coba

Rahasia Istana Terlarang Jilid 36

Mode Malam
JILID 36

“Kalau memang kau tak ingin menyembutkan siapa namamu, dapatkah kau memberikan keterangan sebenarnya kalian adalah musuh atau sahabat dari perkampungan Pek Hoa San cung?”

“Musuh! kalau cayhe adalah sahabat dari Shen Bok Hong, kenapa aku musti menyelundup masuk kedalam lembah ini?”

“Jadi kalau begitu kedatangan kalianpun disebabkan karena istana terlarang?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Kau kenal dengan Cioe jie cungcu serta It Boen Han Too, aku rasa mereka berduapun tentu kenal dengan dirimu?”

“Memang demikian keadaannya.”

“Bila besok pagi kalian harus cuci muka hingga wajah kalian yang sebenarnya kelihatan, bukankah rahasia kalian segera akan konangan bila bertemu dengan Cioe jie cungcu serta It Boen Han Too?”

“Itulah sebabnya Phoa heng harus carikan akal buat kami.”

Phoa Liong termenung berpikir sejenak, kemudian berkata, “Jika rahasia kalian berdua ketahuan dan merekapun sampai tahu bila kedatangan kalian kelembah ini mengandung maksud tertentu, bukan saja kalian berdua bakal dihukum mati sekalipun cayhe juga ikut terseret….”

“Hukum mati? aku rasa Cioe Jau Liong belum ada kemampuan untuk berbuat demikian, tetapi cayhe dalam keadaan beginipun tak ingin diketahui jejaknya oleh mereka.”

“Satu-satunya jalan bagi kita adalah berusaha untuk menutupi wajah sebenarnya dari kalian berdua, asal tindak tanduknya lebih berhati-hati rasanya merekapun tak akan menaruh curiga.”

“Asal kau tidak menghianati kami, darimana mereka bisa tahu akan rahasiaku.”

“Bila cayhe tidak mencarikan akal buat kalian berdua, kematian sudah pasti akan menimpa diri cayhe.”

“Bila Phoa heng suka membantu, dikemudian hari cayhe pasti akan membalas budi ini.”

Phoa Liong menggerakkan bibirnya seperti mau mengatakan sesuatu, tapi niat tersebut dibatalkan kembali, lama sekali ia baru berkata, “Apakah kalian berdua mempunyai obat untuk merubah wajah?”

“Tidak punya, rupanya kita terpaksa harus menggunakan bahan seadanya saja, pakai abu dan arang saja!”

“Menggunakan arang memang bisa mengelabuhi ketajaman mata Cioe Jie cungcu serta It Boen Han Too bila kalian berdua bercampur baur didalam kawanan pekerja, tetapi kalau berjalan sendiri dua orang, rahasia kalian mungkin bakal konangan.”

“Siapa yang suruh menunjuk kami berdua?” omel Pek li Peng.

“Cioe Jie cung cu yang menuding kalian berdua, dalam keadaan begini cayhe mana bisa menolak….” ia merandek sejenak, kemudian sambungnya, “Ketika cayhe masih sering melakukan perjalanan jauh didalam dunia persilatan tempo dulu, untuk merahasiakan jejakku pernah memiliki sebuah topeng kulit manusia. Tetapi sejak masuk kedalam lembah ini topeng tersebut tak pernah kugunakan lagi. Cuma sayangnya ada sebuah saja hingga tak bisa digunakan oleh kalian berdua….”

“Satupun sudah cukup. Adik perempuan diri cayhe tak pernah bertemu muka dengan mereka berdia. Asal kegadisannya sudah tertutup itu sudah lebih dari cukup.”

Mendengar perkataan ini Phoa Liong merogoh kedalam sakunya untuk ambil keluar sebuah topeng kulit manusia,sambil diserahkan ketangan Siauw Ling katanya, “Setelah memakai topeng ini maka wajahmu akan berubah menjadi kekuning-kuningan bagaikan orang sakti, setelah dipakai harap kau jangan membukanya secara sembarangan. Cayhe telah membantu dengan sekuat tenaga. Dapatkah kalian berdua menghindarkan diri dari pengamatan mereka terpaksa harus melihat kecerdikan sendiri, waktu sudah dekat pagi, cayhe segera akan menghantar kalian untuk pergi istirahat.”

“Toako, bagaimana kalau sekarang juga kau kenakan topeng itu?” ujar Pek li Peng sambil tersenyum. “Aku pingin lihat bagaimanakah raut wajahmu….?”

Siauw Ling menurut dan segera mengenakan topeng tadi, dibawah cahaya lampu terlihatlah raut wajahnya persis seperti orang penyakitan.

“Aaah, wajahmu benar-benar menyerupai orang sakit, dan kelihatan jauh lebih tua.” seru Pek li Peng.

“Itu lebih bagus.”

“Tempat ini tak bisa didiami terlalu lama, mari kita pergi!” seru Phoa Liong kemudian sambil berlalu lebih dahulu.

“Phoa heng, harap tunggu sebentar” mendadak Siauw Ling berseru. “Cayhe telah melupakan satu persoalan.”

Waktu itu Phoa Liong telah berada didepan pintu batu, mendengar seruan tersebut ia segera berhenti dan berpaling.

“Ada urusan apa?” tanyanya.

“Peng jie!” kata si anak muda itu sambil berpaling kearah Pek li Peng. “Bebaskanlah jalan darahnya.”

Pek li Peng tertegun mendengar perkataan itu, tetapi ia menurut dan mendekati juga tubuh Phoa Liong untuk membebaskan jalan darahnya yang tertotok tanyanya, “Apakah kita perlu menotok jalan darah yang lain?”

“Tidak usah….” ia berpaling kearah Phoa Liong dan segera menjura. “Budi pertolongan dari Phoa heng akan cayhe ingat selalu didalam hati. Bilamana saling bertemu kembali harap kita jangan bertemu dalam gelanggang pertarungan.”

Mendengar perkataan itu Phoa Liong menghela napas panjang.

“Aaaai….! kau benar-benar seorang koencu sejati!” pujinya.

Siauw Ling tersenyum.

“Dalam dunia persilatan keadilan serta setia kawan adalah paling penting. Setelah Phoa heng memandang cayhe sebagai sahabat, cayhepun tak berani memandang dirimu sebagai orang luar.”

“Toako! kenapa kau begitu mempercayai dirinya….” seru Pek li Peng.

“Peng jie, Phoa heng adalah seorang sahabat berdarah panas, ia bertugas sebagai mandor ditempat ini tentu mempunyai kesulitannya sendiri.”

Phoa Liongpun tidak banyak bicara, ia membuka pintu kamar dan segera menghantar kedua orang itu kembali kegua.

