Rahasia Kunci Wasiat Bagian 02

Mode Malam
Tampaklah oleh Siauw Ling di atas permukaan salju berdirilah sebuah kereta berkerudung hitam amat angker sekali kelihatannya.

Gak Siauw-cha segera membuka pintu kereta dan memasukkan tubuh Siauw Ling ke dalamnya. “Aku sudah siapkan selimut buat kau disana, bilamana kau merasa lelah tidurlah senyenyak-nyeyaknya.

“Katanya.

“Ehmmmm…”Kain kerudung hitam itu segera diturunkan kembali membuat suasana di dalam kereta terasa hangat sekali.

Tapi keadaannya semakin gelap sehingga sukar untuk melihat lima jarinya sendiri. Siauw Ling segera berteriak, “Cici, kau tidak ikut masuk kesini?”“Aku harus mengemudikan kereta, kau baik-baiklah beristirahat seorang diri!”terdengar suara dari Gak Siauw-cha dari luar.

Selesai bicara segera terdengar suara putaran roda yang amat ramai disertai sedikit goncangan di dalam kereta tersebut, dengan secepatnya kereta berkerudung hitam itu berlari menuju ke arah depan.

Siauw Ling pejamkan matanya beristirahat sebentar, ketika membuka matanya kembali dia bisa melihat keadaan di dalam kereta itu secara lebih jelas lagi.

Jenazah dari Im Kauw yang tertutup oleh kain putih tidak lain terletak pojok kanan dari dirinya.

Im Kauw masih tetap pada gayanya semula, sepasang matanya dipejamkan dan bersandar pada dinding kereta, keadaannya begitu tenang sedikitpun tidak memperlihatkan perubahan-perubahan aneh dari seorang yang sudah mati.

“Adik Ling! Kau sedikitlah berhati-hati.

“Tiba-tiba terdengar suara dari Gak Siauw-cha berkumandang masuk ke dalam telinganya, “Kau orang jangan sampai membentur jenazah bibi Im…”Dia berhenti sebentar, kemudian tanyanya lagi. “Kau takut yaaah?”“Tidak, keadaan dari bibi Im seperti dia masih hidup.

“Gak Siauw-cha menghela napas panjang, dia tidak bicara lagi dan mendadak mempercepat larinya kuda melanjutkan perjalanan ke arah depan.

Tubuh Siauw Ling yang lemah sekalipun mendapatkan latihan dari Im Kauw tetapi dikarenakan rejekinya yang tidak ada membuat latihannya mogok di tengah jalan, susah payah dari Im Kauw selama beberapa bulan dulu tidak lebih cuma berhasil sedikit menguatkan badannya saja.

Kini dia harus bersusah payah semalaman sejak tadi badannya terasa lemas, tak terasa lagi dia sudah tertidur pulas.

Entah beberapa saat kemudian dia dikejutkan oleh suara berbisik tangisan yang amat menyayatkan hati, dia orang yang amat cerdik dan pikirannya tajam segera pura-pura masih tertidur, dia tidak membuat itu terkejut oleh dirinya.

Tampaklah Gak Siauw-cha sedang berlutut di hadapan jenazah Im Kauw dan menangis dengan sedihnya, cuma saja suara tangisnya amat perlahan sekali agaknya dia takut sampai menyadarkan diri Siauw Ling.

Di samping badannya terletaklah sepucuk surat. Dengan meminjam serentetan sinar sang surya yang memancar masuk ke dalam kereta Siauw Ling bisa membaca beberapa patah kata, ”…… Jangan sampai dia membiarkan dia menangis, tertawa keras, hatinya merasa terharu dan goncang…”Tulisan selanjutnya dia tidak bisa mengetahuinya karena sudah tertutup oleh selimut di atas tubuhnya.

Beberapa kalimat yang tidak diketahui artinya ini segera membuat hati Siauw Ling berputar, pikirnya, “Kalau dilihat dari tulisan itu agaknya tulisan dari bibi Im, apakah itulah yang dimaksud dengan surat wasiatnya?”Tak terasa lagi dia angkat kepalanya memandang, siapa tahu dengan gerakannya ini segera membuat Gak Siauw-cha sadar kembali dari sedihnya walaupun hatinya sedang susah tapi pendengarannya maupun penglihatannya masih tetap tajam. Cukup sedikit tubuh Siauw Ling bergoyang saja dia segera tahu kalau dia orang sudah bangun dari tidurnya.

Dengan gugup dia menyambar surat wasiat itu dan dimasukkan ke dalam sakunya, kemudian mengusap kering bekas air mata di pipinya.

“Eeeh… kau pasti tertidur dengan pulas bukan?”ujarnya sambil memperlihatkan tertawa paksa.

Dia yang sedang bersedih hati karena kematian ibunya, tetapi berusaha menekan rasa sedih itu dari wajahnya, membuat Siauw Ling yang melihat senyumnya yang dipaksa hatinya merasa sedih.

Siauw Ling mendadak merangkak bangun dan jatuhkan diri berlutut di depan jenazah Im Kauw.

Melihat hal itu dengan cepat Gak Siauw-cha mencegah.

“Adik Ling, kau mau berbuat apa?”“Aku mau memberi hormat kepada mayatnya Bibi Im!”“Tidak usah!”cegah Siauw-cha gelengkan kepalanya, “Jika kau orang berbuat demikian hal ini malah mendatangkan keperihan hatiku saja, kini hari sudah siang aku kira perutmu juga sudah lapar, mari kita turun dari kereta untuk bersantap.

“Tidak menunggu Siauw Ling memberi jawaban dia sudah menyingkap hordin kereta dan menarik Siauw Ling turun dari kereta.

Sang surya memancarkan sinarnya amat terang sekali sehingga menyilaukan mata, terdengar suara mengalirnya air memecahkan kesunyian.

Kereta kencana itu berdiri di tengah hutan yang amat lebat, di samping sebuah pohon siong yang besar terdapatlah tiga buah batu yang di atasnya tertumpang sebuah kuali besi, bau harum yang semerbak tidak henti-hentinya meniup mendatang.

Gak Siauw-cha menarik tangan Siauw Ling untuk bersama-sama duduk di atas akar pohon yang besar, ujarnya sambil tertawa, “Sewaktu ibuku masih hidup dia orang tua sering mengajari aku cara memasak, bagaimana kalau kau merasakan kepandaian diri cicimu ini??”Kiranya Gak Siauw-cha takut keretanya yang memuat mayat dari Im Kauw diketahui oleh orang-orang Bulim sehingga mendatangkan banyak kesulitan, dia orang tidak berani mencari makan di dalam rumah-rumah makan.

Dengan tergesa-gesa mereka berdua bersantap dengan lahapnya, Siauw Ling memuji tak henti-hentinya kehebatan atas cara memasak dari Siauw-cha ini.

Padahal santapan yang dimasak dengan bahan-bahan yang tak komplit apalagi bahannyapun sangat sederhana, walaupun dikata Gak Siauw-cha memiliki kepandaian memasak yang amat tinggi belum tentu pada saat ini bisa memasak sehingga betul-betul lezat.

Sudah tentu pujian dari Siauw Ling ini sepatutnya adalah sedang mencari muka separuhnya lagi karena tertarik.

Setelah menyimpan kembali kuali besi tersebut Gak Siauw-cha segera menuntun Siauw Ling naik ke atas kereta kembali, setelah membuat beberapa tanda gambar di atas pohon siong tersebut mereka baru melanjutkan perjalanan kembali.

Siauw Ling yang dapat melihat tanda yang dibuat olehnya itu tulisan tak mirip tulisan gambaran tidak mirip gambaran, membuat orang sulit untuk mengetahui maksudnya walaupun di dalam hati, dia menaruh rasa curiga tetapi tak sepatah kata ditanyakan.

Mereka melanjutkan kembali perjalanannya selama beberapa hari lamanya hari itu sewaktu udara menunjukkan siang hari… sampailah mereka di sebuah kota besar.

Tampak kereta serta manusia yang berlalu lalang amat ramai sekali yang kadang kala diiringi suar hiruk-pikuk yang memekakkan telinga.

Siauw Ling merasakan perutnya amat lapar sekali, selama beberapa hari ini dia selalu bersantap dengan sembarangan di tengah hutan walaupun perutnya merasa tidak sesuai tetapi diapun tidak berani mengemukakan hal itu kepada Gak Siauw-cha.

Saking laparnya dia tidak bisa tahan lagi mendadak dia menjerit dan jatuh terlentang di atas tanah.

Melihat hal itu Gak Siauw-cha mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Adik Ling!”ujarnya perlahan. “Kita makan dulu kemudian baru melanjutkan kembali.

“Mendengar perkataan itu Siauw Ling menjadi amat girang.

“Bagus… sejak tadi aku memang sudah merasa lapar!”serunya keras.

Mereka berdua segera menjalankan kudanya mencari sebuah rumah penginapan, setelah memesan kepada pengurus rumah penginapan itu untuk baik-baik mengurus kudanya, bersama-sama dengan Siauw Ling dia mencari tempat duduk di dekat jendela.

Mendadak… Suara derapan kuda amat ramai sekali berkumandang datang, tampaklah dua ekor kuda dengan amat cepatnya berkelebat datang.

Kedua orang lelaki kasar yang ada di atas kuda itu masing-masing pada pinggangnya tersoren sebilah senjata. Walaupun saat ini sedang musim dingin tetapi dua ekor kuda itu kelihatan basah kuyup oleh keringat.

Mendadak tampaklah lelaki yang menunggang kuda di depan menarik tali les kudanya membuat kuda yang sedang berlari cepat seketika itu juga berhenti dan meringkik sambil mengangkat kedua kakinya seketika.

Orang di daerah Kang Lam memang kebanyakan paling suka melihat kuda, saat ini melihat kepandaian menunggang kuda yang demikian sempurnanya dari orang itu tidak tak terasa lagi pada bersorak memuji.

