Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 22 : Sebuah mayat.

Mode Malam
Jilid 22

“Hm, makin lama engkau makin tak keruan. Masakan bicara saja tak jelas,” damprat Pengemis sakti Cong To kepada muridnya.

“Kudengar dari Sin-ciu-it-kun Ih Thian Heng yang mengatakan bahwa suhu telah terjebak dalam biara Hian-bu-kiong,” sahut pengemis kecil itu.

“Ih Thian Heng . . . ?” Han Ping mengulang.

“Ih Thian Heng mengatakan kepadaku agar menyampaikan kepada suhu. Jika suhu menghendaki tenaganya, ia tentu akan membantu dengan senang hati,” kata pengemis kecil itu pula.

Cong To tertawa dingin : “Sungguh kebaikan yang berselimut kepalsuan ! Jika tak mengetahui . . .”

“Pada waktu kita terkurung dalam penjara air, jika tak atas persetujuan Thian Hian totiang, mungkin kita takkan bertemu muka lagi dengan engkau. Bagaimana Ih Thian Heng hendak membanggakan diri mampu menolong !” kata Han Ping.

Kim Loji cepat menyelutuk : “Ping Ji, janganlah memandang rendah pada Ih Thian Heng. Sekali dia menyatakan hendak membantu tentu akan dibuktikan benar-benar . . . .”

Cong Topun ikut memberi komentar : “Meskipun Thian Hian totiang memiliki ilmu pedang yang hebat, tetapi kalau hendak bermusuhan dengan Ih Thian Heng, tetap bukan tandingannya ! Pengemis tuapun percaya dia tentu mampu menolong kita dari penjara air itu !”

Sekalipun dalam hati tak setuju dengan pernyataan kedua orang itu, tetapi Han Ping tak mau mendebatnya.

Pengemis kecil berpaling memandang Han Ping, hendak bicara tetapi tak jadi.

Tiba-tiba Pengemis sakti Cong To berpaling ke arah Ca Giok dan bertanya apakah pemuda itu sudah bertemu dengan ayahnya.

“Sudah,” sahut Ca Giok, “Jika ayah tak lekas datang ke Kim-leng, kemungkinan aku dan kedua nona Ting itu masih terkurung dalam gedung marga Nyo !”

“Atas bantuan Ca pohcu untuk menolong kami, kami berdua saudara merasa berterima kasih sekali . . .”

Ca Giok tertawa : “Ah, tak perlulah nona harus begitu serius. Bukankah antara kedua marga kita mempunyai hubungan yang baik ? Sudah layak kalau kita saling tolong menolong !”

Berkata pula Ting Ling : “Jika Nyo Bun Giau tak mau melepas, dikuatirkan ayahmu tak dapat menolong kita dari gedungnya. Mengenai hal ini . . .”

Ca Giok memaki tertawa : “Dalam ilmu perang dikatakan, tanpa berperang tetapi dapat menundukkan lawan, itulah siasat yang paling jempol. Hanya dengan menggunakan sepatah dua patah saja, ayah telah dapat menundukkan Nyo Bun Giau sehingga kita dapat bebas tak kurang suatu apa. Bukankah hal itu lebih hebat daripada harus bertempur mati-matian ?”

Ting Ling baIas tertawa juga : “Tetapi jika kurenungkan, kiranya tak mungkin urusan itu dapat selesai begitu sederhana. Oleh karenanya timbullah kecurigaanku . . . .”

“Eh, dalam hal apakah nona menaruh kecurigaan ?” tukas Ca Giok.

“Pada saat kita tinggalkan gedung orang she Nyo itu, kita hanya bertemu muka satu kali saja dengan ayahmu. Setelah itu Nyo Bun Giau terus mengantar kita keluar. Sedang ayahmu masih tinggal di dalam. Pun pada waktu bertemu muka, saudara Ca hampir tak bicara sama sekali dengan ayah saudara. Bukankah tidak begitu kebiasaannya ? Kurasa tentu ada sebabnya.”

Ca Giok tertawa : “Ah, aku sampai lupa memberitahukan nona. Paman nona Ting locianpwe, bersama aku telah dipenjara di tengah taman bunga gedung Nyo . . . .”

Ting Ling terkesiap : “Apakah pamanku yang ketiga ?”

Ca Giok mengiakan.

“Mengapa aku tak melihatnya ?”

Ca Giok tertawa : “Ah, nona terlalu tegang dan terburu buru bertanya sehingga karena mulutku hanya satu, sukar untuk menerangkan.”

Diam-diam Ting Ling mendamprat pemuda itu namun ia tetap tertawa, ujarnya : “Kalau begitu harap saudara menjelaskan dengan perlahan !”

Ca Giok batuk-batuk lalu berkata : “Di dalam jaring besi pada kebun bunga di samping empang, terdapat tahanan 3 orang. Selain aku dan paman nona, masih ada seorang lagi yang kalau kusebut namanya tentu akan membuat saudara-saudara di sini tak mau percaya !”

Cong To mendengus, serunya : “Di hadapan seorang pengemis tua engkau masih berani jual tingkah. Hm, sungguh sudah bosan hidup rupanya, engkau ini !”

Ca Giok berpaling ke arah pengemis sakti itu, tertawa : “Ayah pernah pesan kepadaku. Apabila berjumpa dengan Cong locianpwe harus mengindahkan segala nasehatnya. Jika tak mendapat perintah ayah tentu akupun takkan menemani mereka menempuh bahaya datang ke Hian-bu-kiong.

Pengemis sakti Cong To tahu kalau kata-kata anak muda itu memang sejujurnya. Maka iapun tak mau mendampratnya lagi.

Beberapa saat kemudian kembali Ca Giok berkata : “Dan masih ada seorang lagi yakni tokoh Lembah Seribu racun Leng Kong Siau . . . .”

“Ho, Sungguh besar sekali nyali Nyo Bun Giau !” Cong To tertawa, “masakan dia berani mencari perkara dengan Lembah setan dan Lembah Seribu racun masih ditambah pula dengan marga Ca !”

Rupanya Ting Ling ingin tahu tentang diri pamannya Ting Yan San. Kuatir kalau pengemis sakti mengalihkan pembicaraan, buru-buru ia menyelutuk : “Kemanakah perginya pamanku ketiga dan Leng Kong Siau ? Mengapa ketika meninggalkan gedung Nyo Bun Giau, yang kulihat hanya ayah saudara sendiri ?”

“Dalam hal itu,” kata Ca Giok, “Walaupun tak jelas tetapi menurut dugaan paman nona dan Leng Kong Siau itu tentu sudah di . . . .” - tiba-tiba ia hentikan kata-kata dan batuk-batuk.

Cong To tertawa dingin “Huh, penyakit lama angot lagi !”

Ca Giok batuk-batuk. Setelah meludah ia menyambung pembicaraannya : “Dalam beberapa hari ini aku merasa masuk angin sehingga tak dapat bicara lancar. Ting locianpwe dan Leng Kong Siau sudah tak kelihatan sebelum kita tinggalkan gedung Nyo Bun Giau. Entah kemana perginya mereka itu !”

Cong To tertawa dingin, menyelutuk : “Sekalipun engkau tak mengatakan, pengemis tua juga dapat menduga. Beberapa orang itu memang sama busuknya. Pada satu saat mereka dapat bertempur mati-matian tetapi pada saat melihat keuntungan, mereka mau melempar permusuhan lama. Mereka gemar main siasat menyiasati. Ting Losam dan Leng Loji tak menghiraukan rasa malu karena ditangkap Nyo Bun Giau. Ca Cu Jingpun tak mau menarik panjang persoalan putranya ditahan itu. Mereka bersatu tujuan lalu bersekutu. Masakan persekutuan semacam itu akan bertujuan baik ? Hm, sejak saat ini dunia persilatan pasti akan mengalami perubahan besar !”

Ting Ling tersenyum, ujarnya : “Bagus ! Sekaligus locianpwe telah memaki habis-habisan pada Lembah Raja setan kami, lembah Seribu racun, marga Ca dan marga Nyo . . . .”

“Siapa yang ingin kumaki tentu kumaki sampai puas ! Masakan engkau budak perempuan masih merasa kurang terima ?” sahut Cong To.

Ting Ling tertawa : “Ah, sudah tentu terima ! Tetapi setelah locianpwe hamburkan makiannya, apakah locianpwe sudah dapat mengetahui perubahan apa yang akan terjadi dalam dunia persilatan itu ?”

Sengaja nona itu hendak membuat Pengemis sakti nanti mengagumi kecerdikannya maka ia mengajukan pertanyaan begitu untuk mengetes kepandaian pengemis sakti itu.

Cang To terkesiap, ujarnya : “Kalau soal itu pengemis tuapun sudah dapat menduga, bukankah bakal menjadi dewa ?”

“Tak perlu dewa, manusia biasapun dapat menduganya !” sahut Ting Ling.

Cong To kerutkan alis : “Dalam setengah hari saja bersama dengan engkau, pengemis tua akan mempunyai kesan bahwa kemahsyuran kedua gadis dari Lembah Raja setan itu memang tak bernama kosong. Kalau engkau sudah dapat menduga, pengemis tua ingin sekali mendengar petunjukmu !”

Dengan ucapan itu jelas Pengemis sakti menaruh rasa kagum akan kecerdasan nona itu.

Ca Giok berpaling ke arah Ting Ling lalu tertawa : “Nona Ting memang termahsyur cerdas. Tentu memiliki pandangan yang lebih tajam dari lain orang. Aku pun ingin sekali mendengarkan !”

Dari wajah pemuda yang tampak cerah itu, persoalan Itu. Paling tidak, sedikitnya ia pasti sudah mengerti.

Ting Ling sejenak keluarkan biji matanya lalu tertawa : “Menilik cahaya muka saudara Ca yang berseri-seri, tentulah saudara sudah mengetahui rahasia soal itu . . . .”

Ca Giok gelengkan kepala dan menyangkal kalau sudah tahu.

Ting ling tertawa : “Marga Ca dan marga Nyo sekalipun tak mempunyai hubungan tetapi kedua pihak tak mempunyai dendam juga. Marga Ca sebaliknya mempunyai persahabatan erat dengan Lembah Raja setan . . . .”

Ca Giok membenarkan.

“Oleh karena itu apabila ayah saudara mempunyai rencana tentu akan dirundingkan dengan ayahku. Kebalikannya marga Ca mempunyai dendam permusuhan kepada lembah Seribu racun. Keduanya seperti api dengan air.”

Diam-diam Ca Giok terkejut. Namun ia tinggal diam saja dan membiarkan nona itu melanjutkan bicaranya.

Ting Ling tiba-tiba berubah kerut wajahnya dan berseru dengan nada dingin : “Dengan terus menerus saudara mengikuti perjalanan kami berdua taci beradik tentulah sudah mempunyai rencana tertentu !”

Ca Giok hendak membuka mulut tetapi tak jadi. Ia mengangkat muka memandang awan yang tengah berarak di langit.

Melihat itu diam-diam Ting Ling gelisah, keluhnya dalam hati : “Celaka, dia tak mau buka mulut. Bagaimana aku dapat mencari kelemahannya ? Ah, kali ini aku bakal mendapat malu karena tadi berani buka mulut besar . . . .”

Sekalipun hati cemas, namun sikap nona itu tetap tenang. Ujarnya pula : “Ayah saudara dan Nyo Bun Giau diam-diam telah merancang suatu rencana dan suruh paman serta Leng Kong siau untuk menempuh bahaya lebih dulu . . . .” - ia melirik Ca Giok. Didapatinya wajah pemuda itu agak berubah. Buru-buru ia melanjutkan kata katanya lagi : “Ayah saudara dan Nyo Bun Giau seperti nelayan yang menunggu hasil jaringnya. Hebat memang rencana itu tetapi sayang kurang sempurna. Sekali salah hitung, seluruh rencana akan gagal total !”

Ca Giok terkesiap, serunya : “Masa merencanakan . . . .” - tiba-tiba ia merasa kelepasan omong dan tutup mulut lagi.

Ting Ling tersenyum : “Kumaksudkan, tidak seharusnya Nyo Bun Giau melepas kami berdua taci beradik bersama saudara Ca. Hal itu mungkin dia tak memikir sampai di situ.”

Pancingan yang dipasang Ting Ling itu, benar-benar membuat Ca Giok tak tahan lagi, serunya : “Untung rugi mempunyai hubungan. Masakan dia berani mencelakai ayahku !”

