Po Kiam Kim Tjee Jilid 06

Mode Malam
JILID 6

KEMUDIAN dia ajar kenal kawannya seorang berumur kurang lebih tiga-puluh tahun, tubuhnya gemuk dan besar. dia kata :

„Ini Yo Jieko, seorang yang terkenal buat kota Pakkhia, namanya Yo Cun Jie. Kau boleh panggil saja Poan-siauw-cu."

„Poan-siauw-cu" berarti si Gemuk Kecil.

Bouw Pek memberi hormat pada orang she Yo itu, yang pun unjuk hormat padanya.

Tek Siauw Hong kata pada sobatnya, seraya tunjuk anak muda kita :

„Yo Jieko, ini saudara Lie Bouw Pek, yang tadi aku tuturkan pada dapat salah dari dia, hati-hati, dia hiapkek jaman se¬karang, maka kau mesti jaga jangan sampai dapat salah dari dia, hati-hati, dia nanti hajar kau !"

Yo Cun Jie tertawa karena sobatnya yang doyan membanyol itu.

„Saudara," kata Tek Siauw Hong kemudian, „yang mana sobat kau, mari ajak aku pergi menemui dia !" Bouw Pek jengah hingga mukanya jadi merah sekali.

„Tidak, tidak, aku tidak punya," kata dia dengan cepat

„Barusan sehabis bersantap aku keluar jalan tidak tahunya aku telah jalan sampai disini."

„Aku tidak percaya," Tek Siauw Hong' geleng kepala. „Mana bisa demikian kebetulan. jalan2 justeru sampai di gang Cio- tauw Hootong !" „Aku bicara dengan sebenarnya, Ngo-ya," Bouw Pek tetap menyangkal. „Aku pun tidak ketahui gang ini dipanggil Cio- tauw Hootong !"

„Cukup, saudaraku," kata pula kenalan baru ini. „Tapi sudahlah, sekarang hayo ikut aku keluar, disana kita nanti cari kenalan baik, ditempat siapa kita bisa duduk pa¬sang omong."

„Baiklah," sahut Bouw Pek, yang dengan „kenalan baik" menyangka sobat itu hendak pergi kerumah sobatnya.

Tek Siauw Hong lantas saja jalan duluan, dibelakangnya Yo Cun Jie jalan berendeng dengan anak muda kita. Mereka menuju keutara, sembari jalan mereka bicara pula. Karena mereka mengikuti dibelakang.

Jalan belum berapa jauh, mereka sampai didepan rumah pelesiran yang pelesiran yang pakai merk „In Hian Pan, yang berarti „Awan Wangi." Melihat begitu, anak muda kila lalu merandek. Kedua kereta pun segera berhenti didepan rumah itu.

Tek Siauw Hong bertindak masuk secara agung.

„Silahkan, saudara Lie," kata Yo Cun Jie pada kenalan baru itu.

Mau atau tidak, Bouw Pek mesti iringi dua sobat baru itu, kalau tidak dia tentu akan dapat pandangan jelek. Ketika bertindak, tindakannya dia rasakan berat, hati nya pun kusut dan berdebaran.

Ruangan didalam terang sekali. Pekarangan bersih, banyak rupa pohon kembangnya. Beberapa orang kelihatan mundar- mandir, lelaki dan perempuan. Suara tertawa yang ramai terdengar dari beberapa kamar, agaknya semua orang itu sedang sangat bergembira. Juga kelihatan beberapa bunga raya, dengan pakaian rebo dan dandanan mentereng, sedang antar keluar tamunya yang mau pulang, mereka itu bicara satu sama lain secara manis sekali.

„Oh, Tek Ngo Looya dan Yo JieLooya datang!" berseru seorang pelayan, apabila dapat lihat dua orang itu. dia menghampirkan buat unjuk hormat. Kemudian : „Silahkan jiewie masuk !" dengan dia jadi pengunjuk jalan.

Dari sebuah kamar sebelah barat, dengan singkap kere, muncul seorang nyonya.

„Ngo Looya, Yo Jie Looya, silahkan masuk!" dia mengundang dengan hormat dan manis.

Tek Siauw Hong bertindak masuk dengan diturut oleh dua kawannya.

Baru saja mereka bertindak masuk, seorang nona sudah lantas menyambut, tetapi ketika dia ini buka mulutnya, suaranya pelahan sekali dan separoh menyesalkan dia kata:

„Oh, Ngo Looya, kemana saja kau pergi, maka dalam beberapa hari ini kami ti¬dak pernah lihat kau ! Hari ini angin apa sudah tiup kau sampai kemari ?"

Si nyonya pun menyambungi berkata :

„Dengan sebenarnya, sudah enam atau tujuh hari Ngo Looya tidak pernah datang kemari ! Looya tahu, nona kita setiap hari harap2 kau !"

Nyonya itu bicara sambil tertawa. „Kau mana tahu !" berkata Yo Cun Jie, yang dului sobatnya. „Kau punya Ngo Looya telah diangkat jadi Wat Haytoo, dia sedang repot bersiap buat lakukan perjalanannya memangku jabatannya itu

! dia mana punya kelebihan tempo buat datang kemari " Nyonya dan nona itu agaknya terperanjat, bahna girang.

„Kalau begitu, kami mesti memberi selamat pada Ngo Looya!" mereka bilang.

„Jangan kau percaya segala obrolan!" Tek Siauw Hong kata sambil tertawa „Ini si gemuk memang doyan ngaco-belo! Sebenarnya aku telah pergi ke See-ho buat urus tanahku dan baru kemarin aku pulang!"

Cun Jie sudah duduk dikursi sembari tertawa dia memperlihatkan perutnya yang gendut.

Bouw Pek mengawasi kesekitarnya. dia te¬lah masuk ketempat sangat asing. dia lihat segala apa indah dan mentereng, malah ditembok ada beberapa pasang lian, antaranya ada yang ditanda tangani oleh "Bie Hie".

„Tentulah itu namanya sobat perempuan dari Tek Siauw Hong ini," pikir ia. Maka dia segera awasi sinona itu, yang ternyata beda sekali dari namanya.

Dipandangan mata anak muda kita, bu¬kan saja Bie Hie tidak cantik, sebaliknya dia punya roman yang menyebalkan. dia berusia duapuluhlima atau enam, sepasang matanya kecil, hidungnya pesek, tetapi mukanya medok, yancienya merah sekali, apapula yang dibibir. Rambutnya, yang dikonde sebagai "konde mega", seperti ditabur barang2 perhiasan dari mutiara dan batu rupa2. dia pakai baju merah dengan tangan gerombongan, pinggirannya disulam, celananya hijau. Sepatunya juga disulam berwarna dadu. Sepasang kakinya kecil sekali. Sambil bawa huncwee, si nona menghampirkan.

,Siapakah tuan ini?" dia tanya sambil bersenyum, seraya tunjuk pemuda kita. „Aku orang she Lie." Bouw Pek jawab.

„Oh, Lie Looya," kata si nona. dia mau sediakan huncwee, tetapi Bauw Pek menampik.

„Aku tidak isap huncwee," dia kata.

„Lie Looya ini seorang yang put-iet, jangan kau sembarang main2 sama dia." Tek Siauw Hong memberi tahu bunga berjiwa itu.

„Tentu saja kami tidak berani," kata si nona sambil tertawa.

„Lie Looya, harap kau memberi maaf padaku.” Tek Siauw Hong sambuti huncwee dari tangan sinona, dengan cepat dia mulai menyedot.

Cun jie bersenda-gurau sekian lama dengan Bie Hie,  sampai muncul nona sobatnya, Siauw Sian siapa menurut penglihatannya Bouw Pek cukup elok dan menarik. Nona ini bicara sebentaran, lantas dia ajak Cun Jie pergi kekamarnya sendiri.

Sehabis isap huncwee, Tek Siauw Hong minum teh, Bie Hie mengipasi.

„Saudara Bouw Pek, sekarang ini kau berdiam dimana?"

„Aku menumpang dihotel Goan Hong di Seeho-yan." „Baiklah, nanti aku mengunjungi !"

„Kau sendiri, toako, dimana letaknya gedung kau?"

„Seperti aku sudah terangkan, aku tinggal di Sam-tiauw Hootong di Su-pay-lauw. Tunggu lagi dua hari, aku nanti siap dirumahku, aku akan undang kau datang berkunjung, buat kita bersantap sama2!"

„Jangan repot2, toako. Akupun hen¬dak mengunjungi besok atau lusa."

„Terima kasih, saudara. Aku harap kau tidak belaku seejie, mari kita bergaul seperti sobat2 lama. Tunggu nanti sesudah kita bergaul rapat dan lama, kau akan ketahui aku sebenarnya orang macam apa! Aku bilang terus-terang, aku seorang jujur, aku paling gemar bersobat, aku tidak biasa berlaku seejie atau sungkan, inilah sebabnya kalau bicara aku sering menyebabkan orang kurang senang. Aku perlu terangkan ini pada kau, saudara, agar kau mendapat tahu, umpama lain waktu aku salah bicara, tolong kau memberi maaf padaku."

,,Aku juga biasa berlaku jujur dan terus-terang," Bouw Pek bilang : „Dikampungku aku melainkan tahu belajar surat, aku belum pernah melancong, hingga aku tak punya pengalaman dan pergaulan. De¬mikianlah hari ini aku telah datang ke Pakkhia dengan tidak punya satu sobat pun. Aku membilang terima kasih pada kau Ngo-ya, yang sudah suka bersobat dengan aku, selanjutnya aku mengharap betul segala pengunjukan kau."

„Apakah yang aku mesti unjukkan pada kau Saudara Lie?" orang Boan itu tertawa „Paling juga aku bisa ajarkan kau berjudi dan long-longse ! Tapi, kendati begini, jangan kau anggap aku sebagai se¬orang tak keruan! Aku berlaku begini melulu buat main2 saja, sebenarnya...” Perkataan ini berhenti setengah jalan, karena Yo Cun Jie telah balik lagi bersama Siauw Sian, kekasihnya.

Bie Hie sedari tadi diam saja sebab Tek Siauw Hong sedang bicara dengan tamu baru itu, tetapi sekarang, melihat ada kawan, dia lantas tegor Cun Jie dan sobatnya itu. Cun Jie dapat kenyataan Bouw Pek muda tetapi alim, dia anggap pemuda ini putranya hartawan maka dia ingin sekali baiki kenalan baru ini. Begitulah dia ajaki pemuda kita, akan "cari kenalan".

