Burung Hong Menggetarkan Kunlun (Ho Keng Koen Loen) Jilid 20

Mode Malam
Jilid 20

“SIAU HOO benar-benar lihay, aku tak dapat menandinginya, aku benar-benar kalah ... ”

Tidak lama sampailah mereka di kaki bukit, di sebuah jalanan. Disini si luka diturunkan ke tanah, ia tidak sanggup lagi berjalan.

“Kau tunggu disini, aku hendak ambil kuda,” kata Siau Hoo, yang terus lari.

Kong Kiat duduk dengan napas tersengal-sengal, bukan dia yang menggendong dan turun gunung akan tetapi ia toh merasa letih sekali ia dongak keatas gunung, ia tidak lihat suatu apa, kecuali sang rembulan yang suram.

“Ah Loan! Ah Loan!“ ia memanggil-manggil pula. Tidak ada jawaban. Hanya kemudian ia dengar tindakan kaki kuda, disusul munculnya kuda putih dengan Siau Hoo diatas bebokongnya.

Setelah sampai, Siau Hoo loncat turun, sebagai gantinya ia pondong Kong Kiat dinaikkan keatas kuda.

“Kau terus ambil jalan ini kearah Selatan.” kemudian ia cabut pedangnya dan serahkan itu sambil tambahkan: “Ada kemungkinan sebelumnya keluar dari daerah pegunungan ini kau akan ketemu berandal, muka ambillah pedang ini untuk bela diri.”

Kong Kiat sambuti pedang itu, ia menghela napas, orang telah kena dibuat tunduk oleh pemuda kita. Sikap laki-laki dan budi-pekerti yang halus dari Siau Hoo melenyapkan kejumawaan atau kepala besarnya Kong Kiat.

“Saudara Kang,” kata ia akhirnya, “mulai hari ini aku Kie Kong Kiat takluk kepadamu, jikalau kau tidak menampik, aku ingin menjadi sahabatmu. Sejak saat ini aku berjanji akan coba melenyapkan permusuhan kau kedua pihak, dan aku tidak akan bantu pula Kun Lun Pay untuk satrukan kau.”

Siau Hoo menghela napas.

“Tentang ini baik di belakang hari saja kita bicarakan pula,” kata ia. “Sekarang pergilah kau dengan lekas, jikalau kau tunggu sampai siang dan berandal keburu turun gunung, tidak gampang untuk kau keluar dari sini.”

Kong Kiat manggut.

“Kau hendak cari Ah Loan, apabila kau berhasil, kau nasihatkan padanya untuk dia pergi ke Cu-ngo-tin,” ia pesan. “Kalau dia tak dapat dicari, ya sudahlah, memang manusia, hidup atau mati sudah suratan takdir ... “ Siau Hoo menghela napas pula ketika ia  berikan janjinya.

Kong Kiat tancap pedangnya disamping pelana, lantas ia beri kudanya bertindak menuju Selatan.

Siau Hoo berdiri mengawasi dengan termangu, baru setelah kaki kuda pergi makin jauh, mulailah ia dengan tugasnya mencari Ah Loan. Ia menghadapi kesukaran dari sang rembulan yang cahaya makin suram.

Ia memanggil berulang: “Ah Loan! Ah Loan!”

Sang bayu yang menderu-deru membuat satu suara panggilan itu.

Lama pemuda ini telah jalan ubek-ubekan akhirnya ia berhenti disebuah batu besar atas mana ia terus rebahkan diri. Ia masgul bukan main. Sambil rebah ia pandang sang awan, sang bulan juga  yang suram. Ia ada bingung memikirkan kemana perginya si nona. Ia ada terlalu letih hingga tanpa merasa ia meram sendirinya dan tertidur. Ia sadar dengan segera dengar berisiknya ocehannya burung- burung didekatnya. Cuaca sudah sudah terang. Batu dan rumput basah dengan air embun, juga tubuhnya Siau Hoo hingga ia merasakan dingin. Ia lalu bangun, ia loncat naik kebatu gunung di depannya, untuk mulai mendaki naik, hingga dilain saat ia telah sampai di tempat semalam di mana ia tinggalkan Ah Loan. Batu yang besar masih ada tapi Ah Loan tetap lenyap. Ia  coba perhatikan tempat disekitarnya, tidak juga ia dapatkan tanda-tanda daripada si nona. Kembali ia menjadi bingung. Ia pergi ketepi jurang, ia melongok kedalam selokan, yang airnya tidak  terlalu dalam.

“Apa mungkin Ah Loan nekat dan buang diri kedalam selokan ini?“ ia menduga-duga kalau benar, apakah sebabnya? Apabila ia sangat berduka? Penasaran Siau Hoo, maka terus ia loncat turun keselokan

Dengan berenang pemuda ini menghampiri tepi dimana ada batu besar yang berlumut. Ia coba berpegangan pada batu itu. Tiba-tiba ia lihat suatu apa didekat batu itu segera  ia naik kedasar dan lompat pada benda itu yang lantas diambilnya. Itu adalah sepatu perempuan, yang disulam, dan warnanya merah. Setelah perhatikan itu, Siau Hoo terperanjat, berkuatir dan berduka.

“Pasti Ah Loan telah terbinasa dalam selokan ini.“ pikirnya! “Mungkin ia nekad atau ia diserang oleh binatang buas ... “

Maka kembali ia terjuni keair, ia  mencari mengubek selokan sekian lama dengan sia-sia, kemudian ia ikuti aliran sampai di tempat dimana air itu mengalir kebawah merupakan semacam curug. Dibawah itu ada tanah yang banyak pepohonannya, dan ada pohon-pohon kayu bekas terkampak, suatu tanda tukang-tukang potong kayu biasa datang disitu.

Untuk bisa mencari kebawah, Siau Hoo cari jalan untuk turun. Lebih dulu dari itu, ia simpan sebelah sepatu sulam itu didalam sakunya. Ia turun dengan melapay antara batu dan pepohonan. Disitu ada lembah ada jalanan kecilnya, ada selokan kemana air selokan diatas mengalir lebih jauh, seperti sebuah kali kecil. Di lamping jurang ada empat lima gua yang tidak ada jendelanya.

Siau Hoo periksa semua gua  itu, yang  kosong dari manusia, melainkan ada beberapa ekor kelinci yang terus kabur dan sembunyi. Tapi terang gua-gua itu pernah ditinggali manusia dan rupanya telah kosong sejak beberapa tahun. “Mungkin Ah Loan belum mati ... “ pikir pemuda ini, yang terus memanggil-manggil pula: “Ah Loan! Ah Loan!”

Tidak ada jawaban untuk panggilan itu, maka sambil menghela napas Siau Hoo bertindak lebih jauh, sampai ia telah lalui lembah itu dan berhadapan dengan sebuah bukit.

“Ah Loan!” ia memanggil lagi. “AhLoan!” Ia jalan terus, malah ia lintasi bukit itu hingga sinar matahari  menyilaukan mukanya.

Disini pemburu itu ketemu dua pemburu  yang  satu membawa gaetan kong-cee, yang lainnya membawa busur dan panah. Mereka itu sedang mendaki bukit. Siau Hoo cepatkan tindakanya untuk menghampiri mereka, setelah datang dekat, ia angkat kedua tangannya memberi hormat.

“Jiewie, aku numpang tanya,” ia kata. “Apakah jiewie ada lihat satu nona turun dari gunung ini?”

Kedua pemburu itu heran nampaknya.

“Satu nona?” tanya satu diantaranya. “Berapa usianya? ia pakai baju apa?”

“Dia sudah berumur duapuluh lebih,” jawab Siau Hoo. “Dia sebenarnya ada satu nyonya muda ... Ia pakai, kalau tak salah, baju hijau, bersepatu merah yang tinggal sebelah

... “

Dua pemburu itu mengawasi, mereka tidak lantas memberi penyahutan. Terang mereka ada heran. Pakaiannya Siau Hoo kuyup basah, dan pakaiannya itu kotor dengan lumut. Rupanya mereka menyangka bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang yang otaknya miring.  “Aku tidak lihat orang perempuan,” kemudan kata satu diantaranya. “Disini tidak biasanya ada orang perempuan, sedang diwaktu pagi orang lelaki-pun jarang kedapatan.”

“Digunung ini ada binatang buas macam apa?”

“Segala macam-pun ada, kelinci, rusa, harimau dan macan tutul!”

Setelah berikan penyahutan itu, kedua orang itu sambil tertawa lantas ngeloyor pergi.

Siau Hoo berdiri diam dengan pikiran bekerja.

“Pastilah Ah Loan telah binasa,” berpikir ia. “Semalam setelah aku tinggalkan padanya, dia didatangi binatang buas, karena sedang terluka dan tak bersenjata, ia tentu tidak mampu usir binatang buas itu dan ia kena digigit, dibawa lari, hingga sebelah sepatunya ketinggalan.”

Dimatanya pemuda ini segera berpeta romannya sinona yang berlepotan darah hingga berbareng berduka, ia-pun jadi gusar.

“Aku mesti jajah bukit ini dan sapu habis  semua binatang alasnya!“ pikir ia dalam sengitnya. “Sakit hatinya Ah Loan mesti dibalas!”

Akan tetapi, baru ia berpikir demikian, atau datang lain pikiran pula.

“Aku tolol! Ah Loan toh ada gadisnya  keluarga musuhku dan dia-pun sudah menikah dengan lain orang! Dengan tolongi diapun aku sudah berbuat berlebih-lebihan! Selama sepuluh tahun aku belajar silat, maksudku itu adalah untuk menuntut balas, tetapi sekarang, setengah tahun sejak aku turun gunun, apa yang aku lakukan adalah keruwetan belaka, aku mencari pusing sendiri, sama sekali aku belum pernah ketemui musuh-musuh yang sejati, Pau Kun Lun dan dua saudara Liong! Dan aku-pun masih belum ketahui tentang ibu dan adikku  sendiri, mereka masih bidup atau sudah menutup mata ... Secara demikian apa aku tidak sia-siakan cape lelah guruku yang telah mendidiknya ? Kenapa aku abaikan cita-citaku selama sepuluh tahun?“

Karena memikir demikian. Siau Hoo lantas kuatkan halinya. Sekarang ia  jalan mudun untuk cari jalanan gunung menuju ke Selatan. Ia  ielah jalan sekian lama sampai ia merasa lapar sekali, tubuhnya lelah. Ia jalan terus sampai di tepi jalan ia dapatkan beberapa rumah bergua, ialah pondokan ditanah pegunungan. Ia lantas mampir, ia minta disediakan bahmie yang hitam, sambil dahar, ia tanya tuan rumah tentang Ah Loan, roman tentang Ah Loan, roman siapa ia lukiskan dengan petaannya.

