coba

Rahasia Kunci Wasiat Bagian 15

Mode Malam
“Eeeei,eei, kalian mau apa?”tanyanya Siauw Ling terperanjat, tubuhnya buru-buru mundur dua langkah ke belakang.

“Siauw ya hendak mandi apakah tidak buka pakaian?”balik bertanya Giok Lan sambil tertawa geli.

“Ooouw jangan… jangan…”seru sang pemuda sambil goyangkan tangannya berulang kali. “Kalau kalian tidak keluar bagaimana aku bisa copot pakaian?”“Budakmu sekalian sudah siap untuk bantu Siauw ya membersihkan badan,”kata Kiem Lan tertawa.

“Hal ini mana boleh jadi? Aku bukannya seorang bocah berumur tiga tahun. Kalian cepat keluar!”“Jikalau kami berdua tidak baik melayani Siauw ya kemungkinan sekali Cungcu akan menegur dan menghukum kami,”kata Giok Lan.

“Lelaki dan perempuan selamanya tidak boleh bercampur dan terpisah oleh batas-batas tertentu apalagi soal mandi, kalian cepatlah mengundurkan diri dari sini.

“Kedua orang dayang itu saling bertukar pandangan sambil tertawa, akhirnya mereka bersama-sama memberi hormat.

“Kalau demikian adanya budakmu mohon diri dulu,”katanya berbareng.

“Ehmm…? kalian cepat-cepatlah pergi.

“Menanti kedua dayang itu sudah mengundurkan diri dari kamar mandi, Siauw Ling baru menutup pintu, melepas pakaian dan mandi.

Selesai membersihkan badan, kedua orang dayang itu sudah menanti dipintu luar, kemudian membawa pemuda itu ke kamar tidur.

Ruangan kamar itu sangat mewah dengan perabot yang menarik sekali, pembaringan beralaskan seprei dari kain sutra yang halus dengan ukiran naga emas. Hal ini membuat pemuda tersebut rada tercengang dibuatnya.

“Siauw ya?”kata Liem Lan kemudian sambil mengangsurkansatu stel pakaian baru.

“Cungcu memberi pesan kepada budakmu agar Siauw ya suka berganti dengan pakaian ini. Harap Siauw ya suka mencobanya dulu pas dengan badan atau tidak!”“Ehmm! kalian keluarlah, aku bisa mencoba sendiri!”kata Siauw Ling setelah memandang sekejap ke arah pakaian yang baru diangsurkan ke arahnya itu.

Kedua orang budak tersebut mengerti bila pemuda itu masih kolot. Karenanya tanpa banyak cakap lagi mereka sama-sama mengundurkan diri.

Baru saja Siauw Ling berganti pakaian. Giok Lan sudah masuk kembali ke dalam kamar sambil membawa semangkok kuah teratai bercampur jinsom, ujarnya sambil tertawa, “Siauw ya setelah berganti pakaian baru kelihatan semakin ganteng, budakmu sekalian merasa sangat beruntung sekali bila melayang diri Siauw ya.

“Siauw Ling adalah seorang pemuda yang berasal dari keluarga kaum pembesar sejak kecil ia sudah terbiasa dengan pelayanan kaum dayang.

Karenanya sewaktu mendengar perkataan tersebut tak tertahan lagi tertawa geli.

“Eeeei, kau sungguh pandai berbicara!”serunya.

“Bukankah budakmu hendak mencari muka dihadapan Siauw ya,”kata Giok Lan sambil tertawa. “Kebanyakan tamu terhormat yang mengunjungi perkampungan Pek Hoa Sanceng ini merupakan manusia-manusia yang tidak genah sekalipun ada beberapa orang yang merupakan pemuda-pemuda tampan dan gagah, tetapi bilamana dibandingkan dengan Siauw ya waaah sangat jauh berbeda seperti langit dan bumi?”Bukan saja kedua orang dayang itu mempunyai raut muka yang cantik menarik dengan perawakan tubuh yang langsing dan padat bahkan setiap perkataan yang diucapkan sangat menarik hati.

Agaknya mereka sudah memperoleh pendidikan yang sangat keras dan ketat selama suatu masa yang amat panjang sehingga sikapnya bisa begitu luwes dan menarik hati setiap orang.

Mendengar kata pujian tadi, Siauw Ling segera menoleh dan memandang sekejap ke arah Giok Lan.

“Perkampungan Pek Hoa Sanceng kalian bukan saja berpandangan sangat indah bahkan bangunan rumahnya besar, megah, dan sangat mewah mirip dnegan kemegahan dari istana kaisar”pujinya sambil tertawa.

“Cuma budakmu sekalian yang sudah sejak kecil menginjak dewasa diperkampungan Pek Hoa Sanceng ini lama kelamaan merasa rada bosan dengan pemandangan disini,”sela Giok Lan tertawa.

Perlahan-lahan Siauw Ling mengangguk.

Setelah lama berada di dalam kamar yang penuh dengan bunga melati. Lama kelamaan memang tidak lagi merasa harumnya bunga.

“Siauwte usiamu bukan saja masih muda dan berwajah tampan bahkan baik kepandaian Bun mau Boe mempunyai kesempurnaan, tidak aneh kalau Cungcu kami sangat menghormati dirimu,”kata Kiem Lan sambil tertawa cekikikan. “Bangunan Lan Hoa Cing Si ini selamanya paling jarang digunakan untuk menerima tamu sehingga budakmu selama beberapa tahun ini cuma tiga kali saja digunakan.

““Jika demikian adanya, ruangan menerima tamu yang ada di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng ini tentu amat banyak sekali bukan?”“Menurut apa yang budakmu ketahui”, sambung Giok Lan sambil tertawa. “Kecuali bangunan Lan Hoa ini masih ada loteng Bwee Hoa Khek, pagoda Tu Tan Teng yang beserta ruangan mungil Ciu Cau Sian tiga tempat. Perkampungan Pek Hoa Sanceng kami sepanjang tahun selalu penuh dengan tamu-tamu terhormat yang datang silih berganti, tetapi bangunan Lan Hoa ini sepanjang tahun selalu kosong dan jarang ada tamu yang menginap disini tetapi tahun ini sudah digunakan dua kali untuk menyambut tamu terhormat. Hal ini benar-benar merupakan suatu hal yang istimewa sejak tempat ini didirikan.

“Mendengar perkataan tersebut mendadak Siauw Ling merasakan hatinya rada bergerak pikirnya, “Jika didengar dari perkataannya itu. Setiap orang yang bisa berdiam di dalam bangunan Lan Hoa ini merupakan tamu terhormat yang dipandang oleh orang Pek Hoa Sanceng sedang aku dengan Ciu Cau Liong pun tidak lebih hanya perkenalan biasa saja dan belum lama berkenalan, mengapa mereka bersikap begitu menghormat terhadap diriku? Sungguh aneh sekali.

“Sekalipun di dalam hati ia berpikir demikian tetapi dimulut ia berbicara lain.

“Apakah nona berdua sering sekali berdiam di dalam ruangan Lan Hoa ini?”Agaknya kedua dayang tersebut merasakan sangat cocok sekali dengan kepribadian Siauw Ling setiap pertanyaan yang diajukan oleh pemuda tersebut tentu memperoleh jawaban yang memuaskan hati.

Tampak Kiem Lan tersenyum manis.

“Sedikitpun tidak salah”serunya. “Setiap tamu yang tinggal di dalam ruangan Lan Hoa Cing Si ini tentu dilayani oleh kami kakak beradik berdua demikian pula dengan ruangan lain yang ada di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng. Setiap kamar tentu ada orang yang khusus melayani tempat itu.

““Lalu masih ingatkah kalian tamu terhormat siapakah yang tempo dulu pernah bertemu di dalam ruangan Lan Hoa Cing Si ini?”Kedua orang dayang itu segera termenung lama sekali baru terdengar Giok Lan berbisik dengan suara yang amat lirih.

“Sebenarnya hal ini termasuk rahasia. Perkampungan kami dan budakmu berdua tidak berani banyak berbicara. Tetapi Siauw ya adalah seorang lelaki sejati yang berbeda dengan orang-orang lain, tentu kami tidak berani mengecewakan hati Siauw ya. Tetapi sebelum itu harap Siauw ya suka mengabulkan satu syarat yang kami ajukan lebih dulu.

Setelah itu kami kakak beradik berdua baru mau memberitahukan hal itu.

““Urusan apa? cepatlah kalian katakan?”“Sebenarnya bukan satu urusan yang besar, asalkan Siauw ya tidak menceritakan apa yang kita bicarakan pada malam ini kepada orang lain sudahlah cukup.

“Perasaan ingin tahu dan keheranan semakin meliputi benak pemuda tersebut, tetapi akhirnya ia mengangguk juga.

“Baiklah aku berjanji tidak akan menceritakan hal ini kepada siapapun,”ujarnya.

“Pada tiga bulan yang lalu, tetamu yang berdiam di dalam ruangan Lan Hoa Cing Si inipun mendapatkan penghormatan yang luar biasa dari Cungcu kami dia adalah Ih Bun Han To adanya.

““Ih Bun Han To? kenal benar dengan nama ini,”bisik Siauw Ling di dalam hati.

Waktu itu Kiem Lan sudah tersenyum dan menyambung kembali perkataan dari saudaranya Giok Lan.

