Rahasia Istana Terlarang Jilid 29

Mode Malam
JILID 29

Siauw Ling tak berani bertindak gegabah, hawa murninya segera dihimpun jadi satu dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.

Masing-masing pihak saling bertahan beberapa saat lamanya, terkahir Giok siauw Lang Koen berhasil menguasai diri, serunya ketus, “Hmm! baiklah, memandang diatas wajahnya aku beri waktu sepertanak nasi lagi kepada kalian untuk berunding, kalau kamu sekalian tetap keras kepala dan tak mau tinggalkan tempat ini. Heeh…. heeh…. jangan salahkan kalau cayhe berbuat kurang adat!”

Habis berbicara tanpa menanti jawaban dari Siauw Ling lagi ia putar badan dan berlalu.

“Memandang diatas wajah “Nya”? siapa yang dia maksudkan sebagai “Nya” disini….? apakah ia maksudkan enci Gak Siauw Cha?” pikir Siauw Ling.

Sekarang ia telah merasa yakin bahwa Giok siauw Lang Koen yang ditemuinya sekarang bukan lain adalah sipeniup seruling kemarin malam, ia teringat kembali pemandangan dikala Giok siauw Lang Koen serta Lan Giok Tong sama-sama menaruh rasa cinta yang mendalam terhadap diri Gak Siauw Cha. Karena persaingan inilah menyebabkan sesama saudara misan jadi bentrok dan saling bermusuhan bagaikan air dan api.

Dalam pada itu terdengarlah Soen put shia sedang bergumam seorang diri, “Sedikitpun tidak salah, memang seruling kumala itu….”

“Bagaimana dengan seruling kumala itu?” tanya Siauw Ling dengan wajah tertegun.

Soen Put Shia menghela napas panjang.

“Waai….! aku sipengemis tua pernah menjumpai seruling kumala itu, meski sudah lewat puluhan tahun lamanya tapi aku pengemis tua masih teringat baik-baik, seruling itu memang tidak salah, hanya saja sipembawa serulingnya yang berbeda.”

Sebelum Siauw Ling sempat bertanya duduk perkara yang sebenarnya, tiba-tiba terdengar Boe Wie Tootiang berkata pula sambil menghela napas panjang.

“Ooooh, betapa sempurnanya tenaga kweekang yang dimiliki orang ini.”

Siauw Ling berpaling kedepan, tampaklah permukaan tanah dimana barusan dilalui oleh Giok siauw Lang Koen telah tertinggal bekas telapak kaki yang amat nyata.

Bukan saja telapak kaki itu sangat jelas bahkan dalam sekali, hal ini tentu saja mengejutkan hati pemuda kita, segera pikirnya, “Diam-diam mengerahkan tenaga dalam untuk meninggalkan bekas telapak yang begitu nyata kesulitan justru terletak pada cara membagi kekuatan yang sempurna…. ia memang sangat lihay!”

Kemudian pikiran lebih jauh, “Kalau memang Soen Put shia telah mengetahui asal usul dari seruling kumala itu, sepantasnya ia tak usah menanyakan asal usul dari Giok siauw Lang Koen lagi, entah apa sebabnya ia bertindak demikian?”

Ketika dia alihkan sinar matanya, tampaklah Soen put shia sedang memandang keangkasa sambil memikirkan satu persoalan, maka tegurnya dengan suara lirih, “Loocianpwee, apakah kau mengambil keputusan untuk tetap berdiam disini?”

“Tal perlu, aku sudah menyaksikan seruling kumala itu, rasanya sudah sepantasnya kalau kita pergi.”

“Ooh, kiranya dia sengaja memanasi hati Giok siauw Lang Koen, tujuannya bukan lain hanya ingin melihat seruling kumala itu saja” batin pemuda kita, segera ujarnya, “Jadi loocianpwee mengambil keputusan untuk berlalu dari sini?”

“Sedikitpun tidak salah, sudah kita saksikan sendiri seruling kumala itu, rasanya tetap berada disinipun tiada kegunaannya bagi aku sipengemis tua….”

“Ooh, rupanya dia gunakan akal berbuat kasar tujuannya hanya untuk membuktikan kecurigaan yang sedang dipikirkan dalam hatinya” kembali Siauw Ling berpikir. “Tapi aku telah bentrok dengan Giok siauw Lang Koen, entah apa yang harus kulakukan sekarang, disamping itu entah siapa yang hendak dijumpainya malam nanti, mungkinkah enci Siauw Cha….?”

Untuk beberapa saat lamanya ia merasa pikirannya kacau dan tak tahu apa yang harus dilakukan.

Rupanya Boe Wie Tootiang dapat menyaksikan kesulitan yang sedang dihadapi si anak muda itu, sambil menghela napas panjang tanyanya, “Siauw thayhiap, apakah kau ingin tetap tinggal disini?”

“Giok siauw Lang Koen memberi batas waktu kepada kita untuk berlalu dari sini dalam sepertanak nasi. Andaikata kita menuruti perkataannya dan mundur dengan begini saja, rasanya perbuatan kita ini terlalu melemahkan kekuatan sendiri.”

Cuma saja iapun merasa rada bingung, sebab kalau seandaianya mereka tetap berdiam disitu maka suatu pertarungan sengit kemudian besar bisa berlangsung…. dalam keadaan seperti ini, pemuda she Siauw itu merasa tak mengerti apa yang harus dikerjakan.

Boe Wie tootiang termenung berpikir sejenak, kemudian berkata, “Kalau menurut pendapat pinto, lebih baik kita gunakan siasat jalan tengah yang baik saja.”

“Jalan tengah apa lagi yang bisa kau lakukan?” pikir Si anak muda itu dalam hati. “Dalam keadaan seperti saat ini hanya dua jalan saja bagi kita, yaitu menurut perkataan dan segera mundur dari sini, atau tetap tinggal ditempat ini sambil bertarung melawan dirinya….”

Sekalipun ia berpikir demikian, diluaran katanya, “Silahkan tootiang utarakan pendapatmu yang bagus itu!”

“Seandainya kita harus saling bergerbak dengan gunakan kekerasan hanya disebabkan saling memperebutkan bangunan rumah ini sebagai tempat pemondokan pinto rasa hal ini sama artinya persoalan kecil yang sengaja dibesar-besarkan tapi kalau suruh kita mengundurkan diri dengan begitu saja, sama artinya menunjukkan kelemahan sendiri dihadapan orang maka menurut pendapat pinto tiada halangannya bagi kita untuk mengundurkan diri sementara waktu tapi sebelum berlalu tiada halangannya bagi Siauw thayhiap untuk unjukkan sedikit kepandaian sakti agar bisa dilihat oleh mereka.”