Malam itu berlalu tanpa kejadian apa-apa, keesokan harinya baru saja fajar menyingsing Phoa Liong telah masuk kedalam ruang batu sambil membawa obat penyaru untuk Pek li Peng.

Sambil bekerja merias diri gadis itu segera berbisik pada Siauw Ling, “Toako apa kita benar-benar hendak mendengarkan perintah orang….?”

“Ehmmm, sedikitpun tidak salah.”

Phoa Liong yang menyaksikan banyak pekerja yang telah bangun, segera mendehem berat dan berseru, “Cepatlah sedikit, Cioe Jie cung cu telah menantikan kedatangan kalian berdua….!”

Siauw Ling serta Pek li Peng segera bangun berdiri dan berjalan keluar dari ruangan batu itu mengikuti dibelakang Phoa Liong.

Waktu itu fajar telah menyingsing, cahaya keemas-emasan mulai memancarkan sinarnya dari ufuk sebelah timur.

“Berusahalah kalian berdua untuk menghadapi segala sesuatu dengan tenang dan sabar, agar rahasia jejak jangan sampai ketahuan” bisik Phoa Liong.

“Terima kasih atas petunjukmu.”

Ketika ia angkat kepala kembali, terlihatlah dua orang pria berpakaian ringkas, satu lelaki berusia lima puluh tahunan dan seorang kakek berambut putih berjubah hijau, bertelinga satu berdiri menanti ditengah jalan.

Bertemu dengan kedua orang itu, Phoa Liong segera menjura dan berseru, “Kalian tentu sudah lama menanti!”

Kakek bertelinga satu itu memperhatikan sekejap diri Siauw Ling serta Pek li Peng kemudian berkata, “Yang ini kenapa kelihatan menderita sakit yang amat parah?”

“Perkataan Teng heng sedikitpun tidak salah” sahut Phoa Liong sambil tersenyum. “Orang ini baru saja sembuh dari sakitnya sungguh tak nyana Jie cung cu telah menaruh perhatian kepadanya.”

Kakek she Theng itu alihkan sinar matanya keatas wajah Pek li Peng, kemudian menambahnya sambil tertawa, “Keparat ini berwajah bersih dan segar.”

“Sayang Jie cungcu telah memilih dirinya kalau tidak siauwte pasti akan menghadiahkan untuk Teng heng.”

“Orang lelaki memang gemar akan kebagusan, siauwte bisa menyukai akan kegesitannya. Aku rasa Phoa heng pun juga menyukai dirinya bukan….” ia merandek sejenak, lalu tambahnya. “Aku rasa mereka berdua jarang sekali kelihatan.”

“Aku sendiripun tak tahu nama mereka, tentu saja kau lebih-lebih tak tahu….” batin Phoa Liong didalam hati, segera sahutnya, “Kedua orang anak buah siauwte ini memang jarang sekali munculkan diri, lantaran yang satu sudah lama sakit dan tidak bekerja sedang yang lain seringkali melakukan pekerjaan sehari-hari didalam ruangan.”

“Oooouw, kiranya begitu.”

Dua orang pria berpakaian ketat yang berada disisi mereka, mendadak menimbrung, “Kalian berdua tak usah membicarakan persoalan yang sama sekali tidak penting lagi. Cioe Jie cung cu mungkin sudah lama menantikan kehadiran kita….”

Habis berkata ia berkata terlebih dahulu.

Siauw Ling yang menyaksikan dandanan mereka, dalam hatinya berpikir, “Kalau ditinjau dari dandanan mereka yang rapi dan rajin. Mungkin mereka adalah ketiga orang mandor lainnya.”

Sementara itu Phoa Liong serta sikakek bertelinga satu itu sudah tidak berbicara lagi, mereka segera berlalu mengikuti dibelakang dua orang pria berpakaian ringkas itu.

Siauw Ling berpaling memandang sekejap kearah Pek li Peng, kemudian pesannya, “Peng jie, kau harus belajar bersabar diri, jangan sembarangan turun tangan.”

Pek li Peng mengangguk.

“Aku akan mengikuti gerak gerik dari toako!”

Diam-diam Siauw Ling memperhatikan keadaan situasi didalam lembah itu, sedapat mungkin ia hapalkan letak semak belukar serta batuan karang yang ada disitu, ia sadar bahwa keadaannya pada saat ini sangat berbahaya, bilamana dapat menghapalkan situasi medan sekitar situ berarti menambah kemungkinan untuk memperoleh kesempatan hidup.

Mendadak terdengar suara aliran air, rupanya mereka telah tiba ditepi sebuah selokan.

Ia segera mendongak, tampak sebuah pancuran air yang besar memancarkan air dari permukaan tanah dengan dasarnya, air yang bening tetampung dalam selokan dan mengalir jauh keujung bukit.

It Boen Han Too berdiri diatas sebuah batu cadas tinggi satu tombak ditepi selokan tersebut, tangannya membawa kertas dan pitnya waktu itu sedang menulis sesuatu.

Cioe Cau Liong sambil mengendong tangan berdiri termangu-mangu disisinya sambil memandang gelombang air selokan.

Mendadak Siauw Ling teringat kembali akan tulisan ular melingkar serta burung elang terbang yang dijumpainya didasar air selokan, mungkinkah penemuannya itu juga diketahui oleh Cioe Cau Liong.

Karena curiga tanpa sadar iapun geserkan badannya kedepan, dengan ketajaman matanya ia awasi kearah mana sorot mata Cioe Cau Liong.

Setelah makan jamur batu berusia seribu tahum, ketajaman mata melebihi siapapun. Sekilas pandangan saja ia dapat melihat adanya bayangan merah diatas permukaan air dimana Cioe Cau Liong sedang pusatkan pandangannya, bayangan itu nampak bergerak-gerak didalam air selokan yang bergelombang.

Siauw Ling tak sempat melihat jelas benda apakah itu? ia hanya tahu bahwa bayangan merah tadi berkumpul didalam air.

Phoa Liong sekalian empat orang mandor agaknya menaruh sikap yang sangat menghormat terhadap Cioe Cau Liong serta It Boen Han Too, saat itu tak seorangpun yang berani buka suara untuk mengganggu. Mereka berdiri sejajar disamping sambil menanti dengan tenang.

Kurang lebih setengah jam kemudian, It Boen Han Too baru menyimpan kembali kertas serta pitnya dan meloncat turun dari atas batu.

Saat itulah Phoa Liong sekalian baru maju menjura sambil menyapa, “Menghunjuk hormat buat It Boen sianseng!”

“Sudah lamakah kalian berempat datang kemari?” tanya It Bon Han Too sambil tersenyum.

