Po Kiam Kim Tjee Jilid 10

Mode Malam
Jilid 10

HAMPIR di waktu itu belasan orang muncul dari dalam, diantaranya ada Kim-too Phang Bouw sendiri, begitupun dua saudaranya, Cat-kun Phang Hoay dan Hoa-khio Phang Liong. Lauw Kie In segera perkenalkan Bouw Pek pada beberapa orang itu, diantaranya ada Siang Pek Ie dari Kong Sun Piauw- tiam. Tio Lie San dari Thay Pheng Piauwtiam, Lauw Cit Sek dari Su Hay Piauwtiam, dan kauwsu Cin Khin Goan, guru silat famili Gin-thyio Ciaogkun Khu Siauw-houwya......

Bouw Pek serahkan pedangnya pada seorang pegawai, ia angkat tangannya akan unjuk hormat pada sekalian piauwsu Itu.

Phang Hoay dan Phang Liong pandang tamunya dengan sikap bermusuh, tetapi Phang Bouw sambi1 tertawa unjuk hormatoya dengan manis budi. Ia lantas undang semua orang ambil tempat duduk.

Semua piauwsu dapat anggapan baik, apabila mereka telah pandang anak muda kita, tetapi umumnya mereka anggap pemuda ini lebih mirip anak sekolahan daripada orang yang mengerti silat. Mereka anggap, dipadu dengan Pedang Bouw tamu ini kalah jaub. Kim-too bertubuh kekar, dagingnya berurat, dadanya mumbul.

“Tidak bisa lain, orang she Lie ini, dimana keduanya sama2 kian mereka pikir.

Phang Bouw sendiri tidak panyang mau pada bakal lawannya itu, sesudah isikan cawanya semua tamu, ia lantas berbangkit buat angkat bicara. Ia kata :

“Sudah dua tahun aku tidak pernah datang ke Pakkhia kalau sekarang aku berada d sini itulah disebabkan tuan Lie Bouw Pek ini telah lukai saudaraku dan katanya ia ingin ketemu aku!”

“Maka juga bsgitu aku di Cim cin menerima kabar, aku segera berangkat kemari!


Tadinya aku tidak kenal orang she Lie ini, aku tidak sesalkan ia, yang ia telah lukai adiku. Dalam hal itu, aku hanya sesalkan adikku, yang ilmu silatnya masih sangat rendah. Tapi ia bilang, ia ingin ketemu aku, inilah lain. Kemarin, begitu datang, aku lantas cari tuan Lie ini, buat janjikan piebu disini pada pagi ini. Tuan2, aku telah undang kau, muksudku adalah buat minta kau suka menjadi saksi. Lebih dulu akupun hendak terangkan, kami berdua akan bikin piebu, kami bukannya mau adu jiwa, kendati demikian, kedua fihak mesti unjuk kepandaiannya yang sejati, tidak boleh ada yang gunai senjata gelap, tidak boleh ada yang berlaku curang, siapa kalah ia mesti mengaku kalah, andai kata kejadian ada yang binasa, ia hanya boleh terima nasib saya !. ”

“Kau benar. Phang Su-ya!” berseru beberapa orang. “Memang, didalam kalangan kita. kalau kita adakan piebu, kita perlu omong lebih dulu dengan jelas!”

Bouw Pek mendengari saja, ia tidak buka mulut, ia melainkan bersenyum. Sikapnya tenang dan enteng, hingga orang bisa sangka bukanlah ia yang sebenarnya akan bertanding dengan Kim too Phang Bouw, si Golok Emas yang termashur namanya.

Cuma Lauw Kie In seorang, yang nampaknya sibuk bukan main.

“Menurut aku, baiklah piebu hari ini dibatalkan, dibikin habis saja,” ia kata. suaranya kurang lempias. “Barusan saja aku telah bicara dengan tuan Lie Beuw Pek, ternyata ia bersobat baik dengan Tiat-cie tiauw Jie Loo piawsu, hingga dengan bagitu kita bisalah dibilang dari satu golongan. Phang Su-ya adalah enghiong ternama dari Titlie, dan Lie-ya adalah hoohan yang baru datang ke Pakkhia ini, dimana keduanya sama2 orang terkenal, jiewie jadi mirip dengan pepatah yang bilang, kalau dua harimau bertarung, salah satu mesti terluka! Jiewie sama2 orang dari kalangan Sungai Telaga, nama besar jiewie dapatkan bukan Secara mudah, dari itu kenapa jiewie mesti piebu? Aku minta jiewie suka pandang aku si orang tua, piebu ini baik dibatalkan lantas diganti oleh persobatan. Tidakkah cara ini caranya laki-sejati?. ”

Phang Bouw sedang hirup araknya ketika ia dengar perkatannya piauwsu tua itu, yang bikin ia mendongkol, lekas ia letakkan cawannya.

“Tidak, perjanjian tidak bisa dibatalkan!” kata ia sambil goyang kepalanya berulang2. “Perjanjian telah dibikin, sobat dan kenalan telah diundang dan sudah berkumpul, sedang aku telah datang kemari jauh2 dari Cimciu, apakah perlunya? Biar apa akan terjadi, hari ini aku mesti piebu dengan tuan Lie ini, akan pastikan siapa lebih tinggi dan siapa lebih rendah kepandaiannya! Atau pembatalan bisa terjadi, andai kata ia suka menyatakan suka mengalah di depannya orang banyak, dengan begitu barulah aku merasa puas! ” Bouw Pek mendongkol mendengar ucapan orang itu. “Saudara Phang Bouw, baiklah kau tidak usah mengucap demikian!” ia kata. “Aku pasti sekali tidak sudi mengalah sebelum kita piebu, aku ingin sekali menerima pclajaran dari kau.”

Suaranya anak muda kita bikin semua mata ditujukan padanya, diluar dugaan ia telah bicara secara nyaring dan gagah.

“Sebenarnya Lauw Loo piauw tauw bermaksud baik,” ia tambahkan, “dengan maksud melindungkan keakuran diantara kita, ia sudah undang aku datang kerumahya dan ia anjurkan aku untuk batalkan piebu kita. Aku setujui loo piauw tiauw, karena aku juga pikir, asal saudara Phang Bouw suka berdamai aku bersedia akan undurkan diri. Tapi sekarang terbukti kau ingin piebu buat buktikan tinggi dan rcndahnya kebisaan kita, baiklah aku bermedia melayani!”

Perkataannya anak muda kta ditutup dengan gerakan tangannya menghunus pedangnya.

“Bagaimana kalau sekarang kita segera mulai ?”  ia menantang si Galok Emas.

“Ya, sekarang dimulai juga boleh!” kata orang dipinggiran. Liuw Kin in menjadi sangat barduka hingga ia menghela napas.

“Sekarang aku tidak bisa campur tangan lebih jauh,” kata ia dengan masgul,

Mukanya Phang Bouw merah padam sebab mendongkol, ia buka bajunya d»n lemparkan itu kesamping sambil berbangkit. “Ambil golokku !” ia teriaki orangnya.

Bouw Pek juga sudah bsrkisar dari mejanya dengan bawa psdangnya.

Orang yang ambikan goloknya Phang Bouw telah kembali dengan sepasang goloknya jago Iyimciu itu. Dengan cekal senjatanya ini, Kim-too lantas pergi kelatar.

Bouw Pek sudah buka baju panjang, dengan begitu ia sudah lantas siap sedia. Ia bertindak akan hampirkan si Golok Emas “Kau boleh mulai!” ia kata. “Baiklah, aku tidak akan berlaku sungkan lagi” jawab Phang Bouw, yang benar2 dengan sepasang goloknya membacok anak muda itu !

Bouw Pek berkelit kekiri, dengan pedangnya ia menangkis golok kanan, berbareng dengan itu pedangnya diteruskan menusuk pinggang lawannya !

Dengan gesit Kim-too minggir, tubuhnya miring, golok kirinya dipakai menyampok senjata musuh dan golok kananaya kembali dipakai membacok.

Dengan tidak kurang gesitnya. Bouw Pek lompat kesamping, dari sini ia melesat lebih jauh kebelakang musuh, sambil putar badan ia menusuk mengarah punggung.

Bisa menduga maksud musuh, Phang Bauw unjuk kegesitannya. Sebat sekali ia berbalik, dua batang goloknya diangkat dipakai menangkis pedang musuh, dengan begitu si anak muda jadi tidak berhasil.

“Bagus !” beberapa orang di pinggiran berteriak, mereka kagum gerakkannya dua orang itu, yang terang berimbang celi dan gesitnya.

Bouw Pek sudah lantas mundur dua tindak, karena ia telah dapat capai maksudnya

Menampak orang mundur, Phang Bouw merangsak ! Tapi sekarang si anak muda tidak mau mundur lebih jauh,  memutar pedangnya, ia tangkis sesuatu bacokan oleh sepasang golok. Pertempuran jadi hebat sekali!

