coba

Rahasia Kunci Wasiat Bagian 13

Mode Malam
Sebenarnya pada waktu itu Liuw Sian Ci sedang menerjang ke arah tengah kalangan tetapi belum sempat tubuhnya mencapai keatas permukaan tanah, ketika melihat perubahan tersebut buru-buru ia menarik napas panjang tubuhnya bersalto di tengah udara dan melayang ke arah tubuh Lan Ih Kong.

Ilmu meringankan tubuhnya menjagoi seluruh kolong langit diantara berkelebatnya bayangan manusia tahu-tahu ia sudah memeluk tubuh Lam Ih Kong ke dalam pelukannya.

“Hweesio berhati binatang, kau membokong dengan menggunakan kesempatan orang lain tidak siap macam enghiong apakah dirimu?”bentak Cung San Pek dengan gusar.

Di tengah suara bentakan yang amat keras terlihatlah serentetan cahaya putih berkelebat dengan amat cepatnya langsung menubruk ke arah hweesio berbaju merah itu.

Kiranya hweesio berbaju merah itu sudah mendorongkan seluruh tenaganya ke arah tubuh lawan dengan menggunakan kesempatan sewaktu Liuw Sian Ci membentak keras dan Lam Ih Kong menarik kembali tenaga dalamnya.

Lam Ih Kong yang sama sekali tidak menduga akan perbuatannya itu kontan kena digetarkan oleh tenaga dalamnya sehingga tubuhnya terpental ke belakang dan menderita luka dalam.

Dalam keadaan gusar Cung San Pek telah melancarkan serangan kedahsyatan benarbenar luar biasa. Belum saja tubuhnya tiba, hawa pedang yang amat hebat telah menembus udara menghantam tubuhnya.

Si hweesio berbaju merah itu segera balikkan badan melancarkan satu pukulan yang menggetarkan seluruh permukaan bagaikan kilat melintas datang.

Melihat datangnya angin pukulan yersebut Cung San Pek segera menekan hawa murninya pada gusar, tubuhnya yang semula menerjang ke depan mendadak berhenti sedang pedang pendek ditangannya bergoyang keras membentuk bunga-bunga pedang yang menyilaukan mata.

“Braaak!”dengan cepatnya hawa pedang terbentur keras dengan hawa pukulan tersebut sehingga menimbulkan suara getaran yang keras tubuh si hweesio berbaju merah itu kena digempur mundur dua langkah ke belakang sebaliknya Cung San Pek sendiri tak kuasa lagi iapun mundur satu langkah ke belakang.

“Heee… heee… mengandalkan jumlah banyak untuk mencari kemenangan. Hud ya pamit diri terlebih dulu!”seru si hweesio berbaju merah itu sambil tertawa dingin.

Di tengah suara bentakan yang amat keras laksana sambaran kilat ia melayang pergi dari sana.

Cung San Pek sama sekali tidak menduga kalau hweesio itu bisa putar badan melarikan diri. Menanti ia tersadar dari keragu-raguannya sang hweesiopun telah berada tiga kaki jauhnya, untuk mengejar tak bakal kecandak lagi.

Buru-buru ia mengerahkan tenaga murninya, tiba-tiba pedang pendek tersebut meluncur keluar dari tangannya.

Serentetan cahaya putih laksana kilat menerjang ketubuh hweesio tersebut.

Mendadak sihweesio berbaju merah itu malah membalikkan tubuhnya sambil melancarkan satu serangan.

Pedang pendek yang sedang meluncur ke depan tadi kontan kena dipukul miring sehingga berputar di tengah udara dan terjatuh kesisi kalangan.

Sedangkan hweesio berbaju merah itu segera membungkukkan badan melarikan diri cepat-cepat… “Cun Locianpwee, hweesio itu melarikan diri!”teriak Siauw Ling dengan hati cemas sewaktu dilihatnya hweesio berbaju merah itu melarikan diri.

Ketika kepalanya ditoleh, tampaklah ketika itu Cung San Pek sedang memejamkan matanya rapat-rapat. Keringat sebesar kacang kedelai mengucur dengan derasnya membasahi seluruh keningnya.

Melihat kejadian itu Siauw LIng jadi bergidik, kenapa? Apakah diapun menderita luka parah? maka perlahan-lahan bocah itu berjalan mendekati sisastrawan tersebut.

“Cung Locianpwee, kau kenapa?”tanyanya.

“Aku sangat baik”sahut Cung San Pek sambil membuka matanya kembali dengan perlahan-lahan. “Bocah! Sudah lihatlah bagaimana caranya aku melepaskan pedang tadi?
”ooo0ooo “
Sudah!”sahut siauw Ling singkat padahal dalam hati pikirnya, “Kau tak sanggup untuk mengejar orang itu memang seharusnya menggunakan pedang tersebut sebagai senjata rahasia!”Terdengar Cung San Pek dengan nada serius berkata, “Bocah itulah Sim Hoat tingkat teratas dari ilmu pedang Ih Kiam Hoat, cuma saja kesempurnaannya belum cukup sehingga sukar untuk menyatukan pedang serta badan. Jarak yang bisa dicapaipun baru lima kaki!”Dalam hati walaupun Siauw Ling merasa kurang puas tetapi mulutnya tetap membungkam.

“Menyambitkan senjata ke arah musuh adalah cara yang biasa, mana mungkin bisa terhitung sebagai Sim Hoat tingkat teratas dari ilmu pedang”pikirnya dihati.

“Walaupun hweesio itu berhasil melukai Gie humu, tetapi ia sendiripun tidak memperoleh kebaikan apapun,”sambung Cung San Pek lagi, Ketika ia menoleh dan melihat Liuw Sian Ci sedang duduk bersila dan menempelkan telapak kanannya di atas punggung Lam Ih Kong untuk bantu menyembuhkan lukanya, ujarnya, “Bocah, mari kita menyingkir jauh, tenaga dalam dari Liuw Sian Ci amat sempurna disakunyapun memiliki dua butir pil mujarab hadiah dari seorang Locianpwee. Ada dia yang turun tangan tanggung Gie humu akan sehat kembali, mari! kita jangan ganggu mereka,”selesai berkata ia menggandeng tangan Siauw Ling dan langsung menuju ke arah jatuhnya pedang pendek tadi. Dalam hati Siauw Ling menguatirkan keselamatan dari Gie hunya ia tidak berani membangkang perintah Cung San Pek terpaksa ia membiarkan dirinya pergi.

“Heeei! kepandaian silat hweesio itu benar-benar sangat lihay sekali,”ujar Cung San Pek sambil menghela napas panjang dan memungut kembali pedang pendeknya. “Serangan yang aku lancarkan dengan sepenuh tenaga tadi tidak lebih hanya berhasil membabat putus dua buah jari tangannya.

“Mengikuti apa yang ditunjuk Siauw Ling menundukkan kepalanya. Sedikitpun tidak salah di atas rumput terlihatlah dua buah jari tangannya yang masih berlumuran darah.

“Jari manis dan jari kelingking ini sungguh sayang”seru Cung San Pek lagi sambil mencukil kedua buah potongan jari tangan itu dengan pedangnya.

“Apa yang patut disayangkan?”“Sayang kesempurnaan belum tercapai dan kurang sedikit. Heee…! Asalkan tenagaku mendapatkan kemajuan satu tingkat saja sihweesio berjubah merah itu sekalipun ini hari berhasil meloloskan diri tetapi sedikit-sedikitnya harus meninggalkan sebuah tangannya.

““Ilmu pedang terbang dari Locianpwee ini sudah mendapatkan beberapa bagian kesempurnaan??”“Aaakh masih terpaut amat jauh boleh dikata baru saja mencapai pada permulaannya.

“Bicara sampai disitu mendadak paras mukanya berubah semakin serius sambungnya lagi, “Cuma sayang ilmu kepandaian semacam ini ada kemungkinan akan terputus sampai ditanganku.

Siauw Ling hanya merasakan beberapa patah perkataannya ini mengandung maksud yang lebih mendalam. Hanya saja untuk sesaat ia tak mengerti apakah maksudnya.

Tak kuasa lagi sambil kerutkan dahi ia berpikir keras.

Waktu itu Cung San Pek telah membawa Siauw Ling untuk memasuki kumpulan pepohonan yang rindang dan ketika dilihatnya bocah itu sedang berpikir segera tanyanya, “Bocah apa yang sedang kau pikirkan?”“Aku sedang berpikir dengan cara bagaimana baru bisa mempertahankan ilmu pedang itu tetap berada dikalangan kangouw?”“Ilmu ini adalah suatu kepandaian yang luar biasa yang bukan bisa dipelajari oleh setiap orang bilamana bakatmu tidak bisa kendati belajar seumur hiduppun hasil yang tercapai hanya seperti apa yang aku dapatkan sekarang ini untuk melukai orang pada jarak yang jauh sukar sekali untuk tercapai.

““Bilamana aku ingin membantu enci Gak untuk melawan para jago-jago Bulim ada seharusnya belajar ilmu silat yang maha lihay ini,”pikirnya secara tiba-tiba.

Berpikir akan hal itu tak terasa lagi ia sudah berkata, “Locianpwee dapatkah boanpwee mempelajari ilmu kepandaian ini?”“Aaa, haa, tulang-tulangmu bersih ditambah pula memiliki bakat alam, inilah bahan yang paling bagus untuk mempelajari ilmu silat kita,”Cung San Pek sambil tertawa keras.

“Bilamana kau suka belajar giat di dalam sepuluh tahun tentu bakal memperoleh hasil yang diinginkan.

““Kalau begitu harap Locianpwee suka memperhatikan boanpwee.

“Perlahan-lahan Cung San Pek mendongakkan kepalanya memandang awan putih yang melayang diangkasa lama sekali baru ujarnya, “Menurut apa yang aju ketahui ilmu pedang terbang ini seharusnya merupakan hasil terbesar yang bisa dicapai dalam belajar ilmu pedang. Bilamana misalnya di dalam belajar ilmu pedang ada ilmu kepandaian yang jauh melebihi kepandaian ini maka anggap saja itu hanyalah berita sensasi yang tidak benar.

““Gie hu memuji akan tenaga dalam serta ilmu pedang yang berhasil diyakinkan oleh Locianpwee.

““Perkataan dari Gie humu itu sedikitpun tidak salah”sambung Cung San Pek sambil tertawa.

