Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 24 : Adu kesaktian

Mode Malam
Jilid 24

“Oleh karena engkau dapat mengingat pelajaran2 lisan dari ilmu sakti yang jarang terdapat dalam dunia persilatan, maka engkau mampu menggunakan beberapa ilmu kepandaian yang aneh,” kata Cong To, “tetapi bahwa engkaupun telah memiliki ilmu tenaga dalam yang begitu hebat, benar-benar membuat aku tak mengerti. Karena ilmu tenaga-dalam itu, betapapun hebat bakat seseorang, tetapipun harus memakan waktu yang tertentu. Menilik umurmu, apa yang telah engkau miliki saat ini benar-benar melampaui usiamu. Dan kemajuan yang engkau peroleh benar-benar sukar dipercaya!”

Han Ping agak kerutkan alis, ujarnya, “Cong lo-cianpwe benar-benar luas pengalaman. Aku memang telah beruntung memperoleh rejeki yang luar biasa, hanya saja, hanya saja…..”

“Sudahlah, tak perlu engkau bilang,” tukas Cong To, “kalau mendapat rejeki yang luar biasa, memang tak leluasa memberitahukan orang. Cukup kalau kuketahui bahwa tenaga dalam yang engkau peroleh itu bukanlah hasil peyakinanmu sendiri.”

Han Ping menghaturkan terima kasih.

Tiba-tiba Cong To tertawa hambar, “Sudah berpuluh tahun pengemis tua berkelana di dunia persilatan dan malang melintang di daerah Kanglam dan Kangpak. Bahkan apa yang menamakan diri sebagai It-kiong, Ji-koh, Sam-poh itu, juga tak kupandang mata. Tetapi sungguh tak kira dalam beberapa hulan terakhir ini, keangkuhanku telah goncang…”

Han Ping menghela napas, “Karena setiap orang tak sama rejekinya maka hasil yang diperolehnya pun berbeda. Berkat budi kebaikan dari seorang lo-cianpwe maka aku memperoleh hasil seperti hari ini. Tetapi lo-cianpwe itu sudah meninggal dunia sehingga aku tak sempat lagi membalas budinya….”

Terkenang akan budi kebaikan Hui Gong taysu yang telah mengajarkan ilmu pelajaran sakti dan menyalurkan tenaga-murni, hati Han Ping tersedu dan matanya berlinang-linang.

Cong To menghela napas, “Ih Thian-heng mempunyai permusuhan apa dengan engkau?”

“Membunuh ayah menghina ibu, tak dapat hidup di bawah satu kolong langit. Membinasakan guru melenyapkan adik, bagai lautan darah dalamnya!” sahut Han Ping.

Cong To merenung sejenak lalu berkata, “Walaupun engkau memiliki ilmu kepandaian sakti, tetapi mungkin belum dapat mencapai kesempurnaan untuk membunuh Ih Thian-heng. Selalu berilmu tinggi, orang itu memang luar biasa licinnya. Di mata umum dia pura-pura berbuat kebaikan tetapi diam-diam dia telah membentuk komplotan. Berapa banyak anakbuahnya, mungkin tiada orang yang mengetahui jelas….”

Pengemis tua itu menengadahkan kepala dan menghela napas panjang, ujarnya pula, “Orang pada umumnya hanya tahu bahwa dia berilmu sakti. Tetapi sampai dimana kesaktiannya, tiada seorangpun yang tahu. Dalam dunia persilatan dewasa ini, kecuali pengemis tua ini, tiada seorangpun yang pernah bertempur dengannya. Tetapi baru tiga jurus saja, pengemis tua sudah tahu kalau tak mampu melawannya …

“Kalau begitu, ilmu kepandaian Ih Thian-heng itu benar-benar tiada dapat diukur tingginya?” tukas Han Ping.

“Jika menurut peraturan biasa, 10 tahun lagi mungkin engkau baru dapat mengalahkannya!”

“Aku ingin lekas2 membalas dendam. Setiap hari hatiku seperti ditusuki jarum. Jika menunggu 10 tahun, mana aku sabar menunggunya?”

Cong To tertawa, “Pengemis tua ini memang sudah usang. Mungkin dalam hidup sekarang ini aku tak mempunyai kesempatan untuk memenangkan dia. Apabila rejekinm besar sekali, kemungkinan tak perlu makan waktu begitu lama!”

Han Ping memandang Cong To dengan pandangan kecewa lalu menundukkan kepala.

“Tetapi dewasa ini kedok muka Ih Thian-heng yang berpura-pura melakukan kebaikan itu sudah terbuka. Setiap partai persilatan golongan Putih sudah memusuhinya. Tentu banyak membantu meringankan bebanmu hendak membalas sakit hati….”

“Aku hendak menangkap hidup2 hangsat itu untuk kusembahyangkan di makam ayah dan guru barulah hatiku puas.”

Cong To terkesiap, ujarnya, “Kalau terbunuh mati, mungkin ada harapan. Tetapi untuk menawannya hidup2 sukar sekali. Sekali pun dalam ilmu kepandaian engkau dapat mengalahkannya tapi dia tentu lebih unggul dalam tipu muslihat. Dia seorang manusia yang julig, licin dan ganas. Masakan dia tak tahu kalau akan ditangkap hidup-hidup….”

Tiba-tiba Han Ping menitikkan airmata, “Menilik ucapan lo cianpwe, dalam hidup yang sekarang ini, aku tentu tiada mempunyai harapan untuk membalas sakit hati?”

Cong To kerutkan alis, “Sudahlah, jangan menangis. Asal melihat airmata, pengemis tua tentu kehilangan faham.”

Han Ping membesut airmata lalu mengangkat muka dan bersuit panjang. Dengan gagah perkasa ia tertawa nyaring, “Bagi seorang jantan, airmata itu laksana emas mahalnya. Mengapa aku sembarangan menjatuhkan airmata! Sekalipun tubuh Ih Thian-heng itu terbuat dari besi dari baja, tetap akan kuhancur leburkan dan kusembahyangkan di muka makam ayah dan suhu!”

“Ha, ha, ha,” Cong To tertawa tergelak, “bagus. bagus! Dengan pernyataanmu yang gagah perkasa itu, engkau sudah berhasil menyelesaikan cita-ciiamu untuk menempur Ih Thian-heng!”

Tiba-tiba Cong To berpaling. Ah, pada jarak setombak dari tempatnya, tampak berdiri seorang lelaki bertubuh tinggi besar. Dia adalah Ong Kwan-tiong dengan dikawal 4 orang jago silat baju hitam.

Oleh karena sedang bertukar pembicaraan yang asyik, Han Ping dan Cong To sampai tak mendengar kedatangan Ong Kwan-tiong.

Setelah menghentikan tertawanya, Pengemis-sakti segera menegur Ong Kwan-tiong, “Bukankah engkau hendak mencari pengemis tua ini?”

“Benar, ada sebuah hal yang sengaja hendak kutanyakan!” sahut Ong Kwan-tiong.

“Ah, tak usah sungkan. Silahkan bertanya!” sahut Cong To.

“Jika tiada hal yang penting lagi, kuharap kalian berdua segera tinggalkan tempat ini!” seru Ong Kwan-tiong.

“Apakah engkau hendak mengusir pengemis tua?”

“Aku memohon dengan baik-baik,” sahut Ong Kwan-tiong.

“Baik!” sahut Cong To,”kami segera pergi!”

Habis berkata pengemis tua itu berpaling ke arah Han Ping dan mengajak pemuda itu pergi.

Han Ping hendak bicara tetapi tak jadi. Terpaksa ia mengikuti di belakang Cong To.

Berjalan 50-an tombak jauhnya, tiba-tiba mereka mendengar derap langkah orang, dari arah belakang. Han Ping berpaling dan melihat Ong Kwan-tiong tergopoh-gopoh menyusulnya. Tetapi keempat pengawalnya masih tegak berdiri di tempat semula.

“Cong lo-cianpwe!” seru Ong Kwan tiong.

Cong To berpaling dan hentikan langkah.

Ong Kwan-tiong memberi hormat dan berkata dengan serius, “Aku masih ada sebuah permohonan lain, entah apakah saudara Ji dapat meluluskan atau tidak.”

Han Ping tertegun, sahutnya, “Hal ini, harap mengatakan lebih dulu agar dapat kupertimbangkan baru memberi keputusan.”

“Sukar atau mudah tergantung pada pertimbangan saudara sendiri!”

Han Ping kerutkan alis tiada menyahut.

Cong To tertawa dingin, “Saudara Ong tak perlu banyak omongan. Lekas katakan saja!”

Berkata Ong Kwan-tiong dengan nada tertahan, “Kuminta saudara Ji ini, supaya jangan bertemu muka dengan sumoay-ku lagi….”

Karena merasa ucapannya itu tidak nalar, maka setelah mengucap, Ong Kwan-tiong lalu menghela napas panjang.

“Memang sulit untuk kukatakan alasannya,” kata Ong Kwan-tiong pula, “apalagi soal itu pun tak merugikan saudara Ji. Apalagi saudara Ji suka meluluskan, ah, sungguh aku merasa berterima kasih tak terhingga….”

Han Ping tersenyum, “Kukira hal apa, kiranya hanya begitu saja. Sejak saat ini, aku takkan….”

“Jangan buru-buru meluluskan!” tiba-tiba Cong To mengerat.

Han Ping tertegun, “Mengapa?”

“Harap saudara Ong jangan menyalahkan aku si pengemis tua ini banyak mulut. Memang sederhana tampaknya soal itu, tetapi….”

“Tak perduli bagaimana saja, siapa suruh engkau banyak mulut!” Ong Kwan-tiong berteriak marah.

Cong To tertawa dingin, “Justeru dalam hidupku, si pengemis tua ini paling suka mengurusi orang. Dalam dunia persilatan Tiong-goan, siapakah yang tak kenal….”

Dengan mata berkilat-kilat, Ong Kwan-tiong menatap pengemis tua itu. Tetapi entah bagaimana pada lain saat, tiba-tiba kemarahannya lenyap dan menghela napas, “Dalam dunia persilatan Tiong-goan, engkau memang seorang yang paling berterus terang.”

Pengemis-sakti memandang ke atas dan tertawa, “Ah, jangan membikin kaget pengemis tua dengan pujian!”

Berkata pula Ong Kwan-tiong, “Sukar kukatakan mengapa sumoayku tak mau bertemu muka lagi dengan saudara Ji. Jika kalian tak mau meluluskan, aku….”

Murid dari perguruan Lam-hay-bun itu berhenti bicara. Tetapi sampai lama tetap tak melanjutkan kata-katanya lagi.

“Karena saudara tak mau mengatakan alasannya, akupun sukar untuk meluluskan. Dalam dunia yang begini luas, siapapun tak dapat menjamin takkan bertemu, pun tak berani memastikan kalau takkan bertemu. Yang penting, asal kedua fihak tidak mengandung maksud untuk saling mencari, itu sudah cukup. Maaf, aku masih mempunyai lain urusan lagi yang hendak kukerjakan!”

Han Ping memberi hormat, memutar tubuh lalu melangkah pergi.

Cong To menghela napas, “Harap saudara Ong pertimbangkan lagi adakah rencana itu bisa dilaksanakan atau tidak! Sampai disini dulu pengemis tua berkata. Kita masih ada kesempatan berjumpa lagi maka terburu-buru harus memutuskan soal itu sekarang juga!”

Dan tanpa menunggu penyahutan Ong Kwan-tiong, pengemis tua itupun berputar tubuh mengikuti jejak Han Ping.

Ong Kwan-tiong hanya termangu-mangu memandang bayangan kedua orang itu. Setelah mereka lenyap dari pandangan mata, barulah ia tersadar lalu melangkah dengan wajah kecewa.

Setelah empat lima li jauhnya dan tak tampak Ong Kwan-tiong lagi, barulah Han Ping dan Cong To berjalan pelahan.