“Kecuali Ih Bun Han Toaya itu ruangan Lan Hoa Cing Si inipun pernah ditinggali satu kali oleh seorang tamu terhormat, cuma saja waktu itu usia budakmu sekalian masih kecil sehingga tidak teringat lagi siapakah nama dari orang itu.

“Selama ini Siauw Ling hanya merasa bilamana Ih Bun Han To ini terasa sangat dikenal olehnya cuma saja tidak teringat lagi kapankah dia orang pernah bertemu dengan orang ini.

Giok Lan yang melihat Siauw Ling termenung seperti sedang memikirkan sesuatu, tak tertahan lagi sudah berseru, “Eeee… Siauw ya! kau lagi pikirkan apa?”“Oooohw…”Siauw Ling segera tersadar kembali dari lamunannya . “Manusia macam apakah Ie Bun Han To itu?”“Usianya kurang lebih empat puluh tahunan dandanannya mirip seorang sastrawan jenggot hitamnya terurai sepanjang lambung, bagaimana? Apakah Siauw ya kenal dengan dirinya?”kata Kiem Lan memberi keterangan.

“Ehmm… nama ini rasanya sangat kekenal…”“Ih Bun Han To itu mempunyai suatu keistimewaan yang mudah sekali untuk diingat”sambung Giok Lan. “Satu harian penuh entah pergi kemanapun ia selalu membawa sebuah peti yang terbuat dari emas benda itu tidak pernah terpisah setengah coenpun dari sisi tubuhnya seperti di dalam peti itu sudah tersimpan suatu benda yang sangat berharga sekali. Bahkan tidurpun digunakan sebagai bantal, sewaktu bersantap diletakkan disisi tubuhnya. Hmmm! Seperti takut ada orang yang hendak mencuri baranganya itu.

“Sehabis mendengar perkataan tersebut di dalam benak Siauw Ling mendadak berkelebatnya satu ingatan. Peristiwa yang terjadi dikuil Sam Yen Koan lima tahun berselang kembali terbayang di dalam benaknya, hal ini membuat hatinya tergoncang keras, sehingga lama sekali ia bungkam diri.

“Siauw ya!”tegur Kiem Lan sambil tertawa cekikikan. “Agaknya kau mempunyai banyak urusan yang mengacaukan pikiranmu. Apakah perlu budakmu sekalian menyaksikan sebuah lagu?”“Tidak berani merepotkan kalian berdua. Kalian boleh pergi beristirahat!”kata Siauw Ling tersenyum.

Kedua orang dayang tersebut tukar pandangan mendadak di atas pipi mereka terlintas warna merah jengah diiringi senyuman malu-malu.

“Kalian ada urusan apa lagi?”tegur Siauw Ling keheranan, ketika dilihat kedua orang gadis itu belum juga berlalu.

Giok Lan tersenyum jengah, dengan malu-malu dan kepala yang ditundukkan rendahrendah ujarnya, “Siauw ya! bilamana kau membutuhkan pelayanan kami kakak beradik silahkan memberitahu saja.

““Soal ini aku sudah tahu, sekarang kalian pergilah beristirahat?”Kedua orang dayang itu segera memberi hormat dan mengundurkan diri dalam kamar.

Menanti mereka sudah berlalu Siauw Ling segera menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan duduk bersemedi untuk mulai mengatur pernapasan.

Siapa sangka berbagai persoalan rumit yang sedang bergolak di dalam benaknya terasa sudah untuk ditenangkan kembali. Walaupun ia sudah berusaha untuk membuang semua persoalan keluar dari benaknya tidak urung semedinya kali ini sama sekali tidak mencapai hasil.

Sang pemuda yang sama sekali tidak memiliki pengalaman sedikitpun tentang soal yang menyangkut dunia persilatan, walaupun dalam hati merasa keadaan di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng ini rada tidak beres tetapi mengetahui bagian manakah yang terasa tidak beres itu.

Cuaca perlahan-lahan semakin menggelap, pintu kamar kembali terbuka dan tampaklah Giok Lan dengan membawa sebatang lilin merah berjalan masuk ke dalam kamar.

Setelah meletakkan lilin itu keatas meja ujarnya dengan suara amat halus.

“Siauw ya hari mau hujan deras, apakah kau hendak beristirahat? mari biar aku bantu bukalah pakaianmu.

““Tidak perlu.

“Giok Lan mengetahui pemuda ini sangat disiplin, karenanya ia tidak berani terlalu memaksa setelah melepaskan kelambu ia lantas mengundurkan diri dari kamar.

Sinar kilat menyambar-nyambar diikuti suara halilintar yang bergema membelah bumi, hujan turun dengan amat derasnya serasa dituangkan dari langit.

Siauw Ling lantas kebutkan tangannya memadamkan api lilin kemudia merebahkan dirinya keatas pembaringan.

Pikirannya mulai melayang memikirkan apa yang sudah didengar dan dilihatnya selama seharian ini semakin dipikir ia merasa keadaannya semakin tidak beres.

Beberapa patah perkataannya sudah banyak yang sudah membocorkan asal usulnya sendiri, agaknya Ciu Cau Liong itupun sudah mengetahui bila dirinya bukan Siauw Ling yang telah menggetarkan seluruh dunia kangouw.

Di atas pagoda Wan Han Hoa Loo-yang terdiri dari tiga belas tingkat itupun agaknya sudah dipasangi dengan alat rahasia di sekelilingnya, penjagaan disanapun sangat ketat sekali, sepertinya setiap saat bakal ada orang yang melancarkan serangan bokongan terhadap mereka saja.

Semakin melamun pikirannya semakin kacau sehingga sukar untuk memejamkan mata tidak terasa lagi kentongan kedua sudah berlalu.

Suasana terasa amat sunyi, kecuali suara rintikan air hujan di tempat luaran sedikitpun tidak kedengaran suara lain.

Perlahan-lahan pemuda itu bangun dari pembaringannya memakai pakaian membuka pintu dan berjalan menuju kehalaman depan.

Karena takut sampai mengejutkan kedua orang dayang tersebut maka setiap langkahnya dilakukan sangat ringan sekali.

Terasa angin dingin bertiup kencang membuat badan terasa dingin pikirannyapun tersadar kembali dari segala persoalan.

Ketika ia mendongakkan kepalanya memandang keatas loteng Wang Hoa Loo, maka tampaklah tempat itu masih terang benderang, agaknya Jan Bok Hong pun waktu itu belum beristirahat.

Di tengah sambaran kilat dan menerangi seluruh permukaan bumi, mendadak tampaklah sesosok bayangan manusia berjalan mendatang dari kejauhan.

Walaupun Siauw Ling mempunyai ketajaman mata yang melebihi orang lain, waktu itupun tidak lebih cuma dapat menangkap bila bayangan manusia itu berperawakan kecil langsing buru-buru ia menarik hawa murninya panjang-panjang tubuhnya bergeser beberapa depa kesamping dan menempelkan dirinya keatas dinding.

Tampaklah orang ternyata sama sekali tidak menghindarkan diri atau bersembunyi dengan langkah perlahan ia berjalan menuju ke arahnya.

Siauw Ling sebagai seorang pemuda yang baru saja menerjunkan diri ke dalam dunia kangouw hatinya masih sukar untuk bersabar tak kuasa lagi bentaknya lirih.

“Siapa?”“Aku!”jawab orang itu sambil menghentikan gerakannya. Apakah kau orang adalah Siauw Ling?”Suaranya empuk, lunak dan nyaring, sedikitpun tidak salah lagi berasal dari mulut Tang Sam Kauw.

“Di tengah malam buta seperti ini bukannya tidur ada apa kau datang kemari?”tegur pemuda tersebut sambil maju menyongsong kedatangannya.

“Sttt… perlahan sedikit suara pembicaraanmu!”seru Tang Sam Kauw dengan suara lirih.

“Jangan sampai mengejutkan kedua orang budak itu, orang-orang yang ada di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng kebanyakan mempunyai pendengaran serta pandangan yang tajam.

“Tidak menunggu Siauw Ling memberikan jawabannya, ia sudah berebut menegur kembali, “Lalu mengapa kaupun tidak tidur?”“Aku tidak bisa pejamkan mata, karenanya kepingin jalan-jalan cari angin di bawah curahan hujan malam hari.

““Akupun tak bisa tidur”kata Tang Sam Kauw sambil tertawa karena itu aku datang mencari kau untuk diajak ngomong-ngomong.

““Di tengah malam buta yang gelap dan sunyi apalagi kau merupakan seorang gadis perawan dan aku seorang pemuda jejaka, bukankah terasa agak canggung jika kita ngomong-ngomong? Ada urusan bukankah sama saja bila kita bicarakan esok pagi?”“Tidak malu kau disebutnya seorang Enghiong Hoohan seorang lelaki sejati, aku saja tidak takut apa yang perlu kau takuti?”“Walaupun di dalam hati kita tiada terkandung suatu maksud cabul maupun maksud jahat. Tetapi bagaimana antara lelaki dan perempuan ada batas-batasnya, jika sampai terlihat orang lain bukankah hanya memberi bahan pembicaraan yang bukan buat mereka saja?”“Kita adalah orang keluaran Bulim peraturan semacam itu sudah tidak berlaku lagi buat kau dan aku bilamana aku diharuskan mengikuti adat istiadat seperti kaum gadis lainnya lalu buat apa? Aku orang melakukan perjalanan di tempat luaran.

