghampiri.

"Bolehkah kami duduk, Nona?" tanya seorang di antara keduanya.

Gadis itu seketika menengok ke asal suara itu, dan dengan suara dingin menjawab. "Boleh..."

Mata gadis itu menyudut, menjadikan keindahan bagi yang melihatnya. Hal itu juga menjadikan dada kedua lelaki bertampang menyeramkan seketika dag dig dug. Kedua lelaki itu segera duduk di samping kiri dan kanan, mengapit sang gadis yang tampaknya acuh dan tenang.

"Boleh kami kenal namamu, Nona?" kembali lelaki tadi bertanya.

Si gadis seketika memandang tak berkedip pada lelaki itu. Hatinya seketika bergumam, "Hem, orangorang macam ini harus aku pergunakan sebaikbaiknya."

"Kenapa terdiam, Nona?" tanya lelaki itu mengulang.

"Ooh, maaf," menjawab si gadis, kali ini senyumnya mengembang makin menjadikan kedua lelaki bertampang brangasan itu deg-degan hatinya. Keduanya menyangka kalau gadis itu memang benar-benar mengijinkan keduanya mengenal dirinya. Kedua lelaki itu tak menyadari makna dari senyuman maut si gadis. Senyuman yang tersembunyi sebuah harapan. Ya, harapan untuk menjadikan keduanya sebagai budakbudaknya.

"Namaku Dewi Sariti," mengenalkan Sariti namanya.

"Waladalah, cocok dengan wajahnya. Nama kami Sepasang Buaya Merah. Aku bernama Catil Buaya, sedang adik seperguruanku bernama Catul Landak."

Gadis itu kembali tersenyum, kini senyumnya makin melebar seperti sengaja dikembangkan. Hal itu makin menambah kecantikan Sariti, menjadikan kedua Buaya Merah makin tak mampu untuk membendung rasa yang ada di hatinya. Tangannya yang jail, telah gatal untuk colak colek. Hal ini memang sangat diharapkan oleh Sariti.

Maka ketika Catil Buaya hendak mencolek miliknya yang sensitif, sekonyongkonyong Sariti kibaskan tangan dengan cepat. Kelebatan tangan Sariti begitu cepat, sehingga tak mampu Catil Buaya mengelakkannya. Tiba-tiba tangan Sariti telah mencengkeram tangannya, lalu bagaikan benda ringan dihempaskan tubuh Catil Buaya tinggi besar itu.

"Gedebug..."

Melotot mata Catul Landak menyaksikan hal itu. Namun Catul Landak tak dapat berbuat apa-apa, manakala dengan cepat Sariti telah menghempaskan dirinya jatuh terlentang bagaikan sehelai daun lontar yang dihempaskan.

"Kau... Bedebah! Rupanya kau ingin main-main dengan Dua Buaya Merah. Hem... bersiaplah, hiat...!" menggeram marah Catil Buaya. Seketika tubuhnya bangkit, berkelebat menyerang pada Sariti yang masih tersenyum. Manakala serangan Catil hendak sampai dengan mengegoskan tubuh yang langsing itu Sariti mengelak dan tanpa dapat dicegah kakinya mengangkat menendang muka Catil Buaya.

"Splak...! Splak...! Splak...!"

Tiga kali tendangan beruntun menghantam muka Catil Buaya, yang seketika itu sempoyongan dengan hidung dan mulut keluarkan darah. Melihat kakak seperguruannya terluka, dengan nekad Catul Landak bangkit seraya langsung menyerang dengan senjatanya Duri Buaya.

"Aku bikin kulitmu yang mulus itu bergedel, Gadis Sundel!"

"Hi, hi, hi... Buktikanlah kalau kau mampu, Catul?" berkata Sariti dengan senyum meremehkan. Tubuhnya yang ramping berkelebat memapaki serangan tersebut. Belum juga serangan Catul sampai, Sariti dengan segera hantamkan pukulan yang disaluri tenaga dalam. Karena Batul tengah dilanda emosi, sehingga serangan tersebut tak mampu ia elakan. Tubuhnya seketika terhempas terbang bagai ditiup angin prahara, dan jatuh membunyikan suara gedebug.

Sariti tersenyum, berjalan menghampiri keduanya yang jatuh terduduk. Senyumnya masih mengembang, bahkan kini makin lebar. Hal itu makin menjadikan kedua Buaya Merah merandek marah, yang dengan mendengus segera berkelebat menyerang bareng.

Diserang begitu rupa tidak menjadikan Sariti bingung atau takut. Bahkan dengan senyum yang masih mengembang Sariti berkelit balik menyerang. Kaki dan tangannya bergerak cepat laksana baling-baling yang ditiup oleh angin kencang. Hal itu menjadikan kedua Buaya Merah tersentak, melompat mundur.

"Kita hadapi dengan ilmu Buaya, Catul."

"Ayo, kakang, hiat..!"

"Buaya Merah Mencari Mangsa, hiat...!"

"Hi, hi, hi... Buaya ompong, akan aku hadapi dengan ini," bersamaan dengan habisnya suara Sariti, tiba-tiba tubuh Sariti bergerak bagaikan anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Tubuh Sariti seketika terbelah, menjadi dua, kemudian tiga, empat... Sepuluh Sariti kini muncul. Hal itu menjadikan kedua musuhnya bingung untuk menyerang yang mana. Semuanya sama, semuanya tersenyum ke arah kedua lelaki bertampang menyeramkan.

"Hi, hi, hi... Masihkah kalian tak mau mengakui kekalahan kalian?" tanya sepuluh gadis cantik itu bareng, menjadikan gema yang berkepanjangan.

"Baiklah kami menyerah," menjawab Catil

Buaya.

"Bagus! Mulai sekarang akulah ratumu, paham!" membentak gadis itu dengan angkuhnya. "Juga semua yang ada di dalam kedai ini, sejak saat ini kalian harus mengakui aku sebagai pimpinan kalian. Ingat! Bila ada yang berani membantah maka hadiahnya akan seperti ini, hiat...!" Sang gadis kiblatkan telapak tangannya ke seseorang yang sedari tadi memandangnya yang duduk di sudut ruangan.

Seketika bersamaan dengan selarik sinar putih keluar dari telapak tangan si gadis, melengking pula orang tersebut. Orang itu akhirnya terdiam mati dengan tubuh meleleh bagaikan malam terkena api. Itulah ajian Lebur Raga. Bergidig semua yang menyaksikan, mata mereka melotot. Bau daging terbakar, seketika menyengat hidung menjadikan yang tak kuat menahannya muntahmuntah.

Sariti kembali duduk dengan tenangnya, menyantap makanan yang telah disediakan dengan lahapnya. Ia tak lagi memperdulikan pada semua pengunjung kedai, yang dengan takut-takut memperhatikan dirinya.

Tengah Sariti menyantap makannya, terdengar seruan orang di luar kedai.

"Kanjeng Bupati Kencana Wungu datang...!"

Serta merta seluruh yang berada di dalam kedai keluar, tak luput juga Sariti. Ditinggalkannya makanan, dan segera berkelebat ke luar. Ia ingin tahu bagaimana tampang Bupati Kencana Wungu, yang menurut desas desus sangat tampan dan penuh kewibawaan.

Dari kejauhan nampak dua lelaki tampan duduk di atas kuda-kuda mereka, sementara di belakangnya berjalan puluhan prajurit mengiringi. Serentak seluruh rakyat jongkok menyembah sembari surut minggir memberikan jalan. Kencana Wungu duduk di atas dengan senyumnya, di samping kanan duduk di atas kuda Prakoso Suryo sang pimpinan prajurit yang sekaligus adik seperguruannya.

Ketika keduanya sampai de depan kedai, serentak seluruh pengunjung kedai yang telah keluar jongkok menyembah seraya keluarkan sanjungan.

"Sejahtera bagi baginda Kanjeng Bupati kencan Wungu!"

"Terimakasih... Sejahtera pula untuk kalian, rakyatku!" menjawab sang Bupati sembari lemparkan senyum manis. Namun seketika senyumnya menghilang, berganti dengan kerutan di dahinya manakala dilihatnya seorang wanita muda cantik berdiri.

