Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 15 : Kereta misterius

Mode Malam
Jilid 15

Terdengar suara erangan dan dara baju hitam itu tampak menjamah tiang ranjang. Rupanya ia hendak duduk.

Melihat itu Siangkwan Ko buru-buru memapahnya, “Ceng, apakah engkau sudah enakan?”

Dara itu sedikit membuka mata dan memandang ke sekeliling. Tiba-tiba ia bertanya heran, “Yah, dimanakah kita sekarang…? ia memandang ke ranjang yang ditidurinya itu dan berkata:”Ih…. mengapa aku tidur di sini?”

Siangkwan Ko mencekal nadi pergelangan tangan puterinya, “Ceng-ji, engkau terluka parah. Untunglah Ih lo-cianpwe telah berhasil menolongmu. Bagaimana engkau rasakan seka?ang? Cobalah engkau lakukan pernapasan, apakah masih ada yang sakit?”

Dara baju hitam itu ternyata bernama Siangkwan Ceng. Ia memandang ayahnya dengan senyum hambar kemudian melakukan perintahnya. Setelah melakukan pernapasan beberapa saat, ia berkata, “Ah, baik2 saja, tak kurang sesuatu apa!”

Bukan kepalang senang hati orang tua itu melihat puterinya tak kurang suatu. Segera ia memapah dara itu turun dari pembaringan, “Ceng, lekas engkau haturkan terima kasih kepada Ih lo-cianpwe!”

Sin-ciu It-kun cepat melangkah maju. Ia memegang tangan dara itu dan tertawa, “Ah, sudahlah, sudah. Tak perlu menurut perintah ayahmu. Aku adalah sahabat lamanya, masakan harus diberi penghormatan yang berlebih-lebihan begitu. Eh, bagaimana keadaanmu sekarang?” Sambil berkata ia membelaibelai rambut dara itu.

Siangkwan Ceng mengangguk, “Baik, sudah tak merasakan sakit lagi.”

Kata It-ciu Sin-kun::Jalan darahmu sudah tak mengalami kesulitan lagi. Asal engkau giat melakakan pernapasan dan jangan terlalu banyak menggunakan tenaga, dalam waktu singkat engkau tentu sudah pulih seperti sedia kala. Mari, kubantumu kalau engkau hendak berjalan.”

Siangkwan Kwan terharu sekali melihat kebaikan budi It-ciu Sin-kun. Segera ia menghaturkan terima kasih.

Sambil mencegah supaya Siangkwan Ko jangan banyak peradatan, It-ciu Sin-kun memapah dara itu turun dari ranjang. Saat itu kaki si dara lemas lunglai tak dapat berjalan sendiri. Siangkwan Ko dan Ih Thian-heng memapahnya di sebelah kanan kiri. Setelah berlatih sepeminuman teh lamanya barulah dara itu dapat berjalan sendiri tetapi harus mandi keringat.

Sin-ciu It-kun Ih Thian-heng menerangkan bahwa peredaran darah dara itu sudah normal tetapi tak boleh keliwat lelah. Ia minta dara itu beristirahat lagi untuk minum obat.

Melihat Ih Thian-heng sudah membuktikan telah dapat menolong puterinya, Siangkwan Ko silau dengan rasa terima kasih sehingga apa yang dikatakan Ih Thian-heng ia menurut saja.

Ih Thian-heng segera tinggalkan tetapat itu untuk mengambil obat. Saat itu Pengemis-sakti Cong To masih memondong Han Ping. Tetapi pengemis itu tak mempedulikan kemunculan Ih

Thian-heng yang lewat di sampingnya.

Adalah Ih Thian-heng sendiri yang mulai berkata dan meminta Cong To supaya meletakkan pemuda itu dil antai untuk diperiksanya.

“Apakah engkau sungguh-sungguh hendak menolongnya?” sahut Pengemis-sakti dengan dingin.

Ih Thian-heng, tertawa meloroh, “Saudara Cong, mengapa engkau mengucap begitu? Apakah ada dua macam menolong, yang sungguh dan yang pura2? Apakah Ih Thian-heng mempunyai cacad pernah mencelakai orang?”

Pengemis-sakti Cong To deliki mata memotong kata-kata orang, “Sudahlah, sudah! Aku sipengemis tua tak suka membenci orang yang merengek-rengek di telingaku. Kalau engkau tahu cara menolongnya, harap jangan menunda waktu lagi!”

Mendengar itu diam-diam Siangkwan Ko memaki si pengemis tua yang dikatakan tak tahu gelagat.

Tetapi kebalikannya Sin-ciu It-kun Ih Thianheng tak marah. Dengan tenang ia berjongkok memeriksa luka Han Ping seraya menjawab kepada si pengemis tua, “Ah, dalam usia yang begitu lanjut saudara Cong masih begitu perangsang sekali!”

Sekonyong-konyong terdengar gemerincing gelang dan membawa hawa yang wangi. Karena terkejut sekalian orang serempak memandang keluar pintu. Sesosok tubuh berkelebat muncul dan tampaklah seorang dara baju ungu yang berwajah cantik berseri laksana kuntum bunga sedang mekar.

Di belakang dara baju ungu itu mengikut seorang nenek tua berambut putih seperti salju dan mencekal sebatang tongkat bambu.

Begitu melihat kemunculan dara baju ungu itu lelaki berpakaian kuning emas dan kedua pengawal si Bungkuk dan si Pendek, dengan sikap menghormat segera menyisih ke samping memberi jalan. Dara baju ungu itu tersenyum.

Beberapa bocah laki berpakaian putih yang menghadang di pintu tadi. Melihat si dara baju ungu dan nenek berambut putih hendak masuk, mereka saling bertukar pandang mata dan hendak maju menghadang.

Tetapi lelaki baju kuning emas itu selalu memperhatikan mereka. Cepat ia hendak maju melindungi si dara. Tetapi tiba-tiba ke empat bocah baju putih menundukkan kepala dan sama mundur dua langkah.

Kiranya karena melihat yang hendak masuk itu seorang dara, surutlah kekerasan hati mereka, Dan ketika mereka memandang si dara, si dara tengah bersenyum. Senyumnya laksana bunga2 mekar di musim semi.

Sekalipun ke empat bocah lelaki itu baru berumur tiga empat betas tahun, tetapi mereka tetap terpesona juga menyaksikan kecantikan si dara baju ungu yang sedemikian gilang gemilang. Jantung mendebur keras, darah melancar deras dan tanpa disadari merekapun menyurut mundur.

Dara baju ungu itu berdiri tegak seperti hendak masuk ke dalam ruangan. Sedang si nenek rambut putih berada di belakangnya.

Sin-ciu It-kun Ih Thian-heng, Pengemis-sakti Cong To dan Siangkwan Ko, tergetar hatinya ketika melihat dara baju ungu itu masuk. Tetapi tiada seorangpun yang berani bergerak. Siangkwan Ko masih tetap merawat puterinya. Ih Thian-heng pun tetap mengobati Han Ping. Sedang Pengemissakti Cong To mengawasi gerak gerik Ih Thian-heng dengan merentang mata lebar-lebar.

Begitu melangkah masuk, dara baju ungu itu pun tak mau bicara apa-apa, maelainkan memandang ke arah Ih Thian-heng yang sedang mengohati Han Ping.

Suasana dalam kamar itu sunyi senyap seperti kamar kosong.

Kira-kira sepenanak nasi lamanya barulah terdengar Han Ping mendengus napas.

“Murid saudara sudah lancar darahnya, harap saudara suka membantu juga untuk menyalurkan tenaga-murni agar darahnya lekas normal kembali,” kata Ih Thian-heng.

Cong To tak mengacuhkan omongan Ih Thian-heng. Melihat Ih Thian-heng benar-benar mencekal pergelangan tangan kanan Han Ping dan menyalurkan tenaga-murni, diapun segera duduk mencekal pergelangan tangan kiri pemuda itu dan bantu menyalurkan tenaga-murninya.

Sepeminum teh lamanya, Ih Thian-heng menarik kembali tangannya. Tiba-tiba Han Ping menguak keras dan muntahkan segumpal darah segar.

Ih Thian-heng minta Cong To memapah pemuda itu bangun dan melakukan gerakan jalan pelahan-lahan. Setelah itu ia akan memberi obat.

Pengemis-sakti Cong To hanya meliriknya sejenak lalu memapah Han Ping dan diajak berlatih jalan pelahan-lahan.

Ih Thian-heng mengeluarkan sebuah botol kecil Sambil tertawa ia menuang dua butir pil warna merah tua, lalu menyimpan botol itu ke dalam bajunya lagi.

Dara baju ungu memandang gerak gerik Ih Thian-heng dengan mengulum senyum hambar.

Dalam pada itu setelah berjalan-jalan sebentar, darahnyapun mulai lancar, napas longgar. Ketika membuka mata dan melihat si dara baju ungu tengah memandang ke arahnya. Han Ping pun terkesiap heran.

Dengan menjepit sebutir pil pada kedua jari kanan, Ih Thian-heng melangkah ke muka Siangkwan Ko, serunya, “Saudara Siangkwan, pil ini obat buatanku sendiri. Amat manjur sekali harap harap diminumkan kepada puteri saudara!”

Tanpa ragu2 Siangkwan Ko menyambuti pil terus mengangkat bangun Siangkwan Ceng.

Kemudian Ih Thian-heng berputar diri menghampiri pengemis sakti.

“Minumlah pil ini….” terdengar Siangkwan

Ko berkata kepada si dara baju hitam.

Melihat Siangkwan Ceng begitu menurut saja disuruh minum pil, tiba-tiba dara baju ungu itu julurkan kaki dan mendesis, “Ai…..”

Belum suara desisan itu habis dan pada saat Siangkwan Ceng ngangakan mulut hendak menelan pil, tiba-tiba serangkum angin meniup ke dalam ruangan dan menyusul terdengar bunyi menggedebuk dari benda yang jatuh.

Kiranya Pengemis-sakti Cong To selalu memperhatikan gerak gerik Ih Thian-heng. Ia sudah hendak berseru memberi peringatan ketika Ih Thian-heng menyerahkan pil kepada Siangkwan Ko. Tetapi ia tahu bahwa Ih Thian-heng bukan tokoh yang gampang dipermainkan. Terpaksa ia tahan nafsu.

Tetapi ketika melihat si dara baju kita ngangakan mulut hendak menelan pil itu, Pengemis-sakti tak dapat mengendalikan diri lagi. Ia lepaskan

ia melesat ke muka ranjang dan membentak, “Tahan dulu!” secepat kilat ia sudah menyambar pil dari tangan Siangkwan Ko, “saudara Siangkwan jagalah kemungkinan pil itu mengandung bahaya.


Gerakan melesat dan menyambar pil itu dilakukan Pengemis-sakti dengan kecepatan yang luar biasa, Tetapi ternyata Sin-ciu It-kun lebih cepat lagi. Pada saat Pengemis-sakti bergerak, ia pun sudah bergerak juga. Begitu Pengemis sakti berhasil merebut pil, sekonyong-konyong tangan kanannya bergetar dan tahu-tahu pil itu sudah pindah ke tangan Ih Thian-heng lagi.

Setelah merampas pil, Ih Thian-heng menyingkir lima langkah ke samping. Ujarnya pelahan-lahan, “Rupanya saudara Cong tak percaya kepadaku. Kebaikan hatiku ternyata meninmulkan kecurigaan saudara Cong. Kalau tak percaya, tak apalah. Akupun tak berani memaksa orang harus menelan obat buatanku itu!”

Dalam pada berkata-kata itu, Ih Thian-heng sudah berjalan keluar kamar.

Pengemis-sakti Cong To mendengus geram karena pil yang dirampasnya itu dapat direbut kembali oleh Ih Thian-heng. Belum ia sempat berpikir apa yang, harus dilakukan tiba-tiba ia terkejut mendengar bunyi menggedebuk dari sosok tubuh yang jatuh. Kiranya karena tak dipapah si pengentis, Han Ping yang masih lemas tenaganya, jatuh terduduk di lantai.

Cong To cepat loncat ke muka Han Ping.

“Aih….” melihat Han Ping rubuh ke lantai, dara baju ungu itu mendesis kaget.

Sedang Siangkwan Ko yang telah menyadari apa yang telah terjadi segera melesat maju dan menegur. “Apakah maksud saudara Cong bertindak begitu tadi?”

Cong To tertawa: “Ih Thian-heng hanya berkedok saja sebagai manusia baik. Pengemis tua duga obat itu tentu mengandung apa-apa!”

“Apakah buktinya saudara Cong tahu hal itu. Aku tak percaya!” kata Singkwan Ko.

Pengemis sakti Cong To menghela napas, ujarnya, “Sayang pengemis tua ini agak lengah sehingga ular yang sudah kutangkap itu dapat menggigit lagi. Kalau tidak, tentu dapat mencoba pil tadi dan saudara Singkwan tentu tak menyangsikan keteranganku ini!”

Tiba-tiba si dara baju ungu melengking, “Lebih baik kalau tidak makan obat itu.”

