Po Kiam Kim Tjee Jilid 23

Mode Malam
Jilid 23

"SILAHKAN toaya ikut aku!" kata ia, yang terus saja bertindak masuk.

Bouw Pek ikut masuk kepintu kedua, kemudian ia berdiri menantikan selagi hamba itu masuk kepedalaman. Cepat sekali kelihatan Tek Lok lari keluar, ia terus kasi hormat pada tamunya itu.

"Jie ya mengundang masuk!" ia kata Bouw Pek manggut.

"Terima kasih" kata ia, yang terus ikut orang kepercayaannya Tiat Pweelek ini. la dibawa keruangan tamu yang mungil digedung pinggir sebelah barat, disitu ia disilaukan duduk dan disuguhkan teh.

"Sering Jie-ya kita sebot2 kau toaya" kata Tek Lok dengan perlahan "Jie-ya bilang, ilmu pedang kau di kolong dunia ini tidak ada tandingannya" Bouw Pek bersenyum, ia puas dengan pujian itu. Tapi karena pujian ini ia ingat Su Ciauw, yang sama gagah seperti ia, muka kasihan pemuda she Beng itu telah berumur pendek dan nasibnya malang.

Tidak lama Tek Lok dengar tindakan kaki diluar jendela, ia lari kepintu akan membukai, dengan begitu lantas juga tertampak si orang bangsawan Boan bertindak masuk kedalam kamar tamu ikut

Bouw Pek segera berbangkit dan menyambut sambil unjuk hormatnya yang dalam.

"Kau baru saja sampai?" Tiat Pweelek tanya sambil tersenyum "Apa semua baik dirumahmu?"

"Benar Jie-ya, baru tadi siang aku tiba" anak muda kita jawab. Dengan rejeki Jie-ya, keluargaku baik. Terima kasih"

Orang bangsawan itu lantas duduk. "Silahkan duduk!" ia undang tamunya.

Sambil mengucap terima kasih. Bouw Pek duduk disebelah depan.

"Apakah kau sudah ketemui Siauw Hong?" Siauw Hong Jiam lantas tanya. "Apakah kau telah ketahui duduknya perkara?"

"Aku sedang berada dirumahku ketika aku dengar Siauw Hong dapat perkara" Bouw Pek jawab, "dengan lantas aku berangkat kemari. Tadi aku terus pergi kerumahnya Siauw Hong, dimana sekarang aku menumpang tinggal. Dari Tek naynay aku telah dapat keterangan. Baru saja aku tengok Siauw Hong dipenjara Heng-pou dan ia minta aku tolong tanyakan kewarasan Jie-ya sambil haturkan terima kasih"

Tiat Pweelek manggut2, ia menghela napas.

"Siauw Hong sangat gemar bergaul dan terhadap sahabat jiatsim sekali" ia kata dengan pujian "Terhadap sahabat ia tidak lagi melihat perkara kecil atau besar, ia selamanya berikhtiar menolong dengan sungguh sungguh. Demikian dengan perkaranya Yo Cun Jie ini. Dengan sebenarnya Yo Cun Jie mesti tersangka dalam perkara pelicinan dikeraton ini, kalau Siauw Hong tidak semberono campur tahu, belum tentu ia kena tersangkut. Sekarang Oey Kie Pok musuhkan ia secara hebat, Kie Pok telah punyai pengaruhnya orang kebiri. Dalam perkara ini barangkali tenagaku tidak mencukupi, meski demikian kau boleh beritahukan Siauw Hong agar ia tidak berkuatir Sebenarnya sukar akan tanggung perkara bisa dibikin terang, tetapi jiwanya aku merasa pasti tidak akan terancam halnya maut"

Bouw Pek manggut, ia nampak sangat berduka dan lesu, Tiat Pweelek menghela napas pula.

"Sudahi banyak tahun aku bersahabat dengan Siauw Hong, biar bagaimana, aku akan berdaya menolongnya" kata pula pangeran ini. "Aku hendak peringati, jangan karena urusan sahabatmu itu, kau timbulkan gara2 pula jangan berlaku semberono. Oey Kie Pok benci kau melebihi daripada rasa- benci Siauw Hong. Dahulu ia gagal membikin kau celaka, sekarang ia bisa ulang ikhtiarnya. Umpama dengan pengaruh uang ia bisa bikin kau ditahan pula, benar? sukar bagiku. Bagaimana aku bisa tolong kau dan Siauw Hong dengan berbareng?"

"Aku akan lahan sabar sebisaku, aku tidak akan terbitkan onar" kata Bouw Pek yang hatinya sebenarnya panas bukan main. Ia ingin bisa segera satroni Siu Bie too, akan hajar mampus dia itu.

Mereka lantas bicaiakan hal2 lain, kemudian Bouw Pek pamitan.

Tiat Pweelek suruh Tek Lok antar tamunya sampai diluar.

Senaiknya diatas kereta, Bouw Pek suruh kusir tujukan kendaraannya kearah timur.

"Sungguh celaka Oey Kie Pok" kata ia dalam hatinya yang panas luar biasa" Ia tidak pangku angkat, ia bukan pembesar negeri, melulu karena andalkan uang ia jadi berpengaruh, dikota raja ini ia berani berlaku sangat sewenang2, sampai pun Pweelek tidak bisa berbuat apa2 Apa ini berani masih ada undang negara? Aku mesti bunuh dia!. "

Ngelamun sampai disitu ia lantas ingat pesannya Tiat Pweelek, ia coba banteras berkobarnya api amarah itu. Apa ia mesti terbitkan onar lagi, selagi Siauw Hong menghadapi bahaya hebat? Tidak ! Ia mesti bersabar!

Kereta menuju ke Tong Su pay-lauw, ketika ia sampai dimulut sebelah barat dari Samtiauw Hotong, ia tampak mendatanginya serombongan orang dijurusan selatan. Dua orang kelihatan sebagai seorang dagang dua yang lain adalah Phang Hoay dan Phang Liong. Seorang lagi adalah Moh Po Kun. Mereka itu semua dandan dengan mentereng, romannya garang.

"Tentu mereka mau pergi kerumahnya Siauw Hong" ia menduga. Hawa amarahnya bangkit pula. "Bagus! Bagus! Inilah kebetulan!" Ia loncat turun dari keretanya, dengan singsotkan thungshanya ia lari kedepan akan papaki mereka itu.

"Tahan!" ia berseru.

Semua orang itu bersikap garang, semua beroman gembira, apapula Moh Po Kun. yang saban2 perlihatkan sepasang kepalannya yang kurus. Pada dua kawannya ia kata dengan jumawa : "Sekali ini, tak boleh tidak kita mesti dapatkan uang dari isterinya Siauw Hong! Kalau mereka tetap tidak mau mengasikan, mereka mesti diusir pergi dari gedung ini, dan gedunghya kita duduki" Kemudian baharulah kita minta putusan. Oey Suya

Dan ia seperti juga sudah merasa menggenggam uang ratusan, sebagai persenan dari Oey Kie Pok.

Adalah justru itu terdengar seruan nyaring dan keren, hingga mereka terperanjat semua merandek dengan tiba-tiba, semua angkat kepala. yang paling dahulu lemas kakinya adalah si orang she Moh, sedang dua saudara Phang, yang niat ulur langkah seribu, mesti batalkan itu, lantaran Bouw Pek telah mendahului sampai dihadapan mereka. Terpaksa, mereka hunus golok mereka.

"Bagus aku ketemu kau orang disini!" Bouw Pek kata dengan nyaring. Sekarang kau jangan pergi dahulu kerumah si orang she Tek akan memeras isierinya, marilah kau berurusan dengan aku! Aku Lie Bouw Pek ingin saksikan punya kegagahan dan kepandaian kau, yang membikin kau jadi sangat terpakai dan diandalkan oleh Oey Kie Pok!"

Sekalipun mereka cekal senjata, mukanya Phang Hoay dan Phang Liong pucat laksana kertas putih. Dan sekalipun ditantang secara demikian, mereka itu tidak berani maju menerjang. Berdua mereka mengawasi dengan mendelong.

Mo Po Kun berniat lari, apa mau kedua kakinya menjadi lemas, lenyap kekuatan tenaganya. Dalam keadaan seperti itu terpaksa ia mesti tebalkan muka akan tonjolkan sifatnya yang rendah dan hina dina.

Demikian ia coba bersenyum, senyuman paksaan, hingga ia jadi meringis seperti kuda.

"Kiranya Lie Toako yang telah kembali ke Pakkhia!" begitulah ia kata seraya coba angkat kedua tangannya akan unjuk hormatnya. "Apakah kau baik toako?"

Lie Bouw Pek tidak sudi dengar suara yang tidak enak didengar itu ia menyambut pemberian hormat itu dengan dupakan, hingga sebelum Moh Po Kun sempat tutup mulutnya tubuhnya telah rubuh terpelanting, menggelinding kepinggir laksana bola! Adalah sekarang, setelah cepat2 merayap bangun, piauwsu itu buka langkah panjang

Hoa-chio Phang Liong tidak mau dapat persenan dupakan seperti Moh Po Kun, dengan nekat ia maju menyerang dengan goloknya.

Bouw Pek lihat gerakannya, ukir tangan kirinya akan sambuti lengan bawah lawannya difihak lain kepalan kanannya menyambar dada, hingga suara keras dan nyaring terdengar sebagai susulan dari itu, sampai si orang she Phang menjerit dan tubuhnya tertolak mundur. Celaka baginya goloknya telah kena dirampas secara sebat sekali!

Sekarang hanya ketinggalan Tiat-kun Phang Hoay, pada siapa Bouw Pek kata:

"Kau pernah rasakan Tangan Besi Tek Ngoya, kau belum pernah cicipi rasanya tanganku, hayo maju" Kebiasaannya Phang Hoay ini lebih rendah daripada Phang Liong, tidak heran kalau hatinya jadi ciut dan kuncup. Ia tidak gusar, hanya ia berkiongchiu.

"Tidak tidak" Kata ia dengan terpaksa dengan mengalah. "Sekalipun saudara kami keempat, Kim-too Phang Bouw, telah rubuh ditangan kau Lie Toaya, mana kami sanggup layani engkau? Aku mengaku kalah"

Lie Bouw Pek maju, ia jambak orang she Phang itu, tidak perduli orang telah menyerah. Inilah disebabkan ia masih tetap gusar.

"Tidak cukup dengan kau mengaku kalah saja!" ia kata dengan nyaring "Aku tanya kau, kenapa kau gunai surat- hutang palsu hendak memeras keluarga Tek, hingga kau bikin orang serumah tangga menjadi tidak aman? Bilang, kau menghina keluarga Tek atau hanya tidak memandang mata padaku?"

Phang Hoay begitu ketakutan hingga ia manggut2, berulang2 ia soja.

"Jangan kau persalahkan kami Lie Toaya" kata ia yang terus buka rahasia. "Semua itu adalah buah otaknya Oey Suya, jikalau kami tidak turut perintahnya, disini kami tidak bisa tinggal lebih lama, buat makan nasipun sukar kenyang! Sekarang kami ketahui Lie Toaya ada disini, biar apa terjadi, tidak nanti kami mau diperintah lagi, buat ini kami berani sumpah!"

Menurut hatinya, Bouw Pek ingin tikam mampus piauwsu ini, tetapi ia ingat pesanan Siauw Hong dan Tiat Pweelek, ia coba kendalikan diri.