“Ehmm, perkataan ini memang tidak salah” pikir Siauw Ling. “Setelah unjukan kekuatan kita mundur dengan syarat, rasanya dengan begitu masing-masing pihak bisa mempertahankan nama baiknya masing-masing, dan pertarungan yang tak bergunapun bisa terhindar….” ia mengangguk tanda setuju.

“Ucapan tootiang memang sedikitpun tidak salah cuma cayhe tidak tahu bagaimana harus memperlihatkan kekuatan kita?”

Boe Wie Tootiang tersenyum.

“Orang yang membawa seruling itu tinggalkan bekas telapak diatas permukaan tanah. Walaupun ilmu silatnya sangat lihay tapi pinto percaya Siauw thayhiap pasti tak akan kalah daripada dirinya.”

Ia merandek sejenak lalu ujarnya lagi, “Setiap manusia perduli bagaimanakah bakatnya serta kecerdikannya, tak nanti ia berhasil melatih setiap jenis kepandaian hingga mencapai saat kesempurnaan, setiap manusia tentu memiliki kekurangannya yang tersendiri, maka dikala Siauw thayhiap hendak pamerkan kekuatannya nanti berusahalah menjauhkan diri dari kelemahanpun, dan gunakanlah kelebihan yang kau miliki.”

“Ditinjau dari keadaan pada saat ini, rasanya memang hanya inilah satu-satunya jalan yang terbaik” pikir pemuda itu, maka ia lantas mengangguk.

“Baiklah aku mengikuti ucapan dari tootiang.”

Boe Wie Tootiang segera menoleh kepada sutenya Ceng Yap Chin dan perintahnya, “Bawalah semua anak murid kita yang ada disini untuk mengundurkan diri terlebih dahulu dari bangunan rumah ini.”

Walaupun dalam hati Ceng Yap Chin tak ingin meninggalkan tempat itu, tapi sebagai seorang adik seperguruan yang selalu menghormati suhengnya tanpa mengucapkan sepatah katapun segera menjalankan perintah itu dan mengundurkan diri beserta para anak murid Bu tong pay lainnya.

“Kau boleh mengundurkan diri juga!” seru Soen Put shia sambil memandang sekejap kearah Peng Im.

Sisegulung angin mengiakan dan perlahan-lahan berjalan keluar dari rumah itu.

Memandang sekejap Sang Pat yang sedang duduk mengatur pernapasan dibawah pohon bunga Siauw Ling berpikir, “Meskipun tujuanku hanya mendemonstrasikan kepandaian, tapi kemungkinan besar bisa terjadi pertarungan sungguh-sungguh karena desakan keadaan, luka yang diderita Sang Pat amat parah, rasanya tidak leluasa kalau dia tetap berada disini, andaikata sampai terjadi pertarungan pikiranku tak bisa dicabangkan untuk melindungi keselamatannya. Lagi pula saat ini dia sedang mengatur pernapasan dan tak bisa diganggu, entah apa yang harus kuperbuat?”

Dari perubahan air muka si anak muda itu, rupanya Soen Put shia telah dapat menduga apa yang sedang dipersoalkan, sambil tersenyum segera serunya, “Dikala saudara Siauw mendemonstrasikan kepandaian nanti, tak usah kau cabangkan pikiran buat memperhatikan dirinya. Aku sipengemis tua serta Boe Wie Tootiang rasanya sudah lebih dari cukup untuk melindungi keselamatan Sang Pat.”

“Baiklah, kalau memang begitu aku titipkan dirinya kepada kalian.”

Sepertanak nasi berlalu dengan cepatnya, baru saja Siauw Ling selesai mengatur rekan-rekannya, dari serambi sebelah barat terdengar suara dari Giok Siauw Lang Koen berkumandang datang, “Batas waktu telah habis, bagaimanakah keputusan dari cuwi sekalian.”

Ucapan itu tidak terlalu keras tapi setiap patah kata berkumandang dengan amat jelasnya.

Siauw Ling menoleh dan memandang sekejap kearah Soen Put shia serta Boe Wie Tootiang, lalu pesannya, “Kalian berdua tak usah membantu cayhe.”

Ia merandek sejenak, dan serunya lantang, “Ada sedikit persoalan aku orang she Siauw hendak mohon petunjuk darimu.”

“Saudara masih ada persoalan apa lagi?”

“Apakah heng thay bisa keluar dulu dari dalam ruanganmu?”

“Setiap perkataan yang cayhe ucapkan selamanya berat bagaikan bukit, kalau sampai batas waktunya habis kalian belum juga berlalu dari sini, itu berarti kalian yang mencari kematian buat diri sendiri. Andaikata Siauw heng ada maksud mempersoalkan hal itu dengan diri cayhe, aku nasehati dirimu lebih baik batalkan saja maksudmu itu sebab percuma.”

Dalam hati Siauw Ling merasa amat gusar, serunya ketus, “Sebetulnya kami hendak berlalu dari sini tapi setelah saudara berbicara demikian mungkin cayhe bisa berubah pikiran.”

“Berubah pikiran bagaimana?”

“Dengan ucapanmu barusan, meskipun kami hendak tinggalkan tempat ini hal tersebutpun baru akan kami lakukan sepertanak nasi lagi.”

“Siauw Ling!” teriak Giok Siauw Lang Koen sambil tertawa dingin. “Aku sudah terlalu bersabar dengan dirimu.”

“Selama hidup, cayhepun baru kali ini bicara sungkan-sungkan terhadap orang lain.”

“Masih ada seperminum teh lagi batas waktu sepertanak nasi akan habis….!”

Siauw Ling mendengus dingin, ia tidak memperdulikan perkataan dari lelaki tampan berseruling kumala itu, sambil menoleh kepada Soen Put shia serta Boe Wie Tootiang katanya, “Orang ini terlalu jumawa dan sombong, sungguh membuat hati orang merasa mendongkol, rupanya kita harus tetap tinggal ditempat ini.”

“Janganlah disebabkan persoalan kecil hingga mengacaukan masalah besar….” nasehat Boe Wie Tootiang. “Dewasa ini kekuatan Shen Bok Hong sedang mencapai pada puncaknya, untuk menghadapi gembong iblis itu saja sudah rada kewalahan, apa gunanya menanam biji permusuhan lagi dengan orang lain?”

Mendengar ucapan tersebut Siauw Ling segera menghela napas panjang.

“Aaaai….! perkataan dari tootiang sedikitpun tidak salah, rasanya memang lebih baik kita mengalah satu tindak kepadanya.”

“Untuk menghindari segala hal yang tidak diinginkan, bagaimana kalau kita berlalu selangkah lebih cepat?”

“Baiklah! aku sipengemis tua memang sudah merasa amat reyot, angkara murka memang tiada dalam hatiku lagi!”

Melihat kedua orang loocianpwee itu sudah mengambil keputusan untuk berlalu, Siauw Ling segera berpaling untuk memanggil Sang Pat guna bersama-sama tinggalkan tempat itu.