Bouw Pek hendak tampik "kebaikan" orang itu, tatkala Tek Siauw Hong usap2 kan tangan seraya terus berkata:

„Buat carikan kawan saudara Lie, jangan kau berlaku sembarangan ! Menurut penglihatanku, dibeberapa gang sebelah selatan ini semua nona2 adalah sisa2 atau sebangsa siluman melulu." Yo Cun Jie goyang2 kepalanya yang besar.

„Kau dengar atau tidak?" tanya dia pada Siauw Sian dan Bie Hie „Lihatlah Tek Ngoya bilang kau adalah segala siluman!."

Kedua nona itu pandang Tek Siauw Hong mereka mendongkol berbareng tersenyum, karena mereka tahu hartawan Boan itu pun sedang main . Tapi mereka kata:

„Ngo-ya, kenapa kau katakan bangsa siluman? Bukankah kami tidak biasanya ma¬kan manusia? Hajolah bilang!"

„Kau memang tidak gegares orang, tapi sudah terang kau paling pandai bikin orang lupa daratan," Tek Siauw Hong jawab sambil tertawa „Kau benar2 siluman atau bukan, itulah bukan soal tetapi yang sudah terang adalah Yo si Gemuk dan aku ada¬lah orang2 yang suka gegares siluman!"

Setelah kata begitu dia tertawa ber-gelak2 hingga Yo Cun Jie turut tertawa berkakakan, hingga kedua nona itu pun turut pentang bacotnya, sehingga mereka mesti gunai saputangan akan tutup mulutnya.

Tek Siauw Hong tidak gubris orang tertawa, dia tepok pundaknya Bouw Pek seraya menoleh pada Yo Cun Jie.

„Dengan sebenarnya," dia berkata pula. „pasangan buat saudara Lie ini pilihanku cuma satu, dan aku percaya dia pasti akan setuju!."

Cun Jie dan kedua nona berdiam, tetapi dengan berpikir men-duga2 siapa yang Siauw Hong maksudkan.

„Tek Ngo-ya, apakah kau pilih Yan Toh!" tanya Bie Hie akhirnya, dengan ro¬man yang menandakan jelus. „Ini bukannya orang dari tempat kau disini" Siauw Hong bilang, sambil goyang kepala.

„Aku bisa tebak !" berkata Cun Jie. „Bukankah kau maksudkan Siauw Bwee dari Hong Cun Kee.

„Siauw Bwee?" siorang Boan menjebikan bibir „Sekalipun aku tidak ketarik olehnya!"

„Siapa toh?" tanya Cun Jie, yang kewalahan setelah dia sebutkan beberapa nama lagi, yang semua tidak cocok.

Masih saja Tek Siauw Hong goyang kepala, sampai akhirnya, meskipun dia diam saja Lie Bouw Pek juga jadi ketarik hati, karena ingin tahu siapa pilihannya si orang Boan itu. dia tidak menanya, diam2 dia menunggui

Siauw Hong tetap belum mau mengatakan, dia tertawa ketika dia berkata :

„Buat sekarang, sekalipun saudara Lie, aku tidak akan memberitahukan ! Saudara Lie baru saja sampai, dia perlu mengaso, sedikitnya buat dua hari ! Nanti, selewatnya beberapa hari, apabila dia sudah dapat tempo senggang, aku nanti ajak dia pergi melihat" Lantas dia sedot pula hun-cwee- nya, ber- ulang2.

Yo Cun Jie tahu adat sobatnya dan dia tahu juga matanya sobat ini beda dari pada matanya orang kebanyakan, hingga See Sie bisa disamakan dengan Bu Yam, maka itu dia tidak mau menduga-duga lebih jauh, dia hanya berganda tertawa.

Lie Bouw Pek tahu bahwa orang tahan harga, dia juga tak ingin menunggu lagi, dia lalu nyatakan, bahwa dia ingin pergi.

„Sekarang baru jam delapan, kenapa begitu terburu?" Tek Siauw Hong ber¬kata. „Apa kau tidak bisa tunggu sebentar lagi saudara Lie, supaja kita bisa be¬rangkat sama-sama?"

Bouw Pek goyang kepalanya.

„Tidak bisa," dia jawab, „aku punya urusan."

Siauw Hong bisa menduga yang sobatnya ini benar-benar bukannya tukang mogor atau tidak biasanya keluar masuk rumah2 pelesiran, maka dia lalu kata : „Kalau kau mau pulang, saudara, baik¬lah. Nanti aku perintah keretaku antarkan kau."

„Tidak usah, terima kasih," Bouw Pek menampik. „Hotelku tak jauh dari sini, aku bisa pulang dengan jalan kaki"

Tapi Siauw Hong mencegah, dia perin¬tah orang panggil kusirnya.

„Kau antarkan Lie Siauwya ini pulang kehotel Goan Hong di Seeho-yan," dia memberi tahu tukang keretanya itu. Kemudi¬an, bersama-sama Yo Cun Jie dan ke¬dua nona manis, dia antar sobatnya sampai diluar.

„Sampai besok, saudara” kata orang Boan ini.

„Sampai besok !" sahut Bouw Pek, yang hatinya lega bukan main, karena dia sudah berada diluar kalangan pecombetan dia sudah lantas naik kereta menuju keutara.

Beberapa gang telah dilewati, semuanya ramai dengan kereta dan orang.

,Daerah ini tempat pelesirannya segala pemuda hartawan dan bangsawan, lain kali aku tidak boleh datang pula kemari," pikir anak muda kita. „Tek Siauw Hong mung¬kin undang aku pula pesiar ketempat macam begini, aku mesti bisa imbangi dia."

Berpikir lebih jauh, Bouw Pek jadi hilang kegembiraannya, maka dia girang juga kapan sebentar kemudian dia telah sampai di Seeho-yan, didepan hotelnya.

Begitu kereta berhenti, dia lompat turun. dia rogoh sakunya buat memberi persen pada kusir, tapi tukang kereta itu me¬nampik.

„Terima kasih, Siauwya, dia kata. dia tahu pemuda ini sobat baru dari majikannya, dia tak berani berlaku kurang ajar, biar dipaksa dia tidak mau terima persen.

Bouw Pek tidak memaksa, dia bertindak masuk kehotel. terus kekamarnya. dia nyala kan api dan duduk sebentar, tetapi karena nyamuk mengganggu, dia padamkan api buat naik keatas pembaringannya dan rebahkan diri. Selama belum pulas, dia berpikir, „Tek Siauw Hong adalah seorang yang boleh dijadikan sobat," demikian dia ber pikir. „Ia suka pergi kerumah pelesiran, kelihatannya itu melulu untuk senangi diri sementara waktu, la gelarkan Thie-ciang, si Tangan Besi, entah bagaimana dengan bugeenya. Tentang Yo Cun Jie rupanya satu gentong kosong, cuma dia tidak terlalu menyolok mata "  Lantas  dia ingat Bie Hie dan Siauw Sian, kedua  bunga raya.

„Mereka ini benar-benar mirip dengan iblis jejadian, seperti katanya Tek Siauw Hong," dia pikir lebih jauh. „Cuma, ka¬lau dipikir lebih dalam, mereka adalah orang-orang perempuan yang harus dikasihani. Pasti ada sebabnya kenapa mereka jadi sudi tuntut penghidupan yang hina dina itu, hingga untuk mendapatkan uang mereka sudi layani sembarang lelaki.

Adalah karena dia memikir banyak, sam¬pai tengah malam barulah Bouw Pek bisa pulas. Ketika esoknya pagi dia mendusin dia merasa kurang gembira. dia tidak punya pekerjaan atau urusan, dia juga tidak niat pergi kerumah pamannya, maka itu dia du¬duk seorang diri dalam kamarnya, hingga dia jadi masgul. Diwaktu tengah hari, hawa udara panas, anak muda ini jadi bertambah lesu, maka dia terus saja hampirkan pembaringan akan rebah kan diri. dia tidak punya kegembiraan buat pergi ke luar, umpama kata buat berangin saja.

Adalah diwaktu dia layap-layap, ketika dia dengar orang panggil namanya : „Bouw Pek !"

Itu adalah suaranya Siauw Hong, yang dia sudah kenal baik. dia segera turun dari pembaringan dan rapikan pakaiannya. Justru itu jongos datang menolak pintu kamar dan masuk.

„Lie Toaya, diluar ada Tek Toalooya mencari kau," kata jongos ini.

,,Ya, silahkan masuk," sahut Bouw Pek seraya pakai sepatunya.

Siauw Hong tidak berlaku seejie lagi tidak tunggu sampai diundang atau tuan rumah keluar menyambut, dia sudah bertin¬dak terus masuk kedalam kamar. dia pakai baju yang gerombongan, tangannya me¬ngipas-ngipas. dia sudah lantas memandang kesekitarnya dan dapat kenyataan sobatnya itu tidak punya banyak bekalan.

„Aku datang melulu buat ganggu tidurmu tengah hari !" katanya.

„Tidak, Ngoya” Bouw Pek lekas ber¬kata.  „Aku  tidak punya kerjaan, lantaran itu aku rebah2an. Silahkan minum !" dia samperi meja akan tuangkan teh.

„Jangan repot, saudara," Tiauw Hong mencegah. „Aku memang sengaja datang mengunjungi kau. Apa kau telah ketemu sanakmu ? Apa kau sudah dapat kabar apa2?"

Bouw Pek menghela napas.

„Buat omong terus-terang, aku belum peroleh harapan," dia menjawab. dia tutur¬kan tentang pertemuannya dengan paman¬nya.

“Kau jangan sibuk, saudara," Tek Siauw Hong membujuk.

„Sabar saja, pelahan2 kita akan kerja. Diwaktu senggang, aku nanti selalu kunjungi kau, atau kau datang cari aku. Kita akan lewatkan sang tempo dengan main catur atau nonton wayang atau kita pesiar ke-gang2. disini kita punya banyak tempat untuk melewatkan waktu, semuanya itu kau boleh pilih. Dengan jalan ini kita bisa bikin terbuka pikiran yang pepat. Kau harus ketahui, apabila orang tetap tungkuli kemasgulannya, biar dia punya tulang besi, kesehatannya bisa lekas terganggu!"

Bouw Pek berterima kasih pada sobat ini, ucapan siapa benar adanya. la telah rasakan sendiri, baru saja satu malaman dia sudah hilang kegembiraan hingga dia jadi sangat lesu. Kalau keadaannya terus demi¬kian, tak mustahil sang penyakit akan serang dia.

„Tidak, Ngo-ya, aku tidak akan masgul," berkata ia.

