Rahasia Istana Terlarang Jilid 06

Mode Malam
Jilid 6

BAGAIMANA kalau cayhe pergi bersama sama loocianpwe? mungkin sedikit banyak cayhe bisa membantu dirimu.” seru Tu Kioe.

“Apakah kau anggap aku sipengemis tua masih belum sanggup umuk menandingi bocah-bocah ingusan itu?” teriak Soen put-shia dengan sepasang mata melotot bulat.

“Cayhe sama sekali tiada maksud demikian.”

“Kalau begitu tak usahlah banyak ribut….”

Kembali terjadi ledakan dahsyat diikuti tubuh perahu goncang dengan kerasnya,

Siauw Ling mengerutkan alisnya lalu berkata, “Rupanya pihak musuh tangguh semakin mendekati perahu panca-warna entah benda apakah yang digunakan untuk menumpuk perahu itu?”

“Bagus sekali! Inilah kesempatan bagi kita untuk menghajar mereka dari dalam.

Meja yang berada ditangan kirinya segera dilintangkan didepan dada kemudian bentaknya keras.

“Air racun kalian tidak seberapa lihay ayoh kalau betul-betul hebat gunakanlah terhadap aku sipengemis tual”

Siauw Ling segera menyambar sepasang sumpit dan dicekalnya ditangan, ia berkata.

“Keadaan sangat memaksa, mau tak mau terpaksa Siauw heng harus turun tangan keji terhadap mereka!”

“Berhadapan dengan musuh tangguh tidak perlu kita berwelas asih sebab kalau kita tidak bunuh pihak lawan maka kemungkinan besar kitalah yang bakal dibunuh oleh mereka. Toako. siauw te merasa kaupun tak usah berwelas kasih lagi terhadap manusia-manusia macam itu.”

Haruslah diketahui sepasang tangan ketiga orang itu telah diborgol jadi satu oleh seutas rantai emas yang kuatnya luar biasa, maka dari baik dalam mengambil benda maupun dalam menghadapi musuh. sepasang tangan mereka mau tak mau harus bergerak secara berbareng.

Dalam pada itu Siauw Ling sambil mencekal sepasang sumpit berdiri didepan pintu ruangan memperhatikan gerak gerik son put-shia.

Tampaklah Soen put shia dengau menyembunyikan diri dibalik meja ia berjalan terus hingga tiba didekat tikungan, pada saat itu-lah mendadak pedangnya berputar melancarkan sebuah tusukan kilat.

Siauw Ling pusatkan seluruh perhatian-nya kearah tikungan tersebut, diam-diam hawa murninya telah dipersiapkan, asal ia lihat ada gerakan yang mencurigakan muncul diatas maka serangan senjata rahasia sesuai dengan ajaran dari Tiauw-siancu segera akan digunakan.

Tampak dua belah pedang muncul dari balik tikungan membendung datangnya serangan pedang dari Soen Put Shia.

Tiga bilah pedang saling berbentrokan dengan kerasnya diujung tikungan. namun tidak nampak kemunculan kedua orang bocah berbaju hijau serta ketiga orang dara berbaju hijau yang membawa tabung besi berisi-kan air racun itu.

Soen Put Shia dengan tangan kiri mence-kal meja siap sedia menghadapi semprotan air racun dari ketiga orang dara itu, dengan gerakan yang cepat laksana kilat pula ia menerjang terus kearah depan.

Slapa sangka kejadian selaujutnya jauh di luar dugaan sipengemis tua dari perkumpulan Kay-pang ini, pertarungan telah berlangsung lama sekali namun pihak lawan belum juga munculkan diri, disamping itu tidak ada pula semprotan air racun yang memancar tiba, hal ini membuat hatinya jadi tercengang dan keheranan.

Tenaga dalamnya segera disalurkan keujung pedang, sekuat tenaga disambarnya pedang lawan…. Traaaang! sebilah pedang berhasil ia sampok hingga jatuh keatas tanah.

Bersamaan itu pula tangan kirinya tarik kembali meja pelindung badan itu, pedang ditangan kanannya diperketat dau pedang keduapun berhasil ia sampok rontok

Dengan suatu gerakan yang cepat pengemis ini melongok kebalik tikungan, tampaklah dua orang bocah berbaju hijau itu sedang bongkokkan badan memungut kembali pedangnya yang tersampok jatuh, sementara ketiga orang dara berbaju hijau tadi entah sudah lenyap kemana.

Soen Put-shia segera angkat pedangnya dan berteriak keras, “Kalian cepatlah datang kemari, kita Sudah tertipu!”

Dimulut ia mengundang kehadiran Siauw Ling sekalian, sedangkan tangan kirinya segera membuang meja dan mengirim sebuah pukulan.

Siaow Ling serta Tiong-chiu Siang-ku yang mendengar teriakan itu buru-buru lari datang, Tenaga pukulan yang dilepaskan Soen Put-shia betul-betul luar biasa sekali. sebelum kedua orang bocah berbaju hijau ingusan tersebut sungguh menghadapi serangan dahsyat dari Soen Put-shia? ditengah ben-trokan dahsyat. tubuh mereka terpukul mundur tiga langkah kebelakang.

Pada waktu itulah Siauw Ling, Sang Pat serta Tu Kioe telah tiba disana, terdengar mereka berbareng bertanya, “Apa yang telah terjadi???”

“Haaa…. haa.-.haaaa…. mungkin Siauw Yanw cu cuma memiliki tiga buah tabung belaka„sekarang tabung tersebut harus digunakan untuk menghadapi lawan tangguh mememungut kembali pedangnya, angin pukulan dari sipengemis tua itu sudah menyambar tiba. terpaksa kedua orang bocah tersebut harus menggabungkan kedua tenaganya untuk membendung datangnya ancaman itu.

Tapi mungkinkah kedua orang bocah

Dalam pada itu kedua orang bocah berbaju hijau yang tidak sempat memungut kembali pedangnya, kemudian kembali pula kemunculan Siauw Ling bertiga disana, dalam hati mereka sadar bahwa mereka berdua bukanlah tandingan mereka, tanpa banyak bicara lagi kedua orang bocah tersebut lari ngacir dari situ.

Berhenti’.” bentak Siauw Ling.

Dalam keadaan seperti kedua orang bocah itu mana sudi menurut, tanpa berpaling mereka percepat larinya ngacir dari situ.

“Kalau kalian berdua tidak mau menuruti perintahku, jangan salahkan kalau aku bertindak keji” teriak Siauw Ling penuh kegusaran.

Bersarnaan dengan bentakan itu sepasang telapaknya diayun berbareng. dua batang sumpit tersebut segera meluncur kedepan Iaksana sambaran petir.

Terdengar dua jeritan lengking yang mengerikan berkumandang datang, kedua orang bocah berbaju hijau itu jatuh terjungkal keatas lantai dan tak berkutik lagi.