“Sudah lama sekali, tetapi kami tak berani mengganggtu pekerjaan It Boen sianseng.”

Waktu itu Cioe Cau Liongpun telah berpaling, sambil memandang sekejap kearah Phoa Liong sekalian berempat titahnya, “Didalam sehari dua hari mendatang Toa cungcu akan berkunjung kemari, harap kalian atur penjagaan yang lebih ketat, jangan sampai ada pihak musuh yang berhasil menyusup kedalam lembah ini.”

“Jie cung cu harap legakan hati, penjagaan didalam lembah ini sudah diatur sedemikian ketatnya sehingga jangan dikata manusia, burung yang terbang diangkasapun tak akan lolos dari pengawasan mata-mata kita yang tersebar luas dimana-mana” sahut sikakek bertelinga satu.

Air muka Cioe Cau Liong berubah jadi amat serius.

“Siatuasi pada saat ini jauh berbeda dengan keadaan tempo dulu, saat ini didalam dunia persilatan telah muncul seseorang yang sengaja mencari satroni dengan pihak perkampungan Pek Hoa San cung kita, lagi pula banyak jago Bulim yang sudah berpihak kepadanya….”

“Siapakah manusia yang punya nyali besar itu? berani betul dia memusuhi perkampungan Pek Hoa San cung kita.”

“Kalian sudah terlalu lama berdiam didalam lembah ini, banyak persoalan Bulim yang tak diketahui oleh kalian. Orang itu she Siauw bernama Ling. Usianya masih muda tetapi ilmu silatnya amat lihay sehingga Toa cungcu sendiripun agak jeri terhadap dirinya….”

Mendengar perkataan itu empat orang mandor tersebut segera berdiri tertegun, secara mendadak serentak tanyanya, “Apakah Toa cungcu pernah bertarung melawan dirinya?”

Dalam pandangan mereka berempat ilmu silat serta kecerdasan Shen Bok Hong sudah tiada tandingannya lagi dikolong langit, setelah secara tiba-tiba mendengar ada orang yang dapat menandingi Toa cungcu mereka sehingga membuat ia jadi keder, rasa terperanjat yang mereka rasakan saat itu sukar dibayangkan lagi dengan kata-kata.

Terdengar Cioe Cau Liong menjawab, “Walaupun Toa cungcu belum pernah ada kekuatan secara resmi dengan orang itu, namun bentrokan-bentrokan singkat pernah terjadi beberapa kali, orang itu memang seorang musuh tangguh yang jarang sekali dijumpai dalam kolong langit….”

Mungkin Cioe Cau Liong merasa bahwa ucapan yang lebih jauh bakal merusak nama baik serta gengsi Shen Bok Hong, mendadak ia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain dan menambahkan, “Menurut laporan dari mata-mata perkampungan kita yang tersebar luas dimana-mana. Siauw Ling telah berada disekitar gunung Boe Gie san ini, oleh sebab itu kalian musti berlaku lebih hati-hati lagi.”

“Hamba sekalian menerima perintah!” keempat orang mandor itu segera merangkap tangannya menjura.

Rupanya suatu ingatan berkelebat dalam benak Phoa Liong, tanpa sadar ia melirik sekejap kearah diri Siauw Ling.

Sementara itu Cioe Cau Liong telah ulapkan tangannya sambil berkata, “Kalian tak usah berdiam disini lebih jauh hati-hati terhadap penyusupan orang luar kedalam lembah kita.”

Phoa Liong menjura.

“Jie cungcu! dua orang yang terpilih untuk menerima perintah sudah hamba bawa kemari.”

Cioe Cau Liong berpaling dan menyapu sekejap wajah Siauw Ling serta Pek li Peng, kemudian katanya, “Apakah orang itu berpenyakit?”

“Penyakit yang dideritanya belum lama telah sembuh!”

“Ehmm, baik kalian boleh berlalu!”

Keempat orang mandor itu mengiakan dan segera berlalu dari situ.

Baru saja Phoa Liong putar badan berlalu dua tiga langkah dari situ, tiba-tiba terdengar Cioe Cau Liong berseru kembali, “Phoa Liong, kau tetap tinggal disini!”

Phoa Liong mengiakan dan kembali ketempatnya semula.

Cioe Cau Liong pun tidak memperdulikan beberapa orang itu lagi, ia berpaling kearah It Boen Han Too dan berseru, “It Boen heng, apakah kau berhasil menemukan suatu pertanda yang mencurigakan?”

“Meskipun selat ini amat panjang tetapi keanehan yang patut kita curigai hanya terbatas disekitar selokan ini, Shen toa cungcu bisa menitik beratkan usahanya disekitar sini hal itu menandakan bahwa kecerdikannya memang luar biasa.”

“Sayang dua ratus orang pekerja yang selama beberapa tahun berturut-turut bekerja tiada hentinya ini belum berhasil juga menemukan sesuatu pertanda yang berharga!”

“Pada saat ini masih sulit bagi cayhe untuk memberi keyakinan, aku harus melakukan pemeriksaan lebih dahulu keseluruh lembah ini, kemudian baru membuat analisanya. Cuma….”

“Cuma kenapa?”

“Cuma aku rasa sumber air yang memancur itu nampak sangat aneh sekali….!” kata It Boen Han Too.

“Dimanakah letak keanehannya?”

“Terlihat dari air yang menyembur keluar, semestinya tempat ini merupakan suatu air terjun yang terdahsyat. Aku rasa sumber air dibawah tanah disekitar sini terhimpun jadi satu tempat ini, tapi mengapa yang muncul hanya sebuah pancuran air yang kecil? bukankah itu aneh sekali?”

“Jadi maksud It Boen heng, kemungkinan sekali pancuran air itu adalah hasil bendungan seseorang dengan daya arsiteknya yang lihay?”

“Dewasa ini kita yang bisa mengatakan bahwa hal itu mungkin saja benar, sulit untuk dinyatakan kepastiannya….”

Ia merandek sejenak, kemudian tambahnya, “Cayhe ada satu hal merasa kurang begitu jelas, apakah jie cungcu bisa memberikan keterangan yang aku perlukan?”

“Asal cayhe tahu pasti akan kukatakan keluar!”

“Apakah Shen Toa cungcu telah berhasil menemukan anak kunci istana terlarang?”

Cioe Cau Liong termenung berpikir sejenak, kemudian sahutnya, “Andaikata Toa cungcu telah berhasil mendapatkan anak kunci istana terlarang, rasanya ia tak perlu meraba dengan mata buta selama beberapa tahun ditempat ini.”

“Seandainya Shen Toa cungcu benar-benar belum berhasil mendapatkan anak kunci istana terlarang, darimana ia bisa tahu kalau istana terlarang berada disini?”

