Burung Hong Menggetarkan Kunlun (Ho Keng Koen Loen) Jilid 21

Mode Malam
Jilid 21

TIGA atau empat lie telah dilewati Siaw Hoo, segera ia berada di depannya gunug Pa San yang hijau seluruhnya. Ia memasuki gunung itu, ia jalan terus sampai ia keluar di mulut gunung di lain ujung. Sekarang ia berada didalam daerah Sucoan Utara. Ini ada tempat yang ia kenal baik pada sepuluh tahun yang lalu. Disini ia ada punya beberapa sahabat. Ketika dulu ia datang disini, ia ada satu bocah pemburon, tapi sekarang ia ada satu pemuda yang gagah.

Ia jalankan kudanya dengan perlahan-lahan, tujuan yang pertama adalah Long Tiong  Hiap di Long-tiong-hu, tetapi ia mengharap di tengah jalan itu nanti bertemu dengan satu atau dua sahabat, buat minta keterangannya tentang Pau Kun Lun dan Liong Cie Khie.

Ia ambil jalan langsung ke Barat, setiap melintasi gunung, ia pasang kelenengannya yang dulu ia dapat dari Long Tiong hiap. Tidak ada lagi berandal yang turun dari gunung menyambut dan suguhkan arak, tetapi juga tidak ada yang turun buat mencegat, agaknya mereka jerih lihat pemuda yang gagah ini, Walau-pun dia bersendirian saja.

Keika itu ada di akhir musim panas atan permulaan musim rontok, hawa udara sangat panas, akan tetapi di jalanan pegunungan ini pepohonan masih belum rontok semua daunnya.

Sejak Long Tiong Hiap undurkan diri, kawanan berandal jadi tambah jumlahnya dan kegalakannya bertambah- tambah, akan tetapi diantara mereka tidak ada yang berarti ilmu silatnya, antaranya yang galak adalah Thio  Hek Hou si harimau hitam. Dia bermula belajar silat pada Pwee-ciu hou Kho Liong, satu hiap-kek yang kenamaan di Su-cuan Selatan, kemudian ia ketemu Koay-hiap Tat Tiang Ceng si Pendeta Aneh dan belajar ilmu toya besi untuk beberapa hari. Ia malang melintang didalam kalangan kangouw. Ia bersahabat dengan segala berandal dan buaya darat, hingga selama enam atau tujuh tahun, ia bisa menjagoi di Su-coan Utara. Di sebelahnya Thio Hek Hou, ada lagi satu jago galak, ialah satu dari Cie Yang Sam Kiat, tiga jago Cieyang. Dia adalah Twie-san-hou Liong Cie Khie si harimau Gunung. Dia usahakan Ceng Wan Piau Tiam bersama kandanya Liong CieTeng, dan Kee Cie Beng. Selama dua puluh tahun tidak saja ia angat pamornya Cie-yang Sam Kiat, mereka- pun berhasil mengumpul harta. Cie Khie sangat cerdik, ia berpisah rumah dari kandanya, ia mempunyi milik di Tin pa, Kan-tiong dan Cie-yang. Sebagai harta-gundik, yang ia pisahkan satu pada lainnya, antaranya ada yang baru berumur enambelas tahun. Tentang rahasia ini melainkan Kee Cie Beng yang kelahui, tapi ia pernah ancam Cie Beng dengan goloknya, katanya, “Asal kau bocorkan ini kepada suhu, aku nanti ambil jiwamu!” Inilah sebabnya yang membuat ia tidak akur dengan Cie Beng. Tapi ia terdesak oleh Siau Hoo, ia lantas bertempat di Sucoan Utara, berbareng dengan kepindahannya, ia bawa uang kas Ceng Wan Piau Tiam sejumlah tujuh atau delapan ratus tail. Ia tidak pikir untuk kembali ke cie-yang, ia sampai lupakan gundik-gundiknya. Ia anggap gampang untuk cari gantinya yang baru. Untuk tancap kaki di Su-coan Utara, ia coba tempel Thio Hek Hou, ia ada punya uang, ia percaya ia bisa bersahabat dengan siapa juga.

Cie Khie datang ke Su-coan Utara lebih dahulu setengah bulan dari pada Kang Siau Hoo. Ia naik kuda hitam, dandanannya mewah, karena baju dan celananya ada dari bahan sutera biru, kepalanya dibungkus dengan pelangi sutera hitam. Kumis dan jengotnya ia cukur licin. Kadang- kadang saja tampangnya muram setiap ia ingat Kang Siau Hoo. Sering-sering ia kata dalam hatinya: “Celaka betul Kang Siau Hoo ini! Kau tahu aku tahu akan terjadi begini, dulu digunung Utara aku mesti bacok Cie Seng berulang- ulang!” Selama diperjalanan, Liong Cie Khie hiburkan diri dengan minum arak, mogor dan berjudi, setiap kali ketemu perempuan elok, tentu ia bermain mata dan ngoce tidak keruan, laganya mirip seperti seorang berotak miring. Karena tingkah polanya ini pada suatu hari, digunung  Lo So Nia ia dapat satu pengalaman.

Jalanan gunung itu jelek dan berbahaya banyak tikungannya, banyak jurangnya yang curam ia berhimpasan dengan sebuah kereta keledai yang diikuti oleh dua penunggang kuda. Ketika itu, karena hawa panas jendela kereta tidak diturunkan? Didalam itu ada duduk dua nyonya, yang duduk di luar berumur empatpuluh lebih, yang muda duduk didalam, romannya cantik, pakaiannya mentereng, rambutnya digelung “konde awan”, sepasang anting-anting emas menggantung dikedua kupingnya.

Melihat kereta itu, atau lebih benar si nyonya manis, Long cie Khie segra tahan kudanya.

Dua penunggang kuda yang mengiringi ada dua orang polisi, satu diantaranya sambil menghisap huncwee. Mereka tidak menyangka jelek pada orang she Liong itu, yang mereka tidak perhatikan. Adalah si nyonya didalam kereta yang perintah kusir lekas turunkan tenda. Walau-pun demikian dengan mata tajam Chie Khie terus mengawasi.

Begitu lekas  kereta sudah datang dekat, Cie Khie mendekati kedua polisi itu, ia memberi hormat seraya berkata: “Jiwie toako aku kesasar dalam perjalanan ke Pa- tiong, apa boleh aku ambil jalanan ini?”

Dua pengiring itu lantas saja mengawasi dengan tajam. “Boleh,” sahut  yang  mengisap huncwee,  yang umurnya

sudah  empat  puluh  lebih,  ”hanya  jalanan  ini  ada  sedikit

lebih jauh. Kau kerja apa, apa kau iringi piau?” Cie Khie anggukkan kepalanya yang besar sambil mengkerutkan dahi yang dibuat-buat.

”Aku lacur,” kata ia “Berlima aku antar piau dari See an ke Seng-tou, sampai ditengah jalan aku sakit, aku ditinggalkan sendirian di Ban-goan, belasan hari aku rebah disana, sekarang aku pulang kembali, mangkok nasiku bisa terbalik.”

Polisi yang satunya, berumur tiga puluh lebih, tubuhnya kurus, mukanya kuning tertawa.

“Kau benar lacur,” kata ia. “Tahun ini hawa udara di Su- coan Utara ada buruk. Dimusim panas, siapa buat perjalanan dia mudah terkena penyakit. Selama perjalanan beberapa ratus lie, di beberapa tempat aku lihat orang gotong peti mati dari beberapa rumah penginapan ... “

“Benar lacur!“ kata Cie Khie sambil membuang ludah. Terus ia jalankan kudanya berendeng dengan kedua orang polisi itu yang ia ajak bicara, hingga kemudian ia dapat tahu, nyonya didalam kereta itu adalah nyonya tiekoan dari Hong-an, nyonya itu baru disambut dari Hin-an. Mereka seperti sudah biasa buat perjalanan, mereka kenal baik keletakan tempat, dan walau-pun Cie Khie beroman bengis, mereka tidak takut, bahkan mereka tanya she dan namanya Cie Khie.

“Aku ada piausu dari Ie Sun Piau Tiam di See-an,” Cie Khie beritahu.

“Lie Sun Piau Tiam di See-an apa bukan dibuka oleh Kim-too Gin pian Tiat-Pa-Ong Kat Cie Kian?” menegasi opas yang tuaan. “Lauko kau jadinya ada orang Kun Lun Pay?”

Kaget juga Cie Khie mengetahui orang tahu ia Kun Lun Pay. “Benar, tetapi aku sendiri bukan dari Ku Lun Pay,” ia lekas menjawab. “Kalau aku orang Kun Lun Pay, itu ada terlebih baik, tidak nanti orang sampai orang tinggalkan aku

... ”

“Namamu, lauko?” tanya opas yang mudaan. “Aku Kang Siau Hoo,” Cie Khie jawab.

Dua orang polisi itu tidak menunjukkan perobahan apa- apa pada wajahnya, mereka jalan terus, setelah lewati jalanan di tikungan, kereta lantas diberi jalan lebih cepat, kedua pengiring-pun larikan kuda mereka, hingga Cie Khie ketinggalan.

Jalanan di depan sangat sempit, dengan disebelahnya lamping gunung, dan dilain sebelah jurang yang curam, penunggang kuda melarikan bisa jalan berendeng berdua. Kedua opas agaknya curigai juga Cie Khie, mereka suruh kereta dikasi lari. Selewatnya itu mereka akan keluar dari jalanan gunung yang sukar dan berbahaya itu.

Justeru itu, dengan mendadak Cie Khie larikan kudanya menyusul. Dengan lekas ia dapat menyandak.

“Jiwie koko, tunggui aku!“ kata ia. “Aku tidak kenal jalan, mari kita jalan sama-sama.”

