close

Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jlid 29 : Bentrok dengan Lam Hay Bun (Tamat)

Jilid 29 (Tamat)

Han Ping terkejut. Ia tahu kepandaian melontarkan senjata rahasia dari Siangkwan Wan-ceng itu lihai sekali. Tanpa disadari, ia menguatirkan keselamatan si dara baju ungu.

“Nona Siangkwan, jangan….” serunya berbisik.

Nenek Bwe putar tongkatnya menjadi sebuah lingkaran sinar. Tring, tring, tring, terdengar suara berdering-dering dan beberapa benda berkilat itupun berhamburan terpukul jatuh.

Bukan main kejutnya hati Siangkwan Wan-ceng. Ia tak menyangka bahwa nenek berambut putih itu memiliki kepandaian yang begitu sakti.

Han Ping memandang ke sekeliling. Tampak si Bungkuk, si Kate dan seorang lelaki baju merah yang memakai tongkat besi untuk penyanggah tubuhnya, berpencaran mengepungnya.

Ia pun serempak berbangkit dan berseru nyaring, “Apakah maksud kalian membentuk diri dalam barisan ini?”

Sahut Ong Kwan-tiong, “Akan meminta sebuah benda kepadamu!”

“Benda apakah yang engkau kehendaki dari diriku?” tanya Han Ping.

“Batang kepala yang berada di lehermu itu!” jawab Ong Kwan-tiong.

Han Ping tertawa tawar, “Asal kalian mau bersabar menunggu sampai besok malam, hal itu tentu tak sukar!”

Ucapan itu benar-benar membuat Ong Kwan-tiong tertegun kaget, serunya, “Apa?”

“Asal kalian mau bersabar sampai nanti terang tanah, tidak sukar untuk mengambil batang kepalaku ini….” Han Ping memandang ke langit dan berkata pula, “sekarang sudah hampir tengah malam, rasanya tak terlalu lama dari terang tanah.”

Suasana hening seketika. Orang-orang yang mendesak ke tempat Han Ping pun serempak berhenti. Rupanya mereka terkejut mendengar kata-kata anak muda itu.

Gerumbul pohon siong yang tertiup angin, mengeluarkan bunyi berdesir-desir. Makin menambah keseraman suasana.

Siangkwan Wan-ceng turunkan pedangnya yang melempang ke muka dada lalu pe-lahan2 menghampiri ke samping Han Ping, tegurnya, “Apakah engkau ingin sekali mati?”

“Kalau tidak mati tentu berabe! Habis mereka menghendaki batang kepalaku, apa daya?” jawab Han Ping.

“Tanganmu?”

Sambil mengangkat kedua tangannya, Han Ping menjawab, “Tumbuh di atas kedua lenganku ini!”

“Apa gunanya? Kalau orang hendak membunuhmu, apakah engkau tak dapat melawan?” seru si nona.

Han Ping menghela napas pelahan, “Sekalipun dapat kubunuh mereka beberapa orang, tetapi racun dalam tubuhku tentu bakal bekerja dan aku tetap mati.”

Siangkwan Wan-ceng terkesiap, “Lalu engkau rela dibunuh orang?”

Han Ping tertawa hambar lalu lambaikan tangan ke arah Ong Kwan-tiong, “Jika kalian menginginkan aku menyerah, lebih dulu berilah jalan untuk nona ini.”

Ong Kwan-tiong berpaling kepada si dara baju ungu. Rupanya dia tak dapat mengambil keputusan sendiri.

Tiba-tiba Siangkwan Wan-ceng bolang balingkan pedang dan berseru, “Tak perlu diberi jalan, aku dapat menerobos keluar sendiri”

“Walaupun kepandaianmu tambah setingkat lebih tinggi lagi, tetap bukan tandingan mereka!” kata Han Ping.

“Walaupun bukan tandingannya tetapi aku tak sudi menyerah mentah2. Melawan sampai titik darah yang penghabisan masih perwira daripada menyerah mentah2!”

Han Ping tertawa, “Yang hendak dibunuh adalah aku. Mengapa engkau bingung sendiri?”

Siangkwan Wan-ceng terkesiap, serunya marah, “Apakah hanya lain orang yang dapat membunuh engkau dan aku tak dapat membunuhmu?”

“Nona salah faham,” kata Han Ping, “maksudku hanya mengatakan bahwa dalam persoalan ini, sama sekali tiada hubungannya dengan dirimu. Sebaiknya janganlah engkau terseret dalam urusan itu.”

Dengan masih mengkal Siangkwan Wan-ceng berkata, “Aku senang berbuat apa, ya bertindak apa! Hm, sedang ayahku saja tak mempedulikan diriku, apakah dirimu ini? Mau mengurus aku?”

Han Ping terkesiap. Dengan wajah ber-sungguh2 ia berkata, “Sekalipun kepandaianmu cukup tinggi, tetapi jika engkau seorang diri hendak mengalahkan mereka, jelas tak mungkin….”

Sekonyong-konyong si dara baju ungu berseru nyaring, “Karena nona Siangkwan itu ingin menemaninya dalam kubur. lekaslah kalian turun tangan!”

Ong Kwan-tiong menyingkap jubahnya dan mengeluarkan sebuah senjata Thiat-ci atau Garisan-besi.

“Sejak tinggalkan Lam hay dan menetap di Tiong-goan, belum pernah aku bertempur dengan menggunakan senjata. Oleh karena pertempuran malam ini harus mempunyai penyelesaian mati atau hidup, maka tak perlu bertempur dengan pukulan atau tinju, agar lekas selesai!”

Bahu Han Ping agak tergetar, serunya, “Kini sudah hampir menjelang tengah malam. Waktu satu malam itu, apakah kerugiannya untuk kalian? Apakah kalian benar-benar tak dapat bersabar untuk beberapa jam lagi?”

Ong Kwan-tiong tertawa dingin, “Dewasa ini memang banyak sekali tokoh2 sakti dalam dunia persilatan. Tetapi aku peribadi tetap mengindahkan engkau sebagai seorang pemuda jantan, gagah dan perwira. Oleh karena itu maka aku baru mau menggunakan senjata….”

Sepasang mata Han Ping membelalak dan serunya marah, “Sudah tahu bahwa aku tentu akan menetapi setiap patah kata-kataku, mengapa kalian begitu mati-matian mendesak kemarahanku? Mungkin kalian takkan menerima keuntungan apa-apa!”

Siangkwan Wan-ceng tertawa melengking dan berpaling ke arah Han Ping, serunya, “Ucapan itubaru berjiwa seorang ksatrya!”

Si Baju Merah bertongkat besi, membentak murka, “Kalau mau menyerah, sekarang juga engkau bunuh diri, perlu apa harus tunggu sampai terang tanah? Tetapi kalau tak mau bertindak sekarang, terpaksa kami akan turun tangan!”

Jawab Han Ping dengan gagah, “Jika kalian ingin coba menggunakan kekerasan, akupun tak dapat berbuat apa-apa. Tetapi senjata itu tiada bermata. Apabila bertempur tentu tak dapat terhindar dari luka atau terbunuh!”

Si Baju Merah yang berkaki satu dan diganti dengan tongkat besi itu, walaupun cacat tetapi wataknya berangasan sekali. Ia cepat membentak keras, “Lihat saja nanti siapa yang akan mati!” – Habis berkata ia terus gentakkan tongkat besi dan melambung ke udara melayang ke arah Han Ping.

Siangkwan Wan-ceng cepat putar pedang untuk menyongsongnya. Tring, tring, tring…. terdengar dering gemerincing dari senjata beradu. Si Baju Merah terlempar turun dari udara. Tetapi Siangkwan Wan-cengpun menyurut mundur selangkah.

Si Baju Merah berkaki buntung itu terkesiap. Setitikpun ia tak menyangka bahwa seorang nona yang tampaknya lemah gemulai dan cantik, ternyata memiliki tenaga yang sedemikian kuat dan mampu menahan terjangannya.

Juga Ong Kwan-tiong terbeliak kaget atas peristiwa itu. Cepat ia berseru nyaring, “Nona ternyata memiliki tenaga dalam yang hebat sekali. Maka tak heran kalau nona agak congkak!”

Ia menutup kata-kata-nya dengan memutar thiat-ci dan melangkah maju.

Siangkwan Wan-ceng menggunakan sepasang pedang. Ia putar pedang di tangan kiri untuk menghalau serangan Ong Kwan-tiong..

Tetapi ketika pedang bersentuhan dengan senjata thiat-ci, lingkaran sinar pedang Siangkwan Wan-ceng pun segera bergabung dan membentur senjata lawan.

Nona itu terkesiap kaget ketika rasakan pedangnya seperti tersedot dan melekat pada thiat-ci lawan. Cepat nona itu sabetkan pedang tangan kanannya ke tangan Ong Kwan-tiong.

Dengan menggembor keras, Ong Kwan-tiong lemparkan pedang si nona yang disedot itu lalu ia menangkis tabasan pedang di tangan kanan Siangkwan Wan ceng. Dengan gerak Menyiak-bunga-menghembus-pohon liu, ia menutuk dada nona itu.

Siangkwan Wan ceng menyurut mundur tiga langkah lalu mainkan pula sepasang pedangnya untuk menyerang. Cepat dan ganas sekali serta penuh dengan perobahan yang sukar diduga sehingga Ong Kwan-tiong kehilangan kesempatan untuk balas menyerang.

Empat lima jurus kemudian, tiba-tiba Siangkwan Wan-ceng rasakan ada sesuatu yang tak wajar. Ia merasa senjata thiat-ci yang hitam mengkilap itu seperti mengandung tenaga-penyedot yang keras. Gerak pedangnya seperti menderita hambatan sehingga tak leluasa untuk mengembangkan perbawanya. Setiap gerakannya tentu selain kalah dulu dan ditindas lawan.

Han Ping yang mengikuti pertempuran itu dari samping, ia pun merasa bahwa senjata murid pertama dari perguruan Lam-hay-bun itu memang mempunyai kegunaan istimewa. Dan jelas bahwa gerakan pedang Siangkwan Wan-ceng itu telah menderita rintangan keras.

Sepuluh jurus kemudian, Siangkwan Wan-ceng makin terdesak dan sibuk sekali. Apabila berlangsung 10 jurus lagi, nona itu pasti akan terluka oleh senjata lawan.

Han Ping kerutkan alis lalu ulurkan tangan memungut pedang Pemutus Asmara di tanah, ia memandang pertempuran itu dengan pandangan terlongong dan tak tahu bagaimana harus bertindak.

Untung dalam situasi yang genting, Siangkwan Wan-ceng dapat mengeluarkan dua buah jurus ilmu pedang yang aneh sehingga dapat memaksa Ong Kwan-tiong mundur selangkah. Nona itu cepat loncat ke luar dari gelanggang dan berseru, “Curang! Senjatamu itu bukan senjata yang umum. Pertempuran ini tidak adil!”

Sambil memandang ke arah thiat-ci, berkatalah Ong Kwan-tiong, “Pertempuran malam ini memang bukan pertempuran untuk merebut nama. Orang boleh menggunakan senjata apa saja untuk mencapai kemenangan. Memang senjataku thiat-ci itu tidak sama dengan senjata yang umum dipakai orang persilatan. Tetapi sama sekali bukan macam senjata kaum Hitam. Jika engkau takut, lebih baik engkau menyerah saja….”

Sejenak melirik ke arah pedang Pemutus Asmara di tangan Han Ping, serunya pula, “Pedang yang berada di tangannya itu, dapat membelah emas memotong kumala. Juga bukan senjata biasa. Apakah juga tak boleh digunakan dalam pertempuran ini?”

“Pedang pusaka adalah senjata kaum Putih!” teriak Siangkwan Wan-ceng marah, “tetapi senjatamu itu golok bukan golok, pedangpun bukan pedang. Dan mengandung tenaga untuk menyedot senjata lawan. Bentuk dan khasiatnya yang aneh itu, jelas bukan termasuk senjata yang wajar!”

Si kaki buntung baju merah segera gentakkan tongkat besinya dan berseru marah, “Toa-suheng, tak perlu meladeni budak perempuan semacam dia. Waktunya sudah mendesak!”

Mendengar itu Siangkwan Wan-ceng cepat merogoh baju dan menggenggam serangkum jarum emas, serunya, “Karena engkau tetap menggunakan senjata setan, terpaksa akupun akan memakai senjata rahasia!”

“Pertempuran mati hidup, tidak terpancang pada peraturan pertandingan. Silahkan nona mengeluarkan kepandaianmu semua!” sahut Ong Kwan-tiong.

“Bagus,” lengking Siangkwan Wan-ceng, “jika terluka karena senjata rahasiaku, jangan sesalkan aku berlaku kejam!” — Ia menutup kata-katanya dengan ayunkan tangan.

Ong Kwan-tiong menggembor keras seraya putar thiat-ci. Taburan berpuluh batang jarum emas dari sinona itu dapat disapu bersih dan disedot oleh thiat-ci.

Diam-diam Siangkwan Wan-ceng mengeluh dalam hati, “Ih, dari bahan apakah senjatanya itu dibuat? Menilik gelagatnya, ilmu kepandaianku melontarkan senjata rahasia, tanpa guna….”

Bermula ia mempunyai rencana untuk menaburkan jarum emas secara cepat dan pada jarak yang amat dekat. Di luar dugaan, senjata thiat-ci dari Ong Kwan-tiong itu justeru khusus untuk melenyapkan senjata rahasia. Kali ini Siangkwan Wan-ceng benar-benar ketemu batunya!

