Po Kiam Kim Tjee Jilid 08

Mode Malam
Jilid 8

EMPAT orang itu berdiam, mukanya Siu Jie dan Hok Jie menjadi pucat. karena didalam kekuatiran merekapun dibikin men¬dongkol. Sudah disuruh diam seja, kenapa merekapun dilarang melawan kalau mereka diserang ?, Apa maunya majikan ini ?

Bouw Pek telah kasi turun pedangnya, yang tadi dia urungkan angkat.

„Toako, kau telah terluka, bagaimana kau bisa layani mereka itu ?' katanya. “Biarlah aku pergi sendiri dan hajar mereka itu !"

Tek Siauw Hong goyang kepala dengan tertawa.

“Itulah bukannya soal," ia bilang. „Katanya Hoa-chio Phang Liong berada diantara mereka, aku hendak ketemui ketua dari Cun Goan Piauw-tiam itu. dia orang dagang, dia buka piauw- tiam, artinya dia perlu perkenalan dan pertobatan, aku percaya dia bisa di ajak bicara !"

Lantas orang Boan ini pakai baju luarnya dan bertindak keluar, dengan begitu Lie Bouw Pek lantas menyusul, diikuti lebeh jauh oleh Siu Jie berempat.

Diluar, tuan rumah dan orang2nya men¬duga bahwa sebentar orang Boan ini begitu berhadapan Phang Liong, pertempuran hebat niscaya tidak dapat dicegah lagi.

Beberapa orang yang tidak punya pekerjaan lantas mengintil.

Lie Bouw Pek tidak pakai thungsha, dengan tengteng pedangnya dia jalan dimukanya Tek Siauw Hong maka itu dengan sendirinya, dia menjadi pusat perhatian orang banyak.

Tek Siauw Hong maju terus, Hok Jie berempat diperintah ikut dengan bawa ke¬reta mereka. Baru saja mereka keluar dari tong-kauw. mulut jalanan sebelah timur, dari depan segera kelihatan mendatangi belasan orang, ada yang pakai baju pendek, ada yang gulung lengan baju, semua tampaknya garang. yang menjadi kepala diantara mereka itu benar2 Hoa chio Phang Liong, siorang she Phang kelima atau bungsu, dia berusia tiga puluh tahun kurang lebih, tubuhnya tidak besar, muka nya hitam, romannya bengis. Tapi dia jalan dengan tangan kosong. Hanya disampingnya ada seorang yang pegang tumbak dengan ronce merah, itu rupa nya senjatanya.

Lekas juga kedua pihak telah datang de¬kat satu sama lain. Phang Liong segera samperi Tek Siauw Hong, yang dia tegur dengan mata mendelik :

„Orang she Tek, tahan !"

Tek Siauw Hong hentikan tindakannya, dia pandang piauwsu itu dengan unjuk senyuman tawar.

„Phang Piauwtauw, janganlah kau  ber¬sikap  terlalu galak," dia kata dengan sabar sabar terpaksa. “Bukankah kita kenal satu sama lain? Apakah kita tidak bisa bicara secara baik

?"

„Bicara secara baik?” Phang Liong ulangkan, suaranya tajam. matanya melotot. „Di gedung komidi kau telah serang shakoku, hingga dia muntah darah, sampai sekarang dia masih rebah dan tidak bisa bangun, sudah begitu, tadi kau telah lukai dua orangku dan dengan andalkan pengaruhnya pembesar, kau perintah tangkap orang ku ! Apakah artinya  ini

? Apakah dengan begitu kau bukannya seperti larang kami orang she Phang menumpang hidup dikalangan Sungai Telaga

? Maka orang she Pek, sekarang aku mau kasi tahu pada kau dan omong terus terang ! Aku punya piauw tam. aku tidak punya muka buat buka lebih jauh, sekarang marilah kita adu jiwa! Aku tidak perduli kau Tek Ngo ya dari Lwee bu hu yang tersohor aku mesti tempur kau ! Mari maju, orang she Tek, disini adalah kuburan kita !" Setelah kata begitu. dari tangan orangnya Phang Liong sambar tombaknya, dengan senjatanya itu, senjata istimewa nya, dia tusuk Siauw Hong !.

Tapi Lie Bouw Pek, juga berada disamping sobatnya. sudah gunai pedangnya, akan tahan lajunya ujung tumbak itu.

Piauwsu itu kembali delikkan mata, dengan bengis dia awasi orang muda ini, yang dia kenal.

„Apa kau mau?" dia membentak. „Kau berani usil urusanku

?"

„Memang aku mau campur tahu urusan kau !" Bouw Pek

jawab dengan ketus. „Tek Siauw Hong adalah toakoku, kau telah hina dia dengan begitu sendirinya kau juga perhina aku ! Kalau kau hendak adu jiwa sobat, kau mesti lebih dulu memenangkan pedangku ini !'

Phang Liong bersangsi. dia tidak sangka, bahwa ia akan berhadapan dengan orang asing ini.

Ketika itu telah banyak orang yang berkerubung, diantaranya ada juga yang maju mendekatkan buat jadi orang perantaraan, akan mendamaikan mereka agar pertempuran dibatalkan. tapi curma2, Phang Liong melulu menjadi lebih gusar.

“Tidak bisa, aku mesti adu jiwa dengan Tek Siauw Hong !” dia berteriak.

Menampak demikian, Siauw Hong maju sambil minta Bouw Pek mundur.

Kalau sudah pasti kau hendak adu jiwa dengan aku, persilahkan, aku si orang she Tek juga tidak takut mati !' dia bilang. „Tapi jalanan ini bukannya tempat yang cocok buat  kita adu jiwa, kalau mayat kita bergeletakan ditengah jalan,  itu bisa menyebabkan terhalangnya lalu lintas dari orarg banyak dan kereta2, kita melulu akan menjadi lantaran hingga orang akan kutuk kita ! Maka, sobat, aku pikir lebih baik kita cari tempat lain saja ! bagaimana kau pikir?"

„Baik !" Phang Liong terima tawaran itu. ia juga lihat, jalan besar itu terlalu terbuka dan dia kuatir nanti datang hamba2 polisi yang akan bekuk mereka. „Apa kau berani pergi ke Lam hwe-wa ?”

„Tentu saja ! Kemana juga aku tidak takut ! Hajolah !” Siauw Hong terima tawaran dengan unjuk sikap jumawa.

„Baik, hayolah jalan ! Siapa tidak pergi, bukannya hohan !" Phang Liong berseru seraya geraki tumbaknya.

Siauw Hong sangat gusar, hingga mukanya menjadi pucat. dia naik karetanya.

„Saudara Lie, hayolah kau juga naik !” katanya pada Bouw Pek, yang masih belum mau loncat naik, karena dia menunggu mengawasi musuh.

Dengan romnan garang Phang Liong dan orang2nya sudah lantas berangkat. Mereka tidak bawa kereta, mareka mesti jalan kaki. Di belakang mereka mengikut orang2 usilan, yang ingin menonton.

Siu Jie dan dua kawannya mengikuti sambil jalan kaki, mareka berkuatir dan bingung.

“Mereka berjumlah banyak, looya cuma berdua, mereka mau bertempur di Lam hwee wa, inilah berbahaya," kata hamba yang setia ini.

„Apa tidak baik kita lekas2 pulang, buat mengasi kabar pada thaythay ?" kata si dua kawan.

“Kasi tahu pada thaythay masih tidak bisa menolong,” Siu Jie bilang. „Malah looya tentu akan damprat kita habis2an.  Aku pikir lebih baik kita pergi kegiesu geemui, akan menghadap Thio Thayjin, biar Thio Thayjin kirim hamba  negeri buat cegah partempuran mereka "

Pelayan ini lakukan apa yang dia pikir, selagi Tek Siauw Hong tidak lihat dia, dia ngeloyor pergi diluar tahunya majikan itu.

Sebentar kemudian Tek Siauw Hong dan Phang Liong sudah sampai di Lam hwe wa, mereka cari tempat yang kosong dan rata, dimana mereka lalu berkumpul dalam dua rombongan yang berhadapan satu pada lain.

„Tempat ini cocok !" kata Phang Liong, seraya menunjuk dengan tumbaknya. „Hayo lah kau turun dari kendaraanmu !' Atas tantangan itu Lie Bouw Pek dului si orang Boan lompat turun dari kereta, sambil hunus pedangnya dia hampirkan piauwsu dari Cun Goan Piauw tiam.

“Lengan kanan dari Tek Toako telah ter luka, dengan menangkan dia kau tidak akan terhitung sebagai enghiong," dia bilang „oleh karena itu, Lebih baik kita berdua yang main main lebih dulu !"

Kendati dia kata demikian anak muda kita sudah lantas mulai menyerang.

“Siapa kau ?" tanya Phang Liong, yang tidak lantas melayani. , Kau she apa ?'

“Toaya kau adalah Lie Bouw Pek !" Bouw Pek perkenalkan diri sambil sengaja unjuk sikap jumawa. , Aku asal Lamkiong, Titlee. Tek Siauw liong adalah Saudara angkatku ! Jangan kata baru kau, Hoa Chio Phang Liong, kendati saudara kau, Kim Too Phang Bouw, aku tidak takuti ! Aku tidak takut juga segala Siu bieto dan Gin Chio Ciang kun. atau siapa juga yang berani perhinakan Tek Toako mesti bisa menangkan dulu pedangku ini !"

