Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 3 : Pertemuan dengan dua putri Lembah Raja Setan

Mode Malam
Jilid 3
Rawe-rawe rantas

Selintas teringatlah Han Ping akan pesan almarhum Hui Gong siansu. Bahwa dia jangan mengaku guru kepadanya. Hal itu kiranya mempunyai persoalan.

“Hui Gong locianpwe memberi pelajaran kepadaku itu karena kalah bertaruh. Demikianpun dengan penyerahan pedang pusaka itu, juga karena kalah bertaruh!” katanya dengan tertawa.

Sejenak Hui In berpaling kepada Hui Koh, ujarnya, “Memang seorang berbakat cemerlang seperti toa suheng, sukar kita ukur dengan penilaian biasa!”

“Pedang pendak itu amat penting sekali. Apakah begini saja kita lepas tangan?” kata Hui Koh.

Agak mengkal Hui In menjawab , “Betapa besar budi toa suheng dulu kepada kita. Jika engkau mempunyai hati hendak merampas pedang itu, ah, sungguh kurang pantas!”

Tersipu-sipu Hui Koh tundukkan kepala, “Setitikpun aku tak mempunyai pikiran demikian. Tetapi sekarang toa suheng sudah meninggal, sudah tentu kita tak dapat melihat pedang itu dibawa orang!”

“Sudah tentu toa suheng telah mempertimbangkan tindakannya memberi pedang itu kepadanya. Karena anak itu bukan dari merampas, jika kita….“ tiba-tiba Hui In berhenti sejenak lalu berpaling kearah Han Ping, “Rupanya engkau mempunyai rezeki besar telah mendapat warisan ilmu kesaktian Siau-lim-si. Walaupun hanya tiga hari tiga malam berada dalam sanggar Hui-sim-sian-wan, tetapi kemungkinan engkau telah memiliki ilmu lwekang melebihi dari orang yang meyakinkan lwekang selama 30 tahun. Jika tak salah, kecuali memberikan seluruh kepandaiannya kepadamu, toa suhengpun tentu gunakan ilmu Gui-ting-tay-hwat untuk menyalurkan tenaga murni kepadamu. Kuharap engkau sungguh-sungguh meyakinkannya dengan giat dan mempergunakannya dengan tepat sesuai pesan dan harapan toa suheng!”

Habis berkata Hui In terus berputar tubuh dan mengajak sutenya pergi. Han Ping tak sempat bicara lagi.

Setelah kedua paderi tua itu lenyap dari pandangan, barulah Han Ping melanjutkan perjalanan menuruni gunung. Menjelang petang hari ia tiba disebuah kota.

la mencari sebuah rumah penginapan. Setelah makan malam, tiba-tiba ia teringat akan pedang pusaka itu. Timbullah keinginannya untuk memeriksa lebih lanjut. Buru-buru pintu dan jendela dikancing rapat lalu mengeluarkan pedang itu.

Dibawah sinar lilin, tampak sarung kerangka pedang yang terbuat dari pada tembaga kuno itu terdapat banyak gurat-guratan. Mirip ukir-ukiran bunga bukan bunga, tulisan bukan tulisan. Sampai setengah malam ia memperhatikan gurat-guratan itu, tetapi belum dapat mengetahui artinya.

Kemudian ia melolos batang pedangnya. Terasa hawa dingin membaur sehingga sinar lilinpun agak meredup. Dan ketika digerakkan, pedang itu memancarkan sinar kemilau sehingga sinar lilin berobah seperti kuning emas.

Memang pernah ia mendengar cerita orang tentang pedang pusaka seperti pedang Kan-ciang, pedang Bok-sia dan lain-lain yang dapat memapas logam seperti memapas tanah liat. Tetapi sesungguhnya ia tak percaya. Maka terkejutlah ketika mendapatkan bahwa pedang yang dicekalnya itu memancarkan sinar yang sedemikian dahsyatnya. Kemudian timbullah keinginannya untuk mencoba. Diambilnya sebuah cangkir porselen dan dipapasnya.

Cres…. cangkir itu tetap utuh. Han Ping terkesiap. Ketika memeriksa dengan seksama ternyata dibagian tengah cangkir itu terdapat sebuah guratan halus. Amboi…. ternyata cangkir itu sudah terbelah menjadi dua. Adalah karena pedang itu kelewat tajam maka cangkir tak sempat membiak pecah.

Han Ping benar-benar terperanjat. Terlintas dalam benaknya bagaimana sikap Hui Gong siansu ketika menyerahkan pedang itu kepadanya. Tegang dan serius sekali.

Peristiwa yang dialami selama beberapa hari ini, melalang dibenaknya. Pertemuannya dengan paderi sakti Hui Gong, benar-benar meninggalkan kesan yang takkan dilupa seumur hidup. Kesan yang lebih banyak mengandung kerawanan hati….

Tiba-tiba seperti terngiang lagi ucapan Hui Gong kepadanya, “pedang ini walaupun tajamnya dapat membelah segala macam logam, tetapi sarung pedang dari tembaga ini, jauh lebih hebat dari pedangnya…..”

Serentak ia tersadar dari lamunan, “Hui Gong taysu tentu tak bohong. Sarung pedang itu tentu mengandung rahasia besar!”

Dimasukkannya pedang itu kedalam sarungnya. Kemudian diperiksanya sarung pedang tembaga itu dengan teliti.

Setelah meneliti beberapa jenak, akhirnya ia menemukan gurat-gurat seperti jaring laba-laba itu agaknya mirip dengan sebuah peta. Peta dari sebuah puncak gunung. Disekeliling puncak itu terdapat titik-titik yang tak teratur. Rupanya merupakan tanda dari sesuatu atau semacam huruf.

Han Ping makin tertarik. Dibersihkannya dengan lengan baju dan diperiksanya pula dengan cermat. Berkat ketajaman matanya, dapatlah ia lebih meneliti. Temyata gurat-gurat pada sarung pedang itu, memang merupakan sebuah peta. Tetapi apa arti peta itu, ia tak tahu.

“Jika engkau mengizinkan aku sitetamu tak diundang ini masuk, tentu akan kuberitahukan rahasia itu….!” tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah suara bernada sarat dari luar jendela.

Han Ping tak asing lagi dengan suara itu. Cepat ia menyimpan pedang pusaka lalu membuka pintu. Tampak Hui In taysu tegak diluar pintu, mata setengah mangtup, muiut menyungging senyuman.

Han Ping memberi hormat, “Memang kuperlukan petunjuk-petunjuk losuhu…”

Hui In tertawa, “Engkau masih muda tetapi cerdas sekali. Semula aku tak menduga bahwa suteku Hui Koh itu mempunyai pikiran hendak merebut pedang itu. Syukur engkau tak mengeluarkan pedang itu.”

Merasa bahwa dalam peristiwa tadi, ia berlaku kurang hormat, Han Ping minta maaf.

Hui In menghela napas, ujarnya, “Sejak suhu menutup mata, sebagian besar kuhabiskan waktuku untuk mengembara keluar. Sudah lama tak bergaul dengan Hui Koh sute. Memang tak kukira bahwa dalam usia yang sudah begitu tua, dia masih mempunyai hati temaha!” Hui lnpun melangkah masuk ke dalam kamar.

Setelah mempersilahkan paderi itu duduk, Han Ping mengunci pula pintu lalu mengeluarkan pedang pusaka dan diangsurkan kehadapan Hui In.

“Pada waktu memberikan pedang ini, Hui Gong locianpwe mengatakan bahwa sekalipun pedang ini sebuah pedang pusaka yang luar biasa, tetapi sarung pedangnya jauh lebih hebat. Dan beliau pesan wanti-wanti agar jangan sembarangan memperlihatkan pedang ini kepada orang. Kemudian Hui Gong locianpwe menerangkan pula bahwa pedang ini mengandung rahasia dari sebuah pembunuhan ganas yang menggemparkan dunia persilatan. Kecuali digunakan untuk membalas sakit hati, tak boleh sembarangan kugunakan. Karena saat itu temponya amat mendesak sekali, maka tak sempat lagi kutanyakan keterangan mendalam kepada Hui Gong locianpwe. Maka mohon losuhu suka memberi petunjuk segala sesuatu mengenai rahasia pedang pusaka ini!” kata Han Ping.

Hui In melolos pedang pendak itu dan ditaburkan. Seketika terasa hawa dingin yang meremang kebulu roma . “Hebat, hebat, sungguh tak mengecewakan kemashyurannya….”

“Tetapi sayang pedang itu agak pendak dari pedang biasa,” Han Ping menyambuti.

Hui In memasukkan kembali pedang itu kesarungnya, “Setelah mendapat ilmu warisan dari toa suheng dan memiliki pedang pusaka semacam ini, kelak engkau pasti akan menjagoi dunia persilatan. Eh, jangan meremehkan. Sekalipun pendak tetapi ketajamannya tak kalah dengan pedang pusaka Kan-ciang, Bok-sia dan lain-lain. Gunakanlah pedang sebaik-baiknya untuk menjalankan amal perbuatan yang luhur sehingga tak mengecewakan harapan toa suheng!”

Tergetar hati Han Ping mendengar tugas yang terletak dibahunya, “Sungguh baru saat ini kusadari tentang rendahnya kepandaianku dan beratnya harapan mendiang Hui Gong locianpwe. Jika losuhu sudi menerima, dengan rela hati akan kuserahkan pedang pusaka ini….”

Hui In menggeleng, “Umurku tinggal tak berapa lama, perlu apa pedang itu bagiku. Simpanlah pedang ini!” – Ia serahkan kembali pedang pusaka itu kepada Han Ping.

Tiba-tiba paderi itu menghela napas, “Apakah ketika menyerahkan, mendiang toa suheng tak menerangkan soal itu?”

“Memang benar. Hui Gong taysu tak mengatakan apa-apa dan aku pun tak berani bertanya,” jawab Han Ping.

Tiba-tiba wajah paderi itu mengerut serius, ujarnya, “Selain berilmu silat tinggi dan cerdas, juga toa suheng itu mengerti tentang ilmu meramal. Bahwa dia tak mengatakan suatu apa tentang itu kepadamu, tentulah ada maksudnya. Sesungguhnya aku tak berani banyak mulut. Tetapi karena pedang itu memang mempunyai hubungan penting sekali, mau tak mau aku harus memberitahukan kepadamu. Tujuh puluh tahun yang lalu, pedang pusaka ini sebenarnya menjadi milik dari seorang pendekar wanita yang termahsyur sakti dan cantik jelita. Tetapi sampai dimana kecantikannya itu, sayang aku belum pernah melihatnya sendiri. Hanya menurut cerita orang, jika dia tertawa, orang tentu akan runtuh imannya. Lawan yang sedang berhadapan, tentu rela membuang senjatanya dan menyerah. Sayang dibalik kecantikannya yang gilang gemilang itu, sikapnya dingin sekali. Setiap musuh yang membuang senjata dan berlutut menyerah dibawah ujung pakaiannya, ia tentu menggunakan ujung pedang pusaka ini untuk menusuk dada orang itu dengan perlahan-lahan….”

“Apa? Apakah orang itu mandah saja dadanya ditusuk dan tak mau melawan sama sekali?” seru Han Ping.