Akan tetapi tuan rumah tidak dapat lihat nona yang ditanyakan itu.

Sehabis dahar dan membayar harga bakmie, Siau Hoo bertindak keluar menuju ke Selatan.

Melihat karah mana orang menuju, tuan rumah segera memburu keluar.

“Tuan, jangan pergi ke Selatan ... “ kata ia dengan pelahan. “Tidak jauh di sebelah Setatan itu ada bukit  Put Cu Nia ... ”

“Apakah bukit itu ada harimaunya?” tanya Siau Hoo. “Hariman  tidak  ada  tetapi  ada  makhluk  yang terlebih

lihay daripada harimau,” sahut tuan rumah yang baik budi itu. Terus ia cekal tangan tamunya diarik kembali kedalam rumahnya. Kemudan ia kata pula sambil berbisik : “Tuan rupanya ada orang yang biasa buat perjalanan, mustahil kalau  tidak  ketahui yang  Put Cu  Nia  itu  ada  cabang dari Twie Yau Hong? Baru saja Pek Mo Hou dan orang- orangnya lewat disini untuk pulang kebukitnya, diantaranya ada beberapa orang yang  aku kenal mereka ini bilang bahwa mereka baru kembali dari Twe Yau Hong dimana katanya Ou Tay-ong Gin-piau Ou Lip siapa ia terbinasa tadi malam oleh serangan piau ... Ou Lip menggunai piau,” ia berbisik lebih jauh dengan makin pelahan, “dengan piaunya itu entah ia telah hajar mampus berapa banyak jiwa orang, sekarang ia binasa karena piau, itulah namanya pembalasan Thian. Karena kebinasaannya Ou Lip ini, digunungnya pastilah akan jadi kalut, mugkin mereka akan berbentrok. Aku ada punya  beberapa tamu lain, mendengar hal itu mereka jadi kuatir melanjutkan perjalanannya, mereka mau singgah lagi beberapa hari. Barangkali juga, katena dengar Ou Lip sudah binasa, barisan tentara negeri bakal datang membasmi. Maka tuan, jikalau kau hendak melanjutkan perjalanan, baiklah tunggu sampai sudah ada rombongan saudagar-saudagar serta piau su-piausu pelindungnya. Sekarang silahkan tuan singgah dahulu beberapa hari, perihal uang, kau ada punya atau tidak, itu tidak menjadi soal!”

Siau Hoo bersenyum.

“Terima kasih untuk kebaikanmu, tuan,” berkata ia. “Tapi aku tidak punya uang, aku tidak usah kuatir terhadap berandal aku rasa mereka itu tidak perlu maui jiwaku lagi pula aku sendiri memangnya berniat mencari mati ... ”

Setelah berkata begitu, Siau Hoo memberi hormat, terus ia bertindak pula keluar.

Tuan rumah itu tercengang, tadinya ia masih hendak memanggil kembali kepada tamunya itu, tapi beberapa tamu lainnya mencegah dengan berkata : “Biar dia pergi! Biarkan dia cari mati sendiri! Pek Mo Hou dan rombongannya itu memang sedang kalap! ... “ Siau Hoo bertindak belum jauh, ia dengar perkataannya orang itu, teapi ia bersenyum. Ia bertindak kearah Selatan. Ia sebenarnya niat lupakan Ah Loan, apamau ia  tidak mampu berbuat demikian. Dalam sangsinya ia percaya si nona masih hidup. Disebelah itu ia ingin bisa ketemui semua binatang alas, untuk binasakan semuanya!

“Baiklah aku satroni sarang berandal, untuk bunuh beberapa puluh diantaranya, untuk kemudian aku cari seekor kuda dengan apa aku bisa berangkat ke Cu-ngotin.” kemudian ia berpkir lebih jauh. Karena iu, ia lantas buka tindakan lebar.

Benar seperti katanya tuan rumah pondokan, tidak seberapa jauh, sesudah lewati beberapa tikungan, Siau Hoo lihat sebuah bukit dihadapannya. Macamnya bukit itu bagaikan kuda dongak, ia menduga bukit itu mesti Put Cu Nia adanya dan sarangnya Pek Mo Hou orangnya Ou Lip.

Dengan tidak meraa gentar Siau Hoo jalan terus sampai dimuka bukit. Diatas, bukit ada berkumpul beberapa piluh orang, terang mereka ada kawanan berandal, hanya jarak yang pisahkan mereka membuat ke dua pihak tak bisa lihat nyata muka masing-masing. Rupanya kawanan itu juga lihat ada orang lewat di kaki bukit, akan tetapi karena orang bersendirian tanpa tunggang kuda dan tidak mengendol bungkusan juga, mereka tidak mencegatnya. Mereka tidak perlu dengan seorang miskin. Tapi diluar dugaan mereka. Siau Hoo justru bertindak mendaki, hingga mereka jadi kaget, segera juga mereka berseru, menberi tanda kepada kawan-kawan lainnya.

Sebentar saja, kawanan berandal telah berkumpul banyak, malah Pek Mo Hou pun muncul dengan tumbak di tangan, dari masih jauh-jauh ia sudah menegur dengan bengis : “Mau apa kau datang kemari! Berhenti!” Siau Hoo dengar itu tetapi ia berjalan naik terus. Adalah setelah terpisah hanya beberapa puluh tindak dari rombongan berandal itu, baru ia tunda tindakannya, ia mengawasi mereka dengan roman keren.

“Apakah kau bukannya Pek Mo Hou?“ ia tanya. “Aku datang untuk pinjam seekor kuda! Aku juga  sekalian hendak nasihatkan kau sekalian supaya lekas-lekas bubarkan diri, akan masing-masing cari  penghidupan sendiri secara halal jikalau tidak, pembesar negeni bakal datang bersama pasukan tentaranya akan basmi kau semua. Kau tidak akan dapat terus duduki gunung ini untuk melulu mengganggu dan mencelakai orang-orang pelancongan dan kaum saudagar.”

Pek Mo Hou menjadi gusar.

“Kau makhluk apa?“ tanya ia. “Bagaimana kau berani omong besar?”

Siau Hoo-pun medelik.

“Aku Kang Siau Hoo!“ ia perkenalkan diri. “Akulah yang tadi malam hajar mampus Gin-piau Ou Lip!”

Sekalian liaulo tidak percaya keterangan itu, dalam gusarnya mereka angkat senjatanya hendak menyerang.

Pek Mo Hou merasa heran, ia segera mencegah, dengan mata tajam ia awasi pemuda di depannya itu,  yang tubuhnya tinggi dan kekar. Setelah berselang sesaat ia betsenyum tawar.

“Sudah lama aku dengar namamu!“ katanya kemudian, “Jadinya kau adalah orang yang tadi malam membinasakan Ou Coaciang-kui serta sudah tolongi Kie Kong Kiat dan  Pau Ah Loan! Memang aku telah dengar kau telah ketemu seorang gagah luar biasa dari siapa kau telah  pelajarkan ilmu silat yang liehay, sekarang aku tidak heran lagi. Kau datang untuk pinjam kuda? Baiklah, aku nanti keluarkan beberapa ekor untuk kau pilih supaya dengan ini kita dapat ikat tali persahabatanmu!”

Pek Mo Hou benar-benar suruh satu liaulo pergi untuk tuntun datang beberapa ekor kuda.

Menampak sikapnya orang itu, lenyap kemurkaannya pemuda kita.

“Dengan baik hati sekali lagi aku peringatkan supaya kau lekas bubarkan!“ Ia kata pula.

Pek Mo Hou tertawa.

“Jangan kau kuatir,” katanya. “Dengan Ou Toako telah menutup mata, aku memang tidak bisa tancap kaki lebih lama pula disini. Tentu aja aku akan angkat laki dengan sesukaku sendiri, jikalau orang lain yang memaksanya, aku pasti akan adu jiwaku! Saudara Kang walau-pun kita baru berkenalan akan tetapi tentang kau, aku ketahui dengan baik. Kau adalah puteranya marhum Kang Cie Seng, yang telah dibunuh oleh Pau Kun Lun itu. Saudara, orang dari kalangan Rimba Hijau ada sangat kagumi kau, malah Ou Toako sendiri semasa hidupnya ada mengharap kedatanganmu, ia mengharap supaya berhasil membinasaa Pau Kun Lun. Hanya, saudara, aku lihat kau kecewa. Kau telah sempurnakan ilmu sitat akan tetapi sepak terjangmu ada keliru, bukannya kau segera membalas kepada Pau Kun Lun kau justeru satrukan pihakku! Kie Kong Kiat itu adalah anjing Kun Lun Pay, sedang Pau Ah Loan adalah budak yang memalukan dari kaum Kun Lun itu, tetapi kau justeru dengan mati-matian coba belai mereka! Kenapa kau tak dapat bedakan budi dan permusuhan? Apakah dengan begini kau masih anggap dirimu satu enghiong?“

Siau Hoo pentang kedua matanya, ia bertindak maju. “Apakah benar kau berani caci aku!” tanya ia.

Pek Mo Hou kaget, ia mundur. Iapun tertawa dingin. “Kau hanya berani menghinakan aku, apakah artinya

itu?” ia tanya. “Kita tidak bermusuhan satu dengan lain, umpama kau basmi habis pihakku, kau pasti tak dapat banggakan itu kepada orang lain! Yang benar pergilah kau cari musuhmu!“ ia memberi hormat dengan angkat kedua tangannya, ia tambahkan : “Coba pikir, benar atau tidak kata-kataku ini? Kau ada satu laki-laki, pikirlah biar benar, bagaimana Pau Kun Lun sudah bunuh ayahmu, bagaimana dia telah paksa hingga ibumu menikah pula! ... ”

Siau Hoo berdiam. Ia paling tidak senang mendengar kata-kata demikian macam.

Sementara itu liaulo yang tadi diperintah sudah kembali bersama tiga kuda, dan Pek Mo Hou sudai lantas undang ia untuk pilih satu diantaranya.

“Jangan sungkan-sungkan,” berkata kepala rampok ini. “Uang-pun bila kau membutuhkan, baru tiga atau lima- ratus aku sanggup menyediakannya. Aku kagumi kau sebagai satu laki-laki.”

Siau Hoo tidak jawab raja gunung itu, ia hanya lantas pilih seekor kuda, kemudian ia loncat naik atas bebokongnya binatang itu yang terus ia larikan turun kebawah bukit.

