Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 16 : Perangkap berlapis-lapis

Mode Malam
Jilid 16

Habis memberi keterangan, pemuda itu mengajak ketiga tetamunya kembali masuk ke dalam padang bunga. Setelah berbalik kian kemari, sekonyong-konyong pemuda itu meloncat sambil berteriak nyaring, “Harap tuan2 berhati-hati ikut aku masuk ke dalam gedung!”

Ting Yan-san bertiga pusing juga diajak berputar-putar dalam padang bunga itu. Pada saat mendengar teriakan pemuda itu, tanpa sadar merekapun ikut gerakan pemuda itu loncat masuk ke dalam sebuah pagar.

Sesungguhnya Ting Yan-san bertiga sudah mengerahkan kewaspadaannya. Setiap langkah dan setiap tanah yang dilalui, selalu diperhatikan. Tetapi setelah memasuki pager itu, pandang mata seperti tertutup oleh gerumbul semak dan kabut sehingga tak dapat memperhatikan sesuatu apa lagi.

Ting Yan-san, Leng Kong-siau dan Ca Giok saling bertukar pandang. Diam-diam mereka malu dalam hati. Bertahun-tahun mereka berkelana dalam dunia persilatan dan menghadapi berbagai pengalaman. Tetapi tak terduga-duga, saat itu mereka dapat digembala oleh seorang pemuda, seperti kerbau tercocok hidungnya.

Pemuda baju biru yang berada dibelakang Ca Giok, saat itu tiba-tiba loncat ke muka dan tegak berjajar dengan seorang pemuda baju biru yang lain. Sejenak memandang ke arah ketiga tetamunya, tanpa bilang suatu apa, kedua pemuda itu lanjutkan langkahnya lagi.

Oleh karena sudah memasuki Nyo-ke-poh, terpaksa Ting Yan-san bertiga mengikuti kedua pemuda itu.

Beberapa saat kemudian, tampak sebatang gala menancap pada gerumbul pohon. Puncak galah terpancang sehelai bendera bertuliskan tiga buah huruf “Nyo-ke-poh”.

Bendera itu berkibar-kibar tertiup angin. Dari celah2 gerumbul pohon sayup2 tampak genteng merah dari sebuah gedung.

Pemuda baju biru lambatkan langkahnya dan menunjuk ke muka, “Di sebelah depan itulah gedung Nyo-ke-poh kami!”

Kira-kira tiga empat li lagi, barulah mereka tiba di luar gedung. Pemuda itu merentang sehelai panji segitiga lalu berjalan lagi. Setelah melintasi sebuah jalanan dari batu marmar hijau, barulah mereka memasuki halaman.

Tiba di sebuah pintu bundar, pemuda itu berkata, “Pohcu berada di belakang, harap tuan2 suka menanti sebentar.”

Ting Yan-san mendongkol. Jelas Nyo Bun-giau sudah mengetahui kedatangan mereka tetapi masih jual tingkah seperti tuan besar.

Pemuda itu menekan tombol pintu dan tak berapa lama pintupun terbuka. Empat pemuda baju biru mungil, masing-masing mencekal sebatang pedang berbentuk ular hitam. Setelah bicara beberapa jenak, pemuda penunjuk jalan tadi berkata, “Lo-pohcu menunggu tuan2 di dalam.”

Ia memberi hormat lalu keluar.

Sekonyong-konyong bau bedak wangi membaur. Dari balik pintu bundar itu muncul 4 orang dara berumur 17-an tahun. Tiba di muka Ting Yan-san, mereka memberi hormat dan mempersilahkan masuk.

Tepat pada saat itu terdengarlah suara tertawa panjang dan muncullah pemilik marga Nyo-ke-poh yakni si Perancang-sakti Nyo Bun-giau.

Begitu melihat ketiga tetamunya, Nyo Bun-giau segera mengangkat tangan memberi hormat, “Sungguh suatu kehormatan yang tak pernah kusangka bahwa saudara-saudara bersama-sama berkunjung ke pondokku yang jelek ini….”

Ting Yan-san bertiga tersenyum menyambut pernyataan tuan rumah. Tetapi diam-diam mereka meningkatkan kewaspadaan.

“Habis menempuh perjalanan jauh, saudara-saudara tentu letih. Silahkan, mari kita beristirahat di dalam…..” kata Nyo Bun-giau.

Ketiga orang itu dibawa ke dalam sebuah pagoda hunga. Tiga penjuru dari pagoda bunga itu merupakan air empang. Pada permukaan air, tampak bunga2 teratai berguguran. Beberapa ekor angsa putih berenang-renang kian kemari.

Setelah menuangkan minuman teh, Nyo Bun-giau berkata pula dengan nada hambar. “Kedua Lembah dan Ketiga Marga, sudah terkenal di dunia persilatan. Entah apakah Nyo-ke-poh ini dalam pandangan saudara bertiga masih dapat dianggap sesuai dengan kenyataan di dunia persilatan itu?

“Ah, saudara Nyo keliwat merendah. Bangunan dan perlengkapan dalam Nyo-ke poh ini, benar-benar mengagumkan sekali. Sekalipun kedua Lembah dan ketiga Marga itu sama-sama termasyhur, tetapi sesungguhnya tak dapat disejajarkan dengan Nyo ke-poh.

“Ah, saudara terlalu menyanjung,” kata Nyo Bun-giau.

Ting Yan-san tertawa tawar. “Lembah Raja-setan hanya sebuah gerombolan penyamun yang merupakan sampah. Tidak seperti Nyo-ke-poh yang diindahkan dunia persilatan.”

“Saudara Ting keliwat memuji.” Nyo Bun-giau tertawa menyeringai, “siapakah di dunia persilatan yang tak kenal akan kebesaran nama Lembah Raja-setan? terus terang Lembah Raja-setan itulah yang paling hebat bangunannya. Konon kabarnya barang siapa memasuki Lembah Raja-setan, tentu takkan melihat sebuah rumahpun juga. Ciptaan bangunan yang tak dapat dilihat prang itu, benar-benar mengagumkan sekali. Bagaimana Nyo-ke-poh dapat dibandingkan dengan Lembah Raja-setan….”

Diam-diam Ting Yan-san girang mendengar pujian itu. Tetapi lahirnya ia tetap tenang. “Ah, itu hanya secara kebetulan saja berkat keadaan tanahnya. Kurasa tetap Nyo-ke-poh yang lebih unggul karena dibangun menurut ciptaan saudara!”

Nyo Bun-giau tertawa, “Kedua lembah Seriburacun dan Raja-setan sama-sama mempunyai keistimewaan. Lembah Raja-setan termasyhur dengan ciptaan bangunan lembah dan akal muslihatnya yang lihay. Sedang Lembah Seribu-racun termasyhur karena dapat menjinakkan ular yang berbisa. Dengan mengumpulkan beribu-ribu ular dalant lembah, jelas musuh tak mungkin dapat membobolkan pertahanan lembah itu! Ah, saudara Leng, lembah saudara itu benar-benar tiada taranya dalam dunia.”

Leng Kong siau hendak menjawab tetapi Nyo Bun-giau mendahului lagi, “Juga marga Ca-ke-poh dari wilayah Hopak, tak kurang termasyhurnya. Apalagi ayah saudara Ca ini, benar-benar seorang tokoh yang kaya akan ilmu kepandaian dan merupakan tokoh pertama pada dewasa ini.”

Ca Giok gelagapan karena dirinya mendapat giliran. Buru-buru ia berkata, “Ah, Nyo pohcu terlalu memuji. Masakan Ca-ke-poh sepadan disejajarkan dengan kemasyhuran marga Nyo?”

“Lembah Seribu-racun berbahagia sekali menunggu kunjungan saudara Nyo,” Leng Kong-siau menyelutuk,”Akh, memang sesungguhnya diantara Dua Lembah dan Tiga Marga itu, Lembah Raja-setanlah yang paling hebat. Teristimewa kedua gadis kemanakan saudara Tang itu, merupakan sepasang bunga yang amat menyemarakkan nama Lembah Raja-setan!”

Dengan memuji kedua nona Ting itu, Leng Kong-siau memberi bisikan halus agar Ting Yan-san segera bertindak. Dan rupanya Ting Yan-sanpun dapat menangkap maksud Leng Kong-siau.

“Saudara Nyo, aku …. baru Ting Yan-san hendak berkata. Nyo Bun-giau cepat menukas, “Tatkala musim rontok amat sejuk dan nyaman. Mari kita nikmati keindahan alam sambil minum arak wangi!”

Nyo Bun-giau memang licin. Tahu bahwa apabila Ting Yan-san bicara tentu akan menimbulkan pertengkaran maka ia cepat-cepat mendahului. Dan habis berkata orang she Nyo itu terus berseru, “Hai, mana para pelayan cantik!”

Empat gadis cantik yang siap menunggu di luar pagoda bunga, segera masuk dengan langkah lemah gemulai.

“Suruh orang mengeluarkan 40 jambangan bunga Seruni yang mekar2 dan 2 guci arak Sian hin yang lama!” seru Nyo Bun-giau. Kemudian ia berpaling kepada ketiga tetamunya, “Ah, kunjungan saudara bertiga sungguh kebenaran. Di daerah kami seang musim kepiting. Biarlah kusuruh orang merebuskan kepiting yang gemuk2 dan bertelur untuk teman arak!”

Tak berapa lama hidangan arak dan kepiting segera keluar. Keempat gadis cantik itu melayani ketiga tetamu dengan gerak gerik yang menyengsamkan.

Sambil mengangkat cawan arak, Nyo Bun-giau mempersilahkan tetamunya, “Mari, saudara-saudara, jangan sungkan2. Kita harus minum sepuas-puasnya. Bukankah kita tak dapat hidup sampai 100 tahun?”

“Hm, manusia licik,” diam-diam Leng Kong-siau memaki dalam hati, “begitu mendengar nama kedua nona Ting disinggung, segera engkau alihkan perhatian kepada hidangan arak. Tetapi. tunggulah saja Nyo Bun-giau!”

“Saudara Nyo,” walaupun hati mengutuk tetapi mulut Leng Kong-siau tetap tertawa, “engkau benar-benar pandai menikmati hidup. Hidupmu engkau nikmati dengan arak dan wanita. Oh, pantas engkau jarang keluar di dunia persilatan. Kukira engkau seorang alim yang saleh, ternyata ha, ha, ha, engkau memelihara harem yang hebat!”

“Ah, simpananmu di Lembah Seribu-racun tentu lebih hebat lagi saudara Leng. Jangan berpurapura suci,” jawab Nyo Bun-giau,” sesungguhnya aku muak dengan kehidupan dunia persilatan yang isinya hanya main menang sendiri, sedikit2 bicara dengan pedang. Aku lebih suka tinggal di kandang saja, mengecap kehidupan yang tenang. Bukan aku seorang bandot tua. Tetapi memang falsafah hidupku ialah: Hidup itu Indah maka kita harus bersenang-senang menikmati keindahan Hidup. Mengapa kita harus bersusah hati dan bermuram durja. Telah kusiapkan beberapa gadis penyanyi untuk menghibur saudara-saudara!”

Nyo Bun-giau memberi isyarat kepada seorang pelayan dan pelayan itu segera mundur dengan tersenyum simpul.

Tak berapa lama dari gerumbul pohon bambu di seberang, terdengar bunyi bambu diketuk-ketuk. Dan Nyo Bun-giaupun segera menghampiri pagar lalu mendorongnya. Bum … terdengar bunyi bergemuruh ketika pagar itu jatuh ke dalam kolam.

Leng Kong-siau bertiga terkejut dan cepat loncat ke tetapat Nyo Bun-giau. Mereka siap menerjang apabila tuan rumah berani main gila.

Tak berapa saat air kolam berombak-ombak dari dasar air bergerak-gerak sebilah papan yang terangkat dan menjulang ke permukaan air lalu papan itu menjulur memanjang keseberang sebelah muka dan terbentuklah sebuah jembatan yang melengkung seperti busur.

Nyo Bun-giau berpaling seraya tertawa riang. Tiba-tiba ia bersuit nyaring dan dari ujung jembatan bertebaran bergumpal-gumpal awan berwarna.

Leng Kong-siau, Ting Yan-san dan Ca Giok terkesiap. Ketika memandang dengan seksama ah, ternyata gumpalan awan berwarna itu ternyata merupakan pakaian yang berkilau-kilauan dari rombongan dara2 cantik. Dengan langkah yang lemah gemulai mereka menari-nari sambil menyanyi.

Ting Yan-san, Leng Kong-siau dan Ca Giok kenyang berkelana dalam dunia persilatan. Tetapi selama itu juga pernah mereka menyaksikan pemandangan yang begitu menakjubkan seperti saat itu. Ketiga tokoh itu terlongong-longong.

Rombongan dara cantik itu sambil merekah senyum, menari-nari menurut irama lagu. Sepintas pandang benar-benar menyerupai bidadari2 yang turun dari kahyangan . .

