Serial Pendekar Naga Putih eps 82 : Tujuh Satria Perkasa

  SATU
SANG Surya bergeser semakin jauh ke barat. Sinarnya telah memudar, pertanda sebentar lagi senja akan tiba. Waktu yang semestinya merupakan isyarat bagi manusia untuk beristirahat itu, ternyata malah dibisingkan oleh teriakan-teriakan membahana yang ditingkahi beradunya senjata tajam.

Suara-suara pertempuran Ini berasal dari sebelah timur di tepi Hutan Burangrang. Tampak sesosok tubuh sedang yang setengah wajahnya tertutup selembar kain hitam, tengah menghadapi keroyokan empat orang laki-laki bersenjata. Sosok bertubuh tegap mengenakan pakaian kuning itu terlihat cukup tangguh dalam mengadakan perlawanan. Padahal di beberapa bagian tubuhnya tampak luka-luka bekas goresan dan tusukan senjata tajam.

Tidak jauh dari arena pertempuran, tampak dua buah kereta barang. Selain itu, juga terlihat adanya sosok-sosok tubuh bergeletak bersimbah darah. Dari warna pakaian yang melekat pada tubuh mayat-mayat itu, dapat diduga bahwa mereka merupakan pihak dari empat orang lelaki bersenjata yang tengah mengeroyok sosok bertutup wajah kain hitam. Jelas sudah kalau keenam orang mayat merupakan korban senjata di tangan sosok bertubuh sedang yang setengah wajahnya tertutup kain hitam.

"Perampok busuk, mampuslah...!" Sambil mengeluarkan bentakan demikian, salah seorang pengeroyok melesat ke depan. Pedang di tangannya bergerak menusuk disertai suara berdesing tajam.

Whuuuttt...!

Mata pedang meluncur begitu cepat mengancam lambung kanan itu, dapat dielakkan lawan dengan lompatan pendek ke samping kiri. Namun, begitu kedua kaki orang yang setengah wajahnya tertutup kain hitam ini menginjak tanah, ujung pedang pengeroyok lainnya sudah menyambut dengan sebuah sambaran kilat ke punggungnya.

"Hyaaahhh...!"

Meskipun dalam kedudukan yang sulit, sosok bertubuh sedang namun padat berisi ini, masih sempat mengibaskan pedangnya memapaki serangan. Terdengar suara benturan keras yang menimbulkan percikan bunga api. Tubuh keduanya terjajar mundur beberapa langkah.

Namun sosok misterius yang sudah menderita banyak luka ini tampak lebih parah dari lawannya. Tubuhnya terhuyung sampai satu tombak lebih. Hal itu karena tenaganya telah banyak berkurang. Terutama sekali luka-lukanya yang terus meneteskan darah, membuat tubuhnya semakin melemah.

Breeettt!

"Aaakh...!"

Sebuah sambaran mata pedang menyambut datangnya tubuh penuh luka yang tengah terhuyung itu. Terdengar jerit kesakitan yang disertai tubuh yang nyaris terpelanting jatuh. Sementara mata pedang lainnya datang mengancam ke arah tenggorokan. Siap membunuh sosok yang nyaris tak berdaya ini.

Namun lelaki yang setengah wajahnya tersembunyi di balik kain hitam masih sempat memutar pedang memapaki datangnya ancaman maut itu. Bahkan dengan cerdik ia menggunakan benturan itu untuk melompat ke belakang. Dengan meminjam tenaga lawan, sosok tubuh penuh luka itu dapat melepaskan diri dari kepungan lawan. Dan terus melarikan diri ke dalam semak belukar hutan.

"Kejar, jangan biarkan bangsat itu lolos.,.!" salah satu dari keempat pengeroyoknya yang berkumis melintang, berteriak memerintah. Tubuhnya langsung melesat melakukan pengejaran.

Tiga orang lainnya langsung berlari menyusul. Mereka menerobos semak belukar memasuki hutan. Namun kelebatan pepohonan hutan membuat mereka kehilangan jejak buruannya. Dan terpaksa berhenti setelah tak juga menemukan lelaki berpakaian kuning tadi.

"Kita berpencar!" seru lelaki berkumis lebat yang menjadi pimpinan dari ketiga kawannya, "Bangsat itu sudah terluka parah, dan tidak mungkin dapat lari jauh. Untuk mencari jejaknya kita dapat meneliti rerumputan. Tetesan darah yang keluar dari luka-lukanya akan memudahkan kita untuk menentukan ke arah mana keparat itu melarikan diri," lanjutnya memberikan petunjuk. Ketiga kawannya sama mengangguk kepala. Kemudian mereka pun berpencar untuk mencari jejak buruannya.

"Hei, Kawan-kawan, cepat kemari...!"

Tidak berapa lama kemudian, terdengar salah satu dari keempat lelaki berteriak memanggil kawan-kawannya. Sedang orang yang berteriak nampak tengah meneliti rimbunan semak, yang di satu bagian tampak dinodai warna merah. Darah. Tiga lelaki lainnya berdatangan, lalu ikut memeriksa noda darah yang menetes di dedaunan. Noda darah itu memang masih baru.

"Heh heh heh...! Sudah kuduga kalau kita akan dapat menemukannya. Ayo, kita kejar bangsat itu...!" ajak lelaki berkumis melintang dengan sepasang mata berkilat penuh ejekan. Seolah ia merasa pasti akan dapat menemukan dan membekuk buruannya.

Namun, jejak-jejak berdarah itu ternyata masih terus mereka temukan sampai di luar hutan. Keempatnya mendengus jengkel dan sama-sama menghentikan langkah setelah beberapa tombak meninggalkan mulut hutan.

"Kita tidak bisa meneruskan pencarian. Sebab di sebelah depan sana merupakan wilayah peternakan Juragan Mahinta. Dia pasti tidak akan memperbolehkan kita melewati batas-batas wilayah peternakannya. Sebaiknya kita laporkan saja hal itu kepada majikan kita...," usul lelaki berkumis tebal melintang disertai helaan napas panjang. Kemudian membalikkan tubuh dan memasuki hutan, menelusuri jalan yang semula mereka lalui.

***

Hari menjelang pagi. Perlahan-lahan suasana mulai terang walau hembusan angin masih terasa dingin menusuk. Seiring dengan kemunculan sang Surya di kaki langit sebelah timur, terlihat kesibukan di sebuah tanah peternakan.

Dua orang lelaki muda tampak berjalan menuju kandang kuda di bagian belakang sebuah bangunan yang cukup besar. Kandang itu terlihat sangat luas dengan puluhan ekor kuda di dalamnya. Kedua orang lelaki muda ini adalah pekerja-pekerja Juragan Mahinta, yang bertugas mengurus ternak kuda. Seperti biasanya, mereka memberi makan kuda-kuda itu setiap pagi harinya.

Tanah peternakan yang dimiliki Juragan Mahinta terhitung sangat luas. Selain beternak kuda, dia memiliki ternak sapi yang jumlahnya lebih dari seratus ekor. Tanah peternakannya berada di sebuah padang rumput yang luas, terletak di selatan Desa Sindang Laya. Namun masih berada di wilayah desa itu, meskipun hampir diperbatasan sebelah selatan.

"Semalam rasanya aku mendengar ternak-ternak kuda kita meringkik gelisah. Entah apa yang menyebabkannya...," salah satu dari kedua laki-laki muda itu berkata kepada kawannya.

"Aku juga mendengarnya," tukas pemuda satunya menimpali, "Tapi aku enggan untuk memeriksanya. Udara semalam sangat dingin, selain itu selama kita bekerja di tempat ini, tak pernah ada gangguan apa-apa. Jadi, menurutku tidak ada yang perlu kita khawatirkan," lanjutnya sambil terus melangkah menuju kandang kuda.

"Hm..., kau benar, Saranggi. Itu sebabnya aku juga tidak mempunyai keinginan untuk memeriksanya," ujar pemuda yang pertama kali bicara, membenarkan ucapan Saranggi.

Namun, pembicaraan dan langkah keduanya terhenti tepat setengah tombak dari pintu kandang. Mereka saling bertukar pandang sesaat. Kemudian membungkuk memeriksa tanah di depan kandang itu. Karena di tanah itu terlihat bercak-bercak yang mencurigakan. Saranggi mengulurkan tangannya mengambil tanah berdebu di depan itu. Lalu mendekatkan ke hidungnya.

"Bau darah manusia...?!" desis Saranggi dengan kening berkerut. Dia segera bergerak bangkit sambil mencabut golok besar di pinggangnya, "Ada sesuatu yang tidak beres terjadi semalam. Sebaiknya kita periksa semua tempat ini, terutama kandang kuda. Karena binatang-binatang itu yang meringkik-ringkik ribut semalam."

Tanpa banyak cakap lagi, pemuda satunya langsung menghunus golok. Kemudian keduanya membuka pintu kandang perlahan-lahan. Dan.., keduanya melompat mundur beberapa tindak dengan wajah terkejut. Beberapa langkah di depan mereka, tampak sesosok tubuh terbujur menelungkup. Sekujur tubuh sosok itu dipenuhi luka yang darahnya hampir mengering. Tentu saja kedua pemuda ini menjadi kaget bukan main.

"Hm... jadi ini yang membuat kuda-kuda kita menjadi gelisah...!" desis Saranggi yang masih merasa tegang melihat sosok berlumur darah di dalam kandang kuda. Wajah pemuda jangkung ini tampak agak pucat. Kelihatannya ia tidak terbiasa dengan pemandangan itu. Lain halnya dengan pemuda satunya yang wajahnya dihiasi brewok halus. Ia cuma terkejut sesaat, kemudian berganti dengan rasa penasaran. Bahkan otaknya bekerja cepat mengambil keputusan.

"Saranggi, kau pergilah dan laporkan kepada Juragan Mahinta! Biar aku menunggu di sini! Kelihatannya orang ini belum mati. Aku masih melihat gerak pernafasannya. Menurutku orang ini sedang dalam keadaan sekarat. Kita harus cepat menolongnya," ujar pemuda brewok ini kepada Saranggi.

"Baik, aku akan melaporkan kepada juragan. Berhati-hati dan jangan dulu kau bertindak sebelum kami datang," ujar Saranggi berpesan kepada kawannya sebelum berlari meninggalkan tempat itu.

Letak kandang kuda dengan bangunan induk tempat kediaman Juragan Mahinta memang agak jauh. Namun pemuda bernama Saranggi ini rupanya bukan pekerja sembarangan. Dari caranya berlari dapat dilihat kalau dalam hal kepandaian, tampaknya ia terbilang lihai. Karena tubuhnya dapat bergerak dengan ringan dan cepat. Tiba di depan tempat tinggal majikannya, Saranggi langsung saja masuk untuk melaporkan apa yang dilihatnya.

Tidak berapa lama kemudian, tampak Saranggi melangkah ke luar diikuti seorang lelaki setengah baya. Dapat dipastikan kalau lelaki setengah baya yang masih tampak gagah inilah Juragan Mahinta. Lelaki dengan wajah terhias kumis dan jenggot yang sebagian sudah memutih ini, terlihat tetap tenang, kendati sudah mendengar laporan Saranggi.

Bukan cuma mereka berdua yang setengah berlari menuju ke kandang kuda. Empat orang lelaki mengikuti di belakang Juragan Mahinta dan Saranggi. Mereka sebaya dengan Saranggi, berusia rata-rata dua puluh dua tahun. Dan memang cuma enam pemuda itulah yang bekerja kepada Juragan Mahinta. Meskipun selain mereka masih terdapat pembantu-pembantu lain, namun mereka wanita setengah baya yang bekerja sebagai pelayan ataupun juru masak.

"Bagaimana keadaan orang itu, Sudana?" Tanya Juragan Mahinta kepada pemuda berwajah brewok, begitu tiba bersama pekerja lainnya.

"Belum kuperiksa, Ki. Tapi kelihatannya ia masih hidup...," jawab Sudana yang bergegas menyingkir, memberi jalan kepada majikannya.

Juragan Mahinta, yang memang meminta agar para pekerja menyebutnya dengan panggilan Ki Mahinta, bergegas mendekat. Kemudian memeriksa bagian leher dan nadi sosok tubuh yang menelungkup dalam keadaan terluka itu.

"Hm... daya tahan tubuh orang ini terhitung sangat kuat. Meskipun luka yang dideritanya cukup parah, namun sampai sekarang dia masih bertahan hidup," ujar Juragan Mahinta, kemudian menoleh kepada para pekerjanya. "Bawalah ke barak. Siapa pun adanya orang ini, kita harus menolongnya. Walaupun mungkin ia bukan orang baik-baik," lanjut Juragan Mahinta memerintah. Ia menduga demikian karena melihat adanya kain hitam di leher sosok tubuh itu, yang mungkin dilepaskan untuk memudahkannya bernapas.

Wajah sosok tubuh yang tengah terluka itu selain masih muda juga berparas tampan, meski terlihat pucat. Sudana segera membopong tubuh lelaki muda itu sesuai dengan perintah majikannya. Kemudian dibawanya ke barak, tempat tinggal para pekerja lainnya. Juragan Mahinta sendiri yang memberikan perawatan dan pengobatan kepada pemuda yang terluka itu.

***

"Sambil menyantap hidangan, tidak ada salahnya kalau kau memperkenalkan namamu kepada kami semua, Anak Muda," ucapan itu keluar dari mulut Juragan Mahinta, saat bersantap malam bersama para pekerjanya. Pertanyaan itu diajukan kepada pemuda yang selama beberapa hari ini dirawatnya dengan baik, sampai akhirnya tubuhnya cukup kuat dan dapat bersantap bersama-sama dengan Juragan Mahinta serta para pekerjanya.

Juragan Mahinta memang tidak dapat disamakan dengan juragan-juragan lain. Hatinya terlalu baik dan tidak ingin menjaga jarak dengan para pekerja. Dirinya selalu menyempatkan diri untuk makan malam bersama dengan pekerja yang jumlahnya enam orang, dan rata-rata masih muda. Sudah tentu sikapnya yang seperti itu membuat para pekerja semakin menaruh hormat dan segan kepada majikannya yang baik hati itu.

"Namaku Ekalana, Ki...," jawab pemuda itu singkat. Kemudian kembali menundukkan wajahnya menekuri meja.

Sikapnya menimbulkan kesan dingin dan angkuh, membuat enam orang pekerja Juragan Mahinta saling bertukar pandang mencibirkan bibir. Juragan Mahinta sendiri cuma mengangguk tipis. "Ekalana," lanjut Juragan Mahinta, "Aku tak ingin tahu tentang apa yang sudah kau alami, karena setiap orang berhak untuk menyimpan rahasia dirinya.

Dan pertolonganku jangan kau anggap suatu hutang yang harus dibayar. Aku tidak mengharapkan apa pun darimu. Kau boleh pergi kapan saja kau mau. Tapi aku pun tak keberatan jika kau ingin tetap tinggal di sini."

Ekalana mengangkat wajah dan menatap Juragan Mahinta untuk beberapa saat. Sorot matanya tetap dingin dan terkesan angkuh. Lalu mengalihkan pandang dan menatapi enam orang lainnya satu persatu.

"Kalau diizinkan aku ingin tinggal dan bekerja di sini, Ki," ujar Ekalana sambil kembali menatap Juragan Mahinta, menunggu jawaban atas keinginannya itu. Ia sadar bahwa Juragan Mahinta adalah orang baik. Kebaikan itu membuat Ekalana berjanji pada dirinya sendiri untuk mengabdi kepadanya, dan akan meninggalkan segala perbuatannya yang lalu.

"Kau boleh tinggal bersama mereka...," jawab Juragan Mahinta. Lelaki setengah baya itu kemudian bangkit dari kursinya, melangkah meninggalkan ruangan makan. Sebentar saja sosoknya sudah lenyap di balik pintu.

"He he he...! Beruntung kau bertemu dengan orang sebaik majikan kami, Ekalana," seorang pekerja bernama Maladi membuka suara, “Tapi mengapa kau memilih untuk tetap tinggal dan bekerja di sini? Bukankah sebaiknya kau pergi meninggalkan tempat ini? Atau kau sengaja hendak menjadikan tempat ini untuk menyembunyikan diri?"

Ucapan Maladi terdengar begitu sinis, dan dilontarkan dengan nada menghina. Namun Ekalana tidak menyahut. Ia melanjutkan makannya dengan tenang. Wajahnya tetap dingin dan angkuh. Bahkan menoleh pun tidak.

"Ha ha ha...! Rupanya ia tuli, Maladi. Mungkin juga lidahnya menjadi kelu setelah merasakan nikmatnya makanan yang ia santap. Atau jangan-jangan ia seorang buronan yang baru saja membunuh orang," seorang pekerja bertubuh gemuk menimpali, juga dengan nada yang jelas-jelas menunjukkan perasaan tak sukanya terhadap Ekalana. Ekalana tetap bungkam. Maladi semakin penasaran dibuatnya. Ia mendengus kasar.

"Hmh, benarkah kau telah membunuh orang?" Tanya Maladi tak percaya akan perkataan kawannya. Pertanyaan itu sengaja dilontarkan dengan nada agak tinggi, hingga Ekalana agak tersentak.

Ekalana mengangkat kepala dengan gerakan perlahan. Sepasang matanya yang bersinar dingin, menatap wajah Maladi lekat-lekat. "Aku memang baru saja membunuh orang," jawabnya dingin, membuat Maladi dan kawan-kawannya meneguk air liur dengan wajah berubah tegang.

"Apa yang menyebabkan kau melakukan hal itu?" kali ini Sudana yang bertanya. Sepertinya lelaki brewok ini merasa tertarik ketika mendengar jawaban Ekalana.

"Karena ia telah berani menghina aku!" jawab Ekalana dengan suara berdesis. Sepasang matanya tampak berkilat aneh saat berkata demikian.

Glek!

Maladi dan pekerja bertubuh gemuk sama-sama meneguk air liur. Wajah keduanya pun berubah agak pucat. Jelas mereka sangat terkejut dengan jawaban Ekalana. Dan percaya bahwa pemuda tampan berwajah dingin itu tidak berdusta. Dengan agak gugup, kedua orang ini menundukkan wajah mengalihkan perhatiannya pada hidangan di atas meja.

Ekalana kembali melanjutkan makannya. Sikapnya tetap tenang dan dingin. Seolah jawabannya barusan sama sekali tidak berarti apa-apa baginya. Lain halnya bagi keenam orang pekerja Juragan Mahinta. Bagi mereka nyawa manusia sangatlah berarti. Karena peternakan Juragan Mahinta yang termasuk dalam wilayah Desa Sindang Laya, tidak begitu jauh letaknya dari kotaraja.

Yang berarti masih terjangkau oleh tangan-tangan hukum. Selain itu, mereka memang bukan kaum rimba persilatan, meskipun bukan orang-orang lemah. Itu sebabnya mengapa mereka merasa terkejut mendengar pengakuan Ekalana.

***
DUA
EKALANA tidak kehilangan sikap angkuh dan wajah dinginnya, kendati telah beberapa hari bekerja di peternakan Juragan Mahinta. Dirinya lebih suka menyendiri ketimbang berkumpul dengan pekerja lain. Meskipun demikian, Juragan Mahinta maupun rekan-rekan kerjanya harus mengakui, bahwa Ekalana sangat rajin dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan. Tidak pernah terdengar keluhan yang keluar dari mulutnya.

Bahkan tidak jarang Ekalana terlihat masih sibuk mengurus kuda-kuda yang dipercayakan kepadanya, kendati hari telah mulai gelap, dan para pekerja lain sudah pergi beristirahat. Ketekunan Ekalana mau tidak mau membuat rekan-rekan kerjanya merasa kagum. Juga telah menarik simpati Juragan Mahinta, majikannya.

Semenjak luka-lukanya sembuh dan tenaganya pulih, setiap siang Ekalana selalu berlatih ilmu silat di dalam kandang tertutup. Hal itu dilakukan setelah tugas untuk membersihkan kandang selesai dikerjakan. Rekan-rekan kerjanya sudah tahu apa yang dilakukan Ekalana di dalam kandang pada setiap siang. Ekalana sendiri sama sekali tidak peduli. Bahkan sama sekali tidak menanggapi ejekan yang kerap kali dilontarkan mereka kepadanya.

Siang itu Ekalana tengah berlatih ilmu pedang. Gerakannya terlihat semakin mantap dan terarah. Tampaknya ketekunan pemuda tampan berwajah dingin ini memang tidak percuma. Meskipun masih jauh dari sempurna, namun kemajuan yang didapatnya terhitung cukup pesat. Namun tiba-tiba....

Siut!

"Haits!"

Wut!

Trang! Trang!

Ekalana yang tengah memusatkan seluruh perhatiannya dalam memainkan pedang, memutar tubuh dengan kecepatan yang mengagumkan. Pedang di tangannya berkelebat dua kali mematahkan serangan dua bilah pisau terbang yang meluncur mengancam tubuhnya. Terdengar suara berdentang nyaring, yang disusul dengan runtuhnya kedua bilah pisau terbang itu.

"Hebat.., hebat...!" terdengar suara pujian disertai tepukan tangan yang cukup ramai. Kemudian muncul pemuda jangkung yang tak lain Saranggi. Di belakangnya tampak lima orang pekerja lain.

Ekalana sama sekali tidak merasa bangga dengan pujian rekan-rekan kerjanya itu. Segera dihentikan permainannya lalu berdiri dengan kaki terpentang, menatapi wajah mereka satu persatu. Wajah dan sinar matanya tetap dingin tanpa menggambarkan perasaan apapun. Mulutnya terkatup rapat tanpa kata.

"Ilmu pedangmu benar-benar membuat kami kagum, Ekalana. Dari mana kau mempelajarinya?" Saranggi, pemuda bertubuh jangkung kembali membuka suara.

"Benar, Ekalana. Bolehkah kami ikut mempelajarinya?" Sudana ikut menimpali.

"Dan tentu sangat ampuh bila digunakan untuk membantai tikus-tikus got! Hua ha ha...!" Maladi yang memang sejak semula tidak menyukai Ekalana, menimpali dengan nada menghina.

Ucapan Maladi langsung disambut gelak tawa kelima rekannya. Bahkan dua di antara mereka sampai mengeluarkan air mata saking tak sanggup menahan tawa. Maladi sendiri sampai terbungkuk-bungkuk. Dan suara tawanya paling keras di antara mereka.

Kali ini Ekalana benar-benar tersinggung. Wajah yang biasanya tanpa perasaan kini tampak mengelam, meski hanya sesaat. Hanya sinar matanya yang masih menunjukkan bahwa pemuda tampan ini merasa terhina. Sedangkan wajahnya kembali seperti semula. Dingin tanpa perasaan apapun!

"Hm... apakah kalian tidak mempunyai pekerjaan lain kecuali mengganggu kesenanganku? Tidakkah kalian sadar kalau benda yang ada di tanganku ini sangat tajam dan membahayakan? Atau kalian ingin mencoba sendiri ketajaman pedang ini?" ujar Ekalana mengingatkan. Sambil berkata demikian ia menimang-nimang pedang di tangannya.

Saranggi yang merasa bahwa ucapan Ekalana lebih ditujukan kepadanya, sama sekali tidak kelihatan gentar. Kakinya melangkah maju dengan sikap siap tempur. Di kedua tangannya telah tergenggam dua bilah pisau terbang. Rupanya pemuda jangkung inilah yang menyerang Ekalana dengan pisau terbang. Itu sebab- nya ia merasa bahwa tantangan Ekalana memang ditujukan kepadanya.

"Rupanya kau merasa sudah menjadi jagoan, heh?! Apa pikir mu cuma kau saja yang bisa memegang dan memainkan pedang? Ayo, kita buktikan bahwa permainan pedangmu memang cuma pantas digunakan untuk membantai tikus got!" ujar Saranggi dengan sikap menantang. Wajah pemuda jangkung ini tampak berang.

Dirinya memang selalu mencari alasan agar bisa menghajar Ekalana. Saranggi tidak suka dengan sikap dingin dan angkuh pemuda tampan itu. Sudah beberapa kali ia memancing keributan. Namun baru kali ini Ekalana meladeninya. Suatu kesempatan yang sudah lama dinantikannya.

Ekalana menarik sudut bibirnya, membentuk senyum mengejek. Sepasang matanya tampak bersinar-sinar, seolah merasa gembira tantangannya mendapati sambutan. Pemuda tampan itu pun me-langkah maju dua tindak, hingga jarak keduanya hanya terpisah kurang dari satu tombak.

Lima orang pekerja lainnya tidak berusaha mencegah. Mereka malah sengaja menjauh, agar arena perkelahian bertambah luas. Kemudian masing-masing mencari tempat yang enak untuk menyaksikan perkelahian yang kelihatannya memang akan segera berlangsung itu.

Saranggi dan Ekalana sendiri sudah berdiri tegak saling tatap dengan kaki terpentang. Berbeda dengan Ekalana, yang terlihat tetap dingin dan angkuh, Saranggi tampak agak tegang. Hal itu disebabkan Saranggi memang hampir tidak pernah bertarung. Lain halnya dengan Ekalana, yang sebelum bekerja di peternakan Juragan Mahinta, telah banyak mengalami pertempuran. Dan menganggap perkelahian yang bakal dihadapinya hanyalah sekadar permainan anak- anak.

Namun sebelum keduanya bergerak saling gebrak, tiba-tiba terdengar suara gemuruh derap kaki kuda di kejauhan. Sudana dan empat orang pekerja lainnya sudah berlompatan ke luar dari kandang. Karena tidak biasa peternakan itu didatangi orang luar, kelimanya tidak mempedulikan Saranggi dan Ekalana yang sudah siap saling gebrak. Mereka bergegas untuk melihat siapa rombongan berkuda yang berkunjung ke peternakan.

