coba

Makam Asmara Jilid 06 Suami dan isteri

Mode Malam
Jilid 06 Suami dan isteri

Si dara baju ungu setengah membuka kelopak mata dan berkata tersendat-sendat, “Bwe Nio…. aku…. tak bersalah….”

Nenek Bwe memeluknya erat2. Dengan airmata berlinang-linang ia menghibur, “Nak, engkau…. menolong orang tetapi sekarang…. siapakah yang akan

menolongmu….”

Nenek itu terus menangis keras.

Kim loji terkejut, serunya, “Apakah…. apakah dia….”

“Engkaulah yang mencelakainya. Dia penasaran sekali dan terus mengigit mutiara beracun…. tiada obatnya lagi…. nenek Bwe berseru geleng sedih.

Han Ping maju selangkah, “Apakah dia benar2 meninggal dunia?”

Tampak rambut nenek Bwe gemetar. Jelas nenek itu sedang dilanda kesedihan, kemarahan dan ketenangan. Airmatanya membanjir….

“Engkau pembunuh .,,….” tiba2 terdengar sebuah bentakan serta angin
hantaman tongkat kearah Han Ping.

Han Ping berpaling dan melihat bahwa yang menyerangnya itu lelaki baju merah yang kakinya buntung. Namun dia hanya tertawa tawar, “Baik, aku akan mengganti jiwanya Han Ping; pejamkan mata menunggu maut.

Pada saat tongkat hendak merenggut jiwa Han Ping, tiba2 sebatang tongkat bambu menjulur untuk merintangi tongkat besi sibaju merah.

“Jangan melukainya’“ seru Bwe Nio.

Lelaki berkaki buntung itu merah padam mukanya. Matanyapun merah seperti terbakar api. Tetapi ketika mengetahui bahwa yang merintangi itu nenek Bwe Nio, diapun tak berani melanjutkan serangannya.

“Bwe Nio…. ia mengapa….?” seru lelaki kaki buntung itu dengan wajah pucat
membesi.

Bwe Nio memeluK tubuh si dara baju ungu dan menyahut, “To ji sudah meninggal. Engkau membunuhnya, To jipun tak dapat hidup kembali….”

Memandang pada tubuh si dara yang berada dalam pelukan nenek Bwe, meluaplah kemarahan lelaki kaki buntung itu serunya, “Membunuh dia berarti dapat menghilangkan penasaran sumoay di alam baka. Mengapa engkau setan tua…. .”

“Tutup mulutmu! Apa engkau sudah gila ‘.”

tiba2 Ong Kwan-tiong, suheng dari dara baju ungu membentak keras.

Menyurutlah nyali lelaki kaki buntung itu. Ia menghela napas dan menitikkan dua butir airmata, ujarnya, “Adakah kita tinggal diam atas kematian sumoay?”

Ong Kwan-tiong tak kalah tegangnya tetapi dia lebih kuat untuk menekan perasaan hatinya. Sahutnya, “Kurasa Bwe Niolo-cianpwe tentu dapat mengatur, tak perlu engkau sibuk tak keruan….”

Bwe Nio menghela napas panjang, ujarnya, “Jangan menyalahkan dia seorang. Dalam soal kematian Toji ini, aku sendiri juga merasa sedih sekali. Ingin kubunuh semua orang disini, apalagi dia…. .”

Ong Kwan-tiong tertawa rawan, “Memang Lau sute terlalu merangsang. Tetapi apa yang diucapkan itu benar. Sumoay tak kuat menerima hinaan orang lalu bunuh diri. Masakan kita tak menyelesaikan perhitungan itu?’

“Memang Toji mati dengan membawa penasaran. Tetapi sebab dan Kemauannya itu, bukan dan peristiwa saat ini. Penyelesaiannya tak bisa dilakukan dari apa yang kita lihat saat ini.”

Tiba2 lelaki kaki buntung itu tertawa nyaring dalam nada yang seram, “Benar, setiap orang yang terlibat dalam kematian sumoay,satupun takkan diberi ampun…. “

Pengemis-sakti Cong To tertawa dingin, “Jangan kata belum tentu orang Lam-hay- bun mempunyai tokoh yang mampu melakukan pembersihan itu. Taruh kata ada, pun dara yang sudah mati itu takkan hidup kembali. Ha, ha, ha, ha….
Kiranya orang2 Lam hay-bun itu tak lebih dari kantong nasi semua…. “

Ong Kwan-tiong menyambut dingin, “Sudah lama kudengar nama Pengemis Sakti itu. Apakah saudara berani bertanding dengan aku sampai mati?”

“Jangan ribut2….!” bentak nenek Bwe dan matanyapun memancarkan sinar
yang seram. Memandang kesekeliling dan berseru pula, “Urusan ini memang harus dibereskan. Kalau bukan orang Lam-hay-bun yang akan berserakan menjadi mayat di makam ini, tentulah kalian orang2 persilatan Tiong-goan….”

Tiba2 Han Ping membuka mata memandang kearah jenazah dara baju ungu dan Ting Ling lalu menghela napas panjang, “Dosa paling besar yang menyebabkan kematian kedua nona itu, seharusnya terletak pada ih Thian-heng yang menganti jiwa….”

“Benar.” sahut nenek Bwe. “pertama memang dia. Dan kedua yalah engkau!”

han Ping tertawa hambar, “Daripada bercermin bangkai, lebih baik berkalang kubur. Kalau kalian menganagap aku yang seharusnya mengganti jiwa nona Siau, aku takkan menolak. Tetapi daripada kalian harus turun tangan dua kali, membunuh aku lalu membunuh Ih Thian-heng, mengapa kalian tak membiarkan aku dan dia bertempur sampai mati. Bukankah kalian boleh melihat di samping dan nanti tinggal membunuh saja siapa yang menang dalam pertempuran itu?”

“Apakah engkau mempunyai dendam kepadanya?” tanya nenek Bwe.

“Sakit hati ayah bunda dibunuh, merupakan musuh yang tak dapat kubiarkan hidup bersama aku ‘.” sahut Han Ping.

bwe Nio tiba2 berpaling kearah Cong To. serunya, “Engkau bilang kalau orang2 Lam-hay-bun itu hanya kantong nasi sernja. Dapatkah engkau menunjukkan alasanya?”

Cong To tertawa dingin, “Seharusnya engkau sudah tahu kalau dia mengulum mutiara-beracun. Mengapa tak lekas2 mengambilnya dan menunggu sampai

dia mengunyah mutiara itu? Satelah nona itu meninggal, lalu kalian mengumbar suara basar seperti geledek?”

“Soal menjaga bahaya, masakan aku tak tahu,” sahut nenek Bwe.

“Yang tahu tetapi diam, dia berdosa. Menurut keadilan, engkaulah yang harus dibunuh lebih dulu untuk menemani jiwanya” seru Cong To pula.

Bwe Nio menunduk memandang dara baju ungu yang berada dalam pelukannya. Ia tertawa sedih, ujarnya, “Ah, anak yang manja, Thian telah mengaruniai engkau kecantikan dan kecerdasan yang luar biasa tetapi Thian tak memberikan engkau kebahagiaan dan umur panjang, Engkau seperti bercengkerama di sorga tetapi hatimu rawan dan resah. Anak yang malang, jika engkau tak begitu pandai, tentu engkau takkan mengalami hari penghabisan seperti saat ini. Nak, dengan sisa-hidupku, kuiringkan engkau berkelana ke daerah Tiong-goan. Dengan harapan mudah-mudahan kesepian dan kerawanan hatimu dapat terhibur oleh alam pemandangan Tiong-goan yang indah permai. Sunggah tak kira hal itu malah membuat engkau lekas2 tinggalkan dunia fana ini. Nak, betapa menderita engkau dalam menjelang kematianmu itu….”

Nada nenek Bwe penuh dengan jeritan hati yang tersayat kesedihan. Rambutnya yang putih gemetar dan airmatanya berderai-derai seperti banjir dan akhirnya menangislah ia tersedu sedan.

Anak buah Lam hay-bun menangis semua.

Tampak wajah Han Ping merah padam dan tubuhnya gemetar. Jelas dia sedang mengalami ketegangan hebat dalam hatinya. Kemudian berserulah ia, “Apa yang Cong lo cianpwe katakan tadi memang benar. Sudah tahu bahwa nona Siau mengulum mutiara-beracun, mengapa tak lekas berusaha untuk mengambilnya .

Dalam pada itu dari belakang pintu batu terdengar suara angin pukulan menderu-duru. Rupanya telah berlangsung pertempuran yang dahsyat.

Nenek Bwe menghela napas . “Hal itu yang harus disesalkan yalah mengapa Thian memberkahinya kecantikan yang luar biasa. Demi menjaga kesucian dirinya ia memang selalu mengulum mutiara beracun. Sungguh tak terduga kalau karena tak kuat menahan goncangan hatinya, ia terus menelan mutiara itu.”

Memikirkan kematian kedua nona cantik itu, diam2 Han Ping merasa bahwa kematian mereka mempunyai sangkut paut juga dengan dirinya. Ia menimang, “Sebelum meninggal, mereka berdua merupakan gadis yang amat cantik sekali. Entah berapa banyak lelaki yang jatuh binasa dibawah kaki mereka. Tetapi saat ini mereka sudah menjadi mayat, dan dalam beberapa bulan lagi akan berobah

menjadi seperangkat kerangka tulang Jelita dan ksatrya hampir setali tiga uang. Akhirnya hanya merupakan sosok kerangka tulang yang di timbuni gunduk tanah. Matinya seseorang ternyata hanya begitu tawar dan dingin, mudah….”

Tiba2 nenek Bwe seperti teringat sesuatu yang penting Ia cepat berpaling dan membisiki kepada Ong Kwan-tiong.

Ong Kwan-tiong tampak mengangguk kepala. Ia terus ayunkan langkah kemuka. Tetapi baru dua langkah ia berputar balik lagi dan gelengkan kepala, “Jalanan dimuka panjang dan penuh dengan pekakas rahasia yang berbahaya. Sekali pun aku dapat melintasi keluar tetapi sukar untuk kembali kedalam makam ini lagi. Kalau mau kita sama2 pergi.”

Nenek Bwe merenung. Pelahan lahan ia letakkan mayat dara baju ungu, serunya, “Jagalah baik2 jenazahnya, aku hendak pergi sebentar dan segera kembali.” Habis berkata nenek itu berputar tubuh lalu lari. Tampak wajahnya amat tegang. Rupanya ia teringat sesuatu.

Dalam pada itu Ting Kopun mengangkat mayat puterinya. katanya, “Anakku, makam ini penuh bahaya maut. Masih belum dapat diketahui apakah ayah bisa keluar dan makam ini dengan selamat atau tidak. Waktu engkau masih hidup, ayah tak menyayangimu. Apabila kita ayah dan anak dapat mati bersama dalam satu tempat, tentu akan kurawatmu dengan baik.”

Han Ping menjurah dihadapan jenazah si dara baju ungu. katanya, “Harap nona suka tunggu sebentar. Setelah dapat membalaskan sakithati orangtuaku, aku tentu akan menyusul nona….

Habis berkata, tiba? ia. berputar tubuh lalu melesat masuk kedalam pintu batu.

Sikaki buntung baju merah hendak mencegah tetapi terlambat. Dan serempak dengan itu terdengar Pengemis-sakti Cong tertawa gelak2.

“Hampir sembilanpuluh bagian dari perjalanan sudah dapat dilalui. Masakan kita takut untuk menghadapi dengan Jalan Maut ini…. “serunya lalu melangkah menyusul Han Ping. Tetapi baru dua langkah, tiba2 ia berpaling.