Ucapannya amat pelahan, seolah-olah berkata kepada dirinya sendiri.

“Sesungguhnya Siangkwan Ko hendak mendebat pengemis Cong To. Tetapi demi mendengar kata-kata si dara baju ungu, ia berpaling. Wajah si dara yang memantulkan sinar kecantikan gemilang suci, telah menurunkan rasa kesangsian jago tua itu. Ia tak mau bicara apa-apa lagi.

Pengemis-salkti Cong To sejanak memandang Han Ping lalu menghela napas. Kemudian ia mengambil buli-buli arak dan meneguknya. Setelah itu ia memandang keluar pintu dan berkata, “Jika tidak memikirkan kepentingan budak itu, pengemis tua tentu takkan membiarkan dia pergi!”

Kemudian matanya direntang mendelik dan berkata pula, “Asal si paderi masih bernyawa, gereja tentu tak lari dikejar. Untuk sementara rekening ini kita catat dulu, besok pengemis tua pelahan-lahan akan membuat perhitungan dengan engkau!”

Habis berkata ia menunduk dan mengurut-urut Han Ping.

Melihat tingkah laku dan kata-kata Pengemis-sakti Cong To yang lucu, tertawalah gadis baju ungu itu dengan gelinya.

Melihat dara itu tertawa dengan nada yang menyengsamkan, Pengemis-sakti Cong To pun tertarik. Ia ikut tertawa gelak-gelak.

Sekarang marilah kita tinggalkan dulu si Pengemis-sakti Cong To yang sibuk merawat Han Ping. Kita jenguk lagi kedua nona Ting.

Setelah berpisah dengan Han Ping, kedua nona itu berjalan menyusur sepanjang jalan pegunungan. Beberapa waktu kemudian, barulah Ting Hong bertanya, “Ci Ling, kemanakah tujuan kita ini?”

Ping Ling gelengkan kepala dan menghela napas, “Ah, aku sendiripun tak tahu hendak kemana. Asalkan langit masih membiru, kemana saja langkah kita akan membawa, kita turut saja.”

“Tetapi sebaiknya kita harus mempunyai tetapat tujuan tertentu. Jika terus berjalan begini, kiranya kurang tepat!”

Ting Ling tertawa, “Dunia memang penuh keajaiban. Siapakah yang mampu memastikan segala apa? Bukankah enak juga kita saat ini dapat berjalan dengan bebas?”

Ting Hong memandang wajah tacinya. Melihat wajah tacinya itu mengerut sunyi, diam-diam ia heran. Biasanya, tacinya itu cerdas dan tangkas. Tetapi mengapa pada saat itu seperti orang longong?

Setelah berjalan beberapa saat lagi, tiba-tiba Ting Hong berseru, “Ai, sekarang aku mengerti…..”

Ia melirik tacinja lalu menghela napas, ujarnya pula, “Ah, tak heran kalau taci begitu gundah. Aku sendiripun gelisah ….”

Diam-diam pandang matanya terbayang wajah pemuda Han Ping. Seketika merahlah selembar wajah dara itu.

“Adik Hong, apakah engkau juga terkenang pada Han Ping?” tiba-tiba Ting Ling menegur.

Ting Hong mengangguk, “Pemuda semacam dia, sudah tentu patut dikenang!”

Wajah Ting Ling yang sunyi mereka senyum hambar. “Apakah engkau merasa Han Ping itu dengan Ca Giok….”

Ting Hong cepat menukas dengan dengusan pelahan dan muka menyeringai, “Bagaimana Ca Giok dapat dibanding dengan Han Ping? Han Ping lapang dada, selalu bekerja dengan terang. Seorang pemuda yang berwatak ksatrya dan berbudi perwira. Ca Giok? Hm, dia sih berlainan. Wataknya licin dan licik dan sikapnya seperti orang banci. Entah mengapa Han Ping mau berkenalan dengan dia?”

Kata Ting Ling, “Han Ping mengukur orang menurut ukuran seorang ksatrya. Dan pula dia kurang pengalaman dalam dunia persilatan. Tentulah tidak mempunyai kecurigaan terhadap orang!”

Ting Hong merenung beberapa saat, ujarnya, “Benar, aku memang kuatir Ji siangkong (Han Ping) akan menderita kerugian dari hubungan itu. Misalnya ketika di atas puncak bukit itu. Ca Giok pura menderita luka berat dan membiarkan Ji siangkong yang menghadapi lain orang. Uh, bukankah itu menandakan betapa kelicinan Ca Giok?”

Melihat adiknya sangat ngotot menelanjangi keburukan Ca Giok, tertawalah Ting Ling, “Kalau begitu, engkau membenci Ca Giok?”

Ting Hong jebikan bibir, “Hm, nanti pada suatu hari tentu akan kuberinya sedikit pelajaran pahit!”

Ting Ling hanya ganda tertawa tetapi tak mengucap apa-apa. Rupanya ia tengah memikirkan sesuatu.

Ting Hong menarik-narik ujung baju cicinya, “Ci Ling, apa yang sedang engkau pikirkan? Engkau masih belum sembuh, janganlah terlalu banyak menggunakan pikiran.”

Kata Ting Ling, “Aku sedang merenungkan tentang ilmu kesaktian Ji siangkong yang maju pesat dalam waktu yang begitu singkat itu. Benar-benar suatu peristiwa yang belum pernah kuketahui. Jika saat si setan tua Long Kong-siau menangkapmu dan paman kita tak muncul, kukira Ji siangkong tentu akan bertindak membebaskan engkau. Jika setan tua itu menerima sedikit pelajaran, hm, alangkah baiknya….”

“Memang setan tua Leng itu memuakkan sekali. Begitu melihat paman muncul, dia terus ngacir pergi seolah-olah hanya bergurau saja kepada kita. Dia benar-benar setan tua yang licin!” Ting Hong bersungut.

Ting Ling mengangguk, “Engkau hanya menduga dia jeri terhadap paman sehingga tak berani membikin susah kita. Tetapi sebenarnya dia hendak mengambil muka paman, ingin bersekutu dengan paman untuk menghadapi Ji siangkong. Jika sudah berhasil dia tentu turun tangan untuk mencelakai kita dan paman. Setan tua itu memang amat ganas, lebih ganas dari harimau!”

“Mengapa Ji siangkong selalu bersua dengan manusia2 begitu? Ci Ling, apakah kemungkinan Ji siangkong akan menderita?


Ting Ling tertawa, “Jangan kuatir. Jangankan dia bersama Kim Loji, sekali pun tanpa Kim Loji, dengan kepandaiannya yang hebat, rasanya dewasa ini jarang orang mampu menandinginya. Apakah engkau tak memperhatikan bahwa sekali pun paman dan setan tua Leng Kong-siau juga gentar menghadapinya.”

Ting Hong tak berkata apa-apa lagi, Wajahnya menampak kelonggaran hati.

“Ji siangkong memang luar biasa. Bahkan Pengemis-sakti Cong To yang begitu dipandang tinggi oleh dunia persilatan, juga sungkan terhadapnya. Kurasa kelak dia tentu akan melakukan suatu peristiwa besar dalam dunia persilatan,” kata Ting Ling pula.

Kedua nona itu memang berasal dari keluarga tokoh Rimba Hijau. Sekalipun masih gadis remaja tetapi dunia persilatan sudah kenal akan kemasyuran nama kedua nona itu. Tetapi betapapun ganas dan gagahnya, mereka adalah anak gadis yang tak mampu terhindar dari rasa getaran asmara.

Selama ini mereka hanya bergaul dengan tetamu Rimba Hijau dan tokoh-tokoh persilatan yang biasanya berwatak licik dan banyak muslihat. Maka sekali berjumpa dengan Han Ping, segera mereka merasa jatuh hati dan mengagumi peribadi luhur dari pemuda itu. Diam-diam dalam hati mereka berkesan sekali bayang2 pemuda itu.

Kemudian setelah bersama melakukan pengejaran pada hilangnya kotak pedang pusaka, pemuda itu tak segan menyaru jadi kusir kereta untuk bersama-sama menuju ke kota tua Lok-yang. Begitu pula ketika Ting Ling menderita luka akibat pukulan tenaga-sakti Sam-yang-khi, Han Ping pun berdaya untuk mengejar sidara baju ungu sampai menerobos ke dalam barisan Batu-bambu. Peristiwa itu meninggalkan kesan mendalam di lubuk hati mereka, makin lama makin dalam. Oleh karenanya, pada waktu berpisah dengan pemuda itu, mereka seperti kehilangan semangat.

Selama berjalan dalam keadaan gundah kelana itu tak tahulah sudah berapa jauh mereka telah menempuh perjalanan. Hanya ketika berpaling, mereka melihat jalur2 jalanan di padang belantara itu, sudah hampir habis ditetapuhnya.

Sedangkan memandang ke sebelah muka, mereka melihat sebuah hutan yang rawan. Saat itu dalam pertengahan musim rontok. Pohon2 dalam hutan itu hampir telanjang dari hiasan daunnya. Apalagi hutan itu hanya terdiri dari dua macam tanaman, pohon randu dan pohon jati.

Ketika melintasi hutan itu dan tiba di ujung terakhir, mereka harus menghadapi gunduk karang. Di bawah gunduk karang itu tampak sesosok bayangan orang yang berpotongan tinggi, tengah bergerak kian kemari.

Ting Hong segera menarik ujung baju tacinya, “Lihatlah, ci Ling. Di sebelah muka sana ada orang berjalan. Pertanda sudah akan mendapat sebuah desa.”

Ketika melongok ke muka, Ting Ling melihat orang itu mengenakan baju panjang, punggung menyelip sebatang pedang. Jalannya tidak cepat dan tidak lambat.

Mamang Ting Ling amat cermat. Setelah mengawasi orang itu sampai beberapa saat, kedengaran ia berkata seorang diri, “Aneh, mengapa di tetapat yang begini sunyinya, masakan terdapat orang yang berkunjung. Kemungkinan besar dia tentu kaum persilatan.”

“Kalau begitu kita susul dia atau tidak?” cepat Ting Hong menanggapi.

Setelah merenung beberapa saat, Ting Ling gelengkan kepala, “Jangan, aku belum sembuh betul dan perlu engkau rawat. Lebih baik kita jangan cari perkara.”

Ting Hong cibirkan bibir menyahut, “Aku hanya minta persetujuan ci Ling. Sekali-kali bukan hendak cari perkara.”

Ia tertawa lalu berkata pula, “Bukankah ci Ling sendiri dulu gemar menimbulkan onar dan suka mengumbar kemarahan? Mengapa setelah berjumpa dengan Ji siangkong, perangai cici berobah banyak sekali

.”

Diam-diam Ting Ling memaki adiknya, yang makin nakal itu. Tiba-tiba ia kerutkan wajahnya lebih gelap dan membentak, “Ting Hong ….”

Si dara julurkan lidahnya, tertawa, “Karena engkau masih belum sembuh akupun tak mau menimbulkan kemarahanmu. Ci Ling, apakah engkau suka masakan aku?”

Mendengar itu Ting Lingpun tertawa. Ia memandang ke arah orang yang berada di sebelah muka itu, katanya, “Adik Hong, rasanya aku kenal dengan orang di sebelah muka itu

.”

“Bagus, kalau begitu kita ikuti saja secara diam-diam,” kata Ting Hong.

Ting Ling menganggak. Keduanya segera cepatkan langkah. Orang itu menyusur jalan kecil lalu menyusup ke dalam cekung karang.

“Kenal atau tidak kenal, jangan kita sampal diketahui orang itu! Kita ambil jalan melingkari bukit ini agar dapat melihat gerak-geriknya dari samping,” kata Ting Hong. Ting Ling memuji adiknya, “Eh. tak kira dalam beberapa hari ini saja, cara berpikirmu sudah jauh lebih tinggi.”

Sepeminuman teh lamanya, Ting Ling memperhitungkan kalau sudah dapat menyusul orang tak dikenal itu, Karena kuatir. Ting Hong buka suara. segera Ting Ling mengarahkan telunjuk jari ke mulut, melarang Ting Hong jangan bicara apa-apa, Kemudian tangannya yang lain menunjuk ke arah sebuah batu gunung yang menonjol.

Sebagai seorang adik yang sejak kecil menjadi kawan sepermainan, sudah tentu Ting Hong dapat menangkap isyarat tacinya itu. Tacinya hendak mengatakan bahwa mereka sudah dapat mengejar orang itu dan mengajaknya bersembunyt di balik segunduk batu yang besar. Dari situ mereka akan mengawasi siapakah sesungguhnya orang itu.

Memang Ting Hong kalah cerdas dengan tacinya, tetapi kemasyhuran nama Hun-bong-ji-kiau bukanlah gelar kosong. Gelar itu telah ditetapuh dengan darah dan keringat. Dara itu segera mengeluarkan sehelai kedok dari kulit manusia lalu

dipasang ada mukanya.

Tetapi Ting Ling menggeleng kepala, tanda tak menyetujui tindakan adiknya. terpaksa Ting Hong menyimpannya lagi. Dengan gesit kedua nona itu berloncatan beberapa kali lalu bersembunyi di balik batu besar.

