Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 11 : Strategi Manipulasi

Mode Malam
Jilid 11
Lama sekali orang di ruang sebelah itu tak kedengaran suaranya. Diam-diam Ih Seng berdebar hatinya. Benarkah orang itu sungguh-sungguh hendak mencarinya?

Entah berapa lama, tiba-tiba kamar sebelah itu berdeburan keras sekali dan orang itu dengan marah berseru, “Hai, dimana engkau! Inilah orang yang hendak menampar mukamu!”

Ih Seng terperanjat. Pikirannya, “Uh, orang ini benar-benar seperti setan. Masakan dia mampu menerobos dari perkakas rahasia makam ini….”

Pada lain kilas ia memperoleh pikiran, “Hm, kalau dia memang mampu menerobos keluar tentu diapun mampu menolong diriku. Baiklah kubikin panas dulu hatinya, kusuruh dia membebaskan aku dulu. Sekalipun mukaku ditamparnya, masih jauh lebih baik daripada terkubur hidup-hidupan disini….”

“Jangan omong besar dulu, bung. Belum tahu siapa yang harus menerima tamparan. Ayo, masuklah!” serunya kemudian.

Bum, bum…. dinding ruang bergetar keras. Rupanya orang itu tengah mencari pintunya. Setengah jam kemudian, suara berdeburan itu baru berhenti.

“Celaka, kalau dia tak jadi masuk kemari aku tentu mati….” keluh Ih Seng. Dan serentak iapun meregang tegang. Ya, jika orang itu sampai keliru menggerakkan alat rahasia, bukankah papan langit-langit batu itu akan mengendap ke bawah lagi dan menindih tubuhnya?

Membayangkan kematian yang ngeri itu, Ih Seng mengucurkan keringat dingin….

Sekonyong-konyong terdengar bunyi berderak-derak dan papan langit-langit batu itu perlahan-lahan terangkat ke atas dan ruangan di sebelah kiri merekah menjadi dua. Ih Seng mendengar suara gemercik air dari celah-celah dinding yang merekah itu.

Buru-buru Ih Seng menggeliat bangun. Dan tepat pada saat itu, sesosok tubuh orang melesat masuk.

Ketika mengetahui bahwa pendatang itu ternyata pemuda yang melindungi si dara baju ungu, Ih Seng terlongong-longong.

Begitupun pemuda itu atau Han Ping, juga terkesiap ketika melihat Ih Seng, “Hm, kukira siapa, ternyata engkau!”

Kipas besi pedang perak Ih Seng sudah berpuluh tahun malang melintang di dunia persilatan. Sudah tentu tak dapat menerima diperlakukan sedemikian oleh seorang pemuda.

“Benar, memang, mau apa engkau!” serunya melonjak maju.

Han Ping lihat ruangan itu sempit sekali tak leluasa kalau sampai terjadi perkelahian. Ia menyurut mundur seraya bertanya, “Apakah yang memaki aku tadi juga engkau….”

Melihat pemuda itu mundur, Ih Seng salah duga. Ia kira pemuda itu tentu akan menggerakkan alat perkakasnya untuk menggerakkan papan langit-langit batu. Serentak ia loncat mengejar, “Hai, hendak lari kemana engkau!”

Melihat tindakan Ih Seng hendak menyerangnya marahlah Han Ping. Segera ia songsongkan tangannya.

Memang dalam lorong terowongan sesempit itu tiada lain jalan kecuali harus adu kekerasan.

Ih Seng seorang yang berpengalaman. Melihat kedahsyatan pukulan pemuda itu, ia cepat loncat mundur seraya dorongkan kedua tangannya. Tetapi karena jaraknya terlalu dekat, ia kalah cepat. Angin pukulan Han Ping sudah tiba di dadanya lebih dulu sehingga ia hilang keseimbangan tubuhnya. Bum…. tubuhnya terdorong ke belakang dan membentur dinding batu. Seketika darahnya bergolak keras, mata berbinar-binar, kepala pening dan rubuhlah ia. Karena sewaktu hendak terjerembab ke belakang ia gunakan ilmu cian-kin-tui (memberatkan tubuh) untuk menahan tubuhnya, maka ketika rubuh ia masih sadar.

Plak, plak…. tiba-tiba sesosok tubuh melesat dan menampar pipi Ih Seng empat kali. Cepat dan keras sekali tamparan itu hingga mulut Ih Seng, si Kipas besi pedang perak yang termahsyur itu, mengucurkan darah….

Jago pedang perak itu menampar ubun-ubun kepalanya sendiri lalu menyalurkan tenaga dalam untuk menghentikan rasa sakit. Setelah pandangan matanya terang, ia memandang ke muka. Ah…. ternyata Han Ping berdiri gagah di hadapannya. Seketika deraslah darah kemarahannya. Sambil membereskan rambutnya yang kusut, diam-diam ia mencabut kipas besi nya. Secepat ditebarkan terus dihantamkan kepada Han Ping dengan jurus Hian-niau-hua-sat atau Burung dewa membelah pasir.

Ia yakin bahwa serangan yang dilakukan dengan tiba-tiba dan dahsyat itu tentu akan merubuhkan Han Ping

Uh…. tiba-tiba Ih Seng berteriak kaget karena tahu-tahu tangannya telah dicengkeram oleh Han Ping dan pada lain kejap, kipasnyapun sudah pindah ke tangan pemuda itu.

Ih Seng kesima. Belum pernah selama ia mengembara di dunia persilatan, menyaksikan ilmu merampas senjata lawan yang sedemikian anehnya.

“Ilmu apakah yang engkau gunakan itu?” tanyanya sesaat kemudian.

Han Ping tertawa bangga. Setelah menutup kipas, ia serahkan lagi kepada Ih Seng seraya menantangnya, “Jika engkau belum puas, silahkan mencoba lagi!”

Sambil menyambuti kipas, Ih Seng mengisar dua langkah ke samping kiri lalu berputar tubuh dan tiba-tiba tusukkan kipas besi ke dada Han Ping. Ilmu tutukan itu merupakan jurus yang paling ganas dari ilmu permainan si Kipas besi pedang perak. Mengandung gerak serangan dan sekaligus menjaga diri. Sukar untuk diduga musuh. Sekalipun hanya satu kipas dan satu jurus, tetapi mengandung tiga macam perubahan yang hebat.

Dengan ilmu yang diandalkan itu, entah sudah berapa banyak jago-jago persilatan yang dapat dirubuhkannya. Selama malang melintang berpuluh tahun, belum pernah ia menemukan orang yang mampu menghadapi kipasnya itu,

Melihat ujung kerangka kipas besi itu menusuk cepat tetapi tak terdapat pancaran tenaga penggerak atau penyaluran tenaga dalam, diam-diam Han Ping menyadari apa inti permainan lawan itu. Memang setelah mengalami banyak kali bertempur dan makin giat meyakinkan ilmu ajaran Hui Gong taysu, Han Ping bertambah maju pesat sekali. Ia percaya bahwa gerakan Ih Seng itu tentu mengandung lain perubahan lagi. Maka sambil gerakkan tangan kanan dengan jurus lima gunung menutup naga, ia ayunkan kakinya kiri selangkah ke muka, secepat kilat ia rentangkan lima jarinya untuk menyambar pergelangan tangan Ih Seng, sedang siku lengannyapun bergerak menghantam dada orang.

Gerakan itu benar-benar mengejutkan Ih Seng. Cepat ia menyurut mundur untuk menjaga diri. Tetapi sekali serangannya gagal, berantakanlah seluruh jurus permainannya. Tahu-tahu ia rasakan pergelangan tangannya kesemutan dan kipasnya pindah tangan. Dadanyapun tersentuh sedikit oleh siku Han Ping. Apabila Han Ping mau menggunakan kekerasan sedikit saja, Ih Seng pasti terluka.

Entah berapa puluh kali Ih Seng menghadapi pertempuran dengan tokoh-tokoh yang terkenal. Tetapi belum pernah ia menderita kekalahan yang mengenaskan seperti saat itu. Kipasnya dirampas dan dadanya disikut.

Kipas besi pedang perak terlongong-longong….

“Kalau masih tidak tunduk kita coba lagi barang dua tiga jurus!” seru Han Ping seraya mundur dua langkah dan mengembalikan kipas kepada pemiliknya.

Sambil menyambuti kipas. Ih Seng memandang lekat kepada Han Ping, “Ilmu kepandaian apakah yang engkau mainkan itu?”

“Kuberitahupun mungkin engkau tak tahu. Gerakan itu dinamakan Kin-liong-chiu yang terdiri dari 12 jurus!”

“12 jurus Kin-liong-chiu?” Ih Seng mengulang lalu merenung diam. Tetapi sampai beberapa lama belum juga ia mengetahui apa itu 12 jurus gerakan menangkap naga. Ia gelengkan kepala dan menghela napas, “Benar, memang aku tak tahu!”

“Jangankan engkau, sedang di dunia persilatan, hanya beberapa gelintir orang yang tahu akan ilmu Kin-liong-chiu itu!” Han Ping tertawa.

“Jenis ilmu silat yang terdapat di dunia persilatan Tionggoan, bukan aku membanggakan diri tahu semua, tetapi sebagian besar memang pernah kudengar dari orang. Namun ilmu Kin-liong-chiu yang anda mainkan tadi. benar-benar belum pernah kulihat dan mendengarnya!” kata Ih Seng.

“Kalau begitu engkau sudah tunduk?”

Ih Seng merenung sejenak. tiba-tiba ia berseru marah, “Cukuplah kalau orang sudah mengagumi seseorang. Tetapi dengan bertanya menegas begitu, apakah maksudmu. Ketahuilah seorang ksatria rela dibunuh daripada dihina. Aku Kipas besi pedang perak bukan manusia yang takut mati temaha hidup!”

Diam-diam Han Ping menaruh perindahan kepada Ih Seng. Walaupun dari golongan Lok-lim (begal) tetapi berjiwa ksatria juga.

“Aku tak mengandung maksud apa-apa, harap saudara Ih jangan marah!” katanya memberi hormat.

Kemarahan yang meluap-luap di dada Ih Seng, sirna seketika. Dengan tersipu-sipu ia balas memberi hormat . “Kepandaian anda benar-benar sakti, aku tunduk setulus hati.”

Buru-buru Han Ping mengangkatnya bangun seraya mengucap kata-kata merendah, “Ah, jika saudara sungguh-sungguh menyerang, tak mungkin aku menang.”

Ih Seng menghela napas, “Berpuluh tahun aku berkelana di dunia persilatan dan telah berjumpa dengan banyak tokoh-tokoh sakti. Tetapi belum pernah aku berhadapan dengan seorang pemuda seperti anda yang dalam sekali gebrak dapat merampas kipasku. Hal itu benar-benar sukar dipercaya….”- ia berhenti sebentar lalu menanyakan nama Han Ping.

Han Pingpun memberitahukan namanya.

“Seumur hidup belum pernah aku tunduk benar-benar terhadap orang. Tetapi kepada saudara Ji, aku sungguh tunduk lahir batin. Jika saudara menghendaki bantuanku, aku dapat menggerakkan kawan-kawan dari empat propinsi yang bersedia menyerahkan jiwa untukmu,” kata Ih Seng.

“Ah, aku hanya seorang pemuda yang tak terkenal, mana berani mengharap penghargaan semacam itu,” sahut Han Ping.

Ih Seng tertawa gelak-gelak, “Walaupun aku berasal dari golongan Loklim, tetapi aku dapat menjunjung budi dan kepercayaan Saudara Ji, adalah tunas cemerlang. Jika kuserahkan kedudukan pimpinan ke empat propinsi itu kepadamu….”

“Jangan jangan, aku tak berhak mendapat kepercayaan itu,” cepat-cepat Han Ping menolak.

Ih Seng tertawa gelak-gelak, “Kutahu kalau saudara tentu enggan menerima pimpinan kaum Loklim….”

“Ah, bukan begitu,” kata Han Ping. “kaum Loklim memang gemar menyamun dan merampas harta orang. Sekalipun perbuatan itu melanggar undang-undang, tetapi masih jauh lebih ksatria daripada mereka yang membanggakan diri sebagai orang gagah budiman tetapi sebenarnya seekor harimau yang berselimut domba!”

“Kata-katamu tepat sekali saudara Ji!” seru Ih Seng. “Sejak menerima kedudukan sebagai pemimpin kaum Loklim dari 4 propinsi, aku telah mengeluarkan undang-undang kepada para markas gerombolan dalam ke empat wilayah itu. Kuberi dua macam larangan. Tak boleh merampas harta benda dari pembesar dan orang yang jujur. Yang boleh dirampas hanya harta benda pembesar-pembesar korupsi dan hartawan-hartawan kejam. Tak boleh sembarang membunuh orang kecuali orang itu memang manusia-manusia yang jahat dan banyak dosanya. Maka belasan tahun dalam peristiwa-peristiwa yang menggemparkan daerah Tionggoan selama ini, tak sampai terjadi pembunuhan jiwa yang salah sasarannya!”