Ong Kwan-tiong tertawa nyaring, “Budak perempuan, engkau masih mempungai senjata rahasia apalagi, hayo, keluarkanlah! Dalam hal ini akan kusuruh engkau tunduk betu12!”

Siangkwan Wan-ceng gelisah dan marah. Dengan melengking nyaring ia menyerbu lagi. Melihat kenekatan sinona, Ong Kwan-tiong tertawa dingin. Thiat-ci atau senjata yang bentuknya menyerupai penggaris besi dan berwarna hitam mengkilap, segera diputar dalam ilmu istimewa perguruan Lam-hay bun, Setelah dapat menutup amukan pedang, thiat-ci secepat kilat balas menyerang sampai lima jurus.

Lima jurus itu cepat dan ganas sekali. Si nona terdesak sampai sibuk tak keruan. Sesungguhnya dalam soal ilmu silat dan ilmu pedang, Siangkwan Wan-ceng dapat mengimbangi kepandaian Ong Kwan-tiong. Tetapi karena tokoh Lam-hay-bun itu memiliki senjata aneh yang dapat menyedot senjata lawan, pedang Siangkwan Wan-ceng tak dapat bergerak lancar sehingga dapat dikuasai lawan.

Dara itu tetap keras kepala. Namun setelah lima jurus kemudian, keadaannya makin payah.

Melihat keadaan itu, Han Ping tak mau berpeluk tangan lagi. Dengan mengempos semangat, ia berseru nyaring, “Berhenti!”

Tetapi bukan saja tidak berhenti, Ong Kwan-tiong malah memperhebat gerak thiat- ci. Setelah dapat menyedot pedang di tangan si nona, ia terus menabas siku lengan nona itu.

Karena pedang di tangan kanan tertekan, Siangkwan Wan-ceng tak dapat berbuat apa-apa lagi. Ia terpaksa lepaskan pedang di tangan kiri lalu cepat-cepat menghindar mundur.

Ong Kwan-tiong maju selangkah. Dengan gaya seperti sebatang pit (pena), ia tusukkan thiat-ci ke dada si nona.

“Kusuruh berhenti mengapa kalian tak mendengar!” teriak Han Ping seraya lepaskan sebuah hantaman. Angin menderu-deru melanda ke arah Ong Kwan-tiong.

Saat itu senjata Ong Kwan-tiong masih tetap mengejar Siangkwan Wan-ceng. Ia gerakkan tangan kiri untuk mendorong, menangkis hantaman Han Ping.

Saat itu tenaga-dalam Han Ping bukan olah hebatnya. Karena perhatiannya terbagi kepada Siangkwan Wan ceng dan Han Ping maka Ong Kwau-tiong menderita kerugian besar. Begitu kedua pukulan mereka saling beradu, timbullah angin menderu kencang. Kedua bahu Han Ping tampak tergetar tetapi Ong Kwan tiong tersurut mundur dua langkah.

Menggunakan keluangan itu, Siangkwan Wan-ceng menggeliat menghindari thiat-ci, lalu menyambar pedangnya yang jatuh di tanah seraya melesat ke samping.

Si Kaki-buntung baju merah berkaok-kaok seperti orang kebakaran jenggot. Sekali tekankan tongkatnya ke tanah, tubuhnya melambung ke udara. Tongkat berputar menderu-deru menghantam kepala Han Ping.

Anak muda itu menghindar ke sebelah kiri seraya sabetkan pedang Pemutus Asmara. Gerak menghindar dan menabas itu hampir dilakukan pada waktu yang serempak. Kaki-buntung terkejut ketika hantaman tongkatnya mengenai angin kosong dan dirinya ditabas pedang. Cepat ia bergeliatan di udara dan melayang ke tanah beberapa langkah jauhnya.

Tetapi ketika ia memeriksa dirinya, kejutnya bukan alang kepalang. Separoh jubahnya bagian bawah telah terpapas hilang oleh pedang Han Ping. Karena main, marahlah si Kaki-buntung

Cepat ia enjot tuhuhnya menyerbu Han Ping lagi. Pada saat melayang di udara, ia bolang-balingkan tongkatnya laksana hujan mencurah. Melihat hebatnya gerak tongkat si Buntung, Han Ping mundur dua langkah. Tongkat itu menimbulkan angin yang menderu-deru dan hamburan tenaga-dalam yang melanda ke dada.

Tiba-tiba Han Ping terkejut dan ayunkan tangan kiri untuk menangkis sebuah pukulan. Sejenak berpaling, baru ia mengetahui bahwa yang menyerang itu si Au Bungkuk.

Si Kate Oh It-sun mengeluarkan sebatang pit-besi lalu loncat menerjang Siangkwan Wan-ceng. Senjatanya yang asli sebenarnya pit-emas. Tetapi pit-emas itu telah dibabat kutung oleh pedang pusaka Han Ping. Maka ia berganti memakai pit besi.

Serempak dengan itu Ong Kwan-tiongpun menyerang dari samping. Dengan begitu Siangkwan Wan-ceng diserang dari kanan kiri.

Han Ping gerakkan pedangnya dalam jurus yang istimewa Burung-merak-rentang sayap. Setelah dapat mengundurkan si Kaki-buntung, cepat berseru kepada Siangkwan Wan-ceng, “Harap nona bertempur bahu membahu dengan aku!”

Rupanya Siangkwan Wan-ceng memang sudah gentar menghadapi senjata thiat-ci dari Ong Kwan-tiong. Mendengar ajakan Han Ping itu cepat ia mengisar kaki menghampiri. Kini dapatlah Han Ping berkelahi dengan leluasa.

Pedang segera diganti jurus, berhamburan memancarkan gulungan sinar yang menyambut gerakan serangan senjata thiat-ci Ong Kwan tiong. Dengan begitu dapatlah Siangkwan Wan-ceng melayani serangan si Bungkuk dan si Kate.

Memang tenaga-sedot dari senjata thiat-ci menghambat gerakan pedang Han Ping. Tapi untunglah tenaga dalam anak muda itu amat kuat dan pedang Pemutus Asmara itu sebuah senjata mestika sehingga dapat mengatasi rintangan dari tenaga penyedot senjata lawan.

Pertempuran saat itu merupakan sebuah pertempuran yang jarang terjadi dalam dunia persilatan. Orang-orang yang bertempur, termasuk tokoh2 kelas satu dalam dunia persilatan. Pukulan dan senjata berhamburan, ditingkah dengan deru angin tongkat yang dahsyat. Serang menyerang, hindar menghindar, tipu menipu, berlangsung amat cepat sekali.

Setelah terlepas dari libatan senjata thiat-ci Ong Kwan-tiong, Siangkwan Wan-ceng dapat mengembangkan permainan sepasang pedangnya dalam jurus2 permainan yang istimewa. Setiap tusukan pedangnya selalu mengarah jalan darah maut dari si Bungkuk dan si Kate.

Dalam beberapa kejab saja, pertempuran sudah berlangsung lima enampuluh jurus.

Saat itu Han Ping merasa bahwa gerakan pedangnya makin seret. Diam-diam ia menimang dalam hati, “Senjata thiat-cinya, di samping mempunyai jurus2 permainan yang aneh, pun mengandung tenaga-sedot yang kuat. Jika terus bertempur dengan cara begini, tentu akan berlangsung lama. Untuk merebut kemenangan tiada lain jalan kecuali harus mengalahkan Ong Kwan-tiong ini. Kalau perlu melukainya dengan pedang Pemutus Asmara….”

Dengan keputusan itu, segera ia bersuit panjang, menghindarkan diri dari serangan tongkat besi si Kaki-satu lalu menyerang Ong Kwan- tiong.

Serangan itu membuat Ong Kwan-tiong terkesiap. Ia merasakan senjatanya mendapat tekanan hebat. Pedang pemuda itu mengeluarkan perbawa yang hebat. Sebelum pedang tiba, sambaran anginnya sudah menderu tajam sehingga membuat orang ngeri.

Tiba-tiba sepasang pedang Siangkwan Wan-ceng pun menyambut tongkat besi si Kaki satu. Tetapi dengan tindakan itu, si nona menderita kesukaran. Tongkat besi dari si Kaki satu itu selain dahsyat dan ganas, pun mengandung tenaga yang luar biasa kerasnya. Begitu pedang terbentur dengan tongkat besi, Siangkwan Wan-ceng merasakan tangannya tergetar dan kesemutan dan hampir saja ia tak kuasa memegang pedangnya.

Tetapi nona itu memang keras kepala. Sekalipun tahu kekuatan lawan lebih hebat, namun ia tetap tak gentar dan diam-diam mengerahkan seluruh tenaga dalam. Dengan menggertak gigi, ia tak mau unjuk kelemahan.

Ilmu kepandaian dari perguruan Lam-hay-bun memang mengutamakan kekerasan dan keganasan. Ilmu silat Siangkwan Wan-ceng pun termasuk jenis aliran ganas juga. Begitu kedua orang itu bertempur, gaya permainan mereka sama-sama mengejutkan.

Hanya gaya permainan pedang Han Ping yang berbeda dari mereka. Dia mengganti ilmu Tongkat-penunduk-iblis yang terdiri dari 36 jurus dengan menggunakan pedang. Tongkat-penakluk iblis merupakan salah sebuah ilmu dalam kitab pusaka Ih-kin-keng dan diajarkan secara lisan oleh mendiang Hui Gong taysu kepada Han Ping.

Begitu Han Ping mainkan pedangnya, maka segera tampak gaya alirannya sebagai ilmu pedang golongan Putih. Tetapi gerak perobahan dan corak permainannya, benar-benar menakjubkan sekali.

Senjata thiat-ci dari Ong Kwan-tiong pelahan-lahan telah tertindas oleh sinar pedang Han Ping.

Sekonyong-konyong si dara baju ungu yang mukanya ditutup dengan kain kerudung hitam itu, berteriak, “Toa-suheng, lekas gunakan ilmu Burung rajawali-terbang- delapan- belas- kali dari perguruan kita. Kalau tidak, paling banyak engkau hanya mampu bertahan dalam sepuluh jurus lagi. Jika engkau terkurung sama sekali dalam lingkaran sinar pedangnya, jangan harap engkau dapat balas menyerang!”

Memang Ong Kwan-tiong merasa bahwa dalam menghadapi serangan Han Ping itu, ia tak dapat mengeluarkan kepandaiannya. Setiap gerakannya selalu ditindas lawan sehingga sering2 separoh jurus saja terpaksa ia hentikan setengah jalan.

Setelah mendengar teriakan si dara baju ungu, seperti disadarkan. Dengan berteriak keras, that-ci tiba-tiba dirobah gerakannya, menusuk ke dada Han Ping.

Dengan kerahkan tenaga, Han Ping cepat memapas thiat-ci lawan. Ia yakin, pedang Pemutus Asmara tentu dapat memapas kutung senjata aneh dari tokoh Lam-hay-bun itu.

Tetapi ternyata tusukan Ong Kwan-tiong itu hanya sebuah gerak tipuan. Begitu menusuk ia terus enjot tubuh melambung ke udara. Dengan demikian Han Ping hanya memapas angin kosong.

Murid pertama dari Lam hay-bun itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat. Sekali enjot ia dapat mencapai ketinggian dua tombak. Setelah di udara ia segera berjumpalitan dan menukik. Walaupun sudah banyak sekali Han Ping berhadapan dengan tokoh2 sakti dalam dunia persilatan tetapi baru pertama kali itu ia menyaksikan suatu ilmu permainan yang sedemikian aneh dan hebat. Diam-diam ia terkejut dan sesaat itu ia masih bingung untuk mencari siasat memecahkannya. Terpaksa ia menghindar mundur sampai tiga langkah.

Ketika Ong Kwan-tiong turun dan baru menginjak tanah, iapun terus melambung lagi ke udara dan dengan suatu gerak jumpalitan yang indah ia sudah meluncur turun di belakang Han Ping. Serempak dengan layangkan thiat-ci ke bawah, Ong Kwan-tiong gerakkan tangan kiri untuk menghantam dengan pukulan Biat gong-ciang atau Pukulan-pembelah-angkasa. Sebuah pukulan tenaga-dalam yang hebat sekali perbawanya.

Kedudukan Han Ping kini terbalik. Dari yang menyerang menjadi yang diserang. Saat itu ia telah dikuasai lawan.

Gerak serangan yang dilancarkan Ong Kwan-tiong dari udara itu, cepat dan dahsyat. Dalam empat lima jurus saja, Han Ping sudah terdesak tak dapat balas menyerang. Terpaksa ia berganti siasat. Tak mau bergerak menyerang tetapi tegak berdiri di tempat menunggu serangan. Begitu, musuh hampir mendekatinya, barulah ia berusaha untuk melawan.

Tiba-tiba terdengar dering gemerincing senjata yang nyaring sekali. Pedang di tangan kiri Siangkwan Wan-ceng, terpental ke udara akibat digempur tongkat besi si Kaki- buntung. Pedang itu melayang sampai tujuh tombak jauhnya.

Tetapi Siangkwan Wan-ceng yang keras kepala tetap tak gentar. Walaupun sebuah pedangnya sudah terpental, namun semangat tempurnya masih menyala-nyala. Tubuhnya berputar keras, dalam saat menghindari tongkat besi dan pit-besi dari si Kate Oh It- su, cepat ia pindahkan pedang ke tangan kiri dan tangan kanan terus merogoh ke dalam saku baju, mengambil segenggam jarum emas terus ditaburkan ke arah ketiga pengeroyoknya. Taburan jarum emas itu berjumlah 40 batang dan dilakukan pada jarak yang begitu dekat. Bagaimana dahsyatnya, dapat dibayangkan.

