Po Kiam Kim Tjee Jilid 12

Mode Malam
Jilid 12

“APAKAH kau tidak tanya she dan namanya?” ia tanya “Apakah keperluan mereka?”

“Mereka tidak terangkan apa perlunya mereka cari looya,” budak itu menyahat. “Mereka perkenalkan diri sebagai orang. she Phang dari Cun Goan Pouw tam dari Ta-mo-ciang diluar Cian mui.”

Siauw Hong kaget, sampai air mukanya berubah menyadi pucat, ketika ia masuk kedalam terus kekamarnya , jantungnya memukul. Ia lekas2 hirup teh akan coba tenangkan diri.

Terang sekali orang yang datang cari aku itu Kim-too Phang Bouw dan Hoa-khio Phang Liong,” demikian ia berpikir. “Mereka sudah dirubuhkan oleh Lie Bouw Pek, karena kemendongkolan mereka tidak bisa dilampiaskan terhadap sianak muda, maka justeru Bouw Pek dikeram dipenjara mereka sengaja datang cari aku. Mereka anggap sekarang adalah waktu yang baik, sebab tidak ada orang lagi yang mereka takuti”. “Bagaimana aku bisa layani mereka sepersaudaraan ?”

Karena bingung dan berkuatir, Siauw Hong mandi keringat dingin, alisnya mengkerut.

“Lie Bouw Pek telah ditahan sejak beberepa hari, kenapa mereka tidak siang datang cari aku?” pikir ia kemudian. “Kenapa justeru pilih hari kedua dari pulangku?”

Siauw Hong berpikir sampai akhirnya ia ingat suatu apa.

“Ini mesti terjadi sebagai kesudahan deri permufukatan diantara Oey Kie Pok dan Poan Louw Sam”, kemudian ia pikir. “Mereka tahu aku pulang dan duga bahwa aku akan menolong Lie Bouw Pek lantas kunjungi Tiat Pweelek akan bujuk Jie ya jangan turut menolongi Bouw Pek dan dipahak lain mereka ajak2 persaudaraan Phang, rupaya mereka ini satroni aku, guna bikin aku kuncup. Ah, Kie Pok, Louw Sam, kau benar liehay !...... Seharusnya Bouw Pek tidak bikin mereka itu gusar, sekarang ada Tiat Pweelek, yang suka membela, jikalau tidak siapa yang berani maju menentang mereka itu ?”

Siauw Hong lantas ingat pula ucapannya Kie Pok tadi digedung pweelek.

“Didepan Kie Pok bersikap baik, dibelakang ia bisa lakukan segala apa” ia pikir de ngan hati kecil. “Aku mesti berhati2 ----


Lantas ia perintah Sioe Jie pesan pengawal pintu bila ada orang cari ia, kecuali sanak dekat dan sobat kekal, semua mesti ditolak dengan alasan ia tidak ada dirumah.

Sie Jie turut perintah itu tanpa ketahui apa yang menjadi sebab dari perintah semacam itu, ia hanya menduga, karena baru pulang dari Tong leng dan lelah majikannya niat beristirahat. Ia tidak berani menanyakan, kendati ia lihat air muka yang luar biasa lainnya dari majikan itu.

Malam itu Sioe Jie layani madiikannya bersantap, ia heran melihat si majikan pegangi sumpit sambil bingung saja,  barang makanan didahar sedikit, tetapi dalam tempo yang lama luar biasa.

Justeru itu pengawal pintu datang masuk dengan air muka merah bahna gusar.

“Looya, dua orang she Phang itu datang pula” ia kasi laporan. “Aku bilang looya tidak ada dirumah, mereka tidak mau percaya, mereka terus ngaco belo sekian lama, baru mereka mau pergi”

Siauw Hong terperanjat sampai nasinya ia tunda; “Apa mereka bilang mau datang pula?” ia tanya.

“Mereka tidak bilang, tetapi bisa jadi mereka akan datang lagi”

“Apa mereka tidak bekal senjata?”

Ditanya begitu pengawal itu heran sampai ia melongo.

“Tidak, mereka tidak bawa senjata, dua2nya bertangan kosong” ia jawab kemudian seraya goyang goyang kepala. “Mereka tenturya tidak datang berdua,” Siauw Hong pikir. “Diluar mestinya menunggu orang-orang yang bawa senjata mereka.” Lantas ia msnggut dan kata pada orargnya Itu “Sekarang, tidak perduli siapa yang datang, kau bilang saja bahwa aku tidak ada dirumah, apabila mareka berlaku kasar kau mesti tahan sabar, jangan kau ladeni. Aku baru pulang, aku ingin mengaso, aku tidak punya tempo akan layani sembarang orang. ”

Bujang Itu manggut, lantas ia berlalu;

SEHABIS bersantap Siauw Hong masuk kedalam kamarnya. “Pekerjaanku ini kelihatannya berat sekali” berkata ia pada isterinya seraya sedot cuihunnya, “aku baru pulang dari Tong leng, lantas lagi satu dua hari aku mesti pergi pula, sekarang ke Jiet ho....

“Bukankah kau yang bilang kepergian ke Jiat-ho ini tidak usah dengan terburu2?” Tek Nay-nay tanya. “Bukankah kau kata belum tentu kau yang nanti diurus 7”

“Kemarin benar begitu, tetapi hari ini berobah, kelihatannya aku duga yang dimestikan pergi,” sahut sang suami. Sebenarnya pekerjaan ini bagus orang lain malah diperebutkan, adalah cuma aku yang kurang gembira. Kau tahu sendari, dirumah kita tidak ada orang, dengan pergi jauh hatiku tidak tenteram ”

“Itulah mudah”, berkata sang isteri, yang setujui kepergian suaminya itu. “Kalau nanti kau pergi, aku akan kunci pintu dan sekap diri dalam rumah, ini lebih baik . rumah kita jadi sunyi dan tenang. Kalau kau ada dirumah lantai ada saja yang kunjungi atau cari kau, umpama Lie Bouw Pek. Hauw yit, Oey Dok dan !ain2, mereka datang tiap hari, tapi kalau kau tidak ada dirumah, bayangan merekapun tidak tertampak” Siauw Hong tertawa.

“Benar, bila begitu ada lebih baik aku pergi” kata ia dengan memain.

Kendati begitu, orang oran ini benar lantas pilih hari. Ia anggap, dengan cepatkan keberangkatnya ia bisa menyingkir dari gangguannya Oey Kie Pok dan Phang Bouw sekalian.

Tek Naynay tidak ketahui apa yang suaminya pikir, ia justeru merasa girang, karena ia tahu dengan bikin psrjalanan, penghasilan suami ini pasti akan bertambah. Samakin suaminya terpakai, semakin muka suami itu tambah bercahaya........

Malam itu Tek Siauw Hong tidak dapat tidur dengan nyenyak, meski juga semua pintu dan jendela ia sudah kunci baik2, ia kuatir pihak Phang nanti satroni ia, ia baru merata lega setelah sang pagi muncul tanpa ada gangguan apa juga. Tapi sekarang ia bersusah hati, karena ia mesti pergi katempat kerjanya, sedang ia lebih suka diam saja dirumah.

“Tak bisa tidak aku mesti pergi. ia ambil putusan. Lantas ia dandan dan makan kemudian bersama Hok Cu, dengan naik keretanya, ia pergi kekantor. Siu Jie ia ajak seperti biasa.

Matahari pagi itu bersinar merah, angin mengandung hawa musim ketiga.

Keretanya Hok Cu telah masuk di Kim-hie Hootong menuju ke Tong-hoa-mui tetapi baru saja sampai di Tong-hoa-mui Toa- say, tiba-tiba seorang papaki mereka.

“Tek Ngo Looya, kau berhenti sebentar, aku ingin bicara sedikit” kata orang itu.

Hok Cu kenal orang itu, yang bernama Thong Sam, seorang hamba dari Gin-kouw,

Gudang Uang. Ia tahan keretanya, sedang Siu Jie segera lompat turun.

“Thong ya. ada apa ?” tanya Slauw Hong sambil singkap tenda keretanya.

Tong Sam unjuk roman ketakutan, la menghampirkan sampai dekat. Ngo ya, baik kau jalan mutar, masuk dari Sin-mui, ia kata dengan pelahan. “Kau sekarang sedang ditunggui di Tong hoa-muu oleh Hoa yauw eng Lauw Kiu, Tiat put cu Kiang Sam dan beberapa buaya darat lainnya, mereka itu semua telah diperintah oleh Oey Kie Pok buat keroyok kau”

Siauw Hong terkejut, air mukanya berobah, tetapi didepannya Thong Sam, ia tidak mau unjuk nyali kecil.