“Kejadian yang sebetulnya cayhe sendiripun merasa kurang begitu jelas, agaknya Toa cungcu berhasil mendapatkan sedikit keterangan dari mulut seseorang yang mengatakan bahwa istana terlarang terletak disini. Waktu itu setelah Toa cungcu masih berada didalam rangkaian latihannya yang ketat, tapi ia telah dua kali melakukan penyelidikan sendiri ketempat ini….”

“Menurut apa yang aku ketahui selamanya Toa cungcu bertindak teliti dan sangat berhati-hati, bila ia belum berhasil menemukan sesuatu bukti yang meyakinkan rasanya tak mungkin ia mengurus begini banyak pekerja untuk bekerja siang malam selama banyak tahun.”

Mendengar pertanyaan itu Cioe Cau Liong tersenyum.

“Toa cungcu setelah mengunjungi tempat ini sebanyak empat kali, ia segera mengambil keputusan untuk mengirim pekerja datang kemari, aku pikir mungkin saja ia berhasil menemukan pertanda yang meyakinkan hatinya. Tapi bagaimana kenyataannya? dua ratus orang pekerja kekar yang sudah beberapa tubuh bekerja giat ditempatini, namun tak sedikit pertandapun yang berhasil ditemukan, kalau tidak ada sebabnya Toa cungcu bersusah payah mengundang kehadiran It Boen Han heng untuk bantu mengatasi masalah ini?”

“Sepintas lalu pegunungan yang berderet disekitar sini nampak tiada sesuatu yang aneh, padahal dibalik kesemuanya itu terkandung keanehan yang mendalam, bila bukan seorang ahli silat untuk menemukan hal itu. Toa cungcu bisa mengirim pekerja datang kemari hal ini membuktikan bahwa iapun berhasil menemukan keanehan dari lembah bukit ini!”

“Kenapa cayhe tidak berhasil menemukan sesuatu apapun?” kata Cioe Cau Liong sambil menyapu sekejap sekeliling tempat itu.

It Boen Han Too segera tersenyum.

“Seandainya cayhe telah menunjukkan satu dua tempat keanehan yang ada ditempat ini, Jie cungcu pasti akan merasakan pula keanehan yang ada disini….!” katanya.

Selama ini Siauw Ling yang berdiri disamping memperhatikan terus pembicaraan kedua orang itu dengan seksama, pikirnya didalam hati, “It Boen Han Too menyebut dirinya sebagai pemilik pesanggrahan Sian Kie Soe Loo, rupanya dia memang seorang jagoan yang memiliki pengetahuan sangat tinggi. Cuma sayang manusia cerdik macam dia ternyata lebih suka berkelompok dengan manusia durjana macam Shen Bok Hong dan melakukan kejahatan disana sini.”

Berpikir sampai disitu, sinar matanya segera dialihkan kearah It Boen Han Too untuk memperhatikan gerak geriknya.

Tampaklah pemilik dari pesanggrahan Sian Kie Soe Loo itu mengayunkan tangan kanannya menuding kearah tebing dinding diatas pancuran air itu, katanya, “Jie cungcu, perhatikanlah dengan seksama diatas dinding tebing dekat pancuran itu terdapat keanehan apa?”

Mengikuti arah yang dituding oleh It Boen Han Too, si anak muda kita she Siauw pun segera ikut memandang, tampaklah diatas dinding tebing yang gundul dan mengkilap itu menyiarkan warna merah yang amat tajam, kecuali itu tiada tanda-tanda lain yang menunjukkan keanehan itu.

“It Boen heng” terdengar Cioe Cau Liong berkata. “Kecuali dinding tebing itu mempunyai warna yang menyolok, cayhe tidak berhasil menemukan sesuatu pertanda yang aneh!”

“Bagus. Rupanya iapun tidak berhasil menemukan keanehan tersebut” batin Siauw Ling didalam hati.

“Jie cungcu” kata It Boen Han Too. “Asal kau perhatikan dengan lebih seksama lagi maka kau akan menemukan bahwa dinding tebing yang berada disekitar tempat itu jauh berbeda dengan dinding tebing ditempat-tempat lain, bukankah begitu?”

Pikiran Siauw Ling jadi bergerak, kembali pikirnya, “Kenapa kau tak pergunakan seperti ini? persoalan yang begini gampangpun tak berhasil kutemukan….”

Terdengar Cioe Cau Liong mengiakan dan berseru, “Kecuali itu ada apanya lagi?”

Maksud dari ucapan itu jelas menunjukkan bahwa ia merasa tidak puas dengan keterangan yang diberikan It Boen Han Too.

Diam-diam Siauw Lingpun membatin, “Keadaan Cioe Cau Liong tidak berbeda dengan aku, sudah jelas ia tak berhasil menemukan pertanda itu, tapi lagaknya sih pura-pura mengerti tentang segalanya….”

Terdengar It Boen Han Too menyambung kata-katanya lebih jauh, “Urusan ini nampaknya saja amat sederhana, tapi dalam kenyataan justru disinilah letak kuncinya yang paling penting, walaupun cayhe belum sempat mendaki keatas dinding batu itu untuk melakukan pemeriksaan yang lebih seksama, rasanya dugaanku tak bakal salah lagi, lapisan luar dari dinding tebing itu mengandung perubahan yang sangat besar….”

“Perubahan apa?”

“Soal ini kembali merupakan suatu ilmu pengetahuan, batu tebing yang terdapat didalam lembah ini kebanyakan termasuk jenis batu karang, meskipun kerasnya bagaikan baja tetapi asal kita dapat menemukan guratan-guratan garisnya tidak sulit untuk menemukan keterangan yang lebih mendalam artinya, cuma sayang mengenali guratan garis bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, bila bukan seorang yang ahli sulit untuk menemukannya….”

Ia merandek sejenak, kemudian tambahnya, “Bila dugaan cayhe tidak salah, beberapa puluh tahun berselang dinding tebing sekitar sini tidaklah begitu tandus dan mengkilap, sebaliknya merupakan tonjolan bukit seperti halnya dengan bukit-bukit lain….”

“Aaaah benar!” seru Cioe Cau Liong berlagak pintar. “Maksud It Boen heng, kemungkinan besar dinding tebing ditempat ini jadi mengkilap karena terpapas oleh seseorang, bukankah begitu?”

It Boen Han Too termenung berpikir sejenak, kemudian menyahut, “Andaikata diatas dinding tebing itu terdapat dua tonjolan bukit yang terpapas, bagi orang yang pengalaman hal itu bukanlah suatu kesulitan untuk diketahuinya, tapi seandainya tonjolan bukit itu terpapas seluruhnya hal ini malah sukar untuk diketahui….”