Opas yang muda segera larikan kudanya, dengan begitu, kawannya jadi jalan berendeng dengan Cie Khie. Opas ini sekarang merasa jerih, hingga ia tidak berani pandang muka bengis dari orang she Liong itu, yang ia kenal sebagai Kang Siau Hoo. Dengan paksakan tertawa ia bicara dan menawarkan hun cwee kepada Cie Khie.

“Hisap ini, lauko!“ kata ia seraya angsurkan huncweenya. Cie Khie mengawasi dengan matanya yang gede, ia angkat tangannya tetapi bukan untuk sambuti huncwee, sebaliknya ia tolak tubuhnya opas itu.

Opas itu kaget dan menjerit, akan tetapi sudah kasep, tubuhnya telah rubuh dari kuda dan jatuh kedalam jurang, dan kudanya, saking kaget, sudah lantas kabur. Karena kaburnya kuda itu, kudanya Cie Khie turut kaget dan berjingkrak dan kabur juga, hampir saja ia terlempar dari atas kudanya nyemplung kedalam jurang, syukur ia bisa mendahului lompat turun. Setelah itu, bukan ia  urus kudanya lebih dahulu, ia hanya segera cabut goloknya laku kejar kereta disebelah depan.

Melihat apa yang terjadi, si opas muda menjadi gusar, dia loncat turun dari kudanya, dia hunus goloknya seraya segera menegur, “Oh berandal! Kau berani begal keluarga pembesar negeri?“

“Keluarga pembesar negeri?” Cie Khie mengejek sambil mendelik. “Dia adalah isteriku!“

Dalam murkanya, opas itu sudah lantas menyerang, sedang Cie Khie, yang memang sudah berniat, segera menangkis, malah ia lantas menyerang dengan hebat.

Nyata opas itu ada punya kepandaian yang berarti, ia dapat melayani dengan gagah. Maka keduanya jadi bertempur dengan seru. Jalanan yang sukar membuat mereka sama-sama menghadapi sedikit kesulitan.

Setelah bertempur sepuluh jurus lebih, bahunya Cie Khie yang kiri kena dibacok terluka, karena mana, ia meujadi sangat gusar, ia kerahkan seantero kepandaiannya, maka selang beberapa jurus, ia-pun dapat membacok musuhnya terjungkal jatuh ke dalam jurang. Ketika itu kereta sudah kabur jauh. “Kurang ajar!” ia mengutuk, sedang darah dari bahunya masih mengucur terus.

Segera Cie Khie cari kudanya, dengan menunggang kudanya itu ia mengejar. Ia  pun terus berteriak-teriak : “Hei,kusir, berhenti! Kau tidak sayang jiwamu?“

Kusir yang dengar teriakan itu lantas berhentikan keretanya, malah ia-pun lantas loncat turun dari keretanya itu.

Cie Khie sudah lantas menyandak, karena ia sedang gusar. Dengap tidak kata apa-apa, ia pukul dengan belakang golok dua kali beruntun pada kusir kereta itu, yang lantas menjerit teraduh-aduh.

Cie Khie menghampiri kereta, yang tendanya segera ia singkap.

Kedua perempuan didalam kereta sangat ketakutan, muka mereka pucat.

Cie Khie memandang sebentar, akan terus ulur tangannya yang besar dan kasar. Ia tarik si bujang perempuan hingga jatuh dari atas kereta. Sesudah itu ia jambak rambutnya si nyonya muda.

“Enso kecil, kau turutlah aku!“ kata ia sambil menyengir. Bahna takutnya, nyonya itu lantas menangis.

Cie Khie mendongkol, dari atas kudanya ia pindah

kedalam kereta, maka sekarang ia bisa cekal nyonya muda itu, ia berikan satu bogem mentah.

“Perempuan hina, kau berani buat berisik?“ ia menegor. “Aku adalah Kang Siau Hoo yang namanya kesohor diempat penjuru negara! Jikalau kau turut aku, aku akan perlakukan baik padamu, jikalau kau menjerit, aku akan ambil jiwamu!“ Cie Khie pindah pula kudanya akan ambil puwhoknya dan lempar itu kedalam kereta, setelah itu, ia pindah lagi buat buka bungkusannya yang didalamnya ada beberapa bungkus uang perak.

“Kau lihat ini, perempuan hina!“ ia  berkata dengan keras. “Aku ada punya uang, apa yang kau kehendaki bisa lantas tersedia! Kau akan hidup terlebih senang dari pada menjadi thay-thay dari satu tikoan!”

Setelah kata begitu, dengan tidak tunggu jawaban, Cie Khie loncat turun ketanah menghampiri bujang perempuan yang berlutut meminta-minta ampun, dengan kejam ia berikan satu bacokan, sesudah mana ia samber kupingnya kusir kereta dan ditariknya.

“Lekas naik atas keretamu!“ ia menitah, seraya angkat goloknya mengancam. “Jalankan keretamu! Kau mesti turuti perkataanku! Jikalau kau berani banyak suara, aku segera bunuh padamu!”

Kusir kereta itu menurut karena takut, tetapi sambil naik kekeretanya ia masih mengeluh teraduh-aduh.

Cie Kie jemput pita pauhoknya akan digantung pula dikudanya, kemudian ia sobek sepotong kain  untuk bungkus lukanya, lalu ia  ambil sepotong baju untuk keredongi diri.

“Nah, lekas jalan!“ ia perintah sang kusir, ia mengikuti di belakangnya kereta.

Didalam kereta, si nyonya muda menangis sesengukan, mendengar mana Cie Khie mendelu, ia mendekati kereta dan goloknya ia ketok jendela kereta, ia  mengancam : “Jangan nangis! Sekeluarnya dari gunung ini kita nanti cari pondokan, disana kita berdua boleh menikah! ... ” Karena kegirangannya itu Cie Khie agaknya lupa akan sakit pada bahunya. Ia beranggapan, benar-benar lebih gembira pergi mengembara! Ditempatnya sendiri untuk main perempuan ia  sangat takuti gurunya. Sedang juga terhadap Kang Siau Hoo ia mesti berjaga untuk pembalasannya.

Ingat Kang Siau Hoo, Ce Khie jadi sangat mendongkol, terus saja ia mendampat kalang kabut pada pemuda kita, hingga ia lupa bahwa baru saja ia aku dirinya sebagai orang she Kang itu! Ia mendamprat sekian lama. Walau-pun demikian, namun ia memandang kekiri dan kanan, kebelakang, ia agaknya kuatir akan perbuatannya itu ada orang yang melihatnya. Tentu saja ditengah gunung seperti itu, tidak ada lain orang.

Diatas kereta Cie Khie lihat sebuah peti serta dua bungkusan, diam-diam dalam hatinya memikir, “Hari ini aku beruntung sekali, aku peroleh orang perempuan berbareng dengan harta juga! Dia ada isterinya tiekoan dari Hong-an, mustahil dalam peti itu bukan berisikan uang? Oh Kang Siau Hoo yang dipelihara biang anjing, dia buat aku jadi berbahagia. Kalau tidak karena dia, tidak nanti aku lakukan perjalanan ke Sucoan Utara ini ... ”

Cie Khie ada girang luar biasa, terutama didalam kereta si nyonya muda sudah tidak menangis pula.

Tukang kereta jalankan keretanya dengan mulut membungkam, kecuali selagi ia cambuki kudanya, kadang- kadang saja ia curi melirik pada begal itu.

Oleh karena hatinya lega, Cie Khie masukkan goloknya kedalam serangkanya. Tapi sekarang ia rasakan sakit pada lukanya, sedang darahnya yang telah merembes membasahi baju mengucur keluar, hingga di lain saat muncul pula kemendongkolannya, hingga ia lantas caci  maki si opas yang telah lukai ia, sesudah mana ia juga terus umpat-caci pada Kang Siau Hoo …

Kereta berjalan terus, rodanya berbunyi bercampuran dengan suara tindakan kaki kuda. Sesudah jalanan yang merupakan keong dilewati, mereka sampai dibagian yang lebih lebar. Disini, dengan matanya melotot, hingga romannya jadi terlebih hengis, Chie Khie ancam pula si nyonya dan kusir kereta, untuk cegah mereka berteriak minta tolong atau mencoba kabur.

Setelah jalan pula sekian lama, disebelah depan kelihaan serombongan kereta dan orang-orang yang menunggang kuda. Cie Khie jadi berkuatir. Segera ia dekati kusir kereta dan si nyonya, dengan bengis ia kata pada mereka : “Awas! Jaga baik-baik jiwamu! Kalau kau berteriak, aku akan lantas bunuh padamu! Sekarang lekas berhenti di pinggiran!“

Kusir itu lantas berhentikan keretanya, bersama si nyonya ia diam saja.

Cie Khie mengawasi rombongan di depan. Ia lantas kenali serombongan pengiring piau, yang membawa bendera tiga huruf “Long Tiong Hu”. Ia terkejut.

“Celaka kalau disini aku ketemu kepada Long Tiong Hiap ... “ ia berpikir.

Diam-diam ia mengawasi dengan tajam, tetapi diantara piausu itu, tidak ada yang ia kenal, maka hatinya jadi lega pula. Dengan tiba-tiba, ia dapat akal. Ia terus hampirkan beberapa piausu itu, dengan muka meringis ia kata “Tuan- tuan, jangan maju lebih jauh! Disebelah depan ada berandal, mereka telah lukai pundakku ini, syukur aku masih keburu menyingkir! ... ”

Beberapa piausu itu terperanjat. “Ada berandal?” mereka menegasi. “Berapa jumlahnya mereka itu?“

“Berandal itu bersendirian saja tetapi dia gagah luar biasa,” sahut Cie Khie. “Dia telah sebut dirinya Kang Siau Hoo!“

Beberapa piausu itu heran kecuali satu, yang mukanya hitam dan berewokan dan tubuhnya terlebih besar daripada Cie Khie, ia agaknya pemimpin  rombongan itu, sambil goyang-goyang tangan ia terus kata pada kawan-kawannya. “Jangan takut, Kang Siau Hoo itu adalah saudaraku! Sudah sepuluh tahun aku tidak ketemu padanya, apabila sebentar dia lihat aku, ia mesti beri kita lewat. Dulu hari aku telah berbuat baik terhadapnya.”

