coba

Rahasia Kunci Wasiat Bagian 06

Mode Malam
“Nama pendekar dari Shen heng sudah lama cayhe kagumi…”“terima kasih… terima kasih…”“Lebih baik kita sekarang buka kartu saja,”ujar Sang Pat lagi. “Kedatangan Shen heng kali ini apakah disebabkan oleh karena anak kunci Cing Kong Ci Yau itu???”“Soal ini aku si pengemis tua memang bermaksud untuk mendapatkannya, cuma tidak tahu ada hokhie atau tidak???”“Shen heng apa mengundang bala bantuan???”tiba-tiba tanya Sang Pat dengan wajah berubah hebat.

“Silahkan berbicara, aku si pengemis tua pasti akan mendengarkannya dengan baikbaik.

“Sinar mata Sang Pat dengan perlahan menyapa sekejap ke arah Gak Siauw-cha, lantas ujarnya, “Anak kunci Cing Kong Ci Yau milik nona Gak sudah dijual kepada cayhe.

Bilamana kedatangan Shen heng kali ini juga bertujuan pada kunci itu lebih baik mulai sekarang pun mundurkan diri saja, karena barang ini sudah milik cayhe.

““Hmm, tetapi sayang yang datang karena itu bukan cuma aku si pengemis tua saja!”seru si pengemis dengan dingin.

“Cayhe cuma mengharapkan Shen heng suka memberi muka kepada kami dan janganlah turun tangan mengganggu kami.

““Jika demikian adanya apakah anak kunci Cing Kong Ci Yau itu betul-betul sudah terjatuh ketangan Sang heng???”“Sampai waktu ini cayhe masih belum melihat anak kunci Cing Kong Ci Yau tersebut tetapi nona Gak sudah mengadakan perjanjian dengan cayhe untuk jual benda tersebut kepada kami.

“Dari dalam kualinya yang besar kembali pengemis tua meraup segenggam nasi dan dijejalkan kembali ke dalam mulutnya.

“Nona Gak ini apakah keturunan dari Gak Im Kauw?”tanyanya tiba-tiba.

“Dia adalah ibuku almarhum!”jawab Gak Siauw-cha dengan dingin.

“Apa? ibumu sudah meninggal?”tiba-tiba si pengemis tua itu meloncat bangun.

“Benar! ibuku sudah meninggal beberapa hari lamanya.

“Mendadak si pengemis tua itu menghela napas panjang-panjang dan gumamnya seorang diri, “Selamanya aku si pengemis tua belum pernah merasakan kekecewaan seperti ini hari berkecuali…”Mendadak dia sadar kembali kalau dirinya sudah kebacut bicara dengan cepat maka menutup mulutnya rapat-rapat, setelah itu kepalanya ditoleh memandang Tiong Cho Siang-ku dan ujarnya, “Aku si pengemis tua datang kemari karena memperoleh kabar, sudah tentu di dalam hal ini mempunyai satu bagian. Hm, selama beberapa tahun ini kalian dua bersaudara selalu memperoleh sukses, hal ini dikarenakan orang lain tidak suka memperebutkan intan permata dengan kalian, tetapi mengenai anak kunci Cing Kong Ci Yau ini aku rasa sangat jauh berbeda,”“Hai pengemis tua kau tidak usah banyak bicara lagi,”potong si pipi besi berwajah dingin Tu Kiu sambil tertawa dingin. “Bilamana kau ornag ada maksud menggangu kami tidak usahlah banyak omong yang tidak karuan, nama Tiong Cho Siang-ku kamipun bukan baru muncul dua tiga tahun lamanya. Hm, bilamana kau sungguh-sungguh bermaksud mencari gara-gara silahkan bicara terus terang saja, aku Tu Loo jie sudah lama mendengar nama besarmu ini hari aku kepingin minta pengajaran beberapa jurus darimu.

““Ooh, ooh, kau ingin berkelahi? maaf aku si pengemis tua wegah untuk melayani,”jawab si pengemis dingin.

Walaupun diluarnya Kiem Siepoa Sang Pat kelihatan ramah tamah padahal di dalam hati sedang memikirkan akan untuk mengatasi persoalan tersebut, setelah dilihatnya situasi sudah benar-benar terdesak dia tidak ingin membuang banyak waktu lagi. Dia tahu sekalipun nama si pengemis kelaparan sudah tersohor di Bulim tetapi untuk menghalangi dirinya berdua bukanlah merupakan satu pekerjaan yang gampang.

Oleh karena itu dia lantas tersenyum.

“Loo jie, kepandaian silat dari Shen heng amat lihay kau harus sedikit berhati-hati,”katanya.

Beberapa patah kata ini kedengarannya lagi memuji diri pengemis kelaparan padahal yang benar sedang memberi peringatan kepada Tu Kiu untuk cepat-cepat turun tangan sehingga jangan sampai mengulur waktu lebih lama lagi.

Mereka berdua yang selalu bersama-sama selama puluhan tahun lamanya tanpa berpisah boleh dikata hati mereka sudah saling tembus menembus, sudah tentu Tu Kiu tahu apa yang diartikan oleh Sang Pat tersebut.

Tetap tangannya segera disilangkan ke depan dada sedangkan telapak kirinya siap-siap menanti serangan musuh, tubuhnya sedikit menyingkir kesamping lalu menerjang ke depan.

Belum sempat ia melancarkan serangannya mendadak terdengar suara tertawa yang amat keras kembali bergema mendatang.

Semua orang segera nengok ke arah mana tampaklah sesosok bayangan manusia bagaikan kilat cepatnya sudah melayang turun dari atas sebuah pohon siong yang sudah berusia ribuan tahun. Begitu ujung kakinya mencapai tanah dengan beberapa kali loncatan dia sudah berada dihadapan orang itu.

Dengan mengikuti datangnya sambaran angin terasalah bau harum arak yang semerbak menusuk hidung.

Sipit besi berwajah dingin Tu Kiu segera menarik kembali serangannya dan menoleh ke arah bayangan itu.

Tampaklah seorang kakek tua dengan perawakan tinggi besar, berwajah merah bercahaya dan kepala gundul berbahasa butut muncul dihadapan mereka.

Begitu munculkan dirinya orang itu lantas menyapu sekejap ke arah Tiong Cho Siang-ku dengan sepasang matanya yang setengah melek setengah merem.

“Hooo… hoo… aku kira siapa yang sudah datang tidak tahunya kalian dua orang Tau ke rua!”katanya tertawa.

Sehabis berkata dia segera meraut cupu-cupu besinya yang amat besar dan aneh itu untuk kemudian diteguk isinya dengan lahap.

Setelah puas meneguk dia baru menutup kembali cupunya, lalu menyengir geli.

“Haa, haa, arak bagus, arak bagus.

““Hmmm! cayhe ternyata lupa kalau si pendeta mabok serta pengemis kelaparan selamanya tidak pernah saling berpisah, selamat bertemu!”seru si pit besi berwajah dingin Tu Kiu dengan ketus.

Sepasang mata dari si pendeta pemabok masih melek merem sedang badannya gentayangan kekiri kekanan seperti tidak kuat berdiri, terdengar dia tertawa terbahakbahak.

“Haa, haha… selamat, selamat buat Tau ke berdua agar dagangan selalu mujur!”katanya.

Diam-diam dalam hati Kiem Siepoa Sang Pat tertawa pahit dengan paksakan diri dia menyengir kuda.

“Terima kasih atas pujianmu untung besar kerugian kecil lumayan juga buat mencari makan sehari tiga kali,”sahutnya.

“Haha, hahaaa, aku lihat perhitungan Siepoa dari tauke kali ini sudah salah menghitung, hahaha, aku lihat dagangan kalian berdua kali ini akan menderita kerugian,”ujar si pendeta pemabok lagi sambil menuding ke arah Sang Pat.

“Hmmm! cuma kalian berdua saja?”ejek Tu Kiu.

“Buat apa kau cemas, masih banyak sekali.

“Dalam hati Kiem Siepoa Sang Pat tahu bahwa si pendeta pemabok sekalipun kelihatannya setiap hari ada di dalam kelelapan air kata-kata tetapi yang benar dia merupakan seorang yang berotak tajam. Dengan cepat dia membentak Tu Kiu untuk kembali lalu dengan langkah lebar dia berjalan ke depan.

“Entah masih ada jagoan dari mana lagi yang akan menyusahkan cayhe berdua harap saudara suka memberi petunjuk”katanya sambil menjura.

“Haaa… haaa… aku hweesio adalah seorang pemabok arak sedang si pengemis adalah kantong nasi, kami berdua sigentong arak dan kantung nasi sudah tentu tidak kau pandang sebelah mata bukan tauke?”ejek si pendeta pemabik sambil tertawa terbahakbahak.

Sewaktu si Kiem Siepoa Sang Pat melihat muculnya dua orang manusia aneh ini di dalam hati sudah merasa kalau kejadian ini hari sukar untuk diselesaikan, cukup si pendeta pemabok serta si pengemis kelaparan saja belum tentu bisa dihadapi di dalam tiga lima jurus. Bilamana saat itu muncul kembali musuh tangguh bagaimana mereka harus berbuat? karenanya keinginan untuk menerjang keluar dengan kekerasan secara dihilangkan dari beratnya.

“Hahaha… terlalu memuji, terlalu memuji,”katanya kemudian dengan ramah. “Kami bersaudara sudah lama kagum atas nama besar dari kalian berdua.

““Oouw… tidak aneh kalau Tiong Cho Siang-ku bisa makmur terus kiranya merekapun pandai memutar haluan mengikuti tipuan angin berlalu… hahahaha…”ejekan si pendeta pemabok.

“Ramah mendatangkan harta, itulah pegangan yang kami pegang erat-erat”jawab Sang Pat tertawa.

