Burung Hong Menggetarkan Kunlun (Ho Keng Koen Loen) Jilid 07

Mode Malam
Jilid 07

“MELIHAT aku kuat angkat besi itu, Tiat Thing Ceng batal minta derma dan lantas berlalu, dengan tinggalkan juga besinya,” Cie Kie sambungkan ceritanya. “Di tahun yang kedua, dia datang pula dengan bawa besi ini yang terlebih besar. Sekarang dia minta dua-ribu tail. Kapan dia saksikan aku juga kuat angkat besinya ini, ia ngeloyor pergi pula. Ditahun ketiga dia tidak datang, hanya dia datang di tahun ke empat, sambil bawa besi yang paling besar yang Ia panggul, dan karena memanggul itu, ia nampak megrek tak keruan.”

“Dia kata, asal aku bisa panggul itu, baru ia suka takluk dan ia tak akan minta uang sekalipun satu chie, malah dia janjikan pergi untuk tidak kembali. Tapi aku memikir lain. Diakhirnya aku berikan empat ribu tail.” Selagi kata begitu. Cie Kie lirik Siau Hoo kemudian ia  tambahkan. “Tiga potong besi ini terletak disini sudah banyak tahun, kecuali aku, yang bisa angkat dan potong, belum pernah ada lain orang yang mampu angkat walaupun yang kecil saja. Aku pernah lepas kata, kalau ada orang yang kuat angkat besi  ini, aku hendak angkat dia jadi guru, dan siapa bisa angkat besi yang kecil aku akan janjikan dia sebagai sahabatku, dan siapa bisa angkat besi yang pertama, yang paling enteng, aku akan terima dia sebagai murid. Selama beberapa tahun, sekali-pun ada datang sejumlah orang yang mencoba tenaganya, sampai sebegitu jauh, yang diterima sebagai murid saja, tidak ada. Dalan kalangan kang-ouw, di sebelahnya ilmu silat, orang perlu dengan tenaga yang besar untuk membuat orang kagumi kita. Maka sekarang, apabila kau ingin jadi muridku, kau mesti coba angkat itu besi yang paling kecil!“

Siau Hoo tidak berpikir lagi untuk berikan jawabannya. “Akur!“ Ia berseru. Ia memang sudah pikir, biar

bagaimana ia mesti coba. Ia terus mendekati besi itu, ia membungkuk, ia lonjorkan kedua tangannya, sambil mencekal besi itu ia kerahkan tenaganya.

“Angkat,” Cie Kie memberi tanda.

Siau Hoo lantas mengangkat, baru saja kira-kira setengah kaki, ia rasakan kedua tangannya gemetaran dan lemas, besi itu terlepas tanpa ia merasa, menggabruk di tanah. Napasnya lantas saja sengal-sengal. Tapi ia penasaran, ia mengangkat pula. Kali ini setengah kaki-pun Ia tak kuat angkat, hingga ia lepaskan pula cekalannya.

“Gagal!” kata Cie Kie dari samping dengan senyumannya. “Tapi kau boleh coba terus, setiap hari kau datang kemari untuk berlatih, kapan saja kau kuat angkat, itu waktu juga kau boleh paykui padaku, nanti aku berikan pelajarati silat padamu.”

Seteah kata begitu, Cie Kie turunkan tangan  bajunya, lalu sambil bersenyum, ia bertindak masuk ke pintu yang kccil.

Berbareng dengan itu. Hoa-thyayswee dan teman- temannya lantas tertawa mengejek.

Siau Hoo ada mendongkol bukan main, akan tetapi ia tidak perdulikan orang-orang jail itu. Ia hanya awasi tiga potong besi itu. Sudah yang dua ia tidak sanggup angkat, apa mau yang paling kecil-pun “satrukan” padanya. Karena penasaran, ia kumpul pula tenaganya, kemudian ia cekal pula besi itu dan diangkatnya. Ia telah kerahkan semua tenaganya. Ia kerot gigi, ia  mendelik. Ia  kuat angkat setengah kaki seperti pertama kali, ia coba angkat terus. Apamau, kembali tenaganya habis, lengannya gemetaran, tangannya lemas. Tanpa bisa dicegah, besi itu mengabruk sendirinya. Malah Siau Hoo-pun turut numprah di sampingnya.

Rombongannya Chio Seng kembali tertawa gelak-gelak, sekali ini sambil tepuk-tepuk tangan.

Mukanya Siau Hoo menjadi merah, tapi ia mengawasi orang-orang jail itu. Ia  tidak mau layani mereka itu. Kembali Ia awasi besi itu, matanya mendelong.

Akhirnya Chio Seng datang sambil menenteng goloknya.

“Eh, bocah, pergi kau pulang dan cari ibumu untuk netek pula!” kata orang jail ini. “Kau mesti pelihara tenagamu, kemudian baru kau datang pula kemari. Kalau tidak, biar kau ajak ayahmu, besi ini tak nanti dapat diangkat!”

Mendengar itu, rombongannya Hoa-thay-swee tertawa pula.

Sementara itu Siau Hoo ingat ia belum dahar  tengah hari, ia berasa lapar, pantas ia tidak mempunyai tenaga. Maka itu, sambil memutar tubuh, ia kerutkan dahi.

Masih saja rombongan orang nakal itu menjengeki, menjebikan bibir.

“Hayo, kau pulanglah!” kata mereka. “Buat apa umbar napsu hati disini …”

Siau Hoo awasi rombongan itu dengan mata merah dan menyala, hampir ia tidak dapat kendalikami diri. Syukur ia masih ingat, percuma Ia layani mereka, itu justeru akan menyebabkan Cie Kie tak sudi terima ia sebagal murid. Akhirnya dengan sabarkan diri, ia menghampiri kacung yang pegangi kudanya.

“Jangan serakan itu kuda padanya!“ tiba-tiba Chio Seng berseru ia cegah kacung yang pegangi kuda itu.

Sekali ini Siau Hoo gusar hingga ia raba goloknya. “Apa?“ berseru Chio Seng seraya menghampiri. “Kau

hendak tempur aku pula?“

Tapi berapa orang lantas datang sama tengah.

“Kau kenal toaya kita, lain kali kau boleh datang pula, sembarang waktu,” kata seorang. “Hari  ini kau tidak berhasil mengangkatnya, besok kau boleh mencoba pula, tetapi jangan kau membuat ribut disini. Ini tuau Chio ada sahabat toaya kita, kau harus memandang pada toaya.”

Siau Hoo berdiam, tapi ia bersenyum ewa, kemudian dengan tidak kata apa-apa ia  tuntun kudanya ngeloyor pergi. Ia keluar dari Cie-kee-chung, ia menuju ke Utara, pikirannya kusut. Ia tak perdulikan lagi Chio Seng. Ia hanya dukai itu besi berat. Ia sudah jalan setengah lie, baru Ia loncat naik atas kudanya, akan kabur ke Tongkwan. Ia berhenti di muka Hok Lip Piauw Tiam, ia tidak tuntun kudanya masuk, hanya Ia tambat binatang itu dipelatok. Ketika ia bertindak ke kantor, ia lihat Yo Sian Tay berada bersama Lu Hiong, Cek Eng dan Ciauw Eng sekalian.

“Lauwtee!“ Sian Tay segera menegur. “Kau telah pergi ke rumahnya Cie Kie, apa kabar?”

“Tidak ada kabar apa-apa,” sahut Siau Hoo sambil geleng kepala. “Aku bicara dengan Cie Kie, lantas dia suruh aku setiap hari datang kerumahnya.” “Kepergianmu tadi membuat ciangkui kita sibuk,” Ciek Eng bilang. “Selama dua hari ini kita repot dan lusa kita mau berangkat ke Lou-ciu …”

“Ciangkuimu ada satu sahabat baik,” kata Siau Hoo. “Bilangkan padanya agar ia tidak usah kuatirkan aku. Akupun tidak ingin tinggal pula disini …”

Sian Tay teperanjat bahna herannya. “Kau hendak pindah kemana?” tanya dia.

Alisnya Siau Hoo mengkerut, air mukanya pucat sekali.

Ia masuk kedalam untuk ambil buntalannya.

“Pertama-tama aku hendak ambil tempat di hotel,” menyahut Ia. “Kemudian selama dua hari aku akan pindah tinggal pada Long Tiong Hiap.”

Sian Tay semua menjadi heran sekali, tetapi melihat orang punya air muka luar biasa, mereka tidak berani mencegah, mereka antap anak tanggung ini ngeloyor pergi.

Siau Hoo hampirkan kudanya, ia lepaskan tambatannya dan tuntun binatang itu dengan sebelah tangan masih menenteng pauwhoknya, ia jalan tidak seberapa jauh, ia lihat sebuah rumah penginapan di Selatan jalan besar. Ia mampir di hotel ini, ia minta kamar. Lantas ia minta barang makanan dan arak, setelah bersantai, ia rebahkan diri untuk beristirhat. Ia hendak siap untuk besok coba angkat pula besinya Long Tiong Hiap.

Siau Hoo dapat tidur, akan tetapi waktu Ia bangun, jongos datang bersama Kimkah-in Ciauw Tek Cun, siapa nampaknya ada malu sendirinya.