““Ehmm perkataannya sedikitpun tidak salah”pikir Siauw Ling diam-diam. “Kita semua adalah orang-orang Bulim, adat istiadat kesopanan itupun sudah tak dipertahankan lagi terhadap kita…”Tang Sam Kauw yang melihat pemuda itu tidak berbicara dalam hati lantas mengerti ia sudah ditaklukan oleh kata-katanya tak terasa lagi ia tersenyum.

“Bagaimana kalau kita bersama-sama jalan-jalan di bawah curahan hujan?”ajaknya.

Ketika itu dalam hati Siauw Ling lagi murung oleh berbagai persoalan yang membingungkan kepalanya, mendengar ajakan tersebut diam-diam pikirnya kembali, “Walaupun dia adalah seorang gadis muda tetapi kelahirannya dari keluarga Bulim tentu memiliki pengetahuan yang sangat luas, mengapa aku tidak menanyakan semua persoalan-persoalan yang rumit dan membingungkan kepadanya?”Tak terasa lagi iapun ikut berjalan menuju kehalaman yang penuh ditumbuhi bungabunga itu.

Tang Sam Kauw yang berjalan kemari di bawah curahan hujan tadi, pakaian yang dikenakan Siauw Ling masih kering tak terasa lagi sambil menarik pergelangan tangan kiri pemuda itu serunya, “Kita menuju ke bawah tumbuhan bunga-bunga itu saja, jangan sampai pakaianmu ikut basah.

““Siauw Ling mengerti ia bermaksud baik terhadap dirinya, karena itu dalam hati merasa tak enak untuk menolak, terpaksa ia membiarkan dirinya digandeng menuju ke depan.

Awan gelap menutupi seluruh angkasa membuat malam itu semakin gelap bilamana kedua orang itu bukannya memiliki tenaga dalam yang amat sempurna kemungkinan sekali dengan ketajaman, pandangannya sulit untuk melihat benda yang ada tiga depa dihadapan mereka.

Baru saja kedua orang itu tiba di bawah tumbuhan bunga, mendadak cahaya merah yang menyilaukan mata berkelebat memenuhi angkasa setinggi tujuh delapan kaki dan meledakan serentetan bunga api.

Diikuti berpuluh-puluh buah lentera merah tersebut sedang bergerak keatas ke bawah dengan tiada hentinya.

Melihat kejadian tersebut diam Tang Sam Kauw menarik ujung baju pemuda tersebut.

“Ada orang sudah menyelundup masuk ke dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng!”bisiknya lirih. “Jikalau tidak mencari gara-gara dengan kita lebih baik kita orang tidak usah ikut campur urusan ornag lain.

““Tetapi kita sebagi tamu orang-orang perkampungan Pek Hoa Sanceng apakah harus berpeluk tangan tidak menggubris?”“Dengarkanlah perkataanku hal ini tidak bakal salah lagi! bilamana kita ikut campur sesuka hati kita bukan saja tidak akan menerima rasa terima kasih dari Ciu Cau Liong, bahkan gerak-gerik kita akan dicurigai oleh mereka.

““Kenapa?”tanya pemuda itu keheranan.

“Ia tidak memperkenankan kita orang terlalu banyak mengetahui rahasia yang menyangkut perkampungan Pek Hoa Sanceng mereka.

““Eeehmm pendapat dari nona Sam sedikitpun tidak salah!”akhirnya Siauw Ling berseru perlahan.

Ketika sinar matanya dialihkan kembali ke tengah udara maka tampaklah lentera merah itu masih bergerak naik turun, kekanan kekiri tiada hentinya di bawah curahan hujan deras tetapi sedikit suarapun tidak kedengaran.

Ketika Tang Sam Kauw gerakan lentera merah tersebut lama sekali bergoyang tiada hentinya, kembali ia berbisik kepada Siauw Ling, “Orang yang datang menyelundup ke dalam perkampungan memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi kelihatannya untuk beberapa saat sulit untuk dipukul mundur.

Ehmm? benar orang-orang ini tentunya sudah pernah datang kemari pada siang hari tadi sehingga terhadap penjagaan yang diatur dalam perkampungan walaupun belum bisa memahami seperti melihat jari sendiri, tetapi sebagian besar sudah berhasil mereka ketahui.

“Agaknya gadis itu ada maksud hendak memperlihatkan kepada Siauw Ling bahwa dia memiliki pengetahuan yang amat luas sekali, setelah merendek sejenak sambungnya kembali, “Agaknya orang itu ada maksud hendak menyerang loteng Wang Loo tersebut.

“Ketika Siauw Ling memperhatikan keadaan di sekelilingnya dengan lebih teliti lagi maka sedikitpun tidak salah, ia menemukan bila lentera merah itu perlahan-lahan berkumpulan dari mengarah keloteng Wang Hoa Loo tersebut.

Ketika itu cahaya lampu yang semula menyinari loteng Wang Hoa Loo pada saat ini sudah padam sama sekali.

Siauw ya mendadak dari tempat kejauhan berkumandang datang suara panggilan dengan suara panggilan dengan nada amat cemas.

Mendengar suara sapaan tersebut Siauw Ling segera mengerutkan alisnya rapat-rapat dan dengan langkah lebar berjalan keluar dari antara pepohonan tersebut.

“Apakah Giok Lan?”tanyanya.

“Benar”sahut seseornag diiringi suara langkah kaki yang amat ramai sekali.

Baru saja perkataan tersebut diucapkan tampaklah Giok Lan serta Kiem Lan dengan rambutnya yang terikat secarik kain hijau pakaian singsat dan menggembol pedang sudah lari mendatang.

Ketika dilihatnya Tang Sam Kauw pun berada disana, Kiem Lan lantas berseru, “Akhh…! kebetulan sekali nona Sam ada disini. Hal ini jauh lebih kebetulan.

““Ehmm aku baru saja sampai.

“Giok Lan tersenyum manis.

“Baru saja budakmu sekalian memperoleh perintah lisan dari Jie Cungcu, apakah kalian berdua ada maksud untuk melihat keramaian atau tidak, bilamana tertarik maka kami berdua segera akan menunjuk jalan buat kalian dan semisalnya tidak tertarik maka dipersilahkan kalian berdua cepat-cepat beristirahat.

“Beberapa patah perkataan ini di dalam pendengaran Siauw Ling yang mendengar perkataan tersebut dalam hati merasa amat terperanjat.

Maksud dari perkataan kedua orang budak itu sudah jelas sekali menunjukkan bila gerakgerik mereka berdua secara diam-diam sudah diawasi terus.

Siauw Ling yang melihat lampu lentera berwarna merah itu mendadak merosot ke bawah semua sehingga tinggal sebuah saja yang bergerak tiada hentinya di tengah tiupan angin kencang serta curahan hujan deras, dalam hatinya timbul perasaan ingin tahu.

Kalau memang Ciu Jie Cungcu mengundang kita, seharusnya kita orang pergi menengok sebentar katanya.

“Jika Siauw ya memang tertarik kami akan berjalan lebih dulu selangkah untuk menunjuk jalan buat kalian berdua!”seru Giok Lan dengan cepat.

“Tidak usah keburu!”sembari berseru Siauw Ling lantas berlari masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil barang yang dibawa olehnya kemudian mengikuti kedua orang dayang tersebut berangkat ke tempat kejadian.

Secara diam-diam ia mulai memperhatikan gerak-gerik kedua orang dayang tersebut, ia merasa gerakan tubuh mereka sangat gesit dan lincah sehingga tak terasa lagi diam-diam ia merasa kagum.

Tidak kusangka seorang dayang yang ada di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng pun memiliki kepandaian silat yang sangat lihay pikirnya diam-diam.

Gerakan dari kedua orang budak tersebut amat tepat sekali, terhadap keadaan disanapun sangat hapal tampaklah tubuh mereka berjalan kesana kemari mengitari pohon dan hanya di dalam sekejap saja sudah tiba di bawah loteng Wang Hoa Loo.

Ketika Siauw Ling mendongakkan kepalanya maka tampaklah seorang lelaki kasar berperawakan tinggi besar yang memakai pakaian singsat sedang mencekal sebuah lampu lentera berwarna merah tinggi-tinggi Ciu Cau Liong masih tetap mengenakan pakaian yang perlente dengan tangan kosong, tetapi di belakang tubuhnya berbarislah serentetan lelaki berpakaian singsat dengan senjata terhunus.

Gerakan tubuh Giok Lan serta Kiem Lan semakin cepat lagi, di dalam dua tiga lompatan mereka sudah tiba dihadapan Ciu Cau Liong.

“Jie Cungcu! Siauw ya serta nona Sam telah tiba!”ujarnya sambil menjura memberi hormat.

Ciu Cau Liong segera putar badan menyambut.

“Kembali Siauwte mengganggu ketenangan kalian berdua hal ini membuat hatiku merasa tidak tentram,”ujarnya sambil tertawa.

“Ciu heng terlalu merendah, dimana orang yang sudah mengacau perkampungan??”seru Siauw Ling sambil berlari mendekat.

“Mereka telah berada diats loteng Wang Hoa Loo!”“Lalu mengapa Ciu heng tidak menghalangi gerakan mereka?”“Mereka ngotot hendak menerjang keatas loteng Wang Hoa Loo ini. Bilamana aku tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk mencoba, maka sekalipun mati mereka pasti tidak akan meram”sahut Ciu Cau Liong sambil tertawa.

Perkataan itu diucapkan dengan sangat tenang sedikitpun tidak gugup maupun cemas.

Seperti di tempat itu sama sekali belum pernah terjadi sesuatu.