“Selama ini kalian Tauke berdua selalu mencapai sukses dan belum pernah menderita kerugian…”“Itu semua berkat bantuan dari kawan-kawan Bulim yang suka kasih muka kepada kami,”sahut Sang Pat dengan cepat.

Mendadak nada suara dari si pendeta pemabok berubah jadi amat keren sekali.

“Naik ke atas gunung ada kemungkinan bertemu dengan macan, aku rasa kali ini beliau tauke berdua bakal menemui kesulitan,”katanya.

“Hahaha, hahaaa, bilamana si pendeta pemabok serta si pengemis kelaparan bermaksud untuk mencari gara-gara dengan cayhe sudah tentu kesulitan bakal terasa berat”sambung Sang Pat sambil tertawa.

“Kecuali aku sihweesio serta si pengemis tua…”“Cayhe tidak tahu masih ada jago-jago kelas satu dari mana lagi ikut bagian di dalam soal ini.

““Jago-jago dari Sin Hong Pang banyak laksana mega, mereka bermaksud merebut benda tersebut dengan jalan mengeroyok”seru si pengemis kelaparan tiba-tiba.

“Walaupun jago-jago dari Sin Hong Pang amat lihay tetapi cayhe pernah menemuinya.

Berapa orang aku rasa merekapun tidak lebih cuma begitu saja.

“Si pendeta pemabok segera tertawa dingin.

“Kalau cuma jago-jago rendahan dari Bulim sudah tentu tidak dipandang sebelah mata pun oleh kalian tauke berdua tetapi Sin Hong Pang Yu itu…”Belum habis dia berkata mendadak terdengarlah beberapa kali suara suitan yang tinggi melengking bergema datang.

Mendengar suara suitan tersebut si pendeta pemabok segera putar tubuh dan duduk bersila di samping kawannya si pengemis kelaparan.

Dari empat penjuru segera terlihatlah bayangan manusia berkelebat mendatang diselingi suara gonggongan anjing yang tiada hentinya.

Sang Pat segera membentak mencegah kedua ekor anjingnya bergonggong terus, sinar matanya dengan amat tajam berkelebat memandang sekeliling penjuru itu kemudian kepada Gak Siauw-cha ujarnya dengan suara yang amat lirih, “Harap nona suka bergeser kesebelah kiri dan berlindung di belakang batu besar, agaknya malam ini kita tidak bisa terhindar lagi dari satu pertempuran yang amat sengit.

“Hanya di dalam sekejap saja bayangan manusia berkelebat diempat penjuru mulai berjalan mendekati sehingga beberapa kali dihadapan beberapa orang itu.

Sepasang mata yang jeli dari Gak Siauw-cha tak hentinya berputar di sekeliling tempat itu, sewaktu dilihatnya di samping kirinya ada sebuah tonjolan batu cadas yang besar dan merupakan satu tempat berlindung dari serangan musuh yang paling baik dia segera menggandeng tangan Siauw Ling dan berjalan kesana.

Thio-kan serta Hoo-kun pun dengan kencang mengikuti dari belakang Gak Siauw-cha.

Sepasang mata dari Sang Pat dengan tiada hentinya memperhatikan gerak-gerik dari musuhnya, rantai yang mengikat dileher anjingnya pun sudah dilepaskan dari ikatannya.

Jelas sekali dia sudah mengadakan persiapan yang teliti di dalam menghadapi desakan musuh yang semakin mendekat itu.

Siauw Ling yang berdiri di samping Gak Siauw-cha tidak mau diam diri sepasang matanya ikut menyapu ke arah pihak musuh yang mulai mendekat itu.

Terlihatlah olehnya orang-orang itu pada memakai pakaian singsat yang berwarna hitam, senjata tajam sudah dicabut keluar dari sarungnya, di bawah sorotan sang rembulan tiada hentinya memantulkan sinar yang berkilauan.

Sang Pat serta Tu Kiupun sudah memilih satu tempat yang menguntungkan untuk bersiap sedia, mereka berdiri dengan punggung menempel pada punggung.

Diam-diam hati Siauw Ling menghitung jumlah musuh yang mengepung di sekeliling tempat itu, satu… dua…tiga… semuanya ada dua puluh orang banyaknya.

Tetapi sewaktu tiba pada jarak empat, lima kaki dari tempat dimana beberpa orang itu berada mereka pada menghentikan gerakannya dan menyebar menjadi beberapa kelompok menutupi jalanan itu.

“Apa yang sedang mereka nantikan?”Kembali terdengar suara desiran aneh bergema datang disusul munculnya dua titik sinar api dari tempat kejauhan.

Datang sinar api itu sangat aneh sekali hanya di dalam sekejap saja sudah berada sepuluh kaki jauhnya dari mereka.

Sinar lampu semakin terang, akhirnya terlihatlah jelas orang yang baru saja datang itu.

Siauw Ling yang melihat kejadian itu diam-diam hatinya bergidik, bulu roma pada berdiri semua, tak kuasa lagi dia bersin beberapa kali.

Tampaklah dua orang lelaki kurus berbaju hitam dengan membawa dua buah lentera berjalan di depan, di belakang dari lampu lentera itu berjalanlah empat orang lelaki kekar yang beringas.

Walaupun saat ini berada di tengah tiupan angin yang amat dingin, tetapi mereka berada di dalam keadaan setengah telanjang, di atas pangkal paha mereka terlihatlah sebuah patung malaikat yang berwajah menyeramkan digotong mendatang.

Di belakang patung malaikat itu kembali terlihat empat orang lelaki berbaju hitam dengan menyoren senjata tajam mengikuti kencang kawannya yang lain.

Di tengah malam yang buta di bawah sorotan sinar rembulan yang remang-remang secara tiba-tiba muncul manusia-manusia dengan dandanan yang aneh. Hal ini membuat setiap orang merasa hatinya berdebar suasana pun terasa amat menyeramkan.

Gak Siauw-cha merasakan tubuh Siauw Ling ada dalam pelukannya gemetar dengan keras, dengan cepat dia memeluk tubuhnya semakin kencang lagi.

“Adik Ling, jangan takut!”ujarnya dengan suara yang lirih.

Siauw Ling yang dipeluk amat kencang oleh Gak Siauw-cha segera tercium bau harum yang semerbak. Tak kuasa lagi dia segera dongakkan kepalanya.

Tampaklah air muka Gak Siauw-cha amat tenang sedikitpun tidak kelihatan takut. Tak terasa hatinya jadi tergelak.

“Cici sebagai seorang perempuan tidak merasa takut. Bagaimana aku Siauw Ling sebagai seorang lelaki sejati malah bernyali kecil?”pikirnya.

Dia segera membusungkan dadanya dan memandang ke depan dengan gagah.

Tiba-tiba terdengar sipit besi berwajah dingin Tu Kiu menghembuskan napas panjang, lalu ujarnya kepada toakonya, “Loo toa, orang-orang itu menggotong datang sebuah patung malaikat yang begitu menyeramkan entah apa gunanya?”“Cukup didengar dari mana Sin Hong Pang saja sudah dapat dimengerti orangnya bukan manusia genah, kita tunggu saja perkembangan selanjutnya. Lihatlah mereka memamerkan permainan apa lagi,”jawab si Kiem Siepoa dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara.

Tampak kedua orang lelaki kurus yang membawa lampu lentera itu mendadak menghentikan gerakannya lalu mengangkat tinggi lampu tersebut.

Empat orang lelaki yang setengah telanjang itupun segera meletakkan patung malaikat yang menyeramkan itu ke atas tanah lalu berbaris dikedua belah sisinya.

Meminjam sinar lampu yang menyinari tempat itu Sang Pat segera memperhatikan keadaan dari patung malaikat yang tingginya ada tujuh delapan depa itu, terlihatlah patung itu mempunyai kepala yang besar dengan muka berwarna biru, hidungnya besar, mulutnya lebar, sedangkan sepasang matanya terpejam rapat-rapat, pada ujung bibirnya muncullah dua buah taring sepanjang tujuh delapan coen, dengan empat buah lengan tangannya yang di depan dirangkap di depan dada, sedang dua tangan yang di belakang diangkat tinggi-tinggi, yang satu memegang Leng pay sedang tangan yang lain mencekal sebilah pedang panjang.

Ternyata dengan pengetahuan yang luas dari Tiong Cho Siang-ku pun tidak mengenal patung malaikat apakah itu? Tampaklah empat orang lelaki yang ada di belakang patung tersebut berjalan ke depan lalu dengan sangat hormatnya menjura ke arah atas itu setelah itu baru putar badannya.

Salah satu dari antara mereka dengan langkah lebar berjalan menuju ke arah Tiong Cho Siang-ku berada.

Ketika Sang Pat memperhatikan lebih teliti lagi terlihatlah olehnya di atas badan orang berbaju hitam itu terikat secarik kain yang bertuliskan empat kata, “Pelindung hukum perkumpulan.

“Orang itu melirik sekejap ke arah Tiong Cho Siang-ku yang sedang memperhatikan dirinya pula, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun segera melanjutkan langkahnya menuju kehadapan Gak Siauw-cha.

Si Leng Bian Thiat Pit Tu Kiu dengan cepat menggeserkan badannya menghalangi jalannya.

“Berhenti!”bentaknya dengan nada dingin.

Bukannya berhenti mendadak orang berbaju hitam itu menggerakkan tangan kanannya melancarkan satu pukulan melintang.

Sejak semula Tu Kiu sudah mengadakan persiapan, melihat pihak musuh melancarkan serangan telapak kanannya segera membalik menerima datangnya serangan tersebut dengan keras melawan keras.

Sepasang telapak segera saling bertemu di tengah udara disertai suara bentrokan yang keras masing-masing tergetar mundur satu langkah ke belakang.

Melihat kedahsyatan pihak musuhnya Tu Kiu jadi sangat terperanjat.

“Sungguh lihay tenaga pukulannya!”ujarnya dalam hati.