Wanita muda cantik itu tidak jongkok seperti yang lain, tapi berdiri dengan angkuhnya bahkan tersenyum seenaknya. Mata gadis itu memandang tajam tak berkedip, memandang pada Kencana Wungu. Para prajurit yang melihat hal itu seketika berkelebat mendatangi gadis cantik itu bermaksud menangkapnya, manakala Kencana Wungu telah mendahului berseru.

"Biarkan, Prajurit-prajuritku!"

Tersentak seluruh prajurit mendengar hal itu. Mereka tak mengerti kenapa Bupatinya melarang untuk menangkap gadis liar dan angkuh itu. Kencana Wungu telah turun dari kuda, menghampiri gadis cantik itu yang masih berdiri memandangnya tajam menghunjam.

"Siapakah nona ini? Sepertinya nona orang baru di sini."

"Kaukah Bupati Kencana Wungu itu!" balik bertanya gadis cantik itu, menjadikan seluruh mata melotot kaget tak percaya kalau gadis itu akan nekad berani bertanya lancang. Seluruh rakyat seketika menggertuk, kesal dan jengkel melihatnya. "Gadis sombong! Lancang benar mulutmu!"

"Sudahlah, rakyatku. Janganlah kalian memendam rasa benci atau marah. Aku tak apa, dan maklum akan hal itu. Siapa nama nona?" tanya Kencana Wungu seraya datang menghampiri.

Gadis itu tersenyum memandang pada Kencana Wungu. Matanya menatap sayu, sepertinya mengatakan sesuatu maksud agar Kencana Wungu mau mengerti dan memahami arti tatapan itu. Hati Kencana Wungu seketika terpanah, bergetar mendengungkan sebuah kalimat merdu.

"Kenapa nona terdiam?" ulang Kencana Wungu bertanya.

"Ti-tidak. Aku terpana memandangmu," terbata-bata gadis itu menjawab, menjadikan Kencana Wungu makin melebarkan senyumnya. Sementara sang gadis pun tersenyum, mengulaskan sebuah pemandangan indah di bibirnya. "Nama hamba, Sariti... Dewi Sariti."

Kepala Kencana Wungu mengangguk-angguk mengerti.

"Dapatkah nona nanti datang ke Kadipaten?"

"Adakah saya bersalah, Kanjeng?" tanya sang gadis dengan takut-takut, menjadikan Kencana Wungu kembali mengulas senyum. Ditajamkan matanya menatap sang gadis, yang seketika itu tertunduk. Entah apa yang menjadikannya tertunduk, yang semula berani menentang pandang.

"Aku tak dapat menjawabnya sekarang, tapi nanti di Kadipaten kau akan aku beritahukan," menjawab Kencana Wungu. "Ayo Dinda kita lanjutkan perjalanan."

"Daulat, Kanda. Prajurit... Kita teruskan perjalanan!" berseru Prakoso Suryo memerintah. Seketika itu pula mereka pun bergerak kembali, meninggalkan tempat itu, meninggalkan Sariti yang memandang kepergian mereka dengan sejuta perasaan yang melekat di hatinya.

* * *

Kuda-kuda yang ditumpangi mereka berjalan lambat, hal itu memang disengaja agar mereka dapat bercakap-cakap. Kencana Wungu tampak tercenung di atas kudanya, menjadikan Prakoso yang mengiringinya seketika mengajukan pertanyaan.

"Kenapa gerangan kanda melamun? Sepertinya kanda memikirkan sesuatu. Apakah gadis itu yang kanda tengah pikirkan?"

"Ah..." melenguh Kencana Wungu. "Kau tahu saja, Dinda."

"Dinda hanya menebak, sebab dinda perhatikan kanda melamun sejak kanda menghampiri gadis itu. Kenapa, Kanda...?"

Kencana Wungu sesaat menarik napas, memandang pada Prakoso dengan bibir terurai senyum. Dan dengan malu-malu, Kencana Wungu menjawab. "Entahlah, Dinda. Sejak melihatnya hati kanda seketika itu pula telah terpanah oleh cinta."

"Ah..." kini Prakoso yang melenguh, yang seketika mengundang perhatian Kencana Wungu bertanya.

"Kenapa, Dinda? Sepertinya kau merasa berat."

"Entahlah, Kanda. Aku hanya merasakan sesuatu yang tak enak bila kanda harus dengan gadis itu," menjawab Prakoso Suryo. "Di samping liar, sorot matanya nakal. Apakah sorot mata itu tidak ada maksud sesuatu di baliknya? Entahlah, Kanda."

"Ah, kenapa kau mesti memikirkan itu semua, Dinda. Mungkin sorot mata itu karena ia baru saja turun gunung," berkata Kencana Wungu beralasan. "Bukankah dulu kita waktu pertama kali turun gunung juga seperti macan...?"

Seketika itu kedua kakak beradik seperguruan itu pun bergelak tawa, lalu dengan segera dipacunya kuda-kuda yang mereka tumpangi.

* * *

Tersentak Kencana Wungu dan Prakoso Suryo manakala dilihat oleh keduanya bahwa gadis itu telah berada di halaman Kadipaten. Gadis itu tersenyum manakala melihat kedatangan mereka, sepertinya memberikan gambaran sesuatu. Ya, sesuatu yang tak dapat dijawab oleh kedua kakak beradik yang tak menaruh sakwasangka buruk. Apalagi Kencana Wungu, serta merta ia segera turun dari atas kudanya menghampiri si gadis.

"Kapankah nona datang?" tanya Kencana Wungu.

"Dari tadi," menjawab Sariti dengan bibir masih terurai senyum, senyum yang mampu menggetarkan dada setiap lelaki. "Sejak aku melihat Baginda, entah karena apa hatiku seketika ingin selalu melihat wajah Baginda. Apakah ini yang dinamakan tak bertepuk sebelah tangan, Tuan...?"

Terbelalak dan makin melebar saja mata Kencana Wungu kaget, demi mendengar penuturan Sariti yang polos. Dengan tanpa malu-malu Kencana Wungu segera menggandeng tangan Sariti, masuk ke dalam rumahnya. Prakoso Suryo hanya mampu gelenggelengkan kepala melihat hal itu, lalu ia pun segera berlalu menuju ke rumahnya.

Kedua orang itu telah dibuai cinta, yang menggayut dan mengukir di hati mereka. Kencana Wungu nampak tersenyum, memapah langkah Sariti menuju ke kursi, keduanya hanya terdiam dan diam, saling pandang penuh arti. Lama hal seperti itu keduanya lakukan, sampai-sampai mereka tak menyadari kalau tangan-tangan mereka saling berkait, saling remas dengan bibir terurai senyum.

"Apakah yang hendak Kanjeng Bupati katakan padaku?" tanya Sariti tiba-tiba, menjadikan Kencana Wungu seketika mendesah. Sementara mata keduanya masih saling tatap, seakan membersitkan benangbenang cinta.

"Apakah dinda belum mengerti juga?" balik bertanya Kencana Wungu, menjadikan Sariti seketika berbinar-binar matanya disebut dinda. Ah, kata sebutan itu sungguh merdu didengar di telinganya, menjadikan Sariti seketika itu melayang sukmanya terbang ke alam yang indah.

"Kanda..." mendesah Sariti terbata.

"Benar, Dinda. Sebut aku dengan sebutan itu, sungguh aku merasakan kebahagiaan bila kau mau menyebutkan sebutan Kanda padaku untuk selamanya."

"Benarkah, Kanda?"

"Benar, Dinda. Sungguh aku mencintaimu sejak melihatmu tadi."

"Oooh, Kanda..." Sariti melenguh manja, menjadikan Kencana Wungu tak alang kepalang seketika itu pula bagaikan hilang keseimbangan tubuhnya. Kencana Wungu segera berdiri dari duduknya, melangkah mendekati Sariti.

"Maukah kau menjadi istriku, Dinda?"

"Dengan senang hati, Kanda..."

Mendengar jawaban itu, seketika tanpa sadar Kencana Wungu dekap tubuh Sariti. Perlahan didekatkan mukanya, lalu hidungnya dan yang terakhir bibir mereka berkait.

***
ENAM
JAKA Ndableg tersenyum melihat kera-kera yang berloncat-loncatan dari satu pohon ke pohon lainnya, saling canda ria. Tingkah kera-kera itu sangat lucu, mengundang gelak tawa bagi yang melihatnya.