“Jalanan sepanjang tigabelas tombak ini, selain jago2 yang diperintahkan pemilik makam untuk menjaga, pun terdapat juga Ih Thian-heng yang secara sembunyi akan melancarkan serangan2 gelap. Pengemis tua mengharap agar saudara2 mengubur dendam permusuhan pribadi dan suka saling membantu agar dapat melintasi bahaya ini,” serunya.

“Baik, aku setuju dengan pendapat saudara Cong,” sambut Nyo Bun giau.

Ting Ko dan Ca Cujirgpun mengangguk, “Memang Ih Thiau-heng luar biasa liciknya. Kalau satu lawan satu. terus terang tiada seorangpun diantara kita yang mampu menandingi kesaktian dan kepandaiannya. Dan seorang manusia

jahat yang pura2 baik. Dia gemar sekali mempelajari kepandaian untuk mencelakai orang. Tak perlu kita harus menggunakan cara2 perwira seperti yang lazim dalam dunia persilatan. Marilah kita bersatu padu membasmi orang itu!”

Cong To hendak bicara tetapi tak jadi. Ia terus berputar tubuh dan berjalan kemuka.

Sejenak memandang kesekalian orang, Nyo Bun-giau berbisik, “Saudara Leng….”

Sejak berkumpul dengan rombongan tokoh2 itu. ketua lembah Seribu-racun tak mau bicara. Dia hanya meramkan mata. Baru setelah Nyo Bun-biau menegurnya, ia gelagapan dan membuka mata, “Apa?”

Kiranya dia tengah salurkan tenaga-dalam untuk memulihkan tenaganya dan saat itu semangatnya pun sudah tampak penuh.

Nyo Bun -giau agak terkesiap, serunya, “Pikirku, aku dan saudara Leng akan berjalan di muka. Saudara Ca, berjalan dibelakang kita. Dengan ilmu pukulannya Peh-poh sin kun, dapat membantu rombongan ini untuk melintasi serangan Ih Thian heng.”

Ketika ketua Lembah-seribu racun hendak menjawab tiba2 nenek Bwe Nio muncul. Dibelakang nenek itu mengikuti seorang dara berambut panjang.

Melihat dara itu serentak ketua Lembah-seribu-racun berseru, “Ceng, lekas kemari!”

Tetapi Siangkwan Kopun cepat berseru, “Ceng, kemari!”

Ketua Lembah-seribu-racun tertawa meloroh, “Saudara Siangkwan. marga Siangkwan dan Lembah-seribu-racun, sama2 mempunyai nama yang gemilang dalam dunia persilatan. Apabila kita bisa terangkap dalam perjodohan, sungguh merupakan keluarga yang hebat, Siangkwan Ko tertawa dingin, “ Masakan puteriku yang begitu cantik dan pintar, sudi menjadi isteri puteramu yang buruk muka, hm! Saudara Leng, harap hapus saja keinginanmu itu agar jangan menimbulkan kesusahan.”

Seketika berobahlah wajah Leng Kong-siau, serunya dingin, “Dalam tempat dan saat yang masih belum diketahui bagaimana jadinya dengan diri kita, aku tak mau bertengkar mulut dengan saudara Siangkwan. Tetapi soal pernikahan itu puterimu sendiri yang sudah meluluskan. Kalau tak percaya silahkan tanya kepadanya.”

Siangkwan Ko terlawa dingin, “Urusan penting seperti pernikahan itu, masakan seperti permainan kanak2. Harus ada juga jomlang dan enam yang saksi. Satupun tak boleh kurang. Lalu siapakah saksi saudara Leng itu?”

Dengan terlongong Siangkwan Wan-ceng memandang ayahnya dan Leng Kong-siau. Kemudian tanpa mengacuhkan keduanya,ia terus melangkah masuk kedalam pintu batu.

Rupanya Siangkwan Ko dapat melihaT perubahan muka puterinya. Maka cepat ia berseru “ Ceng Ji, Ceng Ji! Mengapa engkau tak kenal lagi ayahmu?”

Tetapi bukan berhenti atau menyahut, nona itu malah terus pesatkan langkah masuk ke dalam.

Tetapi Leng Kongsian lebih cepat. Apalagi dia lebih dekat dengan pintu. Maka ia terus mendahului menyusul masuk.

Nyo Bun-giau, Siangkwan Ko, Ting Ko dan Kim loji. pun segera mengikuti masuk kedalam pintu batu itu.

Kini yang tinggal di ruang itu hanya orang Lam-hay bun. Nenek Bwe segera mengeluarkan mustika Tenggoret Kumala, “Menurut apa yang tersiar dalam dunia persilatan Tiong-goan, mustika ini dapat menyembuhkan segala macam racun. Entah apakah dapat menyembuhkan racun mutiara yang berada dalam tubuh “to-ji?”

Ong Kwan-tiong menyahut gopoh, “Sumoay sudah menelan mutiara racun itu kedalam perut. Apakah kita harus menghancurkan mustika itu dan diminumkan pada sumoay?”

Bwe Nio tertegun, “Ah, hal itu sebelumnya tak pernah kupikirkan.”

Ong Kwan-tiong menghela napas, “Entah apakah suhu sudah mengetahui kalau sumoay biasa mengulum mutiara beracun itu?”

“Ayah To ji, tahu segala apa. Kukira dia ten tu sudah tahu hal itu dan mempunyai cara untuk menolongnya. Sayang dia tinggal di Lam hay yang jauh sehingga tak tahu kalau to ji sudah menelan mutiara beracun itu….”

Sibuntung baju merahpun mcnyelutuk, “Sekali pun tahu, tentu terlambat juga Begitu dia tiba jenazah sumoay tentu sudah membeku.”

Tiba2 sibungkuk Au yang sejak tadi diam saja, saat itu berkata, “Maafkan aku yang lancang mulut. Karena hal ini sudah begini, menurut pendapatku, lebih baik kita hancurkan saja mustika Tenggoret Kumala itu dan kita minumkan pada nona Siau. Mustika itu sudah termasyhur sebagai obat mujarab untuk menyembuhkan segala rupa racun, mungkin saja masih ada harapan untuk menolong nona.”

Nenek Bwe menghela napas, “Makam ini memang tak baik terhadap kaum wanita. To-ji menelan mutiara beracun lalu bedak perempuan dari lembah Raja setan itupun karena terluka lalu meninggal Nona Siangkwan tadipun telah

kututuk jalandarahnya sehingga menjadi orang longong. Empat jam lagi, dia tentu takkan tertolong jiwanya….

“Waktu Bwe Nio lo-cianpwe hendak mengambil mustika Tenggoret Kumala, aku lantas….” belum Ong Kwan-iiong menyelesaikan kata-katanya, nenek Bwe
sudah menukas, “Engkau lantas tak setuju, bukan?” Ong Kwan-tiong mengangguk.

“Maka kuminta engkau pergi. Tetapi walaupun meluluskan, engkau tetap tak mau pergi,” kata nenek Bwe pula.

Ong Kwan-tiong menghela napas panjang, “Bwe Nio cianpwe, apakah karena nona Siaugkwaa melihat engkau hendak mengambil mustika Tenggoret Kumala itu engkau lalu menutuk jalandarahnya?”

“Ya,” nenek Bwe mengiakan.

“Bwe Nio cianpwe. engkau…. huh, huh….” tiba2 Ong Kwan-tiong tundukkan
kepala batuk2 tak henti-hentinya.

“Sudahlah, jangan batuk2,” kata Bwe Nio, “kutahu apa yang hendak engkau katakan. Bukankah engkau mengatakan aku keliwat ganas?” Ong Kwan - tiong diam saja. ‘Benar, memang aku keliwat ganas,” kata nenek Bwe, “tetapi demi To ji, perbuatan yang lebih kejam dari itu, pun akan kulakukan juga.!”’ Ong Kwan liong mengangkat kepala, berkata dengan nada sarat, “Bwe Nio cianpwe, mustika Tenggoret Kumala itu jangan sekali-kali dibuat mengobati sumoay!”

“Mengapa?”

“Segala yang terdapat dalam makam ini, penuh dengan hal yang diluar dugaan orang. Kita harus hati2 Selruh isi makam dan kabar tentang makam ini ternyata hanya bohong semua. Maka tentang kedua mustika Tenggoret Kumala dan Ku-pu2 Emas itu, tentulah juga….”

“Palsu?” Bwe Nio menukas.

“Ya,” Ong Kwan-tiong mengiakan.

Bwe Nio menghela napas, “Akupun juga mempunyai kecurigaan begitu. Maka aku masih sangsi untuk memberikan kepada To ju tetapi dia benar2 terancam jiwanya, kecuali dengan jalan mencobakan mustika ini, rasanya kita sudah tak ada lain daya lagi.”

Ong Kwan -tiong menjawab dengan serius, “Lebih baik kita biarkan keadaan begini dan menunggu perobahan, daripada bertindak dengan gegabah,”

Sejenak merenung, Bwe Nio menghela napas pelahan, “Menuruf engkau….”

Rupanya nenek itupun juga tak berani mengambil keputusan sendiri.

Ong Kwan -tiong menjurah, “Harap cianpwe memondong tubuh sumoay dan aku yang akan membuka jalan.”

“Aku saja” tiba2 sikaki buntung baju merah berseru.

Ong Kwan tiong berkata dengan wajah serius, “Saat ini gawat sekali, soal mati hidup. Engkau dan aku demi kepentingan sumoay, seharusnya lekas keluar dari makam ini. Tak mungkin kita mundur dan kalau maju terus kita harus hati2. Sejak saat ini, dendam dan kepentingan peribadi diantara engkau dan aku harus disingkirkan. Perlu apa engkau hendak berebut dengan aku?”

Kata-katanya itu tepat dan serius. Kaki buntung tundukkan kepala diam.

Diam2 nenek Bwe merenung, “Ong Kwan tiong anak ini, biasanya tak tampak keluarbiasaannya.

Tetapi pada saat yang genting, dapatlah diketahui betapa tegas dan tepat ia mengambil keputusan. Tak heran kalau ayah To ji, suruh dia mengawal perjalanannya. Hanya sayang dia.”“

ia tak mau melanjutkan pemikirannya. Mengangkat tubuh si dara baju ungu terus melangkah masuk kedalam pintu batu. Melihat itu Ong Kwan- tiong cepat mendahului berjalan dimuka nenek itu.

Si kaki buntung, si Bungkuk dan si Pendekpun segera mengikuti dibelakang nenek bwe.

Seketika mereka mendengar deru angin pukulan yang keras kira2 pada jarak beberapa tombak jauhnya. Jelas kalau disebelah muka sedang berlangsung pertempuran dahsyat.

Suasana sunyi tetapi penuh maut.

Tiba2 Ong Kwan tiong tergelincir dan menginjak sebuah benda yang lunak.
Cepat ia menyambar dan mengangkatnya Ternyata sesosok mayat.

“Ah, ruangan ini penuh mayat,” ia menghela napas.

Tampak sinar berkilat-kilat sampai beberapa tombak dan menyusul terdengar suara jeritan melengking. Jelas terdapat seseorang yang mati.

“Kawan tiong,” bisik nenek Bwe, “pelahan saja. Biarlah mereka yang membukakan jalan untuk kita….”

Kaki buntung menyelutuk, “Bwe Nio memang tepat. Kita memang tak dapat menghindari bertempur dengan jago2 Tionggoan. Baiklah kita beristirahat untuk memulangkan tenaga dulu.”

Angin pukulan makin menderu tajam dan tak henti-hentinya. Tetapi tetap ditempat itu saja. Suatu pertanda bahwa rombongan tokoh2 silat tadi sedang menghadapi musuh yang tangguh dan tak dapat melintasi maju.