“Ah, saudara Ca hanya memperhitungkan untung rugi pada satu saat. Tetapi kurang memikirkan yang jauh,” kata Ting Ling. “Ayah saudara dan pamanku serta Leng Kong siau itu, bukanlah tokoh-tokoh biasa. Tak mungkin tergerak hati karena hanya melihat keuntungan kecil saja. Bahwa Nyo Bun Giau mampu memberi perintah kepada mereka tentulah dengan pikatan janji yang hebat. Jelas orang she Nyo itu tentu tak mau membagi rata rejeki besar kepada mereka berempat. Jalan satu-satunya ialah, lebih dulu memakai tenaga ayah saudara dan pamanku, setelah berhasil baru akan turun tangan untuk melenyapkan kedua orang itu . . . .”

Ca Giok terbeliak : “Penilaian nona tak salah !”

“Bukannya tak salah saja tetapi pasti tak salah lagi !” kata Ting Ling, “demi menyelamatkan ayah, saudara Ca harus cepat-cepat mempersiapkan rencana . . . .” - ia menghela napas perlahan, lalu melanjutkan : “Sebenarnya ayah saudara, pamanku dan Leng Kong siau itu mempunyai pengalaman yang luas. Belum tentu Nyo Bun Giau dapat mencelakai mereka. Tetapi mengingat yang seorang mempunyai tujuan dan yang lain tidak menyangka suatu apa. Hati dan pikiran mereka sudah terbuai oleh janji-janji muluk yang amat memikat sehingga kehilangan pertimbangan yang sadar. Dan lagi semua rencana adalah Nyo Bun Giau yang merancang sehingga ayah saudara dan pamanku itu tak ubah seperti orang buta yang naik kuda buta. Segala-galanya menurut perintah Nyo Bun Giau saja !”

Makin pucatlah wajah Ca Giok mendengar uraian Ting Ling yang tajam dan tepat itu.

“Nona telah menyadarkan pikiranku. Aku harus cepat-cepat memberitahukan hal itu kepada ayah.”

“Ah, Nyo Bun Giau tentu membawa mereka ke makam tua itu . . . .” seru Kim Loji yang lalu menuturkan tentang pengalaman selama berada dalam makam tua mencari pusaka bersama Nyo Bun Giau sehingga sebelah lenganku ini kutung.

“Kutungnya sebelah lenganku ini adalah karena dicelakai Nyo Bun Giau. Jika aku tak cepat-cepat menyesuaikan diri sehingga dapat bertemu dengan Han Ping, mungkin saat ini aku sudah menjadi mayat penunggu makam itu !” katanya.

Ca Giok makin gelisah. Ditatapnya Ting Ling : “Ayahku dan paman nona sama-sama berada dalam bahaya. Dalam hal ini nona tentu takkan berpeluk tangan mengawasi saja !”

Pengemis sakti Cong To tertawa gelak-gelak, serunya : “Bagus ! Biarlah mereka saling bunuh membunuh dulu, pengemis tua akan menjadi nelayan yang menunggu sang ikan masuk jaring !”

“Sarung pedang Pemutus Asmara itu sudah jatuh di tangan Ih Thian Heng. Kemungkinan dia tentu sudah bergerak juga.”

Pengemis sakti Cong To makin keras tertawanya : “Itu yang paling bagus ! Ditambah dengan Ih Thian Heng, pertunjukan tentu akan lebih ramai lagi !”

Tiba-tiba Han Ping berpaling dan bertanya kepada Ca Giok : “Saudara Ca apakah ayahmu benar-benar pergi ke makam tua itu ?”

Ca Giok mengangguk perlahan : “Waktunya amat mendesak sekali sehingga ayah hanya gunakan tanda rahasia marga Ca memberitahukan kepergiannya bersama Nyo Bun Giau mencari pusaka. Tentulah mereka menuju ke makam tua itu !”

“Harta permata dalam makam itu tak ternilai banyaknya. Orang yang temaha tentu lupa daratan !” kata Han Ping.

“Engkau sudah menyaksikan harta karun itu, mengapa engkau tak lupa daratan ?” tegur Pengemis sakti Cong To.

Han Ping tersenyum : “Harta permata memang setiap orang tentu ngiler. Tetapi benda itu hanyalah benda lahiriah. Ada takkan menambah apa-apa, tak ada pun takkan mengurangi apa-apa. Apalagi setiap benda tentu mempunyai pemilik, masakan kita dapat mengambil semau kita sendiri . . . .”

Ting Ling tersenyum : “Nyo Bun Giau gemar sekali mengumpulkan ratna mutu manikam. Gedung marga Nyo di Kim-leng itu berisi kekayaan yang menyamai dengan kas negara. Harta pusaka dalam makam tua itu makin banyak. Jiwa pamanku dan ayah saudara Ca makin terancam !”

Ca Giok menatap Han Ping : “Karena saudara Ji sudah pernah ke sana, maukah saudara memberi petunjuk letak tempat itu ?”

Han Ping kerutkan dahi : “Makam itu penuh dengan alat rahasia. Sekalipun saudara Ca dapat mencapai makam itu tetapi sungguh berbahaya kalau masuk . . . .”

Cong To tertawa : “Sekalipun pengemis tua tak ingin mencari harta karun tetapi kepingin juga kesana untuk melihat pertunjukan !” tiba-tiba ia berhenti tertawa lalu menghela napas perlahan, katanya pula : “Siau-lim-si sudah mengetahui tentang munculnya pedang Pemutus Asmara di dunia persilatan. Mereka telah mengutus tokoh-tokoh yang berilmu tinggi untuk menyelidiki pedang itu. Berpuluh-puluh tahun berselang, dunia persilatan mengatakan bahwa pedang Pemutus Asmara itu selalu membawa kesialan. Barang siapa yang membawa pedang itu, betapapun saktinya, tetap takkan terhindar dari kematian. Rupanya cerita dalam dunia persilatan itu memang benar. Hanya beberapa bulan saja pedang itu muncul lagi, telah menimbulkan kekacauan dalam dunia persilatan.”

Han Ping tertawa : “Ah, kalau siang-siang kuserahkan kembali pedang itu kepada Hui In taysu, mungkin tak sampai menimbulkan huru hara begini.”

“Sesungguhnya tujuan Siau-lim-si mengejar pedang itu, bukanlah pedangnya tetapi sarung pedang itu. Dengan demikian bukankah tujuan mereka juga hendak menyelidiki tentang harta pusaka itu ? Oleh karena sarung pedang itu sudah jatuh ke tangan Ih Thian Heng, engkaupun harus lekas-lekas menuju ke makam tua mencari Goan Thong taysu dan memberitahukan hal itu,” kata Kim Loji.

Beberapa jenak Han Ping merenung. Katanya sesaat kemudian : “Biarlah kupertimbangkan dulu hal itu . . . .”

Sekalipun ia tak setuju akan usul pamannya Kim Loji tetapi ia tak mau menolak mentah-mentah sehingga membuat malu pamannya.

Tiba-tiba wajah Kim Loji berubah : “Ping Ji, sebelum Hui Gong meninggal, apakah ia memberi pesan apa kepadamu ?”

Han Ping tertawa rawan : “Tidak, sekalipun beliau telah memberi pelajaran silat kepadaku tetapi kita tak mempunyai ikatan sebagai guru dan murid . . . .”

“Huh, peagemis tua tak mengerti kata-katamu itu,” Cong To menyelutuk, “tata peraturan murid dan guru, mana boleh hendak dilanggar ! Karena dia memberimu pelajaran ilmu silat . . . .”

“Ah, locianpwe tentu tak tahu,” buru-buru Han Ping meuukas, “beliau mengajarkan ilmu kepandaian serta menyerahkan pedang pusaka itu kepadaku, adalah karena kalah bertaruh.”

Cong To mendesah lalu menatap Ting Ling : “Pengemis tua sungguh tak jelas mengapa kalian menuju ke gedung marga Nyo dan bagaimana bisa berjumpa dengan Thian Hian totiang ? Selama ini, tiada seorangpun yang diizinkan masuk ke dalam biara Hian-bu-kiong tetapi mengapa kalian dapat mengikat persahabatan dengan Thian Hian imam hidung kerbau itu ?”

Melihat wajah Han Ping tampak merah, Cong To kuatir anak itu akan naik darah. Maka buru-buru ia alihkan pembicaraan dengan Ting Ling.

Sejenak memandang Han Ping, tertawalah nona itu lalu menjawab pertanyaan Cong To : “Soal itu panjang sekali ceritanya . . . .”

“Tak perlu panjang lebar, cukup jawaban yang singkat jelas saja !” kata Cong To

Ting Ling tampak merenung beberapa saat, baru berkata : “Dalam perjalanan pulang bersama adikku, di tengah jalan kami telah tertawan oleh Nyo Bun Giau lalu dibawa ke Kim leng. Tetapi setengah bulan kemudian kamipun dilepas lagi . . . .”

Han Ping menyelutuk : “Perlu apa Nyo Bun Giau membawa kalian ke gedungnya ? Bukankah dia seperti hendak mencari penyakit ?”

“Karena ia menduga kalau kami berdua sudah tahu akan rahasianya. Padahal dialah yang banyak cerita sendiri . . . .” - berhenti sejenak ia melanjutkan pula : “Tanpa tahu kesalahan apa, kami berdua dijebloskan dalam penjara air . . .”

“Hai, gedung marga Nyo juga punya penjara air ?” seru Han Ping.

“It kiong dan It koh ketiga gedung besar itu masing-masing mempunyai penjara air !”

“Eh, mengapa hanya It kiong dan It-koh saja ? Apakah Lembah Seribu racun itu tak punya penjara air ?” Han Ping heran.

“Yang tak punya penjara air adalah Lembah Raja setan. Sebagai gantinya kami mempunyai penjara api. Tak kalah hebatnya dengan penjara air jauh lebih ngeri !”

Han Ping menghela napas.

“Setelah dilepas dari gedung marga Nyo, maksudku terus hendak pulang ke Lembah Raja setan. Tetapi adikku berkeras hendak datang kemari dan kemudian berjumpa dengan murid pilihan dari Cong locianpwe . . . .”

Cong To tertawa gelak-gelak : “Ah, jangan kelewat menyanjung. Sebut saja si pengemis kecil !”

“Pengemis kecil memberitahu dua buah hal penting. Pertama, Cong locianpwe terjebak dalam Hian-bu-kiong dan kedua, Ji siangkong meninggal di tangan Thian Hian totiang.”

“Aneh,” Cong To kerutkan dahi, “Mengapa rahasia Hian-bu-kiong dapat tersiar keluar !”

Sejenak Ting Ling memandang Han Ping lalu menghela napas perlahan, sambungnya lagi : “Mendengar berita itu, adik berkeras menuju ke Hian-bu-kiong untuk membantu pengemis kecil menolong Cong locianpwe . . . .”

Cong To tertawa : “Benarkah begitu ? Uh, mungkin ada lain tujuan lagi !”

Ting Ling tertawa rawan : “Entah bagaimana tetapi adikku mempunyai naluri lain. Ia percaya Ji siangkong tentu belum meninggal. Ia hendak meminta keterangan pada Thian Hian totiang . . . .”

“Dan apakah engkau juga membantu pengemis kecil untuk menolong pengemis tua ini ?” tanya Cong To kepada Ca Giok.

“Memang pertama untuk membantu menolong Cong locianpwe dan kedua untuk membuktikan benar tidaknya berita tentang saudara Ji !”

Tiba-tiba Pengemis sakti menengadahkan kepala tertawa terbahak-bahak. Lalu berseru : “Betapalah berbahayanya Hian-bu-kiong itu. Apakah dengan kepandaian yang kalian miliki itu, kalian berani mencabut kumis harimau ? Ho, sungguh besar nian nyalimu ! Kalau pengemis kecil itu nekad menempuh bahaya itu masih ada alasannya. Tetapi kalau kalian juga rela mempertaruhkan jiwa hanya karena hendak menolong pengemis tua ini, pengemis tua sungguh sukar percaya !”

“Apakah yang harus diacuhkan ! Kalau seorang sudah tak menghiraukan jiwanya, apakah yang harus ditakuti lagi ?” Ting Ling melengking.

Cong To tertegun kaget, serunya : “kata-kata itu memang benar . . . .”