Ting Hong melongok ke bawah lalu berpaling memandang Ting Ting lalu gelengkan kepala. Isyarat itu berarti bahwa Ting Hong tak kenal siapa orang itu.

Ting Ling melongok ke bawah juga. Tetapi baru julurkan kepala, baru2 ia menariknya kembali.

“Ci Ling, siapakah orang itu?” tanya Ting Hong. “Apakah engkau kenal padanya?”

Ting Ling mengangguk.

“Siapa?” desak Ting Hong.

Ting Ling segera membisiki ke dekat telinga adiknya, “Hm. seorang tokoh tua yang aneh ialah ketua dari marga Nyo. NYo Bun-giau.”

Mendengar nama Nyo Bun-giau, Ting Hong pun mengangkat bagu dan julurkan lidahnya.

Mengira Nyo Bun-giau tentu sudah lewat, Ting Ling melongok pula ke bawah. Ia amat terkejut sekali. Nyo Bun-giau tampak berdiri di tepi jalan kedua matanya menyinarkan pandangan penuh kecurigaan. Ia memijat hidungnya, memandang ke atas langit lalu tundukkan kepala lagi.

“Celaka!” tiba-tiba Ting Ling mengeluh dalam hati lalu membaui sekujur tubuhnya, Setelah itu membaui pada tubuh Ting Hong.

“Ci Ling, apa gunanya engkau membaui tubuhku?” tegur Ting Hong.

Ting Ling menghela napas pelahan, ujarnya, “Setan tua itu telah mencium jejak kita,” Ting Ling menghela napas.

Ting Hong juga tergetar hatinya, “Lalu bagaimana?”

Tetapi saat itu Ting Ling malah lebih tenang dari beberapa saat yang lalu, ujarnya, “Urusan sudah jadi begini. Mau menyingkir pun tak dapat. Dan lagi kita berdua Hun-bong-ji-kiau belum pernah takut kepada siapa pun juga.”

Pada saat kedua saudara itu bercakap-cakap, tiba-tiba kedengaran Nyo Bun-giau berseru, “Puteri dari keluarga mana atau nyonya terhormat dari siapa….”

Ting Ling berpaling dan deliki mata kepada adiknya lalu berteriak kaget, “Ai, mengapa nyasar kemari hingga mengejutkan orang?”

Nyo Bun-giau tertawa sinis. “Kalau memang orang, mengapa mengumpatkan diri? Apakah tak dapat bertemu manusia?”

Ting Hong mengerti bahwa tacinya pura2 tak tahu orang itu. Memandang Ting Ling, sambil mencibirkan bibir iapun pura2 menyahut dengan marah, “Siapa bilang kami takut bertemu orang. Siapakah engkau, hai, mengapa berani bicara begitu kurang sopan?”

Sambil berkata, Ting Hong melangkah keluar. Nyo Bun-giau memandang nona itu cermat2 lalu menegurnya, “Mengapa engkau seorang nona, datang ke tetapat yang begini sunyi?”

Ting Hong mendengus, “Karena engkau bertanya, akupun hendak bertanya juga. Apakah tetapat ini hanya engkau sendiri yang boleh datang?”

Nyo Bun-giau tertawa mengekeh, “Heh, heh, anak perempuan. kecil2 sudah bermulut tajam!”

Saat itu Ting Ling tak dapat tinggal diam lagi, membiarkan adiknya terdesak. Sambil melangkah keluar ia berseru, “Hai. ji-ahtau (anak perempuan yang kedua), dengan siapa engkau ribut2 itu? Di luar tak boleh engkau bikin onar!”

Nyo Bun-giau digelari orang sebagai Perancang sakti, bukan saja dia pandai dalam ilmu bangunan dan alat2 rahasia, pun juga pintar menghitung hati orang. Seorang yang licin dan licik.

Begitu mendengar suara Ting Ling. belum melihat orangnya, dia sudah dapat menduga. Sambil batuk-batuk, ia tertawa meloroh.

Setelah keluar, Ting Ling memandang sejenak kepada Nyo Bun-giau lalu berpaling ke arah adiknya dan menegurnya, “Ji-ahtau, engkau memang liar, inilah dari marga Nyo di Kimleng. Tak boleh engkau kurang ajar terhadap orang yang lebih tua. Uh, makin besar, engkau makin meliar.”

Ting Hong menyeringai dan menyahut tak puas, “Dia tak bilang apa-apa, bagaimana kutahu dia kepala dari marga Nyo?”

Ting Ling cepat menarik tangan adiknya dan suruh minta maaf kepada Nyo Bun-giau. “Lekas haturkan maaf kepada Nyo lo-cianpwe! Kalau tidak. jika sampai lain orang tahu, kita kaum marga Ting tentu dianggap tak mendapat pendidikan.”

Memandang ke arah kedua Dona itu, sambil mengurut jenggot, Nyo Bun-giau tertawa hambar. “Sudahlah. sudah… karena Ji-siocia tak kenal padaku, tak dapat menyalahkannya.”

Kembali Nyo Bun-giau menelitikan pandang matanya ke sekeliling, kemudian bertanya pula, “Eh. mengapa kalian datang ke tetapat begini?”

Sahut Ting Ling dengan tangkas, “Ayah suruh aku membawa adikku ini pesiar keluar mencari pengalaman agar jangan selalu mendekam di rumah dan tak tahu apa-apa ….”

Ia memandang Ting Hong dan tertawa.

Sedang dalam hati Nyo Bun-giau memaki kedua nona yang bermulut tajam. Segera ia berkata dengan sikap serius, “Apakah ayah dan pamanmu baik2 saja selama ini? Kami jarang sekali bertemu!”

Diam-diam Ting Lingpun menertawakan orang she Nyo itu yang merasa takut kepada ayahnya.

“Terima kasih, lo-cianpwe,” sahutnya, “berkat pengestu lo-cianpwe, ayah dan paman sehat2 saja selama ini. Paman kami ketiga menemani kami. Tadi belum lama lewat di sini. Jika lo-cianpwe datang kemari dua jam yang lalu, tentu bisa berjumpa dengan paman.”

Tergetar hati Nyo Bun-giau mendengar keterangan itu. Namun sikapnya pura2 tenang, serunya, “ Ah, sayang, sayang, terlambat sedikit….”

Ting Ling cepat balas bertanya, “Mengapa lo-cianpwe berkunjung kemari? Apakah pemandangan alam di daerah Kimleng kalah indah dengan sini?”

Nyo Bun-giau tampak gelagapan. Ia batuk-batuk sebentar lalu menjawab, “Aku memenuhi undangan seorang sahabat dan lewat di sini. Sungguh tak nyana kalau bersua dengan kalian.”

Ting Ling saling bertukar pandang dengan Ting Hong. Keduanya cibirkan mulut, tertawa. Nyo Bun-giau bingung, tak tahu apa yang ditertawakan kedua anak perempuan itu. Namun pada lain kilas, ia menghibur dirinya sendiri. Masakan seorang tua seperti dia, takut kepada kedua anak perempuan saja!

Ting Ling dan Ting Hong tertawa, Nyo Bungiau pun ikut tertawa meloroh.

Peristiwa dalam makam kuno, amat berkesan sekali dalam hati Nyo Bun-giau. Ia tak nyana kalau Han Ping seorang pemuda yang tak terkenal, ternyata memiliki tenaga-sakti yang begitu hebat. Berhadapan satu lawan satu dengan pemuda itu, ia merasa tak mempunyai harapan menang, Apalagi Han Ping masih didampingi dua tokoh yang hebat, Kim Loji dan Ih Seng yang termasyhur dengan kipas-besi dan pedang-peraknya.

Dan yang paling memalukan adalah kotak tetapat pedang pusaka yang sudah berada di tangannya, jatuh ke tangan pemuda itu. Belum pernah seumur hidup ia menderita hinaan seperti itu.

Ia ngiler sekali akan isi makam tua yang penuh ratna mutu manikam yang tak ternilai harganya. Lebih2 pula, menurut keterangan Kim Loji, makam itupun menyimpan dua buah pusaka Tonggeret-kumala dan Kupu2-emas.

Dia tetap menginginkan harta pusaka dalam makam itu maka ketika menyerahkan kotak pedang, ia sengaja menekan kotak itu pada telapak tangannya agar meninggalkan bekas. Tak lari gunung dikejar, pikirnya. Selain dia, tak mungkin lain orang mampu keluar masuk ke dalam makam kuno itu. Sekalipun orang lain berhasil mendapatkan kotak pedang itu, tetapi bagian yang penting telah ia rusakkan sehingga tak mungkin orang itu mampu masuk ke dalam makam.

Memikir sampai disitu. terhiburlah hati Nyo Bun-giau.

Ketika Han Ping dan rombongannya keluar dari makam, Nyo Bun-giau terus melarikan diri. Ia menyadari bahwa jika bersama mereka, besarlah bahayanya.

Tetapi ketika tiba di cekungan gunung, tiba-tiba ia mencium bau harum dari tubuh wanita. Karena heran ia berhenti dan bertemulah ia dengan kedua nona Ting itu.

Ia tahu bahwa kedua nona itu termasyhur menyusahkan orang. Tetapi ia sudah mempunyai rencana sendiri. Maka dengan tahankan kemarahan, ia layani mereka berputar lidah. Tetapi ketika kedua nona itu menertawakannya, ia amat malu. Tetapi pada lain kilas, ia tetap bersabar dulu.

Dengan wajah serius, berkatalah ia, “Ah, paman kalian begitu longgar membebaskan kalian pergi sendiri. Maafkan aku si orang ini hendak menyebut kalian sebagai ‘hian-titli’ (kemenakan perempuan). Ah, sekali pun kalian pintar dan tangkas, tetapi lebih baik kalau ada orang yang memberi petunjuk. Dan kalau percaya padaku, lebih baik kita bersama-sama saja. Bukankah tujuan kalian hendak mencari pengalaman dalam dunia persilatan? Dalam hal itu, kiranya aku dapat memberi petunjuk2. Nah bagaimana hian-titli berdua….”

Habis berkata ia tertawa gelak2.

Ting Ling tersenyum, sahutnya, “Memang baik sekali. Tetapi bukankah hal itu akan merepotkan lo-ciapwe saja?”

“Ah sama sekali tidak. Bahkan dengan mempunyai kawan dalam perjalanan, kita lebih gembira dan bisa saling membantu. Mari, kita lanjutkan perjalanan sekarang!”

Ting Hong tak senang melihat tacinya begitu gampang meluluskan ajakan orang. Pikirnya, “Huh engkau yang mengaku pintar, akhirnya akan terjeblos juga. Walaupun Nyo Bun-giau mempunyai kedudukan yang terpandang dalam dunia persilatan tetapi dia tak mempunyai hubungan erat dengan kita. Pun di luaran orang mengatakan Nyo Bun giau itu hanya lahirnya baik tetapi sesungguhnya seorang yang julig dan banyak muslihat. Mengapa engkau tak mempertimbangkan masak2 tetapi cepat-cepat meluluskan saja?”

Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Karena tacinya sudah meluluskan, ia terpaksa memapah Ting ling dan berjalan di belakang Nyo Bun-giau selama dalam perjalanan, beberapa kali Ting Hong hendak menegur tacinya tetapi selalu diawasi Nyo Bun-giau sehingga ia tak jadi bicara.

Tampak Ting Ling tenang2 saja. Melihat wajah adiknya mengunjuk karang puas, ia hanya ganda tertawa saja.

“Huh, engkau masih tertawa? Kulihat rasa sakit karena terluka itulah yang menyebabkan engkau linglung,” diam-diam Ting Hong memaki tacinya.

Demikian mereka bertiga jalan tanpa bicara apa-apa. Masing2 mempunyai soal sendiri2 dalam hati.

Tak berapa lama haripun mulai gelap. Saat itu mereka sudah keluar dari lembah. Tampak jauh di sebelah muka, api penerangan yang menunjukkan adanya sebuah kota.

Begitu masuk kota itu, Nyo Bun-giau segera mencari rumah penginapan dan memesan dua buah kamar.

Malamnya Ting Hong tak dapat menahan hati lagi dan bertanya, “Ci Ling, mengapa engkau mau mengikuti orang itu? Aku sungguh tak mengerti apa yang engkau rencanakan.”

“Engkau takut kepadanya?” Ting Ling tertawa.

Ting Hong mendengus pelahan “Tidak. aku tak takut. Masakan dia mau memakan kita!”

Ia berhenti sejenak lalu berkata, “Tetapi apa perlunya kita ikut kepadanya. Bukankah berarti akan mencari kesulitan?”

“Adik Hong, pada akhir2 ini tampaknya engkau sudah tambah banyak pengalaman. Tetapi engkau tetap tak mengerti isi hatiku. Jika setan tua itu sungguh-sungguh hendak memusuhi kita. walaupun aku sudah sembuh, tetapi kita berdua tetap bukan tandingannya. Benar atau tidak?”

“Benar,” Ting Hong mengiakan, “tetapi apakah rencanamu mengikuti dia!”