Melihat kera-kera itu yang bebas berkeliaran dengan hati riang, menjadikan Jaka teringat pada dirinya. Dirinya juga bebas berkeliaran. Bedanya kalau kera-kera itu tak ada yang mengusik, sedang dirinya banyak musuhnya.

"Sungguh bahagianya kera-kera itu," gumam Jaka.

Pagi itu terasa sejuk, angin bertiup sepoi-sepoi menerpa daun-daun. Rambut Jaka yang gondrong nampak tergerai, beterbangan dihempas angin. Untung saja Jaka mengenakan ikat kepala, kalau tidak mungkin rambut-rambutnya akan berantakan.

Dengan menggeleng-gelengkan kepala melihat kera-kera yang lucu, Jaka segera mengambil sebuah buah mangga dan dilemparkannya ke arah kera-kera tersebut.

"Ini untuk kalian, hoop!"

Setelah memberikan mangga tersebut pada kera-kera yang seketika itu berebutan Jaka segera meneruskan langkah kakinya berlalu meninggalkan hutan. Pikirannya tak tentu arah, ke mana saja hati nuraninya mengajak. Ke situ pula Jaka membawa tubuhnya.

* * *

Manakala Kencana Wungu tak ada di rumah, diam-diam istrinya yang bernama Sariti atau Dewi Kencana Wungu mencari di mana adanya penjara bawah tanah yang digunakan untuk memenjarakan Datuk Luluhung Begeg.

Hari itu ketika sang Bupati menghadap baginda Raja, Dewi Kencana Wungu kembali mencari di mana adanya penjara bawah tanah. Telah hampir seluruh ruangan itu ia selidiki namun tak ada tanda-tanda ia bakal menemukannya.

"Mungkinkah di belakang rumah?" tanyanya dalam hati.

Segera Dewi Kencana Wungu berkelebat ke belakang rumahnya. Dicarinya pintu yang berada di bawah tanah, yang memungkinkan untuk menembus penjara tersebut. Namun kembali ia menemukan kegagalan, karena ia tak mendapatkannya.

"Hem, sungguh-sungguh sulit. Kenapa aku tidak menanyai Kencana Wungu saja?" mengeluh Dewi Sariti. "Tapi... apakah nanti ia tidak curiga? Ah, benar. kalau aku menanyakannya, bisa-bisa aku yang ditangkap karenanya. Hem, aku tak boleh putus asa dulu. Aku harus tetap mencari sampai ketemu."

Habis menggumam begitu, Sariti kembali mencari di mana adanya pintu masuk menuju ke penjara bawah tanah. Seluruh ruangan rumah telah ia cari, namun belum juga diketemukannya. Hampir saja Sariti putus asa, manakala matanya seketika melihat sesuatu keganjilan di halaman belakang rumah. Pohon pisang itu berdiri, namun daun-daunnya tak menghijau seperti daun pohon pisang lainnya.

"Hem, mungkin itu tempatnya. Coba aku periksa."

Segera Sariti mengambil sekop, dan digalinya tempat itu. Belum begitu dalam ia menggali, tiba-tiba sekop yang digunakannya membentur betonan.

"Duk, duk, duk!"

"Hem, ini dia."

Perlahan-lahan Sariti membuka pintu yang terbuat dari betonan, yang menutupi lobang pintu.

"Hooop... ya!"

Betonan itu pun akhirnya terangkat, bersamaan dengan mentalnya tubuh Sariti. Saat itu juga, sepuluh tombak berkelebat mengarah Sariti yang tersentak kaget, lemparkan tubuh ke samping menghindar.

"Huh, benar-benar bahaya kalau aku tak hatihati," mengeluh Sariti dalam hati. Perlahan ia bangkit, lalu mendekati lubang yang menganga. Langkahnya begitu hati-hati, takut kalau-kalau jebakan akan datang menyerang lagi.

Sariti mengambil sebongkah batu, dicobakannya batu itu. Tak ada apa-apa yang menyerang batu itu. Setelah yakin benar bahwa sudah tak ada jebakan, Sariti perlahan-lahan menuruni tangga yang ada di situ.

Dengan terlebih dahulu menengok kanan kiri, Sariti segera menuruni anak tangga ke bawah. Gelap keadaan di bawah hingga Sariti harus tertatih-tatih melangkah.

"Adakah ayah mendengar suaraku?" Tak ada jawaban. Sariti kembali melangkah maju perlahan, makin ke dalam dan ke dalam. Sesaat Sariti berdiri menajamkan mata untuk dapat melihat di tempat gelap itu dan kembali ia berseru:

"Ayah... di mana kau?"

"Aku di sini, Anakku," terdengar jawaban dari seorang lelaki. "Terus kau melangkah maju! Kalau kau melihat cahaya, maka di situlah aku."

Sariti segera menuruti, ia melangkah perlahan dalam gelap. Dicarinya ruangan yang bercahaya, sesuai dengan perintah ayahnya. Tak lama kemudian Sariti pun akhirnya menemukan tempat itu.

"Ayah!" Sariti memekik, manakala dilihat olehnya seorang lelaki tua dan tampak makin tua saja terkurung dalam jeruji besi.

"Apakah ayah tak mampu membuka jeruji itu?"

"Mana mungkin, Anakku." melenguh Datuk Luluhung Begeg.

"Tangan kananku puntung, Anakku!"

"Puntung!" memekik kaget Sariti demi mendengar hal itu.

"Siapa yang telah melakukannya, Ayah? Kencana Wungukah?"

"Bukan, Anakku." menjawab Datuk Luluhung Begeg, menjadikan Sariti kembali bertanya ingin tahu siapa adanya yang telah berani memutungi tangan ayahnya.

"Lalau siapa, Ayah? Biar aku yang akan menghukumnya!"

Datuk Luluhung Begeg seketika menarik nafas. Ditatapnya wajah anaknya yang tegang. Ia maklum betapa sang anak sangat mencintainya. Namun untuk mengatakan siapa adanya orang yang telah mencelakainya sungguh berat. Bukannya apa, sang Datuk tak ingin anaknya harus menghadapi resiko. Melihat ayahnya hanya terdiam, Sariti pun mendesaknya. "Siapa, Ayah? Kenapa ayah sepertinya jeri?"

"Anakku. Tangan ayah ini ditebas oleh senjata pusaka milik siluman."

Akhirnya Datuk Luluhung Begeg menjawabnya, menjadikan Sariti tersentak kaget.

"Siluman...? Jadi ayah telah bertarung dengan siluman?"

"Bukan itu, Anakku. Ayah tertebas oleh senjata pusaka seorang Pendekar yang namanya akhir-akhir ini tengah menjadi bahan ucapan. Kau kenal dia, nak?"

Sesaat Sariti terdiam sembari kerutkan kening mengingat-ingat siapa gerangan Pendekar Pemilik Senjata Siluman. Namun sekian lama ia mengingat, tak juga ia mengenalinya hingga akhirnya ia pun mengeluh. "Aku tak mengerti, Ayah."

Datuk Luluhung Begeg tersenyum.

"Pendekar itu masih muda. Mungkin sebaya dengan dirimu." menjelaskan Datuk Luluhung Begeg. "Dan senjata pusaka itu adalah sebuah Pedang yang mampu mengeluarkan darah bila berhadapan dengan musuh..."

"Pendekar Pedang Siluman Darah!" memekik Sariti memotong ucapan ayahnya.

"Benar anakku. Memang Pendekar itulah yang telah melakukannya, ia juga mengancam akan membasmi kita, bila kita melakukan kejahatan lagi. Itulah kenapa ayah pasrah mendekam dalam penjara bawah tanah yang pengap ini."

Tergetar Sariti mendengar ucapan ayahnya yang bernada sedih. Darahnya seketika mendidih dan mendidih, bergetar-getar laksana badai. Seketika itu pula, dendamnya pada Pendekar Pedang Siluman muncul. Dendam untuk dapat membalas segala yang pernah dilakukan pendekar itu pada ayahnya, sehingga tanpa sadar Sariti berseru lantang

"Aku akan balas semua ini, Ayah! Akan aku puntungi leher Pendekar Pedang Siluman Darah!"

