close

Rahasia Istana Terlarang Jilid 16

Jilid 16

“Thio heng” ujar Siauw Ling. “Cayhe punya beberapa patah kata yang rasanya tidak pantas untuk diutarakan. Setelah kuucapkan nanti harap Thio heng jangan marah.”

“Siauw heng ada urusan apa silahkan tuturkan keluar.”

“Ia paksa kau untuk memelihara binatang beracun seperti ini sudah jelas orang itu punya maksud-maksud tertentu yang keji, demi menghindarkan umat manusia dari ancaman bahaya, cayhe ingin memusnahkan binatang-binatang terkutuk tersebut, entah bagaimana menurut pendapat Thio heng?”

“Bagaimana kalau aku putuskan dahulu otot-otot kerbau yang membelenggu kaki Thio heng?” ujar Sang Pat sambil keluarkan sebilah pisau belati dari dalam sakunya.

“Tak usah, setelah dibelenggu selama banyak tahun kakiku telah mengering dan darah didalam kakiku mungkin sudah mengering pula sekalipun otot-otot kerbau itu kalian potong, belum tentu aku bisa jalan sendiri.”

“Tidak mengapa, seandainya Thio heng tidak dapat jalan akan cayhe gendong dirimu.”

Thio Kie An angkat kepala dan menghembuskan napas panjang.

“Maksud baik saudara sekalian akan cayhe terima didalam hati….”

Belum habis ia berbicara, mendadak terdengar teguran yang sangat dingin berkumandang, “Thio Kie, kau lagi berbicara dengan siapa?” air muka Thio Kie An berubah hebat buru-buru ia ulapkan tangannya seraya berseru, “Harap cuwi sekalian menyembunyikan diri, ada orang datang.”

“Haaa…. haaa…. haaa…. kamu semua masih ingin menyembunyikan diri?”

Siauw Ling dengan cepat berpaling kearah mana berasalnya suara tadi, tampak seorang manusia berbaju hitam dengan wajah dibungkus oleh kain hitam perlahan-lahan muncul dari balik hutan.

Rupanya orang itu tidak menyangka kalau disitu telah hadir begitu banyak orang setelah bertemu dengan Siauw Ling sekalian ia nampak radaan tertegun.

“Jangan biarkan dia, lebih baik kita tangkap dia dalam keadaan hidup-hidup” bisik Siauw Ling. Sang Pat mengiakan, ia maju kedepan menjura dan menegur, “Hai apa kabar? sudah lama kita tak pernah saling berjumpa, apakah looko selama ini berada dalam keadaan baik-baik saja?”

“Siapa kau? cayhe tidak pernah merasa kenal dengan dirimu, kenapa kau sebut saudara dengan diriku?”

“Empat saudara kuanggap semua sebagai saudara seandainya cayhe sebut kau sebagai looko rasanya tidak salah bukan.”

“Hmm, kalau memang tidak saling mengenal, buat apa kau panggil aku dengan sebutan begitu mesra.”

Sementara itu Sang Pat telah berada beberapa tombak dihadapannya, tiba-tiba bentaknya, “Kau beri arak kehormatan tak mau diminum, lebih baik arak hukuman saja kupanggil kau dengan sebutan looko kau tidak senang hati…. baiklah akan kupanggil dirimu sebagai cecunguk saja.”

Orang itu melengak, sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu dengan gerakan burung elang menubruk kelinci Sang Pat telah menerkam kearahnya.

Ilmu silat yang dimiliki orang berbaju hitam itu tidak lemah juga, menyaksikan Sang Pat menerkam tiba-tiba mendadak tangan kanannya membalik. Tahu-tahu sebilah pisau pendek telah dihujamkan keatas.

“Keparat cilik, lumayan juga ilmu silatmu” puji Sang Pat, telapak kirinya membabat keluar mengunci datangnya serangan belati tersebut, sementara tangan kanannya dengan ilmu mencengkeram menyambar pergelangan orang itu.

Dengan cepat orang berbaju hitam itu putar pisaunya menciptakan selapis cahaya untuk melindungi badan.

Sang Pat mengempos tenaga, badannya merendek kebawah lalu putar telapak dengan ilmu merampas senjata yang dikembangi ilmu cengkeraman ia layani orang itu dengan suatu serangan sengit.

Namun ilmu golok orang itu lihay sekali, beruntun sampai dua kali Sang Pat nyaris kena tusuk. Hal ini membuat si sie poa emas jadi kaget, heran bercampur gelisah pikirnya, “Kalau aku tak bisa tangkap orang ini dalam keadaan hidup-hidup, bagaimana aku bisa bertanggung jawab dihadapan toako nanti?”

Berpikir begitu permainan telapaknya segera berubah, tangan kiri menghantam kemuka dengan jurus Genta emas dipalu nyaring, sedang tangan dengan gerakan Serat Emas mengikat pergelangan menyodok pergelangan tangan orang itu dengan keras lawan keras.

Dalam keadaan gelisah serangan tangan kiri amat dahsyat sekali, orang berbaju hitam itu ingin putar pisaunya untuk menyelamatkan diri namun serangan Sang Pat memaksa pisaunya terayun diluar garis, pada saat itulah tangan kanan musuhnya nyelonong masuk lewat tengah dan mencengkeram pergelangan kirinya.

“Haaa…. haaa…. haaa…. keparat cilik” seru Sang Pat sambil tertawa terbahak-bahak. “Kau bisa layani serangan aku orang she Sang sampai puluhan jurus, ini berarti ilmu silatmu lumayan juga, ayo cepat buang pisaumu keatas tanah.”

Sembari berbicara kelima jarinya ditambahi dengan sebagian tenaga. Orang berbaju hitam itu menurut sekali, tanpa banyak bicara ia buang senjatanya keatas tanah.

Sang Pat ayun tangan kirinya ambil senjata lawan dari atas tanah, tangan kanan mencengkeram tubuh orang berbaju hitam dan mengangsurkannya kehadapan Siauw Ling.

Menyaksikan kepandaian silat Sang Pat yang berhasil menangkap orang berbaju hitam itu dengan bertangan kosong, Thio Kie An merasa kagum, gumamnya, “Aaai…. seandainya tempo dulu cayhepun belajar ilmu silat, ini hari aku tidak nanti sampai ditangkap orang dan diperintah sekehendak hatinya.”

Mendengar perkataan itu diam-diam Sang Pat merasa geli, pikirnya, “Kau anggap belajar silat itu gampang? sekalipun kau belajar ilmu silat selama tiga sampai lima tahun, sama saja dirimu bakal kena ditangkap orang juga, bahkan keadaannya akan bertambah runyam….”

Pada saat itu Siauw Ling telah alihkan sinar matanya kearah orang berbaju hitam itu.