Siapa tahu pada saat itulah mendadak terdengar suara teguran yang diiringi suara tertawa dingin berkumandang datang, “Kalian hendak bunuh diri? ataukah memaksa cayhe yang turun tangan….?”

Soen Put shia segera berpaling, dia lihat Giok Siauw Lang Koen dengan seruling terhunus sedang berdiri kurang lebih satu tombak dihadapan mereka dengan wajah penuh napsu membunuh, siorang berbaju hijau itu berdiri dibelakang majikannya.

Dalam pada itu orang berbaju hijau tadi telah melepaskan topengnya sehingga tampaklah wajah sebenarnya yang berwarna hijau membesi, meskipun pada janggutnya tiada jenggot tapi usianya nampak sekali sudah mencapai tiga puluh tahunan lebih.

Siauw Ling menoleh dan memandang sekejap kearah Soen Put shia, dia lihat wajah pengemis tua ini, sudah diliputi kegusaran jelas sikap jumawa dan sombong dari Giok Siauw Lang Koen telah membangkitkan hawa amarah dari jago tua ini.

Siauw Ling segera tertawa dingin.

“Maksud saudara, apakah kau suruh kami sekalian bunuh diri dihadapanmu….?”

“Kalau kalian paksa cayhe untuk turun tangan sendiri, aku takut cuwi sekalian bakal merasakan dulu suatu penderitaan yang maha berat.”

“Tahukah saudara akan sepatah kata?”

“Perkataan apa?”

“Seorang lelaki sejati boleh dibunuh tak sudi dihina!”

“Hehmm…. cuwi sekalian boleh mati dan tak usah terhina.”

“Tapi cayhe sekalian tak sudi bunuh diri!”

“Mau menggunakan cara apapun terserah pada pilihan cuwi sendiri, pokoknya kamu semua harus mati.”

Mendengar ucapan pihak lawan sesumbar dan makin lama semakin tak sedap didengar, hawa amarah didalam dada Siauw Ling berkobar juga, pikirnya, “Sekalipun kami bakal kalah ditanganmu tak sudi kami menderita penghinaan seperti ini, perduli menang atau kalah dalam pertarungan nanti, aku harus memberi sedikit pelajaran kepadamu.”

Berpikir demikian, segera ujarnya dengan nada ketus, “Kami tak sudi bunuh diri, dengan sendirinya terpaksa harus mengudang dirimu untuk turun tangan sendiri.”

Air muka Giok Siauw Lang Koen berubah hebat.

“Hmm, rupanya belum melihat peti mati kalian tak akan mengucurkan air mata.” jengeknya dingin. “Sebelum tiba disungai Hoang hoo, hati kalian tak mati, bagus siapa yang pingin modar dulu?”

“Cayhe akan menjajal lebih dulu” sahut Siauw Ling sambil busungkan dadanya.

“Kau yang nomor satu pingin cari mati?”

“Caye adalah orang pertama yang akan menjajal kepandaian silatmu, benarkah mati masih sulit untuk dibicarakan mulai sekarang….”

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya, “Mungkin cayhelah yang sudah kesalahan tangan hingga melukai diri saudara!”

“Hmm, orang-orang bilang kau Siauw Ling sombong dan jumawa, ini hari setelah berjumpa sendiri aku baru merasa bahwa ucapan itu sedikitpun tidak salah, kalau memang kau pingin modar, cayhe akan menyempurnakan keinginannmu itu.”

Maksud ucapan itu seolah-olah andaikata terjadi bentrokan maka Siauw Linglah yang berada dipihak kalah.

“Saudara, siapakah yang bakal kalah sebentar lagi bakal diketahui. Aku rasa kau tak usah jual lagak terlalu pagi!”

Mendadak Giok Siauw Lang Koen merangsek kedepan, sambil menotok dada Siauw Ling dengan serulingnya ia menghardik, “Berbaring kau!”

Siauw Ling telah bergerak melawan orang berbaju hijau itu, ia tahu Giok Siauw Lang Koen sebagai majikan kepandaian silatnya tentu jauh berada diatas pelayanannya, oleh karena itu sejak pertama tadi dia sudah bikin persiapan.

Dikala Giok Siauw Lang Koen ayunkan serulingnya melancarkan totokan itulah, Siauw Lingpun ayunkan telapak kanannya menghantam seruling tersebut, sementara badannya mengingos.

“Belum tentu kawan!” ejeknya.

Baru saja ucapan itu diutarakan keluar, mendadak ia rasakan segulung desiran tajam menerjang badannya.

Sejak tadi Siauw Ling sudah kerahkan hawa khiekang pelindung badannya disekeliling tubuh, meskipun serangan jari itu datangnya secara mendadak tapi segera terbendung oleh hawa khiekang itu hingga tak menyebabkan ia terluka.

Kendati begitu hatinya terkesiap juga pikirnya, “Serangan dahsyat itu entah sejak kapan dilancarkan? andaikata dilepaskan bersamaan dengan datangnya ancaman seruling kumala itu, tak nanti sedemikian cepatnya, tidak aneh kalau ia berani sesumbar menyuruh aku berbaring! bila aku tak memiliki hawa khiekang pelindung badan niscaya jalan darahku sudah kena terhajar dan saat ini aku sudah roboh diatas tanah.”

Sebaliknya Giok Siauw Lang Koen sendiri seketika melihat serangan dengan telak bersarang diatas dada lawannya namun pemuda itu sama sekali tak berkutik bahkan seolah-olah tidak terjadi sesuatu apapun, dan malahan ada satu tenaga pantulan yang membendung hawa serangannya, dalam hati seketika terkesiap pikirnya, “Aaah, ternyata ia berhasil menguasai hawa khiekang pelindung badan yang amat dahsyat itu.”

Meski dalam hati kedua belah pihak sama-sama terperanjat, tapi serangan gencar yang dilancarkan sama sekali tak berhenti.

Tampak Giok Siauw Lang Koen menekan serulingnya kebawah meloloskan diri dari cengkeraman lima jari Siauw Ling, kemudian secara mendadak memutar keatas menotok pergelangan kanan si anak muda itu.

Buru-buru Siauw Ling putar pergelangan kanannya dan tarik kembali tangannya kebelakang. Sedangkan tangan kiri mengirimkan satu pukulan.

Begitu pukulan tersebut dilancarkan, maka bersambunglah serangan-serangan berikutnya dengan gencar, dalam sekejap mata ia sudah mengirim dua belas serangan berantai.

Mendadak Giok Siauw Lang Koen meloncatmundur tiga langkah kebelakang, tegurnya, “Bukankah yang kau gunakan adalah ilmu pukulan kilat berantai dari Lam It Kong?”

“Sedikitpun tidak salah” jawab Siauw Ling sambil menantikan pula serangannya. “Pengetahuan yang kau miliki ternyata cukup luas juga!”