Ca Giok tersenyum : “Adakah berita kematian saudara Ji itu yang mendorong langkah nona berdua . . . .”

Ting Ling tertawa hambar : “Ya atau tidak, bukan urusanmu. Lebih baik jangan usil mulut, agar jangan menelantarkan keselamatan jiwa ayahmu”

Tiba-tiba Cong To tertawa keras lagi : “Lalu kalau kalian bertemu dengan Thian Hian totiang yang menderita luka parah. Karena kalian menolongnya, imam hidung kerbau itu lantas hendak membalas budi dan segera akan mengajak kalian ke dalam Hian bu-kiong walaupun dia harus melanggar pantangan !”

Ting Ling tertawa : “Ah, locianpwe seperti melihat sendiri peristiwa itu sehingga dapat menebak dengan jitu . . . .”

Kemudian nona itu berpaling ke arah Ca Giok dan berkata : “Memang dalam perjalanan kami tertiga telah berjumpa dengan Thian Hian totiang. Walaupun belum pernah kenal tetapi kami dapat menduga dari pakaiannya. Dia sedang menderita luka parah dan tak ingat diri. Jika saat itu kami bunuh, tentu mudah sekali . . . .”

“Membunuh orang yang sudah tak bersadar bukanlah laku seorang perwira !” seru Han Pin .

“Dalam dunia persilatan jika semua orang seperti engkau, tentulah dunia persilatan takkan terdapat kejahatan lagi !”

“Lalu mengapa kalian tak membunuhnya ?” tanya Cong To pula.

“Kami berjumlah 4 orang. Dalam menghadapi soal Thian Hian totiang, ada 3 suara yang senada. Murid locianpwe menghendaki untuk membawanya ke Hian-bu-kiong. Tetapi saudara Ca Giok menghendaki bunuh saja dulu baru nanti berusaha menolong Cong locianpwe. Adikku tidak setuju semua dan menghendaki untuk menolong dan mengobati lukanya . . . .”

Ca Giok hendak bicara tetapi tak jadi.

Ting Ling tertawa dan melanjutkan ceritanya : “Eh, mengapa tak jadi bicara ? Sekalipun tak bilang, tetapi aku sudah dapat menduga apa yang hendak engkau katakan. Hm, selama aku masih di sini, lebih baik engkau jangan jual mulut tajam !”

Sebenarnya tadi Ca Giok hendak berkata bahwa tindakan Ting Hong untuk menolong Thian Hian totiang itu tak lain hanya untuk mencari keterangan tentang diri Han Ping. Nona itu sama sekali tak tulus hendak menyelamatkan jiwa Thian Hian totiang. Tetapi pada lain saat. Ca Giok merasa kata-kata itu tak perlu, maka ia tak jadi mengucapkan.

“Setelah berdebat beberapa saat. akhirnya kami menyetujui usul adikku untuk menolong luka Thian Hian totiang. Peristiwa selanjutnya kurasa Cong locianpwe tentu sudah tahu sendiri tak perlu kuceritakan,” kata Ting Ling lebih lanjut.

Dalam pada bercakap-cakap itu tak terasa mereka sudah berjalan 7-8 li jauhnya dan tiba di sebuah persimpangan jalan.

Ting Ling segera memberi hormat kepada Cong To : “Harap locianpwe menjaga diri baik-baik, sampai disini terpaksa aku harus minta diri !”

Sebelum Pengemis sakti menjawab, Han Ping sudah mendahului : “Nona Ting hendak kemana ?”

“Pulang ke Lembah Raja setan . . . .”

“Paman nona masih terancam bahaya masakan nona tak mau mempedulikan ?”

“Kepandaianku terbatas. Pergipun tiada guna. Sudah ada beberapa saudara yang pergi, rasanya sudah cukup !”

“Tetapi lukamu masih belum sembuh sama sekali. Bagaimana engkau hendak berjalan seorang diri ?” seru Han Ping.

“Sekalipun lukaku berat tetapi dalam satu dua bulan ini belum mati. Mati di rumah jauh lebih baik daripada mati di luaran. Kelak apabila engkau ada waktu menjenguk adikku di Hian-bu-kiong, tentu takkan menyia-nyiakan harapan hatinya selama ini kepadamu . . . .” Ting Ling tertawa rawan lalu ayunkan langkah.

“Nona masih menderita luka, mana boleh pergi seorang diri . . . .” cepat Han Ping loncat menghadangnya.

Ting Ling tertawa : “Kalau engkau tak memperbolehkan aku pergi lalu bagaimana maksudmu ?”

Han Ping tertegun : “Akan kuusahakan obat untuk menyembuhkan luka nona !”

Ting Ling menutupi mulut dengan lengan bajunya, tertawa : “Bukankah engkau hendak menuju ke makam tua itu ? Mana engkau mempunyai waktu untuk cari obat ?”

Sahut Han Ping : “Meskipun luka nona itu parah tetapi dalam sebulan ini tentu takkan berbahaya. Sehabis ke makam tua dan merebut kotak pedang Pemutus Asmara, tentu akan kucurahkan seluruh tenaga dan pikiranku untuk mengusahakan obat buat nona.”

Thian Hian si imam hidung kerbau itu, merupakan ahli mengobati luka yang paling jempol dewasa ini. Baiklah kita kesana untuk minta dia mengobati lukamu !” tiba-tiba Pengemis sakti Cong To menyelutuk.

Ting Ling gelengkan kepala tertawa : “Aku terkena pukulan tenaga Sam-yang-gi-kang. Hawa murni dalam perut membeku menjadi luka. Budak perempuan dari Lam hay-bun itu (dara baju ungu) pada waktu mengobati aku, telah menduga bahwa aku tentu takkan dapat beristirahat menurut pesannya. Dengan tusuk jarum ia menghalau luka beku dalam perutku ke dalam dada. Karena tak dapat minum obat dan beristirahat seperti yang dipesannya, luka dalam itu berubah menjadi penyakit menongkol. Terus terang, sesungguhnya aku sudah tak mampu bertempur dengan orang lagi. Thian Hian totiangpun sudah mengetahui kalau aku menderita luka dan telah memeriksanya. Dia mengatakan aku masih dapat hidup selama tiga bulan. Dalam masa tiga bulan itu, aku harus bergembira. Kalau tidak, masa hidup tiga bulan itu akan berkurang separuh. Atas perhatian saudara-saudara, Ting Ling menghaturkan banyak terima kasih . . . .”

“Kalau begitu Thian Hian si imam hidung kerbau itu sudah tak berdaya lagi ?” Cong To menegas.

“Dia mengatakan sendiri kepadaku supaya aku lekas pulang saja ke Lembah Raja setan agar dapat meninggal di rumah,” sahut Ting Ling.

Cong To menghela napas : “Ho, maka dia hanya mau menerima adikmu menjadi murid dan bukan engkau !”

“Bukan semata-mata karena itu,” sahut Ting Ling, “hati budi adikku lebih baik dan lebih wajar. Kepada orang selalu bersikap sungguh-sungguh, tidak suka berpura-pura. Dan lagi adikku tidak memiliki landasan yang kokoh dari tenaga dalam keluargaku. Maka mudah dirubah. Aku hanya dapat hidup beberapa bulan saja, percuma dia hendak mengambil murid !”

Han Ping mengangkat kepala memandang ke langit. Ujarnya dengan sedih : “Jika tidak karena mengobati lukaku, tentulah nona takkan kenal dengan dara baju ungu itu. Dengan begitu, akulah yang menjadi gara-gara penyebab penderitaan nona saat ini, jika tak mampu mengobati luka nona, kecuali menjadi manusia yang tak dapat dipercaya akupun menyia-nyiakan budi pertolongan nona kepadaku . . . .”

Karena tak menduga pemuda itu ternyata amat memperhatikan dirinya, hati Ting Ling merekah bahagia. Ia tertawa lembut : “Ah, mana boleh menyalahkan engkau. Yang salah adalah diriku sendiri karena banyak dosa. Tetapi ucapanmu tadi, cukup membuat hatiku puas . . . .”

Kemudian nona itu memandang Cong To, tertawa kemalu-maluan : “Ah, harap saudara-saudara jangan menertawakan diriku tak punya malu. Aku seorang yang sudah tak berapa lama lagi hidup dalam dunia, tentulah tak terhindar dari mengucapkan kata-kata yang tak genah”

Cong To tertawa : “Dunia persilatan mengatakan bahwa kedua nona dari Lembah Raja setan itu, berhati dingin dan ganas. Membunuh orang sambil tertawa. Tetapi apa yang kusaksikan hari ini, benar-benar tak sesuai dengan kabar-kabar itu . . . .”

Tiba-tiba terdengar derap kuda lari mendatangi. Dan dari jauh terdengar penunggang kuda itu berseru : “Suhu, engkau berada di sini ? Ah, aku sampai susah payah mencarimu kemana-mana !”

Ketika Cong To berpaling, dilihatnya penunggang kuda itu Ho Heng Ciu. Pemuda itu tetap mengenakan pakaian indah. Wajah menampil kerut girang-girang kejut. Tetapi kudanya yang berlari amat pesat itu, sudah mandi keringat.

Cong To kerutkan dahi menegur : “Mau apa engkau kemari ?”

Ho Heng Ciu loncat dari kudanya : “Kalau hari ini murid tetap tak dapat menemukan suhu, tentulah . . . .” tiba-tiba Ho Heng Ciu hentikan kata-katanya lalu beralih memandang Han Ping tercengang heran : “Hai, engkau belum mati ?”

Han Ping tertawa hambar : “Apa ? Engkau mengharap aku lekas mati ?”

Ca Giok tertawa dingin, mendamprat Ho Heng Ciu : “Penyakitmu memang sudah mendarah daging ! Perlu apa engkau berkaok-kaok macam begitu ?”

Serentak teringat Heng Ciu bahwa ketika di Bik-lo-san ia pernah bertemu dengan beberapa orang itu. Jika tak mempunyai lencana Kim-pay untuk menekan Cong To supaya membubarkan kedua anak muda itu, tentulah jiwanya sudah melayang.

Ho Heng Ciu tergetar nyalinya. Buru-buru ia berpaling dan memberi hormat kepada Cong To : “Murid menerima amanat dari Kim-pay untuk mencari suhu. Untuk itu murid diberi waktu yang terbatas. Hari ini adalah hari yang terakhir dari batas waktunya. Jika tak dapat menemukan suhu, murid tentu mendapat hukuman sendiri !”

“Mau perlu apa mencariku !”

“Paman dan bibi berjanji untuk bertemu pada . . . .”

Wajah Cong To seketika berubah, tukasnya : “Pulanglah engkau ! Kecuali paman gurumu sudah meluluskan untuk mengembalikan Kim-pay itu, pengemis tua tak mau bertemu muka dengan bibi gurumu !”

Ho Heng Ciu tertawa dingin lalu berkata. : “Amanat Kim-pay merupakan kekuasaan tertinggi dari partai Kim-pay-bun. Apakah suhu hendak menentang ?”

Ting Ling menyelutuk : “Amanat Kim-pay dapat memaksa Cong locianpwe. Tetapi apakah mampu memaksa kita !”

Ho Heng Ciu tertegun. Cepat ia loncat ke atas kuda dan sekali keprak kuda itu loncat dua tombak jauhnya. Heng Ciu menghentikan kudanya lalu berpaling dan berseru lantang : “Paman guru memerintahkan murid supaya menyampaikan amanat Kim-pay kepada suhu. Dalam waktu 10 hari suhu supaya datang ke desa Bik-lo-san-cung. Jika tak memenuhi, berarti menghina pada sucou !”

Tanpa menunggu penyahutan Cong To, pemuda itu terus larikan kudanya sekencang angin.

Sejenak Ca Giok memandang Cong To, katanya : “Saudara Ji, lain kali kalau bertemu dengan pemuda itu, selesaikan saja jangan kasih ampun lagi !”

Diam-diam Ca Giok melirik bagaimana perubahan air muka Cong To. Tetapi ternyata pengemis itu seolah olah tak mendengarkan. Dia tampak tegak termangu-mangu seperti tengah merenung suatu hal yang penting . . . .”

Han Ping menghela napas perlahan, ujarnya : “Ah, manusia hidup ini memang tak dapat lepas dari kesukaran. Seorang tokoh macam Cong locianpwe juga mempunyai persoalan yang sukar diputuskannya. Ah, karena nasib seseorang itu berbeda maka kesulitannyapun berlain-lain.”