Saranggi sendiri kelihatan gelisah. Beberapa kali ia menoleh ke luar kandang. Sampai akhirnya mengambil keputusan untuk menunda persoalan itu, lalu melompat ke luar tanpa berkata sepatah kata pun. Karena rombongan penunggang kuda itu sudah mulai terlihat sebagian. Tidak demikian halnya dengan Ekalana. Pemuda tampan berwajah dingin ini malah menutup rapat pintu kandang. Kemudian merunduk dan mengintai dari celah-celah pintu, yang memang dibuat tidak rapat.

Sementara itu, di luar kandang terlihat Juragan Mahinta berdiri tegak menyambut kedatangan rombongan orang berkuda yang datang ke tempatnya. Saranggi dan kawan-kawannya berdiri di kiri dan kanan Juragan Mahinta, siap melindungi majikan mereka kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan.

"Hm... angin apa yang membawamu sampai ke tempat ini, Ki Baswara?" sapa Juragan Mahinta kepada penunggang kuda terdepan, yang berhenti di hadapannya. Kemudian Juragan Mahinta mengangguk kepada seorang lelaki lain, di sebelah kanan Juragan Baswara. "Selamat datang, Ki Windudarta!" lanjutnya menyapa lelaki gagah berusia lima puluh tahun, yang merupakan Kepala Desa Sindang Laya.

"Maaf, kalau kedatangan kami mengejutkanmu, Ki Mahinta. Aku sendiri tidak mempunyai kepentingan khusus kecuali menemani Ki Baswara. Beliau ingin menanyakan sesuatu kepadamu," jelas Ki Windudarta menerangkan kepada Juragan Mahinta setelah balas mengangguk.

"Ki Mahinta," ujar Juragan Baswara dengan sikap angkuh, dan tetap duduk di atas punggung kuda. "Sebenarnya sudah lama aku menaruh curiga terhadap dirimu. Beberapa kali kiriman uang pembayaran dari langganan-langganan ku tak sampai ke tanganku. Baru beberapa hari yang lalu aku menerima laporan bahwa perampok yang selama ini menjarah uang kiriman itu, melarikan diri ke tempat ini!

Orang-orangku tak berani melanggar batas wilayah kekuasaanmu. Mereka hanya melaporkan kepadaku bahwa perampok itu menghilang di daerah peternakan ini! Dan sekarang aku merasa yakin bahwa kaulah yang menjadi biang keladi dari semua perampok itu! Kau pasti merasa iri dengan usahaku lebih maju daripada usahamu!"

Wajah Juragan Mahinta memerah karena merasa kaget mendengar tuduhan Juragan Baswara. Saat itu juga ia sudah dapat menebak siapa orang yang dimaksudkan Juragan Baswara, saingan dagangnya itu. Siapa lagi pelaku perampok itu kalau bukan Ekalana. Dugaannya semakin kuat ketika tidak menemukan pemuda tampan itu di antara pekerja-pekerjanya.

Namun bukan berarti bahwa Juragan Mahinta akan sudi menyerahkan Ekalana kepada Juragan Baswara. Hal itu tidak akan dilakukan, karena ia tahu betul siapa sebenarnya Juragan Baswara. Seorang juragan licik, yang tidak segan-segan berlaku curang untuk menyingkirkan saingan dagangnya. Selain itu, dirinya pun tahu bahwa Ki Windudarta berada di pihak Juragan Baswara, yang dengan hartanya telah membuat Kepala Desa Sindang Laya tunduk dan selalu berpihak kepadanya.

Kecuali itu, Juragan Mahinta juga tahu bahwa Juragan Baswara merupakan seorang pemeras tehadap golongan lemah. Tak seorang pun yang berani menentang kekuasaannya. Karena secara tidak langsung, Juragan Baswara merupakan penguasa Desa Sindang Laya. Memang semua kekejamannya tidak dilakukan secara terang-terangan. Kendati demikian, hal itu sudah bukan rahasia lagi. Hanya saja tidak pernah ada orang yang berani menentangnya.

Juragan Mahinta sendiri belum lama mendirikan peternakan di tempat itu. Dirinya merupakan pendatang dari daerah selatan. Keberadaannya di tempat itu bukan tanpa gangguan. Pada awalnya, seringkali terjadi kebakaran ataupun pencurian terhadap binatang ternaknya. Namun sejauh itu hatinya tetap tabah menghadapi berbagai gangguan.

Dengan bantuan enam pekerjanya yang terdiri dari orang-orang muda, akhirnya dia berhasil melewati masa-masa sulit. Bahkan lama-kelamaan dia dapat menebak siapa dalang dari semua kejadian itu. Hal itu baru diketahui dari beberapa orang pelanggannya yang membatalkan pesanan, dan menyeberang kepada Juragan Baswara.

Namun Juragan Mahinta tidak pernah patah semangat. Dirinya terus berusaha dan mencari langganan-langganan baru, serta menyediakan kuda-kuda pilihan yang sehat dan kuat, ataupun sapi-sapi gemuk yang tidak berpenyakitan. Dan usahanya berjalan lancar, meskipun Juragan Baswara masih terus berusaha untuk menghancurkan.

Kali ini Juragan Baswara melemparkan fitnah kepadanya sebagai dalang dari perampokan atas kiriman uang juragan itu. Namun Juragan Mahinta nampak tetap tenang. Sebab tuduhan itu tidak mempunyai dasar yang kuat. Dan ia percaya bahwa Ki Windudarta masih merasa segan kepadanya. Sehingga ia harus tetap tenang agar tidak mudah terpancing oleh tuduhan tak berdasar itu.

"Ki Baswara," ujar Juragan Mahinta setelah menarik napas beberapa kali. "Tuduhanmu sama sekali tidak berdasar. Aku sama sekali tidak tahu menahu soal perampokan yang kau katakan itu. Harap kau tarik kembali fitnah yang bisa jadi bumerang bagi dirimu."

"Hm..., kau masih hendak menyangkal?" tukas Juragan Baswara yang kemudian berpaling ke arah delapan orang pengikutnya, "Kalian geledah seluruh tempat ini!" perintahnya dengan suara lantang.

"Tunggu...!" seru Juragan Mahinta ketika melihat keenam orang pekerjanya sudah siap untuk mencegah perbuatan para pengikut Juragan Baswara. Kemudian berpaling ke arah Ki Windudarta. "Aku jelas keberatan dengan apa yang akan dilakukan Juragan Baswara. Harap kau mempertimbangkannya, Ki Windudarta."

Ki Windudarta menghela napas sesaat. Kemudian berpaling menatap Juragan Baswara. "Sebaiknya kita jangan terburu nafsu, Ki," ujar Ki Windudarta kepada Juragan Baswara, "Persoalan ini sama sekali belum jelas.

Aku tidak ingin sampai terjadi pertumpahan darah hanya karena sesuatu yang belum tentu dilakukan Juragan Mahinta. Sebaiknya kita selidiki dulu kebenarannya. Dan kalau akhirnya ternyata Juragan Mahinta yang menjadi dalang dari semua perampokan itu, rasanya belum terlambat bagi kita untuk bertindak."

"Hm...," Juragan Baswara menggeram tak puas, tapi tidak bisa berkata apa-apa. Karena tuduhannya memang tanpa bukti-bukti yang kuat. Dan kalaupun ia berkeras melakukan penggeledahan, sudah pasti pertumpahan darah akan terjadi. Memang ia tahu pihaknya pasti akan memperoleh kemenangan. Namun, ia tidak ingin namanya tercemar dan dikecam orang banyak. Maka, segera diputuskan untuk menerima saran Ki Windudarta, tentu saja hanya ucapan di mulut. Karena dalam kepalanya telah muncul sebuah rencana jahat!

"Baiklah. Kali ini aku masih bermurah hati. Tapi ingat! Apabila suatu hari nanti terbukti bahwa kau yang menjadi dalang dari perampokan itu, akan kau rasakan akibatnya!"
Setelah berkata demikian, Juragan Baswara mengajak para pengikutnya untuk meninggalkan tempat itu.

"Kuharap kau benar-benar bersih, Ki Mahinta...," ucap Ki Windudarta sebelum meninggalkan tempat itu. Baru kemudian memutar kudanya dan bergerak menyusul rombongan Juragan Baswara.

"Lanjutkan pekerjaan kalian masing-masing...!" perintah Juragan Mahinta kepada Saranggi dan kawan-kawannya, setelah rombongan Juragan Baswara semakin jauh dan lenyap dari pandangan.

***

"Hendak ke mana kita, Ki? Mengapa hari ini kau memberikan pakaian-pakaian bagus untuk kami kenakan?" Tanya Saranggi kepada majikannya ketika Juragan Mahinta memerintahkan para pekerjanya, termasuk Ekalana untuk berpakaian rapi.

"Malam nanti ada pesta di Desa Sindang Laya. Ki Windudarta mengirimkan undangan kepadaku, dan mengajak kalian semua untuk ikut menghadirinya," jawab Juragan Mahinta, yang saat itu sudah mengenakan pakaian indah dan terlihat masih baru.

"Pesta apa, Ki?" Sudana yang juga sudah mengenakan pakaian baru dan bagus, pemberian majikannya, bertanya ingin tahu.

"Tahun ini hampir semua penduduk panennya berhasil. Sebagai tanda rasa kegembiraan, warga desa hendak mengadakan pesta semacam syukuran," jawab Juragan Mahinta menjelaskan, "Ayo, kita segera berangkat!" lanjutnya setelah semua pekerja sudah siap untuk berangkat.

Saranggi dan kawan-kawannya tampak demikian gembira, kecuali Ekalana yang sama sekali tidak berubah. Wajahnya tetap dingin dan angkuh. Kendati demikian, ia tetap menyertai majikannya untuk menghadiri pesta yang diadakan oleh penduduk Desa Sindang Laya.

"Ki, apakah ini bukan suatu jebakan? Tindakkah sebaiknya satu atau dua orang dari kami tinggal untuk menjaga peternakan?" ujar Saranggi sebelum mereka berangkat dengan menunggang kuda. Pemuda jangkung ini mendekati majikannya yang duduk di dalam kereta kuda.

"Kau tidak perlu khawatir, Saranggi. Ki Windudarta sudah memberikan jaminan bahwa peternakan kita tidak bakal ada yang mengganggu. Ia bertanggung jawab jika ada sesuatu yang terjadi pada tempat ini," jelas Juragan Mahinta menenangkan hati Saranggi.

Jawaban Juragan Mahinta sudah tentu membuat Saranggi tidak lagi merasa khawatir. Rombongan pun langsung berangkat seiring dengan cuaca yang mulai remang-remang. Setelah melewati Hutan Burangrang, yang memang tidak terlalu luas, rombongan Juragan Mahinta pun tiba di desa, tempat pesta dilangsungkan. Saat itu kegelapan telah menyelimuti permukaan bumi. Ki Windudarta sendiri yang menyambut kedatangan rombongan Juragan Mahinta.

Pesta baru saja dimulai. Seluruh warga desa berkumpul di tempat itu dengan wajah berseri-seri. Meja-meja panjang dengan bermacam-macam hidangan telah tersedia di beberapa tempat. Siapa saja bebas memilih dan mengambil makanan yang diinginkan, tanpa harus dilayani.

Para penduduk membentuk sebuah kelompok dan meramaikan pesta dengan bermacam cara. Demikian pula dengan anak-anak, yang terlihat berlarian kian kemari. Tampaknya warga Desa Sindang Laya benar-benar menikmati keramaian pesta panen itu.

Juragan Mahinta melangkah perlahan di tengah keramaian pesta. Sesekali ia mengangguk dan tersenyum kepada warga desa yang menyapanya. Terkadang langkahnya terhenti beberapa saat untuk menyaksikan pertunjukan salah satu kelompok yang dibuat penduduk. Kemudian kembali melangkah perlahan untuk menyaksikan pertunjukan lainnya.

Sementara itu, Saranggi dan kawan-kawannya ikut berbaur dengan penduduk. Ketujuh pekerja ini memang diberi kebebasan oleh Juragan Mahinta untuk ikut larut dalam suasana pesta. Sehingga, mereka tidak mau melewatkan kesempatan untuk menari bersama gadis-gadis desa yang malam itu sengaja berhias secantik mungkin untuk menarik lawan jenisnya. Bukan suatu hal yang aneh kalau arena pesta juga merupakan ajang untuk mencari jodoh.

"Ekalana, mengapa dalam keramaian seperti ini kau masih saja lebih suka menyendiri? Bergembiralah, carilah pasangan untuk menari!" salah seorang pekerja Juragan Mahinta melangkah ke arah Ekalana yang tampak lebih suka duduk menyaksikan keramaian sambil sesekali meneguk tuak dengan tempat minum dari bambu.

Ekalana tersenyum tipis. Ditatapnya wajah pekerja yang ia kenal bernama Jirana. Usia mereka tidak berselisih jauh. Selama bekerja di peternakan Juragan Mahinta, hanya Jirana inilah yang agak dekat dengannya. Meskipun Ekalana tetap menjaga jarak dan tertutup, Jirana tidak merasa tersinggung. Dan masih tetap suka menemani Ekalana.

"Kau pun sepertinya tidak mendapatkan pasangan untuk menari, Jirana?" tukas Ekalana.

Jirana memang tidak mendapat pasangan untuk menari. Pemuda yang berperawakan kekar ini tampak kebingungan. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan. Namun yang dicarinya tak juga didapatkan. Tak seorang gadis pun yang terlihat sendiri. Mereka sudah mendapatkan pasangan masing-masing.

"Rupanya nasibku sedang sial hari ini...," desah Jirana menghela napas panjang. Bam saja hendak menjatuhkan tubuhnya duduk di sebelah Ekalana, tiba-tiba matanya menangkap sosok gadis cantik yang terlihat tidak ikut menari seperti lainnya. Kecantikan gadis yang terlihat murung itu sempat menggetarkan hati Jirana. Membuat pemuda ini bagaikan terkena sihir. Menatap lurus tanpa berkedip.

Sikap Jirana tentu saja membuat kening Ekalana berkerut Karena sosok pemuda kekar itu berdiri tepat di depan hidungnya, seperti patung. Ekalana baru mengerti ketika matanya mengikuti pandangan Jirana. Dan merasa maklum mengapa rekannya seperti orang yang terkena pengaruh sihir. Sosok gadis yang tengah dipandangi Jirana memang sangat cantik dan mempesona.

Sayangnya Ekalana menemukan sosok lain, yang berdiri di samping gadis cantik itu. Dan sosok itu ia kenal sebagai Juragan Baswara. Sekali pandang saja Ekalana sadar bahwa gadis cantik itu tentu milik Juragan Baswara, saingan majikannya.

"Gadis itu memang cantik..," desis Ekalana. Perkataan itu tentu saja ditujukan kepada rekannya. "Sayang ia mungkin milik Juragan Baswara. Tapi kalau kau memintanya baik-baik untuk pasangan menari, kurasa Juragan Baswara akan memperbolehkannya," lanjutnya memberi dorongan kepadaJirana.

"Tapi... aku tidak ingin membuat pesta ini kacau...," tukas Jirana meragu. Namun sepasang matanya jelas menunjukkan keinginan yang besar untuk mengikuti anjuran Ekalana.

"Kau tak perlu membuat kekacauan, Jirana. Katakan saja kepada Juragan Baswara, bahwa kau cuma menginginkan gadis itu sebagai pasangan menari. Aku yakin jawabannya akan diserahkan kepada gadis itu. Karena Juragan Baswara pun tidak menghendaki keributan di depan orang banyak" ujar Ekalana lagi memberi harapan kepada kawannya.

Jirana berpikir sesaat Kemudian menganggukkan kepala dan mengayunkan langkah menghampiri tempat gadis itu berada.
Kening Juragan Baswara langsung berkerut ketika melihat seorang pemuda kekar menghentikan langkah di depannya. Ia ingat pemuda itu merupakan salah seorang pekerja Juragan Mahinta. Namun ia tidak berbuat apa-apa, kecuali hanya memandang tajam dan ingin tahu apa tujuan Jirana mendatanginya.

Jirana yang menghentikan langkahnya tepat di depan si gadis cantik, sama sekali tidak menoleh ke arah Juragan Baswara. Dan tanpa mempedulikan keberadaan Juragan Baswara, dia langsung saja meminta kesediaan gadis cantik itu untuk menari bersamanya.

"Dik maukah kau menemaniku menari...?" Tanya Jirana menatap lekat-lekat wajah cantik di depannya.

Gadis cantik berwajah murung itu sudah merasa heran ketika melihat ada seorang pemuda menghampirinya. Kini hatinya kaget mendengar permintaan yang sama sekali di luar dugaannya. Permintaan Jirana membuat sepasang matanya yang semula redup tampak berbinar. Namun hanya sesaat, karena kembali sayu tak bergairah. Kemudian wajahnya berpaling ke arah Juragan Baswara.

Tidak seperti apa yang dibayangkannya, Juragan Baswara ternyata mengangguk, memberi kesempatan untuk memenuhi permintaan Jirana. Karuan saja wajah cantik itu berseri-seri. Tanpa menunggu lagi, langsung disambutnya uluran tangan Jirana. Lalu mengikuti langkah pemuda kekar itu ke tempat yang agak lapang. Membaurkan diri bersama orang banyak yang tengah menari, diiringi tetabuhan gamelan yang riuh rendah.

Ekalana yang sejak tadi memperhatikan Jirana mengulas senyum tipis. Hatinya ikut merasa gembira melihat Jirana telah berhasil mendapatkan pasangan menari. Ketika melihat Jirana menoleh dan melempar senyum ke arahnya, Ekalana mengangkat gelas bambunya. Lalu meneguk tuak harum di dalamnya.

***
TIGA
JURAGAN Baswara mengalihkan perhatiannya dari Jirana dan gadis cantik yang berkebaya putih itu. Karena ia menangkap adanya sosok lain yang baginya jauh lebih menarik. Setelah mengerling kepada lelaki tinggi besar di samping kanannya dia memberikan isyarat dengan gerakan kepala.

Lelaki tinggi besar itu rupanya salah seorang tukang pukul Juragan Baswara. Paham apa yang diinginkan majikannya, ia bergegas melangkah mendekati sosok yang menjadi perhatian Juragan Baswara. Dengan sengaja lelaki tinggi besar membenturkan tubuhnya keras-keras.

"Uhhh...?!" Juragan Mahinta berseru tertahan. Tubuhnya terhuyung mundur, nyaris terjengkang. Untung ia masih sempat menyelamatkan diri, hingga tidak sampai terjatuh.

"Bangsat, apa matamu buta! Atau kau sengaja hendak mencari keributan?" lelaki tinggi besar ini membentak marah dan langsung melayangkan tinjunya ke wajah Juragan Mahinta.

Tentu saja Juragan Mahinta menjadi kaget dibuatnya. Merasa bersalah karena dalam melangkah tadi ia tidak begitu memperhatikan orang di depannya, Juragan Mahinta tidak mau meladeni. Sambaran kepalan tangan lelaki tinggi besar itu dielakkan dengan menarik tubuhnya ke belakang. Sehingga pukulan yang menimbulkan angin menderu itu lewat di depan wajahnya.

"Maaf, aku terima salah...," ujar Juragan Mahinta meminta maaf atas kejadian itu. Dirinya sama sekali tidak menyangka kalau lelaki tinggi besar itu kaki tangan Juragan Baswara, yang sengaja mencari perkara.

"Aku terima permintaan maafmu, Manusia Buta! Tapi sebelumnya kau harus menerima sebuah pukulanku!" tukas lelaki tinggi besar yang langsung merangsek maju sambil melayangkan tinjunya dengan sekuat tenaga.

"Hei, tahaan..!" Dan....

Plak!

Orang yang berseru mencegah langsung menyeruak, dan mengangkat lengan menangkis pukulan tukang pukul Juragan Baswara. Sehingga, terdengar suara dua batang lengan yang saling berbenturan.

"Kurang ajar! Rupanya kau ingin membela majikanmu, heh?" bentak tukang pukul Juragan Baswara penuh kegeraman. Sepasang matanya melotot bagai hendak menelan lelaki berwajah brewok yang menggagalkan serangannya.

Namun lelaki brewok yang ternyata Sudana, sama sekali tidak merasa gentar. Dia berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang, siap melindungi majikannya dengan taruhan nyawa! Sudana ingat lelaki tinggi besar itu, pernah dilihatnya bersama Juragan Baswara, ketika mendatangi peternakan Juragan Mahinta. Itu sebabnya ia langsung meninggalkan gadis pasangan menarinya ketika melihat majikannya tengah menghadapi kesulitan.

"Hei, Kerbau Gila! Aku tahu siapa dirimu! Dan aku juga tahu kalau kau sengaja mencari perkara dengan majikanku. Tapi, meskipun tubuhmu sebesar kerbau bunting, aku, Sudana sama sekali tidak gentar! Nah, kalau kau memang belum puas, hayo, akulah lawan mu! Tapi kalau kau takut, menyingkirlah dan minta perlindungan dengan tuan besarmu sana!" ujar Sudana tanpa rasa takut sama sekali.

Padahal ukuran tubuh tukang pukul Juragan Baswara hampir dua kali lipat besarnya. Bahkan tinggi tubuh Sudana hanya sampai sebatas bahunya. Tentu saja perkelahian yang tidak sebanding itu menarik perhatian orang banyak. Namun bukannya melerai, mereka malah membuat lingkaran hingga membentuk sebuah arena yang cukup luas. Kemudian terdengar tepuk sorai warga desa, memberikan semangat kepada kedua orang yang siap saling bertarung.

Sudana tersenyum-senyum penuh kebanggaan, sambil melangkah mondar-mandir dengan dada dibusungkan. Tarikan bibirnya membentuk senyum mengejek, yang membuat lawannya mendengus bagaikan banteng liar.

"Kupecahkan batok kepalamu, Bangsat...! Yeaattt..!"

Whuuuttt..!

Kepalan yang besar dan kekar bergerak menyambar kepala Sudana. Namun, dengan sebuah gerakan yang manis, pemuda brewok ini merunduk disertai geseran kaki kanannya ke depan. Tubuhnya langsung menyeruak melalui ketiak lawan. Seketika itu pula kepalan tangannya langsung bekerja dengan baik.

Buk!

"Hukh...!"

Tukang pukul Juragan Baswara melenguh tertahan. Wajahnya menyeringai kesakitan karena lambungnya tersengat kepalan Sudana. Dan ketika tubuhnya terhuyung mundur, Sudana melompat berputar, mengirimkan sebuah tendangan keras!

Lagi-lagi tubuh lelaki tinggi besar itu terjajar limbung. Tendangan Sudana yang singgah di tengkuknya membuat tukang pukul Juragan Baswara menjerit kesakitan. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha mengimbangi tubuhnya agar tidak sampai jatuh. Kemudian menyergap Sudana dengan serangkaian pukulan yang membabi-buta, persis kerbau gila yang mengamuk.

Namun Sudana ternyata cukup lincah. Setiap serangan pukulan lawan selalu dapat dihindarinya dengan baik. Bahkan satu dua pukulannya mendapatkan sasaran yang tepat, membuat lawan semakin kalap. Hal itu justru membuat Sudana semakin bersemangat. Sampai akhirnya ia mendapatkan kesempatan baik untuk melompat dan melepaskan tamparan dengan kedua telapak tangannya ke kedua telinga lawan.

Plak!

Tubuh tukang pukul Juragan Baswara langsung oleng. Tamparan kedua telapak tangan Sudana terasa bagai hentakan palu godam di kepalanya, membuat tubuh raksasa ini langsung berdebam ambruk tak sadarkan diri. Kemenangan Sudana yang di luar dugaan langsung disambut warga desa berteriak dengan bertepuk dan sorak-sorai. Bahkan Saranggi dan Maladi sudah melompat ke tengah arena dan mengangkat tinggi-tinggi tubuh rekannya sambil berteriak-teriak gembira.

Demikian juga dengan orang-orang yang gila judi. Mereka tadi langsung saling bertaruh ketika melihat ada dua orang yang sudah siap tarung. Dan yang bertaruh untuk kemenangan Sudana, melampiaskan kegembiraannya dengan macam-macam cara. Bahkan beberapa orang petaruh yang menang, bergegas menghampiri Sudana.

Masing-masing dari mereka memberikan sekantung uang kepada pemuda brewok itu. Karena peluang untuk menang bagi Sudana sangat tipis, ada beberapa orang yang berani bertarung satu banding lima untuk kemenangan lawan Sudana. Kemenangan yang cukup banyak, membuat mereka tak segan-segan memberikan sekantung uang kepada pemuda itu, sebagai tanda kegembiraan.

"Saranggi, kumpulkan kawan-kawanmu!" perintah Juragan Mahinta kepada Saranggi, orang kepercayaannya, "Kita kembali!" lanjutnya, lalu memutar tubuh meninggalkan balai desa, tempat diadakannya pesta itu.

Tanpa membantah, Saranggi segera mengajak kawan-kawannya untuk kembali ke peternakan. Rombongan Juragan Mahinta pun bergerak meninggalkan balai desa, diiringi pandang mata penuh dendam dari Juragan Baswara.

"Keparat itu harus segera dilenyapkan...!" desis Juragan Baswara penuh kebencian. Kemudian melanjutkan dengan suara berbisik kepada empat orang tukang pukul yang berada di kiri dan kanannya.

Keempat orang tukang pukul itu sama-sama menganggukkan kepala. Dua orang di antaranya bergerak meninggalkan balai desa. Sedangkan dua lagi mengiringi langkah majikannya sambil menggotong tubuh kawannya, si lelaki tinggi besar yang belum sadarkan diri.