Si Kaki-satu baju merah, si Bungkuk dan si Kate gugup dan tergopoh gopoh merebahkan diri ke tanah untuk menghindari jarum maut itu.

Pada saat ketiga musuhnya rebah menelentang, Siangkwan Wan-ceng cepat mengempos semangat dan melambung ke udara dan menusuk Ong Kwan-tiong.

“Jangan….!” teriak Han Ping tetapi sudah terlambat. Tampak tubuh Ong Kwan-tiong yang tinggi besar tiba-tiba berjumpalitan dan secepat kilat thiat-ci dihantamkan ke pedang Siangkwan Wan-ceng.

Pedang Siangkwan Wan-ceng tersedot den senjata aneh dari tokoh Lam-hay-bun itu dan arah tusukannya pun mencong ke samping. Ong Kwan-tion segera menyusuli dengan sebuah hantaman tangan kiri.

Bertempur di atas udara boleh dikata tak ada kesempatan yang luang. Begitu pedang Siangkwan Wan-ceng dikuasai lawan, diri nona itu pun berada dalam lingkungan pukulan musuh. Pada saat pukulan itu akan tiba di dada sinona, sekonyong-konyong segelombang sinar kebiru-biruan meluncur ke arah pukulan Ong Kwan-tiong.

Ternyata setelah mengetahui bahwa Siangkwan Wan-ceng akan celaka di bawah pukulan orang, cepat Han Ping enjot tubuh melambung ke arah Ong Kwan-tiong dan memapas lengan kiri orang itu.

Rajawali terbang-18 kali, sesungguhnya memang ilmu kepandaian khusus untuk bertempur di udara. Merupakan ilmu simpanan dari perguruan Lam-hay-bun yang jarang terdapat dalam dunia persilatan.

Karena melihat Siangkwan Wan ceng dalam bahaya, tanpa menghiraukan suatu apa lagi, Han Ping terus bertindak menolongnya. Tetapi karena harus menggunakan tenaga, maka tenaga-dalam yang dipergunakan untuk menekan bekerjanya racun dalam tubuhnya pun berkurang. Racun segera meliar lagi menyalur ke dalam urat2 nadinya. Karena gangguan itulah maka gerak pedangnya yang seharusnya amat dahsyat, ikut berkurang juga perbawanya.

Sungguhpun begitu, serangan Han Ping itu tetap membuat Ong Kwan-tiong terkejut. Segera ia menggunakan jurus Rajawali-sakti-menembus-awan. Tubuhnya tiba-tiba meluncur ke atas setengah meter lagi. Walaupun ia dapat menghindarkan diri, tetapi ia tetap merasakan sambaran hawa dingin dari pedang Pemutus Asmara yang menampar ke mukanya.

Setelah berhasil menghalau Ong Kwan-tiong, Han Ping dan Siangkwan Wan-ceng serempak melayang turun ke bumi. Walaupun Han Ping memiliki tenaga-dalam yang hebat, tetapi karena belum pernah mempelajari cara2 mengambil napas seperti dalam ilmu Rajawali-terbang-18 kali itu, maka ia tak dapat meniru Ong Kwan-tiong yang dapat bebas bertahan lama di udara.

Walaupun baru saja lolos dari bahaya maut, namun Siangkwan Wan-ceng tetap lincah. Acuh tak acuh ia berpaling kepada Han Ping dan tertawa, “Jika engkau tak menolong, kali ini aku tentu terluka ,….”

Tiba-tiba ia tak melanjutkan kata-katanya karena melihat napas Han Ping tersengal-sengal dan mukanya bercucuran keringat.

“Mengapa engkau?”serunya dengan cemas.

Sambil julurkan tangan kiri, Han Ping suruh nona itu menyisih, lalu cepat menyelinap di samping nona itu.

Nona itu terkejut ketika mendengar suara orang tertahan. Cepat ia berpaling ke belakang.

Amboi…. . dilihatnya tubuh yang tinggi besar dari si Bungkuk, terlempar ke samping. Siangkwan Wan-ceng cepat menyadari bahwa orang bungkuk itu tentu terkena pukulan Han Ping. Tetapi ia heran mengapa pukulan anak muda kali itu sama sekali tak mengeluarkan suara. Dan bagaimana cara pukulan itu dilontarkan, sama sekali ia tak mengetahuinya.

Si Kate Oh It-su dan si Kaki-satu baju merah, rupanya pecah nyalinya ketika menyaksikan si Bungkuk dihantam jatuh oleh Han Ping. Kedua orang dari Lam-hay-bun itu tegak terlongong-longong .

Han Ping mengusap keringat mukanya dengan lengan baju. Pada lain saat berserulah ia dengan angkuh, “Siapa diantara saudara2 yang masih penasaran, silahkan maju. Jika saudara2 sudah menyadari bahwa tak mungkin menundukkan aku dengan cara kekerasan, silahkanlah saudara2 memberi jalan untuk nona ini!”

Sebagai jawaban tiba-tiba si Kaki-satu menggembor keras terus menerjang dengan tongkat besinya. Dalam jurus Angin-prahara-menderu-dahsyat, ia membabat pinggang Han Ping.

Babatan tongkat si Kaki-satu itu benar-benar dahsyat sekali sehingga Siangkwan Wan-ceng sampai kucurkan keringat dingin karena mencemaskan diri Han Ping

Tetapi Han Ping tenang sekali. Ia berputar tubuhnya berputar, tidak menyurut mundur tetapi menyongsong maju dan secepat kilat menampar bahu sebelah kiri dari si Kaki- satu itu.

Serangan itu selalu memerlukan kecepatan yang luar biasa, pun harus mempunyai keberanian yang hebat.

Tiba-tiba si Kaki-satu berteriak keras. Tubuhnya terlempar beberapa langkah ke belakang.

“Hayo, siapa lagi yang mau coba2?” seru Han Ping dengan garang.

Sambil mengangkat thiat-ci ke muka dada, Ong Kwan-tiong melangkah maju pelahan-lahan seraya berseru dengan serius, “Ilmu pukulan saudara tadi, benar-benar baru pertama kali ini kuketahui. Sungguh beruntung aku aku orang she Ong, mempunyai rejeki untuk menerima pelajaran!”

Sahut Han Ping, “Sesungguhnya aku tiada bermaksud hendak melukai orang. Tetapi saudara2 sendirilah yang memaksa aku turun tangan…. .

“Berhenti!” tiba-tiba nenek Bwe berseru kepada Ong Kwan-tiong, “engkaupun takkan mampu menerima pukulannya. Akulah si nenek tua ini yang akan menjajalnya!”

Tiba-tiba dara baju ungu berseru dengan suara lemah, “Bwe Nio, gunakanlah ilmu pukulan perguruan Lam hay-bun kita ialah Bu-siang-gi-kang dan To-hay-sam-si menghadapinya!”

Ong Kwan-tiong menurut perintah. Ia berhenti dan mundur ke samping.

Ternyata ilmu pukulan Bu-siang-gi-kang dan To-hay-sam-si atau Tiga jurus-membalikkan-laut, merupakan ilmu istimewa yang paling diandalkan oleh Lam-hay Sin soh, ketua perguruan Lam-hay- bun. Belasan tahun belajar di perguruan Lam-hay-bun, Ong Kwan-tiong hanya pernah mendengar suhunya mengatakan tentang ilmu sakti itu tetapi tak pernah menyaksikan. Saat itu setelah mendengar kata-kata sumoaynya atau si dara baju ungu, ia pun tak berani berani berkeras maju menempur Han Ping. Terpaksa ia mundur.

Selangkah demi selangkah Bwe Nio menghampiri maju. Tongkat bambunya berdetak-detak menghantam tanah.

Saat itu keringat pada kepala Han Ping makin mengucur deras. Tubuhnya seolah-olah mandi keringat.

Tiba-tiba Siangkwan Wan-ceng lari ke muka Han Ping, serunya, “Engkau sudah letih sekali. Biarlah aku yang menghadapi nenek itu!”

Bwe Nio tertawa dingin, “Enyahlah!” – ia mengangkat tongkat dan pelahan-lahan dipukulkan.

Siangkwan Wan-cengpun menangkis dengan pedangnya. Pada saat ia hendak gunakan tenaga untuk menyiak tongkat si nenek, tiba-tiba ujung tongkat bambu itu memancar aliran tenaga yang kuat sekali dan tahu2 pedang Siangkwan Wan-ceng yang tinggal sebatang itu, mencelat lepas dari tangannya.

Seumur hidup baru pertama kali itu Siangkwan Wan-ceng bertemu dengan lawan yang mempunyai tenaga dalam sedemikian hebatnya. Mau tak mau gentarlah hatinya.

Setelah dapat mementalkan pedang si nona, Bwe Nio ayunkan tangan kiri menghantam Han Ping seraya membentak, “Budak kecil, cobalah dulu pukulanku Biat-gong-ciang ini. Setelah itu baru kita nanti mulai bertempur!”

Saat itu racun dalam tubuh Han Ping sudah mulai bekerja. Ia rasakan tenaganya lemah. Tetapi darah mudanya tetap panas. Mendengar ejekan Bwe Nio, ia segera empos semangat dan menangkis.

Tetapi pukulan nenek itu memang luar biasa hebatnya. Seketika Han Ping rasakan tubuhnya gemetar, darahnya bergerak naik ke atas ke dada. Telinganya tak henti2 mengiang, pandang matanya pudar, kepala berat kaki ringan dan akhirnya tak kuasa ia berdiri tegak. Bluk…. . ia rubuh meneliku ke muka dan pingsan.

Angin malam berhembus meniup rambut Bwe Nio yang putih. Wajahnya menampil kerut sedingin es. Dahinya memancar hawa pembunuhan. Tiba-tiba ia ayunkan tongkatnya menusuk dada Han Ping.

Tetapi serempak dengan itu, segulung sinar pedang melesat tiba dan menyambut tongkat si nenek. Tring…. tongkat si nenek tersiak ke samping dan menghantam segunduk batu karang. Sekepal batu karang itu, hancur lebur.

Ternyata yang menghantam tongkat si nenek itu adalah Siangkwan Wan-ceng. Ia tahu bahwa nenek itu memiliki tenaga dalam yang hebat maka ia kerahkan seluruh tenaga dalam untuk menggempur. Tetapi setelah dapat menyiak tongkat, dadanya berombak keras, napas memburu deras.

Nona yang keras kepala itu menyadari bahwa tak mungkin ia mampu melawan nenek Bwe. Maka iapun tak mau menyusuli menyerang lagi melainkan menjulaikan pedangnya ke bawah dan berseru dengan angkuh, “Jangan membunuhnya!”

Nenek Bwe tertawa dingin, “Mengapa….?”

Tiba-tiba ia seperti menyadari sesuatu, serunya pula, “O, benar! Lebih dulu membunuhmu baru dia…”

Ia menarik pulang tongkat lalu mengangkat tangan hendak menghantam. Tetapi tampaknya Siangkwan Wan-ceng tak gentar. Nona itu sudah tak menghiraukan nasibnya, mati atau hidup.

“Memang aku tak dapat melawanmu,” serunya dengan dingin, “sudah tentu mudah sekali bagimu hendak membunuh aku. Tetapi belum tentu engkau mampu menandinginya….”

Berhenti sejenak, ia melanjutkan lagi, “Jika aku belum kehabisan tenaga, mungkin dalam seratus jurus belum tentu engkau dapat melukai aku!”

Nenek Bwe gentakkan tongkatrya ke batu karang. Batang tongkat menyusup sampai tiga bagian. Serunya marah, “Menerima sebuah pukulanku saja dia tak kuat, bagaimana aku tak mampu mengalahkannya?”

“Pertempuran itu tidak adil!” seru Siangkwan Wan-ceng.

“Budak perempuan bermulut tajam. Mana yang tak adil?” bentak nenek Bwe murka.

Tenang-tenang saja Siangkwan Wan-ceng menjawab, “Sebelum bertempur dengan engkau, dia sudah terkena racun ganas. Racun itu tentu sudah mulai bekerja. Tadi beberapa kali bertempur sebenarnya sudah tak kuat. Dan pada saat dia sudah kehabisan tenaga, engkau menghantamnya, sudah tentu ia tak kuat.”

“Sekalipun begitu tapi bukan suatu bukti bahwa aku tak dapat melawannya!”

Siangkwan Wan-ceng tertawa dingin, “Apakah engkau pernah belajar ilmu pedang?”

“Dengan memetik daun, kudapat melukai orang, dengan taburkan bunga aku dapat membunuh musuh. Sebatang tongkat ini sudah lebih dari cukup, sekalipun punya pedang tetapi tak kuperlukan!” sahut nenek Bwe.

Mendengar itu marahlah si dara. Tanpa disadari ia mengunjuk gaya keangkuhannya sebagai puteri marga Siangkwan yang termasyhur di wilayah Kanglam, teriaknya, “Engkau mengerti pedang atau tidak? Siapa yang menanyakan ilmu kepandaianmu?”

Di luar dugaan, nenek Bwe tertarik akan sifat Siangkwan Wan-ceng yang tak takut mati itu. Diam-diam ia merasa sayang kepada si dara. Sejenak merenung ia menyahut, “Delapan belas macam senjata, aku dapat menggunakan. Apalagi hanya pedang!”

