Po Kiam Kim Tjee Jilid 04

Mode Malam
Jilid 4

„JIE HIONG WAN telah begitu lemah, apa nanti jadinya bila rombongan dari Lie Mo-ong susul dia' demikian dia pikir. „Apa nanti jadinya, umpama karena kelemahan tubuhnya, jago tua itu jatuh sakit ditengah jalan, sedang isterinya pun lagi sakit ? Bagaimana sendirian saja Siu Lian bisa urus dua orang tuanya dengan berbareng ? Tidak bisa lain, aku mesti susul mereka, dengan cara menguntit, andaikata mereka perlu pertolongan, baru aku muncul"

Lantas Bouw Pek minta jongos sediakan kudanya,dia sendiri lantas dandan, ketika tidak lama kemudian dia keluar dari kamarnya, kuda sudah sedia, maka dia lompat keatas binatang itu dan kabur kejurusan pintu kota timur.

Diluar kota orang dapat memandang keempat penjuru dengan leluasa, pohon padi merupakan lautan hijau, akan tetapi heran, kereta atau kudanya Jie Lauw Tiauw tidak kelihatan sama sekali.

„Kemana dia menuju?" anak muda ini menduga-duga, „Ia katanya tidak mau pergi ke Po-teng, tetapi tidak bisa jadi dia pulang ke Kie-lok, oleh karena musuh2nya sedang membayangi ia. Biarlah aku menuju utara"

Bouw Pek larikan kudanya, Matahari sedang unjuk pengaruhnya: panas terik! Sang angin seperti sedang sembunyi, hingga pohon padi seperti berdiri kaku, begitupun pohon kaoliang.

Baru saja kudanya lari kira2 sepuluh lie, Bouw Pek sudah mandi keringat, begitu juga kudanya. Kebetulan didepannya banyak pepohonan,dia lalu singgah. Disitu pun ada beberapa orang sedang berhenti mengaso. Disitu kebetulan juga ada pedagang soan-bwee-thung, yang orang minum akan bantu hilangkan dahaga.

Bouw Pek lompat turun dari kudanya, yang dia tambat dipohon.dia beli soan-bwee-thung, minum itu barulah dia merasa sedikit adem. Dia duduk ditanah dan susuti keringatnya, dengan tudungnya dia kipasi diri,

Beberapa orang lain itu sedang duduk sambil pasang omong. Dipepohonan juga ada suaranya tenggoret.

,,Apakah tadi disini ada liwat seorang tua menunggang kuda mengiringi sebuah kereta?" Bouw Pek tanya tukang soan-bwee-thung.

,,Benar," sahut pedagang itu, „ia tidak mampir disini, kuda dan keretanya dimemberi lari cepat sekali."

„Apa mereka menuju keutara?" Bouw Pek tanya pula.

„Benar, keutara. Sekarang mereka tentu sudah melalui dua- puluh lie lebih." Bouw Pek heran sekali.

„Kenapa sih Jie Piauwsu lakukan perjalanannya begitu terburu'" pikirnya.

Oleh karena ini, untuk tidak sia2kan waktu Bouw Pek loncat atas kudanya terus menyusul keutara. Tapi sehingga magrib, sampai cuaca mulai berubah, dia tidak lihat kuda atau kereta, hingga dia makin heran dan sangat tidak mengerti.

„Apa tidak bisa jadi aku salah jalan?" pikir anak muda ini. Terpaksa Bouw Pek bedal lagi kudanya hingga beberapa lie,

sampai masuk disebuah dusun. Disini dia terpaksa cari pondokan, karena hari sudah menjadi malam. Disini dia tidak dapat keterangan apa2. dia mondok semalam, esoknya pagi2 dia lanjutkan perjalanannya. Hampir dia berhenti ditengah jalan dan putar tujuan ke Pakkhia, tetapi disaat akhir dia menuju terus keutara. Dia kuatirkan betul orang she Jie itu. Disepanyang jalan saban dia tanya orang kalau2 orang itu lihat kereta yang diiringi oleh empe penunggang kuda.

„Ya, tadi, waktu cuaca masih gelap, ada kereta dan pengiring tua lewat disini," demikian ada orang memberi keterangan. Bouw Pek jadi dapat harapan, nyata dia tidak kehilangan mereka, maka dia larikan terus kudanya.

„Jie Piauwsu lakukan perjalanan luar biasa cepat, inilah aku bisa mengerti," pikir Bouw Pek. ,,Tapi kemana dia mau pergi? Ke Po-teng tidak, ke Kie-lok pun bukan"

Mendekati tengah hari, buat kelegaan hatinya, barulah Lie Bouw Pek lihat rombongan yang dia susul, jauh didepannya Hebat keretanya si jago tua. dengan mengiringi sambil bercokol diatas kudanya.

„Tidak salah lagi !" pikirnya. Tapi sekarang dia segera memberi kudanya lari pelahan. Dia tidak mau susul orang tua itu, dia sengaja bikin ketinggalan jauh juga. Tatkala itu, jalanan boleh dibilang sepi, lalu lintas sedikit sekali.

Hawa udara panas, akan tetapi keretanya Jie Hiong Wan terus dimemberi jalan cepat sekali, setelah melalui lagi tujuh atau delapan lie, Bouw Pek telah mandi keringat, kudanya bernapas sengal 2, peluhnya bercucuran.

Kebetulan ada tikungan, kapan keretanya Jie Hiong Wan menikung, Bouw Pek tidak dapat lihat rombongannya jago tua itu. ditepi jalan, pohon padi dan gandum tinggi sehingga menghalangi pemandangan. Terpaksa anak muda ini larikan kudanya dengan keras, selewatnya tikungan itu dia baru dapat lihat pula orang yang sedang dikuntit. Dia meminggirkan kudanya, supaya jago tua itu tidak dapat lihat dia.

Sekarang kudanya Jie Lauw Tiauw jalan pelahan sekali.

„Kasihan," Bouw Pek kata dalam hatinya. „Dulu dia jago yang dimalui, sekarang sesudah tua, sampai menunggang kuda dia tidak mampu, telah lenyap semua keuletan nya."

Justeru disaat itu, Jie Hiong Wan kelihatan angkat dua tangannya, menekapi dadanya, rupa2nya dia menjerit, tetapi Bouw Pek tidak dapat dengar, hanya apa yang bikin anak muda ini terperanjat adalah ketika dia tampak tubuhnya jago tua itu rubuh terjatuh ke tanah, sedang kudanya sudah lompat kesamping! Dalam kagetnya. anak muda ini keprak kudanya menyusul Selama beberapa bulan yang paling belakang, Jie Loo-piauw-tauw menjadi korban kedukaan hati, kadang2 dia mendongkol dan gusar kadang-kadang dia menyesal lantas dalam beberapa hari paling belakang dia sangat berduka dan mendongkol, terutama dia mesti mendekam dalam penjara tiga hari lamanya dengan tidak bersalah-dosa. Kekuatiran terhadap musuh2nya juga suatu desakan lain bagi penderitaan batinnya.dia tidak takut mati, hatinya masih besar, tetapi dia tidak berlega hati kalau ingat isteri dan anaknya. Benar dia mati daya apabila musuh2nya pegat dan kepung dia pula di tengah jalan. Seorang diri, bagaimana dia mampu lindungi isterinya? la sudah tua dan ternyata kelemahan-nya datang secara cepat sekali. Dan lantas pada hari yang terakhir ini dia sudah paksa lakukan perjalanan luar biasa cepat, selagi hawa udara panas membara, sedang Bouw Pek yang muda belia dan gagah, hampir tidak sanggup lawan pengaruhnya Batara Surya. Demikian, dengan tidak mampu melawan lebih jauh, dia muntah darah dan rubuh dari kudanya.

Siu Lian dapat dengar jeritan ayahnya, kemudian, dari keretanya dia lihat ayah itu jatuh, dia segera perintah kereta berhenti, dia sendiri lompat turun memburu pada ayahnya itu. Dia kaget bukan main,dia ber-kuatir sekali  menampak keadaan ayahnya itu. „Ayah, kau kenapa?"dia tanya, seraya coba angkat bangun tubuh ayahnya buat didudukkan ditanah.

Tukang kereta pun sudah lantas datang membantu mendukung orang tua ini.

Hiong Wan bisa duduk, tetapi dia tidak mampu bangun berdiri, oleh karena kedua kakinya lemas sekali. Siu Lian sudah lantas menangis.

Ayah itu telah berlepotan darah, jenggotnya yang putih telah berubah menjadi merah. Dan mukanya yang sudah kisut, pucat sekali. kedua matanya tertutup rapat. Dia tidak bisa bicara, oleh karena napasnya memburu.

.,Ayah, ingat! ingat, ayah!" anak dara itu memanggil seraya coba dukung tubuhnya.