“Ah, sungguh hebat sekali tindakan perwira saudara Ih itu,” Han Ping memuji.

“Ah, jangan kelewat memuji….” tiba-tiba Ih Seng rasakan kakinya dingin. Ketika memandang ke bawah, ternyata ruangan itu sudah tergenang air. Entah kapan air itu mulai mengalir kesitu.

Melihat itu Han Ping segera mengajaknya pergi. Tetapi serempak pada saat itu, air menumpah cepat ke dalam ruang.

Dengan menggembor keras, Han Ping ayunkan tangannya. Gelombang air yang hendak melanda masuk itu, pecah tersurut mundur lagi. Han Ping segera menerobos keluar. Ih Seng pun mengikuti di belakangnya.

Gelombang air itu merangsang dan melanda ke dalam ruangan lagi. Han Ping menyadari bahwa tenaganya tentu tak mampu mengundurkan air itu. Ia harus lekas-lekas mencari tempat yang aman dulu baru kemudian mencari daya keluar dari makam itu.

Ia tak mau melepas pukulan lagi tetapi mulai mendaki naik dari samping terowongan. Tetapi air itu cepat kali datangnya. Dalam sekejap saja sudah mencapai sebatas perut.

“Mengapa saudara Ji dapat terjerumus dalam makam ini?” tanya Ih Seng sambil berjalan.

Dengan singkat Han Ping menuturkan apa yang dialaminya hingga sampai masuk ke dalam terowongan situ. Demikian Ih Seng juga menceritakan pengalamannya.

Saat itu mereka tiba di sebuah lorong terowongan bersilang. Air bah tadi entah mengalir kemana saja.

Ih Seng berhenti dan memberi peringatan kepada Han Ping agar berhati-hati jangan sampai keliru masuk ke dalam ruang yang penuh air.

Memandang ke puncak ruang, Ih Seng menghela napas. “Jika air itu naik lagi sedikit, terowongan ini tentu akan terbenam. Jangankan engkau yang jarang hidup di daerah perairan, sekalipun Cin An Ki, kepala Tong-thing-ou itu berada disini, tak mungkin juga dapat lolos dari bahaya maut semacam ini….”- tiba-tiba ia tertawa keras. Serunya, “Sayang , sayang kalau dia berada disini ingin kulihat bagaimana dia hendak menanggulangi keadaan ini!”

“Menyusup laut selulup ke kali, tidak sukar. Yang sukar adalah menerobos keluar dari makam rahasia sini!”

Ih Seng tertawa lebar, “Kalau aku beruntung bisa keluar dari sini, kelak akan kuusahakan supaya Cin An Ki juga masuk kemari!”

Dalam pada bicara itu, airpun sudah naik lagi setinggi dada. Hanya saat itu aliran air tak sederas tadi. Rupanya seluruh terowongan di bawah makam itu sudah tergenangi semua.

Han Ping anggap bahwa jika air tak surut, tak mungkin dia dapat keluar, Sedang Ih Sengpun memeras otak untuk mencari jalan keluar. Ia heran mengapa tadi air mengalir begitu deras sekali. Jelas tentu bukan berasal dari sumber air tetapi pasti dari luar. Jika dapat menemukan lubang asal air itu, kemungkinan tentu dapat meloloskan diri.

Ia segera menyatakan pendapatnya kepada Han Ping, “Daripada tinggal disini menunggu maut, lebih baik kita berusaha maju ke muka menempuh air untuk mencari darimana air itu masuk. Kemungkinan kita akan terlepas dari bahaya ini!”

Han Ping setuju.

Walaupun air tak deras, tetapi karena harus berjalan di terowongan yang licin dan menempuh air sebatas pundak, mereka merasa sukar sekali. Untung keduanya memiliki tenaga dalam yang hebat sehingga langkah kakinya kokoh sekali.

Air tetap mengalir semakin naik. Dalam beberapa waktu lagi tentu mereka akan terendam sampai ke kepala. Dan celakanya, air mulai mengalir makin deras lagi.

Setelah dapat melintasi beberapa tikungan lorong, mereka disambut oleh gelombang yang deras sekali, Ketika memandang ke atas dinding, ternyata mereka telah mencapai uyung terakhir dari terowongan itu.

Ternyata dinding batu yang melintang itu, merusakkan sumber asalnya air. Tetapi kita tak berdaya menghadapi air yang begitu deras!” kata Ih Seng.

Han Ping menyatakan hendak mencoba. Dengan miringkan tubuh ia maju ke muka. Walaupun hanya beberapa tombak jauhnya, tetapi sukarnya bukan kepalang. Napas mereka terengah-engah.

“Tunggu disini, aku hendak memeriksa dinding batu itu,” kata Han Ping seraya nekad menyelam ke dalam air. Setelah beberapa saat meraba-raba ia menjamah dua utas rantai besi sebesar lengan orang. Dengan kerahkan tenaga, ia menariknya sekuat tenaga. Tetapi rantai itu kerasnya bukan main. Dan pada lain saat malah tubuhnya terangkat air ke atas lagi.

Karena tak pandai berenang, ia terminum air, dan ia makin kalang kabut, menyambar kian kemari. Apa saja yang dapat dicekalnya, asal bisa untuk pegangan. Ia lupa bahwa dinding terowongan itu licin dan rata sekali.

Tiba-tiba tangannya terperosok ke sebuah liang cekungan. Tangannya menjamah sebuah benda mirip pedang. Dengan sekuat tenaganya ia memegang benda itu sehingga tubuhnya tenang dari hanyutan air, ia menghela napas lalu berpaling ke arah Ih Seng.

Ih Seng tetap tegak berdiri bersandar dinding. Air sudah membenam lehernya. Sekejap lagi dia tentu mati terbenam. Buru-buru Han Ping meneriakinya supaya berenang ke tempatnya. Tetapi Ih Seng gerakkan tangannya menolak. Sebenarnya dia sudah terhuyung-huyung mau rubuh. Karena menyandar dinding, ia masih dapat berdiri tegak. Maka tak berani ia mengisarkan kakinya sedikitpun juga.

Tiba-tiba Han Ping terkejut girang. Air yang merendam Ih Seng itu makin menyurut. Kini kedua bahu orang itu sudah mulai tampak lagi dan dengan cepat sekali air menyurut lenyap.

Setelah tinggal lututnya yang terendam air, Ih Seng loncat ke tempat Han Ping. Ternyata Han Ping telah berhasil menemukan alat penggerak air yang berada dalam liang cekung dinding itu.

“Ah, kalau saudara Ji tak menemukan perkakas rahasia tepat pada waktunya kita tentu sudah mati. Ah, kematian itu memang sudah nasib!”

Setelah air surut, Han Ping mengharapkan akan melihat rantai yang melintang pintu masuk ke terowongan. Tetapi ternyata ia tak mendapat yang diharapkan. Kini baru ia menyadari bahwa rantai pintu masuk itu tentu masih terpisah dengan selapis dinding batu lagi.

Ketika mengamati cekung, selain yang dipegangnya, masih terdapat dua batang benda semacam pedang lagi. Ia lepaskan cekalannya, “Ketiga benda ini tentu mempunyai kegunaan masing-masing. Mari kita gerakkan,”- tiba-tiba kata-katanya terputus oleh sebuah papan batu di sebelah kanan yang menerjang ke arahnya, terus menutup cekung liang.

Ih Seng menghela napas, “Ah, makam ini benar-benar luar biar sekali. Belum pernah kusaksikan peristiwa semacam ini. Rasanya di dunia ini hanya Nyo Bun Giau ketua marga Nyo, yang mengerti rahasia alat perkakas disini.”

Han Ping diam merenung. Beberapa saat kemudian ia berseru, “Mengapa takut?”

Ih Seng terbeliak, “Setengah umurku telah kulewatkan dalam hujan senjata. Aku sudah tak menghiraukan soal mati lagi!”

Han Ping tak mau menggubris. Ia memberi keterangan tentang ketiga alat putaran macam pedang itu, “Yang sebelah kiri, untuk menggerakkan air. Dan yang kedua akan kucoba dulu, entah untuk apa….”- cepat ia dorongkan tangan kanan ke langit terowongan. Langit merekah dan segera tarik alat putaran yang di tengah. Terdengar bunyi dinding batu bergemuruh. Sesaat kemudian, dinding ruang batu di sebelah muka merekah sebuah pintu. Han Ping ajak kawannya masuk.

Lima belas tombak jauhnya, membelok sebuah tikungan mereka terkejut melihat beberapa tulisan hitam menghadang jalan, Bunyinya:

“Berani masuk selangkah saja, akan terjeblos dalam Neraka.”

Huruf-huruf itu dibentuk dengan jajaran mutiara sebesar buah kelengkeng. Ih Seng makin heran. Dilihatnya Han Ping tundukkan kepala merenung. Beberapa saat kemudian baru pemuda itu membuka mulut, “Ko Tok lojin itu tentu luar biasa cerdiknya. Peringatan yang ditampilkan dengan huruf-huruf mutiara itu, tentu menyeramkan sekali!”

Ih Seng menyatakan, lebih baik menerjang masuk. Han Ping setuju. Ia lepaskan hantaman dahsyat. Dinding hitam bertulis mutiara itu mendengung-dengung tetapi sedikitpun tak berkisar.

“Tak perlu membuang tenaga, sia-sia sajalah karena dinding hitam itu terbuat dari besi baja….”- tiba-tiba Ih Seng hentikan kata-katanya. Ia memperhatikan sebuah mutiara tulisan itu seperti bergerak bergoncangan. Segera ia maju memeriksa. Begitu menjamah, mutiara itu melesak ke dalam dinding semua. Dinding baja berderak menyingsing ke samping dan di tengahnya terbukalah sebuah lubang pintu.

Begitu Han Ping melangkah masuk, ia tercengang-cengang di ambang pintu.

Di dalam ruang itu berjajar 9 buah peti mati yang penuh debu dan sarang gelagasi. Han Ping dan Ih Seng maju menghampiri. Baru lima langkah, terdengar letupan dan berhamburanlah debu serta sarang gelagasi yang melumuri peti-peti mati itu. Ketika berpaling, Han Ping dapati pintu tadipun sudah mengatup rapat lagi.

Mencabut kipas besinya, Ih Seng tertawa gelak-gelak, “Di dalam 9 buah peti mati itu tentu terdapat jenazah Ko Tok lojin. Karena dia mengurung kita disini. kitapun hancurkan saja mayatnya!”

“Nanti dulu, saudara Ih, jangan buru-buru turun tangan,” cegah Han Ping ketika jago Ih itu hendak bergerak.

Pada saat itu Ih Seng sudah ulurkan tangan hendak menarik salah sebuah peti. Tetapi diam-diam ia terkejut sekali, dan buru-buru lepaskan tangannya,

“Peti mati ini bukan terbuat dari kayu!” serunya,

Ketika memeriksa Han Pingpun terkejut. Peti mati itu terbuat dari papan batu yang diukir dan luarnya dilumuri minyak politur.

“Menilik kehebatannya Ko Tok lojin mengatur makam ini dengan berbagai alat-alat rahasia, ke 9 peti mati ini tentu mempunyai kegunaan yang istimewa,” – kata pemuda itu.

Ih Seng memuji ketajaman anak muda itu.

“Terkurung dalam makam dengan alat-alat rahasia yang begini hebat, sukar kiranya kita bisa lolos dari kematian….”

“Kalau begitu lebih baik kita mengamuk saja dulu agar matipun puas!” kata Ih Seng

Han Ping meminta agar jago she Ih itu tenang dan jangan sampai kacau menghadapi ruangan berisi 9 buah peti mati itu. Makin kacau, makin merangsang kalang kabut dan makin tak dapat menemukan jalan keluar.

Ih Seng memuji ketabahan anak muda itu. Kemudian Han Ping mengatakan pula bahwa karena ruangan disitu amat gelap sekali, maka ia mengajak kawannya untuk duduk bersemedhi mengumpulkan semangat.

Setelah beberapa saat bersemedhi, keduanya berbangkit dan rasakan semangatnya bertambah, pandang matanyapun makin tajam. Tetapi mengerlingkan mata ke seluruh ruangan, mereka tak melihat sesuatu. Akhirnya Han Ping ayunkan pukulan ke sebuah peti mati yang berada di sebelah kanan. Terdengar bunyi mendengung-dengung.

“Menilik bunyinya, peti itu tiada berisi. Tolong saudara jagakan, hendak kubuka peti itu.” kata Han Ping seraya maju menghampiri. Krak! tutup peti terangkat dan keduanya melongok ke dalam. Kedua serentak terbeliak.

Ternyata di dalam peti itu terdapat sebuah lubang yang menjurus ke bawah. Selain itu, tiada terdapat suatu apa lagi. Han Ping mendorong peti itu ke samping dan memeriksa liang. Tetapi sampai sekian lama tak tampak suatu perubahan. Dia makin heran, “Hm, entah permainan apakah yang dihidangkan Ko Tok lojin itu….”