“Tetapi yang dimaksudkan olehnya hanyalah ilmu yang teringat dihatiku bukannya mengartikan hasil yang dicapai karena keyakinanku.

“Kembali ia dongakkan kepalanya dan menghembuskan napas panjang.

“Pertama-tama bakatku sudah tidak baik dan ada batasnya ditambah lagi mulai belajat silat pada saat lemah-lemahnya kesehatannku kendati telah memperoleh guru yang pandai sekalipun sukar juga untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan yang dicitacitakan oleh suhuku pernah aku belajar dan berlatih mati-matian untuk menutupi kekurangan-kekurangan tersebut heei… cuma sayang bakat ada batasnya sekalipun di bawah bimbingan guru yang pandaipun tiada gunanya.

“Perlahan-lahan ia menoleh dan memandang wajah Siauw Ling dengan pandangan yang tajam.

Jilid 16 “Bocah, kau mengerti maksud perkataanku?”katanya.

Pertama-tama Siauw Ling mengangguk terlebih dulu tetapi akhirnya ia menggeleng dan sahutnya, “Aku tidak begitu mengerti!”“Dendam terputusnya kedua buah jari ini sudah tentu akan dihitung oleh si hweesio berbaju merah itu di dalam rekeningku.

“kata Cung San Pek sambil menuding kedua buah jari yang terputus di atas rumput itu. “Heeeei, walaupun selama puluhan tahun kita hidup di dalam lembah terpencil ini tanpa berhasil menentukan yang menang dan kalah, tapi pada mulanya di dalam hati kita masing-masing ada suatu perasaan ingin menang sendiri, dalam hati kita pikir, kini kita bertiga tak berhesil menentukan siapa menang dan kalah tetapi penghidupan selama puluhan tahun tentu akan mendatangkan rasa hormat dari orang-orang Bulim tapi setelah pertempuran dengan hweesio baju merah, perasaan ini kontan telah tersapu lenyap bahkan sudah mendatangkan musuh tangguh buat dirimu.

Ketika kau berkelana di dalam Bulim dikemudian hari si hweesio tentu tak akan melepaskan dirimu.

““Apakah Locianpwee tak sanggup untuk memukul rubuh dirinya?”kata Siauw Ling.

“Kali ini kita melarikan diri dengan membawa luka pertama-tama yang dikerjakan tentu mencari suatu tempat tersembunyi untuk mengobati lukanya sekalipun kita ada maksud untuk membasmi dirinyapun mungkin sukar untuk menemukan jejaknya tetapi aku merasa ia tidak bakal berani datang lagi kelembah Sam Sin Kok ini setelah mendapatkan malu.

““Akh! kiranya lembah ini bernama lembah tiga nabi, tentunya mereka sendiri yang menamakannya!”pikir Siauw Ling.

Cung San Pek mendehem perlahan lalu sambungnya lagi, “Yang aku kuatirkan justru bilamana dia mencari gara-gara dengan dirimu dikemudian hari.

““Tidak mengapa, bilamana aku tak sanggup untuk merubahkan dirinya biarlah aku lari kembali ke dalam lembah Sam Sin Kok ini.

““Heeei, aku rasa kami bertiga tidak akan bisa hidup selama itu,”sambung Cung San Pek dengan sedih.

Sewaktu berbicara sampai disitu mendadak terlihatlah Liuw Sian Ci berlari mendatang dengan cepat.

“Bagaimana dengan keadaan luka dari Lam heng?”tanya Cung San Pek.

“Tidak mengapa!”jawab Liuw Sian Ci. “Aku sama sekali tidak menyangka kalau dia adalah seorang manusia rendah, lain kali bilamana bertemu kembali dengan dirinya tentu tidak akan kulepaskan kembali.

“Cung San Pek tersenyum.

“Dia masuk ke dalam kalangan beragama mungkin sengaja berbuat untuk memperlihatkan kepadamu,”katanya. Ia merandak sebentar kemudian sambungnya.

“Tetapi demikianpun lebih baik walaupun Lam heng menderita sedikit luka tetapi bisa memusnahkan sakit hati kesalah pahaman tahun dan lukanya ini sangat berbahaya sekali.

““Hey siucay miskin!”ujar Liuw Sian Ci sambil alihkan pandangannya keatas tubuh Siauw Ling. “Kau lihat bagaimanakah bakat dari Ling jie?”“Bakat yang sangat bagus dan sukar ditemui selama puluhan tahun!”“Lalu kenapa tidak kau latih dia?”“Aku sudah menyanggupi Lam heng untuk mewariskan seluruh kepandaianku kepadanya kenapa aku tidak melatih dirinya.

““Kalau memangnya begitu memperhatikan dirinya, kenapa tidak sekalian menerimanya sebagai murid?”Sinar matanyapun segera dialihkan keatas wajah Siauw Ling dan sambungnya lagi, “Bocah bodoh ayo cepat menghunjuk hormat kepada suhumu!”Siauw Ling menyahut dan segera jatuhkan diri berlutut di atas tanah.

“Hiii…hiii… walaupun Ling jie adalah putra angkat dari Lam suhengku, diapun anak muridmu, bilamana dikemudian hari dia tak sanggup untuk menangkan orang lain maka kesalahan itu tentu terjatuh ditanganmu, karena pasti Cung San Pek tidak betul-betul memberi pelajaran dan didikan!”“Aaah, kalau begitu masih butuhkan Liuw Sian Ci suka memberi bantuan,”buru-buru Cung San Pek merangkap tangannya menjura dengan wajah serius.

“Hiii… hiii… apa yang aku ketahui tentu tidak bakal kusembunyikan!”serunya.

Selesai berkata sambil tertawa ia meloncat pergi, hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan.

Menanti perempuan itu sudah pergi jauh sisastrawan baru goyang-goyangkan kepalanya sambil menghela napas.

“Sewaktu mendendam bencinya sampai merasuk ke dalam tulang, sewaktu cinta manisnya melebihi madu. Heeei, inilah sifat dari seorang perempuan.

“Kendati dalam hati Siauw Ling menaruh banyak persoalan yang mencurigakan tetapi saat ini tak berani untuk banyak bertanya maka dengan paksaan diri bocah itu menyimpan seluruh kemurungannya di dalam hati.

“Ayo jalan, kita tengok Gie hu mu,”ajak Cung San Pek.

Mereka berdua dengan langkah perlahan melamban berjalan menuju kerumah kayu tersebut dan tampaklah Lam Ih Kong berbaring di atas pembaringan sedang Liuw Sian Ci berdiri disisinya sembari kerahkan tenaga menguruti beberapa buah jalan darah di tubuh orang itu.

Ketika melihat munculnya kedua orang itu dia hanya tersenyum saja tanpa menghentikan gerakannya.

Cung San Pek menoleh serta memandang sekejap keatas wajah Lam Ih Kong kemudian sambil tertawa ujarnya, “Sekalipun luka dari Lam heng sudah tidak mengganggu, tetapi harus beristirahat dulu tiga lima hari dan biarlah untuk sementara waktu aku membawa Ling jie untuk mendiami ruanga batu dari Lam heng itu.

““Muris itu adalah milikmu, kau suka membawanya pergi kemana bawa saja kehendak hatimu,”timbrung Liuw Sian Ci tersenyum.

Cung San Pek hanya tertawa, lalu ia membawa Siauw Ling meninggalkan tempat itu.

Lima hari kemudian tampaklah Lam Ih Kong serta Liuw Sian Ci bersama-sama mendatangi ruangan batu itu, tetapi waktu itu Siauw Ling sedang berlatih silat baru akan mencapai saat-saat yang penting sehingga walaupun ia tahu kalau Gie hunya masuk ke dalam ruangan itu tetapi ia tetap tak menyambar.

Cung San Pek yang melihat kesehatan dari Lam Ih Kong sudah pulih kembali kini jauh lebih muda, dalam hati lantas tahu kalau kesalah pahaman antara suheng moay berdua selama puluhan tahun ini tentu telah punah. Hanya saja masa muda telah berlalu sekalipun sudah rujuk, merekapun berusia setengah abad lebih. Lam Ih Kong yang melihat Siauw Ling lagi berlatih dengan rajinnya dalam hati merasa girang. Maka dengan cepat dia menarik tangan Liuw Sian Ci ujarnya, “Kita jangan mengganggu Cung heng yang lagi mendidik muridnya. Kitapun tidak bisa mengganggu Ling jie yang sedang berlatih.

“Waktu berlalu laksana sambarab kilat, di bawah didikan yang keras dari suhu, Gie hu serta Liuw Sian Ci bocah itu sudah mewarisi hampir seluruh kepandaian dari ketiga orang itu.

Itu hari selagi Siauw Ling selesai berlatih ilmu pedang dan kembali keruangan batunya, tampaklah Cung San Pek sedang menantikan kedatangannya sambil duduk bersila.

Dengan cepat Siauw Ling letakkan pedang pendeknya keatas tanah dan jatuhkan dirinya berlutut.

“Suhu apakah kau orang tua ada petuah yang hendak disampaikan kepada tecu?”tanyanya.

“Benar”sahut Cung San Pek sambil mengangguk. “Ling jie masih ingatkah kau sudah ada berapa lama kau berdiam di dalam lembah gunung ini?”“Lima tahun,”sahut bocah itu setelah termenung berpikir beberapa saat.

Selama beberapa waktu ini perduli hari terang mendung maupun hujan ia tetap terus menerus berlatih ilmu silatnya sehingga untuk menjawab sudah berapa lama ia berdiam dilembah itupun harus berpikir setengah harian lamanya.

“Sedikitpun tidak salah sudah ada lima tahun lamanya, kaupun kini harus mulai berkelana di dalam dunia kangouw untuk mencari pengalaman bagi dirimu.

“Mendengar perkataan tersebut Siauw Ling jadi melengak.

“Tapi kepandaian silat tecu belum berhasil.

““Belajar tiada batasnya!”potong Cung San Pek sembari menggeleng. “Sekalipun kau harus tinggal disini lima tahun lagipun juga sama saja. Sebetulnya kini kau sudah berhasil mewarisi seluruh kepandaian kami bertiga asalkan kau bisa berlatih lebih giat lagi tentu akan memperoleh kemajuan yang lebih pesat.