Adalah disaat itu. Bouw Pek yang telah bedal kudanya, sampai diantara mereka. Nona Jie dapat lihat datangnya anak muda itu, dalam kedukaan dan kekuatiran hebat dia mendapat cahaja terang, hingga dengan kegirangan meluap dia berseru:

„Lie Toako, lekas, lekas! Lihat ayah!" Tapi suaranya tercampur suara menangis.

Lie Bouw Pek lompat turun dari kudanya dan menghampirkan.

„Jangan kuatir, nona", katanya, yang segera pondong jago tua itu dari dukungannya si nona.

„Ayah! ayah!" anak ini memanggil pula ber-ulang2. „Ayah!" Bouw Pek pun turut me-manggil2 orang tua itu.

Berselang sekian lama, napasnya si orang tua tidak lagi memburu keras seperti tadi, dengan pelahan2 dia membuka kedua matanya. Maka itu dia bisa lihat anaknya dan anak muda itu, yang dia kenali. Nampaknya dia jadi tenang sekali.

„Sukur kau datang, hiantit," katanya dengan pelahan.

„Oleh karena aku senantiasa pikirkan kau, loojinkee, aku sudah lantas datang menyusul," Bouw Pek memberi tahu.

„Lauw-siok, jangan kau berkuatir, aku lihat kau bukannya terserang penyakit berbahaya, melulu disebabkan bahwa udara yang panas sekali. Mari kita cari tempat akan mengaso, aku percaya, setelah beristirahat sebentar kau akau dapat pulang kesehatanmu!"

Ketika itu nyonya Jie pun telah turun dari keretanya, kendati dengan pelahan dia bisa hampirkan suaminya. Dia kaget menampak keadaannya suami itu, hingga dia tidak mampu kendalikan diri buat tidak menangis.

„Apakah di-dekat2 sini ada dusun atau kampung?" Bouw Pek tanya tukang kereta.

„Lagi dua tiga lie, kita akan sampai di Jie si-tin," sahut tukang kereta.

„Kalau begitu, mari kita lekas pergi kesana, lauwsiok perlu mengaso dipondokan! kata Bouw Pek."

Lantas dengan dibantu oleh si tukang kereta Bouw Pek bawa dan memberi naik jago tua itu kekereta. Karena ini nyonya Jie mesti duduk disebelah depan. Siu Lian tidak dapat lagi duduk dikereta, dia lantas lompat naik kuda ayahnya. Bouw Pek juga naik kudanya sendiri. Kereta dan kuda segera berjalan menuju keutara.

Bouw Pek jalan disebelah belakang si nona, dari itu dia bisa pandang nona itu. Dia merasa kasihan pada nona itu, yang nampaknya sangat berduka. Dia mesti tahu bahwa dia sangat tertarik hati terhadap si nona yang cantik dan gagah, tubuh siapa berpotongan menggiurkan hati.

„Sakitnya ayah karena dia terlalu berduka dan berkuatir," kata Siu Lian, yang coba bicara. „Bagaimana andai kata terjadi suatu apa atas diri ayah ?"

Bouw Pek kerutkan alis, suaranya si nona menusuk hatinya.

„Aku rasa keadaan lauwsiok tidak begitu rupa seperti yang kau kuatirkan, nona," katanya. „Sekarang kita paling perlu dapatkan tempat mondok, lantas kita undang tabib buat periksa keadaannya dan memberi makan obat, aku percaya dalam dua tiga hari, lauwsiok akan sudah sembuh. Nona jangan kuatir."

Siu Lian susut air matanya dengan sapu-tangannya, atas ucapannya si anak muda dia tidak kata apa2.

Bouw Pek juga diam, melainkan matanya mengawasi si nona, tubuh siapa duduk dengan leluasa diatas kuda.

„Tidak saja nona ini berilmu tinggi, ilmu menunggang kudanya juga sempurna." Dia berpikir dengan kagum.

Sukar buat cari nona dengan kepandaian seperti yang dia punyai ini. entah bagaimana macamnya Beng Jie-siauwya itu, yang menjadi tunangannya ? Apakah dia punya romannya cakap dan ilmunya tinggi yang setimpal dengan kekasihnya ini? Dia sungguh beruntung bisa dapat pasangan semacam Siu Lian."

Dengan tidak merasa, Bouw Pek jadi ngelamun.

„Habislah pengharapan. " demikian otaknya melayang.

„Dimana aku bisa cari lagi nona lain seperti dia ini, yang bisa dijadikan pasanganku yang sembabat ? Pikiran yang tidak2 ini membikin anak muda itu masgul, hingga dia lesu. Hilang pengharapan, dia jadi kehilangan juga ke gembiraannya.

„Jikalau begini, lebih baik tadinya aku tidak lihat dia." Dia pikir pula.

Sukur sementara itu mereka sudah lantas sampai di Jie-sie- tin. Bouw Pek mendahului akan cari rumah penginapan, kemudian dengan dibantu oleh si tukang kereta dia dukung Hiong Wan kedalam kamar, direbahkan diatas pembaringan.

„Tolong lekas carikan tabib," kemudian Bouw Pek kata pada tuan rumah.

Sekarang Jie Hiong Wan sudah sedar betul, akan tetapi melihat romannya nyata sekali keadaannya jauh terlebih berbahaya. Napasnya terus bekerja dengan luar biasa cepat, dua kali lagi dia telah muntahkan darah!

Orang tua ini telah saksikan istri dan anaknya sedang hadapi dia sambil menangis dan Bouw Pek berdiri dihadapannya dengan roman sangat berduka, dia rasakan hatinya sakit bukan main. Lama dia mengawasi mereka itu, lalu dengan pelahan dia ulur tangannya akan pegang tangannya si anak muda.

Bouw Pek lekas sodorkan tangannya, memberi dipegang oleh jago tua itu.

Sambil memegang dengan keras, napasnya loo-piauwtouw memburu.

„Lie Hiantit, seumur hidupku, aku tidak mampu balas budimu." Kata dia akhirnya dengan susah, suaranya pun tidak tegas betul.

Bouw Pek tidak tahu bagaimana dia harus hiburkan orang tua itu, air matanya sudah lantas mengucur turun.

Siu Lian, menyender pada ayahnya, menangis sesenggukan. Orang tua itu pandang gadisnya,dia menghela napas.

Siu Lian, anakku, kau harus pandang Lie Toako ini seperti koko kandung sendiri,' pesan orang tua ini. „Ya, ayah," sahut anak itu dengan pelahan. „Kenapa kau begini berduka, lauwsiok?" kata Bouw Pek seraya susut air matanya. Dia coba kuatkan hati. „Sakitmu ini akan sembuh, apabila kau sudah mengaso dua hari. Tentang nona Siu Lian, jangan kau kuatir, pasti sekali aku akan anggap dia sebagai adik kandungku !" Dimulut Bouw Pek berkata demikian, di hati dia bukan main kendalikan diri. Orang tua itu napasnya masih saja bekerja keras.

„Aku kuatir aku tidak bisa hidup lebih lama. " katanya kemudian.

Siu Lian menangis lebih keras apabila mendengar ucapan ayahnya itu.

Nyonya Jie menangis sampai dia tidak bisa memberi dengar suaranya.

Bouw Pek berdiri dengan bingung, dia tidak tahu siapa yang mesti dihibur, tidak tahu juga apa yang mesti diucapkan.

„Jikalau aku mati, carikan tempat sembarang saja, paling dulu kuburlah mayatku", berkata pula si jago tua yang telah putus asa. „Dan kau. Bouw Pek."

ia menyambung dengan tidak lagi berbahasa „hian-tit"  pada anak muda itu, „aku minta pertolongan kau, aku minta dengan sangat sukalah kau tolong antar ibu dan anak ini ke Soan-hoa-hu !."

Dengan disebutnya kota Soan-hoa, baru sekarang Bouw Pek mengerti kemana tujuannya si orang tua. Jadinya orang tua ini pergi ke utara bukannya ke Po-teng, tetapi ke Soan- hoa-hu untuk antarkan Siu Lian kerumah bakal mertuanya dinikahkan. Dalam keadaan seperti itu, dia tidak bisa banyak pikir. diapun mesti unjuk sifat laki2nya. Maka dia lekas menyawab :

„Jangan kuatir, lauwsiok! Umpama kata benar lauwsiok mesti menutup mata disini, paling dulu kami akan urus jenazahmu, kemudian encim dan adik Siu-Lian aku nanti antarkan ke Soan-hoa, kerumahnya ke luarga Beng, supaya disana sesudahnya habis waktunya berkabung, adik Siu Lian bisa rayakan pernikahannya. Setelah itu, biarlah adik Siu Lan datang pula kemari, buat ambil layon lauwsiok untuk dikubur di kampung sendiri. Tapi, sekarang aku minta lauwsiok jangan putus asa, mustahil sakit kau ini tidak dapat disembuhkan."