Soeh Put-shia menyambar kembali meja tersebut untuk melindungi badannya lalu ia menerjang dahulu kedepan, tatkala tubuhnya berlalu disisi kedua orang bocah tadi tampaklah dua batang sumpit yang dilepaskan Siauw Ling tersebut dengan telak menembusi tekukan lutut dari bocah-bocah itu, lukanya amat parah dan dalam sekali.

Tekukan lutut merupakan suatu bagian tubuh yang berbahaya, apabila tempat itu terluka maka sulit untuk sang penderita untuk berjalan kembali.

Siauw Ling mencabut keluar kedua batang sumpit tersebut, ia menghela nafas ringan dau bungkam dalam seribu bahasa. Jelas dalam hati kecilnya timbul rasa iba setelah menyaksikan kedua orang bocah itu.

Tu Kioe yang menyuSul datang segera menyepak tubuh Sang bocah yang ada disebelah kiri, jengeknya dingin, “Hey bocah cilik, usiamu paling banter cuma empat lima belasan, kalau mati dalam usia begini muda apakah tidak terlalu sayang.

Dari sepasang mata bocah berbaju hijau ito secara lapat-lapat terpancar keluar. rasa takutnya yang luar biasa, namun ia tetap gertak gigi membungkam dalam seribu ba-hasa.

Dengan selembar wajah yang kaku dan dingin, kembali Tu Kioe berseru, “Kalau kau tidak ingin mati, maka cuma ada satu cara saja yang dapat kalian termpuh.”

Bocah berbaju hijau itu bergerak sedikit, namun tetap tiada suara yang muncul.

“Kemanakah ketiga orang bocah perem-puan itu?”

Bocah berbajn hijau itu melirik sekejap, rekannya tetap membisu.

Menyaksikan keadaan bocah-bacah itu, Siauw Ling menghela napas paujang, bisik-nya, “Tak usah ditanya lagi, mari kita terjang keluar “

“Biarlah aku sipengemis tua yang membuka jalan!”

Lorong dimana mereka lewat amat sempit dan cuma beberapa tombak saja panjangnya, setelah menikung pada suatn tikungan, munculah sebuah tangga kayu yang mengabungkan tempat itu dengan geladak.

Terdengar suara bentrokan senjata berku-mandang dengan nyaringnya dari arah lnar, jelas diatas geladak sedang dilangsungkan suatu penempuran yang amat seru.

Soen Put-shia yang menyaksikan mulut tangga amat sempit dan meja dibawahnya tidak muat, tanpa banyak bicara pedangnya bekerja keras membabat sisi meja tadi. kemudian ia meloncat lebih dahulu keluar dari mulut tangga.

Rupanya kepergian ketiga orang dara berbaju hijau tadi amat tergopoh? sehingga mulut tangga pun lupa ditutup kembali.

Soen-put-shia loncat naik keatas tangga dia menengok keluar. namun dengan cepat ia berdiri tertegun.

Sang Pat menjumpai perubahan air muka sipengemis tua itu, dengan cepat bertanya lirih, “Apa yang terjadi?”

“Shen Bok Hong….”

“Ehmm. ada satu persoalan cayhe telah lupa memberitahukan pada loociaopwe,” tu-kas Siauw Ling sambil mengangguk.” Beberapa hari berselang Shen Bok Hong telah menderita kerugian besar dengan Su Hay Koen Cu. berpuluh-puluh buah sampan nja telah ditengelamkan oleh Koaen cu tersebut bahkan jago-jago lihaynya yang sekarat banyak sekali. Aku rasa dengan tabiat Sen Bok Hong yang maunya menang sendiri, setelah rugi tentu saja ia tak mau berpeluk tangan belaka.”

Soen-put-shia tersenyem. “Inilah yang dinamakan dengan racun melawan racun, pertempuran yang sedang berlangsung diatas geladak amat seru sekali. bagai-mana kalau kita tunggu dulu sampai pertarungan mereka usai dan menentukan siapakah yang menang diantara mereka??”

Seandainya kami bersaudara tidak memakai borgol dibadan, maka ini memang merupakan satu tindakan yang palig tepat. seru Sang Pat.” Tetapi keadaan kita sekarang lain, kesempatan baik ini kita harus cepat cepat naik kegeladak sambil memperhatikan situasi disitu, begitu ada kesempatan bagus kita harus bertindak.”

“Baiklah. inilah ypng dinamakan menangkap ikan diair keruh, aku sipengemis tua akan memberikan jalan buat kalian bertiga.” Setelah pengemis itu…. meloncat keluar dari tangga, Siauw Ling segera menyusul dari belakang Tampaklah noda darah berceceran diatas geladak, berpuluh-puluh sosok mayat menggeletak disana-sini, pemandangan ketika itu mengerikan sekali.

Soen Put-shia sambil mencekal pedangnya bersembunyi dibalik sebuah liang besar, waktu itu ia sedang mengape kearah Siauw Ling sekalian.

Tiong-chiu Siang ku sekalian buru-buru kesana dan sama-sama bersembunyi dibalik sebuah tiang besar. Dalam pada waktu itu rupanya pasukan pengawal yang berada diatas perahu panca warna itu sebagian besar telah gugur atau luka parah, kecuali pertempuran sengit yang maslh berlangsung diatas geladak, empat penjuru sudah tidak nampak manusia hidup lagi Dengan suara lirih Soen Put-shia segera berbisik….”Rupanya pihak Su-hay Koen-cu telah menderita kerugian yang sangat besar, seluruh anak buahnya telah hampir binasa semua.”

Siauw Ling alihkan sinar matanya kedepan. tampaklah tubuh Shen Bok Hong yang tinggi besar namun bongkok itu berdiri tegak diujung perahu, dari ujung pedang yang berada ditangannya titik-titik darah segar menetes terus tiada hentinya.

Sedangkan Siauw Yauw-cu menari narikan hudtimnya sedang melangsungkan pertarung-an sengit melawan dua orang kakek tua.

Pakaian yang dikenakan kedua orang kakek tua itu menyolok sekali, yang satu memakai baju serba putih, sedang yang lainnya memakai baju serba hitam, mereka bukan lain adalah Hek-pek Jie loo dari Tiang Pek-san. Tatkala dalam perkampungan Pek Hoa-san-cung diadakan pertempuran para enghiong, Siauw Ling pernah berjumpa dengan Hek Pek Jie-loo ini, namun ketika itu mereka berdua sama sekali tidak turun tangan, maka tidak mereka ketahui sampai dimanakah taraf kepandaian mereka.