“Mereka berani cari aku? Bagus !” ia berseru. “Baik aku nanti ketemukan mereka!”

Hok Cu, majukan kereta kita, lekas “ Tapi Thong S»m lakas msncegah.

“Jangan, Ngo ya, jangan kau samperi mereka” ia mengasi nasihat. “Jangan Ngo ya turutkan hati saja. Aku tahu Ngo-ya pandai si1at see-ciang tetapi jumlah mereka besar! Jangan kita omong lainnya, andai kata kau kena kecakar mukamu dan menjadi lecet saja lantas kau tidsk akan mampu lakukan kewajibanmu pergi jauh...

Siauw Hong duduk diam sekian lama, perkataannya orang she Thong ini memang benar.

“Baiklah,” akhirnya ia bilang, “aku nanti jalan mutar ke Sn  ngo moei. Terima kasih buat kebaikanmu ini, Tbong ya !” Orang she Thong itu lantas berlalu dan keretapun ambil jurusan lain! Sioe Je telah naik kereta buat terus turunkan tenda. Dari pintu belakang kereta ini masuk ke Sin ngo moei, sampai ke Lweeboehoe.

Siauw Hong ketemui tong hoa, sepnya, buat kasi tahu belwa ia suka diutus ke Jiat ho

(yebol)

“Siauw Hong kau baru kembali dari Tong leng, kau banyak cape, biarlah aku perintah orang lain yang pergi” kata sep itu “Bukan maksudku akan rebut pekerjaan ini” kata Siauw Hong, “aku niat pergi ke Jiat ho supaya aku bisa sekalian tengok sanakku di Yankeng. Sanakku ini telah dapat kesulitan urusan sawah. Kalau tonghoa perintah aku, besok aku bisa antas berangkat. Aku nanti lebih dulu pergi ke Jiat ho, baru terus ke Yan keng. Aku percaya, dalam tempo satu bulan, aku akan sudah kembali.”

Melibat orang punya urusan pribadi, tong-hoa terima baik permintaannya Siauw Hong.

Benar saja, urusan ini menyebabkan beberapa orang tidak puas, tapi mereka tidak bisa kata apa2. Siauw Hong lantas pergi ke Siang soewan, kantor urusan kuda, akan pinjam dua ekor kuda. Ia sudah pasti mau berangkat besok, urusannya Bouw Pek ia hendak serahkan pada Tiat Pweelek, untnk ini maka ia terus pergi ke Pweelek hoe.

Hari itu Tiat Pweelek telah dapat kunjungan dua ongya,  Siauw Hong minta pengawal tolong sampaikan perkataannya yaitu bahwa besok ia mau pergi ke Jiatho dan ingin aaa b 1 selamat jalan dari Pweelek itu.

Tidak lama pengawal itu keluar dengan berkata:

“Hari ini Jie-ya kedatangan tamu, ia tidak bisa ketemui kau. Jie-ya bilang bahwa kemarin Koeboen Teektok telah datang buat mengabarkan, yang lagi empat atau lima hari barulah Lie Bouw Pek dimerdekakan”

Meski tidak dapat ketemu Tiat Pweelek, Siauw Hong girang menerima kabar itu. Ia segera menuju kepenjara buat ketemui Bouw Pek, guna kasi tahu hal keberangkatannya serta kabar girang dari Tiat Pweelek.

“Aku sudah dapat tahu itu” kata Bouw Pek. “Tadi pagi Tiat Pweelek telah kirim orangnya kemari menyampaikan kabar itu padaku dan minta aku jangan kuatir.”

“Siauw Hong Jiam Jie-ya sungguh baik sekali” kata Siauw Hong dengan sangat bersyukur. “Ia perlakukan begini rupa, dibelakang hari kau tidak boleh lupakan budi kebaikannya ini.” “Jie ya begitu baik, aku pasti ingat dia” Bouw Pek bilang. “Hiatee, jodoh kita seperti juga tipis” kemudian Siauw Hong bilang. “Baru saja aku pulang dari Tongleng, atau sekarang aku diperintah pergi ke Jiatho. Besok aku hendak berangkat Bouw Pek merasa sayang atas kepergian itu

“Kau lagi lakukan kewajiban, toako, kau tidak harus alpakan itu,” ia bilang. “Oleh karena sudah pasti aku akan keluar dari sini, toako baik tak usah pikirkan tentang diriku” Siauw Hong berduka, hingga ia menghela napas. Ia berduka terutama karena ia tidak berani ceritakan pada pemuda ini, bahwa ke berangkataanya ke Jiatho itu disebabkan ia ingin menyingkir dari persaudaraan Phang dan lantaran gangguannya Oey Kie Pok yang licin dan jaoat. Ia merasa, kalau Bouw Pek ketahui sebab itu, anak muda ini akan jadi gusar dan ngamuk

“Saudara” ia kata kemudian, “kalau nanti kau sudah keluar dari sini, kau mesti cari Tiat Jie-ya untuk haturkan terima kasih, kemudian baiklah kau jangan berdiam lebih lama pula dikota raja ini. Dalam perjalan ke Jiatho ini aku niat mampir di Yan-keng akan tengok Sincio Yan Kegn Tong dari Coan Hin Piauwtiam. Orang she Yo itu, dimasa ia berada di Pakkhia, jadi sobat kekalku.”

“Aku tahu tentang Sin-khio Yo Kian Tong,” sahut Bouw Pek yang lantas ingat ke jadian beberapa bulan yang lalu di Kie- yang kwan San, tatkala ia sedang bikin perjalanan ke Pakkhia. Sampai disitu keduanya berpisahan.

Hari itu persaudaraan Phang tidak datang, tetapi Sioe Jie yang pergi keluar, sepulang bawa kabar, bahwa ia dapat lihat Lauw Kiu serta beberapa konconya, semua bangsa buaya darat, mundar mandir dimulut gang.

“Kau tidak usah perdulikan mereka!” kata Siauw Hong yang tidak takut, sedang dalam hatinya ia pikir: “Oey Kie Pok, dalam beberap» hari ini Tek Siauw Hong bisa dibilang jerih terhadap kau, akan tetapi besok aku akan berlalu dari Pakkhia, mulai besok keadaan akan berubah menjadi lain. Aku akan pergi ke Yankeng, akan cari Sin tihio Yo Kian Tong, disana aku tunggui Lie Bouw Pek, yang akan keluar dari pcnjara, maka waktu itu kau boleh lihat, daya apa aku nanti ambil terhadapmu”

Malamnya, seperti kemarinnya, Sauw Hong berlaku hati hati menjaga rumah dan diri. Esoknya pagi ia dandan dengan cepat selainnya pauwhok ia bawa goloknya. Sioe Jie juga sudah siap bersama dua ekor kuda pinjaman. Siauw Hong minta diri dari isteri dan anak2nya, ia pesan isterinya dan sekalian bujang supaya baik baik jaga rumah.

“Aku akan kembali dalam tempo satu bulan,” ia katakan kepada mereka.

Dengan menunggang kuda majikan dua bujang mulai lakukan perjalanan mereka. Dt sepanjang jalan Siauw Hong bertemu beberapa sobat dan kenalan, tetapi ia tidak mau banyak omong, agar perjalanannya tidak terlambat.

Setelah keluar dari Tak sin moei, barulah hatinya orang she Tek ini menjadi terbuka, hingga ia bisa tertawa waktu ia bicara dengan bujangnya.

“Kau biasanya tidak pernsh bikin pcrjalanan jauh. sekarang aku ajak kau, supaya kau peroleh pengalaman,” ia kata. “Penghidupan dirumah dan ditempat pelancongan beda banyak, kau akan segera ketemui itu. Kau tahu kenapa baru saja pulang dari Tong leng lantas sekarang aku bikin perjalanan pula ke Jiatho? Tidak lain, karena Oey Kie Pok musuhkan aku dan aku tiiak sudi layani dia. Kita sudah keluar dari kota, ia tidak puuya kemampuan akan susul kita. umpamanya ia mengejar kita bisa kabur. Kau mesti tabahkan hati, kau mesti berlaku cerdik dan gesit, tapi jangan takut Kau lihat, aku bekal golok, terhadap orang biasa, baru delapan atau sepuluh orang, aku tidak takut!”

Siaw Hong bitara dengan gembira, hingga tampak ia jumawa Sioe Jie sebaliknya jadi berkecil hati.

“Ada kemungkinan akan terbit onar,” pikir ia.