“Coba lepaskan kain hitam yang menutupi wajahnya!” tiba-tiba ia memerintahkan.

Sang Pat tersenyum.

“Sahabat, dengan secarik kain hitam kau tutupi wajahmu, sebenarnya apa maksudmu? apakah kau punya bagian tubuh yang tak boleh dilihat orang?”

Sementara bicara tangan kirinya sudah bekerja cepat dan melepaskan kain hitam yang menutupi wajah orang itu.

Tapi dengan cepat semua orang berdiri tertegun, kiranya wajah orang berbaju hitam itu terdapat sebuah lubang besar, ternyata ia tidak punya batang hidung.

“Aaai…. perbuatan pemilik goa hitam sungguh kejam sekali, kekejiannya tidak berada dibawah orang-orang perkampungan Pek Hoa San tjung” ujar Siauw Ling sambil menghela napas, ia pandang sekejap wajah orang itu lalu menambahkan: “Apakah hidungmu dipapas orang?”

Sebenarnya wajah orang berbaju hitam itu menunjukkan sikap keras kepala, tapi setelah mendengar ucapan Siauw Ling ia menghela napas panjang.

“Tidak salah memang dipapas orang!”

“Cayhe adalah Siauw Ling, harap heng thay jangan takut, asalkan kau suka memberitahukan jejak pemilik goa hitam itu pada cayhe, aku akan bertanggung jawab membawa kau meninggalkan tempat ini dengan selamat.”

“Aaai…. sayang…. sudah terlambat!” orang itu menggeleng.

“Kenapa?”

Terdengar orang itu mendengus berat, ia muntah darah kental dan roboh binasa.

Melihat orang itu mati, Siauw Ling berpaling kearah Sang Pat seraya berseru, “Perbuatan pemilik goa hitam amat keji sekali, kita tak boleh duduk sambil berpeluk tangan belaka. Kita harus berusaha mendongkel sarang mereka, menggusur mereka keluar dan menghancurkannya, dari pada selain perkampungan Pek Hoa San tjung bertambah pula seorang bibit bencana yang akan mencelakai umat manusia.”

“Aaai…. hawa pembunuhan yang meliputi dunia persilatan dewasa ini boleh dibilang merupakan saat yang paling gelap selama ratusan tahun belakangan. Awan gelap telah menyelimuti seluruh jagat sedang toako merupakan rembulan ditengah kegelapan, harapan umat Bulim tertumpah dipundakmu semua.”

Sementara mereka masih bercakap-cakap mendadak terdengar suara dengusan nyaring berkumandang datang.

“Harap cuwi sekalian cepat masuk kedalam kelambu ini. Lalat darah segera akan munculkan diri!” teriak Thio Kie An dengan cemas.

Sang Pat bersuit rendah, secara tiba-tiba anjing yang berada disisinya lari kemuka.

Pada saat itu Ong Hong telah menyingkap kelambu dan menerobos masuk kedalam.

Rupanya dalam hati Siauw Ling merasa tidak puas seluruh perhatiannya dipusatkan jadi satu. Sambil memandang kearah tanah rerumputan ia siap sedia menghadapi segala sesuatu.

Melihat sikap toakonya, cepat-cepat Sang Pat mendorong pemuda she Siauw itu masuk kedalam kelambu, ujarnya, “Toako, cepat masuk kedalam kelambu, tak usah kita menempuh bahaya dengan sia-sia!”

“Aku tak percaya Lalat darah serta Kelabang bersayap emas itu benar-benar sangat lihay sehingga dapat makan manusia.”

“Harap cuwi berdua cepat masuk kemari” terdengar Thio Kie An berteriak lagi. “Kalau terlambat, keadaan akan tidak menguntungkan bagi kalian!”

Siauw Ling yang didorong Sang Pat masuk kedalam kelambu, baru saja ia berdiri tegak tampaklah dari tengah tanah rerumputan yang luas mendadak muncul sebuah lubang sebesar tiga depa lebih disusul terbangnya beribu-ribu ekor serangga hitam yang panjangnya mencapai satu coen.

Buru-buru Thio Kie An berseru kembali, “Ada orang sengaja melepaskan Lalat darah, harap cuwi sekalian bertindak hati-hati, perhatikan sekeliling kelambu itu, dalam lambung lalat darah mengandung racun yang amat keji barang siapa yang kena tergigit oleh mereka, jiwanya tak dapat ditolong lagi.”

Sementara ia mengucapkan beberapa patah kata itu, berjuta-juta ekor lalat darah telah terbang menyelimuti seluruh angkasa. Suara dengusan yang nyaring sangat memekikkan telinga.

Dengan seksama Siauw Ling memperhatikan binatang itu, ia temui seluruh tubuh Lalat darah itu berwarna hitam kehijau-hijauan daya terbangnya sangat kuat lagi pula cepat laksana sambaran petir, begitu banyak jumlah makhluk berbisa tadi sehingga angkasa terasa jadi gelap.

“Binatang berbisa yang sangat lihay” bisik Thio Kie An sambil menghela napas panjang.

Mendengar gumamnya itu Siauw Ling tersentak kaget, sebab iapun dapat saksikan diatas mayat yang menggeletak diatas tanah rerumputan itu sudah dipenuhi dengan lalat darah. Terlihatlah mayat itu dengan cepat menyusut jadi kecil dan dalam sekejap mata telah tinggi kulit pembungkus tulang belaka.

“Thio heng” ujar Sang Pat. “Lalat darah ini betul-betul ganas dan keji, apakah kau punya cara untuk menaklukkan mereka.”

“Pada saat serta keadaan seperti ini kendati cayhe punya cara menaklukkan mereka yang paling baguspun percuma saja, terpaksa kita harus menunggu mereka sampai masuk kembali kedalam sarangnya, melepaskan api dan bakar mereka musnah.”

“Aaah, Lalat darah itu sudah datang!” mendadak terdengar Ong Hong berseru tertahan, tangannya diayun siap-siap melancarkan serangan.

Kiranya ada berpuluh-puluh ekor Lalat darah yang menyiarkan bau buruk sedang melayang kearah kelambu.

“Jangan turun tangan” buru-buru Thio Kie An mencegah. “sekalipun seranganmu itu berhasil membinasakan beberapa ekor lalat darah namun seandainya kelambu itu sampai robek maka mereka akan terbang masuk kedalam. Kita berempat jangan harap bisa hidup lebih lanjut.”

“Seandainya mereka berkumpul makin lama makin banyak sehingga kelambu ini jebol, bagaimana keadaan kita?”

“Tidak mengapa, kelambu ini dibuat dari sejenis serat marang yang berkualitas paling tinggi, tidak nanti binatang itu bisa menembusinya.”