Sambil memandang ke arah ketiga tetamunya, Nyo Bun-giau mengurut-urut jenggot seraya tertawa, “Ah, sesungguhnya aku hanya menyuguhkan sedikit pertunjukan yang tak berharga itu kepada saudara-saudara.”

Ia tertawa gelak-gelak ketika melihat ketiga tetamunya terpesona.

Ketiga orang itupun terkejut dan Ting Yan-san tersipu-sipu berkata, “Adakah saudara Nyo bicara pada kami?”

“Entah apakah nyanyian den tarian sekasar itu dapat menyenangkan saudara?” kata Nyo Bun-giau.

“Hidangan saudara Nyo itu sungguh hebat sekali ..”

“Memang nyanyian semacam itu hanya terdapat di Nirwana. Di alam dunia, mana terdapat musik semacam itu….” Leng Kong-siau menyeletuk.

Nyo Bun-giau menunjuk ke arah kolam. “Harap saudara-saudara lihat itu!”

Ketika ketiga tokoh itu memandang ke arah yang dimaksud, tampak seorang bidadari dalam pakaian warna merah yang tipis bersulam bunga

emas, tengah menghampiri dengan berjalan di atas air. Ah kiranya bidadari itu bukan menggunakan ilmu kepandaian ginkang berjalan di udara, tetapi berdiri di atas sekuntum bunga teratai sebesar meja.

Dibawa oleh aliran air, teratai itu meluncur ke bawah jembatan. Tiba-tiba teratai itu menghambur asap tebal dan dengan membawa sang dara bidadari, bunga itu membubung ke atas jembatan.

Selusin dara penari tadi segera berhamburan menyongsong kedatangan dara bidadari itu. Sekilas pandang tampak seperti kawanan kupu2 yang mengerumuni sekuntum bunga.

Sekalipun tokoh-tokoh tua seperti Ting Yan-san dan Leng Kong-siau itu tak suka akan paras cantik, namun menyaksikan pemandangan yang sedemikian itu, terguncang juga hati mereka.

“Nona itu benar-benar menyerupai bidadari yang turun dari kahyangan,” Ting Yan-san memuji.

Nyo Bun-giau tertawa, “Dia adalah seorang sri-panggung yang termasyhur. Entah berapa banyak pemuda hartawan yang telah jatuh di bawah kakinya , .”

Ia berhenti sejenak untuk tertawa gelak-gelak, “dan akulah yang.beruntung dapat mengundangnya kemari. Suatu pertanda betapa besar rejeki saudara bertiga ini …..”

Diam-diam Leng Kong-siau terkejut dalam hati.

Pikirnya, “Celaka, jelas orang she Nyo ini hendak menggunakan paras cantik untuk menjebak kita.”

Dia seorang tokoh tua yang berpengalaman. Setelah menyadari hal itu, buru-buru ia berlaku senang lagi. Diam-diam ia sudah membuat rencana. Sambil menepuk Ting Yan-san ia bertanya, “Saudara Ting, bagaimana pendapatmu tentang nona itu?”

Karena tak tahu maksud orang, maka Ting Yan san agak merah mukanya dan tersipu-sipu menyahut, “Menilai kecantikannya, memang nona itu laksana seorang bidadari menjelma. Seumur hidup belum pernah aku melihat nona secantik itu….”

Tiba-tiba Leng Kong-siau kerutkan wajahnya dan menyanggah, “Ah, ucapan saudara Ting itu salah!”

“Apanya yang salah?” Ting Yan-san terkejut.

Leng Kong-siau tertawa, “Kedua nona kemenakanmu itu sesungguhnya jelita2 yang jarang terdapat di dunia. Mana nona itu dapat dibandingkan dengan kedua kemenakan saudara!”

Mendengar Leng Kong-siau mengungkat kedua nona Ting itu lagi, buru-buru menyelutuk, “Untuk menyatakan terima kasih atas pujian saudara bertiga, biarlah kupanggilnya kemari untuk menghaturkan arak!”

Habis berkata Nyo Bun-giau melambai dara baju merah kemilau itu. Jelita itupun segera ayunkan langkahnya yang semampai. Tak berapa lama sudah melangkah masuk ke dalam pagodabunga. Setelah mengendap tubuh memberi hormat, berserulah ia dengan nada bagaikan buluh perindu, “Pohcu memanggil diriku, entah hendak perintah apakah?”

Sambil mengurut jenggot, Nyo Bun-giau tersenyum, “Ketiga tetamu kita ini adalah tokoh-tokoh persilatan ternama yang menjadi sahabatku. Layanilah dengan hidangan arak agar jangan mengecewakan kegembirakan mereka!”

“Baik tuanku!” sahut jelita itu dengan nada gemetar lalu perlahan2 menghampiri ke tetapat Ca Giok.

Di antara ketiga tetamu itu, Ca Gioklah yang paling muda dan paling cakap. Sejak diundang Nyo Bun-giau dengan pikatan intan permata yang berlimpah-limpah, jelita itu terus disekap dalam sangkar mas sehingga jarang bertemu dengan kaum pria lainnya.

Dan Nyo Bun-giau telah mengadakan peraturan yang sangat keras. Sebelum mendapat ijin, tiada seorangpun yang diperbolehkan masuk ke dalam tetapat para rombongan gadis2 penari itu.

Maka taklah mengherankan ketika melihat wajah pemuda Ca Giok yang tampan, hati jelita itu mendebur keras. Dan pertama-tama yang dihampiri adalah tetapat pemuda itu.

Sambil menjulurkan sepasang tangannya yang putih seperti salju, jelita itu mengangkat paci arak dan menuangkannya di cawan Ca Giok, disertai ucapan yang merdu, “Sekiranya tuan tak muak melihat diriku, sudilah tuan mencicipi arak yang kusuguhkan ini.”

Walaupun Ca Giok itu seorang pemuda yang baru berumur 20 an tahun, tetapi ia beradat tinggi. Biasanya ia tak memandang mata kepada para gadis. Memang dari kejauhan tadi, gadis itu tampaknya secantik bidadari. Tetapi setelah dekat ternyata kecantikan dara itu hanya karena di make-up dengan bedak yang tebal. Dalam kecantikannya yang dibuat itu, Ca Giok tak menemukan suatu keagungan dari seorang wanita jelita. Diam-diam timbullah rasa muaknya. Dan untuk menghindari agar nona itu lekas2 menyingkir, ia segera menyambar cawan araknya dan sekali teguk terus menghabiskannya.

Tetapi rupanya nona itu tetap tak mengetahui sikap Ca Giok yang dingin. Melihat pemuda itu begitu serta merta menyambut arak yang dihidangkannya, ia tertawa riang, “Terima kasih atas penghargaan tuan yang sudi memandang diriku.”

“Ah jangan mengatakan begitu!” sahut Ca Giok dengan dingin.

Dengan merekah senyum riang, gadis itu berkata, “Harap tuan sudi menanti sebentar. Hamba akan menghidangkan arak kepada tuan tetamu yang lain dahulu.”

Nona itu segera melangkah ke tetapat imam-pencabut-nyawa Ting Yan-san. Sambil menuang arak ke cawan tokoh itu, ia mempersilahkannya supaya minum.

Tetapi jago tua itu hanya tersenyum dan memandang tuanrumah: saudara Nyo keliwat menyanjung, Ting Lo-san seumur hidup belum pernah merasakan persembahan arak dan gadis cantik semacam ini. Benar-benar aku merasa tak enak hati.”

Habis berkata tokoh itu tertawa gelak-gelak. Nadanya amat kuat penuh kewibawaan jantan. Pagoda seolah-olah tergetar oleh kumandang ketawanya.

Nona itu serasa pecah anak telinganya. Seketika pucatlah wajahnya, tubuhnyapun menggigil.

Rupanya Nyo Bun giau menyadari hal itu. Buru-buru ia tertawa dingin, serunya, “Pagoda bunga ini tak berapa kokoh bangunannya. Apabila saudara Ting terus tertawa, dikuatirkan kita tak leluasa disini.”

Dalam ucapan itu jelas secara halus ia memberi peringatan kepada Ting Yan-san.

Ting Yan-san hentikan tertawanya lalu berpaling ke arah nona itu. “Apabila seorang jelita semacam nona yang menghidangkan, jangankan arak wangi, sekali pun racun, tentu Ting Yan-san tetap akan meneguknya!”

Ia terus mengangkat cawan lalu diteguknya habis.

Sambil mengawasi sang tetamu meneguk arak, Nyo Bun-giau mengurut-urut jenggotnya dan tertawa “Sikap saudara Ting yang jantan itu memang merupakan sifat2 ksatrya yang perwira. Tetapi harap jangan kuatir, rumah marga Nyo disini hanya menyediakan arak wangi untuk menghormat tetamu, sama sekali bukan racun untuk mencelakai orang!”

Kembali orang she Nyo itu tertawa gelak dengan amat nyaring.

Ting Yan-sanpun tertawa. “Ah, memang aku orang she Ting ini rakus dengan minuman arak sehingga menjadi buah tertawaan saudara Nyo…..”

Diam-diam dia mengutuk, “Huh, jangan jual lagak di hadapanku. Arak atau racun, aku tetap tak sudi melihat tingkahmu yang memuakkan itu!”

Imam Pencabut-nyawa Ting Yan-san seorang tokoh yang licin. Maka pada saat nona cantik itu menyuguhkan arak kepadanya, ia sengaja tertawa keras. Tetapi bukan karena terpikat kecantikan nona itu, melainkan mempunyai maksud lain. Pertama, agar suara ketawanya yang nyaring dapat didengar oleh kedua kemenakannya Ting Hong dan Ting Ling. Kedua, ia ingin mengetahui apakah setelah bertetapur dengan Han Ping tetapo hari, tenaga-dalamnya sudah pulih kembali.

Dan ketika meneguk arak, ia gunakan tenaga dalam untuk memusatkan arak itu di suatu tetapat. Ia tahu bahwa Nyo Bun-giau itu hukan seorang ksatrya. Sudah tentu mempunyai maksud tertentu dalam menghidangkan arak itu.

Demikian setelah menghidangkan arak kepada Ting Yan-san, jelita itu terus pindah menuju ke tetapat Leng Kong-siau. Sambil tersenyum simpul, ia menuang arak ke cawan jago tua itu seraya berkata, “Tuan adalah tetamu terhormat dari poh-cu kami, silahkan menikmati cawan arak ini….”

Leng Kong-siau juga jago tua yang amat licin. Sejenak memandang lebih dulu kepada Ting Yan-san, baru ia menatap jelita itu. “Maaf, aku tak pernah minum arak….”

Habis berkata ia tertawa pula.

Jelita itu meletakkan poci arak, lalu mengangkat cawan dan dengan setengah meratap berkata, “Tuan adalah tetamu kami yang terhormat. Sudilah menerima suguhan kami ….”

Dengan nada dingin, Leng Kong-siau menyahut, “Seumur hidup aku tak minum arak, harap nona jangan sibuk!”

Tolakan itu membuat wajah si jelita merah. Ia berpaling ke arah Nyo Bun-giau. Tetapi orang itu sedang memandang ke arah jembatan dan seolaholah tak menghiraukan pandangan si jelita.

Jelita itu sekali lagi membujuk Leng Kong-siau tetapi rupanya jago dari Lembah Seribu-racun itu tetap tak mau minum.

Beberapa saat kemudian barulah Nyo Bun-giau berputar tubuh, memandang ke arah Leng Kongsiau dan nona cantik serunya, “Apakah saudara Leng tak minum arak?”

Sambil mengangkat cawan arak, nona cantik itu menjelaskan, “Tuan ini seumur hidup tak pernah minum arak maka tak mau memberi muka kepada hamba!”

“Dan engkau tak dapat membujuknya?”

Jelita itu tundukkan kepala dan berkata dengan pelahan, “Hamba sudah berulang kali menganjurkan….”

Dengan mata dingin, Nyo Bun-giau memandang sejenak ke arah Leng Kong-siau lalu menyuruh nona itu. “Kemarilah engkau ..”

Nona itu meletakkan cawan arak lalu menghampiri ke tetapat Nyo Bun-giau.

“Banarkah engkau sudah membujuknya?” Nyo Bun-giau menegas.

Nona itu kisarkan tubuh maju ke hadapan Nyo Bun-giau dan mengangguk pelahan. “Benar, hamba sudah berusaha…..”

“Hm… manusia tak berguna ….” dengus Nyo Bun-giau. Nona itu terkejut ketika melihat pandangan mata Nyo Bun-giau berkilat-kilat menakutkan. Ia hendak memberi penjelasan lagi tetapi sudah terlambat. Tangan kanan orang she Nyo itu menampar punggung dan huak …. nona cantik itu menguak, mulutnya muntah darah dan tubuhnya yang semampai pun terlempar ke dalam kolam.

Tindakan Nyo Bun-giau itu benar mengejutkan ketiga tetamunya. Bahkan Ting Yan-san yang banyak pengalaman pun tergetar hatinya.

