Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 20 : Telur di ujung tanduk.

Mode Malam
Jilid 20

Dara jelita baju ungu merenung sejenak lalu berkata pula dengan perlahan : “Atau menggunakan lain cara apa saja. Tetapi pokoknya, dalam makam tua itu kecuali Kupu-Kupu Emas dan Tenggoret Kumala, tentu masih ada lain benda yang lebih berharga dari kedua benda itu. Jika aku hanya mengambil kedua benda itu, apakah takkan rugi besar ?”

“Lalu bagaimana maksud nona ?” tanya Ih Thian Heng.

“Kalau menurut kemauanku, dikuatirkan engkau tentu tak setuju !”

“Harta permata merupakan benda keduniaan yang dalam hidup orang sukar membawa, matipun tak dapat membawanya. Silahkan nona mengatakan saja. Asal dipertimbangkan sedikit untukku, aku tentu setuju !”

Si dara tertawa : “Mungkin pendirianku, tidak terlalu adil ! Tetapi sesungguhnya di dunia ini tak ada barang yang adil seratus persen. Yang besar menghendaki pembagian besar, yang kecil dapat kecil. Hanya karena terpaksalah maka orang mau menerima keadilan itu secara main mengalah di sana sini !”

Ih Thian Heng tertawa ; “Harap nona suka mengatakan apa yang nona kehendaki itu lebih dulu. Soal lain-lainnya nanti kita bicarakan lagi. Besar meminta bagian besar, yang kecil hanya diberi sedikit, sesungguhnya hanya merupakan hukum alam. Sekalipun bagiku hal itu memang berguna tetapi bagi nona tak berarti apa-apa.”

“Siapa bilang tak berguna ? Hanya tak berlaku sajalah,” seru si dara tertawa.

“Uraian nona benar merupakan pembicaraan yang bermutu. Aku senang sekali mendengarkan !”

“Kami dari perguruan Lam-hay-bun sesungguhnya tiada mempunyai dendam permusuhan suatu apa dengan dunia persilatan Tionggoan. Sekalipun kenyataan memang ada beberapa orang dari Tionggoan yang mengilerkan kitab pusaka Lam-hay-bun dan berusaha untuk mendapatkan bahkan mencurinya. Tetapi hal itu tak sampai menimbulkan permusuhan besar-besaran. Mungkin mereka menyadari bahwa mengadakan persekutuan untuk menghadapi Lam-hay-bun, bukanlah tindakan yang menguntungkan . . . .”

Tergetar hati Ih Thian Heng. Namun ia tetap bersikap setenang mungkin, serunya : “Apakah nona mengatakan bahwa aku bakal menderita serangan serempak dari seluruh kaum persilatan Tionggoan yang bersatu ?”

Dingin-dingin saja si dara menjawab : “Kecuali Lam-hay-bun yang mungkin mau membantumu menghadapi serangan bersama dari seluruh kaum persilatan Tionggoan itu, rasanya di dunia tiada lagi orang yang mau membantumu . . . .”

Si dara berhenti sejenak lalu menyusuli kata-kata : “Mungkin ada juga yang membantumu, tetapi mereka tak punya kemampuan !”

Ih Thian Heng mengurut jenggot dan tertawa : “Jangankan dugaan itu tipis sekali kemungkinannya. Andaikata benar ada, aku Ih Thian Hengpun takkan tunduk kepada mereka !”

“Sebuah tangan sukar untuk bertepuk,” kata si dara, “sekalipun engkau mempunyai kepandaian setinggi langit, pun tetap sukar untuk melawan tenaga persatuan dari seluruh kaum persilatan di Tionggoan itu !”

Kata Ih Thian Heng : “Dalam dunia persilatan Tionggoan, dendam permusuhan amat berliku-liku coraknya. Siau-lim-pay, Bu-tong-pay dan beberapa partai yang menamakan diri sebagai partai aliran Putih, mereka tak suka berhubuugan dengan pihak It-kiong, Ji-koh dan ketiga Marga besar. Mengatakan mereka akan berserikat untuk menggempur aku, sukarlah terlaksananya. Apalagi jika aku menggunakan siasat untuk mengadu domba, mereka tentu akan saling bunuh sendiri !”

Si dara tertawa : “Andaikata akupun turut memusuhi engkau, apakah engkau yakin dapat menang ?”

“Nona adalah satu-satunya lawan yang kupandang paling berat bagiku. Oleh karena itu aku segera bergegas datang kemari memenuhi undangan nona. Dengan membawa usul membagi rata harta pusaka dalam makam tua itu, aka hendak mengajak perguruan Lam-hay-bun dalam persekutuan bersama.”

“Jika engkau datang dengan hati sungguh-sungguh, soal itu bukan mustahil terjadi. Tetapi tubuh tak dapat mempunyai dua kepala. Lalu siapakah yang akan menjadi kepalanya ?”

“Ini . . . sebaiknya merupakan pimpinan bersama. Sebelum persoalan besar itu selesai, masing-masing baik mencurahkan segala kemampuannya sendiri.”

“Masing-masing mencurahkan kepandaiannya ?” ulang si dara.

“Benar,” sahut Ih Thian Heng, “Dalam mempersiapkan dan menyusun barisan serta perbekalan, aku menurut perintah nona. Tetapi dalam soal menghadapi dan memenangkan pertempuran, memilih orang, harap nona menurut perintahku. Setelah pergolakan dunia persilatan dapat ditenangkan, baru kita tetapkan pembagian daerah. Masing-masing menguasai sebuah wilayah, tak saling ganggu dan saling menghormati kedaulatan !”

Dara jelita itu tertawa : “Kita berdua, tentu tak mudah diperintah orang. Jika di dunia persilatan terdapat dua pemimpin, sukar terjadi ketenteraman. Kalau bukan aku yang menelanmu, tentu engkau yang menelanku !”

“Tetapi kalau nona benar-benar mentaati kedaulatan masing-masing wilayah, sudah tentu aku tak berani mengganggu nona,” Ih Thian Heng tertawa.

“Ah, itukan ibarat orang menggambar kue untuk menghibur perut lapar. Tetapi kenyataannya tak berguna,” jawab si dara, “sekarang lebih baik kita rundingkan lagi tentang cara pembagian harta pusaka dalam makam tua itu dulu. Baru nanti kita bicara lain-lainnya.”

Ih Thian Heng tertawa : “Silahkan nona mengusulkan saran. Jika aku tak dapat menyetujui, kita perdebatkan lagi.”

“Kupu-Kupu Emas dan Tenggoret Kumala menjadi bagianku. Emas permata, bagainmu. Lain-lain benda, kita bagi berdua !”

“Jika benda itu tak sama nilainya dan kedua pihak saling menginginkan, bukankah akan timbul perselisihan lagi ?”

“Kita nanti putuskan dengan bertaruh adu kepandaian. Siapa menang boleh memilih dulu !”

“Bertaruh banyak sekali caranya,” kata Ih Thian Heng, “kita masing-masing mempunyai kepandaian sendiri-sendiri. Walaupun nona memiliki kecerdikan yang luar biasa, tetapipun tidak dalam semua hal dapat mengalahkan aku. Lebih baik kita bicarakan acaranya agar jangan pada waktunya nanti timbul perdebatan lagi !”

“Engkau dapat berpikir dengan sempurna sekali,” si dara tertawa, “aku mempunyai dua cara, terserah engkau hendak memilih yang mana !”

“Silahkan !”

“Kesatu, pada waktu memasuki makam itu, kita saling berlomba untuk mendapat bagian. Siapa yang dapat lebih banyak, akan besar bagiannya. Dan benda penemuannya itu akan menjadi hak miliknya. Yang kalah tak boleh merebut !”

“Cara itu walaupun cukup baik tetapi dikuatirkan takkan menghindari suatu perebutan. Lalu bagaimanakah cara yang kedua ?”

“Yang kedua, kecuali pembagian Kupu-Kupu Emas dan Tenggoret Kumala serta harta permata yang telah disetujui itu, lain-lain benda kita bagi dengan cara bertanding. Bertanding satu kali dalam merangkai syair. Dan satu kali dalam ilmu silat. Jika masih belum berhasil menentukan siapa pemenangnya, kita pakai cara Menebak-tangan !”

“Cara itu memang boleh dilakukan. Nah, kita jadikan perjanjian itu. Tiga hari lagi aku akan datang berkunjung kemari lagi.”

Si dara tertawa : “Saat ini kita belum tahu apakah kita ini sekutu atau musuh. Maaf, tak mengantar.”

“Kawan atau lawan, bukan kawan pun bukan lawan, garis antara kawan dan lawan, semua tergantung pada anggapan nona,” kata Ih Thian Heng seraya memberi hormat lalu melangkah keluar. Tiba di ambang pintu, mendadak ia berpaling lagi dan berseru : “Berkawan tentu tiada yang rnampu menandingi. Bermusuhan, kedua-duanya akan menderita kerusakan. Soal kawan atau lawan, mohon nona suka mempertimbangkan sedalam-dalamnya. Tiga hari kemudian, aku akan menghadap untuk menerima keputusan nona !”

Sekali enjot tubuhnya, Ih Thian Heng loncat melayang keluar dari jendela.

Sementara si darapun mengambil kotak pedang itu seraya berkata seorang diri : “Peta pada kotak pedang ini, dapat menghibur tempoku selama dua hari !” - Sambil berkata, kakinyapun melangkah perlahan lahan naik ke tingkat ketiga.

“Nak, apakah engkau benar-benar hendak campur tangan dalam urusan orang Tionggoan ?” seru nenek Bwe, seraya memburu.

Sambil naik ke tangga, si dara menyahut : “Kita sudah terbawa dalam kisaran arus, untuk menarik diri rasanya sudah terlambat !”

“Saat ini baru dalam babak permulaan, kalau kita segera pulang ke Lam-hay, tentu habis perkaranya !”

Si dara tertawa : “Hatiku gundah gulana sekali. Jika tak mencari perkara untuk melewatkan waktu, mungkin aku akan mati !”

Nenek Bwe terkesiap. Ia berhenti tak berani menyusul terus. Diam-diam ia membatin : “Bocah itu memang sudah terlanjur manja dan selalu membawa kemauannya sendiri. Percuma saja mencegah kehendaknya !”

Sekarang kita tinggalkan dulu si dara jelita yang tengah memeras otak untuk memecahkan rahasia peta pada kotak pedang pemutus Asmara itu.

Kita ikuti lagi Han Ping yang sudah bertemu dengan pamannya, Kim Loji. Dengan mendukung Kim Loji, Han Ping berjalan melintasi dua buah puncak gunung lalu berhenti pada sebuah lembah. Ia menanyakan kesehatan pamannya.

Walaupun sakit tetapi Kim Loji paksakan tertawa : “Anak Ping, aku kuatir takkan tahan hidup sampai besok siang . . . .”

“Apa ?” Han Ping berteriak kaget.

Kim Loji berusaha untuk menenangkan ketegangan hatinya dengan tertawa : “Nak, engkau harus tenang dan dengarkan kata-kataku sampai selesai. Jika Ih Thian Heng menghendaki seseorang harus mati, tak seorangpun yang mampu lolos dari tangannya yang ganas. Percuma saja engkau berteriak mengeluh dan mengerang sedih, tiada berguna. Sebelum menghantar ke Bik-lo-san, Ih Thian Heng telah memaksa aku menelan obat racun yang lambat daya kerjanya. Tetapi jelas obat itu ganas dan tiada penawarnya. Begitu masih dia belum puas dan menutuk tiga buah jalan darahku. Sehingga andaikata aku bisa mendapat obat penawarpun obat itu takkan dapat beredar lancar dalam tubuhku . . . .”

“Jalan darah bagian manakah yang ditutuknya ? Mungkin aku dapat menolong !” Han Ping makin gugup.

“Tetapi percuma, nak. Dapat menolong jalan darahku, pun tak mungkin memperoleh obat penawarnya . . . .”

Han Ping menghela napas dan tundukkan kepala. Ia menyesal karena terlalu singkat belajar pada Hui Gong taysu yang sakti ilmu silatnya dan mahir ilmu ketabiban.