"Anakku!" tersentak kaget Datuk Luluhung Begeg mendengar sumpah anaknya. Hampir saja Luluhung Begeg menangis. Ya, Datuk Luluhung Begeg sedih. Ia tahu bahwa pendekar muda itu sangat susah dikalahkan. "Percuma, Anakku. Dia bukan pendekar sembarangan apalagi senjatanya."

"Tidak, Ayah! Tekadku untuk membalas semua ini akan aku laksanakan. Aku tak akan membiarkan pendekar sok ingin mencampuri urusan orang lain."

Menggerutuk ucapan Sariti, sampai-sampai gigi-giginya beradu. "Sekarang ayah menepi, akan aku hancurkan jeruji besi ini."

Datuk Luluhung Begeg tak dapat menolak permintaan anaknya, segera sang Datuk menurut menepi. Sejurus kemudian...

"Hiat! Aji Lebur Raga!"

"Duar! Duar! Duar!"

Tiga kali berturut-turut terdengar ledakan dahsyat. Bersamaan dengan itu, besi-besi penutup ruangan seketika hancur patah-patah terhantam ajian Lebur Raga. Hal ini menjadikan mata Datuk Luluhung Begeg melotot kaget. Ia tak menyangka kalau anaknya mampu memiliki ajian yang sungguh-sungguh dahsyat. Serta merta Datuk Luluhung Begeg memeluk tubuh anaknya dan menangis.

"Sudahlah, Ayah. Jangan kau menangis. Kini ayah telah bebas."

"Tapi artinya kebebasanku kalau tetap diburu oleh pihak Bupati Kencana Sari, Anakku?"

"Jangan pikirkan itu. Malam nanti aku akan membuat segalanya berubah," menjawab Sariti berusaha menenangkan ayahnya. "Ayah bersembunyilah, pergilah ayah ke Gunung Lanang dan temui anak buahku. Katakan pada mereka ayah adalah ayahku. Ayah Penguasa Gunung Lanang!"

"Tapi, apa yang hendak kau lakukan, Nak?" tanya Datuk Luluhung Begeg dengan mata menyipit.

"Tak usahlah ayah banyak tanya dulu. Waktuku tak ada lagi, sebab sebentar lagi suamiku akan datang."

"Jadi... Kau istri Kencana Wungu?" tanya Datuk Luluhung Begeg kaget, dijawab dengan anggukkan kepala oleh Sariti. Setelah kedua bapak dan anak itu kembali berpelukan, Datuk Luluhung Begeg pun segera pergi meninggalkan penjara bawah tanah untuk mencari tempat yang ditunjukkan oleh anaknya yaitu Gunung Lanang. Tak ia sangka, kalau Penguasa Gunung Lanang yang ditakuti oleh tokoh-tokoh persilatan adalah anaknya sendiri...

* * *

"Baru datang, Kakang?" sapa Sariti dengan senyum manis, manakala menyambut kedatangan suaminya yang mengangguk sembari tersenyum. Dipapahnya tubuh Sariti masuk ke dalam.

Sariti masih tersenyum, menuruti ajakan suaminya dengan perasaan berkecamuk. Perasaan dendam, seketika berperang dengan perasaan kasih. Ya, benih dari Kencana Wungu telah tersebar di rahimnya. Tapi bila mengingat ayahnya, segera pikiran lain dihilangkan. Ditekannya perasaan yang satu. Dendam. Ya, dendam pada Kencana Wungu suaminya. Juga dendam pada Pendekar Pedang Siluman Darah.

"Malam ini aku akan menjadikan Kadipaten ini geger!" berkata Sariti dalam hati, sementara ia masih tetap melayani apa yang tengah dilakukan suaminya. Dibalasnya permainan cinta Kencana Wungu. Ketika Kencana Wungu terhanyut, tiba-tiba Sariti mendorong tubuh Kencana Wungu dengan kasar, menjadikan Kencana Wungu tersentak kaget.

"Kenapa, Dinda? Kenapa berbuat begitu?" tanya Kencana Wungu tak mengerti. Matanya memandang tak berkedip, tajam bagaikan menggores ulu hati. Bibirnya memang masih tersenyum, tapi senyum itu adalah senyum sinis.

"Kau harus mati, Wungu. Kau harus mati malam ini!"

Habis berkata begitu Sariti melompat, mengambil pedangnya yang tergantung. Tersentak kencana Wungu melihat istrinya tiba-tiba liar dan ganas. Kencana Wungu menyangka itu karena pengaruh sang bayi, sehingga ia pun membiarkannya. Maka manakala Sariti tebaskan pedang tak ayal lagi, pedang itu membabat puntung lehernya.

"Aaaahhh!" memekik Kencana Wungu.

Tubuhnya seketika ambruk bersamaan dengan menggelindingnya kepala. Ambruk dengan darah mencuat dari leher yang putung.

Tertawa bergelak-gelak Sariti melihat hal itu. Dari sela-sela bibirnya, terbersit sebuah kata-kata, sebelum ia pergi meninggalkan Kadipaten. "Tunggulah nanti olehmu, Pendekar Pedang Siluman Darah. Aku akan mengadakan perhitungan denganmu, hi, hi, hi..."

***
TUJUH
ESOK paginya…..

Tersentak melotot mata Prakoso melihat apa yang terjadi. Dilihatnya tubuh kakak seperguruannya telah mati dengan kepala terpenggal. Tanpa dapat mencegah, menangislah Prakoso Suryo seketika.

“Di manakah Kanda Dewi?”

Segera Prakoso Suryo tinggalkan tubuh kakaknya mencari Dewi Sariti. Segenap penjuru rumah dijelajar, tak ditemukan. Prakoso Suryo lari ke belakang, tak juga ia menemukan.

“Kurang ajar! Ternyata iblis betina itu yang telah berbuat semuanya?” menggerutuk marah Prakoso Suryo. “Prajurit!”

“Daulat, Tuan!” menjawab Prajurit. “Sinting kalian! Cepat ke mari!”

Dengan rasa takut, Prajurit itu segera datang menghampiri Prakoso Suryo.

“Ada apa, Ketua?”

“Dungu! Apakah kalian tadi malam tidak melihat apa-apa, hah!”

Pucat pasi seketika wajah prajurit itu mendengar teriakan ketuanya, prajurit itu tahu kalau ketuanya telah marah, dan ia pun telah tahu apa yang bakal terjadi bila ketuanya marah. Maka dia hanya mampu diam dan diam, tanpa berani berkata-kata.

“Apakah telinga kalian yang jaga telah tuli hingga tidak mendengar keributan, hah! Atau kalian memang sengaja bersekongkol dengan iblis wanita itu, jawab!”

“Am-ampun, Ketua. Sungguh kami tak berani berkata bohong pada Ketua. Me-me-mang kami mendengarnya, namun kami menyangka suatu pertengkaran biasa. Dan-dan ketika kami menanyai sang Dewi, dia hanya menjawab bahwa dia akan pergi keluar sebentar,” menjawab prajurit terbata-bata.

“Hem, sekarang juga beritakan pada seluruh rakyat bahwa kadipaten tengah berkabung!” perintah Prakoso Suryo. Ia menyadari betapa pun para prajuritnya tak dapat disalahkah. Mereka sangat menjunjung tinggi tatakrama dan etika. Manalah mereka berani bertindak ceroboh, sedang yang ribut adalah gustinya.

“Daulat, Ketua.”

“Lakukanlah sekarang juga. Beritahu pada segenap penduduk bahwa Kanjeng Bupati meninggal dibunuh oleh Iblis Betina itu!”

“Daulat, Ketua,” menjawab prajurit.

“Kau….” menunjuk Prakoso Suryo pada prajurit lainnya.

“Daulat, Ketua.”

“Periksa tahanan, segera!”

Sang prajurit yang diperintah dengan segera melaksanakan tugas mereka masing-masing. Ada yang mengurusi mayat sang Bupati, mengurusi penyebaran pengumuman dan ada pula yang melihat tahanan bawah tanah. Tak begitu lama kemudian, prajurit yang diperintah melihat tahanan telah kembali dengan mata menggambarkan ketakutan. Hal itu menjadikan Prakoso Suryo seketika kerutkan kening, dan bertanya.