Habis kata begitu, piausu ini ajak rombongannya jalan terus.

Cie Khie tidak bilang apa-apa lagi tetapi sekarang ia lihat nyata bendera piau, bahwa mereka itu ada dari Hok Lip Piau Tiam di Long-tiong. Diam-diam ia melepaskan napas lega.

“Inilah hebat,” pikir ia. “D i Su-cuan Utara ini Kang Siau Hoo ada tersohor sekali, sahabatnya pun banyak, tak dapat aku palsukan pula namanya.”

Kembali ia pelototi kusir kereta, yang ia suruh jalan pula. “Lekasan!” demikian perintahnya lebih jauh.

Kereta lantas dilarikan keras, sampai sebentar kemudian mereka sudah keluar dari jalanan gunung.

“Looya, kita menuju kemana?” tanya sang kusir dengan meringis karena takut, ia menanya bahna terpaksa.

Cie Khie tidak lantas menyahut, ia bersangsi. Jalanan sekarang ada lebar, dikiri dan kanan ada sawah-ladang. Jalan besar pun terpecah dua, dan dikeduanya ada bayak orang-orang yang belalu-lintas. Ia singkap tenda kereta, ia melongok kedalam. Si cantik manis sedang duduk sambil tunduk dan menangs. Ia jadi tawar hatinya. Ia anggap tadi didalam gunung ia sudah lakukan perbuatan gelo. Tetapi sekarang, ia penasaran kalau ia berhenti setengah jalan. Sedikitnya ia mesti kangkangi si manis ini untuk satu malam ...

“Kesana! Terus!” akhirnya ia jawab tukang kereta. Ia menunjuk dengan tangan kiri. Tetapi berbareng dengan itu, ia merasakan sakit pada bahunya yang  terluka. Karena mana kegusarannya segera bangkit pula. Ia ayun cambuknya dan hajar si kusir kereta dengan dua cambukan. “Lekas!” ia tambahkan. “Jikalau kau berani main gila. Liong Jie-thayya akan tebas lehermu.”

Dalam ketakutannya kusir ini-pun bingung akan dirinya berandal itu, yang sebut dirinya Kang Siau Hoo tetapi suatu waktu ia maki-maki Kang Siau Hoo tidak hentinya, dan sekarang dia sebut dirinya “Liong Jie-thayya.” Mana yang benar?

Kereta dilarikan terus ke arah Selatan, sesudah jalan tiga- atau empat-puluh lie jauhnya, disebelah depan Cie Khie tampak tembok kota.

“Tahan!” ia berseru, suaranya nyaring. Ia  ayun pula cambuknya kepada si kusir kereta. “Kau mempunyai maksud apa dengan tujukan keretamu ke kota? Apa kau hendak pergi pada pembesar negeri?”

Tukang kereta itu kesakitan dan ketakutan, tubuhnya gemetaran, ia mewek.

“Looya, bukankah kau yang perintah aku jalan terus?” katanya. “Jalanan ini menuju langsung ke Kang-kau-tin.” Belum Cie Khie menyahuti, atau kupingnya  dengar suara kereta disebelah belakang, maka segera ia menoleh. Ia lihat tiga buah kereta sedang mendatangi. Ia gigit giginya. “Pelahan, pelahan,” kata ia ... “Lekas jalan!”

Kusir kerera itu menurut, karena larinya keras sebentar kemudian kereta itu sudah sampai di Kang-kau-tin, suatu dusun yang tidak kecil, keadaannya ramai, mirip dengan sebuah kota distrik kecil.

Cie Khie lantas saja cari rumah panginapan, ia perintah kereta segera diberi masuk kedalam pekarangan. Ia sendiri yang buka tenda buat suruh si nyonya turun.

Dengan pelahan-lahan dan kepala tunduk si nyonya muda turun dari kereta, air matanya masih beluin kering. Baru sekarang Cie Khie lihat nyata orang pakai baju dadu dengan kun hijau, kakinya yang  kecil memakai sepatu sulam. Ia jadi sangat girang hingga ia  lupa sakit pada bahunya. Ia ulur tangannya buat pegangi nyonya itu. Tapi nyonya menolak dengan tangannya. Cie Khie kuatir orang lihat laganya, ia lantas minggir.

Tuan rumah, yang sudah lantas muncul,  lantas tunjukkan sebuah kamar diperdalaman. Si nyonya lantas mendahului masuk kedalam kamar itu.

Cie Khie perinah kusir kereta angkut peti dan dua bungkusan kedalam kamarnya si nyonya, ia-pun bawa masuk bungkusan dan goloknya, justeru si kusir, yang telah letaki peti dan bungkusan sedang bertindak keluar. Dengan mendelik ia ancam sekali lagi pada si kusir itu.

Si nyonya muda duduk diatas pembaringan, dengan air mata meleleh ia kata pada si begal yang baru masuk itu: “Lekas kau antar aku ke distrik Hong-an! Jangan kuatir disana aku tidak akan bilang suatu apa. Jikalau tidak, aku pasti akan berteriak minta tolong, kau pasti akan ditangkap dan dihukum mati!”

Cie Khie tertawa dengan buka mulutnya lebar-lebar. “Enso  kecil,  kau  gertak  aku?”  kata  ia  tapinya  dengan

pelahan. “Aku  sudah  ketahui bahwa  kau  bukannya orang

baik! Jangan kan berpura-pura, jangan kau sangka Liong Jie Thayya ada satu berandal! Di tempatku aku ada punya dua- tiga perusahaan, yang setiap tahun memberi hasil tiga sampai empat ribu tail perak, sedang sawahku ada lebih daripada lima bau, dan isteriku ada lima atau enam! Sekarang ini Liong Jie-Thayya sedang pesiar  untuk hiburkan diri. Orang semacam kau, seratus juga  aku mampu beli, tetapi itulah aku tidak pikir. Hari ini kita kebetulan bertemu ditengah gunung dimana tidak ada lain orang, aku anggap kita ada berjodo, dengan ikut Liong Jie- Thayya, kau akan hidup senang seumur hidupmu! Apabila kau tak dapat lupakan tiekoan tolol, itulah lain! Kau harus ketahui, aku pribadi boleh dipermainkan, tetapi tidak golokku!”

Cie Khie tertawa, ia ulur tangannya akan raba mukanya si nyonya.

Nyonya itu hendak menjerit, tapi orang she Liong ini segera mendahului mendelik,  hingga  kelihatanlah romannya sangat bengis dan menakutkan. Justeru Cie Khie hendak bertindak lebib jauh, tiba-tiba ia ingat suatu apa, ia segera lari keluar. Ia  ingat pada si kusir kereta, yang sikapnya mencurigai. Kereta masih berada didalam pekarangan tetapi kusirnya tak tertampak bayangannya. Ia menjadi kaget.

“Anak anjing!” ia mencaci didalam hatinya. “Mungkinkah dia pergi memberi laporan pada pembesar negeri?” Ia lari sampai kejalan besar, matanya celingukan kekiri dan kanan, tapi belum lama ia lantas lihat orang lari serabutan, disusul dengan munculnya sejumlah polisi, tangan mereka menyekal golok dan toya, semua berlari-lari kearah hotel.

Bukan main kagetnya Cie Khie, segera ia lari kedalam untuk sembat goloknya, tapi begitu lekas ia tarik daun pintu, ia tampak kejadian yang mengejutkan. Bergelantungan ditempok, si nyonya tiekoan sudah gantung diri, kaki tangannya masih berkelejetan!

Tanpa perdulikan apa juga, Cie Khie ambil goloknya seraya sembat bungkusan yang besar, yang lantas ia gendol dibebokongnya, kembali ia lari keluar, baru ia  sampai dipekarangan, orang-orang polisi telah sampai, diantaranya ada si kusir kereta yang segera tuding orang she Liong itu: “Itu lah dia!”

Tidak tempo lagi orang-orang polisi lantas maju menyerang.

Untuk buat perlawanan, Cie Khie mesti lemparkan bungkusannya, lalu dengan goloknya ia terjang polisi-polisi itu. Dalam tempo pendek ia berhasil melukai dua tiga orang, akan tetapi beberapa pentungan toya-pun banyak yang nyasar kekepalanya. Dengan tak pedulikan itu ia buka jalan untuk keluar di pintu pekarangan, sesampainya di pintu. Ia buka tindakan lebar untuk melarikan diri.

Orang-orang polisi mengejar sambil berteriak-teriak: “Tangkap! Tangkap!“

Bagaikan biruang kalap Cie Khie kabur terus. Dimana saja, asal ketemu orang. Ia membacok. Ia terus lari sampai ditepi jalan disana ada sawah yang berair, disitu ia jatuhkan diri untuk minum air sawah yang kotor, karena ia sangat haus, setelah mana ia lalu lari lebih jauh. Sekian lama ia lari sampai ia tidak dengar apa, lantas ia berhentikan tindakannya untuk menoleh kebelakang. Ia tidak lihat pengejarnya, hatinya jadi lega, ia berhenti untuk perbaiki napasnya. Tapi sekarang ia ada gusar dan mendongkol sekali.