“Hayo, kita buka lagi yang satunya!” seru Ih Seng. Han Pingpun segera menghampiri peti yang kedua. Dengan kerahkan tenaga, ia mengangkat tutup peti itu. Tetapi belum sempat melongok isinya, tiba-tiba Ih Seng berteriak menyuruhnya lepaskan lagi.

Han Ping buru-buru lepaskan tangannya. Tetapi pada saat penutup sedang turun mengatup, dari dalam peti itu menyembur semacam air dingin sehingga kedua orang itu basah kuyup.

“Ko Tok lojin hanya pandai menyerang orang dengan air,” belum selesai Ih Seng memaki sekonyong-konyong ia membau hawa anyir.

Cepat keduanya berpaling ke arah peti mati yang pertama tadi. Terlihat seekor ular sebesar mangkuk tengah ngangakan mulut dan merayap ke tempat mereka.

Han Ping terkejut sekali dan menyurut mundur. Ih Seng yang banyak pengalaman segera mengetahui bahwa ular yang sisiknya berkilau-kilauan itu tentulah jenis ular yang luar biasa racunnya. Cepat ia mencabut pedang peraknya dan melangkah di hadapan Han Ping. Kipas besinyapun ditebarkan untuk melindungi diri, “hati-hati, saudara Ji, itulah ular sisik emas yang luar biasa racunnya. Apabila digigitnya, dalam 3 jam saja tentu sudah tak tertolong….”

Saat itu ular sisik emas makin mendekati. Lidahnya yang merah menjulur buas. Cepat Ih Seng kebutkan kipas besi untuk melindungi diri lalu menabas dengan pedangnya. Crek…. ular emas itu mendesis keras dan menggeliat ke samping.

“Hai, pedangku ini tajam sekali. Dapat menabas segala logam. Tetapi ternyata tak mempan menabas ular itu,” Ih Seng terbeliak kaget.

Ular itupun menyurut mundur dan masuk ke dalam peti batu. Kepalanya menjulur keluar, memandang kedua orang itu.

“Ular itu sekujur badannya berbisa semua. Ilmu silat yang sakti tak dapat digunakan kepadanya. Aku pakai kipas dan saudara boleh gunakan pedangku ini!”

Tetapi Han Ping menolak, tiba-tiba ia lepaskan hantaman lagi. Dan untuk yang kedua kalinya ular sisik emas itu terpental balik, membentur dinding batu dan jatuh berhamburan ke tanah.

Pukulan itu tak kurang dari delapan ratus kilo beratnya. Tetapi tetap tak dapat menghancurkan ular itu. Ular itu kembali ke dalam peti lagi dan menunggu serangan kedua orang.

Diam-diam Han Ping memutuskan akan membasmi ular yang berbahaya itu lebih dulu. Ia membisiki Ih Seng, “Saudara Ih, dalam 9 peti mati ini tentu masing-masing diperlengkapi dengan alat atau binatang maut. Sekalipun tak kita buka, peti-peti mati itu tentu akan membuka sendiri. Hayo, kita lenyapkan dulu ular itu!”

“Ular itu tak mempan senjata tajam, tak mudah membunuhnya,” kata Ih Seng.

“Aku mempunyai akal. Akan kupancing supaya dia ngangakan mulut lalu saudara menaburnya dengan senjata rahasia,” kata Han Ping.

Ih Seng tertawa memuji kecerdikan pemuda itu. Ia terus serahkan pedang perak kepada Han Ping, “Ular itu luar biasa beracun, kurang tepat kalau ditangkap dengan tangan. Harap pakai pedangku ini!”

Setelah Han Ping menyambuti dan menghampiri ular. Ih Sengpun siapkan dua batang gin-soh.

Pada saat itu haripun sudah terang tanah. Diluar makam, tampak seorang lelaki berpakaian kaum persilatan, tengah memandang terlongong ke arah makam itu. Ternyata orang itu adalah anak buah Ih Seng. Ia tak dapat berbuat suatu apa. Sampai terang tanah belum juga kedua orang itu muncul lagi.

Akhirnya ia memutuskan. Daripada menunggu disitu tiada gunanya lebih baik ia pulang mengundang tokoh-tokoh Rimba Hijau yang sakti dari 4 propinsi untuk menghancurkan makam ini dan menolong ketuanya.

Segera ia mencabut golok untuk membuat liang pengubur kawannya yang binasa tadi. Selesai mengubur sang kawan, ia hendak berlalu. Tetapi tiba-tiba terdengar suara orang tertawa gelak-gelak. Ia terkejut dan buru-buru bersembunyi di balik pohon besar.

Seorang tua bersanggul pedang muncul dengan dua kawan. Tiba di muka makam, orang tua yang menyanggul pedang itu memandang ke sekeliling penjuru. Sambil menunjuk ke arah sebuah patung, ia tertawa, “Hati-hati saudara Kim, mungkin patung itu diberi alat rahasia!”

Walaupun dari jarak jauh tetapi sekali pandang sudah dapat mengetahui patung itu berisi alat rahasia atau tidak, membuat lelaki yang mengiring di belakang, terkejut. Demikianpun orang yang dipanggil sebagai saudara Kim.

“Kemahsyuran nama saudara Nyo sebagai ahli alat-alat rahasia, memang bukan nama kosong!” seru kawannya yang dipanggil Kim itu.

Tiba-tiba orang tua bersanggul pedang itu tertawa gelak-gelak dan berseru nyaring, “Ha, siapakah yang bersembunyi itu? Mengapa tak tampil keluar unjuk diri? Apakah itu laku seorang ksatria?”

Secepat kilat orangtua itu berputar tubuh dan memandang ke atas pohon besar.

Anak buah Ih Seng yang sudah ketahuan jejaknya itu terpaksa turun dari pohon.

“Dari perguruan manakah saudara ini?” tegur orang tua itu sambil tertawa.

Anak buah Ih Seng itu menerangkan siapa dirinya.

“Engkau kenal padaku?” tiba-tiba orang tua itu kerutkan alis.

Sejenak merenung, anak buah Ih Seng menyahut, “Kalau tak salah loenghiong (jago tua) ini tentulah ketua marga Nyo yakni Perancang sakti Nyo.”

Orang tua itu tertawa mengangguk, “Benar, ah tak kira kalau di Tionggoan, ada orang yang kenal diriku.”

Kemudian ia menanyakan dimana saat itu Ih Seng berada.

“Ini…. aku tak berani mengatakan….” kata orang itu tersekat-sekat.

Secepat kilat orang she Kim sudah berputar, tubuh dan tahu-tahu berada di belakang anak buah Ih Seng, terus memukul. Huak…. anak buah Ih Seng tak sempat menghindar. Ia muntah darah terus rubuh ke tanah.

“Tangkas sekali saudara Kim bergerak,” – ketua marga Nyo yang lengkapnya bernama Nyo Bun Giau memuji.

Jawab orang tua bertangan kosong, “Kipas besi pedang perak Ih Seng amat berpengaruh sekali di 4 propinsi. Lebih baik anak buahnya ini dilenyapkan!”

“Benar,” kata Nyo Bun Giau, “tetapi karena anak buahnya disini, Ih Seng tentu berada di tempat ini juga!”

“Ya, akan kuselidiki di sekeliling tempat ini. Kalau berjumpa dengan Ih Seng atau anak buahnya yang lain, akan kubasmi sama sekali!”

Setelah merenung sejenak, berkatalah Nyo Bun Giau, “Apakah saudara Kim benar yakin bahwa tempat yang dimaksudkan oleh kotak pedang Pemutus Asmara itu benar di kuburan ini?”

Orang tua yang tangannya merah tidak segera menyahut. Setelah memandang sekeliling penjuru, baru ia berkata dengan berbisik, “Dua puluh tahun lamanya kuhabiskan waktu untuk hal itu. Percayalah saudara Nyo!”

Nyo Bun Giau tersenyum, “Baiklah, saudara yang menyelidiki arah barat dan utara. Aku yang memeriksa arah timur dan selatan. Satu jam lagi kita bertemu disini.” Dalam berkata itu Nyo Bun Giau sudah melesat ke timur.

Kedua orang itu menyelidiki dengan cermat sekali. Setiap gunduk, gerumbul bahkan rumput yang dianggap dapat digunakan tempat bersembunyi orang, tentu diperiksa. Sejam kemudian mereka kembali ke kuburan besar lagi.

Nyo Bun Giau membuat liang kubur untuk menanam anak buah Ih Seng yang terbunuh tadi. Setelah itu baru ia menghampiri si Tangan merah dan menanyakan hasil penyelidikannya, “Saudara mendapatkan apa yang aneh di tempat ini?”

Orang tua bertangan merah itu menyatakan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

“Tadi telah kubongkar dua buah kuburan. Ternyata di dalamnya tak terdapat tulang-tulang mayat, jika tak salah, gunduk-gunduk kuburan disini, mungkin merupakan alat-alat rahasia….” ia berhenti sejenak lalu, “ah, bangunan besar yang luar biasa ini, bukan sembarang orang mampu mengerjakan. Empat puluh tahun lamanya kusempurnakan bangunan Nyo ke poh. Tetapi tetap masih tak berarti jika dibanding dengan bangunan disini!”

Orangtua tangan merah itu mengeluarkan sebuah kotak pedang, katanya, “Hampir seluruh hidupku kuhabiskan untuk mencari tempat yang tertera pada kotak pedang ini. Jika benar Allah lalu mengabulkan permohonan manusia yang dihaturkan sungguh-sungguh, tentulah jerih payahku akan terbalas.”

Nyo Bun Giau hanya memandang kotak itu.

Sambil serahkan kotak itu, orang tua tangan merah itu berkata, “Aku selalu bekerja dengan terang-terangan, tak suka plin-plan. Jika saudara Nyo dapat memecahkan alat rahasia makam ini, apa saja yang tersimpan dalam makam ini, kita nanti bagi separuh….”

“Ah, bagaimana aku berani mengharap bagian yang sedemikian besar. Bukankah saudara yang telah berjerih payah puluhan tahun?” Nyo Bun Giau tertawa.

“Ah, janganlah saudara merendah diri. Aku yang menemukan rahasia kotak pedang itu tetapi saudara yang mampu membongkar rahasia makam ini. Sudah selayaknya kita bagi separuh,” kata orang tua tangan merah itu seraya angsurkan kotak kepada Nyo Bun Giau.

Berhadapan dengan kotak pedang yang sangat diidam-idamkan oleh setiap orang persilatan, Nyo Bun Giau tenang-tenang saja menyambuti, “Bagaimana saudara memastikan bahwa tempat penyimpanan harta pusaka itu berada di makam sini?”

Sejenak merenung, orang tua tangan merah itu menjawab, “Mengenai soal itu, bukan aku hendak membanggakan diri. Tetapi memang di seluruh dunia, sukar mencari orang yang mengetahuinya.”

“Apakah saudara tak keberatan untuk memberitahukan tentang rahasia itu agar menambahkan pengalamanku?” tanya Nyo Bun Giau.

Rupanya orang tua bertangan merah itu tak mau memberitahukan rahasia tersebut. Beberapa saat kemudian ia berkata, “Rahasia itu menyangkut luas sekali. Sukar diduga oleh orang-orang yang tak tersangkut. Banyak padri-padri sakti dari Siau-lim-si yang tersangkut dalam perisliwa itu….”- tiba-tiba ia berhenti karena merasa telah kelepasan omong.

Diam-diam Nyo Bun Giau terkejut. Tetapi ia tetap bersikap tenang dan tertawa hambar, “Ah walaupun berpuluh tahun berkecimpung dalam dunia persilatan, aku belum pernah mendengar orang membicarakan hal itu. Pengalaman saudara Kim sungguh luas sekali.”

Dengan ucapan itu, secara halus ia mendesak supaya si tangan merah itu menceritakan lebih lanjut. Tetapi orang tua bertangan merah itupun juga berpengalaman. Sambil tersenyum ia berkata, “Atas kesediaan saudara untuk membantu usahaku memecahkan alat rahasia makam tua ini, aku Kim loji sungguh merasa berterima kasih sekali. Tetapi….”- ia hentikan kata-kata dan berdiam diri.

Nyo Bun Giau yang berpengalaman tahu bahwa kalau ia mendesak. Kim loji itu tentu akan menolak. Maka ia tak mau berkata apa-apa dan hanya menunggu orang membuka mulut lagi.

Diam-diam Kim loji mendamprat dalam hati. Ia menengadahkan kepala, menghela napas panjang, “Atas bantuan saudara, memang aku amat berterima kasih sekali. Tetapi tentang rahasia dari kotak pedang Pemutus Asmara itu, sungguh aku mempunyai kesulitan untuk menuturkannya!”