Han Ping menghela napas, tanyanya, “Tahukah lo-cianpwc siapakah yang terkubur dalam Kuburan itu?”

“Soal itu pengemis tua tak jelas!” sahut Cong To.

Merenung sejenak, Han Ping bertanya pula, “Dara baju ungu itu mengapa memakai kerudung muka yang tebal?”

Cong To batuk-batuk lalu menyahut, “Soal itu, ada dua sebab!”

“Apa saja?”

Tiba-tiba Cong To tertawa lepas, “Pertama, karena ia terlalu cantik. Malu memperlihatkan mukanya di depan umum sehingga perlu memakai kerudung muka warna hitam yang tebal.”

Han Ping tertawa hambar, “Apakah itu dapat dianggap sebagai suatu alasan? Lalu bagaimana alasan yang kedua?”

Sejak pengemis tua itu memandang Han Ping lalu katanya, “Alasan yang kedua? Ah, mungkin karena wajahnya mengalami perobahan….”

Seketika Han Ping merasa seperti menerima pukulan keras sehingga tubuhnya gemetar. Serunya, “Perobahan apa?”

Cong To tertawa nyaring, “Kulitnya yang begitu halus, digigit nyamuk saja tentu akan membengkak besar….”

“Ah, lo cianpwe bergurau!”

Tiba-tiba wajah Cong To berohah sungguh-sungguh, serunya, “Wajah cantik tentu menyengsamkan orang. Percintaan antara kaum muda mudi itu memang sukar dihindari. Karena masih mengandung kewajiban membalas sakit hati, hendaknya janganlah engkau berkecimpung dalam lautan asmara sehingga akan melenyapkan tujuanmu!”

Han Ping termangu. Serta merta ia menjura memberi hormat, “Petuah lo-cianpwe yang berharga itu, seperti membungkus diriku dalam kabut kebingungan. Harap lo-cianpwe suka memberi penjelasan lebih lanjut.”

Cong To tersenyum, “Anak baik memang dapat dididik!”

“Tempat ini bukan tempat yang sesuai, mari kita cepat-cepat lanjutkan perjalanan.”

Cong To mengiakan, “Benar, Kim Loji dan budak perempuan Lembah Setan yang benar itu tentu tak sabar lagi menunggu di makam tua”

Dia berhenti sejenak lalu berkata gopoh, “Ih Thian-heng sudah memiliki kotak pedang Pemutus Asmara lagi. Dia selalu bekerja dengan rencana yang terperinci. Dikuatirkan saat ini dia sudah mendahului ke makam tua itu. Jika kita terlambat, mungkin jiwa kedua orang itu terancam!”

Mengingat bagaimana susah payah untuk menolong Kim Loji yang kena racun itu, Han Ping makin cemas. Ia tahu bahwa Ih Thian-heng amat membenci Kim Loji. Jika berjumpa sekali lagi, pasti akan bertindak lebih ganas.

Han Ping gelisah sekali. Cepat ia gunakan ilmu lari cepat. Demikianlah keduanya seolah-olah berlomba menuju ke makam tua.

Tempo hari dalam ilmu lari cepat, Han Ping kalah setingkat. Tetapi sekarang ia sudah mampu menyamai pengemis tua. Walaupun Cong To menggunakan sembilan bagian tenaga-dalamnya untuk berlari, namun dengan enak saja Han Ping dapat mengimbangi. Diam-diam panaslah hati pengemis sakti itu. Segera ia gunakan penuh sehingga larinya sekencang angin.

Tetapi ketika berpaling ke belakang, ah … ternyata Han Ping masih tetap membayangi. Diam-diam pengemis .sakti itu menghela napas, pikirnya, “Anak ini bukan saja memiliki pelajaran lisan dari ilmu kesaktian yang luar biasa, pun memiliki bakat yang hebat. Dia dapat mencapai kemajuan yang begitu pesat dalam waktu yang amat singkat. Bila pengemis tua dapat membikin panas hatinya supaya giat belajar, dalam waktu satu dua tahun saja dia tentu sudah tiada lawannya.”

Keduanya berlari cepat sekali. Pada waktu siang hari di sepanjang jalan besar, sepintas pandang keduanya seperti dua gulung asap. Orangnya tak kelihatan lagi.

Lebih kurang setengah jam kemudian, makam tua itu sudah tampak. Tiba-tiba Cong To lambatkan larinya dan berbisik, “Pelahan sedikit.”

Han Ping menurut dan mengikuti di belakang pengemis sakti itu.

Sekonyong-konyong Cong To membungkuk. Dia mengalingi diri dengan rumput yang tinggi, berjalan maju pelahan-lahan. Setelah lebih kurang dua tombak dari makam tua, tiba-tiba ia menggenjot tubuh melayang ke atas pohon jati tua.

Han Ping mencontoh tindakan Cong To dan hinggap di samping pengemis tua itu.

Ketika memandang ke arah makam tua, seketika tergetarlah hati Han Ping.

Di samping dua buah makam besar, tegak Ih Thian-heng dengan pakaiannya yang mewah. Di sampingnya terdapat Hud Hoa kongcu.

Sedang Ting Ling sambil mendekap kedua lututnya, duduk di atas meja tempat sembahyang makam itu. Rambutnya terurai kena angin. Kepalanya memandang ke langit. Sikapnya amat tenang. Ia tak mengacuhkan kedua pendatang itu.

Cong To berpaling memandang Han Ping. Pengemis sakti itu mengangguk-anggukkan kepala. Wajahnya menampilkan rasa kagum.

Han Ping juga diam-diam memuji keberanian Ting Ling. Dengan menderita luka-dalam yang cukup parah, nova itu tak gentar sedikitpun juga. Sikapnya yang setenang itu, sungguh jarang dimiliki oleh sembarang orang.

Cong To dan Han Ping saling bertukar pandang lalu sama-sama anggukkan kepala dan tersenyum.

Tiba-tiba terdengar Ih Thian-heng tertawa nyaring, “Kedua jelita dari Lembah Setan, ibarat bandul dengan timbangan, selalu tak dapat terpisah. Kalau engkau berada di sini, tetapi adikmu tidak, siapakah yang mau percaya?”

Ting Ling tersenyum, “Kalau engkau tak mau percaya, lalu apa daya lagi?”

“Engkau berani berkeras tutup mulut kepadaku, masakan aku tak dapat membunuhmu?”

Ting Ling tertawa, “Kalau aku minta2 padamu dengan ratap tangis, apakah engkau benar-benar mau melepaskan diriku?”

Ih Thian heng tertawa, “Sungguh seorang budak perempuan yang tajam mulut! Apa yang disohorkan dalam dunia persilatan tentang kedua nona dari Lembah Setan itu, ternyata memang benar. Memang seorang lawan yang sukar dihadapi!”

“Ah, tak perlu memuji, tuan pendekar Ih yang terbesar!”

Ih Thian-heng tertawa, “Sekalipun lidahmu dapat memutar balik keadaan bunga teratai, tetapi hari ini jangan harap engkau dapat menyelamatkan jiwamu…..”

“Memang aku sudah tak memikirkan lagi soal mati atau hidup. Dalam dunia yang seluas ini hanya Ih Thian-heng seorang yang tak engkau bunuh sendiri. Siapa lagi orang yang mampu lolos dari genggamanmu?”

“Asal engkau sudah tahu, cukuplah .. . Ih Thian-heng tertawa.

Ia berhenti sejenak lalu berkata pula, “Jika sudah berumur 100 tahun, orang tentu tak terhindar dari kematian. Maka tentang soal mati itu, tak perlu ditakutkan lagi. Yang ditakuti adalah rasa sakit sebelum mati. Jika engkau dengan berani menghindari yang berat memilih yang enak, tak mau bicara sejujurnya. Maka lebih dulu kusuruh engkau menikmati rasanya derita Hun-kin-jo-kut (pencarkan urat, selisihkan tulang)!”

Ting Ling mengangkat kepala memandang cakrawala, tertawa, “Tayhiap hendak menghancur-leburkan tulang belulangku, lalu harus bagaimana aku bertindak? Toh hari ini aku pasti mati?”

Dada Han Ping serasa meledak dadanya. Ia tak dapat menahan kemarahannya lagi. Tetapi pada saat ia hendak loncat turun, Cong To cepat mencegahnya.

Terdengar Hud Hoa kongcu tertawa gelak-gelak, serunya, “Sungguh tak kira bahwa di Tiong-goan terdapat seorang gadis yang secantik dan selincah begini. Apakah saudara Ih Tak sayang kalau membunuhnya?”

“Lalu bagaimana menurut pendapat saudara Siong?” tanya Ih Thian-heng.

“Alangkah baiknya kalau saudara Ih serahkan nona itu kepadaku….”

Wajah Ting Ling berobah seketika. Menatap wajah pemuda itu ia melengking, “Diserahkan kepadamu lalu bagaimana…?”

Hud Hoa kongcu tertawa, “Persoalan selanjutnya, aku tak leluasa mengatakan.”

Ih Thian-heng tertawa, “Begini sajalah….” tiba-tiba ia maju dua langkah lalu menampar.

Ting Ling melengking dan menggigil tubuhnya. Ih Thian-heng tertawa gelak-gelak, “Lebih dulu biar kututuk tiga buah jalandarahnya agar dia hilang daya perlawanannya. Saudara Siong hendak mengapakannya tak perlu harus berunding dengan dia lagi!”

Diam-diam Han Ping me-maki-maki.

Hud Hoa kongcu tertawa lepas lalu berseru perlahan, “Budi kebaikan saudara Ih, sungguh kuhaturkan terima kasih tiada habisnya!”

Sekali menyambar, ia sudah menarik tubuh Ting Ling ke dalam pelukannya. Tetapi pada saat hendak ayunkan langkah, tiba-tiba Ih Thian-heng mencengkeram pergelangan tangan Hud Hoa kongcu yang kiri.

“Saudara Siong, aku masih hendak bicara beberapa patah kata lagi,” Ih Thian-heng tertawa.

Memeluk seorang jelita, darah Hud Hoa kongcu meluap keras. Sahutnya gopoh, “Kalau saudara Ih hendak bicara apa-apa nanti sajalah!” – ia gerakkan lengan kiri untuk meronta dari cengkeraman Ih Thian-heng.

Tetapi runyam. Jika tadi Hud Hoa kongcu tak meronta, ia tak merasa sakit. Tetapi begitu hendak meronta, seketika ia rasakan pergelangan tangannya seperti dijepit baja. Lengan kirinya mendadak kesemutan.

Ih Thian-heng tersenyum, “Malam musim Semi berharga seribu tail emas. Bukan sekali-kali aku bermaksud hendak mengganggu kesenangan saudara. Melainkan karena aku masih mempunyai omongan yang terpaksa harus kukatakan.”

“Silahkan lekas mengatakan saja.”

Ih Thian-heng tertawa hambar, “Kedua jelita dari Lembah Setan, merupakan gadis yang termasyhur cantik dalam dunia persilatan Tiong-goan. Tetapi entah bagaimana penilaian saudara?”

Sahut Hud Hoa kongcu serentak, “Wajahnya secantik bunga di musim Semi. Benar-benar seorang jelita yang sukar dicari tandingannya, Jauh lebih cantik dari beberapa orang isteriku….”

Sejenak berdiam, pemuda itu bertanya, “Saudara Ih, apakah engkau hanya perlu mengatakan begitu saja?”

Ih Thian-heng tertawa, “Bunga mawar yang cantik tentu memiliki duri yang tajam. Wanita cantik membuat orang lupa daratan. memang merupakan bahaya yang latah. Lembah Raja Setan dalam dunia persilatan Tiong-goan memiliki kedudukan yang tinggi. Jika saudara Siong sampai menodai puteri mereka yang sulung, kelak tentu akan menimbulkan bahaya besar. Orang-orang Lembah Raja-setan tentu tak mau tinggal diam. Tentu akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membuat perhitungan kepada saudara. Bahkan ayah saudara dan aku sendiri, juga akan tersangkut!”