Kim Loji menghela napas : “Lukaku ini, kecuali Ih Thian Heng sendiri, mungkin di dunia ini tiada orang yang dapat mengobati !”

Tiba-tiba Han Ping teringat pada si dara jelita. Bukankah dara itu mampu mengobati Ting Ling dan si pedang perak kipas besi Ih Seng ? Ah, dara itu tentu mampu juga mengobati luka pamannya !

Han Ping segera memutar otak untuk mencari akal bagaimana supaya si jelita itu mau menolong.

Sesaat kemudian kembali Kim Loji menghela napas dan berkata dengan bersemangat : “Selagi saat ini semangatku masih baik, sebelum mati aku hendak menumpahkan isi hati kepadamu . . .”

“Paman, aku teringat akan seseorang yang dapat mengobati luka paman !” seru Han Ping.

Tetapi Kim Loji gelengkan kepala : “Siapakah yang engkau maksudkan itu ?”

“Dara baju ungu dari Bik-lo-san itu !”

Kim Loji tertawa hambar : “Tentang peristiwa kematian kedua orang tuamu itu, aku belum menceritakan kepadamu sampai habis. Mumpung aku masih segar, aku hendak memberitahu kepadamu !”

Sesungguhnya Kim Loji memang tak percaya kalau dara baju ungu itu mampu mengobati lukanya. Maka ia tak begitu menaruh perhatian kepada kata-kata Han Ping.

“Tentang kematian orang tuaku itu, besok sajalah paman ceritakan. Sekarang yang penting ialah mengobati luka paman !” Han Ping tetap mendesak.

Dengan wajah serius, Kim Loji berkata : “Aku sudah tiada harapan hidup lagi. Perlu apa engkau bersusah payah memikirkan ? Apakah aku harus mati dengan membawa penasaran ?”

Han Ping menyahut dengan nyaring : “Dalam dunia yang begini luas, Han Ping hanya tinggal mempunyai seorang paman. Apakah paman benar-benar tega meninggalkan diriku sebatang kara ?”

Kim Lojipun berteriak marah : “Bngaimana engkau tahu kalau gadis baju ungu itu tentu dapat mengobati lukaku ? Bagaimana engkau yakin kalau ia pasti mau menolong aku ?”

Han Ping tertegun. Diam-diam ia mengakui memang pertanyaan pamannya yang tepat. Setelah merenung beberapa saat, ia menghela napas panjang, ujarnya : “Tak peduli ia mau membantu atau tidak, aku tetap akan mengusahakan !”

Perasaannya sebagai seorang yang sudah sebatang kara, menyebabkan Han Ping bertekad bulat untuk melindungi jiwa pamannya itu.

“Mari kita kembali ke Bik-lo-san lagi !” serentak ia berbangkit dan mengajak.

Kim Loji tak sampai hati lagi untuk mendamprat putra dari sahabat satu-satunya di dunia. Ia hanya gelengkan kepala menghela napas : “Nak, jika aku tahu dapat hidup, masakan aku rela mati secara begini saja ? Kalau dara itu tak mampu mengobati, bukankah kita malah membuang waktu yang berharga ? Jika tak kucurahkan isi hatiku kepadamu, benar-benar aku mati tak dapat meram !”

“Paman dapat menceritakan dalam perjalanan,” kata Han Ping. Dan tanpa menunggu persetujuan orang, Han Ping terus menyambar tubuh Kim Loji dan dipanggulnya. Tetapi ketika ia berputar tubuh hendak berangkat, tiba-tiba di sebelah muka tegak berdiri seseorang.

Bila dan bagaimana orang itu muncul, sedikitpun Han Ping tak mengetahui. Orang itu seorang yang berwajah pucat seperti mayat, punggung menyanggul sebatang pedang. Tegak berdiri seperti patung.

“Siapakah engkau !” tegur Han Ping seraya bersiap.

Orang aneh yang dandanannya saperti seorang imam itu menyahut dengan nada tinggi : “Tak perlu dari lain orang, orang yang dapat mengobati sudah berada disini !”

Han Ping terbeliak. Dipandangnya orang aneh itu dengan seksama. Ah, wajahnya yang pucat seperti mayat itu ternyata bukan wajah yang sebenarnya melainkan karena memakai kedok muka. Tiba-tiba ia teringat akan kedua nona Ting yang sering memakai kedok muka.

“Siapakah yang dapat mengobati luka pamanku ini ?” ia memberanikan diri berseru.

“Aku !” sahut orang itu dengan nada dingin.

Sudah tentu Han Ping tegang sekali hatinya : “Apakah locianpwe ini orang dari lembah Raja Setan ?”

“Hm,” orang aneh itu mendengus. “masakan orang sebagai aku sudi berhubungan dengan orang-orang lembah Raja Setan ?”

“Kalau bakan dan lembah Raya Setan, mengapa locianpwe memakai kedok muka ?”

Orang aneh itu tiba-tiba tertawa keras, serunya : “Apakah hanya orang Lembah Raja Setan saja yang berhak memakai kedok muka ?”

Han Ping terkesiap. Ia mengakui kata-kata orang itu memang benar.

Tiba-tiba Kim Loji menyelutuk dengan nada gemetar : “Bukankah totiang ini ketua dari Hian-bu-kiong, Thian Hian totiang ?”

Imam itu tertawa nyaring : “Sudah 10 tahun lamanya aku tak pernah tinggalkan biara Hian-bu-kiong. Tak kira dalam dunia persilatan masih ada orang yang kenal padaku !”

“Kemahsyuran nama totiang meluas sampai di Kanglam dan Kangpak. Siapakah orang yang tak kenal pada totiang ?” sahut Kim Loji.

Thian Hian totiang gembira dengan pujian itu. Sambil mengurut jenggot ia tersenyum : “Berdasar pada ucapanmu itu, aku akan mengobati lukamu sampai sembuh . . . .”

Ia maju menghampiri seraya berkata : “Sin-ciu-it-kun Ih Thian Heng memang rnahir menggunakan racun. Dalam dunia persilatan, kecuali aku, rasanya tiada terdapat lagi orang yang mampu mengobati racunnya itu !”

Karena belum pernah mendengar tentang diri Thian Hian totiang, maka dengan setengah bersangsi Han Ping rnenegaskan : “Soal jiwa, bukan barang permainan. Aku pasti berterima kasih sekali kalau totiang dapat menyembuhkan luka pamanku ini. Tetapi kalau memang totiang tak sanggup mengobati, kuharap jangan menelantarkan waktuku untuk mencari lain orang !”

“Anak Ping jangan bicara sembarangan !” buru-buru Kim Loji mencegahnya, “Thian Hian totiang adalah salah seorang dari tokoh sakti dalam dunia persilatan dewasa ini. Kemahsyuran namanya melebihi ketua kedua lembah dan ketiga Marga. Masakan beliau mau bersenda gurau dengan engkau !”

Untunglah Han Ping cepat menyadari ucapan pamannya itu. Ia memang mendengar bahwa ketua dari It-kiong itu, merupakan yang paling lihai sendiri dari kedua lembah dan ketiga marga. Buru-buru ia menjura : “Locianpwe, harap maafkan ucapanku tadi . . . .”

Karena mengenakan kedok muka, Thin Hian totiang tak kelihatan bagaimana perubahan air mukanya saat itu. Hanya dengan nada dingin ia berseru : “Perlu apa bicara tak berguna ! Lekas turunkan pamanmu !”

Han Ping segera menurunkan Kim Loji dari punggungnya lalu mundur dua langkah. Dipandangnya gerak gerik imam itu dengan perhatian penuh. Apabila ternyata imam itu bohong, ia cepat akan turun tangan menolong pamannya.

Ketiga jalan darah Kim Loji yang tertutuk itu sudah mulai membeku. Kecuali tak dapat berdiri tegak, wajahnyapun sudah berubah pucat lesi.

Thian Hian totiang segera berjongkok dan memeriksa. Katanya : “Sekarang belum dapat diketahui racun dalam tubuhmu . . . .”

“Sedang racun apa saja engkau tak tahu, bagaimana hendak mengobati ?” seru Han Ping gelisah.

Sahut imam berkedok itu dengan dingin : “Dalam menggunakan racun, Ih Thian Heng selalu mencampurkan beberapa macam racun. Kalau hanya dengan satu jenis racun saja, perlu apa harus aku yang turun tangan ? Banyak sekali orang yang mampu mengobati !”

Sejenak merenung, Han Ping berkata : “Harap locianpwe suka mengatakan terus terang. Apakah locianpwe dapat mengobati pamanku atau tidak. Agar jangan sampai menelantarkan waktu untuk mencarikan obat untuknya.

Karena terus menerus pemuda itu mengucapkan kata-kata yang tak sedap, marahlah Thian Hian totiang, sahutnya : “Jika aku tak mampu, di dunia persilatanpun tak mungkin ada orang yang mampu mengobati nya !”

“Huh, perlu apa engkau bermulut besar . . .” diam-diam Han Ping, mendamprat. Namun ia tetap menyahut dengan hormat : “Apabila locianpwe dapat mengobati pamanku, aku tentu akan membalas budi locianpwe . . . .”

Thian Hian totiang mendengus dingin. Tiba-tiba ia memanggul Kim Loji lalu dibawa pergi. Sudah tentu Han Ping amat terkejut. Tetapi ketika ia tersadar hendak mencegah, ternyata Thian Hian sudah tiga tombak jauhnya. Dengan menggembor keras, Han Ping lari mengejar.

Tetapi Thian Hian totiang tak menggubris dan tetap berjalan pesat. Walaupun mendukung orang. gerakannya tetap secepat angin.

Han Ping terkejut heran. Ia kerahkan seluruh kepandaiannya untuk mengejar tetap tak mampu. Diam-diam ia kagum. Belum pernah selama ini ia melihat seseorang yang memiliki ilmu berjalan cepat seperti imam itu.

Demikian dalam malam yang diterangi rembulan, kedua orang itu saling kejar mengejar seperti dua ekor kuda yang lari kencang.

Kira-kira lima li jauhnya, tetap jarak keduanya terpisah tiga tombak jauhnya. Han Ping tak mampu lebih maju selangkah, Thian Hian totiang pun tak dapat mendahului setapak lagi.

Tetapi walaupun sepintas pandang, ilmu lari cepat kedua orang itu berimbang. Namun dalam penilaian, Thian Hian totianglah yang lebih hebat. Ia mendukung sesosok tubuh orang, sedang Han Ping tidak membawa apa-apa.

Meskipun tidak berpaling ke belakang, tetapi dari derap langkah Han Ping, tahulah Thian Hian totiang bahwa pemuda itu mengejar di belakangnya. Diam-diam imam tua itu terkejut juga : “Dia masih begitu muda tetapi mengapa ilmu larinya begitu hebat ?”

Seketika imam tua itu mengempos semangat dan pesatkan larinya. Karena tancap gas itu Han Ping ketinggalan beberapa meter lagi. Sudah tentu anak muda itu makin bingung. Ia berteriak sekeras-kerasnya : “Jika locianpwe tak mau berhenti, terpaksa akan kumaki !”

Dalam gugup, Han Ping teringat bahwa seorang cianpwe yang berkedudukan tinggi dalam dunia persilatan itu, paling takut kalau dimaki-maki. Maka dalam keadaan terdesak, Han Ping gunakan gertakan itu.

Dan ternyata gertakan itu berhasil. Thian Hian hentikan larinya lalu berputar tubuh.

Han Ping tak menduga kalau imam itu akan berhenti secara begitu mendadak. Ia tak sempat menghentikan larinya. Tepat pada saat Thian Hian berbalik tubuh, Han Pingpun sudah tiba dekat sekali di hadapannya dan terus menutuk dada Thian Hian.

Tetapi dengan kisarkan tubuh ke samping, tutukan Han Ping itu menemui angin. Pemuda itu penasaran. Tutukannya gagal, ia susuli dengan dua buah pukulan tangan kanan dan kiri.

Thian Hian totiang tertawa dingin. Sekali menggeliat, ia menyurut mundur selangkah.

“Dalam 100 jurus jika engkau mampu memukul atau menyepak diriku, saat ini juga aku akan kembali ke Hian-bu-kiong dan bertapa 10 tahun lagi ?” seru imam itu.