Begitulah, berulang ulang kedua senjata telah berbentrok dengan menerbitkan suara yarg nyaring dan riuh.

Setelah berselang sekian lama, Phang Bouw jadi sengit, karena sia sia saja ia gunai ke pandaiannya, ia tidak mampu desak musuh. Jangan kata mengalahkannya ! ambil mendesak

- desakan yang tercandak - ia pasang mata dan asah otaknya akan kenai lowongan Maka lewat lagi seketika mendadak ia kirim bacokan berbareng : golok satunya menuju lengan kiri, golok lainnya mengarah dada.

Buat singkirkan diri dari bahaya maut, Bouw Pek yang awas, yang bisa libat gerakan musuh, sudah jauhkan diri dengan satu lompatan jumpalitan “Yauw coe hoan sie” sambil pedangnya dipakai menangkis secra raupan, ketika ia turun pula ketanah, ia berada disamping musuh itu. Ia tidak tunggu sampai dua kakinya injak tanah, ia tidak kasi kesempatan akan musuh dapat perbaiki diri, dengan cepat ia menendang lengan kiri lawannya !

Phang Bouw hampir keluarkan jeritan karena tendangan itu bikin tangannya dirasai sakit, sedang goloknya terlepas dan jatuh ke tanah ! Ia jadi gusar, sekalipun tinggal sebuah goloknya, ia menyerang pula secara jauh lebih sengit !

Tapi sekarang Bouw Pek bisa berkelahi dengan lebih leluasa, tadi menghadapi sepasang golok ia tidak repot, apa pula sekarang, satu sama satu, pcdangnya jadi merdeka. Pedangnya kini bergerak kemana saja golok musuh sampai, hingga percuma saja Kim too sengit, sesuatu bacokannya tidak pernah mengasi hasil. Kendati begini, pertempuran tidak jadi kurang serunya.

Dengan gerakan tubuh yang nampaknya enteng sekali, Bouw Pek bisa jauhkan dan dekati musuhnya sesukanya sendiri. Musuh selalu cari lowongan, begitu juga ia sendiri.

Lima jurus telah lewat, dengan satu enjotan tubuh, sehabis berkelit kesamping, Bouw Pek merangsak musuh, akan bikin dirinya berada dekat musuh, dengan pedangnya ia tahan goloknya, lalu dengan sebat luar biasa dengan tangan kirinya ia tepok tangan musuh yang menyekal golok !

Jago dari Cimcioe terperanjat, lengannya itu gemetar dan sakit, sampai goloknya ia tidak kuat angkat, hingga lekas2 ia mundur dua tindakkan jauhkan diri dari musuh, buat perbaiki dirinya. tapi Bouw Pek tidak bekerja setengah jalan, selagi musuh mundur ia maju, sebelum musuh bisa berbuat apa , kakinya sudah melayang naik. Sebab tangannya Phang Bouw yang keplek tidak leluasa, tangannya itu kena didupak, maka sekarang, seperti tadi golok kirinya, golok kanannya lantas terlepas dan jatuh! Lagi sekali Kim too mundur, sekarang dengan satu lompatan. Berbareng dengan itu Phang Liong lompat maju dan serahkan padanya sebatang tombak.

Dengan dapat senjata baru, Phang Bouw maju lagi akan terus menikam !

Bouw Pek lihat segala apa, kendati ia tahu musuh dikasikan senjata, ia tidak cegah itu, ketika ujung tombak sampai ia menyampok dengan keras, lalu sambil lompat maju ia membacok.

Gerakan musuh membahayakan Phang Bouw tarik pulang tumbaknya, yang ia pakai menangkis, dengan pedang yang tajam telah beradu, hingga terbitlah suara keras ! Cuma, buat kagetnya si Golok Emas, ujung tumbaknya jatuh, karena bacokannya Bouw Pek dengan pedang yang tadinya telah membikin kutung tumbak itu !

Masih saja Phang Bouw tidak mau menyerah kalah, malah jadi makin marah, ia lempar gagang tombak, dengan tangan kosong ia maju menyerang !

Bouw Pek mundur, ia tidak mau bikin celaka musuh yang nyalinya besar itu.

“Apakah kau masih tidak mau mcnyereh kalah ?” ia tanya. Lauw Kie In juga maju seraya ulap ulap kan tangan. “Sudah, sudah !” berkata piauwsoe tua ini.

Phang Bouw merah padam, bahna panasnya hatinya, bahna tenaganya telah dikeluarkan terlalu banyak, matanya seperti mendelik ia tidak gubris penanyaannya si orang sbe Lie, ia tidak perdulikan suaranya si orang she Lauw, sebaliknya dengan tiba2 ia lompat menubruk sebelah tangan mencekal lengannya Bouw Pek, dengan tangan yang sebelah lagi mau rampas pedangnya. Untung buat ia, anak muda itu tidak kehendak jiwanya, kalau tidak, satu sabatan sambil mundur berlari bahaya bagi dirinya,

Bouw Pak mengerti ancaman bahaya apa bila pedangnya kena terampas, dari itu ia lantas berdaya akan lepaskan tangannya, maka juga berdua mereka lantas berkutetan.

Kie In kena kebentur sampai sempoyongan ia hampir jatuh Phang Bouw gunai tanaganya akan cengkeram keras tangan musuh, akan rampas pedang musuh. Bouw Pek pun keluarkan tenaganya akan lawannya cengkeraman itu, buat cegah pedangnya pindah tangan.

“Sudah ! sudah !” Liuw Ke In mencegah pula? “Sudah jangan berkelahi terus, nanti orang tertawakan kau !”

Seruan ini tidak diladeni oleh Phang Bauw.

Semua penonton jadi bingung, sebab hebatnya pertempuran itu.

“Lekas gunai totokan urut” akhirnya Phang Hoay teriaki saudaranya. Dsngan peringatan ini ia ingin sang adik gunai tenaganya yang seperti kerbau buat rampas pedang musuh.

Phang Bouw turut anjuran raihasa dari engkonya itu, ia lantas kumpul tenaganya Apamau, maksudnya sia sia saja. Ia tak sangka babwa Bouw Pek. lemah kelihatannya. punya tenaga lebih besar dari padanya Maka itu mereka tetap berkutetan.

Lama lama karena panas timbullah ingatan busuk dalam hatinya si Golok Emas. Ia lepas secara mendadak tangan kirinya, yang tadi dipakai buat rampas pedang dengan tangan ini ia tonjok tenggorokan lawannya.

Tapi dengan tangannya terlepas, pemuda kita berlaku lebih sebat lagi, belum tangan musuh sampai pada tenggorokan tangannya itu melayang pada dada orang, dengan suara mem beleduk ! Berbareng dongan itu kakinya yang merdeka pun diangkat. Lantas dengkulyn mampir pada perut orang, atas mana terlemahlah cengkeramannya Phang Bouw, rubuhlah tubuhnya ketanah, rubuh terbanting dengan menerbitkan suara keras !......

Berbareng terlepasnya tangan musuh, Bouw Psk lompat mundur, kapan ia tengok lengannya. lengan itu bcrwarna merah, tetapi lengannya Phang Bouw telah jadi matang biru, suatu tanda cekalanya anak muda ini jauh lebih hebat !

Duduk numprah ditanah, tiba2 Kim too Phang Bouw menangis sesenggukan !

Lauw Ke In segera hampirkan dan pimpin bangun jago Ciamcioe itu. Ketika itu Tiat koen Phang Hoay bersama Hoa khio Phang Liong, beberapa piauwsoe dan pegawal piawkiok, hendak serbu Bouw Pek dengan senjata ditangan.

Anak muda kita mengawasi dengan tajam, pedangnya sudah siap, sedikit juga ia tidak unjuk yang ia takut atau jeri. “Jangan bcrlaku tidak tau aturan !”

Phang Houw teriaki fihaknya seraya ulapkan tangannya mencegah ..Lie Bouw Pek boegeenya lebih liehay dari padaku, aku menyerah Kalah !” Air matanya meleleh turun. Ia kasi hormat pada anak muda kita, seraya berkata “Saudara Lie mulai hari ini dan selanjutnya, Phang Bouw tidak bisa sebut dirinya hoohan lagi, daerah Titlee Selatan aku serahkan pada kau “

Bouw Pek girang yang ia telah bisa kalahkan jago Cimcioe itu akan tetapi kapan ia saksikan sikap jujur dan laki2 itu, hatinya tertarik, ia jadi likat serunya Dengan angkat pedangnya ia balas hormatnya jago-pecundang itu.

“Saudara Phang, aku minta janganlah kau mengucap seperti ini,” ia bilang. “Aku telah gunai sepuluh bagian dari tenagaku, baru aku bisa menangkan kau. Boegee kau sungguh mengagumkan aku !”