Hud Hoa kongcu menunduk memandang Ting Ling, tampak nona itu memejamkan mata dengan pipi ke-merah2an. Serangkum bau harum dari seorang gadis, melanda Hud Hoa kongcu. Seketika berkobarlah nafsu pemuda itu.

“Hal itu tak perlu saudara Ih cemaskan. Bahwa aku gemar dengan paras cantik, memang ayah sudah tahu dan diam-diam membiarkan saja. Sekalipun nanti beliau terembet dalam peristiwa ini, belau pasti takkan menyalahkan saudara!” sahutnya gopoh.

“Sekalipun saudara tak kuatir akan mere-bet ayah saudara, tetapi aku sendiri tak suka bermusuhan dengan fihak Lembah Raja-setan!”

“Lalu bagaimana maksud saudara?” tanya Hud Hoa Kongcu tegang.

Ih Thian-heng membisikinya, “Setelah menikmati angin segar dari musim Semi, segeralah saudara bunuh untuk melenyapkan jejak!”

Telinga Cong To dan Han Ping bukan main tajamnya, sekalipun Ih Thian-heng berkata dengan pelan namun kedua orang itu tetap dapat menangkap kata-kata itu.

Seketika wajah Cong To berobah. Ia berpaling dilihatnya wajah pemuda itu merah membara dan siap hendak loncat turun.

“Baiklah, akan kulakukan pesan saudara. Harap segera lepaskan tanganku,” sahutnya gopoh.

Ih Thian-heng tersenyum lalu lepaskan cengkeramannya, “Baiklah saudara Siong membuka jalandarahnya dulu….”

Tetapi saat itu Hud Hoa kongcu sudah melesat setombak jauhnya dan berseru dari jauh, “Aku tahu, tak perlu saudara berbanyak kuatir!”

Dengan dua kali loncatan, pemuda itu sudah lenyap di tengah-tengah gundukan makam.

Han Ping gugup sekali. Buru-buru ia membisiki Cong To, “Harap lo-cianpwe mengejar Hud Hoa kongcu dan aku yang akan menghadapi Ih Thian-heng!”

Tanpa menunggu jawaban si Pengemis-sakti, Han Ping sudah enjot tubuh melayang turun beberapa meter di hadapan Ih Thian-heng.

Tenang sekali rupanya Ih Thian-heng. Walaupun mendengar desir pakaian orang melayang turun ia tetap tak mau bergerak. Baru setelah Han Ping turun di tanah, ia pe-lahan2 berputar tubuh.

Rupanya kehadiran Han Ping itu di luar dugaan Ih Thian-heng. Hal itu terbukti dari sinar mata Ih Thian-heng yang memancarkan cahaya kaget. Tetapi beberapa saat kemudian, ia sudah tenang kembali dan tersenyum, “Kukira siapa, kiranya engkaulah!”

Sahut Han Ping dingin, “Engkau tak pernah menyangka? Bukankah karena mengira aku sudah mati?”

Sambil memandang ke arah sesosok tubuh yang melayang turun dari puncak pohon jati tua, Ih Thian-heng tertawa dingin, “0, saudara Cong juga datang?”

Tetapi Pengemis-sakti Cong To tak menghiraukan teguran orang. Dengan gunakan ilmu lari cepat Pat-poh-teng-gong atau Delapan-langkah-mendaki-udara, Cong To meluncur dan menghilang.

Memandang ke sekeliling penjuru, Ih Thian-heng tertawa, “Berapa orangkah jumlah kalian yang datang? Mengapa tak serempak keluar semua saja?”

“Hanya aku dan Cong To lo-cianpwe berdua,” sahut Han Ping tertawa hambar, “dan yang akan menghadapi engkau Ih Thian-heng, hanya aku seorang.”

Ih Thian heng tertawa, “Nyalimu sungguh besar! Dalam dunia persilatan dewasa ini, belum ada orang yang berani bicara begitu kepadaku!”

Ia tertawa keras lalu berseru pula, “Mungkin tak sedikit orang yang iri kepadaku. Tetapi memang kenyataannya, selama ini aku belum pernah bertemu orang yang berani terus terang menantang aku. Cukup untuk menghormati keberanianmu itu saja, kali ini akan kubebaskan engkau dari kematian!”

Alis Han Ping menjungkat ke atas, biji matanya memberingas lalu tertawalah ia dengan hina, “Menurut pendapatku, hal itu tak perlu. Si rusa bakal mati oleh siapa masih belum dapat ditentukan. Jangan terkebur dululah!”

Ih Thian-heng memandang tajam ke arah pemuda itu. “Umurku sudah tua dan engkau masih muda. Soal berkelahi itu soal kecil. Tetapi lebih dulu bilanglah, dendam apakah yang menyebabkan engkau membenci padaku?”

Han Ping tertawa. “Membunuh ayah, menghina ibu, membasmi guru melenyapkan adik.”

Tiba-tiba Ih Thian-heng jungkatkan alis dan menukas, “Siapakah ayahbundamu? Mengapa engkau menuduh aku yang mencelakai mereka?”

Dengan wajah penuh geram, Han Ping menyahut lantang, “Dengan mata kepala sendiri kusaksikan hal itu dan dengan telingaku sendiri kudengar peristiwa itu. Di depan ranjang suhuku engkau pura-pura mengakui kesalahan. Tetapi setelah itu, engkau lalu turunkan tangan ganas kepada suhu yang telah merawat aku sampai besar itu. Dan adik seperguruanku yang baru berumur 15 tahun pun engkau lenyapkan….”

Se-konyong2 Ih Thian-heng tertawa nyaring, “Siapakah gurumu itu?”

“Tanganmu penuh berlumuran darah sehingga engkau tak dapat mengingat lagi korban2 yang yang engkau bunuh itu?”

“Hm, engkau berani sekurang ajar begitu kepadaku?” mata Ih Thian-heng ber-kilat2.

Biasanya ia selalu mengulum senyum dan berseri muka. Tetapi begitu marah, matanya perti memancar api yang menyeramkan.

Han Ping terkesiap karena agak gentar menghadapi keangkeran orang. Tetapi pada lain saat marahlah ia, “Dengan tanganku sendiri aku hendak menuntut balas. lalu hendak kusembahyangkan orang itu di hadapan makam ayahku. Berlaku kurang ajar kepadamu, itu saja masih suatu sikap yang sungkan.”

Ih Thian heng tengadahkan kepala memandang ke langit, Kemudian ia tertawa dingin, “Bagus, bagus, hari ini tentu akan kuselesaikan kehendakmu itu!”

Pe-lahan2 ia mengangkat tangannya kanan, Menghadapi seorang musuh yang tangguh, Han Ping tak berani berayal. Ketika memperhatikan tangan Ih Thian-heng, mau tak mau tergetarlah hatinya. Kiranya ditingkah oleh sinar matahati ia melihat tinju Ih Thian-heng itu berwarna merah darah.

“Hai, ilmu apakah itu?” karena kurang pengalaman Han Ping heran melihat warna tinju itu.

Tetapi Ih Thian-heng tak segera ayunkan tinjunya. Bahkan wajahnya tampak ramah pula dan serunya tertawa, “Engkau dapat sama-sama terluka melawan Siangkwan Wan-ceng, puteri dari ketua marga Siangkwan di Kanglam, tentulah kepandaianmu tinggi juga. Kenalkah engkau akan kekuatan pukulanku ini?”

Han Ping tertawa hina, “Pukulan yang bagaimana dahsyat dan beracun, aku tetap tak mengacuhkan!”

“Katak dalam tempurung, berapa luaskah pengetahuanmu? Engkau tentu tak mungkin mengetahui nama pukulanku ini!”

Han Ping sudah kerahkan seluruh tenaga-dalam. Sahutnya lantang, “Tak peduli ilmu pukulan apa saja, silahkanlah segera lepaskan!”

“Kuberi kesempatan agar engkau mengetahui atan mati di bawah pukulan apa. Inilah yang disebut Hong-yan-ciang.” – tiba-tiba ia mengangkat tinjunya lalu diayunkan.

Saat itu Han Ping sudah siap hendak menyongsongnya. Tetapi karena tiba-tiba Ih Thian-heng menarik kembali pukulannya, Han Ping terkejut heran. Pada saat ia memutuskan hendak mendahului menyerang, sekonyong-konyong ia rasakan serangkum tenaga-panas melanda dirinya.

Han Ping tak berani berayal. Sambil kerahkan tenaga-dalam untuk melawan, ia pun melepaskan pukulan balasan. Tangan kanan diluruskan ke muka dada terus dihantamkan.

Memang Ih Thian-heng seorang tokoh yang luas pengalaman. Melihat dorongan tangan Han Ping itu sama sekali tak bersuara, diam-diam Ih Thian-heng menimang, “Budak ini walaupun masih muda, tetapi mengapa dapat memiliki kepandaian yang begitu sakti?”

Saat itu pukulan Hong-yan-ciang (Api merah) yang dilontarkan Ih Thian heng sudah ber-sambutan dengan pukulan Han Ping. Pertempuran yang dilangsungkan antara Han Ping lawan Ih Thian-heng, jault sekali bedanya dengan pertem-puran biasa. Kalau pada umumnya, tokoh-tokoh silat kalau bertempur tentu bergerak serba cepat dan keras tetapi tidaklah demikian dengan Han Ping lawan Ih Thian-heng. Gerakan tinju kedua orang itu pelahan dan ringan2 saja. Tetapi pukulan me-reka itu mengandung keindahan yang sukar dilu. kis.

Pukulan Hong-yan-ciang dari Ih Thian-heng cepat sekali sudah berbentur dengan pukulan Han Ping. Tiba-tiba angin menderu keras sehingga dehu dan pasir bertebaran tebal sehingga memaksa kedua seteru itu berpencaran lagi.

Ih Thian-heng terkejut sekali. Setitikpun tak mengira bahwa lawannya yang masih semuda itu mampu mencapai tataran yang tinggi dalam ilmu kepandaian silat. Ia dapatkan tenaga-dalam pemuda itu tak kalah di bawahnya.

Sehabis mendorongkan pukulan, hati Han Ping berguncang keras. Pukulan lawan serasa seperti gunung rubuh. Ia merasa tak mampu menghadapi. Segera ia susuli dengan pukulan tangan kiri yang dilambari tenaga dalam penuh. Dengan gerakkan kedua tangan itu, barulah Han Ping dapat memperoleh keseimbangan tubuh dan berdiri tegak. Dan tenaga pukulan Ih Thian-heng yang melandanya, pun hilang sirna.

Kiranya pukulan yang dilancarkannya itu adalah pukulan sakti dari perguruan kaum agama tataran tingkat tinggi. Dan berhasillah ia menghalau pukulan Api merah yang amat beracun.

Ih Thian-heng kaya pengalaman dalam pertempuran. Ilmu tenaga dalamnya telah mencapai tataran yang sempurna. Benturan itu segera menyadarkannya bahwa pukulan Api-merahnya tak berhasil melukai lawan.

Pada saat itu sedang tertegun, tiba-tiba ia rasakan tubuhnya bergetar. Sisa tenaga pukulan pemuda yang masih merembes dan bahkan mendadak bertambah dahsyat berlipat kali sehingga ia terdorong mundur selangkah.

Ih Thian-heng, jago yang menganggap dan dipandang sebagai tokoh nomor satu dalam dunia persilatan dewasa itu, terkejut dan marah. Ia mendengus dingin dan ayunkan tangan kirinya.

Angin menderu dan debu pasirpun berhamburan pula. Keduanya seperti teraling oleh gulung debu tebal. Tetapi mereka memiliki mata yang amat tajam. Walaupun tak melihat jelas keadaan lawan masing-masing, tetapi keduanya tak berani menduga bahwa lawannya menderita kekalahan.