Waktu itu Tek Siauw Hong juga sudah turun dari keretanya. sebelum Phang Liong bilang apa2 pada anak muda itu, orang Boan ini telah kata padanya :

„Apa yang saudaraku ini Bilang adalah hal yang benar Jikalau kau mampu menangkan pedangnya saudara mudaku ini nanti dihadapan orang banyak aku akan unjuk hormat pada kau sambil manggut ber ulang2 !”

Tek Siauw Hong tidak sungkan2 lagi, Dia antap Lie Bouw Pek bawa keinginan nya.

Phang Long begitu mendongkol, hingga dia banting2 kaki. Nyata dia seorang yang beradat keras, yang tidak bisa dengar ucapan yang tidak manis.

„Baik !" dia berseru. Lalu dia kata pada orang banyak yang datang dan bergumam : ,Silah kan kau mundur sedikit ! Lihat aku nanti tempur orang dari tingkatan muda Ini !"

Lantas setelah itu dia putar tumbaknya akan tusuk Lie Bouw Pek. Anak muda kita memang sudah bersiap2, malah dia berlaku gesit sekali, begitu dekat ujung tumbak sampai, dia menyampok dengan keras, sambil maju dia balik menyerang dengan tusukannya, dia perlu dekati musuh yang menggunai senjata panjang itu, karena senjata nya beberapa kali lebih pendek. Sesudah itu apabila musuh menangkis dan berkelit, dia merangsak terus dan kirim tusukannya beberapa kali, berulang ulang !.

Dalam tempo singkat sekali, Hoa chio telah menjadi sibuk, karena ujung pedang senantiasa datang dekat padanya, jangan kata balas menyerang, buat menangkis saja dia telah jadi ripuh bukan main ! Pedang menyambar dari beberapa jurusan, merupakan tikaman, sabetan atau babatan, disebabkan berbareng dengan gerakan tangannya pemuda dari Lamkiong itu telah geraki juga tubuhnya, kedua kakinya loncat sana sini dengan hebat.

Selang beberapa jurus, sebelumnya piauw su yang disohorkan gagah itu bisa berdaya, dia telah keluarkan jeritan hebat dan rubuh, karena diluar kesanggupannya, dari samping Bouw Pek dengan cepat lompat kebelakang nya, dari sini tusukan dikirim dan ujung pedang segera belajar kenal pada punggung nya, hingga berbareng dengan jeritannya itu, tombaknya terlepas dan tubuhnya rubuh tengkurap ditanah !.

Hampir berbareng sekalian penonton, yang telah jadi kaget, sudah berteriak „bagus !” karena mereka kagum.

Oleh karena rubuhnya jago mereka, orangnya Phang Liong lantas maju dengan senjata terhunus, dengan niatan kepung jago muda ini. Tapi Lie Bouw Pek dengan senyuman menghina menantang mereka.

„Siapa diantara kau yang tidak inginkan jiwanya, hayo maju

!” dia mengancam. „Aku kasi tahu pada kau : di Jiauw yang aku telah lukai Lie Mo ong Ho Kiam Go dan di

kota Seeho aku telah rubuhkan Say Lu Pou Gui Hong Siang

! Kau baru belasan, meski pun jumlah kau ditambah beberapa puluh lagi, aku Lie Bouw Pek tidak takut barang sedikit juga ! jikalau aku takut pada kau, aku bukan lagi muridnya jago tua Kie Kong Kiat !"

Ancaman itu mengasi pengaruh besar, karena orang2nya Phang Liong tidak berani maju lebih jauh, sedang yang cerdik sudah lantas samperi piauwsu mereka, buat didukung bangun. Pungungnya Phang Liong telah mandi da¬rah, dari lubang lukanya darah terus mengalir keluar!, sebab sakit air matanyapun mengucur keluar! Dia mengerti sekarang yang

boogee pihak lawan terlalu tinggi buat dia.

„Kau jangan bergerak," dia mencegah sambil paksakan diri,

„Tanya saja dimana dia tinggal       "

Matanya semua penonton telah di tujukan pada Lie Bouw Pek buat dengar jawabannya pemuda ini, kegagahan siapa telah datangkan kekaguman mereka.

„Aku tinggal di Hoat Beng Sie di Sinsiang Hotong !" Bouw Pek kasi tahu dengan tidak tunggu sampai ditanya lagi. dia telah tepok2 dada. „Pergilah kau cari dan undang Kim too Phang Bouw ! Aku si orang she Lie tidak takut dan akan tunggui dia !”

Tantangan itu tidak dapat jawaban, karena Phang Liong terlalu lelah dan orang2nya tiada yang berani banyak mulut malah sebalik nya, piauwsu itu lantas digendong buat dibawa pergi, semua orangnya mengiringi dia.

Sementara itu dari kejauhan telah datang beberapa hamba negeri, menampak mereka semua penonton lantas pada angkat langkah seribu, karena meski benar mereka tidak tersangkut, mereka kuatir nanti di rembet2 di dijadikan saksi.

Tek Siauw Hong maju mendekati beberapa hamba negeri itu.

„Tidak apa apa, tidak apa apa." dia kata sambil tersenyum.

„Hoa chio Phang Liong dari Cun Goan Piauw tiam tadinya mau termpur aku, akan tetapi setelah dia diajar, adat oleh saudara angkatku ini, dia sudah lantas angkat kaki !”

Majikan ini lihat Siu Jie diantara kawanan opas itu, dia segera menegur : „Urusan begitu kecil, kenapa kau pergi ganggu tuan tuan ini?' „Oh tidak apa," kata seorang hamba wet. „Selama beberapa hari ini kawanan buaya darat dikota selatan memang telah bertingkah luar biasa. Kabarnya tadi Ngoya telah dapat luka di Cian mu Toakay, apakah itu benar"

Siauw Hong angkat lengan kanannya, buat unjukkan lukanya.

„Ini luka itu, yang tidak berarti !" dia jawab sambil tertawa.

„Luka seperti ini dalam

tempo beberapa hari saja akan sembuh pula, sekarang, tuan tuan, silahkan kau pulang, buat capai lelah ini, nanti saja aku haturkan terima kasihku !"

„Tidak apa apa, Tek Ngo ya, jangan kau seejie !" kata beberapa hamba wet itu sambil tertawa. „Nah, Ijinkanlah kami pergi !"

„Silahkan tuan tuan ! Terima kasih !" kata Siauw Hong. Hamba hamba wet itu benar benar sudah lantas berlalu.

Tek Siauw Hong pelototi Siu Jie, tetapi kendati demikian dia tidak punya kebanyakan tempo akan tegur pelayannya ini. dia hanya hadapi Bouw Pek sambil tertawa.

„Saudara, beruntung ada kau," dia kata „Sayang barusan kau sebut sebut juga Siu Bie to dan Gin chio Ciangkun ! Mereka itu punya banyak kuping dan mata, diantara banyak penonton tadi tidak mustahil jikalau diantaranya ada yang menjadi kaki tangannya, maka andaikata ucapan kau barusan sampai di kuping mereka, aku kuatir nanti terbit gara gara lagi

........". “Itulah bukan soal, tidak apa!” Bouw Pek tertawa secara tawar. „Tadi aku telah kasi tahu she dan namaku dan juga tempat kediamanku, maka andai kata mereka atau siapa saja, tidak puas mereka boleh datang cari aku !”.

Melihat adat keras itu, Tek Siauw Hong tahu anak muda ini tidak boleh diladeni bicara, makanya lantas berhenti bicara.

„Sekarang, saudaraku, mari kita pulang l" katanya.

Bouw Pek terima undangan itu, ber sama2 dia naik keatas kereta, yang terus dikasi jalan, sedang Siu Jie bersama dua kawanya lalu mengikuti. Bouw Pek ikut terus, dia antar sobatnya pulang kerumah, dimana dia juga mampir, maka kejadian dia telah bersantap malam bersama sama sobat itu. selama mana mereka tidak omong banyak. kemudian barulah dia pulang kehotelnya buat terus tidur, bersedia buat pindah esok paginya.

Setelah sang malam telah lewat, begitu mendusin dari tidurnya Bouw Pek lantas dandan, lebih dulu dia minta disediakan makanan, kemudian dia minta tolong tuan rumah jualkan kudanya. yang dia anggap sudah tidak perlu lagi dia telah bikin perhitungan uang menginap dan makan setelah semua beres dia lantas gendol pauwhoknya buat pindah ke Hong Beng Sie. Disini segala apa sudah sedia, se¬mua bisa diatur dengan cepat dan ringan, karena dia tidak punya perabotan.

Begitu lekas tinggal di gereja, hatinya Bouw Pek jadi terbuka. Disini dia bisa berlatih si¬lat kapan saja dia mau, tidak banyak orang seperti dihotel dan tidak ramai juga, sedang pekarangan luas, dia tidak lagi lesu seperti yang sudah2.

Selang dua hari dia pergi kerumah Tek Siauw Hong, yang berada digang yang lengkapnya di panggil Tong su sam tauw. dia dapat kenyataan lukanya sobat itu sudah boleh dibilang sembuh, karena Siauw Hong telah undang tabib yang pandai dan obatnya juga obat yang mahal. Mereka duduk pasang omong diruang tamu.

„Hiantee. nyatalah dugaanku cocok !" kata Tek Siauw  Hong. “Pertempuran kita di Lam hwee wa melawan Hoa chio Phang Liong telah dapat diketahui oleh Siu Bie to Oey Kie Pok, kemarin dia telah kirim Lauw Cit ya sebagai utusan dan utusan ini kasi tahu pada ku yang Oey Kie Pok ingin ketemu kau.”