„Dengan sebenarnya, tidak ada alasan buat kau masgul saja," Siauw Hong bilang. Sekarang kau belum peroleh pekerjaan, kau masih bisa bersabar. Satu kuncu mesti bisa tahan hati dan menunggu waktu, ini adalah syaratnya bagi orang yang dibelakang hari bisa bekerja besar. Siapa belum men¬derita, dia tidak akan kenal artinya penghi¬dupan sejati. Tentang keuangan, jangan kau buat pikiran. Apa yang aku bisa pakai kau boleh pakai seperti kepunyaanmu sen¬diri ! Bukankah tidak lagi ada urusan yang harus diberatkan ?" Bouw Pek tertawa buat sikap orang yang polos itu.

„Toako, kau benar sekali"' berkata ia. „Aku sebenarnya tidak berduka"

„Loo-hiantee, kau jangan dustakan aku." Siauw Hong pun tertawa. „Apa yang sekarang berada dalam hatimu, itu telah terunjuk nyata oleh paras muka kau ! Apa kah kau kira aku tidak bisa pandang tam¬pangmu ?" Diam2 Bouw Pek mesti aku mata tajam sobat itu.

„Sekarang, saudara, hayo kau dandan !" Siauw Hong mendesak. „Mari kita pergi nonton wayang !" Bouw Pek menurut, dia pakai thungsha-nya.

Siauw Hong juga lantas pakai thungsha-nya yang dia bekal, maka setelah itu ber-sama2 mereka keluar dari hotel.

Kusir, bernama Hok Cu, yang menunggu dimuka hotel, mengasi hormat pada pe¬muda kita, yang dia perlakukan dengan hormat, yang mana menandakan dia tahu aturan dan manis-budi. Kedua sobat itu lantas naik kereta.

„Ke Yan Hie Tong !' Tek Siauw Hong memberi perintahnya pada Hok Cu

Kereta dijalankan menuju ketimur masuk ke Jioksie, gang Pasar Daging, maka sebentar kemudian mereka sudah sampai didepan Yan Hie Tong.

„Sudah sampai," kata Tek Siauw Hong, yang terus turun dari kereta, disusul oleh sobatnya. „Mari ikut aku, saudara Lie."

Orang Boan itu jalan didepan, masuk kedalam gedung komidi. Dipekarangan di¬muka pintu berjongkok beberapa orang yang berpakaian celana pendek warna abu2 dan hidung mereka ditutupi pie-yan, yang mereka sedot ber-ulang2. Kelihatannya me¬reka bangsa buaya darat dari Pakkhia. Tapi menampak Siauw Hong mereka semua ber¬bangkit, buat menegor sambil unjuk hormat.

„Oh, Tek Ngo-ya, apakah kau baik?"

Tek Siauw Hong tertawa pada mereka itu, tetapi dia tidak kata apa2, lalu ajak Bouw Pek jalan terus kedalam.

Segera juga terdengar suara tetabuhan : tambur, gembreng dan ouwkim.

Dengan langsung Siauw Hong naik dan masuk ke hie-lauw, pertunjukan nyata sedang mulai dan lelakon yang diambil adalah cerita „Hoat Bun Sie". Beberapa penjaga kursi atau penjual karcis sudah lantas sambut kedua tamu ini.

„Selama beberapa hari kau tidak pernah datang menonton, Tek Ngo-ya ?" mereka itu tanya sambil tertawa.

Siauw Hong tidak jawab pertanyaan itu, hanya pada salah seorang penjual karcis itu dia kata : „Tolong kau pergi kekeretaku ambilkan cui-hunku."

Perintah itu dijalankan dengan lantas.

„Kau she apa, tuan?" tanya penjual karcis pada Lie Bouw Pek.

„Ini saudaraku, Lie Jieya," Siauw Hong wakilkan sobatnya menjawab.

Tukang karcis itu lantas unjuk hormat-nya pada tamu baru ini.

,kAku nanti carikan tempat duduk untuk jiewie," kata dia kemudian, yang membuka jalan akan pimpin dua orang itu ke tie-cu, kelas istimewa.

Sesampai mereka ditie-cu, disana kelihatan belasan orang lain, yang semua dan¬dan dengan rapi. Menampak si orang Boan, semua penonton itu lantas saja berbang¬kit unjuk hormat, mereka menjura sambil tersenyum. Siauw Hong balas hormat dengan menjura dan tersenyum juga.

„Kelihatannya Tek Siauw Hong benar2 salah seorang ternama di Pakkhia" pikir Bouw Pek, sebagaimana orang telah harga kan orang Boan ini.

Penjual karcis telah sediakan sebuah meja untuk kedua tamunya. Meja itu tepat menghadapi muka panggung wayang, tempat yang paling terbuka. Maka melihat tempat itu Siauw Hong bersenyum puas. Bersama-sama Bouw Pek dia buka baju Luarnya dan berduduk. Penjual karcis suguhkan  teh pada mereka.

Tek Siauw Hong sudah lantas ngelepus dengan cui-hunnya sedang lain tangannya goyang2 kipasnya.

Pertunjukan lelakon „Hoat Bun Sie" sudah berakhir dan ditukar dengan „Peh Cui Thoa", yalah diwaktu Sip It Long dan Chee Bian Houw bertarung dengan seru, sedang tambur dan gembreng membikin kuping ketulian.

Tek Siauw Hong hendak ajak sobatnya bicara, niatan itu mesti dibatalkan. Di¬waktu demikian riuh, sukar buat orang bicara. Dipihak lain. Lie Bouw Pek juga sedang menonton dengan asyik, sebab pertunjukan itu menarik perhatiannya.

Adalah diwaktu itu. datang dua orang pada Tek Siauw Hong buat bicara. Mere¬ka bawa cuihun dan kipas. Mereka menonton sambil bicara, ketika pertunjukan sampai akhirnya, kedua mereka berlalu duluan.

Lelakon sekarang diganti dengan ,,Ie Ciu Hong", yang dipandangannya Bouw Pek kurang menarik, hingga dia jadi sebal.

„Saudara, apa dikampung mu ada wayang macam ini?" tanya Tek Siauw Hong sete¬lah dia sedot pula cuihun beberapa kali.

„Kami di Lamkiong tidak punya gedung bangsawan seperti ini," Bouw Pek memberi tahu, „ada juga pertunjukan wayang, yaitu dua hari dimusim Ciu, diadakan untuk hatur¬kan terima kasih pada Thian dan malaekat pertanian, yang telah berikan kami hasil panen. Aku sendiri tidak begitu suka me¬nonton wayang."

„Pantas, kalau begitu dirumahmu kau tidak terlalu bergembira!" kata si sobat sambil tertawa. Bouw Pek manggut.

„Benar," dia aku. „Dirumahku, sobat se¬perti kau juga aku tidak punyai. Setiap hari, selain membaca buku dan berlatih ilmu silat, tidak ada apa2 lagi yang aku lakukan." ,,Kau" punya berapa anak! saudara?" Ditanya begitu Bouw Pek melongo.

„Aku belum punya anak," akhirnya dia jawab. dia tadinya mau beritahukan, bahwa dia belum beristeri, akan tetapi mengetahui sobat ini „usilan" dia kuatir sobat ini nanti ganggu dia dalam urusan isteri boleh jadi sobat ini nanti berdaja akan carikan dia pasangan maka dia anggap baik dia berikan penyahutan sembarangan saja.

Benar saja! penyahutan itu bikin Tek Siauw Hong bungkam.

Berdua mereka berdiam, mata mereka di tujukan ke panggung.

Belum terlalu lama, disebelah belakang terdengar suara ramai seperti orang sedang bercidera, kemudian ternyata betul ada orang yang lagi adu mulut dan beberapa orang lain maju sama tengah, antaranya terdengar nyata ada yang kata:

„Jangan riuh, jangan ramai! Lihat disana, Thie-ciang Tek Ngo-ya sedang me¬nonton bersama kawannya!"

Atas nasehat itu, segera terdengar satu suara nyaring sekali suaranya orang bukan orang Pakkhia. Katanya:

„Siapa itu Tek ngo-ya? Aku perduli apa! Andaikata Kiu-bun Tee-tok juga da¬tang kemari, dia mesii berlaku pakai atur¬an!"

Suara itu membikin semua mata ditujukan pada Tek Siauw Hong, mereka kuatir orang Boan ini dapat dengar suara katak itu.

Tapi Siauw Hong benar2 mendapat de¬ngar, malah nampaknya dia jadi tidak se¬nang, sebagaimana air mukanya lantas saja berolah, dengan Setaki cuihun diatas meja, orang Boan ini segera menghampirkan.

„Lihat Tek Ngo-ya datang!" berseru beberapa orang, diantaranya ada yang hampirkan orang Boan ini.

Siauw Hong lihat, yang bercidera adalah enam orang, diantaranya ada yang ia kenal, yalah In Po, salah seorang pegawai dari Gudang Sutera. dia ini terkenal suka main gila, maka orang banyak itu memberi dia gelaran Geng-twie In-cu, si Kaki Keras. Lima yang lain, yang bertubuh kasar, dengan telanjangkan dada dan lengan, nampaknya gusar sekali. Si Kaki Keras sendiri, yang terkenal didaerah timur-daja Pakkhia, agak nya juga tidak mau mengerti, sebagaimana dia telah tepok2 dada. Kapan dia lihat Tek Siauw Hong menghampiri, dia segera mendului membuka suara.

„Tek Ngo-ya, marilah, tolong adili ka¬mi!" demikian suaranya, yang nyaring. „Mereka ini duduk disebelah depan, aku disebelah belakang, diluar tahuku, huncweeku kena membakar salah seorang dari mereka. Buat itu aku telah haturkan maafku. Ti¬dakkah dengan begitu urusan sudah habis? Tapi, apa mau, mereka ini tidak mau mengerti, perkara hendak ditarik panjang!"

Satu diantara lima orang itu, yang tubuhnya tinggi besar, dengan muka merah-padam, majukan diri.

„Tidakkah tuan2 telah dengar apa yang dia bilang barusan?" berseru ia, dengan urat2nya pada bangun berdiri.

„Bukankah tadi dia telah damprat kami? Kami tidak caci dia, kenapa dia justeru caci kami? Oleh karena sikapnya kasar, bagaimana kami mau gampang2 mengerti?"

„Sudah, sudahlah, tuan2!" Tek Siauw Hong kata untuk mendamaikan. dia tahu In Po memang paling suka hinakan dan ganggu orang asing, dia percaya hun-cwee itu mengenai orang bukannya tanpa disengaja. „Urusan kecil sekali, aku harap urusan begini jangan menyebabkan gangguan pada orang lain yang sedang menonton. Aku tidak ingin  persalahkan siapa juga, aku minta urusan dibikin habis saja!"