Agaknya orang berbaju hitam itupun dibuat melengak oleh kejadian tersebut, dia mengehntikan langkahnya lalu bibirnya bergerak kaku.

“Siapa kau?”tanyanya dengan susah payah.

Tu Kiu yang berwajah dingin setiap perkataan yang diucapkan olehnya tentu kedengaran kaku dan keras sekali, siapa tahu perkataan dari orang berbaju hitam ini jauh lebih dingin lagi beberapa kali lipat dari pada Tu Kiu.

Terdengar si Kiem Siepoa Sang Pat tertawa terbahak-bahak.

“Kami adalah Tiong Cho Siang-ku,”sahutnya cepat. “Pekerjaan kami adalah berdagang baik itu barang kelontong, kain sutera semuanya ada dijual dan tanggung kwalitasnya terjamin, kawan bilamana kau orang ingin membeli silahkan katakan saja terus terang.

Hahaa… tidak usah malu-malu… hahaha.

“Agaknya orang berbaju hitam itu pernah mendengar nama besar dari Tiong Cho Siang-ku ini, tampak sinar matanya berputar-putar memperhatikan diri Sang Pat maupun Tu Kiu lama sekali baru kedengaran dia bertanya dengan nadanya yang kaku, “Dua orang panglima pembuka jalan yang dikirim pangcu kami apakah terluka di tangan kalian berdua?”“Hahaha… suatu jual beli kecil-kecilan saja buat apa kau ungkap kembali,”sahutnya Tu Kiu.

Mendadak orang berbaju hitam itu mengalihkan sinar matanya yang tajam ke atas wajah Gak Siauw-cha.

“Apakah nona itu she Gak?”tanyanya lagi.

“Tidak salah, entah saudara ada petunjuk apa,”kata Gak Siauw-cha cepat.

Sang Pat segera tertawa tergelak memotong pembicaraan Gak Siauw-cha yang belum selesai itu sambungnya, “Nona Gak adalah langganan kami ada urusan apa silahkan berbicara dengan kami saja.

“Orang berbaju hitam itu tertawa dingin mendadak dia putar badannya berjalan kembali kehadapan patung malaikat tersebut.

Mengambil kesempatan itu dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara Sang Pat segera kirim perintahnya kepada diri Tu Kiu.

“Loo jie,”ujarnya. “Keadaan situasi pada malam ini sangat berbahaya sekali merupakan satu peristiwa yang belum pernah kita alami selama hidupnya, kita jangan membicarakan dulu musuh-musuh yang mengepung di sekeliling tempat ini. Cukup empat orang pelindug hukum itu saja sudah lebih dari cukup untuk kita bersaudara hadapi, masih ada lagi keempat lelaki setengah telanjang itu kelihatannya pada berotot semua dan bukanlah manusia yang gampang diganggu, ditambah pula si pendeta pemabok serta si pengemis kelaparan bukan satu golongan dengan kita. Sekarang keadaan sudah benar-benar amat mendesak, untuk menerobos halangan ini kita harus pinjam kekuatan dari mereka berdua.

““Soal siasat siauwte menurut saja dengan pendapat dari Toako,”sahut si pit besi berwajah dingin Tu Kiu dengan cepat.

“Menurut apa yang cayhe lihat, agaknya kedatangan si pengemis tua itu jauh lebih besar menaruh rasa kuatir terhadap keselamatan dari Gak Siauw-cha daripada soal anak kunci Cing Kong Ci Yau, sebaliknya si hweesio pemabok itu sukar ditebak maksud hatinya.

Agaknya dia bermaksud agar kita bertempur sampai lelah dulu dengan pihak Sin Hong Pang sedang dirinya akan menarik keuntungan dari tengah.

““Bilamana kita bisa mneggunakan keselamatan dari Gak Siauw-cha untuk memancing si pengemis turun tangan mana si pendeta pemabok demi kawannya pasti akan turun tangan membantu pula, waktu itu beban kita jadi tidak seberat-berat lagi.

““Siauwte menerima perintah?”“Pekerjaan ini kita harus kerjakan setelitinya, jangan sekali-kali diketahui oleh Gak Siauw-cha.

““Siauwte akan mengingat-ingatnya,”jawab Tu Kiu lagi, dia berhenti sebentar untuk kemudian sambungnya, “Sewaktu siauwte bentrok dengan lelaki berbaju hitam itu, siauwte dapat merasa kalau tenaga dalamnya tidak ada di bawah tenagaku, sewaktu turun tangan nanti harap Toako suka sedikit berhati-hati.

““Soal itu nanti tidak usah kuatir”jawab Sang Pat sambil tertawa.

Ketika dia dongakkan kepalanya kembali tampaklah orang berbaju hitam itu sedang berlututdihadapan patung malaikat tersebut, agaknya dia sedang menerima petuah.

Hal itu membuat Siauw Ling keheranan.

“Cici,”tanyanya kepada Gak Siauw-cha. “Patung malaikat itu sebenarnya hidup ataukah mati?”Dalam keadaan tak sadar sikap Gak Siauw-cha terhadap diri Siauw Ling semakin lama berubah semakin mesra, dia merasa amat sayang terhadap dirinya dan menguatirkan atas keselamatannya.

Kini mendengar pertanyaannya dia lantas tersenyum.

“Benda yang terbuat dari tanah liat dan kayu sudah tentu barang mati.

“Siauw Ling yang melihat sikap Gak Siauw-cha ini hari jauh berbeda dengan sikapnya pada kemarin hari diam-diam dalam hati merasa tidak paham.

Ketika kepalanya menoleh ke depan, tampaklah tangan kirinya yang memegang Leng Pay di belakang punggung arca itu mendadak bergoyang perlahan.

Kejadian yang amat aneh dan diluar dugaan itu seketika itu juga membuat perhatian seluruh hadirin jadi tersedot kesana, apalagi Tiong Cho Siang-ku yang mempunyai pengalaman amat luas mereka betul-betul dibuat keheranan oleh kejadian itu.

Sebaliknya Siauw Ling yang melihat kejadian aneh itu dalam hatipun merasa amat kaget, tetapi dia tidak berani banyak bertanya takut Gak Siauw-cha jadi marah lagi.

Setelah tangan kiri patung malaikat yang memegang patung Leng Pay itu bergoyanggoyang sebentar lalu berhenti dengan sendirinya, serentetan suara yang amat nyaring segera berkumandang keluar.

Walaupun kepandaian silay yang dimiliki Tiong Cho Siang-ku amat lihay, pendengarannyapun amat tajam tetapi terhadap suara yang lembut dan nyaring yang bergema pada beberapa kaki dari dirinya itu sama sekali tidak berhasil menanggap apaapa.

Tampaklah lelaki berbaju hitam yang semula berlutut dihadapan patung malaikat itu mendadak meloncat bangun lagi kemudian berkelebat menuju kehadapan Tiong Cho Siang-ku, gerakannya amat gesit dan cepat sekali.

Si Leng Bian Thiat Pit Tu Kiu segera menggerakkan badannya ke depan menghalangi perjalanan dari si lelaki berbaju hitam pelindung hukum itu, ujarnya dengan dingin, “Kami dua bersaudara sudah sering berjalan ke Utara menerjang ke Selatan dan sudah temui berpuluh-puluh peristiwa aneh, permainan dari perkumpulan itu tidak akan mengejutkan kami, lebih baik kau buka harga saja agar cayhepun bisa hitung-hitung apakah bisa terima dagangan ini atau tidak.

““Pangcu kami sudah turunkan perintah saktinya untuk mengampuni dosa kalian yang sudah melukai dua panglima pembuka jalan dari pangcu kami, asalkan nona she Gak itu kalian tinggalkan maka kalian berdua boleh segera berlalu,”kata lelaki berbaju hitam itu.

“Haha, hahaha, tidak bisa, tidak bisa!”seru Kiem Siepoa sembari goyangkan kepalanya.

“Hargamu terlalu tinggi. Cayhe tidak bisa terima dagangan itu.

“Lelaki berbaju hitam itu segera tertawa dingin. “Perintah sakti dari pangcu sudah diberikan, bilamana saudara tidak mau terima perintah itu sama saja dengan mencari jalan mati buat kalian sendiri.

““Oouw, jangan begitu. Kami kaum pedagang cuma mencari keuntungan saja, bilamana pangcu kalian ingini perdagangan secara kasar dan main paksa maka hal ini boleh dikata kalian sengaja mencari gara-gara dengan kami Tiong Cho Siang-ku,”kata Sang Pat.

“Hmm. Kalau begitu kalian tak mau terima arak kehormatan tapi memilih arak hukuman!”bentak lelaki berbaju hitam itu dengan dingin.

Mendadak tangannya diulapkan ke depan seketika itu juga tampaklah bayangan manusia berkelebat memenuhi angkasa, delapan orang lelaki bersenjatakan golok bersama-sama menerjang datang dan mengepung rapat-rapat diri Tiong Cho Siang-ku.

Sang Pat yang melihat gerakan tubuh kedelapan orang berpakaian singsat itu amat gesit dan lincah bahkan kelihatannya memiliki kepandaian silat yang amat tinggi dalam hati tidak terasa lagi merasa sedikit bergidik, pikirnya, “Entah dari mana perkumpulan Sin Hong Pang ini bisa kumpulkan jagoan yang begitu banyaknya.

“Walaupun dihati dia merasa bergidik tetapi wajahnya masih tersungging senyuman ramah.

“Orang yang melakukan jual beli tidak akan terhindar untuk temui keadaan bahaya, bilamana perkumpulan kalian sungguh-sungguh mau paksa kami jatuh merek maka cayhe berdua tiada cara lain terpaksa melayani semampunya.

““Hmm! kalian Tiong Cho Siang-ku mencari gebukan buat diri sendiri, hal ini tidak bisa salahkan kami harus mengambil tindakan demikian,”ujar lelaki berbaju hitam itu dengan dingin.