Ting Ling mengajak Cong To untuk melanjutkan perjalanan lagi. Pengemis sakti mengiakan lalu melangkah paling depan, diikuti Han Ping bertiga. Karena masing-masing mempunyai persoalan sendiri-sendiri, maka mereka berjalan tanpa bicara.

Empat lima li jauhnya, Cong To tiba-tiba berhenti dan berpaling : “Pergilah kalian ke makam tua itu lebih dulu. Pengemis tua hendak menyelesaikan suatu urusan pribadi. Setelah itu tentu akan cepat-cepat menyusul ke sana !”

“Apakah locianpwe hendak menjumpai sumoay locianpwe ?” tanya Han Ping.

Cong To gelengkan kepala. Belum ia membuka mulut, tiba-tiba terdengar seruan Omitohud dari gerumbul pohon di tepi jalan dan menghadang rombongan Cong To.

Seorang padri jubah kuning yang rupanya menjadi pemimpin rombongan, segera memberi hormat dan bertanya : “Adakah di antara saudara-saudara yang bernama depan Ji ?”

Han Ping agak terkesiap lalu melangkah maju : “Akulah orang she Ji itu. Apakah para suhu ini dari Siau-lim-si ?”

“Benar,” padri jubah kuning itu mengiakan, “kami memang dari Siau-lim-si. Bukankah nama anda ini Han Ping ?”

Mata Han Ping berkilat-kilat menyapu kawanan padri itu. Ia merasa tak kenal semua.

Dengan tenang ia mengangguk kepala : “Akulah Ji Han Ping itu. Maaf kalau sampai membuat para suhu berusaha payah mencariku.”

Padri jubah kuning itu agak terkesiap. Rupanya ia tak menduga bahwa Han Ping akan memberi keterangan begitu terus terang.

“Ji sicu seorang tangkas, kami benar-benar kagum. Tetapi entah bagaimana kehendak anda ?” seru padri jubah kuning.

“Hal itu terserah kepada kalian semua. Dari tempat yaag begitu jauh, apakah maksud suhu-suhu sekalian mencari diriku ini ?” jawab Han Ping.

Padri itu tertawa kecil : “Jika anda berani mengunjukkan diri mengapa tak berani mengakui soal itu ?”

“Soal apa ?” Han Ping makin heran.

Rupanya padri jubah kuning itu memiliki kesabaran yang besar. Sahutnya tenang-tenang : “Ji sicu telah mengambil sebuah pusaka dari gereja Siau-lim-si. Entah apakah sicu hendak menyerahkan pedang itu kepada kami atau hendak ikut kami menghadap ketua kami !”

“Benda apakah yang telah kuambil itu ?”

Masih wajah padri itu tetap tenang : “Adakah saudara sungguh tak tahu atau hanya pura-pura tak tahu ?” tegurnya.

“Sudah tentu tak tahu sungguh-sungguh !” sahut Han Ping.

Tiba-tiba padri itu melengking nyaring : “Pedang Pemutus Asmara !”

Han Ping tertawa dingin : “Pedang Pemutus Asmara adalah pedang milikku ! Entah apakah hubungannya dengan gereja saudara ?”

Marahlah paderi itu : “Terang kalau milik almarhum Hui Gong siansu dari gereja kami, mengapa engkau berani mengaku sebagai milikmu ? Apakah engkau bendak mengelabui ?”

Han Ping tertawa : “Benar, memang semula pedang Pemutus Asnrara adalah milik Hui Gong taysu. Tetapi karena kalah bertaruh, dia memberikan pedang itu kepadaku. Hanya seorang dari gereja Siau-lim-si yang dapat meminta kembali pedang itu !”

“Siapa ?”

“Hui Gong taysu !” Han Ping tertawa nyaring.

Sesaat padri jubah kuning itu tak dapat menyelami kata-kata Han Ping. Maka tanpa banyak pikir ia segera berkata “Sayang, Hui Gong taysu sudah beberapa waktu ini mukswa !”

“Pedang itu diberikan oleh Hui Gong taysu karena kalah bertaruh dengan aku. Kecuali Hui Gong taysu hidup kembali, tiada seorangpun yang berhak memintanya kembali !”

“Kalau begitu jelas saudara hendak membikin sulit gereja kami !” seru padri itu marah.

Melihat suasana makin panas, berserulah Kim Loji kepada Han Ping : “Ping Ji, jangan cari perkara dengan orang. Lebih baik engkau tuturkan kejadian yang sebenarnya kepada mereka !”

Han Ping berpaling memandang paman gurunya seraya geleng-geleng kepala. Lalu berkata kepada padri jubah kuning dengan nada tandas : “Harap taysu suka menyampaikan pada ketua gereja. Bahwa pedang pusaka Pemutus Asmara itu kini sudah menjadi milikku. Jika hendak mengambilnya, lebih dulu harus melangkahi . . . .”

Padri jubah kuning gentakkan tongkatnya ke tanah : “Aku telah mendapat perintah. Jika saudara tak mau menyerahkan pedang itu, engkau harus ikut kami menghadap ketua gereja. Bila ada persoalan, silahkan saudara mengutarakan di hadapan ketua kami !”

Han Ping ganda tertawa dingin : “Karena tak merasa mengambil, apa tidak lucu kalau harus menghadap ketua Siau-lim-si ?” balas Han Ping

“Jika saudara membangkang, apa boleh buat kami terpaksa menggunakan kekerasan.” kata padri itu.

Han Ping maju tiga langkah, serunya : “ Kalau taysu sekalian hendak menggunakan kekerasan silahkanlah”

Melihat Han Ping hanya bertangan kosong, terpaksa padri jubah kuning itupun letakkan tongkatnya ke tanah.

Dari arah belakang terdengar orang menyebut Omitohud. Seorang padri jubah biru muda tampil menghampiri padri baju kuning itu, bisiknya “Harap paman guru bersabar dulu. Murid ingin memberi penjelasan”

“Baik,” kata padri jubah kuning.

“Dalam perintah ketua, apabila bertemu dengan pemuda itu memang tak terdapat perintah supaya menyeret pemuda itu ke hadapan ketua : “Maksud murid, lebih baik kita mengadakan perjanjian untuk bertemu lagi dengan dia . . . .”

Padri jubah kuning merenung beberapa jenak, lalu berkata kepada Han Ping : “Saudara memang seorang perwira dan tak takut menanggung akibat. Sungguh berjodoh karena aku beruntung melaksanakan perintah untuk mencari dan menemukan saudara. Kita tetapkan saja kapan dan dimana akan bertemu lagi. Nanti akan kulaporkan kepada ketua kami. Pada saat itu ketua kami , pasti akan datang untuk meminta kembali pedang itu !”

Han Ping kerutkan dahi. Merenung beberapa saat lalu menjawab : “Baiklah, 10 hari kemudian, kita bertemu di makam tua itu !”

“Saudara telah berjanji sendiri, aku pun segera akan pulang melapor !” kata padri jubah kuning seraya memungut tongkatnya lalu mengajak rombongannya pergi.

Sambil memandang rombongan padri Siau-lim-si yang pergi, Cong To tertawa : “Aha, tambah lagi dengan padri Siau-lim-si. Pertunjukan di makam tua itu tentu akan lebih ramai !”

Ting Ling tersenyum : “Cong locianpwe tak perlu lagi mencari adik seperguruan cianpwe itu . . . .”

“Apa ?” Cong To terkejut.

“Ho Heng Ciu menipumu !”

“Hm, jangan ngoceh tak keruan engkau, anak perempuan setan !” damprat Cong To.

Ting Ling tetawa : “Selama ini memang locianpwe memandang hina pada orang-orang Lembah Raja Setan. Lebih-lebih terhadap kami berdua taci adik. Kebalikannya, sudah sejak lama aku mengagumi sepak terjang ksatria dari locianpwe. Maka apabiIa ada yang kuketahui tentu akan kuberitahu kepadamu. Jika Ho Heng Ciu sungguh sungguh hendak minta locianpwe dalam 10 hari ini datang ke desa Bik-lo-san-cung, tak mungkin ia akan memberitahukan jejak kita ini kepada rombongan padri Siau-lim-si. Kalau perhitunganku tak salah, adik seperguruan locianpwe Itu tentu berada di sekeliling tenpat ini. Oleh karena itu maka Ho Heng Ciu terburu-buru pergi hendak memberitahukan kepada bibi gurunya itu. Tetapi diam-diam pemuda itu kuatir kita akan mempercepat perjalanan sehingga tak sempat menyusul. Oleh karena itu sengaja ia memberitahu kepada rombongan padri Siau-Lim-si agar dapat menghambat perjalanan kita. Kalau tak percaya, locianpwe boleh menunggu disini beberapa waktu. Dalam waktu sejam, Ho Heng Ciu pasti datang membawa kawan-kawannya !”

“Tetapi bagaimana nona dapat mengatakan kalau kedatangan para padri Siau-lim-si itu karena diberitahu Ho Heng Ciu ?” tanya Han Ping.

Ting Ling tertawa : “Silahkan Ji siangkong meneliti keadaan di sekeliling sini. Tentulah engkau akan setuju atas pendapatku. Hutan ini dekat dengan jalan besar. Jika rombongan padri tadi datang dari arah depan, sekalipun masih jauh tentu dapat kita lihat. Dan kalau mereka sebelumnya sudah bersembunyi dalam hutan ini, juga tak mungkin. Apalagi sekali buka mulut, padri baju kuning tadi terus menanyakan orang she Ji. Dari beberapa kesimpulan itu saja, jelas tentulah Ho Heng Ciu yang memberitahu kepada mereka. Dengan begitu barulah rombongan padri itu mengambil jalan kecil dan muncul tanpa sepengetahuan kita !”

“Hebat !” puji Ca Giok, “dugaanmu itu memang tepat !”

Ting Ling tertawa dan berpaling kepada Cong To : “Cong locianpwe, jika ingin bertemu dengan mereka, silahkan tunggu di sini beberapa saat. Tetapi kalau tak mau menemui mereka, lebih baik kita lekas lanjutkan perjalanan lagi !”

Han Ping menghela napas : “Ah, nona menduga jitu sekali. Tuh, mereka sudah muncul . . . .”

Ketika sekalian berpaling, tampak dari arah timur 4 penunggang kuda mencongklang pesat. Dalam kepulan debu tebal di belakang kuda itu, samar-samar beberapa sosok tubuh lari mengejar. Ternyata orang itu jauh lebih cepat dari kuda dan lari ke arah tempat rombongan Han Ping.

Cong To menghela napas : “Budak perempuan setan, engkau benar-benar cerdik sekali. Hari ini pengemis tua mengaku kalah !”

“Bah, locianpwe kelewat memuji,” Ting Ling tertawa.

Pada saat itu kedua sosok tubuh yang lari mendatangi itu sudah tiba pada jarak tiga empat tombak di muka Cong To dkk. Ternyata kedua orang itu adalah tokoh yang pernah menggetarkan dunia persilatan pada 10 tahun yang lalu yakni si Bongkok dan si Pendek.

Keduanya hentikan lari dan memandang tajam kepada Han Ping. Wajah mereka menampil rasa kejut.

Melihat dirinya dipandang begitu rupa, Han Ping menegur : “Kalian melihat apa !”

Belum sempat kedua tokoh itu membuka mulut, keempat penunggang kudapun sudah tiba. Yang pertama adalah Ong Kwan Tiong, pemilik dari gedung Bik-lo-san-cung. Kedua, adalah Ho Heng Ciu. Sedang dua ekor kuda yang lain, dinaiki oleh dua lelaki baju hitam dengan membawa senjata.

Juga Ong Kwan Tiong memandang tajam kepada Han Ping. Beberapa saat kemudian baru berkata : “Ah, kiranya saudara masih hidup !”

Han Ping mau marah tetapi tiba-tiba ia teringat bahwa ketika kedua nona Ting bertemu padanya, pun juga mengatakan begitu.

“Terima kasih, aku masih segar bugar,” sahut pemuda itu.

Ong Kwan Tiong tiba-tiba menghela napas perlahan. Ia memandang Cong To dan Ting Ling lalu berkata : “Hendak kemanakah saudara-saudara ini ?”

“Adakah engkau perlu mengurus hal itu ?” balas Cong To.

“Aku ingin bicara empat mata dengan saudara Ji. Adakah saudara-saudara tak keberatan ?”