Phang Bouw goyang2 tangannya, ia menghela napas.

“Habis, habislah,” kata ia dengan lesu, “pamorku dari belasan tahun hari ini telah jatuh ditangan kau ? Meski begini, aku tidak benci kau. Selanjutnya aku tidak mau hidup pula dikalangan Sungai Telaga. ”

“Jikalau kau wujudkan perkataanmu ini, saudara Phang, terang aku Lie Bouw Pek bukannya orang dengan muka terang,” kata anak muda kita.

Phang Bouw susut air matanya, ia pakai bajunya lantas hampirkan bekas lawan itu akan jabat tangannya.

“Saudara Lie “ ia berkata, “urusan kita ini baikah kita jagan sebut2 lagi! Saudara, mari duduk, mari kita minum dan bersantap!”

“Nah. ini barulah kelakuannya kangouw hoohan !” Lauw Kie In memuji dengan kekaguman. Phang Bouw betot tangannya Bouw Pek buat diajak duduk, semua tamunya ia undang akan sambil tempatnya masing2 akan lanjutkan perjamuan mereka.

Phang Hoay dan Phang Liong sangat malu dan mendongkol mereka menyingkir ke dalam ........

Phang Bouw isikan tamunya semua cangkir, ia hirup araknya sampai dua cangkir, kemudian ia berbangkit angkat bicara. Ia kata :

“Saudara2, sekarang kau telah lihat semua, dikalangan Sungai Telaga telah ada orang yang jauh lebih gagah daripada aku, Kim too Phang Bouw ! Saudara2, sekarang aku mau minta supaya sukalah kau kasi selamat jalan padaku, sebab segera sehabisnya ini aku mau berangkat pergi ! Saudara2 andaikata diwaktu lain aku datang pula ke Pakkhia ini, aku akan datang seperti manusia biasa, tidak nanti aku mau berebut pengaruh lagi dengan orarg lain !”

Setelah kata begitu, jago tua ini tertawa tertawa meringis, satu tanda bahwa hatinya sangat tcrluka...

Semua tamu bisa mangerti ktsukarannya jago ini. mereka menghiburkan, tetapi percuma saja, Kim too sudah ambil putusan buat hari itu juga angkat kaki dari Pakkhia.

Bouw Pek kagum betul terhadap Phang Bouw, sebab kendati ia seorang kasar, Kim too benar2 jujur dan hormatkan diri. Orang macam begini berharga untuK dijadikan sobat. “Saudara Phang Bouw, kau kenal banyak sobat dikalangan Sungai Telaga, apakah kau kenal seorang yang bernama Beng Su Ciauw?” ia lalu menanya dengan manis, buat simpangkan soal.

“Aku tidak kenal Beng Su Cauw itu,” salut Kim too seraya geleng kepala. Ia kerja apa ? Ia dari kalangan piauwkiok atau Sungai TeLga ?”

“Tuan Lie “ tanya Lauw Kie In, sebelumnya Bouw Pek jawab Phang Bouw “kau sebut Beng Su Ciauw. apakah ia putera kedua dan Beng Eng Siang dari Soanhoan ?”

“Benar.” sahut anak muda kita sambil manggut. “Beng Su Ciauw itu sadari masih muda sekali sudah dituanangkan pada nona Sioe Lian. puterinya De Hiog Wan, Jie Loo piauwtiauw. Karena sekarang Jie Loo piauwtauw telah menutup mata, nona Jie dan ibunya berada dirumah keluarga beng, tetapi Beng Soe Ciauw sendiri tidak ada dirumah, ia tidak pulang dan tidak ada kabar ceritanya, sejak tahun yang sudah ia minggat dan rumahnya Maka ia Beng Loo piauwtauw minta aku berhubung kepergianku ke Pakkhia, akan dengar dengar perihal puteranya Itu.”

Jago tua dari Tay Hin Piauwtauw menghela napas.

“Beng Lauwko pada tahun yang sudah juga telah menulis surat padaku perihal anaknya itu dan ia mnta aku bantu cari Soe Ciauw,” ia berkata. “Sama sekali aku belum pernah ketemu Soe Ciauw, aku tidak tahu bagaimana potongannya dan romannya. Untuk penuhkan permintaannya Beng Lauwko, akupun minta pula bantuannya sobat sobat, tetapi hingga sekarang aku tidak pernah dengar kabar apa apa. maka aku tidak nyana anak itu masih belum pulang Ah, kasihan nona Jie itu, sudah ayahnya menutup mata, sekarang tunangannya tak ketahuan kemana parannya. ”

Bouw Pak terharu mendengar ucapannya jago tua itu, sedang semua orang pada diam saja mendengari. Melainkan Moh Po Koen ketua dari Sue Hay Piauw tiam, yang diam diam taruh perhatian besar. Ia asal Kie lok, dengan Ngo jiauw eng Soen Coen Lee ia bersaudara angkat, maka itu Jie Hiong Wan ia kenal baik. Pada tahun yang sudan Moh Piauwtauw ini pernah pulang ke kampungnya, buat tinggal beberapa bulan, selama itu ia dapat ketika lihat Soe Lian, yang ulah menjadi gadis elok, hingga ia jadi tertarik dan dapat keiinginan untuk nikah  si nona. Melulu disebabkan ia ia malu hati dan jerih terhadap Soen Ceng Lee, ia telah tidak berani utarakan pikiranya dan tidak berani juga bertindak. Tapi sekarang ia dengar keadaan Sioe Lian itu, tiba tiba perhatiannya jadi terbangun pula. “Kenapa Jie Loo piauwtauw menutup mata ?” ia tanya dengan cari alasan buat turut bicara.

“Betul !” Lauw Kie In setujui. “Bukankah kau dan Jie Lawko asal satu kampung”

“Bukan melulu asal satu kampung, malah Jie Loo piauwtauw berlaku baik seka1o terhadap aku,” kata piauwtauw ini dengan roman yang bangga, “sedang muridnya, Ngo jiauw eng Soen ceng Lee, adalah saudara angkatku Dengan nona Sioe Lian sendiri aku pernah bertemu beberapa kali, ia memanggil aku Moh Lok ko “

Bouw Pek melirik pada ketua dari Soe Hay Piauw tiam ini, tetapi ia tidak kata apa2.

“Semua tamu adalah piauwsu atau guru silat, yang tentu saya luas pergaulannya, maka menggunai. ketika ini anak muda kita lantas utarakan permintaannya agar mereka itu suka tolong dengar hilangya Beng Su Ciauw itu, roman dari potongan tubuh siapa lantas ia lukiskan.

Lauw Kie In juga telah utarakan permintaun bantuannya. Semua tamu berjanji akan berikan bantuan, buat mana Bouw Pek dan Lauw Kie ln lebih dulu haturkan terima kasih.

Bouw Pek minum pula dua cawan arak, lantas ia bcrbangkit dan pakai bayu luarnya. dengan jumput pedangnyaa ia ialu minta parkenan untuk undurkan diri.

Kim too Phang Bouw tidak mencegah, bersama Lauw Kie In dan yago lain ia mengantar sampai diluar. Phang Hoay dan Phang Liong tetap tidak muncul.

“Jikalau ada ketika. Lie-ya, harap lain kali sukalah kau mampir ditempatku,” Lauw Kie In mengundang.

“Terima kasih, lain kali pasti aku akan datang mengunjungi,” sahut Bouw Pek.

Bouw Pek angkat tangannya mengasi hormat pada semua orang.

“Saudara Lie, harap lain waktu kita bisa bertamu pula “ kata Phang Bouw sambil kiongkhiu dan menjurah.

“Aku harap saudara Phang “ sahut anak muda kita.

Sampai disitu Bouw Pek bertindak kejurusan barat, akan keluar dari gang Ta-mo-ciang, paling dulu ia cari warung nasi dimana ia lalu duduk bersantap, kemudian buat pulang ke Hoai Beng Sie ia sewa kereta, Bouw Pek telah dapat kemenangan, ia merasa puas, karena fihak lawan adalah jago paling ternama dari Titlee, kenditi demikian ia toh tidak gembira seperti waktu ia rubuhkan Siu Bie-to 0ey Kie Pok dan hajar Poan Louw 5am si Terokmok. Ini disebabkan ia telah dapat kenyataan Kim too Phang Bouw adalah laki2 sejati, rubuhnya ia anggap sayang,  sedang difihak lain, dengan kalahkan si Golok Emas, namanya lantas naik secara luar basa. Apakah artinya nama-nama saja baginya ? Sedang yang dicari bukan nama, melainkan kedudukan Buat apa nama tersohor, kalau kantong kempes, hidup tak ketentuan ? Difihak lain, dengan nama tinggi itu ia bayangkan pasti ada orang2 yang jelus atau dengki hati terbadapnya, hingga dirinya senantiasa berada dalam ancaman bahaya Hingga sekarang ia mesti jaga diri hati? ? Sembarang waktu onar bisa terbit. Apakah artinya itu untuk ia

?