***

Brak!

Daun pintu rumah besar itu langsung jebol terkena tendangan seorang lelaki gemuk berkumis lebat, yang kemudian langsung menerobos masuk dengan wajah beringas.

"Siapa... siapa kalian...?! Mau apa kalian...?!"

Dua orang perempuan berumur sekitar empat puluh tahun, berpakaian seperti pelayan, tampak kebingungan mengetahui kedatangan lelaki gemuk.

"Minggir kalian! Mana itu si Keparat Mahinta...?!" bentak lelaki gemuk berkumis lebat sambil mengibaskan kedua tangannya. Karuan saja kedua orang perempuan itu terlempar membentur dinding, dan langsung tak sadarkan diri. Sedangkan lelaki tinggi besar itu terus berjalan. Di belakangnya tampak dua orang lelaki lain berwajah beringas.

Juragan Mahinta yang saat itu tengah berada di dalam kamarnya, bergegas menutup buku yang tengah dibacanya. Kemudian buru-buru keluar, setelah menyimpan buku daftar pesanan yang tengah ditelitinya. Suara ribut-ribut di luar kamar, membuatnya merasa perlu untuk memeriksa. Namun betapa terkejutnya hati lelaki setengah baya itu ketika melihat tiga orang lelaki berwajah beringas tengah berjalan menghampirinya.

"Siapa kalian? Apa maksud kalian membuat keributan di rumahku?" tegur Juragan Mahinta, meskipun ia tahu dari tarikan wajah tamu tak di-undang itu, jelas bermaksud tidak baik. Tubuhnya melompat ke samping kanan, mendekati rak senjata berada. Kemudian menyambar sebatang golok besar yang terdapat di rak senjata.

"Siapa adanya kami kau tak perlu tahu, Mahinta! Yang jelas kami datang untuk membunuhmu! Bersiaplah untuk melayat ke neraka!" tukas lelaki gemuk berkumis lebat, yang langsung memerintah dengan gerakan tangan agar kedua rekannya menyebar.

"Kisanak. Di antara kita belum pernah berjumpa, apalagi bermusuhan. Kalau sekarang kau hendak membunuhku, tentu ada sebab-sebabnya. Dapatkah kau jelaskan sebab-sebab itu...?" ujar Juragan Mahinta sambil berusaha mengenali salah satu dari ketiga tamunya. Terutama lelaki gemuk berkumis lebat, yang ia duga merupakan pimpinan dari dua orang lainnya.

"Huh, aku tak punya banyak waktu dengan segala macam keterangan, Mahinta! Sekarang terimalah kematianmu...!" usai berkata demikian, lelaki gemuk berkumis lebat langsung menerjang maju dengan senjata berupa sebuah clurit berwarna hitam.

Sedangkan dua lelaki yang mengapit Juragan Mahinta tidak terlihat hendak membantu pimpinannya. Mereka hanya berjaga-jaga agar jangan sampai pemilik peternakan itu sempat melarikan diri. Meskipun demikian, di tangan keduanya terlihat senjata yang serupa dengan apa yang digunakan pimpinan mereka.

***

Sementara itu, Saranggi yang tengah menggembalakan sapi bersama tiga orang rekannya, tampak agak gelisah. Tidak seperti biasanya, hari ini dadanya selalu berdebar tanpa sebab. Dan ada suatu perasaan aneh yang mendorongnya agar segera kembali ke peternakan.

"Maladi!" panggil Saranggi kepada Maladi, yang sama dengan dirinya, menunggang seekor kuda, berada sekitar tiga tombak di sebelah kirinya.

Maladi menggerakkan kudanya menghampiri Saranggi. "Entah mengapa, hari ini hatiku selalu berdebar. Bagaimana kalau kita kembali saja ke peternakan? Hatiku khawatir kalau-kalau ini merupakan suatu pertanda tidak baik," ujar Saranggi berterus terang kepada rekannya.

"Aneh...?!" desis Maladi yang wajahnya mendadak cemas. "Hatiku pun merasa tak karuan. Sebaiknya kembali dulu ke peternakan agar hati kita merasa tenang. Mudah-mudahan ini cuma perasaan kita saja..."

Saranggi mengangguk. Kemudian berpaling ke arah Sudana, yang berada sekitar empat tombak di sebelah kanannya.
"Sudana, aku dan Maladi akan pulang sebentar! Kau dan Rapati tetaplah di sini! Sebentar kami akan kembali lagi ke sini!" teriak Saranggi kepada Sudana, yang disambut dengan menganggukkan kepala, meski merasa heran.

Kemudian, tanpa membuang-buang waktu, Saranggi segera menggebah kudanya, yang langsung melesat bagaikan dikejar setan. Di samping kirinya terlihat Maladi melakukan hal yang serupa. Kedua pemuda itu seperti berlomba untuk tiba di peternakan, yang berjarak cukup jauh dari padang rumput tempat mereka menggembalakan sapi-sapi majikannya.

Di tengah perjalanan, keduanya berjumpa dengan tiga pedati yang dikendarai Ekalana, Jirana, dan Sabung Waluya. Ketiganya baru saja kembali dari menyabit rumput untuk makanan kuda.

"Hei, hendak ke mana kalian? Mengapa memacu kuda seperti dikejar setan belang?" Jirana berteriak menegur Saranggi dan Maladi, yang melewati ketiga pedati berisi rumput itu tanpa menegur, Keduanya hanya menoleh sekilas.

Namun, baik Saranggi maupun Maladi sama sekali tidak menyahut. Mereka terus membedal binatang tunggangannya, meninggalkan ketiga pedati pembawa rumput.

Ekalana yang mengendarai pedati paling depan, mengerutkan keningnya. Ia merasa aneh melihat sikap Saranggi dan Maladi yang dianggapnya tidak wajar. Setelah berpikir sesaat, ia langsung saja berseru kepada kedua orang kawannya di belakang.

"Jirana, Sabung Waluya, kita harus mengejar mereka! Mendadak saja perasaanku tidak enak melihat sikap mereka yang tidak seperti biasanya itu...!"

Tanpa menunggu jawaban, Ekalana mencambuk kuda penarik pedati berkali-kali. Membuat binatang itu terlonjak kaget, lalu segera berlari lebih cepat. Karuan saja pedati yang dibawa lari cepat itu berdetak dan melonjak-lonjak. Namun Ekalana sama sekali tidak peduli. Pecut di tangannya masih meledak-ledak mencambuki badan kuda. Pemuda berwajah dingin ini ternyata cukup ahli menjaga keseimbangan pedatinya. Dengan pengerahan tenaga dalam yang diatur sedemikian rupa, pedati itu terus meluncur, kendati beberapa kali nyaris terbanting.

Berbeda dengan Jirana dan Sabung Waluya. Keduanya tak mampu mengatur keseimbangan pedati. Maka, tanpa ampun lagi, pedati yang dikendarai Jirana ambruk, ketika rodanya melindas batu sebesar kepala manusia. Begitu pula pedati Sabung Waluya setelah rodanya menelusup ke lubang. Untung keduanya cukup sigap, melempar tubuh dan bergulingan di tanah berumput kering pinggir jalan. Sehingga, mereka selamat dari bahaya tertimpa pedati.

"Sial..!" Jirana memaki kesal. Bergegas ia melompat bangun dan membersihkan debu serta rumput kering yang mengotori pakaiannya. Ketika melihat kuda penarik pedati berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri, otaknya langsung bekerja cepat. Setelah memutus tali yang menghubungkan badan kuda dengan dua batang kayu gagang pedati, dia langsung melompat ke punggung kuda. Kemudian menggebahnya disertai bentakan nyaring.

"Heaaa...!" Sabung Waluya, yang juga berhasil menyelamatkan diri, segera mengikuti perbuatan rekannya. Kemudian melarikan binatang tunggangannya secepat terbang. Meski tidak mengerti mengapa ia mesti terburu-buru seperti itu, namun tetap saja dilakukannya.

***

Niat Saranggi untuk kembali ke peternakan, memang bersamaan waktunya dengan kedatangan lelaki gemuk berkumis lebat, yang hendak melenyapkan Juragan Mahinta. Sewaktu Saranggi bersama Maladi hampir tiba di peternakan, tampak tubuh majikan mereka tengah diseret ke luar dari dalam rumah oleh dua orang lelaki kasar. Di beberapa bagian tubuh Juragan Mahinta tampak terdapat luka yang masih mengalirkan darah. Meskipun masih hidup, namun keadaan Juragan Mahinta sudah setengah mati.

Saranggi yang dari kejauhan sempat menyaksikan tubuh majikannya diseret dua orang lelaki, bergegas menarik tali kekang kudanya. Karena di depan rumah majikannya terdapat kurang lebih dua puluh orang penunggang kuda. Saranggi tentu saja tidak ingin berlaku nekat, yang sama artinya dengan bunuh diri. Pemuda jangkung ini melompat turun dari punggung kuda, lalu bersembunyi di balik sebatang pohon, menyaksikan apa yang bakal terjadi.

"Apa yang akan dilakukan orang-orang biadab itu terhadap majikan kita, Saranggi...?" Tanya Maladi berbisik parau. Hatinya dilanda ketegangan hebat menyaksikan Juragan Mahinta diseret-seret seperti binatang. Seperti halnya Saranggi, Maladi pun tidak ingin bertindak bodoh dengan berlaku nekat menyelamatkan majikannya. Karena jumlah lawan sangat banyak. Sehingga, ia hanya bisa mengutuk menyaksikan perbuatan orang-orang tak dikenal itu.

"Entahlah, Maladi...," sahut Saranggi parau dan hampir menangis karena merasa tak berdaya untuk menolong majikannya.

Keduanya terdiam dengan wajah pucat bersimbah keringat dingin. Tiba-tiba Saranggi melompat mengejutkan Maladi, karena mendengar suara berderak-derak dari belakangnya yang semakin jelas. Sadar bahwa itu suara roda pedati yang dikendarai salah seorang kawannya, Saranggi berlari menyambut untuk mencegah dan menghentikannya. Khawatir suara ribut itu bisa menarik perhatian para penunggang kuda yang berkumpul di depan rumah majikannya.

"Ekalana, berhenti...!" teriak Saranggi berdiri menghadang jalan seraya mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

Ekalana, yang melihat Saranggi berdiri menghadang di tengah jalan, segera menarik tali kekang kudanya. Karuan saja pedati itu terlonjak-lonjak dengan suara ribut. Sampai akhirnya berhenti tepat di depan Saranggi.

"Mengapa? Ada apa, Saranggi? Kau tampak seperti orang yang baru saja melihat setan?" tegur Ekalana setelah melompat turun dari atas pedati dan menghampiri Saranggi.

Saranggi tidak berkata apa-apa. Lidahnya terasa kelu untuk menceritakan apa yang disaksikannya. Tanpa menjawab pemuda jangkung ini memutar tubuhnya, dan mengisyaratkan agar Ekalana mengikutinya. Namun, langkah keduanya tertunda oleh suara derap kaki kuda yang datang dari belakang mereka. Ketika melihat penunggang kuda ternyata Jirana. Saranggi menghentikannya dan mengisyaratkan agar Jirana segera turun.

Sesaat kemudian, kuda yang ditunggangi Sabung Waluya menyusul datang. Melihat tiga orang kawannya berkumpul di tempat itu, Sabung Waluya langsung menghentikan kudanya dan melompat turun tanpa diperintah. Kemudian bergegas mengikuti langkah kawan-kawannya tanpa sempat bertanya.

Saranggi mengajak ketiga orang kawannya untuk mengintai dari tempat yang tersembunyi. Saat itu mereka menyaksikan tubuh Juragan Mahinta diseret ke arah kandang kuda oleh dua orang lelaki. Tampak pula seorang lelaki berpakaian hitam membawa segulung tali.

"Ini tidak bisa didiamkan! Kita harus menolong Ki Mahinta!" Ekalana yang merasa geram karena sadar apa yang akan dilakukan orang-orang itu terhadap majikannya, bergegas bangkit. Sepasang matanya berkilat menakutkan. Dan ia sudah melompat ke luar dari tempat persembunyian.

Saranggi dan yang lainnya terkejut bukan main melihat perbuatan Ekalana. Sadar bahwa apa yang akan dilakukan Ekalana sangat berbahaya, Saranggi langsung melompat dan menerkam kedua kaki Ekalana. Sehingga, keduanya terjatuh bergulingan.

"Jangan bertindak bodoh, Ekalana! Jumlah mereka terlalu banyak dan tak mungkin dapat kita lawan!" bentak Saranggi dengan suara ditekan rendah. la marah bukan main melihat tindakan Ekalana yang dianggapnya sebagai perbuatan bodoh.

"Saranggi!" tukas Ekalana yang tak kalah geramnya. Keduanya masih rebah di tanah. "Aku tak takut mati! Ki Mahinta sudah begitu baik kepadaku! Selama ini tak seorang pun yang peduli dengan diriku, karena aku anak haram! Aku lahir dari rahim seorang pelacur! Ibuku saja tidak peduli dengan diriku. Aku hidup dari satu pelacur ke pelacur lain.

Sampai ketika aku berusia dua belas tahun aku nekat pergi merantau. Ibuku sendiri meninggal sewaktu rumah pelacur tempatnya bekerja terbakar habis. Sekarang ada orang yang begitu baik kepadaku. Aku berhutang nyawa kepadanya. Sekarang saatnya aku untuk membalas budi kebaikan Ki Mahinta. Kalau kau takut, menyingkirlah! Biar aku sendiri yang menghadapi manusia-manusia keparat itu!"

"Otak kerbau! Kau pikir cuma kau saja yang tak takut mati?! Jangan sombong Ekalana! Aku pun rela mempertaruhkan nyawa demi keselamatan Ki Mahinta! Tapi, melihat jumlah mereka terlalu banyak, aku jadi berpikir lain"

"Jangan berdalih, Saranggi!" sahut Ekalana tak sabar, "Katakan saja terus terang bahwa kau takut mati, meski untuk membela orang yang sangat baik kepadamu! Jangan samakan aku denganmu, Saranggi! Nah, menyingkirlah, biar kubunuh bangsat-bangsat itu!"

"Bodoh! Dungu!" Saranggi benar-benar merasa jengkel terhadap Ekalana yang keras kepala itu, "Pikir baik-baik, Manusia Sombong! Kalau kita semua maju dan tewas di tangan mereka, lalu siapa yang bakal membalas sakit hati majikan kita, yang akan mereka gantung hidup-hidup itu?! Gunakan akal sehatmu, Ekalana! Bukan dengan amarah yang hanya akan membuat kita tidak bisa berpikir jernih!" tandas Saranggi, yang telah melepaskan kedua tangannya dari kaki Ekalana.

"Apa yang dikatakan Saranggi memang tidak salah, Ekalana," Jirana ikut menimpali. la sudah duduk di dekat kedua orang kawannya yang tengah bersitegang itu. "Sepertinya kita memang tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Tapi bukan berarti aku akan tinggal diam dan melupakan semua ini begitu saja. Tidak! Mereka harus mendapat balasan yang setimpal!"

Ekalana menghembuskan nafasnya keras-keras. Pikirannya baru terbuka setelah mendengar ucapan Saranggi, yang diperkuat oleh Jirana. Kepalanya men- gangguk tipis. Kemudian bangkit berdiri dan kembali ke tempat semula untuk menyaksikan kelanjutan nasib Juragan Mahinta. Dan apa yang terjadi selanjutnya, membuat tubuh mereka menggigil menahan rasa marah yang menggelegak.

Tubuh majikan mereka telah tergantung di pintu kandang kuda. Kelima pemuda ini sama menundukkan kepala. Mereka tak sanggup menyaksikan Juragan Mahinta yang digantung dengan kepala di bawah, dan masih menerima cambukan pada tubuhnya.

"Celaka...!" tiba-tiba saja Saranggi berseru mengejutkan. Wajahnya tampak tegang, tertuju ke arah rombongan dua puluh orang penunggang kuda, yang tengah memandang ke arah tempat mereka bersembunyi. Terlihat salah seorang anggota rombongan menudingkan jari tangannya. Rupanya orang itu melihat kuda dan pedati mereka, lalu memberitahukan kawan-kawannya.

"Cepat tinggalkan tempat ini...!" seru Saranggi, lalu bergegas menghampiri kudanya.

Perbuatan Saranggi dituruti Maladi, Jirana, dan Sabung Waluya. Sedangkan Ekalana tampak masih berdiri menyaksikan rombongan berkuda itu datang mendekat.

"Ekalana, jangan tolol kau...!" Saranggi berseru mengingatkan kawannya dengan hati jengkel.

"Tidak perlu cemas, Saranggi. Aku cuma ingin melihat lebih dekat agar bisa mengenali siapa adanya manusia-manusia biadab itu. Pergilah kalian, aku akan menyusul...!" jawab Ekalana, tanpa mengalihkan perhatiannya dari rombongan orang berkuda itu.

Saranggi tidak berkata apa-apa lagi. Ia segera menggebah kudanya, diikuti Maladi, Sabung Waluya, dan Jirana. Mereka melarikan kuda menuju padang rumput tempat Sudana dan Rapati menunggu.

Tidak lama setelah Saranggi dan ketiga kawannya pergi, Ekalana menghampiri pedatinya. Kemudian melepaskan pengikat kuda. Sekali lompat saja tubuhnya melayang dan mendarat ringan di punggung kuda. Dengan cepat dipacu kudanya ke arah lain dengan arah yang diambil Saranggi dan ketiga kawannya. Ekalana sengaja berbuat demikian untuk mengecoh rombongan penunggang kuda yang tidak jauh di belakangnya. Ia sudah dapat melihat beberapa orang terdepan dari rombongan yang telah membunuh majikannya.

Segera dapat dikenali siapa dan dari mana pembunuh-pembunuh majikannya itu berasal. Sebagai orang yang punya pengalaman berpetualang di kalangan persilatan, Ekalana mengenal berbagai tokoh silat dan golongan. Segera digebah kudanya meninggalkan rombongan yang memburunya.

Setelah merasa cukup jauh, baru ia memutar arah menuju tempat Saranggi biasa menggembalakan sapi. Rombongan penunggang kuda yang melakukan pengejaran terhadap Ekalana, terpaksa kembali ke peternakan. Karena mereka kehilangan jejak buruannya.

"Hm..., tidak perlu dikhawatirkan. Paling-paling mereka cuma pekerja-pekerja tolol yang tak perlu ditakuti...," ujar lelaki gemuk berkumis lebat ketika salah seorang anggota rombongan melaporkan bahwa mereka kehilangan jejak. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia segera mengajak pengikut-pengikutnya untuk meninggalkan tempat itu. Tak lupa mereka membawa barang- barang berharga dari dalam rumah Juragan Mahinta.

***
EMPAT
"BAGAIMANA Ekalana, dapatkah kau mengenali mereka?"

Ekalana baru saja tiba di padang rumput tempat keenam kawan-kawannya berkumpul. Kedatangannya langsung disambut dengan pertanyaan Saranggi. Pemuda tampan berwajah dingin yang tetap tidak kehilangan sikap angkuhnya ini, dikerumuni kawan-kawannya.

"Hhh..., sulit sekali untuk kupercaya...," desah Ekalana membuat keenam kawannya sama mengerutkan kening. Mereka tidak paham ke mana arah perkataan pemuda itu.

"Apa maksudmu, Ekalana...?!" Jirana bertanya heran.

Ekalana kembali menghela napas panjang. Kemudian menatap wajah keenam rekannya satu persatu. "Apakah di antara kalian ada yang pernah mendengar tentang sekelompok perampok yang menamakan dirinya Gerombolan Clurit Hitam...?" Tanya Ekalana yang sebelum menjawab pertanyaan Jirana, yang juga menjadi pertanyaan bagi lainnya.

"Hm... aku pernah mendengarnya," jawab Saranggi agak ragu, "Tapi itu sudah lama sekali"

"Itulah yang membuat aku bingung," tukas Ekalana seraya menghembuskan napas berat.

"Maksudmu...?" Saranggi menatap Ekalana lekat-lekat. Meskipun sudah dapat meraba, namun ia ingin kepastian dari rekannya itu.

"Ya. Orang-orang yang menyiksa dan membunuh majikan kita adalah Gerombolan Clurit Hitam!" jawab Ekalana tandas, “Yang membuat aku bingung, mengapa gerombolan itu tahu-tahu muncul setelah sekian tahun tidak terdengar sepak terjangnya? Bahkan terbetik kabar yang sampai ke telingaku bahwa gerombolan itu telah lama bubar...?"

"Apa mereka sengaja menyamar agar tak dikenali?" tukas Jirana menimpali!

"Tidak mungkin!" bantah Ekalana, "Sejak berusia tiga belas tahun aku telah mulai merantau. Dan aku pernah berjumpa dengan gerombolan itu beberapa kali, dalam usia tujuh belas tahun. Aku memang gemar berpetualang dan mempelajari berbagai macam ilmu silat..," mendadak saja Ekalana menghentikan ucapannya. Wajahnya tiba-tiba termenung. Keningnya berkerut dalam seperti tengah berpikir keras, karena teringat sesuatu.

"Ada apa, Ekalana...?!" Tanya Saranggi dengan kening berkerut. Disentuhnya lengan Ekalana dengan maksud untuk menyadarkan, karena Ekalana termenung cukup lama. Hal itu membuat kawan-kawannya tampak khawatir.

"Kalian... apakah kalian juga melihat lelaki gemuk berkumis lebat yang kemungkinan besar merupakan pimpinan mereka...?" Tanya Ekalana tiba-tiba, hingga membuat kawan-kawannya agak kaget. Terutama Saranggi, yang berada paling dekat dengannya.

"Ya, aku memang melihatnya. Bahkan sempat memperhatikan beberapa lama," sahut lelaki jangkung itu.

"Aku juga melihatnya...," Jirana dan Maladi menjawab hampir bersamaan.

"Hm...," Ekalana hanya bergumam. Kemudian melangkah perlahan dengan kepala tertunduk. "Rasanya aku pernah bertemu dengan orang itu, jauh sebelum hari naas yang hampir membuat aku tewas... Ya! Aku ingat sekarang! Lelaki gemuk berkumis lebat itu kalau tidak salah bernama Jaro Labang..."

"Jaro Labang?!"

Saranggi dan kelima orang pemuda lainnya mengulang nama itu dengan kening berkerut. Akan tetapi meskipun mereka memeras otak untuk mengingat kapan dan di mana pernah mendengar nama itu, tetap saja buntu.

"Benar, tidak salah lagi!" ujar Ekalana sambil mengepalkan tinjunya erat-erat. "Hanya saja hal ini sangat membingungkan. Sebab, Jaro Labang adalah seorang ketua perkumpulan pengawal barang yang berdiri di bawah bendera Garuda Emas," lanjut Ekalana agak ragu, khawatir salah mengenali orang.

"Bagaimana kalau kita selidiki dulu orang yang bernama Jaro Labang itu?" Saranggi mengusulkan.

"Benar. Karena saat ini hanya orang itulah satu-satunya petunjuk buat kita," Maladi menimpali.

Empat orang lainnya sama-sama mengangguk setuju.

"Kalau begitu, kita harus mengatur siasat," Sudana yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, ikut mengajukan usul.

Ekalana, Saranggi, dan yang lainnya menyetujui.

"Bagaimana dengan ternak-ternak majikan kita?" Jirana mengingatkan peninggalan Juragan Mahinta yang tidak mungkin diabaikan begitu saja.

"Kita jual saja kepada Juragan Baswara," usul Saranggi.

Pada mulanya Ekalana kurang setuju dengan usul Saranggi, karena merasa tidak berhak atas benda majikannya itu. Namun karena yang lain pun mengusulkan begitu akhirnya pemuda itu menyetujui. Digiringlah sapi-sapi Juragan Mahinta yang berjumlah sekitar seratus ekor kembali ke peternakan.

***
Tiba di peternakan, Saranggi dan kawan-kawannya merasa kaget. Di halaman depan rumah Juragan Mahinta telah berkumpul banyak orang. Lebih kaget lagi ketika mengetahui bahwa yang berkumpul di sana ternyata Juragan Baswara bersama belasan orang tukang pukulnya. Tampak pula di antara mereka Kepala Desa Sindang Laya, Ki Windudarta.

"Apa maksudmu datang ke tempat ini, Tuan Baswara?" Tanya Saranggi yang sedikit banyak memang menaruh curiga terhadap saingan majikannya itu. Kecurigaannya semakin bertambah dengan kemunculan orang itu di tanah peternakan, tepat setelah kematian Juragan Mahinta. Seketika itu juga, terlintas di pikirannya bahwa Juragan Baswara diduga mempunyai hubungan atas kejadian yang menimpa majikannya.

Ditatap secara demikian oleh Saranggi, Juragan Baswara terdengar menggeram gusar. Biasanya ia selalu dihormati dan ditakuti orang. Selama ini, tak satu manusia pun di wilayah Desa Sindang Laya dan sekitarnya yang berani menentang pandang matanya. Bahkan Ki Windudarta, yang telah banyak dijejalinya dengan kepingan uang emas maupun barang-barang berharga. Tentu saja sikap Saranggi membuatnya naik darah.

"Hm..., kau menuduhku sebagai dalang pembunuhan ini?" geram Juragan Baswara dengan mata melotot. Kedua lengannya tampak menegang, siap meninju wajah menjengkelkan di hadapannya.

"Aku tak mengatakan demikian. Tapi kalau kau merasa demikian, itu bagus!" tukas Saranggi tetap menentang pandang mata Juragan Baswara tanpa merasa gentar sedikit pun.