Sebenarnya Han Ping hendak menyerang lagi, tetapi demi mendengar ucapan imam aneh itu, ia tertegun. Beberapa saat kemudian baru berkata : “Kita tiada saling bermusuhan, perlu apa harus bertanding ? Jika dalam 100 jurus itu aku sampai melukai totiang, bukankah kita akan terikat dendam permusuhan . . . .”

“Ha, ha, ha !” Thian Hian menukas kata-kata pemuda itu dengan tertawa gelak, “Jika dalam 100 jurus engkau mampu melukai diriku, pamanmu segera akan kuobati dan setelah itu aku terus pulang ke Hian-bu-kiong !”

“Kalau begitu, totiang tetap menghendaki cara itu ?” Han Ping menegas.

“Ho, perlu apa orang semacam diriku ini beromong kosong dengan engkau ?” Thian Hian totiang marah.

Diam-diam Han Ping menimang : “Imam ini benar-benar aneh sekali. Jika dia memang bersungguh hati hendak bertempur, tentu akan menantang aku mengadu kepandaian sampai ada yang kalah dan menang. Andaikata mengalah, pun tentu hanya untuk dua tiga jurus saja. Masakan ia bermulut besar berani mengalah sampai 100 jurus. Betapapun kesaktiannya, tetapi karena tak boleh balas menyerang, tentu mudahlah kuserang habis habisan !”

Dengan ketetapan itu segera ia hendak menyahut. Tetapi tiba-tiba terlintas dalam pikirannya : “Tetapi aku seorang anak laki yang masih muda dan bertenaga penuh. Masakan mau diberi keringanan begitu oleh orang !”

“Jika totiang memang hendak berkelahi, janganlah pakai mengalah. Kita keluarkan kepandaian masing-masing saja !” sahutnya.

Engkau serang dulu sampai 100 jurus, baru nanti kupertimbangkan pantas atau tidak kita berkelahi !” Thian Han totiang tetap kukuh.

“Ah, tak perlulah, “ kata Han Ping, “kita berkelahi secara biasa saja. Siapa kalah harus tunduk . . .”

Thian Hian totiang menunduk memandang Kim Loji yang dikepitnya, lalu menukas : “Apabila membuang waktu terlalu lama, racun dalam tubuhnya tentu sukar diobati lagi !”

Kata-kata itu seperti ujung belati yang menusuk ulu hati Han Ping. Seketika darahnya bergolak keras, serunya lantang : “Jika pamanku sembuh, tak apalah. Tetapi jika sampai terjadi apa-apa pada dirinya aku tentu akan meminta pertanggungan jawab totiang !”

Imam aneh itu tidak marah sebaliknya malah tertawa gelak-gelak : “Jika engkau hendak menolong jiwanya, lekas-lekaslah engkau mulai saja !”

Han Ping terkesiap. Benar-benar ia tak mengerti apa maksud imam yang berkeras minta diserang sampai 100 jurus. Karena bingung, akhirnya Han Ping tak berbanyak hati lagi. Maju selangkah, ia terus menghantam imam itu dengan jurus Halilintar memecah langit barat.

Jurus itu merupakan salah sebuah jurus dalam kitab Ih-kin-keng. Dalam terdesak, Han Ping tiba-tiba teringat akan jurus itu.

Saat itu barulah Thian Hian totiang terbeliak kaget. Gerakan pemuda itu benar-benar belum pernah diketahuinya sama sekali.

Karena imam itu diam saja tak mau menghindar, Han Ping heran. Diam-diam ia menduga kemungkinan imam itu memiliki ilmu kebal. Begitu ditinjunya terus akan memancarkan tenaga membalik untuk melukai lawan.

Dengan dugaan itu, Han Pingpun lambatkan pukulannya. Dan pada saat tinjunya hendak mengenai, barulah Thian Hian totiang menyurut mundur.

Pukulan pertama luput, Han Ping maju setengah langkah. Tanpa menarik pulang tangan kanannya, tangan kirinya digerakkan mernbalik ke atas. Itulah jurus Tali emas mengikat naga. jurus untuk mencengkram pergelangan tangan kiri Thian Hian.

Tetapi kembali imam itu mendengus perlahan dan mundur tiga langkah lagi. Diam-diam imam itu makin heran : “Huh, mengapa anak ini memiliki ilmu kepandaian yang begitu aneh sekali ?”

Tengah ia merenung tiba-tiba serangkum tenaga dahsyat melanda dadanya. Seketika ia rasakan hatinya mendebur dan mundurlah ia tiga langkah ke belakang.

Tetapi dalam anggapan Han Ping, Thian Hian totiang tentu sengaja menghindar mundur. Cepat ia membayangi dan menyambar pergelangan tangan imam itu.

Diam-diam Thian Hian totiang telah menderita kerugian. Ia marah dan terkejut. Kini tak berani lagi ia memandang rendah lawan. Tubuhnya berputar miring, sikapnya seperti hendak melangkah maju tetapi mendadak ia menyurut mundur. Bermula seperti hendak nyelonong ke muka tetapi ternyata malah menyelinap mundur sampai empat lima langkah.

Han Ping terperanjat, pikirnya : “Hah, ilmu apakah yang digunakan imam itu. Jika tadi aku terburu-buru mengejar ke muka, tentu akan kecele. Dan andaikata ia balas memukul, aku pasti tak sempat menjaga diri lagi !”

Buru-buru ia hentikan gerakannya maju dengan berputar tubuh.

Thian Hian totiang memiliki keyakinan tenaga dalam yang amat tinggt. Sejenak menyalurkan pernapasan, sakit yang diderita dari pukulan anak muda itu, segera sembuh.

Han Ping tiba-tiba mundur dua langkah, memberi hormat dan berkata dengan rada serius : “Ilmu kepandaian locianpwe hebat sekali. Kita tak saling bermusuhan, mengapa locianpwe mendesak hendak berkelahi ? Lepas dari siapa yang menang dan kalah tetapi pertempuran itu jelas menghambat waktu untuk menolong jiwa pamanku . . . .”

Selama hidup Han Ping tak pernah memohon pada orang. Adalah karena ingat akan keselamatan paman Kim, terpaksa ia membuka mulut. Tetapi belum selesai mengucap, ia sudah tak dapat meneruskan lagi.

Sahut Thian Hian dingin : “Biasanya aku segan bertempur dengan sembarang orang. Bahwa aku mengajakmu berkelahi itu, merupakan suatu kehormatan bagimu !”

Han Ping merenung. Sesaat kemudian ia berkata : “Jika locianpwe tetap hendak berkelahi dengan aku, aku terpaksa meladeni. Tetapi lebih dulu harap locianpwe meluluskan sebuah permintaanku !”

“Apa ?”

“Harap locianpwe suka mengobati pamanku lebih dulu, baru nanti kita bertempur. Sekalipun harus mati di tangan locianpwe, setitikpun aku tak menyesal !”

Kini Thian Hian totianglah yang merenung. Pada lain kejap ia berseru menyatakan setuju. Lalu berputar tubuh dan terus lari. Han Ping terpaksa mengikuti. Mereka menuju ke sebuah tempat di tengah lembah.

Thian Hian letakkan tubuh Kim Loji, katanya : “Biasanya Ih Thian Heng mencampuri beberapa jenis racun dalam ramuannya, sehingga bekerjanya racun itu berbeda-beda. Kecuali dia sendiri yang tahu obatnya, siapapun mauusia di dunia ini, dalam waktu yang singkat tak mungkin mengetahui obat penawarnya . . . .”

Han Ping tergetar hatinya : “Kalau begitu, locianpwe . . . .” - maksudnya hendak mengatakan, imam itu tentu tak sanggup mengobati. Tetapi teringat akan kesombongan orang, Han Ping batalkan kata-katanya.

Thian Hian totiang tertawa gelak-gelak : “Sebelum aku menggantungkan pedang pada 10 tahun yang lalu. aku memang sering keluyuran ke dunia persilatan. Orang persilatan memberikan julukan delapan buah kata kepada diriku. Kalau dipikir-pikir, tak salah juga . . . .”

“Apakah kedelapan kata-kata itu ?” tanya Han Ping.

Thian Hian totiang tertawa : “Mirip Putih, mirip Hitam. Mirip perwira mirip penjahat.”

Han Ping tak menanggapi. Tetapi diam-diam ia membenarkan julukan itu.

Kembali imam aneh itu tertawa nyaring : “Julukan itu berarti Baik atau Jelek, aku tak mau minta penjelasan. Tetapi dalam melakukan sesuatu, memang aku selalu menurutkan perasaan senang atau marah. saat ini tiba-tiba aku merasa . . . .”

Han Ping terkesiap dan mengeluh, jangan-jangan imam itu kumat lagi edannya. Buru-buru ia bertanya.

“Tiba-tiba aku merasa engkau boleh juga. Mungkin di belakang hari kita akan menjadi sahabat karib !” kata imam itu.

“Kurang umur kurang pengalaman, bagaimana aku berharga menjadi sababat locianpwe ?”

Thian Hian tertawa dingin : “Bukan kawan pun bukan lawan. Keduanya mungkin semua !”

Mendengar ocehan yang tak berguna itu, Han Ping tak tahan lagi, serunya agak keras : “Menjadi kawan atau lawan, kelak masih panjang waktunya. Lebih baik sekarang jangan dibicarakan dulu. Kumohon locianpwe suka segera mengobati pamanku, agar jangan menghambat waktu !”

Thian Hian totiang mengeluarkan sebuah botol kumala dari jubahnya dan menuang 3 butir pil, katanya : “pil mukjizat Kiu- hoa-sing-sin-tan ini, dapat mengobati segala macam racun. Andaikata tak dapat melenyapkan racun dari Ih Thian Heng tetapi paling tidak tentu dapat memperlambat bekerjanya racun itu. Minumkanlah 3 butir pil ini lebih dulu, setelah selesai bertempur, kita nanti berusaha lagi mengobatinya sampai sembuh !”

Han Ping kerutkan alis. Setelah menyambuti pil ia merenung : “Hm, rupanya kalau tidak berkelahi dia belum puas,”

Cepat ia menghampiri Kim Loji dan memintanya supaya menelan ketiga butir pil itu.

Urat nadi Kim Loji sudah diracuni Ih Thian Heng kemudian dibawa lari Thian Hian totiang, sehingga bekerjanya racun makin cepat. Saat itu kaki dan tangannya lentuk lunglai, pikirannyapun tak sadar. Tetapi dia seorang tokoh yang tinggi kepandaiannya. Dengan kerahkan semangat, ia paksakan diri bertahan lalu ngangakan mulut. Tangannya sudah tak kuat bergerak lagi.

Melihat keadaan pamannya, Han Ping mengucurkan beberapa titik airmata.

“Huh, mengapa tak lekas minumkan pil itu ? Apakah harus tunggu racun bekerja dulu !” Thian Hian totiang menggeram.

“Keadaan sudah begini payah, masakan belum bekerja !” sahut Han Ping.

“Siapa bilang racun sudah bekerja !” bentak Thian Hian, “tentulah Ih Thian Heng menutuk jalan darahnya. Karena darahnya mangumpul, racun itu mudah bekerja. Jika engkau tetap ayal meminumkan pil, mungkin racun itu akan segera bekerja !”

Diam-diam Han Ping mengakui memang Kim Loji pernah mengatakan kalau jalan darahnya ditutuk juga oleh Ih Thian Heng. Cepat ia masukkan pil ke mulut pamannya.

Tiba-tiba Thian Hian totiang mundur sampai tiga tombak jauhnya lalu berseru : “Jangan membikin kaget dia. Mari kita mulai bertempur !”

Sebenarnya Han Ping hendak menjaga beberapa saat dulu untuk menunggu perkembangan pamannya setelah minum pil itu. Teapi karena didesak Thian Hian totiang, ia penasaran juga. Pikirnya : “Hm, aku sudah merasa kalah mengapa engkau masih mendesak saja ?”

Seketika meluaplah darah mudanya. Cepat ia berbangkit dan menghampiri ke tempat Thian Hian totiang lalu memberi hormat.