“Kabar-kabar itu memang sukar dipercaya. Tetapi ada asap tentu ada api. Dan cerita orangpun hampir sama saja. Hal itulah yang membuat orang cenderung untuk percaya!”

Walaupun tak membantah tapi diam-diam Han Ping tak percaya didunia terdapat peristiwa semacam itu. “Betapapun cantik laksana bidadaii tapi tak mungkin sekali bertemu, orang terus menyerah dan rela dibunuhnya….” katanya dalam hati.

Rupanya Hui In seperti dapat membaca kesangsian hati anak muda itu. Ia tertawa hambar, lalu melanjutkan ceritanya pula.

“Kabar-kabar itu telah tersiar luas didunia persilatan selama berpuluh-puluh tahun. Baru belasan tahun terakhlr ini, kabar itu mulai lenyap. Menurut cerita orang, selama ini entah sudah berapa ratus jago-jago persilatan yang mati dibawah ujung pedang wanita cantik itu. Diantaranya terdapat banyak tokoh-tokoh yang ternama. Memang kemungkinan berita itu terlalu dibesar-besarkan tetapi tentu juga bukan isapan jempol….” – ia berhenti sejenak, menghela napas dan berkata pula, “Jika engkau tahu nama pedang itu, tentu baru mempercayai akan berita-berita itu!”

Diam-diam Han Ping mau percaya juga. Hui In seorang paderi tua, tentulah tak omong sembarangan. Katanya, “Masakan aku berani tak mempercayai ucapan losuhu?”

“Banyak korban berjatuhan dibawah ujung pedang wanita cantik itu sehingga dunia persilatan menjuluki pedang itu dengan nama Pedang Pemutus Asmara. Ada pula yang mengatakan Pedang Pelenyap Asmara. Julukan itu berarti, apabila bertemu dangan pedang itu, jangan sekali-kali terpikat hati. Begitu hati tergerak, tentu akan mati. Nama itu makin lama makin terkenal sehingga orang tak tahu apakah nama yang asli dari pedang itu semula.”

Mata Han Ping yang tajam, mengikuti dengan tajam mimik perubahan wajah paderi itu. Ia tersenyum, “Menilik pedang ini luar biasa tajamnya, tentulah setiap orang ingin memilikinya. Tetapi Hui Gang locianpwe menandaskan padaku, bahwa sarung kerangkanya jauh lebih berharga dari pedangnya. Kiranya losuhu tentu mengetahui akan hal itu”.

Hui In gelengkan kepala, “Toa suheng Hui Gong, cerdas luar biasa. Mana aku mampu mengetahui jalan pikirannya?”

“Kalau begitu, losuhu juga tak tahu?” Han Ping menegas.

Sejenak Hui In merenung, katanya, “Jika toa suheng mengatakan sarung pedang itu jauh lebih berharga dari pedangnya, tentu tak mungkin salah. Tetapi bagaimana nilainya, aku tak berani sembarangan menduga-duga. Hanya yang jelas, pedang pusaka ini memang penuh berlumuran darah manusia. Dan sejauh pengetahuanku, dewasa ini masih banyak tokoh-tokoh persilatan yang berkeliaran keseluruh penjuru dunia untuk mencari pedang pusaka ini. Bahwa engkau ternyata yang diserahi menjaga pedang ini oleh toa suheng, benar-benar suatu tugas kewajiban yang maha berat. Munculnya pedang pusaka ini dari penjagaan ketat seorang tokoh sakti seperti toa suheng, pasti akan menimbulkan kegemparan didunia persilatan. Dapat dipastikan bahwa suasana diluar tentu akan bargolak-golak…”

“Walaupun pedang ini telah membunuh banyak jiwa manusia, tetapi sesungguhnya tergantung pada pemakainya. Entah bagaimanakah hubungan antara pedang dan orangnya itu?”

“Pedang Pemutus Asmara, sekalipun bukan biang keladi dari sekian banyak pembunuhan, tetapi merupakan kunci dari sekian banyak pembunuhan yang ganas. Kabarnya semula pedang itu milik seorang pendekar aneh dari daerah Hun-lam yang menamakan dirinya sebagai Hong Tim koayhiap (pendekar Atas Angin). Entah bagaimana kemudian jatuh ditangan wanita cantik itu. Setelah wanita cantik itu lenyap, pedang itu jatuh ditangan seorang wanita yang luar biasa jeleknya. Wanita jelek ini setingkat lebih tinggi kepandaiannya dari wanita cantik itu. Tetapi akhirnya wanita jelek itupun menjadi momok yang lebih ganas. Korban yang mati dibunuhnya hampir mencapai seribu orang. Tiap hari tentu terjadi sebuah pembunuhan sehingga seluruh penduduk Kanglam-Kangpak, tak dapat tidur nyenyak setiap malam….”

Hui In berhenti sejenak, lalu berkata pula, “Pada hakekatnya, pedang ini berlumuran darah ribuan orang Harap engkau jaga baik-baik dan gunakan dijalan yang luhur.”

Selesai menutur, Hui In minta diri. Han Ping tak berani menahannya dan terpaksa mengantar sampai diluar. Ketika bayangan paderi itu sudah lenyap, ia masih tegak termenung-menung didepan pintu. Beberapa saat kemudian baru ia masuk kedalam kamar.

Saat itu sudah malam. Tetamu-tetamu sudah masuk tidur. Hanya kamar Han Ping yang masih menyala penerangannya.

Baru ia melangkah kedalam kamar, tiba-tiba tubuhnya agak tergetar dan tahu-tahu pergelangan tangannya yang kanan, dicengkram orang. Luar biasa sekali gerakan orang itu sehingga Han Ping tak sempat menghindar.

Pergelangan tangan merupakan salah sebuah jalan darah penting dari 36 jalan darah yang berbahaya ditubuh manusia. Sekali pergelangan tangannya dikuasai orang, Han Ping rasakan separoh tubuhnya kesemutan. Hilang daya perlawanannya.

Sesaat kemudian terdengar suara melengking macam nyamuk mengiang dibelakang tubuhnya, “Maafkan, aku terpaksa berlaku kurang adat kepadamu. Pedang Pemutus Asmara itu benda yang berbahaya. Sekalipun tak kuambil, engkaupun tentu tak mau menjaganya!”

Han Ping terkejut. Nyata suara itu adalah suara Hui Koh siansu, sute keempat dari mendiang Hui Gong siansu. Serentak bangkitlah amarahnya. Pada saat ia hendak berontak, tiba-tiba timbul pikirannya. Lebih baik ia sabar dulu menunggu perkembangan. Ia menyadari, melakukan kekerasan dapat menimbulkan bahaya. Pergelangan tangannya dikuasai oleh seorang tokoh seperti Hui Koh.

“Apakah losuhu tak merasa rendah derajat melakukan tindakan ini?” katanya sambil menghias tertawa.

Merahlah wajah Hui Koh, sahutnya, “Sesungguhnya belum pernah aku melakukan tindakan curang terhadap orang. Tetapi saat ini karena terpaksa, apa boleh buat. Karena engkau telah menerima warisan ilmu kesaktian dari toa suheng dan toa suhengpun bahkan menggunakan ilmu Gui-ting-tay-hwat untuk menyalurkan lwekangnya kepadamu, dari pada membuang waktu dan tenaga, terpaksa kubertindak begini….”

Dalam pada berkata-kata itu, tangannya kiri memijat lebih keras dan tangan kanan cepat mencengkram dada Han Ping….

Mendengar Hui Koh menyebut-nyebut nama Hui Gong taysu, seketika teringatlah Han Ping akan pelajaran Menutup jalan darah dari paderi sakti Hui Gong itu. Buru-buru ia kerahkan tenaga murni untuk menutup jalan darah pada lengannya sebelah kanan.

Saat itu tangan kanan Hui Koh sudah menyentuh pedang pusaka yang berada dalam baju Han Ping. Ketika paderi itu hendak mencabutnya, sekonyong-konyong Han Ping berputar diri dan secepat kilat tangannya kiri menerkam pergelangan tangan kanan paderi itu.

Gerakan Han Ping itu luar biasa cepatnya dan sama sekali tak terduga oleh Hui Koh. Paderi itu tak menyangka bahwa dalam keadaan pergelangan tangannya sudah dicengkeram ternyata pemuda itu masih mampu melakukan serangan balasan yang begitu hebat. Ia tak sempat menghindar lagi. Jalan satu-satunya, hanya memperkeras pijatannya pada pergelangan tangan Han Ping. Tetapi diapun kecele. Ia tak mengetahui bahwa pemuda itu dapat menutup jalan darahnya sendiri. Sekalipun lengan kanannya kesemutan mati rasa, tetapi Han Ping masih dapat mengerahkan lwekangnya kelengan kiri. Pemuda itupun memijat sekeras-kerasnya….

Sesaat terjadi pijat-memijat. Hui Koh memijat pergelangan tangan kanan Han Ping. Han Pingpun memijat pergelangan tangan kiri paderi itu. Untung pemuda itu masih mengingat bahwa Hui Koh itu adalah sute dari Hui Gong, mendiang paderi sakti yang telah melepas budi besar kepadanya. Maka ia tak mau menggunakan tenaga penuh.

Sekalipun demikian, tetap Hui Koh tak kuat bertahan. Separoh tubuhnya seperti mati rasa, tenaganya hilang. Tangannya kanan yang mencengkeram pergelangan tangan pemuda itu, pun ikut mengendor….

Tetapi dia adalah paderi angkatan Hui yang sakti. Dalam menghadapi bahaya itu, pikirannya tetap tenang. Sambil kerahkan lwekang untuk bertahan, ia segera melakukan serangan balasan. Ia gerakkan lutut kiri untuk membentur perut Han Ping!

Han Ping terkejut atas serangan yang tak diduga-duga itu. Terpaksa ia lepaskan cengkeramannya dan loncat mundur.

Dalam kekalahan dapat merebut kemenangan, membuat nafsu Hui Koh menyala-nyala. Sambil kerahkan lwekang, ia tertawa mengejek, “Hm, engkau sungguh hebat! Mari kita bermain-main barang beberapa jurus lagi!”

Melangkah maju, ia menghantam.

Tanpa mengisar kaki, Han Ping miringkan tubuh untuk menghindar lalu balas memukul dan menusuk dengan jari.

Serangan balasan dengan tinju dan jari itu memaksa Hui Koh menyurut mundur. Tetapi secepat itu pula ia lancarkan serangan kilat sekaligus tiga-empat pukulan.

Han Ping tetap gunakan pukulan dan jari untuk memecahkan serangan dahsyat dari paderi yang kalap itu. Dan pada saat serangan lawan agak lambat, Han Ping cepat lancarkan serangan balasan. Tiga kali memukul dan empat kali menendang.

Karena kuatir membikin kaget para tetamu, mereka tak mau melakukan pertempuran secara keras melainkan gunakan cara gerak cepat. Kelincahan, ketangkasan dan ketepatan bergerak, memegang peranan penting. Kaki mereka tak beralih tempat melainkan tubuh yang bergeliatan miring, condong kebelakang dan setempo berayun-ayun kekanan kiri.

Sepintas pandang pertempuran itu memang tak berapa dahsyat. Tetapi sesungguhnya cara bertempur merapat itu, luar biasa bahayanya. Sekali salah gerak atau lengah atau lambat, jalan darah tentu terancam. Akibatnya, kalau tidak luka berat tentu binasa.