Selesai berkata dengan perlahan dia lantas mengundurkan dirinya ke belakang.

Melihat situasi yang benar-benar kepepet mendadak dari dalam sakunya si Kiem Siepoanya yang berbingkai emas dengan biji-biji sipoa yang terbuat dari mutiara.

“Kawan! harap tunggu sebentar!”teriaknya sembari mempermaikan Siepoa emasnya sehingga mengeluarkan suara yang berisik.

“kau ada omong apa lagi?”tanya orang berbaju hitam itu dengan dingin.

“Hahaha, bicara pulang pergi selama setengah harian cayhe belum mengetahui juga nama besar dari heng thay!”ujar Sang Pat sambil tertawa.

“Pelindung hukum bagian depan Sin Hong Pangcu si “Cu Hun So”atau sitangan penggape sukma Ciang Beng!”“Hutang ini akan kami catat dibuku hutang kami!”sambung sipit besi berwajah dingin Tu Kiu dengan cepat.

“Hehehe, cuma sayang kalian berdua tidak bakal lolosdari sini lagi,”ejek sitangan penggape sukma Ciang Beng dengan dingin.

Sang Pat sembari mencekal kencang senjata Siepoa emasnya sang mata tiada hentinya berputar memperhatikan keadaan musuh.

Di bawah sorotan sinar rembulan tampaklah senjata golok pembelah gunung yang ada di tangan kedelapan orang lelaki berbaju singset itu memantulkan warna kebiru-biruan yang amat tajam.

“Loo jie, hati-hati!”ujarnya kemudian memberi peringatan kepada Tu Kiu. “Di atas senjata tajam mereka sudah dipolesi racun jahat.

“Dari dalam sakunya Tu Kiu segera mengambil keluar sebuah gelang berbentuk bulat yang memancarkan sinar keperak-perakan serta sebuah pit yang terbuat dari baja.

“Hey saudara-saudara sekalian, kamu ingin turun tangan bersama-sama atau maju satu persatu?”teriak Sang Pat sambil memukul biji-biji Siepoanya pulang pergi.

Siepoanya yang berbingkai emas biji-biji siepoa yang terbuat intan diantara berkelebatnya bayangan tajam memancarkan cahaya yang berkilauan.

Tu Kiu dengan tangan kanan mencekal gelang yang terbuat dari perak segera bergerak maju selangkah ke depan, lalu teriaknya dengan keras, “Hehehe… aku lihat lebih baik kalian maju saja bersama-sama.

“OXO Kedelapan orang lelaki bersenjata golok mulai menggeserkan badannya membentuk barisan Pat Kwa Tin mengurung sekeliling tempat itu lalu dengan perlahan mulai mendesak maju ke depan, wajah mereka semua diliputi oleh rasa tawar, tak seorangpun diantara mereka mengucapkan kata-kata.

Siauw Ling yang melihat gelang perek yang ada di tangan kiri Tu Kiu itu di dalam hati diam-diam merasa keheranan, segera dia menoleh ke arah Hoo-kun dan bentaknya dengan suara perlahan, “Paman Hoo, gelang putih keperak-perakan yang ada di tangan Tu Kiu itu apakah dapat digunakan untuk berkelahi?”“Gelang itu adalah merupakan salah satu senjata yang maha aneh yang disebut sebagai gelang pelindung tangan. Orang menggunakan senjata semacam senjata ini harus memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, kalau tidak maka senjata yang kecil itu tidak mendatangkan istimewa apapun,”ujar Hoo-kun.

Dengan setengah mengerti setengah tidak Siauw Ling mengiyakan, sinar matanya kembali dialihkan ke tengah kalangan.

Waktu ini kedua ekor anjing hitam yang ada di belakang tubuh Sang Pat pun tiba-tiba bungkukkan badannya siap melancarkan tubrukan.

Kedelapan orang lelaki bersenjata golok itu mendesak terus sampai jarak jauh, delapan depa baru menghentikan geraknya, mereka berdiri diam terus tidak menampakkan gerakan apapun juga.

Diam-diam Sang Pat mulai melirik kekanan kekiri sewaktu dilihatnya si pendeta pemabok dan si pengemis kelaparan tetap duduk bersila di atas tanah bahkan sama sekali tidak terhadap keadaan yang terjadi di depan matanya dalam hatinya diam-diam merasa amat cemas, pikirnya, “Pengaruh perkumpulan Sin Hong Pang sangat luas, bilamana ini hari mereka berdua sungguh-sungguh tidak mau ikut campur maka keadaanku akan bahaya sekali.

“Terlihatlah sitangan penggape sukma Cing Beng yang berdiri kurang lebih dua kaki jauhnya dari kalangan tiba-tiba menarik napas panjang-panjang lalu bersuit nyaring.

Mendengar suitan tersebut dua orang lelaki bersenjatakan golok yang ada di dalam kalangan mendadak bersama-sama bergerak maju ke depan melancarkan serangannya.

Hanya di dalam sekejap saja sinar berkilau memenuhi kalangan terasalah sambaran angin tajam menyambar datang tiada hentinya dari delapan penjuru angin.

Sang Pat segera menggerakkan senjata Siepoa emasnya untuk menangkis datangnya empat bilah golok yang mengancam badannya diantara berkelebatnya cahaya tajam dia balas melancarkan serangan menghajar musuh-musuhnya.

Sebaliknya dengan tangan kiri mencekal gelang pelindung tangan dan tangan kanan mencekal pit baja, Tu Kiu bersuit nyaring pula diantara menyambarnya angin dahsyat dia sidah berhasil datangnya empat bilah golok lainnya.

Baru saja dia siap-siap melancarkan serangan balasannya mendadak terlihatlah kedelapan orang lelaki itu sudah mundur kembali dengan teratur.

Sang Pat yang melihat maju mundur kembali dengan teratur sekali dalam hati diam-diam merasa terperanjat, dia merasa kalau kedelapan orang itu sudah membentuk satu barisan yang amat aneh dan dahsyat sekali pikirnya dalam hati, “Hmm! nama besar dari perkumpulan Sin Hong Pang ternyata bukan kabar kosong saja.

“Sambil memperhatikan perubahan pada barisan musuh dia segera kirim ucapan kepada Tu Kiu dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suaranya, “Loo jie, musuhmusuh kita lagi mengatur satu barisan yang sangat aneh, bacokan mereka tadi tidak lebih cuma ingin memeriksa bagaimana tingginya tenaga dalam yang dimiliki kita mereka duduki secara diam-diam mengandung barisan Pat Kwa yang tidak boleh kita terjang sesukanya. Untuk sementara kau tenanglah dulu, biar aku pikirkan ini kemudian baru terjang mereka hingga kocar kacir. Hati-hati jangan banyak membuang tenaga, siap-siap untuk menghadapi Sin Hong Pangcu nanti.

“Si Leng Bian Thiat Pit Tu Kiu mengangguk tanda menyahut.

Kedua belah pihak kembali tenggelam di dalam keadaan yang amat sunyi, sekali pun sudah lewat seperminum teh lamanya masing-masing pihak tiada yang bermaksud untuk turun tangan terlebih dahulu.

Makin lama Tu Kiu agaknya tidak kuasa menahan sabar lagi, kaki kirinya maju satu langkah ke depan, pit besi di tangan kanannya dengan menggunakan jurus “Hong Huang Tian Tauw”atau burung hong mengangguk maju menyerang ke arah pihak musuh.

Begitu pit besinya melancarkan serangan situasi di tengah kalanganpun seketika itu juga berubah bayangan golok mengikuti gerakan tubuh membacok mendatang dari empat arah delapan penjuru.

Tu Kiu dengan tangan kanan mencekal pit besi tangan kiri mencekal gelang tangan pelindung tangan bersama-sama melancarkan jurus-jurus serangan yang amat cepat diantara serangan yang gencar gelangnya berputar kian kemari melindungi seluruhnya dengan amat sempurna.

Semula Kiem Siepoa Sang Pat ingin melihat perubahan barisan musuh terlebih dahulu kemudian baru sekali menyerang mencapai hasil, tetapi setelah Tu Kiu melancarkan serangan ini sehingga situasi segera berubah kini mulai melancarkan serangan gencarnya laksana bendungan yang pecah, tiada hentinya mengalir datang, agaknya semua sudah melupakan akan keselamatan sendiri.

Dengan terjadinya perubahan ini Kiem Siepoa benar-benar terdesak dan memaksa dirinya mau tidak mau harus menggerakkan senjata untuk bertahan.

Gak Siauw-cha yang menonton jalannya pertempuran tersebut dan setelah melihat keadaan dari samping sewaktu terlihat keadaan dari Tiong Cho Siang-ku yang lagi bertempur sengit dengan musuhnya dalam hati lantas berpikir, “Nama besar dari Tiong Cho Siang-ku ternyata bukanlah nama kosong belaka, kedelapan orang musuh tangguh itu menyerang dengan begitu ganas bahkan gerakan tubuhnya secara diam-diam agaknya mengandung suatu perubahan yang mendalam, Tiong Cho Siang-ku bisa bertahan dengan menggunakan sistem keras lawan keras dan menahan setiap serangan mereka berdelapan hal ini membuktikan kalau kepandaian kedua orang itu pun sudah mencapai pada taraf yang amat tinggi.

“Sewaktu dia berpikir itulah masing-masing pihak sudah saling serang menyerang sebanyak puluhan jurus gerakan dari kedelapan orang lelaki bersenjatakan golok itu semakin gesit, delapan bilah golok bersatu padu membentuk sebuah bayangan dinding golok yang amat kuat bersama-sama menekan dari delapan penjuru.

Seketika itu juga Tiong Cho Siang-ku terkurung di dalam bayangan golok yang amatmenyilaukan mata itu, jika dipandang dari tempat kejauhan bayangan dari Tiong Cho Siang-ku berdua sudah lenyap terbungkus oleh serentetan sinar putih yang menyambar-nyambar.