Bicara sampai disitu ia merandek dan meraba batu cadas yang amat besar dibawah tebing dinding itu.

“Kalau dilihat dari tonjolan batu diatas dinding itu jelas merupakan hasil papasan dari seseorang” katanya kembali. “Dan sebagian dari batu tersebut rontok ditepi selokan dibawah dinding tebing itu, cuma cayhe tak bisa memastikan apakah orang yang memapas batu itu ada maksud atau tiada maksud berbuat begini, dan tak bisa menduga pula apa maksud sebenarnya orang itu memapas batu tonjolan itu.”

“Jadi kalau menurut perkataan It Boen heng, istana terlarang sudah pasti berada disekitar sini?” seru Cioe Cau Liong kegirangan.

“Tentang soal ini cayhe tidak berani terlalu memastikan. Tetapi seandainya didalam sepuluh hari sampai setengah bulan pasti berhasil menemukan letak istana terlarang sekalipun cayhe berhasil menunjukkan beberapa tempat yang mencurigakan lalu apa gunakan.”

“Ucapan It Boen heng memang benar sekali” kata Cioe Cau Liong sambil mengangguk, jelas ia sudah dibikin takluk oleh luasnya pengetahuan serta kepandaian yang dimiliki orang she It Boen ini.

Tiba-tiba It Boen Han Too berpaling memandang sekejap kearah Pek li Peng, lalu serunya sambil menggape, “Coba kau kemarilah.”

Pek li Peng menurut dan maju kedepan, sementara mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Siauw Ling segera mengempos tenaga memusatkan segenap kekuatan tubuhnya diatas telapak tangan guna siap sedia menghadapi segala kemungkinan, ia takut Pek li Peng buka suara dan jejak ketahuan.

Siapa tahu Pek li Peng hingga tiba beberapa depa dihadapan It Boen Han Too ternyata sama sekali tidak mengeluarkan sedikit suarapun.

“Coba kau mendakilah dari sisi sumber air pancuran itu, dan ambillah sebuah batu cadas” ujar It Boen Han Too sambil menuding kedepan.

Dengan air muka kaku dan tidak berubah Pek li Peng putar badan dan berjalan menuju kearah dinding tebing itu.

Diam-diam Siauw Ling menghembuskan napas lega melihat gerak gerik gadis itu, pikirnya, “Peng jie benar-benar amat cerdik, ia tahu kalau suaranya tak bisa meniru nada suara kaum lelaki, ternyata tak sepatah katapun yang ia utarakan keluar.”

Rupanya Cioe Cau Liong pun merasakan hal itu, mendadak sinar matanya dialihkan kearah Phoa Liong sambil tegurnya, “Kenapa orang itu lagaknya macam patung saja? sudah kaku sepatah katapun tidak diucapkan keluar.”

“Ooh, Jie cungcu, kau musti tahu, mereka sudah terlalu lama bekerja didalam lembah ini, dihari-hari biasa jarang sekali bercakap-cakap dengan orang lain, lama kelamaan hal ini jadi kebiasaan.”

“Kedua orang ini selanjutnya tak usah ikut bekerja lagi, biar mereka membantu It Boen sianseng dalam segala keperluan.”

“Hamba turut perintah!” sahut Phoa Liong sambil menjura.

Letak sumber pancuran itu dengan permukaan tanah hanya terpaut empat tombak, lagipula banyak tonjolan batu disekitar situ, untuk mendaki keatas boleh dibilang bukan suatu pekerjaan yang susah, apalagi mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Pek lo Peng, hanya dalam dua tutulan saja ia sudah dapat mencapai diatas.

Tapi pada saat ini gadis itu mendaki dengan menggunakan seluruh anggota badannya, bukan saja amat lambat bahkan seolah-olah payah sekali.

Siauw Ling jadi amat girang hati, pikirnya, “Kalau dilihat dari tingkah lakunya, helas kecerdikan yang dimiliki Peng jie tidak berada dibawahku.”

Dengan cepat ia alihkan sinar matanya kedepan dan memperhatikan gerak gerik gadis itu dengan seksama, tiba-tiba ia jumpai sepasang mata It Boen Han Too sedang memperhatikan terus diri Pek li Peng, hatinya jadi bergerak dan segera pikirnya, “Apakah It Boen Han Too sudah menaruh curiga terhadap diri Peng jie….? orang ini benar-benar merupakan seorang musuh tangguh yang sukar dilayani….”

Dalam pada itu Pek li Peng telah tiba disini sumber pencarian air itu, ia segera mengetuk batuan disekitar situ, kemudian setelah mengambil sebuah perlahan-lahan merangkak turun keatas tanah.

Gerak geriknya mantap dan lembut tetapi tidak gugup ataupun gelisah. Walaupun It Boen Han Too memperhatikan terus gerak geriknya namun iapun tak berhasil menemukan suatu pertanda yang mencurigakan.

Dengan membawa batu karang itu Pek li Peng kembali kehadapan It Boen Han Too kemudian dengan sikap yang sangat hormat mengangsurkannya kedepan.

It Boen Han Too menyambutnya dan meletakkan diatas telapak, dengan meminjam sorot cahaya matahari batu tadi diperhatikan dengan seksama.

Batu cadas yang kecil itu dalam pandangan It Boen Han Too saat ini lebih berharga daripada intan atau berlian, ia bolak balik batu itu dan diperiksanya dengan penuh perhatian, kurang lebih sepertanah nasi kemudian ia baru berpaling kearah Cioe Cau Liong sambil bertanya, “Apalah Shen Toa cungcu benar-benar akan datang kemari?”

“Ia pasti datang, bahkan dalam sehari dua hari mendatang.”

“Dalam hati cayhe masih ada beberapa persoalan yang mencurihakan hati, apalagi bisa memperoleh pembuktian yang jelas mungkin aku tak akan menyia-nyiakan harapan Cioe heng serta Toa cungcu. Sekarang Siauwte ingin berjalan-jalan sejenak mengelilingi lembah ini.”

“Jika didengar nada suaranya, rupanya ia sudah mempunyai keyakinan dalam hatinya” pikir Siauw Ling.

“Bagaimana kalau cayhe menemani diri It Boen heng?” terdengar Cioe Cau Liong menawarkan jasa baiknya.

“Tak perlu, asal ada seorang membawa jalan itu sudah cukup!”

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya lagi, “Cioe heng! harap kau turunkan perintah agar mereka untuk sementara waktu beristirahat, dan sementara waktu jangan bekerja dulu. Menanti Toa cungcu telah datang kita baru membicarakan lagi persoalan ini.”

“Tentang soal itu…. tentang soal itu….”

“Bila Toa cungcu menegur nanti, Jie cungcu bisa timpahkan semua tanggung jawab ini atas namaku!”