“Mengapa engkau ini ?” tegur Thian Hian heran.

“Berkelahi adu kepandaian. tentu akan ada yang terluka atau mati. Tidak engkau tentu aku yang binasa. Inilah penghormatanku atas budi pertolongan locianpwe !”

Han Ping marah karena terus menerus ditantang berkelahi itu. Ia seperti bertekad hendak mengadu jiwa.

Thian Hian totiang tertawa dingin : “Bagaimana, apakah hendak mengadu jiwa dengan aku ?”

“Engkau amat sakti, jika aku tak bertekad untuk mengadu jiwa, bagaimama aku mampu memenangkan ?”

“Bagus !” Thian Han totiang tertawa, “dunia persilatan mengatakan aku seorang yang selalu ingin menang. Tetapi ternyata engkau lebih sombong dari aku. Apakah benar-benar engkau hendak mengalahkan aku ?”

“Tanpa memiliki tekad begitu . . . .” - sebenarnya ia hendak mengatakan kalau tak mengandung tekad menang, perlu apa harus bertempur ? Tetapi tiba-tiba ia teringat akan keadaan Kim Loji yang masih memerlukan bantuan Thian Hian. Maka ia hentikan kata-katanya.

Thian Hian totang dapat juga meneropong isi hati pemuda itu. Tiba-tiba wajahnya berubah ramah dan dengan tersenyum ia berkata : “Dalam soal 'HARUS MENANG', hari ini aku benar-benar bertemu dengan seorang yang sama watak. Rupanya kita berdua memang banyak sekali persamaannya.”

Ia berhenti sejenak, lalu : “jangan kuatir, keluarkan seluruh kepandaianmu. Mungkin kepandaianmu itu belum cukup untuk melukai aku. Seranglah aku 100 jurus dulu tanpa kubalas. Setelah 100 jurus berlangsung, obat yang ditelan pamanmu tentu sudah dapat mencairkan racun. Kemudian kuobati lagi lukanya, kita nanti tentukan lagi apa perlu melanjutkan pertempuran atau tidak !”

Sejenak merenung, Han Ping berkata : “Tinggal 97 jurus saja karena tadi aku sudah menyerang tiga jurus !”

“Ya. 97 jurus !” Thian Hian tertawa.

Masih Han Ping berkata pula : “Sebenarnya aku tak suka menerima pelajaranmu mengalah sampai sekian banyak. Tetapi karena jiwa paman berada di tanganmu, terpaksa aku menyetujui.”

Tampaknya imam itu memang ngotot sekali hendak adu kepandaian dengan Han Ping, ia menjawab : “Baik, dengan alasan apapun juga, asal engkau mau bertempur, jadilah !”

Han Ping tiada alasan untuk menolak lagi. Terpaksa ia maju dan mulai menyerang. Thian Hian totiang miringkan tubuh, menghindari pukulan dan berdiri tegak lagi menunggu serangan. Oleh karena tadi ia sudah menderita, kali ini ia tak berani berlaku ayal.

“Hm, tak apa. Masih ada 96 jurus lagi. Kalau tak kuselesaikan yang 96 jurus, dia tentu tak mau balas menyerang,” pikir Han Ping. Ia menyerang lagi. Kali ini tinju dan kaki serempak digunakan.

Thian Hian totiang sambil lekatkan kedua tangan pada kedua pahanya, mulai berlincahan menghindar. Lincah, gesit dan tak terduga-duga. Sudah 45 jurus serangan deras dilancarkan Han Ping, masih juga ia belum mampu menyentuh jubah imam itu.

Namun Han Ping masih seorang muda yang berdarah panas. Sekalipun seharusnya ia tahu bahwa apabila ia sudah menyelesaikan 100 jurus, pamannya tentu segera diobati. Tetapi karena 45 jurus itu ia sama sekali tak berhasil menyentuh pakaian lawan, tanpa disadari meluaplah kemarahannya. Tiba-tiba ia loncat mundur dan lepaskan pukulan dari jauh.

Thian Hian sendiripun hampir jemu karena serangan pemuda itu tak berarti. Ketika melihat anak muda itu keluarkan gerakan aneh, ia duga anak itu tentu sudah dirangsang kemarahannya.

Diam-diam ia menghitung masih ada 50an jurus. Seketika timbullah semangatnya lagi.

Saat itu ia rasakan serangkum arus tenaga melandanya. Sambil mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi tubuh, ia menghindar ke samping.

Setelah menampar, Han Ping terus maju menyerang. Tetapi kali ini gaya serangannya berbeda dengan yang sudah-sudah. Sebentar gunakan jari, sebentar kaki. Cepat dan deras sekali. Gerakan tinju dan tamparan tangannya makin menghebat. Tinjunya keras laksana pukul besi. Tamparannya selebat hujan mencurah. Tutukan jarinya seperti mirip dengan ilmu pelajaran Siau-lim-si.

Ternyata Han Ping mengeluarkan ilmu Kim-liong-jin atau Menangkap naga yang terdiri dari 12 jurus. Ilmu itu memang penuh gerak perubahan yang sukar diduga.

Mau tak mau Thian Hian totiang terkejut juga. Ia merasa ancaman anak muda itu makin terasa. Berulang kali ia kelabakan juga karena serangan Han Ping. Hampir saja ia gerakkan tangannya untuk menangkis. Untunglah tiap kali ia menyadari perjanjiannya sehingga tak jadi.

Dalam beberapa kejap saja, 30 jurus telah berlangsung. Sambil menyerang, Han Ping diam-diam menghitung. Tinggal 9 jurus lagi, akan genaplah sudah 100 jurus itu.

“Imam ini benar-benar sakti sekali. Rasanya lebih sakti dari Pengemis sakti Cong To. Jika dalam 100 jurus tak mampu mengalahkan, sungguh memalukan sekali . . . .” pikirnya. Namun ia tak dapat menemukan daya untuk memenangkan lawan.

Sekalipun ia dapat menghafal isi kitab Tat-mo-ih-kin-keng. Tetapi karena setiap kata dalam kitab itu mengandung arti yang luas sekali, kecuali diberi penjelasan oleh Hui Gong taysu tentang penggunaannya. Ia hanya dapat menghafal saja tetapi tak dapat menggunakan. Dan celakanya, makin bingung, makin hilang daya pikirnya.

Memang sesungguhnya, kepandaian Han Ping itu belum mampu untuk meneropong isi kitab Tat-mo-ih-kin-keng. Hanya diwaktu bertempur, sering ia mendapat pikiran, teringat lalu menggunakan salah sebuah jurus yang hebat. Tetapi itupun kalau ia sedang terdesak. Jika bertempur dengan lawan yang tak begitu tinggi kepandaiannya, pikirannyapun sukar terbuka.

Dalam memeras otak itu, ia tetap menyerang dan cepatlah 9 jurus terakhir itu sudah selesai. Tiba-tiba ia berhenti terus loncat mundur.

Tubuh Thian Hian totiang yang berputar-putar seperti roda itu, pun berhenti. Serunya tertawa : “Eh, mengapa berhenti ?”

“Sudah 100 jurus, mana boleh menyerang lagi !”

“Baru 99 jurus, masih kurang satu jurus !” Thian Hian totiang tertawa.

Sesaat timbullah rasa malu dalam hati Han Ping, pikirnya : “Dalam 100 jurus ternyata aku tak mampu menyerang seorang yang tak membalas. Dengan begitu, apakah aku ada muka muncul di dunia persilatan . . . .”

Tanpa baayak pikir lagi, serentak ia menyahut : “Baiklah, aku akan menyelesaikan kekurangan sejurus itu !” - Habis berkata ia terus layangkan pukulan.

Tampaknya pukulan itu ringan sekali, macam anak-anak bermain-main. Hal itu disebabkan karena pada saat mengangkat tinju, tiba-tiba Han Ping ingat akan keselamatan Kim Loji. Cepat-cepat ia menarik kembali tenaga dalam yang telah disalurkan itu. Pikirnya, biarlah jurus yang terakhir itu berlalu begitu saja dan pamannya segera diobati.

Tetapi seketika Han Ping rasakan hawa panas dalam perutnya meluap ke atas, bagaikan air bah yang tak dapat dibendung lagi. kejutnya bukan alang kepalang !

Ternyata penyaluran hawa murni yang diberikan mendiang Hui Gong taysu, belum meresap benar-benar ke dalam jalan darahnya sehingga belum dapat dikuasai menurut sekehendak hatinya. Dan hawa murni itu biasanya mengumpul di bagian perut. Karena gerakan menghantam kemudian ditarik kembali itu, hawa murni itu memancar dan meluap ke atas kemudian memancar keluar melalui gerak pukulannya tadi . . . .

Thian Hian totiang yang berdiri beberapa meter jauhnya, bermula hanya ganda tertawa melihat gerakan Han Ping yang tak berarti itu. Tetapi sebelum ia sempat membuka mulut, tiba-tiba sebuah gelombang tenaga dahsyat telah mendamparnya.

Imam itu terkejut bukan kepalang !

Sebagai seorang tokoh persilatan yang tinggi ilmu kepandaiannya, tahulah ia bahwa tenaga yang melandanya itu bukan tenaga sembarangan. Dan karena sudah tiba, ia tak sempat lagi menghindar. Tak ada lain jalan, kecuali ia harus cepat-cepat kerahkan tenaga dalam untuk bertahan.

Dess . . . . hembusan angin lembut dari pukulan Han Ping itu, begitu berbenturan dengan tubuh Thian Hian, seketika berubah menjadi suatu gelombang tenaga yang luar biasa kuatnya !

Tergetarlah hatinya dan kuda-kuda kakinyapun ikut bergoncang, darah bergolak, tubuh terhuyung mundur lima langkah . . . .

Tetapi Han Pingpun terdengar mengerang tertahan lalu ngelumpruk terduduk di tanah.

Kiranya pertahanan Thian Hian totiang tadi telah memantulkan tenaga membal yang amat kuat. Seketika Han Ping kesemutan tubuhnya, tulang-tulangnya seperti berhamburan lepas. Bluk . . . . jatuhlah ia terkulai duduk.

Sedang Thian Hian totiang yang terhuyung mundur lima langkah dan kuatkan diri berdiri tegak. Huak . . . . Ia muntah darah lalu duduk di tanah bersemedhi menyalurkan tenaga murni untuk mengobati diri.

Berselang beberapa saat, barulah ia berhasil menenangkan darahnya yang bergolak. Ketika memandang ke muka, dilihatnya Han Ping menggeletak tak ingat diri di tanah.

Sebenarnya imam itu marah. Tetapi melihat keadaan pemuda yang terkena lontaran tenaga membaliknya, redalah amarahnya. perlahan-lahan ia menghampiri.

Sinar rembulan terang, meningkah wajah Han Ping. Tampak wajah pemuda itu gelap kehijau-hijauan. Ujung mulutnya masih membekas aliran darah. Thian Hian berjongkok memeriksa. pernapasan pemuda itu. Ia kerutkan dahi. Ternyata napas pemuda itu berkeliaran lemah sekali.

Thian Hian memandang rembulan dan menghela napas panjang. Ia tengah mempertimbangkan, perlu atau tidak menolong pemuda itu. Saat itu jika ia mau sekali gerakkan tangan Han Ping tentu sudah amblas jiwanya. Untuk menghilangkan jejak, Kim Lojipun ia bunuh sekali. Pada tempat dan suasana seperti saat itu, pembunuhan itu pasti takkan diketahui orang.

Pukulan terakhir dari Han Ping tadi, mengejutkan Thian Hian sekali. Diam-diam ia menimang. Pemuda yang masih begitu muda usianya, sudah memiliki pukulan dan tenaga yang begitu sakti. Berapa tahun lagi, dia pasti sukar mendapat lawan . . . .

Tetapi dalam pada itu, diam-diam Thian Hian pun sayang sekali akan bakat Han Ping yang amat bagus itu. Sampai lama, belum juga Thian Hian dapat mengambil keputusan, Tampaknya memang sederhana sekali soal itu. Tetapi tak mudahlah untuk memutuskan.

Sebelum ia mendapat ketetapan tiba-tiba dari belakang terdengar suara orang tertawa perlahan : “Apakah disitu Thian Hian toheng ?”