Memang selama 3 hari itu, Hui Gong telah memberikan ilmu pelajaran dari kitab Tat-mo-ih-kin-keng dan bermacam-macam ilmu sakti dari Siau-lim-si. Tetapi waktu 3 hari itu terlalu singkat untuk meyakinkan secara mendalam. Dan baru pertama kali itu Han Ping sempat menggunakan dalam pertempuran. Sudah tentu gerakannya masih janggal dan kurang sempurna. Untunglah ia memiliki kecerdasan yang tinggi dan mendapat penyaluran lwekang dari Hui Gong taysu. Ia dapat mengingat semua pelajaran lisan dari paderi sakti itu.

Setelah berlangsung beberapa lama, semangat Han Ping makin mantap. Gerakan tangannya pun makin tepat dan terarah. Serangan makin dahsyat dan jurus permainannyapun makin luar biasa.

Hui Koh diam-diam terkejut menyaksikan perobahan hebat pada diri pemuda itu. Hanya dalam waktu 3 hari saja, pemuda itu sudah berobah menjadi seorang manusia baru. Cepat ia lancarkan dua buah serangan dahsyat lalu loncat mundur.

Han Ping membungkukkan tubuh memberi hormat . “Terima kasih atas pelajaran yang locianpwe berikan!”

Hui Koh tersipu-sipu balas menghormat. Diam-diam ia menimang dalam hati. Jika menggunakan kekerasan, sukar merebut pedang pusaka itu.

Ia tertawa. “Engkau memiliki bakat dan kecerdasan yang hebat maka tak heran kalau toa suheng mau menurunkan seluruh ilmu kepandaiannya kepadamu! Sekalipun untuk itu, toa suheng telah melanggar peraturan biara.”

Sahut Han Ping, “Sekalipun menerima pelajaran dari Hui Gong locianpwe, tetapi aku bukan dianggap sebagai muridnya l”

Diam-diam Hui Koh memaki pemuda itu sebagai seorang yang licik. Namun wajahnya tetap mengulas senyum, serunya, “Dari saling bertukar pukulan tadi, kuketahui bahwa engkau telah memperoleh ilmu pusaka dari biara Siau-lim-si!”

Han Ping tersipu-sipu mengucap kata-kata merendah.

“Sebagai murid tunggal pewaris dari toa suheng, sesungguhnya kita masih mempunyai hubungan….”

“Dengan tandas, Hui Gong locianpwe menegaskan bahwa sekalipun memberi pelajaran, tetapi aku bukan muridnya!” cepat-cepat Han Ping menukas.

Melihat anak muda itu berulang kali menolak dirinya murid Siau-lim-si, Hui Koh tertawa tawar, “Baiklah. Seperti diriku sendiri. Sebagian besar ilmu kepandaianku ini adalah toa suheng yang mengajarkan. Sekalipun aku dan toa suheng itu saudara seperguruan tetapi pada hakekatnya dia adalah guruku!”

Han Ping hanya tersenyum saja.

Hui Koh menghela napas pelahan, ujarnya lebih lanjut, “Karena engkau tak mau mengakui sebagai murid Siau-lim-si, akupun takkan memaksamu. Tetapi bahwa toa suhenglah yang memberi pelajaran ilmu kesaktian padamu, engkau tentu tak dapat menyangkal lagi!”

“Benar, sekalipun atas dasar kalah bertaruh lalu mengajarkan ilmu kepandaian itu tetapi aku tetap berterima kasih sekali kepada Hui Gong locianpwe!” sahut Han Ping

“ltulah!” seru Hui Koh, “karena engkau mempunyai perasaan begitu, seharusnya janganlah engkau mencemarkan nama baik dan pribadi toa suheng sebagai tunas cemerlang biara Siau-lim-si sejak 300 tahun yang terakhir ini. Jangankan paderi-paderi yang seangkatan gelarnya, sekalipun paderi-paderi angkatan yang lebih tua, juga tak mampu menandingi kepandaiannya. Andaikata dia tak rela dipenjarakan dalam sanggar Hui-sim-sian-wan itu, tentu tiada seorang tokoh Siau-lim-si yang mampu melawannya….”

“Guru adalah wali yang harus dlhormati. Murid tak boleh membantah perintahnya. Hui Gong locianpwe adalah seorang manusia yang cerdas dan berkepribadian luhur. Sudah tentu ia tak mau melakukan tindakan yang murtad!” sambut Han Ping dengan wajah serius.

Melihat anak muda itu mulai masuk kedalam perangkapnya, diam-diam Hui Koh bergirang dalam hati. Tetapi sebagai tokoh yang berpengalaman luas, ia tak mau menunjukkan rasa kegirangan itu pada kerut wajahnya. Dengan wajah tenang dan serius, berkatalah ia, “Toa suheng rela menghabiskan waktu 60 tahun dalam penjara. Tahukah engkau apa sebabnya?“

Han Ping masih muda. Ia tak tahu kalau paderi itu mulai menebarkan jaring-jaring tipu muslihat. Serentak wajahnya berobah, serunya, “Memang sekalipun harus menerima hukuman, tetapi tak seharusnya Hui Gong locianpwe menjalani hukuman yang menghabiskan usianya. Apalagi suhunya amat sayang sekali kepada Hui Gong locianpwe. Tak mungkin seorang guru akan memendam seorang murid yang mempunyai bakat sedemikian gilang gemilang, dalam penjara yang terpencil. Sayang suhu itu sudah meninggal pada 40 tahun berselang sehingga sukar untuk meminta penjelasannya. Tetapi menurut kesan dari penyelidikan yang kulakukan beberapa hari ini, dalam peristiwa itu rasanya tcrselip suatu rahasia yang mencurigakan. Hm, apabila kelak dikemudian hari masih mempunyai rezeki, aku tentu akan berusaha untuk membongkar rahasia itu….”

Berkata sampai disini, tiba-tiba ia berhenti. Rupanya ia menyadari kalau kelepasan omong.

Hui Koh menghela napas, “Lepas dari peristiwa itu mengandung kecurigaan atau tidak, tetapi toa suheng itu memang seorang tokoh teladan yang sukar dicari keduanya. Namanya tetap harum dan akan dipuja murid-murid Siau-lim-si sampai beratus-ratus tahun yang akan datang. Sekalipun aku ikut berduka atas nasib yang dideritanya, tetapi akupun merasa bangga mempunyai seorang suheng yang sedemian hebat dan cemerlang!” katanya dengan nada dan wajah bermuram durja.

Membayangkan betapa siksa derita yang dialami Hui Gong taysu selama 60 tahun dalam sanggar penjara itu, Han Ping ikut berduka. Sebagai seorang yang mengingat budi, airmatanya bercucuran turun….

Hui Koh makin girang. Setelah berhasil mengaduk perasaan pemuda itu, ia buru-buru melanjutkan kata-katanya pula, “Pada usia 20 tahun, mulailah toa suheng keluar mengembara. Beberapa tahun kemudian, namanya sudah termahsyur didaerah Kanglam dan Kangpak. Setiap orang persilatan yang mendengar namanya, tentu menggigil ketakutan. Selama itu entah berapa banyak dharma kebaikan yang telah dilakukan. Tetapi ah…. tak dinyana tak disangka, akhirnya ia harus mengalami nasib yang sedemikian mengenaskan dalan penjara perguruannya. Walaupun aku seorang murid agama Buddha, tetapi hati kecilku mengatakan bahwa nasib yang dideritanya itu benar-benar tak adil!”

Han Ping benar-benar tertikam ulu hatinya mendengar ucapan paderi itu, Airmatanya makin membanjir deras.

Kata Hui Koh pula, “Yang menjadi gara-gara mengapa toa suheng sampai dipenjara itu, bukan lain adalah karena pedang pendek itu. Sekali pedang itu muncul diluar, dunia persilatan tentu akan dilanda oleh prahara pertumpahan darah yang hebat. Apabila orang tahu bahwa pedang itu berada ditanganmu, bukan hanya nama biara Siau-lim-si yang akan berlumuran noda, pun keharuman nama toa suhengku itupun akan ikut tercemar. Disebabkan pertimbangan-pertimbangan itulah maka terpaksa aku bertindak securang tadi untuk merebut pedang itu dari tanganmu!“

Tersirap darah Han Ping mendengar penjelasan itu. Serentak bertanyalah ia, “ Kalau begitu, losuhu tentu mengetahui riwayat pedang pusaka itu. Jika losuhu suka menguraikan hubungan antara Hui Gong locianpwe dengan pedang pusaka itu, aku bersedia menghancurkan pedang itu dihadapan losuhu agar pedang itu tak muncul lagi didunia persilatan untuk selama-lamanya! “

Han Ping terdorong oleh perasaan untuk membalas budi paderi Hui Gong yang besar. Dia tak menginginkan, setelah meninggal dunia nama orang tua yang berbudi itu akan tercemar lagi. Itulah sebabnya, tanpa banyak pikir, ia telah mengeluarkan pernyataan yang begitu tegas.

“Hm, sungguh budak yang licin sekali” diam-diam Hui Koh memaki. Ia merasa sukar untuk menyiasati anak muda itu.

“Memang besar sekali hubungannya dengan diri toa suheng. Sesungguhnya hal itu tak layak diberitahukan orang. Permintaanmu itu benar-benar menyulitkan aku!“

“Budi Hui Gong locianpwe kepadaku, melebihi gunung besarnya. Asal untuk kepentingannya, sekalipun masuk kedalam lautan api, aku tetap akan melakukannya. Harap losuhu jangan ragu-ragu lagi!”

“Ceritanya panjang sekali. Apakah engkau masih ingat nama pedang pusaka itu?” tanya Hui Koh.

“ Hui In losuhu memberitahukan bahwa pedang itu bernama Pedang Pemutus Asmara. Tetapi Hui In losuhu tak menerangkan riwayatnya dan hubungannya dengan Hui Gong locianpwe.”

“Hal itu tak dapat menyalahkannya. Karena kecuali aku, mungkin didunia ini hanya sedikit sekali orang yang tahu peristiwa itu….”

la berhenti merenung sejenak lalu melanjutkan pula, “Peristiwa itu sudah 60 tahun berselang. Pada saat toa suheng mendapatkan pedang itu, suhu bersama ji suheng Hui In sedang pergi ke Laut Selatan. Segala urusan biara, diserahkan kepada susiok. Adalah karena usia susiok sudah sangat lanjut, maka akulah yang disuruh mewakili susiok.

Pada hari itu toa suheng pulang, Kuminta dia yang menggantikan tugasku untuk mengepalai pimpinan biara. Tetapi begitu bertemu muka, toa suheng tak menghiraukan soal itu. Dia minta aku supaya menjadi saksi. Dia telah berjanji dengan orang. Nanti tiga hari kemudian pada malam hari, dibawah puncak Siau-si-hong akan mengadakan pertandingan adu kepandaian. Dia pesan supaya aku jangan memberitahukan hal itu kepada lain orang. Sekalipun bersangsi, tetapi karena sangat mengindahkan toa suheng, akupun tak berani banyak bertanya. Tiga hari kemudian menjelang tengah malam, toa suheng benar-benar mengajak aku menuju puncak Siau-si-hong. Ternyata lawannya sudah lebih dahulu datang disitu.”