Kini setelah diperhatikan dengan seksama, maka dirasakanlah bahwa ilmu silat kedua kakek itu sangat aneh, gerak-geriknya jauh berbeda dengan aliran ilmu silat didaratan Tiong goan

Empat buah telapak baja mereka bagaikan titiran angin puyuh melayani setiap ancaman yang datang dari senjata hudtim Siauw Yauw cu, masing-masing pihak saling merebut menyerang, semua jurus yang ampuh kejipun meluncur keluar semua.

Kecuali Siauw Yauw-cu yang sedang ber-tempur sengit melawan Hek-pek Jie-loo, tidak nampak Su hay Koen-cu yang memakal jubah kuning itu hadir disana, kemungkinan ia pergi?”

“Su Hay Koen-cu benar-benar congkak dan tinggi hati, sekalipun menyaksikan segenap pasukannya punah, ia masih tidak sudi munculkan diri menghadapi musuh,” pikir Siauw Ling.

“Aneh…. sungguh aneh sekali,” bisik Soen put-shia tiada hentinya. “Sekalipun Shen Bok Han telah mengerahkan segenap jagoan lihay dimilikinya tidak mungkin mereka telah mati binasa semua, dan aneh sekali, mengapa korban yang bergelimpangan diatas geladak rata-rata merupakan anak buah dari Sui Hay Koen-cu semua?”

“Mungkln Shen Bok Hong telah mengang-kut para korbannya!”

Baru saja ucapan itn selesai diutarakan, mendadak terlihatlah senjata hudtim dari Siauw Yauw-cu mengirim dua buah serangan dahsyat memaksa mundur Hek Pek Jie Loo. setelah itu ia putar badan dan lari masuk kedalam ruang perahu

Piutu ruang perahu yang terukir naga serta burung hong itu mendadak membentang lebar, setelah melepaskan Siauw Yauw-cu, pintu tadi menutup kembali seperti sedia kala.

Siauw Ling alihkan sinar sinar matanya kearah pintu ruang perahu yang berukiran burung hong dan naga tadi, terlibatlah suasana disana tetap utuh tidaK kekurangan barang sedikitpun. Jelas pertempuran sengit yang barusan berlangsung hanya terbatas diatas geladak belaka, ruang belaka, ruang perahu tersebut sama sekali tidak terpengaruh-hal ini menegangkan hati si anak muda ini maka bisiknya kepada Soen-put-shia.

. “Loociaupwe, coba kau lihat korban yang berjatuhan diatas geladak sangat mengerikan, namun suasana dalam ruang perahu itu aman tenteram seolah-olah sama sekali tidak terjadi peristiwa apapun.”

“Aku sipengemis tna pun merasa rada tercengang dengan keadaan tersebut, baik pertempuran besar maupun pertempuran kecil sudah sering kali kusaksikan, namun belum pernah kujumpai pertempuran yang demikian aneh macam ini hari. DewaSa ini diatas geladak kecuali Shen Bok Hong serta Hek Pek Jie loo tidak nampak kehadiran orang-orang perkampungan Pek-hoa-san-cung lagi, bukan-kah kejadian ini tidak kalah anehnya dengan ketenangan ruang perahu itu?????”

Siauw Ling memperhatikan suasana disekitar sana dengan lebih seksama. sekalipun tidak salah, diatas geladak yang luas, kecuali Shen Bok Hong serta Hek Pek Jie Loo sama sekali tidak nampak sesosok manusiapun. dalam hati ia lantas berpikir.

“Mungkin Shen Bok hong datang kesitu hanya dengan mengajak Hek Pek Jie Loo belaka Seandainya betul, dengan kekuatan mereka bertiga berhasil menyapu rontok seluruh jagoan lihay yang ada diatas perahu panca warna ini. hal tersebut membuktikan bahwa kepandaian silat yang dimiliki Hek Pek Jie-loo tidak berada dibawah kepandaian silat Shen Bok Hong sendiri “

Terdengar Shon Bok Hong yang berada di-tengah geladak dengan suara yang parau berseru lantang.

“Su Hay Koen-cu, keempat puluh delapan orang perwira pengawal perahumu telah mati binasa semua. aku rasa dalam ruang perahumu sudah tiada panglima yang bisa terapung lagi. Dalam keadaan seperti ini aku rasa sudah waktunya bagimu untuk memunculkan diri sendiri?”

“Hemm! walaupun keempat puluh delapan orang pengawal perahukn berhasil kau binasakan semua, namun tengok dulu! apakah kedelapan belas orang jago lihay yang kau bawa masih ada yang hidup segar?” sahut Su Hay Koen-cu dari dalam ruang perahu dengan suara berwibawa, “Dewasa ini kecuali kalian bartiga jangan harap bala bantuan kalian bisa datang kemari.

“Shen Bok Hong?” snara diri Siauw Yauw cu pun berkumandang datang pula dengan lantang. “Pinto ingin memberitahukan satu persoalan kepada dirimu’”

“Heee…. heee.fc.apakah kau anggap aku orang She shen tidak berani meuerjang masuk kedalam ruang perahumu?”

Tiba-tiba pintu ruang perahu tersebut terbuka lebar diikuti munculnya Siauw-Yauw-cu dengan langkah lambat. katanya kembali: “Diatas perahu panca warna ini kecuali dilindungi oleh empat puluh delapan orang pengawal berbaju hitam, masih ada tiga puluh enam bocah lelaki serta dua puluh orang cantik berkumpul disini semua. Asal Koen-cu kami turunkan perintah maka dengan cepat mereka akan menerjang keluar dan mengerebuti kalian bertiga!”

“Hemmmm! sekalipun lebih banyak seorangpun percuma. mereka tidak lain hanya-lah sukma-sukma yang mendaftarkan diri pada raja akhirat dan kini banya menunggu saat ajalnja belaka. Cayhe ingin sekali berjumpa dengan Koen-cu kalian, entah berani-kah ia munculkan diri untuk bergebrak dengan melawan aku orang She shen?”

Tampak pintu ruang perahu kembali terbuka lebar lebar, Su Hay Koen-cu yang memakai jubah kuning emas dengan langkah lebar. muucullah diri diatas geladak.

“Shen-toa Cung-cu, benarkah kau hendak tantang cayhe untuk berduel?” Tegurnya sambil tertawa hambar.

Sinar mata Shen Bok Hong perlahan-lahan dialihkau keatas wajah Suhay Koencu. tampaklah orang itu berusia tiga puluh ta-hunan, jubah yang dikenakan berwarna kuning dengan sulaman naga yang beraneka rupa dari benang emas. tangannya kosong dan tidak bersenjata. Ia segera tertawa dingin-

“Saudara. jubah kuning emas yang kau kenakan memang cukup mentereng, cuma tidak tahu bagaimana dengan ilmu silatnya?”

“Apakah Shen toa cungcu ingin menjajal kepandaian silatku?”