Hasil adu pukulan itu makin menimbulkan kepercayaan Han Ping pada diri sendiri. Walaupun ia telah memperoleh suatu rejeki yang luar biasa tetapi apa yang telah diyakinkan itu masih belum mencapai tataran sempurna. Penyaluran tenaga dalam yang diberikan Hui Gong taysu kepadanya, belum dapat dikembangkan sehingga dapat digunakan menurut sekehendak hatinya.

Andaikata Ih Thian-heng dapat mengetahui mimik wajah Han Ping yang mengerut kesakitan lalu menyerangnya lagi dengan seluruh tenaga dalamnya, boleh dipastikan Han Ping tentu akan terluka.

Ih Thian-heng seorang yang licik, licin dan penuh tipu muslihat. Justeru karena itulah maka telah menghilangkan kesempatan yang bagus.

Dua kali adu pukulan dengan Han Ping, menimbulkan dugaan padanya bahwa pemuda itulah satu satunya lawan yang dapat mengimbangi kepandaiannya. Maka ia sengaja sisakan 3 bagian tenaganya untuk menghadapi pertempuran terakhir. Dan karena hanya menggunakan tujuh bagian tenaga dalam, adu pukulan menjadi berimbang.

Setelah lancarkan dua buah pukulan, Han Ping menyadari bahwa tenaga dalamnya masih kalah setingkat. Maka ia tak berani menyusuli dengan pukulan yang ketiga.

Untunglah Ih Thian-heng juga tak mau memukul lagi. Ia pun menyadari bahwa adu pukulan tenaga-dalam itu, berbahaya sekali akibatnya. cepat menghabiskan tenaga dan bisa sama-sama terluka berat. Kedua seteru itu saling berdiri memusatkan perhatian dan menyalurkan napas.

Berkat ilmu pelajaran Cara Bernapas dari perguruan kaum agama yang diterima dari Hui Gong taysu, pula karena jalandarahnya yang penting yaitu di bagian jalandarah Seng-si-hian-kwan, tanpa disengaja telah ditendang terbuka oleh Hian Thian totiang tempo hari, maka dapatlah Han Ping melakukan pernapasan dengan cepat sekali. Tak berapa saat saja ia sudah pulih tenaganya.

Saat itu gulungan debu tebal yang mengaling di tengah mereka, pun sudah makin menipis sehingga keduanya dapat saling melihat.

Memandang ke muka, Ih Thian-heng melihat wajah Han Ping tenang seperti biasa. napasnyapun tak terengah-engah. Diam-diam ia makin terperanjat dan menghela napas, “Ah, anak itu betul2 luar biasa. Dalam satu dua tahun saja aku tentu tak mampu melayaninya sampai 100 jurus….”

Tengah dia termenung, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dari belakang. Dan menyusul terdengar orang itu berseru nyaring, “Ih Thian-heng, cara hidup yang engkau tuntut untuk pura-pura menjalankan kebaikan, memang sukar sekali melakukannya. Apa yang engkau tunjukkan hari ini, benar-benar telah menghapus jerih payahmu selama selama 40 tahun. Apakah tak sayang?”

Ih Thian-heng tertawa dingin tanpa berpaling ke belakang, “Yang bicara di belakangku ini apakah bukan saudara Cong?”

“Benar! Aku memang si pengemis tua!”

“Kalau tak salah dahulu kita pernah dua kali berkelahi, bukan?” seru Ih Thian-heng.

“Apakah engkau menyesal karena waktu. itu engkau tak membunuh saja pengemis tua ini?” Cong To tertawa.

“Ah, tidak. Saudara amat sakti, sekalipun aku mempunyai pikiran begitu, juga tetap tak mampu membunuhmu!”

“Hm, bukan karena itu. Engkau tak mau turunkan tangan ganas untuk membunuh pengemis tua dahulu, bukan karena tak mampu tetapi karena engkau hendak membeli nama baik. Dalam hal ini pengemis tua tak berani menerima kebaikanmul”

Ih Thian-heng tertawa gelak-gelak, “Gunung tidak berkisar hanya jalanan yang berobah melenggok-lenggok. Sekalipun pada hari ini saudara Cong dan aku takkan mati tetapi lain hari kita masih mempunyai kesempatan untuk bertemu muka lagi!”

Sahut Cong To, “Pengemis tua sudah hidup 7-8 puluh tahun dan sudah sejak yang beberapa waktu lalu merasa kalah. Kalau kelak kita berjumpa lagi, akan pengemis tua usahakan untuk bertanding dengan mati-matian….”

Berhenti sejenak, ia melanjutkan pula, “Hari ini saudara Ih rasanya sudah tak mampu melanjutkan pertempuran lagi. Baiklah pertempuran saat ini, kita lanjutkan lagi apabila kelak kita berjumpa pula!”

Tiba-tiba kaki Ih Thian-heng berkisar dan tahu2 ia sudah berada di samping pengemis sakti. Tetapi pengemis itu sudah siap. Sebelum Ih Thian-heng sempat turun tangan, ia sudah ayunkan tangan kanan untuk menamparnya.

Ih Thian-heng gunakan jurus Angin-meniup-pohon liu untuk menyongsongnya. Plak….terdengar letupan keras. Cong To menyurut mundur selangkah tetapi tubuh Ih Thian-hengpun berputar satu kali.

“Wah, kepandaian saudara Cong bertambah maju sekali,” Ih Thian-heng tertawa sambil menutuk dengan dua buah jarinya.

Dengan jurus Pohon-besi-berbunga, Cong To menangkis tutukan lawan. Tetapi sambil menutuk Ih Thian-heng pun maju selangkah lalu tamparkan tangan kirinya ke dada orang.

Gerakan Ih Thian-heng itu luar biasa cepat dan tak terduga-duga. Cong To hendak menangkis tetapi sudah tak keburu lagi.

Ih Thian-heng tertawa dingin. Tangannya dilekatkan ke dada Cong To, “Cong To, janganlah engkau terlalu….”

Tiba-tiba ucapannya terputus oleh dengus Han Ping menggeram, “Hm, dengan cara licik merebut kemenangan, tak patut diherankan….”

Ih Thian-heng berpaling, sahutnya, “Dengan ilmu pukulan kukuasai lawan, mengapa engkau menuduh aku berlaku licik?”

“Setelah dua kali adu pukulan lalu tiba-tiba gunakan serangan kilat untuk merebut kemenangan pada lawan yang belum siap, apakah itu bukan suatu cara licik?”

Ih Thian-heng tertawa, “Sudah, jangan bermulut tajam. Apakah engkau tak tahu bahwa dalam berperang itu digunakan segala macam siasat untuk mengalahkan musuh? Bukankah makin licik, makin bagus!”

Pada saat Ih Thian-heng bicara dengan Han Ping, diam-diam Cong To kerahkan tenaga-dalam. Se-konyong2 ia gerakkan tangan kanannya untuk menyiak tangan orang yang menjamah dadanya.

“Ha, ha, bukankah saudara Ih bermaksud hendak mengadu jiwa dengan pengemis tua? Adu tenaga-dalam saja agar jangan menggunakan gerakan tak terduga untuk menindas lawan. Kita adu tenaga-dalam sampai ada yang mati baru selesai!”

Sambil bicara, Cong To melirik ke arah Han Ping. Wajahnya tampak serius sekali.

Han Ping merasa pancaran mata pengemis sakti itu mengandung sinar ksatrya yang suram. Tetapi sesaat, Han Ping tak dapat mengetahui apa maksud pengemis tua itu.

Ih Thian-heng tertawa nyaring, “Saudara Cong apakah engkau benar-benar hendak mengadu jiwa denganku!” dalam pada ber-kata-kata itu ia memperkeras saluran tenaga-dalamnya.

Se-konyong2 Cong To menggembor keras. Rambutnya meregang tegak karena luapan amarah.

Kuluman tawa pada wajah Ih Thian heng pun tiba-tiba lenyap. Wajahnya tampak serius.

Melihat itu tahulah Han Ping bahwa kedua tokoh itu sudah mulai melakukan pertempuran mati2an. Mereka saling mencurahkan seluruh tenaga-dalam yang diyakinkan selama berpuluh tahun.

Pada waktu Han Ping sedang bingung untuk membantu, tiba-tiba terdengarlah lengking suara Ting Ling, “Ih, apakah engkau sudah menemukan?”

Han Ping berpaling. Tampak Ting Ling tegak dengan wajah penuh kedukaan, rambut terurai. Ia terkesiap, tanyanya, “Menemukan apa?”

“Kesukaran Cong lo-cianpwe!” sahut sinona.

“Betul. Harap nona suka memberi petunjuk!”

Ting Ling tertawa, “Cong lo cianpwe adalah seorang pendekar luhur. Dia hendak menyerahkan jiwanya untuk kematian Ih Thian-heng….”

“Apa?” Han Ping tersentak kaget.

“Dia tahu bahwa dia bukan lawan Ih Thian-heng tetapi ia tetap nekad hendak mengadu jiwa dengan orang itu. Tahukah engkau apa sebabnya?”

“Apakah dia berkelahi demi membela aku?” Han Ping menegas.

“Engkau menduga tepat tetapi hanya separo bagian saja. Cong lo cianpwe tak sayang membuang jiwa untuk menghabiskan tenaga-dalam Ih Thian-heng agar dengan mudah engkau nanti dapat membinasakannya. Membalas sakit hati ayah bundamu dan melenyapkan seorang momok berbahaya dalam dunia persilatan!”

“Ini .. . mana boleh…..”

“Terlambat,” tukas Ting Ling, “mereka sudah sama-sama mencurahkan seluruh tenaganya. Kalau belum ada salah satu yang mati tentu belum berhenti. Menilik kesaktian kedua orang itu, mungkin dalam dunia persilatan dewasa ini sukar dicari orag yang mampu melerai mereka. Lekas sajalah engkau melakukan pernapasan untuk bersiap-siap menemui harapan Cong lo-cianpwe….”

Ting Ling yang terkenal sebagai seorang nona ganas dalam dunia persilatan, rupanya menaruh simpati besar kepada pengemis Cong To. Habis bicara, airmatanya berderai derai membasahi kedua pipinya.

Han Ping merenung diam.

Melihat pemuda itu seperti tak mengacuhkannya, Ting Ling gelisah sekali. Ia segera maju menghampiri ke samping Han Ping dan berseru, “Ji kong….”

“Apa?” Han Ping gelagapan.

“Apakah engkau mendengar apa yang kukatakan tadi?”

“Mendengar,” sahut Han Ping, “aku tengah berpikir….”

Ting Ling menghela napas. “Ah, tak perlu dipikir lagi. Lekas engkau salurkan pernapasan memulihkan tenagamu. Jika perhitunganku tak salah, dalam setengah jam nanti, Cong lo-cianpwe tentu sudah tak kuat bertahan lagi……”

“Kutahu….”

“Kalau sudah tahu mengapa engkau masih termenung-menung saja dan tak lekas2 melakukan pernapasan?”

“Cong lo-cianpwe seorang ksatrya yang berjiwa luhur, bagaimana kurela membiarkan dia menyertai kematian Ih Thian-heng?”

“Tetapi kenyataan sudah begitu,” bantah Ting Ling, “tiada jalan lain lagi. Sekalipun lo-cianpwe tentu kalah tetapi Ih Thian-heng pun takkan mendapat keuntungan. Dia tentu menderita kehabisan tenaga dalam. Nah, jika engkau turun tangan, tentu ada harapan menang….”

“Tidak!” seru Han Ping, “bagaimanapun juga, aku harus berdaya untuk menolong Cong lo-cianpwe!”

“Apa-apaan engkau ini!” teriak Ting Ling marah.

“Kenapa?”

“Jika tidak mengetahui bahwa engkau tentu akan dapat memenangkan Ih Thian-heng, Cong lo-cianpwe tentu tak mau menempuh bahaya begitu!”