“Lauwtee, tidak sempurna untuk kau tinggal disini!“ kata ciangkui ini, romannya sibuk. “Baik kau pindah pula ke rumahku atau kepiauwtiam! Thia Pat ada sangat benci kau, percuma aku bujuki dia, dia bersakit hati kerena kau lukai kakinya! Sekarang dia belum sembuh, tapi begitu lekas dia sudah bisa jalan, sudah pasti dia akan cari kau. Kalau kau tinggal sama aku, lauwtee, biar bagaimana dia maih memandang aku, dia tak akan bisa gusur kau. Lusa aku hendak berangkat ke Lou-ciu, dan, tidak ada aku, tidak ada lain orang yang bisa perhatikan padamu. Atau lebih baik kau ikut aku pergi bersama!”

Siau Hoo tidak takut, ia goyang-goyang tangan.

“Tak usah kau perdulikan aku, toako!“ kata ia. “Kau ada satu sahabat baik. inilah Kang Siau Hoo ketahui dingan baik. Aku pindah kemari untuk dapat beristirahat, karena hari ini aku ada sangat lelah. Besok barang kali aku akan pindah kerumahnya Long Tiong Hiap ….”

Ciauw Tek Cun beran bukan main mendengar keterangan ini.

“Apa? Long Tiong Hiap-pun hargai kau?“ tanya Ia. “Toh aku dengar, tadi pagi kau telah tempur Ia di tengah jalan

…”

Siau Hoo kelihatannya jadi sabar sekali.

“Toako, bukankah aku sudah terangkan padamu,” katanya. “Aku datang kemari sengaja untuk menemui Long Tiong Hiap Cie Kie, buat cari tahu tentang bugeenya. Umpama bugeenya ada biasa saja, aku hendak bersahabat padanya, dan andaikata dia liehay luar biasa, aku niat angkat dia jadi guruku. Inilah maksudku yang utama. Tadi pagi aku ketemu dia, kita sudah piebu, aku dapat kenyatan bugeeku ada beda jauh, dan itu dia cocok untuk jadi guru. Sebab itu, tadi aku telah datangi rumahnya …”

“Apa dia tidak suruh kau angkat tiga potong besinya?” Tek Cun memotong. “Benar,” Siau Hoo manggut. “Dia kata asal aku bisa angkat besi yang paling kecil, dia suka terima aku jadi muridnya. Sayang besi yang ketiga itu tidak enteng, aku tidak sanggup angkat tinggi-tinggi. Hari ini aku telah berkelahi beberapa kali, tenagaku habis, aku pikir akan beristirahat untuk besok mencoba pula. Aku percaya besok akan kuat angkat besi itu!”

Tek Cun heran, sampai ia melengak. “Kalau begitu, baiklah,“ katanya kemudian. “Dengan kau tinggaL sama Long Tiong Hiap, Thia Pat pasti tidak berani ganggu kau. Benar Thia Pat ada satu okpa disini akan tetapi Ia jerih terhadap Long Tiong Hiap!”

Siau Hoo manggut-manggut akan tetapi dia bersenyum ewa.

“Jangan kuatir, aku tidak takut Thia Pat,” ia kata. “Bukankah toako akan kerangkat besok? Nah, urusan apa juga, besok kita bicarakan pula, hari ini harap toako ijinkan aku mengasokan diri agar besok aku sanggup angkat besi.”

Tek Cun manggut, ia lantas berlalu.

Siau Hoo lantas beristirahat, maka keesoknya pagi ia ada segar sekali, dengan cepat ia siapkan kudanya dan berangkat ke Cie-kee-chung. Hari masih pagi, tapi di pekarangan, dilatarnya Cie Kie, Chio Seng dan beberapa kawannya sedang asyik berlatih. Mereka tertawa kapan mereka lihat anak tanggung ini.

“Dia benar tidak kenal kapok! Coba pikir, dalam tempo satu hari berapa banyak tenaganya bisa bertambah? Kecuali dia makan obat kuat …”

Siau Hoo bungkam atas ocehan itu,  hanya tambat kudanya dipelatok dekat tembok, terus ia menghampiri tiga potong besi, akan jongkok di depan besi yang ke tiga. Ia mulai kerahkan tenaganya ketika ia cekal besi itu, terus Ia angkat sambil coba bangun berdiri. Ia keluarkan antero tenaganya, ia-pun keluarkan seruan. Ia baru angkat tingginya satu kaki ketika tiba-tiba ada orang dupak pantatnya. Ia tidak bersedia, sekejap saja Ia rubuh, besinya terlepas. Segera ia merayap bangun, amarahnya bukan kepalang sambil putar tubuh Ia kepal keras tangannya.

Didepan ia berdiri Hoa-thay-swee Chio Seng, tangannya mencekal golok, mukanya tertawa menyengir, mengejek!

Hampir Siau Hoo loncat menerjang, syukur disaat terakhir ia ingat, besi ada lebih penting baginya, karena itu Ia bisa kendalikan diri, dengan sabar ia balik pula badannya untuk angkat pula besi itu, tapi, sementara itu ia pikir: “Biar aku tahan sabar tapi kalau sekali lagi dia ganggu aku, aku nanti hajar padanya!”

Selagi Chio Seng ganggui Siau Hoo, Cie Kie sudah muncul di pintu, dari itu ia saksikan kejadian itu. Jago ini merasa tidak puas, ia pergi ke istal akan ambil cambuk, dengan bawa itu Ia dekati Hoa thayswee. Ia  dupak terlempar goloknya Chio Seng, menyusul mana ia menghujani cambukan pada orang puya kepala dan muka.

Siau Hoo heran, ia menoleh, berbareng dengan itu kupingnya-pun dengar suara cambuk berulang-ulang.

Mula-mula Chio Sang gelagapan, ia angkat kedua tangannya untuk menangkis, terus ia lari, tapi Cie Kie kejar Ia dan membuat ia terjungkal rubuh dengan satu tendangan, hingga kembali ia mesti rasai hujan cambuk.

Lain-lainnya orang mengawasi, tidak ada yang berani untuk mencegahnya.

“Kau berani membuat tercemar namaku?” kemudian kata Cie Kie dalam murkanya. “Kenapa kau bokong orang dengan tendanganmu? Apa ini perbuatannya seorang kang- ouw?”

Siau Hoo insyaf dengan cepat, maka segera Ia lari menghampiri Cie Kie.

“JananIah katu hajar dia karena aku.” kata Ia, “Aku datang kemari untuk angkat besi, buat minta kau suka jadi guruku, tapi bukannya buat layani dia ini! Biar dia ganggu aku, aku tidak hendak meladeninya! Perkara dia ada  perkara belakangan!”

Cie Kie masib menyabet beberapa kali mendupak juga, kemudian dia mengusir:

“Pergi! Pergi hari ini juga dari Long tiong! Mulai hari ini kau jangan kenal aku pula! Pergi! Atau aku nanti maui jiwamu!”

“Sudah, sudah,” Siau Hoa memohon pula. “Sudahlah, Toaya …”

Chio Seng merayap bangun, mukanya, babak belur dan penuh darah, kedua lengannya juga matang-biru, sedang pakaiannya kotor dan rubat-rabit. Sekarang barulah ia mirip dengan julukannya: Hoa Thayswee, atau si Dato Belang, hilanglah ketengikannya. Dengan bungkam dan tunduk ia ngeloyor ke istal.

Cie Kie dengan cambuk di tangan, masih mengawasi sekian lama dengan air mukanya tetap merah  padam, selang sekian lama baruah dia dapat sabarkan diri.

“Bagaimana? Apa hari ini kau kuat angkat besi itu?” ia tanya SiauHoo, suaranya sabar.

“Lihat saja,” sahut Siau Hoo, dengan sabar sekali. Ia lantas coba angkat besi itu, ia mencoba sampai enam atau tujuh kali, ia masih tidak mampu angkat tinggi-tinggi. “Gagal, gagal!“ kata Cie Kie sambil tertawa. “Tenagamu masih jauh daripada cukup, kau masih mesti berlatih setiap hari. Sebenarnya ini tidak sukar, asal kau sabar dan hati mantap, asal setiap hari kau belajar rajin, lambat laun kau akan berhasil. Setelah kau kuat angkat besi ini, aku akan terima kau sebagai muridku.”

Siau Hoo mengucap terima kasih untuk nasihat itu. “Begini caranya  kau mesti angit  besi ini,”  Cie  Kie  kata

seraya berikan penghunjukannya, sesudah mana, ia terus jalankan dua rupa ilmu silat dengan tangan kosong dan satu

rupa dengan mainkan pedang.

Siau Hoo terpesona saksikan kegesitan dan keuletannya jago Long-tiong, ia terutama kagum buat persilatan pedang.

“Dengan mendapati guru semacam ini apabila aku sudah lulus belajar, mustahil aku tak dapat malang melintang di kolong langit?“ ia ngelamun. “Hanya ini sepotong besi yang jadi penghalang!“

Sehabisnya berlatih, Cie Kie lantas berlalu dengan ambil jalan pintu kecil.

Itu waktu Chio Seng sudah siap, ia bawa buntalannya, ia naik kudanya dan pergi, ketika Ia lewati Siau Hoo, ia deliki bocah kita.