Siauw Ling diam-diam menghembuskan napas panjang.

“Aduuuh, habis sudah!”pikirnya. “Kelihatan malam ini sigendut serta sikurus bakal mati di tangan kedelapan orang tersebut.

“Mendadak segulung awan gelap melayang datang menutupi sinar rembulan dan tempat itu jadi gelap gulita.

Ketika Siauw Ling dongakkan kepalanya ke atas terlihatlah olehnya awan gelap sudah menutupi hampir seluruh jagat, sinar rembulan maupun bintang hanya di dalam sekejap saja lenyap tak berbekas.

Angin bertiup laksana taupan, salju turun dengan amat derasnya, kabutpun melayang turun dekat permukaan membuat suasana remang-remang.

Saat ini pertempuran yang terjadi di tengah kalangan sudah mencapai pada taraf yang paling tegang, kabut yang tebal membuat pandangan orang menjadi kabur, dari tengah kalangan cuma kelihatan sinar putih serta sinar keperak-perakan yang menyambar tiada hentinya.

Mendadak terdengar satu jeritan berkumandang keluar dari tengah kalangan, agaknya ada orang yang sudah menderita luka! “Achhy…!”Siauw Ling yang pandangannya tidak berhasil menembus kabut saat ini hatinya merasa berdebar, dia tidak mengetahui siapakah yang sudah menderita luka.

Pada saat hatinya lagi merasa bingung dan menduga itulah tiba-tiba terasa adanya bayangan putih berkelebat di depan matanya, mendadak Gak Siauw-cha melancarkan serangannya ke depan diikuti tubuhnya bersama-sama membentak keras. Pit besi serta golok besar bersama-sama menyerang mendatang.

Angin dingin bertiup bagaikan taupan diiringi suara gonggongan anjing yang memanjang memecahkan kesunyian di tengah malam buta yang mencekam pegunungan bersalju ini.

Di tengah malam yang gelap itulah dari kalangan pertempuran sudah terjadi satu perubahan yang amat besar. Siauw Ling walaupun tidak dapat melihat jelas keadaan di sekeliling tempat itu tetapi diapun sudah merasa kalau Gak Siauw-cha, encinya sudah bertempur dengan orang lain, bahkan pertempuran diantara mereka terjadi dengan amat serunya.

Di tengah pertempuran yang amat menggetarkan hati itulah Siauw Ling merasa kalau Gak Siauw-cha sudah terjerumus ke dalam satu pertempuran sengit yang sangat berbahaya.

Diam-diam dia menarik napas panjang, perasaan tergetar serta debaran jantung yang amat keras dengan perlahan berhasil ditenangkan kembali.

Pikiran pertama yang berkelebat dari benaknya ialah cepat-cepat meninggalkan diri dari pelukan Gak Siauw-cha, agar dengan demikian dia cepat melawan musuhnya dengan sepenuh tenaga.

Dia tidak mengetahui bahwa seseorang yang menggendong orang lain dan harus pula bertempur melawan orang yang memiliki kepandaian silat seimbang merupakan satu kerugian yang amat besar tetapi dia tahu jelas bahwa Gak Siauw-cha yang harus menggendong dirinya tentu merupakan satu beban.

Berpikir akan hal ini tidak kuasa lagi dia lantas berteriak keras, “Enci… cepat lepaskanlah diriku!”Gak Siauw-cha yang mengira dia terluka jadi terkejut bukan main.

“Adik Ling, kau kenapa?”tanyanya cemas.

Sedikit pikirannya bercabang itulah pundaknya sudah kena hajaran dari musuhnya.

Pukulan menghajar tubuhnya dengan amat berat sekali membuat Gak Siauw-cha mendengus berat tubuhnya mudur sempoyongan hawa murninya jadi buyar kembali.

Walaupun Siauw Ling tidak dapat melihat akan hal itu tetapi samar-samar dia bisa merasakan kalau Gak Siauw-cha sudah menderita luka, hatinya semakin cemas.

“Enci Gak, apa kau terluka?”teriaknya “Jangan ribut!”seru Gak Siauw-cha dengan cepat.

Suaranya rada gemetar, agaknya perkataan ini diucapkan dengan membutuhkan tenaga yang amat besar.

Siauw Ling semakin cemas lagi, pikiran serta persaan hatinya jadi amat kacau.

Sewaktu teringat kalau lukanya Gak Siauw-cha kali ini semuanya dikarenakan harus menggendong dirinya sehingga dia tidak dapat mengerahkan seluruh kepandaiannya membuat hatinya jadi semakin kesal.

“Enci Gak lepaskan diriku, aku…”teriaknya kembali.

Pertempuran antara jago-jago berkepandaian tinggi pantang berhenti menyabang.

Gak Siauw-cha yang harus menghadapi dua orang musuh tangguh dengan mengandalkan ilmu pedang keluaraga Gak yang lihay, walaupun rada merasa berat tapi bilamana bisa menghadapi musuh dengan hati tenang sekalipun ada Siauw Ling sebagai bebannya tetapi unuk beberapa saat lamanya dia bisa bertahan.

Kini Siauw Ling menguatirkan keselamatannya, ditambah lagi dia berteriak-teriak tak karuan membuat urusan jadi sebaliknya, di dalam keadaan pikiran bercabang Gak Siauwcha malah sudah menerima satu gebukan dari musuhnya.

Gak Siauw-cha yang mendengar dia kembali berteriak-teriak dalam hati merasa sangat terperanjat.

“Adik Ling. Lukamu apakah terlalu berat?”tanyanya dengan cemas.

“Aku… aku…”tiba-tiba Siauw Ling merasakan iganya jadi kaku, kesadarannya lantas punah.

Entah lewat beberapa waktu lamanya dengan perlahan Siauw Ling sadar kembali dari pingsannya.

Ketika dia membuka matanya kembali bersinar, sang surya sudah menyinari alam seluruh jagat saat ini sedang berbaring di atas tumpukan rumput kering yang amat tebal di dalam sebuah kuil yang amat kuno.

Dinding-dinding serta meja sembahyang dipenuhi oleh debu dan sarang laba-laba warna patung malaikatnya sudah luntur sehingga tidak bisa melihat jelas sebenarnya kuil ini menyembah dewa siapa.

Siauw Ling mengucek-ngucek matanya, lalu mengalihkan sinar matanya kesekeliling temapt itu terlihatlah beberapa depa dari dirinya berada seorang hweesio gede berpakaian penuh tambalan dengan sebuah cupu-cupu besi yang besar tergantung pada pundak nya di samping hweesio itu duduklah seorang pengemis berpakaian butut yang membawa sebuah kuali besar serta sebatang tongkat bambu.

Saat ini mereka berdua sedang memejamkan matanya rapat-rapat, keringat keluar membasahi tubuhnya, secara samar-samar bisa diketahui kalau mereka lago mengatur pernapasan.

Sejak Siauw Ling mempelajari cara-cara bersemedi dari Im Kauw, setelah diketahui olehnya kalau kedua orang itu sedang mengatur pernapasan dia tak ingin mengganggu mereka, denga perlahan tubuhnya mencoba bangun.

Tapi ia merasakan iganya sakit hingga ia rubuh lagi ke atas rumput.

Di tengah kesunyian dan keseraman yang mencekam kuil tersebut bangun perlahan-lahan Siauw Ling teringat kembali akan dahsyatnya pertempuran kemarin malam.

Dia masih ingat Gak Siauw-cha agaknya sedang bertempur melawan musuh-musuhnya dan keadaannya waktu itu sangat berbahaya sekali.

Dia yang lagi merasa kuatir akan keselamatan cicinya baru saja hendak memberi jawaban mendadak ingatannya terasa menjadi kaku kembali setelah itu apapun tidak diketahui olehnya.

Seluruh kejadian itu dengan perlahan berlalu dari benaknya, dia merasa peristiwa itu seperti baru saja terjadi tetapi terasa pula sudah lewat beberapa tahun lamanya.

Mendadak terdengar suara seseorang yang serak dan tua berkumandang datang.

“Bocah cilik, apa kau sadar?”tegurnya.

“Aku sudah sadar Heeei! Tahukah kalian dimana enci Gak ku sekarang berada?”Sembari berkata dia menoleh ke arah orang yang baru saja menegur dirnya itu yang bukan lain adalah si pengemis tua.

Si hweesio gede yang berwajah penuh cahaya terang mendadak membuka matanya.

“Encimu sudah berhasil ditolong oleh kedua orang tauke tua itu, kau tidak usah kuatir terhadap diri mereka.

““Benar!”sambung si pengemis tua itu kembali. “Untuk menolong nyawamu aku serta Pan Ciat Saheng sudah mengorbankan tenaga murniku selama kami berhasil menolong nyawamu. Sekarang lukamu belum sembuh benar, badanmupun masih lemah. Bilamana ingin menolong nyawamu sendiri lebih baik jangan terlalu banyak bicara.

“Bibir Siauw Ling sedikit bergerak, agaknya dia hendak mengucapkan sesuatu.

“Hahaha, bilamana kau sekarang mati maka untuk selamanya jangan harap bisa bertemu kembali dengan enci Gak-mu!”terdengar kembali si hweesio gede itu sudah berebut berbicara lagi.

Siauw Ling jadi tertegun, setelah itu dia benar-benar tidak berani berbicara.

Si pendeta pemabok Pan Ciat lantas menoleh dan memandang sekejap ke arah si pengemis kelaparan, dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara ujarnya, “Hey saudara pengemis, kau bilang dapatkah Sang Pat melindungi Gak Siauw-cha menerjang keluar dari kurungan orang-orang perkumpulan Sin Hong Pang itu?”“Menurut penglihatanku si pengemis tua, kepandaian silat dari Tiong Cho Siang-ku agaknya tidak berada di bawah kepandaian kita untuk menerjang keluar dari kurungan bukanlah satu urusan yang terlalu sukar bagi merek”jawab si pengemis tua itu.