Belum habis suara pujian itu bergema mendadak menyusul suara teriakan kaget yang amat keras sekali.

Kiranya penunggang kuda yang ada di belakang sama sekali tak menduga kalau kuda yang ada di depannya menghentikan tunggangannya karena tiba-tiba sehingga kudanya yang sedang berlari keras tidak sempat ditarik kembali sehingga dengan amat kerasnya menerjang ke depan.

Terlihatlah lelaki yang ada di depan dengan amat tenangnya melancarkan satu tenaga dorong memukul ke arah kuda yang menubruk ke arahnya.

Semua orang jadi terkejut dan pada menjerit, ternyata kuda yang ada di belakangnya itu berhasil ditahan oleh tenaga dorongannya tadi sehingga berhenti.

Di tengah suara tepukan yang amat keras kedua orang lelaki kasar itu pada meloncat turun dari kudanya dan melirik sekejap ke arah kereta berkerudung kain hitam yang berhenti di depan rumah penginapan tersebut.

“Ehmm… disini!”terdengar salah satu lelaki berseru.

Dengan cepat dia melepaskan tali les kudanya lalu dengan langkah lebar berjalan masuk ke dalam rumah penginapan tersebut dia langsung menuju ke depan Gak Siauw-cha sambil merangkap tangannya menjuru.

Air muka Gak Siauw-cha segera berubah agak tenang. Dia sedikit mengerutkan alisnya.

“Kalian kenapa begitu tergesa-gesa?”serunya kurang senang.

Agaknya lelaki itu segera merasa kalau tindak tanduknya terlalu ceroboh, dengan cepat dia tertawa memperlambat langkahnya.

“Kami sudah melihat tanda rahasia yang nona tinggalkan di tempat-tempat tertentu lantas cepat-cepat mengejar kemari…,”ujarnya dengan suara lirih.

“Ada urusan kita bicarakan nanti saja!”Tiba-tiba potong Gak Siauw-cha sambil mengulapkan tangannya.

Agaknya di dalam hati lelaki itu mempunyai banyak urusan yang hendak disampaikan, mendengar perkataan tersebut segera dia berbatuk-batuk ringan dan dengan paksakan diri menahan sabar.

Waktu itu lelaki kasar yang lainpun sudah menambat kedua ekor kuda itu di depan kuda lalu ikut masuk ke dalam rumah penginapan tersebut.

Dia pun dengan amat hormatnya memberi hormat kepada diri Gak Siauw-cha.

Diam-diam Siauw Ling memperhatikan diri kedua orang lelaki itu, tampaklah lelaki itu usianya kurang lebih ada diantara tiga puluh tahunan, seperangkat baju hijau yang singsat membungkus tubuhnya dengan sebilah golok tersoren pada punggungnya dan lelaki yang lain mempunyai senjata Pan Koan Pit menghiasi pinggangnya, sikapnya agak gagah dan berwibawa sekali, tetapi lucunya terhadap Gak Siauw-cha yang lemah lembut ternyata sangat menghormati.

Lelaki bersenjatakan golok yang masuk ke dalam ruangan itu terlebih dulu agaknya sudah tidak dapat menahan sabar lagi, ujarnya dengan suara pelan, “Nona! Jejak kita sudah bocor, musuh-musuh tangguh sudah pada menguntit kemari.

“Walaupun di dalam ruangan itu ada beberapa orang tamu yang tertarik oleh kejadian ini tetapi melihat sikap lelaki yang bersenjata tajam itu angker dan menyeramkan cepat-cepat sudah pada melengos tidak heran melihat lebih lama lagi.

Mendengar berita itu air muka Gak Siauw-cha segera berubah amat hebat, sepasang matanya yang besar bulat berkelebat sekejap lalu perintahnya dengan suara perlahan, “Kalian cepat bersantap, lalu dengan secepat mungkin berlalu dari.

“Agaknya kedua orang lelaki itupun merasa perutnya agak lapar, segera dia orang mengambil sayur dan bersantap dengan lahapnya.

Dengan tergesa-gesa akhirnya santapannyapun selesai setelah membayar rekening mereka melanjutkan kembali perjalanannya dengan tergesa-gesa.

Lelaki kasar bersenjatakan golok itu lantas menggantikan kedudukan dari Gak Siauw-cha untuk mengemudikan kereta, sedangkan lelaki yang bersenjatakan Pan Koan Pit mengikuti dengan kencangnya dari belakang kereta. Suasana amat tegang sekali.

Selama beberapa hari ini Siauw Ling selalu berada seorang diri di dalam kereta. Kini melihat Gak Siauw-cha pun berada di dalam satu kereta dengan dirinya tidak terasa lagi ia memandang dirinya lebih tajam.

Tampak wajahnya yang cantik agak murung alisnya dikerutkan rapat-rapat sedangkan pandangannya amat sayu, jelas sekali satu urusan penting yang sudah membingungkan hatinya.

Suara berputar roda semakin santar menunjukkan kereta itu pun larinya semakin cepat tidak selang lama, kemudian kereta tersebut sudah keluar dari kota.

Mendadak Gak Siauw-cha angkat kepalanya memandang tajam wajah Siauw Ling yang tampan menarik itu.

“Adik Ling!”serunya.

“Ada apa?”tanya Siauw Ling melengak.

“Jejak kita sudah bocor, kemungkinan sekali sebentar lagi bakal terjadi satu pertempuran yang amat sengit dan membahayakan jiwa kita. Adik Ling, kau orang bukanlah manusia dari kalangan Bulim sudah seharusnya jangan mencampuri urusan kami yang sangat membahayakan keselamatanmu. Maksud cici lebih baik untuk sementara waktu aku kirim kau ke suatu tempat yang aman, entah bagaimana maksud dari adik Ling?”“Tetapi tempat ini aku merasa paling aman.

“Bantah Siauw Ling cepat.

“Hai, usiamu masih amat kecil dan tidak mengerti urusan yang terjadi di dalam Bulim,”ujar Siauw-cha sambil menghela napas panjang. “Sekarang akupun tidak bisa menjelaskan urusan ini kepadamu, kau tak mengerti ilmu silat lagi pula cuma seorang bocah cilik, asalkan tidak melakukan perjalanan bersama-sama kita bahaya apapun tidak bakal mengancam dirimu lagi.

““Tidak bisa jadi!”seru Siauw Ling sambil gelengkan kepalanya. “Aku mau bersamasama dengan cici sekalipun ada bahaya mengancam aku juga tidak takut. Hai, ayahku sudah beritahu padaku kalau aku orang sukar hidup lebih dari dua puluh tahun. Kini aku sudah berusia dua belas tahun, tak lebih tak kurang, aku cuma bisa hidup delapan tahunan lagi. Mati sekarang atau mati dikemudian hari aku rasa sama saja.

“Sebetulnya Gak Siauw-cha kepingin memaksa diri Siauw Ling untuk meninggalkan dirinya tetapi ketika secara tiba-tiba dia teringat kembali akan pesan terakhir yang ditulis ibunya dimana kurang lebih begini, “Kau baik-baiklah menjaga dirinya, bocah ini usianya tidak panjang, sekalipun aku sudah berhasil memberikan pelajaran Sim Hoat kepadanya tetapi masih belum bisa juga menyembuhkan penyakitnya hanya di dalam waktu singkat, di dalam dua tahun ini kau janganlah sekali-sekali membuat dia merasa sedih, merasa gembira sehingga menggocangkan hatinya.

““Setelah lewat dua tahun diaman dasar tenaga dalamnya sudah cukup kuat waktu itulah kau orang berusaha untuk menolong jiwanya, tapi janganlah menggunakan cara yang kasar sehingga membuat hatinya sedih dan nyawanya sukar untuk dipertahankan lagi.

““Pesanku ini janganlah kau langgar.

“Siauw Ling yang melihat lama sekali Siauw-cha memandang dirinya tanpa mengucapkan sepatah katapun tidak kuasa lagi dia sudah bertanya, “Cici, kau sedang memikirkan apa?”“Adik Ling, jika kau mau ikuti diriku terus, kau harus menyanggupi dulu dua syarat.

““Syarat apa?”“Tidak perduli sudah terjadi peristiwa yang bagaimana bahayanyapun aku melarang kau untuk ikut campur atau banyak bicara.

““Baiklah, sampai waktunya aku tidak akan ngomong juga tidak akan bergerak, harap cici berlega hati.

““Masih ada satu urusan lagi,”sambung Gak Siauw-cha selanjutnya. “Tidak perduli kau orang sudah bertemu dengan urusan yang bagaimana sedih atau gembiranya kaupun tidak boleh menangis sedih atau tertawa keras.

““Kenapa?”tanya Siauw Ling keheranan.

“Kau janganlah bertanya mengapa!”Potong Gak Siauw-cha dengan cepat. “Jikalau kau orang tidak mau menyanggupi syarat ini aku akan kirim segera orang untuk mengantar dirimu pulang.

““Baiklah aku meluluskan permintaanmu itu!”seru Siauw Ling dengan cepat.

“Kalau begitu, sekarang kau harus duduk dan beristirahat,”perintah Gak Siauw-cha selanjutnya setelah itu dia menyingkap hordin dan meloncat keluar dari dalam kereta.

Terdengar dari luar kereta segera berkumandang datang suara percakapan yang amat lirih sekali, saking lirihnya suara itu sehingga Siauw Ling cuma merasakan larinya kereta itu semakin lama semakin cepat, goncangan yang terasapun semakin keras, agaknya kereta itu sedang melakukan perjalanan melalui sebuah jalan gunung yang banyak berbatu.

Mendadak kereta berkuda itu berhenti, Gak Siauw-cha meloncat masuk ke dalam ruangan kereta dan menggendong keluar mayat dari Im Kauw kepada Siauw Ling ujarnya dengan suara yang lirih, “Adik Ling, cepat ikuti diriku.