“Nah, begitulah,” kata si dara, “ilmu pedang tingkat tinggi tak lain hanyalah ‘naik’ pedang melukai musuh. Apakah engkau yakin mempunyai kemampuan begitu?”

Nenek Bwe agak terkesiap, serunya, “Walaupun aku tak mengerti ilmu Naik-pedang, tetapi tak mungkin dapat melukai aku!”

Berkata Siangkwan Wan-ceng dengan nada serius, “Ilmu kepandaianmu yang sakti, memang baru pertama kali ini aku bertemu dengan musuh seperti engkau. Tetapi jika mengatakan engkau dapat mengalahkannya, itu pasti belum tentu. Berkelana dalam dunia persilatan, memang setiap saat tentu tak terhindar dari bahaya. Kalau engkau memang yakin dapat mengalahkannya, sekarang janganlah membunuhhya dulu. Tujuh hari kemudian, datanglah lagi kesini untuk bertanding secara adil. Pada saat itu, tenaganya tentu sudah pulih. Dalam pertempuran yang adil itu, yang menang tentu puas. Yang kalah tentu mati tak penasaran!”

Dara baju ungu yang sejak tadi diam saja saat itu tiba-tiba berseru dengan nada dingin, “Kalau dia memang sudah keracunan, mengapa engkau dapat mengatakan dia dapat hidup sampai tujuh hari lagi?”

Siangkwan Wan-ceng terkesiap, sahutnya, “Soal itu tak perlu engkau urus. Aku dapat mencari usaha untuk menyembuhkannya.”

Si dara baju ungu tertawa hambar, “Jangan sok pintar sendiri. Ketahuilah, dalam dunia dewasa ini, kecuali aku, tak mungkin ada orang lain yang mampu menolongnya. Dan tiada seorangpun yang berani menolongnya.”

Habis berkata dara itu segera ayunkan langkah pelahan menghampiri ke tempat Siangkwan Wan-ceng. Nenek Bwe cepat melangkah dua tindak untuk merintangi Siangkwan Wan-ceng agar jangan mengganggu si dara baju ungu.

Setelah dekat pada Han Ping, dara baju ungu itupun berjongkok dan mengulurkan tangan memeriksa urat nadi Han Ping. Pelahan-lahan ia menyingkap kain kerudung mukanya. Setelah memandang wajah Han Ping, ia menghela napas pelahan, “Racun sudah tampil ke atas, sukar dapat bertahan hidup sampai nanti tengah malam.”

Kemudian ia mengangkat muka dan memandang cakrawala, serunya, “Hanya tinggal sejam lagi!”

Meskipun Siangkwan Wan-ceng sombong tetapi sesungguhnya ia tak mampu untuk mengobati racun yang menyerang Han Ping. Mendengar kata-kata si dara baju ungu. ia gelisah sekali. Tetapi sungkan untuk bertanya. Terpaksa ia tahan dalam hati.

Dara baju ungu tiba-tiba berdiri dan berkata dingin kepada Siangkwan Wan-ceng, “Tunggulah di sini, sampai dia menghembuskan napas yang terakhir. Tetapi aku hendak minta jenazahnya. Kalau engkau meluluskan, kami akan mundur dari sini. Setelah benar-benar ia sudah meninggal, kami akan membawa jenazahnya!”

“Perlu apa engkau meminta jenazahnya?” tanya Siangkwan Wan-ceng.

Jawab dara baju ungu, “Siapapun tak tahu bagaimana perobahan hatiku dalam beberapa hari nanti. Mungkin akan kulempar jenazahnya ke dalam lembah sarang ulur. Mungkin akan kutaruh di puncak gunung untuk makanan burung.”

Ia menghela napas pelahan, ujarnya pula, “Mungkin akan kubangun sebuah makam indah untuk tempat jenazahnya!”

Siangkwan Wan-ceng agak tertegun, “Hatimu boleh digolongkan Ganas dan Kejam. Orang yang sudah mati tak boleh dituntut dendam lagi. Dia sudah mati mengapa engkau masih hendak menyiksa jenazahnya?”

Dara baju ungu tertawa nyaring, “Apakah hubunganmu dengan dia?”

Selembar wajah Siangkwan Wan-ceng berobah, sahutnya, “Aku adalah kawannya, bagaimana?”

Dara baju ungu itu kembali tertawa nyaring, “Kawan? Bukan sesama perguruan dan tak tersangkut hubungan famili tetapi mengaku sebagai kawan, apakah engkau tak malu?”

Ia merapikan rambutnya yang tertiup angin malam lalu berkata pula, “Dan lagi, belum tentu dia mau mengaku dirimu sebagai kawan. Ah, benar-benar seorang gadis yang suka bertepuk sebelah tangan!”

Siangkwan Wan-ceng berwatak keras. Ia tak menghiraukan ucapan dara baju ungu itu. Tetapi ucapannya yang terakhir itu, benar-benar menusuk perasaannya.

Ia berpaling memandang ke arah Han Ping yang rebah di tanah. Seketika dalam hati timbul suatu perasaan sedih. Pikirnya, “Benar! Memang aku tak tahu apakah dia mau mengakui aku sebagai kawannya atau tidak! Apalagi walaupun dapat kutanya dan ia menggelengkan kepala, kemanakah hendak kusembunyikan mukaku?”

Seketika suasana sunyi senyap. Hati setiap orang seperti tertindih batu berat. Tiba-tiba si dara baju ungu membungkukkan tubuh dan memungut pedang Pemutus Asmara, serunya, “Walaupan pedang ini luar biasa tajamnya, tetapi dia seperti orang yang memilikinya. Selamanya tak pernah mengenyam kebahagiaan. Pedang ternama sebagai bunga ternama, keharumannya hanya dinikmati sendiri dalam kesepian….”

Tiba-tiba Siangkwan Wan-ceng mengangkat muka lalu membentak, “Lepaskanlah, jangan menyentuh barang miliknya.”

Berkata si dara baju ungu dengan suara lembut, “Itulah cerita yang terdapat dalam dunia persilatan di tanah Tiong-goan. Barang siapa yang memiliki pedang ini, seumur hidup tentu akan merasa kesepian dan hidup seorang diri. Kelak engkau tentu akan tahu tentang cerita itu!”

“Kalau sudah tahu lantas bagaimana?” tegur Siangkwan Wan-ceng.

“Kalau tahu, itu baik sekali,” kata si dara baju ungu, “akan kugunakan pedang ini untuk menusuk ulu hatinya, supaya dia mati. Setelah itu, pakailah pedang yang berlumuran darahnya itu untuk bunuh diri. Nanti akan kubangun sebuah makam untuk kalian berdua. Pedang ini sebagai tanda peringatan. Pada batu nisan makam itu akan terukir tentang peristiwa kematianmu membela cinta itu. Dan memperingatkan kepada orang di dunia, supaya jangan berani lagi coba2 hendak mengejar pedang Pemutus Asmara itu. Rasanya Asmara yang begitu bergairah tentu mengalahkan kesunyian makam yang terasing!”

Nada ucapannya yang lemah lemhut itu mengandung jeritan hati dari kesedihan dan penasaran. Setiap patah kata-katanya seolah-olah memperingatkan orang akan tibanya kiamat, dimana se-olah-olah melukiskan dunia ini hanya penuh derita kehidupan dan kebinasaan.

Siangkwan Wan-ceng di luar dugaan pun menghela napas, ujarnya, “Kata-katamu memang beralasan juga. Seorang yang hidup sampai seratus tahun, akhirnya tentu mati juga. Apabila setelah dapat meninggalkan kenangan yang mengesankan di hati orang, itulah suatu kematian yang berharga.”

“Engkau meluluskan?” tanya si dara baju ungu.

Siangkwan Wan-ceng pelahan-lahan memandang ke empat penjuru. katanya, “Dalam kepungan orang-orangmu yang begitu ketat, rasanya aku tentu tak menerobos mereka.”

“Hm, rupanya engkau mempunyai kesadaran juga,” nenek Bwe tertawa dingin.

Kuatir kalau nenek Bwe mengeluarkan kata-kata yang menyinggung hati Siangkwan Wan-ceng sehingga menggagalkan rencana, maka si dara baju ungu cepat-cepat berseru pula, “Kalau begitu sekarang juga segera kubunuhnya!”

Pedang diangkat dan pelahan-lahan ditusukkan ke dada Han Ping. Melihat itu Siangkwan Wan-ceng menghela napas dan buru2 pejamkan mata. Gadis yang gagah dan seorang pendekar wanita yang biasa membunuh orang tanpa berkedip mata ini, saat itu tiba-tiba berobah lemas lemah seperti anak kambing.

Di bawah cahaya bintang yang redup, tampak lengan tangan dara baju ungu itu gemetar. Suatu pertanda bahwa hatinya sedang dilanda ketakutan dan ketegangan.

Ujung pedang yang tajam, menyusup ke dada Han Ping. Sepercik darah segar segera memancar deras.

Tiba-tiba kedengaran dara baju ungu itu mengerang. Tubuhnya menggigil keras. Nenek Bwe cepat ulurkan tangan kiri untuk mengepal jari dara itu. tetapi sesaat tangan nenek Bwe menyentuh jari si dara, ia terkejut sekali. Begitu besar rasa kejut itu sehingga tubuhnya tergetar.

Ternyata jari tangan dara baju ungu itu, dingin seperti es.

“Nak, engkau bagaimana?”seru nenek Bwe cemas.

Sambil menggenggam kencang tangan nenek Bwe, dara baju ungu itu berseru, “Bwe Nio, apakah aku menusuk di tempat yang salah?”

Oleh karena nenek Bwe dan dara baju ungu itu membuka mulut pada waktu yang sama, maka mereka saling tak dapat mendengar apa yang dikatakan masing-masing.

Saat itu Siangkwan Wan-ceng sudah membuka mata. Pertama-tama ia segera terkejut ketika melihat darah yang memancar dari dada Han Ping itu. Setelah menghela napas rawan, cepat-cepat ia pejamkan mata pula.

Dengan susah payah dara baju ungu itu mengangkat tangannya. Tampaknya seberat orang mengangkat benda seribu kati. Kemudian cepat 2 ia menyurut mundur dua langkah dan sandarkan tubuhnya ke dada nenek Bwe. Tring… pedang Pemutus Asmara pun jatuh ke tanah.

Ong Kwan-tiong, si Bungkuk, si Kate dan lelaki yang berkaki buntung itu, wajahnya mengerut tegang. Mereka memandang lekat2 ke tubuh Han Ping. Dalam pancaran mata mereka, mengandung rasa sayang dan kecewa atas kematian seorang jago muda yang gagah perwira itu.

Kira2 sepeminum teh lamanya, kesunyian suasana tempat itu telah dipecah oleh hembusan angin yang membawa suara seruan yang bernada sarat, “Ceng ji, Ceng-ji…. .”

Suara itu dari tempat jauh tetapi dapat menyusup jelas ke dalam telinga orang. Jelas bahwa orang yang berteriak itu tentu memiliki ilmu tenaga-dalam yang tinggi.

Siangkwan Wan-ceng cepat memungut pedang Pemutus Asmara, terus hendak diarahkan ke dadanya sendiri. Sekali ayun, ujung pedang Pemutus Asmara yang tajam itu tentu akan bersarang ke dadanya.

Suara orang yang berseru memanggil Ceng-ji itu, makin lama makin terdengar merawankan. Dalam malam yang sunyi, makin terdengar menyentuh perasaan.

Siangkwan Wan-ceng melirik ke arah dara baju itu, lain berkata pelahan, “Ayahku sedang memanggil aku, biarlah aku menjumpainya sebentar lalu bunuh diri, bagaimana?”

Sahut si dara baju ungu dingin, “Ikatan anak dan orangtua itu amat berat. Setelah menemui ayahmu, mana engkau bisa bunuh diri?”

Kemudian dara baju ungu itu memandang ke tubuh Han Ping yang rebah di tanah dan menghela napas, “Ah, mungkin jenazahnya akan kedinginan. Jika engkau tak suka mati, terpaksa kami akan membawa mayatnya!”

“Aku sudah meluluskan, tentu takkan ingkar!” seru Siangkwan Wan-ceng, “sehabis bertemu ayah aku tentu bunuh diri!”

Anginpun reda dan berhembus pelahan. Dara baju ungu itu tegak berdiri seperti patung Dan seperti tak mendengar kata-kata Siangkwan Wan-ceng, dara itupun terus melangkah pelahan-lahan ke tempat Han Ping. Ia berjongkok dan pelahan-lahan menarik sebelah tangan Han Ping.

Sekalipun tak bicara sepatah kata, dan mukanya tertutup oleh kerudung hitam, tetapi langkah kakinya mengandung perbawa yang menyeramkan.

Siangkwan Wan-ceng tak senang kalau dara itu menyentuh tubuh Han Ping. Tetapi untuk beberapa saat, ia tak dapat mencegahnya.

Tampak kesepuluh jari dara itu menggenggam tangan Han Ping erat2. Terdengar mulutnya menghela napas dan lalu menengadahkan kepala berkata pelahan-lahan, “Ah, tak kira dalam beberapa kejab saja, tangannya sudah sedingin begini.”

Siangkwan Wan-ceng tergetar hatinya. Pedang yang dicekalnya terlepas jatuh. Bergegas ia berjongkok. Tanpa bicara, dara baju ungu itu segera menyerahkan tangan Han Ping kepada Siangkwan Wan-ceng. Siangkwan Wan-cengpun terus saja menyambuti.