Jawaban anak muda itu bikin hatinya si orang tua jadi sangat lega, hingga pikirannya terbuka. Dia menghela napas secara longgar. Karena bersukur,dia telah kucurkan air mata jagoannya, air mata dari usia tua.

Tatkala itu tuan rumah penginapan muncul bersama tabib yang diundangnya, sudah lantas lakukan kewajibannya, terutama buat periksa nadi orang. Selama itu beberapa kali  dia geleng kepala dan kerutkan alis.

,,Penyakit ini disebabkan sangat mendongkol dan berduka," kemudian kati tabib ini, „sudah begitu, orang tua ini telah terkena angin."

Lalu dengan tidak banyak omong lagi dia tulis resepnya. Siu Lian lekas2 keluarkan uang buat membayar tabib itu. Bouw Pek mengantar sampai diluar ketika tabib itu pamitan.

„Nadinya orang tua itu terlalu lemah," kata si tabib dengan pelahan pada anak muda kita. „Kalau sebentar habis makan obatku keadaannya jadi mendingan, kau boleh lantas panggil aku pula, tetapi apa bila sebaliknya, kau harus sedia2 buat urus dia lebih jauh !." Setelah mengucap demikian, tabib ini lantas ngelojor pergi.

Bouw Pek mau percaya perkataan tabib ini, dugaan siapa tentang sebabnya penyakit ada cocok. Oleh karena itu dia jadi tambah2 duka. Karena terang penyakitnya Jie Hiong Wan tidak akan sembuh. „Sungguh kasihan Siu Lian andai kata ayahnya mesti menutup mata disini." pikirnya. „Bagaimana aku bisa hiburkan dia ?."

Dengan kedukaan anak muda ini pergi kepasar buat beli obat, diwaktu kembali dia pergi kedapur akan masak sendiri obat itu, kemudian dia bawa obat itu kedalam kamar, diserahkan pada Siu Lian.

„Coba berikan ajahmu minum !"dia kata. Siu Lian menurut,dia sambuti obat itu. Jie Hiong Wan mau minum obat, sesudah itu dia rebahkan diri, coba napasnya tidak lagi berjalan, dia mirip dengan mayat.

Siu Lian ambil kipas akan usir pergi lalat yang merubung orang tuanya.

Nyonya Jie duduk ditepi pembaringan, sebelah tangan meng-usut2 dadanya, sebelah lagi dipakai menyusut air mata. Dia menanggis dengan tidak bersuara, air matanya tidak mau berhenti meleleh.

Dengan se-bisa2 Bouw Pek hiburkan ibu dan gadisnya, kemudian dia pergi keluar minta tuan rumah sediakan kamar buat dia. Disini dia mengasokan diri.

Hari itu keadaannya Jie Hiong Wan tidak menjadi lebih baik, malah sebaliknya, sedang esoknya pagi dia muntah darah lagi dua kali dan napasnya mulai mendesak, kemudian buka mulut akan bicarapun dia tidak bisa.

Tabib yang kemarin telah diundang lagi, akan tetapi sekarang ini dia tidak sanggup bikin resep lagi, maka bisa dimengerti yang nyonya Jie dan Siu Lian menjadi bingung bukan main, sampai mereka tidak tahu musti berbuat apa kecuali menangis saja.

Bouw Pek penasaran, dia minta tuan rumah tolong carikan tabib lain, akan tetapi tabib yang baru juga geleng kepala.

„Ia sudah tidak dapat ditolong lagi, baiklah sediakan segala apa, kata sang tabib waktu dia pamitan pulang.

Bouw Pek masih coba hiburkan Siu Lian dan ibunya, kemudian dia cari tuan rumah buat diajak berdamai dalam hal membeli peti mati, pakaian dan tempat buat taruh peti karena dihotel orang tidak bisa taruh peti lama2. Untuk semua ini dengan dibantu oleh tuan rumah yang baik hati, dia telah gunai antero hari.

Malamnya Jie Hiong Wan bisa juga bicara, kendati napasnya telah makin mendesak. Jago tua ini bisa tinggalkan pesanan, yalah.:

„Dengan anaknya Ho Hui Liong, jangan kau bikin dendaman jadi lebih hebat. Kalau nanti kau sudah sampai di Soan hoa, aku ingin kau menjadi nyonya mantu yang baik. Ketiga adalah aku minta kau dan ibumu jangan lupakan kebaikannya Lie Hiantit, karena dia telah berbuat terlalu banyak buat kita. "

Dari lagu bicaranya orang tua ini, nyata dia menyesal yang jodoh anak gadisnya itu sudah ditetapkan sedari siang , bila tidak, pastilah jodoh anak itu dia akan rangkap dengan Lie Bauw Pek. seorang muda siapa hati dan kegagahannya dia sudah buktikan sendiri. Ketika pesanan itu diucapkan, Bouw Pek kebetulan tidak ada didalam kamar, tetapi Siu Lian nyata sangat terduka.

Diwaktu orang tidur, Bouw Pek datang menengoki, dia dapat kenyataan napasnya si orang tua telah jadi pendek dan makin pendek, maka dia bisa duga saatnya akan segera tiba yang jago tua itu akan ambil selamat berpisah dari mereka.

,,Kelihatannya sang saat akan lekas datang, kendati demikian, nona baiklah jangan bingung, " katanya kemudian kepada nona Jie. „Peti mati dan pakaian aku sudah belikan, pakaian ada dikamarku, peti mati tinggal digotong saja. Peti mati dari kayu cemara yang kuat. Tempat buat taruh layon juga aku sudah cari, yalah di Kwan Tee Bio disebelah timur dusun ini. "

Siu Lian menangis sampai tak bisa kata apa-apa,dia cuma bisa manggut.

Kemudian Bouw Pek duduk dibangku disamping pembaringan, akan temani nona itu dan ibunya menunggu si orang tua. Nyonya Jie duduk diam saja seperti juga sedang tidur, dia menangis dengan tidak keluarkan suara, air matanya tidak keluar.

Kamar itu diterangi dengan lampu minyak tanah, nyala apinya kelik-kelik, hingga membikin seluruh kamar nampaknya seram.

Dari kamar-kamar sebelah terdengar nyata mengerosnya tamu2 lain. yang sudah pada tidur pulas sesudah tadi siang mereka lintasi perjalanan jauh. Bouw Pek terus duduk sampai dia dengar suara kentongan tiga kali, dia menoleh pada Siu Lian, dia lihat si nona rupanya sangat ngantuk, kepalanya tunduk.

Merasa likat akan duduk terus dikamar itu, kemudian anak muda ini balik kekamarnya sendiri, dalam kedukakan dan pikiran pepat dia duduk dikursinya, tetapi tidak lama, dengan tidak salin pakaian lagi dia hampirkan pembaringan buat rebahkan diri. Dia baru saja layap-layap mau pulas, ketika menjadi terperanyat mendengar dikamarnya si jago tua Siu Lian dan ibunya menangis meng-gerung2. Tidak menunda lagi dia lompat bangun dan memburu keluar akan pergi kekamarnya Hiong Wan. Waktu sampai didepan pintu kamar, dia segera dengar Siu Lian ber-ulang2 teriaki ayahnya : „Ayah, ayah!". Jie Hiong Wan. piauwsu tersohor, si jago tua, rebah dengan mata meram dan tubuh tidak bergerak, ketika Lie Bouw Pek bertindak masuk kedalam kamarnya terus sampai didepan pembaringan. Dia lantas turut menangis buat orang tua itu yang bernasib malang.

„Sudahlah, encim, adik . . . . " katanya kemudian, setelah coba kuatkan hati, supaya tidak menangis terus. Dengan tidak keluarkan suara, air matanya tidak keluar, Tuan rumah bersama dua pegawainya juga telah masuk.

„Coba panggil pengurus mayat, peti mati juga boleh lantas digotong kemari," kata Bouw Pek pada salah satu pegawai, kemudian dia pergi kekamarnya akan ambil pakaian mati.

Tuan rumah dan pegawainya, ber-sama2 anak muda kita, sudah lantas urus mayatnya Jie Hiong Wan, buat tukar pakaiannya, di waktu mereka baru selesai pengurus mayat telah datang, maka dia atur kedudukan mayat buat dipasangi hio.

Siu Lian dan ibunya telah dibujuki sampai mereka berhenti menangis, lantas mereka dampingi mayat ayah dan suami mereka. Bouw Pek juga terus berdiam didalam kamar itu, sampai sang fajar datang.

Begitu lekas sudah terang tanah, peti-mati telah digotong kedalam kamar. Semua orang lantas bekerja dengan sunyi dan cepat, maka tidak lama berselang layon itu sudah bisa digotong ke Kwan Tee Bio. Disini upacara sembahyang dibantu oleh beberapa hweeshio yang membaca doa.