Han Ping tertawa : “Jangankan hanya bicara, berkelahi beberapa jurus, pun tak mengapa !”

Ong Kwan Tiong tertawa nyaring : “Ah, saudara Ji memang gagah dan sakti, aku amat kagum. Tetapi aku tak mengandung maksud begitu.”

Ia terus mencongklangkan kudanya lari ke muka. Han Pingpun cepat loncat menyusul. Tak berapa lama mereka sudah terpisah berpuluh tombak dari tempat rombongan Cong To.

Sekonyong-konyong Ong Kwan Tiong loncat dari kudanya, melambung dan berjumpalitan di udara lalu melayang menyerbu Han Ping.

Pemuda itu terkejut. Buru-buru ia hentikan larinya dan siap menghadapi. Tetapi ketika hampir dekat kepada Han Ping, Ong Kwan Tiong tegakkan diri dan melayang turun dua meter di hadapan Han Ping.

“Menurut kabar dalam dunia persilatan, saudara Ji sudah binasa di tangan Thian Hian totiang. Entah adakah berita itu benar atau tidak ?” Ong Kwan Tiong mulai buka mulut.

Han Ping tertawa : “Memang berita itu tak salah. Tetapi kenyataannya, hanya separuh bagian yang benar !”

“Maaf, aku tak mengerti kata-katamu itu !”

Sahut Han Ping : “Jika aku benar sudah mati di tangan Thian Hian totiang, tentu saat ini tak berada di sini bicara denganmu. Memang peristiwa itu telah terjadi, hanya saja aku tak sampai binasa di tangan Thian Hian totiang !”

“Apakah hanya pingsan karena menerima pukulannya,” Ong Kwan Tiong menegas.

“Boleh juga dikatakan begitulah.”

Berkata Ong Kwan Tiong dengan nada serius : “Pada saat berita kematianmu itu sampai di Bik-lo-san-cung, sumoayku tak percaya. Ia mengatakan bahwa saudara tak bernasib begitu malang !”

“Apa yang engkau maksud dara baju ungu itu ?”

“Benar,” sahut Ong Kwan Tiong, “bagaimana pandangan saudara tentang perangainya ?”

Han Ping tertegun, serunya : “Ini . . . . aku sukar menilainya.”

Ong Kwan Tiong menghela napas : “Tetapi saudara tak berketentuan muncul perginya. Berita kematian saudara itu tersebar luas. Sumoayku itu tetap tak percaya maka diam-diam kusuruh orang untuk menyelidiki dan akhirnya berhasil menemukan jenazah saudara !”

“Aku masih segar bugar mengapa kalian menemukan jenazahku ?” seru Han Ping.

Ong Kwan Tiong menghela napas : “Dalam semak belukar diketemukan sesosok mayat yang sudah busuk. Umur dan pakaiannya mirip dengan engkau. Dan yang penting, mayat itu tepat berada di tempat engkau diberitakan telah mati . . . .”

“Aneh !” kata Han Ping.

Ong Kwan Tiong menengadah memandang gumpalan awan yang menebar di langit. Dengan nada penuh kekesalan ia berkata : “Ah, kalau saat itu aku mau mempertimbangkan lebih teliti, mungkin tak sampai terjadi kekilafan begini. Sungguh harus disesalkan mengapa saat itu pikiranku agak kacau sehingga keliru menganggap mayat itu adalah saudara . . . .”

Han Ping tertawa : “Kita tak saling berhubungan, tentu tak terikat suatu perasaan batin. Andaikata mayat itu benar diriku, kiranya saudara Ong tak usah harus bersedih hati.”

“Benar.” sahut Ong Kwan Tiong, “asal saja tidak dikarenakan sumoayku, tak nanti kukerahkan seluruh jago-jago Bik-lo-san-cung untuk menyelidiki jejak saudara !”

“Mengapa sumoay saudara itu ?” Han Ping heran.

“Setelah mendapat laporan, segera kuperintahkan supaya mayat itu segera diangkut pulang agar dapat dikenali. Apakah saudara Ji atau bukan. Ah, ternyata wajah mayat itu sudah rusak sama sekali sehingga sukar dikenali lagi. Dan lagi tubuhnyapun mulai menyiarkan bau busuk . . . .”

“Ah, mengapakah saudara Ong begitu menaruh perhatian besar kepadaku ?” makin heranlah Han Ping dibuatnya.

“Entah siapa yang telah memberitahukan kepada sumoay tentang mayat yang dibawa pulang itu. Sumoay segera masuk ke dalam kamar mayat Itu . . . .”

“Oh . . . .” Han Ping mendesus dan tundukkan kepala.

“Sumoayku memiliki kecantikan yang sukar dicari kedua dalam dunia. Hal itu saudara Ji tentu sudah menyaksikan sendiri. Maka tak perlu kujelaskan lagi. Tetapi tentang kabar kecerdasannya, saudara Ji tentu belum mengetahui. Bukan karena terlalu menyanjungnya, tetapi memang dia memiliki kecerdasan yang luar biasa. Adalah karena menyadari kedua keistimewaan itu, cantik dan pintar, maka perangainyapun angkuh dan tinggi hati. Segala tindakannya tentu tak sama dengan orang biasa . . . .” berkata sampai di sini, tiba-tiba wajah Ong Kwan Tiong berubah rawan. Dua titik airmata menetes turun dari sudut matanya.

“Saudara Ong, mengapa engkau ?” Han Ping terkejut.

Ong Kwan Tiong mengusap airmatanya lalu tertawa memanjang. Nadanya mirip dengan ringkikan naga, melengking jauh tinggi menyusup ke angkasa.

Han Ping makin kaget. Jelas tertawa itu merupakan suatu hamburan dari rasa duka yang ditumpahkan keluar . . .

Diam-diam Han Ping menduga tentu telah terjadi sesuatu yang tak diharapkan pada diri dara baju ungu itu. Hal itu dapat ditilik dari sikap dan cara Ong Kwan Tiong membawakan ceritanya.

Setelah berhenti tertawa, berkatalah Ong Kwan Tiong pula : “Setelah melihat mayat itu bertanyalah sumoayku : “Apakah itu mayat Ji Han Ping ?”

“Apakah jawab saudara Ong ?” seru Han Ping dengan tegang.

Jawab Ong Kwan Tiong : “Ia telah mencapai latihan yang sempurna untuk mengendalikan diri. Walaupun hatinya remuk redam, tetapi ia masih tampak tetap tenang seperti tak terjadi apa-apa. Dan aku yang tak berpikir panjang akan akibatnya, menyahut sekenanya saja : “kiranya tak salah lagi. Ah, tak kuduga sama sekali bahwa beberapa patah keteranganku kepadanya itu, merupakan suatu kesalahan besar yang menimbulkan dendam penyesalan dalam hidupku . . . .”

Karena sesaat tak dapat menangkap apa maksud ucapan Ong Kwan Tiong itu, maka Han Ping hanya geleng-geleng kepala dan berkata : “Apa sebabnya menjadi kesalahan dan penyesalan besar bagi saudara Ong . . . .?”

“Pada saat itu sumoay mengulang tanya lagi. Seharusnya aku menyadari tetapi ah, saat itu aku tetap linglung . . . . tiba-tiba Ong Kwan Tiong berhenti berkata lalu menampar mukanya sendiri sampai beberapa kali. Tamparan itu telah membuat pipi begap dan mulut berlumuran darah.

“Ah, mengapa saudara Ong bertindak begitu hendak menghukum diri sendiri ? Sekalipun engkau keliru menganggap mayat itu, kiranya bukan menjadi soal yang penting . . . !” seru Han Ping.

Memang pertanyaan sumoayku itu tidak salah. Demikianpun jawabanku itu juga tak keliru. Tetapi sesungguhnya dalam hati aku tak yakin. Tetapi entah bagaimana waktu itu aku sembarangan membuka mulut saja. Ketika melihat wajahnya agak berubah, aku sudah merasa tentu ada sesuatu yang tak wajar. Tetapi saat itu ia tetap tertawa dan berkata : “Mati biarlah mati. Orang itu tiada sangkut pautnya dengan perguruan Lam-hay-bun kita. Lekas perintah orang untuk menanamnya. Perlu apa harus dilihat bolak balik . . . .”

Berkata Han Ping : “Benar, memang aku mati atau tidak, tak ada hubungan apa-apa dengan partai saudara. Ucapannya memang benar !”

Kata Ong Kwan Tiong : “Pada saat mengucap kata-kata itu, sikapnya tenang sekali sehingga aku sukar dapat meraba hatinya Dan setelah berkata ia terus berputar tubuh pergi. Suatu hal yang makin membuat orang sukar menduga. Kala itu aku masih geli dan menganggap diriku pintar karena telah menyuruh orang untuk membawa pulang mayatmu. Ah, tak kira kalau diam-diam ia sudah mempunyai rencana tertentu . . . .”

Han Ping makin tak mengerti, ujarnya : “Sesungguhnya persoalan ini bagaimana ? Makin mendengar aku makin bingung !”

Ong Kwan Tiong menghela napas panjang, ujarnya : “Sumoayku adalah mustikanya manusia. Pribadi dan perbuatannya memang jarang orang yang dapat menduga.”

Tiba-tiba Han Ping berbalik tubuh, berseru : “Bolak balik pembicaraan saudara itu hanya urusan partai Lam-hay-bun semua. Maaf, aku tak ingin mendengarkan lagi . . . .” ia terus melesat tiga tombak jauhnya.

“Ia telah menaruh Kumala Dingin mustika partai Lam-hay-bun . . . .” baru Ong Kwan Tiong berseru begitu, Han Ping sudah gelengkan kepala menukas : “Mustika perguruan Lam-hay-bun, tiada sangkut pautnya dengan aku !”

Dengan beberapa kali loncatan, pemuda itu sudah tiba kembali di tempat Pengemis sakti Cong To, katanya : “Mari kita lekas pergi !” Dan iapun terus mendahului berjalan.

Si Bungkuk dan si Pendek karena belum menerima perintah Ong Kwan Tiong, saat itu tampak bingung dan tak tahu bagaimana harus bertindak. Keduanya hanya melongo saja mengawasi rombongan Cong To pergi.

Rombongan Cong To itu terdiri dari jago-jago yang memiliki ilmu silat tinggi. Ketika Ong Kwan Tiong tersadar dan memberi perintah supaya mengejar Han Ping yang sudah lenyap dari pandangan.

Memang Cong To dan rombongannya berjalan pesat sekali. Kira-kira sepuluh tombak jauhnya, kepala Ting Ling sudah basah kuyup dengan keringat. Dengan terengah-engah nona itu berkata : “Silahkan kalian berjalan dulu, aku sudah tak kuat berlari lagi !”

Cong To tertawa gelak-gelak dan mengatakan sedia memanggul nona itu.

“Tidak !” Ting Ling menolak, “aku hendak pulang ke Lembah Raja setan. Kita tak sama arah jalan !”

Tetapi pengemis itu nekad. Ia tak peduli penolakan si nona, lalu disambarnya dan dipanggulnya : “Memang keringat pengemis tua bau busuk maka orang tentu tak sudi !”

Dipanggul dan dibawa berjalan oleh Pengemis sakti Cong To, Ting Ling tertawa : “Bukankah selama ini locianpwe memandang rendah pada orang Lembah Raja setan ? Mengapa hari ini locianpwe begitu memperhatikan diriku ?”

Cong To tertawa : “Budak setan besar, ternyata tidak sejahat yang dikabarkan orang . . .”

“Ah. locianpwe kelewat menyanjung saja. Dengan mendapat pujian begitu rupa dari locianpwe, matipun aku puas !”

“Budak setan, jangan terus menerus memasak 'gulai', pengemis tua tak mau makan !”

Ting Ling tertawa : “Sayang aku tak dapat hidup lama. Jika tak menderita luka maut, aku tentu senang sekali menjadi murid locianpwe dan masuk ke dalam perguruan Kim-pay-bun !”

“Tidak bisa,” sahut Cong To, “sekalipun engkau ingin masuk, tetapi belum tentu pengemis tua mau menerima.”

Ting Ling tertawa : “Locianpwe sudah meluluskan hendak memberi pelajaran silat kepadaku. Sekalipun tak terikat nama guru dan murid tetapi dalam kenyataannya memang mempunyai tali hubungan begitu !”