Mereka telah melalui empat atau lima lie. didepan mereka  ada Touwshia atau Kota tanah. Ini adalah sisa sisa kota Yoe coe shia dijaman Liaw yang sekarang sudah mulai runtuh, diatasnya telah tumbuh pepohonan dan rumput

Siauw Hong mesti Iewatkan kota sebelah barat buat menuju kejalan besar keutara, ketika sedang melewati jalan dikaki tembok, mendadak dari atas ada batu yang ditimpukkan kebawah, hingga ia kaget. Ia keprak kudanya buat menyungkir dari bahaya. Siu Jie kena sebuah batu, baiknya ia pakai kopiah, tapi ia toh menjerit bahna kesakitan seraya terus lompat turun dari kudanya.

Segera juga dari tembok kota tertampak beberapa orang lari turun, mereka semua membawa golok atau toya, semua unjuk roman yang bengis. Melihat sikap itu, terang mereka berniat menyerang !

Tek Siauw Hong telah menduga jelek, ia lompat turun, mereka dan kudanya seraya tarik goloknya. Ia telah menyangka pada rombongan dari Phang Bouw, meski ia bukan tandingan mereka tetapi dalam keadaan seperti itu, apa boleh buat, ia mesti mengandal pada kegagahannya sendiri. Ia siap bela diri.

Orang yang dimuka adalah Hoa yauw eng Lauw Kiu si Wap Bdang. yalah buaya darat yang menjadi cabaag atas dari kota bagian timur laut. Maka melihat buaya darat itu orang Boan ini menjadi lega hatinya.

“Jikalau Oey Kie Pok bisa minta bantuannya Phang Bouw, aku mengaku jerih terhadap mereka” ia berpikir. “Sekarang yang datang adalah beberapa sisa manusia ini mustahil aku mesti rubuh ditangan mereka?”

Bahna berani. Siauw Hong segera maju.

“Lauw Kiu, apakah kau tidak sayang jiwamu?” ia berseru seraya angkat goloknya.

Lauw Kiu, tidak takut karena ia berkawan banyak. Ia maju mendekati dan putar sam-ciat kun, toya pendeknya yang disambung tiga.

“Orang she Tek, coba lihat kesekitarmu! Disini tidak ada orang lain, andai-kata kami kehendaki jiwamu, tidak nanti, ada orang yang mengetahuinya !”

“Manusia busuk, apakah kau mau jadi begal?” SiauwHong membentak. “Kau harus ketahui, aku sekarang sedang menjalankan tugas dari Lwee boe hoe ! Apakah kau berani rampas uang negeri? Apakah kau tidak ketahui, hukuman apa menjadi bagiannya orang yang merampas uang negeri? Siapa diantara kau yang tidak inginkan batok kepalanya tinggal nempel, hayo maju. Aku si orang sha Tek tidak takut!” Disebut2nya uang negeri membikin beberapa buaya darat itu jadi merandak, mereka saling mengawasi.

Sioe Jie sedari tadi diam saja, menampak orang bersangsi, ia dapat pulang ketabahannya. Ia maju akan tarik majikannya.

Looya, janganlah kau bergusar meladeni mereka itu “ ia kata dengan aksinya. “Hayo naik atas kudamu, loya! Urusan ini kita serahkan saja pada pembesar negeri!”

Juga ucapannya kacung ini berpengaruh, beberapa buaya darat jadi bermuka pucat. Mendengar disebutnya pembesar negeri, hati mereka jadi ciut. Seorang bernama Thio Liok malah sudah lantas hampiri Siauw Hong buat unjuk hormatnya.

“Tolong, Tek Ngo ya, tolong kau kasihani kami satu kali ini...... Sebenarnya kami tidak berani ganggu kau, ini sudah terjadi karena desakannya Sioe Bie-to 0ey Soeya ter hadap kami. ”

“Kurang ajar” Siauw Hong membentak, sedang hatinya jadi makin besar. Oey Kie Pok tahu aku sedang menjalankan tugas dan baru ini aku mesti bikin perjalanan jauh, ia sengaja kirim kau kemari akan pegat aku! Aptkah benar kau mau menjadi begal dan merampas uang negeri? Awas, aku nanti panggil hamba negeri, aku akan bekuk kau buat kutungi kepala kau sekalian ! Apakah Oey Kie Pok sanggup ganti jiwa kau?”

Thio Liok maju lebih dekat seraya unjuk pula hormatnya.

“Tek Ngo ya, kami berbuat begini sebab terpaksa,” buaya darat ini mengaku. “Biasanya Oey Soe ya suka berbuat baik terhadap kami, kalau kami tidak punya uang atau nasi, ia suka berikan itu, apabila kami kematian ayah dan ibu, ia suka membelikan peti mati, malah kalau kami ingin kawin atau isteri melahirkan anak, ia suka berikan tunjangan uang. Maka itu, sekarang ia perintah kami mana kami berani tolak perintahnya itu?”

Siauw Hong bersenyum dingin mendengar ucapan itu. “Jadinya Oey Kie Pok berlaku dermawan untuk maksud keji begini rupanya?” ia kata. “Ia jadi telah beli kau, supaya kau suka bantu jiwa guna kepentingannya! Oh, kau sungguh harus dikasihani...... Baik, aku tidak mau bikin susah kau, sekarang kau boleh pergi! Bila sebentar kau ketemu Oey Kie Pok, bilang padanya, bahwa berhubung dengan keberangkatanku ini, aku tidak melulu akan pergi ke Jiat ho, aku harus sekalian akan mampir di Yan keng, dari itu aidaiki tadi tidak puas, ia boleh susul aku dikota itu.

Setelah kata bagitu, dengan tidak tunggu jawaban, ia simpan goloknya dan lompat naik atas kudanya.

“Sekarang hayolah kau psrgi “ membentak ia seraya menoleh pada Thoi Liok sekalian.

Tapi, kendati ia kata demikian ia terus saja ajak Sioe Jie Keprak kuda mereka, buat dikasi lari congklang, mengikuti jalan besar menuju keutara.

Belasan buaya darat itu sudah lantas ngeloyor pulang, mereka semua beroman lesu, kepala mereka ditundukkan, yang bawa toya, toyanya diseret.....

Thio Liok yang tidak puas sudah sesalkan Lauw Kioe, katanya

:

“Tidak seharusnya kau kumpulkan kita dan memegat di Touw shia Apakah dengan begitu kita telah menjadi begal? Sukur Tek Siauw Hong tidak mau 1adeni kita. kalau ia mengadu pada pembesar negeri dan mendakwa kita, apa kita tidak akan mendapat celaka? Merampas uang negeri, itulah berat hukumannya. Siapa m»>u digiring ke Cay sie kauw, buat disana terima dipenggal batang lehernya ?. ”

Seorang buaya darat lain turut berkata, katanya : “Sebenarnya Tek Siauw Hong pun orang ternama dikota  timur, ia tidak boleh dibuat permainan, diwaktu Oey Soe ya perintah kita pegat ia, seharusnya kita yangan terima perintahnya itu!”

Louw Kioe jadi malu dan masgul. Ia mengerti, kcjadian barusan berarti turun merek baginya. lapun tidak berani tantangi kata konconya itu.

“Sudahlah saudara sadara” kata ia seraya banting banting kaki, “sudah, dalam kejadian ini, aku yang keliru, hingga kita jadi turun merek. Tapi aku berani sumpah, andaikata aku ketahu Tek Siauw Hong sedang menjalankan titahnya raja, tidak nanti aku berani pegat ia, tidak nanti, umpama kata Oey Soe ya janjikan aku rumah atau hendak nikahkan aku ...”

Si Alap Belang ini nampaknya harus dikasihani dan lucu, hingga beberapa buaya darat yang lain tertawakan ia.

Tak lama mereka telah masuk di An teng moei. Lauw Kioe minta kawannya semua menantikan diwarung teh, ia sendiri pergi kerumahnya Oey Kie Pok di Pak Sio Kio buat menyampaikan kabar. Oleh pengawal pintu ia tidak lantas dikasi masuk, ia disuruh nongkrong menunggu disamping tembok. Tidak lama muncul Goe Tauw Hek Sam si Kepala Kerbau toakoansoe keluarga Oey. Ia diajak pergi ke moei pong, yalah kamar pcngawai pintu, disini ia ditanya: apa kabar?