Tetapi tampaknya Nyo Bun-giau tenang-tenang saja. Ia mengangkat cawan arak dan meneguk habis. Kemudian meletakkan cawan dan berkata seorang diri, “Jika saudara Leng benar-benar menolak, aku sungguh tak punya muka lagi….”

“Giok-lan, kemarilah!” serunya seraya mendorong poci arak.

Seorang nona cantik yang memakai baju biru menyala, segera tampil dari jembatan. Setelah datang di hadapannya, Nyo Bun-giau menunjuk ke arah Leng Kong-siau, “Tuan Leng itu adalah tetamuku yang terhormat. Engkau harus pandas melayaninya dan haturkan secawan arak kehormatan kepadanya…”

Dengan rawan nona baju!aim itu mengangguk lalu menghampiri ke muka Leng Kong-siau. Setelah menuangkan arak ia menghaturkan dengan kedua tangannya, “Harap tuan sudi menerima persembahan arak ini…”

Sebenarnya Leng Kong-siau tak mau mempedulikan tetapi ia berpaling juga menatap nona itu beberapa jenak. Setelah merenung, wajahnya berobah, “Beritahukan kepada majikanmu bahwa aku tak senang arak….”

Habis berkata ia berpaling lagi ke arah Nyo Bun-giau.

Dengan langkah berat nona yang bernama Giok-lan itu menghampiri Nyo Bun-giau lagi seraya berkata pelahan, “Tuan Leng mengatakan bahwa seumur hidup dia tak suka minum arak ….”

“Hm, engkau juga tak berguna!” dengus Nyo Bun-giau seraya gerakkan tangan ke pinggang nona itu. Tanpa dapat berteriak lagi, Giok-lan rubuh ke dalam kolam.

Melihat peristiwa yang ngeri itu, Ting Yan-san dan Ca Giok serempak memandang ke arah Leng Kong-siau. Tampak wajah tokoh itu dingin saja memandang ke arah rombongan gadis penari yang berada di atas jembatan.

“Giok-ho, kemarilah!” kembali Nyo Bun-giau bertepuk tangan. Sesosok tubuh berpakaian putih, segera tampil menghampiri sambil tundukkan kepala.

“Tetamu terhormat berkunjung tatapi tak becus menghantarkan arak. Bukankah berarti akan membikin malu diriku? Giok-ho, persembahkan arak kehormatan kepada tuan Leng itu!”

Nona baju putih itu rupanya hendak bicara, tetapi Nyo Bun-giau cepat menghalaunya, “Lekas, kalau arak terlanjur dingin tentu tak enak!”

Terpaksa Giok-ho atau Teratai Kumala si nona baju putih itu menghampiri ke tetapat Leng Kongsiau. Namun tokoh dari Lembah Seribu-racun itu tetap menolak minum.

Ketika Teratai Putih menghadap Nyo Bun-giau, sebelum bicara apa-apa, Nyo Bun-giau sudah menampar sehingga nona itu pecah batok kepalanya dan terjebur ke dalam kolam.

“Giok-kiok, lekas kemari persembahkan arak kehormatan kepada tuan Leng!” kembali Nyo Bun-giau berseru.

Seorang nona baju kuning muncul. Seorang dara yang umurnya baru 16-an tahun. Ketika menghampiri Leng Kong-siau, dara itu sudah bercucuran airmata. Ia mempersembahkan cawan arak ke hadapan Leng Kong-siau tanpa berkata apa-apa. Hanya sepasang matanya berlinang-linang memandang Leng Kong-siau dengan mohon belas kasihan.

Ketika Leng Kong-siau memandang dara itu, hatinya tak tega. Dengan mendengus ia menyambuti cawan terus diminumnya habis.

Melihat itu Nyo Bun-giau tertawa gelak-gelak, serunya, “Seumur hidup saudara Leng tak minum arak. Karena saudara telah melanggar pantangan, aku benar-benar merasa bahagia mendapat kehormatan itu!”

Jawab Leng Kong-siau, “Dunia persilatan mengatakan Lembah Seribu-racun itu amat ganas. Tetapi tindakan saudara Nyo hari ini, benar-benar menegakkan bulu roma. Aku Leng Loji kecewa sekali digelari orang sebagai Manusia beracun!”

Nyo Bun-giau hanya tersenyum, ujarnya, “Jangan merendah diri. Saudara Leng memang sengaja hendak memberi muka kepadaku ….”

Tiba-tiba wajah Leng Kong-siau berobah dan berbangkitlah ia dengan serentak, “Leng Kong siau memang gemar membunuh, membakar dan lain-lain kejahatan. Tetapi seumur hidup aku tak mau bergaul dengan paras cantik dan tak pernah menghilangkan kepercayaan!”

Tetapi Nyo Bun-giau tak mengacuhkan kemarahan tetamunya. Dengan tersenyum gembira ia memanggil Giok-kiok atau Seruni Kumala. Kemudian ia merogoh keluar mutiara sebesar buah kelengkeng dan diserahkan kepada dara itu, “Aku selalu tegas memberi hukuman dan hadiah. Yang melanggar, dihukum. Yang berjasa tentu kuhadiahi, Karena engkau berhasil mempersembahkan arak kepada tuan Leng, maka kuhadiahkan segenggam mutiara itu kepadamu.”

Sambil menyambuti mutiara, Seruni Kumala berlutut memberi hormat dan menghaturkan terima kasih. Nyo Bun-giau suruh nona itu menyingkir.

Nyo Bun-giau menghampiri pagar batu. Sekali mengguncangkan. terdergarlah suara bergemuruh dan jembatan itupun meluncur ke muka terus lenyap ke dalam hutan.

Kemudian ia berpaling ke arah ketiga tetamunya dan tersenyum simpul, “Arak yang saudara-saudara minim tadi, adalah arak obat yang kubuat dengan susah payah. Tiada mengunjuk warna apa-apa dan tak berbau tetapi hebat sekali racunnya

.”

Leng Kong-siau tertawa dingin lalu berbangkit, serunya, “Ah, sayang untuk melaksanakan maksud itu saudara harus mengorbankan tiga jiwa nona yang tak berdosa ..”

Ia menutup kata-katanya dengan sebuah gerakan melambung ke udara dan melayang di tepi pagan batu lalu semburkan arak ke kolam bunga teratai.

Cepat Nyo Bun-giau kebutkan tangannya ke arah semburan arak Leng Kong- siau. Semburan arak itu melengkung ke samping dan mencurah ke arah segerumbul bunga teratai yang tumbuh di tepi kolam.

Juga Ting Yan-san mengambil sebuah cawan lalu muntahkan kembali arak yang diminumnya tadi. Cawan itu berisi lagi sampai penuh seperti di saat dihidangkan kepadanya tadi.

Setelah muntahkan semua arak yang diminumnya itu, diam-diam hati Ting Yan-san lega.

Hanya Ca Giok sendiri yang gelisah. Pikirnya, “Kedua tua bangka itu sudah tahu kalau arak dari Nyo Bun-giau itu berisi racun. Tetapi mereka tak mau memberi peringatan kepadaku. Kini mereka sudah muntahkan arak yang diminumnva, hanya aku sendiri yang tak dapat memuntahkan arak ..”

Dengan sikap tenang, Leng Kong-siau menatap tuan rumah dan tertawa. “Perhitungan saudara Nyo memang lihay sekali tetapi sayang ada kalanya meleset juga. Engkau tentu sudah memperlengkapi pagoda bunga ini dengan alat rahasia. Engkau siapkan barisan gadis2 cantik untuk menari. Kemudian tuan perintahkan nona2 cantik untuk mempersembahkan arak kepada kami bertiga. Oh, hebat, benar-benar hebat. Tetapi sayang engkau tak memperhitungkan bahwa aku Leng Loji dan Ting lo-sam, juga sudah mempersiapkan rencana. Telah kumuntahkan semua arak yang kuminum tadi. Demikianpun dengan saudara Ting. Bahkan saudara Ting lebih hebat lagi. Dia telah mengembalikan arak secawan penuh. Dengan begitu jerih payah saudara Nyo tadi hanyalah berhasil mencelakai seorang Ca Giok saja. Tetapi tak berguna terhadap kami dari Lembah Raja-setan dan Lembah Seribu-racun ….”

Berhenti sejenak. Leng Kong-siau melanjutkan lagi, “Dan masih ada sebuah hal yang tak masuk dalam perhitungan saudara. Dalam pagoda ini, dari kita berempat ada tiga orang yang bersumpah tak mau hidup di bawah satu matahari dengan saudara. Memang kuakui aku seorang diri tentu tak mampu menandingi engkau. Tetapi apabila di sampingku terdapat Ting Lo-sam dan Ca Giok, keadaannya tentu berlainan. Cobalah saudara perhitungkan apakah saudara mampu menghadapi kami bertiga?”

Nyo Bun-giau tak segera menjawab melainkan berkeliaran memandang keempat penjuru. Tampak Ca Giok dan Leng KOng-siau berpencar menjaga sebuah tetapat dan merupakan pengepungan. Jago she Nyo itu mengurut jenggot sambil tertawa keras. “Jangankan saudara bertiga sudah meminum arak buatanku yang amat beracun. Sekalipun tidak minum, Nyo Bun-giau masih mampu melayani keroyokan kalian bertiga. Kalau tak percaya, silahkan turun tangan!”

Ting Yan-san maju dua langkah dan berdiri pada jarak satu meter di depan Nyo Bun-giau, lalu berkata dengan dingin, “Kegagahan saudara Nyo sunggah mengagumkan sekali. Ting Losam memang paling tak kenal diri, hendak coba-coba mengadu tenaga dengan saudara barang 10-an jurus saja, tetapi . “

Ia tak melanjutkan kata-katanya.

“Jika saudara Ting mempunyai kegembiraan, jangankan lagi 1O jurus, bahkan seratus sampai seribu jurus, aku tentu suka melayani. Tetapi apakah yang hendak saudara katakan lagi? Harap mengatakan lebih dulu. Soal hidup atau mati, tak perlu harus terburu-buru!”

“Dimanakah kedua gadis kemenakanku yang saudara tahan dalam gedung ini?” tegur Ting Yansan. Percobaan tertawa nyaring tadi, menambah keyakinannya bahwa tenaga-dalamnya sudah pulih kembali. Nyalinyapun bertambah besar.

“Pertanyaan saudara itu sungguh tepat. Kedua gadis kemanakan saudara itu berada di gedung belakang dan kusuruh isteriku memperlakukan mereka sebaik-baiknya. Harap saudara jangan kuatir!”

Ting Yan-san gontaikan kebut hud-tim, tegurnya “Dalam kedudukan sebagai seorang ketua marga yang terhormat, apakah maksud saudara menawan kedua gadis kemanakanku itu?”

“Memang heuar kedua nona kemanakan saudara itu berada di gedung sini. Tetapi kalau saudara menuduh aku menawan, sungguh tak dapat kuakui. Tetapi jika saudara memang mempunyai lain tujuan, sukarlah kudapat menjawab!”

“Tak peduli menawan atau memikat tetapi tindakan itu benar-benar menghina sekali!” Ting Yan-san terus ayunkan kebutannya ke arah kepala orang.

Nyo Bun-giau kebutkan lengan bajunya untuk menangkis, serunya, “Jika saudara Ting memang sungguh-sungguh hendak berkelahi, harap menggunakan senjata yang terselip di punggung saudara itu.”

“Tak perlu!” seru Ting Yan-san seraya sapukan hud-tim ke pinggang orang.

“Saudara Ting seorang tetamu, aku sebagai tuan rumah akan mengalah sampai tiga jurus!” seru Nyo Bun-giau seraya berputar tubuh loncat ke samping.

Tetapi Leng Kong-siau segera menyambut dengan sebuah hantaman, serunya, “Bertetapur adu kesaktian, harus mengeluarkan kepandaian sesungguhnya. Harap saudara Nyo jangan banyak tingkah!”

Saat itu Nyo Bun-giau masih melayang di atas. Terpaksa ia menangkis dengan tangan kanan. Dan menggunakan pukulan itu, ia melambung lebih tinagi, berputar-putar di udara dan melayang ke luar dari pagoda. Tepat pada saat itu terdengarlah suara menggemuruh. Dari empat penjuru pagoda meluncur jaring emas.

Kiranya dalam saat melambung ke udara tadi, Nyo Bun-giau gerakkan alat rahasia. Dengan memperhitungkan waktu yang tepat untuk menantang Ting Yan-san dan Leng Kong-siau, ia melayang keluar dari pagoda.

Ketua marga Nyo itu melayang turun di atas selembar daun teratai dalam kolam. Sambil mengurut jenggot ia tertawa mengejek, “Harap saudara bertiga beristirahat beberapa hari dalam pagoda bunga. Memang pagoda itu sepintas pandang merupakan pagoda bunga yang indah tetapi di dalamnya penuh dengan alat2 rahasia. Jika kalian taat tinggal di dalam dengan tenang, tiap hari tentu kusuruh orang mengantar hidangan dan minuman. Tak nanti mengecewakan penghormatanku terhadap tetamu. Tetapi jika saudara berusaha hendak memboholkan jaring emas itu, jika terjadi sesuatu akibat, harap jangan sesalkan aku karena sebelumnya sudah kuberi peringatan!”