Lama, lama sekali Siangkwan Wan-ceng termenung2. Memandang ke langit nan biru, ia menghela napas, “Oh, Allah….. apakah benar-benar dia harus mati secara begini sunyi?”

Ia rasakan tangan Han Ping dingin sekali. Ong Kwan-tiong dan nenek Bwe saling bertukar pandang mata. Dalam sinar mata kedua orang itu seperti memancar rasa iba dan sayang. Si Bungkuk dan si Kate batuk-batuk lalu bersama-sama berpaling memandang ke arah sebatang pohon.

Si dara baju ungu tiba-tiba malah tertawa pelahan, ujarnya, “Racun sudah bercampur darah, nyawanya sudah hilang. Sekalipun lebih cepat mati sejam, tetapi perlu apa membuat kaget dan harus disayangkan?”

Tiba-tiba Siangkwan Wan-ceng berbangkit. Dengan sinar mata penuh dendam kemarahan, ia menatap dara baju ungu itu.

Dara baju ungu itupun berbangkit juga. Tiba-tiba Siangkwan Wan-ceng gerakkan tangan kanan menusuknya.

“Hai, engkau mau apa!” teriak nenek Bwe terkejut sekali seraya loncat ke samping Siangkwan Wan-ceng. Jika Siangkwan Wan-ceng berani ajukan ujung pedangnya lagi, tongkat nenek itu tentu akan menusuk tubuhnya.

Tetapi ternyata Siangkwan Wan-ceng seperti orang yang sudah kehilangan semangat. Ia tak merasa kalau ujung tongkat si nenek sudah menyentuh pakaiannya Tetapi iapun tak melanjutkan tusukannya kepada si dara baju ungu. Dengan menghela nafas pelahan ia menarik pulang pedang dan memandang lagi ke mayat Han Ping, serunya beriba, “Engkau sudah mati, baiklah”

Sekali gerakkan pedang, ia hendak menusuk tenggorokannya sendiri.

Tepat pada saat itu, sesosok tubuh melesat tiba dan berteriak keras, “Ceng ji, Ceng-ji, apakah bukan engkau yang bicara itu?”

Cepat laksana kilat, orang itu melayang turun dari udara dan tiba di hadapan Siangkwan Wan-ceng.

Suara panggilan yang bernada ramah penuh kesayangan yang mesra itu, serentak dapat menyadarkan pikiran Siangkwan Wan-ceng yang sudah gelap.

Seorang bertubuh tinggi besar dan mengenakan pakaian warna hitam serta jenggotnya sudah bercampur putih, berdiri setengah meter di depan Siangkwan Wan-ceng. Di bawah cahaya bintang, tampak matanya berlinang dua titik airmata dan wajahnya mengerut kedukaan.

“Ceng-ji, apakah engkau diganggu orang?” serunya.

Ia tahu bahwa Siangkwan Wan-ceng itu dibesarkan dalam suasana kemanjaan. Sudah tentu tak dapat menderita. Melihat nona itu hendak bunuh diri, ia duga tentu menderita siksaan bathin yang hebat.

Siangkwan Wan-ceng tertawa rawan, sahutnya, “Ayah telah memelihara aku dengan penuh kesayangan tetapi maaf aku tak dapat menunaikan bhakti kepada ayah….”

Ternyata yang muncul itu adalah Siangkwan Ko, ayah dari Siangkwan Wan-ceng. Sudah tentu kepala dari marga Siangkwan itu terkejut sekali mendengar kata-kata puterinya.

“Ceng- ji!” teriaknya dengan sekuat tenaga sehingga kumandangnya mengarungi empat penjuru gunung.

Mendengar teriakan sang ayah yang penuh dengan curahan kesayangan dan kepiluan hati, Siangkwan Wan-ceng tersentak dari kelimbungan. “Yah……” iapun berseru dan mencucurkan air mata.

Ia menyadari bahwa dirinya menempati kedudukan yang penting dalam hati ayahnya. Melihat ayahnya sampai meneteskan airmata, luluhlah hati Siangkwan Wan ceng. Ia tak mau sang ayah menderita dalam usianya yang sudah tua itu. Pelahan-lahan pedang Pemutus Asmara diturunkan dan berkatalah ia dengan rawan, “Yah. anggaplah ayah tak pernah melahirkan seorang anak yang tak berbakti seperti aku ini!”

Cepat sekali mata Siangkwan Ko berkeliaran memandang ke sekeliling, serunya, “Apakah mereka yang menghinamu?”

Siangkwan Wan-ceng gelengkan kepala, “Aku sendiri yang menyetujui. Tak boleh tidak aku harus mati.”

Siangkan Ko terkesiap, “Soal kematian, apakah bisa sembarangan saja menyetujui?”

“Sudah terlanjur, tiada guna disesalkan!” seru Siangkwan Wan-ceng.

“Ceng-ji. apakah engkau tak memikirkan betapa menderita ayahmu nanti jika engkau meninggal itu? Dan apakah engkau tak ingat sama sekali kepada mamamu yang sedang menderita sakit lumpuh? Jika tahu engkau meninggal. apakah engkau kira dia tak bakal menyusulmu juga?”

Kepala marga Siangkwan itu menghela napas lalu berkata pula, “Ceng-ji, selama hidup ayahmu selalu menepati ucapan. Dan akupun menghendaki puteriku jangan bolak-balik bicaranya. Ketika mereka menggunakan ilmu silat untuk membunuhnya, sekalipun aku sebagai seorang ayah tentu akan berduka sekali, tetapi aku tak dapat bicara apa-apa. Tetapi kalau mereka hanya menggunakan omongan licin untuk menipumu supaya mati, kuanggap hal itu bukan tindakan yang jujur. Sekalipun sudah janji, tetapi tak harus mesti ditaati.”

Tiba-tiba nenek Bwe gentakkan tongkatnya ke tanah berseru bengis, “Karena mengingat usianya yang begitu muda dan kurang pengalaman maka barulah kita memberi kesempatan padanya untuk bunuh diri. Karena sekalipun tidak bunuh diri, juga serupa saya tak nanti dapat lolos dari kematian!”

Siangkwan Ko tertawa dingin, “Di tangan siapa rusa itu akan mati, masih belum dapat dipastikan. Baiklah jangan buka mulut besar dulu.” — ia berpaling memandang puterinya lalu berkata, “Ceng-ji, kemarilah! Kita berdua bersatu padu menempur orang-orang Lam-hay-bun…”

Nenek Bwe kembali gentakkan tongkatnya, “Demi kecintaan ayah dan anak yang begitu dalam, akan kulaksanakan kehendak kalian itu!” — ia menutup kata dengan ayunkan tongkat menghantam Siangkwan Ko.

Siangkwan Ko tertawa hina. Menghindar tiga langkah ke samping, ia menghindari serangan nenek Bwe. Nenek Bwe putar lengannya. Hantaman itu tiba-tiba dirobah menjadi gerak menabas pinggang orang.

Siangkwan Ko diam-diam terkejut melihat kesebatan orang. Cepat ia mencabut pedang dan hendak ditangkiskan. Tetapi sekali tangan nenek Bwe mengendap, tongkatnyapun ditarik pulang lagi.

Sambil melirik ke arah dara baju ungu, nenek itu berkata dengan nada dingin kepada Siangkwan Ko. “Kemarilah. kita berkelahi di tempat yang lapang. Asal engkau mampu menerima dua-puluh jurus seranganku, segera kita bebaskan kalian berdua ayah dan anak pergi!”

Siangkwan Ko masih mencekal pedang dan merenung diam. Diam-diam ia menimang dalam hati, “Ceng- ji biasanya berhati keras menurut kemauannya sendiri. Sekalipun berhadapan dengan musuh kuat, anak itu tetap tak gentar. Tetapi aneh mengapa tampaaknya saat ini dia seperti kehilangan sifatnya yang keras itu dan menurut saja disuruh bunuh diri?”

Dalam pada itu, Ong Kwan-tiong gentakkan senjata thiat-cinya dan berkata dengan hormat kepada nenek Bwe, “Harap lo-cianpwe suka beristirahat. Biarlah aku yang menghadapinya!”

Nenek Bwe memandang Ong Kwan-tiong tanpa menyahut apa-apa.

Kiranya pada waktu menghindari serangan tadi, Siangkwan Ko telah melesat ke samping si dara baju ungu. Sekali gerakkan pedang Siangkwan Ko pasti dapat melukai dara itu.

Rupanya Ong Kwan-tiong menyadari juga kedudukan sumoaynya yang berbahaya itu. Ia tak berani bertindak sembarangan. Setelah batuk-batuk beberapa kali, ia berseru, “Sudah lama aku mendengar kemasyhuran nama Siangkwan pohcu, lebih hebat dari marga Nyo dan marga Ca. Sudah lama aku ingin sekali mendapat pelajaran. Maka silahkan kemari ke tempat tanah lapang untuk menguji kepandaian!”

Sebagai seorang yang sudah kenyang makan asam garam dunia persilatan, sudah tentu ketua marga Siangkwan itu tak mudah terpikat. Tiba-tiba mendapat pikiran, “Mereka dapat memaksa puteriku bunuh diri tetapi mengapa mereka begitu sungkan sekali kepadaku?”

Secepat matanya melirik ke arah dara baju ungu yang berdiri dengan kepala menunduk, ia tahu kalau dara itu tak menyadari tahwa ia berada di sampingnya. Karena mengenakan kerudung muka warna hitam, Siangkwan Ko tak dapat melihat wajah dara itu. Tetapi menilik arah ia berdiri, jelas kalau dara itu sedang memperhatikan wajah Han Ping yang menggeletak di tanah.

“Hm, mengapa ia berdiri terlongong-longong. Apakah yang sedang dipikirkannya?” Siangkwan Ko menduga-duga.

Tiba-tiba ia melihat tubuh Han Ping meregang-regang. Si dara baju ungu pun kedengaran menghela napas lalu pelahan-lahan duduk dan melambai kepada Siangkwan Wan ceng, “Lekas kemari, dengarkan perintahku untuk mengusir keluar darah beracun dalam tubuhnya.”

Siangkwan Wan-ceng meragu tetapi akhirnya ia menurut juga. Seluruh mata yang hadir tercurah ke arah kedua gadis itu.

Mendengar nada suara sumoaynya yang menyatakan bahwa Han Ping mempunyai harapan hidup kembali, Ong Kwan-tiong tak keruan perasaannya. Tak tahu ia, apakah girang atau sedih. Ia tahu akan kecerdasan yang luar biasa dari sumoaynya itu. Dara itu telah mempelajari ilmu pengobatan. Tak nanti sembarangan bicara.

Ong Kwan-tiong menghela napas lalu menengadah memandang ke langit. Terhadap keadaan Han Ping yang akan hidup kembali, dalam hatinya timbul dua macam perasaan yang saling bertentangan. Di satu fihak ia merasa sayang kalau seorang tunas muda yang memiliki bakat begitu luar biasa harus mati begini muda. Di lain fihak, jika saat itu tidak melenyapkan pemuda itu, kelak beberapa tahun lagi, dalam dunia persilatan mungkin tiada orang yang sanggup menandingi pemuda itu…. . .

Karena timbulnya pertentangan dalam batinnya itu, maka Ong Kwan-tiong menaruh perhatian besar soal mati hidupnya Han Ping. Ia menyadari bahwa mati hidupnya pemuda itu mempunyai arti yang besar bagi dunia persilatan.

Setelah jongkok maka Siangkwan Wan-ceng memandang dara baju ungu itu, tanyanya, “Bagaimana caraku membantu?”

“Tekanlah jalan darah Hian-ki hiat di dadanya dengan tangan kirimu, lalu gunakan tangan kanan untuk menghalau peredaran darahnya!” kata dara baju ungu.

Sejenak Siangkwan Wan-ceng memandang muka Han Ping, lalu bertanya, “Apakah dia sudah mati? Atau masih hidup?”

“Masih ada setitik napas, denyutnya masih belum berhenti!” jawab dara baju ungu.

“Kalau begitu masih hidup?”

“Belum berhenti sama sekali, tetapi sudah dekat ajalnya. Dalam waktu sepeminuman teh harus dapat mengeluarkan darahnya yang tercampur racun setelah itu harus menutup jalan darahnya. Pertolongan itu harus dilakukan secepat mungkin. Jika terlambat, dia tentu akan kehabisan darah dan mati. Sekalipun minum pil mujijad yang dapat mengembalikan jiwa, tetap tak dapat menolongnya!” kata si dara baju ungu.

“Lalu mengapa engkau menusuknya?” tanya Siangkwan Wan-ceng, “jika tak kau tusuk, dia tentu tak begitu gawat keadaannya!”

Sekalipun mulutnya menggerutu tetapi ia tetap melakukan apa yang diperintah si dara baju ungu itu. Tangan kiri menekan dada Han Ping dan tangan kanan kerahkan tenaga-dalam untuk melancarkan peredaran darah pemuda itu.

Dara baju ungu pelahan-lahan menyingkap ujung kerudung mukanya. Sejenak memandang luka Han Ping, ia menghela napas, “Jika tak kutusuk, saat ini dia tentu tak tertolong lagi jiwanya!”

Karena didorong oleh Siangkwan Wan-ceng luka Han Ping yang sudah tak berdarah itu, tiba-tiba memancurkan darah lagi. Melihat bagaimana deras darah itu memancar keluar, Siangkwan Wan-ceng hampir tak dapat menahan kesedihannya. Ia mengangkat muka dan memandang dara baju ungu itu, “Apakah engkau suruh dia mati di tanganku?”