„Itulah bukannya soal, tidak apa, aku nanti ketemukan dia," kata Bouw Pek sambil terta¬wa. Siauw Hong geleng kepala, dia menghela napas.

„Buat apa kau ketemui dia” dia tanya. “Dia seorang yang berpengaruh, terhadap orang demikian lebih baik kita tidak punya sang¬kutan “ Bouw Pek tersenyum dengan tawar.

“Bukankah dia seorang dagang ? Pengaruh apa dia punya

?”

„Apa? Apa kau kira seorang dagang tidak punya pengaruh

besar ?" Siauw Hong tegaskan. „Keu barangkali perlu dengar2 sobatku ! diluar Cian mui ada Poan Louw Sam si Terokmok dia telah buka enam chian chong yang besar, maka kalau ketemu dia, kendatipun seorang bangsawan atau pweelek, orang mesti menemui dengan bersenyum manis. Dan dikota sebelah timur laut, hartawan yang paling besar adalah Oey Kie Pok ! cobalah cari tahu, pembesar siapa yang tidak punya hutang padanya sedikitnya beberapa ribu tail ? “

Bouw Pek lagi lagi tertawa dingin.

„Dengan begitu berarti, siapa punya banyak uang dia berpengaruh?” dia tanya.

„Itu adalah hal sewajarnya ! didalam kota raja ini orang tidak bicara tentang tangan kuat, silat sempurna, yang di pentingkan adalah uang banyak ! bisa jadi bugee Ui Kie Pok tidak dapat disamakan dengan kau tetapi dalam hal uang dia jauh lebih menang, dengan gunai uang dia bisa menjadi lawan kau !”

Ucapan sobat itu, yang bicara terus terang, tidak sedap masuk dikupingnya anak muda itu, maka dia juga tidak bisa duduk tenang di atas kursinya. Tapi dia tidak bisa kata apa2, cuma senyumnya yang tertampak nyata, senyuman menghina.

Siauw Hong tahu yang sobat ini tidak puas, maka ketika dia bicara pula, suaranya sabar.

„Saudara, marilah kita bicara terus terang, dengan sabar," berkata dia. „Kau sekarang telah dapat dua musuh dalam dirinya Say Lu Pou Gui Hong Siang dan Kimtoo Phang Bouw. Dikalangan sungai Telaga, mereka terhitung paong cabang atas jagoan, maka mereka itu pasti saja tidak mau sudah, yang nama mereka telah dihina dan ditantang dimuka umum. Aku percaya betul, dibelakang hari mereka akan datang cari kau, melulu buat membikin banyak pusing ! 0ey Kie Pok  sudah pasti ingin ketemu kau, belum tahu bagaimana sikapnya Khu Kong Ciauw ! Empat orang itu dengan sesungguhnya sudah cukup buat bikin kau repot. Maka aku anggap, kita berdua baiklah berdaya dan bersiaga menjaga diri terhadap pihak mereka. Lain bulan aku hendak berangkat ke Tong leng akan urus kepentingan Seri Baginda Raja, barangkali setidaknya satu bulan baru aku bisa kembali. Kau sendirian saja disini dan asing, sampai jalanan kau tidak kenal, apa bila mereka berniat bikin celaka kau, sukar untuk kau lindungkan diri. Karena itu aku harap, saudaraku, selanjutnya kau baik jangan sering sering pergi keluar, jangan ter¬lalu unjukkan diri, kau tunggu sampai aku sudah pulang, nanti kita pikir pula bagaimana baiknya. umpama kita cari orang, yang suka menjadi orang perantaraan, buat adakan perdamaian, atau buat urus terang mengadakan pie bu, untuk mendapat kepastian siapa diatas dan siapa dibawah ! "

Kendati dia tahu Siauw Hong bermaksud bak. Lie Bouw Pek tidak sabar akan dengarkan perkataannya sobat ini, yang terlalu sabar, atau yang kalah hati mengingat pengaruh besar dari orang orang yang disebutkan nama namanya. Meski begitu dia tidak mau membantah. dia hanya lawan dengan manggut manggut.

Kedua sobat ini barkumpul sehingga waktunya bersantap malam, Bouw Pek diundang ber dahar sama sama dan dia terima undangan itu, adalah sesudahnya bersantap baru dia pulang, tatkala itu waktunya rumah rumah memasang api.

Sekeluarnya dari mulut jalan sebelah barat Tong su sam tiauw, Bouw Pek menuju keselatan dia jalan dijalan besar. Langit waktu itu gelap, bintang tidak tertampak barang satu. Cuaca yang gelap di tambah dengan awan, suara guntur telah mulai terdengar. Dijalanan masih ada orang dan kereta, tetapi mereka semua jalan ter buru2, semuanya takut nanti ditimpa hujan. Terpaksa supaya tidak sampai mandi air langit, dia tidak pulang ke Sinsiang Hootong, hanya pergi ke Han kee thoa. ke Po Hoa Pan. Didepan pintu rumahnya Cu Sam dia turun dari kereta, justru hujan besar lantas turun membasahi bumi. Baru saja dia bertindak masuk, Mo Ho si jongos telah teriaki namanya.

Dengan tidak kata apa apa, Bouw Pek menuju ke lauwteng dan naik. kamarnya Siam Nio terang, diluar gelap. dia hampirkan pintu kamar, dengan tindakannya dibikin sedikit berat. dia dengar suara orang bicara d dalam kamar, dia pasang kuping.

Itulah suaranya Siam Nio dan ibunya.

„Cui Siam !" dia lalu memanggil,

„Siapa ?" terdengar Cia Lo mama dari dalam.

„Tentu Lie Looya yang datang !" terdengar juga suaranya si nona.

Dengan membawa tengloleng. Cia Mama bertindak keluar, tapi Bouw Pek mendului masuk kedalam.

„Benar juga Lie Looya !" Cia Mama kata sambil tertawa. Bouw Pek masuk terus, dia tidak berpapasan dengan Ciu

Siam, yang tidak keluar buat sambut dia. Di dalam si nona sedang duduk di atas pembaringannya Nona ini tidak bangun, malah padangan mukanya tertampak sorot ngambul.

„Oh Lie Looya, kau masih sudi datang kemari ?” kata nona rumah, dengan mata melirik “Aku tadinya sangka kau sudah menjabat pangkat di luar kota raja !"

„Pangku pangkat ?" Bouw Pek tertawa. „Buat aku, seumur hidupku, aku tidak niat pangku pangkat !"

Dia hampirkan bangku dan duduk disitu, ketika Cia Lu mama angsurkan teh, dia me nyambuti sambil membilang terima kasih.

Dari luar jendela terdengar jatuhnya air hujan, yang makin gencar dan keras, suaranya guntur tidak menjadi kekurangan.

“Jangan kau sesalkan aku !” kata Bouw Pek kemudian, sambil bersenyum „Dalam dua hari ini, aku repot bukan main. Pertama tama urusanku pindah rumah, dan kedua urusannya Tek Ngo ya, yang minta bantuanku "

Sembari kata begitu, anak muda ini pandang muka onrang yang nampaknya lebih bersinar, seperti orang mau tertawa, maka dia lalu teruskan ; „Baru tiga hari aku tidak datang, itu rasanya seperti tiga bulan saja. Aku senantiasa merasa hatiku tidak tenteram, maka sekarang, kendati juga hujan besar aku telah datang kemari. Aku sengaja buang tempo. "

Si nona tertawa cekikikan apabila dia dengar keterangan itu.

„Jadi kau telah buang tempo untuk da¬tang kemari ? ia tegasi.

„Kalau begitu, kau tentu juga akan buru buru pulang !. “

Tapi anak muda kita lekas geleng kepalanya.

„Tidak,” dia bilang, „aku sekarang sudah tidak punya urusan lagi! Aku sudah pindah

rumah dan urusan sobatpun telah selesai. Seterusnya aku bisa datang tiap hari. ”

Baru saja Bouw Pek tutup mulutnya atau dia sudah menyesal bukan main.

“Kenapa aku mesti bilang bahwa aku bisa dalang setiap  hari ?" demikian dia tegur dirinya sendiri. „Mana aku bisa lakukan itu ?"

Tetapi ucapan itu justru bikin Siam Nio girang bukan main.

„Kau bilang kau bisa datang setiap hari?,” dia bilang. „Aku tidak percaya, Tapi hari ini hujan besar, mestinya tidak ada tamu lain yang datang, maka kau jangan lantas pergi”

„Tidak, aku memang tidak mau lantas pergi " Bouw Pek manggut. “Aku bisa pulang sebentar sesudah tengah malam”

„Tengah malam ? Apakah kau tidak takut nanti diomeli isterimu ?"

Mukanya Bouw Pek menjadi merah.

„Apakah aku belum pernah kasi tahu kau?” dia tanya.

„Sekarang aku telah berumur dua puluh lebih. akan tetapi aku masih belum ber isteri ! Aku datang kekota raja sendirian saja, tadinya aku tinggal dihotel, baru dua hari aku pindah kebio di Sinsiang Hootong”

Cu Siam benar2 tidak ketahui yang tamunya seorang jejaka, katerangannya anak mu¬da ini bikin dia heran.

„Kenapa kau belum menikah, Lie Looya?" dia tanya. Bouw Pek merasa tertusuk. Ini adalah pertanyaan yang mengenai lukanya didalam hati. sekalipun orang lain yang tanyakan itu dia sudah masgul sekarang Siam Nio yang tanya dia jadi berduka, Tapi dia coba kuatkan hati.