Sudah biasanya dalam segala hal, kalau Tek Siauw Hong buka mulut, urusan bisa lantas dibikin beres. Juga kali ini In Po lantas saja bungkam. Tapi si orang asing telah mengambil sikap lain. dia tidak kenal Tek Siauw Fong, dia tidak tahu pengaruhnya orang Boan ini, dia hanya heran juga melihat banyak orang begitu taruh hormat pada Tek Ngoya ini. Dengan air muka merah, dia pandang orang baru ini. „Aku tidak kenal kau !" berkata dia de¬ngan kasar. „Apa yang kau buat andalan, maka urusan ini kau mau bikin habis dengan begini saja? Kau sebenarnya mahluk apa?"

Ucapan kasar itu membikin tampang mukanya Tek Siauw Hong menjadi berobah, itu adalah jawaban yang dia tidak pernah sangka. Orang2 lain disekitarnyapun terkejut heran.

„Kutu busuk !" Tek Siauw Hong mem¬bentak dengan biji matanya berputar. „Dengan maksud baik aku mengasi muka, kenapa tidak mau terima ? Kenapa sudah kau pentang mulutmu memaki sembarangan ? Pergilah kau !"

Tapi sambutan si orang tinggi besar adalah melayangnya tangannya, yang dipakai menyambar teekoan-teh dan sambitkan itu pada Tek Siauw Hong !

Tek Siauw Hong berkelit dengan lekas, teekoan melayang terus, menyambar seorang yang kebetulan berada disatu jurusan de¬ngan dia, tidak heran kalau orang ini menjerit bahna kasakitan, maka sekejap sa¬ja suara jadi bertambah ramai.

Tek ngo-ya ulur tangannya. bukannya buat menyerang, hanya pegang tangan orang buat ditarik.

„Marilah kita keluar !" dia mengajaki. „Ditempat ini kita tidak boleh ganggu orang banyak! Kalau kau sobat sejati, mari ikut aku !"

Orang tinggi besar itu terima tantangan itu.

„Marilah !" dia jawab dengan tingkahnya yang katak sekali. Tek Siauw Hong bertindak keluar, di¬ikuti orang kasar ini,

dibelakang siapa mengekor empat lawannya. Lie Bouw Pek lantas menyusul, dibelakang dia ada in Po si Kaki Keras, biang keladi dari kerusuhan. Paling belakang sekali ikut penonton lain karena mereka sekarang tidak gubris lagi pertunjukan wayang.

Kapan mereka sampai diluar, beberapa orang yang tadi pada jongkok didepan pin¬tu pekarangan sudah lantas menghampirkan, mereka unjuk sikap sebagai tukang2 pukul. „Tek Ngo-ya, janganlah kau gusar," kata mereka itu. „Asal kau ucapkan perkataan mu, kami bersedia akan turun tangan."

„Tolong kau sekalian mundur sedikit, ti¬dak usah kamu campur urusan ini." kata Siauw Hong, yang tampik tawaran bantuan orang. Kemudian dia hadapi si orang tinggi besar seraya berkata : „Aku ingin penjelasan ! Kau orang berlima, aku sendirian, tetapi bila perlu, limapuluh orang juga segera akan berdiri difihakku ! Kau seka¬rang mesti terangkan, kita bertempur secara rombongan atau satu dengan satu, Hajolah bilang !"

Baru sekarang hati lima orang itu menjadi kuncup, karena baru sekarang me¬reka dapat kenyataan, orang yang dipanggil Tek Ngo-ya ini ternyata seorang yang ber pengaruh, sebagaimana terbukti orang ba¬nyak hormatkan padanya dan beberapa buaya darat itu bersedia menjadi tukang pukul dengan tidak diperintah lagi. Nyata mereka sudah dapat satu datuk ! Tapi, karena sudah terlanjur, si orang tinggi besar tidak mau mundur dengan begitu saja dia buka baju luarnya, yang dia serahkan pada satu kawannya, kemudian dia maju seraya tepok dada.

„Yang berselisih adalah kita berdua, disini tidak ada urusannya orang lain mesti campur tahu" berkata dia dengan nyaring. „Mari kita main2 satu sama satu!"

„Bagus!" menyambut Tek Siauw Hong, yang segera bikin singsat bajunya dan lengan bajunya digulung naik.

„Toako, coba kau mundur," Lie Bouw Pek menyelak

„Biarlah aku yang melayani orang ini !" Tapi Siauw Hong menampik sambil ter¬tawa.

„Saudara, jangan kau campur urusan ku," dia bilang, „Lihat saja, aku akan memberi dia lihat siapa adanya aku !" Lalu dia berkata kepada si orang tinggi besar. „Sobat, kau boleh siap !" Ucapan ini dibarengkan dengan gerakan tangan kiri.

Orang asing itu sambut ucapan dengan tangan kiri dipakai menangkis sambil di putar, buat coba pegang tangan kiri orang, yang kanan dipakai menyerang kearah muka. Diluar dugaan, gerakannya Tek Siauw Hong sebat sekali Tangan kirinya, yang di pakai menyerang bukannya menyerang terus dengan sungguhan, hanya setengah jalan berbalik memegang tangan kanan lawan, yang dipakai memukulnya, berbareng dengan mana secara kilat tangan kanannya tahu2 telah mampir pada dada orang yang tadi di tepok2 diagul-agulkan !

Berbareng dengan satu suara nyaring, orang tinggi besar itu keluarkan jeritan tertahan, karena mendadak dia kerutkan alis dan kepalanya pusing, sebelum bisa berbuat apa lagi dia jatuh duduk dengan tiba2. Empat kawannya menjadi kaget, mereka maju menolongi, ketika dia dibangunkan mukanya pucat seperti kertas, baru saja dia berdiri dia sudah menjerit pula, sekarang berbareng dengan muntah darah !

„Bagus !" berseru orang banyak. „Sudah tidak kecewa yang Tek Ngo-ya dipanggil Thie-ciang si Tangan Besi !"

Tek Siauw Hong bersenyum ia unjuk roman puas.

„Kepandaianku tidak berarti," katanya „Kendati juga dia seorang dengan kepala baiu, aku toh akan hajar dia sampai hancur !"

Waktu itu, siapa yang memandang dada nya si orang tinggi besar, tentu menjadi kaget dan ngeri, sebab disitu bertapak kepalannya Tek Ngo-ya, dalam rupa merah matang, sedang romannya orang itu sendiri menakutkan, karena dia telah berlumuran darah, dari mulut sampai kecelananya yang pulih. Dua orang masih pepayang dia yang seperti hilang tenaga dan semangat dengan berbareng. Kendati demikian, dia bisa juga angkat kepalanya dan kata pada musuhnya.

„Sobat, aku menyerah kalah ! Apakah nama kau ?"

Tek Ngo-ya belum menjawab ketika beberapa buaja darat itu talangi dia katanya:

„Sampaipun namanyaThie-CiangTek Ngoya kau tidak ketahui, bagaimana kau berani datang kekota raja buat unjuk tingkah sengit begini macam ! Benar2 kurangajar! Hajo lekas pulang, pergi kau cari nyonya mantu kau seterusnya kau jangan keluar pintu lagi mencari malu !" Lima orang itu agaknya mendongkol, te¬tapi meski demikian mereka tidak berani lagi banyak lagak, sambil dukung kawannya yang luka mereka lantas ngelojor pergi.

Tek Siauw Hong antapkan orang angkat kaki, sebaliknya, sambil unjuk hormat pada orang banyak, dia kata dengan merendah dan manis :

„Tuan-tuan, silahkan nonton pula ! Semua orang itu bersenyum, diantaranya ada yang ngoceh, katanya :

„Orang itu betul2 tidak tahu diri !" Kenapa dia datang melulu buat cari penyakit? Tek Ngo-ya sudah memberi muka padanya, kenapa dia tidak mau terima budi kebaikan orang? Kenapa dia menyebabkan Tek Ngo-ya menjadi gusar? Sukur buat ia, Tek Ngo ya masih berlaku murah, jiwanya ti¬dak diantarkan sampai kedunia lain "

Sementara itu In Po telah hampirkan si Tangan Besi,

„Ngo-ya, terima kasih buat bantuan kau ini," kata dia dengan bersenyum manis. Aku menyesal, untuk urusanku kau sampai tu¬rut-turutan menjadi gusar ."

„Aku tidak gusar," Siauw Hong jawab. „Apa yang aku harap adalah kau selanjutnya janganlah gunai huncwee buat terbit kan onar pula !"

Mendengar itu, orang banyak pada ter¬tawa, hingga In Po jadi jengah sendiri-nya.

Siauw Hong tidak gubris si Kaki Keras, dia hanya tarik Bouw Pek.

„Mari, loo-hiatee, kau jangan pikirkan pertunjukan aku barusan, mari kita non¬ton pula!" dia kata.

Benar2 Siauw Hong ajak kawannya pergi pula menonton wayang, sebagaimana orang2 lainpun pada kembali ketempat duduknya.

Oleh karena penonton telah kumpul pula, wayang juga lantas mulai lagi dengan pertunjukannya, yang tadi terpaksa ditunda.

„Toako, ilmu pukulanmu betul2 liehay," Bouw Pek puji sobatnya itu. „Kie-kang kau sempurna !" „Sudahlah, loo-hiatee, sudah," sahut Tek Siauw Hong sambil tertawa. „Dimata orang lain, apa yang aku perlihatkan boleh juga, tetapi didepan kau, aku cuma jadi buah tertawaan kau !"

„Tetapi aku tidak puji" kau, toako," anak muda itu terangkan.

„Daripada puji pukulan dan kiekangku, lebih baik kau puji liehaynya pemandangan mataku," Siauw Hong baliki pada sobat nya ini. „Ketika di Seehu aku saksikan kau piebu dengan Say Lu Pou Gui Hong Siang, aku mengerti yang kepandaian kau adalah buah pendidikannya ahli silat yang ternama. Aku percaya, saudaraku, kecuali ilmu pedang, kepandaianmu lompat tinggi dan lari keras juga mestinya sempurna sekali. Malah aku percaya, sedikitnya kau sudah merantau dua tahun lamanya ! "

Bouw Pek terperanjat buat ucapannya sobat itu, dia kuatir orang Boan ini nanti sangka dia adalah seperti orang dari kalangan Sungai Telaga yang kebanyakan. Sangkaan ini dia tak dapat terima. Tapi, buat cegah terbitnya sangkaan terlebih jauh, dia tertawa.