"Kurang ajar! Berani benar kau berkata selancang itu kepadaku!" hardik Juragan Baswara yang sudah mengangkat tangannya hendak menghantam wajah Saranggi.

Saranggi mundur dua langkah. Otot-otot tubuhnya menegang, siap menghadapi orang yang memang sangat dibencinya itu.

Melihat ketegangan yang terjadi, Ekalana dan lima orang pemuda lain bergerak menyebar. Mereka siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi. Bahkan tangan kanan keenam pemuda itu sudah meraba gagang senjata masing-masing.

Pihak Juragan Baswara pun tak tinggal diam. Belasan orang tukang pukulnya sudah bergerak maju, siap melindungi sang Majikan. Hal itu membuat ketegangan semakin memuncak. Namun, sebelum ketegangan pecah menjadi perkelahian, terdengar sebuah seruan keras.

"Tahan...!" Suara bentakan keras itu ternyata berasal dari mulut Ki Windudarta. Kepala Desa Sindang Laya langsung menyeruak di antara kedua pihak yang sudah siap saling tempur.

"Saranggi, jaga sikapmu!" tegur Ki Windudarta kepada Saranggi. Dianggapnya pemuda jangkung itulah yang lebih dulu memulai perkara. "Kami sama sekali tak tahu menahu tentang kejadian ini. Dan kami pun turut merasa prihatin dengan musibah yang menimpa majikan kalian. Kalaupun kami datang pada saat yang bertepatan dengan kejadian ini, itu bukan berarti bahwa Juragan Baswara ingin melihat hasil pekerjaannya seperti apa yang ada dalam pikiranmu.

Beliau sengaja datang untuk meminta maaf atas peristiwa beberapa malam yang lalu, sewaktu pesta panen di balai desa," lanjut Ki Windudarta memberi penjelasan kepada Saranggi dan enam orang pekerja Juragan Mahinta lainnya.

"Baiklah, kami terima permintaan maafnya. Sekarang harap Ki Windudarta membawa mereka meninggalkan tempat ini. Aku dan kawan-kawan hendak mengurus mayat Ki Mahinta. Dan kami tak ingin diganggu lebih lama lagi," ujar Saranggi.

Bagaimanapun, dirinya tetap menaruh hormat kepada Kepala Desa Sindang Laya. Meskipun tahu bahwa Ki Windudarta berada di pihak Juragan Baswara. Namun, karena persoalannya belum jelas, Saranggi tak bisa berbuat apa-apa, kecuali suatu janji dalam hatinya. Jika ternyata Juragan Baswara yang menjadi dalang kematian Juragan Mahinta, hatinya telah bersumpah akan menuntut balas kepada Juragan Baswara, juga Ki Windudarta.

Merasa maklum dengan apa yang dirasakan para pekerja Juragan Mahinta, Ki Windudarta memenuhi permintaan Saranggi. Setelah menyampaikan rasa duka citanya, lelaki tua yang masih gagah ini segera mengajak Juragan Baswara. dan rombongan untuk meninggalkan tempat itu.

"Tuan Baswara, harap tunggu sebentar...!" Saat rombongan bergerak, tiba-tiba Ekalana berseru memanggil Juragan Baswara. Kemudian pemuda ini berlari mengejar dan menghampiri Juragan Baswara. "Aku ingin menjual tempat ini beserta ternak-ternak yang ada," ujar Ekalana setelah teringat akan kata sepakat yang telah dibuat bersama kawan-kawannya.

"Hm.... Kau sungguh-sungguh?" Tanya Juragan Baswara menyembunyikan senyum liciknya.

Ekalana mengangguk pasti. Juragan Baswara menyebutkan sejumlah uang untuk pembayaran. Meski tawaran yang diajukan lebih rendah dari semestinya, Ekalana tidak berkata apa-apa. Dirinya langsung menyetujui.

"Boleh aku mengajukan permintaan, Tuan?" Tanya Ekalana setelah mereka mendapatkan kata sepakat.

"Silakan!"

"Sebagai pembayarannya, aku minta agar seperempatnya berupa uang. Sedang selebihnya emas murni," ujar Ekalana.

"Baik," meskipun agak heran, Juragan Baswara langsung menyetujui. "Datanglah besok ke rumahku!" Juragan Baswara tersenyum. Kemudian bergerak bersama rombongan meninggalkan pekarangan Juragan Mahinta diiringi pandang mata Ekalana dan kawan-kawannya.

***

Pagi-pagi sekali, ketujuh pekerja Juragan Mahinta telah sibuk berkemas. Dua orang pembantu wanita yang selama ini bekerja mengurus rumah diberi bekal cukup banyak. Kemudian dipersilakan meninggalkan tempat untuk mencari kehidupan di tempat lain. Sedangkan mereka bertujuh, berangkat menuju tempat kediaman Juragan Baswara, dengan menunggang kuda.

Kedatangan Saranggi, Ekalana, Sudana, Rapati, Sabung Waluya, Maladi, dan Jirana, disambut ramah oleh Juragan Baswara. Keuntungan besar yang diperoleh, membuat wajah Juragan Baswara tak pernah kehilangan senyum.

"Kalau boleh aku tahu, hendak pergi ke manakah kalian?" Tanya Juragan Baswara sewaktu Ekalana dan Saranggi menghitung uang pembayaran yang mereka terima.

"Kami hendak menemui Jaro Labang," Ekalana mendahului menjawab seraya mengangkat wajah dan menatap Juragan Baswara.

"Jaro Labang?" gumam Juragan Baswara yang sekejap kelihatan agak kaget. Namun, hal itu dapat tertangkap mata Ekalana yang tajam. "Kalau tak salah, orang yang bernama Jaro Labang itu Ketua Perkumpulan Pengawal Barang Garuda Emas. Hendak kalian kirim ke mana uang dan emas itu?"

"Jadi, Tuan Baswara mengenalnya?" kali ini Saranggi yang bertanya. Baik nada bicara maupun wajahnya sama sekali tak menunjukkan perasaan curiga. Hingga, Juragan Baswara merasa lega.

"Tentu saja aku mengenalnya. Bahkan beberapa kali aku mempercayakan barang kiriman kukepadanya," jawab Juragan Baswara tersenyum.

Saranggi dan Ekalana tidak berkata apa-apa lagi. Setelah menghitung uang pembayaran, mereka mohon diri kepada Juragan Baswara. Keduanya melompat ke atas punggung kuda, diikuti kawan-kawannya yang lain, kecuali Jirana. Pemuda bertubuh kekar itu tampak masih berdiri di depan pintu sambil memandang ke dalam. Sepertinya ia tengah mencari-cari sesuatu.

"Jirana, ayo kita berangkat!' panggil Ekalana, menyadarkan Jirana. Dia menduga Jirana tengah mencari sosok gadis cantik berkebaya putih, pasangan menarinya sewaktu di pesta panen. Ekalana sendiri tak melihat gadis itu sewaktu berada di dalam rumah. Sehingga menduga bahwa Juragan Baswara mungkin sengaja menyembunyikannya.

Seperti orang linglung, Jirana menoleh ke arah kawan-kawannya yang sudah siap berangkat. Kemudian melangkah gontai menghampiri kudanya. Kemudian ketujuh orang pemuda itu sudah menggebah kuda masing-masing meninggalkan wilayah Desa Sindang Laya.

Hari hampir gelap saat ketujuh orang pemuda ini memasuki wilayah Desa Babakan. Mereka pun memperlahan lari kuda, karena jalan utama desa agak ramai oleh para petani yang kembali dari sawah.

"Kau yakin Jaro Labang tinggal di Desa Babakan ini, Ekalana?" Tanya Saranggi sekadar memastikan kalau mereka tidak salah tujuan.

"Supaya kau lebih yakin, tanyalah kepada salah seorang petani itu," jawab Ekalana acuh tak acuh.

Meski agak jengkel dengan sikap Ekalana, Saranggi menuruti juga saran itu. Ia bertanya kepada salah seorang petani yang berjalan di samping kudanya. Petani itu membenarkan. Bahkan memberikan petunjuk letak tempat kediaman Jaro Labang, yang memang dikenal oleh semua warga desa.

Ekalana yang juga mendengar keterangan petani itu, segera mempercepat lari kudanya. Saranggi dan yang lainnya melakukan hal serupa. Ketika tiba pada sebuah pertigaan jalan, mereka berbelok ke kiri, melewati pepohonan bambu. Sampai akhirnya mereka tiba di depan sebuah bangunan cukup besar, yang di depannya terdapat papan nama bertuliskan nama Garuda Emas.

Dua orang anggota perkumpulan yang berada di pos jaga, langsung menyambut kedatangan mereka. Saranggi yang menjadi pemimpin rombongan segera mengutarakan maksud kedatangannya. Mereka diminta untuk menunggu sebentar, barulah Saranggi dan kawan-kawannya dipersilakan menemui pimpinan perkumpulan pengawal barang itu.

Seorang lelaki gemuk berkumis lebat, sudah duduk menunggu di sebuah ruangan yang cukup luas. Tampak dua orang anggota Garuda Emas mengapit di kanan dan kirinya. Pimpinan Perkumpulan Barang Garuda Emas itu bangkit dari duduknya ketika Saranggi dan kawan-kawannya melangkah masuk ke ruangannya.

"Selamat datang, Sahabat!" sapa lelaki gemuk berkumis lebat dengan ramah. Pemimpin Perkumpulan Barang Garuda Emas yang tak lain Jaro Labang, langsung mempersilakan Saranggi dan kawan-kawannya agar mengambil tempat duduk. "Apa yang bisa kami bantu?" lanjutnya sambil menatap bergantian pada Saranggi dan Ekalana yang duduk di hadapannya.

"Kami ingin menggunakan jasa Tuan untuk mengirim sejumlah emas," ujar Saranggi setelah memperhatikan sosok Jaro Labang untuk sesaat.

"Tentunya kau kenal dengan seorang juragan yang bernama Mahinta, bukan?" sebelum Jaro Labang menyanggupi permintaan Saranggi, Ekalana menukas. Dan ia sempat melihat kilatan kaget di mata Jaro Labang, meski untuk sesaat.

Saranggi semula agak kaget mendengar ucapan Ekalana, tapi tidak berkata apa-apa. Bahkan ikut menatap wajah Jaro Labang, seperti ingin melihat tanggapan lelaki gemuk itu.

"Asalkan tempat tinggalnya jelas, tentu kami tak akan mendapat kesulitan untuk mengantarkan kiriman Tuan-tuan," ujar Jaro Labang mengalihkan pandang dari sepasang mata dingin Ekalana.

"Sejujurnya kami katakan bahwa kami merasa khawatir kalau barang kiriman ini tak sampai di tempat tujuannya. Tapi, karena Perkumpulan Pengawal Barang Garuda Emas sudah terkenal, maka kami mencoba datang ke tempat ini," Ekalana kembali melanjutkan sebelum Saranggi membuka suara.

"Jangan khawatir, Tuan-tuan! Selama ini perjalanan kami tak pernah menemui kegagalan. Perkumpulan Pengawal Barang Garuda Emas cukup terkenal dan disegani para perampok. Kami menjamin barang kiriman Tuan-tuan akan sampai ke tempat tujuan pada waktu yang tepat," ujar Jaro Labang dengan penuh keyakinan.

"Bicara soal perampok aku ingin bertanya sedikit kepada Tuan," Ekalana kembali menyambung. Sepasang matanya tetap tak lepas dari wajah lelaki gemuk di depannya.

"Silakan, Tuan!" tukas Jaro Labang sama sekali tidak merasa curiga.

"Belakangan ini aku mendengar munculnya segerombolan perampok yang mengganas. Kalau tak salah, mereka menamakan diri sebagai Gerombolan Clurit Hitam. Menurut kabar mereka sangat ganas dan tak segan-segan membunuh. Bahkan kalau tak salah mereka juga merangkap sebagai pembunuh-pembunuh bayaran. Dan....

"Cukup!" hardik Jaro Labang menggebrak meja di depannya. Sehingga ucapan Ekalana terputus.

"Mengapa, Tuan...?" Tanya Ekalana pura-pura tak mengerti. Tenaga dalamnya sudah mengalir ke seluruh tubuh, siap menyambut apabila Jaro Labang menyerang tiba-tiba.

"Apa sebenarnya maksud kedatanganmu, Anak Muda? Dan untuk apa dongengan itu kau ceritakan kepadaku?" bentak Jaro Labang, mendengar penuturan Ekalana menyinggung perasaan.

Melihat sikap Jaro Labang, Ekalana dan Saranggi bergegas bangkit dari duduknya. Keduanya bergerak mundur, khawatir kalau lelaki gemuk berkumis lebat itu akan menyerang mereka.

"Jaro Labang," ujar Ekalana semakin nekat dengan menyebut nama Pemimpin Perkumpulan Barang Garuda Emas itu. "Gerombolan Clurit Hitam telah disewa seorang juragan bernama Baswara dari Desa Sindang Laya untuk membunuh seorang saingannya dalam berniaga..."

"Keparat.., tutup mulutmu!" bentak JaroLabang. Di hatinya mulai timbul dugaan kalau kedua orang pemuda itu mengetahui perbuatannya. Khawatir kalau kedua tamunya sampai membuka mulut di luar, yang berarti akan menghancurkan usahanya, maka Jaro Labang langsung melayang melompati meja. Tangan kanannya digerakkan menyambar ke kepala Ekalana.

Bweeettt..!

Ekalana berkelit dengan lompatan ke samping kiri. Terus mengegos saat kepalan kiri lawan datang menyusul. Kegagalan itu membuat Jaro Labang semakin kalap, dan menyusulinya dengan tendangan berantai. Ekalana terpaksa melompat jauh untuk menyelamatkan diri.

"Jaro Labang, kau telah membunuh majikan kami atas suruhan Juragan Baswara, bukan? Dan sekarang kami datang untuk menuntut balas!" Ekalana masih juga sempat membuka suara memperjelas tuduhannya. Kalau semula ia hanya nekat memancing-mancing, sekarang hatinya sudah yakin kalau pembunuh Juragan Mahinta tak lain Jaro Labang. Hanya yang belum dimengerti, bagaimana Pemimpin Perkumpulan Barang Garuda Emas dapat berkomplotan dengan Gerombolan Clurit Hitam, yang sudah lama lenyap bagai ditelan bumi.

"Bedebah! Kuhancurkan mulutmu...!" dengus Jaro Labang semakin kalap. Sambil melompat ke arah Ekalana, lelaki gemuk berkumis lebat ini memerintah para pengikutnya agar mengepung dan membunuh enam orang pemuda lainnya.

"Ekalana, kau gila! Apa kau menghendaki kita semua mati di tempat ini?!" Saranggi yang sama sekali tidak menduga bakal terjadi demikian, berteriak-teriak memaki Ekalana. Perbuatan pemuda itu dianggapnya merupakan tindakan gila karena berani mengacau di sarang macan, yang bisa mengakibatkan mereka semua terbunuh!

Namun baik Saranggi maupun lima orang pemuda lainnya, tidak sempat lagi membuka suara. Mereka sudah harus berjuang keras guna menyelamatkan diri dari ancaman senjata para anak buah Jaro Labang, yang menyerang mereka. Sebentar saja pertempuran kecil itu pun pecah!

Ekalana sendiri saat itu tengah berusaha mati-matian mengimbangi serangan Jaro Labang. Serangan yang datang bertubi-tubi bagaikan air bah, membuat Ekalana terpaksa menguras seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk membendung serangan lawan. Untung dia memiliki ilmu silat yang beragam.

Sehingga, Jaro Labang sempat dibuat kebingungan ketika Ekalana memainkan sebuah jurus aneh, yang sengaja diciptakan dengan menggabungkan beberapa jurus silat dari berbagai aliran. Bahkan lelaki gemuk ini sempat terdesak untuk beberapa jurus lamanya.

"Setan belang...!" Jaro Labang memaki karena gusar. Dalam kegeramannya, ia nekat menubruk ke depan sambil mendorongkan kedua tangannya dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.

Whuuuttt..!

Dorongan sepasang tangan yang menimbulkan deru angin keras, sempat menggoyahkan kuda-kuda Ekalana. Tubuhnya terhuyung-huyung beberapa langkah. Karena dalam hal tenaga dalam pemuda ini masih kalah dua tingkat dari lawannya. Dan kesempatan itu dipergunakan Jaro Labang dengan sebaik-baiknya.

"Hih...!"

Buk!

Sebuah tendangan cepat dan kuat menerpa iga Ekalana. Tubuh pemuda itu terpental membentur dinding. Namun, pemuda yang angkuh dan keras hati ini sama sekali tidak mengeluh. Hanya saja tidak bisa buru-buru bangkit berdiri.

Melihat keadaan lawannya, Jaro Labang semakin bernafsu. Dia melompat dengan jari-jari tangan terkembang, siap menyambar batok kepala Ekalana.

"Mampus kau, Bangsat! Heaaa...!"

Mendadak, pada saat jemari kedua tangan Jaro Labang tinggal sejengkal dari sasarannya, Ekalana tiba-tiba menyabetkan tangan kanannya yang telah menggenggam pedang.

Brettt...!

"Aaakh...!" Pimpinan Perkumpulan Barang Garuda Emas itu menjerit kesakitan. Sambaran pedang Ekalana telah membuat garis memanjang pada bagian dadanya. Darah segar mengucur deras dari luka yang cukup dalam itu.

Ekalana yang langsung menggulingkan tubuhnya setelah melukai dada lawan, melompat tinggi disertai teriakan nyaring. Digenggamnya pedang dengan kedua tangan dan dihujamkan ke punggung Jaro Labang, yang terjerunuk ke depan.

Jrab!

"Aaakh...!"

Pedang Ekalana langsung amblas ke tubuh Jaro Labang, hingga tembus. Terdengar jerit kematian melengking tinggi. Dalam keadaan sempoyongan Pimpinan Perkumpulan Barang Garuda Emas masih mengibaskan tangan kirinya, hingga mendarat telak di dada Ekalana. Tubuh pemuda itu terlempar deras. Sementara tubuh Jaro Labang ambruk ke lantai dan tewas seketika.

"Gila! Babi gemuk itu benar-benar tangguh sekali...!" desis Ekalana seraya bergerak bangkit menghampiri mayat Jaro Labang. Kemudian mencabut pedangnya dari tubuh lawan yang sudah tak bernyawa lagi.

Sementara itu, Saranggi dan lima orang kawannya mati-matian mempertahankan nyawa dari keroyokan empat belas orang lawan. Saranggi sendiri menghadapi tiga orang pengeroyok Pemuda bertubuh jangkung ini ternyata cukup lincah. Bahkan ia sangat mahir memainkan pisau pendek di kedua tangannya. Dari caranya menghadapi ketiga lawan dapat dilihat, bahwa Saranggi cukup berpengalaman dalam bertempur.

Tiga orang anggota Perkumpulan Pengawal Barang Garuda Emas pun cukup gesit. Mereka dapat bekerja sama dengan baik, menggempur Saranggi dari tiga jurusan. Sehingga pemuda jangkung itu harus mengerahkan seluruh kemampuan, menghindari sambaran tiga bilah pedang yang berkelebat di sekitar tubuhnya.

"Yeaaattt..!"

Pada jurus kedua belas, Saranggi bertindak nekat, membobol kepungan lawan-lawannya. Dua sambaran pedang dari kiri dan kanan, dielakkannya dengan menundukkan tubuh, hingga nyaris merapat ke lantai. Gerakan ini dibarengi dengan menusukkan pisaunya ke tubuh dua orang penyerang itu. Sehingga...

Crap! Blesss!

"Aaakh...!"

Kedua orang lawan yang tidak menduga tindakan lawan, seketika terpekik tewas. Lawan yang di sebelah kiri, tertusuk lambung kanannya. Sedangkan yang di sebelah kanan, ulu hatinya tertembus dalam. Darah pun mengucur membasahi tangan Saranggi. Keduanya ambruk menghembuskan napas terakhir.

Untuk dapat melakukan hal itu, Saranggi sendiri jatuh tertelungkup. Kedudukannya tentu saja sangat berbahaya. Sebab, saat itu sisa lawannya yang tinggal seorang, membabatkan pedang ke punggung Saranggi. Di sini Saranggi membuktikan kegesitan dan kemahirannya dalam melempar pisau. Saat pedang lawan menyambar, dengan cepat tubuhnya bergulingan menghindar.

Bersamaan dengan itu dikibaskan kedua tangannya, melepaskan pisau yang masih berlumuran darah. Dan sebelum pedang lawan menghantam lantai, dua bilah pisau terbang milik Saranggi telah menancap di tenggorokan dan dada kirinya. Seketika terdengar jerit kematian, keras menyayat Tubuh anak buah Jaro Labang yang telah berlumuran darah ambruk dan tewas seketika.

Saat itulah Ekalana datang dan mengulurkan tangan menarik bangkit tubuh Saranggi yang masih rebah di lantai. Kemenangan yang diperoleh keduanya memang hampir berbarengan. Hanya Ekalana lebih dulu beberapa saat, bahkan sempat menyaksikan Saranggi bergulingan sambil melepaskan pisau terbangnya.

"Pikiranmu benar-benar sempit, Ekalana!" umpat Saranggi yang masih merasa jengkel atas tindakan Ekalana. Karena perbuatan pemuda itu nyaris membuatnya tewas. "Ayo, kita bantu yang lainnya dan terus pergi dari tempat celaka ini...!"

Ekalana tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk menyetujui usul Saranggi. Bergegas keduanya memasuki arena untuk membantu Sudana, Maladi, Sabung Waluya, Jirana, dan Rapati. Kelima pemuda itu tampak sudah mandi keringat. Mereka juga mendapat luka, tergores pedang lawan. Kendati tak mengkhawatirkan, cukup mengganggu gerakan mereka.

"Cepat tinggalkan tempat ini...!" perintah Saranggi sambil melepaskan pisau terbangnya ke arah lawan Sudana. Pisau itu meluncur cepat dan menghujam tubuh dua orang lawan.

Ekalana sendiri sudah mengamuk dengan pedangnya. Kendati keadaannya agak letih, sambaran pedangnya masih tetap mengiriskan. Hal itu membuat para pengikut Jaro Labang berlompatan mundur menyelamatkan diri.

Sudana dan empat orang lainnya bergegas melesat ke luar dan langsung melompat ke punggung kuda. Disusul kemudian oleh Ekalana dan Saranggi. Pemuda jangkung itu masih sempat menghambat lawan yang mengejar dengan lemparan pisaunya. Baru kemudian melompat dan menyusul rekan-rekannya. Hampir bersamaan, mereka membedal kuda, yang melesat bagaikan anak panah lepas dari busur.

***
LIMA
"MINGGIR...!"

Seorang pemuda tampan berjubah putih dan gadis jelita berpakaian serba hijau bergegas melompat ke tepi jalan. Di tikungan jalan, dekat tapal batas Desa Babakan, tiba-tiba muncul tujuh orang penunggang kuda yang berlari kencang bagaikan dikejar setan.

"Heran? Hari sudah gelap begini masih ada orang yang melarikan kuda secepat itu?" gumam dara jelita berpakaian serba hijau sambil memandang tujuh orang penunggang kuda yang semakin jauh dan akhirnya lenyap ditelan kegelapan.

Sedangkan pemuda tampan berjubah putih yang berada di tepi jalan berseberangan dengan gadis jelita itu, cuma menggeleng-gelengkan kepala. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah ke tempat gadis berpakaian serba hijau berdiri dan mengajaknya melanjutkan perjalanan. Keduanya memasuki Desa Babakan.

Pasangan muda-mudi itu semula hendak mencari penginapan karena hari menjelang malam. Ketika memasuki Desa Babakan mereka kaget melihat belasan penduduk berlarian ke satu arah.

"Hm... tampaknya ada sesuatu yang baru saja terjadi di desa ini. Mungkin ada kaitannya dengan tujuh penunggang kuda tadi," ujar pemuda tampan berjubah putih kepada dara jelita di sampingnya.

"Aku jadi penasaran. Mari kita ikuti mereka, Kakang!" ajak dara jelita itu. Lalu keduanya. segera berlari mengikuti arus penduduk yang berlarian ke satu arah.

Berbeda dengan ayunan langkah kaki penduduk desa yang terlihat berat dan bergemuruh. Langkah pasangan muda ini tampak ringan, tanda bahwa mereka bukanlah orang-orang sembarangan. Bahkan dapat menyusul dalam waktu singkat, meski semula mereka berdua tertinggal lebih dari tiga puluh tombak.

Tidak berapa lama kemudian, rombongan penduduk tiba di depan sebuah bangunan yang cukup besar, tempat kediaman Jaro Labang dan para pengikutnya. Bersama dengan penduduk, pasangan orang muda-mudi tadi ikut memasuki rumah Pimpinan Perkumpulan Barang Garuda Emas. Mereka segera melihat mayat-mayat yang darahnya terlihat masih segar.

"Hmm... kemungkinan besar mereka semua korban dari tujuh orang penunggang kuda yang nyaris menubruk kita tadi...," bisik pemuda tampan berjubah putih kepada dara jelita yang berdiri di sebelahnya.

"Bukan kemungkinan lagi, Kakang. Aku rasa memang merekalah pelakunya," sahut data jelita berpakaian serba hijau berani memastikan, "Kalau tidak, untuk apa mereka melarikan kuda seperti setan dalam suasana malam seperti ini."

"Mereka pasti belum terlalu jauh dari desa ini. Sebaiknya kita coba mengejar mereka. Perbuatan seperti ini tidak bisa dibiarkan," lanjut pemuda tampan berjubah putih yang bergegas menyeruak kerumunan penduduk. Kawannya tak menjawab. Dara jelita berpakaian hijau itu menyeruak ke luar mengikuti langkah pemuda tampan berjubah putih.