“Maka dalam satu dua hari ini baiklah aku lantas berlalu dari Pakkhia ini.” akhirnya ia ambi1 putusan.

Kereta ja!an terus Tatkala kendaraan ini sampai di Cay-lie kauw dan baru saja mau masuk di Sin-siang Hootong mendadak di depan kereta muncul Seorang seraya terdengar seruannya :

“Lie Toaya ! Sungguh menggirangkan akan saksikan kau rubuhkan Kim too Phang Bouw !”

Dengan lantas Bouw Pek kenali Su Poan-cu, si Gemuk, muka siapa tersungging senyumannya dada berikut perutnya- dipelendingkan kedepan, manyatakan berapa besar kegirangannya buat kemenangannya sobat dan langganannya itu!

“Heran-----” pikir anak muda kita. yang menjadi sedikit masgul, Ia tidak ikut aku. ia tidak nonton piebu kenapa ia sudah lantas ketahui kemenanganku ?”

Kendati demikian, sambil bawa pedangnya, ia lompat turun dari kereta dan bayar sewanya.

“Su Ciangkui dari siapa kau ketahui aku telah menangkan Phang Bouw ?” ia tanya. Su Poan cu tertawa, hingga daging yang gemuk dimukanya menjadi seperti satu

“Apa masih perlu akan aku dengar dari orang lain” ia kata.”Aku melihat dengan mataku sendiri Ketika kaki depan  Lie Toaya bsrjalan, kaki belakangku lantas mengikuti, didepan pintu pekarangan dari Cun Goan Piauw tiam aku merandek, sebab dari situ aku bisa lihat nyata kedalam. Lie Toaya telah angkat kaki dan bikin Phang Bouw rubuh !”

Si Gemuk angkat kakinya dan bikin gerakan tepat seperti Bouw Pek.

“Sungguh cepat, sungguh sempurna “ kata pula si Gemuk, hampir seperti bersorak bahna gembiranya “Lie Toaya, sungguh aku Su Poan cu tidak salah , apabila aku bilang, kau adalah hoohan nomor satu di Pakkhia!”

LIE BOUW PEK tertawa, dengan di dalam hati sebenarnya tercengang.

“Aku mesti perhatikan si gemuk ini,” pikir ia. “Ia bilang ia tidak mengerti silat, kenapa gerakannya demikian bagus dan ia bisa tiru aku ? Tidak salah lagi, ia mestinya seorang yang punya hal-ikhwal menarik hati tidak bisa jadi ia hanya tukang warung yang sederhana.”

Ia segera awasi si gemuk ini dari atas sampai bawah, terutama tubuh orang yang terokmok. Tapi dari potongan tubuh itu tidak bisa dilihat yang tukang arak ini mengerti silat. “Mari mampir diwarungku, toaya kita minum arak!” kemudian Su Poan cu mengundang. Ia selamanya berlaku manis budi, senyumannya murah.

“Barusan aku telah minum banyak di Cun Goan Piauwtiam, sekarang aku mau pulang kegereja buat tidur.” Bouw Pek menolak. “Sebentar malam saja !”

“Baiklah,” sahut Su Poan cu yang tidak memaksa. “Sampai sebantar malam !”

Anak muda kita manggut pada si gemuk itu, ia lantas bertindak masuk kedalam gang. Dibio ia disambut oleh seorang hweeshio.

“Tadi Oey Su ya datang, karena kau tidak ada. ia tinggalkan karcis namanya saja,” kata orang beribadat itu serahkan karcis nama.

Bouw Pek menyambuti, karcis mana memakai nama Oey Kie Pok, anak keempat.

“Apa perlunya Oey Kie Pok datang pula mencari aku?” ia menduga2, sedang karcis nama itu ia tidak perhatikan, ia bikin jatuh disampingnya.

Si hweeshio mengawasi, apabila ia lihat tamunya diam saja oleh karena ini ia batal menanyakan apa kabar dengan Oey Su ya, yang katanya berniat menderma pada gerejanya itu. Malah kemudian ia berlalu.

Bouw Pek jadi berpikir, dari menduga-duga maksudnya Kie Pok ia kembali pada kesangsian atas dirinya Su Poan-cu, yang gerak geriknya luar biasa.

“Pakkhia kota besar dan ramai, bisa dinamakan sebagai tempat naga sembunyi dan harimau tidur, disini ada segala macam orang......” demikian ia ngelamun. “Su Poan cu mesti seorang dari kalangan Sungai Telaga, yang punya kepandaian tinggi, tetapi ia aneh. seperti juga Cui Siam. Kenapa nona itu mesti siap sedia dengan pisau belati ? Apa tidak baik aku tanya Siam Nio dan si tukang arak gemuk ini, buat  mengetahui hal ikhwal mereka yang sebenarnya ? Kelihatannya percuma, mustahil mereka mau beber rahasia mereka padaku, cuma aku capekan lidah ku ”

Ngelamun lebih jauh, Bouw Pek ingat pula dirinya. “Kim too Phang Bouw tentu telah pulang ke Cimciu, maka apa perlunya aku berdiam lama dikota raja ini, dimana aku hanya peroleh nama kosong? Disini aku nganggur setiap hari ! Apa rasanya buat jadi hoohan melulu ?”

Lantas ia ambil putusan buat besok ke temui pamannya, akan pamitan dan pulang, diri rumah si paman ia mau pergi kerumahnya Tek Siauw Hong buat serahkan buku uang dan pamitan dari pamili orang Boan itu, lusa baru ia berangkat. Ia boleh merantau kemana ia suka.......

Oleh karena ini, ia bisa rebahkan diri, dengan cepat ia pulas. Ia dapat tidur siang dengan cukup, setelah mendusin ia pun tidak pergi kemana2. Adalah sesudah sore ia niat pergi kewarungnya Su Poan cu buat tangsal perut, buat sekalian kongkouw dengan si gemuk yang doyan bicara itu.

Bouw Pek tidak pakai baju luar ketika ia bertindak keluar dari kamarnya, dua tangannya digendong kebelakang. Ia jalan terus keluar bio. Diluar dugaanya, baru saja ia muncul didepan pintu pekarangan, lima orang sudah pegat ia. Sesudah mereka datang dekat, baru Bouw Pek mengenali yang mereka itu adalah hamba wet: yang dua memegang rantai, yang dua lagi membawa senjata ruyung dan golok yang disoren dipinggang. “He, kau siapa? Apa kau bikin?” demikian seorang opas menegor.

Mau atau tidak, Bouw Pek terperanjat juga.

“Aku orang yang tinggal didalam bio ini !” ia menyahut. “Apa namamu ?” hamba wet itu tanya pula.

“Lie Bouw Pek. ”

Belum Bouw Pek tutup rapat mulutnya, atau dua opas yang pegang rantai telah lemparkan borgolnya itu dilehernya. Mukanya anenjadi pucat. sebab tahan amarah. Sam bil angkat tangannya akan singkirkan rantai itu, ia mundur satu tindak.

Dua opas itu maju seraya hunus golok mereka. “Kau berani lawan hamba wet ?” mereka tanya.

“Aku bukan melawan hamba wet !” anak muda kita jawab. “Aku Lie Bouw Pek, penduduk baik2, yang tidak pernah lakukan perbuatan yang melanggar undang2 negeri, bagaimana kau tiba2 hendak tangkap aku ? Sedikitnya kau mesti terangkan dulu, apa kesalahanku ?

Pemuda ini berdiri diam dengan tubuh gemetar, karena masih saja ia kendalikan hawa amarahnya yang meluap2.

Lantas opas yang kelima maju menghampirkan, ia bawa sikap manis, ia tepok pundak orang.

“Kau tanya alasannya kenapa kami mau tangkap kau. sobat?” ia kata. “Menyesal, kami sendiri tidak ketahui itu. Kami orang2nya Te tok Tayjin, kami cuma diperintah melakukan penangkapan. Aku minta kau suka turut kami, supaya kami bisa jalankan kewajiban kami, nanti setibanya dikantor baru kau minta keterangan”

“Benar, sobat,” kata salah satu opas yang memegang rantai, “kami memang mesti lakukan kewajibao kami. Kami harap kau suka menurut, agar supaya kami bisa jalankan kewajiban kami itu.”

Bouw Pek lantas saja menduga pada Poan Louw Sam, si jahat yang cerdik maka ia mengerti, kecuali menurut, ia tidak punya jalan lain. Is tidak mau sembarangan menggunai kekerasan. “Baiklah, aku turut kau pergi ke kantor “ akhirnya ia kata sambil bsrsenyum dingin. “Aku tidak takut, karena aku tidak salah”

“Kau benar sobat, dikantor kau bisa bersihkan dirimu,” kata opas yang cerdik.