“Baik! siauwte akan segera laksanakan seperti apa yang kau maksudkan….”

It Boen Han Too segera alihkan sinar matanya kearah Siauw Ling dan bertanya, “Apakah kau sanggup melakukan perjalanan?”

“Penyakit yang hamba derita telah sembuh, gerak gerik hamba telah bebas seperti sedia kala.”

“Baik, kalau begitu kalian berdua ada harapan mengikuti diriku!”

Tiba-tiba Phoa Liong merintangkan tangannya menghalangi jalan pergi mereka, serunya, “Didalam lembah ini banyak tertanam jebakan-jebakan yang tak terduga, hamba rasa kalau It Boen sianseng harus melakukan perjalanan seorang diri hari ini akan kurang leluasa bagimu.”

“Aku membawa mereka berdua bukankah sudah cukup….” kata It Boen Han Too sambil melirik sekejap kearah Siauw Ling serta Pek li Peng.

“Kedua orang ini kedudukannya hanya sebagai pekerja kasar didalam lembah ini” ujar Phoa Liong lebih jauh. “Para penjaga yang melakukan penjagaan dimulut lembah tak akan kenal dengan mereka, lagipula merekapun tidak tahu kode rahasia kami untuk saling berhubungan.”

“Jadi kalau begitu, aku harus membawa kau sebagai petunjuk jalan?”

“Sedikitpun tidak salah, andaikata Jie cungcu tidak melakukan perjalanan bersama sianseng maka terpaksa kita musti pilihkan salah seorang diantara keempat orang mandor untuk membawa jalan bagi sianseng.”

“Kalau begitu biar kau saja yang menghantar kami!” seru It Boen Han Too kemudian sambil tertawa.

Phoa Liong segera alhikan sinar matanya kearah Cioe Cau Liong, rupanya ia tak berani ambil keputusan sendiri.

Tampak Cioe Cau Liong tersenyum dan menjawab, “It Boen sianseng adalah tamu agung dari perkampungan Pek Hoa San cung kami, perjalanan menelusuri lembah dan bukit gersang kali ini adalah demi kepentingan perkampungan Pek Hoa San cung kita, kalian harus baik-baik melayani dirinya.”

“Hamba terima perintah!”

“It Boen heng, silahkan kau mengadakan pemeriksaan diseluruh lembah ini maaf siauwte tak akan menghantar lagi” ujar Cioe Cau Liong lebih jauh sambil tersenyum.

“Cioe heng, silahkan!” sinar matanya segera dialihkan kearah Phoa Liong dan sambungnya. “Sewaktu masuk kedalam lembah ini aku lewati arah sebelah timur, keadaan disitu sebagian besar sudah kuteliti dan perhatikan, sekarang lebih baik kau menghantar aku untuk meninjau keadaan disebelah barat saja.”

“Cayhe akan membawa jalan!” sambil berkata mandor she Phoa itu segera berangkat.

Sambil menjingjing peti emasnya It Boen Han Too mengikuti dibelakang tubuh Phoa Liong.

Dengan kerlingan matanya Siauw Ling memberi tanda kepada Pek li Peng untuk mengikuti dibelakang It Boen Han Too. Sedang dirinya mengikuti kurang lebih satu tombak dibelakangnya.

Dengan tampangnya yang berpenyakitan, orang lain mengira badannya kurang enak maka jalannya agak lambat, siapapun tidak menaruh curiga terhadap gerak geriknya itu.

Yang paling dikuatirkan Siauw Ling adalah berubahnya pikiran Phoa Liong ditengah jalan dan secara diam-diam melaporkan apa yang telah terjadi kepada Cioe Cau Liong serta It Boen Han Too. Karena itu setiap saat ia selalu perhatikan tingkah laku dari orang itu.

Siapa tahu dalam setiap tindakan tanduknya maupun dalam pembicaraan rupanya Phoa Liong ada maksud untuk membantu dia merahasiakan persoalan ini.

Dalam pada itu dibawah pimpinan Phoa Liong, mereka sudah berjalan puluhan tombak jauhnya. Lembah itupun mulai menikung kearah sebelah utara.

Setelah membelok satu tikungan lagi, pemandangan didasar lembah itu tiba-tiba berubah.

Yang terbentang didepan mata hanyalah tumbuhan ilalang setinggi pinggang manusia, keadaan itu berlangsung sepanjang puluhan tombak jauhnya. Kemudian lembah tadi menikung kembali kearah barat.

Mendadak Siauw Ling merasakan hatinya bergerak, pikirnya, “Tempat ini merupakan suatu tempat persembunyian yang sangat bagus, malam ini aku harus berusaha untuk mengundang kehadiran Tiong Chiu Siang Ku agar mereka bersembunyi disini. Bagaimanapun juga dengan adanya mereka berdua merupakan bantuan yang sangat berharga bagi pergerakanku….”

Terdengar Phoa Liong telah berkata kembali, “It Boen sianseng, keadaan didalam lembah ini aneh sekali seolah-olah setiap bagian mempunyai keadaan yang berbeda, setelah membelok pada tikungan sebelah depan sana, dasar lembah itu merupakan sebidang gurun pasir yang tandus, tak sebuah rumputpun yang bisa tumbuh disana.”

It Boen Han Too meletakkan peti emasnya keatas tanah, lalu memuji tiada hentinya, “Ehmmm….! suatu tempat yang sangat indah…. suatu tempat yang sangat indah rupanya tidak salah lagi.”

Perkataan itu diutarakan dengan bergumam dan merupakan ledakan dari suara hatinya, tetapi bagi Siauw Ling yang mendengarkan ucapan itu segera berhasil menangkap maksud yang sebenarnya, pikirnya dalam hati, “Rupanya buku pengetahuan yang pernah dibaca orang ini betul-betul tidak sedikit jumlahnya, terutama sekali mengenai ilmu geologi pengetahuannya sungguh amat luas. Tapi keadaan lembah inipun memang aneh luar biasa, agaknya setiap bagian mengandung sifat tanah yang berbeda. Sungguh tak nyana Cian chiu sin kong siahli bangunan bertangan sakti Pauw pauw it thian bisa mendirikan istana terlarang ditempat seperti ini….”

Tampak It Boen Han Too meletakkan peti emasnya mengambil kertas dan pit san mulai melukis.

Siauw Ling ingin sekali melihat apa yang sebenarnya sedang dilukis, tetapi karena takut jaraknya yang terlalu dekat akan menimbulkan kecurigaannya, terpaksa ia berdiri dari kejauhan sambil memperhatikan dengan seksama.

Secara lapat-lapat ia jumpai It Boen Han Too sedang melukis sebuah bukit diatas kertas itu, dan dibawahnya terdapat banyak sekali tulisan.