“Ada apa, Prajurit?”

“Ketiwasan, Ketua” menjawab prajurit itu. “Ketiwasan…? Ketiwasan bagaimana maksudmu?”

“Tahanan itu telah pergi,” menjawab sang prajurit dengan takut, kalau-kalau ketuanya bakal marah.

“Edan! Kalau begitu jelas iblis betina itu kambrat Datuk Luluhung Begeg!” bergumam Prakoso Suryo gusar. “Cari mereka sampai ketemu, lakukan cepat!”

“Daulat, Ketua,” menjawab kesepuluh prajurit. Setelah menyembah hormat, kesepuluh prajurit itu tanpa membuang-buang waktu lagi segera menjalankan perintah. Mereka memacu kudanya laksana angin, cepat memburu bagaikan desingan anak panah yang diluncurkan dari busurnya.

Jaka yang saat itu hendak menuju ke Kabupaten untuk silaturahmi pada Kanjeng Adipati Kencana Wungu dan adiknya Prakoso Suryo seketika hentikan langkah, manakala dilihat segerombolan penduduk tengah berkerumun mengerumuni seseorang. Segera Jaka berkelebat menuju ke arah situ.

Tersentak Jaka mendengar pengumuman yang dibacakan oleh salah seorang prajurit Bupati yang ia kenal bernama Jambe Lanang, yang isinya memuat berita duka kematian sang Bupati. Setelah Jambe Lanang membacakan pengumuman, segera Jaka berseru memanggilnya.

“Jambe Lanang, tunggu…”

Jambe Lanang yang merasa namanya ada yang memanggil hentikan langkah. Dibalikkan tubuhnya menghadap pada suara itu berasal, ia begitu tersentak manakala tahu siapa adanya yang telah memanggil namanya. Tanpa sadar Jambe Lanang bergumam menyebut nama pemuda itu.

“Tuan Pendekar Pedang Siluman Darah, kebetulan.”

“Benarkah apa yang kau bacakan tadi, Jambe?” tanya Jaka ingin memastikan, yang di angguki oleh Jambe Lanang dengan mata terurai menangis. Melihat hal itu, trenyuh hati Jaka seketika. Ia telah maklum kalau seluruh rakyat benar-benar kehilangan seorang pimpinan yang baik, yang bijaksana dan mementingkan kepentingan rakyat di atas kepentingan diri sendiri.

“Sudahlah, Jambe. Ayo kita ke Kadipaten,” mengajak Jaka.

Keduanya segera meninggalkan kerumunan orang yang juga meneteskan air mata. Mereka merasakan betapa Kadipaten akan hilang pamornya bila tidak dalam genggaman dua saudara itu. Dengan berlari-lari keduanya segera menuju ke Kadipaten.

Tak berapa lama kemudian Jaka dan Jambe Lanang telah sampai di Kadipaten. Kadipaten saat itu tengah benar-benar berkabung atas wafatnya sang Bupati, sehingga kedatangan Jaka dan Jambe Lanang tidak mengusik mereka yang tengah dirundung lara. Mereka saat itu tengah menangis dan menangis, menangisi 1uka cita sang Bupati.

“Sampurasun…” menyapa Jaka, yang seketika itu mengejutkan Prakoso Suryo. Prakoso Suryo seketika menengokkan muka, dan ia tersentak berbaur rasa senang demi melihat siapa gerangan orang yang datang. Dengan mengelap air matanya yang merembes keluar, Prakoso Suryo segera menghampiri Jaka.

“Aku turut berduka cita, Prakoso.”

“Ah, terimakasih, Tuan Pendekar,” menjawab Prakoso Suryo.

“Kalau boleh aku tahu, sebenarnya apa yang telah terjadi hingga sampai kejadian seperti ini?” Jaka bertanya. Dilangkahkan kakinya menuju ke sesosok tubuh yang terbaring bertutup kain. Perlahan kain penutup itu dibukanya, dan…! Jaka seketika melototkan mata, manakala melihat gerangan apa yang ia saksikan.

Kepala Bupati sahabatnya, puntung dari tubuh. Tanpa sadar, Jaka menggumam dengan gigi bergemeretukkan menahan marah. Walaupun Bupati Kencana Wungu bukan sanak kandungnya, namun Bupati ini telah mengangkat dirinya sebagai saudara. Ditambah lagi dengan guru Kencana Wungu yang telah memintanya untuk melindungi kedua muridnya.

“Gusti Allah… Sungguh perbuatan keji.”

“Bagaimana aku mempertanggungjawabkannya pada Kyai Basofi? Oh, sungguh aku adalah orang yang telah melalaikan amanat,” mengeluh Jaka dalam hati. Matanya memandang tak berkedip berkaca-kaca.

“Siapa pelaku semua ini, Prakoso?” tanyanya kemudian.

“Anak Datuk Luluhung Begeg,” menjawab Prakoso Suryo, menjadikan Jaka tersentak hampir melompat mundur mendengar penuturan Prakoso.

“Edan! Jadi Datuk Iblis itu mempunyai seorang anak?” menggerutu Jaka kesal. “Lalu kenapa sampai anak Datuk Iblis dapat menyusup ke mari?”

Prakoso Suryo yang ditanya sesaat tercenung diam. Dihelanya napas perlahan, lalu dengan suara yang serak karena menangis Prakoso Suryo pun menceritakannya.

“Setelah kita dapat menangkap Datuk Luluhung Begeg, seperti yang engkau ketahui sang Datuk kami penjarakan di penjara bawah tanah.”

“Benar. Lalu…?”

“Tiga bulan kemudian, ketika kami tengah melakukan perjalanan keliling wilayah untuk melihatlihat keadaan wilayah, kami menemui seorang gadis yang memandang pada kami dengan pandangan angkuh di depan sebuah kedai. Gadis itu yang kami ketahui bernama Dewi Sariti rupanya telah memasang jerat cinta di hati kanda Kencana Wungu, sehingga kanda Kencana Wungu pun jatuh cinta saat itu pula.

Mulanya aku bermaksud menghalangi karena menurut pendapatku dia bukan orang baik-baik. Namun kanda Kencana Wungu menentang pendapatku. Yang lebih aneh, gadis itu telah tiba lebih dahulu di sini mendahului kami. Saat itu juga, kakanda Kencana Wungu menjadikan gadis itu istrinya. Dan terjadilah bencana ini.”

Jaka terdiam mendengarkannya, kepalanya terangguk-angguk, tangannya dipotongkan pada tangan yang lain menyangga dagu, lalu kembali Jaka membuka kain penutup mayat. Seketika hatinya menggelegar marah, sehingga tiba-tiba Jaka bergumam.

“Aku akan mencari kedua iblis itu. Akan aku buat perhitungan dengannya. Nah, Prakoso aku tak dapat mengikuti pemakaman kakakmu, aku harus segera meringkus dua iblis itu.”

Bersamaan dengan habisnya ucapannya, Jaka tiba-tiba telah berkelebat pergi meninggalkan Kadipaten yang tengah dirundung duka untuk mencari dua iblis anak bapak.

“Dasar iblis. Sudah aku ancam masih saja nekad. Hem, dikira aku akan membiarkan begitu saja, enak saja, memangnya aku ini apa?” bergumam Jaka sembari terus berlari entah untuk ke mana, yang jelas di hatinya hanya ada satu tujuan yaitu mencari orang yang telah membunuh Kencana Wungu.

* * *

Ketika Jaka tengah berlari memburu waktu, tiba-tiba langkahnya dikejutkan oleh suara rintihan dari seseorang. Jaka yang mendengar seketika itu juga mencarinya. Tak berapa lama kemudian, Jaka telah dapat menemukan orang yang tengah merintih itu. Tubuh orang itu terdapat banyak luka bekas aniaya. Jaka gelengkan kepala melihat hal itu seraya menghampiri.

“Ki sanak, kenapa kau? Kenapa kau tergeletak di sini dengan luka-luka macam begini?”

Orang yang luka-luka itu perlahan membuka matanya, memandang pada Jaka. Dan tiba-tiba orang itu menyebut nama Jaka, yang menjadikan Jaka tersentak kaget.

“Kau menyebut namaku, Ki sanak?” tanya Jaka heran.