“Pemilik makam ini, memang tak boleh dianggap enteng. Dia dapat menahan jurus serangan dari sekian banyak jago2 silat Tionggoan yang sakti,” kata Ong Kwan-liong. Iapun terus maju kearah tempat pertempuran itu.

Wut…. tiba2 serangkum angin pukulan melanda dada Ong Kwan-tiong. Cepat
ia kebutkan lengan bajunya untuk menghalau lalu cepat2 balas memukul.

Tiba2 kedengaran Pengemis sakti Ceng To berseru, “Saudara Siangkwan, kita harus lekas menahan kebelakang Rupanya orang Lam-hay-bun menggunakan kesempatan saat ini untuk menyerang kita! “

Dalam keadaan yang remang, terdengar Han Ping berteriak marah, “Siapa yang menghadang aku, tentu mati!”

Sinar berkelebatan menyilaukan lorong jalan yang sunyi dan gelap itu Sesaat terdengar jeritan ngeri susul menyusul. Rupauya ada beberapa orang yang rubuh dibawah sabatan pedangnya.

Sebuah suara yang parau terdengar dari tengah lorong, “Kalau kalian tak mampu merintangi, baik menyisih saja!”

Tiba2 Bwe Nio rasakan tubuhnya gemetar hampir mau rubuh. Ia segera berbisik kepada Ong Kwan-tiong, “Kwan-tiong, suara itu benar2 tak asing lagi.”

“Ya, akupun merasa demikian juga. Seperti nada suara suhu?” kata Ong Kwan-tiong.

“Aneh,” kata Bwe Nio, “dalam beberapa tahun ini, dia belum pernah pergi dari Lam-hay. Mana mempunyai waktu untuk membangun makam kuna ini?”

Jawab Ong Kwan-tiong, “Kepandaian suhu, setanpun tak dapat menduga….”

Tiba2 beberapa mata manusia memancar disebelah muka. Rupanya ada beberapa orang yang hendak menghadang jalan.

“Siapa?” bentak Ong Kwan-tiong. Si kaki buntung, si bungkuk dan si Kate cepat berhamburan menerjang maju.

Rupanya orang2 Lam-hay-bun itu sudah terbakar dengan kemarahan. Kesedihan atas meninggalnya suamoay mereka, hendak ditumpahkan kepada setiap musuh yang dijumpahinya.

Wut…. si Bungkuk mendahului lepaskan hantaman. Siangkwan Ko
menggembor keras dan menangkis, benturan kedua tenaga pukulan itu, kumandangnya bergulung-gulung memenuhi terowongan jalan.

“Kalau ayah To-ji benar berada dalam makam ini, anak ini tentu tertolong,” kala bwe Nio.

“Mudah mudahan Thian melindungi agar sumoay dapat hidup kembali,” kata Ong Kwan tiong.

Tiba2 terdengar si kaki buntung baju merah berseru keras, “Pengemis tua benar2 tak bernama kosong. Cobalah engkau terima lagi sebuah pukulanku ini!”

Pengemis sakti Cong To tertawa nyaring, “Kita memperoleh kesempatan baik sekali untuk mengadu kepandaian. Tak usah heran.”

Pedang berkelebat dan Siangkwan Ko berteriak, “Saudara Cong hanya bertangan kosong dan dia menyerang dengan tongkat besi. apakah tak rugi? Baiklah saudara Cong menghadapi si Bungkuk dan si Pendek itu saja, aku yang menghadapi dia!”

Cong To tertawa, “Tak perlu saudara Siangkwan sungkan. Karena kedua orang itu maju berbareng, saudara boleh gunakan senjata menghadapi mereka.

Siangkwan Ko dua kali menahas dan mengundurkan kedua Bungkuk dan Pendek lalu berteriak keras, “Bungkuk dan Pendek itu penghianat dari Tionggoan. Dahulu ketika di Sepak, aku pernah bertempur dengan mereka berdua sampai lebih dari tiga ratus jurus. Kepandaiannya hanya begitu saja….”

“Saudara Siangkwan jangan bermulut besar,” bentak si Pendek,” hari ini kalau tidak sampai ada yang rubuh, kita jangan berhenti.”

Sambil berkata si Pendek sudah mengeluarkan senjatanya, sebatang pit (pena) besi lalu menyerang maju.

Serentak terdengar dering tajam ketika pit besi beradu dengan pedang. Dalam terowongan yang gelap, bunga api memercik berhamburan.

Siangkwan Ko menggembor keras. Tangan kiri menabas dingan jurus Heng toan-san atau Menebas- putus awan-gunung. Dan pedang di tangan kanan menusuk kearah si kaki buntung dengan jurus Pek-hun jut-san atau Awan putih-keluar-gunung, seraya membentak, “Siapakah yang melukai puteriku?”

Mendengar itu segera Cong To dapat menyadari bahwa karena Siangkwan Wan-ceng terluka maka Siangkwan Ko baru mau menempur orang2 Lam-haybun. Diam2 Cong Topun hendak membantu Siangkwan Ko mencari balas. Setelah menghindari tongkat si kaki buntung, ia mengangkat tangan kanan menangkis pukulan si Bungkuk. Dengan peralihan yang cepat itu, kini mereka bertukar lawan.

Rupanya antara Siangkwan Ko dan lelaki kaki buntung itu sebelumnya memang sudah saling mengincar dan hendak mendahului menyerang. Begitu terjadi perkisaran, keduanyapun cepat gerakkan pit besi dan pedang. Tring, tring, terdengar dering senjata beradu tak mendenging-denging sampai lama.

Walaupun Siangkwan Ko menggunakan sepasang pedang tetapi kedua pedangnya itu amat berat, paling sedikit setiap pedang beratnya sepuluh kati.

Beda dengan pedang pusaka yang umumnya tipis dan ringan. Sepasang pedang pusaka dari Siangkwan Ko itu dapat dibuat menyerang tetapi pun dapat digunakan untuk beradu dengan senjata lawan.

Kedua orang itu, yang seorang bersedih karena sumoaynya meninggal dan marah terhadap semua jago2 silat daerah Tionggoan. Dan yang seorang marah karena puterinya dilukai orang Lamhay- bun. Keduanya sama2 mengandung dendam kemarahan. Yang satu hendak membasmi orang Tiong-goan yang satu hendak membunuh orang Lam-hay-bun.

Maka begitu bertempur, keduanyapun segera lancarkan serangan yang ganas dan dahsyat.

Tengah bertempuran berlangsung seru, tiba2 Han Ping berseru, “Harap cianpwe berdua berhenti bertempur. Pemilik makam sudah memberi perintah kepada anak buahnya supaya berhenti….”

Tergopoh-gopoh Pengemis-sakti Cong To lepaskan hantaman untuk mengundurkan si Bungkuk dan si Pendek, kemudian berseru, “Saudara Siangkwan, jangan menyia-nyiakan waktu, mari kita jalan terus!”

Sesaat kemudian pengemis sakti itupun berseru kepada orang2 Lam-hay-bun, “Pemilik makam sudah memerintahkan anak buahnya untuk berhenti. Pintupun sudah terbuka untuk para tetamu. Kalau kalian memang benar2 hendak adu kepandaian dengan jago2 persilatan Tiong-goan, tak mesti harus kalian lakukan sekarang. Mari kita temui pemilik makam itu dulu, setelah itu kita boleh lanjutkan pertempuran lagi.”

Si kaki buntung tak mau menghiraukan tetapi ia terpaksa menurut setelah diperintah nenek Bwe supaya berhenti menyerang.

“Mari kita pergi,” Cong To menarik lengan baju Siangkwan Ko terus diajak melangkah kemuka.

Cepat sekali mereka sudah mencapai sepuluh tombak jauhnya. Kecuali lorong terowongan, pemandangan disitu tiba2 berobah. Sebuah ruang yang besar penuh dihias dengan pot2 bunga. Delapan anak berpakaian biru, dengan pedang terhunus menjaga dimuka pintu bercat merah.

Leng Kong-siau, ketua Lembah -seribu-racun cepat maju menyambut dan berkata kepada Siangkwan Ko, “Selamat saudara Siangkwan Berkat lindunganku, puterimu telah selamat tak kurang suatu apa dapat melintasi jalan Maut tadi.”

Siangkwan Ko memandang kemuka. Tampak puterinya tegak di samping dengan sinar mata yang rawan.

“Ceng….” jago tua itu berseru seraya menghampiri.

Siangkwan Wan ceng memandang ayahnya, tertawa dan pelahan-lahan berputar tubuh. Siangkwan Ko terhenti, dua butir airmata menitik keluar. Perasaan orangtua itu terharu sekali.

Merawat dan mendidik berpuluh tahun dari kecil sehingga sampai remaja, menyebabkan ayah itu merasa terharu karena dirinya diperlakukan sebagai orang tak dikenal oleh puterinya. Penderitaan itu amat menyiksa batin Siangkwan Ko.

“Saudara Siaugkwan,” bisik Pengemis-sakti Cong To, “puterimu hanya menderita serangan gelap dari orang dan untuk sementara ini hanya pingsan saja. Asal kita dapat keluar dari makam ini, tentu mudah kita dapat mengobatinya.”

Siangkwan Ko berpaling memandang pengemis tua itu, mengusap airmatanya dan berkata, “ Terima kasih saudara Cong.”

Sejenak memandang kesekeliling. Pengemis-sakti Cong To tiba2 tersenyum, “Ah, rupanya tempat ini sangat bagus sekali untuk kuburan tulang2 manusia.”

Ih Thian-heng berseru nyaring, “Kalau saudara sudah menggantikan orang2 saudara dan mempersilahkan kita masuk, mengapa saudara tak lekas mengunjuk diri?”

Tiba2 terdengar pintu bercat merah yang tertutup rapat tadi, berderak-derak terbuka. Seorang yang bertubuh pendek kecil dan berpakaian hitam, melangkah keluar, dandanan orang itu memang lucu, memelihara kumis berkepang dan tangannya memegang sebatang pipa yang mengkilap, berbaju pendek tetapi celananya panjang sekali sampai menebar ke tanah.

Han Ping kerutkan alis, berpaling kearah Kim loji, “Paman, apakah orang itu juga tergolong orang sakti dalam dunia persilatan?”

“Aku sendiri juga belum pernah melihat dia, entah dari golongan apa,” sahut Kim loji.

Tampak orang pendek baju hitam itu berputar-putar tubuh dan tegak berdiri di samping kiri pintu bercat merah.

Tak lama kemudian, muncul pula seorang wanita pendek baju putih yang terus berdiri disamping kanan pintu merah itu.

Kemunculan kedua orang pendek itu, disambut dengan gerakan dari kedelapan kacung baju biru yang berkisar dari pintu dan berhenti pada jarak dua meter. Serempak mereka acungkan pedang merebah kmuka sehingga membentuk sebuah pagar pedang.

Pengemis-sakti Cong To mendengus ejek, “Hm, hebat benar pertunjukan mereka. “

Tepat pada saat ia bicara, dari dalam ruang terdengar suara orang tertawa gelak2. Seorang lelaki tua berpakaian biru, sambil memanggul kedua tangannya kepunggung, berjalan pelahan-lahan keluar.

Sekalian tokoh tegang regang. Pada saat itu mereka bakal menghadapi jawaban dari rahasia makam gua yang selama berpuluh-puluh tahun menjadi buah pembicaraan didunia persilatan.

Dengan suara yang “nyaring orangtua itu berseru, “Sejak berpisah digunung Heng-san, cepat sekali sekarang sudah sepuluh tahun lamanya Entah apakah diantara seudara2 yang datang ini, ada yang kenal padaku.”