“Sam siok, tolong kau ampaikan pada Soe ya” kata buaya darat ini dengan sikap-merendah. “Soe ya boleh perintah aku jadi anak cucunya, segala apa juga aku terima, tetapi buat perintah aku serang Tek Siauw Hong sungguh aku tak sanggup      Daripada diperintah begitu, lebih baik aku yangan

dihadapi! Urusan ini aku tidak berani campur lagi !.        Tadi

aku pergi ke Touwshia dengan ajak belasan kawan, di sana kami tunggui Tek Siauw Hong dan pegat ia. Apakah kesudahannya? Ternyata ia tidak takut ia malah tantang kami ia unjuk, bahwa ia sedang menjalankan tugas, kalau kami sarang dia, ia mau tuduh kami menjadi begal, ia hendak dakwa kami pada pembesar negeri! Inilah hebat! Bukan saja kami tidak mampu menyerang kami sebaliknya akan dicekuk, sebelumnya kami dihukum kami tentu dapat rangketan lebih dulu! Bagaimana kalau nanti kepala kami dipisahkan dari leher? Apakah jiwa kami memang sudah berharga sekali? benar benar, kami tidak sudi mati secara begini ”

Hek Sam gusar apabila ia dengar keterangan itu. “Dasar kau semua kantong nasi” ia mendamprat.

“Kau boleb maki, tapi urusan ini kami tidak bisa campur lagi!” kata Louw Kioe yang tidak jadi gusar. “Kami belasan dari pagi pagi sekali sudah pergi ke Touw shia, dimana kami pada nongkrong, itulah hebat, dan sekarang mereka sedang menantikan di warung teh, kami harus diberikan sedikit uang buat orang tangsal perut ”

“Kau diperintah tapi hasilnya tidak ada, sekarang kau berani datang minta uang, benar tidak tahu malu.” Hek Sam berseru, la dorong Lauw Kioe. “Hayo pergi Selanjutnya Soe ya tidak akan pakai pula kau “

Hek Sam melongok kejendela, lihat Oey Kie Pok lagi mendatangi bersama bujang muda yang bernama Soen Coe, maka lekas2 ia keluar menyambut.

Hatinya Lauw Kioe menjadi kecil, ia kuatir Hek Sam nanti gosok ia dan Oey Kie Pok gusar Tapi ia lihal maka Soe Bie too tidak berobah, maka ia pun lekas menyambut.

“Soe ya.....” ia kata, “Sos ya.”

“Sudah, aku tahu” Kie Pok potong perkataan orang. “Apakah Tek Siauw Hong ketahui akulsh yang perintah kau pegat dia?” “Begaimana ia bisa tidak mendapat tahu?” sahut Louw kioe. “Malah ia perintah kami beritabukan padamu, katanya andaikata kau tidak puas, kau boleh susul dan cari ia di Yankeng !'

Mendengar ini, mukanya Kie Pok menjadi merah tanda bahwa ia gusar. Ia bersenyum tawar, ia manggut manggut tetapi tidak kata apa apa. Ia rogo sakunya dan keluarkan selembar gin pio: “Nah, ambil itu untuk kau minum teh ”

Lauw Kioe ulur tangannya menyambuti, mukanya merah sekali.

“Soe ya, urusan tidak beres, kau telah kasihkan aku uang. ”

Ocy Kie Pok tidsk tunggu orang bicara habis, ia berlalu dari moei pong itu dan pergi keluar dimana keretanya sudah siap.

Bersama sama Soen Coe ia naik atas kereta itu “Ke Teetok Geemoei !” ia menitah kusirnya.

Koda roda kereta sudah lantas menggelinding, membawa jagoan ini yang hatinya panas bukan main, mendongkol bukan buatan.

“Tek Siauw Hong, hati2 kau!” ia mrngancam dalam hatinya. “Terang kau telah menyingkir dan kota raja, dengan gunai tugas menjadi tameng! Disini kau tidak berani lawan aku, kau kabur ke Yankeng buat berkawan dengau Sin khio Yo Kian Tong. Apakah kau sangka aku takut padanya?”

Tapi, kapan ia ingat Lie Bouw Pek, Sio Bie to mengkeret sendirinya.

“Lie Bouw Pek ditolong olah Pweelek ya, ia akan lekas dimerdekakan, inilah barbahaya,” pikir ia lebih jauh, “Kemerdekaan Bouw Pek berarti tambahan tenaga bukan

main besarnya bagi Tek Siauw Hong.....Bagaimana sekarang 7”

Selagi ia berpikir terus, kereta sudah sam pai didepan kantor koeboen teetok.

“Teeko, aku datang cari kau bukan buat urusan lain dari pada perkaranya Lie Bouw Pek,” berkata sitamu dengan langsung. “Biar bagaimana juga, aku minta sukalah kau bikin beres dia, sebab begitu lekas ia dapat pulang kemerdekaannya, aku dan Poan Louw Sam jangan harap bisa hidup dengan tenteram” Mo Teetok berdiam dan tampaknya berduka apabila ia dengar ucapan itu.

“Kemarin Poan Louw Sam telah datang kemari, juga buat urusannya anak muda itu,” ia kata kemudian. “Pada Poan Louw Sam aku telah beritahu, bahwa dalam perkara ini aku tidak berdaya. Kau ketahui sendiri, pertama tama dalam perkara ini tiada bukti dan seksi dan kedua Tiat Siauw Pweelek telah campur tahu, ia telah bela anak muda itu, malah ia ingin supaya aku merdekakannya sebelum tanggal sepuluh” “Apakah kau tidak bisa cari alasan, akan dorong keluar Tiat Pweelek ?” tanya Kie Pok.

“Mana bisa?” retok itu bilang. “Dalam perkaranya Lie Bouw Pek itu, Tiat Siauw Pweelek malah ketahui urusan jauh lebih baik daripada kita. Jangan kita omong lainnya, asal saja ia ketahui Lie Bouw Pek binasa karena sakit dalam kamar tahanan, pangkatku ini aku tidak nanti sanggup lindungkan lagi !”

Oay Kie Pok jadi masgul bukan main, percuma ia omong lebih banyak pada teetok yang sudah putus asa ini. Akhirnya ia manggut.

“Jikalau begitu, teetok, terserahlah pada kau!” ia bilang “Sekarang ijinkan aku undurkan diri”

Teetok itu merasa bersusah hati dan bingung menampak air muka guram dari Soe Bie to, karena ia hutang beberapa ribu tail dan Sioe Bie te juga ketahui beberapa cacatnya. Kalau Oey Kie Pok mau jaili ia, dangan mudah ia bisa dibikin terguling. “Aku nanti tahan ia beberapa hari lagi. kau coba pergi pada Poan Louw Sam akan berdamai lebih jauh,” ia bilang.

“Tahan ia lagi beberypa hari pun tak ada gunanya,” kata Kie Pok dengan dingin.

Lantas hartawan ini berbangkit akan ajak Soei Iyoe keluar dari kantor, didapan pintu ia mwrandek sebentar, kemudian ia bertindak kesamping kantor. Disitu ada pintu samping yang menuju kepenjara, kesini ia terus masuk.

Sipir menyambut dengan manis dan hormat

“Oey Soe ya, hari ini kau rupanya senggang sekali?” tanya ia sembari tertawa.

Oey Kie Pok manggut dan tertawa.

“Aku mau tengok Lie Bouw Pek,” ia kata.

“Mari aku antarkan, Soe ya,” kata sipir itu dengan cepat. Mereka pergi kamarnya Bouw Pek. Kapan Kie Pok lihat kesehatan orang tahanan yang sampurna dan  rantai belengguan bukan yang berat berat, ia mendongkol bukan main tetapi ia seorang yang licin yang pandai bawa tingkah, maka menghadapi anak muda itu ia unjuk roman masgul. “Saudara, aku dengar kau kena ditahan, mulanya aku tidak percaya” berkata ia,karena aku tahu kau seorang baik2, tentu tidak  akan  lakukan  apa  yang melanggar undang undang negeri. Barulah kemarin setelah ketemu Tek SiauW Hong, aku dapat kepastian yang kau dapat perkara, malah perkara fitnahan, begitulah sekarang aku datang. Barusan aku ketemu teetok, ia bilang bahwa perkaramu tidak berarti, bahwa dua bari lagi kau akan dimerdekakan”

Bouw Pek bersyukur buat perhatian Kie Pok ini, ia tidak ketahui kepalsuannya.

“Terima kasih, Oey Soe ko,” berkata ia. “Dulu aku tidak tampak, kesukaran, kecuali pikiranku pepat. Poan Louw sam telah gunai tipu daya jahat buat bikin celakai aku melulu karena aku telah berikan hajaran padanya jikalau nanti aku sudah keluar, aku akan bikin pembalasan terhadap ia”

Diam diam Oey Kie Pok bergidik mendengar perkataan itu, tetapi ia tetap bawa peranan sebagai seorang yang menaruh perhatian pada pemuda itu.