“Memang kuduga tentu begitu. Tetapi jika saudara mempunyai kesulitan, aku bersedia mendengarkannya. Mungkin aku dapat membantu.”

“Peristiwa itu terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu. Sekalipun menimpa diriku, pun sudah usang. Apalagi aku hanya orang luar. Tetapi soalnya aku sudah berjanji pada orang. Selama masih hidup, aku takkan membocorkan rahasia itu kepada lain orang,” kata Kim loji.

Tahu bahwa orang berkeras tak mau mengatakan, Nyo Bun Giaupun segera mengalihkan pembicaraan. Ujarnya, “Menilik bangunan makam yang sedemikian hebatnya, tentu di dalamnya juga dilengkapi dengan alat-alat rahasia yang bermacam-macam. Walaupun orang menyohorkan diri sebagai seorang ahli alat-alat rahasia, tetapi sesungguhnya kepandaianku tak berapa tinggi. Kukuatir kemampuanku tak dapat memecahkan rahasia makam tua ini….”

“Ah, janganlah saudara Nyo kelewat merendah diri,” buru-buru Kim loji berkata, “kalau saudara Nyo tak bisa, kiranya di dalam dunia ini tiada lagi seorangpun yang mampu memecahkan rahasia makam tua ini….” ia berhenti menghela napas, lalu melanjutkan berkata lagi, “apalagi orang yang mengetahui rahasia makam tua ini tentu sudah meninggal. Dengan demikian makam tua ini akan tertutup rahasianya selama-lamanya….”

“Ah, saudara kelewat menyanjung diriku,” kata Nyo Bun Giau, “sekalipun tanpa menghiraukan bahaya aku beruntung dapat memecahkan rahasia makam tua ini….”

“Ah, apakah saudara Nyo kuatir akan bekerja secara sia-sia?” seru Kim loji.

“Dunia persilatan penuh dengan orang-orang yang licik dan jahat. Maka kemungkinan menyadari keadaan itu, Ko Tok lojin lalu sengaja membuat makamnya dengan dilengkapi bermacam-macam alat rahasia. Sebenarnya dalam hal harta karun, aku tak menaruh minat. Karena Nyo-ke-poh sudah cukup dengan harta permata. Adalah karena tak enak menolak permintaan saudara Kim, maka aku ikut kemari. Ah, siapa tahu ternyata bangunan makam tua ini begini luar biasa! Terus terang, aku tak mempunyai keyakinan lagi untuk dapat memecahkan rahasia makam tua ini. Kalau di dalam makam itu memang terdapat benda pusaka yang jarang terdapat di dunia, itu masih mending. Tetapi kalau hanya harta benda saja, rasanya tidak sepadan dengan pengorbanan kita”

Mendengar ucapan itu, diam-diam tergetarlah hati Kim loji. Tetapi dia seorang yang berpengalaman, tahulah ia apa yang terkandung dalam hati Nyo Bun Giau.

“Hm, si keparat ini benar-benar licin sekali,” memaki dalam hati. Namun ia pura-pura tak mengerti dan berkata, “Kupercaya sekalipun tanpa petunjuk dalam kotak pedang itu, saudara Nyo tentu mampu memecahkan rahasia makam tua ini. Apalagi kita sudah memiliki denah pada kotak pedang itu. Dengan mudah saudara Nyo tentu dapat. Tentang apa yang aksn terdapat dalam makam ini, selain harta karun yang tak ternilai jumlahnya, sebagai contoh akan kusebutkan dua macam benda pusaka yang kiranya saudara Nyo tentu mengagumi!”

“Silahkan saudara mengatakan!”

“Tahukah saudara dua macam benda pusaka yang disebut Tenggoret Kumala dan Kupu Emas?”

Seketika itu Nyo Bun Giau rasakan dadanya seperti dihantam palu sehingga tubuhnya menggigil. Serunya tegang, “Apa? Tenggoret Kumala dan Kupu Emas juga berada dalam makam ini?”

Betapapun kuat iman orang she Nyo itu dalam mengendalikan perasaannya, tetapi ketika mendengar nama kedua macam benda itu, ia kehilangan ketenangannya lagi.

Kim loji tertawa, “Benar, Tenggoret Kumala dan Kupu Emas, semua berada dalam makam ini!”

Nyo Bun Giau memperoleh ketenangannya lagi, ujarnya menegas, “Benarkah itu?”

“Seumur hidup belum pernah aku berdusta. Harap saudara Nyo jangan bimbang.”

“Cukup kedua benda itu saja, sudah berharga untuk kita tempuh bahaya,” kata Nyo Bun Giau lalu duduk bersila di tanah. Kotak pedang Pemutus Asmara diletakkan di lututnya. Sambil memeriksa, tangannya membuat guratan di tanah. Beberapa saat kemudian, ia tenggelam dalam mempelajari denah pada kotak pedang itu hingga lupa pada Kim loji.

Diam-diam Kim loji memperhatikan gurat-gurat di tanah itu. Tetapi yang dilihatnya hanya dua tiga angka saja. Entah apa sebabnya. Diam-diam ia membenarkan apa yang disohorkan orang terhadap diri Nyo Bun Giau itu. Orang persilatan memberinya gelar Perancang sakti.

Sepeminum teh lamanya, Nyo Bun Giau berhenti menggurat tanah ia memandang ke langit. Dahinya mengeriput seperti menghadapi soal yang sulit.

Karena sudah sekian lama akhirnya Kim loji tak sabar lagi. Segera ia menanyakan tentang hasilnya.

Nyo Bun Giau berpaling ke belakang menyahut dingin, “Ilmu bangunan apa saja, tentu takkan terlepas dari perhitunganku. Tak mudah untuk mengelabui mataku. Tetapi kalau kotak pedang ini bukan disengaja oleh Ko Tok lojin untuk menyesatkan orang, tentulah saudara Kim belum berhasil memperoleh denah peta yang asli dari makam ini.”

“Pedang Asmara tajamnya bukan kepalang. Di dunia hanya terdapat sebatang. Dengan mata kepala sendiri kusaksikan pedang itu dilolos dari kotak ini. Bagaimanakah kotak itu dikata palsu?” sahut Kim loji.

Tiba-tiba Nyo Bun giau tertawa meloroh. Sambil berbangkit ia berkata, “Sekalipun tanpa peta rahasia makam tua ini juga tak mungkin dapat membingungkan aku!” ia terus melangkah menghampiri persada makam.

Begitu tiba di dekat persada, ia berpaling ke arah Kim loji, serunya, “Harap saudara jangan kuatir. Jika makam ini benar seperti yang engkau katakan tadi ialah penuh dengan alat-alat rahasia, maka alat yang pertama ialah patung penyangga makam itu….” ia terus ulurkan tangan memegang batu hitam di atas persada. Tetapi cepat-cepat ia menarik tangannya kembali karena menyentuh air dingin. Ketika memeriksa benda itu, ia berseru kaget, “Ah sebuah batu dingin dari ribuan tahun usianya….”

Kim loji cepat menghampiri dan memegang batu hitam itu. Diam-diam ia memuji mata Nyo Bun Giau yang dapat mengenali batu itu sebagai batu Kumala dingin yang berumur ribuan tahun….

Tetapi karena sudah mendengar keterangan Nyo Bun Giau, ia tak mau lekas-lekas menarik tangannya bahkan malah memutarnya. Terdengar bunyi berdetak-detak dan mulailah batu itu berputar….

“Lekas menyingkir!” teriak Nyo Bun Giau mendahului loncat ke samping.

Tetapi agaknya Kim loji tak begitu percaya. Tengah dia masih tertegun, tiba-tiba serangkum angin meniup dan patung penyangga makam itu bergerak.

Kim loji loncat ke tempat Nyo Bun Giau. Di tengah udara ia rentangkan kedua tangannya dan meluncur ke tanah. Pada saat ia menginjak tanah, Nyo Bun Giau malah menyerbu ke persada makam.

Duk…. patung penyaga makam itu menghantamkan papan batu yang dipegangnya ke atas makam. Batu dan rumput berhamburan. Diam-diam Kim loji terkejut. Tempat yang dihantam patung penyangga itu, adalah tempat yang ditempatinya tadi.

Nyo Bun Giau mencekal papan batu hitam dan digoyang-goyangkan. Terdengar bunyi menderak-derak dan persada makam itu tiba-tiba merekah, terbuka sebuah pintu.

Kuatir kalau ditinggal masuk, Kim loji buru-buru loncat ke pintu batu itu. Nyo Bun Giau tahu maksud orang. Ia menyisih ke samping dan mempersilahkan Kim loji masuk lebih dulu.

Kim loji tertegun, “Ah, masakan aku berani melancangi saudara Nyo?”- Ia tak berani masuk lebih dulu karena kuatir akan celaka oleh alat-alat rahasia dalam makam itu.

Nyo Bun Giau segera melangkah masuk dan Kim loji mengikutinya lekat-lekat. Rupanya Nyo Bun Giau tahu isi hati orang. Namun ia pura-pura tertawa. Sambil berjalan perlahan-lahan, tak henti-hentinya ia berpaling ke kanan kiri untuk mengingat-ingat keadaan tempat itu.

Kira-kira dua tiga meter jauhnya, tiba-tiba terdengar bunyi berderak-derak. Pintu batu tadi menutup lagi. Terowongan gelap gulita.

Kim loji tertegun dan bertanya dengan perlahan, “Saudara Nyo, apakah peta di atas kotak pedang itu juga terdapat petunjuk tentang pintu batu ini? – diam-diam ia curiga, jangan-jangan Nyo Bun Giau hendak main gila.

Orang she Nyo itu menyahut dingin, “Saudara begitu banyak curiga kepadaku, benar-benar membuat hatiku tawar saja. Kalau begitu silahkan saudara sendiri saja yang masuk ke dalam makam ini!”

Ternyata pada saat keadaan gelap karena pintu batu tertutup itu, Nyo Bun Giau sudah melesat ke muka beberapa meter jauhnya.

Diam-diam Kim loji terkejut, pikirnya, “Hm, orang ini memang mencurigakan sekali. Aku harus mengawasinya.”

Iapun segera melesat ke samping orang she Nyo itu seraya berseru, “Jangan salah paham, saudara. Jika aku mencurigai, masakan aku meminta bantuan saudara?”

Tiba-tiba keadaan berkilat terang, Ternyata Nyo Bun Giau telah menyulut sebatang korek, “Harap saudara Kim berkata dengan sungguh hati. Saat ini kita berada dalam keadaan yang berbahaya. Jika tak mau saling membantu, dikuatirkan….”

“Jangankan memang tak punya pikiran begitu, andaikata mengandung kecurigaan begitupun sama halnya dengan mencari mati sendiri. Dalam dunia persilatan siapakah yang mampu menandingi keahlian saudara Nyo dalam ilmu alat-alat jebakan? Sekali saudara mau jail gerakkan sebuah alat, tentulah aku akan mampus disini!”

Habis berkata, diam-diam Kim loji kerahkan tenaganya bersiap-siap. Asal tampak wajah orang she Nyo itu mengunjukkan pancaran hatinya yang jahat, ia segera hendak mendahului turun tangan membunuhnya.

Nyo Bun Giau tertawa gelak-gelak, “Ah, janganlah saudara Kim memandang diriku semacam orang begitu! Nyo-ke-poh termasuk salah satu dari Tiga Marga besar. Aku tak berani membanggakan diriku sebagai seorang ksatria, tetapi selama ini aku benci terhadap perbuatan yang mencelakai orang secara pengecut, jika memang aku tak puas terhadap saudara, tentu segera kuajak saudara bertanding secara terang-terangan….”

“Ah, aku hanya bergurau saja. Harap saudara Nyo jangan marah,” kata Kim loji.

Dalam pada bercakap-cakap itu, mereka sudah berjalan beberapa tombak jauhnya. Tiba-tiba mereka mendengar gemercik air mengalir, Nyo Bun Giau segera memadamkan koreknya dan tertawa, “Harap saudara Kim pejamkan mata beristirahat. Sebentar lagi kita akan memasuki tempat yang berbahaya.”

Kim loji menurut. Setelah melakukan penyaluran napas beberapa saat, ia membuka mata lagi. Saat itu ia dapat melihat keadaan lebih jelas.

“Bagaimana ilmu berenang saudara?” tegur Nyo Bun Giau.

“Dalam hal ini, terus terang saja, aku seorang binatang darat. Kebalikannya, kupercaya saudara Nyo tentu mahir dalam ilmu berenang,” kata Kim loji. Kemudian ia menatap perubahan air muka Nyo Bun Giau.

Orang she Nyo itu hanya tertawa hambar, “Karena terdengar bunyi gemercik air, di dalam makam ini tentu terdapat alat-alat rahasia untuk menguasai air. Jika tak hati-hati dan sampai menyentuh alat itu, tentu kita akan terendam air. Karena saudara Kim tak pandai berenang, silahkan mengikuti di belakangku saja. Sesungguhnya aku belum yakin sekali akan dapat memecahkan alat-alat rahasia disini. Maka terpaksa, sambil berjalan akan kukatakan setiap perubahan yang kita hadapi.”