Tampak cahaya lampu berkelebat dari atas loteng Wang Hoa Loo tingkat ketiga belas kembali jadi terang benderang bermandikan cahaya lampu.

Perasaan Siauw Ling pada waktu ini sangat murung sekali. Diam-diam pikirnya, “Sungguh aneh sekali pihak musuh hendak menyerbu kemari, mereka lantas membiarkan mereka datang kemari. Hal ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang belum pernah terjadi.

““Bagaimana??”tegur Ciu Cau Liong sambil tertawa. “Apakah Siauw heng serta nona Sam ada maksud hendak naik keloteng untuk melihat jalannya pertempuran??”Saat ini Siauw Ling benar-benar tak dapat menguasai perasaan ingin tahunya.

“Bilamana boleh Siauwte memang kepingin sekali naik keatas loteng untuk melihat jalannya pertempuran!”Jie Cungcu dari perkampungan Pek Hoa Sanceng ini lantas menoleh ke arah Kiem Lan serta Giok Lan yang berdiri disisinya.

“Kalian kembalilah kebangunan Lan Hoa Cing Si!”perintahnya.

Kedua orang dayang itu segera memberi hormat lantas putar badan dan berlalu.

Setelah kedua orang budak itu berlalu, sinar matanya kembali berputar memandang sekejap ke arah si lelaki kasar berpakaian singsat yang mencekal senjata terhunus itu, sambungnya, “Kalian berjaga-jagalah di bawah loteng bilamana orang-orang yang naik keatas loteng itu dapat turun kembali dalam keadaan utuh. Hantar mereka keluar dari perkampungan dan jangan menahan mereka lagi.

“Siauw Ling yang mendengar perkataan terakhir dari Jie Cungcu ini diam-diam lantas mangangguk.

“Sikap dari Ciu Cau Liong benar-benar luar biasa sekali,”pujinya dihati.

Ciu Cau Liong sehabis mengatur seluruh persoalannya kemudian baru merangkap tangannya menjura ke arah mereka berdua.

“Siauw heng, nona Sam? Silahkan!”serunya sambil tersenyum.

Sebenarnya Tang Sam Kauw ada maksud hendak manampik tetapi sewaktu dilihatnya Siauw Ling dengan langkah lebar sudah memasuki loteng Wang Hoa Loo tersebut, terpaksa iapun ikut melangkah masuk mengikuti dari belakang tubuh Siauw Ling.

Ciu Cau Liong sambil bergendong tangan mengiringi dari belakang.

“Ketika itu pengawal yang berjaga diloteng tingkat pertama dengan wajah yang pucat pasi bersandar di atas dinding senjata golok bergerigi ditangannya dengan lemas menggeletak di atas tanah lengan kanannya sudah basah kuyup oleh darah yang mengucur keluar bagaikan air ledeng agaknya ia sudah menderita luka yang amat parah.

““Bagaimana?”ujar Ciu Cau Liong kepada pengawal yang terluka itu sambil tertawa tawar mereka sudah naik ketingkat kedua.

Nada ucapan tersebut sama sekali tidak mengundang maksud menghibur maupun membantu untuk mengobati lukanya itu.

Lelaki kasar tersebut sedikit menggerakkan badan dan membuka matanya kembali.

Hamba tidak becus, musuh-musuh tangguh tersebut tidak berhasil hamba tahan katanya tak bertenaga.

“Ooow…. tidak mengapa,”potong Ciu Cau Liong cepat.

Sambil menggandeng tangan Siauw Ling ia lantas melanjutkan langkahnya menuju keloteng tingkat dua.

Pengawal yang berjaga di depan pintu loteng tingkat kedua inipun sedang duduk bersemedi di atas tanah di depan tubuhnya menggeletak sebilah senjata yang berbentuk sangat aneh Ban Ci Bwee Hoa Tauw pada ujung kelopak mata serta ujung bibirnya kelihatan terluka hebat, darah segar mengucur keluar dengan sangat derasnya.

“Dimana pengacau-pengacau itu?”tanya Ciu Cau Liong dengan nada berat alisnya dikerutkan.

“Hamba terkena satu pukulannya sehingga terluka dalam mereka sudah berhasil menerjang keatas.

““Siauw heng mari kita menengok ketingkat ketiga,”ajak Jie Cungcu kemudian sambil menoleh ke arah pemuda tersebut.

Tanpa menanti jawaban lagi ia lantas menarik tangan Siauw Ling untuk berlari ketingkat tiga.

Suasana diloteng ketigapun kacau balau akibat pertempuran yang baru saja terjadi, lelaki penjaga loteng tersebut sambil mencekal lambungnya bersandar di atas meja dan rubuh keatas tanah.

Kali ini Ciu Cau Liong tak menanyai pengawal yang terluka itu lagi, ia langsung membawa Siauw Ling menuju keloteng tingkat keempat.

Di bawah sorotan sinar lilim yang menerangi ruangan tersebut tampaklah lelaki pengawal ruangan tersebut menggeletak di atas lantai dengan empat, lima bekas luka guratan pedang di atas dadanya, darah segar masih mengucur keluar dengan derasnya.

Suara bentrokan senjata tajam yang amat ramai saat itu dapat didengar berkumandang datang dari loteng tingkat kelima.

“Siauw heng! musuh sudah tiba diloteng tingkat kelima, mari kita cepat pergi melihat”ajak Ciu Cau Liong kembali.

Siauw Ling yang melihat pengawal loteng tersebut menggeletak di atas tanah dalam keadaan terluka berat. Bahkan darah segar masih mengucur keluar dengan sangat derasnya, sehingga bilamana tidak keburu ditolong menghentikan aliran darah tersebut nyawanya akan terancam, dalam hati merasa rada tidak tega.

Dengan paksaan diri ia meronta dan melepaskan diri dari cekalan Ciu Cau Liong.

“Orang ini terluka parah kita harus berusaha untuk menolong dirinya terlebih dulu,”katanya.

Ciu Cau Liong hanya tersenyum, ia sama sekali tidak turun tangan mencegahi.

Tang Sam Kauw lantas berebut maju, dari sakunya ia mengambil keluar sebuah botol obat luar untuk kemudian dibubuhkan keatas keempat bekas luka tersebut.

Sedang Siauw Lingpun dengan gerakan yang amat hebat lantas menotok keempat buah jalan darahnya.

“Terima kasih atas bantuan saudara sekalian”, buru-buru lelaki berpakaian singsat itu meronta untuk bangun dan menjura.

Di dalam satu jam mendatang lebih baik kau jangan terlalu banyak bergerak”seru Siauw Ling memberi peringatan.

Ketika itulah suara bentrokan senjata tajam yang berkumandang keluar dari loteng tingkat kelima terdnegar semakin bertambah santar, jelas pertempuran sengit tersebut sudah tiba pada saat-saat yang kritis dan tegang.

Siauw Ling tidak memperdulikan lagi perkataan dari lelaki itu tubuhnya lantas meloncat bangun dan berlari keatas loteng tingkat kelima.

Di atas ruangan loteng tingkat kelima sedang berlangsung suatu pertempuran yang amat sengit dan ramai, bunga-bunga pedang berterbangan memenuhi angkasa, cahaya golok berkelebat laksana salju, mendadak muncullah dua sosok bayangan manusia.

Orang yang berdiri di depan mulut tangga loteng adalah seorang kakek tua yang rambutnya sudah memutih dengan di atas tangannya mencekal sebuah tongkat besi, sedang orang yang berusia tiga puluh tahunan dengan sebilah pedang terlintang di depan dada.

Kakek tua itu bersikap sangat heran, ia cuma melirik sekejap ke arah Ciu Cau Liong serta Siauw Ling, air mukanya sama sekali tidak berubah.

Sebaliknya lelaki itu rada tidak sabaran pedangnya segera digerakkan menghalangi jalan dari ketiga orang itu.

Melihat sikapnya ini Ciu Cau Liong lantas tersenyum.

“Heng thay jangan kuatir, kami tidak ada maksud untuk turun tangan,”katanya.

“Heee, heee tidak kusangka kaupun mengetahui kekuatanmu sendiri!”seru sikakek tua itu dengan nada yang amat dingin.

Siauw Ling adalah orang pertama yang tiba di dalam ruangan loteng tingkat kelima itu, karenanya ujung pedang dari si lelaki kasar itupun digerakkan mengancam dada pemuda tersebut kurang lebih setengah coen dari pakaian luarnya.

Melihat sikapnya ini pemuda tersebut merasa rada benci.

“Minggir”bentaknya dingin.

Tangan kirinya segera disentilkan ke depan, secara diam-diam ia sudah mengerahkan ilmu jari Siauw Loo Sin Cienya menyentil keatas pedang tersebut.

Triiing… dengan menimbulkan suara yang amat nyaring, pednag di tangan lelaki kasar itu mendadak tersentil lepas dari cekalannya dan menimpuk dinding loteng.

Melihat kejadian tersebut air muka sikakek berambut putih itu kontan saja berubah hebat.

“Heng thay ilmu jari It Cie Sian Kang-mu sangat mengejutkan sekali!”serunya sambil memandang wajah Siauw Ling tajam-tajam.

“Cayhe sama sekali tidak menggunakan ilmu jari It Cie Sian Kang.

“Air muka kakek tua itu seketika itu juga berubah jadi merah jengah, kepalanya ditundukkan rendah-rendah.