Sekarang Bouw Pek manda orang kalungi ia lalu separoh didesak diminta berjalan keluar dari Sin siang Hootong  Dimulut jalan sebelah timur menunggu sebuah kereta persakitan, ia lantas diminta naik, satu orang ikut ia. empat yang lain mengikuti sambil jalan kaki.

Diwaktu permulean malam itu didalam kesunyian suara roda kereta terdengar nyata.

Berapa jauh ia sudah jalan, itulah Bouw Pek tidak ketahui, hanya tahu2 kereta telah berhenti dan ia diminta turun. Nyata mereka tudah sampai dikantor atau gee mui dari Kiu bun teetok, kereta diberhentikan dipintu samping. Anak mada kita lantas saja ditambah borgolan pada tangan dan kakinya dan terus dikasi masuk dalam kamar tahanan.

Juru tulis kepala dari bagian pangadilan dan teetok gee-mui yang diberitahukan tentang penangkapan ini, bukannya lantas mengasi laporan pada teetok, melainkan kirim orang kepercayaannya pergi cari Poan Louw Sam, buat sampaikan perkataannya : “Penjahat besar Lie Bouw Pek sudah kena ditangkap dan telah ditahan dikamar tahanan, ia segera akan diperiksa buat diberikan hukuman”

Orang kepercayaan ini. Siauw Ciang namanya, sudah turut perintah, ia segera mcnuju ke Thay peng ouw dikota barat, kerumahnya Poan Louw Sam si Terokmok. Kebetulan sekali tuan rumah ada dirumahnya, dimana ia sedang bikin perjamuan bersama beberapa sahabat karibnya, yaitu pertama Cie Tayjin, bekas Lee pou Sie long, kedua Gie su Lauw Tayjin, dan ketiga Ciauw Ngo ya, toakoansu atau kuasa besar dari suatu onghu. Sebagai pelayan diantara mereka ada dua budak Louw Sam yang muda dan cantik, yang saban isikan cawan arak mereka.

“Kamar aku telah sediakan,” kata Poan Louw Sam sembari tertawa pada Lauw Gie su. “Kita sekarang utus orang saja buat pergi menyambut, lantas Cie Looya akan? menjadi baba kemantin !”

“Cuma.” tertawa Ciauw Ngoya, “Cie Looya harus lebih dulu cukur klimis kumisnya. kalau tidak, enso kemantin baru punya myka potongan telor bisa menderita tusukan

kumisnya itu ”

Cie Sie long girang sekali mendengar perkataan itu, kendati ia tahu sobat itu mengucap demikian separoh mcnggoda, ia kata

:

“Aku memang sudah pikir buat cukur kumisku, tetapi aku takut yang dia nanti adukan aku “

Sembari kata begitu, ia manunjuk pada Lauw Gie su.

Lauw Gie su tunda cangkirnya, yang ia sudah bawa kemulutnya,

“Aku memang menyadi gie su, tetapi aku tidak urus perkara orang cukur kumis” ia kata.

Atas ini empat orang itu tertawa berkakakan. sedang kedua nona pelayan lagi2 penuhkan cawan mereka.

“Dengan sebenarnya. aku belum pernah libat nona Cui Siam,” kata si giesu kemudian.

“Buat mendapat lihat dia mudah saja” berkata Poan Louw San. “Besok aku boleh ajak kau pergi kesana Kapan kau ketahui bagaimana romannya bidadari dalam rembulan, nah, demikian rupa juga adanya si Cui Siam”

“Dengan begini,” Ciauw Ngo ya tepok2 tangan, “nyatalah Cie Tayjin akan lekas pergi kebulan “

Cie Se long tertawa, ia manggut1, tangannya lantas jepit sepotong bebek panggang, yang ia  bawa  kemulunya apamau, hampir semua giginya telah cyopot, maka itu  dengan bardeging ia naikan daging itu.

Louw Sam menggila pu!a, sembari menoleh pada selang itu  ia kata :

“Kau dengar tidak, tayjin? Ciauw Ngo ya bilang, kau akan jadi calon kelinci”

Cie Sie long masih saja tertawa, ia masih saja bergulat dengan sepotong bebeknya itu, maka lagi2 orang tertawakan ia

Waktu itu mendadak datang seorang kacung umur belasan, yang pakaiannia bersih dan rapih yang segera menghampirkan Poaa Louw Sam dan bicara sambit berbisik dengan si Terokmok ini, atas nama Louw Sam bilang : “Suruh ia duduk sebentar dikamar tamu “ setelah mana ia menoleh pada tiga tamunya seraya berkata lebh jauh : “Sam wie, silahkan duduk saja, aku mau keluar sebentar ! Kemudian ia bertindak pergi. Kapan ia Sampai dikamar tamu, Siauw Ciang kasi boriiat padanya.

“Aku dikirim kemari oleh Ouw toa siok, buat kasi tahu pada Louw Sam ya, bahwa peajahat besar Lie Bouw Pek sudah kena ditangkap dan sekarang sudah ditahan dalam penjara, katanya besok perkaranya mau diperiksa diputuskan hukumannya.”

Dengan hati sangat puas, Poan Louw Sam manggut2.

“Baik, bagus, aku sudah mengerti,” ia bilang, “kau boleh pulang dan kasi tahu Ouw Toa siok. aku menghaturkan baoyak banyak terima kasih padanya. Apabila besok ia ada tempo, ia boleh datang kekantorku sebelah barat “

Siauw Ciang menjawab bahwa ia sudah mengerti.

“Nah, ini buat kau, kau boleh pulang dengan naik kereta “ kata Poan Louw Sam kemudian seraya serahkan uang persenan pada orang suruhan itu.

Mula mula Siauw Ciang msnolak sambil membilang terima kasih, akhirnya ia terima uang persenan itu. Satelah itu ia unjuk hormatnya dan berlalu. Sambil bersenyum. Poan Louw Sana balik pada kawan kawannya, ia girang luar biasa, akan tetapi ia tidak bilang apa apa, ia makan dan minum seperti biasa. Cuma kegembiraannya itu ia tak mampu sembunyikan.

Sehabis bersantap orang berkumpul buat menyedot, kemudian Lauw Gie soe dan Ciauw Ngo ya pamitan lebih dulu akan pulang, hingga tinggal Cie Sielong bersama tuan rumah. Keduanya mereka itu rebah rebahan di bangku lebar yang terbikin dari kayu merah.

“Tadi Ouw Kie Touw kirim orangnya mengasi tahu,” Poan Louw Sam berkata, katanya itu binatang she Lie sudah ditangkap atas tuduhan menjadi penjahat besar, maka kelihatannya ia tidak bisa lolos dari hukuman mati. Dengan jalan ini, maka kau sekarang kau mesti lekas pergi cari Siam Nio dan beritahukan padanya, supaya hatinya menjadi mati, agar ia suka menerima baik permintaan, sesudah itu barulah kau sambut ia. Setelah ia disambut, urusan boleh dibilang sudah beres “

Mendengar itu, alisnya Cie Sie long mengkerut.

“Si orang she Lie itu memang menjemukan” ia bilang, “tetapi menurut aku, tuduhan atas dirinya terlalu hebat. Orang orang dari kalangan Sungai Telaga mempunyai banyak sobat dan kuwan, andaikata di belakang hari ada orang yang datang cari aku, bagaimana? Maka menurut aku, baiklah Ouw Kie Touw dikisiki, sudah cukup apabila ia dthajar beberapa rotan, tahan ia didalam penjara beberapa bulan, akhirnya baru ia dimerdekakan “

Poan Louw Sam tertawa.

“Jangan kau gusar, lauwko, tetapi pikiranmu itu adalah yang dinamai kedermawanan palsu” ia kata. “Si or«ng she Lie itu telah pengaruhkan Coei Siam, lantaran dia, Coei Sam jadi tampik kau yang dikatakan sudah tua bangkotan, katanya kau sudah punya dua gundik bukankah menurut coei Siam, kalau tidak ada sebab sebab itu, ia suka ikut kau? Tapi sekarang si orang she Lie sudah dibekuk. Cioe Siam pasti tidak punya alasan 1agi. ia tentu akan turut kau dengan hati lega. Si orang she Lie adalah orang yang tak berasal usul, meulu karena ia kenal baik Tek Siauw Hong pengaruh siapa rupanya ia andalkan ia jadi berani main gila disini ! Ia serang aku masih tidak apa, kurang ajarnya, ia berani juga hajar Oey Kie Pok, sedang hari ini aku dengar iapun telah pukul rubuh Kim too Phang Bouw, jagoan dari Cimcioe yang tersohor, la manusia miskin, ia tidak punya rumah tangga dan pekerjaan, melulu katena berkepandaian boegee, ia berani lantangi kita, hingga ia telah berani bikin malu pada kita. Sekarang, dengan gunai pengaruhnya sedikit uang, ia bisa dibikin tak berdaya, malah jiwanya akan disingkirkan, apakah itu tidak bagus?”