Dara baju ungu itu tertawa dingin. Ia tak mau menyahut apa-apa dan hanya memandang Siangkwan Wan-ceng melakukan pengurutan untuk mengeluarkan darah Han Ping yang kena racun itu.

Saat itu separoh pakaian Han Ping sudah berlumuran darah sehingga segan orang melihatnya.

Siangkwan Wan-cengpun tak dapat menguasai ketenangan hatinya. Tangannya mulai gemetar.

“Bagaimana?” tanyanya kepada si dara.

Si dara baju ungu diam saja seolah-olah tak manghiraukan pertanyaan Siangkwan Wan-ceng.

Lewat sepeminum teh kemudian, tubuh Han Ping tiba-tiba gemetar. Siangkwan Wan-ceng hentikan gerakan tangan kanannya dan membentak marah sekali, “Bagaimana ini? Apakah engkau hendak suruh aku mengeluarkan seluruh darahnya?”

Dara baju ungu menyahut dingin, “Jangan banyak ribut2. Apabila sudah waktunya, tentu kusuruh engkau berhenti!”

Sekalipun gelisah tetapi Siangkwan Wan-ceng tetap mengurut. Hampir seluruh darah Han Ping telah keluar. Luka itu tidak mengeluarkan darah lagi tetapi air.

Dara baju ungu menghela napas, serunya, “Sudahlah!”

Siangkwan Wan-ceng cepat berhenti lalu cepat-cepat menutup jalandarah Han Ping.

Sebelum ditanya, dara baju ungu itu mendahului, “Sekarang, darah beracun dalam tubuhnya sudah keluar. Asal makan obat penawar racun dan beristirahat beberapa waktu, dia tentu akan sembuh.”

Siangkwan Wan-ceng melengking marah, “Tetapi kulihat dia tak mungkin hidup. Seorang yang sudah kehabisan darah mana bisa hidup?”

Dara baju ungu itu pelahan-lahan berdiri.

Kain kerudung mukanya berkibar-kibar tertiup angin pegunungan. Dengan langkah lemah gontai ia berjalan maju. Sikapnya amat tenang sekali dan berjalan ke muka Siangkwan Ko.

Kepala marga Siangkwan itu cepat lintangkan pedang peraknya. Sembari keliarkan mata memandang ke sekeliling, ia membentak pelahan, “Berhenti!” – terus loncat mengangkat pedang gin-kiam dilekatkan ke punggung si dara.

Serempak pada saat Siangkwan Ko membentak itu, nenek Bwe, Ong Kwan-tiong dan si Kaki- buntungpun segera menyerbu Siangkwan Ko. Mereka bergerak cepat sekali tetapi tetap kalah cepat selangkah dari Siangkwan Ko. Ujung pedang kepala marga Siangkwan itu sudah lebih lulu melekat di punggung si dara baju ungu.

Nenek Bwe yang pertama loncat mundur dan membentak bengis, “Lekas mundur!”

Ong Kwan-tiong dan si Kaki-satu mengiakan dan cepat loncat mundur ketempatnya semula.

Melihat itu Siangkwan Ko menengadahkan muka seraya tertawa nyaring. Cepat ia mencekal siku lengan kiri dara baju ungu itu. Rapanya ia mencengkeram terlalu keras sehingga dara itu mengerang kesakitan dan tubuhnya gemetar.

“Jangan melukainya…!” teriak nenek Bwe dengan marah.

Siangkwan Ko balas membentak, “Kalau berani maju selangkah saja, tentu akan kutusuknya dengan pedang!”

Juga si Kaki-satu berteriak gopoh, “Jangan mengganggu selembar rambut dari sumoayku, kalian berdua ayah dan anak jangan harap dapat tinggalkan tempat ini dengan masih bernyawa!”

Siangkwan Ko membelalakkan mata lebar2 dan berseru mengejek, “Kalau kubunuhnya, kalian mau apa?”

Si Kaki-satu tertegun dan tak dapat menjawab apa-apa.

Ong Kwan-tiong batuk-batuk pelahan lalu berseru, “Siangkwan pohcu, kalau mau bicara, silahkan mengatakan. Apa yang dapat kami lakukan, tentu akan meluluskan.”

Jelas sudah, setelah dara baju ungu itu jatuh dalam kekuasaan Siangkwan Ko, orang-orang Lam-hay-bun benar-benar tak berkutik dan kehilangan kegarangannya.

Nenek Bwe gentakkan tongkatnya, menghela napas panjang, ujarnya, “Seumur hidup aku tak mau sembarangan memberi janji. Tetapi malam ini akan kuhapus pantangan itu dan meluluskan kalian.”

Siangkwan Ko tertawa dingin, serunya puas, “Tetapi Siangkwan Ko seumur hidup tak pernah meminta pertolongan orang!”

Sekonyong konyong kedua bahu nenek Bwe bergerak dan cepat laksana kilat, ia sudah melesat ke samping Siangkwan Wan-ceng dan sekali sudah mencengkeram pergelangan tangan kanan gadis itu.

Saat itu Siangkwan Wan-ceng sedang menunduk memandang Han Ping. Seluruh perhatiannya dicurahkan untuk mengamati setiap perobahan dari pemuda itu sehingga ia tak menghiraukan apa yang terjadi di sekitarnya. Baru setelah pergelangan tangannya dicengkeram nenek Bwe, ia tersentak kaget. Dengan tenang dan hambar ia berpaling memandang nenek Bwe dan menegurnya, “Mau apa?”

Nenek Bwe kerahkan tenaga dalam tetapi tak dipancarkan ke arah jarinya. Sahutnya dingin, “Suruh ayahmu melepaskan To-ji, segera kulepaskan tanganmu!”

“Siapakah To-ji itu….?” sahut Siangkwan Wan-ceng seraya melirik ke arah depan. Dilihatnya ayahnya sedang mencekal siku lengan si dara baju ungu. Ia segera menyadari dan menegas, “O, dara baju ungu itukah?”

“Benar,” jawab nenek Bwe, “lekas suruh ayahmu melepaskannya!”

Siangkwan Ko tertawa memanjang, “Kalau aku tak mau melepaskannya?”

“Anak perempuanmu ini tentu akan kubunuh lebih dulu!” seru nenek Bwe.

“Dara baju ungu ini masih sayang jiwanya atau tidak?” sahut Siangkwan Ko.

Tiba-tiba dara baju ungu itu menyelutuk, “Tak apa, sekalipun engkau bunuh aku tetap takkan mati. Tak percaya, silahkan mencoba!”

“Apa? Aku tak mampu membunuhmu?” Siangkwan Ko menegas heran.

“Silahkan engkau mencoba semua senjata yang engkau punya,” kata si dara.

“To-ji, apakah engkau gila?” seru nenek Bwe. Dara baju ungu itu tertawa melengking, serunya, “Bukankah aku masih waras?”

“Hidup dan Mati itu soal besar. Bukan mainan kanak-kanak! Mengapa engkau suruh dia mencobanya!”

Dara baju ungu itu tertawa ringan, “Kalau dia menurut omonganku dan menusuk mati aku. Bukankah kalian juga dapat menyiksa anak perempuannya?”

Mendengar kata-kata itu tergetarlah hati Siangkwan Ko, katanya, “Engkau pandang aku ini orang macam apa? Masakan aku kena tipu seorang budak perempuan semacam engkau! Hm, bagaimana mereka hendak mengerjai anak perempuanku, akupun akan mencontohnya, mengerjai engkau!

Tukas pembicaraan itu jelas mengunjukkan betapa penting arti dari kedua nona itu bagi kedua belah fihak. Keduanya sama-sama cemas.

Dari pembicaraan itu, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa apabila nenek Bwe tak mencelakai Sangkwan Wan-ceng, Siangkwan Ko pun takkan bertindak terhadap si dara baju ungu.

“Harap Siangkwan pohcu suka mempertimbangkan lebih lanjut,” Ong Kwan-tiong berkata, “paling banyak engkau hanya mempunyai peluang untuk memukul satu kali. Apabila kesempatan itu gagal, engkau tak mungkin mempunyai kesempatan turun tangan lagi. Tetapi kebalikannya, kami masih mempunyai banyak waktu. Tak perlu terburu-buru mengerjai puterimu! Misalnya, dapat menyayat kulitnya dan mengiris-iris dagingnya. Dan lagi dapat melakukan hal itu di depan hidungmu!”

Siangkwan Ko sejenak keliarkan pandang ke sekeliling lalu menyahut dingin, “Pedang gin-kiam yang kucekal ini, tak kurang dari duapuluh empat kati beratnya. Dalam dunia kiranya tiada pedang yangmelampaui berat dari pedangku ini. Pedang perak ini sudah menemani aku malang melintang di dunia persilatan selama tiga puluh tahun. Dan selama itu tak pernah ada orang yang mampu menyelamatkan jiwanya di bawah tabasan pedang ini….”

Tiba-tiba Siangkwan Wan-ceng berteriak memanggil si dara baju ungu, “To ji… To-ji, lekas kemarilah!”

Dara baju ungu berpaling, serunya, “Siapa yang engkau panggil?”

“Engkau! Bukankah namamu Toji?” sahut si nona.

“Siapa yang memberitahu kepadamu?”

Siangkwan Wan-ceng berpaling memandang nenek Bwe, sahutnya, “Tadi nenek itu memanggilmu begitu dan aku mendengarnya. Tiada orang yang memberitahu kepadaku!”

Si dara baju ungu itu hendak melangkah tetapi karena lengannya dicekal Siangkwan Ko, ia tak dapat lepaskan diri.

“Yah, lepaskan ia,” seru Siangkwan Wan-ceng dengan nada sarat dan rawan.

“Lepaskan ia, mungkin kita berdua sukar lolos dari bahaya….”sahut Siangkwan Ko.

Siangkwan Wan-ceng menghela napas. “Mati hidup sudah tersurat dalam nasib. Ayah tak perlu kuatir, kumohon ayah lepaskan ia.”

Siangkwan Ko julaikan pedangnya ke bawah dan lepaskan cekalannya, “Pergilah!”

Sejenak gerakkan lengan kirinya, dara baju ungu itu lalu melangkah menghampiri ke tempat Siangkwan Wan-ceng.

Siangkwan Ko kiblatkan pedang gin-kiamnya dan berseru, “Sekarang kalian tak perlu takut. Siapa yang hendak menempur aku lebih dulu?”

Kepala marga Siangkwan itu tegak berdiri dengan wajah serius seraya siap dengan pedang Perak atau gin-kiam.

Si Kaki satu gentakkan tongkat besinya terus hendak loncat maju tetapi Ong Kwan-tiong cepat melintangkan thiat-ci di hadapannya dan membentaknya pelahan, “Jangan bertindak sembarangan.”

Saat itu si dara baju ungupun sudah tiba di tempat Siangkwan Wan-ceng. Ia mencekal tangan Siangkwan Wan-ceng lalu duduk di sisinya.

Nenek Bwe termangu dan lepaskan juga cekalannya pada pergelangan tangan Siangkwan Wan-ceng.

Siangkwan Wan ceng memandang Han Ping, tanyanya, “Tadi dia bergerak lagi….”

“Apakah engkau tentu akan menolongnya?” selutuk si dara baju ungu.

Siangkwan Wan-ceng anggukkan kepala, “Dia selalu menuduh bahwa akulah yang memaksanya minum racun. Aku hendak menolongnya supaya hidup agar dapat memberi tahu bahwa aku tak meracuninya.”

Dara baju ungu itu menghela napas, “Baiklah. aku dapat meluluskan engkau. Tetapi seumur hidup aku tak mau menderita kerugian. Aku mau menolongmu tetapi engkau harus meluluskan sebuah syaratku.”

“Syarat apa?” tanya Siangkwan Wan-ceng.

“Sederhana sekali tetapi sukar untuk melakukan,” kata si dara baju ungu. “Aku kuatir engkau sukar pegang janji.”

“Asal aku mampu, tentu akan meluluskan. Tak perlu simpan rahasia, lekas katakanlah!”

“Dalam mengerjakan sesuatu, aku selalu tak mau terjerumus dalam kesulitan .. .” kata si dara baju ungu seraya merogoh ke dalam baju dan roengeluarkan sebuah botol kecil dari batu kumala, katanya; “Dalam botol kumala ini terisi pil Hui-sim-sin-tan (pil perusak hati) dari perguruan Lam-hay-bun. Setelah makan, dalam tempo sejam, racun itu segera bekerja menyusup ke dalam urat2 jantung.”

Mendengar itu Siangkwan Ko deliki mata dan membentak marah, “Apa? Engkau hendak suruh anakku makan pil beracun seganas itu?”

Dara baju ungu menyahut dingin, “Memang aku hendak suruh puterimu makan pil itu, tentu saja tak perlu kuberi penjelasan pandang lebar. Andaikata kubilang pil dalam botol kumala itu adalah obat mujijad dari perguruan Lam-hay-bun dan setelah makan akan dapat menambah umur dan tenaga dalam, entah apakah engkau mau percaya atau tidak?”

Siangkwan Ko batuk-batuk pelahan, serunya, “Ini, ini sudah tentu tak percaya!”

“Tetapi kukatakan bahwa pil ini adalah pil beracun penghancur hati yang ganas. Kalau puterimu meminumnya, itu bukan salahku.”

“Katakanlah maksudmu!” seru Siangkwan Wan-ceng, “ingin kutahu dengan cara apa engkau dapat menyebabkan aku mau menelan pil beracun itu!”