“Apakah yang datang itu seorang wanita?” tanya Han Ping.

Hui Koh tersenyum, “Yang datang itu dua orang. Seorang pria dan seorang wanita. Yang pria mengenakan pakaian tempur, menyanggul sebatang pedang pusaka. Bertubuh tinggi besar, gagah perkasa. Yang wanita bertubuh langsing. Karena mengenakan kedok muka, tak dapat kulihat bagaimana wajahnya. Tetapi menilik potongan tubuhnya, tentulah seorang jelita.”

“Apakah mereka bertempur memperebutkan Pedang Pemutus Asmara itu?”

Hui Koh menghela napas, “Kalau hanya soal pedang pusaka itu, tak mungkin akan menimbulkan peristiwa yang hebat. Ternyata selain soal pedang itu, pun menyangkut soal-soal dendam pribadi sehingga pertandingan itu merupakan pertandingan yang menentukan mati atau hidup. Suatu pertandingan yang benar-benar jarang terjadi dalam dunia persilatan….”

“Apakah losuhu masih ingat pembicaraan mereka sebelum mulai bertanding?” tukas Han Ping.

Hui Koh merenung. Rupanya dia tengah menggali ingatannya. Beberapa waktu kemudian baru ia berkata pula, “Dengan pertanyaan itu, apakah engkau hendak mendesak supaya aku menceritakan rahasia pribadi dari toa suheng?”

Han Ping kerutkan alis, menengadahkan kepala. Berapa saat kemudian ia menyahut, “Jika losuhu tak mau menceritakan, akupun tak berani mendesak. Tetapi menilik Hui Gong locianpwe itu seorang ksatria luhur, tak mungkin dia melakukan sesuatu yang merendahkan martabatnya. Andaikata kesalahan melukai orang, tentulah karena dalam keadaan terpaksa!”

Han Ping telah menempatkan pribadi Hui Gong sebagai seorang dewa. Dia tak menghendaki dewa pujaannya itu sampai tercemar namanya.

“Benar, memang dalam pertandingan itu, toa suheng telah melukai orang. Tetapi menurut apa yang kusaksikan saat itu, jika toa suheng tak bertindak begitu, memang sukar untuk menyelesaikan pertandingan itu. Begitu bertemu tanpa berkata apa-apa, keduanya terus saling mencabut senjata dan lari menuju kesebuah lembah dibawah puncak gunung itu. Aku dan gadis berkedok itu mengikuti dari belakang….” Hui Koh berhenti sejenak untuk menenangkan napas.

“Ternyata kepandaian dari pemuda itu hanya terpaut sedikit dari toa suheng. Mereka berlari bagaikan bintang jatuh dari langit sehingga dalam beberapa kejab saja telah meninggalkan aku dan gadis berkedok itu jauh dibelakang. Pada saat kami berdua tiba dilembah, ternyata toa suheng sudah bertempur dengan pemuda itu.

“Pada waktu itu, aku baru saja lulus dari pelajaran ilmu silat. Umurku diantara 24 tahun dan toa suheng hanya lebih tua sedikit dari aku. Tetapi dia sudah diagungkan dunia persilatan wilayah Kanglam-Kangpak sebagai seorang pendekar besar. Ah, yang lampau tak mungkin kembali lagi. Segala kenangan hidup itu hanya seperti impian. Gunung masih tetap menghijau tetapi toa suheng kini sudah tiada….”

“Bagaimana dengan penyelesaian pertandingan itu? Hui Gong locianpwe tentu yang menang,” Han Ping menukas kata-kata Hui Koh yang menyimpang dari ceritanya itu.

“Bermula jalannya pertandingan memang berimbang,” kata Hui Koh melanjutkan ceritanya, “ilmu pedang pemuda itu memang luar biasa hebatnya. Toa suheng seperti terkurung oleh sinar pedang pemuda itu sehingga aku yang melihat disamping gelanggang, gelisah bukan kepalang. Pada saat pertempuran mencapai 300 jurus, haripun sudah hampir menjelang fajar. Tiba-tiba toa suheng lancarkan serangan balasan dan pemuda itu terdesak mundur beberapa langkah. Akhirnya karena terus mundur, pemuda itu tiba diujung tebing gunung. Apabila toa suheng terus mendesaknya, dia tentu akan terpelanting jatuh kedalam jurang. Tetapi toa suheng seorang ksatria yang berbudi. Dia hanya berseru supaya lawannya membuang senjata dan menyerah. Diluar dugaan, pada saat toa suheng hentikan serangannya untuk berseru itu, sekonyong-konyong pemuda itu menyelonong tusukkan pedangnya dengan gerak yang luar biasa cepatnya. Sekalipun saat itu toa suheng tak meninggalkan kewaspadaan, tetapi ia tak menduga lawan akan bertindak sedemikian curang. Lengan kiri toa suheng tertusuk pedang. Perbuatan pemuda itu telah menimbulkan kemarahan toa suheng. Tiga kali ia taburkan goloknya dan walaupun tidak sampai binasa tetapi luka yang diderita pemuda itu tak mungkin akan sembuh selama-lamanya….”

Tiba-tiba Hui Koh berhenti menutur.

“Pemuda itu layak menerima buah dari kecurangannya. Hui Gong locianpwe tak salah!” seru Han Picg membela Hui Gong.

Bagian 6

Cendrawasih putih.

“Hanya sampai disini sajalah ceritaku.” kata Hui Koh, selanjutnya bagaimana pembicaraan antara toa suheng dengan pemuda itu setelah kalah, maaf, tak dapat kukatakan kepadamu. Yang jelas pertandingan itu bukan karena memperebutkan Pedang Pemutus Asmara, tetapi ada lain sebab utama. Sekalipun demikian, pedang itu tetap merupakan kunci dari rahasia sekian banyak pembunuhan ganas didunia persilatan. Setiap kali pedang itu muncul, tentu terjadi pertempuran darah hebat. Hal itu berakibat akan mencemarkan nama baik toa suheng, menggegerkan dunia persilatan dan menimbulkan banjir darah. Jika benar-benar engkau mengingat budi toa suheng, sebaiknya berikanlah pedang itu kepadaku. Demi untuk menjaga nama baik toa suheng dan biara Siau-lim-si. Tetapi jika engkau keberatan, akupun takkan memaksa! “

Sesaat terpengaruhlah hati Han Ping akan kata-kata paderi itu. Seketika ia mengeluarkan pedang pusaka itu terus hendak diserahkan kepada Hui Koh. Tetapi tiba-tiba dimasukkannya kedalam baju lagi. Ada sesuatu yang terlintas dalam benaknya.

Wajah Hui Koh berubah membesi, tegurnya, “Apakah maksudmu mempermainkan aku itu?”

“Jangan salah paham, losuhu,” kata Han Ping, “mana aku berani mengolok-olok losuhu. Hanya aku teringat akan pesan Hui Gong locianpwe supaya menjaga pedang ini baik-baik. Sesungguhnya aku tak keberatan menyerahkannya kepada losuhu. Tetapi aku tak berani melanggar pesan almarhum Hui Gong locianpwe.”

“Harap losuhu jangan kuatir,” kata Han Ping, “Pedang ini akan kusembunyikan disebuah tempat yang sangat rahasia. Agar jangan muncul di dunia persilatan lagi. Dengan cara itu aku dapat menunaikan pesan mendiang Hui Gong locianpwe dan menjaga nama baiknya!”

Dalam pada berkata-kata itu, diam-diam Han Ping bersiap-siap. Ia mulai curiga atas gerak gerik paderi itu.

Hui Koh yang licin, cepat menghapus kerut kemarahannya dengan senyum tertawa, “Karena agaknya engkau mencurigai aku, baiklah, akupun tak mau mengganggumu lagi. Hanya kuharap engkau dapat menjaga pedang itu baik-baik. Jangan sampai jatuh ke tangan orang lain!”

“Harap losuhu jangan kuatir. Selama hayat masih dikandung badan, Han Ping tentu akan menjaga pedang ini dengan sepenuh tenaga.”

Han Ping memberi jaminan.

“Kalau begitu, aku hendak minta diri!” baru berkata begitu, paderi itu sudah melesat keluar. Sebelum Han Ping sempat mengucap apa-apa, bayangan paderi itupun sudah lenyap.

Han Ping tegak diambang pintu. Ia terkenang akan peristiwa yang dialaminya beberapa hari terakhir ini. Kesemuanya itu seperti dalam impian saja. Terbayang akan wajah dari beberapa tokoh Siau-lim-si yang dijumpainya selama ini…

Hui Gong yang angkuh dan bersikap dingin. Hui In yang berwajah ramah dan Hui Koh yang licin banyak muslihat. Sama-sama saudara seperguruan, bukan saja ilmu kepandaiannya berbeda, pun watak mereka juga berlainan….

Tengah Han Ping melamun, tiba-tiba terdengar sebuah batu kerikil menimpa atap rumah sebelah muka. Walaupun batu itu menimbulkan suara kecil, tetapi cukup menarik perhatian Han Ping. Cepat ia hendak loncat ke atas rumah tetapi pada lain saat ia teringat. Oh, lebih baik ia pura-pura tak mendengar. Ia masuk kedalam kamar, mematikan lilin lalu masuk tidur.

Sebenarnya ia hanya pura-pura tidur. Ia telah mempunyai rencana untuk menjebak orang itu. Beberapa saat kemudian, ia bangun dan menghampiri ke bawah jendela. Setelah menunggu sekian lama tak mendengar sesuatu yang mencurigakan lagi, hampir saja ia kembali ke tempat tidur. Tetapi ia penasaran. Jelas ia mendengar bunyi batu kerikil tadi. Dan biasanya itulah pertanda ‘tanya jalan’ dari kaum persilatan yang hendak melakukan penyelidikan diwaktu malam.

Sejak Han Ping menderita nasib yang malang. Tetapi justru kemalangan itu telah menggembleng dirinya, memperbesar kesabaran hatinya. Perlahan-lahan dibukanya daun jendela lalu loncat keluar.

Sejak mendapat penyaluran lwekang dari Hui Gong siansu, kini dia memiliki kesaktian yang dapat digolongkan setaraf dengan jago kelas satu. Gerakan loncat keluar jendela itu, sama sekali tak menerbitkan suara.

Begitu menginjak tanah, cepat ia ayunkan tubuh melambung keatas rumah dan bersembunyi di balik wuwungan. Sambil kerahkan persiapan, memandang kesekeliling penjuru.

Ah, kiranya memang benar dugaannya itu, Sesosok bayangan hitam tiba-tiba muncul dari rumah disebelah belakang terus lari menuju ketimur.

Sesungguhnya ia tak berminat mengejar.Tetapi demi teringat akan pedang Pemutus Asmara dan nama baik Hui Gong siansu, terpaksa ia gunakan ilmu lari cepat untuk mengejar. Ia ingin menyelidiki apakah orang itu bertujuan hendak merebut pedang Pemutus Asmara.

Bayangan hitam itu bergerak sepesat angin. Dalam beberapa kejab saja sudah tiba diluar kota. Ketika mencapai sebuah tempat yang sunyi, tiba-tiba bayangan itu melenyapkan diri kesebuah bangunan gedung besar.