Memang sekalipun pada kotak pedang pemutus Asmara itu telah tertera gambar-gambar mengenai perlengkapan alat-alat rahasia dalam makam itu, tetapi karena ke 12 ahli bangunan yang menggarap makam itu, masing-masing mempunyai rancangan sendiri-sendiri, maka Nyo Bun Giau agak bingung dan mengatakan bahwa kota pedang itu dipalsukan.

Mereka berjalan lagi beberapa tombak. Di sebelah muka terdapat saluran air selebar satu meter. Airnya deras sekali dan jelas berasal dari aliran luar makam.

“Hai, orang telah mendahului kita masuk kesini!” tiba-tiba Nyo Bun Giau berseru kaget.

“Apa? Apakah dalam dunia persilatan dewasa ini masih terdapat tokoh lain yang paham tentang alat rahasia?” Kim lojipun terkejut.

“Jangan kuatir, mungkin orang itu sudah mati kelelap,” kata Nyo Bun Giau.

Atas pertanyaan Kim loji, Nyo Bun Giau menerangkan sambil menunjuk dinding batu, “Lihatlah dinding itu nanti saudara tentu percaya omonganku.”

Tetapi walaupun sudah memandang dengan seksama, Kim loji menyatakan tak melihat apa-apa.

Nyo Bun Giau tersenyum, “Ah, aku lupa kalau saudara tak pandai berenang….” ia menunjuk batu di atas kepalanya, “Lihatlah batu di atas ini banyak debu kotorannya. Tetapi kedua belah dinding ini bersih sekali, jelas tentu terendam air banjir.”

Kim loji memuji ketelitian orang she Nyo itu.

Dinding yang terendam air itu masih belum kering seluruhnya. Pertanda bahwa air itu belum lama menyurutnya. Dari pengalaman selama berpuluh tahun mempelajari ilmu bangunan, kuduga tentu ada orang yang lebih dulu telah masuk ke makam ini. Dan secara tak sengaja orang itu telah menyentuh alat-alat penggerak air sehingga membanjiri terowongan. Menilik sempitnya terowongan ini, betapapun pandai ia berenang, orang itu tentu tetap mati terbenam air.”

“Kalau begitu orang yang masuk kesini itu, tentu sudah mati!” Kim loji menegas.

“Kecuali dia beruntung mendapat alat penggerak air itu….”

Tetapi rupanya Kim loji masih gelisah. Ia masih menanyakan apakah orang itu sudah positip mati atau belum.

“Ah, itu soal kecil. Anggap saja tipis kemungkinannya mereka dapat hidup,” sahut Nyo Bun Giau.

Mereka melanjutkan perjalanan lagi. Sambil berjalan tak henti-hentinya perhatian Nyo Bun Giau meneliti keadaan di sekelilingnya. Setelah membelok dua buah tikungan, tiba-tiba di sebelah muka tampak terang benderang. Lorong yang sempit dan gelap tadi, saat itu berubah merupakan dua buah ruangan batu besar kecil yang terang seperti kaca. Penerangan itu berasal dari 4 butir mutiara yang dipasang di empat sudut.

Ruangan itulah yang didatangi Han Ping. Penuh dengan ratna mutu manikam yang tak ternilai harganya. Juga tulisan yang memberi peringatan agar orang jangan temaha harta dan hanya diperbolehkan mengambil sebuah saja, tetap masih terdapat disitu.

“Menilik isi ruangan ini, kabar yang didesas-desuskan orang itu memang benar,” kata Kim loji.

Tetapi Nyo Bun giau tawar-tawar saja terhadap harta karun itu. Tetapi dalam batin, diam-diam ia kagum sekali. Permata mustika yang terdapat disitu, jauh lebih hebat dari simpanannya di rumah.

“Saudara Nyo,” tiba-tiba Kim loji berkata, “rumitnya larangan dari Ko Tok lojin tidak boleh memasuki ruangan ini, menandakan bahwa disitu tentu terdapat perkakas rahasianya….”

Nyo Bun Giau mengatakan bahwa ia memang sedang memikirkan hal itu. Ia memeriksa ke empat dinding tetapi tiada menemukan suatu apa. Kim loji menganjurkan supaya Nyo Bun Giau memeriksa kotak pedang lagi. Sementara ia sendiri lalu kerahkan tenaga untuk mendorong pintu kamar. Tetapi sedikitpun tak bergeming malah ia sendiri tersurut mundur.

Nyo Bun Giau mengambil kotak pedang dan meneliti kamarnya. Kemudian ia menghampiri pintu batu itu dan mengukurnya. Beberapa saat kemudian, ia menyimpan kotak lagi lalu menekan sebuah huruf Khek (tamu ) dari papan peringatan tadi sekuat-kuatnya. Seketika terdengar bunyi berderak-derak dan terbukalah pintu itu lebar-lebar.

Kim loji cepat loncat ke ambang pintu dan berpaling, “Marilah saudara Nyo!”

Nyo Bun Giau tertawa, “Ah, saudara begitu curiga kepadaku, sungguh tak enak hatiku….”

“Jangan salah paham, aku sungguh-sungguh tak mencurigai saudara. Tetapi hanya kuatir pinyu ini akan menutup lagi maka terpaksa mendahului loncat kesini,” kata Kim loji.

Nyo Bun Giaupun segera melangkah masuk. Begitu berada di dalam, ternyata keadaan jauh berbeda sekali. Sebuah bangunan besar terdiri dari 6 atau 7 ruangan. Di tengah-tengah ruangan besar terdapat sebuah Ting atau bejana kaki tiga setinggi dua meter yang masih mengepulkan asap warna hitam.

Ternyata dinding ruangan besar itu terbuat dari batu hitam sehingga keadaannya gelap. Tiba-tiba pintu itu mengatup lagi. Ruangan makin gelap gulita. Walaupun kedua tokoh itu berilmu sakti tetapi tak urung mereka berdebar tegang juga.

“Saudara Nyo, tolong periksa lagi kotak pedang itu, apakah terdapat keterangan tentang kamar gelap ini,” akhirnya Kim loji tak tahan.

Terdapat Nyo Bun Giau tertawa meloroh dari sudut ruangan, serunya, “Silahkan kemari, saudara Kim. Kemungkinan ruangan ini akan terjadi sesuatu.”

Walaupun dalam hati memaki, namun terpaksa Kim loji perlahan-lahan menghampiri sudut ruangan. Dia memang seorang yang banyak curiga. Ia kuatir Nyo Bun Giau akan main gila, pun takut kalau alat-alat rahasia ruangan itu akan bergerak. Terpaksa ia berjalan setengah merangkak.

Tiba-tiba tampak api berkilat dan ruangan gelap itu mendadak terang. Tampak jenggot Nyo Bun Giau yang memanjang ke dada itu menyungging senyum kepada Kim loji. Dalam pandangan Kim loji senyum orang she Nyo itu terasa seram seperti iblis. Seketika ia teringat bahwa Nyo Bun Giau itu memang seorang tokoh yang ganas seram. Diam-diam menggigillah hati Kim loji.

Nyo Bun Giau duduk bersila di sudut ruang itu. Ia menyulut korek dan menanyakan apakah Kim loji juga membawa korek.

“Ah, sayang aku tidak membekal….” – belum habis Kim loji berkata, tiba-tiba Bejana kaki tiga itu berbunyi berderak-derak.

“Saudara Kim, lekas menyingkir kemari….!” buru-buru Nyo Bun Giau meneriaki. Kim lojipun cepat loncat ke samping orang.

Pada saat itu Nyo Bun Giaupun lontarkan koreknya ke arah bejana raksasa itu. Berbareng itu iapun serentak berbangkit terus loncat ke arah bejana itu, Kim loji mendengus dan terpaksa mengikuti jejaknya.

Wut, wut, wut…. terdengar angin mendesir tajam. Ternyata bejana raksana itu menghamburkan hujan anak panah ke empat penjuru.

Pada saat itu Nyo Bun Giau masih mengapung di atas. Cepat ia kerutkan sepasang kakinya untuk menahan diri lalu menggeliat ke atas lagi seraya lepaskan hantaman. Hujan anak panah itu berhamburan jatuh ke tanah dan berhenti.

Celaka adalah Kim loji. Karena terhalang oleh tubuh Nyo Bun Giau, ia tak dapat melambung lebih tinggi sehingga bajunya kena terlubang dua batang anak panah. Ia marah sekali tetapi karena sedang melambung di udara, ia tak dapat berbuat apa-apa.

Selekas turun ke lantai, ia siapkan tinju dan menegur keras, “Mengapa engkau memanggil aku datang sebaliknya engkau sendiri terus loncat ke udara menghindari hujan anak panah itu?”

Nyo Bun Giau hanya menyahut dingin, “Jika tak kupanggilmu kemari, kemungkinan engkau sudah mati di bawah hujan anak panah beracun…. dan apabila tak kulemparkan korek itu ke arah bejana, engkau tentu tidak tahu akan hujan panah itu!”

Diam-diam Kim loji memaki orang itu. Kini baru ia tahu bagaimana pribadi Nyo Bun Giau sebenarnya. Orang mengatakan orang she Nyo itu peramah dan baik budi, tetapi ternyata seorang iblis yang ganas. Diam-diam ia berjanji, apabila kelak keluar dari makam itu, ia hendak menyiarkan kebusukan Nyo Bun Giau ke seluruh dunia persilatan.

“Apapun penilaian saudara Kim, tetapi saat ini, kita berdua harus bahu membahu kerja sama. Kalau tidak, dikuatirkan kita takkan dapat keluar dari makam ini” tiba-tiba Nyo Bun Giau berkata.

“Aku Kim loji, bukan manusia yang mudah ditekan, hm, janganlah saudara Nyo kelewat memandang rendah kepadaku!” sahut Kim loji marah.

“Jika saudara tak percaya, mari kita coba,” kata Nyo Bun Giau berpaling seraya tertawa.

Mendadak Kim loji lekatkan kedua tangannya ke punggung Nyo Bun Giau, “Asal aku benar-benar mau melancarkan tenaga dalam, tentulah organ dalam tubuhmu hancur berantakan….”

Tawar-tawar saja Nyo Bun Giau menyahut tertawa, “Ho, jangan harap tinju saudara mampu meremukkan tubuhku. Tetapi andaikata orang she Nyo ini mati karena pukulanmu, kaupun jangan harap mampu keluar dari makam ini!”

Kim loji tertegun. Ia menarik pulang tangannya, “Sekalipun sudah lama mendengar nama saudara, tetapi baru ini hari aku benar-benar mengenal saudara.”

“Ah, jangan memuji….” baru Nyo Bun Giau menyahut begitu tiba-tiba bejana besar itu berderak-derak lagi dan berputar deras. Buru-buru Kim loji menyelinap bersembunyi di belakang Nyo Bun Giau.

Sejenak memandang ke arah bejana itu, Nyo Bun Giau segera suruh Kim loji mundur ke sudut ruang lagi. Habis berkata, jago she Nyo itu loncat ke atas bejana,

Gerakan Nyo Bun Giau cepat sekali dan tepat pada saat Kim loji terkejut mendengar perintah mundur tadi. Ia tak sempat lagi menghantam punggung orang. Dalam tertegun, diam-diam ia menyadari bahwa pukulannya tak mengenai tepat pada jalan darah she Nyo itu, tak mungkin dapat merubuhkannya.

Sebagai seorang pengalaman, ia tahu gelagat dan menyurut untuk mundur kesudut ruang, seraya berkata, “Harap saudara Nyo berhati-hati….”

“Jangan kuatir saudara!” sahut Nyo Bun Giau sambil tertawa. Ia segera menekan bagian bawah dari bejana itu.

Terdengar bunyi berderak-derak nyaring dan bejana yang berputar-putar itupun berhenti.

Bagian 19

Kisah Putus kasih.

Kim loji memandang lekat-lekat kepada gerak gerik Nyo Bun Giau. Selekas bejana berhenti berputar, cepat ia loncat menghampiri.

Tetapi Nyo Bun Giau mencegah, “Harap saudara Kim tetap berada di sudut situ dulu. Dikuatirkan bejana ini masih akan menaburkan….” – belum habis berkata bejana besar itu tiba-tiba menyemburkan air yang amis sekali baunya.

Kim loji rebahkan punggungnya ke lantai lalu berguling-guling kembali ke sudut ruangan lagi.

Air itu beracun dan menghamburkan hawa racun yang keras sekali. Dalam sekejap saja, seluruh ruang telah berselubung bau amis. Untunglah air itu segera berhenti menyembur. Tetapi bau busuk-busuk amis itu masih bertebaran. Sekalipun memiliki kepandaian sakti tetapi kedua tokoh itu tak dapat bertahan diri juga. Mereka rasakan kepala pening, isi perutnya mulai meliuk-liuk hendak muntah keluar.