Pada waktu mereka sedang berbicara itulah mendadak terdengar suara langkah manusia yang ramai berkumandang datang.

Siauw Ling yang memejamkan mata dan memikirkan enci Gaknya pun ikut dibuat terkejut oleh suara langkah manusia yang amat berat tersebut.

Ketika dia menoleh ke arah pintu kuil terlihatlah seorang Toosu berusia pertengahan dengan jenggot yang panjang terurai berjalan masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang lebar.

Toosu ini mempunyai wajah berbentuk rembulan, tubuhnya memakai jubah berwarna hijau, sebilah pedang tersoren pada punggungnya, ditangannya membawa sebuah hut tim sehingga kelihatan sikapnya amat gagah sekali.

Di belakang tubuhnya berjalan seorang Toosu cilik berjubah hitam yang usianya baru enam tujuh belas tahunan.

Sinar mata sipemabok serta si pengemis kelaparan, melirik sekejap ke arahnya, agaknya mereka sudah mengetahui siapakah orang itu bukannya menegur sebaliknya mereka malah memejamkan matanya kembali dan pura-pura masih belum sadar.

Sinar mata dari toosu berusia pertengahan itu melirik sekejap ke arah si pendeta pemabok serta si pengemis kelaparan, setelah itu dengan perlahan beralih ke atas tubuh Siauw Ling.

Siauw Ling yang melihat wajah toosu itu amat keren dan sangat berwibawa nyalinya agak sedikit berani, matanya dengan tajam memandang sekejap ke arah toosu itu kemudian beralih ke arah si Toosu cilik yang ada dibelakangnya.

Sewaktu dilihatnya Toosu cilik itu memakai jubah hitam dengan wajah yang amat menarik diam-diam dalam hati lantas berpikir! “Siapakah kedua orang Toosu ini?”Tampak Toosu berusia pertengahan itu mengebutkan hut timnya ke atas tanah, debu yang semula menempel di atas tanah seketika itu juga tersapu bersih oleh kebutannya itu tanpa banyak bicara diapun lantas duduk bersila disana.

Jilid 8 Si Toosu kecil yang ada di belakang tubuhnya sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.

Siauw Ling yang melihat setelah toosu itu duduk bersila sepasang matanyapun dipejamkan rapat-rapat diam-diam lantas berpikir kembali, “Toosu ini membawa pedang, aku rasa diapun merupakan seorang jagoan yang memiliki kepandaian silat! Apakah dia kenal dengan si pendeta pemabok serta si pengemis kelaparan itu? kalau tidak kenal merekapun ikut berdiam di dalam kuil ini? tetapi jikalau kenal kenapa dia tidak menyapa mereka berdua…?”Pada saat itulah dari luar kuil kembali berkumandang datang suara tertawa terbahakbahak yang amat keras sekali.

“Haaa, haaa, haaa, kuil ini masih bagus keadaannya. Mari kitapun beristirahat sebentar didalam!!”Suara itu berkumandang datang dari tempat kejauhan, tetapi baru saja perkataan tersebut selesai diucapkan tubuh orang tersebut sudah ada di dalam ruangan kuil.

Pada saat ini Siauw Ling sudah tidak memikirkan keselamatan dirinya lagi sehingga hatinyapun terasa amat tenang.

Ketika sinar matanya menoleh ke depan terlihatlah di dalam ruangan kuil itu sudah bertambah lagi dengan dua orang yang satu merupakan seorang pemuda berdandan siucay yang usianya baru kurang lebih dua puluh tahunan dengan wajah yang bersih dan tampan dibelakangnya berjalanlah mendatang seorang lelaki yang hitam, pendek dan berwajah hitam bagaikan arang.

Agaknya mereka berdua sama seklai tidak menduga kalau di dalam kuil tersebut sudah kedatangan begitu banyak orang, sinar matanya dengan cepat menyapu sekeliling ruangan tersebut setelah itu dengan langkah yang perlahan baru bertindak masuk kedalam.

“Kuil ini penuh dikotori dengan debu dan sarang laba-laba biasanya saja sudah sukar saat orang masuk untuk duduk ini sekali datang sudah muncul tujuh orang entah adalah orang Sin yang datang kembali???”pikir Siauw Ling.

Tampaklah si siucay berjubah amat longgar itu memandang sekejap ke arah si Toosu berusia pertengahan itu, mendadak sambil tertawa ujarnya, “Haa, haa, Too heng jarang sekali turun gunung, tidak disangka kali ini ternyata sudah turun gunung sendiri.

“Dengan langkah yang kalem dia melanjutkan kembali perjalanannya.

Si Toosu yang semula sedang memejamkan matanya itu segera membuka matanya kembali.

“Jan heng hidup dengan mewah dan mencampuri urusan Bulim. Tidak disangka ini hari kitapun bisa berjumpa disini!”sahutnya sambil tertawa.

Si siucay berjubah hitam itu segera tertawa tergelak.

“Cayhe sejak semula sudah menduga asalkan anak kunci Cing Kong Ci Yau tersebut muncul di Bulim maka di dalam dunia kangouw segera akan terjadi satu pergolakan yang amat dahsyat… hahaha, ha, tidak kusangka dugaanku ternyata sedikitpun tidak melesat baru saja berita tentang munculnya kembali anak kunci itu tersiar di dunia persilatan ternyata sudah ada begitu banyak jagoan yang telah berkumpul disini.

““Pinto menerima perintah untuk melaksanakan tugas ini. Hal ini memaksa pinto mau tidak mau harus menjalankannya,”jawab Toosu itu.

Si siucay berjubah hitam itu segera melirik sekejap ke arah si pengemis kelaparan serta si pendeta pemabok, lalu sambil tertawa tanyanya lagi, “kedua orang itu datang sebelum kedatangan Tootian? Ataukah setelah kedatangan Tooyang di dalam kuil ini?”“Sebelum kedatangan pinto,”jawab Toojiu itu perlahan.

Sebelumnya si pengemis kelaparan ingin berpura-pura terus dan tidak menggubris akan kedatangan beberapa orang itu, tetapi akhirnya dia tidak kuat untuk menahan sabar lagi.

Sambil mengulet dia membuka matanya kembali dan tertawa terbahak-bahak.

“Haa, ha, sungguh ramai, sungguh ramai sekali! haa haa, hweesio, Toosu, siucay ditambah dengan aku si pengemis tua haa, haa, sungguh merupakan satu pertempuran yang amat menggembirakan.

“Dengan perlahan siucay berjubah hijau itu menyingkap jubahnya yang pangjang dan mengambil keluar sebuah botol porselen putih yang panjangnya ada lima coen lalu sambil tertawa, ujarnya, “Haaa haa Shen heng selamat bertemu!”Dengan perlahan dia membuka penutup botol itu sehingga terciumlah bau arak yang amat harum sekali, sambungnya, “Cayhe sudah membawakan sebotol arak wangi…”“Aaah arak bagus, arak bagus!”tiba-tiba terdengar si pendeta pemabok mementangkan matanya lebar-lebar dan berteriak-teriak seperti orang kesurupan.

“Arak Bwee Hoa Lok dari cayhe ini sudah ada seratus tahun usianya,”terdengar si siucay berbaju hijau itu berkata sambil tersenyum. “Walaupun Too heng mempunyai julukan sebagai si pendeta pemabok dan tidak akan mabok sekalipun minum arak seribu cawan tetapi untuk arak ini tidak akan bisa minum lebih banyak.

“Bau arak yang tersiar di dalam ruangan kuil itu semakin sangat menebal dan semakin keras, si pendeta pemabok Pan Ciat kali ini benar-benar terpengaruh oleh baunya arak tersebut, sepasang matanya yang bulat bersinar itu tiada hentinya memandang ke atas botol porselen putih yang ada di tangan siucay berjubah hijau itu, dari wajahnya kelihatan dia benar-benar tertarik oleh arak itu.

Tampak si siucay berbaju hijau itu mengambil keluar sebelah cawan porselen dari dalam sakunya lalu menuangkan arak Bwee Hoa Loknya ke dalam cawan.

Sambil melirik sekejap ke arah si pendeta pemabok dia lantas meneguk habis isinya dalam satu tegukan.

Sambil melirik si pendeta pemabok Pan Ciat selalu saja terjerumus di dalam keadaan setengah sadar setengah tidak oleh pengaruh arak dan selamnya belum pernah mencoba harumnya arak seperti kali ini, sewaktu melihat si siucay berbaju hijau itu meneguk arak Bwee Hoa Lok dengan sedapnya tidak kuasa lagi dengan paksaan diri dia menahan rasa keinginannya itu mendadak sambil bangkit berdiri dia berjalan mendekati si siucay itu dengan langkah lebar.

“Bagaimana kalau pinceng pun ingin mengikat satu persahabatan dengan Jan hong?”“Haa, haa, apakah kau menginginkan arak Bwee Hoa Lok yang ada di tangan cayhe ini?”tanya si siucay berbaju hijau itu sambil tertawa.

“Tidak salah, entah sukakah Jan heng menghadiahkan kepadaku?”seru si Pan Ciat dengan muka yang merem melek.

Waktu itu ayah si siucay berbaju hijau itu sudah berubah memerah karena pengaruh air kata-kata tersebut dia segera menoleh sekejap ke arah si Toosu berusia pertengahan itu.