„Baiklah kita jangan sebut2 hal itu. itu urusanku yang mendukakan hati," dia bilang dengan pelahan, dia menarik napas, tangannya ditaruh dilututnya.

Siam Nio masih saja merasa heran, sehingga dia mengawasi dengan bingung saja.

Justru itu Cia Mama bertindak keluar, maka buat bikin si nona tidak salah mengerti. Bouw Pek kasikan keterangannya Tapi lebih dulu dari pada itu, lagi2 dia menghela napas.

„Aku nanti terangkan pada kau seorang, karena orang lain, kendati sobatku, tidak ke tahui rahasia hatiku ini," dia bilang.

„Sedari masih kecil aku sudah berpikiran, buat me nikah aku mendapatkan nona yang pintar dan cantik, kalau tidak, aku tidak mau kawin. Beberapa sanak dan sobat pernah tunjukkan aku nona2, semuanya nona itu aku tidak penuju. Adalah belakangan aku kenal nona she Jie, yang pintar dan cantik dengan berbareng, malah dia telah hargakan aku dan ayahnya pun bersikap manis terhadapku ”

„Apakah kau tidak bisa minta perantaraan orang. buat nikah nona itu ?” Siam Nio potong. ..Tidakah. dengan begitu, pernikahan bisa lantas dilangsungkan ?"

Bouw Pek tertawa, tertawa secara meringis.

“Tidak, itulah tidak bisa terjadi” dia kata „Nona itu sudah ditunangkan pada orang lain !”

Mukanya Siam Nio berobah, agaknya ia merasa terharu.

Dengan mata tajam dia awasi anak muda kita.

Bouw Pek duduk dengan tangan menunjang meja, romannya sangat berduka.

„Kasihan anak muda ini." pikir Siam Nio yang jadi terharu, hingga air matanya hampir meleleh keluar. dia anggap Bouw Pek pemuda yang mencinta, maka sayang kecintaan itu tidak ada yang bisa sambuti. . . .. Hampir Bouw Pek tambahkan keterangan dengan bilang, bahwa kecuali nona Jie adalah nona ini yang paling tarik perhatiannya, bahwa dia berniat bebaskan si nona dari belengguannya sekarang, agar kemudian mereka bisa menikah dengan merdeka, sebab dia tidak ingin yang nona ini mesti menikah dengan lelaki sembarangan apa pula lelaki kasar, Syukur perasaan itu dia tidak dapat utarakan mulutnya seperti terkunci.

Berdua mereka saling mengawasi, tidak ada satu yang buka mulut. Maka itu, kendati suara hujan lebat, tapi suara nyanyian dari kamar lain terdengar nyata, entah nona manis yang mana yang sedang gembirakan diri dengan suara yang halus dan sedih.

Hatinya Cui Siam tergerak, dia merasa tertusuk, dangan tak merasa, air matanya me¬leleh keluar, maka buru buru dia susut itu dengan suputangannya.

Di saat nona ini mau bicara. dia lihat ibu-nya mendatangi tanganya memegang selembar kertas merah.

Bouw Pek lihat kertas itu, dia menduga pada undangan. Setelah sering berada dirumah hina ini, dia mengerti apa artinya kertas merah itu. Tapi sekarang, melihat Siam Nio yang harus dikasihani, hatinya menjadi panas. Kenapa selagi hujan turun dengan lebat masih saja ada yang mau panggil si nona, buat dijadikan jurulayan melulu karena uang?.

„Louw Sam Looya," kata sang ibu, „katanya Cie Tayjin sedang tunggu kau ”

Cui Siam kerutkan alisnya.

„Hujan begitu besar. bagaimana mereka masih memanggil aku?" dia kata. „Mama, baik kau jawab mereka, bahwa aku sedang sakit dan tidak bisa pergi”

„Itulah tidak bisa anak," Cia Mama kata. „Kau ketahui sendiri, berapa banyak Cie Tayjin telah hamburkan uangnya untuk kau. Kalau sekarang kau tidak pergi, apakah dia tidak akan jadi kurang senang ? Lagi, bila Cie Tayjin dengar kau sakit, dia tentu bingung, dia pasti akan minta Louw Sam Looya datang tengok kau ! Cui Siam menghela napas. dia tahu ibunya omong hal yang benar. dia lalu berbangkit.

„Lie Looya, sukalah kau menunggu disini, sebentar aku kembali," dia kata pada anak muda kita.

„Kau pergilah,” sahut Bauw Pek sambil manggut. Meski dia mendelu, dia diam saja, dia tidak mau campur tahu urusannya ibu dan anak itu.

Ibunya Cui Siam merasa tidak puas yang anaknya mau tahan si anak muda, tetapi mengingat orang telah sering datang dan telah antar cita, dia kuatir anak itu gusar.

“Ya, looya, kau jangan pergi dulu," iapun kata. „Bila kau merasa lelah, kau boleh rebahkan diri "

„Aku tidak lelah " Bouw Pek jawab.

Cui Siam lantas rapikan pakaian dan rambutnya, dia ikut ibunya pergi.

Bouw Pek jadi duduk sendirian saja, dalam kesunyian dia jadi masgul dia juga sebal mendengar hujan, yang tetap tidak mau berhenti.

“Aku sudah pikir buat jarang datang ke-tempat begini, aku toh laki laki, tidak tahu-nya sekarang aku kembali berada di sini . . ." dia berpikir. „Entah bagaimana, romannya

Cui Siam menyebabkan aku selalu merasa kasihan terhadapnya. Sudah Siu Lian sekarang Siam Nio Secara

begini, bagaimana nanti aku bisa majukan diri?”

Kemudian dia lalu ingat orang yang dipanggil Cie Tayjin itu.

„Beberapa kali aku senantiasa dapatkan karcis namanya, dia tentunya Cie Sie long yang Tek Siauw Horg sering sebut," dia pikir. „Ia memangku pangkat, dia kuatir ada giesu yang dakwa, maka itu, buat berpelesiran dengan Siam Nio, dia saban saban undang Siam Nio datang ketempatnya. Bersama Cie Tayjin ini ada Louw Sam Looya siapa dia ini, apa pekerjaannya ? Apakah dia Poan Louw Sam, yang katanya punya enam chian thong dikota selatan ? Cui Siam punya banyak kenalan jempolan, kenapa dia masih ketarik padaku ?" Bouw Pek tidak bisa menduga dengan cocok, maka dia jadi lelah sendirinya. dia lantas rebahkan diri dipembaringannya Cui Siam, tangannya meraba bantal.

„Eh, kenapa bantal ini berat ?" pikirnya. dia bangun, dia angkat bantal itu, yang terbikin dari kayu yang dicat hitam. Beda dari bantal lain, bantal ini kosong dalamnya dan berupa seperti peti, oleh karena tidak dikunci, dia buka tutupnya. dia heran dan jadi ingin dapat tahu. dia tercengang ketika dia lihat isi nya bantal itu : bukannya uang, bukan barang perhiasan, hanya sebuah pisau belati yang tajam mengkilap, panjangnya delapan cun !

„Heran, apa perlunya Siam Nio dengan senjata ini?" pikir dia yang lekas lekas rapi kan pula bantal itu. „Apakah dia benar2 bu¬nga raya yang gagah ? ia lemah lembut. Rahasia apa dia simpan dalam hatinya ? Apa kah tidak bisa jadi dia punya lelakon penghidupan yang menyedihkan dan hebat, yang menyebabkan dia sekarang menjadi bunga raya? Apakah bisa jadi dia telah ketahui atau telah menduga aku orang macam apa, maka terhadap aku dia telah tumplekkan per hatiannya secara istimewa ?"

Sia sia saja Bouw Pek menduga duga.

„Cuma Siam Nio yang bisa jelaskan semua ini padaku," akhirnya dia pikir.

Sekarang hujan sudah mulai berhenti, suara nyanyian dikamar sebelah pun sudah sirap Po Hoa Pan telah menjadi sunyi, kecuali suara rincik2 air hujan.

Tidak antara lama, ditangga lauwteng ter dengar tindakan. Menduga Cui Siam pulang, Bouw Pek pura pura tidur. yang datang be¬nar si nona, yang baru pulang dari tempat nya Cie Tayjin.

„Oh, Lie Toaya tidur," kata ia, kapan ia lihat orang sedang rebah dengan diam saja.

Ia lantas pentang kelambu, dan ambil selimut, buat kerobongi tubuh orang. Tapi berbareng dengan itu anak muda kita buka matanya. „Aku baru saja rebah2an. tidak merasa lagi jadi pulas," katanya.

„Apakah kau hendak tidur pula ?" si nona tanya. Bouw Pek bangun, Cia Mama bawakan air teh.

„Tidak,” dia kata kemudian. „Sekarang su¬dah malam, aku perlu pulang."

Ia berbangkit dan rapikan pakaiannya, lantas bertindak. Tapi Siam Nio tarik dia, ketika dia lihat mukanya si nona, muka itu bersemu merah, nampaknya seperti gusar bukan, tertawa bukan........

„Hujan belum berhenti betul, jalanan becek dan licin. bagaimana kau bisa pulang sekarang ?" tanya si nona.

Ditanya begitu, air mukanya anak muda ini pun menjadi merah.

Cui Siam tarik tubuh orang, buat disuruh duduk dikursi.

„Bagaimana juga, sekarang aku tidak bisa ijinkan kau pulang !" berkata dia sambil tersenyum.