Oleh karena perembukan telah dilakukan sejak kemarinnya, hweeshio Kwan Tee Bio telah berikan bantuannya dengan mudah, malah dia juga yang unjuki tanah kosong dibelakang bio, tanah mana ada pepohonan nya, hingga dia anggap itu suatu tempat yang bagus letaknya untuk kuburan.

„Penguburan lebih baik dilakukan disitu, kalau lain waktu peti mau digali, se-gala2 nya mudah," kata si orang suci.

Bouw Pek setuju, tetapi buat ambil putusan,dia cari Siu Lian buat diajak ber damai.

„Nona akan pergi ke Soanhoa, setahu sampai kapan nona bisa kembali kemari, maka itu jalan paling sempurna adalah tunda layonnya ayahmu," dia memberi pikiran. Sukur apabila dibelakang hari nona bisa datang kemari jauh lebih cepat."

„Begitupun baik," sahut Siu Lian sambil menangis. „Tentang ongkosnya koko boleh putuskan sendiri, nanti aku bayar."

‘Ongkosnya tidak seberapa," kata Bouw Pek, yang merasa senang bahwa usulnya di terima baik. Demikian putusan diambil. Dihari kedua, pagi2 tukang2 gali lobang kuburan sudah datang dan lantas bekerja, maka tidak lama berselang layonnya Jie Hiong Wan telah digotong untuk dimasuki kedalam lobang itu. Siu Lian dan ibunya telah saksikan bagaimana layon ayah dan suaminya dikebumikan.

Demikian Tiat-cie-tauw atau Lauw Tiauw, piauwsu ketua Jie Hiong Wan, telah sampai pada akhir penghidupannya yang banyak pengalaman nya.

Siu Lian dan ibunya telah bakar kertas, mereka telah menangis, kemudian ber-sama2 Bouw Pek mereka kembali kerumah penginapan, untuk ambil putusan hal keberangkatan mereka dan lakukan segala pembayaran.

„Lie Toako, sukur ada kau yang telah bantu kami," kata Siu Lian, „kalau tidak ada kau, entah bagaimana kesukaran kami urus layonnya ayah. Kami juga bersukur untuk bantuan kau selagi kami dikepung oleh anak nya Ho Hui Liong, waktu ayah mesti mendekam dalam penyara. Sekarang ini bisa dibilang sukur yang ayah telah menemui hari akhirnya dalam keadaan selamat."

Diwaktu mengucap demikian, nona ini menangis sedih sekali.

„Toako," kemudian dia kata seterusnya, „apabila kau punya urusan penting di Pak-khia, kau tidak usah antar kami ke Soanhoa-hu. Kami tidak bisa merasa lega hati, apa bila untuk urusan kami lebih jauh, urusan kau sendiri menjadi gagal."

„Jangan kau mengucap demikian, nona." berkata Bouw Pek, yang sangat terharu. „Dalam hal ini tidak ada soal budi atau kebaikan Lauwsiok sobatnya guru-ku, dengan begitu dia sama saja sebagai guruku sendiri, maka adalah suatu keharusan belaka apabila aku berikan bantuanku yang tidak berharga. Nona niat pergi sendiri ke Soanhoa-hu kau memang bisa lakukan. Dengan kegagahan kau, aku percaya tidak nanti ada orang yang bisa hinakan kau. Tapi kau dan ibumu orang2 perempuan semua, aku anggap kurang leluasa kau lakukan perjalanan ini. Tentang aku. kepergian ke Pakkhia bukannya untuk urusan penting, aku melulu hendak sambangi sanak, maka lambat atau cepat kedatanganku disana, tidak ada urusannya. Diwaktu hendak hembuskan napasnya. lauwsiok, telah pesan aku supaya aku antar kau dan encim ke Soanhoa dan aku telah berikan janjiku, maka sekarang tidak bisa lain, perlu aku antar kau sampai di tempat tujuan. Aku baru merasa lega, sesudah nanti aku ketemu dengan Beng Loopeh dan Beng Jie-siauwya. Maka itu, adikku, harap kau jangan pusingi lagi tentang urusanku."

Siu Lian tidak mau memaksa, dia susut air mata, hatinya bukan main bersukur.

,,Memang lebih baik apabila Lie Siauwya bisa ikut kita," berkata Jie Thaythay. ,,Jikalau ada orang lelaki yang kawani kita, ditengah jalan tentulah tidak akan terbit onar pula."

„Baiklah kalau begitu !" kata Siu Lian akhirnya. Toako, baik kita berangkat besok saja!" Kemudian Siu Lian memberi tahu, oleh karena kuda ayahnya sudah tidak ada yang tunggang, kuda itu baik dijual saja. „Begitupun baik," kata Bauw Pek.

Anak muda ini lantas ajak jongos menuntun kuda pergi kepasar buat jual kuda itu. Binatang itu bagus, dulu dibeli oleh Jie Hiong Wan dengan harga dua ratus tail perak, akan tetapi sekarang, karena hendak dijual lantas, orang hanya berani beli buat seratus enampuluh tail.

„Uangnya toako saja yang pegang, untuk ongkos perjalanan kita ini," kata Siu Lian waktu si anak muda hendak serahkan uang itu padanya. Bouw Pek tidak menolak, maka uang itu dia lantas simpan. Masih setengah hari lagi rombongan ini berdiam di Jie-sie-tin, sesudah itu, esoknya pagi2 mereka berangkat akan lanjut kan perjalanan menuju ke Soanhoa. Siu Lian naik kereta bersama ibunya dan Bouw Pek tetap menunggang kudanya. Tuan rumah penginapan telah dibayar baik dan padanya dihaturkan terima kasih buat segala bantuanya.

Perjalanan ditujukan kejurusan barat-laut. Setelah melalui kira2 tiga-puluh lie, mereka sampai di Bongtouw-koan, disini Bouw Pek ajak ibu dan gadisnya itu singgah buat bersantap tengah-hari, kemudian perjalanan di lanjutkan, melewati Wan- koan dan Ngo Ciong Nia, melalui Cie-keng-kwan. Setelah ini, perjalanan lempang langsung ke Soanhoa-hu.

Adalah harapannya Lie Bouw Pek akan lekas-lekas sampai di Soanhoa-hu, supaya dia bisa tempatkan dia punya "bunga yang berharga laksana mutiara" ditempat yang aman.  Dia tahu dia harus berbuat demikian, karena dia tidak boleh mengharap lebih, tidak perduli bagaimana berat rasa hatinya akan berbuat demikian itu. Dia anak muda yang terhormat, yang berhati mulia, dia tidak boleh lakukan apa-apa yang sesat. Dia mesti korbankan diri, asal nama baiknya bisa dijunjung tinggi.

Disepanjang jalan jarang Bouw Pek bicara dengan Siu Lian, begitupun si nona terhadapnya. Setiap malam, diwaktu singgah dihotel, Bouw Pek tentu minta dua kamar, sebuah untuk ibu dan anak itu, sebuah untuk dia sendiri.

Biar bagaimana juga, Jie Thaythay tidak tenteram hati melibat perbuatan orang terhadap mereka. Bukankah pemuda itu bukan sanak dan bukan kadang ? Tapi bagaimana besar pertolongannya terhadap mereka.

Nyonya janda ini pernah tanya pemuda itu, dirumahnya dia masih punya anggota keluarga siapa dan dia sudah menikah atau belum, tetapi orang yang ditanya menyawab dengan sembarangan saja.

Bouw Pek tidak mau omong banyak. Dia anggap, bila dia sudah antar ibu dan anak itu, sudah cukup. Dia telah pikir, seberlalunya dari Soanhoa dia hendak mengembara, dia niat merantau dengan tidak ada tujuan-nya. Dia anggap, tidak ada sebab kenapa dia mesti ketemu pula dengan ibu dan anak itu.

Demikian, perjalanan dilakukan lagi delapan hari lamanya, diwaktu mana kira-kira jam tiga lohor barulah rombongan ini memasuki kota Soanhoa-hu.

Selama di tengah perjalanan Lie Bouw Pek sudah dapat keterangan dari Jie Thaythay tentang keluarga Beng. Bakal mertua lelaki dari Siu Lian yalah Beng Eng Siang, yang bergelar Kauw-pak-Him, Biruang dari Kauwpak. Dia punya piauw-kiok, pakai merk Eng Siang Piauw-tiam, tiga atau empat puluh tahun lamanya dia bisa mengantar barang-barang ke Thio-kee-kauw. Anak lelaki pertama dari Beng Piauwtauw adalah Su Ciang, kabarnya sudah menikah. Anak lelaki kedua, yalah tunangan Siu Lian, adalah Su Ciauw. Dua-dua anak itu mengerti silat dan telah bantu ayah mereka urus piauw. Oleh karena telah ketahui hal ayah dan anak-anaknya itu dan piauwtiam mereka, Bouw Pek dengan mudah bisa cari rumah atau kantor perusahaannya.