Pek Mo Hou mengawasi seraya titahkan liaulonya serukan : “Kang Siau Hoo, sampai ketemu pula!“

Siau Hoo tetap kaburkan kudanya, sama sekali menoleh- pun ia tak sudi. Ia ada mendongkol. Ia pikirkan bagaimana licinnya Pek Mo Hou, yang jerih terhadap ia, tetapi sebaiknya sudah coba mengobor ia dengan sebut Pau Kun Lun, terang kepala berandal itu ingin ia tempur ketua Kun Lun Pay itu agar keduanya, atau satu diantaranya terbinasa.

“Tapi, ada benarnya juga apa yang dia katakan,” ia pikir terlebih dahulu. “Memang pada sepuluh tahun yang  lalu itu, perbuatannya Pau Cin Hui terhadap keluargaku ada sangat kejam. Maka sekarang aku tidak harus pikirkan lainnya hal lagi, paling dahulu aku mesti wujudkan pembalasanku!“

Oleh karena ini, sekeluarnya dari mulut gunung, Siau Hoo larikan kudanya bertambah keras, ketika ia akhirnya sampai di Cu-ngo-tin, langsung ia menuju ke Bou Kee Tiam, rumah penginapan dimana Lou Cie Tiong singgah, akan terus panggit keluar paman guru itu. 

“Apakah Kie Kong Kiat telah sampai disini?” ia tanya. “Ya, tadi pagi,” jawab Cie Ting. “Bagaimana dengan Ah

Loan?“

“Aku tak dapat cari padanya,” sahut Siau Hoo sambil geleng kepala. “Mungkin ia telah jadi kurbannya binatang liar.”

Cie Tiong berduka.

“Apakah kau tidak mau masuk untuk beristirahat?“ tanya ia. “Kong Kiat sedang tidur, nanti aku beri bangun supaya dia bisa bicara kepadamu.”

“Jangan,” pemuda kita mencegah. “Aku tidak hendak bicara kepadanya. Apabila dia penasaran, suruhlah dia  pergi pula ke Cin Nia untuk mencarinya. Gin-piau Ou Lip sudah binasa, tidak ada orang yang dibuat jeri pula. Aku ada punya urusan sangat penting, aku mesti segera berangkat. Nah, tolong susiok ambilkan pedangku!“ Cie Tiong masuk kedalam, untuk keluar pula dengan membawa pedang.

Siau Hoo sambuti pedangnya, terus ia tuntun kudanya keluar.

“Siau Hoo, tunggu dulu!“ Cie Tiong menyusul. “Aku ada sedikit omongan!“

Siau Hoo berhentikan tindakannya.

“Satu enghiong barus murah hati,” Cie Tiong berkata. “Pau Cin Hui benar telah lakukan kesalahan, akan tetapi mengingat usianya sudah lanjut, apakah kau tidak dapat mengampuni jiwanya yang tua itu?”

Mendengar itu, air mukanya Siau Hoo menjadi muram, berdiam sampai sekian lama.

“Baiklah,” sahut ia kemudian, “dengan memandang kepadamu, Lou Su-siok, aku nanti berlaku sedikit murah hati terhadapnya.”

Sehabis bilang begitu, pemuda ini beri hormat pada paman-guru itu, ia terus tuntun pula kudanya akan pergi kejurusan Selatan, kesebuah rumah penginapan lain. Ia tanya tentang Kau-too Cek Eng sudah kembali atau belum. Dan ia peroleh jawaban yang membenarkan.

Adalah kebenaran saja yang Siau Hoo bertemu dengan Cek Eng si Golok Gaetan ini. Itu hari di Bu-kong, di rumah penginapan, ia telah curi dengar pembicaraan diantara Kong Kiat dan Ah Loan, ia-pun dapat intai sikapnya kedua suami isteri itu agaknya menyintai satu dengan lain, hatinya jadi tawar. Begitulah ia memikir untuk pergi dahulu ke Cie- yang, buat cari persaudaraan Liong, akan kemudian baru cari Pau Cin Hui. Dalam perjalanannya ini, sesampainya di Cu-ngo-tin, apa mau ia ketemu kepada sahabatnya itu. Cek Eng adalah sahabat dari sepuluh tahun yang lalu yang dikenal Siau Hoo selama di Su-coan Utara, dia adalah saudara seperguruan dari Toan-too Yo Sian Tay dan Hon- too Lu Hiong. Dari dua saudara seperguruannya itu, Cek Eng telah pulang kekampung halamannya di Hoo-lam, dan Lu hong telah menutup mata karena sakit. Bekerja sebagai piausu di Long-tiong-hu, pada Hok Lip Piau Tiam,  Cek Eng tidak cocok dengan Kim-kah-sin Ciau Tek Cun, ia letakkan jabatannya, ia lantas hidup mengembara. Selama beberapa tahun penghidupannya tiada menyenangkan baginya. Demikian ia merantau sampai di Hantiong dimana ia jual silat sambil jual obat-obatan. Itu hari selagi jual silat di Cung-tin ia telah bertemu Siau Hoo, tidak tempo lagi ia tunda pertunjukannya dan ajak Siau Hoo mampir  ke hotelnya. Memang sudah sekian lama ia dengar halnya pemuda kita. Didalam kamar hotel, keduanya bicara banyak tentang perpisahan mereka selama sepuluh tahun. akan diakhirnya Cek Eng utarakan kehendaknya akan bantu pemuda ini cari musuhnya. Ia-pun nyatakan dugaannya, Pau Cin Hui mesti sembunyi didekatnya Tin- pa, katanya Pau Kun Lun banyak musuhnya, dia pasti tak lari jauh.

Siau Hoo terima baik niatnya sahabat ini untuk bantu ia, maka terus ia minta sahabat itu pergi menyelidiki baginya Pau Cin Hai, ia sendiri menantikan dihotel di Cu-ngo-tin itu. Ia ingin sergap Pau Cin Hui dengan tiba-tiba, agar tidak menggeprak rumput hingga ular menjadi kaget dan kabur.” Seberlalunya sang sahabat, Siau Hoo keram diri didalam rumah penginapannya itu. Dua hari sudah berselang, Cek Eng belum kembali, lalu diwaktu magrib, selagi ia pergi kesebuah warung arak ia berjumpa dengan Lou Cie Tiong. Diantara paman-guru dan keponakan ini ada perhubungan manis. Dalam pembicaraan, Cie Tiong ceriterakan hal terlukanya Ah Loan dan Kie Kong Kiat, yang tertawan berandal di Cin Nia, bahwa ia baru saja antaran Cie Kiang, yang juga terluka parah, ke Tay-san-kwan, bahwa ia ada dalam perjalanan ke Lam-ceng untuk minta Lau Cie In berdaya menolongi Ah Loan dan Kong Kiat.

Mengetahui Ah Loan ada dalam bahaya, Siau Hoo menjadi sibuk, disebelah ia menyatakan suka membantu, ia sudah lantas pergi. Demikian ia tolongi si nona dan Kong Kiat, untuk mana ia sampai binasakan Ou Lip, akan tetapi kesudahannya ia tak sangka bahwa Ah Loan lenyap entah kemana, hingga sekarang ia jadi sibuk pula. Adalah setelah ia bentemu Pek Mo Hou, baru ia bisa sedikit legakan hati dan robah tujuan. Begitulah ia kembali pada Cie Tiong dan terus cari Cek Eng.

“Aku telah berhasil memperoleh kabar,” berkata  Cek Eng setelah Siau Hoo menghampiri ia didalam kamarnya. “Tua-bangka she Pau itu sudah pergi ke Su-coau Utara, ada orang yang lihat dia di Utara Kiamkok, katanya dia sedang menuju ke Selatan, entah kemana. Ia bersendirian saja sambil menunggang kuda. Dua saudara Liong tetap masih berada di Cieyang akan tetapi mereka sengaja uwarkan cerita bahwa mereka sudah antar piau. Akan tetapi yang sebenarnya mereka sembunyikau diri didalam kota.”

Mendengar keterangan ini, Siau Hoo berkerot gigi. “Terima kasih! Nah, sampai ketemu pula!“ kata  ia  pada

Cek  Eng  seraya  memberi  hormat,  terus  ia  pergi kekantor

tuan rumah, akan minta bungkusannya yang kemarin ini ia titipkan, kemudian ia cepat keluar akan meloancat naik atas kudanya buat segera diberi menuju ke Selatan. Ia tetap pakai kudanya yang diperoleh dari Pek Mo Hou itulah ada seekor kuda bulu hitam mulus dan gesit.

Siau Hoo sudah lantas tetapkan rencananya, ialah paling dahulu pulang ke Tin-pa akan cari ibu dan adiknya, akan satroni Pau Ce Lim musuh yang telah terluka hingga bercacat, yang dulu perlakukan ia sangat kejam, kemudian ia kan menuju ke Cie-yang, untuk cari dua saudara Liong untuk dibinasakannya. Yang terakhir ia hendak berangkat ke Sucoan Utara guna cari Pau Cin Hui. Ia sudah janji pada Lou Cie Tiong bahwa terhadap Pau Kun Lun ia akan berlaku murah hati, tetapi entah nanti, sesudah ia berhadapan kepada musuh itu, ia tak dapat pastikan ia sauggup kendalikan diri atau tidak.

Melarikan terus kudanya, Siau Hoo tidak snggah lagi di Hantiong-hu, ketika ia  mulai mendekati Tin-pa, hatinya bimbang, karena dua perasaan berduka dan bergusar kumpul jadi satu. Pada jam dua lohor, ia mulai memasuki kota Tin-pa. Maugkin karena merantau ke Kang-lam dan baru saja injak kota Tiang-an yang besar, sekarang Siau Hoo lihat kampung halamannya sendiri menjadi jauh terlebih kecil dan buruk.

Disini Siau Hoo tak ingin tarik perhatian orang banyak, sudah sejak diluar kota ia telah turun dari kudanya, ia berjalan sambil tuntun binatang tunggangan itu, tetapi begitu lekas berada didalam kota, mendadak ia  seperti rasakan kedua kakinya jadi berat dan dadanya seperti tertindih benda, hatinya bagaikan diiris-iris, kedua matanya- pun pedih.

Dijalan besar dimana ada banyak orang berhilir mudik, Siau Hoo kenali beberapa orang antara siapa ada yang tubuhnya jadi kurus atau pakaiannya compang camping tanda dari kemelaratan, mereka itu sebaliknya sudah tidak kenali padanya, sebab sekarang ia sudah jadi tinggi dan besar. Ia tidak mau tegur mereka itu.