Thian Hian terkejut. Tetapi ia tetap berdiri di tempatnya, seolah-olah tak mengacuhkan seruan itu. Namun diam-diam ia kerahkan tenaga dalam untuk berjaga-jaga.

Kembali terdengar suara orang tertawa meloroh : “Apakah selama ini toheng baik-baik saja ? Sudah penuhlah masa 10 tahun menggantungkan pedang, aku belum sempat menghaturkan selamat kepada toheng !”

Thian Hian serasa kenal dengan nada suara itu. Perlahan-lahan ia berpaling. Dua tombak jaraknya, tampak seorang sastrawan pertengahan umur berdiri dalam pakaian seperti seorang sastrawan.

Serentak berserulah Thian Hian totiang : “Ih Thian Heng . . . .”

Pendatang itu memang benar Ih Thian Heng.

“Benar, aku memang Ih Thian Heng. Bilakah toheng menyudahi masa penggantungan pedang ?” orang itu atau Ih Thian Heng tersenyum seraya menghampiri perlahan-lahan.

“Sudah tiga bulan aku pergi dari Hian-bu-kiong,” sahut Thian Hian totiang.

“Selamat selamat,” seru Ih Thian Heng, “aku bakal menikmati pula bayangan kilat pedang toheng menyilaukan dunia persilatan . . . .” merunduk kepala memandang Han Ping, ia berkata pula dengan tertawa : “Apakah dia orang pertama yang berani menentang pada waktu toheng terjun kembali ke dunia persilatan ?”

Masih ia melanjutkan memandang Han Ping lalu tertawa hambar : “Kali ini toheng kembali ke dunia persilatan, apakah sudah mempunyai rencana tertentu ?”

Semula Thian Hian totiang mengira kalau pertempurannya dengan Han Ping tadi telah diketahui Ih Thian Heng. Tetapi ternyata Ih Thian Heng hanya melihat sejenak pada Han Ping lalu tak mengacuhkannya lagi.

Namun ketawa orang she Ih itu, membuat Thian Hian totiang tersinggung. Ia merasa seperti ditertawakan. Dan pandangan Ih Thian Heng yang meremehkan Han Ping itu, tentulah menganggap pemuda tak terkenal itu seorang budak yang tak berharga. Seketika timbullah rasa malu dan penasaran dalam hati Thian Hian totiang.

“Hm, jika membiarkan anak itu hidup. Kecuali peristiwa malam ini tentu akan tersiar, pun kewibawaanku dalam dunia persilatan tentu akan merosot. Dikalahkan oleh seorang pemuda tak ternama, tentu merupakan suatu hinaan besar !” diam-diam ia menimang.

Seketika meluaplah nafsu pembunuhan dalam hati Thian Hian totiang. Diam-diam ia kerahkan tenaga dalam. Menggunakan kesempatan nada saat membalikkan tubuh Han Ping, diam-diam ia telah menutuk jalan darah maut Sin-hong pada punggung pemuda itu.

Namun perbuatan imam itu tak lepas dari mata Ih Thian Heng yang tajam. Diam-diam ia bersyukur dalam hati. Namun lahirnya ia tetap berkata dengan tawar : “Jika toheng belum punya rencana, aku mempunyai sebuah masalah yang hendak mohon toheng suka membantu !”

Setelah menutuk jalan darah Han Ping, longgarlah perasaan Thian Hian. Ia anggap peristiwa pertempuran malam itu tentu akan tertutup. tiba-tiba ia teringat sesuatu, serunya : “Apakah sudah lama saudara datang kemari ?”

“Ah, belum lama !”

“Urusan apakah yang saudara hendak minta bantuanku itu ?” tanya Thian Hian pula.

Ih Thian Heng tertawa : “Selama ini aku selalu tak mau mengikat permusuhan dengan orang. Permintaanku itu jelas bukan urusan berkelahi. Dalam hal ini harap totiang tak perlu bersangsi !”

Marahlah Thian Hian totiang : “Dalam dunia persilatan, siapakah yang kutakuti ? Hm, sekalipun bertanding dengan orang, akupun tak gentar !”

“Kepandaian silat toheng, memang yang paling kukagumi !” kata Ih Thian Heng, “pertempuran antara toheng dengan wanita Pembenci Dunia pada 10 tahun yang lalu, sampai kini aku masih merasa penasaran . . . .”

Wajah Thian Hian totiang terasa panas, serunya : “Kepergianku dari Hian-bu-kiong kali ini, pertama kali ialah hendak mencari wanita Heng-thian-It-ki itu. Untuk menyelesaikan pertempuran pada 10 tahun yang lalu. Barang siapa yang diam-diam hendak membantunya . . . .”

“Toheng telah berturut-turut memenangkan 4 buah pertandingan. Kali ini andaikata kalah 2 buah pertandingan, tetap tak mengurangi kemenangan toheng . . . .”

“Jika saat itu tiada orang yang diam-diam membantunya, tak mungkin wanita itu mampu mengalahkan aku . . . .”

Ih Thian Heng trrsenyum : “Heng-Thian-It-ki telah melanggar pantangan dan menerima seorang mund pewaris. Toheng tentu tahu hal itu, bukan ?”

“Siapa ?” seru Tiiian Hian totiang.

“Putri kesayangan dari marga Siangkwan di Kanglam, bernama Siangkwan Wan-ceng. Kalau toheng hendak memusuhi Heng-Thian-It-ki tentu akan tambah dengan seorang lawan yang tangguh”

Thian Hian totiang tertawa dingin : “Hanya seorang marga Siangkwan, masakan kupikirkan ! Masakan selama aku menutup diri 10 tahun itu, suasana dunia persilatan bertambah keruh ?”

Melihat orang sudah mulai terpikat dalam siasatnya, Ih Thian Heng diam-diam girang. Namun ia tetap bersikap tenang dan tertawa hambar : “Benar, memang selama 10 tahun ini dunia persilatan telah mengalami perubahan besar. Kedua Lembah dan Tiga Marga, makin membesar pengaruhnya. Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay yang dipandang sebagai partai terkemuka, kini sudah mulai menurun gengsinya !”

“Bagaimana dengan nama Hian-bu-kiong ?” tanya Thian Hian totiang.

“Nama Hian-bu-kiong, sekalipun tidak lenyap tetapi tidak sehebat ketika toheng masih berkecimpung dalam dunia persilatan dahulu. Kedua Lembah dan Tiga Marga itu makin mendesak nama Hian-bu-kiong ke pojok !”

Huh . . . saking marahnya, Thian Hian totiang menendang tubuh Han Ping yang sudah tak berkutik itu. Pemuda itu terlempar setombak jauhnya.

Diam-diam Ih Thian Heng memperhatikan bahwa pemuda itu sudah tak dapat begerak. Diam-diam ia girang sekali karena mengira pemuda itu tentu mati.

Sambil mengurut jenggot, Ih Thian Heng tertawa : “Ah, ternyata perangai toheng masih sepanas 10 tahun yang lalu. Nah, sampai jumpa lagi !” Memberi hormat, Ih Thian Heng lalu melangkah pergi.

Thian Hian totiang hanya mendengus perlahan. Dipandangnya bayangan orang she Ih itu lenyap dalam kegelapan. Semula ia hendak memanggilnya supaya kembali dan menanyakan soal apa yang rnenghendaki bantuannya itu. Tetapi teringat dirinya saat itu masih terluka dan memerlukan beristirahat, jika memanggil Ih Thian Heng kemudian sampai bentrok, dia sendiri lah yang rugi.

Batalkan niatnya memanggil Ih Thian Heng ia berpaling memandang Han Ping yang menggeletak tak berkutik di tanah. tiba-tiba hatinya gelisah. Anak itu tak bermusuhan dengan dia. Bahkan dialah yang memaksa anak muda itu berkelahi. Dengan tindakannya tadi, apakah tidak terlalu kejam . . .

Thian Hian totiang termenung-menung beberapa saat. Ia berkata seorang diri : “Telah kututuk jalan darah maut Sin-hong. Sekalipun tabib Hoa To dan dewa turun ke dunia lagi, tak mungkin dapat menolongnya. Ah, aku harus menolong luka beracun dari pamannya itu agar dapat menebus kesalahanku . . . .”

Kemudian ia menghampiri Kim Loji. Karena racun sudah bekerja, saat itu Kim Loji pingsan. Tetapi tanpa menghiraukan dirinya sedang terluka .Thian Hian totiang terus mengangkat tubuh Kim Loji. Dengan kerahkan hawa murni, ia mulai menutuki ke 18 jalan darah penting dan tiga buah urat nadi utama pada tubuh Kim Loji.

Kim Loji menghela napas panjang dan perlahan-lahan membuka matanya. Memandang pada Thian Hian totiang, ia bertanya : “Mana kemenakanku itu ?”

Thian Hian totiang menghela napas perlahan, sahutnya : “Mati !”

Kim Loji kaget seperti dipagut ular dan serentak ia loncat bangun : “Apa ?”

Berkata Thian Hian totiang denean dingin : “Lukamu baru sembuh, tak boleh kaget. Lekas duduk dan salurkan darah. Aku masih perlu melenyapkan racun dalam tubuhmu !”

Kim Loji seorang jago tua yang banyak pengalaman. Cepat ia dapat menguasai ketegangan hatinya dan duduk bersemedhi sambil bertanya : “Apakah dia terluka di tangan totiang ?”

Sambil pejamkan mata, imam itu menyahut : “Benar aku telah kelepasan tangan sehingga menyebabkan kematiannya”

“Ah, hal itu tak dapat menyalahkan totiang, bertanding adu kepandaian, kaki dan tangan memang tak bermata. Salahnya sendiri mengapa kepandaiannya masih dangkal !”

Tiba-tiba Thian Hian totiang membuka mata dan memandang lekat pada Kim Loji : “Sudah berpuluh tahun aku berkelana dalam dunia persilatan dan banyaklah orang yang kuketahui. Ingin kuperingatkan kepadamu, jika engkau berani bertingkah di hadapanku, berarti engkau cari mati sendiri . . . .”

Sejenak berhenti ia berkata pula : “Aku sudah berjanji pada anak itu untuk mengobati lukamu. Sekarang walaupun dia sudah mati, akupun tetap akan memenuhi janjiku !”

“Kalau totiang takut setelah sembuh aku nanti akan membalaskan sakit hatinya, lebih baik totiang bunuh aku saja sekarang !”

Mata imam itu berkilat-kilat memandang Kim Loji, katanya dengan dingin : “Sekalipun membunuhmu untuk menutup mulut, tetapi pun harus tunggu sampai lukamu sembuh !”

Tergetar hati Kim Loji, diam-diam ia merenung kata-kata imam itu. Kalau imam itu hendak membunuhnya karena hendak melenyapkan mulut kemungkinan imam itu tentu menggunakan cara licik untuk mencelakai Han Ping. Seketika timbullah rasa dendam dalam hati Kim Loji. Tetapi ia menyadari bahwa kepandaiannya masih kalah jauh sekali dengan imam itu. Ia harus berusaha untuk mencari siasat.

“Terpaksa harus kulakukan pengobatan dengan tusuk jarum. Dengan gunakan jarum emas untuk mengenyahkan hawa dalam tubuhmu, barulah racun itu dapat keluar. Kira-kira memakan waktu sehari semalam. Tetapi aku tak mempunyai waktu untuk rnenunggu pengobatanmu itu. Setelah kutusuk dengan jarum emas, engkau bawa suratku menuju ke Hian-bu-kiong. Setelah engkau memberitahukan tentang lukamu itu, tentu akan segera ada orang yang mengobatimu !”

Kim Loji tertawa : “Sekalipun lukaku sembuh tetapi seumur hidup tak mungkin aku keluar dari Hian-bu-kiong lagi !”

“Lebih baik daripada mati !” Thian Hian totiang tertawa dingin.

Kim Loji tahu bahwa percuma saja ia menentang. Thian Hian totiang tentu akan membunuhnya. Ia pejamkan mata tertawa : “Hian-bu-kiong merupakan tempat keramat dalam dunia persilatan. Mati disana, pun tak kecewa !”