Pada saat dia bicara, kedelapan kacung itupun segera berpencar mundur ke dua belah samping dan tegak berdiri dengan menjulaikan pedangnya.

Ih Thian-hengpun tertawa keras, “O, kukira siapa, kiranya engkaulah! Sungguh hebat sekali engkau ini karena dapat mengelabuhi kaum persilatan Tionggoan selama lebih dari sepuluh tahun!”

Tenang2 orangtua baju biru itu keliarkan matanya memandang sekalian tokoh lalu berkata, “Yang merancang siasat pengelabuhan ini, bukan berasal dari aku. Tetapi kalian tokoh2 sakti dari dunia persilatan Tiong-goan yang mengadakan dan menciptakannya sendiri. Siasat kalian itu cepat dapat kucium dan kugunakan jerih payah mereka untuk mempermainkan kawan2 mereka!”

Sekalian tokoh terkesiap. Mereka mendugaduga siapakah yang dimaksud oleh orangtua baju biru atau pemilik makam itu.

Cong To memandang kearah tokoh2 itu, akhirnya Pandang matanya runtuh pada diri Ih Thian-heng, serunya, “Kecuali Ih Thian-heng, aku tak percaya didunia persilatan ini terdapat orang yang mempunyai akal daya begitu!”

Ih Thian-heng tertawa hambar, “Terpaksa aku harus mengecewakan harapan saudara Cong. Tetapi kali ini saudara telah menebak salah.”

Wajah orangtua baju biru itu berobah serius, katanva, “Orang itu masih berada dalam makam ini. Nanti akan kusuruh keluar untuk bertemu dengan saudara2 .

Ia berhenti sejenak lalu berkata pula, “Makam ini dihias indah sekali dan dilengkapi dengan bermacam-macam pekakas rahasia. Apabila terkubur disini, sungguh tak mengecewakan.”

Wajah ih Thian heng berobah, “Apakah maksud ucapanmu, itu?”

Orangtua baju biru tertawa gelak2, “Karena saudara2 sudah berkunjung kemari, masakan saudara hendak keluar?”

Ih Thian-heng memandang kearah Pengemis-sakti Cong To, hendak bicara tetapi tak jadi. Rupanya dia menyadari bahwa saat itu, ia sudah dimusuhi oleh rombongan tokoh2 itu. Apabila ia berdebat dengan orangtua baju biru itu. kemungkinan rombongan tokoh2 itu takkan membelanya. Maka lebih baik ia diam Saja.

Tiba2 Nyo Bun-giau menyelutuk, “Dengan kekuatanmu seorang diri, apakah engkau yakin dapat menahan kami? Ah aku tak percaya.”

Tetapi Pengemis sakti Cong To mencurahkan pikirannya kepada pemilik makam yang sesungguhnya, maka ia berseru, “Kalau memang pencipta dan pemilik dari makam itu berada disini. mengapa tak mengundangnya keluar?”

Orangtua baju biru itu tertawa hambar, “Ini, tak usah terburu-buru tiba2 wajahnya berobah dan tak melanjutkan kata katanya.

Ketika sekalian tokoh berpaling ternyata nenek Bwe Niopun sudah muncul dibelakang mereka. Sambil membopong tubuh si dara baju ungu, nenek itu pelahan-lahan menghampiri.

Rupanya nenek itu juga terkejut melihat orang tua baju biru sehingga tubuh si dara hampir terle pas jatuh.

Pun sekalian anak buah Lam-hay-bun tegang sekali memandang kearah lelaki baju biru itu.

Sekalian tokoh yang berada disitu sebagian besar adalah tokoh2 persilatan yang ternama. Mereka mempunyai pengalaman yang luas dalam dunia

persilatan. Melihat wajah anak buah Lam-hay-bun mengerut tak wajar, sekalian tokoh itu cepat dapat menduga bahwa tentu ada sesuatu hal yang aneh.

Benar juga, setelah menenangkan hatinya, nenek Bwe tertawa dingin dan mendamprat, “Hm, nyalimu besar sekali….”

Lelaki baju biru itu mengangkat tangan memberi hormat, serunya, “Bwe Nio, peristiwa yang lampau, baiklah besok saja kita bicarakan.”

Saat ini karena para tetamu kaum persilatan Tiong-goan berkunjung datang, aku tak mempunyai waktu untuk membicarakan urusan kita….”

Nenek bwe yang sudah putih rambutnya tiba2 merahlah pipinya, ia membentak bengis: Aku ingin sekali makan dagingmu dan membeset kulitmu. Kwantiong, pondonglah sumoyku ini….”

Ong Kwan-tiong cepat melangkah maju dan membisiki, “Harap lo cianpwe jangan marah dulu, dalam tempat dan saat seperti ini ….

Tetapi nenek Bwe sudah dirangsang kemarahan. Cepat ia berputar tubuh dan menyerahkan si dara baju ungu kepada ong Kwan -tiong. Kemudian gentakkan tongkat bambunya menyerang orang-tua baju biru mi.

Rupanya lelaki baju biru itu takut sekali kepada nenek bwe. Ia terkejut ketika melihat nenek itu menyerangnya. Buru2 ia berteriak memberi perintah kepada anak buahnya; “Lekas tangkap dia!”

Kedelepan kacung baju biru cepat mengiakan dan berhamburan berbaris menghadang nenek Bwe.

“Siapa yang menghadang aku, tentu mati!” nenek Bwe menyapu dengan tongkatnya. Tring, tring!

Terdengar gemerincing senjata beradu keras. Pedang kedelapan kacung itu tersiak kebelakang.

Tetapi kedelapan kacung itu rupanya sudah berpengalaman dalam pertempuran. Mereka menyadari kalah sakti dengan si nenek. Kalau adu kekerasan terang tentu kalah. Maka mereka membentuk barisan pedang Untuk mengepung nenek itu rapat2.

Sekalian tokoh tahu bahwa nenek Bwe itu memang sakti. Tetapi selama itu belum pernah seorangpun dari mereka yang bertempur dengan Bwe Nio. Sekalipun demikian apa yang mereka saksikan saat itu, benar2 menimbulkan kekaguman hati mereka.

Tongkat bambu dari nenek itu menjulur surut bagai ular memagut, cepat dan sukar diduga gerak perobahannya. Waktu melancarkan serangan, pun permainan nenek itu rapat sekali.

Namun barisan pedang dari kedelapan kacung baju biru itupun bukan kepalang hebatnya. Gerak perobahannya indah dan sukar diduga juga. Walaupun didesak gencar oleh tongkat, namun mereka tetap dapat berputar-putar dan bertahan sampai! duapuluh jurus. Nenek Bwe tetap belum mampu maju selangkahpun juga.

Si Bungkuk dan si Pendek serta si Kaki buntung baju merah, diam2 sudah kerahkan tenaga-dalam untuk sewaktu-waktu memberi bantuan.

Karena sampai sekian lama belum juga dapat menghancurkan barisan lawan, tiba2 Bwe Nio membentak keras. Tongkat dimainkan lebih gencar.

Tongkat menyambar-nyambar laksana kilat merobek angkasa, Anginpun menderu-deru bagai prahara, mengamuk. Dahsyatnya serangan nenek itu membuat barisan pedang kedelapan kacung agak kacau. Gerak silang perpindahan-tempat, pun mulai ricuh.

Melihat itu Nyo Bun-giau berbisik kepada Ca Cu-jing: Saudara Ca, kepandaian perempuan tua itu hebat sekali! Gerakan tongkatnya menghamburkan tenaga seperti gelombang lautan. Sungguh seorang lawan yang tak boleh dipandang enteng.

“Benar,” sahut CaCujing. “seorang yang sudah mencapai umur tua masih memiliki tenaga begitu hebat, sungguh sukar dicari keduanya ‘.”

Nyo Bun-giau menggunakan ilmu Menyusup suara untuk berkata lagi, “Saudara Ca, bagaimanakah kepandaian nenek itu dibanding dengan Ih Thian-heng?”

Ca Cu jing terkesiap tetapi sesaat rupanya ia dapat menebak maksud pertanyaan orang. Ia tertawa hambar lalu gunakan ilmu Menyusup-suara untuk menjawab, “Menurut kesanku, agaknya Ih Ihian-heng masih setingkat lebih tinggi.”

“Kalau kita dapat mengadu Ih Thian-heng supaya bertempur dengan nenek itu lebih dulu. kemudian ia ajak seorang lagi dan ditambah dengan putera saudara, tentulah akan dapat mengatasi keadaan.”

Jawab Ca Cu jing, “Budak lelaki she Ji itu, mempunyai dendam darah atas kematian kedua orangtuanya. Dia tentu takkan melepaskan Ih Thian-heng. Soal itu harap saudara Nyo tenang-2 saja, tak perlu kita bersusah payah membuang tenaga, mereka tentu sudah beres sendiri.”

Berkata pula Nyo Bun-giau, “Asal selain Ih Thian-heng dan anak she Ji itu, tokoh2 yang lainnya entah karena memperhitungkan untung rugi atau karena

menjaga gengsi atau karena terikat dendam permusuhan, sehingga tak dapat bersatu. Kita dapat menggunakan siasat mengeruhkan keadaan dan mengadu domba mereka. Kemudian satu demi satu, kita lenyapkan mereka. Dengan begitu harta karun dalam makam ini beserta kedua benda mustika Tenggoret Kumala dan Kupu2 Emas itu, pasti akan jatuh ketangan kita berdua….”

Karena dalam pembicaraan itu mereka menggunakan ilmu Menyusup-suara, maka lain orangpun tak dapat mendengar yang mereka bicarakan.

“’hm kalian hendak merancang siasat apa?” tiba2 Pengemis-sakii Cong To mendengus dingin.

Nyo Bun-giau tertawa, “Aku dan saudara Ca sedang membicarakan keadaan makam ini. Liku2 perobahan yang terdapat dalam makam ini, benar2 membingungkan orang dan sukar diduga.”

Pengemis- sakti CongTo tertawa “Nyo bun giau, tak usah engkau jual sandiwara dihadapan pengemis tua ini. Kejahatan Ih Thian heng karena nafsunya besar sekali untuk menjadi pemimpin dunia persilatan. Mungkin setelah dapat menaklukkan dunia persilatan dia akan mempersiapkan pasukan untuk memberontak. Tetapi dalam soal kelicikan dan keserakahan mengumpulkan harta benda, engkau jauh lebih menang dari dia. Aku tak percaya, mulut anjing itu dapat tumbuh gading.”

Makian pengemis tua ilu benar2 tajam dan tepat sekali. Dia seolah olah menelanjangi diri Nyo Bun giau dimuka umum. Betapa tebalpun kulit muka Nyo Bun-giau, tetapi mendengar makian itu, merah juga mukanya.

Saat itu pertempuran antara nenek Bwe dengan kedelapan kacung baju biru sudah hampir mencapai penyelesaian. Tongkat nenek Bwe bergerak menyambar keatas dan menabas kebawah dengan perkasa. Barisan kedelapan kacung itu sudah terkuasai amukan nenek Bwe. Bagian tengah barisan sudah terpecah dua, perputaran gerak barisanpun macet. Sehingga mereka seperti sudah tak dapat berhubungan lagi dan harus bertempur sendiri2. Dalam beberapa detik lagi, jelas kedelapan kacung itu tentu akan remuk dibawah tongkat nenek Bwe.

Melihat gelagat buruk, lelaki tua baju biru tadi cepat berputar tubuh terus lari masuk.