Siau Hoo tidak perdulikan orang jail itu, ia  hanya pikirkan toya besi. Setelah beristirahat, ia coba angkat pula, habis mengangkat, ia beristirahat. Demikian  seterusnya sampai dua atau tiga-puluh kali, sesudah tenaganya habis, lengan dan pundaknya pada sakit, waktu-pun sudah lewat tengahari.

“Mari dahar dahulu!“ datang satu bujang, yang mengundang. “Toaya minta masuk kedalam untuk dahar, setelah itu, kau boleh berlatih pula.” “Terima kasih,” sahut Siau Hoo seraya ia ulapkan tangannya. Dengan lesu ia hampirkan kudanya buat dituntun keluar, kemudian ia pulang ke Tong-kwan, ke hotel paling dahulu ia bersantap, lantas Ia rebahkan diri.

“Cie Kie harus dihormati,” pikir Ia, yang telah saksikan kegagahannya, kebencian pada perbuatan jahat dan manis budi juga, “Bagaimana kalau aku tetap tidak kuat angkat besi itu? Dengan gagalnya mendapatkan bugee sempurna, mana aku bisa menuntut balas?”

Oleh karena ini, ia jadi masgul. Sorenya, Kim-kah-sin datang pula.

“Besok tetap aku akan berangkat mengantar piauw ke Lou-ciu,” kata piauwsu ini. “Aku dengar Thia Pat kirim surat undangan kesana sini, boleh jadi untuk satrukan kau, dan itu perlu kau waspada, atau paling baik kau lekas  pindah ke rumahnya Chie Kie …”

Siau Hoo geleng-geleng kepala.

“Itulah perkara kecil, aku tidak takut,” katanya. “Baiklah toako jangan kuatir, pergilah dengan hati tetap.”

Kim-kah-sin sibuk sendirinya, ia tidak berdiam lama, lantas ia pamitan pulang.

Keesokannya, Siau Hoo bangun pagi-pagi sekali, ia naik kudanya dan pergi ke Teng-jie-pau, kerumahnya Cie Kie, dimana Long Tiong Hiap sedang berlatih seorang diri.

Siau Hoo tambat kudanya, ia  hampiri besi untuk diangkat sampai tiga kali, ketiga kalinya gagal, maka ia mencoba untuk keempat kalinya. Sekali ini Ia kerahkan semua tenaganya. Ia berhasil mengangkat sampai dua kali, ia mencoba terus. Selagi Ia menggangkat dengan berdengingan, hampir ia berhasil, sekonyong-konyong ia rasakan dadanya sakit, matanya gelap, ia mantahkan darah hidup, suara muntahnya terdengar keras juga.

Cie Kie masih berlatih, ia tidak lihat keadaannya Siau Hoo itu.

Siau Hoo rasakan tenaganya habis, berbareng dengan itu, hatinya jadi tawar dan dingin. Besinya sudah lantas terlepas. Ketika Ia duduk, ia lihat darah mengotori besi. Tanpa terasa ia kucurkan air mata. Dengan tindakan pelahan Ia hampirki kudanya, ia loloskan tambatannya dan tuntun kuda itu keluar. Sesampainya diluar, dengan susah payah ia naik atas kudanya itu, yang Ia  terus berjalan pelahan-lahan, air matanya terus meleleh keluar. Ia menuju ke Tong-kwan.

“Aku tak dapat tinggal lebih lama pula disini,” pikirnya. “Dengan aku tidak mampu angkat besi itu, aku main untuk angkat Long Tiong Hiap sebagai guruku. Hari ini perlu aku beristirahat, besok aku hendak berangkat kemana saja …”

Ia menuju ke Hok Lip Piauw Tiam, ketika Ia sampai di depan pintu piauwtiam itu, sampaikan malas untuk turun dari kudanya maka itu, dua kali ia memanggil dua kali ia memanggil dari atas kudanya.

Yo Sian Tay adalah yang muncul paling dahulu.

“Apa Ciauw Ciangkui sudah berangkat?” Siau Hoo tanya sahabat ini.

“Sudah berangkat, barangkali baru melalui dua atau tiga puluh lie,” sahut Sian Tay. “Ada urusan apa, lauwtee?“

“Tidak,” sahut Siau Hoo sambil geleng kepala dengan ogah-ogahan.

“Lauwtee, mari turun,” Sian Tay mengundang. “Mari masuk! Sebentar aku ajak kau ke Gang Bie-jin, disana ada satu nona muda yang elok sekali, umurnya sepantaran kau! Dan sebentar sore Tan Cit-ya hendak ajak kau adu peruntungan pula …”

“Tidak, sekarang tidak bisa,” Siau Hoo geleng kepala pula, “Sekarang aku sangat letih, aku ingin berstirahat. Sebentar malam aku nanti cari kau ...”

Sehabis berkata begitu, Siau Hoo jalankan kudanya pulang ke hotelnya, baru saja sampai dimuka pintu, dari sebelah depan ia lihat beberapa orang lari mendatangi, semua membawa toya. Selagi Ia mengawasi mereka itu, diluar tahunya dari belakangnya ada orang betot dia turun, hingga ia terjatuh rubuh. Ia lantas mengerti tentulah Thia Pat yang cari gara-gara, maka itu, sambil merayap bangun Ia merasa sangat gusar. Ia pikir mau ambil goloknya akan layani mereka itu. Tapi ia cuma bisa berpikir, sebelum ia berbangkit, orang telah tubruk ia, hingga ia rubuh pula, sesudah mana berulang-ulang toya turun menimpa ia. Ia coba berontak, ia mencaci kalang kabutan, tapi apa mau serangan ada terlalu gencar, antaranya ada yang mengenai kepalanya sampai Ia pusing, maka dilain saat, ia  jatuh pingsan.

Perhubungan lalu lintas di jalan jadi terputus. Banyak orang terpksa berhenti, semua lantas tonton pengeroyokan itu. Namun tidak ada orang yang  berani maju untuk memisahkan, sebab orang tahu, pihak penyerang adalah Thia Pat, dan si korban ada satu kacung tidak dikenal, asal lain kampung.

Sekali-pun Siau Hoo sudah rebah sebagai mayat, madh ada saja orang-orang yang meughujani toyanya.

Justeru itu dan arah Timur ada satu penunggang kuda larat mendaaagi dengan kudanya. “Tahan! Tahan!” demikian orang itu berterak berulang- ulang, tangannya mengulap-ulapkan cambuknya.

Banyak orang segera menoleh dan mereka kenali Long Tiong Hiap Cie Kie.

Dan sekalian tukang keroyok itu masih ada beberapa orang yang terus gebuki Siau Hoo.

Cie Kie jadi gusar, ia hunus pedangnya yang berkeredepan, maka barulah sekarang orang berhenti menganiaya dan mundur.

Long Tiong Hiap loncat turun drin kudanya, ia lihat orang yang rebah sebagai mayat itu, yang ia kenali adalah si anak bengal dan ulet, yang bertekad untuk angkat dia menjadi guru. Bocah itu telah babak-belur dan mandi darah. Tanpa menasa Ia jadi berkasihan.

“Coba tolong bawa dia ke rumahku,” ia lantas berkata. Beberapa orang lantas maju, akan berikan bantuannya,

maka selang tidak lama Siau Hoo sudah dibawa ke Chie- kee-chung direbahkan di dalam rumah. Beberapa bujang lantas tolong bersihkan tubuhnya, akan pakaikan obat padanya.

Lama juga telah berselang, baru kacung ini sadar akan dirinya, akan terus merintih. Dengan perlahan-lahan  ia buka matanya.

“Bersabarlah dan rawat dirimu,” Cie Kie menghibur, “luka-luka bekas toya gampang disembuhkannya. Kalau nanti kau sudah sembuh, aku akan coba bikin kau puas.”

Siau Hoo bersenyum dingin, kelihatannya Ia hendak bicara tetapi tidak bisa, ia  cuma bisa meringis, dengan pejamkan mata ia merintih pula. Demikian selanjutnya anak muda ini berdiam di rumahnya Cie Kie. ia dapat kenyataan, tuan rumah sering datang tengoki Ia dan semua bujang, yang rawati ia, sikapnya telaten. Ia dapat kemajuan baik, dan bisa geraki tubuh, ia sampai bisa turun dari pembaringan, hanya untuk berjalan ia masih berasa sakit pada kedua kakinya. Untuk bisa berjalan, ia mesti minta bantuannya tongkat. Adalah sejak itu, Cie Kie tidak sering datang pula, tetapi rawatan bujang-bujangnya tetap telaten.

Banyak hal sudah lewat, Siau Hoo bisa lepaskan tongkat, ia bisa jalan dengan pelahan-lahan. Ia masih merasa sedikit sakit pada kedua kakinya, ngentak atau ngilu.

Kamarnya Siau Hoo ada di ruangan Timur, lantaran dari itu adalah tempat latihan silat, maka itu tempo Siau Hoo jalan-jalan di latar, matanya lantas kebentrok tiga potong besi yang besar dan berat! Ia pandang “satrunya,” hatinya berkobar pula ingin sangat untuk coba angkat pula besi itu. Ia bertindak mendekati, ia mengawasi, hatinya memukul.