Pada saat kedua orang itu sedang melangsungkan tanya jawab, Lalat darah yang berkumpul diluar kelambu kian bertambah banyak dalam sekejap mata seluruh tempat kosong sudah dipenuhi oleh binatang tersebut hingga menutupi cahaya.

Laksana kilat Siauw Ling mengenakan sarung tangan kulit naganya, lalu berkata, “Saudara Sang kau jaga bagian bawah, jangan sampai ada lalat darah yang menerobos masuk kedalam kelambu. Ong heng kau jagalah bagain atas!”

“Jangan kalian sentuh lalat darah itu dengan tangan, agar tubuh kalian tidak sampai keracunan” Thio Kie An memperingatkan.

Sang Pat ambil keluar pisau belati dan diserahkan ketangan Ong Hong pesannya, “Ong heng didalam kelambu tidak leluasa bagimu menggunakan senjata panjang. Gunakan pisau ini untuk membinasakan lalat darah yang berhasil menerobos masuk kedalam!”

Ong Hong tidak menampik, ia terima pisau belati itu.

Sang Pat yang punya pengalaman sangat luas ketika hendak masuk kedalam kelambu tadi sudah mempersiapkan sebatang ranting panjang beberapa depa. Saat ini ia cekal benda itu bersiap sedia.

Pada waktu itulah lalat darah telah mengelilingi seluruh kelambu. Bau busuk yang amat menusuk hidung berhembus masuk tiada hentinya.

Makin banyak lalat darah yang berkumpul diluar kelambu, semakin gelap suasana dalam kelambu tersebut hingga keadaan disitu bagaikan terkurung didalam sebuah kamar gelap.

Sambil mengerahkan pandangannya memeriksa keadaan kelambu, Sang Pat berbisik kepada Thio Kie An, “Thio heng, kau tahu cara memelihara lalat darah tentu tahu pula cara mengundurkan mereka bukan? terkurung terus didalam kelambumu bukanlah sesuatu jalan yang tepat.”

Sebelum Thio Kie An sempat menjawab tiba-tiba terdengar lagi suara teguran yang amat dingin berkumandang datang.

“Kalian semua telah terkurung oleh lalat darah. Asal cayhe melepaskan sebuah senjata rahasia saja yang merobek kelambu kalian. Lalat darah itu akan segera menerobos masuk kedalam kelambu dan cuwi sekalian bakal mati konyol terhisap darahnya oleh lalat darah tersebut. jumlah binatang itu mencapai berlaksa-laksa ekor banyaknya. Meski ilmu silat yang cuwi miliki lihaypun jangan harap bisa melawan.”

“Thio heng siapa orang itu?” tanya Siauw Ling.

“Mirip dengan suara majikan!”

“Tidak salah. Suara ini memang suara dari pemilik Goa hitam” Ong Hong menambahkan.

“Ehmm! Sang heng coba kau dengarkan dengan cermat beberapa kauh jaraknya dari sini?”

“Kurang lebih dua tombak!”

“Benar dengan dugaanku….” bisik Siauw Ling. Ia alihkan sinar mata kearah Thio Kie An dan menambahkan: “Kenapa ia tidak takut dengan Lalat darah?”

“Aku pikir kalau bukan ia sudah polesi tubuhnya dengan obat penawar sehingga menyebabkan Lalat darah tidak berani mendekati tubuhnya, tentu diapun bersembunyi didalam kelambu!”

“Apa? jadi ada sejenis obat yang dapat menaklukan Lalat darah?”

“Campuran beberapa macam bahan obat-obatan akan mengakibatkan timbulnya sejenis bau harum yang sangat aneh, setelah Lalat darah itu mencium bau harum mereka akan jauh-jauh menghindar dan tidak berani mendekat.”

“Aaai…. seandainya ia bersembunyi pula didalam kelambu, mungkin cayhe masih punya cara untuk menghadapi dirinya, seandainya ia sudah polesi badannya dengan sejenis obat rada sulit untuk menghadapinya.”

“Thio heng!” tiba-tiba Sang Pat teringat sesuatu. “Dapatkah kau buat obat tersebut?”

“Cara membuat obat itu tercatat sangat jelas dalam kitab pusaka itu, cuma saja ada dua jenis bahan obat utama yang sulit didapatkan, meski cayhe bisa membuatnya tapi sulit mendapatkan bahannya.”

Sementara itu terdengar suara yang dingin tadi kembali berkumandang, “Aku rasa apa yang cayhe ucapkan tadi sudah cuwi dengar. Saat ini bagi kalian semua cuma ada dua pilihan saja. Pertama, akan kubuka kelambu itu agar Lalat darah masuk kedalam dan menghisap darah kalian, kedua, menyerah kepadaku masuk jadi anggota perguruan Goa Hitam dan mendengar perintahku.”

Siauw Ling tertawa dingin, baru saja ia mau buka suara Sang Pat telah goyangkan tangannya mencegah.

“Menghadapi manusia keji macam dia tak usah kita bicarakan soal peraturan Bulim lagi” bisiknya. “Kita harus menggunakan siasat untuk mengelabui orang itu, serahkan saja kepada Siauwte….”

Ia merandek sejenak kemudian teriaknya, “Siapakah anda?”

“Cayhe adalah pemilik Goa Hitam.”

“Pemilik Goa Hitam? cayhe sudah jelajahi seantero jagat, kenapa belum pernah kudengar namamu?”

“Hingga kini cayhe belum pernah munculkan diri didalam dunia persilatan, suatu kali aku tampilkan diri, seluruh dunia pasti gempar dan sama-sama tunduk padaku.”

“Hanya dengan mengandalkan kekuatan Lalat darah ini?” jengek Siauw Ling.

“Lalat darah serta kelabang bersayap emas cuma dua jenis binatang racun peliharaan cayhe, itu masih belum terhitung makhluk yang lihay, meski begitu bukan suatu pekerjaan yang sangat gampang bagi cuwi sekalian untuk meloloskan diri dari ancaman mereka.”

“Setelah kami sekalian masuk anggota Goa Hitam kalian, apa yang hendak kau lakukan terhadap kami semua?”

“Gampang sekali, seandainya cuwi sekalian suka menjadi anggota Goa Hitam, asal kamu telan sebutir pil lalu memapas salah satu dari panca indra kalian, misalnya hidung atau telinga maka secara resmi kalian sudah menjadi anggota perguruan Goa Hitam kami.”

“Ciss…. peraturan apa itu?” maki Sang Pat didalam hati, sementara diluaran ia bertanya, “Tahukah kamu akan nama kami semua?”

“Haaaah…. haaah…. kalau orang yang kuhadapi adalah manusia kurcaci, tidak nanti cayhe bisa bersikap ramah terhadap kalian.”