Meski diluaran berkata demikian, dalam hati pikirnya dengan terkesiap, “Ilmu silat yang dimiliki orang ini bukan saja sangat lihay, pengetahuan yang dimiliki ternyata luas sekali….”

“Darimana kau pelajari ilmu pukulan tersebut??” terdengar Giok Siauw Lang Koen menegur kembali.

“Soal ini? maaf aku tak bisa memberitahukan kepadamu.”

“Maksud cayhe adalah ingin mengetahui duduknya perkara, kau dapatkan langsung dari orangnya ataukah mempelajari dari catatan kitab ilmu silat?”

“Sudah tentu mendapat warisan langsung dari orangnya?”

“Jadi kalau begitu Lam It Kong masih hidup dikolong langit dan belum mati….” ia merandek sejenak. “Sekarang dia berada dimana?”

“Pokoknya dia orang tua masih hidup dikolong langit, buat apa kau tanyakan tempat tinggalnya? maaf, persoalan ini lebih baik tak usah kau tanyakan lagi.”

“Hmm! meskipun kau tak mau mengaku terus terang, suatu ketika aku akan berhasil mengetahuinya sendiri.”

Seruling kumalanya berkelebat kedepan satu serangan totokan segera meluncur keluar.

Siauw Ling segera lintangkan telapak tangannya untuk menangkis, kemudian didorong kemuka membabat seruling kumala lawan.

“Sombong amat orang ini” pikir Giok Siauw Lang Koen didalam hati. “Ternyata berani menyambut serangan serulingku dengan telapak tangan, aku harus memberi sedikit pelajaran kepadanya agar dia tahu diri.”

Berpikir demikian seruling kumalanya segera ditekan kebawah dan berputar menyongsong kedatangan lawan.

Tampaklah kelima jari Siauw Ling laksana cakar burung elang berkelebat kemuka dan mencengkeram seruling kumala tersebut.

“Kurang ajar, kau sendiri yang cari kesulitan. Jangan salahkan kalau hatiku kelewat kejam” pikir lelaki tampan berseruling kumala itu.

Hawa murninya segera disalurkan kedalam senjata serulingnya itu.

Rupanya pada seluruh tubuh seruling kumala yang ada ditangan Giok Siauw Lang Koen tersebut terdapat banyak sekali tonjolan-tonjolan kecil yang sangat tajam. dengan kesempurnaan tenaga kweekang yang dimiliki lelaki tampan berseruling kumala itu, jarang sekali ada orang yang berhasil lolos dari tusukan tonjolan tajam tersebut.

Tetapi Siauw Ling tetap menggenggam erat-erat seruling itu, bukan saja sama sekali tidak terluka bahkan cekalannya kian lama kian mengencang.

“Ehmm, ternyata ilmu silat yang kau miliki lihay sekali….” seru Giok Siauw Lang Koen dengan alis berkerut. “Lepaskan seruling kumalaku….!”

“Aneh benar orang ini” pikir Siauw Ling. “Toh kita sedang berhadapan sebagai musuh mana ada orang yang suruh musuhnya melepaskan genggaman pada senjatanya? aaah, mungkin seruling kumala ini terlalu berharga sekali hingga ia takut rusak….”

Berpikir demikian diapun lantas menuntut dan melepaskan genggamannya.

Rupanya Giok Siauw Lang Koen tidak menyangka kalau bentakannya menyebabkan Siauw Ling benar-benar melepaskan genggamannya pada seruling kumala tersebut, sambil mundur tiga langkah kebelakang ujarnya dengan suara dingin, “Ternyata Siauw heng sangat penurut dengan perkataanku.”

Mendadak ia ayunkan seruling kumalanya, dibawah sorot cahaya matahari tampaklah berpuluh-puluh kilatan cahaya yang lembut berdesiran keluar dari mulut seruling itu dan memancar keempat penjuru.

Kiranya didalam seruling kumala yang tampaknya antik itu telah dipasang alat rahasia yang bisa memuntahkan senjata rahasia beracun.

siauw Ling melirik sekejap kearah seruling kumala itu, kemudian ujarnya dengan suara dingin, “Kiranya seruling kumala milik saudara itu masih dapat memuntahkan senjata rahasia yang demikian kejinya, sungguh membuat aku Siauw Ling terbuka sepasang matanya.”

“Hmm, andaikata saudara tidak mendengarkan perkataan dari cayhe, mungkin pada saat ini kau sudah terluka diujung senjata rahasia beracun ini….”

“Walaupun caramu menyembunyikan jarum beracun didalam seruling amat bagus dan keji hingga membuat orang sama sekali tidak menyangkanya, tapi belum tentu dapat melukai aku orang she Siauw.”

Giok Siauw Lang Koen tidak tahu kalau Siauw Ling mengenakan sarung tangan kulit ular yang kebal terhadap senjata apapun, segera ia tertawa dingin.

“Alat rahasia yang kupasang didalam sarung ini mempunyai kekuatan memancar yang sangat hebat, sekalipun kau memiliki hawa khiekang untuk melindungi badan, belum tentu bisa membendung serangan jarum beracunku yang halus dan tajam itu.”

“Rupanya ia suruh aku melepaskan seruling kumalanya adalah bermaksud baik” pikir Siauw Ling. “Lebih baik aku tidak usah mempersoalkan masalah ini lagi dengan dirinya.”

Karena itu diapun tidak berbicara lagi.

Terdengar Giok Siauw Lang Koen berkata kembali, “Aku telah mengampuni selembar jiwamu, apakah kau masih juga belum mau tahu diri dan mundur dari sini?”

“Kalau aku menyetujui permintaannya dan mundur dari sini, orang ini pasti akan turun tangan keji dan menciptakan pembunuhan besar-besaran. Bagaimanapun juga aku harus mencari akal untuk menundukkan lelaki tampan berseruling kumala itu….”

Perlahan-lahan Siauw Ling mencabut keluar pedangnya dari dalam sarung, lalu berkata, “Jurus serangan seruling kumala saudara pasti lihay dan sempurna, cayhe sangat berharap untuk minta beberapa petunjuk dari kepandaian ilmu serulingmu itu.”

“Heeh…. heeh…. heeh…. Siauw Ling” jengek Giok Siauw Lang Koen sambil tertawa dingin. “Tahukan kau apa sebabnya aku mengalah terus kepadamu?”

“Kenapa?”

“Karena seseorang!”

“Siapakah orang itu? apa hubungannya orang itu dengan diri cayhe?”

Hawa napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajah Giok Siauw Lang Koen, ujarnya dingin, “Selama hidup belum pernah aku bersikap begini sungkan dan sabar kepada siapapun, hanya terhadap kau Siauw Ling saja yang boleh dikata pengecualian.”

“Saudara tak usah terlalu kukuh pada pikiranmu, aku Siauw Ling adalah Siauw Ling sama sekali tiada hubungan atau sangkut paut apapun dengan orang lain, kalau mau turun tangan lakukanlah dengan hati lapang.”