Han Ping hentikan larinya. Memandang kesekeliling penjuru ia heran. Mengapa sebuah bangunan gedung yang sedemikian besar, didirikan disebuah tempat sunyi dan hanya terpencil sendiri tiada tetangganya.

Tetapi ketika memandang kesebelah kanan gedung itu, ia terkejut. Ternyata tempat itu merupakan sebuah tanah perkuburan yang penuh dengan gunduk-gunduk hitam. Sedang disebelah kiri gedung itu, sebuah tanah lapang seluas satu bahu, penuh dengan tempat air. Sementara di muka gedung terdapat beberapa belas batang pohon Pek-yang yang tingginya beberapa tombak. Berselang-selang terdengar burung hantu mengukuk, menambah keseraman suasana.

Gedung itu merupakan sebuah bangunan yang aneh bentuknya. Temboknya berwarna merah, mirip sebuah biara tetapi bukan biara.

Walaupun Han Ping seorang pemuda yang berilmu tinggi, tetapi menyaksikan pemandangan tempat itu, ia bergidik juga. Ia berputar diri, hendak kembali pulang.

Sekonyong-konyong terdengar angin malam mengantar suara lengking tertawa. Nadanya bergemerincing macam mutiara berhamburan jatuh kelantai. Biasanya nada tertawa semacam itu tentu berasal dari tertawa seorang wanita cantik. Tetapi dalam saat dan tempat seperti kala itu, lengking tertawa itu kebalikannya malah menambah keseraman suasana….

Han Ping terperanjat. Suara tertawa itu terus berkepanjangan macam sungai mengalir. Seolah-olah orang yang tertawa itu memiliki napas yang amat panjang sekali.

Sesungguhnya gentar juga hati Han Ping. Untuk membangun nyali, ia menjemput sebutir batu kerikil lalu dilontarkan kearah suara tertawa itu sekuat-kuatnya. Lontaran itu diarahkan kesebuah makam batu marmer hijau yang menonjol tinggi.

Bum…. seketika suara tertawa itupun lenyap. Dari balik makam itu muncul sesosok bayangan putih. Bayangan itu perlahan-lahan bergerak menghampirinya.

“Setan….?” hati pemuda itu meremang. Tetapi secepat itu pula ia membentak, “Hai siapa engkau? Jangan pura-pura menyaru jadi setan untuk menakuti orang!”

Dengan dilambari tenaga dalam, bentakan Han Ping seperti menggeledek kerasnya. Tetapi rupanya wanita baju putih itu tak mengacuhkan dan tetap melangkah maju.

Han Ping menggigil dan kucurkan keringat dingin karena membayangkan bahwa wanita itu tentu bukan manusia melainkan bangsa setan kuburan.

Dalam pada saat itu wanita baju putihpun sudah tiba di hadapannya. Han Ping mendesak terus mengangkat tinjunya kanan. Ketika hendak dihantamkan, tiba-tiba wanita itu menyiak rambut yang menutupi mukanya.

“Uhh….” ketika melihat wajah wanita itu, serasa terbanglah semangat Han Ping. Sambil mengerang tertahan ia menyurut mundur tiga langkah. Sebelum tinju diayun, tangannya sudah lemas….

Wanita baju putih itu tertawa mengekeh dan maju pula beberapa langkah. Mengangkat tangan kirinya, wanita itu kebutkan lengan bajunya kemuka Han Ping.

Han Ping menekuk tubuhnya kebelakang dan mundur selangkah untuk menghindari. Kemudian mengempos semangat, mengembangkan tenaga dalamnya, lalu membentak, “Manusia atau setankah engkau! Jika terus mendesak maju, jangan salahkan aku bertindak keras!”

Garang sekali kedengaran bentakan itu. Tetapi sesungguhnya hatinya tetap gentar.

Tetapi wanita itu tetap tak mengacuhkan. Dengan langkah bergoyang gontai, ia tetap maju dan tangan kanannya menyiak rambut.

Melihat wajah aneh dari wanita itu, Han Ping tak tahan lagi. Ia menghantamnya, wut….! terlanda oleh angin pukulan yang dahsyat, tubuh wanita itu melambung keudara dan melayang sampai setombak jauhnya….

Han Ping makin berdebar. Jika bangsa manusia, tak mungkin kuat menahan pukulannya. Tetapi wanita itu bahkan malah melambung keudara macam layang-layang tertiup angin. Huh, apalagi kalau bukan bangsa setan!”

Demikianlah apabila perasaan dicengkeram oleh rasa takut. Padahal pukulan Han Ping itu hanya menggunakan tiga bagian tenaganya. Tetapi ia tak menyadari.

Sejenak mengambil napas, wanita baju putih itu melangkah maju pula. Dan sekonyong-konyong ia balas tamparkan lengan bajunya kepada Han Ping.

Han Ping menggembor keras dan menyongsong dengan hantaman. Dalam pada menggembor itu perasaan takutnya lenyap berganti dengan rasa kemarahan sehingga tenaganyapun mengembang dahsyat.

Wanita baju putih itu mengerang tertahan, Seperti yang tadi, pun ia seolah-olah menurut saja dihembus oleh angin pukulan Han Ping yang melemparkannya kebelakang.

Karena dapat mengundurkan wanita itu, besarlah hati Han Ping. Sekali lagi ia menyusuli sebuah hantaman yang dahsyat.

Rupanya wanita itu terkejut dan menyadari kelihayan pemuda itu. Ia berjumpalitan diudara dan menghindar kesamping.

Han Ping terkesiap menyaksikan gerakan si wanita yang sedemikian gesit dan tangkas. Sambil bersiap menjaga diri, ia membentak lagi, “Hai, siapakah engkau! Apa guna engkau menyaru seperti setan? Jika tak mau menjawab, hem…. jangan salahkan aku berlaku ganas!“

Sebagai jawaban, wanita itu menyiak rambut dimuka, tertawa melengking dan menghantam. Melihat wajah wanita itu penuh bintik hitam dan jelek sekali, kembali menggigillah hati Han Ping.

Dalam pada itu, siwanita sudah menyelonong kesamping. Han Ping gelagapan dan hendak menghantam tetapi wanita itu cepat mendahului menjentikkan jarinya kemuka Han Ping. Serangkum hawa wangi membaur dan serentak dengan itu Han Ping rasakan tenaganya hilang, tubuh lemas dan rubuhlah ia ditanah ….

Wanita itu mengemasi rambutnya. Tampaknya wajahnya yang aneh itu amat menyeramkan sekali. Ia menghampiri Han Ping, membungkuk diri lalu merogoh kedalam baju pemuda itu, mengambil pedang Pemutus Asmara. Dicabutnya pedang itu, diamat-amatinya beberapa jenak.

Ketika hendak menyarungkan pedang itu ke dalam kerangkanya, sekonyong-konyong punggungnya tersambar angin keras. Dan sebelum ia sempat mengetahui apa-apa, sebuah tangan yang kuat telah mencengkeram pergelangan tangan kanannya.

“Heh, heh, ilmu menjentikkan obat bius dari taci beradik hun dan Bong, ternyata tak bernama kosong. Saat ini baru mataku terbuka!” menyusul terdengar suara orang mengekeh sinis. Nadanya macam tambur pecah, parau dan menyakiti telinga.

“Lepas!” Wanita baju putih itu membentak seraya menekuk siku lengannya digempurkan kebelakang.

“ Huh, budak nakal! Sebagai penangkap burung belibis, masakan aku sampai kena terpatuk burung itu, Apakah engkau hendak memanggil tacimu? Heh, heh, dia sudah kututuk jalan darahnya dan kusimpan dalam sebuah tempat yang aman. Jika engkau hendak mengangkangi pedang pusaka itu sendiri, ho, jangan sesalkan aku bertindak kejam!”

Memang wanita baju putih itu sudah memperhitungkan bahwa sikutannya tak mungkin dapat mengenakan orang itu. Tetapi yang penting, diwaktu menyikut itu ia melengking sekeras-kerasnya. Dan lengkingan itu adalah suatu teriakan sandi untuk memanggil tacinya. Ah, siapa tahu ternyata tacinya telah diringkus orang itu….

Kuncuplah nyalinya. Diam-diam ia kerahkan tenaga dalam untuk menahan cengkeraman orang itu seraya berkata dengan nada ramah, “Lepaskan pergelangan tanganku dulu…. “

Orang itu menukas dengan tertawa dingin, “Dikalangan persilatan, siapakah yang tak kenal akan taci beradik Hun dan Bong yang banyak tipu muslihatnya. Sudahlah jangan jual lagak dihadapanku. Hm, jangan harap engkau mampu mengelabuhi aku si Kim loji. Kalau kenal gelagat, lekas serahkan sarung pedang itu. Mengingat pedang itu, pedang Pemutus Asmara kuberikan kepada kalian berdua. Jika masih banyak tingkah, ha, ha, pedang dan sarungnya sekali tentu akan kuambil semua!”

Dalam pada berkata-kata itu ia tambahkan tenaga cengkeramannya sehingga siwanita baju putih rasakan separoh tubuhnya seperti mati rasa.

Menyadari bahwa melawan berarti mati, akhirnya wanita baju putih itu gunakan tangan kirinya untuk menyodorkan sarung pedang kebelakang, “Inilah!”

Karena jalan darahnya dikuasai orang, ia tak dapat berpaiing kebelakang. Tetapi ketika menyodorkan sarung pedang itu, diam-diam ia telah merapatkan jempol dan jari telunjuknya. Begitu orang itu menyambuti, secepat itu ia akan menjentikkan bubuk Bi-hun-hun….

Tetapi orang dibelakangnya itu seekor rase tua yang julig sekali. Tak mungkin ia dapat disiasati begitu. Serunya dengan tertawa sinis, “ Aku sudah tua, kurang pantas kalau berjabatan tangan dengan nona. Harap lemparkan saja sarung pedang itu ketanah nanti akan kuambilnya sendiri!“

Wanita baju putih mati kutu. Terpaksa ia lontarkan sarung pedang itu ketanah, “Setiap perintahmu sudah kuturut. Apakah engkau belum membuka jalan darahku….“

Sebagai jawaban yang diterimanya, seketika itu ia rasakan punggungnya kesemutan. Sebelum sempat menjerit, ia sudah rubuh ketanah. Pedang Pemutus Asmara yang dicekal ditangan kanannyapun ikut jatuh. Hampir saja menimpa muka Han Ping.

Kesunyian malam yang gelap pekat, tiba-tiba dipecahkan oleh suara gelak tertawa yang nyaring. Dan beberapa kejab saja, suara tertawa itu sudah beberapa tombak jauhnya.

Wanita baju putih itu gelisah bukan kepalang ketika mengetahui orang itu ngacir pergi. Tetapi karena jalan darahnya tertutuk, ia tak dapat barkutik.

Orang yang menyebut dirinya sebagai Kim loji itu telah membawa sarung pedang. Tetapi ia benar-benar memegang janji. Pedang Pemutus Asmara, ditinggal disamping siwanita.

Wanita itu memandang pedang pusaka yang menggeletak disampingnya. Tetapi tak dapat mengambil.

Tanah lapang dalam hutan disitu, kembali sunyi senyap. Suara tertawa Kim loji pun sudah lenyap. Hanya angin malam yang mendesir-desir dan daun-daun kering yang berhamburan.