Eng Siang Piauw-tiam adalah sebuah rumah yang besar dengan pekarangan luas, begitu masuk dipintu segera tertampak pekarangan, dimana biasa ditempatkan kereta- kereta dan kuda, ketika itu terdapat dua-puluh ekor kuda lebih serta beberapa ekor onta. Dimuka pintu, diatas bangku panjang, duduk beberapa pegawai. Begitu lekas lihat si anak muda turun dari kudanya, seorang pegawai, yang berumur tiga-puluh lebih, yang berkumis pendek, segera berbangkit menghampirkan.

„Cari siapa, tuan ?" tanya pegawai itu. Bouw Pek angkat kedua tangannya.

„Aku utusan dari Jie Loo-piauw-tauw dari Kielok,"dia menyawab. „Aku datang kemari mengantarkan Jie Loo- thaythay dan anaknya perempuan."

Mendengar itu, pegawai itu nampaknya terkejut berbareng girang.

„Oh, loothaythay dan si nona datang '"dia berseru. „Marilah kita minta loo thay-thay dan si nona turun dari keretanya !"

Ia berlari-lari menghampirkan kereta, yang sudah berhenti.

„Thay-ma baik ?"dia menegor nyonya Jie. „Sudah enam tahun kau tidak lihat aku, kau tentu sudah tidak kenali aku.” Ah, nona, kau juga sudah jadi begini besar ?"

Nyonya Jie dan gadisnya awasi orang itu akan akhirnya mereka dapat mengenalinya

„Lauw Keng ! mereka kata hampir berbareng.

„Ya, thay-ma," sahut pegawai itu, yang benar adalah Toan- kim-kong Lauw Keng, si Kimkong Kate atau si kumis pendek. Dulu dia pegawainya Jie Hiong Wan, setelah Hiong Wan Piauw

- tiam ditutup, Lauw Tiauw telah pujikan dia pada Beng Eng Siang, dimana dia bekerja pada Eng Siang Piauw-tiam, hingga waktu itu. Dia bingung ketika dia tampak orang berkabung.

„Dan lauwtee ini siapa?"dia tanya seraya menoleh pada anak muda kita.

„Aku Lie Bouw Pek," sahut pemuda itu.

„Oh, Lie Lauwtee," kata pegawai ini. Kemudian dia tanya dengan pelahan. „Apa Jie Loopeh baik ?"

„Jie Lauwsiok telah menutup mata," Bouw Pek jawab dengan pelahan.

Lauw Keng kaget, air mukanya lantas berobah menjadi lesu, tanda dia berduka. Tapi setelah itu dia tidak banyak omong lagi, dia hanya pimpin nyonya dan nona tamu masuk kedalam, dengan diam-diam dia susut air matanya.

Sementara itu tuan rumah telah diberitahukan  oleh pegawai lain tentang kedatangannya nyonya dan nona tamu dari Kie-lok. Beng Eng Siang bersama isterinya sudah lantas keluar untuk menyambut, dengan begitu kedua pihak telah saling ketemu di depan rumah.

Melihat Beng Loo-thaythay Jie Loo-thaythay segera samber tangan orang.

„Adikku!." dia berseru seraya menangis.

Nyonya rumah sambut tangan orang dengan keras, iapun turut menangis, sedang kemudian dia jabat tangannya, Siu Lian.

Beng Eng Siang keluar dari dalam dengan perasaan girang, dia sudah tahu yang Jie Hong Wan tidak turut datang, sobat dari tiga-puluh tahun, siapa tahu, dia tampak tamunya pada berkabung dan mereka datang2 menangis, hatinya jadi mencelos, karena dia ketahui apa artinya itu.

„Ajaklah enso kedalam,"dia kata pada isterinya. „Siapa yang antar enso?"

„Pengantarnya Lie Lauwtee ini," Lauw Keng mendahului menyawab.

Dengan air muka tersungging, senyum, Eng Siang hadapi tamunya.

„Kau banyak cape, hiantit. Sudikah kau perkenalkan dirimu padaku?"

Lie Bouw Pek unjuk hormatnya, yang mana dibalas oleh tuan rumah. Dia memberi tahu she dan namanya.

„Menurut Lie Lauwtee ini, Jie Loopeh telah meninggal duuia," Lauw Keng memberi tahu majikannya. Eng Siang banting2 kaki. „Ah !."dia berseru dengan tertahan.

Air matanya lantas saja turun, hingga Lauw Keng kembali turut mewek. Pengawal ini ternyata sangat cinta bekas majikannya. Lie Bouw Pek lantas diundang duduk di thia, dimana disuguhkan teh. Beng Eng Siang susut air matanya. „Aku tahu Jie Toako biasa pandai rawat diri dan dia belum berumur tujuh puluh tahun, kenapa dia meninggal dunia?" dia tanya. „Ia dapat penyakit apakah?"

„Ia menutup mata karena kedukaan dan kejadian ditengah jalan," sahut anak muda kita yang se-bisa2 tahan kesedihan- nya. Eng Siang dan Lauw Keng merasa heran.

„Ia meninggal dunia ditengah jalan ?" piauwsu  itu ulangkan, „Kalau suka, hiautit, tolong kau tuturkan aku satu dan lain tentang Jie Toako."

Lie Bouw Pek bersedia berikan penuturannya, mulai terbitnya permusuhan diantara Jie Hiong Wan dan Ho Hui Liong, sampai anak2nya orang sbe Ho itu datang mencari balas, sampai Lauw Tiauw terpaksa sekap diri dan mau menyingkir, apa mau, sang nasib tidak bisa dilawan, maka kejadian jago tua itu menutup mata ditengah perjalanan. Dia terangkan tentang dua kali pengepungan pada Hong Wan, sampai yang paling belakang jago tua itu kena ditahan dalam penyara, rupanya musuh gunai pengaruh uang.

„Semua itu adalah kejadian hebat yang bikin Jie Loo- enghiong sangat mendongkol dan berduka, hingga dia tidak tahan akan derita itu lebih jauh. Oleh karena terpaksa, layonnya loo-eng-hiong telah dikubur di Jie-sie-tin."

Lebih jauh Bouw Pek beritahukan, yang dia muridnya Kie Kong Kiat, dari itu dengan Jie Hiong Wan dia pernah paman dan keponakan.

„Menurut pesanan Jie Loo-enghiong, aku telah antar encim dan anak Siu Lian sampai disini," kemudian anak muda kita bicara lebih jauh. „Adalah keinginan loo-enghiong buat anaknya nanti dinikahkan, apabila perkabungannya sudah cukup tiga tahun, sesudah itu, dia harap anaknya nanti angkut pulang layonnya. Aku punya urusan di Pakkhia aku pikir buat berangkat besok." Beng Eng Siang menghela napas.

„Aku tidak pernah sangka, bahwa saudara Jie bisa mengalami nasib demikian hebat." Dia kata. „Ketika aku masih muda, bersama Jie Toako aku bekerja di Tay Hin Piauw-tiam di Pakkhia, sebagian dari ilmu silatku adalah toako yang ajarkan. Dua tahun sejak dia pulang kekampungnya dan buka piauw-tiam sendiri, aku juga pulang kemari akan berusaha sendiri juga, selama itu setiap setengah atau satu tahun aku tentu kunjungi toako di Kielok, adalah perhubungan kekal ini yang menyebabkan kami ikat perjodohan anak2  kami. Tentang permusuhan antara toako dan Ho Hui Liong aku tidak ketahui, sampai Lauw Keng datang kemari dan bekerja padaku, katanya toako telah tutup perusahaan karena hatinya jadi tawar. Aku kenal Ho Hui Liong, karena dia juga sobatku, malah dalam hal persobatan, persobatannya dengan toako jauh lebih kekal dari pada aku. Maka aku tidak sangka sama sekali, bahwa diantara mereka sudah terbit bentrokan hebat, yang sekarang merupakan permusuhan besar, malah permusuhan turun menurun. Aku tidak nyana, yang Hui Liong begitu sesat, sesudah sama2 berusia meningkat mereka bermusuh satu pada lain. Hiantit ketahui, karena urusan mereka itu hatiku juga sudah mulai menjadi tawar, hingga aku sungkan pergi

Jauh2. Begitulah waktu itu aku hanya tulis surat pada toako, buat hiburkan dia, yang sering2 aku lakukan. Selama itu, aku selalu dapat balasan yang mengatakan toako sehat walafiat. Kemudian aku juga lupai hal anak2nya Ho Hui Liong, aku tidak pernah pikir, bahwa mereka sekarang telah datang memaksa, sehingga toako mesti menutup mata secara begini kecewa. Benar benar ini musuh turunan."