“Bu-bukan. Bukan kau. Aku-aku adalah prajurit Kabupaten Kencana Sari. A-aku dan kawankawanku telah dibantai oleh seseorang yang mengaku bernama Jaka Sedaya.” Berkata lelaki prajurit itu menerangkan. “Entah karena apa, tiba-tiba ia telah menyerang pada kami.”

“Apa kau tak tahu masalahnya?”

“Ti-tidak. Di-dia hanya menyebut nama DeDewi Sariti Iblis durjana yang telah membunuh kanjeng Bu-pa-ti…” orang itu akhirnya terkulai lemas, mati.

“Hem, rupanya sang iblis bukannya sendirian. Ternyata dia memiliki anak buah juga. Aku harus mencegah segala tindakannya. Hiaaat…”

Setelah membaringkan tubuh lelaki itu yang ternyata prajurit Kadipaten Kencana Sari, Jaka Ndableg segera kembali berkelebat pergi mencari siapa adanya orang-orang yang telah berbuat sadis. Memang telah ia ketahui bahwa orang-orang itu adalah anak Datuk Luluhung Begeg, yang ia kenal. Mampukah Jaka mencari mereka? Ikuti terus kisah ini sampai tuntas…

***
DELAPAN
GUNUNG lanang...

Puncak Gunung Lanang dari kejauhan tampak menjulang tinggi seperti hendak mencakar langit, tampak tenang dan sunyi. Namun bila kita melihat apa yang ada di situ, kita akan dihadapkan pada sebuah pemandangan yang sangat mengerikan.

Malam bulan purnama telah datang, bersama semilirnya angin malam yang terasa menyengat kulit menggigilkan sumsum. Seorang gadis perawan tampak tergeletak di atas sebuah batu yang berbentuk pipih panjang. Mata gadis itu sayu, sepertinya tak ada gairah lagi untuk memandang atau untuk berbuat lain. Ia seperti telah pasrah pada nasibnya, yang akan merenggut usianya hanya sampai pada malam itu saja.

Dari tempat lain, terdengar suara orang-orang tengah berdoa dengan cara mereka. Tangan mereka diangkat tinggi-tinggi, lalu menari-nari. Orang-orang itu kebanyakan laki-laki, ditambah dengan seorang wanita yang kita kenal sebagai Sariti. Sariti tampak duduk dengan agungnya di atas singgasananya. Ya, dialah penguasa Gunung Lanang. Apa yang tengah Sariti lakukan?

Seperti ayahnya Datuk Luluhung Begeg, Sariti pun menganut ilmu sesat dari raja iblis Kongkong Balong. Raja Iblis penguasa Gunung Lanang yang dengan senangnya menerima Sariti menjadi murid. Segala kesaktian telah dilimpahkan raja Iblis itu pada Sariti dengan imbalan Sariti harus mengorbankan seorang gadis setiap bulan purnama.

Sepertinya malam itu, Sariti dan pengikutpengikutnya pun tengah melakukan upacara sakral tersebut.

"Wahai para pengikutku. Dengan cara seperti inilah, kita akan selalu diindungi oleh Penguasa Gunung Lanang. Malam ini adalah malam korban bagi Penguasa Gunung Lanang. Apakah kalian telah memeriksa benar-benar akan keperawanan gadis itu?" terdengar suara Sariti berkata. Suaranya menggema, menjadikan sebuah gaung yang sangat menggetarkan jantung yang mendengarnya.

"Sudah, Ketua..." menjawab para pengikutnya. "Nah, sesaat lagi malam akan datang. Kalian

persiapkan segalanya, aku akan datang menemui kalian nanti, lakukanlah!"

Tanpa banyak membantah, semua anggotanya segera menyembah dan bergegas pergi meninggalkan Sariti seorang diri. Sariti sunggingkan senyum, lalu tertawa bergelak-gelak.

"Hua, ha, ha... Akulah yang kelak menjadi pimpinan dunia. Aku tak akan ada tandingannya. Hem, tinggal menyingkirkan Jaka Ndableg atau Pendekar Pedang Siluman Darah saja, semuanya akan beres. Hua, ha, ha..."

Tengah Sariti tertawa-tawa seorang diri, dari pintu lain keluar seorang pemuda datang menghampirinya. Sariti tersenyum manakala tahu siapa adanya pemuda itu, lalu dengan suara manja Sariti memanggil nama pemuda itu.

"Jaka... Kemarilah, sayang?"

Pemuda yang bernama Jaka itu perlahan melangkah menghampiri. Wajahnya tampan, namun ada goresan yang menunjukkan sebuah kekerasan di pipi sebelah kirinya. Jaka melangkah bagaikan robot, mendekati Sariti yang tersenyum. Makin lama makin dekat dan dekat.

Sariti yang tak tahan lagi dengan nafsunya, serta merta menarik tangan Jaka. Di tempat itu pula, keduanya segera bergumul saling rengkuh.

Sementara di tempat lain, anak buah Penguasa Gunung Lanang nampak tengah menjalankan apa yang menjadi perintah ketuanya. Mereka menggotong tubuh seorang gadis, yang dibawanya ke luar.

Gadis itu digeletakkan terlentang, dengan tangan dan kaki diikat tali. Mulut semua orang bertudung hitam itu nampak komat kamit, sepertinya tengah membaca mantra.

Bulan perlahan bergeser ke arah barat, mengikuti pergeseran waktu. Dari rumpun bambu agak jauh dari mereka melakukan upacara sakral, sepasang mata mengawasinya dengan tajam. Mata itu tak berkedip, memandang tajam pada orang-orang bertudung. Pemilik mata itu seketika membatin diliputi seribu macam pertanyaan.

"Sungguh-sungguh kejadian setahun terulang lagi. Apakah pelakunya sama yaitu Datuk Luluhung Begeg juga? Aku tak boleh membiarkan begitu saja. Aku harus bertindak! Tapi aku akan melihat dulu apa yang akan mereka lakukan."

Upacara sakral itu terus berjalan. Sepertinya orang-orang bertudung itu tak mengetahui bahwa kegiatannya telah diintai oleh sepasang mata tajam, setajam burung rajawali kala mengintai mangsa.

"Wahai Penguasa Gunung Lanang... wahai Penguasa Gunung Lanang... malam ini, kami sengaja korbankan untukmu seorang gadis perawan... semoga, kau mau menerimanya... datanglah... datanglah...!"

Terdengar suara seseorang yang berdiri paling tengah menyeru doa menjadikan orang yang mengintainya hampir tertawa demi mendengar bacaan doa yang seperti menyanyi.

"Edan! Rupanya mereka telah dikuasai oleh iblis!" membatin pengintai itu dengan mata yang tetap tajam. "Apakah mereka juga tak sadar dengan apa yang mereka lakukan? Sepertinya memang ya."

"Wahai Penguasa Gunung Lanang, terimalah persembahan kami untukmu." Habis ucapan ketua upacara sakral itu, mereka semua menyanyi-nyanyi dan berjoget-joget persis orang gila, mengitari tubuh gadis yang terbaring itu.

Lelaki yang mengintai seketika berkelebat cepat dan tahu-tahu tubuh gadis itu telah berada dalam bopongannya. Tersentak semua yang tengah mengikuti upacara itu, demi melihat seorang pemuda yang tak lain Jaka Ndableg telah berani lancang mengambil calon korbannya.

"Bedebah! Kau berani menghina Penguasa Gunung Lanang. Siapa kau adanya, Anak muda!" membentak ketua upacara dengan geramnya.

Jaka tertawa bergelak, dan dengan suara menggereng Jaka berseru. "Akulah penguasa Gunung Lanang. Maka aku berhak membawa korbanku ini. Bukankah kalian mempersembahkan korban ini untukku? Hua, ha, ha..."

Suara Jaka yang dilandasi dengan tenaga dalam, menggema dengan kerasnya. Suara itu menjadikan runtuhan batu-batu yang ada di sekitar Gungung Lanang, menimbulkan gempa yang dahsyat.