“Siauw Ling dengan cepat meloncat turun dari kereta, tampaklah puncak gunung yang menembus awan berdiri sejajar dihadapannya. Tidak jauh disana di tengah hutan bambu yang amat lebat berdirilah sebuah rumah gubuk.

Dengan tergesa-gesa Gak Siauw-cha berlari menuju ke arah rumah gubuk tersebut, Siauw Ling pun mengerahkan seluruh tenaganya menguntil di belakang Gak Siauw-cha setelah melewati sebuah hutan bambu yang lebat sampailah mereka di depan gubuk itu.

Suasana di sekeliling tempat itu amat sunyi sekali, pintu rumah tertutup rapat bahkan tidak tampak sesosok bayangan yang muncul di depan.

Dengan perlahan Gak Siauw-cha mengetuk tiga kali keras pintu rumah gubuk itu lalu dengan hormatnya berdiri menanti.

Kurang lebih seperminuman teh kemudian dari dalam rumah gubuk itu terdengarlah berkumandangnya suara yang amat tua berat dan serak sekali.

“Siapa?”tanyanya.

“Boanpwee Gak Siauw-cha.

“Dari dalam rumah gubuk itu segera bergema kembali suara helaan napas panjang yang amat menyedihkan.

“Aku orang tua sudah ada sepuluh tahun lamanya tidak menerima tetamu sekalipun kau adalah putri dari seorang teman lamaku tetapi aku tidak ingin melanggar peraturan ini.

Kau pulanglah!”ujarnya perlahan.

Gak Siauw-cha menjadi amat cemas.

“Tetapi ibu dari boanpwee sudah menemui ajalnya!”serunya dengan cepat. “Jenazahnya kini sudah ada di depan rumah, harap Locianpwee mau melihat sekejap ibuku yang sudah meninggal dan melanggar peraturan itu satu kali.

“Suara suitan yang amat keras mendadak berkumandang dan memotong pembicaraan Gak Siauw-cha yang belum selesai.

Dari dalam rumah gubuk itu segera bergema suara terbenturnya tongkat kayu di pintu rumah gubuk itu dengan perlahan-lahan terbuka.

Siauw Ling dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah itu, tampaklah seorang nenek tua yang rambutnya sudah berubah dengan mencekal sebuah tongkat bambu berdiri di depan pintu.

Wajahnya sudah penuh dengan keriput. Sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat sedang perawakannya kurus kering bagaikan lidi.

Gak Siauw-cha segera meletakkan jenazah dari Im Kauw ke atas tanah lalu dengan sangat hormatnya dia memberi hormat kepada nenek tua itu.

“Boanpwee menghunjuk hormat kepada diri Locianpwee.

“Sejak munculnya nenek tua itu dia orang terus menerus berdiri mematung disana tanpa mengucapkan sepatah katapun. Terhadap Gak Siauw-cha yang jatuhkan diri berlutut dihadapannya dia sama sekali tidak ambil perduli.

Melihat hal itu di dalam hati kecilnya diam-diam Siauw Ling berpikir, “Huuh… sungguh sombong benar nenek tua ini!”Tampak nenek tua itu dengan perlahan-lahan mengulurkan keluar jari tangannya yang amat kurus itu dan dengan lambat-lambat mendorong pintu rumahnya.

“Ehmm… bukankah sekarang aku sudah menemui dirimu?”ujarnya tawar.

“Locianpwee sudi melanggar peraturan yang berlaku dengan munculkan dirinya, boanpwee merasa sangat berterima kasih sekali.

““Tadi kau ingin bertemu dengan aku sekarang bukankah kau sudah bertemu muka?”Potong nenek itu dengan dingin. “Kenapa belum pergi juga kau dari sini? Kau mau tunggu apa lagi?”“Boanpwee masih ada satu urusan yang ingin minta bantuan, harap Locianpwee mau mengabulkannya!”ujar Gak Siauw-cha dengan sangat hormatnya.

Air muka nenek tua itu berubah semakin dingin lagi dia berdiri tegak disana tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Dengan nada yang amat sedih Gak Siauw-cha melanjutkan kembali kata-katanya, “Ibuku menderita luka yang amat parah dan kini sudah menemui ajalnya, di dalam surat wasiatnya dia orang itu memerintah boanpwee untuk membawa jenazahnya ke rumah seorang kawannya di atas gunung Heng-san…”Nenek tua itu tetap dengan tenangnya berdiri di tempat itu, dia tidak bergerak juga tidak mengucap sepatah katapun.

Gak Siauw-cha yang melihat dia tidak memberikan komentar, segera sambungnya lagi, “Di dalam ingatan boanpwee, Locianpwee adalah salah satu kawan ibuku semasa hidupnya, pada setahun yang lalu ibuku pernah membawa boanpwee datang kemari untuk menyumpang, tetapi dikarenakan Locianpwee sedang tutup pintu dan tak menerima tamu lagi maka kami tidak berani mengganggu, ibuku lalu membawa boanpwee meninggalkan tempat ini.

““Ini hari ibuku sudah meninggal dunia, boanpwee terpaksa menuruti petunjuknya dengan membawa jenazah datang ke gunung Heng-san, siapa sangka di tengah jalan aku sudah memancing datangnya musuh tangguh yang membuntuti boanpwee terus menerus.

Boanpwee sendiri tidak takut untuk menerima kematian, tetapi takut sudah mengganggu jenazah dari ibuku maka itu boanpwee sangat mengharapkan kalau locianpwee mau melanggar peraturan sekali ini saja dengan menerima jenazah ini untuk sementara waktu, dengan demikian boanpwee bisa menghadapi musuh-musuh dengan lega hati.

“Air muka nenek tua yang amat dingin itu kelihatan sedikit bergerak, agaknya dia dibuat terharu juga oleh perkataan Gak Siauw-cha ini.

Pintu rumah gubuknya yang semula mulai menutup kinipun dipentang kembali.

“Memandang wajah ibumu yang sudah meninggal, aku mengijinkan jenazahnya berdiam disini selama tujuh hari,”ujarnya.

“Budi dari Locianpwee akan boanpwee ingat untuk selama-lamanya…,”ujar Gak Siauwcha dengan sangat haru. Mendadak matanya menyapu sekejap ke arah Siauw Ling lantas sambungnya, “Boanpwee ingin sekalian menitip bocah cilik untuk merawat jenazah ibuku…”“Gubuk pencuci dosaku ini, selamanya melarang bocah cilik untuk memasukinya,”potong nenek tua dengan nada dingin.

Melihat sikap nenek tua yang amat dingin dan ketus itu sejak tadi Siauw Ling sudah merasa gemas sekali, cuma saja dia tak berani memperlihatkannya diluaran, kini dia orang tak bisa menahan sabar lagi, teriaknya dengan keras, “Cici, aku tak mau berdiam disini!”Nenek tua itu tak mau menggubris mereka berdua lagi, dengan perlahan dia putar dan masuk ke dalam rumah.

“Adik Ling, kau jangan keburu nafsu dulu keadaan kita sangat berbahaya,”bisik Gak Siauw-cha dengan cepat, “Orang-orang yang menguntit datangpun semuanya memiliki kepandaian silat yang amat lihay. Untuk melindungi diri cici sendiri saja tidak punya pegangan yang kuat… mana aku bisa bantu melindungi dirimu?”“Cici tak usah khawatir, aku tidak akan takut”sahut Siauw Ling dengan cepat sambil membusungkan dadanya.

Gak Siauw-cha yang melihat sikapnya amat kukuh dan gagah sekali bahkan sama sekali tak takut mati tak terasa lagi dibuat tertegun juga dia segera menggendong jenazah dari Im Kauw untuk dibawa masuk ke dalam rumah gubuk itu dan cepat-cepat balik ke dalam hutan tempat semula.

Siauw Ling pun dengan kencang menguntil dari belakang Gak Siauw-cha terus menerus.

Kereta berkuda yang dikerudungi kain hitam itu masih tetap berhenti ditepi jalan gunung itu, tampaklah kedua orang lelaki kasar yang menjaga kereta tersebut sedang menanti kedatangan mereka dengan cemas.

Gak Siauw-cha segera menarik tangan Siauw Ling untuk meloncat naik ke dalam kereta kuda, setelah itu tangannya diulap sambil berseru, “Ayoh berangkat!”Kereta berkuda itu dengan segera dilarikan amat cepat sekali melanjutkan perjalanannya ke arah depan.

Baru saja kereta berkuda itu lari, sejauh seratus kaki mendadak terdengarlah suara bentakan yang amat keras laksana menggelegarnya suara geledek yang membelah bumi berkumandang keluar dari arah belakang.

“Hey berhenti!”Gak Siauw-cha tetap duduk bersila di dalam kereta melakukan latihannya, terhadap datangnya suara bentakan yang amat keras itu dia orang sama sekali tidak ambil perduli.

Tidak tertahan lagi Siauw Ling merasa ketarik juga, dengan cepat ia menyingkap hordin dan mengintip ke belakang.

Terlihatlah tiga ekor kuda dengan cepat bagaikan sambaran kilat mengejar dari belakang hanya di dalam sekejap dia sudah berada di belakang kereta mereka.

Siauw Ling dapat melihat ketiga ekor kuda itu sudah basah dengan peluh. Jelas-jelas sekali baru saja mereka melakukan perjalanan yang amat jauh tanpa berhenti.

Penunggang kuda yang paling depan melarikan kudanya semakin cepat lagi, hanya sekejap saja dia sudah berada kurang lebih satu kaki dari belakang kereta.

Mendadak orang itu meninggalkan kuda tunggangannya dan meloncat ke tengah udara dan bersalto beberapa kali di tengah angkasa, di dalam sekejap saja dia sudah berhasil melewati kereta berkuda itu dan meloncat turun ke atas permukaan tanah menghadang jalan pergi kereta berkuda itu.