"Untuk dia seorang aku mesti hadapi perkara, sungguh tidak berharga" akhiruya ia pikir. Maka ia lepaskan jambakkannya.

"Karena kau memohon secara begini, aku suka kasi ampun pada kau" ia kata dengan senyum sindir. "Aku juga masih memandang pada saudaramu, Kimtoo Phang Bouw. seorang laki2 sejati. Ia kalah terhadap aku, ia pegang perkataannya tidak mau lagi hidup dikalangan kangouw" Bukan main leganya hati Phang Hoay, tidak tempo lagi ia tarik tangannya Phang Liong buat diajak menyingkir. Ia tidak mau tunggu sampai si orang she Lie berobah pikiran, itulah berbahaya

Sekarang tinggal orang2 mereka yang ber diri bingung. Mereka ini adalah dua pegawai dari toko uang. Mereka tanya orang banyak, yang telah datang berkumpul, siapa adanya si pemuda gagah.

"Kau tidak kenal anak muda itu?" kata seorang. "Ia Lie Bouw Pek, sahabatnya Tek Ngoya. Lagi tahun yang baru lalu ia telah rubuhkan beberapa piauwsu disini"

Baru sekarang dua orang itu ketakutan, karena mereka tahu, dulupun Poan Louw Sam majikan mereka binasa karena gara2nya si orang she Lie ini. Tapi ketika mereka mau berlalu, Bouw Pek telah samperi mereka.

"Balik!" anak muda itu menitah. Mereka ketakutan, apapula mereka melihat orang pegang golok. Mereka menghampirkan. Lantas minta2 ampun:

"Lie Toaya, kami cuma turut perintah kuasa kami. "

"Jangan takut" Bouw Pek kata. "Memang siapa berhutang, ia mesti membayar. Kalau keluarga Tek benar ada hutang, aku nanti suruh ia bayar hutangnya itu. Coba kasi aku lihat surat hutangnya

Anak muda kita maju dan cekal satu diantaranya. "Lekas!" ia membentak.

Dua orang itu ketakutan sampai tubuh mereka menggetar keras, yang satu, yang pegang surat tagihan, sudah lantas serahkan surat itu.

Bouw Pek samber surat hutang itu, sedang orang yang ia jambak ia lepaskan, Ia lantas membaca :

"Untuk menutup ketekoran, aku mengakui pinjam uang dari toko tuan banyaknya sepuluh laksa tail jangkap dengan bunga dua persen. Aku janji akan lunaskan pinjaman ini dalam satu tahun, dengan bunganya dibayar lebih dahulu, dengan dipotong langsung dari uang pinjaman. Surat ini dibuat sebagai bukti" Di bawah itu terdapat tanda tangan Tek Siauw Hong dan cap palsu serta cap dari saksi2 Moh Po Kun dan Phang Liong.

Siapa juga lihat surat hutang itu, ia mesti ketahui bahwa surat itu palsu. Maka juga Bouw Pek lantas bersenyum ewah.

"Tilang coba lihat ini! ia kata pada Orang banyak, dimuka siapa ia beber surat hutang itu. "Ini adalah hasil dari buah pikirannya Oey Suya, yang bikin surat palsu untuk peras Tek Siauw Hong. Jangan kata memangnya keluarga Tek berharta, hingga tidak nanti ia pinjam uang, umpama kata ia benar pinjam mustahil toko uang yang demikian besar bisa andalkan surat hutang semacam ini, sedang jumlah hutang adalah demikian besar? Mustahil beberapa piauwsu bangpak mau dipercaya sebagai saksi2 yang menanggung yawab untuk uang sepuluh laksa tail? Maka terang ini adalah perbuatan jahat dari Oey Kie Pok, yang berdurhaka terhadap Thian dan menghina undang negeri

Setelah kata begitu, dalam sengitnya Bouw Pek robek surat itu.

Tentu saja diantara orang banyak, ada yang tertawa berkakakan, sementra siapa yang jerih terhadap Kie Pok yang kejam, lantas angkat kaki, karena mereka takut dijadikan saksi dan kerembet2.

"Sekarang kau boleh pergi!" kata Bouw Pek, yang lemparkan sobekan surat hutang dan goloknya Phang Liong yang tadi ia rampas. Kemudian selagi kedua orang itu ngacir pergi, ia bayar sewa kendaraan dan bertindak masuk kegedongnya Siauw Hong! Adalah waktu itu, baharu ia menyesal telah merobek surat hutang itu sedang sebenarnya ia harus bawa itu pada Oey Kie Pok.

"Tapi tidak ada faedahnya aku bawa surat itu pada Oey Kie Pok" kemudian ia pikir pula. "Disitu tidak ada disebut nama, Kie Pok seorang pintar dan licin meski surat itu ia yang perintah orang bt kin, mana ia mengaku? Kalau aku pergi tambah mencari pusing kepala saja..."

Siu Jie muncul sebagai anak muda ini masih mendongkol. "Aku telah pergi pada Tiat Pweelek dan ia janji akan tolong Ngo-ya" Bouw Pek kasi tahu kacungnya Siauw Hong itu. "Baru saja aku hajar Moh Po Koen dan Phang Liong dan bikin Phang Hoay tidak berdaya, sedang surat hutangnya toko-uang dari Poan Louw Sam aku telah robek hancur. Pergi kau beritahukan ini pada naynay supaya hatinya jadi tetap dan tidak berkuatir"

Siu Jie girang mendengar kabar itu. "Baik, toaya," kata ia, yang terus masuk.

Bouw Pek pergi kekamarnya akan beristirahat, tapi hatinya masih panas saja, ia rasai tubuhnyapun turut panas juga, hingga ia jadi tidak enak duduk dan berdiri, akhirnya ia rasai kepalanya pusing, la menjadi kaget.

"Tidak, sekarang aku tidak boleh jatuh sakit!" kata ia pada dirinya sendiri.

"Kalau aku rubuh karena sakit, tidak saja Siauw Hong bisa celaka, aku sendiri bisa hadapi bahaya Oey Kie Pok tentu tidak takuti siapa juga. "

Bouw Pek jalan mondar-mandir dengan keraskan hatinya, untuk bikin tenang dirinya, setelah sekian lama baru ia jatuhkan diri diatas pembaringan, dengan mata tidur pulas agar bisa mengaso. Akan tetapi sekonyong2 Kok Cu datang masuk sambil berlari2, romannya gugup

"Toaya lekas keluar, lihat!" ia kata dengan suara keras tetapi tidak tedas. di luar ada seorang dengan tubuh tinggi dan besar, kaianya ia piauwsu dari Su Hay Piauw Tiami, mungkin ia ingin ketemukan Toaya "

Bouw Pek jadi heran berbareng hatinya panas lagi.

"Dia tentu Moh Po Kun yang tidak puas karena hajaranku tadi dan sekarang ia datang pula bersama kawannya" ia menduga duga, ia loncat bangun seraya sambar pedangnya. Dengan tindakan cepat pemuda kita pergi keluar Didepan pintu ia tampak seorang dengan tubuh tinggi dan besar usianya tiga puluh lebih, pakaiannya ringkas tetapi tidak bekal senta menampak orang itu, ia merasa seperti pernah bertemu. Selagi ia berpikir, tamu itu sudah hampirkan ia seraya unjuk hormat dengan air muka lersungging senyuman. "Saudara Bouw Pek, sudah lama kita ketemu" demikian katanya.

Sekarang barulah Bouw Pek ingat dan mengenali tamunya, wakiu bertemu diKielok dirumahnya Jie Siu Lian, yalah Ngo- jiauw-eng Sun Ceng Lee, murid Jie Hiong Wan. Maka lekas2 ia serahkan pedangnya pada Hok Cu dan lantas balas hormatnya tamu itu.

"Kiranya Sun Toako!" kata ia sambit tertawa. "Silahkan masuk, silahkan"

Sun Ceng Lee diundang masuk kekamar tulis, Bouw Pek sendiri yang tuangkan teh,

"Berapa lama kau telah berada di Pakkhia toako?"

"Aku sampai disini belum ada satu bulan, aku datang dari Soan hoa" sahut Ceng Lee yang irup tehnya. "Dahulu saudara, setelah terjadi kelucuan dan kemudian kau berlalu, suhu puji tinggi kepandaian kau, katanya dua puluh tahun sudah suhu mengembara, belum pernah ia ketemu orang gagah sebagai kau. Suhu menyesal yang saudara Siu Lian telah ditunangkan siang2 pada pemuda Beng, bila tidak ia tentu telah ambil kau sebagai mantunya. Kalau itu terjadi, ia kata ia tidak usah kuatir lagi pada Thio Giok Kin. "

Bouw Pek berduka dengar penuturan itu.

Sun Ceng Lee lanjutkan omongannya. Ia kata:

"Suhu berduka kapan ia dengar Thio Giok Kin mau datang cari ia. Aku dan sumoay Siu Lian tidak takut, kami telah bilang pada suhu, andaikata musuh datang kami suka maju melawan upama kata kami tidak sanggup, kami boleh cari kau di Lamkiong akan minta bantuan. Suhu tidak setuju pikiran kami. Ia kuatir juga yang sumoay Siu Lian nanti dapat celaka, apabila itu terjadi, ia malu terhadap fihak Beng. iapun malu akan minta bantuanmu. Akan tahu kekuatiran suhu, ia bukannya benar2 takut pada Thio Giok Kin, ia hanya ingin lebih dahulu bisa antar sumoay dan subo ke Soanhoa, kemudian baru ia mau cari Giok Kin buat adu jiwa. Sayang maksud suhu itu tak terwujud. Lama aku tunggu kabar dari suhu, hingga lebih dari setengah tahun aku tidak dengar apa- apa, akhirnya aku peroleh kabar tentang meninggalnya suhu di Jie-sie-tin. "

Bicara sampai disitu Sun Ceng Lee menghela napas, matanya merah.

Bouw Pek turut terharu.

"Aku terima kabar duka itu dengan menangis" Ceng Lee ceritera lebih jauh "Sebenarnya aku telah pikir untuk sambangi layonnya suhu di Jie-sie-tin, buat sekalian tengok subo dan sumoay di Soanhoa hu apa mau, maksud itu aku tak sanggup wujudkan. Kau tau sendiri, hasilku sebagai guru silat tidak berarti, bual lewatkan hari adalah sukar, bagaimana aku bisa bikin perjalanan jauh? Pada musim dingin yang lalu aku tidak mengejar pula, aku lantas pikir akan cari saudara angkatku, Moh Po Kun di Pakkhia, untuk cari pekerjaan Aku telah bisa kumpul sedikit uang, aku dapat pinjam kuda, maka aku telah berangkat dari Kielok. Di Jie sie-tin aku sambangi kuburan suhu, dari sana aku pergi ke Soanhoa. Siapa tahu, suhu telah meninggal dunia dan sumoay telah pergi, entah kemana. Syukur ada Toan kim-kong Louw Keng yang bernantikan aku hanya sumoay telah pergi mencari Beng Jie-siauwya. Lauw Keng ceriterakan juga, ditengah jalan, sampai suhu menutup mala di Jie sie-tin dan dikubur, sampai subo dan sumoay sampai di Soanhoa, semua itulah terjadi karena pertolongan kau yang besar, saudara Bouw Pek. Lauw Keng dan aku sangat bersukur pada kau. Adalah waktu itu aku dengar  kabar, bahwa kau telah pukul rubuh Say Lu Pou Gui Hong Siang di See-ho dan di Pakkhia kau telah pecundangi Kim-too Phang Bouw dan Siu Bie-too Oey Kie Pok, hingga namamu jadi terkenal. Aku menjadi kagum bukan main, aku jadi seperti dapat anjuran akan lanjuti perjalanan ke Pakkhia, separoh untuk cari kerjaan, separoh guna cari kau. Lauw Keng setuju aku pergi, tapi ia tahan aku sampai diakhir tahun, ia kata sesudah tutup buku dan terima bagian ia mau letakkan jabatan, ia minta bantuanku akan angkut pulang layonnya subo. Temu saja aku nyatakan setuju. Demikian aku jadi berdiam di Soanhoa. Belum lewat beberapa hari, kami telah kedatangan seorang she Su yang tubuhnya gemuk, ia perkenalkan diri sebagai Pa san-coa Su Kian. "

Mendengar halnya Su Poan-cu ini, diam2 Bouw Pek tertawa dalam hatinya.