“Karena tak dapat mengelak lagi, lebih baik kita pura2 turut. Tampaknya dia amat membanggakan diri sebagai orang tua maka kitapun harus mentaati. Dengan begitu dia tentu sungkan untuk mempersulitkan kita. Dan pula, belum tentu dalam perjalanan ini aman. Menilik sikap Leng KOng-siau terhadap kita, lebih baik kita berhati-hati. Dengan ikut padanya, rintangan pertama dia tentu mau melindungi kita….”

Ting Hong mengangguk. “Ah, engkau memang hebat Ci Ling. Aku tak dapat berpikir panjang sampai di situ. Tetapi kita harus siapkau rencana jangan terus menerus mengikutinya.”

Ting Ling mergangguk, “Soal itu memang sudah kupikirkan. Lihat saja bagaimana sikapnya besok pagi kepada kita. Jika dia tak baik, kita harus tinggalkan tanda sandi sepanjang perjalanan. Kupercaya sepanjang jalan dalam kota ini tentu tak luput pengaruh dari anak buah kita: Asal melibat tanda sandi yang kita tinggalkan, masakan mereka tak dapat mencari kita.”

Penjelasan itu telah melonggarkan kecemasan Kati Ting Hong,

Saat itu Nyo Bun-giau yang rebah di atas ranjang juga gelisah. Dengan membawa kedua nona itu berarti dia harus berjaga-jaga diri. Ia tahu dalam dunia persilatan dewasa itu, kecuali beberapa partai persilatan yang besar, yang mempunyai pengaruh adalah It-kiong, Ji-koh dan Sampoh. Orang luar menganggap It-kiong, Ji-koh dan Sam-poh itu sebagai satu kesatuan. Tetapi kenyataannya, mereka mempunyai pendirian sendiri2. Mengingat pada masa itu timbul banyak pergolakan, jika tetap mengukuhi pendirian yang lalu, tentu akan terpencil. Dan ini amat berbahaya.

Demikian Nyo Bun-giau menimang dalam hati. Ia menyadari kedudukan Nyo-ke-poh sebagai salah satu Sam-poh atau Tiga marga. Dan teringatlah ia akan pengalaman dalam makam kuno itu.

Makin merenung makin tetaplah keputusan Nyo Bun-giau. “Benar! Aku harus memiliki pembantu yang dapat dipercaya.”

Kemudian ia mulai mengadakan analisa. Fihak yang kiranya dapat dijadikan pembantu yang boleh diandalkan, kecuali fihak Ji-koh dan Sam-koh, kiranya tak ada lainnya lagi. Dan di antara kelompok2 itu, setelah ditinjau dari segala segi kebaikan dan keburukan, keuntungan dan kerugiannya, kiranya tidak ada yang mencocoki juga.

Nyo Bun-giau berpaling memandang dinding sebelah. Sekilas timbullah pikirannya. Ya, untuk mencapai tujuannya mencari pembantu tadi, tiada lain jalan kecuali menggunakan kedua nona ke Nyo-ke-poh. Di sana ia dapat menggunakan bujukan halus sampai tekanan kasar. Asal salah satu dari kedua nona itu sudah dijadikan anak menantunya, dengan ikatan keluarga itu, tentulah fihak Lembah Raja-setan akan membantunya.

Memikir sampai disitu. Nyo Bun-giau gembira sekali hatinya. Tetapi teringat bahwa kedua nona itu tak mudah ditipu, mulailah ia prihatin. Hampir semalam suntuk ia memeras otak untuk mencari daya.

Keesokan harinya, Nyo Bun-giau suruh pelayar menyewakan sebuah kereta berkuda dua. Kemudian katanya kepada kedua nona Ting, “Kulihat toa-siocia agak sakit, tentulah kena angin dingin. Bagaimana kalau kita beristirahat dulu di sini barang dua hari lagi?”

Ting Ling yang cerdik segera tahu kemana tujuan kata-kata Nyo Bun-giau. Ketua marga Nyo itu, jelas hendak memancing keterangan. Ting Liug tertawa menyahut, “Kami berdua bukan baru sekali ini pesiar ke luar. Hanya sedikit hawa dingin saja kami tentu tahan. Harap lo-pohcu jangan kuatir.”

Nyo Bun-giau tertawa, “Kalau begitu silahkan naik ke atas kereta. Nona boleh kasih tahu hendak menuju kemana, aku tentu akan membawa kalian kesana.”

“Apakah lo-pohcu akan meluluskan ikut dalam perjalanan kami?’ tanya Ting Hong.

Nyo Bun-giau gelagapan mendapat pertanyaan yang tak diduga-duga itu. Sesaat ia tak dapat menjawab.

Ting Ling yang naik ke atas kereta segera berkata, “Permintaan kami kepada lo-pohcu hanyalah terbatas untuk menjaga keselamatan selama dalam perjalanan. Tetapi bukan berarti menghendaki lo-pochu supaya menghapus semua rencana pekerjaan lo-pohcu dan ikut menemani kami. Atas budi kebaikan lo-pohcu kami menghaturkan terima kasih dan apabila pulang tentu akan kututurkan kepada ayah.”

Sedap sekali kata-kata itu kedengarannya tetapi bagi Nyo Bun-giau hal itu cukup disadari. Diam-diam ia mengagumi kecerdikan nona itu. Segera ia tertawa menyeringai, “Harap nona jangan kuatir. Aku si orang tua ini sudah dapat mengatur semua keperluanku!”

Ia terus naik juga ke atas kereta.

Sekali cambuk menggeletar, kereta itupun segera meluncur ke muka. Ting Ling duduk bertopang dagu sambil sebelah tangannya menjamah tepian jendela kereta. Ting Hong hendak bicara tetapi melihat tacinya tengah merenung, ia tak berani membuka mulut dan hanya memandang lekat2 kepada saudaranya itu.

Angin pagi berembus. Jalan penuh dengan guguran daun. Tiba-tiba di jalan tampak seorang pemuda berumur 25 tahun tengah berjalan bergegas-gegas. Dari sinar mentari pagi yang menimpa wajahnya, pemuda itu tampak gagah sekali.

Tiba-tiba ia membusungkan dada, dan menghela napas panjang lalu berkata seorang diri, “Ho, Leng loji, kali ini sudah jelaslah tali permusuhan antara aku Ca Giok dengan kalian dari Lembah Seribu-racun. Jika tak kuberi kalian sedikit hajaran, tentu takkan redalah kemarahanku sau-pohcu ini ….”

Ia memandang cakrawala pagi lalu bersuit nyaring. Suatu suitan untuk melonggarkan kesesakan dada dan untuk membangkitkan semangat kejantanannya. Habis bersuit, ia lanjutkan berjalan lagi.

Beberapa saat berjalan, ia melihat di sebelah muka terdapat sederet pohon jati yang tinggi. Ca Giok menyadari bahwa saat itu ia sudah berada di jalan besar. Cepat-cepat ia pesatkan langkah.

Pada saat ia hendak mencapai jalan besar, tiba-tiba ia mendengar suara berderak-derak dari roda kereta yang lari cepat. Buru-buru ia bersembunyi di balik sebuah gerumbul pohon.

Tak berapa lama, tampak sebuah kereta meluncur datang. Sepasang kuda menarik kereta itu.

Di samping kusir yang mengendalikan kuda, tampak seorang tua berambut putih. Tetapi karena teraling kusir, tak dapatlah Ca Giok melihat roman muka orang tua itu. Begitu pula karena kain tenda di jendela kereta tertutup, ia tak dapat mengetahui siapa penumpangnya.

Ca Giok tak mau menghiraukan lagi karena tak ada kepentingan dengan dirinya. Ia terus hendak keluar dari tetapat persembunyiannya. Tetapi sekonyong-konyong matanya terbeliak ketika tertumbuk sulaman kembang warna kuning yang menghias pada lengan baju penumpung dalam kereta itu. Rasanya ia pernah melihat baju macam itu tetapi ia lupa entah dimana.

Ca Giok seorang cermat. Sekali timbul kecurigaan, tentu tak mau melepaskan penyelidikannya. Begitu kereta meluncur tujuh delapan tombak jauhnya, iapun cepat loncat keluar dan mengikutinya. Dalam pada mengikuti itu tak henti2nya ia memeras otak untuk mengingat-ingat siapakah pemakai baju berlengan sulaman kembang warna kuning itu.

Beberapa saat kemudian, ia menampar dahinya dan mendesus, “Hai, apakah penumpang itu benar kedua nona taci beradik itu?”

Ia menimang. Kalau benar kedua nona Ting, lalu siapakah orangtua berjenggot putih yang duduk di sebelah kusir itu? Namun kalau bukan kedua saudara Ting, mengapa mengenakan baju yang biasa dipakai Ting Ling .

Walaupun Ca Giok itu seorang yang licin dan banyak muslihat. Tetapi karena selama ini ia telah mengalami berbagai bahaya bersama Han Ping dan kedua nona Ting, maka terhadap kedua nona itu ia mempunyai rasa hubungan yang lain.

Tangan kilat Ca Giok adalah sau-pohcu atau majikan muda dari marga Ca, sejak kecil sering ikut ayahnya berkelana di dunia persilatan. Maka ia banyak pengalaman dan lebih tinggi kewaspadaannya. Apalagi dia memiliki kepandaian yang hebat. Maka walaupun masih muda, ia sudah termasyhur lihai.

Walaupun sudah dapat dipastikan bahwa yang berada dalam kereta itu tentu kedua saudara Ting, tetapi karena ia belum kenal akan orangtua berjenggot putih itu, maka ia tak mau unjuk diri dan mengikuti secara diam-diam saja. Bahkan untuk lebih aman, ia mengambil lilin kuning untuk melumuri mukanya sehingga kelihatan lebih tua.

Hampir dua jam lamanya ia mengikuti kereta itu dari belakang, mataharipun sudah menjulang di tengah langit. Saat itu kereta memasuki sebuah desa, Di tepi jalan terdapat beberapa warung dan tokoh kecil.

“Nah, sampai di tetapat ini kalian tentu berhenti dan dapatlah kulihat apakah benar kedua nona Ting itu atau bukan,” pikir Ca Giok.

Ternyata kereta memang berjalan lebih lambat. Buru-buru Ca Giok bersembunyi di tepi jalan. Ia tetap mengawasi gerak gerik orangtua berjenggot putih itu.

Kusir menggentakkan kendali dan berhentilah kereta itu. Apa yang disaksikan Ca Giok, benar-benar mengejutkan dan hampir tak dapat dipercaya. Pikirnya, “Ho, sejak kapankah kepala marga

dari Kim-leng itu berkenalan dengan kedua nona dari Lembah Raja-Setan?”

Ia terus mengikuti gerak-gerik Nyo Bun-giau. Begitu turun dari kereta, orang she Nyo itu tentu akan membantu penumpangnya turun.

Tetapi ternyata Nyo Bun-giau tidak bertindak begitu. Selekas turun dari kereta terus masuk ke sebuah warung, membeli dua poci teh, beberapa kuweh dan sayur dalam bungkusan, lalu bergegas naik ke kereta lagi. Ia memberi pesan kepada kusir dan kusir itu segera melarikan kudanya lagi.

Terpaksa Ca Giok juga membeli beberapa kuweh lalu mengikuti kereta itu lagi.

Ketika matahari tenggelam di barat dan memasuki sebuah desa. barulah kereta itu berhenti di sebuah rumah penginapan.

“Huh, mau lari kemanapun tetap kukejar,” diam-diam Ca Giok menertawakan. Tetapi ia tak berani terang-terangan unjuk diri, menginap di sebuah warung, sebelah penginapan tersebut.

Dia memang cermat. Begitu masuk ke kamar, tak mau ia keluar2 lagi. Ia terus tak henti2nya memikirkan diri kedua nona. Tetapi tetap tak dapat memecahkan rahasia mereka. Akhirnya ia menghela napas dan memutuskan bahwa nanti tentu mengetahui juga.

Setelah memadamkan lampu, ia menutup jendela lalu naik ke atas ranjang. Tengah malam setelah suasana sunyi senyap, barulah ia bangun dan membuka jendela. Setelah melongok keadaan sekeliling, barulah ia loncat keluar dan melenting ke atas wuwungan rumah.

Dilihatnya rumah penginapan itu cukup besar juga. Terdiri dari empat gunduk bangunan. Kamar2nya banyak, karena gelap maka sukar juga untuk mencari kamar Nyo Bun-giau dan kedua nona Ting itu.

Ia mendekam di atas wuwungan rumah. Tetapi sampai beberapa lama, belum juga ia melihat suatu perobahan. Segera ia enjot tubuhnya melambung ke arah wuwungan gunduk bangunan ketiga. Tetapi tetap tak melihat sesuatu. Jendela kamar2 sama tertutup.