“Nona Ting,” seru Han Ping, “harap jangan mengganggu aku dulu, maukah? Kasihlah aku waktu untuk mencari daya menolong Cong lo-cianpwe?”

Ting Ling makin menggeram keras, “Sebelum engkau menemukan daya itu, Cong lo-cianpwe sudah celaka. Menilik kesaktiannya, apabila mendapat kesempatan untuk beristirahat sebentar saja, Ih Thian-heng tentu sudah pulih tenaganya. Pada saat itu, jangan harap kita dapat hidup lagi….”

Tetapi Han Ping tetap gelengkan kepala lalu melangkah ke samping. Ting Ling memburunya. Dengan bercucuran airmata ia meratap, “Ji siang-kong, kumohon sangat kepadamu. Sekalipun engkau tak mau membalas saki hati orangtuamu tetapi sukalah engkau menolong Cong lo-cianpwe dari tangan Ih Thian-heng.”

Pada saat Han Ping hendak menyahut, tiba-tiba terlintaslah dalam benaknya sesuatu pikiran. Cepat-cepat ia pejamkan mata dan mengosongkan pikiran.

Ting Ling seorang nona yang keras kepala. Selama hidup ia belum pernah memohon sampai begitu sangat kepada orang. Melihat Han Ping malah memejamkan mata tak mau mengacuhkan, marahlah nona itu. Plak, plok . .. ia menampar pipi Han Ping.

Han Ping tetap berdiri mematung. la tak mau melawan sehingga kedua pipinya membengap.

Setelah menampar, Ting Ling menyesal sekali. Ia menutup matanya dengan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu….

Beberapa saat kemudian ia rasakan rambutnya dibelai pelahan-lahan oleh sebuah tangan. Ia menduga tentu Han Ping yang menghiburnya. Ia makin menyesal dan pedih, ujarnya, “Apakah engkau sakit?”

Tiba-tiba terdengar suara agak parau menyahut, “Tak apa, Ping-ji seorang jujur. Karena kebingungan engkau menamparnya, dia tentu tak marah kepadamu!”

Ting Ling cepat dapat menduga bahwa yang bicara itu tentulah Kim loji. Ia tersipu-sipu malu. Ketika mengusap airmatanya, tampak Han Ping masih tetap berdiri di tempatnya. Wajahnya tampak aneh. Pemuda itu geleng-geleng kepala dan mengertakkan gigi. Tetapi tak tahu apa yang dikatakan.

Ting Ling terkejut heran, pikirnya, “Apakah dia kena serangan gelap dari Ih Thian-heng? Ah, tadi aku telah salah sangka kepadanya!”

Tiba-tiba Han Ping membuka mata, Wajahnya berseri-seri, serunya, “Nona Ting, Cong lo-cianpwe ketolongan!”

Habis berkata, Han Ping terus enjot tubuh melambung ke udara dan meluncur ke samping Cong To, berdiri di tengah kedua tokoh itu lalu mengangkat kedua tangannya.

Ting Ling terkejut sekali. Buru-buru ia berseru, “Ji siangkong, jangan sembarangan mengganggu mereka!” — ia terus lari memburu dan menyambar ujung baju Han Ping.

Han Ping berpaling, “Lekas mundurlah! Jangan menghalangi pekerjaanku. Cong lo-cianpwe sudah tak kuat bertahan!”

“Kalau Cong lo-cianpwe tak tahan dan engkau goncangkan dia, dialah pasti yang menderita…….” bantah Ting Ling.

“Aku sudah menemukan cara untuk menolong Cong lo-cianpwe. Jangan kuatir dan lekaslah menyingkir!” seru Han Ping gopoh.

Ting Ling menatap Han Ping sejenak lalu lepaskan cengkeramannya. Ia mencabut badik dan berkata, “Baik, karena engkau tak mau mendengar omonganku, kita bertindak sendiri-sendiri saja! Dan jangan saling mengerut!”

Badik diangkat terus ditusukkan ke punggung dan perut Ih Thian-heng.

Han Ping terkejut sekali. Cepat ia menyambar tangan si nona, “Mau apa engkau ini?”

“Hendak membunuh Ih Thian-heng dulu!”

“Tidak! Mereka berdua sedang adu tenaga-dalam. Apabila engkau mengganggu Ih Thian heng tenaga-dalam mereka pasti berbalik akan menghancurkan tubuhmu!”

Ting Ling tertawa dingin, “Kutahu, tetapi sekalipun aku mati, Ih Thian-heng juga tak mungkin hidup!”

“Bukan dua orang tetapi tiga orang. Cong lo-cianpwe juga ikut binasa. Ah, dia sudah kehabisan tenaga. Pasti tak kuat menerima ledakan tenaga-dalam itu!”

“Mati-bersama jauh lebih baik daripada Cong lo-cianpwe sendiri yang binasa. Cong lo-cianpwe seorang ksatrya yang berbudi luhur. Dia memperhatikan sekali dirimu. Tetapi kebalikannya, engkau amat sayang pada jiwamu . ..”

Sekali tangan kiri Han Ping memijat agak keras, lengan kanan Ting Ling terasa kesemutan dan lemas lunglailah seluruh tenaganya.

Han Ping tertawa, “Engkau keras kepala dan tak mau mendengar keteranganku. Terpaksa kusuruh menderita sedikit!”

Han Ping pelahan-lahan menutuk dua buah jalandarah di tubuh nona itu lalu mengangkat tubuhnya ke tempat Kim Loji, ujarnya, “Harap paman menjaga nona Ting ini sebentar. Jangan sampai digigit ular berbisa!”

Kim Loji yang banyak pengalaman, saat itu wajahnya pucat lesi. Matanya tak berkedip memandang ke arah Cong To dan Ih Thian-heng dengan penuh kecemasan.

Pada waktu Han Ping berkata kepadanya, Kim Loji pun seperti tak mengacuhkan dan sembarangan saja mengiakan.

Han Ping menghela napas pelahan lalu menghampiri ke tempat Cong To dan Ih Thian-heng lagi. Berdiri di tengah kedua orang. Ia mengangkat kedua tangannya. Begitu menyalurkan tenaga- dalam, terus direntang ke arah dada kedua orang itu.

Entah bagaimana, tiba-tiba tangan kedua orang yang tengah beradu teraga dalam itu, menyurut ke belakang. Seolah-olah urat2 tangan kedua orang itu mengerut. Tubuh mereka bergoncang-goncang dan serempak rubuh ke tanah.

Han Ping cepat loncat ke samping Kim Loji, bisiknya, “Paman….”

Kim Loji seperti terjaga dalam mimpi, serunya heran, “Apakah Ih Thian-heng mati?”

“Belum….”

“Oh…..” Kim Loji mendesus. Tubuhnya menggigil.

Melihat pamannya ketakutan, Han Ping segera menghibur, “Tak usah takut, paman. Ih Thian-heng sudah kututuk jalandarahnya, Untuk beberapa waktu dia tak dapat bergerak.”

“Kalau dia sudah dapat bergerak, kita pasti tak dapat hidup!” seru Kim Loji.

Han Ping tahu bahwa pamannya itu sudah terlanjur patah nyalinya terhadap Ih Thian-heng. Maka begitu melihat orangnya saja, sudah seperti melihat hantu.

Ketika berpaling ke arah Ting Ling, bukan kepalang kejut Han Ping. Tubuh nona itu tengah dirayapi seekor ular aneh. Warnanya merah, berkembang putih. Panjangnya antara semeter.

Sekalipun jalan darahnya tertutuk tetapi pikiran Ting Ling masih sadar. Semangatnya serasa terbang ketika tubuhnya dijalari ular aneh itu. Namun karena tak dapat berkutik, iapun tak berdaya apa-apa.

Sedang Han Ping walaupun memiliki kepandaian sakti tetapi sesungguhnya ia agak jeri terhadap ular. Tak berani ia menyambar dengan tangan. Serentak ia teringat akan Cong To. Kalau pengemis sakti itu dapat bergerak tentu dengan mudah dapat menangkap ular.

Saat itu si ular mulai merayap ke arah kepala Ting Ling. Lidahnya yang merah, menjulur-julur mengerikan sekali. Melihat itu Han Ping terpaksa memberanikan diri. Ia menyambar ular aneh itu.

Sesungguhnya berkat kepandaian yang dimiliki saat itu, jangankan hanya ular kecil, meskipun harimau, orang utan dan lain-lain binatang tentu tak mampu menghindar dari sambarannya. Tetapi karena ia memang agak gentar kepada ular itu, maka ketika tangannya memegang tubuh ular, tiba-tiba hatinya menggigil sehingga tangannya pun ikut lemas.

Adalah karena keayalan itu, si ular berkembang putih, tiba-tiba palingkan kepala dan menyambar lengan Han Ping. Han Ping cepat condongkan tangannya terus menjentik leher ular itu.

Celaka! Walaupun hanya menyelentik tetapi cukup membuat kepala ular itu terpental ke muka lagi dan serentak menggigit lengan Ting Ling.

Han Ping terkejut dan marah sekali. Cepat ia memapas tubuh ular itu dengan telapak jarinya. Karena menggunakan tenaga-dalam, ular itu kutung menjadi dua. Tetapi ia tetap menyesal karena melihat lengan kiri Ting Ling tergigit ular sampai meninggalkan bengap warna merah gelap sebesar uang sen. Cepat ia membuka jalan darah nona yang tertutuk.

Ting Ling menggeliat duduk dan menghela napas, “Ah…. aku salah menyangkamu. Kiranya engkau benar-benar hendak menolong Cong lo-cianpwe. Apakah Cong lo-cianpwe terluka?”

Begitu membuka mulut, nona itu segera menanyakan diri Cong To. sama sekali ia tak menghiraukan luka digigit ular tadi.

“Cong lo-cianpwe hanya tertutuk jalandarahnya untuk sementara waktu. Tak lama dia tentu tersadar….”

“Kutamparmu dua kali tadi apakah engkau marah kepadaku?” Ting Ling tertawa.

“Keadaan saat itu tak dapat menyalahkan engkau,” kata Han Ping.

“Jadi engkau marah?” Ting Ling tertawa.

“Ah, sudahlah, jangan bicara seperti anak kecil! Bagaimana rasanya lenganmu yang digigit ular tadi?”

Tetapi Ting Ling tak menyahut melainkan bertanya, “Entah berapa lama lagikah Cong lo-cianpwe akan tersadar?”

“Kalau dia mampu lakukan penyaluran darah untuk membuka jalandarahnya yang tertutuk itu, kira2 setengah jam lagi tentu sudah bangun.”

“Lekas engkau buka jalandarah Cong lo-cianowe dan sekalian bunuh saja Ih Thian-heng itu!”

Han Ping kerutkan dahi, “Jika mau membunuh Ih Thian-heng saat ini adalah semudah orang membalikkan telapak tangannya. Tetapi dia tentu penasaran, apalagi….”

“Apalagi bagaimana? Kekejaman dan keganasannya, di dunia tiada terdapat keduanya lagi. Tindakannya ganas, kejahatannya kelewat takaran. Mengapa tak mau membunuh manusia semacam itu?” seru Ting Ling.

“Dia telah membunuh ayahku dan menghina ibuku. Cita-citaku yang utama di dunia ini ialah membunuhnya untuk membalas sakit hati orang-tuaku. Tetapi membunuh di kala dia tak berdaya, bukanlah laku seorang ksatrya! Apalagi dia pernah melepas budi kepadaku. Menurut kepantasan, aku harus satu kali melepaskannya juga.”

Ting Ling menghela napas, “Kata-katamu benar! Tetapi dunia persilatan itu licik. Tak mungkin lain orang akan berpikiran begitu murni seperti engkau……

Tiba-tiba tubuh nona itu gemetar seperti orang yang menderita pukulan.

“Hai, mengapa engkau!” Han Ping berseru terkejut.

“Aku segera akan mati, harap engkau suka menurut beberapa permintaan ini, maukah?”