Tangan kanannya dengan cepat berkelebat membacok ke arah lelaki kasar yang tengah mengemudikan kereta berkuda itu.

Lelaki yang mengendalikan kereta itu bukan lain adalah si lelaki yang bersenjatakan golok itu, tampak tangan kirinya dengan cepat menarik tali les kuda menghentikan kereta berkuda yang sedang lari dengan cepatnya itu. Cambuk panjang yang ada di tangan kanannya mendadak dikebutkan ke depan mengancam lengan kanan dari orang yang menghalangi perjalanan mereka.

Siauw Ling yang memandang ke arah depan dengan amat cermatnya segera bisa melihat orang yang menghalangi perjalanan mereka itu bukan lain adalah seorang kakek tua berjubah hitam pekat yang pada janggutnya memelihara jenggot kambing yang putih sepanjang empat lima coen.

Tampak tubuhnya dengan cepat berkelebat mengundurkan diri sejauh delapan depa dengan amat mudahnya dia berhasil menghindarkan diri dari serangan cambuk lelaki itu tanpa meninggalkan kedudukan semula.

Siauw Ling yang melihat pertempuran yang dianggapnya amat sengit itu sudah berlanggung hatinya tidak terasa lagi menjadi tertarik. Rasa takutpun sudah tersapu bersih dari benaknya.

Semakin dia orang menonton jalannya pertempuran itu dengan perhatian mendadak tampaklah sebuah tangan yang halus meluncur keluar dari dalam kereta menarik tangan kanan dari Siauw Ling dan terpaksa dia masuk kembali ke dalam kereta.

“Cici! Pertempuran itu sangat bagus sekali!”seru Siauw Ling dengan cepat sambil melirik sekejap ke arah Gak Siauw-cha. “Gerakan mereka sangat cepat sekali sehingga membuat pandanganku menjadi berkunang-kunang. Gerakan mereka makin lama semakin tidak jelas.

“Dengan perlahan-lahan Gak Siauw-cha menghela napas panjang.

“Pertempuran yang menentukan mati hidup seseorang, apanya yang bagus untuk dilihat?”ujarnya perlahan. “Kau jangan mengintip lagi…”Mendadak mendengar suara bentakan yang amat keras bergema dari arah ke belakang kereta disusul suara getaran yang amat keras sekali. Agaknya ada benda senjata besi yang terbentur satu sama lain.

Kecepatan dari kereta kuda itu pun menjadi semakin berkurang, di tengah suara bentakan manusia, ringkikan kuda serta bentrokan senjata tajam yang ramai membuat suasana seketika sangat kacau dan penuh diliputi oleh suara hiruk-pikuk yang memekikkan anak telinga.

Gak Siauw-cha yang bersandar di dalam kereta tetap memejamkan matanya tidak bergerak. Agaknya dia sedang memikirkan satu urusan yang amat berat sekali sehingga sama sekali tidak punya niat untuk mencampuri pertempuran yang sedang berlangsung diluar kereta itu.

Di dalam hati Siauw Ling segera menggambarkan sendiri bagaimana keadaan pertempuran di tempat luaran itu, kereta berkuda beserta para lelaki yang melindungi keretanya tentu sedang bertempur dengan amat serunya dengan tiga orang pengejar itu.

Di depan kereta maupun di belakang kereta tampak bayangan senjata tajam berkelebat memenuhi angkasa, keadaan amat menarik sekali.

Beberapa kali dia ingin menongolkan kepalanya untuk mengintip keluar tetapi diapun merasa takut kalau sampai Gak Siauw-cha memaki dirinya lagi terpaksa dengan menindas kembali rasa ingin tahunya dia duduk tidak bergerak.

Sepasang mata dari Gak Siauw-cha sedikit berkedip tetapi sebentar kemudian sudah dipejamkan kembali.

Siauw Ling tidak bisa menahan rasa ingin tahunya lagi. Tangannya dengan cepat menyingkap hordin untuk mengintip keluar.

Terlihatlah lelaki yang mengemudikan kereta tadi sudah mencabut keluar goloknya dan meloncat turun dari atas kereta, kini dia orang sedang bertempur dengan amat sengitnya dengan si kakek tua berjenggot kambing itu.

Sebaliknya kakek tua itu walaupun pada punggungnya ada tersoren senjata tajam tetapi dia orang sama sekali tidak menggunakan tangan kosong dia memberikan perlawanan sengit terhadap serangan-serangan gencar dari lelaki bersenjatakan golok itu mereka berdua saling serang menyerang dengan amat sengit ramainya, sungguh merupakan suatu pertempuran yang amat sengit sekali.

Siauw Ling tidak mengerti akan ilmu silat. Dia yang melihat golok di tangan lelaki itu dimainkan sehingga membentuk sinar putih dan mengurung seluruh tubuh kakek tua diam-diam merasa amat kagum sekali.

Kepalanya segera ditoleh ke belakang, pertempuran yang berlangsung di belakang kereta jauh lebih seru dan ramai sekali.

Lelaki yang melindungi kereta dari belakang itu pada saat itu sudah mencabut keluar senjata Pan Koan Pitnya yang tersoren di pinggang dan melawan kedua orang musuhnya dengan amat gigih.

Kedua orang musuhnya itu bersenjatakan cambuk panjang yang terbuat dari serat emas sebuah senjata aneh yang mirip golok tetapi mirip juga pedang, mereka berdua dengan rapatnya menggenjot musuhnya dengan serangan-serangan yang mematikan membuat lelaki itu jadi kerepotan dipaksa berada di bawah angin.

Tampaklah sinar terang yang menyilaukan mata dengan dahsyatnya menghajar lelaki bersenjatakan Pan Koan Pit sehingga seluruh tubuhnya terkurung di dalam seranganserangan musuh, terpaksa dia cuma bisa menangkis datangnya serangan itu dengan sepenuh tenaga.

Sebaliknya Gak Siauw-cha yang ada di dalam kereta tetap duduk bersila dengan amat tenangnya tanpa memperlihatkan sedikit gerakan apapun.

Semakin lama dalam hati Siauw Ling merasa semakin ragu-ragu juga, pikirnya, “Pertempuran diluar kereta berlangsung dengan demikian sengitnya. Sebaliknya, Gak cici malah enak-enak duduk di dalam kereta saja, tentunya kepandaian silat dari Gak cici tidak bisa memadai musuh-musuhnya sehingga dia tidak sanggup untuk turun tangan memberi bantuan dan seperti juga aku terpaksa duduk di dalam kereta menunggu.

““Hai……! Jika kali ini kita memang masih tidak mengapa, jikalau tidak untuk menderita kalah? Jika dilihat dari sikap ketiga orang yang menyerupai malaikat iblis ini mana mereka mau melepaskan kita.

“Sedang enaknya dia berpikir mendadak terdengar suara bentakan yang amat keras memecahkan kesunyian, lelaki kasar yang bersenjatakan golok itu berhasil kena hajar pundak kirinya oleh kakek tua bertangan kosong itu sehingga tubuhnya tergetar mundur beberapa langkah ke belakang.

Dengan mundurnya tubuh lelaki kasar itu dengan sendirinya terbanglah satu jalan buat kakek itu untuk mendekati kereta berkuda tersebut.

Sebetulnya lelaki itu dengan taruhan nyawa sudah bertahan jangan sampai kakak tua itu berhasil mendekati kereta, akhirnya dikarenakan ilmu silatnya tidak memadai dan terkena satu pukulannya membuat dengan demikian terbukalah satu jalan buatnya.

Melihat kejadian itu Siauw Ling jadi terperanjat sekali.

“Aduuuh… sungguh aneh!”serunya.

Agaknya lelaki kasar bersenjatakan golok itu merupakan seorang yang keras kepala setelah terkena pukulan sehingga mundur ke belakang dia menarik hawa murni dan menerjang maju kembali, goloknya diobat abitkan di depan kereta tersebut.

Kakek tua itu segera tertawa dingin.

“Bagus… bagus sekali. Kamu orang tidak ingin hidup lebih lama lagi bukan?”teriaknya gusar.

Tangan kanannya dengan menggunakan jurus “Hwee Pah Ciong Cong”atau terbang melayang menumbuk genta menghajar ke atas wajahnya.

Mendadak Gak Siauw-cha membuka matanya kembali lalu menyingkap hordin dan menyapu sekejap ke arah situasi pertempuran baik di depan kereta maupun di belakang kereta.

“Apa yang lucu?”tanyanya kepada Siauw Ling dengan mata yang amat lirih.

“Kakek tua itu kelihatannya sudah terkurung oleh sinar golok yang amat rapat, bagaimana dia secara tiba-tiba dia bisa merebut kemenangan dan berhasil memukul Toa siok itu!”Kiranya dia melihat lelaki bersenjatakan Pan Koan Pit yang ada di belakang kereta dimana dia orang dikeroyok oleh dua orang sekaligus menurut anggapannya tentu terdesak dan keadaannya sangat berbahaya sekali, siapa duga lelaki bersenjatakan golok di depan kereta yang kelihatannya memang sama sekali tidak terduga sudah terkena dihajar oleh kakek tua itu.

“Adik Ling kau tidak mengerti ilmu silat sudah tentu tak mengetahui juga keadaan yang sesungguhnya,”sahut Gak Siauw-cha.

Mendadak “Bluuurr!”sekali lagi tubuh lelaki bersenjatakan golok itu kena hajar sehingga golok yang ada di tangannya terpental ke tengah udara oleh pukulan yang dahsyat tangan kakek tua itu.

Agaknya nafsu untuk membunuh sudah meliputi diri kakek tua itu, tangan kirinya bersamaan dengan gerakan tangan kanannya mendadak menepuk ke depan menghajar dada lelaki itu.

Sang lelaki yang semula sudah menderita luka gerakannya tak begitu gesit lagi, kelihatannya dia tak sanggup untuk menghindarkan diri dari serangan ini.