“Poan Louw Sam benar benar jahat sekali” ia kata dengan unjuk roman sengit, “dengan andalkan, pengaruh uang,  segala apa ia berani lakukan. Aku juga punya ganjalan besar terhadap ia. Nanti saudara, sesudah kau merdeka aku akan kasi keterangan jelas padamu. Di Pakkhia ini andaikata aku tidak puiya banyak kenalan dan namaku tidak terkenal juga, siang siang akupun tentu sudah kena ia bikin celaka. Sampai sebegitu jauh aku selalu menyingkir dari ia, aku tidak mau meladeni sebab dengan sesungguhnya ia tidak boleh dibuat permainan. Maka, saudara, aku suka kasih nasihat padamu, setelah nanti kau merdeka, lebih baik kau jangan cari2 perkara dengan dia, kau harus sabar dan tunggu ketika baik guna balas sakit hatimu ini.”

Tapi ucapan ini mslulu membikin Bouw Pek menjadi tambah mendongkol, sebab dari situ ternyata Oey Ke Pok juga sangat takut terhadap Poan Louw Sam.

“Sesudah merdeka, aku juga pikir lebih baik aku tidak cari dia,” ia kata sambil manggut, ia bisa berlaku tenang, “Aku niat berlalu dan Pakkhia ini, disini aku tiada punya muka uutuk berdiam lebih lama pula

Mendengar ucapan itu, Kie Fok segera kasi otaknya bekerja. Ia menduga duga ke mana sebenarnya Bouw Pek mau pergi sekeluarnya dari penjara.

Mungkin ia juga hendak pergi ke Yan keng akan berserikat dengan Yo Kian tong untuk setrukan aku.”demikian ia pikir Mengingat ini, ia lantas berkata;

“Tek Siauw Hong berangkat dengan terburu, aku anggap itulah tidak benar. Ta sobat kekal kau, kan berada dalam penderitaan dan ia baru saja kembali dari Tongleng, adalah sepantasnya jikalau ia tengok kau, siapa nyana baru pulang empat lima hari ia sudah berangkat pula Umpama kata perkaramu ada ekornya, bagaimana Ia berangkat dengan hati dingin, sungguh budi pekertinya tipis,”

“Kau keliru, sobat?” Bouw Pek berkata dengan cepat. “Tek Siauw Hong mendapat tugas baru, tak bisa tidak ia mesti segera berangkat ke Jiatho. Ketika ia mau berangkat, ia kasi tahu pedaku bahwa Tiat Pwee-lek telah mengatakan lagi empat lima hari aku akan keluar dari penjara. Lantaran ini, ia bisa berangkat dengan hati tenteram Aku tidak sesalkan ia” Kie Pok manggut, harena ia ketahui, ia tidak boleh banyak omong lagi perihal orang Boan itu. Ia sekarang tanya Bouw Pek perlu apa, ia janji akan sediakan dan kirimkan.

“Terima kasih, Soe ko,” Bouw Pek berkata. “Didalam penjara aku tak perlu barang apa juga. Bahwa Soe ko telah datang menyanbangi aku, aku sudah bukan main bersyukur” “Diantara saudara sendiri kita tidak boleh berlaku seejie” kaia Kie Pok.

Kemudian mereka bicarakan hal lain sampai orang she Oey itu pamitan dan berangkat pulang.

“Kemana lagi kita pergi, Soe ya ?” tanya Soen Coe.

Kie Pok tidak menyahut. ia justru sedang berpikir. Ia tedinya mau kunjungi Khoe Kong Ciaw, niatan itu ia batalkan apabila ia ingat yang orang she Khoe ini Kagumkan Bouw Pek. Dari Kouwsoe Cin Khin Goan, Khoe Khong Ciauw telah ketahui kegagahannya si orang she Lie. sebab kauwsoe itu telah saksikan sendiri bagaimana Kim too Phang Bouw telah dibikin rubuh.

“Percuma jikalau aku pergi pada Kong Ciauw untuk minta bantuaniya,” demikian ia pikir. “apabila ia ketahui maksudku, bisa dia akan tegor padaku sebaliknya dari pada membantu. Kcmana aku mesti pergi ? “

Ta berdiam terus, sampai mendadak ia ingat suatu apa. “Ke Ta ro ciang “ ia berseru : “Hayo lekas.” 5oe Coe tterdik, ia bisa duga pikiran majikannya itu. Ia duga tentulah majikan ini mau pergi cari pcrsaudaraan Phang di Cen Goan Piauw tiam.

Sebenarnya pada permulaannya tidak ada hubungan kekal diantara Siu Bie too Oey Kie Pok dan persauduraan Phang, adalah setelah kekalahannya persaudaraan itu ia lantas cari hubungan dan baik itu menjadi kekal, tidak perduli bahwa Kim too Phang Bouw yang boleh diandalkan telah tinggalkan Pakkhia, untuk selanjutnya tidak campur lagi urusan dikalangan Sungai Telaga Beda dari pada lain2 saudaranya, Phang Bouw adalah laki2 yang hargai dirinya dan pegang kehormatannya. Sebagai orang cerdik, Kie Pok ketahui baik Phang Hoay dan Phang Liong semestinya sangat benci Bouw Pek, bahwa mereka tentu mendendam sakit hati, maka persobatan dengan mereka itu banyak baiknya baginya. Adalah karena hubungan ini juga, maka sepulangnya Tek Siauw Hong dari Tongleng ia saban-saban dicari oleh persaudaraan Phang; Itulah keinginan dari Kie Pok, yang hendak ganggu orang Boan itu. Dan sekarang Kie Pok mau tengok persaudaraan itu, niatnya buat minta Phang Hoay kumpulkan kawan2 golongan piauwsu untuk hadapi Bouw Pek, yang akan lekas keluar dari penjara. Tapi kapan ia telah utarakan maksudnya Phang Liong geleng kepala, Kita tidak dapat lakukan itu kata Hoa khio.

Air mukanya Kie Pok berobah dengan lantas, apabila ia dengar jawaban itu, tetapi sebab cerdiknya ia Lekas putar perkataannya. Ia kata: “Bukan maksudku akan setrukan Tek Siauw Hong dan Lie Bouw Pek, aku melulu mau minta kau ajar aku kenal kepada beberapa sobat baru. Aku percaya, mengingat namaku, mustahil mereka tidak sudi bersobat dengan aku? ”

“Pasti sekali tidak ada orang yang tidak kenal nama Sioe bie too yang besar!” Phang Liong kata sambil tertawa. “Aku hanya mau bilang, dulu kau tidak bersobat dengan mereka, sekarang kau mendadak ajukan diri, apa mereka tidak akan curiga? Lain dari pada itu, sekarang toh sesudah perginya Say Lu Pou Goei Hong Siang, disini tidak ada piauwsoe yang pandai, bagaimana mereka bisa jadi lawan Lie bouw Pek?”

Mendengar itu Kie Pok jadi ksrutkan alis.

“Habislah pengharapanku ” pikir ia dengan masgu1.

“Apakah benar benar Lie Bouw Pek dapat keluar dari penjara?” Phang Hoay tanya.

“Aku pasti tidak mendusta” Kie Pok jawab. “Aku baru saja ketemu Kioe boen Teetok dan kabar ini aku dapat dari ia sendiri. Didalam halnya Lie Bouw Pek ini ada campur tangan Siauw Hong jiam Siauw Pweelek, lantaran itu teetok sendiri tidak berani tidak merdekakan dia.” Ia menghela napas, akan kemudian menyambung “Tentang halku, aku tidak bisa rahasiakan pada kau. Bukan maksudku buat aku sendiri musuhkan Lie Bouw Pek, aku bekerja untuk kepentingan semua sobat kita di Pakkhia ini. Tek Siauw Hong telah datangkan Lie Bouw Pek dengan kesudahan orang she Lie ini adalah hajar aku, kau dua saudara dan Poan Louw Sam juga, hingga ia telah menjago disini. Mika kalau kejadian Lie Bouw Pek tetap tinggal disin, mana kita mampu angkat lagi kepala kita?”

Ucapan ini berbisa, mendengar ia Phang Hoiy dan Phang Liong lantas saja menjadi gusar.

“Oey Soe ko, kaubenar!” mereka berteriak. “Memang selama Lie Bouw Pek masih ada, kita tidak bisa tinggal lebih lama pula di Pakkhia ini!”

Kie Pok menghela napas.

“Aku tidak bisa pikir, siapa yang sanggup tandingi Lie Bouw Pek,” ia kata pula kemudian. “Buat Tek siauw Hong, perkara mudah. ”

Bcrtiga mereka duduk bingung, dua saudara Phang  juga tidak bisa berpikir.