"Bohong! Kau bukan Penguasa Gunung Lanang. Penguasa Gunung Lanang meminum darah. Tapi kau, kau tak lebihnya manusia cecunguk yang suka usilan!" kembali ketua upacara menggeretak marah, merasa Jaka telah mempermainkannya. "Hua, ha, ha... kalau itu yang kalian ingini. Baiklah, memang aku pun sudah haus darah. Ayo, siapa yang hendak menjadi korbanku."

"Bangsat! Serang cecunguk jelek itu!" Mendengar ucapan ketua upacara sakral, seke-

tika semuanya berkelebat mengeroyok Jaka Ndableg. Namun dengan membopong tubuh gadis di pundaknya sekali pun, Jaka dengan mudah melayani setiap serangan musuh-musuhnya. Bahkan dengan ringan kaki dan tangannya bergerak cepat.

"Bahaya kalau aku memanggul gadis ini sambil bertarung. Memang kalau menghadapi kroco-kroco seperti ini, mudah ku melayaninya. Namun bila ketuanya keluar juga Datuk Luluhung Begeg, niscaya aku kerepotan juga. Baiklah, aku akan menitipkan tubuh gadis ini pada penduduk, nanti baru aku ke sini lagi," bergumam Jaka dalam hati, dan dengan segera berkelebat tinggalkan tempat tersebut.

"Kejar cecunguk itu...!"

"Setan! Aku dikata cecunguk. Ah, biarlah dulu nanti kalian akan tahu siapa adanya cecunguk ini." Jaka terus berlari dengan cepat menuruni gunung. Sementara pengejarnya nampak terus memburu dan baru setelah melintasi sendang, pengejar-pengejar itu segera balik kembali.

"Syukurlah mereka tak terus mengejar," gumam Jaka sembari terus berlari membawa tubuh gadis itu. Jaka berhenti dari larinya tatkala dirasa sudah jauh meninggalkan Gunung Lanang. Diturunkannya tubuh si gadis, lalu dibukanya totokan yang ada di leher si gadis yang menjadikannya tak dapat bicara.

"Terimakasih, Tuan. Mungkin bila tuan tidak menolong saya akan menjadi apa," berkata si gadis yang telah terbebas dari totokannya. "Ah, tak usah kau pikirkan semua itu. Siapa namamu?"

Gadis itu tersipu-sipu manakala matanya beradu pandang dengan mata Jaka. Perlahan-lahan kepalanya menunduk, menyembunyikan apa yang kini berada pada kedua pipinya. Lalu dengan suara lembut si gadis menjawabnya.

"Nama saya, Leilina."

"Hem..." Jaka menggumam seraya kerutkan kening mendengar nama gadis yang ditolongnya, menjadikan si gadis yang bernama Leilina seketika bertanya.

"Kenapa tuan menatapku begitu?"

"Namamu aneh, Nona Leilina. Apakah kau bukan orang asli sini?"

Leilina menggelengkan kepala. "Jadi orang manakah?"

"Aku...?" tanya Leilina ingin memastikan seraya menunjuk pada diri sendiri.

"Ya, nona..."

"Aku berasal dari Tibet," jawab Leilina, menjadikan Jaka seketika tersentak kaget menggumam, mengulang kata-kata akhir yang diucapkan Leilina.

"Tibet...?"

"Ya..."

"Baiklah, Nona Leilina. Kau akan aku titipkan pada penduduk kampung dulu."

"Lalu tuan mau ke mana?" tanya Leilina terheran-heran,

"Aku hendak kembali ke Gunung Lanang, tempat tadi," menjawab Jaka, yang menjadikan mata Leilina seketika makin menyipit. "Kenapa nona?"

"Aneh tuan ini," menggumam Leilina makin menjadikan Jaka tersentak tak mengerti. "Kenapa tuan yang telah terbebas mau mendatangi tempat itu lagi?"

Jaka hanya gelengkan kepala, dengan senyum menyungging di bibirnya. Lalu dengan suara pelan Jaka menceritakan apa yang telah menjadi tujuannya pada Leilina yang seketika itu melotot kaget demi mengetahui Jaka adanya. Dari bibirnya yang mungil, terbersit seruan kaget. "Jadi tuan seorang pendekar? Ah, sungguh aku bahagia bisa mengenal tuan."

"Sudahlah, Nona, aku tak ada waktu. Ayo..."

Dengan segera Jaka membopong tubuh Leilina dan membawanya menuju ke perkampungan penduduk. Setelah menitipkan Leilina pada salah seorang penduduk yang mau menerimanya, Jaka segera berkelebat pergi menuju ke Gunung Lanang.

***
SEMBILAN
"SARITI... Keluar kau!"

Sariti yang tengah menikmati alunan kasih dengan seorang pemuda yang bernama Jaka, seketika tersentak kaget demi mendengar seruan seorang yang mengenal namanya.

"Hem, siapa orang gila yang nekad, datang ke mari?" menggerutu Sariti, "Ayo Jaka..."

Dengan ditemani Jaka, Sariti segera bergegas keluar menemui orang yang berteriak-teriak memanggil namanya. Sariti tersentak, manakala dilihatnya seorang pemuda telah berdiri dengan angkuh memandang padanya.

"Siapa kau!" bentaknya.

"Hua, ha, ha... Iblis betina! Rupanya kau juga seekor iblis yang suka pada pemuda. Hem, inikah pemuda yang mengaku-aku namaku?" bergelak Jaka tertawa, menjadikan Sariti dan pemuda yang berdiri di sisinya melotot marah.

"Bedebah! Siapa kau, Pemuda gila!" membentak pemuda yang berdiri di samping Sariti dengan bengis.

"Akulah Jaka Ndableg, yang namanya kau pakai seenak udelmu!"

"Enak saja kau bicara, Bocah edan! Kuhancurkan batok kepalamu, hiaat....!" Jaka yang bergaret bekas luka di pipinya segera berkelebat menyerang.

Jaka Ndableg tersenyum renyah mendapat serangan itu, ia tak menyangka kalau orang yang tengah dihadapinya bukan pemuda sembarangan. Pemuda yang juga bernama Jaka, adalah murid dari seorang Datuk sesat Bulang Kesupan.

Serangannya begitu keras dan gesit, menjadikan Jaka tersentak kaget. Jaka yang tak mengira kalau pemuda itu tinggi ilmunya, tak sempat lagi mengelakkan serangan manakala pemuda itu menghantamkan tangannya. Hantaman itu begitu keras, menjadikan Jaka Ndableg sempoyongan ke belakang. Dadanya terasa agak sesak.

Melihat hal itu, tertawa bergelaklah Sariti yang menyangka kalau orang yang ditakuti oleh ayahnya ternyata hanya mempunyai ilmu yang rendah.

"Sungguh bodoh ayah. Ternyata pemuda dungu seperti ini ia takuti. Hem, belum juga menghadapi aku dia sudah keok, apalagi nanti menghadapi aku." bergumam Sariti dalam hati.

"Mana gelarmu yang besar itu, Pendekar. Ternyata nama besarmu hanya isapan jempol belaka. Nyatanya kosong melompong!"

Jaka hanya meringis dan berusaha bangkit dari duduknya. Dengan masih menahan sakit, Jaka Ndableg kembali bangkit berdiri. Namun belum juga ia waspada tiba-tiba pemuda musuhnya telah mendahului menyerang. Tersentak Jaka saat itu juga, dan untuk kedua kalinya Jaka tak sempat mengelakkan tendangan musuh.

Tubuh Jaka Ndableg kembali terpental ke belakang.

"Bedebah! Jangan berbangga dulu Sariti, aku belum kalah. Mari kita lanjutkan!" Dengan sekuat tenaga, Jaka segera bangkit dari jatuhnya. Secepat kilat Jaka berkelebat dengan pukulan tenaga dalamnya. Kemarahannya yang merasa telah dibakar seketika meledak, menjadikannya bagai banteng ketaton.

Melihat hal itu, bukannya pemuda musuhnya takut, bahkan dengan ganda tawa pemuda musuhnya itu mengejek. "Hua, ha, ha... Rupanya kau masih mampu, Anak edan. Baik, aku layani apa yang menjadi sukamu, hiaat...!"

Kedua Jaka itu segera terlibat pertarungan. Jaka Ndableg yang sudah merasakan dua kali hantaman pemuda itu, tak segan-segan lagi keluarkan segala jurus yang dimiliki. Segala jurus dari keempat gurunya, mengalir bagaikan air bah silih berganti.