Dalam pada bercakap-cakap itu mereka sudah mencapai 10 li lagi. Kim Loji yang lukanya baru sembuh dan lengannya yang kutungpun masih belum sembuh sama sekali, tampak tak kuat lagi. Kepalanya basah kuyup dengan keringat.

Setelah berpaling ke belakang dan tak tampak Ong Kwan Tiong dengan rombongannya, barulah Han Ping lambatkan jalannya dan mengajak kawan-kawannya berhenti.

Sambil memandang ke sekeliling, Cong To berkata : “Terus sedikit, kita beristirahat di bawah pohon besar itu !”

Setelah duduk di bawah pohon itu Kim Lojipun segera pejamkan mata mengambil pernapasan. Ca Giok dan pengemis kecil pun tampak agak terengah. Hanya Han Ping dan Pengemis sakti Cong To yang wajahnya tetap biasa.

Tiba-tiba Ting Ling berpaling memandang Han Ping, katanya tertawa : “Apakah yang dibicarakan lelaki berpakaian indah tadi dengan engkau ? Mengapa engkau terus tinggalkan mereka begitu saja !”

“Dia terus menerus menceritakan urusan perguruannya Lam hay bun . . . .”

“Belum tentu begitu,” Ting Ling tertawa, apakah tak menyinggung diri dara baju ungu itu ?”

“Ya, mengatakan juga,” sahut Han Ping, “entah mengapa orang tahu tempat aku menderita luka dari Thian Hian totiang lalu meletakkan sesosok mayat disitu. Mayat itu diberi pakaian yang mirip dengan pakaianku. Mereka menganggap mayat itu adalah mayatku !”

“Ih, aneh juga,” Ting Ling mendesis, “perlu apa mereka mencari mayatmu ?”

“Entahlah.”

“Lalu dimanakah mayat itu sekarang ?”

“Rupanya seperti sudah ditanam . . . . tiba-tiba Han Ping teringat tadi ketika ia hendak pergi, Ong Kwan Tiong telah berseru nyaring mengenai mustika perguruan Lam-hay bun . . . tetapi karena ia terus melesat pergi ia tak tahu bagaimana kelanjutan kata-kata orang Lam-hay-bun itu.

Saat itu barulah ia menyadari bahwa ucapan Ong Kwan Tiong tadi mengandung hal yang amat penting. Seketika teganglah hatinya dan tanpa disadari mulut Han Ping meluncur seruan : “Tusuk Kundai Kumala dingin . . . .”

“Apakah Tusuk Kundai Kumala dingin . . . ?”

Han Ping gelengkan kepala : “Tusuk Kundai Kumala dingin adalah pusaka perguruan Lam-hay-bun . . . .”

“Ih, rupanya pikiranmu agak kacau ! Kutanya apakah hubungan Tusuk Kundai Kumala dingin dengan dirimu ?”

Han Ping menengadah memandang ke langit dan merenung sampai lama. Kemudian ia mengatakan tak tahu hal itu.

Betapapun cerdasnya Ting Ling tetapi terhadap soal Tusuk Kundai Kumala dingin yang tiada kepala dan ekornya itu, ia tak dapat menyelaminya. Maka berulang-ulang ia mengulang kata-kata : “Tusuk Kundai Kumala dingin, Tusuk Kundai Kumala dingin, pusaka perguruan Lam-hay-bun . . . .”

“Harap saudara-saudara tunggu dulu di sini, aku hendak meminta keterangan kepadanya lagi !” tiba-tiba Han Ping berkata seraya terus loncat tiga tombak jauhnya.

“Tak usah kesanalah !” seru Ting Ling.

“Mengapa ?” Han Ping berpaling.

“Mereka sudah jauh. Daripada menyusul mereka lebih baik engkau tunggu sebentar akan kupecahkan soal itu. Mungkin dapat menerka apa maksudnya.”

Karena sudah tahu kecerdasan Ting Ling menganalisa sesuatu, terpaksa mau juga Han Ping kembali.

Sambil membereskan rambutnya yang kusut, nona itu berkata seorang diri : “Tusuk Kundai Kumala dingin. Dari namanya dapat diketahui maksudnya. Bentuknya tentulah menyerupai perhiasan tusuk kundai yang sering dipakai kaum wanita.”

Ca Giok tertawa : “Tentulah sebuah tusuk kundai dari kumala !”

Angin musim rontok meniup. Hutanpun makin sunyi ketika matahari mulai condong ke barat. Margasatwa sibuk berkemas pulang ke sarang masing-masing.

Ting Ling tahu kalau Ca Giok bermaksud hendak mengejeknya tetapi ia tak mempedulikannya. Dengan tenang ia melanjutkan kata-katanya : “Benar, sebatang tusuk kundai kumala. Tetapi yang menjadi pertanyaan, sampai dimanakah nilai tusuk kundai kumala itu sehingga menjadi barang pusaka perguruan Lam-hay-bun ?”

Nona itu merenung beberapa jenak lalu bertanya kepada Han Ping : “Ji siangkong, entah apakah maksud orang itu mengatakan Tusuk Kundai Kumala dingin kepadamu ? Awal perkataannya dan akhir penutupnya jika dapat dirangkai tentulah akan banyak membantu untuk memecahkan persoalan itu. Di tempat mana benda itu ditaruhnya ?”

“Ucapan selanjutnya telah kukerat !” sahut Han Ping.

“Apakah ditaruh di dalam peti mati jenazahmu itu ?”

“Hai ! Mungkin begitulah,” seru Han Ping, “memang ia suruh orang menyediakan peti mati untuk menaruh mayat itu.”

“Benar !” Ting Ling tertawa, “ia telah menaruh pusaka perguruan Lam-hay-bun ke dalam peti mayat itu.”

“Apa gunanya ?” tanya Han Ping.

Ting Ling tertawa tawar : “Dia telah keliru menyangka kalau mayat itu adalah mayatmu. Maka diberinya tusuk kundai kumala itu. Kalau benda itu merupakan pusaka perguruan Lam-hay-bun tentu mempunyai khasiat istimewa. Kalau tidak demikian tentulah berarti tusuk kundai itu sebagai wakil pribadi, untuk menemani sang kekasih. Ai, dara itu benar-benar sudah terbenam dalam lautan asmara !”

Han Ping tercengang. Ia kerutkan dahi, ujarnya : “Adakah sungguh begitu ?”

“Mudah-mudahan dugaanku tepat,” sahut Ting Ling.

Han Ping tundukkan kepala duduk bersandar pohon. Wajah si dara baju ungu yang cantik segar laksana bunga mekar dipagi hari, mulai terbayang pelapuknya . . . .

Setelah termenung beberapa saat, berkata pula Han Ping : “Dia mengatakan kalau dara baju ungu itu telah menaruh Tusuk Kundai Kumala dingin pusaka perguruan Lam-hay-bun . . . .”

Kembali ia diam merenung sampai beberapa saat. Rupanya Ca Giok kesal, bisiknya kepada Cong To : “Entah masih berapa jauhkah makam tua itu dari sini ?”

Tiba-tiba Han Ping berbangkit bangun : “Sudah tak berapa jauh lagi, mari kita lanjutkan jalan !” ia terus berjalan lebih dulu.

Cong To, Ting Ling dan kawan-kawannya terpaksa mengikuti anak muda itu. Dalam pada itu diam-diam Ting Ling memperhatikan kerut wajah Han Ping. Dihtiatnya wajah pemuda itu menampil suatu tanda keresahan hati. Diam-diam Ting Ling menghela napas, pikirnya : “Menilik gelagatnya, dia juga menaruh hati pada dara baju ungu itu. Ah, kasihan adik Hong ia mati-matian mencintainya tetapi yang dicinta sudah menaruh hati pada lain orang . . . .”

Oleh karena ingin tahu bagaimana kelanjutannya, maka Ting Ling tak mau mengatakan akan pulang ke lembah lagi.

Ca Giok tetap merisaukan keadaan ayahnya. Sedang Cong To dan Kim Lojipun ingin lekas-lekas mencapai makam tua itu. Mereka berjalan pesat. Bahkan pada malam haripun tetap melakukan perjalanan. Menjelang fajar tibalah mereka di tempat yang dituju.

Sambil menunjuk ke arah gunduk-gunduk batu yang tinggi rendah menonjol tak keruan, Han Ping berkata : “Nah, itulah makam tua yang hendak kita cari !”

Ca Giok memandang ke arah yang ditunjuk Han Ping. Tak tampak bayangan seorangpun jua. Begitu pula dengan suara pertempuran.

“Aneh, mengapa tiada seorangpun juga ?” kata Ca Giok.

“Dikuatirkan kita terlambat datang kemari. Yang mati sudah mati, yang luka tetap terluka. Sedang yang hidup sudah pergi !” kata Ting Ling.

Ca Giok tertegun, serunya : “Biarlah aku yang masuk lebih dulu !” ia terus lari. Cong To dan rombongannya mengikuti.

Melintasi pohon jati tua, tampak makam itu tak terdapat sesuatu jejak apa-apa. Ca Giok makin gelisah memikirkan keselamatan ayahnya. Setelah memutari makam itu satu kali, ia berjalan dengan kepala menunduk, serunya : “Cong locianpwe yang luas pengalaman tentu dapat menemukan sesuatu jejak . . . .”

Sahut Ting Ling dengan dingin : “Baik pihak mana yang menang, juga takkan meninggalkan mayat disini . . . Sekalipun tak diurus orang, mayat itu tentu sudah habis dimakan binatang buas !”

Wajah Ca Giok berubah. Namun ia masih berusaha menenangkan diri : “Menurut hematku mungkin kita datang terlalu pagi. Jika tempat ini benar telah dijadikan tempat pertempuran, tentu sekurang-kurangnya terdapat bekas-bekas senjata rahasia atau pun jenis senjata tajam”

Sahut Ting Ling : “Tanah tertutup rumput dan rumput tertimbun salju jika engkau tak menyingkap rumput-rumput itu, mana engkau dapat menemukan jejak ?”

Sebenarnya Ting Ling hendak mengolok-oloknya. Tetapi karena amat gelisah memikirkan ayahnya maka Ca Giok kacau pikirannya. Ia anggap kata-kata Ting Ling itu benar maka segera ia mematahkan sebatang dahan jati lalu mencongkel gerumbul rumput.

Makam tua itu penuh ditumbuhi rumput setinggi lutut. Pada akhlr musim rontok, embun tebal bertumpuk mirip salju. Karena dibongkar oleh Ca Giok, lapisan embun tebal berhamburan ke pakaian pemuda itu.

Melihat itu tertawalah Ting Ling. Ca Giok berpaling dan tersadarlah ia kalau dirinya sedang dipermainkan sinona. Seketika marahlah ia. Ia berjalan menghampiri seraya menegur tajam : “Apa artinya ini ?”

Wajah Ting Ling berubah bengis, balasnya : “Apa ? Bukankah engkau sendiri yang menurut kata-kataku ? Siapa yang engkau salahkan ?”

“Dalam saat dan tempat begini, masakan nona masih mempunyai selera untuk mengolok-olok diriku ! Apakah engkau tak mempedulikan sama sekali nasib pamanmu ?”

“Huh, siapa bilang tak peduli !” jawab Ting Ling, “engkau sediri yang tak tenang. Engkau tak dapat memikir panjang. Jika benar mereka sudah tiba kemari dan bertempur, baik pihak manapun yang menang tentu akan masuk ke dalam makam. Dan di luar makam tentu diberi orang yang jaga. Jika keadaan makam ini begini tenang, masakan ada orang yang sudah memasuki makam itu ?”

Mendengar uraian Ting Ling, Ca Giok terpaksa menelan kemengkalan hatinya. Dalam pada itu diam-diam ia girang karena Nyo Bun Giau dan rombongannya belum datang ke makam situ.

“Kalau begitu, mereka belum datang kemari ?” Han Ping ikut bicara.

“Sudah datang atau belum, sukar dikata. Tetapi jelas disini belum terjadi pertempuran. Harta pusaka dalam makam tua itu masih tetap belum terganggu !”

Setelah memandang ke sekeliling makam itu, berkatalah Ca Giok : “Jika dalam makam tua ini benar-benar terdapat harta pusaka, sekalipun tanpa peta, tetap dapat mengambilnya !”