Dalam pada itu, jarak antara pagoda dengan tetapat Nyo Bun-giau makin jauh. Entah kapan dan bagaimana halnya, tahu-tahu pagoda itu sudah meluncur ke tengah kolam.

Ketika Leng Kong-siau menjamah jaring, ia dapatkan jaring itu lemas itu ulet sekali. Entah terbuat dari bahan apa. Syukurlah mereka bertiga sudah banyak pengalaman. Walaupun berada dalam bahaya namun mereka masih tenang dan memandang lekat2 ke arah Nyo Bun-giau.

Habis bicara, Nyo Bun-giau loncat ke tepi daratan terus lenyap ke dalam gerumbul bunga.

Leng Kong siau duduk kembali, ia tertawa, “Apa maksudnya mengurung kita dalam pagoda ini? Kalau dia benar-benar hendak mencelakai kita rasanya sukar dipercaya. Karena din tentu tak berani mengikat permusuhan dengan kedua Lembah ditambah marga Ca!”

Setelah mondar-mandir sejenak, Ting Yan-san berkata, “Kemasyhuran Nyo Bun-giau memang bukan desas desus kosong. Pagoda ini sudah berada di tengah kolam tetapi aku Ting Losam tetap belum menemukan jalan keluar.”

Dalam pada itu diam-diam Ca Giok gelisah, pikirnya kedua orang itu sih tak mengapa tinggal beberapa hari di sini. Karena mereka sudah muntahkan arak beracun. Tetapi aku tentu mati karena arak beracun itu. Ah, aku harus mencari akal keluar dari sini.”

ooo000ooo

Kini kita tinggalkan dulu ketiga orang yang ditawan dalam pagoda itu. Mari kita ikuti lagi Han Ping.

Di sebuah ruang yang diterangi dengan 4 batang lilin, Sin-ciu-it-kun Ih Thian-heng berdiri di sudut ruangan sambil berseri-seri memandang si dara baju ungu.

Tampak dara itu membuka kain yang menutup mulutnya kemudian mengatur lagi perhiasan rambutnya. Sepasang matanya yang indah, berkeliaran memandang ke sekeliling ruang. Tiba-tiba bibirnya merekah senyum. Senyum itu berbeda dengan hamburan tertawa dari mulutnya yang ditutupi kain tadi. Raut wajahnya yang cantik makin bertambah cantik dengan seri senyuman sehingga sekalian orang yang berada dalam ruang itu kesima.

Di saat sekalian orang terpesona melibat senyuman si dara ayu itu, tiba-tiba terdengar Han Ping muntah darah.

Dara itu melirik ke arah Han Ping. Tiba-tiba ia hentikan senyumannya, lalu menghampiri ke tetapat pemuda itu. Tegurnya dengan nada dingin, “Eh, mengapa engkau ini.”

Saat itu Han Ping baru saja ditolong dari pingsan. Darahnya masih belum lancar. Karena saat itu pengemis-sakti Cong To masih bergerak untuk merebut obat dari si dara Singkwan Wan Ceng, ia tak sempat memapah Han Ping. Pemuda itu berhangkit dan berdiri tetapi jatuh lagi. Darah dalam tubuhnya yang masih belum lancar itu, pun bergolaklagi. Ia berusaha untuk menekan tetapi gagal dan akhirnya muntahkan segumpal darah segar.

Pemuda itu mengusap darah di mulutnya dengan lengan baju lalu berusaha untuk bangun. Sejenak memandang ke sekeliling ruang, ia memberi hormat kepada Cong To, “Atas budi pertolongan lo-cianpwe kelak Han Ping tentu akan membalas!”

Habis berkata dengan terhuyung-huyung ia melangkah keluar.

Sikap Han Ping yang keras kepala itu menarik perhatian sekalian orang. Semua mata mencurah ke arah pemuda itu. Mereka tahu bahwa pemuda itu terluka berat. Apabila tak mendapat pertolongan yang tepat, tentu jiwanya berbahaya.

Sesungguhnya Pengemis-sakti Cong To hendak membuka mulut tetapi tak jadi. Ia mengambil buli-buli arak dan meneguknya sampai tiga kali.

Dara baju ungu itu kisarkan kaki mundur setengah meter untuk memberi jalan.

Siangkwan Wan Ceng memutar ke samping ayahnya dan membentak pemuda itu, “Berhenti! Hendak kemana engkau!”

Mendengar bentakan itu, Han Ping berpaling. Seluruh sisa tenaganya sedang digunakan untuk menahan tubuhnya. Karena berpaling dengan tibatiba itu, tubuhnya kehilangan keseimbangan. Ia jatuh lagi.

Sin-ciu-it-kun Ih Thian-heng cepat maju dan menyanggapi tubuh pemuda itu. Han Ping yang masih tetap memandang lekat ke arah Siangkwan Wan Ceng, balas membentak, “Peduli apa engkau aku hendak pergi kemana saja?”

“Hm, siapa yang akan mempedulikanmu…..” nona itu mendengus, lalu berkata pula, “Pertetapuran kita belum selesai. Kalau engkau pergi, habis kemana aku harus mencarimu?”

Han Ping tertegun lalu menjawab dengan garang, “Jika aku mati sudah tentu tak dapat melanjutkan pertetapuran ini. Tetapi selama aku masih bernapas, tentu akan mencarimu untuk menyelesaikan pertandingan kita!”

“Bagus! Apabila engkau sembuh, pergilah ke marga Siangkwan di Kanglam. Asal tak mendengar berita kematianmu, aku tentu selalu….” tiba-tiba gadis itu tak melanjutkan kata-katanya karena merasa kelepasan omong.

Sambil menunjukkan tiga buah jari tangannya, berkatalah Han Ping. “Tiga tahun lagi! Jika belum datang mencarimu berarti aku sudah mati!”

Tiba tiba Siangkwan Wan Ceng menghela napas dan berkata dengan rawan, “Jika engkau sampai mati ah, seumur hidup aku tentu kehilangan seorang lawan yang sanggup menandingi aku. Sungguh sayang sekali!”

Memang sejak menyelesaikan pelajarannya, selama making melintang di wilayah Kanglam dan Kangpak, belum pernah ia mendapat tandingan. Bahwa malam itu ia bertetapur seru dan berakhir sama-sama terluka, benar-benar baru pertama kaki itu ia alami. Kalau pemuda itu sampai meninggal, kemanakah ia akan mencarinya lagi? Di luar kesadarannya, timbullah rasa sayang akan kehilangan itu.

Siangkwan Ko tabu bahwa puterinya itu telah mendapat pelajaran dari seorang sakti. Dalam hal kepandaian dan kesaktian, ia kalah dengan puterinya itu. Namun mendengar ucagan gadisnya yang agak tekebur, buru-buru ia membentak, “Jangan ngaco belo! Kalau tak mendapat pertolongan Ih lo-cianpwe, masakan engkau dapat hidup!”

“Ah, saudara Siangkwan keliwat sungkan. Jika bukan karena puteri saudara itu memiliki lwekang yang tinggi, mungkin aku tak dapat memberi pertolongan,” seru Ih Thian-heng.

Mendengar ucapan itu, tiba-tiba Han Ping berpaling dan meronta dari pegangan Ih Thian-heng, lalu lari dan bersandar pada pintu. Serunya, “Ih Thian-heng, jika aku sembuh, tahukah engkau siapa orang pertama yang akan kubunuh?”

Sambil mengurut-urut jenggot, Ih Thian-heng tertawa, “Agaknya saudara banyak mengikat permusuhan. Hendak membunuh siapa, sukar diduga!”

Han Ping deliki mata dan berseru dengan nyaring, “Engkau!”

Ih Thian-heng tersenyum dan menyahut apa yang tak ditanyakan. “Lukamu amat parah. Engkau hendak membunuh siapa, kelak urusan besok saja. Sekarang yang penting engkau harus beristirahat merawat lukamu!”

Dara baju ungu itu tiba-tiba menghampiri Han Ping. Kemudian dengan sikap ramah dan suara lembut ia berkata, “Dalam dunia ini tiada seorangpun yang mampu mengobati lukamu. Engkau bakal kehilangan ilmu kesaktian dan menjadi orang biasa…”

Lembut dan merdu sekali ucapan dara itu, namun di telinga Han Ping tak ubah seperti halilintar berbunyi di siang hari. Pemuda itu gemetar lalu bertanya dengan nada sarat, “Apakah omonganmu itu benar?”

Dara ayu itu kedipkan matanya yang mempesonakan kemudin tersenyum rawan, “Mengapa aku harus membohongimu? Engkau memang benar-benar terluka parah!”

Di kala tertawa, wajah dara itu tampak laksana bunga mekar di hari pagi. Cerah dan menyengsamkan orang. tetapi di waktu berduka, pun wajahnya berobah sedemikian menghibakan sekali sehingga membuat hati orang ikut tersayat.

“Celaka!” diam-diam Han Ping mengeluh dalam hati, “jerih payahku menyelundup ke gereja Siau-lim-si dan berhasil bertemu dengan Hui Gong taysu yang telah memberi ilmu sakti ajaran kitab Tatmo-ih-king-keng, betapa pengorbanan paderi sakti itu yang telah menyalurkan lwekangnya hiagga dirinya sendiri sampai binasa, akhirnya hanya begini jadinya. Cita-citaku untuk membalas sakit hati orangtuaku, hanya lamunan belaka.”

Penderitaan itu telah menggoncangkan hati sanubarinya. Darah meluap lagi dan dengan tengadahkan kepala ia memekik sekuat-kuatnya untuk mengantar darah yang muntah keluar.

Dara baju ungu itu dua kali mengedipkan ekor matanya. Tiba-tiba wajahnya berobah cerah, dan berserulah ia serentak, “Ada harapan!”

Setelah muntah darah, rongga dada Han Ping terasa longgar. Ia tertegun dan berseru kaget, “Apa katamu?”

“Jika engkau tak muntahkan darah kental, kalau darah itu mengendap di perut tentu akan lebih parah lagi lukamu. Sekalipun tabib sakti Hoa Toa hidup lagi, tak mungkin dapat mengobatimu.”

“Hm, apa macam bicaramu itu!” Han Ping marah, berputar tubuh dan melangkah ke muka.

Dara baju ungu itu terkesiap lalu balas mendamprat, “Hm, manusia yang tak tahu diri!”

Dari jauh terdengar penyahutan Han Ping, “Seorang lelaki takkan berkelahi dengan wanita. Aku Ji Han Ping seorang anak lelaki, tak sudi berpandangan sempit seperti engkau!”

Lelaki baju benang emas yang menjaga di ambang pintu, setelah melihat Han Ping sudah jauh, baru masuk ke dalam ruangan dan berkata kepada si dara baju ungu, “Sumoay, sudah beberapa hari engkau mengalami penderitaan, harap lekas beristirahat……..”

Kemudian lelaki itu berpaling kepada nenek berambut putih dan berkata dengan hormat, “Harap antarkan nona beristirahat pulang. Urusan di sini, aku dan kedua saudara Au serta Oh yang mengurus. Kiranya sudah cukup!”

Lelaki itu bertubuh tinggi tegap. Wajahnya penuh wibawa dan nada suaranya melantang nyaring. Apalagi dalam pakaian sebagai pengawal istana, tambah garanglah tampaknya.

Nenek berambut putih itu dingin sekali wajahnya. Seolah-olah ia menganggap sepi dunia ini. Sejak tadi ia berdiri tegak seperti patung. Baru setelah lelaki tinggi besar itu berkata kepadanya, nenek itu sejenak memandang ke sekeliling lalu berkata dengan segan, “Orang-orang itu adalah tokoh-tokoh persilatan Tiong-goan yang ternama. Apakah kalian bertiga sanggup menghadapi?”

Dengan hormat lelaki berbaju indah itu menyahut, “Harap ibu Bwe jangan kuatir. Sekalipun sudah lama tinggalkan perguruan tetapi sedetikpun tak pernah aku malas berlatih….”

Tampak wanita tua berambut putih itu kerutkan alis. Tampaknya ia tak mempedulikan ucapan lelaki tinggi itu. Waktu ia hendak membuka mulut, tiba-tiba dari lain ruangan terdengar suara orang yang bernada kasar, “Au Bungkuk dan Oh Pendek, apa perlumu datang ke tetapat yang begini sunyi? Dimanakah sumoayku?”

Tepat dengan kumandangnya ucapan itu, tahu-tahu muncullah seorang lelaki aneh ke dalam ruangan situ. Rambutnya kusut masai, mengenakan jubah panjang warna merah, mukanya penuh dengan brewok. Punggungnya menyelip sebatang pedang dan lengan kanannya mengepit sebatang tongkat besi.