„Tek Toako, pembilanganmu lucu," dia bilang. „Aku bukannya seorang pengembara, apa yang benar adalah aku pernah dua kali pergi ke Kielok, dan sekarang ini aku da¬lam perjalanan dari Soanhoa terus ke Pakkhia " Tek Siauw Hong tertawa.

„Sudahlah, loo-hiatee, tidak usah kau merendahkan diri," dia kata. „Ketika kau tempur Gui Hong Siang, aku telah lihat betul gerak gerakan lompat naik panggung ini mudah sekali ! Juga melihat caranya pedangmu ber-gerak2, sukar aku percaya bahwa itu melulu buah-peryakinan didalam rumah, hanya kau mestinya sedikitnya su¬dah pernah beberapa kali lakukan pertempuran dengan orang2 lain lagi!"

Diam2 "Bouw Pek mesti akui tajamnya mata dari orang Boan ini Tapi, supaya tidak ada orang lain yang dengar pembicaraan mereka dan akan taruh perhatian, dia lantas simpangkan pembicaraan itu kejurusan lain. Pertunjukan „Ie Cu Hong" telah sampai diakhirnya, telah ditukar dengan. Wan See Kee" dan „Gie Tiang Kiam", akan kemudian dilanjukan dengan,,Hoai Lay Tian" dan „Leng Jin Sie." Pada lelakon yang belakangan ini, Lie Bouw Pek saksi¬kan aksi dari nona yang pegang peranan sebagai Sip Sam Moay, maka berbareng dengan itu didepan matanya lalu berbayang Jie Siu Lian. Tidakkah si nona manis dan gagah seperii nona didalam cerita itu ? Dan ingat si nona itu hatinya jadi ber-debar2 dia jadi ingat semua halnya sinona yang lelakon perkenalannya yang luar biasa persobatan dalam tempo begitu pendek tetapi akhirnya jadi begitu kekal ! Tek Siauw Hong sedot terus huncwee-nya.

,,Kau pemuda yang gagah, saudaraku, kau mestinya dapat pasangan yang mirip dengan Sip Sam Moay," kata pula sobat ini sambil tertawa ,,Aku tidak tahu, saudara, bagaimana sebenarnya bugee isteri kau itu?" Pertanyaan itu diluar dugaannya Bouw Pek, maka dia terkejut. dia tidak menjawab, hanya menghela napas.

„Jangan berduka, sobatku," Siauw Hong lalu menghibur.

,Barusan aku telah lakukan perkelahian, aku jadi sangat gembira. Sebentar, sehabis nonton wayang ini, kita pergi ke Gang Yang Lauw akan bersantap, kemudian sehabisnya dahar aku akan ajak kau pergi kesuatu tempat, disana aku nanti ajar kenal kau dengan satu hiap-kie, yaitu nona bunga berjiwa yang gagah semangat nya. Nona itu tidak mengerti ilmu silat atau ilmu menggunai golok dan pedang, tetapi dia berhati murah dan mulia, sedang bicara tentang keelokannya, kecantikannya itu bisa membikin negeri rubuh dan kota runtuh! Sungguh, melainkan orang muda dan gagah sebagai kau adalah yang semba¬bat buat menjadi pasangannya"

Bagaimana juga, Bouw Pek toh ketarik sekali dengan ucapannya sobat ini. dia memang sedang banyak pikir, ia memang te¬lah duga2, si nona siapa yang sobat itu mau ajar dia kenal, sekarang sobat itu unjuk si nona adalah bunga raya yang elok dan hatinya mulia, hatinya jadi tergerak bukan main. dia bukannya tukang mogor, lapi dia toh ingin tengok nona itu! Begitulah dia jadi diam saja mengawasi sobat itu.

Siauw Hong tertawa dengan tiba2, apa¬bila dia pun telah pandang sobatnya itu.

„Buat pergi bersantap, itulah boleh," kata Bouw Pek kemudian, sambil tertawa, „tetapi buat pergi ketempat yang kebelakangan, aku pikir tidak usah "

„Tapi orang itu kau tidak boleh tidak lihat," Siauw Hong mendesak. „Dalam kalangan rumah pelesiran di Pakkhia, dia adalah bunga yang paling cantik, malah dia bisa dianggap nona paling luar biasa! baiklah aku sebutkan dua hal pada kau, agar kau dapat  pengertian lebih dalam tentang dia.  Pada satu waktu kawannya pe¬rempuan, karena penghidupannya yang terlalu royal, telah tinggalkan banyak hutang, diakhir tahun waktu tuan uang menagih padanya, dia tidak sanggup bayar, hingga dia jadi sangat malu dan duka.  la bunga raya, dengan apa dia bisa membayar, jalan apa dia bisa dapat buat cari uang dalam tempo begitu pendek? Tidak ada jalan lain, diam2 dia masuk kedalam kamarnya dan gantung diri! Apa mau, perbuatannya yang nekat ini ada yang lihat, dia lantas di tolongi. Kendati begitu, karena sudah pu¬tus asa, pikirannya yang pendek tidak bisa jadi panjang, dia masih saja cari ketika, buat bunuh diri. Kapan si nona luar biasa ketahui kesukaran sobatnya, dengan lantas dia keluarkan dua ratus tail uang simpanannya, yang mana dia bayarkan hutangnya bu¬nga berjiwa itu, sedang kemudian dia pun dayakan sampai bunga itu dapat jodohnya dan menikah, hingga selanjutnya dia bebas dari lautan kesengsaraan."

Benar Bouw Pek merasa heran, maka dia berdiam saja dan dengarkan penuturan Siauw Hong lebih jauh.

„Bertetangga menyebelah dengan dia ada seorang yang piara tiga bunga raya, yang dijadikan pohon emas," demikian sobat Boan itu. „Tuan rumah ini bengis dan tiga bunga berjiwa itu dia perlakukan dengan kejam, seumpama "babi saja. Si nona tidak senang atas perlakuan itu, de¬ngan melupai bahaya dia ajak dua-tiga te¬tangga lainnya dan pergi majukan dakwaan pada kantor Giesu. Sebagai kesudahannya dari dakwaan itu, tuan rumah itu telah dihukum dan tiga nona bunga raya dibebas¬kan dan kemudian dicarikan majikan buat menjadi budak." Bouw Pek manggut2.

„Ia seorang bunga raya, dari mana dia punya begitu banyak uang?" dia tanya.

„Itulah sebab dia beda dari nona bunga berjiwa lainnya," Tek Siauw Hong terang kan. „Nona lain dipiara oleh satu majikan, kalau mereka dapat uang, semua penghasilannya diserahkan pada si majikan. Begitu kita bisa lihat bunga2 berjiwa de¬ngan pakaian rebo, dengan senyuman ma¬nis, agaknya mereka hidup senang, tetapi sebenarnya uang satu potongpun mereka tidak punya dan hatinya sangat gaduh. Ti¬dakkah nona-nona begitu, sekalipun soal tubuhnya sendiri, tidak merdeka? Tapi nona yang aku bicarakan ini merdeka betul dirumahnya, dia cuma diikuti oleh ibunya sendiri. Kalau dia dapat uang, kecuali yang dipakai membayar pada rumah pelesiran semua uangnya dia serahkan pada ibunya. Disebelah itu dia juga pegang kehormatan diri. dia tidak mau terima sembarang tamu, tidak perduli orang bayar berapa, apabila orang itu dia tidak sukai, tidak nanti dia mau layani, dengan begitu tidak sembarang orang bisa dekati dia. Menurut apa yang aku dengar, nona itu belum pernah ijinkan tamunya menginap padanya. Di Pakkhia ini ada hartawan yang dipanggil Cie Sie-ong, dia telah gunai banyak uang buat ber sobat sama si nona dia katanya sudah hamburkan lebih dari sepuluh ribu tail toh hingga sekarang masih tetap belum mampu dapatkan dirinya si nona."

„Ia orang berpangkat, dia bisa gunai be¬gitu banyak uang, apa tidak kualir nanti ada giesu yang dakwa?" Bouw Pek tannya. Siauw Hong tertawa.

„Takut aku tidak, aku tidak ketahui," dia menyahut, „aku hanya duga, dia tentu punya daya-upaya buat hindarkan dirinya dari dakwaan, hingga tidak ada giesu yang sanggup cekuk dia!" „itulah bisa jadi," kata Bouw Pek, yang turut tertawa. Ketika itu tiba waktunya buat kepala tukang jual karcis lakukan pemilihan pada sekalian penonton buat ketahui se¬mua penonton sudah membayar atau belum,, kapan dia itu sampai kedepannya Tek Siauw Hong, dia lalu unjuk hormat sambil menanyakan kesehatan orang. Orang Boan ini sudah membayar, tetapi dia gunai waktu itu, buat mengasi persen, maka semua tukang jual karcis jadi girang sekali, semua pada menghaturkan terima kasih.

„Siapakah orang2 itu yang tadi kebentrok dengan aku " Siauw Hong tanya se¬orang tukang karcis.

„Mereka itu jarang datang kemari", ka¬mi tidak kenal," sahut orang yang ditanya. „Menurut kabar, mereka piauwsu dari Cun Goan Piauw-tiam. Sudah terang me¬reka bukannya orang sini dan mereka ti¬dak tahu siapa adanya Ngo Looya, maka tadi mereka telah ketemu batunya"

Setelah memberikan keterangannya itu, tukang karcis itu pergi tempat lain akan lakukan kewajibannya.

Siauw Hong melengak juga kapan, dia dengar fihak lawan nya adalah dari Cun Goan Piauwtiam.

„Sekarang sudah siang, mari kita pergi bersantap," dia lalu ajak Bouw Pek, de¬ngan tidak tunggu pertunjukan wayang terakhir. dia berbangkit dan terus pakai baju luarnya.

Anak muda kita menurut, maka itu me¬reka bertindak bersama-sama. Baru saat sampai didepan pintu, Siauw Hong telah lihat kendaraan sudah siap, menantikan. Akan tetapi didepan pintu ada Siu Jie pengikut nya, siapa terus saja unjuk hormat padanya.

„Looya, apa sekarang looya mau terus pulang ? pengikut itu tanya.

„Apakah ada urusan dirumah ?" Siauw Hong baliki.

„Tidak. Melainkan nona besar telah pulang."

„Kalau nona besar datang, dia mesti di¬minta berdiam sedikitnya dua hari. Aku punya janji, kau boleh pulang duluan."