Masih saja Cie Sie long kerutkan alisnya.

“Aku tetap masih kuatir ia punya sobat yang tidak takut mati” berkata orang tua ini, “aku kuatr sobat itu nanti datang mencari kita, hingga kita bisa hadapkan kesulitan. Kita orang orang dengan kedudukan baik, mana kita bisa lawan orang bangsa tak keruan” 

Poan Louw Sam tertawa tertawakan hati yang kecil dari sobatnya itu.

“Jangan kuatir tidak akan ada kesukaran ! ia coba menghibur. Pertama tama tentang si orang she Lie aku sudah cari keterangan jelas, di Pakkba ini ia orang sebatang kara. kecuali paman misannya Kie Thian Soe, coe soe yang melarat, disini  ia hanya kenal Tek Siauw Hong sendirian, tetapi sekarang Tek Siauw Hong tidak ada dikotaraja Kedua: urusan ini tidak eaja telah bikin lampias sakit hatiku, juga melampiaskan sakit hatinya Oey Kie Pok. Oey Kie Pok bersobat baik dengan Khoe KongCiaw, dengan mereka berdua, bukankah kita tidak usah takuti lagi segala buaya darat?”

Disebutnya nama Oey Kie Pok bikin nyalinya Cie Sie long menjadi besar juga.

Seperti orang banyak, ia juga ketahui yang Oey Kie Pok punya boegee tinggi, benar Sioe Bee to katanya pernah dikalahkan oleh Lie Bouw Pek, akan tetapi dia itu punya banyak sobat yang berkepandaian tinggi

“Baiklah” ia kata akhirnya, “Tunggu lagi dua hari, kau boleh cari Oey Kie Pok, buat kasi tahu halnya si orang she Lie itu sudah ditangkap, agar ia bisa berjaga jaga buat akibatnya penangkapan itu.”

“Besok juga aku akan pergi cari Kie Pok !” kata Poan Louw Sam, buat besarnya hatinya sobat itu. “Sekarang sudah siang, mari kita pergi ke Kauw thio Go tiauw. buat panggil Coei Siam dan ibunya, supaya kita dapat penegasan Siam Nio suka ikut kau atau tidak !”

“Eh, kenapa sih kau jadi lebih repot dari pada aku sendiri ?” tanya Cie Sie long dengan heran. Ia tertawa. “Sekarang ini pintu kota tentu dikunci, apakah kita tidak bisa tunggu sampai besok?”

Ditanya begitu, Poan Louw Sam jadi berpikir. Ia  anggap benar benar ia terlalu repotkan diri tak keruan. Juga belum tentu isterinya mengijinkan ia diwaktu demikian pergi ke Kauw thio Go tiauw, yalah gang dimana berada di rumah isteri mudanya

“Baiklah,” Ia manggut akhirnya, “baik, kita pergi besok saja” Cie Sie long masih menyedot terus sampai ia pamitan pulang Esoknya, seperti ia janji pada Cie Sie long, Poan Louw Sam benar benar kunjungi Sioe Sie to Oey Kie Pok di Pak Sin Kio dikota timur, pada si Be to Kurus ia beritahukan bagaimana dengan jalannya Lie Bouw Pek telah ditangkap dan akan dihukum, bahwa berhubung dengan itu undang kata terbit keruwetan disebabkan tindakan orang atau orang orang kalangan Sungai Telaga dari fihaknya si orang she Lie, supaya jago Pakkhia ini suka bantu ia.

Dengan menutur semua dan minta bantuannya itu. Louw Sam harap Oey Kie Pok menjadi girang dan akan suka bantu ia, sebab ia secara tidak langsung sudah balaskan atau lampiaskan dendamnya si orang she Oey. Diluar dugaan apabila ia sudah dengar semua, Oey Kie Pok justeru bersenyum tawar.

“Dengan si orang she Lie itu, aku bukannya sanak, bukannya kadang, sobatpun tidak, maka perkaranya itu dengan aku tidak punya sangkutan suatu apa “ ia berkata. “Benar, dengan dia aku pernah pieboe. ia telah hajar aku satu kali, difihak lain aku kena pukul ia dua kali, dengan begitu kesudahannya kita berdua seri. Sesudah adu kepandaian dengan tangan kosong, aku tantang ia gunai senjata, tetapi ia menolak. malah ia minta pieboe dibikin habis saja. Karena ingat ia orang asing aku merasa kasihan padanya, aku suka pieboe dibikin habis sampai disitu.”

Poan Louw Sam mendongkol yang tuan rumah sudah angkat diri begitu tinggi, sedang maksud kedatangan ia bukannya buat dengar orang agulkan dirinya sendiri.

“Apakah kau kira aku tidak mampu berbuat lain kecuali minta bantuan kau, Oey Soeya ?” demikian ia pikir.

Sementara itu Oey Kie Pok lanjutkam omongannya, ia kata: “Lain kali. apabila kau hadapi suatu urusan, kau mesti bentahukan itu padaku, aku percaya aku akan punya daya untuk membikin beres”

Perkataan yang belakangan ini membuka pikirannya Louw Sam juga, dari itu ia tidak lagi mendongkol seperti tadi, Kemudian ia pamitan dan pulang.

Sorenya Poan Louw Sam pergi ke Kauw thio Gu tiauw, dirumah gundiknya, dimana ia tunggui Cie Sielong. Gundiknya itu dipanggil A Go, asal dari rumah pelesiran, karena nona ini tidak bisa diajak tinggal sama isterinya, ia sengaja tempatkan di Kauw thio Go tiauw sebuah rumah kecil tetapi indah. Adalah dirumah ini ia berkumpul dengan Cie Sie long setiap waktu mereka kirim orang buat panggil Siam Nio melayani mereka menyedot dan bersantap. Adalah maksudnya Poan Louw Sam akan tempatkan Siam Nio dirumah ini, supaya kedua nona  bisa tinggal sama sama, hingga baik ia dan Sie long sendiri tidak usah terlalu sibuk memikirkan dan menunggu seperti waktu Coei Siam masih merdeka. Ia ingat A Go dan Siam Nio jadi encie dan adik, makin mereka berdua ini hidup rukun, makin baik baginya yang inginkan bantuan dan peagaruhnya Cie Sielong. Dengan Coei Siam tinggal dirumahnya itu, makin sering Cie Sielong akan datang.

Kendati sudah berusia tinggi, Cie Sielong adalah salah satu sasterawan terkenal di Pakkhia, bila ia menulis lian, satu pasang saja harganya beberapa ratus tail perak. Sebab kecuali terkenal, Cie Sielong berharga besar, hingga orang pun tak berani membayar secara serampangan padanya. Lebih dari pada itu, Cie Sielong menjadi guru dari seorang raja muda dan kabarnya lekas juga akan pangku paegkat tinggi, yaitu akan mau jadi soenboo dari suatu propinsi. Dengan tempe! pangaruhnya Sie long ini, Louw Sam percaya perusahan khian tihungnya akan dapat kemajuan yang tak terbatas, sedang pergaulannya dengan pembesar pembesar negeri akan jadi lebih luas lagi.

Dcmikianlah tidak heran kalau Louw Sann sibuk memikirkan, kenapa Cie Sielong masih juga belum muncul Ia rebah sambil ngelepas terus, A Go layani ia sambil terus tumdeki pahanya. Tapi difihak lain gundik ini menyanyi minta sepasang gelang emas.

“Besok Coei Siam akan datang kemari ia punya segala apa, jauh lebih banyak dari pada aku maka apabila dibandingkan padanya. aku adalah setan miskin melarat Bagaimana aku

ada muka akan ketemui orang ?”. ia kata.

“Jangan kau tidak sabaran,” Louw Sam kata sambil tertewa. “Besok kau nanti perintah orangnya tukang emas Lie Po datang kemari, kau boleh pesan gelang padanya menurut sukamu sendiri berapa berat kau ingin kan, kau jangan gerembengi aku saja.”