“Dapatkah kau sebutkan nama kami?”

“Kalau penglihatanku tidak salah, kau adalah Lootoa dari Tiong Cho Siang Ku yang disebut orang sebagai si sie poa emas Sang Pat.”

Sang Pat melengak, dengan cepat tanyanya, “Lalu siapa yang satunya lagi?”

“Bukankah Siauw Ling yang punya nama besar?”

Sang Pat melirik sekejap kearah Siauw Ling dan bisiknya, “Aku rasa dia memang sengaja mancing kita sampai disini, tapi siauwte belum pernah mendengar ada orang yang disebut Pemilik Goa Hitam, dibalik peristiwa ini mungkin masih ada latar belakang lain.”

“Sekali tebak ia dapat menyebutkan nama kita kejadian ini sangat mencurigakan hati.”

Pada saat itu terdengar pemilik Goa Hitam berkata-kata, “Ong Hong! kau berani mengkhianati diriku. Hukuman mati takkan lolos dari dirimu.”

Ong Hong mengkeret, sambil melirik sekejap kearah Sang Pat bisiknya, “Kalau kita sampai kena ketangkap olehnya siksaan yang paling hebat pasti akan menanti diriku, cayhe lebih suka melawan sampai titik darah penghabisan dari pada terjatuh kembali ketangannya.”

Siauw Ling mengangguk, ia ulurkan tangannya kedepan dan ujarnya kepada Ong Hong, “Bagaimana kalau kau pinjamkan pisau belati itu kepadaku?”

Sejak tadi Ong Hong sudah dibikin ketakutan setengah mati, tanpa membantah ia angsurkan pisau belati itu ketangan Siauw Ling.

Dengan tangan kanan si anak muda itu mencekal pisau belati, ujarnya lirih, “Selama hidup aku orang she Siauw tidak pernah membokong orang, tapi keadaan pada saat ini sangat berbeda, terpaksa aku harus bertindak demikian.”

“Kita terpancing lebih dulu oleh siasat lawan kemudian terkurung ditempat ini, sekalipun kita melancarkan balasan dengan cara apapun, perbuatan kita tak dapat disebut sebagai suatu pembokongan.”

“Baik! coba kau ajak kembali dia bercakap-cakap, aku hendak mencari tahu tempat dimana ia berada.”

Kiranya diluar kelambu dimana beberapa orang itu terkurung telah dipenuhi oleh lalat darah, sehingga sulit bagi si anak muda itu untuk menyaksikan pemdangan diluar.

Dengan suara lantang Sang Pat segera berteriak, “Loo heng menyebut diri sebagai Pemilik Goa Hitam bahkan berdiam didalam hutan rimba yang gelap tak bersinar, aku pikir kau tentulah seorang manusia yang dapat bertemu dengan sinar matahari.”

Pemilik Goa Hitam tertawa dingin.

“Ilmu silat yang cayhe pelajari berbeda dengan orang lain, aku rasa siapapun bisa memahami keadaanku ini.”

Sementara itu Siauw Ling telah salurkan hawa kweekangnya, setelah berhasil menentukan letak pemilik Goa Hitam itu berada, mendadak ia ayunkan tangan kanannya, diiringi cahaya tajam sinar belati tadi segera meluncur kedepan.

Sinar berkilauan memancar keempat penjuru. Berpuluh-puluh ekor lalat darah kena tersambar dan hancur berantakan.

Tetapi dengan adanya kejadian ini maka kelambu itupun terobek kena sambaran pisau belati itu, dua ekor lalat darah dengan cepat menerobos masuk kedalam.

Siauw Ling telah bersiap sedia, ia ayunkan tangan kanannya memencet kedua ekor lalat darah tadi sampai mati sementara tangan kirinya dengan cepat menutup celah robekan diatas kelambu itu.

Gerakan tubuhnya sangat cepat, Thio Kie An yang sebenarnya hendak memperingatkan agar ia jangan sentuh lalat darah itu dengan tangan telanjang belum sempat kata-katanya meluncur keluar, Siauw Ling telah berhasil membinasakan kedua ekor lalat darah itu dan menutup kembali lobang diatas kain kelambu.

Dengan cepat berpuluh-puluh batang patuk lalat berbentuk jarum menusuk keatas tangan Siauw Ling lewat celah-celah kelambu.

“Siauw heng jangan biarkan tanganmu terpatuk lalat!” teriak Thio Kie An sangat terperanjat.

“Tidak mengapa, cayhe mengenakan sarung tangan.”

“Patuk lalat darah amat kuat dan tajam sekalipun kau pakai sarung tangan belum tentu tanganmu bisa selamat dari patukan mereka.”

“Tak usah kuatir, sarung tangan milik cayhe ini jauh berbeda dengan sarung tangan biasa, meski golok atau pedang yang bagaimana tajampun tidak nanti bisa melukai diriku.”

Ketika dilihatnya Siauw Ling sedikitpun tidak menunjukkan reaksi apapun kendati berpuluh-puluh ekor lalat mematuk telapak tangannya Thio Kie An pun tidak berbicara lagi.

Sang Pat sendiripun tahu bagaimana lihaynya ilmu pusaran dari Siauw Ling dalam hati pikirnya, “Semoga saja sambitan pisau belati tadi berhasil melukai pemilik goa hitam, dengan begitu kitapun bisa pusatkan segenap perhatian untuk menghadapi lalat darah ini….”

Siapa sangka walaupun sudah ditunggu sangat lama, namun sama sekali tidak kedengaran sedikit suarapun.

Pada waktu itu keempat orang yang berada didalam kelambu sama-sama berdiri sambil pusatkan seluruh perhatiannya, seperminum teh sudah lewat dengan cepat namun suara dari pemilik Goa Hitam tak pernah kedengaran lagi.

Tampak terasa Sang Pat mengerutkan dahinya.

“Sungguh aneh!” gumamnya. “Apakah pemilik Goa Hitam telah mengundurkan diri secara diam-diam.”

“Kita tak boleh terkurung terlalu lama dalam kelambu ini. Kita harus mencari akal untuk tinggalkan tempat ini.”

“Mungkin pemilik Goa Hitam sudah kena terhajar oleh pisau toako yang disambit dengan ilmu Hwie sian to dan segera diam-diam mengundurkan diri….” kata Sang Pat. Sinar matanya berbalik kearah Thio Kie An lalu tambahnya: “Thio heng apakah kau mempunyai cara yang bagus untuk mengundurkan lalat darah diluar kelambu?”

Sekalipun Thio Kie An cuma seorang pelajar, namun pandangannya terhadap soal mati hidup sangat hambat, dengan wajah yang tenang ia tertawa hambar.