Kurang lebih satu jam kemudian ia baru bangkit berdiri, setelah masukkan kertas dan pit nya kedalam peti, ujarnya, “Didalam rerumputan yang lebat ini apakah ada jalan tembusnya?”

“Walaupun rumput ilalang yang tumbuh disini sangat lebat tapi tak seekor ularpun yang hidup disini, tempat ini tidak berbahaya!” sahut Phoa Liong cepat.

“Baik, kalau begitu harap kau berjalan didepan untuk membawa jalan!”

Setelah menembusi padang ilalang yang lebat, pemandangan yang terbentang dihadapan mereka benar-benar telah berubah.

Tampaklah pasir yang kuning dan udara yang gersang terbentang jauh sampai diujung pandangan.

Pemandangan semacam ini tidak jauh berbeda dengan keadaan digurun pasir, hanya tempat ini tidak seluas digurun.

“Sungguh tak nyana didalam lembah gunung ini memiliki pemandangan yang berbeda-beda” pikir Siauw Ling.

Tampak It Boen Han Too ambil keluar sebuah kantong kain dan mencomot dua genggam pasir kemudian dimasukkan kedalam kantong itu, ujarnya, “Setelah melewati padang pasir ini, pemandangan apa yang terbentang didepan situ?”

“Setelah melewati padang pasir, didepan sana merupakan padang batu kerikil berwarna putih.”

“Setelah melewati padang batu kerikil berwarna putih itu?”

“Pemandangan disana lebih indah, rumput tumbuh dengan amat subur dengan aneka bunga yang menyiarkan bau harum.”

“Bila maju lebih kedepan lagi?”

“Makin keujung tumbuhan semakin layu dan akhirnya tiba dijung lembah ini.”

“Bagaimanakah pemandangan diujung situ?”

“Sebuah dinding tebing yang tinggi menghalangi perjalanan dena membelah selat ini jadi dua bagian, bagian sebelah depan adalah lembah Ban Coa Kok yang tersohor digunung Boe Gie san ini.”

“Apa sih yang dimaksudkan lembah Ban Coa itu?”

“Didalam lembah itu terdapat pelbagai jenis ular beracun yang tak terhitung jumlahnya, karena bentuknya yang aneh dan racunnya yang keji maka lembah ini disebut lembah selaksa ular.”

It Boen Han Too termenung berpikir sebentar, kemudian ujarnya, “Coba kau pergilah ambilkan dua butir batu kerikil berwarna putih itu kemudian ambilkan pula sedikit rumput dan bunga segar serta rumput-rumput yang layu.”

“Apakah It Boen siansong tak akan pergi kesitu?”

“Besok saja aku baru pergi kesitu!” selesai berkata ia letakkan petinya keatas tanah dan pejamkan mata duduk bersila.

Rupanya ia merasa amat lelah sekali, dalam waktu singkat pikirannya sudah kosong dan dia sudah lupa akan segala-galanya.

Phoa Liong berpaling memandang sekejap kearah Siauw Ling serta Pek li Peng kemudian ujarnya, “Harap kalian baik-baik melayani It Boen sianseng.”

Selesai berkata diapun berlalu.

Sepeninggalnya Phoa Liong, perlahan-lahan Siauw Ling berjalan menuju kebelakang tubuh It Boen Han Too, pikirnya didalam hati, “Bila aku ada maksud membinasakan dirinya pada saat ini. Asal kuangkat jari tanganku dia pasti sudah terjatuh ketanganku, sebagai orang yang takut mati dalam keadaan terdesak tentu saja ia sukai membantu aku. Bilamana sampai begitu, walaupun Cioe Cau Liong ada disini belum tentu ia bisa menghalangi niatku, yang susah justru Shen Bok Hong bakal datang kemari, orang itu cerdik dan pengetahuannya luas, rahasia ini dengan cepat bisa diketahui olehnya….”

Terasalah pikirannya jadi kalut tak menentu, dalam waktu singkat pelbagai macam cara sudah terlintas dalam benaknya, tetapi merasa semua cara itu kurang begitu sesuai.

Sementara otaknya masih berputar, tiba-tiba ia saksikan Pek li Peng telah mengangkat tangan kanannya perlahan-lahan menotol punggung It Boen Han Too.

Rupanya ia teringat akan caranya menaklukkan diri Phoa Liong yang amat jitu itu, maka sekarang dia ingin menggunakan cara yang sama untuk meringkus pula diri It Boen Han Too.

Siauw Ling yang menyaksikan kejadian itu amat terperanjat, tak sempat lagi baginya untuk menghardik dan tidak leluasa pula baginya untuk membentak, terpaksa tangan kanannya bergerak cepat melancarkan sebuah pukulan menghadang meluncurnya serangan maut dari gadis tersebut.

Pek li Peng segera merasakan datangnya segulung angin pukulan yang bertenaga besar menggetarkan tangan kanannya, tetapi ia sudah melihat bahwa serangan itu dilancarkan oleh Siauw Ling maka mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Siauw Ling memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu kemudian dengan ilmu menyampaikan suara bisiknya, “Peng jie, jangan kau lukai dirinya!”

Pek li Peng tersenyum dan segera mengundurkan diri. Sebetulnya dalam hati kecilnya gadis itu mempunyai sebuah rencana bagus cuma berhubung keadaan situasi yang tidak mengijinkan maka tak sempat baginya untuk memberi penjelasan.

Mimpipun It Boen Han Too tak pernah menyangka kalau dua orang pekerja yang berada disisinya adalah hasil penyarua dari Siauw Ling berdua, sedikit saja berlalu ia sudah melewati suatu bencana yang maha hebat.

Kurang lebih setengah jam kemudian, dengan langkah terburu-buru Phoa Liong telah kembali disitu, dalam genggamannya masing-masing membawa batu kerikil warna putih, rumput layu serta bebungahan.

Dari jauh Siauw Ling dapat menyaksikan napasnya tersengkal-sengkal dan badannya basah kuyup oleh keringat, jelas perjalanan yang telah ditempuh bukanlah perjalanan yang dekat.

Phoa Liong yang menyaksikan It Boen Han Too masih duduk bersemedhi, iapun tak berani mengganggu ataupun menegur, terpaksa dia menunggu disampingnya.

Kembali setengah jam sudah lewat, perlahan-lahan It Boen Han Too baru membuka matanya melirik sekejap kearah Phoa Liong.

“Ehmmm, aku telah menyusahkan dirimu!” serunya sambil menerima kerikil putih, bungan serta rumput layu itu dimana benda-benda tersebut segera dimasukkan kedalam petinya.