“Jika tak kucengkeram, ular itu tentu tak menggigit nona Ah, akulah yang mencelakai nona….” Han Ping menyesali dirinya sendiri dengan berlinang-linang airmata.

Ting Ling Tersenyum, “Tak perlu engkau salahkan dirimu. Dan memang hal itu tak dapat menyalahkan dirimu. Sekalipun tak digigit ular, aku pun tak mungkin hidup sampai besok pagi .

Nona itu menghela napas lembut. Wajahnya menampilkan keramahan yang mesra. Pelahan-lahan ia ulurkan tangan kanan, menjamah Han Ping, ujarnya pula, “Dunia persilatan mengatakan kami berdua gadis dari Lembah Raja-setan itu kejam dan ganas seperti ular….”

“Ah, itu hanya desas desus saja. Sedikitpun aku tak merasakan hal itu….”

Ting Ling berkata pula, “Terima kasih atas pujianmu. Sebenarnya, dalam setiap langkah, memang aku agak kejam. Orang mengatakan diriku begitu, memang bukan omong kosong.”

Han Ping hanya mendesus karena tak tahu harus menjawab bagaimana. Lalu batuk-batuk.

“Tetapi adikku Ting Hong itu tidak berdosa,” kata Ting Ling pula, “walaupun kami taci dan adik saling sayang dan rukun, tetapi perangai kita memang beda. Adikku murni jujur, baik hati. Sering2 menasehati agar aku suka memberi ampun orang. Tetapi watakku memang sukar dirobah. Setiap menghadapi persoalan tentu menyelesaikan dengan cara yang ganas. Misalnya seperti tadi. Jelas sudah kuketahui bahwa membunuh Ih Thian-heng yang tak berdaya itu bukan perbuatan ksatrya. Tetapi toh kuminta engkau melakukan juga….”

“Ah, karena nona memikirkan keselamatan diriku, lain tidak!” sahut Han Ping.

Ting Ling memegang tangan kanan Han Ping tiba-tiba ia memijatnya lebih keras, “Aku hendak minta tolong kepadamu, entah engkau suka meluluskan atau tidak?”

“Asal dapat, aku tentu tak menolak!”

Ting Ling pejamkan mata. Dua butir airmata menitik turun dari pelupuknya, “Belum 20 tahun aku hidup tetapi banyak kejahatan yang telah kulakukan. Aku tak takut mati dan tak ada sesuatu yang memberatkan hatiku. Satu-satunya yang menyebabkan aku tak dapat meram di alam baka ialah adikku itu. Dia bakal tak ada orang yang merawatnya lagi. Sejak umur 3 tahun sudah ditinggal mati ibu. Saat itu aku baru berumur 6 tahun. Hampir 14 tahun lamanya kami selalu berdua, baik tidur, makan dan ber-main-main. Walaupun saat ini ia sedang berguru pada seorang tokoh sakti, tetapi begitu mendengar kabar tentang kematianku, dia tentu tak mau hidup juga. Ayah karena meyakinkan suatu aliran tenaga-sakti khikang, maka wataknya berobah aneh dan dingin. Terhadap adik Hong selama ini belum pernah mengunjukkan rasa kasih sayangnya….”

Han Ping menghela napas pelahan lalu tundukkan kepala.

Ting Ling sandarkan tubuhnya pada Han Ping dan karena kasihan, Han Pingpun tak sampai hati untuk menyiaknya. Terpaksa ia rentangkan kedua tangan untuk memeluk tubuh si nona yang lunglai.

Ting Ling menghela napas, ujarnya, “Kutahu hatimu tentu resah. Tetapi aku akan mati. Inilah permintaanku yang pertama kali kepada orang dalam sepanjang hidupku. Juga merupakan permintaanku kepada orang yang terakhir kalinya….” dua butir airmata menitik turun.

Selama hidup belum pernah Han Ping menghadapi saat2 seperti itu. Dan belum pernah ada orang yang minta begitu sangat kepadanya.

Hati pemuda itu bergolak. Memandang ke awan putih di cakrawala, diam-diam ia menimang, “Soal ini bukan main beratnya. Meluluskan permintaannya berarti harus baik-baik menjaga adiknya seperti adikku sendiri….”

Ringan tampaknya soal itu tetapi apabila direnungkan lebih dalam, beratnya bukan kepalang.

Ting Ling perlahan-lahan mengangkat muka. Ketika melihat Han Ping sedang memandang ke atas langit, tahulah ia bahwa pemuda itu sedang menimbang persoalan itu.

Walaupun masih muda, tetapi Ting Ling sejak lecil sudah sering berkelana dalam dunia persilatan sehingga ia tahu berbagai macam watak perangai orang. Ia tahu bahwa orang yang tak mudah untuk berjanji, sekali sudah meluluskan, tentu akan memegang teguh janjinya sampai mati.

Ting Ling mengisar tubuh, menyandarkan kepalanya di bahu Han Ping agar ia dapat duduk agak lebih enak.

Ia mengetahui watak orang jujur seperti Han Ping itu. Maka ia tak mau lekas2 mendesak supaya Han Ping memberi keputusan. Dalam pada itu diam-diam ia menimang dalam hati, “Ah, apabila dia meluluskan, aku tentu dapat meram di alam baka. Ting Hong yang kasihan nasibnya itu, tentu bakal dapat seorang pelindung yang akan menjaganya baik-baik.”

Pikiran Ting Ling melayang lebih jauh. “Aku atau adik Hong harus salah satu yang mati. Dengan demikian barulah ada salah satu yang dapat menikmati kebahagiaan. Aku dan adik Hong sama-sama mencintai pemuda ini. Jika aku mati, adikku pasti bahagia. Akulah yang membentuk kebahagiaan itu untuknya. Apabila keduanya berkelana di dunia persilatan, lama kelamaan tentu akan tumbuh rasa sayang-menyayangi. Ah, adik Hong, belasan tahun lamanya aku sering marah kepadamu. Tetapi sesungguhnya hatiku sayang sekali kepadamu. Akh tak tahulah. Apabila kelak pada saat kalian menikmati kebahagiaan adakah engkau akan ingat pada tacimu ini. Ji siangkong seorang jujur. Dia tentu akan memberitahu kepadamu tentang permintaanku sebelum mati. Ah, adik Hong, pada saat itu engkau tentu berterima kasih kepada tacimu….”

Wajah Ting Ling berseri-seri. Hatinya tenang sekali, Sedikitpun tak takut menghadapi detik2 kematian.

Sambil merapikan rambutnya yang terurai, nona itu menimang lebih lanjut, “Orang menganggap Kematian itu seperti perjalanan yang menyeramkan. Sekalipun ksatrya. pendekar dan orang gagah, dalam detik2 menghadapi kematian tentu gelisah dan cemas.”

Tetapi ia tak takut sama sekali akan kematian itu. Hatinya setenang telaga, perasaannya secerah pagi hari…. sikapnya bagai seekor anak kambing yang akan mendambakan diri ke dalam pelukan malaekat Elmaut….

Tiba-tiba Han Ping sudah bulat dengan keputusannya. Ia menghela napas panjang dan menatap si nona, “Ya, aku meluluskan. Biarlah dalam kehidupan yang sekarang ini, akan kuperlakukan dia sebagai adikku sendiri.”

Ting Ling tertawa puas. Perlahan-lahan ia pejamkan mata dan berkata dengan berbisik, “Ah, kutahu, engkau tentu akan meluluskan. bagaikan sebuah gunung yang tak goyah dilanda gelombang lautan, janjimu itu tentu takkan berobah selama-lamanya…”

Han Ping tertawa hambar, “Ah, nona terlalu memuji aku….” — berhenti sejenak, ia berkata pula, “tetapi kalau aku mati, sudah tentu aku tak dapat menjaganya. Aku mau menuntut balas sakit hati orangtuaku dan masih ada lain hal penting pula yang harus kukerjakan. Karena hal itu sukarnya bukan main. Mungkin sebelum berhasil melaksanakan, aku sudah mati lebih dulu….”

Ting Ling menghela napas rawan, “Jika sekarang engkau mau membunuh Ih Thian-heng, sudah satu dari tugasmu tentu selesai!”

Nona itu agak merentang pelupuk matanya. Ketika melirik dan melihat wajah Han Ping mengerut gelap, buru-buru Ting Ling menyusuli kata-kata, “Ah, aku salah omong lagi. Engkau seorang lelaki, seorang ksatrya perwira. Tentu akan bekerja dengan terus terang tak seperti aku yang licik dan banyak muslihat ini…..”

Han Ping tersenyum, tegurnya, “Eh, bagaimana keadaanmu saat ini?”

“Cepat! Segera akan mati!”

“Apakah engkau merasa tiada obatnya lagi?” tanya Han Ping.

“Tidak. Apakah engkau tak kenal akan ular tadi?” kata Ting Ling dengan tandas.

“Tidak.”

“Ular itu disebut Pik sian-nio atau Nona selendang putih. Ular berbisa yang jarang terdapat di dunia. Tokoh silat yang bagaimana saktinya tetap tak mampu bertahan dari racunnya yang ganas. Menurut ceritanya, ular itu tiada punya bapak dan ibu yang tertentu. Sejenis ular yang muncul dari tumpukan kotoran. Setiap kali lahir, tentu sepasang, laki dan perempuan. Yang betina tubuhnya berjalur putih dan yang jantan tubuhnya penuh dengan bintik2 putih. Yang betina ganasnya luar biasa. Yang jantan, amat cabul sekali….”

Berkata sampai di situ, wajah Ting Ling bersemu merah kemalu-maluan. Ia segera palingkan kepala dan susupkan muka ke dada Han Ping. Kemudian berkata pula, “Oleh karena itu kaum persilatan menganggap ular itu sebagai makhluk aneh yang amat berbahaya sekali!”

“Ah, kalau begitu dia tentu mau,” diam-diam Han Ping membatin, “karena tiada harapan tertolong lagi, akupun harus membantu sekuat tenaga. Cong lo-cianpwe paling gemar bermain ular, tentu punya daya. Racun ular itu….”

Begitu mendapat pikiran, Han Ping terus mendorong tubuh si nona dari dadanya dan terus hendak membuka jalan darah Cong To.

Tetapi Ting Ling memeluknya kencang2, “Mau apa engkau?”

“Hendak kubuka jalandarah Cong lo-cianpwe dan minta kepadanya supaya mengobatimu!”

“Terlambat!” sahut Ting Ling,”begitu tergigit ular itu, orang paling lama tanya dapat tahan sampai seperminuman teh. Sudahlah, tak perlu susah payah!”

Diam-diam Han Ping menghela napas, “Pukulan beracun Sam-yang-khi-kang masih membeku di dalam dadanya. Jika sekarang tambah lagi dengan ular, ah, tak mungkin dia dapat ditolong.”

Kembali Ting Ling berbisik ke dekat telinga Han Ping. “Peluklah aku agak erat, maukah? Agar aku dapat mati dengan tenang….”

Han Ping menghela napas. Belum ia sempat menjawab, Ting Ling sudah mendahului lagi, “Mengapa engkau menghela napas?”

“Kutahu engkau bakal tinggalkan dunia fana ini tetapi aku tak dapat berbuat apa-apa untuk menolong. Perasaanku sungguh sedih?” sahut Han Ping.

Tiba-tiba Ting Ling rasakan jantungnya bergolak keras. Diam-diam ia mengeluh dan pejamkan mata, ujarnya, “Lekas, aku sudah merasa diraih elmaut. Peluklah aku erat2!”

Melihat keadaan nona itu, luluhlah hati Han Ping. Ia anggap nona itu sedang meregang jiwa. Betapa jahat kalau ia menolak sehingga melukai hati nona itu. Maka tanpa menghiraukan tata susila lebih lanjut, segera ia memeluknya kencang2.