Nyo Bun Giau segera mengeluarkan dua butir pil. Yang sebutir dikumurnya dalam mulut dan yang sebutir diserahkan kepada Kim loji seraya menyuruhnya mengumur.

Kim loji tak segera menelan pil itu melainkan memandang Nyo Bun Giau lekat-lekat.

Nyo Bun Giau tertawa, “Jangan kuatir, harap segera mengumurnya untuk menahan serangan bau. Jika pil itu mematikan orang, tentu aku yang akan mati lebih dulu!”

“Baiklah,” sahut Kim loji terus mengumurnya. Seketika ia rasakan perut dan dadanya nyaman. Rasa muak hendak muntahpun lenyap.

“Harap saudara Kim kemari membantuku menghentikan bejana ini!” seru Nyo Bun Giau.

Kim loji perlahan-lahan menghampiri. Tetapi masih kurang 7-8 langkah, tiba-tiba ia berhenti.

Nyo Bun Giau loncat turun dari atas bejana, serunya, “Jika perhitunganku tak salah, tak sampai seperempat jam lagi, bejana ini tentu akan menyingkir sendiri.”

Kim loji mengiakan saja. Ia menyadari bahwa jiwanya saat itu berada di tangan Nyo Bun Giau. Setiap saat jika mau, orang she Nyo itu dapat mencelakainya.

Nyo Bun Giaupun tahu isi hati orang. Diam-diam ia geli karena telah menaklukkan kecongkakan Kim loji. Kembali ia mengingatkan orang itu bahwa menghadapi tempat yang begitu berbahaya, harus kerja sama bantu membantu.

“Sudah tentu aku hanya menggantung tenaga saudara Nyo,” kata Kim loji.

Diam-diam Nyo Bun Giau menimang dalam hati, “Orang menyohorkan bahwa Kim loji itu luas sekali pergaulannya. Dengan pihak It-kiong, Ji-koh dan Sam-toa-poh, dia mempunyai hubungan baik. Kiranya kabar itu memang benar. Dia seorang manusia yang licin dapat merubah sikap menurut gelagat keadaan, Hm, jika orang macam begitu tak kulenyapkan dalam makam ini, kelak tentu merupakan bahaya besar!”

“Saudara benar,” katanya sambil tertawa, “memang kepandaian di dunia ini tiada batasnya. Dalam hal kepandaian ilmu silat, aku kalah dengan saudara. Tetapi dalam ilmu alat-alat rahasia, aku paling banyak mempelajarinya. Dalam menghadapi keadaan yang penuh bahaya seperti makam ini, kita harus mengembangkan kepandaian kita masing-masing dan saling bantu membantu. Hanya dengan cara itulah kita akan dapat keluar dari tempat ini.”

Kim loji mengiakan.

Tiba-tiba bejana besar itu bergerak melambung ke atas. Sampai dua tiga meter tingginya baru berhenti. Ternyata di bawah bejana itu merupakan sebuah lubang yang dalam. Ketika Kim loji hendak menjenguk keadaan lubang itu, tiba-tiba korek yang melekat pada bejana itu padam.

Nyo Bun Giau menghela napas, “Ah, ahli yang menciptakan bagunan makam itu, memang lebih dari aku. Kalau menurut perhitungan, seharusnya bejana bergerak ke samping, tidak ke atas.”

Nyo Bun Giau mengambil korek lagi. Setelah menyulut, ia ajak Kim loji maju ke bawah bejana. Saat itu Kim loji seperti kerbau tercocok hidungnya, kemana orang menariknya terpaksa harus ikut, jika berani membangkang, setiap saat dapat dicelakai Nyo Bun Giau. Dengan sikap patuh sekali, ia segera mengikuti di belakang orang.

Begitu tiba di bawah bejana, mengamati sebentar, tiba-tiba Nyo Bun Giau loncat masuk ke bawah lubang. Selekas jago she Nyo itu menginjak tanah. segera Kim loji berseru dengan lantang dan hormat, “Saudara Nyo, apakah aku boleh ikut turun ke bawah?”

“Hm, sekalipun engkau jual lagak menghormat seperti seorang hamba sahaya, toh tetap harus mati dalam makam ini,” kata Nyo Bun Giau dalam hati.

“Ah, jangtn begitu menghormat padaku. Silahkan turun,” serunya sambil tertawa.

Ketika berada di bawah, dari penerangan korek yang dibawa Nyo Bun Giau, Kim loji melihat sebuah pintu berwarna hitam berada beberapa meter di sebelah muka.

“Harap saudara memutar rantai besi pintu itu sampai 12 kali, pintu itu tentu akan terbuka,” kata Nyo Bun Giau.

Sejenak bersangsi, akhirnya Kim loji melakukan perintah juga. Ia putar rantai pintu sampai 12 kali. Pada saat ia hendak mundur, tiba-tiba matanya silau oleh selintas sinar gemerlap. Buru-buru ia menyurut mundur dengan cepat. Tetapi ah…. sederet pagar besi meluncur turun dari atas hendak menutup jalannya. Cepat ia songsongkan kedua tangannya untuk menahan. Cret…. aduh….ia menjerit tertahan. Sebatang golok tajam yang tiba-tiba menabas dari atas pintu, telah membabat putus lengannya sampai sebatas bahu. Tetapi ia seorang jago yang tinggi lwekangnya. Sekalipun kehilangan sebelah lengan, namun ia dapat menahan golok itu meluncur turun membabat tubuh.

Berpaling ke belakang, dilihat tembokpun telah muncul dua batang tongkat besi. Satu di atas. satu di bawah, tepat menyambut orang yang hendak mundur. Dengan demikian Kim loji telah terkurung rapat, maju mundur tak dapat.

Rupanya pencipta dari alat rahasia dalam ruang itu telah memperhitungkan bahwa orang yang masuk kesitu tentulah mereka yang memiliki kepandaian tinggi. Maka pada tembokpun telah disediakan dua batang tongkat besi untuk menghadang jalan mundur.

Kim loji kerahkan tenaga dalam untuk menutuk jalan darah tubuhnya. Setelah menghentikan darahnya yang keluar, ia menatap Nyo Bun Giau dan berkata dengan tersenyum, “Ah, tak kira kalau pintu itu telah diperlengkapi dengan alat-alat rahasia yang begitu hebat, Untung hanya kehilangan sebelah lengan saja, masih tak apa!”

Sebelumnya diam-diam Nyo Bun Giau sudah siapkan pengerahan tenaga dalam. Jika Kim loji mengucapkan kata-kata yang tak enak, segera ia hendak menghabiskan jiwanya.

Diluar dugaan, Kim loji ternyata bersenyum-senyum dengan ramahnya. Bahkan mengakui bahwa kecelakaan itu adalah kesalahannya sendiri. Sedikitpun tak marah kepada Nyo Bun Giau. Sudah tentu ketua marga Nyo itu terkesiap.

“Hm, rase tua ini benar-benar licin bukan kepalang. Jika kali ini tak dilenyapkan disini, tentu dia akan memusuhi aku terus menerus,” diam-diam Nyo Bun Giau membatin. Dan bulatlah keputusannya untuk membunuh orang she Kim itu.

Walaupun hatinya mengandung dendam kebencian namun mulut ketua marga Nyo itu tetap mengulum senyum. Dan ia pura-pura menghela napas menyesal atas terjadinya peristiwa itu. “Akulah yang salah sehingga mencelakai saudara Kim. Ah, hatiku sungguh tak enak.”

“Ah, mana dapat menyalahkan saudara. Memang aku sendiri yang salah karena kepandaianku begitu rendah….” kata Kim loji seraya loncat keluar dari jeruji besi itu.

Nyo Bun Giau memberi sebungkus obat, melumurkan pada lengan Kim loji dan membalutkannya. Kim loji menghaturkan terima kasih.

Tiba-tiba terdengar bunyi berderak-derak dan golok serta tongkat besi itupun menyurut kembali ke tempatnya masing-masing.

Pada saat Nyo Bun Giau berputar tubuh, saat itu juga Kim loji sudah mengangkat tangan hendak menghantamnya. Tetapi entah bagaimana, pada lain saat, ia batalkan niatnya.

Sesungguhnya Kim loji memang seorang yang banyak kecurigaan. Ia kuatir kalau Nyo Bun Giau sudah bersiap. Apalagi iapun menyadari bahwa pada saat itu ia sedang menderita kesakitan hebat akibatnya lengannya kutung. Jika hantamannya itu tak berhasil mematikan lawan, tentulah orang she Nyo itu akan membalasnya. Dalam keadaan seperti saat itu, jelas ia tak berdaya menghadapi Nyo Bun Giau. Dengan pertimbangan itulah maka ia tak jadi menghantam.

Di belakang kedua pintu hitam itu, terdapat sebuah ruangan batu warna hitam juga. Tetapi bentuknya berbeda. Sempit tetapi memanjang mirip dengan peti mati. Pada ujung dinding terdapat 4 buah peti besi yang besar.

Sambil menyuluhkan korek ke atas, Nyo Bun Giau menghampiri peti itu lalu menghantam kunci sebuah peti. Brak…. peti itupun terbuka.

“Hebat sekali kiranya pukulan saudara!” dengan menahan sakit. Kim loji memberi pujian.

“Ah, jangan memuji saudara Kim. Aku hanya menggunakan pukulan Toa-lat-kim-kong ciang yang masih rendah mutunya” kata Nyo Bun Giau.

Diam-diam Kim loji terkejut. Toa-lat-kim-kong-ciang merupakan salah sebuah pukulan istimewa dari ke 72 ilmu pusaka gereja Siau-lim-si. Heran ia dibuatnya mengapa Nyo Bun Giau dapat mempelajari ilmu yang sakti itu.

Rupanya Nyo Bun Giau dapat mengetahui isi hati Kim loji. Ia tertawa menyeringai, ujarnya, “Apakah saudara Kim heran atas kata-kataku tadi? Toa-lat-kim-kong-ciang merupakan salah satu dari ke 72 ilmu pusaka Siau-lim-si. Karena aku bukan murid Siau-lim-si tentulah aku tak mampu mempelajari ilmu pukulan itu, bukankah begitu?”

“Ah, masakan aku berani menyangsikan….”

“Kalau saudara Kim tak percaya, cobalah saudara terima sebuah pukulanku,” dengan wajah seram ketua marga Nyo itu segera mengangkat tangannya kanan.

Kim loji menyurut mundur dua langkah dan tertawa, “Ke 72 ilmu pusaka Siau-lim-si itu memang tersiar luas di dunia persilatan. Apalagi ilmu pukulan Toa-lat-kim-kong-ciang itu. Sepanjang pengetahuanku, sudah ada lima macam….”

Keterangan Kim loji itu benar-benar dapat menimbulkan keheranan Nyo Bun Giau. Ia turunkan tangannya ke samping, menghampiri sebuah peti besi lagi, Bum…. peti terbuka dan memancarlah sinar kemilau yang gilang gemilang.

Ternyata dalam peti itu tersimpan permata ratna mutu manikam yang tak ternilai jumlahnya. Ketika berpaling melirik peti itu, agak tergeraklah hati Nyo Bun Giau. Pikirnya, “Jika tak menyaksikan sendiri, orang tentu tak percaya bahwa dalam makam tua sini terdapat sekian banyak harta karun. Sekalipun istana raja, belum tentu lebih banyak dari sini. Ah, hampir separuh hidupku kuhabiskan untuk mengumpul harta permata, tetapi tetap belum seperseratus dari harta dalam peti ini….”

Serentak ia berpaling kepada Kim loji, “Sudah lama kudengar bahwa saudara berpengalaman luas sekali. Maukah saudara memberitahukan tentang tersiarnya ilmu pusaka Siau-lim-si diluaran itu?”

Kim loji tertawa, “Mengapa tidak….”- sejenak berhenti, ia berkata pula, “Bukan aku hendak membanggakan diri. Tetapi aku tak menghiraukan seluruh ilmu pusaka Siau-lim-si itu tersiar di dunia persilatan….”

“Harap saudara suka bicara yang genah. Sekalipun pengetahuanku sempit tetapi kutahu juga tentang pengaruh Siau-lim-si. Turut apa yang kuketahui, dewasa ini belum terdapat tokoh persilatan yang berani cari perkara dengan Siau-lim-si. Tetapi karena terpancang oleh peraturan gereja yang keras maka murid-murid Siau-lim-si jarang muncul diluar. Oleh karena itu maka kelompok It-kiong dan ji-kohlah yang lebih termahsyur di dunia persilatan….”

Kim loji tertawa gelak-gelak, “Saudara Nyo benar. Jangankan It-kiong dan ji-koh, sedangkan tokoh Sin-ciu-it-kun Ih Thian-heng yang paling ditakuti oleh seluruh kaum persilatan dari Kanglam-Kangpak, pun tak berani menyalahi Siau-lim-si. Tetapi anehnya, manusia seperti aku ini, berani menantang padri sakti dari Siau-lim-si….”