“Uangku, pakaian dan kudaku, semua itu ketinggalan di rumah penginapan,” kata ia dalam hatinya. “Apa aku mesti sudah dengan begini saja? Tidak!“

Dalam sesaat Cie Khie niat balik kehotel, buat ambil semua uangnya, pakaian dan kudanya, akan teapi dilain saat ia bersangsi. Disana ada banyak orang dan orang-orang polisi! Disana tentu ada kantor pembesar negeri, tentaranya tentu jumlahnya besar juga. dari itu, cara bagaimana ia sanggup lawan mereka? Kalau ia kena ditawan, apa itu bukan berarti lehernnya akan berpisah dari tubuhnya?

Maka lantas ia buka tindakannya akan jalan terus dengan cepat, sama sekali ia tidak menoleh-noleh pula. Ia jalan di gili-gili ia lewati kampung, hingga ada beberapa ekor anjing yang gonggong ia, sedang orang-orang perempuan yang lihat ia beroman bengis, muka dan pakaian kotor, jadi kaget, ketakutan dan menjerit. Ada orang lelaki yang kejar ia, ia hendak menyerang dan membacok, tapi kapan ia rasakan pundaknya sakit, ia urungkan niatnya itu, ia lari dengan tubuh limbung.

Maju lebih jauh, dengan jalan separuh lari, sedang ia-pun tak ketahui berapa jauh ia sudah berjalan, lalu disebelah depannya Cie Khie tampak sebuah bukit yang tinggi. Ia merayap naik atas bukit itu sampai ia dapatkan suatu tenpat yang ia anggap aman. disitu ia lepaskan goloknya tubuhnya terus rubuh. “Sungguh celaka!“ ia ngoceh seorang diri. “Semua ini disebabkan Kang Siau Hoo, anak yang dipelihara biang anjing!”

Cie Khie rebah untuk beristirahat. Ia segera diganggu beberapa ekor semut, yang gigit ia hinga ia merasa sakit dan gatal, ia geraki tangannya akan penyet dan halau binatang pengganggu itu. Unruk ini beberapa kali ia bersengit, sebab sewaktu ia geraki tangan kirinya, ia  merasakan sakit dipundaknya bukan kepalang! Hingga kembali ia menggerutu dan mengutuk.

“Kalau aku berada di rumah, aku ada obat dan ada isteriku yang rawati aku ... “ ia ngelamun. “Luka semacam ini, dalam tempo tiga atau lima hari akan sudah sembuh, akan tetapi sekarang, bisa-bisa aku akan mampus disini. Semua ini adalah gara-gara Kang Siau Hoo, yang buat aku celaka!“

Setelah ngelamun demikian, Cie Khie jadi ingat gurunya.

“Dasar si tua bangka!“ kemudian ia ngoceh terlebih jauh dalam hatinya. “Niat membinasakan Kang Cie Seng adalah niatmu, tapi sekarang setelah anaknya menjadi besar dan hendak menuntut balas, kau ketakutan, kau pergi sembunyikan diri dengan tak perdulikan aku lagi ... ”

Setelah kutuk gurunya, di depan matanya orang she Liong ini seperti berbayang si nyonya tiekoan didalam hotel, yang gantung diri. Ia mau percaya bahwa nyonya itu tidak sampai binasa. Sesudah ini, ia segera ingat kepada bungkusan uang.

“Dasar si kusir kereta!” ia mengutuk pula, sekarang kepada si kusir. “Tentu ia sudah pergi mengadu pada polisi hingga aku digerebek.” “Aku mesti kembali ke hotel,” pikir ia ... “Untuk ini aku mesti lompat naik keatas genteng rumah, tetapi sekarang tubuhku sudah jadi gemuk karena lama tidak berlatih pula, aku sudah biasa hidup mewah. Kini tak mungkin aku bisa loncat keatas rumah pula.”

Memikir demikian, Cie Khie jadi mendongkol dan gusar sendirinya.

Kapan sang sore mendatangi, si Harimau Gunung ini juga merasakan perutnya lapar.

“Aku perlu dapat uang, aku mesti dapat barang makanan,” berpikir ia. “Aku juga membutuhkan seekor kuda ... Untuk dapatkan semua itu, akan mesti merampas

... “

Dengan pelahan-lahan Cie Khie berbangkit, lalu ia bertindak turun. Ia sekarang berjalan diwaktu malam, yang telah datang dengan cepat, cahaya lemah dari sang bulan dan bintang-bintang ada menolong juga padanya.

Dibawah gunung Cie Khie lintasi beberapa kampung, ia lihat beberapa tembok pekarangan yang tinggi, yang menandakan penghuninya tentunya orang-orang berharta. Ia seperti putus asa, karena ia tidak punya daya untuk dapat loncati tembok tinggi itu. Ada beberapa rumah gubuk, apa mau rumah-rumah itu bertetangga dengan rumah-rumah besar, yang ada anjing-anjing penjaganya sebelum ia datang mendekati rumah itu, anjing penjaga sudah perdenarkan suaranya satu kali seekor anjing berbunyi, yang lainnya, lari rumah-rumah tetangga, lantas saling sahutan. Maka terpaksa Cie Khie menyingkir jauh-jauh …

Satu malam Cie Khie “putar kayun” dengan tidak ada hasilnya, diwaktu fajar ia nampak sebuah bukit tinggi kemana ia bertindak terus. Jalanan ada sempit. Ia cari satu bagian yang datar dan sepi, di situ ia rebahkan diri, karena sangal letihnya, ia tertidur dengan cepat. Kemudian ketika ia bangyn dari tidurnya, ia rasakan lukanya tak terlalu sakit. Ia berdiri disitu tempat yang tinggi untuk memandang kebawah. Ia berniat cari kurban untuk dirampas uang atau barangnya. Sejak itu, ia menjadi begal dibukit itu. Dengan cepat tiga hari lebih berselang. Selama ini ia berhasil menganggu beberapa orang. Dengan hasil itu ia  pergi kekampung untuk membeli nasi dan arak, akan kemudian kembali ke bukit.

Dihari keempat, selagi berjaga-jaga, Cie Khie lihat satu anak sekolah serta satu kacungnya, mereka ini menungang kuda di atas mana-pun ada buntalan yang terisi buku-buku ia lantas saja keluar mencegatnya.

Melihat ada begal anak sekolah itu dan kacungnya lantas jadi jinak bagaikan kambing. Mereka turun dari kuda dan berlutut di tanah seraya minta-minta ampun. Roman bengis dari begal itu membuat mereka takut bukan main.

Cie Khie berlaku telengas, ia bacok mereka itu masing- masing satu kali, lalu ia  tinggalkan mereka dengan tak pedulikan orang hidup atau mampus, ia sambar bungkusan serta rampas juga seekor kuda untuk ia kabur. Selagi hendak keluar dari mulut gunung, ia turun dulu dari kuda rampasas itu, ia turunkan dan buka bungkusannya, yang berisikan buku-buku, dua potong pakaian serta  uang belasan tail. Buku-buku mana ia segera buang.

“Sial!“ kata ia seorang diri. Ia buka bajunya yang kotor dan robek, ia tukar dengan baju rampasannya. Nyata baju ini terlalu kecil dan pendek, tapi ia paksa pakai itu tanpa dikancingnya, hingga kelihatan dadanya yang hitam berbulu. Sesudah bungkusan goloknya ia naik pula atas kuda itu. Cie Khie pergi tanpa tujuan, karena ia tidak kenal jalanan, untuk ia yang penting adalah jalanan kecil, jalanan kampung, karena ia selala hendak menyingkir dari kota atau kota besar.

Di waktu senja ia sampai disuatu tempat, di depan mana ia lihat desa. Cuaca sudah gelap. Ia jalan disebuh jalan dengan di kiri dan di kanannya ada sawah-sawah, jalanan itu-pun sempit.

Tiba-tiba ia dengar suara kelenengan, ia  kaget bukan kepalang.

“Apakah itu bukannya Long Tiong Hiap serta kudanya?” pikirnya. “Jikalau benar dia, habislah aku …”

Segera juga suara kelenengan terdengar makin dekat, sampai kemudian tertampak dua ekor keledai, yang di depan berbulu kelabu, yang di belakang berbulu hitam, masing-masing penunggangnya ada orang-orang perempuan.

Cie Khie tahan kudanya. Ketka orang sudah datang dekat, ia minggir mengasi jalan.

Dua penunggng keledai itu lewat dengan lantas.

Cie Khie lihat, perempuan yang jalan dimuka ada satu nyonya tua umur enam atau tujuh puluh tahun, dan yang belakangan masih muda, bajunya hijau. Dia ini ada terlebih muda dari pada nyonya Tiekoan yang gantung diri, dan romanuya-pun terlebih cantik.

Lantas timbul pikiran jahat dari muridnya Pau Kun Lun ini. Bukankah jalanan itu ada sunyi dan waktu itu sudah sore?

Selagi Cie Khie berpikir demikian, si nyonya tua pandang ia dengan sekelebatan. Si nyonya muda sebaliknya jalan terus, menolehpun tidak. Dia ada bertubuh langsing dan nampaknya gesit. Dia rada mirip dengan Ah Loan.

Cie Khie jalankan kudanya mengikuti kedua nyonya itu, jarak diantara mereka lebih dari pada dua puluh tindak. Lantas saja ia bersiul, lagu mana lalu disambung dengan ucapan-ucapan ngaco beo.

Kedua perempuan itu jalan terus, mereka seperti juga tidak dengar itu, sama sekali mereka tak pernah menoleh kebelakang, melihat demikian Cie Kie ngoceh lebih jauh : ”Aku Kang Siau Hoo sekarang ini aku pulang ke Su-cuan Utara untuk mencari isteri, hanya sial, aku belum pernah dapatkan yang cantik manis.”