Rupanya Thian Hian totiang tak mau banyak bicara lagi. Ia mengeluarkan 3 batang jarum emas lalu menusuk tiga jalan darah pada tengkuk perut dan punggung Kim Loji. Kemudian mengambil 3 batang jarum lagi dan menusuk di tubuh Kim Loji. Dalam beberapa kejap, tubuh Kim Loji berhias 12 batang jarum. jarum-jarum itu tetap ditinggalkan pada tubuh Kim Loji.

Thian Hian mengambil 2 butir pil, diberikan Kim Loji, ujarnya : “Pengobatan dengan jarum ini, rasanya dalam dunia persilatan belum pernah kudengar orang yang memiliki ilmu itu. Jangan coba bergerak kemana-mana. Akan kucarikan seekor kuda . . . .” imam itu terus loncat pergi.

Tak berapa lama terdengar derap kaki kuda bersama Thian Hian totiang. Entah dari mana imam itu mendapatkannya.

Kim Loji heran meiihat punggung kuda itu tak berpelana. Ia kerutkan dahi dan bertanya : “Apakah engkau menghendakl aku menunggang kuda itu ?”

Thian Hian totiang tertawa : “Akan kuikat tubuhmu di atas punggung kuda agar jangan sampai jatuh. Sesudah makan dua butir pil kim-tan, dalam sehari semalam engkau takkan lelah. Asal engkau ingat bahwa jangan sampai lebih dari 12 jam engkau harus tiba di Hian-bu-kiong, engkau tentu akan selamat tiba disana !”

“Tak perlu diikat, aku masih dapat menunggang sendiri,” kata Kim Loji.

“Tetapi jarum pada tubuhmu itu belum dapat kuambil. Separuh tubuhmu masih lemas. Jika tak diikat tentu tak dapat duduk tegak !”

Tanpa mendapat persetujuan Kim Loji, Thian Hian totiang terus mengangkat Kim Loji diletakkan di atas punggung kuda lalu diikatnya dengan seutas tali sutra, ujarnya : “Mati atau hidup terserah pada nasibmu sendiri. Jika dalam 12 jam engkau tak tiba di Hian-bu-kiong, sebelum racun dari Ih Thian Heng itu bekerja, ke 12 batang jarumku yang menancap pada jalan darah di tubuhmu itu tentu akan berkisar tempat dan pasti matilah engkau saat itu juga !”

Kim Loji hanya menghela napas.

Thian Hian tertawa : “Mengapa engkau menghela napas ? Sekalipun perjalanan itu tampaknya sukar. tetapi kuperhitungkan delapan puluh persen engkau tentu dapat mencapai Hian-bu-kiong !” habis berkata ia terus menepuk pantat kuda. Kudapun segera mencongklang pesat.

Karena tangan Kim Loji diikat dengan tali kendali maka ia masih dapat menguasai arah lari kuda. Cepat sekali kuda itu sudah lari 20 an li. Melihat kuda basah keringat, Kim Loji kendorkan kendali supaya mengurangkan larinya.

Saat itu sisa rembulan masih memancar di langit barat. Hari sudah hampir fajar. Ia menengadah ke udara menarik napas. Seketika tergugahlah semangat keperwiraannya. Dua butir airmata menitik turun. Air mata pahlawan . . .

Pada saat hatinya tercengkam dalam kedukaan dan penasaran, tiba-tiba ia terkejut mendengar seseorang memanggilnya dari arah belakang : “Adakah paman tahu jalan ke Hian-bu-kiong ?”

“Hai, apakah engkau Ping ji ?” teriaknya kaget.

Nada suara orang yang tak asing baginya itu menyahut : “Benar !”

“Ping Ji, apakah kita sedang bermimpi ?”

“Jangan bersedih hati, paman. Kita masih hidup tak kurang suatu apa,” buru-buru Han Ping menghiburnya.

“Bukankah engkau telah dipukul mati oleh Thian Hian totiang ?”

“Benar, aku terkena tenaga balik dari imam itu sehingga pingsan. Kaki tangan dan tulang-tulang seperti copot. Tetapi pikiranku masih sadar, hanya tak kuat bicara saja. Mungkin imam itu mengira aku sudah mati lalu menendangku sampai terlempar tujuh delapan meter . . . .”

“Apakah engkau tak terluka ?”

Han Ping tertawa : “Di luar dugaan tubuhku yang sudah tak dapat berkutik, malah dapat melancar darahnya karena tendangan itu !”

“Hai, benarkah itu ?” Kim Loji terkejut.

“Benar, paman. Tetapi walaupun darahku sudah melancar iagi, aku tetap tak berani bergerak dulu karena hendak mendengarkan pembicaraan antara imam itu dengan Ih Thian Heng. Setelah Ih Thian Heng pergi, Thian Hian segera menolong paman. Karena kuatir dia hendak mencelakai paman buru-buru kukerahkan tenaga dalam untuk mengobati lukaku. Eh, aneh. Lukaku hampir sembuh, semangatku penuh lagi, bahkan lebih penuh dari sebelum terluka . . .

Berserulah Kim Loji dengan girang : “Hidup lebih dari 50 tahun, baru pertama kali ini aku menyaksikan suatu peristiwa yang seaneh dirimu. Adakah ayah toako dan samte yang melindungi dirimu ?”

“Benar, paman. Aku juga heran atas peristiwa itu. Lama kupikir, tetap belum ketemu sebab-sebab nya . . .” kata Han Ping lalu melanjutkan ceritanya : “aku tetap menggeleletak di belakang Thian Hian totiang, mengawasi dia mengobati paman dengan tusuk jarum. Ketika kulihat imam itu bersikap kurang ajar terhadap paman, meluaplah kemarahanku. Tetapi mengingat racun dalam tubuh paman itu kecuali dia tiada lain orang lagi yang dapat mengobati, terpaksa kutekan kemarahanku. Kemudian pada saat dia menaikkan paman ke atas kuda dan suruh paman menuju ke Hian-bu-kiong, diam-diam aku segera mengikuti paman.”

“Ping-ji, dimanakah engkau sekarang ?” tiba-tiba Kim Loji teringat.

“Aku membonceng di kuda ini !”

Kim Loji perlahan-lahan berputar ke belakang tetapi Han Ping tak kelihatan. Sudah tentu ia heran sekali : “Ping-ji, dimana engkau ?”

“Bonceng di ekor kuda !”

Kim Loji tertegun, serunya : “Masakan bulu ekor kuda yang lemas dapat engkau naiki ?”

“Ekor kuda kupegang dengan tangan, bukan kunaiki !”

Makin menjadi-jadi keheranan Kim Loji, pikirnya : “Tubuh orang tentu berat tetapi mengapa tak mengurangkan kepesatan lari kuda dan mengapa sama sekali aku tak merasakan gandulan tubuhnya ? Dan lagi betapapun tinggi kepandaian seseorang, tetapi tak mungkin dapat sekian lama menahan napas . . . .”

Han Ping tertawa : “Sebenarnya aku hendak duduk di belakang paman. Tetapi karena punggung paman masih tertancap jarum tusukan, aku kuatir nanti menyentuh jarum itu. Maka terpaksa aku mencekali ekor kuda saja !”

“Dengan mencekal ekor kuda dan lari sekian li jauhnya, apakah engkau tak lelah ?”

“Bermula kukira tentu letih. tetapi setelah lari 10an li, ternyata tak merasa letih sama sekali !”

Dengan paksakan diri Kim Loji berputar tubuh. Dilihatnya Han Ping mencekal ekor kuda dengan kedua tangannya, tubuhnya direbahkan membujur. Kakinya terpisah beberapa centi dari tanah. Seakan-akan sedang berbaring di atas papan saja.

“Apakah engkau sungguh-sungguh tak merasa letih ?” tanya Kim Loji tertawa.

“Sama sekali tidak !”

“Ping ji, dengan cara apa Thian Hian totiang melukaimu ?”

“Dengan tenaga dalam membalik !”

“Apakah tidak menggunakan cara-cara yang ganas ?”

“Tidak !” sahut Han Ping.

“Apakah Ih Thian Heng mengetahui dirimu ?”

“Melihat juga tetapi dia kira aku sudah mati !”

Kim Loji perlahan-lahan berputar tubuh !agi. Hatinya merasa longgar sekali. Ia getarkan kendali dan mencongklangkan kuda lagi. Han Ping tetap membonceng di belakang dengan mencekal ekor kuda.

Karena pengalamannya dalam dunia persilatan amat luas, maka Kim Loji tak asing lagi dengan letak tempat Hian-bu-kiong atau yang disebut It-kiong, Ji-koh atau kedua Lembah Raja Setan dan Seribu Racun serta ketiga Marga.

Seketika timbul semannat hidup dalam sanubari Kim Loji. Hal itu terdorong oleh adanya Han Ping yang ternyata masih hidup tak kurang suatu apa. Dia merasa anak itu memang mempunyai rezeki besar. Karena setiap tertimpa bahaya bukan saja selalu dapat terhindar pun bahkan malah menambah maju kepandaiannya dan memperbanyak pengalamannya. Cita-cita Han Ping untuk membalas sakit hati dan melenyapkan Ih Thian Heng kiranya bukan hal yang mustahil. Ia merasa berkewajiban untuk menyumbangkan pengalamannya yang luas guna membantu anak itu. Setelah itu barulah ia dapat mati dengan meram . . .

Merenung hal itu, makin besarlah nyala semangat hidupnya. Ia harus lekas-lekas tiba di Hian-bu-kiong untuk mengobati lukanya itu.

Kira-kira dua puluh li jauhnya haripun sudah fajar. Matahari mulai muncul di ufuk timur.

Kim Loji hentikan kudanya. Han Pingpun cepat lepaskan cekalannya lalu melesat ke muka untuk menahan kuda : “Menempuh perjalanan satu malam, paman tentu lapar. Aku hendak mencari makanan dulu untuk paman barulah kita nanti lanjutkan perjalanan lagi !”

Kim Loji tertawa. Ia mengatakan memang lapar, begitu juga kuda itu. Maka lebih baik mencari tempat untuk beristirahat.

Sambil melepaskan tali pengikat tubuh Kim Loji, Han Ping bertanya : “Paman, bagaimanakah dengan pribadi Thian Hian totiang itu ? Baik atau jahat ?”

“Pribadi Thian Hian totiang itu sukar ditentukan. Perwira pun jahat. Tergolong Putih tetapi pun tergolong Hitam . . .”

Sambil memanggul tubuh Kim Loji, Han Ping menghela napas : “Kepergian kita ke Hian-bu-kiong jika memang dapat menyembuhkan paman, itu sih tak mengapa. Tetapi kalau imam itu hanya main-main sekedar untuk mempertangguhkan jiwa paman, hm, dia harus mengganti dengan jiwanya !”

Kim Loji tertawa : “Nak, masalah dalam dunia persilatan tidak hanya mengandalkan keberanian dan kegagahan sesaat. Tetapi yang mengandalkan ketajaman melihat gelagat dan suasana, memang sedikit sekali. Banyak nian pertikaian dan dendam kesumat dari dua orang yang saling bersumpah tak mau hidup bersama, tetapi dalam suatu saat, tiba-tiba mereka dapat akur dan menjadi sahabat. Tetapi pun banyak sahabat karib pada waktu menghadapi saat yang genting, berbalik menjadi musuh . . . .”

“Paman, setelah selesai membalaskan sakit hati ayah bundaku, jangan kita berkecimpung dalam dunia persilatan lagi. Kita cari sebuah dusun kecil dan hidup tentram disitu. Menuntut penghidupan jual besi saja . . . .”

Kim Loji menatap wajah pemuda itu. Dalam waktu beberapa bulan saja, rupanya pemuda itu sudah bosan dengan kehidupan dalam dunia persilatan dan jemu dengan manusia. Kalau tidak masakan semuda itu umurnya sudah mempunyai cita-cita mengasingkan diri hidup tentram . . .

Di tepi jalan tampak sebuah pondok yang dilingkungi dengan pagar bambu. Han Ping segera membawa pamannya kesitu.