“Kau hendak paksa aku turun tangan?” jerit Giok Siauw Lang Koen dengan mata berkilat.

“Cahye sama sekali tiada maksud untuk memaksa saudara untuk turun tangan, tapi kaupun tak usah bersikap sungkan-sungkan terhadap diriku, mari kita tentukan kemenangan kita dengan andalkan ilmu silatnya masing-masing.”

“Haaah…. haaah…. haaah…. bagus, kalau begitu berhati-hatilah….”

Serulingnya mendadak berkelebat kedepan melancarkan sebuah totokan.

Meskipun diluaran Siauw Ling bicara enteng dan seenaknya, padahal dalam hati kecilnya sama sekali tidak berani pandang rendah lawannya, ia tarik napas panjang-panjang dan secara mendadak mundur tiga depa kebelakang.

Giok Siauw Lang Koen tertawa dingin, seruling kumalanya bergerak cepat dalam sekejap mata melancarkan tiga buah serangan berantai.

Walaupun hanya tiga serangan belaka, tapi bayangan seruling yang diciptakan dalam serangan itu bermunculan dari empat arah delapan penjuru, hingga nampak begitu dahsyatnya.

Menyaksikan kelihayan lawan, Soen Put shia segera berpaling memandang sekejap kearah Boe Wie Tootiang dan ujarnya dengan suara lirih, “Jurus serangan ini sangat aneh dan lihay jarang sekali aku sipengemis tua menyaksikan kepandaian seperti ini.”

“Benar, siapa menang siapa kalah sulit sekali ditentukan dalam pertarungan ini….”

Rupanya sebelum ucapan itu selesai diutarakan mendadak ia membungkam dan tidak berbicara lagi.

Termakan oleh desakan bayangan seruling yang memenuhi angkasa itu Siauw Ling secara beruntun mundur lima langkah kebelakang dengan susah payah ia baru berhasil lolos dari serangan gencar tersebut.

Giok Siauw Lang Koen tertawa dingin jengeknya, “Sungguh luar biasa sekali, ternyata kau masih sanggup untuk menghindarkan diri dari tiga jurus seruling angin puyuh ini!”

Mulutnya berbicara tangannya sama sekali tidak berhenti menyerang, bahkan sejurus lebih cepat dari jurus berikutnya. Seketika itu juga Siauw Ling telah terkurung didalam lapisan bayangan siseruling lawan.

Sejak terjunkan diri kedalam dunia kangouw belum pernah Siauw Ling jumpai pertarungan yang begitu seru dan berbahayanya seperti hari ini, serangan-serangan Giok Siauw Lang Koen yang begitu cepatnya ternyata membuat si anak muda itu tak sanggup melancarkan serangan balasan.

Dalam sekejap mata kedua orang itu telah saling bergebrak puluhan jurus banyaknya, Siauw Ling selain dipaksa berputar kayuh dengan langkah yang kacau, sedikit kesempatanpun tak ada baginya untuk mengirim serangan.

Soen Put shia yang menyaksikan keadaan itu jadi gelisah, bisiknya kepada Boe Wie Tootiang, “Tootiang, aku lihat keadaannya rasa kurang beres, ia selalu berada didalam situasi yang terkurung, mana sanggup bertahan lebih lama lagi? bagaimana kalau aku sipengemis tua membantu dirinya?”

“Legakan hatimu loocianpwee, walaupun situasi Siauw Ling agak berbahaya namun tidak sampai mengancam jiwanya. Keanehan serta kelihayan jurus serangan ilmu seruling orang ini betul-betul luar biasa sekali, pintopun baru pertama kali ini menyaksikan kepandaian tersebut, andaikata kita turun tangan membantu dirinya, aku takut malahan akan membuyarkan konsentrasinya lebih baik tunggu sesaat lagi baru mengambil keputusan.”

Meskipun ia menghibur diri Soen Put shia, tapi dalam hati kecilnya diam-diam iapun merasa amat terperanjat.

Siauw Ling ditengah pertarungan sengit yang tidak memberi kesempatan baginya buat melancarkan serangan balasan, selalu terkurung desakan seruling kumala Giok Siauw Lang Koen yang dahsyat.

Seperminum teh lamanya sudah lewat, tapi Siauw Ling tetap terkurung didalam pertarungan yang serba mengerikan itu.

Jurus serangan Giok Siauw Lang Koen kendati sangat lihay, tapi ia belum sanggup merontokkan pedang panjang dari Siauw Ling.

Mendadak terdengar si anak muda itu membentak keras, pedangnya menekan keatas menerjang keluar dari bayangan seruling yang berlapis itu dan mulai balas melancarkan serangan balasan.

Terdengar suara bentrokan senjata yang amat nyaring berkumandang memenuhi angkasa, percikan api menyilaukan mata.

Dengan susah payah akhirnya Siauw Ling berhasil juga menemukan sebuah titik kelemahan dengan menggunakan kesempatan itulah ia lolos dari kepungan bayangan seruling yang berlapis-lapis dan segera melancarkan tiga buah serangan.

Tampaklah berkuntum-kuntum bunga pedang diiringi kilatan cahaya tajam menyambar keudara balas mengurung tubuh lawan.

Sampai detik itulah Boe Wie Tootiang baru dapat menghembuskan napas panjang, gumamnya, “Ooh, ternyata ia tak sampai terpengaruh dalam kepungan bayangan seruling lawan.”

“Benar,benar berbahaya sekali” sambung Soen Put shia pula.

Saat itu sitangan besi yang ada dibelakang Giok Siauw Lang Koen berubah air mukanya dengan mata terbelalak lebar saksikan pertarungan antara kedua orang itu, rupanya silelaki tampan berseruling kumala itu telah mengerahkan segenap tenaganya.

Tampaklah pertarungan antara kedua orang itu makin lama semakin seru, seruling kumala pedang panjang masing-masing mengeluarkan keampuhannya masing-masing.

Boe Wie Tootiang menoleh dan memandang sekejap kearah pengemis tua itu, lalu bisiknya, “Loocianpwee, bagaimanapun juga kita harus carikan akal untuk mencegah mereka bertarung lebih lanjut.”

“Kalau kita berteriak pada saat ini, mungkin mereka tak mau berhenti!”

“Tapi kalau suruh mereka bertarung lebih jauh, mungkin akan mengakibatkan kedua belah pihak sama-sama menderita luka.”

Soen Put shia segera memandang kearah kalakang dengan lebih seksama, ia lihat diatas wajah Siauw Ling secara lapat-lapat sudah muncul air keringat jelas ia telah mengerahkan segenap tenaganya. Dan ketika ia menoleh kearah Giok Siauw Lang Koen segera lapat-lapat diapun lihat pada jidat orang itu sudah bermandikan peluh.