Masih saja kedua nyonya tidak memperdulikannya, malah keledainya dilarikan semakin keras, atas mana Cie Khe menyusul sambil beri lari juga kudanya. Kedua keledai diberi lari maki keras, ketika Cie Khie coba menyusul, ia hanpir tak dapat menyandak, kedua keledai bisa lari cepat sekali.

Tidak lama mereka sampai disebuah dusun dimana ada satu pekarangan bertembok batu, rumahnya adalah beberapa buah. Kedua nyonya memasuki kampung itu dari mana lantas terdengar gonggongannya seekor anjing, sebagai menyambut majikannya. Gonggongan itu-pun lantas disusul oleh tegorannya satu bocah : “Encie! Ema! Baru pulang?”

Kedua nyonya tua dan muda itu mengucapkan apa-apa akan tetapi Cie Khie tidak dengar nyata, ia tahan kudanya dimuka kampung, ia cari sebuah pohon buat  tambat kudanya, kemudian dengan golok terhunus ia bertindak menuju kedalam kampung itu, tindakannya dibuat pelahan dan hati-hati. Kampung ada gelap, dan beberapa pohon ada terdengar suara dedaunan tertiup oleh angin.

Kedua keledai bersama anjing yang menyambut dibawa mauk kedalam pekarangan tembok yang kate. Cie Khie yang berdiri diluar tembok bisa memandang kedalam pekarangan.

Dari beberapa kamar tertampak cahaya api, dari dalam mana pun terdengar suara berisik,  seperti orang bicara sambil tertawa.

Cie Khie berniat mehhat lebih nyata, ia menekan tembok dengan kedua tangannya. Baru saja tubuhnya terangkat naik, sang anjing didalam terus menggonggong berulang- ulang, menyusul mana api lantas dipadamkan.

Heran dan kaget, Ce Khie tarik pulang tubuhnya, terus ia memutar diri, akan telapi belum sempat ia berbalik, atau tiba-tiba sebatang toya menyamber pinggangnya hingga ia menjerit kesakitan. Ia putar terus tubuhnya seraya menyamber dengan goloknya. Maka sekarang ia tampak bayangan penyerangnya bertubuh kate dan kecil. Seperti satu bocah. Ia jadi sangat sengit, ia ayun goloknya balik menyerang bocah itu. Tapi si bocah bisa lompat berkelit!

Gusar dan penasaran, si Harimau Gunung mendesak, tetapi selagi begitu, dari tembok loncat turun seorang lain, tangannya seperti mencekal pedang dengan apa dia itu menyerang. Ia lantas langkis tikaman itu, hingga senjata mereka bentrok dengan keras menerbitkan suara nyaring.

Pedang lawan itu kena ditangkis terpental, tetapi meski- pun demikian, si penyerang bukannya mundur, ia justeru merangsek, pedangnya lagi menikam.

Dalam kagetnya Cie Khie gerakan goloknya menangkis pula, apa mau, lawan ada gesit luar biasa, sebelum golok bisa bekerja, muridnya Pau Kun Lun rasakan lengannya yang kanan sakit, goloknya terlepas dari cekalan dan jatuh ke tanah, ketika mana-pun kembali pedang menyamber pinggangnya, hingga ia berkaok dan terus rubuh, rebah di tanah.

Si bocah tadi menyerang selagi orang rubuh, toyanya berulang-ulang membeletak-membeletak pada kepalanya Cie Khie, yang menjerit berulang-ulang, atas mana segera terdengar suaranya si pemegang pedang, yang ternyata ada si nyonya muda tadi. Selagi ia hampir tidak ingat apa-apa, Cie Khie dengar si nyonya : “Sudahlah, adikku, jangan hajar dia lebih jauh! Hayo pulang!“

Sebentar kemudian seperginya itu encie dan adik, dari dalam rumah keluar seorang lelaki siapa samber dan tarik sebelah kakinya Twie sanhou, hingga tubuh yang besar dari harimau gunung itu kena terseret-seret bagaikan bangkai anjing! Dia diseret terus sampai diluar kampung dimana dia terus digeletaki dan ditingal pergi.

Cie Khe telah jatuh pingsan, sampai selang sekian lama baru ia tersadar sendirinya, ia  dapatkan dirinya sedang rebah diatas tanah dibawah udara terbuka. Yang hebat adalah rasa sakit pada lengan dan pinggangnya.

“Dasar aku buta!“ ia caci dirinya sendiri. “Kenapa aku main gila terhadap perempuan galak? Dan bagaimana bila datang terang tanah ada polisi datang untuk bekuk aku? Bila terjadi demikian, sungguh penasaran. Oh, dasar kau Kang Siau Hoo, yang dipelihara biang anjing!”

Dengan menahan sakit, Cie Khie mencoba merayap bangun, ia bisa angkat kakinya beberapa tindak, berbareng dengan mana, ia dengar suara berbengernya kuda, hingga ia ingat pada kuda rampasananya yang ia tambat di pobon, Dengan separoh merayap ia menghampiri kudanya itu. Berpegangan pada pohon ia berbangkit, dengan tangannya yang terluka, ia buka tambatan kuda. Selama itu, berulang ia teraduh-aduh menahan sakit dengan meringis. Dengan susah payah ia bisa naik atas kudanya, tetapi ia tidak bisa menunggangnya seperti biasa, ia rebah tengkurap dengan memeluki leher kuda. Ia antap kuda itu jalan sejalannya sendiri.

Dengan jalannya kuda itu menyebabkan tubuhnya si Harimau Gunung jadi tergoncang, maka itu ia merasakan sakit bertambah-tambah, kepalanya-pun pusing hingga hampir saja ia pingsan pula. Akan tetapi ia perlu menyingkirkan diri, maka ia kuatkan hati sebisa-bisa menahan penderitaannya. Namun disepanjang jalan tak dapat tidak ia merintih teraduh-aduh.

Berapa lama ia telah dibawa kudanya Cie Khie tidak tahu, hanya tahu-tahu ia sudah sampai disebuah dusun yang besar dan banyak rumahnya. Hatinya Cie Khie kebat kebit, ia kuatir nanti ditangkap polisi, akan tetapi karena terpaksa, ia memberanikan diri. Kebetulan waktu itu ada orang ronda bunyikan kentongan tiga kali, ia lantas saja berteriak-teriak minta tolong.

“Kau kenapa?“ menegur seorang ronda yang datang menghamprkan.

Cie Khie merintih.

“Aku dibegal! ... “ sahutnya. “Aduh! Tubuhku mendapat beberapa luka … Tolong ... tolong carikan aku rumah penginapan ... Aku tidak sanggup turun dari kudaku ... “

Hari sudah malam, jalan besar-pun sudah sunyi, akan tetapi masih ada orang yang belum menutup pintu, demikian ada orang yang muncul dengan lentera akan melihat sambil menyuluhi. “Tolong!” Cie Khie ulangi permohonannya. “Aku dibegal ... oleh begal perempuan …”

“Dimana dibegalnya?” orang tanya.

Cie Khie geleng kepala, ia tidak dapat menerangkannya.

Diwaktu tengah malam seperti itu, suaranya Cie Khie menerbitkan suara berisik, maka ada datang orang yang ingin mengetahui, hingga kemudian ada datang juga beberapa orang polisi.

Melihat orang polisi, Cie Khie mengerti bahaya, tetapi ia ada punya akal. Ia lantas saja dengan berpura-pura sangat kesakitan, tidak mau bicara, seperti ia sudah tidak sanggup buka mulut, ia hanya merintih saja. Maka itu orang polisi usulkan akan antar ia ke sebuah hotel, sedang orang-orang yang baik hati lantas bawakan ia obat luka.

“Di dekat-dekat sini toh tidak ada begal?” kata beberapa orang, yang membicarakan halnya pembegalan itu. “Yang heran begalnyapun ada seorang perempuan!“

Cie Khie terus rebah dan merintih, ia  rebah miring supaya orang tidak lihat tegas mukanya, agar tidak ada orang bisa kenali padanya. Ia sebal orang banyak itu masih saja bicara satu pada lain. Adalah setelah lewat lagi sekian lama, baru mereka bubaran.

Sekarang ditinggal sendirian, Cie Khie benar-benar bisa mengaso. Sekarang ia bisa pikirkan pengalamannya, terutama bagian yang terakhir, hampir-hampir ia menghadapi bahaya maut.

“Kelihatannya tidak aman untuk aku berdiam lama-lama disini,” Twiesan hou berpikir. “Kesatu, tempat ini ada besar dan penduduknya banyak, kedua tempat ke jadian tidak terlalu jauh dari ini, bila orang polisi dapat mencium bau kejadian, pasti aku bakal digusur kekantor pembesar negeri

…”

Ingat ini, Cie Khie jadi berkuatir. Namun masih saja ia tidak insaf akan kesalahannya, dalam hatinya ia caci maki pada Kang Siau Hoo, yang ia anggap ada biang kecelakaannya ini dan ia sumpahi supaya Siau Hoo juga mendapat luka-luka parah seperti ia sendiri …

Dengan lewatnya waktu, hatinya Cie Khie menjadi lega juga. Sudah lima hari orang polisi masih belum curigai ia, hingga ia bisa berisrirahat dengan selamat di penginapan itu sambil merawat lukanya.