Mendengar itu tak tahan lagi Cong To, serunya : “Bagus, angkatan muda akan menyisihkan angkatan tua. Kalian ternyata jauh lebih pintar dari pengemis tua. Tetapi pengemis tua benar-benar ingin mendengar, dengan cara apakah harta pusaka dalam makam itu dapat diambil tanpa menggunakan peta petunjuk !”

“Soal itu sederhana sekali,” sahut Ca Giok, “asal kita gunakan pekerja yang bertenaga kuat untuk menggali makam ini, masakan tak dapat menemukan harta pusaka itu !”

Tetapi Han Ping membantah dengan mengatakan bahwa makam itu dibuat dengan bangunan yang amat kokoh sekali dan dilengkapi dengan bermacam-macam perkakas rahasia. Cara penggalian seperti yang dikatakan Ca Giok itu tentu akan makan banyak korban jiwa.

Setelah merenung sejenak, Ca Giok menjawab lagi : “Segala rasa milik, tentu membangkitkan keberanian. Mereka begitu ngiler hendak mencari harta pusaka, matipun tentu rela !”

Han Ping menghela napas. Ia tak mau berbantah lebih lanjut.

Kebalikannya Kim Loji mulai buka mulut : “Pendapat Ca sau pohcu tadi meskipun bagus, tetapi Ca sau pohcu tak tahu ciptaan bangunan makam yang luar biasa itu. Tanpa menggunakan peta petunjuk, sekalipun menggunakan seribu tenaga, tetap tak mungkin dapat membobolkan bangunan makam itu. Apalagi perkakas rahasianya, wah, hebatnya bukan kepalang jika tak tahu cara bagaimana menggerakkan perkakas rahasia itu, jangan harap dapat keluar . . . .”

“Lekas bersembunyi ? sekonyong-konyong Ting Ling melengking tegang sehingga sekalian orang tak sempat memandang ke muka lagi, terus menyusup ke dalam gerumbul. Ting Ling sendiri mengikuti di belakang Han Ping bersembunyi di dalam semak.

Ketika sudah bersembunyi, Han Ping melongok ke empat penjuru. Ia heran karena tak melihat suatu apa. Segera ia berpaling ke belakang, menegur Ting Ling : “Apakah sungguh ada orang datang ?”

Ting Ling gelengkan kepala : “Tak ada !”

Han Ping marah : “Engkau ini bagaimana ? Bicara dan bekerja tanpa menyesuaikan suasana. Mengapa pada saat begini masih suka bengurau !” - habis berkata ia terus berdiri lalu melangkah keluar.

“Tunggu dulu sebentar, maukah engkau ?” seru Ting Ling perlahan, “aku hendak bicara dengan engkau !” - ia jambret ujung baju pemuda itu.

Karena nada nona itu amat rawan, tanpa terasa Han Pingpun berhenti. Ketika berpaling dilihatnya mata nona itu berlinang-linang airmata. Sudah tentu Han Ping terkejut.

“Kalau hendak bicara, silahkan mengatakan. Asal tenagaku mampu saja, aku tentu akan melaksanakannya,” kata Han Ping.

Nona yang biasanya keras kepala itu, tiba-tiba saat itu berubah lemah lembut. Dua tetes airmata menitik turun.

“Aku tak lama lagi tentu mati,” katanya, “sekalipun aku mengatakan beberapa patah kata yang tak pantas, engkaupun tentu takkan menganggap dalam hati.”

Han Ping terkesiap. Ia mendesak supaya nona itu segera mengatakan apa yang dikehendaki.

Ting Ling tertawa hambar : “Tahukah engkau mengapa aku menipu kalian ini ?”

“Entahlah,” sahut Han Ping.

“Tadi tiba-tiba kurasa lukaku timbul suatu perubahan. Mungkin aku akan mati lebih cepat !”

Han Ping terbeliak : “Apa ? Mengapa bisa begitu ?”

“Ah, masakan aku hendak membohongimu !” sahut Ting Ling.

Han Ping berjongkok lalu lekatkan telapak tangannya ke punggung si nona seraya menyuruhnya melakukan pernapasan untuk menyambut tenaga murni yang hendak ia salurkan.

Saat itu tenaga dalam Han Ping sudah mencapai tataran tinggi. Begitu menyalurkan tenaga murni, seketika Ting Ling rasakan tubuhnya dialiri serangkum hawa panas.

“Percuma,” Ting Ling gelengkan kepala, “lukaku ini sudah tak mungkin disembuhkan lagi. Sedangkan Thian Hian totiang saja sudah angkat tangan, perlu apa engkau membuang tenaga sia-sia !”

Berkata Han Ping dengan nada bersungguh : “Tak peduli bermanfaat atau tidak, pokoknya aku akan berusaha sekuat tenaga. Lekaslah nona melakukan pernapasan !”

Ting Ling tertawa : “Ah, apakah engkau benar-benar tak merelakan aku mati ?”

“Masakan perlu bertanya ?” jawab Han Ping.

Ting Ling tertawa terhibur lalu perlahan-lahan pejamkan mata dan melakukan pernapasan untuk menyambut penyaluran hawa murm itu.

Pada permulaan, Ting Ling hanya rasakan aliran hawa panas itu menyalur ke seluruh urat nadinya sehingga tubuh terasa nyaman. Tetapi pada saat aliran hawa panas itu melanda ke bagian dada, tiba-tiba ia rasakan uluhatinya amat sakit sekali. Ia tak tahan dan condongkan tubuh ke muka, menghindari tangan Han Ping.

Kepala pemuda itu basah dengan keringat. Jelas dia sudah mengerahkan seluruh tenaga dalam untuk memberi penyaluran. Ting Ling tersenyum, serunya : “Sakitku kambuh . . . .” - ia mengambil sapu tangan lalu mengusap kepala Han Ping seraya berkata : “Ah, keringatmu begini banyak . . . .”

Han Ping menghela napas : “Jika engkau mau menahan sakit sedikit waktu saja, mungkin aku dapat menembus jalan darah yang menyebabkan perubahan pada lukamu itu !”

“Jangan sesalkan aku. Aku benar-benar tak tahan menderita sakit yang begitu hebat. Lebih baik biarkan aku mati saja . . . .” - kata Ting Ling seraya perlahan-lahan sandarkan kepalanya ke bahu Han Ping.

Melihat keadaan nona itu, timbullah rasa kasihan Han Ping. Sambil menepuk perlahan bahu nona itu ia menghiburnya “Tak apalah. Nanti setelah kututuk jalan darahmu supaya engkau pingsan, barulah kusalurkan tenaga murni untuk menembus jalan darah tempat luka itu.

Saat itu engkau tak merasa sakit dan dapat bertahan beberapa waktu.”

Tiba-tiba Ting Ling mengangkat kepala dan menatap iba pada wajah Han Ping : “Apakah engkau kira aku sungguh-sungguh tak tahan menderita kesakitan itu ?”

Han Ping terkesiap : “Bukankah engkau sendiri yang bilang tadi ? Bagaimana aku dapat mengetahui ?”

Ting Ling menghela napas. Ia merentang sepasang mata memandang wajah Han Ping. Seolah-olah ia hendak mencari sesuatu miliknya yang hilang . . .

Dua pasang mata beradu !

Saat itu barulah Han Ping mengetahui pandang mata nona itu memancar rasa kasih. Tergetarlah perasaan Han Ping. Buru-buru ia berpaling muka dan berbisik : “Harap jangan memandang aku begitu rupa.”

Belum Ting Ling membuka mulut, tiba-tiba di sebelah luar terdengar suara orang berseru nyaring : “Apakah Tusuk Kundai Kumala Dingin itu dapat menyamai khasiat dari Tenggoret Kumala ?”

Jelas suara itu dari lain orang, bukan salah seorang dari rombongan Cong To.

Ting Ling menarik lengan baju Han Ping dan membisikinya : “Tuh, aku tak menipumu. Memang ada orang yang datang”

Kuatir didengar pendatang itu, Han Ping tak berani bicara dan melainkan berpaling seraya tertawa. Ia beringsut mengisar diri untuk melongok keluar dari celah semak. Tetapi batu makam yang berjajar-jajar itu menghalang pandang matanya. Ia tak dapat melihat pendatang itu.

Rupanya yang datang itu bukan hanya seorang. Karena saat itu juga terdengar suara lain orang berkata : “Bukan hanya menyamai, pun bahkan melebihi Tenggoret Kumala. Kecuali itu ada pula kegunaannya yang besar sekali !”

“Apa ?” seru suara lantang tadi.

Orang yang nadanya bening menyahut : “Apakah saudara suka akan kitab pusaka perguruan Lam-hay-bun ?”

Orang bernada nyaring tadi tertawa keras : “Setiap hidung orang persilatan tentu menyukai kitab pusaka Lam-hay-bun. Akupun tak terkecuali dari mereka !”

Han Ping membisiki Ting Ling : “Rupanya salah seorang dari mereka itu Ih Thian Heng !”

Ting Ling tertegun : “Pernahkah engkau melihat Ih Thian Heng ?”

“Pernah bertemu sampai tiga kali. Nadanya mirip dengan dia tetapi entah benar entah tidak !”

Ting Ling goyangkan tangan beberapa kali lalu membisiki ke dekat telinga Han Ping : “Dia amat sakti sekali. Jika kita terus bicara tentu akan diketahuinya !”

Han Ping mengangguk dan tak berani bicara lagi. diam-diam Ting Ling merasa pemuda itu mendadak menurut perintahnya. Dengan tersenyum ia lekatkan lehernya ke bahu pemuda itu dan memasang telinga untuk menangkap pembicaraan kedua pendatang itu.

Berkata pula orang yang bernada bening itu : “ . . . . percayalah omonganku. Selain Tusuk Kundai Kumala dan kitab pusaka dari Lam-hay-bun akan dapat kita peroleh, pun masih akan mendapat seorang istri yang luar biasa kecantikannya . . . .”

Nada suara orang itu makin lama makin lemah sehingga tak dapat didengar lagi. Rupanya mereka tiba-tiba berganti arah, membelok ke arah lain.

Han Ping tajamkan pendengarannya tetapi tetap tak mendengar suara apa-apa. Rupanya mereka sudah pergi. Ia menghela napas untuk melonggarkan ketegangan hatinya. Tiba-tiba daun telinganya terbaur angin lembut yang harum baunya.

Ketika berpaling, dilihatnya Ting Ling sedang sandarkan muka ke bahunya. Bau harum itu berasal dari tubuh gadis itu.

Han Ping kerutkan alis : “Karena mereka sudah pergi, mari kita keluar juga !”

“Jangan,” Ting Ling tertawa, “mereka segera akan kembali lagi !”

Han Ping sudah menaruh kepercayaan penuh atas kecerdasan Ting Ling menduga sesuatu. Maka ia menurut dan duduk kembali.

Ting Ling tertawa seraya menariknya bangun : “Ah, aku hanya membohongimu, mengapa engkau percaya ?”

Dipermainkan begitu rupa, Han Ping tak dapat berkata apa-apa.

Sambil masih mencekal tangan Han Ping, Ting Ling mengajaknya loncat keluar.

“Ha, ha, ha, kalian sungguh mesra benar !” tiba-tiba terdengar orang tertawa gelak-gelak.

Merahlah wajah Ting Ling. Buru-buru ia lepaskan tangan Han Ping lalu berputar diri. Tampak Ca Giok berdiri beberapa meter di sebelah muka sambil menggendong kedua tangannya di punggung. Dengan tersenyum senyum, pemuda itu berseru pula : “Ah, rejeki saudara Ji sungguh besar sekali !”

“Ini, ini, ini . . . .” Han Ping tergagap tak dapat bicara.

Adalah Ting Ling yang cepat menegur Ca Giok : “Apa ? Apakah engkau sakit melihatnya ?”

“Ah, mana aku merasa begitu ?” Ca Giok tertawa, “aku toh belum sempat menghaturkan selamat pada kalian ?”

Ting Ling maju dua langkah ke samping Han Ping lalu menantang : “Kalau engkau belum puas melihat, pandanglah sampai puas !” - ia terus menggandeng lengan Han Ping.

Sudah tentu Han Ping terkesiap dan menyurut mundur untuk menghindar : “Ah, harap nona jangan bergurau !”

Ca Giok tertawa : “Sikap saudara Ji menolak orang yang datang dari ribuan li jauhnya, sungguh kelewat . . . .” - baru ia berkata begitu tiba-tiba ia merasa dilanda oleh serangkum angin keras. Cepat ia menyingkir ke samping. Dan ketika berpaling, tampak Cong To sudah berdiri di tempat sebelum Ca Giok menyingkir tadi.