Siauw Ling adalah seorang bocah yang belum berpengalaman ia sama sekali tidak tahu bila perkataannya barusan ini sudah menghilangkan gengsi kakek tua itu.

Orang-orang yang hadir dikalangan pada saat ini tak seorangpun yang tak dibuat terperanjat oleh kejadian ini tangan pemuda tersebut hanya menyentil dengan perlahan berhasil mementalkan senjata dicekal erat-erat oleh pihak lawannya, kecuali ilmu jari It Cie Sian Kang dari aliran Siauw lim pay, dikolong langit pada saat ini jarang sekali kedengaran ilmu jari yang demikian dahsyat ini.

Lelaki kasar tersebut setelah pedangnya terpukul pental oleh sentilan jari Siauw Ling, dalam hatinya merasa terperanjat, kaget, malu dan kecewa sehingga untuk beberapa saat lamanya berdiri termangu-mangu di tempat semula tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.

Lama sekali ia baru menghela napas panjang dan mengundurkan diri kesisi kakek tua itu.

Mendadak tampaklah si orang tua berambut putih itu mengetukkan tongkat besinya keatas tanah.

“Tahan!”bentaknya keras.

Suara bentakannya ini sangat dahsyat sekali laksana halilintar membelah bumi membuat semua orang merasakan telinganya berdengung.

Cahaya pedang bayangan golok lantas berpisah dan munculah dua sosok bayangan manusia.

Seorang pemuda tampan berusia du puluh tahunan dengan memakai pakaian singsat dan mencekal sebilah pedang segera mengundurkan dirinya ke belakang.

Lawannya adalah seorang lelaki kasar yang memakai pakaian tingkas dengan sebilah golok berkepala setan yang tebal dan tajam disilangkan di depan dada.

“Suhu? kau ada petunjuk apa?”tanya pemuda itu sambil menjura.

“Heeei perkampungan Pek Hoa Sanceng merupakan sarang naga gua macan aku rasa selama hidup kita kali ini sulit untuk berhasil membalaskan dendam sakit hati ayahmu,”ujar sikakek tua sambil menghela napas panjang.

Dari kelopak mata pemuda itu tak kuasa lagi mengucurkan dua titik air mata, serunya, “Sebagai seorang putra bila tak berhasil membalaskan sakit hati orang tuanya dengan tangan sendiri, aku tidak punya muka lagi untuk tancapkan kaki di atas permukaan bumi.

“air muka si orang tua tersebut segera berubah hebat tangannya buru-buru diayunkan ke depan. Segulung hawa pukulan yang amat tajam segera menerjang ke depan menghantam jalan darah Cie Tie Hiat pada iga sebelah kanan pemuda tersebut.

Pemuda itu hanya merasakan ketiaknya jadi kaku pedangnya tak bisa dicegah lagi terlepas dari tangannya.

“Heee… heee… bagus sekali!”teriak kakek tua itu sambil tertawa dingin tiada hentinya.

“Kau ingin suhumu melihat kau mati haaa?”“Tecu… tecu… tecu sekalipun bernyali pula tak akan berani punya maksud demikian!”seru pemuda tampan itu sambil menjatuhkan diri berlutut di atas tanah.

Di atas paras muka sikakek tua itu segera terlintaslah suatu perasaan yang amat sedih sekali, ia menghela napas tiada hentinya.

Jilid 19 “Heeeeiii…! Bocah, pungut senjatamu, kita pergi dari sini…!”serunya.

Pemuda itu tidak berani membangkang lagi, setelah memungut pedangnya lantas mengundurkan diri kesisi kakek tua itu.

Siauw Ling yang melihat kejadian ini jadi kebingungan setengah mati, ia benar-benar tidak mengerti peristiwa apakah yang sudah terjadi disekitar tempat itu.

Perlahan-lahan sikakek tua itu menoleh dan merangkap tangannya menjura ke arah Siauw Ling.

“Tolong tanya siapakah nama Heng thay.

“tanyanya.

“Cayhe Siauw Ling!”Semula sikakek tua itu rada tertegun, akhirnya ia berseru, “Ooouuw… kiranya Siauw Thay hiap Loo lap mengucapkan banyak terima kasih atas nasehat yang diberikan saudara ini hari, gunung nan hijau tak akan berubah, sungai nan jernih tetap mengalir kita berjumpa lain kesempatan…”Ia menoleh dan memandang sekejap ke arah kedua orang anak muridnya kemudian sambungnya kembali, “Bocah mari kita pergi!”Sambil mengetukkan tongkat besinya keatas tanah ia lantas berlalu dari tempat itu tanpa menoleh lagi.

Si lelaki kasar serta pemuda itu jadi kebingungan setengah mati di atas wajah mereka terlintaslah perasaan keberatan, tetapi melihat suhu mereka berlalu dalam keadaan gusar, terpaksa merekapun mengikuti dari belakang tubuhnya.

Ciu Cau Liong buru-buru menyingkir kesamping memberi jalan.

“Kalian bertiga silahkan berlalu siauwte tidak menghantar lebih jauh lagi,”katanya sambil merangkap tangannya menjura.

“Hmm, bilamana Loohu tidak mati, di dalam tiga tahun mendatang tentu akan kembali lagi!”seru si orang tua dengan dingin.

“Haaaa… haaaa siang maupun malam perkampungan Pek Hoa Sanceng selalu terbuka untuk kalian, siauwte setiap waktu akan menantikan kedatangan kalian.

“Air muka si orang tua itu penuh diliputi oleh kesedihan, sinar matanya kembali dialihkan keatas wajah Siauw Ling.

“Loolap sudah hampir sepuluh tahun lamanya belum pernah berkelana di dalam dunia kangouw, kali ini sewaktu turun gunung loolap sudah ,mendengar nama besarmu, tak disangka ini hari kita bisa berjumpa di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng.

““Ooouw tolong tanya siapakah nama besar dari Loo heng thay?”ujar Siauw Ling sambil menjura.

Sinar mata si orang tua itu berkilat.

“Si orang prajurit tak bernama di dalam dunia kangouw sekali diberitahu juga percuma karena Siauw Thayhiap tentu tidak kenal dengan nama loolap ini,”katanya.

“Cayhepun baru saja munculkan dirinya di dalam dunia kangouw, pengetahuanku masih sangat cetek.

““Haaa, haa seorang yang berpengetahuan cetek”teriak si orang tua itu sambil tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.

Ia lantas putar badan dan berlalu dari ruangan loteng itu.

Gerakan dari tiga orang itu benar-benar sangat cepat sekali, hanya di dalam sekejap mata mereka sudah lenyap tak berbekas.

“Ciu heng siapa sebenarnya ketiga orang ini?”tanya Siauw Ling dengan alis yang dikerutkan.

“Di dalam dunia kangouw terlalu banyak terdapat manusia-manusia sombong, buat apa Siauw heng mengurusi manusia-manusia semacam itu?”kata Ciu Cau Liong coba menghindar.

Si orang tua itu agaknya mirip dengan si Poo Hiat atau pendekar pincang Ciang Toa Hay… tiba-tina Tang Sam Kauw menimbrung dari samping.

Dengan pandangan yang sangat dingin Ciu Cau Liong segera melototi diri gadis tersebut.

“Mengapa siauwte belum pernah mendengar nama orang ini?”serunya berlagak pilon.

Tang Sam Kauw segera tersadar kembali buru-buru ia menutup mulutnya rapat-rapat.

“Sipendekar pincang Ciang Toa Hay adalah seorang pendekar yang gagah perkasa sudah tentu dia bukan seorang manusia bajingan,”kata Siauw Ling dengan cepat.

Tang Sam Kauw yang teringat akan perjanjiannya dengan Ciu Cau Liong lantas tersenyum.

“Akupun cuma mendengar ibuku pernah membicarakan orang ini, tetapi benarkah dia orang atau bukan, aku rada kurang jelas”katanya.

“Nama besar Siauw heng sudah menggetarkan seluruh dunia persilatan,”sela Ciu Cau Liong. “Mereka bertiga bisa mengetahui keadaan dan cepat-cepat mengundurkan diri hitung-hitung mereka masih bernasib baik.

““Aaakh mana, mana Ciu heng terlalu memuji.

““Disebabkan pengacauan ketiga orang itu maka istirahat kalian berdua sudah terganggu kini waktu sudah tidak pagi lagi seharusnya Siauw heng serta nona Sam pergi beristirahat.

“Selesai berkata ia lantas mengantarkan Siauw Ling kebangunan Lan Hoa Cing Si kemudian baru berpamit untuk mengundurkan diri.

Sejak semula Kiem Lan serta Giok Lan sudah menanti kedatangannya di dalam kamar, melihat Siauw Ling sudah kembali buru-buru mereka berlutut melepaskan sepatu kaus kaki dari pemuda tersebut.

“Siauw ya malam-malam begini kau ingin makan apa?”tanyanya sambil tertawa.

“Tidak usah tidak usah. Kalian pergilah tidur.

“Kiem Lan tersenyum tanpa banyak bicara ia lantas mengundurkan diri dari ruangan tersebut sedangkan Giok Lan lantas duduk di atas sebuah kursi.

Siauw Ling yang melihat gadis itu tidak berlalu dalam hati merasa heran belum sempat ia menanyakan sesuatu Giok Lan sudah berebut berkata, “Siauw ya silahkan beristirahat, budakmu akan berjaga disini untuk menantikan perintah-perintah selanjutnya.