“Dua kali bertempur, anak buah kita berdua yang jatuh korban sudah tiada tara banyaknya, dari pada mereka pada modar semua alangkah baiknya kalau kita berdua melakukan pertarungan tersendiri, dengan demikian memang kalahpun bisa cepat ditentukan

“Sudah lama aku mendengar nama besar dari Shen-toa-cungcu, apalagi jika aku tidak berkeyakinan untuk menandingi kepandaian silatmu, tidak nanti aku berani munculkan diri didalam dunia persilatan!”

Tiba-tiba Shen Bok Hong maju kedepan hingga tiba ditengah geladak, lain berseru dingin.

“Bila Koencu pun ada maksud demikian, dengan senang hati aku orang she Shen menantikan petunjukmu!”

Diam-diam Siauw Ling perhatikan gerak gerik simanusia bayangan berdarah ini. tampaklah tatkala ia berjalan melewati tumpukan mayat-mayat tersebut, mendadak laksa-na dicengkeram dan dilempar orang, mayat tadi segera pada mencelat dengan sendirinya masuk kedalam sungai.

Hal ini menimbulkan rasa kagum dalam hatinya, ia berpikir

“Ilmu silat yang dimiliki orang ini benar benar luar biasa sekali!”

Dalam pada itu terdengar Su Hay Koea-cu tertawa terbahak-bahak dan berseru, “Nama besar She-toa-cungcu telah menggetarkan sungai telaga, aku rasa tidak perlu kau demontransikan kelihayanmu dihadapan diri cayhe….”

-000O000-

SOEN PUT SHIA yang ada dibalik tiang, dengan ilmu menyampaikan suaranya berbisik kepada siauw Ling serta Tiong – chiu Slang cu, “Yang satu baru yang lain lama, kedua orang jagoan dahsyat ini bakal melangsungkan pertempuran sengitnya diatas perahu panca-warna ini, menurut pendapatku pertarungan ini sangat besar pengaruhnya terhadap nasib serta keselamatan umat Bu-Iim, dikala kedua orang itu bertarung hingga kehabisan tenaga nanti alangkah baiknya kalau kita turun tangan secepat kilat untuk membereskan mereka berdua, bila tindakan kita ini berhasil maka perbuatan tersebut merupakan suatu pahala yang besar bagi umat Bu lim. Nah, agar suksesnya usaha tersebut, baik baiklah menyembuyikan diri jangan sampai jejak kita ketahuan mereka.”

Tampaklah Shen Bok Hong yang tinggi besar tapi bongkok itu berhenti ditengah geladak, tangan kanannya diangkat keatas dan berkata.

“Tamu tidak akan mendahului tuan rumah, silahkan Koencu turun tangan terlebih da-hulu.”

Sementara Su Hay Koencu hendak majn kedepan, mendadak terdengar Siauw Yauwcu berseru lantang, “Koencu, tunggu sebentar!”

Aku tidak boleh perlihatkan kelemahan dihadapannya, Tootiang masih ada persoalan apa lagi.

“Koen-cu. cita-citatmu adalah memimpin Bu-lim dan menguasai jagad, apa gunanya disebabkan sedikit persoalan lantas hendak turun tangan sendiri….”

“Asal kalian dapat mengalahkan aku orang she Shen, maka persoalan dalam Bu-lim kendati belum seluruhnya rampung, paling sedikit cita cita Koen-cu Sudah tak jauh!” tukas Shen Bok Hong dingin.

“Cepat atau lambat aku tak bisa menghindarkan diri lagi untuk bertarung melawari Shen Bok Hong, buat apa kita harus ragu-ragu lagi?”

“Walaupun perkataan Koen cu tidak salah namun saat ini bukanlah saat yang tepat.”

“Mengapa?”

“Pada saat dan situasi seperti ini, kita telah berhasil menguasahi seluruh keadaan, musuh sedikit dan kita berkekuatan besar, tentu Saja Koen-cu tidak usah turun tangan sendiri untuk menghadapi musuh

“Jadi menurut pendapat tootiang?” tanya Su Hay Koen cu dengan alis berkerut.

“Maksud pinto, lebih baik kita paksa Shen Bok Hong untuk mengikatkan diri kepada kita dan rela berbakti diri”

“Perlahan lahan Su Hay Koen-cn mengangguk.

“Apa bila tootiang sudah mempunyai rencana yang masak, tentu saja akupun tak usah membuang tenaga dengan percuma lagi.” katanya.

“Silahkan Koen cu kembali kedalam ruang-an, biarlah pinto, yang hadapi mereka ber-tiga.”

Sebelum Su Hay Koen-cu sempat menjawab mendadak tampaklah seorang bocah berbaju hijau buru-buru munculkan diri dari dalam ruangan dan membisikkan sesnatu di-sisi telinga Siauw Yauwcu.

Menyaksikan tingkah laku bocah itn, dalam hati Siauw Ling berpikir, “Dalam menghadapi pertarungan yang amat Sengit tadi tentu saja baik Su Hay Koen cu maupun Siauw Yanw cu tidak sempat mengurusi kami, kini anak buah masing-masing pihak sama-sama binasa dan posisi pihak Su Hay Koen-cu rupanya jauh lebih unggul, tentu saja Siauw Yauw-cn teringat kembali akan diri kami sekalian, rupanya bocah berbajn hijan itn sedang melaporkan peristiwa memberitahukan dirinya kami beberapa orang”

Tampak air muka Siauw Yauw-cu tetap tenang seperti sedia kala, ia tertawa hambir dan ulapkan tangannya memerintahkan bo-cah tersebut mengundurkan diri.

Rupanya Shen Bok Hong sudah tidak Sa-baran untuk menunggu lebih jauh, dengan dingin ia menghardik.

“Koen-cu apakah kau jeri untuk berduel melawan diriku?” Su Hay Koen-cu tersenyum.

“Siauw Yauw-cu, tootiang telah mengatur-kan segala sesuatu bagi diriku, dalam waktu singkat ia akan berhasil meringkus kalian bertiga, tentu saja dalam keadaan seperti ini tidak perlu bagiku untuk bergebrak melawan kalian,” katanya.

Sinar mata Shen Bok Hong berputar, diam dia ia memberi kisikan kepada Hek Pek Jie-loo untuk menerjang masuk kedalam ruang perahu itu dengan gerakan yang paling cepat.

Sepasang telapak Su Hay Koen-cu berbareng didorong kedepan, dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat secara terpisah segera menyerang Hek Pek Jie-loo.

“Buru-buru Siauw Yauw-cu kebaskan senjata hudtim lalu berseru,

“Koen-cu, harap kau cepat-cepat kembali kedalam ruangan lebih dulu!”

Su Hay Noen cu tidak membangkang, ia putar badan dan meloncat masuk kedalam ruangan.

Hek Pek Loo-jie masing-masing mengeluarkau telapak tangannya menyambut kedatangan pukulan udara kosong yang dilancarkan Su Hay Koen-cu tadi.