Eng Siang menghela napas, alisnya mengkerut.

,,Selama dua tahun ini, juga pikiranku kusut' kemudian dia bicara tentang dirinya sendiri. „Anakku yang kedua, Su Ciauw, sejak musim pertama meninggal kan rumah, dia pergi setahu kemana, sampai sekarang tidak ada kabar ceritanya, jikalau tidak pastilah siang2 aku sudah sambut nona Jie, buat rayakan pernikahan mereka."

Lie Bouw Pek heran mendengar keterangan itu.

„Kenapakah lenglong meninggalkan rumah ?" tanyanya. Eng Siang bersangsi beberapa saat sebelum dia memberikan penyahutan, iapun kembali menghela napas sebelum buka mulutnya.

„Anakku yang kedua itu anak yang pintar, sayang adatnya tinggi dan keras," berkata orang tua ini. „Sedari masih kecil,

Su Ciauw tidak suka dengar suara orang tua

hingga kejadian diwaktu umur sembilan tahun dia telah lenyap, sampai beberapa tahun lamanya. Aku tadinya sangka anakku itu telah menutup mata, ketika beberapa tahun kemudian dia kembali dengan sudah menjadi anak tanggung umur tigabelas tahun. Menurut ceritanya, dia telah  menghilang dari rumah karena dia telah ikuti serombongan orang jahat. diasudah merantau sampai di Bong-kouw, sudah lintasi Ho-to, malah dia pernah ikut2 pasukan tentara. Tidak heran dalam usia muda itu dia telah mengerti ilmu silat, malah juga kenal mata surat. Sepulangnya, aku sekolahkan ia, supaya dia bisa lanjutkan pelajaran surat. Dia bisa belajar surat dengan tenang. pelajaran silatnya dia tidak sia2-kan. Aku dapat kenyataan dia bisa mainkan golok dan pedang dengan baik. Begitulah maka kemudian aku telah jodohkan dia dengan nona Jie. Aku sudah pikir, lewat lagi lima arau enam tahun, aku akan raya kan pernikahan mereka. Dalam umur lima belas tahun dia sudah bisa bantu aku didalam piauw tiam."

,Itulah bagus," Bouw Pek bilang.

,,Tetapi diluar dugaanku, kemudian adat nya telah berobah pula." Beng Eng Siang lanjutkan keterangannya „Ia suka keluar,dia suka berkelahi dia usilan sekali, gemar campur urusan orang lain, sedang dalam hal uang. Dia pakai itu secara dihamburkan. Diluaran hiantit tahu, dia campur segala ragam orang. Bersama engkonya, aku coba bikin penilikan keras. Dia ternyata tidak suka dikendalikan, dia jadi tidak betah ber diam dirumah. Adalah pada tahun yang baru lewat dia telah terbitkan suatu Onar besar.” „Apakah adanya itu, loopeh ?" tanya Bouw Pek. Dia tertarik dengan penuturan itu, dia tertarik oleh sifatnya Su Ciauw. Eng Siang menghela napas, dia batuk2.

„Di Soanhoa ini ada hartawan besar bernama Thio Ban Teng."dia menutur „selain berharta diapun berpengaruh luar biasa."

Itu disebabkan dia punya encek, yang didalam Istana Terlarang menjadi toa-cong koan, yang pengaruhnya umpama kata melebihi pengaruhnya kun-kee tay-sin. Begitulah sekalipun hu-tay disini tidak berani main gila terhadap hartawan ini. Thio Ban Teng punya batin buruk, dia sudah punya belasan gundik, tetapi dia masih tetap kemaruk paras elok, sedang diluaran dia masih punya beberapa sobat perempuan lagi. Didalam kota ada seorang tukang sayur bernama Gouw Loo Toa, dia punya isteri yang elok romannya. Setahu kapan, nyonya Gouw dapat dilihat oleh Thio Ban Teng dan hartawan ini lantas gunai pengaruhnya, akan kang-kangi isteri orang. Ketika Gouw Loo Toa ketahui perbuatan isterinya, dia tidak dapat lihat jalan lain daripada hajar isterinya itu, Karena kejadian ini, nyonya Gouw menjadi sangat malu, dia ambil putusan nekat dengan gantung diri hingga mata Gouw Loo Toa ketakutan, tahu pasti yang hartawan Thio akan tidak mau sudah, dia buron dari kota, entah kemana dia pergi, boleh jadi dia sudah mati. Itulah hal yang hebat, tetapi dengan kami tidak ada sangkutannya, tetapi kapan Su Ciauw dengar kejadian itu, dia sangat gusar, dengan bawa pedang dia satroni Thio Ban Teng, dia serang hartawan itu pada dua- dua kakinya, setelah ini anakku buron, malah dia pergi dengan tidak bawa uang. Thio Ban Teng tidak mati, dia dan orang2nya tidak mau mengerti, pengaduan segera dimajukan pada pembesar negeri. Karena pengaduan ini, hampir2 aku dijebluskan dalam penjara, aku telah gunai lima-ratus tail perak, baru perkara itu bisa dibikin sirap. Sejak itu, anakku yang put-hauw itu telah tidak pernah pulang ke Soan-hoa ini

!" Eng Siang lagi2 menghela napas. „Kasihan nona Jie,"dia menutur terus. „Ia telah kehilangan ayahnya, hingga dia kehilangan juga orang yang dibuat andelan. Dia telah datang kemari, coba Su Ciauw ada dirumah, pasti aku akan nikahkan mereka. Aku telah berusia tinggi, bagaimana aku tidak girang akan lihat anak menikah? Apa celaka, anak itu tidak berbakti, dia tinggalkan rumah dan orang-tua! Sekarang tidak ketahuan dia masih hidup atau mati. Sekarang anaknya Jie Toako jadi ter-sia2, sungguh aku malu terhadap rohnya toako."

Piauwsu tua ini kucurkan air mata. Bouw Pek merasa kasihan buat nasibnya Siu Lian yang malang, dipihak lain dia pun kagum terhadap Su ciauw, kegagahan siapa menarik perhatian.

,Ia terang pemuda gagah", dia pikir. „Ia tentu punya kepandaian tinggi, maka dia bernyali begitu besar. Dengan dapatkan suami sebagai Su Ciauw, Siu Lian tidak kecewa, maka sayang, anak muda itu sekarang tidak ketahuan kemana parannya!"

„Baiklah kau jangan bersusah hati, lauwsiok," dia coba hiburkan tuan rumah. „Aku niat lakukan perjalanan, andai-kata suatu waktu aku beruntung ketemu saudara Su Ciauw, aku tentu akan anjurkan dia pulang, atau sedikitnya dia sambut nona Jie, agar mereka bisa menikah, kendati juga ditempat lain."

„Menikah ditempat ini? Itulah bukan daya yang baik," Eng Siang menghela napas. „Cara itu pun masih tidak setimpal bagi kehormatannya nona Jie. Sekarang si nona sudah datang, biarlah dia tinggal sama aku, aku nanti pandang dia sebagai anak sendiri. Dia masih muda, dia bisa tinggal disini sedikitnya dua tahun lagi. umpama kata Su Ciauw sudah menutup mata, atau adatnya tetap tidak bisa dirobah, terpaksa aku nanti angkat nona Jie menjadi anak-angkatku dan carikan dia pasangan lain!"

Tapi Bouw Pek tidak setuju pikirannya orang tua itu  tentang Siu Lian hendak dinikahkan dengan orang lain. Cuma karena baru kenal satu sama lain, dia tidak berani sembarangan bicara. Tuan rumah juga sudah lantas berbangkit.

,Ijinkan aku masuk kedalam, aku perlu hiburkan ibu dan anak itu," katanya, yang terus undurkan diri. Bouw Pek jadi terus ditemani oleh Toan-Kim kong.

Kebetulan waktu itu datang dua piauw, mereka lantas diajar kenal.

„Lie Tauwte ini adalah Lie Bouw Pek muridnya Kie Kiong Kiat Loo-suhu," kata si kumis pendek, „ia datang kemari mengantarkan keluarga perempuan dari Jie Lauw Tauw. Dan ini," dia bicara pada Bouw Pek, „toa-piauwsu kami Tong Cin Kai dan Khouw Giok Teng."

Kedua fihak segera saling unjuk hormat, kemudian mereka pada berduduk akan pasang omong.

Bouw Pek tidak kesepian, malah dia tertarik hatinya waktu pembicaraan lalu menjurus pada Su Ciauw, putera kedua dari Kauw-pak Hin Beng Eng Siang.

Menimbang pembicaraannya orang2 dari Eng Siang Piauw- tiam, Bouw Pek dapat anggapan yang Beng Su Ciauw punya ilmu tinggi dan berambekan, hingga bisa dibilang Beng Jie siauwya itu pemuda gagah-mulia, melainkan sedikit kukoay, hingga dia sukar dapat kecocokan dengan sembarang orang.