“Orang ini masukkan benda apapun kedalam petinya” pikir Pek li Peng dalam hati. Seandainya aku berhasil mencuri peti miliknya itu maka keadaan tersebut tentu bagaikan monyet yang kehilangan pegangan!”

Setelah mempunyai rencana untuk mencuri peti milik It Boen Han Too tadi, hati Pek li Peng jadi kegirangan, tanpa terasa ia memandang kearah Siauw Ling dan tertawa.

Bibirnya bergetar dan muncul sebaris giginya yang kecil, putih dan bersih.

Menyaksikan hal itu Siauw Ling kontan mengerutkan alisnya dengan ilmu menyampaikan suara peringatnya, “Peng jie, jangan lupa dengan kedudukanmu sekarang!”

Untung kesemuanya itu tidak sampai terlihat oleh It Boen Han Too, terdengar orang itu berkata, “Phoa heng, cayhe mempunyai beberapa persoalan hendak minta tolong petunjukmu. Apakah Phoa heng sudi untuk memberitahukannya?”

Seolah-olah terkejut dengan sebutan itu, buru-buru Phoa Liong bungkukkan badannya menjura, “Tidak berani…. tidak berani…. silahkan It Boen sianseng ajukan pertanyaanmu, asal cayhe tahu pasti kujawab.”

“Cuwi sekalian sudah banyak tahun bekerja didalam lembah ini, bahkan separuh bagian pekerja yang ada telah mati kelelahan, pekerja tersebut tentu amat sulit sekali bukan?”

Pertanyaan ini diajukan sangat halus dan amat sempurna, walaupun maksudnya mencari keterangan tapi tidak memberikan bekas apapun.

“Kami sekalian bekerja menurut perintah serta intruksi dari Toa cungcu sendiri.” Jawab Phoa Liong.

“Bagaimanakah petunjuk dari Toa cungcu kalian itu?”

“Maksud Toa cungcu kita diperintahkan memilih dinding tebing yang ada diempat penjuru dan bekerja secara berkelompok, tujuannya adalah menggali bukit ini hingga kearah lambung, tetapi pekerjaan tersebut tidak boleh diketahui orang lain.”

“Bagaimanakah hasil dari proyek yang maha besar ini?”

“Ketika pekerjaan ini mula-mula dilakukan semuanya berjalan dengan lancar tanpa gangguan, tetapi dinding tebing itu makin kedalam semakin keras bagaikan menggali baja yang keras saja, setiap kali pacul kami menimpa batu segera bermuncratlah bunga api, yang rontokpun hanya sebuah bongkahan batu sebesar kepalan….”

It Boen Han Too segera tersenyum.

“Beberapa buah bukit yang ada disekitar sini terdiri dari tebing-tebing batu karang yang amat keras, bial mana tidak mengenali sifat tanah disini tentu saja sulit untuk menggali bukit tersebut.”

“Oleh sebab itulah walaupun kami sudah bekerja keras selama banyak tahun tapi tiada kemajuan apapun yang berhasil ditemukan.”

Perlahan-lahan It Boen Han Too bangkit berdiri.

“Baik!” katanya. “Pembicaraan kita pada hari ini hanya sampai disini saja, lain kali bila cayhe ingin mengetahui tentang soal lain, harap Phoa heng suka memberi petunjuk.”

“Tidak berani, setiap saat It Boen sianseng boleh mengajukan pertanyaan kepadaku asal cayhe tahu pasti akan kuutarakan.”

Sambil menenteng peti emasnya It Boen Han Too segera putar badan dan berlari dari situ.

Phoa Liong buru-buru mengikuti dibelakang tubuhnya, sementara Siauw Ling serta Pek li Peng sengaja memperlambat langkahnya hingga ketinggalan sejauh satu tombak lebih.

Ketika mereka datang melewati padang ilalang yang lebat, dengan ilmu menyampaikan suara Siauw Ling segera berbisik kepada Pek li Peng, “Peng jie, sekarang Tiong Chiu Siang ku berada dimana?”

“Berada didalam rumah penginapan yang kutempati!”

“Malam nanti kau naiklah keatas puncak melewati jalan rahasia, suruh mereka mengenakan pakaian pekerja dan menyusup kedalam lembah ini. Kemudian bersembunyi didalam padang ilalang ini!”

“Bagaimana dengan Toa Boen seng?”

“Sulit bagi kita untuk menyelesaikan tentang orang itu, kita tak bisa membinasakan dirinya tetapi tetap membiarkan dia berada diatas puncak In Wan Hong hanya memberikan kesempatan bagi anak buahnya Shen Bok Hong untuk menawannya kembali. Bila ia tak kuat menahan siksaan pasti akan mengaku dan membongkar rahasia-rahasia kita. Seandainya sampai begitu rencana kerja kita pasti akan berantakan.”

“Aku lihat orang itupun bukan termasuk orang baik-baik, lebih tepat kalau kita musnahkan saja dari muka bumi!”

“Andaikata kita bunuh orang itu karena takut rahasia kita ketahuan. lalu apa bedanya perbuatan kita ini dengan perbuatan dari Shen Bok Hong….?”

“Aaaah, aku lupa” seru Pek li Peng sambil tersenyum. “Toako toh seorang enghiong yang berhati luhur dan bajik, tentu saja kau tak akan sudi berbuat begitu.”

Sementara Siauw Ling hendak mengatakan sesuatu, mendadak terdengar suara suitan yang tajam dan lengking berkumandang datang.

“Eeei? suara apa itu?” tiba-tiba It Boen Han Too berhenti berjalan dan menegur.

“Suara suitan tanda bahaya!” jawab Phoa Liong dengan cepat.

“Suitan tanda bahaya? jadi maksudmu ada musuh yang telah menyusup kedalam lembah ini?”

“Sedikitpun tidak salah?”

Padang ilalang itu sungguh lebat sekali tingginya mencapai sebatas dada dan sekilas pandang hanya kepalanya saja yang kelihatan. Perawakan tubuh Pek li Peng kecil mungil, saat itu seluruh tubuhnya tertutup dibalik rerumputan, yang nampak hanyalah sepasang matanya yang berputar tiada hentinya.

Terdengarlah suara suitan itu setelah berbunyi panjang tiga kali, mendadak berhenti dan sirap.

“Tiga kali suara suitan itu menandakan bahwa keadaan sangat kritis, pihak lawan telah memasuki lembah bukit ini” kembali Phoa Liong berkata dengan suara lirih.

“Semoga saja yang datang bukanlah Siauw Ling” seru It Boen Han Too setelah termenung berpikir sejenak.

Mendadak ia mempercepat langkahnya dan berjalan menuju keluar.

0 Response to "Rahasia Istana Terlarang Jilid 36"

Post a Comment