Pada saat yang amat kritis itulah mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang, “Tahan!”

Laksana kilat Giok Siauw Lang Koen melancarkan satu serangan menangkis datangnya ancaman pedang lawan, kemudian loncat mundur lima depa kebelakang.

Sejak terjun kedalam dunia persilatan, baru kali ini Siauw Ling benar-benar telah bertemu dengan musuh tangguh, pertarungan yang amat seru dan penuh dengan mara bahaya ini menyebabkan timbulnya rasa kagum dalam hatinya pada lelaki tampat itu.

Oleh karena itu ketika Giok Siauw Lang Koen tarik kembali senjatanya seraya meloncat mundur.

Menanti ia berpaling kesamping, tampaklah seorang nona cilik berusia lima belas enam belas tahunan dengan rambut dikepang dan memakai celana panjang berwarna hijau ikat pinggang warna kuning dan menyoren sebilah pedang dipunggungnya berdiri dengan muka keren didepan pintu.

Satu ingatan berkelebat dalam benak Siauw Ling pikirnya, “Bukankah dayang ini adalah sinona cilik yang kujumpai kemarin malam? dia aalah dayang kepercayaan dari enci Siauw Cha, jangan-jangan kedatangannya adalah atas perintah dari enci Siauw Cha….”

Dalam pada itu tampaklah Giok Siauw Lang Koen yang jumawa, sombong dan tidak pandang sebelah mata terhadap siapapun itu berpaling memandang sekejap kearah nona itu lalu menjura sambil ujarnya, “Nona Soh Boen, baik-baikkah selama berpisah?”

Sepasang biji mata gadis berbaju hijau yang bulat gede itu berputar sekejap keempat penjuru, kemudian sahutnya sambil balas memberi hormat, “Budak tidak berani menyambut penghormatan dari Giok Siauw Lang Koen!”

“Nona datang kemari entah ada urusan apa?”

Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, wajahnya nampak tegang sekali.

“Aku datang untuk menyampaikan satu persoalan kepadamu.”

“Persoalan apa? apakah menyangkut nona Gak?”

“Tidak salah, nona suruh aku datang menyampaikan kabar kepada siankong, katanya pada pertemuan malam nanti ia tidak ingin datang kemari.”

“Kenapa?” katanya Giok Siauw Lang Koen dengan wajah berubah hebat.

“Kenapa? aku sendiripun tak tahu” sinar matanya segera dialihkan keatas wajah Siauw ling, terusnya. “Siauw siangkong, apakah kau sudah tidak kenal dengan budak lagi?”

“Bukan, kita sudah bertemu sebanyak dua kali.”

“Pertama kali nona memakai pakaian pria tentu saja tak dapat dihitung….!”

Soh Boen tersenyum, ia kembali menoleh kearah Giok Siauw Lang Koen sambil berkata, “Kata nona siangkong tak usah menunggu dirinya lagi ditempat ini.”

“Ini hari ia tak mau ketemu, lalu sampai kapan kita baru bisa saling berjumpa lagi?”

“Kata nona, kalau dia ingin bertemu dengan dirimu, setiap saat bisa mengutus orang untuk mencari dirimu.”

Air muka Giok Siauw Lang Koen seketika berubah hebat, sebentar berubah jadi pucat pasi sebentar lagi berubah jadi hijau membesi. Jelas dalam hatinya terjadi pergolakan yang sangat keras. Setelah termenung sejenak akhirnya sambil mendepakkan kakinya keatas tanah ia ulapkan tangannya kearah sitangan besi, serunya, “Ayoh kita pergi!”

Sekali berkelebat tubuhnya sudah berada diatas atap rumah dan lenyap dari pandangan.

Siorang bertangan besi itu segera mengikuti dibelakang majikannya, dalam waktu singkat mereka berdia sudah lenyap dari pandangan.

Menanti kedua orang itu sudah pergi jauh, Soh Boen baru berjalan mendekati Siauw Ling sambil ujarnya, “Siauw siangkong, apakah kau ingin berjumpa dengan nona kami?”

Siauw Ling tertawa hambar.

“Kalau nona sedang repot, bertemu atau tidak rasanya tidak terlalu penting.”

“Bukankah kemarin malam kau masih minta pertolonganku untuk berjumpa dengan nona kami? apakah sekarang kau sudah berubah pikiran?”

“Nona jangan salah paham, kalau nona Gak dapat berjumpa dengan diriku, cayhe pasti akan memenuhi janji.”

“Kau tak usah pergi memenuhi janji bagaimana kalau sekarang juga kubawa dirimu untuk berjumpa dengan dirinya?”

“Leluasa tidak?”

“Kalau tidak leluasa atau belum memperoleh ijin dari siocia kami, budak mempunyai berapa banyak nyali sehingga berani membawa dirimu pergi menemui dirinya?”

“Cayhe mempunyai satu permintaan yang tidak pantas dan ingin menanyakan beberapa persoalan, apakah nona sudi menjawab?”

“Baik, katakanlah.”

“Kenapa kemarin malam nona Gak tak mau bertemu dengan aku, sedang ini hari malah mengutus nona untuk mengajak aku bertemu dengan dirinya, apa sebenarnya yang terjadi dibalik peristiwa tersebut?”

“Kalau dikatakan duduk perkaranya sulit untuk dikatakan” sahut Soh Boen setelah berpikir sejenak. “Kalau dikatakan tiada duduk persoalannya dalam kenyataan memang tiada persoalan apapun, jangan dikata budak tak begitu mengerti, meskipun tahu juga tak dapat mengatakannya kepada diri Siauw siangkong!”

“Tahukah kau apa sebabnya sekarang nona Gak datang mencari diriku….?”

“Kenapa? kenapa tidak kau jumpai dulu nona Gak….” mendadak ia perendah ucapannya dan menyambung lebih jauh, “Bukan kurang begitu tahu tentang hubungan yang sebenarnya antara nona Gak dengan Siauw siangkong, tapi aku tahu karena dirimu ia sudah gunakan banyak pikiran dan tenaga kami dua bersaudara harus lari kesana lari kemari, karena persoalanmu, persoalan mengenai Lam Hay Ngo Hiong hanya satu diantaranya saja, rupanya dia tidak ingin agar kau mengetahui kalau dialah yang secara diam-diam membantu dirimu….” belum habis berbicara ia tutup mulut dan tidak buka suara lagi.

Siauw Ling menanti beberapa saat lamanya ketika tidak mendengar Soh Boen meneruskan kata-katanya, tak tahan ia segera bertanya, “Apakah nona sudah selesai berbicara?”

“Belum!”

“kenapa tidak kau teruskan?”

“Budak tidak bisa mengatakan dan tidak berani mengatakannya keluar.”

“Tidak mengapa, cayhe cuma ingin tahu saja.”