Kira-kira sepenanak nasi lamanya, Han Ping menguak lalu bergeliat bangun. Wanita baju putih yang masih berusaha menyalurkan lwekang untuk menembus jalan darahnya yang tertutuk, terkejut ketika melihat pemuda itu sudah siuman. Tenaga dalam yang tengah dipusatkan buyar lagi seketika.

“Heran, obat pembius Bi-hun-hun itu, paling tidak 4 jam lagi baru orang dapat tersadar. Mengapa belum sejam saja, pemuda itu sudah bisa bangun? Celaka….” diam-diam ia mengeluh dalam hati.

Setitikpun ia tak menyangka bahwa terjaganya Han Ping dari pingsan itu. bukan lain karena bantuan pedang Pemutus Asmara. Pedang itu jatuh hanya beberapa senti didekat kepala pemuda itu. Hawa dingin yang dipancarkan dari pedang pusaka itulah yang menyusup kehidung Han Ping. Berkat lwekang yang disalurkan oleh Hui Gong taysu, lwekang Han Ping berobah hebat sekali. Begitu hawa dingin itu menyalur kedalam tuhuh, cepat sekali ia dapat siuman.

Begitu membuka mata, ia menjerit dan loncat mundur sampai setombak jauhnya!

Kiranya wanita baju putih yang menggeletak tak jauh disebelahnya, rambutnya tersiak sehingga kelihatan wajahnya yang mengerikan. Sebuah wajah yang berwarna merah, penuh dengan bintik-bintik hitam seperti orang bopeng….

Sesaat teringatlah Han Ping akan pedang Pemutus Asmara. Cepat ia meraba bajunya, ah, kosong…. Ia berpaling. Dilihatnya pedang pusaka itu menggeletak disamping siwanita baju putih. Cepat ia menghampiri dan memungutnya. Tetapi ketika mencari sarung pedang, ternyata benda itu tak kelihatan.

Dilihatnya wanita baju putih tengah memandang kepadanya. Rupanya saperti orang yang tertutuk jalan darahnya. Kini Han Ping memperoleh kesadaran pikirannya. Wanita itu bukan bangsa setan tetapi seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Rasa takutnja, lenyap seketika.

Sanibil melangkah menghampiri ia membentak, “Lekas bilang. siapa engkau ini? Mengapa menyaru sebagai setan? Mana sarung pedangku itu! Jika masih herlagak gila-gilaan, tentu kucincang tubuhmu!“

Sepasang gundu mata wanita itu berkeliaran beberapa kali tetapi mulutnya tetap membisu.

Han Ping mengendap kebawah. Didengarnya dada wanita itu menghamburkan napas. Ah, kini ia tak ragu lagi. Wanita itu seorang manusia.

Timbul pikirannya untuk memberi pertoiongan agar dapat dimintai keterangan. Tetapi pada lain kejab, terlintaslah lain rencana. Lebih dulu ia menutuk jalan darah kedua siku lengan wanita itu, baru kemudian membuka jalan darah pada punggung yang ditutuk Kim loji tadi.

Wanita itu menghela napas dan perlahan-lahan menggeliat duduk. Tetapi kedua lengannya masih tak dapat digerakkan.

Sambil melintangkan pedang pusaka dimuka wanita itu, Han Ping membentaknya, “Mana sarung pedangku ini, lekas bilang!’“

Karena punggungnya sudah sembuh, wanita itupun dapat bicara. Ia tersenyum, “Sarung pedang sudah dibawa lari orang!”

Gemetar tubuh Han Ping mendengar keterangan itu, “Siapa yang mengambil? Kemana larinya!”

Wanita baju putih itu menghela napas perlahan, sahutnya, “Percuma saja memberitahukan padamu. Selain sakti. orang itu banyak sekali akal muslihatnya. Kami taci beradik telah termakan tipunya!”

“Hm, jika engkau tak menyaru jadi setan, masakan sarung pedang itu dapat hilang” dengan geram Han Ping menusuk dada wanita jelek itu.

Walaupun kedua tangannya tak dapat bergerak tetapi wanita jelek itu masih dapat berguling-guling menghindar lalu loncat bangun.

Saat itu rasa takut Han Ping sudah lenyap. Ia lancarkan sebuah hantaman dahsjat.

Wanita jelek baju putih itu terkejut bukan kepalang. Pikimja, “Umurnya baru 18 tahun tetapi mengapa tenaga dalamnya begitu hebat…. “

Cepat ia menyingkir kesamping seraya berseru nyaring, “Tahan dulu, aku hendak bicara! “

Han Ping tertegun. Sambil menutup dada dengan tangan kiri dan tangan kanan mencekal pedang Pemutus Asmara, ia mengancam, “Jika sarung pedang itu tak engkau kembalikan, hm, jangan harap engkau dapat melihat matahari esok!”

Wanita jelek itu menatap wajah Han Ping lalu tertawa mengikik.

“Apa yang engkau tertawakan!” bentak Hai Ping makin murka.

“Karena kedua lenganku engkau tutuk, aku pun tak dapat menaburkan obat pembius lagi. Mengapa engkau masih begitu ketakutan?”

“ Siapa takut padamu!”

“Kalau tidak takut mengapa engkau masih bersikap tegang seperti menghadapi seorang musuh besar!“

Mendengar orang masih berani menyindirnya Han Ping tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi. maju selangkah, ia mengangkat tangannya kiri hendak dihantamkan.

Diluar dugaan wanita baju putih itu tak mau menghindar melainkan memandang tinju pemuda itu seraya tertawa dingin, “Apakah engka benar-benar berani membunuh aku?”

“Hm, mengapa tak berani!” dengus Han Ping.

Wanita jelek baju putih itu tertawa mengikik, “Hi, hi, jika engkau membunuhku, kemanakah engkau hendak mencari sarung pedangmu itu?”

Han Ping gelagapan seperti orang disiram air dingin. Ia mengakui kata-kata wanita jelek itu memang tepat. Satu-satunya yang tahu siapa pencuri sarung pedangnya itu hanya siwanita jelek baju putih. Tak terasa tinju yang sudah diangkalnya itu perlahan-lahan diturunkan pula.

Kembali wanita jelek itu tertawa, “Orang yang melarikan sarung pedangmu itu adalah salah seorang durjana termahsyur didunia persilatan. Biasanya dia tak suka segala macam benda pusaka. Bahkan pedangmu yang luar biasa tajamnya itu pun tak diambilnya. Aneh, mengapa dia hanya mengambil sarung pedang itu? Ah, sarung pedang itu tentu jauh lebih berharga dari pedangnya!”

Ucapan wanita jelek itu bagaikan palu besi menghantam uluhati Han Ping. Serentak ia teringat akan kata-kata mendiang Hui Gong siansu, bahwa sarung pedang itu jauh lebih berharga berlipat kali dari pedang Pemutus Asmara.

Hanya sehari semalam ia tinggalkan biara Siau-lim-si dan sarung pedang itu sudah dirampas orang. Geram dan sedih Han Ping tak terlukiskan.

“Ah, jika sarung pedang itu tak dapat kurebut kembali, aku berdosa kepada Hui Gong siansu .. ,” dengan berlinang-linang ia membulatkan tekadnya untuk membalas budi paderi sakti itu.

Melihat Han Ping terpukau seperti kehilangan semangat, wanita jelek baju putih itu tercengang heran.

Sesungguhnya jika ia ayunkan kaki menendang Han Ping, pemuda itu tentu rubuh. Tetapi entah bagaimana ia tak mau melakukan perbuatan itu. Bahkan dengan nada yang lembut ia bertanya, “Mengapa engkau tampak berduka sekali? Betapalah harganya sebuah sarung pedang saja? Heh, apakah pedang pusaka ini benda merupakan bingkisan untuk pengikat janji dari kekasihmu?”

Han Ping gelagapan. Bentaknya marah, “Jangan mengoceh tak keruan! pedang ini adalah pemberian dari seorang locianpwe kepadaku! Beliau pesan agar pedang ini kujaga baik-baik. Bahwa sekarang ternyata sarung pedang itu dicuri oiang, seharusnya aku bunuh diri selaku penebus dosa terhadap kepercayaan locianpwe itu!”

Wanita baju putih itu tertawa, “Apa? Orang yang memberi pedang itu sudah meninggal dunia?”

“Hm, omong asal omong saja, tak ubah seperti tong kaleng yang bergrombyangan. Sama dengan wajahmu yang buruk tak sedap dinikmati mata!” damprat Han Ping.

Wanita baju putih itu membantah, “Ih, bagaimana engkau tahu aku berwajah buruk?”

“Huh, engkau anggap wajahmu itu seperti bidadari?” Han Ping mengejek.

Wanita baju putih itu kerutkan alis. Cepat ia alihkan pembicaraan, “Menilik engkau begitu sedih, tentulah sarung pedang itu penting sekali bagimu!”

“Sudah tentu,” sahut Han Ping, “betapapun halnya, sarung pedang itu harus dapat kurebut kembali!”

sejenak wanita baju putih itu tundukkan kepala merenung. Sesaat kemudian berkatalah ia, “Jika engkau percaya padaku, bukalah siku lenganku yang engkau tutuk ini. Nanti kubantumu mencari sarung pedang itu!”

Han Ping tertegun. Diam-diam ia menimang, “Aku sih masih dapat mengatasinya. Tetapi yang paling menakutkan adalah ilmunya menjentikkan obat bius. Jika kubebaskan dan dia menjentikkan obat bius itu lagi, bukankah aku bakal celaka?”

Rupanya wanita baju putih tahu apa yang diresahkan Han Ping, ia tertawa dingin, “Mengapa engkau bersangsi? Jika tadi pada saat engkau sedang termenung-menung, kujentikkan obat bius itu kepadamu, apakah engkau mampu menghindar….”

Ia menghela napas, katanya pula, “Engkau tentu mendendam kepadaku karena kubuatmu pingsan dan kurampas pedang pusakamu. Tetapi akupun tertipu orang. Orang yang memikatmu datang kemari itulah pencuri yang sebenamya. Ah, tak kira durjaha tua itu licik sekali sehingga kami berdua taci adik dapat disiasati….”

“Hai, engkau masih mempunyai taci? Dimanakah dia sekarang?” Han Ping terkejut seraya memandang kesekeliling penjuru.

“Dia telah ditutuk jalan darahnya oleh durjana tua itu. Entah dimana disembunyikannya, aku sendiri tak tahu. Setelah kaubuka jalan darah sikuku ini, kita nanti mencarinya!” kata wanita baju putih.

“Hm, kapankah aku meluluskan permintaanmu itu?” dengus Han Ping.

“Huh, kalau tak mau membebaskan sikuku, tak apalah. Tetapi jangan harap engkau dapat mengejar jejak pencuri sarung pedangmu itu!” balas wanita itu terus berputar tubuh dan melangkah pergi.

Han Ping loncat mencengkeram baju wanita itu terus diangkatnya keatas, diputar-putar beberapa kali. Dalam pada memutar itu ia menutuk jalan darah siku lengan wanita itu yang tertutup itu, kemudian melemparkannya sampai setombak lagi jauhnya . , . .

Tahu setelah membebaskan jalan darahnya, wanita itu akan menjentikkan obat bius, maka Han Ping terpaksa menggunakan cara yang seistimewa itu.