“Dikarenakan repotnya belajar ilmu silat selama beberapa tahun ini Siauw Ling kurang memperhatikan keadaan di sekelilingnya tetapi setelah diingat dengan teliti ia baru merasa bila di dalam setengah tahun ini baik suhunya maupun Gie hu serta Liuw Sian Ci sudah amat jarang sekali meninggalkan rumah kayu serta ruangan batu bahkan secara samar-samar ia merasa kalau ketiga orang itu jauh lebih tua lagi, maka perlahan-lahan ia mendongakkan kepalanya terlihatlah rambut Cung San Pek yang semula masih hitam kini sudah memutih gerakannyapun jauh lebih loyo sehingga tak kuasa lagi hatinya bergolak amat keras.

“Suhu…”teriaknya perlahan.

Mendadak Cung San Pek memandang ke arahnya dengan pandangan tajam lalu bentaknya keras.

“Gie humu serta Liuw Sian Ci telah lama menanti dirimu di dalam rumah kayu itu cepatlah kau pergi kesana untuk pamit dan nanti sebelum matahari turun gunung kau harus sudah meninggalkan lembah ini.

“Beberapa perkataan ini diucapkan dengan sangat tegas, Siauw Ling sudah tentu tidak berani banyak bicara lagi dan setelah memberi hormat buru-buru ia meninggalkan ruangan batu itu menuju kerumah kayu.

Rambut maupun jenggot Lam Ih Kong pada saat ini sudah berubah menjadi keperakperakan wajahnya kusut dan berwarna kuning, persis seperti orang tua yang baru sembuh dari penyakit berat.

Sedang wajah yang cantik dan bercahaya dari Liuw Sian Ci kinipun telah mengalami perubahan yang amat besar. Wajahnya pucat pasi dan terdapat banyak sekali guratan.

Cahaya tajam yang semula memancar keluar dari wajahnya kini telah punah tak berbekas.

Selama puluhan tahun lamanya mereka bertiga di dalam lembah yang sunyi ini untuk bertanding ilmu, tetapi keadaan mereka masih segar bugar.

Walaupun rambut serta jenggot dari Lam Ih Kong sudah memutih laksana perak tetapi wajahnya merah bercahaya bagaikan jejaka. Potongan siucay dari Cung San Pek membuat orang mengira ia baru berusia empat puluh tahunan keadaan Liuw Sian Ci jauh lebih cemerlang lagi, ia masih cantik bagaikan perempuan perawan lagi tersenyum menggiurkan.

Tetapi, kini mereka bertiga jauh lebih tua lagi membuat merekapun mulai merasa kalau saat-saat menjelang kematian telah hampir tiba.

Saking sedihnya tak kuasa lagi Siauw Ling mengucurkan air matanya.

“Bocah, kau jangan menangis lagi,”ujar Lam Ih Kong sambil menghela napas panjang.

“Dikolong langit tak akan ada perjamuan yang tak akan bubar. Kau sudah berdiam selama lima tahun lamanya dilembah sunyi ini sehingga seharusnya kau berkelana diluaran untuk mencari pengalaman…”Sambil menuding ke arah sebuah buntalan kuning yang ada di atas pembaringan kayu itu katanya lagi, “Bungkusan itu berisikan benda-benda kesayangan bibi Liuw Sian Ci selama hidupnya kini sekalian dihadiahkan kepadamu sebagai bekal diperjalanan.

““Gie hu, bibi Liuw selama lima tahun ini setiap hari Ling jie harus berlatih ilmu silat dan belum pernah memperlihatkan kebaktian kepada kalian berdua orang tua!”seru Siauw Ling dengan sedih. “Gie hu! biarlah Ling jie berangkat tiga hari lebih lambat untuk berbakti kepada Gie hu serta bibi!”“Bocah kau telah mempunyai perasaan begitu hal ini sudah sukar sekali,”ujar Liuw Sian Ci sambil menggeleng. “Tetapi keputusan ini sudah kita ambil pada setengah tahun yang lalu setelah mengalami perundingan yang cukup lama antara Gie humu, suhumu serta aku sehingga kita baru putuskan untuk menahan kau sampai ini hari.

““Heeei! bocah, kami sudah menggunakan kekuatan yang terakhir untuk menahan dirimu.

Semisalnya bisa menahan satu jam lagi akupun rela untuk membiarkan kau berangkat terlambat satu jam lagi tetapi soalnya ini tidak perlu kau paksakan lagi.

“Dengan perlahan ia menghela napas panjang kemudian dengan nada penuh kasih sayang sambungnya lagi, “Di dalam buntalan kuning itu ada sebuah peta yang dibuat sendiri oleh suhumu. Di dalam peta itu jelas menerangkan jalan yang harus kau tempuh untuk turun gunung. Nasih ada lagi sebuah sarung tangan yang terbuat dari kulit ular naga yang bernama Cian Ciauw Pih So Tauw yang berguna untuk menahan serangan pedang maupun golok. Benda itu adalah benda kesayanganku selama ini tetapi kau bawalah untuk digunakan seperlunya.

““Sedang kedua pil mujarab itu bisa bantu untuk menolong orang yang hampir mendekati ajalnyapun kau baik-baiklah menyimpannya. Nah! Sekarang juga kau pergilah!”Siauw Ling menurut dan mengambil bungkusan kuning itu, kemudian dengan rasa berat diiringi air mata yang bercucuran ia memandangi kedua orang tua itu.

“Bocah bodoh, kenapa tidak lekas-lekas pergi? Apa yang hendak kau nantikan lagi?”bentak Lam Ih Kong secara mendadak sambil melototkan matanya bulat-bulat.

Siauw Ling segera merasakan hatinya tergetar buru-buru ia menjura dengan sangat hormatnya.

“Gie hu, bibi, baik-baiklah berjaga diri, Ling jie mohon pamit”selesai berkata dengan langkah yang amat perlahan ia berjalan meninggalkan ruangan tersebut.

Baru saja ia keluar dari pintu mendadak Liuw Sian Ci ayunkan tangannya ke depan pintu kayu itupun dengan keras segera menutup.

Dengan hati berat kembali Siauw Ling berlutut untuk menjalankan hormat ke arah pintu rumah dan setelah itu baru bangun berdiri.

Baru saja berjalan beberapa tindak mendadak teringat olehnya kalau ia belum pamit dengan suhunya, buru-buru Siauw Ling kembali ke dalam ruangan batu.

Tetapi ruangan batu itu telah kosong, bayangan Cung San Pek telah lenyap tak berbekas.

Siauw Ling hanya merasakan kesedihan yang mencekam dihatinya setelah mengitari satu kali seluruh ruangan tersebut ia baru berjalan meninggalkan tempat itu.

Pada saat ini ia sudah menjadi seorang jagoan Bulim yang amat lihay, keadaannya sangat berbeda sekali dengan keadaan sewaktu mendatangi lembah tersebut.

Sambil kerahkan tenaga murninya dengan cepat ia berkelebat naik keatas tebing yang tingginya ada ratusan kaki itu.

Permukaan salju di atas puncak itu masih seperti keadaan semula tetapi bayangan yang timbul karena pantulan cahaya tersebut bukanlah keadaan diri Siauw Ling tempo dulu.

Siauw Ling pada waktu itu masih merupakan seorang bocah cilik yang tingginya tidak sampai lima depa, tetapi kini ia sudah berubah menjadi seorang pemuda tampan yang tingginya ada tiga depa.

Setelah mengitari seluruh puncak tersebut dan memandang pemandangan disana dengan hati berat akhirnya ia membuka buntalan tersebut.

Sedikitpun tidak salah di dalam buntalan itu terdapatlah sebuah peta yang dengan menerangkan seluruh keadaan di sekeliling tempat itu, di samping itu terdapat sebuah sarung tangan berwarna kuning muda serta seperangkat pakaian.

Memandang ke arah pakaian tersebut Siauw Ling baru teringat kembali kalau dirinya pada saat ini sama sekali tidak mengenakan pakaian kecuali sebuah celana yang amat pendek.

Selesai mengenakan pakaian tersebut kembali Siauw Ling memandang ke arah lembah Sam Sin Kok yang didiami selama lima tahun itu.

Tampaklah bunga tumbuh dengan suburnya diseluruh lembah, bau harum tersiar datang menyegarkan selama lima tahun tak kuasa lagi diapun menghela napas.

Dengan cepat ia jatuhkan diri berlutut dan memberi hormat ke arah lembah tersebut doanya “Ooh, Thian! Lindungilah ketiga orang tua itu agar mereka diberi usaia yang lebih panjang.

“Sehabis menjalankan hormat, dengan mengikuti peta tersebut Siauw Ling baru melakukan perjalanan turun gunung.

Dan lukisan pada peta yang dibuat oleh Cung San Pek ini benar-benar amat jelas, maka dengan mengikuti peta tersebut Siauw Ling melakukan perjalanan selama setengah hari lamanya, ketika pagi hari menjelang tiba ia telah meninggalkan deretan pegunungan tersebut.

Angin bertiup kencang membuat air sungai itu bergelombang, tanpa terasa ia sudah tiba ditepian sungai Tiang Kang.

Dengan termangu-mangu pemuda itu memandang deburan ombak yang saling sambung menyambung. Hatinya terasa amat sedih.

Teringat peristiwa tempo dulu ketika dirinya terjatuh ke dalam sungai.

“Hanya di dalam sekejap saja lima tahun telah berlalu, di dalam penghidupan manusia lima tahun tidaklah termasuk pendek, entah enci Gak saat ini masih sehat atau tidak?”Teringat akan diri Gak Siauw-cha tak terasa lagi dia menengadah keatas dan bersuit nyaring kemudian dengan langkah lebar melanjutkan perjalanannya.

Sang surya memancarkan sinarnya di tengah awang-awang, kiranya sang hari telah tiba.

Siauw Ling yang melakukan perjalanan dengan langkah lebar tanpa terasa sudah tiba di dalam sebuah kota yang amat ramai.

Peta yang terlukis oleh Cung San Pek hanya menjelaskan jalan untuk turun gunung saja setelah lukisan peta tersebut terputus, maka tak ada jalan lagi bagi Siauw Ling untuk melakukan perjalanan sekenanya.

Ketika itulah terasa bau harum tersiar datang menusuk hidung.