Dengan menahankan kesedihan hatinya Siau Hoo bertindak kearah bengkel besi Ie-thionya, Ma Cie Hian. Apa mau, begitu lekas sudah sampai di depan pintu pekarangan, air matanya bercucuran dengan tidak dapat dicegah lagi. segera ia tambat kudanya ditiang papan merek, ia memandang kedalam rumah, yang gelap dan sunyi bagaikan gua saja. Ia tidak dengar suara tingting-tongtong yang berisik, juga di kantoran ia tidak lihat seorang-pun juga, hingga ia jadi heran. Dengan tindakan berat ia bertindak masuk.

“Ie-thiok! Ie-thiok” ... ia memanggil-manggil, suaranya serak, saking ia tahan kesedihannya.

Dari sudut tembok lantas muncul satu bocah umur sebelac dan dua belas tahun, matanya kesap-kesip, karena ia sedang ngelenggut. Siau Hoo ingat, dulu ia-pun ada sebesar bocah ini.

“Mau beli apa?“ bocah itu tanya.

“Aku tidak mau belanja aku hendak cari Ma Ciang-kui,” Siau Hoo jawab.

Bocah itu, sambil berdiri dimuka pintu,  lantas memanggil kedalam: “Ciang-kui, ada tamu!“

Dari dalam, samar-samar ada terdengar suara jawaban.

Selagi berdiri menantikan, Siau Hoo melihat kesekitarnya. Barang-barang dibengkel itu sedikit sekali. Ditembok ada tergantung tiga buah kwali yang penuh debu. Ditanah ada bergeletakan beberapa buah kepala pacul. Semua itu menandakan sudah lama tak ada pembeli datang kebengkel itu. Ini-pun ada tanda yang hidupnya Ma Cie han tidak berbahagia, maka itu keponakan ini jadi makin berduka.

Sebentar kemudian dari dalam kelihatan berjalan keluar satu orang tubuh siapa ada kurus dan mukanya kuning, pakaiannya sudah ada tambalannya, dan kuncirnya, yang dililit diatas kepalanya, kotor dengan debu. Hampir saja Siau Hoo tidak dapat mengenali Ie-thionya itu.

“Ie-thio!“ ia memanggil dengan suara susah sesudah ia mengawasi sekian lama, air matanya bercucuran. Ia-pun maju untuk memberi hormat sambil menjura.

Ma Cie Hian heran, ia mengawasi dengan kedua mata dibuka lebar.

“Apakah kau Siau Hoo?“ akhirnya ia tanya.

“Ya, Ie-thio,” jawab Siau Hoo. “Sudah sepuluh tahun kita berpisah ... ”

Suaranya pemuda ini tidak tegas, nyata ia ada sangat berduka.

Ma Cie Hian jadi girang bukan main, kedua tangannya diulur untuk samber orang punya tangan yang besar dan kuat.

“Oho, kau pulang, anak yang baik!“ ia berseru. “Kau benar-benar bersemangat, aku kagum terhadapmu! Mari, mari masuk kita bicara didalam!“

Dan ia tarik keponakan itu.

Siau Hoo mengikuti, hatinya tegang. Ia diajak kedalam dimana Lie-sie, isterinya Cie Hian, sedang masak nasi. Nyonya ini, setelah lewat sepuluh tahun, jadi jauh terlebih tua. Dulu, dimasa muda, ia gemar pakai pupur dan yancie, akan tetapi sekarang, ia ada kurus, perok dan kuning mukanya, pakaiannya-pun buruk. Ia heran ketika ia tampak suaminya masuk bersama satu pemuda tinggi besar, yang kulitnya hitam.

“Kenalkah kau siapa pemuda ini?“ tanya Cie Hian pada isterinya, sambil tertawa.

Lie-sie segera mengenali, akan tetapi ia agak ragu-ragu. “Apakah dia Siau Hoo?” ia tegaskan.

“Ie!“ memanggil Siau Hoo, yang memberi hormat dengan menjura pada bibi itu.

“Siapa lagi jikalau bukannya dia!” Cie Hian sahuti isterinya itu. “Kau lihat, dia betul-betul satu laki-laki! Aku tidak sangka bahwa misanku ada punya putera demikian jempol.”

Walau-pun ia bergirang dan bergembira, tidak urung, selagi mengucap demikian, matanya Cie Hian mengembeng air dan air mata suci itu terus meleleh turun.

“Duduk, duduklah,” ia persilahkan keponakannya itu. Siau Hoo duduk atas tikar rombeng diatas pembaringan. “Ie-thio, bagaimana keadaanmu selama belakangan ini?”

ia tanya, air matanya masih saja mengalir.

“Sudah, jangan sebut-sebut itu,” sahut Cie Hian sambil goyangkan tangan dan menghela napas. “Selama beberapa tahun ini panen gagal, kalau tidak kering, tentu kebanyakan air, sedang perdagangan didalam kota ada buruk. Sudah berjalan dua-tiga bulan dapurku belum pernah dinyalakan, hingga aku tidak sanggup pakai pegawai lagi, kecuali satu muridku, yang menjaga rumah. Diwaktu siang aku berdiam dirumah, diwaktu malam sehabisnya dahar, aku  pergi keluar kota akan bantui Khiong Kee jin di Khiong-kee- chung menjaga rumah. Dengan begini barulah  aku bisa peroleh semangkok rangsum kasar dan tidaklah sampai kelaparan. Hanya dalam beberapa tahun ini aku sering diganggu penyakit, bukan sedikit uang aku mesti keluarkan untuk berobat. Ah ... ”

Baru ia menghela napas, atau Cie Hian sudah bicara pula, tapi sekarang dengan berbisik. “Sebenarnya siapakah gurumu?” demikian ia  tanya. “Kau datang dari mana? Apakah kau tidak pernah ketemu Kie Kong Kiat, si tua bangka she Pau dan Ah Loan  semua?”

“Aku telah ketemukan mereka kecuali Pau Kun Lun,” sahut Siau Hoo sambil manggut. Terus ia tuturkan pengalamanna sejak kabur dari dusunnya itu.

Cie Hian girang hinga alisnya berdiri, ia unjukkin jempolnya.

“Sekarang ini kaulah yang jadi enghiong nomor satu dalam dunia kangouw!” memuji ia. “Sejak itu hari kau ketemu gurumu di Cin Nia dan ia ajak kau pergi, si tua- bangka she Pau dan semua orang Kun Lun Pay lantas ketakutan sendirinya, semua kuatir kau nanti datang sesudah kau belajar sempurna. Si tua-bangka she Pau nikahkan Ah Loan dengan Kie Kong Kiat-pun karena ia harap tenaganya cucunya Liong Bun Hiap itu bisa digunakan untuk rintangi kau!”

Siau Hoo menghela napas.

“Sekarang aku tidak terlalu kesusu lagi.” ia terangkan. “Aku percaya Pau Cin Hai, dua saudara Liong serta Kee Cie Beng tidak bakal lolos diri ujung pedangku. Aku akan bekerja pelahan-lahan.”

“Hanya aku harap kau jangan bertindak keterlaluan,” Cie Hian beri nasehat.

“Kedatanganku sekarang itu adalah untuk menengoki Ie- thio berdua serta juga ibu dan adikku, Siau Loan ... “

Selagi mengucap demikian, pemuda ini kembali teteskan air mata.

Cie Hian menghela napas pula. “Kemarin kau tengok encie misan, bagaimana keadaannya?” ia tanya isterinya.

“Ia belum sembuh,” sahut Lie-sie yang kerutkan dahi. “Batuknya jadi bertambah-tambah. Tentang Siau Loan, belum ada kabarnya. Perusahaannya Tang Toa ada buruk, higga si Hok dan si Siu jadi kurus dan mukanya kekuning- kuningan.”

Lagi-lagi Cie Hian menghela napas.

“Siau Hoo, jangan kau bersusah hati,” ia menghiburkan. “Ibumu menikah pula dengan Tang Toa karena sangat terpaksa. Ayahmu dahulu ada wariskan beberapa  bau sawah serta sebuah rumah tetapi semua itu telah dirampas oleh sanakmu dan dijual. Umpama ibumu tidak menikah pula, tidak nanti ia sanggup derita hidup sengsara selama sepuluh tahun, dan kau niscaya tak tenteran hatimu menuntut pelajaran.”

Siau Hoo manggut-manggut, air matanya masih saja mengalir.

“Tokonya Tang Toa telah ditutup sejak lima atau enam tahun yang lalu,” Cie Hian beri keterangan lebih jauh. “Ia tidak mampu tukar lain macam penghidupan, terpaksa setiap hari ia keluar masuk gang sambil menabuh tiktok menjadi tukang kelontong. Dengan begitu bisa jugalah ia lewatkan hari. Tentang adikmu, Siau Loan, ia sekarang sudah berusia dua atau tiga belas tahun sejak tahun yang baru selam, ia diajak oleh seorang Shoasay pergi ke Ie-sie di Hoo-tong, untuk belajar dagang. Kabarnya saudagar itu, orang she Kut, ada berdagang beras. Sekali Siau Loan ada menulis surat kepada ibunya, sesudah itu ia tidak pernah menulis lagi. Sedari masuk dalam rumah keluarga Tang, ibumu telah melahirkan pula tiga anak, yang satu sudah menutup mata, dan yang lain yang besaran, si Hok namanya, ada anak perempuan, sekarang sudah berumur delapan atau sembilan tahun. Tabiatnya Tang Toa sangat jelek. Oleh karena setiap hari berduka, sejak dua tahun yang lalu ibumu dapat sakit peparu. Kalau nanti kau tengok ibumu, kau pasti tidak akan kenali dia. Pada setengah bulan yang lalu. ia masih suka datang kemari. Aku telah beritahukan ibumu bahwa kau sudah selesai dengan pelajaran silatmu dan bahwa kau bakal lekas kembali, mendengar itu ibumu menangis. Ia bilang ia ingin sekali melihat kau.”

Mendengar keterangannya Ie-thionya itu, air matanya Siau Hoo mengucur deras, hingga kedua tangan bajunya menjadi basah.

Lie-sie turut menangis.