Soh Boen tarik napas dalam-dalam dan menyahut, “Budak sudah berbicara terlalu banyak, lebih baik siangkong jangan bertanya lagi!”

Siauw Ling tidak memaksa, sambil berpaling memandang sekejap kearah Soen Put shia sekalian tanyanya, “Nona, tolong tanya beberapa orang sahabat cayhe ini apakah boleh ikut serta pergi menjumpai nona Gak….?”

“Ketika budak datang kemari nona tidak berpesan apa-apa, tapi menurut apa yang budak ketahui, nona paling tidak suka bertemu dengan orang asing.”

“Saudara Siauw, kau tak usah bingung, biarlah kami sekalian menunggu disini” seru Soen Put shia.

“Aaaaaai….! sekarang nona Gak berada dimana?”

“Dekat dari sini!”

Siauw Ling lantas menjura kepada pengemis tua sekalian, ujarnya, “Harap cuwi sekalian menunggu sebentar disini, cayhe segera akan kembali setelah urusan selesai!”

“Saudara Siauw tak usah sungkan-sungkan silahkan.”

Demikian Siauw Lingpun segera berjalan keluar dari ruangan itu mengikuti dibelakang dayang tersebut.

“Bagaimana kalau kita berjalan cepat sedikit?”

“Silahkan nona berlari seluat tenaga, cayhe percaya masih sanggup untuk menyusul dirimu!”

Soh Boen tersenyum.

“Budak sudah pernah menyaksikan kepandaian silat dari Siauw siangkong, kamu memang betul-betul lihay sekali tapi budak sama sekali tiada maksud untuk beradu ilmu meringankan tubuh dengan diri Siauw siangkong” katanya.

Teringat bantuannya secara diam-diam sebanyak beberapa kali, Siauw Ling merasa pipinya jadi panas karena jengak.

Rupanya Soh Boen dapat menyaksikan kelakuan si anak muda itu, mendadak ia lari cepat kemuka sambil serunya, “Marilah, budak akan membawa jalan!”

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki nona cilik ini ternata lihay sekali, sementara Siauw ling masih berdiri tertegun Soh Boen sudah berada empat lima tombak jauhnya, buru-buru ia mengempos tenaga dan mengejar dari belakang.

Begitulah dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh dalam sekejap mata mereka berdua sudah berlari puluhan li jauhnya.

Dengan sekuat tenaga Siauw Ling menyusul dari belakang, sewaktu ia berada satu tombak dibelakang nona itu, mendadak Soh Boen berhenti berlari.

Siauw Ling tidak menyangka akan hal itu, hampir saja ia menubruk diatas tubuhnya, dalam keadaan terdesak cepat-cepat ia tarik napas dan mengerem kakinya.

“Waah, benar hebat sekali ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Siauw siangkong” puji Soh Boen sambil tersenyum.

“Huuh….! kenapa tak berjalan lagi.”

“Sudah sampai!” sahutnya sambil menuding kearah sebuah rumah gubuk yang muncul ditengah lebatnya pepohonan kurang lebih puluhan tombak dihadapan mereka. “Itu, dalam rumah gubuk tersebut!”

Memandang sekejap kearah rumah gubuk tersebut, bibir Siauw Ling bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun akhirnya maksud itu diurungkan.

Perlahan Soh Boen berjalan memasuki hutan tersebut, sambil berjalan katanya, “Siauw siangkong dalam pembicaraanmu nanti setelah berjumpa dengan nona Gak, harap kau suka sedikit berhati-hati.”

“Kenapa?”

“Ia sudah cukup sengsara, kau tak boleh menyakiti hatinya lagi.”

“Baiklah cayhe akan berusaha untuk menyabarkan diri!”

Sementara pembicaraan masih berlangsung mereka semakin mendekati rumah itu.

Ketika tiba didepan rumah gubuk, Soh Boen segera mengetuk pintu.

Seorang gadis cantik berbaju serba merah dan menyoren pedang berdiri membuka pintu.

“Apakah nona ada didalam?” bisik Soh Boen lirih.

Gadis berbaju merah itu memperhatikan sekejap diri Siauw Ling lalu mengangguk.

“Nona ada didalam, Siauw siangkong silahkan masuk!”

Siauw Ling melengak, pikirnya, “Darimana dayang ini bisa tahu kalau aku she Siauw?” sementara otaknya berputar kakinya telah melangkah masuk kedalam ruangan.

Tampaklah perabot dalam ruang itu amat sederhana sekali, kecuali sebuah meja serta empat buah kursi bambu tiada benda lain yang tampak.

Disebelah kiri terdapat sebuah dinding terbuat dari bambu yang dilapisi kain kasar berwarna biru sebagai horden memisahkan gubuk itu menjadi ruangan bagian luar serta ruang bagian dalam.

Soh Boen tetap tinggal diluar gubuk itu sedang gadis berbaju merah mengikuti dibelakang Siauw Ling masuk keruang dalam bisiknya, “Siangkong, tunggulah sejenak akan kulaporkan kedatanganmu kepada nona!”

Terdengar dari balik horden berkumandang keluar suara seorang perempuan yang nyaring, “Kau boleh segera mengundurkan diri!”

Horden tersingkap dan perlahan-lahan muncullah seorang gadis berbaju ungu yang sangat ketat.

Dayang berbaju merah tadi segera mengiakan dan mengundurkan diri dari ruangan tersebut.

Dengan tajam Siauw Ling perhatikan wajah gadis berbaju ungu itu, sedikitpun tak salah, dia bukan lain adalah Gak Siauw Cha yang telah berpisah selama lima tahun dengan dirinya, hanya saja pada saat ini wajah kelihatan jauh lebih cantik.

Diantara kerutan alis gadis itu nampak selapis kabut kesedihan yang tebal, namun ia paksakan juga untuk tersenyum manis.

“Apa yang kau lihat?” tegurnya. “Apakah sudah tak kenal lagi dengan encimu??”

Dengan penuh rasa hormat Siauw Ling menjura kepada gadis itu, sahutnya, “Selama banyak tahun suara serta wajah enci selalu terselubung dalam benak siauwte siapa bilang aku sudah tidak kenal dirimu lagi?”

“Aaai…. kau sudah banyak berubah, andaikata secara tiba-tiba aku berjumpa dengan dirimu mungkin cici sudah tidak dapat mengenali dirimu lagi!”

“Cici, aku sudah berubah jadi makin hebat….”

“Dan kaupun makin dewasa” Gak Siauw Cha menambahkan. “Ketika berpisah dahulu, kau masih merupakan seorang bocah cilik yang kurus dan berpenyakitan, sekarang kau telah menjadi seorang pemuda tampan yang gagah dan perkasa. Aaai….! waktu selama lima tahun tak bisa terhitung pendek, namun tak bisa pula terhitung panjang, tetapi selama ini sudah banyak perubahan yang terjadi….”