"Tidak perlu kalian mengejar pembunuh itu...!" Mendadak terdengar sebuah suara tanpa terlihat pemiliknya. Pemuda berjubah putih itu menghentikan langkah karena terkejut. Suara yang mirip bisikan tapi jelas itu menyusup ke telinganya.

"Ada apa, Kakang?" Tanya dara jelita berpakaian serba hijau yang sudah berada di sampingnya. Gadis ini merasa heran melihat kawannya berhenti dan memandang berkeliling seperti tengah mencari sesuatu.

"Ada orang pandai di sekitar tempat ini menasihati agar kita tak usah mengejar pembunuh-pembunuh itu," bisik pemuda tampan berjubah putih, menjawab pertanyaan gadis disampingnya.

"Apa alasannya mencegah kita, Kakang?" Tanya dara jelita karena merasa penasaran.

Pemuda tampan berjubah putih hanya menggeleng lemah. Sedang matanya beredar menatapi satu persatu wajah penduduk. Seakan-akan hendak mencari siapa orang yang berbisik di telinganya tadi. Ketika tidak bisa menemukan orang yang dicari, kakinya kembali bergerak melangkah meninggalkan tempat itu. Gadis di sampingnya ikut melangkah.

"Urungkan niatmu, Anak Muda!" suara tanpa wujud itu kembali terngiang di telinga pemuda tampan berjubah putih yang tengah melanjutkan langkahnya.

"Hm...," pemuda tampan ini bergumam. Namun terus mengayun langkahnya meninggalkan tempat kediaman Jaro Labang.

"Aku tahu siapa kau, Anak Muda. Dengan kepandaianmu yang tinggi aku percaya kalau kau akan dapat mengejar tujuh penunggang kuda itu. Jangan katakan bahwa aku tidak berusaha mencegah pembunuhan terhadap Jaro Labang! Aku sendiri datang terlambat, hingga hanya sempat melihat sewaktu mereka keluar dari dalam bangunan, dikejar orang-orang Jaro Labang," ujar suara itu lagi di telinga pemuda tampan berjubah putih, yang tetap melanjutkan langkahnya.

"Siapa kau? Tunjukkan rupa mu! Aku tak suka berbicara dengan seorang pengecut!" Ketika tiba di sekitar pepohonan bambu yang sunyi dan sepi pemuda tampan berjubah putih menghentikan langkah. Tanpa banyak tanya kawannya pun berhenti. Kemudian matanya turut memandangi ke sekitar tempat itu. Namun, gadis itu tidak menemukan sosok yang dimaksud kawannya.

"Saat ini aku belum bisa menunjukkan rupa ku, Pendekar Naga Putih. Satu hal yang perlu kau ketahui. Jaro Labang bukanlah orang baik-baik. Ia bekas Kepala Gerombolan Clurit Hitam yang kemudian membubarkan pengikut-pengikutnya. Karena dia jatuh cinta kepada seorang gadis cantik yang membuatnya ingin hidup tenang dan bersih. Lalu ia mendirikan perkumpulan pengawal barang," suara tanpa wujud yang hanya terdengar di telinga pemuda tampan berjubah putih terhenti sesaat

Panji menunggu beberapa saat Pemuda tampan yang lebih dikenal dengan julukan Pendekar Naga Putih tampak masih berusaha mencari-cari di mana pemilik suara tadi. "Orang pandai ini menggunakan ilmu 'Memecah Suara', yang membuat tempat persembunyiannya sulit diketahui...," bisik Panji kepada dara jelita di sampingnya, yang sudah pasti Kenanga adanya. Panji dapat menduga demikian, karena suara yang mengusik telinga bagai terdengar dari delapan penjuru angin, membuatnya sulit menemukan tempat persembunyian si pemilik suara itu.

Tiba-tiba terdengar suara orang terbatuk-batuk. Kali ini bukan cuma Panji yang mendengar. Kenanga juga mendengarnya. Sepertinya pemilik suara itu sengaja hendak menguji kepandaian Pendekar Naga Putih.

"Boleh aku melanjutkan cerita ku?"

Tanya suara tanpa wujud, yang kini dapat didengar pula oleh Kenanga. Suara itu memang sulit dicari sumbernya. Karena gemanya membuat suara itu seolah-olah datang dari berbagai penjuru. Dalam hati Panji dan Kenanga pun mengakui kehebatan pemilik suara itu.

"Jaro Labang ternyata tidak benar-benar mundur dari dunia sesat. Dengan bersembunyi di balik kebersihan dan ketenaran nama Garuda Emas, diam-diam ia melakukan suatu pekerjaan dengan bayaran tinggi. Jelasnya ia adalah pembunuh bayaran yang terselubung. Dan ini sama sekali tidak diketahui penduduk Desa Babakan maupun anggota Garuda Emas.

Terakhir, kudengar Jaro Labang membunuh seorang juragan di Desa Sindang Laya. Untuk melakukan hal itu dia menghubungi anggota Gerombolan Clurit Hitam, yang menjadi perampok liar setelah sepeninggalnya. Dan pembunuh Jaro Labang tentu orang-orang yang hendak membalas kematian majikannya."

Sampai di sini suara tanpa wujud itu terhenti. Panji dan Kenanga saling bertukar pandang. Sekarang keduanya baru mengerti mengapa pemilik suara itu mencegah niat mereka. Namun pasangan pendekar muda ini merasa penasaran untuk dapat melihat seperti apa rupa pemilik suara itu.

Beberapa saat mereka menunggu suara yang terhenti. Setelah ditunggu beberapa saat, suara itu ternyata tidak terdengar lagi. Panji cuma bisa menghela napas dengan hati penasaran. Sebab baru sekarang ia menemukan orang yang berilmu seperti itu. Sampai-sampai tempat persembunyian orang itu tidak dapat ditemukannya. Padahal ia merasa yakin kalau si pemilik suara itu bersembunyi di sekitarnya.

"Orang itu sudah pergi rupanya...," desah Panji perlahan, "Sebaiknya kita segera cari penginapan," lanjutnya mengajak Kenanga meninggalkan tempat itu.

Sepeninggal Pendekar Naga Putih dan Kenanga, tampak sesosok tubuh melayang turun dari atas pohon besar, sekitar empat tombak dari tempat Panji dan Kenanga berdiri. Sosok yang tangan kanannya tampak memegang sebatang tongkat itu melesat berlawanan arah dengan yang diambil kedua pendekar muda. Sebentar saja sosok itu telah lenyap di kegelapan malam. Cuma suara tawa mengekeh yang tertinggal dan bergaung di delapan penjuru.

***

"Celaka! Kita pasti akan susah karena kejadian ini!" Pemuda jangkung yang tak lain Saranggi menghentikan kudanya di tepi kali dekat sebuah kaki bukit. Kemudian melompat turun dari punggung kuda dan menghempaskan tubuhnya yang lusuh dan agak pucat.

"Kau benar-benar ceroboh, Ekalana!" Sudana yang juga telah melompat turun dari punggung kudanya, ikut mencela. Keadaan pemuda ini tidak berbeda dengan Saranggi. Pakaiannya lusuh dan berwajah agak pucat. Lelaki brewok itu melangkah gontai menuju pinggir kali, lalu berdiri sambil meremas-remas rambutnya. Tampak sekali betapa dirinya tengah dilanda kegelisahan dan ketakutan.

Bukan hanya Saranggi dan Sudana yang menyalahkan Ekalana atas apa yang telah mereka lakukan terhadap Jaro Labang. Empat orang pemuda lainnya pun menyatakan kejengkelannya. Bahkan Maladi dan Sabung Waluya mengungkapkan perasaan takut yang memang tampak jelas di wajahnya.

Namun Ekalana sendiri kelihatannya tetap tenang. Bahkan sepasang matanya tampak menggambarkan perasaan yang sangat puas karena dapat membunuh Jaro Labang. Meski untuk itu dirinya harus mengalami luka yang cukup parah. Terlebih setelah melarikan diri tanpa henti, sampai menjelang pagi.

"Kalian ini betul-betul cengeng dan tolol!" Ekalana balas memaki keenam kawannya. "Coba kalian pikir baik-baik! Apa kita bisa membalas kematian Ki Mahinta kalau tak bertindak nekat seperti kemarin? Kalian ini memang otak udang semua! Seharusnya berterima kasih kepadaku, bukannya malah mencela!"

"Tapi perbuatanmu itu di luar rencana kita! Sehingga, kami semua hampir jadi bangkai gara-gara ulah mu yang sok pahlawan itu!" Sabung Waluya, yang pada dada dan punggungnya terdapat luka memar bekas pukulan dan tendangan para pengeroyok, menukas dengan nada jengkel. Wajah pemuda ini masih pucat dan tampak sangat letih.

"Huh, baru hampir, kan? Tapi hasilnya? Kita bisa membalas kematian Ki Mahinta! Dan nyatanya sampai saat ini kita masih bisa bernapas," bantahan Ekalana yang tidak bisa dipungkiri kebenarannya, membuat Sabung Waluya tidak bisa berkata apa-apa lagi.

"Bagaimana kau begitu yakin kalau pembunuh majikan kita adalah Jaro Labang?" kali ini yang bertanya Rapati. Seorang pemuda berkulit hitam, yang kelihatan lebih banyak diam mendengarkan kawan-kawannya berbicara.

"Begitu berhadapan dengannya, aku langsung yakin bahwa dialah lelaki yang memimpin Gerombolan Clurit Hitam untuk menyiksa dan membunuh Ki Mahinta. Maka sengaja ia ku pancing dengan ucapanku. Melihat betapa wajahnya berubah dan tak dapat menahan kemarahannya, yakinlah aku bahwa pembunuhnya pasti Jaro Labang. Kemungkinan besar ia memang disewa Juragan Baswara." Penjelasan Ekalana membuat Rapati menganggukkan kepalanya. Diam-diam dirinya harus mengakui kecerdikan Ekalana.

"Hm...! Katakanlah tindakanmu itu memang benar, tapi seharusnya kau memberitahu sebelumnya. Sehingga, kami bisa bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Selain itu, kau telah menyimpang dari rencana. Sekarang semuanya berantakan! Dan kurasa kabar tentang kita akan tersebar bias. Juragan Baswara pasti tahu bahwa kitalah yang telah membunuh Jaro Labang. Ini akan membuat dirinya khawatir kalau-kalau kita pun akan datang untuk membunuhnya."

"Memang kita akan membunuhnya!" sergah Ekalana memotong ucapan Saranggi, membuat kalimat lelaki jangkung itu terhenti sesaat.

"Kau belum kenal siapa sebenarnya Juragan Baswara, Ekalana!" hardik Saranggi geram. "Orang itu pasti akan menghubungi kawan-kawannya yang merupakan perwira-perwira kerajaan! Bisa saja dia memfitnah kita! Bahkan mungkin akan menyuruh orang mencari dan membunuh kita dengan bayaran tinggi! Nah, pikirkanlah olehmu sendiri. Betapa akan sulitnya hari-hari kita selanjutnya," lanjut Saranggi tanpa menatap wajah Ekalana.

"Saranggi benar, Ekalana," tukas Sudana. Kurasa kita bakal menjadi buruan pemerintah dan pemburu-pemburu hadiah! Tentang kelompok orang-orang yang terakhir kusebutkan ini, sudah banyak kudengar. Mereka umumnya orang-orang berkepandaian silat tinggi dan dapat menggorok leher korbannya dengan mata terbuka!"

"Hhh... aku tak takut!" tandas Ekalana dengan senyum sinis dan mata berkilat aneh.

"Kau benar-benar manusia celaka, Ekalana! Bisa gila jika terus berada bersamamu!" geram Sudana membanting kakinya ke tanah. Kemudian memutar tubuh, meninggalkan Ekalana.

"Biar bagaimanapun kita harus membunuh Juragan Baswara agar arwah Ki Mahinta bisa tenang di alam sana," ujar Ekalana dengan penuh semangat dan mata berbinar.

"Tidak!" Saranggi membentak, "Bukan kita tapi kau, Ekalana...! Aku tak akan sudi mengikuti keinginan gilamu itu!"

"Hm..., lalu apa keinginanmu sekarang, Saranggi?" sindir Ekalana dengan senyum mengejek, "Apa kau kira setelah Jaro Labang terbunuh Juragan Baswara akan diam saja? Tidak, Saranggi. Manusia jahat dan licik itu akan terus mencari dan mengejar kita semua. Dia tak akan pernah bisa hidup tenang sebelum melihat tubuh kita terbujur kaku di depan matanya!"

Sudana, Rapati, Jirana, Sabung Waluya, dan Maladi, hanya saling pandang satu sama lain. Kemudian melihat Saranggi dan Ekalana yang saling berhadapan dalam jarak dekat.

Wajah Saranggi tampak merah padam. Sambil menekan gigi gerahamnya, menatap wajah Ekalana dengan mata melotot. Hatinya benar-benar merasa geram, tapi tak mampu berbuat apa-apa.Ekalana sendiri tetap dingin. Senyum mengejeknya tetap tersungging menyakitkan. Pandangannya begitu tajam menentang tatapan Saranggi. Meski kelihatan tenang, pemuda itu sudah mempersiapkan tenaga dalamnya untuk menyambut apabila Saranggi menyerang.

"Huh...!"

Saranggi mendengus bagai kerbau liar. Kemudian bergerak mundur, membalikkan tubuhnya dan melangkah ke tepi kali. Seakan hendak melampiaskan kejengkelannya, pemuda jangkung itu memukul-mukulkan tangannya ke sebatang pohon, membuat pohon itu berderak. Tak dipedulikan meskipun kulit tangannya lecet dan berdarah.

"Hm..., seharusnya bukan pohon yang menjadi sasaran pukulan itu, tapi Juragan Baswara...," Ekalana tampaknya masih belum merasa puas. Ucapan itu dilontarkan dengan nada menghina, membuat kemarahan Saranggi kian meledak.

"Keparat, kau benar-benar tak memandang sebelah mata kepadaku, Ekalana!" geram Saranggi dengan wajah beringas dan sepasang mata memerah saga, "Kau..., kau harus diberi pelajaran...!"

Usai berkata demikian, Saranggi menerjang Ekalana dengan lompatan panjang. Sepasang tangannya terjulur siap mencekik leher pemuda tampan yang angkuh itu. Namun terkamannya hanya mengenai angin kosong, ketika tubuh Ekalana dengan cepat bergeser kesamping.

"Kau hendak melumat angin, heh?" tukas Ekalana tak melepaskan senyumnya yang mengejek.

"Bangsat, kubunuh kau...!"

Bagai harimau luka, Saranggi kembali menerkam Ekalana, kedua tangannya menyambar-nyambar dengan pukulan yang kuat, dan masih diselingi tendangan-tendangan menderu. Namun, semua dapat dielakkan Ekalana dengan mudahnya. Bahkan pada jurus yang kelima, Ekalana mampu menyarangkan sebuah pukulan telak ke ulu hati Saranggi. Sehingga membuat pemuda jangkung itu terdorong mundur dengan tubuh terbungkuk.

"Berhenti...!" Melihat perkelahian masih akan berlanjut, Sudana dan empat pemuda lainnya bergegas mencegah. Jirana dan Rapati menghalangi Ekalana. Sedangkan Sudana, Maladi, dan Sabung Waluya menahan Saranggi.

"Sebaiknya kita menghemat tenaga untuk menghadapi ancaman yang mungkin akan terjadi terhadap kita...," ujar Sudana mengingatkan. "Saranggi, musuhmu bukanlah Ekalana! Ingat, nasib kita belum dapat diramalkan.... Janganlah kita saling bentrok...!"

"Seharusnya kau lebih bisa menjaga mulutmu, Ekalana," Jirana berkata kepada Ekalana, yang hanya tersenyum tipis.

Pemuda tampan itu memutar tubuh lalu melangkah.
"Aku hendak membersihkan tubuh, biar pikiranku lebih segar," ujarnya dengan sikap seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa dengan Saranggi.

"Kelihatannya ia agak sinting...," bisik Rapati kepada Jirana. Keduanya menggeleng-geleng memandang kepergian Ekalana.


*** 
ENAM

KEMATIAN Jaro Labang, Ketua Perkumpulan Pengantar Barang Garuda Emas cepat tersebar luas. Hal ini tidak aneh, karena cukup banyak orang kaya yang menggunakan jasa Jaro Labang. Terutama sekali para pedagang besar, termasuk Juragan Baswara, orang terkaya dan paling berpengaruh di Desa Sindang Laya. 

"Kurang ajar, ini pasti perbuatan Saranggi keparat dan kawan-kawannya itu!" geram Juragan Baswara yang kelihatan sangat marah demi mendengar berita kematian Jaro Labang. Lelaki setengah baya itu mondar-mandir di ruang tengah rumah besarnya dengan wajah berang. Di dalam ruangan itu sendiri tidak hanya ada Juragan Baswara seorang. Selain empat orang tukang pukul andalannya, juga terlihat Ki Windudarta, Kepala Desa Sindang Laya, yang berada di bawah pengaruh juragan kaya itu.

"Tapi, dengan alasan apa mereka melakukannya, Ki?" Tanya Ki Windudarta, yang kelihatannya belum percaya benar dengan tuduhan Juragan Baswara.

Juragan Baswara menghentikan langkahnya, lalu berpaling dan menatap Ki Windudarta lekat-lekat. Terdengar suara helaan nafasnya yang panjang dan berat. "Karena..., Jaro Labang-lah yang telah membunuh Ki Mahinta! Aku yang menyuruhnya dengan imbalan besar!" jawab Juragan Baswara berterus terang.

Jawaban Juragan Baswara tentu saja sangat mengejutkan Ki Windudarta. Hingga lelaki tua yang masih gagah ini tersentak dengan wajah agak pucat! "Mengapa...?" desis Ki Windudarta dengan kerongkongan terasa kering, membuat suaranya terdengar serak.

"Karena dia bukan penduduk asli desa ini! Ki Mahinta adalah pendatang dari daerah selatan, dan aku tidak menghendaki adanya peternakan lain di Desa Sindang Laya ini, kecuali aku! Nah, apakah kau menyalahkan aku, Ki Lurah...?" ujar Juragan Baswara membuat Ki Windudarta diam seribu bahasa.

Kepala Desa Sindang Laya hanya bisa menunduk dan menyesali dirinya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Juragan Baswara akan bertindak sejauh itu. Namun, semuanya sudah kepalang basah. Sadar atau tidak, dirinya telah terlibat dalam urusan pembunuhan Juragan Mahinta. Apalagi sumbangan Juragan Baswara terhadap kemajuan desa dan keluarganya sudah bertumpuk-tumpuk. Ki Windudarta hanya bisa menghela napas panjang.

Melihat Ki Windudarta tidak berkata apa-apa, Juragan Baswara mengalihkan perhatiannya, menatap dua orang tukang pukul andalannya. "Pergilah kalian dan temui perwira-perwira kenalanku di kotaraja! Sampaikan kepada mereka, bahwa aku memerlukan bantuan dan menginginkan agar mereka datang ke desa ini!

Laporkan kepada mereka, bahwa di wilayah barat ini telah muncul tujuh orang pemuda gila, yang merupakan pembunuh-pembunuh kejam. Mereka sangat berbahaya dan harus segera dilenyapkan. Minta juga kepada para perwira di kotaraja untuk menyebar orang-orangnya ke empat penjuru. Agar menutup setiap jalan ke luar yang biasanya dilalui orang!"

Juragan Baswara memerintahkan dua orang tukang pukulnya. Mereka pun segera berangkat untuk melaksanakan perintah majikannya.

"Saranggi dan kawan-kawannya tak mungkin berani kembali ke desa ini, Ki," ujar Ki Windudarta setelah dua orang tukang pukul Juragan Baswara pergi. "Meskipun begitu, aku harus tetap waspada. Dan kau, kerahkanlah orang-orangmu untuk memperketat penjagaan di desa ini! Karena cepat atau lambat mereka pasti akan mencariku untuk membalas dendam atas kematian Ki Mahinta.

Terbunuhnya Jaro Labang membuatku yakin, bahwa mereka sudah mengetahui siapa dalang pembunuhan majikan mereka. Kau harus membantuku mengenyahkan mereka!" tandas Juragan Baswara, saat itu terlihat jelas betapa ia berkuasa memerintah kepala desanya.

"Baik," sahut Ki Windudarta lemah. Kemudian lelaki tua ini berpamitan untuk mempersiapkan orang-orangnya.

"Golang..., Banu!" Juragan Baswara memanggil dua orang tukang pukul kepercayaannya yang masih berada di ruangan itu. "Sebar berita ke luar bahwa Juragan Baswara menyediakan hadiah dalam jumlah yang sangat besar bagi siapa saja yang dapat membawa kepala Saranggi dan kawan-kawannya kepadaku!" 

"Baik, Tuan Besar," jawab Golang dan Banu serentak.

"Ayo, pergi sekarang! Apa lagi yang kalian tunggu?" hardik Juragan Baswara, yang membuat Golang dan Banu terbungkuk-bungkuk bergegas meninggalkan ruangan itu.

***
Jirana, pemuda bertubuh kekar, yang garis-garis wajahnya menampakkan kegagahan ini tampak gelisah. Sebentar-sebentar tubuhnya yang rebah di atas tanah berumput tebal itu bergerak bangkit, duduk termenung. Pandangannya menerawang jauh dan kosong. Helaan napas beratnya terdengar berkali-kali menunjukkan kegelisahan hatinya.

"Heh...," lagi-lagi Jirana menghela napas berat. Kemudian menoleh ke arah kawan-kawannya, yang tampak tengah terlelap keletihan di kiri dan kanannya. Sampai akhirnya ia bangkit berdiri karena tak sanggup menahan kegelisahan di dalam hatinya. Dan melangkah menghampiri kuda yang ditambatkan pada sebatang pohon.

"Hendak pergi ke mana kau, Jirana?"

Jirana baru saja melepaskan tambatan kuda. Ketika siap melompat naik ke punggung kuda, hatinya tersentak kaget. Ia berpaling dan melihat Ekalana bangkit dari tidur dan menatapnya dengan tajam.

"Aku..., aku harus menemui Mayani...," jawab Jirana agak gugup. Butir-butir peluh tampak mulai menitik dikeningnya.

"Mayani...?! Nama yang aneh? Siapa Mayani itu, Jirana? Apakah gadis yang pernah menari denganmu sewaktu di pesta panen?" Tanya Ekalana menegasi.

Jirana mengangguk semakin gugup dan gelisah.

"Kau tahu di mana gadis itu tinggal?" Tanya Ekalana lagi sambil melangkah menghampiri Jirana.

"Kemungkinan besar dirumah perjudian milik Juragan Baswara," jawab Jirana setelah terdiam sesaat. Dia teringat sewaktu bersama kawan-kawannya mendatangi tempat kediaman Juragan Baswara, tidak melihat sosok gadis yang telah membuatnya mabok kepayang.

"Sadarkah kau, bahwa dengan menemuinya sama saja dengan menghampiri kematian?"

"Tapi, aku harus bertemu dengannya! Aku harus membebaskannya dari cengkeraman Juragan Baswara!" setengah berteriak Jirana mengungkapkan keinginannya yang besar.

Jawaban Jirana membuat kening Ekalana berkerut Ia memang tidak tahu banyak tentang apa yang dirasakan dan dialami kawannya itu. Sehingga jawaban barusan membuatnya merasa heran. Sementara itu, Saranggi, Sabung Waluya, Rapati, Sudana, dan Maladi tersentak bangun dari tidur. Perkataan Jirana yang agak keras tadi membuat mereka terganggu. Kelimanya merasa heran melihat Ekalana dan Jirana berdiri saling berhadapan, seperti tengah bertengkar. Bergegas kelimanya bangkit dan menghampiri.

"Mayani adalah gadis keturunan Cina. Ia diambil secara paksa dari keluarganya oleh Juragan Baswara. Karena ayah Mayani tak sanggup membayar hutang-hutangnya yang kian hari kian bertumpuk. Ayah Mayani tidak mampu membayar karena sudah hampir satu bulan jatuh sakit. Selama itu usaha ayahnya yang berdagang obat-obatan tidak berjalan. Tak seorang pun yang berani mencegah ketika Juragan Baswara membawa Mayani sebagai pembayaran atas hutang- hutang ayahnya."

Penjelasan Jirana juga didengar oleh lima orang pemuda lainnya. Namun, tentu saja Saranggi dan empat orang pemuda lainnya tidak mengerti jalan cerita Jirana. Mereka hanya bisa memandang Jirana dan Ekalana berganti-ganti.

"Kalau begitu, kita semua harus kembali ke Desa Sindang Laya!" ujar Ekalana. Tentu saja ucapan itu membuat kawan-kawannya terkejut. Termasuk Jirana, yang sama sekali tidak menduga kalau Ekalana akan berkata demikian.

"Gila! Apa-apaan ini...?!" sahut Saranggi setengah berteriak.

Sudana, Rapati, Sabung Waluya, dan Maladi, serentak memandang Ekalana dengan mata membelalak. Ucapan yang dikeluarkan Ekalana membuat mereka menduga kalau pemuda tampan itu telah miring otaknya. Kalau tidak mana mungkin mengajak mereka kembali ke Desa Sindang Laya, yang berarti mencari mati!

Ekalana tetap tenang dengan senyum tipisnya yang seperti selalu mengejek orang yang memandangnya. Sinar matanya tampak berkilat-kilat Wajah dan sikapnya sama sekali tak memperlihatkan rasa takut ataupun gelisah. Hal itu membuat kawan-kawannya merasa yakin kalau Ekalana memang tidak waras.