“Persoalannya sederhana sekali,” kata si dara baju ungu. “Engkau menghendaki aku menolong jiwanya tetapi engkau harus meluluskan sebuah syaratku. Tetapi aku tak mau memaksamu maka hendak kuajukan dua buah syarat agar engkau dapat memilih sendiri.”

“Yang pertama, tentulah suruh aku minum pil Hui-sim-sin-tan itu, bukan?” tukas Siangkwan Wan-ceng, “jangan kuatir! Katakan saja syarat yang kedua itu!”

“Yang satu itu lebih sederhana lagi,” sahut dara baju ungu, “asal engkau mengucapkan sumpah. Setelah lukanya sembuh, jangan engkau bicara lagi dengannya dan jangan membantunya apa-apa. Nah, hanya begitulah!”

“Itu amat mudah, Ceng ji, lekas sanggupilah!” selutuk Siangkwan Ko.

Siangkwan Wan-ceng memandang ayahnya dengan pandang rawan2 penasaran. Kemudian menghela napas pelahan, tanyanya, “Setelah minum pil Hui-sim-sin tan itu, entah berapa lama aku dapat hidup?”

“Jangan kuatir,” ujar dara baju ungu, “asal engkau setiap waktu makan obat penawarnya, tiga sampai lima tahun engkau takkan mati. Tetapi kalau tak makan obat penawar, dalam tujuh hari saja, jantung dan uluhatimu akan remuk dan engkau tentu mati. Lebih dulu dapat kuberimu tiga butir pil penawarnya. Setiap bulan boleh engkau minum sebutir.”

Siangkwan Wan-ceng merenung sejenak, ujarnya, “Baik, akan kucoba pil beracun Hui-sim-sin-tan dari perguruanmu Lam-hay-bun itu!”

Dara baju ungu tertawa melengking, “Bagus.” – dari botol kumala itu ia menuang sebutir pil warna hijau, ujarnya, “Makanlah ini dan aku pun segera mulai menolongnya. Dalam waktu sepertanak nasi lamanya, dia tentu dapat menjelma hidup kembali!”

Siangkwan Wan-ceng menyambuti pil itu. Dua butir airmata menitik turun dari sudut matanya. Katanya dengan nada beriba kepada ayahnya, “Yah, kutahu bahwa pilihanku ini tentu akan membuat hatimu bersedih. Tetapi kuharap ayah suka memaafkan puterimu yang tak berbakti ini.”

Gemetar tubuh kepala marga Siangkwan itu demi mendengar kata-kata puterinya. Dengan nada gemetar ea berkata, “Nak, apakah engkau sudah limbung pikiranmu?”

Siangkwan Wan-ceng tertawa hambar. Pada lain saat ia terus masukkan pil itu ke dalam mulutnya.

Berkata si dara baju ungu, “Pil itu luar biasa ganasnya. Begitu masuk ke dalam mulut terus meleleh menjadi cairan dan racunpun akan terus mengalir ke dalam tubuh, menyusup ke dalam jantung. Apabila engkau hendak main siasat mengulumnya dalam mulut, itu berarti engkau mencari penyakit sendiri.”

Siangkwan Wan-ceng berseru marah, “Jangan mengukur hati seorang ksatrya dengan ukuran hati seorang rendah. Jangan kuatir, pil itu sudah kutelan. Kalau tak percaya lihatlah!” ia terus mengangakan mulutnya lebar2.

Dara baju ungu itu kembali merogoh ke dalam baju dan mengeluarkan sebuah botol dari kumala hijau lalu menuang empat butir pil warna putih, jarnya, “Engkau ternyata dapat memegang kepercayaan. Empat butir pil penawar ini nanti setelah duabelas jam, engkau minum satu. Dan selanjutya setiap satu bulan engkau minum sebutir. began demikian engkau pasti selamat tak kurang suatu apa dalam waktu tiga bulan ini.”

Hati Siangkwan Ko mengikuti pil yang ditelan puterinya masuk kedalam perut. Hati kepala marga Siangkwan itupun ikut tenggelam. Rasa ketegangan dan kesedihan yang meluap dan mencengkeram hatinya, membuat tangannya lantas lunglai. Walaupun dekat dari tempat Siangkwan Wan-ceng, namun ia tak berdaya untuk merebut pi1 beracun dari tangan puterinya tadi.

Pula dalam anggapannya, Siangkwan Wan-ceng tentu takkan segila itu untuk menelan pil beracun. Maka betapalah kejutnya ketika melihat puterinya benar-benar mau menelan pil celaka itu.

Pun dara baju ungu itupun terkesiap juga melihat keberanian Siangkwan Wan-ceng menelan pil beracun. Ia menghela napas pelahan lalu berjongkok dan cepat mengangkat bahu Han Ping lalu berkata pelahan kepada Siangkwan Wan-ceng, “Lekas minumkan pil putih yang engkau bawa itu sebutir!”

Siangkwan Wan ceng, menurut perintah. Setelah mengangakan mulut Han Ping, ia susupkan sebutir pil putih tadi.

“Dengar perintahku, lakukan pengurutan jalandarah di tubuhnya,” kata si dara baju ungu pula.

Siangkwan Wan-ceng deliki mata kepada dara itu, “Pada suatu hari kelak aku tentu akan membelah tubuhmu dengan pedang!”

Dara baju ungu itu tertawa, “Sejak saat ini selama berbulan-bulan, engkau bakal menderita siksaan racun Hu- sim-sin- tan itu. Mana engkau mempunyai kesempatan untuk melampiaskan dendam kebencianmu kepadaku….”

Sejenak berhenti, ia melanjutkan kata-katanya pula, “Sekarang, lekas engkau mengurut jalandarah Thian jong dan Lian cwan di lehernya.”

Siangkwan Wan-ceng menurut. Dengan kedua tangannya, ia mulai mengurut leher pemuda itu tak henti2nya dara itu memberi petunjuk mana2 yang harus diurut Siangkwan Wan-ceng. Dalam beberapa kejab saja, Siangkwan Wan-ceng telah mengurut duabelas jalandarah di tubuh Han Ping.

Setelah menenangkan napas beberapa jenak, ketegangan hati Siangkwan Ko mulai reda. Tiba-tiba ia maju selangkah dan lekatkan pedang gin-kiam seberat 21 kati itu ke batang leher si dara baju ungu.

“Ya, jangan melukainya!” seru Siangkwan Wan-ceng pelahan.

Tanpa berpaling kepala dan dengan tenang sekali, dara baju ungu itu berkata, “Jika dia membunuh aku, dia tentu akan menyaksikan betapa kelak puterinya akan menderita siksaan pil Hu- sim-sin- tan itu. Tujuh hari tujuh malam akan mengerang-erang tak henti-hentinya. Rintihannya begitu menyayat hati….”

Habis berkata tiba-tiba ia ayunkan kedua tangannya ke dada Han Ping. Rupanya gerakan menghantam itu menggunakan tenaga penuh. Dan seketika itu Han Ping membuka mata terus berbangkit bangun.

Dara baju ungupun cepat-cepat berdiri terus hendak melangkah pergi. Tetapi Siangkwan Ko tekankan pedangnya dan paksa dara itu duduk kembali.

Tiba-tiba terlintas sesuatu dalam benak Siang-kwan Ko, pikirnya, “T’ubuh dara ini lemas seperti orang kebanyakan. Asal kutambahkan tenaga tekananku, dia tentu tak kuat. Apakah ia memang tak mengerti ilmusilat? Tetapi ia dapat mengatakan jalandarah di tubuh orang dengan tepat sekali, seperti seorang ahli silat yang lihay….”

Pada saat itu nenek Bwe, diam-diam sudah lekatkan tangannya ke punggung Siangkwan Wan-ceng.

Siangkwan Ko terkesiap dan berseru dengan nada dingin, “Sehelai rambut puteriku engkau rontokkan. budak perempuan ini tentu akan kubelah tubuhnya!”

Jawab nenek Bwe, “Asal kutambahi sedikit tenaga lagi, urat2 jantung puterimu ini tentu akan putus!”

“Dia sudah minum pil beracun dan tak dapat hidup lebih lama dari tiga bulan….” belum Siangkwan Ko selesai dengan perkataannya, tiba-tiba Han Ping bergerak. Tangan kirinya mendekap luka di dadanya dan tangan kanan menjemput pedang Pemutus Asmara lalu secepat kilat menusuk pergelangan tangan Siangkwan Ko.

Cepat sekali ia bergerak sehingga kctua marga Siangkwan itu tak berjaga-jaga. Dan tak sempat pula ia berpikir. Padahal ia dapat gerakan pedang gin-kiam untuk menyelamatkan tangannya dari ancaman pedang Han Ping. Tetapi ia terkejut dan dengan gugup lepaskan pedang lalu menarik tangannya.

Han Ping memang tak berniat melukainya. Begitu pedang gin-kiam terlepas ke bawah, cepat ia sambut dengan tendangan. Pedang perak itu melayang ke udara dan meluncur ke arah nenek Bwe. Nenek itu mendengus, menghantam dengan tongkatnya! Pedang gin-kiam yang beratnya 21 kati, terhantam melayang ke samping.

Tetapi pada saat nenek Bwe itu menghantam pedang, Han Pingpun sudah melesat dan membabat lengan nenek itu dengan pedang Pemutus Asmara. Karena sedang menghantamkan tongkat, nenek Bwe tak dapat balas menyerang. Terpaksa ia menghindar ke samping. Tetapi pada saat ia mengisar, kelima jari tangan kirinyapun menarik tubuh Siangkwau Wan-ceng setengah langkah ke samping.

Memang Siangkwan Wan ceng sudah merasa bahwa tangan yang melekat pada jalandarah Beng-bun-hiat di punggungnya. Hebat sekali tenaga dalamnya. Kalau ia bergeliat, tentulah nenek itu akan marah dan benar-benar akan membunuhnya. Maka nona itu tak berani meronta atau berusana melepaskan diri.

Mendapatkan tangan kiri nenek itu masih melekat di punggung Siangkwan Wan-ceng, Han Ping penasaran. Ia maju dan menyerang tiga kali. Serangan itu memaksa nenek Bwe harus mundur dua langkah dan tangannya yang menempel pada punggung Siangkwan Wan-cengpun terpaksa dilepaskan.

Siangkwan Wan-cengpun cepat loncat ke samping ayahnya.

Nenek Bwe tertawa seram, serunya, “Engkau minta mati?”

Tongkat pun segera disapukan.

Han Ping loncat mundur sampai dua meter. Dalam keadaan luka berat dan darah hampir habis. walaupun mempunyai tenaga dalam yang hebat tetapi tenaganya sudah lemah sekali. Demi untuk menolong kedua gadis, tadi ia telah mengerahkan semangatnya. Tetapi setelah kedua nona itu terlepas dari bahaya, semangatnyapun berhamburan lenyap. Kaki lantas lunglai dan bluk…. jatuhlah ia tertelentang di tanah.

Nenek Bwe cepat lekatkan ujung tongkatnya ke tenggorokan Han Ping. Nenek itu murka sekali tetapi tak berani bertindak. Dia cukup berpengalaman. Ia tahu bahwa dara baju ungu itu mempunyai perasaan yang aneh terhadap pemuda yang gagah dan berbakat cemerlang itu. Terhadap Han Ping, dara itu benci setengah mati tetapipun mencintainya lebih dari jiwanya sendiri. Suatu perasaan benci2 cinta yang aneh.

Nenek Bwepun menyadari bahwa apabila ia membunuh anakmuda itu entah bagaimana nanti penderitaan dara itu? Kecerdasannya yang luar biasa, menyebabkan orang tak mengerti dan sukar menduga setiap perobahan hati dara itu.

Siangkwan Wan-ceng segera berteriak keras, “Dia belum sembuh dari lukanya. Tenaganya masih lemah. Siapapun dalam keadaan begitu, tentu dapat membunuhnya. Mencelakai orang yang sedang menderita luka, bukanlah satu perbuatan yang perwira!”

Saat itu Ong Kwan-tiong dan si Kaki-satu sudah loncat ke samping dari baju ungu dan berdiri di kanan kirinya.

Terdengar dara baju ungu itu tertawa nyaring lalu berseru, “Bwe Nio, jangan membunuhnya, lepaskanlah!”

Bwe Nio mengangkat tongkat dan pelahan-lahan mundur.

Han Ping sambil mendekap luka di dadanya memungut pedang lalu berbangkit. Sejenak memandang ke sekeliling, ia segera melangkah pergi. Ia tak mau mengucap terima kasih kepada siapapun juga. Wajahnya menampilkan kerut kehampaan. Tiada kasih, tiada dendam. Dia tak mengacuhkan segala apa, mati, hidup dan menderita….

Dalam cahaya malam, tampak bayangan sosok tubuh pemuda itu makin lama makin jauh. Setiap orang tahu bahwa sesungguhnya pemuda itu paksakan diri menahan kesakitan yang hebat tetapi tak mau unjuk kelemahan di depan orang banyak. Dia pergi seorang diri, hampa dan sunyi karena tiada seorangpun yang bertanya kepadanya, tentang luka maupun keadaannya.

Setiap angin berhembus dan mengguncangkan kerudung muka dara baju ungu itu. Tetapi dara itu tak mengacuhkan. Ia seperti kehilangan semangat.

Ong Kwan-tiong cepat ulurkan tangan untuk menahan kain kerudung dara itu seraya berkata pelahan, “Angin malam amat dingin, sumoay harus menjaga diri, mari kita pulang!”