“Satu-satunya jalan yang paling bagus dewasa ini hanyalah menunggu sampai malam menjelang tiba dan hawa mulai mendingin, dengan sendirinya mereka akan membubarkan diri!”

“Kenapa? apakah lalat darah ini takut dengan hawa dingin?”

“Lalat darah mempunyai dua keistimewaan yaitu pertama kekuatan makannya luar biasa, didalam dua belas jam kalau mereka tidak diberi makan maka sayap dan kaki akan menjadi lemas. Pada saat itu mereka tiada kekuatan lagi untuk melukai orang, kedua mereka takut kena sinar matahari terlalu lama.”

“Apakah kita harus menunggu selama berapa jam dalam keadaan seperti ini?” tanya Siauw Ling.

“Kecuali menunggu sampai mereka membubarkan diri sendiri, cayhe tidak mempunyai cara lain lagi.”

“Sekalipun kita bisa menanti dengan menyabarkan diri, belum tentu pemilik Goa Hitam itu memberi kesempatan kepada kita untuk menunggu lebih lanjut, dari pada kita terkurung didalam kelambu dan dibunuh orang jauh lebih baik kita terjang keluar dari sini dan adu jiwa dengan mereka.”

“Kau tidak akan mempunyai kesempatan untuk berbuat begitu” ujar Thio Kie An seraya menggeleng. “Begitu kalian keluar dari kelambu ini, maka lalat darah itu akan menyerang kalian dari empat arah delapan penjuru. Asal tubuh kalian satu kali saja maka didalam seperminum teh kemudian racun yang mengeram didalam tubuh akan segera bekerja seluruh badan akan jadi kaku dan segenap ilmu silat yang dimiliki jadi punah. Pada waktu itu tubuh kalian jadi lemas dan darah seluruh tubuhmu akan dihisap mereka sampai kering….”

Ia merandek sejenak, tiba-tiba tambahnya, “Kecuali kau dapat menyembunyikan seluruh tubuhmu dibalik pakaian yang kebal terhadap bacokan senjata dan tusukan tombak.”

Sementara Siauw Ling hendak menjawab tiba-tiba plaaak! sementara cahaya biru meluncur kearah kelambu.

Siauw Ling bertindak cepat, tangan kanannya yang memakai sarung tangan berkulit naga dengan cepat berkelebat menerima cahaya tadi yang ternyata bukan lain adalah sebilah golok terbang.

“Criiit! criiit” ranting kayu ditangan Sang Pat menyambar kesana kemari, dengan gerakkan kilat iapun berhasil menghajar mati dua ekor lalat darah yang menerobos masuk kedalam kelambu dengan menggunakan kesempatan itu.

Tetapi lalat darah itu tidak takut mati, tercium bau hawa manusia dengan ganasnya mereka menerjang kearah kelambu. Setiap ada ruang kosong yang ditemui dengan cepat mereka menerobosnya.

Buru-buru Siauw Ling buang golok terbang yang dicekalnya lalu dengan tangan kanan ia cekal kelambu yang robek terkena sambitan senjata tadi.

Pada saat ini kedua belah tangannya pemilik Goa Hitam melancarkan serangan senjata rahasia lagi sehingga salah satu bagian lain dari kelambu itu robek, niscaya lalat darah itu akan menerobos masuk dan menghisap darah keempat orang itu.

Tapi sungguh aneh sekali, setelah orang itu melepaskan sebilah golok terbang lama sekali suasana tetap berada dalam keadaan hening dan tenang.

Kesunyian menjelang suatu kematian yang mengerikan membuat Sang Pat yang sudah banyak pengalamanpun dibikin sedikit gelagapan, ia tengok sekejap kearah Thio Kie An dan bertanya, “Sebenarnya apa yang sudah terjadi?”

“Tentang soal ini dari mana cayhe bisa tahu?”

Ditengah kesunyian yang sangat menjemukan itulah, mendadak terdengar suara seorang perempuan berkumandang datang, “siapakah yang terkurung disitu?”

Begitu suara wanita ini berkumandang datang, Siauw Ling serta Sang Pat sama-sama tersentak kaget.

“Toako, bukankah itu suara dari Kiem Hoa Hujien?” bisik Sang Pat.

“Tidak salah, dia kok bisa sampai kesini. Apakah pemilik Goa Hitam punya hubungan dengan Djen Bok Hong?”

Sementara itu terdengar suara seorang pria menjawab, “Orang yang terkurung disitu adalah Sang Pat salah seorang dari Tiong Cho Siang Ku serta Siauw Ling!” jelas orang yang menjawab adalah pemilik Goa Hitam.

“Haaah…. haaah…. Siauw Ling? aku adalah orang yang paling suka cari gara-gara dengan mereka ini hari seandainya mereka berhasil kau tawan peristiwa ini betul-betul merupakan suatu kejadian yang patut digirangkan dikemudian hari kejadian ini akan menggetarkan dunia persilatan.”

“Watak orang yang bernama Siauw Ling itu benar-benar keras kepala. Ia tak sudi masuk menjadi anggota perguruan Goa Hitam kami. Rupanya terpaksa aku harus robek kelambu mereka agar lalat darah itu berpesta pora!”

“Aaah kalau digitukan aku rasa sayang” seru Kiem Hoa Hujien keras. Rupanya ia ada maksud agar Siauw Ling sekalian dapat mendengar suaranya.

“Apa yang patut disayangkan?”

“Tahukah kau akan nama besar Siauw Ling dalam dunia persilatan dewasa ini?”

“Selama banyak tahun aku jarang meninggalkan Goa Hitam. Nama Siauw Lingpun hanya kudengar dari mulut orang lain. Keadaan yang sedalamnya aku kurang begitu jelas. Hanya saja kalau terhadap Tiong Cho Siang Ku dimasa yang silam aku pernah berjumpa sekali dengan mereka, kedua orang itu memang jago-jago kenamaan!”

“Orang itu pernah bertemu denganku!” pikir Sang Pat. “Siapa dia? kenapa aku tak dapat mengingatnya?”

Terdengar Kiem Hoa Hujien telah berkata kembali, “Walaupun Siauw Ling belum lama munculkan diri didalam dunia persilatan, tapi nama besarnya telah menggetarkan seluruh Bulim, seandainya kau biarkan darahnya dihisap oleh lalat darah. Sekalipun dikemudian hari kau ceritakan kisah ini kepada orang lain, orang belum tentu mau percaya.”

“Kenapa?”

“Sebab nama Siauw Ling sangat tersohor, seandainya kau benar-benar membunuh dirinya, jangan dibilang orang lain tidak percaya sekalipun aku Kiem Hoa Hujien yang belum pernah jumpa dengan diapun tidak percaya kalau ia benar-benar dapat terkurung oleh lalat darahmu.”