Setengah jam kemudian, ia tak sabar lagi. Ia mengambil selembar genteng terus hendak dilontarkan ke arah thian-keng atau halaman serambi tengah. Tetapi tiba-tiba ia mendapat pikiran lain. Diam-diam ia memaki diri sendiri mengapa begitu gegabah. Jika sampai Nyo Bun-giau keluar, bukankah ia akan langsung bentrok dengan dia? Suatu hal yang tak perlu. Akhirnya ia letakkan kembali genteng itu.

Ia hendak menuju ke lain kamar. Tetapi tiba-tiba dari sebelah bawah terdengar suara gemeretak macam bunyi papan ranjang. Cepat ia loncat ke atas wuwungan kamar itu. Mengaitkan kedua kakinya pada tiang belandar, lalu menjulaikan tubuhnya ke bawah, kepalanya melekat di atas jendela kamar.

Serentak ia mendengar suara halus berkata dengan bisik2, “Cici, kita sudah ikut sehari dengannya, adakah….”

Angin malam berhembus dan pohon2 bunga di halaman berkeresekan sehingga suara itu tak kedengaran jelas.

Namun hal itu sudah cukup menggirangkan Ca Giok. Ia tahu jelas itulah suara Ting Hong.

Selekas angin berlalu berdengarlah suara Ting Ling berkata, “Kukira tentu ada orang yang sudah mengetahui tentang kita naik kereta itu.”

“Bagaimana orang bisa tahu?” tanya Ting Hong.

“Dengarlah Ji-ahtau, hari ini sengaja kutunjukkan lengan bajuku di luar jendela kereta. Asal ada anak buah Lembah Raja-setan yang melihat, tentu tahu kalau kita. Mereka tentu akan memperhatikan, asal….”

Kata-kata Ting Ling kembali hilang tertiup angin malam.

Diam-diam Ca Giok geli dalam hati. Bukan anak-buah Lembah Raja-setan melainkan dia yang melihatnya. Tiba-tiba ia tersadar, “Hai, jelas mereka tak suka bersama Nyo Bun-giau. Kalau suka masakan dia sengaja memberi tanda sandi untuk memberi tahu kepada anak buah Lembah Raja-setan? Tetapi mereka berdua bukan nona yang lemah, mengapa sampai dapat dibawa Nyo Bun-giau?”

Serasa penuh benak Ca Giok memikirkan hal itu. Ia tak tahu bagaimana harus bertindak. Namun bagaimanapun juga, ia merasa lebih dekat dengan kedua nona itu daripada dengan Nyo Bungiau. Dan ia harus menolong mereka.

Baru ia memikir sampai di situ, tiba-tiba sinar cahaya melintas di muka. Diam-diam ia mengeluh dan secepat kilat ia ayunkan tubuh ke atas lalu mendekam di atas genteng. Ia kira jejaknya telah ketahuan orang.

Tetapi karena sampai beberapa lama tak ada kejadian apa-apa, ia mengangkat kepala memandang ke empat penjuru. Tiba-tiba dilihatnya pada kamar sebelah kanan yang ujung pertama sendiri memancarkan sinar lilin. Dan di bawah jendela memantul sesosok bayangan.

Ca Giok girang dan tegang hatinya. Buru-buru ia melayang ke atas kamar itu. Mengaitkan kaki ke tiang belandar lalu tubuh berayun ke bawah, kepalanya bergelantungan pada jendela. Dengan gunakan ujung lidah, ia melubangi kertas jendela. Mengintai ke dalam, kejutnya bukan kepalang.

Di dalam kamar yang remang2 penerangannya itu, tampak Nyo Bun-giau sedang berdiri di samping meja. Di atas meja terletak seperangkat alat tulis.

Yang mengherankan Ca Giok ialah, mengapa pada waktu tengah malam yang hawanya tak panas, Nyo Bun-giau berdiri di samping meja dengan telanjang badan?

Tetapi sebagai seorang pemuda yang banyak pengalaman, Ca Giok cepat berpikir. Tak mungkin tanpa sebab, Nyo Bun-giau berbuat begitu. Walaupun jeli, Ca Giok terpaksa menahan dan tetap mengawasi gerik-gerik orang she Nyo itu.

Tampak Nyo Bun-giau sedang memandang pahanya sendiri sebelah kiri. Lalu mengambil pit dan melukis di atas kertas. Memandang ke pahanya lalu mencorat-coret lagi di atas kertas.

Walaupun cerdik dan banyak pengalaman, namun sesaat Ca Giok tak dapat juga mengerti maksud tingkah laku Nyo Bun-giau itu. Ketika memandang secara seksama, barulah Ca Giok mengetahui bahwa pada paha kiri Nyo Bun-giau itu terdapat segumpal daging yang berwarna ungu. Oh dia terluka yang mengandung racun. Dan ketika mengawasi dengan seksama, Ca Giok melihat jelas bahwa di atas gumpal daging yang berwarna ungu itu terdapat noda guratan seperti benang. Rupanya Nyo Bungiau tengah meniru guratan2 untuk dilukis di atas kertas.

Tertariklah hati Ca Giok, pikirnya, “Huh, apakah yang sedang dilakukan setan tua itu?”

Kiranya Nyo Bun-giau sedang menyalin lukisan peta makam kuno dari pahanya ke atas kertas. Ketika menyerahkan kembali kotak pedang pusaka kepada Han Ping, sengaja Nyo Bun-giau mengecapkan kotak itu ke pahanya. Dengan menutup peredaran darah pahanya, ia dapat menekankan kotak itu sekuat-kuatnya hingga meninggalkan gambar yang jelas di atas pahanya. Dan saat itu barulah ia mengambil alih peta itu dari pahanya ke atas kertas.

Sekalipun mengetahui gerak-gerik Nyo Bun-giau tetapi Ca Giok tak mengerti apa yang sedang dilakukan orangtua itu. Tetapi ia tahu jelas bahwa ketua marga Nyo itu memang ahli dalam bangunan. Maka ia duga orang itu tentu sedang membuat denah sebuah rencana.

Ca Giok anggap tak perlu lama-lama berada2 disitu.

Ia tak mengerti apa yang dilakukan Nyo Bun-giau, di samping itu amatlah berbahaya kalau sampai ketahuan orang she Nyo itu. Nyo Bun-giau berilmu tinggi. Andaikaia tidak sedang menumpahkan perhatiaannya melukis, kemungkinan besar tentu sudah mencium jejak kedatangan Ca Giok. Lebih baik ia lekas2 tinggalkan tetapat itu.

Cepat ia ayunkan tubuh ke atas genteng lalu melayang ke atas wuwungan rumah. Malam makin larut dan bergegaslah ia kembali ke tetapat penginapannya lagi.

Rebah di pembaringan, pikirannya masih merana. Jika seorang diri, sukarlah ia menghadapi Nyo Bun-giau. Asal ia dapat memanggil anak buah Ca-ke-poh untuk membuntuti Nyo Bun-giau masakan akhirnya mereka tak dapat diketahui tujuannya.

Keesokan hari pagi2 sekali, Nyo Bun-giau sudah berangkat. Ca Giokpun buru-buru menyiapkan sandi rahasia untuk menyampaikan berita ke Ca-kepoh. Anakbuah Ca-ke-poh yang mengetahui sandi pertandaan itu harus menurutkan petunjuk2 dalam sandi untuk menyusulnya.

Setelah selesai, barulah ia berangkat untuk mengejar kereta. Pada jendela kereta yang sudah jauh jaraknya itu tampak Ting Ling tetap lekatkan lengan bajunya pada jendela kereta.

Menjelang petang, mereka masuk ke sebuah kota besar. Setelah Nyo Bun-giau mencari hotel, Ca Giokpun tinggal dalam hotel itu juga. Ia memberi tanda rahasia pada daun jendeladan pintu kamarnya.

Dua jam kemudian, pintu kamarnya terdengar diketuk orang, “Tuk, tuk, tuk” dua kali ketukan panjang dan sekali ketukan cepat, Ca Giok gembira sekali. Ia duga tentulah anakbuah Ca-ke-poh telah melihat sandi rahasia yang ditinggalkan dalam rumah penginapan. Setelah mengenakan baju ia mengambil lilin, membolang-balingkan tiga kali lalu memutar satu kali dalam bentuk lingkaran. Kemudian membuka pintu dan duduk di sisi meja.

Dua orang lelaki melangkah masuk. Begitu melihat Ca Giok, mereka berdiri tegak dengan sikap hormat lalu berkata, “Kami telah melihat sandi yang sau-pohcu tinggalkan di pintu kamar penginapan. Lalu kami bergegas-gegas menyusul. Pesan apakah yang sau-pohcu hendak berikan kapada kami?”

“Ada sebuah pekerjaan yang hendak kuberikan kepada kalian. Entah apakah kalian berani melakukan atau tidak?”

Kedua orang itu menyurut, sahutnya, “Asal saupohcu memberi perintah, sekalipun masuk ke dalam lautan api, kami pasti takkan mundur!”

Ca Giok tertawa dingin, “Bagus, sebenarnya kedatanganku kemari ini karena sedang membututi seseorang. Tetapi aku masih ada lain urusan dan orang itu tak dapat dilepaskan. Karelia tak dapat memecah diri sekaligus melakukan dua macam pekerjaan, terpaksa kupanggil bala bantuan kemari!”

Dengan hormat kedua orang itu meminta Ca Giok segera memberi titah.

“Terus terang saja aku sedang membututi Nyo Bun giau, kepada marga Nyo-ke-poh dari Kimleng. Aku menaruh kecurigaan pada gerak-geriknya. Tetapi aku masih mempunyai lain urusan yang harus kukerjakan sendiri. Maka kuminta kalian yang mengikuti kereta Nyo Bun-giau itu. Cukup kalian ikuti saja sampai dimana mereka hendak menuju. Tetapi jangan lupa, sepanjang jalan kalian harus tinggalkan sandi pertandaan. Selekas urusanku selesai, aku tentu segera menyusul kalian. Tak sampai dua tiga hari saja tentu sudah dapat menyusul!”

Salah seorang yang lebih tua, berkata, “Kami akan berusaha sedapat mungkin agar dia jangan sampai tahu. Tetapi apabila sampai terjadi hal2 yang di luar dugaan, apakah kami harus….”

Ca Giok gelengkan kepala. “Asal kalian berhati-hati saja, kiranya tak sampai bentrok dengan dia!”

Kemudian ia memberi isyarat tangan, “Silahkan kalian kembali ke tetapat kalian. Besuk pagi tak usah kalian kemari mengunjungi aku. Kita segera melakukan tugas masing2.”

Ca-ke-poh amat keras sekali peraturannya. Kedua orang itu tak berani banyak bicara lagi. Mereka memberi hormat lalu melangkah keluar. Tiba-tiba Ca Giok berseru suruh mereka berhenti dulu.

“Masih ada dua buah hal yang hendak kupesan. Pertama, kalian tak boleh ketahuan agar jangan mengejutkan dia. Kedua, di sepanjang jalan kalian harus memperhatikan orang-orang yang mencurigakan, terutama orang-orang dari kedua Lembah , .. “ kata Ca Giok. Kemudian dengan berganti nada bengis, ia berkata pula, “Urusan ini amat penting sekali. Kalau sampai dia lolos, hm, awas!”

Setelah suruh kedua anakbuah pergi, Ca Giok rebahkan diri lagi di pembaringan. Diam-diam ia menimang, “Untuk membebaskan kedua nona itu dari tangan Nyo Bun-giau, tenagaku tak sanggup. Sekalipun mampu berbuat begitu, pun lebih baik jangan mengikut permusuhan dengan iIhak Nyo-kepoh. Satu-satunya jalan, aku harus mencari orang Lembah Raja-setan untuk menolong nona itu. Biar mereka sendiri yang menolong puteri dari ketua Lembah Raja-setan.”

Memikir sampai disitu, teringatlah ia akan Ting Yan-san, paman dari kedua nona itu. Asal bisa berjumpa dengan orang itu, tentu akan terjadi pertetapuran hebat dengan Nyo Bun-giau.

Tetapi ah, untuk mencari si Paderi-pencabut-nyawa Ting Yan-san, bukanlah mudah. Demikian Ca Giok tak henti2-nya memutar otak. Tiba-tiba ia teringat, ia rasa Ting Yan-san tentu juga ikut datang memperebutkan kitab pusaka dari Lam-hay-bun. Dengan begitu jelas din tentu berada di sekitar pedesaan Bik-lo-san.

“Benar,” katanya seorang diri, “besok pagi aku harus balik mencari setan tua Ting itu….”

Keesokan harinya, ia segera kembali menuju ke gunung Bik-lo-san lagi.

Pada waktu tengah hari, ia merasa lapar sekali dan berhenti makan di sebuah kota. Tengah ia enak2 menikmati hidangan, tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dingin. “Ho, kukira engkau kabur ke langit. Tak kira kalau dapat kuketemukan disini. Perhitungan itu dapat kita selesaikan dengan sebaik-baiknya….”

Setiap angin berhembus dan orang itupun sudah berada di muka meja Ca Giok.

Ca Giok tergetar hatinya. Ketika mengawasi ke muka, ah, ternyata Leng Kong-siau manusia beracun dari Lembah Seribu-racun.