"Ia benar seorang aneh!" ia pikir. "Kenapa ia mesti mundar mandir buat urusan yang tidak ada sangkutannya dengan ia sendiri?. "

Tapi Sun Ceng Lee sudah lanjuti omongannya, ia terus mendengari.

"Nyata Su Kian datang atas permintaan tolong dari sumoay Siu Lian, guna minta bantuan dalam hal membawa pulang layonnya subo. Dari siorang she Su ini kami mendapat tahu yang Beng Jie-siaowya telah menutup mata, bahwa sumoay di Pakkhia telah bunuh Biauw Cin San, bahwa ia telah pulang ke Kielok. Berbareng dengan itu, saudara, aku dapat tahu yang kaupun telah pulang ke Lamkiong. Hatiku sampai disitu barulah menjadi lega. Su Kian berdiam di Soan-hoa sampai satu bulan lebih, baru ia pergi, katanya ada urusan lain. la tidak bantu kami karena ia anggap kami berdua sudah cukup akan urus satu peti mati. Benar pada akhir bulan kesatu tahun ini, Lauw Keng telah angkut layonnya subo, begitupun layonnya suhu dari Jie-sie-tin dibawa pulang ke Kielok untuk di kubur dengan baik. Bersama2 Lauw Keng turut Khouw Giok Yan dari Hong Sian Piauw-tiam dan dua pegawai lagi. Maksud mereka ini turut yatah agar dalam perjalanan pulang mereka nanti mampir di Khoyang buat pindahkan layonnya jie-siauwya Melihat orang cukup banyak dan aku ingin lekas pergi ke Pakkhia, aku tidak turut mereka itu pulang ke Selatan Begnulah sendirian saja aku mcnuju ke Pakkhia. Mulai sampai di Pakkhia, aku berdiam di Su Hay Piauw-tiam bersama2 Moh Po Kun, setiap hari aku nganggur saja. Aku tidak tahu yang kau telah berada disini, saudara Bouw Pek, aku baru ketahui barusan saja, dari Moh Po Kun, ketika ia pulang ke Piauw- tiam. Ia cerita padaku, bahwa kau berada dirumahnya Tek Siauw Hong, bahwa kau telah hajar dia, lantas ia minta aku pergi balaskan sakit hatinya. Aku tertawa saja waktu aku dengar ceritanya itu! Bagaimana lucu akan minta aku tempur kau, guna lampiaskan kemendongkolannya itu? Demikian sekarang aku datang kemari, kesatu guna haturkan terima kasihku yang kau telah bantu, banyak pada suhu dan sumoay, kedua guna minta keterangan bagaimana doduknya perkara antara Siu Bie-too Oey Kie Pok dan Tek Ngo ya disini, siapa salah dan siapa benar"

Keterangan Ceng Lee ini bikin hatinya Bouw Pek lega, sebab ternyata layonnya Jie Hiong Wan dan nyonya sudah diurus rapi, bahwa layonnya Su Ciauw juga pasti sudah  dibawa pulang ke Soanhoa, ia hanya malu sendiri, yang Sun Ceng Lee mesti haturkan terima kasih kepadanya.

"Sun Ceng Lee telah ketemu Su Poan-iyu, ia mestinya ketahui kesulitan diantara aku, Su Ciauw dan Siu Lian" ia pikir. "Ia rupanya tidak mau banyak omong sama aku, maka ia tidak mau tanyakan suatu apa. Tapi biarlah. "

Karena ini, dengan hati masih panas ia beber rahasianya Oey Kie Pok, yang telah satroni Tek Siauw Hong dan malah ia sendiri. Ia unjuk Kie Pok adalah manusia busuk, yang kelakuannya sebagai binatang saja.

Sun Ceng Lee seorang jujur, yang benci sangat pada kejahatan apabila ia sudah dengar semua, ia menjadi gusar bukan kepalang tampangnya sampai berubah.

"Apakah artinya ini?" ia berseru. "Apakah bisa jadi didalam kota Pakkhia orany semacam Oey Kie Pok itu bisa diijinkan malang melintang? Bagaimana ia bisa gampang gampang fitnah oranng Saudara Bouw Pek, biar aku omong terus terang pada kau. Baru setengah bulan aku berada dikota ini sudah tiga kali Oey Kie Pok undang aku berjamu dan telah dua kali ia kirimkan aku uang, tetapi aku duga ia baiki aku dengan ada maunya, pasti ia hendak gunai tenagaku, maka uangnya itu aku tidak gunakan. Sekarang aku tahu, tidak saja Oey Kie Pok manusia binatang, malah Moh Po Kun, saudara angkatku adalah manusia busuk, tukang hinakan orang2 perempuan, tukang bikin celaka sesamanya! Kau tunggu, saudara Bouw Pek, sekarang aku hendak pulang ke piauwtiam, aku mau putuskan perhubunganku dengan Moh Po Kun kemudian dengan bawa uangnya Kie Pok dan golokku aku hendak pergi pada orang jahat itu untuk tantang ia berkelahi, Dengan jalan ini aku hendak bantu lampiaskan dendamannya Tek Ngo ya, orang yang namanya aku telah kagumkan!"

Sehabis kata begitu Sun Ceng Lee lantas berbangkit  dengan tubuhnya yang tinggi besar itu, ia putar tubuhnya untuk berlalu.

Tapi Bouw Pek segera berbangkit akan cekal tangannya. "Sun Toako jangan sembarangan" ia mencegah. "Dengar

dahulu aku masih hendak bicara"

Sun Ceng Lee menoleh, dengan berbareng perasaan heran sandingi ia, ia awaskan tubuh dan muka orang yang kurus dan masih

bercahaya pucat, tetapi diluar dugaan, tenaganya besar luar biasa, sebagaimana ia rasakan dari cekalan orang itu.

"Dasar ia liehay dan tenaganya besar" pikir ia dengan kagum, "pantas Kim-too Phang Bouw juga rubuh ditangannya"

Lantas Bouw Pek undang tamunya duduk pula.

"Selagi sekarang Tek Siauw Hong berada dalam penjara dalam segala hal kita harus tahan sabar" ia kasi keterangan "Kita tidak boleh terbitkan onar. Oey kie Pok besar seorang berbahja, ia sukar dilayani, tetapi apa kau penyaya aku Lie Bouw Pek, sahabat mati dan hidup dari Tek Siauw Hong, tidak bisa samperi dan bunuh mampus dia? Bukankah, dengan mampusnya Oey Kie Pok tidak lagi ada orang yang gunai pengaruh uang akan celakai Siauw Hong? Tetapi tindakan ini kita tidak bisa lakukan sekarang. Kalau kita bunuh Kie Pok, tidak saja perkara Siauw Hong menjadi sukar diurus, kesulitan lain bisa timbul saling menyusul"

"Tetapi dengan aku keadaannya lain" Sun Ceng Lee potong. "Kau sahabat karib dari Tek Siauw Hong,  semua orang ketahui itu kalau kau bunuh Kie Pok kau memang bisa rembet Siauw Hong. Aku sebaliknya, aku tidak kenal Tek Ngoya, apa halangannya apabila aku satroni Kie Pok? Aku beradat aneh, aku benci Kie Pok, Kalau aku yang bunuh ia aku tentu tidak akan rembet siapa juga"

Masih saja Bouw Pek membujuki.

"Aku tahu kejujuran kau. Sun Toako, tetapi untuk sekarang mencari dan tempur Oey Kie Pok, waktunya tidak cocok Malah dengan Moh Po Kun kau tidak boleh putuskan persahabatan sekarang juga"

Ceng Lee jadi mendongkol, tapi ia geleng2 kepala.

"Kau tidak tahu, saudara Bouw Pek" ia kata. "Dengan Moh Po Kun itu aku asal satu kampung, lantaran kami sering bergaul, kami telah angkat saudara. Belakangan aku dapat tahu perbuatannya kurang baik, aku tidak suka bergaul lagi sama ia, kalau sekarang aku datang ke Pakkhia dan cari ia, itulah karena sangat terpaksa, aku tak berdaya. Aku malah mengharap, dengan peranaannya aku nanti bisa berkenalan dengan beberapa piauwsu dari Pakkhia ini. Sekarang aku dapat tahu ia demikian busuk, apa aku mesti campur dengan dia lebih jauh? Kalau aku andalkan golokku, dengan jual silat aku masih bisa hidup!"

"Kau benar Sun Toako tetapi kau harus sabar" Bouw Pek kata pula. mangut2.

"Kalau kau niat masuk dikalangan piauwtiam, aku bisa jadi orang perantaraan, Tay Hong Piauwtiam adalah piauwtiam dimana gurumu. Jie Loo enghiong, pernah berikan jasanya, ketuanya Lauw Kie In, adalah sahabat baik dari almarhum gurumu itu. Aku kenal Lauw Loo-piauwsu itu. Kalau Sun Toako setuju, baik kau kunjungi dia, kau boleh sebut namaku, aku percaya, ia akan undang kau akan berkerja sama2 dia. Ini lebih baik daripada kau campur Su Hay Piauw-tiam. Kalau kau ketemu Moh Po Kun, jangan sebut2 aku, persahabatan kau antapilah dahulu seperti biasa. Mereka bersama Oey Kie Pok, tentu masih belum puas, entah daya apalagi mereka akan ambil untuk celakai Siauw Hong lebih jauh, kalau kau ada disana, kau jadi bisa dengar2 daya upaya mereka itu. Apa saja yang kau dengar, tolong kau beritahukan dengan segera kepadaku, agar aku bisa siapkan diri. Aku berada di Pakkhia sendirian, sebaliknya, dimana ada musuhku, itu artinya aku kekurangan pembantu, maka kebetulan kau berada disini, Sun Toako, buat orang jujur, aku minta sukalah kau bantu aku. Aku ingin tolongi Tek Siauw Hong dan lindungi keselamatan rumah tangganya. Siauw Hong dan isterinya pernah berbuat banyak guna nona Siu Lian, dengan bantu aku, kau berarti membantu juga sumoay kau itu"

Sun Ceng Lee nampaknya tertarik, tapi Bouw Pek desak ia : "Seperti aku sudah bilang, aku tidak takuti Oey Kie Pok, kalau ia terlalu mendesak, aku pasti akan hadapi ia, keras sama keras, hanya sebelum sampai begitu jauh, aku ingin ambil jalan halus. Aku ingin-tunggu dahulu beresnya perkara Tek Siauw Hong, kalau ia sudah bebas dan merdeka betul, kau nanti lihat, budi dibalas dengan budi, permusuhan dibalas

dengan permusuhan"

Berkata sampai disitu, matanya Bouw Pek terbuka lebar, sinarnya bersorot tajam.