“Haaa…. haaa…. kalau begitu aku tak boleh membiarkan Siauw Ling mati karena lalat darah itu.”

“Tidak salah, asal kau bisa tangkap dia dalam keadaan hidup-hidup maka nama besarmu segera akan tersohor diseluruh kolong langit!”

“Benarkah begitu?”

“Semua perkataanku muncul dari hati sanubariku, tak sepotong katapun aku membohongi dirimu kalau kau tidak percaya juga…. yaah apa boleh buat!”

“Tetapi watak Siauw Ling terlalu keras kepala ia tak mau masuk jadi anggota perguruan Goa Hitam kami, menahan dirinya sama berarti meninggalkan bibit bencana bagiku dikemudian hari.”

“Kau kalau ingin menangkap dirinya dalam keadaan hidup-hidup maka kita harus menggunakan sedikit akal, biarkan mereka berada dalam keadaan begini lebih lamapun tidak mengapa karena Siauw Ling…. karena Siauw Ling….” mendadak suaranya jadi rendah hingga sukar ditangkap.

Terdengar pemilik Goa Hitam memuji tiada hentinya, “Perkataan Hujien sedikitpun tidak salah, pendapatmu sungguh membuat cayhe merasa kagum.”

“Toako!” bisik Sang Pat segera. “Kiem Hoa Hujien pasti sedang berusaha menyelamatkan jiwamu.”

“Hati perempuan ini sukar diduga, siapa tahu kalau ia sedang main setan dengan kita?”

“Kalau dilihat keadaannya mungkin tidak salah lagi, terhadap orang lain ia bisa bertindak kejam tapi sikapnya terhadap dirimu jauh berbeda.”

Beberapa saat kemudian sudah lewat, tiba-tiba dari balik celah diatas tanah rerumputan berkumandang suara suitan yang sangat aneh, lalat-lalat darah yang berkumpul diatas kelambu tiba-tiba terbang keangkasa setelah mendengar suara tadi dan kembali semua kedalam celah.

Sinar mataharipun mulai memancar kembali kedalam kelambu, waktu tengah hari baru saja lewat.

Siauw Ling hendak menyingkap kelambu dan berjalan keluar, namun dengan cepat Thio Kie An telah berseru, “Siauw heng, harap tunggu sebentar lagi.”

“Kenapa?”

“Pemilik Goa Hitam mempunyai sebuah kurungan hitam untuk menyimpan lalat darahnya, apabila ia bersembunyi dibelakang pohon dan menunggu sampai kau keluar dari kelambu kemudian melepaskan lalat darahnya kembali pada saat itu mungkin kau tidak akan sempat lari balik kedalam kelambu lagi.”

Siauw Ling termenung sejenak lalu menjawab, “Sekalipun harus bertemu dengan mara bahaya, aku rasa jauh lebih baik daripada terkurung terus didalam kelambu ini.”

Ia singkap kelambu dan segera meloncat keluar.

“Cepat mundur kembali kedalam kelambu!” terdengar suara lirih yang amat lembut berkumandang datang.

Tak usah dipikir lagi Siauw Ling dapat mengenali suara itu sebagai suara dari Kiem Hoa Hujien yang memberi peringatan dengan ilmu menyampaikan suara. Tidak sempat berpikir panjang lagi ia loncat kebelakang dan masuk kembali kedalam kelambu.

“Kenapa?” tanya Sang Pat segera. “Apakah diluar kelambu ada jebakan lain?”

“Tidak ada, Kiem Hoa Hujien memperingatkan aku agar segera kembali kedalam kelambu dengan menggunakan ilmu menyampaikan suaranya.”

“Nah, kalau begitu beres sudah!” seru Sang Pat tersenyum.

“Apa yang beres?”

“Kalau ia tak punya rencana yang matang tidak nanti Kiem Hoa Hujien suruh kau kembali kedalam kelambu.”

“Dari mana kau bisa tahu?”

“Kiem Hoa Hujien adalah manusia cerdik lagi pula semua sakunya penuh dengan makhluk berbisa, dengan wataknya yang keras cara apapun bisa ia dapatkan, seandainya ia benar-benar ada maksud menolongmu, maka akalnya pasti akan digunakan.”

Sementara mereka masih bercakap-cakap terdengar gelak tawa Kiem Hoa Hujien yang merdu berkumandang datang, “Saudara Siauw, kau tidak terluka kan?”

“Aku sangat baik.”

“Sekarang kau boleh keluar” kembali Kiem Hoa Hujien berkata sambil menyingkap kelambu itu.

Siauw Ling segera loncat keluar dari kelambu disusul Sang Pat dibelakangnya, dibawah sorotan sinar matahari tampaklah air muka Kiem Hoa Hujien pucat seperti mayat, rambutnya kusut seakan-akan baru saja bangun dari tidur.

Rupanya kesehatan wanita ini belum pulih kakinya lemas dan tak kuat menahan daya berat badannya, baru saja maju beberapa langkah badannya sempoyongan dan hampir saja jatuh tengkurap keatas tanah.

Dengan cepat Siauw Ling sambar badan Kiem Hoa Hujien lalu dipayangkan.

“Cici, apakah lukamu radaan baik?”

“Tidak mengapa, mungkin jiwaku takkan melayang.”

Dari mulut Boe Wie Tootiang, ia sudah banyak mendengar akan jerih payah Kiem Hoa Hujien untuk menolong jiwanya, sebetulnya dalam hati ia kepingin mengucapkan beberapa patah kata untuk menyampaikan terima kasihnya tetapi dia bingung apa yang harus diucapkan akhirnya sambil menghela napas panjang tanyanya, “Dimana pemilik Goa Hitam itu!”

“Ia kena kubokong dan roboh terpagut ular berbisa, sekalipun ilmu silat yang ia miliki sangat lihay jangan harap jiwanya bisa tetap hidup selama dua belas jam!”

“Didalam Goa Hitam itu semuanya berdiam dua orang” tiba-tiba Ong Hong menyela. “Majikan lelaki kalau terluka, majikan perempuan pasti akan melakukan pengejaran!”

“Oleh karena itulah kita harus cepat-cepat melarikan diri” sambung Kiem Hoa Hujien. “Menurut apa yang kuketahui, dalam Goa Hitam itu mungkin masih berdiam berpuluh-puluh orang jago Bulim yang berkepandaian tinggi!”

“Darimana cici bisa kenal dengan pemilik Goa Hitam itu?”

“Kalau diceritakan amat panjang sekali. Tempat ini bukan tempat yang baik untuk berbicara. Mari kita cari tempat untuk menyembunyikan diri. Nanti kuceritakan kepadamu!”