Nenek Bwe menggembor keras, rambut kepalanya yang sudah putih itu sama tegak berdiri. Ia menghantam sekuatnya, dua orang kacung terlempar ke belakang, secepat itu nenek Bwepun terus menerjang kemuka. Orangtua baju biru baru tiba dimuka pintu merah, tongkat nenek Bwepun sudah tiba dibelakangnya.

Lelaki kate dan perempuan kate yang menjaga di kanan kiri pintu, saling bertukar pandang dan diam saja. Rupanya mereka tak mengacungkan keselamatan orangtua baju biru itu.

Pada saat2 maut hendak merenggut, tiba2 lelaki baju biru itu berputar tubuh dan menjerit: Bwe Nio….”

Nenek Bwe yang berhati baja, tiba2 tubuhnya gemetar dan tongkat yang menghantam lurus kemuka itupun tiba2 ia miringkan ke samping Bum…. daun

pintu yang bercat merah itu termakan ujung tongkat hingga menggurat sampai dua tiga dim dalamnya.

Lelaki baju biru itu leletkan lidah, “Sayangku kalau tongkat itu jatuh di tubuhku, tentu punggungku sudah berlubang.”

Nenek Bwe mendengus, “Manusia yang lebih nista dari binatang, ternyata engkau masih hidup.”

Orangtua baju biru itu memandang sekalian tokoh. Wajahnya sama sekali tak merah karena dampratan nenek Bwe itu. Ia berkata. “Karena melakukan perintah tang-cu (majikan)

“Apakah suhu juga berada disini?” bentak Omg Kwan-tiong.

Lelaki baju biru itu kerutkan alis dan berpaling kearah nenek Bwe, “Apakah orang ini juga anak murid Lam-hay-bun?”

Ong Kwan-tiong memperhatikan bahwa orang tua baju biru itu selain mempunyai hubungan erat dengan perguruan Lam-hay-bun, pun agaknya mempunyai hubungan juga dengan nenek Bwe. Maka cepat ia menyusuli kata2 lagi dengan nada yang ramah, “Aku memang murid pertama dari Lam-hay-bun ….’….”

Tiba2 Ong Kwan-tiong hentikan kata2nya. Ia menyadari kalau dirinya sudah diusir dari perguruan dan sampai saat itu masih belum resmi diberi ampun oleh suhunya.

Nenek Bwe menjawab dingin, “Kita tak ada waktu bicara dengan engkau. Dimana tangcu sekarang? Lekas bilang!”

Orangtua baju biru itu merenung lalu menjawab, “Tangcu sedang melakukan semedhi….”

“Toto terancam maut jiwanya, harus menemui tangcu. Lekas menyisih, aku hendak menghadap tangcu,” seru nenek Bwe cemas.

Tiba2 orangtua baju biru itu berbisik, “Bwe Nio, dekatkanlah telingamu kemari.”

Sebagai jawaban, nenek Bwe ayunkan tongkatnya dan membentak, “Enyah kau!” Ia terus melangkah masuk kedalam pintu merah.”

Orangtua baju biru itu kaget dan terus ulurkan tangan mencengkeram nenek Bwe, “Jangan Bwe Nio, jangan masuk.”

Plak, nenek Bwe ayunkan tangan menampar bahu lelaki itu sehingga jatuh jungkir balik sampai beberapa langkah.

“Jangan bergerak,” cepat Han Ping mencekal tangan orang itu dan melekatkan pedang kemukanya Orang itupun tak berani berkutik lagi.

Tetapi nenek Bwe memandang Han Ping dengan beringas, serunya, “Anak buah Larn-hay-bun, betapapun besar kesalahannya, lain orang tak boleh ikut menghukumnya. Lekas lepaskan dia!”

Wajah Han Ping berobah gelap. Setelah merenung beberapa saat, barulah pelahan lahan ia lepaskan tangan orang itu. Jelas pemuda itu tak senang dengan ucapan neneK Bwe, tetapi dia tak mau memperbesar bentrokannya dengan orang Lam-hay-bun dan terpaksa melepas orangtua baju biru itu.

Begitu dibebaskan, lelaki baju biru itu terus lari menghadang dimuka pintu dan berkata dengan nada bersungguh kepada Bwe Nio, “Bwe Nio, apabila tangcu tak menderita sesuatu yang terpaksa, masakan dia mau melepaskan aku keluar. Kalau engkau tak mau mendengar kataku dan tetap berkeras hendak masuk, tentulah kelak engkau akan menderita dendam kusumat seumur hidup.

Semula nenek Bwe tertegun tetapi kemudian ia tertawa dingin, “Selama hidup, aku takkan percaya omonganmu lagi.” Ia terus menyiak orang itu dengan tongkatnya lalu melangkah masuk.

“Berhenti!” sekonyong-konyong lelaki tua baju biru yang ketakutan tadi berobah memberingas bengis dan menyerang Bwe Nio.

“Hm, engkau cari mati!” nenek Bwe marah, ayunkan tangannya menghantam kebelakang. Hantaman itu cepat mengenai dada seorang baju biru. Ia mendesah, muntah darah terus rubuh terkapar ditanah.

Tiba2 Bwe Nio menghela napas panjang. Ia tertegun seperti patung. Lelaki tua baju biru itu merangkak bangun, berseru, “Tangcu, tangcu menduga….
salah….” ia deliki mata lalu rubuh lagi.

Sikaki buntung baju merah cepat maju. Tangan kirinya mencengkeram tubuh lelaki baju biru itu dan tangan kanannya menampar punggung orang. Lelaki baju biru itu menghembus panjang dan pelahan-lahan membuka mata.

“Suhuku bagaimana?” seru si kaki buntung cemas.

Kata lelaki baju biru itu, “Kalau dalam waktu sepenanak nasi tangcu masih belum keluar, silakan kalian masuk….”

Si kaki buntung membentak, “Aku tanyakan bagaimana keadaan suhu?” “Ji-sute, jangan bersikap keras!” bentak Ong Kwan-tiong.

Lelaki tua baju biru berkata, “Tangcu, tangcu, saat ini berada dalam keadaan yang gawat…. ah, peristiwa dunia, mengapa…. begini…. . kebe…. tulan….

pada saat dia….” orang itu tak dapat melanjutkan kata-katanya karena darah
dalam tubuhnya menggelora keras dan pingsanlah dia.

Walaupun demikian, jelas orang itu mengatakan bahwa ketua Lam-hay-bun yang mendirikan makam kuna itu, sedang menghadapi suatu peristiwa hebat.

Rupanya Bwe Nio juga menyadari hal itu. Cepat ia mencengkeram lelaki baju biru itu lagi dan membentak, “Apa yang terjadi dengan tangcu, lekas bilang?”

Pun si kaki buntung segera lekatkan tangan kanannya kepunggung orang untuk menyaluri tenaga-dalam. Tak berapa lama darah orang itupun mengalir lagi. Setelah menumpahkan dua kali muntahan darah dari mulut, ia dapat membuka mata lagi dan berkata, “Tancu…. pada saat hendak keluar menghadapi

mereka…. tidak terduga-duga…. bertemu dengan subo….”

“Engkau maksudkan ibu dari Toto?”

“Benar….”

Bercucuran airmata Bwe Nio ketika mendengar berkata, “Ibu dari To-to, apakah benar2 masih hidup?”

Lelaki baju biru menjawab, “Tak mungkin salah, aku melihat jelas dengan mata kepalaku sendiri. Sesaat berjumpa kembali, keduanya segera bicara nericis….
ah, tangcu dan cu-bo memang sepasang suami isteri yang luar biasa. Mereka bercakap Cakap lama sekali tetapi aku tak mengerti bahasa apa yang mereka gunakan….”

Sambil memondong tubuh si dara baju ungu yang ternyata bernama Siau Toio iiu. Ong Kwan-tiong menghampiri dan bertanya, “Lalu….”

Lelaki baju biru menghela napas panjang, “Mengapa engkau terburu- buru? Lalu…. mereka…. tiba2 bertempur….”

“Sekarang mereka dimana?”

Lelaki baju biru berkata, “Mereka adu tenaga-dalam. Saling berlekatan tangan dengan tegang.”

“Ai, pertempuran semacam itu merupakan pantangan besar dalam dunia persilat,” seru Bwe Nio, “lekas bahwa aku kesana!”

Tetapi lelaki baju biru itu gelengkan kepala, “Sambil bertempur dengan cu-bo, tang cu gunakan ilmu Menyusup -suara memberitahu kepadaku. Suruh aku menyaru menjadi dia dan keluar untuk menyambut mereka. Asal dapat mengulur waktu sampai sepenanak nasi saja, tangcu tentu sudah dapat mencari daya.”

“Daya apa?” seru nenek Bwe. “Aku tak tahu….”

Berkata Ong Kwan-tiong dengan nada seram, “Apakah suhu hendak….
membunuh subo?”

“Hal itu sukar dibilang,” kata nenek Bwe, “suhumu itu berwatak angkuh dan subomu juga keras hati. Sekali keduanya beradu kepandaian, tentu tak mau berhenti sebelum ada yang mati…. kemungkinan sukar untuk menghentikan mereka.”

Lelaki tua baju biru itu terengah-engah. Namun ia masih paksakan diri berkata, “Jika saat ini kalian hendak menerobos masuk, dikuatirkan kedua orang itu akan menderita luka…. . .”

“Jangan bilang lagi….” bentak nenek Bwe.

Lalu ia meminta kepada Ong Kwan-tiong supaya menyerahkan Toto kepadanya.

Setelah menerima tubuh Toto, nenek Bwe berkata pula, “Mereka sedang mengerahkan tenaga. Jaga pintu ini, jangan sampai ada orang yang masuk.”

Ong Kwan- tiong mengiakan, ia terus berkisar kesamping pintu dan mencabut senjatanya yang aneh, disebut Liang-gi ci yang bentuknya seperti penggaris.

Nenek Bwe lalu menghampiri ketempat sikaki buntung baju merah dan memberi pesan, “Usahakan supaya dia jangan mati.”

Sikaki buntungpun giat menyalurkan tenaga-dalam pada punggung leaki baju biru itu.

Darah kesatrya.

Selesai mengatur seperlunya, nenek Bwe pun segera melangkah masuk kedalam pintu merah.

Setelah nenek itu masuk, Ong Kwan -tiong lalu mengangkat kedua tangan dan berseru keras, “Thian te goan hong, su jiong hoa seng….

Kata2 itu merupakan aba2 barisan. Artinya: Langit dan bumi menguning, empat gajah hidup kembali.

Kedelapan kacung baju biru yang sudah porak poranda barisannya dan saat itu bersembunyi disamping, begitu mendengar suara aba2 dari Ong Kwan-tiong segera loncat keluar dan pada lain saat sudah membentuk sebuah barisan pedang dimuka pintu merah.

Ong Kwan-tiong tegak ditengah pintu. Memandang sekalian tokoh dengan sikap seperti seorang panglima yang berwibawa.

Beberapa tokoh itu saling bertukar pandang. Pertama tama kedengaran Pengemis-sakti Cong To menghela napas, “Perobahan kejadian didunia ini memang sukar diduga Benar2 membuat orang kehilangan faham. Makam tua yang didupa hanya sebuah perangkap, ternyata berisi Lam-hay Ki-siu ketua perguruan Lain hay-bun. Tetapi aku sipengemis tua ini masih belum percaya dan masih mengira dia itu seorang gila. Tetapi apa yang terjadi saat ini….ah,

sekalipun andaikata pengemis tua ini beruntung dapat keluar dan makam tua ini, kelak pengemis tua tak mau keluar kedunia persilatan lagi.”

Ih Thian-heng tertawa gelak2, “Ah, tak kira saudara Cong yang biasanya selalu bersikap gembira, juga dapat mengeluarkan ucapan begitu!”