"Kita telah bersama-sama membalaskan kematian Ki Mahinta," ujar Ekalana. Kawan-kawannya tampak belum mengerti arah pembicaraan Ekalana. Namun pemuda itu sama sekali tak peduli dan melanjutkan perkataannya. "Tidak ada salahnya kalau sekarang kita bersama-sama pula untuk membantu Jirana. Dia hendak menolong Mayani. Gadis yang dicintainya. Jirana bermaksud membawanya pergi agar lepas dari cengkeraman Juragan Baswara."

Ekalana menghentikan ucapannya. Dengan sikap tetap dingin, ia memandangi wajah Saranggi dan empat orang lainnya satu persatu.

"Tentu saja kita masuk ke desa pada saat hari gelap. Aku yakin Juragan Baswara pasti tak akan pernah menduganya," lanjut Ekalana ketika melihat kawan-kawannya terdiam. “Yang merasa takut mati, silakan tinggal di tempat ini..."

Setelah berkata demikian, Ekalana melompat ke punggung kudanya. Kemudian memberikan isyarat kepada Jirana agar segera berangkat. Perlahan keduanya menjalankan kuda meninggalkan tempat itu, diiringi pandangan mata lima orang kawannya yang kelihatan masih ragu-ragu.

"Aku ikut!" tiba-tiba Rapati berlari dan melompat ke punggung kudanya. Kemudian menyusul Ekalana dan Jirana.

Setelah Rapati, Sudana. Sabung Waluya, dan Maladi, satu persatu bergegas menyusul. Tinggallah Saranggi termangu seorang diri. Namun akhirnya terpaksa mengalah dan ikut bersama kawan-kawannya untuk menentang maut!

Jarak yang mereka tempuh memang tidak dekat. Namun semangat yang ditunjukkan Ekalana dari Jirana membuat Saranggi dan lima orang pemuda lainnya tak mau kalah. Terlebih mereka telah merasa senasib dan sependeritaan. Sehingga, perjalanan jarak jauh itu ditempuh. Tentu saja ketujuh pemuda itu tak berani melewati tempat-tempat yang biasa dilalui orang.

Sehingga perjalanan pun lebih sulit dan berat. Terpaksa mereka harus beristirahat di hutan-hutan atau tempat terpencil pada waktu malam hari. Akibatnya setelah tiga hari tiga malam mereka baru sampai di dekat wilayah Desa Sindang Laya. Ketujuh pemuda itu tiba tepat pada waktu hari mulai terselimut kegelapan.

Setelah melepaskan lelah beberapa waktu lamanya, ketika malam semakin larut, mereka pun mulai bergerak menyusup ke desa. Kuda mereka ditinggalkan di sebuah hutan kecil, sebelah timur desa. Kecuali Ekalana, yang lainnya merasakan dada mereka berdebar tegang dan napas agak memburu.

Mereka berjalan mengendap-endap melalui tempat-tempat yang tidak terkena cahaya pelita ataupun obor. Tujuan Ekalana dan kawan-kawannya ke rumah judi milik Juragan Baswara, yang merupakan tempat perjudian satu- satunya di desa itu.

"Jirana, kau pergilah dan temui kekasihmu! Kami mengawasi dari sini," bisik Ekalana. Secara kebetulan, rumah yang mereka gunakan untuk bersembunyi adalah rumah kosong. Membuat mereka merasa agak tenang.

Jirana mengangguk samar di kegelapan. Kemudian berlari terbungkuk-bungkuk menyeberangi jalan. Sebab, rumah kosong itu tepat berseberangan dengan rumah judi Juragan Baswara.

"Hati-hati...!" bisik Ekalana lagi berpesan.

Jirana tidak menyahut, hanya mengangkat sebelah tangannya. Kemudian terus berlari mendekati rumah judi yang tampak sudah sepi, meski masih diterangi lampu minyak di dalamnya. Jirana menyandarkan tubuh di dinding kayu untuk mengatur debaran jantungnya yang tak karuan. Telinganya ditempelkan ke dinding ketika samar-samar terdengar suara orang yang tengah berbicara di dalam ruangan bawah rumah itu.

"Hhh..., udara malam ini dingin sekali..." Terdengar satu suara parau berdesis.

Jirana segera dapat mengenali bahwa suara itu milik Ki Windudarta. Adanya Kepala Desa Sindang Laya di dalam rumah itu, membuat Jirana semakin berhati-hati. Ia tahu betul kalau Ki Windudarta memiliki kepandaian dalam ilmu silat.

"Kalau kau ingin menghangatkan tubuh, 'selimut’ untukmu sudah aku sediakan, Windudarta. Silakan bersenang-senang. Selimut ku sendiri sudah menunggu di atas...," ujar suara lain, yang tak lain Juragan Baswara.

Jirana kenal benar suara saingan majikannya itu Dan ia semakin tegang!

"Beruntung kau dapat menikmati kehangatan tubuh gadis cantik keturunan Cina itu. Aku benar-benar iri kepadamu, Ki..."

Ucapan terakhir Ki Windudarta membuat dada Jirana kembali berdebar. Ia tahu siapa gadis keturunan Cina yang dimaksudkan. Bergegas Jirana mengendap-endap ke bagian belakang rumah, ketika mendengar kedua orang itu masih melanjutkan pembicaraan.

Tiba di bagian belakang rumah, Jirana melihat ada jendela di kamar atas yang terbuka. Dengan memanjat sebatang pohon, yang kebetulan tumbuh dekat jendela kamar atas itu, Jirana menyelinap masuk. Gadis cantik berkulit putih yang tengah rebah di pembaringan kaget melihat sesosok tubuh menyelinap masuk ke kamarnya. Namun Jirana bertindak cepat menutup mulut gadis cantik itu dengan tangannya.

"Sssttt...! Mayani, ini aku, Jirana...," bisik Jirana dengan mendekatkan wajahnya ke wajah gadis cantik itu.
Mata Mayani yang semula membelalak ketakutan, tampak mulai tenang. Namun wajahnya jelas masih menggambarkan perasaan takut.

"Mengapa, Mayani? Kau..., takut kepadaku...?" Tanya Jirana dengan wajah berduka melihat betapa gadis yang dicintainya itu ternyata ketakutan, meskipun telah saling mengenal. Perasaan kecewa membuat telapak tangannya agak merenggang dari mulut Mayani.

"Tuan Baswara bilang, kau dan kawan-kawanmu telah membunuh orang," ujar Mayani dengan suara berbisik. Jelas dirinya tak menghendaki kedatangan Jirana diketahui Juragan Baswara, yang diketahuinya berada di ruangan bawah rumah itu, "Menurutnya kau dan kawan-kawanmu telah menjadi gila. Suka memperkosa dan membunuh orang," lanjutnya dengan mata tak lepas dari wajah Jirana. Matanya yang agak sipit terlihat menunjukkan rasa cinta meski samar. Jirana dapat merasakan hal itu.

"Semua itu tidak benar, Mayani. Kau tahu sendiri bahwa Juragan Baswara bukanlah orang baik-baik. Manusia jahat itu memfitnah kami! Aku sedih sekali kalau kau pun menyangka aku orang jahat. Padahal aku begitu mencintaimu, Mayani...," bisik Jirana dengan suara bergetar terbawa perasaan cintanya yang dalam. Jirana merasakan tubuh gadis itu bergetar. Kini tangannya sudah memegang kedua bahu Mayani.

"Mayani, marilah ikut bersamaku! Aku akan membawamu ke tempat yang tenang, jauh dari jangkauan tangan kotor Juragan Baswara. Aku berjanji akan membahagiakan mu...," ujar Jirana mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut kening Mayani dengan sepenuh perasaan kasih di hatinya.

"Aku kini sudah tak suci lagi, Jirana. Tubuhku sudah kotor. Aku..., aku tak ingin membuat kau kecewa kelak...," ujar Mayani dengan air mata membasahi pipinya yang halus kemerahan.

"Aku tidak peduli, Mayani. Bagaimanapun aku tetap mencintaimu dan ingin hidup bersamamu," tukas Jirana. Hatinya merasa perih melihat air mata gadis yang dicintainya itu.

Tiba-tiba saja keduanya sama menoleh ke arah pintu kamar. Karena saat itu terdengar suara langkah kaki menaiki tangga, dan mendekati pintu kamar. Seketika itu juga wajah Mayani berubah pucat!

"Pergilah, Jirana! Itu pasti langkah kaki Tuan Baswara! Lupakan aku! Aku tak pantas untukmu...," bisik Mayani semakin tegang. Takut kalau kedatangan Jirana sampai diketahui Juragan Baswara.

"Mayani...!" terdengar suara Juragan Baswara disertai suara ketukan pada daun pintu yang terkunci itu.

"Ikutlah bersamaku, Mayani...!" desis Jirana lagi
dengan tatapan mata sayu, penuh permohonan.

Sementara ketukan pada daun pintu semakin keras. Mayani semakin tegang! Tetap ditolaknya keinginan Jirana. Berkali-kali kepalanya menoleh ke arah pintu yang kali ini digedor kuat-kuat dari luar. Dan....

Brak!

Daun pintu kamar Mayani jebol ditendang Juragan Baswara yang merasa curiga. Telinganya menangkap suara ribut-ribut yang samar dari dalam kamar. Begitu tubuhnya melompat masuk, sepasang matanya langsung menyapu seisi kamar. Namun, ia hanya mendapati tubuh Mayani yang masih rebah di atas pembaringan.

"Katakan, apakah ada orang yang menemuimu barusan?" bentak Juragan Baswara dengan suara menggelegar.

Mayani menggeleng lemah. Namun air matanya kembali berlinang membasahi pipi. Juragan Baswara tidak percaya dengan jawaban Mayani. Matanya kembali menyapu sekeliling kamar. Ketika mendapati daun jendela yang terbuka, hatinya semakin curiga. Bergegas dia melangkah menghampiri jendela itu. Dan bukan main berangnya hati Juragan Baswara ketika melongokkan kepalanya ke bawah, terlihat ada sesosok tubuh tengah berlari terburu-buru.

"Kurang ajar! Itu pasti pemuda laknat yang bernama Jirana! Tidak ada lagi orang yang berani mendekatimu kecuali bangsat itu! Aku kenal betul bentuk tubuhnya!" geram Juragan Baswara, yang langsung saja meneriaki tukang-tukang pukulnya. Kemudian ia bergegas turun dari loteng itu.

"Goblok kalian semua! Mengapa sampai tak tahu ada orang menyusup ke dalam tempat ini! Ayo, kejar bangsat itu! Cari sampai dapat!"

Bagai kakek-kakek kebakaran jenggot, Juragan Baswara mencak-mencak mencaci-maki para tukang pukulnya. Ia menunjuk ke seberang jalan. Karena dari atas tadi ia sempat melihat arah lari Jirana.

Tanpa diperintah dua kali, tukang-tukang pukul yang berjumlah belasan orang bergegas menyebar. Setengahnya memburu ke rumah kosong yang ditunjuk Juragan Baswara. Sebentar saja di sekitar tempat itu telah diterangi sinar-sinar obor.

Bukan cuma tukang-tukang pukul Juragan Baswara yang melakukan pengejaran. Belasan petugas keamanan Desa Sindang Laya pun berdatangan karena mendengar teriakan-teriakan Juragan Baswara. Bahkan Ki Windudarta sendiri sudah ke luar dari rumah judi. Sembari sibuk membetulkan pakaiannya, lelaki tua ini berlari ikut melakukan pencarian.

***

Ekalana merasa heran dan kaget melihat Jirana berlari cepat meninggalkan rumah judi seorang diri. Terlebih ketika Jirana telah mendekat, terlihat wajah pemuda itu pucat dan terengah-engah. Kemudian terdengar pula adanya suara orang berteriak-teriak. Tahulah Ekalana kalau Jirana telah tertangkap basah.

"Cepat, tinggalkan tempat ini...!" Ekalana segera mengajak kawan-kawannya untuk meninggalkan tempat itu.

Saranggi, Sabung Waluya, Maladi, Sudana, dan Rapati, langsung menuruti ajakan Ekalana. Mereka juga menangkap suara orang berteriak-teriak marah. Meski agak samar, mereka berlima sudah mencium adanya ancaman bahaya. Maka, langsung saja menghambur meninggalkan tempat itu, berlari secepat mungkin.

Beberapa saat kemudian Juragan Baswara sampai di rumah kosong tempat bersembunyi Ekalana dan kawan-kawannya. Namun yang dicari sudah tidak ada. Ketika dia mencari-cari serta memerintah tukang-tukang pukulnya untuk mengejar Jirana, pemuda itu telah berlari jauh belasan tombak.

Namun ketujuh pemuda yang tengah berlari menyelamatkan diri terkejut ketika mendengar suara kentongan dipukul bertalu-talu. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau kejadian itu akan menyebar sedemikian cepat. Kenyataan itu membuat mereka menduga, bahwa Juragan Baswara memang sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Menjaga kemungkinan mereka bertujuh akan datang ke Desa Sindang Laya.

Otak Ekalana bekerja cepat mencari jalan keluar yang dirasa cukup aman. Segera dibelokkan langkahnya ke arah barat, melalui kebun-kebun penduduk. Pemuda itu terus menerobos meski sadar, bahwa arah yang diambilnya cukup jauh dari tempat mereka meninggalkan kuda. Namun, sebelum sempat menerobos perkebunan, tiba-tiba muncul empat sosok tubuh menghadang dari samping kanan mereka. Salah satu dari keempat sosok yang ternyata petugas keamanan desa itu, membawa sebatang obor.

"Hei, berhenti...!" salah seorang dari empat keamanan Desa Sindang Laya membentak. Kemudian menghambur bersama tiga orang kawannya hendak menghadang jalan.

"Saranggi, kau ikut aku! Yang lain terus lari, kami berdua akan menyusul...!" ujar Ekalana mengambil tindakan cepat. Tubuhnya langsung melesat menyambut kedatangan keempat orang itu dengan pedang di tangan.

Trang! Trang!

Bunga api berpijar ketika sambaran pedang Ekalana disambut dua batang golok dari dua orang lawan. Dalam benturan itu Ekalana berada dalam kedudukan yang lebih kuat, hingga kedua orang lawannya tergetar mundur. Tanpa membuang-buang waktu, Ekalana kembali melanjutkan serangannya. Dengan gerak melingkar, pedangnya berkelebat mengancam tubuh dua orang keamanan desa itu. Saranggi sendiri sudah mencabut dua bilah pisau terbang di pinggangnya. Kemudian dengan cepat dilepaskannya membuat pisau-pisau terbang itu meluncur dengan suara berdesing tajam.

Sing! Sing!

Crap! Crap!

"Aaakh...!"

Terdengar lengkingan kematian merobek dinginnya udara malam. Tubuh dua orang keamanan desa itu seketika terjungkal mandi darah. Pisau-pisau terbang Saranggi tepat menancap di leher mereka. Sesaat setelah pisau-pisau terbang Saranggi merenggut nyawa, pedang di tangan Ekalana pun merobek perut dan menusuk dada lawan-lawannya. Darah segar menyembur membasahi tanah lembab berembun.

Dan tanpa menunggu lagi, Ekalana langsung melesat bersama Saranggi meninggalkan keempat korbannya. Sebab, saat itu mereka mendengar adanya suara langkah kaki banyak orang mendatangi tempat itu. Dari kejauhan mereka melihat sinar-sinar obor yang semakin dekat.

Saranggi dan Ekalana sudah menerobos perkebunan ketika belasan orang tukang pukul Juragan Baswara dan delapan orang keamanan desa tiba di tempat pertempuran yang baru saja selesai. Mereka terkejut bukan main ketika melihat empat orang keamanan desa telah terkapar tewas berlumuran darah.

"Berpencar, cari pembunuh-pembunuh keji itu sampai dapat..!" Ki Windudarta yang turut bersama rombongan, marah bukan main. Setelah memberi perintah demikian, kepala desa ini melesat menuju mulut desa bersama dua orang anak buahnya. Ia menduga para pembunuh melarikan diri melalui mulut desa.

Namun, sampai terdengar kokok ayam jantan menyambut datangnya fajar, Saranggi dan kawan- kawannya tetap tidak bisa ditemukan. Hal itu membuat Juragan Baswara dan yang lainnya cuma bisa mengumpat dan menyumpah-nyumpah. Terlebih Ki Windudarta, hatinya merasa sangat terpukul dengan kejadian itu. Ia merasa malu terhadap Juragan Baswara. Sebab, persiapan yang telah diaturnya sedemikian rupa, masih juga kecolongan.

Sementara itu, seiring dengan terdengarnya kokok ayam jantan bersahutan. Saranggi dan enam pemuda lainnya sudah tiba di hutan kecil, sebelah timur Desa Sindang Laya. Mereka langsung membedal kuda melarikan diri ke arah selatan.


***
TUJUH

SIANG itu langit tampak gelap. Awan hitam yang mengandung air semakin menebal, menghalangi sang Raja Siang. Angin bertiup keras membuat pepohonan berderak-derak bagai hendak tercabut dari dalam tanah. Tak lama kemudian, butir-butir air pun menetes jatuh ke bumi.

Makin lama semakin deras, hingga hujan lebat disertai angin ribut pun tercipta. Selain itu petir dan halilintar menggelegar, saling bersambung di angkasa. Alam seolah hendak menunjukkan kekuasaannya kepada seluruh makhluk penghuni bumi.

Di tengah kelebatan hujan yang menggila itu, tampak tujuh orang penunggang kuda bergerak memasuki mulut sebuah desa. Terus membelok ke sebuah kedai makan. Mereka bergegas masuk ke kedai setelah menambatkan kuda mereka pada sebuah palang kayu di halaman depan kedai.

Tubuh mereka yang basah kuyup tentu saja menarik perhatian beberapa orang pengunjung yang tengah menikmati teh hangat dan penganan. Dua di antara pengunjung mengerutkan kening dan memandang ketujuh penunggang kuda, yang terdiri dari orang-orang muda itu, dengan penuh selidik.

Ketujuh penunggang kuda yang tak lain Saranggi dan kawan-kawannya itu sama sekali tak mempedulikan pandangan orang-orang di dalam ruangan. Mereka langsung mengambil tempat duduk dan memesan teh hangat serta penganan untuk mengusir rasa dingin.

"Hua ha ha...! Rupanya hari ini kita benar-benar sedang beruntung, Kawan-kawan! Tak disangka tidak diduga, tujuh lalat tolol datang mencari penggebuk! Ini patut kita rayakan!" tawa dan ucapan lantang itu berasal dari seorang lelaki berkepala botak, yang wajahnya dihiasi brewok tebal. Kemudian ia memanggil pelayan kedai, minta disediakan seguci tuak.

Ucapan lantang itu tentu saja terdengar oleh Saranggi dan kawan-kawannya. Serentak mereka menolehkan wajah hendak melihat siapa pemilik suara itu. Semua terkejut ketika mendapati seraut wajah beringas, yang juga tengah memandang ke arah mereka.

"Celaka...!" desis Saranggi, berbisik dengan suara gemetar dan wajah pucat. "Aku pernah melihat orang itu di tempat kediaman Juragan Baswara beberapa waktu lalu. Saat Ki Mahinta hendak beramah-tamah dengan Juragan Baswara, beliau membawaku serta. Dari Ki Mahinta aku tahu tentang orang itu. Namanya Togas. Seorang pemburu hadiah yang sangat kejam dan tak kenal ampun. Juga tak pernah gagal dalam menjalankan pekerjaannya"

Penjelasan singkat Saranggi, membuat wajah kawan-kawannya menjadi pucat dan tegang. Kecuali Ekalana, yang memang tidak pernah mengenal rasa takut. Wajah pemuda itu tetap beku tak menggambarkan perasaan apapun.

"Lalu... apakah orang bernama Togas itu mengetahui tentang kita?" Tanya Maladi dengan suara berbisik. Suaranya terdengar gemetar menunjukkan perasaan hatinya yang dilanda kegentaran dan kecemasan.

"Mendengar ucapannya tadi, kurasa ia memang tengah memburu kita....," jawab Saranggi berbisik dengan suara semakin lirih, takut kalau sampai terdengar oleh orang bernama Togas itu.

"Hm... kita bertujuh, sedangkan mereka bertiga, takut apa?" tiba-tiba Ekalana menyela tidak berbisik seperti yang dilakukan kawan-kawannya. Bahkan kemudian bergerak bangkit dan melangkah menghampiri meja tempat Togas dan dua orang kawannya duduk.

"Gila! Mau apa pemuda sinting itu...?! Ulahnya selalu saja membuat kita bisa mati ketakutan...!" desis Saranggi yang menjadi geram oleh ucapan dan ulah Ekalana. Namun ia tidak bisa berbuat lain kecuali duduk diam menunggu dengan hati berdebar tegang.

"Hai, Sahabat-sahabat yang gagah, bolehkah aku ikut bergabung dengan kalian? Tampaknya kalian begitu gembira, membuat aku menjadi iri," ujar Ekalana yang menghentikan langkahnya beberapa tindak dari tempat duduk Togas. Meski ucapannya terdengar ramah dan bersahabat, namun sepasang matanya tetap bersinar dingin.

"Si keparat...!" desis Maladi mengumpat Ekalana, "Ia benar-benar gegabah dan tak kenal penyakit..!"

Saranggi dan empat pemuda lainnya hanya bisa menghela napas yang terasa sesak. Tingkah Ekalana membuat mereka menahan debaran jantung yang tak karuan.

"Hmh!" dengus Togas seraya menatap sosok Ekalana penuh selidik. "Benar kau ingin ikut merayakan kegembiraan kami?" lanjutnya tersenyum-senyum. Tampaknya Togas bukan jenis orang yang terburu- buru dalam melaksanakan pekerjaannya. Ia terlihat demikian tenang dan yakin terhadap dirinya. Mungkin ini merupakan salah satu kunci mengapa Togas tidak pernah gagal dalam melakukan pekerjaannya.

Namun, untuk kali ini rasanya Togas bertemu lawan seimbang. Sebab Ekalana pun seorang yang selalu tenang dan percaya penuh pada diri sendiri. Bahkan masih ditambah dengan sifatnya yang bagai tidak mengenal perasaan takut. Lebih-lebih dalam hal kecerdikan, pemuda ini rasanya memang sukar dicari bandingannya. Kini dia pun tersenyum ketika ucapan- nya mendapat sambutan.

"Benar, Sahabat yang gagah. Dan aku mengharap agar kalian selalu berhasil dalam segala hal," jawab Ekalana yang kelihatannya sudah menyimpan rencana di benaknya.

Togas tertawa terbahak-bahak, kemudian menyodorkan gelas bambu yang sudah penuh dengan tuak. Ekalana segera mengulurkan tangan menerima tuak itu. Namun mendadak Togas menggeser lengannya saat Ekalana hendak mengambil gelas itu. Sehingga, jari-jari tangannya hanya menangkap angin. Seiring dengan itu, terdengar suara tawa Togas dan kawan-kawannya. Seolah-olah merasa gembira telah dapat mempermainkan Ekalana. Tiba-tiba melesat sebersit sinar dengan kecepatan tinggi, yang diiringi suara berdesing nyaring.

Brettt..!

Suara tawa Togas dan kawan-kawannya terhenti seketika, dan berubah menjadi jeritan melengking yang mendirikan bulu roma. Tubuhnya terjungkal bersama kursi yang didudukinya, disertai semburan darah segar dari luka menganga di lehernya.

"Hua ha ha...!"

Sekarang ganti Ekalana yang tertawa terbahak-bahak. Suaranya membuat hati orang-orang yang mendengar merasa miris. Apalagi wajah Ekalana tetap dingin bagaikan topeng. Sehingga sosoknya benar-benar membuat orang merasa ngeri.

"Bangsat..., kau telah membunuh saudara kami! Awas, kucincang tubuhmu sampai hancur!" Salah satu dari dua orang kawan Togas berteriak bagai orang gila. Dia benar-benar terguncang melihat saudaranya menggelepar tewas di depan matanya.

Ekalana dengan pedang berlelehan darah di tangan kanannya, bergerak mundur empat langkah. Bibirnya tampak menyunggingkan senyum puas. Karena rencana yang ada dalam kepalanya telah terlaksana dengan baik. Dia memang sudah siap mencabut pedang saat disodori tuak. Togas harus menerima kematiannya, karena tak menyangka dan terlalu memandang remeh pemuda tampan yang memang hendak dipermainkannya. Dan Togas harus membayar mahal sikap sombong dan cerobohnya itu.

"Yeaaattt...!"

Salah satu dari dua lelaki berpakaian serba hitam itu menerjang Ekalana. Pedang di tangannya menyambar dengan kecepatan yang mengagumkan.

Ekalana mendengus mengejek. Kemudian melompat mundur menghindari sambaran pedang lawan. Sebelum lawan sempat mengubah gerakan, pedang Ekalana sudah berputar cepat hingga membentuk gulungan sinar putih yang menimbulkan suara angin menderu-deru. Sambil melompat maju, ia berseru kepada kawan-kawannya.

"Ayo, kita habisi kedua orang ini...!"

Saranggi dan lima orang pemuda lainnya saling bertukar pandang sesaat. Meski agak kaget, mereka merasa gembira dengan tindakan Ekalana tadi, karena berhasil membunuh orang yang mereka takuti. Maka, tanpa ragu-ragu keenam pemuda ini berlompatan dengan senjata terhunus hendak membantu Ekalana.