““Aaah jangan, jangan lelaki dan perempuan ada batasnya apa lagi malam nan panjang ini, bagaimana mungkin kita erdua boleh berada di dalam satu kamar yang sama?”seru Siauw Ling sambil menggoyangkan tangannya berulang kali. “Tak bisa jadi, cepatlah kau orang mengundurkan diri dari sini, jika kau masih duduk disana akupun tidak akan tidur.

“Perlahan-lahan Giok Lan bangun berdiri wajahnya kelihatan amat sedih sekali, sepasang matanya memancarkan perasaan murungnya yang amat sangat, bibirnya yang bergerak hendak mengucapkan sesuatu mendadak dibatalkan, kemudian dengan bungkam seribu bahasa lantas mengundurkan diri dari ruangan tersebut.

Siauw Lingpun tidak ingin banyak berbicara dengan dirinya lagi, walaupun ia dapat menangkap air mukanya sangat aneh tetapi pemuda ini tidak ingin banyak bicara.

Setelah menutup pintu dan merebahkan diri keatas pembaringan, pikirnya di dalam hati, “Kedua orang budak ini agaknya bersikap rada tidak beres, besok pagi biar aku beritahukan hal ini kepada Ciu heng untuk minta ganti dua orang budak lain.

“Berpikiran akan hal itu ia lantas pejamkan matanya untuk tidur, sebentar kemudian ia sudah tidur pulas tak sadarkan diri.

Tidurnya kali ini hari sudah terang tanah.

Dengan cepat ia bangun dan membuka pintu kamar tampaklah Kiem Lan dan Giok Lan dengan membawa sarapan pagi sudah menanti diruangan depan.

Kedua orang dayang tersebut pada saat ini memakai pakaian berwarna merah keperakperakan yang sangat menyolok sikapnya ramah dan penuh senyuman.

Melihat pemuda tersebut munculkan diri mereka berdua buru-buru membungkuk memberi hormat.

“Siauw ya selamat pagi,”ujarnya manja.

“Tidak usah banyak adat lagi, peraturan di dalam perkampungan Pek Hoa Sanceng kalian benar-benar amat banyak sekali,”ujar Siauw Ling tertawa.

“Bilamana pelayanan kami kurang baik maka Jie Cungcu tentu akan memakai dan menghukum kami,”kata Giok Lan. “Asalkan Siauw ya bisa merasa senang hati, sekalipun mati kami sudah merasa puas.

“Siauw Ling tidak ingin banyak berbicara dengan kedua orang dayang itu lagi, katanya, “Aku mau jalan-jalan sebentar diluar kamar, kalian tidak usah ikuti aku lagi.

“Selesai berkata ia lantas berjalan keluar dari dalam kamar.

Tampaklah bunga-bunga beraneka warna menyiarkan bau harum semerbak yang menusuk hidung, perasaannya jadi semakin leluasa dan lapang dengan amat lambat sekali disekitar tempat itu sambil menikmati keindahan bunga-bunga tersebut.

Awan hitam yang menyelubungi angkasa kemarin malam kini sudah buyar tak berbekas cahaya sang surya laksana emas memancarkan sinarnya keempat penjuru dan menyinari butiran-butiran embun di atas bunga sehingga memancarkan panca warna yang amat indah di atas permukaan tanah.

Pemandangan yang demikian indahnya ini segera membuat pemuda tersebut jadi kesemsem.

Karena pikirnya menjadi segar kembali, maka berbagai persoalan yang mencurigakan hatinyapun mulai mengalir dan memenuhi benaknya kembali.

Ia merasa bahwa dibalik keindahan yang meliputi perkampungan Pek Hoa Sanceng agaknya tersembunyi pula suatu rahasia yang amat besar, suasana disana terasa begitu aneh begitu misterius Jan Bok Hong, itu Toa Cungcu dari perkampungan Pek Hoa Sanceng walaupun diluaran menyebut Ciu Cau Liong sebagai kakak beradik tetapi mengapa sikap Jie Cungcu ini begitu menghormat sehingga jauh melebihi hubungan antara guru dan murid?? “Kiem Lan serta Giok Lan kedua orang budak itu kelihatannya amat cantik jelita dan menarik hati mengapa sikap serta gerak-gerik amat cabul dan merangsang.

“Selagi ia berpikir keras itulah mendadak terdengar suara tertawa yang amat nyaring berkumandang datang.

“Siauw heng kenapa kau tidak tidur lebih lama lagi? Apakah pelayanan dari kedua orang budak kurang memuaskan hati?”sapanya.

Siauw Ling segera menoleh tampaklah Ciu Cau Liong dengan memakai jubah berwarna hijau sedang berjalan menghampiri dirinya dengan perlahan.

Terpaksa ia maju menyongsong sambil menjura memberi hormat.

“Kedua orang itu terlalu banyak adat”katanya sambil tertawa.

Tetapi mendadak sinar matanya menangkap kedua orang budak itu sedang berdiri sejajar kurang lebih beberapa kaki dari dirinya. Alis mereka dikerutkan kencang-kencang wajahnya amat murung sedang dari sinar matanya memancarkan perasaan kaget dan takut setengah mati.

Melihat akan hal itu, perkataan yang sebenarnya hendak mengatakan bila kedua orang budak itu terlalu banyak adat sehingga dirinya merasa tidak terbiasa dan minta Ciu Cau Liong ganti dengan dua orang budak yang lain mentah-mentah ditelan kembali.

“Siauwte bisa mendapatkan pelayanan yang demikian baiknya, dalam hati malahan merasa kurang tentram”katanya buru-buru.

“Haaa… haaa… siauwte merasa sangat cocok sekali dengan Siauw heng dalam hatiku malah takut pelayanannya kurang sesuai.

““Bilamana Siauw heng berkata demikian bukankah sudah terlalu memandang asing diriku,”ujar Ciu Cau Liong sambil tertawa terbahak-bahak.

Ia rada merandek sejenis, kemudian sambungnya lagi, “Toa Cungcu kami merasa sangat berterima kasih sekali atas tindakan Siauw heng kemarin malam dimana kau sudah mewakili dirinya untuk mengundurkan musuh yang datang menyerang, karena sekarang sengaja ia memerintahkan siauwte untuk mengundang Siauw heng agar suka berbicara di atas loteng Wang Hoa Loo karena siauwte merasa takut sudah mengganggu impian baik dari Siauw heng maka sengaja aku orang tidak berani datang terlalu pagi.

““Bilamana ia benar-benar merasa sangat berterima kasih kepadamu, mengapa tidak datang sendiri kemari sebaliknya malah suruh aku naik keloteng untuk berbicara sungguh aneh sekali,”pikir Siauw Ling di dalam hati.

Kendati ia berpikir demikian diluar ia menjawab dengan sangat ramah sekali.

“Oooouw kalau begitu harap Ciu heng suka menunggu sebentar, siauwte akan cuci muka dan berdandan sebentar.

“Dengan langkah lebar ia lantas berlari masuk ke dalam ruangan.

Waktu itu kedua orang budak tersebut sudah menyiapkan air terburu-buru Siauw Ling cuci muka dan berdandan kemudian mengikuti Ciu Cau Liong berangkat menuju keloteng Wang Hoa Loo.

Ciu Cau Liong yang berpikiran cermat sekali pandang air muka Siauw Ling ia sudah berhasil menduga apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda tersebut karena itu ia tidak menanti dia mengucapkan sesuatu buru-buru sudah katanya, 
oo0oo oo0oo 
“Kesehatan Toa Cungcu kami lagi terganggu, dan belum benar-benar segar kembali karena tidak dapat datang sendiri untuk menjenguk diri Siauw heng, oleh itu ia sudah perintahkan siauwte untuk memanggil dirimu, harap kau suka memaafkan kecerobohan ini.

“Dengan demikian Siauw Ling malah merasa sangat tidak enak dihati.

“Ciu heng! kau terlalu merendah”katanya.

Ciu Cau Liong tersenyum.

“Sejak Toa Cungcu kami beristirahat untuk menyembuhkan penyakitnya di atas loteng Wang Hoa Loo selamanya belum pernah menerima tamu tidak disangka kini ia bisa menaruh sikap yang demikian menghormat terhadap diri Siauw heng. Hal ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang tak pernah terjadi selama ini,”katanya.

“Ciu heng, tahukah kau ada urusan apa Toa Cungcu mengundang cayhe?”“Soal ini setelah Siauw heng bertemu muka dengan Toa Cungcu, kau bisa paham dengan sendirinya.

“Sewaktu mereka sedang bercakap-cakap itulah loteng Wang Hoa Loo sudah berada dihadapannya.

Bekas-bekas pertempuran yang ditinggalkan kemarin malam pada saat ini sudah dibersihkan sama sekali, beberapa orang penjaga pintu yang terlukapun kini sudah diganti dengan pengawal-pengawal yang baru.

Dengan memimpin diri Siauw Ling, Ciu Cau Liong itu Cungcu kedua dari perkampungan Pek Hoa Sanceng langsung berjalan naik hingga keloteng tingkat ketiga belas.

Sejak semula Jan Bok Hong dengan penuh senyuman telah menanti kedatangan mereka di depan pintu loteng.

Melihat Toa Cungcu tersebut sudah menantikan kedatangannya buru-buru Siauw Ling merangkap tangannya menjura.

Entah Toa Cungcu mempunyai maksud tujuan apa mengundang siauwte datang kemari, katanya, “Tindakanmu kemarin malam dengan mewakili diriku mengundurkan serangan musuh tangguh, cayhe merasa sangat berterima kasih sekali.