Kebetulan waktu itu Hok Cu masuk untuk serahkan pedang, Bouw Pek sambut! senjatanya itu sembati tertawa, ia lanjutkan berkata pada Ngo-jiauw-eng.

"Sun Toako, ketika tadi kau datang cari aku dan orangku memberi kabar padaku, aku sangka yang datang adalah oiang undangannya Moh Po Kun guna tempur aku, dari itu aku keluar menyambut kau dengan bawa pedang ini. Maka kau harus mengerti sabar kita mesti sabar, tetapi bila orang sampai lewatkan kesabaran kita, kau lihat kesabaran pun ada batasnya"

Sun Ceng Lee awaskan anak muda itu, ia gunai pikirannya. "Baiklah" ia kata akhirnya, "aku nanti turut kau saudara

Bouw Pek, aku tidak akan terbitkan onar! Ijirkan aku berlalu "Baiklah" sahut Bouw Pek yang tidak menahan lagi sahabat

itu, yang ia antar sampai diluar. Ketika ia balik lagi kedalam ia pikir Kedatangannya Sun Ceng Lee ada baiknya bagiku, ia beradat keras dan jujur, ia bisa bantu aku " Ia naik kepembaringannya, untuk mengaso, apa mau tangannya kena bentur pauwhoknya, hingga ia ingat uangnya, buku kheque dari Siauw Hong.

"Aku tidak sedia cukup uang kontan, aku perlu sediakan itu" ia pikir, "supaya kalau keperluan mendesak, aku tidak usah repot lagi"

Ia tarik pauwhoknya dan buka itu, tiba2 tangannya terbentur serupa barang keras, yang terbungkus bajunya yang jarang dipakai. Ia ambil baju itu dan membukanya, akan tetapi didalamnya ia dapatkan bungkusan kecil dengan kertas minyak. Mendadak ia ingat suatu apa, lantas ia unjuk roman berduka....

Itu adalah barang tinggalannya Siam Nio, ya pisau belati yang si nona senantiasa simpan dan umpatkan, untuk membalas sakit hati atau membela diri, yang kesudahannya dipakai menikam diri sendiri dan Bouw Pek bawa pulang kegerejanya karena ia kuatir ibunya si nona akan pakai untuk bunuh diri. Ia telah bungkus rapi dan simpan pisau belati itu, sampai ia lupai itu, hingga sekarang dengan kebetulan ia ingat itu. Maka juga ia jadi tercengang, karena kembali ia bayangkan si nona yang nasibnya buruk itu.

"Aku mesti cari kuburannya Siam Nio, pisau ini mesti disingkirkan" ia pikir kemudian pisau itu dibeleseki dibawah kasur. Ia keluarkan buku uangnya dan perintah Hok Cu pergi ambil uang kontan seratus tail. Dan ketika Hok Cu pergi, ia mengasokan diri.

Selagi pemuda ini bersantap malam, ia terima surat yang Khu Kong Ciauw perintah orang sampaikan kepadanya. Dalam suratnya Kong Ciauw menyatakan menyesal tadi ia sedang bepergian, hingga ia tidak bisa ketemui si anak muda, sedang sekarang, sesudah malam, ia tidak bisa datang lantaran lukanya baru sembuh. Tentang Siauw Hong, Kong Ciauw kaia bahwa bahaya jiwa tidak ada. Untuk melindungi keluarga Tek, ia telah minta bantuannya Yo Kian Tong, tapi dengan datangnya si anak muda ia tidak usah berkuatir lagi. Akhirnya Kong Ciauw tulis, bila perlu, setiap waktu ia akan bekerja untuk Siauw Hong, ia minta Bouw Pek jangan pandang ia sebagai orang luar.

Bouw Pek puas membaca surat itu. Nyata benar Kong Ciauw adalah sahabat sejati, walaupun orang she Khu ini seorang bangsawan dan dengan Siauw Hong tadinya ia tidak mempunyai hubungan kekal.

Sehabis bersantap, Bouw Tek pergi kedalam akan ketemui Tek Naynay, akan beritahukan bunyi surat Khu Kong Ciauw itu, iapun hiburkan nyonya rumah agar hatinya jadi tetap.

Sekembalinya kekamarnya, Bouw Pek mengasokan diri, tetapi ia tidak tidur, ingat kejadian tadi siang ia kuatir Moh Ko Kun atau Oey Kie Pok nanti kirim orang akan bokong ia, maka ia selalu siap. Ia tidak salin pakaian, malah ia dandan dengan ringkas, pedangnya tidak terpisah jauh dari dirinya. Empat atau lima kali ia naik kelenteng dan meronda disekitar gedung. Ia tertawakan dirinya sendiri, kapan ia dapatkan tidak ada gerakan apa juga.

"Aku ketakutan pada bayanganku sendiri" pikir ia "Siauw Hong kasi tahu padaku yang semua buaya darat disini sangat takuti aku, boleh jadi itu benar, sekarang karena aku berada disini, tidak ada seorang juga yang berani datang mengadu biru. Tapi Oey Kie Pok lain, ia tukang main dibelakang layar dimuka umum ia pendiam, siapa tahu isi perutnya? Bisa jadi ia sedang berdaya bikin aku celaka. Aku mesti berhati2. Aku dapat bantuannya Tiat Pweelek dan Khu Kong Ciauw disatu fihak dan Sun Ceng Lee dilain fihak, nyata aku tidak bersendirian lagi, sementara sedikit hari lagi Yo Kian Tong juga tentu akan datang.

Meski demikian, sampai dekat fajar barulah Bouw Pek naik kepembaringan dan tidur. Ia bisa pules. Siang itu ia tidak keluar, hanya diwaktu lohor ia tengok Siauw Hong dipenjara, antaranya ia kasi tahu, bahwa kemarin ia telah hajar Moh Po Kun dan PhangLiongdan bikin Phang Hoay tidak berdaya, bagaimana ia telah robek surat hutang.

Mendengar itu Siauw Hong menjadi masgul. "Dengan perbuatanmn itu, hiantee, kau bikin Oey Kie Pok jadi makin membenci kau" ia kata "Mana ia mau mengerti dan mau berhenti berdaya upaya? Baiklah kau berlaku hati2. Kau mesti pergi pada Tiat-Pweelek dan Khu Kong Ciauw, guna beritahukan kejadian itu, agai kapan perlu mereka bisa lindungi kau"

Bouw Pek tidak setuju pikirannya sahabat itu, tetapi untuk tidak bikin jengkel sahabat itu ia tidak mau membantah.

"Tidak usah kau pesan toako, aku sudah tahu" begitu ia kata dengan pendek. Kemudian ia kasi tahu, yang Kong Ciauw tulis surat dan minta bantuannya Yo Kian Tong, kedatangan siapa sedang ditunggu.

"Kalau Yo Kian Tong datang, ia akan jadi pembantu besar" kata Siauw Hong dengan girang "Aku didalam penjara, aku tidak perlu bantuan apa, adalah kau diluar yang butuhkan itu" Baru sekarang orang the Tek itu bisa bersenyum. Kemudian ia tambahkan "Kau tahu, katanya Kim chio Thio Giok Kin belum pulang ke Holam, ia hanya mampir  pada Hek-houw To Hong di Poteng. To Hong itu adalah muridnya Kim-too Phang Bouw, Oey Kie Pok sering utus orang menyampaikan barang2 upeti pada mereka itu di Poteng, entah apa maksudnya, tapi tentulah tidak lain daripada berikhtiar untuk menghadapi kita. Katanya juga Oey Kie Tok sudah tarik Say-Lu Pou Gin Hong Siang pada fihaknya Hanya sebenarnya aneh sebab aku tahu betul, Gui Hong Siang sebetulnya paling benci Oey Kie Pok, sebabnya yalah ia telah kena dikalahkan oleh Khu Kong Ciauw. Pertempuran diantam Hong Si-ing dan Kong Ciauw itu adalah atas bisanya Kie Pok. Karena kalah, Hong Siang telah tinggalkan piauw-to ang dan tinggal digunung Kie-yong kwan San menjidi berandal, disana ia senantiasa ganggu barangnya Kie Pok. Kabarnya sekarang Gui Hong Siang berada bersama To Hong dan Kie Pok telah gunai ketika ini dan sering2 menyumbang. Aku suka geli sendiri, kalau ingat bagaimana sulit keadaan dikalangan kangouw, yalah orang sering bersahabat, bermusuhan dan bersahabat lagi" "Hal sebenarnya tidak aneh" kata Bouw Pek, yang tersenyum ewah "Bisa jadi Gui Hong Siang baik pula sama  Oey Kie Pok, sebagai kesudahan ia rubuh ditanganku baru2 ini, mereka mestinya mau saling andalkan guna hadapi aku. Biar mereka datang semua, aku tidak takut, mereka semua pecundangku"

"Dalam hal ini aku tidak bicarakan soal kau takut atau tidak" Siauw Hong kasi mengerti. "Dan aku juga insyaf, suatu waktu bentrokan tak dapat dicegah lagi. Aku hanya ingin kau bersabar dan tunggu ketikanya. Belum lama ini aku kenal seorang pengangguran yang perkenalkan diri Siauw Gia Kang, ia kenal semua jalanan dikota Pakkhia ini, ia pandai mencari tahu segala apa, kalau kau nanti ketemu dia kau boleh kasi beberapa renceng uang padanya dan mana ia cari tahu kabaran2 dari fihaknya Oey Kie Pok.

"Aku kenal orang itu" Bouw Pek manggut. "Sekarang aku telah dapatkan pembantu, toako jangan kuatirkan apa juga"

Ia lalu kasi tahu perihal kedatangannya Ngo-jiauw-eng Sun Ceng Lee.

Siauw Hong girang akan ketahui orang she Sun itu adalah muridnya Jie Hiong Wan.

"Coba Siu Lian ada disini, dan ia tinggal juga dirumahku, betapakah berfaedahnya! orang Boan ini ngelamun. "Dengan ia dirumahku, kecuali bisa lindungi rumah tanggaku, ia pun bisa jadi penghibur bagi isteri dan ibuku. "

Kendati ia memikirkan Siu Lian, Siauw Hong tidak berani sebut namanya si nona. Ia tahu, disebutnya nama itu akan bikin Bouw Pek berduka dan boleh jadi tidak betah berdiam dirumahnya.

Selagi dua sahabat ini bicara, datanglah Tek Lok, wakilnya Tiat Pweelek. Melihat orang ini Bouw Pek lantas ingat  masanya ia dipenjara dan Tek Lok inilah yang hampir setiap hari kunjungi ia.