Sementara itu, Ekalana tengah berusaha mendesak kedua orang lawannya, Pengalaman bertempur yang banyak dialaminya, membuat gerakan pedangnya semakin mantap dan bertenaga. Sehingga, kendati kedua orang lawannya cukup tangguh, tetap saja mereka kerepotan menghadapi gempuran Ekalana. Terlebih ilmu pedang yang digunakan Ekalana memang sangat aneh dan sukar ditebak gerakannya. Kedua orang berpakaian hitam itu terpaksa bermain mundur sambil terus memutar pedang melindungi tubuhnya.

Dalam keadaan seperti itu, Saranggi dan lima orang kawannya masuk kearena perkelahian. Tentu saja datangnya bantuan bagi Ekalana membuat kedua orang anak buah Togas semakin kalang kabut. Sampai akhirnya mereka harus menerima ajal di tangan Saranggi. Dengan gerak cepat dilepaskan dua pisau terbangnya, dan tepat menancap di kening dan tenggorokan kedua orang pemburu hadiah itu.
Begitu kedua orang lawan tewas, Ekalana dan kawan-kawannya ini bergegas hendak meninggalkan kedai. Dengan gerakan tangkas, berlompatan ke punggung kuda masing-masing.

"Hei, berhenti...!"

Ekalana dan kawan-kawannya terkejut dan menoleh ke belakang. Betapa kagetnya hati mereka ketika melihat belasan orang berpakaian prajurit kerajaan, tengah berlarian mengejar. Cepat mereka membedal kuda, melesat cepat bagai anak panah lepas dari busur. Mereka terus mencambuki kuda masing-masing ketika mendengar suara teriakan yang memerintahkan untuk melakukan pengejaran terhadap mereka.

Lebih dari setengah hari Ekalana dan kawan-kawannya melarikan diri tanpa henti. Menjelang sore, mereka melihat adanya sebuah candi tua yang tidak terawat. Setelah merasa yakin bahwa di dalam candi itu tidak ada orang, mereka bergegas menambatkan kuda di tempat yang tertutup pepohonan. Ketujuh pemuda itu bergegas masuk ke candi untuk beristirahat melewatkan malam.

"Kau benar-benar gila, Ekalana!" ujar Saranggi yang nada suaranya terdengar bersahabat, "Ulah mu itu nyaris membuat kami semua mati berdiri. Tapi, sekarang aku merasa bangga kepadamu. Kematian Togas membuat hati kami sedikit lega," akunya berterus terang.

"Hari-hari yang sulit, dan pengalaman-pengalaman selama kita menjadi orang pelarian, membuat kita semakin matang dan tangguh. Aku lihat kelihaianmu melempar senjata sudah semakin cepat dan tepat. Padahal belum ada satu bulan kita menjadi orang pelarian," tukas Ekalana, yang secara terbuka juga memuji Saranggi. Membuat sepasang mata pemuda jangkung ini berbinar bangga.

"Tapi pengalaman kalian cuma sampai hari ini batas waktunya...!" tiba-tiba terdengar suara keras dan mengejutkan!

Ketujuh pemuda itu berlompatan bangkit Masing- masing telah mencabut senjata, karena mereka sadar apa arti ucapan itu.

"Siapa kau?" Tanya Saranggi mendahului enam orang kawannya. Ditatapnya sosok lelaki berusia sekitar lima puluh tahun yang berdiri dengan kaki terpentang, dua tombak di depan mereka.

"Hm... siapa aku tidak penting bagi kalian. Yang jelas, Juragan Baswara menyediakan hadiah besar untuk setiap kepala kalian. Terutama kepala salah seorang di antara kalian, yang bernama Ekalana," ujar lelaki bertubuh sedang itu, dengan suara berat dan parau.

Mendengar pengakuan orang itu sebagai pembunuh bayaran, Saranggi dan kawan-kawannya bergerak merenggang. Lagi-lagi Ekalana menunjukkan ulahnya. Pemuda itu melangkah maju menghampiri pemburu hadiah itu.

"Sahabat, sebelum kau memenggal kepala kami semua, perkenalkanlah dirimu agar kami tidak mati penasaran!" pinta Ekalana kepada lelaki yang dari sorot matanya diduga memiliki kepandaian tinggi itu.

"Hm..., kau pasti yang bernama Ekalana," tukas lelaki setengah baya itu. Kepalanya menggangguk-angguk seperti dapat mengukur ketangguhan pemuda di depannya. "Aku lebih dikenal sebagai Tangan Setan. Karena aku dapat mengambil nyawa siapa saja yang aku kehendaki. Nah, kalian boleh bawa namaku sebagai bekal ke neraka."

Ekalana mengangguk. Sepasang matanya berkilat menyimpan kecerdikan. "Namaku memang benar Ekalana. Tapi kau rupanya belum mengenal julukanku...," ujar Ekalana menyunggingkan senyum mengejek.

"Kau mempunyai julukan?" tukas Tangan Setan bernada menghina, "Coba sebutkan julukanmu, aku ingin dengar."

"Aku dijuluki orang sebagai.... Bapak Moyang Tangan Segala Setan!"

Seketika meledaklah tawa Saranggi dan lima orang pemuda lainnya. Senang bukan main hati mereka mendengar Ekalana mempermainkan orang yang mengaku berjuluk Tangan Setan itu. Membuat wajah pemburu hadiah itu merah padam menahan amarah yang seketika meledak menyesakkan dadanya.

"Kurang ajar...! Sekarang aku tahu mengapa Juragan Baswara berani membayar mahal kepalamu ketimbang kepala kawan-kawanmu! Hhh... aku sudah tak sabar untuk menukar kepalamu dengan beberapa kantung uang...," begitu ucapannya selesai, tahu-tahu saja sebilah pedang telah tergenggam di tangannya. Dan....

"Yeaaarh!"

Whuuuttt!

Senjata dalam genggaman Tangan Setan menderu mengancam batang leher Ekalana. Pedang yang bergerak menusuk itu langsung berputar ketika sasarannya melompat ke samping. Dan kembali menyambar dengan sasaran tidak berubah.

"Hait...!"

Trang!

Ekalana yang menangkis pedang lawan tampak terdorong mundur empat langkah. Sedangkan Tangan Setan cuma merasakan lengannya bergetar. Kuda-kudanya tetap kokoh, tidak bergeser sedikit pun! Kenyataan itu membuat Ekalana sadar kalau tenaga dalam lawan masih dua tingkat di atas tenaga dalamnya. Namun kenyataan itu sama sekali tidak membuat hatinya gentar.

Saranggi, Sabung Waluya, Maladi, Jirana, Rapati, dan Sudana, terkejut melihat kekuatan tenaga dalam Tangan Setan. Sadar kalau Ekalana tidak bakal menang dari lawannya, mereka segera berlompatan mengepung Tangan Setan. Kemudian menggempur tokoh itu bersama-sama.

Tangan Setan ternyata benar-benar tangguh! Keroyokan tujuh pemuda itu sama sekali tidak membuat dirinya terdesak. Bahkan setelah lewat dari sepuluh jurus, utusan Juragan Baswara itu mulai dapat mendesak pengeroyoknya. Pedang di tangannya bergerak cepat kian kemari memburu sasaran. Ekalana dan kawan-kawannya berusaha mati-matian untuk menghindari ancaman mata pedang lawan.

Crat!

"Aaakh...!

Sudana menjerit kesakitan dan tubuhnya terpelanting jatuh tanpa dapat ditahan lagi. Ia bergulingan di atas tanah sambil mengerang-erang, tak peduli pakaiannya dikotori tanah bercampur debu. Tangan kirinya mencekal erat-erat pangkal lengan kanannya yang putus sebatas siku terbabat pedang Tangan Setan.

"Sudana...!" Saranggi berteriak cemas. Tubuhnya menghambur ke arah Sudana yang masih bergulingan. Rasa cemas melihat keadaan Sudana membuat Saranggi lupa terhadap Tangan Setan. Sehingga ia tidaksempat mengelak ketika pedang Tangan Setan menyambar datang mengancam lehernya.

"Sarangi, awaaasss...!" Ekalana berteriak memperingatkan Saranggi, sambil melesat berusaha menyelamatkan nyawa kawannya.

Cragkh...!

Brettt...!

"Aaakh...!”

Hampir bersamaan dengan menggelindingnya kepala Saranggi, terbabat pedang Tangan Setan,' Ekalana sempat membabatkan pedangnya. Tangan Setan menjerit kesakitan ketika lambungnya terbabat pedang Ekalana. Tubuh Saranggi ambruk berlumuran darah yang keluar dari lehernya. Demikian pula dengan tubuh Tangan Setan, terhuyung-huyung. Pakaiannya basah berlumuran darah.

"Heaaa...!"

"Heaaa...!"

Jirana, Sabung Waluya, Rapati, dan Maladi tak menyia-nyiakan kesempatan baik itu. Ketika tubuh Tangan Setan limbung, mereka langsung menyambut dengan pedang masing-masing.

Crak! Jrab!

"Aaakh...!" Tangan Setan menjerit setinggi langit ketika empat bilah pedang menusuk dan membabatnya. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang membawa ceceran darah yang mengalir dari tengkuk, lambung, dan punggungnya. Kemudian ambruk dan menggelepar bagai ayam disembelih sebelum akhirnya tewas.

Ekalana, Rapati, Sabung Waluya, Jirana, dan Maladi berdiri tegak bagai patung memandang mayat Tangan Setan. Rintihan Sudana menyadarkan merekadari keterpakuan. Bergegas kelimanya memutar tubuh. Ekalana membalut lengan Sudana yang buntung itu dengan sobekan pakaiannya. Sedangkan empat pemuda lainnya mengurus mayat Saranggi, dan menguburkannya di halaman belakang candi. Selesai memakamkan mayat Saranggi dan Tangan Setan, keenam pemuda itu merebahkan tubuh mereka yang letih di lantai candi. Sebentar saja mereka terlelap dalam dinginnya udara malam.

***

Sinar mata hari yang menerobos masuk melalui lubang-lubang pada dinding candi, membangunkan Ekalana dan kawan-kawannya dari tidur. Keletihan yang masih tersisa, membuat mereka masih belum beranjak bangkit. Namun perasaan malas itu mendadak lenyap ketika tiba-tiba samar-samar terdengar suara langkah kaki kuda mendekati tempat itu.

Mereka berlompatan bangkit, mengintip keluar dari lubang-lubang pada dinding candi. Tidak berapa lama kemudian, tampaklah seorang penunggang kuda muncul dari arah timur candi. Sosok yang duduk di punggung kuda semakin dekat, hingga jelas terlihat oleh mereka.

"Ki Suganta...?!" desis Sudana agak kaget ketika mengenali penunggang kuda itu. "Mengapa ia bisa sampai ke tempat ini...?!"

"Siapa Ki Suganta itu..?" bisik Ekalana bertanya curiga. Dalam keadaan seperti sekarang ini dia memang harus mencurigai siapa saja yang ditemui.

"Beliau sahabat baik mendiang majikan kita. Entah kepentingan apa yang membawanya sampai ke tempat ini...?" jawab Sudana. Hatinya merasa heran, meskipun tidak menaruh curiga terhadap orang yang dikenalnya sangat baik dan dekat dengan Juragan Mahinta.

"Apa kau yakin orang itu bisa dipercaya?" Tanya Ekalana lagi, berbisik.

"Sepanjang pengetahuanku, Ki Suganta adalah orang baik. Dan rasanya aku bisa mempercayainya. Biar aku coba menemuinya," jawab Sudana. Meski ada sedikit keraguan terselip di hatinya, ia melangkah ke luar untuk mengetahui tanggapan Ki Suganta jika melihatnya.

"Tuan Suganta...!" panggil Sudana begitu sampai di pintu candi. Mata pemuda brewok itu menatap Ki Suganta.

"Sudana...?! Kaukah itu...?" sahut Ki Suganta kaget Dipandanginya wajah Sudana agak lama, barulah ia mengenali. Itu pun belum meyakinkan hatinya. Sebab, sosok Sudana jauh berbeda dengan sewaktu masih bekerja di peternakan. Wajahnya yang kotor agak pucat, serta pakaian lusuh dan koyak-koyak, membuat Ki Suganta tidak begitu mengenalinya. Namun kemudian bergerak menghampiri setelah Sudana mengangguk.

"Mana Saranggi dan kawan-kawanmu yang lain? Ah..., kalian tentunya sangat menderita...," ujar Ki Suganta, yang oleh pekerja-pekerja Juragan Mahinta dipanggil dengan sebutan 'tuan'.

"Mengapa Tuan sampai berada di tempat ini? Kalau boleh saya tahu apa gerangan tujuan Tuan?" Sudana tidak menjawab pertanyaan Ki Suganta. Ia malah bertanya dengan pandangan mata penuh selidik.

"Tidak aneh kalau aku pun sampai kau curigai, Sudana," Ki Suganta sama sekali tidak merasa tersinggung. Dirinya telah mengetahui apa yang menimpa ketujuh orang pekerja Juragan Mahinta. Sehingga memaklumi sikap Sudana. "Kalian telah membuat Juragan Baswara marah besar. Beliau mengundang perwira-perwira kerajaan dan meminta agar mengerahkan prajurit untuk mencari kalian. Mereka kini tersebar hampir ke seluruh pelosok desa.

Setiap celah yang mungkin dapat kalian gunakan untuk jalan keluar telah dijaga prajurit-prajurit kerajaan. Bahkan para pemburu hadiah saling berlomba untuk menyerahkan kepala kalian ke hadapan Juragan Baswara. Orang itu telah menyebar berita tentang kalian dan menjanjikan hadiah besar bagi siapa saja yang dapat membawa kepala kalian," Ki Suganta berhenti sebentar dan menarik napas pajang.

"Kami telah tahu semuanya, Tuan. Bahkan sudah bertemu dengan prajurit-prajurit kerajaan, serta beberapa orang pemburu hadiah. Di candi ini kami cuma sekadar melepaskan lelah. Dan akan segera melanjutkan perjalanan," ujar Sudana menanggapi pemberitahuan Ki Suganta.

"Ke mana kalian hendak lari? Mereka sudah mengepung dari delapan penjuru. Rasanya tak mungkin kalian dapat keluar-dari negeri ini tanpa sepengetahuan mereka," ujar Ki Suganta memberikan gambaran terhadap keadaan yang harus dihadapi Sudana dan kawan-kawannya.

"Tuan sendiri hendak pergi ke mana? Bukankah tempat tinggal Tuan cukup jauh dari tempat ini?"

"Aku sengaja mencari kalian," jawab Ki Suganta berterus terang.

"Mencari kami? Untuk apa, Tuan?" desak Sudana mulai berdebar tegang. Perasaan itu tergambar jelas pada wajahnya.

"Sudana," ujar Ki Suganta seraya tersenyum. Dia memaklumi ketegangan yang tergambar di wajah pemuda itu. "Kau tahu sendiri, aku adalah sahabat baik majikanmu. Aku turut berduka cita atas kematian Ki Mahinta. Sehingga ketika mendengar bahwa kalian sekarang diburu orang-orang suruhan Juragan Baswara untuk dibunuh, aku tak bisa tinggal diam. Aku bermaksud membantu kalian agar dapat lolos dari iblis berkedok manusia itu."

"Ahhh... terima kasih atas perhatian dan kebaikan Tuan Tapi, dengan cara bagaimana Tuan hendak menolong kami?"
Sudana menatap tepat di kedua bola mata Ki Suganta, seperti ingin mencari kebenaran ucapan itu.

"Tempat tinggalku cukup besar. Maksudku hendak membawa kalian untuk bersembunyi di rumahku. Mudah-mudahan di sana kalian lebih aman dan terjamin. Mereka pasti tidak akan menyangka kalau kalian berada di rumahku. Beberapa hari yang lalu, Juragan Baswara dan orang-orangnya pernah mendatangiku. Sebagai sahabat dekat majikan kalian tentu saja aku dicurigai.

Meski aku bersumpah, Juragan Baswara tetap tidak percaya. Ia memerintahkan orang-orangnya untuk menggeledah rumahku yang dikiranya menyem- bunyikan kalian. Baru kemudian minta maaf karena aku terbukti tidak terlibat," tanpa diminta Ki Suganta menceritakan apa yang telah dialaminya.

"Lalu mengapa sekarang Tuan ingin melibatkan diri? Bukankah hal itu sangat berbahaya bagi Tuan sekeluarga?" Tanya Sudana setelah mendengar penjelasan Ki Suganta.

"Karena aku tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Selain itu, mereka tak mungkin mendatangi dan menggeledah rumahku untuk yang kedua kalinya. Tapi semua terserah kalian. Aku hanya ingin membantu, mengingat majikan kalian adalah sahabat baikku"

Sudana tidak memberikan jawaban, hanya meminta agar Ki Suganta mau menunggu. Kemudian memutar tubuh dan masuk ke ruang candi menemui kawan-kawannya. Meski dalam hatinya merasa tertarik dengan tawaran Ki Suganta, dia tidak mau men- gambil keputusan sendiri.

"Keputusannya kuserahkan kepada kalian, karena aku belum lama bekerja di peternakan. Lagi pula belum mengenal siapa dan bagaimana sebenarnya orang yang bernama Ki Suganta itu. Aku tak ingin disalahkan jika ada apa-apa di belakang hari," ujar Ekalana ketika kawan-kawannya meminta pendapat darinya.

Sudana yang luka di tangan kanannya membengkak dan membutuhkan perawatan, menyatakan keinginannya. Empat pemuda lainnya menyatakan keinginan yang sama, karena mereka sudah tak tahan kehi- dupan yang selama ini mereka rasakan. Ekalana hanya mengangkat bahu, dan menyatakan akan ikut bersamamereka.

Siang itu juga rombongan bergerak meninggalkan candi. Ki Suganta membawa mereka melalui daerah-daerah yang sepi dan hutan belantara yang jarang di- lewati orang. Pada malam kedua, mereka pun mulai menginjak wilayah Desa Tilasan, tempat Ki Suganta dan keluarganya tinggal.

"Aku sudah menyelidiki penjagaan di desa ini, dan menemukan tempat-tempat yang bisa kita lewati dengan aman," ujar Ki Suganta. Dia membawa keenam pemuda itu melalui tempat-tempat yang menurutnya tidak terjaga pada waktu-waktu tertentu.

Tidak berapa lama kemudian, mereka tiba di belakang sebuah bangunan besar, tempat tinggal Ki Suganta, yang juga merupakan seorang juragan.

"Hati-hati!" bisik Ki Suganta. "Jangan sampai membangunkan keluargaku...!" lanjutnya mengingatkan. Kemudian membawa Ekalana dan lima pemu- da itu masuk melalui pintu belakang.

***
DELAPAN
"TUAN Suganta pasti sudah menyiapkan hidangan untuk kita," ujar Sudana yang sudah membersihkan tubuh dan lukanya. Da juga mengganti pakaian yang memang sudah tidak pantas untuk dikenakan. Kakinya perlahan menuju ruang tengah diikuti Ekalana dan empat pemuda lainnya, yang juga sudah bersih dan rapi.

Di ruang tengah Sudana dan kawan-kawannya tidak menemukan Ki Suganta. Mereka bergegas menuju ruang dapur, menduga tuan rumah pasti berada di tempat itu. Namun, di ruang itu pun batang hidung Ki Suganta tidak kelihatan!

"Hm... ayo kita menyebar dan periksa seluruh kamar...!" ujar Ekalana karena mencium sesuatu yang mencurigakan. Ucapannya membuat lima orang kawannya merasa tegang, maklum apa yang ada dalam pikiran Ekalana.

Dengan hati berdebar tegang, Sudana, Ekalana, Sabung Waluya, Rapati, Jirana, serta Maladi, bergegas memeriksa seluruh kamar rumah itu. Betapa kaget dan berangnya hati keenam pemuda ketika mendapati rumah besar itu ternyata kosong! Dan sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, terdengar suara ribut-ribut yang datangnya dari sekitar rumah. Mereka terkejut ketika mengintai keluar dan mendapati kenyataan bahwa sekeliling rumah telah terkepung puluhan orang!

“Bangsat! Kita telah tertipu!" Sudana menggeram dengan tubuh gemetar. Ia tidak tahu lagi apa yang dirasakannya saat itu. Kemarahan, ketegangan, ketakutan, dan kebencian berkecamuk dalam dirinya. Bayangan kematian muncul di depan matanya.

"Celaka kita kali ini...!" desis Jirana yang selebar wajahnya telah pucat dan tegang. Keringat dingin membasahi wajah dan tubuhnya.

Rapati, Sabung Waluya, dan Maladi tampak lebih parah. Mereka bergegas hendak ke luar melalui pintu belakang. Namun langkah mereka terhenti ketika mendengar suara bentakan keras.

"Bodoh, hendak ke mana kalian?" Tahu-tahu Ekalana telah berdiri tegak di hadapan ketiga orang pemuda yang hendak mencoba mencari jalan selamat itu.

"Kita bakal mati, Ekalana! Juragan Baswara dan orang-orangnya telah mengepung bangunan ini! Dan kami tak ingin menunggu kematian di tempat ini! Akan kami coba menerobos kepungan dan menyelamatkan diri!" ujar Maladi menentang pandang mata Ekalana. Sorot matanya menunjukkan bahwa ia bertekad menerjang siapa saja yang coba menghalanginya.

"Kerbau tolol...!" desis Ekalana menghardik, "Dengar, kita harus tetap bersatu dan bertahan di dalam rumah ini! Akan kita babat habis siapa saja yang berani menerjang masuk! Kalau kalian nekat menerobos ke luar, mereka akan mengepung dan mencincang tubuh kalian. Lain halnya kalau kita bertahan di dalam.

Mereka tak akan dapat menerobos sekaligus. Karena siapa saja yang menerobos masuk lebih dulu, senjata kita akan mengantarnya ke neraka. Dengan begitu, mereka tidak akan berani bertindak gegabah. Dan kalaupun pada akhirnya kita semua mati, paling tidak kita telah membunuh banyak lawan," lanjutnya menjelaskan siasatnya dalam menghadapi kepungan seperti itu

Kelima pemuda sama-sama menganggukkan kepala membenarkan siasat Ekalana. Akhirnya semua mendengarkan rencana itu. Setelah menerima petunjuk dari Ekalana, mereka menyiapkan segalanya. Kemudian segera berpencar dan saling berpasangan menjaga pintu.

"Hei, Pembunuh-pembunuh Keji, Tukang Perkosa Wanita...!" terdengar suara Juragan Baswara yang ditujukan kepada Ekalana dan lima kawannya. "Malam ini juga kalian akan merasakan pembalasan atas segala perbuatan kalian! Dan... heiii...?!"

Sing! Sing...!

Tiba-tiba terdengar suara berdesing, membuat Juragan Baswara terpekik kaget dan menghentikan ucapannya yang belum selesai. Tubuh lelaki setengah baya itu tersentak ke belakang ketika ditarik oleh dua orang tukang pukulnya. Ternyata suara berdesing tajam itu berasal dari sinar-sinar putih berkilatan melesat dengan kecepatan tinggi.

"Aaa...!"

Jeritan kematian terdengar memecah kesunyian malam. Sinar-sinar putih yang ternyata berupa pisau-pisau terbang itu, menancap di tubuh beberapa orang pengepung yang mendampingi Juragan Baswara. Empat orang seketika terjungkal tewas dengan tubuh mandi darah. Sedangkan Juragan Baswara dapat di selamatkan oleh dua orang tukang pukul kepercayaannya.

"Kurang ajar! Mereka benar-benar tak boleh diberi hati...!" Juragan Baswara menggeram murka. Kemudian memberikan isyarat untuk menyerbu masuk.

"Serbuuu...!"

Dengan penuh semangat belasan pengepung bergerak menuju pintu depan, samping, dan belakang. Senjata-senjata di tangan mereka yang berkilauan ditimpa sinar obor dan pelita, siap digunakan untuk merejam tubuh para buronan itu.

"Bunuuuhhh...!"

"Heyaaa...!"

Salah seorang penyerbu yang bertubuh jangkung, berseru keras sambil mengayunkan tendangan mendobrak pintu sebelah depan. Ekalana dan Jirana, yang berjaga-jaga di belakang pintu, langsung membuka pintu sebelum terkena tendangan keras lelaki jangkung itu. Kemudian keduanya cepat melancarkan serangan dengan babatan dan tusukan senjata terhadap lawan yang menerobos ke dalam. Darah segar muncrat ketika dua bilah pedang itu menancap di tubuh sasarannya. Kedua tubuh, yang salah satunya adalah lelaki jangkung, terjengkang ke belakang menimpa kawan- kawannya.

Byurrr...!

Ketika para penyerang sibuk menyingkirkan tubuh dua orang kawan yang tewas menimpa mereka, Ekalana dan Jirana bergerak cepat menyiramkan cairan ke tubuh orang terdepan. Belum lagi orang-orang itu sadar apa yang terjadi, Ekalana dan Jirana melemparkan obor yang telah mereka persiapkan. Karuan saja keenam penyerbu menjerit-jerit ngeri. Hampir sekujur tubuh mereka terbakar!

Seketika keadaan kacau balau, karena keenam sosok tubuh yang terbakar berlarian kian kemari sambil tak hentinya menjerit-jerit. Hal itu tentu saja membuat kawan-kawannya berlarian menghindar. Ekalana dan Jirana tertawa terbahak-bahak dan kembali menutup daun pintu rapat-rapat.

Hal serupa juga dialami orang-orang yang hendak mendobrak pintu samping dan belakang. Sabung Waluya, Maladi, Sudana, dan Rapati, sama-sama tertawa puas melihat sebagian orang yang hendak menerobos masuk, berlarian dengan tubuh terjilat api.