Tersentak Jaka kambratnya Sariti melihat jurus-jurus yang aneh, yang dikeluarkan oleh Jaka Ndableg. Jurus-jurus Jaka Ndableg tampak kaku, namun angin pukulannya begitu dahsyat. Karena kekuatan itulah, menjadikan pukulan dan tendangan Jaka Ndableg begitu keras.

"Aku leburkan tubuhmu, Iblis!" memaki Jaka Ndableg marah.

Tubuhnya bergerak cepat, berputar laksana kincir. Tanpa dapat dicegah, kakinya yang membentuk sebuah senjata menghantam telak tubuh musuh. Tak ayal lagi, mentallah tubuh musuhnya ke belakang.

"Jangan mau mengalah, Jaka!" berseru Sariti memberi semangat menjadikan Jaka kambratnya bangkit dari duduknya dengan penuh percaya diri. Mata pemuda itu memerah laksana bara api, memandang tajam ke arah Jaka Ndableg. Lalu dengan didahului pekikkan, pemuda itu kembali berkelebat menyerang.

Jaka yang tak mau membuang-buang waktu, segera memapakinya dengan jurus-jurus yang telah Ki Bayong ajarkan. Maka tak ayal lagi, kedua pemuda pendekar itu berkelebat saling serang di udara. Keduanya sama-sama tangguh, keduanya sama-sama pendekar yang mumpuni. Keduanya sama-sama Jaka, yang mempunyai kekuatan sendiri-sendiri.

"Hiat...!"

"Hiat...!"

Jurus demi jurus keduanya lalui dengan cepat, sepertinya kedua anak muda pendekar itu tak mengalami rasa cape sedikit pun. Serangan keduanya masih tampak keras, dengan disertai jurus-jurus yang keras pula.

Ketika telah mencapai jurus yang kelima puluh, Jaka Ndableg segera loncatkan diri ke angkasa. Dan ketika telah mencapai titik kulminasi, Jaka Ndableg segera menukik ke bawah. Tangannya rapat, membentuk sebuah godam. Seketika memekiklah musuh, dengan kepala pecah.

Tersentak Sariti melihat hal itu, serta merta ia pun berkelebat menyerang Jaka. Diserang begitu cepat, Jaka yang belum sepenuhnya waspada tersentak. Hampir saja lambungnya kena tendangan, kalau saja Jaka tak segera egoskan tubuh miring.

"Hem, kebetulan! Memang aku mencarimu. Tak akan aku biarkan kau hidup, hiat...!"

Dengan segenap amarahnya Jaka segera balik menyerang. Kali ini tak tanggung-tanggung, jurus dari keempat gurunya digabung menjadi satu dengan harapan dapat segera mengalahkan Sariti. Namun dugaannya ternyata meleset. Sariti ternyata bukan gadis pendekar sembarangan. Segala jurus-jurus yang Jaka keluarkan sepertinya tak ada arti apa-apa bagi Sariti. Malah sebaliknya, Jakalah yang terdesak hebat.

Serangan-serangan Sariti begitu keras, mengarah pada hal-hal yang mematikan. Jaka tersentak dan berusaha mengelak manakala pukulan tangan Sariti yang menari-nari mengarah ke dadanya. Namun serangan itu datang dengan cepat, hingga tak dapat lagi Jaka mengelakkannya.

"Dug, dug, dug!"

Terdengar tiga kali berturut-turut hantaman telah mendarat di dada Jaka. Seketika Jaka terpental mundur, dan dari bibirnya meleleh darah segar.

Mata Jaka memandang tajam, sepertinya tak percaya pada apa yang diterimanya. Sariti kini telah menghunus pedangnya, siap untuk mengakhiri hidup pendekar kita Jaka Ndableg. Dan dengan suara lantang Sariti berseru.

"Jaka Ndableg! Hari ini adalah akhir hidupmu. Pukulan Sekat Nyawa akan menjadikan dirimu tak dapat berbuat apa-apa. Hua, ha, ha... Bersiaplah untuk mati! Kau telah memputungi tangan ayahku, maka hari ini aku akan melunasi hutang ayah yang telah engkau pinjamkan pada kami sekaligus bunganya. Karena ayahku kau puntungi tangannya, maka aku pun akan memuntungi kepalamu."

"Iblis laknat! Jangan kau kira semudah itu,

cuh!" Mendengar makian Jaka Ndableg, seketika tertawalah Sariti bergelak-gelak. Lalu dengan masih tertawa, Sariti kembali menggumam mengejek.

"Sebenarnya sayang, kau gagah. Kalau kau mau menjadi kekasihku, maka aku akan mengampunimu, bagaimana?"

"Huh... jangan kira aku mau menuruti ucapanmu yang kotor dan najis itu, Iblis. Aku lebih rela mati daripada menjadi kekasihmu!"

"Bedebah! Dikasih hati minta rempela. Jangan menyesal kalau kau telah aku kirim ke neraka sana, hiaat...!"

Kedua orang itu kembali berkelebat, meloncat ke udara untuk mengadakan serangan. Jaka yang belum memanggil Ratu Siluman Darah, segera memapaki serangan pedang di tangan Sariti dengan pukulan Getih Sakti.

"Hiat...!"

"Sroooooot...!"

Terbelalak Sariti melihat cairan merah keluar dari tangan Jaka, serta merta ia hantamkan ajiannya, dan...!

"Desst !"

Dua ajian itu bertemu. Getih Sakti yang dilancarkan Jaka, nampak berkelebat balik hendak menyerang tuannya. Spontan Jaka lemparkan tubuh ke samping. Hanya beberapa inci saja, ajian Getih Sakti hampir mengenainya.

"Bedebah! Aku harus memanggil Ratu Siluman Darah."

"Pendekar! Sesaat lagi kau akan mati. Nyawamu tinggal tiga jam saja, sebab ajian Penyekat Nyawaku telah berjalan. Hua, ha, ha.... kau akan mati dengan yang menggidigkan. Lihat di tanganmu, telah tumbuh bintik-bintik merah. Bintik-bintik itu, sedetik demi sedetik akan membesar dan besar lalu pecah mengeluarkan binatang menjijikkan."

Jaka tak ambil perduli dengan omongan musuhnya, ia nampak terdiam dengan penuh konsentrasi. Dari mulutnya, seketika terdengar seruan. "Dening Ratu Siluman Darah. Datanglah!"

Tersentak Sariti atau Penguasa Gunung Lanang demi melihat apa yang telah terjadi. Di tangan Jaka Ndableg, kini tergenggam sebilah pedang yang memancarkan sinar kuning kemerah-merahan. Dari ujungnya, sungguh membelalakkan mata Sariti. Dari ujung pedang menetes darah membasahi batangnya.

"Pedang Siluman Darah!"

Jaka tak menghiraukan ucapan Sariti, yang tersentak kaget demi melihat pedang yang tergenggam di tangannya. Ditusukkannya Pedang Siluman Darah ke urat nadinya. Jaka menjerit sesaat, dan dari urat itu mengalir darah hitam tersedot keluar. Saat itu pula, Jaka bagaikan tak mengalami rasa sakit lagi. Matanya memandang tajam pada Sariti yang masih terdiam terbengong menyaksikan apa yang dilakukan Jaka.

Tengah Sariti terdiam bengong, terdengar Jaka berseru.

"Sariti, bersiaplah, hiat...!"

Tersentak Sariti mendapat serangan yang begitu tiba-tiba. Segera ia tebaskan pedang berusaha menangkis, namun gerakannya kalah cepat dengan gerakan Pedang Siluman Darah di tangan Jaka yang sepertinya bergerak dengan sendirinya.

Tak ampun lagi, seketika Pedang siluman Darah berkelebat membabat puntung leher Sariti. Sariti menjerit sesaat, lalu diam dengan kepala puntung. Jaka terdiam memandang kepala Sariti yang menggelinding, terus menggelinding jatuh ke bawah jurang. Itulah balasannya, bagi orang yang telah memancung leher Bupati Kencana Wungu. Melihat Sariti telah mati, segera Jaka berkelebat pergi meninggalkan Gunung Lanang yang kembali sepi...

S E L E S A I
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).