“Hayo lekas sembuh!“ katanya dalam hatinya. “Aku tidak nanti pergi dari sini, kecuali sesudah aku sanggup angkat besi ini! Tanpa aku mampu mengangkatnya, Long Tiong Hiap tidak man terima aku sebagai muridnya!”

Ketika itu ada terdengar tindakan kaki kuda, kapan Siau Hoo menoleh, ia lihat Cie Kie mendatangi di atas kuda hitamnya, di belakangnya ada mengiringi tiga bujang yang- pun menunggang kuda. Mereka turun di latar.

“Apa lukamu sudah sembuh?” tanya Cie Kie selagi Ia datang menghampiri.

“Sudah sembuh banyak,” sahut Siau Hoo dengan sikapnya sangat menghormat. “Coba buka bajumu,” kata Cie Kie, yang periksa orang punya luka ditubuh, dan juga di kaki, dimana masih ada bekas-bekas atau tanda hitam. “Lagi sepuluh hari kau akan sudah sembuh betul.”

Selagi mereka bicara, kesitu-pun ada datang satu penunggang kuda dengan kudanya bulu putih, kuda  itu kecil, penunggangnya berumur tujuh atau delapan belas, romanya cakap dan gagah, pakaiannya mewah, dipinggangnya ada tergantung pedang.

Cie Kie memanggil sambil manggut ketika anak muda itu sudah turun dari kudanya.

“Ini ada anakku, Ga In,” Ia kata pada Siau Hoo setelah anak tanggung itu datang dekat padanya. “Ia telah belajar silat sepuluh tahun, pelajarannya hampir sempurna. Kalau nanti kau ketemu Pauw Kun Lun  dan Liong Cie Teng semua, bilang pada mereka bahwa Long Tiong Hiap bukannya orang yang gampang untuk diperhina, dengan hanya ajak anakku ini, aku sanggup layani mereka semua. Malah, lambat laun, kita nanti cari sendiri pada mereka itu untuk coba-coba kepandaian kedua pihak!“

Tampangnya Cie Kie tidak perlihatkan air muka manis budi seperti biasanya, hingga Siau Hoo menjadi heran. Ia tadinya hendak minta keterangan tetapi jago itu sudah lantas ajak anaknya ngeloyor pergi, masuk kedalam rumah.

Masih Siau Hoo ternganga sekian lama.

“Liong Tiong Hiap perlakukan aku baik sekali, kenapa sekarang Ia berubah begini?” ia  kata dalam hatinya, ia menduga-duga. “Kenapa dia agaknya bersikap tawar kepadaku? Tentang ini aku mesti minta keterangan dari padanya.” Sejak itu, Siau Hoo tidak lihat Cie Kie datang pula padanya, dan ketika Ia coba minta pertolongan satu bujang akan minta Cie Kie datang, jago itu tetap tidak muncul.

Sementara itu, lewat pula beberapa hari, luka-lukanya Siau Hoo sudah sembuh semua, hingga ia bisa jalan seperti biasa pula. Ia tetap masih tak dapat bertemu kepada tuan rumah, hingga ia tetap merasa heran.

“Apakah aku pernah berbuat salah?“ tanya dirinya berulang-ulang, dengan ia merasa sangat masgul.  Karena ini, ia jadi sibuk sendirinya, hatinya tidak tenteram.

Hari itu, karena sudah tidak sabaran, Siau Hoo kata pada pelayannya: “Tolong kau beritahukan Cie Toaya, bahwa aku sudah sembuh betul, aku sudah bisa jalan, bergerak dan lari-larian seperti biasa. Minta Toayamu suka ketemui aku, satu kali saja, ada urusan penting yang  aku hendak bicarakan.”

Pelayan itu agaknya bersangsi, akan tetapi Siau Hoo mendesaknya.

“Baik, aku nanti pergi kedalam akan lihat Toaya,” Ia kata. “Aku hanya kuatir Toaya tidak ada dirumah ...”

“Jikalau dia ada dirumah, biar bagaimana aku ingin sekali saja bertemu kepadanya,” Siau Hoo tegaskan. “Aku ingin bisa bicara untuk beberapa kata saja.”

Pelayan itu manggut, ia lantas berlalu.

Siau Hoo menantikan, ia sabarkan diri, akan tetapi selang sekian lama bujang itu belum juga kembali, mau atau tidak Ia kembali ia sibuk pula. Ia lantas saja jalan mundar- mandir.

“Heran, Cie Kie ini sebenarnya orang macam apa?” katanya dalam hatinya. “Aku toh tidak lakukan kesalahan apa juga terhadapnya? Bukankah itu hari dia telah tolongi aku dan surub aku berdiam disini di mana Ia rawat aku dengan baik? Kenapa sekarang ia nampaknya tawar terhadap aku? Apa bisa jadi Thia Pat telah gosok-gosok dia? Aku ada satu laki-laki, jikalau dia tidak puas terhadap aku, dia boleh omong terus-terang didepanku!“

Selagi anak tanggung ini berpikir keras, pintu ada yang tolak, lantas kelihatan si pelayan tadi dengan membawa buntalan kecil dan goloknya, bersama dia ini ada Cie Gan In dengan thungsha sutera biru, tampangnya tenang.

“Saudara Kang, lukamu sudah sembub, aku girang, aku beri selamat padamu!“ kata tuan rumah yang muda ini, sikapnya menghormat, “Ini ada pauwhok saudara, ayah yang sengaja ambil ini dari rumah penginapan. Sekarang terserah kepadamu, saudara Kang, kalau kau suka, kau boleh berdiam pula disini dua hari, jikalau tidak, kau ada merdeka untuk berangkat sekarang juga. Aku harap lain hari kita nanti bisa bertemu pula ...”

Siau Hoo melengak. Itu adalah kata-kata yang Ia tidak sangka, yang ia tidak harap. Tapi Ia segera insyaf.

“Apakah Toaya ada dirumah?” tanya Ia.

“Ya, ada,” Gan In manggut. Sekarang dia-pun bersikap dingin.

“Kalau Toaya ada di rumah, aku mohon  dia suka menemui aku, sebentaran saja,” Siau Hoo bilang. “Aku datang dari tempat ribuan lie, maksudku adalah untuk angkat dia meujadi guru. Bahwa aku tidak mampu angkat besi, itulah peruntunganku, aku tidak berdaya, apaboleh buat terpaksa aku mesti pergi kelain tempat untuk berlatih pula. Kapan saja setelah aku sudah kuat angkat besi itu, waktu itu aku akan datang pula kemari. Tapi Toaya sudah tolong jiwaku, disini aku tetah menggerecok dan merugikan buat banyak hari maka justeru sekarang aku sudah sembuh, sudah seharusnya aku ketemui Toaya, aku ingin berlutut didepannya untuk menghaturkan terima kasihku, kemudian sesudah bicara sedikit, aku akan lantas pergi dari sini.”

“Oh, itulah tidak usah!“ kata Gan In sambil tangannya digoyang-goyang. “Orang kang-ouw memang biasanya saling membantu, bantuan itu tidak berarti, maka saudara Kang, jangan kau pikirkan itu. Baiklah kau lekas pulang ke Tin-pa! Umpama kata kau anggap kita ayah dan anak ada sahabat-sahabat baik darimu, jikalau nanti telah datang saatnya kita kebentrok dengan pihak Kun Lun Pay, sudah bagus apabila kau tidak campur-mencampur tahu! Dan kalau nanti kau sudah pulang ke Tin-pa,” Gan In  tambahkan, dengan tertawanya diugin, “kau boleh sampaikan pada Pauw Cia Hui, Liong Cie Teng, Liong Cie Khie, Kee Cie Beng, Kat Cie Kiang semua, bahwa kita ayah dan anak, akan pergi cari mereka kelak dimusim ketiga, untuk mana mereka harus bersiap-sedia!“

Sehabis berkata begitu, Gan In tubuhnya hendak pergi. Siau Hoo segera mencegah, ia banting-banting kaki.

“Cie Toako, aku tak mengerti kata-katamu ini!“ katanya. “Benar aku ada anak dari muridnya Pauw Kun Lun akan tetapi aku sendiri adalah musuh mereka!”

“Siapa percaya kau!“ kata Gan In dengan nyaring, seraya ia dorong Siau Hoo.

Hampir saja Siau Hoo rubuh, lekas ia memburu akan tarik orang punya tangan.

“Jikalau aku Kang Siau Hoo omong dusta sepatah kata saja, biar Thian binasakan aku dan Bumi musnahkan tubuhku!“ ia bersumpah seraya tepuk-tepuk dadanya. “Ayahku telah dibunuh oleh persaudaraan Liong, sudah begitu, aku tersiksa dirumahnya Pauw Kun Lun  dimana aku mesti angon babi! Juga Pauw Cie Liem ada sangat menghina aku! Aku bisa kabur karena aku telah lukai persaudaraaa Liong itu! Aku hendak belajar  kepada ayahmu justeru karena aku berniat cari kepandaian untuk nenuntut balas!“

Siapnya Gan In berubah pula, ia jadi lebih sabar, selagi  ia hendak buka mulutnya, tiba-tiba kelihatan Cie Kie muncul, air mukanya merah, penuh dengan kegusaran tangannya mencekal dua pucuk surat.