Melihat orang aneh itu, si dara baju ungu tiba-tiba tertawa kecil, “Ih, ji-suheng, mengapa engkau datang kemari?”

Orang aneh itu tertawa gelak-gelak. “Seorang diri engkau pergi ke tanah Tiong-goan, masakan aku tak kuatir. Maka buru-buru aku menyusul.”

Tiba-tiba ia memandang ke sebelah kanan dan ketika melihat lelaki tinggi besar tadi, seketika wajahnya berobah. Ia menyurut mundur dua langkah. Kiranya dia hanya memiliki sebuah kaki. Tongkat besi yang dikepit di bawah ketiak itu, untuk pengganti kakinya yang hilang.

Tampak ia memberi hormat kepada lelaki tinggi besar tadi, serunya, “Adakah selama ini toa-suheng tak kurang suatu apa? Sudah hampir 20 tahun kita tak berjumpa! Tadi siaute terlambat memberi hormat, harap toa-suheng suka maafkan!”

“Bagaimana suhu? Apakah selama ini tak kurang suatu apa?” tanya lelaki tinggi besar itu dengan nada serius.

Lelaki kaki-buntung itu menyahut, “Beberapa tahun terakhir ini suhu memang suka menyepi tak senang bertemu orang luar. Siaute pun sudah hampir tiga tahun tak pernah menghadap beliau.”

Lelaki berpakaian indah itu menghela napas, dan suruh si Buntung berdiri. Dengan hormat lelaki buntung itu berdiri di samping. Sepatahpun ia tak berani bersuara, lain sekali dengan sikapnya yang garang ketika baru masuk ke dalam ruangan.

Si dara baju ungu menggodanya, “Eh, ji-suheng, engkau biasanya selalu tertawa riang gembira. Mengapa sekarang mendadak pura-pura seperti orang gagu?”

Si Kaki-satu tersenyum tak menjawab.

Lelaki tinggi besar itu maju selangkah, berkata, “Beberapa hari ini sumoay telah menderita kelelahan, lebih baik lekas beristirahatlah!”

Tetapi dengan wajah kurang senang, dara baju ungu itu membantah, “Toa-suheng, mengapa engkau hendak menyuruh aku pulang?”

Lelaki tinggi besar itu berkata dengan serius, “Saat ini yang kita hadapi adalah tokoh-tokoh ternama dari dunia persilatan Tiong-goan. Sekali turun tangan, tentu akan berbahaya. Tidaklah tepat apabila sumoay berada di sini. Apabila aku tak dapat melindungi sumoay, bagaimanakah tanggung jawabku?”

“Dalam beberapa hari ini, aku telah ditawan orang. Jika mereka telah membunuhku, lalu bagaimana akibatnya!” sahut si dara.

Ucapan tajam dari dara itu membuat si lelaki tinggi besar tak dapat menjawab dan tertegun. Beberapa saat kemudian baru ia menghela napas, “Memang aku menyesal karena tak dapat melindungi sumoay. Hanya karena mengandalkan rejeki besar maka sumoay tak sampai kurang suatu apa. Aku berjanji akan lebih menjaga sumoay dengan hati-hati agar jangan sampai terulang peristiwa semacam itu lagi. Maka kuminta sumoay pulang agar perhatianku jangan sampai terpecah di dalam menghadapi suasana saat ini!”

“Bagaimana kalian hendak menjagaku? Mau pergi setiap saat aku segera pergi!” berkata sampai di sini tiba-tiba dara itu merasa ucapannya keliwat tajam, maka segera ia menyusuli lagi, “Sesungguhnya, jika bertemu musuh, juga sama saja.”

Dara itu berputar tubuh lalu melangkah ke luar pintu.

Ih Thian-heng tetap berseri tawa. Tetapi Pengemis-sakti Cong To dan Siangkwan Ko marah.

“Pengemis tua ini lama benar mendengar kemashyuran ilmu kepandaian Lam-hay-bun yang luar biasa. Sungguh beruntung sekali kalau hari bisa menyaksikan!” seru si pengemis Cong To yang tak dapat menahan luapan hatinya lagi.

Ih Thian-heng berpaling memandang Siangkwan Ko dan tertawa, “Beribu aliran asalnya dari satu sumber. Daun gugur kembali kepada akarnya. Demikianlah dengan ilmu silat. Sekali ada jenis ilmusilat yang tampaknya bercorak aneka ragam dan penuh perobahan, tetapi apabila direnungkan dengan seksama. Tak lain tak bukan hanya tergantung dari latihan, memelihara kondisi tenaga dalam tubuh dan berpusat pada Memberi dan Meminta. Dahulu kaum persilatan Tiong-goan telah bertemu di gunung Lam-gak. Setiap partai telah mengirim jago yang sakti. Dengan harapan dalam pertemuan itu akan dapat menyelesaikan persengketaan dunia persilatan Tiong-goan yang selalu keruh selama ini. Tetapi sayang dalam pertemuan itu telah dikacau oleh Manusia-aneh dari Lamgak ….”

Habis berkata tiba-tiba ia melambaikan tangan. Keenam anak baju putih itu serempak loncat berhamburan menghadang si dara baju ungu. Masing-masing membolang-balingkan pedangnya.

Melihat itu terkejutlah Pengemis-sakti Cong To. Diam-diam ia menimang dalam hati. “Ih Thianheng benar-benar hebat sekali. Keenam budak kecil itu saja sudah dapat digolongkan sebagai tokoh kelas satu kepandaiannya!”

Juga lelaki tinggi besar dan nenek berambut putih itupun terperanjat melihat gerakan keenam anak kecil itu Mereka kerutkan dahi.

Ih Thian-heng tersenyum, serunya lebih lanjut, “Si tua Lam-gak Ki-soh (Manusia aneh dari Lam-gak) itu, di hadapan 13 orang tokoh-tokoh sakti dari Tiong-goan telah mendebat Imusilat dari Tiong goan. Dan saat itu ia mengeluarkan sebuah kitab bersampul kuning. Dia menyatakan kitab itu sebagai kitab pusaka Lam-hay-bun. Dengan pengacauan itu, bubarlah pertemuan di Lam-gak!”

“Tetapi karena peristiwa itu, nama Lam-gak Ki-soh menggemparkan dunia persilatan,” kata Ih Thian-heng, partai Lam-hay-bun dan kitab pusaka Lam-hay-bun telah menjadi buah bibir dunia persilatan. Begitu meluas kabar2 itu hingga menimbulkan suatu dongeng seolah-olah kitab itu sebuah pusaka yang ajaib. Sehingga sampai saat ini, ilmusilat. Lam-hay-bun itu, menjadi idamidaman kaum persilatan Tiong-goan ….”

Si Kaki-buntung yang sejak tadi berdiam diri, tiba-tiba menyelutuk, “Ilmu kepandaian dari Lamhay-bun memang meliputi segala ilmu kepandaian sejak dahulu sampai sekarang, merajai semua partai dan perguruan persilatan. Sudah tentu merupakan sumber ilmusilat yang paling hebat. Masakan hal itu perlu disangsikan lagi?”

Sin-ciu-it-kun Ih Thian-heng tetap tenang-tenang dan tersenyum, “Sesungguhnya ilmusilat Tionggoan itu amat dalam dan tinggi sekali. Lam-haybun tak mungkin dapat menyamai. Misalnya, ke 72 buah ilmu pusaka dari Siau-lim-si, setiap macam cukup untuk menghabiskan tenaga dan pikiran orang sampai seumur hidupnya. Terutama ilmu pelajaran dalam kitab Tat-mo-ih-kin-keng. Kitab itu benar-benar merupakan sumber ilmu kesaktian yang tiada taranya di dunia. Asal mendapatkan separoh bagian saja, sudah cukuplah tak habis digunakan seumur hidup. Dan kalau berbicara soal ilmusilat yang aneh dan galas, Lam-hay-bun pun tak menang dengan wanita pambenci dunia Hengthiam It Ki.”

Pengemis-sakti Cong To mengambil buli-buli arak dan meneguknya beberapa kali.

“Apakah saudara Cong tak percaya pada keteranganku?” tanya Ih Thian-heng sambil tertawa.

Sesungguhnya Cong To hendak mendebat. Tetapi mengingat saat itu ia masih harus menghadapi orang Lam-hay-bun, jika sampai bentrok dengan Ih Thian-heng, tentu akan lebih runyam. Maka ia terpaksa menekan perasaannya dan minum arak. Tetapi didesak oleh pertanyaan Ih Thian heng, pengemis itu mengkal juga. Sahutnya sambil tertawa dingin, “Hampir setengah umur, pengemis tua berkelana dalam dunia persilatan, tak pernah mendengar tentang nama wanita Pembenci dunia Heng-thian It Ki. Harap saudara Ih bicara sedikit genah.”

Tetapi Ih Thian-heng tetap tertawa berseri dan menyahut dengan tenang. “Memang wanita Heng-thian It Ki itu tak pernah muncul di dunia persilatan. Jangankan saudara Cong, sedang tokoh-tokoh dalam dunia persilatan dewasa ini, hanya berapa gelintir orang yang mengetahuinya!”

“Kalau begitu hanya saudara Ih sendiri yang tahu?” Cong To berseru dingin.

Ih Thian-heng tertawa, “Ah, bukan begitu, yang tahu hanya dua orang saja!”

“Siapa?”

Ih Thian-heng alihkan pandang matanya ke arah Siangkwan Ko dan gadisnya, “Harap saudara Siangkwan jangan pegang rahasia agar aku jangan berdebat dengan saudara Cong. tetapat kediamannya di toan-jong-ki itu dekat dengan tetapat saudara. saudara pasti tahu tentang wanita itu.”

Siangkwan Ko kerutkan dahi dan menyahut tersekat-sekat, “Ini…. ini….”

Tampaknya ia sukar mengatakan sehingga sampai beberapa saat tak dapat menjelaskan.

Tiba-tiba Siangkwan Wan Ceng menyelutuk, “Guruku itu tak pernah berhubungan dengan orang persilatan. Bagaimana engkau dapat mengetahuinya?”

“Ah, bukankah itu berarti engkau memberi tahu orang?” tukas Siangkwan Ko.

Gadis itu tertegun. Sesaat kemudian ia tertawa. “Ah, tak sengaja. Sekalipun suhu tahu, tentu takkan memarahi aku.”

“Begitulah!” seru Ih Thian-heng, “jika saudara Cong tak percaya kepadaku, seharusnya juga percaya akan kata-kata saudara Siangkwan dengan puterinya!”

Cong To batuk-batuk dan menyahut seenaknya. “Takkan suatu hal yang memalukan apabila aku tak tahu orang itu.”

“Kecuali Heng-thian It Ki, di dunia persilatan dewasa inipun terdapat ilmu kepandaian dari yang disebut It-kiong, Ji-koh dan Sam-poh. Mereka masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri. Mengembangkan ilmu barisan Ngo-heng, Ki- bun Pat-kwa, ilmu pengobatan, perbintangan dan lain-lain…”

Dara baju ungu itu tiba-tiba berpaling dan menyelutuk, “Baik Heng thian It Ki maupun It-kiong, Jikoh, Sam-poh dan lain-lain, hanya memiliki ilmu kepandaian yang terbatas saja. Dan ilmu barisan Ngoheng-tin, Pat-kwa-tin, ilmu pengobatan serta perbintangan dan lain-lain ilmu menciptakan alat rahasia bukanlah suatu kepandaian yang mengagumkan. Cobalah misalnya kitab Ho-tho dan Lok-sut, siapakah tokoh persilatan yang mengerti isinya.”

Suara besar dari nona itu telah membuat seorang Ih Thian-heng yang penuh toleransi menjadi berobah wajahnya.

“Seorang nona yang masih remaja, mengapa berani bicara begitu besar? Dalam dunia yang luas ini, semua keanehan tentu ada. Berapa banyakkah pengalamanmu sehingga engkau berani memandang rendah pada seluruh orang gagah dalam dunia persilatan?”

Dara baju ungu itu maju dua langkah dan berseru lantang, “Siapakah di antara kalian jago2 dunia persilatan yang paling diindahkan orang?”

Pertanyaan itu datangnya amat mendadak sekali sehingga Pengemis-sakti Cong To, Siangkwan Ko dan Ih Thian heng saling berpandangan satu sama lain tanpa dapat bicara sepatah kata.

Memang hal itu sukar dijawab. It-kiong, Ji-koh dan Sam-poh selama ini terkenal sekali dalam dunia persilatan, Pengemis-sakti Cong To dan Ih Thian-hengpun harum sekali namanya. Masih ada pula gereja Siau-lim-si yang sejak ratusan tahun dianggap sebagai pemimpin dunia persilatan. Juga partai Bu-tong-pay tiada yang menandingi dalam ilmu pedang.