“Ih Thian Heng dan seorang lelaki pertengahan umur serta seorang berpakaian sastrawan, menuju ke arah tenggara. Dalam beberapa saat ini pengemis tua melihat belasan tokoh persilatan menuju ke sana. Tentu bukan sewajarnya . . . .” kata Pengemis sakti Cong To,

“Tadi ketika bersembunyi dalam semak, akupun mendengar Ih Thian Heng bicara dengan seseorang tentang Tusuk Kundai Kumala. Rupanya soal itu ada hubungannya. Kita meninjau ke sana atau tidak !”

Cong To merenung sejenak, katanya “Ya, kita lihat saja kesana !” - ia terus mendahului lari ke arah tenggara.

“Karena mereka berjumlah banyak kemungkinan ayah tentu ke sana juga,” kata Ca Giok terus menyusul lari.

Han Ping memandang kian kemari tetapi tak melihat Kim Loji. Baru ia hendak menanyakan, tiba-tiba dari balik pohon jati tua, terdengar suara Kim Loji berseru : “Ping Ji, kemarilah. Aku hendak bicara !”

Han Ping segera menghampiri. Dilihatnya Kim Loji berada di atas dahan pohon. Segera Han Ping memberi hormat serta menanyakan apa yang akan dikatakan pamannya itu.

“Ping-ji, kelak apabila bertemu dengan padri Siau-lim-si, jangan berkelahi dengan mereka,” kata Kim Loji.

Han Ping mengiakan.

“Silahkan kalian pergi, biarlah kutunggu di sini. Apabila urusan sudah selesai, harap lekas kembali lagi,” kata Kim Loji.

“Mengapa paman tak ikut ?”

Kim Loji merenung sejenak lalu berkata : “Pertama, karena makam tua Ini sudah termahsyur di dunia persilatan kalau menyimpan harta pusaka yang tak ternilai jumlahnya. Maka aku hendak menunggu di sini saja. Nanti akan kuperhatikan tokoh-tokoh siapa yang datang kemari mencari harta pusaka itu. Dan kedua kalinya, Ih Thian Heng muncul di sana. Kalau sampai kepergok, sungguh tak enak bagiku !”

Bermula Han Ping hendak mendesak Kim Loji supaya ikut sekali. Tetapi pada lain kilas, ia teringat, nyali pamannya tentu sudah kuncup karena kewibawaan Ih Thian Heng. Jika memaksa pergi, tentulah tak baik. Lebih baik tinggalkan paman itu di situ, seakan untuk menjaga makam.

“Baiklah, jika paman hendak menjaga di sini,” Han Ping memberi hormat, “asal jangan pergi kemana-mana agar kita jangan bingung mencari.”

Kim Loji tertawa : “Jangan kuatir, aku tentu dapat menjaga diri”

Setelah itu Han Ping segera ajak Ting Ling pergi. Tetapi nona itu menolak : “Silahkan engkau pergi sendiri, maaf, aku tak dapat menemani.”

“Mengapa ?” Han Ping heran.

“Lukaku segera terasa sakit. Mengapa engkau ajak aku ke sana untuk menerima hukuman ?”

“Tetapi kalau engkau seorang diri di sini, sungguh menguatirkan.”

“Tak perlu banyak pikiran. Sebelum kita berkenalan, bukankah aku sudah sebesar ini ?”

Kata-kata nona itu membuat Han Ping tak dapat bicara. Ia hanya tergagap : “lni, ini aku . . . .”

“Sudahlah, jangan ini itu,” seru Ting Ling, “lekaslah ke sana ! Aku bersama Kim locianpwe menunggu kalian di sini. Dalam dua tiga hari ini kemungkinan aku belum mati. Mungkin masih dapat bertemu muka lagi . . . .” - nada nona itu berubah rawan. Ia berputar tubuh terus melangkah perlahan- lahan.

“Nona Ting, harap kembali . . . .” buru-buru Han Ping memanggil. Tetapi sampai diulang beberapa kali, tetap Ting Ling tak mau kembali. Ia terus berjalan ke muka, menyusup ke dalam salah sebuah batu nisan yang menonjol.

Han Ping menghela napas. Ia minta kepada Kim Loji supaya suka melindungi Ting Ling. Setelah meninjau ke tempat tokoh-tokoh persilatan itu, segera ia akan kembali.

“Ah, nona Ting tak perlu dilindungi. Ia cerdik dan kaya dengan akal. Mungkin ia dapat membantu aku di sini.” Kim Loji tertawa.

Han Ping tegak sampai beberapa jenak. Tak tahu apa yang harus dikatakan lagi. Tiba-tiba ia berputar diri lalu loncat tiga tombak jauhnya. Dengan gunakan ilmu meringankan tubuh, cepat sekali ia sudah lenyap dari pandangan.

Melihat gerakan pemuda itu diam-diam Kim Loji tersenyum gembira. Dalam sebulan tak berkumpul, ternyata Han Ping sudah maju pesat sekali dalam ilmu silatnya.

Kepergian Han Ping itu membawa hati yang gundah. Tampaknya ia setengah tahu setengah tidak, akan gerak gerik Ting Ling yang penuh dengan curahan Asmara itu. Tetapi ia tak tahu bagaimana cara menghibur hati nona yang sedang dimabuk Asmara itu agar jangan sampai menderita putus asa dan tersinggung perasaannya. Hal itulah yang membuat hati Han Ping serasa tertindih oleh batu besar sehingga dadanya seperti terhimpit tak dapat bernapas . . . .

Dalam cengkaman keresahan dan kekacauan pikiran itu, larilah Han Ping sepembawa kakinya. Ia lari asal lari, entah sudah berapa lama, entah sudah tiba dimana. Baru setelah terkejut mendengar suara orang memanggil namanya, iapun berhenti.

Ketika berpaling, dilihatnya Cong To berlari menghampiri diikuti dari belakang oleh Ca Giok.

Ternyata pada waktu lari tadi, Han Ping tundukkan kepala sehingga ia tak merasa kalau sudah mendahului Cong To dan Ca Giok.

“Ho, lari saudara Ji sungguh cepat sekali !” seru Ca Giok seraya mengusap keringat di kepala.

Karena lari secepat-cepatnya itu, kepala Han Ping pun basah dengan keringat. Ia mengatakan hendak menyusul kedua orang itu.

Cong To tertawa : “Tadi pada jarak 10 li, engkau sudah mendahului kami berdua. Mengapa engkau masih lari seperti diuber setan ?”

“Aku hanya menumpahkan perhatian untuk lari, tidak memperhatikan orang di jalanan”

“Andaikata tak kupanggil, sampai kapankah saudara Ji akan berhenti !” tanya Ca Giok.

Han Ping terkesiap : “lni sukar dikata. Jika sudah letih tentu berhenti !”

Pengemis sakti Cong To kerutkan dahi, tegurnya : “Eh, mengapa budak setan yang besar itu tak ikut serta ?”

Han Ping mengatakan nona itu hendak beristirahat merawat luka. Demikianpun dengan pamannya Kim Loji.

“Ah, seharusnya engkau bawa budak setan itu kemari. Siapa tahu kita memerlukan bantuannya,” kata Cong To.

“Ya, memang nona Ting Ling seorang gadis cantik lagi cerdas. Dan saudara Han Ping gagah perkasa dan berilmu tinggi. Benar-benar merupakan sepasang mustika yang amat sepadan. Dalam hal menjodohkan mereka, Cong locianpwe harus turun tangan . . .” Ca Giok menggoda.

Cong To tertawa : “Terus terang selama ini pengemis tua tak mempunyai kesan baik terhadap orang kedua Lembah dan ketiga Marga itu. Dan yang paling menjemukan sendiri adalah orang dari kedua lembah itu. Tak kira beberapa hari bergaul saja, aku benar-benar amat berkesan kepada budak perempuan besar dari Lembah Raja Setan itu. Rupanya pekerjaan pengemis tua sebagai comblang nanti, tentu ada harapan !”

Ca Giok tertawa : “Sayang nona Ting Ling tak dapat menikmati rezeki sebesar itu karena mengidap luka yang tak dapat disembuhkan !”

Cong To tertegun lalu mendamprat pemuda itu : “Bagus ! Ho, nyalimu sungguh besar. Berani juga engkau mempermainkan pengemis tua, ya !”

“Tetapi bicaraku belum selesai dan locianpwe sudah menukas. Bagaimana hendak menyalahkan aku !” bantah Ca Giok.

Han Ping memandang Ca Giok dan berkata dengan serius : “Senda gurau semacam itu tadi, harap saudara jangan mengatakan lagi. Soal yang menyangkut nama baik seseorang, hendaknya jangan dibuat main-main !”

Masih Ca Giok membela diri : “Putra putri persilatan, kebanyakan tak terlalu memusingkan soal adat istiadat yang tak berarti. Janganlah hendaknya saudara Ji memakai ukuran orang biasa untuk mengukur diriku.”

Melihat kedua pemuda itu saling tarik urat tegang, tiba-tiba Cong To tertawa : “Ho, pengemis tua paling tak senang melihat orang mengerut dahi. Hayo kita lanjutkan perjalanan lagi !”

Han Ping melirik ke samping lalu berseru : “Cong locianpwe . . . .”

“Bukankah engkau hendak menanyakan pengemis kecil !” tukas Cong To,

“Benar, kemanakah dia ?”

“Selamanya pengemis tua dan pengemis kecil itu selalu berjalan sendiri-sendiri. Kami tak perlu mengurus satu sama lain,” sahut Cong To seraya lari.

Terpaksa kedua pemuda itu mengikuti lari. Kira kira berlari 10 li jauhnya, tibalah mereka di sebuah lereng gunung. Tampak Pengemis sakti bersembunyi di balik pohon yang tumbuh di atas puncak lereng dan mengacungkan tangan memanggil.

Han Ping terkesiap. Ia yakin kalau tidak bertemu dengan musuh yang tangguh tentulah pengemis sakti itu melihat sesuatu hal luar biasa yang belum pernah dialami seumur hidup. Karena menilik tingkatan pengemis tua itu, tak mungkin akan bersembunyi jika tak menghadapi kedua kemungkinan tersebut.

Han Ping lepaskan tangannya dari cekalan Ca Giok, katanya : “Saudara Ca, Cong locianpwe tentu menghadapi musuh tangguh. Hendaknya jangan kita sampai mengejutkan mereka !” dengan perlahan-lahan ia terus mendaki ke atas.

Ca Giokpun sependapat dengan dugaan Han Ping. Ia mengikut di belakang Han Ping dan merangkak ke atas dengan hati-hati.

Ketika tiba di belakang pengemis sakti, kedua pemuda itu melongok ke bawah dan serempak tergetarlah hati keduanya !

Di muka sebuah gunduk makam yang rupanya baru saja ditimbuni tanah dan taburan bunga serta sesaji buah-buahan segar, seorang dara baju ungu dan kepala terbungkus sutra hitam, sedang duduk bersila di hadapan makam itu. Tangannya tak henti hentinya menabur bunga dan kertas.

------------ Hal 70 - 71 hilang --------------------

lahi. Mereka sedang melakukan upacara penguburan. Tentu hatinya berduka cita. Kurang layak kalau membuat onar.” sahut Han Ping.

“Baiklah, pengemis tua tak pernah mau memaksa orang. Kalau engkau tak suka pergi, tunggulah di sini saja !” kata Cong To seraya mulai menuruni lereng gunung.

Sekalipun dalam hati Han Ping menduga bahwa yang dikubur itu tentulah orang yang dianggap sebagai dirinya, tetapi diam-diam Han Ping masih ragu-ragu. Ia masih tak percaya masakan dara baju ungu yang begitu cantik dan begitu angkuh, mau mencintai dirinya . . . ?

Diam-diam ia kepingin mengetahui juga. Cepat ia melambung, bersembunyi di atas sebatang pohon yang rindang daunnya.

Sementara setelah tiba di lembah tempat upacara penguburan, tiada seorangpun yang memperhatikan kedatangan Cong To dan Ca Giok.

Setelah batuk-batuk, Pengemis sakti Cong To Iangsung menghampiri kuburan itu . . .

0 Response to "Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 22 : Sebuah mayat."

Post a Comment