Meski akhirnya kedua orang kakek tua itu berhasil menyambut datangnya serangan tersebut namun tak urung tubuh mereka terge-tar juga sampai mundur selangkah kebelakang.

Dalam pada itu kebasan hudtim dari Siauw Yauw-cu telah menyambar tiba. secara terpisah ia menyerang Hek Pek Loo-jie secara berbareng hingga memaksa kedua orang itu harus mundnr selangkah lagi kebelakang.

Dan tidak menanti kedua orang itu melancarkan serangan balasan. tubuhnya telah berkelebat meloncat kembali kedalam ruang-an perahu.

“Serbu kedalam ruang perahu mereka!” hardik Shen Bok Hong lantang, dengan pedang melindungi badan ia bergerak menuju kearah ruacgan perahn.

Hek Pek Jie-loo mengiakan, masing masing dengan telapak kiri melindungi badan. telapak kanan bersiap sedia melancarkan serangannya segera menerjang kedalam ruang perah.

Tiba-tiba…. serentetan titik hitam bagaikan hujan gerimis menyemprot keluar dari balik ruangan.

Untuk sesaat sulit bagi Hek Pek Jie-loo untuk melihat jelas senjata rahasia macam apakah yang mengancam mereka, seraya lintangkan telapaknya melindungi badan mereka loncat mundur kebelakang.

Tetapi dengan cepat pnla mereka menjerit kesakitan, diatas masing masing telapak terasa amat sakit bagaikan diantuk tawon.

Shen Bok Hong yang berada dibelakang masih sempat meloloskan diri dari bahaya, melihat rekannya menjerit ia segera gerakan tubuhnya meloncat mundur keujung geladak.

“Air racun….” pikir Siauw Ling dalam hati Belum habis ia berpikir, dari balik ruangan terdengar gelak tertawa dari Siauw Yauw cu berkumandang datang disusnl suara jengekan yang berada disini

“Bagaimana dengan keadaan luka kalian berdua?”

Hek Pek-jie- loo sama-sama tundukan kepalanya menendang keatas tangan kiri mereka yang telah berubah menjadi hitam pekat. rasa bergidik meyelimuti seluruh benak mereka, sambil mengempos napas menutup jalan darah dilengan kiri mereka, jeritnya lengking.

“Jarum beracun”

“Haaa…. haaa…. tidak salah, jarum tersebut dinamakan jarum tawon pemutus nyawa yang disimpan dalam sebuah tabung berisi air racun,bagi orang-orang yang terkena air racun itu, mulut mukanya segera akan membusuk dan hancur, kendati tenaga Iwekang sang penderita bagaimana lihaypun tidak nanti dapat melawan keganasan dari cairan ular berbisa ini. Apalagi kalian berdua telah terkena jarum beracun yang maha lihay….”

Meskipun Hek Pek Jie-lop sama-sama disebut sebagai enghiong dari luar perbatasan, tak urung berubah juga air mnkanya setelah mendengar ucapan itu.

Terdengar Sianw Yauwcu melanjutkan ka-tanya, “Jarum beracun itu lembut bagaikan bulu kerban, begitu kena darah maka jarum tadi akan mengalir menuju kejmtung. sekalipun kalian berdua memiliki badan yang terdiri dari otot kawat tulang besi jangan harap nyawa kalian bisa lolos dari ini hari!”

Hek Pek Jie loo saling bertukar pandangan sokejap, bibir mereka bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun akhirnya tak sepatah katapun meluncur keluar.

Siauw Yauw cu lintangkan senjata Hud-timnya didepan dada kemudian perlahan-lahan keluar pintu ruangan, ia tertawa bambar dan melanjutkan, “Bagi kalian dewasa ini hanya ada satu jalan bidup saja yang bisa ditempuh.”

Hek Pek Jie-loo sama-sama kerutkan dahinya, bibir mereka kembali bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun akhirnya ditahan juga.

Siauw Yauwcn mendehem perlahan dan.berkata lebih jauh.

“Kecuali obat penawar yang disimpan dalam saku Koencu kami, dikolong langit dewasa ini tiada bahan obat lain yang bisa menolong jiwa kalian berdua lagi,”

Hek Pek Jie loo tundukkan kepalanya memandang mulut luka diatas lengannya, tampak lapisan hit m semakin melebar keatas, sadarlah kedua orang jagoan itn bahwa waktu tak bisa diundur- undur lagi.

Berada diambang pintu kematian, tak urung semangat jantan Hek Pek Jie-loo lun-tur juga, mereka berpaling kearah Shen Bok Hong dan berseru, “Shen Toa Cun-cu….”

Shen Bok Houg mendehem berat memotong ucapan kedua orang itu, sambungnya kembali, “Dalam saku cayhe saat ini tersimpan obat pemunah racun yang paling mujarab, Silahkan kalian berdua datang kemari, coba kutinjau keadaan luka kalian.”

Hek Pek Jie-loo menurut, mereka sama-sama berjalan menghampiri diri Shen Bok Hong.

“Dimanakah letak luka kalian berdua?”

“Diatas lengan sebelah kiri!”

“Apakah dibagian lain tubuh kalian tak ada luka lagi?”

Hek, Pek Jie-loo sama-sama menggeleng.

“Mungkin tenaga pukulan yang kami lancarkan tadi berhasil merontokan jarum berancun dan memukul balik air racun. “sahutnya hampir berbareng. “Kecuali lengan kiri, tiada luka lain yang kami derita.”

“Harap kalian berdua suka menggulung njung baju kalian itu, biarlah caybe periksa keadaan lukanya.”

Hek Pek Jie-loo sama menggulung ujung bajunya, terlihatlah beberapa buah titik hitam muncul diantara tekukan lengan kedua orang itu.

“Mengapa kalian berdua tidak tutup seluruh jalan darah yang ada sehingga membiarkan racun keji itu merangsang naik?” tegur Shen Bok Hong kemudian setelah memeriksa keadaan lengan mereka.

luar biasa sekali, mesti semua jalan darah kami telah tertutup namun gagal juga bagi diri kami untuk membendungnya.

“Bagus?” bentak Shen Bok Hong sambil ayunkan telapak kirinya secara tiba-tiba ” Akan kusuruh kalian saksikan kehebatan golok beracun dari siorang she Shen.”

Sementara angin pukulan yang amat nyaring diiringi desiran tajam langsung menghajar tubuh Siauw Yanwcu.

“Shen Toa- cungcu sekalipnn kau miliki kepandaian untuk menjungkir balikan jagad pun, jangan harap kalian bisa lolos dari tempat ini dalam keadaan selamat.” jengek Siauw Yauwcu sambil menghembaskan senjata Hit timnya.

Tenaga lwekeng yang disalurkan keluar lewat ujung senjata tersebut, bagaikan kilatan guntur menerjang keluar dan menyambut datangnya serangan udara kosong dari Shen Bok-Hong.