“Ibumu harus sangat dikasihani,“ kata nyonya Ma ini, sang ie-ie. “Janganlah kau benci ibumu karena selama sepuluh tahun ia tak perdulikan kepadamu, itu bukan disebabkan ia tidak mau hanya karena ia tidak mampu. Semua adalah si tua bangka she Pau yang telah buat celaka kau serumah tangga! Ibumu telah nikah dengan Tang Toa akan tetapi ia senantiasa ingat padamu, sering-sering ia mimpikan ayahmu. Ibumu bilang, roh ayahmu  masih berada digunung Selatan. Roh itu belum menitis pula. Dalam impian, ayahmu sering cari ibumu, untuk minta diberikan nasi dingin untuk ia dahar ... ”

Siau Hoo bersedih bukan  main hingga ia  menangis menggerung-gerung, ia menjejak tanah saking meluapnya hawa amarahnya.

Cie Hian, yang turut menangis dengan sedih, goyangkan tangan.

“Itulah tak dapat dipercaya!“ kata ia, dengan maksud mengbibur. “bisa menjadi. setelah menutup mata dua belas tahun, roh orang masih belum menitis pula? Impian adalah karena pikiran. Ibumu tak dapat lupai peristiwa ketika ayahmu pulang dan terus saja cabak nasi dingin untuk dimakan, maka itu, ia sering mimpikan itu ... ”

Siau Hoo menahan kesedihannya.

“Ie-thio, tolong kau cari ibuku itu,” berkata ia. “Biarlah kita, ibu dan anak, dapat bertemu muka ... ”

Cie Hian berpaling kepada isterinya.

“Kau pergilah lekas,” katanya. “Justeru Tong Toa tidak ada dirumah, pergi kau ajak encie misanmu datang  kemari.”

Lie-sie menurut, ia segera berbangkit, setelah seka air matanya dan rapikan pakaiannya. Terus saja ia bertindak keluar.

Setelah isterinya pergi, dari kolong meja Cie Hian tarik keluar satu gendul arak.

“Siau Hoo, kau tunggu sebentar,“ ber kata ia, “aku hendak pergi kewarung, araknya si Lou untuk ambil sedikit arak, untuk kau minum bersama!“

Siau Hoo lantas saja rogoh sakunya, untuk keluarkan sepotong perak.

“Aku ada punya uang, ie-thio, pergilah kau beli!” ia bilang sambil ia angsurkan uang itu. Cie Hian sambuti uang perak itu, terus ia ngeloyor keluar.

Siau Hoo turut keluar akan tuntun kudanya kebelakang untuk ditambat, pauhoknya ia tinggalkan dipelana, hanya dari buntalannya itu ia keluarkan beberapa lembar uang kertas atau gin-pio, ialah uang simpanannya yang ia dapatkan dari menang berjudi pada sepuluh tahun yang lampau. Uang kertas itu ada kepunyaan Lie Thong Cian- chong dan berlaku dikampungnya ini.

Tidak lama Cie hian telah kembali bersama arak dan daging dan phi juga, ia letaki itu diatas pembaringan.

“Siau Hoo, mari minum,“ berkata ia, “mari dahar!“

Siau Hoo manggut. Akan tetapi ia tidak ada napsu ontuk minum dan dahar, karena hatinya yang keras akan menemui ibunya.

Mereka duduk belum terlalu lama atau segera diluar di jendela mereka dengar tangisnya seorang perempuan, kemudian Liesie muncul bersama Ui-sie, ialah ibunya Siau Hoo.

Begitu lekas Ui-sie lihat Siau Hoo yang ia kenali dengan segera, ia tubruk puteranya itu dan dirangkulnya, ia menangis menjerit sehingga hampir pingsan, kemudian sambil batuk-batuk dengan menangis terus, ia  berkata : “Oh, anak, aku tidak sangka aku masih mampu  melihat pula padamu ... Anak, aku telah berlaku  tidak pantas kepadamu ... Baiklah kau jangan aku pula ibumu ini, baik kau pergi membalas dendam saja untuk ayahmu! Tua bangka she Pau yang kejam itu secara hebat dan mengenaskan sekali telah binasakan ayahmu, sampai sekarang roh ayahmu masih bergelandangan didalam gunung ... Sering-sering ayahmu datang mimpikan aku ... Pergi lekas kau menuntut balas, sesudah ia tua bangka dimampusi, baru roh ayahmu bisa menjelma pula! Adikmu ada di Hoo-tong belajar dagang, ia-pun harus dikasihani, ia tahu yang ia ada punya engko yang gagah, maka setelah kau membalas sakit hati, pergi kau susul ia di Hoo-tong tengok padanya ... Tentang aku kau tak usah perdulikan pula, aku bukannya ibumu! ... Aku Sakit, aku bakal mati karenanya. Tetapi sekarang aku bisa lihat kau, aku akan mati dengan mata meram ... ”

Ui-sie batuk-batuk, lalu ia muntahkan lendir beberapa kali, napasnya memburu.

Hampir Siau Hoo tidak berani awasi ibunya itu menangis sesegukkan, baru ia keraskan hati.

“Ibu, jangan menangis,“ ia minta sambil mewek. “Aku ada punya uang lima puluh tail perak, aku nanti serahkan untuk ibu berobat ... Jangan ibu mati, kau harus tunggu sampai aku dan adik Loan nanti rawati kau ... Tentang musuh kita, ibu jangan buat pikiran, pasti aku akan menuntut balas!“

Siau Hoo berkerot gigi saking gemas hatinya, kemudian ia keluarkan uangnya lima-puluh tail, yang ia  serahkan pada Ma Cie Hian, habis itu ia berlutut, akan paykui pada ibu dan ie-thionya pada ie-nya juga. Kemudian, ketika ia berbangkit, ia lantas saja ngeloyor keluar.

Cie Hian terkejut. Ia memburu.

“Siau Hoo, tunggu dulu!” katanya. “Kenapa begini tergesa-gesa? Apakah kau tidak hendak bicara pula kepada ibumu?“

Tapi pemuda itu menggeleng kepala.

“Tidak!“ ia menjawab. “Tidak lama juga aku akan kembali!“ terus ia tuntun kudanya keluar.

Cie Hian memburu pula.

“Tunggu, Siau Hoo!“ ia memanggil-manggil. “Aku hendak bicara sedikit ... ”

Siau Hoo sudah lantas loncat naik atas kudanya, dengan tidak menoleh lagi ia kaburkan binatang tunggangan itu, yang ia cambuki berulang-ulang. Ia menuju ke Lam-mui, pintu kota Selatan, untuk terus kearah Pau-keecun.

Untuk sementara itu lenyap kedukaannya pemuda ini, hatinya menjadi tegang.

“Bisa jadi si tua-bangka tidak ada di rumah akan tetapi dua puteranya tentu tidak lari jauh,” ia berpikir. “Dulu Pau Cie Lim hinakan aku secara keterlaluan kalau sebenar aku ketemu dia, aku mesti bunuh padanya!“

Kudanya pemuda ini lari keras sekali, tanpa terasa ia sudah memasuki Pau-keecun. Maka segera teringatlah ia pada kampung halamannya itu, yang ia telah tinggalkan buat dua-belas tahun. Rumah-rumah disini sudah banyak yang gugur temboknya, banyak tumbuh rumput, menandakan kemelaratan.

Di depan rumahnya, Siau Hoo lihat dua orang tua asyik ngobrol, mereka itu tidak kenali ia, maka iapun tidak mau ketemui mereka. Ia hanya menuju langsung kedepan rumahnya keluarga Pau. Disini-pun ada terdapat perubahan. Lapangan untuk belajar silat sudah tidak terurus lagi, tanahya banyak berlobang sedang pintu samping yang menembus kekandang babi, telah ditutup dengn tembok tinggi. Kedua daun pintu tertutup rapat.

Tiba-tiba hatinya Siau Hoo menjadi panas meluap. Ia loncat turun dari kudanya, pedangnya lantas dihunus. Ia lompat pada pintu, ia hajar itu dengan gedoran kepalan, sampai beberapa kali.

“Siapa?“ tanya suara seorang lelaki dari dalam. “Aku!“ sahut Siau Hoo.

“Kau siapa? Kau she apa?“ tanya pula suara dari dalam. “Aku she Kang! Lekas buka pintu !” Sengaja Siau Hoo perkenalkan shenya.

Suara didalam itu tidak terdengar pula, dan pintu juga tidak dibuka.

Siau Hoo mundur dua tindak, lalu dengan cekal keras pedangnya. Ia berdiri menantikan.

Segera juga dari dalam ada orang yang umurnya kira- kira tiga-puluh empat atau lima tahun, mukanya kuning, pakaiannya putih, tangannya menyekal golok kun-luntoo, loncat naik ketembok diatas mana dia berdiri.

“Mau apa kau datang kemari?“ orang itu tanya.

“Aku Kang Siauw Hoo!” jawab pemuda kita. “Lekas suruh Pau Cin Hui keluar ketemui aku!“

Orang itu kaget, mukanya pucat.

“Rumah keluarga Pau ini tidak ada orangnya,” berkata ia. “Loo-suhu sudah pergi dari sini pada dua bulan yang lalu!”

“Kau siapa dan kerja apa disini?“

“Aku ada Thio Cie Cay murid kedelapan-belas dari Pau Kun Lun. Loo suhu perintah aku jaga rumah,” jawabnya orang itu.

Siau Hoo lihat orang bernyali cukup besar, ia kagum. “Baik,” kata ia. “Ka rena kau  ada penunggu  rumah, kau

tidak ada sangkutannya  dengan  aku. Coba kau  buka pintu,

untuk aku masuk ke dalam untuk melihat-lihat.”

Cie Cay berdiri dengan lintangkan goloknya, ia bersenyum dingin.

“Kang Siau Hoo, jangan kau berbuat seperti tidak ada undang-undang raja,” kata ia. “Dengan bawa-bawa pedang kau datang mencari orang, sudah terang kau kandung maksud tidak baik, maka jikalau aku panggil polisi, pasti kau bakal lantas dicekuk dan digelandang ke kantor pembesar negeri. Lekas kau pergi dari sini. Disini ada Thie Cie Cay, jangan kau harap bisa memasuki rumahnya keluarga Pau ini!”

Siau Hoo jadi mendongkol dengan kata-kata yang terakhir itu, tak berlambat lagi ia segera loncat naik ketembok.

Thio Cie Cay ayun goloknya membacok.

Siau Hoo menangkis dengan pedangnya, dibarengi sebelah kakinya menendang.

Sekejab saja tubuhnya Thio Cie Cay terpelanting dan jatuh terbanting, goloknya terlepas dan terlempar.

Siau Hoo loncat turun kedalam, sebelum ia hampirkan orang she Thio ini, dari kamar rumah sebelah Utara ia dengar jeritan dari seorang perempuan. Ia lantas berhenti bertindak.