Diluaru itu dari jendela kelihatan mendatangi orang, satelah mendekati para2 senjata lalu terdengar suaranya:

“Lihatlah golok, pedang dan tombak kau, semua sudah pada karatan! Kenapa semua senjata ini tidak dibikin bersih ? “Apakah begini tacamnya orang yang buka Piauw tiam?” Phang Hoay lantas juga lihat dan kenali orang itu, yalah Moh Po Koen, piauwsoe dan Soe Hay Piauw tiam, maka lekas lekas ia baikata.

“Disini ada orang, silahkan duduk dulu dikamar timur. ”

Akan tetapi baru ia tutup mulutnya, atau orang itu sudah bertindak masuk.

Melihat Oey Kie Pok, piauwsoe itu lantas saja angkat kedua tangaanya.

“Oh, Sioe Bie too Oey Soe ya, kiranya kau disini !” berkata ia. Oey Kie Pok segera berbangkit akan terus awasi orang yang  ia tidak kenal itu. Ia lihat “alit tikus” dan “mata ular” orang itu dan dibatok kepalanya ada bekas bacokan golok, dua kupingnya Lebar, sinar mukanya tak mengasih. Ia benar benar tidak ingat. Akan tetapi, sambil tertawa ia manyahuti

“Maafkan aku, tuan, sungguh aku lupa padamu !” Moh Po Koen tertawa.

“Digedungny Gin khio Khoe Siauw Houw ya aku sering lihat kau. Oey Soe ya,” ia menjawab “Kita memang belum pernah bicara satu pada lain. Aku Moh Po Koen, dari Soe Hay Piauw Tiam disebelah timur”

Sekarang barulah Oey Kie Pok ingat. Duluan Kauwsoe Cin Cin Goan dari gedungnya Khoe Khong Ciauw pernah kasi tahu padanya, bahwa di Soe Hay Piauw Tiam ada piauwsoe ini, yang pandai sekali lompat tinggi-

“Sudah lama aku dengar namamu, Moh Lauwhia!” ia lekas menyahut. “Silahkau duduk, silahkan”

Moh Po Koen tidak seeiyie lagi, ia duduk didepannya Sioe Bie too, tangannya ia ulur pada theekoan, yang airnya ia segera tuang kedalam cangkir dan kemudian ia minum dengan tidak tanyakan orang lagi.

Dua saudara Phang melirik pada dua orang itu selama  mereka bicara, terutama pada Oey Kie Pok.

Setelah hirup teh, Moh Po Khoen bicara pula pada Sioe Bie too.

“Oey Soe-ya, Lie Bouw Pek akan lekas keluar dari penjara, kau tahu atau tidak ?” tiba2 ia menanya Kie Pok terperanjat, tetapi ia coba bersikap tenang.

“Heran, kenapa ia dapat tahu ini?” pikir ia, yang lantas saja berlaga pilon dan sambi1 geleng kepala berkata: “Aku tidak dengar! Aku tidak bersobat dengan orang she Lie itu, maka mengenai perkaranya, aku tidak campur tahu. ”

Moh Po Koen tuang teh pula dan hirup itu.

Phang Liong hendak tanya piauwsoe ini tatkala Po Koen mendadak tertawa sendirinya.

“Oey Su ya, kita baru kenal satu pada lain, tetapi ijinkanlah aku omong terus terang,” ia berkata. “Su ya, apa yang kau bilang barusan bukan hal yang sebenarnya ! Orang di Pakkhia sekarang ini, siapa saja, asal yang ketahui Lie Bouw Pek, ia tentu ketahui perkara Bouw Pek adalah disebabkan siasatnya kau bersama Poan Louw Sam”

Oey Kie Pok kaget, sampai tampangnya jadi bersemu kuning Ia tercengang. Sebenarnya tadi ia pulang dari penjara dengan merasa hati tenteram, lantaran ia dapat kenyataan Tek Siauw Hong tidak omong suatu apa pada Bouw Pek porihal parbuatannya terhadap orang she Lie itu, tetapi diluar dugaan sekarang dari omongannya piauwsu ini ternyata semua orang telah ketahui rahasianya itu. ia mengerti, bahwa ia terancam bahaya begitu lekas Lie Bouw Pek keluar dari penjara si enak muda bisa bawa pedargnya buat cari ia

Juga dua saudara Phang terperanjat mendengar perkataan itu.

Selagi orang bingung dan heran, Moh Po koen sendiri lantas saja bersenyum. Ia nampaknya merasa puas, yang ia telah menduga dengan jitu.

“Oey Soe ya, jangan kau sembunyikan apa juga terhadap ku” ia lalu berkata pula. “Ketika aku dengar kabar yang Lie Bouw Pek akan keluar dari penjara, aku justeru berkuatir bagi dirimu, maka barusan begitu lekas dapat lihat kendaraan kau berada di depan, aku segera mampir kemari. Menurut aku, dengan Lie Bouw Pek telah dapat perlindungannya Tiat Pweelek, bukan saja ia pasti akan lekas kelur dari penjara, juga tidak nanti ada orang yang berani ganggu ia lagi. la beradat tinggi, pikirannya cupat sekeluarnya dari penjara, aku percaya ia hendak lantas berdaya akan mencari balas Aku duga pertama tema ia mesti cari Poan Louw Sam dan kemudian kau, Soeya...

Bukannya aku tidak pandang mata padamu, Oey Soe ya, andaikata benar Lie Bouw Pek membawa pedangnya datang kerumahrnu. aku penyaya kau akan tidak berdaya dalam hal melayani padanya”

Hatinya Oey Kfe Pok berdebar, sebab apa yang Po Koen bilang, semua adalah hal yang bisa terjadi yang tadinya ia sendiri juga kuatirkan Maka. itu ia jadi ibuk berbaren masgul dau malu. Sekarang mukanya berobah menjadi merah

“Sudah lama kita telah sia sia kepandaianku. memang aku tidak akan sanggup lawan Lie Bouw Pek,” ia aku Kentara sekali ia berkuatir dan berduka.

Moh Po Koen awas dan pandai menduga, dengan kecerdikannya, ia mengerti kekuatiran itu. Tapi ia masih belum mau berhenti bicara.

“Tadinya aku juga sangka Lie Bouw Pek adalah orang yang tidak punya nama” demikian ia kata. “ada1ah kemarin ketika sobatku balik dari karopungnya di Kie lok, baru aku mendapat tahu.- Nyata orang she Lie itu muridnya almarhum jago tua Kie Kong Kiat, maka pantasleh boegeenya demikian likhay Aku penyaya sekarang ini di kota Pokkhia, sukar akan cari orang yang sanggup lawan dia! Kau, Oey Soe ya, bersama- Koe Siauw Houwya telah kepung Say Lu Pou Goei Hong Siang, dengan cara begitu barulah kau bisa rebut kemenangan,  tetapi di Seeho shia Lie Bouw Pek seorang diri dan dengan sedikit gerakan saja telah lukai cabaug atas itu. Menurut aku, buat bisa bikin tunduk Lie Bouw Pek, tidak ada dalan lain daripada mengundang orang dari tempat lain !”

“Coba kau bilang, siapa yang boleh diundang? berkata Phang Liong, “Jiekoku sangat terkenal didalam propinsi Titlee ini, akan tetapi ia pun tidak berdaya Siapa lagi Yang bisa layani  Lie Bouw Pek?”

Moh Po Koen tertawa dengan jebikan bibir. “Tentu mesti ada oragnya!” berkata ia dengan roman bangga. “Apakah kau kenal loohan dari Holam yang dipanggil Teng Jiauw hie Biauw Cin Sai si Ikan Lodan Biauw Cin San ini punya keponakan lakilaki, yaitu Kim khio Thio Giok Kin, si Tumbuk Emas, yang lebih ternama pula! Jikalau mereka berdua bisa diundang dengan datang ke Pakkhia, tidak usah sampai mereka gerakkan tangan mereka, baru mendengar nama mereka saja Lie Bouw Pek niscaya sudah kabur bahna kaget Oey Kie Pok nampaknya sangat tertarik.

“Sudah lama aku dengar namanya Biauw Cin San dan Thio Giok Kin itu” berkata ia. “Cuma kita tidak kenal mereka, bagaimana dari Holam mereka bisa diundang datang kemari?” “Jikalau mereka mau diundang itu urusan mudah “ berkata pula Moh Po Koen, yang nampaknya bangga bukan main. “Biauw Cin San itu bersobat kekal deagan aku! Tiga tahun yang berselang aku telah sambangi ia di Coa matiam, Holam Jikalau aku yang pergi undang ia. pasti akan bisa kejadian, dan apabila ia datang, tidak salah lagi tentu akan ajak keponakannya, Thio Giok Kin “

Tepi Kie Pok geleng geleng kepala.