Tetapi Kim Loji menyatakan, lebih baik jangan membikin kaget orang : “Cari saja tempat yang sunyi dan tinggalkan aku disitu. Setelah engkau membawa makanan, kita makan seadanya lalu berangkat lagi.”

“Tetapi tubuh paman penuh dengan jarum, bagaimana aku tega meninggalkan paman seorang diri ?” bantah Han Ping.

“Tetapi bukankah engkau hanya pergi sebentar saja ? Masakan akan berjumpa dengan peristiwa lain lagi”

Akhirnya Han Ping menurut. Setelah meletakkan Kim Loji di bawah pohon besar kira-kira 10an dari jalan besar. Kemudian ia lari menuju ke rumah pondok itu. Setelah meminta makanan dari rumah itu, ia terus kembali tetapi astaga Kim Loji lenyap !

Seketika itu meluaplah kedukaan dan kemarahan Han Ping. Makanan yang dibawanya itu terus dilemparkan ke atas pohon ! Byur . . . taburan nasi itu telah merontokkan daun-daun pohon sehingga berguguran jatuh ke tanah.

Sekonyong-konyong terdengar orang tertawa gelak-gelak. Sambil membopong Kim Loji. Pengemis sakti Cong To loncat turun dari atas pohon.

Melihat itu lenyaplah kemarahan Han Ping ujarnya : “Ah, tak kira di sini akan berjumpa dengan locianpwe pula !”

Pengemis sakti tertawa : “Memang pengemis tua sengaja mencarimu, bukan karena kebetulan bertemu !”

Han Ping terkejut dan segera menanyakan keperluan pengemis sakti itu.

Pengemis sakti yang biasanya selalu bersikap acuh tak acuh, saat itu tampak merenung dengan serius. Beberapa saat kemudian baru ia berkata : “Ada sebuah soal penting yang hendak kuberi tahukan kepadamu !”

“Harap locianpwe suka mengatakannya. Asal perlu bantuanku, aku tentu akan membantu. Tetapi kuminta waktu dua hari lagi. Ialah setelah kuantarkan pamanku berobat ke Hian-bu-kiong !” kata Han Ping.

Pengemis Sakti gelengkan kepala : “Hian-bu-kiong telah bersiap diri. Setiap imam dari biara Hian-bu-kiong itu, sama memiliki kepandaian tinggi. Engkau seorang diri hendak ke sana, tentu sukar menghadapi mereka . . . .”

“Tetapi takkan menantang mereka bertempur melainkan hendak minta obat untuk paman.”

“Semula memang ada urusan penting yang akan kubicarakan kepadamu. Tetapi keadaan saat ini lebih penting membantumu lebih dulu ke Hian-bu-kiong. Setelah pamanmu sembuh, baru kita berunding lagi !” tukas Pengemis Sakti Cong To.

Bermula Han Ping hendak menolak. Tetapi mengingat kemungkinan timbulnya pertentangan dengan kawanan imam Hian-bu-kiong, bantuan Cong To akan menambah kekuatan yang amat besar.

Serta merta Han Ping menjura menghaturkan terima kasih atas kesediaan Pengemis sakti itu.

“Waktu amat berharga, sekarang juga kita harus berangkat lagi !” seru Cong To.

Han Ping gugup dan minta waktu sebentar untuk mencarikan makanan guna Kim Loji. Tetapi pengemis itu mengatakan tak perlu karena ia sudah membekal makanan.

Setelah menerima Kim Loji, Han Ping lalu menaikkannya di atas kuda. Tiba-tiba ia bertanya kepada pengemis sakti : “Tubuh pamanku, penuh ditancapi jarum emas. Dia sukar duduk tegak. Apakah perlu harus diikat ?”

“Kalau tidak diikat bagaimana bisa mengelabui orang Hian-bu-kiong !” sahut Cong To.

Demikianlah, tetap didudukkan di atas punggung kuda dengan diikat tubuhnya. Cong To dan Han Ping menggunakan ilmu lari cepat mengikuti di belakang kuda. Han Ping heran mengapa kakinya terasa amat ringan sekali.

“Hai, ilmu apakah yang engkau gunakan itu ?” tegur Pengemis sakti yang heran atas kepesatan lari Han Ping.

“Entahlah, aku sendiri juga tak jelas !”

Cong To kerutkan dahi. Ia tahu anak muda itu tentu tak mau mengatakan. Diapun tak mau mendesak lagi.

Cepat sekali kuda itu sudah lari sampai empat lima belas li. Dan Han Ping tetap merasa heran mengapa larinya makin lama makin pesat dan tak terasa letih sama sekali.

Untuk mencapai Hian-bu-kiong dengan cepat, mereka tidak mau berhenti dan hanya makan rangsum kering yang dibekal Pengemis Sakti Cong To.

Tepat pada saat matahari silam ke barat, tibalah mereka di biara Hian-bu-kiong. Sebuah bangunan gedung yang megah dan besar, dibangun di atas sebuah tanah lapang di tengah hutan bambu seluas beberapa li.

Setelah hentikan kuda yang membawa Kim Loji, berkatalah Cong To kepada Han Ping : “Turut yang kuketahui, kawanan imam dari Hian-bu-kiong itu jarang sekali keluar. Mereka tak mau berhubungan dengan orang luar. Tetapi kepada orang yang berani gegabah masuk ke dalam sarang mereka, tentu takkan dibiarkan hidup. Banyak sudah tokoh-tokoh dunia persilatan yang mengunjungi Hian-bu-kiong, tetapi tiada seorang pun yang tahu keadaan tempat itu. Sampai detik ini, tiada pernah orang yang masuk ke Hian-bu-kiong dapat keluar lagi dengan masih bernyawa. Oleh karena itu Hian-bu-kiong merupakan sebuah biara yang amat menyeramkan . . . .”

“Lalu kita akan masuk ke sana atau tidak ?” tanya Han Ping agak gelisah.

Pengemis sakti tertawa : “Jika kita ikut masuk, mereka tentu tak mau mengobati Kim Loji !”

“Tetapi kalau hanya paman yang masuk seorang diri, apakah tidak berbahaya ?” Han Ping makin cemas.

Pengemis sakti Cong To tertawa : “Thian Hian tojin, meskipun bertindak menurut kemauannya sendiri tetapi dia berdiri di antara aliran Putih dan Hitam. Dan pada hakekatnya dia adalah seorang pendiri sebuah aliran cabang persilatan. Tentu takkan ingkar janji. Kalau dia mengirim Kim Loji ke biara, tentu mempunyai kemampuan untuk mengobatinya. Kita tunggu saja di luar. Setelah hari gelap barulah kita berusaha untuk menolongnya. Hanya dengan cara begitu, tiada lain jalan lagi !”

“Jika imam Hian-bu-kiong tak mengobati luka paman, atau jika mereka melakukan sesuatu tindakan yang menghina . . . .”

Cong To tersenyum : “Mengobati tentu akan mengobati. Tetapi sikap menghina, tentu juga akan diterima. Minta tolong orang mengobati luka, hal itu sukar terhindar . . . .”

“Jika mereka mencelakai atau memenjarakan paman, bagaimanakah kita akan mencarinya ?” tanya Han Ping pula.

“Dalam dunia persilatan memang tak terlepas dari sedikit hujan angin bahaya. Turut pendapat pengemis tua, kawanan imam Hian-bu-kiong tentu tak mengira, kalau Kim Loji masih mempunyai bala bantuan. Dan lagi kedatangan Kim Loji itu tentu akan menjadi pembicaraan ramai dalam biara. Jika mereka sampai menahan Kim Loji, tentu juga mudah diketahui. Yang menjadi keprihatinan kita, ialah kita bakal mengikat permusuhan dengan Hian-bu-kiong, yang berarti akan tambah seorang musuh yang tangguh . . . .”

“Karena urusan sudah sampai begini, kita tak dapat berbuat apa-apa lagi. Jika locianpwe takut bermusuhan dengan Thian Hian totiang, biarlah aku seorang diri saja yang masuk . . . .”

“Jika takut bermusuhan dengan Thian Hian totiang, masakan aku menemani engkau datang kemari . . . . !” tukas Pengemis sakti Cong To. Kemudian ia berkata pula, “lebih baik kita jangan membuang waktu agar luka pamanmu jangan sampai kasip.”

Habis berkata ia terus mencambuk pantat kuda. Kuda itu cepat lari menuju ke Hian-bu-kiong.

Setelah kuda mendekati biara, Pengemis sakti mengajak Han Ping bersembunyi dalam gerumbul semak.

Ketika Kim Loji dengan kudanya tiba di biara, pintu biara yang semula tertutup rapat, tiba-tiba terbuka lebar. Lima lelaki bersenjata pedang berbaris menghadang di ambang pintu. Salah seorang segera mencekal kendali kuda Kim Loji seraya membentaknya : “Siapakah engkau ? Mengapa berani masuk ke Hian-bu-kiong ?”

“Aku telah ditolong Thian Hian totiang dengan pengobatan tusuk jarum. Karena masih ada lain urusan, totiang segera mengirim aku kemari supaya diberi pengobatan lebih lanjut !”

Melihat tubuh Kim Loji benar tertancap jarum emas, orang itu segera menyisih ke samping memberi jalan.

Ketika Kim Loji masuk ke dalam, Pengemis sakti mengetahui kalau Han Ping makin tegang. Ia menggamit ujung baju anak muda itu, katanya : “Segala hal yang terjadi di dunia persilatan, tak ada yang tak berbahaya. Kalau engkau begitu tak dapat menguasai perasaanmu, mana engkau mampu melakukan usaha besar !”

Pengemis sakti itu mengambil buli-buli araknya lalu meneguk beberapa kali, katanya pula : “Mari kita cari tempat beristirahat untuk memulangkan semangat kita !”

Han Ping terpaksa mengikuti Cong To. Duduk di bagian dalam dari semak yang lebat.

Kembali Cong To meneguk arak beberapa kali lalu tertawa : “Dari manakah engkau memperoleh pedang Pemutus Asmara itu ?”

Han Ping tak sangka kalau mendapat pertanyaan semacam itu. Ia tertegun lalu menyahut : “Pedang itu adalah pemberian dari seorang locianpwe. Mengapa locianpwe mendadak menanyakan hal itu”

“Bukankah pedang itu milik seorang padri Siau-lim ?” tanya Cong To pula.

Han Ping makin heran. Pikirnya, mengapa pengemis itu tahu tentang pedang Pemutus Asmara. Lalu ia menanyakan : “Bagaimana locianpwe tahu hal itu ?”

Padri Siau-lim-si semua tahu bahwa pedang itu adalah milik gereja mereka. Pula mereka tahu kalau pedang itu jatuh ke tanganmu. Kini Siau-lim mengutus sejumlah besar anak muridnya untuk mengejar jejakmu. Mereka hendak mengambil pulang kotak pedang itu !”

“Oh, begitu . . .”

“Dan lagi mereka sudah mengetahui bahwa engkau berada di sekitar sini lalu kirim orang melapor pada gereja di Kosan. Tentu mereka segera akan mengirim bala bantuan besar. Rupanya mereka sudah bertekad harus dapat merebut kembali pedang Pemutus Asmara itu !”

Han Ping mendengus perlahan. Sambil menengadah memandang langit, pikirannya melayang-layang

“Pedang itu milik mendiang Hui Gong taysu. Seharusnya memang menjadi milik Siau-lim-si. Tetapi Hui Gong taysu secara pribadi telah memberikan kepadaku. Adakah pedang itu perlu kukembalikan kepada gereja ?” pertanyaan itu, tak dapat Han Ping mengambil keputusan.

Melihat Han Ping berdlam diri, Pengemis sakti tersenyum : “Apakah sesungguhnya pedang pusaka itu milik gereja Siau-lim-si atau bukan ?”

Sahut Han Ping : “Walaupun menjadi milik seorang padri besar dari Siau-lim-si, tetapi tak dapat dianggap sebagai milik gereja . . . .”

“Hampir separuh hidup kuhamburkan dalam dunia persilatan. Beberapa bahasa daerah dari utara sampai selatan, aku tahu semua. Tetapi aneh, mengapa aku tak mengerti apa yang engkau maksudkan tadi ?”