“Pau Cie Lim, kau keluar!” ia berseru. “Kang Siau- thayya sudah datang!”

Baru pemuda ini tutup mulutnya atau dari belakang ia ada angin menyambar, maka ia lekas putar tubuh sambil menangkis, hingga kedua senjata beradu dengan menerbitkan suara keras dan nyaring. Itulah serangannya Thio Cie Cay yang telah berbangkit dan sambar goloknya. Ia ada angkatan muda dari perguruan she Pau, selama yang belakangan ini ia telah belajar dengan rajin sekali, hingga ia dapatkan kepandaian melebihi Kat Cie Kiang dan dua saudara Liong, tidak heran ia jadi berani, malah ia berkelahi dengan sengit, karena ia berniat dapat binasakan orang she Kang ini. Siau Hoo buat perlawanan dengan tidak hendak buat celaka lawan ini, ia hanya mencoba akan menendang rubuh dan merampas goloknya lawan, akan tetapi karena ini mereka jadi bertempur seru, sebab Thio Cie Cay sebaliknya bersungguh-sungguh. Maka selang lima atau enam jurus, barulah ia jadi habis sabar sendirinya. Begitulah ia mendesak, pertama ia  tekan goloknya lawan, lalu ia teruskan membabat kearah bawah.

Thio Ce Cay kalah sebat, ia pun tidak sempat berkelit, ujung pedang mengenai pahanya, darahnya segera muncrat, disusul dengan rubuh tubuhnya.

“Jangan sesalkan aku, kau cari penyakitmu sendiri!“ Siau Hoo bilang.

Cie Cay kertek gigi, ia mencoba berbangkit untuk menyerang pula, melihat demikian Siau Hoo dului dupak padanya terpental dan tersungkur jatuh, goloknya terlepas. Siau Hoo ambil goloknya itu. Dan melemparkan keatas genteng. Setelah itu, Siau Hoo lari kearah kamarnya Cie Lim.

“Cie Lim, kau keluar!“ ia membentak.

Kembali jeritan orang perempuan di dalam kamar, jeritan dalam ketakutan.

Mendengar itu Siau Hoo berhenti berlari.

“Jangan takut, aku tidak nanti bunuh  kau perempuan,” ia kata. “Suruhlah Pau Cie Lim lekas keluar! Cie Lim, ingatkah kau bagaimana kau perhina aku! Hayo, kau keluar!“

Sebagai jawaban, dari dalam terdengar tangisan perempuan. “Siau Hoo, ampunilah padanya.” perempuan itu meratap.

“Semua bisa diberi ampun kecuali dia!“ Siau Hoo jawab, “Dimasa kecil aku tidak dipandang sebagai manusia, tidak juga sebagai babi, sebagai anjing! Maka hari itu aku mesti bunuh padanya!“

Dalam murkanya Siau Hoo mendupak pintu hingga terpentang, sesuah mana ia nerobos masuk.

Perempuan itu kaget dan ketakutan, ia lari naik keatas pembaringan, ia pentang kedua tangannya, ia menangis.

Dari kolong pembaringan nongol sebelah kaki, Siau Hoo lihat itu, ia sambar kaki itu untuk dibetot keluar. Dia ketakuan mukanya pucat, tubuhnya menggigil, giginya bercatrukan.

“Siau Hoo, ampuni aku ... “ ia lantas memohon. “Dulu aku ada satu telor busuk, aku memang harus dibunuh mati

... Ampun. Siau Hoo, aku tidak berani lagi menghina kau ... ”

Siau Hoo sudah ayun pedangnya ketika ia lihat tubuh yang bebokongnya melengkung naik, meskipun ia merangkang, dia mirip dengan seeekor onta. Melihat seorang bercacat seperti tiba-tiba hatinya berubah. Tapi toh ia mendupak juga.

“Dengan bunuh kau, aku buat kotor pedangku!“ Ia berseru.

Cie Lim menjerit, ia usap-usap kempolannya, ia teraduh- aduh.

Lu-sie, sang isteri turun dari pembaringan, untuk berlutut didepan Siau Hoo, ia meratap memohon ampun. “Kau jangan takut,” Siau Hoo bilang. “Aku bukannya seorang kejam. Kau tahu sendiri apa yang terjadi pada sepuluh tahun yang lalu atas diriku. Keluarga Pau ini, ayah dan anak, perlakukan aku secara kejam dan hina sekali! ... ”

Disebelah luar masih terdengar caciannya Thia Cie Cay. Ia sudah tidak mampu bergerak tetapi ia masih gusar dan berani, caciannya itu membuat Siau Hoo panas, hingga  Siau Hoo segera bertindak keluar.

Baru pemuda kita sampai dipintu, atau dari tembok ada orang loncat turun.

Itulah Ma Cie hian yang datang menyusul, napasnya memburu, keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

“Siau Hoo, jangan keterlaluan “ kata ie-thio ini. “Orang yang binasakan ayahmu adalah Pau Cin Hui, anggauta- anggauta keluarganya tidak punya sangkutan  apa-apa, maka janganlah kau membunuh terlalu banyak.”

“Pasti sekali aku tidak akan membunuh orang secara membabi-buta,” kata Siau Hoo dengan masih sengit. “Thio Cie Cay ini jikalau ia tidak rintangi aku dan membacok terlebih dulu padaku, tidak nanti aku lukai padanya.”

Cie Hian percaya akan kata-katanya ponakannya ini. “Sudah, kan diam,” ia peringatkan Cie Cay, sudah

mana, ia bertindak kedalam.

Pau Cie Lim merangkang menghampirkan saudaranya seperguruan itu.

“Ma Su-ko, tolong kau mintakan keampunan untukku.” ia mohon. “Supaya keponakanmu tidak bunuh aku ... Dulu aku bersilab, aku memang harus mati ... Aku janji tidak akan berani pula menghinakan keponakanmu itu ... ” Dengan mengancam dengan pedangnya Siau Hoo tertawa dingin.

“Jikalau aku binasakan orang semacam kau, apakah sendirinya aku tidak malu?” katanya. “Tetapi kau mesti beritahukan aku sebenar-benarnya, siapakah dulu yang bunuh ayahku?“

“Tentang itu aku tidak ketahui jelas,” sahut Cie Lim. “Ada yang bilang Liong Cie Khie, tetapi kemudian Cie Khie katakan bahwa Cie Seng dibunuh oleh ayahku.”

“Inilah aku sangsi,” Ma Cie Hian bilang. “Belakangan ini suhu ada berhati dermawan, dia pasti tidak bisa bunuh orang.”

Siau Hoo berkerot gigi, saking gusar.

“Biar bagaimana kedua-duanya tak nanti aku beri hidup!” ia berseru. Ia terus dupak Ce Lim dengan bengis, lantas dengan menahan mendongkolnya hati, ia bertindak keluar.

Dipekarangan, Thio Cie Cay yang terluka masih duduk bercokol, ia hanya mengawasi berlalunya pemuda kita tetapi ia mengancam.

“Orang she Kang, jangan kau berlaku keterlaluan,“ kata ia dengan berani. “Jikalau kau bunuh guruku, di belakang hari mesti ada orang yang akan balaskan dengan  bunuh mati kau juga!”

Ce Hian nemburu akan susul keponakannya.

“Siau Hoo, tunggu! “ ia memanggil. “Jikalau kau ketemu guruku, kau boleh tanyakan keteranganya tetapi jangan kau

...

“Jangan perdulikan aku, ie-thio!” Siau Hoo putuskan pembicaran. “Ini bukannya urusanmu!“ Dengan tak gubris Thio Cie Cay, Siau Hoo loncat ke tembok akan terus keluar, setelah simpan pedanng dalam sarungnya segera loncat naik pada kudanya yang ia beri lari meningalkan Pau-kee-cun, menuju ke Selatan. Ia belum kabur jauh ketika ia dengar suara yang nyaring tetapi halus, ia tahan kudanya untuk lihat ke sekelilingnya. Di tengah sawah antara gili-gili, ia tampak beberapa anak perempuan, yang sedang bernyanyi-nyanyi.

Itulah ada nyanyian umum didesa yang ia kenal.

Anak yang paling besar usianya belum lebih dari dua atau tiga belas tahun, pakaian mereka banyak tambalannya dan di lengannya masing-masing ada tergantung sebuah rantang bambu. Pada matanya Siua Hoo seperti berbayang Ah Loan, hingga ia awasi terus mereka itu.

Dari gili-gili lima bocah itu naik kejembatan, mereka bernyanyi terus, mereka tertawa dan berpegangan tangan, nampaknya mereka sangat gembira, hingga mereka tidak perhatikan si penunggang kuda yang awasi mereka.

Siau Hoo lompat turun dari kudanya, akan papaki mereka itu.

“Nyanyian merdu!” ia memuji.

Baru sekarang semua nona-nona cilik itu kaget, semuanya berdiri diam.

Siau Hoo tertawa, ia mendekati mereka itu.

Dua bocah yang paling kecil kaget dan lari, yang tiga berdiri diam, namun dengan wajah ke pucatan.

“Jangan takut, nona-nona,” kata Siau Hoo pada mereka, suaranya pelahan dan manis budi. “Aku juga asalnya penduduk sini.” “Kau bukannya penduduk sini, aku tidak kenal kau,” kata satu di antara nona cilik itu.

“Aku asal penduduk Pau-kee-cun.” Siau Hoo pastikan “hanya sudah sepuluh tahun aku pergi dari sini dan baru sekarang aku kembali. Aku mau minta keterangan darimu tentang si orang tua ubanan ialah Pau Kun Lun, dia itu sekarang masih ada dirumahnya atau dia sudah pergi kelain tempat?”

“Sudah lama Pau Kun Lun pergi dari sini,” sahut nona yang besaran, “malah cucu perempuannya juga telah pergi. Dia bukannya orang baik, tetapi cucu perempuanya benar- benar baik.”

Dua nona yang lainnya katik kawan ini, rupanya mereka hendak cegah kawannya bicara jelek tentang Pau Kun Lun, agaknya mereka takut terancam bahaya.

Siau Hoo dapat lihat sikapnya kedua nona cilik itu, ia jadi gusar.

“Selama sepuluh tahun ini tentunya Pau Kun Lun jadi galak dan murid-muridnya galak juga,” pikir ia.  Dilain pihak ia berduka mendengar disebutnya Ah Loan.