Siu Jie manggut, dia memberi hormatnya, pula dan lantas berlalu. Dengan keretanya, Siauw Hong ajak Bouw Pek menuju keselatan, tidak antara lama mereka sudah sampai di Ceng Yang Lauw, turun dari keretanya mereka ber¬tindak masuk.

Pengurus rumah makan dan orang-orangnya, melihat orang Boan ini, telah menyambut dengan hormat dan manis.

„Ngo Looya, sudah beberapa hari ini kami tidak lihat kau ?' mereka itu menegor.

„Ya," sahut Siauw Hong yang ganda ber¬senyum.

Seorang jongos sudah lantas pimpin dua tamunya masuk kesebuah kamar yang besar.

„Lekas sediakan barang santapan," Siauw Hong minta. Kemudian berdua mereka bersantap dengan tidak mensia-

siakan tempo lagi setelah dahar cukup mereka berlalu dari rumah makan itu, terus pergi kerumah pelesiran, dimana menurut katanya Siauw Hong, ada hiap-kie, yalah  nona bunga raya yang luar biasa.

CUl SlAN ADALAH SI NONA MANIS yang Siauw Hong buat sebutan, ia adalah bunga dari rumah pelesiran Po Hoa Poan di Han kee-thoa. la mengerti ilmu lukis dan kegembiraan nya adalah melukis pohon bambu dan bunga lan, maka itu beberapa kenalan baiknya dengan mudah panggil dia Siam Nio. Telah dua tahun dia datang ke Pakkhia, dimana dia segera menjagoi dalam hal keelokan, hingga dia tersohor. Kendati demikian, sobatnya tidak banyak tadinya banyak tetapi kemudian menjadi kurang. Sebabnya adalah adatnya yang aneh, hingga tidak perduli dia cantik banyak orang jadi tidak mau dekati ia. Iapun tidak membawa sikap seperti bunga raya lain, yang suka gunai kecantikannya, tingkahnya yang dibikin - bikin, untuk menarik dan memikat orang-orang lelaki yang menjadi tamunya. dia hanya mau layani dan bersobat dengan tamu-tamu yang mau perlakukan dia sebagai  manusia.

Malam itu Tek Siauw Hong telah ajak Lie Bouw Pek pergi kunjungi si nona Siam Nio ini. Oleh karena pemuda she Lie itu mau menurut, dengan sendirinya dia telah menjadi tamu rumah pelesiran, atau kasarnya, pemogor ! Tapi ini melulu telah terjadi karena dia ingin sangat melihat si nona, yang Siauw Tiong begitu sohorkan. Dengan tindakan lebar dia telad si orang Boan, yang oleh jongos dipimpin naik kelauwteng. Malah kemudian dia jalan di-sebelah depannya sobat itu.

Mereka masuk dalam sebuah kamar yang indah dan bersih, disitu mereka disambut oleh seorang nyonya umur lima-puluh lebih, siapa unjuk air muka berseri-seri.

Silahkan duduk, jie looya," kata nyonya ini. „Siam Nio sedang tukar pakaian, segera juga dia akan keluar."

Siauw Hong dan Bouw Pek duduk di-kursi yang terbikin dari kaju merah, diantara alingan kere, disebelah dalam, mereka tampak cahaya api yang bergoyang-goyang diantara bayangan, entah bayangan apa. Si nona sendiri tidak lekas muncul, sebagai¬mana kata si nyonya tua.

Nyonya itu telah tawarkan cui-hun pada Tek Siauw Hong dan suguhkan teh pada kedua tamunya, mereka tanyakan she dan namanya dua tamu itu.

,.Aku orang she Tek dan ini sobatku orang she Lie," Siauw Hong memberi tahu. ,,Kami datang kemari, karena Lie Looya ingin ketemu dengan Siam Nio."

Selagi kawannya itu bicara, Bouw Pek memandang kesekitar ruangan. dia tampak beberapa gambar serta tulisan huruf-huruf, diantaranya yang paling menarik perhatian adalah lukisan ,,Hong Tim Sam Hiap" dengan sepasang liannya. Bunyinya lian adalah :

„Cui tiok cian kan, su keng hiap kut-Siam in su kian, touw ngo liang siauw."

Artinya :

,,Hijau adalah bambu beribu batang,

Aku pikirkan itu sebagai keng punya "tulang", Halus adalah awan empat gumpalan,

Yang melewatkan malam penuh dengan keindahan." Dengan „tulang" atau ,,hiap-kut" diarti¬kan semangatnya

Cui Siam, atau Siam Nio, sebagaimana nama „Cui Siam" telah di¬dapatkan sebagai huruf-huruf pertama dari kedua pasang lian itu. Penulis dari lian itu adalah „Yan San Siauw In", atau Siauw In dari Yan San.

Siauw In berarti „orang kecil yang umpat kan diri". Sedang modelnya huruf2 diambil dari tulisan „Thio Hek Lie Cie" atau

„Catatan dari Thio Hek Lie" dari jaman Gui.

„Ia benar beda daripada kebanyakan bunga raya lainnya," pikir anak muda ini.

„Kau lihat, bagaimana tinggi harga diri nya," Siauw Hong berbisik pada sobatnya. Karena mereka dibikin mesti menunggu sampai sekian lama.

Juga Bouw Pek telah mulai jadi tidak sabaran.

„Inilah yang dibilang, dipanggil beribu kali, berlaksa kali, baru dia datang," kata ia. Kendati begitu, dia pun tidak menjadi tidak senang.

Siauw Hong kipaskan dirinya, dia berse¬nyum.

Adalah liwat pula sekian saat, baru ter¬tampak kere disingkap dan dari situ muncul si cantik yang diharap harap, tindakan nya lambat, tetapi bebauannya yang harum sudah mendului menyerang hidung.

Cui Siam berusia kuranglebih dua-puluh tahun, tubuhnya ceking, mukanya potong¬an kwacie, sepasang alisnya kecil dan panjang, mulut engtohnya berbibir merah sebagaimana kedua belah pipinya. dia begitu cantik, mirip dengan bunga souwyoh yang baru mekar. Pakaiannya baju merah dengan celana hijau dengan angkin hijau juga. Kendati demikian, keelokannya bukannya keelokan mentereng, hanya ayu dan agung, karena sederhananya dandanannya.

Selagi mendatangi, Siam Nio telah awasi Bouw Pek, kapan dia sudah datang dekat dia unjuk hormat pada kedua tamunya.

„Tuan ini she apa?" dia kemudian tanya anak muda kita, suaranya pelahan dan halus. Sepasang biji matanya bersinar jernih dan hidup sekali.

„Aku she Lie," sahut Bouw Pek, yang untuk sesaat terguguh, mukanya jadi merah, karena dia tidak tahu bagaimana harus menjawab. „Oh, tuan Lie," kata si nona, yang lalu tertawa, sedang sinar matanya selalu ditujukan pada muka orang.

Menampak demikian, Tek Siauw Hong bersenyum. Tapi dia diam saja.

Kemudian si nona tanya tamunya orang Boan itu.

„Aku she Tek," Siauw Hong jawab, „hari ini Kami datang kemari, oleh karena Lie Looya hendak kunjungi kau."

„Tek Looya, inilah kehormatan yang aku tidak sanggup terima," kata Cui Siam sembari tertawa „Kedatangan jiewie adalah kehormatan besar bagiku."

„Ini Lie Looya, kata pula Siauw Hong, seraya tunjuk Bouw Pek, „baru saja da¬tang ke Pakkhia, dalam kunjungannya ini, sebagai orang asing, dia merasa kesepian, maka itu dia berniat cari suatu tempat, di mana dia bisa tungkulkan diri. Tentu se¬kali aku tidak berani antarkan dia ketem¬pat sembarangan, karena aku ketahui si¬apa adanya dia, sekarang aku ajak dia da¬tang kemari, aku harap kau tidak nanti sia sia padanya "

Siam Nio tertawa.

„Yang benar, Tek Looya, adalah ucapan mu ini yang men- sia2 kan aku.” katanya.

„Nona kita adalah seorang yang baik budi bahasanya", si nyonya tua turut bi¬cara.

„Karena ketahui dia berbudi bahasa baik, dari itu aku telah perkenalkan mereka berdua !" kata Siauw Hong sembari tertawa.

Siam Nio sudah lantas suluti cuihun dari Siauw Hong dan tuangkan tehnya anak muda kita, kemudian dia duduk dibangku didamping mereka menemani tamunya bi¬cara. dia bicara dengan manis dan saban2 tersenyum, sedikitpun tidak bawa tingkah yang centil.

Sejak pertemuannya di Tiang Cun Sie, Kielok, dimatanya  Lie Bouw Pek adalah Jie Siu Lian nona elok manis satu2nya, tetapi setelah mengetahui keadaannya si nona, hilanglah pengharapannya, dia seperti terjerumus kedalam gelap gulita, kegembiraannya seperti telah runtuh, adalah di¬luar sangkaannya sekarang ada Siam Nio yang elok dan manis, malah dimatanya nona ini jauh lebih menggiurkan daripa¬da nona Jie. Nyata, kalau Siu Lian manis dan gagah, adalah bunga berjiwa ini manis dan ayu, romannya senantiasa menyebabkan orang merasa kasihan. 

Mula2 kedua fihak masih likat, lebih2 Bouw Pek, bila tidak ditanya dia tidak buka mulutnya, tetapi lekas juga anak muda inipun berani bicara, berani tanya ini dan itu.

,,Kau she apa, nona ?" „Aku she Cia."

„Berapakah usia nona sekarang dan kau sebenarnya asal mana ?'

„Aku berusia sembilan-belas tahun. Aku asal Hoay-im. Baru dua tahun aku datang: kekota raja ini."

Tadinya Bouw Pek hendak menanya le¬bih jauh, tapi Siauw Hong dengan kedipan mata telah mencegahnya, maka mereka lantas bicarakan hal2 lain.

Ketika itu diluar kamar terdengar suara nya jongos : „Nona Cui Siam !"

„Coba lihat, mama, siapa itu diluar.'?

Cia Lo-mama bertindak keluar, tetapi lekas juga dia kembali, dengan sebelah tangannya memegang sepotong kertas me¬rah.

„Cie Toa looya panggil kau," kata dia sembari menghampirkan anaknya.

Siam Nio sambuti kertas merah itu, buat di baca. Justru itu, Tek Siauw Hong berbangkit.

„Sekarang sudah waktunya kita berlalu," dia kata pada Bouw Pek.

Anak muda itu belum menyahut, Sam Nio telah mendahului berbangkit seraya berkata :

„Tidak, aku tidak mau pergi ! Jiewie, sukalah duduk lagi sebentar."