“Walaupun pedang Pemutus Asmara itu menjadi milik seorang locianpwe Siau-lim-si, tetapi benda itu termasuk milik pribadi. Sebelum menutup mata, beliau telah memberikan pedang itu kepadaku. Jadi jelas, pedang itu adalah pemberian pribadi dari seorang padri Siau-lim-si kepadaku. Sekarang padri-padri Siau-lim-si hendak mencari guna meminta kembali pedang itu. Adakah aku harus mengembalikannya atau tidak ?” Han Ping balas bertanya.

Cong To kerutkan dahi : “Sudah berpuluh tahun Siau-lim-si tak pernah menggerakkan murid-murid nya secara besar-besaran seperti kali ini. Dan yang diutus keluar itu, adalah para padri yang berilmu tinggi. Jelaslah sudah, kalau gerakan mereka untuk merebut pedang itu kembali sudah tak boleh ditawar lagi . . . .”

Berhenti sejenak, pengemis sakti itu melanjutkan pula : “Kekuatan Siau-lim-pay amat besar. Dalam dunia persilatan, dewasa ini menempati kedudukan yang terkemuka sendiri. Lebih baik engkau terang-terangan menemui pimpinan mereka untuk menjelaskan duduk perkaranya. Mungkin dapat menghindarkan salah paham !”

Han Ping merenung, lalu menghela napas : “Bukan karena aku temaha pada pedang pusaka itu. Tetapi benar-benar pedang itu adalah pemberian dari seseorang yang menaruh kepercayaan kepadaku. Bagaimana dengan gampang akan kuserahkan lagi kepada lain orang ?”

“Apakah pedang itu sekarang berada padamu ?” beberapa saat kemudian Cong To bertanya.

Han Ping segera mengeluarkan pedang Pemutus Asmara : “Inilah pedang itu ! Tetapi sayang sarung pedang telah dirampas orang !”

Setelah memeriksa pedang itu beberapa saat Cong To tertawa : “Mungkin tujuan para padri Siau-lim-si itu justru pada sarung pedang. Jika engkau tak ingin bentrok dengan para padri Siau-lim-si, baiklah engkau memberitahukan dimana adanya sarung pedang itu kepada mereka . . . .”

Han Ping gelengkan kepala : “Tidak ! Sama sekali tak keberatan menyerahkan kotak pedang itu tetapi aku tak mau menodai nama baik orang yang memberikan pedang itu. Karena bukan hasil yang kucuri, dengan hak apa para padri Siau-lim-si hendak meminta kembali padaku ?”

Diam-diam Cong To membenarkan pendirian Han Ping. Karena menyerahkan pedang itu kepada para padri Siau-lim-si berarti suatu pengakuan bahwa anak muda telah mencuri.

Cong To agak bingung juga. Ia menghela napas : “Menurut ceritanya, pedang itu membawa sial. Beberapa orang yang pernah menjadi pemiliknya, semua telah mengalami akibat yang mengenaskan. Entah apa sebab, masih ada saja orang yang berusaha untuk mendapatkannya . . . .”

Belum selesai bicara, tiba-tiba serangkum angin melanda. Sebagai seorang yang berpengalaman, Cong Topun cepat berbangkit dan menamparkan tangan kirinya. Sedang tangan kanan cepat mencengkram pedang Pemutus Asmara !

Gerakan pengemis itu teramat cepatnya Tetapi ternyata pendatang itu lebih hebat lagi. Sekali berkelebat, tahu-tahu pedang pusaka itu sudah berada di tangan orang itu.

Ah, ternyata pendatang itu seorang nenek tua baju hitam yang mengenakan kerudung kepala sutera hitam. Sambil mencekal pedang Pemutus Asmara, ia tengah memeriksa dengan teliti.

Pengemis sakti Cong To yang luas pengalaman tetap tak kenal siapa nenek itu. Mau tak mau ia tertegun heran.

“Hai, siapakah engkau ?” teriak Han Ping dengan marah.

Tegang sekali nenek itu mengangkat kepala lalu lemparkan pedang Pemutus Asmara ke tanah : “Lihat-lihat kan boleh, toh ?” ia terus berputar tubuh dan melangkah pergi. Pada lain kejap sudah lenyap di dalam hutan.

Setelah nenek itu lenyap barulah Han Ping termenung-menung. Ketika beradu pandang dengan nenek itu, ia tak dapat mengingat bagaimana wajah nenek itu. Tampaknya gerakan nenek itu acuh tak acuh dan perlahan sekali tetapi sesungguhnya luar biasa cepatnya.

Tiba-tiba Han Ping teringat akan ajaran mendiang Hui Gong taysu dalam kitab Tat-mo-ih-kin-keng. Ada dua baris kata yang mengatakan : “Beribu perubahan dalam kelambatan. Lambat tetapi sesunguhnya amat cepat sekali . . . . pikiran mendua, sekali gerak dua serangan . . . .”

Lama benar Han Ping tak jelas apa yang tersembul dalam pelajaran itu. Tetapi setelah berhadapan dengan nenek tadi, tiba-tiba pikirannyapun terbuka.

Melihat Han Ping termenung-menung, Cong To segera memungut pedang Pemutus Asmara itu lalu diberikan kepada anak muda itu.

Han Ping gelagapan. Sambil menyambuti, ia bertanya, apakah pengemis itu kenal akan nenek tadi.

“Tidak kenal,” sahut Cong To.

Han Ping menghela napas : “Dunia persilatan memang benar-benar penuh dengan tokoh-tokoh sakti, Kesaktian nenek tadi mungkin tidak di bawah locianpwe dan Ih Thian Heng . . . .”

“Engkau kenal padanya ?” tegur Cong To.

“Sekalipun tidak kenal tetapi kutahu jelas kepandaiannya amat sakti !”

“Bagaimana bisa diketahui ?” tanya Pengemis sakti. Diam-diam ia memang mengakui kepandaian nenek itu lebih unggul dari dirinya.

“Apakah locianpwe memperhatikan pakaian dan wajahnya ?”

“Pakaiannya serba hitam . . .” baru Cong To menjawab begitu tiba-tiba ia tertegun. Ia tak ingat bagaimana wajah nenek itu. Sambil batuk-batuk ia berkata pula : “Tetapi wajahnya aku tak jelas.”

“Dia tak jauh berdiri di depan kita, tetapi kita tak dapat meiihat jelas wajahnya. Apakah kesaktiannya itu tidak membuat kita kagum ?” kata Han Ping.

Cong To kerutkan alis dan termenung-menung.

Han Pingpun tak mau membicarakan nenek itu lebih lanjut. Ia segera duduk bersemedhi, memusatkan pikiran dan semangatnya untuk memecahkan dua baris kata-kata dalam kitab Tat-mo-ih-kin-keng : “Beribu perubahan dalam kelambatan, lambat tetapi cepat hati mendua, sekali gerak dua serangan . . .”

Matahari mulai terbenam dan cuacapun makin gelap. Tampak wajah Han Ping mulai mengembang seri gembira. Cong To tak mau mengganggunya.

Tiba-tiba beberapa burung melayang di udara. Cong To menggamit Han Ping dan membisiki : “Ada orang akan datang !” ia terus menyelinap ke dalam semak.

Han Ping yang belum sempat bersembunyi, tiba-tiba mendengar suara orang berkata : “Jika toheng tak percaya, silahkan memeriksanya !”

Terdengar seseorang lain menyahut : “Hal ini besok pagi kita bicarakan lagi. Aku hendak kembali ke biara melihatnya !”

Han Ping terkejut. Jelas yang bicara itu adalah Thian Hian totiang. Mengapa imam itu buru-buru pulang ?

Kata orang yang pertama tadi : “Hian-bu-kiong selama ini tak menerima orang luar. Akupun tak berani memaksa melanggar pantangan itu. Besok siang, kutunggu toheng di luar biara !”

Tetapi Thian Hian menolak : “Aku tak senang segala macam kericuhan. Lebih baik engkau tinggalkan tempat ini saja !”

Terdengar derap kaki orang makin lama makin dekat. Diam-diam Han Ping bersiap-siap.

Orang yang pertama bicara tadi berkata lagi : “Walaupun toheng tak menginginkan harta permata dalam kuburan itu, tetapi apakah toheng juga tak mempunyai minat akan pusaka Tenggoret Kumala dan Kupu-Kupu Emas itu ?”

Derap kaki berhenti dan terdengar Thian Hian totiang bersuara : “Apakah benar-benar kedua benda itu berada dalam kuburan itu ?”

“Hal ini sudah pasti, tak mungkin salah lagi !” kata orang itu dengan yakin.

Thian Hian berdiam diri beberapa jenak, lalu berkata : “Baik, biar kupikir semalam ini. Besok pagi akan kuberimu jawaban !”

Terdengar derap kaki lagi. Makin lama makin jauh. Tentulah orang yang bicara dengan Thian Hian itu tinggalkan tempat itu.

Tiba-tiba timbul suatu pikiran pada Han Ping : “Hm, jika aku dapat rneringkus Thian Hian totiang, tentulah akan dapat memaksa kawanan imam dalam Hian-bu-kiong itu untuk mengobati pamannya !”

Belum ia mengambil putusan, tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri dari jauh.

“Hai, siapakah itu . . . . !” teriak Thian Hian totiang dengan marah.

“Aku ! Engkau tentu tak mengira !” terdengar sebuah lengking suara perempuan.

Setelah meragu sejenak, Thian Hian totiang berseru : “Heng-Thian-It-ki . . . .”

“Benar,” sahut wanita itu, “setelah selesai 10 tahun menutup diri, perjanjian kitapun sudah tiba waktunya !”

Tiba-tiba Thian Hian totiang tertawa lepas. Nadanya bergema menggetar hutan, mengejutkan kawanan unggas.

Dalam kesempatan itu, Han Ping diam-diam menyelinap ke dalam semak belukar.

“Tak usah engkau tertawa begitu macam !” wanita pembenci dunia atau Heng-thian-It-ki berseru, “apa perlumu memanggil kawanan imam dalam biara ? Apakah suruh mereka membantumu ?”

Thian Hian menyahut dingin : “Sungguh tepat sekali kedatanganmu ini. Kita segera selesaikan saja segala perhitungan. Hayo kita ke tanah lapang di luar hutan sana. Malam ini, jika bukan engkau yang mati tentu akulah yang binasa !”

Heng-thian-It-ki tertawa mengejek : “Pergi engkau lebih dulu ke dalam biara untuk menyerahkan segala urusan apabila engkau mati nanti. Kutunggu engkau di tanah lapang itu !”

“Tak perlu” sahut Thian Hian seraya terus loncat melayang ke luar hutan.

Wanita Pembenci dunia itupun segera mengikuti. Gerakan keduanya luar biasa cepatnya. Dalam sekejap saja sudah lenyap.

Cong To muncul dari semak tempat persembunyian : “Mumpung ada kesempatan ini, kita masuk ke dalam biara menolong pamanmu !”

Sebenarnya Han Ping ingin menyaksikan pertempuran dahsyat dari kedua tokoh sakti itu. Tetapi demi mendengar ajakan Cong To, segera menyetujui. Bergegas-gegas ia menyusul Cong To yang sudah mendahului lari ke arah biara.

“Kila dapat bergerak cepat, setelah menolong pamanmu, kita masih sempat melihat pertempuran kedua tokoh itu !” kata Cong To.

Saat itu mereka tiba kira-kira tiga tombak di luar biara Hian-bu-kiong. Cong To berhenti, mengeluarkan dua helai sutra hitam, dibagikan kepada Han Ping : “Selain sikapnya yang angkuh dan congkak, sebenarnya Thian Hian totiang bukan orang jahat. Nanti dalam biara, jika sampai bertempur, kita harus dapat menghindari pertumpahan darah yang tak perlu !”

Setelah membungkus mukanya dengan sutra hitam, Cong To terus loncat ke dalam biara.

Han Pingpun segera mengenakan kerudung muka hitam itu. Sekali enjot tubuh, ia melambung sampai tiga tombak lebih tingginya.

Tetapi ketika ia memandang ke bawah, kejutnya bukan kepalang . . .

0 Response to "Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 20 : Telur di ujung tanduk."

Post a Comment