"Dulu aku jadi korbannya Kie Pok dan Poan Louw Sam, adalah Tiat Pweelek dan Siauw Hong yang bekcrja keras akan menolongi aku" demikian ia ingat, "kalau tidak Siauw Hong tanggung aku dengan jiwanya, barangkali Tiat Jie-ya tidak mampu berbuat banyak. Sekarang Siauw Hong mendekam dipenjara dan jiwanya terancam, kini adalah kewajibanku akan tolong dan lindungi dia. "

Memikir begitu, pemuda ini jadi jengkel dan ibuk. Diandaikan Siauw Hong bukan orang Boan dan pernah pangku pangkat, serta tidak punya anak-isteri, ibu dan harta-benda, pasti ia sudah telad Su Poan ttu dahulu, yalah serbu penjara dan ajak Ngo-ya ini minggat. Sekarang ia tidak bisa berbuat getas seperti itu, karena adanya rupa2 keberatan itu.

Tek Lok tidak bicara banyak, ia lantas pulang.

Bouw Pek bicara pula sekian lama, lantas ia pamitan. Selagi keluar pintu penjara, ia ingat piauwceknya di Poancay Hotong Selatan.

"Ia jadi Heng-pou Cu-su, barangkali ia bisa berbuat apa2 guna Siauw Hong" pikir ia, yang terus sewa kereta dan pergi kerumah pamannya itu. Kebetulan baginya, paman itu baru saja pulang, maka ia bisa lantas menemui paman dan bibinya itu.

Mula2 mereka bicara urusan kesehatan dan pamili. setelah itu Bouw Pek tanya sang paman perihal Tek Siauw Hong dan apa yang paman itu dapat berbuat.

"Perkaranya Tek Siauw Hong tidak membahayakan jiwanya" kata piauwcek itu, "ia baru disangka dan buktinya tidak ada, sedang difihak lain Tiat Pweelek dan Khu Kong Ciauw bantu ia. Ia ternama di Pakkhia ini, orang kantor tidak berani main gila. Cuma teiang Oey Kie Pok sangat musuhkan ia dan Thio Congkoan menindih keras, entah berapa banyak uang sogokan ia dapat dari si orang she Oey itu"

Karena mendongkol, berulang2 Bouw Pek kasi dengar gerutuan menghina.

"Sekarang ini semua fihak tahu, sebab permusuhan diantara Oey Kie Pok dan Tek Siauw Hong adalah urusan kau" Kie Thian Sin kata lebih jauh. "Kau harus berhati2, Oey Kie Pok liehay luar biasa, kalau ia bisa bikin Tek Siauw Hong ngeram dipenjara, berapa susahnya apabila ia mau ganggu kau juga! Dulu dalam perkara kau katanya Poan Louw Sam yang dakwa kau, sebenarnya dibelakang layar Oey Kie Poklah yang jadi dalang. Perkara ini semua orang tahu dengan baik. Dikantor sekarang semua orang ingat nama kau. Mengenai kebinasaannya Poan Louw Sam dan Cie Sielong, banyak orang yang duga kau pembunuh mereka, coba kau tidak bersender kepada Tiat Pweelek, satu hari juga kau tidak bisa tancap kaki di Pakkhia ini. Maka sekarang, setelah kembali disini, berlakulah hati2 jangan kau terbitkan onar pula!"

Bouw Pek tidak puas, tetapi dihadapan sang paman ia tidak kata apa.

"Aku mengerti" kata ia, yang lalu minta si paman bantu Siauw Hong.

"Aku tahu tidak usah kau pesan" paman itu jawab. "Dikantor semua orang ingin berbuat baik terhadap Siauw Hong, kesatu ia berharta, kedua ia hamba dari Lweebuhu, hingga orang percaya, satu waktu ia akan bangun pula! Siapa tidak mau menjadi sahabatnya?"

Bouw Pek senang mendengar keterangan ini, maka setelah bircara lagi sebentar, ia lantas pamitan Ia tadinya pikir mau cari tahu kuburannya Siam Nio, tetapi karena kuatirkan rumahnya Siauw Hong, ia batalkan niatnya itu, ia terus pulang. Ketika sampai digedung, orang bilang tidak ada yang datang mengganggu, maka hatinya jadi lega. Seterusnya ia berdiam dikamar tulis. Terus sampai malam ia tidak keluar lagi, dan malamnya, seperti malam pertama, ia terus berjaga2. Malam itu juga lewat dengan tenteram.

Dihari kedua sewaktu siang Bouw Pek kunjungi pula Siauw Hong dipenjara. Lohornya, ketika ia berada dirumah, Siauw Gia Kang mencarinya. Si Kala kecil ini lantas berkata padanya : "Diwarung teh aku dengar beberapa orangnya Oey Kie Pok pasang omong, katanya setelah dengar toaya datang, dua hari lamanya Kie Pok tidak pernah keluar dari rumahnya, sebabnya yalah ia berkuatir dan mendongkol, karena ia dengar toaya sudah hajar Moh Po Kun dan saudara2 Phang serta robek surat hutang. Mereka ini bilang, katanya Oey Kie Pok lelah nyatakan bahwa selanjutnya ia tidak mau perhatikan lagi Tek Siauw Hong, sebagai gantinya, ia hendak satronkan toaya seorang. Disini kecuali Moh Po Kun dan dua saudara Phang, ia dapat tenaga baru yaitu piauwsu Ngo jiauw-eng Sun Ceng Lee, difihak lain, ia sudah undang Lau w Cit Thay-swee dari Tokciu, Hek-houw To Hong dari Poteng dan rombongan Kim- chio Thio Giok Kin juga. Boleh jadi tidak sampai lagi setengah bulan mereka itu akan sudah berkumpul disini. Ia sendiri sekarang setiap hari lagi yakinkan senjata gaetan hu-chiu kauw, yang hendak dipakai adu jiwa dengan toaya!

Mendengar itu Lie Bouw Pek bersenyum.

"Baik, aku nanti tunggu mereka itu!" ia kata sambil manggut2 "Aku berterima kasih untuk kabarmu ini, sekarang kau boleh pergi akan mencari tahu lebih jauh"

dan Bouw Pek kasih upah beberapa renceng uang pada si Kala kecil ini.

Siauw Gia Kang membilang terima kasih, ia berlalu dengan girang.

"Oey Kie Pok berlatih diri, ia telah undang orang yang aku kenal itulah lucu" pikir Bouw Pek, selagi renungkan pikiran. "Tapi ia seorang licin, apa ia bukannya sengaja keluarkan cerita, supaya aku jadi alpa? Siapa tahu kalau ia lagi mengatur tipu dan Aku harus jaga diri baik2"

Belum lama setelah herlalunya Siauw Gia Kang, Sun Ceng Lee datang pada pemuda kita. Ia ini pun bawa kabar, bahwa Oey Kie Pok lagi undang orang.

"Aku tidak takut!" kata Bouw Pek.

"Bila sudah tiba waktunya. aku nanti bantu toako akan hajar mereka itu" Sun Ceng Lee nyatakan.

"Terima kasih" kata Bouw Pek. "Aku memang mau minta bantuan Sun Toako"

Seperginya Sun Ceng Lee, sehingga sore tidak ada kejadian apa2 dan malam itu lewat dengan tenteram. Karena tni esok paginya Bouw Pek ambil putusan akan cari kuburannya Siam Nio dan mengunjunginya untuk penghabisan kali, ia keluar dengan bawa pisau belati nona itu. "Tapi lebih dulu ia menuju kepenjara Heng-pou akan tengok Siauw Hong. Ia berdiam disini tidak lama ia naik keretanya puya.

Dari Cian-mui ia pergi ke Hun-pong Liu lie-kay, baru saja ia masuk dimulut gang, hatinya sudah goncang, sebab ia lantas ingat riwayatnya dahulu, yang seperti impian saja.

Tempo Bouw Pek sampai didepan rumah yang dulu ditinggali oleh Siam Nio, ia lihat seorang penjual minyak, yang ternyaia Ie Jie adanya Ia ini melihatnya dan segera menghampirkan.

Lie Toaya!" Ie Jie berseru "Sudah lama aku tidak lihat kau!

Apa kau pergi keluar kota dan sekarang baru kembali?" Bouw Pek suruh keretaiya berhenti, tapi ia tidak turun.

"Apakah Cia mama ada ?" ia tanya. "la sudah tidak ada, ia menutup mata pada akhir tahun yang lalu" Ie Jie jawab. "Kami yang urus mayatnya, yang di kubur dikuburan umum di Lam- hee-wa, di sampingnya Siam Nio..."

Bouw Pek terharu mendengar kematiannya Cia Loo-mama. "Apa kau senggang sekarang?" ia tanya. "Apa kau bisa

antarkan aku ke Lam-hee wa? Aku mau lihat kuburannya Siam Nio dan bakar kertas disana"

"Bisa bisa toaya ".sahut Ie Jie berulang". "Aku selalunya senggang"

Ia panggil seorang anak untuk bawa masuk botol minyaknya, dengan tidak pakai thungsha lagi ia naik atas keretanya Bouw Pek.

"Keselatan" kata ia pada tukang kereta.

Mereka keluar dari Hun-pong Liu-lie-kay, menuju ketegalan disebelah selatan, yalah Lam-hee-wa. Belum lama, mereda sudah sampai. Pemandangan alam indah-karena waktu itu dipermulan bulan ketiga. bunga2 toh dan lie sedang mekar, yangliu berdaun hijau, rumput senuanya hijau dan segar. Dikuburan alang2 tumbuh lebat dan sang angin timur menyampok pergi datang.

Ie Jie tanyakan halnya si nona Jie dan perkaranya Siauw Hong, semua itu Bouw Pek tidak jawab, hanya ia perintah Ie Jie pergi ke warung didalam kampung didekat situ, akan beli hio dan kertas. Kemudian kereta dijalankan lagi sedikit ketimur, di mana turut katanya Ie Jie berada kuburannya Cia mama dan Siam Nio.

Benar2 tempat ini sepi sekali. Kuburan tidak keruan  macam, ada yang terbongkar, ada yang petinya kelihatan dan pecah...

"Disini" kata Ie Jie. "Silahkan toaya turun"

Ie Jie loncat dari kereta, diturut oleh Bouw Pek. "Kenapa kuburan disini tidak ada yang urus?"

"Ini kuburan umum, untuk orang miskin, siapa yang mau rawat?" Ie Jie baliki sambil tertawa "Malah disini kebanyakan dikubur nona2 bercelaka dari rumah pelesiran. Diwaktu hidup mereka muda jelita, pakai bagus, muka medok setiap tamu datang mereka makan minum dengan gembira, mereka melayani orang bersantap, minum dan nyanyi diantaranya ada yang lebih elok dari pada Siam Nio, tetapi satu kali mereka rubuh dan binasa, siapa mau perdulikan mayatnya? Peti matinya hanya empat lembar papan, dikuburnyapun secara serampangan. Sekalipun lobang kubur tidak digali cukup dalam, hingga sesudah tertimpa hujan dan angin, terjemur mata hari, anjing bongkar dan geragoti uang dan dagingnya! Kuburan 2 di sini tidak sampai dua tahun umurnya akan sudah rata kembali dengan bumi ! Kalau tidak begini bagaimana si nona bunga raya bisa dimakan si roman elok tapi nasib buruk?. "

Ie Jie ngoce terus kalau Bouw Pek tidak tegor ia, sedang pemuda ini terharu bukan main.

"yang mana kuburannya Siam Nio?"