Siauw Ling jadi sangat terkejut sekali mendadak tampak bayangan hitam berkelebat di depan matanya, Gak Siauw-cha secara tiba-tiba sudah berkelebat keluar lalu kirim satu pukulan yang mematikan menghajar kakek tua itu.

Perubahan yang terjadi di depan mata ini berlangsung hanya di dalam sekejap saja, sebelum Siauw Ling sempat melihat lebih jelas lagi telinganya sudah mendengar suara dengusan berat yang mengerikan, kakek tua yang berjenggot kambing itu mendadak mundur ke belakang dengan sempoyongan, tangan kirinya dengan lemas bergantungan ke bawah.

“Apa lukamu berat?”terdengar suara dari Gak Siauw-cha sedang bertanya pada lelaki bersenjatakan golok itu.

“Sedikit luka saja tidak terlalu berat!”sahut lelaki bersenjatakan golok itu dengan air muka kecewa.

Walaupun pada mulutnya dia berbicara begitu tetapi Gak Siauw-cha bisa melihat kalau lukanya tak ringan, walaupun tidak sampai membahayakan jiwanya tetapi harus beristirahat juga dengan cukup.

Dia segera memungut kembali goloknya yang terjatuh di atas tanah lantai diletakkan kereta serunya dengan suara perlahan, “Kau naiklah ke dalam kereta untuk beristirahat sebentar, nanti kita harus melakukan perjalanan kembali.

“Selesai berkata tubuhnya dengan amat gesitnya bergerak maju ke depan melancarkan serangan kembali ke arah kakek tua itu.

Jalan darah “Chi Tie Hiat”pada lengan kiri kakek tua itu sudah berhasil ditotok oleh Gak Siauw-cha sehingga tangan tersebut tak mau mendengar perintahnya lagi tetapi kesadarannya masih penuh.

Melihat datangnya serangan dari Gak Siauw-cha itu tangan kanannya dengan cepat dibabat ke depan mengirim satu pukulan gencar.

Gerakan Gak Siauw-cha amat cepat laksana bertiupnya angin malam, jurus serangannyapun amat cepat bagaikan kilat, lima jari tangan kanannya mendadak diubah menjadi serangan bacokan mengancam jalan darah “Sian Khie Hiat”dari kakek tua itu sewaktu melihat datangnya babatan dari kakek tua itu mendadak diubah menjadi serangan bacokan mengancam pergelangan tangan kanannya.

Si kakek tua yang sudah kena hajar satu kali sehingga gerakannya tak leluasa segera mengetahui kalau kepandaian silatnya bukan tandingan dia orang, pergelangan tangan kanan dengan terburu-buru ditekan ke bawah bersamaan pula tubuhnya mundur ke belakang siap-siap melepaskan senjata tajamnya untuk menghadapi serangan musuh.

Siapa sangka jari dari Gak Siauw-cha yang ditekuk separuh itu mendadak disentilkan ke depan, terasalah beberapa gulung angin serangan yang sangat tajam menerjang dengan dahsyatnya.

Kakek tua itu cuma bisa merasakan pergelangan tangannya menjadi kaku, seluruh tenaga dalam yang ada di dalam tubuhnya menjadi lenyap tak berbekas, dengan demikian pun gerakannya jadi semakin lambat.

Di dalam sekejap mata itulah Gak Siauw-cha sudah mendekati badannya, tangan kanannya berturut-turut berkelebat menotok empat buah jalan darah.

Siauw Ling yang melihat kecepatan gerak dari Gak Siauw-cha sewaktu melancarkan serangan-serangan mengalahkan musuhnya tadi di dalam hati merasa sangat kagum bercampur girang, pikirnya, “Aah, kiranya dia mempunyai kepandaian silat yang demikian tingginya, kiranya tadi dia sengaja memejamkan mata tidak menggubris dikarenakan tidak ingin turun tangan melawan orang-orang semacam itu.

“Sewaktu pikirannya sedang berputar itulah Gak Siauw-cha sudah melayang ke belakang kereta membentak mundur lelaki kasar yang bersenjatakan Pan Koan Pit itu, tubuhnya meloncat ke atas kembali dengan menggunakan tangan kosong dia memberikan perlawanan yang sengit terhadap kedua orang itu.

Diantara ketiga orang itu si kakek tua itu bertindak sebagai pimpinannya, kini mereka berdua melihat pimpinannya sudah menggeletak di atas tanah, membuat pikirannya menjadi kacau, apalagi serangan yang dilancarkan oleh Gak Siauw-cha pun amat cepat sekali, tidak selang empat, lima jurus, kemudian kedua orang itupun sudah rubuh pula terkena totokan.

Siauw Ling yang melihat kejadian itu di dalam hati diam-diam merasa sangat girang sekali.

“Hoooreee… kepandaian cici sangat hebat sekali…”teriaknya sambil berjingkrak kegirangan.

Mendadak terdengar suara yang amat nyaring bergema memenuhi angkasa tampaklah seekor burung dara dengan amat cepatnya meluncur ke tengah udara dan terbang dengan cepatnya menuju ke arah belakang.

Melihat hal itu Gak Siauw-cha segera mengerutkan alisnya rapat-rapat sinar matanya dengan cepat dialihkan ke atas wajah laki-laki bersenjatakan Pan Koan Pit, ujarnya, “Jejak kita sudah bocor, sebelum pihak lawan mengetahui keadaan kita lebih jauh dan berhasil memperoleh hasil mereka tidak akan berpeluk tangan.

““Cici, kepandaian silatmu demikian tingginya kenapa nyalimu begitu kecil,”timbrung Siauw Ling tiba-tiba. “Sekalipun ada orang yang datang mengejar bukankah cici masih menahan serangan mereka?”Gak Siauw-cha segera tertawa.

“Adik Ling kau tidak tahu menahu urusan tentang dunia Kangouw, kepandaian cicimu sekarang ini tidak lebih cuma kunang-kunang di tengah lampu lentera, ibuku yang kepandaian silatnya sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari akupun tidak lolos dari terluka dalam sehingga menemui ajalnya apalagi aku?”“Apa? Bibi Im mati karena terluka dalam?”Teriak Siauw Ling tertegun, “Kapan dia berkelahi dengan orang? kenapa aku sedikitpun tidak tahu?”Gak Siauw-cha tidak menjawab, dia segera memerintahkan lelaki bersenjatakan Pan Koan Pit itu untuk mengikat ketiga orang itu lalu menotok lagi beberapa jalan darahnya dan dilemparkan ke dalam tanah gersang yang ada di sekitar tempat itu.

Dari ketiga ekor kuda jempolan yang tertinggal dia memilah seekor lagi yang paling bagus untuk menggantikan kudanya sendiri.

Setelah semuanya selesai dia baru menuding ke atas puncak gunung yang tinggi di depannya.

“Jalanan ke bawah puncak yang tinggi itu!”Serunya dengan perlahan.

Diapun segera meloncat naik ke dalam kereta.

Di dalam hati lelaki bersenjatakan Pan Koan Pit walaupun merasa terheran dan ragu-ragu tetapi dia tidak berani banyak bertanya segera kereta tersebut dijalankan menuju ke arah depan.

Dari dalam sakunya Gak Siauw-cha mengambil keluar dua butir pil dan diserahkan kepada lelaki kasar itu untuk ditelan setelah semuanya selesai dia baru menghela napas panjang, ujarnya kepada Siauw Ling dengan suara yang lirih, “Walaupun ibuku berhasil ditolong oleh ayahmu tetapi yang sebenarnya dia orang sudah menderita luka dalam yang amat parah sekali.

““Sungguh aneh!”potong Siauw Ling keheranan. “Bibi Im tinggal dirumahku ada beberapa bulan lamanya tetapi dia orang sama sekali tidak menunjukkan gejala-gejala yang aneh. Jikalau dia benar-benar terluka dalam mana mungkin dia bisa hidup beberapa bulan lamanya.

““Tenaga dalam ibuku ini sangat sempurna sekali.

“Gak Siauw-cha menerangkan.

“Setelah dia orang tua mendapatkan pertolongan dari ayahmu dengan paksakan diri dia menyalurkan hawa murninya untuk menutupi rasa sakit dan mempertahankannya hanya dengan sebotol pil mujarab yang digembolnya, gerak-geriknya sekalipun tidak melebihi orang biasa padahal setiap hari harus menanggung derita rasa sakitnya dan kambuhnya luka dalam itu. Jikalau aku bisa datang sebelumnya kemungkinan aku orang masih bisa bantu dia orang tua untuk menyembuhkan luka dalamnya atau paling sedikit bisa melindungi dia untuk meninggalkan rumahmu dan mencari seorang tabib sakti untuk mengobati luka dalamnya itu.

““Saat itu kepandaian silatnya sudah punah, jikalau disuruh dia seorang diri melakukan perjalanan jauh sebetulnya tidak mungkin terlaksana, sungguh tidak disangka karena keterlambatan selama beberapa hari saja urusan ternyata sudah jadi berantakan, sukar bagiku untuk bertemu kembali dengan ibu.

““Tapi bibi Im bisa mempertahankan diri selama beberapa bulan lamanya mengapa tidak bisa menunggu beberapa hari lagi?”tanya Siauw Ling lagi.

“Luka dalam yang dideritanya amat parah sekali dia orang tidak sampai menemui ajalnya semuanya ini dikarenakan mengandalkan kemujaraban dari obat yang dibawanya sehingga hawa murninya tidak sampai buyar, setelah kegunaan dari obat itu lenyap sudah tentu sukar baginya untuk mempertahankan hidupnya lebih lanjut, karena itu dia baru menulis surat wasiat dan secara diam-diam bersembunyi di dalam sumur tua itu untuk menantikan saat ajalnya!”Siauw Ling yang teringat kembali akan kebaikan budi dari Im Kauw tidak tertahan lagi hatinya merasa sangat sedih, dua titik air mata dengan derasnya mengucur keluar membasahi pipinya.