Karena Ca Giok membakar barisan Bambu-batu dari si dara baju ungu, hampir saja Leng Kong-siau yang terkurung dalam barisan itu, mati terbakar. Itulah sebabnya maka ia amat benci setengah mati kepada Ca Giok. tetapo hari ketika di puncak gunung, ia tentu sudah dapat menghajar pemuda itu andaikata Han Ping tak ikut campur menghalangi.

Kini tak terduga-duga ia telah menemukan pemuda itu di rumah makan. Kesempatan itu tak disia-siakan Leng Kong-siau.

Tetapi Ca Giokpun amat lincah. Begitu melihat Leng Kong-siau berada di mukanya, cepat ia lemparkan meja lalu loncat mundur.

Tetapi Leng Kong-siau hanya tertawa gelak2, “Kalau hari ini sampai melepaskan engkau, percuma Baja Leng Kong-siau hidup sampai setua ini….”

Ia menutup kata-katanya dengan loncat sambil ulurkan tangan untuk menyambar tangan Ca Giok.

Ca Giok menyadari bahwa dirinya sukar lolos. Tetapi ia tetap berusaha mencari daya. Akhirnya ia memperoleh akal, serunya karas, “Leng loji, engkau sungguh-sungguh menganggap aku takut kepadamu?”

Leng Kong-siau tertegun. Ia terkejut mendengar ucapan Ca Giok yang begitu gagah.

Ca Giok memandang Leng Kong-siau dan berseru pula: Leng loji, engkau juga seorang tokoh persilatan yang ternama. Kalau mau mencari aku, marilah kita selesaikan di lain tetapat yang lebih sesuai. Di sini bukan tetapat yang layak untuk kita berkelahi. Bagaimana pendapatmu, hai?”

Mendapat gertakan itu, Leng Kong-siau batuk-batuk, sahutnya, “Baik, pokok engkau jangan harap bisa lolos!”

Ca Giok lemparkan sekeping perak kepada pelayan lalu berpaling ke arah Leng Kong-siau dan tertawa dingin, “Leng loji tak jauh di sebelah muka sana terdapat sebuah dataran gunung. Aku akan menunggumu di sana!”

Habis berkata ia terus loncat keluar. Sebagai tokoh yang diberi gelar si Tangan Kilat memang Ca Giok mempunyai kelebihan dalam ilmu ginkang. Gerakannya itu mirip dengan bintang jatuh di angkasa.

Leng Kong siau juga seorang tokoh yang menonjol namanya. Dalam ilmu ginkang, ia pun mempunyai keistimewaan tersendiri. Sekali enjot tubuh. ia cepat menyusul Ca Giok.

Sambil berlari, diam-diam Ca Giok memeras otak. Baginya hanya ada dua jalan. Pertama, berusaha meloloskan diri. Kedua, mencari akal untuk membakar setan tua itu agar mau bertetapur melawan Nyo Bun-giau. Jalan kedua ini, kecuali dapat menolong kedua nona Ting, pun suatu keuntungan baginya, “Apabila kedua harimau itu sudah sama-sama terluka, mudahlah dibereskan.”

Setelah menetapkan rencana, diam-diam ia tertawa puas. Berputar tubuh, ia loncat ke atas lereng gunung di sebelah kanan.

Dalam saat mengejar tadi, diam-diam Leng Kongsiau memuji kecepatan lari pemuda itu. Begitu melihat Ca Giok loncat ke atas lereng, ia segera membentak, “Ho, jangan kira engkau mampu meloloskan diri!”

Leng Kong-siaupun loncat ke atas lereng gunung. Saat itu Ca Giok tengah memandang ke sekeliliag tetapat. Ternyata di sekeliling tetapat itu penuh dengan batu2 berserakan dan duri anak yang tajam. Jauh dari jalan besar sehingga tak mungkin orang datang ke situ. Setelah menyedot napas, ia berhenti dan berdiri tegak.

Leng Kong-siau tahu bahwa Ca Giok itu seorang pemuda licin, banyak akal muslihat. Melihat pemuda itu berhenti, ia tak berani gegabah bertindak. Setelah menggeliat sambil condongkan tubuh, ia melesat ke samping Ca Giok.

Tiba-tiba Ca Giok tertawa, “Ah, Leng lo-cianpwe, mengapa engkau begitu ngotot hendak membikin susah diriku?”

Leng Kong-siau tertawa sinis. “Masakan engkau sendiri belum mengetahui?”

Berkata Ca Giok dengan serius, “Ca-ke poh dengan Lembah Seribu-racun, terpisah di utara dan selatan. Masing2 mempunyai daerah sendiri2. Dan selama ini tak pernah mempunyai dendam bentrokan apa-apa. Masing2 mengerjakan usahanya sendiri. Tetapi sekarang dengan mengandalkan kepandaian kuat sebagai seorang cianpwe berkeras hendak membunuh aku. Benar-benar aku tak mengerti apakah maksudmu yang sebenarnya?”

Leng Kong-siau batuk-batuk, sahutnya, “Ucapannya sepintas kedengarannya memang beralasan. Tetapi apakah engkau lupa akan tindakanmu melepas api itu? Mengapa saat itu sama sekali engkau tak ingat akan hubungan Ca-ke-poh dengan Lembah Seribu-racun yang tak mempunyai dendam permusuhan suatu apa?”

Ca Giok tertawa. “0, kiranya lo-cianpwe mendendam peristiwa itu. Tetapi sesungguhnya tak dapat menyalahkan tindakanku itu. Dalarapeparangan, tak ada lagi hubungan antara ayah dan anak. Dalam keadaan yang kuderita pada saat itu, terpaksa aku bertindak lepaskan api, demi untuk menyelamatkan diriku. Sama sekali tak sengaja hendak mencelakai lo-cianpwe…”

“Ca Giok, jangan jual kepandaian bermulut-tajam di hadapanku!” bentak Leng Kong-siau. “karena percuma saja, Leng Kong-siau tak sudi percaya ocehanmu lagi!”

Ca Giok geiengkan kepala menghela napas, ujarnya, “Kalau tak percaya, akupun tak dapat berbuat apa-apa. Sekarang engkau hendak bertindak begitu. Terserah engkau hendak bagaimana, aku hanya menurut saja….”

Ia menghela napas lagi dan berkata lebih lanjut, “Hanya menilik seorang Leng Kong-siau lo-cianpwe bertindak begitu membabi-buta, benar-benar Ca Giok harus tertawa geli!”

Habis berkata ia terus tertawa gelak2 dengan nyaring sekali.

eang Kong-siau sendiri juga seorang rubah yang licin. Tetapi ditertawakan sedemikian rupa oleh Ca Giok, ia merasa bingung juga. Cepat ia membentaknya, “Jangan banyak mulut! Masakan tindakanku harus meminta penilaianmu, huh!”

Melihat hati Leng Kong-siau mulai goyah, cepat Ca Giok berkata, “Bukan aku hendak menilai tindakan lo-cianpwe. Tetapi yang jelas lo-cianpwe telah menelantarkan tujuan lo ciaupwe datang kemari. Hal yang penting, lo-cianpwe tak mau mengerjakan, sebaliknya lo-cianpwe ngotot begitu rupa untuk memusuhi diriku!”

Wajah Leng Kong-siau berobah seketika. Diam-diam ia mengakui kebenaran ucapan pemuda itu. Namun lahirnya ia tetap tenang. “Jembatan lain dengan jalanan. Tindakanku kepadamu saat ini, adalah untuk menghimpaskan dendam kemarahanku atas perbuatanmu membakar barisan. Hal itu tak ada hubungannya dengan kedatanganku kemari. Jadi tak benar kalau aku menelantarkan tujuan. Saat ini aku hendak menghajarmu sampai taubat. Jika hendak bicara apa-apa, asal beralasan, aku tentu akan meluluskan agar engkau benar-benar tunduk sampai di hati!”

Ca Giok sejenak melirik ke arah orang itu dan diam-diam menertawakannya, “Huh, setan tua, jangan jual mulut besar di hadapanku! Apa engkau kira aku tak tahu isi hatimu, heh?”

Kemudian ia menjawab, “Kudengar lo-cianpwe seorang yang cermat sekali. Tetapi menurut pandanganku, lo-cianpwe tak ubah seperti ‘tupai yang pandai melompat, tetapi sekali jatuh terpeleset juga’. Cobalah kutanya, apakah lo-cianpwe tahu siapa saja yang datang ke tetapat ini?”

Leng Kong-siau tertawa meloroh, “Ho, masakan hal itu perlu kujawab!”

Dengan wajah serius, Ca Giok berkata, “Bukan hendak mengatakan lo-cianpwe tak tahu. Tetapi aku berani memastikan bahwa lo-cianpwe tentu tak mengetahui keseluruhannya dengan jelas!”

Leng Kong-siau mendesus dan balikkan gundu matanya, “Ho, kalau aku Leng loji tak tahu. apakah engkau lebih tahu dari aku? Hm, Leng loji tak mudah dikelabuhi orang ..”

Makin jelas Ca Giok akan isi hati Leng Kongsiau. Dengan sikap yang yakin, berserulah ia dengan lantang, “Akh, bukan begitu maksudku. Sudah tentu aku kalah jauh dengan pandangan lo-cianpwe. Tetapi banyak hal justru kujumpai secara tak terduga-duga. Misalnya seperti kali ini…..”

Tiba-tiba ia berhenti berkata.

Leng Kong-siau juga seekor rubah yang licin.

Melihat Ca Giok beberapa kali jual gertak, timbullah kecurigaannya, jangan2 pemuda itu memang tahu sesuatu rahasia penting. Seketika kerut-wajahnya berobah tenang dan berkatalah ia dengan nada yang agak ramah, “Seorang pahlawan, memang sudah kelihatan sejak masih muda. Kalian anak2 muda, tentulah lebih cerdas….”

Berhenti sejenak ia melanjutkan pula, “Selain kita beberapa orang itu, adakah engkau menemukan lain orang yang mencurigakan?”

Melihat nada orang sudah berobah ramah, tahulah Ca Giok bahwa setan tua itu sudah mulai masuk dalam perangkapnya. Dengan tingkah yang dibuat-buat, ia berkata, “Boleh dianta dewasa ini seluruh kaum persilatan telah datang untuk memperebutkan kitab pusaka dari partai Lam-hay-bun. Tetapi soal itu, bukanlah soal yang mudah diatasi sendiri. Harus mengerahkan persatuan dan kekuatan baru ada harapan berhasil. Maka ketika diutus ayah kemari, ayah telah memberi pesan agar aku jangan membanggakan diri, lebih2 jangan memiliki hati temaha mau menang sendiri. Harus bersekutu dengan sebuah dua buah partai untuk mengatur rencana. Kemudian ayahpun menekankan hendaknya aku selalu mendengar pendapat para cianpwe dan melaksanakan perintahnya. Sekali-kali tak boleh bertindak sendiri….”

Rangkaian kata-kata indah yang diucapkan Ca Giok itu benar-benar membuat Leng Kong-siau limbung. Tak tahu apa yang sesungguhnya terkandung dalam ucapan itu. Ia hanya dapat tertawa meriagis lalu berkata, “Pandangan ayahmu itu, benar-benar tepat sekali ……”

Ca Giok tak menghiraukan pujian itu, lalu berkata lagi, “Kedatangan kali ini, dalam setiap langkah dan tepat, aku selalu berpegang pada nasehat ayah. Bahwa tetapi hari karena salah faham sehingga membuat lo-cianpwe marah, aku benar-benar sangat menyesal. Kali ini memang telah kudapatkan suatu hal yang lain orang tak tahu. Maka sengaja kucari lo-cianpwe untuk merundingkan hal itu. Dengan begitu dapatlah kutebus kesalahan yang telah kulakukan tetapi hari itu ..”

Leng Kong-sian tergetar hatinya dan cepat-cepat meminta Ca Giok mengatakan hal itu.

Ca Giok menghela napas, ujarnya, “Sesungguhnya karena hal itulah maka aku sengaja kemhali kesini mencari lo-cianpwe. Tetapi menilik lo-cianpwe begitu murka kepadaku, kukuatir keteranganku itu tentu takkan lo-cianpwe percayai!”

Habis berkata, ia menghela napas lagi.

Sesungguhnya Leng Kong-siau mendongkol karena Ca Giok bersikap jual mahal. Ia tahu dirinya hendak dipancing. Tetapi apa boleh buat, terpaksa ia mendesak, “Hubungan antara Ca-ke-poh dengan Lembah Seribu-racun selama ini cukup baik. Apalagi ayahmu selama ini bersikap baik kepada fihak kami. Mengingat hal itu, sudah selayaknya kita harus saling membantu. Tetapi ucapanmu tadi, sungguh tak sesuai dengan hubungan kita itu!”

Ca Giok tersenyum.

oooo000oooo

Setan bertemu Iblis

“Apakah sebenarnya yang engkau dapatkan itu. Disini tiada lain orang lagi, kita dapat merundingkan hal itu,” desak Leng Kong-siau.