„Satu kali aku ingin cari jie-siauwya," Bouw Pek nyatakan kemudian.

„Jie-siauwya seorang dengan potongan tubuh biasa saja," Khouw Giok Teng lalu terangkan. „Ia tidak bertubuh tinggi, mukanya kuning dan kurus, tetapi matanya

besar. Dia bisa bicara beberapa rupa bahasa daerah, malah dia mengerti juga bahasa Bongkouw."

„Didalam usia muda dia pernah merantau ke Bongkouw, disana mestinya dia punya sobat atau kenalan," Bouw Pek nyatakan. „Apa tidak bisa jadi yang dia telah buron kesana ?"

„Tidak," Lauw Keng geleng kepala. „Di Bongkouw dia seorang yang ternama, akan tetapi aku pernah minta pertolongan beberapa  saudagar  yang  berniaga  kesana,  mereka  semua pulang dengan tangan kosong, sia-sia saja mereka mencari keterangan tentang jie-siauwya."

Sampai disitu, pembicaraan menjurus pada Beng Su Ciang, anak sulung dari Beng Loo-piauwsu.

„Ia sekarang tidak ada dirumah," Lauw Keng memberi  tahu. „Ia telah pergi mengantar piauw ke Kui-hoa. Dalam hal sifat dan ilmu,dia kalah jauh daripada adiknya !"

Bouw Pek tidak menanyakan lebih jauh, sedang Lauw Keng kemudian memberi tahu, bahwa kamar telah sedia buat tamunya ini, maka dia lalu diantarkan kekamarnya itu,  di mana dia lalu beristirahat.

Setelah bersantap malam, seorang diri Bouw Pek berdiam dalam kamarnya, terutama akan pikirkan halnya Siu Lian. Dia sangat terharu mengingat nasibnya sinona,

Yang cantik dan gagah, yang halus budi pekertinya, tetapi peruntungannya begitu malang, sudah kehilangan ayah, punya musuh2 yang liehay, sekarangpun „kehilangan" tunangan. „Dan aku, bagaimana dengan hari kemudian diriku

?." kemudian dia lamuni

dirinya sendiri. Memang juga belum ada ketentuan tentang dirinya, dia seperti perahu hanyut, yang tidak ketahuan tujuannya.

Mengingat yang besok dia mau berangkat pagi2, Bouw Pek coba berhenti memikir segala apa, dia naik atas pembaringannya supaya bisa tidur, agar dia bisa lupai semuanya. Api telah dia padamkan. Tapi, selagi tidur, pikirannya tetap bekerja, sekarang dalam rupa impian. Sananya dia telah ketemu dengan nona Jie, akan pandang tampang muka orang yang elok dan potongan tubuh yang bagus. Sananya, disuatu tempat dia ketemu seorang anak muda, ialah Beng Su Ciauw, tunangan Siu Lian. Anak muda itu memegang golok yang berlumuran darah, dia disamperi hendak diserang, hingga dia mesti bicara kerak-keruk buat terangkan kebersihan dirinya, bahwa sejak dia ketahui si nona telah bertunangan, dia sudah bunuh pikirannya terhadap nona itu. dia unjuk, selama berjalan sampai beberapa ratus lie kedua pihak berlaku sopan satu pada lain, kelakuan dan onongan selamanya rapi.

„Tentang ini aku berani sumpah," begitulah Bouw Pek kata akhirnya. „Kalau kau tetap tidak percaya, silahkan kau gunai golokmu akan belek perutku, akan lihat hatiku !"

Dalam impian itu, Beng Su Ciauw sananya suka percaya keterangan itu. Dia lempar kan goloknya dan sebaliknya pegang keras tangannya, bahkan terharu dia sampai  menangis

Adalah selagi dengarkan tangisannya Beng Su Ciauw, Bouw Pek seperti dengar orang panggil2 dia pada kupingnya, hingga dia buka matanya, hingga samar2 dia lihat bayangan orang berdiri didepannya. Kamarnya masih gelap, itulah sebabnya kenapa dia tidak bisa lantas dapat lihat bayangan itu dengan nyata.

„Lie Toako, Lie Toako," demikian suaranya bajangan itu. Bouw Pek terperanjat, karena dia kenali suara itu, yang halus dan merdu. Dia segera merayap bangun, pikirannya buat pasang lampu. Tetapi bayangan itu cegah dia.

„Tidak usah, Lie Toako, tidak usah nyalakan api. Aku Siu Lian, aku hendak ucapkan dua patah kata, lantas aku hendak pergi pula."

Baru sekarang Bouw Pek ketahui benar2, siapa yang bicara dengan dia itu. Tentu saja dia heran, hingga dia lantas bangun berdiri.

„Apa yang kau hendak bicarakan, nona?" dia kata.

„Bilanglah !"

Tapi si nona nampaknya bersangsi, setelah beberapa saat, baru dengan suara yang tidak lampias dia kata :

„Putera kedua dari loo-piauwtauw disini sudah pergi satu tahun lebih, sampai sekarang tentang dia itu tidak ada kabar- ceritanya, apa toako dapat tahu ?" demikian pertanyaannya.

„Ya, aku sudah tahu," Bouw Pek jawab. „Putera ke-dua loo- piauw-tauw bernama Su Ciauw, dia berkepandaian silat tinggi, nyalinya besar, semangatnya baik, begitulah dia telah lukai hartawan Thio Ban Teng di sini, hingga dia mesti buron." „Tetapi itu bukannya semua," kata Siu Lian. „Turut pendengaranku, memangnya loo-piauw-tauw tidak terlalu sukai anaknya yang kedua itu, sedang puteranya sulung, Su Ciang, adalah saudara yang buruk hati nya. Engko ini berniat kangkangi sendiri harta-benda orang tuanya, maka dia telah dayakan sehingga adiknya menyingkir."

Ucapan itu ditutup dengan tangisan sesenggukan pelahan.

„Inilah aku tidak dengar," kata Bouw Pek, yang menghela napas."

„Baiklah nona jangan berduka hati,"dia kata kemudian.

„Besok pagi aku hendak berangkat pergi, nanti diluaran aku berdaya akan cari saudara Su Ciauw, biar bagaimana juga, aku nanti bujuki dia supaya dia sambut kau, nona."

Agaknya Siu Lian bertetap hati dan ber bareng likat kapan dia dengar perkataannya anak muda itu, sedang Bouw Pek samar2 lihat orang menyusut air mata.

„Sekarang ini aku tidak bisa andalkan siapa juga kecuali kau, toako," kata si nona kemudian lagi.

„Jangan mengucap demikian, nona," Bouw Pek mencegah.

„Aku sudah bilang, aku pandang kau sebagai adik kandung maka itu pasti sekali aku akan lakukan segala apa buat bisa cari sampai dapat saudara Su Ciauw."

Siu Lian terharu bukan main, hampir2 dia menangis meng- gerung2.

Juga air matanya si anak muda mau keluar, dia berdaya buat cegah itu, dan berdaya juga akan tidak bikin si nona mendapat lihat itu. Sukur mereka sedang berada didalam kamar yang gelap-petang.

„Aku mau pergi, toako, silahkan kau tidur," kata si nona kemudian. Dia bertindak keluar, pintunya dia rapatkan pula.

Bouw Pek terpekur sampai suara tindakan kaki si nona sudah lenyap dipedalaman, dia duduk seorang diri dalam kegelapan, hatinya berduka, air matanya meleleh, pikirannya tidak tenteram. Beberapa kali dia menghela napas.

„Impianku, pengalamanku barusan, semua lucu, " akhir2nja dia pikir. „Kenapa aku mesti bingung tidak karuan ? Aku satu laki2, kenapa aku mesti memberi diriku terlibat urusan perempuan ? Sudah, aku mesti ambil putusan, aku tidak boleh berdiam disini lebih lama pula ! Ya, besok aku mesti berangkat

!"

Anak muda ini berbangkit, menghampirkan pintu, yang dia segera tutup rapi, dibantu dengan sebuah kursi, yang dia pakai mengganjel Ketika dia balik kepembaringannya dia rebahkan diri dengan tidak buka pakaian lagi. Dikejauhan, dia dengar suara kentongan empat kali.

Sekarang ini anak muda kita tidak bisa lagi lantas tidur pulas seperti tadi,dia gulak gulik tidak berhentinya hingga tahu2 kentongan dipalu lima kali dan dari jendela dia tampak remeng cuaca fajar. Perobahan cuaca itu lalu disusul dengan kokok sang ayam jago, yang lakukan kewajibannya seperti biasa tiap pagi, yalah berkokok hampir tidak mau berhentinya. Justeru itu, Bouw Fek mendadak merasa kepalanya sedikit pusing, sedang pagi itu dia mesti lakukan perjalanan. Begitulah dengan malas2an, dia berbangkit. Dia dapat dengar suara ber-gerak2nya beberapa kaki dipekarangan luar dari kamarnya itu, disusul dengan suara beradunya alat senjata, golok dengan tumbak. Dia lalu singkirkan kursi, dia pentang daun pintu, maka segera dia dapat lihat Toan Kim-kong Lauw Keng bersama Tong Cin Hui sedang berlatih, dengan masing2

memegang golok, dua piauwsu itu lakukan pertempuran.