Sejak munculnya It-kiong, Ji-koh dan Sam-poh dalam dunia persilatan, dari golongan Hitam dan Putih muncul beberapa tokoh-tokoh yang hebat, Suasana dunia persilatan makin acak-acakan tak keruan.

Pengemis-sakti Cong To, Ih Thian-heng dan Siangkwan Ko, merupakan tokoh-tokoh sakti yang ternama. Untuk mengatakan siapakah tokoh dunia persilatan yang paling disegani sendiri, memang amat sukar bagi mereka.

Setelah terdiam lebih kurang sepeminuman teh lamanya, barulah Ih Thian-heng membuka suara, “Dari pertanyaanmu itu, jelas mengunjukkan kehijauanmu dan kurangnya pengalamanmu!”

“Apa salahnya pertanyaanku itu?” bantah si dara.

“Ilmu silat itu, luas dan amat dalam sekali. Seorang yang bagaimana pintar dan saktinya, tak mungkin dapat merangkum seluruh ilmu kepandian silat itu. Tentang ilmu pengobatan dan perbintangan, ilmu barisan dan lain-lain, juga suatu ilmu yang menghabiskan umur dan tiada seorangpun yang dapat dikata sempuma sama sekali. Tentang siapakah tokoh yang paling disegani sendiri, tentulah karena dia memiliki kepandaian yang luar biasa hebatnya dan diakui oleh umum. Oleh karena ilmusilat itu tiada batasnya dan tak ada seorangpun yang mampu menguasai keseluruhannya maka tiada seorang tokoh yang patut dianggap sebagai jago nomor satu dalam dunia! Jika ada, pun hanya karena sempurna dalam sebuah jenis kepandaian saja. Maka pertanyaan nona tadi, sukar untuk kujawab. Tetapi dapatlah kuberitahukan kepadamu. Bahwa yang dihadapanmu saat ini, adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yang sedikitnya mempunyai nama juga. Jika engkau mampu menundukkan kami beberapa orang ini, mungkin ilmu kepandaian dari Lam-hay bun itu akan termasyhur dalam dunia persilatan Tiong-goan!”

Dara itu memandang lekat kepada Ih Thianheng, sahutnya pelahan, “Kalau begitu, kalian bertiga itu merupakan tokoh kelas satu dalam dunia persilatan Tiong-goan?”

“Anggap sa-a satu bagianlah!” Pengemis-sakti Cong To mendengus.

Dara itu pelahan-lahan mengemasi rambutnya, kemudian berkata, “Ah, maaf, maaf, aku telah berlaku kurang hormat untuk menanyakan nama kalian bertiga yang terhormat ini?”

Ih Thian-heng kerutkan alis, diam-diam ia mambatin bahwa dara itu memang suka menyulitkan orang. Tetapi sebagai seorang tokoh yang licin, ia tetap tenang-tenang menjawab, “Apakah nona benar-benar tak tahu ataukah hanya pura-pura saja?”

“Setelah tahu nama kalian, bukankah tiada manfaatnya bagiku karena akupun takkan tumbuh besar lagi tinggi badanku,” sahut si dara.

Ih Thian-heng berpaling ke arah Cong To, ujarnya, “Yang punggungnya menyelip buli-buli arak ini, adalah pendekar besar Pengemis-sakti Cong To yang pernah menggemparkan dunia persilatan! Dahulu ketika nona bersama ayah nona mengacau pertemuan Lam -gak itu, boleh dikata sudah mencampuri urusan dunia persilatan Tiong- goan. Tentulah nona sudah mendengar hal itu dari ayahmu!”

Dara baju ungu itu keliarkan mata dan memandang ke arah Pengemis-sakti Cong To, serunya, “Pengemis-sakti Cong To, ya, pernah juga kudengar tentang nama itu.”

Ih Thian-heng tersenyum lalu menunjuk pada Siangkwan Ko, “Dan saudara Siangkwan Ko, ini adalah kepala marga Siangkwan yang menggetarkan golongan Hitam dan Putih di wilayah utara sampai selatan!”

Si dara condongkan kepala ke samping sambil kerutkan dahi. “Dalam dunia persilatan terdapat It-kiong, Ji-koh dan Sam-poh. Dengan begitu Siangkwan pohcu ini tentulah terwasuk salah satu dari Sam-poh itu!”

Siangkwan Ko mendengus dan palingkan kepala tetapi Siangkwan Wan Ceng balas menatap dara itu dengan tajam. Diam-diam ia mengakui bahwa dara itu seorang jelita yang jarang terdapat keduanya.”

“Perlu apa engkau memandang aku?” tegur si dara baju ungu kepada Siangkwan Wan Ceng.

Melihat dara ungu itu tersenyum, diam-diam Siangkwan Wan Ceng tersengsam juga. Buru-buru ia palingkan muka tak mau memandangnya lagi.

“Dan aku sendiri bernama Ih Thian-heng. Nah, nama kami bertiga telah kuberitahukan, apakah nona masih ada pertanyaan lagi?” seru Ih Thian-heng.

Dara baju ungu itu mengangkat kepalanya pelahan-lahan, memandang ke tiang penglari, ujarnya, “Memang kalian bertiga adalah tokoh-tokoh ternama dalam dunia persilatan Tiong-goan, tetapi….”

“Tetapi bagaimana?” bentak Pengemis-sakti Cong To yang marah melihat sikap dara itu, “memang pengemis tua ini sudah lama mendengar bahwa ilmu silat Lam-hay-bun hebat sekali. Malam ini sungguh beruntung kalau dapat menyaksikannya!”

Dara baju ungu itu berpaling ke arah si Kaki satu, serunya, “Ji-suheng, orang ingin melihat kepandaian ilmusilat Lam-hay-bun, tetapi sayang aku segan mengotorkan tanganku dengan seorang pengemis tua yang busuk baunya. Cobalah engkau layaninya beberapa jurus saja. Tetapi jangan terlalu lama, hanya terbatas 10 jurus sajalah!”

Si Kaki-satu itu berpaling memandang kepada si lelaki tinggi besar seperti hendak minta ijin.

“Sumoy membawa panji Burung Hong putih, harus diperlakukan sebagai suhu sendiri. Mengapa engkau tak lekas melakukan perintahnya!” seru lelaki tinggi besar itu.

Dara baju ungu itu tertawa. “Uh, memang jisu-heng itu biasanya tak mau mendengar perintahku. Harap toa-suheng menasehatinya!”

Si Kaki-satupun tertawa keras, “Toa suheng sudah lama tak mengajar padaku. Sekalipun dimaki, akupun akan menerimanya.”

Tiba-tiba kaki buntung itu loncat ke tengah gelanggang dan menuding Cong To, “Hai, pengemis busuk, lekaslah engkau keluar sini ….”

Ia tak melanjutkan kata-katanya karena saat itu ia teringat bahwa dirinyapun lebih brengsek dari pengemis itu.

“Huh, pengemis busuk, apakah engkau tak memanggil dirimu sendiri!” seru Cong To seraya menghantam dan loncat menerjang.

Kaki-satu itu tertawa dingin. Ia mendorongkan tangannya kiri ke muka untuk menangkis.

Ketika saling berbentur, diam-diam Cong To terkejut sekali. Tenaga pukulan yang dilambari dengan lwekang keras, ternyata telah sirna lenyap.

“Dunia. persilatan Tiong-goan mengatakan bahwa kepandaian ilmu silat Lam-hay-bun itu itu luar biasa dan sukar diduga tingginya. Merupakan suatu aliran tersendiri. Jika malam ini aku sampai jatuh di tangan orang buntung ini, tentu akan ditertawakan oleh seluruh kaum persilatan di dunia!” timang pengemis Cong To dalam hati.

Seketika ia mengempos semangat dan menarik pulang pukulannya. Dia telah mencapai tataran yang tinggi dalam ilmu menggunakan lwekang. Dilancarkan dan ditarik dapat dilakukan menurut sekehendak hatinya.

Di lain fihak, si Kaki-satu itupun tak kurang kejutnya ketika menerima pukulan dari pengemis sakti. Ia rasakan hatinya mendebur keras sekali. Diam-diam ia membatin, “Ah, pengemis tua ini benar-benar tak omong kosong. Pertetapuran kali ini, aku tak berani memastikan bisa menang!”

Diapun segera berdiam diri untuk mengerahkan tenaga-dalam dan menunggu serangan lawan.

Ilmu lwekang kedua tokoh itu berlainan sifatnya. Pengemis-sakti Cong To mengutamakan lwekang keras. Pukulannya dapat menghancur leburkan batu karang. Sedang si Kaki-satu itu memiliki ilmu lwekang yang bersifat lunak. Dia mengutamakan gerak ketangkasan yang ganas dun pukulan yang tak bersuara untuk mencelakai lawan.

Sepintas pandang memang tak ada tanda-tanda yang menonjol bahwa dia memiliki kepandaian tinggi. Oleh karena itu ketika hatinya goncang karena menerima pukulan Biat-gong-ciang dari Cong To. pengemis tua itu tak dapat melihat perobahan yang diderita lawan.

Setelah adu pukulan itu, keduanya menyadari kekuatan lawan dan tak berani memandang rendah lagi.

Sejenak memandang ke arah Ih Thian-heng, Pengemis-sakti Cong To batuk-batuk, lalu melangkah pelahan-lahan. Lantai yang dilaluinya, meninggalkan bekas telapak kaki. Wajahnyapun tampak gelap.

Sekalian orang menyadari ketegangan suasana. Mereka menahan napas dan mengikuti dengan penuh perhatian.

Setelah kira-kira satu setengah meter dari si Kakisatu, pengemis itu berhenti dan berseru dengan dingin, “Mengingat engkau cacad kaki, maka aku bersedia mengalah sampai 3 jurus!”

Si Kaki-satu itu menyadari bahwa kalau dapat menyerang lebih dulu tentu akan memperoleh posisi yang baik. Maka segera ia berseru, “Engkau sudah lebih dulu melepaskan Biat-gong-ciang, jika sekarang aku yang menyerang lebih dulu, bukanlah dianggap mengalah!”

Ia menutup kata-katanya dengan ayunkan tangan ke muka. Sambil miringkan tubuh ke samping, Pengemis-sakti Cong To balas mendorongkan tangan kirinya. Sedang tangan kanan dilindungkan ke dada.

Tiba-tiba si Kaki-satu tekankan tongkatnya ke lantai dan tubuhnya melambung ke atas. Kakinya berayun menendang perut prang.

Gerakan menghindar sambil menyerang secara tak terduga-duga itu dilakukan amat cepat sekali.

Tetapi Cong To tetap tak mau menghindar. Ia surutkan perutnya ke belakang. Tetapi si Kaki-satu itu lihay sekali. Tubuhnya tetap masih melambung ke atas sehingga kakinyapun ikut terangkat naik. Luput Mendupak perut, kainya menjejak dada orang.

Cong Topun tetap tak mau menghindar mundur. Ia menabas kaki orang dengan tangan kanannya.

Walaupun hanya berkaki satu dan sedang melambung di udara, tetapi si Kaki-satu itu hebat sekali. Ia surutkan kakinya yang hendak ditabas lalu secepat kilat dijulurkan lagi untuk menyepak dahi lawan. Dalam posisi melambung di udara, dia telah melancarkan 3 buah tendangan secara berturut-turut dan amat cepat sekali.

Menghadapi permainan yang luar biasa itu, mau tak mau, Cong To terpaksa harus mundur dua langkah.

Tiba-tiba dara baju ungu itu melengking, “Ji-suheng, engkau sudah menendang 3 kali dan memukul 2 kali jadi sudah 5 jurus, sudah separoh.”

Si Kaki-satupun mendengus. Berjumpalitan udara, ia melayang turun ke belakang dan berseru, “Berhenti dulu, aku hendak bicara!”

Sesungguhnya karena didesak sampai mundur dua langkah, hatinya pun sekali. Pada saat ia hendak balas menyerang, tiba-tiba si Kaki-satu meluncur ke belakang beberapa meter.

“Engkau ,hendak bicara apa. lekas bilang! Pengemis tua masih hendak meminta pelajaran lagi kepadamu!” sahutnya.

Si Kaki-satu mendengus lalu berpaling ke arah si dara, “Eh, bagaimana caramu menghitung itu, sumoay? Walaupun kakiku menendang 3 kali tetapi posisiku tidak berubab. Mengapa gerakan itu engkau anggap 3 jurus?”

Dara baju ungu itu tersenyum, “Tak peduli Tiga kali menendang kuhitung 3 jurus!”

“Tetapi itu kan hanya gerakan dalam sebuah jurus, bagaimana dihitung 3 jurus!” Kaki-satu itu makin gugup.

“Kubilang 3 jurus ya 3 jurus, Engkau tak dapat mengalahkan orang, walaupun 20 jurus juga tak berguna. Jika memang menang, sejurus dua jurus saja tentu sudah menang. Jika ayah bertanding dengan lawan, apakah pernah lebih dari 3 jurus?”