Ketika menunduk, dilihatnya wajah Ting Ling tenang sekali dan mulut mengulum senyum. Sedikitpun tak mengunjuk rasa takut mati. Tak ada tanda-tanda bahwa nona itu menderita kesakitan karena digigit ular berbisa tadi.

“Ah, orang mengatakan bahwa mati itu seperti pulang ke rumah,” diam-diam Han Ping membatin, “nona ini benar-benar hebat. Mungkin kelak kalau aku menghadapi kematian, takkan setenang seperti ini.”

Sampai beberapa saat Han Ping terpukau memandang Ting Ling Seorang nona cantik yang sedang menjelang keriangan masa muda. Tiba-tiba telah direnggut oleh maut….

Bayang2 pohon2 yang ditingkah matahari makin mengisar maju. Diam-diam Han Ping memperhitungkan bahwa keadaan itu sudah seperminum teh lamanya. Diperhatikannya wajah Ting Ling. ternyata nona itu masih bernapas. Sedikitpun tak ada tanda-tanda seperti orang mati. Wajahnya tetap memerah segar, bibir mengulum senyum.

Han Ping heran. Jelas nona itu tak mengunjuk tanda-tanda seperti orang mati. Maka diguncang2kannya tubuh Ting Ling seraya berseru pelahan, “Nona Ting…. nona Ting…. .”

Tiba-tiba Ting Ling membuka mata memandang Han Ping dan bertanya, “Apakah aku sudah mati?”

Han Ping gelengkan kepala, “Tidak, sedikit pun engkau tak mengunjuk tanda-tanda mati!”

Tiba-tiba Ting Ling melenting bangun, lepaskan diri dari pelukan Han Ping. Sembari merapikan rambutnya ia berseru, “Sungguh aneh….”

Ia menggigit jari telunjuknya sendiri, serunya, “Hai, aku benar-benar tidak mati!”

“Dunia persilatan mengatakan kalian berdua saudara dari Lembah Raja-setan itu, licin dan banyak muslihat. Kiranya memang benar…..”

“Ular Pek-sian nio itu ganasnya bukan kepalang. Orang yang digigitnya pasti mati. Tetapi mengapa aku tak mati?”

Han Ping tertawa, “Kalau engkau tidak mati, akulah yang kaget setengah mati…..”

“Kalau tak percaya, tanyakan saja nanti pada Cong lo-cianpwe. Orang yang digigit ular sabuk putih itu dapat tertolong atau tidak!”

Tiba-tiba Han Ping teringat akan sebuah kalimat dalam buku Tat mo-cin-keng yang mengatakan bahwa sesuatu kekerasan yang telah mencapai puncaknya tentu akan menimbulkan Kelunakan.

“Ah, kutahulah….” akhirnya ia mendesus.

“Tahu apa? Kalau aku sengaja menipumu, biarlah kelak aku mati tersiksa,” seru Ting Ling dengan mengucurkan airmata.

“Eh, mengapa engkau bingung sendiri? Aku tak mengatakan kalau engkau menipu!” Han Ping tertawa.

Sambil mengusap airmata, Ting Ling maasih heran, “Sungguh aneh sekali, mengapa aku tak jadi mati?”

Han Ping memberi keterangan, “Apabila dua macam racun saling bertemu, maka hilanglah khasiat kedua2nya. Dalam ilmu ketabiban pun terdapat apa yang disebut `Mengobati racun dengan racun `. Tubuhmu masih mengandung racun Sam-yang-khi-kang. Pada saat bertemu dengan racun ular Pek-sian-nio, kedua racun itu sama-sama hilang khasiatnya….”

“Benar!” seru Ting Ling seperti disadarkan.

“Racun ular Pek-sian-nio termasuk jenis hawa Im yang murni. Sedang racun dari Sam yang-khi-kang itu bersifat keras. Im dan Yang saling lenyap melenyapkan….”

“Begitulah…..” kata Han Ping tertawa. Tiba-tiba ia teringat akan janjinya terhadap Ting Hong. Ia tak jadi bicara lebih lanjut melainkan menghela napas. Kemudian ia melangkah ke tempat Pengemis sakti Cong To.

Cong To dan Ih Thian-heng masih tetap rebah di tanah. Tetapi wajah mereka sudah berseri merah. Rupanya pikiran mereka sudah pulih dan diam-diam sedang kerahkan tenaga dalam untuk membuka jalan darah mereka yang tertutuk itu.

Han Ping berjongkok lalu mengurut dada Cong To. Tiba-tiba Cong To menghela napas panjang dan menggeliat duduk. Memandang Ih Thian-heng, dia tertawa, “Masih berapa lama lagikah engkau dapat bangun?”

Belum Han Ping menyahut, tiba-tiba Ih Thian-heng menggeliat bangun seraya berseru, “Ah, saudara Cong tak perlu gelisah memikirkan diriku!”

Cong To tertegun. serunya, “Saudara Ih memang benar-benar lebih sakti dari Pengemis tua!”

Sambil tersenyum, Ih Thian-heng menjawab, “Jika tak memperhitungkan kemungkinan akan menderita luka dalam, dalam seperminuman teh saja aku tentu sudah mampu membebaskan diri.”

Han Ping terkejut melihat kesaktian orang. Pikirnya, “Kepandaiannya benar-benar luar biasa!”

Ih Thian-heng bangun perlahan-lahan. Ketika melihat Ting Ling sedang memandang Kim Loji, ia tertawa dingin dan memanggilnya, “Kim Loji, kemarilah!”

Kim Loji gemetar. Tetapi ia tak berani membangkang dan perlahan-lahan menghampiri.

Melihat itu Han Ping segera maju menghadang Ih Thian-heng, membentaknya nyaring, “Apakah tenagamu sudah pulih kembali?”

“Sudah delapan bagian!” sahut Ih Thian-heng.

“Baik! Sekarang aku hendak turun tangan!” seru Han Ping seraya menghantam dengan jurus Naga-sakti-keluar-air.

Keduanya pernah adu pukulan. Masing-masing sudah mengetahui kekuatan lawan. Pukulan pertama dari Han Ping itu menggunakan tujuh bagian tenaga-dalamnya.

Ih Thian-heng menghindar ke samping lalu balas menebas dengan gerak Sungai-es-mulai cair.

Han Ping menangkis dengan tangan kiri, bersuit panjang dan maju merapat. Melihat itu Ih Thian-heng gerakkan tangan kanan dalam gerak Menunjuk-langit-menggurat-tanah untuk menahan pukulan dari pemuda lawannya. Tetapi dengan sebuah gerakan tubuh yang luar biasa anehnya, Han Ping dapat menghindar dan tetap merapat maju.

Gerakan Han Ping itu, mengejutkan Ih Thian-heng. Bahkan Cong To pun terbeliak kaget. Ia merasa gerakan yang dilakukan Han Ping itu tak mungkin ditahan dengan segala jenis jurus ilmu silat.

Begitu merapat, Han Ping terus gerakkan kedua tangannya. Pukulan dan tutukan serempak berhamburan menyerang lawan. Dalam sekejab saja ia sudah lancarkan buah pukulan dan 4 buah tutukan jari.

Kecuali luar biasa cepatnya, pun kelima buah pukulan dan keempat tutukan itu ganasnya bukan kepalang. Tutukan jari mencari jalan darah besar, pukulan mengarah bagian tubuh yang berbahaya. Setiap gerakan jari maupun tinju selalu membawa maut bagi lawan.

Diserbu dengan serangan maut yang begitu gencar, Ih Thian-heng dipaksa mundur beberapa langkah. Sembilan jurus serangan dan tepat sembilan langkah ia harus mundur. Saat itu ia berada di muka sebuah makam besar. Sekeliling makam itu penuh ditumbuhi rumput setinggi anak. Ih Thian-heng dipaksa harus masuk ke dalam gerumbul rumput situ.

“Tahan!” tiba-tiba Cong To lompat membentak Han Ping dan Ih Thian-heng terkejut.

Secepat kilat Cong To melayang ke belakang Ih Thian-heng, menyambar ke dalam gerumbul rumput terus cepat-cepat menyurut mundur tiga langkah.

Karena kuatir pengemis tua itu akan menyerangnya dari belakang, Ih Thian-heng sudah bersiap. Tetapi melihat pengemis itu mundur lagi, barulah ia longgar hatinya.

Berpaling ke belakang, Ih Thian-heng melihat pengemis tua itu sedang mencengkeram seekor ular yang tubuhnya berbintik putih Panjang semeter dan besarnya seperti cawan arak.

Sebagai seorang yang luas pengalaman tahulah Ih Thian-heng bahwa pengemis tua itu sedang mencekal seekor ular Pek-sian-nio yang amat berbisa. Tiba-tiba ia merasa malu hati, pikirnya, “Kalau tadi kuhantamnya, pengemis tua itu tentu tak dapat menghindar dari pukulan mautku. Tetapi akupun pasti akan digigit ular Pek sian-nio itu. Dan akupun tak mungkin hidup juga……. Eh, tetapi mengapa tadi aku tak memukulnya? Apakah aku sudah merasa kalau pengemis itu akan menolong diriku? Atau mungkinkah aku kuatir sekali pukul tak dapat membinasakannya? Entahlah, entah! Tetapi jelas apabila pengemis itu beratu dengan budak laki ini mengeroyok aku, aku pasti tak sanggup menghadapi….”

Sekalipun dalam hati merasa malu, tetapi ia tetap mengulum senyum seperti tak terjadi suatu apa. Sambil memberi hormat ia berseru, “Ah, memang kemasyhuran nama saudara Cong sebagai seorang ksatrya luhur itu tak bohong. Jika saudara Cong tak menolong, hari ini jiwaku tentu melayang digigit ular berbisa itu!”

Cong To hanya tertawa dingin, “Dalam dunia persilatan dewasa ini hanya pengemis tua seorang saja yang berani menentangmu. Berpuluh tahun selama ini, sesungguhnya engkau mempunyai banyak kesempatan untuk melenyapkan pengemis tua. Tetapi engkau selalu bermurah hati, memberi jalan hidup….”

Ih Thian heng hanya tersenyum tak menyahut.

Cong To batuk-batuk dua kali lalu melanjutkan, “Tetapi sesungguhnya engkau bukan seorang manusia yang benar-benar berhati baik dan welas asih. Tindakanmu itu hanyalah untuk menjaga tingkah lakumu yang palsu selama ini. Dengan membunuh pengemis tua, mungkin kedok kepalsuanmu akan terbuka….”

Ih Thian-heng tertawa hambar, serunya, “Silahkan saudara Cong hendak mengucap apa saja tetapi aku tetap mengucap terima kasih atas pertolonganmu hari ini!”

“Pengemis tua menolongmu itu bukan sekali-kali karena hendak mengharap terima kasihmu. Melainkan mengharap agar kelak engkau mau merobah diri menuju ke jalan yang benar. Mendirikan suatu pahala besar untuk kepentingan umat manusia!”

Ih Thian-heng menengadahkan kepala memandang langit dan merenung. Tiba-tiba ia tertawa nyaring, “Dewasa ini seluruh kaum persilatan telah bersatu hendak menghadapi Ih Thian-heng seorang. Apakah saudara Cong tak merasa ucapan itu agak sudah terlambat?”

Han Ping tertawa dingin, “Tingkah laku dari perbuatanmu selama ini, setiap orang berhak menumpasmu. seluruh orang gagah dalam dunia persilatan telah engkau tipu selama berpuluh tahun. Jika dulu2 mereka mau mendengar nasehat Cong lo-cianpwe untuk bersatu padu memberantasmu, tentulah engkau tak sampai melakukan kejahatan lebih banyak!”

Memperhatikan cuaca, berkatalah Ih Thian-heng, “Mengingat bahwa tadi engkau tak mau menyerang aku secara pengecut, kali ini kuberimu ampun. Silahkan pergi, lekas!”