Ca Giok memandang ke sekeliling, kemudian berkata dengan setengah berbisik, “Menurut pengetahuan lo-cianpwe, siapa-apa sajakah yang datang di tetapat ini?”

“Kecuali fihak kita berdua, juga kedua anak perempuan dari Lembah Raja-setan itu, Ting Yan-san, Kim Loji, si Kipas-besi-pedang-Perak Ih Seng, Naga-laut-Gunhay Cin An-ki, Kim lokoay….”

Ia menengadah kepala merenung sejenak, lalu berkata pula: “Dan masih terdapat juga pengemis tua yang memuakkan itu….”

“Lo-cianpwe tak berjumpa dengan lain orang lagi?” tanya Ca Giok.

“Kedua manusia aneh Bungkuk dan Pendek yang tak dapat kita masukkan sebagai tetamu….”

Ca Giok cepat menyanggapi, “Dan masih ada seorang lagi yang lo-cianpwe tak menduga… .”

Sambil mengangguk kepala, Leng Kong-siau mendesus, “Yang engkau maksudkan apakah bukan pemuda she Ji itu….”

“Bukan, bukan dia,” bantah Ca Giok. “Lo-cianpwe, di kalangan kedua Lembah dan ketiga Marga itu, siapakah kiranya yang tampak tak ikut campur dalam urusan ini?”

Mendapat pertanyaan itu, Leng Kong-siau termangu tak dapat menjawab.

“Aku hendak bertanya sedikit lagi,” kata Ca Giok, “bagaimanakah pandangan lo-cianpwe tentang hubungan antara marga Nyo-ke poh dengan Lembah raja-setan selama ini?”

Tergetar hati Leng Kong-siau serunya, “Kepala marga Nyo-ke-poh di Kimleng, Nyo Bun-giau, biasanya membanggakan diri akan alat2 rahasia dalam gedungnya. Dia yakin gedung Nyo-ke-poh itu berdinding baja yang kokoh sehingga ia jarang bergaul dengan orang luar. Turut pengetahuanku selama ini, sekalipun hubungan Nyo-ke-poh itu tidak begitu erat dengan Lembah Raja-setan, tetapipun juga tak mempunyai dendam permusuhan suatu apa.”

Ca Giok tertawa, “Memang begitulah. Sekalipun aku masih hijau dan kurang pengalaman, tetapi sering kudengar ayah mengatakan bahwa hubungan antara Nyo-ke-poh dengan Lembah Raja setan itu memang tak erat tetapipun tak bermusuhan.”

“Adakah Nyo Bun-giau juga datang kemari?” tanya Leng Kong-siau.

Ca Giok mengangguk.

“Apakah engkau melihat setan tua Nyo itu bersama-sama Ting loji?” desak Leng Kong-siau.

“Jika dengan Ting Yan-san, aku sih tak heran,” kata Ca Giok. Ia herhenti bicara lalu tertawa aneh.

Leng Kong-siau maju selangkah, menegas, “Apakah fihak Lembah Raja-setan kerahkan orangnya kemari semua?”

“Huh, sekarang baru engkau bingung sendiri,” diam-diam Ca Giok menyumpahi. Ia girang karena Leng Kong-siau sudah mulai terpikat. Namun sebagai seorang pemuda yang licin, tak mau ia mengunjuk perobahan muka.

“Apakah fihak Lembah Raja-setan kerahkan selurah orangnya atau tidak, aku tak begitu jelas. Tetapi yarg kulihat dengan mata kepala sendiri ialah kedua nona dari Lembah Raja-setan itu pergi bersama Nyo Bun-giau,” katanya dengan serius.

Seketika berobahlah wajah Leng Kong-siau, serunya menegas, “Apa katamu? Nyo Bun-giau pergi bersama dengan kedua budak perempuan itu? Apakah engkau tidak keliru?”

Ca Giok tertawa. “Harap lo-cianpwe jangan meragukan. Ca Giok yakin tak salah lihat lagi!”

Ia segera menuturkan tentang kereta yang membawa Nyo Bun giau dan kedua nona itu. Karena curiga, ia segera mengikuti secara diam-diam. Semua yang telah terjadi, diceritakan kepada Leng KOng-siau. Hanya satu hal yang tak dikatakan ialah tentang di sepanjang ia meninggalkan sandi rahasia marga Ca-ke-poh.

Leng Kong-siau mementangkan kedua matanya lebar2 menatap Ca Giok, katanya, “Ca Giok, adakah omonganmu boleh dipercaya? Jangan merangkai cerita bohong di hadapanku!”

Tergetar hati Ca Giok seketika. Namun ia tetap tenang2 saja menjawab. “Dalam urusan besar seperti ini, masakan aku berani membohong!”

Tiba-tiba Leng Kong-siau tertawa mengekeh, ujarnya penuh selidik, “Kalau tahu hal itu mengapa bukannya terus mengikuti mereka tetapi sebaliknya engkau malah datang kemari? Dan mengapa pula engkau yakin bahwa aku tentu berada disini?”

Makin terbanglah serasa semangat Ca Giok menerima pertanyaan itu. Namun ia cepat menutupi getar perasaannya dengan sebuah tertawa keras. Lalu menjawab, “Kereta berkuda-dua tak lebih tak kurang hanya seperti sebatang jarum sulaman saja. Apakah susahnya untuk menyusul mereka? Tentang mengapa aku kembali kemari dan mengapa yakin kalau lo-cianpwe tentu berada di sekitar tetapat ini, mudahlah untuk menjawabnya. Sekalipun masih bodoh, tetapi selama ini sudah lama aku berkelana di dunia persilatan. Rasanya tak perlulah kuterangkan jawaban itu sejelas-jelasnya. Yang penting, harap lo-cianpwe suka percaya pada keteranganku yang sesungguhnya ini.”

Ia menutup kata-katanya dengan sebuah tertawa nyaring. Ia tak memberi jawaban secara langsung melainkan secara samar2 saja. Sebagai tokoh yang banyak makan asam garam dunia persilatan, Leng Kong-siaupun tak mau mengeduk keterangan sampai di dasarnya. Ia pun terpaksa ikut tertawa juga.

Beberapa saat kemudian, kembali Leng Kong-siau bertanya, “Turut wawasanmu, permainan apakah yang sedang dilakukan Nyo Bun-giau itu? Dan kemanakah kiranya tujuan mereka?”

Ca Giok berdiam diri beberapa jenak, lalu berkata, “Apa maksud Nyo Bun-giau, aku tak berani memastikan. Hanya menurut nada perkataan kedua nona itu rupanya mereka tak senang. Dan kalau menurut arah yang hendak ditujunya itu, kemungkinan besar tentu ke Kimleng.”

Leng Kong-siau mendesus. Tiba-tiba wajahnya berobah gelap, katanya, “Ca Giok, tentang persoalan kita berdua, baiklah kita kesampingkan dulu. Tindakanmu untuk mencari aku itu dapat diartikan sebagai kesungguhan hatimu. Sekarang jangan buang waktu, hayolah engkau tunjukkan tetapat mereka itu. Selama dalam perjalanan kita harus saling bantu. Dan ingat, jangan

sekali2 engkau secara diam-diam merancang tipu muslihat.”

Tiba-tiba ia menyambar pergelangan tangan pemuda Ca itu dan tertawa dingin. “Aku Leng loji, senang berbuat secara blak-blakan. Sekarang kutegaskan. Jika engkau coba2 hendak main siasat, jangan engkau sesalkan aku seorang ganas. Engkau seorang cerdik, tentu dapat mempertimbangkan mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan engkau!”

Habis berkata ia lepaskan cengkeramannya.

Ca Giok tahu bahwa dirinya hendak ditekan tetapi apa boleh buat, terpaksa ia mengiakan saja. Namun diam-diam ia telah merancang dalam hati. Bila nanti berjumpa Nyo Bun-giau, ia hendak berusaha untuk mengadu domba. Dan apabila kedua setan tua itu sudah saling berhantam, mudahlah ia untuk meloloskan diri.

Setelah menetapkan keputusan, berkatalah ia, dengan mantap, “Kepergian Ca Giok bersama locianpwe kali ini, untung atau rugi, sudah menjadi tanggung jawab Ca-ke-poh dan Lembah Seribu-racun. Harap lo-cianpwe percaya penuh. Tak nanti aku Ca Giok berani mengandung pikiran yang tidak-tidak!”

Disanjung begitu rupa, diam-diam tersentuh juga hati Leng Kong-siau. Ia tertawa dingin, “Asal engkau sudah menginsyafi, itulah sudah cukup!”

Kemudian ia ajak pemuda itu segera berangkat. Ca Giak mengiakan. Berputar tubuh ia terus melangkah cepat. Leng Kong-siaupun segera mengikutinya.

Dalam perjalanan, masing2 mempunyai rencana sendiri2. Pikiran Ca Giok membayangkan, dengan akal bagaimana ia dapat mengadu domba kedua setan tua itu agar ia dapat menolong kedua nona Ting itu.

Sedang Leng Kong-siau pun tak tinggal diam. Diam-diam dia pun menimang dalam hati. Jika tidak ada urusan penting tak mungkin Nyo Bun-giau mau keluar ke dunia persilatan. Ia tahu bahwa Nyo Bun-giau itu seorang ‘harimau berselimut domba’. Lahirnya bersikap ramah tetapi hatinya ganas sekali. Kali ini pasti ada sesuatu yang penting sekali maka orang she Nyo itu sampai membawa kedua nona Hun-bong-ji-kiau itu. Dengan ikut campur dalam urusan itu, jelas ia pasti bentrok dengan Nyo Bun-giau. Kemungkinan akan menimbulkan dendam permusuhan, bukanlah suatu hal yang mustahil. Untuk menghadapi orang she Nyo itu, ia merasa tak berat. Tetapi ia meragukan, apakah Nyo Bun-giau itu hanya seorang diri saja atau mempunyai kawan lain yang sakti.

Dalam pada itu ia harus memperhitungkan juga diri Ca Giok. Pemuda itu tak kalah licin dan ganas dengan Nyo Bun-giau. Walaupun saat ini Ca Giok bermulut manis, namun apabila menghadapi saat2 yang genting siapa tahu pemuda itu akan berbalik haluan. Dan apabila hal itu sampai terjadi, berarti ia akan menghadapi kesulitan. Sudah bentrok dengan Nyo Bun-giau, masih diaduk-aduk Ca Giok. Betapa pun halnya, sukarlah baginya untuk menghadapi empat buah tangan. Ditambah pula dengan hadirnya kedua nona Ting itu….

Sesungguhnya Leng Kong-siau itu seorang yang cermat. Maka dalam perjalanan itu, diam-diam ia telah meninggalkan sandi pertandaan dari Lembah Seribu-racun. Agar anakbuahnya segera menyusul.

Ca Giok tak tahu kalau diam-diam Leng Kong-siau memanggil anakbuahnya. Tetapi sebagai seorang pemuda yang cerdik, ia tahu bahwa rupanya Leng Kong siau tetap mencurigai dirinya. Maka diam-diam iapun tingkatkan kewaspadaan.

Pada malam itu ketika menginap di sebuah rumah penginapan, kira-kira pada waktu tengah malam waktu Ca Giok tidur nyenyak, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara ketukan pelahan pada daun jendela kamarnya.

Ca Giok terkejut. Cepat ia mengetahui bahwa ketukan itu jelas bukan ketukan rahasia dari kaum Ca-ke-poh. Tetapi karena seseorang hendak menemuinya, iapun tak dapat tinggal diam. Setelah turun dari pembaringan, ia membentak pelahan, “Hai, siapakah yang pada waktu tengah malam buta, hendak menemui aku?”

Dari luar terdengar suara penyahutan dingin, “Jika tiada urusan, masakan aku mencarimu…”

Jendela terbuka, sesosok tubuh loncat masuk dan di dalam kamar muncul seorang imam yang bertubuh kurus. Punggung menyanggul pedang, tangan kanannya mencekal sebatang hudtim atau kebut pertapa!

Waktu mendengar nada suara orang itu, Ca Giok sudah terkejut. Dan ketika melihat siapa tetamu yang tak diundang itu, ia makin terperanjat. Kiranya pendatang itu bukan lain adalah Ting Yan-san si Imam-pencabut-nyawa, paman ketiga dari kedua nona Ting.

Ca Giok kejut2 girang melihat tokoh dari Lembah Raja-setan itu. Girang karena Ting Yan-san tentu akan membantu usahanya untuk menolong kedua nona kemenakannya itu. Dengan adanya imam itu, sekurang-kurangnya Leng Kong-siau harus berpikir panjang kalau seandainya mempunyai rencana hendak mencelakai dirinya. Maka diam-diam Ca Giok merasa lega hatinya.

Tetapi iapun tak lepas dari rasa cemas juga. Baik Nyo Bun-giau, Leng Kong siau maupun Ting Yan-san ini, adalah tiga setan tua yang terkenal sebagai tokoh-tokoh aneh. Gerak-gerik mereka serba sukar diduga, sikapnya amat dingin. Mudah berobah pendirian, berbalik haluan. Dengan terjepit di antara ketiga iblis tua itu, Ca Giok merasa amat tak leluasa sekali bergerak dan bicara.