Bau harum tersebut memancing rasa lapar dari sang pemuda, maka dengan tiada perduli lagi segala urusan Siauw Ling segera berjalan masuk ke dalam rumah tersebut.

Suasana di dalam rumah makan itu amat ramai sekali hampir seluruh meja telah dipenuhi dengan tamu.

Keadaan Siauw Ling saat ini benar-benar luar biasa pakaiannya yang telah lama dan kumal sangat tidak cocok dibadan, kakinyapun hanya memakai seperangkat sepatu rumput keadaan pada saat ini jauh lebih jelas dari pakaian seorang pekerja kasar.

Tanpa perdulikan keadaan sendiri pemuda itu langsung naik keataws loteng.

Siapa tahu setibanya diloteng dia jadi rada tertegun karena tampaklah tempat itu tersusun dengan amat rapi serta bersih hanya saja tak terlihat sesosok manusiapun sehingga tak terasa hatinya jadi keheranan.

“Sungguh aneh sekali suasana di bawah loteng begitu ramainya sehingga kekurangan tempat, kenapa di atas loteng ini tak terlihat seorang manusiapun?”Selagi ia berdiri keheranan itulah tampak seorang pelayan berlari mendatangi dengan cepatnya.

“Toa ya apakah kau adalah tetamu yang diundang oleh Ciu Jie ya?”tegurnya kembali memperlihatkan keadaan Siauw Ling.

Dandanan yang sangat aneh dari Siauw Ling segera mendatangkan rasa ragu-ragu bagi pelayan itu hal ini membuat dia jadi tal berani berlaku gegabah.

“Ciu Jie ya?”seru Siauw Ling sambil kerutkan alisnya rapat-rapat. “Ciu Jie ya yang mana?”“Apa kau tidak kenal dengan Ciu Jie ya?”teriak pelayan itu sambil melototkan matanya.

“Bocah cilik kiranya kau hendak memancing diair keruh, ayo cepat menggelinding pergi dari sini… Kenapa?”Sang pelayan yang melihat dandanan Siauw Ling amat aneh kotor dan dekil semula menganggap dia orang adalah jagoan kangouw yang diundang oleh Ciu Jie ya, tetapi setelah mengerti dia bukanlah tetamu yang diundang dalam hatinya lantas menduga kalau pemuda itu tentulah seorang pengembala kerbau dari desa.

Maka dengan amat gusarnya segera membentak “Kau, bangsat cilik mau menggelinding pergi tidak?”Sembari berteriak tangannya dengan cepat menghantam dada Siauw Ling.

Kepandaian silat yang dimiliki pemuda tersebut pada saat ini benar-benar telah luar biasa, sekalipun tidak usah mengerahkan tenaga dalamnyapun dari kulit tubuhnya sudah memantulkan suatu tenaga yang besar.

Ketika pukulan pelayan tersebut dengan tepat menghajar dada Siauw Ling, ia segera merasakan kepalannya seperti menghantam baja yang amat keras sehingga mendatangkan rasa sakit yang luar biasa.

Bukan begitu saja bahkan terasalah segulung tenaga pantulan dengan cepat menggetarkan badannya sehingga membuat ia jatuh terjungkal dan menubruk meja yang telah diatur dengan mangkuk serta cawan.

Pentalannya kali ini benar-benar membuat sang pelayan terjatuh keras. Wajahnya bengkak-bengkak dan mengucurkan darah segar.

Dengan cepat ia merontak bangun dan buru-buru menjura.

“Toa ya, kau orang sungguh pandai menyembunyikan diri!”serunya gugup. “Hamba ada mata tak berbiji dan tidak mengenal tingginya gunung Thay-san. Biarlah sewaktu Ciu Jie ya nanti datang harap kau orang jangan mengungkap kembali soal ini, kau duduklah, biar aku sediakan air teh panas buat dirimu.

“Siauw Ling yang melihat sikapnya yang kasar cepat sudah berubah dalam hati merasa amat geli, belum sempat ia menerangkan kalau dirinya sama sekali tidak kenal dengan Ciu Jie ya yang dimaksudkan itu sang pelayan ngeloyor pergi.

Tak terasa lagi sembari memandang bayangan punggung dari sang pelayan turun dari loteng pemuda berpikir “Ciu Jie ya itu kalau bukannya kaum pembesar tentulah jagoan Liok Lim setempat, dan untuk mencari jejak dari enci Gak aku harus banyak bergaul dengan jagoan Bulim, apalagi perutku sangat lapar dan tak punya uang biar aku makan lebih dulu.

“Sejurus kemudian terlihatlah pelayan itu dengan kepala yang dibalut kain putih berjalan mendatang sambil tuangkan secangkir teh lalu membersihkan mangkuk yang pecah, sikapnya hormat sekali.

Siauw Ling tidak ambil gubris terhadap semua itu. Perlahan-lahan ia memilih tempat duduk yang dekat jendela dan memandang ke arah manusia-manusia yang sedang berjalan di bawah loteng, otaknya berpikir cara bagaimana dapat mencari jejak dari Gak Siauw-cha serta Tiong Cho Siang-ku. Sekonyong-konyong terdengar suara langkah manusia memecah kesunyian. Waktu ia menoleh ke belakang tampaklah kakek tua berambut putih dan berperawakan tinggi kekar bertindak naik keatas loteng dengan membawa seorang dara cantik berbaju hijau, gadis berbaju hijau itu hanya berusia lima enam belas tahun, tetapi wajahnya amat murung yang penuh diliputi oleh kesedihan.

Tetapi langkahnya amat mantep dan serius sekali sehingga wajahnya yang sangat adem.

Kakek tua itu mempunyai sepasang alis yang tebal. Matanya bulat besar, wajahnya persegi panjang dengan mulut yang lebar, semangatnya tinggi dengan wajah berwarna merah bersinar.

Saat ini sepasang matanya dengan amat tajam menyapu sekejap ke arah Siauw Ling kemudian duduk berhadapan dengan pemuda tersebut.

Gadis berbaju hijau itupun duduk disisi orang tua tersebut sinar matanya memandang ke arah hidung sendiri tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Sang pelayan yang melihat bentuk serta gerak-gerik kedua orang itu tidak berani banyak bicara lagi buru-buru ia menuangkan secawan teh ke arah orang tua itu sambil ujarnya, “Heee, heee Loo-ya apakah juga tetamu dari Ciu Jie ya?”Orang tua itu hanya mendengus dingin dan mulutnya tetap membungkam.

Semula nyali pelayan itu sudah dibikin pecah oleh tindakan Siauw Ling, kini melihat sikap orang tua rada tidak beres buru-buru memberi hormat dan mengundurkan diri.

Sepasang mata dari si orang tua itu kembali dialihkan keatas wajah Siauw Ling dan memandang dengan rasa dingin.

Lama kelamaan pemuda itu merasa sungkan sendiri, tak kuasa lagi ia melengos keluar jendela. Terdengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat, kiranya si orang tua itu sambil mencekal secawan air teh telah berjalan mendekati ke arah pemuda tersebut.

“Saudara cilik, siapakah namamu?”tegurnya.

“Cayhe adalah Siauw Ling, tootoa…”Dia sebetulnya hendak menyebut Locianpwee kepada orang tua itu, tetapi ketika diucapkan sampai di tengah jalan mendadak teringat kembali olehnya akan pesan dari Gie hunya yaitu tidak perduli telah bertemu dengan jagoan Bulim bagaimanapun juga harus menyebutnya dengan tingkatan yang seimbang karena itu buru-buru gantinya.

“Entah Loo heng ada maksud apa?”Mendengar disebutnya nama tersebut air muka si orang tua itu kontan berubah hebat, sekalipun dara berbaju hijau yang semula memejamkan matanya kembali dan memandang sekejap ke arah Siauw Ling.

“Dikolong langit banyak orang yang menjuluki nama kembar, apakah Siauw Ling ini mungkin sama dengan Siauw Ling itu?”terdengar si orang itu bergumam seorang diri.

Siauw Ling yang mendengar perkataan tersebut hatinya terasa rada tergerak.

“Apakah Loo heng pernah bertemu dengan seorang yang bernama Siauw Ling?”tanyanya.

“Walaupun loohu belum pernah bertemu muka tetapi sudah lama mendengar nama besarnya.

““Ooouuw! Ada urusan semacam ini?”“Ehmmm! loohu adalah Pat So Sin Liong atau sinaga sakti berlengan delapan Toan Bok Ceng!”“Toan Bok Loo heng!”sapanya.

Dalam hati diam-diam pemuda itu merasa amat malu, pikirnya, “Sungguh memalukan sekali, kiranya aku sudah lupa menanyakan nama orang lain!”Perlahan-lahan si orang tua itu meletakkan cawan tehnya keatas meja dan ulurkan tangan kanannya ke depan.

“Ini hari bisa bertemu muka dengan Siauw Tayhiap benar-benar membuat loohu amat merasa bangga.

“Siauw Ling yang melihat tangan kanannya itu sudah mendekati dadanya terpaksa iapun angkat tangannya untuk menyambut tangan kanan tersebut.

“Lain kali masih mengharapkan banyak petunjuk dari Toan Bok Loo heng”buru-buru sahutnya.

Terasalah kelima jarinya jadi mengencang kiranya tangan si orang tua itu sudah mencekal tangannya erat-erat.

Selama ia sama sekali tak pernah memiliki pengalaman di dunia kangouw barang sedikitpun, sehingga sewaktu berjabatan tangan dengan si orang tua itu dia sama sekali tidak mengadakan persiapan.

Terasalah telapak tangan dari si orang tua yang mencekal tangannya semakin lama semakin mengejang, waktu itulah ia baru merasakan kalau keadaan kurang beres. Maka diam-diam tenaga murninya dikerahkan kemudian disalurkan ke arah tangan kanannya.

kelima jari si orang tua yang mencekal tangan pemuda tersebut segera merasakan tangannya mulai dari lunak jadi keras dan akhirnya atos bagaikan baja, hal itu membuat hatinya jadi terperanjat.

“Siauw Ling baru munculkan dirinya di dalam Bulim, tidak lebih satu tahun lamanya, setidaknya nama besarnya bukanlah nama kosong belaka,”pikirnya diam-diam.