Bouw Pek sebenarnya tidak tahu bagaimana perasaannya, tetapi dia tertawa.

Hujan betul2 bandal, dia turun terus antero malam dan sampai esok paginya tidak mau berhenti. Maka itu, buat bisa pulang ke Hoat Beng Sie, Bouw Pek mesti sewa kereta.

Sejak itu, persobatan diantara kedua anak muda itu jadi makin kekal. Bouw Pek pernah tanya hal ihwalnya si nona, tetapi Cui Siam tidak mau menutur lebih dari sebagaimana dia sudah omong, dia hanya ganda menangis. hingga mengetahui kedukaan orang, si anak muda tidak berani menanyakan lebih jauh.

Menyimpang dari janjinya pada diri sendiri, sekarang Bouw Pek berniat datang setiap hari pada si nona, sebaliknya, sekarang adalah si nona yang cegah dia datang terlalu sering Sebabnya adalah Cui Siam tahu dia datang ke Pakkhia untuk mencari pekerjaan, tetapi pekerjaan belum dapat, sedang keuangannya tidak kuat. Maka pertemuan hanya terjadi apabila sudah selang dua hari, Bouw Pek turuti kehendak si nona, Kalau Cui Sam bisa robah cara hidup nya, dia pantas buat jadi isteriku, pikir anak muda ini. Hatinya lega apabila dia memikir demikian, tetapi hati itu segera jadi pepat, apabila dia ingat dari pamannya tidak kabar apa2, sedang dia sudah berdiam lama juga di kota raja.

„Pengharapan seperti tidak ada bagaimana aku bisa berdiam lama2 disini " satu kali Bouw Pek berpikir. „Benar aku punya sobat, yang bisa tolong aku, akan tetapi apakah daya sempurna buat terus2an harapkan bantuan sobat ? Tidak, aku mesti berdaya !"

Bouw Pek lantas kunyungi Siauw Hong.

„Toako, kau kenal banyak orang di Pak-khia, apa kau bisa pujikan aku pada salah satu rumah buat mengajar silat ?" dia tanya.

Diluar sangkaan, Siauw Hong geleng kepala apabila dia dengar pertanyaan itu.

„Kerjaan guru bagi kau tidak cocok," kata orang Boan ini.

„Disini mereka yang menjadi guru adalah sebab didalam penghidupan mereka sudah tampak kesukaran hebat. Kau telah jadi sobatku, ini juga salah satu sebab kenapa aku mesti cegah kau menjadi guru silat! Mana aku punya muka akan antap sobatku bekerja pada orang lain, melulu untuk dapatkan beberapa tail ? Sekarang, saudaraku, kau jangan sibuk tak karuan, kalau sampai duaratus tail perak, aku masih sanggup bantu kau. Apabila saja kau perlu uang, lantas beritahukan padaku. Sekarang kau sabar saja menganggur, tunggu nanti sampai aku sudah pulang dari Tong leng, kita nanti kumpul sejumlah uang, buat buka piauwkiok buat kau kepalai. Tidakkah itu lebih baik daripada kau jadi guru silat dari sembarangan orang ?"

Mendengar perkataan itu, Bouw Pek tidak berani mendesak.

Sepuluh hari kemudian, selagi Bouw Pek berdiam digereja, Siauw Hong kirim Hok Djie membawa kereta buat sambut dia, begitu bertemu orang Boan itu kata : „Saudaraku, besok aku hendak berangkat ke Tongieng. Bersama aku akan berangkat beberapa anggota lalu dan Lwee-bu hu, maka itu besok kau tidak usah mengantar aku. Kepergianku paling lama dua bulan atau barang kali aku bisa pulang dalam tempo duapuluh hari. yang sudah pasti adalah aku mesti kembali sebelumnya Pee gwee Tiong Ciu. Maka, saudaraku, aku minta kau suka menunggu sampai aku pulang, terutama karena aku mau minta supaya kau tolong tilik rumahku. Di sebelah itu, ada satu hal penting, yang aku hendak beritahukan kau. Kita telah kebentrok dengan lima harimau dari keluarga Phang dari Cim cu, sudah terang tiap waktu Kim to Phang Bouw akan datang menganggu kita. Biarlah aku bicara terus terang. Melihat kepandaian kau, saudaraku, aku percaya kau sanggup rubuhkan Phang Bouw, tetapi di sebelah itu kau mesti ingat pergaulannya yang luas, sobatnya banyak. Aku percaya, orang sebagai Phang Bouw bisa lakukan segala apa yang dia mau !, segala apa yang berada diluar sangkaan kita. Maka aku sudah pikir, adalah lebih baik kita akan jangan pusing dari pihak dia itu.  Andaikata dia benar datang cari kau, saudara, kau baik timpahkan segala apa atas diriku, kasi tahu saja supaya dia menunggu sampai aku sudah pulang dari Tong leng. Perihal Cu Siam andaikata kau niat ambil dia sebagai isterimu, aku mufakat, cuma sebelumnya ambil putusan, baik kau berlaku hati2 dan coba dulu. Kau tahu sendiri sifatnya kebanyakan bunga raya, yang kebanyakan tidak bisa terlalu dipercaya Kabarnya Cie Sie long mau ambil Cui Siam, tetapi juga ada kabar yang Louw Sam mau ambil dia sebagai isteri. Biar ini semua kabar angin, tetapi tidak ada halangannya buat kau perhatikan, agar kau berlaku hati2... .Cie Sie long dan Poin Louw Sam semua orang2 yang berharta besar dan berpengaruh, kendati bagaimana juga. kita tidak boleh sembarangan main gila terhadap mereka. Mereka semua tidak boleh dipandang enteng "

Bouw Pek tidak puas terhadap omongan sobatnya itu, kendati demikian tidak membantah, karena di sebelah semua itu, ia tahu Pek Siauw Hong bicara karena kejujurannya dan sifatnya yang ber hati2.

“Kalau dia sudah pergi, aku bisa berbuat apa yang aku suka" pikirnya, yang lalu dengan sembarangan saja barjanji yang dia akan perhatikan nasehatnya sobat ini. Sampai sudah bersantap malam, barulah Bouw Pek pulang kepondoknya. Diwaktu dia mau pergi, Siauw Hong serahkan sejilid buku chiancung padanya,

,Kapan saja kau perlu kau boleh ambil uangnya," kata sobat ini. Bouw Pek pulang seorang diri, tetapi esok paginya ia datang pula.

„Looya kita telah pergi sejak pagi tadi," pengawal kasi tahu.

„Biarlah " sahut Bouw Pek. „Tapi ingat, kalau ada orang yang tak dikenal datang kemari buat terbitkan onar, kau mesti lekas pergi keluar kota cari aku !"

„Diwaktu mau berangkat looya juga pesan, kalau ada apa2 kami diminta lekas pergi cari Lie Toaya," pengawal itu bilang.

Setelah itu, anak muda ini pulang kebio.

Tentu saja anak muda kita menjadi sa¬ngat kesepian, perginya Tek Siauw Hong membikin dia tidak punya sobat lain lagi yang bisa diajak omong dan pesiar. Pada paman nya dia tidak mau sembarangan pergi. Maka itu, kalau sangat iseng dia pergi cari Cui Siam, buat berkumpul dengan sinona manis.

Oleh karena dia taruh perhatian pada Cie Sie long dan Poan Louw Sam, satu kali Bouw Pek minta keterangan dari Siam Nio tentang dua orang itu.

Menurut Cui Siam, Cie Sie long adalah langganannya, dia bisa diundang buat menyanyi dan menemani bersantap, lebih tidak. Poan Louw Sam sobatnya Cie Sie long, maka itu si Teromok ini juga kenal dia, sebab dia itu hampir selalu berada bersama sama si sielong.

Oleh karena Cie Sie long seorang pembesar negeri, yang tidak merdeka buat keluar masuk rumah hina, dia selamanya diundang dengan pakai karcis nama dan yang datang mengundang sering juga Poan Louw Sam sendiri. Pertemuan biasa terjadi di rumah makan atau di rumah lain dari Poan Louw Sam.

Cie Sie long seorang yang berusia enam puluh lebih, hidupnya mewah, apa pula dia ber kenalan baik dengan seorang ongya atau raja muda, tidak heran bila Louw Sam si Teromok selalu berdampingan pada sielong ini Buat Louw Sam adalah sangat berfaedah akan tempel orang berpangkat dan berpengaruh, disatu pihak mudah buat keperluan apa2, dilain pihak dengan sendirinya dia turut dapat pengaruh.

„Diluaran orang bilang, kau berniat ikut Cie Sielong." kata Bouw Pek yang berlaku terus terang.

Ditanya begitu, Matanya si nona menjali merah.

„Sama sekali aku tidak pernah pikir buat ikut Cie Sie long" katanya. „Disebelah itu, Cie Sielong sendiri sudah punya dua gundik dan dia tidak inginkan gundik ketiga. Adalah Poan Louw Sam punya bisa, yang hendak gunai diriku buat bisa rapati sielong itu, agar dia bisa membalas budi. "

Mendengar perkataan si nona. Bouw Pek jadi benci Louw Sam.

„Kalau aku dapat ketika bertemu dia, aku mesti kasi hajaran padanya," pikirnya. Tidak terlalu lama dia pamitan dan pulang.