“Benar.

.

!”ujarnya sambil menghela napas panjang. “Karena bibi Im takut kita merasa sedih setelah mengetahui kematiannya maka sengaja dia menulis surat perpisahan agar kita salah menduga kalau dia ada urusan sudah meninggalkan tempat itu.

““Selain itu tidak orang tua juga takut memancing datangnya kesulitan buat kalian,”sambung Gak Siauw-cha cepat.

“Cici, aku ada satu urusan yang tidak begitu paham!”“Urusan apa?”tanya Gak Siauw-cha heran.

“Dunia begitu lebarnya, bagaimana cici bisa mencari dia orang tua sampai dirumahku?”“Sejak semula ibuku sudah meninggalkan tanda rahasia diluar dusun Tan Kwee Cungcuma saja tidak ada orang yang mengenalnya.

““Lalu bagaimana ibuku sudah meninggalkan bersembunyi di dalam sumur kering dirumahku itu? cici apa mengetahui dari tanda rahasia yang ditinggalkan bibi Im di dalam kamar bacanya?”Dengan perlahan Gak Siauw-cha gelengkan kepalanya.

“Ibuku cuma meninggalkan tanda rahasia kematian di dalam kamar bacamu itu dan bukannya meninggalkan tanda rahasia yang menunjukkan tempat penyimpanan jenazahnya maka itu sewaktu aku menemukan tanda tersebut tanpa terasa lagi aku sudah menjatuhkan cawan sehingga hancur.

“Dengan perlahan dia menghapus kering butiran air mata yang menetes keluar membasahi pipinya itu, lantas sambungnya, Jilid 3 “Di dalam surat wasiatnya ibuku membicarakan tentang adik Ling juga walaupun kau sudah memperoleh pelajaran mengatur ilmu pernapasan dari ibuku tetapi belum bisa mengetahui benar rahasianya jikalau latihanmu salah bukan saja sukar untuk menghilangkan penyakit yang ada di dalam tubuhmu dan menembus saat kematianmu pada usia dua puluh tahun, bahkan kemungkinan sekali malah mempercepat kematianmu, saat itu bukanlah sama saja ibuku sudah membalas air susu dengan air tuba? karenanya di dalam surat wasiatnya diapun memerintahkan aku untuk memberi petunjuk selanjutnya kepadamu, jika itu bukannya dikarenakan perintah ibuku ini sekalipun kau memohon secara bagaimanapun aku juga tidak berani membawa kau untuk melakukan perjalanan bersama-sama.

““Kenapa?”bantah Siauw Ling setelah mendengar perkataan itu. “Tidak urung akupun tidak bisa hidup lebih lama lagi di dalam dunia.

““Masa mendatang sekalipun pendek tapi masih ada tiga empat tahun lamanya, tetapi jika kau mengikuti aku untuk melakukan perjalanan yang sangat berbahaya ini keadaan jadi sukar untuk diduga, kemungkinan sekali cuma ini haripun sukar untuk meloloskan diri.

“Mendadak terdengar suara dengusan napas yang memburu dan ngos-ngosan berkumandang datang.

Dengan cepat mereka palingkan kepalanya, tampaklah lelaki kasar yang sedang menyembuhkan lukanya saat ini sedang bernapas dengan amat sesaknya, air mukanya menjadi berubah merah padam agaknya napasnya sudah tersumbat di tenggorokan sehingga sukar untuk dikeluarkan.

Gak Siauw-cha dengan cepat mengeluarkan jalan darah di belakang punggung lelaki itu.

Tampak dia menghembuskan napas panjang, napas yang memberat semakin lama semakin menghilang sedangkan air muka yang memerahpun dengan perlahan-lahan membayar kembali.

“Gak cici, dia mengapa?”tanya Siauw Ling keheranan.

“Sewaktu menyalurkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka dia sudah salah melanggar urat nadi.

“Sahut Gak Siauw-cha menerangkan. “Bilamana bukannya aku cepat-cepat turun tangan membantu dia untuk menotok jalan darah pentingnya, hari ini sekalipun dia tidak menemui ajalnya paling sedikit juga akan menjadi cacat.

““Aah, kiranya berlatih silatpun ada macam-macam kerepotan?”seru Siauw Ling sambil menjulurkan lidah.

Tampaklah lelaki kasar itu dengan perlahan-lahan membuka matanya kembali.

“Terima kasih atas pertolongan nona sebanyak dua kali ini,”ujarnya perlahan.

Dalam hati Gak Siauw-cha sedang murung, dia cuma tertawa tawar saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Suasana di dalam ruangan kereta menjadi amat sunyi sekali, cuma terdengar suara berputarnya roda memecahkan kesunyian yang mencekam di sekeliling tempat itu.

Entah berapa saat lamanya mendadak berputarnya roda berhenti secara tiba-tiba kemudian terdengar sebuah suara yang amat kasar berkumandang masuk dari luar kereta.

“Nona, kereta sudah sukar untuk maju lagi!”ujarnya.

Gak Siauw-cha segera menyingkap hordin dan meloncat turun dari atas kereta tampak sang surya sudah lenyap dibalik gunung magrib pun datang menjelang.

Siauw Ling pun meloncat turun dari atas kereta dan memandang keempat penjuru, tampaklah rentetan pegunungan sambung menyambung di tempat kejauhan, puncak yang satu lebih tinggi dari puncak yang lain mirip sekali dengan seekor naga yang sedang tidur.

Sinar pantulan sang surya mengenai puncak gunung memantulkan suatu sinar lembayung yang amat indah sekali. Hal ini membuat hatinya terasa amat tenang dan gembira. Tidak kuasa lagi dia tertawa terbahak-bahak.

“Suatu pemandangan yang amat indah sekali!”pujinya dengan suara keras.

Gak Siauw-cha yang melihat kegembiraannya sama sekali tidak lenyap bahkan tidak mengetahui kalau mara bahaya sudah berada dihadapan mata, hatinya merasa sangat pedih, pikirnya, “Orang tuanya memberikan budi kepadaku, jikalau aku tidak dapat melindunginya hanya sekalipun hidup di dunia akupun merasa amat malu sekali.

“Tidak terasa lagi semangatnya berkobar kembali setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu cepat-cepat serunya dengan nyaring, “Kita tinggalkan kereta itu dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

“Selesai berkata dia segera melanjutkan langkahnya ke depan.

Siauw Ling sendiri di bawah bimbingan serta bantuan dari kedua orang lelaki besar itu tanpa terasa lagi sudah melewati beberapa buah puncak gunung.

Beberapa saat kemudian Gak Siauw-cha berhenti kembali di samping sebuah jurang yang amat curam sekali, ujarnya, “Malam ini kita menginap di tempat ini kalian pergilah membersihkan salju di tempat ini, aku mau pergi sebentar.

“Dengan cepat tubuhnya meloncat sejauh satu kaki dan sebentar kemudian lenyap dari pandangan.

Di dalam perjalanan tadi walaupun Siauw Ling dibimbing orang lain tetapi diapun harus pusatkan perhatiannya untuk memanjat atau menuruni tebing. Saat ini setelah berhenti bergerak tidak terasa lagi dengan hati girang dia memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu.

Tampaklah tempat dimana mereka berhenti merupakan sebuah tempat yang keadaannya sangat membahayakan sekali. Di sebelah depan berdirilah sebuah puncak gunung yang amat tinggi ribuan kaki, di sebelah kanannya merupakan sebuah jurang yang dalamnya ratusan kaki keadaannya sangat mengejutkan sekali kecuali sebuah jalan usus kambing yang teramat sempit yang menghubungkan tempat itu dengan tempat luaran tidak ada jalan lagi yang nampak.

Sinar matanya dengan perlahan berputar kembali, akhirnya pandangannya berhenti di atas tubuh kedua orang lelaki yang membantu dirinya tadi, terlihatlah napas mereka berdua memburu dengan amat cepatnya sedang keringat mengucur keluar dengan amat derasnya.

Siauw Ling memandang sekejap ke arahnya lantas tanyanya, “Toa siok berdua, siapakah nama kalian?”“Kongcu memanggil kami dengan sebutan tersebut hamba tidak berani menerimanya, nama hamba adalah Thio-kan!”sahut lelaki bersenjatakan golok itu.

“Aku bernama Hoo-kun, tolong tanya siapakah nama dari Si heng?”ujar lelaki bersenjatakan Pan Koan Pit itu.

“Aku bernama Siauw Ling!”sahut Siauw Ling sambil tertawa. “Toa siok berdua sebetulnya ada hubungan apa dengan Gak ciciku itu?”“Kami adalah bawahan dari nona Gak,”sahut Thio-kan dengan suara yang serak. “Lain kali jikalau kongcu ada urusan silahkan perintah saja kepada kami, kami segera melaksanakannya.

““Eeeai… sebetulnya Gak ciciku itu?”Thio-kan serta Hoo-kun pada saling bertukar pandangan sekejap, lalu bersama-sama sahutnya, “Tentang soal ini lebih baik kongcu tanyakan sendiri dengan nona Gak.

“Sewaktu mereka sedang berbicara itulah tampak Siauw-cha dengan membawa seikat ranting kayu sudah berjalan kembali.

“Adik Ling,”ujarnya dengan halus terhadap diri Siauw Ling. “Pertempuran sengit tadi tentunya kau melihat dengan mata kepalamu sendiri bukan?”“Benar!”sahut Siauw Ling sambil mengangguk. “Kepandaian silat dari cici sangat tinggi sekali Siauw te merasa amat kagum.

““Tetapi mereka-mereka itu tak lebih cuma beberapa tentara kecil yang dipasang di depan garis pertempuran, musuh yang tangguh-tangguh sebentar lagi bakal datang. Mereka mempunyai burung dara yang membuntuti kita tidak lama kemudian mereka tentu akan tiba disini, kemungkinan sekali malam ini bakal terjadi suatu pertempuran yang amat sengit sekali.