“Aku sangsi” berkata ia dengan duka. “Aku tidak kenal Biauw Cin San dan dengan Lie Bouw Pak ia tidak bermusuhan, atau berselisihan mustahil dari tempat begitu jauh ia sudi datang guna urusan kita?”

“Ya, aku kuatir ia tidak gumpang2 bisa di undang” Phang Hoay dan Phang Liong pun kata.

Tetapi Moh Po Koen terus bersenyum ia agaknya merasa sangat pasti. Ia tuang teh pula.

“Asal 0«y Soe ya suka tulis surat undangan padanya dan bingkisan sejumlah uang untuk ongkos jalan, aku tanggung tidak sampai satu bulan ia akan sudah datang ke Pakkhia” ia kata pula. “Jikalau aku tidak sanggup undang dia itu, sungguh, aku tidak nanti punya muka lagi akan menjadi piauwsu di Su Hay Piauw Tiam “

Mendengar omongnya Moh Po Kun, Oey Kie Pok terperanjat sebab heran. “Si orang shs Moh ini kelihatannya tidak boleh dipandang enteng......” pikir ia. “Apa benar ia bersobat kekal dengan Biauw Cin San dan Thio Giok Kin? Jikalau dua orang itu mau diundang, mereka memang tentukan bisa kalahkan Lie Bouw Pek, maka untuk rogoh saku sedikit dalam, bagiku tidak ada artinya ”

Memikir dem kian, air muka Siu Bie-too menjadi terang. “Berapa kiranya jumlah ongkos jalan itu?” ia lalu tanya “Sebelumnya si piauwsu menjawab, Phang Liong telah mendului :

“Moh Lauw-liok, aku sangsi” kata ia. Jangan kau terlalu andalkan mulut kau, kau musti bisa kasikan bukti! Coba bilang, alasan apa kau hendak kemukakan hingga 8iauw Cin San sudi dengar perkataanmu ? Hayo bilang, supaya aku bisa percaya kau”

Mendengar kata kata itu, nampaknya Moh Po Koen kurang senang, hingga ia bersenyum dingin.

“Sebenarnya adalah salahku suka usil urusan orang” itu ia kata. Dengan si orang she Lie aku tidak bermusuh atau berselisih, apa faedahnya bagiku melakukan suatu perjalanan begitu jauh ke Holarn, buat undang si orang shy Biauw datang melulu untuk cari musuh? Tatapi dengan tidak  percaya, bahwa aku sanggup undang Biauw Cin San datang kemari, kau sebenarnya sangat tidak melihat mata padaku! Baiklah aku kasi tahu padamu Biauw Cin San adalah seorang yang beradat keras dan hatinya kejam, ia benci sekali tidak hargakan sobat, dan oleh karena ia hartawan, ia juga tidak pandang uang tidak perduli berapa besarnya jumlah uang itu, berapa dekatnya persobatan, ia biasa tak ambil perduli ia sukar buat diundang. Tapi sekarang kebetulan ada urusan yang mengenai dirinya, yang ada hubungan atau sangkutannya dengan Lie Bouw Pek, maka asal aku bicara dengan ia satu kali saja, ia pasti mau datang kesini”

Kie Pok dan dua saudara Phang menjai tertarik. “Apakah itu ?” tanya mereka hampir berbareng”

“Itu adalah suatu ceritera panjang” tertawa Moh Po Koen, yang menjadi girang dan puas oleh karena hati orang tertarik. Ia agaknya sangat berdahaga, karena lagi2 ia ulur tangan pada theekoan.

“Biauw Cin San sebenarnya seorarg dengan kepandaian silat yang tinggi,” ia mulai koterangannya. Selama tahun2 yang belakangan ini. apa juga ia tidak kerjakan, ia hanya keluar satu tahun satu kali. Ia punya perhubungan dengan raja gunung parbungan yang bersipat istimewa. Beberapa raja gunung, apabila mereka habis bekerja selalu pilih beberapa rupa barang perhiasan yang paling bagus, Tentu saja emas, yang mereka sediakan untuk dipersembahkan pada orang she Biauw ini, kedatangan siapa diharap harap. Apabila ada raja gunung yang tidak membayar upeti semacam itu, jangan harap ketenteraman hidupnya tidak terganggu, tentara Biauw Cin San tentu bantu tentara negeri buat serang dan basmi dia

! Maka itu hidupnya orang she Biauw ini bukan sebagai pembesar bukan sebagai bersndal, hanya ia andalkan. boegeenya yang tinggi serta kong-piauwnya yang liehay. Dengan cara penghidupan ini yang luar busa, ia telah dapat kumpul nama besar hingga ia menjadi hartawan satu Satunya di Coe ma tiam. la seorang tua, usianya sudah lima puluh lebih, akan tetapi dirumahnya ia punya belasan gundik. Buat jadi gundiknya Biaow Cin San bukannya mudah. Seorang gundik yang menyebabkan kemarahannya, umpama gundik itu bicara dengan lelaki muda hingga kena dicurigai, bagiannya adalah hebat, karena ia bisa dipukuli sampai mati. Gundik yang biasa diujung tombak bukannya baru satu atau dua orang.”

Keterangan ini menarit hati, tidak heran apabila Kie Pok dan dua saudara Phang telah pasang kuping dengan sungguh sungguh.

“Tatkala tiga tahun yang sudah aku kunjungi Biauw Cin San, kebetulan ia lagi sakit hingga ia tidak bisa turun dari pembaringan, Moh Po Koen cerita terus. “Ia bersobat baik padaku buat terima aku ia telah undang aku masuk Kepedalaman. Kami telah kongkauw banyak perihal kejadian2 dikalangan Sungai Telaga. Untuk melayani aku, Biauw Iyin San perintahkan guadiknya, yang tidak usah menyingkir dari aku, kendati aku tamu lelaki. Sebabnya ini aku percaya, lantaran ia pertaya aku tentu tidak akan pincuk dan ajak lari gundiknya itu !”

Mendengar itu, Oey Kie Fok tertawa.

“Hayolah, cerita lekasan!” mendesak Tiat koen Phang Hoay, yang tidak sabar. “Sebenarnya, bagaimanakah duduknya hal? Apakah bisa jadi Lie Bouw Pok sudab bawa kabur salah satu gundiknya Biauw Cin San?”

Didesak demikian, bukannya ia lekas menjawab atau meneruskan teritanya, Moh Po Koen justeru lantas merem melek. Dengan ketekuannya ia, ia coba bayangkan roman yang cantik dari gundiknya Teng couw houw yang waktu itu telah melayani ia minum teh. Lagi lagi ia angkat cangkirnya buat hirup tehnya.

“Diantara gundik gundik Biauw Cin San, ada satu yang paling cantik,” kemudian ia menjawab. “Ya ini lebih elok dan pada nona didalam gambar. Ia adalah cantik perempuaanya Cia Loo Cit, seorang tukang sunglap. Loo Cu pandang gadisnya seperti mustika, beberapa hartawan telah melamar anak ini, ia selalu menolak, apa mau paling belakang anak itu dapat dilihat oleh Biauw Cin San dan lantas diambil dengan paksa Oleh Biauw Cin San nona Cia itu disayang, tetapi kendati demikian, Lo Cit tidak puas. Pada satu waktu, diluar tahunya Biauw Cin San, Loo Cit ajak anaknya itu minggat. Apa lacur, perbuatan itu kepergok, mereka 1antas di susul dan kecandak sebelum mereka lari jauh. Celaka buat Cia Loo Cit, ia telah dikomplang sampai binasa, anaknya kena dirampas pulang, begitu juga isterinya, yang turut ia kabur. Nona Cia pandai jaga diri, biar Biauw Cin San murka karena ia ikut ayahnya minggat, sesampainya dirumah ia bikin orang she Biauw Itu tidak gusari dia. Demikian, satu tahun lamanya, diantara mereka tidak terjadi kejadian apa juga. Akhirnya, waktu satu kali Biauw Cin San bepergian, nona Cia bisa ajak ibunya minggat. Kabarnya, Waktu Biauw Cin San pulang dan ketahui gundik itu lenyap, duka dan gusarnya bukan kepalang. Ia telah kirim orang kesegala jurusan untuk mencarinya sampai sebegitu jauh nona itu tak depat ditemui. Sampai sekarang ini, apabila Biauw Cin San ingat hal gundiknia itu, ia masih suka memaki kalang kabut, ia telah sesumbar bahwa ia akan belum merasa puas kecuali ia dapat cari gundik itu buat dihajar sampai mampus.” “Semua hal ini adalah kejadian yang aku dengar pada tahun yang sudah. Adalah dalam tahun ini, yalah setengah bulan yang berselang, kebetulan sekali aku telah dapat cari si nona Cia, anaknya Loo Cit yang apes itu. Nona itu sudah kabur ke Pakkhia ini, ia telah tukar nama mejadi Coei Siam. Ia adalah si nona manis yang berdiam di Po Hoa Pan, rumah pelesiran nyonya Han. Aku dengar, nona itu telah bersobat dengm Lie Bouw Pek.”