"Disini toaya" sahut pengantar itu. Dan ia jalan sambil menghitung kuburan "Satu, dua, tiga, empat, lima. Nah,

toaya ini kuburannya si Siam dan itu kuburan ibunya. "

Bouw Pek memandang tanah munjul yang diunjuk, yang penuh dengan rumput hijau, diantaranya ada setangkai bunga shag weelan. Syukur kuburannya Siam Nio belum rusak, begitupun kuburannya Cia Loo-mama. Jadi di dalam itu rebah mayat dari nona yang tadinya cantik jelita yang dibuat perebutan sebab manis romannya, menarik potongan tubuhnya..."

Bouw Pek mengawasi dengan diam, hingga ia bisa bayangkan bagaimana eloknya si Cui Siam itu, yang halus budi pekertinya, yang jadi bunga latar sebab terpaksa korbannya Biauw Sin san yang ganas.

"Keadaan sekitarnya bikin Siam Nio anggap akupun orang jahat, baiknya disaat terakhir ia bisa insyafi kekeliruan anggapannya itu..."

Lantas Bouw Pek suruh Ie Jie bakar kertas, hingga abunya itu ditiup berserakan oleh sang angin, sesudah apinya berkobar2 sebentar.

Bouw Pek rabah dadanya, dimana ia simpan pisaunya Siam Nio, tetapi bukannya pisau yang dikeluarkan, hanya uang yang ia serahkan pada situkang minyak itu.

"Ambil ini buat kau" ia kata pada pengantar itu "Dulu kau telah bantu urus mayatnya Siam Nio, aku sebenarnya mau  kasi upah padamu, tetapi sebelum sempat mengasi, aku keburu pergi. Anggaplah ini juga sebagai tanda terima kasih dari Siam Nio. Hanya kalau kau suka, satu waktu baik kau tengok kuburan ini, tambahkan tanah urukannya, supaya kuburannya tidak terbongkar seperti yang lain.

Ie Jie terima uang itu sambil mengucap terima kasih dan berjanji akan perhatikan permintaannya pemuda yang baik itu, selagi ia main dengan uang itu dengan kegirangan, Bouw Pek bertindak kedepan, di sebelah selatan dimana ada sebuah empang yang pinggirannya penuh pohon gelaga. Ia keluarkan pisaunya Siam Nio dan melemparkannya keempang itu. Dan terdengar suara air karena jatuhnya pisau, ia putar tubuhnya akan balik kekeretanya.

"Mari kita pulang" ia kata "Ke Sam-tiauw Hotong!"

Tukang kereta menurut saja, ia tidak tahu apa2, kendatipun merasa heran. Ie Jie diturunkan ditengah jalan.

Selama dalam kereta, Bouw Pek duduk terpekur, tanda pikirannya kusut sekali. Adalah pelahan2 ia bisa lupai Siam Nio, karena ia seperti ingat pula urusannya Siauw Hong dan hal dirinya, yang mesti awas terhadap sepak terjangnya Oey Kie Pok.

Kereta dikasi jalan dengan cepat, Bouw Pek merasa senang ketika ia sudah masuk di Cian-mui, lagi lewat jalan Tiang-an timur ia akan lekas masuk kemulut gang Tong-sa Sam-tiauw.

Baru saja kereta hendak menikung, dengan sekonyong2 disebelah belakang terdengar berketoprakannya kaki-kaki kuda, yang sedang mendatangi dengan lekas dan kemudian,- cepat sekali, terdengar sudra memanggil yang nyaring tapi halus:

"Lie Bouw Pek! Lie Toako" PEMUDA ITU TERRCFNGANG.

"Siapakah dia?" ia menduga.

Baru saja ia mau perintah keretanya supaya berhenti dan selagi ia menoleh, si penunggang kuda sudah berada didekatnya, hingga ia bisa lantas lihat penunggangnya adalah nona muda dengan kepala dibungkus sapu tangan hijau sebagaimana baju dan celananya hijau juga, sedang sepatunya yang menampak diinjakan kaki dari tembaga yang berkemerlapan. Diujung sela, kecuali tergantung pauhok, pun tercantel juga sepasang golok. Dan sipenunggang kuda sendiri, meski saputangannya penuh debu, menampakkan keelokannya. Ia itu bukan orang lain daripada nona Jie Siu Lian dari Kie lok!

Dalam terperanjatnya, Bouw Pek merasa likat sendirinya dan berbareng masgul. Ia heran kenapa sinona dalang ke Pakkhia dan rupanya seperti baru sampai. Dan ia likat dan masgul, karena ia segera ingat kejadian ditengah jalan, diwaktu turun salyu. Waktu itu si nona telah susul ia dan menantang berkelahi. Tapi aneh sekarang menemui ia, si nona telah panggil2 ia dan susul dia! Dari sepatunya yang putih ia tahu si nona dirumahnya terus hidup menyendiri, melewatkan hari2 yang sunyi...

Juga si nona nampaknya sedikit likat. Sebelah tangannya menahan les kuda, sebelah yang lain memegang cambuk. "Aku tidak tahu yang Lie Toako sudah berada dikota raja!" berkata nona itu dengan sikapnya yang polos "Bila aku mengetahui di tengah perjalanan tidak nanti aku berlaku sangat terburu2. Bagaimanakah dengan perkaranya Tek Ngo- ko?"

Baru sekarang Bouw Pek dapat tahu datang nya si nona berhubung dengan Siauw Hong:

"Mestinya ini juga hasil peranan dari Su Kian si gemuk" pikir ia^ "Sore itu diwaktu hujan ia datang padaku akan memberi kabar, lantas ia pisahkan diri tentu buat cari Siu Lian di Kielok. la datang, ini lebih baik sebab ia bisa lindungi kelurga Tek jauh lebih leluasa daripada aku..."

"Cuma nona ini beradat keras" pikir ia lebih jauh "Seperti dahulu, begitu lekas sampai di Pakkhia ia sudah bunuh Teng couw-hie, BiauwCin San! Mestinya ia telah dengar omongannya Su Poan-cu, perihal kejahatannya Oey Kie Pok, ia tentunya sedang murka, maka aku kuatir disini ia nanti terbitkan onar pula... Bila itu terjadi, sungguh berbahaya, karena ia tidak saja tidak akan mampu melindungi keluarga Tek, sebaliknya ia akan menambah bencana.

Meski ia pikir demikian, Bouw Pek tak dapat berbuat apa2 untuk menentangnya. Maka sembari kasi kereta jalan pelahan, dengan si nona mengikuti, ia tuturkan segala apa dengan jelas. Hanya diakhirnya, ia minta si nona sabar dan berpikir panjang. Ia kata:

"Kita sekarang ada sedang mendongkol dan murka, walaupun demikian, kita harus bisa kendalikan diri. Kita mesti tunggu sampai perkaranya Tek Ngoko sudah diputus, baru kita ambil tindakan terhadap Oey Kie Pok, guna lampiaskan kemendongkolan yang sudah terpendam lama itu!"

Diluar dugaannya anak muda ini Siu Lian kelihatannya tenang, lebih banyak masgul daripada murka.

"Lie Toako" katanya dengan pelahan, "sekarang ini adatku tidak lagi keras sebagaimana dulu2... Pada tahun yang baru selama aku masih bocah, maka juga ketika aku kejar kau selagi jagat penuh salju aku yang jatuh karena kudaku terpeleset, aku marah2 terhadapmu dan mehentang kau....

Belakangan, sesudah

menjadi sabar, baru aku mengerti kekeliruanku, aku menyesal Dengan unjuk sikap keras itu akupun malu terhadap ayahku sendiri, ayah yang telah menutup mata.... Aku ingat, di Jie-sie-tin, selagi ayah hendak tinggalkan kita. ia telah pesan aku dihadapan toako sendiii, yalah supaya aku selanjutnya pandang toako sebagai engko yang berbudi "

Sampai dtsitu nona Jie jadi sangat berduka, hingga ia hampir menangis. Ia tunduk, rupanya karena malu dan bersusah hati.

Bouw Pek mengawasi dengan keheranannya belum lenyap.

Ia tidak nyana si nona benar2 telah berubah. Siu Lian kemudian meneruskan kata2nya;

Belakangan aku dapat tahu Beng Su Ciauw telah meninggal dunia, hatiku menjadi tawar, tawar untuk segala apa. Begitulah, waktu aku pulang kerumahku, aku keram diri, tidak pernah aku bepergian lagi, sehingga keluar pintupun tidak. Demikianlah meski Lie Toako tinggal di Lamkiong yang letaknya dekat Kielok, aku tidak rnengunjungi, sedang seharusnya aku mesti menemui kau untuk meminta maaf. Waktu itu aku sangat berduka. Pada bulan yang baru lewat Lauw Keng dari Soanhoa dan beberapa piauwsu telah datang ke Kielok dengan bawa layonnya ayah dan ibu. Kami terlalu repot urus penguburan, aku juga tidak sempat kasi kabar padamu, Lie Toako. Tadinya aku sudah pikir hendak berdiam dirumah berkabung sampai tiga tahun lamanya, baru aku keluar pula akan balas budi toako, begitupun budi kebaikannya Tek Ngo-ko dan enso Tek, apa mau kejadian tidak mengijinkan aku mengaso. Belum ada sepuluh hari, tiba2 Su Poan cu datang, hingga lantas saja aku berangkat kesini. Umpama kata toako tidak ada disini, lantaran ingin lekas menolong Ngo-ko, bisa jadi aku lakukan suatu apa yang sembrono, tapi sekarang aku ketemu toako, hatiku lega. Selanjutnya segala apa yang terjadi diluar aku tidak mau tahu, toako boleh urus sendiri, aku hanya mau berdiam didalam rumah, melindungi keselamatannya Tek Ngoko, loo-thaythay dan anak2nya Ngo-ko. Selanjutnya melangkah keluar dari pintupun aku tidak mau! Aku juga tidak niat kunjungi Ngoko didalam penjara, apa yang aku ingin dengar adalah penuturan toako tentang semua apa yang terjadi di Pakkhia ini, agar hatiku menjadi tenang "

Hatinya Bouw Pek terbuka apabila ia sudah dengar omongan si nona. Benar Siu Lian telah berubah, sebagaimana katanya barusan. Iapun senang yang sinona demikian menghargakan dia. Hanya memikirkan peruntungannya nona itu ia masgul sendirinya. Riwayat mereka begitu memang kusut sekali, Meluluskan permintaan itu. Bouw Pek ceritakan segala apa, antaranya ada yang ia telah ulangkan iapun kasi tahu, bahwa Sun Ceng Lee sekatang berada di Pakkhia dan peranan apa yang Ngo-jiauw-eng sedang lakukan.

"Oh, Sun Toako juga ada disini?" berseru Siu Lian dengan girang, "aku mesti ketemui dia"

"Sebentar ia tentu akan datang cari aku, waktu itu nona boleh ketemukan ia" Bouw Pek kasi tahu. "Bagaimana dengan Su Poan-cu ?"

"Su Poan-cu ?" Siu Lian terangkan. "Ketika hari itu Su Poan- cu datang cari aku, kebetulan akupun kedatangan sutit ayahku, Yok Thian Kiat dari Holam. ia sengaja datang guna bantu aku utus upacara penguburan sudah selesai, Su Poan- cu dan Yok Thian Kiat tidak lantas berlalu. Nyata mereka berdua kenal satu pada lain, dari itu mereka bisa pasang omong dengan getol. Dilain harinya, waktu aku berangkat kemari, mereka berdua masih berada bersama. Tapi Su Poan- cu pernah kasi tahu aku, bahwa iapun akan menyusul ke Pakkhia "

Bouw Pek manggut, nampaknya ia sedikit masgul.