Ketua Lembah-seribu racun tertawa dingin, “Orang yang mau mati, kata2nya tentu baik. Pengemis tua mungkin sudah tahu kalau takkan hidup lebih panjang….”

“Bukan begitu,” tukas Ih Thian-heng.

“Bukan begitu?” sahut ketua Lembah seribu-racun. “apakah engkau kira aku dan engkau akan dapat keluar dengan selamat dari makam tua ini….”

Kata Ih Thian- heng, “Kata peribahasa, dua orang yang bersatu hati, kekuatannya tak dapat diperkirakan. Apalagi kita sekian banyak orang dengan berbagai kesaktian dan kepandaian. Apabila dapat bersatu padu, jangan lagi hanya sebuah makam tua seperti ini, liang nerakapun kita tentu dapat menerobos keluar!”

Dalam berkata -kata itu, mata Ih Thian-heng berkeliar memandang kewajah sekalian tokoh untuk menyelidik kesan mereka.

Ketua Lembah-seribu-racun memandang Ca Cu-jing dan jago tua she Ca itu, segera berkata dengan sarat, “Benar, benar!”

Tiba2 ia mengangkat muka memandang Ih Thian-heng, katanya, “Saudara Ih, sebenarnya aku ingin bersatu dengan engkau. Tetapi tiba2 saja aku teringat akan sebuah cerita.”

“Cerita bagaimana?” tanya Ih Thian heng.’ “Cerita tentang kelinci yang mengadakan perjanjian dengan seekor serigala. Mereka hendak berhasil melintasi sungai, serigala itupun terus menerkam kelinci dan memakannya!”

Ih Thian-heng tertawa gelak2!

“Cerita yang bagus, benar bagus. Tetapi kalau kelinci itu tak mau berkawan dengan serigala, dia tentu akan dimakan oleh harimau yang sudah berada didapat tempatnya!”

Ca Cu-jing tertegun dan berpaling, “Bagaimana pendapat saudara Ting?”

TingKo memondong tubuh puterinya menyahut dingin “Bagiku untuk bekerja sama dengan Ih Thian-heng, syaratnya dia harus menghidupkan lagi jiwa puteriku!”

“Tepat,” seru Pengemis sakti Cong To, “aku pengemis tuapun sejak saat ini tak mau lagi bekerja-sama dengan seorang manusia yang selicik itu!”

Ih Thian-heng menengadah tertawa, “Bagus, bagus….”

Tiba2 Leng Kong-siau, kakek pendek ketua dari Lembah-seribu-racun menutuk jalandarah di punggung Ting Ko.

Serempak dengan itu Ca Cu jingpun berseru nyaring, “Saudara Ih, aku bersama saudara Siangkwan Ko dan leng Kong-siau. berdiri difihakmu!” Habis berkata dia terus menerobos kearah pintu merah.

Ternyata ketiga orang itu, ketua Lembah-seribu-racun, Siangkwan Ko dan Ca Cu-jing diam2 telah berunding dengan menggunakan ilmu Menyusup-suara. Mereka memutuskan, lebih dulu menggabung diri dengan Ih Thian-heng untuk melawan orang Lam-hay bun. Diperhitungkan, walaupun Pengemis sakti Cong To dan mereka yang tak setuju dengan Ih Thian-heng, teiapi tentu takkan membantu orang Lam hay-bun. Setidak-tidaknya mereka tentu netral.

Seiring dengan gerakan tubuh ketua Lembah-seribu-racun, dia mengayunkan kedua tangan dan berpuluh puluh larik sinar perak sehalus bulu kerbau segera memancar kemuka.

Ong Kwan- tiong menggembor keras. Senjata Liang-gi-ci di ayunkan. Tring, tring, tring, senjata rahasia yang dilepas ketua Lembah-seribu-racun itu, berhamburan lenyap.

Ca Cu jing dan Siangkwan Kopun bergerak. Yang satu melintas dari kiri kekanan, yang satu memotong dari kanan ke kiri. Mereka menyerang barisan pedang ke delapan kacung. Seketika pecahlah pertempuran, seru. Pedang dari kedelapan kacung baju biru itu segera berhamburan bagai hujan mencurah.

Walaupun Ca Cu jing dan Siangkwan Ko itu tokoh2 yang hebat, namun mereka tetap tak mampu maju setapakpun juga.

Ih Thian-heng berpaling “Harap saudara2 tunggu dan melihat di samping. Biarlah aku yang akan membuka jalan-darah untuk saudara2.”

“Kentut!” bentak Pengemis-sakti Cong To, “siapa suruk engkau membuka jalan!”

Memang pengemis tua itu masih berdarah panas. Walaupun ia menyadari bahwa ucapan ih Thian-heng itu hanya suatu provokasi untuk membakar hati orang, namun pengemis tua tak dapat menahan diri. Habis berkata ia terus menerjang maju.

Ong Kwan-tiong membentak, “Urusan ini bukan main2. Kalau saudara2 berkeras hendak masuk, jangan salahkan kalau kami orang Lam-hay bun akan membuka pantangan membunuh!”

“Silahkan.” Ih Thian-heng tersenyum.

Dalam berkata itu dia sudah lancarkan tujuh buah serangan sehingga membuat si Pendek tak sempat menggunakan senjata pit-nya. Barulah saat itu si Pendek terbuka matanya bahwa durjana nomor saru dalam dunia persilatan Tiong goan, benar2 seorang tokoh yang sakti dan cerdas.

Ketika deru sambaran pedang sedang berkecamuk hebat, tiba2 dari dalam piatu terdengar suara nenek Bwe berseru, “Harap tangcu memberi perintah supaya para ketua dan tokoh2 terkemuka dalam dunia persilatan Tiong-goan suka bersabar karena sebentar lagi tangcu akan keluar menyambut mereka.”

Ong Kwan-tiong tertegun sejenak. Sesaat kemudian ia merasa longgar hati karena tahu bahwa suhunya tak kurang suatu apa.

Kiranya dengan memodong tubuh si dara baju ungu masuk kedalam pintu merah, Didalam pintu terbentang sebuah lorong panjang yang tanpa penerangan. Tetapi keadaan lorong itu remang2 tidak gelap sekali. Ada semacam sinar lembut yang memancar, entah dari mana….”

Nenek Bwe tak berani gunakan ilmu Meringankan tubuh lagi. Selangkah demi selangkah ia maju kedepan. Pada ujung lorong tergantung sehelai tirai mutiara. Dari tirai mutiara itulah kiranya sinar remang tadi memancar.

Dengan hati2 nenek bwe menyingkap tirai mutiara itu. Didalamnya ternyata sebuah ruang yang bersih, tanpa meja kursi dan alat2 perabot lainnya. Hanya disudut dinding berjajar belasan kim-teng atau dingklik emas. Namun suasana ruang itu cukup indah berwibawa.

Seorang lelaki tua baju biru, rambut panjang menjulai ke bahu, tengah duduk membelakangi pintu. Dia berhadapan dengan seorang wanita pertengahan umur yang cantik dengan sanggul rambut dan pakaian indah seperti puteri keraton. Seri wajahnya yang berseri gemilang laksana bidadari, membuat orang tak berani beradu pandang.

Mereka berdua menunduk dan mencurahkan seluruh semangatnya untuk beradu tenaga-dalam. Suatu pertempuran maut dari sepasang suami isteri yang aneh.

Melihat adegan itu, teganglah hati nenek Bwe. Maju selangkah ia berseru gemetar, “Cukong, cubo. Toto datang!”

Tetapi baik lelaki tua baju biru maupun wanita berpakaian puteri keraton itu tetap pejamkan mata tak menghiraukan.

Nenek Bwe bercucuran airmata dan berseru dengan terisak-isak, “Toto…. telah
menggigit hancur mutiara beracun itu!”

Kata2 yang diucapkan dengan pelahan dan sepatah demi sepatah oleh nenek Bwe itu, bagai halilintar meledak disiang hari. Lelaki tua dan wanita cantik itu serempak gemetar.

Tangan mereka yang tangan melekat erat itu, serentak tersiak satu dim.

Tiba2 tongkat bambu yang digenggam erat dalam jari manis dan jari kelingking: tangan kanan nenek Bwe, berayun menyusup ke tengah kedua pasang tangan suami isteri itu. Dan orangnyapun melesat datang.

Tetapi rupanya cara penjagaan diri dari nenek Bwe itu, tiada gunanya. Lelaki tua dan wanita cantik saat itu sudah menari tangan masing2. Wajah mereka tak mengunjuk rasa menderita luka melainkan mengerut kecemasan.

Dan serempak pula keduanya terus melonjak menyongsong nenek Bwe, “Toto! Toto….

Baik silelaki baju biru maupun wanita cantik keduanya sama2 menyongsongkan kedua tangannya kemuka untuk menyambut tubuh si dara baju ungu. Tetapi tanpa sengaja ujung jari kanan silelaki baju biru telah menyentuh ujung jari kiri siwanita cantik. Kedaanya serentak cepat2 menarik tangannya karena seperti membentur besi.

“Bwe Nio, siang malam engkau menjaga To-ji, mengapa dia sampai menggigit mutiara beracun itu?” bedak lelaki tua baju biru dengan bengis.

Wanita cantik menyelutuk, “Mengapa To ji sampai dihina orang? Mengapa engkau biarkan orang menghinanya?”

Walaupun kata-katanya tidak tajam, tetapi nadanya saat bengis sekali.

Bwe Nio menghela napas panjang, “Soal itu panjang ceritanya. Aku juga tak berdaya untuk mencegahnya….”

Wanita keraton itu mengerut wajah dan menukas, “Tidak berdaya…. hm,
mungkin tak mampu berdaya?”

Nenek Bwe tak berani membantah. ia tundukkan kepala. Lelaki baju biru pelahan lahan ulurkan tangan. Ternyata wanita keraton itu tak mengulurkan tangan sehingga tubuh si darapun disambut! oleh leiaki tua itu lalu diletakkan diatas lim-teng.

Lelaki tua itu mulai memeriksa mata, pergelangan tangan si dara lalu menghela napas panjang tetapi longgar.

“Ah, untung aku berada disini. To ji tentu tak kena apa2 dan engkaupun jangan mendamprat Bwe Nio lagi,” katanya kepada wanita kraton itu.

Wanita kraton hanya mendengus. Tanpa memandang lelaki baju biru itu, ia berkata sarat, “Bwe NiO siapakah yang menghina atau yang menyebabkan To ji marah?”

“Ji….” baru nenek Bwe berkata sepatah hendak menyebut nama ji Han Ping,
tiba2 ia teringat bahwa cubo (majikan perempuan) itu beradat keras sekali. Dan ia tahu bahwa cubo-nya itu keliwat sayang sekali kepada si dara. Apabila ia menyebut nama pemuda itu, tentulah cubo-nya akan menyelesaikan Han Ping.

Pada hal nenek bwe tahu Han Ping itu pemuda yang dicintai si dara.

“Mengapa engkau tak berani menyebut namanya? Apakah engkau bersekongkel dengan dia?” bentak wanita keraton.

Tiba2 nenek Bwe mendapat pikiran dan cepat berseru, “Ih Thian-heng “

“Ih Thian-heng?” teriak wanita cantik itu, “siapakah Ih Thian-heng itu? Dimanakah dia saat ini?”

“Diluar pintu.” sahut nenek Bwe.

“Suruh dia masuk!” teriak wanita keraton itu dengan bengis.

Nenek Bwe mengiakan. Segera ia berputar tubuh keluar dan berseru memerintahkan rombongan tokoh2 itu masuk.