Dihari kelima sedari berangkatnya Tek Siauw Hong. hari itu hawa udara sangat panas. Lie Bouw Pek keluar dari kamarnya dan pergi berangin diluar, dengan gelar tikar dia rebahkan diri, dengan kipas mengkipasi tubuhnya.

Pelataran didepan kamarnya Bouw Pek ini sangat sunyi. dia memang biasa berada dalam kesunyian, karena dia tidak punya kawan bi¬cara, sedang hweeshio2 disitu pun jarang suka pasang omong dengannya. Ada juga ka¬wannya ialah patung Buddha tua dipendopo serta peti mati di kedua samping pendopo itu ........

Rebah telentang, Bouw Pek memandang langit dimana sang awan yang putih terbang melayang layang Disini dia merasai juga hawa sejuk, maka lama lama matanya ngantuk. Ada lah disaat dia layap2 hendak pulas, kupingnya dengar suara ramai dari banyak tin¬dakan kaki, yang mendatangi kejurusan kamarnya itu. Karena itu, dengan buka kedua matanya dia memandang kejurusan dari mana suara itu datang.

tiga orang kelihatan sedang mendatangi, satu diantaranya seorang jang usianya kurang lebih tiga puluh tahun bajunya putih, tangan nya mencekal kipas, tubuhmu tidak tinggi, mukanya yang kurus berkulit hitam, matanya ber

cahaya. dia kelihatannya bersemangat.

Bouw Pek lantas ingat siapa dia itu. Dia adalah Siu Bie to Oey Kie Pok, yang kata nya sangat ternama didalam kota Pakkhia ini.

Tentu sekali dia heran atas kedatangan orang ini, dia segera berbangkit.

„Cari siapa, heh ?" dia tanya seraya kancingkan baju pendeknya.

Siu Bie to datang bersama dua pengikutnya, dia menghampirkan.

“Tuan, apakah kau Lie Bouw Pek Lie ya?" dia tanya sembari bersenyum.

,Benar, aku Lie Bouw Pek," sahut anak muda kita, yang balas hormat orang. dia menduga duga, tamu ini datang dengan maksud baik atau sebaliknya.

Kembali Oey Kie Pok unjuk hormatnya dengan rangkap kedua tangannya.

„Sudah lama aku telah dengar nama kau, Lie ya !" kata dia dengan manis. Tapi dia pandang anak muda kita dari atas kebawah. „Aku Kim Long Cay," dia kemudian perkenalkan diri.

Didalam hatinya Bouw Pek tertawa, kenapa orang mesti membohong dengan pakai nama lain ?

Tamu itu rupanya tidak duga, atau tidak perduli apa yang orang pikir tentang dirinya, rupanya dia tidak kenal baik namanya. Dia bicara terus.

„Aku gemar ilmu silat, maka itu terhadap orang2 gagah dari kalangan Sungai Telaga aku sangat menaruh harga,”  demikian dia kata pula. „Begitulah, dengan maksud serupa, sekarang aku telah datang berkunjung kemari. Selama ini, Lie ya, kau bersobat rapat dan bergaul kekal dengan Tek Siauw Hong, hingga lantaran itu Siauw Hong telah anggap dirinya menjadi enghiong nomer satu di Pakkhia. Lain dari itu, tuan aku juga telah dengar yang di Seeho shia kau telah rubuhkan Sey Lu Pou Gui Hong Siang dan di Lam hwee wa sudah lukai Hoa chio Phang Liong, serta kau telah sesumbar hendak takluki Sie Bie to Oey Kie Pok, Ginchio Ciang kun Khu Kong Ciauw dan Kim too Phang-Bouw ! Apakah ini benar?"

Beda daripada mula2 diwaktu menanya, Oey Kie Pok telah unjuk senyuman tawar, sikapnya sungguh2 sekali.

Sampai disitu Lie Bouw Pek lantas duga yang orang datang dengan maksud tidak baik terbukti dugaan sikapnya yang demikian aneh dan dengan tukar nama juga. Oleh karena dia tidak takut, dia lalu angkat dada .

“Benar," dia akui "benar semua ucapan itu aku telah keluarkan ! yang lain lain aku tidak pikir, kecuali Siu Bie to Oey Kie Pok. Dia ini, mengandalkan pengaruh uangnya, sudah bawa tingkah seperti juga satu pa ong, satu raja jagoan, hingga tingkahnya itu aku tidak bisa lihat ! Tunggulah sampai nanti hawa udara sudah berobah menjadi sedikit sejuk, pasti aku nanti cari padanya, buat kita coba? !”

Oey Kie Pok dengar ucapan itu, dengan air muka berobah menjadi merah, karena berdepan orang telah damprat dia.

“Tidak usah, tuan, tidak usah kau cari Oey Kie Pok,” dia lalu bilang. Oey Su ya itu sebenarnya seorang baik2, yang hati nya murah dan suka mengamal ! dia tentu sekali sebagai orang baik baik tidak nanti mau pie-bu dengan orang tidak ternama dari kalang¬an Sungai Telaga ! Aku sobatnya, sebagai so¬batnya. aku tidak bisa lihat yang orang pan¬dang enteng padanya, aku tentu tidak mau mengerti. Tapi, sobat, kau sobatnya Tek Siauw Hong. karena itu kita juga tidak boleh tidak me¬mandang persobatan. Maka itu sekarang aku datang melulu dengan maksud buat ,main2, buat minta pengajaran dari kau ! Jikalau kau bisa menangkan aku, tuan, sudah pasti sekali juga Siu Bie to Oey Kie Pok akan pandang hormat pada kau . . .!"

Bouw Pek bersenyum dingin.

„Nyatalah Oey Kie Pok ini seorang yang licin." Pikirnya “Ia mau piebu padaku, tetapi dia tidak mau perkenalkan diri, dia lebih suka memakai nama palsu. Tapi ini lebih baik lagi, aku jadi tidak usah berlaku sungkan lagi. sebentar sesudah coba coba. baru kita bicara pula bagaimana baiknya

Karena dia berpikir demikian, dia lantas menjawab:

„Baiklah, tuan Kim, aku bersedia akan iringi kehendak kau

!!”

Oey Kie Pok manggut, kelihatannya dia puas sekali, dengan

tidak kata apa apa lagi dia buka baju luarnya yang panjang dan gerombongan, bersama sama kipasnya dia serahkan baju itu pada dua pengikutnya. dia ternyata sudah siap dengan pakaian yang ringkas, hingga tinggal gulung tangan bajunya saja.

„Saudara Lie, silahkan maju !” dia menan¬tang setelah dia maju beberapa tindak dan pasang kuda kudanya.

Memandang gerakan2 orang, Bouw Pek duga Siu Bie to mesti punya kepandaian yang berarti, tetapi dia tidak takut, setelah gulung tangan bajunya diapun lantas maju menghampirkan, Dengan benar benar tidak sungkan sungkan lagi dia kirim jotosannya. Sudah tentu dia mengancam untuk mencoba coba dulu, akan cari tahu, pelajaran Oey Kie Pok dari golongan mana.

Begitu tonjokan sampai, Oey Kie Pok berkelit kekiri, dari  sini dia maju pula dengan cepat, kedua tangannya diangkat dan dibuka buat ganjal iga si anak muda iga yang ter¬buka karena tonjokan maju kedepan !

Segera juga Lie Bouw Pek lihat gerakan Patwa tiang itu, dia lantas tahu bagaimana mesti melayani. Dengan enjotan kaki kanan dan kaki kiri terangkat naik dia perlihatkan kepandaiannya lompat tinggi yang luar biasa, karena tubuhnya sudah mencelat keatas, melewati kepalanya si orang she Oey siapa ber bareng pun mendek, bahna kegetnya menam¬pak gerakan istimewa dari lawan itu ! Tapi Kie Pok bisa menduga niatan musuh, maka di satu pihak menarik pulang kedua tangannya di pihak lain dia lekas balik badan. dia ternyata  bisa berlaku sebat, tapi baru saja dia putar tubuhnya, atau kepalan Lie Bouw Pek sudan menyambarnya. Sebab anak muda itu, setelah turun menginjak tanah, sudah lantas balikkan badan terus menyerang punggung orang.

Menangkis tangan kiri lawan, Oey Kie Pok bikin gerakan menggaet, buat betot lengan musuh. Tenaganya besar sekali, cekalannya keras, hingga Bouw Pek merasa lengannya itu seperti gemetar. Tapi dia tidak takut, dengan tidak gubris gaetan musuh itu, dia pasang kuda kudanya. dia tidak berkelit atau menyerang, dia hanya kasi dirinya dibetot !.

Siu Bie to diam diam terkejut mengetahui kuda kuda orang yang tangguh, karena kendati dia telah keluarkan antero tenaga nya dia tak mampu bikin bergeming tubuh lawan itu, yang tadinya dia hendak betot supaya rubuh ngusruk ! Tapi dia tidak mau adu tenaga, mengetahui musuh tangguh, lekas lekas dia angkat kaki kanannya akan dupak perut orang !

Bouw Pek unjuk kesebatannya, dengan satu gerakan memutar lengan dia bikin lengannya telepas dari gaetan musuh. berbareng dengan itu dia gerakkan kedua kakinya, lompat kesamping. Tapi setelah lolos dari gaetan dan bebas dari dupakan. dia balas menyerang. Cepat luar biasa dia maju dan tonjok da¬da lawan itu tidak berdaya sama sekali !

Berbareng dengan suara keras: “Duk !" dari samping ada orang menjerit dengan lidah Shoasay yang nyata sekali: “ Bagus !"