“Seandainya pemilik perempuan Goa Hitam itu mengejar kita dengan membawa sesangkar lalat darah, mungkin dikolong langit tiada tempat yang bisa digunakan kalian untuk menyembunyikan diri” sela Thio Kie An.

Mendengar perkataan itu Kiem Hoa Hujien tertawa dingin.

“Sekalipun lalat darah sangat lihay, namun dalam pandangan aku Kiem Hoa Hujien masih belum terhitung suatu makhluk yang sangat lihay, tahukah kau bahwa setiap makhluk beracun yang ada dikolong langit pasti ada tandingannya?”

“Menurut apa yang cayhe ketahui hanyalah laba-laba berwajah manusia dari wilayah Biauw saja yang dapat menaklukkan lalat darah itu.”

“Sedikitpun tidak salah! rupanya pengetahuanmu tentang makhluk beracun lihay juga jangan kuatir dalam sakuku sekarang telah tersedia laba-laba yang berwajah manusia dari daerah Biauw!”

“Kalau begitu kau harus cepat-cepat tinggalkan tempat ini! seandainya pada saat dan keadaan seperti ini pemilik perempuan Goa Hitam itu melepaskan lalat darahnya, sekalipun kalian punya laba-laba berwajah manusiapun percuma.”

“Perkataan orang ini sedikitpun tidak salah kita harus cepat-cepat pergi mencari suatu tempat persembunyian yang strategis!”

“Baik! mari kupayang diri cici.”

“Toako, apakah kita pergi membawa serta diri Thio heng ini?” tanya Sang Pat mendadak.

“Tidak usah” tampik Thio Kie An cepat. “Sepasang kaki cayhe sudah cacat, untuk jalanpun tidak leluasa, lebih baik kalian cepat-cepat melarikan diri!”

Tiba-tiba Sang Pat maju selangkah kemudian dan ayun telapak tangannya, diiringi suara bentrokan dahsyat kursi kayu yang diduduki Thio Kie An sudah hancur separuh termakan oleh serangan tadi.

“Cayhe akan bopong diri Thio heng untuk melanjutkan perjalanan.”

Tidak menunggu jawaban dari Thio Kie An lagi bersama separuh kursi yang masih diduduki ia gendong orang itu dan melangkah pergi dengan tindakan lebar.

“Biarlah siauwte buka jalan” seru Ong Hong sambil busungkan dada.

Mula-mula orang ini bersikap sangat hormat terhadap pemilik Goa Hitam, namun sekarang timbul semangat memberontak dalam hatinya.

Begitulah dengan dipimpin oleh Ong Hong yang berjalan dipaling depan, Sang Pat sambil menggendong Thio Kie An menyusul dibelakangnya dan diakhiri oleh Siauw Ling sambil memayang Kiem Hoa Hujien.

Namun sepasang kaki Kiem Hoa Hujien lemas tak bertenaga, sulit baginya untuk melanjutkan perjalanan, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa Siauw Ling membopong perempuan itu untuk meneruskan perjalanan.

“Saudaraku” seru Kiem Hoa Hujien sambil tersenyum. “Kau bopong aku dengan begitu kencang, apakah kau tidak takut ada orang merasa cemburu….”

“Cici tidak leluasa untuk berjalan. Sudah sepantasnya kalau siauwte membopong dirimu” jawab Siauw Ling sambil tertawa hambar. Sementara dalam hati pikirnya, “Dalam saat serta keadaan seperti inipun kau masih punya kegembiraan untuk bergurau.”

“Kalau kalian masih ingat dengan jalan secepatlah lari lewati jalan itu. Kita harus mencari sebuah goa untuk menyembunyikan diri.”

Kelihayan sie poa emas Sang Pat dalam mengingat-ingat jalan tiada tandingannya dikolong langit, tak usah disuruh ia sudah berulang kali berseru memberi petunjuk kepada Ong Hong.

Kurang lebih setengah jam kemudian, sampai juga beberapa orang itu ditepi hutan.

Ketika mereka mendongak keatas terlihatlah langit yang biru tampak sangat cerah, sebuah tebing yang amat curam memotong jalan pergi mereka selanjutnya.

Menyaksikan keadaan itu. Sang Pat menghela napas panjang.

“Aaai…. akhirnya kita salah juga” bisiknya.

Tiba-tiba Siauw Ling teringat kembali akan Soen put shia serta Boe Wie Tootiang sekalian, hatinya serentak kaget.

“Aduuuh celaka, kita harus cepat-cepat kembali ketempat semula.”

“Kenapa?” tanya Thio Kie An. “Mara bahaya yang dihadapi belum saja hilang. Kenapa kalian hendak menghantarkan diri lagi kemulut harimau?”

“Saudaramu Sang Pat!” kata Siauw Ling sambil pandang wajahnya. “Sekalipun kita berhasil melepaskan diri dari mara bahaya, tetapi Boe Wie Tootiang serta Soen put shia tidak tahu akan kelihayan racun lalat darah seandainya mereka masuk kehutan untuk mencari kita niscaya semua bakal terluka ditangan pemilik Goa Hitam.”

“Apa? mereka semua telah datang kemari?” tanya Kiem Hoa Hujien.

“Tidak salah, mereka semua pada menunggu diluar hutan sedang aku serta Sang heng dengan petunjuk anjing mengejar masuk kedalam hutan….”

“Saudaraku, siapa yang sedang kalian kejar?”

“Orang tuaku” ia merandek sejenak dan tambahnya: “Cici tentu kenal dengan pemilik Goa Hitam bukan? apakah kau melihat mereka ada menawan orang asing?”

…. (ooo0ooo)

Kiem Hoa Hujien geleng kepala.

“Aku tidak begitu tahu tentang keadaan Goa Hitam!”

“Lalu apa sebabnya kau ditolong olehnya?”

“Tatkala aku jatuh tidak sadarkan diri ditepi jalan. Orang-orang dari perkampungan Pek Hoa San tjung segera menolong diriku mungkin Djen Bok Hong merasa bahwa tenaga cici masih sangat dibutuhkan maka ia utus jago-jagonya untuk membawa obat pemusnah datang mencari aku. Aaa…. mungkin memang takdir tak menghendaki aku mati. Akhirnya jejakku berhasil mereka temukan.”

“Lalu bagaimana caramu masuk kedalam Goa Hitam?”

“Dalam keadaan tidak sadar cici diantar mereka kemari, maka dari itu lantas aku menduga ada kemungkinan besar antara Goa Hitam dengan perkampungan Pek Hoa San tjung terkait dalam suatu hubungan yang sangat erat.”

“Aaah, benar…. benar….!” tiba-tiba Sang Pat menyela sambil depak kakinya keatas tanah.

“Apanya yang benar?”