“Kekuatan minum Too heng amat kurang dan tiada bandingannya dikolong langit pada saat ini,”jawabnya. “Sedang arak Bwee Hoa Lok yang ada di tangan cayhe pun cuma tinggal separuh saja. Bilamana mengharuskan cayhe menghadiahkan yang separuh lagi ini kepada Too heng bukankah orang yang lain tidak akan berhasil mencicipi rasanya arak ini??”Dia menundukkan kepalanya untuk memandang sekejap botolnya itu setelah itu sambungnya lagi, “Cayhe jarang sekali berkelana di Bulim kali ini sewaktu cayhe berkelana kembali di dalam Bulim dan bisa bertemu muka dengan saudara-saudara sekalian sebagai jagoan berkepandaian tinggi yang memiliki nama besar disungai telaga membuat hatiku merasa amat girang, cuma sayang sewaktu cayhe meninggalkan rumah tidak membawa arak dalam jumlah yang lebih banyak. Bagaimana kalau sekarang cayhe menghadiahkan masing-masing orang secawan arak dulu kemudian sisanya baru diberikan semua kepada Too heng ini?”“Waaah… tidak bisa… tidak bisa… tidak bisa…”seru Pan Ciat Thaysu sambil memandang sekejap ke arah botol tersebut. “Sisa arak yang masih ada di dalam botol itu sangat terbatas, bilamana setiap orang yang ada di dalam ruangan ini harus meneguk satu cawan, aku rasa arak itupun bakal kekurangan!”“Haaa… haaa… kau janganlah kuatir dulu,”jawab si siucay berbaju hijau itu sambil tertawa. “Bukannya cayhe sengaja berbicara sombong. Orang-orang yang hadir di dalam ruangan kuil pada saat ini kecuali Too heng seorang, yang lain kiranya tidak bakal ada yang bisa menandingi kekuatan cayhe. Bilamana orang yang belum pernah minum arak cukup dikasih baru sebentar saja sudah terlebih dari cukup.

““Pinto adalah orang beribadat. Selamanya pantang minum arak, kebaikan budi dari Jan heng ini bioarlah pinto terima dihati saja,”tiba-tiba terdengar si Toojien berusia pertengahan itu berkata dengan suara yang perlahan.

Si siucay berbaju hijau itu lantas tersenyum dia berdiri dan menuangkan secawan arak kemudian dengan perlahan berjalan ke depan Toosu berusia pertengahan itu.

“Bilamana Too heng tidak suka meneguk bagaimana kalau menciumnya sebentar saja?”ujarnya, “bukannya cayhe sengaja berbicara sombong, di dalam dunia pada saat ini kiranya tidak akan terdapat arak yang lebih harum dari arak Bwee Hoa Lok dari cayhe ini?”Agaknya si toosu berusia pertengahan itu merasa tidak enak untuk menolaknya, dia lantas menerima cawan itu dan diciumnya beberapa saat setelah itu pujinya, “Hem… benarbenar merupakan arak bagus, walaupun pinto tidak pernah minum tetapi harumnya arak ini benar-benar menyegarkan badan… sungguh-sungguh merupakan arak yang berharga.

““Bilamana aku si hweesio bisa mencium pula maka segera akan pinceng ketahui benarkah perkataanmu itu?”timbrung Pan Ciat Thaysu dari samping.

“Haaa… haaa… Too heng jangan gugup dulu!”seru si siucay berbaju hijau itu sambil tertawa. “Perkataan yang sudah cayhe ucapkan selamanya tidak dapat dipungkiri, sisa arak ini tentu cayhe hadiahkan kepadamu.

“Siauw Ling yang melihat beberapa orang itu dikarenakan sebotol arak sudah saling dorong saling menolak dalam hati merasa rada heran.

Si pendeta pemabok Pan Ciat bermaksud meminta tetapi si siucay berbaju hijau itu justru tidak memberi. Sebaliknya si toosu berusia pertengahan yang menolak sebaliknya dipaksa terus oleh siucay berbaju hijau itu.

Tampak dengan perlahan si Toosu berusia pertengahan itu mengembalikan lagi cawan arak itu kepada si siucay lalu ujarnya, “Sekalipun ada arak bagus dihadapan mata sayang pinto tidak berani meneguknya.

“Sisisucay berbaju hijau itu segera menerima cawan itu dan diangsurkan kepada si Toosu cilik berjubah hitam itu.

“Hey Toosu cilik, kaupun cobalah merasakan barang bagus ini!”katanya.

Dengan gugup si Toosu berbaju hitam itu melengos kesamping.

“Tidak, siauwte tidak kuat mencium bau arak……”tolaknya.

Si siucay berbaju hijau itu segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaa… haaa… peraturan perguruan dari Bu-tong-pay ternyata benar-benar amat deras!”pujinya.

Setelah itu dengan langkah lebar dia berjalan mendekati si pengemis kelaparan.

Semasa Im Kauw masih hidup sering sekali dia menceritakan keadaan di dalam Bulim kepada Siauw Ling, di dalam ingatannya Bu-tong-pay adalah kumpulan dari orang-orang baik, kini melihat keadaan dari toosu amat gagah dan berwibawa tidak terasa dalam hati merasa amat kagum sekali.

Setelah mendekati tubuh si pengemis kelaparan siucay berbaju hijau itu segera mengangsurkan arak itu kehadapannya.

“Pada masa mendekat ini cayhe jarang sekali berkelana di dalam Bulim tetapi nama besar dari Shen heng sudah lama cayhe dengar…”katanya.

“Cuma sayang aku si pengemis tua selamanya suka makan tetapi pantang terhadap arak maksud baik ini biarlah aku si pengemis tua terima dihati saja,”ujar si pengemis kelaparan sambil melirik sekejap ke arah cawan tersebut.

Air muka si siucay berbaju hijau itu segera berubah sangat hebat.

“Arak Bwee Hoa Lok dari cayhe ini termasuk arak yang paling terkenal dikolong langit pada saat ini. Bilamana Shen heng melewatkan kesempatan yang baik ini mungkin selamnya bakal tidak bisa merasakan kembali!”serunya.

“Kalau begitu biarlah bagian dari si pengemis tua diberikan pada Pan Ciat To heng,”ujar si pengemis kelaparan kemudian setelah itu dia pejamkan matanya kembali.

Mendengar perkataan tersebut si pendeta pemabok dengan langkah yang lebar segera berjalan mendekat.

“Haaa… haaa kalau menjual arak seharusnya menjual pada orang yang membutuhkan… haaa… haaa… haaa… selamanya si pengemis tua itu berpandangan arak sehidung kerbau itupun untuk menjaga nama dan kedudukan tidak sua minum, kelihatannya cuma aku si hweesio tua saja yang suka arak seperti nyawanya sendiri… haaa… haaa asalkan ada arak bagus sekalipun di dalam arak itu sudah diberi racun pemutus usus aku si hweesio tetap akan meneguknya sampai habis, sekalipun setelah itu harus mati. Haaa… haaa matipun dengan mata meram”katanya.

Si siucay berbaju hijau itu lantas termenung sebentar, akhirnya sambil tertawa keras diapun mengangguk.

“Tidak salah!”sahutnya. “Untuk menjual arak seharusnya menjual pada yang membutuhkan, biarlah arak Bwee Hoa Lok ini sampai cawan dan botolnya cayhe hadiahkan semua kepadamu.

“Si pendeta pemabok segera menerima arak dan diteguknya sampai habis.

“Haaa… haaa… arak bagus, arak bagus”pujanya tiada hentinya.

Si siucay berbaju hijau itu tidak memperdulikan akan pujian dari si pendeta pemabok itu lagi, lantas duduk bersila dan menghembuskan napas panjang.

“Saudara-saudara sekalian tidak suka merasakan arak Bwee Hoa Lok dari cayhe apakah kalian takut di dalam arak sudah aku beri racun???”katanya dengan kesal.

Beberapa patah kata perkataannya seperti lagi bergumam seorang diri seperti juga sedang menjelaskan kepada orang lain akan kemangkelan hatinya.

Mendadak tampaklah si toosu berusia pertengahan itu bangkit berdiri sepasang matanya yang sangat tajam tiada hentinya memperhatikan wajah Siauw Ling.

“Siauw sicu,”ujarnya dengan perlahan. “Apakah kau lagi tidak enak badan???”Siauw Ling yang sudah menaruh simpatik terhadap dirinya segera mengangguk.

“Sedikit tidak enak badanku!”sahutnya.

“Pinto paham di dalam ilmu pengobatan bagaimana kalau pinto bantu menyembuhkan sakit dari Siauw sicu itu!”kata si Toosu berusia pertengahan itu sambil tertawa.

Sehabis berkata dia melirik sekejap ke atas wajah si pengemis kelaparan itu untuk memeriksa perubahan air mukanya.

Walaupun Siauw Ling amat pintar tetapi dia tidak paham akan kelicikan yang ada di dalam dunia kangouw, tanpa perduli apakah toosu itu kawan atau lawan dia lantas menyahut, “Bagus sekali! Aku harus mengucapkan terima kasih dulu kepada Tootiang!”Tetapi si toosu berusia pertengahan itu masih tetap duduk tidak bergerak, apa yang sedang dia nantikan?? Terdengar si pengemis kelaparan itu sembari menghela napas panjang sudah berkata, “Bocah ini sudah membuang tenaga murni aku si pengemis tua selama satu hari satu malam lamanya, tetapi sakitnya belum benar-benar sembuh. Bilamana Tootiang suka turun tangan memberi bantuan, sudah tentu aku si pengemis tua merasa sangat berterima kasih sekali.

““Aaaah… sicu jangan berbicara demikian,”ujar si toosu berusia pertengahan itu sambil tertawa. “Pinto tidak lebih cuma mengerti akan sedikit ilmu pengobatan saja. Menurut apa yang pinto lihat dari wajah bocah itu pinto rasa sakit yang diderita Siauw sicu ini sudah dideritanya sejak kecil ditambah lagi luka yang diderita di dalam beberapa hari ini mengakibatkan dia benar-benar terluka dalam.