Si Kaki-satu terkesiap, serunya dengan sungguh-sungguh, “Tetapi suhu kan manusia luar biasa. Walaupun aku belajar sampai 100 tahun, tak mungkin dapat menyamai beliau!”

“Nah, itu dia!” seru si dara, “kepandaianmu jelek, tak dapat mengalahkan orang. Dilanjutkan sampai 1000 juruspun tak ada gunanya!”

Mendengar percakapan suheng dan sumoay itu, mau tak mau Ih Thian-heng dan beberapa tokoh lainnya, terkejut sekali. Diam-diam mereka menilai pertetapuran tadi. Walaupun hanya beberapa jurus tetapi nyatalah si Kaki satu itu haya terpaut sedikit rendah dari Cong To. Jika pertetapuran itu dilanjutkan, sebelum seribu jurus tentu sukar diketahui yang menang dan kalah. Kiranya, beralasan juga kalau dara itu begitu congkak kata-katanya.

Rupanya si Kaki satu tak berani berdebat lagi dengan si dara baju ungu. Ia berpaling ke arah Cong To. “Kita mash mempunyai 5 jurus. Mati atau hidup terletak dalam 5 jurus itu!”

Sahut si Pengemis sakti dengan dingin, “Sekalipun dalam 5 jurus itu, pengemis tua sukar untuk menang, tetapi pengemis tua tetap ingin mendapat pelajaran dari ilmu kesaktian Lam-hay-bun yang luar biasa hebatnya itu!”

“Pengemis busuk, engkau benar-benar lapang dada….” tiba-tiba si Kaki-satu tak melanjutkan kata-katanya. Setelah tertegun sejenak, baru ia berkata lagi, “Jurus yang hendak kulancarkan ini disebut Ban-tianhance. Marilah kita bersama-sama menyerang!”

“Hm, pengemis tua akan gunakan jurus Hun-soh-ceng-tham untuk menghadapimu!” seru Cong To.

Kedua segera mundur selangkah dan bersiap-siap. Tetapi mereka tak lekas bergerak melainkan saling berpandangan.

Melihat itu, si dara baju ungu memandang nenek berambut putih dengan tersenyum.

Tergetar hati si Kaki-satu mendengar senyum tertawa si dara. Ia melirik sejenak. Tepat pada saat itu si darapun tengah memandangnya. Dia makin gelisah. Tetapi karena menyadari yang dihadapinya itu seorang lawan berat, dia cepat tumpahkan perhatianya ke muka lagi.

Sepeminuman teh lamanya kedua tokoh itu saling berpandangan. Tampak tubuh keduanya agak mengendap. Kaki kiri si Pengemis-sakti berkisar ke kiri. Sedang si Kaki-buntung agak berkisar ke kanan. Kemudian mereka bergerak pelahan-lahan. Sarat dan lambat sekali mereka bergerak itu. Setiap inci, memakan waktu beberapa jenak.

Tongkat penyanggah tubuh si Kaki-buntung kedengaran berbunyi berderak-derak dan meninggalkan bekas guratan pada lantai.

Pengemis sakti Cong To juga tak kurang hebatnya. Lantai yang dilaluinya, meninggalkan bekas yang cukup dalam.

Suasana hening lelap. Tampaknya kedua tokoh itu bergerak lambat sekali. Tetapi Ih Thian-heng dan Siangkwan Ko serta tokoh-tokoh yang menyaksikan hal itu, sama-sama menahan napas. Mereka tahu bahwa kedua tokoh itu sedang adu lwekang dari jarak jauh tampaknya tenang, tetapi scsungguhnya menghamburkan pancaran gelombang tenaga-sakti yang dahsyat sekali.

Beberapa saat kemudian, wajah mereka mulai tenang, mata direntang lobar dan langkah kakinya pun makin cepat, berputar melingkar-lingkar….

Setelah tiga lingkaran, kedua orang tiba-tiba berhenti dengan serentak dan berdiri tegak. Tetapi tubuh mereka agak bergetar.

Dara baju ungu mendengus pelahan, serunya, “Bagus, satu juras!”

Si Kaki-satu mengangguk kepala dan bergerak lagi pelahan-lahan. Pengemis-sakti Cong Topun mengikuti juga gerakan lawan. Makin lama makin cepat lagi.

Setelah kurang lebih 10 putaran, tiba-tiba si Kakisatu menggeram dan dorongkan tangan kiri ke muka. Gerakan itu menggunakan tenaga-lwekang penuh tetapi pukulannya tak menimbulkan angin deru yang dahsyat melainkan hembusan angin yang lunak.

Pengemis-sakti Cong To yang sudah kenal akan keanehan ilmu Lam-hay-bun, tak berani berayal. Segera ia luruskan kedua tangan kemuka dada. Tenang sekali ia menunggu. Setelah angin lunak menghembus tiba, barulah ia kebutkan kedua tangannya itu, wut….! terdengar deru angin yang keras dan lenyaplah angin lunak itu!

Dengan kerahkan hampir seiuruh tenaga-sakti Im (lunak), si Kaki-satu yakin bahwa kali itu tentu dapat menjatuhkan lawan.. Tetapi di luar dugaan, serangannya telah dilenyapkan lawan dan masih pula tenaga-sakti keras dart Cong To itu dapat mementalkan kembali serangan tenaga-sakti lunak itu kepada si Kaki-satu. Seketika si Kaki-satu rasakan jantungnya berguncang keras!

Tetapi di hadapan si dara baju ungu, Kaki-satu makin kalap. Satelah menekan golak jantungnya, tiba-tiba ia tekankan tongkatnya kelantai dan melayanghlah tubuhnya ke arah lawan. Terjangan itu disertai gerakan menendang lambung orang sekuat-kuatnya.

Tetapi Pengemis-sakti, merupakan seorang pendekar aneh dalam dunia persilatan. Pengalamannya luas sekali.

Pada permulaan pertetapuran ia sudah mengetahui bahwa sekalipun lawan hanya mempunyai sebuah kaki, tetapi orang itu telah melatihnya dengan sungguh-sungguh sehingga kakinya yang tinggal satu itu, amat berbahaya sekali. Cong To selalu memperhatikan gerakan kaki lawan.

Begitu melihat orang melayang ke atas, cepat ia endapkan tubuh ke bawah. Dengan gerak Menyingkap-awan-melihat-bulan, tangannya menyambar kaki lawan.

Kaki-buntung itu benar-benar hebat sekali. Melihat lawan siap menerkam kakinya, cepat iapun menyurutkan kaki itu lalu ayunkan tongkatnya kearah kepala si pengemis.

Pengemis-saktipun tak kalah lihaynya. Ia telentang ke tanah kemudian kakinya menekan lantai dan tangan kiri lepaskan pukulan.

Kaki-satu terperanjat. Dua buah gerak serangan dengan kaki kiri lalu tongkat, gagal semua. Bahkan ketika belum orangnya melayang turun ke tanah, lawan sudah membayangi dengan pukulan, ia terkejut sekali. Buru-buru ia gunakan ilmu Cian-kin-tui (Tindihan seribu kati), untuk bertahan diri.

Tepat pada saat tongkatnya menyentuh lantai, si dara sudah kedengaran berseru, “Sudahlah! Sudahlah! Ji-suheng, 10 jurus sudah berjalan. Apalagi yang hendak diteruskan!”

Kaki-satu sebenarnya terus hendak menyerang lawan lagi. Tetapi demi mendengar seruan dara itu, ia hentikan gerakannya dan berpaling, “Tetapi pertetapuran ini masih belum selesai ….”

“Tak peduli kalian sudah selesai atau belum, aku hanya membatasi engkau sampai 10 jurus. Karena 10 jurus sudah habis, sudah tentu tak boleh dilanjutkan lagi!” habis berkata dara itu alihkan pandang matanya kepada Siangkwan Ko.

Lelaki tinggi besar cepat mendahului si Kaki-satu yang hendak membantah. “Hm, ucapan sumoay, seperti suhu sendiri. Apa lagi yang hendak engkau katakan!”

Kaki-satu memandang kepada suheng itu dan berseru dengan hormat, “Balk, siaute menurut!” terus mundur ke samping.

Pengemis-saktipun tak mau mendesak. Ia mundur ke samping juga.

Setelah memandang sejenak ke arah Siangkwan Ko, dara itu berpaling ke arah si lelaki tinggi besar. “Sudah lama aku tak pernah melihat toa-suheng bertetapur. Sekarang silahkan mengajaknya – ia menunjuk ke arah Siangkwan Ko – bermain beberapa jurus, agar mereka dapat menyaksikan ilmu kepandaian perguruan kita. Tetapi kalian hanya kubatasi sampai 5 jurus saja!”

ooo000ooo

Dara baju ungu.

Setelah memperbaiki pakaian dan ikat kepala, lelaki tinggi besar itu segera maju menghampiri Siangkwan Ko dan memberi hormat. “Ijinkan aku menemani Siangkwan pohcu bermain barang beberapa jurus saja!”

Jago tua Siangkwan itu mengurut jenggot seraya mengangguk tertawa. “Baik, baiklah. Memang aku si orang tua ini sudah lama mendengar tentang keistimewaan dari ilmu kepandaian Lam-haybun. Bahwa hari ini aku dapat menambah pengalaman sungguh menggembirakan sekali!” Kembali jago tua itu tertawa nyaring.

“Ah, Siangkwan pohcu termasyhur di seluruh dunia persilatan. Apalagi diantara ketiga Marga itu, masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri. Akulah yang merasa beruntung karena dapat menerima pelajaran dari Siangkwan pohcu.”

Siangkwan Ko tertawa meloroh, “Ho, ho, masakan aku berani menerima sanjungan yang sedemikian hebat itu. Ilmu silat itu sukar diukur dalamnya. Aku si orang tua ini hanya dapat mengetahui beberapa bagian sajalah!”

Berhenti sejenak, jago tua itu berkata pula, “Malah kalian dari Lam-hay-bun yang telah mendirikan sebuah cabang persilatan tersendiri itulah yang patut mendapat pujian. Siapakah orang persilatan yang tak kepingin menyaksikan ilmu kesaktian Lam-hay-bun yang luar biasa itu? Pertemuan hari ini, benar-benar suatu kesempatan yang sukar didapat. Harap jangan menyimpan ilmu yang berharga itu!”

Lelaki tinggi besar itu hendak berkata lagi tetapi tiba-tiba ia mendengar suara tanah didebur dua kali. Ia tergetar dan berpaling. Kiranya yang mendebur tanah itu adalah nenek berambut putih yang berdiri di belakang dara baju ungu. Nenek itu gunakan tongkatnya untuk menghunjam tanah.

Lelaki tinggi besar itu menyadari bahwa si nenek berambut tak sabar lagi mendengar percakapan itu berlarut-larut panjang. Rupanya ia jeri terhadap nenek itu. Cepat ia melangkah maju ke muka Siangkwan Ko.

“Harap Siangkwan pohcu segera mulai, aku yang rendah menanti dengan hormat!” serunya.

Ia tetap tegak berdiri. Sikapnya tenang sekali.

“Baiklah, tetapi seyogya engkau yang mulai lebih dulu!” seru Siangkwan Ko.

Melihat kedua orang itu saling mengalah, si dara baju lalu cepat menyelutuk, “Tidak, tidak! Kaum persilatan menghormati kaum tua. Siang-kwan pohcu adalah tokoh angkatan tua yang ternama dalam dunia persilatan, Sudah selayaknya kalau Siangkwan pohcu yang mulai dulu!”

Siangkwan Ko melirik ke arah dara itu. Dilihatnya dara itu berkata dengan sungguh-sungguh, Maka ia terpaksa meluluskan “Kalau begitu, maafkanlah!”

Siangkwan melangkah dua tindak ke hadapan si lelaki tinggi besar. serunya, “Baiklah kita menurut kata-kata nona itu, membatasi main-main ini dalam lima jurus saja. Entah bagaimana maksud saudara mengenai cara bertanding ini?”

“Semua terserah kepada Siangkwan pohcu. Aku hanya menurut saja,” sahut si lelaki tinggi besar.

Siangkwan Ko mendengus, “Menurut pendapatku, tiga jurus kita saling menguji kepandaian tinju dan yang dua jurus dalam kepandaian tenaga-dalam. Bagaimana pendapat saudara?”

Belum lelaki tinggi besar itu menyahut, si dara baju ungu sudah mendengus pelahan dan berseru, “Usul lo-pohcu itu sungguh tepat sekali. Sudah tentu toa-suheng akan menurut saja.”

Sejak Siangkwan Ko menatap lelaki tinggi besar itu, memberi hormat lalu berseru lantang, “Harap menerima seranganku yang pertama!”

Ia menutup kata-katanya dengan sebuah gerak loncatan ke udara. Tangan kanan menghantam dengan jurus Kapak-sakti-membelah-gunung, ke arah bahu kiri orang itu.