Sekalian tokoh2 silat Tiong-goan tergetar hatinya. Lam-hay Ki-siu, tokoh sakti dan aneh dari dunia persilatan akan berhadapan dengan mereka.

Ih Thian-heng cepat menyelinap kesamping Ting Ko dan menepuk jalandarahnya yang tertutuk tadi, tertawa, “Kalau saudara Ting hendak minta ganti jiwa puteri saudara, nanti saja setelah kita keluar dari makam ini.”

Ting Ko tertawa nyaring. Nadanya macam hantu meringkik. Setelah meletakkan tubuh Ting Ling, ia segera ayunkan tangan lepaskan sebuah pukulan dari jauh kearah ketua Lembah-seribu-racun yang telah menutuk jalandarahnya tadi.

Serangkum hawa dingin segera melanda kearah katua Lembah-seribu-racun. Karena tak menduga, Leng Kong-siau ketua Lembah-seribu racun itu tak sempat menghindar. Segera ia rasakan tubuhnya dilanda hawa dingin.

Ting Ko berseru dingin, “Tadi saudara Leng telah memberi sebuah tutukan kepadaku. Sekarang akupun menghaturkan sebuah pukulan Han-im-ciang. Jadi kita sudah tak saling berhutang budi, ha, ha,…. ha, ha….”

Ih Thian-heng mengeluarkan dua butir pil putih, tertawa, “Saudara Leng. silahkaa pilih yang mana.”

Leng Kong siau menendang keangan Ih Thian-heng. Dilihat tanya kedua butir pil itu sama besarnya, warnanyapun serupa. Segera ia mengambil sebutir.

Ih Thian-heng segera menelan yang sebutir, katanya, “Pil Kun-goan-sin-tan ini khasiatnya untuk menolak segela macam racun Im-han yang dingin. Setelah makan pil itu, tentulah saudara Leng tak usah menderita luka akibat pukulan saudara Ting tadi. Aku menelannya sebutir, agar saudara Leng jangan ragu2.”

Leng Kong-siaupun segera menelannya dan mengucapkan terima kasih. Ih Thian-neng tersenyum, ujarnya, “Paling tidak, saat ini kita sama2 mendayung dalam sebuah perahu melintasi gelombang besar.

Segala dendam kesumat harap dipertangguhkan dahulu setelah kita nanti keluar dari makam ini.”

Habis berkata ia lintangkan sebelah tangan kedada dan sebelah tangan siap memukul, lalu melangkah kearah pintu merah.

Pun Ca Cu-jing dan Nyo Bun-giau menghampiri Leng Kong-siau dan menghiburnya, “Saudara Leng, harap bersabar dulu.

Kedua orang itupun sagera mengikuti jejak Ih Thian-heng.

Siangkwan Ko menghela napas panjang, bisiknya kepada ketua Lembah-raja-setan Ting Ko: Kehilangan anak perempuanku, seperti tercabut nyawaku. Aku hanya mempunyai seorang anak perempuan tetapi anakku ternyata telah dicelakai oleh orang2 Lam-hay-bun sehingga kehilangan kesadaran pikirannya….”

Ting Ko menyambut dingin, “Saudara Siangkwan menderita karena kehilangan anak, apakah aku juga tak menderita perasaan demikian karena anakku meninggal itu? Kalau menghendaki aku supaya membantu ih Thian-heng, syaratnya hanyalah kalau dia dapat mengembalikan jiwa anakku itu.”

“Saudara Ting salah faham,” kata Siangkwan Ko. “maksudku bukan menganjurkan supaya saudara Ting jangan membalas dendam itu. Tetapi saat ini keadaannya lain. Daripada seorang diri, kurasa lebih baik saudara ting untuk sementara ini mau bekerja sama dengan mereka untuk menghadapi ancaman Lam-hay Ki-sau. Setelah keluar dari makam ini barulah nanti kita membuat perhitungan lagi.

Ting Ko merenung sejenak, menghela napas, “Demi memandang muka saudara Siangkwan biarlah aku mengalah kali ini.”

Siangkwan Ko terus menarik tangan Ting Ko diajak masuk kedalam pintu merah.

Han Ping memberi hormat kepada Ong Kwan- tiong, serunya, “Jenazah nona Ting dan nona Siangkwan itu, mohon saudara Ong suka mengurusnya.”

Ong Kwan -tiong menyilangkan senjatanya dan balas memberi hormat, “Harap saudara Ji tak usah kuatir. Kalau engkau masih dapat keluar dari makam ini dengan selamat, kujamin jenazah nona Ting tentu takkan terganggu dan nona Siangkwan pun pasti tak kurang suatu apa.”

Kembali Han Ping memberi hormat, “Ji Han Ping menghaturkan terima kasih atas kebaikan saudara.”Habis berkata bersama Pengemis-sakti Cong To dia terus ayunkan langkah.

Nenek Bwe dengan tongkat bambunya mengikuti paling belakang. Benar2 Tiong suatu barisan yang keramat dari tokoh Tiong-goan.

Berjalan lebih kurang lima enam tombak. Ih Thian-heng yang berada paling depan, mereka tiba diujung lorong dan berada dalam sebuah ruang yang terang benderang.

Lelaki tua baju biru yang rambutnya menjulai pada bahu, tampak duduk bersila di sudut ruang. Dibelakangnya tertelentang tubuh si dara baju ungu. Kedua tangan lelaki tua itu tengah mengurut-urut tubuh si dara. Rupanya ia tengah mencurahkan perhatian untuk menolong si dara sehingga seolah-olah tak mengetahui bahwa rombongan tokoh2 Tiong-goan itu sudah masuk kedalam ruang.

Seorang wanita yang berpakaian seperti puteri keraton tengah tegak berdiri dibelakang dinding. Wajahnya yang cantik gemilang, menyilaukan pandang mata sekalian orang.

Tetapi wanita itu tampak tenang sekali Ia tak mengacuhkan kedatangan rombongan jago2 silat itu. Setelah semua rombongan sudah masuk barulah ia membuka mulut dengan nada dingin, “Yang manakah Ih Thian-heng itu?”

Ih Thian-heng memberi hormat dan menyahut tertawa, “Aku yang rendah inilah Ih Thian-heng. Adakah hujin (nyonyah) hendak memberi perintah kepadaku?”

Wajah wanita keraton yang segar kemerah-merahan itu segera berkabut dengan hawa pembunuhan, serunya, “Apakah engkau yang menghina anakku?”

Sambil mengabarkan pandang kearah si dara baju ungu yang masih berbaring di tanah, Ih thian heng tertawa hambar! “Kalau benar, Lalu bagaimana?”

“Membunuh orang harus mengganti jiwa. Engkau berani menghina puteriku sampai dia mati penasaran, mengapa engkau masih berani hidup?” teriak wanita berpakaian seperti puteri keraton itu. Kata-katanya penuh dengan nada keangkuhan.

Tiba2 ih Thian-heng tertawa sekeras-kerasnya, “Dalam dunia persilatan Tiong - goan, siapakah yang tak kenal aku Ih Thian -heng ini seorang yang kejam dan ganas, memandang jiwa manusia itu hanya seperti jiwa semut saja? Aku sudah terlanjur berlumuran darah hidupku, kalau tambah satu dua jiwa lagi menjadi korban keganasanku, pun tak apa.”

Wanita keraton itu kerutkan alis dan berseru dingin, “Karena engkau tak mau membunuh diri menebus dosa, terpaksa aku harus- turun tangan!”

“Dengan segala kerendahan dan kegembiraan hati, aku menunggu pelajaran hujin,” sahut Ih thian-heng.

Wanita cantik itupun segera mengangkat tangan kanannya. Tetapi biru akan diayunkan tiba2 terdengar seseorang berseru, “Tunggu!”

Ketika wanita cantik itu berpaling, dilihatnya seorang pemuda cakap yang gagah, melengkang ke hadapannya.

“Siapa engkau?” tegur wanita itu.

Pemuda itu menjurah dengan hormat, “Aku yang rendah ini Ji Han Ping.”

Wanita cantik membentak, “Ji Han Ping, engkau mau apa?”

Jawab Han PinG, “Seorang lelaki tak mau membiarkan orang lain mewakili menerima kesalahannya. Yang membuat marah sampai puterimu binasa itu adalah aku. Ih Thian-heng tak ada sangkut pautnya. Kalau engkau meminta ganti jiwa, mintalah kepadaku.”

Wanita rantik itu tertegun Cepat ia memandang kearah BWe NIo, adunya, “Bwe Nio, bagaimana ini?”

SejenaK merenung, Bwe Niopun menyahut, “Ya Memang mereka berdua yang menjadi pembunuhnya “

“bagus wanita keraton ItU tertawa, memang kalau sebuah jiwa hanya diganti dengan sebuah jIWa kupikir tentu masih merugikan putriku.”

Ih Thian-heng berpaling kearah Han Ping, hendak membuka mulut tetapi tak jadi.

Wanita cantik ini berkisar dua langkah kemuka lalu berderu bengis, “Kalian boleh maju berdua”

Han Pingpun tiba2 melangkah setindak kemuka, “Kalau lo-ciunpwe hendak menuntut ganti jiwa puteri- lo cianpwe, memang aku harus menerima.”

Wanita keraton itu berseru tawar “Mati dulu atau mati belakangan, hanya sekejab saja terpautnya….” ia terus ayunkan tangan menghantam.

Hantamannya itu tak menerbitkan deru angin maupun suara keras. Indah dan lemah gemulai.

Wajah Han Ping tampak mengerut serius, “Locianpwe, maafkan kalau aku bertindak kurang tata krama”

Diam2 iapun kerahkan tenaga-dalam kearah tangan dan menangkis pukulan wanita itu.

Tetapi rupanya wanita itu tak mau tangannya berbentur dengan tangan Han Ping. Maka cepat ia mengendapkan tangannya dan terus menarik pulang.

Han Ping hendak maju mendesak tetapi tiba2 ia merasa dilanda oleh segelombang tenaga gelap. Ia terkejut, pikirannya, “Kepandaian wanita ini, benar2 tak boleh dipandang rendah. Dia dapat menyimpan tenaga-dalam yang hebat di telapak tangannya. Begitu tangan ditarik kembali, tenaga-dalam terus berhamburan memancar.

Hebatnya gelombang tenaga yang melanda tangan Han Ping itu hebat sekali sehingga Han Ping terpaksa harus mundur selangkah.

Pun wanita, cantik itu tak kurang kejutnya. Ia duga dengan pancaran tenaga-dalam yang dilakukan secara tiba2 itu, Han Ping tentu terluka berat dan binasa.

Paling tidak tentu akan rubuh pingsan. Tetapi ternyata dugaannya itu meleset. Walaupun anakmuda itu tersurut mundur selangkah tetapi dapat menyambut serangannya.

Kini baik Han Ping maupun wanita cantik itu sama2 menyadari bahwa lawan tak boleh dipandang ringan. Setelah sama2 tertegun sejenak keduanya baru mulai melakukan serangan.

Han Ping mengeluarkan ilmu istimewa dari perguruan Siau-lim si yalah Cap ji kin-liang jiu atau duabelas sambaran menangkap naga. Jari jemarinya menjulur surut untuk mencengkeram jalan -darah tangan siwanita Kin-liong-jiu itu memiliki gerak yang luar biasa dan sukar diduga sama sekali.

Gerakan tangan wanita itu biasa saja. Cara menangkis dan menyerang, dilakukan dengan gerak yang sederhana. Tetapi ternyata jurus2 yang sederhana itu, dimainkan dengan tenaga yang mengejutkan orang. Dalam jurus permainan yang sederhana itu mengandung gerak perobahan yang aneh dan luar biasa.