“Menurut apa yang siauwte ketahui, sewaktu para jago lihay dari seluruh dunia persilatan mengejar jejak Djen Bok Hong pada masa yang silam, tiba-tiba saja jejak iblis itu lenyap ditengah hutan lebat. Pastilah dia bersembunyi didalam Goa Hitam.”

Ucapan ini membuat Siauw Ling jadi tertegun.

“Kalau begitu, Goa Hitam adalah sarang Djen Bok Hong yang sebenarnya?” serunya.

“Ruangan didalam goa itu amat luas sekali tapi gelapnya bukan kepalang” ujar Kiem Hoa Hujien. “Menurut perasaan cici, dibalik kegelapan terbentang banyak sekali pintu-pintu rahasia….”

“Aaai…. kalau begitu tak usah diragukan lagi kedua orang tua cayhe pasti dikurung dalam Goa Hitam itu!”

“Seandainya orang tua toako benar dikurung dalam Goa Hitam, peristiwa itu tentu yang berlangsung tengah malam tadi atau paling lambat pada kentongan pertama” Sang Pat memberikan pendapatnya. Bicara sampai disitu ia lantas berpaling kearah Kiem Hoa Hujien dan bertanya lebih lanjut: “Hujien, pada jam berapa kau mendusin?”

“Belum lama! setelah sadar aku lantas berusaha menjajaki sekeliling Goa Hitam tadi. Aku rasa meski lorong jalan didalam goa amat rumit dan acak-acakan tapi tempat dimana aku ditinggal tidak jauh jaraknya dari mulut goa, maka akhirnya aku berhasil menerobos keluar!”

“Kau kenal dengan pemilik goa itu?”

Kiem Hoa Hujien tertawa.

“Manusia macam apakah cicimu ini? meskipun aku tidak kenal dirinya tapi aku bisa menebak kedudukan didalam goa, apalagi ia tidak kenal akan diriku!”

“Jika didengar dari nada Hujien, rupanya tidak tahu kalau orang tua Siauw thayhiap telah ditawan orang?”

“Tidak tahu. Begitu keluar dari Goa Hitam lantas aku temukan peristiwa kalian yang dikurung oleh lalat darah!”

“Apakah Goa Hitam adalah suatu goa besar yang menjorok jauh kedalam tanah?” Siauw Ling bertanya.

“Benar! goa itu menjorok jauh kedalam permukaan, entah berapa banyak pintu rahasia yang terbentang disana dan entah berapa dalam lorong yang membentang kebawah itu. Barang siapa yang tidak paham dengan situasi disana kalau berani masuk kedalam Goa Hitam, kalau bukan tertawan oleh mereka pasti akan mati karena dibokong!”

Siauw Ling mengerutkan keningnya sehabis mendengar penuturan itu, ia berkata, “Apakah didalam goa itu telah dipasang alat-alat rahasia yang sangat lihay?”

“Benarkah telah dipasang alat-alat rahasia yang lihay cici kurang begitu tahu. Yang jelas kegelapan menyelimuti goa itu melebihi kegelapan ditengah malam buta, dengan ketajaman mata yang bagaimana lihaypun jangan harap bisa menembusi pemandangan sekitar tiga depa didepannya. Jangan dibilang alat jebakan, cukup serangan bokongan dari pihak mereka saja sudah lebih dari cukup untuk mencabut selembar jiwa manusia.”

“Apakah dalam goa itu terdapat banyak orang?”

“Selama berada didalam Goa Hitam aku tak pernah bertemu dengan seorang manusiapun, tapi didalam perasaanku seakan-akan terdapat banyak sekali orang ditempat itu.”

“Ada satu persoalan siauwte merasa kurang begitu mengerti.”

“Persoalan apa?”

“Apakah orang-orang yang berada didalam Goa Hitam dapat menyaksikan keadaan disekelilingnya?”

Kiem Hoa Hujien termenung berpikir sebentar kemudian baru menjawab, “Belum pernah cici dengar ada suatu kepandaian yang bisa melihat ditempat kegelapan maka aku tak berani sembarangan bicara, tapi menurut dugaanku bilamana seseorang berdiam selama puluhan tahun lamanya ditempat kegelapan maka lambat laun sinar matanya dapat menyesuaikan diri dengan tempat yang gelap dan melihat benda disekitarnya.”

“Betul!” Sang Pat membenarkan. “Sekalipun mereka tidak berhasil melatih matanya untuk melihat ditempat kegelapan, paling sedikit mereka telah hapal dengan situasi dari goa itu. Menyerang dari tempat kegelapan memang merupakan suatu ancaman bahaya yang sukar diduga.”

Tiba-tiba terdengar Thio Kie An menimbrung, “Alangkah baiknya kalau cuwi sekalian segera mencari tempat yang bisa digunakan untuk melawan serangan lalat darah itu seandainya dari pihak Goa Hitam mengirim jago-jagonya untuk mengejar kita, berada ditengah tanah lapang yang terbuka seperti ini hanya kematian saja yang bakal kita peroleh.”

Kiem Hoa Hujien setuju dengan pendapat orang itu, maka ia melongok sekejap kebawah sebuah tebing curam lalu berkata, “Saudaraku, dapatkah kau menuruni tebing curam ini?”

Siauw Ling segera berpaling dan memeriksa sekejap keadaan sekeliling tempat itu, kemudian ia manggut.

“Mungkin saja dapat.”

“Seandainya dibawah tebing curam itu tiada goa untuk bersembunyi, kita gunakan saja sudut buntu-buntu dibawah tebing sana sebagai tempat pertahanan guna melawan serangan lalat darah” kata perempuan itu sambil menuding sebuah sudut buntu dibawah tebing.

Sang Patpun lantas turunkan Thio Kie An keatas tanah, ia lepaskan jubah panjangnya lalu dirobek dan dibuat seutas tali kain yang panjang lagi kuat. Setelah itu ujarnya, “Hujien, harap kau turun kebawah tebing lebih dahulu….” sinar matanya beralih sekejap kearah Siauw Ling dan menambahkan, “Toako, kaupun tak usah terlalu menempuh bahaya!”

Kiem Hoa Hujien tersenyum, ia cekal ujung tali kain tadi lalu mulai merosot kebawah tebing.

Setelah perempuan itu turun, Siauw Ling sambil membopong Thio Kie An menyusul dibelakangnya, dan terakhir si sie poa emas Sang Pat.

Dibawah tebing curam itu terdapat sebidang tanah datar seluas beberapa tombak, tiga penjuru sekeliling tanah lapang tadi merupakan dinding-dinding tebing yang curam dan tinggi menjulang keangkasa untuk pergi kesitu cuma ada satu jalan saja yang bisa dilalui.
Bagikan cersil ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊

0 Response to "Rahasia Istana Terlarang Jilid 16"

Post a Comment