Siangkwan Ko telah membenam diri selama berpuluh tahun dalam ilmu silat, Namanya telah menggetarkan dunia persilatan kaum Hitam maupun Putih. Sudah tentu kepandaiannya hebat sekali. Apalagi saat itu ia menghadapi seorang lawan yang berat. Maka ia tak berani memandang rendah. Pukulannya itu dilancarkan dengan tenaga ribuan kati dahsyatnya.

Lelaki tinggi besar itu tak gugup, tenang-tenang saja ia mengendap tubuh lalu condong ke samping dan menyongsongkan tangan kiri menangkis serangan itu.

Dua buah tenaga pukulan saling beradu. Yang satu meluncur dari atas, yang satu menyongsong ke atas. Angin keras segera menderu-deru.

Baik Siangkwan Ko maupun lelaki tinggi besar itu agak tergetar hatinya. Mereka saling bertukar pandang dan diam-diam saling memuji tenaga kepandaian lawan.

Tampak kedua tokoh itu berloncatan dua langkah. Begitu menginjak lantai, lelaki tinggi besar itu maju seraya dorongkan kedua tangannya ke arah lambung lawan.

Melihat hebatnya serangan itu, Siangkwan Ko pun tak berani lengah. Ia salurkan tenaga-dalam ke lengannya untuk menjaga dada, pinggang dan perut. Kemudian ia lepaskan pukulan tangan kanan untuk menghantam pukulan orang.

Serangan yang kedua itu, dilakukan dengan lebih hati-hati Keduanya tak berani memandang rendah lawan dan tak mempunyai anggapan kalau dirinya bakal menang. Keduanya bergerak sarat dan mantap sehingga langkah kaki mereka menimbulkan bunyi menderak-derak. Begitu pula sampai beberapa saat, mereka tetap saling menanti, tak berani bergerak lebih dulu. Beberapa saat kemudian, tampak kedua orang itu saling loncat ke samping.

“Toa-suheng engkau hanya tinggal mempunyai satu jurus lagi,” seru si dara baju ungu dengan suara lembut.

Belum kata-kata dara itu selesai, di gelanggang sudah berlangsung pertempuran lagi. Dua buah jari Siangkwan Ko menusuk ke arah dada lawan. Tetapi orang tinggi besar itu tamparkan tangannya kiri ke atas untuk melindungi dadanya.

Walaupun sepintas pandang mereka bergerak dengan sederhana dan tak ada sesuatu gerakan yang biasa, tetapi karena masing-masing memiliki ilmu kepandaian yang berbeda maka setiap gerakan mereka tentu mengandung tenaga-sakti yang dahsyat. Benar hanya tiga jurus, tetapi cukuplah sudah untuk membuat sekalian hadirin menahan napas.

Siangkwan Ko luput menutuk jalan darah dan si orang tinggi besarpun gagal untuk menampar. Dengan demikian pertempuran itu tetap seri alias tiada yang kalah dan menang.

“Siangkwan Ko benar-benar tak bernama kosong sebagai tokoh sakti dunia persilatan,” si orang tinggi besar memuji.

Siangkwan Ko tertawa menyahut, “Ah, saudara benar seorang tokoh yang berilmu. Aku siorang tua ini benar-benar mendapat pengalaman yang bermanfaat!”

“Setelah adu ketangkasan tangan dan kaki ini selesai, harap Siangkwan poh-cu suka memberi pelajaran ilmu tenaga-dalam,” seru si tinggi besar itu.

Siangkwan Ko mengurut jenggot seraya mengangguk.

Kata orang tinggi besar itu pula, “Rasanya adu tenaga-dalam itu tidak seperti adu ketangkasan kaki dan tangan. Dalam sebuah gerakan saja, dapat diketahui menang kalahnya. Pada hematku, bagaimana kalau kita saling menguji dengan cara berdiri dan duduk?”

“Boleh, boleh,” sahut Siangkwan Ko.

Sambil berseru mempersilahkan, orang tinggi besar itu segera mengempos semangat dan siap menunggu serangan lawan.

Siangkwan Ko pun tak man berayal lagi. Kedua mata agak dipicingkan dan kedua keningnya pun tampak menonjol. Dia tegak berdiri laksana sebuah batu karang.

Hampir sepeminum teh lamanya kedua tokoh itu saling mengerahkan tenaga-dalam masing-masing. Pada lain saat keduanya mengangkat tangan masingmasing. Tubuh agak condong kemuka dan wajah mereka tampak memerah.

Sekonyong-konyong meledaklah dua buah suara bentakan menggeledek. Dan keduanya segera gerakkan tangan masing-masing. Gerakan itu teramat cepat sehingga tampaknya mereka bergerak dengan berbareng.

Seketika terdengar deru angin yang dahsyat. Dan tubuh merekapun tampak berguncang. Cepat mereka salurkan napas untuk menenangkan darah yang bergolak keras. Setelah saling merasa tiada terdapat suatu gangguan pada peredaran darahnya, barulah mereka menghela napas longgar.

Berkata Siangkwan Ko lebih dulu, “Masih ada satu jurus lagi. Sebaiknya kita jangan mengandung rasa dendam dan sungkan. Keluarkan saja seluruh kebiasaan agar aku benar-benar dapat menikmati ilmu-ilmu kepandaian Lam hay-bun yang luar biasa itu….” — jago tua itu terus duduk di tanah.

Seorang tinggi besar tertawa dingin lalu duduk juga herhadapan dengan Siangkwan Ko. Setelah beberapa saat menyalurkan napas, mereka saling memberi anggukan kepala.

Kira-kira sepeminum teh lamanya, tiba-tiba napas mereka menderu keras, rambut meregang tegak. Sampai beberapa saat, mereka masih duduk mematung di tempat masing-masing dan belum kelihatan bergerak.

Si dara baju ungu pun termangu melihat mereka. Beberapa saat kemudian, tampak ia tersenyum. Dan beberapa jenak kemudian baru ia berpaling ke arah nenek berambut putih yang berdiri di belakangnya, “Eh, mengapa mereka duduk seperti patung saja dan belum ketahuan siapa yang menang dan kalah!”

Sebelum nenek berambut putih itu membuka mulut, si dara sudah berkata pula, “Dikuatirkan tenaga-dalam mereka itu berimbang hingga sukar ada yang menang dan kalah. Kurasa, baiklah Bwenio berusaha untuk melerai mereka!”

Nenek berambut putih itu kerutkan alis, memandang sejenak kepada si dara lalu dengan nada yang segan tetapi tak berani membantah perintah segera berkata, “Mereka mungkin selama ini belum pernah mendapat lawan yang seimbang. Lebih baik biarkan mereka beradu sampai ada yang kalah dan menang.”

Tetapi dara baju ungu itu gelengkan kepala, “Aku tak sampai hati melihat mereka sampai ada yang remuk bahu, putus kaki. Oleh karena itulah maka kubatasi jurus pertempurannya.”

Sejenak memandang ke arah toa-suheng dan Siangkwan Ko, dara itu berkata lagi, “ Ih, cukup lama mereka adu tenaga-dalam itu. Jika tak lekas dipisah, keduanya tentu sama-sama terluka. Lekaslah pisahkan mereka!”

Perintah itu mengandung wibawa sekali sehingga si nenek berambut putih sambil geleng-geleng kepala, terpaksa menghampiri ke tengah gelanggang.

Nenek Bwe berjalan beberapa langkah dan berhenti kira-kira satu setengah meter dari kedua orang itu. Tangan kanan menggentak dan tongkatnya melambung, kemudian ia cepat menyambar lagi ujung tangkai tongkat itu lalu tangannya dijungkirkan ke bawah sehingga ujung tongkat melengkung ke bawah tepat menyambar ke arah kedua orang itu.

Kedua tokoh yang sedang beradu kesaktian tenaga-dalam itu, duduk membeku laksana patung. Masing-masing tak berani pencarkan perhatiannya kelain sasaran. Pada saat ujung tongkat nenek itu meluncur di tengah mereka, terdengar bunyi mendesis bagai gerumbul pohon bambu tertiup angin. Desis getaran itu mengandung tenaga, yang hebat sehingga debu bertebaran ke udara.

Setelah meluncurkan ujung tongkatnya, cepat nenek berambut putih itu menarik pulang lagi. Tubuhnya agak berguncang dan berdiri lagi di samping dara baju ungu.

Dengan wajah agak cerah, dara itu menghibur sinenek dengan beberapa patah kata. Si nenek hanya tertawa tak menyahut. Matanya memandang ke arah Siangkwan Ko dan lelaki tinggi besar.

Tampak kedua tokoh itu berbangkit dan masing-masing loncat mundur 6 langkah, berdiri tegak.

“Pertandingan itu juga tiada yang menang dan kalah,” seru si dara dengan nada hambar.

Kemudian ia berpaling ke arah Ih Thian-heng, serunya, “Telah lama kudengar bahwa engkau Sinciu-it-kun Ih Thian-heng itu mempunyai kedudukan yang amat tinggi dalam dunia persilatan Tionggoan. Tentulah kepandaiannya bukan olah-olah hebatnya. Sebenarnya ingin kumencobamu sendiri. Tetapi seumur hidup aku tak suka dirangsang oleh rasa kegagahan diri untuk mengadu jiwa dengan engkau. Karena apakah artinya perbuatan begitu?”

Ia berhenti sejenak. Setelah merenung beberapa saat, ia berkata pula, “Hanya kukhawatir hatimu tak puas. Maka baiknya begini sajalah. Akan kuminta Bwe-nio supaya menemani engkau tukar kepandaian barang beberapa jurus saja!” ia berpaling ke arah si nenek, “Bwe-nio, temanilah tokoh nomor satu dari Tiong-goan Sin-ciu It-kun Ih Thianheng itu, bermain beberapa jurus. Cukuplah tiga jurus saja!”

Nenek berambut putih itu menghela napas seraya bersungut, “Anak nakal, masakan akupun hendak engkau permainkan!”

Dara itu tersenyum, “Ah, mana aku hendak menggolokmu? Bukankah ayah sering mengatakan bahwa dia tak pernah bertempur dengan orang sampai lebih dari tiga jurus?”

Nenek Bwe tertawa hambar, “Ih, jangan ayahmu dijadikan ukuran. Di dunia ini berapa orangkah yang dapat menandinginya?”

Walaupun rambutnya putih tetapi wajah nenek itu berseri bersih, masih tampak segar dan tiada keriput sama sekali. Pada saat tertawa, masih tampak baris giginya yang putih rapih. Wajah dengan rambut putih itu memiliki ciri-ciri tersendiri yang sedap.

Ih Thian-heng melangkah maju dan memberi hormat, “Kepandaian nyonya tentu jauh lebih tinggi dari diriku. Walaupun tiga jurus itu terlalu singkat untuk menyudahi suatu pertandingan namun sekurang-kurangnya dapat memberi penilaian tentang tinggi rendahnya kepandaian.”

Wajah nenek itu mengerut serius. Sikapnya kembali dingin seperti semula. Sambil mencekal tongkat bambu ia melangkah maju petahan-lahan.

“Walaupun mempunyai Batas tiga jurus tetapi tiada larangan untuk menggunakan tangan atau senjata. Silahkan engkau mencabut senjatamu!” serunya dengan jelas. Ia menghendaki suatu pertandingan dengan memakai senjata.

Ih Thian-heng yang berwajah ramah, pun saat itu hanya tersenyum, sahutnya, “Silahkan nyonya memakai apa saja, aku tetap hendak menggunakan kedua tangan kosong untuk menerima tiga jurus seranganmu “

“Ucapan yang congkak!” nenek itu tertawa dingin dan serentak gerakkan tongkat untuk menutuk. Tampaknya serangan itu biasa sekali, dada suatu gerakan yang mengejutkan serta tenaga yang keras, Sekalipun anak berumur tiga tahun saja, tentu dapat menghindar.

Tetapi wajah Ih Thian-heng tampak serius sekali. Dipandangnya serangan tongkat itu dengan penuh perhatian lalu ia mengangkat kaki kanan dan melangkah setindak ke samping.

“Satu jurus!” tiba-tiba dara itu melengking.

Si nenek tertawa tawar. Setelah menarik pulang tongkatnya lalu ia membuat gerakan menyapu. Juga gerakan itu tampak lamban sekali. Sama sekali tak tampak sesuatu yang mengejutkan. Hanya yang berlainan adalah tongkat itu tampak agak bergetaran seperti digerakkan oleh tangan yang lemah.

Tampak ubun-ubun kepala Ih Thian-heng mengepul uap keringat. Dua buah jari kiri, dijulurkan miring ke arah tongkat. Bahunyapun bergetar bagai orang yang sedang memanggul beban maha berat. Kemudian dengan pelahan ia mundur menghindar dari serangan tongkat.

“Hm tinggal satu jurus lagi,” seru si dara.

Si nenek menarik pulang tongkat, menarik napas agak terengah-engah lalu menatap Ih Thian-heng.

“Pada jurus yang terakhir aku hendak menguji ilmu silatmu….!”

0 Response to "Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 16 : Perangkap berlapis-lapis"

Post a Comment