"Kalau ia datang kemari, tidak nanti ia berani muncul secara terang" ia kata.

Siu Lian agaknya heran mendengar itu" "Eh kenapakah?" ia tanya. Sebelum Bouw Pek sempat menjawab, kereta sudah sampai dan berhenti didepan gedung.

Perihal lelakonnya si Ular Gunung, Bouw Pek memang belum bertutur pada nona itu, tidak heran kalau Siu Lian tidak mendapat tahu Sekarangpun Bouw Pek tidak dapat kesempatan akan bercerita tentang Pa-san-coa. Ia turun dari keretanya dan ketok pintu. Ia mesti menunggu sedikit lama, sebelum Siu Jie muncul membuka pintu.

"Oh nona, kau datang?" kata hamba ini dengan kegirangan, apabila ia tampak nona Jie. Dan ia segera maju akan unjuk hormatnya. "Toa-naynay harap nona bukan main!"

Siu Lian loncat turun dari kudanya dan terus bertindak masuk, karena gedung itu sudah tidak asing lagi baginya.

Siu Jie telah bayar sewaan kereta, ia panggil bujang lelaki akan tuntun kudanya sinona keistal, ia sendiri turunkan pouwhok dan siangtoo nona itu buat dibawa kedalam.

Bouw Pek sendiri langsung menuju kekamar tulisnya. Dengan beradanya Siu Lian, hatinya Bouw Pek kurang tenteram, akan tetapi mengenai keluarga Tek ia merasa puas, karena sekarang ada Siu Lian sebagai pelindung Mengenai Siam Nio hatinya lega bukan main sebab riwayatnya sampai disini telah berakhir. Sekarang tinggal pekerjaannya menolong Siauw Hong dan menjaga diri terhadap akal muslihatnya Siu Bie-too yang licin dan busuk.

Hari itu Sun Ceng Lee tidak datang, maka itu esoknya Bouw Pek suruh Hok Cu undang orang she sun itu. Ketika Ngo- jiauw-eng telah sampai dan ia undang Siu Lian keluar agar mereka itu bikin pertemuan, ia sendiri ambil ketika buat pergi kepenjara akan tengok Siauw Hong untuk sekalian  beritahukan kedatangannya nona Jie.

Benar saja Tek Siauw Hong terima kabar kedatangannya sinona dengan girang sekali. Ia telah merasa, dengan adanya si nona, ia tidak usah kuatirkan apa, lagi mengenai ibu, isteri dan anaknya Difihak lain isterinya pun bisa dapat hiburan. Anak yang ia sedikit kuatirkan adalah adat keras dari si nona, tetapi Bouw Pek telah tuturkan padanya, yang nona Jie telah menjadi sabar dan lain dari pada dulu.

"Siu Lian bilang padaku, ia hanya mau urus didalam dan tidak mau keluar" demikian Bouw Pek jelaskan.

Mendengar itu hatinya Siauw Hong jadi tetap.

"Kalau sebentar kau pulang, tolong sampaikan terima kasihku pada nona Jie," ia bilang "Harap kau beritahukan si nona agar ia jangan kuatir aku dan jangan gusar dengan duduknya perkara"

Bouw Pek manggut Kemudian ia berlalu dari penjara akan terus cari Tiat Pweelek dan Khu Kong Ciauw, pada siapa antaranya ia kasih tahu hal kedatangannya Jie Siu Lian.

"Bagus ia datang, tapi mintalah supaya ia jangan menjadi gusar dan jangan terbitkan perkara, supaya perkaranya Siauw Hong tidak dapat gangguan" demikian Tiat Pweelek dan Khu Kong Ciauw pesan pada anak muda kita.

Ketika Bouw Pek pulang ia tidak masuk kepedalaman akan menemui nona Jie. Siu Lian sendiri telah buktikan perkataannya akan tidak keluar, ia selalu keram diri di dalam, hanya kalau sore dan malam, beberapa kali ia membawa goloknya pergi meronda, sampaipun naik kegenteng. Ia benar2 tidak pernah keluar pintu.

Oleh karena si nona bersikap anteng, Bouw Pek jadi leluasa sekali akan bepergian untuk dengar2 kabar, buat lakukan apa saja untuk Siauw Hong.

Setengah bulan telah lewat dan sekarang perkaranya Siauw Hong telah mulai menjadi terang, malah kabarnya tidak lama lagi putusan akan dikeluarkan. Maka itu orang menantikan keputusan itu dengan berdebar2.

Sementara itu Yo Kian Tong sudah datang dan ia berdiam digedungnya Khu Kong Ciauw, yang menjadi muridnya berbareng sahabat karib.

Dari fihak Oey Kie Pok, gerakan apa juga tidak terdengar dan Kie Pok sendiri benar2 tidak pernah tertampak dimuka imum juga tidak ada kabar suaru apa perihal Lauw Cit Thayswee, To Hong dan Thio Giok Kin, yang katanya diundang buat kepung Bouw Pek.

Phang Hoay, Phang Liong dan Moh Po Kun, yang telah rasai tangannya Bouw Pek, juga pada keram diri didalam piauwtiam.

Bouw Pek bisa bersenyum sendiri ketika ia telah mengetahui semua itu.

"Mereka tidak cari aku, tidak ada perlunya akan aku cari mereka" demikian ia pikir. "Hanya urusanku dengan Oey Kie Pok, aku akan tunggu sehingga nanti sudah datang saatnya akan bikin perhitungan"

Melainkan Sun Ceng Lee seorang yang menjadi gatel kaki dan tangan, karena ia menantikan dengan sia2 saatnya untuk tempur Oey Kie Pok atau orangnya Siu Bie-too. Ia mau bantu Bouw Pek, tetapi ia tidak bisa wujudkan bantuannya itu. Ia berniat datangi Kie Pok dirumahnya, tetapi Bouw Pek mencegah. Karena tidak mampu melampiaskan kemendongkolannya, ia cari Moh Po Kun didalam piauwtiam, akan cari gara2 terhadap saudara angkat itu Tapi Po Kun tahu niatnya keras, ia tidak mau meladeni hanya ia tinggal ngeioyor pergi....

Beberapa hari kembali lewat dan bersama hari2 itu lewat juga musim semi, sebagai gantinya munculah musim kedua dengan hawanya yang panas. ialah dimusim panas ini, dalam tahun yang lalu. Bouw Pek telah datang dari Lamkiong ke Pakkhia untuk pertama kali, akan bawa lelakonnya yang menggemparkan.

Sekarang ini Bouw Pek pun masgul hingga ia kehilangan kegembiraannya, sebab kemendongkolan tidak bisa dilampiaskan, dan ia tunggu putusan perkaranya Siauw Hong, tetapi putusan masih juga belum dikeluarkan.

Hidup nganggur dan pikiran pepat lama-lama mengganggu juga kesehatannya, hal ini menimbulkan kedukaannya. Sejak keluar dari penjara tubuhnya memang sudah tidak sebagaimana mestinya, benar Beng Su Ciauw telah merawati ia selagi sakit, waktu itu ia belum sembuh betul, sedang halnya Su Ciauw dan Siam Nio mengganggu hatinya. Dan sekarang ia dibikin duka dengan perkaranya Siauw Hong yang hebat, ia juga mendongkol sekali karena kelicinannya Siu Bie- too. Meskipun begini Bouw Pek insyaf, bahwa apabila ia sampai rubuh karena sakit, ia akan tidak berdaya, Siauw Hong akan tidak ada yang tilik, dan sakit hatinya terhadap Kie Pok entah sampai kapan baru bisa lampiaskan, maka ia buatkan hatinya akan rawat diri baik2.

Tiap hari Bouw Pek sedikitnya satu kati menyengok Siauw Hong dipenjara, ia pergi ke Pweelek-hu akan minta Tiat Siauw Pweelek berdaya terus, atau ia pergi pada pamannya guna dengar kabar, selain dari itu ia berdiam dirumah akan beristirahat.

Beberapa hari kemudian, selagi Bouw Pek tidur tengah hari, Siu Jie datang membanguni dia dari tidurnya. Dengan air muka terang bahna kegirangan, kacung ini berkata:

"Paman toaya kirim orang datang kemari mengabarkan, bahwa perkaranya looya sudah diputuskan!"

Semangatnya Bouw Pek terbangun dengan mendadak. "Suruh dia masuk!" ia kata dengan cepat.

Hambanya Kie Thian Sin sedang berdiri menunggu diluar, ia dengar suaranya Bouw Pek, maka tidak menunggu sampai Siu Jie datang, ia sudah lantas bertindak masuk. Lebih dahulu ia unjuk hormat pada pemuda itu, kemudian ia berkata;

"Lie Toaya. looya kita sepulangnya dari kantor terus perintah aku datang kemari Looya kasi tahu, bahwa perkaranya Tek Ngo-ya sudah diputuskan dan barang kali dalam satu dua hari ini putusan akan Sudah dikeluarkan. "

"Apakah kau ketahui, bagaimana putusan itu?" Bouw Pek potong.

"Looya bilang bahwa Ngo-ya dapat keentengan. Dua thaykam bersama seorang sie wie telah dijatuhi hukuman mati, nanti dimusim ketiga, mereka akan jalani hukuman mereka itu. Yo Cun Jie telah dijatuhkan hukuman jiret leher. Seorang sie-wie she Pek bersama Ngo-ya telah dijatuhi hukuman dibuang ke Sin-kiang. " Mendengar itu, air matanya Bouw Pek mengembeng. Hukuman buang bukannya hukuman mati, tetapi karena itu Siauw Hong mesti bikin perjalanan jauh dan hidup sendirian diluar Tionggoan, didaerah asing dan mestinya penuh dengan penderitaan, terpisah dari isteri dan anak, dari sekalian sahabat.

"Buat Ngoya, dibuang ke Sinkiang tidak berarti penderitaan hebat" berkata hamba Kie Thian Sin. "Looya bilang karena Ngoya seorang anggota Lwee-bu-hu, di Sin-kiang ia akan tuntut penghidupan leluasa, meskipun tidak seperti dikota raja, dan asal ia bisa pakai uang, ia tak akan menderita. Looya kata juga, dalam satu atau dua tahun, kalau dikota raja diikhtiarkan terus, Ngo-ya tentu akan bisa kembali dengan merdeka"

Bouw Pek manggut2.

"Apakah pamanku tahu, setelah keluarnya putusan, berapa hari lagi Ngoya baru berangkat ke Sin-kiang?" ia tanya.

"Barangkali cepat toaya" sahut hamba itu. "begitulah kira2 satu bulan kemudian. Baik toaya jangan kuatir, benar perjalanan dilakukan dimusim panas, tetapi itu lebih baik daripada Ngoya terus mendekam didalam penjara"

Lagi sekali Bouw Pek manggut, setelah mengasi persen ia suruh hamba itu pergi. Ia pesan akan sampaikan terima kasihnya pada pamannya.