“Cucu perempuannya Pau Kun Lun itu apakah bukannya Ah Loan?“ ia tanya.”Sebab apa kau bilang  ia oran baik? Coba terangkan.”

Siau Hoo bicara sambil tersenyum.

Nona-nona itu rapatkan diri, mereka saling cakal tangan dan mengawasi, agaknya mereka masih curiga. Semua mereka diam saja.

Diam-diam Siau Hoo menghela napas. Ia melihat kesekitarnya. Ia tampak, setelah lewat sepuluh tahun, segala apa telah berubah, penduduk situ agaknya telah jadi terlebih miskin. Kemudain baru ia dapat lihat pohon liu besar disebelah Utara, dekat jalan besar, yang daunnya jarang, ia lihat banyak bekasnya kampakan. Itu adalah pohon liu yang dulu ia naiki untuk ambil layang-layang di atasnya. Pohon itu jadi tua. Hanya yang buat ia  heran, ia  lihat bekas beberapa bacokan pada batang bawah dari pohon itu. Itu bukan bekas kampakan, hanya bekas bacokan pedang atau golok.

Lima bocah itu, sambil berpegangan tangan sudah berjalan dipinggiran, tapi sering-sering mereka menoleh akan lirik pemuda ini, agaknya merasa sangsikan orang baik-baik.

Menampak kelakuannya anak-anak itu, Siau Hoo tersenyum.

“Kau jangan takut,” ia kata pula. ”Aku betul dimasa kanak-kanak berasal dari desa ini. Namaku Kang Siau Hoo. Sebentar kalau kau pulang, kau tanya orang tuamu tentang halku, mereka tentu kenal aku.”

Mendengar nama Kang Siau Hoo, anak-anak itu nampaknya heran, lantas saja mereka mengawasi dengan terlebih teliti, tetapi sekarang nampaknya mereka tidak lagi takut seperti tadi, bahkan mereka mendekati.

“Apakah benar kau Kang Siau Hoo?“ tanya satu diantaranya.

“Benar,” Siau Hoo pastikan dengan anggukkan kepala. “Sudah duabelas tahun aku meninggalkan rumah-tanggaku, baru sekarang aku kembali. Orang tuamu mungkin ada sahabat-sahabat dan teman-temanku memain dimasa kanak-kanak.”

“Seluruh desa ketahui halmu!” kata satu anak sambil berjingkrak. “Katanya kau pergi untuk belajar silat, untuk membalaskan sakit hati ayahmu. Si tua bangka she Pau dan anak murid-muridnya semua takut padamu, itulah sebabnya kenapa si Pau tua bangka singkirkan diri!”

Siau Hao terharu mendengar keterangan itu.

“Apa katanya penduduk sini tentang aku?” ia tanya pula.

“Semua bilang kau baik!” sahut semua bocah  itu. “Mereka itu justeru harapkan kau lekas kembali!  Tua bangka she Pau itu serta anaknya dan murid-muridnya jahat semua! Mereka sering menghina dan ganggu orang!”

Gusar Siau Hoo mendengar keterangan ini.

“Benar-benar keluarga Pau ayah anak jahat,” pikir ia. “jadi bukan hanya keluargaku saja yang telah jadi korban kejahatannya itu. Benar-benar aku harus basmi keluarga ini untuk singkirkan bencana seluruh desa! ... “

Siau Hoo lantas saja ingin kembali ke Pau-kee-cun untuk binasakan Pau Cie Lim serumah tangga.

“Yang paling jahat adalah si orang she Liong yang hitam dan gemuk, yang bergelar Twie-san-hou, si Harimau Gunung!” kata satu bocah. “Dia sering datang kemari dengan menunggang kuda, kudanya sengaja suka ditubrukkan pada orang! Pada tahun yang lalu, karena urusan beli tanah, ia hajar Tan Tek Cay  hingga patah kakinya tentang itu dengan ancaman dia larang penduduk menguwarkannya!”

“Ayahku juga kena dihajar kakinya oleh si orang she Liong yang kedua sehingga pincang,” kata satu bocah yang kedua sambil meringis! “Belakangan si tua bangka she Pau tanya ayah, kenapa kaki ayah tercacat, ayah kata bahwa ia jatuh dari keledai, ia tidak berani terangkan hal  yang sebenarnya!” Siau Hoo bertambah-tambah gusar. Sekian lama ia berdiri diam. Akhirnya sambil angguk-anggukkan kepala ia kata, “Sekarang pergilah pulang dan beritahukan ayah dan ibumu bahwa pasti aku nanti bunuh tua bangka she Pau itu serta dua saudara Liong, untuk singkirkan ancaman bencana bagi kau sekalian!“ Kemudian ia tunjuk pohon liu dan tanya. “Siapa yang bacoki pohon ini? Pohon ini toh ada baiknya untuk berikan tempat meneduh bagi orang-orang, kenapa dibacok sana dan bacok sini?”

“Bacokan itu ada bacokan Ah Loan,” sahut satu bocah. “Setiap hari dia naik kuda dan mundar-niandir disini, setiap kali kali lewat dibawak pohon itu dia tentu membacok dua atau tiga kali, agaknya dia membenci sangat pohon ini!“

Siau Hoo melengak.

“Ha, kiranya Ah Loan benci aku!“ kata ia  dalam hatinya. “Ia bukan hanya membenci aku tetapi juga pohon ini! Terang dia membenci aku karena urusan dimasa kanak- kanak itu. Kalau begini, buat apa aku memikiri  adanya? Biar dia mati atau hidup di Cin Nia, tidak perlu aku ambil tahu lagi halnya ... ”

Sendirinya Siau Hoo lantas tertawa dingin. Ia loncat naik atas kudanya, ia manggut pada kelima bocah itu, lalu ia cambuk kudanya buat diberi lari kearah Selatan.

+dw+

XV

SIAU   HOO   PERGI   MAKIN   LAMA   makin   jauh,

hatinya panas. Sinar layung dan matahari telah menyoroti ia, sampai ia menikung di pengkolan bukit, darimana ia ambil jalanan untuk Cie-yang. Untuk ini, dari Tin-pa ia mesti lintasi bukit Pa San. Perjalanan ke Cie-yang ada sejauh  tujuh-puluh  lie, dengan  kaburkan kudanya dia akan bisa sampai dengan cepat, akan tetapi itu sudah jauh lohor, juga ia sedang sangat berduka dan mendongkol, hingga ia rasakan kepalanya pusing, perutnya panas.

“Biarlah aku bersabar hari ini, aku harus cari tempat mondok,” pikir ia, “besok pagi aku lanjutkan perjalananku ke Cie-yang, untuk bunuh Liong Cie Khie, Liong Cie Teng dan Kee Cie Beng bertiga, kemudian baru aku cari Pau Kun Lun ... ”

Ia cari satu dusun kecil dimana ia  telah singgah. Ia serahkan kudanya pada jongos untuk dirawat, ia sendiri bawa pauhok dan pedangnya masuk ke kamar yang diunjuk untuknya.

Kemudian datang jongos mengantarkan makanan dan nyalakan penerangan.

Siau Hoo terus dahar, setelah itu, karena hawa dalam kamar panas, ia buka bajunya, dan bajunya itu ada jatuh suatu barang, ialah sebelah sepatu yang ia  dapatkan didalam selokan gunung. Ia jadi mendongkol, ia jemput itu untuk dibanting!

“Ah Loan, perempuan tak punya liangsim!“ ia mencaci dalam hatinya.

Dengan mendongkol ia duduk diatas pembaringan.

Masih saja ia berpikir.

“Dia ada satu auggauta keluarga dari musuhku, dia-pun tidak punya liangsim terhadap aku, apakah mesti aku benci dia?“ ia tanya dirinya sendiri. “Laginya ... ”

Ia lantas ingat pertemuannya paling belakang ini, di Pa Kio, di Tiang an dan di Cin Nia, terutama  pertemuan paling belakang itu ketika malam-malam ia tolong si nona dari penjara gua, ia sendiri yang bilang, “Ah Loan, hayo lekas turut aku!” tapi Si nona dengan suara sedih menyabut: “Kemana aku turut kau? Jikalau tidak karena kau, aku tidak akan alami peristiwa sebagai ini ... “ Kemudian ketika ia kempit si nona untuk dibawa pergi, Si nona menurut saja, sampai ke batu besar dimana si nona ditinggalkan. Adakah itu tanda bahwa si nona tidak punya liangsim?”

“Bukankah itu ada tanda bahwa dia tidak lupai aku, tentang persahabatan kita?“ ia ngelamun lebih jauh. “Apa yang terjadi atas dirinya, semua karena ia tidak berdaya, karena terpaksa ... ”

Ingat semua itu, sekejap saja lenyap kebenciannya Siau Hoo pada si nona. Ia-pun segera sangsikan nona itu terbinasa atau jadi korbannya binatang buas, hingga ia  menyesal tidak bisa segera berada di Cin Nia, untuk mencari terlebih jauh.

Siau Ho, duduk termangu, matanya mengawasi tembok kamar.

“Rupanya aku tidak berjodoh dengan dia ... “ pikir ia pula, dengan duka. “Baiklah aku tidak pikirkan dia terlebih lama, meski ia masih hiduppun, untuk seumurku aku baik jangan menikah dengan dia ... ”

Ia turun dari pembaringan, ia jemput sepatu sulam itu, yang ia pandang diantara cahaya api.  Itu ada sepatu sulaman yang halus dan indah, pasti ada buatannya Ah Loan sendiri. kembali hatinya ketarik.

“Tidak, tidak, aku ada satu laki-laki, putusanku mesti tetap putusanku!” kata ia dalam hatinya ... Dia-pun sudah menikah dengan Kie Kong Kiat, umpama dia benar tidak mati, aku tidak boleh paksa rampas dia! Umpama dia telah binasa, sepatu ini aku harus kembalikan pada Kong Kiat ...  ” Siau Hao masukkan sepatu itu dalam buntalannya, lantas buntalan itu dijadikan bantal kepala atas mana ia rebahkan kepalanya. Ketika esoknya pagi ia bangun, ia merasakan tubuhnya segar dan bersemangat, karena kembali berkobar ingatannya akan musuh-musuhnya. Ia lantas minta makanan, dan minta kudanya juga disediakan. maka setelah dahar dan melakukan pembayaran, ia bisa lantas mulai perjalannya.