Hari itu Cie Khie minta jongos panggilkan seorang yang bisa menulis surat, untuk diminta pertolongannya menuliskan surat untuk Ceng Wan Piau Tiam di Cie yang. Ketika surat sudah ditulis selesai, ia serahkan itu pada si jongos seraya bilang : “Surat ini kau tolong titipkan pada siapa saja yang hendak pergi ke Cie yang untuk disampaikan pada Ceng Wan Piau Tiam, aku ingin dari sana dikirim orangku sambil bawa uang untuk sambut aku. Kalau pembawa surat itu sampai di Cie yang, dia akan dipresen tiga puluh tail perak. Setengah bulan kemudian, apabila orangku itu sudah datang kemari, kecuali aku akan bayar semua uang penginapan dan makan, aku akan beri persen juga padamu. Hanya pada pembawa surat itu mesti dipesan, selama di tengah jalan surat ini tidak boleh diperlihatkan kepada siapa juga dan jangan sebut-sebut bahwa aku berada disini. Aku punya musuh seorang penjahat, jikalau dia ketahui aku beristirahat disini, dia bisa datang cari aku bisa celaka …”

Tuan rumah berikan  janjinya. Selang tiga hari, ia dapatkan orang yang hendak pergi ke Selatan, ia lantas titipkan suratnya Twie-san-hou itu. Cie Khie tetap berdiam dirumah penginap itu, uang rampasannya dan kudanya, telah dijadikan barang tanggungan, hingga tuan rumuh penginapan tidak kuatir akan ditangkap. Setiap waktu Cie khie diberikan makanan dan lain keperluan dengan baik. Melainkan, hatinya Cie Khie sendiri yang kurang tentram, ia kuatir polisi nanti datang bekuk padanya, ia takut si nyonya muda datang bunuh ia, terutama ia kuatir Siau Hoo berhasil menyusul kepadanya. Maka setiap ia dengar suara di jendela, ia kaget.

Sehabisnya bersantap siang Cie Khie berebahan diri. Ia jengkel kepada lukanya yang masih belum sembuh sedang disitu ia mesti umpatkan diri, ia takut menemui orang, ia menarik napas panjang pendek. Tiba-tiba dari luar jendela, ia dengar suara memangil : Cie Khie!“ Ia kaget sampai bergidikan sendirinya. Ia berkuatir orang hendak cekuk ia, ia ulur tangannya untuk sembat goloknya, akan tetapi ia tak dapat raba suatu apa, ia lupa bahwa ia tidak punya senjata lagi.

Ia dengar orang itu bicara  kepada jongos atau tuau rumah. Ia lantas berbangkit ia pasang kuping untuk mendengari. Segera ia rasa bahwa ia kenali akan suara itu, tapi untuk dapat kepastian ia membuat lobang kecil pala kertas jendela untuk mengintai keluar.

Dipekarangan, sambil berdiri memegangi les kuda, ada seorang yang bertubuh tinggi dan besar, kumisnya putih dan panjang. Orang itu adalah Pau Kun Lun atau Pau Cin Hui, Cie Khie jadi girang bukan main.

”Dengan ada suhu, aku jadi tak usah takut siapa juga!” pikir ia. Tapi sedetik kemudian, hatinya menjadi ciut. Ia segera ingat kepada perbuatan-perbuatannya paling belakangan ini. Semua itu ada pelanggaran pada aturan- aturan dari Kun Lun Pay. Mungkin gurunya telah dengar itu dan sekarang gurunya datang untuk kutungi batang lehernya? Maka ia rebah pula, hatinya kebat-kebit, tubuhnya gemetaran. Ia berdiam ia  tutup rapat kedua matanya.

Sementara itu Pau Kun Lun telah dapat kepastian, penghuni kamar itu ada seorang she Liong yang terluka dan sudah beberapa hari rawat diri dirumah penginapan ini selama mana dia rebah saja dipembaringan. Maka dilain saat, guru ini telah tolak daun pintu kamar dan bertindak masuk tanpa ragu-ragu.

“Cie Kie!” kembali gurunya memanggil.

Jantungnya murid ini memukul keras, hampir ia mengelinding turun dari pembaringan untuk segera berlulut didepan gurunya itu, guna memohon ampun, supaya jiwanya tidak diambil!

“Cie Khie bangun,” demikian ia dengar gurunya berkata pula, selagi ia bingung dan berkuatir. “Aku datang! Mari aku periksa lukamu …”

Suaranya guru itu ada perlahan dan sabar, dari itu Cie Khie menduga, bahwa gurunya datang bukan untuk menghukun padanya. Ia lantas buka matanya, segera ia berpura-pura merintih, ia unjukkan roman sebagai orang yang kaget.

“Oh, suhu!” ia berseru dengan berpura-pura terperanjat. Ia lantas buat gerakan untuk berbangkit, akan tetapi gurunya segera mencegahnya.

“Jangan bergerak …” demikian guru itu. “Kau rebah saja, nanti aku periksa lukamu!”

Cie Khie menurut, sambil tetap rebah ia kasi lihat luka- lukanya di lengan, pundak dan pinggang, kemudian sembari mewek ia kata: “Suhu, habislah kita kaum  Kun Lun Pay ... Orang telah desak kita hingga kita punya rumah tidak bisa pulang ... Aku datang ke Su coan Utara ini  dengan maksud melindungi jiwaku siapa sangka oh ... “ dia berniat damprat Siau Hoo tetapi lantas ia  robah itu: “Hampir saja kita guru dan murid, tidak dapat bertemu pula! …”

Pau Kun Lun menghela napas, ia berdiri diam tegak, kelihatan tubuhnya yang kekar. Air mukanya  merah padam, kumis dan jenggotnya seperti pada berdiri. Ia berdiam sekian lama, lalu tiba-tiba ia tertawa dingin.

Cie Khie kaget hingga ia bergemetar, suara guru itu seram sekali.

“Begal macam apa buat kau terluka begini rupa?” tanya guru ini kemudian. “Kau telah banyak tahun, kau ada salah satu muridku yang terpandai, kenapa sekarang kau antap orang lukakan kau sampai begini? Kemana kepandalan  ilmu silat yang kau telah pelajarinya?”

Cie Khie berdiam, ia benar-benar tidak tahu bagaimana harus jawb gurunya itu. Tapi ia kata dalam hatinya: “Tidak sempurna untuk aku berdiam lama-lama disini, mungkin sebelum aku sembuh, rahasiaku akan terbuka sendirinya, umpama orang polisi tidak datang menangkap aku, namun suhu sendiri pasti akan ambil jiwaku dari itu perlu aku lekas-lekas angkat kaki ... “ Karena berpikir begini, ia lalu sahut gurunya.

“Suhu, baiklah suhu ajak menyingkir jauh-jauh,” demikian katanya. “Paling baik kita pergi ke Su-coan Selatan atau ke Oupak, tak dapat kita berdian lama di sini, pasti sekali Kang Siau Hoo akan dapat candak kita. Semua lukaku ini adalah perbuatannya binatang itu!”

Walau-pun terluka demikian rupa, aku tidak berani banyak omong, aku bilang saja aku dilukai begal. Kita tak dapat main gila terhadap Kang Siau Hoo, di Su-coan Utara ini, dia punyakan banyak sahabat! Suhu, benar-benar kita mesti menyingkir jauh …”

Pau Cin Hui gusar hingga ia banting kakinya, kaki itu bagaikan tiang-tiang besi dipakai menggedruk tanah, tinjunya yang keras  juga ditumbukkan pada dadanya. Mukanya menjadi merah, kedua matanya dipentang lebar.

“Kang Siau Hoo terlalu menghina sangat!” kata ia separuh berseru. “Aku menyingkir ke Su-coan Utara, dia menyusul! Apakah ia sangka aku benar-benar takut padanya? Aku belum tua, aku tidak takut! Suruhlah dia datang kemari!”

Adalah maksudnya Ci Khie buat gertak gurunya, supaya guru itu ajak dia menyingkir bersama tetapi dugaannya ini meleset, sekarang gurunya beda daripada dulu, ketika dengar namanya Kang Siau Hoo, guru itu justeru menjadi murka sekali.

“Apakah Kang Siau Hoo tidak sebut-sebut aku?” guru ini tanya dengan mata mendelik.

“Dia tidak sebut-sebut suhu, melainkan mengumpat caci,” sahut Cie Khie. “Dia katakan apabila dia dapat cari suhu, dia bakal! ... “

Cie Khie bingung juga, ia tak mengerti gurunya itu. Ia berbangkit untuk berduduk.

“Suhu, jangan kau bergusar ... “ ia membujuk.

Pau Kun Lun menggoyang-goyangkan tangan nampaknya ia lantas jadi lebih sabar, tetapi napasnya masih memburu.

“Cie Khie, kau tidak tahu!” katanya “Ayahnya Kang Siau Hoo meski benar aku yang membinasakannya namun perlakuanku kepada Siau Hoo tidak dapat dicela, kalau tidak, selagi dia tinggal menumpang kepadaku, sepuluh tahun yang lalu dengan gampang sekali aku bisa singkirkan rumput berikut akarnya, mustahil dia bisa hidup, sehingga sekarang ini? Ketika itu aku telah berpikir untuk jadi orang baik, aku tidak hendak berbuat sesukanya seperti diwaktu masih muda, tetapi tak kusangka, justeru karena sikapku itu aku jadi pelihara bibit bencana ... Dia sekarang desak aku, sampai aku menyingkir, hingga antara engkong dan cucu perempuan jadi berpencaran, sampai aku nikahkan Ah  Loan secara sembarangan dengan Kie Kong Kiat. Dan, sehingga sekarang ini, aku masih belum tahu tentang suami isteri itu, entah mati atau masih hidup, sedangkan aku sendiri-pun jadi terlunta-lunta ... Dirumahnya Ho Tiat Song di San-im, aku dibuat mendongkol oleh segala bocah, hingga aku tak bisa berdiam lebih lama disana dan barangkali ke Su-coan ini … Kau barang kali tidak tahu, ketika aku berangkat, Cie Tiong telah antar aku sampai ditengah perjalanan, dia sebenarnya niat ikuti aku, untuk rawati aku, tetapi aku telah suruh dia pulang, aku telah tegur padanya … Ah, sesudah dia pergi, aku sampai kucurkan air mata … Aku ada satu orang gagah, usiaku-pun sudah lanjut, tetapi beginilah keadaanku sekarang, sungguh terlalu menyedihkan! …”

Sampai disini, dengan mendadak berubahlah sikapnya jago tua ini.