„Kami ingin pergi ketempat lain, besok saja kami datang pula," Siauw Hong bilang.

Bouw Pek sudah berbangkit dan terus ikut sobatnya, yang sudah lantas bertindak keluar. „Tek Looya, Lie Loya, harap pasti kau datang pula besok!" kata dia yang meng¬antar tamunya.

„Andai-kata aku tidak datang sobatku ini tentu !" kata si orang Boan sambil tertawa. dia jalan terus disebelah depan. Mereka turun ditangga lauwteng, sesampainya dibawah mereka menoleh dan dongak me¬mandang keatas lauwteng, disana, menyender pada lankan, mereka tampak Cui Siam mengawasi mereka sambil unjuk senyumannya yang manis.

Begitu lekas sampai diluar, Siauw Hong kata pada Hok Cu, kusirnya :

„Pergi antarkan Lie Toaya pulang ke-hotelnya." Kemudian ber-sama2 mereka naik ke-atas kereta.

Hok Cu bawa kendaraannya ke Seeho-yan, dimana dia berhenti didepan hotel Goan Kong. Bouw Pek sudah lantas lompat turun.

„Aku tidak mampir lagi." kata Tek Siauw Hong. „Nah, sampai besok !"

„Sampai besok !" sahut Bauw Pek.

Selagi roda2 kereta menggelinding per¬gi, anak muda ini masuk kedalam kamarnya. dia nyalakan api, sedang jongos bawa kan dia teh. dia lantas duduk dengan pikiran bekerja, seperti si elok berbayang di depan matanya.

„Tadi aku hendak tanya hal-ihwalnya si nona, Siauw Hong mencegah, kenapakah ?" ia pikir, apabila dia ingat kedipan mata dari sobatnya itu. ,,Ya, aku baru ingat sekarang. Pasti sekali, seperti kebanyakan bunga berjiwa, dia tentu punya lelakon penghidupan yang menyedihkan, apabila aku tanya, lukanya bisa kambuh, hingga dia bisa menangis didepan tamu, sedang tamu datang ingin dilayani dengan manis. Tentu Siam Nio tidak ketahui aku bukannya tamu rumah pelesiran yang kebanyakan, yang datangnya melulu untuk pelesiran. Nona, penghidupan kita se¬benarnya sama, cocok dengan syairnya Pek Lok Thian yang bilang : Sama2 orang perantauan, diwaktu saling bertemu, kenapa kita mesti selamanya saling kenal lebih dulu ?' Memikir demikian, Bouw Pek menghela napas. Ketika dia angkat kepalanya, memandang ketembok, disana tergantung pedang nya, yang rupanya kesepian. Lantas dia ber¬bangkit.

„Tolong bawakan aku setengah kati arak," katanya pada jongos, yang datang padanya.

Dan dia tenggak susu macan, sampai dia rasai tubuhnya panas, kepalanja pusing. Se telah itu dia tiup padam lampu dan lantas naik tidur.

Esoknya, setelah bersantap tengah hari, dia dandan dan pergi ke Poancay Hootong selatan, akan tengok piauwceknya. Ketika dia sampai, sang paman sedang tidur, dari itu dia mesti duduk menunggu sampai jam tiga, baru paman itu bangun tidur.

Kie Cu-su sudah lantas bicara tentang tulisan keponakannya itu.

„Tulisan kau itu tidak bisa dicela," katanya. „Siapa saja lihat tulisanmu, dia akan lantas ketahui yang kau menelad tulisan huruf Gui. Tulisan semacam ini biasanya dipahamkan oleh orang2 terpelajar, untuk mencari nama dan gelaran. Buat kerja dikantor, tulisan semacam kau itu tidak terpakai, muka tidak heran kalau dua kalinya kau gagal. Kau harus ketahui, sekarang ini yang terpakai adalah huruf2 Tio. Kau punya contohnya huruf huruf ini atau tidak ? Kalau kau tidak punya, pergi¬lah kau beli di Liu-lie-ciang. Kau beli Tio Cu Geng punya

„Liong Hin Sie", kemudian contoh itu kau telad semua, pilih yang paling banyak dipakai, aku percaya, dalam tempo dua- tiga bulan kau akan sudah bisa menulis dengan baik. Dalam segala hal, tulisan yang bagus adalah yang paling perlu. Tulisan kau bisa dipakai untuk menulis lian umpamanya, tapi buat cari uang tidak mudah !". Lie Bouw Pek merasa sangat tertusuk oleh sesuatu ucapan sang paman, yang telah bicara secara terus-terang terhadapnya, maka kapan sebentar kemudian dia pamitan, dia masgul sekali berbareng men¬dongkol.

„Aku satu laki-laki, mustahil tanpa pit aku tidak bisa cari makan ?" pikir dia akhirnya. Oleh karena dia sangat mendongkol, dalam perjalanan pulang dia tidak mampir lagi ke Liu-lie-ciang buat beli buku, hanya dia langsung pulang kehotel, baru saja dia bertindak masuk, dari dalam kantor pe¬ngurus telah keluar seorang yang papaki ia.

„Lie Toaya, looya kita kirim sepucuk surat ini untuk kau," kata orang itu seraya memberi hormat. Bouw Pek awasi orang itu dan segera kenali Siu Jie, dia terimakan surat yang disodorkan padanya dengan merasa heran.

„Tek Siauw Hong sampai menulis surat padaku, apakah yang dia tulis ?' dia men¬duga-duga.

„Sekarang kau boleh pulang, memberi tahu bahwa surat majikanmu aku telah terima," dia berkata pada hamba itu.

„Bilang juga, se¬bentar aku harap bisa pergi kunjungi majikanmu itu." Siu Jie mengasi hormat pula, lantas berlalu.

Bouw Pek masuk terus kedalam kamarnya, disini baru dia buka suratnya Siauw Hong, buat dibaca :

Saudara Bouw Pek, Ketika kemarin aku pulang, aku lantas merasa tubuhku panas dan sampai sekarang aku masih merasa kurang sehat, aku kuatir sebentar aku tidak bisa tidur. Saudara, kau masih muda, kau berkepandaian , benar sekarang maksud-hatimu belum kesampaian, tetapi kau tidak boleh putus-asa, jangan kau berduka. Kau berada sendirian, kau kesepian, maka harap kau bisa bawa diri, kau perlu cari kesenangan. Janganlah karena ke¬dukaan, kau sia2kan tubuhmu yang berharga.

Saudara, kau sedang berusaha dan belum berhasil, aku percaya dalam hal keuangan kau niscaya kurang leluasa, karena itu harap kau terima kirimanku selembar dari seratus tail perak ini untuk kau pakai. Aku bukan hartawan, jumlah ini kecil, tetapi aku percaya kau tidak akan tampik.

Saudara, biarlah besok aku kunjungi kau, supaya kita bisa pasang omong pula.

Sekian, dari saudaramu, Siauw Hong. Membaca surat itu, Bouw Pek merasa malu berbareng bersukur. Siauw Hong sobat baru, tetapi bagai¬mana dia perhatikan diriku," dia pikir. ,,Uang ini aku mesti terima, jikalau tidak dia bisa jadi kurang senang. dia sekarang lagi sakit, aku perlu tengok dia. Tapi, dimanakah dia tinggal, di Su- pay-lauw ?." Ia ternyata lupa alamat sobatnya itu.

„Biarlah aku tunggu sampai besok," dia putuskan akhirnya.

„Kalau dia tetap tidak sembuh, biar bagaimana juga aku mesti cari dia.'"

Karena ini selanjutnya dia tidak pergi kemana mana. Sorenya, sehabis bersantap dia pergi keluar akan cari cian chong, tempat tukar uang, buat tukar uang kertas nya dengan uang perak. Dengan bawa seratus tail uang receh dia lalu berjalan pulang.

Baru saja sampai dimulut utara dari Po-cusie, dia dapat lihat sebuah kereta besar sedang mendatangi dari jurusan utara, kapan kereta itu sudah datang lebih dekat, dari dalam kereta dia dengar orang panggil padanya: „Lie Toalooya!"

Dengan merasa heran anak muda kita tahan tindakannya.

Kereta mendatangi terus dan berhenti di depannya anak muda ini.

„Lie Toalooya," kata pula suara tadi. Baru sekarang Bouw Pek lihat dan ke¬nali Cia Mama, sedang Siam Nio sudah lantas muncul diantara tersingkapnya kere.

„Lie Looya, kau tinggal dimana?" tanya nona itu, sembari tertawa.

Mukanya anak muda kita menjadi merah.

„Disana, di Seeho-yan," dia jawab, ta¬ngannya menunjuk kejurusan barat.

„Sebentar malam aku harap kau ajak Tek Toalooya datang pada kami," kata pula si nona. „Jangan salah, Ya!"

„Tek Toalooya kurang sehat, malam ini dia tidak bisa pergi kemana-mana," Bouw Pek memberi tahu.

„Bagaimana jikalau kau sendiri, toaloo-ya?" si nona mendesak. Bouw Pek manggut. „Baiklah," dia menyahut. Siam Nio manggut sambil tertawa manis

„Baik, Lie Toalooya! sampai sebentar malam!"

Nona itu tersenyum, sujennya memain tetapi kapan dia lepaskan tangannya, ber¬bareng dengan tertutupnya tenda kereta ia lenyap dari pandangannya Bouw Pek, se¬dang roda2 kereta sudah lantas mengge¬linding pergi.

Bouw Pek masih berdiri menjublek kendatipun kereta sudah pergi jauh.

„Kenapa aku terima undangannya?" pi¬kir dia dengan menyesal. dia jadi masgul, sampai sudah pulang ke hotel pikirannya masih ruwet. Tapi ketika dia lihat suratnya Siauw Hong, dia lantas ingat bunyinya surat itu: ,.Bukankah Siauw Hong suruh aku jangan berduka dan dia telah anjurkan aku cari kesenangan? Kenapa aku mesti siksa diri?. Minum arak saja juga tidak ada gunanya! Bukankah lebih baik aku ke¬luar jalan2, buat cari „kutu masyarakat yang harus dikasihani", buat ajak dia pa¬sang omong akan gembirakan diri?"

Maka setelah cuaca mulai menjadi gelap, Bouw Pek lantas ganti pakaian, dia keluar dari hotelnya menuju ke Po Hoa Pan. Sementara itu Cui Siam juga merasa hatinya tidak tenteram, ada tamu datang tetapi dia seperti merasa masih menunggui orang lain. dia tidak mengerti, kenapa si orang she

Lie, yang baru datang, seperti membanduli hatinya.