““Cici, kau jangan merasa kuatir”hibur Siauw Ling. “Mati atau hidup ada di tangan Thian, orang budiman tentu dilindungi terus oleh Thian, walaupun Siauw te tidak paham ilmu silat tetapi hatiku sedikitpun tidak takut.

““Ehmm… besar juga nyalimu.

“puji Gak Siauw-cha sambil tertawa.

“Sekalipun tidak ada urusan ini akupun tidak bisa hidup beberapa tahun lagi. Cici bilamana mau membawa aku meluaskan pandangan sekalipun harus mati lebih cepat hatiku juga sudah puas.

““Jikalau bukannya dikarenakan hendak melindungi keselamatan dari adik Ling, kitapun tidak akan memilih suatu tempat yang demikian bahaya untuk menahan serangan musuh,”ujar Gak Siauw-cha dengan nada serius. “Jika kau tidak mau mendengar omonganku, kau orang tidak usah turut kami lagi.

““siapa yang bilang aku tidak mau mendengarkan omongan cici?”seru Siauw Ling dengan cemas.

“Kalau begitu baiklah,”ujar Gak Siauw-cha kemudian sambil mengangguk. “Nanti jikalau ada musuh yang mengejar sampai disini, kau tidak boleh lari secara sembarangan, kau harus sembunyi di belakang batu besar tersebut. Bilamana sukma ibu yang ada di atas melindungi kita dan malam ini kita berhasil membasmi musuh tangguh, kemungkinan sekali kita akan segera melanjutkan perjalanan kembali.

““Pihak musuh mempunyai burung dara untuk memberi jejak,”ujar Thio-kan tiba-tiba, “Sekalipun kita bersembunyi kemanapun jejak kita bakal diketemukan juga oleh mereka.

Jikalau kita hendak bermaksud menghilangkan jejak seharusnyalah mencari sebuah akal untuk membereskan burung dara itu terlebih dahulu.

““Menurut dugaanku, pimpinan dari kaum pengejar selama ini paling lambat nanti malam pasti sudah tiba disini.

“kata Gak Siauw-cha. “Jikalau malam ini kita berhasil menyingkirkan musuh-musuh yang menyerang malam ini, urusan akan mendekati sedikit beres, sekalipun mereka mempunyai burung dara yang bisa mencari jejak, paling cepat tiga, lima hari kemudian mereka baru akan tiba disini.

““selamanya dugaan nona selalu tepat, sudah tentu urusan tidak meleset dari dugaan tersebut.

“sambung Thio-kan kemudian.

“Tetapi cayhe ada satu urusan yang tidak paham, harap nona mau memberi penjelasan.

“tiba-tiba sela Hoo-kun.

“Ada urusan apa? Bicaralah!”“Tadi nona melarang aku untuk membinasakan orang pengejar itu bahkan mereka hidup lebih lanjut bukankah hal ini cuma memberikan satu keuntungan buat lawan?”“Sekalipun kita binasakan mereka bertiga belum tentu persoalan bisa beres dengan sendirinya, lebih baik kita tinggalkan kehidupan buat mereka agar mereka mewakili kita memberikan berita-berita yang membingungkan pihak musuh.

“Dia berhenti sebentar, kemudian dengan perlahan sinar matanya menyapu sekejap ke arah Thio-kan serta Hoo-kun tambahnya, “Untuk menghadapi pertempuran sengit nanti malam, seharusnya sekarang kalian beristirahat secukupnya.

““Nonapun harus baik-baik menyimpan tenaga buat nati malam.

“sahut Thio-kan dan Hoo-kun berbareng. “Kiranya musuh-musuh yang bakal mengejar kemari bukanlah manusia-manusia tidak becus.

“Gak Siauw-cha segera angkat kepalanya menghembuskan napas panjang.

“Adik Ling! Kau baik-baiklah beristirahat!”katanya kemudian kepada Siauw Ling dengan suara yang amat perlahan. “Jikalau nanti musuh tangguh sudah datang maka pertempuran sengit bakal berlangsung, saat itu sekalipun kau amat lelah juga tidak bakal bisa tidur.

“Beberapa perkataannya ini amat halus, ramah dan menaruh perhatian yang khusus terhadap dirinya, lagaknya mirip dengan cinta kasih seorang ibu terhadap anaknya sendiri.

Siauw Ling merasakan sikapnya terhadap dia ada kalanya sangat halus dan ramah sekali ada kalanya pula dingin, kaku sukar diduga membuat dia orang menaruh rasa hormat juga takut terhadap dirinya, dengan cepat dia pejamkan matanya untuk mengatur pernapasan.

Malam semakin kelam… suasana ditanah pegunungan sunyi senyap… suara auman srigala yang memanjang bercampur dengan suara pekikkan burung malam dari tempat kejauhan menambah keseraman dan kengerian dimalam itu.

Mendadak suara-suara siutan panjang yang memekikan telinga memecahkan kesunyian menembus awan.

Dengan cepat Siauw Ling membuka matanya terlihatlah sinar bintang berkedip jauh diangkasa puncak gunung yang tinggi dan menjulang keangkasa kelihatan jauh lebih mengerikan, tidak terasa lagi hatinya terasa sedikit bergidik.

“Adik Ling!”tiba-tiba terdengar suara yang amat halus dari Gak Siauw-cha berkumandang masuk ke dalam telinganya, “Musuh sudah pada datang, kau cepatlah bersembunyi di belakang batu cadas yang kasar itu.

“Siauw Ling amat penurut sekali, dia segera bangun berdiri dan berjalan menuju ke belakang batu cadas yang amat besar itu.

Baru saja berjalan dua langkah mendadak terasalah sebuah telapak tangan yang amat halus sudah mencekal pergelangan tangan kanannya, disusul tercium bau wangi yang semerbak masuk ke dalam hidung.

Dengan cepat dia menoleh ke belakang terlihatlah Gak Siauw-cha dengan wajah yang amat murung sedang memandang dirinya.

Dia jadi melengak.

“Cici, ada urusan apa?”tanyanya heran.

“Adik Ling, musuh yang bakal datang memiliki kepandaian yang amat tinggi sekali masing-masingpun mempunyai yang amat kejam dan ganas sekali,”ujar Gak Siauw-cha dengan sedih, “Adik Ling sekalipun kau masih amat kecil dan tidak mengerti ilmu silat tetapi jikalau sampai terjatuh ketangan mereka tentu bakal sukar untuk lolos dari kematian. Sewaktu nanti cici melawan musuh, kemungkinan sekali waktu itu aku tidak bisa mengurus dirimu lagi. Tidak perduli bagaimana seru sengitnya jangan munculkan diri untuk menonton, lebih kau sembunyilah serapat mungkin sehingga tidak sampai diketahui musuh.

““Aku akan mengingat-ingatnya semua, cici kau harap berlega hati.

“sahut Siauw Ling dengan cepat.

Setelah itu dengan langkah yang lebar dia berjalan menuju ke belakang sebuah batu besar.

Setelah Gak Siauw-cha melihat Siauw Ling sudah bersembunyi dengan amat rapat lalu kepada Thio-kan serta Hoo-kun baru berkata, “Pertempuran yang bakal terjadi malam ini tidak sama dengan pertempuran yang terjadi biasanya di dalam Bulim, pertempuran malam ini menyangkut mati hidup masing-masing. Kalian turun tanganlah sekejam mungkin, lebih banyak melukai seorang musuh berarti pula mengurangi satu bagian bahaya buat keselamatan kita.

““Nona harap berlega hati.

“sahut Thio-kan serta Hoo-kun bersama-sama. “Malam ini bukannya pihak musuh yang menemui ajalnya tentulah kami bersaudara yang binasa.

“Mendadak terdengarlah suara tawa aneh yang menyeramkan sekali berkumandang datang dari tempat berpuluh-puluh kaki jauhnya, suara tawa itu amat mengerikan sekali mirip dengan suara pekikan burung malam, bagkan dengan amat cepatnya bergerak mendatang.

Hanya di dalam sekejap saja suara itu sudah di bawah tebing jurang itu.

Sejak semula Gak Siauw-cha sudah menyusun satu cara untuk menghadapi musuhmusuhnya itu, tangan kanannya dengan cepat diulapkan, Thio-kan serta Hoo-kun segera pada meloncat mengambil tempat kedudukan masing-masing.

Mereka bertiga dengan mengikuti keadaan di dalam tebing itu berpencar menjadi segi tiga bersama-sama menghadapi serangan musuh.

Dengan cepat Gak Siauw-cha merogoh ke dalam sakunya meloloskan sebuah pedang lemas yang panjangnya empat depa delapan cun dengan luas dua jari tangan, dengan perlahan dia berjalan mendekati tepi tebing sedangkan tangan kirinya merogoh ke dalam sakunya meraup segenggam jarum perak yang amat halus sekali.

Terdengar dari bawah tebing itu berkumandang kembali suara yang berat, serak dan amat dingin sekali.

“Heee… heee… budak-budak rendah! teriaknya.

“Kalian sekarang sudah kami kepung rapat-rapat. Keadaan kalian mirip seekor burung yang berada di dalam sangkar, mirip pula dengan seekor binatang buas yang ada di dalam kandang, heee… heee… jangan salahkan loohu akan turun tangan kejam terhadap kalian!”Selama ini Thio-kan paling menghormati dia Gak Siauw-cha, mendengar orang yang ada memaki dirinya tidak terasa lagi dia jadi sangat gusar sekali.

“Cucu kura-kura janganlah beraninya memaki orang jika punya nyali ayo turun bergebrak dengan aku!”bentaknya dengan keras.