Sehingga dengan cepat ia mengendorkan tangannya kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Haaa… haaa… nama besar dari Siauw heng, benar-benar bukan nama kosong belaka, Loolap sudah melayani dirimu!”serunya.

Jelas sekali kalau nada ucapannya jauh lebih menghormat lagi.

“Akh! mana, mana, tenaga dalam dari Toan Bok heng tidak berada di bawah tenaga dalam siauwte!”Sekalipun mulutnya pemuda tersebut menjawab demikian tetapi hatinya amat murung pikirnya, “Ia memanggil diriku dengan sebutan Siauw Thayhiap. Tentu orang tua ini sudah salah menganggap aku adalah Siauw Ling yang satunya.

“Si orang tua itu mengambil kembali cawan tehnya dan putar badan siap meninggalkan tempat itu.

Mendadak Siauw Ling merangkap tangannya menjura sambil berkata, “Loo heng tunggu sebentar, cayhe ada urusan yang ingin minta pengajaran!”Mendengar perkataan tersebut sinaga sakti berlengan delapan Toan Bok Ceng lantas menghentikan badannya dan perlahan-lahan putar badan.

“Siauw heng ada keperluan apa?”tanyanya sambil tertawa.

“Siauwte belum pernah berkelana di dalam Bulim, ini kali adalah pertama kali menerjunkan diri ke dalam kangouw.

““Siauw heng sedang bergurau dengan Loolap? Atau benar-benar memberitahu?”tanya Toan Bok Ceng melengak.

“Aku benar-benar sedang memberitahukan kepada Loo heng. Bagaimana perkataan ini bisa dikatakan sebagai bergurau?”“Kalau begitu Siauw heng benar-benar bukanlah Siauw Ling yang aku maksudkan?”“Siauwte adalah Siauw Ling yang asli, aku rasa Siauw Ling yang kau maksudkan itu sengaja menyaru namaku.

“Dengan menggunakan sepasang matanya yang amat tajam Toan Bok Ceng memperhatikan diri Siauw Ling dari atas sampai ke bawah, lama sekali baru ia menghela napas.

“Bilamana kalian berdua bukanlah satu orang yang sama, maka Loolap sendiripun jadi kebingungan,”katanya kemudian.

“Tolong tanya apakah sebab-sebabnya?”“Menurut kabar yang tersiar di dalam dunia kangouw, Siauw Ling adalah seorang pemuda yang amat tampan dan berkepandaian sangat tinggi. Usianya sama dengan Siauw heng tetapi jejaknya misterius. Jikalau Loolap tinjau dari Siauw heng pada saat ini, walaupun kau memakai pakaian yang dekil dan sepatu rumput tetapi tak bisa menutupi wajahmu yang tampan serta sikapmu yang gagah.

“Sedang berbicara disitu sekonyong-konyong terdengarlah suara derapan kaki yang amat ramai berkumandang datang, agaknya ada orang yang amat banyak bersama sedang naik keatas loteng.

“Urusan ini biarlah kita bicarakan dikemudian hari saja,”ujar Toan Bok Ceng buru-buru sambil menjura.

Sehabis berkata dengan cepat ia berkelebat kembali ke tempat duduknya semula.

“Hm, ilmu meringankan tubuh dari si orang tua ini benar-benar sangat sempurna,”puji Siauw Ling diam-diam.

Hanya di dalam sekejap mata di depan pintu loteng sudah muncul sepuluh orang.

Dandanan mereka sangat aneh ada yang memakai jubah panjang, ada pula yang berpakaian singsat. Dari sepasang mata mereka pada memancarkan cahaya yang amat tajam.

Sekali pandang saja bisa diketahui kalau mereka adalah jagoan dari Bulim.

Melihat munculnya orang-orang itu dengan cepat Pat So Sin Liong miringkan tubuhnya kesamping, agaknya dia sengaja menghindarkan diri dari pandangan orang.

Berpuluh-puluh pasang sinar mata yang sangat tajam serentak manyapu ke arah Siauw Ling, sinaga sakti berlengan delapan serta dara berbaju hijau itu.

Kecuali Siauw Ling, baik Toan Bok Ceng maupun sidara berbaju hijau itu tiada hentinya miringkan tubuh menghindarkan diri dari pandangan orang-orang itu.

Mendadak tampaklah seorang lelaki berusia pertengahan munculkan diri dari dalam rombongan dan langsung mendekati diri Siauw Ling.

“Siapakah saudara?”tegurnya dengan suara yang amat dingin dan tawar. “Apakah kau orangpun sudah menerima undangan dari Jie Cungcu dari perkampungan kami?”Perlahan-lahan Siauw Ling alihkan sinar matanya keatas wajah orang itu dan terlihatlah bentuk kepalanya yang lancip serta dahi yang lebar dalam hati sudah menaruh rasa antipati.

“Siauw Ling!”jawabnya singkat.

Kedua patah kata itu benar-benar mendatangkan pengaruh yang amat besar sekali, seketika itu juga si orang laki-laki berusia pertengahan itu mundur dua langakah ke belakang dan merangkap tangannya menjura.

“Oooouw… kiranya Siauw thayhiap, maaf!”Dalam hati Siauw Ling semakin keheranan pikirnya lagi “Bagus sekali! nama Siauw Ling kiranya begitu gagah, seram dan berpengaruh!”“Hmm! terima kasih”jawabnya dingin.

Sekali lagi sambil menjura dengan hormatnya lelaki berusia pertengahan itu tertawa.

“Heee… heee… Jie Cungcu kami sama sekali tidak mengetahui jejak dari saudara karena itu tidak dapat mengirim undangan buat dirimu, harap Siauw thayhiap suka memaafkan kesalahan tersebut.

““Soal itu sih tidak perlu.

“Terdengar suara langkah kaki kembali berkumandang datang dan tampaklah seornag pemuda berdandan sangat perlente dengan didampingi dua orang bocah cilik bertindak naik keatas loteng dengan gagahnya.

“Entah siapa lagi orang ini?”batin sang pemuda di dalam hati. Si lelaki berusia pertengahan yang baru saja berbicara dengan Siauw Ling itu sewaktu melihat munculnya sang pemuda berpakaian perlente itu buru-buru berjalan mendekat dan membisikan sesuatu dengan suara yang sangat perlahan.

Semula pemuda berbaju perlente itu mengerutkan alisnya rapat-rapat tetapi akhirnya mengangguk dan tersenyum lalu berjalan ke arah Siauw Ling.

Pada jarak lima langkah dihadapan Siauw Ling pemuda itu menghentikan langkahnya dan menjura.

“Siauwte Ciu Cau Liong. Maaf, karena siauwte tidak tahu akan kedatangan dari Siauw heng sehingga tidak mengadakan penyambutan yang semestinya.

“Orang itu berwajah bersih dan tampan pakaiannnya perlente dan gagah. Jika dengar dari nada suaranya mungkin sekali dialah Ciu Jie ya yang dimaksudkan oleh pelayan itu, maka dengan cepat ia bangun berdiri.

“Perkataan Ciu heng terlalu berlebih-lebihan siauwte baru untuk pertama kalinya…”Ia rada merandek sebentar kemudian sambungnya lagi, “Siauwte baru pertama kalinya menginjak tempat ini sehingga kurang paham…”Tidak menanti Siauw Ling menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba Ciu Cau Liong menyambar pergelangan tangan kanan pemuda itu dan mencengkeramnya kencangkencang.

Siauw Ling sudah merasakan pahit getir di tangan sinaga sakti berlengan delapan Toan Bok Ceng, karena itu sekalipun pemuda she Ciu itu menyambar dengan gerakan yang sangat cepat tetapi Siauw Ling sudah mengadakan persiapan.

Maka dengan cepat ia menyalurkan tenaga dalamnya kelengan sebelah kanan sedang sikapnya sama sekali tidak berubah maupun menghindar.

Dimana pergelangan tangan siauw Ling yang kena dicengkeram Ciu Cau Liong bukan lain adalah urat nadi kematian. Kiranya di dalam hati pemuda itu benar-benar adalah Siauw Ling, maka ia tentu berusaha untuk menghindarkan diri dari cengkeraman tersebut, bilamana dia bukan Siauw Ling maka cengkeramannya ini akan membinasakan dirinya.

Siauw Ling yang baru pertama kali munculkan diri ke dalam dunia kangouw sudah tentu tidak mengetahui kelicikan serta berbahayanya Bulim, ternyata dia sama sekali tidak menghindarkan diri dari cengkeraman itu.

Hanya saja karena ilmu tenaga dalamnya amat sempurna, apalagi ilmu khie kang, Khun Cing Khie Kang nya sudah ada tujuh bagian kesempurnaan, sekali salurkan tenaga dalam, maka seluruh urat nadi serta jalan darahnya sudah terlindung dengan sendirinya.

Ciu Cau Liong hanya merasakan tangannya seperti lagi mencekal sebuah besi baja yang sangat atos bahkan secara samar-samar bisa merasakan aliran murni dibalik kulit Siauw Ling hatinya jadi terperanjat.

“Sungguh dahsyat tenaga dalam dari bangsat cilik ini,”pikirnya.

Buru-buru ia lepaskan tangan dan tertawa.

“Nama besar dari Siauw heng sudah lama siauwte ketahui, hanya saja tidak jodoh untuk bertemu muka. Ini hari bisa berkenalan dengan saudara benar-benar merupakan keuntunganku,”katanya.

Sembari menggandeng tangan Siauw Ling dengan cepat ia ulapkan tangannya ke arah jago lainnya.

“Saudara sekalian silahkan ambil tempat duduk.

““Tetapi Kiam Bun Jie Eng serta nona ketiga dari keluarga Tong belum tiba,”kata si lelaki berkepala lancip itu dengan sangat hormat.

“Kalau begitu tidak usah menunggu mereka lagi.

“Si lelaki itu lantas memperlihatkan wajah yang serba salah, bisiknya kembali, “Perkataan yang Jie Cungcu adakah pada ini hari adalah khusus untuk menyambut kedatangan mereka bertiga.

““Haaa… haaaa… kalau begitu perayaan ini hari diganti saja untuk menyambut kedatangan dari Siauw heng!”sambung Ciu Cau Liong sambil tertawa.

“Hidangkan arak!”katanya.

Perjamuan sudah tersedia, sebentar saja arak serta sayur sudah dihidangkan.