Menyaksikan permainan silat itu, Bouw Pek tertawa didalam hatinya.

,,Kalau orang2 bangsa mereka ini kebentrok dengan Jie Siu Lian baru dua tiga jurus saja, mereka pasti akan sudah ada rebah ditanah !" demikian dia pikir.

Lauw Keng dan Tong Cin Hui tahu tamunya bangun, mereka sengaja saling menyerang dengan lebih seru lagi, buat banggakan diri.

„Lie Siauwya, harap kau tidak tertawakan kami !" kata Cin Hui akhirnya, apabila dia hentikan gerakannya. Lauw Keng juga tertawa. „Bagus, saudara Tong, " Bouw Pek memuji sambil bersenyum. „Harap kau jangan berlaku sungkan2. "

Ketika itu jongos telah datang bawa air cuci muka, maka Bouw Pek kembali kekamarnya akan bersihkan diri, akan kemudian tukar pakaian.

Dengan pakai ma-koa, Beng Eng Siang bertindak keluar dari pedalaman, maka

Kebetulan dia sudah selesai dandan, Bauw Pek hampirkan tuan rumah itu.

„Beng Lauwsiok, sekarang juga aku hendak berangkat," berkata anak muda kita. Jie Siokbo tentunya belum bangun, biarlah aku tidak usah ketemui dia lagi, sebentar tolong lauwsiok saja yang mengasih tahu padanya. Aku haturkan terima kasih buat kebaikan lauwsiok."

„Lie hiantit, apakah kau tidak bisa berdiam disini satu-dua hari lagi?" tanya tuan rumah.

„Menyesal, lauwsiok. Dengan sebenarnya di Pakkhia aku ada urusan, Aku harap lagi dua bulan aku bisa datang pula menyambangi lauwsiok."

Baiklah bila begitu, hiantit," kata tuan rumah yang lalu perintah orangnya lekas sediakan kuda tamunya.

Mereka lalu bertindak keluar, Lauw Keng bersama Tong Cin Hui ikut mengantar.

Bouw Pek gantungkan buntalan dan pedangnya diatas sela kuda, dia lalu lompat naik keatas binatang tunggangannya itu, kemudian dari atas kuda dia unjuk hormat pada fihak tuan rumah dan dua piauwsu-nya.

„Lauwsiok sekalian, sampai ketemu pula!"dia kata.

„Sampai ketemu pula hiantit!" kata Eng Siang „Urusan kami, aku serahkan kepada kau seorang!" „Aku tahu, lauwsiok, harap kau tidak pikirkan!"

Lantas juga Bouw Pek memberi lari kudanya menuju ketimur keluar dari kota Soanhoa. Dia lihat ladang gandum dikiri dan kanan dengan jalan besar dan rata. Matahari bersinar terang, angin pagi meniup menyegarkan tubuh. Dijalan besar itu, kecuali mereka yang berlalu-lintas dengan jalan kaki, ada juga yang berkendaraan kereta. Orang2 dagang kecil ada yang memikul keranjang dan memanggul bungkusan.

Dalam keadaan seperti itu, Bouw Pek rasai pikirannya sedikit terbuka, dia lakukan perjalanan dengan hati tenteram, kecuali diwaktu menanyakan jalanan pada orang yang berpapasan dia tidak pernah buka mulut. Memang dia jalan seorang diri. la tidak memberi kudanya lari keras.

Sesudah melalui perjalanan dua hari, Bouw Pek sampai di Hoalay. Di depannya tertampak pemandangan gunung, ditempat jauh ada tanda2 putih yang sebentar kelihatan sebentar tidak, yang berupa seperti ular merajap.

Itulah tembok besar dan panjang: Ban Lie Tiang Shia !

„Apakah namanya kota disebelah depan?" dia tanya orang.

„Itu kota Kieyong-kwan," dia dapat jaawaban.

Hatinya anak muda ini jadi tertarik. Didalam buku dia pernah baca tentang kota Kie yong-kwan ini, yang menjadi kota yang terkenal, sebab kota ini dicatat sebagai salah satu dari Yan-khia iapun girang, karena dengan Kie-yong kwan dihadapannya itu berarti dia sudah mendekati Pakkhia.

Buat tangsel perutnya, Bouw Pek lantas cari dusun dimana dia lalu singgah. Waktu itu sedang tengah hari. Tapi dia tidak singgah lama, setelah dahar cukup dia tunggang pula kudanya dan lanjutkan perjalanannya. Tapi sekarang dia lantas saja mandi keringat, karena hawa udara sedang panasnya. Buat melalui enam atau tujuh lie, perjalanan adalah berat. Maka itu, terpaksa dia memberi kudanya jalan pelahan2.

Sesudah melalui beberapa dusun, Bauw Pek lihat gunung makin lama makin dekat.

Disini orang yang bikin perjalanan telah menjadi kurang sekali. Dia menjadi heran.

,Ini jalanan kekota raja, kenapa begini sepi?" dia berpikir. Apakah bisa jadi ini disebabkan waktu tengah hari dan hawa udara panas luar biasa, hingga orang pada cari tempat buat mengaso ?" Selagi dia men-duga2, kupingnya lantas dengar suara kelenengan ramai. Dia ingin tahu. Dia larikan kudanya kedepan sampai dimutut tikungan. Jalanan teraling oleh ladang gandum. Memandang keudara, dia tampak rombongan dari beberapa kereta kaldai dan suara kelenengan adalah dari kelenengan yang digantungkan pada tiap binatang penarik kereta itu.

Diatas tiap kereta dipancar bendera piauw datar kuning dengan pinggiran merah, diatas bendera juga diikatkan kelenengan, jaig berbunyi seperti kelenengan kaldai. Maka itu, makin dekat rombongan itu mendatangi, suaranya makin riuh. Mengetahui rombongan itu dari kalangan piauwtiam, Bouw Pek tahan kudanya akan memandang, dia bisa baca huruf2 dikain bendera begitu lekas kereta2 sudah datang lebih dekat. Sesuatu bendera disulam dengan enam huruf, yang berarti :

Coan Hin Piauw-tiam dari Yan-keng.

Sehelai bendera lain, yang besar dan panjang, yang  terbikin dari kain putih mulus, dilukiskan huruf2 ,,sin-chio Yo Kian Tong", yang mana berarti rombongan kereta itu berada dibawah pimpinannya Yo Kiang Tong, ahli silat tombak.

Dikereta pertama duduk dua orang. Dikereta kedua duduk seorang yang berusia empat puluh tahun lebih, tubuhnya kekar. Dijalan kereta iti duduk seorang kurus dengan dua baris kumis kecil. Dua2 mereka pakai baju hitam dengan celana pendek, berkopiah rumput, tandan memegang kipas. Dikereta kedua duduk beberapa orang, yang dari  dandanannya rupanya sekawan saudagar.

,Kelihatannya, rombongan ini adalah dari perusahaan piauw yang ternama", pikir anak muda kita. „entah yang mana Sin- chio Yo Kian Tong, si Malaikat Tumbak."

Ia lantas memberi kudanya jalan dan rombongan kereta piauw berjalan dibelakangnya. Terang rombongan itu juga hendak melalui Kieyong.

Bouw Pek jalan belum seberapa jauh ketika dari belakang dia dengar orang memanggil : ,,Eh, tuan yang jalan didepan, kau hendak pergi kemana ?" Ia menoleh dan lihat orang yang menegornya adalah orang yang berusia kira2 Empat puluh tahun. ia lalu tahan kudanya menunggu, kemudian dia pinggirkan kudanya, hingga kuda dan kereta jadi jalan berendeng.

„Aku hendak pergi ke Pakkhia, diamemberi tahu. „Diantara kau yang mana Toa-piauw-tauw ?"

„Piauwtauw kami tidak turut," kata orang yang menegor itu. „Jalanan ini jalanan yang kami kenal baik, wakil kami tidak turut barang satu orang, cukup dengan tukang-tukang kereta saja, asal dikereta ditancapkan bendera piauw, sekalipun diwaktu malam kami berani lewat disini, kami tanggung tidak akan terjadi onar apa juga ! Kau bernyali besar, tuan, seorang diri kau berani lakukan perjalanan ke Pakkhia dengan melalui kota Kieyong ini."
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Po Kiam Kim Tjee Jilid 04"

Post a Comment

close