Tubuh wanita baju putih itu bergeliatan di udara. Setelah berjumpalitan dua kali, dengan kepala menukik kebawah ia meluncur turun. Pada saat hampir tiba dibumi, sekali lagi kedua tangannya menampar kebumi. Dengan meminjam tenaga tamparan itu, tubuhnya berjungkir balik keatas dan pada lain saat tegaklah kedua kaki wanita itu ditanah….

“Kutahu engkau tentu mau membebaskan jalan darahku. Dan ternyata dugaanku itu tak salah!” ia tertawa mengikik seraya maju menghampiri pelahan-lahan….

Han Ping mundur beberapa langkah. Sambil lintangkan tangan didada, ia membentak, “Berhenti! Jika berani maju selangkah lagi, jangan sesalkan aku kejam!”

Tetapi wanita jelek itu tetap tak menghiraukan. Ia tetap maju seraya mengusap mukanya dengan tangan kanan. Seketika wajah merah yang penuh bintik-bintik mengerikan itu…. copot!

“Engkau masih takut? Apakah aku mirip dengan bangsa setan?” seru wanita itu dengan tertawa. Secepat kilat kedua tangannya meraih rambut kepalanya dan tahu-tahu rambut panjang yang gimbal itu telah berganti dengan sebuah rambut bersanggul yang indah….

Dihadapan Han Ping kini bukan lagi seorang wanita jelek tetapi seorang gadis yang cantik jelita.

Tetapi pemuda itu memang aneh. Bukannya terpesona memandang kecantikan si nona tetapi ia malah menaburlan pedang Pemutus Asmara sehingga hawa dingin dari pedang pusaka berhamburan kesekeliling penjuru.

Nona baju putih itu terkejut dan menyurut mundur. Seketika marahlah ia, “Mau apa engkau ini!”

“Hm, apakah engkau masih mau menggunakan lain macam ilmu siasat lagi? Jangan harap engkau mampu menyiasati aku!” sahut Han Ping.

Nona itu tertegun tetapi pada lain saat ia tersenyum serunya, “Engkau takut aku menggunakan jentikan obat bius untuk mencelakai engkau lagi!” – Nadanya lemah lembut penuh sifat kekanak kanakan.

“Segala macam ilmu Hitam, tentu tidak suci. Mengapa engkau merasa bangga?” sahut Han Ping.

“Umurmu masih muda belia tetapi mulutmu garang sekali. Hm, seluruh dunia persilatan siapakah yang tak kenal akan ilmu jentikan obat Bi-hun-hun dari kaum Lembah Raya lblis digunung Hun-bong-san….”

“Betapapun sakti ilmu mencelakai orang dengan segala macam obat bius itu, namun kemenangan yang diperolehnya itu bukan suatu kemenangan yang gilang gemilang. Segala macam ilmu setan dari golongan Hitam itu, bukanlah suatu kepandaian ilmu silat yang sejati. Huh, menilik gerak gerikmu sepertinya engkau tak tahu bahwa didunia beradab terdapat kata yang dinamakan Malu!”

Dampratan halus yang tajam itu telah mem buat si nona baju putih tertegun. Beberapa saat kemudian baru ia menghela napas, ujarnya, “Sampai sekian besar, belum pernah aku menerima dampratan orang semacam ini.”

Mendengar sikap dan nada nona itu masih seperti kanak-kanak, Han Pingpun tertawa.

“Mengapa engkau tertawa? Aku berkata dengan sebenarnya, apakah masih salah lagi?”

“Rupanya hatimu masih murni, masih dapat diperbaiki,” kata Han Ping.

Dara itu tertawa, “Ah, belum tentu. Setiap kali aku marah, aku dapat membunuh orang tanpa berkedip. Taciku ini jauh lebih lihay dari aku. Tak sedikit jago-jago silat yang sakti, mati ditangan taciku. Tetapi apabila hatinya senang, wah, dia luar biasa baik dan ramah kepada orang….”

Mendengar dara itu mengoceh jauh-jauh, Han Ping segera menukas, “Maaf, aku tiada tempo mendengarkan kata-kata nona tentang hal-hal yang tidak penting itu. Harap segera memberitahukan siapakah yang telah melarikan sarung pedangku itu!”

“Dia tak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Muncul perginya tak dapat diduga-duga. Dalam dunia yang begini luas, kemanakah engkau hendak mencarinya? Lebih baik kita tolong taciku dulu agar dia mau membantu mencarikan orang itu, Selain luas pengalaman, taciku itu pintar dab banyak akal. Tentu dapat merencanakan pencarian itu!”

Han Ping mengeluh dalam hati. Sekalipun tampaknya dara itu masih muda belia dan masih seperti kanak-kanak, tetapi rupanya sudah banyak pengalamannya dalam dunia persilatan. Terhadap dara semacam itu, tentu sukar untuk memaksa. Bahkan salah-salah malah dapat menimbulkan salah paham.

Diam-diam Han Pingpun mengakui bahwa karena ia masih hijau dalam dunia persilatan, tentu sukar untuk mencari jejak pencuri itu. Dan agaknya sebelum tacinya ditolong, dara baju putih itu tak mau mengatakan nama dari pencuri itu.

Akhirnya Han Ping memutuskan untuk bersabar beberapa waktu lagi. Setelah berhasil mendapat keterangan nama dan tempat tinggal pencuri itu, barulah ia lepaskan diri dari libatan dara itu.

Karena melihat Han Ping tak bicara, dara itu berkata pula, “Mengapa engkau diam saja? Apakah engkau masih mencurigai aku? Ai, memang tak dapat mempersalahkan engkau. Karena tindakanku menyaru jadi setan dan membiusmu pingsan tadi sehingga engkau kehilangan sarung pedang, engkau tentu masih membenci kepadaku. Tetapi karena nasi sudah menjadi bubur, maka kita harus menghadapi kenyataan ini, Kim lokoay itu bersahabat baik dengan ayahku dan Kami pun biasanya memanggil paman kepadanya, Tetapi ternyata begitu melihat keuntungan, dia cepat berpaling muka. Dengan keji, dia mencelakai taciku….”

Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi, “Hm, licik benar setan tua itu. Dia telah mengatur rencana yang licin sekali. Sengaja ia tinggalkan pedang itu agar begitu engkau sadarkan diri tentu terus membunuhku. Dengan begitu, aku mati secara gelap dan engkau tak bisa mendapat keterangan siapa yang mencuri sarung pedang itu. Untuk mempertebal kecurigaanmu, dia sengaja menutuk jalan darahku supaya aku tak dapat bicara. Dia memperhitungkan engkau tentu marah dan segera membunuhku. Andaikata ayahku dikemudian hari menyelidiki peristiwa pembunuhan ini, ayahpun takkan menduga kalau Kim lokoay itu yang melakukan. Ho, dia tentu tak mengira sama sekali bahwa sepandai-pandainya tupai melompat sesekali akan tergelincir juga. Engkau tak membunuh aku bahkan membebaskan jalan darahku dan menanyakan perihal urusan ini…. “

Han Ping tertawa tawar, “Yang kutanyakan adalah tentang sarung pedang ini!”

“Entah bagaimana maksudmu, tetapi yang jelas engkau tak membunuhku. Ini sudah cukup membuat aku berterima kasih kepadamu!”

“Ah, tak perlu!” tukas Han Ping,“yang kuminta hanyalah supaya engkau memberitahukan siapa pencuri sarung pedangku itu. Dan ini sudah cukup memuaskan hatiku!”

“Ai, engkau ini bagaimana?“ lengking dara itu, “bukankah sudah kukatakan bahwa dia tak mempunyai tempat tinggal yang tentu. Masakan aku mau membohongimu? Hm, jika engkau tetap curiga padaku, lebih baik aku pergi saja dan seumur hidup tak menghiraukan engkau lagi!“

“Huh, apa rugiku engkau tak menghiraukan diriku. Akupun tak mengharap engkau mengurus aku!“ Han Ping memaki dalam hati. Namun ia tak mengatakan dengan mulut. Ia harus bersabar sedapat mungkin.

Tiba-tiba dara itu tertawa segar, “Jangankai engkau. Sedang aku yang sudah kenal baik pada setan tua itu tetap tak berdaya mencari jejak nya. Hanya tacikulah yang dapat memikirkan daya untuk memecahkan persoalan ini!“

Kembali Han Ping mendamprat dalam hati. Selalu mulut dara itu membanggakan tacinya. Padahal jika tacinya itu lihay, masakan kena dicelakai orang.

“Dimana tacimu sekarang? Bagaimana kita hendak mcncarinya?“ akhirnya Han Ping bertanya juga.

Dara itu merenung beberapa jenak. Tiba-tiba ia menjerit terus lari….

Han Ping tertegun. Pada lain saat ia menyadari kalau dara itu hendak melarikan diri. Cepat ia hendak gunakan ilmu Pat-poh-kam-sian, sebuah ilmu meringankan tubuh yang hebat.

Tiba-tiba dara itu berpaling dan melambaikan tangannya, “Lekaslah! Jika terlambat, taci tentu tiada tertolong jiwanya!“

Han Ping cepat menyusul. Tetapi ia tetap menguatirkan kemungkinan dara itu akan menjentikkan obat bius lagi maka ia tak mau lari menyusul rapat-rapat dan hanya mengikuti dibelakangnya dalam jarak tertentu.

Ternyata kedua muda mudi itu memiliki ilmu ginkang atau meringankan tubuh yang hebat. Dalam beberapa kejab saja mereka sudah lari sampai 3-4 li dan tiba disebuah belantara yang penuh dengan rumput kering.

Dara itu berhenti. sejenak memandang kesekeliling ia segera menghampiri seonggok tumpukan rumput kering. Diobrak-abriknya rumput kering itu. Setelah tumpukan rumput habis dilempari kemana-mana, ia segera memanggul seorang nona berpakaian hitam yang rambutnya terurai tak keruan dan mukanya pucat lesi.

Baru dara itu loncat keluar dari tumpukan rumput kering itu, tiba-tiba api menyala dan terbakarlah rumput kering itu.

Melihat peristiwa itu, bergidiklah hati Han Ping, “Hm, orang itu kejam sekali. Padang rumput kering itu seluas 2 li. Sekali terbakar nona baju hitam itu tentu hangus jadi abu!”

Cepat ia loncat maju. Maksudnya hendak memadamkan api. Tetapi karena tumpukan rumput itu kering, dalam sekejab saja sudah tak dapat ditolong lagi.

“Mundurlah, lekas! Setan tua itu licik sekali. Jangan sampai terkena siasat…. “ belum dara baju putih menyelesaikan peringatannya, sekonyong-konyong dari dalam tumpukan rumput kering itu segumpal api mencurah keluar. Dengan cepat api itu menjilat tempat seluas 3-4 tombak. Asap bergulung-gulung tebal sehingga napas sesak dan mata sukar dibuka….

Han Ping terkejut. Untung ia tak gugup. Cepat ia gunakan gerak Burung bangau menerobos langit. Tubuhnya melambung keudara, lalu berjumpalitan diatas sehingga seperti orang berdiri. Setelah itu ia gunakan ilmu lari cepat Pat poh leng gong lari diudara dan melayang turun dua tiga tombak jauhnya. Benar dengan gunakan jurus luar biasa itu ia selamat dari lautan api tetapi tak urung bajunya terbakar juga.