Ciu Cau Liong segera menggandeng Siauw Ling untuk ambil tempat duduk, lalu sambil angkat cawan ujarnya tertawa, “Jejak Siauw heng misterius bagaikan naga sakti yang kelihatan kepala tak kelihatan ekornya. Ini hari dengan melihat sedikit paras mukaku suka memperkenalkan diri. Hal ini membuat siauwte merasa amat berterima kasih sekali.

“Walaupun di dalam hatinya Siauw Ling bermaksud untuk menerangkan kejadian yang sebetulnya tetapi iapun merasa keruwetan dan kekacauan di dalam urusan ini sehingga membuat dirinya tak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun dan terpaksa iapun angkat cawannya.

“Ciu heng, kau terlalu bersikap sungkan,”sahutnya.

Tetapi pikirnya dengan cepat berputar terus dihatinya.

“Orang itu sudah menyaru dengan menggunakan namaku, kini bilamana aku meminjam pula kecermelangannya hal inipun tidak bisa keterlaluan. Apa lagi pada saat dan keadaan seperti ini sekalipun diterangkan dengan beribu-ribu patah perkataan tidak bakal bisa dijelaskan kembali duduknya perkara!”Terpikir sampai disitu, hatiku terasa lebih lega.

Agaknya Ciu Cau Liong ada maksud untuk mengikat tali persahabatan dengan Siauw Ling karena nada ucapannya selama perjamuan selalu menyanjung dirinya, bahkan dengan penuh kehormatan dan perasaan kagum ia melayani pemuda tersebut.

Para jago lainnya yang melihat sikap dari Ciu Cau Liong ini segera pada berebut menghormati pemuda tersebut sehingga membuat Siauw Ling terangkat sampai surga tingkat ketiga belas angker.

Siauw Ling yang baru untuk pertama kalinya menerjunkan diri ke dalam dunia kangouw dan menerima penghormatan yang demikian luar biasanya, kendati ia adalah seorang yang cerdik tidak urung kena terpengaruh juga ia merasa orang-orang itu sangat baik sekali terhadap dirinya membuat ia merasa amat sungkan.

Ditambah pula Ciu Cau Liong adalah seorang yang pandai berbicara setiap perkataannya tentu membuat Siauw Ling sipemuda yang baru saja terjunkan diri ke dalam dunia kangouw ini menjadi kegirangan.

Di tengah ramainya suasana pesta sinaga sakti berlengan delapan Toan Bok Ceng serta sidara berbaju hijau itu tetap menyepi dipojokan keadaan mereka amat aneh dan misterius sekali.

Kiranya sejak tadi Ciu Cau Liong telah memberi tanda kepada anak buahnya untuk jangan menyelidiki asal usul dari kedua orang tua serta gadis tersebut, karenanya sampai saat itu tak seorangpun yang pergi mengganggu kedua orang itu.

Walaupun begitu secara diam-diam Ciu Cau Liong selalu memperhatikan keadaan dari si orang tua serta sidara berbaju hijau itu. Keadaannya penuh diliputi oleh keragu-raguan.

Bilamana Siauw Ling adalah seorang yang pernah berkelana di dalam dunia persilatan pasti akan bersikap lebih waspada lagi, karena ia tentu akan menemukan bagaimanakah sikap dari Ciu Cau Liong ini terhadap si orang tua serta dara berbaju hijau itu.

Tetapi pada saat ini Siauw Ling sudah dikerumuni oleh sikap yang hormat dari para jago lainnya ditambah pula Ciu Cau Liong dapat bertindak sangat hati-hati sekali, hal ini sudah tentu membuat sang pemuda jadi lupa daratan.

Di tengah kegembiraan perjamuan itu mendadak tampaklah seorang lelaki berpakaian singsat yang seluruh tubuhnya telah basah dengan keringat lari naik keatas loteng kemudian menjura dengan hormatnya kepada Ciu Cau Liong.

“Lapor Jie ya. Kiam Bun Siang Eng telah tiba diluar kota Koie Cho!”katanya.

“Sudah tahu!”jawab Ciu Cau Liong sambil ulapkan tangannya lelaki berpakaian singsat itu segera menjura kembali dan putar badan meninggalkan tempat itu.

Tidak lelaki tersebut berlalu kembali terlihatlah seorang lelaki dengan pakaian yang basah oleh keringat dan wajah penuh dengan debu lari naik keatas loteng.

“Lapor Jie ya!”serunya sambil menjura.

“Tandu dari nona Tang Sam dari daerah Su Cehuan telah tiba tiga lie diluar kota.

““Hahaha… baik! Segera aku pergi menyambut kedatangan mereka.

“Dengan perlahan ia menoleh ke arah Siauw Ling dan berkata kembali sambil tersenyum, “Sebentar kemudian biarlah Siauwte perkenalkan Siauw heng dengan beberapa orang Toa enghiong dari Bulim.

“Ia berhenti sesaat sambil tertawa terbahak-bahak sambungnya kembali, “Sekalipun beberapa orang ini adalah jagoan-jagoan lihay dari Bulim, tetapi dibandingkan dengan nama besar Siauw heng, masih terpaut sangat jauh sekali.

““Pujian dari Ciu heng ini bagaimana mungkin siauwte berani menerimanya.

“Belum habis perkataannya mendadak terdengarlah suara helaan napas yang rendah dan berat berkumandang.

Mendengar suara tersebut Siauw Ling lantas menoleh dan tampaklah sidara berbaju hijau itu sudah bangun berdiri. Diantara ayunan ujung bajunya tampaklah tiga rentetan cahaya putih yang amat menyilaukan sedikit suarapun telah mengancam tiga buah jalan darah penting pada punggung Ciu Cau Liong.

Melihat kejadian tersebut Siauw Ling jadi sangat terperanjat tanpa berpikir panjang lagi tangannya segera diayunkan melancarkan satu pukulan keras bersamaan itu pula mulutnya segera berteriak keras.

“Ciu heng, hati-hati!”Mendengar suara peringatan itu Ciu Cau Liong jadi tersadar buru-buru tubuhnya melayang sejauh tiga depa ke depan kemudian baru putar badannya.

Kejadian ini berulang amat cepat sedang gerakan pukulan dari Siauw Ling amat aneh menanti Ciu Cau Liong telah berputar badannya ketiga rentetan cahaya putih itu sudah kena dipukul miring oleh angin pukulan dari Siauw Ling.

Ketika melihat ketiga bilah pisau terbang beracunnya kena dipukul mental sejauh lima depa oleh angin pukulan dari Siauw Ling itu dalam hati sidara berbaju hijau segera merasa terkejut bercampur gemas. Terkejut karena melihat kedahsyatan angin pukulan dari Siauw Ling.

Gemas karena ia suka mencampuri urusan orang lain.

Di tengah suara tertawa dingin yang memekikkan telinga kembali ujung bajunya dikebutkan ke depan, empat rentetan cahaya putih dengan cepatnya menyambar ke depan.

Dua bilah mengancam dada Siauw Ling dan dua bilah menyambar ketubuh Ciu Cau Liong.

Siauw Ling dengan cepat mendorongkan sepasang tangannya ke depan, diantara ulapan tangannya tahu-tahu rentetan cahaya keemas-emas tersebut sudah tercekal ditangannya.

Sebaliknya Ciu Cau Liong tidak berani menempuh bahaya. Tangan kanannya dilemparkan ke depan. Di tengah berkelebatnya cahaya hijau cahaya keemas-emasan yang menerjang ketubuhnya sudah berhasil dipukul jatuh.

Siauw Ling segera tundukkan kepalanya melihat kedua buah benda keemas-emasan yang ada ditangannya.

Kiranya kedua benda tersebut bukan lain adalah dua bilah pedang pendek yang sisinya bergerigi, di atas ujung gergaji tersebut secara samar-samar memancarkan cahaya kebirubiruan, jelas kalau pisau tersebut telah dipolesi dengan racun.

Hatinya jadi amat terkejut.

Waktu itu di tengah suara benatakn yang amat keras para jago yang ada di atas loteng itulah pada bangun berdiri dan hendak menubruk ke arah Toan Bok Ceng serta sidara.

“Siauw heng!”terdengar Ciu Cau Liong berbisik sambil menghela napas panjang.

“Kepandaian silatmu sungguh tinggi nyalipun besar hal ini benar-benar membuat siauwte merasa amat kagum. Kedua bilah pedang ini mempunyai ujung-ujung bergerigi yang telah dipolesi oleh racun ganas sekalipun orang yang pernah berlatih ilmu Thian San Ciang pun tentu tidak akan kuat untuk menerimanya, tadi Siauw heng ternyata sudah berlaku gegabah dengan menjepit pedang tersebut dengan kekuatan jari.

“Ia berhenti sebentar untuk kemudian sambungnya kembali, “Lain kali lebih baik jangan menempuh bahaya.

“Diam-diam Siauw Ling merasa amat malu sendiri maka dengan perlahan-lahan meletakkan pedang emas itu keatas meja dan menoleh ke arahnya.

Dan tampaklah di tangan kanan Ciu Cau Liong pada saat ini telah mencekal sebuah senjata Toei Giok Ci yang panjangnya ada satu depa dua coen secara samar-samar dari senjatanya memancarkan cahaya kehijau-hijauan.

Tidak menanti Siauw Ling bertanya Ciu Cau Liong sudah berkata lebih dulu.

“Senjata Coei Giok Ci dari siauwte ini sekalipun tidak bisa dikatakan sebagai senjata pusaka , tetapi senjata ini terbuat dari pualam dingin yang telah berusia ribuan tahun lamanya, kerasnyapun laksana baja dan tidak akan putus oleh bacokan pedang maupun golok. Bilamana siauw heng suka, biarlah siauwte hadiahkan senjata pualam ini buat Siauw heng.

““Haaa, haaa, bagaimana siauwte berani menerimanya?”buru-buru tolak Siauw Ling sambil goyangkan tangannya.

Sekonyong-konyong terdengarlah suara dengusan berat berkumandang datang yang disusul dengan rubuhnya sang tubuh keatas lantai dengan cepat, mereka pada menoleh ke arah kalangan pertempuran.

Terlihatlah para jago sedang mengerubuti sinaga sakti berlengan delapan serta sidara berbaju hijau itu kini sudah ada empat lima orang berhasil dirobohkan.