A Go girang mendapat janji itu, maka ia makin telaten merawati tuannya ini cuma diam diam ia tidak bisa lantas bunuh sifatnya mengiri terhadap Siam Nio Didalam hatinya ia pikir:

“Poan Louw Sam benar punya bunyak uang, tapi ia tidak lebih tidak kurang seorang dagang, biar bagaimana kaya ia tidak bisa di panggil tayjin. Disebelah itu, Louw Sam sangat kikir, sesudah dapat uang baru ia mau keluar uang ! Mana ia bisa dibandingkan dengan Cie Sielong ? Cie Sielong hartawan dan berpangkat besar! Si budak Coei Siam barulah orang yang peruntungannya bagus, Sekali disambut, ia lantas dapatkan tayjin dan akan dipanggil koan thay thay “

Bisa dimengerti yang A Go mengiri secara demkian. apa yang ia bilang benar adanys. Louw Sam telah menyesal bukan main, yang barusan ia janjikan gelang emas tanpa batas pada gundiknya itu, Ia lantas memikir untuk dapat membatalkan janji itu. Tapi belum ia asah otaknya, tiba tiba ia dengar suara batuk batuk, apabila ia menoleh, ia lihat Cie Sielong bertindak masuk seorang diri dengan terbongkok bongkok seperti seekor udang. Nyata sobat masuk tanpa Suara.

“Lauwko, kenapa begini hari kau baru datang?” menegor Louw Sam sambil tertawa seraya berbangkit. “Apa bisa jadi kedua anaknya telah tahan dan melarang kau datang kemari?' “Bukan, bukan” sahut Cie Sie!ong sambil batuk2 terus, “aku terlambat karena sakit pinggangku kumat pula, coba kemarin aku tidak janji, tentu aku tidak paksakan datang.”

Sembari kata begitu ia lantas rebahkan diri dipembaringan. A Go sudah lantas sedia alat isap untuk sielong ini.

“Ong-jie datang atau tidak?” Louw Sam tanya.

Orang yang dimaksudkan adalah pengikut Cie Sie Long. “Datang, ia berada diluar.”

Lantas Poan Louw Sam perintah A Go suruh pengikut itu pergi kePo Hoa Pau panggil Coei Sam.

A Go menurut, ia pergi keluar akan sampaikan perintah suaminya pada pelayannya Cie Sie Long, satu kacung muda, cakap dan perlente.

Louw Sam sendiri bersama Cie Sielong, lantas berlomba menyedot asap.

Mereka ini mesti menunggu lama juga. barulah Coei Siam muncul bersama2 Iyia Loo mama. Dimatanya sielong, si nona jadi bertambah tambah elok, dengan baju hijau dan celana putih ia mirip bidadari. Maka memandang sinona sie Long ini sampai lupakan pinggangnya yang sakit.

“Kemarin seantero hari aku tidak lihat kau” Cie Sielong menegor sambil tertawa, “Bagaimana dengan sakit ulu hatimu, sudah baik atau bclum”

“Sudah baik, looya,” sahut Siam Nio sambil tersenyum. “terima kasih buat perhatian looya”

“Anak ini berpikir cupat” Cia Mama campur bicara. “Sedikit gaja urusan, asal itu bertentangan dengan hatinya, lantas sakit ulu-batinya kambuh ”

“Itulah mudah.” Louw Sam bilang sambil tertawa. “selanjutnya ia harus baik2 merawat dirinya.”

Coei Siam berlutut didepan pembaringan akan layani sielong itu menghisap. Ia mau layani Poan Louw Sam juga. tetapi  tuan rumah segera mencegah.

“Tidak usah capekan diri, aku sendiri pun bisa” ia kata. Ia menoleh pada nyonya tua, yang menjadi bujang pelayannya. “Kau ambil dua bangku kecil, bawa kemari, buat ie-thaythay dan nona Coei Siam duduk. Kau sendiri, Mama, duduklah sesenangmu “ ia tambahkan pada Cia Mama.

Tidak lama bujang tua itu telah kembali debgan dua bangku kecil, ditaruh didepan pembaringan

A Go segera duduk didekat suaminya dan Coei Siam didekat Iyie Sielong.

Tiba tiba, seperti orang yang terperanjat Poan Louw Sam menoleh pada Coei Siam.

“Siam Nio, aku hendak beritahu kau satu kabaran” ia berkata. “Bukankah kau ketahui pemuda Lie Bouw Pek? Apa kau bisa duga, ia sebenarnya kerja apa?”

Mukanya Coei Siam menjadi merah, tapi ia tidak kaget “Kabarnya ia seorang sioecey” ia jawab sambi1 tertawa. “Sioecay ? Hm “ Poan Louw Sam tambahkan. “Ia sebetulnya penjahat besar. Kemarin kcjahatannya ketahuan, ia lantas ditangkap oleh orang dari kantor Kioe boen Tee tok . Lihat, tidak bisa lain, ia akan dipenggal batang lehernya”

Baru sekarang Siam Nio rnenjadi ksgct, Cia Loo mama tidak kecuali.

“Ah !”......  mengeluh nyoyna tua ini. “ia nampaknya begitu lemah lembut, siapa sangka ia sebenarnya bangsat ”

“Lemah lembut?” Poan Louw Sam kasi lihat tertawa menghina. “Bukankah kau telah lihat sendiri, melulu karena andalkan boegeenya, ia sudah obral kepalanya? Ia telah pukul aku, telah hajar Oey Soe ya, malah ia telah serang juga Pakkhia punya beberapa piauwsoe yang ternama ! Dan setiap hari apakah yang ia tidak lakukan ? Mogor mau, dandan bagus juga mau ! Buat itu semua apakah yang ia andaikan, darimana ia gablek.uang? Memang aku curigai ia sejak lama. siapa tahu kemarin rahasianya terbongkar! Ia nyata pnejahal besar asal propinsi lain, begitu sampai di Pakkhia ia sudah lantas laku kau beberapa kejahatan, yang gelap bagi kita orang “

Siam Nio berduka berbareng kuatir, hingga tubuhnya gemetar.

“Fihak kantor sekarang sudah dapat tahu” kata pula Poan Louw Sam. yang tahu bagaimana mesti mendesak buat bikin rentananya berhasil, mereka sudah ketahui, uangnya Lie Bouw Pek, yang ia peroleh dari kejahatannya itu, sudah dihamburkan atas dirimu”

Cia Loo-mama kaget bukan main, sampai ia menjerit. “Dengan sebenarnya aku tidak tahu yang ia penjahat besar!” kata nyonya tua ini, yang bendak menyangkal.

Siam Nio diam saja. akan tetapi matanya mengucurkan air, ia tetap ketakutan dan berduka.....

“Fihak kantor tentu saja tidak gubris kau tahu ia satu penjahat besar atau tidak,” Louw Sam masih saja mendesak, sebab ini ketika yang baik akan bikin ciut nyalinya ibu dan anak itu, terutama si anak. “Mereka cuma tahu, ia hamburkan uangnya diantara kau, maka kau sama bersalahnya seperti dia”

Ketika bicara lebih jauh siterokmok robah sikapnya demikian ia kata. “Dengan Cie Tayjin aku sudah mengantur buat lindungi kau dari bahaya, hingga orang2 kantor tidak nanti datang bekuk kau berdua, ibu dan anak cuma selanjutnya kau tidak bisa berdiam lagi di Po Hoa Pan. ”

Cia Loo mama telah kena dipengaruhi, ia jadi takut bukan main hingga tidak mampu lagi gunai otak dingin.

“Louw Sam Looya, Cie Toa looya” demikian ia berkata, “jiewie looya, aku minta sukalah kau kasihani kami ibu dan anak, sukalah kau tolong kami. ” Ia menangis hingga tak bisa bicara terus

“Kami sebenarnya merasa kasihan pada kau” kata pula si Terokmok, yang didaalm hatinya puas, karena tipu dayanya telah memakan dengan tepat sekali. . Memang dengan tinggal lagi di Po Hoa Pan, kau akan hadapi kesukaran, jangan kata untuk makan, buat tinggal saja kau  jadi  tidak  punya  tempat. ”

“Tapi,” kata Cia Mama. yang tidak sabar sampai orang bicara terus, “Louw Sam Toaya bukankah kau dulu pernah omong, bahwa Cie Toa looya berniat ambil Siam Nio menjadi gundiknya? Aku lihat, dengan tindakannya itu. Cie Toa looya bukan saja telah hargakan kami, ia juga unjuk  rasa kasihannya terhadap anakku itu .....Cui Siam, hayolah kau minta pertolongannya jiewie looya” ia akhirnya kata pada anaknya

Louw Sam melirik Cie Sielong, ia unjuk roman sangat girang dan puas. ia seperti mau kata pada sielong itu :

“Kau lihat lauwko, bagaimana kepandaiannya si Louw Sam” Cui Siam sudah lantas menangis, sambil tunduk ia susuti air mitanya. Nona ini telah ..mati hati” seperti ibunya, karena “kerangannya” si Terokmok terlalu hebat, hingga mereka tidak sanggup gunai lagi pikiran mereka yang waras.

Louw Sam ketarik bukan main menampak romannya Coei Siam waktu itu, karena berduka sinona jadi seperti berubah elok dan menggiurkan hati, tetapi iapun jadi jelus.