„Tadi aku ketemu dia dijalanan, dia telah berjanji mau datang, apakah bisa dia penuhkan janjinya itu?" demikian dia ter¬ganggu dengan kesangsiannya sendiri. „Aku lihat dia bukannya hartawan, apakah dia mau hamburkan uangnya ditempatku ini?."

Oleh karena berpikir keras, dia jadi du¬duk terpekur saja. Sekarang dia bayangkan romannya anak muda kita yang kurus, pakaiannya menyatakan kemiskinan, tetapi sepasang matanya celi dan hidup.

„Ia seorang yang harus dikasihani, yang juga harus disayangi " dia ngelamun le¬bih jauh, hingga dia ingat dirinya sendiri." Bukankah iapun seorang yang hidup tidak keruan juntrungannya? Bagaimana nanti jadinya hari kemudiannya? Pengharapan apa dia punya?"

Mengingat sampai disitu, mendadak air matanya turun meleleh dipipinya. Tapi lekas2 dia susut air kesucian hatinya itu, karena dia kuatir ibunya nanti dapat lihat. Kapan dia mengawasi api, dia dapatkan pemandangannya kurang terang, karena bulu matanya masih basa dengan air matanya,

maka lekas2 dia tepas pula matanya itu. Dalam kesunyian itu dia dengar suara tertawa riuh dari kamar2 lain dimana berada ,.saudara2nya" yang rupanya sedang bergembira la duduk seorang diri sekian lama, tidak ada tamu yang datang padanya. dia jadi lesu.

„Baiklah aku rebahkan diri," dia pikir. dia berbangkit balik kekamamja, tapi ber¬bareng dengan itu dibawah lauwteng ter¬dengar suaranya Mo Ho, si jongos:

„Ada tamu untuk nona Cui Siam!"

Teriakannya Mo Ho disusul dengan munculnya Cia Loo mama, yang singkap kere.

Segera juga ditangga terdengar tindakan kaki yang sedang naik, akan kemudian terdengar suaranya Cia Loo-mama sambil ter tawa: „Lie toalooya datang!"

Baru saja dengar nama itu disebut, semangatnya Cui Siam jadi terbangun, hingga dia lekas2 lari kekaca buat beres¬kan rambut dan rapikan pakaiannya, kemudian dia bertindak kepintu.

Bouw Pek bertindak dengan tangan me¬megang kipas, bajunya thungsha biru.

„Lie Toalooya janji mau datang, be¬nar-benar sekarang kau datang!" Siam Nio memapak sambil tertawa.

„Aku memang biasanya tidak suka salah janji!" sahut Bouw Pek yang juga ter¬tawa.

„Duduklah toalooya," Siam Nio me¬ngundang.

Bouw Pek buka baju luarnya dan lantas duduk, Cia Loo- mama sudah lantas suguh¬kan teh. „Jikalau toalooya tidak inginkan teh panas, kami disini punya soan-bwee-thung," Cui Siam menawarkan.

„Sembarang saja, apapun boleh," kata Bouw Pek.

Siam Nio bersenyum, lantas dia undurkan diri. Sebagai gantinya, Cia Loo-mama dekati tamunya.

„Looya, nona kita sungguh berjodoh dengan kau !" berkata nyonya tua ini sem¬bari bersenyum. „Biasanya. jikalau orang lain yang dalang, dia tidak pernah menjadi bergembira seperti ini kali '"

Bouw Pek tidak kata apa apa, dia melain¬kan bersenyum.

Lekas juga Cui Siam telah kembali, tangannya memegang sebuah nenampan perak yang kecil diatasnya ada satu mangkok teh yang berkembang, mangkok mana buatan jaman kaisar Kong Hie. Dengan kedua tangannya dia angsurkan itu pada tamunya.

„Silahkan minum, looya," kata si nona.

Dengan kedua tangannya Bouw Pek menyambuti, dia lalu menghirup, satu cegukan, hingga dia merasai minuman yang wangi dan sejuk.

„Bagaimana looya rasakan soan-bwee-thung bikinanku ini

!" tanya Cui Siam sambil bersenyum „Apakah boleh juga ?"

Ia berlaku manis, tetapi tidak genit, tidak dibikin-bikin.

,,Bagus, bagus !" sahut si anak muda, seraya angkat kepalanya, hingga sekarang dia bisa pandang nona dihadapannya.

Siam Nio telah Kisar model kondenya, hingga kelihatan bertambah cantik, ken¬dati demikian, pipinya kalah merah dari kemarin, tanda dia tidak obral yancie. Ba¬junya putih telor, begitupun celananya, semua dipakaikan pinggiran berkembang. Pakaian itu tidak longgar dan juga tidak sepan.

Sesudah letakkan nenampan, Siam Nio ambil tempat duduk didepannya pemuda kita. Sikapnya sewajarnya saja.

„Lie Looya, apa kau memang tinggal di Seeho yan ?" dia tanya. „Ya, di Seeho-yan, dalam hotel Goan Hong," Bouw Pek manggut.

„Apakah thaythay tidak turut datang?" si nona tanya pula, matanya memain dengan bagus. Bouw Pek bersenyum.

„Aku masih belum menikah," dia menyahut

Cia Loo-mama, yang mengerti keharusannya, telah permisi buat undurkan diri.

„Looya, kau bekerja dikantor mana ?" kemudian Cui Siam tanya pula.

„Aku datang kemari belum lama, aku belum dapat pekerjaan," Bouw Pek aku.

Alisnya si nona lantas saja dikerutkan.

,.Turut pendengaranku, sekarang ini sukar buat cari kerjaan," dia bilang. „Ada be¬berapa looya melulu menjadi calon, calon tiehu, calon tootay, tapi kedudukan yang pasti belum ada." Bouw Pek sebaliknya bersenyum.

„Aku tidak pikir buat pangku pangkat, dia memberi tahu.

„Tadinya aku datang ke Pakkhia ini dengan niatan mencari peker¬jaan, akan tetapi setelah sampai disini aku rubah niatanku itu. Ternyata, bukan saja pekerjaan sukar di cari, juga pang¬kat aku tidak ingin pangku. Begitulah, sekarang aku nganggur saja. Sukur aku ketemu Tek Toalooya, yang kemarin dulu telah datang kemari, dia sobat yang baik dengan siapa aku suka berada bersama dengan adanya dia itu aku tidak sampai jadi kesepian."

Sesudah bicara begitu jauh, Siam Nio percaya tamunya adalah seorang yang ju¬jur, yang berbeda daripada tamu- tamunya yang sudah-sudah, yang datangnya melulu untuk bersenang senang, habis pelesiran lantas ngeloyor pulang. Lagian, tamu-tamu yang duluan itu semua pandai mengumpak-umpak, supaya bisa dapati hatinya.

„Tapi dia bukannya seorang yang berun¬tung, seharusnya tidak boleh aku minta dia sering-sering datang kemari," dia pikir ke¬mudian. dia lalu kata : „Lie Looya, kau masih muda, aku percaya, meskipun se¬karang peruntunganmu belum terbuka, dibelakang hari kau toh akan peroleh kemajuan. Aku bunga raya, aku punya mata dan bisa bedakan orang yang busuk dan yang baik, maka juga kemarin begitu bertemu dengan kau, aku bisa lantas hargakan kau !.”

Setelah kata begitu, Cui Siam tunduk, karena dia malu sendirinya sudah puji-puji orang muda itu. Bouw Pek tergerak hatinya karena ucapannya si nona.

„Kau terlalu puji aku, nona," dia kata. „Dari Tek Looya akupun dengar bahwa kau seorang yang jujur dan berambekan, beda dari yang kebanyakan. Ini juga sebabnya, kenapa aku suka datang pada kau. Kalau tidak, tidak nanti aku kesudian datang ketempat semacam ini." Siam Nio angkat kapalanya, dia menghela napas.

„Memang, biar bagaimana juga jarang datang ketempat begini lebih baik bagi kau," dia kata. „Melulu terhadap kau, looya, aku suka bicara begini, apabila terhadap orang lain, tidak nanti. Aku jadi bunga raya, akan tetapi didalam diriku ada hati manusia, maka aku tidak inginkan seorang yang bersemangat mesti siasiakan ketikanya yang muda dan berpengharapan secara begini!." Sehabis kata begitu, Siam Nio tepas ujung matanya.

Bouw Pek awasi nona itu, dari mulut siapa dia tidak sangka akan keluar ucapan semacam itu. dia baru mau buka mulutnya, waktu si nona sambung kata-katanya :

„Aku, dengan sesungguhnya, aku suka sekali pasang omong dengan kau."

Sembari kata begitu, Cui Siam curi lihat anak muda kita, roman siapa agaknya kurang puas, sedang alisnya mengkerut, maka lekas lekas dia berbangkit.

„Cukup, looya, cukup!" dia kata sambil tertawa, suaranya nyaring.

„Sudah cukup, kita jangan ngelamun saja ! Mari kita cari kegembiraan!"

Ia menoleh keluar jendela, dia tarik tangan orang.

„Lihat disana! Lihat, malam ini rembulan indah' dia kata pula. Bouw Pek memandang keluar jendela, si Puteri Malam benar bercahaya terang sekali. Tapi didekatnya sekarang ada puteri lain, tangan siapa yang putih dan halus justru masih pegangi tangannya sendiri. Tanpa merasa, hatinya bergoncang secara pelahan-pelahan"

, Kau benar," kata dia sambil manggut2 dan tersenyum. Pembicaraan mereka terganggu oleh masuknya Cia Lo-

mama.

„Besok kembali Capgouw !" berkata si nyonya tua. „Lagi dua bulan, lantas datang harian Tiong Ciu !" Bouw Pek kembali ketempat duduknya, Cui Siam terus temani ia.

Tidak lama kemudian, karena datang tamu lain, anak muda kita pamitan pulang. dia sampai dihotel buat terus rebahkan diri, dia memandang kejendela dan awasi sang

Puteri Malam. Kembali pikirannya kusut, hingga kesudahannya dia tidak bisa tidur pulas. Sampai fajar, selagi burung2 cecowetan, barulah dia bisa meramkan mata dan tidak ingat apa-apa lagi. Ketika dia mendusin sudah jauh siang, maka dia lalu dandan dan duduk bersantap. Sehabis dahar dia duduk pula dengan pikiran belum terbuka. Banyak pikiran mengganggunya, tapi yang dia kualirkan adalah kesehatannya Tek Siauw Hong, dari siapa dia tidak dengar kabar apa-apa.
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Po Kiam Kim Tjee Jilid 06"

Post a Comment

close