Ketika mendengar ucapan itu mengandung rasa sedih dan murung yang tak terkirakan Siauw Ling merasa amat tercengang pikirnya, “Sepanjang pengetahuanku enci Gak adalah seorang gadis yang gagah dan keras hati, kenapa sekarang jadi begitu murung dan sayu?”

Ia segera mendongak, dilihatnya dibalik sepasang biji matanya yang jeli tampak kerlinan titik-titik air mata, hal ini semakin mengejutkan hatinya lagi, buru-buru serunya, “Cici, kenapa kau?”

“Aku sangat baik!” jawab Gak Siauw Cha tersenyum. “Sudah banyak tahun kita tak berjumpa, ini hari kita harus bercakap-cakap dengan sebaik-baiknya!”

Ia putar badan membelakangi si anak muda itu dan diam-diam menyeka air mata yang mulai meleleh keluar.

Teringat akan pengalamannya yang menyedihkan serta kejadian-kejadian yang membuat gadis itu sengsara, tak tahan Siauw Ling ikut bersedih hati. Sambil menghela napas panjang katanya, “Cici, selama banyak tahun kau tentu sangat menderita bukan?”

“Sejak kecil cici sudah berkelana didalam dunia persilatan, apa artinya menderita sedikit penderitaan? justru kaulah yang sejak kecil biasa dimanja dan disayang oleh orang tua entah bagaimana caranya kau lewati hati-hati yang penuh kesengsaraan itu?”

“Walaupun merasakan penderitaan tapi itu sudah berlalu semua, bukankah saat ini keadaanku baik-baik saja?”

“Ehmm! kini kau sudah lebih besar dari pada tempo dulu, keadaanmu bagaikan dua orang yang berbeda. Dan sekarang namamu sudah tersohor diseluruh kolong langit, rasanya semua penderitaan itu tidak sia-sia belaka.”

“Siauwte bisa berhasil seperti ini hari, kesemuanya adalah berkat bantuan dari cici….”

“Cici tak dapat baik-baik merawat dirimu sehingga membuat kau bergelandangan dalam dunia kangouw sambil menderita, kalau teringat cici merasa amat tidak tenteram.”

“Aaai…. urusan yang sudah lewat biarkanlah berlalu, apa gunanya enci mengungkapnya kembali?”

Gak Siauw Cha menghela napas panjang, akhirnya sambil menuding sebuah kursi bambu disisinya ia berkata, “Duduklah dahulu, agar kita bisa berbicara lebih enak.”

“Cici, kaupun duduklah!”

Gak Siauw Cha mengangguk dan duduk lalu katanya lagi, “Saudaraku, ceritakanlah pengalamanmu selama banyak tahun ini.”

Siauw Ling termenung sejenak, kemudian berceritalah ia semua pengalamannya selama lima tahun belakangan.

Dengan seksama Gak Siauw Cha mendengarkan kisah pengalaman itu, akhirnya ia berkata, “Seorang diri kau berhasil mendapatkan warisan ilmu silat dari tiga orang loocianpwee, kalau dihitung-hitung rejekimu besar juga.”

Mendadak Siauw Ling teringat kembali akan peristiwa kemarin malam, segera ujarnya, “Cici, dalam hati siauwte mempunyai satu kecurigaan yang tak kupahami, kalau kutanyakan harap cici jangan marah lhoo….!”

“Apakah persoalan mengenai tak maunya aku menemui dirimu kemarin malam….?”

“Sedikitpun tidak salah, siauwte benar-benar tidak mengerti apa sebabnya enci tak mau berjumpa dengan diriku?”

“Persoalan yang sudah lewat tak usah dibicarakan lagi, bukankah sekarang kita duduk saling berhadapan muka?”

“Selama banyak waktu enci selali membantu diriku secara diam-diam, dalam hati siauwte merasa sangat berterima kasih.”

“Sudahlah, tak usah kau bicarakan tentang persoalan itu. Kalau dikatakan bukankah kau terlalu pandang asing diriku?”

Sepanjang pembicaraan itu berlangsung, Siauw Ling selalu memperhatikan perubahan wajah Gak Siauw Cha, sedikitpun tidak salah ia temukan walaupun dalam berbicara atau tertawa namun gadis itu tak dapat menutup kemurungan serta kesedihan hatinya.

Maka ia lantas berkata, “Cici, rupanya kau mempunyai banyak persoalan yang merisaukan hati….?”

“Aaaai…. persoalan yang kupikirkan hanya satu, tapi tak bisa hilang dari benakku, hal ini membuat aku yang bingung dan tak tahu apa yang harus kulakukan.”

“Persoalan apa? dapatkah kau ceritakan kepada siauwte?”

Gak Siauw Cha membenahi rambutnya yang kacau, lalu menghela napas panjang.

“Cici merasa bingung, entah aku harus berbicara mulai dari mana.”

“Persoalan apa sih yang tampaknya begitu serius?” tanya Siauw Ling tertegun.

Sepasang biji mata Gak Siauw Cha yang jeli menatap wajah si anak muda itu tajam-tajam, kemudian katanya, “Saudaraku, kini kau telah dewasa, keadaanmu jauh berbeda kalau dibandingkan dengan keadaanmu dimasa masih kecil….”

“Benar, walaupun siauwte belum lama terjunkan diri kedalam dunia persilatan tetapi sudah banyak badai besar serta mara bahaya yang kualami. Aaai…. hidup selama beberapa bulan dalam dunia persilatan bagaikan hidup selama sepuluh tahun lamanya. Aku percaya sudah banyak pengalaman yang kudapatkan. Cici, ada persoalan apa yang merisaukan hatimu, katakanlah kepada siauwte, mungkin siauwte dapat menolong cici untuk mengurangi penderitaan tersebut.”

“Saudaraku, bukankah kau kenal dengan seorang nona she Pek li?” ujar Gak Siauw Cha dengan wajah serius.

“Dia adalah putri dari Pak Thian Coen Cu yang bernama Pek Li Pang.”

Setelah menghela napas panjang tambahnya, “Ia telah berulang kali melepaskan budi pertolongan kepada diri siauwte!”

“Apakah kau hendak membalas budi pertolongannya itu?”

“Siauwte bukanlah seorang lelaki yang suka melupakan budi orang, tentu saja budi kebaikannya itu harus kubalas.”

“Saudaraku, aku ingin menanyakan lagi satu persoalan dengan dirimu!”

“Asal siauwte tahu, tentu akan kukatakan semua menurut kemampuanku.”

“Andaikata seseorang pernah berhutang budi atas pertolongan seseorang terhadap jiwa serta keselamatannya, bagaimana harus kau balas budi kebaikannya itu?”

“Tentang soal ini? sulit untuk dikatakan” sahut Siauw Ling setelah tertegun sejenak.

“Kenapa?”

0 Response to "Rahasia Istana Terlarang Jilid 29"

Post a Comment