“Akan tetapi sekarang!“ demikian ia berkata pula, setelah berhenti sedetik. “Sesampainya di Su-coan  Utara ini, aku merasa bahwa aku belum tua! Ketika atu sampai di Kim Gu Giap, tiga puluh lebih begal yang masih muda- muda telah cegat aku, mereka tidak mau mengerri. Mulanya aku bicara secara baik dengan mereka tetapi mereka tidak mau mengerti, karena mana aku jadi gusar, aku tempur mereka, hingga kesudahannya, aku lukai belasan diantaranya, mereka semua dapat kekalahan besar! Di Pak kok-kwan aku ketemu lain rombongan pula, yang terdiri dari lima atau enam puluh orang, pemimpinnya ada satu pemudia yang bersenjatakan sebatang tumbak panjang. Dia ini bertubuh tinggi dan tenaganya besar, dia sebut dirinya Hek Kim Kong. Ketika aku perkenalkan siapa adanya diriku, dia telah tertawakan aku, dia katakan aku telah dibuat takut oleh Kang Siau Hoo. Aku jadi gusar, aku serang berandal itu, dalam empat-lima jurus saja aku telah binasakan padanya, lalu aku labrak orang-orangnya, hingga aku bebas dari kepungan mereka. Ketika itu, tenagaku belum semua aku keluarkan hingga aku dapat kenyataan. Pau Kun Lun masih belum tua, bahwa bugeeku belum menjadi lemah!“

Cie Khie awasi gurunya itu, yang demikian bersemangat, hingga nampaknya seperti menjadi muda pula tiga-puluh tahun!

“Aku mengerti bagaimana selama sepuluh tahun ini hatiku kebat-kebit saja.” Pau Kun Lun berkata terlebih jauh. “Yang aku takuti bukanlah Kang Siau Hoo tetapi gurunya, maka kalau sekarang benar-benar Kang Siau Hoo cari aku, aku nanti hadapi dan lawan padanya! Aku memang harus muncul, aku mesti cut-tau! Dengan demikian diantara kau tidak nanti ada yang bisa terperhina pula! Tatkala aku sampai di Thong-kang, aku telah memikir hendak kembali ke Tiangan guna cari Kang Siau Hoo, apa mau aku ketemu dengan satu saudagar yang hendak pergi ke Han-tiong, dari dia aku peroleh keterangan bahwa kau sedang sakit disini, dari itu aku lantas datang kemari. Inilah kebetulan, dengan Kang Siau Hoo sudah datang ke Sucoan Utara ini, aku mesti tunggui padanya disini untuk lakukau satu pertempuran hidup atau mati.”

Pau Kun Lun lantas tertawa gelak-gelak. “Kau tetapkan hatimu, kau rawat dirimu baik-baik!“ ia tambahkan pada Cie Khie, suaranya sangat gembira. “Kau boleh saksikan gurumu ini, walau-pun aku sudah tua, aku hendak lakukan suatu apa yang akan mengejutkan khalayak ramai, supaya dunia kangouw dapat tahu bahwa Kun Lun Pay masih belum musnah!“

Jago tua ini pergi keluar kamar dengan tindakannya yang lebar dan pesat, ia teriaki jongos untuk siapkan sebuah kamar untuk ia sendiri, juga ia minta jongos rawat kudanya yang besar dan berbulu kuning, buntalannya yang besar dan goloknya ia bawa sendiri kedalam kamarnya, ia gabruki buntalan dan goloknya keatas pembaringan, ia berdiri diam sebentaran sambil mengurut-urut kumis, setelah itu sambil tepuk-tepuk dada ia bertindak pula keluar. Ia jalan dijalan besar dengan sikapnya yang gagah, hingga ia mirip dengan seekor harimau galak! Ada kalanya ia sengaja labrak orang! Setelah berputaran sebentar, ia masuk kesebuah rumah makan, sambil pentang dadanya, ia minta arak.

Sikapnya Pau Kun Lun sekarang mirip dengan sikapnya pada empat-puluh tahun berselang ketika ia masih biasa mengembara, ketika itu dengan gampang ia deliki  mata atau geraki goloknya, untuk bertempur atau membunuh orang. Sekarang ia jadi seperti muda kembali!

Setelah minum arak, Pau Kun Lun putar-kayun seantero hari untuk cari Kang Siau Hoo.

Sementara itu Liong Cie Khie, didalam kamarnya, hatinya terus goncang. Dia pikirkan segala perbuatannya membegal keluarga pembesar negeri, sehingga isterinya pembesar itu gantung diri dan sudah permainkan si nyonya muda, hingga kesudahannya ia terluka parah. Semua itu terjadi ditempat yang berdekatan, kalau gurunya dapat dengar perihal itu, hebatlah akan akibatnya. Gurunya itu ada sangat galak, lebih-lebih sekarang selagi gurunya jadi sangat bersemanat. Maka itu setiap hari ia ajaki gurunya meninggalkan tempat itu. Tapi sang guru tidak ladeni ajakannya itu.

Empat hari lewat dengan cepat, Pau Cin Hui tak dapat cari Kang Siau Hoo, ia jadi uring-uringan. Demikan sudah terjadi, dirumah makan dua kali ia berkelahi dengan beberapa buaya darat setempat. Dengan sekali toyor dan sekali dupak, ia buat mereka rubuh sampai tidak lantas dapat bangun pula, senjata mereka-pun ada yang dipatahkan! Setelah itu, sambil tepuk dada, jago tua ini perkenalkan dirinya, hingga ia buat orang terperanjat, heran dan kagum.

Ditempat itu ada beberapa piautiam, ketika piausu- piausunya ketahui orang tua ini adalah Pau kun Lun yang kesohor, yang telah rubuhkan Long Tiong hiap pada sepuluh tahun yang berselang, mereka lantas datang mengunjungi untuk belajar kenal.

Terhadap sekalian piausu ini, Cin Hui bersikap ramah tamah.

“Sudah dua-puluh tahun lamanya aku tidak pernah datang ke Su-coan ini,” menerangkan ia. “Sekarang aku datang untuk cari Kang Siau Hoo yang sudah terlalu menghina aku, hingga aku tak dapat menahan sabar lagi. Apabila aku dapat ketemui padanya, pasti aku nanti lawan padanya untuk salah satu mati atau hidup!”

Beberapa piausu itu nyatakan, walaupun mereka pernah dengar namanya Kang Siau Hoo akan tetapi mereka belum pernah dengar orang she Kang itu datang atau mau datang ke Su-coan.

“Dia itu kenal Long Tiong Hiap, lambat atau laun, dia pasti akan datang kemari,” berkata jago tua itu dengan tertawa dingin, “maka itu, aku hendak tunggui padanya disini! Muridku Twie-an-hou Liong Cie Khie telah dilukai Kang Siau Hoo di Lo Su Nia, tetapi lukanya tidak berbahaya, maka lagi beberapa hari dia tentu akan sudah sembuh, maka akupun boleh sekalian tunggui muridku ini.”

Mendengar demikian, bebetapa piausu itu lantas pergi sambangi Liong Cie Khie.

Si Hariman Gunung ketemui sekalian tamu itu dengan miringkan mukanya, agar orang tidak dapat lihat ia dengan tegas, karena ia kuatir orang dapat mengenali bahwa dia adalah si penjahat yang sekarang sedang dicari pembesar negeri karena beberapa kejahatanya. Walau-pun semua tamu sudah pulang, ia masih beruatir, hingga tubuhnya gemetaran.

“Suhu, apa masih belum dengar Kang Siau Hoo telah pergi?“ tanya ia pada gurunya.

Pau Kim Lun mnggeleng kepala.

“Kang Siau Hoo ada satu bu beng siau pwee, jarang ada orang kenal dia!“ berkata guru ini dengan jumawa. “Aku Sekarang pikir hendak menemui Long Tiong Hiap, ke satu untuk tanya dia perihal Kang Siau Hoo ke dua buat jelaskan supaya dia jangan bantu orang she Kang!”

Mendengar itu, Cie Khie jadi girang.

“Benar, suhu, benar!‘ berkata ia. “Aku juga mau percaya sekarang ini Kang Siau Hoo berada di Long-tiong.  Mari kita berangkat besok pagi saja!”

“Tapi kau masih belum sembuh!“ kata sang guru. Cie Khie merayap, ia turun dari pembaringan.

”Luka dipinggangku sudah sembuh, tinggal lukaku dibahu dan lengan, namun tidak menjadi rintangan bagiku. Suhu, aku benar-benar tidak ingin berdiam lama-lama disini

... ”

Pau Kun Lun awasi muridnya itu, akhirnya ia manggut- manggut.

“Baiklah,” kata ia akhirnya, “kalau kau sudah bisa jalan, besok kita berangkat. Sekarang pergilah kau mengaso!”

Cie Kie jadi girang sekali.

Pau Kun Lun balik kekamarnya, menghadapi api ia berdiri termangu sekian lama, kemudian setelah menghela napas, ia naik atas pembaringannya.

Esoknya Cie Khie bangun diwaktu langit masih gelap, lantas ia perintah jongos siapkan kuda, ia  sendiri pergi membangunkan gurunya.

Pau Kun Lun bangun untuk terus pergi kepekarangan untuk berlatih silat.

Cie Khie awasi gurunya itu, meski benar tubuh gurunya ada sangat gemuk dan pinggangnya bergerak kurang gesit, akan tetapi kaki-tangannya ada berat dan gerakannya pun sempurna. Diam-diam ia jadi gatal.