Serangan udara kosong ini telah menggunakan segenap tenaga Iwekang yang dimiliki Shen Bok Hong selama ini, kedahsyatannya luar biasa sekali. Kendati Siauw Yauwcu telah menggunakan tenaga Iwekangnya yang di pancar keluar lewat Hud-tim untuk menyampaikan serangan, tak urung tubuhnya tergetar mundur juga sejauh satu.langkah.

Diam-diam hatinya terkesiap, pikirnya, “Ilmu silat yang dimiliki Shen Bok Hong betul-betul luar biasa, aku tak boleh memandang enteng dirinya….”

Sementara otaknya masih berputar, dua jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang dari belakang tubuhnya, dua orang bocah berbaju hijau yang berdiri disisi pintu ruangan secara mendadak roboh keatas tanah. menggeliat kesakitan dan putus nyawa.

Tatkala diteliti lebih seksama lagi, maka tampaklah diatas dada kedua orang bocah berbaju hijau itu masing-masing tertancap sebilah pisau tipis yang berwarna kebiru-biruan, jelas golok itu telah direndam didalam air racun yang keji pula.

Kiranya setelah Shen Bok Hong melancarkan sebuah pukulan udara kosong tadi, menyusul ia pun melepaskan dua bilah golok beracun.

la sadar bahwa serangan goloknya tidak mungkin akan berhasil melukai diri Siauw Yauwcu oleh sebab itu orang bocah berbaju hijau yang berada dibelakangnya diincarnya.

Tidak salah lagi. serangan golok yang ia lepaskan benar-benar mengenai sasarannya tanpa banyak berkutik kedua orangbocah berbaju hijau roboh binasa

Dikala Siauw Yauwcu masih memperhatikan keadaan anak buahnya itu, kembali ter-dengar suara dengusan berat berkumandang datang.

Dengan cepat ia mendongak, terlihatlah sepasang lengan kiri Hek-Pek Jie-loo telah di betot sampai patah oleh orang lain.

Kiranya setelah Shen Bok Hong melukai kedua orang bocah berbaju hijau tadi. ia memecahkan perhatian dari Hek Pek Jie-loo menggunakan kesempatan itulah pedangnya laksana sambaran kilat menebas kutung lengan kiri dari kedua orang kakek itu,

Siauw Ling yang bersembunyi dibalik tiang dan menyaksikan peristiwa itu, hati-nya bergidik pikirnya.

“Shen Bok Hong betul-betul seorang manusia yang ganas dan keji, seandainya ia tidak tebas kutung lengan kiri Hek Pek Jie-loo mungkin kedua orang itu bakal kena gertak

Dalam pada itu terdengar suara dari Shen Bok Hong yang serak-serak basah menggema lagi, “Loka beracun yang kalian berdua derita Sudah terlalu parah sekali, meski ada obat mujarab belum tentu bisa disembuhkan seratus persen dan pada keadaan lebih runyam apa boleh buat terpaksa siauwtee harus mewakili kalian berdua untuk memenggal putus bencana tersebut, dengan begitu hubungan persaudaraan kita bertiga bisa diselamatkan dari usilan serta rencana keji Siauw YauW-cu.”

Darah segar mengucur keluar tiada hentinya dari mata luka diatas lengan Hek Pek Jie-loo, Saking sakitnya air muka kedua orang kakek ini telah berubah hebat, namun mereka mengiakan juga dengan penuh rasa hormat,

Perkataan Shen Toa Cung cu sedikitpun tidak salah.

“Silahkan enghiong berdua cepat-cepat mengatur napas dan mengerem aliran darah dari mulut luka tersebut, sebentar lagi kita harus melangsungkan kembali suatu pertempuran yang sengit.”

Hek Pek Jie-loo saling bertukar pandangan sekejap, akhir mereka sama-sama merobek selapis kain dan dibalutkan keatas mulut luka ditangannya.

Mesti mereka tundukkan kepalanya memandang kutungan yang menggeletak diatas, terlihatlah kutungan tersebut dari warna ke hijauan kini telah berubah jadi hitam pekat dan mengerikan sekali keadaannya.

Shen Bok Hong angkat kepala memandang sekejap kearah Siaoiw Yauw-cu, lantas ujar-nya. “Tootiang, kau telah menggunakau nya-wa kedua orang bocah pengiringmu untuk mendapat ganti dua buah lengan sahabatku, rasanya pihakmu tidak terlalu merasa rugi”

Siatiw Yauw-cu tertawa hambar

“Pinto merasa kagum sekali atas tindakan Shen Toa Cung-cu yang begitu keji dan telengas, disamping itu akupun merasa kagum atas kegagahan kedua orang Cnng-cu yang kehilangan lengan itu.” Katanya.

“Ucapanmu terlalu berlebihan.” tukas Shen J3ok Hong dingin. “Tootiang menggunakan siasat licik, permainan setan apa lagi yang kau miliki? ayoh keluarkan semua! aku orang she shen ingin sekali mendapat petunjuk darimu.”

Tiba-tiba Siauw Yauw-cu angkat kepa’a tertawa terbahak bahak, kemudian berseru, “Shen Toa Cung cu, silahkau kau menengok kebelakang!”

“Ada apa?”

“Sudah kau lihat, dimanakah kita berada saat ini?”

lihatlah ombak sungai yang menggulung tiada bertepi dan, entah berada dimanakah dia pada saat itu? tanpa terasa sepasang alisnya berkerut kencang.

“Makin lama perahu panca warna ini meninggalkan daerah perkampungan Pek Hoa-san-cung makin jauh. apabila Shen Toa Cnng cu punya kegembiraan mari kita bersama-sama berpesiar lebih dulu ke Lam Hay, setelah itu baru kembali lagi kedataran Tiong-goan.”

‘ Heeeee…. heeee…. Tootiang anggap aku orang she Shen tidak mengerti akan ilrnu be-renang dalam air?”

“Haaaa…. haaaa sekalipun kau mengerti akan llmu berenang dalam air, tidak nanti kau sanggup menandingi kehebatan ilmu berenang dari Koen cu kami.”

Soen Put-shia yang mengikuti pembicaraan tersebut dari balik tiang segera berbisik lirih kepada diri Siauw Ling, “Makin jauh panca warna ini meninggal-kan daratan, makin tidak menguntungkan posisi kita Terus terang kukatakan bahwa aku sipengemis tua adalah seekor bebek darat yang tidak mengerti ilmu dalam air entah bagaimana dengan keadaan cuwi sekalian?”

“Cayhe sendiripnn tidak mengerti ilmu dalam air.” sahut Siauw Ling.