“Berpisah beberapa hari saja, mengapa sekarang engkau galang-gulung bersama Leng loji?” sekonyong-konyong ia dikejutkan oleh teguran Ting Yan-san.

Ca Giok tertegun. Ia menyadari bahwa hal itu memerlukan penjelasan yang panjang. Maka ia pura2 terkejut, “Apakah lo-cianpwe bertanya kepadaku?”

“Adakah di sini terdapat lain orang lagi?”

“Kalau tidak kepadamu, habis kepada siapa kubertanya?”

Ca Giok gelagapan dan menegas pula, “Apakah yang lo-cianpwe hendak tanyakan?”

“Mengapa engkau bersama-sama dengan Leng loji?” seru Ting Yan-san pula.

Ca Giok kerutkan alis mengunjuk wajah cemas, sahutnya, “Harap lo-cianpwe suka maafkan, tak dapat kuberitahukan soal ini….”

Sambil kibaskan kebutnya, berserulah Ting Yan-san menegas, “Adakah engkau benar-benar tak mau memberi tahukan?”

Saat itu Ca Giok sudah mempunyai rencana. Pelahan-lahan ia hendak memikatnya ke dalam perangkap. Maka tertawalah ia dengan hambar, “Bukannya aku tak mau memberitahu tetapi memang aku mempunyai kesulitan….”

“Dalam soal apa maka engkau begitu sulit memberitahukan?” desak Ting Yan-san.

Ca Giok menghela napas, “Mengingat hubungan antara lembah Raja-setan dengan fihak kami Ca ke-poh, seharusnya kuberitahukan hal itu kepada lo-ciaupwe. Apalagi tetapo hari di puncak bukit, lo-cianpwepun tak terpengaruh oleh kata-kata Leng loji. Ca Giok sungguh takkan melupakan peristiwa itu dan seharusnya nada hal yang harus dirahasiakan kepada lo-cianpwe….”

Ia berhenti sejenak lalu merenung. Beberapa saat kemudian baru berkata pula, “Dalam hal ini, aku sungguh tak bebas karena seseorang….”

“Ca Giok bukan pemuda tetape. Sekalipun Leng loji lihay tetapi tak seharusnya engkau begitu ketakutan kepadanya. Kalau engkau mengatakan kebebasanmu terikat orang, apakah itu tidak bohong?”

“Ah, lo-cianpwe hanya tahu satu tetapi tak tahu yang kedua,” Ca Giok menghela napas. “Demi mengatakan kesungguhan hati, kumohon locianpwe meluluskan permintaanku dan nanti tentu kuberitahukan soal itu.”

“Baiklah, asal aku mampu saja, tentu akan kululuskan,” kata Ting Yan-san.

“Hal itu sebenarnya bukan hal yang sukar. Asal lo-cianpwe meluluskan saja. Cukup asal lo-cianpwe jangan memberitahukan bahwa aku telah memberitahukan hal itu kepada lo-cianpwe. Itulah sudah cukup.”

Sambil mengusap jenggotnya, berkatalah Ting Yan-san, “Dalam segala tindakan, aku selalu menjunjung janji Karena engkau sudah mempercai aku, sudah tentu takkan kubocorkan hal itu kepada orang lain. Harap engkau jangan kuatir….”

“Apakah ucapan lo-cianpwe itu dapat kupe.. gang?” masih Ca Giok menegas.

“Kapankah aku pernah menipumu?”

Ca Giok mengisar maju selangkah. Dengan wajah bersungguh ia berkata, “Kalau begitu, aku hendak memberitahukan…. “

Ia berhenti sejenak lalu, “Tahukah lo-cianpwe apa sebab aku rela menerima tekanan Leng loji itu?”

Ting Yan-san kicupkan mata, menyahut, “Justeru itulah yang hendak kuketahui!”

“Terus terang, kesemuanya itu hanyalah untuk kepentingan fihak Lembah Raja-setan….”

Ting Yan san mendengus panjang.

“Hubungan Lembah Raja-setan cukup baik dengan Ca-ke-poh dan mengingat kebaikan lo-cianpwe kepadaku tetapo hari, sudah tentu aku harus membantu kesulitan Lembah Raja-setan….”

“Eh, kesulitan apakah yang menimpah lembahku? Cobalah engkau jelaskan!”

“Maaf, aku hendak mengajukan pertanyaan. Bagaimanakah hubungan antara Lembah Raja-setan dengan Nyo-ke-poh di Kimleng itu?”

“Tak ada hubungannya sama sekali. Tetapi juga tak bermusuhan!”

“Adakah lo-cianpwe mengetahui bahwa kedua nona kemenakan lo-cianpwe itu sekarang bersama-sama dengan Nyo Bun-giau?”

Di luar dugaan Ting Yan-san tak terkejut mendengar hal itu, tanyanya, “Aku bertanya tentang urusanmu dengan Leng loji, bukan menanyakan soal Nyo Bun-giau!”

Tergetar hati Ca Giok mendapat sambutan itu. Terpaksa ia menjawab, “Soal itu timbul karena Nyo Bun-giau. Dengan mata kepala sendiri kusaksikan Nyo Bun-giau membawa kedua nona Ting dalam sebuah kereta yang menuju ke Kimleng….”

“O….” desus Ting Yan-san, “memang kedua budak perempuan itu suka menimbulkan hal-hal yang tak dimengerti orang!”

Mengkal juga hati Ca Giok karena Ting Yan-san tak dapat dibakar hatinya. Tetapi ia tak putus asa. Katanya lebih lanjut, “Tetapi jelas bahwa kedua nona itu, tak suka hati. Dengan begitu, kepergian mereka itu, tentulah karena terpaksa.”

“Bagaimana engkau tahu itu?” desak Ting Yan-san.

Ca Giok segera menuturkan semua pengalamannya ketika mengikuti jejak Nyo Bun-giau. Hanya tentang Sandi pernyataan Ca-ke-poh yang ditinggalkan di sepanjang jalan, tak diberitahukannya.

Kini terpengaruh juga Ting Yan-san.

“Adalah demi menolong kedua nona Ting, maka aku terpaksa menderita tekanan dari Leng loji tetapi dengan timbal balik, ia bersedia ikut aku menuju ke Nyo-ke-poh.”

“Mengapa engkau tak mencari tokoh-tokoh lembah Raja-setan?” tegur Ting Yan san.

“Dalam hal ini harap lo-cianpwe suka maafkan. Pertama aku tak yakin bahwa lo-cianpwe masih berada disini. Dan kedua mengingat bahwa menolong orang itu ibarat menolong kebakaran, maka aku terpaksa minta bantuan Leng Kong-siau yang dapat kujumpai disini,” Ca Giok memberi jawaban yang beralasan. Untuk itu Ting Yan-san rupanya dapat menerima.

“Lalu bagaimana kehendakmu sekarang?” tanya Ting Yan-san.

Ca Giok merenung sejenak lalu menyatakan bahwa karena ia telah terlanjur meminta bantuan Leng loji maka sebaiknya janganlah sampai Leng Kong-siau mengetahui pertemuan saat itu.

“Besok pagi apabila aku dan Leng loji berangkat, baiklah lo-cianpwe pura2 bergegas muncul dan menegur kami berdua, kemana kami hendak pergi. Terus terang saja lo-cianpwe nanti menyatakan telah mendapat laporan dari anak buah Lembah Raja-setan yang menemukan sandi pertandaan dari kedua nona Ting,” kata Ca Giok.

Ting Yan-san menyetujui usul itu. Setelah itu ia tinggalkan kamar penginapan.

Keesokan harinya Leng Kong-siau dan Ca Giok segera berangkat ke Kimleng. Di tengah jalan mereka dikejutkan sesosok bayangan yang berlari pesat mendatangi.

“Aha, kiranya engkau saudara Ting,” tegur Leng Kong-siau, “apakah keperluan saudara mengejar kami?”

“Ho, bukankah jalan besar ini diperuntukkan setiap orang?” sahut Ting Yan-san agak kurang senang, “adakah saudara Leng merasa melakukan sesuatu hingga kedatanganku ini engkau duga tentu hendak mengejarmu?”

Leng Kong-siau tertegun mendapat jawaban yang cukup tajam itu. Sebelum ia menemukan kata-kata untuk menjawab, Ting Yan-sanpun sudah berkata pula, “Eh, mengapa saudara Leng bersama dengan anak itu? Bukankah saudara amat mendendamnya?”

Kuatir kalau Leng Kong-siau salah jawab hingga menimbulkan hal2 yang tak diinginkan, buru-buru Ca Giok mendahului, “Ah, nama seorang cianpwe seperti Leng lo-cianpwe sungguh-sungguh mendendam terhadap orang yang lebih muda? Apalagi soal tersebut hanyalah soal salah faham yang tak berarti, sudah tentu Leng lo-cianpwe berlapang dada maafkan aku. Eh, hendak kemanakah Leng lo-cianpwe ini? Mengapa begitu ter-buru-buru sekali tampaknya?”

Diam-diam Leng Kong-siau dan Ting Yan-san memuji kecerdikan pemuda itu. Leng Kong-siau merasa telah dihindarkan dari kesulitan menjawab pertanyaan Ting Yan-san Sedang Ting Yan-san merasa telah diberi jalan untuk segera menyatakan tujuannya.

“Ho, ini bukan urusanmu, tak perlu engkau tahu,” sahut Ting Yan-san dengan nada keras.

“Ah, mengapa lo-cianpwe mempunyai pikiran begitu? Bukankah kita yang datang ke gunung ini mempunyai tujuan sama? Bukankah hubungan antara Lembah Raja-setan dengan marga Ca-ke-poh selama ini baik2 saja? Dengan berdasar dua pegangan itu, kiranya kita wajib sating bantu. Bukankah demikian, Leng lo-cianpwe?” Ca Giok melirik ke arah Leng Kong-siau.

Leng Kong-siau hanya mendengus tak jelas.

“Hm, pintar benar sau-pohcu Ca-ke-poh itu bermain lidah,” sahut Ting Yan-san, “tetapi kurasa hal itu tak perlu kuberitahukan, karena menyangkut kepentingan Lembah Raja-setan sendiri.”

“Kecuali bagaimana, harap lo-cianpwe sudi mengatakan,” cepat Ca Giok mendesak.

“Kecuali kalian memang ingin membantu, barulah dapat ku beritahukan!”

“Ah, mengapa lo-cianpwe mengatakan begitu? Bukankah sudah kunyatakan dalam perantauan, kita harus saling bantu membantu dengan sahabat. Silahkan lo-cianpwe memberitahukan, asal kami mampu, tentu dengan senang hati akan membantu lo-cianpwe,” kata Ca Giok.

“Seorang anakbuah Lembah Raja-setan telah menemukan sandi pertandaan yang ditinggalkan oleh kedua budak perempuan kemenakanku itu. Mengatakan, bahwa kedua budak itu telah ditawan oleh Nyo Bun-giau ke Kimleng….”

“Hai! Benarkah itu?” Ca Giok pura2 menukas kaget, “benarkah itu? Adakah laporan anak buah Lembah Raja-setan itu dapat dipercaya?”

“Ehm, peraturan Lembah kami amat keras. Barang siapa berani hohong, matilah hukumannya!” jawab Ting Yan-san.

“Leng lo-cianpwe,” cepat Ca Giok berpaling ke arah Leng Kong-siau, “karena Ting lo-cianpwe telah mempercayai kita, sudah pada tetapatnya kita pun harus membantu Ting lo-cianpwe.”

Leng Kong-siau hanya mengangguk saja. Sesungguhnya ia tak senang dengan tambabnya seorang Ting Yan-san. Tetapi karena orang she Ting itu memang hendak ke Kimleng, apa boleh buat. Terpaksa ia tak keberatan.

Demikianlah, ketiga orang itu segera melanjutkan perjalanan ke Kimleng. Singkatnya saja mereka telah mencapai tujuan.

Tengah mereka terpesona memandang sebuah bangunan gedung yang besar dan mewah, sekonyong-konyong seorang pemuda baju biru muncul dan menanyakan keperluan ketiga orang itu.

Ketika ketiga orang itu memperkenalkan diri, pemuda baju biru itu tersipu-sipu memberi hormat dan menyatakan hendak mengantar mereka menemui kepala marga Nyo-ke-poh.

Pertama-tama, mereka berhadapan dengan 12 buah pagar kayu setinggi dua tombak. Baik bahan maupun bentuknya, sama semua. Di atas pagar itu tercantum 6 buah huruf yang dirangkai dari dahan pohon, berbunyi: Kim-leng Nyo-ke-poh.

Kata pemuda itu dengan bangga, “Ke-12 buah pagar itu dibentuk menurut 12 waktu. Tampaknya serupa tetapi letaknya tak sama. Hanya dua buah pagar yang dapat mencapai ke gedung. Barang siapa yang gegabah masuk kemari, tentu tersesat dan akan terancam bahaya maut .. .. “

0 Response to "Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 15 : Kereta misterius"

Post a Comment