“Jangan percaya sangkalannya yang licin ini!“ berseru jago ini. “Dia ada orangnya Pauw Kun Lun, dia diutus ke mari untuk cari tahu hal ikhwal kita, supaya mereka dapat tahu tindakan kita, agar mereka bisa beriap menangkisnya!”

Ketika dia sudah datang dekat, dia tonjolkan dua pucuk surat itu pada si bocah she Kang itu terus dia tambahkan: “Jikalau aku tidak buka dua pucuk surat ini, hampir aku kena diperdayai olehmu! Sekarang kau lekas pulang, kau beri tahu Pauw Kun Lun, bahwa di musim ketiga aku mau pergi ke Cie-yang, ke Tin-pa, untuk tempur mereka, untuk cari keputusan siapa menang siapa kalah! Umpama kau ada mempunyai liangsim, itu waktu jangan kau bantui mereka, kalau tidak, pedangku tidak mengenal kasihan!“

Siau Hoo bingung, ia pun sangat sibuk.

“Apakah artinya ini,“ ia berseru, ia banting-banting kaki. “Aku tidak kenal mata surat! Dari mana datangnya surat- surat itu?”

“Tok kau yang bawa, bukan?” Long Tiong Hiap tertawa. “Aku dapatkan dua pucuk ini dari dalam buntalanmu! Ini ada suratnya Pauw Cie In dari Kun Lun Pauw Tiam di Han-tiong, siapa telah utus kedua saudaranya seperguruan, Thio Cie Kie dan Biauw Cie Eng ke Seng-touw untuk disampaikan pada Ngo-bie-houw Lie Tay Seng, bantuan siapa hendak diminta guna satrukan aku supaya aku bisa dicegah pergi satroni mereka, karena Lie Tay Seng akan merintangi aku!“

Siau Ho berpikir, tapi sukar tidak lama, segera ia ingat.

Maka segera Ia menghela napas lega.

“Oh, Cie Toaya, kalau begini, kau fitnah aku ... “ berkata ia akhirnya, “Sikapmu ini membuat aku penasaran. Baik aku tuturkan kisahnya dua pucuk surat ini. Ketika aku buron dari Tin-pa, aku naik kuda putih, lantas waktu aku menyingkir dari rumah makan di Ban-goan, aku lolos dengan kuda hitam itu, malam aku mondok dalam kuil bobrok di Soan-hoan, disitu kudaku ada yang curi, tetapi kuda itu binal, ditengah jalan dia membuat pencurinya tergelincir jatuh hingga terluka dan mati di tepi jalan. Sia-sia saja aku cari kuda itu, malah sebaliknya aku kena ditangkap, dituduh sudah curi uangnya si penjahat dan binasakan juga padanya. Syukur bagiku, aku bisa minggat dari tahanan. Ditengah perjalanan buron, aku ketemu Pa-cu Ngo Kim Piu. Dia ajak aku naik bukit Siang Cu San. Aku tidak sudi jadi berandal, suatu hari ketika mereka turun gunung akan cegat serombongan kereta piauw yang katanya dilindungi oleh murid-murid Kun Lun Pay, aku ditinggal diatas bukit buat tunggu rumah. Ketika itulah aku gunakan untuk merat. Ketika aku turun gunung, aku ambil sejumlah uangnya kawanan berandal itu. Di tengah jalan aku kemalaman. Waktu itu, dua penungang kuda kejar aku. Aku rubuhkan mereka satu antaranya aku lukai, lantas aku kabur lebih jauh dengan rampas seekor kudanya. Buntalanku ini adalah yang aku rampas dari orang itu, yang tadinya tergantung di atas kuda. Buntalan ini terisi uang dan dua pucuk surat ini. Aku buta huruf, surat-surat itu aku tidak buang, aku terus bawa-bawa sampai sekarang ini. Mendengar perkataanmu Cie Toaya, sekarang aku mengerti, dua penunggang kuda korbanku itu adalah dua muridnya Pauw Kun Lun, pelindung dan iring-iringan kereta piauw itu.”

Cie Kie berpikir apabila Ia dengar keterangan itu. “Apakah kau bicara yang sebenarnya?” tanya ia.

“Jikalau aku mendusta, aku sumpah akan binasa tak keruan!” Siau Hoo sumpah pula. “Pauw Kun Lun dan persaudaraan Liong sudah bunuh ayahku, karena itu ibuku, dengan ajak adikku, sudah menikah pula hingga aku ditinggal sebatang kara. Inilah sebabnya kenapa aku hendak cari guru, supaya di belakang hari aku bisa pulang untuk mencari balas! Cie Toaya asal kau sudi terima aku jadi murid dan ajarkan aku silat dua tahun lamanya, lantas aku akan berangkat pergi. Dalam kalangan Kun Lun Pay itu, kecuali Ma Cie Hian dan Lou Cie Tiong berdua, semuanya hendak aku banasakan!”

Cie Kie bersenyum tawar, lantas ia dekati kacung itu dua tindak.

“Apa benar kau ada sedemikian kesusu untuk balas sakit hati ayahmu terhadap Pauw Kun Lun dan persaudaraan Liong itu?” ia tegasi.

“Benar, Toaya,” sahut  Siau Hoo,  yang terus saja mengucurkan air mata. “Hari ini aku belajar serupurna, besok aku nanti pergi! Sebelum aku binasakan persaudaraan Liong, apa juga aku tak akan kerjakan, apa yang aku tak dapat pertahankan adalah itu permusuhan dari ayahku!”

“Baik!” Cie Kie kata. “Hari ini juga kita  berangkat, paling dulu ke Cie-yang kemudian ke Tin-pa, untuk balaskan sakit hati ayahmu itu! Aku nanti adu kepandaian dengan mereka itu, untuk pastikan siapa jantan dan siapa betina, habis itu kita kembali ke Long-tiong, mulai saat itu nanti aku ajarkan bugee padamu.”

Siau Hoo girang bukan main mendengar kata-kata itu, hingga ia berhenti menangis dan terus tertawa, ia lompat dan berjingkrak.

“Bagus, bagus, Cie Toaya!” Ia berseru. “Mari kita berangkat! Toaya entah hendak ajak berapa banyak orang?“

“Satu orang juga aku tidak mau bawa!” jawab Cie Kie sambil geleng kepala. Kita pergi berdua saja! Sekalipun kau turut, pada waktunya bertempur kau tidak boleh ambil bagian. Dengan andalkan saja sebatang pedangku, aku tangung Pauw Kun Lun nanti tekuk lutut di depanku. Diantara tigapuluh muridnya, mesti ada yang terbinasa atau terluka!”

Siau Hoo melengak, demikian-pun Gan In, saling terperanjat.

“Ayah, apakah tidak baik jikalau kau berdamai dahulu dengan saudara Kang?” kemudian kata sang anak pada ayahnya yang Ia menghampiri. “Atau apakah tidak baik aku-pun turut bersama?”

“Kau tidak boleh turut, kau perlu berdiam di rumah,” Cie Kie bilang, tangannya diulapkan.

“Hanya, ayah,” kata sang anak yang bersangsi, “aku dengar, Pauw Kun Lun ada mempunyai banyak murid dan sudah banyak diantaranya yang berkepandaian  tinggi. Kalau ayah bersendirian saja, bagaimana ayah sanggup layani mereka?”

Tapi Long Tiong hiap jadi gusar. “Kau jangan perdulikan aku!“ ia bentak putranya. “Aku sudah mengucapkan demikian, cara bagaimana aku mesti tarik pulang itu?“

Lantas jago ini perintah orang siapkan kudanya, ia sendiri terus masuk kedalam untuk dandan dan siapkan pauwhoknya.

Siau Hoo juga sudah lantas bawa keluar buntalannya, ia girang berbareng kuatir juga.

“Walaupun Cie Kie gagah, cara bagaimana seorang diri Ia bisa layani Pauw Kun Lun semua?“ Ia ragu-ragu dalam hatinya. “Tapi dia berani pergi, kenapa aku mesti jerih.”

Memikir begini, ia jadi dapat semangat, maka ia terus pergi ke istal.

Orang-orangnya Cie Kie kelihatannya masgul, tetapi mereka semua tutup mulut.

Dua ekor kuda telah lantas disiapkan, seekor kuda hitam dan seekor berbulu putih mirip dengan salju, kelihatannya kuda ini lebih keren dari kuda hitam.

Tidak lama, dari dalam rumah muncul satu pegawai, yaag membawa Cie Kie yang sangat sederbana, bersama sebuah pedang panjangnya tiga kaki. yang terus dicantel dipealana kuda putih. Karena itu Siau Hoo taruh pauwhok dan goloknya di kuda hitam.

Segera juga Cie Kie muncul dengan roman yang bersemangat. Ia pakai thungsha, dipunggungnya ada tergantung tudung rumputnya yang lebar.

“Mari kita berangkat!” kata ia yang nampaknya girang melihat kudanya sudah siap.