“Nona begini elok aku persembahkan pada situa bangka buat dia pelesiran senang, apakah ini tidak terlalu senang  bagi dia?” demikian pikirannya ngelamun. Tapi, tidak apa.. Bukankah si o ia akan amb 1 tempat di rumah is*er ku yang muda ini ? Bukankah selanjutnya aku jadi dapat ketika akan bergaul rapat dengan dia? Apakah itu tidak sama saja Seperti kepunyaanku sendiri?”

Oleh karena ini ia tidak unyuk sikap yang luar biasa hingga ia tidak usah mendatangkan kecurigaan orang.

“Biryara hal disambutnya Siam Nio supaya ia bisa hidup bersama Cie Tayjien,” ia berkata puia, “itu adalah tanda keberuntungan bagi kau berdua anak dan ibu. Dengan begitu tidak saja Siam Nyo jadi beruntung. kau sendiri selanjutnya, boleh tidak usah pikirkan hal penghidupan dengan anakmu manjadi nyonya Cie Tayjin. kantor mana yang berani datang buat cari kau lebih tak lama lagi Cie Tayjin akan diangkat menjadi batay! Kalau nanti Jie Tayjin berangkat akan pangku jabatannya yang baru itu, ia tidak ajak keluarganya, melainkan kau dan anakmu. Diluar Pakkhia siapa yang ketahui yang koan thaythay dan Jie Tayjin asalnya dari rumah hina? Coba kau pikir, pembesar yang mana yang berani tidak hormati mertuanya bu tay? Cia Loo mama dari menangis menjadi tertawa mendengar ocehan yang pandai dari si Terokmok itu, yang meresap benar dihatinya. Memang siapa tidak akan jadi girang hati mertuanya seorang bu-tay, apapula ia asalnya itu bunga latar?

“Ah Louw Sam Looya” berseru ia, “mana aku dapat kehormatan seperti yang kau katakan barusan ? Baut aku sudah cukup andaikata, Jie Tayjin sudi berlaku baik budi dengan anakku menyadi gundiknya, supaya dengan begitu aku si tua bangka jadi punya andalan ! Jiewie looya, seumur hidupku aku tidak nanti lupakan kebaikan jiewie ini ! ”

Hatinya Siam Nio terluka malihat Sikap demikian merendah dari ibunya. dengan tidak terasa air matanya lantas turun dengan deras. Ia sudah tahu yika Cie Tayjin penuju padanya, sudah beberapa kali Cie sielong telah utarakan niatnya akan ambil ia seagai gundik, tapi sampai sebegitu jauh ia senantiasa bersangsi. apa lagi setelah Lie Boow Pek muncul, seorang pemuda gagah dan cakap. yang lemah lembut sikapnya yang menarik sangat parhatiannya. Siapa tahu sekarang terjadi perobahan ini.

“Kelihatannya tak bisa lain, aku terpaksa mesti terima Cie Sielong......” demikian ia pikir lebih jauh. Ia telah bersengsara cukup, sekarang ia kerembet oleh perkaranya si anak muda, asal uaul siapa ia tidak ketahui jelas. “Aku mesti menyerah, untuk keselamatan ibu dan diriku ”

Oleh karena ia memikir begini, airmatanya turun makin deras. Ia menangis tersedu2.

“Sudah, jangan nangis” kata Jie SieLong yang peluk nona itu “Bagaimana juga duduknya urusan, itu masih biia diurus. Jangan menangis, aku nanti tolong kau ”

Poan Louw Sam, yany biru saja habis menyedot, lantas saja bicara pula,

“Kau lihat kebaikan Cie Tayjin” ia kata pada Cia Loo mama. “Bukankah aku telah bilang beberapa kali, bagaimana niatnya tayjin? cuma tinggal Siam Nio saja, yang agaknya bersangsi yang membisu saja, tidak menolak. juga tidak menerima

........” Sekarang, sesudah muncul perkara Lie Bouw Pek in1, Cie Tayjin ingin dapat kepastian dan kau. Kalau Siam Nio suka ikut Cie Tayjin, besok ia boleh lantas pindah dari Po Hoa Pan, pindah kesalah satu kamar dari rumah penginapan Kang tim. Disana kau berdiam dua atau tiga hari, nanti Iyie Tayjin kirim orang untuk sambut kau. buat tinggal dirumahku ini. Disebelah barat sana aku punya tiga kamar, Siam Nio boleh pakai itu. Kau sendiri mama, kau boleh pakai dua kamar sebelah timur. Segala peratbotan, seperti kau ketahui, sudah kau sedia semua, hingga kau tinggal piara dua bujang, guna melayani kau berdua.”

“Memang, berhubung dengan kejadian ini, anakmu tidak ada bicara perkara harga dirinya akan tetapi kendati demikian, Cie Tayjin sudah omong padaku, ia akan titipkan dua ribu tai1 perak dikantorku, buku uang itu ia mau serahkan pada Siam Nio untuk dipakai sesuka hati. Semua ini, mama, andaikata Siam Nio setuju akan ikut Cie Tayjin, jikalau ia tidak mufakat, itu soal lain. Diumpamakan Siam Nio menolak, aku hanya hendak jelaskan begini pada kau : Cie Tayjin seoraag berpangkat dan pangkatnya tinggi, selanjutnya ia tidak bisa bersebat atau berkenan lagi pada orang2 yang punya hubungan atau sangkutan dengan penjahat besar ! Bukankah kau telah berkenalan dengan satu penjahat?”

Ucpan yang 1iehay ini telah sangat pengaruhi Cia Loo mama, siapa telah jadi girang berbareng takut. Girang karena Cie Tayjin penuju Siam Nio, takut sebab ia dan anaknya tidak akan terlindungi lagi apabila perkaranya Lie Bouw Pek benar merembet mereka. Seperti katanya si Terokmok itu maka ia segera hampirkan anaknya.

“Anak, kau terimalah permintaannya Cie Tayjin,” ia membujuk. “Hayo, haturkan terima kasih pada Cie Toalooya dan Louw Sam Loo-ya”

Dengan merasa berat, Cui Siam berbangkit, ia susut air matanya.

“Toalooya begitu cinta aku, bagaimana aku bisa menolak?” ia berkata dengan suara pelahan... baiklah, besok bersama ibuku aku nanti pindah dari Po Hoa Pan ”

Pouw Louw Sam tertawa terbahak2 apabila ia 1ihat kelakuannya si nona, ia tepok2 pundaknya Cie Sielong.

“Kau lihat, lauwko, sebagai comblang aku telah berhasil” kata ia dengan bangga. “Sekarang aku tinggal tunggu waktunya saja buat minum arak kegirangan “

Siam Nio tidak perduli siTerokmok godai ia, la lalu unjuk hormatnya pada dia orang itu seraya haturkan terima kasihnya.

A Go bersama si bujang tua, dengan tidak ada yang perintah sudah lantas kasi selamat pada Cie Sielong.

Bahna girangnya, Cie Sielong ketawa saja sampai ia rasai pinggangnya sakit lagi, hingga ia meringis paksakan buat unjukan sikap gagah.

“Apakah kau punya psrhitungau diluaran?” ia tanya Cia Loo mama.

“Ada, tetapi tidak seberapa,” sahut ibunya Siam Nio” Pada rumah pelacuran kami mempunyai utang seratus tail perak, diluaran ada kira sebegitu, tetapi jumlahnya semua tidak lebih dua ratus tail.”

“Benar jumiah itu tidak berarti” Boan Louw Sam bilang. “Besok kau boleh suruh itu Tauke, dengan siapa kau punya perhitungan, bikin suratnya yang perlu dan mereka boleh datang menagih pada kantor sebelah barat.”

“Dan kau, anak, apakah yang kau inginkan?” Cie Sielong sembari tertawa tanya si nona.

“Tidak “ sahut Cui Siam seraya geleng kepala, aku tidak inginkan apa2. Pakain dan barang perhiasan aku punya, yang aku masih bisa pakai selain dari itu, taruh kata aku perlu ini dan itu, aakarang semua itu tidak bisa lantas diselesaikan. ”

“tetapi aku lihat, pakaian kau selamanya sederhana saja,” Cie Sielong bilang. “Kau perlu bikin sedikitnya seperangkat pakaian ,warna merah?”

“Anakku punya baju merah,” Cia Loo mama nyeletuk, “begitu juga kun merah, benar itu bikinan dulu, tapi masih bisa dipakai!”

Dengar ibunya sebut pakaian merahnya, air mukanya Siam Nio jadi lesu pula, karena ia bersedih dengan mendadak, hingga air matana lantas meleleh keluar. Sebisa ia kuatkan hati akan tahan turunnya air dari hati yang suci itu.

Poan Louw Sam separoh mendelu dan separoh geli dihati melihat Cie Sielong sampai perhatikan urusan pakaian, yang ia anggap hal tetek bengek.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Po Kiam Kim Tjee Jilid 10"

Post a Comment

close