““Hanya satu peristiwa kecil, buat apa dipikirkan terus menerus.

“Sinar matanya lantas berputar, ia merasa keadaan dari loteng ini jauh berbeda pada kemarin hari.

Kiranya pada dinding sebelah timur pada saat ini sudah tertutup dengan sebuah horden warna kuning yang selembar delapan depa.

Setelah mempersilahkan para tamunya mengambil duduk, barulah Jan Bok Hong berkata, “Kemarin malam Ciu Jie telah membicarakan soal Siauw heng, ia merasa sangat kagum baik terhadap sifatmu maupun kepandaian silat yang Siauw heng miliki. Arti dari perkataannya ini ada maksud hendak mengangkat diri Siauw heng tinggi-tinggi.

““Urusan apa?”tanya Siauw Ling kebingungan.

“Toa Cungcu kami merasa bakat Siauw Heng-sangat bagus sekali dan merupakan seorang manusia aneh yang sukar ditemui selama ratusan tahun ini,”sambung Ciu Cau Liong lebih lanjut. “Karena itu ia ada maksud untuk mengangkat saudara dengan dirimu entah bagaimana maksud dari Siauw heng sendiri?”Siauw Ling yang mendengar perkataan itu jadi melengak dibuatnya.

“Soal ini bagaimana mungkin siauwte berani menerimanya, kedudukanku tidak bisa dibandingkan dengan kalian berdua aku tidak lebih cuma seorang pemuda yang baru saja tamatkan pelajaran,”katanya.

“Tempo dulu Kwan Thio Kauw angkat saudara dan bersama-sama merasakan penderitaan, mencicipi kebahagiaan sehingga menjadi pujian dan buah tutur banyak orang Siauwte tidak becus sudah tentu tidak ingin menandingi seperti mereka itu,”sambung Jie Cungcu dengan cepat.

“Secara mendadak mereka berdua pergi memandang tinggi diriku entah apakah maksud tujuannya?”pikir Siauw Ling diam-diam dalam hatinya. “Apakah sungguh dikarenakan kepandaian silatku yang amat tinggi??”Walaupun memperoleh pendidikan yang amat keras dari tiga orang manusia aneh, tetapi sampai kini ia masih belum mengerti sampai tingkat manakah ilmu silat yang dimilikinya ini dan dirinya dianggap jagoan kelas berapa bilamana berkenalan di dalam dunia kangouw?? Ciu Cau Liong mendadak mengulapkan dan menarik lepas horden kuning yang berada disebelah timur itu.

Maka tampaklah lukisan pemandangan sewaktu Lauw Kauw serta Thio angkat saudara dikebun Tauw Yen tertempel di atas dinding di depan lukisan tersebut tersedialah sebuah meja sembahyang yang diatasnya sudah disiapkan empat macam buah-buahan serta semangkokan besar arak, dua buah lilin berwarna merah berdiri dikedua belah sisi lukisan.

Kelihatannya asalkan Siauw Ling sudah menyetujui mereka segera akan dilakukan sembahyang untuk mengangkat saudara.

Sepasang mata Ciu Cau Liong tanpa berkedip, ujarnya kembali perlahan-lahan, “Apakah Siauw heng suka memandang wajah kami bersaudara? harap kau orang suka memberi jawaban yang jelas.

““Tentang soal ini biarlah siauwte berpikir sebentar kemudian baru bisa memberikan jawaban,”ujar Siauw Ling setelah termenung sebentar.

Air muka Jan Pek Hong segera berubah hebat.

“Peristiwa mengangkat saudara semacam ini bagaimana boleh terlalu dipaksakan?”serunya keras. “Bilamana Siauw heng tidak suka angkat saudara dengan kita sudahlah.

“Situasi diruangan tersebut pada saat ini benar-benar serba susah, empat buah sinar mata yang amat tajam dari Jan Bok Hong serta Ciu Cau Liong bersama-sama dialihkan keatas tubuh Siauw Ling.

Dari sinar mata Ciu Cau Liong secara samar-samar kelihatan mengandung maksud memohon yang amat sangat, sebaliknya air muka Jan Bok Hong sangat tawar sehingga sulit buat orang lain untuk mengetahui bagaimanakah maksud hatinya.

Siauw Ling mendehem perlahan, akhirnya ia bangun berdiri.

“Kalian berdua bisa memandang begitu tinggi terhadap siauwte bilamana aku tolak hal ini tentu kurang pantas,”ujarnya.

“Jadi Siauw heng sudah menyetujui?”seru Ciu Cau Liong kegirangan.

“siauwte tidak mengerti banyak urusan dikemudian hari masih menghadapkan saudara berdua suka banyak memberi petunjuk”sahut pemuda itu samnil mengangguk.

Usianya yang masih muda ditambah pula pengalamannya yang amat cetek, sekalipun dalam hati ia merasa munculnya urusan ini terlalu mendadak sehingga sulit bagi dirinya untuk menghadapi di dalam keadaan serba salah akhirnya ia menerima juga.

Di atas air muka Jan Bok Hong yang amat tawar mulai terlintaslah satu senyuman.

“Siauw heng harap suka berlega hati,”katanya cepat. “Setelah kita mengangkat saudara mulai saat ini juga diantara kita akan saling bantu membantu atau bersama bilamana saudara membutuhkan akan adanya tenaga kami berdua, hendak pergi keair kami segera berangkat keair mau keapi kita lantas menerjang api.

“Perlahan-lahan berjalan ketepi meja sembahyang tersebut dan menepuk tangannya dua kali.

Tampaklah pintu rahasia di atas dinding segera terbuka dan muncullah dua orang gadis berbaju halus yang langsung menyulut lilin itu kemudian mengundurkan dirinya kembali.

Pertama-tama Jan Bok Hong lah yang maju membakar hio tersebut disebuah tempat abu yang terbuat dari emas kemudian menjatuhkan diri berlutut di atas tanah.

“Jan Bok Hong tahun ini empat puluh delapan tahun ini hari bersama-sama dengan Ciu Cau Liong serta Siauw Ling mengatakan saudara mulai saat ini kita akan saling bantu membantu di dalam kesusahan mati hidup bersama-sama bilamana ada yang berhati nyeleweng maka ia akan memperoleh akhir yang sekarat”katanya.

Setelah itu ia baru bangun berdiri mengambil pisau belati sudah tersedia di atas meja dan merobek jari tangannya sendiri.

Darah segar segera menetes keluar jatuh di dalam cawan yang berisikan arak.

Ciu Cau Liong serta Siauw Ling pun lantas menggunakan cara yang sama masing-masing mengangkat sumpah di depan lukisan Lauw Kwan serta Thio itu kemudian meneteskan darah di dalam cawan arak.

Menanti semuanya sudah selesai Jan Bok Hong baru mengangkat cawan arak tersebut masing-masing menegur satu tegukan.

Dua orang gadis yang berwajah cantik buru-buru berjalan keluar lagi membereskan meja sembahyangan tersebut menurun lukisan serta hordeng kuning kemudian mengundurkan dirinya kembali dari sana.

Agaknya Jan Bok Hong itu Cungcu dari perkampungan Pek Hoa Sanceng merasa sangat gembira sekali.

“Siauwte,”ujarnya kemudian sambil tersenyum. “Mulai sekarang kita adalah saudarasaudara angkat yang mati hidup bersama-sama bilamana kau mempunyai urusan yang terasa amat menyulitkan dirimu katakan saja secara terus terang…”Mendadak Siauw Ling teringat kembali akan diri Gak Siauw-cha, enci Gak nya.

“Saat ini Siauwte memang mempunyai suatu urusan yang menyulitkan entah dapatkah Toako memberi bantuan?”“Urusan apa? Asalkan Toako mu melakukan sudah tentu akan kubantu dengan sepenuh tenaga.

““Sebenarnya bukan suatu urusan yang amat penting. Aku cuma ingin mencari tahu jejak dua orang”kata Siauw Ling tertawa.

“Siapa?”tanya Ciu Liong sambil tersenyum pula, “Coba kau sebutkan namanya, biar Toako uruskan pekerjaanmu ini.

“Orang ini pandai berbicara dan pintar sekali mencari hati hal ini membuat setiap orang yang dimadu olehnya tentu merasa kegirangan.

“Aku ingin mencari Tiong Cho Siang-ku!”Menurut ingatannya di dalam kolong langit pada saat ini hanya Tiong Cho Siang-ku dua orang saja yang mengetahui jejak dari Gak Siauw-cha maka ia harus menemukan terlebih dahulu diri Tiong Cho Siang-ku.

Lama sekali Jan Bok Hong termenung akhirnya jawabannya pula dengan perlahan, “Lima tahun berselang secara mendadak Tiong Cho Siang-ku lenyap dari dunia persilatan dan sejak itu jejaknya lenyap tak berbekas kebanyakan orang-orang kangouw menganggap dirinya sudah mati atau disebabkan harta kekayaan mereka sudah banyak lantas mengundurkan diri dari keramaian dunia tetapi mereka tal bakal berhasil lolos dari penglihatan Siauw heng yang tajam bukan saja mereka berdua belum mati bahkan bukan sedang mengasingkan dirinya dari keramaian dunia.

““Mereka tetap bergerak dan berkelana di dalam dunia kangouw cuma saja wajah mereka sudah dirubah sedemikian rupa sehingga tak seorang manusiapun yang mengenali mereka kembali.