Cie Gan In kumpul bersama semua bujang, akan mengantar sampai di pintu pekarangan. Keduanya sambuti kuda dan loncat naik atas masing- masing kudanya.

“Toaya, selamat jalan! Banyak selamat!” demikian doa atau pujian dari semua pegawai.

Cie Kie menoleh pada semua orangnya, ia  tertawa. “Kau boleh masuk!“ berkata ia, yang terus larikan

kudanya.

Siau Hoo angkat kedua tangannya, akan hunjuk hormat pada Gan In semua, kemudian ia susul jago itu.

Cie Kie larikan kudanya dengan tidak pernah menoleh lagi, sekeluarnya dari mulai kampung, ia ambil jalanan ke Timur, cambuknya saban2 diayun. sikapnya gembira. Ia terus jalan di sebelah depan. Adalah setelah belasan  lie jauhnya, baru Ia berpaling kebelakang, tapi sekarang kota Long tiong sudah tidak tertampak pula. Ia pakai tudungnya ia terus larikan kudanya.

Kuda hitam dari Siau Hoo terus mengintil, si penunggangnya senantiasa awasi jago dari Long-tiong itu. Kalau di rumahnya, Cie Kie kelihatan sebagai hartawan satu wan-gwee, sekarang ia nampaknya sebagal seorang kang-ouw yang ulung. Ia bermuka merah, matanya bercahaya, pedangnya-pun berbunyi berulang-ulang.

“Dasar orang pandai bugee!” pikir Siau Hoo dengan kagum. “Kalau nanti kami sampai di Cie-yang atau Tin-pa, Pauw Kun Lun semua niscaya tidak berani pandang enteng pada jago ini.”

Selagi hari mendekati tengah hari, dua orang yang sudah lintasi empat-puluh lie lebih, lantas mereka cari  dusun untuk singgah, untuk bersantap tengahari. Mereka dapat satu warung nasi yang kecil sekali, nasinya kasar, sayurnya tak sedap, akan tetapi Siau Hoo lihat Long Tiong Hiap dahar dengan bernapsu. Hanya jago ini tidak minum arak sedikit jua, hingga ia yang ingin tenggak air kata-kata, mesti batalkan keinginannya. Ia malu sendirinya melihat jago ini tidak kemaruk arak seperti ia.

“Mari kita berangkat pula!“ mengajak Long Tiong Hiap setelah mereka dahar cukup. Jago ini bicara sambil berseyum. Pun dialah yang membayar uang makan.

Mereka menuju ke Timur, belok ke Utara. Selama ini, dua kali mereka ketemu rombongan kereta piauw. Melihat jago dari Long-tiong, lerotan kereta diberi berhenti, semua piauwsunya mengasi hormat seraya tanya, “Cie Toaya hendak pergi kemana?”

Atas itu, sambil bersenyum Long Tiong Hiap membalas hormat dan menyahuti: “Ada sedikit urusan, aku hendak pergi ke Timur.”

Setelah jago ini lewat, barulah kereta-kereta piauw diberi jalan pula. Siau Hoo heran dan kagum akan penghargaan orang terhadap jago ini.

Hawa udara ada panas sekali, Siau Hoo tidak hanya penuh keringat pada kepalanya, juga bebokongnya telah basah, pun kuda hitam ada sangat binal, sukar untuk dikendalikan, hingga dia mesti keluarkan tenaga berlebih- lebihan. Walau-pun demikian, kuda ini tidak sanggup candak kuda putih yang jempolan. Kalau bocah ini telah mandi keringat dan napasnya memburu, tidak demikian dengan Cie Kie yang tenang, sering-sering dia menoleh ke belakang sambil bersenyum, akan serukan: “Hayo lebih cepat!”

Buat lima atau enam puluh  lie, Siau Hoo larikan kudanya, lantas di sebelah depan kelihatan bukit dengan warnanya yang hijau. Cie Kie larikan kudanya ke  arah bukit itu, dimana orang yang berlalu-lintas saja jadi jarang sekali. Makin lama bukit tertampak makin nyata. Dan akhirnya mereka sampai di kaki bukit. Melihat mulut gunung, tiba-tiba Cie Kie tahan kudanya. Karena  mana Siau Hoo-pun tahan kudanya dengan tiba-tiba, karena ini kudanya jadi ngadat, hampir saja Ia dibuat jatuh tergelincir, ia mesti gunakan tenaganya, sebab binatang itu masih saja berjingkrakan.

Dari sakunya Cie Kie keluarkan sebuah bungkusan kecil dari sapu tangan, ketika Ia sudah buka itu, dari dalam mana ia jemput satu diantara dua rupa barang yang kecil.

“Sambuti ini!” berkata ia, yang lemparkan barang itu pada kawannya.

Siau Hoo menyanggapi, barang itu ternyata adalah sebuah kelenengan kecil terbuat dari emas, yang digulung dengan benang, waktu benangnya dilepaskn, diantara matahari kelenengan itu lantas kelihatan berkeredepan.

“Gantung itu pada kudamu!“ kata Ce Kie sambil bersenyum.

Siau Hoo tidak mengerti untuk maksud apa, ia heran, tetapi ia turut perintah itu.

Cie Kie sendiri telah ikat kelenengan yang satunya dileher kudanya. Maka begitu lekas kedua kuda telah dikasih jalan pula, kelenengan itu lantas berbunyi tidak berhentinya.

Selagi kaki kuda menerbitkan suara keras di batu gunung, serangka pedang-pun turut perdengarkan suaranya, hingga semua suara berisik itu jadi berkumandang di lembah-lembah yang sunyi.

Mau atau tidak, Siau Hoo jadi bergembira. “Long Tiong Hiap benar ada satu tayhapkek, jago terbesar,” pikir dia. “Kecewa aku apabila aku tidak berhasil angkat dia jadi guruku …”

Kacung ini mengikuti terus. Buat dua tiga lie tidak pernah mereka ketemu orang. Hanya disaat hendak lewati habis mulut gunung, tujuh atau delapan orang kelihatan sedang menantikan mereka.

“Celaka, ada berandal!“ kata Siau Hoo dalam hatinya. Tetapi ia tidak takut. Kapan kedua pihak sudah datang dekat satu pada lain nyata rombongan itu tidak  bekal senjata, sebaliknya mereka ada bawa arak, poci dan cawannya. Dan yang jadi kepala lantas maju menyambut dengan hormat: “Cie Toaya, kau hendak pergi kemana? Hawa udara hari ini ada sangat panas, silahkan minum dahulu! Atau silahkan Toaya mampir di atas gunung!”

Orang itu pakai baju besar, yang tidak cocok dengan tubuhnya.

Cie Kie membalas berkata sambil bersenyum.

“Terima kasih, aku tidak bisa minum, ada urusan penting yang aku perlu bereskan.” Ia menampik dan segera jalankan kudanya.

Sesudah jalan kira-kira setengah lie, Siau Hoo menoleh kebelakang, maka ia dapat kenyataan orang-orang tadi masih berdiri di mulut jalan mengawasi mereka berdua.

“Sekarang loloskan kelenengan itu kalau ketemu gunung, baru gantung pula,” kata Cie Kie. Dia-pun loloskan kelenengannya sendiri.

Baru sekarang Siau Hoo mengerti, kelenengan emas itu adalah tanda rahasia untuk berandal disepanjang bukit yang dilewati, dengan mendengar tanda itu, berandal tahu jago Long-tiong lagi lewat tidak saja mereka tidak diganggu, bahkan mereka disuguhi arak dan diundang naik ke atas bukit.

Kembali tambah penghargannya Siau Hoo pada jago ini.

“Buat merantau, untuk dapatkan kedudukan sebagai ini, entah orang perlu punya kepandaian bagaimana tinggi?“ pikir ia. “Kalau dia sampai di Cie-yang atau Tin-pa, mustahil dia tidak dapat kalahkan persaudaraan Liong dan si tua bangka she Pauw. Hanya aku tidak mampu balasku sendiri sakit hati ayahku, aku mesti mengandal pada lain orang, apa artnya itu bugiku? Apa gunanya kalau nanti aku peroleh kepandaian tinggi?”

Ingat demikian, Siau Hoo jadi berpikir.

“Tidak!” pikir Ia kemudian. “Sesampainya di Cie-yang, walau Cie Toaya melarang, aku mesti serang sendiri persaudaraan Liong, aku mesti dapat binasakan mereka itu dengan tanganku sendiri!”

Maka ini, ia larikan kudanya, untuk lombai jago Long- tiong.

Seperti yang disengaja, Ce Kie larikan kudanya dengan tidak pernah ia ijinkan kuda hitam bisa lewati kuda putih, dan itu sia-sia saja Siau Hoo kabur dengan kudanya, tidak pernah ia dapat menyandak.

Sesudah mahgrib, kedua orang ini telah melalui dua- ratus lie lebih, sekarang mereka sudah mulai memasuki daerah distrik Lamkiang. Disini Cie Kie tidak ajak kawaunya mencari rumah penginapan hanya dia mengajaknya kesebuah kampung dimana lantas  saja muncul belasan ekor anjing, yang sambut mereka dengan suaranya yang sangat berisik, hingga beberapa chungteng sudah lantas keluar. “Siapa?” mereka itu berseru dengan tegurannya, kelihatannya mereka tidak senang. “Kenapa masuk ke kampung tidak dengan turun dari kuda?”