Oey Kie Pok rasai kepalanya pusing, tubuh nya menjadi limbung, dia tentu sudah rubuh jikalau dua pengikutnya tidak lekas lompat menubruk. Dia meringis, bahna menahan sakit pada dadanya, mukanya menjadi pucat se¬perti kertas Kendati demikian dia masih bisa melirik kesamping, buat lihat orang yang memuji bagus itu, yang bicara dengan lidah Shoasay. Orang Shoasay itu punya tubuh tidak ting¬gi, akan tetapi mukanya bundar dan montok atau tembem, bajunya yang putih d sambung dengan kun putih juga Dari dandanan dan romannya terang dia seorang pedagang kecil. tapi entah kapan masuknya sampai dia mendadak berada didalam bio  itu.

„Sobat, bukankah kau menyerah kalah ?'' tanya Bouw Pek sambil tertawa, dengan sengaja unjuk sikap jumawa.

Mukanya Oey Kie Pok menjadi merah, bahna malu dan gusar.

„Ya, aku kalah !" kata dia dengan sengit. „Tapi Siu Bie to Oey Kie Pok tidak nanti mau menyerah, segera dia akan datang buat cari kau. !”

Mendengar demikian, Lie Bouw Pek tertawa berkakakan.

„Oey Kie Pok terlalu menghina !" dia kata dengan keras. “Apakah kau sangka aku tidak kenal kau, kau Oey Kie Pok sendiri !"

Bukan main malunya Sie Bie to. yang rahasianya di beber di hadapannya sendiri, dia hampir tidak punya tempat akan taruh mukanya itu ! Maka akhirnya dia menghela napas, ia diam  saja waktu dua pengikutnya pepayang dia buat diajak keluar, akan berlalu dari gereja itu.

Sekarang si gemuk si orang Shoasay, hampirkan Lie Bouw Pek, tangannya diangkatnya , jempolnya diacungkan.

„Lie Toaya, aku kagum betul!" kata dia sambil tersenyum.

„Kemarin ini kau telah lukai Hoa-chio Phang Liong, sekarang kau rubuhkan Siu Bie to Ui Kie Pok. maka di kota Pakkhia ini. apabila orang bicara tentang ilmu silat, nama kau mestinya ditaruh di tingkatan paling atas !"

“Tetapi kepandaianku tidak berarti." kata Bouw Pek, yang tapinya tertawa dengan puas. “Orang yang berkepandaian sejati tidak nanti berani buka mulut besar. Siu Bie to namanya saja besar dia hanya beranggapan, bahwa dikolong langit tidak ada orang lain yang bisa rendengi padanya, dia tidak tahu. orang pandai bukanlah dia sendiri saja. Maka orang seperti dia satu kali mesti diajar adat. supaya tahu rasa !" Lantas dia tunjuk tikarnya. ..Tuan, silahkan duduk ! Mari kita pasang omong !"

ORANG Shoasay ini, yang kate dan gemuk, sebenarnya adalah pengusaha sebuah warung arak diluar Siosiang Hootong sebelah utara, karena lidahnya masih saja lidah Shoasay Selatan, bisa dimengerti yang dia belum lama berdiam di Pakkhia. Warung araknya yang berupa satu ruangan, diurus oleh dia sendiri serta satu pengawasnya. Beberapa kali Lie Bouw Pek telah pergi kewarung araknya akan minum dan beli kue, atau di situ dia sekalian dahar, maka itu dia kenal pemilik warung itu, siapa ternyata seorang yang pandai omong hingga dia bisa dijadikan teman kong- kouw.

Tidak tahu bagaimana jalannya, tukang warung ini telah mendapat tahu yang di Lam hwee wa si orang muda sudah kasi hajaran pada Hoa chio Phang Liong, dengan sendirinya timbullah perasaan suka pada pemuda ini. yang dibuat kagum, yang dia hargakan.

“Tadi aku lihat Siu Bie to Oey Kie Pok naik kereta datang kegereja ini, aku lantas duga dia tentu mau cari Lie Toaya buat adu silat” kata tukang warung ini, „karena ingin menonton aku lantas tinggalkan warungku dengan tidak keburu saling pakaian lagi aku tadinya pikir sebab Siu Bie to salah satu orang yang tersohor di Pakkhia, buat rubuhkan dia toaya mestinya akan gunai banyak tenaga dan tempo, maka ha ha ha ! ada lah diluar dugaanku, baru dua tiga gebrakan saja dia sudah mesti rasai kepalan toaya, sampai hampir rubuh akan berkenalan dengan tanah Lie Toaya, kau begini pandai, kau sebenarnya belajar pada guru silat yang mana sih

!"

„Aku tidak punya guru," Bouw Pek tertawa. „ketika aku tinggal dikampungku, di sana aku yakinkan silat dengan membuta beberapa tahun .........Tapi tuan," dia sambungi,

„kita berdua sering bertemu dan sering duduk bicara, tapi sampai sebegitu jauh aku masih belum ketahui she dan namamu! Tuan kau sebenarnya siapa ?”. “Terima kasih buat perhatian kau toaya!" tukang arak itu tertawa. „Sheku Su. Aku punya nama, tetapi karena sudah banyak ta¬hun orang tidak pernah panggil aku dengan namaku itu, aku sendiri sampai lupa ! Umum nya orang panggil aku Su Toa atau Su Poan cu, si Gemuk "

„Su Ciangkui," kata Bouw Pek kemudian, „aku lihat silat kau juga tidak bisa dicela, bukankah ?”'

Ditanya begitu tukang warung ini unjuk roman kaget atau heran.

„Toaya. apa kau bilang ?” dia tegasi. „Perdaganganku ? Ya, boleh dibilang tidak bisa dicela ! Langganan cukup banyak ! Dari arak aku tidak bisa tarik keuntungan besar ! Dari sayuran, Ya, boleh juga ! Tapi kami cuma berdua, aku dan orang tuaku, untuk hidup kami berdua bisa dibilang cukupan ! ”

Bouw Pek tertawa.

„Apa yang aku bilang, Su Ciangkun, bukan hal-nya perdaganganmu” dia jelaskan. „Aku maksudkan ilmu silatmu permainan totok, tumbak, kepalan dan kaki ! Bukankah kau punya kepandaian yang sempurna ?”

Tukang warung itu tertawa.

„Toaja, janganlah kau angkat angkat aku !" dia kata.

„Tubuhku begini gemuk, buat jalan saja aku hampir tidak  kuat, bagaimana aku masih punya kemampuan gerakkan golok dan kepalan ? yang benar adalah, bahwa aku paling kagumi kepandaian orang lain, malah segala tukang jual silat, sampaipun wayang, aku paling suka nonton !”

„Bagaimana kau bisa kenal Siu Bie-to ?" tanya Bouw Pek, yang lalu tukar pembicaraannya.

„Sebenarnya aku tinggal di Pakkhia ini sudah hampir dua tahun," Su Poan cu aku, „maka itu jangan toaya heran, jikalau aku kenal atau ketahui banyak orang, apa pula Siu Bie to. Toaya sendiri duga niscaya telah dengar namanya Siu Oey Su, jalan Siu Bie to Oey Kie Pok di kota timur laut dan Poan Louw Sam si Terokmok di kota selatan Mereka itu dua malaikat uang Pakkhia. Poan-Louw Sam buka beberapa kantor tempat tukar uang, dia kenal banyak orang mewah, meskipun begitu nama besarnya masih kalah dari Oey Kie Pok. Umpamanya saja Oey Kie Pok pun terkenal dalam hal bugee, dalam hal mengamal, dalam hal memperbaiki rumah-berhala, Poan Louw Sam kalah jauh !"

Di-sebutanya nama Poan Louw Sam membikin Bouw Pek jadi kumat kebenciannya terhadap si Terokmok itu.

„Sekarang aku telah rubuhkan Oey Kie Pok, lain kali mesti datang gilirannya Poan Louw Sam buat diajar adat ! dia berpikir.

.Mereka itu tidak boleh di antap berpengaruh dengan uangnya, mereka mesti dikasi mengerti, agar mereka jangan tidak pandang mata pada semua orang !"

Kendati dia pikir demikian anak muda ini kata pada si Gemuk :

„Menurut pemandanganku, karena Oey Kie Pok dan Poan Lauw Sam barharta besar dan berpengaruh, perbuatan mereka se-hari2 tentunya busuk ?"

„Itulah ada benarnya", Su Poan-cu jawab. „Diantara mereka, Oey Kie Pok masih mendingan, kendati karena uangnya dia suka menghina sesamanya, dia masih kenal persobatan dan masih suka mengamal. Sampaipun nona2 dari Han kee thoa, di Cio tauw Hoo tong kendati mereka benci sebut namanya Poan Louw Sam, mereka tidak berani banyak omong. Sekarang ini baik orang berpangkat maupun orang berharta, kalau dia mau ambil nona2 manis buat jadi istri atau gundiknya, tidak perduli si nona sendiri setujui, lebih dulu dia mesti cari tahu si nona yang tersangkut itu punya perhubungan dengan Poan Louw Sam atau tidak, asal yang Poan Louw Sam kenal, siapa juga lantas tidak berani ambil."

Bouw Pek awaskan sobat ini, ucapan siapa bikin dia heran dan berbareng kurang percaya. dia memang tidak boleh sembarangan dengar omongan orang.