Nyo Bun Giau mendengus, “Jika saudara tetap menepuk dada, maaf, aku tiada minat mendengarkan lagi!”

“Jika saudara masih ingat akan kata-kataku ketika berada diluar makam tadi tentang sebuah rahasia yang menyangkut gereja Siau-lim-si. Tentulah saudara menganggap aku bukan jual omong kosong!” kata Kim loji.

Diam-diam Nyo Bun Giau mengakui tentang kemungkinan hal itu.

Kim loji tertawa, ujarnya, “Memang dalam hal ilmu kesaktian, aku tak menang dengan padri-padri Siau-lim-si. Tetapi dengan rahasia itu sebagai pegangan aku mampu membuat Goan Thong taysu, ketua Siau-lim-si, menurut perintahku. Kalau tak percaya, kelak kalau keluar dari sini, akan kubawa saudara ke Siau-lim-si dan membuktikan benar tidaknya omonganku ini!”

Nyo Bun Giau tersenyum, “Kalau begitu, jika seumur hidup kita dapat keluar dari sini, rahasia itu tak mungkin kudengar?”

Diam-diam Kim loji tergetar hatinya. Ia merasa kata-kata Nyo Bun Giau itu makin jelas mengunjukkan maksud hendak membunuhnya. Ah, untuk lolos dari orang she Nyo ini, sukar sekali.

Namun Kim loji tetap bersikap tenang. Ia tertawa hambar, “Bukan begitu maksudnya. Tetapi benar-benar cerita itu panjang sekali, sedang saat ini kita masih terancam bahaya. Entah mati entah hidup. Andaikata aku melanggar janji orang dan memberitahukan rahasia itu kepada saudara, bagi saudara tiada banyak gunanya tetapi bagiku merupakan suatu kecemaran. Bukankah merelakan aku, dalam detik-detik terakhir dari hidupku ini, dapat mati tanpa dicela orang karena tak pegang janji….?”

Ia berhenti sejenak menghela napas, katanya pula, “Jika saudara Nyo benar-benar mempunyai kemampuan untuk keluar dari neraka ini, aku pasti takkan ingkar janji untuk memberitahukan rahasia itu kepada saudara. Dengan berpegang rahasia itu, saudara pasti dapat memaksa ketua Siau-lim-si untuk menyerahkan kitab pusaka yang berisi pelajaran ke 72 ilmu pusaka mereka. Hal itu pasti akan membawa manfaat besar bagi saudara!”

“Hm, biarpun engkau putar lidah sampai kering ludahmu, jangan harap dapat menghapus keputusanku untuk membunuhmu,” kata Nyo Bun Giau dalam hati.

Namun dengan tersenyum ia berkata .”Turut pengetahuanku, selama beratus-ratus tahun ini, tiada seorang padri Siau-lim-sipun yang dapat menguasai ke 72 ilmu pusaka gereja itu. Biarpun mendapat kitab pusaka itu, tetapi mengingat umurku sudah lebih dari 50 tahun. Sukar bagiku untuk mempelajari ilmu itu.”

Kim loji makin berdebar hatinya. Diam-diam ia sudah merasa bahwa orang she Nyo itu pasti akan membunuhnya. Ah, daripada mati konyol, lebih baik ia adu kekuatan saja. Diam-diam ia kerahkan tenaga dalam bersiap-siap.

Kedua orang itu sama-sama seorang tokoh yang licin. Walaupun dalam hati akan saling membunuh, tetapi lahirnya mereka tetap ramah. Sejenak bertukar pandang, Nyo Bun Giau segera mengbampiri peti kedua dan menghantam tutupnya. Diam-diam Kim loji memperhatikan gerak pukulan orang she Nyo itu. Ternyata memang tidak mirip dengan pukulan Thiat-sat-ciang (pukulan Pasir besi). Diam-diam ia terkejut, pikirnya, “Ah, kalau dia benar-benar memiliki pukulan Toa-lat-kim-kong-ciang, sukarlah dilawan …..”

Sambil berpaling ke arah Kim loji, Nyo Bun Giau tertawa, “Kalau peti ini juga berisi harta pusaka, kita bagi rata satu orang satu peti….”

“Aku sudah sebatang kara dan hidup merana dalam pengembaraan. Bagiku permata itu tidak berguna, Dengan rela hati kuserahkan semua itu kepada saudara saja,” tukas Kim loji.

“Ah saudara Kim hanya menginginkan Tenggoret kumala dan kupu-kupu kumala itu saja?”

“Ah, tidak. Cukup salah satu sajalah,” Kim loji tertawa.

Nyo Bun Giau tersenyum. Diam-diam ia mendengus dalam hati, “Hm, kemungkinan satupun jangan harap engkau akan memperolehnya….”

Ketua marga Nyo itu segera membuka peti. Ah, ternyata peti itu juga penuh dengan ratna mutu manikam yang tak ternilai harganya.

Di tengah-tengah dipalang oleh dua batang Giok-ci atau garisan kumala sebesar lengan bayi. Yang satu diukir lukisan Naga dan yang satu ukiran burung cendrawasih.

Nyo Bun Giau mengambil Giok ci yang berukir naga. Ketika mengangkat hendak memeriksanya, tiba-tiba diletakkan lagi lalu cepat-cepat menyurut mundur….

Kim loji selalu mengikuti gerak gerik orang dengan penuh perhatian. Ia terkejut ketika Nyo Bun Giau menyurut mundur. Dengan kerahkan tenaga dalam, ia miringkan tubuh dan gunakan bahunya sebelah kiri untuk membentur punggung Nyo Bun Giau.

Karena tak menduga, benturan itu membuat Nyo Bun Giau terjorok ke muka. Untuk menjaga keseimbangan tubuh, ia ulurkan tangannya menjamah peti besi itu. Wut, wut, wut…. tiba-tiba dari dalam peti itu berhamburan serangkum jarum beracun! Nyo Bun Giau mendengus dingin seraya loncat ke samping, namun tak urung, lengannya yang kiri termakan dua batang jarum beracun itu. Seketika ia rasakan lengannya kesemutan. Buru-buru ia kerahkan tenaga dalam untuk menutup jalan darahnya. Kemudian berpaling ke arah Kim loji dan tersenyum, “Apakah saudara Kim menghendaki supaya aku mati tertabur jarum lalu saudara dapat memiliki semua harta pusaka ini?”

Melihat sikap Nyo Bun Giau agak berubah dari biasanya, diam-diam Kim loji menduga bahwa jarum beracun itu tentu luar biasa ganasnya. Tidak mudah untuk mengobati luka itu, Serentak timbullah nyali Kim loji.

Ia tertawa gelak-gelak, serunya, “Ah, tidak, tidak. Aku tak sengaja membentur saudara. Sungguh mati, memang tak sengaja.”

Perlahan-lahan Nyo Bun Giau mengangkat lengannya kanan, menggulung lengan bajunya dan berkata, “Ah, kali ini tepat sekali saudara cara membentur sehingga lenganku termakan 2 batang jarum beracun!”

Ketika mengawasi, Kim loji melihat pada jalan darah di siku orang she Nyo itu tertancap dua batang jarum perak yang sehalus rambut besarnya. Entah berapa panjang nya jarum itu tetapi bagian tangkai yang masih menonjol diluar itu, kira-kira masih beberapa centi.

“Ah, dengan demikian, kita benar-benar akan sehidup semati. Aku kehilangan sebuah lengan kiri dan saudara termakan jarum. Tetapi itupun masih kurang adil. Karena lengan saudara itu hanya luka kecil saja!” seru Kim loji,

Nyo Bun Giau tertawa, “Biarlah kuberitahu kepadamu. Jarum itu berlumur racun yang ganas sekali. Untung yang kena itu aku. Jika terjadi pada diri saudara, tentu saudara tak dapat hidup lebih lama dari 12 jam….”

Kim loji tertegun serunya, “Kalau begitu, saudara tak jeri terhadap jarum beracun?”

Nyo Bun Giau mengeluarkan 2 butir pil terus ditelannya. Kim loji hendak mencegahnya tetapi sudah tak keburu lagi.

“Ha, ha,” Nyo Bun Giau tertawa gelak-gelak, “saudara telah menyia-nyiakan kesempatan bagus untuk membunuh diriku….” ia berhenti mengurut-urut jenggotnya lalu tertawa pula, “Pada saat terkena jarum tadi, aku harus menyalurkan tenaga dalam untuk menutup jalan darah supaya racun itu jangan sampai merembes ke dalam tubuh. Apabila pada saat itu saudara terus menyerang sehingga aku tak sempat menutup jalan darah, sekalipun aku tak melayani serangan itu, tetapi apabila waktunya terlalu lama, racun itu tentu menjalar ke tubuhku dan pasti jiwaku melayang!”

“Ah, belum tentu,” sambut Kim loji, “sekalipun saudara mempunyai pil mukjizat yang dapat menghidupkan orang yang mati, tetapi sebelum daya pil itu bekerja, tentu sukar juga saudara untuk mencegah racun itu merembes ke tubuh.”

Nyo Bun Giau tersenyum, “Dalam dunia persilatan siapakah yang tak tahu tentang kemahiranku dalam ilmu bangunan dan ilmu obat-obatan. Selekas pil itu kutelan, selekas itu juga racun tentu terhenti!”

Diam-diam Kim loji membatin bahwa kemungkinan yang dikatakan orang she Nyo itu memang benar. Ia merasa luka pada lengannya masih belum sembuh sama sekali. Jika harus bertempur, dikuatirkan luka itu akan mengucurkan darah lagi. Memang sebelum Nyo Bun Giau menelan pil, kemungkinan ada harapan. Sekalipun luka lengannya akan kambuh dan ia rubuh karena kehabisan darah, tetapi pada saat itu Nyo Bun Giaupun tentu akan mati juga. Ia puas kalau bisa mati berbareng.

Akhirnya ia memutuskan untuk menunda rencananya pada lain kesempatan lagi.

“Ah, kalau saudara Nyo begitu mencurigai, aku sungguh tak enak hati. Masakan aku mengandung hati busuk seperti itu? Bukankah jelas kalau aku tak nanti mampu keluar dari makam ini tanpa petunjuk saudara?”

Nyo Bun Giau tersenyum memandang orang. Tetapi bagi Kim loji, senyum orang she Nyo itu penuh memancarkan kebengisan yang menyeramkan.

Keduanya saling berpandangan sampai beberapa saat. Tiba-tiba Nyo Bun Giau mencabut jarum beracun dari lengannya dan berkata, “Saudara Kim telah dua kali kehilangan kesempatan untuk membunuh aku,” tiba-tiba ia tertawa nyaring, “ketahuilah bahwa obat yang bagaimana mukjizatnya, tak mungkin sekali telan terus dapat mencegah racun. Tadi meskipun saudara telah menduga tepat tetapi saudara tak mempunyai kepercayaan pada diri sendiri sehingga tak berani bertindak. Inilah yang kumaksud bahwa saudara telah kehilangan kesempatan yang kedua kali. Kugunakan saat-saat saudara termenung diam dan mengajak saudara bicara tadi, untuk mengerahkan tenaga dalam mencegah racun itu. Aku telah berhasil mengumpulkan racun itu ke ujung jari kelingkingku. Asal kubelah ujung kelingkingku, racun tentu akan mengalir keluar!”

“Terserah saudara Nyo hendak menduga apa saja, aku takkan membantah,” sahut Kim loji.

Nyo Bun Giau tertawa dingin, “Kalau aku bermaksud hendak membunuhmu dan mengangkangi harta karun dalam makam ini, bagaimanakah tindakan saudara.”

Bahwa orang she Nyo itu secara blak-blakan mengutarakan isi hatinya, benar-benar mengejutkan Kim loji. Tetapi sebagai seorang persilatan yang kenyang pengalaman, cepat Kim loji dapat menekan ketenangannya.

“Sukar bagiku untuk mengatakan apa-apa. Bagaimana tindakan saudara Nyo terhadap diriku, kuserahkan saja,” sahut Kim loji dengan tertawa hambar.

Kali ini Nyo Bun Giau tertegun mendengar penyahutan yang tak disangka-sangkanya itu, ujarnya, “Tetapi jangan kuatir, akupun tak mengandung hati sekejam itu. Namun saudara sendirilah yang sesungguhnya mengandung maksud melakukan pembunuhan terhadap diriku itu. Sejak memasuki makam ini, saudara sudah bersiap siap untuk turun tangan. Oleh karena itu, terpaksa akupun mengambil langkah. Daripada dibunuh, lebih baik kuturun tangan lebih dulu!”

Kim loji tertawa, “Baru saja aku kehilangan sebelah lengan, sudah tentu tiada berdaya melawan saudara. Bagi alamat saudara Nyo yang sudah termahsyur di dunia persilatan, apakah takkan ditertawakan orang apabila membunuh orang yang sudah tak berdaya?”