Oey Kie Pok terperanjat sebab heran.

“Jadinya si Coei Siam itu gundik yang minggat dari Biauw Cin San” katanya separoh berseru. “Sayang ia telah tidak bersobat lebih jauh dsngan Lie Bouw Pek, hanya ia telah ikut Cie Sielong, maka kalau nanti Biauw Cin San datang kemari, yelas sielong tua bangka itu! Oleh karena ini bagaimana Biauw Cin San bisa t]emburui dan berdengki lagi pada Lie Bouw Pek ?... .


“Semua itu aku ketahui,” k«ta moh Po Koen, yang pegat hartawan itu. “Tetapi aku berani pastikan, kendati Coei Siam sudah menikah dangan Cie Sielong, tak nanti ia lupakan Bouw Pek dan Bouw Pek juga tak nanti pedam hatinya terhadap si coei! Aku percaya, satu kali dia utara mereka itu mesti terjadi suatu kesulitan. Maka. kalau nanti aku pergi ke Coe-siam-tiam dan ketemu Biauw Cin San; niscaya aku akan beritahukan kepadanya, bahwa mula dia Coei Siam minggat karena dibawa kabur oleh Lie Bouw pek. bahwa kemudian barulah Lie Bouw Pek diyual Coe Siam pada Jie Sielong. Aku penyaya baru, begitu lekas dengar kekerapanku. Biauw Cin San akan  datang1 kesini untuk cari Lie Bouw Pek. Apabila Biauw Cin San berada disini, aku minta kau orang sambut ia dengan baik dan telaten. Pasti,begitu lekas Biauw Cin San berada disini, ia akan kebentrok dengan Lie Bouw Pek dan Jie Sielong juga, dan kau boleh berdiri saja menonton harimau saling bergulat! Bagaimana sekarang kau pikir?”

Oey Kie Pok tertawa.

“Kalau ifu terjadi, celakalah Cie Sielong, situa-bangka itu” kata ia.

“Apa! Apakah soe-ya tersobat baik dengan sielong itu?” Po Koen tajam.

“Tidak, aku tidak bersobat rapat dengan dia itu” Kie Pok geleng kepala. Ia berpikir dengan cepat. maka lekas juga ia tambahkan : “BaiklahI Aku mau pulang akan kutulis surat undangan itu, yang aku akan berikutkan uangnya sekalian! Aku harap Moh Lauwtee. sukalah kau pergi ke Holam, akan undang Biauw Cin San. Cuma aku hendak minta, selama Biauw Cin San belum datang, biarlah urusan ini dirahasiakan” “Itulah tentu,” sahut Po Koen, begitupun kedua saudara Phang.

Kie Pok merasa girang, ia lantas pamitan dan berangkat pulang Begitu lekas sampai sampai ia sudah lantas tulis suratnya. Oleh karena ia tidak kenal Biauw Cin San, ia pakai saja alasan, bahwa ia telah dengar nama besarnya dan ingin berkenalan, maka itu ia undang Cin San datang kekota raja. Ia bilang ia kirim antaran yang tidak berarti dan minta supaya jago Holam itu suka terima dengan baiK Akhirnya ia mohon dengan sangat akan mohon orang she Biauw itu lekas datang ke Pakkhia. la tidak sebut jumlahnya uang, ia tidak unjuk itu adalah guna ongkos jalan. Yang ia kirim adalah : uang perak lima ratus tail dan uang kertas sebegitu juga, jumlah seribu tail. Buat Moh Po Koen sendiri ia bekalkan ongkos jalan seratus tail. Uang dan surat itu ia perintah kuasanya. Goe siauw Hek sampai Kepala Kerbau, antarkan pada Po Koen.

Hek Sam si kepala kerbau antarkan kepada Po Koen.

Hek sam pergi. tidak seberapa lama ia telah kembali dengan kabar, bahwa uang dan surat sudah diserahkan dengan betul pada Moh Po Koen. siapa katanya hari itu siap dan besok ia akan segera berangkat, bahwa piauwsoe itu janji akan lekas pergi dan lekas kembali.

Kie Pok terima jawaban itu dengan girang.

“Aku tidak kenal Moh Po Koen, la terima seribu tail lebih, jikalau ia pergi dan tidak kembali, apakah orang tidak akan tertawakan aku?” pikir ia. Tapi lekas juga ia hiburkan diri: “Aku rasa tidak akan kejadiau demikian mucam, mengingat yang Moh Po Keen adalah piauwsoe dari Soe Hay Piauw Tiam. Mustahil ia akan bikin malu dirinya karena uang sejumlah itu?....Apa yang aku harap adalah asal ia bisa datang dengan Biauw Cin San. ”

Bagaimana juga Sie Bie too berkuatir dan berduka. Umpama kata Biauw Cin San suka datang datangnya mesti dalam tempo satu bulan atau dua puluh hari. Maka kalau besok lusa Lie Bouw Pek keluar dari penjara dan terus cari ia, bagaimana ia harus ambil sikap?

Maka itu dalam saat? selanjutnya, Kie Pok terus tidak tenang pikirannya.

Esoknya Phang Hoay datang berkunyung, “Tadi pagi Moh Po Koen sudah berangkat,” demikian Tiat-koen kasi tahu. “Bagus,” kata Kie Pok yang coba legakan hati'..

Phang Hoay lantas bicarakan hal2 lain, yang tidak penting, tetapi terang ia menggerutu, sebab Moh Po Koen dapat seratus tail dan ia sendiri hanya diberikan lima puluh tail;

Kie Pok megerti yang orang mengiri, lantaran ia tidak mau bikin persaudaraan, Phang benci ia terpaksa ia keluarkan lagi lima puluh tail, maka seterimanya itu Phang Hoay lantas pamitan pulang dengan air muka terang.

Buat urusannya Lie Bouw P«k, Kie Pok mesti mengalami kemurkaan, kemendongkolan, kekuatiran dan kedukaan juga, dan uangnya sejumlah bes»r te!ah melayang, tidak heran karena semua itu kumatlah penyakit batuknya, hingga buat dua-tiga hari ia tidak pergi kemana2,

Pada sore hari keempat selagi Kie Pok minum obat dengan dilayani oleh gundiknya yang ia sayaog, Soan Coe masuk dengan kabar.

“Louw Sam-ya datang” Majikan ini belum buka mulutnya, Poan Louw Sam telah turut masuk Kapan ia kemasi obat itu, ia heran berbareng terperanjat.

Poan Loaw Sam datang dengan napas tersengal-sengal dan roman merah-pucat bahwa kesakitan, begitu ia berada didalam kamar, ia banting2 kakinya.

“Lihat. menyebalkan atau tidak kata ia Seakan dengan mendadak. “Tiat Pweelek benar2 telah tolongi Lie Bouw Pek keluar dari penjara”

Kie Pok pun terkeyut, sampai mukanya pucat dengan sekonyog-konyong, hingga ia batuk2.

“Kapan Lie Bouw Pek keluar dari penjaya?” ia menegaskan. “Baru saja!”Louw Sam jawab Oey Kie Touw dari kantor teetok telah kirim orangnya untuk mengasi kabar padaku, dan aku segera datang kemari. ” Lagi2 ia

banting kakinya. ia tambahkan: “Lie Boaw Pek tidak boleh dibuat permainan! orarg miskin, ia bisa lakuan segala apa. Umpama ia datang cari kita berdua , apa kita bisa bikin?”

Kie Pok batuk2 pula. “Belum tentu Lie Bouw Pek ketahui, bahwa aku telah bekerja diam2 untuk bikin ia celaka demikian ia pikir.

“kalau begitu, perkaranya Bouw Pek jadinya sudah beres?” kata ia kemudian.

“Demikian kiranya!” sahut Louw Sam. “Ia dimestikan kasih tanggungan dan selama satu bulan tidak boleh meninggalkan Pakkhia, tiap saat ia dipanggil ia mesti segera datang. Tentu sekali itu melulu suatu daya upaya untuk menolong muka terang! Kenyataannya ia sudah merdeka betul !”

0 Response to "Po Kiam Kim Tjee Jilid 12"

Post a Comment