Su Poan cu tidak perdulikan apa yang orang pikir, dia kata pula;

“Sekarang ini. Lie Toaya oleh karena kau telah rubuhkan Oey Kie Pok, selanjutnya kau harus berlaku hati hati. kau mesti ber¬siaga, kalau kalau dia gunai satu atau lain daya untuk balas sakit hati nya ini !. "

„Aku tidak takut !" kata Lie Bouw Pek. sambil goyang kepala dengan tersenyum ewah „Aku sebatangkara, paling banyak juga mereka bisa bikin aku tidak mampu tancap kaki lebih lama disini ! Andaikata kejadian mereka main tipu usir aku, disaat aku hendak angkat kaki aku mesti lakukan suatu apa yang mengejutkan, supaya segolongannya bisa lihat !”

Tadinya Su Poan cu hendak berkata kata pula, tetapi ia lihat seorang hweeshio lagi mendatangi, dia lantas saja terbangkit.

„Baiklah, toaya, sarnpai kita bertemu pula !" katanya. Bouw Pek pun berbangkit.

“Baiklah sampai bertemu pula " dia kata Maaf, aku tidak antar kau."

Seberlalunya si Gemuk, si hweeshio yang telah datang dekat telah menjura pada Bouw Pek, gerak gerakannya mirip sebagai dia sedang unjuk hormatnya pada Budha.

„Kabarnya Oey Su ya tadi datang kemari," berkata dia. Oey Su ya seorang dermawan yang gemar menderma dan mengamal, sebagai mana belakangan ini dia sudah perbaiki Tay Cu Sie dan Tiauw In Am. Kau kenal Oey Su ya. Lie Looya kami mau minta pertolongan kau. Sukalah kau omong pada Oey Su ya, supaya ia suka menderma atau memperbaiki gereja kami ini. Umpama kata Oey Su ya suka menulis beberapa ratus tail perak dalam buku urunan kami, lantas dengan leluasa kami bisa bawa buku urunan itu untuk memungut derma di tempat2 lain."

Paderi ini lantas unjuk bagian mana yang perlu diperbaiki, bagian mana yang mesti di cat lagi, omongannya manis dan menghormat.

Bouw Pek tertawa didalam hatinya.

“Kasihan paderi tolol ini," dia pikir. „Baru saja aku hajar Oey Kie Pok atau dia seka¬rang suruh aku pergi pada cabang atas itu buat mintakan derma, apa ini tidak lucu ! Mana aku bisa pergi dan Oey Kie Pok sudi ladeni aku ?" Tapi dia tidak mau bikin paderi itu kecele.

„Baiklah," dia menyahut. „lain kali, pelahan lahan, aku nanti bicara dengan hartawan she Oey itu. Hari ini pertemuanku yang pertama, aku tidak boleh sembarangan buka mulut terhadap dia."

„Baiklah, toaya, aku harap betul peranta¬raan kau. buat itu terlebih dulu aku hatur¬kan beribu ribu terima kasih," berkata paderi. itu, yang lantas saja permisi undurkan diri.

Lie Bouw Pek duduk lagi sendirian saja. dia menghela napas.

„Benar2 dunia aneh," pikirnya. „Siapa nyana, bahwa antara orang2 suci juga ada mereka yang perlu membaiki orang hartawan ? Oey Kie Pok dan Poan Louw Sam orang biasa saja mereka tidak punya kepandaian, mereka bukannya orang2 bangsawan, melulu kerena uangnya, mereka lantas bisa bawa lagak seperti orang2 agung, apa ini tidak ganjil ? Sebaliknya aku. aku punya kepandaian, silat dan surat, kenapakah buat jadi juru tulis saja aku masih tidak mampu ? Bukankah andaikata aku tidak dapatkan Tek Siauw Hong yang mula sebagai kenalan, sekarang ini aku akan sudah menjadi pengemis, atau sedikit nya aku sudah kekurangan makan dan pakaian tidak keruan?"

Memikir demikian Bouw Pek jadi uring uringan, dia mendongkol. dia berbangku buat masuk kedalam kamarnya, dia ambil pedang nya, apabila sudah keluar pula, dengan pedangnya itu dia lantas bersilat, begitu lama, sampai dia keluar keringat. Kemudian, dengan mata menyala, dia awasi pedangnya yang tajam itu.

Pikiran anak muda ini jadi tidak tente¬ram, beberapa kali dia menghela napas, dia letakkan pedangnya diatas tikar, dia lalu jalan mondar mandir akan kendalikan napasnya. Coba dia tidak mampu kendalikan diri, barang kali dia sudah pergi kesuatu tempat dan terbitkan onar !

Memungut pedangnya, Bouw Pek pergi ke dalam kamarnya akan taruh senjata itu, setelah pakai baju luar dia bertindak kewarung arak dari Su Poan cu. Disitu ada dua buah media serta empat bangku panjang, disitu sudah ada delapan orang, yang sedang duduk sambil pasang omong.

Melihat kursi meja sudah penuh, anak muda kita niat berlalu lagi. Tapi Su Poan cu, dengan pakaiannya yang biasa, telah lihat dia, tukang arak ini segera juga berteriak memanggil, katanya :

„Lie Toaya, mari ! mari, Lie Toaya, disini ada tempat untuk kau!"

„Kalau tidak ada tempat sebentar saja aku datang lagi !' Bouw Pek kata sambil tertawa.

„Ada, toaya, ada tempat !" Su Poan cu kata pula seraya menghampirkan.

Lie Bouw Pek tidak jadi berlalu, dia terima tawaran itu. Nyata dia telah dibawa ma¬suk ketempatnya tuan rumah sendiri, dimana ada satu bangku kecil.

„Apakah toaya suka duduk disini ?” si Gemuk tanya.

„Dengan aku duduk disini, sama juga aku gantikan kau jadi tukang warung !” Bouw Pek kata sambil tertawa.

„Itulah tidak ada halangannya toaya !” Su Poan cu juga tertawa. Malah kalau benar kau menggantikan aku. tidak bisa ti¬dak, warungku ini mesti dirombak dibikin menjadi sembilan ruangannya dan besar pintunya!”

Karena gemuknya, selagi tertawa, dagingnya Su Poan cu pada bergerak gerak.

Pembicaraan mereka membikin tamu2 lain, pada menoleh, rupanya rupanya mereka ada yang mengenali pemuda kita, mereka lantas saja bicara sambil berbisik.

Su Poan cu tidak perdulikan sikapnya sekalian tamu itu, dia terus bawa caranya sendiri. dia layani Lie Bouw Pek sebagai juga pemuda ini tamu agung : dia tolong bukakan baju luarnya, dia ambilkan kipas, kemudian dengan lekas dia sedukan arak dan beberapa rupa sayuran sebagai temannya. ia juga layani isikan cawannya.

Bouw Pek merasa tidak enak diperlakukan dengan hormat dan telaten begitu. „Sudah, Su Ciangkui, kau tidak usah layani aku," dia berkata. „Sebentar tolong kau suruh pegawaimu pergi kesebelah buat belikan aku kue."

“Baiklah, toaya," sahut tuan rumah itu.

Bouw Pek lantas irup araknya pelahan2 cawannya dia isikan pula. Iapun duduk sambil kipasi diri. Ketika dia telah tenggak habis satu poci, dia rasai mukanya panas, karena kuatir jadi sinting, dia lantas tidak minum pula.

Sebentar kemudian beberapa tamu telah berlalu, dengan begitu Su Poan cu tidak Ingin repot seperti tadi dia bisa pasang omong dengan pemuda kita,

„Lie Toaya kau dengar kabar atau tidak?" katanya, agaknya dia anggap pembicaraannya penting sekali. „Di Cay sie kauw ada sebuah toko cita merk Po lek, tuan tokonya tadi telah binasa karena telan candu !”

Bouw Pek tahu toko itu, yang terpisah tak seberapa jauh dari warungnya Su Poan cu.

„Bukankah perdagangannya toko itu maju?" ia tanya.

,.Ya, kelihatannya maju !" si Gemuk jawab „Sebenarnya, sudah sekian lama toko itu menghadap kesukaran, hingga hasilnya tidak bisa dipakai menutup bunga saja ia telah pakai ongkos besar, untuk itu dia telah pinjam uang sampai beberapa ribu tail perak dan sumber uangnya adalah toko chiancung kepunyaan Poan Louw Sam."

Bouw Pek menjadi luar biasa tertarik, karena namanya Louw Sam si terokmok disebut sebut.

“Kabarnya bunganya pinjaman besar sekali" Su Poan cu omong lebih jauh.

“Pokok dan bunga sekarang telah berjumlah mendekati sepuluh ribu. Sudah dua hari lamanya Poan Louw Sam mendesak supaya hutang2 itu dibayar. Bunga sudah dibayar betul, tetapi Louw Sam masih tidak mau mengerti, dia ingin dibayar pokoknya sekalian Kabarnya belakangan tuan toko sudah lunaskan separuh dari hutangnya, tetapi Louw Sam tetap tidak mau mengerti, kabarnya dia sudah mengancam mau bikin dakwaan pada pembesar negeri dan mau tutup toko itu, dengan si tuan toko sendiri mau ditangkap untuk di tahan. Inilah rupanya yang menjadikan sebab tuan toko jadi mendongkol malu dan takut dengan berbareng sampai akhirnya dia nekat. Tadi sehabis bersantap tengah hari dia masuk ke dalam kamarnya, katanya buat tidur tidak tahunya dia tidur untuk se lama2nya. Entah kapan dia sudah telan candu yang menewaskan jiwanya.
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Po Kiam Kim Tjee Jilid 08"

Post a Comment

close