Jalanan disini ada dikenal baik oleh Siau Hoo. Dulu-pun ia pernah ikut Long Tiong hiap pergi ke Cie-yang. Ia larikan kudanya dengan keras, maka belum ada tiga jam, ia sudah sampai ditempat tujuannya. Ia tahu Ceng Wan Piau Kiok dari Keluarga Liong letaknya di Say-kwan kota Barat, tetapi ia lebih dahulu pergi ke Lam-kwan kota  Selatan, dimana dia cari sebuah rumah penginapan untuk titipkan kudanya buat digombong tetapi ia buang pelananya dibuka, dengan bilang ia ada punya urusan dan akan kembali dengan cepat. Ia lantas pergi pula dengan tak lupa bawa pedangnya.

Tuan rumah perhatikan tamunya ini tetapi tiada tanda yang mencurigai, karena ia tampak orang punya roman yang tenang. Tidak seperti sedang hadapi urusan sangat penting.

Dengan jalan kaki Siau Hoo menuju ke Say-kwan, langsung ke Ceng Wan Piau Tiam. Dimuka pintu ia lihat keadaan ada ramai. Disitu ada berhenti beberapa buah kereta, dan sejumlah piausu atau pegawai kelihatan keluar dan masuk. Dengan langsung ia bertindak masuk, sampai beberapa orang segera cegah padanya.

“Eh, kau ada urusan apa? Kau mau apa?” mereka itu tanya. Siau Hoo tidak menjawab, hanya dengan satu gerakan tangan ia tolak mereka mundur, ia jalan terus akan masuk kedalam.

Dari kantoran kebetulan keluar satu orang siapa Siau Hoo kenali sebagai Po-long-kiau Kee Cie Beng si Ular Naga, ialah satu diantara musuh-musuh pembunuh ayahnya. Dia ini dulu pernah dilukai oleh Long  Tiong Hiap, sekarang rupanya dia sudah sembuh. Dengan tiba- tiba amarahnya Siau Hoo meluap. Dengan satu loncatan ia maju akan jambak si Ular Naga itu.

“Orang she Kee, apa kau masih kenali aku?“ ia tanya sambil membentak.

Kee Cie Beng terkejut untuk perlakuan itu, hingga ia awasi pemuda kita dengan mata terbuka lebar.

“Aha, Kang Siau Hoo!“ berseru ia dengan suara separuh tertahan.

Ketika itu, orang yang tadi ditolak mundur, sudah lantas siapkan senjata mereka. Melihat sikap mereka itu, Cie Beng lekas goyang-goyangkan tangan, mukanya menjadi pucat sekali.

Siau Hoo angkat pedangnya, ia pandang semua orang dengan tertawa menghina.

“Tidak perduli kau ada berjumlah berapa banyak, majulah semua!” ia kata secara menantang. “Aku Kang Siau Hoo tidak takut! Jikalau aku datang diwaktu malam, aku bukannya satu laki-laki, dan itu sengaja aku datang siang, semua kau ada merdeka untuk tempur aku! Namun baiklah kau ketahui, aku datang melulu untuk  cari Liong Cie Teng, Liong Cie Khie dan Kee Ce Beng, dengan yang lain-lainnya aku tidak punya sangkutan apa juga, pasti sekali aku tidak sudi lukai mereka yang bukannya musuhku! Akan tetapi kalau kau tidak tahu gelagat, mau juga angkat senjata akan layani pedangku ini, itu artinya kau cari mampus sendiri!”

Orang-orang itu ada murid-murid atau cucu-cucu murid Kun Lun Pay, namun mereka belum kenal siapa orang yang datang ini, setelah mengetahui bahwa pemuda ini Kang Siau Hoo adanya, tidak ada satu yang berani maju terlebih jauh.

Cie Beng sementara itu, dengan pelahan-lahan mulai lenyap pucatnya.

“Tuan ... Kang, sabarlah,” berkata ia, suaranya tidak lancar. “Taruh kata kau hendak menuntut balas kau mesti bicara dahulu secara aturan. Sejak beberapa hari yang lalu aku sudah ketahui bahwa kau bakal datang kemari, lain-lain orang telah pada angkat kaki, aku sendiri tidak. Aku tahu aku tidak bersalah, aku tidak harus malu terhadap siapapun. Ayahmu, ketika ia langgar aturan, suhu perintah Ma Cie Hian datang panggil kita bertiga. Titahnya suhu itu aku tak berani menentangnya tetapi hatiku sendiri tidak tega. Aku bertiga mengejar sampai digunung Utara, aku berhasil candak Cie Seng. Aku berani sumpah terhadap Thian, aku tidak hajar padanya sekali-pun dengan satu cambukan. Tetapi ia terbinasa, aku masih sesalkan Cie Khie, karena mana, hampir Cie Khie serang aku.”

Matanya Siau Hoo mendelik.

“Jadi yang bunuh ayahku adalah tangannya Cie Khie?“ ia menegasi.

“Setelah urusan jadi demikian rupa, tidak ada halangannya aku tuturkan hal yang sebenarnya.” Cie Beng bilang. “Dalam hal ini janganlah kau sembarangan celakai orang. Ketika itu ... “ ia berdiam sebentar, “waktu suhu pangil kita bertiga, ia perintah kita cari saudara Cie Seng untuk segera dibinasakan. Walau-pun demikian, benar- benar aku tidak tega. Buat beberapa hari kita mencari digunung Selatan dengan sia-sia saja. Pada suatu malam Pau Cie Lim beri kisikan, bahwa saudara Cie Seng pulang dengan diam-diam tapi segera ia menghilang pula. Aku cari ia dibeberapa kampung, namun tetap tidak peroleh hasil. Keesokannya suhu ajak kita mencari terlebih jauh, kita ketemukan ia digunung Utara. Sebelum suhu bilang apa- apa dan sedangnya Cie Teng cambuki ayahmu, Cie Khie yang tidak sabaran sudah bacok ia satu kali ... “

Sebelum Cie Beng dapat bicara terus, tiba-tiba Cie Teng muncul bersama rombongan orang. Orang she Liong ini, yang berkumis dan berewokan, yang mukanya merah padam, ada menyekal Kun-lun-too, begitu lekas ia sampai, ia tuding Cie Beng sambil kata dengan nyaring : “Kee Cie Beng, orang yang tak mempunyai liangsim! Karena kau takut terhadap Kang Siau Hoo, kau hendak cuci diri hingga bersih ... ”

Siau Hoo kenali orang she Liong itu, dalam  murkanya, ia lepaskan Cie Beng, ia segera menerjang kepada Cie Teng.

Cie  Teng tangkis serangan itu, terus ia  buat  perlawanan.

Kawan-kawannya-pun lantas maju membantui.

”Jangan! Jangan!“ Cie Beng berteriak-teriak untuk mencegah. “Kang Siau Hoo, pergilah kau ke Su-coan Utara cari Cie Khie! Dialah yang bunuh ayahmu! Kau carilah musuhmu itu!“

Cie Beng berseru dengan sia-sia karena Siau Hoo sudah layani semua penyerangannya. Ia memang sedang gusar, ia jadi semakin panas hati karena dikepung. Ia ada bagaikan seekor harimau galak diantara sekawanan kambing, sebentar saja ia telah rubuhkan beberapa musuh, pedangnya terus menyamber-nyamber. Liong Cie Teng bertubuh besar dan kuat seperti seekor biruang, ilmu goloknya-pun liehay, akan tetapi baru melawan sepuluh jurus ia segera kena ditikam rubuh!

Menyusul itu, orang banyak itu berseru-seru: “Pembunuhan! Jangan beri dia lari!“

Sesudah rubuhkan musuhnya Siau Hoo buka jalan untuk keluar dari kepungan, terus sampai keluar, kejalan besar, sedang keadaan jadi kalut sekali.

Orang-orang dan lain-lain piautiam, juga orang-orang polisi, sudah lantas datang, akan serang pemuda kita, yang mereka coba kurung.

Dengan leluasa Siau Hoo bisa terjang semua musuh itu, akan tetapi ia tidak kehendaki lain-lain korban lagi. maka itu, selagi dikurung, ia loncat naik keatas sebuah kereta, terus keatas tendanya. Disini orang kembali kurung padanya, berbagai senjata panjang dipakai menyerang ia. Dengan pedangnya ia tangkis semua serangan, ia lalu loncat pula melewati kepala sejumlah orang, akan lompat keatas genteng rumah yang paling dekat.

Beberapa orang yang pandai locat ke atas genteng-pun segera menyusul, akan tetapi setelah menyandak Siau Hoo, begitu lekas senjata mereka kena disampok, tubuh mereka terus ditendang, hingga mereka rubuh ketanah. Empat atau lima orang yang rubuh itu sampaikan tak mampu segera merayap bangun pula.

Bagaikan seekor harimau tutul, Siau Hoo berlari-lari dan berlompatan diatas genteng untuk jauhkan diri dari orang banyak itu. Karena ia lari diatas genteng, orang tidak sanggup susul padanya. Dilain saat ia  sudah sampai di Lam-kwan, disini ia loncat turun ketanah, untuk segera ambil kudanya, yang ia loloskan dari tambatannya. Tuan rumah kaget melihat tahu-tahu ada orang loncat turun dari genteng.

“Eh, bagaimana ini?“ tanya ia apabila ia kenali tamunya itu.

Kang Siau Hoo tidak menjawab, ia hanya lemparkan beberapa ratus chio uang, kemudian setelah simpan pedangnya, ia tuntun kudanya keluar sampai dimuka pintu, ia loncat naik atas kudanya, yang segera ia kaburkan kearah Selatan. Ia lari belum seberapa jauh, lantas ia dengar suara berlarinya banyak kuda, ketika ia menoleh ke belakang, ia tampak mendatanginya belasan penunggang kuda. Ia cambuki kudanya untuk buat kudanya itu lari kabur. Setelah lari belasan lie, semua pengejarnya  telah ketinggalan jauh. Di depan ia ada sebuah kali kecil, dimana tidak ada jembatan, maka ia kasih kudanya turun kekali untuk menyeberang sambil ngerobok. Diseberang ia lalu turun dari kudanya, akan antap binatang itu minum air, ia sendiri berdiri ditepi, matanya memandang keseberang mengawasi sekalian pengejarnya, yang makin lama kelihan makin nyata.

Diantara mereka itu terdapat orang-orang polisi, sebagaimana tudung mereka ada berunce merah. Ia lantas naik pula kudanya buat diberi lari lagi. Ia ambil jalan kecil, yang kiri dan kanannya ada sawah-sawah yang berair.

-ooo0dw0ooo-

0 Response to "Burung Hong Menggetarkan Kunlun (Ho Keng Koen Loen) Jilid 20"

Post a Comment