“IniIah aku, si orang she Cie!” Long Tiong Hiap berikan jawabannya.

Baru mendengar jawaban itu, suara amarah lantas berubah jadi suara dan sikap menghormat.

“Oh, Cie Toaya! Sungguh kita tidak menyangka ...”

Beberapa chungteng itu maju akan memberi hormat, dua diantaranya lantas menyambuti kuda ketika Cie Kie dan Siau Hoo sudah loncat turun dari kuda mereka. Selagi satu chungteng usir anjing, satu yang lain lantas mengundang dan memimpin masuk.

Di muka rumah, yang besar, dua tuan rumah sudah lantas keluar menyambut. Sikapnya ada sangat menghormat.

Cie Kie-pun berlaku hormat pada ke dua orang itu. “Inilah muridku,” kata dia, ia tunjuk Siau Hoo.

Bukan main girangnya Siau Hoo akan dengar kata itu, lantas ia maju dengan toapan, akan beri hormat kepada kedua chungcu itu, siapa sebaliknya lantas pimpin mereka masuk ke kamar tetamu.

Keda tuan rumah sudah berumur empat-puluh lebih. Yang satu mukanya bundar dan montok, mukanya berewokan hitam, yang satunya bermuka kuning, tubuhnya kate dan lemah sebagai anak sekolah.

“Kedua cungcu ini ada paman dan keponakan.” Cie Kie perkenalkan calon muridnya. “Ini Cie-bian-say Wan Yong dan ini Siu Pa Ong Wan Cu Ciauw, kedua-duanya tersohor buat di Sucoan Utara.” Siau Hoo berlaku hornat pada tuan rumah, siapa sebaliknya ada perhatikan padanya. Mereka tanya Cie Kie, kapan Cie Kie terima muridnya itu, kenapa mereka belum pernah lihat murid ini dan juga belum pernah mendengarnya.

“Sebenarnya dia belum jalankan upacara untuk angkat aku jadi guru dan aku-pun belum berikan pelajaran silat kepadanya,” Cie Kie jawab sambil tertawa. “Sekarang tolong perintahkan dahulu siapkan barang hidangan, sebentar kita akan bicarakan pelahan-lahan pula.”

Wan Cu Ciauw lantas perintahkan bujangnya untuk lekas sajikan barang makanan.

Paman dan keponakan itu menyuguhi arak, tapi Cie Kie tidak minum itu, karena mana, sekali-pun mengilar Siau Hoo turut tidak minum juga.

“Ah, sute, kau minumlah!“ Wan Cu Ciauw mendesak. “Diantara kita, gurumu tidak akan bilang apa-apa.”

“Terima kasih,” sahut Siau Hoo sambil berbangkit, ia menolak dengan sikap sangat menghormat. “Dengan sebenarnya, aku tidak bisa minum …”

Cu Ciauw sudah angkat cawannya, karenanya ia jadi kebogehan.

Sementara itu, Cie Kie sudah tuturkan riwayatuya Siau Hoo, bahwa sekarang Ia mau pergi ke Cie-yang dan kemudian Tin-pa, akan cari persaudaraan Liong dan Pauw Kun Lun.

“Kita berangkat tadi pagi, belum satu hari kita sudah melalui dua-ratus lie lebih,” Cie Kie terangkan lebih jauh. “Kita ingin singgah satu malam disini, besok kita berangkat ke Pa-cu-kwan melewati Bie Cong San, untuk sanpai di Cie- yang. Aku insaf, pergi ke Utara ini akan layani tiga-puluh lebih orang pihak Kun Lun Pay, bukan pekerjaan enteng. Aku bukannya pandang tak mata pada mereka itu tetapi sebenarnya mereka ada keterlaluan! Sudah selama sepuluh tahun aku berselisih dengan pihak Kun Lun Pay, sebegitu jauh kita belum pernah kebentrok dalam artian sesungguhnya, maka sekali ini aku hendak cari keputusan. Umpana mereka itu tidak sanggup lawan aku, selanjutnya aku hendak larang mereka datang ke Sucoan Utara. Sebaliknya, apabila aku yang kalah, aku juga tidak akan datang pula ke Pa San!“

Cie Kie bicara dengan bersemangat, tuan rumah berdua sebaliknya kaget.

“Cie Toasiok,” kata Cu Ciauw, “kau pergi hanya berdua sute aku anggap ada terlalu bersendirian …”

Wan Yong kedipkan mata pada keponakannya. Tapi Cie Kie bersenyum.

“Kalau aku minta bantuan orang lebih baik aku jangan pergi saja!” kata jago ini, suaranya sabar tetapi sifatnya tetap.

“Aku percaya Cie Toaya bakal menang.” Wan Yong bilang. “Pauw Kun Lun sudah tua, dan murid-muridnya- pun belum ada yang sempurna pelajarannya.”

“Tapi aku tidak pandang rendah usia tua dari Pauw Kun Lun,” Cie Kie bilang. “Aku-pun dengar, antara murid- muridnya, ada Kat Cie Kiang dan Lou Cie Tiong yang pelajarannya sudah sempurna.”

Sampat disitu Wan Yong geser pokok pembicaraan. Ia hirup araknya.

“Sesudah beberapa puluh tahun, baru sekarang aku  dapat tahu Long Toing Hiap ada punya murid!” katanya ia sambil tertawa. “Saudara kecil she Kang ini ada pengalaman luar biasa, aku percaya dikemudian hari dia bakal angkat namamu, Toaya. Anakku-pun sekarang baru berumur sepuluh tahun jangkap, ketika dahulu Toaya datang, Toaya belum lihat dia … Ajaklah adikmu keluar,” Ia tambahkan pada Cu Ciauw.

Sang keponakan itu sudah lantas undurkan diri.

Siau Hoo juga ingin tengok romannya cungcu muda itu untuk dibandingkan dengan dirinya sendiri.

Lekas sekali Cu Ciauw sudah kembali bersana satu bocah kurus dan kate, hanya pakiannya mewah.

“Mari, beri hormat pada Cie Siokhumu,” kata Wan Yong pada anaknya itu. “Bukankah kau ingin dapatkan pelajaran yang istimewa? Untuk itu, tak dapat tidak, kau mesti angkat siokhumu ini sebagai guru!”

Bocah itu memberi hormat pada Cie Kie, kemudian ayahnya perintahkan hormat juga pada Siau Hoo, tetapi ia diam saja, ia melainkan awasi tetamunya itu.

Wan Yong kuatir murid tetamunya gusar, ia lekas kata: “Adikmu ini beradat dusun, itulah sebab dia belum pernah melancong, harap kau tidak buat kecil hati.“

Siau Hoo tertawa, ia tidak kata apa-apa.

“Siapa namanya anakmu ini?“ Cie Kie tanya. “Apa kau sudah ajarkan dia silat?”

“Ia bernama Keng Goan, aku telah mulai didik padanya sejak dia umur tujuh tahun,” jawab Wan Yong. “Tubuhnya terlalu lemah, aku kuatir dia tidak kuat untuk pelajaran yang berat, maka aku pikir untuk dia pelajari saja bagian yang enteng.”

“Pelajaran yang enteng ada sulit,” Cie Kie kata, sambil bersenyum pula. “Untuk itu adalah Tiam-hiat-hoat, ilmu totok jalan darah. Tapi Tiam-hiat-hoat tidak sembarang orang yang punyai …”

Wan Yong berdiam untuk berpikir.

“Biar bagaimana aku mesti kirim dia ke luar buat belajar lebih jauh.” Ia kata. “Kalau Ia tetap ikuti aku, dia tak akan dapatkan kemajuan!”

“Kau pandai merendahkan diri!“ Cie Kie tertawa.

Wan Yong tertawa juga. Ia suruh anaknya duduk bersama.

Setelah bersantap, tuan rumah perintah sediakan kamar untuk dua tetamunya bermalam. Keesoknya pagi ke dua tuan rumah dan anak, beri selamat jalan kepada kedua tetamu itu.

Sesudah melalui kira-kira empat puluh lie, Cie  Kie berdua lintasi Pa-ju-kwan, lalu sampailah mereka dibukit Bie Chong San, perbatasan antara Sucoan Utara dan Siamsay Selatan. Mereka sudah lantas gantung pula kelenengan emas pada kudanya.

Cie Kie duduk atas kudanya dengan merdeka, matanya melihat kesekitarnya. Sedari memasuki jalanan gunung sampai sudah lewati itu. mereka tidak ketemu seorang berandalpun. Selewatnya itu, mereka mulai masuk dacrah Han-tiong-hu. Cie-yang terletak disebelah Timur benar, dan Tin-pa berada di sebelah Timur-selatan.

“Segera aku akan sampai di kampung halamanku,” pikir Siau Hoo. “Lekas juga aku akan bertemu Ah Loan. Kapan nanti Long Tiong Hiap tempur Pauw Kun Lun, pasti aku akan bantu Long Tiong Hiap, hanya dengan begitu, apa Ah Loan tidak gusar padaku?”