“Ditinjau dari situasi pada saat ini, kemungkinan besar kedua belah pihak akan saling bertahan terus, keadaan ini kalau dibiarkan berlangsung terus maka hal tersebut tidak akan mendatangkan kebernntungan buat kita semua. Terdesak oleh keadaan mau tak mau rasanya kita harus menggunakan sedikit kelihayan.”

“Kelihayan apa?”

“Lihat saja kelihayan aku sipengemis!” sahut Soen Pat-shia sambil tersenyum. Dengan langkah lebar ia segera tampil kedepan dan langsung menegur.

“Shen ToaCung cu selamat berjumpa kembali. bagaimana kabarmu selama ini?”

Sekilas rasa kager berkelebat diaras wajah Shen Bok Hong yang seram, namun hanya sedetik kemudian wajahnya telah pulih kembali dalam ketenangan, ia tertawa hambar.

“Aaaaah….! Kiranya Soen-heng pun berada disini.” serunya. Dalam pada itu Siauw Yauw-cu pun berpaling memandang sekejap kearah Soeu Put shia, lalu tanyanya

“Dimanakah ketiga orang lainnya?”

“Mereka sudah tidak sabar menanti iebih lama lagi.”

“Menanti siapa?”

“Aku rasa dalam hati kecil Tootiang Sudah punya perhitungan sendiri, tak perlu bukan rasanya aku sipengemis tua harus menerangkan sekali lagi?”

“Persoalan apa sih? Kali ini pinto benar-benar tidak bisa menebak!”

“Baiklah! Kalau tootiang memang inginkan aku sipengemis tua bicara terus terang. terpaksa aku harus buka kartu didepan orang.

“Mereka sedang menunggu kunci borgol yang tootiang simpan.”

Bibir Shen Bok Hong tampak bergerak seperti mau mengatakan sesuatu, namun akhirnya maksud tersebut dibatalkan.

“Aaaaat…. benar….” seru Siauw Yauw-cu sambil tertawa hambar. “Bukankah kalian berempat ingin menggunakan kesempatan di kala orang lain lagi terdesak untuk menggertak kami?”

“Haaa…. haaa haaa…. mara bahaya apa sih yang sedang tootiang hadapi? kenapa aku sipengemis tua sama sekali tidak melihatnya?

Soen-heng!” tiba-tiba Shen Bok Hong menyelak diri kesatnping. “Hidung kerbau ini sombong sekali. coba kau libat, ia sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap diri Soen-beng.”

“Bangsat!” maki Soen Pot Shia dalam hati”

“Manusia keji dan licik macam kau rasanya harus dibasmi lebih dahulu dari pada Su Hay Koencu sendiri….”

Namun diluar ia cuma tertawa terbahak-bahak belaka, tak sepatah katapun ia menyahut.

Sementara itu Siauw Yauwcu berpaling memandang sekejap kearah ruang perahu, lalu ujarnya sambil tertawa, “Seandainya Soen-heng telah membuka harga mengapa persoalan ini tidak dibicarakan lebih dabulu???”

“Berbicara mengikuti situasi yang terbentang dewasa ini. aku sipengemis tua tanpa mengeluarkan modalpun rasanya masih bisa memperoleh keuntungan yang lumayan. Bila Tootiang masih juga memaksa aku sipengemis tua untuk berdamai…. waaah…. tootiang benar tak tahu kekuatan sendiri!….”

“Meskipun Soen thayhiap suka digunakan orang untuk menghadapi kami, namun apa-kah kau Sudah lupa bahwa dewasa ini posisi kamilah yang jauh lebih unggul….”

“Kalau Tootiang…. memang ingin paksa aku sipengemis tua berbalik pada orang lain, penstiwa ini merupakan suatu kejadian apa boleh buat.”

“Soen heng.” tiba-tiba Sheng Bok Hong menimbrung ” Apabila kau suka membantu aku orang she Shen, aku Shen Bok Hok percaya dalam pertempuran hari ini kita pasti akan peroleh kemenangan total.”

Sulit bagi aku sipengemis tua untuk menentukan kami harus membina pihak yang mana persoalan ini haras kurundingkan dahulu dengan mereka.”

“Apa??? dari pihak Kay-pang masih ada jagoan lain yang berkumpul disini….”

“Kalau mereka adalah orang orang Kay-pang, aku sipengemis tua tidak bakal ajak mereka untuk berunding lebih dahulu “

“Kalau bukan orang orang Kay-pang lantas….” sinar mata ketua perkampungan Pea-hoa cung ini dialihkan kesamping, tampaklah Siauw Ling bersama-Sama Tootiang – chin Siang Ku dengan langkah gagah sedang munculkan diri diatas geladak.

Kemunculan Siauw Ling ditempat itu lebih kaget lagi tatkala tahu bahwa Tiong-chiu Siang-ku berserta Soen Put Shia pun berada disani…. ia sadar bahwa kekuatannya tak mungkin bisa mengimbangi kekuatan lawan, tanpa sadar ia berdiri tertegun.

Sementara ituTiong chiu Siang Ku dengan membawa selembar papan dimasing-masing tangannya menengok sekejap kearah Siauw Yauw cu lantas berkata serentak

“Dengan mempertaruhkan selembar jiwa kami coba membendung ancaman air beracun serta jarum beracun tersebut dengan dua lembar papan ini!”

“Dewasa ini waktu bagi kami tidak terlalu banyak bila Tootiang tidak cepat-cepat ambil kepmusan, aku takut kau bakal menyesal sepanjang masa,” sela Soen Put Shia.

Tiba-tiba Siauw Yauwcu merogoh kedalam sakunya ambil keluar sebuah kunci diangkatnya tinggi-tinggi ketrngah udara ancamannya;

“Kunci ini merupakan anak kunci untuk membuka alat borgol emas tersebut, meski-pun dikolong langit banyak terdapat akhli pembuat kunci, mungkin tak seorangpun bisa menciptakan kunci yang rumit dan seperti ini.Jika cuwi sekalian memaksa diri pinto terus, kunci tersebut akan kulemparkan lebih dahulu kedalam sungai-

Ucapan ini membuat Soen Put Shia tertegun diam-diam pikirnya, “Ditinjau dari kekuatan Siauw Ling dimana ia patahkan otot kerbau yang bisa terlihat betapa dahsyat kekuatan yang dimiliki namun ia tidak berhasil juga melepaskan alat borgol yang membelenggu pergelangan tangannya. Jika Siauw Yauwcu benar benar membuang anak knnci itu kedalam sungai, waaah.-kejadian ini akan menyulitkan sekali diriku.”

Terdengar suara Shen Bok Hong yang gerak berkumandang datang.