Segera terdengar suara aneh yang amat seram memekikan telinga bergema datang sesosok bayangan manusia bagaikan seekor kera dengan amat gesitnya sudah meluncur ke bawah tebing.

Kiranya orang itu sekalipun berhasil mengetahui sampai disini tapi dikarenakan keadaan cuaca yang amat gelap sekali tidak tahu Gak Siauw-cha sekalipun, sengaja dia memaki dengan kata-kata kotor untuk memancing balasan dari pihak lawan sehingga dengan demikian bisa diketahui tempat kedudukan lawan. Thio-kan yang tidak mengetahui akan siasat ini ternyata sudah berhasil kena pancing siasat musuh.

Gak Siauw-cha yang melihat gerakan tubuh dari orang itu amat gesit sekali dalam hati segera mengetahui kalau kepandaian silat musuh tidak lemah.

Nafsu membunuhnya segera berkobar memenuhi benaknya, dia berdiri tegak di atas tebing tanpa bergerak sedikitpun, menanti orang itu hampir mencapai tanah mendadak pergelangan tangan kirinya diayun ke depan segenggam senjata rahasia yang amat dahsyatnya menyambar ke arah depan.

Jarak diantara mereka berdua amat dekat sekali apalagi kekuatan menyambit dari Gak Siauw-cha pun menggunakan tenaga yang amat dahsyat sekali, seharusnya menurut perkiraan orang itu tidak bakal bisa menghindarkan diri dari serangan tersebut.

Siapa sangka ilmu silat dari orang itu ternyata amat tinggi sekali diluar dugaan diri Gak Siauw-cha, tampak orang itu di dalam keadaan yang tergesa-gesa miringkan badannya kesamping lalu melancarkan satu pukulan ke depan.

Perbuatan yang dilakukan oleh orang itu amat cepat sekali, hanya di dalam sekejap saja dia sudah berhasil menghindarkan diri dari sambitan senjata rahasia Gak Siauw-cha.

Beberapa batang jarum perak tersebut dengan amat tajamnya berkelebat melewati atas kepalanya sedangkan sisanya berhasil dipukul miring arahnya oleh tenaga pukulan dari orang itu sehingga pada berjatuhan di atas tanah.

Melihat keadaan itu di dalam hati Gak Siauw-cha merasakan hatinya bergidik, pikirnya, “Cukup dilihat dari caranya melayang turun dari atas tebing serta gerakan dari tubuhnya di dalam menghindarkan diri dari serangan jarum perak sudah cukup membuktikan dia adalah seorang musuh yang amat tangguh sekali…”Mendadak terdengarlah suara bentakkan keras dari Thio-kan disusul suara beradunya senjata tajam yang amat ramai sekali, dengan tergesa-gesa Gak Siauw-cha menoleh kesamping.

Terlihatlah waktu Thio-kan sedang memutarkan goloknya melancarkan serangan bertubitubi menyerang seorang lelaki berbaju hitam.

Tampak pada tangan manusia berbaju hitam itu memancarkan sinar yang berkilauan ternyata dia menggunakan sebuah senjata swaatika yang aneh sekali itu “Liang Hien Ban Ci Loh”yang merupakan senjata tandingan dari golok yang ada di tangan Thio-kan itu.

Cukup membicarakan hal senjata tajam saja Thio-kan sudah kalah di bawah angin apalagi orang yang bisa mempergunakan senjata semacam itu biasanya memiliki kepandaian tunggal yang amat lihay sekali sudah tentu dia orang semakin terdesak lagi.

Tetapi Thio-kan memberikan perlawanan dengan amat gigih sekali, dia melancarkan serangan dengan penuh tenaga membuat sinar golok berkelebat memenuhi seluruh angkasa, goloknya sebentar menusuk semuanya menggunakan jurus-jurus serangan yang paling dahsyat membuat manusia berbaju hitam itu untuk sementara waktu tidak bisa mengapa apakan dirinya.

Waktu itu tempat penjagaan dari Hoo-kun dan sudah mulai terdengar suara desiran angin serangan angin yang amat gencar, tampak seorang kakek tua yang botak dan kurus kering seperti bambu entah sejak kapan sudah menerjang masuk ke dalam tebing tersebut.

Tampaklah dia orang dengan menggunakan sepasang kepalannya yang laksana besi menyambut datangnya serangan Pan Koan Pit dari Hoo-kun.

Walau pun kakek tua botak itu cuma menggunakan serangan kepalan saja, ilmu yang digunakan olehnya bukan lain adalah ilmu cakar elang yang dicampur dengan kepandaian merebut senjata tajam yang amat lihay, di tengah kegelapan malam yang amat sunyi terlihatlah jenggotnya yang putih berkibar tak henti-hentinya di tengah kalangan, kelihatan ilmu silatnya jauh berada di atas manusia berbaju hitam tadi.

Hanya di dalam sekejap saja sudah ada dua orang musuh tangguh yang merebut turun dari tebing, sinar mata Gak Siauw-cha dengan cepatnya berkelebat di tengah kalangan, tampaklah orang yang tadi berhasil menghindarkan diri dari serangan senjata rahasia itu dengan amat cepatnya sudah menubruk kehadapannya.

Pedang panjang yang ada di tangan Gak Siauw-cha dengan cepat digetarkan hingga timbullah pelangi perak yang menyilaukan mata.

Diantara berkelebatnya sinar pedang muncullah bunga-bunga pedang yang amat banyak menghajar pihak musuh.

Orang itu segera tertawa dingin, sepasang tangannya direntangkan kesamping dari ujung bajunya mendadak berkelebat keluar dua gulung sinar lingkaran yang hitam. Ternyata senjata itu bukan lain adalah sepasang gelang “Siauw Hauw Siang Huan”yang terbuat dari besi baja.

Sepasang gelang bajunya ini sejak semula sudah disembunyikan dibalik jubah, saat ini begitu tangannya digetarkan segera terlihatlah sepasang gelang itu berkelebat dengan amat cepat menutupi seluruh serangan pedang-pedang dari Gak Siauw-cha.

Criiiing…!! bagai pekikan naga sakti, pedang serta sepasang gelang baja itu bentrok satu sama lainnya sehingga terlihatlah bunga api memancar keluar memenuhi angkasa, pedang panjang di tangan Gak Siauw-cha yang semula lurus bagaikan sebuah pit mendadak ditekuk kesamping, diantara berkelebatnya sinar yang menyilaukan mata bagaikan kilat cepatnya membabat ke arah sepasang tangan dari pihak lawan yang mencekal sepasang gelang baja itu.

Haruslah diketahui pedang panjang adalah sebuah senjata yang diantara keras membawa kelembutan, diantara kelembutan itu membawa kekuatan dahsyat, perubahan yang terjadi secara mendadak ini sudah tentu berada diluar dugaan pihak lawan.

Orang yang menggunakan sepasang gelang baja itu semula bermaksud hendak menutup datangnya serangan pedang dari pihak musuh lalu dengan meminjam kesempatan ini maju melancarkan serangan.

Siapa sangka pedang lemas dari Gak Siauw-cha ternyata bisa menekuk lalu berputar arah, di dalam keadaan yang amat terperanjat dia sempat berganti jurus lagi sambil melepaskan gelangnya dengan cepat tubuhnya meloncat ke atas udara lalu bersalto beberapa kali dan meluncur kembali ke atas tebing.

Di tengah kegelapan yang mengaburkan pandangan terlihatlah butiran darah segar dengan mengikuti melayangnya tubuh menjauhi tempat tersebut menetes keluar membasahi permukaan tanah, jelas sekali urat nadi pada pergelangan tangannya sudah berhasil dibabat robek oleh serangan dari Gak Siauw-cha tadi.

Gak Siauw-cha sendiripun hampir-hampir tidak mau percaya kalau serangannya tadi berhasil mendesak seorang musuh yang tangguh untum melayang turun kembali ke bawah tebing, tidak terasa dia menjadi tertegun.

Pada saat itulah mendadak dari bawah tebing melayang kembali seorang bayangan manusia yang mempunyai perawakan amat tinggi besar yang bagaikan kilat cepatnya menubruk datang.

Dengan cepat Gak Siauw-cha menggerakkan tangannya, sepasang gelang baja yang semula masih tergantung di atas ujung pedangnya dengan cepat disambitkan ke arah dada serta lambang dari bayangan manusia sedang menubruk ke arahnya itu.

Gerakannya ini sebetulnya tak bermaksud untuk melukai orang, dia hanya ingin meminjam kesempatan ini untuk berebut kedudukan, baru saja sepasang gelangnya disambit keluar pedangnya dengan amat cepat sudah menotok pula ke arah depan.

Siapa tahu baru saja tubuhnya bergerak sepasang gelang baja tadi ternyata sudah terpukul balik oleh pukulan angin serangan yang amat gencar dari pihak lawan.

Dalam hati Gak Siauw-cha merasakan hatinya bergidik, dengan cepat tubuhnya berputar kesamping untuk menghindarkan dia dari serangan tersebut.

Terdengar suara desiran angin serangan yang amat tajam di tengah kegelapan malam tampak berkelebatnya sesosok bayangan hitam laksana ular licin dengan menembus angkasa berkelebat mendatang. Kiranya benda itu adalah sebuah cambuk lemas berkepala ular yang amat aneh sekali.

Pedang emas di tangan Gak Siauw-cha dengan cepat digetarkan keluar diantara berkelebatnya sinar keperak-perakan dengan gerakan menyerang dia balas melancarkan serangan.

Baru saja lewat tiga jurus Gak Siauw-cha sudah merasakan kepandaian silat dari orang itu amat tinggi sekali, perubahan yang terjadi pada cambuk lemas ditangannyapun amat aneh dan sukar untuk diduga sebelumnya.
*** ***
Note 25 oktober 2020
Cersil terbaru hari ini akan diupload pukul 20.00 WIB
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Rahasia Kunci Wasiat Bagian 02"

Post a Comment

close