Saat itu si dara sudah meletakkan si nona baju hitam ditanah dan terus hendak menolong Han Ping. Melihat pemuda itu dapat menyelamatkan diri, ia girang dan lari menghampiri untuk mengebut-ngebut baju Han Ping yang termakan api.

“Wah, ilmu ginkangmu hebat benar. Jika aku, tentu sudah terbakar mati, paling tidak tentu terluka berat,” dara itu tertawa memuji.

Baru pertama kali itu Han Ping dipuji oleh seorang gadis. Ia tersipu-sipu. Rasa benci kepada dara itu agak menurun. Ia mengucap kata-kata merendah dan mengatakan bahwa lukanya tak seberapa.

“Memang yang terbakar hanya bajumu, tak sampai melukaimu,” dara itu tertawa lalu lari menghampiri tacinya lagi lalu dipanggulnya, “api tak dapat ditolong lagi, mari kita cari lain tempat untuk menolong taciku ini!”

Melihat wajah nona baju hitam itu, buru-buru Han Ping palingkan muka dan bertanya kepada si dara baju putih, “Eh, apakah tacimu itu juga memakai kedok muka?”

Dara itu tertawa, “Taciku jauh lebih cantik dari aku. Tak percaya? Silahkan melihat sendiri!”

Han Ping berpaling dan benarlah. Nona baju hitam yang jelek rupanya itu ternyata seorang gadis yang cantik sekali. Sekalipun dalam keadaan pingsan, kecantikannya tetap menonjol.

“Kalian berdua ternyata gadis cantik-cantik, mengapa memakai kedok muka seperti setan?” tanya Han Ping.

“Anak buah Lembah Setan semua memakai kedok muka. Sejak kecil mula aku dan taci suka menyaru jadi setan. Dikemudian hari, engkau….” tiba-tiba dara itu berhenti bicara lalu memandang Han Ping, ujarnya, “ah, tak perlulah kiranya membicarakan soal itu lagi. Karena rahasia dari Lembah Setan, tak boleh diberitahukan orang. Apabila ketahuan, aku tentu akan menerima hukuman!”

Han Ping mendesah dan tak mau bertanya lagi. Ia mengikuti berjalan dibelakang dara baju putih.

Beberapa lama kemudian, dara itu tiba-tiba berhenti dan berpaling kebelakang, “Apakah engkau tak senang hati?”

“Tidak apa-apa,” Han Ping tertawa hambar.

Dara baju putih itu menghela napas, “Kaum persilatan jarang sekali yang tak tahu nama Lembah Setan dari gunung Hun-bong-san. Tetapi yang pernah datang ke Lembah Setan, sedikit sekali jumlahnya. Kecuali mendapat izin dari pemimpin lembah dan disambut oleh orang-orang Lembah Setan, orang tentu tak menyadari kalau sudah memasuki lembah itu….”

“Ah, aku tak percaya,” Han Ping tertawa.

Dara itu hendak bicara lagi tetapi tiba-tiba tak jadi. Ia hanya menghela napas. Ia melanjutkan langkah menuju kesebuah bangunan gedung besar, katanya, “Kita masuk kedalam gedung ini, membuka jalan darah taci lalu melanjutkan perjalanan lagi.”

Memandang bangunan gedung yang besar megah, berkatalah Han Ping, “Apakah kita tak sungkan masuk kegedung orang pada waktu tengah malam buta begini?”

Dara itu tertawa, “Menilik sikapmu seperti seorang pelajar itu, rupanya engkau bukan seperti orang dari dunia persilatan. Gedung ini kosong tiada penghuninya. Kalau tak percaya, mari kita masuk!”

Melihat keadaan gedung itu sunyi senyap, diam-diam Han Ping membenarkan kata-kata si dara.

Si dara sudah mendahului loncat kepagar tembok. Ternyata gedung itu sebuah rumah besar terdiri dari berlapis-lapis ruang. Dan tampaknya si dara itu seperti pulang kerumahnya sendiri. Sambil memanggul tacinya, ia langsung menuju kebagian belakang.

Dalam mengikuti dibelakangnya, diam-diam Han Ping heran dan curiga. Mengapa dara itu sangat paham akan keadaan gedung. Diam-diam ia bersiap-siap menghadapi kemungkinan apabila dara itu hendak melancarkan siasatnya menabur obat bius lagi.

Setelah melintasi dua buah halaman, tibalah dara itu disebuah halaman kecil yang penuh dengan pot bunga. Ia tertawa “Eh, siapakah yang menyusun halaman ini begini indahnya?”

la naik kesebuah kamar yang berada dititian ketiga, lalu membuka pintunya.

Tiba dimuka pintu, tiba-tiba Han Ping membau bau yang harum. Ia terkejut dan mundur dua langkah. Kamar itu tentu kamar seorang gadis, ia tak mau ikut masuk.

Tiba-tiba kamar menyala penerangannya. dan terdengarlah dara baju putih itu meneriakinya supaya masuk.

“Ah, ini kamar wanita, tak pantas kalau aku masuk,” sahut Han Ping

Dara itu tertawa mengikik, “Selain aku dan taci, didalam sini tiada orangnya lagi, hayo, masuk lah!”

Han Ping menimang. Kedua gadis itu adalah gadis persilatan. Terhadap mereka rasanya tak perlu terlalu memakai peradatan. Segera ia melangkah masuk.

Sebuah kamar yang indah megah. Dindingnya berkilau laksana batu mustika, lantainya tertutup permadani, penuh dengan hiasan yang indah-indah. Diujung dinding terdapat sebuah ranjang kayu ukir-ukiran, bantal dan kain sprei disulam indah. Jelas tentu kamar seorang gadis.

Dara itu rebahkan tacinya diatas ranjang lalu duduk bersila melakukan pertolongan dengan mengurut jalan darah yang tertutuk.

Ternyata orang tua yang disebut Kim loji itu telah menggunakan tutukan keras pada nona baju hitam. Sehingga walaupun sudah siuman, keadaannya masih lemah. Setelah membuka mata, perlahan-lahan ia duduk. Dingin sekali sikapnya. Seolah-olah ia tak merasa bahwa baru saja ia diselamatkan dari bahaya maut. Han Ping menganggap, nona itu kelewat angkuh.

“Cici, kita telah ditipu sisetan tua Kim. Jika tiada dia yang menolong, kita tentu sudah mati,” kata si dara baju putih seraya menunjuk kepada Han Ping.

Nona baju hitam itu hanya tertawa dingin. Memandang kepada pemuda itu, ia bertanya, “Siapakah engkau? Mengapa engkau menolong kami berdua saudara?”

Han Ping terkesiap. Ia benar-benar tak mengira kalau akan mendapat teguran yang sedemikian tak kenal aturan, tak tahu terima kasih.

“Sama sekali aku tak bermaksud menolong, melainkan karena hendak mencari sarung pedangku yang hilang!” sahut Han Ping.

Menatap pedang pusaka anak muda itu, bertanya pula nona baju hitam itu, “Kemanakah sarung pedangmu itu?”

Si dara baju putih cepat menyambuti, “Sarung pedangnya diambil oleh Kim lokoay. Kita bantu mencarikannya!”

“Hm, mengapa kita harus membantunya? Mengingat dia sudah menolong kita, biarlah dia pergi membawa pedangnya!”

Hampir meledak dada Han Ping karena marahnya. Untung sebelum ia memberi reaksi, si dara baju putih sudah mendahului berkata, “Tetapi aku sudah berjanji kepadanya. Dia membantu aku menolongmu. Kita cari Kim lokoay dan merebut sarung pedang itu!”

Si nona baju hitam merapikan rambut yang kusut masai lalu turun dari ranjang dan menghampiri Han Ping.

Han Ping terkejut. Diam-diam ia bersiap. Selain kerahkan tenaga dalam, pun menutup pernapasannya untuk menjaga kemungkinan nona baju hitam itu akan menaburkan obat bius. Dilihatnya si dara baju putih tak henti-hentinya memberi isyarat tangan sambil tersenyum. Maksudnya melarang dia jangan sembarang bertindak.

“Tahukah engkau siapakah Kim loji yang melarikan sarung pedangmu itu?” tanya nona baju hitam itu ketika tiba dihadapan Han Ping. “Lebih baik hapus saya keinginanmu merebut sarung pedang itu!”

Karena tengah menahan napas, maka Han Ping tak dapat bicara. ya hanya geleng kepala tanda menolak anjuran nona itu.

Melihat sikap pemuda itu; si nona baju hitam tertawa, “Eh, mengapa tak mau bicara? Kim loji itu adalah tokoh persilatan yang termahsyur. Semua orang persilatan takut dan mengindahkan kepadanya. Jika engkau hendak merebut kembali sarung pedang itu, bukankah seperti mengantar jiwa dengan sia-sia?”

Han Ping tetap jeri terhadap bubuk bius.

Sebenarnya ia tak mau bicara. Tetapi ketika mendengar kata-kata nona baju hitam itu seperti tak mengandung maksud jahat, ia merasa bingung. Baik menyahut atau tidak.

Tiba-tiba si dara baju putih loncat turun dari ranjang seraya tertawa, “Ah, cici; dia memiliki ilmu silat yang tinggi. Mungkin lebih lihay dari cici sendiri. Andaikata dia tak dapat menghadapi Kim loji, kalau kita bantu, tentu menang!”

Wajah nona baju hitam itu menampil keraguan, sahutnya, “Engkau tentu tahu sendiri bagaimana kesaktian Kim loji itu. Kita berduapun tak menang. Sekalipun tambah seorang lagi, tetap sama saja!”

Dengan ucapan itu si nona baju hitam jelas meremehkan kepandaian Han Ping.

“Tetapi jelas bahwa kepandaiannya tak dibawah kita berdua. Jika tak percaya, silahkan cici mencobanya!” seru si dara. Ia agak mengkal karena tacinya tak percaya.

“Memang aku tetap tak percaya,” sambil tertawa dingin, sekonyong-konyong nona baju hitam itu merangsang dengan kedua tangannya untuk menutuk dua buah jalan darah ditubuh Han Ping. Gerakan itu cepat dan tak terduga-duga.

Sekalipun sudah bersiap tetapi tak urung Han Ping terkejut juga melihat kecepatan dan ketepatan nona itu menyerang. Diam-diam ia mengakui memang kepandaian nona itu lebih lihay dari adiknya, si dara baju putih.

“Ah, jika tak kukeluarkan jurus istimewa, sukarlah mengalahkannya dalam waktu yang cepat,” diam-diam ia memutuskan cara menghadapi nona itu.

Sambil mencekal pedang Pemutus Asmara ditangan kanan, tubuhnya condong merebah kesamping kiri. Lalu tangannya kiri tiba-tiba nyelonong kebelakang punggung untuk menangkap pergelangan tangan si nona.

Jurus itu dinamakan Pok-liong-pak-hay atau menangkap naga dari laut utara. Salah sebuah dari keduabelas jurus ilmu Kin-na-jiu atau ilmu merebut senjata musuh, ajaran mendiang Hui Gong siansu yang sakti.

Si nona baju hitam terlongong kaget….

0 Response to "Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 3 : Pertemuan dengan dua putri Lembah Raja Setan"

Post a Comment