Kejadian itu membuat Juragan Baswara mencak- mencak bagai kakek-kakek kebakaran jenggot. "Bangsat-bangsat muda itu benar-benar gila...!" maki Juragan Baswara. Dirinya sama sekali tak menyangka kalau pemuda-pemuda yang dibencinya itu sangat tangguh dan banyak akal. "Bakar seluruh bangunan itu...!" serunya memberi perintah. Hal itu terpikir setelah melihat apa yang dilakukan para buronan itu terhadap orang-orangnya.

Sesaat setelah perintah itu berkumandang, puluhan obor pun melayang ke hampir seluruh bagian bangunan. Hingga, sebentar saja lidah-lidah api mulai menjilati beberapa bagian bangunan.

"Keparat, perbuatan kita dicontohnya...!" Ekalana berdesis geram melihat apa yang dilakukan para pengepung. Pemuda itu sesaat terdiam, berpikir keras mencari jalan keluar. Karena ia tidak ingin mati terpanggang seperti ayam.

"Ekalana, kali ini kita benar-benar celaka...!" seru Maladi yang menjadi kalap dan berlari menghampiri Ekalana bersama Sudana.

Demikian pula halnya dengan Sabung Waluya dan Rapati. Kedua pemuda ini meninggalkan tempatnya untuk bergabung dengan kawan-kawannya guna mencari jalan untuk mengatasi api yang semakin berkobar.

"Hei, apa yang kau lakukan...?!" Ekalana yang tengah termenung memeras otaknya, tersentak kaget ketika melihat Jirana membuka daun pintu. Semula hendak dicegahnya perbuatan Jirana. Namun segera diurungkan karena saat itu dilihatnya sesosok tubuh ramping berpakaian serba putih berlari menerobos ke dalam bangunan.

"Mayani...?!” Jirana langsung menyambut sosok tubuh ramping yang ternyata Mayani. Gadis berpakaian putih yang semula berada di samping Juragan Baswara, nekat meninggalkan majikannya untuk menemui Jirana. Sebab ia tahu Jirana berada di dalam bangunan itu. Mayani, yang pada dasarnya membalas uluran cinta Jirana, mengambil keputusan nekat ketika menyadari betapa pemuda yang dicintainya tengah di ambang kematian.

Jirana memeluk erat-erat tubuh wanita yang dicintainya itu. Wajah cantik Mayani dihujani ciuman kerinduannya. Mayani sendiri tidak menghindar. Gadis itu menangis terisak dalam pelukan Jirana. Keputusan yang pernah diambilnya berubah, menyadari Jirana akan tewas terpanggang kobaran api yang kian menggila, dan sudah memakan seperempat bagian bangunan itu.

"Jangan bertindak bodoh!"

Suara yang terdengar jelas di telinga itu, membuat gerakan Panji dan Kenanga terhenti. Suara yang masih merupakan misteri bagi keduanya kembali terdengar, mencegah apa yang hendak mereka lakukan. Namun, meski keduanya berusaha untuk menemukan sumber suara gaib itu, tetap saja tidak berhasil.

"Tunggu dulu, Pendekar Naga Putih!” Suara itu kembali terdengar ketika Pendekar Naga Putih dan Kenanga memutuskan untuk tidak peduli dengan suara misterius itu. Karena saat itu mereka merasa harus segera bertindak.

"Apa tidak kau lihat jumlah orang yang mengepung rumah Juragan Suganta itu semakin bertambah banyak. Mereka adalah perwira-perwira kerajaan dengan sekitar lima puluh prajurit. Kalau kalian nekat bertindak, selain belum tentu dapat membebaskan pemuda-pemuda di dalam rumah itu kalian pun akan menjadi musuh kerajaan!"

Melihat kejadian aneh di Desa Tilasan itu Pendekar Naga Putih segera bertanya kepada salah seorang penduduk yang tengah menyaksikan. Setelah mendapat keterangan kejadian sebenarnya, Panji dan Kenanga memutuskan untuk segera bertindak menyelamatkan pemuda-pemuda di dalam bangunan yang terbakar itu. Namun niat mereka tertunda karena adanya suara gaib yang pernah didengar ketika berada di Desa Babakan.

Sama seperti pertama, kali ini pun bisikan itu kembali mencegah tindakan mereka. Yang membuat Panji heran sekaligus kagum, apa yang dikatakan tokoh misterius itu ternyata tidak meleset Panji dan Kenanga melihat adanya serombongan tentara kerajaan datang bergabung dengan para pengepung bangunan yang tengah terbakar itu. Sehingga, mau tidak mau Panji ataupun Kenanga, yang juga mendengar bisikan itu menjadi sedikit bingung.

"Lalu, apa yang harus kami lakukan? Apakah menunggu sampai pemuda-pemuda di dalam bangunan itu terbakar hangus menjadi arang?" Tanya Panji yang nada suaranya menggambarkan ketidaksabaran. Khawatir kalau sampai terlambat bertindak, yang akan membuat ia menyesali dirinya kelak.

"Tunggu sebentar, dan jangan bertindak sebelum aku memberikan isyarat...," jawab suara bisikan misterius itu bernada penuh tekanan agar Panji dan Kenanga mematuhi pesannya.

Pendekar Naga Putih dan Kenanga terpaksa menunggu sambil menatapi bangunan yang kini sudah hampir setengahnya terbakar. Tentu saja pasangan pendekar muda ini menjadi cemas. Namun, baru saja mereka mengambil keputusan untuk bertindak. Di sebelah timur desa itu, terlihat cahaya kemerahan membubung tinggi, disertai asap hitam yang bergulung-gulung. Sehingga suasana malam yang semula pekat menjadi terang benderang.

"Kebakaran..., kebakaran...! Ada perampok menjarah desa dan membakar rumah-rumah penduduk...!"Sesosok tubuh kecil tampak berlari ketakutansambil berteriak-teriak dan menunjuk-nunjuk ke arah timur, tempat asal cahaya kemerahan itu.

Teriakan ketakutan orang itu tentu saja membuat Juragan Baswara dan para pengikutnya termasuk tentara-tentara kerajaan, sama-sama berpaling ke arah timur desa. Mereka kaget bukan main ketika melihat cahaya kemerahan disertai gulungan asap tebal membubung itu.

"Hei, cepat katakan, apa yang terjadi...?" salah seorang perwira menangkap sosok kecil kurus itu dan bertanya dengan suara keras.

"Kebakaran..., kebakaran....' Ada perampok menjarah desa dan membakar rumah-rumah penduduk...!" teriak sosok kecil kurus ini mengulang apa yang diserukannya tadi. Dan terus mengulang-ulang teriakannya sambil meronta-ronta dari cekalan perwira kera- jaan yang bertubuh gemuk dan gagah itu.

"Kakek sinting, kau jangan main-main...!" perwira itu menghardik, karena kakek itu terus saja berteriak- teriak bagai orang hilang ingatan.

"Hei, kau, perwira berotak waras. Apa tak kau lihat cahaya api dan gulungan asap tebal itu...?" sosok kecil kurus yang ternyata seorang kakek itu balas menghardik sambil cengar-cengir. Kemudian kembali berseru mengulang perkataannya.

"Hei!" perwira gemuk itu memanggil dua orang rekannya. "Cepat bawa sebagian prajurit. Usir perampok-perampok kurang ajar itu, dan padamkan api yang membakar rumah-rumah penduduk...!" perintahnya seraya melepaskan cekalan pada lengan kakek kecil kurus itu, dan tidak mempedulikannya lagi.

"Aaa...!"

Entah mengapa tiba-tiba saja tubuh kakek kecil kurus menjerit-jerit dan berlari ke sana kemari. Sekujur tubuhnya telah terbakar. Arah larinya yang tidak menentu, menubruk ke sana kemari, membuat orang-orang Juragan Baswara kalang kabut! Suasana menjadi kacau balau! Kini sosok kakek kecil kurus itulah yang menjadi pusat perhatian. Sedangkan Ekalana dan kawan-kawannya seperti terlupakan.

"Mungkin inilah waktu bagi kita untuk segera bertindak...," ujar Panji kepada kekasihnya, karena tanda yang ditunggu tidak juga muncul. Apalagi mereka sama sekali tidak tahu bagaimana isyarat yang dimaksudkan pemilik suara misterius. Akhirnya Pendekar Naga Putih mengambil keputusan sendiri, setelah hatinya menduga bahwa pemilik suara misterius adalah si kakek kurus. itu. Dugaannya semakin kuat saat melihat si kakek kurus seperti sengaja mengacaukan perhatian para pengepung bangunan yang terbakaritu.

Dengan cepat Pendekar Naga Putih dan Kenanga melesat menuju bangunan yang terbakar dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Dua bayangan putih dan hijau berkelebat menerobos kobaran api. Saat itu, Ekalana dan kawan-kawannya sudah mengambil keputusan nekat untuk menyerbu ke luar. Karena hawa di dalam sudah sangat panas menyengat. Ruangan dipenuhi asap, membuat mata mereka berair dan sulit untuk bernapas.

"Heaaa...!"

Whukkk!

"Hei, tunggu! Aku bukanlah musuh kalian! Kedatanganku justru hendak membantu kalian...!" teriak Panji sambil melompat ke samping menghindari tebasan pedang Ekalana.

"Siapa kau? Bagaimana mungkin aku mempercayaimu...?" tukas Ekalana dengan suara keras di sela-sela gemeretak kayu terbakar. Hatinya tak mudah percaya kepada siapa saja, setelah tipu daya Ki Suganta.

"Siapa adanya aku tidak penting! Tapi kau harus percaya bahwa aku benar-benar ingin membantu...!" sahut Panji yang telah berdiri berhadapan dengan Ekalana. "Ikuti aku" lanjutnya memutar tubuh dan bergerak mendahului.

"Hei ?!" Belum sempat Pendekar Naga Putih membawa Ekalana dan kawan-kawannya ke luar dari pagar bangunan, tiba-tiba terdengar bentakan keras. Ternyata Juragan Baswara telah berdiri menghadang seraya menunjuk wajah pemuda berjubah putih itu. Di belakang Pendekar Naga Putih tampak Ekalana dan kawan-kawannya berlari mengikuti.

"Kepung dan bunuh pemuda-pemuda laknat yang kejam itu...!" teriak Juragan Baswara memberi perintah kepada orang-orangnya.

"Haiiittt!"

Melihat belasan orang merangsek maju hendak menghalangi kepergiannya, pendekar Naga Putih langsung melontarkan pukulan dan tendangannya. Seketika para penghadang itu berpentalan ke kiri dan kanan disertai jerit kesakitan.

"Jangan sembarangan membunuh...!" seru Panji mengingatkan Ekalana dan kawan-kawannya, yang tampak mengamuk dengan senjata di tangan. Keenam pemuda itu tampak ganas dan tak kenal ampun. Karena mereka telah menyimpan dendam kesumat terhadap Juragan Baswara serta pengikut-pengikutnya.

Ketika melihat Ekalana dan kawan-kawannya tidak mempedulikan teriakannya, Pendekar Naga Putih terpaksa harus bertindak lebih cepat. Setiap lawan yang datang menerjang, selalu didahuluinya dengan memukul roboh, tanpa membuat lawan tewas. Dan terus membuka jalan untuk dapat meninggalkan tempat itu.

"Tangkap pemberontak-pemberontak itu...!" si perwira gemuk berseru ketika melihat Pendekar Naga Putih dapat membobol kepungan. Bahkan membawa Ekalana dan kawan-kawannya meninggalkan tempat itu.

"Hyaaattt...!"

Si perwira gemuk, langsung melompat hendak mencegah kepergian Panji. Pemuda berjubah putih itu sengaja dipilih sebagai sasaran, karena dikiranya dialah yang menjadi pimpinannya. Namun, sebelum serangan perwira gemuk mengenai sasaran, tiba-tiba terdengar jeritan melengking tinggi. Disusul melayangnya sosok kakek kecil kurus, yang seperti dilemparkan orang.

Dan luncuran tubuh kakek ini tepat memapas pukulan. Akibatnya, tubuh kakek kecil kurus terpental deras. Karena perwira gemuk sudah tidak sempat menarik serangannya. Tentu saja perwira gemuk itu terkejut dan menyesali apa yang baru saja dilakukannya, kendati tanpasenjata.

"Eh...?!" Wajah yang semula menggambarkan rasa sesal itu, tiba-tiba saja berganti dengan keheranan, keterkejutan, dan kengerian. Lengannya yang digunakan untuk memukul tak dapat ditarik lagi, tetap terjulur ke depan dan tidak bisa digerakkan. Demikian pula dengan anggota tubuhnya yang lain. Tidak bisa digerakkan lagi. Kaku bagai patung batu!

Pendekar Naga Putih yang sempat melihat apa yang terjadi dengan sosok kakek kecil kurus itu juga merasa terkejut! Lebih terkejut ketika menyaksikan tubuh perwira gemuk itu masih tetap dalam kedudukan memukul, tidak bisa bergerak lagi. Tahulah Panji kalau perwira itu telah terkena sebuah ilmu totokan yang jarang duanya di dunia persilatan!

"Kakang... mereka "

Panggilan dan sentuhan tangan Kenanga membuat Panji menoleh. Dan ia menjadi kaget bukan main ketika mengikuti arah pandangan kekasihnya. Enam pemuda yang berusaha diselamatkannya ternyata tengah bertempur sengit dikeroyok belasan orang. Satu di antara pemuda itu dilihatnya tengah mendesak seorang lelaki tua berpakaian mewah, yang tak lain Juragan Baswara. Pemuda itu adalah Ekalana, yang bertekad membalaskan kematian majikannya. Meski-pun dua tukang pukul andalan musuh besarnya itu ikut mengeroyok, Ekalana dapat mengatasinya dengan baik.

"Hyaaattt..!"

Saat Juragan Baswara sudah benar-benar kelabakan dalam kurungan sinar pedang lawan, pemuda itu berteriak keras seraya membabatkan pedangnya mendatar.

Crak!

Babatan pedang yang dikerahkan dengan sekuat tenaga itu langsung memisahkan kepala Juragan Bas- wara dari tubuhnya. Darah segar memancur, mengenai sebagian wajah Ekalana. Dan untuk perbuatannya itu, tubuh Ekalana pun tak luput dari sambaran pedang salah seorang tukang pukul yang mengeroyoknya. Tubuh Ekalana melintir, nyaris terbanting kalau saja Pendekar Naga Putih tak sempat menangkapnya. Anehnya luka yang tidak terlalu dalam malah mem- buat Ekalana tersenyum dingin penuh kepuasan. Ha- tinya puas dapat membalaskan kematian majikannya.

"Heaaa...!"

Golang dan Banu, tukang pukul kepercayaan Juragan Baswara, kembali menerjang Ekalana dengan kemarahan dan dendam yang membuat dada mereka sesak. Sedangkan saat itu keadaan Ekalana sudah payah. Namun Pendekar Naga Putih tidak tinggal diam melihat Ekalana dalam ancaman maut.

Plak! Plak!

Dua kali tangannya mengibas, pedang di tangan Golang dan Banu terpental, diikuti tubuh pemiliknya. Kedua tukang pukul itu ternyata cukup tangguh. Mereka buru-buru melompat bangkit, dan kembali menerjang meski dengan tangan kosong. Namun Panji segera mendahului dengan memberikan masing-masing satu tamparan keras, yang membuat kedua tukang pukul roboh tak sadarkan diri.

Sabung Waluya, Maladi, dan Sudana yang sudah menghadapi Ki Windudarta dan anak buahnya, serta empat orang tukang pukul Juragan Baswara, mengamuk bagaikan banteng terluka. Kendati tubuh ketiga pemuda itu telah penuh luka, semangat mereka tetap menggebu-gebu menghadapi keroyokan Juragan Baswara dan orang-orangnya. Namun pertarungan tidak seimbang, terutama karena ada Ki Windudarta. Sehingga akhirnya Sudana, Sabung Waluya, dan Maladi harus menerima kekalahan secara mengenaskan. Ketiganya tewas di ujung pedang Kepala Desa Sindang Laya.

"Sahabat yang gagah, kita harus pergi dari sini...," ujar Panji kepada Ekalana, yang terlihat sangat letih.

"Tidak! Semua ini belum selesai. Aku harus menangkap manusia licik Suganta itu...!" tukas Ekalana membantah. Jarinya menuding sesosok lelaki yang berdiri, menyaksikan semua kejadian itu di dekat kuda salah seorang perwira kerajaan. Setelah berkata demikian, pemuda itu langsung melesat ke arah Ki Suganta, yang wajahnya pucat dilanda ketakutan.

"Jangan biarkan Ekalana membunuh Ki Suganta, Pendekar Naga Putih. Selain hanya dia yang bisa membebaskan Ekalana dan kawan-kawannya dari berbagai tuduhan, kesalahan yang dilakukannya pun mempunyai alasan kuat. Tangkap Ki Suganta, suruh ia bicara di depan tentara-tentara kerajaan agar kalian semua terbebas dari buruan pemerintah."

Pendekar Naga Putih yang sudah percaya penuh terhadap suara misterius itu, langsung melesat dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Sehingga, ia yang lebih dulu sampai di dekat Ki Suganta, sebelum serangan pedang Ekalana menghajarnya.

"Maaf, Sahabat yang gagah...!" Pendekar Naga Putih mengibaskan lengannya membuat babatan pedang Ekalana menyeleweng.

"Di pihak mana sebenarnya kau berdiri, Sahabat?" Tanya Ekalana setelah memperbaiki kedudukan kuda-kudanya. Kini dia berdiri berhadapan dengan Panji,yang sudah melumpuhkan Ki Suganta dengan totokan.

"Aku berdiri di pihak yang benar. Jangan menuruti nafsu, Sahabat yang gagah! Kurasa orang ini tidak terlalu jahat. Karena ada yang membisikkan kepadaku, bahwa orang yang bernama Ki Suganta ini akan dapat membuat kehidupan kalian selanjutnya menjadi lebih tenang dan damai," jawab Panji sejujurnya. Pendekar muda ini tidak tahu-menahu masalah yang sebenarnya.

Ekalana yang juga tidak mengetahui banyak tentang Ki Suganta, termenung sesaat. Kesempatan itu dipergunakan Panji menanyakan kesediaan Ki Suganta untuk menjelaskan segala yang terjadi.

"Hentikan pertempuran...!" seru Panji dengan mengerahkan tenaga dalam. Sehingga suaranya terdengar keras menggelegar, mengatasi suara teriakan orang bertempur ataupun denting senjata beradu. Hal itu dilakukan setelah mendapat jawaban dari Ki Suganta.

Teriakan Pendekar Naga Putih membuat pertarungan terhenti seketika. Kedua belah pihak berlompatan mundur. Jirana, Rapati, dan Kenanga segera bergabung bersama Panji dan Ekalana.

"Kalian pemberontak-pemberontak hina sebaiknya menyerahlah! Kalau tidak, kalian akan dihukum mati!" Suara itu terdengar dari perwira gemuk yang rupanya telah terbebas dari totokan, Dia berdiri dengan dada membusung menatap Pendekar Naga Putih dan yang lainnya dengan sinar mata tajam.

"Maaf, Tuan Perwira...!" Ki Suganta membuka mulut ketika Pendekar Naga Putih menekan bahunya, yang merupakan isyarat baginya agar berbicara. "Sebenarnya mereka ini bukanlah pemberontak. Mereka adalah pemuda-pemuda perkasa yang hendak menuntut balas atas kematian majikan mereka yang bernama Juragan Mahinta. Apa yang dikatakan Juragan Baswara kepada Tuan-tuan Perwira semua, sebenarnya hanyala fitnah. Aku sendiri dipaksa menjebak pemuda- pemuda perkasa ini. Karena anak istriku diculik oleh tukang-tukang pukul Juragan Baswara"

"Dan yang membunuh Juragan Mahinta adalah Juragan Baswara, lewat tangan seorang pembunuh bayaran bernama Jaro Labang...!" tiba-tiba saja Ki Windudarta menambahkan penjelasan Ki Suganta. Kepala Desa Sindang Laya itu merasa sudah bosan hidup di bawah tekanan Juragan Baswara. Sehingga nekat membeberkan apa yang diketahuinya. Hal ini dilakukan karena merasa berdosa, dalam sepak terjang Juragan Baswara. Sebab, pada dasarnya Ki Windudarta bukanlah orang jahat.

"Bagaimana kau bisa mengatakan demikian, Ki Windudarta?" Tanya perwira gemuk itu.

"Ki Baswara sendiri yang mengatakannya kepadaku. Dia menyampaikan kepadaku sewaktu mendengar Jaro Labang terbunuh oleh tujuh pemuda, yang ternyata pekerja-pekerja Juragan Mahinta. Lalu Ki Baswara membuat laporan palsu kepada Tuan-tuan Perwira. Selain itu, juragan Baswara juga menjanjikan hadiah besar bagi siapa saja yang dapat membawa satu atau ketujuh kepala pemuda itu. Menurutnya mereka bakal datang kepadanya untuk menuntut balas," Ki Windudarta mengakhiri penjelasannya dengan helaan napas panjang. Seakan-akan merasa beban di dadanya telah banyak berkurang.

Perwira gemuk itu bergumam sambil manggut-manggut. Kemudian diangkat kepalanya ketika mendengar suara derap kaki kuda dalam jumlah banyak. Rombongan berkuda itu ternyata orang-orangnya yang tadi dikirim untuk mengusir perampok dan memadamkan kebakaran di desa sebelah timur. Namun apa yang dilaporkan perwira bawahannya membuat keningnya berkerut. Sebab tidak ditemukan tanda-tanda adanya perampok di sekitar Desa Tilasan. Dan api besar yang disertai gulungan asap, ternyata berasal dari tumpukan kayu yang seperti sengaja dibakar.

"Hm..., semua ini pasti perbuatan kakek sinting itu...," gumamnya pada diri sendiri. Dia teringat ulah kakek kecil kurus yang tadi telah membuat dirinya berdiri seperti patung untuk waktu yang cukup lama. Perwira gemuk pun yakin kalau kakek kecil kurus itu yang telah menotoknya. Juga yang membebaskannya.

"Jika demikian persoalannya, aku minta maaf. Aku merasa telah salah bertindak..," ujar perwira gemuk itu. Lalu segera melompat naik ke punggung kuda dan membawa pasukannya untuk kembali ke kotaraja.

Tak berapa lama kemudian, Ki Windudarta juga minta diri. Sebelum pergi, Kepala Desa Sindang Laya meminta maaf kepada Ekalana, Jirana, Dan Rapati. Kemudian mengajak Ki Suganta untuk menjemput anak istrinya.

"Ke mana perginya Mayani...?" Jirana mengedarkan pandangan mencari kekasihnya yang terpisah darinya sewaktu pertarungan.

Ekalana, Rapati, Panji, dan Kenanga ikut mencari-cari dengan pandang matanya. Tiba-tiba saja terdengar suara tawa terkekeh yang datang dari atas sebuah cabang pohon besar. Pada sebuah batang pohon terlihat Mayani duduk mencangkung di samping seorang kakek kecil kurus yang memegang sebatang tongkat butut. Sambil tetap memperdengarkan kekehnya, kakek itu melayang turun membawa tubuh Mayani. Kemudian menyerahkan kepada Jirana. Kedua insan yang dilanda rindu ini berpelukan erat. Seolah tak ingin terpisah lagi.

"Sudah, sudah! Kalian membuat aku orang tua mengilar saja...," ujar kakek kecil kurus itu terkekeh dengan mulut setengah terbuka, memperlihatkan gigi-giginya yang ompong.

"Kakek Peramal Sinting...?!" desis Panji yang memang sejak melihatnya, terus menegasi dengan mengerahkan ingatan.

"Nah, sekarang kau sudah melihat rupa ku, Pendekar Naga Putih," ujar kakek kecil kurus itu tersenyum seraya menggoyang-goyangkan kepalanya, "Matamu benar-benar jeli," selesai berkata demikian, Kakek Peramal Sinting memutar tubuh dan melangkah pergi.

Pendekar Naga Putih dan yang lainnya sama-sama membelalakkan mata ketika melihat cara berjalan Kakek Peramal Sinting. Padahal mereka melihat jelas betapa lelaki tua bertubuh kecil itu melangkah biasa. Namun, tubuhnya seperti melompat-lompat dan tahu-tahu telah jauh dan kemudian lenyap dari pandangan. 

"Luar biasa sekali kepandaian Kakek Peramal Sinting! Tidak aneh kalau Eyang Tirta Yasa selalu memuji-muji kesaktiannya. Hhh... pantas aku tak dapat menemukan di mana dirinya berada ketika memberi petunjuk-petunjuk kepadaku...," gumam Panji seraya berdecak kagum menyaksikan ilmu meringankan tubuh yang dipergunakan Kakek Peramal Sinting.

"Pantas saja beliau mengetahui segalanya. Kiranya seorang peramal sakti...," desah Kenanga yang juga masih menatap ke arah lenyapnya sosok Kakek Peramal Sinting.

Sepeninggal tokoh aneh itu Pendekar Naga Putih mengapit lengan kekasihnya, kemudian berkelebat pergi. Kepergian Panji dan Kenanga sama sekali tidak diketahui Ekalana dan kawan-kawannya. Mereka baru sadar setelah sosok pasangan pendekar muda itu sudah lenyap dari pandangan.

"Jirana," ujar Ekalana, "Kuucapkan semoga kalian berdua hidup bahagia. Setelah semua ini selesai, kurasa sudah waktunya untuk melanjutkan pengembaraanku yang tertunda," setelah berpamitan, Ekalana melangkah pergi.

Hembusan angin dingin menjelang pagi, mempermainkan pakaian dan rambut Rapati, Jirana, dan Mayani, yang masih berdiri terpaku. Kokok ayam jantan terdengar bersahutan menyambut fajar, tanda datangnya hidup baru bagi mereka.

S E L E S A I