Tenaga dalam dari si Pat So Sin Liong sangat sempurna setiap pukulannya dahsyat laksana menggulungnya ombak di tengah samudra walaupun para jago menyerang dari empat arah delapan penjuru, tetapi tetap tak berhasil juga untuk mendekati tubuhnya.

Dengan pandangan yang dingin Siauw Ling menyapu sekejap ke arah sidara berbaju hijau itu. Ketika melihat wajah yang serius dari Toan Bok Ceng pada saat ini memancar rasa mangkel serta gusar yang bukan kelapang. Ditambah pula sepasang matanya yang melotot lebar-lebar dan mengandung penuh kebencian itu membuat hati sang pemuda merasa tergetar amat keras.

Ketika menoleh kembali ke arah Ciu Cau Liong waktu itu ia kelihatannya sedang memandang ke arah jalannya pertempuran dengan wajah penuh tersungging senyuman.

Melihat begitu Ciu Cau Liong sama sekali tidak bergerak, agaknya ia sama sekali tidak mau mengurusi orang-orangnya yang mati maupun terluka di tangan si orang tua itu.

Siauw Ling yang melihat korban-korban semakin lama semakin numpuk hatinya jadi tidak tega, maka tubuhnya mendadak bergerak maju mendekati ke tengah kalangan.

Begitu ia turun tangan, maka dengan cepat terlihatlah empat orang lelaki kasar pada menyingkir kesamping memberi jalan buatnya.

Melihat datangnya serangan Siauw Ling, sepasang mata Toan Bok Ceng yang semula telah diliputi penuh kebencian kini kontan berubah jadi merah berapi-api, dengan gusarnya ia membentak keras.

“terimalah serangan dari loohu!”Dengan disertai sambaran angin yang tajam menghantamkan sepasang tangannya sejajar dada.

Siauw Ling yang baru saja untuk pertama kalinya bergebrak dengan orang lain, sama sekali tidak memiliki pengalaman sedikitpun maka ketika melihat datangnya serangan yang begitu dahsyat ia tak berani menerimanya dengan keras lawan keras.

Tangan kanannya dengan cepat membabat ke depan, kelima jarinya diayunkan mengancam urat nadi dari Toan Bok Ceng.

“Aaah! Ilmu menotok jalan darah Lan Hoa Hu Hiat So!”teriak si orang tua dengan kagetnya, buru-buru ia mengundurkan diri dua langkah ke belakang.

“Sedikitpun tidak salah!”sahut Siauw Ling.

Mendadak tampaklah serentetan cahaya keemas-emasan kembali berkelebat datang menusuk ke arah iga kirinya. Senjatanya belum tiba, angin serangan yang dingin telah menyambar terlebih dulu.

Siauw Ling jadi amat terperanjat, tubuhnya miring kesamping balas melancarkan satu babatan.

“Plaaak! dengan disertai suara bentrokan yang amat nyaring sebilah pedang emas terpental udara disusul tubuh sidara berbaju hijau itu mundur dua langkah ke belakang.

Tangan kirinya mencekal pergelengan tangan kanannya sedang air mata bercucuran keluar dari kelopak matanya jelas dia telah menderita luka yang tidak ringan.

Kiranya serangan babatan dari Siauw Ling tadi dengan tepat berhasil menghajar pergelangan tangan kanan si dara berbaju biru itu.

Siauw Ling rada tertegun, dalam hati dia kepingin mengucapkan beberapa patah kata yang meminta maaf, tetapi belum sempat ia membuka mulutnya mendadak tampaklah sinaga sakti berlengan delapan sudah mengebutkan ujung jubahnya ke depan.

Serentetan cahaya keperak-perakan dengan cepat memenuhi seluruh angkasa mengurung seluruh tubuhnya.

“Siauw heng hati-hati terhadap senjata rahasia,”terdengar suara Ciu Cau Liong berkumandang masuk ke dalam telinga.

Toan Bok Ceng mempunyai julukan sebagai sinaga sakti berlengan delapan, tentunya di dalam ilmu menyambit senjata rahasia sangat lihay serta menjagoi seluruh Bulim.

Hanya di dalam sekali kebutannya saja, pisau terbang, panah pendek, jarum perak, piauw ganas serta berpuluh-puluh macam lagi senjata rahasia laksana curahan hujan bersamasama mengancam kesepuluh jalan darah terpenting di atas tubuh Siauw Ling.

Melihat serangan yang demikian dahsyatnya itu Siauw Ling jadi sangat terperanjat.

“Sekali melancarkan serangan ia bisa menyambitkan senjata rahasia yang sedemikian banyaknya, hal ini benar-benar merupakan berita yang belum pernah aku dengar!”Maka tangan kanannya buru-buru melancarkan satu pukulan ke depan sedang tubuhnya meloncat ke arah belakang.

Segulung hawa pukulan yang maha dahsyat tiada hentinya mengalir keluar, senjatasenjata rahasia yang sedang meluncur datang itu laksana terhalang oleh sebuah tembok yang tak berwujud dengan cepatnya terpental dan jatuh kesamping.

Melihat kedahsyatan lawannya mendadak Toan Bok Ceng menghela napas panjang.

“Bocah mari pergi!”serunya.

Tangan kirinya dengan cepat menyambar tubuh sidara berbaju hijau itu kemudian dengan cepatnya mereka menerjang keluar melalui jendela.

Siauw Ling segera enjotkan badannya untuk mengejar dari arah belakang.

Dan tampak pula bayangan hitam berkelebat tahu-tahu Ciu Cau Liong pun sudah mengejar dari arah belakang.

“Siauw heng ada pepatah mengatakan penjahat miskin tak usah dikejar, biarkanlah mereka pergi!”Sebetulnya Siauw Ling tidak bermaksud untuk mengejar orang itu, ia hanya kepingin melihat Toan Bok Ceng dengan menggendong seseorang apakah bisa meloncati loteng yang demikian tingginya.

Tampaklah tangan kanan Toan Bok Ceng menekan ujung jendela sehingga dengan meminjam tanaga pantulan tersebut tubuhnya segera meloncat kebangunan rumah yang ada dihadapannya hanya di dalam sekejap saja telah lenyap dari pandangan.

Melihat kehebatannya itu diam-diam Siauw Ling menghembuskan napas panjang tanyanya sambil menoleh, “Ciu heng sebetulnya kau dengan mereka berdua mempunyai ganjalan sakit hati apa?”“Dendam sakit hati yang terjadi di dalam dunia kangouw sudah sangat biasa,”sahut Ciu Cau Liong sambil tersenyum. “Terhadap kedua orang itu siauwte sama sekali tidak kenal, kenapa mereka hendak turun tangan terhadap siauwte aku sendiripun tidak tahu. Untung saja hari ini Siauw heng suka turun tangan menolong siauwte. Kalau tidak mungkin saat ini aku sudah terluka di tangan mereka.

““Heeei, enci Gak, kau sama sekali tidak ada ikatan dendam maupun sakit hati dengan orang-orang Bulim, tetapi karena mereka menginginkan anak kunci istana terlarang, tanpa sungkan lagi telah menggunakan berbagai cara yang licik untuk menyusahkan enci Gak”katanya.

Segera ia menghela napas panjang ujarnya, “Perkataan dari Ciu heng sedikitpun tidak salah, peristiwa yang terjadi dalam dunia kangouw memang sangat susah untuk ditebak sebelumnya.

“Pada waktu itulah terdengar suara seseorang yang rendah dan berat berkumandang datang.

“Lapor Jie ya, Kiam Bun Siang Eng telah tiba di bawah loteng!”“Ehmm, cepat kalian singkirkan orang-orang yang terluka turun dari loteng”perintah pemuda she Ciu itu dengan cepat.

Kemudian sambil menggandeng tangan kanan Siauw Ling sambungnya, “Ayo jalan saudara Siauw, biarlah aku kenalkan dirimu dengan Kiam Bun Siang Eng, berkenalan dengan beberapa orang tidaklah mungkin akan mendatangkan bencana.

“Dalam hati sebetulnya Siauw Ling tidak ingin untuk berkenalan dengan beberapa orang itu, tetapi berhubung tangannya sudah digandeng ia mengikuti pula diri Ciu Cau Liong turun dari loteng.

Baru saja mereka tiba di depan pintu kedai tampaklah dua ekor kuda yang tinggi besar telah berhenti diluar pintu.

Di atas kuda tersebut duduklah dua orang lelaki kasar yang memakai pakaian singsat berwarna abu-abu dengan mantel berwarna kuning.

Buru-buru Ciu Cau Liong melepaskan cekalan pada tangan Siauw Ling dan merangkap tangannya menjura.

“Baru saja siauwte bertemu dengan pembunuh gelap sehingga tidak dapat menyambut kedatangan saudara berdua dari tempat kejauhan, harap kalian suka memaafkan!”serunya.

“Ciu heng terlalu sungkan, apakah pembunuh gelapnya sudah berhasil ditangkap!”serempak sahut kedua orang itu sambil meloncat dari kudanya.

“Pembunuh gelapnya sudh melarikan diri. Terima kasih atas perhatian kalian berdua.

“Salah seorang diantara mereka berdua yang usianya rada lanjut dan mempunyai jenggot warna kuning pada janggutnya, segera maju ke depan dan berkata, “Sayang sekali kedatangan kami berdua terlambat satu langkah, kalau bisa datang dari tadi mungkin mereka tidak akan berhasil melarikan diri!”“Siapakah sebetulnya orang itu? ternyata berani bertindak kurang ajar dengan Ciu heng!”sambung lelaki yang dibelakangnya.

“Orang itu memiliki kepandaian silat yang sangat lihay berturut-turut ia berhasil melukai tujuh orang Loohan dari perkampungan kami,”sahut Ciu Cau Liong sambil tertawa.

Sinar matanya dengan perlahan dialihkan keatas tubuh Siauw Ling dan sambungnya, “Bilamana bukannya Siauw heng yang keburu turun tangan menolong mungkin pada saat ini siauwte sudah menemui ajalnya di bawah serangan pisau terbang beracun dari pembunuh gelap itu.

““Akh, ada peristiwa semacam ini? Sungguh luar biasa sekali!”teriak si lelaki yang mempunyai jenggot berwarna kuning.