Ingat ini, Siau Hoo jadi bersangsi. “Tua-bangka she Pauw itu sudah berumur kira-kira tujuh-puluh tahun, dia sebenarnya harus dikasihani,” bocah ini jadi ngelamun. “Sebetulnya dia perlakukan aku baik juga, ayahku-pun bukan terbinasa di tangannya, aku seharusnya peringatkan Long Tiong Hiap agar dia berlaku murah-hati dan jangan minta  jiwanya tua-bangka itu ... Lagipun, untuk pie-bu mesti dicari lain tempat, jangan itu dilakukan di rumahnya, supaya A Loan tidak kaget dan ketakutan …”

Siau Hoo berpikir demikian, akan tetapi pikirannya itu Ia tidak bisa utarakan pada Cie Kie, siapa maju terus dengan kudanya, sikapnya keren, tidak pernah berpaling kebelakang, malah sekarang kelenengannya tidak disingkirkan, seperti disengaja agar kelenengan itu berbunyi terus-terusan, sebagai tanda: “Awas, Long Tiong Hiap telah datang!“ Jerih sendirinya Siau Hoo terpaksa bungkam terus.

Maju terus ke Timur, mereka telah melalui pula sepuluh lie, tiba-tiba di jalanan, motong dari Utara ke Selatan, ada lewat serombongan kereta piauw.

“Suhu, lihat!” berseru Siau Hoo tanpa merasa. “Barangkali itu ada kereta piauw Kun Lun Pay ...”

“Jangan takut!” Cie Kie jawab sambil tertawa, seraya terus Ia cambuk kudanya diberi kabur ke depan, untuk hampiri rombongan kereta piauw itu.

Siau Hoo tidak mau ketinggalan, ia-pun kaburkan kudanya mengejar. Hanya hatinya tegang. Ia percaya, satu bentrokan tak akan dapat dihindarkan!

Lekas sekali kuda putih sudah sampai pada rombongan piauw, yang lantas dipotong, hingga rombongan jadi terkutung dua.

Siau Hoo turut memotong. Selagi begitu, kelenengan dan kedua kuda berbunyi terus.

Kereta piauw jadi merandek karenanya, tukang-tukang kereta dan piauwsunya ternganga. Kelihatan rombongan piauwsu terdiri dari sepuluh orang kira-kira. Mereka mengawasi, agaknya mereka heran.

Cie Kie pun awasi mereka, ia bersenyum-senyum, secara puas.

Kawanan piauwsu itu bicara satu sama lain, lantas mereka jalani pula kereta-keretanya, terus ke Selatan. Hanya beberapa kali saja mereka berpaling ke belakang.

“Semua mereka kenal aku,” kata Cie Kie pada muridnya, nampaknya ia sangat puas. “Tapi mereka tidak berani tempur aku! Ketahuilah olehmu bahwa menunggang kuda dan menerabas kutung rombongan kereta piauw, buat di kalangan kang-ouw ada perbuatan paling tidak pantas, kalau ini dilakukan oleh lain orang, mereka tentu tidak akan mengasi ampun.”

Siau Hoo yang dengar keterangan itu menjadi heran. Ketika itu, tiba-tiba Long Tiong hiap menunjuk ke Barat. “Lihat, di Barat sana-pun ada orang datang!“ katanya.

Siau Hoo berpaling dengan cepat. Benar dari arah Barat ada kira-kira sepuluh penunggang kuda mendatangi, kudanya dikasi lari keras, hingga debu mengepul naik.

“Entah siapa mereka? Apakah mungkin orang Kun Lun Pay?” katanya.

“Mari kita lihat,“ kata Cie Kie, tangannya diulapkan.

Selagi rombongan itu mendatangi dekat, debu mengepul semakin tinggi, kemudian segera terlihat tegas semua orangnya, dua yang menjadi kepala, angkat tangan mereka tinggi. Mengenali mereka, Cie Kie lantas hunjuk muka tidak senang.

Siau Hoo kenali Wan Yong dan keponakannya serta Cung-teng pengiring mereka, jumlahnya sembilan orang, semua membekal senjata.

Diam-diam Siau Hoo girang. Itulah pembantu dan Ia tak usah kuatir lagi!

“Kenapa kau datang?“ tanya Cie Kie, romannya tidak senang.

Wan Yong tertawa.

“Liong Tiong Hiap seorang diri hendak tempur Kun Lun Pay!“ sahut dia dengan nyaring. “Bukankah itu ada kejadian langka selama seratus tahun? Kalau keramaian semacam ini tidak dilihat, sungguh kecewa hidupku! Kita datang buat tonton pertempuran, bukannya untuk bantu kau!”

Sebelum orang menjawab Siu-Pa-Ong Wan Cu Ciauw telah sambungi pamannya:

“Benar-benar kita datang untuk menonton! Kita bukannya hendak bantu Cie Toa-siok! Ce Toa-siok  toh tidak membutuhkan bantuan kita! ...”

“Bila demikian, kita jangan jalan sama!” kata Cie Kie sambil bersenyum tawar. Ia rupanya telah menduga, orang datang untuk bantu dia, tapi karena mereka kuatir dia menolak dan gusar, mereka lalu mendusta.

“Baik, baik, kita jalan misah!“ kata  Wan Yong si Harimau Muka Ungu sambil tertawa. “Toaya jalan didepan, kami jalan di belakang! Kita jangan saling mengganggu …” Sementara itu, Wan Cu Ciauw sudah kedipi mata pada Siau Hoo, hingga kacung mengerti maksudnya, karena mereka itu, kedua pihak, ada bersahabat sangat kekal satu dengan yang lain, mereka jadi sengaja datang untuk membantu, tentu saja secara diam-diam karena terang Cie Kie tidak inginkan bantuan. Karena ini, hatinya Siau Hoo jadi lega.

Wan Yong semua benar tahan kuda mereka.

Cie Kie keprak kudanya, yang lantas diikuti oleh Siau Hoo.

Jalan terus ke Timur, dua orang ini telah melalui beberapa puluh lie. waktu itu sudah tengah hari, mereka mampir di sebuah dusun. Cie Kie cari rumah makan di mana ia ajak Siau Hoo mampir untuk bersantap. Sehabisnya dahar, perjalanan dilanjutkan dengan cepat- cepat.

Siau Hoo heran bahwa selama itu Cie Kie tidak pernah tanya jalanan, seperti jago ini sudah kenal baik jalanan ditempat tersebut.

“Suhu, apakah kau pernah pergi ke Siam say Selatan?” akhirnya murid ini mendekati gurunya dan menanya.

“Tidak sering aku datang kemari,” jawab Cie Kie sambil bersenyum. “Pertama pada enam atau tuju tahun yang lampau aku pernah datang kemari dan yang  paling belakang, pada tiga tahun yang lalu.”

Mereka jalan belum jauh, Cie Kie sudah melanjutkan omongannya.

“Perselisihanku dengan Pauw Kun Lun bukan terjadi baru selama hari ini dan satu malam,” ia kata. “Dulu ada banyak sekali orang Kun Lun Pay yang hantar piauw ke Sucoan Utara, dimana mereka coba banyak tingkah, perbuatannya sewenang-wenang. Kejadian aku usir mereka. Aku percaya, karena itu Pauw Kun Lun benci  aku. Sekarang Ia sudah tua, kalau peristiwa itu terjadi duapuluh tahun yang lalu, sebelum aku cari dia, tentu dia mendahului cari aku ...”

Demikianlah Cie Kie dan muridnya melanjutkan perjalanan. Di waktu maghrib  mereka cari dusun untuk singgah.

“Dari sini ke Cie-yang tingal kira-kira duapuluh lie, disini kita bermalam,” kata sang guru.

“Besok pagi-pagi kita cari persaudaraan Liong. Malam ini jangan kau tidur kebluk. Mereka sudah ketahui kedatangan kita ini, ada kemungkinan mereka menyatroni kita.”

Siau Hoo janji akan perhatikan pesan itu, hatinya terus jadi terang sendirinya.

Long Tiong Hiap lantas cari rumah penginapan, Siau Hoo seperti juga tidak dapat tidur, setiap kali ia seperti dengar suara apa-apa di atas genteng, ia kuatir orang Kun Lun Pay datang membokong.

Cie Kie tidak pisahkan diri dari pedangnya, nampaknya ia tidur dengan tenteram.

Besoknya pagi, Cie Kie bangun tidur dengan  tenang. Siau Hoo tidak tidur satu malaman akan tetapi ia ada bersemangat. Kira-kira jam delapan mereka bersantap, setelah itu, Siau Hoo siapkan kuda mereka, Cie Kie sendiri membayar uang pada pengurus hotel.

Tidak lama mereka sudah mulai berangkat.

Cie Kie lihat tegas sikap munidnya, ia bersenyum. “Jangan kau kuatir,” kata guru ini, “Ditanganku, persaudaraan Liong itu seperti anjing pun tidak mirip- miripnya! Hanya Pauw Kun Lun, meski ia sudah tua, aku tidak berani pandang enteng padanya.”

-ooo0dw0ooo-

0 Response to "Burung Hong Menggetarkan Kunlun (Ho Keng Koen Loen) Jilid 07"

Post a Comment