““Tiong Cho Siang-ku adalah manusia-manusia jagoan yang telah mempunyai nama besar sejak puluhan tahun yang lalu,”sambung Ciu Cau Liong dari samping. “Mengapa mereka tidak suka berkelana di dalam dunia kangouw dengan wajah dan kedudukan mereka yang sebenarnya, sebaliknya menutupi asal usulnya sendiri dan berusaha melenyapkan jejaknya di dalam dunia kangouw?”“Haaa… haaa… kedua orang ini terlalu rakus dengan harta kekayaan, dan biasanya paling suka menggunakan cara menipu yang paling halus untuk membohongi barang berharga milik orang lain. Harta kekayaan mereka yang berhasil dikumpulkan saking banyaknya sehingga tak habis dipakai untuk tujuh turunannya, ada pepatah mengatakan sungai dan gunung mudah diubah, sifat pribadi mudah diubah asalkan mereka berdua sehari hidup dikolong langit sudah tentu pekerjaan itupun tidak pernah dihentikan kini sengaja mereka menyembunyikan asal usul dan bergerak di dalam dunia kangouw. Hal ini tentunya sedang mencari sesuatu benda? Atau mungkin karena sudah menderita kerugian yang amat besar sehingga merusak nama baik mereka merasa malu untuk tancapkan kembali dirinya di dalam Bulim maka kedua orang itu terpaksa menggunakan cara menyaru untuk menutupi wajah aslinya, lalu secara diam-diam melakukan perjalanan di dalam dunia kangouw untuk menyelidiki jejak musuhnya.

““Tiong Cho Siang-ku dengan pihak perkampungan Pek Hoa Sanceng kita apakah mempunyai hubungan?”tanya Cung Cau Liong.

“Tempo dulu kita sih pernah berjumpa satu kali tetapi disebabkan jalan yang diambil antara kita adalah berbeda maka selama ini air sumur tidak mengganggu air kali.

““Toako, lalu tahukah kau orang pada saat ini Tiong Cho Siang-ku berada dimana?”sambung Siauw Ling dari samping.

Perlahan-lahan Jan Bok Hong menghela napas panjang.

“Selama dua tahun ini aku selalu berada di atas loteng Wang Hoa Loo untuk menyembuhkan sakitku, sehingga belum pernah meninggalkan perkampungan Pek Hoa Sanceng barang selangkahpun. Hal ini sudah tentu membuat aku merasa sulit untuk mengetahui jejak dari Tiong Cho Siang-ku pada saat ini, tetapi Siauw heng akan berusaha keras untuk mencari jejak mereka sehingga tidak sampai membuat aku orang kecewa.

“Dalam hati Siauw Ling benar-benar dibuat terharu oleh kata-kata tersebut.

“Terima kasih Toako.

“Jan Bok Hong segera goyangkan tangannya mencegah Siauw Ling melanjutkan katakatanya.

“Siauwte?”sambungnya kembali, “Sebentar ada urusan apakah sehingga kau merasa begitu tergesa-gesa untuk mendapatkan Tiong Cho Siang-ku?”“Urusan ini menyangkut keselamatan dari enci Gak beserta anak kunci Cing Kong Ci Yau tersebut”pikir Siauw Ling dihati. “Lebih baik aku jangan beritahukan urusan ini secara terang.

“Tetapi ia tidak bisa berbohong oleh karenanya walaupun sudah termenung sangat lama tak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar.

Terdengar Jan Bok Hong tertawa ringan.

“Bilamana siauwte merasa tidak leluasa untuk memberitahukan urusan ini, tidak usahlah kau ucapkan?”katanya, “Siauw heng berusaha keras untuk bantu menyelidiki jejak dari Tiong Cho Siang-ku tersebut di dalam lima hari aku pasti akan memberi kabar.

““Kalian turunlah dari loteng akupun harus bersemedi kembali…”Ciu Cau Liong dan Siauw Ling buru-buru bangun berdiri untuk mohon pamit setelah meninggalkan loteng Wang Hoa Loo Jie Cungcu ini langsung menghantarkan Siauw Ling kembali kebangunan Lan Hoa Ling si terlebih dulu kemudian baru mohon diei.

Sekembalinya ke dalam kamar Siauw Ling lantas jatuhkan diri berbaring di atas pembaringan, semakin dipikir ia merasa keadaan di sekeliling tempat ini semakin tidak benar diam-diam ia mulai memaki dirinya sendiri.

“Perkampungan Pek Hoa Lan cung yang seram bagaikan sarang naga gu8a macan ini agaknya terkandung suatu keadaan yang sangat misterius sekali sebelum dirimu mengetahui jelas sifat dari Jan Bok Hong serta Ciu Cau Liong bagaimana mungkin boleh angkat saudara seenaknya dengan mereka? kini urusan sudah nyata bilamana dikemudian hari kau menemukan kedua orang saudara angkatmu adalah manusia-manusia jahat bukankah dirimu akan melanggar kata-kata sumpah yang pernah kau ucapkan.

“Tetapi teringat pula sikap mereka berdua yang amat baik sekali terhadap dirinya di dalam keadaan semacam itu bilamana ia menolak hal ini benar membuat kedua orang itu akan merasa malu turun dari panggung.

Kedua buah persoalan yang saling terbentur satu sama lainnya ini dengan tiada hentinya berkelebat di dalam benak. Sebenarnya ia tidak ingin memikirkan urusan tersebut, tetapi semakin berusaha dibuang dari pikirannya persoalan itu semakin berkelebat dengan amat nyata di dalam benaknya.

Giok Lan dan Kiem Lan berdiri dipojokan ruangan dengan bungkamkan diri melihat pemuda itu sedang termenung berpikir keras seperti ada sesuatu yang sedang membingungkan hatinya, mereka tidak berani mengganggu secara diam-diam kedua dayang itu lantas mengundurkan dirinya dari dalam ruangan.

Peristiwa di atas loteng rumah makan dikota Koe Cho dimana sifat So Sin Liong Toan Bok Ceng melakukan pembokongan terhadap diri Ciu Cau Liong kembali terbayang di dalam benaknya sikap yang amat dingin dari gadis tersebut, sebelum pergi sinar matanya yang mengandung kebencian serta wajahnya yang amat gusar benar-benar tertera dengan nyata di dalam hatinya.

“Masih ada lagi sipendekar pincang Ciang Toa Hay beberapa orang agaknya merekapun bukan manusia-manusia jahat, tetapi mengapa sudah mengikat dendam sedalam lautan dengan perkampungan Pek Hoa Sanceng?”Beberapa buah persoalan yang sangat membingungkan ini segera berubah jadi rasa curiga yang semakin menebal.

Selagi dia berpikir keras itulah mendadak pintu kamar terbuka disusul munculnya Tang Sam Kauw dari luar.

Buru-buru Siauw Ling meloncat bangun dari atas pembaringan.

“Kamar tidur ini tidak bisa ditinggali bagaimana kalau kita bicara diruangan depan saja?”katanya.

Tang Sam Kauw lantas menggeleng dan tersenyum.

“Buat apa kau orang menggunakan banyak adat yang tidak sedap didengar maupun dipandang itu!”serunya. “Diruangan dalam atau ruangan muka bukankah sama saja.

“Walaupun pada luaran ia berkata demikian tetapi tubuhnya menurut saja mengundurkan diri dari kamar tidur tadi.

Siauw Lingpun segera ikut berjalan dari kamar menuju keruangan depan.

“Eeei… tadi kau pergi keloteng Wang Hoa Loo?”tanya Tang Sam Kauw kemudian memecahkan kesunyian.

“Benar! bagaimana kau bisa tahu? Apakah Giok Lan serta Kiem Lan yang memberitahukan hal ini kepadamu?”Tang Sam Kauw segera menggeleng.

“Mereka tidak akan berbicara, tadi dengan mata kepalaku sendiri aku melihat kau naik keloteng Wang Hoa Loo entah apakah maksud Jan Toa Cungcu mengundang kau kesana?”katanya.

“Di atas loteng Wang Hoa Loo itu mereka sudah menyediakan meja sembahyang dan minta aku suka mengangkat saudara dengan mereka,”sahut Siauw ling setelah termenung sebentar.

Di atas paras muka Tang Sam Kauw segera terlintaslah suatu perubahan yang sulit untuk dilukiskan, entah hatinya sedang merasa girang ataukah sedang murung.

Lama sekali akhirnya ia baru menghela napas.

“Sudah kau setujui belum?”“Mereka terus menerus mendesak aku untuk menerima, terpaksa aku tak dapat menampik ajakan yang datangnya bertubi-tubi itu.

““Jadi kau sudah menyetujuinya?”“Benar!”“Tahukah kau bahwa di dalam dunia kangouw paling memandang tinggi soal tingkatan? hubungan antara guru dan murid sama-sama hubungan antara ayah dan anak, kau sudah angkat saudara dengan mereka hal ini berarti pula selama hidup kau harus menghormati dan mendengar setiap perkataan dari toako-toakomu! kini kau sudah angkat saudara dengan Jan Toa Cungcu serta Ciu Jie Cungcu maka hal ini berarti pula bahwa sejak hari ini setiap perkataan serta perintahnya harus kau lakukan dengan sepenuh tenaga.

“Siauw Ling yang di dalam hatinya sedang diliputi oleh perasaan curiga yang semakin menebal akhirnya tak bisa menahan diri lagi, ia menghela napas panjang.

0 Response to "Rahasia Kunci Wasiat Bagian 15"

Post a Comment