Nyo Bun Giau tertawa tawar, “Di dalam makam ini hanya terdapat kita berdua. Asal setelah membunuh, aku tak memberitahukan kepada orang, siapakah yang akan tahu?”

Melihat orang she Nyo itu bersikap benar-benar hendak membunuhnya, terkejutlah Kim loji, ia kuatir ketua marga Nyo itu segera akan melaksanakan ucapannya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

“Ah, mungkin tidak begitu,” ia tertawa dingin, “bukankah saudara masih ingat pada waktu kita hendak masuk ke dalam makam ini, saudara mengatakan bahwa sudah ada lain orang yang telah mendahului masuk kesini? Menilik alat-alat rahasia di makam ini begini hebatnya, jika tak pandai tentang ilmu alat-alat rahasia, tentulah orang itu sukar keluar dari sini!”

Nyo Bun Giau termenung sejenak, lalu tiba-tiba tertawa, “Dalam dunia persilatan, kiranya tiada seorangpun yang mampu mengungguli diriku dalam ilmu bangunan dan alat-alat rahasia. Apabila orang itu dapat masuk ke dalam makam ini, tak boleh tidak dia pasti mati tenggelam air!”

Kim loji memeras otak untuk mencari jalan hidup. Mendengar keterangan Nyo Bun Giau, ia segera membantah, “Yang tahu tentang makam ini, bukanlah aku seorang. Sekalipun aku tak pandai tentang ilmu bangunan dan alat-alat rahasia, tetapi sebelamnya memang telah kuduga bahwa makam ini tentu penuh dengan alat-alat yang berbahaya, Kuingatkan akan pernyataan saudara sendiri tadi. Bahwa orang itu tentu belum mati karena dilanda air….”

Sejenak berhenti, ia melanjutkan kata-katanya lagi, “Bagi seorang yang pandai berenang, asal masih bisa bernapas, tentu tahan dua tiga hari terbenam dalam air. Dengan kesimpulan itu, kemungkinan besar orang itu tentu masih hidup!”

Nyo Bun Giau tak membantah melainkan memandang Kim loji dengan berkilat-kilat dan tersenyum.

Kim loji merasa kikuk sendiri lalu melanjutkan kata-katanya, “Jika benar dalam makam ini masih terdapat lain orang, begitu berjumpa pasti akan terjadi pertempuran jika saat ini kita saling bunuh membunuh sendiri, merekalah yang akan mendapat keuntungan!”

Nyo Bun Giau hanya tersenyum simpul, ujarnya, “Silahkan saudara mengemukakan dalih panjang lebar. tetapi rasanya sukar terhindar dari maut!”- dengan perlahan-lahan ia maju menghampiri.

Kim loji mendengus dingin, “Jika saudara benar hendak mendesak, terpaksa akupun hendak mempertahankan jiwa dengan mati-matian!”- diam-diam ia kerahkan tenaga dalam bersiap-siap.

Nyo Bun Giau tertawa, “Jika saudara mampu menerima 10 jurus seranganku, akan kubebaskan saudara dari kematian!”- ia menutup kata-katanya dengan sebuah hantaman.

Di tempat yang sedemikian sempit bertempur, sukar untuk menghindar dan tak leluasa untuk mengeluarkan kepandaian. Apalagi pukulan Nyo Bun Giau itu dahsyatnya bukan kepalang. Apa boleh buat, Kim loji terpaksa menangkis dengan sebuah Biat-gong-ciang atau Pukulan membelah angkasa.

Ketika kedua pukulan itu saling beradu, segera dapat diketahui siapa yang lebih unggul. Nyo Bun Giau tetap berdiri di tempatnya sedang Kim loji terhuyung mundur sampai empat lima langkah baru dapat berdiri tegak lagi. Luka pada lengannya yang kutung itupun mengucurkan darah lagi dengan derasnya….

Nyo Bun Giau tersenyum, “Ini baru pukulan pertama. Jurus kedua, silahkan saudara menikmati pukulanku Toa-lat-kim-kong-ciang. Harap membuktikan sendiri sesuai tidak dengan namanya!”

Sekalipun tahu bahwa dengan menderita luka parah itu, tak nanti mampu menghadapi Nyo Bun Giau, tetapi sedikitpun Kim loji tak menyangka bahwa tenaga dalam orang she Nyo itu ternyata lebih unggul setingkat dari dirinya. Sekalipun ia tak menderita luka kehilangan lengan, pun juga tak dapat menandingi lawan.

Tetapi walaupuu sudah mengangkat tinjunya, Nyo Bun Giau tak segera menghantam. Dipandangnya wajah orang. Ingin ia melihat bagaimana kerut wajah Kim loji kalau sedang menderita kesakitan itu. Dengan tersenyum-senyum, ketua marga Nyo itu mengisar maju.

Sadar bahwa tak mungkin menang, daripada menderita pukulan orang, lebih baik Kim loji menyerah saja. Sambil busungkan dada, ia pejamkan mata menunggu kematian….

Dengan dua buah jari, Nyo Bun Giau menggurat perlahan dada Kim loji, serunya tertawa, “Ah, mengapa saudara Kim tak mau melihat? Apakah diriku tak berharga saudara pandang?”

“Kalau mau bunuh, bunuhlah segera. Jika terus menerus bicara menghina aku, jangan menyesal kalau kumaki maki!” sahut Kim loji,

“Ah, sayang aku tak dapat menyetujui keinginan saudara untuk mati dengan cepat. Biarlah saudara memaki-maki diriku habis-habisan tetapi ingin kuminta saudara menikmati bermacam-macam rasa….”

Ia berhenti sejenak lalu tertawa lepas, katanya pula “Sekarang hendak kuhancurkan kedua tulang sambungan bahu saudara lebih dulu. Agar kedua lengan saudara itu tak dapat digunakan lagi. Kemudian baru kuremukkan tulang kedua kakimu, agar saudara tak perlu jalan lagi….”

Serentak gemetarlah Kim loji mendengar siksaan itu. Tetapi Nyo Bun Giau malah tertawa makin keras, serunya pula, “Setelah itu akan kujalankan Hun-kin-jo-kut (memisah urat melepas tulang). Akan kulepaskan 365 tulang belulang dalam tubuh saudara….”

Tiba-tiba dari atas dinding ruang itu, terdengar suara getaran halus. Namun itu hal itu cukup menggetarkan perasaan Nyo Bun Giau. Cepat dia merubah pikirannya. Sengaja ia berseru lantang sekali, “Agar saudara menjaga tempat ini selama-lamanya….”

Kim loji membuka mata, “Saudara Nyo tak mempunyai dendam permusuhan kepadaku. Mengapa menyiksa diriku begini rupa….”

Sekonyong-konyong Nyo Bun Giau lekatkan tangannya ke dada Kim loji, “Harap saudara lekas menjalankan pernapasan, hendak kuberimu penyaluran tenaga murni!”

“Hai, apakah artinya ini….” Kim loji terbelalak kaget.

“Kata kataku tadi hanya sekedar bergurau saja, masakan akan kulakukan sungguh-sunguh. Bahwa dengan memiliki kotak pusaka pedang Pemutus Asmara, saudara tak mencari lain orang tetapi mengajak aku, menandakan kepercayaan saudara kepada diriku!” Nyo Bun Giau tertawa.

Kim loji seperti orang bermimpi. Buru-buru ia berkata, “Apa yang dimahsyurkan dunia persilatan mengenai It kiong, ji-koh dan Sam-koh, saudara Nyolah yang paling ramah dan lapang hati. Tidak kecewa sebagai seorang sastrawan”

“Ah, kabar itu sering melampau dari kenyataan….” Nyo Bun Giau tertawa menukas. Kemudian ia segera suruh orang she Kim itu menyalurkan darah dalam tubuhnya.

Kim lojipun segera bersemedhi menjalankan pernapasan. Ternyata Nyo Bun Giau memang benar-benar menyalurkan tenaga murni ke tubuh Kim loji. Dia memang memiliki tenaga dalam yang hebat. Sambil menyalurkan tenaga murninya, ia memperhatikan suara dari atas ruangan itu. Kira-kira sepeminum teh lamanya, atas dinding rungan itu terdengar getaran halus lagi. Begitu halus lagi. Begitu halus sehingga orang yang tak memiliki tenaga dalam sakti tentu tak dapat menangkapnya.

Sesungguhnya Nyo Bun Giau sendiri tak dapat memastikan apakah gataran itu. Mungkin alat rahasia yang bergerak. Mungkin juga berasal dari luar makam.

Berkat tenaga dalamnya yang kokoh, walaupun pukulan Nyo Bun Giau tadi telah menggoncangkan peredaran darahnya, namun setelah mendapat saluran tenaga murni, dapatlah Kim loji mengembalikan jalannya darah dalam tubuhnya lagi. Ia terkejut ketika telapak tangan orang she Nyo itu memancarkan hawa hangat yang tak henti-hentinya ke dalam tubuhnya. Kabar-kabar yang tersiar dalam dunia persilatan bahwa di antara ketiga Poh ( marga ) marga Nyo lah yang paling lemah tenaga dalamnya. Hanya karena kepandaiannya dalam ilmu bangunan dan alat-alat rahasia, maka marga Nyo dapat disejajarkan dalam deretan Tiga marga besar. Dunia persilatan tak pernah mengetahui jelas sampai dimana kesaktian marga Nyo itu.

Apa yang dirasakan Kim loji saat itu, telah membuka matanya benar-benar. Kesaktian tenaga dalam Nyo Bun Giau, bukan hanya melebihi marga Ca dan marga Siang Kwan, pun mempunyai corak yang istimewa. Oleh karena berpuluh tahun Nyo Bun Giau tak mau keluar ke dunia persilatan dan hidup tenang di rumah, bukanlah karena ia merasa berkepandaian rendah….

Brek….tiba-tiba langit ruangan itu bergetar keras sehingga Kim loji terkejut dari lamunannya.

Nyo Bun Giaupun menarik tangannya dan menanyakan keadaan Kim Loji.

“Terima kasih atas bantuan saudara. Sekarang tenaga murniku sudah kembali ke pusatnya,” kata Kim loji.

Nyo Bun Giau berbangkit, katanya, “Dugaan saudara tepat. Di dalam makam ini memang sudah ada orang yang masuk lebih dulu dari kita. Dan orang itu berada di ruangan sebelah!”

Dari getaran yang ketiga itu, dapatlah Nyo Bun Giau memastikan bahwa getaran itu berasal dari pukulan atau senjata yang menghantam dinding.

Kim loji menghela napas longgar, ujarnya, “Apakah kita akan ke sana? Mungkin Tenggoret Kumala dan Kupu-kupu Emas itu berada disitu….”

Setelah mengalami penderitaan beberapa kali, kecongkakan Kim loji menurun seratus derajat. Kata-katanya itu bernada meminta persetujuan.

Diam-diam terkesiaplah hati Nyo Bun Giau. Ia anggap pernyataan Kim loji tak salah. Jika kedua benda pusaka itu sampai jatuh ke tangan orang, ah, kecewalah hatinya. Sekalipun ruangan itu penuh dengan ratna mutu manikam yang tak ternilai harganya, tetapi baginya tiada berguna.

“Pendapat saudara sama dengan pendapatku,” katanya setelah merenung sejenak, “kita harus menyelidiki ke sana. Siapakah orang yang tanpa penunjuk kotak pedang pemutus asmara, mampu masuk ke dalam makam ini!”

Saat itu Nyo Bun Giau sudah mempunyai kepercayaan penuh atas kemampuannya mengatasi alat-alat rahasia dalam makam itu. Ia mengeluarkan kotak pedang, memeriksa sejenak lalu menghampiri ke tempat peti besi. Kim loji tak berani berbuat apa-apa. Ia hanya mengikuti di belakang orang she Nyo itu.

Setelah menutup peti besi, ia berpaling memandang Kim loji lalu tiba-tiba ia lari ke sudut ruang. Setelah beberapa saat meraba-raba, tiba-tiba terdengar bunyi berderak-derak dan dinding merekah sebuah pintu.

Cepat Kim loji loncat ke pintu itu, katanya, “Biarlah aku yang mempelopori masuk!” ia terus menerobos ke dalam. Nyo Bun Giau mengikutinya.

Ruangan disitu penuh berhamburan hawa dingin dari sambaran pedang. Sambil lekatkan tubuh ke dinding, Kim loji bertanya bisik-bisik kepada Nyo Bun Giau, “Apakah saudara Nyo kenal kedua orang itu?”

Ketika mengamati ke muka, Nyo Bun Giau melihat seorang pemuda berumur 19an tahun sedang menabaskan pedangnya ke sebuah pintu. Sedang kawannya, seorang lelaki pertengahan umur, berdiri di samping dengan mencekal pedang dan kipas besi. Keringatnya bercucuran ke lantai….
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 11 : Strategi Manipulasi"

Post a Comment

close