Kedua belas jurus ilmu Kim-liongjiu yang dimainkan Han Ping itu boleh mengunjuk kesaktiannya yang luar biasa. Tetapi kesemuanya itu dapat dilenyapkan dengan jurus2 yang sederhana dari siwanita cantik.

Dalam beberapa kejab saja, keduanya sudah bertempur lebih dari duapuluh jurus. Namun tetap belum ada yang kalah atau menang.

Lelaki tua baju biru itu seolah-olah tak mengacuhkan pertempuran itu. Dia menundukkan kepala dan masih sibuk mengurut si dara.

Sedang Ih Thian-heng memandang tak berkesiap pertempuran antara wanita cantik lawan Han Ping itu.

Wajah wanita cantik itu mulai mengunjuk kerut keheranan. Namun dia tetap tak mau balas menyerang. Rupanya dia hendak memancing agar Han Ping mengeluarkan seluruh kebiasaannya.

Sejenak Ih Thian heng memandang kearah lelaki baju biru lalu gunakan ilmu Menyusup suara berkata, “Hati2 saudara Ji, wanita itu hendak memikat engkau supaya mengeluarkan selaruh kepandaianmu….”

Han Ping berobah kerut wajahnya. Tiba2 tangannya menyerang lebih dahsyat. Setiap jurus pukulan dan tamparannya, benar2 merupakan ilmu silat yang jarang tertampak dalam dunia persilatan.

Mau tak mau wanita itu harus mengimbangi permainan Han Ping. Diapun mengeluarkan jurus2 yang aneh dan istimewa. Yalah ilmu untuk menutuk jalandarah dan menabas uratnadi.

Jurus yang dimainkan Han Ping telah mencapai tingkat yang sukar d kendalikan lagi. Tetapi karena ditekan oleh permainan siwanita cantik, Han Ping tak dapat mengembangkan gerakannya.

Sekonyong konyong wanita itu melepaskan dua buah pukulan sehingga gerakan Han Ping menjadi terlambat. Kemudian ia menarik pukulannya dan mundur seraya berseru, “Berhenti!”

Sambil hentikan tangannya, Han Ping bertanya, “Lo cianpwe, hendak memberi perintah apakah kepadaku?”

Wajah wanita itu bertebar merah. Hendak membuka mulut tetapi tak jadi bicara.

Han Ping tertegun, serunya, “Jika lo cianpwe hendak memberi pesan apa2, silahkan mengatakan.”

Lelaki tua baju biru yang sibuk mengurut tubuh si dara baju ungu tadi, saat itu mengangkat kepala. Sepasang matanya berkilat-kilat mencurah kepada Han Ping. Ia mendengus dingin lalu lepaskan pukulan.

“Siapa suruh engkau campur tangan!” tiba2 wanita cantik itu membentak marah seraya gerakkan tangan menangkis pukulan lelaki itu.

Nenek Bwe menghela napas, “Tancu, cubo musuh sudah didepan mata masakan kalian tak saling memaafkan dan bersatu untuk menghadapi mereka?”

Wanita cantik itu makin marah, serunya “Bagus, Bwe Nio, engkau juga berani mengurus aku”

“Maaf cubo, hamba sekali-kali tak berani,” nenek Bwe tundukkan kepala.

Wajah lelaki baju biru itu berkerenyutan sejenak lalu mengatupkan mata. Jelas hatinya amat tegang tetapi terpaksa ditindasnya.

Dalam pada memperhatikan suasana disitu Ih Thian-heng cepat mendapat kesan bahwa diantara lelaki tua baju biru dengan wanita keraton yang cantik itu terdapat suatu dendam permusuhan. Diam2 Ih Thian heng girang, Kalau ia dapat menemukan soal2 yang menjadi sebab perselisihan kedua orang itu tentulah ia dapat memanfaatkannya untuk mengadu domba agar keduanya saling bertempur lagi.

Dengan pemikiran itu Ih Thian-hengpun segera tertawa nyaring. Karena tertawanya yang mendadak itu, sekalian tokohpun terkejut.

“Mengapa saudara Ih tertawa?” tegur Ca Cu-jing.

Ih Thian-heng hentikan tertawanya lalu menyahut, “’Tiba2 saja aku teringat akan sebuah cerita. Cerita itu amat lucu sekali sehingga aku tak dapat menahan rasa geliku….”

“Cerita bagaimanakah sehingga begitu lucu itu?” Nyo Bun-giau menyelutuk, “apakah saudara mau mengatakan agar kami juga dapat mengetahui?”

Nyo Bun-giau ini juga cerdik sekali. Cepat sekali ia menarik kesimpulan bahwa tak mungkin Ih Thian heng akan tertawa begitu keras apabila tak ada sesuatu.

Sejenak memandang kearah lelaki tua baju biru, Ih Thian-heng berkata, “Berpuluh tahun yang lalu, hidup dua orang yang menganggap dirinya paling pandai didunia. Keduanya berwatak angkuh dan keras kepala. Mereka hidup bersama, menjadi pencari kayu….”

Lelaki tua baju biru tiba2 mengangkat kepala dan memandang Ih Thian-heng lalu berseru dingin, “Apakah engkau yang bernama Ih Thian-heng?”

Ih Thian heng tersenyum, “Benar, bagaimana?”

“Lalu bagaimana?” Ca Cu jing menyelutuk pula.

Ih Thian-heng melanjutkan ceritanya, “Pada hari itu ketika mereka pergi ke hutan, mereka menemui seekor anak macan. Yang seorang hendak membunuhnya tetapi yang seorang mencegah dan ingin memelihara anak macan itu. Tak berapa lama anak macan itu pun tumbuh besar….”

“Macan setelah besar memakan pencari kayu itu. Kebaikan budi hanya menimbulkan bahaya” tiba2 terdengar suara melengking merdu dan serentak dengan itu si dara baju ungupun menggeliat duduk.

Ih Thian heng tertawa, “Nona menebak jitu. Aku inilah salah seorang dari kedua pencari kayu itu. Dan masih ada seorang pencari kayu lagi, entah siapa?”

Dara baju ungu membentak, “Ih Thian-heng, sayang usahamu sia2 saja. Aku dapat sembuh terlalu pagi….”

Tiba2 mata si dara baju ungu itu terbentur kearah siwanita keraton. Seketika gemetarlah tubuh dara itu.

“Yah, apakah itu ibuku?” bisik si dara kepada lelaki tua baju biru.

Lelaki tua baju biru itu mengangguk tanpa berkata apa2.

Tiba2 Han Ping memberi hormat kepada wanita cantik itu, “Puterimu sudah sembuh, diantara kita sudah tiada permusuhan lagi….”

Tiba2 Han Ping berputar tubuh, mencabut pedang Pemutus-asmara dan memandang Ih Thian-heng, serunya, “Ih Thian-heng, kita sudah bertemu muka dengan pemilik makam ini. Entah mati atau hidup, nanti kita tentu segera mengakhiri keadaan di sini. Sekarang jika aku tak lekas menuntut dendam kepadamu, mungkin nanti tak ada kesempatan lagi.”

Ih Thian hengpun mengeluarkan sepasang gelang emas dari bajunya, sahutnya, “Selama ini aku tak pernah menggunakan senjata apabila bertempur dengan orang. Tetapi hari ini terpaksa aku harus menghapus pantangan itu.”

“Terima kasih karena engkau memandang tinggi kepadaku,” kata Han Ping.

Nyo Bun-giau kerutkan alis, serunya, “Kurasa dendam permusuhan kalian ini, nanti saja diselesaikan setelah keluar dari makam ini.”

Han Ping tertawa, “Cerita Ih Thian -heng tentang pencari kayu yang memelihara anak harimau tadi, telah memberi peringatan kepadaku.

Apabila lepaskan harimau kembali ke gunung,akan menimbulkan bahaya dikemudian hari.”

Han Ping menutup kata-katanya dengan tusukkan pedang.

ih Thian-hengpun cepat memutar kim-juan atau lingkaran-emas untuk menangkis seraya berseru, “Gelang emas ini kulengkapi dengan bermacam alat rahasia yang hebat, harap engkau berhati -hati!”

Han Ping mengulapkan tangan, menarik pulang pedang dan berseru, “Silahkan engkau menggunakannya. Kalau mati, Ji Han Ping takkan penasaran!”

Segera ia gerakkan pedangnya dengan jurus yang istimewa yalah Ban-lun-hud-Kong atau Lingkaran sinar-Buddha. Pedang Pemutus-asmara pun segera memancarkan hamburan sinar yang menyelubungi tubuh Han Ping.

Walaupun hanya sebuah jurus, tetapi Ban-lun-hud kong itu mengandung perobahan yang tak terduga dan tak terhitung jumlahnya, Sebuah jurus ilmupedang yang benar2 sakti.

Lingkaran sinar pedang Pemutus-asmara itu tiba2 pecah menjadi tiga gunduk sinar, terus menyerang Ih Thian-heng.

Tring, tring, tring…. terdengar dering melengking memekakkan telinga ketiKa
sinar lingkaran dari sepasang Gelang emas Ih Tian heng berhantam dengan gumpalan sinar pedang Pemutus-Asmara.

Sinar pedang Pemutus-asmara menggembung panjang, berganti bentuk menjadi semacam bianglala yang melingkari sinar gelang emas” Sekalian orang yang menyaksikan permainan kedua orang itu tersengsam kesima.

Semula Nyo Bun -giau dan Ca Cu jing hendak menasehati agar kedua orang itu untuk sementara mau menghentikan permusuhannya. Tetapi demi melihat sinar gelang dan sinar pedang seolah membungkus tubuh mereka, tokoh2 itupun bingung untuk melerai mereka.

Sinar pedang Pumutus-asmara memancarkan hawa dingin dan gelang emaspun berkilau-kemilau sinarnya. Tetapi sedikitpun tidak menghamburkan suara apa2.

Sekalian tokoh yang berada di ruang itu, semua tokoh2 silat yang berilmu tinggi. Mereka segera tahu bahwa kedua orang yang bertempur itu telah mengeluarkan ilmu tenaga dalam yang tinggi. Ujung pedang dan gelang emas, mengandung tenaga, dalam yang dahsyat sekali. Tidak terdengarnya suara benturan kedua senjata itu jelas mengunjuk bahwa keduanya telah menumpahkan seluruh kepandaiannya untuk menggunakan jurus2 simpanannya yang istimewa, mengalahkan lawan.

Benar2 sebuah pertempuran yang dahsyat dan sengit sekali. Seluruh mata dan perhatian sekalian tokoh terpikat pada pertempuran itu.

Tiba2 terdengar sebuah dengus tertahan dan sinar pedangpun tiba2 menyurut, sinar gelang emas lenyap. Tubuh Han Ping terhuyung mundur tiga langkah. Wajahnya pucat lesi, keringat mencurah seperti hujan. Lengan kirinya menjulai lemas. Jelas dia telah menderita luka parah.

Dilain fihak, tampak Ih Thian-heng kerutkan sepasang alis dan mengatup bibirnya erat2. Rupanya diapun sedang berusaha untuk menahan kesakitan.

Setelah saling bertukar pandang beberapa saat, tiba2 Han Ping berseru, “Ih Thian-heng, Tiga Pendekar dari Lam gak, mempunyai dendam permusuhan apa dengan engkau? Mengapa engkau membunuh ayahku dan mengapa pula engkaupun tak mau memberi ampun kepada suhuku?”

Ih Thian-heng menyahut pelahan, “Sederhana saja, mereka telah menghianati aku.”

Mata Han Ping berkilat kilat memancarkan sinar pembunuhan….

0 Response to "Makam Asmara Jilid 06 Suami dan isteri"

Post a Comment