“Lain orang takut akan gertakanmu. Tetapi aku Ji Han Ping sedikitpun tak gentar. Terimalah pukulanku ini!” Han Ping menutup kata-katanya dengan sebuah pukulan dalam jurus Burung-hong-melambung naga-menjelang.

Ih Thian-heng tertawa keras, “Seluruh orang gagah dalam dunia persilatan. hanya engkau yang paling sesuai menjadi lawanku. Bagus!”

Ih Thian-heng menghindar ke samping lalu balas menutuk tiga kali dan memaksa Han Ping mundur dua langkah.

Diam-diam Han Ping membatin, “Orang ini memang benar-benar hebat sekali. Ketiga buah tutukan jarinya itu semua mengarah jalandarah yang berbahaya!”

Han Ping makin mempertinggi kewaspadaannya. Setelah mengempos semangat cepat ia membalas sampai lima kali pukulan. Kelima pukulan Han Ping itu merupakan ilmu kepandaian yang tercantum dalam kitab pusaka Tat mo-ih-kin-keng. Setiap jurus mengandung tenaga-keras. Dan dengan lima buah pukulan itu, ia cepat memaksa lawan mundur dua langkah juga.

Ih Thian-heng kerutkan ails. serunya, “Rupanya engkau mempunyai huhungan erat dengan perguruan Siau-lim-si. Kelima pukulanmu tadi, merupakan jurus2 dalam ilmu pukulan Cap-peh lo-han-ciang (18 dewa). Mengandung tenaga Toalat-kim-kong-ciang!”

Dalam pada berkata-kata itu Ih Thian-heng pun maju lagi dan menyerang. Tangan kiri menabas, tangan kanan memukul.

Han Ping merasa bahwa ilmu pukulan lawan itu mengandung banyak perobahan yang aneh dan luar biasa. Untuk sesaat itu tak mampu menemukan daya untuk memecahkannya Maka ia tak berani menangkis melainkan loncat menghindar ke samping.

“Ah, kiranya engkau mengenal gelagat juga,” seru Ih Thian-heng,”mengapa engkau tak berani menangkis pukulanku Mengamankan-dunia ini? ‘

Han Ping tertawa dingin. Tangan kiri menampar ke udara, jari tangan kanan menebar didorong ke muka.

Ih Thian-heng tercengang. Ia belum pernah melihat ilmu pukulan semacam itu. Oleh karena ia merasa bahwa dalam jari2 lawannya itu mengandung jurus2 maut yang sukar diduga, ia tak berani menangkis. Cepat ia enjot tubuh loncat mundur dua tiga langkah.

“Ih Thian-heng, mengapa engkau tak berani menangkis pukulanku Lima tali-serempak-melentik?”

Ih Thian-heng tersenyum, “Bagus, jurus Lima-tali-serempak-melentik yang hebat!” — ia loncat maju lagi dan menghantam dari samping seraya berseru, “Budak kecil, cobalah engkau rasakan jurus Badan-halilintar-serempak-timbul ini!”

“Mengapa tak berani?” sahut Han Ping sambil gerakkan tangan kanan untuk menyambut.

Ih Thian-heng tertawa dingin. Tiba-tiba ia endapkan pukulannya lalu tebarkan jari untuk menutuk. Jika Ih Thian-heng melakukan perobahan, Han Pingpun juga tidak tinggal diam. Ia juga julurkan kedua jarinya secepat kilat dijentikkan.

Dari adu pukulan sampai pada pukulan mereka lakukan dengan cepat sekali. Setiap gerak perobahan itu mengandung ancaman maut.

Terdengar Han Ping dan Ih Thian-heng sama-sama mendengus tertahan dan sama-sama mundur ke belakang, ternyata keduanya telah menderita luka. Begitu muncul mereka lalu pejamkan mata mengambil pernapasan.

Wajah Ih Thian heng pucat lesi. Sedang muka Han-Ping merah seperti orang habis minum arak.

Baik Cong To maupun Ting Ling sama sekali tak mengetahui mengapa kedua orang itu sama-sama menderita luka. Merekapun tak mendengar suara benturan pukulan sama sekali. Tahu2 kedua seteru itu sudah sama-sama terluka.

Ting Ling buru-buru menghampiri ke tempat Han Ping dan bertanya, “Apakah engkau terluka?”

Han Ping sedikit membuka matanya, gelengkan kepala, “Hm, tetapi Ih Thian-heng pun juga terluka!”

Ting Ling berpaling ke arah Ih Thian-heng, tanyanya pula, “Apakah lukamu berat?”

“Nanti baru ketahuan,” sahut Han Ping.

Ting Ling terkesiap. “Kalau begitu tentu parah sekali!”

Han Ping tersenyum, “Mungkin tidak beralangan!”

Tiba-tiba terdengar orang berseru kepada Ting Ling, “Hai, budak-setan besar, pamanmu datang!”

Ting Ling berpaling. Ah, ternyata pamannya Ting Yan-san, Leng Kong-siau, Ca Cu-jing dan Ca Giok serta Nyo Bun-giau. Nona itu girang sekali.

“Apakah yang di sebelah muka itu Ling-ji?” seru Ting Yan-san pula.

“Ah, paman, selamat datang,” seru Ting Ling.

Begitu tiba, rombongan Nyo Bun-giau itu terkesiap dan memandang ke sekeliling tempat itu kepada Han Ping. Ih Thian-heng dan pengemis Cong To.

Ca Cu-jing memberi hormat berseru, “Apa kabar saudara Cong?”

Cong To balas memberi hormat lalu menjawab, “Pengemis tua tidak sakit, tak ada yang tak baik selama ini.”

Nyo Bun-giau membisiki Ting Yan-san. Ting Yan-san pun lalu berseru keras2 memanggil Ting Ling.

Sejenak memandang Cong To, si nona lalu menghampiri ke tempat pamannya. Kira2 lima enam langkah dari tempat Ting Yan-san, nona itu berhenti, “Paman hendak memberi perintah apa kepadaku?”

Ting Yan-san batuk-batuk lalu berkata, “Kemana adikmu si Hong?”

“Disuruh tinggal dalam biara Hian-bu-kiong oleh Thian Hian-totiang.”

Sambil berpaling ke arah Nyo Bun-giau, Ting Yan-san berseru, “Apa? Apakah Thian Hian totiang juga berada di sini?”

Diam-diam nona itu menimang. Hadir atau tidaknya Thian Hian totiang di situ, ternyata mempunyai pengaruh penting.

Ting Ling gelengkan kepala mengatakan tak melihat Thian Hian totiang. Diam-diam Cong To memuji kecerdikan si nona yang tak mau membohongi orangtua tetapi suruh mereka meraba-raba dalam dugaan sendiri.

Ting Yan-san kerutkan dahi, ujarnya, “Beradanya adikmu dalam biara Hian-bu-kiong itu, sebelumnya engkau sudah tahu atau belum?”

“Tahu,”sahut Ting Ling.

“Kalau tahu kenapa mencegahnya?”

“Ilmu pedang Thian Hian totiang hebat biasa. Sekalipun maju berdua, kami tetap bukan lawannya. Mana aku mampu mencegah?” jawab Ting Ling.

Rupanya Ting Yan-san terbentur dengan jawaban itu sehingga ia tak dapat berkata lagi. Setelah diam beberapa jenak, barulah ia berkata pula, “Hmm, seorang gadis yang sebatang kara luntang-luntung di dunia persilatan, apa macam! Mengapa tak lekas pulang? Mau cari apa?”

Ting Ling tak mau membantah lagi dan segera mundur ke samping.

Tiba-tiba Pengemis-sakti Cong To memberi hormat kepada Ting Yan-san, “Ting losam, pengemis tua hendak merundingkan sebuah hal dengan engkau. Entah engkau mau atau tidak?”

Ting Yan-san tertegun, serunya, “Ah, kalau saudara Cong mempunyai urusan, silahkan bilang. Asal dapat, aku tentu tak menolak

Cong To tersenyum, “Dunia persilatan mengatakan bahwa kedua nona dari Lembah Raja Setan itu, kejam dan banyak tipu muslihatnya. Terutama nona yang pertama lebih ganas dari adiknya. Tetapi pengemis tua merasa nona yang pertama itu justeru lebih menarik. Ingin kuambilnya sebagai puteri angkat, entah apakah engkau menyetujui atau tidak?”

Ucapan itu benar-benar di luar dugaan sekalian orang. Sampai Ting Ling sendiri juga terkesiap.

Cong To adalah seorang tokoh ternama. Pribadi dan sepak terjangnya, selalu lurus dan terus terang. Sedang Lembah Raja Setan itu sudah terkenal jahat. Keganasan kedua nona dari Lembah Raja Setan itu sudah termasyhur di seluruh dunia persilatan. Yang satu dari Aliran Putih yang lain dari aliran Hitam. Mengapa tahu-tahu pengemis sakti itu hendak mengambil anak-angkat pada Ting Ling?

Lama Ting Yan-san merenung baru ia berkata, “Bahwa saudara Cong ternyata menvukai mereka, sungguh suatu kebanggaan bagi Lembah Raja Setan. Tetapi dalam hal ini, aku tak berani mengambil keputusan. Harus minta ijin dari ketua lembah dulu.”

Cong To tertawa gelak-gelak, “Selama hidup pengemis tua selalu bekerja tak kepalang tanggung. Dalam soal itu sekalipun saudara Ting tak meluluskan pengemis tua tetap akan memungutnya sebagai anak angkat.”

Ting Yan-san batuk-batuk, katanya, “Dengan tindakan itu bukankah berarti saudara Cong hendak menyusahkan aku?”

Cong To tertawa, “Engkau mengembalikan karcis undanganku, bukankah berarti juga membikin susah padaku?”

Selagi kedua orang itu bertukar pembicaraan, diam-diam Nyo Bun-giau memperhatikan wajah Ih Thian-heng. Saat itu tiba-tiba ia menyelutuk, “Sesungguhnya urusan saudara Cong dan Ting berdua itu, aku tak seharusnya campur mulut. Tetapi sejauh pendengaranku, belum pernah terjadi orang memungut anak atau murid dengan cara paksa….”

Ia batuk-batuk pelahan, lalu melanjutkan pula, “Mungkin pengalamanku kurang luas hingga apa yang kuketahui hanya terbatas sekali!”

Tiba-tiba Ih Thian-heng membuka mata dan tertawa, “Bukankah saudara Nyo bermaksud menyiram minyak pada api untuk mencelakai diriku?”

Nyo Bun-giau tersenyum, “Akh, mana….” — walaupun mulut berkata begitu tetapi diam-diam ia sudah pancarkan tenaga-dalam dari telapak tangannya ke arah Ih Thian-heng.

Tetapi tepat pada saat itu juga, tiba-tiba ia rasakan dari dada Ih Thian-heng pun menghambur tenaga dalam yang panas ke arahnya.

Dalam pada itu terdengarlah Ih Thian-heng tertawa sinis, “Jari saudara Nyo jangan salah arah. Jika diletakkan pada tubuhku, kali ini aku tentu menderita luka parah!”

Nyo Bun-giau tak mau menjawab melainkan diam-diam menambah keras tenaga-dalamnya sampai beberapa bagian lagi.

Saat itu Cong To pun sudah mendekat ke belakang Nyo Bun-giau dan secepat kilat lekatkan tangan kanannya ke punggung Nyo Bun-giau, serunya dingin, “Harap saudara Nyo lekas hentikan gerakan. Sekali kupancarkan tenaga-dalam, urat2 jantungmu tentu akan putus!”

“Belalang menubruk tonggeret, burung gereja membayangi di belakang. Saudara Cong apakah engkau tak memandang mata padaku?”

Tiba-tiba sesosok tubuh mendekat ke belakang Cong To. Cong To terkejut dan mengisar ke samping. Tetapi sudah terlambat.

Sebuah tangan telah melekat di punggung pengemis sakti itu….

0 Response to "Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 24 : Adu kesaktian"

Post a Comment