“Bukannya aku she Shen sengaja mengucapkan kata yang menakutkan hati orang.

aku berani menjamin bahwasanya kunci yang berada dalam genggaman Slauw-cu saat ini pasti bukanlah anak kunci untuk membuka alat borgol tersebut “

Ia merandek sejenak. lalu sambungnya, “Bila Soen-heng suka bekerja sama dengan aku orang she shen, maka dalam sepertanak nasi kemudian sisa- sisa musuh yang berada diatas perahu panca warna ini akan berhasil kita sapu bersih, Siauw Yauw-cu serta Su hay Koen-cu pasti berhasil kita bekuk dan anak kunci untuk membuat borgol itu-pun dengan sangat gampang berhasil kita dapatkan.”

“Hmmm Jikalau Soen Put-shia serta Tiong-chiu Siang-ku adalah sebangsa manusia yang gampang ditipu, tidak mungkin mereka dihormati serta dikagumi oleh semua Umat Bu-lim,” sela Siauw Yauw-cu dingin.

Shen Bok-hong tertawa hambar.

“Perkataan aku dari orang she-shen cuma sampai disini saja, benar atan tidak terserah kebijaksanaan Soen-heng sendiri.”

“Bagaimana pendapat kalian bertiga?” Soen Put shia tidak menjawab sebaliknya malah berpaling kearah Siauw Ling serta Tiong Chiu-siang Ku.

Soen Loocianpwee lah yang menolong kami bersaudara, bagaimanakah tindakan kita selanjutnya alangkah baiknya kalah Soen Loo cianpwee sendiri yang memutuskan.”

Aaaaaah kalau memang kamu semua begitu mempercayai diriku sipengemis tua ini. aku harus baik-baik memikirkan lebih dahulu persoalan ini sebelum mengambil keputusan.”

Soen thayhiap, kau tak usah berpikir panjang lagi!” seru Siauw Yauw-cu.

“Bila kalian suka turun tangan menawan diri Sben Bok-hong, maka pinto akan segera menyerahkan anak kunci tersebut kepada kalitn.

“Aku sipengemis tua tak mungkin bisa menandingi kekuatan Shen Bok Hong….”

“Bagaimana kalau kubukakan borgol ditangan Tiong chiu Siang Ku agar mereka membantu dirimu?”

“Sekalipun kau buka borgol ditangan kami Tiong.chiu Siang Ku percuma saja. sebab tindakan tootiang tersebut cuma akan menemui kegagalan total belaka….” sambung Sang Pat.

“Mengapa?”

“Sebab kekuatan kami bertiga sama saja tak mungkin bisa menandingi kehebatan Shen Bok Hong.”

Mula-mula Siauw Yauw-cu tertegun, diikuti ia mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaaa…. haaaa…. betul, jadi maksud cuwi sekaiian adalah minta pinto agar suka membuka borgol ditangan Siauw Ling, bukankah begitu?

“Sedikitpun tidak salah,” jawab Tu Kioe ketus. “Dalam dikoloug langit dewasa ini kecuali Siauw toako kami, mungkin jarang sekali ada orang bisa menandingi kekuatan Shen Bok Hong.”

“Haaaa…. haaaa….” tiba-tiba Shen Bok Hong tertawa tergelak-gelak. “Tu-heng, dengan ucapanmu barusan bukankah terang-te-rangan kau sudah pandang rendah kekuatan Siauw Yauw tootiang serta Su HayKoen-cu?”

Beberapa orang itu rata-rata merupakan jago kawakan semua. mereka Sudah kenyang makan asam garam dalam dunia persilatan meski masing-masing pihak saling berhadap-an sebagai musuh bebuyutan, namun perubahan serta taktik licik yang digunakan semua pihak tak terhingga banyaknya. dalam adu akal ini siapa teledor akau termakan.”

Mendadak Siauw Yauwcu maju dua langkah kedepan, setibanya disisi tubuh Siuuw Ling, ia segera turun tangan melepaskan alat borgol yang membelenggu tubuh si anak itu, katanya.

“Pinto percaya bahwa Shen thayhiap serta Siauw thayhiap merupakan orang orang yang dapat dipercaya setiap perkataannya setelah menyanggupi tidak nanti akan mengingkari janji. Baiklah, pinto akan mengambil keputusan sendiri dengan melepaskan lebih dahulu borgor ditubuh Siauw thayhiap.” Setelah terlepas dari belenggu Siauw Ling melepaskan otot-otot tubuhnya dan menghembuskan napas panjang, dalam hati ia merasa lega dan nyaman sekali.

Tiba-tiba terdengar Sang Pat mendongak dan tertawa terbahak-bahak, Siauw Yauwcu berpaling mendengar sekejap kearah Siauw Ling, timbul rasa menyesal didalam hati kecilnya Ia sadar bahwa melepasken borgol dari tubuhnya memang gampang namun kalau ia ingin memborgol dirinya lagi, mungkin pekerjaan ini akan jauh lebih sulit dari pada terbang kelangit. Tindakan tersebut bukan saja bagaikan buka sangkar melepaskan burung hong, membuka rantai dileher naga,

umpama kata beberapa orang ini sampai berkerja sama dengan diri Shen Bok Hong bukankah dirinya bakal runyam.

Berpikir sampai disitu. dengan nada dingin segera tegurnya.

‘ “Apa yang anda tertawakan?”

“Tidak salah, memang selamanya perkataan yang telah Siauw toako ucapkan tidak pernah dipungkiri, tetapi sampai detik ini ia tak pernah mengucapkan sepatah katapun, apalagi menyanggupi sesuatu. dari Tootiang.”

^Omong kosong….” tiba-tiba toosu tersebut ingat bahwa Siauw Ling mamang tak pernah menjanjikan sesuatu pada dirinya, maka dengan cepat ia membungkam.

Sang Pat tersenyum. ujarnya kembali: “Tootiang, coba pikirlah lebih seksama lagi, bukankah perkataan dari aku orang she Sang sedikitpun tidak salah?”

“Pinto percaya bahwa Soen thayhiap serta Tiong-chiu-siang Ku adalah jago kenamaan didalam dunia persilatan, apa yang telah diutarakan tidak akan diingkari kembali.” ‘coba loocianpwee sedang pertimbangkan apakah harus membantu tootiang atau tidak. sebelum ia mengambil keputusau sudah tentu perkataannya belum bisa terhitung sebagai suatu janji, sedangkan mengenai kami sepasang pedagang dari Tiong chiu, yang kami utamakan selamanya adalah keuntungan dari suatu perdagangan, kalau pekerjaan rugi tidak akan kami kerjakan apalagi membicarakan soal hubungan persahabatan….”

“Meskipun kalian menitik beratkan pada soal perdagangan, dalam jual belipun ada peraturannya, perkataan yang telah kalian ucapkan sudah sepantasnya kalau ditepati….”

“Tootiang, coba kau terangkan kepada kami. persoalan apakah yang telah kami Tiong-ci Siang ku sanggupi.”

0 Response to "Rahasia Istana Terlarang Jilid 06"

Post a Comment