Dara baju ungu itu seperti dibangunkan dari mimpi. Ia menghela napas, ujarnya, “Benar-benar seorang lelaki yang keras….” — sebutir airmata menitik turun dari pelapuk matanya, menetes ke telapak tangan Ong Kwan-tiong.

Ong Kwan-tiong seperti menerima hantaman keras. Ia gemetar dan berbisik, “Sumoay, mari kita pulang.”

Tiba-tiba Siangkwan Wan-ceng melengking, “Hai, tunggulah aku .. ..”

“Dia belum jauh, tunggu dulu, aku hendak bicara padamu!” seru si dara baju ungu. Nenek Bwe pun cepat melintangkan tongkat menghadang Siangkwan Wan-ceng. Siangkwan Wan-ceng geram dan hendak menyelinap dari samping tetapi nenek Bwe lebih cepat. Ia mendorong dengan tangan kanan sehingga nona itu tersurut mundur.

“Nona Siangkwan, tunggulah, aku hendak bicara dengan engkau,” seru si dara pula.

“Bicara soal apa?” tanya Siangkwan Wan-ceng.

Sambil menghampiri, bertanyalah dara itu, “Mau apa engkau hendak mengejarnya? Racun dalam tubuhnya masih belum bersih dan dia takkan dapat hidup lama. Apakah engkau hendak mengurus mayatnya?”

“Engkau manusia beracun. Jangan mengurusi aku!” seru Siangkwan Wan-ceng.

Dara baju ungu tertawa, “Benar, aku hendak membuatnya hidup tidak, matipun segan. Biarlah dia menderita untuk beberapa tahun. Karena itu takkan kubiarkan dia mati cepat-cepat. Inilah sebuah resep. bawalah!”

“Resep apa?”

Kata si dara, “Untuk membersihkan sisa racun dalam tubuhnya, tetapi akan menyebabkan lain racun yang sifatnya lebih lambat, pelahan-lahan menyusun ke dalam dagingnya….”

“Hm, buat apa?” dengus Siangkwan Wan-ceng.

Si dara tertawa, “Itulah yang dikata Pintu muka mengusir badman, pintu belakang memasukkan serigala.”

“Risih telingaku!” teriak Siangkwan Wan-ceng seraya memutar tubuh hendak pergi.

Dara itu berteriak makin lantang, “Sekalipun resep obat ini mengandung racun aneh, tetapi sifat racun itu lambat sekali. Dua tiga tahun baru bekerja. Jika dia tak minum resep obat ini, sisa racun dalam tubuhnya dalam tiga hari tentu akan merenggut jiwanya. Di antara dua pilihan, pilih yang betul2 ringan bahayanya. Maka baiklah engkau ramukan resep ini.”

Siangkwan Wan-ceng tertegun, diam-diam ia berpikir, “Benar, sekalipun obat itu beracun tetapi dapat memperpanjang jiwanya sampai dua tiga tahun. Dalam jarak waktu sekian lama itu, dapat berusaha untuk mencari tabib pandai….”

Terdengar dara itu tertawa, “Tak usah engkau banyak pikir. Engkau sendiri hanya dapat hidup selama tiga bulan. Beaitu racun bekerja dan engkau mati di hadapannya. Tetapi jika engkau melamun hendak mencarikan obat untuknya, bukanlah seperti menjadi comblang?”

Siangkwan Wan-ceng marah, “Apa katamu? Aku tak mengerti!”

Si dara tertawa, “Kedua gadis dari Lembah Setan, lama sekali bergaul dengan dia. Tentu mereka tumbuh ikatan cinta jika engkau berjerih payah mencarikan tabib pandai untuk menyembuhkannya tetapi engkau sendiri bakal mati dalam tiga bulan. Apakah itu bukan menjadi comblang atau engkau yang tanam, orang lain yang memetik buahnya?”

Jawab Siangkwan Wan-ceng, “Aku benar-benar tak mengerti, mengapa engkau begitu membenci kepadanya. Dia sesungguhnya seorang pemuda yang jujur dan cerdas. Jarang sekali terdapat seorang pemuda macam dia. Ah, dahulu akupun seperti alam pikiranmu. Membencinya setengah mati. Siang malam aku selalu merangkai rencana, bagaimana supaya dapat melukainya. Bagaimana supaya di hadapan ksatrya gagah di seluruh dunia persilatan, aku dapat membuatnya malu….”

Dara baju ungu cepat memberi isyarat supaya dia jangan melanjutkan ceritanya, “Kemudian ia mengambil sehelai sapu tangan putih, serunya, “Apakah engkau membawa cat alis?”

“Aku tak pernah memulas alisku,” sahut Siangkwan Wan-ceng.

Dara itu menghampiri seonggok api unggun yang masih belum padam lalu mengambil setangkai dahan yang belum terbakar hahis. Setelah menulis di atas sapu tangan itu ia memberikan kepada Siangkwan Wan-ceng, “Sudah kuterangkan sejelas-jelasnya, percaya atau tidak terserah kepadamu!”

Siangkwan Wan-ceng menyambuti pemberian itu. Ketika memandang ke muka, tampak ayahnya sedang bertempur dahsyat dengan Ong Kwan-tiong. Diam-diam ia kerutkan alis.

Tiba-tiba si dara berkata, “Jika ayahmu bebas dari perkelahian, tak mungkin ia membiarkan engkau menyusul seorang pemuda yang menderita luka. Sekarang kesempatan yang bagus, lekaslah engkau pergi….!”

“Orangmu berjumlah lebih banyak, biarpun lihay, ayah tentu tak dapat memenangi.”

Si dara tertawa, “Cukup dengan Bwe Nio seorang saja. ayahmu sudah kalah, Engkau harus mengerti ucapanku ini. Lekaslah engkau susul dia. Kutanggung ayahmu tentu takkan menderita luka apa-apa….”

Tiba-tiba Siangkwan Wan-ceng kucurkan airmata, “Setelah berpisah ini, mungkin aku tak dapat berjumpa dengan ayah lagi….”

“Jangan kuatir,” hibur si dara, “wajahmu bukan seorang yang pendek usia. Mungkin engkau akan berhasil bertemu dengan tabib pandai dan dapat mengobati racun dalam tubuhmu itu, setelah lukanya sembuh, engkau masih ada waktu untuk pulang ke Kanglam menghadap ayahmu. Nanti akan kuberitahukan kepada ayahmu agar dia jangan menyusul kepergianmu ini dan kunasehati supaya dia pulang.”

Siangkwan Wan-ceng menghela napas, “Berapa banyak jiwa yang melayang di bawah pedangku. Tetapi entah bagaimana, kuheran mengapa tak dapat membunuhmu….”

Jawab Siangkwan Wan-ceng, “Soal itu panjang sekali kalau diuraikan. Tetapi pokoknya, engkau memang tak mempunyai kesempatan untuk membunuh aku. Sekalipun dengan sekali angkat tangan engkau dapat melakukan, tetapi sebelum angkat tangan, hatimu sudah kutundukkan.” — berkata sampai di sini tiba-tiba ia menyurut mundur dua langkah. Kedua tangan mendekap dada dan berseru pula, “Lelaslah, tenaganya masih belum pulih, kalau sampai tergelincir jatuh ke dalam jurang, tulang2nya tentu akan hancur lebur!”

Siangkwan Wan-ceng menghapus airmata, “Keselamatan ayahku, kuserahkan kepadamu. Kalau dalam tiga bulan aku tak mati, aku tentu akan membalas budimu,” katanya.

Dara baju ungu tertawa, “Angin dan awan, tiada berketentuan, demikian dengan nasib manusia. Siapa tahu perpisahan kali ini, kita akan dapat berjumpa lagi atau tidak? Dia sudah jauh, lekaslah engkau susul!”

Siangkwan Wan-ceng menghela napas. Ia hendak bicara tetapi tak jadi. Berputar tubuh ia terus lari menyusul Han Ping.

Setelah nona itu jauh dari pandangan, dara baju ungu tertawa nyaring dan melangkah balik dengan pelahan. Serunya nyaring, “Toa-suheng, berhentilah. Aku hendak bicara!”

Dengan jurus Angin-prahara-melanda-bunga, Ong Kwan-tiong mendesak Siangkwan Ko mundur dua langkah lalu dta sendiri loncat ke samping beberapa langkah.

Setelah Siangkwan Ko memulangkan napas, matanya menatap lekat2 pada senjata thiat-ci dari Ong Kwan-tiong.

“Siangkwan pohcu,” seru si dara tertawa, “setelah bertempur beberapa puluh jurus dengan toa-suhengku, kiranya engkau tentu menyadari suasana hari ini, lebih membahayakan daripada menguntungkan dirimu!”

Siangkwan Ko tertawa dingin, “Sebelum diketahui menang kalahnya, sukar dikata siapa yang akan membunuh rusa itu!”

“Jika kami menggunakan dua orang untuk menyerangmu apakah engkau yakin dapat bertahan lama?” kata si dara.

“Ini, sukar dibilang,” sahut Siangkwan Ko.

“Rupanya engkau pandai melibat gelagat,” kata si dara.

Siangkwan Ko berseru marah, “Seorang lelaki boleh dibunuh tapi jangan dihina. Siapakah diri Siangkwan Ko ini? Masakan sudi menyerah mentah2?”

“Tiada orang yang menyuruhmu menyerah!” seru si dara, “sebelum pergi puterimu minta dengan sangat kepadaku, tak boleh melukaimu.”

“Anakku seorang gadis pilihan, mana sudi meminta belas kasihan orang. Aku tak percaya!”

Si dara tertawa, “Memang biasanya, tak mungkin dia berbuat begitu. Tetapi keadaan soal ini berbeda.”

“Apanya yang berbeda?”

“Ia sudah menelan pil beracun dari perguruan kami Lam-hay-bun. Tiga bulan kemudian, tentu takkan tertolong jiwanya. Pada saat menghadapi kematian, kebanyakan orang tentu padam nafsu ingin menang. Dia suruh aku menyampaikan kepadamu, minta engkau jangan menyusul jejaknya. Dalam tiga bulan, dia tentu akan pulang ke Kanglam. Diapun minta supaya engkau menyediakan sebuah peti mati yang bagus, ia hendak mati dengan tenang di rumah.”

Siangkwan Ko tertegun, serunya, “Benarkah itu?”

“Aku sudah berjanji meluluskannya. Takkan mencelakaimu, silahkan engkau pergi….”

Siangkwan Ko bersangsi sejenak. Pada lain saat ia berputar tubuh terus angkat kaki.

Berseru si dara dengan nyaring, “Suasana di tempat ini tidak aman. Tak perlu engkau mencari puterimu. Lekaslah pulang. Jika tertunda oleh sesuatu, tentu sukar. Tak dapar berjumpa untuk yang terakhir kalinya dengan puterimu, bukankah suatu hal yang mendukakan hati seumur hidup?”

Siangkwan Ko berseru dengan lantang, “Wanji Wan-ji!….” – terus lari ke muka. Seruannya yang bernada duka nestapa itu berkumandang jauh sampai menembus awan. Gunung dan lembah memantulkan nada kumandangnya.

Dara baja ungu menghela napas dan berbisik kepada nenek Bwe, “Mari kita pergi!”

Nenek Bwe terkesiap, “Nak, bukankah engkau lepaskan dia lagi?”

Jawab si dara, “Aku tidak membunuh dia tetapi hanya menyiksanya dengan pelahan agar ia dapat merasakan penderitaan baru nanti mati.”

Nenek Bwe menghampirinya dan berbisik, “Du

================

Halaman 76-77

================

jenak. Kemudian baru berkata pula, “Karena kalian bersedia, harap lain kali jangan mengungkat soal pulang ke Lam-hay lagi….”

Dara itu menghela napas panjang, “Mari kita pergi.” — ia terus ayunkan langkah.

Sekalian orang dapat merasakan bahwa ucapan dara itu mengandung jeritan hati yang duka. Tetapi tiada seorangpun yang dapat mengetahui apakah sebenarnya yang terkandung dalam hati dara itu.

Nenek Bwe gentakkan tongkatnya lalu mengikuti di belakang si dara. Ong Kwan-tiong, si Kaki-satu baju merah dan kedua pengawal setia si Bungkuk dan si Kate pun menyusul.

Tokoh2 perguruan Lam-hay-bun itu tak berani menanyakan dan hanya mengikuti saja ke mana dara baju ungu itu ayunkan langkah melanjutkan kelananya di dunia persilatan Tiong-goan.

HABIS.

ooo000ooo

Sesungguhnya ia memuja dan mencintai. Tetapi, yang dicintai tiada merasa dan tak mengetahui. Maka berkobarlah rasa Cinta itu menjadi suatu dendam kesumat yang menyala-nyala.

Han Ping meletakkan usaha pembalasan dendam kematian orangtuanya, di atas segala. Ia buta akan cinta seorang dara ayu. Ia gelap akan hati gadis2 yang tercurah kepadanya.

Si Dara mau menyatakan isi hatinya. Si Pemuda terlalu jujur untuk menanggapi sikap seorang dara yang manja. Maka terjadilah kisah tragedi yang bergelimpangan airmata dan darah.

Bagaimana akhir roman yang aneh dari dara baju ungu dengan Han Ping?

Bacalah:

MAKAM ASMARA.

Lebih seru dalam pertempuran. Lebih sengit dalam dendam pembalasan. Lebih mengharukan dalam buaian Cinta dan Kebencian. Lebih . .

Ah, silahkan baca sendiri. PASTI PUAS!
Bagikan cersil ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊

0 Response to "Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jlid 29 : Bentrok dengan Lam Hay Bun (Tamat)"

Post a Comment