“Benar aku ikuti suhu dan suhu bisa lindungi aku, tetapi bila aku sendiri tidak bersenjata, itulah tak bisa  jadi,” pikir ia kemudian. Lantas saja ia dapat akal, maka terus ia kata pada gurunya : “Suhu, sayang golokku-pun lenyap. Juga lihat pakaianku ini yang terlalu, kecil dan pendek, ini bukan pukaianku, aku dapatkan ini di tengah jalan pemberian satu anak sekolah yang kasihani aku. Pakaianku sendiri telah berlumuran darah dan penuh lumpur hingga tidak keruan macam ... Ketika aku berangkat dari Cie yang, aku ada bekal belasan potong pakaian, juga uang lima ratus tail, tetapi semua itu sudah di rampas Kang Siau Hoo ... “ Pau Kun Lun bersenyum ewa.

“Tidaklah kecewa Kang Siau Hoo menjadi anaknya Kang Cie Seng!“ kata ia secara menghina. “Ayahnya ada satu manusia cabul, dia sendiri menjadi bandit! Maka mereka semua pantas dbinasakan dengan golokku Kun-lun- to ini!“

Melihat gurunya jadi sengit, Chi Khie bergidik sendirinya, mukanya-pun berubah pucat.

“Kita berangkat dulu,” kata sang guru kemudian. “Ditengah jalan kita nanti cari toko buat beli golok dan beberapa potong pakaian. Kecuali Kun-lun too, lain golok pasti kau tak dapat menggunainya.”

Sebentar kemudian jongos telah datang wartakan bahwa kuda sudah siap, buntalan juga sudah digantungkan dipelana, maka Pau Kun Lun lantas buat perhitungan, kemudian dengan menuntun kuda berdua mereka keluar dari rumah penginapan itu.

Cie Khie melihat kekiri-kanan, ia berkuatir, pikirannya- pun bingung. Sudah banyak hari ia rebah saja didalam kamar, untuk naik kuda-pun sekarang ia tidak mampu.

Pau Kun Lun lihat keadaan muridnya itu, ia merasa kasihan, ia membantui angkat tubuh muridnya, dengan begitu barulah sang murid bisa bercokol diatas kudanya.

Mereka menuju ke Barat, ke Gie-liong, sebab selewatnya tempat ini adalah Long-tiong. Pau Kun Lun tidak ingin jalan cepat-cepat karena perjalanan cuma seratus sepuluh lie lebih. Tidak demikian dengan Cie Khie. Murid ini ingin jalan lekas-lekas. Jalanan disitu ada ramai, dia terus celingukan.

Pau Kun Lun tidak puas akan sikapnya muridnya itu. “Eh, Cie Khie, kenapa kau tergesa-gesa tak keruan?“  guru ini menegur. “Di Long tiong toh tidak ada urusan penting, buat apa terburu-buru? Bukankah ada menarik hati kita jalan sambil pandang keindahan alam disini? Aku telah jadi seperti muda pula! Untuk banyak tahun aku berdiam saja didalam rumah, sampai aku tidak punyakan semangat, selainnya liamkeng, aku senantiasa berduka ... Tetapi, kau lihat disini, suasana musim rontok ini bagaimaa indah? Gunung ada demikian hijau, air ada demikian menarik hati. Lihatlah itu kawanan kambing dikaki bukit! Pemandangan disini mirip dengan gambar lukisan saja! Pada tiga empat puluh tahun dulu, ketika aku masih gemar mengembara, sering-sering aku mendaki bukit untuk tidur dipuncaknya dan terjun ke air untuk bermandi!“

Pau Cin Hui bicara secara sangat gembira, suaranya-pun nyaring.

Orang-orang yang sedang berlalu-lintas sama mengawasi jago tua ini, yang tubuhnya besar, romannya keren, diantaranya ada yang mendekati untuk bercakap-cakap, malah satu diantaranya isikan huncweenya dan menawarkannya.

“Aku tidak menghisap,” Cin Hui menampik. “Aku memang sebenarnya tidak merokok, sedang arak aku tidak minum banyak. Itu-pun sebabnya mengapa kesehatanku ada baik sekali, sekarang dalam usia tujuh-puluh lebih aku masih seperti orang berumur dua-puluh tahun saja!“

“Empe, tubuhmu benar kekar, kau-pun sangat bersemangat,” berkata beberapa orang. “Kau biasa kerja apa dan sekarang kau hendak pergi kemana?”

Guru silat yang tua ini tertawa.

“Buat bicara terus terang” berkaa ia, “aku adalah Pau Kun Lun dari Tin-pa. Tuan-tuan tentunya telah ketahui namaku. Sekarang ini aku tengah dalam  perjalanan bersama muridku itu. Liong Ce Khie ... ”

Dengan cambuknya, guru silat ini tunjuk muridnya.

Semua mata lantas berpaling pada Cie Khie, siapa, kalau bisa, ingin sembunyi kedalam perut kuda!

“Aku berdua hendak pergi ke Long-tiong,” melanjutkan Pau Cin Hui. “Aku tidak punya maksud apa-apa kecuali untuk menyambangi satu sahabat baik!”

Adalah pengharapannya Pau Kun Lun, dengan perkenalkan nama dan muridnya, orang nanti menjadi kagum, akan tetapi ia kecele karena, kecuali orang awasi Liong Cie Khie, semua bersikap tawar saja, sebagai juga mereka belum pernah dengar nama “Pau Kun Lun.” Hanya Seorang saja yang romannya sebagai saudagar, berkata : “Kalau begitu, lauko adalah seorang kangouw yang ulung

..“

“Empe, apakah kau ada dari kalangan piautiam?“ seorang lain tanya. “Apakah kau pergi ke Long-tiong untuk kunjungi Kim-kah-sin Ciau Tek Cun?”

Pertanyaan ini membuat jago tua itu tidak senang.

“Kim-kah-sin Ciau Tek Cun itu orang macam apa?” tanya ia. “Mustahil dia ada harganya untuk aku kunjungi?”

Meski ia berkata demikian, didalam hatinya Pau Kun Lun menghela napas dan kata: “Tidak heran selama  ini Kun Lun Pay terima penghinaan dari segala anak nuda, sampai namaku Pau Kun Lun hampir tak ada orang yang mengetahuinya … Kasihan sekalian muridku, mereka tidak peroleh kebaikan apa juga dariku, bahkan sebaliknya mereka kena aku rembet-rembet ... “ Jago tua ini menjadi mendongkol sendirinya, dadanya sampai berombak, tapi justeru karena ini, dengan agak jumawa ia pikir: “Tidak bisa tidak, aku mesti tempur Kang Siau Hoo. Aku musti bangunkan pula pamornya Kun Lun Pay!”

Pau Cin Hui duduk atas kudanya dengan hati panas. Maka itu, ketika orang ajak ia bicara pula ia kurang mau memperdulikannya.

Mereka berjalan terus sampai lagi kira-kira tiga-puluh lie, diwaktu mana dan jalanan cabang, dengan tiba-tiba ada muncul selorotan dari enam buah kereta serta sepuluh lebih penunggang kuda, melihat mana, orang-orang yang berlalu- lintas lantas pada tahan kereta mereka.

Menampak demikian, Pau Cin Hui nenjadi heran, ketika ia hendak jalan terus, lantas ada orang yang berkata padanya: “Orang tua, jangan maju terus! Bagilah jalan!”

“Inilah heran!” kata Cin Hui. “Mereka datang dari Utara hendak pergi ke Barat, mereka tidak akan ambil jalanan disini, kenapa kita mesti mengalah?”

Sebelumnya menjawab, datang seorang mendekati jago tua ini, untuk pegang lengannya.

”Orang tua, usiamu sudah begini lanjut, mengapa kau masih belum tahu urusan?” tanya orang itu, “Apakah kau tidak lihat itu bendera hitam dengan huruf-hurufnya putih diatas rombongan kereta? Itulah kereta-keretanya Thio Toa- thay-ya dari Pa-tiong! Siapa saja yang menemui rombongan itu ditengah jalan, dia mesti mengalah untuk membagi jalan! Jikalau kau paksa jalan terus, hingga kau  dapat candak mereka, katu bakal cari hajaran! …”

Jago tua itu benar-benar tidak mengenti, ia heran sekali. “Siapa itu Thio Ta-thayya di Su-coan Utara ini?” ia tanya. “Kenapa pengaruhnya demikian besar?”

Sementara itu Cie Khie, dalam kekuatirannya, menjadi girang, ia menoleh kepada gurunya, terus ia berkata: “Suhu, Thio Toa-thayya itu adalah Thio Hek Hou, dia ada punya banyak uang, bugeenya ia peroleh dari wee Ciu Hou dan Tiat Tiang Ceng berdua. Selama sepuluh tahun Long Tiong Hiap undurkan diri, untuk di Sucoan Utara ini, dia adalah orang gagah nomor satu! Suhu, kita harus bersahabat kepadanya, dia sangat berpengaruh, dia bisa bantu kita menghadapi Kang Siau Hoo!”

Pau Cin Hui angguk-anggukkan kepala.

“Baik, baik,” sahut ia. “Aku hendak temui padanya, untuk lihat dia ada orang macam apa.”

Dan ia terus larikan kudanya ke depan untuk susul rombongan kereta piau itu.

Cie Khie-pun larikan kudanya mengikuti.

Kelakuan mereka ini membuat semua orang menjadi kaget, tetapi mereka tidak berani turut maju, hanya diantaranya ada yang kata : “Ha, tua-bangka itu rupanya ingin rasai hajaran!”

-ooo0dw0ooo-

0 Response to "Burung Hong Menggetarkan Kunlun (Ho Keng Koen Loen) Jilid 21"

Post a Comment