"Kabar ini tidak bisa disangsikan lagi" pikir Bouw Pek seperginya hambanya Kie Thian Sin itu. "Apa aku mesti lantas mengasi tahu pada Tek Naynay atau harus sabar dahulu?" Kalau ia mengetahui ini, entah berapa hebat kagetnya dan kedukaannya, tetapi sebaliknya, apabila ia tahu suaminya luput dari hukuman mati, ia mestinya bergirang dan bersyukur"

Setelah bersangsi sebentar, Bouw Pek lantas pergi kepedalaman akan menemui Tek Naynay, siapa justeru berada bersama2 Jie Siu Lian. Ia tidak berayal akan sampaikan kabar hal putusan pengadilan dan menghibur, bahwa hukuman buang di Sinkiang lebih baik daripada dikeram dalam penjara. Benar seperti dugaannya anak muda ini mula2 Tek Naynay kaget dan air matanya turun deras, tetapi lekas juga ia bisa sabarkan diri dan tepas air matanya itu.

Bouw Pek lalu menghibur lebih jauh, suaranya dengan bilang, kalau pengaruh uang digunai, bisa jadi Tek Siauw Hong tidak akan dibuang lama2 di Sinkiang dan akan lekas kembali. Dan hiburan ini juga masuk dalam otaknya nyonya itu.

Akhirnya Tek Naynay kata "Ya, itu pun ada baiknya Biar

ia berdiam satu atau dua tahun di Sinkiang untuk menyingkir dari gangguannya Oey Kie Pok, dengan begini kita disini juga tentu akan bebas dari gangguan terlebih jauh "

"Tentang gangguan yang kau sebutkan, Ngoso, kau jangan kualir!" kala Siu Lian dengan suaranya yang gagah. "Satu hari yang Ngoko tidak ada dirumah ini, satu hari juga aku tidak akan berlalu dari sini! Sebegitu lama aku berada disini, Ngoso jangan takuti apa juga! Biarlah orang datang mencari gara2 disini!"

"Ya tetapkan hatimu enso" Bouw Pek menghibur pula.

Setelah itu Bouw Pek undurkan diri, akan suruh Hok Cu siapkan kereta, dengan apa ia terus pergi kepenjara. Ia menemui Tek Siauw Hong, guna sampaikan kabar. Tadinya ia sangka Siauw Hong mestinya akan terima kabar dengan kaget dan duka, sebab putusan hukuman itu berarti orang Boan ini mesti tinggalkan rumah-tangga dan anak isteri dan akan tinggal dinegara yang banyak salyunya. Diluar dugaan Siauw Hong justeru terima kabar itu dengan girang, air mukanya terang, tersungging dengan senyuman. Malah sambil tertawa,

Tek Ngo-ya ia kata

"Inilah bagus! Ketika ini bikin aku jadi bisa melancong ke Sinkiang, untuk pesiar"

"Sebagai orang Boan, yang mesti urus rangsum, aku tidak dapat ketika buat pesiar, dan orang tidak ada tuah aku malah dilarang pergi keluar kota raja. Ini sebabnya kenapa bangsaku, dalam sepuluh orang tidak ada sembilan yang pernah melangkah keluar kota Pakkhia ini! Aku sendiri, berhubung dengan tugasku, cuma bisa pergi ke Tongleng dan Seeleng serta Jiathoo dan Sin-tek. Pada tahun yang lampau, ketika kau pulang ke Lamkiong, aku pun tidak bisa sambangi kau, sedang Lamkiong tak terpisah jauh dari Pakkhia. Tetapi sekarang jangan kata dibuang ke Sinkiang, ketempat yang lebih jauh lagi pun aku senang! Aku ingin bisa lintaskan Titlee, pergi ke Shoasay, masuk ke Tong kwan melalui See-an-hu, Ie liang, terus sampai di Sinkiang! Dengan begini aku bisa pesiar di Thaygoan-hu, Hong Hoo, Hoa San, Kie Lian San, Ban Lie Tiang Shia, Giokbun-kwan juga. Aku harap bisa menambah pemandangan dan pengalaman, bergaul dengan sahabat  baru! Betapa menyenangkan! Dirumahku tidak ada yang aku kuatirkan maka itu, hiantee, kau jangan pikirkan perihal rumah tanggaku, jangan karena itu hari depanmu jadi terhalang. Kau merdeka untuk mencari kemajuan! Rumahku sudah cukup dilindungi dengan adanya nona Jie satu orang! Sekalipun aku korbankan selaksa tail, aku tidak akan mampu cari nona yang lebih sempurna daripada nona Jie itu sebagai pelindung rumahku! Dasar untungku bagus ! Maka hiantee, jangan berduka, kau jasteru mesti kasi selamat padaku! Di Sinkiang aku akan berdiam dua atau tiga tahun, nanti kita bertemu pula. Waktu itu. entah berapa besar kegirangan kita!..."

Lantas orang Boan itu tertawa terbahak bahak.

Bouw Pek tertegun menampak kegirangannya Siauw Hong yang tak disangka. Ini menandakan, bahwa sahabat ini mempunyai pikiran yang luas, hatinya terbuka. Maka ia pun turut menjadi gembira.

"Sekarang hiantee lekas pergi kepada Khu Kong Ciauw dan Tiat Pweelek, sampaikan kabar putusan perkaraku ini" kata Siauw Hong kemudian, sesudah mereka bicarakan hal2 lain lagi. "Sampaikan kepada mereka, apa yang jadi harapanku yalah supaya mereka jangan berduka dan berkuattr!"

Bouw Pek menyanggupi maka dengan naik keretanya ia terus pergi ke Pak-kauw yan dan menemui Khu Kong Ciauw, yang sedang pasang omong dengan Yo Kian Tong. Ia lantas menyampaikan kabar seraya unjuk, bagaimana putusan itu diterima dengan girang oleh Siauw Hong.

"Memang demikian sifatnya Tek Siauw Hong" Kong Siauw kata. "Ia pandai berpikir dan melegakan hati. Ia masih muda, rumah tangganya ada yang tilik, memang tiada halangannya buat ia pergi jauh. Hanya yang dikuatirkan adalah ditegah perjalanan. Aku tahu benar, diluar kota Taja, Oey Kie Pok punya banyak sahabat dikalangan penjahat, ada kemungkinan Siauw Hong nanti dapat gangguan dan dibinasakan! Penjagaan oleh pengantar hamba negeri saja tidak berarti, aku pikir kita mesti kirim pengantar kita untuk melindungi dia"

Bouw Pek tercengang mendengar ucapannya Gin chio Ciangkun Kekuatiran ini memang beralasan. Ia sudah mau lantas utarakan, bahwa ia bisa pergi sebagai pelindung, akan tetapi ia urungkan itu. Karena ia sudah pikir lama, seperginya Tek Siauw Hong ke Sinkiang, ia hendak cari Oey Kie Pok, guna lampiaskan dendamannya

"Kasihlah aku yang antar Tek Siauw Kong" kata Sin chio Yo Kian Tong. "Sekarang sudah musim panas, aku banyak nganggur, kalau ada kerjaan, orang2ku cukup untuk urus itu. Dengan bawa tumbakku, aku akan antar ia sampai di Sinkiang. dimusim ketiga aku akan sudah kembali"

Bouw Pek girang mendengar ucapan itu.

"Kalau Yo Sam ya yaog pergi mengantarkan memang juga tidak ada apa2 lagi yang harus dibuat kuatir" ia bilang. "Hanya, karena perjalanan ini Sam ya pasti kau keluarkan banyak tenaga. "

"Itu tidak ada artinya" Kian Tong kata sambil geleng kepala. "Kong Ciauw ketahui, persahabatanku dengan Siauw Hong bukan baru satu atau setengah tahun, maka adalah seharusnya aku berbuat apa2 untuk dia Lagi pula sebagai piauwsu perjalanan jauh tidak berarti banyak bagiku

"Kian Tong yang temani Siauw Hong itu baik sekali" Khu Kong Ciauw kata. "Diluar Kian Tong punya banyak sahabat dan kenalan, dimana ia sampai, ia tentu akan dapat pelayanan" Dengan begitu telah ditetapkan Yo Kian Tong yang akan antar Siaw Hong.

Tapi Bouw Pek masih sangsi. Ia tahu Yo Kian Tong gagah dan banyak kenalannya, tetapi kalau piauwsu ini dicegat oleh banyak musuh, bagaimana Yo Kian Tong dapat melayani mereka? Maka ia segera ingat Sun Ceng Lee.

"Aku pikir Yo Sam ya baik dapat kawan" kata ia kemudian. "Aku punya sahabat, yalah Ngo-jiauw-eng Sun Ceng Lee. ia adalah murid almarhum Jie Loo-piauwtauw atau suhengnya  Jie Siu Lian, ia bertubuh tinggi dan tenaganya besar, bugeenya juga cukup baik, orangnya jujur. la sekarang tinggal bersama Moh Po Kun di Su Hay Piauw Tiam, tetapi sebenarnya ia tidak suka berdiam lama disana, sebab ia tahu kelakuannya Po Kun buruk, maka kalau aku minta ia ikut, ia bisa jadi pembantunya Sam-ya."

itulah bagus" Yo Kian Tong nyatakan. "Ceng Lee adalah muridnya Tiat-cie tiao almarhum, bugeenya mestinya tidak bisa dicela. Aku harap, Lie hiantee, lekaslah kau undang ia supaya aku bisa berkenalan dengan dia"

Sampai disitu Bouw Pek masih berdiam sekian lama akan pasang omong, kemudian dengan kerelanya ia pergi ke An- teng-mui akan kunjungi Tiat Pweelek.

Siauw-hong-jiam Tiat Pweelek ada diistananya, ia girang akan kedatangannya anak muda kita.

"Bouw Pek, apakah kau ketahui perkaranya Siauw Hong sudah diputuskan?" demikian ia menegor selapi anak muda itu baru saja memberi hormat padanya

"Ya aku sudah tahu" Bouw Pek menyahut sambil manggut. "Katanya ia akan dibuang ke Sinkiang. Barusan aku pergi tengok Siauw Hong, tempo ia dengar hal putusan itu, ia nampaknya girang sekali "

Orang bangsawan itu manggut2.

"Aku juga ingin Siauw Hong pergi cari pengalaman" ia nyatakan. "Jika ia tetap tinggal dikota raja ini, aku kuatir ia nanti terbitkan onar lagi. la jiatsim terhadap sahabatnya, tetapi ia kurang pemandangan. Terbukti dalam perkara ini, ia tersangkut karena persahabatannya dengan Yo Cun Jie yang ia hendak tolong"

Bouw Pek beranggapan bahwa pweelek ini belum mengerti betul tabeatnya Siauw Hong terhadap sahabat.

"Biar Siauw Hong pergi, untuk icipi rasanya orang menderita" kata Tiat Pweelek pula, pun ia perlu dapat orang untuk melindungnya diperjalanan Memang sukar dipikir bahwa ada penjahat yang bernyali besar, yang berani ganggu hamba negeri yang sedang antar perantaian, tetapi didalam halnya Siauw Hong, ini Ia telah tanam terlalu banyak bibit permusuhan. Umpama Kim-chio Thio Giok Kin kalau ia mengganggu di tengah jalan apa Siauw Hong tidak akan celaka?"

"Tentang itu kami sudah pikir" Bouw Pek kasi tahu "Tadi dirumahnya Khu Kong Ciauw kami sudah berdamai matang. Disaat Siauw Hong berangkat, ia akan diamar oleh Yo Kian Tong serta Ngo jiauw-eng Sun Ceng Lee. Orang she Sun ini adalah suhengnya nona Jie"

0 Response to "Po Kiam Kim Tjee Jilid 23"

Post a Comment