Sinar matanya segera dialihkan keatas wajah Siauw Ling dan ujarnya “ “Lalu saudara ini adalah…”“Hahahaha… hampir-hampir saja siauwte sudah lupa untuk memperkenalkan kalian berdua dengan diri Siauw heng.

“Sambil menuding pemuda tersebut sambungnya “Dia bukan lain adalah Siauw Thayhiap, Siauw Ling heng yang namanya mulai terkenal diseluruh dunia persilatan. Walaupun usianya dari Siauw heng masih muda, tetapi kepandaian silatnya sangat luar biasa sekali, sejak semula ia sudah menjadi manusia penting di dalam kalangan persilatan.

“Dengan pandangan yang kurang percaya si lelaki kasar itu memperhatikan Siauw Ling dari atas ke bawah, dari bawah keatas, akhirnya sambil merangkap tangannya menjura katanya, “Telah lama aku kagumi nama besarmu.

““Mana… mana…”buru-buru Siauw Ling merangkap tangannya balas memberi hormat oia hanya merasa nada suara dari orang itu sangat dingin dan tawar sekali, tetapi ia belum merasakan kalau pihak lawan sebenarnya sama sekali tidak memandang sebelah matapun kepadanya.

Ciu Cau Liong segera menuding ke arah si lelaki kasar berjenggot kuning itu ujarnya, “Dia adalah Loo toa dari Kiam Bun Siang Ing, Tui Hung Kiam atau sijagoan pedang pengejar angin Pei Pek Lie.

“Ia mandek sejenak untuk kemudian sambil menuding ke arah si orang lelaki berjenggot putih itu sambungnya, “Dia adalah Loo jie Boe Im Kiam atau sijagoan pedang tanpa bayangan Than Tong!”“Dikemudian hari aku masih membutuhkan banyak petunjuk dari saudara berdua,”ujar Siauw Ling sambil menjura kembali.

“Hm! kami dua bersaudara tidak berani menerimanya,”kata Pei Pek Lie dingin.

“Kalian berdua datang dari tempat kejauhan tentunya sangat lapar”sela Ciu Cau Liong sambil kerutkan dahinya. “Di atas loteng ada arak dan nasi. Silahkan saudara berdua naik keatas loteng.

“Selesai berkata sambil menggandeng tangan Siauw Ling lantas menyingkir kesamping memberi jalan buat tetamunya itu.

Pie Pek Lie yang melihat keakraban Ciu Cau Liong dengan Siauw Ling hatinya tak terasa jadi bergerak pikirnya, “Selamanya Ciu Cau Liong bersifat pengecut dan selalu mementingkan diri sendiri. Kini ia suka bersikap akrab dengan bangsat cilik itu, jelas Siauw Ling bukanlah manusia sembarangan,”kiranya Ki Bun Siang Ing sudah ada tiga tahun lamanya mengasingkan diri dari pergaulan guna mempelajari semacam ilmu pedang gabungan yang amat lihay.

Jilid 17 Karena peristiwa munculnya Siauw Ling yang menggemparkan seluruh dunia kangouw belum sampai terdengar oleh mereka berdua, tetapi setelah berpikir begitu dengan langkah lebar kedua orang itu segera bertindak masuk ke dalam rumah makan juga.

Than Tong dengan cepat mengikuti dari belakang tubuh Pei Pek Lie. Menanti sewaktu ada disisi tubuh Siauw Ling mendadak ia menyentilkan jari tangannya.

Segulung angin serangan dengan dahsyatnya menyambar ke arah jalan darah “Yang Kwan hiat”pada lutut kirinya.

Siauw Ling sama sekali tak menduga bila ia bisa membokong secara demikian liciknya untuk beberapa saat lamanya ia jadi gelegapan dan menyingkir ke belakang.

“Siauw heng sungguh cepat ilmu menghindarmu,”ejek Than Tong sambil tersenyum.

Jelas kalau nada ucapannya mengandung nada sindiran yang sangat tajam.

Sebenarnya dengan kepandaian silat yang dimiliki Siauw Ling pada saat ini asalkan ia menutup seluruh pernapasan dan jalan darahnya dengan keras lawan keras maka bisa menahan datangnya serangan jari tersebut tetapi hanya saja dikarenakan pemuda ini sama sekali tidak memiliki pengalaman di dalam menghadapi musuh maka melihat datangnya serangan tersebut ia jadi kebingungan sendiri.

Ciu Cau Liong takut Siauw Ling dalam keadaan gusar balas melancarkan serangan ke arah lawan-lawannya buru-buru dengan ilmu untuk menyampaikan suaranya, “Siauw heng dengan memandang di atas wajah siauwte harap kau jangan marah, kedua orang ini sudah terbiasa bersikap sombong terhadap orang lain bilamana ada kesempatan tidak ada halangannya.

““Siauw heng memperlihatkan beberapa macam kepandaian sakti buat mereka lihat dengan demikian dikemudian hari pasti mereka berdua tidak akan berani bersikap sombong lagi terhadapa dirimu.

“Sebenarnya Siauw Ling kepingin mengumbar hawa amarahnya, tetapi setelah mendengar nasehat dari Ciu Cau Liong ini ia jadi rada sungkan dan dengan paksaan diri menahan kemangkelan dihatinya.

Perjamuan kembali dihidangkan. Menggandeng tangan Siauw Ling segera duduk satu meja dengan Kiam Bun Siang Ing.

“Siauw heng,”ujar Pei Pek Lie secara tiba-tiba sambil berdiri dan memenuhi cawan, arak pemuda tersebut. “Kita orang baru bertemu muka untuk pertama kalinya biarlah Siauw heng hormati secawan arak buat dirimu.

“Saat itu Siauw Ling sudah mengadakan persiapan, perlahan-lahan iapun bangun.

Sewaktu tangannya hendak menerima angsuran cawan arak itu tiba-tiba terdengalah suara desiran yang sangat tajam sebatang jarum perak yang memancarkan cahaya kebiru-biruan telah menancap di dalam cawan arak itu.

Disusul berkumandangnya suara tertawa yang amat merdu dari seseorang.

“Bagus sekali tetamu belum pada berdatangan kalian sudah mau mulai minum arak aku mau lihat siapa yang bernyali untuk meneguk habis arak yang ada dicawan itu.

“Ketika semua orang menoleh ke arah berasalnya suara tersebut, tampaklah seorang gadis muda yang memakai baju berwarna merah telah berdiri dimulut loteng dan ia tertawa cekikikan.

Maka dengan cepat Ciu Cau Liong bangun berdiri sambil menjura.

“Nona Sam sungguh lihay ilmu meringankan tubuhmu,”pujinya dengan suara keras. “Di bawah pandangan berpuluh-puluh pasang mata kita ternyata tak seorangpun yang berhasil melihat sejak kapan nona Sam tiba di atas loteng.

“Sekonyong-konyong dara berbaju merah itu menarik kembali senyumannya dan dengan wajah yang sangat dingin katanya, “Ciu Jie Cungcu mengirim surat undangan untuk mengundang aku datang kemari, tetapi ternyata saat ini bersikap begitu lamban, bukankah terang-terangan kau yang tidak memandang sebelah mata kepada aku Tang Sam Kauw?”“Nona Sam bagaimana kau bisa berkata demikian!”seru Ciu Cau Liong sambil tertawa paksa. “Siauwte sudah sangat lama mengagumi ilmu sakti dari keluarga Tang di daerah Su Tuan. Bukannya sengaja kami bertindak lamban di dalam penyambutan atas kedatangan nona Sam, hanya saja dikarenakan baru saja siauwte menemui utusan yang berada diluar dugaan, maka tidak bisa jauh-jauh menyambut kedatanganmu nona, harap kau suka memaafkan.

““Peristiwa apa yang berada diluar dugaan.

““Siauwte telah menemui pembunuh gelap!”Alis mata Tang Sam Kauw melentik, kemudian setelah menyapu sekejap ke arah Kiam Bun Siang Ing, ujarnya, “Ada dua orang jagoan pedang yang terkenal di tempat ini. Aku rasa pembunuh gelap itu tentunya kalau tidak mati sudah pasti terluka di tangan mereka.

“Sejak semula Pei Pek Lie sudah merasa tidak puas atas perbuatan Tang Sam Kauw yang menyambitkan sebatang jarum beracun ke dalam cawan araknya, hanya saja dengan memandang wajah Ciu Cau Liong ia merasa tidak leluasa untuk mengubernya keluar.

Siapa tahu kini kembali Tang Sam Kauw menyindir dirinya, tak terasa lagi ia sudah tertawa dingin tiada hentinya.

“Hmmm, heeee… ilmu menyambit senjata rahasia dari keluarga Tang di daerah Tzuang sudah lama menggetarkan seluruh dunia persilatan. Tentang hal ini sudah lama cayhe mendengarnya. Ini hari dapat melihat dengan mata kepala sendiri atas kelihayannya nona menyambit jarum beracun ke dalam cawanku. Hal ini benar-benar sudah membuka mata kami.

““Heee… heee… bagus-bagus apakah dalam hati kau merasa tidak terima?”ejek Tang Sam Kauw lagi sambil tertawa hambar.

Pei Pek Lie yang mendengar perkataannya belum habis diucapkan kembali terpotong olehnya, dalam hati merasa semakin gusar lagi, maka air mukanya segera berubah sangat hebat.

“Senjata rahasia beracun dari keluarga Tang di daerah Su Tzuan walaupun sangat beracun, tetapi kami Bun Siang Ing tidak akan memandangnya dihati.

““Woouu, kiranya begitu?”seru gadis itu sambil melangkah maju dengan perlahan.

“Bilamana kau tidak percaya bagaimanakah sejata rahasia keluarga Tang kami sekarangpun tiada halangannya untuk menghabiskan arak yang ada di dalam cawanmu itu!”Perlahan-lahan Pei Pek Lie menundukkan kepalanya sewaktu melihat arak di dalam cawannya telah berubah jadi hitam gelap hatinya terasa agak bergidik walaupun begitu paras mukanya masih tetap tenang saja.

“Heee. heee sekalipun meneguk arak obatmu belum tentu bisa membuat aku orang she Pemati keracunan,”serunya sambil tertawa dingin.

“Heee, heee, heee kenapa tidak kami coba sekarang juga!”ejek Tang Sam Kauw tawar.

0 Response to "Rahasia Kunci Wasiat Bagian 13"

Post a Comment