““Tidak salah?”sambung si pengemis kelaparan itu dengan cepat. “Jalan darah Thay He Piat didekat usus dua belas jarinya sudah terkena totok sehingga mengakibatkan uraturatnya menjadi berubah tempat aliran darahnya membeku. Bilamana tidak ditolong maka di dalam tujuh hari tentu akan menemui ajalnya atau paling sedikit akan jadi cacat untuk selamanya… hee… aku si pengemis tua tidak mengerti akan ilmu pengobatan perkataanku itupun menurut dugaan yang apa aku ketahui saja.

““Perkataanku itupun tidak salah”jawab si Toosu berusia pertengahan itu sembari tertawa.

“Yang membuat pinto kecewa adalah tidak berhasilnya memulihkan dia seperti sedia kala. Bilamana Shen heng suka menyerahkan dirinya untuk pinto bawa pergi maka sekarang juga pinto bermaksud membawanya kembali ke Bu-tong-pay.

““Setelah itu memohon agar Ciangbun suheng suka turun tangan menyembuhkan lukanya ilmu pengobatan dari ciangbun suheng yang melebihi dari pinto sepuluh kali lipat, pinto rasa lukanya tentu bisa disembuhkan olehnya.

“Mendadak si pengemis kelaparan membuka sepasang matanya lebar-lebar sinar matanya yang amat tajam dengan terpesonanya memperhatikan wajah Toosu tersebut.

“Im Yang Cu!”terdengar dia berkata kembali sepatah demi sepatah. “Aku si pengemis tua sudah setengah abad melakukan perjalanan di dalam sungai telaga dan mengalami dahsyatnya, apakah kau suruh aku membalikkan perahu di tengah sungai??”Im Yang Cu segera tersenyum.

“Sekalipun pinto mempunyai maksud hati yang lain, tetapi kau janganlah kuatir, pinto pasti berhasil menyembuhkan lukan yang diderita olehnya.

““Kalau begitu baiklah, kau bawalah dia pergi dari sini,”ujar si pengemis kelaparan kemudian sambil pejamkan matanya. Im Yang Cu lantas meloncat bangun sambil menggandeng tangan si toosu cilik berbaju hitam itu dia meloncat kesamping tubuh Siauw Ling kemudian menggendongnya dan meloncat keluar dari kuil tersebut.

“Hee, hee, Im Yang Too heng, tunggu dulu!”terdengar si siucay berbaju hijau itu membentak dengan suara yang amat dingin.

Tangan kirinya segera diulapkan ke depan seorang cebol berbadan hitam yang ada di belakang badannya mendadak meloncat ke depan menghalangi perjalanan pergi dari si toosu cilik berbaju hitam itu.

Kembali pundak Im Yang Cu sedikit bergerak dengan gerakan yang amat cepat dia sudah berada dihadapan si toosu cilik berbaju hitam itu kembali.

“Jan heng, apakah kau hendak menyusahkan diri pinto??”bentaknya dengan dingin.

“soal ini cayhe rasa aku tidak punya nyali yang begitu besar,”ujar si siucay berbau hijau itu sambil tertawa-tawa. “Haaa. haa di dalam dunia persilatan siapa yang tidak kenal dengan nama besar dari Im Yang Too heng?”Siauw Ling yang melihat beberapa orang itu ternyata sudah saling memperebutkan dirinya dakam hati sekali lagi merasa keheranan bercampur geli.

“Eeei, eei bagaimana sampai aku Siauw Lingpun dipandang begitu pentingnya??”pikirnya dihati.

Tampak Im Yang Cu mengebutkan hut tim yang ada ditangannya kesamping.

“Kalau memang Jan heng tidak bermaksud untuk menyusahkan diri pinto lebih baik janganlah berlaku demikian kasar”katanya.

Si siucay berbaju hijau itu segera tertawa dingin.

“Walaupun cayhe tidak bermaksud untuk menyusahkan diri Im Yang Too heng, tetapi sama sekali tidak merasa ngeri terhadap nama besar dari Bu-tong-pay apalagi pedang di tangan Im Yang Too heng itu!”katanya seram.

Im Yang Cu segera mengerutkan alisnya, pundaknya sedikit bergerak hendak melancarkan serangan tetapi akhirnya dia bersabar kembali.

“Lalu Can heng ada petunjuk apa?”tanyanya. “Aku tentu akan mendengarkan semua perkataanmu itu.

“Sepasang mata yang amat tajam dari siSin berbaju hijau itu dengan tiada hentinya putar di tubuh Siauw Ling, lama sekali serunya kembali, “Im Yang Too heng tidak sayang melakukan perjalanan sejauh ribuan li apakah sungguh-sungguh bermaksud hendak kirim saudara cilik ini ke gunung Bu-tong-pay untuk disembuhkan sakitnya?”“Tidak salah.

““Ada pepatah mengatakan: menolong orang bagaikan menolong api. Kalau memangnya saudara cilik ini menderita sakit yang amat parah apakah di bisa mempertahankan dirinya akan penderitaan selama melakukan perjalanan sejauh ribuan li ini??”“Soal ini pinto sudah ada rencana yang tersendiri Jan heng tidak perlu menguatirkannya!”“Apanya yang tidak perlu??”“Walaupun cayhe tidak pandai dan tidak mengerti ilmu pengobatan tetapi cuma hanya untuk menyembuhkan sakit dari saudara cilik ini tidaklah perlu melakukan perjalanan sejauh ribuan li untuk kembali ke gunung Bu-tong.

“kata si siucay itu dingin.

“Pinto sudah memperoleh persetujuan dari Shen heng, kini Jan heng sengaja menentangi maksudku, entah kau mempunyai maksud hendak berbuat apa?”seru Im Yang Cu mendongkol.

Si siucay berbaju hijau itu segera tertawa-twa.

“Untuk menolong nyawa orang lain, cayhe tak akan ragu-ragu untuk turun tangan sendiri,”jawabnya.

Siauw Ling yang mendengar perkataan tersebut hatinya merasa semakin keheranan lagi.

“Aaah… sungguh lucu sekali!”pikirnya “kiranya mereka beribut sendiri karena hendak berebutan untuk menyembuhkan sakitku haa kiranya orang yang hendak berbaik hatipun tidak sedikit jumlahnya!”Air muka Im Yang Cu segera berubah sangat hebat.

“Pinto merasa ilmu pengobatanku tidak berada di bawah kepandaian dari Jan heng,”ujarnya dengan dingin. “Aku sendiripun merasa tidak ada kekuatan untuk menyembuhkan sakit diri Siauw sicu ini apalgi dengan mengandalkan sedikit ilmu pengobatan yang Jan heng miliki itu… hm!! hmmm! pinto rasa lebih baik kau janganlah terlalu menyombongkan diri!”“Haaa… haaa cayhe di dalam Bulim disebut sebagai Pek So Cian Ih atau sitabib sakti bertangan seratus apakah gelar inipun cayhe dapatkan sebagai nama kosong belaka?”ujar si siucay berbaju hijau itu sambil tertawa.

“Pinto cuma mendengar Jan heng memiliki gelar sebagai Pek So suseng atau sisastrawan bertangan seratus, tetapi belum pernah mendengar kaupun memeliki gelar sebagai sitabib sakti bertangan seratus!”“Hal itu dikarenakan Too heng jarang sekali melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan sehingga pengetahuannya rada cetek”jawab si siucay sambil tertawa terbahakbahak.

Dia berhenti sebentar untuk kemudian sambungnya lagi, “Kalau memangnya Too heng tidak percaya terhadap ilmu pengobatan yang cayhe miliki sanggup untuk memberikan sedikit demontrasi dihadapan diri Too heng bagaimana?”“Hmm! Selama hidup seorang manusia di dalam dunia ini cuma mengalami sekali kematian peristiwa yang amat besar ini bagaimana boleh digunakan sebagau percobaan?”Seru Im Yang Cu sambil tertawa dingin.

Si siucay berbaju hijau itu melirik sekejap ke arah si pendeta pemabok yang sudah berada di dalam alam mimpi sambil memeluk botol yang berisikan arak Bwee Hoa Lok itu nyalinyapun saat ini jadi bertambah besar.

“Hmmm…! cayhe mau tanya. Apakah saudara cilik ini adalah anak murid dari Bu-tongpay tetapi pinto menerima titipan dari orang lain, soal ini bagaimanapun harus pinto selesaikan sampai mencapai hasil.

““Kau menerima titipan dari siapa?”tanya si siucay itu sambil tertawa.

Agaknya Im Yang Cu tidak ingin bentrok dengan si Pek So suseng sehingga menahan sabar katanya, “Bukankah Jan heng melihat dengan mata kepala sendiri kalau pinto menerima titipan dari Shen Thay hiap? Dia minta pinto untuk mengirim Siauw sicu ini kembali ke gunung Bu-tong-pay lalu menyembuhkan sakitnya!”“Kalau memangnya begitu maka bilamana Shen heng setuju maka kaupun bisa meninggalkan satu dara cilik disini.

“Im Yang Cu cuma mendengus dengan dinginnya dia mengucapkan sepatah katapun.

Sengaja si siucay berbaju hijau itu mempertinggi suaranya, lantas ujarnya lagi, “Bilamana Shen heng percaya dengan ilmu pengobatan yang cayhe miliki maka sekarang juga cayhe akan turun tangan menyembuhkan luka serta sakit yang diderita saudara cilik ini.

“Dengan pandangan yang amat teliti Siauw Ling segera memperhatikan si siucay berbaju hijau itu, walaupun panca indranya sangat sempurna, kulitnya halus bagaikan salju tetapi dari sepasang matanya memancar keluar cahaya yang amat menyeramkan dari antara alisnyapun secara samar-samar diliputi oleh selapis hawa hitam yang amat tebal, hatinya jadi merasa rada bergidik.

Tanpa menanti jawaban dari si pengemis kelaparan lagi dia sudah berteriak dengan kerasnya.

“Empek Shen, aku tidak mau diobati oleh dia orang, aku mau ikut Tootiang saja.

0 Response to "Rahasia Kunci Wasiat Bagian 06"

Post a Comment